Category Archives: A8. Ringkasan Fiqih Islam 02 Al-Qur’an Adab Dzikir

Fadhilah Akhlak

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah Akhlak yang Baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memuji Nabi-Nya :

قال الله تعالى مثنياً على رسوله- صلى الله عليه وسلم-: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  [القلم/4]

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung“. [Al-Qalam/68:4]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: لم يكن النبي- صلى الله عليه وسلم- فاحشاً، ولا متفحشاً، وكان يقول: «إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاقاً». متفق عليه

Dari Abdullah bin `Amru Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang suka mengucapkan kata kotor, atau sengaja mengucapkan kata kotor, bahkan beliau bersabda: “Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah Ilmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ  [المجادلة/11]

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. [Al Mujadilah/: 11]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن معاوية رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ، وَالله يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ الله لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ». متفق

Dari Mu’awiyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebikan, Allah memberinya pemahaman dalam agama, saya hanyalah pembagi dan Allahlah yang memberi, dan akan senantiasa ada segolongan umatku yang menegakkan agama Allah, tegar menghadapi orang yang berbeda dengan mereka hingga datangnya hari kiamat”. Muttafaq ’alaih.[2]

Fadhilah Bersabar.
Islam sangat menganjurkan pemeluknya bersifat sabar dengan segala bentuknya:

    1. Sabar dalam melakukan ketaatan hingga dia melaksanakannya.
    2. Sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat.
    3. Sabar dalam menerima takdir Allah .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ  [البقرة/ 155- 157]

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [3] Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al Baqarah/2: 155 – 157]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه-وفيه- أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ». متفق عليه.

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “.. dan barangsiapa yang melatih dirinya untuk bersabar, maka Allah akan memberikan dia kesabaran, tidaklah seseorang  diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas selain kesabaran”. Muttafaq ’alaih. [4]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah orang yang kuat karena –keahliannya—bergulat, orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah”. Muttafaq ’alaih. [5]

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ الله قَالَ: إذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الجَنَّةَ». يُرِيدُ عَيْنَيْهِ. أخرجه البخاري

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman (hadist Qudsi)  “Bila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan kedua yang dicintainya (kedua matanya) dan dia tetap sabar, maka Aku ganti kedua yang dicintinya (kedua matanya) dengan Surga.” HR. Bukhari. [6]

Fadhilah berlaku Jujur

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3559 dan  Muslim no hadist: 2321.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :71 dan  Muslim no hadist: 1037.
[3] Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1469 dan  Muslim no hadist: 1053.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6114 dan  Muslim no hadist: 2609.
[6] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5653.

Fadhilah Istighfar dan Taubat

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah berlaku Jujur
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [المائدة/119].

Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar“. [Al Maidah/5 : 119]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ ابن مسعود رضي الله عنه عَنْ النبي – صلى الله عليه وسلم- قال: (إِنَّ الصِّدۡقَ يَهۡدِي إِلَىٰ الۡبِرِّ، وَإِنَّ الۡبِرَّ يَهۡدِي إِلَى الۡجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصۡدُقُ حَتَّىٰ يُكۡتَبَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الۡكَذِبَ يَهۡدِي إِلَىٰ الۡفُجُورِ، وَإِنَّ الۡفُجُورَ يَهۡدِي إِلَى النَّارِ. وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكۡذِبُ حَتَّىٰ يُكۡتَبَ كَذَّابًا).

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Sesungguhnya kebenaran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada syurga, dan sungguh seorang laki-laki yang selalu benar hingga Allah menulisnya dalam kelompok shiddiqien, dan sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka, dan sungguh seorang laki-laki yang selalu berdusta hingga Allah menuliskannya dalam kelompok para pendusta.” H.R. Muslim.[1]

Fadhilah Istighfar dan Taubat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ  [هود/52]

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” [Huud/11: 52]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «الله أَفْرَحُ بِتَوبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاةٍ». متفق عليه.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba-Nya daripada salah seorang kamu yang jatuh dari ontanya dan ontanya pergi meninggalkannya, sedang ia berada di tengah gurun”. Muttafaq’alaih. [2]

Fadhilah Takwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ  [الأنفال/29]

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar“. [Al Anfaal/8: 29]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  [الحجرات/13]

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Al Hujuraat/49: 13]

Fadhilah Yaqin dan Tawakkal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ [آل عمران/173- 174]

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar [Ali Imran/3: 173 -174]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا  [الطلاق/2- 3].

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“. [At Talaaq/65: 2-3]

Fadhilah bermujahadah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [العنكبوت/69]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. [Al Ankabuut/29: 69]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي اللَّه عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمْ تصنعُ هذا يا رسولَ اللَّهِ، وقدْ غفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وما تأخَّرَ؟ قال: «أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟» متفقٌ عليه.  

Dari ‘Aisyah radhiyallahu `anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam hingga kedua kakinya membengkak, aku berkata kepadanya: “Kenapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah berlalu dan akan datang?!”, beliau bersabda: “Tidakkah aku suka jika menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?!”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah Takut Kepada Allah

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2607.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6309 dan  Muslim no hadist: 2747.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1130 dan  Muslim no hadist: 2819.

Fadhilah Luasnya Rahmat Allah

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah takut kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [آل عمران/175]

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman“. [Ali Imran/3: 175]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ  [الرحمن/46]

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga“.[Ar Rahman/55: 46]

Fadhilah berharap kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

قال الله تعالى: قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  [الزمر/53]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [Az Zumar/39: 53]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ الله بِكُمْ، وَلجَاءَ بَقَومٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ الله فَيَغْفِرُ لَهُمْ». أخرجه مسلم

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi yang jiwaku di tangan-Nya, andai kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah melenyapkan kalian dan Allah mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu mereka meminta ampun kepada Allah dan Dia-pun mengampuni mereka”. HR. Muslim. [1]

Fadhilah sifat kasih sayang
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا [الفتح/29]

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. [Al Fath/48: 29]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya dia tidak akan disayangi”. Muttafaq ’alaih. [2]

Fadhilah luasnya rahmat Allah.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لَمَّا قَضَى الله الخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوقَ العَرْشِ، إنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tatkala Allah telah  menciptakan makhluk, Dia menetapkan dalam kitab-Nya yang berada di sisi-Nya di atas Arsy,” sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku “. Muttafaq alaih . [3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ للهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الجِنِّ وَالإنْسِ وَالبَهَائِمِ وَالهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ الله تِسْعاً وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ» متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat, Dia menurunkan satu rahmat yang dibagi untuk jin, manusia, binatang ternak dan seluruh binatang dengan satu rahmat tersebut mereka saling menyayangi, dengan satu rahmat tersebut mereka saling mencintai, dengan satu  rahmat tersebut seekor binatang buas sayang kepada anaknya dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat di mana Dia akan menyangi para hambaNya (yang beriman) dengan rahmat tersebut pada hari kiamat”. Muttafaq ’alaih [4]

Fadhilah sifat memaafkan dan berlaku santun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 قال الله تعالى: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور/22]

Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.[An Nuur/24: 22]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ [الأعراف/ 199]

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh“. [Al A’raaf/7: 199]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ  [الحجر/ 85]

Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik“. [Al Hijr/15: 85]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [التغابن/14]

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [At Taghabun/64: 14]

Fadhilah Sifat Pemalu

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2749.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5997 dan  Muslim no hadist: 2318.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3194 dan  Muslim no hadist: 2751.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6000 dan  Muslim no hadist: 2752.

Fadhilah Istiqamah Menjalankan Perintah Allah

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah lemah lembut.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «يَا عَائِشَةُ إنَّ الله رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لا يُعْطِي عَلَى العُنْفِ، وَمَا لا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ» متفق عليه

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut, dan menyukai sikap lemah lembut, dan Dia akan memberi kepada orang yang bersikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikannya kepada orang yang bersikap kasar dan juga memberi sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada sikap selain lemah lembut.” Muttafaq alaih [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ الرِّفْقَ لا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إلَّا زَانَهُ، وَلا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إلَّا شَانَهُ». أخرجه مسلم.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Sesungguhnya lemah lembut bila disertakan pada suatu maka  dia akan menghiasinya. Dan bila dicabut dari sesuatu maka hal itu  akan membuatnya  menjadi buruk.” HR. Muslim .[2]

Fadhilah sifat Pemalu.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «الإيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمَانِ» متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman mempunyai cabang sebanyak enampuluh cabang  lebih dan rasa malu adalah  satu cabang dari keimanan”. Muttafaq ’alaih.[3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي مسعود رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلامِ النُّبُوَّةِ إذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ». أخرجه البخاري

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiyallahu anhu, ia berkata,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ucapan nabi yang pertama yang didengar manusia “bila engkau tidak malu maka lakukanlah sekehendakmu”. HR. Bukhari.[4]

Fadhilah sifat diam, menjaga lidah dari hal-hal yang tercela.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.Muttafaq ’alaih.[5]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قالوا يا رسول الله: أَيُّ الإسْلامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ» متفق عليه

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah orang muslim yang paling utama?”, beliau bersabda:  “Orang yang apabila kaum muslimin yang lain merasa selamat dari gangguan  lidah dan tangannya”. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadhilah istiqamah menjalankan perintah Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32)} [فصلت/30- 32]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.  [Fushshilat/41: 31 – 32]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 عن سفيان بن عبد الله الثقفي رضي الله عنه قال: قُلتُ يَا رَسُولَ الله: قُلْ لِي فِي الإسْلامِ قَولاً لا أَسْألُ عَنْهُ أَحَداً بَعْدَكَ قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِالله فَاسْتَقِمْ». أخرجه مسلم..

Dari Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang saya tidak menanyakan perkataan tersebut kecuali kepadamu”, beliau bersabda: “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah”. HR. Muslim. [7]

Fadhilah bersikap Wara’.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ، وَإنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلا وَإنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً، أَلا وَإنَّ حِمَى الله مَحَارِمُهُ، أَلا وَإنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً، إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلا وَهِيَ القَلْبُ» متفق عليه

Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu  telah jelas dan yang haram itu telah jelas, di antara keduanya ada sesuatu yang hukumnya masih samar dan banyak manusia yang tidak mengetahuinya, dan barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang samar berarti dia memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang melakukan perkara yang samar berarti ia telah terjatuh ke dalam sesuatu yang haram, seperti seorang pengembala yang mengembala pada batas sautu padang (yang dilarang) sehingga gembalanya hampir memakan rumput padang  (yang dilarang) tersebut, ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai batas larangan dan batas-batas Allah adalah perkara-perkara yang telah diharamkannya, ketahuilah dalam tubuh ada segumpal daging bila ia baik seluruh anggota tubuh menjadi baik, dan beliau ia rusak seluruh tubuh menjadi rusak, ketahuilah ia adalah hati”. Muttafaq ’alaih. [8]

Fadhilah Berbuat Baik

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6927 dan  Muslim no hadist: 2593.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2594.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :9 dan  Muslim no hadist: 35.
[4] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist: 3484.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6475 dan  Muslim no hadist: 47.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :11 dan  Muslim no hadist: 42.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 38.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :52 dan  Muslim no hadist: 1599.

Fadhilah Menangis Takut Dengan Siksaan Allah

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah berbuat baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ (41) وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ (42) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (43) إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ } [المرسلات/41- 44]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-Mursalat/77: 41-44]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ } [البقرة/112]

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati“. [Al Baqarah/2: 112]

Fadhilah saling mencintai karena Allah.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاوَةَ الإيمَانِ: أَنْ يَكُونَ الله وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إلَيهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ» متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka  dia akan merasakan  manisnya keimanan; mencintai  Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya, mencintai seseorang  hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya, seperti bencinya jika dilemparkan ke dalam  neraka”. Muttafaq ’alaih. [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “tidak sempurna iman seorang diantara kalian, hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Muttafaq ’alaih. [2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ الله يَقُولُ يَومَ القِيَامَةِ: أَيْنَ المُتَحَابُّونَ بِجَلالِي، اليَومَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي، يَومَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلِّي». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di hari kiamat: “Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku?, hari ini Kunaungi mereka di bawah naungan-Ku, di hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku”. HR. Muslim.[3]

Fadhilah menangis karena takut dengan siksaan Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (83) وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ (84) فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ } [المائدة 83- 85]

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wasallam). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)”. [Al Maidah/5: 83 – 85]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: بلغ رسول الله- صلى الله عليه وسلم- عن أصحابه شيء فخطب فقال: «عُرِضَتْ عَلَيَّ الجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ فِي الخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَلَو تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيراً». قَالَ: فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- يَومٌ أَشَدُّ مِنْهُ، قَالَ: غَطَّوا رُؤُوسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِينٌ. متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Sampai kepada Rasulullah berita tentang para sahabatnya, lalu ia berkhutbah: “Surga dan neraka ditampilkan kepadaku, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini, jikalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, maka tidak ada suatu haripun bagi para sahabat Rasulullah yang lebih berat dari hari tersebut, mereka menutupi kepala mereka dan menangis dengan tersedu-sedu”. Muttafaq alaih.[4]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «عَيْنَانِ لا تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ الله، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللهِ». أخرجه الترمذي.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua mata yang tidak disentuh oleh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang bangun untuk berjaga malam di saat jihad fi sabilillah”. HR. Tarmizi.[5]

Fadhilah Banyak Beramal Kebaikan

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :16 dan  Muslim no hadist: 43.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :13 dan  Muslim no hadist: 45.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2566.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4621 dan  Muslim no hadist: 2359.
[5] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tarmizi no hadist: 1639.

Fadhilah Zuhud Terhadap Dunia

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah berbicara yang baik dan bermuka manis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ} [آل عمران/159]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu“. [Ali Imran/3: 159]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَحْقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوفِ شَيْئاً وَلَو أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Jangan engkau meremehkan kebajikan walau sedikit, sekalipun engkau menemui saudaramu dengan muka yang ceria”. HR. Muslim. [1]

Fadhilah zuhud terhadap dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)} [العنكبوت/64]

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. [Al Ankabuut/29: 64]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتاً» متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad hanya makanan pokok”. Muttafaq ’alaih. [2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ- صلى الله عليه وسلم- مُنْذُ قَدِمَ المَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ البُرِّ ثَلاثَ لَيَالٍ تِبَاعاً حَتَّى قُبِضَ. متفق عليه

Dari`Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata: “Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang makan roti dari gandum selama tiga hari berturut-turut semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah infaq di jalan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  [البقرة/ 262]

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati“. [Al-Baqarah/2: 262]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ إلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada satu haripun yang paginya  mendatangi para hamba melainkan dua orang malaikat turun, salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartnya”, dan yang lain berkata: “Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang tidak menginfakkan hartnya”. Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah bersabar saat ditimpa musibah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا يَزَالُ البَلاءُ بِالمؤْمِنِ وَالمؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ، وَوَلَدِهِ، وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى الله وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ». أخرجه الترمذي

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cobaan akan senantiasa menghampiri orang yang beriman baik laki atau perempuan baik pada diri, anak dan hartanya sehingga dia menemui Allah Ta’ala sedangkan dia sudah tidak mempunyai dosa lagi.” HR. Tirmizi. [5]

Fadhilah banyak beramal kebajikan.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ اليَومَ صَائِماً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَاقَالَ: «فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ اليَومَ جَنَازَةً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا قَالَ: «فَمَن أَطْعَمَ مِنْكُمُ اليَومَ مِسْكِيناً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا. قَالَ: «فَمَن عَادَ مِنْكُمُ اليَوْمَ مَرِيضاً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إلَّا دَخَلَ الجَنَّةَ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah hari ini yang berpuasa? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang hari ini ikut ikut menguburkan jenazah? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Siapakah yang hari ini memberi makan orang miskin ? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang hari ini menjenguk orang yang sakit? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah perbuatan ini terkumpul pada seseorang kecuali dia pasti masuk surga”. H.R. Muslim.[6]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه أنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ بَنَى مَسْجِداً للهِ بَنَى الله لَهُ فِي الجَنَّةِ مِثْلَهُ». متفق عليه

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, ia berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa yang membangun mesjid karena Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya di surga bangunan yang serupa dengannya“. Muttafaq alaih. [7]

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2626.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6460 dan  Muslim no hadist: 1055.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5416 dan  Muslim no hadist: 2970.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1442 dan  Muslim no hadist: 1010.
[5] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tarmizi no hadist :2399.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1028.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :450 dan  Muslim no hadist: 533.

Fadhail Al Quran Karim

FADHAIL AL-QURAN KARIM

Fadhilah Al-Quranul Karim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ } [الزمر/23]

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun“.[Az Zumar/39: 23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا } [الإسراء/9]

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar“, [Al Israa’/17: 9]

Fadhilah orang yang membaca Al-Quran serta mengamalkannya.

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «المؤمِنُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالمُؤْمِنُ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِه كَالتَّمْرَةِ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلا رِيحَ لَهَا، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَالحَنْظَلَةِ، طَعْمُهَا مُرٌّ أَوْ خَبِيثٌ وَرِيحُهَا مُرٌّ». متفق عليه

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum, rasanya manis, dan perumpamaan orang yang beriman tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak ada bau, rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti buah Raihana, baunya harum, rasanya pahit, dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah Handzolah, tidak ada bau, rasanyapun pahit”. Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah belajar dan mengajar Al-Quran.

عن عثمان رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ». أخرجه البخاري

Dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an”. HR. Bukhari. [2]

Fadhilah orang yang ahli Al-Quran.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «المَاهِرُ بِالقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الكَِرامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ». متفق عليه

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang membaca Al Qur’an dengan baik, bersama malaikat yang bertugas mengantarkan risalah (untuk  manusia) yang mulia lagi baik, dan orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, ia membacanya dengan sangat sulit, baginya dua pahala”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah berkumpul untuk membaca Al-Quran .

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم- وفيه-: «… وَمَا اجْتَمَعَ قَومٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ الله، يَتْلُونَ كِتَابَ الله، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الملائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُه، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ». أخرجه مسلم

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “…tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya bersama melainkan turun kepada mereka ketentraman, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan para mahluk yang berada  di sisi-Nya”. HR. Muslim. [4]

Fadhilah menjaga hafalan Al-Quran .

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «تَعَاهَدُوا القُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّياً مِنَ الإبِلِ فِي عُقُلِهَا». متفق عليه..

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:  “Jagalah Al Qur’an ini dengan terus menerus, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh dia (hapalan Al-Qur’an) lebih cepat hilang daripada seekor unta yang ditambatkan”. Muttafaq ’alaih. [5]

Fadhilah menangis saat membaca atau mendengarkan Al-Quran.

عن ابن مسعود  رضي الله عنه قال: قال لي النبي – صلى الله عليه وسلم-: ((اقرأ علي القرآن)) قلت: يا رَسُول اللَّهِ أقرأ عليك وعليك أنزل؟! قال: ((إني أحب أن أسمعه من غيري)) فقرأت عليه سورة النساء حتى جئت إلى هذه الآية: ﴿ فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا ٤١ ﴾ [النساء : ٤١]  قال: ((حسبك الآن)) فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Berkata kepadaku: “Bacakan Al Qur’an untukku”, akupun bertanya: “Wahai Rasulullah, pantaskah aku membaca Al Qur’an untukkmu, sedangkan kepadamu diturunkan?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarbacaan Al Qur’an dari orang lain”, maka akupun mulai membaca surat An Nisaa’ hingga sampai pada ayat  41:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا  [النساء : ٤١]

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muahammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”.

Beliau bersabda: “Sekarang cukup”, lalu akupun menoleh kepada beliau, kedua matanya berlinang air mata”. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadhilah Orang yang melaksanakan ajaran AlQuran.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا حَسَدَ إلَّا فِي اثْنَتَينِ: رَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله مَالاً، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Tidak dibenarkan iri hati kecuali kepada dua orang; seorang lelaki yang dberikan oleh Allah hapalan Al Qur’an dan dia membacanya sepanjang malam dan siang, dan seorang lelaki yang diberikan oleh Allah harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang”. Muttafaq ’alaih. [7]

Fadhilah membaguskan suara saat membaca AlQuran.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يقول: (مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ) . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Allah tidak mendengar sesuatu seperti Ia mendengar seorang nabi yang bersuara bagus melantunkan Al Qur’an dengan nyaring”. Muttafaq ’alaih. [8]

Fadhilah surat Al-Fatihah.

عن أبي سعيد رافع بن المعلي رضي الله عنه قال : … قلت: يا رَسُول اللَّهِ! إنك قلت لأعلمنك أعظم سورة في القرآن؟ قال: ﴿ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ﴾ [الفاتحة: ٢] هي السبع المثاني، والقرآن العظيم الذي أوتيته) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abu Said Raafi’ bin Al Mu’ala Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mengatakan “Aku pasti akan mengajarimu satu surat yang paling agung di dalam Al Qur’an”, beliau bersabda:

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [الفاتحة: ٢] 

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”, surat ini adalah tujuh ayat yang  dibaca secara ulang-ulang dan surat Al Qur’an yang agung yang telah  diwahyukan kepadaku”. HR. Bukhari.[9]

Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن طلحة قال: سألت عبد الله بن أبي أوفى: آوْصَى النَبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-؟ فَقَالَ: لا، فَقُلْتُ كَيْفَ كُتِبَ عَلَى النَّاسِ الوَصِيَّةُ، أُمِرُوا بِهَا وَلَمْ يُوْصِ؟ قَالَ: أَوْصَى بِكِتَابِ اللهِ. متفق عليه.

Dari Thalhah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa,”Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat ? Dia berkata: “Tidak”. Aku berkata,”Bagaimana mungkin orang–orang diwajibkan berwasiat sedangkan beliau tidak berwasiat? dia berkata: “Beliau berwasiat (untuk berpegang) dengan kitabullah“. Muttafaq alaih. [10]

Fadhilah membaca Al-Quran.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «اقْرَؤُوا القُرْآنَ، فَإنَّهُ يِأتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعاً لأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: البَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَومَ القِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ البَقَرَةِ، فَإنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلا يَسْتَطِيعُهَا البَطَلَةُ». أخرجه مسلم

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al Qur’an karena di hari kiamat ia datang sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya. Bacalah Az Zahrawain, yaitu; surat Al Baqarah dan Ali Imran, nanti, di hari kiamat kedua surat tersebut datang bagaikan dua gumpalan awan, atau bagaikan dua rombongan burung yang terbang membentangkan sayapnya , membela orang yang selalu membacanya, bacalah surat al Baqarah, karena membacanya membawa keberkahan, dan meninggalkannya adalah penyesalan, dan tukang sihir tidak mampu menyihir orang yang membacanya”. HR. Muslim. [11]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إذَا رَجَعَ إلَى أَهْلِهِ، أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ؟» قُلْنَا نَعَمْ، قَالَ: «فَثَلاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sukakah salah seorang diantara kalian apabila kembali ke rumahnya mendapati tiga ekor unta gemuk besar yang sedang hamil? Kami berkata: “Tentu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya tiga ayat yang yang dibaca saat shalat lebih baik baginya daripada tiga ekor unta gemuk besar yang sedang hamil”. H.R. Muslim. [12]

عَنْ عبدِالله بنِ عَمْروٍ رَضِيَ الله عَنْهُما قالَ: قالَ رسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرآنِ اقْرَأ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا». أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “(Kelak) akan dikatakan kepada orang yang sering membaca Al Qur’an: “Bacalah dan meninggilah, dan bacalah dengan tartil seperti engkau telah membacanya dahulu di dunia secara tartil karena sesungguhnya tempatmu di ayat terakhir yang engkau baca”. HR. Abu Daud dan Tirmizi. [13]

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5059 dan  Muslim no hadist: 797.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5027.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4537 dan  Muslim no hadist: 798.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2699.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5033 dan  Muslim no hadist: 791.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5050 dan  Muslim no hadist: 800.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5025 dan  Muslim no hadist: 815.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5024 dan  Muslim no hadist: 792.
[9] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5006.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5022 dan  Muslim no hadist: 1634.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 804.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 802.
[13] Hadist hasan shahih. diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 1664 dan Tarmizi no hadist : 2914.

Beberapa Fadhilah yang Berhubungan Dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

BEBERAPA FADHILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Fadhilah nasab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن واثلة بن الأسقع رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ الله اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشاً مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ». أخرجه مسلم

Dari Watsilah bin Al Asqa’ Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim”. H.R. Muslim.[1]

Nama-nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن جبير بن مطعم رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ لِيْ أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو الله بِيَ الكُفْرَ، وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ، وَأَنَا العَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ». وفي لفظ: «وَنَبِيُّ التَّوبَةِ، وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ». متفق عليه

Dari Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama; Aku adalah Muhammad, Aku Ahmad, Aku Al mahi (pengiki) Allah mengikis kekufuran dengan mengutusku, Aku Al hasyir (penghimpun) nanti di hari kiamat seluruh manusia berhimpun di bawah perintahku, Aku Al ‘aqib (penutup) tidak ada Nabi sesudahku” dalam riwayat yang lain: “Aku Nabi taubat, Aku Nabi pembawa  rahmat“. Muttafaq alaih. [2]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Nabi-Nabi yang Lain.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ طَهُوْراً وَمَسْجِداً، وَأُرْسِلْتُ إلَى الخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diberi kelebihan dari Nabi yang lain dengan enam hal: Aku diberi jawami’ul kalim (ucapan yang sedikit namun memiliki makna yang padat dan gelobal), Aku diberi kemenangan dengan (dicampakkannya) rasa takut (di dalam dada) para musuh, dihalalkan untukku harta rampasan perang, bumi dijadikan bagiku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, Aku diutus kepada seluruh umat manusia dan Aku adalah penutup para nabi“. H.R. Muslim[3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَاناً فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ، وَيَعْجَبُونَ لَهُ، وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ، قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku bagai seseorang yang membangun bangunan, dimana dia mebangunnya dengan indah dan bagus, tinggal satu batu yang belum terpasang di salah satu sudutnya, orang-orang mengitari bangunan tersebut menikmati keindahannya, mereka berkata,” Duhai andai saja satu batu ini dipasang! akulah batu tersebut dan aku penutup para Nabi“. Muttafaq alaih[4]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas Manusia.

قال الله تعالى: {هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4)} [الجمعة/2- 4]

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Allah juga mengutus Nabi Muhammad) kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang besar. [Al-Jumu’ah/62 :2-4]

قال الله تعالى: {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)} [التوبة/128]

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. [At-Taubah/9 :128]

قال الله تعالى: {هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (28)} [الفتح/28]

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. [Al-Fath/48 :28]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Semua Makhluk.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَومَ القِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ القَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah pimpinan anak-cucu Adam di hari kiamat nanti, Aku orang yang pertama dibangkitkan dari kubur, Aku orang yang pertama memberi syafa’at dan Aku orang yang pertama diberi syafa’at“. H.R. Muslim.[5]

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2276.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4896 dan  Muslim no hadist: 2354.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 523.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3535 dan  Muslim no hadist: 2286.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2278.

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  [الإسراء/1]

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Isra’/17 : 1].

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «أُتِيتُ بِالبُرَاقِ (وَهُوَ دَابَّةٌ أبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الحِمَارِ وَدُونَ البَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ) قال: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أتَيْتُ بَيْتَ المَقْدِسِ، قال، فَرَبَطْتُهُ بِالحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الأَنْبِيَاءُ قال: ثُمَّ دَخَلْتُ المَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ بِإنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ- صلى الله عليه وسلم-: اخْتَرْتَ الفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ. قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِابْنَيِ الخَالَةِ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ وَيَحْيَى ابْنِ زَكَرِيَّا صَلَوَاتُ الله عَلَيْهِمَا، فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِي إلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ- صلى الله عليه وسلم-، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِيُوسُفَ- صلى الله عليه وسلم-، إذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الحُسْنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قال: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإذَا أنَا بِإدْرِيسَ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ، قال اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (57)} ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الخَامِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإذَا أنَا بِهَارُونَ- صلى الله عليه وسلم-، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإذَا أنَا بِمُوسَى- صلى الله عليه وسلم-، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ إلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ. قال: مُحَمَّدٌ- صلى الله عليه وسلم-، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِإبْرَاهِيمَ- صلى الله عليه وسلم-، مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إلَى البَيْتِ المَعْمُورِ، وَإذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ لا يَعُودُونَ إلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إلَى السِّدْرَةِ المُنْتَهَى، وَإذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الفِيَلَةِ، وَإذَا ثَمَرُهَا كَالقِلالِ، قال، فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أمْرِ الله مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ، فَمَا أحَدٌ مِنْ خَلْقِ الله يَسْتَطِيعُ أنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا فَأوْحَى الله إلَيَّ مَا أوْحَى، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إلَى مُوسَى- صلى الله عليه وسلم-، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاةً، قال: ارْجِعْ إلَى رَبِّكَ، فَاسْألْهُ التَّخْفِيفَ، فَإنَّ أمَّتَكَ لا يُطِيقُونَ ذَلِكَ، فَإنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ قال: فَرَجَعْتُ إلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا، قال: إنَّ أمَّتَكَ لا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إلَى رَبِّكَ فَاسْألْهُ التَّخْفِيفَ قال: فَلَمْ أزَلْ أرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى- صلى الله عليه وسلم- حَتَّى قال: يَا مُحَمَّدُ! إنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً قال: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إلَى مُوسَى- صلى الله عليه وسلم- فَأخْبَرْتُهُ، فَقَالَ ارْجِعْ إلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ». متفق عليه.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu didatangkan buraq kepadaku (yaitu : binatang berwarna putih tinggi, lebih besar daripada keledai lebih kecil dari unta, satu langkahnya sama dengan sejauh jarak mata memandang) lalu aku menungganginya hingga tiba di Baitulmaqdis, lalu aku tambatkan ia di tempat para nabi menambatkan (hewan tunggann)nya. Nabi bersabda: “Lalu aku memasuki Baitulmaqdis, melaksanakan shalat dua raka’at dan kemudian keluar.” Maka Jibril mendatangiku dengan membawa bejana yang berisi khamar dan bejana yang berisi susu, maka aku pilih susu. Seraya Jibril berkata,” Sungguh pilihanmu sesuai dengan fitrah (kesucian). Lalu kami naik ke langit dan Jibril meminta agar pintu langit dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda? ia berkata,” Aku Jibril”, Malaikat penjaga bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata,” Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya: “Apakah dia telah diutus ? Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba  aku di hadapan Adam, diapun menyambutku dan berdo’a untukku. Lalu kami naik ke langit kedua  dan Jibril meminta agar pintu dibuka, Malaikat penjaga bertanya: “Siapakah anda? dia menjawab: “Aku Jibril”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu ? Jibril menjawab: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus? Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama dua orang bersaudara sepupu ; Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria shalawatullah ‘alaihima, keduanya menyambutku dan mendoakan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit ketiga dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda?” ia menjawab: “Aku Jibril”, malaikat penjaga itu bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata: “Muhammad”. Penjaga bertanya kembali:  “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Yusuf Alaihissallam dan ternyata dia memang telah diberi setengah dari seluruh ketampanan. Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit keempat dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda?” ia menjwab: “Aku Jibril”, Malaikat  penjaga bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu?. Jibril menjawab: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Idris. Dia menyambutku dan mendoakan kebajikan untukku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا  [مريم: ٥٧] 

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [Maryam/19: 57]

Lalu kami naik ke langit kelima dan Jibril meminta agar pintu dibuka. Malaikat penjaga bertanya: “Siapakah anda? ia menjawab: “Aku Jibril”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu?”. Jibril berkata: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Harun Alaihissallam Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untuk ku. Lalu kami naik ke langit keenam dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganyapun bertanya: “Siapakah anda?”. Dia menjawab: “Aku Jibril”, malaikat penjaga berkata: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata: “Muhammad”. Malaikat penjaga berkata: “Apakah dia telah diutus?”.  Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Musa Alaihissallam. Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit ketujuh dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganyapun bertanya: “Siapakah anda?”.  Dia menjawab: “Aku Jibril”, penjaga itu bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu?” Jibril berkata,” Muhammad”. Penjaga itu bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Ibrahim Alaihissallamr. Dia sedang menyandarkan punggungnya  ke  Baitul Ma’mur. Pada setiap harinya,  tujuh puluh ribu para malaikat masuk ke Baitul Ma’mur tersebut (mereka yang telah memasukinya)  tidak kembali kepadanya untuk  kedua kalinya. Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha (sebuah pohon) yang daunnya seperti telinga gajah dan buahnya seperti gerabah. Lalu pohon tersebut tertutup atas perintah Allah kemudian berubah secara tiba-tiba. Sehingga tidak seorang makhlukpun yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu, Allah mewahyukan kepadaku dan mewajibkan atasku shalat lima puluh kali sehari semalam. Kemudian, akupun turun dan bertemu Musa Alaihissallam, dia berkata: “Apa yang diwajibkan Allah terhadap umatmu?”,  “lima puluh shalat” Jawab Nabi.. Ia berkata, “Kembalilah dan mintalah keringanan! karena sesungguhnya umatmu tidak mampu melakukannya, karena aku telah mencobanya pada Bani Israil”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu akupun kembali menghadap Rabbku, seraya memohon: “Ya, Rabbi! Berilah keringanan kepada umatku”. Akhirnya, jumlah shalat dikurangi lima. Lalu akupun kembali menemui Musa seraya berkata kepadanya: “Telah dikurangi lima”. Musa berkata: “Sesungguhnya umatmu tidak mampu melakukannya, kembalilah dan mintalah keringanan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka terus  aku bolak-balik antara Rabbku tabaraka wa ta’la dan Musa Alaihissallam sehingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya dia berjumlah lima shalat sehari semalam, setiap satu shalat pahalanya sama dengan sepuluh shalat, maka jumlahnya lima puluh shalat. Maka barangsiapa yang berniat melakukan satu kebajikan tetapi tidak dilakukannya maka ditulis untuknya satu kebajikan dan jika dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebajikan. Dan barangsiapa yang berniat melakukan satu dosa namun tidak dilakukannya maka tidak dituliskan (apapun baginya), dan jika dia melakukannya  maka ditulis satu dosa untuknya”. Nabi bersabda: “Maka aku turun dan kembali menemui Musa Alaihissallam lalu  memberitahukan kepadanya dia (apa yang terjadi). Dia kembali berkata: “Kembalilah dan minta keringanan kepada Rabbmu! maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah bolak-balik untuk memohon kepadaNya hingga aku malu kepadaNya“. Muttafaq alaih. [1]

Fadhilah Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :7517 dan  Muslim no hadist: 162.

Fadhilah Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Fadhilah Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [الأحزاب/56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [Al Ahzab/33: 56]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيهِ عَشْراً». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”. HR. Muslim.[1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ للهِ مَلائِكَةً سَيّاحِينَ فِي الأرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلامَ». أخرجه أحمد والنسائي.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang ditugaskan berkeliling di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku“. H.R. Ahmad dan Nasa’i. [2]

Lafaz Shalawat yang Paling Sempurna:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ». متفق عليه

(Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah mencurahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung dan berkahilah Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim!, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung)”. Muttafaq ’alaih. [3]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 408.
[2] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist: 3666 dan Nasa’I no hadist : 1282.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3370 dan  Muslim no hadist: 406.