Category Archives: A8. Ringkasan Fiqih Islam 02 Al-Qur’an Adab Dzikir

Fadhilah Zakat

FADHILAH ZAKAT

Fadhilah membayar Zakat.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  [البقرة/277]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” [Al Baqarah/2:277].

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ… [الروم/39].

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” [Ar Ruum/30:39]

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  [البقرة/274]

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” [Al Baqarah/2:274]

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [التوبة/103]

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [At Taubah/9:103]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن أعرابياً أتى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: دُلَّني على عمل إذا عملتُه دخلتُ الجنة. قال: «تَعْبُدُ الله لا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيمُ الصَّلاةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قال: والذي نفسي بيده لا أزيد على هذا، فلما ولَّى قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إلَى هَذَا». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ahu bahwa seorang Arab Badui mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah! beritahu aku suatu amalan, bila aku mengerjakannya, aku masuk surga?”, Beliau bersabda:  “Beribadahlah kepada Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya, dirikan shalat, bayarkan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadhan,” ia berkata, “Aku tidak akan menambah amalan selain di atas”, tatkala orang tersebut beranjak keluar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Siapa yang ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga maka lihatlah orang ini”. Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah Shadaqah dari rejeki yang Halal.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلا يَقْبَلُ الله إلَّا الطَّيِّبَ، وَإنَّ الله يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَلِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ahu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik, Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik, maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung” . Muttafaq ’alaih. [2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1397 dan  Muslim no hadist: 14.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1410, ini adalah lafadznya  dan  Muslim no hadist: 1014.

Fadhilah Puasa

FADHILAH PUASA.

Fadhilah bulan Ramadhan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا دَخَلَ شهر رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ». وفي رواية: «فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila Bulan Ramadhan tiba pintu langit dibuka, pintu neraka Jahannam dikunci dan syetan-syetan dibelenggu”. Dalam riwayat yang lain: ” pintu surga dibuka“. Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah Puasa.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إلَّا الصِّيَامَ فَإنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ، فَإنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله مِنْ رِيحِ المسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa karena sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang membalasnya”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan banyak bicara, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari baunya kasturi, bagi orang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakan; di saat dia berbuka ia gembira dengan makanan berbukanya, dan di saat ia bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya”. Muttafaq ’alaih [2]

Fadhilah Orang yang berpuasa.

عن سهل رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لا يَدْخُلُهُ إلا الصَّائِمُونَ». متفق عليه

Dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Sesungguhnya di surga ada delapan pintu, diantaranya ada yang dinamakan Rayyan, tidak seorangpun yang masuk dari pintu tersebut selain orang-orang yang berpuasa”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ صَام رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampunkan dosanya yang telah berlalu”. Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah Qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang shalat malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya diampunkan baginya dosa yang telah berlalu”. Muttafaq ’alaih. [5]

Fadhilah Qiyam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang shalat malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya diampunkan baginya dosa yang telah berlalu”. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadilah Berpuasa penuh di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal seolah-olah ia berpuasa satu tahun”. HR. Muslim [7]

Fadilah puasa tiga hari setiap bulan.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما-وفيه- أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال له: «وصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ، فَإنَّ الحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ». متفق عليه

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Berpuasalah tiga hari setiap bulan, karena satu kebajikan senilai sepuluh kebajikan, berarti itu adalah puasa setahun penuh”. Muttafaq ’alaih. [8]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1899 dan 1898 dan  Muslim no hadist: 1079.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1904, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1151.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3257, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1152.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 38, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 760.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 37, ini adalah lafadznya  dan  Muslim no hadist: 759.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1901, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 760.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1164.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1976,  ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1159.

Fadhilah Haji dan Umrah

FADHILAH HAJI DAN UMRAH.

Fadhilah Sepuluh Hari (pertama) Bulan Dzulhijjah.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «مَا العَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هَذِهِ» قَالُوا: وَلا الجِهَادُ؟ قال: «وَلا الجِهَادُ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ». أخرجه البخاري

وفي لفظ : (( ما من أيام ؛ العمل الصالح فيها أحب إلى اللَّه من هذه الأيام العشر .. الخ )) أخرجه الترمذي.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini”, para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”, ia bersabda:  “Tidak juga jihad fi sabilillah, melainkan seorang lelaki yang keluar (untuk berjihad) dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sesuatupun darinya”. HR. Bukhari. [1]

Dalam riwayat lain: “Tiada hari-hari yang amal shaleh padanya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini …dst”  H.R Tirmidzi[2]

Fadhilah haji Mabrur.
Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ حَجَّ للهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berhaji lalu tidak berkata kotor, dan tidak berbuat kefasikan, niscaya kembali seperti hari ia dilahirkan ibunya”. Muttafaq ’alaih. [3]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سُئِلَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- أَيُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إيمَانٌ بِالله وَرَسُولِهِ» قِيلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللهِ» قيل ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: ‘Apakah amalan yang paling utama?’, Beliau bersabda: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”, lalu ada yang berkata: “Kemudian apa?”, Beliau bersabda: “Berjihad fi sabilillah”, lalu ada yang berkata: “Kemudian apa?”, Beliau bersabda:  “Haji mabrur”. Muttafaq ’alaih. [4]

Jihad Wanita yang paling Afdhal.

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أنها قالت: يَا رَسُولَ الله نَرَى الجِهَادَ أَفْضَلُ العَمَلِ، قَالَ: «لَكُنَّ أَفْضَلُ الجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ». أخرجه البخاري.

Dari `Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amalan yang paling utama?”, ia bersabda:  “Tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur”. HR. Bukhari. [5]

Fadhilah Umrah

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «العُمْرَةُ إلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لما بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلا الجَنَّةُ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Satu ibadah umrah hingga ibadah umrah berikutnya menghapuskan dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga”. Muttafaq ’alaih. [6]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 969.
[2] Shahih/H.R Tirmidzi no hadist: 757, Shahih Sunan Tirmidzi no: 605
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1521, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1350.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1519, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 83.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1520.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1773, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1349.

Fadhilah Jihad Fi Sabilillah

FADHILAH JIHAD.

Fadhilah Jihad fi Sabilillah.
Allah Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة/111]

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” [At Taubah/9:111]

Fadhilah berangkat Jihad fi Sabilillah di waktu pagi atau sore
Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ الله أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيِا وَمَا فِيهَا». متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh berjalan di waktu pagi atau sore (di saat berjihad) fi sabilillah lebih baik dari dunia dan segala isinya”. Muttafaq ’alaih. [1]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي أيوب رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «غَدْوَةٌ فِي سَبِيْلِ الله أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مما طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ». أخرجه مسلم.

Dari  Abu Ayyub Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berjalan di waktu pagi atau sore (disaat berjihad) fi sabilillah lebih baik dari pada terbitnya matahari dan tenggelamnya”. H.R. Muslim . [2]

Fadhilah orang yang berangkat jihad kemudian mati syahid.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  [النساء/100]

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [An Nisaa/4: 100].

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (157) وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ  [آل عمران/157- 158]

“Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.” [Ali Imran/3:157-158]

Fadhilah niat berangkat jihad, tetapi urung karena sakit atau uzur.

عن أنس رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- كان في غزاة فقال: «إنَّ أَقْوَاماً بِالمدينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْباً وَلا وَادِياً إلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ، حَبَسَهُمُ العُذْرُ». أخرجه البخاري

Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Saat kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan beliau bersabda: “Sungguh di Madinah saat ini ada beberapa  kaum, setiap kita mengadakan perjalanan (jihad) dan menuruni lembah, mereka selalu bersama kita, (tapi dalam peperangan ini) mereka tertahan di Madinah karena ada uzur.” riwayat Bukhari. [3]

Fadhilah mempersiapkan perlengkapan orang yang berjihad.

عن زيد بن خالد رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ جَهَّزَ غَازِياً فِي سَبِيلِ الله فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِياً فِي سَبِيلِ الله بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا». متفق عليه

Dari Zaid bin Khalid Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang memberi perlengkapan seseorang  yang berperang di jalan Allah, berarti ia telah ikut perang, dan siapa yang memenuhi kebutuhan keluarga seseorang  yang berperang di jalan Allah, berarti ia telah ikut perang.” Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah orang yang mengorbankan harta dan jiwa untuk jalan Allah.
Allah Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (120) وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  [التوبة/120- 121]

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [At Taubah/9:120-121].

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي عبس رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ الله حَرَّمَهُ الله عَلَى النَّارِ». أخرجه البخاري .

Dari Abu ‘Abs Radhiyallahu anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang kakinya berdebu menapaki jalan berjihad fi sabilillah niscaya Allah haramkan api neeraka menyentuhnya.” H.R. Bukhari. [5]

Fadhilah mengeluarkan harta untuk jihad.
Allah Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 
[البقرة/ 261].

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [Al Baqarah/2: 261].

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه قال: جاء رجل بناقة مخطومة فقال: هذه في سبيل الله، فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لَكَ بِهَا يَومَ القِيَامَةِ سَبْعُمِائَةِ نَاقَةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَةٌ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa unta yang telah diberi tali kekang lalu ia berkata: “Ini untuk jihad fi sabilillah”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan unta ini kelak engkau di hari kiamat akan memperoleh 700 ekor unta, semuanya bertali kekang”. HR. Muslim. [6]

Fadhilah orang yang mati syahid.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ [آل عمران/169- 171]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” [Ali Imran/3:169-171]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله- صلى الله عليه وسلم- فقال: أَرَأَيْتَ إنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ الله أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إلَّا الدَّيْنَ، فَإنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ قَالَ لي ذَلِكَ». أخرجه مسلم

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  seorang laki-laki seraya berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana jika aku terbunuh fii sabilillah, apakah dosa-dosaku dihapuskan?”, ia bersabda: “Ya, jika engkau terbunuh fii sabilillah dalam keadaan sabar, ikhlas, menghadapi musuh tidak berpaling (untuk lari), kecuali hutang, sungguh Jibril baru mengabariku hal tersebut”. HR. Muslim.[7]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2792, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1880.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1883.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2839.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2843, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 1895.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist: 907.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist: 1892.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist: 1885.

Fadhilah Dzikir dan Do’a

FADHILAH DZIKIR

Fadhilah Dzikir.
Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ [الرعد: ٢٨] 

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Ar Ra’ad/13:28].

Hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «يَقُولُ الله تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إذَا ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُه فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيهِ ذِرَاعاً، وَإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إلَيهِ بَاعاً، وَإنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallan, bahwa ia bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku memberi hamba-Ku balasan sesuai dengan dugaannya terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika  dia berzikir kepada-Ku. Apabila ia berdzikir kepada-Ku di sebuah kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari mereka. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan menghampirinya sehasta, dan siapa yang mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku akan menghampirinya sedepa, dan siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, Aku akan mendatanginya dengan  berlari,” Muttafaq ’alaih. [1]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ». أخرجه البخاري

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berzikir seperti orang yang hidup dan mayit”. HR. Bukhari. [2]

Fadilah senantiasa berzikir dan berfikir tentang akhirat, namun boleh meninggalkannya pada beberapa waktu.

وعن أبي ربعي حنظلة بن الربيع الأسيدي رضي الله عنه قال : … فانطلقت أنا وأبو بكر حتى دخلنا على رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- فقلت : نافق حنظلة يا رَسُول اللَّه ! فقال رَسُول اللَّهِ  – صلى الله عليه وسلم- : ( وما ذاك ؟! ) قلت : يا رَسُول اللَّهِ! نكون عندك تذكرنا بالنار والجنة كأنا رأي عين، فإذا خرجنا من عندك عافسنا الأزواج والأولاد والضيعات ، نسينا كثيراً ! فقال رَسُول اللَّه – صلى الله عليه وسلم- : ( والذي نفسي بيده لو تدومون على ما تكونون عندي وفي الذكر لصافحتكم الملائكة في فرشكم وفي طرقكم، ولكن يا حنظلة ! ساعة ! وساعة ! ) ثلاث مرات. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Handzolah bin Ar Rob’i, ia berkata: “… lalu aku bersama Abu Bakar berangkat hingga masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aku berkata: “Wahai Rasulullah, Handzolah telah menjadi munafik”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kenapa?”, aku berkata: “Wahai Rasulullah, “Ketika berada disisimu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya, lalu ketika kami keluar dari hadapanmu, kami disibukkan oleh istri, anak-anak dan mencari nafkah, sehingga kami menjadi lupa peringatanmu”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi yang jiwaku di tangan-Nya andai kalian tetap seperti kalian di sisiku dan terus berzikir niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, sedang kalian berada di atas tempat tidur dan di jalan kalian, akan tetapi wahai Handzolah ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu) 3x”. HR. Muslim. [3]

FADHILAH DOA.

Allah Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ [البقرة/186].

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  [Al Baqarah/2 : 186]) .

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ الله يَقُولُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إذَا دَعَانِي». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ” Allah Ta’ala berfirman: “Aku memberi hamba-Ku balasan sesuai dengan dugaannya terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya apabila dia berdoa kepada  Ku.” Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah memohon ampun dari dosa, diberi keistiqamahan dan pertolongan melawan musuh.

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  [آل عمران/147- 148]

“Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. “ [Ali Imran/3:147-148].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7405, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 2675.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6407.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2750.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7405 dan  Muslim no hadist: 2675.

Fadhilah Muamalat

FADHILAH MUAMALAT

Fadhilah berdakwah ke jalan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  [فصلت/33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” [Fushshilat/41: 33].

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يوم خيبر: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إلَى الإسْلامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ الله فِيهِ، فَوَالله لأَنْ يَهْدِيَ الله بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ». متفق عليه

Dari Sahal bin Sa`ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib sewaktu perang Khaibar: “Teruslah berjalan hingga engkau berada di daerah mereka, kemudian ajaklah mereka (memeluk) islam, dan beritahu mereka apa kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah, Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah seorang lelaki dengan perantaramu lebih baik dari pada seekor unta merah ( kendaraan yang paling berharga di saat itu ).” Muttafaq ’alaih.[1]

Fadhilah Amar Ma`ruf Nahi Munkar.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  [آل عمران/104]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” . [Ali Imran/3: 104].

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ} [آل عمران/110]

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ” [Ali Imran/3:110].

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعتُ رسولَ الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيمَانِ». أخرجه مسلم

Dari Abi Said Al Kudri Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa diantara kalain yang melihat kemungkaran hendaklah merubahnya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup (hendaklah merubah) dengan lidahnya, maka jika tidak sanggup (hendaklah merubah) dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah”. HR. Muslim.[2]

Fadhilah Nasehat

عن تميم الداري رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ: «للهِ، وَلِكِتَابِه، وَلِرَسُولِهِ، وَلأَئِمَّةِ المسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ». أخرجه مسلم

Dari Tamim Ad-Dari Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nasehat adalah termasuk pokok agama (islam)” kami bertanya: “untuk siapa ? ia bersabda: “untuk Allah, untuk kitab-Nya (Al qur`an), untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin, dan untuk umat secara umum”. HR. Muslim.[3]

Fadhilah Saling Menasehati dalam Kebaikan.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  [العصر/1- 3]

Demi masa!  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” [Al Ashr/103: 1-3] .

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [At Taubah/9: 71].

Fadhilah orang yang membuat tradisi yang baik.

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «.. مَنْ سَنَّ فِي الإسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ». أخرجه مسلم.

Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Siapa yang memulai membuat tradisi yang baik dalam islam, maka dia mendapat pahala perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengamalkan perbuatan baik tersebut setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun pahala pengikutnya, dan siapa yang memulai membuat tradisi yang buruk dalam islam, maka dia mendapat dosa perbuatan buruknya dan dosa orang yang mengamalkan perbuatan buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dosa pengikutnya.” HR. Muslim.[4]

Fadhilah Mendamaikan Orang Berselisih.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا  [النساء/114]

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” [An Nisaa/4 : 114].

Hadis Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam :

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا بَلَى، قَالَ: «إصْلاحُ ذَاتِ البَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ البَيْنِ الحَالِقَةُ». أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abu Darda Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Maukah aku beritahukan kalian suatu amalan yang lebih baik dari pada derajat puasa, shalat dan sedekah ? mereka berkata : tentu . beliau bersabda: “Meperbaiki hubungan orang yang berselisih dan menjauhi merusak hubungan antar sesama muslim”. H.R. Abu Daud dan Tarmizi.[5]

Fadilah Tolong-menolong Sesama Mukmin.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ  [المائدة/2]

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maidah/5 : 2].

Hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ المؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً» وشبك- صلى الله عليه وسلم- أصابعه. متفق عليه

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya, seperti sebuah bangunan, sebagiannya menopang sebagian yang lain,” dan beliau menjalin jemarinya”. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadhilah Menjenguk Orang Sakit

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2942 dan  Muslim no hadist: 2406, ini adalah lafadznya.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 49.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 55.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1017.
[5] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 4919, ini adalah lafadznya. Shahih Sunan Abu Dawud no: 4111 dan Tirmizi no hadist : 2509. Shahih Sunan Tirmidzi no: 2037
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 481, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 2585.

Fadhilah Berkunjung Karena Allah

FADHILAH MUAMALAT

Fadhilah Saling Meringankan Beban Sesama Orang Beriman.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم- «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ الله عَلَيهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً، سَتَرَهُ الله فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَالله فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ…». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Siapa yang  melepaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, Allah melepaskan darinya suatu kesulitan di hari kiamat, siapa yang memudahkan orang yang dalam kesusahan, Allah memudahkan urusannya di dunia dan akhirat, dan siapa yang menutup `aib seorang muslim, Allah tutup `aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah selalu menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya …” HR. Muslim.[1]

Fadhilah Menjenguk Orang Sakit.

عن ثوبان رضي الله عنه، عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ عَادَ مَرِيضاً لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الجَنَّةِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ الله وَمَا خُرْفَةُ الجَنَّةِ؟ قَالَ: «جَنَاهَا».أخرجه مسلم

Dari Tsauban Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya seiman, ia senantiasa berada di musim petik buah surga”. Lalu ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu di musim petik buah surga?”, ia bersabda:  “Buah surga yang telah dipetik”. HR. Muslim. [2]

Fadhilah Jujur.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ  [الحديد/18]

“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak” [Al Hadid/57: 18].

Fadhilah Murah Hati Saat Membeli, Menjual, dan Membayar.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «رَحِمَ الله رَجُلاً سَمْحاً إذَا بَاعَ، وَإذَا اشْتَرَى، وَإذَا اقْتَضَى». أخرجه البخاري

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah merahmati seorang lelaki yang murah hati bila menjual, membeli, dan bila menuntut haknya”. HR. Bukhari. [3]

Fadhilah Jihad, Hijrah, dan Menolong Agama Allah Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (95) دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  [النساء/95- 96]

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang), yang tidak mempunyai ‘uzur, dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nisaa/4: 95-96] .

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ … [الأنفال/74]

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman serta memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rejeki (nikmat) yang mulia”  [Al Anfaal/8: 74].

Fadhilah Berkunjung karena Allah.
Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم-: «أنَّ رَجُلاً زَارَ أخاً لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأرْصَدَ الله لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أتَى عَلَيْهِ قال: أيْنَ تُرِيدُ؟ قال: أرِيدُ أخاً لِي فِي هَذِهِ القَرْيَةِ، قال: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قال: لا، غَيْرَ أنِّي أحْبَبْتُهُ فِي الله عَزَّ وَجَلَّ، قال: فَإنِّي رَسُولُ الله إلَيْكَ بِأنَّ الله قَدْ أحَبَّكَ كَمَا أحْبَبْتَهُ فِيهِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain, lalu Allah mengutus seorang malaikat mengawasi perjalanannya, tatkala ia sampai di kampung tersebut, malaikat berkata: “Mau kemanakah engkau?”, ia berkata: “Aku ingin mendatangi saudaraku di kampung ini”, malaikat berkata: “Apakah engkau mengunjunginya karena ingin mendapatkan manfaat duniawi?”, ia berkata: “Tidak, hanya karena aku mencintainya karena Allah”, malaikat berkata: “Sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu bahwasanya Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai si fulan karena-Nya”. HR. Muslim.[4]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- : ((  مَنْ عَادَ مَريضاً أَوْ زَار أَخاً لَهُ في اللَّه ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأَنْ طِبْتَ ، وطَابَ ممْشَاكَ ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الجنَّةِ  منْزِلاً )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang membesuk orang sakit atau menziarahi seorang saudaranya karena Allah maka ada seorang malaikat yang menyeru “Engkau telah baik dan perjalananmu ini baik dan engkau telah mengambil tempat di surga”. HR. Tarmizi. [5]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «قَالَ الله تَبارَكَ وَتَعالَى: وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحابِّينَ فِيَّ، وَالمُتَجَالِسِينَ فِيَّ، وَالمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَالمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ». أخرجه مالك وأحمد

Dari Mu’az bin Jabal Radhiyallahu anhu., ia berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman: “Kecintaan-Ku pasti didapati oleh orang-orang yang saling mencintai karena-Ku dan orang yang saling duduk (berkumpul) karena-Ku, dan orang yang saling mengunjungi karena-Ku, dan orang yang mengorbankan dirinya karena-Ku”. H.R. Malik dan Ahmad.[6]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2699.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2568.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist: 2076.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2567.
[5] Hasan. diriwayatkan oleh Tarmizi no hadist: 2008, ini adalah lafadznya. Shahih Sunan Tirmizi no: 1633. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah no hadist: 1443, Shahih Sunan Ibnu Majah no: 1184
[6] Shahih. diriwayatkan oleh Malik no hadist: 1779 dan Ahmad no hadist : 22380. Lihat Shahih Al-Jami’ no: 4331

Fadhilah Pergaulan Baik

FADHILAH PERGAULAN BAIK

Fadhilah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا  [الإسراء/23- 25]

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” [Al Israa/17: 23-25].

Hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: سَأَلْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللهِ؟ قَالَ: «الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا» قَال: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «بِرُّ الوَالِدَينِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ». متفق عليه.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi, apa amalan yang paling dicintai Allah?”, ia bersabda: “Shalat tepat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa lagi ?”, ia bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, aku berkata : “Kemudian apa lagi ?”, ia bersabda: “Berjihad fi sabilillah”. Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah memperlakukan kedua orang tua dengan baik.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ «ثُمَّ أَبُوكَ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak berbakti kepadanya?”, ia bersabda:  “Ibumu”, ia berkata: “Kemudian siapa lagi?”, ia bersabda: “Ibumu”, ia berkata: “Kemudian siapa lagi?”, ia bersabda: “Ibumu”, ia berkata: “Kemudian siapa lagi?”, ia bersabda: “Bapakmu”. Muttafaq ’alaih.  [2]

Fadhilah Silaturrahim.
Hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ». متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang ingin dibentangkan rezkinya, dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah silaturrahim”. Muttafaq ’alaih. [3]

Hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللهُ: مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ». متفق عليه

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kekerabatan adalah berasal dari Ar-Rahman, maka Allah berfirman: “Barang siapa yang menyambungmu, Aku menyambungnya, dan barang siapa yang memutuskanmu, niscaya Aku memutuskannya”. Muttafaq alaih . [4]

Hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَيْسَ الوَاصِلُ بالمكَافِئِ وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا». أخرجه البخاري

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah (dinamakan) orang yang menghubungkan silaturrahim karena sekedar membalas tetapi orang yang menghubungkan silaturrahim adalah orang yang menghubungkannya terhadap orang yang memutuskan”. HR. Bukhari.[5]

Fadhilah memperlakukan anak-anak serta mendidik mereka dengan baik.
Hadis nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ فَقَالَ: «مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيئاً، فَأَحْسَنَ إلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ». متفق عليه

Dari `Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seorang ibu bersama dua orang anak wanitanya masuk ke rumahku mengemis, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu kecuali sebiji kurma, lalu aku berikan kepadanya, si ibu membagi kurma tersebut menjadi dua dan diberikan kepada anaknya, dan dia tidak ikut makan, kemudian dia berdiri dan pergi, lalu Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah dan aku memberitahu beliau, Ia bersabda: ” Siapa diberi cobaan dengan anak-anak wanita, lalu ia tetap berbuat baik kepada mereka, nanti mereka akan menghalanginya dari neraka”.  Muttafaq ’alaih.[6]

Hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: كان رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يأخذني فَيُقْعِدُني على فَخذه، ويُقعد الحسن على فخذه الآخر ثم يضمهما، ثم يقول: «اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإنِّي أَرْحَمُهُمَا». أخرجه البخاري

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku lalu meletakkanku di pahanya dan meletakkan Hasan di pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua seraya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku menyayangi mereka berdua maka sayangilah mereka “. H.R. Bukhari. [7].

Fadhilah Mengasuh Anak Yatim.

عن سهل رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Sahal bin Sa`ad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini,” beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan antara keduanya”. HR. Bukhari . [8]

Fadhilah menjalin hubungan baik dengan teman-teman orang tua.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْد أَنْ يُوَلِّي». أخرجه مسلم.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya perbuatan baik yang utama adalah seorang lelaki menyambung hubungan baik pada teman dekat bapaknya setelah bapaknya meninggal ”. H.R. Muslim . [9]

Fadhilah Anak Perempuan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 527, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 85.
[2] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5971, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 2548.
[3] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5986, ini adalah lafadznya  dan  Muslim no hadist: 2557.
[4] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5988, ini adalah lafadznya  dan  Muslim no hadist: 2554.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5991.
[6] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5995, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 2629.
[7] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6003.
[8] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5304, ini adalah lafadznya. Dan Muslim no hadist: 2983
[9] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2552.

Fadhilah Hubungan Baik Dengan Tetangga

FADHILAH PERGAULAN BAIK

Fadhilah mencari rezeki untuk para janda dan orang miskin.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ كَالمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ الله، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang mencari rejeki untuk para janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad fisabilillah, atau orang yang tahajud sepenuh malam, berpuasa di siang hari “. Muttafaq ‘alaih. [1]

Fadhilah Mendidik Anak Perempuan.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَومَ القِيَامَةِ أَنَا وَهُوَكهاتين» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ. أخرجه مسلم.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ia bersabda: ” Siapa yang memberi nafkah dua anak wanita hingga berumur baligh, dia akan datang di hari kiamat, aku dan dia seperti ini (Beliau merapatkan jemarinya)”. HR. Muslim.[2]

Fadhilah Hubungan Baik dengan Tetangga.
Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ [النساء/36].

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh” [An Nisaa/4: 36]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوْصِينِي بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ». متفق عليه

Dari `Aisyah Radhiyallahu anha, mereka berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Jibril selalu berpesan kepadaku terhadap tetangga hingga aku menduga bahwa tetangga akan berhak mendapat warisan”. Muttafaq ’alaih. [3]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي شريح رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «وَالله لا يُؤْمِنُ، وَالله لا يُؤْمِنُ، وَالله لا يُؤْمِنُ» قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ». أخرجه البخاري

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah belumlah beriman, demi Allah belumlah beriman”, ada yang berkata: “Siapa wahai Rasulullah ?”, ia bersabda: “Yang tidak merasa tenang tetangganya dari gangguannya”. H.R. Bukhari.[4]

Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ، أَوْ قَاَل لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ». متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ia bersabda: “tidak sempurna iman seorang diantara kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya ( dalam riwayat lain tetangganya ) apa yang ia cintai untuk dirinya.” Muttafaq ’alaih.[5]

Fadhilah menyayangi sesama.

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا يَرْحَمُ اللهُ مَنْ لا يَرْحَمُ النَّاسَ». متفق عليه

Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak menyangi  manusia, maka Allah tidak akan menyanginya.” Muttafaq ’alaih.[6]

Fadhilah berbuat baik kepada kerabat yang bukan muslim selama mereka tidak mengganggu umat Islam.
Allah Subhnahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ  [الممتحنة/8]

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil“. [Al Mumtahanah/47: 8] .

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما قالت: قَدِمَتْ عَليَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ: إنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: «نَعْم، صِلِي أُمَّكِ». متفق عليه

Dari Asma` binti Abu Bakar Shidiq Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Ibuku mendatangiku sementara dia masih musyrik pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bertanya kepada Rasulullah dan berkata: “Ibuku mendatangiku dan dia mengharapkan sesuatu, apakah aku boleh menyambung ikatan kekeluargaan dengan ibuku?”, beliau bersabda: “Ya, sambunglah ikatan kekeluargaan dengan ibumu”. Muttafaq ’alaih.[7]

Fadhilah menyayangi dan mengayomi umat Islam.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «تَرَى المؤْمِنِينَ فَي تَرَاحُمِهِمْ، وَتَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إذَا اشْتَكَى عُضْواً تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى». متفق عليه

Dari Nu`man bin Basyir  Radhiyallahu anhuma Ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling cinta, kasih sayang, dan solidaritas diantara mereka, seperti satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh bagian tubuh ikut merasakan tidak bisa tidur dan meriang .” Muttafaq ’alaih.[8]

Fadhilah berakhlak baik terhadap wanita dan pembantu.

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5353, ini adalah lafadznya  dan  Muslim no hadist: 2982.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2631.
[3] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6014, ini adalah lafadznya dan  Muslim no hadist: 2624.
[4] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6016.
[5] Muttafaq ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 13 dan  Muslim no hadist: 45, ini adalah lafadznya
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :13 dan  Muslim no hadist: 45.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2620 dan  Muslim no hadist: 1003.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6011 dan  Muslim no hadist: 2586.

Fadhilah Menjadi Pemimpin yang Baik

FADHILAH PERGAULAN BAIK

Fadhilah berakhlak baik terhadap wanita dan pembantu.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «اسْتَوصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإنَّ المرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاهُ، فَإنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوصُوا بِالنِّسَاءِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikanlah nasehat wanita dengan cara yang baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah di bagian yang paling atas, jika engkau memaksa meluruskan tulang tersebut, dia akan patah, dan jika engkau biarkan, dia akan selalu bengkok, karena itu nasehatilah wanita dengan cara yang baik.” Muttafaq ’alaih.  [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه قال: خَدَمْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلا لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلا أَلا صَنَعْتَ. متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Ia berkata: “Aku telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau berkata kepadaku: “ah” dan tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan: “Kenapa engkau lakukan?” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: “Kenapa engkau tidak melakukan hal ini?. Muttafaq ’alaih. [2]

Fadhilah Menjadi Pemimpin yang Baik.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ: الإمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمرأةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawabannya terhadap orang yang dipimpinnya, seorang kepala negara adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung jawabannya terhadap orang yang dipimpinnya,  seorang lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan ia akan diminta pertanggung jawabannya terhadap orang yang dipimpinnya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dan dia akan diminta pertanggung jawabannya terhadap orang yang dipimpinnya, seorang pembantu adalah pemimpin di rumah tuannya dan ia akan diminta pertanggung  jawabannya terhadap apa yang dipimpinnya, dan “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawabannya terhadap orang yang dipimpinnya”. Muttafaq ’alaih. [3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ الله رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إلَّا حَرَّمَ الله عَلَيْهِ الجَنَّةَ». متفق عليه

Dari Ma’qal bin Yasar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Tidaklah seorang hamba diberikan oleh Allah suatu jabatan publik (jabatan mengurusi urusan rakyat) sementara pada  hari wafatnya ia menipu rakyatnya sungguh Allah haramkan surga baginya”. Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah bergaul baik sesama muslim, menunaikan hajatnya, melapangkan kesusahannya dan menutupi aibnya.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ وَلا يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومِ القِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله يَوْمَ القِيَامَةِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka janganlah dia menganiaya saudaranya, dan menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah  memenuhi hajat orang tersebut, dan barangsiapa yang melepaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah melepaskan dirinya dari kesulitan di hari kiamat orang tersebut, dan siapa yang menutup kesalahan seorang muslim, Allah menutup di hari kiamat kesalahan orang tersebut”. Muttafaq ’alaih. [5]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: بينما نحن في سفر مع النبي- صلى الله عليه وسلم- إذ جاء رجل على راحلة له، قال: فجعل يصرف بصره يميناً وشمالاً، فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لا ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ» قال: فذكر من أصناف المال ما ذكر، حتى رأينا أنه لا حَقَّ لأحد منا في فضْل. أخرجه مسلم.

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan seketika datang seorang lelaki menunggangi untanya, lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri (mencari sesuatu yang bisa menganjal perutnya) maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam  bersabda: “Siapa yang mempunyai kelebihan tunggangan maka sedekahkanlah kepada orang yang tidak mempunyai tunggangan, dan siapa yang mempunyai kelebihan perbekalan (makanan) maka sedekahkanlah kepada orang yang tidak mempunyai perbekalan”, lalu beliau menyebut beberapa jenis harta sehingga kami menyakini bahwa seseorang  tidak berhak terhadap harta yang lebih (dari kebutuhannya). HR. Muslim. [6]

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6011 dan  Muslim no hadist: 2586.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6038 dan  Muslim no hadist: 2309.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :893 dan  Muslim no hadist: 1829.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :7150 dan  Muslim no hadist: 142.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2442 dan  Muslim no hadist: 2580.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1728.