Category Archives: A8. Qur’an Hadits3 Tafsir Al-Qur’an

Cinta Sejati

CINTA SEJATI

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Kajian kita kali ini tentang firman Allah Azza wa Jalla dalam surat at-Taubah, mari kita memulai dengan membaca, baru setelahnya kita ambil faidah serta pelajaran yang bisa kita petik. Allah Ta’ala  berfirman pada ayat yang ke 24:

قال الله تعالى:  قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dan RasulNya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah Shubhanahu wa Ta’ala mendatangkan keputusanNya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at-Taubah/9: 24].

Allah Shubhanahu wa Ta’ala didalam ayat ini, menyuruh Rasul -Nya untuk menegur orang-orang yang lebih mendahulukan, keluarga, saudara dekat, sanak kerabat, dari pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan -Nya.

Diawali dengan kata perintah kepada Nabi -Nya: 

قال الله تعالى:  قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ  [التوبة: 24]

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu”. [at-Taubah/9: 24].

Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala melanjutkan:

قال الله تعالى:  وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا  [التوبة: 24]

“Harta kekayaan yang kamu usahakan”. [at-Taubah/9: 24].

Artinya harta yang kamu usahakan bersusah payah dalam mencarinya.

Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا  [التوبة: 24]

“Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya”.[at-Taubah/9: 24].

Artinya perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakan serta kerugiannya. Dan ini mencakup segala jenis perniagaan, mencari harta dan beternak  serta yang semakna dengan ini semua. Lalu Allah Shubhanahu wa Ta’ala melanjutkan:

قال الله تعالى:  وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ [التوبة: 24]

“Dan tempat tinggal yang kamu sukai”. [at-Taubah/9: 24].

 Yaitu lebih engkau sukai dan cintai karena bagusnya atau lainnya, maka jikalau itu semua:

قال الله تعالى:  أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ [التوبة: 24]

“Adalah lebih kamu cintai dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul Nya dan dari berjihad di jalan nya”.[at-Taubah/9: 24].

Maka tunggulah apa yang akan kalian rasakan dari siksa dan hukuman, oleh karena itu Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

 “Dan Allah Shubhanahu wa Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.  [at-Taubah/9: 24].

Maksudnya orang-orang yang telah keluar dari garis taat kepada-Nya. Yang lebih mendahulukan kecintaan perkara yang tersirat dalam ayat dari pada Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Syaikh Abdurahman as-Sa’di mengatakan ketika menafsirkan ayat mulia diatas: “Dan ayat mulia ini sebagai bukti paling nyata yang menjelaskan wajibnya mencintai Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya. Lebih mendahulukan kecintaan pada keduanya dari pada kecintaan terhadap segala hal. Dengan adanya ancaman yang keras, bagi siapapun yang memasukkan perkara-perkara yang termaktub dalam ayat tersebut bahwa lebih ia cintai dari pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan -Nya”. [1]

Ada banyak dalil yang mendorong kita untuk lebih mengedepankan rasa cinta kita pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, salah satunya dalam hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Zahrah bin Ma’bad dari kakeknya Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

 كُنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا نَفْسِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ قَالَ عُمَرُ فَأَنْتَ الْآنَ وَاللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَرُ  [أخرجه البخاري و مسلم]

“Pada suatu hari kami pernah bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu beliau sedang menggandeng tangan Umar bin Khatab. Umar berkata padanya: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku”. Maka Nabi mengatakan: “Tidak, demi Dzat yang jiwa tanganku berada ditanganNya. Hingga menjadikan diriku lebih engkau cintai sampai dari dirimu”. Umar pun menjawab: “Sekarang, demi Allah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri”. Nabi pun bersabda: “Sekarang wahai Umar (baru benar kecintaanmu)”. [ Bukhari no: 6632].

Pada hadits lain dijelaskan, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga menjadikan diriku lebih ia cintai dari pada orang tua dan anaknya serta seluruh manusia”. [HR Bukhari no: 15. Muslim no: 44].

Pelajaran yang bisa kita petik dari ayat ini:
1. Orang yang cinta kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, maka itu sebagai bukti akan kesempurnaan iman pemiliknya serta menekuni ajaran Islam.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang menunjukan hal tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ» [أخرجه البخاري و مسلم]

Tiga perkara, barangsiapa yang mempunyainya maka ia akan merasakan lezatnya iman; dirinya menjadikan Allah dan Rasul    –Nya lebih ia cintai dari segala sesuatu. Dia mencintai seseorang yang kecintaannya tidak didasari kecuali karena Allah. Dan dirinya benci kembali pada kekufuran seperti halnya dia benci dilempar kedalam api neraka”. [HR Bukhari no: 16. Muslim no: 43].

2. Bahwa ketaatan kepada Allah dan RasulNya lebih didahulukan dari pada mentaati keluarga, harta benda dan anak.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

قال الله تعالى:  وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا  [الأحزاب: 36]

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul -Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul -Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. [al-Ahzab/33: 36].

3. Meninggalkan jihad dijalan Allah Shubhanahu wa Ta’ala lalu menyibukan diri dengan urusan dunia adalah penyebab kemurkaan -Nya dan turunnya kehinaan ditubuh kaum muslimin.
Dan faidah ini didukung oleh ayat lain, seperti yang telah Allah katakan dalam firman- Nya:

 قال الله تعالى:   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ  [التوبة: 38]

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit”. [at-Taubah/9: 38].

Sedangkan pendukung dalam hadits dikatakan, sebagaimana haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم » [أخرجه أبو داود]

“Apabila kalian telah jual beli dengan sistem riba, memegangi ekor-ekor sapi, lebih senang dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka (pasti) Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, (dan itu) tidak akan terangkat sampai kalian kembali kepada urusan agama kalian”. [HR Abu Dawud no: 3462. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 1/42 no: 11].

4. Bahwa bermalas-malasan untuk berangkat jihad termasuk salah satu ciri khasnya orang-orang munafik.
Seperti dijelaskan dalam banyak ayat, salah satunya dalam surat al-Imran, dimana Allah Ta’ala  berfirman:

قال الله تعالى:   وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُواْۚ وَقِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ قَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدۡفَعُواْۖ قَالُواْ لَوۡ نَعۡلَمُ قِتَالٗا لَّٱتَّبَعۡنَٰكُمۡۗ هُمۡ لِلۡكُفۡرِ يَوۡمَئِذٍ أَقۡرَبُ مِنۡهُمۡ لِلۡإِيمَٰنِۚ يَقُولُونَ بِأَفۡوَٰهِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يَكۡتُمُونَ  [ال عمران: 167]

“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”.  [al-Imran/3: 167].

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ » [أخرجه مسلم]

“Barangsiapa yang meninggal lalu tidak pernah berperang, tidak pula ada keinginan dalam dirinya, maka dirinya mati dengan membawa bagian dari kemunafikan”. [HR Muslim no: 1910].

5. Beriman kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan Nya termasuk sebab seorang hamba selamat dari siksa Allah azza wa jalla.
Berdasarkan ayat ini dan juga ayat lainnya, dimana Allah Ta’ala  menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  [الصف: 10-11]

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. [ash-Shaaf/61 10-11].

Diperjelas lagi dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari haditsny Abdurahman bin Jabr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ » [أخرجه أحمد]

“Barangsiapa menggunakan kakinya untuk berjihad dijalan Allah, maka Allah mengharamkan baginya neraka”. [HR Ahmad 22/205 no: 14947].

6. Didalam ayat menjelaskan bahwa jihad merupakan amalan yang paling utama. Oleh karenanya, tidak keliru kalau Allah Shubhanahu wa Ta’ala menggandeng dengan kecintaan pada -Nya dan pada Rasul –
Berdasarkan ayat yang telah lalu, dimana Allah Ta’ala  berfirman:

قال الله تعالى: أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

“Lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at-Taubah/9: 24].

Disebutkan dalam sebuah hadits, yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ – والله أعلم بمن يجاهد في سبيله- كمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Perumpamaan seorang mujahid yang berperang dijalan Allah -dan Allah lebih tahu dengan orang yang berjihad dijalanNya- seperti halnya orang yang berpuasa dan sholat malam”. [HR Bukhari no: 2787. Muslim no: 1876].

7. Dalam ayat mengandung motivasi untuk berjihad dan anjuran untuk zuhud di dunia. Karena yang namanya keluarga, sanak kerabat, harta benda, perniagaan serta tempat tinggal semua itu hanyalah perhiasan dunia yang akan sirna.
Seperti didukung oleh banyak ayat, diantaranya firman Allah tabaraka wa Ta’ala :

قال الله تعالى:   زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ  [ ال عمران: 14] 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah -lah tempat kembali yang baik (surga)”. [al-Imran/3: 14].

Dalam ayat yang lain, masih dari surat yang sama Allah menyatakan:

قال الله تعالى:   وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ – فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ  [ال عمران: 170]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan    -Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.  [al-Imran/3: 169-170].

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah Shubhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.    

[Disalin dari  تأملات في الآية: 24 من سورة التوبة Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Taisir Karimur Rahman hal: 309.

 

Malaikat Mencatat Semua Perbuatan Manusia

MALAIKAT MENCATAT SEMUA PERBUATAN MANUSIA

Oleh
Ustadz  Nur Kholis bin Kurdian

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qâf/50:16-18]

Arti Kata (Makna Mufradat) Dalam Ayat

تُوَسْوِسُ   : dibisikkan.
حَبْلِ الْوَرِيدِ   : urat leher.
يَتَلَقَّى    : mencatat amal perbuatannya.
الْمُتَلَقِّيَانِ   : kedua malaikat.
قَعِيدٌ    : duduk
يَلْفِظُ   : terucap
رَقِيبٌ   : malaikat pengawas.
عَتِيد   : yang selalu hadir/ bersama.

Makna Ayat Secara Umum
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dialah yang menciptakan manusia, baik laki maupun perempuan, Dia Mengetahui keadaan mereka, mengetahui apa yang membuat hati mereka senang dan apa yang dibisikkan oleh hati mereka. Kedekatan-Nya dengan manusia lebih dekat daripada urat lehernya, padahal urat leher ini termasuk anggota tubuh yang paling dekat dari manusia. Yaitu urat yang berada di sekitar lubang tenggorokan. Pemberitahuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ini dapat memotivasi seseorang untuk murâqabah (merasa diawasi) oleh Sang Pencipta, yaitu Dzat yang mengawasi batinnya, yang dekat darinya dalam segala situasi dan kondisi. Hendaklah seseorang malu dilihat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala jika ia mau melakukan apa yang dilarang dan meninggalkan apa yang diperintahkan. Dan sebelum seseorang mengucapkan atau melakukan kemungkaran atau meninggalkan kewajibannya, hendaklah merasa diawasi oleh malaikat yang berada di sebelah kanan dan kirinya yang siap melaksanakan tugasnya. Di sebelah kanannya adalah malaikat pencatat perkataan dan perbuatan baik, sedangkan di sebelah kirinya adalah malaikat pencatat perkataan dan perbuatan buruk. Tidak ada satu pun perkataan yang terucap, baik perkataan itu baik atau buruk melainkan ada malaikat yang senantiasa mengawasi dan hadir bersamanya untuk mencatat ucapannya tersebut.[1]

Ilmu Dan Pengetahuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala Terhadap Segala Sesuatu
Allâh Azza wa Jalla  berfirman :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ

Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikkan hatinya,…[Qâf/50:16].

Syaikh Syinqithi rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yang tersembunyi pun sama seperti yang nampak di sisi-Nya, dan Dia Maha Mengetahui gerak-gerik hati dan apa yang nampak.”[2]

Jadi Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan menyaksikan apa-apa yang tersembunyi dalam hati manusia, dan mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia di manapun ia berada, di darat, di udara maupun di laut, pada waktu malam atau pun siang, di dalam rumah atau pun di luar rumah; Semuanya sama dalam pengawasan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dia melihat di manapun manusia berada serta mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan.[3]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat lain :

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan ketahuilah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah sesungguhnya Allâh Maha pengampun lagi Maha penyantun. [al-Baqarah/2:235].

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman pada ayat lain :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Sesungguhnya bagi Allâh tidak ada suatupun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit. [Ali ‘Imrân/3:5]

Ayat di atas dan yang semisalnya menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu maha tahu terhadap segala sesuatu. Ini memberikan pelajaran agar kita senantiasa merasa diawasi oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap ucapan dan tingkah-laku, karena kita tidaklah terlepas dari pengawasan-Nya.

Salah seorang dari Ulama salaf berkata, “Jika kalian melakukan suatu perbuatan, maka ingatlah bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala memandang perbuatanmu; dan jika engkau berbicara, maka ingatlah pendengaran Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas pembicaraanmu; dan ketika engkau diam, maka ingatlah pengetahuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas apa yang ada di dalam hatimu).[4]

Murâqabatullah (rasa diawasi dan dilihat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) ini apabila menancap kuat dalm hati seorang hamba dalam setiap gerak-geriknya, maka ini akan membentengi dia dari perbuatan maksiat, sebagaimana telah dilakukan oleh Nabi Allâh yakni Yûsuf q menghindar dari godaan Zulaikhah, isteri seorang raja yang cantik jelita. Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan dalam firman-Nya :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yûsuf tinggal di rumahnya yang menggoda Yûsuf untuk menundukkan dirinya dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:”Marilah kesini”, Yûsuf berkata: “Aku berlindung kepada Allâh”. [Yûsuf/12:23].

Demikian pula diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi rahimahullah, bahwasannya ada seorang al-A’rabi (orang gurun/baduwi), ketika ia keluar dari rumahnya saat malam hari yang gelap gulita ia bertemu dengan budak perempuan, kemudian ia ingin berbuat zina dengan budak tersebut, lalu si budak perempuan pun berkata, “Celaka kamu, apa kamu tidak malu melakukan ini ? Apa kamu tidak memiliki agama yang melarangmu dari perbuatan mesum ini?” Si Baduwi pun menjawab, “Sungguh, tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang di langit saja”. Si budak perempuan menjawab, “Bukankah Sang Pencipta bintang melihat kita ?”[5]

Murâqabah inilah yang menyebabkan seseorang berbuat jujur dalam tutur kata dan perilakunya. Murâqabah juga menjadikan seseorang melaksanakan amanat dan tidak berkhianat, berbuat adil dan tidak menzhalimi orang lain, tidak mengambil harta yang bukan haknya, baik secara sembunyi-sembunyi (korupsi) maupun terang-terangan (merampok). Jika murâqabah tersebut ada di hati setiap Muslim, niscaya dunia Islam akan menemui kejayaan, para pejabat tidak korupsi, bahkan menyisihkan harta mereka untuk fakir miskin serta menegakkan keadilan. Dengan murâqabah ini, para pedagang pun tidak mengurangi timbangan, tempat-tempat kemaksiatan pun akan gulung tikar dengan sendirinya, pencuri, perampok, PSK, pengedar dan konsumen narkoba akan meninggalkan profesi mereka, dengan tanpa adanya pemaksaan atas diri mereka.

Ada satu pertanyaan, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati seorang hamba, apakah setiap suara hati yang mengajak kepada kemungkaran akan dicatat sebagai kemaksiatan dan dosa ?

Sebagai jawaban dari pertanyaan ini adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا، أَوْ يَعْمَلُوا بِهِ

Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala memaafkan umatku dari bisikan jelek jiwanya selagi ia tidak mengatakannya atau melakukannya. (HR Bukhâri dan Muslim).[6]

Jadi, bisikan hati atau suara hati yang mungkar atau mengajak kepada kemungkaran tidak dicatat sebagai dosa, selagi hal itu tidak diungkapkan dengan ucapan atau diwujudkan dalam perbuatan.

Penafsiran Kedekatan Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Selanjutnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. [Qâf/50:16].

Sepotong ayat di atas, jika dipahami secara zhahir lafadznya (tekstual) memberikan pemahaman bahwa Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya. Pemahaman seperti ini menyebabkan sebagian orang beranggapan bahwa Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ada dalam diri manusia, sehingga ia tidak dapat membedakan antara si makhluk dengan sang Khaliq, sampai-sampai ada yang mengucapkan kalimat tahlîl dengan mengatakan “lâ ilâha illâ ana” (tidak ada tuhan kecuali aku), dengan beranggapan bahwa Sang Khaliq ada dalam dirinya. Pemahaman seperti ini tidak benar, dan Maha Suci Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari pemahaman seperti ini; Karena di samping menyelisihi pemahaman para Ulama, pemahaman ini juga memberi makna bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan semua orang, baik yang shalih, kafir maupun fasiq, Maha Tinggi Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari yang demikian itu…! Pemahaman ini juga menyelisihi ayat-ayat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang menjelaskan bahwa Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ada di atas ‘Arsy-Nya, seperti disebutkan dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Dzat Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy-Nya. [Thahâ/20:5].

Pada ayat yang lain Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Sesungguhnya Rabbmu adalah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya,  [al-A’râf/7:54].

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

Sesungguhnya Rabbmu adalah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya untuk mengatur segala urusan…[Yûnus/10:3].

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى

Allâh-lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai batas waktu yang ditentukan…[ar-Ra’d/13:2].

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya [al-Furqân/25:59].

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ada di atas ‘Arsy-Nya, tidak menyatu dalam diri manusia.

Syaikhul-Islam mengatakan, “Adapun orang yang beranggapan bahwa kedekatan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat di atas adalah kedekatan Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , maka pemahaman yang seperti ini adalah sangat lemah, karena menurut mereka Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala ada di mana mana. Kalaulah Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu ada di mana-mana, maka  Ia dekat dengan segala sesuatu. Ia juga dekat dari seluruh anggota tubuh manusia; jika demikian, maka pengkhususan pada ayat di atas bahwa Dzat Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya menjadi tidak ada artinya.”[7]

Lantas, Bagaimanakah Penafsiran Para Ulama Terhadap Ayat Diatas ?
Para Ulama, dalam menafsirkan ayat di atas, mereka berbeda pendapat.

  • Pendapat pertama mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah kedekatan maqdarah (kemampuan dan kekuasaan) Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan ilmu[8] (pengetahuan) Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap manusia.[9]
  • Pendapat kedua mengatakan bahwa kedekatan tersebut adalah kedekatan Malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap manusia.[10]

Pendapat kedua inilah yang râjih (kuat) karena memiliki argumentasi yang kuat pula, diantaranya:

Pertama. Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengikat potongan ayat di atas dengan Zharaf zaman (keterangan waktu) yang terletak pada ayat berikutnya, yakni :

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.  [Qâf/50:17].

Hal itu memberikan makna, yang dimaksud dengan kedekatan Kami pada ayat di atas adalah kedekatan malaikat-malaikat-Nya, dan tidak cocok kalau diartikan dengan kedekatan ilmu Allâh Azza wa Jalla atau kedekatan kekuasaan-Nya, karena kedekatan ilmu Allâh Azza wa Jalla dan kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya itu setiap saat dan tidak terikat dengan waktu tertentu. Dan andaikata diartikan dengan kedekatan ilmu atau kekuasaan, maka tidak ada artinya ikatan dzaraf zaman tersebut.[11]

Kedua. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dengan kata jamak  نحن  (Kami). Hal ini, jika disebutkan di dalam ayat-ayat al-Qur’ân, maka maknanya adalah Allâh Azza wa Jalla melakukannya dengan cara memerintahkan para malaikat-Nya untuk melaksanakannya, seperti terdapat pada banyak ayat diantaranya :

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman [al-Qashash/28:3].

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum kami mewahyukannya adalah termasuk orang-orang  yang belum mengetahui. [Yûsuf/12:3].

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya. [al-Qiyâmah/75:17-18].

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang kesemuanya itu menunjukkan bahwa yang melakukan perbuatan tersebut adalah malaikat-malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas perintah-Nya.[12]

Ketiga. Penggunaan uslûb (gaya bahasa) semacam ini sudah tidak asing lagi dalam Bahasa Arab. Demikian ini sering digunakan oleh para pemimpin dan pembesar Arab, yakni menyandarkan perbuatan para prajurit kepada mereka, para pemimpin; yang perbuatan itu dilakukan atas dasar perintah dari pemimpin mereka. Oleh karena itu sebagian pemimpin mengatakan “kami telah menghabisi dan mengalahkan musuh”. Demikian pula para ahli sejarah mengatakan “Raja Fulan telah menaklukkan negara ini dan itu”, padahal yang melakukan adalah pasukan dan bala tentaranya atas perintahnya. Dan termasuk gaya bahasa yang seperti ini pula pada ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, yakni dengan memakai kata jamak yang menunjukkan bahwa yang melakukan hal itu adalah malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala atas dasar perintah-Nya.[13]

Dan masih banyak lagi argumentasi dari pendapat kedua tersebut. Jadi, maksud kedekatan pada ayat di atas adalah kedekatan malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Perkataan Dan Perbuatan Manusia Dicatat Oleh Malaikat
Selanjutnya Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qâf/50:18].

ada ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa ucapan manusia itu tidak luput dari catatan dua malaikat-Nya yang ditugaskan sebagai pencatat amal. Yang satu mencatat amalan baik, dan yang lainnya mencatat amalan buruk. Hal ini dapat menjadi motivasi bagi setiap hamba yang beriman untuk senantiasa merasa diawasi oleh malaikat pencatat amalan dalam setiap perkataaan dan tingkah lakunya.

Lalu apakah semua ucapan manusia itu dicatat oleh malaikat sampai yang mubah pula, misal seperti “Saya sudah makan, minum , pergi , datang”, dan lain-lain, atau hanya yang baik dan buruk saja?

Dalam hal ini, para Ulama berselisih pendapat terbagi dalam dua pendapat.

  • Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dicatat itu adalah semua perkataan, baik perkataan yang mubah, haram maupun yang baik.
  • Pendapat kedua mengatakan tidak semua perkataan itu dicatat, akan tetapi perkataan yang baik dan buruk saja. Dan yang râjih dari dua pendapat ini adalah pendapat pertama, karena keumuman ayat di atas menunjukkan bahwa semua perkataan itu dicatat oleh malaikat.[14]

Untuk apa semua amalan manusia itu dicatat ? Bukankah Allâh Azza wa Jalla mengetahui semuanya ?

Jawabannya, betul, Allâh Azza wa Jalla tidak membutuhkan hal itu, karena Dia mengetahui segalanya, tidak ada yang tersembunyi sesuatupun dari-Nya. Adapun Dia memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan manusia adalah karena ada hikmah lain di balik itu; misalnya untuk menegakkan hujjah atau sebagai bukti atas manusia kelak pada hari kiamat bahwa ia pernah berkata dan berbuat demikian dan demikian, sehingga manusia tidak dapat mengingkarinya karena ada bukti catatan amalnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ﴿١٣﴾ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab (catatan amal) yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini menghitung amalanmu sendiri”. [al-Isrâ/17:13-14].[15]

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat

  1. Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu sampai apa saja yang ada dalam hati manusia, maka hendaklah dijadikan sebagai motivasi setiap muslim untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada setiap perkataan maupun perbuatan.
  2. Bisikan hati atau suara hati yang mungkar atau mengajak kepada kemungkaran tidak dicatat sebagai dosa selagi tidak diungkapkan dalam ucapan atau diwujudkan dengan perbuatan.
  3. Perbuatan dan perkataan manusia tidak luput dari catatan dua malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang selalu mengawasi dan hadir bersama manusia, maka hendaklah dijadikan sebagai motivasi oleh setiap muslim untuk menjaga perkataan dan perbuatannya dari hal-hal yang tidak diradhai Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
  4. Kedekatan pada ayat di atas adalah kedekatan malaikat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya.
  5. Dua malaikat pencatat amal manusia itu berada di sebelah kanan dan kirinya. Di sebelah kanan pencatat amalan baik, dan di sebelah kiri pencatat amalan buruk, bukan berarti di sebelah kanan dan kiri itu di sebelah pundak kanan dan kiri manusia, sehingga terkesan kontradiksi dengan kedekatan kepada manusia melebihi dekatnya urat leher, akan tetapi kedekatan malaikat tersebut tetap lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya meski posisi mereka berada di sebelah kanan dan kiri. Adapun keberadaan mereka terletak di mana ? Maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mengetahui perihal ini.
  6. Diantara hikmah dari pencatatan perkataan dan perbuatan manusia, ialah untuk menegakkan hujjah atas mereka kelak pada hari kiamat, atau sebagai bukti bahwa ia dahulu, ketika di dunia telah berkata atau berbuat demikian dan demikian, sehingga ia tidak dapat menolak dan mengingkari hal itu karena ada bukti nyata.Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVI/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsîr as-Sa’di, hlm. 805, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Muassasah ar-Risâlah – Beirut, cet. Pertama th. 1420 H/ 2000 M.
[2] Adhwâ’ul Bayân fi Îdhâhil-Qur’ân bil-Qur’ân, 2/170. Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Syinqithi, Dar al-Fikr, Lebanon, tanpa nomor cetakan, Th. 1415 H/ 1995 M.
[3] Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 8/9, Ismail bin Umar Ibn Katsir, Dar Thaibah, Arab Saudi, Cet. Kedua, Th. 1420 H/ 1999 M.
[4] Siyar A’lâmun-Nubalâ’, 11/485. Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, Muassasah ar-Risalah-Beirut, Cet. Ketiga, Th. 1405 H/1985 M.
[5] Syu’abul Îmân, 2/265, Ahmad bin Husain al-Baihaqi, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, Cet. Pertama, Th. 1423 H/ 2003M.
[6] Sahîh Bukhâri, 8/135, Muhammad bin Ismail al-Bukhâri, Daar Thauqun-Najah, Cet. Ketiga, Th. 1422 H. Hadits no. 6664. Sahîh Muslim, 1/166. Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Daar Ihya’ Turats, Beirut, tanpa tahun. Hadits no. 201.
[7] Syarah Hadîts al-Nuzûl, hlm. 133-134. Ahmad bin Abdul-Halim Ibn Taimiyyah, al-Maktab al-Islami, Beirut, Cet. Kelima, Th. 1397 H/ 1977 M. Bit-tasharruf.
[8] Mafâtihul Ghaib, Juz 28, hlm. 134. Muhammad bin Umar ar-Razi, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cet. Kedua, Th. 1420 H. Lihat Tafsir Ibn ‘Asyur (al-Tahrîr wa al-Tanwîr), 26/301. Muhammad al-Thahir bin Muhammad Ibn ‘Asyur, al-Dar al-Tunusiyah li al-Nasyr, Tunisia, tanpa cet. Th. 1964 M. Lihat al-Kasysyaf ‘an Haqâiq Ghawamidh al-Tanzîl, 4/383. Mahmud bin ‘Amr al-Zamakhsyari, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, Cet. Ketiga, Th. 1407 H. Lihat Anwâr al-Tanzîl wa Asrar al-Ta’wil, 5/141. ‘Abdullah bin Umar al-Baidhawi, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cet. Pertama, Th. 1418 H.
[9]Jâmi’ul Bayân  fi Ta’wîl Ayil-Qur’ân, 22/342. Muhammad bin Jarir  ath-Thabari, Muassasah ar-Risalah, Cet. Pertama, Th. 1420 H/ 2000 M. Lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur’ân, 17/9. Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo, Cet. Kedua, Th. 1384H/1964 M.
[10] Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 7/398, Ibn Katsir.
[11] Mukhtashar al- Shawîiq al-Mursalah, hlm. 480, Muhammad bin Muhammad al-Mushili, Dar al-Hadis, Kairo, Cet. Pertama, Th. 1422H/2001M.
[12] Majmû’ al-Fatâwâ, 5/507, Ahmad bin ‘Abdul-Halim Ibn Taimiyah, Mujamma’ al-Malik Fahd li Thiba’at al-Mushhaf al-Syarif, Madinah Munawwarah. Cet. Th. 1416 H/ 1995 M.
[13] Mukhtashar al-Shawâ-iq al-Mursalah, hlm. 494.
[14] Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 7/398.
[15] Adhwâul Bayân fi Îdhâhil Qur’ân bil-Qur’ân, 7/426. Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Syinqithi, Dar al-Fikr, Libanon, tanpa nomor cetakan, Th. 1415 H/ 1995 M.

Agama Islam Adalah Agama Rahmat

AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA RAHMAT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

Agama Islam adalah Agama Allâh Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila datang pertolongan Allâh dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam Agama Allâh dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.[an-Nasr/110:1-3]

Firman Allâh Azza wa Jalla:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Apakah selain Agama Allâh (Islam) yang mereka cari? Padahal kepada-Nya berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan keta’atan maupun dengan terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan. [Ali Imrân/3:83].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) Agama Allâh jika memang kamu beriman kepada Allâh dan hari akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman keduanya disaksikan oleh segolongan dari orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:2].

Sedangkan Allâh Rabbul ‘alamin disifatkan dengan rahmah, dan rahmah-Nya sangat luas sekali meliputi segala sesuatu, baik bersifat umum untuk semua mahluk-Nya termasuk kaum kuffar maupun secara khusus hanya untuk hamba-hamba-Nya yang Mu’min saja. Rahmah-Nya mengalahkan kemurkaan dan kemarahan-Nya. Maka segala kebaikan dunia dan akherat adalah dari rahmah-Nya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Kepunyaan siapakah segala yang di langit dan di bumi ?” Katakanlah, “Kepunyaan Allâh.” Dia (Allâh) telah menetapkan atas Diri-Nya rahmah. Sungguh Dia akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan lagi terhadap (kejadian)nya. (Akan tetapi) orang-orang yang merugikan dirinya mereka tidak beriman (kepada hari kiamat)”.  [al-An’âm/6:12].

Firman Allâh Azza wa Jalla:

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka katakanlah: “Salâmun ‘alaikum”. Rabbmu telah menetapkan atas Diri-Nya rahmah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan kejahatan (dosa) dengan sebab kejahilan(nya)[1], kemudian sesudah itu dia bertaubat dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [al-An’âm/6:54].

Dua ayat yang mulia ini yang menjelaskan bahwa Rabbul ‘alamin telah menetapkan Diri-Nya rahmah telah ditafsirkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah bersabda, “Tatkala Allâh telah menciptakan mahluk Dia menulis di Kitab-Nya[2] dan Dia menulis atas Diri-Nya[3] dan tulisan itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy(Nya): Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku“. [HSR. Bukhari (3194, 7404 –dan ini lafazhnya-, 7422, 7453, 7553 & 7554) dan Muslim (2751) dan lain-lain]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. [al-An’âm/6:133].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat..[al Kahfi/17:58].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Maka jika mereka mendustakanmu katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas, dan azabnya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa“.[al-An’âm/6:147].

Kemudian beberapa hadits di bawah ini menjelaskan kepada kita akan luasnya rahmat Allâh sebagaimana beberapa firman Allâh di atas :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِيْ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً. فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata : Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakannya. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan rahmat, sedangkan yang satu rahmat Dia kirim (Dia berikan) untuk seluruh mahluk-Nya. Maka kalau sekiranya orang yang kafir itu mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah putus asa untuk memperoleh surga. Demikian juga kalau sekiranya orang mu’min itu mengetahui setiap azab yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah merasa aman dari masuk ke dalam neraka”. [HR Bukhari (6469 dan ini adalah lafazhnya) dan Muslim (2752)].

Dalam salah salah satu riwayat Bukhâri (6000) dengan lafazh sebagai berikut:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ جُـزْءًا وَأَنْزَلَ فِي اْلأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ.

Bahwasanya Abu Hurairah telah berkata: Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Allâh telah menciptakan seratus bagian rahmat. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan bagian, sedangkan yang satu bagian Dia turunkan ke bumi. Maka dari yang satu bagian itulah mahluk saling berkasih sayang, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena khawatir mengenai (menginjak) anaknya”.

Adapun lafazh dari riwayat Imam Muslim sebagai berikut:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ وَأَنْزَلَ فِي اْلأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ تَتَرَاحَمُ الْخَلاَئِقُ حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ

Bahwasanya Abu Hurairah telah berkata: Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Allâh telah menciptakan seratus bagian rahmat. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan bagian, sedangkan yang satu bagian Dia turunkan ke bumi. Maka dari yang satu bagian itulah para mahluk saling berkasih sayang, sehingga seekor binatang mengangkat kakinya khawatir mengenai (menginjak) anaknya”.

Dan dalam salah satu riwayat yang lain bagi Imam Muslim dengan lafazh sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ، مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُوْنَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allâh mempunyai seratus rahmat yang Dia turunkan. Di antaranya satu rahmat (dibagi) di antara jin dan manusia serta semua binatang. Maka dengan sebab satu rahmat itulah mereka saling mengasihani dan berkasih sayang, dan dengan sebabnya binatang buas mengasihi anaknya. Dan Allâh menunda (pemberian) yang sembilan puluh sembilan rahmat lagi supaya berkasih sayang dengan sebabnya hamba-hamba-Nya[4] pada hari kiamat”.

Hadits yang sama dari jalan yang lain:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Dari Salman al Fârisiy, dia berkata: Telah bersabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ”Sesungguhnya Allâh mempunyai seratus rahmat. Maka di antaranya satu rahmat, yang dengan sebabnya maka berkasih sayanglah sekalian mahluk di antara mereka. Sedangkan yang sembilan puluh sembilan lagi (akan diturunkan) pada hari kiamat” [HR. Imam Muslim, no. 2753].

Dan dalam salah satu riwayat Muslim dengan lafazh sebagai berikut:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِي اْلأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ.

Dari Salman (al-Fârisiy), dia berkata: Telah bersabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ”Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Setiap satu rahmat setingkat di antara langit dengan bumi. Maka Allâh telah menjadikan di bumi satu rahmat. Maka dengan sebab yang satu rahmat itulah seorang ibu mengasihi anaknya, dan juga binatang buas dan burung-burung sebagiannya (saling mengasihi) sebagian yang lainnya. Maka apabila datang hari kiamat Allâh akan menyempurnakan rahmat ini (yakni yang sembilan puluh sembilan lagi khusus untuk orang-orang mu’min)”.

Hadits yang lain lagi:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِيْ إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: الَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu (dia berkata), “Telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang wanita. Maka tiba-tiba di antara tawanan wanita itu ada seorang wanita yang menyusui. Maka apabila dia mendapati seorang bayi di dalam tawanan itu dia segera mengambilnya dan mendekapkannya keperutnya lalu dia menyusuinya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, ”Apakah kamu mengira bahwa wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”.

Kami menjawab: ”Tidak akan. Padahal dia mampu untuk tidak melemparkannya”.

Maka beliau bersabda, ”Allâh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dari wanita ini kepada anaknya”. [HR. Bukhari, no.5999 dan ini adalah lafazhnya) serta Muslim, no.2754].

Hadits yang lain lagi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ.

Dari Abu Hurairah (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Kalau sekiranya orang Mu’min itu mengetahui siksaan yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorangpun Mu’min yang berharap akan surga-Nya. Dan kalau sekiranya orang kafir itu mengetahui rahmat yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorangpun kafir yang putus asa dari surga-Nya” [HR. Muslim, no. 2755].

Ketika kita telah mengetahui berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, bahwa Agama Islam ini adalah Agama Allâh, dan Allâh Rabbul ‘alamin disifatkan dengan rahmat, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatunya termasuk di dalamnya adalah Agama-Nya Islam, maka Agama Islam adalah Agama rahmat berdasarkan dalil-dalil naqliyyah dan aqliyyah sebagaimana beberapa catatan penting yang akan saya paparkan setelah ini, insyaa Allâhu Ta’ala. Tetapi sebelumnya, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu –untuk melapangkan jalan ilmiyyah risalah kita ini- keadaan manusia sebelum diutusnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Keadaan Manusia Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Diutus
Saudaraku, ketahuilah, sebelum Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus untuk seluruh mahluk –manusia dan jin- dan menjadi rahmat bagi sekalian alam, sungguh Allâh telah sangat marah dan murka kepada penduduk bumi –Arabnya dan ‘ajam[5]nya- sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ خُطْبَتِهِ: أَلاَ إِنَّ رَبِّيْ أَمَرَنِيْ أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِيْ يَوْمِيْ هَذَا. كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلاَلٌ، وَإِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ، فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوْا بِيْ مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلاَّ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ…

Dari ‘Iyadh bin himaar al Mujâsyi’iy (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada suatu hari di dalam khotbahnya, “Ketahuilah, sesungguhnya Rabbku telah memerintahkan kepadaku, agar aku mengajarkan kamu apa saja yang kamu tidak tahu dari apa-apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hari ini”.

(Allâh berfirman), “Segala harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya mereka dalam keadaan bertauhid. Kemudian syaithan datang kepada mereka membawa pergi mereka dari agama (tauhid) mereka. Syaithan telah mengharamkan atas mereka apa saja yang Aku halalkan bagi mereka. Dan syaithan telah memerintahkan kepada mereka untuk melakukan kesyirikan kepada-Ku (menyekutukan-Ku), padahal Aku tidak pernah menurunkan keterangannya”.

(Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Sesungguhnya Allâh melihat kepada penduduk bumi, maka Allâh telah sangat marahnya kepada mereka, baik kepada orang-orang Arabnya maupun orang-orang ‘ajamnya, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab…”. [HR. Muslim, no. 2865 dan lain-lain]

Di dalam hadits yang mulia ini terdapat sejumlah ilmu, di antaranya saya sebutkan:

  1. Bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatunya kepada umatnya dari urusan agama mereka. Maka barangsiapa mengatakan, bahwa beliau belum mengajarkan ini dan itu dan seterusnya sehingga perlu ditambahkan oleh ra’yu mereka, maka sesungguhnya dia telah menuduh Nabi yang mulia n telah berkhianat kepada Rabbul ‘alamin dalam menyampaikan risalah-Nya dan amanat-Nya kepada umat manusia sebagaimana akan datang keluasannya di risalah kita ini tentang kesempurnaan agama Islam, insyaa Allâhu Ta’ala.
  2. Pengingkaran dari Rabbul ‘alamin kepada manusia seperti kepada kaum musyrikin yang telah mengharamkan beberapa jenis hewan yang Allâh telah halalkan. Dhâbith (ketentuan atau ketetapan)nya, bahwa apa saja yang Allâh dan Rasul-Nya telah halalkan tidak bisa menjadi haram karena diharamkan oleh manusia. Dhâbith (ketentuan atau ketetapan)nya lagi, bahwa yang halal dan haram adalah apa yang Allâh dan Rasul-Nya telah halalkan dan haramkan.
  3. Bahwa Rabbul ‘alamin telah menciptakan manusia berdasarkan agama tauhid (Islam) sebagaimana akan datang penjelasannya di risalah kita ini, insyaa Allâhu Subhanahu wa Ta’ala.
  4. Bahwa syaithan selalu menghalangi manusia dari agama asli mereka yaitu agama tauhid (Islam), dan mengajak mereka pergi meninggalkannya kepada agama-agama dan ajaran-ajaran buatan manusia yang intinya adalah penyembahan kepada syaithan.
  5. Sebelum Allâh mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman fatrah[6] –kekosongan para Rasul- manusia berada dalam kejahilan yang sangat dalam dan dalam kedurhakaan yang sangat besar, maka sungguh Allâh telah sangat marahnya kepada mereka –Arabnya dan ‘ajamnya- maka ketika itu manusia terbagi menjadi dua golongan:

Pertama: Ahli Kitab (=Yahudi dan Nashara).
Mereka telah kufur kepada Allâh, telah merobah agama Allâh, telah mentahrif[7] Kitab Allâh –Taurat dan Injil- dan mereka telah mengadakan penyembahan kepada manusia dan seterusnya dari kerusakan-kerusakan besar yang terjadi pada mereka. Kecuali sedikit sekali dari sisa-sisa Ahli Kitab –sebagaimana telah dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini- yang masih berpegang dengan agama mereka yang haq (Islam) yang belum dirobah yang di bawa para Nabi dan Rasul mereka seperti Musa dan Isa shalawaatullah wa salaamuhu ‘alaihim.

Kedua: Bangsa Arab dan ‘ajam.
Mereka adalah kaum musyirikin dari bangsa Arab dan bangsa ‘ajam termasuk di dalam kaum filsafat Yunani, India dan Cina. Mereka telah kufur kepada Allâh, mereka telah beribadah kepada selain Allâh, mereka telah melakukan kesyirikan besar kepada Allâh, mereka telah mengadakan penyembahan kepada berbagai macam sesembahan yang mereka anggap baik dan mereka sangka bermanfa’at seperti kepada matahari, bulan, bintang-bintang, berhala-berhala, kubur-kubur dan lain sebagainya.

Demikianlah keadaan manusia ketika itu –Ahli Kitabnya dan umminya dari bangsa Arab dan ‘ajam– berada di dalam kejahilan yang sangat dalam dan kerusakan yang sangat besar. Dari keyakinan-keyakinan yang mereka sangka benar, tetapi itulah kekufuran dan kesyirikan yang sangat besar. Dari perkataan-perkataan yang mereka sangka sebagai ilmu, tetapi itulah kebodohan yang sangat dalam. Dari perbuatan-perbuatan yang mereka sangka kebaikan, tetapi itulah kerusakan yang hakiki. Karena itulah zaman itu dinamakan dengan zaman jahiliyyah yang umum dan merata kepada seluruh umat manusia, yaikni sebelum Allâh mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada semua umat manusia dan jin dan menjadi rahmat untuk sekalian alam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Yakni dengan sengaja. Karena setiap kejahatan atau dosa dinamakan dengan kebodohan (jahil). Maka dari itu kebodohan (kejahilan) di dalam ayat yang mulia ini bukan berarti tidak tahu atau tidak sengaja.
[2] Yakni di lauhul mahfuzh.
[3] Yakni Allâh telah menetapkan atas Diri-Nya sebagaimana firman Allâh di dalam dua ayat di atas.
[4] Yakni hamba-hamba-Nya yang mu’min. Adapun orang-orang kafir dan musyrik maka tidak ada rahmat lagi bagi mereka pada hari kiamat.
[5] Orang ‘ajam ialah setiap orang yang bukan orang Arab.
[6] Surat Al Maa-idah ayat 19.
[7] Tahrif adalah merobah lafazh dan makna.

Nabi Muhammad Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DI UTUS UNTUK MENJADI RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً ِللْعَالَمِيْنَ  وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Berikut ini sebuah risalah kecil -semoga bisa mendatangkan manfa’at besar- tentang tafsir salah satu firman Allâh Azza wa Jalla yaitu :

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].

Ayat rahmat yang sangat agung dan bersifat umum ini telah menjelaskan kepada manusia beberapa hal :

  1. Pertama: Bahwa Allâh Jalla Dzikruhu telah mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam yang terdiri dari kelompok-kelompok mahluk seperti alam manusia, alam Malaikat, alam Jin, alam hewan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai rahmat bagi mereka semua.
  2. Kedua: Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diciptakan dan disifatkan serta dihiasi pada diri beliau dengan rahmat.
  3. Ketiga: Bahwa Agama yang beliau bawa –Islam- semua ajarannya adalah rahmat bagi jin dan manusia yang terkena taklif (beban) dari Rabbul ‘alamin.
  4. Keempat: Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus dan datang kepada manusia dan jin dengan segala kebaikan dunia dan akherat.
  5. Kelima: Bahwa al-Qur’ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi rahmat terbesar bagi mereka.
  6. Keenam: Bahwa ayat yang mulia ini menjadi bukti terbesar kenabian dan kerasulan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dan seterusnya…

Maka saya tulis risalah ini untuk menjelaskan sebagian dari apa yang saya sebutkan tadi, dan untuk meluruskan kesalahpahaman terhadap Islam dan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiyyur rahmah.

Selamat membaca dan menikmati rahmat yang sangat agung ini…!

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiyâ’/21:107]

Ayat yang mulia ini merupakan ayat terbesar yang menjelaskan kepada manusia, bahwa Allâh telah mengutus Nabi-Nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Rahmat secara umum dan merata kepada semuanya. Karena lafazh al’alamîn menunjukkan makna mutlak dan umum, maksudnya rahmat untuk mereka semuanya.

Rahmat untuk alam manusia –yang Mukmin dan yang kafir-; Untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin – yang Mukmin dan yang kafir – dan rahmat untuk alam hewan.

Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan hidayah kepada mereka, dan memasukkan keimanan ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan sebab amalan mereka yang telah mempraktekkan ajaran yang di bawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Allâh Azza wa Jalla .

Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu Allâh Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Allâh Azza wa Jalla telah mengadzab dan membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul.[1]

Ketika menafsirkan ayat yang mulia ini, al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa sesungguhnya Allâh telah menjadikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Yakni Allâh telah mengutusnya untuk menjadi rahmat bagi mereka semuanya. Maka barangsiapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, pasti dia akan berbahagia di dunia dan di akherat. Tetapi barangsiapa menolak rahmat ini dan menentangnya, pasti dia akan merugi di dunia dan di akherat.

al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Jika ada yang bertanya, ‘Rahmat apakah yang diraih oleh orang-orang yang kafir ? Maka jawabannya apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr…” (kemudian beliau rahimahullah membawakan sebagian dari apa yang ditafsirkan oleh al-Imam Ibnu Jarir yang telah saya kutip sebagiannya).

Atau yang dimaksud dengan rahmat bagi yang kafir, baik manusia maupun jin ialah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang kepada mereka dengan membawa segala kebaikan dunia dan akherat untuk kebahagian dunia dan akherat mereka. Itulah rahmat dan kebaikan yang sangat besar untuk mereka. Tetapi mereka telah menyia-nyiakannya. Akibatnya, pasti akan menimpa mereka kerugian yang sangat besar yang harus mereka tanggung bagi dunia dan akherat mereka.

Al-Imam asy-Syanqithiy rahimahullah di tafsirnya Adhwâul Bayân (4/250-251) mengatakan ketika menafsirkan ayat yang mulia ini, “Allâh Azza wa Jalla telah menerangkan dalam ayat yang mulia ini, sesungguhnya Dia tidaklah mengutus Nabi yang mulia ini n kepada seluruh mahluk-Nya, melainkan sebagai rahmat bagi mereka. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa apa yang dapat membahagiakan mereka, dan apa yang bisa mereka pergunakan untuk meraih segala kebaikan dunia dan akherat, jika mereka mengikutinya. Tetapi orang yang menyalahi dan tidak mengikuti, berarti dia telah menyia-nyiakan rahmat yang menjadi bagiannya.

Sebagian ahli ilmu telah membuat permisalan, seraya berkata, “Kalau Allâh Azza wa Jalla memancarkan mata air yang banyak untuk makhluk dan mudah di ambil, lalu (sebagian) manusia menyirami tanaman-tanaman mereka dan memberi minum kepada ternak-ternak mereka dari air itu. Dengan sebab itu, niscaya mereka akan mendapatkan nikmat yang berkesinambungan. Tetapi sebagian manusia yang lainnya, yang lalai dan malas dalam beramal, maka mereka telah menyia-nyiakan bagian mereka dari mata air tersebut. Mata air yang terpancar itu pada hakikatnya adalah bagian dari rahmat Allâh, dan merupakan nikmat untuk kedua golongan manusia tadi. Akan tetapi bagi orang yang malas, maka hal itu merupakan ujian pada dirinya, karena dia telah mengharamkan nikmat yang bermanfa’at itu untuk dirinya”.

Yang demikian telah dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allâh dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. [Ibrâhîm/14: 28]

Apa yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam ayat yang mulia ini[2], yaitu Allâh tidaklah mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam, menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa rahmat bagi mahluk. Rahmat itu meliputi al-Qur’ânul ‘adzhîm ini. Hal ini telah dijelaskan di beberapa tempat dalam Al Qur’an, seperti firman Allâh Azza wa Jalla, (yang artinya), “Dan apakah tidak cukup bagi mereka sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Kitab (al-Qur’an) sedang dia (al-Qur’an) dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya di dalam al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. [al ‘Ankabût/29:51].

Juga firman Allâh Azza wa Jalla:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْٓا اَنْ يُّلْقٰٓى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّلْكٰفِرِيْنَ

Dan kamu (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi Al Qur’an diturunkan karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir”.[al Qashash/28:86]

Sekian perkataan al-Imam asy-Syanqithiy rahimahullah dengan ringkas.

Yang menunjukkan keumuman rahmat dalam ayat yang sedang bicarakan ini ialah hadits shahih di bawah ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ. قَالَ: إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً. (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “(Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) pernah diminta, “Wahai Rasûlullâh, do’akanlah kecelakaan/kebinasaan untuk kaum musyrikin !”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah di utus sebagai pelaknat, sesungguhnya aku di utus hanya sebagai rahmat.[HR. Muslim, no. 2599]

Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi rahmat bagi manusia dan jin yang Mu’min, karena mereka telah mengambil dan memanfa’atkan rahmat dan nikmat yang sangat besar ini. Tetapi manusia dan jin yang kafir, mereka telah menolak dan menentang rahmat dan nikmat yang sangat besar ini…

Sedangkan rahmat untuk Malaikat, karena Allâh dalam al-Qur’ân juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya telah memuji, memuliakan serta menjelaskan tentang Malaikat secara detail; tentang keutamaan, kemuliaan, keta’atan, sifat-sifat, penciptaan, tugas-tugas para malaikat. Juga keimanan kepada para Malaikat merupakan salah satu rukun iman. Maka kafirlah orang yang mengingkari keimanan kepada para Malaikat walaupun hanya satu Malaikat.

Itulah rahmat yang besar bagi Malaikat!

Adapun rahmat bagi jin –Mu’minnya dan kafirnya- adalah sama seperti manusia sebagaimana telah diterangkan sebelum ini.

Adapun rahmat bagi hewan, maka al-Qur’ân dan Sunnah atau hadits telah menjelaskannya secara terperinci:

  • Bahwa hewan adalah umat seperti manusia…
  • Kemanfa’atan hewan bagi umat manusia…
  • Hewan yang halal dan yang haram dimakan dagingnya…
  • Hewan yang haram dan halal di bunuh…
  • Hak-hak hewan…
  • Haramnya menyiksa hewan…
  • Berbuat kebaikan dan berkasih-sayang kepada hewan dan seterusnya.

Itulah rahmat bagi mahluk yang bernama hewan…!

Karena itu tidaklah aneh, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita, bahwa para Malaikat dan penduduk langit dan bumi sampai-sampai semut-semut yang berada di lobang-lobangnya dan ikan-ikan di air, memohonkan ampun kepada Rabbul ‘alamin untuk para Ulama yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.[3]

Kenapa demikian…? Di antara jawabannya :

  1. Pertama, karena para Ulama telah mengajarkan ilmu kepada manusia akan hak-hak hewan. Sehingga dengan sebab itu manusia kenal dan tahu hak-hak hewan secara terperinci sebagaimana tadi telah saya isyaratkan.
  2. Kedua, para Ulama sebagai penyambung lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , di mana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah di utus untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam dan salah-satunya adalah alam hewan. Jadi, para Ulama telah menyampaikan dan menyebarkan rahmat untuk hewan ini kepada manusia. Sehingga manusia tidak menzhalimi hak-hak hewan, dan mereka menempatkannya pada tempatnya masing-masing. Semua berjalan di atas landasan ilmu dan keadilan, bukan di atas kejahilan dan kezhaliman. Sehingga hak-hak hewan berjalan dengan penuh keadilan dan jauh dari kezhaliman.

Itulah rahmat yang sangat besar untuk hewan…!

Saya takjub ketika mendapati al-Imam al-Bukhâri –sebagai salah seorang amîrul mu’minin fil hadits– telah memberikan judul bab dalam kitab shahihnya di bagian Kitâbul Adab dengan judul bab : Baabu Rahmatin Nas wal Baha’im (Bab: Mengasihi/menyayangi manusia dan hewan)

Kemudian al-Imam Bukhâri telah  mentakhrij dan meriwayatkan dalam bab ini sebanyak enam hadits -dua di antaranya akan saya bawakan sekarang, sedangkan sisanya akan saya bawakan pada bab yang kedua dari risalah ini, insyââ Allâhu Ta’ala-:

Hadits pertama (no: 6009):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِيْ كَانَ بَلَغَ بِيْ. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، فِيْ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan, dia sangat kehausan sekali, lalu dia mendapati sebuah sumur, segera dia turun ke sumur itu dan meminum (airnya). Kemudian ketika dia keluar dari sumur, tiba-tiba ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya sembil menjilati tanah karena kehausan.

Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya anjing ini telah menderita kehausan seperti yang pernah aku rasakan tadi”. Lalu laki-laki itu turun kembali ke sumur, kemudian dia penuhi sepatu botnya dengan air, (setelah itu dia keluar dari sumur) sambil menggigit sepatu botnya dengan mulutnya. Kemudian dia minumkan  ke anjing itu, maka Allâh bersyukur kepadanya dan mengampuni (dosa-dosa)nya”.

Para Shahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, sungguhkah (apakah) kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala”.[4]

Saya tertegun ta’jub ketika mendapati al-Imam al-Bukhâri membawakan hadits ini –selain di kitab shahihnya- di kitabnya Adabul Mufrad (378) dengan judul bab: Bâbu Rahmatil Bahâ‘im (Bab: Mengasihi/menyayangi hewan)

Hadits kedua (no: 6012):

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu,, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang menanam sebuah tanaman, kemudian tanamannya itu dimakan oleh manusia atau binatang, melainkan dia mendapatkan (pahala) shadaqah dengannya”.[5]

Itulah dua buah hadits yang dibawakan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah yang menunjukkan akan adanya rahmatul bahâim atau kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada hewan.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini yang menjadi rahmatan lil’alamin ketika ditanya oleh para Shahabat Radhiyallahu anhum :
“Wahai Rasûlullâh, sungguhkah kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala.”

Di antara mahluk hidup adalah hewan…! Dari sini kita mengetahui dengan ilmu yakin, bahwa Islam-lah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada binatang atau hewan. Islam telah menetapkan hal itu jauh sebelum orang-orang kafir berbicara dengan lisan dan tulisan mereka.

Tetapi yang sangat kita sayangkan, sebagian dari mereka yang menyandarkan diri kepada Islâm, mereka yang telah terbenam dalam taqlid buta kepada orang-orang kafir –karena ketidaktahuan mereka terhadap Islâm dan apa yang mereka saksikan dari perbuatan sebagian kaum muslimin yang tidak islami dalam bab ini- mengatakan, bahwa orang-orang kafirlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar kasih-sayang kepada hewan!? Subhaanallah…! Begitu asingkah Islam pada ahlinya…?!

Para pembaca yang budiman, saya akan mengajak para pembaca untuk melanjutkan penelitian terhadap hadits-hadits yang lain dalam bab ini yang jumlahnya tidak sedikit, agar kita bisa berbicara dan berbuat berdasarkan bashîrah (ilmu). Di antara hadits-hadits tersebut yang saya tahu dan telah saya teliti sah atau tidaknya ialah :

Hadits ketiga:

عَنْ سَهْلِ ابْنِ الْحَنْظَلِيَّةِ قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعِيْرٍ قَدْ لَحِقَ ظَهْرُهُ بِبَطْنِهِ فَقَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوْهَا صَالِحَةً وَكِلُوْهَا صَالِحَةً. (رواه أبوداود)

Dari Sahl bin Handzaliyyah, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seekor onta yang punggungnya telah merapat ke perutnya[6], maka beliau bersabda, “Takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini yang tidak dapat berbicara kepada kamu, naikilah dia dengan baik dan (kalau tidak dikendarai) maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, no: 2548).

Dalam riwayat lain yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad dimusnadnya (4/180-181):

…وَخَرَجَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَاجَةٍ فَمَرَّ بِبَعِيْرٍ مُنَاخٍ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ ثُمَّ مَرَّ بِهِ آخِرَ النَّهَارِ وَهُوَ عَلَى حَالِهِ فَقَالَ: أَيْنَ صَاحِبُ هَذَا الْبَعِيْرِ؟ فَابْتُغِيَ فَلَمْ يُوجَدْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : اتَّقُوا اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ ثُمَّ ارْكَبُوهَا صِحَاحًا وَارْكَبُوهَا سِمَانًا – كَالْمُتَسَخِّطِ آنِفًا -…

“….. kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk suatu keperluan, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seekor onta yang ditambatkan di depan pintu masjid dari awal siang. Kemudian beliau melewatinya lagi pada akhir siang dan keadaan onta itu masih sama seperti tadi, maka beliau bersabda, “Di mana pemilik onta ini?”. Maka dicarilah pemiliknya tetapi tidak didapatkan, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini yang tidak dapat berbicara kepada kamu, naikilah dia dengan baik dan kenyang –beliau sepertinya tidak menyukai dan tidak meridhai perbuatan itu-…”.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini…” yakni akan dosa dan murka Allâh kepada kamu karena kamu telah menganiaya binatang-binatang ini.

Sabda beliau, “…yang tidak dapat berbicara kepada kamu…” yakni hewan-hewan itu tidak dapat berbicara kepada kamu dengan bahasa kamu, bahwa dia lapar, haus, lelah dan sakit. Penderitaan dan kesusahan yang menimpanya disebabkan kamu telah menzhaliminya, seperti kamu telah menyiksanya atau melelahkannya atau melaparkannya dan seterusnya yang masuk ke dalam bab kezhaliman.

Sabda beliau, “…naikilah dia dengan baik…” yakni naikilah dan kendarailah hewan ini dengan cara yang baik, janganlah dia dibebani lebih dari kemampuannya.

Sabda beliau, “…dan (kalau tidak dikendarai) maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik” yakni kalau kamu tidak sedang menaikinya atau mengendarainya, maka biarkanlah dia istirahat dengan cara yang baik dan berikanlah kepadanya istirahat dan makanan yang cukup.

Hadits keempat:

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ارْكَبُوْا هَذِهِ الدَّوَابَّ سَالِمَةً وَابْتَدِعُوهَا سَالِمَةً وَلاَ تَتَّخِذُوهَا كَرَاسِيَّ. (رواه أحمد والدارمي والحاكم والبيهقي)

Dari Sahl bin Mu’adz, dari bapaknya (yaitu Mu’adz bin Anas), dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Naikilah (kendarailah) binatang-binatang ini dengan baik, dan (kalau tidak dinaiki atau dikendarai) biarkanlah dia dengan baik, dan janganlah kamu menjadikan binatang-binatang ini sebagai tempat-tempat duduk”. [Hadits hasan riwayat Ahmad (3/440 & 4/234), ad-Dârimiy (2/286), Hakim (1/444 & 2/100) dan Baihaqiy (5/255)]

Hadits kelima:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: أَرْدَفَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لاَ أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ. وَكَانَ أَحَبُّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ هَدَفًا أَوْ حَائِشَ نَخْلٍ.
قَالَ: فَدَخَلَ حَائِطًا لِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَإِذَا جَمَلٌ، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَنَّ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ ذِفْرَاهُ فَسَكَتَ فَقَالَ: مَنْ رَبُّ هَذَا الْجَمَلِ؟ لِمَنْ هَذَا الْجَمَلُ؟ فَجَاءَ فَتًى مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ: لِيْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ .  
فَقَالَ: أَفَلاَ تَتَّقِي اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِيْ مَلَّكَكَ اللَّهُ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيْعُهُ وَتُدْئِبُهُ.(رواه أبوداود وأحمد والحاكم)

Dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengiku dibelakang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika beliau menaiki ontanya), kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sesuatu kepadaku secara rahasia, dan aku tidak mau menceritakannya kepada seorang manusiapun. Kemudian yang paling disukai oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menutup dirinya (agar tidak terlihat oleh manusia) ketika buang hajat adalah sesuatu yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil[7].

Berkata Abdullah bin Ja’far: Kemudian beliau masuk ke sebuah kebun kepunyaan orang Anshar, maka tiba-tiba di situ ada seekor onta. Maka tatkala onta itu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika onta itu menangis terisak-isak dan mengalirlah air matanya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menghampirinya, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggungnya, maka berhentilah onta itu dari tangisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah pemilik onta ini? Kepunyaan siapakah onta ini?” Lalu seorang pemuda dari kaum Anshar datang seraya menjawab, “Kepunyaanku wahai Rasûlullâh.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada pemuda itu), “Tidakkah kau takut kepada Allâh Azza wa Jalla pada binatang yang Allâh telah memberikan kekuasaan kepadamu untuk memilikinya ini!?. Sesungguhnya onta ini telah mengadu kepadaku, sungguh engkau telah membuatnya lapar dan lelah”.[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no: 2549), Ahmad (1/204-205) dan Hakim (2/99-100) dan yang selain mereka]

Hadits keenam:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحِدُّ شَفْرَتَهُ وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا، قَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا؟ أَوَ تُرِيْدُ أَنْ تُمِيْتَهَا مَوْتَتَيْنِ؟ (رواه الطبراني في المعجم الكبير وفي المعجم الأوسط والحاكم)

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang laki-laki yang sedang meletakkan kakinya di badan seekor kambing sambil dia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melirik (melihat) kepada laki-laki itu dengan matanya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada laki-laki itu), “Mengapakah (kau tidak mengasah pisaumu) sebelum (kau rebahkan dan kau letakkan kakimu di badan kambing) ini ? Ataukah kau hendak mematikannya (menyembelihnya) dengan dua kali kematian (sembelihan)?” [Hadits shahih riwayat ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (11916) dan dalam kitab al- Mu’jamul Ausath (3614) dan Hâkim (4/231 & 233)].

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/231), “Hendaklah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum merebahkan udh-hiyyah (hewan kurban yang akan disembelih)”

Hadits ketujuh:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ  رضي الله عنه عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا فَجَاءَتِ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا!
وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا فَقَالَ: مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ ؟ قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: إِنَّهُ لاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ. (رواه أبودود والبخاري في الأدب المفرد والحاكم)

Dari Abdurrahman bin Abdullah Radhiyallahu anhu , dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Mas’ud), dia berkata: Kami pernah bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan (safar). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi (sebentar) untuk sesuatu hajatnya. Tiba-tiba kami melihat seekor burung kecil bersama kedua anaknya. Kami pun menangkap kedua anak burung itu. Lalu burung itu terbang rendah sambil berputar-putar, kemudian datanglah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan dan membuat sedih burung ini disebabkan (kehilangan) anaknya ? Kembalikanlah anaknya kepadanya!”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sarang semut yang telah kami bakar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah membakar sarang semut ini?” Kami menjawab, “Kami”.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah patut menyiksa (mahluk) dengan api kecuali Pencipta api[8] [Hadits shahih riwayat Abu Dawud (2675 dan ini adalah lafazhnya & 5268), dan al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (382) dan al-Hâkim (4/239)]

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/239), “Cerita tentang seekor burung kecil yang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kehilangan kedua anaknya”

Dalam riwayat al-Imam al-Hâkim, ketika para Shahabat mengambil kedua anak burung itu, maka burung itu datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengadukan halnya) sambil bersuara keras (berteriak)…”.

Dalam riwayat al-Imam al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (382) dengan judul bab, “Mengambil telur ( kepunyaan) dari burung kecil”[9]

Abdullah (bin Mas’ud)mengatakan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam safarnya) pernah singgah di suatu tempat, maka salah seorang mengambil sebutir telur (yang sedang dikerami untuk ditetaskan) kepunyaan seekor burung hummarah (burung kecil). Lalu burung itu pun datang terbang rendah berputar-putar di atas kepala Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan burung ini disebabkan kehilangan telurnya?” Laki-laki itu menjawab: “Wahai Rasûlullâh, sayalah yang telah mengambil telurnya”.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah telur itu kepadanya sebagai rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu”.

Hadits kedelapan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيْهِ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنِّيْ َلأَذْبَحُ الشَّاةَ وَأَنَا أَرْحَمُهَا أَوْ قَالَ إِنِّيْ َلأَرْحَمُ الشَّاةَ أَنْ أَذْبَحَهَا. فَقَالَ: وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ (مَرَّتَيْنِ). (رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد والحاكم وأبونعيم في الحلية)

Dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari bapaknya (yaitu Qurrah al-Muzaniy dia berkata), “Seorang laki-laki pernah bertanya, “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya (ketika) aku akan menyembelih seekor kambing aku menyayanginya (aku merasa kasihan kepadanya) –atau orang itu berkata, “Sesungguhnya aku mengasihani seekor kambing (ketika) aku akan menyembelihnya-?

Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seekor kambing, jika kamu menyayanginya niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayangimu[10] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dua kali. [Hadits shahih riwayat Ahmad (3/436 & 5/34), dan al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (373 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat Bukhâri), dan al-Hâkim 3/586-587), dan Abu Nu’aim di kitabnya al-Hilyah (2/302 & 6/343)]

Hadits kesembilan:

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ (عُصْفُوْرٍ) رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري في الأدب المفرد والطبراني في المعجم الكبير)

Dari Abu Umamah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyayangi walaupun menyembelih seekor burung kecil, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayanginya pada hari kiamat”.

[Hadits hasan riwayat al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (381) dan ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (7913 & 7915 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayatnya-].

Hadits kesepuluh :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِيْ هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوْعًا فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ.
قَالَ: فَقَالَ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ -: لاَ أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلاَ سَقَيْتِهَا حِيْنَ حَبَسْتِيْهَا وَلاَ أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ. (رواه البخاري في صحيحه و في الأدب المفرد ومسلم والدارمي)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Seorang wanita telah di adzab disebabkan seekor kucing yang telah dia kurung sampai kucing itu mati kelaparan, maka dengan sebab itu dia masuk neraka”.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Maka Allâh Azza wa Jalla berfirman –padahal Allâh Azza wa Jalla lebih tahu-: “Engkau tidak memberinya makan dan tidak memberinya minum ketika engkau mengurungnya, dan tidak pula engkau membiarkannya (melepaskannya) agar kucing itu dapat mencari makan sendiri dari binatang-binatang kecil (seperti serangga) bumi”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri di kitab shahihnya (2365 –dan ini lafazhnya-, 3318 & 3482) dan di kitabnya Adabul Mufrad (379) dan Muslim (2242) dan ad-Darimiy (2/331)].

Hadits ini juga telah diriwayatkan dari jalan jama’ah para Shahabat sebagaimana telah saya takhrij di kitab yang lain.

Hadits kesebelas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِيْ إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ. (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata,”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ketika seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab itu diampunkan (dosanya)”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3321 & 3467 –dan ini lafazhnya-) dan Muslim (2245) dan Ahmad (2/507)]

Hadits kedua belas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ: النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. رواه أبوداود وأحمد والدارمي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh empat macam binatang: Semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurad”.

[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (5267), Ahmad (1/332 & 347), Darimiy (2/88-89), Ibnu Majah (3224) dan lain-lain]

Hadits ketiga belas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الأُمَمِ تُسَبِّحُ (فَهَلاَّ نَمْلَةً وَاحِدَةً). رواه البخاري ومسلم

.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allâh) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan untuk membakar sarang semut itu, maka Allâh Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, “Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau telah membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allâh), mengapakah tidak seekor semut saja!?”.[11]

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3019 & 3319) dan Muslim (2241). Tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat keduanya]

Itulah sebagian hadits yang telah menjelaskan kepada kita dari sabda-sabda suci Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sebagai Nabiyyur rahmah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Islamlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar rahmatul bahâ-im, atau kasih-sayang kepada hewan yang telah ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Maka ketika kita meninggalkannya, bangkitlah orang-orang kafir mengambilnya dari Islam yang sebenarnya itu adalah bagian kita yang sangat besar.

Kemudian orang-orang kafir berbicara dalam bab ini dengan panjang-lebar, baik lisan maupun tulisan sampai-sampai mereka telah berlebihan dan melampaui batas dari apa yang dikehendaki oleh Islam dan diajarkan oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini disebabkan, karena memang mereka mengerjakannya bukan atas dasar iman dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tetapi mereka telah melihat, bahwa ajaran Islam dalam bab ini –sebagaimana semua ajaran Islam lainnya kalau sekiranya mereka mau mempelajarinya- amat sangat menakjubkan mereka. Kemudian mereka mengambilnya dan mempraktekkannya dan membuat berbagai macam peraturan sebagaimana telah kita ketahui.

Akan tetapi, walaupun mereka mengerjakannya bukan atas dasar keimanan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, tetap saja hal ini sebagai hujjah besar akan kebenaran Islam dan  kebenaran dari kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiyyur rahmah.

Kita perlu mengetahui –selain rahmatul bahaa-im– bahwa Islam yang tegak dengan ilmu dan keadilan, Islam yang datang untuk kemaslahatan bagi umat manusia, Islam yang menghilangkan segala macam mudharat ( bahaya) atau memperkecilnya, atau mendahulukan mencegah bahaya dari mengambil maslahat, atau menanggung bahaya yang kecil untuk kemaslahatan yang jauh lebih besar, atau memilih bahaya yang lebih kecil dari bahaya yang lebih besar, atau meninggalkan sebuah kemaslahatan untuk meraih kemaslahatan yang lebih besar atau dengan sebabnya tercegalah bahaya, telah membolehkan membunuh sebagian hewan yang membahayakan sebagaimana telah disabdakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يَقْتُلُهُنَّ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ.
رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ada lima macam binatang yang semuanya fasiq[12] diperbolehkan dibunuh di tanah haram (Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan kalbul ‘aquur[13]

[Hadits shahih riwayat Bukhari (1829 & 3314), Muslim (1198), Tirmidziy (837), Nasaa-i (2829, 2881, 2882, 2887, 2888, 2890 & 2891) dan Ibnu Majah (3087) dan lain-lain]

Dalam salah satu riwayat Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْحُدَيَّا.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau telah bersabda, “Lima jenis binatang yang fasiq diperbolehkan di bunuh di tanah halal dan di tanah haram (Makkah dan Madinah): Ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, kalbul ‘aquur dan burung rajawali”

Hadits yang sama juga telah diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Umar:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ مَنْ قَتَلَهُنَّ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ: الْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ.
رواه البخاري ومسلم والنسائي وأبوداود وابن ماجه وغيرهم.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lima jenis binatang barangsiapa yang membunuhnya dalam keadaan ihram, maka tidak ada dosa atasnya (yaitu): Kalajengking, tikus, kalbul ‘aquur, burung gagak dan burung rajawali”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (1828 & 3315 –dan ini lafazhnya-), Muslim (1199 & 1200), Abu Dawud (1846), Nasaa-i (2828, 2832, 2835 & 2889) dan Ibnu Majah (3088) dan lain-lain]

Kemudian umumnya para Ulama telah mengkaitkan atau mengqiyaskan lima macam binatang yang telah diperbolehkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk di bunuh dengan binatang-binatang yang lainnya yang sering mengganggu dan membahayakan. Hal ini tidaklah menafikan rahmat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , justru hal ini bagian dari rahmat yang sangat besar sebagaimana  telah diketahui secara pasti oleh setiap orang yang berakal yang berjalan di atas akalnya yang sehat dan memiliki ketegasan.

Jakarta, pada bulan Syawwal 1432 H/September 2011
Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  Diintisarikan dari tafsir Ibnu Jarir dalam menafsirkan ayat yang mulia ini.
[2] Yakni ayat yang sedang kita bahas ini tentang diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi sekalian alam.
[3] Makna dari hadits Abu Umamah Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Tirmidzi (2685) dan hadits Abu Darda’ Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Abu Dâwud (3641), Tirmidzi (2682), Ibnu Mâjah (223) dan Ahmad (5/196).
[4]  Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2244).
[5]  Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (1553).
[6] Barangkali saking kurusnya karena tidak diberikan makanan yang cukup dan dipekerjakan dengan berat sehingga melelahkannya.
[7] Yakni kebiasan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika buang hajat –buang air kecil- menjauh dari manusia, dan sesuatu yang beliau sukai adalah tembok atau dinding yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil agar tidak terlihat oleh manusia.
[8]  yakni Allâh-lah Pencipta api yang berhak menyiksa mahluk-Nya dengan api.
[9] Mengambil sebutir telur atau lebih kepunyaan burung yang sedang dikerami untuk ditetaskan menafikan rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu.
[10] Yakni, walaupun tetap engkau menyembelihnya –karena memang penyembelihan ini telah dihalalkan oleh Agama-, tetapi engkau menyayanginya dan mengasihinya dan merasa kasihan kepadanya, niscaya Allâh akan membalas kasih-sayangmu dengan kasih-sayang dari Allâh. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.
[11] Yakni, mengapakah engkau tidak membunuh seekor semut saja yang telah menyengatmu, bukan semuanya!
[12] Yakni yang memberikan gangguan dan membahayakan.
[13] Kalbul ‘aquur ialah setiap binatang yang membahayakan atau menyerang seperti anjing yang menyerang, srigala, singa, harimau, macan dengan beberapa jenisnya, ular dan lain-lain binatang yang sifatnya memberikan gangguan dan membahayakan sebagaimana dijelaskan di Fat-hul Baari’ Syarah Shahih Bukhari oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (no: 1828 & 1829).

Keutamaan Istiqamah

KEUTAMAAN ISTIQAMAH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ’Abdul-Qadir Jawas حفظه الله

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ  نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. [Fushshilat/41:30-32].

Maksudnya, mereka beriman kepada Allâh Yang Maha Esa kemudian istiqamah di atasnya dan di atas ketaatan hingga Allâh mewafatkan mereka.[1]

Tentang ayat di atas, al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allâh.”[2]

Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat akan turun menuju kepada orang-orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya dengan sebab berpisah dengan anaknya karena Allâh adalah pengganti dari hal itu, memberikan kabar gembira berupa ampunan dari dosa dan kesalahan, diterimanya amal, dan kabar gembira dengan surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.[3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini:
(تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ ) Maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka,” yakni di saat kematian sambil berkata, (أَلَّا تَخَافُوا ) janganlah kamu merasa takut,yaitu dari perkara-perkara akhirat yang akan mereka hadapi, (وَلَا تَحْزَنُوْا)dan janganlah kamu bersedih hati,yaitu dari perkara-perkara dunia yang telah kalian tinggalkan, seperti anak-anak, keluarga, harta, agama, karena sesungguhnya Kami akan menggantinya.(وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ)Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu,” lalu mereka diberi kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan.

Firman Allâh, (نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ)Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat,yaitu para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika kematian, (نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ) Kamilah pelindung-pelindungmu“; yakni pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami menunjukkan, mengarahkan, dan melindungi kalian dengan perintah Allâh. Begitu juga kami akan bersama kalian di akhirat, menemani kesendirian kalian di alam kubur, ketika ditiupnya sangkakala, dan mengamankan kalian pada hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia, serta membawa kalian melintasi ash-shirâth al-mustaqîm, dan menyampaikan kalian ke surga yang penuh nikmat.

Firman Allâh, (وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ)di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan,”  yaitu di dalam surga kalian akan memperoleh segala yang kalian pilih yang diinginkan oleh jiwa kalian dan disenangi oleh diri kalian. (وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ) Dan memperoleh apa yang kamu minta,” yaitu apapun yang kalian minta akan kalian dapatkan dan tersedia di hadapan kalian, sebagaimana yang kalian inginkan.

Firman Allâh, (نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ)sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,” yaitu hidangan, pemberian, dan kenikmatan dari Rabb Yang Maha Pengampun atas dosa-dosa kalian, Maha Mengasihi kalian serta Maha lembut, di mana Dia mengampuni, memaafkan, menyayangi, dan mengasihi (kalian).[4]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ  لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ ) .قُلْنَا : يَارَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: (لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللهَ عَزَّوَجَلَّ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوِ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنَ الشَّرِّ أَوْ مَايَلْقَاهُ مِنَ الشَّرِّ، فَكَرِهَ لِقَاءَاللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ).

Barangsiapa menyukai perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh suka  untuk menjumpainya. Dan barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh benci menjumpainya.” Kami bertanya, ”Ya Rasûlullâh, kami semuanya benci kepada kematian.” Rasûlullâh H menjawab, ”Bukan itu yang dimaksud benci kematian. Akan tetapi jika seorang Mukmin berada dalam detik kematiannya, maka datanglah kabar gembira dari Allâh Ta’ala tentang tempat kembali yang ditujunya. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada menjumpai Allâh Ta’ala, maka Allâh pun suka menjumpainya. Dan sesungguhnya orang yang jahat atau kafir jika berada dalam detik kematiannya, maka datanglah berita tentang tempat kembali yang dituju berupa keburukan atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan, lalu dia benci bertemu dengan Allâh, maka Allâh pun benci menemuinya.[5]

Berbagai wasilah (cara) agar tetap teguh di atas istiqamah
Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut:

  1. Taubat nasuha
  2. Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik.
  3. Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh danRasul-Nya.
  4. Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.
  5. Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.
  6. Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala.
  7. Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh).
  8. Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.
  9. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
  10. Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
  11. Senantiasa menuntut ilmu syar’i.
  12. Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka
  13. Mencari teman yang shâlih.
  14. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan.
  15. Mengetahui langkah-langkah setan.
  16. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah.

Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.[6]

Wallâhua’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Syarh Arba’in Ibni Daqiqil ‘Ied, hlm. 85.
[2] Tafsîr Ibni Katsîr, VII/175.
[3] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177) dengan diringkas dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 186-187).
[4] Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177-179) dengan ringkas.
[5] Shahîh: HR Ahmad, III/107.
[6] Shahîh: HR at-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari Ummu Salamah radhiyallâhu ’anha.

Mari Berbuat Baik Selalu

MARI BERBUAT BAIK SELALU        

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Yûnus/10:26]

PENJELASAN AYAT
Makna Ihsân (al-Ihsân)
Al-Ihsân, ialah lawan kata (antonim) dari al-isâ`ah (perbuatan jelek). Maknanya, melakukan perbuatan yang baik. Dalam terminologi syariat didefinisikan dengan “melaksanakan aturan syariat dengan sebaik-baiknya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memaparkan hakikat ihsân dalam hadits Jibrîl Alaihissallam yang sudah popular, yaitu:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tak melihat-Nya, (yakinlah) bahwa Dia (Allah) menyaksikanmu. [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Pengertian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, seperti diungkapkan oleh Syaikh ‘Abdul-Muhsin al-‘Abbâd –hafizhahullah– ialah seseorang menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan ia berdiri tepat di hadapan-Nya. Penghayatan ini akan mendatangkan khasy-yah (rasa takut) dan inabah (ingin selalu kembali mendekat, bertaubat) kepada-Nya. Juga memotivasi agar ibadah itu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Radhiyallahu Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Perhatian Islam Terhadap al-Ihsân
Salah satu yang menunjukkan betapa besar perhatian Islam dalam masalah al-ihsan (perbuatan baik) dan tingginya kedudukan amalan ini, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa Dia mencintai kaum muhsiniin (orang-orang yang berbuat baik) dan bersama mereka. Dengan kedudukannya ini, maka cukuplah bagi mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan keutamaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

…… dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [al-Baqarah/2:195].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [an-Nahl/16:128].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [al-‘Ankabût/29:69].

Di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa adanya semua ujian yang didatangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, semata-mata ditujukan untuk mencari insan-insan dengan amalan terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. [al-Mulk/67:2].

Kebaikan Dibalas Kebaikan
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini, dan ia beriman kepada Allah Rabbul ‘Alamin serta mengerjakan amal shalih, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kabar gembira, bahwasanya perbuatan ihsaan mereka akan menjadi jaminan jaminan berguna di akhirat kelak. Kabar gembira ini merupakan salah satu hiburan dan memotivasi seorang muslim bahwa sebagai pelaku kebaikan, maka waktu yang ia korbankan, fisik yang kepayahan, pikiran yang terkuras, dan materi yang terpakai di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala ; semua itu tidak sia-sia. di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan kelak akan membuahkan hasil yang menyenangkan.

Menurut Imam Ibnu Katsîr rahimahullah, bahwa dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengabarkan, orang-orang yang berbuat ihsân di dunia dengan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengerjakan amalan shalih, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan al-husna (kebaikan-kebaikan) di akhirat kelak. Kepastian ini berdasarkan firman Allah dalam surat ar-Rahmân/55 ayat 60.

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).[2]

Dan sebagian ulama memaknai al-husna dalam ayat di atas dengan arti jannah (surga).[3] Nas`alullah min fadhlihi wa karamih.

Tambahan Anugerah, Melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala 
Selain limpahan nikmat tak terkira di dalam Jannah, mereka juga memperoleh nikmat seperti yang terkandung dalam kata az-Ziyâdah  (anugerah tambahan).

Dikatakan oleh Imam Ibnu Katsîr rahimahullah , tambahan yang dimaksud ialah pelipatgandaan pahala amalan-amalan baik itu sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Termasuk nikmat lainnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka di surga, berupa istana, bidadari, keridhaan, serta segala yang belum disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Semua kenikmatan itu akan menjadi sumber penyejuk mata.

Kenikmatan yang paling utama dan tertinggi, yaitu melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia. Itu merupakan anugerah tambahan yang lebih agung dari seluruh yang mereka dapatkan. Diraihnya kenikmatan itu bukan lantaran amalan mereka, akan tetapi lantaran kemurahan dan rahmat Allah.[4] Disebutkan dalam hadits Shuhaib ar-Rûmi, Radhiyallahu Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ(ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ )

Apabila penghuni surga telah memasuki surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu, (dengan itu) Aku menambah (nikmat) kalian?” Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam jannah dan menyelamatkan kami dari neraka?” Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka tabir penutup. Tidaklah mereka menerima kenikmatan yang lebih mereka sukai dibandingkan nikmat melihat Rabb mereka. Lantas Radhiyallahu Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di atas.[5]

Sementara itu, dengan berpegangan pada bentuk kata ziyâdah yang bersifat umum -karena berbentuk nakirah– Imam ath-Thabari rahimahullah menguatkan makna tambahan tersebut sesuai dengan bentuk keumuman lafazhnya seperti: melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala , kamar-kamar yang terbuat dari permata, ampunan dan ridha-Nya. Semua itu akan dihimpun bagi mereka. Nas`alullah min fadhlihi wa karamih.[6]

Wajah-Wajah Berseri Tanpa Kesedihan
Para penerima balasan besar di atas akan memperoleh momentum yang sangat membahagiakan. Yakni, dikala orang-orang terhimpit kesusahan dan kepahitan lantaran amal perbuatannya yang buruk di dunia ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal wajah orang-orang yang berbuat ihsân dengan berfirman:

وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ 

(Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan – [Yûnus/10:26]

Tidak ada kesedihan atau kegelapan yang menyelimuti wajah mereka hingga nampak seperti orang yang sedang bersedih.[7] Akan tetapi, yang nampak hanyalah keceriaan dan kebahagiaan pada wajah-wajah mereka.

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengarahkan makna ini, saat mereka berada di padang Mahsyar. Kata beliau: “Debu tidak menutupi wajah mereka saat dihimpun menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala , begitu pula kehinaan tidak menyelimuti mereka”.[8] Begitu juga pandangan Imam Ibnu Katsiir.[9]

Dalam beberapa ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan keadaan mereka dengan berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰىٓۙ اُولٰۤىِٕكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ ۙلَا يَسْمَعُوْنَ حَسِيْسَهَاۚ وَهُمْ فِيْ مَا اشْتَهَتْ اَنْفُسُهُمْ خٰلِدُوْنَ ۚ لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْاَكْبَرُ وَتَتَلَقّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُۗ هٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. [al-Anbiyâ`/21:101-103].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. [Fushshilat/41:30].

Keadaan mereka seperti yang telah dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat berikut ini:

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. [al-Insân/76:11].

Keadaan yang menyenangkan ini, sangat jauh berbeda dengan kaum kuffâr maupun para pelaku kejahatan, yang dipenuhi oleh kehitaman dan debu-debu hitam. Salah satu ayat yang menerangkan kondisi penampilan wajah mereka, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di surat yang sama, yang merupakan kelanjutan ayat di atas :

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۖ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang perlindungan-pun dari (adzab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Yûnus/10:27].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu. Dan ditutupi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka. [‘Abasa/80:40-43].

Mendapatkan Nikmat yang Kekal

وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ      

Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Yûnus/10:26].

Orang-orang yang disebutkan sifat-sifatnya itu, mereka adalah para penghuni Jannah dan para penduduknya, yang berada di dalamnya. Mereka tinggal abadi di dalamnya. Tempat itu tidak hancur, hingga mereka tidak akan mengkhawatirkan sirnanya nikmat itu. Mereka juga tidak akan dikeluarkan darinya, hingga berakibat kehidupan mereka berubah menjadi sengsara.[10]

PELAJARAN DARI AYAT

  1. Keutamaan perbuatan baik.
  2. Perbuataan baik akan mendatangkan al-husna (kebaikan).
  3. Penetapan hari Kebangkitan dan hari Pembalasan.
  4. Kemurahan Allah yang sangat luas bagi para hamba-Nya yang beriman

Marâji`:

  1. Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al- Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.
  2. Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cetakan I, Tahun 1423 H – 2002 M.
  3. Kutub wa Rasâ`il, ‘Abdul-Muhsin al-Abbâd al-Badr.
  4. Ma’âlimut-Tanzîl, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi, Tahqîq dan Takhrîj: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsmân Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaimân Muslim al-Kharsy Dâr Thaibah, Tahun 1411 H.
  5. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, al-Hâfizh Abul-Fidâ Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Tahqîq: Sâmi bin Muhammad as-Salâmah, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1422 H – 2002

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Kutub wa Rasâ`il, ‘Abdul-Muhsin al-Abbâd al-Badr, 6/170.
[2] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, al-Hâfizh Abul-Fidâ Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, 4/226.
[3] Lihat Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm (11/137), Ma’âlimut-Tanzîl (4/130)
[4] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, 4/262.
[5] HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Abi Hâtim, Ibnu Khuzaimah. Nukilan dari at-Tafsîrush Shahîh, 3/314.
[6] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, 11/137.
[7] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, 11/137
[8] Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân, 8/299.
[9] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, 4/263.
[10] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, 11/137.

Mendalami Al-Qur`ân Tidak Sulit

MENDALAMI AL-QUR’AN TIDAK SULIT

Oleh
Ustadz Ashim bin Musthofa, Lc

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? [al-Qomar/54:17]

Tafsir Ayat:
Al-Qur`ân adalah cahaya yang menerangi umat manusia di dunia ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`ân) [an-Nisâ/4:174]

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, bahwa al-Qur`ân al-‘Azhîm merupakan cahaya yang diturunkan Allâh  k ke dunia untuk menjadi sumber pelita. Melalui cahaya itu, diketahui perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang berbahaya serta perkara hidayah dan kesesatan”[1]

Jaminan Dari Allah Azza wa Jalla, Mempelajari Al-Qur’an Dimudahkan
Inilah jaminan dari Allâh Azza wa Jalla yang tertuang dalam surat al-Qomar ayat 17:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? . [al-Qomar/54:17]

Allâh Azza wa Jalla mengulang-ulang ayat ini empat kali dalam surat yang sama. Taisîr (pemberian kemudahan) yang ditegaskan oleh Allâh Azza wa Jalla mencakup kemudahan dalam membaca, menghafalkan, memahami dan mengamalkannya.[2]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya) Kami sudah memudahkan lafazhnya, dan Kami sudah memudahkan (memahami) maknanya bagi siapa saja yang menghendaki agar manusia dapat mengambil pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran dari al-Qur`ân yang sudah Allâh Azza wa Jalla mudahkan untuk dihafal dan dimengerti”?[3]

Kemudian Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengutip ayat lain yang menunjukkan makna yang sama, bahwa Allâh Azza wa Jalla telah memudahkan memahami al-Qur`ân bagi siapa saja yang punya niat baik untuk mempelajarinya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

 Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân itu untuk bahasamu agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur`ân itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. [Maryam/19:97]

Adz-dzikru dalam ayat cakupannya luas, mencakup segala yang akan menghasilkan pelajaran bagi orang-orang yang beramal, seperti pengetahuan tentang hukum halal dan haram, amar ma’ruf nahi munkar, nasehat, nasehat, aqidah, dan berita yang jujur.[4]

Oleh karena itu, ilmu (yang berkaitan dengan) al-Qur`ân merupakan ilmu yang paling mudah dan paling agung secara mutlak, merupakan ilmu yang bermanfaat, jika seorang hamba mencarinya (mempelajarinya) akan diberi pertolongan. Sebagian Ulama Salaf mengatakan tentang ayat ini: “Apakah ada orang yang mau belajar ilmu (al-Qur`ân), sehingga mendapatkan pertolongan (dalam mempelajarinya)”[5]

Secara mu’allaq, Imam al-Bukhâri rahimahullah menuliskan atsar dari Mathar al-Warrâq rahimahullah dan Qotâdah rahimahullah dengan shîghah jazm :

          هَلْ مِنْ طَالِبِ عِلْمٍ فَيُعَانُ عَلَيْهِ؟

Apakah ada seorang pencari ilmu (agama), yang nantinya akan mendapatkan pertolongan (dalam mempelajarinya)?”

Dengan penjelasan singkat ini, dapat diketahui kesalahaan pandangan yang menyatakan mempelajari dan mengetahui kebenaran merupakan perkara sulit atau kebenaran itu masih kabur, belum begitu jelas. Ini adalah syubhat iblisiyah (yang dilontarkan Iblis) untuk memalingkan manusia dari mencari kebenaran.[6]

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Apabila maksud mereka bahwa mempelajari keduanya (al-Qur`ân dan Sunnah) merupakan perkara sulit, tidak mampu dilakukan siapapun, ini pernyataan batil. Sebab mempelajari al-Qur`ân dan Sunnah jauh lebih mudah ketimbang mempelajari ra`yu dan ijtihad yang banyak tersebar (di kitab-kitab Ulama). Allâh Azza wa Jalla telah  mengulang-ulang beberapa kali firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?”[7] [al-Qomar/54:17]

Al-Qur`ân adalah kitab yang telah dimudahkan untuk membaca dan memahaminya –karena kemudahan yang Allâh Azza wa Jalla berikan-  bagi orang-orang yang mendapatkan taufi dari Allâh Azza wa Jalla untuk beramal. “Barang siapa memperhatikannya (al-Qur`ân), Allâh Azza wa Jalla benar-benar akan memudahkan mewujudkan apa yang diinginkannya”[8].

Mempelajari al-Qur`ân dan Sunnah di masa sekarang juga semakin mudah dibandingkan di masa lalu. Syaikh asy-Syinqîthi  rahimahullah menegaskan, “Hendaknya engkau tahu bahwa mempelajari Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa sekarang jauh lebih mudah daripada di masa-masa permulaan Islam, karena adanya kemudahan dalam mengetahui segala hal yang berkaitan dengannya, seperti masalah nâsikh dan mansûkh, âm dan khâsh, pemilahan hadits shahih dan lemah. Masalah-masalah tentang itu sudah teliti, dirapikan dan dibukukan. Jadi, semuanya dapat dijangkau dengan mudah hari ini.

Tentang setiap ayat al-Qur`an, telah diketahui hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengannya, termasuk perkataan para Sahabat, Tabiin, dan penafsiran Ulama-ulama besar dalam bidah tafsir.

Seluruh hadits Nabi telah dihafalkan dan dibukukan, dan telah diketahui kondisi matan-matan dan sanad-sanadnya, serta cacat dan kelemahan yang ada dalam jalur periwayatannya…”[9]

Namun, kemudahan dan kemajuan teknologi tidak akan bermanfaat banyak bila orang tidak (belum) tergerak untuk mengambil kesempatan dan memanfaatkannya untuk kebaikan agamanya. Atau dalam bahasa yang lebih jelas lagi, kondisi yang mendukung tersebut melahirkan sifat malas dan berpangku-tangan pada sebagian orang.

Mari kita perhatikan nasehat Syaikh Muhammad al-Basyîr al-Ibrâhîmi rahimahullah :

          رُبَّ تَيْسِيْرٍ جَلَبَ التَّعْسِيْرَ فَإِنَّ هَذاَ التَّيْسِيْرَ رَمَى الْعُقُولَ باِلْكَسَلِ وَالْأَيْدِيَ بِالشَّلَلِ

Berapa banyak kemudahan malah mendatangkan kesulitan. (Hal ini) karena kemudahan itu membuat akal untuk bermalas-malasan dan membuat tangan menjadi cacat

Kebenaran itu Jelas[10]
Kebenaran dari Allâh Azza wa Jalla itu bersifat jelas. Allâh Azza wa Jalla telah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`an untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?. [al-Qomar/54:17].

Allâh Azza wa Jalla telah memudahkan lafazh-lafazhnya untuk dibaca dan memudahkan maknanya untuk dipahami. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas. Dan di antara keduanya (perkara halal dan haram terdapat hal-hal yang mengandung syubhat (ketidakjelasan hukum)[11]

Oleh karena itu, kebatilan biasanya mudah merasuk pada diri orang yang tidak berilmu dan tidak berpengetahuan tentang agama, serta tidak punya perhatian terhadap nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah serta perkataan para Sahabat dan Tabi’in.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sesungguhnya terjadinya perselisihan pendapat yang berlawanan (dengan kebenaran), tiada lain karena kedangkalan pengetahuan mereka tentang ajaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kebenaran dapat diketahui setiap orang. Sesungguhnya kebenaran yang menjadi misi diutusnya para rasul tidak kabur pada pandangan orang yang mengetahuinya, sebagaimana antara emas yang murni dan emas palsu tidak kabur bagi seorang yang teliti”[13]

Al-jahl bid dîn (kebodohan tentang agama) itulah yang menyebabkan ajaran Syiah yang digagas ‘Abdullâh bin Saba yang merupakan keturunan Yahudi, sebuah ajaran yang paling menyesatkan- laris (dapat diterima) oleh sebagian kaum Muslimin.[14]

Yang Dibutuhkan, Keseriusan Mencari Kebenaran Setelah Taufik Dari Allah Azza wa Jalla
‘Allâmah  Shiddîq Hasan Khân rahimahullah mengatakan, “Kebenaran hanyalah akan diketahui oleh insan yang memenuhi lima sifat: yang paling agung, ikhlas, memahami, bersifat inshâf (adil), ke empat yang paling sedikit terpenuhi  dan paling banyak hilang- berusaha kuat mengetahui al-haqq (kebenaran), serta semangat tinggi untuk mendakwahkannya”.[15]

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Dengan ini engkau telah tahu wahai orang Muslim, engkau wajib tekun dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh  Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui berbagai cara yang bermanfaat lagi menghasilkan dan kemudian mengamalkan seluruh ilmu yang telah Allâh Azza wa Jalla ajarkan kepadamu”.[16]

Marilah memperhatikan penggalan terakhir ayat di atas. Allâh mengundang para hamba-Nya untuk memperhatikan, menghayati dan mengambil pelajaran dari al-Qur`ân.

Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1]  Adhwâul Bayân 7/3435
[2]  Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905
[3]  Tafsir Ibni Katsir 7/478
[4]  Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905
[5]  Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 905.
[6]  Ash-Shawârifu ‘anil Haqqi hlm. 14
[7]  Adhwâul Bayân 7/435
[8]  Tafsir as-Sa’di hlm. 905
[9]  Adhwâul Bayân 7/436-437
[10]  Dikutip dari ash-Shawârif ‘anil Haqqi hlm. 9
[11]  Muttafaqun a’laih
[12]  I’lâmul Muwaqqi’în 1/79
[13]  Majmû Fatâwâ 27/315-316
[14]  Lihat ash-Shawârif ‘anil Haqqi hlm. 10
[15]  Qathfu ats-Tsamari fi Bayâni Aqîdati Ahlil Atsar hlm. 175
[16]   Adhwâul Bayân 7/437

Semua Akan Memasuki Neraka

SEMUA AKAN MEMASUKI NERAKA

Oleh
Ustadz Ashim bin Musthafa, Lc

وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ  ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. [Maryam/19: 71-72]

Penjelasan Ayat :
Ayat ini (ayat pertama) merupakan kabar berita dari Allah Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk ; baik orang-orang yang shaleh ataupun durhaka, Mukmin maupun orang kafir. Setiap orang akan mendatangi neraka. Ini sudah menjadi ketentuan Allah Azza wa Jalla dan janji-Nya kepada para hamba. Tidak ada keraguan tentang terjadinya peristiwa itu. Allah Azza wa Jalla pasti akan merealisasikannya[1].

Yang perlu diketahui, Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian kata al-wurûd[2] (mendatangi neraka) dalam ayat tersebut. Sebagian Ulama menyatakan, maksudnya neraka dihadirkan di hadapan segenap makhluk, sehingga semua orang akan merasa ketakutan. Setelah itu, Allah Azza wa Jalla menyelamatkan kaum muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Atau menurut penafsiran yang lain, semua makhluk akan memasukinya. Meski kaum Mukminin memasukinya, akan tetapi neraka akan menjadi dingin dan keselamatan bagi mereka. Di samping itu, terdapat penafsiran lain yang memaknainya dengan mendekati neraka. Dan ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah panas badan yang dialami kaum Mukminin saat menderita sakit panas[3].

Syaikh ‘Abdul Muhsin menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat.

  1. Semua memasuki neraka, akan tetapi mereka (kaum Mukminin) tidak mengalami bahaya.
  2. Mereka semua melewati shirâth (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya. Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Katsîr rahimahullah dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu[4].

Dari dua pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah (wafat tahun 792 H) memandang bahwa pendapat kedua itulah yang paling kuat dan râjih. Beliau berkata: “Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian al-wurûd dalam firman Allah Surat Maryam/19 ayat 71, manakah pendapat yang benar? Pendapat yang paling jelas dan lebih kuat adalah melintasi shirâth.”[5]

Untuk menguatkan pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah berhujjah dengan ayat selanjutnya (Maryam/19:72) dan hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya no. 6354. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya.

أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا قَالَتْ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَانْتَهَرَهَا فَقَالَتْ حَفْصَةُ { وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dari Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat berada di samping Hafshah Radhiyallahu ‘anha , “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka”. Hafshah (bertanya-tanya dengan) berkata, “Mereka akan memasukinya wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyanggahnya. Hafshah Radhiyallahu ‘anha berdalil dengan membaca ayat: “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. (Mendengar ini) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda, “Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut”.

Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah mengatakan bahwa beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan (dalam hadits) bahwa maksud alwurûd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya. Begitu juga selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Akan tetapi, dengan adanya kondisi (genting) yang terjadi itu sudah cukup (kemudian dia selamat dari ancaman itu). Barang siapa dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan : Allah telah menyelamatkannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا

Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan Hûd…[Hûd /11:58],

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh…[Hûd /11:66],

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib [Hûd /11:94]

Siksa Allah Azza wa Jalla tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka. Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan bagi mereka secara khusus, niscaya siksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wurûd (mendatangi neraka), maksudnya orang-orang akan melewati neraka dari atas shirâth. Kemudian Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di neraka dalam keadaan berlutut”[6]

Senada dengan keterangan di atas, sebelumnya Imam Nawâwi rahimahullah (wafat tahun 676 H) pun menguatkan arti menyeberangi shirâth. Beliau rahimahullah berkata dalam menerangkan hadits Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha : “Yang benar, maksud al-wurûd (mendatanginya) dalam ayat adalah melewati shirâth. Shirâth adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat”[7].

Dalam kitab al-Jawâbuss Shahîh (1/228), Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimaullah juga merâjihkan pengertian al-wurûd dengan menyeberangi shirâth[8]. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafizhahullâh juga memilih pendapat ini dalam tafsirnya[9].

Orang-orang Bertakwa Selamat Melintasi Shirath
Amal shaleh akan sangat berpengaruh dalam proses melewati shirâth ini. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat dalam menyeberanginya. Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Orang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlar-ilari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman :

ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”[10]

Semoga AllahAzza wa Jalla dengan rahmat dan kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.

Pelajaran dari Ayat:

  1. Mengandung penetapan kewajiban beriman keberadaan neraka.
  2. Penetapan kewajiban mengimani shirâth.
  3. Penetapan kepastian menyeberangi jembatan di atas neraka.
  4. Ketetapan Allah Azza wa Jalla pasti terjadi.
  5. Orang-orang bertakwa akan selamat dari siksa neraka.
  6. Orang-orang fâjir (berbuat jahat) akan binasa karena kesyirikan dan maksiat mereka.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Silahkan lihat 532 Adhwâul Bayân 4/381, al-Aisar (1/738)
[2] Mashdar (bentuk pembendaan) dari kata kerja warada yaridu yang merupakan asal kata dari wâridu (wâridûhâ) yang tertera dalam ayat
[3] Silahkan lihat Adhwâul Bayân 4/372, Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 498
[4] Jâmiur Rasâil Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd (1/260) dengan diringkas
[5] Syarhul Aqîdatith Thahâwiyah hlm. 416, takhrîj Syaikh al-Albâni
[6] Syarhul Aqîdatith Thahâwiyah hlm. 416, takhrîj Syaikh al-Albâni
[7] Syarhu Shahîh Muslim (16/275)
[8] Nukilan dari Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah, Khâlid ‘Abdullah al-Mushlih, hlm. 145
[9] Aisarut Tafâsîr (1/738)
[10] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 499 dengan diringkas

Pelajaran Dari Kehancuran Kaum Saba’

PELAJARAN DARI KEHANCURAN KAUM SABA’

Oleh
Ustadz  Said Yai Ardiansyah Lc MA

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”[1] [Saba’/34:15-17]

Pendahuluan
Setelah Allâh Azza wa Jalla menyebutkan nikmat yang diberikan kepada keluarga (Nabi) Dawud ‘alaihimussalâm, bentuk syukur mereka kepada Allâh Azza wa Jalla dan pengabaran bahwa hanya sedikit di antara hambanya yang bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan (pada ayat-ayat yang sebelumnya-pen), Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kisah anak-keturunan Saba’.

Ini adalah salah satu bentuk nikmat dan kasih sayang yang diberikan oleh Allâh kepada manusia. Dia Azza wa Jalla menceritakan kabar-kabar kaum yang dibinasakan dan diadzab kepada orang-orang yang tinggal berdekatan dengan bangsa Arab. Mereka menyaksikan langsung peninggalan-peninggalan serta saling menceritakan kabar kehancuran kaum tersebut. Dengan tujuan, mereka akan lebih membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lebih dapat menerima peringatan dari beliau.

Saba’ adalah suatu kabilah yang terkenal di negeri Yaman. Nama lengkap Saba’ adalah Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthân. Tempat tinggal mereka berada di suatu daerah yang disebut Ma’rib. Allâh telah memberikan kepada mereka nikmat yang sangat besar, tetapi mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut, sehingga Allâh menurunkan adzab dan mencabut nikmat-Nya. Itu adalah balasan yang setimpal untuk orang yang sangat kafir.

Siapakah Saba’ itu?
Dalam hadits Farwah bin Musaik, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasûlullâh! Kabarkanlah kepadaku tentang Saba’! Apakah Saba’ itu? Apakah dia itu (nama) suatu tempat ataukah (nama) wanita?” Beliau pun menjawab:

لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلاَ امْرَأَةٍ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وَلَدَ عَشَرَةً مِنَ الْعَرَبِ, فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ

Dia bukanlah (nama) suatu tempat dan bukan pula (nama) wanita, tetapi dia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam[2]

Dalam riwayat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma terdapat tambahan, “Adapun yang menempati Yaman, mereka adalah: Madzhij, Kindah, Al-Azd, Al-Asy’ariyûn, Anmâr dan Himyar. Adapun yang menempati Syam, mereka adalah: Lakhm, Judzâm, ‘Âmilah dan Ghassân.”[3]

Berdasarkan literatur-literatur sejarah[4], Saba’ juga dikenal dengan nama ‘Abdusy-Syams (Hamba Matahari). Kesepuluh orang anak Saba’ tersebut sekarang dikenal sebagai nama-nama kabilah.

Kerajaan Saba’
Kerajaan Saba’ adalah kerajaan yang berdiri sejak abad ke-10 SM atau sebelumnya. Kerajaan ini mencapai masa kejayaan di abad ke-8 SM. Pada abad itulah Ratu Bilqis, istri Nabi Sulaiman ‘alaihissalâm, hidup. Perlu diketahui bahwa Bilqis termasuk keturunan Saba’ dan pernah memimpin kerajaan Saba’. Pada abad itu pulalah dibangun bendungan raksasa yang menghebohkan dunia.

Kerajaan ini memiliki wilayah kekuasan yang sangat luas sekali, meliputi: seluruh Jazirah Arab bagian selatan, Laut Merah, Iretria dan Ethiopia Timur di benua Afrika.

Kerajaan ini berpusat di Ma’rib, suatu daerah di Yaman yang berjarak 170 km dari Shan’â’, Ibu kota Yaman saat ini. Mengalami kehancuran pada tahun 550 M.

Kehebatan Kaum Saba’
Kerajaan Saba’ juga terkenal dengan kekuatan bala-tentaranya, sehingga dapat mengalahkan banyak kerajaan lain di sekitarnya. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan kisah Ratu Bilqis ketika dia menanyakan bagaimana pendapat pejabat-pejabat di sekitarnya tentang ancaman yang datang dari Nabi Sulaiman Alaihissallam :

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” [an-Naml/27:33]

Pada tahun 24 SM tentara kerajaan Saba’ berhasil menaklukkan tentara Markus Ilyus Galus dari kerajaan Romawi, yang pada saat itu dunia mengenalnya dengan kekuatan bala-tentara yang tidak ada tandingannya.

Kemakmuran Kaum Saba’
Kerajaan ini terkenal dengan hasil alamnya sehingga banyak orang yang berhijrah dan berdagang ke sana. Dengan demikian, kerajaan ini bisa menjadi kerajaan yang sangat kaya dan makmur pada saat itu. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan keadaan mereka di dalam al-Qur’ân:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allâh) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri [Saba’/34:15]

Seperti Apa Dua Kebun itu?
Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan.

Qatâdah rahimahullah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah, dua orang tâbi’i, menceritakan bahwa apabila ada seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut.

Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular.[5]

Penyebutan dua kebun di ayat ini tidak berarti bahwa kebun itu jumlahnya hanya dua, tetapi yang dimaksud dengan dua kebun adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kiri dan kanan lembah tersebut. Kebun-kebunnya sangat banyak dan beragam, sebagaimana dikatakan oleh al-Qusyairi rahimahullah[6].

Mengapa Lembah itu Bisa Menjadi Sangat Subur?
Lembah itu menjadi sangat subur karena adanya bendungan yang bisa menampung air yang sangat banyak. Bendungan itu terkenal dengan nama bendungan Ma’rib atau bendungan ‘Arim. Bendungan itu berukuran panjang 620 m, lebar 60 m dan tinggi 16 m.

Bendungan yang sangat menakjubkan ini didirikan pada abad ke-7 atau ke-8 SM. Disebutkan di beberapa catatan sejarah bahwa yang membangunnya adalah Raja Saba’ bin Yasyjub. Adapun di beberapa buku tafsir[7] disebutkan bahwa yang membangunnya adalah Ratu Bilqis. Karena terjadi pertikaian di kaumnya dalam pemanfaatan air wâdi[8], sehingga mereka saling membunuh untuk merebutnya, maka Ratu Bilqis berinisiatif untuk mendirikan bendungan itu.

Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak perlu merasa takut akan persediaan air dan mereka dapat memanfaatkannya untuk pengairan (irigasi) kebun-kebun mereka. Ini adalah nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allâh kepada mereka.

Kewajiban Mereka Terhadap karunia yang Mereka Terima
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

(Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun [Saba’/34:15]

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk menikmati nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan itu dan bersyukur kepada-Nya.

Firman Allah Ta’ala:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun [Saba’/34:15]

Maksud dari negeri yang baik adalah negeri yang baik hawa dan suhunya, sebagaimana disebutkan olehaAl-Baghawi[9]. Adapun pengertian Rabb yang Maha Pengampun adalah Yang Maha mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian senantiasa berada di atas tauhid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsîr[10].

Qatâdah berkata, “Rabb kalian Maha mengampuni dosa-dosa kalian atau kaum yang telah diberi kenikmatan. Dan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada mereka untuk menaati-Nya dan melarang mereka untuk melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya.”[11]

Kehancuran Kaum Saba’
Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya.

Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus tiga belas rasul kepada mereka[12]. Akan tetapi, mereka tetap saja tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla pun murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim [Saba’/34:16]

Para ulama berbeda pendapat tentang makna a-‘aim di ayat tersebut. Makna a-‘aim yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut: bendungan, air yang ditampung bendungan, air yang sangat besar, nama wâdi (lembah), tikus yang menghancurkan bendungan dan nama banjir[13].

Penyebab Hancurnya Bendungan Ma’rib.
Allâh-lah yang menghancurkan bendungan itu. Di hampir seluruh buku-buku tafsir disebutkan bahwa sebab kehancuran bendungan adalah adanya seekor tikus besar (lebih besar daripada kucing) yang diutus oleh Allâh Azza wa Jalla untuk melubangi bendungan itu.

Ada sebab lain yang disebutkan oleh Ibnu ‘Âsyûr rahimahullah yaitu; pertama dikarenakan terjadinya perang saudara di antara mereka sehingga tidak sempat memperbaiki kerusakan yang terjadi di bendungan itu, dan yang kedua dikarenakan ulah musuh-musuh kaum Saba’ pada saat itu yang dengan sengaja menghancurkan bendungan itu[14]. Allâhu a’lam (Allâh-lah yang Maha Mengetahui) mana yang benar dari sebab-sebab yang disebutkan. Tetapi yang jelas, Allâh-lah yang menghancurkannya sebagaimana disebutkan di dalam ayat ini.

Kehancuran bendungan Ma’rib terjadi sekitar tahun 542 M. Kehancuran bendungan itu mengakibatkan banyak kerusakan pada kaum Saba’ dan kehancuran kerajaan mereka.

Keadaan Kaum Saba’ Setelah Hancurnya Bendungan Ma’rib
Allâh Azza wa Jalla menceritakan keadaan mereka setelah hancurnya bendungan Ma’rib dengan firman-Nya:

وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr [Saba’/34:16]

Kedua kebun mereka yang menjadi sumber penghidupan, kekayaan dan kekuatan mereka digantikan oleh Allâh Azza wa Jalla dengan kebun yang jelek, yang tidak bermanfaat untuk kehidupan mereka.

Firman Allâh ta’âla: “(pohon-pohon) yang berbuah pahit” yaitu pohon siwak (أرَاك/Toothbrush tree /Salvadora persica) dan buahnya yang pahit (dalam bahasa arab disebut barîr). Ini adalah pendapat jumhur mufassirîn, seperti Ibnu ‘Abbâs, Mujâhid, ‘Ikrimah, Athâ’, Qatâdah, Al-Hasan, As-Suddi dll.

Sedangkan pohon atsl adalah pohon tamarisk (طَرْفَاء/Tamarix aphylla). Ia sejenis pohon cemara.

Sedangkan pohon sidr adalah pohon bidara (Indian pulm/Ziziphus Mauritiana)[15].

Dengan keadaan seperti itu, kaum Saba’ tidak bisa bertahan, sehingga hancurlah kerajaan mereka. Kehancuran ini diperkirakan terjadi pada tahun 550 M.

Mereka terpaksa harus mencari tempat tinggal yang baru. Mereka pun berhijrah ke berbagai tempat. Enam kabilah dari kaum Saba’ berpencar di Yaman dan empat kabilah lainnya berpencar di Syam sebagaimana telah disebutkan di awal pembahasan. Ini semua adalah akibat ulah mereka sendiri. Mereka tidak bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla dan menyembah selain-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir [Saba’/34:17]

Ini juga sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴿١١٢﴾وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Karena itu, mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.” [an-Nahl/16:112-113]

Sungguh mengerikan bukan kisah kehancuran kaum Saba’! Mereka kufur terhadap nikmat Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla mengabadikan kisah mereka di dalam al-Qur’ân dan memberi nama surat yang memuat kisah mereka dengan nama surat Saba’. Ini agar orang-orang terus mengingat, membicarakan dan mengenang kisah ini.

Di akhir kisah kaum Saba’, Allâh mengakhiri firman-Nya dengan :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur [Saba’/34:19]

Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba Allâh yang bisa bersabar menghadapi segala ujian di dunia ini dan bisa selalu bersyukur.

Allâhummaj’alnâ minashshâbirîn asy-syâkirîn. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

Kesimpulan

  1. Saba’ adalah nama seorang laki-laki yang kaum Saba’ menisbatkan dirinya kepadanya.
  2. Karena memiliki bendungan yang sangat besar dan kebun-kebun yang sangat luas, kerajaan Saba’ menjadi sangat makmur dan memiliki bala tentara yang sangat kuat.
  3. Kaum Saba’ selama beberapa lama sempat bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla .
  4. Mereka tidak bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla dan kembali menyembah matahari dan bintang-bintang, sehingga Allâh Azza wa Jalla menurunkan azabnya dengan menghancurkan bendungan Ma’rib yang mereka buat.
  5. Dengan adzab yang Allâh Azza wa Jalla turunkan itu, hancurlah semua kebun yang mereka banggakan selama beratus-ratus tahun dan Allâh Azza wa Jalla gantikan dengan kebun-kebun yang tidak berarti.
  6. Kaum Saba’ tidak bisa bertahan dengan keadaan seperti itu, sehingga mengakibatkan hancurnya kerajaan mereka dan berpencarnya sepuluh kabilah kaum Saba’ di daerah Yaman dan Syam.
  7. Ini semua adalah balasan bagi orang yang sangat kafir kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Madinah: Kompleks Percetakan Mushhaf Raja Fahd.
  2. Al-Jâmi’ li ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. 1423 H/2003 M. Riyadh: Dar ‘Âlam Al-Kutub.
  3. Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Kuwait. Mesir: Mathâbi’ Dar Ash-Shafwah.
  4. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.
  5. Fathul-Qadîr. Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukâni. 1429 H/2008 M. Mesir: Dârul-Wafâ’.
  6. Jâmi’ul-bayân fî ta’wîlil-Qur’ân. Muuammad bin Jarîr Ath-Thabari. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  7. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. Riyadh:Dâr Ath-Thaibah.
  8. Musnad Ahmad. Ahmad bin Hanbal. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnaûth. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  9. Shahîh Sunan Abi Dâwud. Muhammad bin Nâshiruddin Al-Albâni. 1421 H/2000 M. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
  10. Shahîh At-Targhîb wa At-Tarhîb. Muhammad bin Nâshiruddin Al-Albâni. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
  11. Sunan Abî Dâwud. Abu Dâwud Sulaimân bin Al-Asy’ats As-Sajistâni. Riyadh: Maktabah Al-Ma’ârif.
  12. Sunan At-Tirmidzi. Abu ‘Îsa At-Tirmidzi. Riyadh: Maktabah Al-Ma’ârif.
  13. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1999. Riyadh: Dâr Ath-Thaibah.
  14. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat terjemahan ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya di dalam artikel ini di ‘Al-Qur’an dan Terjemahannya’
[2] HR Abû Dâwud no. 3988 dan at-Tirmidzi no. 3222. Hadîts ini di-shahîh-kan oleh Syaikh al-Albâni di Shahîh Sunan Abî Dâwud 2/492
[3] HR Ahmad no. 2898. Hadîts ini dihasankan oleh Ibnu Katsîr di dalam tafsirnya 4/506 dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth di catatan kaki Musnad Ahmad
[4] Penulis banyak mengambil sisi historis pada artikel ini dari http://ar.wikipedia.org/wiki/ dan http://marebpress.net.
[5] Lihat perkataan mereka berdua di Tafsîr ath-Thabari 20/ 376-377
[6] Fathul-Qadîr 4/ 422
[7] Lihat Tafsîr ath-Thabari 20/ 378 dan Tafsîr al-Baghawi j6/394
[8] Wâdi adalah sungai yang terisi air pada saat hujan saja. Adapun saat tidak ada hujan maka tanahnya akan menjadi kering.
[9] Lihat Tafsîr al-Baghawi 6/ 393.
[10] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr j6/507.
[11] Tafsîr ath-Thabari j20/ 377.
[12] Lihat Tafsîr al-Baghawi 6/393 dan Tafsîr Ibni Katsîr 6/507.
[13] Lihat Tafsîr Ath-Thabari 20/ 378, Tafsîr al-Baghawi 6/394, Tafsîr Ibni Katsîr 6/ 506 dan Tafsîr al-Qurthubi 14/ 285-286.
[14] Lihat at-Tahrîr wa at-Tanwir 22/169
[15] Lihat Tafsîr al-Baghawi 6/395 dan Tafsîr Ibni Katsîr 6/508.

Al-Qur’an Adalah Cahaya Penerang Jalan Menuju Kebahagiaan

AL-QUR’AN ADALAH CAHAYA PENERANG JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا﴿١٧٤﴾فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allâh akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.[An-Nisa/4:174-175]

Makna Kata:

  1. بُرْهَانٌ  : Hujjah, argumentasi. Yang dimaksud dengan kata al-burhân dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. نُورًا مُبِينًا  : al-Qur’an al-karîm
  3.  وَاعْتَصَمُوا بِهِ  : Berpegang teguhlah dengan al-Qur’an dan dengan semua syari’at yang dibawanya
  4. فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ  : Di surga
  5. صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا  : Jalan yang bisa menghantar mereka keharibaan Rabb mereka di akhirat

Penjelasan Ayat.
Ketika menjelaskan ayat pertama, Syaikh Abdulmuhsin bin Abbad al-Badr hafizhahullâh mengatakan, “Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan dari Allâh Azza wa Jalla untuk para hamba-Nya bahwa mereka telah kedatangan dalil-dalil yang pasti kebenarannya dari Allâh Azza wa Jalla yang menunjukkan rubûbiyah dan uluhiyah-Nya; kitab yang menunjukkan bahwa Dia-lah ilah yang haq yang semua jenis ibadah hanya boleh diperuntukkan kepada-Nya. Dalam ayat tersebut terdapat pemberitahuan dari Allâh Azza wa Jalla bahwa Dia telah menurunkan kepada para hamba-Nya cahaya yang terang yaitu al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla menurunkannya kepada Rasul-Nya. Kitab itu berisi hidayah yang menunjukkan jalan yang lurus kepada umat manusia. Kitab itu berisi hal-hal yang bisa membimbing manusia agar terselamatkan dari kegelapan menuju cahaya… Allâh Azza wa Jalla menamakan kitab yang diturunkannya itu sebagai cahaya karena kitab itu menerangi jalan yang bisa menghantarkan para hamba untuk meraih kebaikan dan keberuntungan. Diantara ayat-ayat yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan padanya bahwa al-Qur’an itu sebagai cahaya yaitu:

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا 

Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan [At-Taghâbun/64:8]

Juga dalam firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. [Asy-Syûrâ/42:52]

Juga dalam firman-Nya:

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ  أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung [Al-A’râf/7:157]

Juga dalam firman-Nya:

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ﴿١٥﴾ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allâh, dan Kitab yang menerangkan.  Dengan Kitab itulah, Allâh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allâh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus [Al-Maidah/5:15-16]

Inilah cahaya yang bisa menghilangkan kegelapan (yaitu) kekufuran, kesesatan dan kebodohan[1]

Penyususn kitab Aisarut Tafâsîr mengatakan, “Orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla sebagai Rabb dan Ilah serta beriman kepada Nabi-Nya Muhammad sebagai nabi dan rasul lalu mereka berpegang teguh dengan al-Qur’an; Mereka menghalalkan apa yang dihalalkan al-Qur’an dan mengharamkan apa yang dinyatakan haram; Mereka mengimani berita-berita yang dibawa al-Qur’an; Mereka konsisten dengan adab-adab yang diajarkan al-Qur’an, mereka itulah orang-orang yang dimasukkan kedalam rahmat dan karunia Allâh Azza wa Jalla dengan diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Itulah keberuntungan yang sangat agung, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an bahwa orang yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke surga adalah orag yang beruntung. Adapun orang-orang yang kufur kepada Allâh Azza wa Jalla dan Nabi-Nya juga kitab-Nya, maka tempat kembali mereka sudah jelas juga balasan mereka sudah jelas tidak perlu disebutkan. Itulah kerugian yang nyata.[2]

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita semua termasuk orang-orang beruntung yang menjadikan cahaya al-Qur’an sebagai pedoman dalam menempuh kehidupan dunia yang penuh dengan berbagai jebakan dan fitnah

Faidah Ayat.

  1. Dakwah Islam itu merupakan dakwah yang bersifat umum untuk semua umat manusia, tanpa membedakan warna kulit dan ras. Perhatikanlah ayat pertama yang kita bahas saat ini dan masih banyak lagi ayat-ayat senada
  2. al-Qur’an itu adalah cahaya karena dengannya orang bisa mendapatkan petunjuk menuju jalan keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan
  3. Untuk meraih kebahagiaan dan masuk surga, seseorang harus berimanan kepada Allâh Azza wa Jalla , rasul-Nya, beriman dengan hari perjumpaan dengan-Nya, melakukan amal shalih yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
______
Footnote
[1] Lihat Kutub wa Rasâil beliau, 1/213-214
[2] Lihat Aisarut Tafâsîr, 1/583