Category Archives: A8. Qur’an Hadits1 Keutamaan Al-Qur’an

Kuburan Bukan Tempat Membaca Al-Qur’ân

KUBURAN BUKAN TEMPAT MEMBACA AL-QUR’AN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibaca surat al-Baqarah di dalamnya.”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh :

  1. Imam Muslim dalam Shahiih-nya (no. 780).
  2. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2877), dan ia menshahihkannya.

SYARAH HADITS
Hadits ini dengan sangat gamblang menerangkan bahwa kuburan menurut syariat Islam bukanlah tempat untuk membaca al-Qur’ân. Tempat untuk membaca al-Qur’ân adalah di rumah atau di masjid. Syariat Islam melarang keras menjadikan rumah seperti kuburan, kita dianjurkan untuk membaca al-Qur’ân dan melakukan shalat-shalat sunnah di rumah.

Jumhur ulama salaf seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, Imam Mâlik rahimahullah, dan imam-imam lainnya melarang membaca al-Qur-an di kuburan. Berikut ini nukilan pendapat mereka.

Imam Ahmad rahimahullah  berpendapat bahwa membaca al-Qur’an di kuburan tidak boleh. Pendapat ini dibawakan oleh  Imam Abu Dawud rahimahullah dalam kitab Masâil Imam Ahmad. Imam Abu Daud rahimahullah mengatakan, “Aku mendengar  Imam Ahmad rahimahullah ketika beliau ditanya tentang membaca al-Qur’ân di kuburan ? Beliau menjawab, “Tidak boleh.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dari Imam asy-Syâfi’i rahimahullah sendiri tidak ada perkataan tentang masalah ini. Ini menunjukkan bahwa (baca al-Qur’ân di kuburan) menurut beliau adalah bid’ah. Imam Mâlik rahimahullah berkata, “Tidak aku dapati seorang shahabat pun juga tabi’in yang melakukan hal itu !”[1]

Yang wajib diperhatikan oleh seorang Muslim yaitu tidak boleh beribadah di sisi kuburan dengan melakukan shalat, berdoa, menyembelih binatang, bernadzar atau membaca al-Qur’ân dan ibadah lainnya. Tidak ada satupun keterangan yang sah dari Rasûlullâh n maupun para Sahabatnya yang mengisyaratkan mereka melakukan ibadah di sisi kubur. Sebaliknya, yang ada adalah ancaman keras bagi orang yang melakukan ibadah di sisi kuburan orang shalih, baik dia seorang wali ataupun seorang nabi, apalagi (jika tempat dia melakukan ibadah itu) bukan (kuburan) orang shalih.[2]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan ancaman keras bagi orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allâh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjis (tempat ibadah)[3]

Semua kuburan itu sama, tidak ada satupun kuburan yang keramat dan barakah. Dari sini kita ketahui bahwa orang yang sengaja mendatangi kuburan tertentu untuk mencari karamat dan barakah, berarti dia telah jatuh ke dalam perbuatan bid’ah atau syirik. Dalam Islam, tidak dibenarkan untuk sengaja melakukan safar (perjalanan) dalam rangka ziarah  ke kubur-kubur tertentu (dengan tujuan ibadah), seperti, kuburan wali, kyai, habib dan lainnya dengan niat mencari keramat dan barakah dan melakukan ibadah di sana. Perbuatan seperti ini terlarang dan tidak dibenarkan dalam Islam. Semua ini termasuk  bid’ah dan bisa menjadi celah yang menggiring sang pelaku ke perbuatan syirik.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِيْ هَذَا، وَالْـمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْـمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Tidak boleh mengadakan safar (perjalanan dengan tujuan beribadah) kecuali menuju tiga masjid, yaitu masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dam Masjidil Aqsha.[4]

Adapun adab ziarah kubur, kaum Muslimin dianjurkan ziarah ke pemakaman kaum Muslimin dengan mengucapkan salam dan mendo’akan agar dosa-dosa mereka diampuni dan diberikan rahmat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara faedah lain yang terdapat dalam hadits di atas (“Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan…”), yaitu seseorang tidak boleh dikubur di rumahnya. Dia dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin. Karena jika ia dikubur di rumahnya, akan terjadi beberapa hal berikut :

  1. Menjadi sarana yang bisa membawa kepada kesyirikan,
  2. Rumah itu berpeluang untuk diagungkan,
  3. Terhalang dari do’a kaum muslimin yang mendoakan ampunan kepada orang-orang Muslim yang sudah meninggal ketika mereka ziarah kubur,
  4. Akan menyusahkan ahli waris, membuat mereka bosan dan tidak senang, dan jika mereka ingin menjual rumah tersebut, maka tidak ada harganya (harganya murah).
  5. Dan akan tejadi juga di sisi kuburan tersebut hiruk pikuk, senda gurau, hal yang tidak bermanfaat, dan perbuatan-perbuatan  yang haram yang bertentangan dengan syari’at. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah, karena itu akan membuatmu mengingat akhirat.”[5]

Wallaahu A’lam bish Shawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  Lihat Iqtidhâ’ Shirâtil Mustaqîm (II/264) dan Ahkâmul Janâiz (hlm. 241-242).
[2] Fat-hul Majîd, Syarh Kitâbut Tauhîd, (Bab 18): “Sebab anak Adam kufur dan meninggalkan agama adalah karena ghuluw (berlebih-lebihan) kepada orang-orang shalih.” Dan bab 19: “Ancaman keras bagi orang yang beribadah kepada Allâh di sisi kubur orang yang shalih, lalu bagaimana jika ia menyembahnya?!” ditulis oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, tahqiq: Dr. Walid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Alu Furayyan.
[3]  HR. al-Bukhâri (no. 435, 1330, 1390, 3453, 4441), Muslim (no. 531), dan Ahmad (I/218, VI/21, 34, 80, 255), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
[4] HR. al-Bukhâri (no. 1189) dan Muslim (no. 1397 (511)) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan diriwayatkan juga oleh al-Bukhâri (no. 1197, 1864, 199) dan Muslim (no. 827) dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Derajatnya mutawatir. Lihat Irwâ-ul Ghalîl (III/226, no. 773).
[5] Al-Qaulul Mufîd ‘ala Kitâbit Tauhîd (I/445), Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Renungkanlah Ayat-Ayat Allah Azza Wa Jalla

RENUNGKANLAH AYAT-AYAT ALLAH AZZA WA JALLA !

Oleh
DR. Syaikh Shâlih bin Fauzân Alu Fauzân

Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah, seraya merenungi ciptaan-ciptaan-Nya, mentadaburi ayat-ayat-Nya. Dengan demikian, kita bisa memahami keagungan dan kekuasaan-Nya.

Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya, merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. [Shâd/38:27].

Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla itu ada dua macam:
Pertama : Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang bisa kita lihat. Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa semua ciptaan-Nya, baik di langit maupun yang di bumi, dengan segala makhluk yang ada di antara keduanya. Jumlahnya sangat banyak, dan kita tidak mengetahui jumlahnya.

Semua itu menjadi bukti yang menunjukkan bahwa hanya Dia-lah satu-satunya Rabb. Semua itu menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya.

Suatu ketika ada seorang Arab badui ditanya: “Bagaimana engkau bisa mengenal Tuhanmu?”

Dia pun menjawab: “Telapak kaki, menujukkan adanya orang yang berjalan. Kotoran, menunjukkan adanya unta. Bukankah alam raya ini menunjukkan ada penciptanya yang Maha Perkasa lagi Maha Agung?”

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy; Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [al-A’râf/7:54].

Kedua : Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa tulisan. Yaitu kalam dan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; yakni Al-Qur`aan yang ada di hadapan kita. Yang kita diperintahkan untuk mentadaburi dan merenungkan kandungan maknanya, menjalankan semua perintah yang ada di dalamnya, serta menjahui semua larangannya. Kelak, ia akan menjadi alasan Allah untuk mengadzab manusia, bila manusia menyia-nyiakannya. Atau sebaliknya, ia akan menjadi alasan manusia untuk mendapatkan balasan kenikmatan, bila manusia mau berpegang teguh dan mengamalkan dalam kehidupannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Dan Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah (kenikmatan bagimu) atau bisa menjadi malapetaka bagimu

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih. [al-Isrâ`/17:9-10].

Allah Azza wa Jalla meminta kita untuk merenungi, memikirkan dan mencermati ayat-ayat Allah Azza wa Jalla. Dengan merenungi ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka akan menumbuhkan rasa keagungan terhadap Allah Azza wa Jalla dalam hati kita, kecintaan yang mendalam kepada-Nya, mengokohkan keimanan kepada-Nya, memantapkan keyakinan tentang keesaan-Nya. Sebaliknya, jika kita meninggalkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka hati akan menjadi keras, mata menjadi buta, sehingga seakan tidak ada bedanya dengan binatang ternak yang hidup di muka bumi lalu mati menjadi tanah.

Pernahkan kita melihat alat yang kecil lagi rumit yang dibuat oleh manusia pada zaman sekarang, seperti handphone, laptop, dan lainnya? Seberapa besar kekaguman manusia terhadap alat-alat tersebut? Seberapa besar penghargaan manusia dengan penemuan itu? Padahal, itu hanya sebagian kecil dari ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala , karena penemuan itu bukan murni hasil karya manusia, tetapi masih termasuk ciptaan Allah Azza wa Jalla . Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan dan memberi ilmu kepada manusia, sehingga ia mampu menciptakan alat-alat itu.

Jika demikian, bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam diri manusia itu sendiri?

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan; dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? [al-Ghasyiyah/88:17-20].

Bumi, tempat tinggal kita ini, kita berjalan di atasnya, yang membawa dan mengangkat kita; langit yang menaungi kita, binatang ternak yang kita naiki, kita minum susunya, kita makan dagingnya, dan manfaat-manfaat lainnya, mengapa kita tidak mau mencermati dan merenunginya? Mengapa kita tidak mau menggunakan akal kita untuk memahami bahwa semua makhluk itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tidak diciptakan begitu saja lalu di biarkan? Semua itu diciptakan untuk maksud yang sangat mulia.

Kewajiban kita ialah untuk mencermati dan merenungi makhluk-makhluk Allah, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kewajiban setiap muslim ialah menjadikan apa yang dilihat di sekitarnya, bahkan apa yang ada di dalam dirinya itu memiliki nilai di depan matanya, yaitu untuk menunjukkan betapa besar keagungan dan kekuasaan penciptannya, menunjukkan betapa indah ciptaan-Nya, betapa banyak hikmah dari ciptaan-Nya. Allah Azza wa Jalla mengatur semua itu. Allahu Akbar! Allahu Akbar.

Marilah kita tetap dalam keadaan bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla . Karena sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat-Nya, tidak mau merenungi dan mentadaburinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?[Yûsuf/12 : 105-107]

Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak. Disebutkan dalam firman Allah

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).[al-Furqân/25 : 44]

(Diangkat dari al Khutab al Mimbariyyah, Syaikh Shâlih Fauzân, 5/65-72)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Istiqâmah Di Atas Al-Qur’an dan Sunnah Jalan Keselamatan

ISTIQAMAH DI ATAS AL-QUR’AN DAN SUNNAH JALAN KESELAMATAN

Istiqâmah di atas sunnah adalah keinginan setiap orang yang benar-benar beriman yang berharap bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan kebahagiaan akhirat serta takut terhadap murka Allâh Azza wa Jalla. Konsisten di atas ketaatan sampai tutup usia adalah kenikmatan tiada tara bagi orang yang beriman. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Siapakah manusia terbaik itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

orang yang panjang umurnya dan amal perbuatannya bagus

ditanya lagi, “Siapakah manusia yan terjelek itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

orang yang panjang usianya namun amal perbuatannya buruk

Oleh karena itu istiqâmah di atas petunjuk, senantiasa berada dalam ketaatan serta terus menjauhi larangan merupajan sifat kaum Mukminin sejati. Itu merupakan jalan satu-satunya untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allâh” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta [Fusshilat/41:30-31]

Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada Nabi-Nya juga para hamba-Nya agar istiqâmah menjalankan perintah-perintah-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [Hud/11:112]

Orang yang sering menjalankan perintah dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada jaminan bahwa dia akan meninggal dalam keadaan seperti itu, karena hati manusia sangat mudah berubah-rubah. Oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk bergaul dengan orang-orang yang buruk karena dikhawatirkan akan terpengaruh.

Terkadang ada orang yang zhahirnya taat dan istiqâmah, tapi kemudian dia menyimpang dengan berbagai sebab. Na’udzu billah. Atau sebaliknya, dia kafir atau ahli bid’ah, kemudian berubah menjadi Mukmin yang taat.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bergegaslah untuk melakukan amal-amal shaleh sebelum fitnah-fitnah (berdatangan) seperti malam yang gelap gulita. Ada orang yang pada pagi harinya dia Mukmin kemudian pada sore harinya dia menjadi kafir dan ada juga orang yang pada pagi harinya dia kafir kemudian pada sore harinya dia menjadi Mukmin, dia menjual agamanya dengan pernak-pernik dunia [HR. Muslim]

Karena fitnah yang begitu dahsyat, maka orang akan sangat cepat berubah, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Dari sini, kita juga mengetahui betapa istiqâmah di atas al-haq, al-Qur’an dan Sunnah itu begitu penting bagi seseorang yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Akhirnya, hanya kepada Allâh Azza wa Jalla kita memohon agar kita diberikan keistiqâmahan di al-haq yang berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ Ulama.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Ambillah Akidah Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih

AMBILLAH AKIDAH DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH YANG SHAHIH

Masalah akidah atau keimanan adalah masalah yang paling mendasar dan urgen dalam agama Islam. Masalah akidah dan keimanan merupakan masalah ghaib yang tidak bisa diketahui secara mendetail kecuali dengan hidayah atau bimbingan wahyu Allâh Azza wa Jalla yang diturunkan kepada umat manusia melalui para utusan-Nya. Oleh karena itu, kita disyari’atkan untuk selalu memohon dan memperbanyak permohonan hidayah (petunjuk) dan taufiq kepada-Nya.

Para Rasul utusan Allâh Azza wa Jalla itu  menjelaskan kepada umat manusia apa yang wajib mereka imani dan yakini serta menjabarkan kepada mereka apa yang wajib diamalkan. Para Rasul tidak akan menyampaikan sesuatu tentang keimanan kecuali dengan bimbingan dan perintah dari Allâh Azza wa Jalla . Karena mereka juga pada asalnya tidak menahu tentang itu semua kecuali setelah diberitahu oleh Allâh Azza wa Jalla . Perhatikanlah firman Allâh Azza wa Jalla kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿٥٢﴾ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu? tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara para hamba Kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) jalan Allâh yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allâh-lah kembali semua urusan.[Asy- Syura/42:52-53]

Dalam ayat ini, dengan tegas Allâh Azza wa Jalla menyatakan kepada Nabi pilihan-Nya bahwa engkau wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman, kecuali setelah diberikan wahyu. Lalu bagaimana dengan kita?!

Disebutkan juga dalam ayat yang lain:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [An-Najm/53: 3-4]

Jadi tidak mungkin seseorang bisa menggapai hidayah kecuali dengan meruju’ kepada kitabullah dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  artinya, ketika seseorang meyakini suatu akidah, maka itu harus berdasarkan firman Allâh dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu adalah ilmu yang sebenarnya. Itulah cahaya yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla dan jalan lurus satu-satunya yang telah diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allâh agar kamu bertakwa. [Al-An’am/6:153]

Marilah kita renungi bersama kisah kedatangan utusan Abdul Qais kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. Diantara sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para utusan tersebut:

آمُرُكُمْ: بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَهَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ؟ “، قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Aku perintahkan kepada kalian agar beriman kepada Allâh Azza wa Jalla ? Tahukah kalian, apa itu beriman kepada Allâh Azza wa Jalla ? Mereka menjawab, “Allâh dan rasul-Nya yang lebih tahu.”

Kisah ini semakin menegaskan bahwa iman, agama dan akidah hanya bisa diketahui melalui al-Qur’an dan as-Sunnah, tidak dari yang lain. Semua jalan lain yang dianggap bisa menghantarkan seseorang kepada akidah yang benar, maka itu hanya sangkaan yang keliru, awal penyimpangan dan salah satu bentuk tindakan yang lancang  terhadap petunjuk Allâh Azza wa Jalla.

Akidah tidak bisa diambil dari akal manusia, mimpi, khayalan, pengalaman juga adat turun temurun, tanpa ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita semua sampai akhir kehidupan dunia kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Rahasia Dalam Bacaan Surat Al-Fatihah

RAHASIA DALAM BACAAN SURAT AL-FATIHAH

Shalat mempunyai posisi yang sangat penting. Ia adalah tiang penyangga agama ini. Sedangkan tiang penyangga utama dari shalat itu sendiri adalah bacaan al-Fâtihah, yang berulang kali dibaca setiap Muslim dalam setiap raka’at di dalam shalatnya. Maka tidak heran, bila tanpa membaca al-Fâtihah, shalat tidak sah. Namun sangat naïf bila seorang Muslim tidak tergerak untuk mendalami apa sebenarnya yang ia baca dalam shalatnya, terutama dalam membaca surat al-Fâtihah. Dan sudah seyogyanya bila semua Muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunâjat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih menghadirkan dialog ruhani dengan Rabbnya, dan lebih dekat untuk diterima shalatnya.

Berikut ini kami sajikan ulasan dan renungan yang dibawakan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah terkait dengan rahasia bacaan dalam surat al-Fâtihah. Semoga memicu kita untuk lebih menghadirkan hati saat bermunâjat dengan-Nya Azza wa Jalla.

Bila orang yang sedang shalat membaca:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allâh dari syaitan yang terkutuk;

Maka saat itu, dia sungguh telah berlindung kepada satu pilar yang sangat kokoh, ia telah berlindung kepada daya dan kekuatan Allâh Azza wa Jalla dari musuhnya yang terus berusaha memotong jalannya menuju Rabbnya. Musuh yang terus berusaha menjauhkannya dari Allâh Azza wa Jalla . (Tujuan musuh ini yaitu menyeret orang yang shalat ini-red) agar berada dalam keadaan terburuk.

Bila ia lanjutkan bacaannya dengan membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam. [Al-Fâtihah/1:2]

ia berhenti sejenak, (seakan) menunggu jawaban dari Rabb-nya yang berfirman:

حَمِدَنِي عَبْدِي

Hamba-Ku memuji-Ku.

Hal yang sama dilakukannya bila ia telah usai membaca:

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ar-Rahmânir Rahîm, [Al-Fâtihah/1:3]

Ia berhenti sejenak menunggu jawaban Rabb-nya:

أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

Hamba-Ku menyanjung-Ku

Juga selepas membaca:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

mâliki yaumid dîn; [Al-Fâtihah/1:4]

ia berhenti menunggu jawaban Rabb-nya:

مَجَّدَنِي عَبْدِي

Hamba-Ku mengagungkan-Ku

Duhai sungguh nikmat hatinya, betapa matanya terasa sejuk dan jiwanya penuh dengan kegembiraan tatkala mengetahui Rabb nya mengatakan, “Hamba-Ku” yang diulang sebanyak tiga kali. Demi Allâh! Sekiranya bukan karena kabut syahwat dan nafsu yang menggelayut di hati, tentu hati para hamba (yang sedang shalat itu-red) akan melonjak girang dan bahagia karena ucapan dari Rabbnya, Penciptanya dan Dzat yang diibadahinya, “Hamba-Ku telah memuji-Ku. Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

Kemudian dalam hatinya ada ruang di mana ia bisa menyaksikan (maksudnya meyakini dan memahami) tiga nama Allâh Azza wa Jalla tersebut yang merupakan pokok dasar dari al-Asmâ’ul Husnâ, yaitu: Allâh, ar-Rabb, dan ar-Rahmân.

Tatkala menyebut nama Allâh Azza wa Jalla , hatinya menyaksikan (meyakini dan memahami) Ilâh yang diibadahinya Yang Esa lagi ditakuti, di mana tidak ada yang berhak dan yang pantas untuk diibadahi selain Dia, yang semua wajah tunduk kepada-Nya, semua yang ada pun patuh tunduk hina kepada-Nya. dan semua suara pun lirih khusyu’ nan khidmat kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allâh. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, [Al-Isrâ’/ 17: 44]

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. [Ar-Rûm/ 30: 26]

Dia Yang menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan jin dan manusia, burung dan binatang liar, surga dan neraka, begitu pula Dia mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, menetapkan berbagai syariat, dan mengharuskan para hamba untuk tunduk pada perintah dan larangan-Nya.

Dan tatkala menyebut nama: Rabbul âlamîn; Rabb Pemilik semesta alam; iapun menyaksikan (meyakini) Dzat Yang Berdiri dengan sendiri-Nya, dan segala sesuatu yang ada, eksis karena-Nya. Dialah yang mengatur dan menjaga setiap jiwa dengan kebaikan dan keburukannya. Dia bersemayam di atas Arsy-Nya, dan mempunyai kendali mutlak dalam mengatur kerajaan-Nya. Pengaturan semesta semuanya ada di tangan-Nya, dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Semua pengaturan secara detail itu turun dari sisi-Nya melalui para malaikat-Nya; dengan memberikan pemberian dan menahannya; dengan menurunkan (derajat para musuh-Nya) dan mengangkatnya (derajat kaum Mukmin); dengan menghidupkan dan mematikan; dengan memberi suatu kekuasaan dan juga melengserkan dari kekuasaan; dengan menyempitkan (rezeki dan lainnya) dan melapangkannya; menyingkap berbagai kesulitan; menolong orang-orang yang berduka yang meminta pertolongan; mengabulkan  doa orang-orang yang tengah dalam keadaan terhimpit nan terpaksa.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. [Ar-Rahmân/ 55: 29]

Tidak ada yang bisa mencegah apa yang Dia beri dan juga  tidak ada yang memberi apa yang Dia cegah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapan-Nya, dan tidak ada yang menolak perintah-Nya. Tidak ada yang merubah kalimat-Nya. Para Malaikat dan Jibril naik menuju-Nya; dipaparkan amalan pada pagi dan petang hari, sehingga Dia menentukan berbagai ketentuan takdir, dan memberikan waktu-waktu masanya, kemudian menggiring ketentuan takdir tersebut pada waktunya; di mana Dia mengatur itu semua dan menjaganya serta berbagai kepentingannya.

Kemudian ketika menyebut nama ar-Rahman, hatinya menyaksikan (mengerti dan menyadari) Rabb Yang senantiasa baik kepada makhluk-Nya dengan beraneka ragam kebaikan, mencurahkan kepada mereka berbagai macam nikmat. Rahmat (kasih sayang) dan  ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allâh Azza wa Jalla  memberikan limpahan nikmat dan anugerah kepada setiap makhluk. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan begitu pula nikmat-Nya menyentuh setiap yang hidup.

Jangkauan Rahmat-Nya sama dengan jangkauan  ilmu-Nya (dan itu tiada berbatas). Dengan rahmat-Nya, Dia bersemayam di atas arsy-Nya; Dengan rahmat-Nya, Dia menciptakan semua makhluk-Nya; Dengan rahmat-Nya, Dia menurunkan Kitab-Nya; Dengan rahmat-Nya, Dia mengutus para rasul-Nya; Dengan rahmat-Nya, Dia menetapkan syariat; Dengan rahmat-Nya, Dia menciptakan surga dan neraka. Dan sesungguhnya pecut yang dipergunakan untuk menggiring para hamba-Nya yang beriman menuju surga-Nya adalah rahmat-Nya dan pecut yang dipergunakan untuk membersihkan dosa-dosa para hamba-Nya yang bertauhid yang bermaksiat juga adalah rahmat-Nya. Termasuk penjara yang dipergunakan untuk memenjarakan para makhluk yang menjadi musuh-Nya, itu juga rahmat-Nya.

Perhatikanlah rahmat dan nikmat-Nya yang sempurna yang ada dalam perintah dan larangan-Nya, juga wasiat dan petuah-Nya. Perhatikanlah rahmat dan nikmat-Nya yang ada pada para makhluk-Nya!

Jadi, rahmat Allâh adalah tali penghubung Allâh Azza wa Jalla dengan para hamba-Nya, sebagaimana ubudiyyah (penghambaan diri seorang hamba) adalah tali penghubung mereka dengan Allâh Azza wa Jalla . Jadi ubudiyah itu adalah tali penghubung dari makhluk menuju Rabb mereka, sedangkan tali penghubung dari Allâh Azza wa Jalla kepada para makhluk-Nya adalah rahmat.

Dan di antara momen paling sepesial pemandangan nama ini yang paling khusus (paling spesifik yang disaksikan hamba) adalah: apa yang disaksikan oleh orang yang sedang shalat berupa bagian rahmat yang didapatnya, yang membuatnya bisa berdiri di hadapan Rabbnya, yang membuatnya bisa mewujudkan peribadatan dan munajat kepada-Nya; yang memberinya kesempatan ini dan tidak memberikannya kepada lainnya; yang menggerakkan hatinya untuk dekat dengan-Nya dan membuat hati lain tidak tergerak untuk mendekat kepada-Nya. Dan itu adalah di antara rahmat Allâh kepadanya.

Bila orang yang sedang shalat membaca:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai di hari Pembalasan [Al-Fâtihah/1:4]

Di sini ia menyaksikan atau mempersaksikan keagungan yang hanya pantas untuk dimiliki oleh Allâh (tidak untuk yang lain sama sekali-red). Ia menyaksikan (meyakini) Dzat Yang Maha Menguasai lagi Maha mengalahkan. Semua makhluk tunduk kepada-Nya, semua wajah merunduk kepada-Nya, dan semua penguasa lalim takluk kepada keagungan-Nya, serta semua yang memiliki kebesaran tunduk kepada keagungan-Nya.

Bila ia tidak termasuk orang-orang yang meniadakan (ta’thîl) hakikat sifat kekuasaan kerajaan-Nya, maka itu akan membuatnya bisa menyaksikan hakikat dari Asma’ dan sifat Allâh; di mana bila meniadakan hakikat sifat kekuasaan kerajaan-Nya berarti sama saja dengan meniadakan kekuasaan-Nya dan mengingkarinya. Karena sesungguhnya Penguasa Yang haq, yang kekuasaan-Nya maha sempurna, pasti Dia Maha hidup, Maha berdiri sendiri yang semua makhluk bergantung kepada-Nya, Maha mendengar, Maha melihat, Maha berkehendak, Maha Kuasa, Maha berbicara, Memberi perintah, Memberi larangan, bersemayam di atas singgasana kerajaan-Nya; Dia mengutus para rasul-Nya ke semua penjuru kerajaan-Nya dengan membawa perintah-Nya. Allâh Azza wa Jalla ridha terhadap orang yang memang berhak untuk mendapat ridha-Nya, memberinya pahala, memuliakannya dan mendekatkannya. Dan Allâh Azza wa Jalla juga marah terhadap orang yang berhak mendapatkan murka-Nya, menghukumnya, menghinakannya dan menjauhkannya. Dia menyiksa orang yang Dia kehendaki, dan mengasihi orang yang Dia kehendaki. Dia memberi orang yang Dia kehendaki, tidak memberi kepada yang Dia kehendaki. Dia mendekatkan yang Dia kehendaki serta menjauhkan yang Dia kehendaki. Dia memiliki negeri siksa yaitu neraka dan memiliki negeri kebahagiaan tak terkira yaitu surga.

Barangsiapa yang menggugurkan sesuatupun dari itu semua, menentangnya atau mengingkarinya, maka sungguh ia telah mencela kekuasaan-Nya dan telah menafikan kesempurnaan-Nya. Demikian pula orang yang mengingkari qadha dan qadar-Nya secara umum, maka artinya ia telah mengingkari kekuasaan-Nya dan kesempurnaan-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Maka orang yang sedang shalat itu mempersaksikan keagungan Rabb Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Saat orang yang sedang shalat itu membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan [Al-Fâtihah/1:5]

Maka, (hendaknya dia mengetahui) bahwa pada kedua kalimat itu terdapat rahasia penciptaan makhluk dan perintah Allâh, rahasia dunia dan akhirat. Ayat ini mengandung tujuan teragung dan wasilah terbaik (perantara terbaik untuk mewujudkan tujuan teragung tersebut-red). Tujuan teragung itu adalah beribadah kepada-Nya, sedangkan sarana terbaiknya adalah memohon pertolongan kepada-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allâh, dan tidak ada yang bisa membantu seseorang untuk beribadah kecuali Allâh Azza wa Jalla .

Jadi, beribadah kepada-Nya merupakan tujuan tertinggi dan pertolongan-Nya adalah jalan terbaik.

Ayat ini mengandug dua jenis tauhid yaitu tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah

Kemudian dengan membaca doa yang tertera dalam firman-Nya:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, [Al-Fâtihah/1:5]

ia mempersaksikan betapa dirinya sangat butuh dan sangat memerlukan apa diminta ini, tidak ada sesuatupun sama sekali yang lebih ia butuhkan dan lebih ia perlukan bila dibandingkan dengan apa ia minta dalam doa ini (yaitu memohon agar ditunjuki jalan yang lurus). Sesungguhnya ia memerlukan petunjuk itu dalam setiap tarikan nafas dan setiap kedipan matanya.

Apa yang diminta dalam doa ini tidak akan terwujud kecuali dengan diberi hidayah (petunjuk) yang bisa mengantarkannya menuju Allâh Azza wa Jalla . Dan hidayah itu adalah hidayah bayan (ilmu dari Allâh-red), diberi kemampuan untuk beramal, diberi kemauan (untuk melakukannya), lalu mewujudkannya dan mendapatkan taufiq (dari Allâh) untuk melakukannya dengan cara yang diridhai dan dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala, dan (diberi kemampuan untuk-red) menjaganya dari berbagai hal yang bisa merusaknya, baik saat ia melakukannya dan juga setelah ia melakukannya.

Karena seorang hamba senantiasa membutuhkan hidayah ini di setiap keadaan, dalam semua perbuatan yang ia lakukan maupun perbuatan yang ia tinggalkan, maka ia perlu bertaubat, karena terkadang ada tindakannya yang tidak sejalan dengan petunjuk.  Ia juga memerlukan tambahan hidayah (petunjuk) karena terkadang ia mengetahui petunjuk tentang sesuatu tapi baru yang pokok saja belum terperinci atau dia mengetahui tentang sesuatu dari satu sisi tapi tidak dari sisi yang lain. Maka disini dia memerlukan hidayah yang sempurna.

Terkadang juga ada petunjuk-petunjuk yang belum dia lakukan, maka disini dia memerlukan petunjuk (taufiq-red) agar bisa melakukan amalan tersebut sesuai dengan petunjuk Allâh Azza wa Jalla .

Terkadang dia sudah ditunjuki keyakinan dan amalan yang benar, maka di sini dia perlu petunjuk agar tetap istiqamah padanya dan lain sebagainya. Intinya dia membutuhkan berbagai macam hidayah.

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mewajibkannya untuk memohon hidayah ini dalam keadaan terbaiknya (yaitu berdiri shalat-red), berkali-kali dan berulang-ulang pada siang maupun malam

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah ini adalah mereka yang mendapatkan keistimewaan anugerah nikmat-Nya, bukan al-maghdhûbi ‘alaihim (orang-orang yang mendapat murka) yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak sudi untuk mengikutinya; juga bukan adh-dhallin (orang-orang yang tersesat); yaitu mereka yang menyembah Allâh tanpa dasar ilmu.

Dua kelompok di atas (yaitu yang dimurkai Allâh dan yang tersesat) mempunyai suatu kesamaan yaitu sama-sama berbicara (berdusta) atas nama Allâh mengenai perihal penciptaan, perintah-Nya, asma’ dan sifat-Nya tanpa dasar ilmu. Jadi, jalan orang-orang yang diberi nikmat berbeda sama sekali dengan jalan para pengikut kebatilan semuanya, baik dalam ilmu maupun dalam amalannya.

Ketika selesai dari ungkapan sanjungan kepada-Nya, doa dan tauhid, maka Allâh mensyariatkan bagi orang yang shalat untuk memungkasi hal tersebut dengan segel ucapan âmîn; di mana ucapan ini seolah stempel baginya. Ucapan âmîn ini akan bersamaan dengan ucapan âmîn dari para malaikat di langit.

Ucapan âmîn ini termasuk hiasan shalat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan hiasan shalat, disamping juga (angkat kedua tangan itu-red) adalah bentuk ittibâ’ (mengikuti) sunnah, mengagungkan perintah Allâh, sebentuk ubudiyyah dari dua tangan, dan simbol perpindahan dari satu rukun menuju rukun lain.

Kemudian ia mulai bermunajât kepada Rabbnya melalui firman-firman-Nya (membaca surat al-Quran), mendengarkan bacaan imam dengan diam menyimaknya dan menghadirkan hati.

Dzikir yang paling utama adalah dzikir tatkala ia berdiri (dalam shalat) dan sebaik-baik posisi orang yang shalat adalah posisi berdiri. Maka posisi ini dikhususkan untuk bacaan yang mengandung pujian, sanjungan, pengagungan dan untuk membaca Kalamullah  Azza wa Jalla. Karena itu juga, dilarang membaca al-Quran saat ruku’ dan sujud. Karena dua posisi ini adalah posisi yang menunjukkan kehinaan dan ketundukan serta kerendahan. Untuk itu, dalam kedua kondisi ini, disyari’atkan membaca dzikir yang sesuai  dengan posisi tubuh saat itu.

Itulah beberapa rahasia dalam bacaan surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Inilah Al-Qur’an Wahai Ummat Islam

INILAH AL-QUR’AN WAHAI UMMAT ISLAM

Oleh
Syaikh Su’ud Syuraim

Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan rahmat. Pada bulan ini, jiwa-jiwa yang suci akan tampak nyata, dan semangat meraih derajat keiman paling tinggi semakin kuat. Pada bulan ini, kecintaan kepada al-Qur’ân, keinginan untuk mentadabburinya dan mentaatinya semakin bertambah. Kaum Muslimin bagai tidak mau lepas dari al-Qur’an, yang merupakan sebaik-baik teman yang tidak pernah membosankan perkataannya. Barangsiapa membacanya seolah-olah dia sedang berbicara dengan ar-Rahmân.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ﴿١٥﴾ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allâh, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah, Allâh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allâh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [al-Mâidah/5:15-16]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur’ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. [al-Isra’/17:9]

Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat selain memandang dan membaca al-Qur’an sepanjang waktu serta mentadabburi (merenungi)nya. Amalan ini akan membuat seorang hamba mengetahui berbagai kebaikan dan keburukan serta kondisi para pelakunya, juga akan menampakkan gambaran hakikat dunia. Amalan ini juga membawa para pelakunya seakan berada diantara umat-umat terdahulu sembari menyaksikan adzab dan siksa yang Allâh Azza wa Jalla timpakan kepada umat-umat terdahulu tersebut.

Orang yang mentadabburi (merenungi) al-Qur’ân seakan melihat proses tenggelamnya kaum Nûh juga Fir’aun beserta pengikutnya; Mereka juga seakan mendapati bekas-bekas petir yang menyambar kaum ‘Ad dan Tsamûd.

Orang yang mentadabburi al-Qur’ân akan mengetahui dan memahami hakikat jalan kebaikan beserta buah yang akan diraih oleh para pelakunya juga akan mengetahui hakikat jalan keburukan beserta akibat yang akan menimpa para pelakunya.

Allâh telah menjadikan al-Qur’ân ini sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil. Orang yang mencari petunjuk dari al-Qur’ân, maka Allâh akan memuliakannya, sebaliknya barangsiapa mencari petunjuk dari selain al-Qur’ân, maka kehinaan pasti akan menimpanya.

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menemui Nafi’ bin Abdil Hârist di ‘Usfân – beliau adalah wakil dari Umar di Mekah, Umar bertanya, “Siapa yang kau jadikan pemimpin bagi penduduk lembah?” Nâfi’ Menjawab, “Ibnu Abza.” Umar bertanya lagi, “Siapakah dia?” Nafi’ menjawab lagi, “Salah seorang mantan budak kami.” Umar bertanya, “Kalian mengangkat seorang mantan budak?” Nafi’ berkata, “Dia pandai membaca (hafal) al-Qur’ân dan dia juga alim dibidang farâ’id (ilmu waris).” Lantas Umar berkata, “Sesungguhnya Nabi kalian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Sesungguhnya Allâh akan mengangkat derajat suatu kaum dengan sebab al-Qur’ân, dan menghinakan yang lainnya dengan sebab al-Qur’ân.” [HR. Muslim]

Al-Qur’ân adalah cahaya yang tidak bisa dipadamkan. Dia adalah jalan yang tidak pernah tersesat orang yang melaluinya; Dia sumber keimanan dan ilmu; Dia hidangan para Ulama dan penyejuk hati; Dia adalah undang-undang kehidupan, juga obat (penyembuh).

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى

Katakanlah, “Al-Qur’ân itu adalah petunjuk dan penawar bagi kaum Mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur’ân itu suatu kegelapan bagi mereka. [Fusshilat/41: 44]

Al-Qur’ân adalah kitab yang dijaga oleh Allâh Azza wa Jalla . Para pengikut hawa nafsu sangat berharap dan terus berusaha agar bisa menghapus ayat-ayat al-Qur’an beserta hukum-hukumnya dengan air laut agar tidak tersisa, tetapi itu sebatas keinginan yang tidak akan terwujud dan usaha yang tidak akan pernah berhasil, karena mereka tidak akan bisa mengalahkan Allâh Azza wa Jalla yang menjaga al-Qur’an.

Inilah dia kitab Allâh Azza wa Jalla yang turun melalui Jibril Alaihissallam. Lalu apakah yang telah dan yang akan kita lakukan dengannya? Akankah kita menjadikannya sebagai petunjuk dan undang-undang bagi kita dalam kehidupan kita? Ataukah hanya menjadi pajangan di rak buku, tidak tersentuh kecuali di bulan Ramadhân? Apakah kita akan berpegang teguh dengannya ataukah kita seperti unta yang kehausan di tengah padang pasir sambil membawa air di punggunghnya? Atau telinga kita seperti corong, ayat-ayat al-Qur’ân masuk melalui telinga kanan lalu keluar melalui telinga kiri?

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahîhnya, bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman pada Nabi-Nya.

إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ، وَأَنْزَلْتُ عَلَيْكَ كِتَابًا لَا يَغْسِلُهُ الْمَاءُ، تَقْرَؤُهُ نَائِمًا وَيَقْظَانَ

Sungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka untuk mengujimu dan menguji yang lain denganmu dan aku menurunkan sebuah kitab yang tidak bisa di cuci dengan air, kamu membacanya tatkala tidur dan terjaga.”

Inilah al-Qur’ân, kitab pegangan kaum Muslimin, yang mengatur tata cara hidup setiap insan. Maka wahai kaum Muslimin! Hendaklah kita bertakwa kepada Allâh! Hendaklah kita memperlihatkan amalan kita terkait kitab Allâh ini dengan cara membaca, mentadabburinya dan selanjutnya mengamalkannya.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. [Fathir/35:32]

Hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh! Hendaklah kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan membaca al-Qur’ân dan mentadabburi ayat-ayatnya, meraup faidah sebanyak-banyaknya dari pelajaran dan nasehat yang ada padanya. Karena di dalam al-Qur’ân terdapat berita orang sebelum dan sesudah kita. Alangkah beruntung orang yang mentadabburinya dengan benar; juga alangkah berutung orang yang hati dan kulitnya bergetar serta takut saat mendengar ayat-ayat al-Qur’ân lalu ia bergegas mengingat Allâh.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. [Qâf/50:37]

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa membaca al-Qur’ân, mentadabburinya lalu mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

(Diangkat dari Khutbah jum’at di Masjidil Haram pada tanggal 15 Ramadhan 1433 oleh Syaikh Su’ud Syuraim, dengan judul al-Qur’ân …Ya ummatal Islam)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur’an

KEWAJIBAN SEORANG MUSLIM TERHADAP AL-QUR’AN

Oleh
Ustadz Abu Sauda Eko Mas’uri

Bulan Ramadhan dinamakan bulan Al-Qur`ân karena pada bulan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur`ân sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan kebenaran, dan sebagai pembeda antara yang haq dengan yang bathil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). [al-Baqarah/2:185].

Al-Qur’ân merupakan sumber dari segala hukum Islam. Dengan Al-Qur`ân itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur`ân) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. [al-Furqân/25:1].

Demikian pula dengan Sunnah Nabi. Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki peran yang berdampingan dengan Al-Qur`ân menjadi pedoman hukum dalam syariat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [al-Hasyr/59:7].

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur`ân secara berangsur-angsur. Wahyu pertama turun saat Ramadhan pada malam Lailatul-Qadr, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ân) pada malam kemuliaan. [al-Qadr/97:1].

Usia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu ialah 40 tahun sebagaimana masyhur disebutkan oleh kalangan ahli ilmu. Usia yang ideal bagi seseorang dalam mencapai kesempurnaan nalar, akal dan pengetahuan.

Al-Qur`ân turun dari sisi Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihissallam. Dia adalah pemimpin para malaikat. Allah Ta’ala mensifati Malaikat Jibril dengan firman-Nya:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ﴿١٩﴾ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ﴿٢٠﴾مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Sesungguhnya Al-Qur`ân itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. [at-Takwîr/81:19-21].

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ﴿٥﴾ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. [an-Najm/53:5-6].

Dari uraian singkat di atas, kita bisa mengerti bahwa Al-Qur`ân memiliki kedudukan yang tinggi. Al-Qur`ân merupakan wahyu dari Rabbul-‘alamin, penguasa alam semesta, Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala. Al-Qur`ân diturunkan kepada manusia paling agung dan mulia semenjak Allah menciptakan manusia yang pertama hingga manusia yang terakhir. Pemimpin sekaligus pemimpin para nabi dan rasul. Beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Al-Qur`ân diturunkan dengan perantara makhluk yang taat kepada Allah, yaitu malaikat. Bahkan merupakan malaikat terbaik dan pemimpin para malaikat. Dialah Malaikat Jibril. Dan Al-Qur`ân diturunkan pada waktu yang sangat mulia, yaitu bulan Ramadhan. Bahkan malam diturunkan Al-Qur`ân merupakan malam lailatul-qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴿٢﴾لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴿٣﴾تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ân) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [al-Qadr/97:1-5].

Kemuliaan Al-Qur`ân lainya, yaitu ia akan tetap terjaga kemurniaannya hingga hari Kiamat. Dan masih banyak lagi keistimewaan yang terdapat pada Al-Qur`ân.

Setelah mengetahui kedudukan Al-Qur`ân, maka sebagai seorang Muslim, kita wajib mempedulikan Al-Qur`an. Kita lakukan amal-amal kebaikan berkaitan dengan kitab yang mulai ini.

1. Membaca Dan Menghafalkan Al-Qur`ân.
Membaca Al-Qur`ân merupakan langkah awal seseorang bermuamalah dengan Al-Qur`ân. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita rajin membacanya, sebagaimana tertuang dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ…

Bacalah Al-Qur`ân, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya. [HR Muslim].

Ketahuilah, Allah menjadikan amalan membaca Al-Qur`ân termasuk sebagai salah satu yang bernilai ibadah kepada-Nya. Allah memberikan pahala bacaan Al-Qur`ân bukan per surat atau per ayat, akan tetapi pahalanya per huruf dari Al-Qur`ân yang kita baca. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ لاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan tetapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf dan mim adalah satu huruf. [HR at-Tirmidzi].

2. Mentadabburi Dan Mempelajarinya Al-Qur`ân.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`ân, ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad/47:24].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. [Shâd/38:29].

3. Mengajarkan Al-Qur`ân.
Al-Qur`ân merupakan sebaik-baik ilmu. Barangsiapa yang menyebarluaskan dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan balasan yang terus mengalir Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَّةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, (yaitu) shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya. [HR Muslim].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya. [HR Bukhari].

4. Mengamalkannya.
Demikianlah kewajiban seseorang yang telah mengetahui sebuah ilmu. Hendaklah ia mengamalkannya. Suatu ilmu tidak akan berguna jika tidak pernah diamalkan. Karena buah dari ilmu ialah amal. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan memberi balasan berdasarkan amal yang dikerjakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. [ath-Thûr/52:16]

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. [al-Wâqi`ah/56:24].

Berkaitan dengan seorang ahlul-qur`an, Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Pengemban Al-Qur`ân harus bisa dikenali saat malam hari ketika manusia tertidur lelap, saat siang hari ketika manusia berbuka, dengan tangisnya ketika menusia tertawa, dengan wara’nya ketika manusia berbaur, dengan diamnya ketika manusia larut dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, dengan kekhusyuannya ketika manusia bersikap angkuh, dan dengan sedihnya ketika manusia bersuka cita”.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai ahlul-qur’an. Yaitu orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan membaca, mempelajari, mengajarkan dan mengamalkan al Qur’an. Sehingga pada hari Kiamat, Al-Qur`ân mendatangi untuk memberi syafaat bagi kita di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Sebagai wujud memuliakan Al-Qur`ân, hendaklah kita menjaga adab-adab saat membacanya.

1. Membacanya dalam keadaan yang paling sempurna. Yaitu dengan bersuci, menghadap kiblat dan duduk dengan sopan.

2. Membacanya dengan tartil dan tidak tergesa-gesa. Karena tidak layak seseorang membaca Al-Qur`ân dengan terlalu cepat, sehingga dalam waktu kurang dari tiga hari ia telah selesai mengkhatamkan bacaannya. Padahal terdapat sebuah riwayat tentang ashabus-sunnan dan dishahihkan at-Tirmidzi, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثِ لَيَالٍ لَمْ يَفْقَهْهُ

Barangsiapa yang (mengkhatamkan) membaca Al-Qur`ân dalam waktu kurang dari tiga hari maka ia tidak dapat memahaminya.

3. Selalu khusyu’ ketika membacanya, menampakkan kesedihan, dan berusaha menangis.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

اُتْلُوْا الْقُرْآنَ وَابْكُوْا. فَإِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكُوْا

Bacalah Al-Qur`ân dan menangislah. Apabila kamu tidak bisa menangis, maka berpura-puralah menangis.

4. Hendaklah memperindah suaranya.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنَ

Bukan golongan kami orang yang tidak membaca Al-Qur`ân dengan irama.

5. Seorang yang membaca Al-Qur`ân hendaklah menyembunyikan suaranya jika ia khawatir akan menimbulkan riya, atau sum’ah pada dirinya, atau apabila dikhawatirkan akan mengganggu orang yang sedang shalat.

Selanjutnya, hendaklah seorang muslim berusaha memperbanyak hafalan Al-Qur`ân di dadanya, karena hal ini termasuk tanda keimanan seseorang, dan salah satu tanda orang yang diberi ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, Al-Qur`ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zhalim.[al-Ankabut/29:49]

Sumber:
1. Ushulun fit-Tafsiir, karya Syaikh Muhammad Shâlih al-‘Utsaimin.
2. Minhajul-Muslim.
3. Artikel “Agama Adalah Nasihat,” Ustadz Yazid Abdul-Qadir Jawas. Lihat Majalah As-Sunnah, Rubrik Hadits, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, halaman 15-24.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Keutamaan Membaca Dan Merenungkan Surat Al-Baqarah

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MERENUNGKAN SURAT AL-BAQARAH

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ   رواه مسلم

Dari Abu Umâmah al-Bâhili Radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bacalah surah al-Baqarah, karena sesungguhnya selalu menetapinya mendatangkan keberkahan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan, dan para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya. [HR. Muslim][1]

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dan merenungkan surah al-Baqarah, sehingga Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan Membaca al-Qur’an Dan Membaca Surah al-Baqarah.[2]

Faidah Hadits
Beberapa mutiara faidah yang dapat kita ambil dari hadits ini:

  • Yang dimaksud dengan selalu menetapi surah ini adalah merutinkan membacanya, memahami kandungan dan mengamalkannya [3].
  • Arti ‘meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan’ adalah penyesalan dan kerugian karena luputnya pahala dan keutamaan yang agung dengan selalu menetapinya.[4]
  • Adapun makna ‘para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya’ yaitu mereka tidak akan mampu menghafal surah ini, atau mereka tidak akan mampu mengganggu orang yang selalu membacanya.[5]
  • Kata al-bathalah (para pelaku kebatilan atau kerusakan) dalam hadits ini artinya adalah para pelaku sihir, sebagaimana yang ditafsirkan oleh salah seorang rawi hadits ini,[6] dan penafsiran ini benar, karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat syirik dan kerusakan di muka bumi.

Diantara Keutamaan Surah al-Baqarah
Dalam hadits-hadits shahih yang lain banyak dijelaskan keutamaan surah al-Baqarah atau keutamaan ayat-ayat tertentu di dalam surah ini, diantaranya:

1. Menjauhkan rumah dan anggota keluarga dari keburukan dan tipu daya setan.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di dalamnya), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah[7]
Dalam lafazh riwayat at-Tirmidzi: “…Sesungguhnya syaitan tidak akan masuk ke rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah” [8]

2Di dalam surah ini terdapat ayat al-Kursi yang merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an.
Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepadaku):

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيَّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Wahai Abul Mundzir, apakah kamu mengetahui ayat apakah yang paling agung dalam a-Qur’an yang ada padamu (yang kamu hafal)?”. Maka aku berkata: “(Ayat al-Kursi) Allah tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya…” (al-Baqarah: 255). Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda: “Demi Allah, ilmu akan menjadi kesenangan bagimu, wahai Abul Mundzir!” [9].

3. Dua ayat terakhir dari surah ini merupakan sebab dicukupkannya seorang hamba dari segala keburukan dan dimudahkan baginya banyak kebaikan [10].
Dari Abu Mas’ud al-Badri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya di malam hari maka dua ayat tersebut akan mencukupi baginya” [11].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] HSR Muslim (no. 804).
[2] Kitab “Syarhu shahiih muslim” (6/89).
[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/63).
[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/63).
[5] Lihat kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/57).
[6] Lihat kitab “Shahih Muslim” (1/553).
[7] HSR Muslim (no. 780).
[8] HR at-Tirmidzi (5/157), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.
[9] HSR Muslim (no. 810).
[10] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/197).
[11] HSR al-Bukhari (no. 3786) dan Muslim (no. 807 dan 808).

Katakanlah,” Aku Dilupakan”

KATAKANLAH, “AKU DILUPAKAN”

Oleh
Ustadz Ashim bin Musthofa Lc,

Setiap manusia tidak bisa lepas dari sifat lupa, walaupun frekuensinya berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Sebagian mempunyai daya ingatan yang kuat dan hafalan yang kokoh, sehingga ia pun jarang mengalami kelupaan, sementara sebagian lainnya sifat lupanya sudah dikenal oleh orang-orang dekat lantaran ia sering lupa. Seseorang biasanya akan mengungkapkannya dengan bahasa, “Saya lupa”, atau ‘Saya tidak ingat”.

Menghafal Kitab Suci Al-Qur`ân atau sebagian surat dari surat-surat al-Qur`ân  merupakan salah satu ciri khas umat Islam yang tidak dimiliki oleh umat-umat lainnya. Melalui hafalan para Ulama, bacaan al-Qur`ân sampai kepada umat Islam dari generasi ke generasi selanjutnya, hingga generasi sekarang.

Meskipun demikian, lupa terhadap sebagian hafalan al-Qur`ân bukan perkara mustahil. Bahkan itu sebuah realita yang bisa dialami oleh penghafal al-Qur`an, baik yang rajin memelihara hafalannya, apalagi orang yang malas mengulang-ulang  hafalannya kembali.

Dalam kejadian lupanya seseorang terhadap  hafalan al-Qur`an, ia dilarang untuk menyatakan dengan ungkapan seperti di atas. Akan tetapi, petunjuk khusus dari Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan seseorang yang lupa akan hafalan-hafalan ayat-ayat dari Kitabullah.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  بِئْسَمَا لأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ ، اسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ ، فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا

Alangkah buruk salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. Maka, ingat-ingatlah Al-Qur`an. Hafalan Al-Qur`ân itu lebih mudah lepas  dari hati orang-orang daripada seekor unta dari ikatannya”. [HR. Al-Bukhâri no.5032]

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّي

Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. [HR. Muslim no.790]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan demikian pula kepada umat Islam. Beliau tidak mengatakan, “Aku lupa”, namun mengucapkan, “Aku dilupakan”.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَمِعُ قِرَاءَةَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ ، فَقَالَ : رَحِمَهُ اللَّهُ ، لَقَدْ أَذْكَرَنِي آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengarkan bacaan (al-Qur`an) seorang lelaki di dalam masjid. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allâh merahmatinya. Sungguh, ia telah mengingatkanku satu ayat yang sebelumnya aku dilupakan (untuk mengingat)nya”.  [HR. Al-Bukhâri no.4751dan Muslim no.788]

Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah telah menjelaskan hukum orang yang lupa ayat atau surat setelah ia menghafalnya. Beliau rahimahullah menguraikan dalam Kitâbul ‘Ilmi (hlm. 96-97), “Lupa terhadap hafalan al-Qur`ân ada dua macam. Pertama, lupa yang manusiawi. Kedua, lupa karena berpaling dari al-Qur`ân dan tidak mempedulikannya. Tentang sebab pertama, orang tidak berdosa karenanya dan tidak mendapatkan hukuman. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalaminya ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat  orang-orang dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lupa suatu ayat. Selesai shalat, Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu  mengingatkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengingatkanku ayat tersebut tadi?” Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang membaca (al-Qur`an), lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allâh merahmati si Fulan. Sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat yang aku dilupakan untuk mengingatnya”.

Ini menunjukkan bahwa lupa yang bersumber dari tabiat manusia, tidak ada celaan bila seseorang mengalaminya. Adapun lupa akibat berpaling dan tidak peduli, pelakunya bisa saja telah melakukan dosa karenanya.

Sebagian orang malah telah berhasil diperdaya oleh syaithan dan dibisiki untuk tidak menghafal al-Qur`an, agar tidak lupa dan selanjutnya tidak terjerumus dalam dosa (gara-gara lupa hafalannya). Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan:

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Sebab itu, perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah  [ An-Nisa/4:76]

Maka, seseorang hendaknya tetap menghafal al-Qur`ân, karena itu merupakan bentuk kebajikan dan berharap (kepada Allah) untuk tidak melupakannya. Dan Allâh Azza wa Jalla akan berbuat seperti prasangka seorang hamba kepada-Nya”.

Untuk mempertahankan dan menguatkan bacaan al-Qur`ân yang telah dihafalnya , seseorang tidak bisa tidak  mesti rajin membaca dan mengulang-ulangnya setiap hari.

Ulama-ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah Kerajaan Saudi berpesan dalam fatwanya (4/99), “Tidak sepantasnya seorang yang hafal al-Qur’ân lalai untuk membacanya dan bermalas-malasan untuk menjaganya. Akan tetapi, sebalinya, ia harus memiliki wirid harian (untuk membaca al-Qur`an) yang akan membantunya untuk mengokohkan hafalan dan terjaga dari kelupaan, dalam rangka mengharap pahala dan mendapatkan pelajarannya, baik berupa aqidah atau amalan. Akan tetapi, orang yang menghafal sesuatu dari al-Qur`ân kemudian ia lupa karena kesibukan atau kelalaian, ia tidaklah berdosa. Adapun ancaman-ancaman yang ada dalam hadits tentang lupa terhadap apa yang sudah dihafal, hadits-haditsnya tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “ . Wallâhu a’lam.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan pada hati kita cinta untuk membaca Kitab Suci-Nya, mempelajari dan menghafalnya, serta mengamalkan kandungannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Al-Qur`ân Menggugurkan Dalih Sistem Ekonomi Sosialis

AL-QUR’AN MENGGUGURKAN DALIH SISTEM EKONOMI SOSIALIS

Oleh
Ustadz M Ashim bin Mustofa Adnan

 Di sebagian belahan dunia, sistem ekonomi sosialis diadopsi untuk mengatur roda perekonomian dalam negeri. Sistem ekonomi sosialis (isytirâki) ini  biasa berkembang di negeri-negeri yang berlandaskan ideologi komunis dan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat.

Penganut sistem ini mengklaim bahwa apa yang mereka jalankan lebih baik daripada  sistem ekonomi  lainnya, terutama ekonomi kapitalis yang menjadi rival utamanya dan memang digulirkan untuk mendobrak ekonomi kapitalis yang menurut anggapan orang-orang sosialis telah menyengsarakan masyarakat.

PRINSIP SISTEM EKONOMI SOSIALIS
Sistem ekonomi sosialis mengikuti tiga prinsip yang berbeda dengan sistem ekonomi sebelumnya yaitu :

  • Pertama, menghapus kepemilikan individu.
  • Kedua, negara menguasai aset dan mengatur roda perekonomian
  • Ketiga, melakukan kebijakan di atas dengan dalih mendistribusikan kesejahteraan  dan kemakmuran dengan rata kepada seluruh masyarakat.

APA PANDANGAN ISLAM TERHADAP PAHAM SOSIALIS INI?
Sebaik-baik aturan adalah aturan yang datang dari Allâh Pencipta, Dzat Yang Maha Mengetahui kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Karenanya, Dia Azza wa Jalla menetapkan syariat yang merealisasikan kebaikan bagi mereka dan menjauhkan mereka dari keburukan, di dunia maupun akhirat. Inilah salah satu prinsip yang harus dipegangi oleh seorang Muslim dan Muslimah terkait hukum-hukum Allâh  Azza wa Jalla secara umum.

Sedangkan sistem ekonomi sosialis (termasuk kapitalis dan sistem-sistem ekonomi lainnya) hanyalah merupakan gagasan manusia yang akal pikirannya terbatas dan tidak selamat dari kekurangan dan kelemahan. Apalagi bila menilik latar belakang ideologi tokoh yang menggulirkannya, yaitu kekufuran atau atheisme, hal itu sudah cukup bagi umat Islam untuk menjauhinya. Selain itu, sistem ekonomi tersebut menyeret manusia menuju  masalah sosial lantaran muncul tindakan menzhalimi orang lain, dengan dalih menyetarakan tingkat ekonomi seluruh elemen masyarakat.

Melalui Al-Qur`ân, kitab suci sumber hidayah bagi seluruh umat manusia, Allâh Azza wa Jalla memberitahukan bahwa Dia k tidaklah menyerahkan urusan penghidupan dan bagian-bagian hidup mereka di dunia ini kepada manusia. Akan tetapi, Dia sendiri yang mengatur pembagian tersebut di antara mereka. Dia k menjadikan orang ini kaya, dan orang itu kekurangan, orang ini mulia, sedangkan orang itu bermartabat rendah, orang ini menjadi pemimpin, orang ini menjadi bawahannya.[1]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?. Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka mempergunakan sebagian yang lain [Az-Zukhruf/43:32].

Di sini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia Azza wa Jalla telah membeda-bedakan dalam karunia yang Dia berikan kepada manusia, baik dalam harta kekayaan, rezki, kemampuan akal dan pemahaman serta lain-lainnya. [2]

Allâh Azza wa Jalla telah berfirman dalam beberapa ayat, yang menunjukkan bahwa Dia Azza wa Jalla akan melimpahkan rezki pada orang yang Dia kehendaki dan menyempitkan rezki pada orang lain yang dikehendaki-Nya pula, yang menunjukkan bahwa Dia Azza wa Jalla Dzat yang menentukan sendiri pembagian rezki makhluk-makhluk-Nya. Dan tidak ada siapapun yang sanggup menghalangi qadha dan qadar-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

Dan Allâh melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki [An-Nahl/16:71]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ 

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allâh melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? [Az-Zumar/39:52].

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ 

Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allâh melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) menyempitkan (rezki itu). [Ar-Rûm/3o:37].

Ayat-ayat mulia ini menjukkan bahwa perbedaan tingkat rezki manusia dan penghasilan mereka itu sudah merupakan ketentuan Ilahi, termasuk sunnatullâh kauniyyah qadariyyah, siapapun yang ada di muka bumi tidak akan mampu merubah dan menggantinya dengan cara apapun. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Dan kamu sekali-kali tiada mendapati perubahan pada sunnah Allâh [Al-Ahzâb/33:62]

AL-QUR’AN MENGGUGURKAN DALIH SISTEM EKONOMI SOSIALIS[3]
Allâh Azza wa Jalla  dengan sifat Ilmu-Nya yang luas lagi meliputi segala masa, sudah mengetahui akan ada sekelompok manusia yang merampas harta-harta milik masyarakat dengan dalih ini orang fakir itu orang kaya (untuk pemerataan). Dan Allah telah melarang kita mengikuti hawa nafsu dan telah mengancam orang yang memperturutkan hawa nafsunya.

Karena itu, nyatalah apa yang dilakukan oleh orang-orang sosialis yang mengingkari wujud Allâh Azza wa Jalla , seluruh kenabian dan risalah-risalah yang datang dari langit dengan mengambil-alih sumber-sumber kekayaan masyarakat dan merampas hak milik pribadi mereka dengan dalih  untuk menyamakan antara komponen masyarakat dalam penghidupan sosial mereka merupakan perkara batil, bagaimanapun tidak mungkin terealisasikan.

Terlebih lagi, mereka (para pemegang kekuasaan) tidaklah bermaksud demikian (untuk pemerataan tingkat ekonomi rakyat). Mereka hanyalah ingin menguasai sendiri aset-aset kekayaan yang dimiliki oleh  penduduk negerinya, untuk dapat mereka nikmati dan mereka pergunakan sesuai dengan kemauan (busuk)nya, di bawah slogan-slogan penuh kedustaan, kebohongan dan penipuan. Setiap orang berakal yang mencermati sejarah hidup mereka tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap masyarakat.

Para penguasa dan orang-orang yang berada dalam lingkaran mereka, itulah  orang-orang yang menikmati kemakmuran, sementara masyarakat lapisan bawah tidak dapat merasakan kesejahteraan, terzhalimi dalam segala hal, bahkan apa yang mereka usahakan sendiri dengan tangan-tangan sendiri.

HIKMAH PERBEDAAN KEADAAN REZKI
Allâh Al-‘Alîm al-Hakîm telah membagi-bagikan rezki pada hamba-hamba-Nya. Ada orang yang diluaskan rezkinya oleh Allâh Azza wa Jalla dan ada  pula orang yang disempitkan rezkinya oleh-Nya . Keadaan demikian itu karena adanya hikmah-hikmah agung lagi menakjubkan, supaya tergapai kemaslahatan dalam agama dan duniawi.

Hikmah adanya perbedaan derajat, tingkat ekonomi, kekuatan dan kelemahan dan lainnya telah Allah jelaskan dalam penggalan ayat di bawah ini:

لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

agar sebagian mereka mempergunakan sebagian yang lain [Az-Zukhruf/43:32].

Seandainya seluruh manusia berada dalam tingkatan yang sama dalam perkara rezki (kecukupan dan kekayaan), maka tidak ada orang yang akan bekerja untuk orang lain, tidak ada orang yang membutuhkan orang lain. Akibatnya, sekian banyak kemaslahatan mereka akan tidak terwujud [4]

Selanjutnya, Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah menambahkan hikmah dari perbedaan tingkatan rezki satu manusia dengan manusia lainnya. Beliau rahimahullah menyebutkan, agar orang kaya menghargai nikmat Allâh Azza wa Jalla padanya yang berupa keluasan rezki, lalu ia pun mensyukuri-Nya atas nikmat tersebut, sehingga tergolong ke dalam syâkirîn (orang-orang yang bersyukur). Sementara orang yang fakir, Allâh Azza wa Jalla menguji mereka dengan kekurangan, supaya ia dapat bersabar dan menggapai derajat shâbirîn (orang-orang yang sabar).

Kemaslahatan-kemaslahatan ini dan kemaslahatan lainnya tidak akan terwujud bila manusia setara dalam tingkatan rezkinya. Karenanya, Allâh al-Hakîm al-‘Alîm menentukan rezki-rezki bagi mereka dan memerintahkan orang yang berkecukupan untuk bersyukur dan berinfak, dan memerintahkan orang fakir untuk bersabar dan menunggu kelapangan dari Allah Dzat Pemberi rezki.

Kewajiban kita adalah ridha kepada Allâh Azza wa Jalla sebagai Rabb, ridhai terhadap pembagian dan takdir-Nya dan ridha kepada-Nya sebagai Dzat Penentu untuk kita imani hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia dari ketentuan-ketentuan-Nya. [5]

SOLUSI TERKAIT PROBLEMATIKA KEMISKINAN DALAM AL-QUR’AN
Syaikh as-Sa’di dalam al-Qawâ’id al-Hisân[6] menyebutkan bahwa komunisme dengan sistem ekonomi sosialisnya merupakan orang-orang yang melakukan kerusakan terhadap agama, dunia, perpolitikan dan hak-hak manusia. Keburukan dan eksistensi mereka telah menyebar. Akan tetapi, alhamdulillâh,  Al-Qur`anul Karim dengan ajarannya yang lurus telah mengambil alih langsung pengkonteran terhadap mereka, sebagaimana mengkonter orang-orang menyimpang selain mereka. Di dalam Al-Qur`an, ada perintah untuk berbuat adil dan menegakkan hak-hak manusia sesuai dengan tingkatan mereka. Dan di dalamnya juga terdapat perintah untuk mengeluarkan zakat yang mengikat dan memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dan yang terdesak oleh kesulitan, serta perintah untuk melakukan hal-hal yang bermaslahat bagi kepentingan umum, kewajiban menjaga harta milik dan hak-hak manusia. Ini semua sangat kuat untuk membendung keburukan mereka dan melindungi diri dari pengaruh mereka.

PENUTUP
Alhamdulillâh atas nikmat al-Qur`ân yang menjadi petunjuk bagi umat Islam untuk mengetahui keindahan Islam dan melihat kelemahan, kekurangan dan kerusakan ajaran-ajaran di luar Islam. Al-Qur`ân menjadi benteng pemahaman yang  kuat bagi umat Islam dalam menghadapi fitnah yang menerjang dan penyimpangan yang mengancam akidah, pemahaman, moral dan ibadah. Dengan memegangi kandungan Al-Qur`ân, baik ushul dan furu’nya, umat Islam akan selamat di dunia dan akhirat. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Adhwâ`ul Bayân fî Idhâhil Qur`ân bil Qur`ân VII/243.
[2] Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm  VII/226.
[3] Adhwâ`ul Bayân fî Idhâhil Qur`ân bil Qur`ân  VII/246-247.
[4] Lihat Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm  VII/226, Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 711.
[5] Adh-Dhiyâ’u al-Lâmi’u
[6] Hlm. 165-166.