Monthly Archives: September 2024

Menyikapi Pembagian Rezeki yang Tidak Sama

DAFTAR ISI

  1. Rezeki, Tidak Mesti Berwujud Materi
  2. Istighfar Kunci Rizki yang Terlupakan
  3. Agar Rezeki Mendapat Keberkahan
  4. Hikmah Pembagian Rezeki yang Tidak Sama

Uang Kunci Rezeki

  1. Ar-Razzâq, Rezeki Hanya Berasal Dari-Nya
  2. Menyikapi Rezeki yang Diberikan Oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
  3. Pengaruh Shalat dan Maksiat Terhadap Rezeki Hamba

Antara Ajal dan Rezeki

  1. Kunci Sukses Mengais Rezeki
  2. Menjaga Diri Dengan yang Halal

Di dalam Lisan al ‘Arab, Ibnu al Manzhur rahimahullah menjelaskan, ar rizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathinah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.

Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rezeki tidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi, yang dimaksud rezeki adalah yang bersifat lebih umum dari itu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua ini merupakan contoh kongkret dari rezeki. Bayangkan, apabila kejadian-kejadian itu menimpa pada diri kita, maka bisa dipastikan bisa menguras pundi-pundi uang yang kita miliki. Tidak jarang, tabungan menjadi ludes untuk mendapatkan kesembuhan. Imam an Nawawi rahimahullah mengisyaratkan makna tersebut dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/141).

Anugerah rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi setiap makhluk hidup. Limpahan karunia itu cerminan rahmat dan kemurahanNya. Porsi rezeki masing-masing manusia bahkan sudah ditentukan sejak dini, ketika manusia itu masih berupa janin berusia 120 hari.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam hadits yang panjang :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ……ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Sesungguhnya salah seorang dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya … lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rezeki, ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …”

Diantara Sebab Meraih Harta

DAFTAR ISI

  1. Amal Shalih
  2. Takwa Kepada Allah
  3. Tawakkal Kepada Allah
  4. Memperbanyak Istighfar
  5. Do’a

Jerat Harta

  1. Aturan Al-Qur’an Dalam Masalah Harta
  2. Agar Benar Dalam Memanfaatkan Harta
  3. Menanam Kebaikan Dengan Harta Di Dunia
  4. Hak Delapan Golongan Dalam Harta Kita

Tinggalkan Pekerjaan Batil

  1. Menjaga Diri Dengan yang Halal
  2. Harta Gono-Gini
  3. Bolehkah Suami Memakan Gaji Isteri?

Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, demi kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri [An-Nahl/16:89].

Demikian juga penggunaan dan pemanfaatan harta diatur dan dijelaskan dalam syariat Islam yang mulia dan sempurna ini. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. [HR. At-Tirmidzi, no. 2417; Ad-Dârimi, no. 537; dan Abu Ya’la, no. 7434]

Hadits yang agung ini menunjukkan wajibnya mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla , karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di duni

Harta Kekayaan Sumber Celaka?

DAFTAR ISI

  1. Harta, Sumber Celaka?
  2. Muslim Kaya Tidak Tercela
  3. Keutamaan Orang Kaya yang Bersyukur
  4. Kaya dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

Larangan Berlaku Boros

  1. Nikmatnya Hidup Sederhana
  2. Celaan Terhadap Sikap Kemewahan
  3. Anjuran Untuk Sedikit Mengumpulkan Harta
  4. Keberkahan Harta Di Tangan Orang Shalih

Fitnah Harta

  1. Fenomena Fitnah Harta
  2. Manusia Sangat Tamak dan Rakus Terhadap Harta dan Jabatan
  3. Kekayaan Bukan Tanda Kemuliaan, Kemiskinan Bukan Petunjuk Kehinaan
  4. Kecintaan Terhadap Harta Berpengaruh Kepada Akidah?

Kehidupan ini adalah ujian bagi manusia. setiap umat diuji dengan cobaan yang sesuai dengan keadaan mereka. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta

Ketika menjelaskan makna hadits ini, Imam al-Mubârakfûri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, maksudnya kesesatan dan kemaksiatan; Dan ujian umat ini adalah harta, maksudnya harta menyebabkan kelalaian. Karena harta bisa melalaikan fikiran dari ketaatan dan bisa menyebabkan lupa akhirat.

Allâh Azza wa Jalla juga telah menciptakan manusia dengan tabia’atnya yang sangat mencintai harta. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

 وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. [al-Fajr/89:20]

Imam at-Thabari rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, wahai manusia, kalian sangat suka mengumpulkan harta benda dan sangat berantusias untuk memilikinya”

Oleh karena itu, ujian dengan harta akan menampakkan jati diri umat ini, akan menguji kesungguhannya dalam berpegang teguh dengan syari’at, mempertahankan kesucian jiwanya serta akan menguji tekadnya untuk tetap berpegang dengan manhaj yang haq. Ataukah akan menyerahkan kepada ketamakan nafsunya sehingga rela menukarkan agama dengan dunia, gandrung kepadanya yang kemudian berlanjut dengan membuat berbagai kerusakan di muka bumi ini.

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

DAFTAR ISI

  1. Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  2. Kaidah Dan Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dalam Mengambil Dan Menggunakan Dalil
  3. Penjelasan Sebagian Kaidah Dalam Mengambil Dan Menggunakan Dalil
  4. Beberapa Karakteristik Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
  5. Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih Dan Menetapkan Manhajnya

Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

  1. Al-Iman
    ‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.
  2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
    Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.
  3. Tauhid
    ‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.
  4. As-Sunnah
    As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.
  5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
    Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.
  6. Al-Fiqhul Akbar
    Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.
  7. Asy-Syari’ah
    Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).

Itulah beberapa nama lain dari ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan ‘aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa’irah (Asy’ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.

Penjelasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

DAFTAR ISI

  1. Islam Adalah Agama Yang Haq Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Makna Dua Kalimat Syahadah
  3. (3-4) Rukun Iman
  4. Tauhid Rububiyyah
  5. Tauhid Uluhiyyah
  6. (6-7) Tauhid Al-Asma’ Wash Shifat
  7. Kaidah Tentang Sifat-Sifat Allah Jalla Jallaluhu Menurut Ahlus Sunnah
  8. Syirik Dan Macam-Macamnya
  9. Pilar-Pilar Ibadah Dalam Islam
  10. (10-11) Mengambil Lahiriyah Al-Qur’an Dan As-Sunnah Merupakan Prinsip Dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah
  11. Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menafsirkan Al-Qur’an, Dalam Menguraikan, Menerangkan dan Menjelaskan Nama dan Sifat Allah
  12. (12-13) Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menetapkan Sifat Al-‘Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza wa Jalla
  13. ‘Arsy (Singgasana) Allah Azza wa Jalla
  14. (14-15) Ahlus Sunnah Menetapkan Istiwa’ (Bersemayam)
  15. Ahlus Sunnah Menetapkan Ma‘iyyah (Kebersamaan Allah)
  16. (16-17) Ahlus Sunnah Menolak Keyakinan Wahdatul Wujud
  17. Ahlus Sunnah Mengimani Tentang an-Nuzul (Turunnya Allah ke Langit Dunia)
  18. (18-19) Ru’yatullaah (Melihat Allah Pada Hari Kiamat)
  19. Iman Kepada Malaikat
  20. (20-21) Iman Kepada Kitab-Kitab
  21. Ahlu Sunnah Mengimani Al-Qur-anul Karim Adalah Kalamullah Bukan Mahluk
  22. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
  23. Iman Kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
  24. Wajibnya Mencintai Dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam Serta Larangan Ghuluw (Berlebih-Lebihan)
  25. Isra’ Mi’raj
  26. Tanda-Tanda Kiamat
  27. (27-28) Munculnya Imam Mahdi
  28. Keluarnya Dajjal
  29. Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Di Akhir Zaman
  30. (30-31) Keluarnya Ya’juj Dan Ma’juj Di Akhir Zaman
  31. Terbitnya Matahari Dari Barat
  32. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Yaumul Akhir
  33. (33-36) Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab
  34. Ahlus Sunnah Meyakini Tentang Al-Mizan
  35. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya al-Haudh
  36. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya ash-Shirath
  37. (37-39) Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Syafa’at
  38. Ahlus Sunnah Mengimani Surga dan Neraka
  39. Ahlus Sunnah Mengimani Bahwa Setelah Manusia Masuk Surga dan Masuk Neraka Tidak Ada Lagi Kematian
  40. Iman Kepada Qadar(Takdir) Baik Dan Buruk
  41. Ahlus Sunnah Adalah Ahlul Wasath
  42. Prinsip Ahlus Sunnah Tentang Dien Dan Iman
  43. Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Terhadap Masalah Kufur Dan Takfir (Pengkafiran)
  44. Pembatal-Pembatal Keislaman
  45. Nifaq; Definisi Dan Jenisnya
  46. Al-Wa’du Dan Al-Wa’iid
  47. Berhukum Dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  48. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengikuti Sunnah Rasulullah Secara Lahir Dan Bathin
  49. Ahlus Sunnah Memuliakan Para Sahabat Radhiyallahu Anhum
  50. Karamah Para Wali
  51. Pernyataan Tentang Hakekat dan Syari’at
  52. Larangan Mendirikan Masjid Di Atas Kuburan
  53. Ziarah Kubur
  54. Hukum Wasilah (Tawassul)
  55. Tabarruk (Mencari Berkah)
  56. Hukum Sihir Dan Tukang Sihir
  57. Dukun, Tukang Ramal Dan ‘Orang Pintar’
  58. Ahlus Sunnah Melarang Nusyrah (Mengobati Sihir Dengan Sihir)
  59. Ilmu Nujum (Ilmu Perbintangan)
  60. Al-Istisqa’ Bil Anwa’ (Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang)
  61. Hukum Thiyarah (Tathayyur, Menganggap Sial Karena Sesuatu)
  62. Ahlus Sunnah Melarang Memakai Jimat
  63. Ahlus Sunnah Membolehkan Ruqyah Syar’iyyah Dan Melarang Ruqyah Yang Ada Kesyirikan Dan Bid’ah
  64. Ahlus Sunnah Melarang Memakai Gelang, Kalung Atau Benang Untuk Mengusir Atau Menangkal Bahaya
  65. Al-Wala’ wal Bara’
  66. Hukum Bermu’amalah Dengan Orang Kafir
  67. Perbedaan Antara Al-Bara’ Dengan Keharusan Bermu’amalah Yang Baik
  68. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Ahlul Bid’ah
  69. Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid’ah
  70. Ahlus Sunnah Menyuruh Yang Ma’ruf Dan Mencegah Yang Munkar Menurut Ketentuan Syari’at
  71. Ahlus Sunnah Melaksanakan Ibadah Bersama Ulil Amri
  72. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri
  73. Agama Adalah Nasihat
  74. Ahlus Sunnah Menasihati Pemerintah Dengan Cara Yang Baik, Tidak Mengadakan Provokasi Dan Penghasutan
  75. Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin
  76. Ahlus Sunnah Melarang Memberontak Kepada Pemerintah
  77. Ahlus Sunnah wal Jama’ah Menjaga Ukhuwwah (Persaudaraan) Sesama Mukminin
  78. Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian Atau Cobaan
  79. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengajak Manusia Kepada Akhlak Yang Mulia Dan Amal-Amal Yang Baik
  80. Persatuan Ummat Islam
  81. Ahlus Sunnah Senantiasa Melakukan Tashfiyah dan Tarbiyah Bagi Kembalinya Kemuliaan Islam
  82. Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  83. Keutamaan Dakwah Tauhid
  84. Syarat dan Kaidah Dalam Dakwah (Mengajak) Manusia Kepada Agama Islam yang Benar

Keutamaan Sahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam

DAFTAR ISI

  1. Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka
  2. Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Sahabat Nabi
  3. Bagaimana Menghormati Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
  4. Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Keutamaan Sahabat Nabi

  1. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu Khalifah IV
  2. Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Peristiwa yang Terjadi Di Antara Sahabat
  3. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu’awiyah dan Pertikaiannya Dengan Ali
  4. Riwayat-Riwayat yang Menceritakan Kejelekan Sahabat
  5. Mewaspadai Celaan Agama Syi’ah Terhadap Sahabat
  6. Sahabat Nabi Muhammad Dalam Ideologi Syi’ah

Jangan Mencela Sahabat Rasulullah!

  1. Keistimewaan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
  2. Syubhat-Syubhat Tentang Abu Bakar Radhiyallahu Anhu
  3. Hukum Orang yang Menuduh Aisyah Radhiyallahu Anha
  4. Baiat dan Warisan Abu Bakar dan Umar Antara Ali dan Fatimah
  5. Kenapa Mereka yang Melaknat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha?
  6. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya
  7. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Dalam Pandangan Salafush Shalih
  8. Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhu
  9. Membela Sahabat yang Mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhuma
  10. Beberapa Perkataan Ulama Tentang Mu’âwiyah Radhiyallahu Anhuma

Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka telah berjuang bersama Rasulullah untuk menegakkan Islam dan mendakwahkannya keberbagai pelosok negeri, sehingga kita dapat merasakan ni’matnya iman dan Islam.

Perjuangan mereka dalam li’ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.

Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.

Persoalan ‘Adalatus Shahabah (Keadilan Shahabat) sudah diyakini oleh umat Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Ahli Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Ahli Bait dan Siapakah Ahli Bait?
  2. Mengenal Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Siapakah Mereka yang Disebut Ahlul Bait
  4. Hakekat Mengikuti Ahlul Bait
  5. Keutamaan Ahlul Bait
  6. Apakah Ahlul Bait Ma’shum

Hakekat Mengikuti Ahlul Bait

  1. Ahlus Sunnah dan Ahlul Bait
  2. Penjelasan Pentingnya Mencintai dan Kedudukan Ahlul Bait
  3. Hubungan Kekerabatan Antara Ahlul Bait Dan Sahabat Nabi
  4. Apakah Boleh Kita Mengatakan Bahwa Husain Meninggal Syahid?
  5. Adab Kepada Ahli Bait dan Haramnya Mengaku Ahli Bait Tanpa Hak
  6. Mengaku Keturunan Rasulullah dan Meminta Berkah Dari Mereka

Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum
Keutamaan Sahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam

Keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada. Bahkan di antara keturunan beliau,  yaitu imam Mahdi, akan datang menjelang hari Kiamat, dan termasuk tanda-tanda besar hari Kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللهُ فِي لَيْلَةٍ

Al Mahdi dari kami, ahli bait, Allah akan memperbaikinya di dalam satu malam. [HR Ahmad, no. 646; Ibnu Majah, no. 4085. Dihasankan oleh al Albani di dalam ash Shahihah, no. 2371].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

Al Mahdi dari keturunanku dari anak Fatimah. [HR. Ahmad, no. 646; Ibnu Majah, no. 4085, dan ini lafazhnya. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat juga di dalam ash Shahihah, no. 2371].

Adapun banyak orang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka pengakuan tersebut kemungkinan benar, kemungkinan juga tidak benar.

Anjuran dan Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  2. Shalawat Kepada Nabi, Keutamaan Serta Faidahnya
  3. Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  5. Keutamaan Banyak Membaca Shalawat Kepada Nabi

Hukum Tambahan Sayyidina Dalam Shalawat

  1. Hadits Keutamaan Shalawat Kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
  2. Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalawat Kepada Nabi
  3. Mengapa Ibrahim Disebut Secara Khusus Dalam Tasyahhud?

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkadah. Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat). Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab muadzdzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Bukti dan Tanda Cinta Kepada Nabi

DAFTAR ISI

  1. Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Pribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Ciri Fisik Rasulullah yang Sempurna
  4. Nabi Muhammad Sebagai Nabiyyur Rahmah (Nabi Rahmat)
  5. Iman Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  6. Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  7. Mungkinkah Membela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Tapi Tidak Mentaati Beliau?
  8. Larangan Ghuluw dan Berlebih-Lebihan Dalam Memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Pengakuan Cinta Rasul

  1. Bukti dan Tanda Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Hakikat Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Hakikat Cinta Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Wajibnya Mencintai dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  5. Menghormati dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Memahami Makna Nabi Muhammad Adalah Uswah Hasanah

  1. Yang Ma’shum Hanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Salla
  2. Mengenal Sirah (Sejarah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  3. Mimpi Bertemu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
  4. Nabi Muhammad Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam
  5. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Hamba Allah dan Rasul-Nya

Di samping harus lebih dicintai dibanding semua orang lain, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki beberapa hak lainnya yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim.

Di antaranya adalah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus dihormati, dimuliakan dan diagungkan sesuai dengan kedudukannya. Namun tidak berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga seakan sejajar dengan Rabb, dan tidak pula dikurangi hingga seakan-akan sejajar dengan manusia biasa yang tidak memiliki kebenaran mutlak dalam kata-kata atau perbuatannya. Penghormatan serta pengagungan terhadap Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat masih hidup adalah dengan menghormati, memuliakan serta mengagungkan sunnah serta pribadi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun pada saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat, dan orang tidak lagi bisa berhadapan langsung dengan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka penghormatan serta pengagungan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menghormati, memuliakan dan mengagungkan sunnah serta syari’at-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentu juga dengan menghormati nama Beliau, misalnya dengan mengucapkan shalawat ketika mendengar nama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Orang yang tidak mau bershalawat ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut di hadapannya adalah orang bakhil.

Peringatan Maulid Nabi Menurut Syariat Islam

DAFTAR ISI

  1. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam Menurut Syari’at Islam
  2. Hukum Memperingati Maulid Nabi (Kelahiran Nabi)
  3. Hukum Memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Hukum Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Puasa Asyura Bukan Alasan Maulid

  1. Asal-Muasal Perayaan Maulid Nabi
  2. Sejarah Peringatan Maulid Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam
  3. Syubhat Perayaan Maulid Dengan Alasan Rasûlullâh Berpuasa Pada Hari Senin
  4. Syubhat Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Cinta Rasulullah dan Perayaan Maulid

  1. Dialog Dengan Pembela Maulid Nabi
  2. Barzanji, Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi
  3. Mengapa Harus Barzanji?

Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah bid’ah yang mungkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah pada abad ke- 4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Padahal mereka adalah pencetus aliran kebatinan. Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan al-Qaddah, salah seorang pendiri aliran Bathiniyah di Irak.

Para ulama ummat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang munafik zindiq, yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka orang-orang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan mereka, sebaliknya banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan kezindikan mereka.