Author Archives: editor

Haji dan Pendidikan Jiwa

HAJI DAN PENDIDIKAN JIWA

Muqaddimah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan kesudahan yang baik adalah untuk orang yang bertaqwa, shalawat dan salam atas imam para Rasul Nabi kita Muhammad beserta keluarganya dan sahabatnya semua. Amma ba’du:

Betapa agung manfaat dari haji, betapa banyak kebaikan dan keberkahan darinya, alangkah bagusnya pelajaran dan nasehat darinya, serta faidah mulia yang tak terhitung. Akan tetapi, tidaklah mudah bagi kebanyakan orang yang berhaji untuk memperoleh manfaat haji, faidah serta pelajaran yang dapat diambil darinya padahal  hal tersebut sangatlah penting dan sangat berpengaruh  dalam kehidupan mereka semuanya.

Oleh karena itu saya menulis risalah ini dengan harapan dapat mewujudkan maksud dan tujuan yang mulia ini. Saya beri judul tulisan ini: “ Haji dan Pendidikan Jiwa” dengan harapan semoga Allah menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan dan menjadikannya bermanfaat bagi hamba-Nya. Sesungguhnya Allah yang maha memberi taufiq, Allahlah sebaik-baik penolong.

Haji Dan Perbaikan Diri
Sesungguhnya haji adalah madrasah yang penuh keberkahan untuk membimbing jiwa, mensucikan hati, dan menguatkan iman. Di dalam proses manasik haji, kaum muslimin memperoleh pelajaran yang agung,  hikmah yang mengesankan, dan faidah yang mulia dalam masalah aqidah, ibadah, dan akhlaq. Haji sesungguhnya adalah madrasah pembinaan keimanan yang akan meluluskan orang beriman yang bertakwa serta hamba Allah yang diberi taufiq.  Allah Berfirman:

قال الله تعالى : وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ(27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka..”[1]

Manfaat dan faidah haji tak mungkin bisa dihitung. Begitu juga dengan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Sesungguhnya firman Allah dalam  ayat ( مَنَافِعَ ) ia adalah jamak dari manfaat. Kata ( مَنَافِعَ ) tampil dalam bentuk nakirah menunjukkan banyaknya manfaat yang terkandung di dalamnya. Ditunjukkannya menfaat-manfaat ini adalah perkara yang dimaksudkan dalam ibadah haji karena huruf lam pada firman Allah  ( لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ ) supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka adalah lam ta’lil yang berkaitan dengan firman-Nya (وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ) dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus.  Maksudnya, jika kamu seru mereka untuk berhaji niscaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki atau berkendaraan supaya mereka menyaksikan manfaat-manfaat haji. Artinya, ia menghadirkan manfaat tersebut dan yang dimaksud dengan menghadirkan manfaat adalah ia menghasilkan dan mengambil manfaat dari hajinya.

Oleh karena itu,  diantara bentuk kehormatan bagi setiap orang yang Allah beri taufiq dan kemudahan dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah ini yaitu Allah berikan semangat yang tinggi dalam memperoleh manfaat, faidah, dan pelajaran dari hajinya. Di saat yang sama, ia juga mengharapkan pahala yang besar, pengampunan dosa, dan penghapusan keburukan.  Telah ditetapkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم أنَّه قال: (( مَن حجَّ هذا البيتَ فلَم يرفُث ولم يفسُق رجع كيوم ولدته أمُّه )) رواه البخاري ومسلم

“Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah dan ia tidak melakukan keburukan ataupun kefasikan, ia akan kembali seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya”. HR Bukhari dan Muslim[2].

Ditetapkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bahwa beliau bersabda:

 تابعوا بين الحجِّ والعمرة، فإنَّهما ينفيان الفقرَ والذنوبَ كما ينفي الكيرُ خبثَ الحديد . رواه النسائي

Iringilah haji dengan umroh, maka sesungguhnya keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pandai besi menghilangkan karat besi.” HR Nasa’i[3]

Pantaslah bagi orang yang memperoleh keuntungan dan memenangkan harta yang berharga ini untuk kembali ke negerinya dalam keadaan yang suci, jiwa yang baik, dan kehidupan baru yang dipenuhi oleh iman dan takwa serta kebaikan, perbaikan diri, keistiqamahan, dan senantiasa mentaati Allah ‘Azza wa Jalla.

Para ulama telah menyebutkan bahwa perbaikan serta penyucian diri ini jika terdapat pada seorang hamba maka itu adalah tanda keridhaan dan tanda hajinya diterima. Jika seseorang keadaannya membaik setelah haji dimana ia berubah dari yang tadinya buruk menjadi baik, dan yang tadinya baik menjadi lebih baik lagi, maka sungguh itu adalah tanda bagusnya ia dalam memaknai hajinya. Karena diantara bentuk balasan kebaikan adalah diberikan kebaikan yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قال الله تعالى : هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ 

“ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”[4]

Orang yang bagus ibadah hajinya dan berusaha menyempurnakannya serta menjauhi pengurang dan perusaknya maka ia keluar dengan kondisi yang lebih baik dan memiliki kecendrungan pada kebaikan.

Dalam sebuah hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الحجُّ المبرورُ ليس له جزاءٌ إلاَّ الجنَّة 

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga[5].

Tidak diragukan lagi bahwa semua yang melaksanakan ibadah haji sangat mengharapkan hajinya mabrur dan usaha serta amal shalihnya diterima. Ciri yang jelas untuk haji yang mabrur dan diterima adalah bila seseorang menunaikannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana  kedua hal ini adalah syarat diterimanya semua jenis ibadah. Kemudian keadaannya setelah haji jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Maka ada dua ciri haji yang diterima : yang pertama ada pada saat haji berlangsung dimana sesoerang itu ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ciri yang kedua ada setelah haji yaitu adanya perbaikan keadaan seseorang setelah haji yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan kepada Allah, menjauhi dosa dan maksiat, dan ia memulai hidupnya dengan lebih baik yang dihiasi dengan kebaikan, perbaikan diri, dan istiqamah.

Hal yang perlu diperhatikan disini bahwa seorang muslim tidak memiliki jalan untuk memastikan amalannya diterima sebaik apapun dia berusaha.  Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keadaan orang mukmin yang sempurna dan keadaan mereka yang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai ketaatan:

قال الله تعالى : وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”[6]

Maksudnya, mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka dari ibadah, diantaranya shalat, zakat, haji, puasa, dan selainnya. Mereka takut tidak diterimanya amalan dan ketaatan mereka saat mempersembahkannya kepada Allah dan ketika berdirinya mereka dihadapan Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya.

عن أمِّ المؤمنين عائشة رضي الله عنها أنَّها قالت: (( قلت يا رسول الله صلى الله عليه وسلم : { وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ } أهو الرَّجل يزني ويشرب الخمر؟ قال: لا يا بنت أبي بكر، أولا يا بنت الصديق، ولكنَّه الرََّّجل يصوم ويصلِّي ويتصدَّق وهو يخاف أن لا يُقبل منه ))

Dari Ummul mukminin Aisyah  Radhiyallahu anha berkata: “ Aku bertanya wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maksud ayat (dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut) Apakah dia seseorang yang berzina dan minum khomr? Rasulullah menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakr, atau putri Ash-Shiddiq, akan tetapi dia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan shadaqah, ia takut Allah tidak menerima amalannya”.[7]

Hasan Al-Bashri berkata: “ Sesungguhnya seorang mukmin menggabungkan antara iman dan takut, sedangkan munafik ia menggabungkan antara keburukan dan perasaan tenang”.[8]

Sungguh telah terjadi sejak zaman dahulu dan kini dimana sebagian orang setelah selesai melaksanakan ibadah ini mengucapkan kepada yang lain:

تقبَّل الله منَّا ومنكم، فالكلُّ يرجو القبول

Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian dan semua orang pun mengharapkan hajinya diterima[9].

Allah telah menyebutkan di dalam Al Qur’an bahwasanya Nabi-Nya Ibrahim dan anaknya, Ismail- alaihimassalaam- setelah selesai membangun ka’bah mereka berdua mengucapkan sebuah doa. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“ dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.”[10]

Keduanya beramal shalih kemudian meminta kepada Allah agar amalnya diterima. Diriwayatkan oleh Abu Hatim dari Wuhaib bin Al Ward bahwasanya beliau membaca ayat ini kemudian beliau menangis dan berkata:”Wahai Kekasih Ar Rahman.. Engkau meninggikan rumah Ar Rahman sedangkan engkau takut amal mu tidak diterima”.[11]

Jika keadaan seorang Imam orang-orang yang hanif dan panutan orang-orang yang bertauhid seperti ini, maka bagaimana orang selainnya!

Kita memohon kepada Allah penerimaan dan taufiq untuk semuanya dan agar orang-orang yang berhaji ke baitullah senantiasa dalam keselamatan dan Ampunan. Semoga Allah menerima amal shalih kami dan kalian dan semoga Allah menunjuki kita semua jalan yang lurus. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

[Disalin dari الحج والإصلاح Penulis  Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Penerjemah : Ahmad Zawawi. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al Hajj/22 : 27-28
[2] Shahih Bukhari (1820) dan Shahih Muslim (1350)
[3] Sunan An Nasa’I (V/115). Dishahihkan oleh Al Albany dalam Shahih Al Jami’ (2901)
[4] Ar Rahman/55 : 60
[5] Shahih Muslim (1349)
[6] Al Mu’minun/23 : 60
[7] Al Musnad (25705)
[8] Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd (985)
[9] Ibnu Bathah berkata dalam kitab Al Ibanah (II/873) : “Begitu juga orang yang telah selesai melaksanakan haji dan umrah apabila ditanya tentang hajinya, ia berkata:”Sungguh kami telah berhaji dan tidak tersisa kecuali harapan diterima”. Sebagaimana doa sebagian manusia untuk diri mereka dan orang lain:” Ya Allah terimalah puasa dan zakat kami” maka dikatakan bagi orang yang berhaji:”Semoga Allah menerima hajimu dan mensucikan amal mu”.  Begitupun dengan orang yang selesai melaksanakan puasa ramadhan, mereka berkata:”Semoga Allah menerima puasa kami dan kalian”. Hal ini telah berlangsung sejak dulu dan orang yang belakangan mencontoh hal tersebut dari pendahulu mereka.
[10] Al Baqarah/2 : 127
[11] Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam tafsirnya sebagaimana yang ada di tafsir Ibnu Katsir (I/254)

Haji dan Dzikir

HAJI DAN DZIKIR

Allah telah mensyariatkan ibadah haji atas hamba-hambaNya untuk mengingatNya. Dzikir adalah tujuan dari haji juga tujuan dari semua ketaatan. Ibadah tidak disyariatkan kecuali karena-Nya. Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan mengingat-Nya, dan ibadah haji seluruhnya adalah mengingat Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (الحج :28-27)

“dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”[1]

Allah Ta’ala juga berfirman:

قال الله تعالى : لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (198) ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (199) فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202) وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (203) (البقرة :203-198)

“tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.”[2]

Renungkanlah wasiat dan  perintah yang agung dan mulia ini dengan senantiasa mengingat Allah azza wa jalla dalam semua ibadah haji seperti wukuf di arafah yang diperintahkan untuk berdzikir, di masy’aril haram juga diperintahkan untuk berdzikir, ketika menyembelih kurban, dan pada hari tasyriq pun juga diperintahkan untuk berdzikir. Dzikir adalah tujuan dari amalan-amalan tersebut, bahkan amalan tersebut tidak disyariatkan kecuali untuk mengingat Allah.

Diriwayatkan dari Abu Dawud dan selainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,

إنَّما جُعل الطوافُ بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ 

“Sesungguhnya thawaf di ka’bah, sa’i antara shafa dan marwah juga melempar jumroh diadakan untuk mengingat Allah Azza wa jalla.[3]

Hadits tersebut menunjukkan atas tingginya kedudukan dzikir dan kemuliaannya, dan bahwa dzikir adalah tujuan dari semua ibadah dan intinya. Allah Azza wa jalla berfirman tentang kedudukan shalat:

قال الله تعالى : وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه : 14)

“…. dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”[4]

Maksudnya, dirikanlah shalat untuk mengingat Allah. Allah menamakan shalat sebagai dzikir dalam firmanNya:

قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ (الجمعة : 9)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah”[5]

Karena mengingat Allah adalah ruhnya shalat, inti, dan juga hakikatnya. Demikianlah kedudukan dzikir dalam semua ibadah. Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ibadah yaitu orang yang paling banyak berdzikir dalam ibadahnya.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Thabrani dari jalan Abdullah bin Lahi’ah berkata:

حدَّثنا زبَّان بن فائد، عن سهل بن معاذ بن أنس الجهني، عن أبيه، عن رسول الله أنَّ رجلاً سأله فقال: أيُّ الجهاد أعظمُ أجراً یا رسول الله، فقال :  أكثرُهم لله تبارك وتعالى ذكراً، قال: أيُّ الصائمين أكثرهم أجراً؟ قال: أكثرُهم لله ذكراً، ثم ذكر لنا الصلاة والزكاة والحجَّ والصدقة كلُّ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: أكثرهم لله ذكراً، فقال أبو بكر لعمر: يا أبا حفص ذهب الذاكرون بكلِّ خير، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أجل.

Zabban bin Faid bercerita kepada kami, dari Sahl bin Mu’adz ibnu Anaas Al-Juhni dari ayahnya dari Rasulullah bahwa ada seorang lelaki bertanya kepadanya. Ia berkata: jihad apakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, “yang paling banyak mengingat Allah”. Ia berkata: “Orang puasa yang seperti apa yang paling banyak pahalanya?” Beliau menjawab, “yang paling banyak mengingat Allah”, kemudian beliau menyebutkan kepada kami shalat, zakat, haji, dan shadaqah. Semua dari itu. Rasulullah berkata: “yang paling banyak mengingat Allah”.  Abu Bakr berkata kepada Umar: “ Wahai Abu Hafs orang-orang yang selalu berdzikir mereka pergi dengan setiap kebaikan”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tentu”.[6]

Berkata Al-Haitsami: “ Didalamnya terdapat Zabban bin Faid dan ia dhaif, dan telah dikuatkan begitu juga Ibnu Lahi’ah”[7]

Akan tetapi dalam hadits tersebut terdapat syaahid (penguat) yang mursal dengan sanad yang shahih diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd berkata: “ Beritahukan kepadaku. Beliau berkata: telah bercerita kepadaku Zuhrah bin Ma’bad bahwasanya beliau mendengar Abu Sa’id Al-Almaqburi berkata: “ Dikatakan: wahai Rasulullah, orang haji seperti apakah yang paling besar pahalanya? Rasulullah menjawab: yang paling banyak mengingat Allah. Berkata: orang shalat seperti apakah yang paling banyak pahalanya? Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat Allah. Berkata: orang puasa seperti apa yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat Allah. Berkata: pejuang seperti apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat Allah. Zuhrah berkata: Abu Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepadaku bahwa Umar berkata keepada Abu Bakr: “ orang-orang yang selalu berdzikir mereka pergi dengan setiap kebaikan”.[8]

Juga terdapat syahid lain yang dibawakan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Wabilush Shaib : Ibnu Abi Dunya menyebutkan hadits mursal: “ Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seseorang: “Ahli masjid seperti apa yang baik?” Beliau menjawab: “yang paling banyak mengingat Allah Azza wa jalla”. Ia berkata: “Jenazah seperti apakah yang baik?” Beliau menjawab: “yang paling banyak mengingat Allah Azza wa jalla”. Ia bertanya: “Pejuang seperti apa yang baik?” Beliau menjawab: “yang paling banyak mengingat Allah Azza wa jalla”. Ia berkata: “ Orang haji seperti apakah yang baik?” Beliau menjawab: “yang paling banyak mengingat Allah Azza wa jalla”. Ia berkata: “ Orang yang berbuat kebaikan seperti apakah yang baik?” Beliau menjawab: “yang paling banyak mengingat Allah Azza wa jalla”. Abu Bakr berkata: “ Orang yang selalu berdzikir pergi dengan semua kebaikan”.[9]

Ibnul Qayyim berkata: “ Sesungguhnya ahli ibadah yang paling utama yaitu yang paling banyak mengingat Allah Azza wa Jalla. Orang yang berpuasa yang paling utama yaitu yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya. Yang paling utama diantara oraang-orang yang bershadaqah yaitu orang yang paling banyak mengingat Allah. Orang haji yang paling utama yaitu yang paling banyak mengingat Allah. demikian juga seluruh amalan yang lain.[10]

Jika engkau tahu hal tersebut maka bersunguh-sungguhlah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap ketaatan. Dalam shalatmu, puasamu, hajimu, dan seluruh ibadahmu. Sesungguhnya pahalamu disetiap ibadahmu tergantung dengan dzikirmu kepada Allah.

Dzikir adalah bentuk ketaatan yang paling mulia dan ibadah yang paling utama. Buah dari dzikir banyak dan tidak terhitung bagi pelakunya. Kemuliaan buahnya menjadi wasilah yang berbarokah untuk menghidupkan hati, mendidik jiwa, dan mensucikan hati. Hati yang selalu berdzikir akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, sebagaimana Allah berfirman:

قال الله تعالى : الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد : 28)

“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”[11]

Sebagai  obat hati, penawar dari penyakitnya, dan menghilangkan noda hitamnya. Dalam hati terdapat noda hitam  yang tidak akan hilang kecuali dengan berdzikir kepada Allah. Datang seorang lelaki kepada Hasan Al-Basri berkata:  “ Wahai Abu Sa’id aku mengadu kepadamu akan noda hitam pada hatiku. Beliau berkata: “Hilangkan dengan dzikir”.[12]

Dzikir kepada Allah memudahkan segala perkara dan memudahkan semua perkara yang sulit. Tidaklah seseorang berdzikir kepada Allah atas kesulitannya kecuali Allah mudahkan, tidak pula seseorang berdzikir dalam kesempitannya kecuali Allah lapangkan, tidak pula orang berdzikir dalam kesusahannya kecuali Allah hilangkan.

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua termasuk dari orang-orang yang berdzikir dan menjauhkan kami dari kelalaian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar do’a. Allah adalah tempat berharap, dan sebaik-baik penolong.

[Disalin dari الحج والذكر Penulis  Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Penerjemah : Ahmad Zawawi. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al Hajj/22 : 27-28
[2] Al Baqarah/2 : 198-203
[3] Sunan Abu Dawud (1888), Sunan at Tirmidzi (902) dan ia berkata: “Hasan Shahih”
[4] Thaha/20 : 14
[5] Al Jumuah/62 : 9
[6]  Al Musnad (15614), Al Mu’jam Al Kabir oleh At Thabrani (20/407)
[7] Mu’jam Az Zawaid (X/74)
[8] Az Zuhd (1429)
[9] Al Waabil Ash Shaib (152)
[10] Al Waabil Ash Shaib (152)
[11] Ar Ra’du/13 : 28
[12] Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al Waabil Ash Shaib (142)

Pakaian Ihram dan (Mengingat) Kain Kafan

PAKAIAN IHRAM DAN (MENGINGAT) KAIN KAFAN

Sesungguhnya pelajaran dan faidah haji tidak terhitung. Begitu banyak pelajaran yang bermanfaat dan sangat berpengaruh pada jiwa. Diantara nasehat dan pelajaran dari haji yaitu apabila seorang muslim telah sampai ke miqat – yang Rasulullah jadikan waktu tersebut untuk mulai berihram- orang yang berhaji kemudian melepaskan pakaiannya dan mengenakan izar untuk bagian bawah tubuhnya, dan rida’ untuk bagian atas tubuhnya tanpa menutup kepala. Keadaan ini menyamakan semua jamaah haji, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang  miskin, pemimpin ataupun rakyat jelata. Kesamaan pakaian ini mengingatkan kita pada kain kafan yang mana kita semua akan mengenakannya setelah meninggal. Semua melepaskan pakaiannya dan hanya mengenakan lembaran kain putih yang tidak ada bedanya antara si kaya dan si miskin.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Samurah bin Jundub bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 الْبَسُوا الثياب الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Pakailah baju putih, karena itu lebih suci dan lebih baik, dan kafanilah jenazah diantara kalian dengannya”.[1]

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau dikafani dengan tiga lembar kain putih dari kapas tanpa gamis maupun surban kepala. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikafani dengan tiga lembar kain putih bersih dari negeri Yaman yang terbuat dari kapas, tanpa baju gamis dan surban kepala”[2].

Semua orang yang meninggal, siapapun dia,  pasti akan seperti itu keadaannya ; dimandikan dan dilepas pakaiannya, serta dikenakan lembaran kain putih, kemudian dishalatkan, dan dikuburkan.

Orang haji ketika ia melepaskan pakaiannya pada waktu miqat dan mengenakan pakaian ihramnya hendaknya ia merenungkan baik-baik hal ini. Hendaknya ia  mengingat kematian yang merupakan akhir dari kehidupan dunia dan awal dari kehidupan akhirat.

Betapa besar manfaat haji bagi seorang hamba ketika ia mengingat kepergiannya, mengingat perpisahan dengan manusia dan kawan-kawan, mengingat bahwa ia tidak memiliki harta apapun kecuali kain kafan, satu-satunya harta yang akan ia bawa ke alam kuburnya dan itupun pasti akan hancur. Seorang penyair berkata:

Dari semua harta yang pernah kau kumpulkan selama hidupmu.. 
Hanyalah dua kain yang akan membungkus mu beserta hanuth[3]

Berkata penyair yang lain:
Itulah Qana’ah yang tak dapat dicari penggantinya..
Ia adalah kenikmatan dan peristirahatan  jiwa

Lihatlah orang-orang yang memiliki dunia dengan seluruhnya.. 
Apakah ia akan beristirahat dengan tanpa kapas dan kain kafan[4]

Telah shahih hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ  يَعْنِى الْمَوْتَ

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan,  yakni kematian”[5].

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :  كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا “Cukuplah kematian sebagai pengingat”.

Orang yang mengingat kematian selalu memperhatikan urusan akhiratnya. Ia tidak akan menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya. Mengingat kematian akan menghalangi seseorang dari berbuat maksiat , membuat hati yang keras menjadi lembut, menghilangkan kesenangan yang berlebihan terhadap dunia, dan tidak mengambil pusing terhadap cobaan-cobaan di dunia.

Sesungguhnya kain kafan yang dimasukkan kedalam kubur bersama seseorang tidak akan bermanfaat baginya sedikitpun dan kain itu akan hancur. Padahal kain kafan adalah satu-satunya harta dunia yang ia bawa masuk bersamanya ke dalam kubur. Hal yang bermanfaat baginya hanyalah amal shalihnya. Telah shahih hadits dalam Shahihain dari Anas bin Malik dari Nabi bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

یَتْبَعُ المیِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَیَرْجِعُ اثْنَانِ وَیَبْقَى  وَاحِدٌ: یَتْبَعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمُلُه، فَیَرْجِعُ أَھْلُهُ وَمَالُه، وَیَبْقَى عَمَلُه

“Orang yang mati akan  diiringi ke kubur nya oleh tiga hal. Dua akan pulang kembali dan satu akan tetap bersamanya. Tiga hal yang mengiringi orang yang mati adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali pulang, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”[6]

Sama-sama kita ketahui bahwa manusia itu pasti hidup bersama keluarga dan harta yang ia miliki. Kedua hal ini pasti akan meninggalkannya dan ia pun akan meninggalkan keduanya. Berbahagialah orang-orang yang dapat menjadikan kedua hal tersebut sebagai pertolongan kepada kebaikan dan ketaatan. Adapun orang-orang yang menyibukkan diri dengan keluarga dan hartanya dari mengingat Allah maka sungguh ia telah merugi. Sebagaimana orang-orang Arab berkata:

شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا

“Harta dan keluarga Kami telah merintangi Kami, Maka mohonkanlah ampunan untuk kami”[7]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”[8]

Keluarga dan harta yang ditinggalkan tidak akan bermanfaat bagi orang yang meninggal  selain doa dan permohonan ampun dari keluarganya dan semua harta yang pernah ia sedekahkan dengan kedua tangannya sendiri. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

“ (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”[9]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُوْنَا فُرَادٰى كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّتَرَكْتُمْ مَّا خَوَّلْنٰكُمْ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِكُمْۚ

 “ dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu”[10]

Semua yang manusia miliki berupa harta dan keluarga akan ia tinggalkan  di belakangnya. Tidak akan bermanfaat sedikit pun semua itu kecuali doa dari keluarganya atau nafkah yang pernah ia berikan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ،أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Apabila seorang manusia meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat”.[11]

Keluarga terkadang ada yang mendoakan, ada pula yang tidak mendoakan. Harta yang dahulu pernah ia miliki menjadi tidak berguna selain yang ia sedekahkan dengan kedua tangannya. Maka itu akan masuk sebagai amal yang akan menemaninya dalam kuburnya. Adapun harta yang selainnya baik sedikit ataupun banyak akan diwariskan ke keluarganya bukan untuk dirinya. Itu dilakukan sebagai balasan bagi orang yang menjaganya.

Di dalam Shahih Muslim dari Rasulullah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يقولُ ابنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قالَ: وَهلْ لَكَ -يا ابْنَ آدَمَ- مِن مَالِكَ إلَّا ما أَكَلْتَ فأفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فأبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فأمْضَيْتَ؟

Anak Adam berkata: “Hartaku, hartaku”, Allah berfirman: “Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya”[12]

Di dalam Shahih Bukhari dari Nabi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّكُمْ مالُ وارِثِهِ أحَبُّ إلَيْهِ مِن مالِهِ؟ قالوا:  ما مِنَّا أحَدٌ إلَّا مالُهُ أحَبُّ إلَيْهِ، قالَ: فإنَّ مالَهُ ما قَدَّمَ، ومالُ وارِثِهِ ما أخَّرَ

“Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?. Para shahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Beliau bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan (sebagai amal shaleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”[13]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۚ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِاَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُوْنَۙ

“Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),”[14]

Sebagian orang Salaf berkata: “maksudnya tempat yang menyenangkan di dalam kubur ”.  Artinya, amal shalih akan menjadikan kubur orang yang beramal shalih tempat yang menyenangkan.  Meskipun tidak ada perhiasan dunia yang menyertainya seperti kasur dan bantal. Bahkan amalnyalah yang akan menjadi kasur dan bantal untuknya.[15]

Di dalam hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : Jibril berkata kepadaku:

 يا محمد عِش ما شئتَ فإنَّك ميِّت، وأَحْبب مَن شئتَ فإنَّك مفارقُه، واعمل ما شئتَ فإنَّك مُلاقيه

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karna kau akan mati, berbuatlah sesukamu karena akan ada balasannya, cintailah siapa saja yang kamu suka, karna kau pasti akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu, karena kau pasti akan dibalas sesuai perbuatanmu”[16]

Kita memohon kepada Allah urusan yang baik, balasan kebaikan yang bagus, dan petunjuk kepada apa-apa yang Allah cintai dan ridhai.

[Disalin dari لباس الإحرام والتذكیر بالأكفان Penulis  Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Penerjemah : Ahmad Zawawi. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al Musnad (20154)
[2] Shahih Bukhari (1264), Shahih Muslim (941)
[3] Ramuan dan wangi-wangian yang khusus dibuat untuk jenazah –pent.
[4] Lihat bait-bait ini dalam At Tadzkirah oleh Al Qurthubi (I/28)
[5] Sunan At Tirmidzi (2307) Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ (1210)
[6] Shahih Bukhari (2514), Shahih Muslim (2960). Lihat Penjelasan hadits ini dalam risalah yang dikarang oleh Al Hafidzh Ibnu Rajab yang dicetak dengan judul “Juz’un fiihil Kalaam ‘Ala Haditsi Yatba’ul Mayyita Tsalatsun”
[7] Al Fath/48 : 11
[8] Al Munafiqun/63 : 9
[9] As -Syua’ara/26 : 88-89
[10] Al An’am/6 : 94
[11] Shahih Muslim (1631)
[12] Shahih Muslim (2958)
[13] Shahih Muslim (6442)
[14] Ar Rum/30 : 44
[15] Lihat risalah yang dikarang oleh Al Hafidzh Ibnu Rajab :“Juz’un fiihil Kalaam ‘Ala Haditsi Yatba’ul Mayyita Tsalatsun” (hal. 40)
[16]  Diriwayatkan oleh Ath Thayalisi (1862), Al Hakim (IV/325). Dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ (4355)

Akhlak Mulia

AKHLAK MULIA

Segala puji bagi Allah yang menciptakan segala sesuatu, membaguskan penciptaan-Nya dan menyusunnya. Dialah yang mendidik nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dengan sebaik-baik pembinaan. Wa ba’du :

Sesungguhnya kemuliaan akhlak merupakan salah satu dari sifat-sifat para nabi, orang-orang shiddiq dan kalangan shalihin. Dengan sifat ini, berbagai derajat dapat dicapai dan kedudukan-kedudukannya ditinggikan. Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala mengistimewakan nabi-Nya, Muhammad dengan ayat yang menghimpun baginya segala kemuliaan akhlak dan segenap kebaikan tata pekerti, maka Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾ سورة القلم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [Al-Qalam/68 : 4]

Husnul khuluq (akhlak yang mulia) memunculkan rasa kasih sayang dan kelembutan. Sedang su’ul khuluq (akhlak yang buruk) membuahkan rasa saling benci, dengki dan memusuhi.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menstimulasi agar berakhlak mulia (husnul khuluq) dan konsisten terhadapnya. Dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghimpun secara bersama antara penyebutan at-taqwa (ketakwaan) dan penyebutan husnul khuluq (akhlak yang mulia) ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ، تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, (adalah) takwa kepada Allah dan husnul khuluq (berperilaku baik). ” HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim.

Husnul khuluq itu adalah wajah yang berseri, memberikan kebajikan, menahan diri dari menyakiti manusia, beserta segala yang sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk bertutur kata yang baik dan menahan amarah serta sabar menanggung beban.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dengan sebuah wasiat agung, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ 

Wahai Abu Hurairah, seyogyanya anda untuk berperilaku baik (husnul khuluq).”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah husnul khuluq itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ

Anda menyambung (tali persaudaraan kepada) orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, dan anda memaafkan (kesalahan atas) orang yang menzalimimu, dan anda memberi orang yang enggan memberi kepadamu.” HR. Al-Baihaqi.

Simaklah -wahai saudaraku yang mulia- sebuah pengaruh yang dahsyat dan ganjaran yang besar untuk pekerti yang mulia dan tabiat yang baik ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seseorang dengan husnul khuluq akan memperoleh derajat ash-sha`im (ahli puasa) dan al-qa`im (ahli shalat malam).” HR. Ahmad.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai amalan husnul khuluq bagian dari (barometer) kesempurnaan iman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” HR. Ahmad dan Abu Dawud.

Seyogyanya anda sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي الْمَسْجِدِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang paling bermanfaat diantara mereka, dan amalan yang paling dicintai di sisi Allah (adalah) kebahagiaan yang anda masukkan ke (hati) seorang muslim, atau anda membebaskan kesusahannya, atau anda membayarkan hutangnya, atau anda menghilangkan rasa laparnya. Karena itu aku berjalan bersama saudaraku  yang muslim dalam suatu keperluannya lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid (yaitu: masjid Madinah, pent.) ini sebulan lamanya .” HR. Thabrani.

Seorang muslim diperintahkan untuk berkata halus dan lembut sehingga ucapannya tersebut menjadi amalan yang memberatkan timbangan kebajikannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

Kata baik (yang terlontar terbilang) sedekah.” Muttafaqun ‘Alaihi.

Bahkan sebuah senyuman ringan yang tidak membebani seorang muslimpun dalam melakukannya, diberikan balasan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

Senyummu terhadap saudaramu merupakan sebuah sedekah.” HR. At-Tirmidzi.

Pengarahan-pengarahan Nabi dalam menyemangati amalan husnul khuluq ini dan sikap menanggung derita beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang banyak dan populer, serta perjalanan hidupnya merupakan contoh hidup yang dapat dipetik dari sikap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terhadap dirinya, keluarga, tetangga, kalangan kaum muslimin yang lemah, orang-orang bodoh di antara mereka, bahkan terhadap orang kafir sekalipun. Allah Ta’ala berfirman :

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى ﴿٨﴾ سورة المآئدة

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. [Al Maidah/5: 8]

Sesungguhnya ciri-ciri perangai yang baik (husnul khuluq) itu terhimpun dalam berbagai sifat yang banyak. Maka kenalilah ciri-ciri tersebut –wahai saudara muslimku- dan konsistenlah dengannya. Secara umum, yaitu :

Seorang yang banyak malu, sedikit menyakiti, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit bicaranya, banyak kerja, sedikit kekhilafan dan sikap berlebih-lebihannya. Seorang yang berbakti, suka memberi, berwibawa, penyabar, bersyukur, ridha, santun, lembut, menjaga diri, belas kasih. Tidak suka melaknat dan mencemooh, menghasut, ngerumpi, serta tidak tergesa-gesa, tidak pula dengki, pelit, apalagi hasad. Seseorang yang berwajah ramah dan periang, mencintai dan menyukai sesuatu karena Allah, serta membenci sesuatu karena Allah pula.

Pangkal dari segala akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah) adalah kesombongan, penghinaan dan peremehan. Sedangkan pangkal dari segala akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah khusyu’ dan kemauan yang kuat. Maka berbangga-banggan, kufur nikmat, berpoya-poya, takjub terhadap diri sendiri, dengki, sewenang-wenang, angkuh, zhalim, kasar dan arogan, pamer, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, minta diangkat, gila kedudukan dan jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua bersumber dari al-kibr (kesombongan).

Adapun dusta, khianat, riya, muslihat, tipu daya, kerakusan, pengecut, kebakhilan, kelemahan, kemalasan, menghinakan diri kepada selain Allah, dan sikap mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik, dan lain sebagainya. Maka semua itu bersumber dari penghinaan dan peremehan serta kerdilnya jiwa.

Sekiranya anda mencari ketakwaan, anda akan mendapati
seorang lelaki membenarkan ucapannya dengan perbuatannya.

Sekiranya seorang bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya
maka kedua tangannya diantara kemulian dan ketinggian akan ketakwaan.

Sekiranya ia mengakar dalam ketakwaan
Ada dua mahkota, mahkota ketenangan dan kebesaran

Sekiranya anda menyebutkan nasab hubungan keturunan,  maka saya tidak melihat
silsilah hubungan (yang seerat) seperti (diantara hubungan) amal-amal shaleh.

Saudara muslimku
Sesungguhnya dia adalah momentum mulia dimana anda dapat memperoleh ganjaran berperilaku dengan sifat-sifat yang baik, dan mengarahkan diri anda untuk menggenggamnya, dan bekerja keras dalam hal tersebut. Jauhi dan tinggalkanlah sifat iri dan benci, kekejian lisan, ketidakadilan, dan ghibah, mengadu domba, kikir, memutuskan tali silaturahmi. Aku terheran terhadap orang yang membersihkan wajahnya 5 (lima) kali sehari dalam rangka menyembut seruan Allah, namun ia enggan membersihkan dirinya sekali saja dalam setahun untuk sekedar menghilangkan berbagai daki-daki dunia yang melekat, serta kepekatan hati dan kemungkaran akhlaknya!!

Berantusiaslah terhadap upaya melatih diri dari menahan amarah, dan gembirakanlah orang-orang sekitar anda, diantaranya kedua orangtua, istri dan anak-anak, para sahabat dan relasi dengan interaksi yang baik, tutur kata yang manis, muka yang berseri, dan berharaplah akan pahala pada segala hal demikian itu.

Dan seyogyanya anda –Saudara muslimku- sebagaimana yang diwasiatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bahasa yang ringkas padat (al-jami’ah). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimana pun anda berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” HR. At-Tirmidzi.

Semoga Allah menjadikan kita dan segenap kalian termasuk orang-orang yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 إِنَّ أَقْرَبَكُمْ مِنِّى مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ خُلُقاً

Sesungguhnya yang paling dekat kedudukan diantara kalian dariku pada hari Kiamat (adalah) yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu pengampunan, kesehatan, perlindungan selamanya. Ya Allah, baguskan akhlak-akhlak kami dan perindahilah perangai-perangai kami. Ya Allah sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa kami, maka baguskanlah akhlak kami dengan segala karunia-Mu. Ya Rabb kami, ampunilah kami, kedua orangtua kami dan seluruh kaum muslimin. Semoga shalawat senantiasa tercurah atas Nabi kami, Muhammad, dan kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

[Disalin dari حسن الخلق Penulis  Syaikh  Abdul Malik Al-Qasim, Penerjemah : Muhammad Khairuddin. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Berakhlak Mulia

BERAKHLAK MULIA

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:

Sesunguhnya di antara perbuatan  yang diserukan dan diantjurkan oleh syara’ adalah berakhlak yang baik, dia adalah karunia Allah yang paling besar bagi hambaNya. Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.[1]

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه، قال: قال صلى الله عليه وسلم: ((مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ))

Dari Abi Darda’ Radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada amal shaleh lebih berat bagi timbangan seorang hamba yang beriman pada hari kiamat selain dari akhlak yang mulia sesungguhnya Allah murka terhadap orang yang berlaku kotor lagi kasar“. [2]

Berakhlak  yang baik harus meliputi berbagai aspek kehidupan seorang mslim baik dalam perkataan, perbuatan dan  ibadahnya kepada Tuahannya dan m’amalahnya dengan  sesama makhluk.

Firman Allah Ta’ala:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.[3]

Firman Allah Ta’ala:

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا

” …serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,..”[4]

Firman Allah Ta’ala:

اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

.”… Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia”.[5]

Ibnu Abbas berkata : Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka bersabar pada saat marah dan bersikap santun pada saat tidak mengetahui, memberi maaf ketika orang lain berbuat jahat kepadanya, jika mereka melakukan hal itu niscaya menjaga mereka dan menundukkan musuh mereka”.[6]

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ. وَفِيْ بَعْضِ النَّسَخِ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Di antara wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kedua shahabatnya yang mulia Abi Dzar dan Mu’adz bin Jabal  Radhiallahu anhuma: Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada dan balaslah perlakuan buruk dengan balasan yang baik niscaya dia akan menghapuskannya  dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik“.[7]

Ibnul Qayyim Rahimhullah berkata:  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambungkan antara bertqwa kepada Allah dan berakhlak  yang baik, sebab bertaqwa kepada Allah akan menjai baik hubungan antara seorang hamba dengan TuahanNya, dan akhlak yang baik akan memperbaiki hubngan seorang hamba dengan hamba yang lain, maka bertqwa kepada Allah akan mendatangkan kecintaan Allah dan akhlak yang baik akan mengarahkan  orang lain untuk mencintai dirinya”.[8]

Tidak akan sempurna iman seseorang sehingga dia diberikan taufiq untuk berakhlak yang baik.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا». رواه الترمذي في سننه، رقم الحديث: 1195،

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang baik akhlaknya dan orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik prilakunya kepad istrinya“.[9]

Sebagian ualam salaf berkata: Sasaran akhlak yang baik ada dua :
Pertama : Salah satunya adalah akhlak terhadap Allah yaitu menyadari bahwa apa yang muncul dari dirimu membutuhkan  permintaan maaf dan  apa-apa yang datang dari Allah menuntut syukur”.

Kedua : Berakhlak baik dengan manusia dan kelompok, terwujud dalam dua realitas: Berbuat baik kepada orang lain baik dengan perkataan dan perbatan dan menahan diri dari  berbuat yang buruk baik secara perbatan dan perkataan”.[10]

Maka sungguh tepat jika orang yang komitment dengan perkara ini akan sampai kepada tingkat Al-Amilin (orang yang mampu mewujudkan) .

عن عائشة -رضي الله عنها- مرفوعاً: إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya seorang mu’min dengan kebaikan akhlaknya pasti meraih tingkatan orang yang selalu berpuasa dan melaksanakan ibadah malam“.[11]

Dan  sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling agung akhlakanya, maka barangsiapa yang ingin meraih akhlak  yang tinggi maka hendaklah dia mengikti akhlak Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلاَ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ تَرَكْتَهُ (ترمذي: ۲۰۱۵۵)

Dari Anas Radhiyallahu anhu berkata: Aku telah berkhidmah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, maka belia tidak pernah mengatakan kata “cih” kepadaku, beliau tidak pernah mengatakan “mengapa kamu melakukan ini” terhadap apa yang aku telah perbuat, dan mengecam dengan mengatakan: “Kenapa engkau meninggalkan ini”, terhadap apa yang aku tinggalkan.[12]

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّوْرَاةِ قَالَ أَجَلْ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ

Dari Atho’ bin Yasar berkata : Aku telah bertemu dengan Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu anhu dan aku berkata kepadanya : Sebutkan tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab Taurat: “Baik , sesungguhnya beliau disifati di dalam Taurat dengan sebagian sifat yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ

“Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan”,[13].

وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي سَمَّيْتُكَ المتَوَكِّلَ لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَآذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفًا

Yaitu bagi kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, engkau adalah hamba dan utusanKu, aku menamkan kamu dengan al-Mutawakkil (orang yang berserah diri) tidak keras dan kasar dan tidak pula membuat keributan di dalam pasar-pasar, tidak membiarkan membalas yang buruk dengan yang buruk, namun dia memberi maaf dan ampunan, dan Allah tidak akan mencabut nyawanya sehingga meluruskan agama yang bengkok sehingga mereka bersaksi: Tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah, dan Allah membuka dengannya mata-mata yang buta dan teling-telinga yang tuli dan hati-hati yang tertutup“.[14]

Abdullah bin Mubarok rahimahullah berkata : Akhlak yang baik adalah berwajah yang cerah berseri-seri, berbuat baik kepada orang lain, menahan berbuat buruk terhadap orang lain dan bersabar terhadap keburukan orang”.[15]

Seorang muslim pasti pernah mengalami berbagai peristiwa di dalam hidupnya, maka jika dia tidak berkhlak yang baik niscaya dia akan gagal di dalam menghadapi kehidupan ini.

Termasuk qaidah di dalam masalah ini adalah agar engkau tidak tergesa-gesa mencela orang lain yang berbuat buruk kepadamu, atau meremehkanmu, dan hendaklah engkau mempergaulinya dengan sikap berbaik sangka terhadapnya dan mencari peluang untuk bisa memaafkannya, sebaliknya agar engkau tidak berkata sebuah perkataan dan berbuat suatu perbuatan yang menyebabkan engkau harus menyesali dan meminta maaf atasnya di kemudian hari, di dalam sebuah riwayat dari Anas ra berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhkanlah dirimu dari perkara yang memalukanmu”.[16]

Di antara contoh perwujudan akhlak yang baik sehingga menimbulkan kesan yang positif adalah diriwayatkan bahwa seorang lelaki menemui Ali bin Al-Husain lalu mencelanya, maka Al-Ubaid marah kepadanya, maka Ali berkata: Tahanlah dirimu. Lalu dia mendekati lelaki tersebut dan berkata kepadanya: “Keburukan kami yang terluput dari pengetahuanmu lebih banyak lagi, apakah engkau memiliki keperluan yang bisa kami bantu?”. Maka lelaki itupun malu karenanya. Lalu Ali memberikan sebuah selendang kahmisah yang dipakainya dan memerintahkan untuk memberikan seribu dinar kepadanya, lalu lelaki tersebut berkata: Aku bersaksi bahwa engkau termasuk anak cucu Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[17]

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh para shahabatnya.

[Disalin dari حسن الخلق Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Muzaffar Sahidu. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1] QS. Al-Qolam/68: 4
[2] HR. Turmudzi: 4/362 no: 2002
[3] QS. Al-Isro/17′: 53
[4] QS. Al-Baqoroh/2: 83
[5] QS. Fushilat/41: 34
[6] Tafsir Ibnu Katsir: 4/101
[7] Sunan Tirmidzi: no: 1987 dan dia berkata: Hadits hasan shahih
[8] Al-Fawaid: 84-85
[9] HR. Turmudzi no: 1162 dia berkata: Hadits hasan shahih.
[10]  Tahzibus Sunan, Ibnul Qoyyim, syarah sunan Abu Dawud: 13/130
[11] Sunan Abu Dawud: 4798, dishahihkan oleh Al-Albani
[12] Sunan Tirmidzi: no: 2015
[13] QS. Al-Ahzab/33: 45
[14] HR. Bukahri: 2125
[15] Jami’ul ulum wal –Hikam.
[16] Al-Dhiaya fil Mukhtaroh: 2199 dihasankan oleh Al-Albani
[17] Mukhtashar minhjul qoshidin.

Sifat Wara’

SIFAT WARA’

كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

“Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah”

Sesungguhnya orang yang mengenal Rabb-nya dan menempatkan-Nya sebagaimana mestinya, mengagungkan larangan dan syi’ar-syi’ar-Nya, akan melakukan pengagungan sampai kepada sikap hati-hati dari setiap perkara yang bisa menyebabkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia maupun di akhirat.

Maka wara’ di sisi-Nya termasuk jenis takut yang membuat seseorang meninggalkan banyak hal yang dibolehkan, jika hal itu menjadi samar atasnya bersama yang halal agar tidak merugikan agamanya.

Di antara tanda yang mendasar bagi orang-orang yang wara’ adalah kehati-hatian mereka yang luar biasa dari sesuatu yang haram dan tidak adanya keberanian mereka untuk maju kepada sesuatu yang bisa membawa kepada yang haram. Dan dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ.

Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.”[1]

Dan barangsiapa yang bertindak berani di tempat-tempat yang diragukan, niscaya bertambahlah keberaniannya terhadap sesuatu yang lebih berat: “Dan sesungguhnya orang yang bercampur keraguan, hampir-hampir ia berani (kepada yang diharamkan).”[2]

Maka wara’ yang sebenarnya adalah seperti yang digambarkan oleh Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah: yaitu keluar dari semua yang syubhat dan muhasabah (introfeksi) terhadap diri sendiri di setiap kedipan mata.[3]

Perjalanan kejatuhan berawal dengan satu kali terpeleset, dan semangat terhadap akhiratnya menjadikan di antaranya dan terpelesetlah tameng yang menutupi dan menjaganya. Syaikh al-Qubbari rahimahullah mengisyaratkan kepada pengertian ini dengan katanya: ‘Yang makruh adalah dinding penghalang di antara hamba dan sesuatu yang haram. Maka barangsiapa yang banyak melakukan yang makruh berarti ia menuju kepada yang haram. Dan yang mubah merupakan dinding pemisah di antaranya dan yang dimakruhkan. Maka barangsiapa yang memperbanyak yang mubah niscaya ia menuju kepada yang makruh.’[4] Ibnu Hajar rahimahullah memandang baik perkataannya ini dan ia menambahkan: ‘Sesungguhnya yang halal, sekiranya dikhawatirkan bahwa melakukannya secara mutlak bisa menyeret kepada yang makruh atau haram, semestinya meninggalkannya, seperti memperbanyak yang halal. Sesungguhnya hal itu membutuhkan banyak kerja yang dapat menjatuhkan diri seseorang dalam mengambil yang bukan haknya atau membawa kepada penolakan jiwa. Dan sekurang-kurangnya adalah tersibukkan dari ibadah (maksudnya, tidak ada waktu untuk beribadah, pent.). Hal ini sudah diketahui berdasarkan pengalaman dan disaksikan dengan pandangan mata.[5]

Ciri mendasar pada seseorang yang bersifat wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat, seperti yang dikatakan oleh al-Khaththabi rahimahullah: ‘Semua yang engkau merasa ragu padanya, maka sifat wara’ adalah menjauhinya.’[6] Imam al-Bukhari rahimahullah mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan rahimahullah: ‘Tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari pada sifat wara’: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.”[7] Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

البِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاْلإِثْمُ مَالَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ –وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُوْنَ

Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.”[8] Dan yang memperkuat hal itu adalah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir rahimahullah secara mursal:

مَا أَنْكَرَهُ قَلْبُكَ فَدَعْهُ

“Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah.”[9]

Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap prefentif untuk diri mereka sendiri dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram. Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَيَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَالاَبَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”[10]

Hal ini diperkuat oleh hadits yang lain:

اجْعَلُوْا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْحَرَامِ سِتْرًا مِنَ الْحَلاَلِ…

Jadikanlah dinding (tirai) yang halal di antara kamu dan yang haram …”[11]

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menceritakan pengalamannya bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Syaikhul Islam berkata kepadaku pada suatu hari tentang sesuatu yang mubah (boleh): ‘Ini menghalangi kedudukan yang tinggi, sekalipun meninggalkannya bukanlah syarat dalam keselamatan.”[12]

Sebagaimana wara’ meliputi gambaran-gambaran usaha dan hubungan mu’amalah, maka sesungguhnya ia juga mencakup lisan. Sesungguhnya engkau menemukan kebanyakan orang bersegera memberi fatwa, sedangkan mereka tidak mengetahui. Karena itulah, ad-Darimi rahimahullah membuat satu bab yang berbunyi: Menahan diri (bersikap wara’) dari menjawab sesuatu yang tidak ada dalam al-Qur`an dan sunnah.’ Ishaq bin Khalaf rahimahullah memandang sikap wara` dalam ucapan lebih utama daripada sikap wara` dalam hubungan yang berkaitan dengan harta, di mana dia berkata: ‘Wara’ dalam tuturan kata lebih utama daripada emas dan perak…[13]

Di antara renungan Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menyatakan bahwa sesungguhnya: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan semua sifat wara’ dalam satu kata, maka beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَيَعْنِيْهِ

Termasuk tanda baik keislaman seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.”[14]

Dan di antara hasil yang nampak bagi sikap wara’ bahwa ia memelihara pelakunya dari terjerumus (dalam hal yang dilarang), karena itulah engkau menemukan: Barangsiapa yang melakukan yang dilarang, ia menjadi gelap hati karena tidak ada cahaya wara’, maka ia terjerumus dalam hal yang haram, kendati ia tidak memilih untuk terjerumus padanya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah.[15] Dan dalam hadits ifki (berita bohong), ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata tentang Zainab radhiyallahu ‘anha, di mana ia menjaga pendengaran dan penglihatannya dari terjerumus dalam perkara yang ia tidak mengetahui: ‘Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya dengan sifat wara’[16]

Sebagaimana orang yang wara’ memelihara agama dan kehormatannya dari celaan:

فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

“…Maka barangsiapa yang menahan diri dari yang syubhat, niscaya ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, …”[17]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ‘Dalam hadits ini menjadi dalil bahwa barangsiapa yang tidak menjaga diri dari yang syubhat dalam usaha dan kehidupannya, berarti ia telah menawarkan dirinya untuk mendapat celaan. Dan dalam hal ini menjadi isyarat untuk memelihara perkara-perkara agama dan menjaga sikap muru`ah.’[18]

Maka apabila wara’ merupakan kedudukan ibadah yang tertinggi:

كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi manusia paling beribadah.”[19]

Dan jika agama yang paling utama adalah sikap wara’:

خَيْرُ دِيْنِكُمْ الوَرَعُ

Sebaik-baik agamamu adalah sikap wara’[20]

Apakah juru dakwah yang beriman tidak mau menaiki puncak tersebut dan menjaga dirinya dari terjatuh dan terjerumus. Dia harus menjaga diri dan berhati-hati agar amal ibadahnya tidak gugur sedangkan dia tidak mengetahui.

Maka sesungguhnya banyak para sahabat yang takut dari sifat nifaq terhadap diri mereka, dan Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan alasan tersebut dengan penjelasanannya: Rasa takut mereka dari sifat nifaq tidak  berarti adanya sifat itu pada diri mereka, bahkan hal itu merupakan sikap wara’ dan taqwa yang luar biasa dari mereka radhiyallahu ‘anhum jami’an.

Seperti inilah sifat mereka, maka hendaklah kita melakukan intropeksi terhadap diri kita dan menimbang amal perbuatan kita sendiri.

Kesimpulan:

  1. Wara’ adalah sikap takut yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang boleh, sebagai sikap kehati-hatian.
  2. Di antara tanda-tanda sifat wara’ adalah:
    • Sangat berhati-hati dari yang haram dan syubhat.
    • Membuat pembatas di antaranya dan yang dilarang.
    • Menjauhi semua yang diragukan.
    • Tidak berlebihan dalam persoalan yang boleh.
    • Tidak memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu.
    • Meninggalkan perkara yang tidak berguna.
  3. Di antara buah wara’ adalah:
    • Menjaga diri dari istidraj.
    • Menjaga agama dan kehormatan.
  4. Di antara sikap wara’ para sahabat bahwa mereka sangat khawatir terhadap diri mereka dari sifat nifaq.

[Disalin dari صفة الورع Penulis  Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah : Team Indonesia. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]
______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari, kitab al-Iman, no. 52, dan Muslim, kitab al-Musaqah, no. 1599 dan 107.
[2] Sunan Abu Daud, kitab buyu’ (jual beli), bab ke-3 no. 3329
[3] Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 290.
[4] Fath al-Bari 1/127, saat menjelaskan hadits no. 52. dari kitab al-Iman, bab ke-39.
[5] Fath al-Bari 1/127
[6] Fath al-Bari 4/293, dari syarah bab ke-3, dari kitab Buyu’
[7] Shahih al-Bukhari, dari judul bab ke-3, dari kitab al-Iman
[8] Shahih al-Jami’ no. 2881 (Shahih).
[9] Shahih al-Jami’ no. 5564 (Shahih)
[10] HR. at-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan.
[11] Shahih al-Jami’ no. 152 (Shahih).
[12] Tahdzib Madarijus salikin hal. 292.
[13] Tahdzib Madarijus salikin hal. 290.
[14] HR. at-Tirmidzi no. 2318 (Hasan).
[15] Fath al-Bari 1/127-128, saat menerangkan bab ke-39 dari kitab al-Iman.
[16] Shahih al-Bukhari, kitab Maghazi, bab ke-34, hadits no. 4141.
[17] Shahih al-Bukhari, kitab al-Iman, bab ke-39, hadits no. 52.
[18] Fath al-Bari 1/127.
[19] Shahih al-Jami’ no. 4580 (Shahih).
[20] Shahih al-Jami’ no. 3308.

Memelihara Lisan

MEMELIHARA  LISAN

Terjadinya kekacauan, pecahnya golongan dan waktu terbuang sia-sia. Dan ketika menyelidiki sumber utamanya, engkau menemukan kejahatan pertama berawal dari kata-kata kotor, atau tuduhan kemarahan, atau informasi yang keliru… ini adalah sebagian dari hasil penggunaan lisan yang salah, saat masih berada di dunia.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan: Memelihara lisan adalah menahan diri dari ucapan yang tidak diperbolehkan secara syara’, yang tidak dibutuhkan oleh pembicara.[1] Dan an-Nawawi menjelaskan cara memelihara lisan, ia berkata: ‘Sepantasnya bagi orang yang ingin berbicara satu kata atau satu kalimat, agar dia lebih dulu merenungkannya dalam dirinya sebelum menuturkannya, jika jelas manfaatnya, ia berbicara, dan jika tidak, ia menahan diri dari berbicara.’[2] Dan catatan mendasar untuk memelihara lisan adalah : tidak terburu-buru dalam berbicara, berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata, menimbang kata-kata dalam timbangan syara’, dan mengharapkan manfaat dalam Islam. Dan jika tidak demikian, hendaklah orang yang berbicara menahan keinginannya dan tidak berbicara. Maka sesungguhnya hal itu merupakan keselamatan, dan ia lebih baik baginya. Dan karena itulah terdapat dalam hadits:

فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنَ الْخَيْرِ

‘Maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.’[3]

Yang memberi pengertian bahwa sesungguhnya pada dasarnya adalah diam dan menahan diri dari berbicara.

Dan tatkala Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?’ Beliau menjawab:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ, وَلَيَسَعْكَ بَيْتُكَ, وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu meluaskanmu, dan tangisilah kesalahanmu.”[4]

Dan di dalam al-Bukhari:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.”[5]

Hal itu disebabkan sebagian besar omongan seseorang, terkadang pada yagn sia-sia atau yang haram. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:

كُلُّ كَلاَمِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لاَ لَهُ, إِلاَّ أَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ أَوْ نَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ ذِكْرُ الله

Setiap pembicaraan manusia membahayakannya, tidak bermanfaat baginya, kecuali yang menyuruh perbuatan ma’ruf atau menahan dari yang mungkar, atau zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[6]

Mu`adz bin Jabal Radhiyallahu anhu menceritakan tentang perjalanannya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bertanya kepada beliau, ‘Ya Nabiyullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pintu-pintu kebaikan. Setelah itu beliau bersabda: “Maukah engkau aku beritahukan kendali semua itu?’ Maka aku berkata,’Tentu, wahai Rasulullah.’ Lalu beliau memegang lisannya seraya berkata, ‘Tahanlah ini.’ Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, Apakah kami dihukum karena ucapan kami?’ Beliau berkata, ‘Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz. Dan tidaklah menjerumuskan manusia di dalam neraka selain hasil panen lisan mereka.’[7] Dan at-Thabrani menambah dalam riwayatnya: ‘Kemudian, sesungguhnya engkau tetap selamat selama engkau diam. Maka apabila engkau berbicara, niscaya ditulis atasmu atau untukmu.”[8]

Dan di antara yang menuntut lebih berhati-hati dari dampat ucapan lisan, sesungguhnya seseorang terkadang keliru dalam berbicara karena kelalaian darinya, maka menjerumuskan dalam neraka:

…وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِيْ بِهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ.

“…Dan sesungguhnya hamba berbicara dengan ucapan yang menyebabkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak diperdulikannya, yang menjerumuskannya ke dalam neraka.”[9]

Ibnu Hajar berkata: ‘Yang tidak diperdulikannya‘ maksudnya: ia tidak memikirkan bahaya dan akibatnya, dan ia tidak menyangka bahwa kata-kata itu memberikan dampak negatif. Maka sebelum kata-kata keluar dari mulutmu, berikanlah dirimu untuk berpikir, apakah yang akan engkau katakan menyebabkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala atau murkanya? Apakah ia termasuk kata-kata yang baik atau kotor? Apakah kesudahannya baik atau buruk? Dan selama belum keluar dari mulutmu, maka engkau memilikinya. Maka apabila telah keluar, niscaya menjadi tawanannya.

Sebagaimana ucapan yang baik memasukkan pelakunya di dalam iman, maka banyak sekali ucapan yang memberikan dampak terhadap keimanan pelakunya, ia menjadi munafik atau keluar dari agama. Di dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu: ‘Sesungguhnya seorang laki-laki berbicara dengan satu kata di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia menjadi munafik karena ucapan itu. Dan sesungguhnya aku mendengarnya dari seseorang dari kamu sepuluh kali di dalam majelis.’[10] Dan di dalam hadits shahih: seseorang berkata kepada Ibnu Umar Radhiyallahu anhu: ‘Sesungguhnya kami berkunjung kepada para pemimpin, lalu kami mengucapkan kata-kata. Apabila kami keluar, kami mengatakan yang lain.’ Ibnu Umar Radhiyallahu anhu menjawab: ‘Di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami menganggap hal itu termasuk sifat munafik.’[11]

Melatih diri adalah dengan membiasakan lisan untuk mengucapkan yang baik dan menjaganya dari yang buruk. Diriwayatkan bahwa Isa bin Maryam Alaihissallam bertemu babi di tengah jalan. Maka ia berkata kepadanya: ‘Lewatlah dengan selamat’ Maka beliau ditanya: ‘Engkau mengatakan hal ini kepada babi?’ Isa Alaihissallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku khawatir membiasakan diriku mengucapkan yang buruk.’[12] Maka ucapan yang baik adalah dengan latihan dan kebiasaan, dan ucapan yang buruk juga seperti itu. Dan bagi setiap orang bersama lisannya menurut kebiasaannya. Maka dengan sedikit kesungguhan terjagalah lisan, dan dalam kelalaian sejenak menjadi terumus.

Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhati-hati dari ucapan yang mubah (dibolehkan) karena khawatir terjerumus dalam ucapan yang haram, karena bersungguh-sungguh dalam memelihara lisan dan menjaga agama. Maka barangsiapa yang ingin keselamatan, hendaklah ia menjauhi majelis-majelis ghibah (mengupat) dan menjaga lisannya dari tergelincir, tidak mengatakan kecuali yang baik. Dan hendaklah ia dan teman-temannya saling memberi nasehat menjaga lisan, dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabatnya berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan lisan.

قُلْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ وَشَرِّ بَصَرِي وَشَرِّ لِسَانِي وَشَرِّ قَلْبِي وَشَرِّ مَنِيِّي.

Bacalah: aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, kejahatan lisanku, kejahatan hatiku, kejahatan air maniku.”[13]

Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan lisannya terhadap kaum muslimin dan manis ucapannya bersama selain mereka.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: ‘Islam apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Orang yang selamat kaum muslimin dari (kejahatan) lisan dan tangannya.”[14]

Di antara memelihara lisan adalah menjaganya dari pembicaraan yang tidak berguna dan tidak penting, maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan kepada setiap muslim agar mengambil keuntungan dalam segala hal yang penting:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak berguna.”[15]

Ibnu Majah menyebutkan hadits dalam bab menahan lisan dalam fitnah (suasana kacau), karena begitu termasuk keburukan lisan adalah penggunaannya yang tidak terkendali dalam penyebaran berita dan menyalakan api fitnah. Dan dalam riwayat lain yang diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya:

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةُ الْكَلاَمِ فِيْمَا لاَ يَعْنِيْهِ

Sesungguhnya di antara kebaikan islam seseorang adalah sedikit pembicaraan dalam perkara yang tidak berguna.”[16]

Penggunaan lisan yang terbaik adalah amar ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari perbuatan mungkar), dan berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu merupakan kedudukan yang tertinggi. Dan yang paling rendah adalah menahan lisan, selalu diam, menahan diri dari kehormatan orang lain, dan menjaga dari segala keburukan.

[Disalin dari حفظ اللسان   Penulis  Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah : Mohammad Iqbal Ghazali. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1] Fath al-Bari 11/308
[2] Syarh Shahih Muslim 18/328
[3]  Musnad Ahmad 4/299.
[4]  HR. at-Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan disetujui oleh al-Arna`uth (Jami’ al-Ushul 11/698)
[5] Shahih al-Bukhari no. 6475
[6] HR. at-Tirmidzi no.2414 dan dinyatakan hasan oleh al-Arna`uth.
[7] Musnad Ahmad 5/231, dan disyahihkan oleh al-Arna`uth karena banyaknya jalurnya (jami’ al-ushul 9/535).
[8]  Fath al-Bari 11/309
[9]  HR. al-Bukhari no.6478
[10]  Musnad Ahmad 5/386, dari ucapan Hudzaifah t.
[11]  Shahih Sunan Ibnu Majah 2/359.
[12]  Muwaththa` Imam Malik 2/985.
[13]  Shahih Sunan an-Nasa`i 3/1108.
[14]  Shahih al-Bukhari no. 11.
[15] Shahih Sunan Abi Daud 2/360, hadits no 3211/3976 dari kitab Fitan bab 12
[16]  Musnad Ahmad 1/201

Agar Amal Kita Diterima

AGAR AMAL KITA DITERIMA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Didalam kitab -Nya yang mulia Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman kepada kita semua selaku umat pembawa risalah terakhir:

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ ٥٧ وَٱلَّذِينَ هُم بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ٥٨ وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمۡ لَا يُشۡرِكُونَ ٥٩ وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ٦٠ أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ ٦١

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.  [al-Mu’minuun/23: 57-61].

Imam Tirmidzi membawakan sebuah hadits tentang tafsir ayat ini didalam sunannya yang diriwayatkan sampai pada Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: “Diriku pernah bertanya kepada Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud firman Allah ta’ala:

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”.  [al-Mu’minuun/23: 60].

Aisyah bertanya: ‘Apakah mereka orang-orang yang dahulunya minum khamr dan mencuri? Maka beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات » [أخرجه الترمذي]

Bukan, wahai puterinya ash-Shidiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah, lalu dibarengi rasa takut sekiranya amalannya tidak diterima, mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berlomba-lomba dengan kebaikkan“. HR at-Tirmidzi no: 3175. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih at-Tirmidzi 3/79 no: 2537.

Sungguh para sahabat Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam, dengan ketamakan mereka dalam mengerjakan amal shaleh, selalu saja rasa takut menghampiri mereka kalau sekiranya amalan yang mereka lakukan gugur sia-sia, mereka takut amalannya tidak diterima. Hal itu, tentu timbul karena kedalaman ilmu yang mereka miliki serta keimanan yang begitu kuat. Sampai kiranya Abdullah bin Mulaikah mengatakan: “Aku telah menjumpai tiga puluh orang sahabat Nabi lebih dan mereka semua takut sifat nifak dalam dirinya, dimana tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengatakan: ‘Sesungguhnya keimananan saya seperti keimanannya Jibril dan Mikail’.[1]

Abu Darda pernah mengatakan: “Kalau seandainya aku bisa yakin seratus persen bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala menerima satu sholat saja yang aku kerjakan, maka itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya, karena Allah ta’ala telah berfirman:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [al-Maa’idah/5: 27].[2]

Sahabat Ali bin Thalib pernah mengatakan: “Hendaknya kalian menjadi orang yang lebih memperhatikan apakah amalnya diterima dari hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian mendengar firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [al-Maa’idah/5: 27].

Maksud takwa dalam ayat diatas, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Athiyah adalah: “Takut perbuatan syirik berdasarkan kesepakatan ahlu sunah wal jama’ah. Maka barangsiapa yang takut terhadap perbuatan syirik dia adalah seorang muwahid (yang bertauhid), sehingga amalan sedekah yang ia lakukan niatnya bisa diterima. Oleh karenanya, keadaan orang yang takut terhadap perbuatan syirik dan maksiat maka mereka mempunyai kesempatan terbesar untuk diterima amalannya serta mendapat stempel rahmat dari Allah Shubhanahu wa ta’ala, hal tersebut bisa diketahui dari berita-berita yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala kabarkan dalam firman -Nya”. [3]

Allah Shubhanahu wa ta’ala pernah berfirman dalam kitab suci -Nya:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.   [al-Mulk/67: 2]

Fudhail bin Iyadh menjelaskan: “Makna firman Allah: “Yang lebih baik amalnya“. Maksudnya amalan yang paling ikhlas dan benar. Ikhlas kalau sekiranya untuk Allah Shubhanahu wa ta’ala semata dan benar jikalau sesuai diatas sunah”. [4]

Syarat Diterimanya Amal
Para ulama mengatakan; ‘Bahwa amal shaleh tidak mungkin diterima oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala melainkan bila terpenuhi padanya dua syarat:

Pertama: Hendaknya amal shaleh tersebut sesuai dengan syari’at yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala tentukan didalam kitab -Nya, atau sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasul -Nya. Disebutkan dalam haditsnya Aisyah radhiyallahu ‘anha oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada dalam dalam urusan (agama) kami maka ia tertolak“. HR Bukhari no: 2697. Muslim no: 1718.

Artinya amalan tanpa pijakan agama tersebut tertolak, tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.

Dalam hadits lain diterangkan kita diperintah supaya memegangi sunah Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dalam haditsnya Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين فتمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ » [أخرجه أبو داود و الترمذي]

Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunahku dan sunahnya para Khulafaur Rasidhin yang mendapat petunjuk, pegangilah sunah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian“.  HR Abu Dawud no: 4607. at-Tirmidzi no: 2676. Beliau berkata hadits hasan shahih.

Kedua: Hendaknya amal shaleh tersebut dikerjakan secara ikhlas karena mengharap wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla. Berdasarkan haditsnya Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dimana Nabi  Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Hanyalah segala amal itu sesuai dengan niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk mencari dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan“. HR Bukhari no: 1. Muslim no: 1907.

Dan yang mendukung serta membenarkan ucapan tadi adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam kitab -Nya:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [al-Kahfi/18: 110].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Menurut ahlu sunah wal jama’ah amalan akan diterima dari orang yang bertakwa kepada Allah Shubhanahu  wa ta’alla, dikerjakan ikhlas karena Allah Shubhanahu  wa ta’alla dan sesuai dengan perintah -Nya. Oleh karena itu, barangsiapa bertakwa kepada -Nya ketika beramal maka kemungkinan diterima lebih banyak, walaupun dirinya melakukan perbuatan maksiat pada tempat lain, dan siapa yang tidak menetapi ketakwaan tatkala beramal maka peluang tidak diterimanya lebih besar, walaupun disatu sisi dia mentaati Allah Shubhanahu  wa ta’alla “. [5]

Dan Allah ta’ala telah menegaskan kalau kebaikkan akan menghapus kejelekkan, seperti yang tertera dalam firman -Nya:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”.  [Huud/11: 114].

 Kalau sekiranya kebajikan tidak diterima dari para pelaku kejelekan maka peluang untuk menghapusnya sangat sedikit sekali.

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun
Dan tidak sepantasnya bagi seorang mukmin untuk meremehkan amal shaleh biarpun nilainya sedikit, dimana Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti supaya kita jangan sampai berbuat semacam itu. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ » [أخرجه مسلم]

Janganlah kalian sekali-kali meremehkan kebajikan sedikitpun, walau hanya sekedar bertemu dengan saudaranya dengan wajah berseri“.  HR Muslim no: 2626.

Dalam Kisah Mereka Ada Teladan
Karena bisa jadi amal yang ringan ini diterima oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, lalu sebagai penyebab dirinya masuk ke dalam surga. Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan sebuah kisah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Pernah ada seekor anjing yang sedang mengelilingi sebuah sumur, hampir-hampir dirinya mati karena kehausan. Pada waktu itu ada wanita pelacur dikalangan Bani Israil melihatnya, maka dia turun mengambil air dengan sepatunya, kemudian diberikan pada anjing tersebut, (dengan) sebab itu dirinya diampuni“.  HR Bukhari no: 3467. Muslim no: 2245.

Dalam shahih Muslim dibawakan sebuah kisah yang patut kita camkan baik-baik, dimana Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dalam sebuah sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى الْجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِى النَّاسَ » [أخرجه مسلم]

“Sungguh aku pernah menyaksikan ada seseorang yang  keadaannya tak menentu disurga gara-gara satu batang pohon yang dulu dia tebang lalu (ia biarkan) menganggu orang lain“.  HR Muslim no: 1914.

Al-Hafidh Ibnu Hajar memberi petuahnya: “Seharusnya bagi seseorang untuk tidak meremehkan perkara kebajikkan yang mendatanginya walaupun sedikit, tidak pula untuk menjauhi perbuatan jelek biarpun ringan. Karena dirinya tidak mengetahui kebaikkan yang mana akan mendapat rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla, demikian juga dirinya tidak tahu amal kejelekkan mana yang mendatangkan murka -Nya”. [6]

Bisa jadi sebuah amalan tidak diterima, biarpun dimata pelakunya sangat besar nilainya, bisa karena faktor ujub, atau pamer, bangga atas dirinya, atau menyebut-nyebut amalan ditersebut dimata umum, sehingga faktor-faktor itu menjadi sebab amalannya tertolak. Seperti salah satu contoh yang Allah Shubhanahu wa ta’alla telah sebutkan dalam firman -Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”.  [al-Baqarah/2: 264].

Tembok Penghalang
Dan penghalang terbesar tidak diterimanya amal ialah perbuatan syirik. Berdasarkan firman Allah azza wa jalla:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٞ فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡ أَحَدِهِم مِّلۡءُ ٱلۡأَرۡضِ ذَهَبٗا وَلَوِ ٱفۡتَدَىٰ بِهِۦٓۗ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu”.  [al-Imran/3: 91].

Sehingga siapapun orangnya yang menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan dengan cara agama Islam maka tidak akan mungkin amalannya bisa diterima walaupun jumlah banyak. Seperti yang Allah ta’ala tegaskan dalam firman -Nya:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. [al-Imran/3: 85].

Sebab Diterimanya Amal
Diantara sebab diterimanya amal adalah do’a. Allah ta’ala mengkisahkan tentang Nabi -Nya Ibrahim dalam firman -Nya:

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. [al-Baqarah/2: 127].

Salah satu faktor diterimanya amal adalah beristighfar, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنۡ حَيۡثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [al-Baqarah/2: 199].

Adalah kebiasan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salalm yang dilakukan setelah usai dari sholat adalah mengucapkan: ‘Astaghfirullah‘ (Aku memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sebanyak tiga kali lalu membaca:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ » [أخرجه مسلم]

Ya Allah, Engkaulah as-Salamm, dari –Mu lah keselamatan itu. Sungguh Maha Suci Engkau, wahai pemilik Keagungan dan Kemuliaan“. HR Muslim no: 591.

Tanda Diterimanya Amal Shaleh
Diantara salah satu tanda diterimanya amal shaleh ialah giat untuk terus melanjutkan dari satu amal kebajikan pada amal kebajikan yang lainnya. Berkata sebagian salaf: “Kebaikan menyeru saudaraku, saudaraku. Begitu pula maksiat juga menyeru saudaraku, saudaraku”.

Dan yang membenarkan hal tersebut ialah sabda Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Wajib atas kalian untuk jujur, sesungguhnya kejujuran mengantarkan pada kebajikan dan kebajikan mengantarkan pada surga“.  HR Bukhari no: 6094. Muslim no: 2607.

Salah satu tanda yang lain ialah pelakunya merasa, kalau masih banyak sekali kekurangan dalam beramal dibanding dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala padanya, serta taufik     -Nya, yang sekiranya kalau  Allah  Shubhanahu wa ta’ala tidak menghendaki tentu tidak akan tercapai. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.  [al-Hujuraat/49: 17].

Diantara tanda diterima amalnya ialah seorang hamba merasakan kelezatan dalam beribadah, senang dan menyukainya. Sebagaimana yang terjadi pada diri Rasul, bila ingin tenang beliau menyeru:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ » [أخرجه أبو داود]

Wahai Bilal, berdirilah jadikan kami tenang dengan sholat“. HR Abu Dawud no: 4986. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 3/941 no: 4171.

Dan Allah ta’ala telah menyebutkan akan hal itu dalam firman -Nya:

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِين

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.  [al-Baqarah/2: 45].

Sebagian ulama mengatakan: “Ringannya untuk mengerjakan ketaatan merupakan dampak dari kecintaan orang yang taat serta bentuk pengagungannya. Sesungguhnya penyejuk pandangan mata orang yang mencintai sebagai bentuk ketaatan pada Dzat yang dicintainya. Didalam hadits disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ » [أخرجه النسائي]

Dan dijadikan sholat sebagai penyejuk pandanganku“. HR an-Nasa’i no: 3939. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i 3/827 no: 3680.

 Karena didalam sholat ada ketenangan jiwa, merasa lebih dekat kepada Penciptanya serta kelezatan untuk bermunajat.

Inilah akhir dari kajian kita kali ini, kita panjatkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari شروط قبول العمل Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya secara mu’alaq (tanpa sanad).
[2] Tafsir Ibnu Katsir 5/166. Dan sanadnya hasan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
[3] Tafsir al-Qurthubi 7/411.
[4] Madaarijus Saalikin oleh Ibnu Qoyim 2/69.
[5] Majmu’ Fatawa 10/322.
[6] Fathul Bari 11/321.

Amanah

AMANAH

 Segala puji hanya bagi Allah  subhanahu wa ta’ala , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Sesungguhnya di antara akhlak mulia yang menjadi sifat yang melekat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kepada para Nabi dan hamba-hamba -Nya yang beriman adalah sifat amanah. Allah subhanahu wa ta’ala  telah mensifati Musa Alaihis salam dengannya di dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ [القصص: 26 ]

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya“. [Al-Qoshsas/28: 26]

Allah subhanahu wa ta’ala  juga mensifati Nabi Yusuf alaihis salam dengannya, seperti yang disebutkan di dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُوْنِيْ بِهٖٓ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِيْۚ فَلَمَّا كَلَّمَهٗ قَالَ اِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ [يوسف: 54 ]

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami“.  [Yusuf/12: 54]

Begitu juga dengan para rasul selain mereka berdua semoga Allah subhanahu wa ta’ala  mencurahkan kesejahteraan kepada mereka semua, karena setiap mereka diperintahkan menegakkan hujjah atas kaum mereka tentang kewajiban mentaati mereka, sebab Allah subhanahu wa ta’ala  telah mempercayakan mereka membawa risalah -Nya sebagaimana firman Allah:

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ ١٧٨ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;”. [Al-Syu’ara/26: 178-179]

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  di tengah-tengah kaumnya sebelum diperintah menyebarkan risalah dikenal sebagai orang yang jujur, maka banyak dari anggota masyarakat yang memilih beliau sebagai tempat menyimpan barang, lalu pada saat berhijrah beliau memberikan kuasa kepada Ali untuk mengembalikan barang-barang titipan tersebut kepada pemiliknya. Begitu juga Jibril, sebagai malaikat yang dipercayakan untuk membawa wahyu telah disifati dengan sifat Al-Amin (yang jujur). Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), (Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan [Al-Syu’ara/26: 192-194].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu berkata : Aku diberitahukan oleh Abu Sufyan bahwa Heraqlius berkata kepadanya: Aku bertanya kepada kalian apakah yang diperintahkannya kepada kalian?. Maka kalian memberitahukan bahwa dia memerintahkan untuk mengerjakan shalat, berlaku jujur, menjaga diri, setia dengan janji dan menunaikan amanah. Maka Heraqlius menjawab: Ini adalah sifat seorang Nabi”.[1]

Dia adalah di antara salah satu sifat orang-orang beriman yang beruntung, sebagaimana disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ  ١الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ٢  وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ ٣ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ ٤وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ٥  žاِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٦ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ٧   وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ ٨  وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ ٩ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ ١٠ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١١ [المؤمنون: 11 ]

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [Al-Mu’minun/23: 1-11]

Dengan amanah inilah: agama, kehormatan, harta, ruh, pengetahuan, kepemimpinan, wasiat, kesaksian, pengadilan dan tulisan akan terjaga. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

قال الله تعالى: اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ [الأحزاب: 72 ]

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. [Al-Ahzab/33: 72]

Sebagian ahli tafsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala  menawarkan kewajiban yang dibebankannya kepada langit, bumi dan gunung-gunung bahwa jika mereka berbuat baik maka mereka akan diberikan pahala dan balasan kebaikan, namun jika mereka menyia-nyiakan amanah maka mereka akan disiksa, maka merekapun enggan menerimanya karena takut terhadap diri mereka sendiri jika mereka tidak bisa menunaikan amanah tersebut, lalu amanah tersebut diambil oleh Ibnu Adam, sesungguhnya dia sangat zalim terhadap dirinya sendiri, bodoh terhadap apa yang menjadi bagiannya”.[2]

Ibnu Jarir berkata pada saat mengomentari ayat tersebut: Dan perkataan yang paling mendekati kebenaran adalah perkataan orang yang mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan amanah di dalam ayat ini adalah semua bentuk amanah yang dibebankan dalam urusan agama, amanah manusia, sebab di dalam ayat ini (إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ) Allah subhanahu wa ta’ala  tidak mengkhususkan amanah tertentu atau sebagian dari amanah yang telah kami sebutkan di atas.[3]

Al-Qurthubi berkata: Amanah tersebut meliputi semua kewajiban dalam urusan agama, pendapat ini dinisbatkan kepada jumhur ahli tafsir, sebagian mereka berkata: Setiap apa saja yang diwajibkan oleh Allah atas para hamba -Nya maka hal itu termasuk amanah, seperti shalat, zakat, puasa, menunaikan hutang, terlebih menunaikan titipan, dan titipan yang paling ditekankan menunaikannya adalah menyembunyikan rahasia.[4]

روى الطبراني في المعجم الكبير من حديث شداد بن أوس: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال : أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ

Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam Al-Mu’jam dari Syaddad bin Aus bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Perkara pertama yang akan hilang dari agama kalian adalah amanah”.[5]

وأخبر النبي -صلى الله عليه وسلم- أن فقدان الأمانة من علامات الساعة، فروى البخاري من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن رجلًا سأل النبي -صلى الله عليه وسلم- عن الساعة، فقال: “إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ”، قال: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟، قال : إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  memberitahukan bahwa hilangnya amanah adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat, diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dari Abi Hurairah bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  tentang hari kiamat?. Maka Beliau bersabda: Apabila amanah sudah di sia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat, dikatakan bagaimanakah amanah tersebut bisa sia-sia?. Beliau bersabda, “Apabila suatu perkara diberikan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah datangnya hari kiamat”[6]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  telah memberitahukan kepada kami tentang dua hadits, aku telah melihat salah satu dari keduanya dan aku sedang menunggu yang satu lagi: “Bahwa amanah turun pada bagian hati yang  paling dalam dari seseorang, kemudian mereka mengetahuinya dari Al-Qur’an  dan mereka mengetahuinya pula dari As-Sunnah. Lalu dia memberitahukan kami tentang bagaimana amanah tersebut terangkat: Seorang lelaki tertidur dengan suatu tidur, lalu amanah tersebut dicabut dari hatinya, namun dia masih membekas seperti bekas yang kecil, lalu dia kembali tidur sesaat kemudian amanah tersebut tercabut, namun dia masih membekas seperti bekas lepuh, seperti bara api yang terguling lalu mengenai kakimu lalu kulit kaki melepuh sehingga engkau melihatnya telah membengkak, namun tidak terdapat apapun padanya, maka manusia saling berjual beli, namun hampir tidak ada seorangpun di antara mereka yang menunaikan amanah, lalu dikatakan: Sesungguhnya pada Bani fulan terdapat orang yang jujur, lalu dikatakan kepada orang tersebut: Alangkah sempurnanya orang tersebut, alangkah bijaksananya dia, alangkah sabarnya padahal di dalam hatinya tidak terdapat keimanan walau sebesar biji sawi”.[7]

Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  telah memberitahukan bahwa menyia-nyiakan amanah adalah tanda kemunafiqan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Tanda-tanda orang yang munafiq itu ada tiga, apabila berbicara dia berbohong, apabila dia berjanji dia mengingkari janjinya dan apabila dia dipercaya maka dia berkhianat”.[8]

Dan amanah ini disebutkan di dalam Al-Qur’an dalam tiga bentuk, firman Allah:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ اَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فِى الْاَرْضِ تَخَافُوْنَ اَنْ يَّتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىكُمْ وَاَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهٖ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan -Nya kamu kuat dengan pertolongan -Nya dan diberi -Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. [Al-Anfal:/8 26]. Maksud amanah di dalam ayat ini adalah semua kewajiban.

Dan firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. [An-Nisa’/4: 58). Maksudnya adalah barang-barang titipan.

Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya“. [Al-Qoshsos/28: 26]. Maksudnya adalah iffah dan menjaga diri.

Di antara bentuk amanah adalah menjaga rahasia kehidupan suami istri. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ إِنَّ شَرَّ اَلنَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اَللَّهِ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ; اَلرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى اِمْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ , ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا } 

Dari Abi Sa’di Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala  pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menggauli istrinya dan istri yang menggauli suaminya kemudian dia menyebarkan rahasianya”.[9]

Bentuk amanah lainnya adalah keadilan seorang hakim di antara para rakyatnya. Diriwayatkan oleh Muslim.

عن أبي ذرٍ رضي الله عنه، قال: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَىَ مَنْكِبِي. ثُمّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرَ إنّكَ ضَعِيفٌ وَإنّهَا أَمَانَةٌ، وَإنّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلاّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Dari Abi Dzar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku berkata, wahai Rasulullah tidakkah engkau memanfaatkan aku?. Abu Dzar berkata: Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  menepuk tangannya pada pundakku kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan dia adalah amanah, dan sesungguhnya dia pada hari kiamat adalah kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan hak-haknya dan menunaikan apa yang menjadi hak-haknya tersebut”.[10]

Dari penjelasan sebelumnya terlihat bahwa sebenarnya amanah  itu lebih luas dari apa yang dipersepsikan oleh sebagian orang, yaitu hanya terbatas pada barang-barang titipan, padahal amanah meliputi seseorang terhadap agamanya yaitu dengan menjalankannya dan menjaganya, maka waktu seorang muslim adalah amanah, kehormatannya adalah amanah, hartanya adalah amanah di sisinya, pendengaran, penglihatan dan lisan adalah amanah serta seluruh anggota badannya adalah amanah.

Di antara bentuk amanah tersebut adalah amanah seorang penanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya, seorang suami bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri bertanggung jawab atas rumah dan anak-anaknya, seorang direktur bertanggung jawab atas para pegawai yang bekerja padanya, dan seorang pegawai bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dibebankan, seorang guru bertanggung jawab terhadap siswa-siswanya, secara umum amanah tersebut mencakup seluruh kewajiban yang terdapat di dalam agama, sebagaimana dikatakan oleh Al-Qurthubi rahimahullah.

Ya Allah!, jadikanlah kami termasuk orang yang apabila dipercaya mengemban amanah maka kami menunaikan amanah tersebut, ya Allah kami berlindung kepada -Mu dari sifat khianat, dan seluruh sifat-sifat tercela, Ya Allah jagalah kami dari hadapan kami, dan dari belakang kami, dan dari sebelah kanan kami dan dari sebelah kiri kami dan jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala  Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari الأمانة Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Muzaffar Sahidu. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad.Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari: no: 2681 dan Muslim: no: 1773
[2] Tafsir Al-Thabari: 10/339
[3] Tafsir Qurthubi: 1/342
[4] Lihat: Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi: 14/254-255
[5] Al-Mu’jam,  Al- Thabrani: 9/353 no: 9754
[6] Al-Bukhari: no: 59
[7] Al-Bukhari: no: 6469 dan Muslim: no: 143
[8] Al-Bukhari: no: 33 dan Muslim: no: 59
[9] HR. Muslim di dalam kitab shahihnya:  no: 1437
[10] HR. Muslim: no: 1825

Kikir Sifat yang Tercela

KIKIR SIFAT YANG TERCELA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan, reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.

Diantara sifat-sifat buruk yang masih sering hinggap di dada sebagian kaum muslimin ialah sifat bakhil (kikir) yang telah datang celaannya dari Allah ta’ala maupun Rasul -Nya. Seperti yang Allah ta’ala singgung dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى:﴿ وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ١٨٠﴾ [ آل عمران: 180]

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia -Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”. [al-Imraan/3:180].

Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan, “Yakni janganlah orang-orang yang bakhil mengira yaitu orang-orang yang enggan mengeluarkan harta benda yang telah Allah ta’ala karuniakan kepada mereka, masuk disini kedudukan dan juga ilmu, dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan dan anugerahkan pada mereka, yang Allah ta’ala barengi dengan perintah supaya mereka mau berkorban mengeluarkan pada yang lain selagi tidak sampai memadharatkan dirinya. Kemudian mereka kikir dari semua itu dengan menahan harta benda dan bakhil pada hamba Allah yang lainnya.

Mereka mengira bahwa dengan menahan harta bendanya tersebut, itu lebih utama bagi mereka, justru sebaliknya, itu lebih buruk baginya baik dari sisi agama maupun dunia, dari dampak buruknya yang bisa segera dirasakan maupun pada nantinya”.[1] Dan bakhil yang paling buruk ialah kikir karena khawatir jatuh miskin. Seperti yang Allah ta’ala katakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩ ﴾ [الحشر: 9 ]

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.[al-Hasyr/59: 9].

 Dijelaskan oleh ar-Razi yang dimaksud dengan asy-Syuh ialah bakhil disertai ketamakan. Sebagaimana tergambar jelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ  » [أخرجه مسلم]

Hati-hatilah kalian dari sifat bakhil sesungguhnya sifat ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Yang mendorong mereka untuk rela menumpahkan darah serta menghalalkan segala perkara yang diharamkan “. HR Muslim no: 2578.

Diperkuat lagi makna tersebut dengan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا يَجْتَمِعُ شُحٌّ وَإِيمَانٌ فِي قَلْبِ رَجُلٍ مسلم » [أخرجه أحمد]

Tidaklah mungkin akan terkumpul dalam hati seorang muslim antara keimanan dan sifat bakhil“. HR Ahmad 12/450 no: 7480.

Adapun ragam dan jenis sifat bakhil ini sangatlah banyak, diantaranya bakhil dalam masalah harta, atau jasad, ilmu, kedudukan, mengucapkan salam atau sholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semua itu didukung dengan dalil-dalil yang sangat banyak. Diantaranya seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن أعجز الناس من عجز في الدعاء و إن أبخل الناس من بخل بالسلام » [أخرجه البيهقي في شعيب الإيمان]

Sesungguhnya manusia yang paling lemah ialah orang yang paling loyo dalam berdo’a. dan sesungguhnya manusia yang paling bakhil ialah orang yang kikir untuk mengucapkan salam“. HR al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 13/22 no: 8392.

Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 601. Dan sebagian ulama menyatakan yang lebih kuat hadits ini mauquf sampai pada Abu Hurairah saja.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari sahabat Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « البخيل الذي ذكرت عنده و لم يصل علي » [أخرجه الترمذي]

Orang yang bakhil adalah orang yang mendengar namaku disebut disisinya lalu dirinya tidak bersholawat atasku“. HR at-Tirmidzi no: 3546. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih ghorib”.

Dan sifat kikir ini keadaanya bertingkat-tingkat, dan yang paling tinggi ialah bakhil dalam masalah menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan padanya. Seperti bakhil untuk mengeluarkan zakat, atau memberi nafkah pada keluarganya, atau memberi jamuan pada tamu. Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا [لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ … الْآيَةَ] » [أخرجه البخاري ومسلم]

Barangsiapa yang telah Allah datangkan padanya kekayaan lalu dirinya enggan mengeluarkan zakatnya. Maka akan dijadikan kelak pada hari kaimat harta tersebut baginya seekor ular yang berkepada botak dengan dua lidah yang berbisa kemudian mengejarnya, sambil mematuki dengan mulutnya sembari berkata, “Akulah hartamu, akulah simpananmu“. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ …ۗ ١٨٠﴾ [ آل عمران: 180]

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil..”. [al-Imraan: 180). HR Bukhari no: 1403. Muslim no: 987.

Dijelaskan pula dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Hindun ibunya Mu’awiyah pernah mengadu kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir, apakah boleh bagiku untuk mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya sekedar memenuhi kebutuhanku? Beliau menjawab, “Ia, ambillah sekedarnya secara ma’ruf”. HR Bukhari no: 5370. Muslim no: 1714.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Suraih al-‘Adawi radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya“. HR Bukhari no: 6018. Muslim no: 47.

Ibnu Qudamah menerangkan, “Sikap pelit dan dermawan itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan orang pelit yang paling buruk ialah seseorang yang bakhil pada dirinya sendiri yang sedang membutuhkannya. Berapa banyak orang bakhil yang menahan harta bendanya ketika sedang sakit dengan tidak mau mengeluarkan untuk berobat. Dirinya ingin menuruti syahwatnya namun tercegah oleh sifat bakhilnya. Berapa banyak diantara orang yang bakhil terhadap dirinya dibarengi kebutuhannya dan diantara seseorang yang lebih mendahulukan dirinya bersama kebutuhannya. Dan akhlak yang tepat adalah pemberian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang –Dia anugerahkan pada siapa saja yang dikehendaki -Nya”.[2]

Tingkatan yang kedua: Pelit dengan perkara yang disunahkan seperti bakhil dalam masalah sedekah, atau enggan memberi pinjaman pada orang lain, atau memberi jamuan tamu yang sifatnya sunah.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ, فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidaklah setiap pagi menyapa seorang hamba melainkan turun padanya dua malaikat. Kemudian malaikat pertama berdo’a; “Ya Allah, berilah orang yang berinfak pengganti”. Sedang yang satunya berdo’a, “Ya Allah, berilah orang yang pelit kehancuran“. HR Bukhari no: 1442. Muslim no: 1010.

Dalam hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ السَّلَفَ يَجْرِي مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَةِ » [أخرجه أحمد]

Sesungguhnya orang yang menangguhkan pinjaman (mendapat) pahala setengah sedekah”. HR Ahmad 7/26 no: 3911.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Aku pernah membantu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebiasaan beliau apabila turun bencana, seringkali aku mendengar beliau berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ » [أخرجه البخاري ]

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa pelit dan penakut, dari lilitan hutang dan penguasaan orang lain“. HR Bukhari no: 2893.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sesungguhnya semua orang memuji orang yang punya sifat pemberani dan penderma, sampai kiranya kebanyakan pujian yang dibawakan oleh para penyair dalam bait syairnya adalah berkaitan dengan keberanian ini. Begitu pula banyak orang yang mencela sifat kikir dan pengecut.

Kemudian beliau melanjutkan, “Manakalah kebaikan anak cucu Adam tidak mungkin bisa terlealisasi secara sempurna dalam agama seseorang melainkan dengan adanya keberanian dan kedermawanan maka Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa orang yang diserahi tugas untuk memikul kewajiban jihad, namun ia meninggalkannya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengganti orang tersebut dengan kaum yang lain yang mau menegakan syi’ar jihad tersebut. Sebagaimana ditegaskan dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى: ﴿هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ٣٨﴾ [ محمد: 38 ]

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada -Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”.  [Muhammad/47: 38].[3]

Dan diantara perkara yang menunjukan tercelanya sifat pelit ini dan menafikan akhlak serta budi pekerti yang luhur adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala aku sedang bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lainnya seusai peperangan Hunain. Datang orang-orang Arab Badui berdesak-desakan mengerumuni beliau untuk meminta bagian sehingga beliau terdesak ke suatu pohon yang menyebabkan jubahnya terlepas. Lalu beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْطُونِي رِدَائِي لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا » [أخرجه البخاري]

Kembalikan jubahku. Demi Allah, jika saja aku memiliki ternak sebanyak pohon besar niscaya aku akan bagi-bagikan juga kepada kalian, sehingga dengan begitu tidak ada yang menganggapku sebagai orang yang kikir, dust dan pengecut“. HR Bukhari no: 3148.

Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, “Didalam hadits ini sebagai dalil tercelanya sifat-sifat yang disebutkan tadi, yakni kikir, dusta, dan penakut. Dan tidak sepantasnya bagi seorang pemimpin kaum muslimin yang mempunyai cabang-cabang sifat tersebut”.[4] Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau pernah mengasih Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Hishan pada perang Hunain setiap orangyan seratus onta. Dan tatkala ada Arab badui datang maka beliau mengasih satu lembah kambing yang berada di dua gunung, sehingga Arab badui tadi langsung pulang ke kampungnya sambil menyeru, “Duhai kaumku, masuklah Islam sesungguhnya Muhammad memberi dengan pemberian yang dirinya tidak takut miskin”. HR Muslim no: 2312.

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “Penakut dan pelit adalah dua sifat yang sangat erat hubungannya. Jika tidak ada manfaat yang diharapkan darinya, apabila berkaitan dengan badan maka itulah yang dinamakan penakut, dan jika berkaitan dengan harta maka itulah yang dinamakan pelit”.[5]

Seorang penyair mengatakan dalam bait syairnya:
Jika engkau kumpulkan harta lantas engkau simpan
Dirimu hanya dijuluki penjaga harta yang amanah
Tapi cela untuku bila tidak engkau tunaikan
Termakan kerakusan sedang dirimu telah terkubur

Seorang penyair lagi mengatakan:
Apabila dunia telah berlaku baik padamu, balaslah kebaikannya
Dengan berbuat baik pada penghuninya, sungguh hidup berganti-ganti
Jangan takut menderma hilang harta justru dia akan kembali menyapa
Orang kikir mengira hartanya tersimpan, namun kiranya dia justru musnah

Seorang ulama yang bernama Ibnu Muflih menuturkan, “Sangat mengherankan orang yang pelit itu, dirinya langsung merasakan kefakiran yang ia lari darinya dan beranggapan akan menggapai kebahagian bila menahan hartanya. Bisa jadi dirinya mati dikala sedang lari dari kefakiran yang ia kira dan mencari kebahagian yang ia sangka. Sehingga ia hidup didunia dengan penghidupan orang fakir sedang diakhirat masuk dalam barisan hisabnya orang-orang kaya.

Bersamaan dengan itu pula engkau tidak mungkin menjumpai ada orang pelit kecuali justru orang lain yang lebih bahagia darinya, karena orang pelit tujuan didunia hanya untuk mengumpulkan harta, akan tetapi, ingat di akhirat nanti dirinya dihisab dengan sebab menahan harta dari kewajibannya, adapun orang yang tidak pelit, dirinya akan selamat dari tujuan jelek tersebut dan ketika diakhirat selamat dari dosa mengumpulkan harta”.[6]

Hubais ast-Tsaqawi menceritakan, “Aku pernah duduk bersama Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Sedangkan banyak dikalangan murid-muridnya yang bersepakat bahwasannya mereka tidak mengenal ada orang sholeh yang pelit”.[7] Al-Marwadi mengatakan, “Terkadang terkumpul dalam pribadi orang yang kikir beberapa akhlak yang tercela, dan setiap sifat cela tersebut bisa mengantarkan pada sifat cela lainnya, yaitu empat akhlak yang kalian dilarang karenanya, yakni sifat tamak, rakus, prasangka buruk, dan menahan hak orang lain.

Dan jika orang yang bakhil tadi mempunyai apa yang kami sifatkan tadi, dari sifat-sifat yang tercela dibarengi adat kebiasaannya yang buruk maka sudah tidak tersisa bersamanya kebaikan dan kesholehan yang diharapkan lagi”.[8]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari ذم البخل Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad.Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Sa’di hal: 141.
[2] Mukhtashar Minhajil Qoshidin hal: 265.
[3] al-Istiqomah 2/263-270.
[4] Fathul Bari 6/254.
[5] al-Jabul Kafi liman Sa’ala ‘an Dawaa’i Syaafi hal: 85.
[6] al-Adaab Syar’iyah 3/318.
[7] Thabaqaat al-Hanabilah 1/147.
[8] Adabu Dunya wa Diin hal: 186-187.