Author Archives: editor

Wahai Saudari Muslimah Pakailah Jilbabmu

WAHAI SAUDARI MUSLIMAH PAKAILAH JILBABMU

Segala  puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabatnya dan pengikutnya yang setia hingga hari kiamat, wa ba’du:

Allah subhanahu wa ta’ala telah mensyariatkan Islam sebagai agama penutup dari semua agama samawi (agama yang berdasarkan wahyu). Agama yang relefan untuk semua zaman dan tempat, barangsiapa yang memeluknya maka ia akan bahagia dunia dan akhirat, dan siapa saja yang meninggalkannya dan memilih selainnya maka ia akan celaka selama-lamanya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [Al An’am/6:153]

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدٰيَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى ١٢٣ وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [Tahaa/20:123-124]

Agama yang sempurna mengatur semua aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial maupun pengetahuan yang telah mengantarkan kaum muslimin memperoleh kemuliaan dan kemenangan sehingga pada saat itu mereka bisa menguasai dunia ketika mereka mempraktekan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan mereka.

Contoh kongkrit akan hal itu adalah ketika apa yang telah diperoleh oleh kaum muslimin pada zaman keemasan peradaban Islam, hanya saja musuh-musuh Islam tidak tinggal diam setelah mereka tidak mampu untuk mengalahkan kaum muslimin dengan senjata, mereka melancarkan serangan perang peradaban dan meyebarkan racun yang merusak pemikiran dan akhlak serta menebar kerancuan seputar hukum Islam, mereka menggunakan pemuda pemudi kaum muslimin yang telah menjadi antek-antek mereka, diantara masalah yang mereka bidik adalah tentang hukum jilbab dengan melontarkan tuduhan bahwa jilbab adalah penyebab keterbelakangan dan kemunduran.

Ketika sebagian kaum muslimah mulai tertipu oleh propaganda mereka sehingga mereka keluar rumah tidak mengenakan pakaian muslimah, ternyata musuh-musuh Islam tidak berhenti hanya sampai disitu tapi mereka terus melancarkan serangannya hingga mereka benar-benar keluar rumah dengan memamerkan auratnya dengan pakaian yang sudah mereka rancang. Kemudian menyuruh mereka untuk memakai pakaian yang minim dipantai-pantai, panggung bahkan di jalan-jalan sehingga mereka keluar dengan penampilan serba minim dan hampir telanjang serta dijadikan sebagai ajang tontonan dan pemuas nafsu bejad dengan selogan bahwa itu adalah bagian dari modernisasi dan kemajuan, bagi yang menyaksikan pemandangan itu ia akan teringat pernyataan seorang penyair yang berbunyi:

Telah dicabut rasa malu dari jiwa-jiwa, sehingga engkau  tidak dapati lagi jiwa-jiwa yang memiliki rasa malu dan menginginkannya.

Tidak hanya itu bahkan sampai-sampai mereka berani mencium wanita ditempat umum dan terbuka seperti di jalan-jalan, taman dan kendaraan umum dengan anggapan bahwa itu adalah bagian dari kemajuan dan modernisasi serta kebebasan. Dan sesungguhnya inilah yang mereka inginkan dari para wanita.

Itulah metode dan teori syaitan dalam menyesatkan dan menyebarkan kerusakan dimuka bumi ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. [Al A’raf/7 :27]

Inilah yang mereka peroleh dari peradaban barat yang penuh dengan penyakit dan kebobrokan yang merusak akhlak dan perilaku kaum muslimin, bahkan hampir-hampir mereka membinasakan keluarga-keluarga kaum muslimin dan menerlantarkan kaum wanita, seorang orientalis menuturkan dalam sebuah suratnya [kita harus memfokuskan perhatian kita kepada para wanita – dari kalangan kaum muslimin-, bilamana mereka mau tunduk kepada kita niscaya kita akan bisa menang dan merealisasikan apa yang kita inginkan].

Mereka menjadikan kaum wanita sebagai barang murahan untuk memuaskan hawa nafsu mereka dan sebenarnya bukanlah jilbab yang menjadi target mereka, akan tetapi ketika mereka mempropagandakan untuk melepaskannya dari kaum muslimat sebenarnya mereka bertujuan untuk meruntuhkan rumah tangga kaum muslimin dan menerlantarkan umat Islam kemudian mereka menjadikan jilbab sebagai sarana untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Hal ini karena kaum muslimin sudah sepakat akan  wajibnya  jilbab dimana al qur’an dan sunnah telah menjelaskan hal tersebut, diantaranya disebutkan dalam firman Allah yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا 

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Ahzab/33:59]

Dan juga firman Allah:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka [An Nuur/24 :31]

Kerudung (khemar) adalah kain yang ditutupan diatas kepala wanita dan jika diperintahkan untuk menjulurkannya hingga ke dada maka ini menunjukan bahwa muka-pun harus ikut tertutupi, Allah juga melarang para wanita untuk menampakkan perhiasan mereka kepada orang lain yang bukan mahram mereka, Allah berfirman:

وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ

Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita [An Nuur/24:31]

Tidak diragukan lagi bahwa wajah merupakan hiasan wanita yang paling indah, karena jika seseorang dikatakan cantik tidak lain adalah karena wajahnya yang menawan, hal itu seperti yang disebutkan oleh para  penyair dalam bait-bait syi’ir mereka, barangsiapa yang ingin tahu lebih luas tentang hukum jilbab dan bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari wajibnya hijab (cadar) silahkan baca sebuah risalah berjudul “Al Hijab” yang ditulis oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- yang merupakan tulisan terbaik dalam masalah ini.

Saya sangat heran terhadap sikap seorang wanita yang menolak untuk memakai jilbab tapi dia mau memakai seragam dokter atau perawat yang menjadi profesinya dari pagi hinga sore hari dan dia merasa bangga degannya bahkan ia memakai masker dimukanya karena khawatir tertular penyakit selama berada di lingkungan rumah sakit.

Kita katakan padanya, jika Anda berbangga dengan pakaian dan masker tersebut karena sesuai dengan profesi Anda kenapa Anda tidak mau memakai jilbab ketika keluar rumah dan berada ditengah-tengah kaum pria, kenapa Anda tidak berbangga dengan pakaian yang Islami? Kemudian jika Anda merasa yakin bahwa masker yang Anda kenakan itu bisa menghalangi Anda dari berbagai virus penyebab penyakit menular kenapa Anda tidak yakin bahwa cadar atau jilbab itu akan menjaga Anda dari berbagai virus dan penyakit moral yang sangat mudah menular? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan tentang hikmah diwajibkannya jilbab:

ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ

” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.[Al Ahzab/33: 59].

Dan gangguan itu mulai dari pandangan, senyuman lalu rayuan, jika hal itu berhasil maka bagus, jika tidak maka mereka akan meneruskan ke tahap yang lebih berbahaya yaitu dengan pelecehan, penculikan bahkan pemerkosaan dan hal ini telah diketahui oleh setiap orang.

Apa yang kita saksikan di koran-koran dan majalah tentang berita kriminal yang terjadi dikalangan masyarakat muslim akibat pergaulan bebas dan meninggalkan pakaian muslimah adalah merupakan bukti kuat akan pentingnya jilbab. Sunguh para wanita sahabat adalah merupakan suri tauladan yang paling bagus dalam melaksanakan ajaran Islam dengan penuh kesungguhan dan kepatuhan.

Pernah ada seorang wanita yang datang kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan berkata:

إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي‏.‏ قَالَ ‏ “‏ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَتْ أَصْبِرُ‏.‏ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

“Ya Rasulullah, sunguh aku terkena penyait ayan dan kadang-kadang pakaianku terbuka, maka berdoalah kepada Allah subhanahu wata’ala untukku, maka Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika engkau mau maka bersabdarlah dan engkau akan mendapatkan surga atau aku doakan biar engkau sembuh, maka ia berkata: saya akan bersabar akan tetapi pakaian saya sering terbuka, maka doakanlah biar pakaianku tidak terbuka, lalu Rasulullah mendoakannya” [HR. Bukhari dan Muslim].

Lihat bagaimana wanita sahabat ini sangat menjaga dalam berjilbab agar pakaiannya tidak terbuka padahal dalam kondisi sakit. Kemudian ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang kondisi manusia pada hari kiamat dimana mereka akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, ‘Aisyah langsung bertanya, ya Rasulullah jika demikian maka laki-laki dan perempuan akan saling melihat satu sama lain? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “wahai ‘Aisyah perkara lebih besar dari itu (saling memandang)”. Lihatlah bagaimana kekhawatiran ‘Aisyah Radhiyallahu anha. dalam masalah ini.

Kita katakan kepada orang yang menolak dan melecehkan jilbab -kita memohon perlindungan kepada Allah dari sifat ini- : Jilbab ini disyariatkan untuk melindungi wanita dari jiwa-jiwa kotor dan keji yang condong untuk melakukan kejahatan dengan lisan dan perbuatannya seperti pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Disinilah nampak hikmah diwajibkannya jilbab seperti yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.

ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ

” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. [Al Ahzab/33: 59].

Jilbab melindungi wanita muslimah dari pandangan jahat penyebab fitnah, ketika seorang wanita muslimah mengenakan jilbab yang rapih dia akan memperoleh kemuliaan dan tidak akan ada orang yang berani mengganggunya atau menyentuhnya, dia akan aman ketika hendak pergi untuk menyelesaikan urusannya dan tidak akan diganggu dengan cacian atau hinaan hingga ia pulang kembali ke rumahnya.

Pada zaman dulu masyarakat muslim tidak mengenal yang namanya penculikan ataupun pemerkosaan dan pelecehan seksual, kecuali yang kita dengar dari kejadian di negara-negara barat dan itupun hanya sebatas berita.

Akan tetapi setelah sebagian dari masyarakat muslim menentang sebagian syariat Islam yang diantaranya dengan meninggalkan pakaian muslimah (jilbab) dengan alasan modernisasi dan kebebasan, maka munculah kasus-kasus penculikan dan pemerkosaan bahkan kasus ini mencatat angka yang sangat tinggi di sebagian negara kaum muslimin, sehingga kaum wanita tidak lagi bisa merasa aman terutama ketika keluar rumah dan berada di tempat-tempat umum seperti di taman, kebun, mall, pasar dan sarana-sarana transportasi umum seperti kereta api, bus maupun taxi karena mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dan mendengar perkataan-perkataan yang tidak sopan, ini semua karena mereka meninggalkan jilbab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Rabb (Tuhan) nya niscaya ia akan mendapatkan siksaan yang berat” [Al Jin/72: 17].

Dalam survey yang diadakan oleh lembaga KREDIF untuk perlindungan hak-hak wanita, yang diadakan disalah satu negara arab menjelaskan bahwa 80% dari wanita negeri itu mendapatkan gangguan ketika hendak pergi atau pulang dari  tempat tempat kerja , mulai dari gangguan ringan hingga pelecehan seksual, akan tetapi mayoritas dari mereka enggan untuk menceritakannya secara rinci karena malu terhadap keluarganya. Dan kebanyaakan mereka tidak berani lagi untuk melewati beberapa kawasan pemukiman karena faktor keamanan (sumber: koran Asy-Syarq al Ausath edisi 7868 tanggal 11/3/1421 H).

Hasil survey ini kita persembahkan kepada para pengajak kebebasan dan kekejian baik laki maupun perempuan. Kita katakan kepada mereka inilah hasil dakwah dan propaganda kalian, sebuah hasil survey yang valid dan lengkap dari sebuah lembaga khusus pemerhati hak-hak kaum hawa.

Kemudian kita katakan kepada mereka, jalan manakah lebih aman dan tenang? Jalan kesucian dan kehormatan dengan mengenakan busana muslimah? Ataukah jalan kerusakan dan kesesatan serta penolakan terhadap syari’at Allah dengan mengabaikan pakaian muslimah?

Kita juga katakan kepada mereka jika kalian menolak jilbab dengan tuduhan keterbelakangan dan kemunduran padahal ia adalah pelindung kaum wanita dari berbagai macam gangguan ketika keluar rumah dan melakukan bepergian jauh, lalu apa yang kalian katakan kepada para petugas pemadam kebakaran yang memakai masker dan topi pelindung ketika mereka memadamkan api, bukankah itu semua untuk melindungi mereka dari kobaran api dan kepulan asap?

Apa yang kalian katakan ketika para pekerja pabrik kimia diharuskan untuk memakai masker pengaman dan pakaian khusus yang menutup seluruh anggota badan mereka, bukankah itu semua untuk melindungi mereka dari ancaman zat kimia yang membahayakan?

Juga apa yang kalian katakan ketika para tentara yang mengoperasikan alat tempur seperti tank dan peluncur roket diharuskan memakai topi khusus tentara? Bukankah itu semua untuk melindungi kepala dan muka dari bahaya? Demikian juga helem yang wajib dikenakan oleh para pengendara sepeda motor bahkan bagi yang melanggarnya diharuskan untuk membayar denda? Juga para pekerja di ruang laboratorium dan rumah sakit spesialis penyakit menular yang diharuskan untuk memakai pakaian pengaman terutama bagian muka untuk melindungi mereka agar tidak tertular penyakit dari para pasien? Demikian juga para pekerja di bagian radiologi dan tempat-tempat berbahaya lainnya seperti sumur pengeboran minyak, peleburan besi, semuanya diharuskan untuk memakai pakaian pelindung untuk menjaga mereka dari berbagai bahaya yang mungkin ditimbulkan dari gas maupun zat berbahaya tersebut. Semua sarana pengaman tersebut harus dikenakan ketika mereka hendak melakukan aktifitas mereka untuk mengantisipasi adanya bahaya yang mungkin timbul, itu semua sebenarnya tercakup dalam makna jilbab (hijab), karena hijab dalam bahasa arab artinya : pelindung, penahan dan pengaman dari bahaya jasmani maupun rohani dan semua alat pelindung diatas dipakai oleh kaum lelaki ditempat-tempat kerja mereka namun itu semua tidak dikatakan sebagai bentuk keterbelakangan maupun kemunduran, bahkan sebaliknya ia merupakan tanda kemajuan dan modernisasi serta kesadaran akan pentingnya keselamatan dan usaha prefentif untuk menghindari dan mengurangi kecelakaan pada masyarakat juga menanggulangi bahaya penyebaran penyakit serta usaha untuk membangun masyarakat yang sehat.

Setelah ini semua kita katakan kepada mereka yang menolak jilbab, kenapa kalian menerima semua sarana pelindung ini dan mengharuskan para pekerja untuk memakainya bahkan memberikan sangsi kepada yang melanggarnya? Bukankah itu bertujuan untuk menghindari bahaya dan membentuk masyarakat yang sejahtera? Kenapa kalian menolak jilbab dan mengajak orang untuk meninggalkannya serta meneriakan tuduhan bahwa itu merupakan simbol keterbelakangan dan kemunduran padahal jilbab adalah sarana terbaik untuk menjaga kaum  wanita dari bahaya dan gangguan jasmani maupun rohani, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah subhanahu wata’ala.

وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. … ” [Al Ahzab/33: 53]

Betapa banyak hati yang menjadi rusak, rumah tangga yang berantakan, suami istri yang bercerai dan anak-anak yang menjadi gelandangan dikarenakan mereka meninggalkan jilbab, ada orang yang tergila-gila kepada seorang wanita setelah melihat bagian-bagian tubuhnya yang menggoda, sehingga rumah tangganya berantakan istri dan anak-anaknya diterlantarkan, dalam sebuah berita yang disinyalir oleh salah satu surat kabar menyatakan bahwa ada seorang lelaki yang dihukum gara-gara mengusir istri dan lima anak perempuannya dari rumahnya kemudian ia tinggal bersama kekasihnya dirumah tersebut (koran Ash-Shobah – Tunisia, vol. 1019 tanggal 7/1/2005).

Betapa banyak kasus penculikan perempuan yang kemudian tidak diketahui keberadaanya akibat perbuatannya yang memamerkan auratnya dan tidak mengenakan busana muslimah, ada juga yang terbunuh dan dibuang dipinggir jalan atau di pesisir pantai setelah diperkosa dan direnggut kehormatannya dan masih banyak lagi kasus kriminal yang saya tidak mampu menghitung dan mendatanya, itu semua disebabkan karena mereka meninggalkan pakaian muslimah (jilbab) dan memamerkan kemolekan tubuh mereka, padahal Allah subhanahu wata’ala telah berfirman:

وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Rabb (Tuhan) nya niscaya ia akan mendapatkan siksaan yang berat” [Al Jin/72: 17]

Banyak bencana yang timbul di masyarakat karena mereka berpaling dari ajaran Allah, seperti terjadinya berbagai macam perselisihan antara suami istri, khianat dan pelecehan seksual serta sulitnya mengendalikan kaum wanita serta tersebarnya berbagai macam penyakit seksual dan penyakit-penyakit jasmani maupun rohani akibat dari diabaikannya jilbab dan keluarnya kaum wanita dengan keadaan semi telanjang didepan kaum lelaki dan inilah hasil dari propaganda kebebasan yang selalu mereka gembar-gemborkan.

Ini menunjukan bahwa jilbab adalah merupakan salah satu sarana prefentif untuk menjaga kehormatan wanita ketika mereka keluar rumah dan melewati kaum lelaki atau ketika mereka berada di lingkungan kaum pria yang ada di tempat-tempat umum seperti rumah sakit, pasar, pengadilan atau bank bahkan ketika mereka menunaikan ibadah haji dan umrahpun ketika berada ditengah-tengah kaum pria mereka berkewajiban untuk memakai jilbab dan hijab (penutup muka).

Ibu kaum mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anha. Menceritakan ketika beliau bersama para shahabiyah Radhiyallahu anhuna. pada saat menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menutupkan kerudung ke wajah mereka ketika ada sekelompok lelaki yang melewati mereka dan ketika rombongan itu telah berlalu, mereka membuka kembali penutup muka mereka. Beliau Radhiyallahu anha. berkata,

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا إِلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ ‏

“Ketika ada sekelompok kaum pria yang berpasasan dengan kami ketika kami sedang berihram bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka kami menutup muka-muka kami dengan kerudung yang diturunkan dari kepala kami dan apabila mereka telah berlalu, kami membuka kembali wajah-wajah kami”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah].

Disinilah nampak hikmah dari tujuan diwajibkannya jilbab sebagaimana dalam firman-Nya:

ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.[Al Ahzab/33: 59].

Kemudian kita katakan kepada para saudari kita kaum muslimah, inilah kemuliaan dan kebahagiaan yang dijamin oleh agama Islam jika kalian berpegang teguh dengannya. Ingatlah selalu untuk berpegang tegung dengan agamamu karena itulah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, kenakanlah selalu pakaian muslimah dan hati-hatilah terhadap para da’i kesesatan dan kebatilan yang ingin mengeluarkan kalian dari rumah kemuliaan dan kebahagiaan ke jurang kenistaan dan kehinaan sehingga kalian tidak akan memiliki harga diri lagi, kita tidak pernah dengar ada srigala yang jujur dan amanah serta memiliki hati nurani yang baik.

Lihatlah wanita-wanita yang mengikuti ajakan mereka untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan mereka, mereka tidak mendapatkan kecuali kenistaan dan penderitaan serta penyesalan, bahkan sebagian dari mereka ada yang memilih untuk bunuh diri padahal mereka telah menjadi orang terkenal dibidangnya, kita memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan ini dan itu semua tidak lain adalah akibat pamer aurat dan pakaian seksi  yang mereka kenakan dan mengikuti ajakan syaitan dengan alasan kebebasan berbuat, padahal Allah subhanahu wata’ala telah berfirman:

وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Al Hajj/22 :18]

 Dan juga firman-Nya:

وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ 

“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”  [Al Ahzab/33 :36]

 Allah juga berfirman tentang orang-orang yang mentaati  dan meniti jalan-Nya:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar“.[Al Ahzab/33 :71]

Juga firman-Nya:

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. [Al Baqarah/2:38].

Dan dalam ayat lain disebutkan:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ

“Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” [Ali Imran/3:132]

 Semoga Allah memberikan taufiq dan petunjuk ke jalan yang lurus. Amiin.

[Disalin dari  الحجاب يا فتاة الإسلام  Penulis Abdullah bin Abdurrahman Al-Duwaisy Hakim Mahkamah Riyadh , Penerjemah Eko Haryanto Abu Ziyad, Editor : Team Indonesia, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]

JILBAB …Diserang dari Luar dan Dalam

JILBAB …DISERANG DARI LUAR DAN DALAM

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Wa ba’du 

Sesungguhnya terdapat riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

Kelak umat-umat lain akan mengerumuni kalian, sebagaimana makanan (siap santap, pent.) yang dikerumuni di seputar tempat hidangannya.”

Saat ini kita melihat secara kasat mata, bagaimana statement permusuhan yang dilontarkan secara terbuka oleh bangsa-bangsa lain yang merupakan bagian dari golongan syaithan yang menyesatkan, baik dari jenis jin maupun manusia di belahan bumi bagian timur dan barat. Manusia-manusia yang mendukung mereka menganggap bahwa mereka masih bagian dari kaum muslimin, sementara mereka memproklamirkan secara terang-terangan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin. Setiap hari kita mendapati mereka sedang mengarahkan panah-panah beracun mereka kepada umat Islam.

Hal yang lebih mengejutkan lagi aneh bagi kita, Menteri Kebudayaan Mesir melontarkan pernyataannya :
Sesungguhnya hijab (pakaian jilbab yang menutupi seluruh aurat wanita, pent.) itu merupakan langkah kemunduran (budaya) … !!!”

Ini merupakan pernyataan seorang mentri sebuah negara arab terbesar yang menjadi contoh kebudayaan di kebanyakan negara-negara muslim.

(Terbukti) benar, sesungguhnya kecemburuan dan kedengkian mereka semakin bertambah saat menyaksikan wanita muslimah yang menjaga kesucian diri mereka di zaman yang penuh fitnah, ia memelihara hijabnya yang telah diwajibkan oleh Allah dari tujuh lapis langit kepadanya, dan memegang teguh nilai-nilai agamanya yang lurus (al-hanif).

Kami mendapati mereka sebagai komplotan konspirasi … (dimana) gerak mereka tidak pernah berhenti dan mata mereka tidak pernah terpejam, hingga terealisasinya (target) mereka melucuti hijab yang suci lagi santun dari (tubuh) wanita muslimah.

Kenapa bisa semua kedengkian ini terhujam (dalam hati kalian)? Bukankah kalian mengklaim bahwa kalian merupakan penggiat-penggiat demokrasi? Lalu kenapa kalian biasa melakukan kesewenangan dengan merendahkan (martabat) kaum wanita muslimah? Dan kenapa peperangan terbuka terhadap hijab ini (bisa terjadi)?  ,.

Saudariku seagama … Wahai orang-orang yang hina dan telah “merdeka” dari urgensi hijab yang dikenakannya … Aku kira bahwa komplotan konspirasi itu telah tampak jelas di hadapanmu … Ketahuilah bahwa (dengan kamu tidak berhijab) berarti kamu turut membantu musuh-musuh agama untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang tersembunyi di balik slogan “Tanpa kenakan hijab”.

Ingatlah bahwa tidak ada tempat untuk berdiri di hadapan Allah Tabarka wa Ta’ala, dan tempat kembalinya seluruh manusia akan berakhir ke liang kubur. Maka mengapa kamu tidak kembali (saja) kepada kebenaran (sejati)mu dan kepada rasa malumu, sebagaimana sabdanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الإِيمَانِ

Malu merupakan cabang dari iman

Mengapa kamu tidak menolong agamamu dan kembali (mengenakan) pakaian yang suci dan santun?? Pakaian hijab inilah yang menutupi auratmu dan memelihara kehormatanmu.

Saudariku yang mulia … Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang dipimpinnya.”

Kamu dengan perananmu, akan dimintai pertanggunjawabannya di hadapan Allah mengenai tindak tandukmu, saat engkau keluar rumah dengan tidak mengenakan hijab, berarti turut memberikan kontribusi secara langsung kepada kerusakan masyarakat dan memberikan efek buruk atasnya.

Janganlah anda menjadi orang-orang yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

« صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ  الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَمْثَالِ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ كَذَا وَكَذَا »

Dua kelompok manusia penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, (yaitu) golongan orang-orang yang membawa cemeti seperti buntut sapi, mereka memukuli manusia dengannya … Dan kaum wanita yang berpakaian (bagaikan) telanjang, selalu melakukan kemaksiatan dan mengajarkan kemaksiatannya kepada orang lain. Kepala-kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan tidak akan mendapatkan wanginya. Padahal wangi surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian.”

Saudariku yang mulia …. Sesungguhnya komitmenmu terhadap ajaran-ajaran agamamu yang lurus dan busana hijab yang kamu kenakan ini, terbilang sebagai jihad besar di masa-masa ini, sebagaimana kita menyaksikan  peperangan stigma (pencitraan buruk) terhadap hijab. Maka mengapa kamu tidak menolong agamamu? Dan memujahadahkan dirimu dari nafsu yang mengajak kepada perbuatan tercela? Dengan demikian, kamu telah menjaga kehormatanmu dan masyarakatmu dari perpecahan dan kehinaan?

Ini merupakan suatu kesempatan (berharga) bagimu wahai saudariku yang berprofesi sebagai juru dakwah (da’iyah), maka janganlah ragu untuk mengajak saudari-saudarimu yang muslimah untuk berkomitmen dengan hijab dan pakaian suci lagi santun lainnya, dengan metode targhib (motivasi) dan at-tarhib (peringatan).

Dan kamu, wahai para ayah dari kalangan muslim … Apakah kamu lupa bahwa kamu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah tentang putri-putrimu, dan Allah akan menanyaimu mengenai (keadaan) mereka. Apakah kamu tidak berpikir di hari dimana putrimu berhias saat ia keluar dari rumah, untuk siapa ia berhias?

Dan kamu, wahai para suami …  Terpikirkah olehmu, untuk siapa istrimu berhias saat ia keluar dari rumah? Apakah kamu lupa bahwa perhiasannya tidaklah layak (untuk dipamerkan) kepada pria selainmu?

Alangkah mengagumkan riwayat kisah ini …
Pada tahun 286 H, ada seorang wanita mengajukan gugatan terhadap suaminya kepada Qadhi ar-Rai, maka ia menggugat suaminya tentang mas kawin senilai 500 (lima ratus) dinar. Ia menyatakan bahwa suaminya tersebut belum memberikan mahar tersebut kepadanya. Maka sang suami membantah pernyataan itu … Lalu sang istri datang dengan membawa barang bukti yang menguatkan persaksiannya akan perkara mahar tersebut.  Maka pembantu Qadhi berkata, “Kami minta agar wanita ini menyingkapkan wajahnya kepada kami, sehingga kami mnegetahui bahwa dia memang istrinya atau bukan !!!

Maka saat mereka berketatapan untuk melihat wajahnya, berkata sang suami: “Jangan kalian lakukan itu, sesungguhnya wanita itu benar mengenai apa yang diadukannya. Maka aku mengakui tentang apa yang telah digugatnya.” Demikianlah sikap sang suami sebagai upayanya menjaga (aurat) wajah sang istri yang berada dalam kondisi mendesak (adh-dharurah) diminta untuk diperlihatkan di hadapan persaksian mahkamah pengadilan.

Maka ketika sang istri melihat peristiwa tersebut, dimana suaminya telah memberikan pengakuan jujur hanya sebab untuk memelihara (aurat) wajahnya, maka ia berkata: “Dia (suaminya) telah bebas dari perkara maharku di dunia dan akhirat.”

Inilah bentuk kecemburuan yang sejatinya, dan inilah hakikat yang sudah seharusnya kita ketahui.

Wahai para orang tua, para suami, dan wanita muslimah … bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa kalian akan kembali kepada-Nya …..

Dengan sikap kamu yang menggampangkan perkara ini, berarti kamu telah turut memberikan saham dalam penyebaran perbuatan keji (al-fahisyah) di tengah orang-orang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ   سورة النور  : 19

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [An-Nuur/24 : 19]

Jangan dengarkan (kicauan) para “penyeru-penyeru kebebasan” sebagaimana yang mereka klaimkan. Demi Allah, sesungguhnya mereka adalah para penyeru kesesatan dan bukan kebebasan. Kebebasan bukanlah dengan tabarruj (berhias diri) dan menyebarkan kehinaan di tengah masyarakat. Sesungguhnya seluruh risalah samawi dan nilai-nilai kemanusiaan mengajak untuk menutup dan mengenakan hijab. Maka ini merupakan fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu.

Maka janganlah kalian jual akhirat kalian dengan dunia … Hidup dunia hanya sebentar … maka jadikanlah hidup di dunia sebagai (ladang) ketaatan (kepada Allah). Sedangkan jiwa itu rakus, maka ajarkanlah qana’ah kepadanya ….

Bertaubatlah kepada Allah, Yang menciptakan dan membentuk rupa kalian. Berpegang teguhlah dengan nilai-nilai agama kalian yang lurus sehingga kalian mencapai sukses di dunia dan akhirat. Jangan ikuti hawa nafsu dan (ajakan) para syaithan dari kalangan jin dan manusia yang menghendaki kalian tersesat dari jalan Allah dan dari jalan yang lurus. Maka demi Allah, sesungguhnya mereka tidak akan dapat memberikan manfaat apapun kepada kalian …. Bahkan sebaliknya mereka akan mencelakakan kalian dan mereka adalah para pendusta-pendusta ulung :

مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلاَ لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلاَّ كَذِباً ﴿5﴾  سورة الكهف

“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta..” [Al-Kahfi/18 : 5]

Sementara Allah lebih berhak untuk kalian takuti, dan tipu muslihat syaithan adalah lemah.

[Disalin dari الحجاب حرب من الخارج والداخل Penulis Tim situs Thariq al-Islam, Penerjemah Muhammad Khairuddin, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Gerakan Emansipasi Wanita

GERAKAN EMANSIPASI WANITA

Pengenalan.
Gerakan pembebasan wanita: adalah gerakan sekuler, yang pada awalnya tumbuh di Mesir, kemudian menyebar ke seluruh pelosok negara-negara Islam, ia menyeru kepada pembebasan wanita dari adab-adab Islam dan hukum-hukum syari’ah yang khusus dengannya, seperti hijab, penyempitan makna perceraian, melarang poligami, menyamaratakan waris serta mencontoh wanita-wanita barat pada seluruh keadaan ajakan tersebut disebar melalui organisasi-organisasi dan persatuan-persatuan wanita yang ada di dunia Arab.

Pendirian dan Orang-orang yang Paling Berperan.
Sebelum gerakan tersebut terealisasi dalam bentuk ajakan yang tersusun untuk memerdekakan wanita melalui sebuah kelompok yang bernama Persatuan Wanita .. dahulunya terdapat pondasi pemikiran tentangnya .. yang terlihat dari sela-sela tiga buah buku dan sebuah majalah yang diterbitkan di Mesir:

  1. Buku : Wanita di Timur: Karangan Markus Fahmi Al-Muhami, seorang yang beragama Kristen, didalamnya ia mengajak untuk menghukumi hijab, membolehkan percampuran antara pria dan wanita, mempersempit perceraian, melarang poligami (bolehnya menikahi lebih dari satu orang wanita), serta memperbolehkan pernikahan wanita muslimah dengan laki-laki Kristen.
  2. Buku: Pembebasan Wanita : Karangan Qasim Amin, dicetak pada tahun 1899M, dengan donatur Syeikh Muhammad Abduh, Sa’ad Zaqhlul dan Ahmad Luthfi As-Sayyid. Dia membuat persangkaan bahwa hijab wanita yang tersebar bukan berasal dari Islam, dan diapun berkata bahwa ajakan untuk melepas hijab tidak mengeluarkan pengajaknya dari agama ini.
  3. Buku: Wanita Baru : Karangan Qasim Amin – dicetak pada tahun 1900M, ia mengandung pemikiran yang sama dengan buku pertamanya yang berdalilkan perkataan dan anggapan-anggapan pendapat orang-orang barat.
  4. Majalah As-Sufur: Terbit pada saat sedang berkecamuknya perang dunia pertama, bersumber dari para pembela dibukanya aurat wanita, ia berfokus pada pakaian terbuka dan bercampurnya antara pria dengan wanita.

Berikutnya gerakan buka aurat wanita Mesir, ikut sertanya para wanita yang dipimpin oleh Huda Sya’rawi (istri Ali Sya’rawi) dalam pemberontakan yang terjadi pada tahun 1919M, mereka terjun langsung dalam pemberontakan tersebut, gerakan politik mereka dimulai oleh demonstrasi yang mereka lakukan pada pagi hari tanggal 20 Maret 1919M.

Fase pertama untuk pembukaan hijab ini adalah pada saat Sa’ad Zaghlul mengajak para wanita yang menghadiri ceramahnya untuk menyingkirkan cadar mereka dari mukanya masing-masing, dia sendirilah yang melepas hijab dari wajah Nurul Huda Muhammad Sulthan yang lebih dikenal dengan nama: Huda Sya’rawi, pendiri Persatuan Wanita Mesir, yaitu pada saat menjemputnya di Alexandria setelah kembali dari Al-Manfa, kemudian diikuti oleh wanita-wanita lain yang ikut melepas hijabnya setelah itu.

Persatuan Wanita didirikan pada April 1924M, setelah kembalinya sang pendiri: Huda Sya’rawi dari muktamar Persatuan Wanita Internasional yang diadakan di Roma tahun 1922M  ia mengajak kepada seluruh ajakan yang diserukan sebelumnya oleh Markus Fahmi Al-Muhami dan Qasim Amin.

Setelah duapuluh tahun, persatuan ini mengadakan Muktamar Persatuan Wanita Arab, yaitu tahun 1944 M, yang dihadiri oleh para utusan wanita dari Negara-negara Arab. Inggris dan Amerika Serikat menyambut diadakannya Muktamar tersebut, bahkan istri Presiden Amerika Roosevelt sangat berbahagia dan mendukungnya.

Diantara Mereka yang Paling Berperan Dalam Gerakan Pembebasan Wanita.
Syeikh Muhammad Abduh, dengan bukunya “Tahrirul Mar’ah” (Pembebasan Wanita) yang berisi pemikiran dan  gagasan-gagasan Syeikh Muhammad Abduh, dimana banyak gagasan Syeikh yang diungkapkan dan dibicarakan tentang hak-hak wanita dalam berbagai artikel-artikel  tentang fakta di Mesir, dan juga dalam penafsirannya terhadap ayat-ayat ahkam yang berhubungan dengan wanita. (rinciannya dapat di lihat pada buku: “Al-Muamaroh ‘alal mar’ah Al-Muslimah” karangan DR. As-Sayyid Ahmad Faraj hal 63 dan setelahnya, cet. Dar El-Wafa tahun 1985 M, serta buku “‘Audatul Hijab” jilid I, karangan DR. Muhammad Ahmad bin Ismail Al-Muqaddam)

Sa’ad Zaghlul, pimpinan partai Al-Wafdu Al-Masri, yang membantu Qasim Amin untuk mengeluarkan bukunya serta memberinya semangat dalam permasalahan ini.

Luthfi As-Sayyid, yang dinisbatkan kepadanya sebagai ustadz generasi, dan dia tetap memakmurkan gerakan pembebasan wanita melalui lembaran-lembaran Koran, ia adalah juru bicara partai Al-Ummah Al-Masriyyah pada masanya.

Sofiyyah Zaghlul, istri Sa’ad Zaghlul dan juga putri dari Mustafa Fahmi Basya yang menjadi Perdana Menteri pada saat itu, dan juga sebagai koloni Inggris paling terkenal yang diketahui oleh bangsa Mesir.

Huda Sya’rawi, putri Muhammad Sulthan Basya yang mendampingi penjajah Inggris dalam merebut ibukota, dan juga istri Ali Sya’rawi Basya salah seorang anggota dari partai Al-Ummah (sekarang Al-Wafdu) dan termasuk dari pendukung dibukanya hijab.

Siza Nairawi (nama aslinya Zainab Muhammad Murad), dia adalah sahabat dari Huda Sya’rawi dalam muktamar internasional maupun lokal. Keduanya adalah orang yang pertama kali menanggalkan hijab di Mesir setelah kembali dari barat untuk menghadiri muktamar Persatuan Wanita Internasional yang diadakan di Roma tahun 1923M.

Diryah Syafiq, salah seorang murid Luthfi As-Sayyid, dia pergi sendiri ke Perancis untuk mengejar gelar Doktor, kemudian ke Inggris, dia digambarkan oleh media informasi barat sebagai wanita yang menyeru kepada kebebasan dari belenggu-belenggu serta ikatan-ikatan Islam, seperti : hijab, talak dan poligami.

Tatkala kembali ke Mesir, dia membentuk partai (Bintu An-Nil) tahun 1949M dengan mendapatkan dorongan dana dari Kedutaan besar Inggris dan kedutaan besar Amerika, inilah kenyataannya, yaitu pada saat ada salah seorang anggotanya yang keluar dari partai tersebut, pada saat itu sokongan danalah yang menyebabkannya mengundurkan diri. Diryah Syafiq adalah penggerak demonstrasi para wanita, yang paling terkenal adalah demonstrasi yang terjadi pada 19 Februari 1951M dan 12 Maret 1954M, dengan bekerjasama bersama pemerintahan Abdun Naser, para wanita dibantu oleh wartawan untuk tidak menyentuh makanan hingga mati jika tuntutan mereka tidak dikabulkan, akhirnya tuntutan mereka dikabulkan dan Diryah Syafiq mengikuti pencalonan akan tetapi tidak berhasil terpilih. Dia telah menghadiri berbagai macam muktamar wanita internasional untuk menuntut hak-hak wanita – menurut perkataannya.

Suhair Al-Qalmawi, dididik pada Universitas Amerika yang ada di Mesir dan lulus dari sekolah Amerika, dia berpindah-pindah dari satu universitas ke universitas lain di Amerika dan Eropa, kemudian kembali untuk mengajar di Universitas Mesir.

Aminah As-Said, dia adalah salah seorang murid Thaha Husain, intelektual dan penulis Mesir yang menyeru agar menjadikan Mesir seperti barat dia memimpin majalah Hawa, dia telah menyerang hijab dengan berani – diantara perkataannya pada masa Abdun Naser: (Kenapa kita harus tunduk kepada empat orang ahli fiqh yang dilahirkan pada zaman kegelapan sedangkan kita memiliki perjanjian?) yang dia maksud adalah piagam Abdun Naser yang menyeru kepada isytirakiyyah (sosialisme) – dan majalah Hawa dijadikan perantara untuk menyerang adab-adab Islami dan dia terus berperan dalam permasalahan ini.

DR. Nawal As-Sa’dawi, pemimpin persatuan Mesir pada saat ini.

Pemikiran dan Keyakinan:
Kami ringkas pemikiran serta keyakinan-keyakinan para pembela gerakan pembebasan wanita sebagaimana berikut ini:
Pembebasan wanita dari seluruh adab serta syari’at-syari’at Islamiyyah, yaitu melalui jalan:

  • Ajakan kepada pakaian terbuka dan penuntasan terhadap hijab Islami.
  • Ajakan kepada percampuran antara laki-laki dengan wanita pada segala bidang, di sekolah, universitas, yayasan pemerintahan dan pasar-pasar.
  • Menyempitkan permasalahan talak, dan hanya cukup dengan satu istri.
  • Pesetaraan dalam hal waris bersama laki-laki.
  • Ajakan orientalis barat atau ketidakpercayaan terhadap agama, sehingga agama tidak turut menghukumi dalam bidang kehidupan bermasyarakat pada khususnya.
  • Tuntutan terhadap hak-hak kemasyarakatan dan politik.
  • Eropa dan barat secara umum adalah panutan dalam seluruh perkara yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat bagi wanita: seperti pekerjaan, kebebasan bergaul, serta berbagai jenis kegiatan olah raga dan pengetahuan.

Cabang-cabang Pemikiran dan Keyakinan.
Setelah gerakan kemerdekaan wanita telah melebur dalam bentuk persatuan-persatuan kewanitaan di negara-negara kita secara khusus dan negara lain secara umum, keyakinan akan ketidakadaan agama atau yang mereka namakan (orientalis) barat menjadi pondasi bagi pemikiran dan aqidah dari gerakan kemerdekaan wanita, ia diarahkan dan pada khusus di Negara-negara Islam kepada wanita muslimah; untuk mengeluarkannya dari agama pada mulanya, kemudian merusaknya secara akhlak dan kemasyarakatan yang mana dengan rusaknya wanita, maka akan rusak pula masyarakat Islami, dan akan punah pula gelombang kemuliaan Islami yang berdiri tegak dihadapan salib barat dan seluruh musuh-musuh Islam, dengan bentuk ini akan menjadi mudah untuk menguasainya.

Diantara bukti-bukti yang menunjukkan bahwa cabang gerakan kemerdekaan wanita sampai kepada orientalis barat adalah berikut ini:

  1. Pada tahun 1894M muncul sebuah buku karya penulis Perancis Alcon Darkur, ditujukan padanya kepada wanita-wanita Mesir dan menghujat terhadap hijab Islam, serta menghujat para mutsaqqof atas diamnya mereka.
  2. Pada tahun 1899M, Amin mengarang bukunya yang berjudul “Tahrirul Mar’ah“, didalamnya dia tampilkan pemikiran-pemikiran Darkur.
  3. Pada tahun yang sama, pimpinan masyarakat Mesir yang bernama Musthafa Kamil (pemimpin partai Al-Wathani) menyerang buku “Tahrirul Mar’ah” dan mengikat pemikiran-pemikirannya dengan penjajah Inggris.
  4. Ekonom Mesir terkenal yang bernama Muhammad Thala’at Harb mengarang buku “Tarbiah Al-Mar’ah wal Hijab” dalam bantahan terhadap Qasim Amin, diantara apa yang dia katakana: “Sesungguhnya pelepasan hijab dan ikhtilat (percampuran antara pria dan wanita), keduanya merupakan sebuah angan-angan yang diharapkan oleh Eropa”.
  5. Inggris menerjemahkan –pada saat mereka masih berada di Mesir- buku “Tahrirul Mar’ah” kedalam bahasa Inggris dan menyebarkannya di India serta daerah-daerah Islam yang dijajah.
  6. Doctor (Rid) ketua persatuan wanita international yang langsung datang sendiri ke Mesir untuk mempelajari perkembangan gerakan kewanitaan
  7. Kecemburuan yayasan-yayasan Barat terhadap gerakan kemerdekaan wanita Arab serta berbagai kegiatan persatuan wanita Timur, yang dilukiskan dengan dikirimnya telegram oleh istri Presiden Amerika Serikat untuk Muktamar Wanita Arab tahun 1944 M.
  8. Hubungan partai (Bintu An-Nil) dengan kedutaan besar Inggris dan bantuan dana yang didapat darinya –sebagaimana yang telah kita bicarakan dalam permbahasan Diryah Syafiq.
  9. Sambutan Koran-koran Inggris terhadap Diryah Syafiq ketua partai Bintu An-Nil dan penggambaran tentang dirinya dengan gambaran sebagai da’i terbesar kepada kemerdekaan wanita Mesir dari belenggu-belenggu Islam dan taklidnya.
  10. Telegram dari Jum’iyyah (Saint James) Inggris kepada pimpinan partai Bintu An-Nil yang memberinya selamat atas arahan-arahannya yang baru dalam melangsungkan berbagai demonstrasi untuk menuntut hak-hak wanita.
  11. Keikutsertaan langsung Pimpinan yang diwakili oleh dirinya sendiri dalam Muktamar wanita international di Athena tahun 1951 M. terlihat dari keputusan-keputusan muktamar yang dia setujui bahwa dirinya akan melayani penjajah melebihi pelayanannya terhadap negara.
  12. Pernyataan Kamila Yafi yang berwarga Negara India bahwa persatuan wanita international berada di bawah Negara-negara Barat dan para penjajah serta keterpisahan darinya.
  13. Pernyataan Doktor Nawal As-Sa’dawi ketua persatuan wanita Mesir tahun 1987 M, di sela-sela muktamar, bahwa Negara-negara Baratlah yang telah menyiapkan dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan muktamar persatuan wanita, sedangkan negara-negara Islam tidak ikut mendanai padanya.

Inilah sebagian dari bukti-bukti nyata yang menjadi dalil tidak diragukan lagi akan adanya hubungan antara gerakan kemerdekaan wanita dengan kekuatan penjajah Barat.

Menjadi Jelas dari apa yang Telah Lalu.
Bahwa gerakan pembebasan wanita adalah gerakan orientalis, tumbuh di Mesir dan darinya disebar ke seluruh penjuru Negara-negara Islam, tujuannya adalah memutus hubungan antara wanita dengan adab-adab Islam dan hukum-hukum syar’iyyah yang khusus berhubungan dengan wanita, seperti hijab, membatasi talak, melarang poligami, persamaan dalam hal waris serta agar selalu meniru wanita barat dalam segala sesuatu. Buku “Al-Mar’ah fii As-Syarq” karangan Markus Fahmi Al-Muhami dan buku “Tahrirul Mar’ah” serta “Al-Mar’ah Al-Jadidah” karangan Qosim Amin dianggap sebagai buku terpenting yang mengajak kepada pakaian terbuka dan keluar dari agama (murtad). Tujuan-tujuan dari pergerakan ini terus memanjang agar bisa sampai menjadikan Orientalis dan ketidak percayaan terhadap agama sebagai pondasi bagi pergerakan kemerdekaan wanita dan masyarakat.

[Disalin dari حركة تحرير المرأة  Penulis Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi, Penerjemah Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Kaum Nabi Isa ‘Alaihissallam

KAUM NABI ISA ALAIHISSALLAM

Allah azza wa jalla telah banyak menceritakan tentang mereka didalam beberapa tempat, salah satunya firman Allah ta’ala:

إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ٤٥ وَيُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗا وَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٤٦ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ آل عمران: 45-47]

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh”. Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia”. [al-Imraan/3: 45-47].

Dalam kesempatan yang lain Allah azza wa jalla juga berfirman tentang mereka:

فَأَتَتۡ بِهِۦ قَوۡمَهَا تَحۡمِلُهُۥۖ قَالُواْ يَٰمَرۡيَمُ لَقَدۡ جِئۡتِ شَيۡ‍ٔٗا فَرِيّٗا ٢٧ يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا ٢٨ فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ قَالُواْ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا ٢٩ قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١ وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا ٣٣ ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ  [ مريم: 27-34 ]

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada ku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya”. [Maryam/19: 27-34].

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga mengkisahkan tentang nabi Isa ‘alaihi sallam, Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ وَرُوحٞ مِّنۡهُۖ  [ النساء: 171 ]

“Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya”. [an-Nisaa’/4: 171].

Demikian pula didalam firmanNya:

إِنۡ هُوَ إِلَّا عَبۡدٌ أَنۡعَمۡنَا عَلَيۡهِ وَجَعَلۡنَٰهُ مَثَلٗا لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ  [ الزخرف: 59 ]

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail”. [az-Zukhruf/43: 59].

Inilah dia Isa putera Maryam yang telah Allah azza wa jalla ceritakan kepada kita didalam kitabNya yang suci, didalam al-Qur’an Allah ta’ala telah menjelaskan secara detail tentang nabi Isa bin Maryam yang sudah mencukupi untuk membuang keraguan dan perdebatan yang berkaitan tentang beliau.

Disana tegaskan kalau beliau bukanlah seorang Tuhan apalagi anak Tuhan, namun, diterangkan beliau hanyalah seorang hamba sama seperti para hamba yang lain, yang dijadikan sebagai permisalan bagi Bani Israil. Seperti yang Allah terangkan didalam firmanNya:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٥٩ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ  [ آل عمران: 59-60 ]

“Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah dia. (apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. [al-Imran/3: 59-60].

Dan Allah membantah keyakinan yang menyatakan nabi Isa adalah Allah, yaitu dalam firmanNya:

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ  [ المائدة: 72 ]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam”. [al-Maaidah/5:

Demikian pula sanggahan Allah didalam beberapa ayatNya yang lain, Allah berfirman:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ قُلۡ فَمَن يَمۡلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔا إِنۡ أَرَادَ أَن يُهۡلِكَ ٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗاۗ ٞ  [ المائدة: 17 ]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. [al-Maaidah/5: 17].

Dan juga didalam firmanNya:

مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٞۖ [ المائدة: 75 ]

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar”. [al-Maaidah/5: 75].

Beliau lah yang di ceritakan oleh Allah azza wa jalla didalam firmanNya, yang telah menyeru kepada Bani Israil dengan ucapannya. Seperti yang Allah nukil dalam firmanNya:

وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ  [المائدة: 72]

“Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. [al-Maaidah/5: 72].

Begitulah al-Qur’an yang mulia telah menceritakan kepada kita tentang nabi Isa ‘alaihi sallam secara gamblang, dan kesimpulan yang bisa kita rangkum melalui nushsus diatas ialah:

Bahwa nabi Isa ‘alaihi sallam adalah seorang hamba Allah dan rasulNya, serta kalimatNya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruhNya.

Beliau merupakan nabi dan rasul terakhir yang Allah utus kepada umat Bani Israil, sebagaimana nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi dan rasul terakhir yang diutus kepada seluruh umat manusia.

Namanya sering disebut didalam al-Qur’an dengan lafadh al-Masih, kadang pula disebut dengan namanya langsung Isa, terkadang dengan kun’yahnya sebagai putera Maryam.

Adapun ibunya Maryam ‘alaiha sallam, maka jati dirinya juga telah banyak dijelaskan didalam banyak ayat, salah satunya ialah firman Allah azza wa jalla:

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ  [آل عمران: 33]

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”. [al-Imran/3: 33].

Dan Imran, ayah Maryam ini merupakan seorang yang memiliki kedudukan, termasuk ulama besar dikalangan Bani Israil, yang dahulu istrinya pernah bernadzar untuk menyerahkan apa yang ada didalam perutnya (janinnya) untuk berkhidmat kepada agama, dan tatkala janinnya lahir ternyata perempuan maka ibunya memberi nama Maryam.

Nabi Isa ‘alaihi sallam merupakan silsilah terakhir dari periode-periode panjang bagi agama Israiliyah, yang mana Allah azza wa jalla menjadikan beliau dan ibunya sebagai tanda akan kebesaranNya, baik berkaitan dengan kelahirannya ataupun pertumbuhannya. Dimana masyarakat Bani Israil ketika itu telah kehilangan ruh agama yang benar, membeku dalam suasana dan ilustrasi serta simpang siur ibadah yang begitu beragam, masyarakat yang telah terjerembab dalam dunia dan materinya, tumpang tindih dalam tindakan kejahatan yang menjijikan, seperti yang Allah sinyalir didalam al-Qur’an dalam surat an-Nisaa’, Allah ta’ala mengatakan:

فَبِظُلۡمٖ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمۡنَا عَلَيۡهِمۡ طَيِّبَٰتٍ أُحِلَّتۡ لَهُمۡ وَبِصَدِّهِمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرٗا ١٦٠ وَأَخۡذِهِمُ ٱلرِّبَوٰاْ وَقَدۡ نُهُواْ عَنۡهُ وَأَكۡلِهِمۡ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِۚ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ مِنۡهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا  [ النساء: 160-161 ]

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”.[an-Nisaa’/4: 160-161].

Begitu didalam ayat yang sebelumnya, Allah ta’ala befirman

فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ وَكُفۡرِهِم بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَقَتۡلِهِمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَقَوۡلِهِمۡ قُلُوبُنَا غُلۡفُۢۚ بَلۡ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَيۡهَا بِكُفۡرِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُونَ إِلَّا قَلِيلٗا  [ النساء: 155 ]

“Maka (kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati Kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka”. [an-Nisaa’/4: 155].

Sedangkan Bani Israil, mereka adalah umat yang keras kepala, suka melanggar perintah, terkadang mereka menyembah berhala atau patung, kadang juga menyembah Allah ta’ala. Membunuh para nabi tanpa ada alasan yang bisa dibenarkan, menghalalkan perkara-perkara yang telah diharamkan oleh Allah dengan tipu muslihat mereka, oleh karena itu mereka dilaknat melalui lisannya nabi Dawud ‘alaihi sallam, dan mereka lah kaum yang telah menghancurkan Baitul Maqdis sebagaimana maklum bersama dikalangan para penganut agama semuanya.[1]

Begitu pula telah merasuk pada pemahaman mereka aqidah ta’thil, dimana sebelumnya ketika mereka berada pada zamannya nabi Isa ‘alaihi sallam berada diatas agama tauhid, dengan menetapkan sifat-sifat Allah azza wa jalla, dan membenarkan pembicaraan Allah bersama hambaNya nabi Musa ‘alaihi sallam. Hingga ketika nabi Musa ‘alaihi sallam meninggal, maka masuklah penyusup yang ingin merusak Bani Israil, memasukan aqidah ta’thil ditengah-tengah mereka, yang kemudian kelompok tersebut -sebagai musuhnya nabi Musa ‘alaihi sallam- semakin banyak dan berkembang, dan mereka lebih mendahulukan ilmu akal yang berisikan ta’thil, mengebiri nash-nash yang ada didalam kitab Taurat, maka Allah timpakan kepada mereka kehinaan dengan hilangnya kekuasaan yang telah dimiliki oleh Bani Israil sebelumnya, sehingga mereka melarikan diri dari negerinya, dan anak keturunannya menjadi budak dan tawanan.[2]

Artinya, ketika penyakit akut ini masuk ke tengah-tengah Bani Israil yakni menta’thil sifat-sifat Allah, maka hal itu sebagai faktor kehinaan, kebinasaan dan kehancuran kekuasaan yang telah mereka  milik sebelumnya.

Maka ketika Allah azza wa jalla ingin membangkitkan tidur panjang masyarakat ini dari kebengkokannya maka Allah mengobarkan kembali kekuatan rohani mereka yang telah lama dilupakan.

Kemudian Allah memberikan tiga ayat besar sebagai tanda yang datang saling berurutan satu sama lainnya, ketiga ayat tersebut ialah, kelahiran Maryam ‘alaihi sallam, dimana ibunya adalah seseorang yang telah divonis mandul tidak bisa melahirkan lagi, maka ibunya bernadzar jikalau dirinya dikaruniai oleh Allah seorang anak maka akan dia persembahkan dan siapkan untuk berkhidmat kepada Baitul Maqdis.

Dan tatkala dirinya melahirkan Maryam, dia menyayangkan karena yang lahir adalah perempuan,  sebab perempuan dinilai kurang sempurna untuk bisa berkhidmat kepada Baitul Maqdis, maka ibunya mengemukakan udzurnya kepada Allah, sebagaimana yang Allah rekam secara jelas perkataanya didalam firmanNya, yaitu:

فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ  [ آل عمران: 36 ]

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.[al-Imran/3: 36].

Dan Allah ta’ala tidak menyia-yiakannya, Allah menerima nadzarnya dan membesarkan Maryam secara baik, setelah itu ibunya membawa Maryam ke para ulama yang berada di Baitul Maqdis lalu menyerahkan anaknya kepada mereka sembari berpesan, “Saya serahkan kepada kalian anak ini yang telah saya nadzarkan untuk berkhidmat pada Allah”.

Maka para ulama Bani Israil berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bisa mengasuhnya, akan tetapi, Allah lebih memilih Zakaria ‘alaihi sallam yang mengasuhnya, sebab istrinya masih bibinya Maryam, kemudian nabi Zakaria membuat tempat untuk Maryam di samping mihrab masjid, dan beliau menjumpai keajaiban pada anak ini, yaitu setiap kali beliau masuk menemui Maryam  di dalam mihrab maka dirinya menjumpai makanan yang Allah turunkan kepadanya. Seperti yang Allah rekam didalam firmanNya:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ  [ آل عمران: 37 ]

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini? Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. [al-Imran/3: 37].

Melihat hal itu menjadikan nabi Zakaria ‘alaihi sallam sangat menginginkan untuk bisa dikarunia anak oleh Allah walaupun dirinya sadar kalau umurnya sudah sangat tua,  dan beliau wujudkan keinginannya tersebut dengan berdoa kepada Allah, dengan doa yang sangat memohon dan merendahkan diri, sambil bertawasul kepada Allah dengan wasilah yang paling dicintai olehNya, yaitu menunjukan kebutuhan dan hajat serta kefakiranya kepada Allah, dan menginginkan kepadaNya semata, beliau berdoa sebagaimana yang Allah nukil didalam firmanNya:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا ٤ وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا ٥ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا  [ مريم: 4-6 ]

“Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. [Maryam/19: 4-6].

Tidak selang berapa lama kemudian, sebelum beliau meninggalkan mihrab, terdengar suara malaikat yang memanggilnya untuk mengabarkan kepadanya bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya Yahya yang akan membenarkan perkataanNya, sebagai anugerah dari Allah ta’ala, yang dijadikan sebagai pemimpin yang sangat takut kepada Allah serta sebagai nabi bagi orang-orang yang sholeh.

Mendengar berita gembira tersebut nabi Zakaria merasa heran, bagaimana mungkin dirinya masih bisa mempunyai anak, dikarenakan usianya yang sudah tidak muda lagi ditambah istrinya yang mandul.  Dan ketakjuban beliau dijawab oleh Allah ta’ala dengan firmanNya:

قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ  [ آل عمران: 40 ]

“Allah berfirman: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. [al-Imran/3: 40].

Kemudian nabi Zakaria ‘alaihi sallam meminta tanda yang membuktikan kehamilan istrinya, dan permohonan beliau dikabulkan dengan firmanNya:

قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٖ سَوِيّٗا  [ مريم: 10 ]

“Allah berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”. [Maryam/19: 10].

Selanjutnya lahirlah Yahya, lalu dirinya menjadi dewasa dengan kesucian dan keistiqomahan, nabi Yahya menjadi mukjizat akan ke wara’an dan kezuhudan serta ketaatannya kepada Allah azza wa jalla ditambah baktinya terhadap kedua orang tuanya, kemudian Allah mengaruniai ilmu dan hikmah kepadanya, diberi anugerah untuk mengemban risalah. Dan inilah tanda kedua yang Allah ta’ala berikan kepada umat Bani Israil.

Adapun ayat yang ketiga ialah kelahiran nabi Isa ‘alaihi sallam. Dan Allah azza wa jalla telah mengkisahkan kepada kita secara indah dan gamblang tentang kisah beliau secara sempurna didalam surat Maryam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَرۡيَمَ إِذِ ٱنتَبَذَتۡ مِنۡ أَهۡلِهَا مَكَانٗا شَرۡقِيّٗا ١٦ فَٱتَّخَذَتۡ مِن دُونِهِمۡ حِجَابٗا فَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرٗا سَوِيّٗا ١٧ قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا ١٨ قَالَ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمٗا زَكِيّٗا ١٩ قَالَتۡ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞ وَلَمۡ أَكُ بَغِيّٗا ٢٠ قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ وَكَانَ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا ٢١ ۞فَحَمَلَتۡهُ فَٱنتَبَذَتۡ بِهِۦ مَكَانٗا قَصِيّٗا ٢٢ فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا ٢٣ فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا ٢٤ وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا ٢٥ فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدٗا فَقُولِيٓ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا ٢٦ فَأَتَتۡ بِهِۦ قَوۡمَهَا تَحۡمِلُهُۥۖ قَالُواْ يَٰمَرۡيَمُ لَقَدۡ جِئۡتِ شَيۡ‍ٔٗا فَرِيّٗا ٢٧ يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا ٢٨ فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ قَالُواْ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا ٢٩ قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١ وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا ٣٣ ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ  [مريم: 16-34 ]

“Dan seritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiku dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya”. [Maryam/19: 16-34].

Allah azza wa jalla mengutusnya kepada Bani Israil sebagai seorang rasul, yang sebelumnya kerasulan telah mengalami kevakuman di tengah-tengah Bani Israil, Allah menjadikan beliau sebagai tanda kekuasaanNya kepada manusia, dimana beliau dilahirkan tanpa memiliki seorang ayah, sebagai bukti akan kesempurnaan kemampuan yang Allah miliki, serta kesyumulan kalimatNya, dimana Allah telah membagi jenis manusia menjadi empat macam, yang pertama, menciptakan Adam tanpa memiliki ayah dan ibu, kedua, menciptakan istrinya Hawa tanpa ayah dan ibu, ketiga, menciptakan al-Masih putera Maryam dari seorang wanita tanpa suami, dan yang terakhir, Allah menciptakan seluruh manusia melalui perantara pasangan laki dan perempuan.

Selanjutnya Allah menganugerahkan kepada al-Masih tanda-tanda mukjizat yang sangat jelas selaras dengan sunahNya, yaitu mampu menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang yang buta dan tuli, mengabarkan kepada manusia apa yang mereka makan serta yang mereka simpan didalam rumahnya.

Lalu, beliau mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah, mengikuti jejak para nabi dan rasul yang datang sebelumnya, membenarkan apa yang datang sebelumnya, dan sebagai pemberi kabar gembira akan kedatangan utusan yang datang setelahnya.[3]

Dimana Allah ta’ala telah menceritakan nabi Isa ‘alaihi sallam didalam al-Qur’an yang mulia, berkaitan dengan sepak terjang dakwah tauhidnya dan juga berita tentang kerasulannya dalam banyak tempat.

Dan ditengah-tengah kisah beliau Allah azza wa jalla membantah kaum Nashrani yang mengklaim bahwa nabi Isa ‘alaihi sallam adalah anakNya, serta ucapan mereka yang mengatakan, sesungguhnya Tuhan adalah tiga dalam satu.

Yang mana Bani Israil telah merubah ajaran nabi Isa ‘alaihi sallam serta menyelesihi dakwah beliau, sebab nabi Isa tidaklah menyeru kaumnya melainkan sama persis seperti apa yang diserukan oleh para rasul yang datang sebelumnya dari mentauhidkan Allah azza wa jalla dan mengesakan ibadah hanya kepadaNya. Seperti yang Allah ta’ala tegaskan didalam firmanNya tentang muatan dakwah beliau, Allah berfirman:

وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ ٤٨ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٤٩ وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ وَجِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ٥٠ إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ  [ آل عمران: 48-51 ]

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak, dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. [al-Imran/3: 48-51].

Demikian pula yang Allah ceritakan didalam firmanNya:

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ  [ المائدة: 72 ]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam”, Padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.[al-Maaidah/5: 72].

Begitu juga yang Allah jelaskan didalam firmanNya:

وَلَمَّا جَآءَ عِيسَىٰ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُكُم بِٱلۡحِكۡمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي تَخۡتَلِفُونَ فِيهِۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ٦٣ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ  [ الزخرف: 63-64 ]

“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus”. [az-Zukhruf/43: 63-64].

Dan Allah menceritakan kepada kita didalam surat al-Maaidah sebuah ilustrasi gambaran apa yang akan terjadi kelak pada hari kiamat manakala nabi Isa ‘alaihi sallam ditanya oleh Allah azza wa jalla apakah benar dirinya yang menyuruh kepada kaum Nashrani untuk menjadikan dirinya bersama ibunya sebagai sesembahan selain Allah, maka beliau memberikan jawaban yang membungkam seluruh kaum Nashrani, sebuah jawaban yang menghujam lagi tegas. Allah ta’ala rekam hal tersebut didalam firmanNya:

وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ١١٦ مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ١١٧ إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  [ المائدة: 116-118 ]

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [al-Maaidah/5: 116-118].

Begitu pula dalam kesempatan-kesempatan yang lain al-Qur’an juga menegaskan kepada kita bahwa nabi Isa ‘alaihi sallam berlepas diri dari segala perkara jelek yang dinisbatkan kepada dirinya. Dan menyatakan bahwa tidaklah dirinya melainkan sama tugasnya seperti salah seorang diantara para rasul lainya yang diutus sebelum beliau yaitu mengajak kaumnya untuk mentauhidkan Allah serta memberangus peribadatan kepada selain Allah.[4]

Kesimpulannya, al-Masih ialah hamba Allah dan rasulNya, kalimatNya yang ditiupkan kepada Maryam. Beliau diutus untuk membimbing orang-orang yang telah tersesat dari kalangan Bani Israil.  Beliau memperbaharui agama mereka serta memperjelas ajaran-ajarannya. Mengajak mereka hanya beribadah kepada Allah semata, berlepas diri dari perkara-perkara baru dan pemikiran yang sesat, namun, balasan mereka kepada beliau justru memusuhinya, mendustakan serta menuduh dirinya dan ibunya dengan tuduhan-tuduhan yang sangat buruk, hingga sampai ada diantara mereka yang berusaha dan berkomplot untuk membunuhnya, tapi, Allah mensucikan beliau dari tangan-tangan jahat mereka, lalu beliau diangkat untuk berada disisiNya, sehingga mereka tidak dapat merealisasikan niatan buruknya.

Dan sebelumnya Allah ta’ala telah menganugerahi al-Masih para pengikut setia yang menolong dakwahnya dengan mengajak manusia kepada agama serta syariat yang beliau bawa, hingga akhirnya agama beliau mampu mengungguli agama yang menyelisihinya, banyak para raja yang masuk agamanya, hingga akhirnya agama beliau mampu menyebar, kebenaranpun mengalahkan kebatilan, kondisi itu terus berlangsung beberapa zaman kurang lebih tiga ratus tahun.[5]

[Disalin dari بيان الشرك في قوم عيسى عليه السلام (Dinukil dari Buku: “Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang” (1/355-374) Penulis Syaikh  Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Majmu Fatawa 28/606 Ibnu Taimiyah.
[2] Lihat penjelasannya dalam kitab Ighatsatul Lahfan 2/681-682 oleh Ibnu Qoyim.
[3] Lihat penjelasannya dalam Majmu Fatawa 28/606-607. Ibnu Taimiyah.
[4] Lihat penjelasannya dalam Dakwah Tauhid hal: 184-185 oleh D. Muhammad Khalil Haras.
[5] Ighatsatul Lahfan 2/682 oleh Ibnu Qoyim.

Awal Mula Kesyirikan Kaumnya Nabi Isa ‘Alaihissallam.

AWAL MULA KESYIRIKAN YANG TERJADI PADA KAUMNYA NABI ISA ALAIHISSALLAM

Sekitar tujuh puluh tahun setelah diangkatnya nabi Isa ‘alaihissallam ke langit, ada salah seorang tokoh paganisme (penyembah berhala) yang masuk agamanya bernama Paulus –tampaknya seorang munafik-, dimana sebelum masuk agama Nashrani dirinya menindas kaum Nashrani, berlaku sewenang-wenang pada mereka serta membunuhnya dengan cara yang sangat buruk. Kemudian setelah dirinya menyatakan keislamannya dia memberi gagasan pendapat yang belum pernah dikatakan sebelumnya, diantara pendapat aneh tersebut ialah:

  1. Mengajak orang untuk meyakini aqidah Trinitas.
  2. Menyeru manusia untuk menyakini ketuhanan al-Masih, dan ketuhanan Ruh al-Qudus.
  3. Membikin cerita bohong tentang adanya tebusan dosa bagi kesalahan umat manusia.
  4. Menjadikan hari ahad sebagai hari suci bagi kaum Nashrani, dengan argumen jika pada hari tersebut nabi Isa bangkit dari kuburnya, untuk mengganti hari sabtu yang sebelumnya telah disucikan oleh kaum Yahudi.
  5. Memberikan hak bagi para pembesar dan rahib untuk mengatur syariat, yang sebelumnya merupakan tugasnya para nabi dan rasul.
  6. Dirinya memberi maklumat dengan dihapusnya kitab suci Taurat. Hal itu ia lakukan tatkala dirinya menjumpai orang Yahudi dan Nashrani masih kuat dalam memegangi ajaran Taurat. Makar tersebut ia lakukan, sebagai permulaan misinya untuk bisa memasukan aqidah paganisme dan pelakunya kedalam agama Nashrani, sebab Paulus merasa kalau kitab Taurat sebagai penghalang terbesar yang menghadang dirinya, kemudian dia memproklamirkan dihadapan pengikutnya bahwa hanya dengan mengimani al-Masih sudah bisa menjamin mereka untuk bisa selamat.[1]

Dengan berpijak pada penghapusan Taurat, Paulus mampu menutup banyak sekali hukum yang sebelumya telah dikenal oleh orang Yahudi dan al-Masih. Diantaranya ialah hukum khitan bagi laki-laki, maka dia menghapus hukum khitan ini.[2]

Sebagaimana dirinya juga membolehkan bagi kaum Nashrani yang baru masuk agamanya untuk memakan daging babi, sedangkan dalam syariat yang turun sebelumnya dari langit telah diharamkan, dan sebelumnya masih ada yang tersisa ditengah-tengah mereka ajaran agamanya al-Masih semisal khitan, mandi dari janabah, mengagungkan hari sabtu, haramnya daging babi, disamping itu mereka juga masih mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Taurat kecuali apa yang dibolehkan bagi mereka melalui nash Taurat, akan tetapi, tatkala keluar maklumat dihapusnya Taurat, Paulus dengan cerdik mampu memasukan ajaran-ajaran paganisme kedalam agama al-Masih.

Namun, bukan berarti dirinya sukses seratus persen dalam misinya, sebab Paulus gagal untuk bisa menyakinkan kaum Nashrani untuk menyudahi prinsip-prinsip yang telah mereka yakini sebelumnya, dirinya juga gagal untuk menyakinkan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang berada dibelahan timur, dikarenakan masih adanya para Hawariyun (pengikut setia nabi Isa ‘alaihissallam) dan murid-muridnya yang masih kuat memegang nasehat dan ajaran nabi Isa ‘alaihissallam, namun, Paulus tetap ngeyel tidak mau merubah sikap dan kelakuannya, justru dirinya membawa keyakinan yang lain lagi, yang ia layangkan kepada benua Eropa dimana dirinya membikin pemikiran baru tentang al-Masih, diantaranya yaitu:

  1. Bahwa ajaran al-Masih bersifat universal untuk seluruh dunia. Sedangkan kita ketahui kalau dakwahnya nabi Isa ‘alaihissallam diperuntukan secara khusus bagi kaum Yahudi.[3]
  2. Nabi Isa ‘alaihissallam mati ditiang salib untuk menebus dosa umat manusia.
  3. Kebangkitan nabi Isa ‘alaihissallam dari kematiannya. Yang kemudian beliau naik ke langit dan duduk disebelah kanannya Allah.[4]

Inilah beberapa prinsip ajaran agama yang disempalkan oleh Paulus kedalam agama Nashrani, yang mendapat kecaman keras dari kalangan Nashrani pada awal mulanya, dimana mereka menolak secara mentah-mentah.

Dan Paulus sendiri mengungkapkan dengan jelas didalam suratnya yang kedua yang ditujukan kepada Taimutsaus, “Sesungguhnya seluruh orang (Nashrani) yang berada di Asia murtad dariku”.[5]

Dan ada kemungkinan besar faktor yang menyebabkan hal tersebut karena disana masih ada yang hidup dari kalangan Hawariyun atau orang-orang yang masih menetapi kebenaran serta pernah melihat nabi Isa ‘alaihissallam.

Kecaman keras terhadap prinsip-prinsip ajaran tersebut terus berlangsung –kecuali orang yang nyleneh dikalangan mereka dari penduduk Romawi dan Yunani terlebih penduduk Eropa barat. Dimana keyakinan dan ajaran paganisme telah menguasainya sehingga mereka sering menisbatkan pemikirannya serta mengambil mentah-mentah-. Adapun kaum Nashrani yang berada di Asia dan tempat yang kedapatan utusan yang ditugaskan oleh al-Masih maka mereka sangat menentang prinsip tersebut kurang lebih mampu bertahan selama tiga ratus tahun -seperti yang kami kemukakan diawal-.

Akan tetapi, setelah itu agama al-Masih mulai mengalami perubahan dan pergeseran, hingga akhirnya betul-betul hilang dan lenyap, tidak ada yang tersisa sedikitpun ajarannya ditengah-tengah kaum Nashrani, yang ada justru mereka beragama dengan agama yang telah terkontaminasi antara agama al-Masih dan agama Filsafat para penyembah patung.

Tatkala kondisinya sudah demikian maka kaum Nashrani mulai berpecah-pecah kurang lebih hingga delapan puluh kelompok, selanjutnya mereka menjadi bergolong-golongan dengan perbedaan dan permusuhan, saling mencela satu sama lain, hingga akhirnya mampu disatukan kembali oleh raja Qostantin dari perpecahan tadi mulai dari kepulauan, negeri dan belahan dunia. Dirinya menyatukan seluruh penganut agama Nashrani hingga terkumpul pada saat itu sebanyak tiga ratus delapan belas.[6]

Kejadian itu terjadi pada tahun 325  Masehi,[7] dimana berkumpul disisinya orang-orang Nashrani yang menyatakan konsep Trinitas, beserta kaum Nashrani yang masih berada pada pemahaman yang benar berkaitan dengan al-Masih semisal Arios dan para pengikutnya. Akan tetapi, sang raja lebih condong kepada pendapat yang menganut paham Trinitas, dan diputuskan dalam pertemuan tersebut ketuhanan al-Masih ‘alaihissallam, dijelaskan kalau beliau turun untuk disalib dalam rangka menebus dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia –sebagaimana telah kami singgung ketika menjelaskan pemikiran Paulus- dengan sebab itu agama Nashrani berhutang budi kepada Paulus, dan al-Masih hanya tinggal penamaan saja.[8]

[Disalin dari بيان الشرك في قوم عيسى عليه السلام (Dinukil dari Buku: “Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang” (1/355-374) Penulis Syaikh  Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Risalah Baulus ilaa Ahli Ghalathiyah 3/11-12.
[2] Ibid.
[3] al-Yahudiyah wal Masihiyah hal: 308-310 oleh D. Dhiyaurahman al-A’dhami.
[4] al-Masih fiil Qur’an hal: 340 oleh D. Abdul Karim al-Khatib. Ahamu ‘Awamil Inhiraf Nashraniyah hal: 128 oleh Ibrahim Khalaf at-Turki. Dan kitab al-Adyaan wal Firaq wal Madzaahib al-Mu’ashirah hal: 35 oleh Abdul Qodir Syaibah al-Hamad.
[5] Risalah Baulus ilaa Taimutsaus.
[6] Lihat penjelasannya dalam kitab Ighatsatul Lahfan 2/682-683 oleh Ibnu Qoyim.
[7] Seperti dikatakan oleh Abdul Qodir Syaibah al-Hamad dalam kitabnya al-Adyaan wal Firaq wal Madzaahib al-Mu’ashirah hal: 35. dan dalam kitab al-Yahudiyah wal Masihiyah hal: 302, oleh D. Dhiyaurahman al-A’dhami.
[8] .al-Yahudiyah wal Masihiyah hal: 224, oleh D. Dhiyaurahman al-A’dhami

Kesyirikan Pada Kaumnya Nabi Isa ‘Alaihissallam.

KESYIRIKAN PADA KAUMNYA NABI ISA ALAIHISSALLAM

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Kaum Nashrani telah banyak tergerus dengan praktek kesyirikan”.[1] Dalam kesempatan lain beliau menuturkan, “Sesungguhnya kaum Nashrani lebih buruk dari pada orang Yahudi, dimana mereka lebih tersesat  dan banyak melakukan perbuatan syirik”.[2]

Beliau juga menjelaskan, “Dan tatkala pokok agama Nashrani dibangun diatas kesyirikan dengan banyaknya jalan menuju Allah makanya mereka lebih tersesat dari pada kaum Yahudi”.[3]

Begitu pula apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyim, beliau menjelaskan, “Pondasi agama Nashrani dibangun diatas celaan kepada Allah, dan menyekutukanNya”.[4]

Dalam kesempatan lain beliau menuturkan, “Sesungguhnya terkumpul pada kaum ini kesyirikan dan celaan kepada Allah serta suka mengurangi hakNya”.[5]

Bila demikian apa kesyirikan yang dikerjakan oleh kaum ini? Didapati ternyata ada berbagai macam jenis kesyirikan yang di lakukan oleh mereka, diantaranya ialah:

A. Berkaitan dengan Konsep Trinitas.
Dan yang dimaksud dengan trinitas sebagaimana dinukil oleh kamus kitab suci mereka, ialah, “Satu Tuhan, Tuhan bapak dan anak serta ruh qudus, dan Tuhan dzat, yang masing-masing memiliki kesamaan dalam kemampuan dan kemulian”.[6]

Mereka menerangkan konsep ini dengan perkataannya, “Sesungguhnya ajaran trinitas terkandung didalamnya beberapa perkara, yaitu:

  1. Mengesakan Allah.
  2. Ketuhanan bagi bapak, anak dan ruh Qudus.
  3. Sesungguhnya bapak, anak dan ruh Qudus adalah orang yang masing-masing mempunyai kelebihan semenjak dulu dan untuk selama-lamanya.
  4. Sesungguhnya ketiga komponen tersebut sejatinya adalah satu dzat, yang memiliki kesamaan dalam kemampuan dan kemulian.
  5. Dan diantara tiga komponen tadi juga mempunyai kelebihan dalam perkara tugas dan pekerjaanya.
  6. Sesungguhnya sebagian pekerjaan tuhan ada yang dinisbatkan dalam kitab suci kepada bapak, anak dan ruh Qudus, semisal menciptakan alam semesta serta menjaganya. Sebagian pekerjan ada yang dinisbatkan secara khusus hanya dilakukan oleh tuhan bapak semisal memilih dan menyeru orang. Sebagain pekerjan lagi ada yang dinisbatkan secara khusus kepada tuhan anak semisal pembelaan. Dan sebagian pekerjaan ada yang dinisbatkan secara khusus kepada tuhan Ruh qudus semisal memperbaharui dan mensucikan.[7]

Lebih jelasnya mereka mengatakan, “Sesungguhnya keesaan Allah merupakan keesaan hakiki, begitu pula trinitasnya, artinya tuhan yang tiga juga hakiki, yakni tiga orang yang dalam satu waktu mempunyai kelebihan yang saling berbeda satu sama lain dari tiga orang tadi dengan pekerjaan-pekerjaan dan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lainya, dan didalam satu waktu juga mereka mempunyai kesamaan dari segi kemampuan dan kemulian, serta keberadaanya, tidak ada yang saling mendahului satu sama lainnya”.

Sanggahan untuk mereka, “Pada kenyataannya konsep tadi sedang menyatukan dua perkara yang saling kontradiktif, sebab keesaan akan menafikan persekutuan, demikian pula persekutuan akan menafikan keesaan. Dimana tidak mungkin bisa berkumpul jadi satu antara keesaan dan persekutuan dalam satu tempat, sehingga menjadi jelas kalau konsep tersebut merupakan dua perkara yang kontradiktif yang tidak mungkin bisa berkumpul, hal ini sama persis seperti menyatukan antara hitam dan putih”.[8]

Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dan ada kaum yang ekstrim kepada nabi Isa ‘alaihi sallam dengan mengklaim bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan, dia adalah tuhan yang menitis bersama manusia menjadi dzat yang satu, tiga orang, bahwa diantara salah satu orang tersebut berpangkal dari kalimat, yaitu ilmu, yang bersatu bersama tabiat manusia.

Seperti yang telah dimaklumi bersama bahwa kalau salah satu dari keduanya tentunya tidak mungkin bisa terpisah satu sama lainnya, melainka jika mereka menjadikan tiga Tuhan yang saling berbeda, namun, hal tersebut tidak dikatakan oleh seorangpun diantara mereka”.[9]

Dan orang Nashrani menyakini bersatunya dua hal tadi, yang tentunya hal tersebut saling kontradiksi yang diingkari indera, akal, dan nash.

Orang Nashrani berusaha untuk bisa mendekatkan keyakinan ini kepada manusia dengan cara   mengilustrasikan dalam sebuah misal dan perumpamaan yang dibuat.

Terkadang mereka mengilustrasikan dengan tubuh manusia yang tergabung dari darah, nyawa dan badan.

Kadang dengan matahari yang tersusun dari panas, dimana dengannya bisa menyinari dunia dan kadang menghilang.

Diantara mereka ada yang membuat permisalan dengan sebuah pohon, sesungguhnya pohon berasal dari akar, batang dan daun.[10]

Diantara mereka ada yang menyatakan, “Sesungguhnya al-Masih dari tuhan bapak kedudukanya sama seperti kobaran api yang menyala dengan sebab apinya, tidak berkurang yang pertama apabila yang kedua redup”.[11]

Ilustrasi dan permisalan-permisalan semacam ini sama sekali tidak ada yang cocok apalagi sesuai dengan konsep trinitas yang mereka gembar-gemborkan. Sebab perkara-perkara yang dijadikan perumpamaan tadi adakalanya memang satu dzat yang mempunyai cabang dan bagian, atau memiliki sifat dan efek, berbeda dengan dakwah trinitas mereka.

Dimana mereka menyatakan, “Mereka adalah tiga Tuhan yang hakiki yang mempunyai tugas berbeda-beda, namun, dalam satu waktu mereka adalah satu Tuhan yang hakiki”. Ucapan ini sangat jauh panggang dari apinya dengan perumpamaan yang mereka berikan, seperti manusia yang terdiri dari darah, nyawa dan tubuh, bila diperhatikan maka unsur-unsur tubuh tadi tidak bisa terpisahkan satupun diantara unsure-unsur tadi dari dzatnya, sebagaimana diketahui pula jika darah bukanlah nyawa, dan nyawa bukanlah jasad, dan jasad juga bukan darah dan nyawa. Berbeda dengan klaim mereka tentang konsep trinitas. Yang mereka sangka dalam konsep tersebut bahwa masing-masing dari ketiga Tuhan adalah tuhan yang berbeda.

Oleh sebab itu banyak diantara ulama mereka yang terus terang tidak mampu mencerna aqidah trinitas ini, mereka menyatakan, “Sesungguhnya konsep trinitas merupakan perkara yang tidak bisa dicerna dan masuk akal“.[12]

Maksud dari penjelasan ini ialah bahwa kaum Nashrani telah terjatuh kedalam kesyirikan dengan sebab ucapannya yang menganut paham trinitas. Dan hal tersebut masuk dalam kategori kesyirikan rububiyah. Dimana mereka menjadikan Allah tersusun dari perkara-perkara tadi, disamping itu mereka juga mengurangi hak Allah azza wa jalla, mereka telah mencela dan menuduh dengan perkara-perkara yang tidak pantas kepada Allah ta’ala.

Yang mana mereka mengklaim bahwa Allah –maha suci Allah dari ucapan mereka- turun dari singgasanaNya dan dari keagungan kursiNya lalu masuk kedalam lubang kemaluan wanita, lalu tinggal disana selama Sembilan bulan tertimpa antara air kencing, darah dan kotoran. Mereka mengemukakan alasanya dengan tahapan-tahapan yang harus dilalui mulai dari ari-ari, rahim dan dalam perut.

Kemudian tuhannya dikatakan keluar dari tempat dimana dirinya masuk, setelah itu menjadi bayi yang menetek, dirinya berada dalam balutan, diatas ranjang, menangis, merasa lapar, haus, kencing, buang kotoran dan digendong kemana-mana oleh banyak orang.

Selanjutnya setelah besar dirinya di tampar pipinya oleh orang Yahudi, lalu diikat kedua tanganya, diludahi wajahnya, dipukul tengkuknya, kemudian mereka menyalibnya terang-terangan dihadapan para penjahat, lalu mereka mengenakan padanya kalung bunga yang terbuat dari duri, dan memaku kedua tangan dan kakinya serta menyiksanya.

Inikah Tuhan yang benar yang berada dikedua tangannya kemampuan untuk mengurusi alam semesta, diakah tuhan yang wajib di ibadahi dan tempat bersujud kepadanya.  Sungguh ucapan yang sangat menyesatkan, oleh sebab itu Allah mengatakan didalam firmanNya:

 تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا  [ مريم: 90-91 ]

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak”. [Maryam/19: 90-91].

Disebutkan dalam hadits Qudsi Allah ta’ala berfirman:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « شَتَمَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ. وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الأحد الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يلِدْ وَلَمْ يولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ » [أخرجه البخاري]

Anak cucu Adam telah mencelaKu dan perkara itu tidak layak untuk dilakukan. Anak Adam mendustakanKu dan hal itu tidak pantas baginya. Adapun celaan mereka padaKu ialah ucapannya, sesungguhnya Allah mempunyai anak. Sedangkan Aku adalah Esa tempat bergantung segala sesuatu yang tidak beranak tidak pula diperanakan dan tidak ada yang semisal denganNya“.[13]

Imam Ibu Qoyim menjelaskan, “Secara ringkas, kami tidak mengetahui ada suatu umat dari umat-umat yang ada yang sampai mencela penciptanya dan sesembahannya serta Tuhannya seperti yang dikerjakan oleh umat ini (Nashrani). Seperti dikatakan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya mereka telah memaki Allah dengan makian yang belum pernah diucapkan oleh seorangpun dari kalangan manusia”.

Bahkan, sebagian ulama ada yang memejamkan mata tatkala melihat salib, seraya berkata, “Aku tidak sanggup untuk membuka mataku untuk orang yang telah mencaci Tuhan dan sesembahannya dengan cacian yang teramat jelek”.[14]

Diantara bentuk kesyirikan mereka dalam perkara rububiyah dari sisi ini ialah ekstrim terhadap makhluk hingga menjadikanya sebagai sekutu bagi sang Pencipta dan bagian dariNya, serta sesembahan bersamaNya, dan mereka menyatakan sebagai hambanya”.[15]

Kesyirikan mereka yang lainnya dalam masalah rububiyah ialah adanya sebagian mereka yang menyerupakan bersatunya sifat ketuhanan dengan tabiat manusia dan bercampur antara keduanya bagaikan api dengan besi, sebagian lagi ada yang mengumpamakan hal tersebut seperti bercampurnya air dengan susu, ada pula yang menyerupakan hal itu dengan bercampurnya bahan makanan hingga bisa menjadi makanan tertentu -Maha Tinggi Allah dari kedustaan dan kebohongan mereka-.

Diantara bentuk kesyirikan mereka dalam rububiyah lainya ialah sikap persetujuan mereka kalau nabi Isa di tawan, bahwa kaum Yahudi mendatangi nabi Isa lalu memukulnya dan menusuknya dengan tombak lalu menyalib dan membunuhnya hingga meninggal. Mereka membiarkan dirinya tetap dalam tiang salib hingga rambutnya menempel bersama kulitnya, baru kemudian mereka menguburkannya dibawah tanah setelah tiga hari, selanjutnya ketuhanan Isa bangkit dari dalam kuburnya.[16]

Semua perkara-perkara diatas termasuk jenis kesyirikan dalam rububiyah, sebab mereka menyerupakan makhluk dengan penciptanya dan menyamakan pencipta bersama makhluk, yang merupakan pokok kesyirikan -sebagaimana sering kita jelaskan dimuka-.

B. Ucapan Mereka Berkaitan dengan Penyaliban Isa Sebagai Penebus Dosa.
Ini juga termasuk jenis kesyirikan dalam rububiyah, karena terkandung didalamnya kedustaan atas nama Allah azza wa jalla dikarenakan Allah telah menerima taubatnya nabi Adam ‘alaihi sallam serta mengampuni dosa-dosanya.

Lalu mereka menisbatkan kepada Allah dengan kesewenang-wenangan yang sangat buruk, dimana mereka mengklaim kalau Allah telah memenjarakan para nabi dan rasulNya serta para wali-waliNya di neraka Jahanam, dikarenakan kesalahan yang dilakukan oleh bapak mereka. Serta menisbatkan padaNya dengan kepandiran yang sangat, dimana dirinya lebih rela untuk disiksa oleh mereka dengan cara menyerahkan diri kepada musuhnya, hingga akhirnya mereka membunuh, menyalib dan menumpahkan darahnya.

Dan menuduhNya lemah, dimana mereka mengatakan diriNya tidak mampu berbuat apa-apa dengan kekuasaan yang dimilikiNya untuk membela diri dari bencana tersebut. demikian pula menisbatkan padaNya dengan kekurangan, dimana musuh-musuhnya mampu menguasai anak dan diriNya. Sungguh mereka melakukan seenak perutnya sendiri berkaitan dengan Allah.[17]

C. Pernyataan Mereka Bahwa al-Masih yang Akan Menghisab Manusia.
Ini juga termasuk dalam kesyirikan rububiyah, sebab tugas menghisab manusia adalah kewenangan Pencipta subhanahu wa ta’ala yang maha mulia, tidak ada andil sedikitpun dari kalangan manusia.

Itulah tadi kesyirikan-kesyirikan mereka yang semuanya berkaitan dalam perkara rububiyah. Sedangkan kesyirikan mereka dari sisi uluhiyah ialah sebagai berikut:

D. Menyembah al-Masih.
Yaitu dalam ritual ibadah sholat mereka, dimana mereka mengerjakan ibadah sholat kepada al-Masih dikarenakan dirinya dianggap sebagai wasilah oleh mereka.[18]

E. Pengagungan Mereka Terhadap Salib Hingga Sampai Pada Derajat Ibadah.
Sesungguhnya umat Nashrani menjadikan salib sebagai sesembahan yang biasa disembah, mereka jika memiliki masalah yang serius, dan bersungguh-sungguh, lalu punya keinginan untuk bersumpah dan tidak bohong maka mereka bersumpah dengan nama salibnya, mereka lebih memilih untuk berdusta apapbila bersumpah dengan nama Allah dan jujur bila bersumpah dengan nama salib.

Hingga sampai ada sebagian cendekia mereka yang menyatakan, “Sesungguhnya pengagungan kami kepada salib sama seperti pengagungan kepada kubur para nabi, sebab salib adalah kubur al-Masih karena beliau mati disana, kemudian tatkala dirinya dikubur dibumi maka kuburnya tetap didalam salib”.

Mana ada kebodohan yang bertumpuk-tumpuk semacam ini, karena sesungguhnya sujud kepada kubur para nabi serta menyembahnya adalah praktek kesyirikan, bahkan termasuk kesyirikan terbesar, dimana penutup para nabi dan imamnya orang yang bertauhid nabi kita Muhammad shalallahu ‘alihi wa sallam  pernah mengkutuk orang Yahudi dan nashrani tatkala mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat ibadah.

Disebabkan pula, pokok kesyirikan dan peribadatan kepada berhala bermula dari berdiam diri di sisi kubur dan menjadikanya sebagai tempat ibadah. [19]

F. Melukis al-Masih Didalam Gereja dan Menyembahnya.
Tidak ada satupun gereja dari gereja-gereja milik mereka yang kosong dari lukisan Maryam, al-Masih, Gergos, Petrus dan selain mereka –yang dianggap suci menurut mereka- dari kalangan para syuhada.

Dan kebanyakan dari mereka sujud kepada lukisan-lukisan tersebut lalu berdoa kepada selain Allah azza wa jalla, hingga sampai ditulis melalui Alexander untuk raja Romawi sebuah surat yang berisikan keperluan untuk sujud kepada lukisan, bahwa Allah telah memerintahkan kepada nabi Musa ‘alaihi sallam untuk melukis.

Jelas ini adalah kedustaan yang nyata, kemudian taruhlah benar maka paling banter sebagai bentuk pengingat akan kesalahan yang pernah dilakukan sehingga mereka tidak melupakannya sebagaimana ada data yang menunjukan hal tersebut disebagian kalangan mereka. Akan tetapi, hal tersebut bukan sebagai dalil pelegalan untuk sujud kepada lukisan, lalu dimana pemahaman ini jika ditubrukan dengan apa yang dilakukan oleh mereka, kaum musyirikan yang merendahkan diri, tunduk, dan sujud dihadapan lukisan-lukisan tersebut.[20]

G. Termasuk kesyirikan yang dipraktekan oleh umat yang sesat ini ialah menjadikan Pastor dan Pendetanya sesembahan selain Allah, yaitu dengan beberapa tindakan mereka, semisal:

  • Memberikan kewenangan mutlak kepada mereka untuk membikin syariat. Dimana mereka memberikan kekuasan absolut kepada para ulamanya untuk membuat syariat, sehingga merekapun membikin syariat sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Sedangkan mereka membaca pesan yang sampaikan oleh al-Masih kepada murid-muridnya, “Diriku datang kepada kalian hanyalah untuk menjelaskan kandungan Taurat serta menunaikan wasiat para nabi yang datang sebelumku, aku datang bukan untuk membatalkan kandungan Taurat namun untuk menyempurnakannya, kalau seandainya Allah meletakan langit dimuka bumi niscaya lebih ringan bagiNya dari pada aku menghapus sedikit saja dari syariatnya Musa ‘alaihi sallam”.

Dan kondisi para pengikut nabi Isa ‘alaihi sallam masih terus melaksanakan wasiat tersebut selama tiga ratus tahun setelah kematiannya. Selanjutnya ajaran beliau mulai dirubah dan diganti serta dibuat sedemikian rupa agar lebih sesuai dengan selera orang banyak.

Makar Yahudi serta kelancangan mereka dengan menghapus kandungan isi Taurat menjadikan agama al-Masih dilupakan dan dikebiri sebagiannya.

Ditambah faktor lain, seperti yang terangkum didalam kitab mereka, yang berisi, “Bahwa suatu ketika ada sekelompok orang dari kalangan Nashrani yang keluar berdakwah dari Baitul Maqdis ke negeri Anthakiyah serta negeri-negeri lainnya di wilayah Syam, untuk mengajak manusia mengikuti ajaran nabi Isa ‘alaihi sallam yang masih murni, mereka mengajak manusia untuk mengamalkan isi Taurat, mengharamkan sembelihan orang yang bukan ahlinya, mengajak mereka untuk berkhitan, mengagungkan hari sabtu, mengharamkan babi serta perkara-perkara yang telah diharamkan oleh kitab Taurat.

Tapi, hal tersebut sangat memberatkan bagi manusia, sehingga orang Nashrani berkumpul di Baitul Maqdis untuk memusyawarahkan apa solusi yang terbaik agar manusia mau mencintai agama al-Masih dan mau mengikutinya. Akhirnya mereka sepakat untuk berbaur dengan umat-umat yang lain, memberi keringanan bagi mereka, dan mau bercampur dengan mereka, memakan sembelihannya, mengikuti keinginan mereka, dan meniru akhlak mereka.

Lalu membuat syariat yang disarikan dari kitab Injil dan usulan umat-umat yang lain, lalu ditulis dalam sebuah buku panduan, dan ini berlaku pada kelompok-kelompok yang mempunyai masa besar.

Dan mereka setiap kali ingin menentukan perkara baru maka mereka berkumpul menjadi satu, lalu berpencar sesuai dengan hasil keputusannya”.[21] Bila diperhatikan maka agama Nashrani dibangun diatas pondasi agama orang banyak.

  • Taklidnya umat yang tersesat ini kepada pastor dan pendetanya didalam menjalankan apa yang mereka syariatkan untuk kaumnya. Dan ini termasuk kategori kesyirikan dalam masalah uluhiyah. Dikarenakan membikin syariat merupakan hak preogatif Allah semata, sehingga syariat yang dibuat oleh pastor dan pendetanya terkandung didalamnya kesyirikan dalam perkara rububiyah, sedangkan kepatuhan Bani Israil atas syariat yang dibuat-buat ini sama dengan bentuk peribadatan kepada rahib, pendeta dan pastornya.
  • Kesyirikan yang mereka kerjakan dengan memberi kewenangan kepada pastor dan pendetanya untuk mengasih pengampunan dan pengakuan taubat. Sehingga tidak dijumpai dalam agama Nashrani bagi orang yang berzina, homoseksual, atau mabuk, hukuman bagi mereka didunia, selama-lamanya, tidak pula diakhirat kelak, oleh karena pastor dan pendetanya telah mengampuni mereka.

Dalam masalah ini Imam Ibnu Qoyim pernah menuturkan, “Maka setiap kali ada orang yang mengerjakan dosa, dirinya segera mengasih hadiah kepada pendeta atau memberinya uang atau pemberian yang lain supaya dia bisa mendapat ampunannya !? dan apabila ada seorang wanita dikalangan mereka yang berzina maka wanita tersebut diantar kepada sang pastor untuk dinasehati olehnya, jika wanita tersebut pulang maka dia menceritakan kepada suaminya, kalau sang pastor telah menasehatinya sebelum dirinya pulang, lalu sang suamipun mendatanginya dan bertabaruk kepadanya!!!”.[22]

Efek Negatif Dari Kesyirikan Nashrani Terhadap Umat Ini
Akan datang penjelasan secara rinci beberapa pengaruh negatif kesyirikan mereka terhadap umat ini ketika kita menjabarkan tentang kesyirikan yang terjadi pada umat Islam pada era modern ini.

Oleh karena itu, disini kita hanya sekedar mencukupkan beberapa keyakinan yang dijumpai secara jelas atau telah dimodifkasi pada sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam. Dan paragraf berikut akan menyebutkan beberapa contohnya, semisal:

  1. Dijumpainya pada sebagian pengikut aliran sufiyah dan sekte Jahmiyah paham al-Hulul (Pemahaman bahwa Allah bisa menitis kedalam tubuh manusia). Dimana didapati ada sebagian sekte dan golongan yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam yang telah terjatuh ke dalam kesyirikan dan kekufuran yang hampir mirip dengan mereka. Mereka menyerupai aqidah Nashrani seperti apa yang menimpa hati orang yang telah mencapai derajat ma’rifat dari keimanan kepada Allah, pengetahuan kepadaNya, cahaya dan petunjukNya, dimana mereka mengira bahwa hal tersebut sama dengan dzatnya Allah subhanahu wa ta’ala.[23]
  2. Dijumpainya pada umat ini disebagian kaum Sufi keyakinan ektstrim (berlebih-lebihan) didalam mengagungkan orang-orang sholeh, dimana mereka begitu ektstrim ketika mengagungkan Rasulallah shalallahu ‘alihi wa sallam dan mengangkat beliau dari seorang hamba kepada tingkatan yang disembah.
  3. Adanya keyakinan pada sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam bolehnya untuk sujud kepada kubur dan menjadikan kubur sebagai tempat ibadah.
  4. Orang Nashrani mengklaim kalau al-Masih adalah cahaya[24], begitu juga ada sebagian sekte Sufi yang bodoh dengan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa beliau adalah cahaya dari cahayanya Allah, dan mereka berlebihan dalam masalah ini.
  5. Orang Nashrani memberikan kewenangan penuh untuk membuat syariat kepada pendeta dan pastornya, begitu pula kita jumpai pada sebagian orang yang taklid buta, dan juga masyarakat yang memberikan kewenangan untuk membuat aturan syariat kepada penguasa dan ulamanya, lalu mereka mengikuti aturan tersebut tanpa melihat dan mencoba untuk memperhatikan apakah selaras dengan nushus syariat ataupun tidak.

Sehingga hal ini menjadi bukti akan kebenaran sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى. قَالَ: فَمَنْ إذن » [أخرجه البخاري ومسلم]

Benar-benar kalian akan mengikuti metode orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi jengkal, sehasta demi hasta,  hingag kalau sekiranya mereka masuk kedalam lubang biawak sekalipun niscaya kalian akan mengikutinya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, apakah yang anda maksud orang Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka“.[25]

[Disalin dari بيان الشرك في قوم عيسى عليه السلام (Dinukil dari Buku: “Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang” (1/355-374) Penulis Syaikh  Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Majmu Fatawa 7/624 Ibnu Taimiyah.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Hidayatul Hiyari fii Ajwibatil Yahudi wa Nashara hal: 165 oleh Ibnu Qoyim.
[5] Ighatsatul Lahfan 2/699. oleh Ibnu Qoyim.
[6] Qamus al-Kitab al-Muqadas hal: 234. oleh sekumpulan Ilmuwan Nashrani.
[7] Lihat ucapan ini oleh pastor Faizy Faris dalam bukunya Haqaiq Asasiyah fil Iman al-Masihi hal: 53. dan para pengikut Nashrani yang setuju dengan ucapannya Paulus dari kalangan Ya’qubiyah, Nasthariyah dan Mulkaniyah menyetujui hal tersebut.
Lihat penjelasannya secara mendalam dalam kitab Jawabul Shahih liman Badala Dinil Masih 3/202-227. dan al-Khathat 3/550-551. Nashiha Imaniyah hal: 119-121 oleh Nashr bin Yahya bin Isa.
[8] Dirasaat fiil Adyaan Yahudiyah wa Nashraniyah hal: 168 oleh Su’ud bin Abdil Aziz al-Khalaf.
[9] Majmu Fatawa 28/608 oleh Ibnu Taimiyah.
[10] Haqaiq Asasiyah fiil Iman al-Masihi hal: 52 oleh Pastur Faizy Faris.
[11] Lihat nukilannya dalam kitab Jawabul Shahih liman Badala Dinil Masih 3/22 oleh Ibnu Taimiyah.
[12] Nashraniyah mina Tauhid ila Tatslits hal: 208 oleh D. Muhammad Ahmad al-Hajj.
[13] HR Bukhari no: 3193.
[14] Ighatsatul Lahfan 2/695-696. oleh Ibnu Qoyim.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Ighatsatul Lahfan 2/696 oleh Ibnu Qoyim.
[18] Hidayatul Hiyari hal: 28 oleh Ibnu Qoyim.
[19] Ighatsatul Lahfan 2/698 oleh Ibnu Qoyim.
[20] Ighatsatul Lahfan 2/704-705 oleh Ibnu Qoyim.
[21] Hidayatul Hiyari hal: 168-170, 198 oleh Ibnu Qoyim.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Majmu Fatawa 2/316-317 Ibnu Taimiyah.
[25] HR Bukhari no: 3456. Muslim no: 2669.

Keyakinan Muslim Terhadap Isa Putra Maryam Alaihissallam

KEYAKINAN MUSLIM TERHADAP ISA PUTRA MARYAM ALAIHISSALLAM

Pertanyaan : Apakah Nabi Isa Alaihissallam masih hidup atau sudah wafat menurut pandangan al-Qur`an yang mulia dan sunnah yang suci?

Jawaban : Menurut pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Nabi Isa Alaihissallam masih hidup dan Allah Jalla Jalaluhu telah mengangkatnya ke langit, dan nanti akan turun di akhir zaman sebagai pemimpin yang memutuskan hukum dengan syari’at Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdakwah kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berdasarkan nash-nash al-Qur`an dan hadits-hadits yang shahih. Firman Allah Jalla Jalaluhu -tentang kebohongan kaum Yahudi dan bantahan atasnya-:

قال الله تعالى : وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗوَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا- ١٥٧ بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا  

Dan karena ucapan mereka:”Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. * Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[an-Nisaa/4:157-158]

Allah Jalla Jalaluhu mengingkari pengakuan kaum yahudi yang mengira bahwa mereka telah membunuh atau menyalibnya, dan mengabarkan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkatnya kepada-Nya sebagai kasih sayang kepadanya dan kemuliaan untuknya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hal itu sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya dari para rasul-Nya. Alangkah banyaknya tanda-tanda kebesaran Allah Jalla Jalaluhu pada Isa putra Maryam Alaihissallam pertama dan akhir. Dan tuntutan idhraab (berpindah) dalam firman Allah Jalla Jalaluhu (Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.) bahwa Allah Jalla Jalaluhu telah mengangkat Isa Alaihissallam badan dan roh hingga terealisasi bantahan terhadap sangkaan kaum yahudi bahwa mereka telah membunuh atau menyalibnya, karena membunuh dan menyalib pada dasarnya adalah untuk badan, dan karena roh diangkat tidak menafikan pengakuan mereka telah menyalib dan membunuhnya, maka hanya mengangkat rohnya saja bukan merupakan bantahan terhadap mereka. Dan karena hal itu merupakan tuntutan kesempurnaan kemuliaan, kekuatan, dan pertolongan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para rasul-Nya menurut yang disebutkan di akhir ayat: (Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.)

Dan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖ ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًاۚ

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. [an-Nisa/4:159]

Allah Jalla Jalaluhu mengabarkan bahwa semua Ahli Kitab akan beriman kepada Isa Alaihissallam sebelum wafatnya Alaihissallam dan hal itu terjadi saat ia turun di akhir zaman sebagai penguasa yang adil lagi mengajak kepada Islam, seperti yang akan datang penjelasannya di hadits turunnya Alaihissallam. Inilah pengertian yang nyata, karena susunan kata (kalam) adalah untuk menjelaskan pendirian kaum yahudi terhadap Isa Alaihissallam dan perbuatan mereka terhadapnya, dan untuk menjelaskan sunnah Allah Jalla Jalaluhu dalam menyelamatkannya dan menolak tipu daya musuh-musuh-Nya. Maka nyatalah kembalinya dua dhamir (kata ganti) yang majrur kepada Isa Alaihissallam untuk menjaga susunan kata dan untuk menyatukan tempat kembali kedua dhamir tersebut. Dan diriwayatkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا, فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلُهُ أَحَدٌ ))

Demi Allah Jalla Jalaluhu yang diriku berada di tangan-Nya, sudah hampir  waktunya bahwa Ibnu Maryam Alaihissallam turun padamu sebagai penguasa yang adil, mematahkan salib, membunuh babi, meletakkan pajak, dan harta melimpah hingga tidak ada seseorang yang menerimanya.’ Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Bacalah jika kamu menghendaki:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِه

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[an-Nisa/4:159][1]

Dan dalam riwayat darinya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ فِيْكُمْ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ ))

Bagaimanakah kamu apabila Isa putra Maryam Alaihissallam turun padamu dan pemimpin kamu dari golonganmu.”[2]

Dan disebutkan dalam hadits yang shahih pula, bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَقَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ, صَلِّ مَعَنَا, فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ, تَكْرِمَةَ اللهِ هذِهِ اْلأُمَّةِ ))

Senantiasa segolongan dari umatku  berperang di atas kebenaran, tetap nampak (menang) hingga hari kiamat.’ Beliau bersabda: ‘Maka turunlah Isa putra Maryam Alaihissallam, maka pemimpin mereka berkata: ‘Kemarilah, shalat untuk kami (menjadi imam).’ Ia (Isa Alaihissallam) menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah amir (pemimpin) terhadap yang lain’, sebagai penghormatan Allah Jalla Jalaluhu terhadap umat ini.[3]

Hadits-hadits ini menunjukkan turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman, ia mengikuti syari’at nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sesungguhnya imam umat ini di dalam shalat dan lainnya pada saat turunnya Nabi Isa Alaihissallam adalah dari umat ini. Atas dasar itulah, tidak ada kontradiksi di antara turunnya Alaihissallam dan penutup kenabian dengan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana Nabi Isa Alaihissallam tidak datang dengan risalah yang baru. Hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala keputusan pertama dan terakhir, Dia Jalla Jalaluhu melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang Dia inginkan, tidak ada yang berhak mengkritik hukum-Nya. Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Barangsiapa yang mengira bahwa Isa Alaihissallam telah disalib atau dibunuh maka dia kafir karena menyelisihi al-Qur`an dan hadits-hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan siapa yang berkata dari umat Islam: Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu telah mematikan Isa Alaihissallam secara wajar, kemudian mengangkatnya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala saat kaum Yahudi hampir menyalib dan membunuhnya, berarti ia menyendiri keluar dari jama’ah kaum muslimin dan tersesat dari jalan yang lurus, karena ia menyelisihi nash-nash al-Qur`an dan sunnah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menyebabkan mereka berpendapat seperti ini adalah pemahaman mereka yang keliru terhadap firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, …”. [Ali Imran/3:55]

Dimana fawaffi ditafsirkan sebagai wafat, maka hal itu menyalahi riwayat shahih dari salaf yang menafsirkan dengan: Allah Jalla Jalaluhu mengambilnya dari bumi dan mengangkatnya kepada-Nya dalam kondisi masih hidup dan membersihkannya dengan hal itu dari orang-orang kafir, sebagai penggabungan di antara nash-nash al-Qur`an dan sunnah yang shahih yang menyatakan diangkatnya dalam kondisi masih hidup dan turunnya di akhir zaman, serta berimannya semua ahli kitab dan selain mereka kepadanya Alaihissallam. Dan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang menafsirkan tawaffi di sini dengan wafat adalah riwayat yang tidak shahih karena terputus sanadnya, karena ia dari riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. Ali tidak pernah mendengar darinya dan tidak pula melihatnya, namun ia meriwayatkan darinya lewat perantara. Dan tidak benar pula yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih al-Yamani yang menafsirkan tawaffi dengan wafat, karena itu dari riwayat Ibnu Ishaq dari orang yang tidak tertuduh, dari Wahb. Maka padanya adalah ‘an’anah Ibnu Ishaq sedang dia seorang mudallis dan padanya ada yang majhul (tidak diketahui). Kemudian penafsiran ini tidak lebih dari kondisinya sebagai salah satu kemungkinan makna tawaffi. Maka sungguh telah ditafsirkan bahwa Allah Jalla Jalaluhu mengambil badan dan ruhnya dari bumi dan mengangkatnya kepada-Nya dalam kondisi hidup. Dan ditafsirkan bahwa Dia menidurkannya kemudian mengangkatnya. Dan Dia akan mematikannya setelah mengangkatnya dan menurunkannya di akhir zaman, karena huruf waw (و) tidak menuntut harus berurutan, namun menuntut penggabungan dua perkara baginya saja. Apabila ada perbedaan pendapat dalam makna ayat, maka harus kembali kepada pendapat yang sesuai dhahir dalil-dalil yang lain, karena menggabungkan di antara semua dalil dan mengembalikan yang mutasyabih darinya kepada yang muhkam. Seperti perkara orang-orang yang rasikh (kokoh) dalam ilmu, bukan orang-orang sesat yang mengikuti ayat yang mutasyabih karena mencari fitnah dan mencari ta’wilnya.

Demikian pula perbedaan pendapat mereka dalam menafsirkan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِه

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[an-Nisa/4:159][4]

Maka harus kembali padanya kepada makna yang sesuai bersama susunan kalimat dan yang shahih dari hadits-hadits turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman dan berimannya semua ahli kitab dan selain mereka dengannya, karena menggabungkan di antara semua dalil dan menjaga tujuan yang berbicara dari ucapannya.

Barangsiapa yang memperhatikan ayat-ayat ini terlepas dari kalimat sebelumnya, dari tujuan yang dihaturkan baginya, dari dalil-dalil lain yang datang dalam pembahasan yang sama, dan menta’wilkannya atas makna: ‘Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali beriman kepada Allah Jalla Jalaluhu atau kepada Isa Alaihissallam sebelum wafatnya, maksudnya ahli kitab- maka sungguhnya menyalahi dzahir ayat dan susunan kalimat serta yang terdapat dalam dalil-dalil dalam perkara Isa Alaihissallam. Dan hal itu termasuk orang yang mengikuti yang mutasyabih dari ayat dan tidak mengembalikannya kepada yang muhkam, karena mencari fitnah dan mencari ta’wilnya. Maka ia pantas mendapatkan ancaman (ultimatum) yaitu terhadap orang yang di hatinya ada kesesatan, firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [Ali Imran/3:7]

Kemudian, sesungguhnya orang yang berpendapat bahwa Allah Jalla Jalaluhu mewafatkan Isa Alaihissallam saat kaum yahudi hampir (melakukan keinginan mereka), bisa jadi ia mengakui turunnya Isa di akhir zaman karena mengamalkan hadits-hadits shahih tentang hal itu, dan bisa jadi ia mengingkari turunnya. Bila ia mengakui turunnya, konsekuensinya ia menetapkan bagi nabi Isa Alaihissallam wafat, kemudian hidup di dunia, kemudian wafat saat tipu daya dan diangkat, kemudian hidup lagi, kemudian wafat setelah turun (ke dunia), kemudian hidup saat dibangkitkan. Dan ini berarti menyalahi firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. [Al-Baqarah/2:28]

Dan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : قَالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

Mereka menjawab:”Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami.Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)” [Ghafir/40:11]

Dan jika ia mengingkari turunnya Alaihissallam setelah diangkat, berarti ia menolak hadits-hadits shahih yang diterima oleh para ulama umat Islam yang bersaksi dengan persaksian yang tegas dengan turunnya dan dakwahnya kepada kebenaran, ia memutuskan hukum dengannya, membunuh babi, memataskan salib dll, yang menetapkan kondisinya Alaihissallam setelah turunnya Alaihissallam. Kedua kemungkinan itu tidak ada tempat berlepas darinya kecuali mengikuti pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Isa Alaihissallam dari tipu daya kaum yahudi dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mengangkat badan dan ruhnya Alaihissallam, dan menurunkannya di akhir zaman sebagai penegak hukum yang adil.

Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah untuk riset ilmu dan fatwa 3/211-212.

[Disalin dari اعتقاد المسلم في عيسى ابن مريم عليه السلام Penulis : Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa, Penerjemah Muhammad Iqbal A.Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
________
Footnote
[1] Al-Bukhari 3448 dan Muslim 155
[2] Al-Bukhari 3449 dan Muslim 155.
[3]  Muslim 156.
[4] Al-Bukhari 3448 dan Muslim 155

Tafsir Surat al-Kafirun

TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Pada intinya Allah azza wa jalla menurunkan kitab suci -Nya adalah supaya dipahami makna serta diamalkan isi kandungannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ  [ محمد: 24]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”. [Muhammad/47: 24].

Dan diantara sekian banyak surat-surat pendek yang sering kali kita dengar dan sangat butuh untuk kita pahami maknanya dan diketahui hukum serta pelajaran yang terkandung didalamnya ialah surat al-Kafirun. Yaitu firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  [ الكافرون: 1-6]

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.  [al-Kafiruun/109 : 1-6].

Keutamaan surat al-Kafirun
Surat ini termasuk surat agung yang terdapat didalam al-Qur’an, dimana telah datang begitu banyak penjelasan akan keutamaan serta kedudukannya. Disebutkan bahwa surat ini kedudukannya bagaikan seperempat al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ومن قرأ (قل يا أيها الكافرون) عدلت له بربع القرآن  ومن قرأ (قل هو الله أحد) عدلت له بثلث القرآن» [أخرجه الترمذي]

“Barangsiapa yang membaca: قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ, sepadan baginya dengan membaca seperempat al-Qur’an. Dan bagi siapa yang membaca: قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ, maka sepadan baginya dengan membaca sepertiga al-Qur’an”. [HR at-Tirmidzi no: 293. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 3/6 no: 2317]

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau seringkali memperbanyak membaca surat ini. seperti apa yang dijelaskan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan surat ini:  قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ, dan membaca: قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَد  , pada sholat dua raka’at setelah thowaf”. HR Muslim no: 1218. Dalam shahih Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca dua surat tadi pada dua raka’at (sebelum) shubuh”. HR Muslim no: 726.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Aku pernah memperhatikan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dua puluh empat kali atau dua puluh lima kali, beliau selalu membaca pada dua raka’at sebelum shubuh dan seusai maghrib, surat: قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ , dan surta: قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَد “. HR Ahmad 9/509-510 no: 5699. Diantara moment yang dianjurkan untuk membaca surat ini adalah ketika ingin tidur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Farwah bin Naufal dari Ayahnya radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepadanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اقْرَأْ عِنْدَ مَنَامِكَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) قَالَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ » [أخرجه أحمد]

“Bacalah ketika engkau hendak tidur: قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ , beliau melanjutkan: “Kemudian tidurlah setelah engkau selesai membacanya. Sesungguhnya surat tersebut sebagai pelepas dari kesyirikan”. [HR Ahmad 39/224 no: 23807. Dihasankan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Nata’ijil Afkaar 3/61-62].

Salah satu keutamaan dari surat ini adalah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa meruqyah dirinya dengan membaca surat ini. seperti dijelaskan oleh at-Thabarani didalam Mu’jamu Shaghir dari haditsnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لا تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ  ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ  وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بِ ( قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) » [أخرجه الطبراني في معجم الصغير]

“Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarakan seseorang mengerjkan sholat tidak pula yang lainnya”. Kemudian beliau meminta diambilkan air dan garam, lalu beliau mengusapkan pada bekas sengatannya sambil membaca: قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ . dan: قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ . dan: قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ “. [HR ath-Thabarani dalam Mu’jamu Shaghir hal: 117. dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 2/80 no: 548].

Tafsir Rinci
Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat -Nya yang pertama dengan firman -Nya:

 قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ  [ الكافرون: 1]

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”.  [al-Kafiruun/109: 1].

Panggilan ini mencakup bagi seluruh orang kafir yang ada dimuka bumi. Namun, pembicaraan yang ada dalam ayat ini ditujukan kepada kafir Quraisy.

Sebab Turunnya Ayat.
Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, “Sesungguhnya kafir Quraisy mereka menjanjikan kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi harta kekayaan yang banyak. Dan di daulat menjadi orang terkaya dikota Makah, lalu mereka akan menikahkan dengan wanita mana saja yang dikehendaki, namun dibalik itu semua mereka ada maunya. Mereka mengatakan, “Semua ini adalah persembahan dari kami untukmu wahai Muhammad. Dan sekarang berhentilah kamu dari mencela tuhan-tuhan kami dan jangan menyebutnya dengan kejelekan. Jika kamu tetap tidak mau, maka kami tawarkan satu lagi padamu, yaitu perjanjian antara kami dan kamu. Maka Nabi bertanya, “Apa perjanjianya? Mereka menjawab, “Engkau ikut menyembah tuhan-tuhan kami selama satu tahun, yaitu pada Latta dan Uzza, setelah itu kami ikut menyembah tuhanmu selama satu tahun pula”. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan surat ini”. [1]

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala melanjutkan firman dengan menegaskan:

 لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ  [ الكافرون: 2]

“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. [al-Kafiruun/109: 2].

Maksudanya aku tidak akan turut menyembah berhala serta tandingan-tandingan -Nya yang kalian miliki.

Sebaliknya Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menegaskan pada mereka dengan mengatakan:

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ [ الكافرون: 3]

“Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. [al-Kafiruun/109: 3].

Yaitu Allah yang Maha Esa tidak sekutu bagi-Nya.

Lalu Allah ta’ala menjelaskan:

وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ  [ الكافرون: 4]

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”.  [al-Kafiruun/109: 4].

Maksudnya dimasa yang akan datang aku tidak akan menyembah sesembahan kalian, artinya aku tidak menempuh tidak pula meniru cara penyembahan kalian kepada patung-patung tersebut, karena aku hanya menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla sesuai dengan apa yang diridhoi dan dicintai oleh -Nya.

Kemudian -Dia mengatakan dalam ayat berikutnya dengan berfirman:

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ  [ الكافرون: 5]

“Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”. [al-Kafiruun/109: 5]

Maksudnya kalian tidak usah mengikuti perintah-perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla serta syari’at -Nya didalam beribadah. Namun, ibadah yang kalian kerjakan hanyalah inovasi yang kalian perbuat berdasarkan hawa nafsu dari dalam diri kalian, sebagaimana disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُۖ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ  [ النجم: 23]

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”. [an-Najm/53: 23].

Maka Allah berlepas diri dari mereka didalam semua perbuatan dan aktifitas mereka. Dikarenakan seorang yang ingin beribadah sudah barang tentu dirinya harus memiliki sesembahan yang disembahnya terlebih dahulu, setelah itu baru peribadatannya mengikuti dibelakangnya. Dan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta para pengikutnya mereka semua adalah para menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan, oleh karena itu, kalimat Islam itu baru tersemat manakala dirnya mengucapkan dua kalimat syahadat: Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulallah.

Artinya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sehingga tidak ada jalan yang dapat mengantarkan kepada -Nya melainkan jalan yang dibawa oleh Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang-orang musyrik maka mereka beribadah kepada selain Allah azza wa jalla didalam peribadatan yang sama sekali tidak dibenarkan oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala menjelaskan dalam firman -Nya:

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ  [ الشورى: 21]

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”. [asy-Syuura/42: 21].

Selanjutnya Allah ta’ala menutup surat ini dengan firman -Nya:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  [ الكافرون: 6]

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.  [al-Kafiruun/109: 6].

Ayat ini senada dengan firman Allah ta’ala dalam surat lain, yaitu:

وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓ‍ُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ  [ يونس: 41]

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. [Yunus/10: 41].

Dan semakna pula dengan firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam ayat ini:

لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ  [ القصص: 55]

“Bagi Kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu”. [al-Qashash/28: 55].

Imam Bukhari menjelaskan, “Dikatakan dalam ayat ini, “Untukmu agamamu”. Agama kafir, “Dan untukku agamaku”. Yaitu agama Islam. Dan idak dikatakan dalam ayat: دِينيِ . karena mengacu pada ayat-ayat sebelumnya yang berakhiran huruf nun dan dihilangkan huruf ya’. Hal ini semisal firman Allah ta’ala yang bunyinya فَهُوَ يَهۡدِينِ . Dalam surat asy-Syu’araa/26: 78″. [2]

Pelajaran yang Bisa Kita Petik dari Surat Ini.
Pertama: Didalam surat terkandung penjelasan tentang pentingnya ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam ibadah serta tidak berbuat syirik kepada -Nya. Sebagaimana hal ini didukung oleh firman Allah Shubhanahu wa ta’alla lainnya, yaitu:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ  [ الأنعام: 162-163]

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi -Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al-An’am/6: 162-163].

Kedua: Berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala tentang Nabi -Nya Ibrahim ‘alaihi sallam yang berlepas diri terhadap mereka. Allah ta’ala firman  -Nya:

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ  [ الممتحنة: 4]

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. [al-Mumthanah/60: 4].

Ketiga: Menerangkan pada kenyataannya bahwa orang kafir, yang mereka inginkan dari orang muslim ialah bersikap lunak, menjilat serta menipu didalam cara beragamanya. Akan tetapi, bagi tiap muslim dirinya harus punya prinsip dan teguh pendirian serta istiqomah, sebagaimana diterangkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ  [ القلم: 9]

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)”. [al-Qolam/68: 9].

Dan lebih tegas lagi, kita dilarang bersikap lembek terhadap mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ  [ هود: 113]

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka”. [Huud/11: 113].

Allah ta’ala juga menjelaskan dalam beberapa ayat tentang hal ini, -Dia berfirman:

وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡ‍ٔٗا قَلِيلًا ٧٤ إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَوٰةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرٗا   [ الإسراء: 74-75]

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami”. [al-Israa’/17: 74-75].

Keempat: Sebagian ulama menyangka jika ayat ini mansukh (dihapus hukumnya) dengan ayat pedang (istilah ayat yang berisikan perintah jihad) disebabkan keyakinan mereka kalau ayat ini terkandung didalamnya pengakuan terhadap agama yang dianut oleh orang-orang kafir.

Sebagian kalangan lagi mengira bahwa surat ini hukumnya khusus bagi siapa saja yang menetapkan agamanya dan mereka adalah dari kalangan ahli kitab. Imam Ibnu Qoyim membantah dua pendapat di atas sambil menjelaskan,  “Dan kedua pendapat diatas sangat keliru sekali, karena surat ini tidak di mansukh bukan pula dibawa pada hukum khusus. Namun, yang benar surat ini tetap muhkamah (terus berlaku hukumnya) serta terjaga isi kandungannya dari makna keumuman.

Dan surat ini termasuk dari surat yang tidak mungkin masuk naskh didalam isi kandungan globalnya, karena hukum-hukum yang berkaitan tentang tauhid yang telah disepakati sebagai muatan dakwahnya para Rasul juga mustahil masuk naskh didalamnya. Sebab surat ini menunjukan tentang kemurnian tauhid, oleh sebab itu surat ini juga dinamakan sebagai surat ikhlas sebagaimana telah lalu penjelasannya.

Sehingga sangatlah tidak mungkin, jikalau ayat ini mengandung pengakuan terhadap perbuatan mereka, atau menetapkan terhadap agama yang mereka anut, sama sekali tidak ada sisi yang mengarah pada hal itu, selamanya. Dikarenakan, Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam semenjak memulai dakwahnya senantiasa dirinya serta para pengikutnya berlaku keras terhadap kafir Quraisy dengan mencela dan menjelekkan agama mereka serta melarang supaya tidak mengikuti ajaran agama kafir. Sambil mengancam serta menakut-nakuti mereka pada setiap saat, dan setiap perselisihan.

Yang mana mereka memohon supaya kaum muslimin menahan tidak menyebut kejelekan atas sesembahan yang mereka buat, tidak menyebut keburukan agamanya serta meminta supaya ditinggalkan urusannya supaya dibiarkan jangan diganggu. Namun, beliau tidak menuruti dan tetap mengingkari serta mencela agama yang mereka anut. Lantas bagaimana dikatakan kalau ayat ini terkandung didalamnya bentuk pengakuan terhadap apa yang mereka lakukan. Sungguh sangat jauh persangkaan yang bathil ini!? karena yang sejalan, bahwa ayat ini menerangkan kandungan bentuk berlepas diri secara murni sebagaimana telah lewat penjelasannya.

Yaitu, bahwa apa yang sekarang sedang kalian kerjakan dari kegiatan keagamaan kami sama sekali tidak menyetujuinya, sebab agama kalian adalah agama yang tidak benar. Maka hal ini khusus bagi kalian kami tidak turut serta didalam keagamaan kalian, demikian pula, tidaklah kalian ikut serta dalam beragamanya kami yang benar ini.

Inilah bentuk berlepas diri yang paling sempurna dan bebas dari persetujuan terhadap agama mereka secara sempurna, lantas, dimana bentuk pengakuannya? Sampai akhirnya mengklaim ayat ini dinasikh atau berlaku secara khusus. Tidakkah kalian berpendapat jika mereka diperangi dengan pedang sebagaimana diperanginya dengan menggunakan hujah, tidak dibenarkan untuk berdalil dengan mengatakan:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  [ الكافرون: 6]

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. [al-Kafiruun/109 : 6].

Namun, ayat ini tetap muhkam dan tegas yang menunjukkan hukum pada orang-orang beriman dengan orang-orang kafir sampai Allah Shubhanahu wa ta’alla mensucikan hamba dan negeri -Nya dari keburukan mereka. Begitu pula masuk dalam hukum berlepas diri ini ialah antara orang-orang yang mengikuti sunah-sunah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan ahli bid’ah dari kalangan orang-orang yang menyelisihi apa yang dibawa oleh beliau. Demikian pula berlepas diri dari para penyeru kepada selain sunahnya.

Dan jika para penerus serta pewaris Rasul mengatakan pada mereka, “Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami”. Maka ini tidak melegalitas sebagai bentuk pengakuan terhadap bid’ah yang mereka lakukan, bahkan mereka mengatakan kepada ahli bid’ah tadi, inilah bentuk berlepas diri dari mereka serta perbuatan bid’ahnya. Namun, bersamaan dengan ini mereka tetap berusaha untuk membantah serta memerangi mereka sebatas kemampuannya”.[3]

Kelima: Penjagaan Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap nabi -Nya agar tidak terjatuh pada peribadahan terhadap berhala, Serta bentuk tidak mengabulkan usulan batil orang-orang kafir.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari وقفات مع سورة الكافرون Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari 10/8813.
[2] Tafsir Ibnu Katsir 14/486-487.
[3] Bada’i al-Fawaid 5/355.

Hari Besar Orang-Orang Kafir

HARI BESAR ORANG-ORANG KAFIR

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memerintah umat Islam untuk berbeda dengan orang-orang kafir, baik dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, makan-minum, pergaulan dan sebagainya, maupun dalam masalah ibadah, nabi selalu berkata: khaalifuu al yahuud (berbedalah dengan orang-orang yahudi).

Oleh karena itu pada bulan muharram, selain memerintahkan untuk berpuasa pada hari asyura’ yaitu tanggal sepuluh muharram, nabi juga memerintah untuk berpuasa tanggal sembilan, hal ini agar tidak sama dengan orang yahudi, karena mereka juga berpuasa pada tanggal sepuluh, sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. atas diselamatkannya nabi Musa Alaihissallam dari kejaran Fir’aun. Begitu pula nabi memerintahkan untuk memanjangkan jenggot, dan memotong kumis, dalam rangka berbeda dengan orang-orang yahudi, sebagaimana beliau memerintahkan kita untuk shalat memakai sandal, karena orang-orang yahudi dan nasrani tidak memakai sandal. Dan masih banyak hal lain dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam agar berbeda dengan orang-orang kafir.

Sebelum itu Allah Subhanahu wa Ta’ala. juga melarang umat Islam mengikuti jejak langkah orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik“. [Al-Hadid/57 : 16]

Juga firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”  [Al-Maidah/5 : 51].

Namun yang sangat disayangkan, walau sudah diperingatkan dan dilarang dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar tidak mengikuti jejak langkah orang-orang kafir, kenyataannya masih banyak, dan bahkan banyak sekali orang-orang Islam yang masih selalu mengikuti jejak langkah orang-orang kafir, dan itu sudah diprediksi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ‏”‏ ‏.‏ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ ‏”‏ فَمَنْ ‏”‏ ‏.

“Sungguh kalian akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga apabila mereka memasuki lubang dhab (biawak), niscaya kalian mengikutinya. Para sahabat bertanya, apakah maksudnya orang-orang yahudi dan nasrani? Beliau berkata: siapa lagi kalau bukan mereka.” [HR.Muslim].

Rupanya hadits nabi di atas sekarang sudah menjadi kenyataan, dimana antara  orang Islam dan orang kafir sulit dibedakan, hal ini karena orang-orang Islam sudah banyak yang mengikuti jejak langkah orang-orang kafir, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam acar ritual keagamaan, pada hari natal dan tahun baru misalnya, yang merayakan bukan hanya orang-orang yang beragama nasrani, akan tetapi banyak umat Islam yang ikut merayakan, baik yang langsung maupun sekedar mengucapkan selamat natal. Di bulan februari banyak anak muda dari kaum muslimin yang ikut merayakan hari valentine yang disebut sebagai hari kasih sayang, yang notabene merupakan syi’ar dari agama nasrani.

Sebab-sebab Orang Islam Ikut Merayakan Hari Besar Orang-orang Kafir.
Ada beberapa sebab mengapa sebagian orang Islam ikut merayakan hari besar orang-orang kafir, di antaranya:

  1. Pengetahuan mereka yang sangat minim terhadap ajaran agama Islam, sehingga tidak bisa membedakan mana yang merupakan ajaran Islam dan mana yang bukan.
  2. Sebagian mungkin tahu bahwa itu adalah hari besar orang-orang kafir, namun tidak tahu kalau Islam melarang ikut merayakannya.
  3. Suka mengikuti trend atau apa yang lagi tenar dan baru tanpa memikirkan apakah tindakannya benar atau salah, berguna atau tidak.

Beberapa Bentuk Dalam Mengikuti Perayaan tersebut.
Setiap agama apapun namanya dan bentuknya, mempunyai suatu hari yang diagungkan dan dirayakan, ada yang memang berasal dari ajaran mereka, dan ada juga yang mereka ciptakan sendiri, baik sebagai ritual keagamaan atau sekedar tradisi, dan hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama : Peringatan keagamaan yang dimaksudkan untuk ibadah, seperti hari natal atau kelahiran nabi Isa Alaihissallam. dan lainnya, dimana banyak umat Islam yang ikut merayakannya sebagimana yang terjadi diberbagai belahan dunia Islam, sebagian ada yang hadir karena memenuhi undangan orang-orang kafir, baik dari teman kerjanya, teman politik, relasi, atau dengan maksud dan tujuan lainnya. Keikutsertaan dalam peringatan keagamaan ini bagi umat Islam jelas haram hukumnya dan dihawatirkan bisa menyebabkan keluar dari agama Islam.

Kedua : Peringatan hari-hari yang mana asalnya merupakan syi’ar orang-orang kafir, kemudian berubah menjadi tradisi yang mendunia, seperti moment olympiade, konon pada awalnya olympiade ini berasal dari hari besar orang yunani kemudian berubah menjadi ajang lomba olah raga internasional, namun nuansa ritulnya masih kelihatan, walaupun banyak yang tidak memperhatikan dan menyadarinya, seperti dalam acara pembukaan yang kelihatannya begitu sakral, hal ini ditambah lagi dengan penyalaan api olympiade yang di arak keliling yang mirip dengan pemyembahan terhadap api. Adapun bentuk keikut sertanan dalam moment tersebut, bisa dengan mengirim tim ke sana, atau mengadakan pelaksanaanya di Negara Islam. Ikut serta dalam momen ini juga tidak boleh karena beberapa hal:

  1. Karena olympiade ini pada asalnya merupakan hari besar orang yunani seperti telah disebutkan di atas, bahkan termasuk salah satu hari besar terpenting orang yunani.
  2. Nama peringatan tersebut tidak berubah dari nama asalnya ketika masih merupakan peringatan keagamaan.

Adapun pada akhirnya berubah menjadi ajang lomba olahraga, hal ini tidak menghilangkan, sifatnya sebagai hari keagamaan, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Tsabit bin ad Dhahhak Radhiyallahu anhu berkata:

نَذَرَ رَجُلٌ أَنْ يَذْبَحَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ، فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلْ كَانَ فِيْهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟ قَالُوْا: لاَ، قَالَ: فَهَلْ كَانَ فِيْهَا عِيْدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ؟ قَالُوْا: لاَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْفِ بِنَذْرِكَ؛ فَإِنَّهُ لاَ وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ فِيْمَا لاَ يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih unta di suatu tempat yang bernama bawwanah  lalu ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada beliau: sungguh aku telah bernadzar akan menyembelih unta di bawwanah, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah dulu di sana ada salah satu berhala orang jahiliyah yang disembah?” Para sahabat berkata: tidak, nabi bertanya lagi : “Apakah dulu di sana pernah diadakan peringatan hari keagamaan mereka?” Sahabat berkata: tidak, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “laksanakanlah nadzarmu, karena tidak boleh melaksanakan nadzar dalam kemaksiatan kepada Allah, dan tidak pula pada suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia”. [HR. Abu Daud].

Dalam hadits ini nabi menanyakan tentang asal-usul dan sejarah suatu tempat, apakah di sana pernah ada berhala orang kafir, atau pernah diadakan prosesi keagamaan? Kalau iya, maka tidak boleh menyembelih unta di tempat tersebut. Jadi nabi memperhatikan asal-usul dan sejarah suatu hal, sedangkan olympiade pada awalnya merupakan peringatan keagamaan orang yunani.

Ibnu Taimiyah berkata: “ini berarti bahwa suatu tempat yang merupakan tempat hari besar mereka tidak boleh dijadikan tempat menyembelih walaupun bernadzar, begitu juga tempat berhala mereka … dan jelas hal itu berarti mengagungkan tempat yang diagungkan oleh mereka, atau menghidupkan syi’ar mereka … kalau tempat perayaan mereka dilarang, apalagi dengan perayaan itu sendiri?”.

Dalam masalah olympiade, bukan hanya masalah waktu dan tempatnya saja, malainkan merupakan peringatan itu sendiri, dengan asal nama dan acara pelaksanaannya, dimana dilakukan penyalaan api olympiade yang merupakan syi’ar peringatan, begitu pula waktunya, karena dahulu orang Yunani melakukannya empat tahun sekali, demikian pula sekarang juga dilakukan empat tahun sekali. Jadi ikut serta dalam momen ini, berarti ikut serta dalam peringatan mereka, dan mengadakannya di negera Islam merupakan adopsi peringatan tersebut ke Negara Islam.

Ketiga : Hari-hari atau minggu-minggu yang diciptakan oleh orang-orang kafir, hal ini ada dua macam:

  1. Sesuatu yang berasal dari agama orang kafir kemudian berubah menjadi tradisi yang berkaitan dengan maslahat duniawi seperti hari buruh yang diciptakan oleh para penyembah pohon. Ini juga tidak boleh dilakukan oleh umat Islam, karena berasal dari hari besar orang kafir.
  2. Sesuatu yang tidak berasal dari agama, seperti hari kesehatan internasional, hari pembebasan buta huruf dan lain-lain. Pada dasarnya melakukan suatu tradisi orang kafir tidak dibolehkan, namun kalau tradisi tersebut tidak berasal dari agama mereka, dan ada manfaatnya bagi kemanusiaan secara umum, dan tidak menjadi syi’ar agama tertentu maka hal ini tidak ada salahnya orang Islam melakukannya.

Keempat : Termasuk meniru orang-orang kafir dalam masalah hari-hari besar adalah, merayakan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha dengan meniru cara-cara orang kafir dalam merayakan hari besar mereka, seperti merayakan Idul Fitri dan Idul Adha dengan pesta-pora, dengan nyanyian dan musik, atau mengadakan panggung gembira, dan sebagainya. ini tidak dibenarkan dalam Islam, karena Islam mengajarkan kita merayakan ied dengan ibadah kepada Allah, bukan dengan maksiat.

Wajibnya Menghindari Perayaan Orang-orang Kafir.
A. Tidak menghadiri peryaan mereka.
Ulama sepakat bahwa menghadiri hari besar orang kafir dan meniru mereka dalam perayaan ini hukumnya haram, berdasarkan dalil-dalil berikut:

  1. Dalil-dalil yang melarang menyerupai orang kafir, sebagimana disebutkan sebagiannya di atas.
  2. Ijma’ (consensus) para sahabat dan tabiin, dimana tidak satupun di antara mereka yang ikut serta dalam acara keagaam orang-orang kafir, padahal pada waktu itu di madinah terdapat orang-orang yahudi yang tentunya mereka melaksanakan acara-acara ritual keagamaan mereka pada waktu-waktu tertentu, bahkan Umar ra melarang orang-orang ahli kitab melakukan kegiatan keagamaan di negara Islam.

B. Tidak boleh meniru apa yang dilakukan orang-orang kafir dalam hari raya mereka walaupun tidak ikut serta merayakan.
Ibnu Taimiyah berkata: ((tidak halal bagi umat Islam meniru apa saja yang merupakan ciri khas hari raya mereka, baik makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meninggalkan kegiatan keseharian baik pekerjaan maupun ibadah, dan tidak boleh melakukan makan-makan, memberi hadiah, atau menjual barang-barang yang dipakai untuk merayakan hari besar mereka, tidak boleh juga membiarkan anak-anak ikut bergembira atau berpakaian yang bagus. Tegasnya, pada waktu hari raya orang kafir, umat Islam tidak boleh melakukan acara husus, akan tetapi melakukan aktifitas sebagaimana hari-hari biasa)). Lihat : Majmu’ Fatawa 52/923.

C. Tidak memberi hadiah kepada mereka, atau membantu kebutuhan hari raya mereka dengan jual beli.
Ibnu Taimiyah berkata : (( Tidak halal bagi umat Islam menjual sesuatu untuk keperluan hari raya mereka, baik daging, bahan makanan, maupun pakaian, dan tidak boleh memberi pinjam kendaraan, atau membantu apapun untuk keperluan hari raya mereka, karena hal tersebut termasuk mengagungkan kesyirikan mereka, dan membantu mereka dalam kekufuran)). Iqtidha’ 2/625.

Abu Hafsh al Hanafi berkata: “Barangsiapa yang menghadiahkan sebuah telur kepada orang musyrik karena mengagungkan hari raya mereka, maka ia telah kafir” (Fathul Bari 2/315).

D. Tidak memberi ucapan selamat kepada mereka di hari raya mereka.
Ibnu Qayyim berkata bahwa memberi ucapan selamat kepada orang kafir pada hari raya mereka haram, karena itu berarti membenarkan mereka dalam kekufuran.

 E. Tidak menghususkan puasa pada hari raya mereka.
Karena hari raya mereka merupakan hari yang mereka agungkan, maka menghususkan puasa pada hari raya mereka, juga termasuk pengagungan terhadapnya. Lain halnya kalau seandainya seseorang mempunyai kebiasaan puasa pada hari-hari tertentu, lalu kebetulan pada hari itu bertepatan dengan hari raya orang kafir, maka hal ini tidak apa-apa. Begitu pula ibadah-ibadah yang lain, tidak boleh melakuan ibadah husus pada hari raya mereka, seperti shalat, muhasabah dan lainnya, karena itu juga termasuk ikut merayakan atau mengangungkan hari tersebut.

[Dikutip dari majalah al-Bayan no 143, Penyusun : Munir Fuadi Ridwan MA, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]

Hukum Sodomi Terhadap Istri

HUKUM SODOMI TERHADAP ISTRI

Oleh
Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa

Pertanyaan : Apakah hukumnya secara syara’ terhadap orang yang mendatangi istrinya yang sah dan menjima’nya dari belakang (sodomi) karena tidak tahu?

Jawaban : Haram bagi laki-laki melakukan sodomi terhadap istrinya, dan barangsiapa yang melakukan hal itu karena tidak tahu maka ia dimaafkan bila tidak melakukan lagi saat ia mengetahui bahwa hukumnya tidak boleh. Dalil atas haramnya melakukan sodomi terhadap istri adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah radiyallohu’anhum: Sesungguhnya kaum Yahudi berkata: ‘Apabila perempuan (istri) didatangi (dijima’) di kemaluannya dari arah belakang, kemudian hamil niscaya anaknya juling.’ Ia berkata: maka turunlah ayat:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. [al-Baqarah/2 : 223][1]

Muslim menambahkan: ‘Jika ia menghendaki ia (istri) bertelungkup atau tidak bertelungkup selama hal itu pada satu lobang (qubul/kemaluan). Maka Allah subhanahuwata’ala mendustakan ucapan bangsa Yahudi: Sesungguhnya apabila laki-laki mendatangi istrinya di qubulnya (kemaluannya) dari arah belakangnya –sedangkan ia bertelungkup di atas mukanya- niscaya anaknya juling.’ Dan “Dia”  menjelaskan dengan ayat tersebut bahwa boleh bagi laki-laki (suami) mendatangi istrinya dengan cara bagaimanapun, terlentang, di atas punggungnya, atau telungkup di atas wajahnya, selama jima’ tersebut lewat kemaluannya, dengan dalil pemahaman para sahabat terhadap hal itu, sedangkan mereka adalah bangsa Arab. Dan penamaan Allah subhanahuwata’ala terhadap wanita sebagai tanah tempat bercocok tanam yang diharapkan keturunan darinya dan tidak bisa diharapkan datangnya keturunan kalau melakukan jima’ lewat dubur (sodomi). Dan yang disebutkan dalam sebab turunnya ayat (asbaabun nuzul) tentang kehamilan dan kelahiran anak yang juling, sedang hamil dan anak tidak pernah ada sama sekali dari hubungan badan lewat dubur (sodomi), tidak ada anak yang juling atau bukan juling. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah, dari Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dalam firman Allah subhanahuwata’ala:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. [al-Baqarah/2 : 223][2]

Maksudnya: satu jalan.[3] Dan ia berkata: hadits hasan.

Inilah, telah diriwayatkan hadits yang sangat banyak tentang larangan kepada laki-laki (suami) melakukan sodomi terhadap istrinya. Di antaranya yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhum, ia berkata:

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Terkutuklah orang yang mendatangi perempuan (istrinya) di duburnya (sodomi).” [4]

Dan dalam lafaznya:

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لاَيَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ جَامَعَ امْرَأَتَهٌ فِى دُبُرِهَا)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Allah subhanahuwata’ala tidak memandang kepada laki-laki yang menjima’ istrinya di duburnya (sodomi).”[5] Diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Majah. Dan di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhum:

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لاَ تَأْتُوْا النِّسَاءَ فىِ أَعْجَازِهِنَّ))أو قال: ( فِى أَدْبَارِهِنَّ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah engkau mendatangi perempuan di belakang mereka.’ Atau beliau bersabda: ‘Di dubur mereka.’[6]

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ali bin Thalq radiyllahu’anhum, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لاَتَأْتُوْا النِّسَاءَ فِى أَسْتَاهِهِنَّ, فَإِنَّ اللهَ لاَيَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ)

Janganlah kamu mendatangi wanita (istri) di belakang mereka, maka sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala tidak malu dari kebenaran.”[7] dan at-Tirmidzi berkata: hadits hasan.

Wabillahittaufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 19/281- 284.

[Disalin dari حكم إتيان المرأة فى الدبر  Penulis Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali,  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari 4528 dan Muslim 1435 dan ini adalah lafaznya.
[2] HR. al-Bukhari 4528 dan Muslim 1435 dan ini adalah lafaznya.
[3]  HR. Ahmad 6/305, 310, 318, ad-Darimi 1119, at-Tirmidzi 2979 dan yang lain.
[4]  HR. Ahmad (2/444, 479), Abu Daud 2162, an-Nasa`i dalam al-Kubra 9015 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1894.
[5] HR. Ahmad 2/272, 344, Ibnu Majah 1923, an-Nasa`i dalam al-Kubra 9013, 9014, Ibnu Abi Syaibah 16811 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah1560.
[6] HR. Ahmad 1/86, al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (1/243): dan rijalnya tsiqah. Lihat tafsir Ibnu Katsir (1/263 dalam tafsir surah al-Baqarah ayat 223.
[7] HR. At-Tirmidzi 1164, 1166 dengan lafazh ‘a’jazihinn‘, ad-Darimi 1142 dengan lafazhnya ‘adbaarihinn‘, ath-Thahawi dalam syarh al-Ma’ani 94/45) dengan lafazh a’jazihinn‘ dan Ibnu Abi Syaibah 16802 dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab 5375 dengan lafazhnya ‘astaahihinn’.