Author Archives: editor

Hati-Hati Mati Su’ul Khatimah

HATI-HATI MATI SU’UL KHATIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله تعالى الولي عند الضراء ، والمتفرد بالكبرياء ، والصلاة والسلام على النبي صفوة الأصفياء ، وعلى آله وأصحابه أئمة الأتقياء. وبعد

Segala puji bagi Allah –Ta’ala-, wali dikala susah, yang unik keangkuhanNya. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi pilihan, kepada keluarga dan para sahabatnya, imam dari orang-orang bertakwa.
Adapun selanjutnya:

Perhentian yang membuat cemas mereka yang mengetahui… membuat berkeringat mereka yang takut…
Untuk melampauinya, mereka siapkan beban bawaan yang ringan dan paksa diri dengan cemeti tekat hingga dapat malampauinya…
Perhentian yang membuat berjatuhan para pelaku dosa dan binasa diwilayahnya mereka yang binasa.
Su’ul khatimah[1], itulah tempat perhentian tersebut… jendela menuju neraka dan azab yang pedih…

Wahai engkau yang berbuat dosa, apa yang engkau ketahui  tentang perhentian itu?!
Wahai engkau yang berbuat dosa, tidakkah pernah engkau mendengar pembicaraan yang meneror hati orang-orang saleh!
Rasulullah –salallahu alaihi wasalam– bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ‏»  [رواه مسلم]

“Ada orang yang sungguh-sungguh beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang sungguh-sungguh melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian menutupnya dengan amalan ahli surga.” [HR.Muslim]

Dan sabdanya –shalallahu alaihi wa sallam– ,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «.. وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ » [رواه البخاري]

“Sesunggunya amalan dinilai dengan penutupannya.” [HR.al-Bukhari]

Ibnu Rajab berkata, “Singkatnya, penutup amal adalah warisan dari amalan masa lalu dan semua itu telah ada pada catatan takdir terdahulu. Dari inilah bertambah ketakutan salaf akan su’ul khatimah. Diantara mereka ada yang cemas menyebut-nyebut masa lalunya.”

Hatim al-Asham berkata, “Siapa yang hatinya kosong dari mengingat empat saat yang membahayakan, maka dia tertipu dan tidak terhindar dari kesengsaraan.

  1. Bahaya hari pembalasan amal. Ketika Allah berkata, ‘Mereka di surga dan aku tidak perduli, sedang yang lain di neraka dan aku tidak perduli.’ Dia tidak tahu berada pada kelompok yang mana.
  2. Ketika diciptakan dalam alam tiga kegelapan[2]. Ketika dipanggil oleh Malaikat sebagai orang yang sengsara atau bahagia, dia tidak tahu termasuk yang sengsara atau bahagia.
  3. Saat disingkap catatan amal. Sedang dia tidak tahu apakah termasuk yang mendapat keridaan Allah atau kemurkaanNya.
  4. Hari ketika manusia dibangkitkan. Dia tidak tahu jalan mana dari jalan surga atau neraka yang akan dilalui.”

Sahl Ibn Abdullah berkata, “Ketakutan para Siddîkin (ulama yang beramal) akan su’ul khatimah pada tiap bahaya dosa dan gerak mereka. Merekalah yang di sifati Allah dalam firmanNya,

قال الله تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾ [المؤمنون: 60]

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut,…” [al-Mu’minun/23:60]

‘Atha al-Khaffâf berkata, “Tidaklah aku berjumpa dengan ats-Tsauri melainkan ia sedang menangis. Aku tanya, ‘Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Aku takut tercatat sebagai orang yang celaka dalam catatan takdir.”

Wahai engkau yang berbuat dosa, itulah su’ul khatimah. Sudahkah engkau lihat bagaimana ‘ârifun (orang-orang yang tahu) memperhitungkannya… dimana posisimu dari mereka?! Apakah engkau melihat dirimu termasuk yang merasa malu dan takut atau yang merasa aman-aman saja?! Betapa meruginya engkau jika termasuk kelompok yang kedua. Bagaimana bisa seorang merasa aman meniti jalan yang mengantarnya kepada su’ul khatimah (pengakhiran yang buruk).

Wahai engkau yang berbuat dosa, waspadalah…berhati-hatilah!

Ibnul Mubarak berkata, “Sesungguhnya orang yang memiliki perseptif tidak akan merasa aman dari empat perkara:

  1. Dosa masa lalu, yang tidak dia tahu apa yang Tuhan perbuat dengannya.
  2. Umur yang tersisa, yang tidak dia tahu musibah apa saja yang akan dialami
  3. Kelebihan yang Allah beri, mungkin saja itu istidroj[3] dan
  4. Kesesatan yang terdekorasi sehingga nampak seperti petunjuk. Penyimpangan hati saat demi saat lebih cepat dari kedipan mata, yang bisa jadi mencabut agamanya tapa disadari.

Wahai engkau yang berbuat dosa, engkau merasa akan selamat padahal menempuh jalan maksiat dan bergelimang perbuatan yang dimurkai?!

Waspada dicabut nyawa… tidak tersadar kecuali setelah engkau dihadapan malaikat yang kasar lagi bengis!

Al-Hasan al-Bashri menasehati, “Bergegaslah, bergegaslah! Sesungguhnya ia hanyalah nafas, bila ditahan terputuslah seluruh amal kalian yang dijadikan pendekat kepada Allah –Azza wa Jalla-. Terahmati Allah orang yang melihat dirinya dan menangis atas sejumlah dosanya. Kemudian beliau membaca firman Allah,

قال الله تعالى: ﴿ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا ﴾[مريم: 84]

“Sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” [Maryam/19 :84]

Jika mau –wahai engkau yang patut diiba-, aku sampaikan kepadamu beberapa kisah orang-orang saleh, yang menggabungkan antara ketaatan dan ketakutan su’ul khatimah… semoga itu dapat mengembalikan hatimu yang lari dari ketaatan dan menyadarkanmu sebelum hilang kesempatan…

Dari Ali –radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, “Aku mendatangi Umar Ibn al-Khatthâb yang  sakit pasca ditikam Abu Lu’luah. Dia menangis. Aku Tanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?’ Dia menjawab, ‘Berita langit membuatku menangis. Kemana aku akan dibawa, ke surga atau neraka?’ ‘Bergembiralah dengan surga! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wa sallam– bersabda yang tidak aku hitung berapa kali, “Dua orang sayid ahli surga adalah Abu Bakar dan Umar.’ Umar berkata, “Apakah engkau menjadi saksi wahai Ali bahwa aku di surga?! Aku katakan, ‘Ya. Dan engkau wahai Hasan[4], menjadi saksi kepada Rasulullah bahwa Umar termasuk ahli surga.”

Dari Muhamad Ibn Qois, bahwa seorang lelaki dari penduduk Madinah tengah sekarat, panik. Diapun ditanya, “Engkau panik?!” Dia menjawab, “Bagaimana tidak. Demi Allah, seandainya utusan gubernur Madinah mendatangiku, aku akan panik karenanya, lalu bagaimana lagi dengan (malaikat maut) utusan Tuhan semesta alam?!

Sebagian lagi menangis menjelang kematian mereka. Ketika ditanya akan hal itu dia menjawab, “Aku mendengar Allah mengatakan kepada suatu kaum:

قال الله تعالى: ﴿ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ [الزمر: 47]

“…dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. “ [5]

Dan aku menunggu sebagaimana yang kalian lihat. Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku!” Sebagian lagi mengatakan, “Seandainya syahadat (persaksian memeluk Islam) berada di pintu rumah dan mati dalam Islam di pintu kamar, niscaya aku memilih mati dalam Islam, karena tidak tahu godaan apa yang terjadi pada hatiku sepanjang pintu kamar ke pintu rumah.”

Sofyan ats-Tsauri menangis dan berkata, “Aku takut imanku dicabut saat kematian.”

Dahulu Malik Ibn Dînar melakukan shalat sepanjang malam sambil menggenggam janggutnya, seraya berkata, “Wahai tuhanku, telah aku ketahui bagaimana penghuni surga dan penghuni neraka. Di manakah dari dua tempat itu tempat tinggal Malik?”

Wahai engkau yang berbuat dosa, sadarkan dirimu…! Jika sedemikian itu keadaan orang-orang saleh, dimana satu dari mereka ada al-Fâruk Umar Ibn al-Khathab –radhiyallahu ‘anhu-, sahabat Rasulullah, yang telah diberitakan masuk surga, yang setan menjauh dari bayangannya… apa bukan semestinya engkau –wahai pendosa- lebih dalam kepanikanmu dan lebih deras cucuran air matamu…?!

Engkau bersangka baik dengan hari-hari yang dihisab
Tidak takut takdir buruk datang menjemput
Engkau selamat bermalam-malam hingga terhanyut
Di keheningan malam-malam kau cipta noda
Wahai pendosa, waspada hati mu tertelungkup!

Dari Anas –radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, bahwa Rasulullah banyak mengatakan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، فَقُلْتُ: يا نبي الله آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ»! [رواه الترمذي/ صحيح الترمذي للألباني: 2140]

“Wahai Tuhan yang membolak balik hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu.”
Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?!’
Nabi menjawab, “Ya. Sesungguhnya hati berada di antara dua jemari Allah. Dia membolak baliknya sekehendakNya.” [HR.at-Turmudzi. Lihat Shahih at-Turmudzi oleh al-Albani no. 2140]

Wahai engkau yang berbuat dosa, berapa banyak hati yang Allah  kunci mati sehingga tidak merasakan apapun, hingga munkar baginya makruf dan makruf kemungkaran…! Dia dalam keadaan terperosok dan buta…! Dalam keadaan sedemikian itu maut mendatanginya… jadilah dia su’ul khatimah.

Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa termasuk sebab su’ul khatimah!
Wahai engkau yang berbuat dosa, dosa adalah jalan menuju neraka sebagaimana ketaatan jalan menuju surga…

Abu Muhamad Abdulhaq berkata, “Ketahuilah, bahwa su’ul khatimah –semoga Allah melindungi kita daripadanya-, tidak terjadi pada mereka yang lahiriahnya istikamah dan batinya saleh. Tidak pernah terdengar yang seperti itu dan diketahui, Alhamdulillah. Namun terjadi pada siapa yang memiliki kerusakan akal dan berkubang dalam dosa besar. Sehingga setan menyambut dan memanfaatkan keadaannya pada kondisi itu. Semoga Allah melindungi, semoga Allah melindung. Atau pada mulanya istikamah kemudian berubah keadaannya dan keluar dari kebiasaan baik dan menjadi jalan hidupnya, sehingga hal itu menjadi sebab su’ul khatimah dan buruk pengakhirannya.

Dari Abdul Aziz Ibn Abi Ruwad, dia berkata, “Aku menghadiri seorang yang dalam keadaan sekarat. Aku katakan kepadanya, “Ucapkanlah la ilaha illallah!’ Dia pun mengatakannya. Di saat saat terakhir, aku katakan kepadanya, ‘Ucapkan la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Berapa kali engkau katakan?! Sesungguhnya aku ingkar dengan apa yang engkau katakan.’ Dia pun mati dalam keadaan itu. Aku tanya istrinya perihal orang itu. Istrinya menjawab, ‘Dia adalah pecandu minuman keras.’ Abdul Aziz berkata, ‘Takutlah pada dosa, sesungguhnya ialah yang membinasakannya.’”

Wahai engkau yang berbuat dosa, hati-hati dari berketerusan dalam dosa!
Berketerusan merupakan pintu menuju perkara besar… sudah berapa banyak yang dihantarnya kepada kebinasaan… sudah berapa banyak pelaku dosa yang diperosokkannya?! Sesungguhnya mencandu dosa jalan menjadi kebiasaan, membuat jiwa susah meninggalkannya… jadi sengaja lalai dan panjang angan-angan… hingga mati mengejutkannya dalam keadaan tidak istikamah.

Wahai pemabuk, apa merasa aman dengan kebodohan
Saat engkau lupa diri, kematian mengejutkanmu
Berkorban jadi pelajaran manusia
Sedang engkau berjumpa Tuhan sebagai seburuk makhluk melata

Ibnu Rajab berkata, “Ketahuilah, bahwa semasa manusia berharap hidup, dia tak akan memutus angan-angannya terhadap dunia. Dan terkadang tidak mengijinkan dirinya berpisah dengan kelezatan, syahwat kemaksiatan dan yang serupa. Setan menjanjikannya dengan taubat di akhir umurnya. Jika telah yakin tiba saat mati dan putus harapan hidup, baru tersadar dari mabuknya terhadap dunia. Saat itulah sesal atas kelalaian, penyesalan yang hampir membuat membunuh dirinya dan meminta kembali ke dunia untuk bertaubat dan beramal saleh. Sedikitpun itu tidak akan terkabul. Sakratul maut dan sesal kelalaian berkumpul pada dirinya. Padahal telah Allah peringatkan hamba-Nya dalam kitab-Nya akan hal itu agar bersiap sebelum datangnya kematian dengan taubat dan amal saleh. Allah berfirman,

قال الله تعالى: ﴿ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ * أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾ [الزمر: 54-58]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ).’  Atau supaya jangan ada yang berkata, ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.'(58) atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.” .[az-Zumar/39:54-58]

Waspadalah -wahai engkau yang patut diiba- dikejutkan kematian sedang pintu taubat telah ditutup untukmu… janganlah sampai berjumpa Allah dengan memikul dosa-dosamu… betapa dahsyatnya hari itu bagimu !

Ibnu Rajab berkata mengenai firman Allah –ta’ala-:

قال الله تعالى: ﴿ وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ ﴾  [سبأ: 54]

“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini…”[6]

‘Sekelompok salaf menafsirkan, termasuk Umar Ibn Abdul Aziz –radiallahu ‘anhu-, bahwa : mereka minta bertaubat ketika telah dipisahkan antara mereka dan syahwatnya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Takutlah engkau wahai anak Adam, jangan sampai tergabung padamu dua perkara: sakratulmaut dan penyesalan atas yang terlewat.”

Ibnu as-Sammâk berkata, “Waspadalah terhadap sakratulmaut dan penyesalan. Kematian mencengankanmu. Tidak dapat tergambarkan kadar yang dialami dan dilihat.”

Al-Fudhail Ibn Iyadh berkata, “Allah –azzawajalla– berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau terombang-ambing dalam nikmatKu dan juga memaksiatiKu, waspadalah! jangan sampai aku binasakan sedang di antara kemaksiatan.”

Wahai engkau yang berbuat dosa, benahilah keadaanmu… segera bertobat yang tulus… sesungguhnya siang dan malam terus menggulung umurmu tanpa engkau sadari. Orang berakal adalah yang bersiap menemui Tuhan-nya yang Maha Kuasa… dan berlindung dari su’ul khatimah

Ibnu Rajab berkata, “Sebagian Salaf berkata, ‘Hidup kalian menjadi harapan banyak orang. Yakni mereka yang sudah mati. Berharap bisa hidup walau sesaat agar dapat bertaubat dan berbuat taat. Namun tidak ada jalan bagi mereka untuk itu!”

Wahai yang terpedaya dosa, berikut pergulatan para pendosa!
Wahai engkau yang berbuat dosa, su’ul khatimah adalah perhentian yang jelek dan tempat tinggal terburuk…

Berikut adalah sisi dari kisah kaum yang berketerusan dalam dosa hingga ditohok maut dan mereka dalam kelalaian, jadilah berakhir dengan su’ul khatimah

Muhamad Ibn Uyainah al-Fazâri berkata, “Aku mendengar Abu Ishaq al-Fazâri berkata kepada Abdullah Ibn al-Mubârak, ‘Wahai Abu Abdurrahman, ada seorang dari sahabat kita yang mengumpulkan ilmu lebih banyak dari yang engkau dan aku kumpulkan. Saat sakratulmautnya aku hadir. Ketika dikatakan kepadanya, ‘Ucapakan lâ ilaha illallah!’ dia menjawab aku tidak bisa mengucapkannya. Kala dia bicara aku membantah. Dia katakan itu dua kali. Dia tetap seperti itu sampai meninggal. Aku tanyakan perihalnya.’ Dijawab, ‘Dia durhaka kepada kedua orang tuanya’. Sehingga aku menduga, dia tidak dapat mengucapkan kalimat ikhlas (la ilaha illallah) kerena kedurhakaannya kepada kedua orang tuanya.”

Bakr Ibn Abdullah al-Muzini berkata, “Seorang lelaki bani Israil mengumpulkan harta. Menjelang kematiannya, dia berkata kepada anak laki-lakinya, ‘Perlihatkan hartaku!’ Diperlihatkanlah sebagian besar kuda, onta, budak dan harta lainnya. Ketika melihat semua itu, dia menangis menyesal. Saat melihat malaikat maut, semakin menjadi tangisannya. Malaikat bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Demi Tuhan yang telah mengasumsikanmu, aku tidak akan keluar dari rumahmu sampai memisahkan roh dari badanmu!’ Lelaki itu memohon, ‘Beri kesempatan hingga aku selesai membagikannya.’ Malaikat menjawab, ‘Mustahil! Sudah habis kesempatanmu, mengapa tidak engkau lakukan itu sebelum datang ajalmu?!’ Rohnya pun dicabut.

Ar-Rabi’ Ibn Birrah berkata, “Aku melihat lelaki di Syam yang dibimbing mengucap la ilaha illallah saat sakratulmaut hanya mengatakan, “Minum… tuangkan untuknya…!”

Hâsyim mengira dari Abu Hafs, dia berkata, “Aku mengunjungi seorang lelaki di al-Mashishah yang sedang sakratulmaut. Aku tuntun dia, ‘Ucapkanlah, la ilaha illallah!’ Dia berkata, ‘Mustahil, terhalangi antara aku dengannya.’”

Ibnu Rajab berkata, “Sebagian yang sakratulmaut saat ajal mendekati, menampar wajahnya dan berujar,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: [يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ]

“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah,” [7]

Sebagian lagi mengatakan, ‘Dunia telah melalaikan hingga habis hari-hariku.’ Sebagian lagi berkata, ‘Jangan sampai engkau dilenakan oleh kehidupan dunia sebagaimana ia melenakanku.’”

Orang-orang dahulu ada yang mabuk semalaman. Istrinya mencelanya karena meninggalkan shalat. (Tidak terima) dia bersumpah akan mentalak tiga istrinya, dengan tidak shalat selama tiga hari. Ngotot mencerai istrinya, diapun melakoni tidak shalat tiga hari, namun mati setelah itu. Dalam keadaan mencandu minuman keras dan meninggalkan shalat.

Diantara pecandu khamr ada yang dipanggil Abu Amr. Suatu malam dia tertidur dalam keadaan mabuk. Dalam tidurnya dia mendengar seseorang melantunkan (syair) :

Benar-benar engkau Abu Amr
Bersemedi di atas khamr
Minum minuman keras
Ada banjir menerpamu tanpa engkau tahu

Dia pun terbangun gelisah dan mengabarkan mimpinya kepada orang yang ada bersamanya, namun mabuk membuatnya tertidur kembali. Saat subuh di mati seketika!

Dikisahkan mengenai para makelar. Ketika sakratulmaut, dituntun mengucapkan la ilaha illallah. Namun dia menjawab, ‘Tiga setengah… empat setengah….’

Yang lain dituntun, ‘Ucapkan lâ ilaha illallah!” Malah berucap, ‘Rumah fulan, perbaiki demikian… kebun fulan, bikin demikian… !”

Wahai engkau yang berbuat dosa, hisab dirimu… tuluslah dalam menghisab dirimu… dan segera bertaubat sebelum hilang kesempatan… ingat mati… ingat bahwa maksiat dan dosa merupakan jalan menuju su’ul khatimah

Dengarkan wahai engkau yang patut dikasihani, demi memperbaiki batin dan lahiriahmu…! sesungguhnya kematian akan segera datang… siapa yang takut, akan bersungguh-sungguh dan menyelamatkan diri… larilah dari dosa kepada pengampun dosa… mulailah hidup baru; diawali dari tobat dan ditutup dengan amal saleh… semoga engkau termasuk orang-orang yang lolos…  selamat dari su’ul khatimah

Segala puji bagi Allah senantiasa dan selama-lamanya… shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya…

[Disalin dari احذر سوء الخاتمة Penulis : Azhari Ahmad Mahmud, Penerjemah Syafar Abu Difa Abu,  Editor : Tim islamhouse.com divisi Indonesia. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Pengakhiran yang buruk, mati dalam kemaksiatan –pent.
[2] Tiga kegelapan dimaksud adalah alam kandungan. Dimana janin terbungkus dalam ari-ari yang berada dalam rahim dan di dalam perut -pent.
[3] Bentuk azab dengan penguluran atau pembiaran dalam kelalaian dan kemaksiatan sehingga terlena dan binasa dalam kesesatan –pent.
[4]  Putra Ali, cucu Rasulullah yang juga turut hadir –pent.
[5] (QS.az-Zumar/39:47)
[6] (QS.as-Saba’/34: 54)
[7] (QS.az-Zumar/39:56)

Tanda-tanda Husnul Khatimah dan Suul Khatimah

TANDA-TANDA KHUSNUL KHATIMAH DAN SUUL KHATIMAH

TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH
Diantara tanda-tanda husnul khatimah :

1. Mengucapkan kalimat syahadat saat datangnya ajal.
Banyak hadits tentang hal ini, diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallah” maka ia akan masuk surga“.

2. Meninggal dalam keadaan kening berkeringat.
Berdasarkan hadits Buraidah bin Al-Khusaib Radhiyallahu anhu bahwa ia berada di Negeri Khurasan, lalu suatu ketika ia menjenguk saudaranya yang sedang sakit dan mendekati ajalnya. Dahinya berkeringat, maka Buraidah mengatakan, “Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 اَلْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ 

Seorang mukmin itu wafatnya dalam keadaan berkeringat keningnya“.

3. Meninggal pada malam Jum’at atau siang harinya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Tidaklah seorang muslim meninggal pada Hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur

4. Mati syahid di medan perang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman” [Ali Imran/3:169-171]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ 

Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam  hal: Akan diampuni dosanya di saat menetes darahnya yang pertama.  Dapat menyaksikan tempatnya di surga. Terhindar dari siksa kubur. Aman dari ketakutan yang dahsyat. Dihiasi dengan perhiasan iman. Dinikahkan dengan bidadari dan diberi izin untuk memberi syafaat pada tujuh puluh orang dari kerabatnya“.

5. Mati dalam berperang di jalan Allah.

قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم: «مَا تَعُدُّونَ الشُّهَدَاءَ فِيكُمْ؟» قالوا: يَا رَسولَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ في سَبيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ. قَالَ: «إنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَليلٌ»! قالوا: فَمَنْ هُمْ يَا رسول الله؟ قَالَ: «مَنْ قُتِلَ في سَبيلِ الله فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في سَبيلِ الله فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ في البَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالغَرِيقُ شَهِيدٌ

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Menurut kalian siapakah orang yang mati syahid itu? Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang terbunuh di jalan Allah, dialah yang matinya dalam keadaan syahid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau demikian orang yang mati syahid dari umatku sedikit sekali. Para shahabat lalu bertanya: Kalau begitu siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka ia mati syahid, siapa yang mati di jalan Allah, maka dia mati syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit tha’un maka dia mati syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia mati syahid, dan orang yang tenggelam  matinya syahid”

6. Mati karena wabah penyakit.
Ada beberapa hadits berkaitan dengan hal ini, diantaranya:

الطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Wabah penyakit tha’un itu adalah mati syahid bagi setiap muslim

7. Mati karena sakit perut.
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

وَمَنْ مَاتَ في البَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Siapa yang mati karena sakit perut maka dia mati syahid

8 dan 9. Mati tenggelam dan terbakar
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَطْعُونُ وَالمَبْطُونُ، وَالغَرِيقُ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ في سَبِيلِ اللهِ

Orang yang mati syahid itu ada lima: orang yang mati karena wabah penyakit, orang yang mati karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan bangunan, dan orang yang mati syahid di jalan Allah

10. Meninggalnya seorang wanita yang melahirkan anaknya di saat nifas.
Berdasarkan hadits ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu bahwa

أنَّ رَسُوْلَ اللهِ  عَادَ عَبْدَ اللهِ بْنَ رَوَاحَةَ، قَالَ : فَمَا تَجَوَّزَ لَهُ عَنْ فِرَاشِهِ، فَقَالَ : أَتَدْرِيْ مَنْ شُهَدَاءُ أُمَّتِيْ ؟ قَالُوْا : قَتْلُ الْمُسْلِمِ شَهَادَةٌ، قَالَ : إِنَّ شُهَدَاءُ أُمَّتِيْ إِذًا لَقَلِيْلٌ، قَتْلُ الْمُسْلِمِ شَهَادَةٌ، وَالطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ، وَالْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءُ، شَهَادَةٌ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu anhu, ‘Ubadah mengatakan bahwa Rasulullah tidak jauh dari tempat tidurnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah (kalian) siapa orang yang mati syahid dari ummatku? Para shahabat menjawab: “Seorang muslim yang dibunuh. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau demikian orang yang mati syahid dari umatku sedikit sekali, Terbunuhnya seorang muslim adalah syahid baginya, siapa yang mati karena wabah penyakit maka dia mati syahid, seorang wanita yang meninggal dengan sebab anaknya di saat nifas maka ia mati syahid, anaknya akan menuntunnya ke surga

11 dan 12. Mati terbakar. Dan Penyakit pinggang (memar atau angin yang tertahan dipinggang (semacam angin duduk) dan menyebabkan rasa sakit dan sesak nafas).
Banyak hadis yang masyhur tentang hal ini. Dari Jabir bin ‘Utaik secara marfu’.

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Orang yang mati syahid selain orang yang meninggal di jalan Allah ada tujuh: “Orang yag meninggal karena penyakit tha’un, orang yang tenggelam, Dan Penyakit pinggang, orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang mati terbakar, orang yang tertimpa reruntuhan bangunan, dan seorang wanita yang meninggal di saat nifas, maka ia mati syahid”

13. Meninggal karena terserang penyakit TBC
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

القتل في سبيل الله شهادة والنفساء شهادة ،والحرق شهادة والغرق شهادة، والسل شهادة ،والبطن شهادة

(Orang) yang terbunuh di medan perang mati syahid, wanita yang meninggal di saat nifas mati syahid, orang yang terbakar mati syahid, orang yang tenggelam mati syahid, orang yang meninggal karena terserang penyakit TBC mati syahid, dan orang yang mati karena sakit perut mati syahid

14. Mati karena mempertahankan harta yang akan dirampok.
Terdapat beberapa hadits dalam hal ini, diantaranya:

منْ قُتِل دُونَ مالِهِ فهُو شَهيدٌ

Orang yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka dia mati syahid

(dalam sebuah riwayat) :

مَنْ أُرِيدَ مَالُهُ بِغَيْرِ حَقٍّ فَقَاتَلَ فَقُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ

Orang yang diambil hartanya dengan jalan yang tidak benar, lalu ia mempertahankannya kemudian terbunuh, maka dia disebut mati syahid

15 dan 16. Mati karena membela agama dan jiwa.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid, siapa yang terbunuh karena membela keluarganya maka ia mati syahid, orang yang terbunuh karena membela agama maka dia mati syahid, dan orang yang terbunuh karena membela jiwanya maka dia mati syahid

17. Mati di saat berjaga di jalan Allah.
Terdapat dua hadits, salah satunya:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

Berjaga (ketika jihad) adalah lebih baik (nilainya) dari berpuasa dan shalat malam selama sebulan, seandainya ia meninggal, maka akan diteruskan amalannya, rizkinya akan mengalir, dan ia akan aman dari para penanya di alam kubur

18. Mati ketika beramal sholeh
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا
دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah hanya karena mengharap wajah Allah, maka ia akan diwafatkan dengan (mengucapkan) kalimat tersebut, ia akan masuk surga. Barangsiapa yang berpuasa hanya karena mengharap wajah Allah, maka akan dijadikan akhir hayatnya dalam keadaan berpuasa, ia akan masuk surga dan barangsiapa yang bersedekah dengan hanya mengharap wajah Allah, maka akan dijadikan akhir kehidupannya dalam keadaan bersedekah, ia akan masuk surga”

19. Orang yang dibunuh oleh penguasa yang dzolim
Disebabkan ia menasehatinya. berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَه

Penghulunya para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang mendatangi penguasa yang dzalim, lalu ia memerintahkan dan melarangnya (maksudnya menasehatinya) lalu ia dibunuh (oleh penguasa tersebut)“.

Begitu pula pujian kebaikan dari orang-orang sholeh pada si mayit, paling sedikitnya dua. Terdapat beberapa hadist tentang hal ini, diantaranya:

Dari Anas Radhiyallahu anhu berkata: (suatu ketika) ada jenazah lewat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu jenazah tersebut mendapat pujian kebaikan. Orang-orang mengatakan: Sepanjang pengetahuan kami ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib baginya, wajib baginya, wajib baginya“. Kemudian datanglah jenazah lain, tetapi banyak orang yang mencelanya. Mereka mengatakan: “Seburuk-buruk orang dalam agama Allah”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib baginya, wajib baginya, wajib baginya“.

Umar Radhiyallahu anhu lalu bertanya: “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu. Tadi ada jenazah lewat lalu mendapatkan pujian, maka engkau mengatakan : “Wajib baginya, wajib baginya, wajib baginya”. Dan lewat jenazah yang lain, lalu mendapat celaan, maka engkau mengatakan: “Wajib baginya, wajib baginya, wajib baginya”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Siapa yang kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga, dan siapa yang kalian cela, maka wajib baginya neraka. (Para malaikat adalah saksi Allah di langit) sedang kalian adalah saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi. (Dalam sebuah riwayat: Orang-orang yang beriman adalah saksi Allah di muka bumi. Allah memiliki para malaikat yang mengucapkan sesuai dengan penilaian Bani Adam terhadap seseorang, baik itu kebaikan atau keburukannya.

Dari Abul Aswad Ad-Daili berkata : Aku mengunjungi Madinah ketika terjadi wabah sehingga terjadilah kematian dengan cepat. (Suatu saat) aku duduk di samping Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu, tiba-tiba lewatlah jenazah, lalu jenazah tersebut mendapat pujian. Maka Umar berkata: “Wajib”. Lalu aku bertanya: “Apa yang wajib wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab: “Aku mengatakan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang muslim siapun dia yang mendapat kesaksian kebaikan dari empat orang, maka Allah akan memasukkannya ke surga”. Maka kami bertanya: Tiga orang. Nabi menjawab: “Begitupula (kesaksian) tiga orang“. Kemudian kami bertanya lagi: “Dua orang”. Maka Nabi menjawab: ” Begitupula (kesaksian) dua orang“. Kami tidak bertanya kalau satu orang.

Siapa yang selalu ingat, berdzikir dan mencintai Allah dalam hidupnya, maka ia akan memerlukan amalan-amalan tadi di saat ruhnya keluar menuju Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sebaliknya siapa yang sibuk dengan selain Allah di saat hidupnya, maka akan berat baginya untuk ingat pada Allah ketika menjelang maut jika ia tidak mendapat pertolongan dari Allah. Karena itulah, sudah selayaknya bagi orang yang berakal untuk selalu melazimkan hati dan lisannya untuk berdzikir dan taat pada Allah dimanapun ia berada, untuk menghadapi saat sakaratul maut yang seandainya luput darinya (maksudnya tidak mengingat Allah di saat itu-pent), maka ia akan celaka selama-lamanya. Ya Allah perbaikilah jiwa-jiwa kami dengan dzikir kepada, cinta, dan mengenal-Mu. Sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.

TANDA-TANDA SU’UL KHATIMAH
Ada beberapa sebab Suul Khatimah yang wajib diketahui oleh setiap mukmin sehingga dapat berhati-hati darinya. Yang paling dominan adalah sibuk dengan urusan dunia, selain itu tidak istiqamah, lemah iman, rusaknya akidah, dan terus menerus dalam kemaksiatan. Karena orang yang bergelimang dalam maksiat dan umurnya panjang dalam kejahiliyahan, maka hatinya akan akrab dengan maksiat. Segala aktivitas yang dilakukan dan disukai oleh seseorang di masa hidupnya, akan hadir dalam ingatannya di saat datangnya ajal. Jika yang lebih disukainya adalah perkara ketaatan, maka ketika datangnya kematian ia akan ingat ketaatan, sebaliknya, jika ia lebih condong pada kemaksiatan, maka itulah yang akan lebih banyak muncul ketika datangnya kematian.

Hati merasa takut untuk berpisah dengan apa yang disukainya dan apa yang sudah menjadi kebiasaannya, terlebih lagi di saat genting dan terjadinya musibah. Apabila hati telah yakin akan berpisah dengan apa yang disukainya tadi, maka ia akan teringat dengannya ketika hidupnya akan berlalu. Berkata Ibnul Qayyim: “Oleh karena itu – wallahu a’lam – sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi.

Ada seseorang yang mengabarkan kepadaku bahwa salah satu kerabatnya adalah seorang pedagang kain, di saat ajal datang mengatakan: “Kain ini bagus, sesuai untukmu, barang ini murah, menyamai ini dan itu”, sampai ia meninggal dunia.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan akan diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu mereka yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir.

Ada orang yang hobi main catur, ketika sakaratul maut, dikatakan padanya: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah, maka ia mengatakan: “Rajamu”, kemudian ia meninggal. Ia mengucapkan kalimat yang biasa ia katakan ketika bermain (catur) semasa hidupnya, sehingga ia mengganti kalimat tauhid dengan (Rajamu). Keadaannya tidak berbeda dengan orang yang biasa duduk dengan pecandu minuman keras, ketika ajal datang, dan ada orang yang mentalqinnya untuk mengucap syahadat, tetapi ia malah mengatakan: “Minum dan berilah aku minum), lalu iapun meninggal. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim.

Demikianlah keadaan orang yang bertambah umurnya, tetapi dalam waktu yang sama bertambah keburukannya. Sehingga dalam umurnya yang dewasa keburukannya lebih banyak dibanding ketika masa kecilnya. Orang semacam ini biasanya sulit untuk bertaubat, dan tidak mendapat taufiq untuk beramal sholeh yang bisa menghapus apa yang telah ia lakukan dahulu. Dikhawatirkan ia akan mengalami su’ul khatimah sebagaimana yang terjadi pada banyak orang, yang meninggal dengan membawa kotoran. Mereka belum bersuci darinya sebelum meninggalkan dunia. Ini adalah tipu daya setan pada manusia di saat datangnya ajal, saat setan memerangi seorang hamba pada kali terakhirnya.

Dari Sa’id bin Musayyab dari ayahnya berkata : Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya, sementara di dekat Abu Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai pamaku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, satu kalimat yang akan aku jadikan saksi di hadapan Allah“. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: “Wahai Abu Thalib, apakah engkau berpaling dari ajaran Abdul Muthalib? Rasulullah tiada henti-hentinya menasehati pamannya, begitupula Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata seperti tadi, sampai pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa ia mengikuti ajaran Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.

Diriwayatkan bahwa setan hadir di saat anak Adam sedang mengalami sakaratul maut dan ruhnya keluar, kemudian ia menawarkan padanya semua agama selain Islam. (Ia datang) dengan rupa orang yang memberi nasehat dan terpercaya seperti seorang ayah, ibu, saudara, atau teman setia, lalu berkata: “Matilah dalam keadaan Yahudi, karena ia adalah agama yang diterima di sisi Allah”. Atau ia berkata: “Matilah dalam keadaan nasrani yang merupakan agama Al-Masih dan diterima di sisi Allah Ta’ala. Setan tidak henti-hentinya menyebutkan keyakinan agama yang lain dengan harapan orang tadi meninggal dengan memeluk selain Islam. Inilah tujuannya, semoga Allah melaknatnya.

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal, “Aku menghadiri saat wafatnya ayahku, Ahmad dan tanganku memegang secercah kain untuk memegang janggutnya. Beliau tidak sadar kemudian terbangun dan mengatakan dengan isyarat tangannya: “Tidak, masih belum”. Beliau melakukannya berkali-kali. Maka aku katakan padanya: “Wahai ayahku, apa yang nampak olehmu ? Ayah menjawab, “Setan berdiri sambil menggigit terompahku dan mengatakan, “Wahai Ahmad, engkau telah selamat dariku”, maka aku mengatakan, “Tidak, masih belum sampai aku meninggal dunia”.

Al-Qurtubi berkata: “Aku mendengar guru kami Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin Umar Al-Qurtubi berkata : Aku menyaksikan saat menjelang wafatnya saudara guru kami Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Al-Qurtubi di Qurtubah. Dikatakan kepadanya Laa ilaaha illallah, tetapi ia mengucapkan: Tidak, tidak. Setelah ia sadar, kami mengingatkan hal tersebut padanya, maka ia menceritakan bahwa ada dua setan yang ada di sebelah kanan dan kirinya mengatakan salah satu dari keduanya membisiki : Matilah dalam keadaan yahudi, karena ia adalah sebaik-baik agama. Dan setan yang satunya berkata : Matilah dalam keadaan Nasrani, karena ia adalah sebaik-baik agama. Maka aku mengatakan pada keduanya : tidak, tidak, apakah kepadaku kalian menawarkan hal ini?”

Berkata Ibnul Jauzi, “Aku melihat sebagian orang yang beribadah dalam masa tertentu lalu berhenti, maka ada yang menyampaikan padaku bahwa orang tersebut berkata, “Aku telah beribadah pada Allah dengan ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun juga.

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya…..bahwa dosa, maksiat dan syahwat menghinakan pelakunya di saat kematian di tambah pelecehan setan padanya, sehingga berkumpul padanya kehinaan dan lemahnya keimanan, sehingga ia mengalami su’ul khatimah. Allah berfirman:

وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا

“Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia” [Al-Furqaan/25: 29].

Tidak ada yang ingin mengalami su’ul khatimah semoga Allah melindungi kita darinya. Pada orang yang suci lahir dan batinnya pada Allah dan juga benar dalam segala ucapan dan perbuatannya maka belum pernah terjadi hal yang demikian itu pada mereka. Su’ul khatimah hanya akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang berani melakukan dosa besar dan kejahatan, sehingga bisa jadi hal itu semua akan lebih dominan padanya sampai ajal menjemputnya sebelum ia sempat bertaubat.

المرجع: www.dar-alqassem.com

[Disalin dari علامات حسن الخاتمة وسوئها Penulis : Dar Al Qasim, Penerjemah Mohammad Latif, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]

Su’ul Khatimah

SU’UL KHATIMAH

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya… Amma Ba’du.

Dari Sahl bin Sa’d Al-Sa’idi Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan suatu amalan di mana amal tersebut dilihat oleh manusia sebagai amal para penghuni surga, namun di terasmuk penghuni neraka, dan terkadang seseorang beramal suatu amalan yang menurut manusia dia beramal dengan amalan para penghuni neraka namun dia termasuk pernghuni surga, sesungguhnya semua amal sangat tergantung dengan amal terakhiri”.[1]

Ibnu Baththal berkata : Dirahasiakannya akhir amal seseorang memliki hikmah yang sangat besar dan sebuah pengaturan taqdir yang sangat tinggi, sebab seandainya manusia mengetahui akhir amalanya maka jika dia termasuk orang yang selamat maka dia akan menjadi sombong dan malas berbuat, dan jika dia termasuk orang  yang binasa maka dia akan bertambah sombong; maka perkara tersebut dirahasiakan agar manusia tetap hidup antara takut dan harap”.[2]

Oleh karena itulah ketakutan orang-orang shaleh terhadap su’ul kahtimah sangat besar, salah seorang mereka berkata : Takutnya orang yang shaleh terhadap su’ul khatimah terjadi pada setiap lintasan dan gerakan. Abu Darda’ berkata : Tidaklah seseorang merasa aman akan tercabutnya keimanan pada saat kematian kecuali iman tersebut akan tercabut[3] lalu pada saat Supyan Al-Tsauri akan meninggal dia menangis, seorang lelaki berkata kepadanya: Wahai Abu Abdullah apakah anda menangis karena merasa banyak dosa?. Dia berkata: Tidak, tetapi aku takut jika imanku tercabut sebelum kematianku.[4]

Oleh karena itu ulama salaf merasa khawatir terhadap dosa-dosa yang menyebabkan diri mereka terhijab dari husnul khatimah.

Ibnul Qoyyim rahimhullah berakata : Inilah fiqih yang terbesar, di mana seseorang merasa khawatir terhadap dosa-dosanya yang akan memperdayanya pada saat kematian, sehingga dia terdinding dari mendapatkan husnul khatimah”.[5]

Al-Hafiz Abdul Haq Al-Isybily berkata : Dan su’ul khatimah, semoga Allah melindungi kita darinya, memiliki pintu dan sebab, di antaranya tenggelam dalam merebut, menuntut dan mengkonsentariskan diri kepada harta dunia, berpaling dari mengingat akherat, dan memberanikan diri tenggelam dalam bermaksiat kepada Allah. Sebab bisa jadi seseorang tenggelam dalam sebuah kesalahan atau kemaksiatan, berpaling (dari kebenaran), dikuasai rasa angkuh dan berani dengan dosa, sehingga menguasai dan menawan hati dan akalnya lalu kematian dating menjemputnya dalam kondisinya yang seperti itu. Dan su’ul khatimah tidak terjadi pada orang yang lahiriyahnya tanpak komitmen dengan agama dan keadaan bathinnya baik. Perakra yang seperti ini tidak pernah terdengar dan diketahui, dan segala puji hanya milik Allah, dia hanya terjadai pada orang yang memiliki aqidah yang rusak, terus tenggelam dalam dosa-dosa besar, memberanikan diri berbuat dosa-dosa besar sehingga bisa jadi dia tenggelam dalam dosa-dosa tersebut lalu mati menjemputnya sebelum bertaubat”.[6]

Terkadang, seseorang yang sedang mengalami sakratul maut menampakkan tanda-tanda su’ul khatimah seperti tidak mau mengucapkan kalimat syahadataini dan menolak mengucapkannya, berbicara tentang keburukan dan perbuatan yang diharamkan serta menampakkan ketergantungannya terhadap dosa dan yang sepertinya baik berupa perkataan dan perbuatan yang mengindikasikan akan keadaan dirinya yang berpaling dari agama Allah dan merasa marah dengan ketentuan Allah yang turun kepadanya.[7]

Ibnul Qoyyim berkata: Apabila engkau memperhatikan keadaan orang yang sedang menghadapi sakratul maut di mana mereka di saat itu dihalangi mendapat husnul khatimah  karena akibat dari perbuatan buruk mereka.[8]

Ibnu Rajab berkata: Sesungguhnya su’ul khatimah disebabkan oleh keburukan yang merasuk secara rahasia kepada seseorang di mana orang lain tidak mengetahuinya baik berupa perbuatan dan yang lainnya, maka perbuatan yang rahasia ini mengakibatkan su’ul khatimah pada saat kematian. Begitu juga, bisa jadi seseorang mengerjakan perbuatan para penghuni neraka namun di dalam batinnya tersimpan potensi kebaikan lalu potensi kebaikan ini muncul menguasai dirinya di akhir hayatnya akhirnya dia mendapat husnul khatimah.[9]

Para ulama telah menyebutkan beberapa amalan yang bisa mengakibatkan terajdinya su’ul khatimah:

1. Menunda bertaubat, terus tenggelam dalam kemaksiatan, meremehkan pelaksanaan kewajiban, terkadang seseorang menyembunyikan keinginannya untuk bertaubat namun….kapan? . Orang yang bujang berkata: Setalah aku menikah. Seorang siswa berkata: Aku bertaubat setelah lulus. Orang yang miskin berkata: Aku bertaubat setelah aku mendapat kerjaan. Orang yang masih kecil berkata: Setelah aku besar. Seperti inilah setiap orang dari mereka menentukan waktu pertaubatannya masing-masing, maka kepada mereka dikatakan: Siapakah yang menjamin bahwa kalian akan sampai kepada apa yang anda angan-angankan?, apakah kalian tidak takut jika kematian menjemput kalian secar tiba-tiba sebeluk kalian sampai pada angan-angan tersebut? Lalu pada saat kalian telah sampai kepada apa yang kalian angan-angankan apakah ada jaminan bahwa kalian akan diberikan taufiq untuk bertaubat sementara usia telah berlalu dalam dosa, kesesatan dan syahwat yang diharamkan, biasanya sebagai sebab bagi berbalik dan rusaknya hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. [Al-Anfal/8: 24]

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka. [Al-An’am/6: 110]

Kemudian Allah menjelaskan tentang sebab berpalingnya hati mereka. Allah berfirman:

كَمَا لَمْ يُؤْمِنُواْ بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

Seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada permulaannya, [Al-An’am/6:110]

maksudnya adalah karena mreka menolak kebenaran pada permulaannya. Kemudian Allah menjelaskan:

وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. [Al-An’am/6:110]

Allah telah mencela suatu kaum yang tenggelam dalam angan-angan yang panjang shingga melalaikan mereka dari beramal untuk ladang ahkerat, lalu ajal datang menjemput semetara mereka tenggelam dalam kelalaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِينَ ذَرْهُمْ يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka. [Al-Hijr/15: 2-3]

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata: Aku hanya takut kepada kalian dua perkara: panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu, adapun panjang angan-angan maka dia akan menyebabkan seseorang lupa terhadap akherat dan mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan seseorang berpaling dari kebenaran.

2. Senang bermaksiat. Apabila seseorang selalu berbuat kemaksiatan dan tidak segera bertaubat, akhirnya dirinya terbiasa dengan kemaksiatan dan menguasai hati dan pikirannya di akhir hayatnya sehingga dirinya mati dalam keadaan su’ul khatimah dan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu dia berkata:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ علَى ما ماتَ عليه

Seorang hamba akan dibangkitkan dalam keadaan yang sama dengan keadaan kematiannya.[10]

Ibnu Katsir berkata: Dosa-dosa, kemaksiatan, dan syahwat akan mengecewakan pelakunya pada saat kematian datang menjemput bersamaan dengan berkhianatnya setan terhadap hamba, maka telah terkumpul padanya dua kekecewaan di tambah dengan keimanan yang lemah, sehingga dirinya terjebak ke dalam su’u; khatimah.[11]

Abdul Aziz bin Abi Ruwad berkata: Aku menyaksikan seseorang yang sedang menghadapi kematian dan dia ditalkinkan لا إله إلا الله  Pada akhir ucapannya orang tersebut berkata: Dia kafir terhadap apa yang engkau katakana dan dia meninggal dalam keadaan itu, lalu aku bertanya tentang lelaki itu: Ternyata dia adalah seorang yang kecanduan khamar. Abdul Aziz berkata: Takutlah kalian terhadap dosa sebab itulah yang telah mejerumuskannya. Dan cerita yang lain, seseorang dijemput kematian: lalu dikatakan kepadanya: Ucapkanlah: لا إله إلا الله namun dirinya mendendangkan lagu-lagu sehingga ruhnya tercabut.

Dan diperintahkan kepada seseorang saat kematiannya : Ucapkanlah  لا إله إلا الله dia menjawab : Ah…Ah…aku tidak bisa mengucapkannya. Banyak cerita tentang masalah ini.[12]

Ibnu Qudamah rahimhullah berkata: Apabila engkau telah mengetahui makna su’ul khatimah maka wasapadalah terhadap sebab-sebabnya, persiapakanlah perbuatan-perbuatan yang baik bagimu, janganlah menunda-nunda persiapan sebab usia ini sangat pendek, dan jadikanlah setiap hembusan nafasmu sebagai akhir dari hayatmu, sebab bisa jadi ruhmu tercabut pada saat itu, dan manusia akan mati dengan keadaan sama dengan hidupanya dan akan dibangkitakan dengan keadaan yang sama dengan kematiannya.[13]

Maka hendakalah seorang hamba tetap komitmen dalam ketaatan dan taqwa, dan menjauhkan dirinya dari apa yang diharamkan oleh Allah, bersegera taubat dari segala kemaksiatan, dan hendaklah dia memelas dalam bero’a agar diberikan husnu khatimah, berperasangka baiklah terhadap Allah. Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ‏”‏ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏‏ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ ‏‏ 

Sesungguhnya seluruh hati anak Adam di dua jari dari jari-jari Allah Azza Wa Jalla seperti satu hati di mana Dia berbuat padanya sekehendakNya”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ya Allah yang Maha Kuasa memalingkan seluruh hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepadaMu”.[14]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari سوء الخاتمة Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
________
Footnote
[1] Shahih Bukhari: 4/190 no: 6439 dan Shahih Muslim: 2/2042 no: 2651
[2] Fathul Bari: 11/338
[3] Mukhtashor Minhajul Qoshidin, halaman: 391
[4] Mukhtashor Minhajul Qoshidin, halaman: 391
[5] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala Anil Dawa’I Syafi, halaman: 148
[6] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala Anil Dawa’I Syafi, halaman: 146, 148
[7] Masyahidul Ihtidhar: halaman: 75
[8] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala Anil Dawa’I Syafi, halaman: 146
[9] Jami’ul ulum wal hikam, halaman: 172-173
[10] Shahih Muslim: 4/2206 no: 2878
[11] Al-Bidayah wan Nihayah: 9/163
[12] Lihat Jami’ul ulum wal hikam, halaman: 173, Al-Jawabul Kafi halaman: 147
[13] Mukhtashor minhajul Qoshidin: halaman: 393
[14] Shahih Muslim:4/2045 no: 2654

Keutamaan dan Manfaat Sedekah

KEUTAMAAN DAN MANFAAT SEDEKAH

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan yang paling mulia, nabi kita Muhammad, dan atas keluarga serta segenap sahabatnya. Amma ba’du:

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

قُل لِّعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُواْ يُقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَيُنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ ﴿3١﴾  سورة إبراهيم

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” [Ibrahim/14:31]

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ… ﴿195﴾  سورة البقرة

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah ….. [Al-Baqarah/2:195]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم ﴿254﴾  سورة البقرة

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu. [Al-Baqarah/2:254]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ ﴿267﴾  سورة البقرة

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. [Al-Baqarah/2:267]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿16 ﴾  سورة التغابن

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. [At-Tagabun/64:16]

Diantara hadits yang menunjukkan mengenai keutamaan bersedekah, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Tiada seorang (pun) dari kalian, melainkan (kelak) Allah akan berbicara kepadanya tanpa seorang penerjemah. Maka ia melihat ke kanan, tidaklah dilihatnya melainkan amal perbuatannya yang pernah dilakukan. Dan ia (pun) melihat ke kiri, tidaklah dilihatnya melainkan amal perbuatannya yang pernah dilakukan. Dan ia (pun) melihat ke depan, tidaklah dilihatnya melainkan neraka di hadapan wajahnya. Maka peliharalah (diri) kalian dari api neraka, sekalipun dengan sebiji buah kurma (yang disedekahkan).” [Terdapat dalam ashShahihain].

Seorang yang memperhatikan nash-nash yang menyuruh dan mendorong untuk bersedekah akan mendapatkan bahwa amalan sedekah memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh amalan selainnya. Sampai-sampai Umar Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Diriwayatkan kepadaku bahwa berbagai amal saling berbangga-bangga, maka amalan sedekah berkata, ‘Aku yang paling utama diantara kalian’.”

KEUTAMAAN DAN MANFAAT SEDEKAH
Pertama : Sedekah dapat meredakan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِيءُ غَضَبَ الرَّبِّ

Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi, (dapat) meredam murka Allah Ta’ala” [Shahih at-Targhib].

Kedua : Sedekah menghapuskan kesalahan dan memadamkan percikan apinya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

Sedekah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api” [Shahih at-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani].

Ketiga : Sedekah menjaga pelakunya terhindari dari api neraka, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Maka peliharalah (diri) kalian dari api neraka, sekalipun dengan sebiji buah kurma (yang disedekahkan).

Keempat : Pelaku sedekah berada dalam naungan sedekahnya pada hari kiamat nanti, sebagaimana hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

Setiap orang berada di bawah naungan amalan sedekahnya, hingga digelar pengadilan di antara manusia

Yazid berkata :

وَكَانَ أَبُو مَرْثَد لاَ يُخْطِئُهُ يَوْمٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ فِيهِ بِشَيْءٍ وَلَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أَوْ كَذَا

Tidaklah satu hari Abu Martsad berbuat suatu kekeliruan, melainkan ia (segera) bersedekah dengan sesuatu apa saja di hari itu (juga). Meskipun hanya dengan sepotong kue (ka’kah) atau bawang putih atau semacamnya.” [Terdapat dalam ashShahihain].

Kelima : Pada amalan sedekah terkandung penawar untuk berbagai jenis penyakit jasmani, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

دَاوُوا مَرضاكُمْ بِالصَّدقةِ

Obatilah penyakit-penyakit kalian melalui sedekah.

Ibnu Syaqiq menuturkan, “Aku mendengar Ibnul Mubarak ditanya oleh seorang pria mengenai nanah yang terus keluar dari lututnya sejak tujuh tahun lalu. Sebenarnya ia telah berobat dengan bermacam-macam pengobatan, dan ia pun telah berkonsultasi dengan banyak dokter, namun belum membuahkan hasil. Maka beliau menjawab, “Pergilah dan galilah sumur di daerah yang membutuhkan air. Maka sungguh aku berharap di sana akan muncul mata air dan (dengan usaha itu dapat) menghentikan darah yang keluar dari lututmu. Maka pria itu melakukannya, lalu sembuh.” [Shahih at-Targhib].

Keenam : Demikian pada amalan sedekah ini juga terkandung penawar berbagai jenis penyakit hati, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang mengeluhkan kekerasaan hatinya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

Jika kamu hendak melembutkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” [HR. Ahmad]

Ketujuh : Bahwa Allah menolak berbagai macam musibah dengan sedekah, sebagaimana dalam wasiat Yahya kepada Bani Israil :

 وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدُوُّ فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَقَدَّمُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَقَالَ أَنَا أَفْدِيهِ مِنْكُمْ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ فَفَدَى نَفْسَهُ مِنْهُمْ

Allah memerintahkan kepada kalian bersedekah, maka perumpamaan hal itu seperti ibarat seorang laki-laki yang ditawan oleh musuh, kedua tangannya diikat ke lehernya, lalu mereka membawa pria tersebut untuk mereka penggal lehernya. Lalu tawanan ini berkata: ‘Saya tebus (diriku) dari kalian dengan (tuntutan tebusan) sedikit dan banyak’. Lalu ia pun menebus dirinya dari mereka.” [Shahihul Jami’ ].

Maka sedekah memiliki pengaruh yang mengagumkan dalam menolak berbagai bentuk musibah, sekalipun mereka dari golongan orang fajir, zhalim, bahkan kafir sekalipun. Maka sesungguhnya Allah Ta’ala menolak berbagai jenis musibah melalui amalan sedekah ini. Ini merupakan perkara yang telah diketahui oleh banyak orang, baik dari kalangan khusus mereka (para ulama) dan orang umum (awam) sekalipun, bahkan penduduk bumi lainnya karena mereka telah mencobanya.

Kedelapan : Bahwa seorang hamba baru bisa sampai pada hakikat kebajikan sejati melalui amalan sedekah, sebagainya dalam firman-Nya Ta’ala:

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٩٢﴾  سورة آل عمران

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imran/3:92]

Kesembilan : Bahwa seorang yang bersedekah di doakan oleh seorang malaikat di setiap harinya, berbeda terbalik dengan orang yang menahan hartanya. Mengenai hal tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tiada sehari pun yang dilewati oleh para hamba-Nya melainkan turun dua orang malaikat, maka satu di antara mereka berkata : ‘Ya Allah berikanlah pengganti bagi orang yang berinfaq’, dan malaikat lainnya berkata, ‘Ya Allah berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahannya’.” [Terdapat dalam ashShahihain].

Kesepuluh : Bahwa pelaku sedekah dikaruniakan keberkahan baginya pada hartanya, sebagaimn yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut dengan sabdanya :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan.” [Terdapat dalam Shahih Muslim].

Kesebelas : Bahwa tidak ada harta yang tersisa bagi pemilik harta melainkan apa yang telah disedekahkannya. Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala :

 لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٩٢﴾  سورة آل عمران

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imran/3:92]

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengenai kambing yang dikurbankannya, “Apakah masih ada yang tersisa?”. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab :

 مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلاَّ كَتِفُهَا

Tidak ada yang tersisa (karena telah disedekahkan) melainkan bagian pundaknya (saja).”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا

Tersisa semuanya melainkan bagian pundaknya (saja).” [Terdapat dalam Shahih Muslim].

Kedua belas : Bahwa Allah melipatgandakan ganjaran bagi orang yang bersedekah, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla :

 إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١٨﴾  سورة الحديد

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. [Al-Hadid/57:18]

Dan firman-Nya Ta’ala :

 مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً وَاللّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٢٤٥﴾  سورة البقرة

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. [Al-Baqarah/2:245]

Ketiga belas : Bahwa pengamal sedekah akan dipanggil dari arah pintu khusus dari pintu-pintu surga, pintu yang disebut (dengan) pintu sedekah. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ فِي الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ يُدْعَى مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menginfakkan sepasang barang di jalan Allah, di surga dia akan dipanggil, ‘Wahai hamba Allah, (pintu) ini adalah lebih baik.’ Maka barangsiapa dari kalangan pengamal shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan siapa dari kalangan praktisi jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa dari ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa dari kalangan pengamal puasa, akan dipanggil dari pintu ar-Raiyan.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Tidak adakah orang yang dipanggil dari banyak pintu-pintu penting (tersebut). Maka apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu-pintu ini?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya ada, dan aku harap engkau termasuk dari mereka’.” [Terdapat dalam Shahih Muslim].

Keempat belas : Bahwa tiadalah amalan sedekah ini ketika berkumpul dengan amalan puasa dan mengantarkan jenazah serta menjenguk orang sakit pada satu hari yang bersamaan, melainkan demikian itu menjadikan pelakunya masuk surga. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا ؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa ?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah mengantar jenazah?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu kembali menjawab, “Aku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu kembali menjawab, “Aku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (lagi), “Lalu siapa diantara kalian yang telah menjengut orang sakit hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu kembali menjawab, “Aku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah semua ini berkumpul pada diri seseorang melainkan ia masuk surga.” [HR. Muslim].

Kelima belas : Bahwa pada amalan sedekah terdapat di dalamnya kelapangan dada, kenyamanan dan ketenangan hati. Maka sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menberikan tamtsil :

 مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ مِنْ ثُدِيِّهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا فَأَمَّا الْمُنْفِقُ فَلاَ يُنْفِقُ إِلاَّ سَبَغَتْ أَوْ وَفَرَتْ عَلَى جِلْدِهِ حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ وَأَمَّا الْبَخِيلُ فَلاَ يُرِيدُ أَنْ يُنْفِقَ شَيْئًا إِلاَّ لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكَانَهَا فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلاَ تَتَّسِعُ

Perumpamaan orang bakhil dan orang yang bersedekah seperti ibarat dua orang yang mengenakan dua baju (jubatan) yang terbuat dari besi, melekat dari kedua buah dadanya hingga tulang selangka1. Adapun orang yang bersedekah, tidaklah ia bersedekah melainkan semakin lapang (bajunya) atau memenuhi bagian-bagian kulitnya, hingga menutupi jari-jarinya dan menghilangkan bekas-bekas. Sedangkan orang bakhil, maka tidaklah ia enggan menginfakkan sedikitpun (dari hartanya) melainkan setiap lingkaran semakin mengeret pada tempatnya, orang itu berusaha merenggangkannya, tetapi tidak merenggang-renggang (juga).”  [Terdapat dalam Ash-Shahihain]

Pengamal sedekah setiap kali ia bersedekah maka baginya ketenangan hati dan kelapangan dada. Setiap kali ia bersedekah, makin luas dan tenang serta lapang. Makin menguat kebahagiaannya dan makin besar kesenangannya. Kalaulah pada amalan sedekah tidak ada yang diharapkan selain keuntungan ini saja, niscaya seorang hamba secara hakiki akan tetap terus memperbanyak dan menyegerakan sedekahnya. Allah Ta’ala berfirman :

 وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾  سورة الحشر

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Al-Hasyr/59 : 9]

Keenam belas : Bahwa orang yang bersedekah sekiranya dari kalangan ulama, maka dia berada di seutama-utamanya kedudukan di sisi Allah. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ : نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

Sesungguhnya (keadaan penduduk) dunia terbagi menjadi empat (keadaan), (yaitu) seorang hamba yang Allah karuniakan harta dan ilmu, maka dengannya ia bertakwa kepada Rabbnya, menyambung tali silaturahmi dan ia mengetahui bahwa di dalamnya terdapat hak Allah, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling utama ..” [Al-Hadits].

Ketujuh belas : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkan kaya yang disertai sedekah berada di tingkatan yang sama dengan al-Qur`an yang disertai pengamalannya. Demikian itu dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ . وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي الْحَقِّ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali (kepada) dua orang. (Yaitu) seorang yang diberikan al-Qur`an oleh Allah, lalu ia mengamalkannya siang dan malam. Dan seorang yang dikaruniakan (kekayaan) harta oleh Allah, lalu ia menginfakkannya di (jalan) kebenaran siang dan malam.”

Maka bagaimana sekiranya Allah mengaruniakan taufik-Nya kepada seorang hamba-Nya dengan menghimpun demikain itu semuanya? Kita bermohon kepada Allah yang Maha Dermawan akan karunia-Nya.

Kedelapan belas :  Bahwa seorang hamba dianggap telah menepati perjanjian antara dirinya dengan Allah Ta’ala dan menyempurnakan akad transaksi jual beli yang terikat dengan-Nya, pada saat ia mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah. Sebagaimana yang disinyalir dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla :

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١١١﴾  سورة التوبة

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:111]

Kesembilan belas : Bahwa sedekah merupakan bukti atas kesungguhan dan keimanan seorang hamba, sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ 

Sedekah itu adalah bukti.” [HR. Muslim]

Kedua puluh : Bahwa sedekah pensuci bagi harta, melepaskannya dari sikap-sikap buruk (ad-dakhan) yang menerpanya, seperti kelalaian, sumpah dan dusta serta kealpaan. Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada para pedagang dengan sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

Wahai para pedagang, sesungguhnya (pada) perdagangan ini terjadi kealphaan dan sumpah, maka campurilah dengan sedekah.” [HR. Ahmad, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah. Juga terdapat dalam Shahih al-Jami’.]

[Disalin dari الصدقة فضائلها وأنواعها Penulis : Ali Bin Muhammad ad-Dihami, Penerjemah Muhammad Khairuddin, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
________
Footnote
[1] Yaitu tulang yang menghubungkan tulang dada dengan belikat, pent.

Sedekah Utama dan Bentuk Sedekah Jariyah

SEDEKAH-SEDEKAH YANG PALING UTAMA

Pertama : Sedekah tersembunyi, karena amalan ini adalah yang paling dekat dengan keikhlasan dibanding dengan cara terang-terangan. Mengenai hal itu, Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ ﴿٢٧١﴾  سورة التوبة

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. [Al-Baqarah/2:271]

Disini diberitakan bahwa bagi orang yang bersedekah kepada orang fakir secara sembunyi-sembunyi lebih baik dibanding menampakkan dan mengumumkannya. Allah Ta’ala menekankan pengaitan cara tersembunyi dengan mendatangi –khususnya- orang-orang fakir, dan tidak mengatakan, “Sekiranya kalian menyembunyikannya maka itu baik bagi kalian.” Karena diantara pengamalan sedekah ada yang tidak memungkinkan menyembunyikannya, seperti persiapan pasukan perang, membangun jembatan, irigasi sungai, dsb. Sedang mendatangi orang-orang fakir secara diam-diam dan menutup-nutupinya, maka hal itu memiliki berbagai keuntungan, (diantaranya) menutup-nutupinya, tidak membuat malu di hadapan orang, tidak menempatkannya sebagai tontonan, sementara menjadikan orang melihat bahwa (posisi) tangannya sebagai tangan yang dibawah, orang menjadi tahu bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun, dan bersikap zuhud dalam pergaulan dan interaksinya. Dan ini merupakan nilai tambah dalam konteks sikap ihsan terhadapnya melalui amalan sedekah dengan penuh ketulusan, tidak ingin dilihat orang dan tidak mengharap pujian orang. Karenanya sedekah kepada orang fakir secara tersembunyi lebih baik daripada secara terang-terangan di hadapan orang. Sebab itu Nabi memuji  sedekah secara diam-diam, dan memberikan apresiasi terhadap pelakunya. Dan beliau mengabarkan bahwa pelakunya termasuk salah satu dari tujuh orang yang berada dalam naungan ‘arsy Allah pada hari kiamat nanti. Karena ini pula Allah Ta’ala mengaruniakan berbagai kebaikan bagi orang yang bersedekah dan mengabarkan pula bahwa Allah Ta’ala mengampuni segala kesalahannya disebabkan sedekahnya. [Dikutip dari Thariq Hijratain].

Kedua : Sedekahnya orang sehat dan kuat lebih utama dari wasiat harta orang yang telah meninggal dunia atau sedekahnya orang sakit, ringkasnya sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ تَصَّدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ ، وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى إذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْت لِفُلاَنٍ كَذَا وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، ألاَ وَقَدْ لِفُلاَنٍ كَذَا 

Seutama-utamanya sedekah adalah engkau bersedekah saat engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut akan kefaqiran serta sedang mengharap kekayaan. Dan janganlah menunda-nundanya hingga ruhmu telah mencapai kerongkongan, barulah engkau berwasiat, ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Ketahuilah sebenarnya harta itu telah menjadi milik si fulan (ahli warisnya, pent.).” [Terdapat dalam ash-Shahihain].

Ketiga : Sedekah setelah menunaikan perkara wajib, sebagaimana firman-Nya Azza wa Jalla :

 إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ ﴿٢٧١﴾  سورة التوبة

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. [Al-Baqarah/2:271]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 لاَ صَدَقَةَ إِلاَّ عَنْ ظَهْرِ غِنًى 

Tidak ada sedekah kecuali dari harta yang lebih.” [HR. Al-Bukhari].

Diriwayat lain :

وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى 

Sebaik-baik sedekah adalah dari harta yang lebih.” [HR. Al-Bukhari].

Keempat : Pengorbanan seseorang sebatas kesanggupan dan kemampuannya, sementara ia dalam keadaan kekurangan dan butuh, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ 

Sedekah yang paling utama adalah pengorbanan orang yang kekurangan, dan mulailah dari orang yang berada di bawah tanggunganmu.” [HR. Abu Dawud].

Beliau bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ ، قَالُوا : وَكَيْفَ ، قَالَ : كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا 

Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham. Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana bisa? Beliau bersabda, Seseorang (hanya) mempunyai dua dirham, lalu dia sedekahkan salah satunya. Sedang salah seorang lainnya mempunyai harta banyak, kemudian dia mengambiil seratus ribu dirham darinya lalu menyedekahkannya.” [HR. An-Nasa’i, Shahih al-Jami’].

Al-Baghawi Rahimahullah berpendapat, “Baiknya bagi seseorang bahwa ia bersedekah dengan kelebihan hartanya, menyisakan untuk dirinya makanan yang cukup untuk menghindari fitnah kefaqiran, dan kemungkinan penyesalan yang datang setelahnya atas apa yang telah diperbuatnya, sehingga dapat mengugurkan ganjarannya. Namun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memungkiri atas apa yang terjadi pada diri Abu Bakar yang mengeluarkan seluruh hartanya, selama diketahui hal itu terlahir dari kuatnya keyakinan dan tingginya ketawakkalan serta ia tidak takut akan fitnahnya, sebagaimana yang dikuatirkan orang lain. Sedang orang yang sedekah sementara keluarganya membutuhkannya, atau ia memiliki hutang dan tidak ada harta yang dimilikinya selain itu, maka membayar utang dan menafkakasn keluarganya adalah lebih utama dalam keadaan ini. Kecuali orang itu dikenal kesabarannya, lalu ia lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya, sekalipun ia sanggat membutuhkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar, demikian pula dengan itsarnya para sahabat Anshar kepada saudaranya dari kalangan Muhajirin maka Allah memuji mereka dengan firman-Nya :

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ … ﴿٩﴾  سورة الحشر

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). [Al-Hasyr/59:9]

Kelima : Nafkah untuk anak-anaknya, sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 الرَّجُلُ إِذَا أَنْفَقَ النَّفَقَةَ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

Apabila seorang memberi nafkah kepada keluarganya demi untuk mencari pahalanya (dari Allah), maka menjadi sedekah baginya.” [Terdapat dalam Ash-Shahihain].

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أَرْبَعَةُ دَنَانِيرَ : دِينَارٌ أَعْطَيْتَهُ مِسْكِينًا ، وَدِينَارٌ أَعْطَيْتَهُ فِي رَقَبَةٍ ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ ، أَفْضَلُهَا الدِّينَارُ الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ 

Empat dinar; satu dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar yang engkau berikan untuk memerdekan seorang budak, satu dinar yang engkau berikan di jalan Allah, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu paling besar pahalanya..” [HR. Muslim].

Keenam : Sedekah kepada sanak famili terdekat.
Dahulu Abu Thalhah adalah seorang sahabat Anshar yang paling banyak hartanya. Saat itu harta yang paling disukainya adalah Bairuha’ (nama sebuah kebun, pent.), yang terletak menghadap masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memasukinya dan minum airnya yang sedap di dalamnya. Anas berkata : Ketika turun ayat ini :

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٩٢﴾  سورة آل عمران

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imran/3:92]

Maka Abu Thalhah berdiri menghampiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Sesungguhnya hartaku yang paling kusukai adalah Bairuha’, dan (kebun) itu sebagai sedekah semata-mata karena Allah Ta’ala. Aku berharap (menjadi) kebaikan dan simpanan di sisi Allah Ta’ala. Maka taruhlah dia, wahai Rasulullah, ditempat yang sesuai menurutmu!. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah menakjubkan! harta yang beruntung, dan aku sudah mendengar apa yang kamu ucapkan, dan aku berpendapat agar kamu memberikannya untuk para kerabat dekat.” Maka Abu Thalhah berkata, “Akan kulakukan wahai Rasulullah!.” Lalu dia membagi-bagikanya kepada para sanak famili dan anak-anak pamannya.” [Terdapat dalam Ash-Shahihain].

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِى عَلَى ذِى الرَّحِمِ ثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Sedekah yang diberikan kepada orang miskin mendapat satu pahala, sedangkan sedekah yang diberikan kepada sanak famili mendapat dua pahala; pahala sedekah dan pahala silaturahmi.” [HR. Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Lebih khusus lagi sanak famili –setelah keluarga yang harus engkau nafkahkan- yang dua ini :

1. Berstatus yatim. Berdasarkan firman-Nya Jalla wa ‘Ala :

فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ﴿١١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ﴿١٢﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿١٣﴾ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ﴿١٤﴾ يَتِيماً ذَا مَقْرَبَةٍ ﴿١٥﴾ أَوْ مِسْكِيناً ذَا مَتْرَبَةٍ ﴿١٦﴾  سورة البلد

Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. atau memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. [Al-Balad/90:11-16]

2. Sanak famili dekat yang menyimpan permusuhan dan menyembunyikannya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

Seutama-utamanya sedekah adalah (yang diberikan) kepada sanak famili yang memusuhi.” [HR. Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan terdapat di Shahih al-Jami’].

Ketujuh : Sedekah kepada tetangga; Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan melalui firman-Nya:

وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ … ﴿٣٦﴾  سورة النساء

Tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh … [An-Nisa/4:36]

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Dzar dengan sabdanya :

إذَا طَبَخْت مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَك مِنْهَا

Sekiranya kamu masak kuah, maka perbanyaklah airnya. Dan bagilah tetanggamu.” [HR. Muslim].

Kedelapan : Sedekah kepada sahabat dan rekan di jalan Allah; berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفْضَلُ الدِّينَارِ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Seutama-utama dinar, adalah dinar yang belanjakan untuk keluarganya, dinar yang dibelanjakan untuk (perawatan) binatang untuk berperang di jalan Allah, dan dinar yang dibelanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” [HR. Muslim].

Kesembilan : Yang dibelanjakan dalam jihad di jalan Allah, baik jihad terhadap orang-orang kafir ataupun terhadap orang-orang munafik; karena sesungguhnya hal itu termasuk pembelanjaan harta yang paling agung. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hal tersebut di ayat yang lain di dalam Al-Qur`an. Dia mengedepankan jihad harta atas jihad diri di kebanyakan ayat dan diantara firman-Nya :

 انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٤١﴾  سورة التوبة

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [At-Taubah/9:41]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan kriteria orang-orang beriman yang sempurna dengan mensifatkan mereka dengan ash-shidq.

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ ﴿١٥﴾  سورة الحجرات

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. [Al-Hujurat/49:15]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ridhwanullah ‘Alaihim dengan hal tersebut dalam firman-Nya :

 لَـكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ جَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٨٨﴾ أَعَدَّ اللّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٨٩﴾  سورة التوبة

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:88-89]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 أَفْضَلُ الصَّدَقَاتِ: ظِلُّ فُسْطَاطٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوْ طُرُوقَةُ فَحْلٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Seutama-utamanya sedekah adalah kemah berteduh (untuk para mujahid) di jalan Allah, atau pemberian pelayan di jalan Allah, atau hewan tunggangan di jalan Allah.” [HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا

Barangsiapa yang menyediakan perlengkapan perang di jalan Allah, maka dia telah berperang.” (Terdapat dalam Ash-Shahihain).

Namun untuk diketahui bersama bahwa seutama-utamanya sedekah untuk jihad di jalan Allah adalah saat-saat dibutuhkan dan kekurangan di kalangan muslimin, sebagaimana kondisi kita saat ini.

Adapun jika di waktu berkecukupan dan kemenangan di pihak kaum muslimin, maka tidak diragukan lagi bahwa sedekah kala tersebut adalah baik, namun tidak menyamai ganjaran dalam situasi yang pertama.

 وَمَا لَكُمْ أَلاَّ تُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١٠﴾ مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١١﴾  سورة الحديد

Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, [Al-Hadid/57:10-11]

Sesungguhnya orang yang berinfak dan berperang, dalam situasi aqidah yang tersudutkan, jumlah para penolong sedikit, kondisi yang tidak kondusif, tidak ada kelapangan harta. Berbeda dengan orang yang berinfak dan berperang, sementara aqidah dalam keadaan aman, para penolong berjumlah banyak, target kemenangan dan penguasaan serta keberhasilan tampak di berbagai daerah. Demikian itu terkait dengan (tujuan) langsung ke Allah secara murni, sempurna dan tidak samar di dalamnya. Kepercayaan yang dalam, merasa tenang hanya dengan Allah semata, jauh dari segala sebab zahir. Dan setiap realitas menjadi dekat, tidak didapati pertolongan pada upaya kebaikan, melainkan dari apa yang berasal langsung dari akidahnya. Inilah yang menjadikan usaha kebaikan mendapatkan banyak penolong-penolong, hingga harus benar terlebih dahulu niatnya dan memurnikannya semurni para pendahulu. (Fi Zhilalil Qur’an).

Kesepuluh : Sedekah jariyah, yaitu amalan yang masih menetap pasca meninggalnya seorang hamba, dan terus mengalir pahala baginya. Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang manusia meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, (yaitu) sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” [HR. Muslim].

BENTUK-BENTUK SEDEKAH JARIYAH
Untuk anda beberapa bentuk-bentuk sedekah jariyah yang terdapat dalam nash-nashnya :

1. Memberi air minum dan penggalian sumur-sumur.
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ سَقْيُ الْمَاءِ

Sebaik-baik sedekah adalah memberi air minum.” [HR. Muslim].

2. Memberi makan.
Sesunggunya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya bagaimana islam yang baik itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Engkau beri makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal.” [Terdapat dalam Ash-Shahihain].

3. Membangun masjid.
berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membangun masjid demi mencari wajah Allah, niscaya Allah bangunkan rumah baginya di surga” [Terdapat dalam Ash-Shahihain]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ حَفَرَ مَاءً ، لَمْ يَشْرَبْ مِنْهُ كَبِدٌ حَرَّى ، مِنْ جِنٍّ ، وَلاَ إِنْسٍ ، وَلاَ طَائِرٍ ، إِلاَّ آجَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ بَنَى مَسْجِدًا كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أَوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang menggali sumur, (kemudian) tidaklah setiap yang memiliki ruh, baik dari kalangan manusia, jin, dan burung yang minum dari sumur tersebut, melainkan Allah (pasti) akan membalasnya kelak di hari Kiamat.”  Dan barangsiapa yang membangun masjid karena Allah (semata), sekalipun (hanya) sebesar lubang bertelur burung tekukur, niscaya Allah bangunkan rumah baginya di surga” [Terdapat dalam Ash-Shahihain].

4. Berinfak dalam menyebarkan ilmu, dan membagikan mushhaf al-Qur`an, serta membangunkan tempat-tempat singgah bagi para musafir yang membutuhkan pertolongan. Dan yang setaraf dengannya seperti anak yatim, para janda, dsb.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu Berkata, Beliu Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Sesungguhnya termasuk amalan dan kebaikan orang mukmin yng masih mengalir pasca kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, atau anak shalih yang ditinggalkannya, atau mushhaf al-Qur`an yang diwariskannya, atau masjid yang dibangunnya, atau rumah singgah bagi para musafir yang dibangunnya, atau sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dkeluarkan dari hartanya saat sehatnya dan di masa hidupnya, (semua itu) masih mengalir kepadanya pasca kematiannya.” [HR. Ibnu Majah; Shahih at-Targhib].

Sekedar untuk diketahui oleh saudaraku, bahwa sedekah di waktu-waktu tertentu lebih utama daripada di masa yang lainnya, seperti sedekah di bulan Ramadhan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas  :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al Qur`an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al Qur`an. Rasulullah Shallallahu `Alahi Wa Sallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” [Terdapat dalam Ash-Shahihain].

Demikian pula sedekah di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tiada hari-hari dimana amal shalih di dalamnya lebih disukai oleh Allah daripada hari-hari sekarang yaitu sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhjjah).” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah meskipun jihad fi sabilillah?” Jawab Nabi, “Meskipun jihad fi sabilillah, kecuali jika seseorang yang keluar (jihad) dengan (mengorbankan) jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Al-Bukhari).

Anda telah mengetahui bahwa sedekah merupakan amalan paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Juga diantara waktu-waktu utama, yaitu pada hari dimana manusia dalam keadaan kesukaran dan sangat  membutuhkan serta kefakiran yang nyata, sebagaimana firman-Nya Subhnahu wa Ta’ala :

فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ﴿١١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ﴿١٢﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿١٣﴾ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ﴿١٤﴾  سورة البلد

Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan. [Al-Balad/90 :11-14]

Maka termasuk bagian dari nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas seorang hamba adalah dikaruniakan harta baginya. Dan termasuk kesempurnaan suatu kenikmatan padanya, apabila hal itu membantunya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.”

 نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

Sebaik-baik harta yang shalih (baik) yang berada pada seorang yang shalih (pula)” [HR. Al-Bukhari].

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari الصدقة فضائلها وأنواعها Penulis : Ali Bin Muhammad ad-Dihami, Penerjemah Muhammad Khairuddin, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Rezim Apartheid Zionis di Palestina

REZIM APARTHEID ZIONIS DI PALESTINA

Situasi di Palestina memanas dalam beberapa hari terakhir ini. Hal ini bermula sejak penghujung bulan Ramadan yang baru lalu, ketika berlaku pengusiran dan pengambilalihan paksa atas beberapa rumah milik penduduk Palestina di kawasan Syeikh Jarrah di Yerusalem (Baitul Maqdis) Timur serta terjadinya serangan oleh petugas keamanan ‘Israel’ atas Masjid al-Aqsha (Frykberg, 11 Mei 2021).

Serangan di bulan Ramadhan oleh ‘Israel’ terhadap masyarakat Palestina telah terjadi berulang kali dan menimbulkan korban yang tidak sedikit, terutama di pihak Palestina.  Dengan bahasa kekuasaan dan diplomasinya, negara zionis ‘Israel’ tak pernah mengubris kecaman masyarakat internasional terhadap berbagai pelanggaran dan kekerasan yang dilakukannya. Negara zionis yang bisa disifati sebagai kolonialisme pemukim (settler colonialism) ini terus meluaskan pengaruhnya di seluruh dunia untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat internasional.

Walaupun banyak masyarakat dunia yang marah terhadap perilaku zionis ‘Israel’, tidak sedikit pula yang menutup mata dan memberikan dukungan. Negara-negara Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan ‘Israel’ juga bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Di samping itu, ada pula anggota masyarakat Muslim yang bersimpati terhadap zionis Yahudi dan beranggapan bahwa mereka sebenarnya berhak atas Yerusalem dan Palestina. Sementara orang-orang Arab Muslim yang ada di tempat itu dianggap sebagai penyerobot yang tidak memiliki hak untuk berada di sana.

Benarkah anggapan seperti itu?

Fokus utama tulisan kali ini adalah pada klaim hak Yahudi atas Palestina serta sifat kekuasaan mereka di negeri itu. Tulisan ini menggunakan pandangan orang-orang Yahudi sendiri.

Pada tahun 1922, Leopold Weiss tengah berada di Baitul Maqdis (Yerusalem). Ia adalah seorang Yahudi Austro-Hungaria yang kelak masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Asad. Walaupun ketika itu ia belum masuk Islam, rasa simpatinya terhadap orang-orang Arab Muslim di negeri itu cukup besar.

Ia bersikap sangat kritis terhadap Deklarasi Balfour (1917), begitu pula terhadap misi zionis untuk mendirikan ‘negara Yahudi’ di Palestina.

Pada satu kesempatan, ia mendengarkan Chaim Weizmann berbicara dalam salah satu kunjungan rutinnya ke Yerusalem.

Weizmann merupakan salah satu pemimpin penting Zionis yang berbasis di Inggris dan nantinya menjadi presiden pertama negara zionis ‘Israel’. Di akhir pembicaraannya yang berapi-api bagi perjuangan zionis, Leopold Weiss mengajukan pertanyaan.

Ia mengkritik zionisme yang bermasalah secara moral karena telah mengabaikan masyarakat Arab Palestina yang jumlahnya mayoritas ketika itu dan merupakan penduduk asli negeri itu.

Dengan ringan Weizmann menjawab bahwa di masa depan orang-orang Arab Palestina tak akan lagi menjadi penduduk mayoritas di sana. Di bawah ini kami kutip dialog lanjutan dari kedua orang tersebut secara lebih lengkap, dimulai dari komentar Weiss (Asad).

“… tidakkah aspek yang lebih besar dari pertanyaan itu pernah mengganggu Anda? Tidakkah menurut Anda menggusur orang-orang yang selama ini tinggal di negeri ini merupakan satu kesalahan?”

“Tapi ini adalah negara kita,” sergah Weizmann. “Kita melakukan tidak lebih dari mengambil kembali apa yang kita telah tercerabut darinya secara salah.”

“Tapi kalian telah meninggalkan Palestina selama hampir dua ribu tahun! Sebelum itu kalian telah memerintah negeri ini, dan hampir tidak pernah seluruh bagiannya, selama kurang dari lima ratus tahun. Tidakkah kalian berfikir bahwa dengan pembenaran yang sama orang-orang Arab dapat menuntut Spanyol bagi diri mereka – karena, bagaimanapun, mereka memegang kendali Spanyol selama hampir tujuh ratus tahun dan kehilangan negeri itu sepenuhnya hanya lima ratus tahun yang lalu?”

“Omong kosong,” jawab Weizman yang mulai kehilangan kesabarannya. “Orang-orang Arab hanya menaklukkan Spanyol; negeri itu tidak pernah menjadi tanah air (homeland) mereka yang asli, jadi sudah sepantasnya jika pada akhirnya mereka diusir keluar oleh orang-orang Spanyol.”

“Minta maaf,” ujar Weiss, “tapi menurut saya ada kekeliruan sejarah di sini. Bagaimanapun, orang-orang Yahudi juga datang sebagai penakluk di Palestina. Jauh sebelum mereka sudah ada suku-suku Semitik dan non-Semitik yang berdiam di sini – orang-orang Amori, Edomit, Filistin, Moabite, Hittite. Suku-suku itu terus hidup di sini bahkan di era kerajaan-kerajaan ‘Israel’ dan Yudea. Mereka tetap hidup di sini setelah orang-orang Romawi mengusir nenek moyang kita. Mereka hidup di sini sekarang. Orang-orang Arab yang menetap di Suriah dan Palestina setelah penaklukkan mereka di abad ketujuh selalunya hanya menjadi minoritas kecil dari populasi yang ada; selebihnya dari apa yang kita gambarkan sekarang ini sebagai orang-orang Palestina atau “Arab” Suriah pada realitasnya hanyalah penduduk asli negeri ini yang telah terarabkan. Sebagian dari mereka menjadi Muslim dalam beberapa abad, sebagian lainnya tetap beragama Kristen; orang-orang Islam secara natural melakukan kawin campur dengan rekan-rekan seagama mereka dari Arabia. Namun dapatkah kamu menolak bahwa sebagian besar penduduk Palestina, yang berbicara Arab, baik Muslim ataupun Kristen, merupakan keturunan langsung dari penduduk asli [negeri ini]; asli dalam arti telah hidup di negeri ini beberapa abad sebelum orang-orang Yahudi datang ke sini?”

Chaim Weizman hanya tersenyum mendengar argumen itu dan kemudian mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya. Walaupun memenangkan perdebatan itu, Leopold Weiss tidak merasa gembira, karena kritiknya itu sama sekali tidak menimbulkan rasa gelisah di kalangan pendukung zionis. Sebaliknya, “I found myself facing a blank wall of staring eyes” (Asad, 2004: 94-96).

Demikianlah “tembok” itu terus berdiri, bersikap masa bodoh terhadap berbagai argumentasi dan kritik yang ada, hingga negara ‘Israel’ akhirnya berdiri pada tahun 1948. Sejak saat itu, berbagai konflik berdarah dan perampasan tanah semakin meningkat di negeri itu.

Sedikit demi sedikit wilayah Palestina diambil alih. Dunia hanya bisa mengutuk dan mengeluarkan resolusi, tanpa ada satupun yang mampu menghentikan apa yang dilakukan oleh ‘Israel’.

Zionis ‘Israel’ mengklaim Yerusalem (Baitul Maqdis) dan Palestina atas nama agama Yahudi, tetapi diskriminasi dan kekerasan yang mereka lakukan terhadap masyarakat Palestina tidak mencerminkan perilaku orang-orang yang memiliki agama.  Orang-orang zionis Yahudi menyanyikan secara berulang-ulang lagu holocaust untuk mendapatkan simpati dunia. Tetapi kaum zionis yang sama kini dilihat oleh banyak orang tengah memainkan peranan mirip NAZI di Palestina.

Sebenarnya sebagian tokoh zionis sendiri secara langsung atau tidak langsung telah menerima ideologi NAZI dan berusaha untuk menerapkannya terhadap penduduk Palestina.

Belum lama ini sebuah rekaman telah dipublikasikan, yang di dalamnya dua orang rabbi Yahudi di pemukiman Tepi Barat menyampaikan “komentar-komentar rasis tentang orang-orang Arab, membela pandangan dunia Adolf Hitler (Adolf Hitler’s worldview), dan secara terbuka mempromosikan supremasi Yahudi” (Pileggi, 30 April 2019).

Salah satu dari rabbi tersebut, Eliezer Kashtiel, kepala Akademi Bnei David, telah terdengar berkata-kata seperti berikut:

Kaum kafir (gentiles) ingin menjadi budak kita. Menjadi budak seorang Yahudi adalah yang terbaik. Mereka senang menjadi budak, mereka ingin menjadi budak. Alih-alih hanya berjalan-jalan dan menjadi bodoh dan kejam serta saling menyakiti, begitu mereka menjadi budak, kehidupan mereka bisa mulai terbentuk.

Ia bahkan secara terang-terangan menerima rasisme.

Ya, kami memang rasis. Kami percaya pada rasisme…. Ada ras-ras di dunia dan masyarakat memiliki sifat genetik, dan itu mengharuskan kami untuk mencoba membantu mereka. Orang-orang Yahudi adalah ras yang lebih sukses.

Rabbi yang satunya lagi, Giora Redler, terdengar berbicara di depan murid-murid di akademi yang sama:

Mari kita mulai dengan apakah Hitler benar atau tidak. Dia adalah orang yang paling benar yang pernah ada, dan benar dalam setiap kata yang dia ucapkan… dia hanya berada di sisi yang salah. Holocaust yang sebenarnya bukanlah ketika mereka membunuh orang-orang Yahudi, bukan itu. Semua alasan ini – bahwa itu ideologis atau sistematis – tidak masuk akal. Humanisme, dan budaya sekuler ‘Kami percaya pada manusia’, itulah Holocaust.

Kritik terhadap zionis ‘Israel’ tidak jarang datang dari orang-orang Yahudi sendiri. Sikap diskriminatif dan aksi perampasan tanah penduduk Palestina oleh orang-orang Yahudi garis keras, misalnya, dinilai oleh sebagian Yahudi lainnya sebagai hal yang memalukan dan berpotensi menimbulkan kehancuran bagi negeri zionis tersebut (Benvenisti, 10 Februari 2005).

Pada akhirnya, tidak salah jika ada yang menilai sistem pemerintahan zionis ‘Israel’ sebagai tidak ada bedanya dengan pemerintahan Apartheid. Sistem pemerintahan Apartheid pernah berlaku beberapa dekade yang lalu di Afrika Selatan, dimana kebijakan politik dan ekonomi yang diskriminatif serta pemisahan rasial dilakukan secara resmi oleh penguasa kulit putih terhadap penduduk kulit hitam (britanica.com).

Istilah apartheid telah digunakan baru-baru ini dalam laporan yang dibuat oleh B’Tselem (12 Januari 2021), sebuah lembaga hak asasi ‘Israel’ di kawasan pendudukan (occupied territories). Laporan itu menyebutkan alasan mengapa kebijakan pemerintah zionis ‘Israel’ layak disebut Apartheid:

Di seluruh wilayah antara Laut Mediterania dan Sungai Jordan, rezim ‘Israel’ menerapkan hukum, praktik, dan kekerasan negara yang dirancang untuk memperkuat supremasi satu kelompok – Yahudi – atas yang lain – Palestina. Metode utama untuk mencapai tujuan ini adalah merekayasa ruang yang berbeda untuk setiap kelompok.

Berlakunya kebijakan apartheid di ‘Israel’ juga diakui oleh seorang rabbi Yahudi, Brian Walt, walaupun pada awalnya ia cenderung menutup mata terhadap hal itu. Brian Walt (17 Februari 2021) menjalani masa kecilnya di Afrika Selatan. Ia menyaksikan kebijakan apartheid di negeri itu dan kemudian ikut berjuang menentangnya. Ia mengkritik apartheid di Afrika Selatan sebagai seorang Yahudi dan penganut zionis progresif. Namun belakangan ia terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa negara ‘Israel’ yang menjadi kebanggaannya ternyata menerapkan kebijakan yang kurang lebih sama terhadap masyarakat Palestina. Ia antara lain menulis:

Selama beberapa dekade, dalam tur dan aktivisme di Tepi Barat dengan organisasi seperti Komite ‘Israel’ Melawan Penghancuran Rumah, saya telah menyaksikan kenyataan mengganggu yang sangat mempengaruhi saya: pembongkaran rumah Palestina, perampasan tanah Palestina untuk permukiman Yahudi, kebun zaitun yang dicabut oleh pemukim, dan orang Palestina diusir dari rumah di Yerusalem yang telah mereka miliki selama beberapa generasi. Pengalaman ini sangat mengejutkan sehingga, jika saya tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, saya tidak akan pernah percaya bahwa itu benar. Pengalaman ini mengingatkan saya pada ketidakadilan yang sangat mirip yang pernah saya lihat di Afrika Selatan. … Saya dibesarkan di Afrika Selatan, dan apa yang saya saksikan di Hebron dan di seluruh ‘Israel’ dan tanah yang didudukinya, juga merupakan apartheid – sistem dominasi dan kontrol yang secara sistemik memberi hak istimewa bagi kehidupan Yahudi atas kehidupan Palestina.

Walt kemudian mengutip laporan B’Tselem tentang berbagai bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh zionis ‘Israel’ terhadap penduduk Palestina:

penyitaan tanah, pembunuhan orang-orang Palestina oleh pasukan keamanan atau pemukim, pemindahan paksa orang-orang Palestina, pembatasan pergerakan, penyiksaan dan pelecehan dalam interogasi, dan penahanan administratif. Lembaga itu juga melaporkan pelanggaran oleh orang-orang Palestina terhadap hak-hak warga sipil ‘Israel’. … Laporan tersebut menjelaskan bagaimana ‘Israel’ secara sistematis memberikan hak istimewa kepada orang Yahudi atas orang Palestina: mengizinkan imigrasi hanya untuk orang Yahudi; mengambil alih tanah untuk orang-orang Yahudi sambil menyesakkan orang-orang Palestina di daerah kantong; membatasi kebebasan bergerak Palestina; dan menolak hak warga Palestina untuk berpartisipasi politik. Laporan tersebut juga menunjuk pada hukum negara-bangsa 2018, yang menetapkan “pemukiman Yahudi sebagai nilai nasional” dan mengabadikan hak “unik” orang-orang Yahudi untuk menentukan nasib sendiri dengan mengesampingkan semua yang lain.

Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa proyek zionisme sebenarnya telah gagal, bahkan sejak awalnya; ia telah kehilangan segenap alasan moral maupun keagamaan bagi eksistensinya. Semakin ia menyalahgunakan kekuasaannya dalam mendiskriminasi dan menindas warga Palestina, semakin ia kehilangan legitimasinya.

Zionisme sama sekali tidak menghasilkan negara ideal yang layak dikagumi, sekalipun ia memiliki berbagai capaian sains dan teknologi. Negara zionis ‘Israel’ tak lebih hanyalah mimpi buruk kemanusiaan. Mereka yang mendukung dan memuja ‘Israel’ kemungkinan tengah mengalami delusi atau telah menjadi bagian dari mimpi buruk tersebut. Cepat atau lambat bangunan negara zionis itu akan runtuh juga. Ia sebenarnya sudah mulai runtuh, dari dalam dirinya sendiri.

Alwi Alatas. Kuala Lumpur,5 Syawal 1442/ 17 Mei 2021
Penulis adalah staf pengajar di Departemen Sejarah dan Peradaban, International Islamic University Malaysia (IIUM).
Referensi

  1. Asad, Muhammad. 2004. The Road to Makkah. New Delhi: Islamic Book Service.
  2. B’Tselem. 12 Januari 2021. “A regime of Jewish supremacy from the Jordan River to the Mediterranean Sea: This is Apartheid.” https://www.btselem.org/publications/fulltext/202101_this_is_apartheid
  3. Benvenisti, Meron. 10 Februari 2005. “A shameful kind of Zionist.” https://www.haaretz.com/1.4742326
  4. Frykberg, Mel. 11 Mei 2021. “Occupied East Jerusalem: Forced expulsion and raids on al-Aqsha.” https://www.aljazeera.com/news/2021/5/11/forced-expulsion-’Israel’i-mosque-raid-ignite-middle-east-conflict
  5. Pileggi, Tamar. 30 April 2019. “Embracing racism, rabbis at pre-army yeshiva laud Hitler, urge enslaving Arabs.” https://www.timesof’Israel’.com/embracing-racism-rabbis-at-pre-army-yeshiva-laud-hitler-urge-enslaving-arabs/
  6. Walt. Brian. 17 Februari 2021. “As a rabbi raised in South Africa, I can’t ignore ‘Israel’ is an Apartheid State.” https://truthout.org/articles/as-a-rabbi-raised-in-south-africa-i-cant-ignore-’Israel’-is-an-apartheid-state/

Disalin dari Hidayatullah

Keutamaan dan Bentuk Majelis Dzikir

KEUTAMAAN DAN BENTUK MAJELIS DZIKIR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

Tidak diragukan bahwa dzikrullah (mengingat Allah) merupakan salah satu ibadah yang agung. Dengan dzikrullah seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya, mengisi waktunya dan memanfaatkan nafas-nafasnya.

Keutamaan Majelis Dzikir
Demikian juga majelis dzikir, merupakan majlis yang sangat mulia di sisi Allah Ta’ala dan memiliki berbagai keutamaan yang agung. Diantaranya:

Pertama : Majelis dzikir adalah taman surga di dunia ini.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”[1]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majelis-majelis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”[2]

Kedua : Majelis dzikir merupakan majelis malaikat. Juga menjadi penyebab turunnya ketenangan dan rahmat Allah. Allah membanggakannya kepada malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya.[3]

Bentuk-Bentuk Majelis Dzikir
Setelah kita mengetahui keutamaan yang begitu besar tentang majelis dzikir, maka yang lebih penting lagi, kita juga perlu mengetahui bentuk-bentuk majelis dzikir. Sehingga dapat mengamalkan ibadah yang besar ini sesuai dengan tuntunan.

Dari hadits-hadits yang menyebutkan tentang majelis dzikir, dapat kita ketahui bentuk-bentuk majelis dzikir sebagai berikut.

Pertama : Duduk bersama-sama, kemudian masing-masing berdzikir dengan pelan.
Jenis-jenis dzikir yang diucapkan yaitu:

  1. Tasbih, ucapan Subhanallah
  2. Takbir, ucapan Allah Akbar
  3. Tahmiid, ucapan Alhamdulillah
  4. Tahlil, ucapan Laa ilaaha illa Allah. (HR Muslim, no. 2689).
  5. Meminta surga kepada Allah. Seperti dengan perkataan
  6. Permohonan perlindungan kepada Allah dari neraka. Misalnya dengan perkataan
  7. Istighfar (ucapan astaghfirullah). (HR Muslim, no. 2689).

Bentuk dzikir ini ditunjukkan oleh hadits-hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنَ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir[4]. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah [5], mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia[6]. Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ’Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu’[7]. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’. Allah berkata,’Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?’ Mereka menjawab, ’Mereka minta surga kepadaMu’.

Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan’.”

Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab,”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah bertanya,”Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, ”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata, ”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).”[8]

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata : Mu’awiyah keluar menemui satu halaqah (kelompok orang yang duduk berkeliling) di dalam masjid, lalu dia bertanya,”Apa yang menyebabkan engkau duduk?” Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Dia bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Dia berkata,”Sesungguhnya aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong, pent.) kepadamu. Tidaklah ada seorangpun yang memiliki kedudukan seperti aku dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih sedikit haditsnya dariku. Dan sesungguhnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat beliau. Kemudian beliau bertanya,’Apa yang menyebabkan engkau duduk?’.” Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Beliau bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Beliau bersabda,”Sesungguhnya, aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong, Pent) kepadamu. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membanggakanmu kepada para malaikat.” [HR Muslim, no. 2701].

Dari pertanyaan Mu’awiyah kepada orang-orang yang ada di halaqah, demikian juga dari pertanyaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat, mengisyaratkan bahwa dzikir yang mereka lakukan adalah dengan cara pelan. Karena jika keras, tentulah tidak perlu ditanya. Bahkan tentu diingkari, sebagaimana hadits di bawah ini.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata:

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ لِي يَا عَبْدَاللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara mereka dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Pelanlah! Sesungguhnya engkau tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya, engkau menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersamamu (dengan ilmuNya, pendengaranNya, penglihatanNya, dan pengawasanNya, Pent.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan (tunggangan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mendengar aku mengatakan: “Laa haula wa laa quwwata illa billah”. Kemudian Beliau bersabda kepadaku,”Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa)!” Aku berkata,”Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan surga?” Aku menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda,”Laa haula wa laa quwwata illa billah.” [HR Bukhari, no. 4205; Muslim, no. 2704].

Dan dzikir secara pelan merupakan adab yang Allah perintahkan. Dia berfirman:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf/7:205].

Kedua : Duduk bersama-sama untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an.
Yaitu dengan cara salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkan. Hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya. [HR Muslim, no. 2700].

Dalam hadits ini disebutkan keutamaan “sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah”. Dalam hadits lain lebih dijelaskan bentuk dzikir yang mereka lakukan, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].

Dengan hadits di atas nampak secara nyata, bahwa berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an merupakan salah satu bentuk dzikir yang mulia. Namun bagaimana caranya? Caranya, yaitu satu orang membaca dan yang lain mendengarkannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ عَبْدِاللَّهِ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ ( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا ) قَالَ أَمْسِكْ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,”Bacakanlah (Al Qur’an) kepadaku.” Aku menjawab,”Apakah aku akan bacakan kepada anda, sedangkan Al Qur’an diturunkan kepada anda?” Beliau menjawab,”Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari selainku..” Maka aku membacakan kepada beliau surat An Nisa’, sehingga aku sampai:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدً

Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (An Nisa’/4: 41) Beliau bersabda,”Berhentilah,” ternyata kedua mata Beliau meneteskan air mata. [HR Bukhari, no. 4582; Muslim, no. 800 dan lain-lain].

Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr berkata,”Berkumpul untuk membaca Al Qur’an yang sesuai dengan Sunnah Nabi dan perbuatan Salafush Shalih, yaitu satu orang membaca dan orang-orang selainnya mendengarkan. Barangsiapa mendapatkan keraguan pada makna ayat, (maka hendaklah, red.) dia meminta qari’ (orang yang membacakan) untuk berhenti, dan orang yang ahli berbicara tentang tafsir menjelaskannya, sehingga tafsir ayat itu menjadi jelas dan terang bagi orang-orang yang hadirin … Kemudian qari’ mulai membaca lagi.[9]

Ketiga : Majelis Ilmu adalah majelis Dzikir.
Apakah majelis ilmu juga termasuk majelis dzikir? Dalam hal ini, nampaknya para ulama berbeda pendapat.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata (dalam penjelasan beliau terhadap hadits shahih riwayat Al Bukhari, no. 6408 yang telah kami sebutkan haditsnya di atas): “Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis yang berisi dzikrullah, dengan macam-macam dzikir yang ada (tuntunannya, pent.). Yaitu: tasbih, takbir, dan lainnya. Juga yang berisi bacaan Kitab Allah Azza wa Jalla dan berisi do’a kebaikan dunia dan akhirat. Dan masuknya -pembacaan hadits Nabi, mempelajari ilmu agama, mengulang-ulanginya, berkumpul melakukan shalat nafilah (sunah)- ke dalam majelis-majelis dzikir adalah suatu pandangan. Yang lebih nyata, majelis-majelis dzikir adalah khusus pada majelis-majelis tasbih, takbir dan lainnya, juga qiraatul Qur’an saja. Walaupun pembacaan hadits, mempelajari dan berdiskusi ilmu (agama) termasuk jumlah yang masuk di bawah istilah dzikrullah Ta’ala”.[10]

Dari perkataan Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di atas, nampaknya beliau menguatkan bahwa majelis ilmu tidak termasuk majlis dzikir. Namun banyak juga perkataan ulama yang menyebutkan bila majelis ilmu termasuk majelis dzikir. Dan pendapat kedua inilah yang lebih kuat, insya Allah.

‘Atha rahimahullah berkata,”Majelis-majelis dzikir adalah majelis-majelis halal dan haram; bagaimana seseorang membeli, menjual, berpuasa, shalat, bershadaqah, menikah, bercerai, dan berhaji.”[11]

Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Imam An Nawawi membuat satu bab (no. 247) dengan judul: “Keutamaan Halaqah-halaqah Dzikir dan Anjuran Menetapinya, dan Larangan Meninggalkannya Dengan Tanpa Udzur (alasan)”. Beliau menyebutkan empat hadits. Salah satu hadits berisi tentang majelis ilmu. Ini menunjukkan, bila Imam Nawawi rahimahullah mengisyaratkan, bahwa majelis ilmu termasuk majelis dzikir. Wallahu a’lam.

Hadits yang kami maksudkan ialah:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ نَفَرٌ ثَلَاثَةٌ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

Dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid, dan orang-orang bersama Beliau ; tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang satu pergi. Kedua orang tadi berhenti di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang satu melihat celah pada halaqah (lingkaran orang-orang yang duduk), lalu dia duduk padanya. Adapun yang lain, dia duduk di belakang mereka. Adapun yang ketiga, maka dia berpaling pergi. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, Beliau bersabda,”Maukah aku beritahukan kepada kamu tentang tiga orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Allah, maka Allah-pun mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Allah-pun malu kepadanya. Dan Adapun yang lain, dia berpaling, maka Allah-pun berpaling darinya.” [HR Bukhari; Muslim, no. 2176.]

Di antara perkataan Imam Nawawi rahimahullah tentang hadits ini, beliau menyatakan: “Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya halaqah-halaqah ilmu dan dzikir di dalam masjid”[12]. Ketika menyebutkan fiqih hadits ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,”Majelis dzikir-majelis dzikir adalah halaqah-halaqah ilmu yang diadakan di rumah-rumah Allah untuk belajar, mengajar dan mencari pemahaman terhadap agama.[13]

Syaikh Salim Al Hilali juga berkata,”Majelis dzikir-majelis dzikir yang dicintai oleh Allah, ialah majelis-majelis ilmu, bersama-sama mempelajari Al Qur’anul Karim dan As Sunnah Al Muththaharah (yang disucikan), dan mencari pemahaman tentang hal itu. Yang dimaksudkan bukanlah halaqah-halaqah tari dan perasaan ala Shufi.”[14]

Bahkan sebagian ulama menjelaskan, majelis ilmu lebih baik daripada majelis dzikir. Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr, salah seorang dosen Jami’ah Islamiyah di Madinah berkata,”Tidak ada keraguan, bahwa menyibukan dengan menuntut ilmu dan menghasilkannya, mengetahui halal dan haram, mempelajari Al Qur’anul Karim dan merenungkannya, mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah (riwayat hidup) Beliau serta berita-berita Beliau, adalah sebaik-baik dzikir dan paling utama. Majelis-majelisnya adalah majelis-majelis paling baik. Majelis-majelis itu lebih baik daripada majelis-majelis dzikrullah dengan tasbih, tahmid dan takbir. Karena majelis-majelis ilmu berkisar antara fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Sedangkan dzikir semata-mata (hukumnya) adalah tathawwu’ murni (disukai, sunnah, tidak wajib).”[15]

Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dan perkataan para ulama, yang semuanya menunjukkan lebih utamanya ilmu (din) dibandingkan dengan ibadah yang tidak wajib.

Inilah penjelasan seputar majelis dzikir. Semoga bermanfaat. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Kesimpulan

  1. Majelis dzkir sesuai dengan jenis-jenis di atas mempunyai keutamaan.
  2. Tetapi dzikir membaca tahmid, tasbih, takbir dan semisalnya dengan suara keras tidak ada contohnya. Bahkan, bertentangan dengan perintah Al Qur’an dan Sunnah, apalagi dikomando secara bersama-sama.
  3. Majelis ilmu termasuk majelis dzikir, yang menurut banyak ulama justru lebih utama dibandingkan dengan majelis-majelis dzikir lain yang bersifat sunnat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562.
[2] Al Wabilush Shayyib, hlm. 145.
[3] HR Muslim, no. 2700.
[4] Ahli dzikir, yaitu orang-orang yang berdzikir. Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan lafazh: “Mereka mencari majlis-majlis dzikir”. (Pen).
[5] Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan lafazh: “Jika mereka telah mendapatkan sebuah majlis yang padanya terdapat dzikir … “
[6] Dalam riwayat Muslim, no. 2689 terdapat tambahan: “Jika orang-orang yang berdzikir telah berpisah, para malaikat naik ke langit”.
[7] Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan lafazh: “Mereka mentahlilkanMu: mengucapkan Laa ilaaha illa Allah”.
[8] HR Bukhari, no. 6408, dan ini lafahznya; Muslim, no. 2689.
[9] Kitab Al Bahts Wal Istiqra’ Fi Bida’il Qurra’, hlm. 50-51
[10] Fathul Bari, 11/248, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 1; Th 1419 H/1998 M.
[11] Al ‘Ilmu Fadhkuhu Wa Syarafuhu, hlm. 132.
[12] Shahih Muslim Syarh An Nawawi, 7/413, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 4, Th 1422 H/2001 M
[13] Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, 2/521, Cet. 1, Th. 1415 H/ 1994 M
[14] Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, 2/519, Cet. 1, Th. 1415 H/ 1994 M
[15] Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, 1/104, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr

Tidak Melampaui Batas Dalam Berdoa

TIDAK MELAMPAUI BATAS DALAM BERDOA

Oleh
Ustadz ‘Ashim bin Musthofa

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. [al-A’râf/7:55]

PENJELASAN AYAT[1]
Perintah Untuk Berdoa
Seorang muslim membutuhkan Allah setiap saat. Penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mutlak harus dikerjakan. Berdoa merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh seorang hamba untuk membuktikan kebutuhannya kepada Allah, dan sebagai bukti ketundukan dirinya kepada Rabbul-‘Alamiin (Dzat Yang Maha Menguasai alam semesta). Melalui doa, dengan dua macamnya, doa mas`alah (doa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan doa ibadah.

Melalui ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan beribadah dengannya.[2] Karena doa termasuk ibadah, maka wajib disertai dengan keikhlasan.

Tentang اُدْعُوْا رَبَّكُمْ, Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah menjelaskan: “Wahai manusia, berdoalah kepada Allah saja. Murnikan doa kepada-Nya. Tidak menyeru kepada sesembahan-sesembahan selain-Nya dan berhala-berhala”. [3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Dialah Yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia; maka berdoalah kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. [Ghâfir/40:65].

Lebih jelas lagi larangan berdoa kepada selain Allah, ditunjukkan pula oleh firman Allah:

لَهٗ دَعْوَةُ الْحَقِّۗ وَالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ لَا يَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka …. [ar-Ra’d/13:14].

Adab Berdoa, Dengan Suara Lirih dan Perlahan
Ayat di atas juga mengajarkan cara bagi seorang muslim saat berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sehingga doa yang dilantunkannya dikabulkan.[4] Apakah dengan mengeraskan suara sebagimana kebiasaan di masyarakat yang kita lihat pada saat ini?

Ternyata tidak dengan suara keras. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan cara berdoa itu, ialah dengan menyertakan dua sifat yang mengiringi perintah untuk berdoa kepada-Nya. Dua sifat itu, ialah tadharru’ dan khuf-yah.

Pengertian tadharru’, yaitu mengandung unsur khusyu’, tadzallul (kerendahan diri dan kehinaan diri) dan istikânah (ketundukan diri). [5] Adapun pengertian khuf-yah, ialah mengeluarkan suara dalam berdoa secara perlahan dan lirih, tidak mengeraskan maupun meneriakkannya. Doa itu dilakukan dengan suara lembut dan hati ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Tujuan berdoa secara perlahan dan lirih, supaya seorang yang berdoa terjauhkan dan selamat dari riya`, dan demikian ini dikatakan oleh Imam al-Qurthubi rahimahullah. Begitu pula Nabi Zakariyya, beliau dipuji lantaran dalam berdoa dengan cara demikian, perlahan, lirih dan lembut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ  ٢ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tetang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya, Zakariyya. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. [Maryam/19:2-3].[6]

Oleh karena itu, ketika ada seorang yang berdoa dengan suara keras, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur sahabat yang berbuat demikian. Disebutkan dalam Shahîhain, dari sahabat yang bernama Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang mengangkat suara tatkala berdoa, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

Wahai manusia. Tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu atau yang tidak ada. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat. [7]

Perintah berdoa dengan suara yang lembut juga termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [al-A’râf/7:205]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah , seorang Tabi’i, ia berkata: “Dahulu, kaum muslimin sangat tekun dalam berdoa. Tidak terdengar suara dari mereka, kecuali hanya suara lirih antara mereka dengan Rabb mereka”. Selanjutnya, beliau membacakan surat al-A’râf/7 ayat 55 dan pujian terhadap Nabi Zakariyya dalam surat Maryam/19 ayat 3.

Merendahkan suara dan tidak mengeraskannya termasuk etika dalam berdoa. Etika ini mencerminkan nilai-nilai positif. Di antaranya:

  1. Cara ini menunjukkan keimanan yang lebih besar, karena ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar suara yang lirih,
  2. Cara ini lebih beradab dan sopan. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar suara yang pelan, maka tidak sepantasnya berada di hadapan-Nya kecuali dengan suara yang rendah.
  3. Sebagai pertanda sikap khusyu` dan ketundukan hati yang merupakan ruh doa,
  4. Lebih mendatangkan keikhlasan. Karena doa dengan suara keras membuat orang lain merasa terganggu dan terpancing perhatiannya kepada suara-suara yang keras lagi riuh-rendah.
  5. Cara ini membantu untuk konsisten dan senantiasa berdoa. Karena bibir tidak merasa bosan dan anggota tubuh tidak mengalami kelelahan. Sebagaimana orang yang membaca dan mengulang-ulangnya dengan suara keras, maka akan lebih cepat merasa penat.
  6. Cara berdoa dengan suara lirih juga menunjukkan, bahwa seorang hamba meyakini kedekatannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala . [8]

Tidak Melampaui Batas dalam Berdoa

اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Di bagian akhir ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat i’tidâ`.

Al-i’tidâ`, berasal dari kata al-‘udwân. Maknanya, melewati batasan syariat dan pedoman-pedoman yang semestinya harus dipatuhi. Atau menurut Imam al-Qurthubi rahimahullah, yaitu mujâwazatul-haddi (melampaui batas) wa murtakibul-hazhar (melakukan pelanggaran).[9] (7/202).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚ

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim. [al-Baqarah/2:229].

Larangan berbuat melampaui batas, sebenarnya berlaku umum, mencakup seluruh perbuatan dalam semua aspek, tidak khusus hanya dalam berdoa. Namun, karena larangan itu datang setelah perintah untuk berdoa, sehingga menunjukkan dengan jelas dan secara khusus berbicara tentang perbuatan melampaui batas dalam berdoa.

Penggalan ayat di atas mengandung pengertian, bahwa doa yang memuat unsur berlebihan dan melampaui batas tidak disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak diridhai-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan munculnya gejala melampaui batas dalam berdoa pada diri umat Islam. Pemberitaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, juga merupakan peringatan berkaitan perbuatan tersebut. Kaum muslimin supaya berhati-hati dan waspada, jangan sampai terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang tersebut. Peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk bagian dari kesempurnaan dan kepedulian beliau n kepada umatnya, sekaligus sebagai salah satu tanda kenabian.

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal, ia berkata: Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi n bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ

Sungguh akan muncul kaum dari umat ini yang akan berbuat melampaui batas dalam berdoa dan bersuci. [10]

Oleh karena itu, tidak ada jalan keselamatan kecuali komitmen dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Kesimpulannya, ayat di atas memuat dua unsur penting.

  • Pertama, unsur yang dicintai Allah, yaitu berdoa kepada-Nya dengan penuh tadharru’ dan suara yang lembut.
  • Kedua, unsur yang dibenci dan tidak disukai Allah, dan diperingatkan supaya tidak dilakukan, yakni berbuat i’tida` dalam berdoa, dan demikian pula dengan pelakunya. [11]

Contoh-Contoh I’tida` (Melampaui Batas dalam Berdoa)
Sikap melampaui batas dalam berdoa tidak hanya satu macam saja, namun banyak dan bahayanya juga bertingkat-tingkat, tergantung jenis perbuatannya.

Syaikh ‘Abdur-Razzâq mengingatkan bahaya melampaui batas dalam berdoa. Beliau berkata: “Bagaimana mungkin doa orang yang berbuat melampui pedoman-pedoman syariat dan tidak mengindahkan batasan yang sudah ditetapkan itu bisa diharapkan untuk dikabulkan. Doa yang mengandung perbuatan melampaui batas tidak disukai Allah dan tidak diridhai-Nya. (Maka) bagaimana seseorang bisa berharap doanya dikabulkan dan diterima Allah?”[12]

Berikut ini beberapa contoh i’tida’ dalam doa.

  1. Jenis yang paling parah, yaitu berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Tidak ada i’tida’ yang lebih besar dan paling parah daripada orang yang memperuntukkan doa kepada selain Allah atau mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dalam berdoa. Fatalnya kekeliruan i’tida` ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru tuhan-tuhan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. [al Ahqâf/46:5].

  1. Memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hal-hal yang tidak diperbolehkan, seperti memohon pertolongan untuk melakukan perbuatan haram dan mengerjakan kemaksiatan.
  2. Memohon kepada Allah sesuatu yang tidak dikabulkan oleh Allah karena bertentangan dengan sifat hikmah-Nya. Atau meminta sesuatu yang mestinya ditempuh dengan sebab-sebab, namun ia enggan untuk melaksanakannya. Misal, permintaan agar dapat memperoleh anak tanpa menikah, menghilangkan sifat-sifat manusia, yang membutuhkan makanan dan minuman serta oksigen, ingin tahu ilmu gaib, dan sebagainya.
  3. Memohon derajat dan martabat yang tidak layak, sementara sunnatullah tidak memungkinkannya dapat meraihnya. Seperti meminta menjadi malaikat, menjadi nabi dan rasul. Atau memohon supaya menjadi muda kembali setelah memasuki usia tua.
  4. Berdoa kepada Allah tidak dengan tadharru’.
  5. Berdoa yang mengandung laknat bagi kaum mukminin.

Sebagian ulama Salaf menjelaskan makna orang-orang yang melampaui batas pada ayat di atas, bahwasanya mereka ialah orang-orang yang melaknat kaum mukminin pada kondisi yang tidak diperbolehkan, seraya berseru: “Ya Allah, hinakan mereka. Ya Allah, laknatlah mereka”.[13]

  1. Berdoa dengan meninggikan danmengeraskan suara sehingga bertentangan dengan etika, adab dan sopan santun.

Pelajaran dari ayat

  1. Kewajiban berdoa hanya kepada Allah, karena berdoa termasuk ibadah.
  2. Penjelasan mengenai adab berdoa, yaitu dengan bertadharru’.
  3. Adab dalam berdoa, yaitu melantunkannya dengan suara lirih.
  4. Larangan berbuat i’tida` (melampui batas) dalam berdoa.
  5. I’tida` dapat mempengaruhi doa seseorang tidak dikabulkan.
  6. Penetapan sifat mahabbah

Wallahu a’lam

Marâji`:

  1. Al-Qur`ân dan Terjemahannya, Cetakan Mujamma’ Mâlik Fahd Madinah.
  2. Aisarut-Tafâsîr fi Kalâmil-‘Aliyyil-Kabîr, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulum wal- Hikam, Cet. VI, Th. 1423 H – 2003 M.
  3. Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-‘Arabi, Cet. IV, Th. 1422 H – 2001M.
  4. Fiqhul-Ad’iyah wal-Adzkâr, Dr. ‘Abdur-Razzâq bin ‘Abdil-Muhsin al-‘Abbâd, Dar Ibni ‘Affân, Cetakan I, Tahun 1422-2001.
  5. Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarîr ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cet. I, Th. 1423 H – 2002 M.
  6. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Tahqîq: Sâmi bin Muhammad as-Salâmah, Dar Thaibah, Riyâdh, Cet. I, Th. 1422 H – 2002 M
  7. Taisîrul-Karîmir-Rahmân fi Tafsîri Kalâmin Mannân, ‘Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di, Tahqîq: ‘Abdur-Rahmân al-Luwaihiq, Muassasah Risalah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Pembahasan ayat ini banyak mengutip keterangan dari kitab Fiqhul-Ad’iyah wal-Adzkâr, karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur-Razzâq bin ‘Abdul-Muhsin al ‘Abbâd, Volume I dan IV, disertai beberapa tambahan dari sejumlah kitab tafsir.
[2] Al-Jâmi’u li Ahkamil-Qur`ân, 7/199.
[3] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, 8/261.
[4] Al-Aisâr, 1/388.
[5] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (3/428), al-Jâmi’u li Ahkamil-Qur`ân (7/199), al-Aisâr (1/388).
[6] Al-Jâmi’u li Ahkamil-Qur`ân, 7/199. Lihat pula at-Taisîr, hlm. 296.
[7] HR al-Bukhâri, no. 4205 dan Muslim, no. 2704.
[8] Fiqhu-Ad’iyah, 1/80-81.
[9] Al-Jâmi’u li Ahkâmil-Qur`ân, 7/202.
[10] HR Ahmad, Abu Dâwud dan Ibnu Maajah. Dishahîhkan oleh al Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawud, no. 87.
[11] Lihat al-Fatâwâ, 15/23-24.
[12] Fiqhul-Ad’iyah, 2/75.
[13] Ma’âlimut-Tanzîl, 2/166.

Dzikir Kunci Kebaikan

DZIKIR KUNCI KEBAIKAN

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc.

Tidak diragukan lagi, setiap orang ingin mendapat kebaikan dan dijauhkan dari kemudharatan. Namun tidak semua orang menyadari dan mau bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya itu. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kunci-kunci kebaikan tersebut dalam wahyunya secara gamblang dan tegas. Kunci kebaikan itu adalah dzikir kepada Allah (dzikrullah).

Urgensi dan Kedudukan Dzikir
Dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang dapat mendekatkan diri seorang muslim kepada Rabb-nya. Ia merupakan kunci semua kebaikan yang diinginkan seorang hamba di dunia dan akhirat. Kapan saja Alah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kunci ini kepada seorang hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan ia membukanya. Dan jika Allah menyesatkannya, maka pintu kebaikan terasa jauh darinya, sehingga hatinya gundah gulana, bingung, pikiran kalut, depresi, lemah semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga dzikir dan do’a serta terus berlindung kepada Allah, maka hatinya akan tenang, sebagaimana firman Allah :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar Ra’du/13 :28].

Dan ia akan mendapat keutamaan serta faidah yang sangat banyak di dunia dan akhirat.[1]

Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam banyak ayatnya, diantaranya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al- Ahzaab/33 :35].

Dan firmanNya:

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. [Al-Ahzaab/33 :41].

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek-moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo’a: “Ya, Rabb kami. Berilah kami kebaikan di dunia,” dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [Al- Baqarah/2 :200].

Demikian juga dalam banyak hadits, Rasulullah telah menjelaskan secara gamblang arti penting dan kedudukan dzikir bagi diri seorang muslim, diantaranya:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa , ia berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir, (ialah) seperti orang yang hidup dan mati.[2]

Dan hadits Beliau yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Al mufarridun telah mendahului,” mereka bertanya,”Siapakah al mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir.”[3]

Oleh karena itu dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah (adzkaar nabawiyah) memiliki kedudukan dan arti penting yang tinggi bagi seorang muslim; sehingga banyak ditulis kitab dan karya tulis yang beraneka ragam tentang permasalahan ini. Namun seorang muslim diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang telah disyari’atkannya; karena dzikir merupakan bagian dari ibadah. Dan ibadah hanyalah dibangun di atas dasar tauqifiyah (berdasar kepada dalil wahyu) dan ittiba’ (mencontoh Rasulullah)’ tidak menuruti hawa nafsu dan kehendak hati semata.

Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata,”Tidak diragukan lagi, adzkaar (dzikir-dzikir) dan do’a-do’a merupakan ibadah yang utama. Sedangkan ibadah dibangun di atas dasar tauqifiyah dan ittiba’; tidak menurut hawa nafsu dan kebid’ahan. Sehingga do’a-do’a dan adzkar nabawiyah merupakan dzikir dan do’a yang paling harus dicari oleh pencarinya. Pelakunya berada di jalan yang aman dan selamat. Sedangkan faidah dan hasil yang diperoleh tidak dapat diungkap dengan kata-kata, dan lisan tidak dapat mencakupnya. Adzkaar yang lainnya ada kalanya diharamkan atau makruh, atau terkadang berisi kesyirikan yang banyak tidak diketahui oleh orang bodoh. Permasalahan ini cukup panjang penjabarannya.

Seseorang tidak diperbolehkan membuat sebuah dzikir atau do’a yang tidak dicontohkan Rasulullah, dan menjadikannnya sebagai ibadah ritual yang dilakukan oleh manusia secara rutin, seperti rutinitas shalat lima waktu. Ini jelas kebid’ahan dalam agama yang dilarang Allah. Berbeda dengan do’a yang dilakukan seseorang, kadang-kadang tidak rutin dengan tidak menjadikannya sunnah untuk manusia; maka, jika ini tidak diketahui mengandung makna yang haram, tidak boleh dipastikan keharamannya. Akan tetapi, terkadang ada keharaman padanya, sedangkan manusia tidak merasakannya. Ini sebagaimana seorang berdo’a ketika genting, dengan do’a-do’a yang ia ingat pada waktu itu. Ini dan yang semisalnya hampir sama. Adapun mengambil wirid-wirid (ma’tsurat, Pent.) yang tidak disyari’atkan dan membuat-buat dzikir yang tidak syar’i, maka ini terlarang. Demikian do’a-do’a dan dzikir syar’i, berisi permintaan yang agung lagi benar. Tidak meninggalkannya dan beralih kepada dzikir-dzikir bid’ah yang dibuat-buat, kecuali orang bodoh atau lemah atau melampaui batas.”[4]

Keutamaan dan Faidah Dzikir
Keutamaan dan faidah dzikir sangatlah banyak, hingga Imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al Wabil Ash Shayyib[5], bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus faidah, dan menyebutkan tujuh puluh tiga faidah di dalam kitab tersebut. Diantara keutamaan dan faidah dzikir ialah:

Pertama : Dzikir dapat mengusir syetan dan melindungi orang yang berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنْ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ

Dan Aku (Yahya bin Zakaria) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu, seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh, lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba, tidak dapat melindungi dirinya dari syetan, kecuali dengan dzikir kepada Allah.[6]

Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: “Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah, dan senantiasa gerak berdzikir; karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya, kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah, maka musuh langsung menerkam dan memangsanya. Dan jika berdzikir kepada Allah, maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti al wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat”[7]

Manusia, ketika lalai dari dzikir, maka syetan langsung menempel dan menggodanya serta menjadikannya sebagai teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Az Zukhruf/43 :36].

Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syetan, kecuali dengan dzikir kepada Allah.

Kedua : Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi, dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar Ra’du/13 : 28].

Ketiga : Dzikir dapat menghidupkan hati. Bahkan, dzikir itu sendiri pada hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya; sehingga tidaklah hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Dzikir bagi hati, seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?”[8]

Keempat : Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah; karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar, dan kebaikan adalah untuk menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya, hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.[9]

Kelima : Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak dihasilkan oleh selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya; karena gerakan lisan lebih mudah daripada gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan (dzikir):

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepuluh budak; ditulis seratus kebaikan untuknya, dan dihapus seratus dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syetan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya, kecuali seorang yang beramal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu.[10]

Ibnul Qayim berkata,”Dzikir adalah ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan utama; karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya, bahkan tidak mampu.”[11]

Keenam : Dzikir adalah tanaman syurga[12]. Ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi.

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ dan mi’raj, lalu ia berkata,”Wahai, Muhammad. Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa syurga memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Syurga itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi wa la ilaha illallah wallahu Akbar.” [13]

Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari hadits Abu Ayub Al Anshari yang ada dalam Musnad Ahmad bin Hambal, 5/418.

Ketujuh : Dzikir menjadi cahaya penerang bagi di dunia, di kubur dan di akhirat. Meneranginya di shirat, sehingga tidaklah hati dan kubur memiliki cahaya, kecuali seperti cahaya dzikrullah, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. [Al-An’am/6 : 122].

Begitulah perbandingan antara seorang mukmin dengan lainnya. Seorang mukmin memiliki cahaya dengan sebab keimanan, kecintaan, pengenalan dan dzikir kepada Allah, sedangkan yang lain adalah orang yang lalai dari Allah, tidak mau berdzikir dan tidak mencintaiNya.[14]

Kedelapan : Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan para malaikatNya, sebagaimana firman Allah,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ  ٤١ وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا  ٤٢هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا 

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al- Ahzaab/33 : 41-43].

Kesembilan : Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan; karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali. [An Nisa’/4:142].

Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Abad berkata, ”Bisa jadi karena hal tersebut, Allah menutup surat Munafiqin dengan firmanNya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ 

Hai, orang-orang yang beriman. Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Munafiquun/63:9].

Karena terdapat padanya peringatan dari fitnah kaum munafiqin yang lalai dari dzikrullah, lalu terjerumus dalam kemunafikan. Wal ‘iyadzubillah.

Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafik ataukah bukan?” Beliau menjawab,”Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah, kecuali sedikit.” Ini merupakan isyarat, bahwa kemunafikan hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini, maka banyak berdzikir merupakan penyelamat dari nifaq.[15]

Kesepuluh : Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbaik dan tersuci serta tertinggi pada derajat kalian? Ia lebih baik dari berinfak emas dan perak, dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka menjawab”Ya,” lalu Rasulullah menjawab,”Dzikrullah.”[16]

Demikian beberapa keutamaan dan faidah yang dapat diutarakan dalam makalah singkat ini.

Adab Dalam Berdzikir
Berdzikir memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan dan diamalkan, diantaranya:

  1. Ikhlas dalam berdzikir dan mengharap ridha Allah.
  2. Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasulullah; karena dzikir adalah ibadah. Telah lalu penjelasan Ibnu Taimiyah tentang hal tersebut.
  3. Memahami makna dan maksudnya serta khusyu’ dalam melakukannya. Ibnul Qayim berkata,”Dzikir yang paling utama dan manfaat, ialah yang sesuai antara lisan dengan hati dan merupakan dzikir yang telah dicontohkan Rasulullah. Serta orang yang berdzikir memahami makna dan tujuan kandungannya.” [17]
  4. Memperhatikan tujuh adab yang telah dijelaskan Allah dalam firmanNya.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf/7 :205].

Ayat yang mulia ini menunjukkan tujuh adab penting dalam berdzikir, yaitu:

  1. Dzikir dilakukan dalam hati, karena hal itu lebih dekat kepada ikhlas.
  2. Dilakukan dengan merendahkan diri, agar terwujud sikap penyembahan yang sempurna kepada Allah.
  3. Dilakukan dengan rasa takut dari siksaan Allah akibat lalai dalam beramal dan tidak diterimanya dzikir tersebut. Oleh karena itu, Allah mensifati kaum mukminin dengan firmanNya: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ  رَاجِعُونَ  Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. [Al Mu’minun/23 :60].
  4. Dilakukan tanpa mengeraskan suara, karena hal itu lebih dekat kepada tafakkur yang baik.
  5. Dilakukan dengan lisan dan hati.
  6. Dilakukan pada waktu pagi dan petang. Memang dua waktu ini memiliki keistimewaan, sehingga Allah menyebutnya dalam ayat ini. Ditambah lagi dengan keistimewaan lainnya, yaitu sebagaimana disampaikan Rasulullah dalam sabdanya:  يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ  Bergantian pada kalian malaikat pada waktu malam dan malaikat pada waktu siang. Mereka berjumpa di waktu shalat Fajr dan Ashr, kemudian naiklah malaikat yang mendatangi kalian, dan Rabb mereka menanyakan mereka, dan Allah lebih tahu dengan mereka: “Bagaimana keadaan hambaKu ketika kamu tinggalkan?” Mereka menjawab,”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datangi mereka dalam keadaan shalat”[18]
  7. Larangan lalai dari dzikrullah.[19]

Dengan ini jelaslah keutamaan dzikir sebagai kunci kebaikan dan adabnya. Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, karya Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Alibadr, Bagian pertama, Cetaakan pertama, Tahun 1999 M-1419 H, Dar Ibnu Affaan, Al Khubaar, KSA. Hlm 5-6.
[2] Hadits riwayat Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ad Da’awat, Bab Fadhlu Dzikrullah, no. 6407.
[3] Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ad Du’a Wa Dzikir Wat Taubah Wal Istighfar, Bab Al Hats Ala Dzikr, no. 2676.
[4] Majmu’ Al Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, disusun oleh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, tanpa cetakan dan penerbit, juz 22/ 510-511
[5] Lihat Al Wabil Ash Shayyib Wa Rafi’ Al Kalimi Ath Thayyib, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Hasan Ahmad Isbir, Cetakan pertama, Tahun 1997-1418 H, Dar Ibnu Hazm, Bairut, Libanon, hlm. 69-141.
[6] Hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/202), At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Amtsal ‘An Rasulullih, Bab Ma Ja’a Fi Matsal Ash Shalat Wal Shiyaam Wal Shadaqah, no. 2863 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 1724
[7] Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 61
[8] Dinukil murid beliau Ibnul Qayim dalam Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 70
[9] Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya 5/239 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5644
[10] Hadits riwayat Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Badi’ Al Khalq, Bab Sifat Iblis Wa Junuduhu, no. 3293; Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ad Du’a Wa Dzikir Wa Taubah Wal Istighfar, Bab Fadhlu At Tahlil Wa Takbir Wa Tahmid, no. 2691; At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Da’awat ‘An Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbiih Wa Tahlil Wa Takbir Ta Tahmid, no.3390.
[11] Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73.
[12] Lihat Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73-74; Fiqh Al Ad’iyah Wal Adzkar, hlm. 19-20 dan Dzikru Wa Tadzkiir, karya Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As Sadlan, Cetakan kedua, tahun 1415 H, Dar Al Balansiyah, Riyadh, KSA, hlm.8
[13] Hadits riwayat At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ad Da’awat ‘An Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbih Wa Tahlil Wa Takbir Wa Tahmid, no.3462, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 105
[14] Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 82-83
[15] Fiqh Al Ad’iyah Wal Adzkar, hlm. 24.
[16] Hadits riwayat At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ad Da’awat ‘An Ar Rasul, no. 3377 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Adab, Bab Fadhlu Dzikr, no. 3790, dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 2629
[17] Dinukil dari Fiqh Ad Ad’iyah Wal Azkar, hlm. 9
[18] Hadits riwayat Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Mawaqit Ash Shalat, Bab Fadl Shalat Al Ashr, no. 522 dan Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Masajid Wa Mawadi’ Ash Shalat, Bab Fadl Shalat Al Fajr Wal Ashr Wa Muhafadztu ‘Alaihima, no. 632.
[19] Diringkas dengan beberapa perubahan dan tambahan dari Fiqh Ad Ad’iyah Wal Adzkar, hlm.57-59.

Hukum Mengangkat Tangan Dalam Berdo’a

HUKUM MENGANGKAT TANGAN DALAM BERDO’A

Oleh
Syaikh Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad

Mengangkat kedua tangan dalam berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk adab yang agung. Demikian terdapat di banyak hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian ulama menggolongkannya ke dalam hadits mutawatir secara makna.

Di dalam Tadribur Rawi Syarh Taqrib Imam Nawawi, ketika mencontohkan hadits-hadits yang mutawatir secara maknawi, Imam Suyuthi rahimahullah berkata : ”Diriwayatkan dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar seratus hadits berisi tentang do’a dengan mengangkat tangan. Saya mengumpulkannya dalam satu juz tersendiri, namun dengan masalah yang beragam. Memang dalam setiap masalah tersebut, haditsnya tidak mutawatir. Namun bila dikumpulkan, maka menjadi mutawatir”. (2/180).

Di dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab tentang mengangkat tangan dalam berdo’a. Dia membawakan beberapa hadits, yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari, dia berkata :

دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثمُ َّرَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, kemudian mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak Beliau.[1]

Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

رَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang diperbuat Khalid (bin Walid).”[2]

Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiaknya.[3]

Di dalam Syarah Bukhari (Fat-hul Bari), Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengisyaratkan, bahwa hadits yang semakna dengan hadits-hadits ini banyak sekali. Lalu ia menyebutkan sebagiannya, diantaranya tentang hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

قَدِمَ الطُفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا عَصَتْ فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا

Thufail bin ‘Amr Ad Dausi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka. Berdo’alah kepada Allah agar melaknat mereka,” maka Beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, ”Wahai, Allah. Berilah petunjuk kepada kabilah Daus.” (Hadits ini dikeluarkan Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dan termaktub pula dalam Shahihain tanpa kalimat “mengangkat kedua tangannya”.[4]

Hadits Jabir bin Abdillah, bahwa Thuafil bin ‘Amr, hijrah lalu mengisahkan laki-laki yang berhijrah bersamanya disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Wahai, Allah. Karena perbuatan kedua tangannya, maka ampunilah dia,” lalu beliau mengangkat kedua tangannya. Al Hafizh berkata: ”Sanadnya shahih.” Dikeluarkan juga oleh Muslim.[5]

Hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya: “Wahai, Allah. Aku hanyalah manusia biasa …”[6]. Al Hafizh berkata,”Sanadnya shahih.”

Selanjutnya, Al Hafizh berkata,”Diantara hadits-hadits shahih dalam masalah ini, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam kitab Juz Rof’ul Yadain: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya mendo’akan Utsman[7]. Dikeluarkan pula oleh Muslim dari hadits Abdurrahman bin Samurah dalam kisah gerhana: “Aku (Abdurrahman) sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Beliau berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya.”[8]

Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dalam kisah gerhana, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya[9]. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pula, ketika Rasulullah mendo’akan para sahabat yang dikubur di Baqi, ”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya tiga kali.[10]

Dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang panjang dalam peristiwa fathu Makkah disebutkan,”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, kemudian mulai berdo’a.”[11]

Hadits Abu Humaid dalam kisah Ibnu Lubtiyyah,”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengangkat kedua tangannya sampai kulihat putih kedua ketiaknya, Beliau berucap,’Wahai, Allah. Bukankah aku telah menyampaikan (risalah Mu)[12]

Hadits Abdullah bin Amr: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ucapan Nabi Ibrahim dan Nabi Isa, lantas mengangkat kedua tangannya, (sembari) berucap: ‘Wahai, Allah. Umatku”.[13]

Dalam hadits Umar Radhiyallahu anhu, disebutkan bahwa “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika turun wahyu kepadanya akan terdengar dari dekat wajah Beliau seperti suara dengungan tawon. Suatu hari wahyu turun kepada Beliau, kemudian rasa berat menerima wahyu tersebut lenyap dari Beliau, lantas (Beliau) menghadap kiblat dan berdo’a”[14]

Hadits Usamah, ia berkata: ”Aku membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah, lalu (Beliau) berdo`a dengan mengangkat kedua tangannya. Untanya bergeser sehingga tali kekangnya terlepas, lalu Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain tetap diangkat”[15]

Hadits Qois bin Sa’d, ia berkata: ”Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sllam mengangkat kedua tangannya dan berdo’a,’Wahai, Allah. Tumpahkanlah berkah dan rahmatMu kepada keluarga Sa’d bin Ubadah”[16]

“Dan hadits dalam masalah ini sangat banyak,” demikian kata Al Hafizh Ibnu Hajar. (Fathul Bari, 11/142). Al Hafizh telah meneliti secara mendalam hadits-hadits yang memuat do`a dengan mengangkat tangan. Diantara hadits yang shahih dalam masalah ini adalah hadits Salman Al Farisi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِّيٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهَا صُفْرًا

Sesungguhnya Robb kalian itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, Dia merasa malu kepada hamba Nya ketika hamba mengangkat tangannya kepadanya Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)[17]

Hadits-hadits ini beserta maknanya, menunjukkan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a, termasuk adab berdo’a kepada Allah yang sangat agung. Ini termasuk sebab-sebab dikabulkannya do’a. Sunnah Nabi juga menunjukkan, bahwa mengangkat tangan dalam berdo’a memiliki tiga cara yang berkaitan dengan isi do’a tersebut. Pertama, jika do’a tersebut berupa permintaan yang benar-benar sangat dibutuhkan, memiliki cara berdo’a tersendiri. Kedua, ketika do’a itu berisi permintaan, maka ada caranya tersendiri. Ketiga, jika do’a itu berupa permintaan ampunan, pentauhidan dan pujian, ini juga memiliki cara angkat tersendiri pula.

Ketiga cara mengangkat tangan ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas secara marfu’ dan mauquf, yaitu : ”Jika berupa permohonan, maka angkatlah tanganmu sejajar pundak atau serupa dengan itu. Jika permohonan ampunan, hendaknya berisyarat dengan jari telunjuk saja. Jika berupa permohonan mendesak, maka angkat kedua tangan”. Pada redaksi lain (disebutkan): “Jika berupa pentauhidan, maka hendakanya berisyarat dengan jari telunjuk. Jika berupa do’a (permintaan), mengangkat tangan setinggi pundak. Dan jika berupa permohonan mendesak, hendaknya mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya dan Ath Thabrani dalam kitab Do`a, dan selain keduanya.[18]

Berkenaan dengan hadits ini, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata: Telah ada beberapa hadits dari perbuatan Nabi menjelaskan kedudukan masing-masing dari tiga cara berdo’a ini. Cara do’a ini bukan ikhtilaf tanawu’ (perbedaan cara yang masing-masing boleh dilakukan karena tidak saling bertentangan, Pen). Penjelasaannya sebagai berikut.

Pertama : Do’a Umum
Dinamakan do’a permohonan, dan juga disebut do’a. Yaitu dengan mengangkat kedua tangan setinggi pundak, atau sejajar dengannya. Kedua telapak tangan dirapatkan. Bagian dalam telapak tangan dibentangkan ke arah langit, dan punggung telapak tangan ke arah tanah. Jika ingin, boleh juga menghadapkan kedua tangan ke arah wajah, sedangkan punggung telapak tangan diarahkan ke kiblat. Inilah cara umum mengangkat tangan ketika berdo’a secara mutlak; baik dalam do’a qunut, witir, meminta hujan atau pada enam tempat ketika haji, yaitu di Arafah, Masy`ar Haram, usai melempar Jumrah Sughra dan Wustha, ketika di atas bukit Shofa dan Marwah, dan waktu-waktu lain.

Kedua : Do’a Memohon Ampunan
Disebut pula do`a ikhlas, yaitu dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan. Cara ini khusus ketika dzikir, do’a dalam khutbah di atas mimbar, ketika tasyahud dalam shalat, ketika berdzikir, memuji dan membaca la ilaha illallah di luar shalat.

Ketiga : Do’a Ibtihal
Yaitu merendahkan diri kepada Allah dan permohonan yang sangat. Disebut juga sebagai do’a rahb (permohonan). Caranya dengan mengangkat kedua tangan ke arah langit sampai terlihat ketiaknya. Digambarkan sampai kedua lengan atas terlihat karena mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Cara ini lebih khusus dibandingkan dengan dua cara di muka. Cara ini juga dikhususukan ketika keadaan susah, permohonan yang sangat –misalnya- ketika kekeringan, adanya musibah, dikuasai oleh musuh dan keadaan susah lainnya.[19]

Cara Mengangkat Tangan
Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاِسْتِسْقَاءِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berdo’a dengan mengangkat tangan, kecuali dalam isitisqa` (meminta hujan).[20]

Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama berpendapat bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a tidak disyari`atkan, kecuali hanya dalam do’a istisqa’, do’a selainnya tidak disyari’atkan angkat tangan. Tetapi hadits ini bertentangan dengan banyak hadits yang menunjukkan disyari`atkannya mengangkat tangan selain isitisqa’. Oleh karena itu, Syaikhul Islam berkata,”Yang benar adalah mengangkat tangan secara mutlak. Cara ini telah disebutkan secara mutawatir dalam hadits-hadits yang shahih, seperti: Thufail Ad Dausi mendatangi Nabi, lalu berkata,’Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka, laknatlah mereka.’ Maka Beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, ’Wahai, Allah. Berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan datangkan mereka kepadaku.”[21]

Dimuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan Abu `Amir, Beliau mengangkat kedua tangannya[22]. Disebutkan dalam hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma: ”Ketika mendo’akan sahabat yang dikuburkan di Baqi`, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya tiga kali”[23]

Dalam hadits tersebut dikatakan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lalu berdo’a, ”Umatku, umatku,” di akhir hadits: ”Allah berfirman (artinya), Aku akan menjadikan umatmu ridha kepadamu dan Kami tidak akan membuat kamu sedih”[24]

Pada perang Badr, ketika melihat orang-orang musyrik, Beliau Shallallahi ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dan mulai memohon kepada Rabb-nya. Beliau terus-menerus memohon, sampai-sampai selendangnya terjatuh dari pundak.[25]

Dalam hadits Qois bin Sa’d dituturkan: Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lantas berdo’a,

الَّلهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ

Wahai, Allah. Berikan berkah dan rahmatMu kepada keluarga Sa’d bin Ubadah.[26]

Ketika mengirimkan pasukan, dan Ali ikut serta, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,”Wahai, Allah. Jangan matikan aku hingga aku melihat Ali.[27] Di dalam hadits qunut, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengangkat kedua tangannya.[28]

Syaikhul Islam lantas menyebutkan hadits Anas di muka, bahwa Nabi tidak pernah berdo’a dengan mengangkat tangan selain di dalam shalat istisqa, kemudian berkata:

Pengkompromian antara hadits Anas ini dengan banyak hadits, (telah) diutarakan oleh sebagian ulama, bahwa Anas menyebutkan angkat tangan tinggi-tinggi sehingga ketiak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat dan badan Beliau membungkuk. Cara inilah, yang oleh Ibnu Abbas dinamakan ibtihal (permohonan yang sangat). Ibnu Abbas merinci cara berdo’a ini menjadi tiga macam. Pertama, isyarat dengan telunjuk, seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika khutbah di atas mimbar. Kedua, do’a permohonan. Dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak. Demikian ini termuat dalam banyak hadits. Ketiga, ibtihal. Yaitu seperti yang dituturkan Anas. Oleh karena itu Anas berkata,”Beliau mengangkat kedua tangannya sehingga nampak ketiaknya[29]

Cara do’a ini dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, menghadapkan bagian dalam telapak tangan mengarah ke wajah dan tanah, sedangkan punggung tangan mengarah ke langit. Penafsiran ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Marasilnya, dari hadits Abu Ayub Sulaiman bin Musa Ad Dimasqi rahimahullah, dia berkata,”Tidak tercatat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila Beliau mengangkat kedua tangan, kecuali pada tiga keadaan saja. (Yaitu) ketika meminta hujan (istisqa’), meminta pertolongan, sore hari di Arafah. Selain (dari waktu-waktu) itu, kadang kala mengangkat tangan, kadang kala tidak”[30]. Mungkin yang dimaksud oleh Anas adalah ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum`at, seperti disebutkan di dalam Muslim dan selainnya: ”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan, kecuali jari telunjuk”[31] Dalam masalah ini didapati dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad. Pertama, disunnahkan. Ini pendapat Ibnu Aqil. Kedua, tidak disunnahkan, bahkan makruh. Pendapat ini lebih benar.[32] Demikian keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, penyelarasan antara hadits Anas dengan hadits-hadits lainnya yang menetapkan adanya mengangkat tangan beserta maknanya. Bahwa yang dinafikan adalah cara mengangkat tangan yang khusus, bukan cara mengangkat tangan itu sendiri. Sebab, mengangkat tangan ketika do’a istisqa, berbeda dengan do’a selainnya, seperti tangan diangkat tinggi sejajar wajah. Dan ketika do’a permintaan (cara kedua, pen.), yaitu (dengan cara) tangan diangkat sejajar pundak. Komproni ini jangan dipertentangkan dengan kedua hadits tersebut, bahwa Beliau mengangkat tangan sehingga terlihat putih ketiaknya. Namun bisa dikompromikan, bahwa terlihatnya putih ketiak Beliau ketika do`a istisqa itu menandakan, bila mengangkat tangan ketika istisqa lebih tinggi ketimbang mengangkat tangan ketika berdo’a pada selainnya. Hal ini dikarenakan ketika istisqa, kedua telapak tangan mengarah ke tanah, dan ketika berdo’a dihadapkan ke langit. Al Mundziri berkata: ”Misalkan kompromi ini tidak mungkin dilakukan, namun adanya mengangkat tangan dalam do’a ini lebih rajih (kuat)”. Saya (Ibnu Hajar), mengatakan: ”Apalagi hadits yang menetapkan adanya mengangkat tangan ini sangat banyak”[33].

Dari uraian di muka, jelaslah bahwa mengangkat tangan dalam berdo’a disyari`atkan, baik dalam istisqa, atau selainnya. Bahkan mengangkat tangan termasuk sebab-sebab terkabulnya do’a, sebagaimana disebutkan dalam hadits “Sesungguhnya Rabb kalian itu Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia merasa malu kepada hambaNya, ketika hamba mengangkat tangannya kepadaNya, Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)”.

Hanya saja, mengangkat tangan ketika istisqa itu lebih tinggi, karena dalam keadaan susah dan merupakan permohonan yang sangat. Adapun mengangkat tangan pada do’a selainnya, hanya setinggi pundak atau sejajar dengannya, sebagaimana pengamalan dari hadits-hadits yang telah disebutkan di awal.

Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik yang lain: ”Bahwa Nabi melakukan do’a istisqa dan mengarahkan punggung telapak tangannya ke langit”[34]. Dalam hadits ini terdapat isyarat adanya mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika paceklik dan ketika istisqa. Karena itu, Syaikhul Islam berkata: ”Hal itu dikarenakan tangan diangkat tinggi-tinggi, maka bagian dalam telapak tangannya mengarah ke bumi; bukannya di sengaja, sebab ada riwayat yang menginformasikan bahwa Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar wajah”.

Syaikh Ibnu Utsamin rahimahullah berkata: Mengangkat tangan dalam berdo`a ada tiga macam.

  1. Jika ada dalil untuk mengangkat tangan, maka disunnahkan mengangkat tangan, seperti (halnya) do’a istisqa, do’a di Shafa dan Marwah, di Arafah.
  2. Ada dalil, namun tidak menunjukkan (adanya) mengangkat tangan, (maka tidak disyari’atkan mengangkat tangan, pen), seperti do’a di dalam sholat, tasyahud akhir.
  3. Tidak ada dalil yang menerangkan mengangkat tangan, atau tidak mengangkat tangan, maka pada asalnya, hendaknya mengangkat tangan; sebab (hal) itu termasuk adab berdo’a.[35]

Selain itu, mengangkat tangan ketika berdo’a mengandung sikap ketundukkan, merendahkan diri, kepasrahan, ketenangan serta penampakan sikap membutuhkan dan memerlukan kepada Rabb Yang Maha Mulia. Semua ini menjadi sebab terkabulnya do’a.

As Safarini rahimahullah berkata : Ulama mengatakan, disyari’atkannya mengangkat tangan ketika berdo’a hanyalah untuk menambah sikap ketundukkan. Maka terkumpullah pada diri manusia suasana tunduk kala beribadah. Selain itu, seringkali seorang hamba tidak kuasa untuk menggugah hatinya dari kelalaian, sedangkan dia memiliki kekuatan untuk menggerakkan tangan dan lisan. (Maka mengangkat tangan itu), menjadi sarana menuju kekhusyu`an hati. Ulama mengatakan, gerakan anggota badan menyebabkan kebahagiaan batin. Kondisi ini sebagaimana mengangkat telunjuk ketika tasyahud dalam shalat. Dia mengumpulkan hati, lisannya menerjemahkan dan gerakan badan mensucikannya.[36]

Kesalahan Mengangkat Tangan Dalam Berdo’a
Wajib bagi setiap muslim untuk bersemangat mengetahui petunjuk Nabi, mengikuti langkahnya, menapaki manhajnya dan menjauhi cara-cara baru yang dilakukan manusia dalam mengangkat tangan dan gerakan tangan ketika berdo’a, yaitu cara-cara yang tidak berasal dari generasi terbaik dan manusia paling sempurna do’a dan ketaatannya kepada Allah dan RasulNya. Telah shahih datang dari Nabi, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتمُ ُاللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِبُطُوْنِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا

Jika kalian memohon kepada Allah, maka mintalah dengan menghadapkan telapak tangan bagian dalam kepadaNya, jangan menghadapkan punggung telapak tangan.[37]

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan hadits-hadits Nabi yang shahih dan komitmen dengannya. Sebab, petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan petunjuk terbaik. Hindarilah sikap berlebih-lebihan dalam mengangkat tangan ketika berdoa. Para salaf sangat menghindari menempatkan cara-cara do’a tidak pada tempatnya; seperti mengangkat kedua tangan ketika khutbah pada hari Jum’at, padahal bukan do’a istisqa. Mengangkat kedua tangan dalam berdo’a disyari’atkan pada waktu lainnya.

Muslim meriwayatkan dari ‘Umarah bin Ru’aibah, dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya ketika di atas mimbar. Maka ‘Umarah berkata: ”Semoga Allah menjelekkan kedua tangan itu. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah tidak lebih dari sekedar mengangkat tangannya begini,” lalu ia mengisyaratkan dengan jari telunjuk”[38].

Lalu bagaimanakah jadinya dengan orang yang membuat cara baru dalam mengangkat tangan, atau gerakan yang tidak ada dasarnya? Siapa saja yang mencermati keadaan orang-orang yang berdo’a, niscaya akan melihat cara mereka yang aneh-aneh.[39]

Diantara keanehan itu, ada sebagian orang yang menurunkan tangannya di bawah pusar atau sejajar pusar, dengan direnggangkan atau dirapatkan. Jelas, ini merupakan bukti dari ketidakpedulian dan sedikitnya perhatian terhadap masalah ini. Sebagian lain mengangkat tangan dengan direnggangkan. Ujung jari-jari mengarah kiblat, tapi kedua ibu jari mengarah ke langit. Ini jelas menyelisihi petunjuk Nabi pada hadits di muka: Jika kalian memohon kepada Allah, maka mintalah dengan menghadapkan telapak tangan bagian dalam kepadaNya. Yang lain, mengangkat kedua tangannya dengan membalikkannya ke berbagai arah, atau berdiri dengan menggerakkannya dengan gerakan yang bermacam-macam. Sementara yang lain, jika berdo’a atau sebelum berdo’a mengusapkan satu tangan ke tangan yang lain, atau mengibaskan tangannya atau gerakan serupa lainnya. Lainnya lagi, usai mengangkat tangan lantas menciumnya; yang demikian ini tidak ada asalnya.

Kesalahan lain, usai berdo’a mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Sifat ini memang terdapat dalam sebagian hadits, hanya saja tidak shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Banyak sekali hadits shahih yang menginformasikan bahwa Nabi mengangkat tangan ketika berdo’a. Namun mengusap wajah usai berdo’a tidak diriwayatkan dari Beliau, kecuali hanya ada satu atau dua hadits, tetapi tidak bisa dijadikan hujjah”[40]. Cara baru lainnya, yaitu mencium dua ibu jari, lantas diletakkan pada dua mata ketika muadzin menyebut nama Nabi atau di waktu lain. Cara ini memang terdapat dalam hadits, namun batil, tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan redaksi ”Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan ‘Selamat datang, wahai kecintaanku dan penyejuk kedua mataku, Muhammad bin Abdillah,’ lantas, mencium ibu jarinya, lalu meletakkannya pada matanya, maka mata itu selamanya tidak akan buta dan tidak sakit”. Banyak ulama yang menyatakan hadits ini batil, tidak sah berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[41].

Dan termasuk khayalan orang-orang sufi, sebagian mereka menyandarkan ucapan hadits batil ini kepada Khidhir Alaihissallam [42]. Termasuk bid’ah pula, yaitu sebagian orang merapatkan jari-jari tangan kanannya, lantas diletakkan pada mata kanannya dan tangan kirinya pada mata kiri dengan diiringi bacaan (Al Qur’an, pen) atau do’a.

Cara lain lagi yang tidak shahih, sebagian orang berdo’a dengan meletakkan tangan di kepala usai salam. Sandaran mereka ialah hadits Anas, dia berkata: ”Adalah Nabi, usai menunaikan shalat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap jidatnya dengan tangan kanan, lalu berdo’a :

بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْغَمَّ وَالْحَزَنَ

Dengan menyebut nama Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Dia, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya, Allah. Hilangkan kegundahan dan kesedihanku”. [Diriwayatkan Thabrani di kitab Al Ausath dan Al Bazzar, namun tidak shahih][43]

Kesalahan dalam berdo’a, sebagian orang yang shalat kadang-kadang mengisyaratkan kedua jari telunjuknya ketika tasyahud. Diriwayatkan dalam hadits shahih:

أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ عَلَى إِنْسَانٍ يَدْعُوْ وَهُوَ يُشِسْرُ بأُصْبُعَيْهِ السَّبَابَتَيْنِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِّدْ أَحِّدْ

Nabi melewati seseorang yang berdo’a, dia berisyarat dengan kedua jari telunjuknya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Satu saja, satu saja!” [44]

Penyimpangan lain, sebagian orang berdo’a mengangkat tangan pada waktu tertentu tanpa didasari dalil syar’i, seperti mengangkat tangan setelah iqomat untuk shalat, (yang dilakukan) sebelum takbiratul ihram atau setelah salam dari shalat wajib secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahulah berkata: ”Sejauh pengetahuan saya, hadits yang menyebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan mengangkat tangan usai shalat wajib, tidaklah shahih; tidak shahih pula dari para sahabat Nabi. Adapun yang dilakukan sebagian orang itu adalah bid’ah, tidak ada dasarnya[45]. Kesalahan lain, yaitu mengangkat tangan dalam berdo’a usai sujud tilawah, ketika melihat bulan dan waktu lainnya.

Kesimpulannya. Waktu-waktu yang ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan dalam berdo’a ketika itu, maka tidak dibolehkan untuk mengangkat tangan. Sebab, perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sunnah, amalan yang ditinggalkan juga sunnah (untuk ditinggalkan). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauladan yang baik dalam amalan yang akan datang dan yang telah lalu. Wajib mendasarkan amalan kepada apa-apa yang dibawa Nabi, dan meninggalkan yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan.

(Dinukil dari Fiqhul Ad`iyyah Wal Adzkar, Syaikh Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad, 2/172-197, oleh Abu Nu`aim Al Atsari)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari 7/198, secara mua’laq
[2] HR. Bukhari 7/198, secara mua’laq
[3] HR. Bukhari no. 6.341
[4] Adabul Mufrad, no. 611. Lihat Shahih Bukhari, no. 2.937
[5] Adabul Mufrad, no. 614 ; Muslim, no. 116 tanpa kalimat “mengangkat kedua tangan”.
[6] Adabul Mufrad, no. 613
[7] Adabul Mufrad, no. 157
[8] Adabul Mufrad, no. 913
[9] HR. Muslim, 901
[10] HR. Muslim, 974
[11] HR. Muslim, 1.780
[12] HR. Bukhari, 2.597; Muslim, 1.832
[13] HR. Muslim, 202
[14] HR. Tirmidzi, 3.173 dan ini lafadznya; Nasa`i dalam Sunan Kubra, 1.439; Al Hakim dalam Mustadrak, 2/392. Nasa’i berkata, ”Ini hadits mungkar. Aku tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya selain Yunus bin Sulaim. Dan Yunus ini, aku tidak mengetahui siapa dia. Allahu a’lam.”
[15] HR. Nasa’i dalam Sunan Kubra, 4.007 dan Sughra, 5/254 dengan sanad jayyid
[16] HR. Abu Dawud, 5.185, dengan sanad jayyid. Al Albani menyebutkannya dalam Dha’if Sunan Abu Dawud, no. 1.111
[17] HR. Abu Dawud, 1.488; Tirmidzi, 3.556, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Jami’, no. 1.753
[18] HR. Abu Dawud, 1.489, 1.490; At Thabrani, 208. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1.321, 1.322, 1.324, baik secara mauquf ataupun marfu`
[19] Tashihud Du’a, hlm. 116-117
[20] HR. Bukhari, no. 1.031; Muslim, 895
[21] Adabul Mufrad, no. 611. Disebutkan pula dalam Shahih Bukhari, 2.937 tanpa kalimat “mengangkat kedua tangan”
[22] HR. Bukhari, no. 4.323; Muslim, 2.498
[23] HR. Muslim, no. 974
[24] HR. Muslim, no. 202
[25] HR. Muslim, no. 1.763
[26] HR. Abu Dawud, no. 5.185. Al Albani menyebutkannya dalam Dha’if Sunan Abu Dawud, no. 1.111
[27] HR. Tirmidzi, 3.737. Al Albani menyebutkan dalam Dha’if Sunan Tirmidzi, no. 781
[28] Musnad, 3/137; Baihaqi dalam Sunan Kubra, 2/211 dari Anas bin Malik
[29] HR. Bukhari, no. 1.030 dan 1.031
[30] Al Marasil, no. 148
[31] HR. Muslim, no. 874
[32] Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad, oleh As Safarini 1/653-654
[33] Fathul Bari, 11/142
[34] HR. Muslim, no. 896
[35] Liqo’, Bab Maftuh, hlm. 17-18, secara ringkas
[36] Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad, 1/655-656
[37] HR. Abu Dawud, no. 1486. Dishahihkan Al Albani di dalam Shahihah, no. 595
[38] HR. Muslim, 874
[39] Lihat Tashihud Du’a, Syaikh Bakr Abu Zaid, hlm. 126-129
[40] Fatawa, 22/519. Lihat Bab Mengusap Wajah Usai Berdo’a, karya Syaikh Bakr Abu Zaid.
[41] Lihat Al Fawa’id Al Majmu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah, hlm. 20
[42] Lihat Lasyful Khafa, oleh Al Ajluni, 2/270
[43] Mu’jam Ausath, no. 2.499
[44] HR. Tirmidzi, no. 3.557. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 282
[45] Majmu Fatawa, 11/184