Author Archives: editor

Bahan Bakar Api Neraka

SIFAT NERAKA

Kekuatan Panas api Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ مَّأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ كُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَٰهُمۡ سَعِيرٗا ٩٧ ذَٰلِكَ جَزَآؤُهُم بِأَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا [الاسراء: ٩٧،  ٩٨] 

“Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. Itulah balasan bagi mereka, Karena Sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami”. [Al-Israa/17:97-98]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَارُكُمْ هذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ. قَالُوْا: وَاللهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيُةً يَارَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّيْنَ جُزْءًَا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا.

Api kamu ini, yang anak cucu Adam menyalakannya adalah satu bagian dari tujuhpuluh bagian dari panasnya neraka Jahanam. “Mereka bertanya: “Demi Allah, sesungguhnya sudah cukup panas, wahai Rasulullah. “Beliau menjawab: “Sesungguhnya dilebihkan atasnya dengan enampuluh sembilan bagian, semuanya sama seperti panasnya“. Muttafaqun ‘alaih.[1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا, فَإِذَنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ, فَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ فِى الْحَرِّ, وَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ. متفق عليه

Api neraka mengadu kepada Rabb-nya, ia berkata: “Ya Rabb, sebagian kami memakan sebagian yang lain. Maka Dia memberikan izin kepadanya dengan dua napas, satu napas di musim dingin dan satu napas di musim panas, maka panas yang sangat kuat yang kami dapatkan, dan dingin yang sangat kuat yang kamu temukan“. Muttafaqun ‘alaih.[2]

Bahan Bakar Api Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [التحريم: ٦] 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. [At-Tahriim/66: 6]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ [البقرة: ٢٤] 

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”. [Al-Baqarah/2:24]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ [الانبياء: ٩٨] 

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya“.[Al-Anbiyaa/21: 98]

Lapisan-lapisan Neraka.
Neraka terdiri dari beberapa lapisan, sebagiannya berada di bawah yang lain, dan orang-orang munafik berada di lapisan paling bawah dari api neraka, karena beratnya kekafiran mereka dan karena mereka menyakiti kaum muslim, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا [النساء : ١٤٥] 

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. [An-Nisaa/4:145]

Sifat Naungan di Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَأَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ ٤١ فِي سَمُومٖ وَحَمِيمٖ ٤٢ وَظِلّٖ مِّن يَحۡمُومٖ [الواقعة: ٤١،  ٤٣] 

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?.  Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam”. [Al-Waqi`ah/56: 41-43]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ظُلَلٞ مِّنَ ٱلنَّارِ وَمِن تَحۡتِهِمۡ ظُلَلٞۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ [الزمر: ١٦] 

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku”. [Az-Zumar/39:16]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَّا ظَلِيلٖ وَلَا يُغۡنِي مِنَ ٱللَّهَبِ ٣١ إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ [المرسلات: ٣١،  ٣٢] 

Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”.  Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana”. [Al-Mursalaat/77: 31-31]

Para Penjaga Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ ٢٦ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧ لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ ٢٨ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ٢٩ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ٣٠ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ [المدثر: ٢٦،  ٣١] 

Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.  Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?.  Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.  (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.  Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga). Dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir”. [Al-Muddatstsir/74: 26-31]

Dan malaikat Malik adalah malaikat penjaga neraka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ [الزخرف: ٧٧] 

Mereka berseru: “Hai Malik Biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. [Az-Zukhruf/43: 77]

Makhluk yang Dimasukkan ke Neraka.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «يَقولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، فَيقُولُ: أخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ، فَعِنْدَه يَشِيبُ الصَّغِيرُ {وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ} قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَيُّنَا ذَلِكَ الوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإنَّ مِنْكُمْ رَجُلاً، وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأجُوجَ أَلْفٌ». متفق عليه.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai Adam!, ia menjawab: “Ya, aku memenuhi penggilan-Mu, dan kebaikan ada di tangan-Mu. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirmanNya tersebut: “Keluarkanlah ba’tsun nar!: Ia bertanya: “Apakah ba’tsun nar itu?. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dari setiap seribu orang sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang sebagai Bi’tsun nar (penghuni neraka). Saat itulah anak kecil menjadi tua, (Dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (Al-Hajj/22: 2). Mereka bertanya: “Siapakah di antara kami yang termasuk satu orang (yang satu) itu?. Beliau bersabda: “Bergembiralah! Sesungguhnya dari kalian satu orang dan dari Ya`juj dan Ma`juj seribu orang”. Muttafaqun ‘alaih.[3]

Digiringinya Penghuni Nereka ke Dalam Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari 3265, dan Muslim 2843, ini adalah lafazhnya.
[2] HR. al-Bukhari  3260, ini adalah lafazhnya, dan Muslim 617.
[3] HR. al-Bukhari 3348, ini adalah lafazhnya, dan Muslim 222.

Digiringnya Penghuni Neraka Ke Dalam Neraka

SIFAT NERAKA

Digiringnya Penghuni Neraka ke Dalam Neraka.
Firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَتۡلُونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِ رَبِّكُمۡ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَٰكِنۡ حَقَّتۡ كَلِمَةُ ٱلۡعَذَابِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٧١ قِيلَ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ [الزمر: ٧1،  ٧2] 

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. tetapi Telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.[Az-Zumar/39: 71-72]

Firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ١١ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا وَزَفِيرٗا ١٢ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ١٣ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا [الفرقان: ١١،  ١٤] 

Dan kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.  Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”. [Al-Furqan/25: 11-14]

Firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ١٣ هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ [الطور: ١٣،  ١٤] 

Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya.  (Dikatakan kepada mereka): “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya”. [Ath-Thuur/52: 13-14]

Firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ يَوۡمَئِذٖ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ٤٩ سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٖ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ [ابراهيم: ٤٩،  ٥٠] 

Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka”. [Ibrahim/14: 49- 50]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ يَقُوْلُ: إِنِّي وُكِلْتُ بِثَلاَثَةٍ: بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ,  وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللهِ إِلهًا آخَرَ, وَبِالْمُصَوِّرِيْنَ.

Keluar suatu makhluk berbentuk seperti leher dari neraka di hari kiamat, dia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar, lisan yang bertutur. Dia berkata: “Sesungguhnya aku diserahkan untuk (menyiksa) tiga orang: “Setiap orang yang sangat ingkar lagi keras kepala, setiap orang yang menyembah bersama Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesembahan yang lain, dan orang-orang yang bekerja sebagai pelukis (makhluk hidup).” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[1]

Orang Pertama yang Menjadi Sasaran Dinyalakan Api Neraka.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَومَ القِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهَ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟، قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ القُرآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأْتُ فِيكَ القُرآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرأتَ القُرآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ المَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إلا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ». أخرجه مسلم.

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang pertama yang akan ditanya oleh Allah di hari kiamat adalah seorang yang mati syahid. Dia dihadapkan kepada Allah, lalu Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, maka orang itupun mengetahui nikmat tersebut. Allah bertanya kepadanya: “Apakah yang kamu perbuat dengan nikmat tersebut? Ia menjawab: “Aku berperang karena Engkau sehingga diriku mati syahid. Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman: “Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan itu sudah dikatakan. Kemudian diperintahkan untuk dibawa ke neraka, lalu dia diseret hingga dilemparkan ke dalam neraka. (Selain itu) seorang laki-laki yang menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca al-Qur`an. Dia dibawa menghadap Allah, Dia mengingatkan akan nikmat-nikmat-Nya, maka orang itupun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya: “Apakah yang kamu perbuat dengan nikmat tersebut?. Orang itu menjawab: “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur`an karena Engkau”. Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman: “Engkau dusta, akan tetapi engkau menuntut ilmu supaya dikatakan ‘alim, dan engkau membaca al-Qur`an supaya dikatakan qari` (pembaca yang pandai) dan itu sudah dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan untuk dibawa ke neraka, lalu ia diseret hingga dilemparkan ke dalam neraka”. Juga, seorang lelaki yang diberi keluasan rizqi, dan Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kepadanya semua jenis harta. Dia dibawa (menghadap Allah) maka Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan nikmat-nikmat-Nya, maka diapun mengingatnya. Allah bertanya: “Apakah yang kamu perbuat dengan nikmat itu?. Ia menjawab: “Aku tidak meninggalkan satu jalan yang Engkau suka diinfakkan padanya, kecuali aku berinfak padanya karena Engkau. Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman: engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan dermawan, maka hal itu sudah dikatakan. Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa ke neraka, lalu ia diseret hingga dilemparkan di neraka. HR. Muslim.[2]

Penghuni Neraka.
Firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [البقرة: ٣٩] 

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [Al-Baqarah/2: 39]

Dari ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيْفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ, الَّذِيْنَ هُمْ فِيْكُمْ تَبَعًا لاَ يَتْبَعُوْنَ مَالاً وَلاَ أَهْلاً. وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمْعٌ وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ. وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ” وَذَكَرَ الْبُخْلَ أَوِ الْكَذِبَ “وَالشِّنْظِيْر الفَحَّاشُ”.

“…Penghuni neraka ada lima macam: Orang lemah yang tidak memiliki akal (yang mencegahnya berbuat keji), mereka adalah orang yang mengikutimu, orang yang tidak memiliki keluarga dan harta (sebagai penopang), dan pengkhianat yang tidak samar baginya sifat rakus, sekalipun kecil melainkan ia berkhianat padanya, dan seseorang yang tidak berlalu pagi dan sore kecuali ia menipumu terhadap keluarga dan hartamu,  dan ia juga menyebutkan seorang yang bakhil atau pendusta, dan orang yang berakhlak yang buruk.” HR. Muslim.[3]

Yang Paling Banyak Menjadi Penghuni Neraka.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَأَيْتُ النَّارَ, فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ. لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأْتَ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

Dan aku telah melihat neraka, ternyata sebagian besar penghuninya adalah para wanita disebabkan mereka kafir. Beliau ditanya: “Apakah mereka kafir kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? “Beliau menjawab: “Mereka ingkar terahadap suami dan mengingkari perbuatan baik orang lain. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat sesuatu (yang buruk) darimu, maka dia berkata: ‘Aku belum pernah melihat kebaikan apapun darimu.” Muttafaqun ‘alaih[4]

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih HR. Ahmad  8411, Lihat as-Silsilah ash-Shahihah 512, dan at-Tirmidzi 2574, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi 2084.
[2] HR. Muslim no. 1905
[3] HR. Muslim no. 2865
[4] HR. al-Bukhari no. 29, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 907

Puasa Hari Asyura

PUASA HARI ASYURA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam  adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara karunia dan rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para hamba -Nya ialah diberinya mereka kemudahan dengan adanya musim-musim kebaikan yang dengannya mereka bisa memperbanyak amal kebajikan, dan memberi kekhususan pada musim-musim tersebut dengan karunia yang ditambah berlipat-lipat.

Anjuran Untuk Puasa Hari Asyura.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Bahwasannya ketika Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi, mereka berpuasa pada hari Asyura. Sehingga beliau bertanya kepada mereka: ‘Apa yang menyebabkan kalian berpuasa pada hari ini? Maka mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang agung, dimana Allah (pada hari ini) telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Sehingga Musa berpuasa pada hari ini sebagai wujud syukurnya, oleh karenanya kami pun berpuasa’. Maka Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan kami lebih berhak dengan Musa dari pada kalian”. Lalu beliau berpuasa pada hari itu serta menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa pula”. HR Bukhari no: 2004. Muslim no: 1130 .

Masih dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Rabi’i binti Mu’awadz bin ‘Afraa radhiyallahu ‘anha, dia menceritakan:

روى البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث الربيع بنت معوذ بن عفراء – رضي الله عنهما – قالت: أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَليَصُمْ، قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَا

‘Pada pagi hari Asyura Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus untuk mendatangi perkampungan Anshar dan memberi pesan, bagi siapa saja yang pagi tersebut tidak berpuasa hendaknya menahan untuk tidak makan sampai sore, dan bagi siapa yang paginya telah berpuasa maka hendaknya menyempurna puasanya’. Beliau melanjutkan: ‘Maka kami berpuasa pada hari tersebut, demikian pula anak-anak juga berpuasa, dan kami bikinkan mereka permainan, yang jika salah seorang diantara mereka ada yang menangis karena lapar maka kami berikan mainan tersebut sampai menjelang berbuka“. HR Bukhari no: 1960, Muslim no: 1136.

Dalam haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, diriwayatkan: ‘Bahwasannya orang-orang Jahiliyah, mereka sudah terbiasa melakukan puasa pada hari Asyura, dan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga ikut berpuasa serta menyuruh kaum muslimin agar berpuasa pada hari itu, dan hal tersebut terjadi sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Maka tatkala kewajiban puasa Ramadhan turun, Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ  » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Sesungguhnya hari Asyura adalah merupakan salah satu dari hari-harinya Allah, maka barangsiapa yang ingin berpuasa, berpuasalah dan bagi siapa yang tidak suka maka tidak mengapa untuk tidak berpuasa“. HR Bukhari no: 1893, Muslim no: 1126.

Hadits-hadits mulia diatas tadi, menunjukan pada kita bahwa hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang pada zaman Jahiliyah, demikian pula tidak ketinggalan, di agungkan juga oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang lain.

Dan didalam haditsnya Ibnu Umar terdahulu menjelaskan kepada kita bahwa pada awalnya puasa Aysura adalah wajib bagi kaum muslimin. Namun, tatkala diturunkan kewajiban puasa Ramadhan maka puasa hari Asyura berubah hukumnya menjadi dianjurkan (sunah).

Sedangkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk menjalankan puasa pada hari itu, sebagai wujud ketundukan dan dalam rangka menunaikan perintah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam, sampai-sampai mereka juga mengajari anak-anaknya yang masih kecil agar berpuasa, untuk membiasakan mereka agar bisa melaksanakan ibadah semenjak usia dini. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair.

Seorang anak akan tumbuh besar dilingkungan
               Sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan orang tuanya

Dan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam kepada orang-orang Yahudi: “Kami lebih berhak dengan Musa dari pada kalian“. Dikarenakan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersama beliau adalah orang yang lebih berhak dengan para nabi-nabi sebelumnya. Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala di dalam firman -Nya:

  اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ [ال عمران: 68] 

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman”. [al-Imraan/3: 68].

Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak untuk membela Musa dari pada orang-orang Yahudi, karena mereka telah kufur terhadap Musa, juga Nabi Isa serta Nabi kita Muhammad. [1]

Dalam shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

صَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم

“Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (biasa) mengerjakan puasa hari Asyura, demikian pula beliau menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa. (sampai) pada suatu ketika para sahabat mengatakan pada beliau: ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya hari tersebut adalah hari yang sangat diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani’. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم » [ أخرجه مسلم ]

“Kalau demikian, tahun depan insya Allah kita puasa pada hari kesembilan (dan kesepuluhnya)”. Namun kiranya, tidak sampai tahun berikutnya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam keburu wafat’.  HR Muslim no: 1134.

Kapan Waktunya.
Ada sebagian ulama yang berpendapat dengan hadits ini, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam memindah puasa hari Asyura dari hari kesepuluhnya dipindah pada hari kesembilannya. Sehingga keutamaan yang ada pada puasa hari Asyura berubah menjadi berada pada hari kesembilannya.

Beda lagi, dengan pendapat kebanyakan para ulama yang menjadikan hadits ini sebagai dalil akan dianjurkannya untuk menyertakan hari kesembilan dan kesepuluh di dalam berpuasa, supaya dengan sebab itu bisa memperoleh sikap menyelisihi orang-orang kafir Yahudi dan Nashrani.

Fadhilah Puasa Hari Asyura.
Dan diantara hadits yang menjelaskan tentang keutamaan puasa hari Asyura, adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Asyura? Maka beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ» [ أخرجه مسلم ]

“(Keutamaannya) sebagai penghapus dosa tahun yang telah lewat“. HR Muslim no: 1162.

Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana yang ada dalam shahih Muslim.

روى مسلم في صحيحه من حديث ابن عباس – رضي الله عنهما – أنه سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَامَ يَوْمًا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الْأَيَّامِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ، وَلَا شَهْرًا إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي رَمَضَانَ

Bahwasannya Ibnu Abbas pernah ditanya tentang keutamaan puasa pada hari Asyura? Beliau menjawab: “Aku tidak pernah mengetahui Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan puasa pada suatu hari yang beliau sangat mengharap keutamaannya dibanding dengan hari-hari yang lain melainkan hari ini (yaitu hari Asyura), dan tidak ada bulan yang beliau sangat mengharap keutamaanya melainkan bulan ini yaitu bulan ramadhan“.  HR Muslim no: 1132.

Dua catatan penting yang harus diperhatikan.
Pertama: Bahwa pada asalnya, sunah yang ada  untuk memperbanyak mengerjakan puasa sunah ada pada bulan Allah Muharam, karena Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ » [ أخرجه مسلم]

Sebaik-baik puasa yang dilakukan setelah puasa ramadhan ialah yang dikerjakan pada bulan Allah Muharam“. HR Muslim no: 1163.

Kedua: Bahwa keutamaan hari Asyura hanya berkaitan dengan ibadah puasa saja berdasarkan nash-nash yang ada dalam masalah ini. Adapun sebagian orang yang mengatakan bahwasannya keutamaan tersebut mencakup memberi kelapangan pada keluarga, berdalil dengan sebuah hadits dhoif.

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ [ أخرجه البيهقي في شعب الإيمان]

Barangsiapa yang memberi kelapangan terhadap keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan melapangkan baginya pada tahun-tahun berikutnya“. Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

Maka hadits ini adalah lemah yang tidak boleh disandarkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang hadits ini maka beliau mengatakan belum pernah melihat hadits ini. Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, dan mereka (orang-orang yang menganjurkan amalan tersebut) membawakan sebuah hadits palsu yang didustakan atas Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam, yang bunyi hadits tersebut:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ [ أخرجه البيهقي في شعب الإيمان]

“Barangsiapa yang memberi kelapangan terhadap keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan melapangkan baginya pada tahun-tahun berikutnya”. Maka riwayat seperti ini dari Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam seluruhnya adalah dusta.

Dan tidak pernah sama sekali Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula para Khulafaur rasyidin yang menganjurkan pada hari Asyura untuk mengerjakan suatu amalan tertentu sedikitpun selain puasa, seperti amalan agar merasa senang dan bahagia atau merasa sedih dan berduka cita.

Ini kita sebutkan, karena ahli bid’ah mereka biasa melapangkan dan memberi kelonggaran uang belanja kepada keluarga dan tanggungannya, dengan memasak makanan sebagaimana tidak biasanya dan menjadikannya sebagai hari perayaan.

Adapun orang-orang Syiah Rafidah maka kebalikannya mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari untuk bersedih dan berduka cita. Maka kedua kelompok ini, yang saling bertolak belakang, sama-sama diluar rel kebenaran. Demikian pula tidak dianjurkan mengkhususkan bentuk ibadah yang lain selain ibadah puasa. [2]

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam, keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari صيام يوم عاشوراء Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin 5/305.
[2] al-Fatawa 25/300-301. dengan sedikit perubahan.

Zakat Hewan Ternak

ZAKAT HEWAN TERNAK

Hewan ternak adalah Unta, Sapi dan Kambing.

Zakat hewan ternak terbagi menjadi dua.
1. Wajib zakat pada unta, sapi, dan kambing, apabila digembalakan sepanjang tahun atau kebanyakannya di padang pasir atau padang rumput yang dibolehkan. Apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun wajib dikeluarkan zakat. Sama saja hewan ternak itu untuk diambil susu, atau dikembangbiakkan atau digemukkan. Dan dikeluarkan dari setiap jenis menurut ukurannya. Dalam zakat tidak diambil harta manusia yang terbaik atau yang terburuk, tetapi diambil yang pertengahannya.

2. Apabila unta, atau sapi, atau kambing, atau yang lainnya dari jenis hewan dan burung, pemiliknya memberinya makan dari kebunnya, atau membelikan makanan untuknya, atau mengumpulkan untuknya apa yang dimakannya, maka hewan ternak ini, jika diperuntukkan untuk perdagangan dan genap berusia satu tahun, dinilai harganya. Maka, jika telah mencapai nisab, zakatnya 1/40. Dan jika bukan untuk perdagangan, seperti ia menjadikannya untuk diambil susunya, atau dikembangbiakkan dan ia mencarikan makanan untuknya, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.

Batas minimal nisab kambing adalah empat puluh (40) ekor kambing, Batas minimal nisab sapi adalah tiga puluh (30) ekor sapi, dan Batas minimal nisab unta adalah lima (5) ekor unta.

1. Nisab-nisab Kambing

DarisampaiKadar zakat
40120Satu ekor kambing
121200Dua ekor kambing
201399Tiga ekor kambing.

Kemudian pada setiap seratus ekor, zakatnya satu ekor. Pada 399 ekor, zakatnya 3 ekor. Dan pada 400 ekor, zakat 4 ekor. Dan pada 499 ekor, zakatnya tetap 4 ekor, dan begitulah seterusnya.

2. Nisab-nisab Sapi

DarisampaiKadar zakat
3039Tabi’ atau tabi’ah, yaitu anak sapi jantan atau betina yang berusia satu tahun.
4059Musinnah, yaitu sapi betina berusia dua tahun.
6069Dua ekor tabi’ atau tabi’ah.

Kemudian pada setiap 30 ekor, zakatnya seekor tabi’ atau tabi’ah. Dan pada setiap 40 ekor, zakatnya seekor musinnah. Pada 50 ekor, zakatnya seekor musinnah. Dan pada 70 ekor, zakatnya adalah seekor tabi’ dan seekor musinnah. Dan pada setiap 100 ekor, zakatnya dua ekor tabi’ dan satu musinnah. Dan pada 120 ekor, zakatnya empat ekor tabi’, atau tiga ekor musinnah, dan begitulah seterusnya.

3. Nisab-nisab Unta

Dari sampaiKadar zakatnya
59Seekor kambing
1014Dua ekor kambing
1519Tiga ekor kambing
2024Empat ekor kambing
2535Bintu makhadh, yaitu anak unta betina berusia satu tahun.
3645Bintu labun, yaitu unta betina yang berusia dua tahun.
4660Hiqqah, yaitu unta betina yang berusia tiga tahun.
6175Jazd’ah, yaitu unta betina yang berusia empat tahun.
7690Dua ekor bintu labun.
91120Dua ekor hiqqah.

Apabila lebih dari 120 ekor, maka setiap 40 ekor, zakatnya adalah seekor bintu labun. Dan pada setiap 50 ekor, zakatnya seekor hiqqah. Pada 121 ekor, zakatnya 3 ekor bintu labun. Dan pada 130 ekor, zakatnya adalah seekor hiqqah dan dua ekor bintu labun. Pada 150 ekor, zakatnya adalah tiga ekor hiqqah. Dan pada 160 ekor, zakatnya adalah empat ekor bintu labun. Dan pada 180 ekor, zakatnya adalah dua ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun. Dan pada setiap 200 ekor, zakatnya adalah lima ekor bintu labun, atau empat ekor hiqqah, dan begitulah seterusnya.

Barang siapa yang harus mengeluarkan bintu labun tetapi ia tidak memilikinya, ia boleh mengeluarkan bintu makhadh dan membayar jabran (tambalan), yaitu dua ekor kambing atau dua puluh dirham. Atau ia membayar hiqqah dan mengambil jabran. Jabran ini hanya ada pada unta saja.

Diambil pada zakat kambing yaitu jidz’ dari jenis kambing kibas, yaitu yang berusia enam bulan ke atas, atau tsaniyyah dari jenis kambing kacang, yaitu yang telah berusia satu tahun.

Tidak diambil dalam zakat kecuali yang betina dan tidak cukup yang jantan kecuali pada zakat sapi. Ibnu labun (unta jantan berusia dua tahun), hiqq (unta jantan berusia tiga tahun), jadza’ (unta jantan berusia empat tahun) menempati bintu makhadh dari unta atau jika semua hewan ternaknya jantan.

Tidak boleh digabung antara yang terpisah dan tidak boleh dipisah di antara yang digabung karena tidak mau membayar zakat pada binatang ternak. Barang siapa yang mempunyai 40 ekor kambing, ia tidak boleh memisahnya di dua tempat. Apabila datang ‘amil (petugas zakat), ia tidak menemukan nisab. Atau ia mempunyai 40 ekor kambing, dan yang lain juga mempunyai jumlah yang sama, dan orang ketiga juga mempunyai jumlah yang sama, lalu mereka menggabungnya sehingga tidak diambil zakat dari mereka kecuali hanya satu ekor saja. Jika mereka memisahnya, niscaya zakat yang wajib adalah 3 ekor kambing. Semua ini adalah rekayasa yang tidak boleh.

Petugas zakat jangan mengambil harta yang terbaik. Janganlah ia mengambil yang bunting, pejantan, yang mengurus anaknya, dan jangan pula yang gemuk yang disiapkan untuk dimakan. Ia hanya mengambil yang pertengahan, dan hal ini juga berlaku  pada jenis-jenis harta yang lain.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Zakat Hasil Bumi

ZAKAT HASIL BUMI

Hasil bumi adalah : Biji-bijian, buah-buahan, barang tambang, rikaz, dan semisalnya.

Zakat diwajibkan pada semua biji-bijian, dan pada semua buah-buahan yang ditakar dan disimpan lama, seperti kurma dan anggur. Dan disyaratkan bahwa ia dimilikinya saat wajib zakat dan sampai nisabnya, dan kadar nisabnya adalah lima wasaq, yaitu tiga ratus (300) sha’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sekitar enam ratus dua belas (612) kg. gandum.

Satu Sha’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan timbangan kira-kira sekitar 2,40 kg gandum. Wadah yang luasnya seperti ini berarti sama dengan sha’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu seimbang empat mud pertengahan.

قال الله تعالى: {وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ} الأنعام/141

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. [Al-Anam/6 : 141]

Digabungkan buah-buahan satu tahun dalam menyempurnakan nisab apabila satu jenis, seperti berbagai macam kurma misalnya.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ». متفق عليه

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada kewajiban zakat yang kurang dari lima uqiyah (emas), tidak ada kewajiban zakat yang kurang dari lima dzaud, dan tidak ada kewajiban zakat yang kurang dari lima wasaq.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Yang wajib pada zakat biji-bijian dan buah-buahan.
Sepersepuluh (1/10), yang disiram tanpa memerlukan biaya, seperti yang disiram dari air hujan atau mata air dan semisalnya.

Seperduapuluh (1/20), yang disiram dengan biaya, seperti air sumur yang dikeluarkan dengan alat atau yang lainnya.

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيّاً العُشْرُ، وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ العُشْرِ». أخرجه البخاري.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Yang disiram air hujan dan mata air atau tanah yang diairi hujan zakatnya sepersepuluh (1/10), dan yang diberi air dengan siraman, zakatnya seperduapuluh (1/20).’[2]

Waktu wajib zakat pada biji-bijian dan buah-buahan adalah apabila biji sudah keras dan nampak baiknya buah itu. Dan buah itu baik apabila sudah merah atau sudah kuning. Maka apabila pemiliknya menjualnya setelah itu, maka kewajiban zakatnya adalah kepadanya, bukan kepada pembeli.

Apabila biji-bijian dan buah-buahan itu rusak tanpa tindakan melampaui batas dan tidak pula kelalaian pemiliknya, gugurlah kewajiban zakat padanya.

Tidak ada zakat pada sayur-sayuran dan buah-buahan kecuali apabila disediakan untuk perdagangan. Maka dikeluarkan dari nilainya seperempat puluh (1/40) apabila sudah genap satu tahun dan telah mencapai nisab.

Zakat Madu.
Apabila madu dipanen dari miliknya, atau dari tempat tidak bertuan dari pohon-pohon dan gunung-gunung, maka zakatnya sepersepuluh. Nisabnya adalah seratus enam puluh (160) kati Iraq, yaitu sama dengan enam puluh dua (62) kg. Dan jika ia menjual belikan madu, ia mengeluarkan zakatnya sebagai barang dagangan, yaitu seperempat puluh (1/40).

Wajib zakat sepersepuluh atau seperdua puluh kepada penyewa tanah atau kebun, bukan kepada pemiliknya, pada semua yang dikeluarkan darinya yaitu yang ditakar dan bisa disimpan lama dari biji-bijian dan buah-buahan atau yang lainnya. Dan kepada yang menyewakan (pemiliknya), wajib menzakati apa yang dia ambil dari sewanya berupa uang apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun dari tanggal akad sewa-menyewa.

Setiap barang yang dihasilkan dari laut seperti permata, marjan, ikan dan semisal yang demikian itu, tidak ada kewajiban zakat padanya. Jika untuk perdagangan maka dikeluarkan dari nilainya, yaitu seperempat puluh, apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun.

Semua hasil bumi selain dari tumbuhan, berupa barang tambang dan semisalnya, maka zakatnya apabila telah mencapai nisab salah satu dari emas dan perak, yaitu seperempat puluh dari nilainya, atau seperempat puluh bendanya jika ia berupa benda berharga seperti emas dan perak.

Zakat Rikaz.
Yaitu yang ditemukan dari kuburan jahiliyah (masa sebelum Islam), dan yang wajib padanya adalah seperlima (1/5), sedikit atau banyak, dan tidak disyaratkan nisab dan tahun seperti yang telah lalu, dan disalurkan seperti penyaluran harta fai, dan sisanya yaitu empat perlima (4/5) untuk penemunya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 1405, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 979
[2] HR. al-Bukhari no. 1483.

Zakat Barang Perdagangan

ZAKAT BARANG ERDAGANGAN

Barang dagangan : Yaitu yang disediakan untuk jual beli karena ingin mendapatkan keuntungan berupa properti, hewan, makanan, minuman, alat-alat dan semisalnya.

Barang dagangan, apabila untuk perdagangan, telah mencapai nisab, genap setahun, wajiblah zakat padanya dan dinilai di akhir tahun dengan yang lebih baik bagi penerima zakat, baik emas atau perak. Dan dikeluarkan seperempat puluh (1/40) dari semua nilai, atau dari barang dagangan itu sendiri.

Rumah-rumah, properti, mobil-mobil, alat-alat, dan semisalnya apabila disediakan untuk tempat tinggal atau dipakai, bukan untuk perdagangan, maka tidak ada zakat padanya. Jika disediakan untuk sewaan, maka zakatnya atas sewaan dari saat akad apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun sebelum membelanjakannya. Dan jika disediakan untuk perdagangan, wajib zakat pada nilainya seperempat puluh apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun.

Alat-alat pertanian, perindustrian, perdagangan dan semisalnya tidak ada kewajiban zakat padanya, karena ia tidak disediakan untuk dijual, tetapi disediakan untuk dipakai.

Mengeluarkan Zakat Saham di Perusahaan.
Perusahaan pertanian : Jika investasinya pada biji-bijian dan buah-buahan dan semisalnya yang ditakar dan bisa disimpan lama, berlaku padanya zakat biji-bijian dan buah-buahan dengan segala syaratnya. Jika investasinya pada binatang ternak, maka berlaku padanya zakat binatang ternak dengan segala syaratnya. Dan jika baginya harta yang cair, maka padanya zakat uang, yaitu seperempat puluh dengan segala syaratnya.

Perusahaan Industri: Seperti perusahaan obat-obatan, listrik, semen, besi, dan semisalnya. Maka hal ini wajib zakat pada keuntungan bersihnya, yaitu seperempat puluh apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun, berdasarkan qiyas (analogi) kepada real estate yang disediakan untuk sewaan.

Perusahaan Perdagangan: Seperti impor expor, jual beli, mudharabah, transfer uang dan semisal yang demikian itu yang boleh melakukan transaksi dengannya secara syara’, hal ini wajib zakat padanya zakat barang dagangan pada modal harta dan keuntungan bersih, yaitu seperempat puluh (1/40) apabila telah mencapai nisab dan genap setahun.

Zakat saham ada dua hal.

  1. Jika pemiliknya bertujuan terus menerus memiliki dan mengambil keuntungan tahunan, maka zakatnya adalah pada keuntungan saja, yaitu seperempat puluh seperti yang telah dijelaskan.
  2. Jika tujuannya adalah perdagangan yang mencakup jual beli, membeli ini dan menjual ini karena bertujuan mendapatkan keuntungan, maka wajib zakat pada semua saham yang dimiliki. Zakatnya adalah zakat perdagangan seperempat puluh (1/40). Yang dihitung saat mengeluarkan zakat adalah nilainya saat wajib seperti kwitansi.

Zakat Harta yang Diharamkan.

Harta-harta yang diharamkan terbagi dua:

  1. Jika harta itu haram pada dasarnya/asalnya seperti minuman keras, babi dan semisalnya, maka hal ini tidak boleh memilikinya dan bukan harta zakat. Wajib memusnahkannya dan berlepas diri darinya.
  2. Jika harta itu haram dengan sifatnya, bukan zatnya, akan tetapi diambil dengan cara tidak benar dan tanpa akad, seperti yang dirampas, dicuri, atau diambil dengan akad yang rusak seperti riba dan judi, maka jenis ini terbagi dua:
    • Jika pemiliknya diketahui, ia mengembalikannya kepada mereka dan mereka mengeluarkannya setelah menerimanya untuk satu tahun.
    • Jika pemiliknya tidak diketahui, ia sedekahkan untuk mereka. Jika mereka tahu dan membolehkan (persoalannya selesai), dan jika tidak, ia menjaminnya untuk mereka. Dan jika ia membiarkannya di tangannya, maka ia berdosa dan ia harus mengeluarkan zakatnya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Adab Bersin

ADAB BERSIN

Doa Orang yang Bersin.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ الله يُحِبُّ العُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإذَا قَالَ: هَاءْ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ». أخرجه البخاري.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap, maka apabila salah seorang kamu bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah”, wajib setiap muslim yang mendengarnya mengucapkan “Yarhamukallah”, adapun menguap sesungguhnya berasal dari syetan maka apabila salah seorang kamu menguap hendaklah menahan semampunya, karena bila salah seorang menguap syetan tertawa”. HR. Bukhari. [1]

Apa yang Dilakukan Orang yang Menguap

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (التَّثاؤُبُ مِنَ الشَّيْطانِ، فإذا تَثاءَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ ما اسْتَطاعَ) متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Menguap sesungguhnya berasal dari syetan maka apabila salah seorang kamu menguap hendaklah menahan semampunya”. Muttafaq alaih. [2]

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- : (إذا تَثاءَبَ أحَدُكُمْ،فَلْيُمْسِكْ بيَدِهِ علَى فِيهِ،فإنَّ الشَّيْطانَ يَدْخُلُ ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Bila salah seorang kamu menguap, tahanlah dengan meletakkan tangan di mulutnya karena sesungguhnya syetan berusaha masuk”. HR. Muslim. [3]

Bagaimana orang Bersin Berdoa.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ للهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ الله، فإَذِاَ قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ الله، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ الله وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ». أخرجه البخاري.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Bila salah seorang kamu bersih maka ucapkanlah “Alhamdulillah”, dan teman(saudaranya) hendaklah mengucapkan “Yarhamukallah”, bila diucapkan kepada orang yang bersin “Yarhamukallah” hendaklah ia mengucapkan “Yahdikumullah wa Yushlihu Baalakum”. HR. Bukhari. [4]

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ رَجُلاً، عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ : وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: (( الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ )). أخرجه الترمذي

Dari Nafi’ bahwa seorang laki-laki bersin di sebelah Ibnu Umar, lalu orang itu berkata : Alhamdulillah wassalamu ‘al rasulillah. Ibnu Umar berkata : Aku mengucapkan: Alhamdulillah wassalamu ‘al rasulillah, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  tidak begini mengajarkan kami, beliau mengajarkan kami agar mengucapkan : Alhamdulillah ‘ala kuli hal. H.R. Tirmizi. [5]

Ucapan Kepada Orang Kafir yang Bersin dan Dia Membaca Al-Hamdulillah.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: كَانَتِ اليَهُودُ تَعَاطَسُ عِنْدَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- رَجَاءَ أَنْ يَقُولَ لَهَا: يَرْحَمُكُمُ الله، فَكَانَ يَقُولُ: «يَهْدِيكُمُ الله، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ». أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Orang-orang Yahudi pura-pura bersin di sisi Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, mereka mengharapkan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  berkata kepada mereka:

يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

Semoga Allah merahmatimu”, ternyata Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  mengucapkan:

يَهْدِيْكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah menunjukimu, dan memperbaiki urusanmu”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [6]

Yang harus Dilakukan saat Bersin.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- إذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوتَهُ. أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abu Huraira Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bila bersin beliau meletakkan tangannya atau kainnya di mulut dan merendahkan atau menutup suara bersin dengannya (tangan atau kain)”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [7]

Siapa yang harus Dijawab Bersinnya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: عَطَسَ رَجُلانِ عِنْدَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الآخَرَ، فَقِيلَ لَهُ، فَقَالَ: «هَذَا حَمِدَ الله، وَهَذَا لَمْ يَحْمَدِ الله». متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Dua orang lelaki bersin di sisi Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, maka beliau membalas salah seorang dari keduanya dan tidak membalas yang lain, orang yang tidak dibalas Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  berkata : “Si Fulan bersin engkau balas, sedangkan aku bersin tidak engkau balas?”, ia bersabda : “Ia mengucapkan “Alhamdulillah” sedangkan engkau tidak”. Muttafaq ’alaih. [8]

Berapa kali bersin harus dijawab:

عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «يُشَمَّتُ العَاطِسُ ثَلاثاً، فَمَا زَادَ فَهْوَ مَزْكُومٌ». أخرجه ابن ماجه.

Dari Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu `anhu , ia berkata : Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : orang yang bersin dijawab tiga kali, lebih dari itu berarti dia terkena flu. H.R Ibnu Majah. [9]

عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- وَعَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: «يَرْحَمُكَ الله» ثُمَّ عَطَسَ أُخْرَى فَقَالَ لَهُ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم– الرَّجُلُ مَزْكُومٌ. أخرجه مسلم.

Dari Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu `anhu bahwa dia mendengar ada seseorang yang bersin di sisi Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  maka beliau mengucapkan: Yarhamukallah, kemudian orang itu bersin lagi. Maka Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Orang ini terkena flu. HR. Muslim. [10]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6223.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6223 dan Muslim no hadist : 2994.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2995.
[4] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6224.
[5] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 2738.
[6] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5038 dan Tirmizi no hadist 2739.
[7] Hadist hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5029 dan Tirmizi no hadist 2745.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6221 dan Muslim no hadist : 2991.
[9] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah no hadist : 3714.
[10] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2993.

Adab Menjenguk Orang Sakit

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Fadhilah menjenguk orang sakit.

عن ثوبان رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال مَنْ عَادَ مَرِيضاً لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ. أخرجه مسلم

Dari Tsauban Radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  “Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya seiman, ia senantiasa berada di musim petik buah surga”. HR. Muslim. [1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-  : ((مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَو زَارَ أَخًا لَهُ فِي الله، نَادَاهُ مُنَادٍ: بِأَنْ طِبْتَ، وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وابن ماجه.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Siapa yang membesuk orang sakit atau menziarahi seorang saudaranya karena Allah maka ada seorang malaikat yang menyeru (bunti seruannya) “Engkau telah baik dan perjalananmu ini baik dan engkau telah mengambil tempat di surga”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. . [2]

عن علي رضي الله عنه قال: سمعت رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-   يقول: ((مَنْ أَتَى أَخَاهُ الْمُسْلِمَ عَائِدًا مَشَى فِي خَرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ )) رَوَاهُ أبو داود وابن ماجه.

Dari Ali Radhiyallahu `anhu , ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Barangsiapa yang menjenguk saudaranya yang muslim sesungguhnya dia berjalan di musim petik buah surga hingga duduk, apabila dia duduk rahmat Allah tercurah untuknya. Bila ia menjenguknya di waktu pagi maka tujuh puluh ribu para malaikat selalu berdoa untuknya hingga waktu sore. Dan Bila ia menjenguknya di waktu sore maka tujuh puluh ribu para malaikat berdoa untuknya hingga waktu pagi. H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah.[3]

Hukum menjenguk orang sakit.

عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: أَمَرَنَا رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاِع الجَنَائِزِ، وَعِيَادَةِ المَرِيضِ، وَإجَابَةِ الدَّاعِي، وَنَصْرِ المَظْلُومِ، وَإبْرَارِ القَسَمِ، وَرَدِّ السَّلامِ، وَتَشْمِيتِ العَاطِسِ، وَنَهَانَا عَنْ آنِيَةِ الفِضَّةِ، وَخَاتَمِ الذَّهَبِ، وَالحَرِيرِ، وَالدِّيْبَاجِ، وَالقَسِّيِّ، وَالاسْتَبْرَقِ. متفق عليه.

Dari Baraa` bin `Azib Radhiyallahu `anhu, Ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan kami 7 perkara, dan melarang kami 7 perkara: ia memerintahkan kami: ikut menyelenggarakan jenazah, menjenguk yang sakit, memenuhi undangan, membantu yang dizalimi, melaksanakan sumpah saudaranya, menebarkan ucapan salam dan menjawab yang bersin. Dan melarang kami: minum dari bejana perak, memakai cincin emas, memakai sutera, memakai baju yang sebagian bahan tenunnya dari sutera, sutera yang kasar, dan sutera yang halus.” Muttafaq ’alaih. [4]

Apa yang harus diucapkan saat melihat orang terkena musibah:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلممَنْ رَأَى مُبْتَلَىً فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ البَلاءُ. أخرجه الطبراني في الأوسط.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma , ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Barang siapa yang melihat orang terkena musibah lalu membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

“Segala puji bagi Allah Yang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak.”

Dia tidak akan terkena musibah tersebut. H.R. Thabrani. [5]

Posisi duduk orang yang menjenguk.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان النبي – صلى الله عليه وسلم-  إِذَا عَادَ الْمَرِيضَ جَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهِ. أخرجه البخاري في الأدب المفرد

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma ia berkata : adalah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bila menjenguk orang sakit beliau duduk di sisi kepala orang tersebut. H.R. Bukhari dalam kitab Adab mufrad[6]

Doa yang diucapkan untuk orang yang sakit saat menjenguk.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال مَنْ عَادَ مَرِيضاً لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ الله العَظِيمَ رَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ إلَّا عَافَاهُ الله مِنْ ذَلِكَ المرَضِ. أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda:  “Siapa menjenguk orang sakit yang belum datang ajalnya lalu ia mengucapkan di sisi orang tersebut 7x:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

(Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan pemilik Arsy yang agung agar ia menyembuhkanmu), melainkan Allah menyembuhkan orang tersebut dari sakitnya”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [7]

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي – صلى الله عليه وسلم-  قال: ( إذا جاء الرجل يعود مريضا فليقل: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا أَوْ يَمْشِيْ لَكَ إِلَى صَلاَةٍ ) أخرجه أحمد وأبو داود.

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang sakit maka ucapkanlah:

اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا أَوْ يَمْشِيْ لَكَ إِلَى صَلاَةٍ

Ya Allah , sembuhkanlah hamba-Mu yang melumpuhkan musuh-Mu atau berjalan karena Mu untuk melakukan shalat“. HR. Ahmad dan Abu Daud. [8]

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي – صلى الله عليه وسلم-   كان إذا أتى مريضا ، أو أوتي به إليه قال عليه الصلاة والسلام: ( أَذْهِبِ الْبَأْسَ، رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وأَنْتَ الشَّافِيْ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  apabila menjenguk orang yang sakit atau orang yang sakit datang beliau berdoa :

أَذْهِبِ الْبَأْسَ، رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ وأَنْتَ الشَّافِيْ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah, Tuhan manusia hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, sembuh yang tidak meninggalkan rasa sakit”. Muttafaq ’alaih. [9]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:… وَكَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُوْدُهُ قَالَ: «لا بَأْسَ طَهُورٌ إنْ شَاءَ الله». أخرجه البخاري

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhu , bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam   bila masuk menjenguk orang sakit mengucapkan :

لاَ بَأْسَ طُهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tidak mengapa, insya Allah, hal itu mensucikannya (dari dosa)). HR. Bukhari. [10]

Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sakit jika tidak menimbulkan fitnah.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: لما قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  المدينة وعك أبو بكر وبلال رضي الله عنهما قالت: فدخلت عليهما فقلت: يا أبت كيف تجدك ؟ ويا بلال كيف تجدك ؟ … فجئت إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  فأخبرته فقال: (( اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا وَفِيْ مُدِّنَا وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حمُاَهَا إِلَى الجُحْفَةَ )) متفق عليه.

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha, ia berkata: tatkala Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tiba di Madinah Abu Bakar dan Bilal Radhiyallahu `anhuma jatuh sakit , maka aku masuk menjenguk keduanya, aku berkata : Bagaimana keadaanmu ayah? Dan bagaimana keadaanmu Bilal? lalu aku mendatangi Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan memberitahukan beliau, maka beliau berdoa :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا وَفِيْ مُدِّنَا وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حمُاَهَا إِلَى الجُحْفَةَ

Ya Allah berilah kami kecintaan kepada kota Madinah seperti kami mencintai kota Mekkah atau lebih mencintainya, Ya Allah berilah keberkahan kepada sha’ dan mud’ kami dan berilah kami kesehatan di dalam kota ini dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke daerah Juhfah“. Muttafaq alaih. [11]

Menjenguk orang musyrik yang sakit.

عن أنس رضي الله عنه قال: كَانَ غُلامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدِمُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: «أسْلِمْ» فَنَظَرَ إلَى أَبِيْهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أطِعْ أَبَا القَاسِمِ- صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ». أخرجه البخاري.

Dari Anas Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Ada seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam , lalu ia sakit maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  menjenguknya dan duduk di sisi kepala anak tersebut, beliau bersabda kepadanya : “Masuk islamlah”, si anak menoleh ke bapaknya yang berada di sisinya, maka bapaknya berkata : “Patuhilah Abu Qassim ( gelar nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam )”, lalu ia masuk islam maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam keluar seraya bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka”. HR. Bukhari. [12]

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا. متفق عليه

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  selalu membaca surat ( Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas kemudian ditiupkan ke telapak tangan dan disuapkan ke badan )  saat sakit yang menjemput kematiannya. Tatkala sakitnya semakin berat aku yang membaca surat tersebut lalu aku tiup ke tangan beliau dan aku usapkan ke tubuh beliau untuk mengharap keberkahan tangan tersebut. Muttafaq alaih. [13]

Memberi arahan kepada si sakit demi kemaslahatannya.

عن عثمان بن أبي العاص الثقفي رضي الله عنه أَنَّهُ شَكَا إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- وَجَعاً يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِاسْمِ الله ثَلاثاً، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِالله وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ». أخرجه مسلم.

Dari Utsman bin Al ‘Ash Ast Tsaqafi Radhiyallahu `anhu, bahwa ia mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam sakit yang diderita tubuhnya sejak masuk islam, maka Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Letakkan tangamu di atas anggota tubuhmu yang sakit kemudian ucapkan “Bismillah” 3x, dan ucapkan 7x:

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang kudapatkan dan yang kurasakan dan yang kutakutkan HR. Muslim. [14]

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الشِّفَاءُ فِي ثَلاثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ، وَأنهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ». متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : Pengobatan yang menyembuhkan ada tiga hal: berbekam, minum madu atau pengobatan dengan besi panas, akan tetapi aku melarang umatku berobat dengan besi panas“. Muttafaq alaih. [15]

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ فِي الحَبَّةِ السَّودَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إلَّا السَّامَ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda,” sesungguhnya jintan hitam dapat mengobati segala penyakit kecuali mati”. Muttafaq alaih. [16]

عن أم رافع رضي الله عنها قالت: كانَ لاَ يصيبُ النبي – صلى الله عليه وسلم-  قرحةٌ ولاَ شوْكةٌ إلاَّ وضعَ عليْهِ الحنَّاءَ . أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Ummu Rafi’ Radhiyallahu `anha ia berkata : Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bila terluka atau tertusuk duri menutupi lukanya dengan daun inai. H.R Tirmizi dan Ibnu Majah. [17]

Bacaan ruqyah terhadap orang sakit

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2568.
[2] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 2008 dan Ibnu Majah no hadist 1443.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3098 dan Ibnu Majah no hadist 1442.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1239 dan Muslim no hadist : 2066.
[5] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Thabrani no hadist : 5320.
[6] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 546.
[7] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3106 dan Tirmizi no hadist 2083.
[8] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 6600 dan Abu Daud no hadist 3107.
[9] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5675 dan Muslim no hadist : 2191.
[10] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3616.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5654 dan Muslim no hadist : 1376.
[12] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1356.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5735 dan Muslim no hadist : 2192.
[14] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2202.
[15] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5681 dan Muslim no hadist : 2205.
[16] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5688 dan Muslim no hadist : 2215.
[17] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 2054 dan Ibnu Majah no hadist : 3502.

Bacaan Ruqyah Terhadap Orang Sakit

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Doa yang harus diucapkan untuk orang yang sakit atau meninggal.

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلمإذَا حَضَرْتُمُ المرِيضَ أَوِ المَيِّتَ فَقُولُوا خَيراً، فَإنَّ الملائكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ» قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَة أَتَيْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله إنَّ أَبَا سَلَمَةَ قَدْ مَاتَ. قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ، وَأعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً» قَالَتْ: فَقُلْتُ. فَأَعْقَبَنِيَ الله مَنْ هُوَ خَيْرٌ لِي مِنْهُ مُحَمَّداً- صلى الله عليه وسلم-. أخرجه مسلم.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Bila kamu menghadiri orang sakit atau mayat maka ucapkanlah hal yang baik, karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kamu ucapkan, ia berkata : “Tatakala Abu Salamah wafat, aku mendatangi Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam seraya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Salamah telah wafat”, ia bersabda :  “Ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلَهُ وَأَعْقِبْنِيْ مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan beri aku pengganti yang baik

Lalu Allah memberiku ganti orang yang lebih baik daripadanya, yaitu Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam ”. HR. Muslim. [1]

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: دخل رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-  على أبي سلمة وقد شق بصره ، فأغمضه … ثم قال: ( اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِيْ سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِيْ الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِيْ الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam masuk melayat Abu Salamah di saat itu matanya terbuka, lalu beliau memejamkannya kemudian beliau ia berdo`a :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِيْ سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِيْ الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِيْ الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkat derajatnya bersama orang-orang yang diberi hidayah, dan Engkaulah sebagai ganti untuk orang yang ditinggalkannya, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya, dan berilah cahaya”. HR. Muslim. [2]

Boleh mencium mayat

عن ابن عباس وعائشة رضي الله عنهم: أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَبَّلَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ مَيِّتٌ. أخرجه البخاري

Dari Ibnu Abbas dan Aisyah Radhiyallahu `anhum bahwa Abu Bakar Radhiyallahu `anhu mencium Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  setelah beliau wafat. HR. Bukhari. [3]

Bacaan ruqyah terhadap orang sakit

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي – صلى الله عليه وسلم-  كان يعوذ بعض أهله، يمسح بيده اليمنى ويقول: ( اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  sering mengucapkan ta’awwuz untuk sebagian isterinya, beliau mengusap dengan tangan kanannya seraya berdoa :

اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah, Tuhan manusia hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, sembuh yang tidak meninggalkan rasa sakit”. Muttafaq ’alaih. [4]

عن عائشة رضي الله عنها كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  يقول في الرقية : ( بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، رِيْقَةُ بَعْضِنَا، يَشْفِيْ بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam   membaca saat meruqyah :

بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، رِيْقَةُ بَعْضِنَا، يَشْفِيْ بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

Dengan nama Allah tanah bumi kami, dengan air liur sebagian kami, orang yang sakit disembuhkan dengan izin Rabb kami ”. Muttafaq ’alaih. [5]

Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam  membasahi telunjuknya dengan air liurnya, lalu ditempelkan ke tanah dan mengusapkan nya ke bagian tubuh yang terluka atau sakit sambil mengucapkan doa di atas.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنهأن جبريل أتى النبي – صلى الله عليه وسلم-   فقال: يا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ ؟ قال: ( نعم ) قال: بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhu , bahwa Jibril mendatangi Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam seraya berkata : “Hai Muhammad, apakah engkau sakit?”, ia bersabda :  “Ya”, Jibril mengucapkan doa:

بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ

Dengan nama Allah, aku memantramu dari segala yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku memantramu. HR. Muslim.[6]

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم-   : (الطَّاعُونُ رِجْزٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ  بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

.Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu `anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda :  “ Penyakit (Tha’un) wabah kolera adalah yang diturunkan Allah terhadap sekelompok Bani Israil atau umat sebelum kalian. Maka apabila kalian mendengarnya melanda suatu negeri maka janganlah memasukinya dan apabila wabah tersebut menimpa suatu negeri di saat kalian berada di dalamnya maka janganlah keluar dari negeri tersebut”. Muttafaq ’alaih. [7]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2186.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 920.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5709.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5743 dan Muslim no hadist : 2191.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5746 dan Muslim no hadist : 2194.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2186.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3473 dan Muslim no hadist : 2218.

Adab Berpakaian

ADAB BERPAKAIAN

Fungsi Pakaian.
Sebagai hiasan, sebagaimana firman Allah :

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ [الاعراف: ٣١] 

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid. [Al A’raaf/7 : 31].

Menutupi aurat, sebagaimana firman Allah:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗاۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ [الاعراف: ٢٦] 

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.[Al A’raaf/7 : 26]

Melindungi tubuh dari terik panas dan dingin, sebagaimana firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ [النحل: ٨١] 

dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. [An Nahl/16: 81]

Pakaian yang Disyariatkan Allah untuk Anak Adam.
Allah Taala berfirman:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗاۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ [الاعراف: ٢٦] 

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.[Al A’raaf/7 : 26]

Allah Taala berfirman:

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ [الاعراف: ٣٢] 

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. [Al A’raaf/7 : 32]

Pakain yang Afdhal.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «البِسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ فَإنَّهَا خَيْرُ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوتَاكُمْ». أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Kenakanlah pakaian kalian yang berwarna putih, karena sesungguhnya itu pakaian kalian yang paling baik dan kafankan jenazah kalian dengannya ( kain berwarna putih )”. HR Abu Daud dan Ibnu Majah. [1]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كَان أَحَبُّ الثِّيَابِ إلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَلْبسَهَا الحِبَرَةُ. متفق عليه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu `anhu , ia berkata ,” Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  paling suka memakai pakaian Hibarah ( yaitu: pakaian yang terbuat dari katun dan bermotif ). Muttafaq alaih . [2]

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- القَمِيصَ. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Ummi Salamah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Pakaian yang paling disukai Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam adalah gamis”. HR Abu Daud dan Ibnu Majah. [3]

Posisi kain sarung/izar untuk pria dan wanita.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إزْرَةُ المُسْلِمِ إلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَلا حَرَجَ أَوْ لا جُنَاحَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الكَعْبَينِ، مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَينِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إزَارَهُ بَطَراً لَمْ يَنْظُرِ الله إلَيهِ».. أخرجه أبو داود وابن ماجه

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Sarung seorang muslim hingga pertengahan betis dan tidak mengapa (atau tidak berdosa) di antara pertengahan betis dan mata kaki, sedangkan di bawah mata kaki maka tempatnya adalah neraka, barangsiapa yang mengulurkan sarungnya karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya”. HR Abu Daud dan Ibnu Majah. [4]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ جَرَّ ثَوبَهُ خُيلاءَ لَمْ يَنْظُرِ الله إلَيهِ يَومَ القِيَامَةِ»، فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ: «يُرخِينَ شِبْرًا»، فَقَالَتْ: إذاً تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ، قَالَ: «فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعاً لا يَزِدْنَ عَلَيهِ». أخرجه الترمذي والنسائي.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Siapa yang mengulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat”, Ummu Salamah berkata : “Apa yang harus dilakukan perempuan dengan ujung abayanya?”, beliau bersabda : “Ulurkan sejengkal”, ia berkata : “Kalau begitu tapak kakinya akan tersingkap”, ia bersabda :  “Maka hendaklah ulurkan sehasta dan jangan ditambah”. HR Tarmizi dan Nasa’i. [5]

Ancaman untuk orang yang menjulurkan kainnya.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الإسْبَالُ فِي الإزَارِ وَالقَمِيصِ وَالعِمَامَةِ مَنْ جَرَّ مِنْهَا شَيئاً خُيَلاءَ لَمْ يَنْظُرِ الله إلَيهِ يَومَ القِيَامَةِ». أخرجه أبو داود والنسائي

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  “Mengulurkan sarung, gamis, sorban, siapa yang mengulurkannya karena sombong, di hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya”. HR Abu Daud dan Nasa’i. [6]

عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «ثَلاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ الله يَومَ القِيَامَةِ وَلا يَنْظُرُ إلَيهِمْ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ» قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- ثَلاثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: «المُسْبِلُ وَالمَنَّانُ وَالمُنَفِّقُ سِلعَتَهُ بِالحَلَفِ الكَاذِبِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Dzar Radhiyallahu `anhu , dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  “Tiga golongan yang tidak diajak Allah bicara di hari kiamat, Allah tidak melihat kepada mereka, tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih”, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengulanginya tiga kali, lalu Abu Dzar berkata : “Mereka adalah orang yang kecewa lagi merugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?”, ia bersabda:  “Orang yang menjulurkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang menyebut-nyebut sedekahnya, orang yang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah dusta”. HR. Muslim. [7]

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَينِ مِنَ الإزَارِ فَفِي النَّارِ». أخرجه البخاري

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  “Pakaian yang terjulur melebihi mata kaki maka tempatnya dalam neraka”. HR. Bukhari. [8]

Pakaian dan Hamparan yang Dilarang:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَلْبَسُوا الحَرِيرَ فَإنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الآخِرَةِ». متفق عليه.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Jangan kalian memakai sutera, karena siapa yang memakainya di dunia tidak akan memakainya di akhirat“. Muttafaq ’alaih. [9]

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «حُرِّمَ لِبَاسُ الحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لإنَاثِهِمْ». أخرجه الترمذي والنسائي.

Dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : pakaian sutera dan emas diharamkan kepada kaum pria umatku dan dihalalkan untuk kaum wanita“. HR Tarmizi dan Nasa’i. [10]

عن البراء رضي الله عنه قال: أَمَرَنَا النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ: عِيادَةِ المَرِيضِ، وَاتِّبَاعِ الجَنَائِزِ، وَتَشْمِيتِ العَاطِسِ، وَنَهَانَا عَنْ لُبْسِ الحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَالقَسِّيِّ وَالاسْتَبْرَقِ وَالمَيَاثِرِ الحُمْرِ. متفق عليه

Dari Baraa` bin `Azib Radhiyallahu `anhu, Ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan kami 7 perkara: menjenguk yang sakit, ikut menyelenggarakan jenazah, menjawab yang bersin … Dan melarang kami : memakai sutera, sutera yang kasar dan membuat pelana keledai dari sutera” Muttafaq ’alaih . [11]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا. قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاتٌ مَائِلاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المَائِلَةِ، لا يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ، وَلا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata,  “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Dua golongan penghuni Neraka yang belum saya temui: suatu kaum yang selalu membawa cemeti seperti ekor sapi untuk memukul orang, wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak ta’at, berjalan lenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium bau syurga padahal bau syurga tercium dari jarak sekian HR Muslim. [12]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: رَأَى رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَيَّ ثَوبَينِ مُعَصْفَرَينِ فَقَالَ: «إنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الكُفَّارِ فَلا تَلْبَسْهَا» أخرجه م

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash Radhiyallahu `anhu., ia berkata, “Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam melihatku memakai dua pakaian mu’ashfar ( diwarnai dengan sejenis tumbuh-tumbuhan yang bernama: ‘Ashfar ) , lalu ia bersabda :  “Sesungguhnya ini pakaian orang kafir, janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim. [13]

عن حذيفة رضي الله عنه قال: نَهَانَا النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ، وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا، وَعَنْ لُبْسِ الحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيهِ. أخرجه البخاري.

Dari Khuzaifah Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  melarang kami minum dari bejana emas dan perak dan menggunakannya untuk makan juga melarang kami memakai sutera dan kain tenun sutera serta duduk di atasnya”. HR. Bukhari. [14]

عن أبي المليح عن أبيه أن رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-  نهى عن جلود السباع. رواه أبو داود والترمذي.

Dari Abi Al Malih dari bapaknya, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  melarang (menggunakan) kulit binatang buas”. HR Abu Daud dan Tarmizi. [15]

Tidak boleh memakai pakaian yang bergambar salib , atau gambar yang bernyawa atau pakaian untuk dipuji.

Sikap Berjalan dan Berpakain yang Terlarang

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4061 dan Ibnu Majah no hadist : 1472.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5813 dan Muslim no hadist : 2079.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4025 dan Ibnu Majah no hadist : 3575.
[4] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4093 dan Ibnu Majah no hadist : 3573.
[5] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 1731 dan Nasa’i no hadist : 5336.
[6] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4094 dan Nasa’i no hadist : 5334.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 106.
[8] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5787.
[9] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5834 dan Muslim no hadist : 2069.
[10] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 1720 dan Nasa’i no hadist : 5265.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5849 dan Muslim no hadist : 2066.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 106.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2077.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2077.
[15] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4132 dan Tirmizi no hadist : 1770.