Category Archives: A4. Syarat Diterimanya Ibadah

Bergaul dengan Orang-Orang yang Ikhlas dan Mengambil Manfaat dari Keikhlasan Mereka

BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG IKHLAS DAN MENGAMBIL MANFAAT DARI KEIKHLASAN MEREKA

Telah terdahulu di dalam hadits tiga orang yang terjebak di dalam gua, dan telah dijelaskan pula bagaimana salah seorang di antara mereka berdo’a dengan amal shalihnya, maka bergeserlah batu besar itu, akan tetapi mereka belum dapat keluar dari gua tersebut, maka semuanya dapat mengambil manfaat dari do’a seseorang yang ikhlas, kemudian do’a tersebut berulang dari kedua temannya lagi, dan setiap kali mereka berdo’a, maka batu tersebut terbuka sedikit demi sedikit, akhirnya mereka dapat merasakan kemanfaatan do’a tersebut sehingga mereka semua dapat keluar dari gua.

Karena itu, hendaklah Anda selalu bergaul dengan orang-orang yang ikhlas, niscaya -dengan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- Anda dapat mengambil manfaat dari keikhlasannya, dan dari do’anya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ ِللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضُلاً، يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ، قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُـمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ: فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي اْلأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَـكَ، قَالَ: وَمَاذَا يَسْأَلُونِي؟ قَالُوا: يَسْأَلُونَـكَ جَنَّتَكَ قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: لاَ أَيْ رَبِّ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ، قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي؟ قَالُوا: مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: لاَ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ؟ فَيَقُولُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ: فَيَقُولُونَ: رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ، عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ، قَالَ فَيَقُولُ: وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.

Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang selalu berkeliling di muka bumi, sebagai tambahan (dari Malaikat hafazhah) yang selalu mencari-cari majelis dzikir, ketika mereka menemukan majelis ilmu, maka mereka duduk di sana, salah satu dengan yang lainnya saling melebarkan sayapnya sehingga mereka memenuhi (ruang) antara mereka dan langit dunia, dan ketika orang-orang yang berdzikir itu bubar, maka mereka  pun naik ke langit, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepada mereka -walaupun sebenarnya Dia lebih tahu- ‘Darimana kalian datang?’ Mereka menjawab, ‘Kami datang dari para hamba-Mu yang ada di muka bumi, mereka selalu bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepada-Mu,’ Allah bertanya, ‘Apakah yang mereka pinta dariku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka semua memohon Surga-Mu,’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat Surga-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Sama sekali tidak wahai Rabb-Ku,’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka melihat Surga-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka akan memohon perlindungan kepada-Mu?’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka akan memohon perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api Neraka-Mu wahai Rabb,’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka melihat Neraka-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak,’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Mereka akan memohon ampunan kepada-Mu,’ Allah berkata, ‘Aku telah mengampuni mereka, telah memberikan apa yang mereka pinta dan telah melindungi mereka dari apa yang mereka mohon untuk dilindungi.’ Rasul bersabda, “Mereka berkata, ‘Ya Rabb-ku, di antara mereka ada seorang hamba yang selalu berbuat salah, dia hanya lewat saja dan duduk dengan mereka,’ Allah berkata, ‘Aku telah mengampuninya, mereka adalah suatu kaum, di mana teman duduk mereka tidak akan sengsara dengan mereka.’”1

Maka janganlah Anda menjauhi orang-orang yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perhatikanlah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah tiga orang yang berada pada suatu kampung atau di suatu pedalaman, sedangkan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah kecuali syaitan akan menguasai dan mengalahkan mereka, karena itu berjama’ahlah kalian, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.2

Dan sebagaimana yang telah saya ungkapkan bahwa di antara obat untuk menghilangkan riya’ adalah bersahabat dengan orang-orang yang ikhlas.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 HR. Muslim (no. 2689 (25)).
2 HR. Ahmad di dalam Musnad, an-Nasa-i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam Shahiihnya, Shahiihul Jaami’ (no. 5577).

Macam-Macam Riya’

MACAM-MACAM RIYA’1

  1. Riya’ badan, yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain melihat bahwa dia adalah orang yang rajin di dalam beribadah, sangat takut akan akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu rajin di dalam berpuasa.
  2. Riya’ dari segi perhiasan, dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus, yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama, dia memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang alim.
  3. Riya’ dengan ucapan, riya’ ini paling banyak dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan menghafal suatu riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu, menggerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca al-Qur-an agar hal tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyu’an.
  4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku’ dan sujud, dan dengan menampakkan kekhusyu’an. Riya’ dengan puasa, berperang, haji, shadaqah, juga yang lainnya.
  5. Riya’ dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya, seperti orang yang berusaha untuk mengundang para ulama atau ahli ibadah ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi si fulan,” atau dengan mengundang banyak orang ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, “Bahwa ahli agama selalu datang dan pergi kepadanya.”

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Semua macam ini dinukil dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan (hal. 223, 224, 225).

Yang Dianggap Sebagai Perbuatan Riya’ dan Syirik Padahal Bukanlah Demikian

YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN RIYA’ DAN SYIRIK PADAHAL BUKANLAH DEMIKIAN

1. Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik.
Diriwayatkan dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ َاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Bagaimana menurut baginda tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain memujinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan.” [HR. Muslim, no. 2642 (166)].

2. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah.
Al-Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal. 234), “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang ahli di dalam ber-tahajjud, lalu dia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia melakukan shalat hanya dalam satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan mereka, dan dia berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena mereka, niscaya tidak akan timbul di dalam dirinya kegiatan seperti ini. Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya’, bahkan secara umum hal ini sama sekali bukanlah riya’, akan tetapi di dalamnya ada perincian, yaitu bahwa setiap mukmin pada dasarnya sangat senang untuk melakukan ibadah-ibadah kepada Allah akan tetapi berbagai kendala telah menghalanginya, begitu pula banyak kelalaian yang telah melupakannya, mungkin saja menyaksikan orang lain telah menyebabkan kelalaian tersebut lenyap,” kemudian beliau berkata, “Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana dia dapat melihat orang lain sedangkan orang lain tidak dapat melihatnya, jika dia melihat jiwanya yang tenang dengan beribadah, maka itulah hati yang ikhlas, sedangkan jika jiwanya itu tidak tenang, maka ketenangan jiwanya ketika beribadah di hadapan orang lain adalah sebuah sikap riya’, dan kiyaskanlah yang lainnya kepadanya.

Saya katakan: Rasa malas seseorang ketika menyendiri masuk ke dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,, “Karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.”1 Sedangkan sikapnya yang giat termasuk ke dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Karena itu berjama’ahlah kalian.”2

3. Memakai pakaian atau sandal yang baik.
Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، فقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar atom,” lalu seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang indah dan sandal yang indah,” Rasul bersabda, “Sesungguhnya Allah indah dan menyukai yang indah, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” [HR. Muslim, no. 91 (147), at-Tirmidzi, no. 1999]

4. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya.
Secara syara’ ini merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebaliknya seseorang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kemaksiatan, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُـلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيـنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً، ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، فَيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ.

Semua umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam hari, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi hari dia mengatakan, ‘Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu,’ padahal Allah telah menutupinya sedangkan pada pagi hari dia membuka apa-apa yang telah Allah tutupi.” [HR. Al-Bukhari, no. 6069, Muslim, no. 2990 (52)].

Membicarakan perbuatan dosa memiliki dampak negatif yang sangat besar, akan tetapi sekarang ini bukanlah kesempatan yang tepat untuk mengungkap-kannya; di antaranya adalah memotivasi perbuatan dosa di antara manusia, dan menyepelekan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka barangsiapa yang menyangka bahwa menyembunyikan perbuatan tersebut termasuk riya’ sedangkan membicarakannya adalah sebuah sikap ikhlas, maka orang tersebut telah diracuni oleh syaitan. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan.

5. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta.
Al-Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal. 218), “Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi keberadaannya merupakan fitnah bagi orang-orang yang lemah.”

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Nash hadits ini adalah:
مَا مِـنْ ثَلاَثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُـمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
Tidaklah tiga orang yang berada pada sebuah kampung atau di sebuah pedalaman, sedangkan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah kecuali syaitan akan menguasai dan mengalahkannya, karena itu berjama’ahlah kalian, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.
2  Ibid.

Keutamaan Ikhlas Dalam Beramal

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(1/5)

1. Ikhlas dalam bertauhid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا قَالَ عَبْدٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ قَطُّ مُخْلِصًا إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْـوَابُ السَّمَاءِ حَتَّى تُفْضِيَ إِلَى الْعَرْشِ مَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ.

Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah) dengan ikhlas kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai menuju kepada ‘Arsy (singgasana Allah) selama dia tidak melakukan dosa besar.1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ وَهِيَ تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ يَرْجِعُ ذَلِكَ إِلَى قَلْبِ مُؤْمِنٍ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ

Tidaklah satu jiwa yang mati dengan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang timbul dari hati seorang mukmin, kecuali Allah akan mengampuninya.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ.

Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka kepada orang yang mengucapkan Laa ilaaha illal-laah dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah.”3

2. Ikhlas dalam niat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan pahala berdasarkan niatnya.”4

3. Ikhlas dalam shalat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ، فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُومُ فَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، إِلاَّ قَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ, وَغُفِرَ لَهُ.

Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu dengan baik, kemudian berdiri (melakukan shalat), lalu dia melakukan dua kali ruku’, khusyu’ dengan hatinya dan wajahnya (dengan yang zhahir dan yang bathin-pent.) melainkan telah tetap baginya Surga dan ampunan.”5

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ، فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَمُجُّ، وَيَسْتَنْشِقُ، فَيَنْتَثِرُ إِلاَّ جُرَّتْ خَطاَيَا وَجْهِهِ وَفِيْهِ وَخَيَاشِيْمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَ اللهُ إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى اْلِمْرفَقَيْنِ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَ باِلَّذِي هُوَ أَهْلُهُ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ ِللهِ، إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

Tidaklah seorang di antara kalian mendekati air wudhunya, lalu dia berkumur, dan membuangnya, lalu dia memasukkan air ke dalam hidung dan membuangnya, kecuali dosa-dosa wajahnya, mulutnya dan rongga hidungnya akan dihilangkan. Kemudian jika dia membasuh mukanya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa wajahnya dari ujung jenggotnya beserta air, kemudian ketika dia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, maka berjatuhanlah dosa kedua tangannya dari ujung jarinya beserta air. Kemudian ketika dia mengusap kepalanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kepalanya dari ujung rambutnya beserta air. Kemudian jika dia mencuci kedua kakinya sampai kedua mata kaki sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kedua kaki dari ujung jarinya beserta air. Jika dia berdiri untuk melakukan shalat, lalu memuji-Nya dan mengagungkan-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya yang memang Allah adalah Dzat yang berhak dipuji, dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, maka dia akan keluar dari semua kesalahannya seperti ke-adaannya saat baru dilahirkan oleh ibunya.6

4. Ikhlas dalam sujud
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ  ِللهِ سَجْدَةً، إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةًَ وَرَفَعَ لَهُ بِـهَا دَرَجَةً، فَاسْتَكْثِرُوْا مِنَ السُّجُودِ.

Tidaklah seorang hamba bersujud kepada Allah dengan satu kali sujud kecuali Allah akan menetapkan satu kebaikan baginya, menghapuskan satu kesalahan baginya dan mengangkat satu derajat baginya, maka perbanyaklah sujud oleh kalian.”7

5. Ikhlas dalam melakukan qiyaam Ramadhaan (shalat malam pada bulan Ramadhan)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barangsiapa yang melakukan qiyaam Ramadhan dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diam-puni.”8

6. Ikhlas dalam shalat pada Lailatul Qadar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَـامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barangsiapa yang melakukan shalat pada Lailatul Qadar dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”9

7. Ikhlas dalam mencintai masjid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

Ada tujuh kelompok manusia yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya, (mereka itu adalah): (1) Imam (pemimpin) yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (3) Seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. (5) Seorang lelaki yang di-ajak (mesum) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ (6) Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (7) Dan seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.”10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلاَةِ وَالذِّكْرِ إِلاَّ تَبَشْبَشَ اللهُ لَهُ مِنْ حِيْنَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ.

Tidak ada seorang pun yang menetap di dalam masjid dengan melakukan shalat dan dzikir kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merasa gembira seperti orang-orang yang bergembira semenjak hamba-Nya keluar dari rumah menuju masjid ketika orang yang telah lama tidak berjumpa datang  kepada mereka.11

8. Ikhlas ketika keluar dari rumah menuju shalat

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 5524).
2  Shahiihul Jaami’ (no. 56069).
3  Bagian dari Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Itban bin Malik.
4  Telah diungkapkan di muka takhrijnya.
5  Hadits ini dishahihkan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 5678).
6  HR. Muslim dan yang lainnya.
7  Hadits ini dishahihkan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 5618).
8  HR. Al-Bukhari.
9  Ibid.
10  Muttafaq ‘alaihi.
11  HR. Ibnu Majah dan al-Hakim sebagaimana yang diungkapkan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 5470).

Ikhlas Ketika Keluar Dari Rumah Menuju Shalat

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(2/5)

8. Ikhlas ketika keluar dari rumah menuju shalat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتىَّ يَدْخُلَ الْمَسْجِِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ، كَانَ فيِ صَلاَةٍ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ، يَقُوْلُوْنَ: اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ.

Shalat seseorang yang dilakukan secara berjama’ah akan dilipatkan daripada shalatnya yang dilakukan di rumah atau di pasar dengan dua puluh lebih derajat, hal itu karena jika dia melakukan wudhu dengan baik, kemudian pergi ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan itu kecuali shalat, maka tidak ada satu langkah pun yang ia lakukan kecuali dia akan diangkat satu derajat dengannya dan dihapus satu kesalahan darinya sehingga dia masuk ke dalam masjid, jika dia telah masuk ke dalam masjid, maka dia senantiasa mendapatkan (pahala) shalat selama shalat tersebut menahannya untuk tidak keluar, dan para Malaikat senantiasa berdo’a kepadanya selama dia berada di tempat shalatnya, mereka berkata, ‘Ya Allah! Berilah dia kasih sayang. Ya Allah! Berilah dia ampunan. Ya Allah! Terimalah taubatnya.’ Hal itu selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak batal (wudhunya).” [Muttafaq ‘alaihi].

9. Ikhlas disaat menunggu shalat di dalam masjid
Sebagaimana yang diungkapkan di dalam hadits yang terdahulu, di dalamnya terdapat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ، كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ.

Jika dia telah masuk ke dalam masjid, maka dia senantiasa mendapatkan (pahala) shalat selama shalat tersebut menahannya untuk tidak keluar.”

10. Ikhlas dalam menjawab seruan adzan sebagaimana yang diungkapkan oleh muadzin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika muadzin mengatakan اَلله أَكْبَر  اَللهُ أَكْبَر maka salah seorang di antara kalian mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Lalu jika muadzin mengatakan: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Lalu apabila muadzin mengatakan: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Lalu muadzin mengatakan : حَيَّ عَلَى الصَّلاَة
Maka salah seorang  di antara kalian mengatakan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله
Lalu jika muadzin mengatakan : حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله
Lalu apabila muadzin mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Dia mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Lalu jika muadzin mengatakan: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Dan dia mengatakan: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Maka orang yang demikian dijamin akan masuk ke dalam Surga, jika ucapannya itu ikhlas keluar dari lubuk hatinya. [Diriwayatkan oleh Muslim].

11. Ikhlas dalam berpuasa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

Barangsiapa yang melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan (hanya mengharapkan ganjaran dari Allah), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ بَاعَدَ اللهُ مِنْهُ جَهَنَّمَ مَسِيْرَةَ مِائَةِ عَامٍ.

Barangsiapa yang berpuasa sehari saja di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan menjauhkan dirinya dari Neraka Jahannam sejauh perjalanan seratus tahun.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ

Barangsiapa yang melakukan puasa satu hari di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan menjadikan sebuah parit di antara dirinya dengan Neraka, sebagaimana jarak antara langit dan bumi.”3

12. Ikhlas dalam menunaikan zakat
Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلاَ نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ. فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ فَقَالَ: لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ، قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ.

Seseorang dari penduduk Najd datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rambut yang tidak beraturan, kami mendengar gema suaranya dan kami tidak memahami apa yang dia katakan sehingga kami mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata dia bertanya tentang Islam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat lima waktu sehari semalam,’ lalu orang tersebut bertanya, ‘Apakah aku wajib melakukan yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan yang sunnah,’ lalu Rasul bersabda, ‘Dan puasa Ramadhan,’ lalu orang tadi bertanya, ‘Apakah aku wajib melakukan puasa yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan puasa yang sunnah,’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan tentang kewajiban zakat, dan orang tersebut bertanya, ‘Apakah aku wajib menunaikan zakat yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan (shadaqah) yang sunnah,’ (perawi) berkata, ‘Lalu orang tersebut pergi dengan berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya,’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Dia beruntung jika benar (apa yang dikata-kannya).’” [Muttafaq ‘alaihi].

13. Ikhlas dalam bersedekah
Hal ini sebagaimana yang diungkap di dalam hadits terdahulu, yaitu hadits tujuh orang yang diberikan naungan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di dalam hadits tersebut ada ungkapan:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَـمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ.

Dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِي غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فيِ الْعُمْرِ.

Perbuatan yang ma’ruf akan menjaga sumber-sumber kejelekan, shadaqah dengan diam-diam dapat memadamkan kemarahan Rabb, dan silaturahmi dapat menambah umur.”4

14. Ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 6201).
2  Shahiihul Jaami’ (no. 6206).
3  HR. at-Tirmidzi, di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 6209).
4  Shahiihul Jaami’ (no. 3691).

Ikhlas Dalam Bertaubat

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(3/5)

14. Ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seseorang, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya,’ Beliau ditanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah,’ Beliau ditanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Haji yang mabrur.’” [Muttafaq ‘alaihi].

Haji mabrur adalah ibadah haji dimana pelakunya tidak melakukan kemaksiatan, ini menunjukkan keikhlasan, karena syirik dan riya’ merupakan perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ  ِللهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِوَلَدَتْهُ أُمُّهُ 

Barangsiapa yang melakukan haji dengan tidak melakukan perbuatan keji (hal-hal yang mengarah pada persetubuhan) dan melakukan kefasikan, maka dia kembali bagaikan seorang anak yang baru lahir dari (rahim) ibunya.”1

15. Ikhlas dalam memohon mati syahid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْقَتْلَ فِي سَبِيلِهِ صَادِقًا مِنْ قَلْـبِهِ أَعْطَاهُ اللهُ أَجْرَ الشَّهِيدِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ.

Barangsiapa yang memohon kepada Allah terbunuh karena (berjuang) di jalan-Nya dengan tulus dari dalam hatinya, maka Allah akan memberikan pahala orang yang mati syahid kepadanya, walaupun dia mati di atas tempat tidurnya.”2

16. Ikhlas dalam menjaga wilayah perbatasan pada saat perang (jihad)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَابَطَ يَوْمًا وَلَيْلَةً فِي سَبِيلِ اللهِ كَانَ لَهُ كَأَجْرِ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَمَنْ مَاتَ مُرَابِطًا أُجْرِيَ لَهُ مِثْلُ ذَلِكَ مِنَ اْلأَجْرِ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ الرِّزْقُ وَأَمِنَ مِنَ الْفَتَّانِ

Barangsiapa yang menjaga wilayah perbatasan (ketika jihad) pada siang dan malam hari di jalan Allah, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala puasa sebulan penuh dengan qiyamul lail-nya, dan barangsiapa yang meninggal karena menjaga wilayah perbatasan, maka dia akan diganjar seperti ganjaran tersebut secara terus-menerus dan akan dikaruniai rizki juga aman dari fitnah.”3

17. Ikhlas dalam mempersiapkan perbekalan bagi pejuang (mujahidin)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الْغَازِي شَيْئًا

Barangsiapa yang menyiapkan (perbekalan) orang yang berjuang di jalan Allah, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berjuang tanpa dikurangi sedikit pun pahala orang yang berjuang tersebut.”4

18. Ikhlas dalam berjihad
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَاتَـلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ  عَزَّ وَ جَلَّى.

Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah Azza wa Jalla.” [Muttafaq ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَكْلُومٍ يُكْلَمُ فِي اللهِ إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكَلْمُهُ يَدْمَى اللَّوْنُ لَوْنُ دَمٍ وَالرِّيحُ رِيحُ مِسْكٍ

Tidak ada satu luka pun yang terluka karena berjuang di jalan Allah, kecuali dia akan datang pada hari Kiamat sedangkan lukanya berwarna merah darah dan wanginya bagaikan wangi misk.” [HR. Al-Bukhari].

19. Ikhlas dalam bertaubat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَابَ إِلَى اللهِ قَبْلَ أَنْ يُغَرْغِرَ قَبِلَ اللهُ مِنْهُ

Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah sebelum ruhnya sampai tenggorokan, maka Allah akan menerima taubatnya.”5

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri Radhiyallahu anhu beliau berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ، فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ، وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ -أَيْ حَكَماً- فَقَالَ: قِِيْسُوا مَا  بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ، فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَىإِلَى اْلأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ

“Dahulu di antara orang sebelum kalian, ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu dia bertanya tentang seseorang yang paling tahu di muka bumi ini, lalu dia ditunjuki kepada seorang rahib (ahli ibadah), dia mendatanginya dengan memberitahukannya bahwa dia telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan jiwa, ‘Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat?’ Maka rahib pun berkata, ‘Tidak.’ Pada akhirnya orang tersebut membunuh sang rahib sehingga genaplah dia membunuh sebanyak seratus jiwa. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling tahu di muka bumi, lalu dia ditunjuki kepada seorang alim. Dia bertanya kepada orang alim tersebut bahwa dia telah membunuh sebanyak seratus jiwa, ‘Apakah masih ada kesempatan untuk bertaubat baginya?’ Maka seorang alim itu menjawab, ‘Ya, dan siapakah yang telah menghalangimu untuk bertaubat? Maka pergilah ke negeri fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah, karena itu beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan janganlah engkau kembali kepada negerimu, karena ia adalah negeri yang jelek.’ Akhirnya orang tersebut pergi sehingga ketika di tengah perjalanan kematian mendatanginya. Malaikat rahmat dan Malaikat adzab saling berdebat (untuk mendapatkannya). Malaikat rahmat berkata, ‘Dia datang dengan menghadapkan hatinya untuk bertaubat kepada Allah’ Sedangkan Malaikat adzab berkata, ‘Dia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang Malaikat lain dengan menjelma menjadi seorang manusia untuk menjadi penengah di antara keduanya. Dia berkata, ‘Ukurlah jarak di antara dua tempat ini, ke arah yang mana dia lebih dekat, maka dia adalah untuknya.’ Mereka mengukurnya dan ternyata lebih dekat kepada negeri yang dia tuju, dan akhirnya Malaikat rahmat mencabutnya.” [Muttafaq ‘alaihi].

20. Ikhlas dalam beristighfar (memohon ampun)

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  HR. Al-Bukhari dan yang lainnya.
2  HR. At-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah, dan yang lainnya, hadits ini terdapat di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 6153).
3  HR. An-Nasa-i dan al-Hakim di dalam Mustadraknya dari Salman Radhiyallahu anhu, dan hadits ini tertera di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 6135).
4  HR. Ibnu Majah, hadits ini dishahiihkan oleh guru kami al-Albani dalam kitab Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (II/96).
5  HR. Ahmad di dalam Musnadnya, at-Tirmidzi dan yang lain-nya, terdapat di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 6008).

Ikhlas Dalam Beristighfar (Memohon Ampun)

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(4/5)

20. Ikhlas dalam beristighfar (memohon ampun)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيِّدُ اْلإِسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Istighfar yang paling utama adalah jika seorang hamba mengucapkan, ‘Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Rabb yang berhak untuk diibadahi kecuali Engkau, Engkaulah yang telah menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada perjanjianku kepada-Mu semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.’ Barangsiapa mengucapkannya di pagi hari dengan yakin, lalu ia meninggal pada hari itu sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk penghungi Surga, dan barangsiapa mengucapkannya di waktu petang dengan yakin kemudian ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka dia termasuk dari penghuni Surga.” [HR. Bukhari].

21. Ikhlas dalam menangis
Telah diungkapkan di dalam hadits yang terdahulu, yaitu hadits tujuh golongan orang yang mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya, di dalam hadits tersebut diungkapkan:

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dan seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.”

22. Ikhlas dalam berdzikir, sebagaimana yang diungkapkan dalam hadits terdahulu

23. Ikhlas dalam berkata yang benar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنْ تَصْدُقِ اللهََ يَصْدُقْكَ

Jika engkau membenarkan Allah, maka Allah akan membenarkanmu.”1

24. Ikhlas dalam bersabar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku yang beriman ketika kekasihnya dari penduduk dunia Aku cabut nyawanya kemudian dia tulus dalam menghadapinya kecuali Allah akan mem-balasnya dengan Surga.’”2

عَنْ عَائِشَةَ رضی اللّٰہُ عنھا ، أَنَّـهَاسَأَلَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَهَا أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, sesungguhnya beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyakit tha’un, lalu Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya bahwa itu merupakan adzab yang dikirimkan kepada siapa saja yang dikehendakinya, dan menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka tidaklah seorang hamba tertimpa tha’un tersebut, lalu dia berdiam di negerinya dengan sabar dan mengharap-kan ganjaran dari Allah serta mengetahui bahwa tidaklah ada sesuatu akan menimpanya kecuali dengan ketentuan-Nya, melainkan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid.”3

25. Ikhlas dalam bertawakkal
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang dari Bani Israil meminta kepada yang lainnya dari kalangan Bani Israil juga agar dia dapat meminjamkan uang kepadanya sebanyak seribu dinar, dia (yang meminjamkan) berkata, ‘Datangkanlah kepadaku para saksi, yang akan aku jadikan sebagai saksi,’ lalu orang itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi,’ lalu dia berkata lagi, ‘Datangkanlah kepadaku seorang penjamin!’ Dia berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin,’ lalu dia berkata, ‘Benarlah apa yang engkau ucapkan.’ Lalu dia memberikannya dengan jarak waktu yang telah ditentukan, lalu orang tersebut pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. Kemudian dia mencari kapal untuk pergi menuju orang yang memberikan hutang kepadanya karena waktu yang ditentukan telah tiba, akan tetapi dia sama sekali belum menemukan kendaraan tersebut. Akhirnya dia mengambil sebatang kayu dan melubanginya, di dalamnya dia menyimpan uang sebanyak seribu dinar dengan satu lembar surat untuk sang pemilik uang, lalu dia meratakan (menutup) lubang tersebut. Setelah itu dia pergi ke laut dengan berkata, ‘Ya Allah! Engkau Mahatahu bahwa aku meminjam uang kepada si fulan sebanyak seribu dinar, lalu dia meminta orang yang menjamin kepadaku, sedangkan aku berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin.’ Dan ia pun ridha kepada-Mu, lalu dia meminta seorang saksi kepadaku, sedangkan aku berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi.’ Maka ia pun ridha kepada-Mu dan sungguh aku telah berusaha untuk mencari sebuah kapal untuk membayar hutang ini kepadanya tetapi aku tidak menemukannya, dan sesungguhnya aku menitipkannya kepada-Mu.’ Akhirnya dia melemparkan kayu tersebut ke lautan, sehingga kayu tersebut menghilang dan dia pun pergi. Pada waktu itu dia sedang mencari sebuah kapal yang dapat mengantarkannya pulang ke negerinya, sedangkan orang yang meminjamkan uang pun sedang keluar untuk melihat sebuah kapal yang membawa hartanya, dan tiba-tiba saja dia menemukan sebatang kayu yang di dalamnya ada harta, lalu dia mengambilnya untuk dijadikan sebagai kayu bakar, ketika dia membelahnya dia menemukan uang dan sepucuk surat. Tak lama kemudian orang yang meminjam uang datang dengan membawa uang sebanyak seribu dinar, dia berkata, ‘Demi Allah! Senantiasa aku mencari sebuah kapal untuk membawa uang kepadamu, sama sekali aku tidak mendapatkannya sebelum kapal yang aku tumpangi sekarang ini tiba.’ Lalu dia berkata, ‘Apakah kamu mengirim sesuatu kepadaku?’ Dia berkata, ‘Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku sama sekali tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku tumpangi sekarang ini,’ dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah melunasi melalui kayu yang telah engkau utus.’ Maka orang tersebut berlalu dengan membawa uang seribu dinar tersebut dengan senang!”4

26. Ikhlas dalam mencintai seseorang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ حَلاَوَةَ اْلإِِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ  ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Barangsiapa yang ingin merasakan manisnya iman, maka cintailah seseorang, dengan cinta yang hanya berdasarkan kepada kecintaannya kepada Allah.”5

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ  عَزَّ وَ جَلَّى قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Seseorang mengunjungi saudaranya di kampung lain, lalu Allah mengutus seorang Malaikat di jalannya. Ketika dia datang kepadanya, dia berkata, ‘Kemana engkau akan pergi?’ Dia berkata, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku yang ada di kampung ini.’ Lalu Malaikat itu bertanya, ‘Apakah engkau memperoleh sebuah nikmat yang menyebabkan engkau pergi kepadanya?’ Dia menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.’ Lalu Malaikat itu berkata, ‘Aku adalah utusan Allah kepadamu (datang untuk menyampaikan) bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.’”6

27. Ikhlas ketika berkunjung di jalan Allah
Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam hadits terdahulu.

28. Ikhlas dalam ketaatan kepada kedua orang tua
Hal ini sebagaimana diungkap dalam hadits terdahulu yang menceritakan tiga orang yang tertutup batu di dalam gua, mereka semua berdo’a dengan amal shalih mereka, di antara mereka ada yang berkata dalam do’anya, “Ya Allah! Dahulu aku memiliki dua orang tua yang telah lanjut usia, dan aku sama sekali tidak pernah memberikan susu kepada isteri dan anak-anak sebelum mereka berdua. Lalu pada suatu hari aku berada jauh dari mereka berdua untuk mencari sebuah pohon, aku tidak kembali sehingga mereka tertidur, lalu aku memeras susu untuk mereka padahal mereka telah tertidur, aku takut jika membangunkan keduanya dan aku juga tidak mau memberikan susu kepada isteri dan anak-anak sebelum mereka berdua meminumnya. Akhirnya aku menunggu sampai terbit fajar sedangkan anak-anak berteriak di sekitarku karena kelaparan, lalu ketika terbit fajar mereka berdua bangun dan meminum susu. Ya Allah! Seandainya aku melakukan hal itu ikhlas karena-Mu, maka bukakanlah batu besar yang telah menutupi kami.”

29. Ikhlas dalam meninggalkan kemunkaran
Hal ini pun diungkap dalam hadits yang bercerita tentang tiga orang yang tertutup oleh batu di dalam gua, ketika seseorang dari mereka telah duduk di atas kedua kaki puteri pamannya, sang puteri berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menghilangkan keperawanan orang lain kecuali dengan cara yang benar.” Akhirnya orang itu pergi padahal dia (puteri pamannya-ed.) adalah wanita yang paling dicintainya. Dia berkata. “Ya Allah, seandainya aku melakukan hal itu ikhlas karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami.” Akhirnya batu tersebut bergeser sedikit.”

30. Ikhlas dalam memenuhi pembayaran upah

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
_____
Footnote
1  HR. An-Nasa-i dan al-Hakim di dalam Mustadrak, hadits ini terdapat di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 1428).
2  HR. Al-Bukhari.
3  HR. Al-Bukhari.
4  HR. Al-Bukhari.
5  HR. Ahmad dalam Musnadnya, dan al-Hakim, hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 6164).
6  HR. Muslim.

Ikhlas Dalam Bersikap Zuhud

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(5/5)

30. Ikhlas dalam memenuhi pembayaran upah
Ini juga diungkapkan dalam hadits di atas, yaitu salah satu dari ketiga orang tersebut yang berdo’a, “Ya Allah! Sesungguhnya aku mempekerjakan beberapa pekerja dan memberikan upah mereka, kecuali satu orang pekerja saja yang meninggalkan apa yang dia miliki (upah) dan pergi, setelah itu aku mengembangkan dari upahnya itu sampai banyak. Pada satu saat kesempatan dia datang kepadaku dengan berkata, ‘Wahai hamba Allah bayarlah upahku!’ ‘Semua unta, sapi dan kambing serta hamba sahaya yang engkau lihat adalah milikmu,’ kataku. Dia berkata, ‘Janganlah engkau menghinaku!’ Aku berkata, ‘Aku sama sekali tidak menghinamu.’ Lalu dia mengambilnya dan menggiring semuanya dengan tidak meninggalkan sesuatu apa pun. Ya Allah! Seandainya aku melakukan hal itu karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami, akhirnya batu tersebut terbuka dan mereka pun keluar dari gua tersebut, lalu pergi.”

31. Ikhlas dalam berniat walaupun belum melaksanakan amal yang ia niatkan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ الْقَتْلَ فِي سَبِيلِهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ أَعْطَاهُ اللهُ أَجْرَ الشَّهِيدِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ.

Barangsiapa yang memohon kepada Allah terbunuh karena (berjuang) di jalan-Nya dengan tulus dari dalam hatinya, maka Allah akan memberikan pahala orang yang mati syahid kepadanya, walaupun dia mati di atas tempat tidurnya.”1

32. Ikhlas dalam bersikap zuhud
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا  ِللهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ اْلإِيْمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا.

Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (kemewahan) karena ketawadhu’an di jalan Allah padahal ia sanggup untuk melakukannya, maka Allah akan menyerunya pada hari Kiamat di hadapan para makhluk, sehingga dia diberikan pilihan untuk memakai perhiasan keimanan mana saja yang ia inginkan.2

33. Ikhlas dalam berendah hati (tawadhu’)
Hal ini sebagaimana diungkap dalam hadits terdahulu, di dalamnya terdapat ungkapan, “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian karena ketawadhu’an di jalan Allah…”

Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ

Siapa saja yang bertawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”3

34. Ikhlas ketika membangun masjid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ.

Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah, maka Allah akan membangun semisalnya bagi orang tersebut di dalam Surga.”4

Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ.

Barangsiapa membangun masjid dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan membangun semisalnya untuk orang tersebut di dalam Surga.” [HR. Al-Bukhari].

35. Ikhlas ketika mengunjungi masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk belajar atau mengajar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْر،ٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ فِي مَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini dengan tujuan kebaikan, baik belajar atau untuk mengajarkan kebaikan tersebut, maka kedudukannya bagaikan seorang mujahid di jalan Allah, dan siapa saja yang datang dengan tujuan yang lainnya, maka dia bagaikan orang yang melihat harta orang lain.”5

36. Ikhlas dalam mempersiapkan perlengkapan pejuang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

Barangsiapa yang mempersiapkan (perlengkapan perang) orang yang berjuang di jalan Allah, maka dia telah (mendapatkan pahala) orang yang berjuang di jalan Allah, dan barangsiapa yang menjadi pengganti orang yang berjuang di jalan Allah (untuk menanggung keperluan) keluarganya, maka dia telah (mendapatkan pahala) seperti orang yang berjuang di jalan Allah.” [HR. Al-Bukhari]

Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الْغَازِي شَيْئًا

Barangsiapa yang mempersiapkan perlengkapan orang yang berjuang di jalan Allah, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang itu tanpa dikurangi dari pahala orang yang berjuang tersebut sedikit pun.”6

37. Ikhlas saat mengantarkan jenazah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَبِعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهَا حَتَّى يُصَلِّى عَلَيْهَا، وَيَفْرُغُ مِنْ دَفْنِهِ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ اْلأَجْرِ بِقِيْرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيْرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أُنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيْرَاطٍ مِنَ اْلأَجْرِ

Barangsiapa yang mengantarkan jenazah seorang muslim dengan didasarkan atas keimanan dan dengan penuh keikhlasan (mengharapkan ganjaran hanya kepada Allah), dia bersamanya sehingga dia menshalatkannya, dan sehingga selesai menguburnya, maka dia kembali dengan membawa pahala sebesar dua qirat, satu qirat sebesar gunung uhud, dan barangsiapa yang menshalatkannya, lalu kembali sebelum dikubur, maka dia kembali dengan membawa pahala sebesar satu qirat.7

38. Ikhlas dalam memberikan makanan kepada orang lain
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan orang-orang yang ikhlas dengan firman-Nya:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Al-Insaan/76: 8-9]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ. قَالَ : اِقْسِمِيْهَا. فَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِم ُتَقُوْلُ: مَا قَالُوْا ؟ تَقُوْلُ الْخَادِمُ: قَالُوْا: بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ، فَتَقُوْلُ عَائِشَةُ: وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ، نَرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Dihadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor kambing, lalu beliau berkata, ‘Bagikanlah (dagingnya)!’ Adalah ‘Aisyah jika seorang pembantu pulang, dia berkata, ‘Apakah yang mereka katakan?’ Sang pembantu menjawab, ‘Mereka berkata, ‘Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian.’’ Lalu ‘Aisyah berkata, ‘Semoga keberkahan dilimpahkan pula kepada mereka, kita membalas seperti yang mereka katakan, sedangkan pahala kita tetap bagi kita.’”8

Di antara kesempurnaan keikhlasan ‘Aisyah Radhiyallahu anha adalah bahwa beliau sama sekali tidak menunggu se-suatu walaupun itu hanya berdo’a.

39. Ikhlas dalam berdo’a
Allah Shallallahu ‘alaihi wan sallam berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdo’alah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-A’raaf/7: 55]

Diriwayatkan dalam kitab Tafsiir Ibni Katsir (II/221), dari Ibnu Jarir, beliau berkata, “Dengan penuh kekhusyu’an dan kerendahan hati, dengan penuh ketaatan dan dengan diam-diam, berucap dengan kekhusyu’an hati kalian dan keyakinan akan keesaan-Nya, dan kerububiyyahan-Nya, bukan dengan terang terangan karena ingin dilihat orang lain.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْلإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ.

Berdo’alah kalian kepada Allah dengan meyakini bahwa do’a kalian dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang lalai dan bermain-main.”9

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Sudah terdahulu takhrij hadits ini.
2  HR. At-Tirmidzi dan terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 6021).
3  Shahiihul Jaami’ (no. 6038).
4  Shahiihul Jaami’ (no. 6006).
5  Shahiihul Jaami’ (no. 6060).
6  Shahiihul Jaami’ (no. 6070).
7  HR. Al-Bukhari dan an-Nasa-i dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
8  Shahiih al-Kalimith Thayyib (no. 238).
9  Sudah diungkapkan terdahulu takhrijnya.

Mengobati Penyakit Riya’ Dan Berlepas Diri Darinya

 MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(1/6)

1. Mengetahui keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya dan penuh perhatian terhadap ketauhidan sesuai dengan kemampuan
Ketahuilah –wahai saudaraku sesama muslim– bahwa di antara penyebab riya’ adalah mengagungkan manusia dan kurang mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam jiwa, dan di antara obat untuk penyakit ini adalah mengetahui macam-macam tauhid dengan baik, dan pembahasan hal ini sangatlah luas, oleh karena itu kami akan mengungkapkannya satu sisi sederhana saja darinya, yang merupakan sebuah renungan dan pelajaran bagi kita semua:

A. Sesungguhnya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kapan saja Dia inginkan, maka buanglah keyakinan yang rusak di dalam diri Anda bahwa manusia dapat memberikan manfaat atau mudharat kapan saja mereka mau dan berkehendak, dan syaitan masuk ke dalam diri Anda agar Anda menghiasi ibadah di hadapan orang lain dengan prasangka bahwa mereka dapat memberikan manfaat atau mudharat dengan kekuasaan mereka, perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Abbas:

يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Wahai anak muda! Aku akan mengajarimu beberapa kalimat, “Jagalah Allah, pasti Allah akan menjagamu, jagalah Allah, pasti engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu, jika engkau memohon sesuatu, memohonlah kepada Allah, jika engkau meminta tolong, mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika umat (manusia) bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu, qalam (pena) telah diangkat dan catatan-catatan amal telah mengering (tintanya).1

B. Ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, Dia melihat dan mendengarkanmu, Dia juga mengetahui apa yang tersembunyi dan nampak di dalam diri Anda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Syuuraa/42: 11]

Di dalam ayat lain:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” [Al-‘Alaq/96: 14]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat yang lain:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [Al-Mulk/67: 14]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat yang lain:

أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ

“…Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia?” [Al-Ankabut/29: 10]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat yang lain:

 وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“…Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Yunus/10: 61]

Maka kenapa Anda merasa diawasi oleh manusia tetapi tidak merasa diawasi oleh Allah, padahal Dia-lah yang Mahasuci dan Maha Mengetahui segala sesuatu atas dirimu! Apakah Anda tidak merasa cukup dengan pengawasan Allah kepada Anda? Dia-lah Allah yang berfirman:

 أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.” [Az-Zumar/39: 36]

C. Ketahuilah bahwa Allah Mahaagung, maka agungkanlah Dia di dalam hati Anda, dan hayatilah keagungan-Nya atas semua makhluk. Dalam sebagian hadits diungkapkan:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak engkau lihat, dan aku mendengar apa yang tidak engkau dengar, langit berbunyi2, dan pantas jika dia berbunyi, karena tidak ada satu tempat sebesar empat jari pun kecuali padanya ada Malaikat yang meletakkan keningnya untuk bersujud kepada Allah. Demi Allah seandainya kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, kalian tidak akan bersenang-senang dengan para wanita (isteri) di atas tempat tidur, bah-kan kalian akan pergi ke suatu tempat yang tinggi untuk memohon pertolongan kepada Allah.”3

Di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَاالسَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فيِ الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ.

Tidaklah perbandingan antara langit yang tujuh lapis dengan kursi kecuali bagaikan sebuah cincin yang dilemparkan pada padang pasir yang luas, dan perbandingan antara ‘Arsy dengan kursi tersebut bagaikan padang pasir yang luas dengan cincin itu.”4

Di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيْرَةُ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ

Diizinkan kepadaku untuk berbicara tentang seorang Malaikat dari para Malaikat yang membawa ‘Arsy, sesungguhnya jarak antara daun telinga dengan pundaknya adalah sejauh perjalanan tujuh ratus tahun.”5

Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ إِلَيْهِ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.

Baitul Makmur berada di langit ke tujuh, setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu Malaikat dan tidak akan kembali lagi kepadanya sehingga datang hari Kiamat.”6

Di dalam riwayat yang lain:

حِيَالَ الْكَعْبَةِ.

Tepat dengan Ka’bah.”7

2. Mengetahui siksa dan nikmat kubur

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  HR. Ahmad dalam Musnadnya dan at-Tirmidzi serta yang lainnya. Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 7834).
2  Banyaknya para Malaikat yang memenuhi langit untuk beribadah telah menjadikannya mengeluarkan suara, hal ini diungkapkan oleh an-Nawawi di dalam kitab Riyaadush ash-Shaalihiin.
3  HR. At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya.
4  Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 109) karya guru kami al-Albani.
5  Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 151).
6  As-Silsilah ash-Shahiihah (no. 474).
7  As-Silsilah ash-Shahiihah (V/237).

Mengetahui Siksa Dan Nikmat Kubur

MENGETAHUI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(2/6)

2. Mengetahui Siksa dan Nikmat Kubur1
Ketahuilah bahwa di antara sebab riya’ dan syirik adalah tidak adanya petunjuk hati untuk takut terhadap siksa kubur, Neraka dan segala sesuatu yang menakutkan setelah kematian, dan karena masalah ini adalah masalah yang sangat luas, karena itu saya hanya dapat menyebutkan sedikit sekali dari sesuatu yang sangat banyak, dengan harapan semoga apa yang saya ungkapkan ini menjadi sebuah pelajaran dan wejangan, di dalam pembahasan ini saya merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi/18: 110]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyertakan taufiq di dalam amal shalih dengan berharap bertemu Allah, karena itu dia harus mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan perjumpaan dengan Allah, berupa nikmat dan siksa, kebahagiaan dan kesengsaraan. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon pertolongan.

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju jenazah seseorang dari kalangan Anshar, sampailah kami di kuburnya dan ternyata dia belum disimpan di liang lahad, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan menghadap kiblat sedangkan kami duduk di sekitarnya dan seakan-akan di atas kepala kami ada burung, di tangan beliau ada sebuah tongkat yang dipukulkan ke bumi, (beliau menatap langit dan melihat bumi (tanah), mengangkat pandangannya dan menurunkannya, (sampai tiga kali). Lalu beliau bersabda, ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur (sebanyak dua atau tiga kali).’ Kemudian beliau berkata: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِYa Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur (sebanyak tiga kali).’ Kemudian beliau bersabda, ‘Jika seorang mukmin meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka para Malaikat dengan wajah yang putih akan turun dari langit kepadanya, seakan-akan wajahnya itu adalah matahari, mereka membawa kain kafan dan hanut2 dari Surga, kemudian mereka akan duduk sejauh pandangan, lalu datanglah Malaikat maut, sehingga dia duduk di kepalanya seraya berkata, ‘Wahai jiwa yang baik (di dalam satu riwayat, yang tenang), keluarlah menuju ampunan dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.’’”

Beliau berkata, “Kemudian ruh itu keluar bagaikan setetes air yang keluar dari mulut wadah, lalu ia (Malaikat maut) mengambilnya (di dalam satu riwayat: Sehingga ketika ruhnya itu keluar, maka semua Malaikat yang berada di antara langit dan bumi mendo’akannya, dibukakan baginya pintu-pintu langit dan tidak ada seorang pun penjaga pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh orang itu dibawa oleh mereka). Ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun, akan tetapi mereka mengambilnya dan meletakkannya di atas kafan dengan hanutnya (itulah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُوْنَ ‘…Ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya),’ ruh hamba tersebut keluar dengan wangi semerbak bagaikan misik yang paling wangi di dunia.”

Beliau berkata, “Lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidak melewati satu Malaikat pun, kecuali mereka akan berkata, ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan putera Fulan’ –dengan menyebutkan namanya yang paling baik di dunia– sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) membukakannya, setiap penghuni langit akan mengantarkannya sampai ke langit berikutnya, sehingga sampai di langit ke tujuh, maka Allah berfirman, ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini di ‘Illiyyin.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ ﴿١٩﴾كِتَابٌ مَرْقُومٌ﴿٢٠﴾يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

(Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh Malaikat-Malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” [Al-Mu-thaffifiin/83: 19-21]

Maka kitabnya itu di tuliskan di dalam ‘Illiyyin, kemudian dikatakan, ‘Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya Aku) menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi.’”

Beliau berkata, ‘Maka (ruh itu dikembalikan ke bumi) dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, ‘Sesungguhnya dia mendengarkan suara sendal para pengantarnya ketika mereka pulang’).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukkannya, lalu bertanya, ‘Siapakah Rabb-mu?’ ‘Allah Rabb-ku,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah agamamu?’ ‘Islam agamaku,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’ ‘Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah pekerjaanmu?’ ‘Aku membaca al-Qur-an, lalu aku mempercayainya dan membenarkannya,’ jawabnya. Lalu mereka membentaknya dengan berkata, ‘Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?’ Itulah cobaan terakhir yang diberikan kepada seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” [Ibrahim/14: 27]

Karena itu sang hamba menjawab, ‘Rabb-ku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,’ lalu berserulah yang berseru di langit, ‘Hambaku benar, maka bentangkanlah baginya permadani dari Surga, berilah pakaian dari Surga, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Surga.’ Beliau berkata, ‘lalu datanglah semerbak mewangi dan dibentangkan baginya sejauh pandangan.’”

Beliau berkata, “Datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras yang indah, baju yang bagus dan wangi, dia berkata, ‘Aku datang kepadamu dengan membawa kabar gembira (aku membawa kabar gembira dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan Surga yang di dalamnya terdapat nikmat yang kekal), ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu,’ lalu dia berkata, ‘(Semoga Allah memberikan kabar gembira kepadamu), siapakah engkau? Wajahmu menampakkan kebaikan!’ Dia berkata, ‘Aku adalah amalmu yang shalih,’ (demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali engkau selalu bersegera di dalam melakukan ketaatan dan lamban di dalam melakukan kemaksiatan, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).’

Kemudian dibukakan baginya satu pintu Surga dan satu pintu Neraka, dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah tempatmu jika engkau bermaksiat kepada Allah, tetapi Allah menggantikannya dengan ini untukmu.’ Jika dia melihat Surga, maka dia berkata, ‘Ya Allah percepatlah hari Kiamat!! Agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku!’ Dikatakan kepadanya, ‘Tenanglah!’”

Beliau berkata, “Sedangkan hamba yang kafir (dalam satu riwayat yang fajir), jika dia meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, datanglah kepadanya para Malaikat yang sangat keras dengan wajah yang hitam dengan membawa misuh3 (dari Neraka), mereka duduk sejauh pandangan, kemudian datanglah Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .’”

Beliau berkata, “Kemudian jiwa itu berpecah belah di dalam tubuhnya, lalu dia (Malaikat maut) mencabutnya bagaikan tongkat (dengan cabang yang banyak) dicabut dari kain wol yang basah, (lalu urat dan otot pun putus), (maka semua Malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan yang ada di langit melaknatnya, ditutup baginya pintu-pintu langit dan tidak ada seorang pun penjaga pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh orang itu tidak dibawa oleh mereka), ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun, akan tetapi dia meletakkannya di atas misuh, ruh tersebut keluar dengan bau bangkai yang paling busuk di muka bumi, lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidaklah melewati satu Malaikat pun, kecuali mereka akan berkata, ‘Ruh siapakah yang busuk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan putera Fulan’ -dengan menyebutkan namanya yang paling buruk di dunia- sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) tidak membukakannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“…Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.. ..” [Al-A’raaf/7: 40]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini di Sijjin di bumi yang paling bawah,’ (kemudian dikatakan, ‘Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya Aku) menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi.’ Maka ruh itu dilemparkan dari langit sehingga jatuh pada jasadnya, kemudian beliau membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

 ‘…Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’ [Al-Hajj/22: 31]

Beliau berkata, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, ‘Sesungguhnya dia mendengarkan suara sendal para pengantarnya ketika mereka pulang’).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukannya, lalu bertanya, ‘Siapakah Rabb-mu?’ ‘Ah, ah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah agamamu?’ ‘Ah, ah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’ Dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk untuk mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya ‘Muhammad,’ dia berkata, ‘Ah, ah aku tidak tahu (aku mendengar orang lain mengatakannya!’ Dikatakan kepadanya, ‘engkau tidak tahu’) (dan engkau tidak mengikutinya),” lalu berserulah yang berseru di langit, ‘Hamba-ku pembohong, maka bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Neraka.’”

Beliau berkata, “Lalu datanglah panas dan anginnya yang panas dan kubur disempitkan baginya sehingga tulang-tulangnya berantakan. Datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras yang buruk, baju yang jelek dan bau yang busuk, dia berkata, ‘Aku datang kepadamu dengan membawa kabar buruk, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu.’ Lalu dia berkata, ‘(Semoga Allah memberikan kabar buruk kepadamu), siapakah engkau? Wajahmu membawa keburukan!’ Dia berkata, ‘Aku adalah amalmu yang jelek, (Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali engkau selalu lamban dalam melakukan ketaatan dan cepat di dalam melakukan kemaksiatan), (Semoga Allah membalasmu dengan kejelekan.’ Kemudian didatangkan kepadanya seseorang yang buta, tuli dan bisu, di tangannya terdapat sebuah mirzabah (sebuah palu besar yang biasa digunakan oleh tukang besi), jika alat itu dipukulkan ke gunung, niscaya gunung pun akan berubah menjadi tanah. Lalu dia memukulkannya kepada orang tersebut dan akhirnya berubah menjadi tanah, kemudian Allah mengembalikannya seperti semula, lalu dipukulkannya lagi, dia berteriak sehingga terdengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan baginya pintu Neraka dan dihamparkan baginya hamparan dari Neraka), dia berkata, ‘Ya Rabb-ku janganlah hari Kiamat itu didatangkan!!’”4

3. Mengetahui hadits-hadits yang menjelaskan tentang adzab Neraka

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Untuk lebih jelas lagi baca buku saya Nikmat dan Siksa Kubur.
2  Minyak khusus yang dicampur untuk kain kafan mayit dan badannya.
3  Pakaian yang terbuat dari bulu kasar.
4  Ditakhrij oleh guru kami di dalam kitab Ahkaamul Janaa-iz, hal. 159.