Author Archives: editor

Nabi Musa Alaihissallam dan Malaikat Maut

NABI ADAM DAN MALAIKAT MAUT

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: “Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Ketika Allah Ta’ala menciptakan Adam ‘alaihissalam, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengusap punggungnya, lalu keluarlah dari punggungnya keringat yang dengannya Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan anak keturunannya sampai hari kiamat kelak, dan menjadikan pada setiap orang mata dari cahaya, setelah itu mereka di tampakkan kepada Adam.

Adam bertanya kepada Allah: “Ya Rabb, siapakah mereka? Allah Shubhanahu wa ta’alla menjawab: “Mereka semua adalah anak keturunanmu”. Lalu Adam melihat ada seseorang yang menakjubkannya, dengan sinarnya yang  terang pada kedua matanya. Lantas beliau menanyakan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla: “Ya Rabb, siapakah orang itu? Allah Shubhanahu wa ta’alla menjawab: “Dia adalah keturunanmu yang berada nanti di akhir zaman, ia di panggil dengan nama Dawud”. Beliau menimpali: “Ya Allah, berapa Engkau jadikan umurnya? Allah Shubhanahu wa ta’alla menjawab: “Enam puluh tahun”. Ya Allah, tambahkan padanya empat puluh tahun dari umurku, tambah Adam.

Tatkala sudah saatnya Adam meninggal, maka dirinya di datangi malaikat maut, akan tetapi Adam enggan dan mendebatnya: “Bukankah masih tersisa umurku empat puluh tahun lagi?, malaikat tersebut menjawab: “Bukankah telah kamu berikan kepada keturunanmu Dawud?.

Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan: “Adam mengingkari janjinya, maka anak keturunannya pun sama suka ingkar, Adam lupa dengan janjinya, sehingga anak keturunannya pun sama, Adam alpa maka anak keturunannya pun menirunya”.

Hadits ini shahih. Di riwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Sa’di di dalam ath-Thabaqaat, dan al-Hakim, beliau menshahihkan hadits ini dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.

Berkata Imam at-Tirmidzi mengomentari hadits ini: “Hadits Hasan Shahih“. Dan hadits ini mempunyai penguat dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

NABI MUSA ALAIHISSALLAM DAN MALAIKAT MAUT

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita: “Telah bersabda Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Nabi Musa ‘alaihi sallam dulu pernah di datangi malaikat maut, lalu berkata kepada nya: “Penuhi panggilan Rabbmu”.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Maka Musa ‘alihi sallam memukul mata malaikat maut tadi, sampai terlepas. Akhirnya malaikat tersebut kembali menghadap Allah Azza wa jalla, lalu mengadu kepada -Nya, seraya mengatakan: “Sesungguhnya Engkau telah mengutus hamba kepada seseorang yang belum ingin meninggal, dan ia telah memukul mataku”. Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengembalikan matanya. Lalu berfirman kepadanya: “Kembalilah kamu kepada hamba -Ku, lantas katakan padanya, kamu ingin hidup? Kalau sekiranya kamu ingin tetap hidup maka letakan kedua tanganmu di atas bulu sapi jantan, apa yang tertutupi oleh tanganmu, maka satu helai sama dengan hidupmu satu tahun”.

Kemudain ia kembali kepada Musa, lalu mengatakan seperti yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, Musa bertanya: “Setelah itu apa?, Malaikat tersebut menjawab: “Setelah itu kamu mati!. Musa mengatakan: “Bahkan sekarang, Ya Allah, matikanlah diriku di tempat yang suci dekat dengan bebatuan”.

Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

وَاللَّهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Demi Allah, kalau sekiranya saya berada di sisinya, tentu akan saya beritahu kalian kuburannya yang berada di sisi jalan di tumpukan bukit berpasir yang berwarna merah“.

Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

NABI MUSA ALAIHISSALLAM DAN BATU

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Dulu kebiasaan yang terjadi di kalangan Bani Isra’il adalah mereka biasa mandi dalam keadaan telanjang bulat, yang satu sama lain bisa saling melihat auratnya masing-masing. Adapun Musa ‘alaihi sallam maka beliau biasa mandi dengan menyendiri. Sehingga pada suatu ketika kaumnya berkata: “Demi Allah, tidaklah Musa enggan mandi bersama kita melainkan karena dirinya punya aib”.

Pada suatu hari Musa ‘alaihissalam pergi mandi di sungai lalu meletakan bajunya di atas sebuah batu, ketika ia sedang mandi, batu tersebut berjalan dengan membawa bajunya. Maka Musa mengejarnya, sambil berteriak: “Wahai batu bajuku, wahai batu bajuku!, sedangkan kaumnya yang sedang memperhatikan dirinya akhirnya melihat Musa berada tanpa berpakaian, sehingga mereka saling mengatakan: “Demi Allah, Musa tidak terkena penyakit apa-apa”.

Akhirnya Musa dapat mengejar batu tersebut lalu berdiri di atasnya, dan mengambil pakaiannya, kemudian memukul batu tersebut”.

Abu Hurairah mengatakan: “Sungguh demi Allah Shubhanahu wa ta’alla, sesungguhnya di atas batu tersebut ada bekas enam atau tujuh pukulan yang di lakukan oleh Musa ‘alaihi sallam, kemudian turun ayat:

قال الله تعالى : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوۡاْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهٗا [سورة الأحزاب : 69 ].

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” [al-Ahzab/33: 69].

Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

[Disalin dari قصة موسى عليه السلام وملك الموت Penulis  Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Nabi Musa dan Hidhir Alaihimassalam

NABI MUSA DAN HIDHIR ALAIHIMASSALAM

Di riwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Pada suatu hari Musa pernah berkhutbah di hadapan Bani Isra’il. Maka ada di antara mereka yang bertanya; ‘Siapakah orang yang paling berilmu? Saya, jawab Musa. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla menegurnya, karena Musa tidak memiliki pengetahuan dalam masalah ini.

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla  menurunkan wahyu kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di pertemuan antara dua buah lautan. Dan ia lebih berilmu dari padamu’. Musa bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana saya bisa mendatanginya? Maka di katakan padanya; ‘Bawalah bekal ikan di dalam wadah bersamamu, jika kamu kehilangan ikanmu itu, maka disanalah orang itu berada’.

Musa pun berangkat, ia temani oleh seorang pemuda bernama Yusya bin Nun, di dalam bekalnya mereka berdua tidak lupa membawa ikan. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah padang pasir, mereka istirahat sejenak, menyenderkan kepala lalu tanpa terasa akhirnya tertidur.  Pada saat itu ikan yang ada didalam bekal tersebut hidup lalu meloncat keluar, terus menggelepar berjalan sampai di tepi pantai. Maka kejadian itu bagi Musa dan temannya sangatlah aneh. Keduanya terbangun, lalu meneruskan perjalanannya dari sisa hari yang masih ada. Tatkala pagi menyapa maka Musa berkata pada temannya:

قال الله تعالى : ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا – سورة الكهف : 62

Berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini“. [al-Kahfi/18: 62].

Musa baru sadar kalau dirinya telah melewati tempat yang telah di perintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla , maka muridnya menjawab:

قال الله تعالى :  قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ –  سورة الكهف  :63 

“Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu”. [al-Kahfi/18: 63].

Itu yang kita cari, sergah Musa:

قال الله تعالى : قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا سورة الكهف64  

“Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula”.  [al-Kahfi/18: 64].

Ketika mereka berjalan menyusuri jalan yang mengantarkan pada padang pasir tempat mereka berdua singgah pertama, keduanya menjumpai ada seseorang yang membentangkan kain bajunya, lalu Musa memberi salam padanya. Ia bernama Khidir, sesungguhnya saya di negerimu ini menjawab salam, jawabnya. Saya adalah Musa, beliau mengenalkan dirinya. Khidir meyakinkan: “Musa Bani Isra’il? Ya, jawabnya, lalu beliau berkata padanya:

قال الله تعالى :  قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا . قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا سورة الكهف :  66- 67

“Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”.  [al-Kahfi/18: 66-67].

Wahai Musa! Sesungguhnya saya mempunyai ilmu dari ilmunya Allah Shubhanahu wa ta’alla , yang telah -Dia ajarkan padaku, dan kamu tidak mengetahuinya. Begitu juga sesungguhnya engkau mempunyai ilmu yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla  berikan padamu, aku juga tidak mengetahuinya, kata Khidir. Lantas Musa mengatakan padanya:

قال الله تعالى : قَالَ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا – سورة الكهف  69  

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan apapun”. [al-Kahfi/18: 69].

Akhirnya Khidir menyepakati, keduanya akhirnya berangkat, berjalan menelusuri tepi lautan, maka di lihatnya ada sebuah kapal yang lewat. Khidir berbicara dengan mereka agar mereka mau membawanya, orang-orang tersebut kenal dengan Khidir, sehingga mereka mau membawanya tanpa di pungut biaya sedikitpun.

Ketika keduanya sudah berada di atas kapal ada seekor burung yang datang lalu menukik mencelupkan paruhnya ke dalam lautan dua atau tiga kali. Khidir berkata pada Musa: “Wahai Musa! Ibarat sebuah lautan ini, ilmunya Allah Shubhanahu wa ta’alla  di banding dengan ilmu yang di berikan kepadaku dan padamu tak ubahnya seperti setetes atau dua tetes yang keluar dari paruh burung ini”.

Lalu Khidir dengan sengaja melubangi salah satu sisi dari kapal tersebut. Musa dengan cepat menegurnya: “Mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran, lantas kamu melubangi kapalnya, bisa-bisa kita semua tenggelam kelautan”. khidir menjawab tenang:

قال الله تعالى : قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا . قَالَ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ .. سورة الكهف: 72-73

“Dia (Khidir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku”. Musa menjawab: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku”.  [al-Kahfi/18: 72-73].

Itu adalah kejadian pertama bagi Musa, dan itu di karenakan lupa. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Ditengah-tengah perjalanan itu, mereka berdua menjumpai ada anak kecil yang sedang bermain-main bersama teman-teman sebayanya. Maka dengan sigap Khidir mengambil kepalanya, bagian atasnya lalu mencabut dengan tangannya, akhirnya anak itu mati. Musa tidak tahan melihat kemungkaran itu, maka dengan cepat ia mengingkarinya:

قال الله تعالى : قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡ‍ٔٗا نُّكۡرٗا ۞ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا  سورة الكهف : 74-75

“Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. Khidir menjawab: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”  [al-Kahfi/18: 74-75].

قال الله تعالى : فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا فَأَبَوۡاْ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥۖ قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا – سورة الكهف  77

“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh”. [al-Kahfi/18: 77].

Maka Khidir mengucapkan dengan tangannya, tegaklah, lantas dinding tersebut berdiri tegak. Musa berkata padanya:

قال الله تعالى : قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا . قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا – سورة الكهف :78 77

“Berkata Musa: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. [al-Kahfi/18: 77-78].

Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla  merahmati Musa, kalau sekiranya dirinya bisa lebih bersabar tentu akan ada banyak kisah lagi yang sampai pada kita tentang keduanya”.

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

[Disalin dari من القصص النبوي: موسى  والخضر Penulis  Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Musa dan Fir’aun

MUSA DAN FIR’AUN

Segala puji bagi Allah, kami memuji dan memohon pertolongan serta ampunan kepadaNya. Dan kami berlindung kepadaNya dari kejahatan diri dan keburukan prilaku kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tiada seorangpun yang mampu memberinya petunjuk dan barangsiapa yang disesatkannya maka tiada seorangpun yang menjadi penolong yang mampu memberinya petunjuk. Amma Ba’du

Wahai sekalian orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah:

قال الله تعالى : وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ [ البقرة: 281]

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.  [Al-Baqarah/2: 281]

Dengan kedatangan bulan Muharram ini, kita mengingat kisah yang selalu diulang-ulang oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Suci di dalam berbagai surat di dalam Al-Qur’an karena hikmah dan tujuan yang sangat luhur lagi tinggi:

قال الله تعالى : وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ [ هود: 120]

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; [Hud/11: 120].

قال الله تعالى نَتۡلُواْ عَلَيۡكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرۡعَوۡنَ بِٱلۡحَقِّ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ    [ القصص: 3]

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.  [Al-Qahsash/28: 3]

Fir’aun adalah sosok diktator yang paling buruk, seorang raja dari Mesir. Dia kufur karena mengingkari wujud Allah Yang Maha Tinggi secara nyata. Diceritakan oleh Allah di dalam firmanNya:

قال الله تعالى : فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ ٢٣ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ [ النازعات: 23-24]

Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya  . (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi“. [An-Nazi’at/79: 23-24].

قال الله تعالى وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي   [ القصص: 38]

Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. [Al-Qashash/28: 38].

Dia berbuat aniaya terhadap kaum Bani Israil, kaum yang lebih baik  dari dirinya pada zaman itu, menimpakan kepada mereka siksa yang sangat pedih:

قال الله تعالى إِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلَ أَهۡلَهَا شِيَعٗا يَسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَةٗ مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ [ القصص: 4]

Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [Al-Qashash/28: 4]

Dia hidup –semoga Allah melaknatnya- dengan penuh ketakutan. Seorang komandan dari suku Qibthy pernah memberitahukan kepadanya bahwa Ibrahim, kekasih Allah melewati Mesir dan Fir’aun ingin menguasai istrinya Sarah, lalu Allah menyelamatkannya  dan menjaga dirinya. Nabi Ibrahim diberitahukan bahwa akan terlahir dari keturunannya seorang anak, yang menjadi penghujung perjalanan kekuasaan Fir’aun di negeri Mesir. Kisah ini pada dasarnya terdapat di dalam hadits Shahih bahwa pada saat dia meyakini bahwa kekuasaannya akan berakhir di tangan seorang lelaki dari kalangan Bani Isroil. Maka diapun mulai membunuh kaum pria yang terlahir dari kalangan Bani isro’il guna mengamankan posisinya.

Setelah beberapa lama seorang komandannya berkata kepadanya: “Sesungguhnya kaum Bani Israil hidup untuk berkhidmah kepada kita sementara Anda bertindak untuk menghabisi mereka, akibatnya tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali kaum wanita dan orang-orang tua, maka biarkanlah mereka satu tahun dan bunuhlah bayi laki-laki yang terlahir pada tahun berikutnya. Maka diapun setuju dengan pendapat ini, lalu diapun membunuh bayi laki-laki-laki yang terlahir satu tahun dan membiarkan mereka satu tahun selanjutnya agar bisa dipekerjakan oleh dirinya dan kaumnya.

Hal ini sebagai ujian dan penjelasan bahwa kewaspadaan tidak akan pernah menyelamatkan seseorang dari ketetapan yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dan Nabi Musa Alaihis salam terlahir pada tahun dibunuhnya kelahiran bayi lelaki. Maka ibunya Nabi Musa sangat khawatir dan takut jika bayinya yang pada usia balighnya kelak akan mendapat wahyu akan terbunuh ditangan tentara Fir’aun, dan dia akan menjadi peminpin umat.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berkata tentang Nabi Musa:

لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

Seandainya saudaraku Musa, hidup maka dia tidak memiliki pilihan kecuali harus mengikutiku”.

Akan tetapi Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, Maha Mengetahui segala perkara hambaNya, Dia tidak pernah lalai dari mereka walau sekejap mata atau yang lebih kecil dari itu dan selalu menjaga serta memelihara mereka. Bayi yang kecil mungil, masih menyusu ini, yang sangat dikhawatirkan oleh ibunya karena ancaman pedang Fir’aun telah mendapat pemeliharaan Allah, sebagaimana penjagaan Allah terhadap para nabi dan rasulNya:

قال الله تعالى : …ۚ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ    [طه: 39]

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.[Thaha/20: 39].

Maka Allah membukakan hati istri Fir’aun sebelum pintu benteng dan  istana terbuka, anak tersebut besar di dalam didikan orang yang justru menjadi musuh baginya. Lalu Musa alaihis salam keluar dari istana Fir’aun dengan suatu ujian:

قال الله تعالى وَجَآءَ رَجُلٞ مِّنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ يَسۡعَىٰ قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ ٱلۡمَلَأَ يَأۡتَمِرُونَ بِكَ لِيَقۡتُلُوكَ فَٱخۡرُجۡ إِنِّي لَكَ مِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ  [ القصص: 20]

 Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu“. [Al-Qasas/28: 20].

Setelah itu dia tumbuh dewasa lalu menikah dengan maskawin menggembala kambing. Pada saat dirinya telah dewasa, sempurna akalnya dan siap mengemban risalah Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya. Dan dia didukung oleh saudaranya Harun sebagai pendukung dirinya dalam berdakwah:

قال الله تعالى فَأۡتِيَا فِرۡعَوۡنَ فَقُولَآ إِنَّا رَسُولُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦ أَنۡ أَرۡسِلۡ مَعَنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ [الشُّعَرَاءِ: 17-16]  

Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: ‘Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam. lepaskanlah Bani Israel (pergi) beserta kami’“. [As-Syu’ara/26: 16-17].

Maka Fir’aun terlaknat menyambut mereka dengan sikap mengingkari Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

قال الله تعالى قَالَ فِرۡعَوۡنُ وَمَا رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٣ قَالَ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَآۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ [الشُّعَرَاءِ:24-23]

“Firaun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?. Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya“. [As-Syu’ara/26: 23-24].

Lalu perdebatan berlangsung alot dan berubah menjadi perdebatan dalam bentuk lain, Fir’uan mengumpulkan para tukang sihirnya agar membuat tipu daya terhadap Musa namun Allah selalu mengawasi mereka:

قال الله تعالى : وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ١١٣ قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ  [الأَعرَافِ: 114-113]

“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Firaun mengatakan : Apakah sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?. Firaun menjawab: “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)”. [Al-A’raf/7: 113-114].

Mereka adalah para tukang sihir yang ahli:

قال الله تعالى قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ١١٥ قَالَ أَلۡقُواْۖ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ سَحَرُوٓاْ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ  [الأَعرَافِ: 116-115]

Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?”. Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). [Al-A’raf/7: 115-116]

Namun Fir’aun dan rakyatnya, serta para tukang sihir dan dukun dikagetkan dengan sebuah peristiwa:

قال الله تعالى : وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ١١٧ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١١٨ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ   [الأَعۡرَافِ:119-117]

Dan kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. [Al-A’raf/7: 117-119].

Walaupun peristiwa yang lebih menggegerkan dan mengejutkan belum memuncak, akan tetapi suasana semakin memanas pada saat seluruh tukang sihir yang didatangkan oleh Fir’aun beriman kepada Allah Azza wa Jalla:

قال الله تعالى وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ١٢٠ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٢١ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ   [الأَعۡرَافِ:122-120]  

Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”. [Al-A’raf/7: 120-122]

Maka Fir’aunpun mulai mengancam dan menindak mereka:

قال الله تعالى : لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ أَجۡمَعِينَ   [الأَعۡرَافِ: 124]

“Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.” [Al-A’raf/7: 124].

Dalam waktu yang sangat singkat mereka berubah mengumumkan keimanan mereka secara jujur dan terang-terangan dari kekafiran sambil menantang diktator yang paling jahat di atas permukaan bumi. Penyampaian risalah saling bergantian antara Nabi Musa dan saudaranya, dan tekanan Fir’aun terhadap Musa dan saudaranya berjalan sampai kisah tersebut berakhir dengan apa yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Musa alaihis salam agar mereka berjalan pada malam hari dari Mesir dan Fir’aun sangat bingung dengan perkara tersebut. Maka diapun mengirim berita kepada seluruh penjuru Mesir agar rakyat berkumpul…guna terwujudnya kehendak yang dikehendaki oleh Allah. Maka Fir’aunpun mengumpulkan bala tentaranya dan berjalan menuju arah yang dilalui oleh Musa, yaitu laut merah:

قال الله تعالى فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ [ الشعراء: 61]

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul“. [As-Syu’ara/26: 61].

Lautan dihadapan kita, jika kita melewatinya maka kita akan tenggelam padanya, sementara Fir’aun dan kaumnya berada di belakang kita, jika kita berhenti maka mereka akan menangkap kita. Maka Musa menegaskan dengan lisan seorang mu’min yang yakin dan percaya dengan janji, pertolongan dan rahmat Tuhannya:

قال الله تعالى قَالَ كَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ  [ الشعراء: 62]

Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku“. [As-Syu’ara/26: 62]

Pada saat Nabi Musa telah sampai di lautan maka Allah memerintahkan kepadanya untuk memukul laut tersebut dengan tongkatnya, maka lautan tersebut terpecah menjadi dua belas jalan, air berubah mejadi tanah. Maha Suci Allah, di tanganNyalah segala sesuatu dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lalu pada saat Musa dan kaumnya berjalan melewati laut merah yang telah berubah menjadi tanah, seakan mereka berjalan di atas padang pasir maka Fir’aun pun ikut mengejar melewati jalan yang sama, lalu pada saat mereka telah sampai ditengah lautan Allah memerintahkan agar lautan tersebut kembali seperti keadaannya yang semula, maka laut itupun menghantam Fir’aun dan bala tentarannya sehingga menenggelamkan dan membinasakan mereka semua.

Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Pengasih!.
Banyak kisah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an agar kita mengambil pelajaran dan ibroh. Lihatlah betapa banyak pelajaran dan ibrah di dalam kisah Musa dan Fir’aun. Fir’aun membunuh anak bayi Bani Israil hanya karena ketakutan dengan Musa Alaihis salam. Musa tumbuh berkembang di dalam rumah dan istana istrinya. Lihatlah bagaimana Nabi Musa menghadapi sang diktator secara terang-terangan dan jelas serta meneriakkan kebenaran dengan mengatakan ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah Rabb semesta Allam. Akhirnya Allah menyelamatkannya dari makar Fir’aun. Dan renungkanlah bagimana Allah mengubah air yang cair berubah menjadi benda padat seperti gunung dengan izin Allah, jalan terbentang bagai daratan dan tidak becek. Dan pada saat yang sama Allah membinasakan sang diktator pembangkang di saat dirinya angkuh dengan kekuasaannya. Dia menyombongkan diri dengan sungai-sungai yang mengalir di bawah kekuasaannya, maka Allah menghancurkannya dengan air lautan.

Wahai sekalian orang yang beriman…
Tidak diragukan lagi bahwa tanpaknya ayat-ayat Allah pada makhlukNya sebagai nikmat yang sangat besar yang harus disyukuri, terlebih jika ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang pertolongan Allah kepada kekasihNya dan membinasakan musuh-musuh Allah. Oleh karena itulah pada saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh bulan Muharram, dan mereka berkata bahwa pada hari itulah Allah Ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan kaumnya maka kaumnya Nabi Musa menjalankan puasa karenanya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ

Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.

Maka Nabipun berpuasa pada hari itu dan beliau juga memerintahkan para shahabat agar mereka berpuasa pada hari tersebut.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun yang telah lalu”.

Maka dianjurkan bagi orang muslim untuk berpuasa Asyura, begitu juga puasa pada tanggal sembilannya agar menyelesihi orang-orang Yahudi, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

[Disalin dari  موسى وفرعون Penulis  Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir, Penerjemah : Muzaffar Sahidu. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]

Berbakti Pada Kedua Orang Tua

BERBAKTI PADA KEDUA ORANG TUA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya berbakti pada kedua orang tua merupakan kewajiban utama bahkan termasuk kewajiban yang paling utama, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menggandeng langsung dengan perintah untuk beribadah kepada -Nya semata, yang tiada sekutu bagi -Nya. Seperti yang telah kia ketahui bersama yaitu dalam sebuah ayat dalam kitab -Nya, Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا [النساء: 36]

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatu apapun. dan berbuat baiklah kepada dua orangtua”. [an-Nisaa’/4: 36].

Dalam kesempatan lain, Allah ta’ala juga berfirman dengan redaksi yang sama, namun lebih spesifik, yaitu perintah untuk beribadah kepada -Nya lalu digabungkan agar berbakti pada kedua orang tua:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ  [الإسراء: 23-24]

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.[al-Israa’/17: 23-24].

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan pada kita selaku umatnya, bahwa berbuat baik pada kedua orang tua itu lebih baik dari amalan jihad di jalan -Nya. Sebagaimana dalam kabar yang shahih yang sampai pada kita. Yaitu sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Aku pernah bertanya kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah ta’ala?  Beliau menjawab: “Sholat tepat pada waktunya”. Kemudian amalan apa lagi? Tanyaku kembali. Beliau menjawab: “Berbuat baik pada kedua orang tua”. Lalu apa lagi? Tambahku lagi. Beliau bersabda: “Berjihad dijalan Allah”. HR Bukhari no: 527. Muslim no: 85.

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan hal yang sama, sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

« جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Pernah ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk minta di ijinkan pergi berjihad. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia, jawab orang tersebut. Nabi bersabda: “Pada kedua orang tuamulah hendaknya kamu berjihad”. HR Bukhari no: 3004. Muslim no: 2549.

Sedangkan dalam redaksi yang ada dalam riwayat Abu Dawud dijelaskan, Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuam menceritakan: “Orang itu berkata:

« جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَايِعُهُ قَالَ جِئْتُ لِأُبَايِعَكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا» [أخرجه أبو داود]

“Aku datang membai’atmu untuk hijrah dan telah aku tinggalkan kedua orang tuaku menangis”. Maka Nabi bersabda: “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu bikinlah dia senang sebagaimana engkau telah menjadikan keduanya menangis”. HR Abu Dawud no: 2528. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 2/480-481 no: 2205.

Jumhur Ulama mengatakan: “Haram hukumnya berangkat jihad jikalau kedua orang tuanya atau salah satunya melarang untuk berangkat dengan catatan keduanya muslim, sebab berbakti pada keduanya hukum wajib ‘ain, sedangkan jihad hukum fardhu kifayah, adapun kalau jihadnya adalah wajib bagi tiap orang maka pada saat itu tidak membutuhkan ijin keduanya lagi”. [1]

Seorang ayah keutamaannya, seperti disebutkan dalam riwayat Tirmidzi, seperti tengah-tengah pintu surga. Seperti dalam haditsnya Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bawah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ» [أخرجه الترمذي]

“Seorang ayah ialah tengah-tengah pintu surga, terserah kalau kamu ingin, sia-siakan pintu tersebut atau kamu merawatnya”. HR at-Tirmidzi no: 1900. Beliau berkata hadits shahih.

Bahkan dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa allam akan merugi bagi siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya sampai tua lalu tidak menjadikan dirinya masuk surga. Seperti dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ » [أخرجه مسلم]

“Sungguh sangat merugi”, dan beliau mengucapkan tiga kali. Maka ditanyakan pada beliau: ‘Siapa wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya sampai tua kemudian tidak menjadikan dirinya masuk surga”.  HR Muslim no: 2551.

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla juga telah mengabarkan dalam firman -Nya bahwa salah satu sifat yang dimiliki oleh para Nabi -Nya ialah berbakti pada orang tuanya. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sebutkan dalam salah satu ayat -Nya tentang Nabi -Nya Yahya, Allah ta’ala berfirman:

وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا [ مريم: 14]

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. [Maryam/19: 14].

Dan menceritakan tentang Isa putera Maryam:

وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا [ مريم: 32]

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. [Maryam/19: 32].

Kemudian, hak yang ada pada seorang ibu juga sangat jelas, bahkan dijelaskan dalam hadits yang mana lebih agung dari seorang ayah, dimana kedudukannya berada setelah hak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya. Seperti yang tercantum dalam firman -Nya:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ [ لقمان: 14]

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya”. [Luqman/31: 14].

Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan alasannya kenapa, yaitu dorongan bagi anak-anaknya untuk memperhatikan wasiat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan setelahnya, yaitu dalam lanjutan ayat ini:

حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ [ لقمان: 14]

“Ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah”. [Luqman/31: 14].

Yaitu lemah serta serba payah yang bertumpuk-tumpuk, mulai dari payahnya mengandung, ketika melahirkan kemudian merawatnya dan menyusui sebelum dirinya dewasa. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla gambarkan dalam firman -Nya:

وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ [لقمان: 14]

“Dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kalian kembali”.[Luqman/31: 14].[2]

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Pada suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku gauli dengan baik? Beliau menjawab: “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Tanya kembali. Beliau menjawab: “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Tambah lagi. Beliau menjawab: “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Tanya lagi orang tersebut. Nabi menjawab: “Baru ayahmu”. HR Bukhari no: 5971. Muslim no: 2548.

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Ibnu Majah sebuah hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah radhiyallahu’anhuma. Beliau mengkisahkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أن جاهمة السلمي جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إني كنت أردت الجهاد معك أبتغي بذلك وجه الله والدار الآخرة . قال: ( ويحك أحية أمك  ) قلت نعم . قال : ( ارجع فبرها ). في لآخر الحديث: قال : « ويحك الزم رجلها فثم الجنة» [أخرجه النسائي]

“Jahimah pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh aku ingin sekali berangkat jihad bersamamu, yang aku ingin mengharap wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan surga dengan amalan itu. Beliau bertanya balik: “Celaka kamu, apakah ibumu masih hidup? Ia, jawabnya. Beliau berkata: “Kembalilah pada ibu lalu berbakti padanya”. Dan disebutkan pada akhir hadits: “Celaka kamu, penuhilah kakinya (berbakti padanya) maka engkau akan mencium surga”. HR an-Nasa’i no: 3104. Ibnu Majah no: 2781. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i 2/651 no: 2908.

Mempergauli kedua orang tua dengan cara yang ma’ruf merupakan wasiat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla cantumkan dalam kitab suci -Nya, walaupun kedua orang tuanya tersebut beda agama. Agar semakin jelas perhatikan firman Allah Ta’alla berikut ini:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ  [ لقمان: 15]

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada -Ku”.  [Luqman/31: 15].

Hal itu juga diterapkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala di tanya oleh para sahabatnya, disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

« قَدِمَتْ عَلَىَّ أُمِّى وَهِىَ مُشْرِكَةٌ فِى عَهْدِ قُرَيْشٍ إِذْ عَاهَدَهُمْ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَىَّ أُمِّى وَهْىَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّى قَالَ « نَعَمْ صِلِى أُمَّكِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Ibuku pernah datang berkunjung kepadaku sedangkan dia seorang yang masih musyrik, pada zamannya Quraisy. Maka aku datang kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapatnya. Saya katakan padanya: “Dan ibuku ingin untuk dikunjungi, apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya? Beliau menjawab: “Ia, sambunglah hubungan bersama ibumu”. HR Bukhari no: 2620. Muslim no: 1003.

Seberapa besar upaya, tenaga, bantuan atau apapun jenisnya dari bentuk kebaikan, tetap saja seorang anak belum mampu mengembalikan kebaikan kedua orang tua padanya. Hal itu, seperti yang disinggung dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ » [أخرجه مسلم]

“Tidak akan mungkin seorang anak mampu membalas (kebaikan) orang tuanya sampai sekiranya ia menjumpai orang tuanya menjadi hamba sahaya lalu ia membeli dan membebaskannya (baru mencukupinya)”. HR Muslim no: 1510.

Cukup sebagai pemecut bagi kita untuk segera berbakti pada kedua orang tua, kalau fadhilahnya sampai menjadikan ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla berada pada ridho kedua orang tua. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari haditsnya Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رضي الرب في رضى الوالد وسخط الرب في سخط الوالد » [أخرجه الترمذي]

“Ridho Rabb berada pada ridho orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan kedua orang tua”. HR at-Tirmidzi no: 1899. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 2/44 no: 516.

Durhaka Pada Orang Tua
Perbuatan yang satu ini, sangatlah jauh dari ajaran Islam, sebab durhaka pada orang tua yang telah merawat kita sejak kecil termasuk dosa besar dari dosa-dosa besar yang ada, karena ia dituntut untuk berbuat baik justru sebaliknya dia sama sekali tidak menunaikan haknya serta mengingkari kebaikan yang telah diberikan padanya.

Dan cukup hal itu membikin kita ngeri, kalau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam saja menggandeng perbuatan nista ini dengan perbuatan syirik, ini menunjukan bahwa perilaku itu termasuk dosa yang paling besar. Lebih jelasnya, perhatikan sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Maukah kalian aku beritahu diantara dosa besar yang paling besar”. Beliau mengulangi tiga kali. Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. Beliau melanjutkan: “Menyekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tuanya”. HR Bukhari no: 2654. Muslim no: 87. Dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu.

Lebih mengerikan lagi, kalau dosa durhaka pada orang tua bisa sebagai penyebab pelakunya masuk ke dalam neraka. Sebagaimana dalam musnad Imam Ahmad, dimana beliau menyebutkan sebuah hadits dari Ubai bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ » [أخرجه أحمد]

“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya. Kemudian dia masuk neraka setelah kematiannya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjauhkan dariNya dan membinasakannya”. HR Ahmad 31/373 no: 19027.

Bentuk Berbakti Pada Kedua Orang Tua
Berbuat baik pada kedua orang tua caranya begitu banyak, bisa dengan berkorban menghadirkan kebaikan, berbuat baik dalam ucapan, tingkah laku, atau harta.

Contoh berlaku baik dalam ucapan: Berbicara pada keduanya dengan lemah lembut yang menunjukan penghormatannya. Sedangkan contoh dalam perilaku seperti turun langsung membantu pekerjaannya dengan badan sesuai kemampuanmu, atau membantu  kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, meringankan kebutuhan, mentaati keduanya selagi tidak membahayakan agama atau duniamu. Adapun contoh berlaku baik dengan harta seperti memberi tiap kebutuhan yang diperlukan tanpa pamrih, tidak mengungkit-ungkit pemberiannya, namun dia mengorbankan hartanya dan merasa senang jika pemberiannya diterima dan dimanfaatkan oleh keduanya. [3]

Termasuk bentuk berbuat baik pada orang tua setelah kematiannya ialah mendo’akan kebaikan pada keduanya. Seperti firman Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengkisahkan Nabi -Nya Nuh ‘alaihi sallam:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ [ نوح: 28]

“Ya Tuhanku! ampunilah aku dan ibu bapakku”. [Nuh/71: 28].

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ» [أخرجه مسلم]

“Jika seorang insan meninggal dunia maka terputus selurah amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendo’akannya”. HR Muslim no: 1631.

Bisa juga dengan bersedekah atas nama keduanya. Sebagaimana hadits yang ada dalam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

« أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ: نَعَمْ » [أخرجه مسلم]

“Pernah ada seseorang yang berkata pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba, dan aku mengira kalau sekiranya sempat berbicara ia tentu ingin bersedekah, apakah ia bisa memperoleh pahala jikalau aku bersedekah atasnya? Beliau menjawab: “Ia”. HR Muslim no: 1004.

Salah satu cara berbakti setelah kematian keduanya ialah menyambung hubungan baik bersama teman-temannya dulu. Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah kisah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Bahwa suatu ketika Abdullah bin Umar bertemu dengan seorang arab badui ditengah perjalanan safarnya ke Makah. Maka beliau memberi salam padanya, lalu memberi keledai yang sedang ia tunggangi, imamah yang sedang dipakai untuk menutupi kepalanya ia lepas lalu diberikan pada orang tersebut.

Ibnu Dinar -salah seorang yang menemaninya- berkata: ‘Maka kami tanya pada beliau: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kebaikan padamu. Sesungguhnya mereka hanya orang arab badui, yang sekiranya kalau diberi sudah merasa cukup walau sedikit’. Dan Abdullah bin Umar menjawab: “Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat dekat Umar bin Khatab, sedangkan aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ» [أخرجه مسلم]

“Sesungguhnya berbakti pada orang tua yang paling utama ialah menyambung hubungan dengan keturunan sahabat dekat ayahnya”. HR Muslim no: 2552.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  بر الوالدين Penulis  Syaikh Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Fathul Bari 6/140-141.
[2] Khutbah Fadhilatus Syaikh Ibnu Utsaimin 5/294.
[3] Khutbah Fadhilatus Syaikh Ibnu Utsaimin 5/296-297.

Nasehat Bagi Wanita Muslimah

NASEHAT BAGI WANITA MUSLIMAH

Wahai para wanita yang sedang bertabarruj dengan mengunakan segala perhiasaan yang di milikinya di hadapan manusia bertakwalah kalian kepada Allah, takutlah wahai perempuan yang biasa keluar kepasar tanpa menutupi tubuhnya dengan sempurna, dan siapa saja yang ikut campur baur bersama laki-laki, sehingga mereka bisa bebas memandangimu demikian pula engkau bisa memandangi mereka, bertakwalah wahai wanita kalau sekiranya engkau masih beriman kepada Allah dan beriman pada hari di mana engkau akan berdiri seorang diri di hadapanNya, ketahuilah bahwa semua perbuatanmu tersebut adalah di larang oleh agama. Duhai orang yang sedang naik mobil sendirian hanya berdua bersama sopirnya atau yang masuk ke ruang dokter tanpa di temani mahramnya takutlah engkau kepada Allah. Takutlah duhai wanita yang keluar rumah dengan bersolek tanpa memakai hijab, ketahuilah sesungguhnya bersolek tanpa hijab akan menumbuhkan berbagai macam fitnah, dan menyelisihi perintah Allah dan RasulNya.

Bertakwalah wahai wanita muslimah serta bertaubatlah kepada Allah apabila ada di antara kalian yang mengerjakan salah satu di antara kemungkaran di atas, demi Allah sungguh adzab Allah itu sangatlah pedih.[1]

Dan wajib bagi tiap wanita muslimah yang masih beriman kepada Allah serta hari akhir untuk menjaga lidahnya, jangan sampai melembutkan suaranya tatkala berbicara bersama laki-laki yang bukan mahramnya, apalagi ngobrol bareng bersama mereka, karena suara perempuan termasuk aurat yang tidak boleh di perdengarkannya pada orang lain yang bukan mahramnya kecuali sebatas kebutuhan yang diperlukan tanpa merendahkan suaranya.

Dan wanita muslimah dilarang melihat lelaki yang bukan termasuk mahramnya kecuali mempunyai alasan yang di bolehkan demikian pula sebaliknya bagi laki-laki juga di larang untuk melihat pada perempuan yang bukan mahramnya tanpa ada udzur syar’i. Maka menjadi suatu kewajiban bagi tiap muslim untuk berhati-hati dalam masalah ini demikian pula wajib baginya untuk selalu mengawasi mahramnya supaya tidak terjatuh ke dalamnya, karena penglihatan merupakan salah satu panah beracun dari panah-panah yang di luncurkan oleh setan. [2]

Hak dan Kewajiban Seorang Istri
Merupakan suatu kewajiban bagi seorang istri terhadap suaminya adalah menunaikan hak dan kewajibannya serta menyematkan pada dirinya adab-adab Islam, sebagaimana pembahasan berikut ini:

1. Ta’at kepada suaminya selagi dia tidak menyuruh untuk berbuat maksiat kepada Allah Azza wa jalla, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى : فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗ  ( سورة النساء: 34)

“Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. [an-Nisaa’/4 : 34].

Demikian juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امرَأتَهُ إِلَى فرَاشِهِ فَلَمْ تَأتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا المَلائِكَةُ حَتَّى تُصْبحَ » ( رواه البخاري ومسلم)

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (ungkapan untuk berjima’.pent) kemudian istrinya enggan sehingga suaminya marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya sampai keesokan harinya”. HR Bukhari dan Muslim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا» (رواه أبو داود والحاكم وصححه الترمذي)

“Kalau seandainya saya boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain tentu akan saya perintahkan perempuan sujud kepada suaminya”. HR Abu Dawud, Hakim dan di shahihkan oleh Imam Tirmidzi.

2. Memelihara serta menjaga kehormatan suaminya dan martabatnya, serta mengatur harta, anak-anak dan seluruh urusan rumah tangga, hal itu berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى :  فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ( سورة النساء 34)

“Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. [an-Nisaa’/4: 34].

Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى  بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا » (رواه البخاري ومسلم)

“Dan perempuan bertanggung jawab atas rumah suami dan anak-anaknya, serta akan di tanya tentang tanggung jawabnya tersebut” HR Bukhari dan Muslim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «فَحَقُّكُمْ عَلَيهِنَّ أَنْ لا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلا يَأْذَنَّ في بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ» (رواه الترمذي)

“Dan hak suami atas kalian (para wanita) adalah tidak boleh mengizinkan seorangpun berada di tempat tidur kalian dan tidak mengizinkan masuk ke dalam rumah kalian orang yang tidak kalian sukai“. HR Tirmidzi beliau berkata hadits hasan shahih.

3. Menetap di rumah suaminya dan tidak keluar dari rumah melainkan setelah mendapat izin dan di ridhoi olehnya. [3]

4. Wajib bagi seorang istri selalu berusaha untuk mencari ridho suaminya serta menjauhi segala perkara yang bisa menimbulkan kemarahannya, jangan mencoba menolak manakala diajak untuk berhubungan kecuali kalau memang ia memiliki udzur syar’i, seperti ketika sedang haid maupun nifas, maka kalau keadaanya seperti itu, ia tidak boleh memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan, demikian pula tidak boleh bagi seorang suami untuk menuntut istrinya mau di ajak berhubungan ketika sedang haid dan nifas, dan jangan menjimakinya sampai sekiranya ia telah suci dari haid maupun nifasnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى : فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ( سورة البقرة 222)

“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhi istrimu di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai kiranya mereka suci”. [al-Baqarah/2: 222].

Maknanya jangan dekati mereka untuk berjima’ sampai terputus darah haid atau nifasnya dan mereka telah mandi suci.

5, Hendaknya bagi perempuan merasa bahwa dirinya tak ubahnya seperti seorang budak yang berada di bawah naungan suaminya, yang tidak bisa seenaknya berbuat, dari segi harta, ia tidak bisa bergerak melainkan setelah mendapat izinnya. Dan agar ia memahami bahwa hak suami lebih dahulukan dari pada haknya dan hak saudara suami lebih dahulukan dari pada hak saudaranya, demikian juga hendaknya ia selalu siap untuk di ajak berhubungan oleh suaminya dengan menggunakan berbagai macam sarana yang bisa menjadikan dirinya bersih, serta menarik, dan jangan merasa lebih cantik sambil menghina kejelekannya, serta jangan sesekali mencelanya di belakang apalagi di hadapannya.

6. Wajib bagi wanita, untuk selalu merasa malu terhadap suaminya, menghormati, ta’at pada perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara, menjauhi segala perkara yang bisa membuatnya marah, tidak berkhianat kepadanya, baik ketika di tinggal pergi, atau dalam ranjangnya, harta serta rumahnya, dan selalu berbusana yang menarik dan menjaga badan selalu wangi.

7. Hendaknya bagi perempuan yang merasa takut kepada Allah Ta’ala bersungguh-sungguh di dalam mentaati Rasulallah Shalallahu ‘alaih wa sallam, taat kepada suaminya, serta mencari keridhoanya, karena suami adalah surga maupun neraka bagi istrinya, seperti yang pernah di sabdakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيُّمَا امْرَأةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الجَنَّةَ » (رواه إبن ماجه والترمذي)

Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga“.  HR Ibnu Majah, dan di hasankan oleh Imam Tirmidzi.

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا زَوْجَهَا فَلْتَدْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ » (رواه أحمد والطبراني)

Apabila seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, dan berpuasa ramadhan, mentaati suaminya, maka ia akan masuk ke dalam surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki“. HR Ahmad dan Thabrani.

[Disalin dari نصيحة للمرأة المسلمة (Diambil dari kitab Masuliyatul Marah al Muslimah) Penulis  Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] Majmu’ sab’a rasaail  hal: 17.
[2] Irsyaad ilaa thoriqil haq  hal: 51.
[3] Minhaaj Muslim karya al-Jazairi  hal: 106.

Beberapa Nasehat Untuk Wanita

BEBERAPA NASEHAT UNTUK WANITA

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا لأحزاب: 35)

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-Ahzab/33: 35]

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari hadits Ummu Imarah Al-Anshoriyah radhiallahu ‘anha bahwa ia mendatangi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali dikhususkan bagi kaum pria, dan kau tidak melihat susuatu apapun yang secara khusus menyebutkan tentang perkara wanita. Lalu turunlah ayat ini:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ[1]

Dan inilah sebagian wasiat yang aku wasiatkan kepada sebagian saudara-saudaraku yang beriman semoga Allah memberikan manfaat dengannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (التوبة: 71)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At-Taubah/9:71].

Wasiat Pertama: Berpegang teguh dengan tauhid dan waspada terhadap syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (البقرة: 256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Baqarah/2: 256].

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ  (لقمان: 22)

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. [Luqman/31: 22]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Pondasi dan dasar din Islam adalah dua perkara yang besar, yaitu:

Pertama : Perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan menganjurkan berbuat seperti itu serta saling mecintai karena hal tersebut, juga mengkafirkan orang yang meninggalkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ (ال عمران: 64)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“. [Ali Imran/3: 64]

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru para ahli kitab agar mereka kembali kepada makna: (لا إله إلا الله)  yaitu kalimat yang diserukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada bangsa Arab dan yang lainnya. Dan kalimat yang sama adalah (لا إله إلا الله) maksudnya tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, maka tidak boleh berdo’a, meminta pertolongan, menyembelih dan bernazar atau ibadah yang lainnya kecuali diberikan kepada Allah, dan inilah dakwah para Rasul semoga Allah mencurahkan kesejahteraan kepada mereka.

Wasiat kedua : Menjauhi syirik dalam beribadah kepada Allah, mewaspadai perkara tersebut dengan kewaspadaan yang tinggi, serta memusuhi orang yang syirik dan mengkafirkan orang yang melakukan syirik. Sebab tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan hal ini, dan itulah agama para Rasul, mereka telah memperingatkan kaum mereka dari syirik, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ (النحل: 36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.[Al-Nahl/16: 36].

Syirik akan menghapuskan semua pahala dan amal, baik yang kecil dan yang besar, Allah tidak menerima apapun dari para pelaku syirik, tidak juga menerima perbuatan yang sifatnya wajib atau sunnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًالفرقان: 23)

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [Al-Furqon/25: 23]

Di antara musibah yang membuat tubuh dan hati menjadi khawatir dan merupakan bahaya besar yang mengancam pondasi yang paling berharga bagi umat ini adalah apa yang ditayangkan oleh para musuh-musuh Islam melalui berbagai media elektronik, dan media lainnya berupa iklan-iklan yang menghancurkan dan mengarah kepada terciptanya keraguan kaum muslimin terhadap agama mereka sendiri, dan menggiring  mereka kepada tindakan untuk meninggalkan agama mereka. Waspadalah! inilah bahaya yang pertama.

Bahaya kedua : Kita melihat tersebarnya para tukang ramal dan tukang sihir, dan banyak orang yang mendatangi mereka dengan tujuan berobat dan alasan lainnya. Maka tidak boleh bagi wanita yang beriman mengunjungi tempat-tempat paranormal, yaitu orang-orang yang menganggap dirinya mengetahui perkara-perkara yang gaib, untuk mengetahui jenis penyakit, sebagaimana mereka juga tidak boleh membenarkan apa yang dikatakan oleh dukun paranormal tersebut, sebab mereka cuma mengira-ngira tentang perkara yang gaib, atau mereka mendatangkan jin guna meminta tolong kepada mereka untuk memenuhi permintaan mereka. Mereka ini dihukumi dengan kafir dan sesat apabila mengatakan bahwa mereka mengetahui perkara yang gaib. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shafiyah  dari sebagian istri-istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن أتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عن شيءٍ، لَمْ تُقْبَلْ له صَلاةٌ أرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi paranormal dan bertanya tentang sesuatu maka dia tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.[2]

Banyak bahaya lain yang mengancam umat ini dan tidak mungkin bisa keluar darinya kecuali dengan mewujudkan tauhid dan berpegang teguh padanya, mengetahui kesyirikan dan kekafiran serta waspada terhadap keduanya dan berlepas diri dari keduanya.

Wasiat yang ketiga: Menjaga shalat baik rukun, syarat dan perkara-perkara yang wajib. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ  (البقرة: 238)

Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk. [Al-Baqarah/2: 238]

Shalat adalah ibadah yang paling pertama yang akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat. Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jamul Ausath dari Abdulllah bin Qarth bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

Perkara pertama yang akan dihisab oleh Allah terhadap hamba -Nya pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah amal ibadah yang lain, dan jika rusak maka rusaklah semua amalnya yang lain”.[3]

Dan perkara terakhir yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat beliau menghadapi sakaratul maut adalah bahwa beliau bersabda,

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Jagalah shalat, jagalah shalat dan apa-apa yang dimiliki oleh tangan kanan kalian”.[4]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Ubadah bin Shamit dia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمسُ صَلَواتٍ كَتَبهنَّ اللهُ على العبادِ، فمن جاء بهنَّ لم يُضَيِّعْ منهنَّ شَيئًا استِخفافًا بحَقِّهنَّ، كان له عند الله عَهدٌ أن يُدخِلَه الجنَّةَ، ومن لم يأتِ بهنَّ فليس له عند اللهِ عَهدٌ؛ إن شاء عَذَّبه، وإن شاء أدخَلَه الجنَّةَ

Shalat lima waktu yang telah diwajibkan oleh Allah  atas hamba-Nya, maka barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya karena meremehkan hak-haknya, maka Allah akan berjanji untuk memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada janji dari Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, jika Allah berkehendak maka maka Dia akan menyiksanya dan jika dia berkehendak maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga”.[5]

Dan ketahuilah wahai saudariku seiman bahwa tidak akan sempurna keislaman seseorang sehingga dia mengerjakan rukun Islam yang lima. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ.

Islam itu didirikan atas lima pondasi, bersaksi bahwa tiada zat yang lebih berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan berpuasa pada bulan ramadhan serta berhaji ke Baitullah”.[6]

Wasiat yang keempat: Bertafaquh dalam agama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى :  قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ (الزمر: 9)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah ang dapat menerima pelajaran.[Az-Zumar/39: 9]

Di dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan maka dia akan diberikan kepahaman dalam agama”.[7]

Oleh karena itulah seorang wanita muslimah harus mendalami perkara agamanya dengan cara menghadiri pengajian dan ceramah-ceramah agama, mendengarkan kaset-kaset yang bermanfaat, membaca buku-buku yang berguna, dan yang terpenting adalah mengahafal kitab Allah, dia adalah puncak semua ilmu, sumber hikmah, taman bagi orang-orang yang shaleh, perisai dari kesesatan yang nyata serta beramal dengannya. Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Alangkah baiknya wanita-wanita Anshar, rasa malu tidak mencegah mereka untuk bertanya tentang urusan agama mereka”.

Wasiat kelima : Bertaqwa kepada Allah dan muraqabah kepada-Nya dalam keadaan sunyi atau ramai, sebab taqwa kepada Allah adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ (النساء: 131)

“..dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. [An-Nisa’/4: 131[8]]

Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam banyak berwasiat kepada para shahabatnya agar mereka bertaqwa kepada Allah, di dalam riwayat Irbadh bin Sariyah bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ ّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ

Aku berwasiat kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, hendaklah kalian mendengar dan taat”.[9]

Dan waspadalah terhadap kemaksiatan baik yang kecil atau yang besar, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang meninggalkan dosa-dosa besar bahwa akan dihapuskan dosa-dosa kecil mereka dan akan dimasukkan ke dalam tempat yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا (النساء: 31)

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).  [An-Nisa’/4: 31].

Wasiat yang keenam: Amar ma’ruf nahi mungkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚلأحزاب: 32)

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, [Al-Ahzab/33: 32]

Dan ini adalah perintah bagi istri-istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga mereka dan juga bagi seluruh wanita-wanita muslimah lainnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (التوبة: 71)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Al-Taubah/9: 71]

Oleh karena itulah maka wajib bagi wanita muslimah untuk memperhatikan syi’ar Islam yang agung ini khususnya di rumah bersama anak-anak dan anggota keluarganya, lalu  jika dia melihat pada diri saudaranya suatu kelalaian dalam ketaatan kepada Allah baik dalam pelaksanaan shalat dan puasa mereka atau dalam menjalankan hak-hak sebagai suami atau yang perkara lainnya maka hendaklah dia menasehati mereka dengan kata-kata yang baik, dan nasehat yang benar, dengan mencontoh para wanita dari kalangan shahabat, dan semoga Allah meredhai mereka semua.

Wasiat ketujuh: Bersifat malu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam pada saat beliau membantu dua orang wanita untuk memberikan minum ternak mereka:

قال الله تعالى : فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ (القصص: 25)

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. [Al-Qoshos/28: 25]

Sangat disayangkan bahwa sifat malu sangat jarang dimiliki banyak wanita zaman sekarang ini, contohnya adalah keluarnya wanita ke pasar bersama supir sendirian atau memakai cadar yang diletakkan pada pertengahan hidung, cadar tersebut menutupi apa yang dibawah hidung namun menampakkan mata dan kening, atau memakai celana panjang di hadapan para wanita atau memakai pakaian abaya pada pundak atau memakai pakaian yang sempit dan terbuka atau bertelanjang. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dua golongan dari penghuni neraka yang tidak pernah aku saksikan, dan beliau menyebutkan salah satunya adalah:…..para wanita yang berpakaian namun telanjang, berjalan lenggak lenggok dan memikat, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mendapatkan bau harumnya, padahal keharuman surga itu didapatkan dari jarak ini dan ini”.[10]

Oleh karena itulah, maka wajib bagi wanita muslimah untuk waspada terhadap tipu daya musuh-musuh Allah terhadap diri mereka, mereka ingin agar para wanita hidup bebas, menjadi barang murahan di tangan-tangan mereka, mereka ingin mengebiri para wanita muslimah dari keimanan dan agama mereka dan keluar dari fitrah yang telah diciptakan oleh Allah. Oleh sebab itulah maka setiap wanita muslimah harus menyadari hal tersebut.

Wasiat kedelapan: Memperbanyak sedekah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 قال الله تعالى : لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ  نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا (النساء: 114)

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4: 114])

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ (سبأ:39 )

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.  [Saba’/34: 39]

Di dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada para wanita, dalam sabdanya,

أكثرن من الصدقة، فإنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ

Perbanyaklah bersedekah sebab sebagian besar kalian adalah sebagai kayu bakar api neraka”.[11]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Dan memberi hadiah serta bersedekah adalah perbuatan yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan kesenangan beliau saat memberi lebih besar dari kesenangan orang yang mengambil pemberian yang diberikan kepadanya, beliau adalah orang paling dermawan dengan kebaikan, tangan kanan beliau bagaikan angin yang berhembus kencang, dan apabila ada orang yang membutuhkan datang meminta maka beliau mendahulukannya dari kepentingan pribadinya, terkadang mendahulukan mereka dengan makanan, terkadang pula dengan pakaian dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersedekah dan menganjurkan umatnya untuk melakukan hal tersebut, dan beliau mengarahkan umat ini kepadanya baik dengan harta dan perkataan beliau, oleh karena itulah maka beliau adalah manusia ciptaan Allah yang paling lapang dadanya, yang paling baik kehidupannya, paling halus hatinya dan sedekah tersebut memiliki dampak yang sangat mengagumkan dalam menciptakan kelapangan dada”.[12]

Dan sedekah yang paling baik adalah sedekah yang pahalanya tetap mengalir bagi para hamba walaupun dia telah meninggal dunia, itulah sedekah jariyah, seperti menggali sumur, membangun mesjid, mencetak buku-buku agama, wakaf-wakaf yang pemanfaatannya untuk kemaslahatan sosial, yaitu untuk orang fakir dan miskin dan yang lainnya.

Wasiat kesembilan: Menjauhi teman yang buruk. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa manusia pada hari kiamat akan menyesal dengan teman yang buruk yang menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ٢٧4 يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ٢٨ô لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا ٢٩t وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا (الفرقان: 27-30)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”  Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.[Al-Furqon/25: 27-30]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ (الزخرف: 67)

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. [Al-Zukhruf/43: 67]

Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk sama seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi baik dia akan memberimu atau engkau membeli minyak wangi darinya atau engkau akan mendapat bau yang wangi darinya. Sementara tukang pandai besi baik dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapat bau yang buruk darinya”.[13]

Banyak wanita yang gagal dalam pendidikannya karena teman yang buruk, banyak wanita yang kehormatannya terbengkalai dan hilang disebabkan oleh teman yang buruk, banyak wanita yang tenggelam dalam obat-obat terlarang dan mabuk-mabukkan dan berbagai bencana buruk yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan terlarang tersebut.

Oleh karena itulah aku berwasiat kepada saudariku yang beriman agar mereka tetap bersahabat dengan teman yang shaleh.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari كلمات توجيهية للمرأة Penulis  Syaikh Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy, Penerjemah : Muzaffar Sahidu Mahsun. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] HR. Turmudzi no: 3211 dan dia berkata: Hadits hasan garib
[2] Majmu’atut Tauhid: halaman: 45-48
[3] Al-Tabrani: 2/240 no: 1859 dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimhullah di dalam kitab Al-Silsilah Al-Shahihah no: 1358
[4] Sunan Ibnu Majah: 2/900 no: 2697
[5] Sunan Abu Dawud: no: 1420
[6] Al-Bukhari: no: 3166 dan Muslim: no: 1037
[7]  Al-Bukhari: 1/20 no: 8 dan Muslim: 1/45 no: 16
[8] Shahih Bukhari halaman: 50
[9] Sunan Turmudzi no: 2676
[10] Muslim di dalam kitab shahihnya no: 2128
[11] Shahih Muslim: no: 885
[12] Zadul Ma’ad: 2/22-23
[13] Al-Bukhari: no: 5534 dan Muslim no: 2628

Kepada Ibu Muslimah

KEPADA IBU MUSLIMAH

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya, saya tulis beberapa baris berikut ini untuk setiap ibu yang telah rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya, Saya menulisnya dari hati seorang anak yang saat ini sedang merenungi firman Allah:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا  ٢٣وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil.” [Al-Isra/17’: 23-24].

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintakan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua ibu bapakmu.” [Luqman/31:14].

Saya menulis baris-baris ini kepada orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوْكَ. رواه البخاري ومسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. berkata : Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? Beliau menjawab: Ibumu. “tanyanya lagi: “kemudian siapa? Beliau menjawab: “Ibumu”. “tanyanya lagi: ‘kemudian siapa? “Beliau menjawab: “Ibumu” kemudian tanyanya lagi: “kemudian siapa? Beliau mejawab: Bapakmu.” [HR Bukhari – Muslim].

Wahai ibuku, bagaimanakah saya harus mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hati ini? Tak ada ungkapan yang lebih benar, yang saya dapatkan, kecuali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Katakanlah: “wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”  [Al-Isra’/17:24].

“Wahai ibuku, jadilah – semoga Alah memberi petunjuk – seorang mu’minah, yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Jadilah seorang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasulnya.

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً)) (رواه مسلم)

Dari Al-Abbas bin Abdul Muttalib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. pernah bersabda: “Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” [HR. Muslim].

Wahai ibuku, hendaklah ibu mempersiapkan diri dengan bekal taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” [Al-Baqarah/2:197].

Selalulah merasa diawasi Allah setiap saat, baik ibu dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.”  [Ali Imran/3:5].

Wahai ibuku, sinarilah seluruh kehidupan ibu dengan sinar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena di dalam keduanya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan hindarilah wahai ibuku, dari perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berfirman:

اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (telah dijadikan oleh syetan) memandang perbuatannya yang buruk itu sebagai perbuatan baik dan mengikuti hawa nafsunya.”  [Muhammad/47:14].

Hendaklah akhlak ibu adalah Alqur’an.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ Akhlak Nabi adalah alqur’an”.

Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik untuk anak-anak ibu, dan berhati-hatilah jangan sampai mereka melihat ibu melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena anak-anak biasanya banyak terpengaruh oleh ibunya.

Wahai ibuku, jadilah ibu sebagai isteri shalehah merupakan nikmat bagi sang suami, agar anak-anak ibu dapat terdidik dengan pertolongan Allah dalam suatu rumah yang penuh kebahagiaan suami-isteri.

Wahai ibuku, saya wasiatkan – semoga Allah menjaga ibu dari segala kejahatan dan kejelekan- agar ibu memperhatikan tunas-tunas mekar dari anak-anak ibu dengan pendidikan Islam, karena mereka merupakan amanat dan tanggung jawab yang besar bagi ibu, maka peliharalah mereka dan berilah hak pembinaan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” [Al-Mu’minun/23:8].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya.” [Muttafaq alaih].

Wahai ibuku, hendaklah rumah ibu merupakan contoh yang benar bagi rumah keluarga muslim, tidak terlihat di dalamya suatu yang diharamkan dan tidak pula terdengar suatu kemungkaran, sehingga anak-anak- dapat tumbuh dengan penuh keimanan, mempunyai akhlak yang baik, dan jauh dari setiap tingkah laku yang tidak baik.

Wahai ibuku, jadilah ibu –semoga Allah memberi taufiq kepada ibu untuk setiap kebaikan- sebagai isteri yang dapat bekerja sama dengan suami ibu dalam memahami problematika dan kesulitan yang dihadapi anak-anak, dan bersama-sama mencarikan upaya penyelesaiannya dengan cara yang benar. Hendaknya ibu bersama bapak mempunyai peranan yang besar dalam memilihkan teman-teman yang baik untuk mereka, dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik. Perhatikan penjagaan mereka, agar terjauhkan dari sarana yang merusak akhlak mereka, kerena kita sekarang berada pada zaman yang penuh dengan penganjur kerusakan, baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin. Perhatikan sungguh-sungguh pernikahan putera-puteri ibu bapak di suia mereka sedini mungkin dan bantulah mereka, karena perkawinan itu akan lebih menjaga mata dan keselamatan seksual mereka, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. telah menjelaskan  hal ltu:

 يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” [Muttafaq alaih]

Wahai ibuku, peliharalah shalat lima waktu pada waktunya masing-masing terutama shalat fajar, Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An-Nisa’/4:103].

Usahakan untuk selalu khusyu’ dalam shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ١الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

“Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.”  [Al-Mu’minun/23: 1-2].

Dan dengan itu, ibu menjadi suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu.

Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu dalam keteguhan memakai pakaian hijab syar’i yang sempurna, terutama tutup wajah. Hal itu sebagai ketaatan kita kepada perintah Sang Pencipta langit dan bumi dalam firman-Nya:

يٰاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, puteri-puterimu, para isteri orang-orang mu’min, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzab/33:59].

Wahai ibuku, hendaknya rasa malu merupakan akhlak yang ibu miliki, karena demi Allah malu itu termasuk bagian dari iman.

عن ابْنِ عُمَرَ رضي اللَّه عنهما أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ في الحَيَاءِ ، فَقَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « دَعْهُ فإِنَّ الحياءَ مِنَ الإِيمانِ » متفقٌ عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْهُ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ

“Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu termasuk bagian dari iman.” [Muttafaq alaih].

Wahai ibuku, hendaknya do’a kepada Allah merupakan senjata bagi ibu dalam mengarungi kehidupan ini, dan bergembiralah dengan akan datangnya kebaikan, karena Rabb telah menjanjikan kita dengan firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan tuhanmu berfirman: ‘berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” [Al-Mu’min/40: 60].

وَعَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ اَلدُّعَاءَ هُوَ اَلْعِبَادَةُ

Dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Do’a adalah ibadah.” [Riwayat Abu Daud, dan Tirmizi, ia berkata: hadist hasan shahih].

Kepada Allah aku memohon agar menjaga ibu dengan penjagaan-Nya, memelihara ibu dengan pemeliharaan-Nya, membahagiakan ibu di dunia dan akhirat, dan mengumpulkan kita, ibu-ibu kita, bapak-bapak kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dalam surga-Nya yang ni’mat. Sesungguhnya Rabbku Maha Dekat, Maha Mengabulkan dan Mendengarkan do’a.

[Disalin dari نصيحة للأم المسلمة Penulis  Yusuf bin Abdullah At-Turki, Penerjemah : Abu Azka Faridzi. Editor : Erwandi Tarmidzi MA dan Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]

Beberapa Sebab Keselamatan Umat Islam

BEBERAPA SEBAB KESELAMATAN UMAT ISLAM

Segala puji hannya bagi Allah Yang Maha Esa, yang telah menolong hamba -Nya, memuliakan tentara -Nya dan hanya Dia yang menghancurkan seluruh kelompok musuh….. Aku hanya memuji dan bersyukur kepada Allah semata, dan aku memohon taubat dan ampunan kepada -Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kita Muhamamd adalah hamba dan Rasul -Nya, Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, beliau telah bersabar dan teguh dalam berjuang, berjihad dan berhijrah sehingga mercusuar agama ini tegak dan kekar dan sungguh terjadi apa yang semestinya diberlakukan kepada orang-orang yang kafir….shalawat dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, kepada kaluarga dan para shahabatnya yang terbaik dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan….

Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Penyayang….

Aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk selalu bertaqwa, muraqabah dan takut kepada Allah baik dalam kondisi tersembunyi atau kondisi terlihat.

Wahai sekalian orang-orang yang beriman….sesungguhnya umat ini telah diangkat, dimuliakan oleh Allah dengan diturunkannya agama ini bagi mereka melalui pemimpin manusia Muhammad bin Abdullah semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan  bagi beliau sampai hari kiamat kelak…

Maka apabila umat ini menyia-nyiakan dan mengentengkan agama ini maka dia akan terhina dalam pandangan Allah, rahasia kemuliaan dan keagungan dan kebangiktannya akan sirna. Realita inilah yang kita lihat sekarang ini diberbagai belahan dunia Islam. Disebuah negeri kita melihat para penguasa diktator mengobrak-abrik kehidupan kaum muslimin dengan membunuh, mengusir dan memarjianlkan kehidupan mereka. Di negeri yang lain, kaum muslimin tercabik-cabik dengan berbagai perang saudara yang sangat menakutkan, kita melihat seorang muslim membunuh saudaranya seiman, darah mengalir hanya untuk kesenangan dunia dan jabatan…dan di seberang sana kehidupan kaum muslimin digoncang oleh badai kelaparan, penyakit, banjir dan gempa bumi juga bencana alam lainnya….

وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ

“..dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri”. [Al-Mudatsir/74: 31].

Kalau kehinaan ini sabagai siksa dari Allah, maka apakah faktor-faktor yang bisa menghilangkan dan menghapuskan kesengsaraan tersebut?..

Dia antara faktor yang bisa menghilangkan kehinaan dan menjaga bangsa dan sebuah Negara adalah:

Pertama : Merealisasikan Tauhid
Yaitu mengesakan Allah dalam ubudiyan dan rububuiyah Allah, mengesakan Allah dengan sifat-sifat yang sempurna baik dalam zat dan nama-nama, mengesakan Allah dalam segala sifat dan perbuatan -Nya sebgaimana dijelaskan di dalam kitab sunnah, maka tiada seorangpun yang ditakuti, diharapkan dan disembah selain Allah Yang Maha Esa.

Dan hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak akan terjadi di dalam kekuasaan Allah kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, apa yang dikhendaki oleh Allah maka dia mesti terjadi dan apa-apa yang tidak dikehendakinya maka dia tidak akan pernah terjadi, Dialah Allah yang memperkenankan permohonan orang-orang yang dalam kondisi gawat apabila orang tersebut berdo’a memohon kepada -Nya, Dialah yang menghpuskan keburukan, membela orang-orang yang beriman, menyayangi para hamba yang penyayang terhadap orang lain, menolong kekasih -Nya di dunia dan hari kiamat kelak.

Di antara buah positif mewujudakan tauhid adalah: Terbentuknya jiwa yang selalu bertawakkal kepada –Nya dengan tawakkal yang sebenarnya:

وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. [Ali Imron/3: 122].

وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. [Al-Maidah/5: 23]

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya  maka Sungguh Dia akan memberikan kepada kalian rizki sebagaimana dia telah memberikan rizki kepada burung, yang berangkat pada waktu pagi dalam keadaan perut kosong lalu kembali dengan perut kenyang.

Kedua : Iman kepada Allah.
Maksudnya adalah membenarkan segala janji-janji Allah dan ancamanNya yang ada di dalam gaib.

قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ [البقرة: 3] 

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka”. [Al-Baqarah/2: 3]

Allah  Subahanahu Wa Ta’ala telah memberikan janji -Nya kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan menyelamatkan mereka dari siksa -Nya yang melanda sebuah masyarakat, Allah Ta’ala telah menyelamatkan kaum Nabi Yunus dari siksa. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ [ىونس: 98] 

“Dan Mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu”. [Yunus/10: 98]

Selain itu Allah Ta’ala juga memberikan jaminan bagi orang yang beriman bahwa Dia akan membela mereka dalam menghadapi para musuh. Allah Ta’ala berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang Telah beriman”.  [Al-Hajj/22: 38].

Oleh karenanya setiap orang yang beriman diharuskan untuk merealsasikan keimanannya, menjauhi segala perkara yang bisa mengurangi dan merusak kesempurnaan keimanan sehingga dengannya Allah mewujudkan janji -Nya untuk menjaga dan menolong orang-orang yang beriman.

Wahai orang-orang yang beriman diantara faktor yang menyebabkan sebuah bencana, nasib buruk dan petaka bisa dihilangkan adalah dengan:

Ketiga: Do’a.
Dialah ibadah dan itulah inti ibadah itu sendiri

قال الله تعالى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ [ غفور : 60] 

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.[Gafir/40 : 60].

Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: اَلدُّعَاءُ مُخُّ اَلْعِبَادَةِ  = Do’a adalah inti ibadah.

Do’a adalah ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla, sebab pada saat seorang hamba  menengadahkan tangannya kepada Tuhannya dia meyakini bahwa tiada siapapun yang mampu menghilangkan apa yang dirasakannya baik kesusahan dan penyakit kecuali Allah Azza Wa Jalla dan tiada seorangpun yang mampu merubah nasibanya baik senang atau susah kecuali Allah.

Do’a adalah ibadah dan keikhlasan, pujian, kesyukuran dan permohonan bantuan dan seandainya tanpa do’a maka suatu kaum pasti lenyap binasa namun Allah menyelamatkan mereka karena adanya do’a:

قُلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبِّيْ لَوْلَا دُعَاۤؤُكُمْۚ

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya)”, [Al-Furqan/25: 77].

Cukuplah kita mengukur urgensi bagi do’a ini di   saat Allah berkehendak menghancurkan Kaum Yunus mereka segera berhamburan kepada Allah dengan do’a-do’a mereka sehingga Allah menghindarkan mereka dari siksa setelah tanda-tanda datang dan ciri-ciri datang nya siksa telah nampak. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ

Tidak ada yang mampu menolak keputusan Allah kecuali do’a.

Di antara perkara yang bisa menghilangkan bencana dan melenyapkan krisis adalah istigfar.

Keempat: Istighfar.
Istighfar ini adalah faktor yang sangat penting dalam meraih kebaikan dan menghilangkan keburukan di dunia dan akherat. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى [هود: 3] 

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada -Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan”. [Hud/11: 3].

Isitighfar adalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan turunnya pertolongan dan karunia  baik harta, anak dan buah-buahan serta turunnya keberkahan dari langit dan bumi. Di antara manfaat istigfar adalah turunnya ampunan Allah dan turunnya hujan, bertambahnya harta dan anak, keberkahan dalam buah dan makanan. Selain dia sebagai faktor yang bisa membawa keberkahan di dunia istigfar juga sebagai bekal di akherat pada saat suasana yang genting mengauasai manusia. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ تَسُرَّهُ صَحِيۡفَتُهُ؛ فَلۡيُكۡثِرۡ فِيۡهَا مِنَ الۡاِسْتِغۡفَارِ

Barangsiapa yang suka catatan amalnya akan menyenangkannya (di hari Kiamat nanti), maka hendaknya dia memperbanyak pada catatan amalnya tersebut istighfar.

Isitghfar memberikan kekuatan bagi seorang hamba pada jasadnya dan dengannya dia bisa menikmati kesempurnaan tubuhnya dan akalnya, selain itu istigfar memberikannya tenaga untuk selalu taat kepada Tuhannya, dia adalah tenaga dalam segala keadaan baik pada masa sekarang atau yang akan datang.

Sementara itu, meninggalkan istigfar adalah sebab utama terjadinya siksa dari Allah yang menimpa negeri dan manusia:

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ [الا نفا ل: 33] 

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. [Al-Anfal/8: 33].

Istighfar akan membawa keamanan bagi penduduk di dunia sehingga mereka terbebas dari azab duniawi, sebab Allah Ta’ala telah memberikan bagi umat ini dua jaminan keamanan, yaitu: Jaminan keamanan yang telah berlalu dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di tengah-tengah manusia dan jaminan kemanan yang kedua tetap kekal selamanya yaitu istighfar. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ  [النمل : 46] 

“….hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”. [Al-Naml/27: 46]

Maka istighfar adalah salah satu faktor yang menyebabkan turunnya rahmat, dan orang yang dirahmati oleh Allah tidak akan pernah binasa.

Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Rahman…
Kita masih membicarakan tentang faktor-faktor yang membuat umat ini menjadi bangkit dan selamat, bahagia dan mulia. Di antara sebab tersebut adalah:

Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah penyangga tegakknya suatu masyarakat, dia sebagai unsur penting kebaikan, solidaritas dan kekokohan yang di landasi saling mencintai antar sesama di dalam sebuah masyarakat. Di mana saling menasehati dan membantu serta perbaikan terhadap kesalahan sosial tanpak di dalam masyarakat tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan lisannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya dan itulah cermin selemah-lemah keimanan”.

Maka pada saat tiang ini dijaga di saat itulah masyarakat terjaga dari segala kehancuran dan kebinasaan serta dia akan tetap dijaga dan di lindungi oleh Allah. Cukuplah firman Allah menjelaskan tentang keadaan ini:

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ  [ الهو د: 117 ] 

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”.  [Hud/11 : 117].

Maksudnya adalah berbuat kebaikan dengan berda’wah kepada Allah dengan cara menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak cukup bagi seorang muslim untuk hanya menikmati kesalehan pribadinya untuk dirinya sendiri namun dia harus menularkan kesalehan tersebut kepada orang lain dan saudaranya dari kalangan kaum muslimin. Dan dampak perbaikan dan da’wah yang dilakukannya akan mengabadi berabad-abad, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh generasi salaf dan orang-orang terbaik dari umat ini dan orang-orang setelah mereka seperti Imam Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Abdul Wahhab.

Setelah itu, seseorang juga dituntut untuk menjauhi kezaliman. Kezaliman adalah bertindak aniaya terhadap orang lain baik pada darah, harta dan kehoramatan mereka tanpa didasarkan kebenaran. Kezaliman adalah faktor yang paling besar yang bisa memancing datangnya siksa dan berkuasannya orang-orang yang zalim terhadap sebagian yang lainnya:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضًاۢ

“Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain”. [Al-An’am/6: 129].

قال الله تعالى:  وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا  [الكهف : 59] 

Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”. [Al-Kahfi/18 : 59].

Maka janganlah seseorang begitu berani berbuat kezaliman dan janganlah orang yang zalim tergiur dengan kehendak Allah yang menangguhkan akibat perbuatan zalim. Di dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksa bagi orang yang zalim sehingga apabila saat siksanya telah tiba maka dia tidak akan bisah berkilah, kemudian beliau membca firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ  [الهود: 102] 

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. [Hud/11 : 102].

Kezaliman banyak sekali terjadi di tengah-tengah masyarakat pada zaman sekarang ini. Menggunjing orang lain, mengadu domba, hasad, dengki, berkata bohong, menipu dan berkhianat, berbohong dan melontarkan dakwaan yang bathil, memakan harta manusia secara bathil, mencuri, merampok, menyuap, bertransaksi secara riba adalah termasuk kezaliman yang akibatnya akan menciptakan kegelapan pada hari kiamat kelak. Oleh karena itulah Allah menjadikan akibat positif dan terpuji bagi mereka yang tidak menghendaki kerusakan dan kesombongan di muka bumi ini adalah kemuliaan di dunia dan kekal di dalam surga di akherat kelak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia ini -berikut dosa yang disimpan untuknya di akhirat- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi.

Do’a orang-orang yang dizalimi sangat mustajab diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa dia bersabda : Do’a orang yang dizalimi diangkat oleh Allah menuju awan dan Dia berfirman: Demi Kemuliaan dan Ketinggian -Ku sungguh Aku akan menolongmu walau setelah beberapa saat”.

Setelah itu, di antara faktor yang membawa keselamatan bagi umat Islam adalah shadaqah. Shadaqah adalah bentuk solidaritas seorang muslilm yang telah diberikan karunia oleh Allah kepada saudaranya yang beriman yang  membutuhkan, di mana orang yang fakir merasa bahwa dirinya dicintai oleh saudaranya.

Dampak positif dari shadaqah di dunia atau akherat adalah:

  1. Padamnya murka Allah, Zat yang selalu kita minta agar Dia  melindungi kita dan kita mohon kepada -Nya agar Dia mengangkat siksa yang mungkin menimpa kita akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh tangan-tangan makhluk.
  2. Menghindarkan seseorang dari kematian yang buruk seperti yang disabadakan oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya shadaqah itu akan memadamkan amarah Allah dan menolak kematian yang buruk”. Selain itu, dia juga menghapuskan dosa dan kesalahan seperti yang disebutkan di dalam hadits Mu’adz.
  3. Shadaqah juga memadamkan api dosa dan kesahalan sebagaimana air memadamkan api.
  4. Menunaikan shadaqah akan mendatangkan rizki, kemanangan dan ketenangan jiwa sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits: “Perbanyaklah mengeluarkan shadaqah baik dalam keadaan terang-terangan atau rahasia niscaya kalian akan limpahkan rizki, dikaruniakan pertolongan dan diberikan ketenangan”.
  5. Shadaqah sebagai sebab tertolaknya bencana. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bersegeralah menunaikan shadaqah sebab benacana itu tidak akan melangkahinya dan dia akan menutup tujuh puluh pintu keburukan”.
  6. Shadaqah menutup tujuh puluh pintu keburukan.
  7. Shadaqah bisa memadamkan panasnya alam kubur. “Sesungguhnya shaqaqah itu akan memadamkan panasnya hawa kubur bagi penghuninya”.
  8. Shadaqah sebagai obat yang manjur dalam mengobati berbagai penyakit hati dan badan. Nabi Muhammad shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Obatilah orang yang sakit di antara kalian dangan cara bersedeqah”.
  9. Tidak menunaikan shadaqah dan zakat akan menyebabkan hujan tidak turun dari langit. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dan tidaklah mereka mencegah diri mereka menunaikan zakat kecuali hujan akan tertahan dari mereka”.

[Disalin dari أسباب نجاة الأمة Penulis  Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir, Penerjemah : Muzaffar Sahidu Mahsun. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Bagaimana Setelah Haji?

BAGAIMANA SETELAH HAJI?

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemilik telaga dan kedudukan yang agung,  demikian pula keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka kepada jalan yang lurus, wa ba’du:

Wahai saudaraku yang telah melaksanakan haji:
Apabila para jama’ah haji telah berniat untuk pulang kembali menuju tanah airnya, mereka akan teringat bapak, ibu, istri, anak, dan saudara, sehingga ia membawakan hadiah untuk mereka. Barang siapa yang memiliki harta berlimpah, ia akan membawa berbagai macam barang untuk diperdagangkan, orang yang berhaji diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

” لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ “

Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat” [Al-Baqarah/2: 198]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: Ayat ini merupakan dalil bolehnya melakukan bisnis bagi orang yang melaksanakan ibadah haji saat berhaji sambil melakukan ibadah, dan sesungguhnya hal itu bukan merupakan perbuatan syirik dan tidak pula keluar dari tuntutan keikhlasan yang dibebankan kepadanya. Ad-Daraquthni rahimahullah meriwayatkan dalam sunannya dari Abu Umamah at-Taimi rahimahullah: Aku berkata kepada Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma: Sesungguhnya aku seorang laki-laki yang bekerja di jalur ini (berbisnis), dan orang-orang berkata : Sesungguhnya tidak ada haji untukmu. maka Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya kepada beliau seperti apa yang engkau tanyakan, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam sampai diturunkannya ayat:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada pahala haji untukmu

Saudaraku yang menunaikan haji: sesungguhnya mengambil dari dunia sekadar batas kebutuhan tidak akan mempengaruhi keikhlasan, akan tetapi bagaimana perasaanmu saat meninggalkan tempat-tempat suci tersebut? Apakah engkau mengetahui wahai saudaraku, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada semua orang agar tidak meninggalkan kota Makkah sebelum melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan)? Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang berpaling (meninggalkan kota Makkah) dari segenap penjuru, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لاَيَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرَ عَهْدِهِ بِاْلبَيْتِ

Janganlah seseorang pergi (meninggalkan Makkah) sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah (thawaf wada’)” HR. Muslim

Saudaraku yang menunaikan haji: Seperti inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabatnya saat akan meninggalkan Baitullah yang mulia, yaitu agar mereka melakukan thawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah, saat itu hati dan pandangan mata mereka telah dipenuhi keagungan Baitullah tersebut–semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah kemuliaannya-.

Dan anda wahai saudaraku: Apakah yang anda rasakan saat bersiap-siap untuk meninggalkan tempat yang suci tersebut?

Saudaraku : Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan tempat yang suci tersebut terasa sangat berat di hati, terutama jiwa yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saat menunaikan ibadah haji.

Kemudian wahai saudaraku yang menunaikan haji : Ingatlah, pada saat anda meninggalkan Baitullah yang agung, sesungguhnya anda tadinya berada dalam hari-hari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan musim-musim pendekatan diri kepada-Nya, dan betapa membahagiakannya saat-saat tersebut, akan tetapi wahai saudaraku : Apakah keta’atan akan menjadi terhenti saat anda pulang menuju tanah airmu? Dan anda teringat akan dirimu pada saat sedang berada dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disisi rumah-Nya yang agung, juga hari Arafah dan kehebatannya, serta hari-hari Mina dan keagungannya.

Saudaraku : Bagaimana mungkin anda dapat menggantikan kondisimu dengan yang lain? Oleh karena itu konsistenlah dalam keta’atan, bukalah lembaran baru dalam kehidupanmu, agar bisa mendapatkan ciri-ciri haji yang mabrur. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Haji mabrur adalah : orang yang melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan senang terhadap akhirat.

Sebagian ulama berkata: Di antara tanda haji mabrur adalah bahwa hal itu nampak diakhirnya, jika ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya, diketahuilah bahwa ia mendapatkan haji mabrur.

Kemudian ada hal lain wahai saudaraku yang telah berhaji: Pada saat anda meninggalkan Baitullah, memohonlah kepada Allah agar ini tidak menjadi saat yang terakhir bagimu di Baitullah, karena sesungguhnya menyambung keta’atan termasuk dari sebab-sebab ketetapan (iman dan ibadah), sebagaimana juga bahwa menyambung kemaksiatan termasuk dari sebab-sebab kesesatan dan penyimpangan.

Saudaraku : Istiqamah anda dalam keta’atan merupakan kunci keberuntungan untuk hari persidangan besar, inilah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya : Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab : أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّYang terus menerus, sekalipun hanya sedikit” HR. Muslim

Saudaraku yang telah menunaikan haji: Sesungguhnya diantara tanda keshalihan adalah terus menerus (istiqamah) diatas keta’atan, sekalipun hanya sedikit. Saudaraku, inilah permata tak ternilai yang aku persembahkan, yaitu: hendaklah anda memperbanyak amal shaleh, beriltizam dan menekuninya, janganlah menganggap remeh hal tersebut, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan husnul khatimah untukmu, dan memelihara keberkahan hajimu.

Saudaraku : Janganlah anda menjadi seperti orang-orang yang tidak pernah mengingat keta’atan kecuali hanya pada musim-musim tertentu, dan apabila musim itu telah berlalu, mereka kembali kepada kondisi sebelumnya. ‘Alqamah Radhiyallahu anhu bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan hari tertentu (untuk beribadah)? Ia menjawab:

لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؟! ” [رواه البخاري]

Tidak, ibadahnya terus menerus, siapakah diantaramu yang mampu seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? HR. al-Bukhari

Muhammad bin al-Qasim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : Bahwasanya apabila dia (Aisyah) mengamalkan sesuatu, ia menekuninya.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji: Anda harus sabar dalam keta’atan ketika meneruskan perjalanan hidupmu yang baru, dan bersabarlah pula dalam meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya bersabar dalam melaksanakan ibadah dan meninggalkan maksiat merupakan tingkatan sabar yang tertinggi, Maimun bin Mihran rahimahullah berkata: [Sabar terbagi dua: sabar atas musibah merupakan suatu kebaikan, dan yang lebih utama dari hal itu adalah sabar dalam meninggalkan maksiat].

Dan janganlah anda wahai saudaraku yang melaksanakan haji, termasuk dari orang-orang yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah: Orang-orang yang tercela adalah mereka yang paling sabar dalam menuruti keinginan hawa nafsu dan syahwat mereka, dan paling tidak sabar dalam ibadah kepada Rabb mereka, ia memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menuruti keinginan syetan, dan tidak sabar untuk berkorban dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang paling ringan, ia sangat sabar dalam memikul beban yang berat untuk mengikuti hawa nafsunya agar mendapatkan ridha musuhnya dan ia tidak sanggup menahan sabar untuk mendapatkan ridha Rabb-nya.

Ia adalah orang yang paling sabar untuk berkorban dalam menuruti kemauan syetan dan hawa nafsunya, dan paling tidak sabar dalam hal itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini adalah celaan yang paling besar, ia tidak akan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berdiri bersama orang-orang mulia saat dipanggil di hari kiamat, yang disaksikan seluruh umat manusia, agar semua yang berkumpul mengetahui, siapakah yang paling mulia pada hari ini dan dimana orang-orang yang bertaqwa.

Saudaraku yang telah  melaksanakan haji: Sesungguhnya kesudahan bagi orang-orang yang bersabar adalah surga:

” وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {22} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {23} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ “

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (22) (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (23) (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” [Ar-Ra’ad/13: 22-24]

Firman-Nya (Salamun ‘alaikum bima shabartum), Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: Mereka bersabar terhadap apa-apa yang diperintahkan kepada mereka dan bersabar untuk meninggalkan segala yang mereka dilarang atasnya.

Saudaraku: Secara tabi’at jiwa ini menyukai sifat malas dan senang istirahat, maka janganlah anda menuruti keinginannya, supaya setan tidak mendapatkan jalan kepadamu. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Apabila setan memperhatikanmu, lalu ia melihatmu tekun dalam keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia menghendaki dan menginginkanmu, tatkala ia melihatmu tekun dalam ibadah, maka ia jemu dan menolakmu, sedangkan jika anda terkadang seperti ini dan terkadang seperti itu, niscaya ia sangat berharap padamu].

Saudaraku yang menunaikan haji: Ketika datang dari hajimu, maka sesungguhnya masih dekat masamu dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga apabila anda menyambung perbuatan tersebut maka akan diharapkan adanya kebaikan padamu, oleh karena itu bersegeralah dengan semangatmu tersebut sebelum datangnya rasa malas dan jemu, dan apabila anda cenderung kepada rasa malas, niscaya nafsu ammarah (yang selalu menyuruh berbuat jahat) akan menguasaimu untuk berbuat keburukan dan anda langsung dikuasai setan, sehingga sirnalah hajimu bersama tiupan angin, dari Huraisy bin Qais rahimahullah, ia berkata: Apabila engkau ingin melakukan suatu kebaikan, maka janganlah menundanya sampai besok hari, apabila engkau mengerjakan urusan dunia, maka perlahanlah, dan apabila engkau melaksanakan shalat, lalu setan berkata kepadamu: (sesungguhnya engkau berbuat karena riya), maka panjangkanlah shalatmu tersebut.

Saudaraku yang telah berhaji: Bersegeralah, bersegeralah,  janganlah anda berkata: Akan saya lakukan, akan saya kerjakan, inilah Tsumamah bin Bajad as-Salami rahimahullah berpesan kepada kaumnya: Wahai kaumku, aku memperingatkan kalian (dari ucapan) saya akan mengerjakan, saya akan shalat, saya akan berpuasa.

Saudaraku yang telah berhaji: Berjuanglah terhadap dirimu, dan janganlah anda menjadi lemah, sebagaimana ketika berjuang pada hari-hari anda berada di tempat yang suci tersebut.

” وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” [Al-Ankabuut/29 : 69]

” فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “

Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (39) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” [An-Nazi’aat/79: 37-41]

Saudaraku yang telah berhaji: Hendaklah untuk tidak meninggalkan memperbanyak berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia selalu menetapkan anda dalam keta’atan, perbanyaklah untuk memelas dan menghadap Allah, agar Dia meluruskan langkahmu dan anda senantiasa menjalani jalur agama-Nya yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkannya di atas agama-Nya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang do’a terbanyak yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjawab: Kebanyakan doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada diatas agama-Mu

Tatkala ditanya tentang hal itu? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

” إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌ إِلاًّ قَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمنِ, فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “

Sesungguhnya tidak ada manusia kecuali hatinya berada di antara dua jari di antara jemari ar-Rahman, barangsiapa yang Dia kehendaki maka Dia akan menetapkannya (diatas kebenaran), dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya, maka Dia akan menyesatkannya (dari jalan kebenaran)” [HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. 2091]

Dan dalam satu riwayat: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

Wahai yang menetapkan semua hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu” [HR. Ibnu Majah: Shahih Sunan Ibnu Majah, karya al-Albani: 166].

Wahai saudaraku yang telah berhaji: Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kepada Rabb-nya agar menetapkannya di atas agama-Nya, dan beliau telah melihat dari tanda-tanda Rabb sesuatu yang cukup untuk menetapkan hatinya di dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka bagaimanakah dengan kita?!! Inilah anda wahai saudaraku, berada pada zaman yang banyak sekali fitnah dan sebab-sebab penyimpangan, pada era yang mungkin saja tidak dapat menemukan para penolong di atas kebenaran, bahkan apabila mereka melihat anda beristiqamah diatas jalur agama, mereka akan memperolok dan memperdengarkan kepadamu segala yang buruk, akan tetapi orang beriman merasa yakin kalau ia berada dalam janji Rabb-nya sehingga tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu anda wahai saudaraku harus memperbanyak do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan dirimu berada diatas agama-Nya, jadikanlah do’amu dengan hati yang ikhlas, kenalilah kenikmatan keta’atan dan berbahagialah dengan kedekatan kepada-Nya, janganlah anda berdo’a seperti do’anya orang yang lalai, yang tidak memahami apa yang dia ucapkan, karena sesungguhnya anda wahai saudaraku yang melaksanakan haji, membutuhkan ketetapan diatas keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga anda dapat memetik buah hajimu dan merasakan keberkahannya.

Wahai saudaraku yang melaksanakan haji: Ada persoalan penting yang ingin saya sebutkan bersamaan dengan kepulangan anda menuju tanah airmu, yaitu : Janganlah anda memandang terhadap diri sendiri seperti pandangan orang-orang yang tertipu, yaitu orang-orang yang apabila mengerjakan sedikit saja keta’atan, mereka akan menganggap diri mereka seolah-olah manusia paling mulia dimuka bumi, akan tetapi : lihatlah kepada dirimu dengan pandangan kekurangan, karena sesungguhnya sebanyak apapun amal shalih yang anda kerjakan, maka ia tidak bisa digunakan untuk mensyukuri kenikmatan terkecil yang Allah anugerahkan terhadap anda. Apabila anda ingin mengetahui tentang keadaan orang-orang shaleh setelah mereka melaksanakan ibadah, maka renungkanlah bersama saya tentang cerita-cerita mereka, agar anda dapat mengetahui bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ikhlas selalu mengakui kekurangan. Inilah Abu Bakar Radhiyallahu anhu setelah memangku jabatan khalifah, ia menyampaikan pidatonya yang terkenal setelah pelantikan dirinya: Wahai manusia, aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, sedangkan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian…”

Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Bahkan, demi Allah, dia (Abu Bakar Radhiyallahu anhu) adalah yang terbaik diantara mereka, akan tetapi orang beriman selalu mengakui kekurangan atas dirinya sendiri.

Muhammad bin ‘Atha menceritakan kepada kita: Aku sedang duduk bersama Abu Bakar Radhiyallahu anhu, lalu ia melihat seekor burung, kemudian berkata: Alangkah beruntungnya engkau wahai burung, engkau makan dari pohon ini, kemudian engkau mengeluarkannya (buang air), kemudian engkau tidak menjadi sesuatu, tidak ada hisab atasmu, aku ingin menjadi sepertimu. Aku berkata kepadanya: Apakah anda mengatakan hal seperti ini, sedangkan anda adalah orang terdekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?!!.

Inilah al-Faruq Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata: Jikalau penyeru berseru dihari kiamat: (Wahai sekalian manusia, masuklah ke dalam surga kecuali satu orang), niscaya aku menduga bahwa satu orang itu adalah aku.

Wahai saudaraku yang melaksanakan haji: Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana cara untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Beliau beribadah di malam hari hingga bengkak kedua kakinya, apabila mereka bertanya akan hal tersebut, beliau akan menjawab:

 أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

Apakah aku tidak boleh untuk menjadi hamba yang sangat bersyukur?” HR. Al-Bukhari

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” HR. al-Bukhari

Bagaimana pendapatmu wahai saudaraku, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, sedangkan beliau beribadah kepada Rabb-nya dengan cara seperti ini, pantaskah bagi seseorang setelahnya untuk mengatakan : Aku telah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenarnya?!!

Wahai saudaraku: Tekanlah nafsumu dengan sebenarnya niscaya ia menjadi lurus untukmu, dan apabila anda memandang kepadanya dengan pandangan sempurna, niscaya ia akan menjadikanmu lalai sehingga kekurangan dalam menunaikan kewajiban akan memasukimu.

Kemudian wahai saudaraku yang telah berhaji: Aku akan menunjukkan kepadamu obat mujarab untuk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas keta’atan, apabila anda mengambilnya niscaya ia akan memberikan pengaruh yang mengagumkan. Tahukah anda obat apakah itu? Sesungguhnya ia adalah kematian, ingatlah wahai saudaraku, sesungguhnya anda akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju suatu negeri yang akan dibalas padanya orang-orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat, apabila anda menginginkan untuk terus merasakan berkah hajimu, maka ingatkanlah dirimu dengan kematian, karena sesungguhnya ia pada saat itu akan segera untuk melaksanakan amal shalih dan giat dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu tentang obat yang mengagumkan ini, beliau memegang bahunya dan bersabda kepadanya:

 كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَاِبرُ سَبِيْلٍ

Jadikanlah dirimu di dunia ini bagaikan orang asing atau yang sedang menyebrang jalan

Lalu Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore, ambilah kesempatan sehatmu untuk saat sakitmu, dan ambilah kesempatan hidupmu untuk saat matimu. HR. al-Bukhari

Iman an-Nawawi rahimahullah berkata: Pengertian hadits tersebut adalah: janganlah engkau cenderung kepada dunia, dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai tanah airmu, janganlah engkau berbicara kepada dirimu untuk dapat hidup kekal padanya, dan janganlah engkau bergantung darinya dengan apa-apa yang tidak dilakukan oleh orang asing (pengelana) yang tidak bergantung kepada selain tanah airnya.

Saudaraku : Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yang dengannya kamu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rahmat-Nya kepada seseorang yang merenungkan dirinya dan menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti”  [Maryam/19 : 84]

Kemudian ia menangis dan berkata: Saudaraku, hitungan: keluarnya ruhmu, hitungan terakhir: engkau berpisah dengan keluargamu, hitungan terakhir: masuknya engkau ke dalam kuburmu.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji: Inilah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: Kematian ini menahan penduduk dunia dari kenikmatan dunia dan perhiasaannya yang mereka nikmati, sehingga tatkala mereka dalam keadaan seperti itu kematian datang menjemputnya, maka celaka dan merugilah orang yang tidak takut mati dan tidak mengingatnya di saat senang sehingga dapat memberikan kebaikan yang akan didapatinya setelah ia meninggalkan dunia dan para penghuninya. Kemudian ia (Umar bin Abdul Aziz) dikalahkan oleh tangisnya dan berdiri.

Saudara-saudaraku, sampai kapankah anda akan menunda amal, merasa tamak dalam mencapai angan-angan, tertipu oleh kesempatan serta melupakan serangan kematian? Ketahuilah bahwa apa saja yang anda lahirkan adalah untuk tanah, apapun yang anda bangun adalah untuk kehancuran, apa saja yang anda kumpulkan adalah untuk kesirnaan, dan apapun yang anda perbuatan akan tetap tersimpan dalam kitab catatan amal hingga hari penghitungan.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji: Aku telah memaparkan kepadamu apa yang tersimpan dalam sanubariku, dan aku telah memberikan kepadamu hadiah yang berharga ini, maka renungkanlah ia, kemudian aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan aku dan juga anda diatas agama-Nya yang benar, serta memberikan kepadaku dan juga anda kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[Disalin dari ماذا بعد الحج Penulis  Div. Ilmiyah Dar Al Qasim, Penerjemah : Muh. Lutfi Firdaus. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Waspada Terhadap Syirik

WASPADA TERHADAP SYIRIK

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa ba’du:

Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah adalah syirik terhdap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ ۗ قُلْ سَمُّوْهُمْۗ

Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”.[Ar-Ra’du/13: 33]

Syirik dapa dibagi menjadi dua macam: Syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar adalah syirik yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, menyebabkan pelakunya dikekalkan di dalam neraka dan diharamkan baignya memasuki surga dia teidak bertaubat dan mati dalam keadaan musyrik. Di antara bentuk syirik besar adalah memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti berdo’a, bernadzar, takut kepada selain Allah dan menyemblih untuk selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [An-Nisa’/4:116]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [Al-Ma’idah/5: 72]

Macam-macam syirik
Syirik dalam berdo’a. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ 

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). [Al-Ankabut/29 : 65]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang musyrik mengikhlaskan do’a mereka kepada Allah dalam kondisi yang kritis lalu mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada saat aman, maka keikhlasan mereka yang sesaat tidak memberikan mamfaat apapun kepada mereka, maka hal ini menunjukkan bahwa tauhid tidak memberikan mamfaat apapun kepada pelakunya kecuali jika  seseorang tetap kosisten dengan ketauhidannya sehingga datangnya kematian.

Di antara bentuk kesyirikan adalah syirik di dalam berniat, berkehendak dan maksud. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ١٥ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. 16.  Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. [Hud/11: 15-16].

Ibnu Abbas berkata: Orang-orang yang riya’ akan disegerakan balasan kebaikan mereka di dunia, sebab Allah tidak akan menzalimi mereka sedikitpun. Dia berkata: Barangsiapa yang beramal shaleh untuk mencari keuntaungan duniawi baik puasa, shalat dan beratahajjud pada waktu malam di mana dia tidak mengerjakannya kecuali untuk mencari keuntungan duniawi maka Allah berkata: Aku akan memberikan balasan baginya terhadap amal perbuatan yang dilakukannya untuk mencari pahala dan akan dihapuskan amal perbuatan yang dikerjakannya untuk mencari keuntungan duniawi serta di akherat dia teramsuk orang-orang yang merugi”.[1]

Di antara bentuk kesyirikan adalah syirik dalam ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ١٥ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [At-Taubah/9: 31]

Dari Adi bin Hatim ra bahawa dia pernah mendeengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mereka tidak menyembah mereka namun jika mereka menghalalkan sesuatu maka merekapun ikut menghalalkannya dan apabila mereka mengaharamkan sesuatu maka merekapun ikut mengharamkannya”.[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنَّ الشَّيٰطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ ۚوَاِنْ اَطَعْتُمُوْهُمْ اِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ

Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. [Al-An’am/6: 121]

Maka barangsiapa yang mentaati selain Allah dalam menghramkan yang halal dan menghalalkan yang haram dan menjadikannya sebagai agama dan syari’at maka dia telah mempersekutukan Allah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimhullah berkata: Barangsiapa yang mentaati ulama dan penguasa dalam mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah maka dia telah menjdikannya sebagai tuhan selain Allah.[3]

Di antara bentuk kesyirikan adalah syirik dalam cinta. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

šوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). [Al-Baqarah/2: 165]

Ibnu Katsir berkata : Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan  keadaan orang-orang musyrik di dunia dan siksa mereka di akherat kelak, di mana mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu, atau sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan di mana mereka menyembahnya bersama Allah dan mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaiamana mereka mencintai  Allah, padahal tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang tidak tandingan dan setara baginya.[4]

Adapun syirik kecil maka syirik ini tidak mengeluarkan pelakunya dari api neraka, namun hal tersebut bias mengurangi ketauhidan seseorang, dia sebagai sarana yang mengantarkan kepada syirik besar. Syirik ini terbagai menjadi dua bagian: Syirik zhahir dan syirik khafi.

Syirik yang zhahir cakupannya khusus untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan perbuatan dan peraktaan yang zahir. Adapun lafaz-lafaz yang zahir seperti bersumpah dengan nama selain Allah seperti peraktaan yang mengatakan: Apa-apa yang dikehendaki oleh Allah dan engkau kehendaki, dan perkataan yang mengatakan: Kalaulah bukan karena Allah dan si fulan; maka tidak boleh bagi seseorang mempersamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hendaklah dia mengatakan: Apa yang dikehendaki oleh Allah kemudian dikehendaki oleh si fulan, dan kalaulah bukan karena Allah kemudian si fulan dan beginilah.

Adapun perbuatan maka dia sangat banyak sekali seperti  menggantungkan jimat-jimat karena takut dari penyakit ain, atau memakai gelang atau benang untuk mengangkat bala’ atau menolaknya, hal ini dibarengi dengan keyakinan bahwa dia adalah sebab bagi terangkat dan tertolaknya bencana, namun jika seseorang meyakini bahwa dia sebagai sebab terngkat dan tertolaknya bencana secara langsung maka ini adalah syirik besar.

Bagian kedua: Syirik khafi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [Al-Kahfi/18:110]

Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: syirik ini bagai lautan yang tidak ada tepinya dan sangat sedikit orang yang selamat darinya, maka barangsiapa yang berniat dengan amal shaleh yang dilakukannya bukan untuk bertaqarrub kepada Allah maka dia telah mempersekutukan Allah dalam kehendak dan niatnya.

Ikhlas adalah memurnikan amal semata-mata karena Allah di dalam perkataan, perbuatan, niat dan kehendak. Sesungguhnya inilah millah al-hanifiyah, millah nabi Ibrahim alaihis salam, sebagai millah yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti, dan Allah tidak menerima millah selain millah ini, dan itulah hakikat Islam.[5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imron/3: 85]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari kesyirikan, dari Abdullah bin Hazan ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan beliau bersabda: Wahai seklian manusia!, takutlah terhadap syirik ini, sebab sesungguhnya syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut. Lalu seseorang berkata kepada beliau: bagaimana kita menghindarinya padahal dia lebih tersembunyi dari langkah semut wahai Rasulullah?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَللّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ أَنْ ُنشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

“Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari bersyirik kepadamu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami berlindung kepadamu dari syirik yang kami tidak ketahui”.[6]

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidakkah aku beritahukan kepada kalian suatu perkara yang lebih aku takutkan dari al-masihud dajjal?, yaitu syirik khafi yaitu seseorang menjalankan shalat lalu dia memperindah shalatnya karena dia melihat orang lain melihatnya”.[7]

Dari Mahmud bin Lubaid Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perkara yang paling aku takutkan menghinggapi kalian adalah syirik kecil”. Para shahabat bertanya: Apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: Riya’. Allah berfirman pada hari kiamat pada saat dia memberikan balasan kepada amal para hambaNya: Pergilah kepada orang yang kalian perlihatkan amal baik kelian kepadanya lalu carilah pahala dari mereka apakah kalian mendapatkan balasan atas amal kebaikan kalian dari mereka?.[8]

Sebagian orang meremehkan syirik ini karena penyebutannya sebagai syirik kecil, padahal dia disebut sebagai  syirik kecil karena beranding dengan syirik besar, sebab pada hakekatnya dia termasuk di dalam dosa-dosa besar yang paling besar, oleh karena itulah para ulama berkata:

1-Sesungguhnya apabila syirik kecil mencampuri suatu amal shleh maka akan menyebabkan terhapusnya balasan bagi amal yang dimasuki oleh syirik kecil tersebut.

2-Pelaku syirik kecil tidak akan diampuni dosanya, dan orang yang melakukannya tidak berada di dalam masyi’ah seperti para pelaku dosa besar lainnya (selain syirik) akan tetapi dia diadzab sesuai dengan besar dosanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, [Al-Nisa’/4: 48]

Maka yang wajib bagi seorang mu’min adalah waspada terahdap semua macam syirik dan hendaklah dia menjaga dirinya dari dosa ini. Sunnguh, Nabi Ibrahim alaihis salam khawatir terhadap dirinya agar tidak terjebak ke dalam kesyirikan padahal dia adalah imam orang-orang yang bertauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ

dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim/14: 35]

Ibarahim Al-Taimiy berkata: Siapakah yang merasa aman dari bencana ini sementara Nabi Ibrahim tidak merasa aman darinya?. Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimhullah berkata: Tidak akan merasa aman dari kesyirikan kecuali orang yang bodoh terhadap hekekat kesyirikan dan apa-apa yang membebaskan seseorang darinya yaitu dengan ma’rifat kepada Allah dan mengetahui apa yang menjadi tujuan utama diutusnya para rasul dengan bertauhid dan mencegah diri dari syirik.[9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatya.

[Disalin dari التحذير من الشرك Penulis  Syaikh Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy, Penerjemah : Muzaffar Sahidu Mahsun. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir: 2/439
[2] Sunan Tirmidzi: 5/278 dan dihasankan oleh Albani di dalam kitab takhrij hadits gayatul marom fi takhrijil ahadits alhalal wal haram.
[3] Fathul majid syarah kitabut tauhid hal:  383
[4] Tafsir Ibnu Katsir: 1/202
[5] Al-Dawa’ wad dawa’, Inul qoyyim al-jauziyah, hal: 184
[6] Musnad Imam Ahmad: 4/403 dengan sanad hasan
[7] Musnad Imam Ahmad: 3/30
[8] Musnad imam Ahmad: 5/428
[9] Fathul Majid, halaman: 74