Author Archives: editor

Setelah Manusia Masuk Surga dan Masuk Neraka Tidak Ada Lagi Kematian

AHLUS SUNNAH MENGIMANI BAHWA SETELAH MANUSIA MASUK SURGA DAN MASUK NERAKA TIDAK ADA LAGI KEMATIAN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahlus Sunnah mengimani bahwa setelah manusia masuk Surga atau masuk Neraka tidak ada lagi kematian. Kematian adalah masalah maknawi yang tidak bisa dilihat dengan indera. Namun di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai sesuatu yang berbentuk kambing dan dapat dilihat oleh indera, kemudian disembelih di antara Surga dan Neraka, lalu dikatakan:

يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ.

“…Wahai penghuni Surga, kalian kekal (selamanya) dan tidak akan mati. (Demikian pula kepada penghuni Neraka), Wahai penghuni Neraka kalian kekal dan tidak akan mati.”[1]

Rangkaian peristiwa yang terjadi di akhirat, seperti hisab, pemberian pahala, siksaan, Surga, Neraka, dan rincian semua hal itu sudah disebutkan dalam kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, serta disebutkan dalam riwayat-riwayat yang diwariskan oleh para Nabi, sedangkan yang terkandung dalam Sunnah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini sudah cukup serta memadai. Siapa yang mencarinya (mempelajarinya), ia pasti akan mendapatkannya.[2]

Beriman kepada hari Akhir, yaitu hari dibangkitkannya semua makhluk dan apa yang terjadi padanya akan mengingatkan seorang Mukmin bahwa ia akan kembali kepada Allah, maka ia berusaha untuk melakukan amal yang terbaik dengan ikhlas dan ittiba’ didasari dengan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta menumbuhkan raja’ (harapan) kepada rahmat Allah dan khauf (takut) terhadap siksa Allah, dan selalu bertaubat dari segala dosa.

Allah Ta’ala menegaskan penyebutan tentang hari Akhir di dalam Kitab-Nya, mengulang-ulang penyebutannya di setiap tempat, mengingatkan atasnya dalam setiap saat dan menegaskan kejadiannya, banyak menyebutkannya, dan mengaitkan bahwa keimanan kepada hari Akhir berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah Ta’ala.

Dia Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur-an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Al-Baqarah/2: 4]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari, Kitaabut Tafsiir (no. 4730), dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu
[2] At-Tanbiihatul Lathiifah (hal. 74) dan Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (II/182). Bagi yang ingin membaca dengan lengkap silakan baca Shahiihul Bukhari: Kitaabur Riqaaq, Shahiih Muslim: Kitaabul Iimaan dari bab 80, Kitaabul Jannah dengan semua babnya, Sunan Abi Dawud: Kitaabus Sunnah dan Sunan at-Tirmidzi: Kitaab Shifaatil Qiyaamah dengan semua babnya, dan yang lainnya.

Sifat-Sifat Neraka(1)

SIFAT-SIFAT NERAKA

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Hidup serta mengurus makhluk sendirian-Nya, Yang kekal dan yang lain tidak kekal. Membentuk rupa bentuk-bentuk ini dengan kekuasaan-Nya kemudian mematikannya dan menghapus segala rupa. Kemudian meniup terompet maka tiba-tiba mayat menjadi bangkit. Maka satu golongan menuju negeri kenikmatan dan satu golongan menuju api neraka yang panas. Terbuka pintu-pintunya di wajah mereka, bagi setiap pintu darinya ada bagian yang sudah dibagi, dipajangkan terhadap mereka di tiang yang dipanjangkan padanya untuk kedukaan dan penderitaan, di hari yang mereka diliputi siksaan dari atas mereka dan dari bawah mereka maka mereka tidak dikasihi. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah subhanahu wata’ala saja, tiada sekutu bagi-Nya, persaksian orang yang mengharapkan keselamatan. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang dengan agamanya Allah subhanahu wata’ala membuka negeri Persia dan Romawi. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepadanya, keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka selama awan menurunkan hujan.

Saudaraku : Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita dalam Kitab-Nya dari api nereka dan mengabarkan tentang berbagai macam siksa-Nya yang membuat uluh hati terbelah dan hati meledak. Dia subhanahu wa ta’ala memperingatkan dan mengabarkan berbagai macam siksanya sebagai rahmat kepada kita agar bertambah hati-hati dan takut. Dengarkanlah ayat-ayat yang ada dalam Kitabullah dan sunnah rasul-Nya dari berbagai macam siksaannya agar kamu mengambil mengambil peringatan. Kembalilah kepada Rabb-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepadamu siksaan kemudian kamu tidak bisa ditolong lagi.

A. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Neraka dan berbagai jenis siksaannya
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴾ [ آل عمران : 131]

Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. [Ali Imran/3:131]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَلَٰسِلَاْ وَأَغۡلَٰلٗا وَسَعِيرًا﴾ [ الإنسان : 4]

Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. [al-Insaan/76:4]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ  ﴾ [ الكهف: 29]

Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.[al-Kahfi/18:29]

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, berkata kepada Iblis:

قال الله تعالي: ﴿ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ٤٢ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٤٣ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ  ﴾ [ الحجر : 42-44]

Kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu.Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. [al-Hijr/15:42-44]

قال الله تعالي: ﴿ وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا ﴾ [ الزمر : 71]

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan.Sehingga apabila mereka telah sampai ke neraka itu dibukakan pintu-pintunya. [Az-Zumar/39:71]

قال الله تعالي: ﴿ وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ٦ إِذَا أُلْقُوا فَيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِىَ تَفُورُ ٧ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَآ أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ ﴾ [ الملك: 6-8]

Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:”Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” [al-Mulk/67:6-8]

قال الله تعالي: ﴿ يَوۡمَ يَغۡشَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۡ وَيَقُولُ ذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴾ [ العنكبوت : 55]

Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka):”Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan”.[al-Ankabuut/29:55]

قال الله تعالي: ﴿ لَهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ظُلَلٞ مِّنَ ٱلنَّارِ وَمِن تَحۡتِهِمۡ ظُلَلٞۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ ﴾[ الزمر : 16]

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertaqwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. [az-Zumar/39:16]

قال الله تعالي: ﴿ وَأَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ ٤١ فِي سَمُومٖ وَحَمِيمٖ ٤٢ وَظِلّٖ مِّن يَحۡمُومٖ ٤٣ لَّا بَارِدٖ وَلَا كَرِيمٍ ﴾ [ الواقعة: 41-44]

Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. [al-Waqi’ah/56:41-44]

قال الله تعالي: ﴿ وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ ﴾[ التوبة : 81]

Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui. [at-Taubah/9:81]

قال الله تعالي: ﴿ وَمَاأَدْرَاكَ مَاهِيَهْ  ١٠ نَارٌحَامِيَةُ ﴾[ القارعة: 10-11]

Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu ? (yaitu) api yang sangat panas.[al-Qari’ah/101:10-11]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُجۡرِمِينَ فِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٖ ٤٧ يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِي ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ ذُوقُواْ مَسَّ سَقَرَ  ﴾[ القمر : 47-48]

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.  (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka):”Rasakanlah sentuhan api neraka”.[al-Qamar/54:47-48]

قال الله تعالي: ﴿ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧ لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ ٢٨ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴾[ المدثر : 27-29]

Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu . Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. [al-Mudatsir/74:27-29]

قال الله تعالي: ﴿ ياٰأيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ﴾[ التحريم : 6]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrim/66:6]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢ كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ  ﴾ [المرسلات : 32-33]

Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. [al-Mursalat/77:32-33]

قال الله تعالي: ﴿ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ يَوۡمَئِذٖ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ٤٩ سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٖ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴾ [ إبراهيم : 49-50]

Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka. [Ibrahim/14:49-50]

قال الله تعالي: ﴿ إِذِ اْلأَغْلاَلُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلاَسِلُ يُسْحَبُونَ ٧١ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ ﴾[ غافر : 71-72]

ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, [Ghafir/40:71-72]

قال الله تعالي: ﴿ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ ١٩ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ ٢٠ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ٢١ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا مِنۡ غَمٍّ أُعِيدُواْ فِيهَا وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ﴾[ الحج : 19-21]

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. [al-Hajj/22:19-21]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ  ﴾[ النساء : 56]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. [an-Nisaa/4:56]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ٤٣ طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ ٤٤ كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِي فِي ٱلۡبُطُونِ ٤٥ كَغَلۡيِ ٱلۡحَمِيمِ ﴾[ الدخان: 43-46]

Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.[ad-Dukhan/44:43-46]

Dan Allah subhanahu wa ta’ala tentang pohon tersebut:

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ٦٤ طَلۡعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَٰطِينِ ﴾[ الصفات : 64-65]

Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. [ash-Shafaat/37: 64-65]

قال الله تعالي: ﴿ ثُمَّ إِنَّكُمۡ أَيُّهَا ٱلضَّآلُّونَ ٱلۡمُكَذِّبُونَ ٥١ لَأٓكِلُونَ مِن شَجَرٖ مِّن زَقُّومٖ ٥٢ فَمَالِ‍ُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ٥٣ فَشَٰرِبُونَ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡحَمِيمِ ٥٤ فَشَٰرِبُونَ شُرۡبَ ٱلۡهِيمِ ٥٥ هَٰذَا نُزُلُهُمۡ يَوۡمَ ٱلدِّينِ ﴾[ الواقعة: 51-56]

Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas  Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan”. [al-Waqi’ah/56:51-56]

قال الله تعالي: ﴿ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴾ [ الكهف : 29]

Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. [al-Kahf/18:29]

قال الله تعالي: ﴿ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ ﴾ [ محمد : 15]

Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. [Muhammad/47:15]

قال الله تعالي: ﴿ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ١٦ يَتَجَرَّعُهُۥ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ وَمِن وَرَآئِهِۦ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴾[ إبراهيم : 1617]

Dihadapannya ada jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan dihadapannya masih ada azab yang berat. [Ibrahim/14:16-17]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُجۡرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ٧٤ لَا يُفَتَّرُ عَنۡهُمۡ وَهُمۡ فِيهِ مُبۡلِسُونَ ٧٥ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ وَلَٰكِن كَانُواْ هُمُ ٱلظَّٰلِمِينَ ٧٦ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ ﴾[ الزخرف : 74-77]

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa. Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka berseru:”Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab:”Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”.[az-Zukhruf/43:74-77]

قال الله تعالي: ﴿مَّأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ كُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَٰهُمۡ سَعِيرٗ ﴾[ الاسراء: 97]

Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. [al-Isra/17:97]

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَظَلَمُواْ لَمۡ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغۡفِرَ لَهُمۡ وَلَا لِيَهۡدِيَهُمۡ طَرِيقًا ١٦٨ إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴾ [ النساء : 168-169]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian adalah mudah bagi Allah. [an-Nisa/4:168-169]

قال الله تعالي: ﴿ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴾ [ الجن : 23]

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. [al-Jin/72:23]

قال الله تعالي: ﴿ وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحُطَمَةُ ٥ نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ ٦ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ ٧ إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ ٨ فيِ عَمَدِِ مُّمَدَّدَةٍ ﴾ [ الهمزة : 5-9]

Dan tahukah kamu apa Huthamah itu  (yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.[al-Humazah/104:5-9]

Dan ayat-ayat yang menggambarkan neraka dan berbagai jenis siksaannya yang pedih sangat banyak

B. Hadits-hadits yang menggambarkan Neraka dan berbagai jenis siksaannya

[Disalin dari وصف النار (Dinukil dari buku Majalis Ramadhan) Penulis : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,  Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Sifat-Sifat Neraka(2)

SIFAT-SIFAT NERAKA

B. Hadits-hadits yang menggambarkan Neraka dan berbagai jenis siksaannya
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( يؤتى بالنار يومَ القِيامةِ، لَها سَبعونَ أَلفَ زِمامٍ، مَع كلِّ زمامٍ سَبعونَ أَلفَ مَلَكٍ يَجرُّونَها )) [ رواه مسلم ]

Neraka dibawa pada hari kiamat, baginya ada seribu tali kekang, bersama setiap tali kekang ada tujuh puluh malaikat yang menyeretnya.” HR. Muslim.[1]

Dalam Shahihaian, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( نَارُكُمْ هَذِهِ ما يُوقِدُ بَنُو آدَمَ جُزْءٌ وَاحِدٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ “، قالوا: يا رسول الله إنها لكافية؟ قال:  إِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا )) [ متفق عليه

Api kamu ini yang dinyalakan oleh manusia adalah satu baginya dan tujuh puluh bagian dari neraka jahanam.’ Mereka bertanya: ‘Ya Rasulullah, sesunggunya ia sudah mencukupi.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dilebihkan atasnya dengan enam puluh sembilan baginya, semuanya setara panasnya.” Muttafaqun ‘alaih. [2]

Dan darinya, kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kami mendengar suara. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Tahukah kamu, apakah ini? Kami menjawab: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Beliau Shallallahu ‘alaihim bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( هَذَا حَجَرٌ أرسله الله في جهنم مُنْذُ سبْعِينَ خَرِيفًا (يعني سبعين سنة) فالآن حين انتهى إلى قَعْرِهَا )) [ رواه مسلم ]

Ini adalah batu yang dikirim oleh Allah subhanahu wa ta’ala di neraka jahanam sejak tujuh puluh tahun, sekarang telah sampai ke dasarnya.” HR. Muslim. [3]

Dari Utban bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu dan ia sedang berkhutbah: “Telah disebutkan kepada kami bahwa batu yang dilempar dari tepi Jahanam lalu jatuh padanya tujuh puluh tahun, tidak sampai ke dasar. Demi Allah, ia akan dipenuhi, apakah kamu merasa heran?’ HR. Muslim.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لَوْ أنَّ قطْرةً من الزَّقُّومِ قَطَرَتْ في دار الدُّنْيَا لأفْسَدَتْ على أهلِ الدنيا مَعَايِشَهُمْ)) [رواه النسائي والترمي وابن ماجة]

Jikalau setetes dari buah zaqum menetes didunia, niscaya ia merusak kehidupan seluruh penghidupan penduduk dunia.”HR. an-Nasa`i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. [4]

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إنَّ أهْوَنَ أهل النارِ عذاباً مَنْ لَهُ نَعْلانِ وشِرَاكانِ من نارٍ يَغلي منهما دماغُه كما يغلي المِرْجَل ما يَرَى أنَّ أحداً أشدُّ منهُ عَذَاباً وإنَّهُ لأهْونُهمْ عذاب )) [رواه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaan adalah orang yang mempunyai dua sendal dan dua talinya dari api yang mendidih dari keduanya otaknya, sebagaimana mendidih periuk, ia tidak melihat ada orang yang lebih berat siksaan darinya, dan sesungguhnya ia adalah yang paling ringan siksaan.”HR.Muslim dan al-Bukhari yang semisalnya. [5]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ؤتَى بأنْعَم أهل الدنيا مِنْ أهل النار فيُصْبَغُ في النارِ صَبْغَةً ثم يُقَال: يا ابنَ آدمَ هل رأيتَ خيراً قطُّ هل مَرَّ بكَ نعيمٌ قط؟ فيقولُ لا والله يا ربِّ، ويؤْتَى بأشَدِّ الناسِ بؤساً في الدنيا مِنْ أهل الجنة فيصبغُ صبغةً في الجنة فيقال: يا ابن آدمَ هل رأيتَ بؤساً قط؟ هل مَرَّ بك من شدة قط؟ فيقولُ: لا والله يا ربِّ ما رأيتُ بؤساً ولا مرّ بِي مِنْ شدةٍ قط)) [رواه مسلم]

Didatangkan orang yang paling nikmat di dunia dari penghuni neraka, lalu direndam di neraka satu kali, kemudian dikatakan: Wahai anak Adam (manusia), apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan? Ia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku. Dan didatangkan penduduk dunia yang paling menderita dari penghuni surga, lalu dicelup di surga, dikatakan kepadanya: Wahai anak Adam (manusia), apakah engkau pernah merasakan kesusahan? Apakah engkau pernah merasakan kepahitan hidup? Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku, aku tidak pernah melihat kesusahan dan tidak pernah melewat kepahitan hidup.’ HR. Muslim. [6]

Maksudnya bahwa penghuni neraka lupa segala nikmat yang pernah mereka rasakan di dunia, dan penghuni surga lupa terhadap segala kesusahan yang pernah mereka rasakan semasa di dunia. Dan darinya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يقالُ للرجلِ من أهلِ النارِ يومَ القيامَةِ : أرأَيْتَ لو كان لكَ ما على الأرضِ من شيءٍ أكنتَ مفتديًا بِه؟ قال: فيقول: نعم. قال: فيقول: قدْ أردْتُّ منكَ ما هو أهونَ من ذلِكَ، قد أخذتُ عليكَ في ظهرِ آدمَ أن لَّا تُشرِكَ بي شيئًا فأبيتَ إلَّا أنْ تُشْرِكَ بي  )) [رواه أحمد]

“Dikatakan kepada seorang laki-laki dari penghuni neraka di hari kiamat: ‘Bagaimana pendapatmu jika engkau untukmu apa yang ada di muka bumi, apakah engkau ingin menebusnya? Ia menjawab: Ya.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Sungguh Aku telah menghendaki darimu yang lebih mudah dari hal itu, Aku telah mengambil perjanjian terhadapmu (saat engkau beradhiyallahu ‘anhua) di belakang (sulbi) Adam ‘alahissalam bahwa engkau jangan menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka engkau enggan kecuali menyekutukan denganku.” HR. Ahmad, dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim semisalnya. [7]

Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ya’la bin Munyah, ibnu Umayyah, Munyah adalah nama ibunya, ia berkata: ‘Allah memunculkan awan untuk penghuni neraka, apabila muncul atas mereka, Dia memanggil mereka: Wahai penghuni neraka, apa yang kamu tuntut? Apakah yang kamu minta? Maka mereka teringat dengannya awan-awan di dunia dan air yang turun kepada mereka. Mereka berkata: ‘Kami memohon minuman, ya Rabb. Lalu Dia menurunkan belenggu sebagai tambahan pada belenggu mereka dan rantai-rantai sebagai tambahan pada rantai mereka, dan bara api yang menyakan api terhadap mereka.’

Dan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَقَاطِعُ رَحِمٍ وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ وَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَهْرِ الْغُوطَةِ “. قيل: وَمَا نَهْرُ الْغُوطَةِ؟ قال: ” نَهْرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِمْ)) [ رواه أحمد ]

Ada tidak golongan yang tidak masuk surga: terus menerus minum arak, memutuskan hubungan silaturrahim, dan mempercayai sihir. Dan siapa yang mati sebagai pecandu minuman keras niscaya Allah Azza wa Jalla menuanginya dari sungai ghuthah.’ Ada yang bertanya: Apakah sungai ghuthah itu? Beliau menjawab: ‘Sungai yang mengalir dari kemaluan wanita pelacur  yang bau busuk kemaluan mereka menyakiti penghuni neraka.” [8]

Dan dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِيْنَةِ الْخَبَالِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا طِيْنَةُ الْخَبَالِ؟، قَالَ: عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ.)) [ رواه مسلم ]

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berjanji untuk orang yang meneguk minuman keras akan meminumi dia dari thinatul khabal.’ Mereka bertanya: ‘Apakah thinatul khabal itu? Beliau menjawab: ‘Yaitu keringatnya penghuni neraka atau  perasan penghuni neraka.[9]

Dalam Shahihain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( يقال لليهود والنصارى:مَاذَا تَبْغُونَ؟ فَيَقُولُونَ: عَطِشْنَا يَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا. فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ: أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ )) [ متفق عليه ]

Dikatakan kepada  Yahudi dan Nashrani: ‘Apakah kamu inginkan? Mereka menjawab: ‘Kami kehausan, wahai Rabb, berilah kami minuman.’ Maka mereka diberi isyarat: ‘Apakah kamu mau datang (ke sini).’ Maka mereka digiring menuju neraka Jahanam. Seolah-olah fatamorgana (bayang-bayang) saling menghancurkan satu sama lain, lalu mereka berjatuhan di neraka.”Muttafaqun ‘alaih.[10]

Hasan berkata: Bagaimana sangkaanmu terhadap suatu kaum yang berdiri di atas kaki mereka selama lima ratus tahun, tidak makan sedikitpun, tidak minum sedikitpun, sehingga terputus leher mereka karena kehausan dan terbakar rongga mereka karena kelaparan. Kemudian mereka dipalingkan ke neraka, lalu diberi minum dari mata air panas, telah mencapai puncak panasnya dan sangat mendidih.

Ibnul Jauzi berkata dalam menggambarkan neraka : Satu negeri yang penghuni ditentukan dengan jauh, dihalangi kenikmatan harapan dan keberuntungan. Diganti cahaya muka mereka dengan warna hitam. Dipukul dengan gada yang lebih kuat dari gunung. Atasnya ada malaikat yang keras lagi kasar, Jikalau engkau melihat mereka di neraka hamim menyisir. Di atas api mereka dilempar, maka duka cita kekal, mereka tidak pernah senang. Kedudukan mereka sudah terpatri untuk selama-lamanya. Atasnya ada malaikat yang keras lagi kasar, mereka menangis karena telah menyia-nyiakan waktu muda. Setiap kali datang bertambalah penderitaan, di atasnya ada malaikat yang keras lagi kasar. Alangkah ruginya mereka karena kemurkaan Yang Maha Pencipta. Alangkah menderitanya mereka karena besarnya siksaan. Alangkah malunya mereka di antara semua makhluk, di hadapan semua saksi. Di manakah keuntungan mereka untuk keruntuhan? Di manakah usaha mereka di dalam dosa. Seakan-akan ia adalah buaian dalam mimpi, kemudian tubuh-tubuh itu dibakar. Setiap dibakar dikembalikan seperti semula. Di atasnya ada malaikat yang keras lagi kasar.

Ya Allah, selamatkanlah kami dari siksa neraka. Lindungilah kami dari negeri kehinaan dan kenistaan. Tempatkanlah kami dengan rahmat-Mu di negeri orang-orang bertaqwa yang berbakti. Ampunilah kami, kedua orang tua kami dan semua kaum muslimin, dengan rahmat-Mu wahai Yang Paling Pengasih dari orang-orang yang pengasih. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari وصف النار (Dinukil dari buku Majalis Ramadhan) Penulis : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,  Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim 2842 dan at-Tirmidzi 2573.
[2] HR. Al-Bukhari 3092, Muslim 2842, at-Tirmizi 2589, Ahmad 2/313, Malik 1872, dan ad-Darimi 2947.
[3] HR. Muslim 2844 dan Ahmad 2/371.
[4] HR. At-Tirmidzi 2585, Ibnu Majah 4325 dan Ahmad 1/301, dan dikeluarkan oleh al-Hakim dan ia berkata : Shahih menurut syarat Shahihain.
[5] HR. Al-Bukhari 6194, Muslim 213, at-Tirmidzi 2604, dan Ahmad 4/271.
[6] HR. Muslim 2807 dan Ahmad 3/203.
[7] HR. Al-Bukhari 3156, Muslim 2805, dan Ahmad 3/127.
[8] HR. Ahmad 4/399 dan dishahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[9] HR. Muslim 2002, an-Nasa`i 5709, dan Ahmad 3/361.
[10] HR. Muslim 183.

Sekilas Surga dan Neraka

SEKILAS SURGA DAN NERAKA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Manusia diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dengan diberi anugerah nikmat dunia dan agama. Nikmat dunia antara lain dengan diberikan kelengkapan anggota tubuh, sedangkan nikmat agama yaitu dengan diberikan penjelasan tentang jalan kebaikan dan jalan keburukan melalui para rasul. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ ﴿٨﴾ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ ﴿٩﴾ وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, satu lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [Al-Balad/90: 8-10]

Yang dimaksud dengan dua jalan yaitu jalan kebaikan yang akan menghantarkan menuju surga, dan jalan kejahatan yang akan menghantarkan menuju neraka.

Di dalam tulisan ini insya Allâh akan kami sampaikan beberapa point tentang surga dan neraka. Semoga naskah singkat ini bisa menggugah semangat kita untuk selalu meningkatkan ketaatan kita kepada Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi kemaksiatan.

Calon Penghuni Neraka Dan Surga
Penghuni neraka adalah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir-Nya.

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ ﴿٧١﴾ قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya, dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang), tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. [Az-Zumar/39: 71-72]

Adapun penghuni surga adalah orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ ﴿٧٣﴾ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:”Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allâh yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. [Az-Zumar/39: 73-74]

Sesungguhnya perkara ini sangat penting, oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mengumumkannya di hadapan orang banyak di berbagai kesempatan.

عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَنَادَى أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Dari Ka’b bin Mâlik, dari bapaknya, dia memberitakan kepadanya bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya dan Aus bin al-Hadatsan pada hari-hari tasyriq, lalu dia berseru: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Mukmin”. [HR. Muslim, no. 1142]

Sekilas Tentang Kenikmatan Surga Dan Siksaan Neraka
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا ﴿٥٦﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. [An-Nisâ’/4: 56-57]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ ﴿١٩﴾ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ ﴿٢٠﴾ وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ ﴿٢١﴾ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ ﴿٢٢﴾ إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ ﴿٢٣﴾ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

Inilah dua golongan yang bertengkar (golongan mu’min dan golongan kafir), mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan):”Rasailah azab yang membakar ini”. Sesungguhnya Allâh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. [Al-Hajj/22: 19 – 24]

Mohon Kepada Allâh Agar Masuk Surga, dan Selamat dari Neraka
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan keutamaan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka dengan 3 kali doa.

مَا سَأَلَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ ثَلَاثًا إِلَّا قَالَتْ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَلَا اسْتَجَارَ مِنْ النَّارِ مُسْتَجِيرٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا قَالَتْ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنْ النَّارِ

Tidaklah seorang Muslim memohon surga kepada Allâh 3 kali, kecuali surga berkata, “Wahai Allâh, masukkan dia ke dalam surga”. Dan tidaklah seseorang yang meminta perlindungan meminta perlindungan dari neraka 3 kali, kecuali neraka berkata, “Wahai Allâh, lindungilah dia dari neraka”. [HR. Ahmad, no. 12585. Semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasâ’i, Ibnu Mâjah, Ibnu Hibbân, al-Hâkim, Dhiyâ’ al-Maqdisi, dll. Dishahihkan oleh al-Hâkim, adz-Dzahabi, al-Albani, Syu’aib al-Arnauth, dll. Lihat Shahîh at-Targhîb, no. 3654]

Nabi dan Sahabat Memohon Surga dan Berlindung Dari Neraka
Mohon surga dan berlindung dari neraka merupakan permohonan Nabi dan para Shahabatnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ مَا تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنَ النَّارِ أَمَا وَاللَّهِ مَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ فَقَالَ حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang lelaki, “Apa yang engkau katakan di dalam shalat?” Dia menjawab: “Aku bertasyahud, lalu aku mohon sorga kepada Allâh Azza wa Jalla dan aku berlindung kepada-Nya dari neraka. Demi Allâh, aku tidak tahu apa permintaanmu dan permintaan Mu’adz”. Maka beliau bersabda: “Seputar itu kami memohon”. [HR. Abu Dawud; Ibnu Mâjah, no: 910, 3847; dishahihkan al-Albani di dalam Shifatush Shalah, hlm. 185, cet:1, Maktabah Al-Ma’arif]

Sesungguhnya keyakinan terhadap adanya surga akan mendorong orang yang meyakininya untuk melakukan ketaatan, dan keyakinan adanya neraka akan menjauhkan dari kemaksiatan. Marilah kita perhatikan keberanian Shahabat Nabi di bawah ini disebabkan keyakinannya jika mati akan masuk surga yang kekal abadi.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي رَجُلٌ أَسْوَدَ مُنْتِنُ الرِّيْحِ قَبِيْحُ الْوَجْهِ لاَ مَالَ لِيْ فَإِنْ أَنَا قَاتَلْتُ هَؤُلَاءِ حَتَّى أُقْتَلَ فَأَيْنَ أَنَا؟ قَالَ : فِي الْجَنَّةِ فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ قَدْ بَيَّضَ اللهُ وَجْهَكَ وَ طَيَّبَ رِيْحَكَ وَ أَكْثَرَ مَالَكَ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa seorang laki-laki hitam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh, aku adalah seorang laki-laki hitam, berbau busuk, buruk wajah, dan aku tidak punya harta. Jika aku memerangi mereka (musuh dalam peperangan-pen) sampai aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Di surga”. Maka laki-laki itu memerangi musuh sampai terbunuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya lalu bersabda, “Allâh telah memutihkan wajahmu, mewangikan baumu, dan memperbanyak hartamu”. [HR. Al-Hâkim di dalam al-Mustadrak, no. 2463, dan dia menshahihkannya 1381]

Inilah naskah singkat tentang surga dan neraka. Semoga ini bisa menggugah semangat kita untuk meningkatkan ketaqwaan, dan semoga Allâh selalu memberikan petunjuk kepada semua untuk meniti jalanNya yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Balasan Selaras Dengan Amal Perbuatan

BALASAN SELARAS DENGAN AMAL PERBUATAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Ada begitu banyak penjelasan yang datang baik dari ayat-ayat suci yang mulia serta hadits-hadits nabawai, yang menyebutkan tentang ganjaran bagi orang-orang muhsin yang (berbuat baik) serta balasan bagi para pendosa, sebagai bentuk motivasi untuk memacu kita didalam memperbanyak amal sholeh dan menakut-nakuti supaya kita menjauh dari amal perbuatan buruk. Dan itu selaras dengan kaidah ‘Balasan sesuai dengan amalannya’. Seperti yang ditegaskan oleh Allah tabaraka wa ta’ala dalam firman -Nya:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ [ الرحمن: 60]

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. [ar-Rahman/55: 60].

Dan sebagaimana yang  Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam ayat lainnya:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا ١٢٥ قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى  [ طه: 124-126]

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan -Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Ia pun berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. [Thaahaa/20: 124-126].

Sedangkan penjelasan dalam hadits-hadits nabawi, itu juga sangat banyak, diantaranya ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » [أخرجه مسلم]

Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhan dirinya. Barangsiapa yang mengangkat kesusahan seorang muslim maka Allah akan mengangkat darinya kesulitan dari kesulitan yang ada kelak para hari kiamat. Dan bagi siapa yang menutup (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat“. HR Muslim no: 2580.

Dan bagi siapa pun yang membela kehormatan seorang muslim, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membalas dengan menjauhkan dirinya dari siksa neraka kelak pada hari kiamat.

Berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ, رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa yang menjaga kehormatan seorang muslim, maka Allah akan menjaganya dari api neraka kelak pada hari kiamat“. HR Ahmad 45/528 no: 27543.

Barangsiapa menjadi pemimpin dan mengurusi urusannya kaum muslimin lantas dirinya mempersulit mereka didalam ururannya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla pun akan menjadikan sulit penghidupannya.  Dan bagi siapa yang berlaku lembut kepada mereka maka Allah Shubhanahu wa ta’alla juga akan berlaku lembut pada dirinya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ  [أخرجه مسلم]

Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu dirinya mempersulit atas mereka, maka persulitlah urusannya. Dan bagi siapa yang mengurusi urusan umatku lalu dirinya berlaku lembut pada mereka maka sayangilah dirinya“. HR Muslim no: 1828.

Barangsiapa kalangan pemimpin yang menutupi kebutuhan orang miskin dan butuh, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memenuhi hajat dan kebutuhannya. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Amr bin Murah, bahwasannya beliau berkata pada Mu’awiyah, “Wahai Mu’awiyah! Sesungguhnya aku pernah mendengar dari Rasulalah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ إِمَامٍ أَوْ وَالٍ يُغْلِقُ بَابَهُ دُونَ ذَوِي الْحَاجَةِ وَالْخَلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ إِلَّا أَغْلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَمَسْكَنَتِهِ. قَالَ: فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ » [أخرجه أحمد]

Tidaklah ada seorang penguasa yang menutup (mata) enggan memenuhi kebutuhan orang miskin, fakir dan papa niscaya Allah akan menutup pintu langit baginya, kecuali bagi orang miskin, fakir dan butuh“. Mendengar itu maka Mu’awiyah langsung mengambil pegawai yang mengurusi kebutuhan manusia”. HR Ahmad 29/565 no: 18033.

Dan bagi siapa yang menginfakan hartanya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menggantinya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits Qudsi, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ » [أخرجه البخارى ومسلم]

Allah ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak padamu“. HR Bukhari no: 4684. Muslim no: 993.

Demikian pula bagi siapa yang kikir mengeluarkan hartanya sesuai dengan kewajiban yang Allah Shubhanahu wa ta’alla bebankan padanya untuk memenuhi hak-hak orang lain. Niscaya -Dia akan memusnahkan hartanya dan mencabut barokahnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخارى ومسلم]

Tidaklah pagi hari menyapa seorang hamba melainkan ada dua malaikat yang turun padanya. Lalu salah seorang diantara keduanya berdo’a, “Ya Allah, gantilah harta orang yang berinfak”. Dan yang satunya lagi berdo’a, “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang enggan berinfak“. HR Bukhari no:1442,  Muslim no: 1010.

Dan barangsiapa mengingat Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam hatinya maka -Dia pun akan mengingat ia dalam Dirinya. Dan bagi siapa yang menyebut -Nya di majelis yang banyak orangnya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menyebut dirinya di majelis yang lebih baik dari majelis mereka. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ » [أخرجه البخري ومسلم]

“Allah azza wa jalla berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada Ku, dan Aku bersama dirinya manakala ia menyebut namaKu, dan jika dirinya menyebutKu didalam hatinya niscaya aku akan menyebutnya didalam DiriKu, dan apabila dia menyebutKu di sebuah majelis niscaya Aku akan menyebut dirinya di majelis yang lebih baik dari majelisnya mereka“. HR Bukhari no: 7405. Muslim no: 2675.

Barangsiapa yang membangun masjid niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membangunkan baginya istana di surga. Hal itu, berdasarkan haditsnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ » [أخرجه مسلم]

Barangsiapa membangun masjid (di dunia) dengan ikhlas karena Allah niscaya Allah akan membangunkan baginya yang semisal di dalam surga“. HR Muslim no: 533.

Begitu pula bagi siapa yang memata-matai auratnya kaum muslimin niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membuka auratnya bahkan menyibaknya walaupun dia berada didalam rumahnya. Berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه أحمد]

Duhai orang-orang beriman yang (hanya) dengan lisannya dan tidak masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian saling mengunjing sesama muslim, tidak pula mengikuti auratnya mereka. Karena seungguhnya, bagi siapa yang mengikuti auratnya mereka, Allah akan membuka auratnya, dan bagi siapa yang dibuka auratnya oleh Allah niscaya Allah akan memperlihatkan kejelekannya pada orang banyak “. HR Ahmad 20/33 no: 19776.

Sebagian ulama salaf menuturkan, “Aku pernah berjumpa dengan suatu kaum yang tidak memilik aib sedikitpun, namun, celakanya mereka selalu menyebut-yebut aib orang lain. Maka manusia pun menyebut-nyebut aib mereka. Kemudian akan berjumpa dengan suatu kaum yang aku dapati banyak mempunyai aib, namun, mereka menahan lisannya dari membicarakan kejelekan manusia. Maka orang pun melupakan kejelekan mereka … atau semisal dengan ucapan beliau”.[1]

Imam Syafi’i mengatakan dalam bait syairnya:
Duhai penyibak kehormatan orang dan mengikuti
Keburukan mereka, sadarlah dirimu hidup dalam kehinaan
Jika seandainya engkau bebas dari penghambaan Maha Mulia
Niscaya engkau tidak menyibak kehormatan muslim
Siapa yang berzina dengan wanita lain dengan upah seribu dirham
Niscaya orang lain akan menzinai keluarganya dengan setengah dirham
Sungguh zina adalah hutang jika engkau menangguhkan
Pasti pemiliknya akan menagih untuk menyerahkan keluargamu. Camkanlah

Dan barangsiapa menenggak miras di dunia maka diharamkan baginya minuman keras diakhirat kelak.

Hal itu berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa meminum khamr di dunia niscaya dirinya tidak akan pernah merasakannya di akhirat kelak, sampai sekiranya dia bertaubat darinya“. HR Ahmad 8/354 no: 4729.

Barangsiapa menyiksa orang lain di dunia niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menyiksanya kelak pada hari kiamat.  Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Hisyam bin Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, “Aku pernah mendengar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِى الدُّنْيَا » [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain ketika dulu di dunia“. HR Muslim no: 2613.

Sehingga suatu perkara pasti yang sangat jelas bagi kita kalau balasan itu sesuai dengan amal perbuatannya. Seperti kabar gembira yang diberitakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada istri tercintanya Khadijah, ibunda mukminin radhiyallahu ‘anha. Yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata padanya, “Wahai Rasulallah, inilah Khadijah, dirinya telah datang, bersamanya ada bejana yang berisi daging atau makanan, atau minuman. Apabila dirinya datang padamu sampaikan salam keselamatan padanya dari Allah Shubhanahu wa ta’alla dan diriku. Dan berilah kabar gembira, baginya surga dari emas dan perak, tidak bising tidak pula lelah didalamnya”.  HR Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432.

Penjelasan hadits, yang dimaksud dengan Shakhibu ialah suara-suara keras lagi bising. An-Nashab artinya capai, lelah. As-Suhaili menjelaskan kenapa di tiadakan dua sifat ini pada istana yang ditempatinya kelak disurga, yakni suara bising dan capai, “Bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam manakala mengajak memenuhi panggilan Islam, dirinya bersegera untuk menerimanya dalam keadaan rela, tidak dibarengi dengan mengangkat suara tidak pula sampai mendebat dan membikin letih dirinya. Bahkan, dirinya menghilangkan segala kesedihan yang menimpa suaminya, menentramkan hatinya dari segala kegalauan, dan membantu demi memudahkan kesulitan yang dihadapinya. Sehingga pantas sekali bila dijadikan istananya kelak disurga seperti yang di kabarkan oleh Rabbnya melalui perantara utusan -Nya dengan sifat yang sesuai dengan perbuatannya”. [2]

Lihat pada Ja’far bin Abi Thalib tatkala dirinya mati syahid pada peperangan Uhud, dirinya terpotong tangannya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengganti tangannya dengan sayap sehingga dirinya bisa terbang di surga bersama para malaikat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رأيت جعفر بن أبي طالب مع جبريل و ميكائيل له جناحين » [أخرجه الحاكم]

Aku melihat Ja’far bin Abi Thalib sedang terbang bersama Jibril dan Mikail, dirinya mempunyai dua sayap“. HR al-Hakim 4/218 no: 4988. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 3/226 no: 1226.

Diantara perkara masyhur dalam hikayah yang menyebar di kalangan banyak orang apa yang terjadi, bagi orang yang berbakti pada kedua orang tuanya atau yang durhaka pada keduanya, maka hal tersebut adalah nyata dalam kehidupan yang bisa dilihat dan disaksikan oleh banyak orang, yakni bagi siapa yang berbakti pada kedua orang tuanya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla memberinya rizki dengan anak-anak yang berbakti pada dirinya ketika masih hidup.

Demikian pula kebalikannya bagi orang yang durhaka pada orang tuanya, dan diantara kisah dalam hal ini ialah seperti dikisahkan, : Bahwa ada seseorang yang mempunyai anak-anak yang berbakti padanya, jika mereka datang untuk mengambil air di sumur maka mereka membawa serta ayahnya yang sudah sangat tua demi menyenangkan orang tuanya. Apabila mereka telah sampai di sumur, mereka menurunkan ayahnya dengan penuh kelembutan dari atas onta lantas mereka menaruh ditempat yang sudah mereka persiapkan, setelah itu mereka membikin api unggun untuk menghangatkan tubuhnya lalu membikinkan minuman hangat baginya.

Pada suatu ketika mereka melihat di dekat sumur ada orang tua dan dua anaknya yang sedang mengambil air ke dalam sumur, seperti di ketahui sumur zaman dahulu, jika ada dua orang yang ingin mengambil air maka salah satunya harus ada yang turun dengan susah payah untuk mengambil air, lalu yang satunya lagi menunggu diatas, akan tetapi, anaknya yang satu menyuruh ayahnya yang turun ke dalam sumur dan di janjikan akan dibikinkan kopi hangat, kemudian ayahnya pun enggan menuruti kemauan anaknya dan menyuruh anaknya saja yang turun, namun, usahanya tidak berhasil, akhirnya dengan terpaksa dia pun turun.

Melihat kejadian tersebut maka anak yang berbakti pada orang tuanya tadi bangun beramai-ramai menawarkan bantuan, akan tetapi, anak orang tua tadi menolaknya dengan keras. Lalu ayahnya mereka mengatakan, “Jika seandainya kalian gali di sekitar tempat kalian duduk ini niscaya kalian akan mendapati bekas api yang dulu aku buat untuk orang tuaku. Sungguh diriku telah mendapat karunia bakti kalian dengan sebab apa yang aku lakukan dahulu pada orang tuaku. Adapun orang tua itu, sungguh aku telah menyaksikan dia memperlakukan orang tuanya sama seperti perlakuan kedua anaknya sekarang ini”. Balasan sesuai dengan amal perbuatan.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الجزاء من جنس العمل وكما تدين تدان Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Syarh Mandhumah al-Adaab Syar’iyah, al-Hajawi hal: 176.
[2] Fathul Bari 7/138.

Fadhilah Amal Shaleh

FADHILAH AMAL SHALEH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanhu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sudah sepantasnya jika seorang mukmin memiliki perhatian lebih untuk memperbanyak amal shaleh, karena umur seseorang sangatlah sedikit sedangkan kematian semakin mendekat, dan anak Adam tidak tahu kapan ajal akan datang padanya. Dan ketika hari kiamat semuanya hanya ditimbang sesuai amalan, Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ [الأعراف : 8]

“Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.  [al-A’raaf/7: 8].

Dan tiap orang akan memetik amalan ketika dulu didunia, Allah ta’ala telah menyinggung hal tersebut dalam firman-Nya:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ [التوبة: 105]

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul -Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu”.  [at-Taubah/9: 105].

Sehingga Allah Shubhanhu wa ta’alla memerintahkan kita untuk memperbanyak amal sholeh, seperti salah satunya yang tercantum dalam firman -Nya:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ [ هود: 114]

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”. [Huud/11: 114].

Fadhilah Amal Shaleh.
Pertama: Akan membuat hidup didunia menjadi indah dan meraih kebahagian diakhirat.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Shubhanhu wa ta’alla dengan jelas dalam firman-Nya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [النحل: 97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. [an-Nahl/16: 97].

Dalam kesempatan lain, Allah azza wa jalla berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ [البروج: 11]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar”.  [al-Buruj/: 11].

Kemenangan yang besar itu ditafsirkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ » أخرجه البخاري ومسلم

“Allah ta’ala berfirman: ‘Aku telah persiapkan bagi hamba-hambaKu yang shaleh, sesuatu yang belum pernah terlihat oleh penglihatan, belum pernah terdengar oleh pendengaran, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, bacalah kalau kalian mau:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [السجدة: 17]

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”. (as-Sajdah/32: 17). HR Bukhari no: 3244. Muslim no: 2724.

Kedua: Akan menghilangkan kekhawatiran serta ketakutan.
Kalau sekiranya manusia pada zaman ini mengetahui obat terbaik untuk mengatasi kegundahan, depresi, problematika, serta segala masalah keluarga, pada amal shaleh yang bisa menjadikan lapang dada, hati terasa nikmat, tentu mereka akan mencukupkan diri dengannya untuk tidak berobat kerumah sakit dan pengobatan jiwa, dan bila mereka mau menekuninya pasti dijamin keadaan mereka berubah menjadi lebih baik, dan dijadikan lancar urusannya.

Ketiga: Sebagai faktor kecintaan Allah atas mereka.
Berdasarkan penegasan Allah yang ada dalam firmanNya:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا[مريم: 96]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. [Maryam/19: 96].

Maksudnya dijadikan rasa kasih sayang didalam hati para hambaNya.

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril; ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah’. Lalu Jibril pun mencintainya, kemudian dia menyeru penduduk langit; ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah’. Maka seluruh penghuni langit juga mencintainya. Kemudian dijadikan dirinya diterima dimuka bumi“. HR Bukhari no: 3208, Muslim no: 2637, dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu.

Keempat: Akan merengkuh derajat serta kedudukan yang tinggi didalam surga.
Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَّأْتِهٖ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصّٰلِحٰتِ فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الدَّرَجٰتُ الْعُلٰى [طه: 75]

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)”. [Thahaa/20: 75].

Dalam hadits disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Sesungguhnya penduduk surga bisa saling melihat penghuni kamar yang berada diatasnya, sebagaimana kalian melihat bintang yang berkilau yang tersisa diufuk timur maupun barat sesuai kedudukan yang ada diantara mereka”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apakah itu kedudukannya para nabi, yang tidak mungkin bisa kita capai? Maka beliau menjelaskan: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku ditanganNya. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mempercayai para Rasulnya“. HR Bukhari no: 3256. Muslim no: 2831. Dari shabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

Kelima: Mendapat keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala.
Seperti yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam banyak ayat -Nya, seperti:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ٧ جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ  [البينة : 7-8]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada -Nya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.  [al-Bayyinah/98: 7-8].

Dan juga dalam firmanNya:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ  [التوبة : 72]

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. [at-Taubah/9: 72].

Keenam: Dilapangkan rizki dunai akhirat.
Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ﴾ [الحج : 50]

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia”. [al-Hajj/22: 50].

Dan berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta’ala:

وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ قَدْ اَحْسَنَ اللّٰهُ لَهٗ رِزْقًا [الطلاق : 11]

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shaleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya”. [ath-Thalaaq/65: 11].

Dalam shahih Muslim disebutkan sebuah hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِى الآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِى الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ  [أخرجه  مسلم]

Sesungguhnya seorang kafir jika melakukan kebajikan dirinya akan diberi pengganti didunia, adapun seorang mukmin maka Allah akan menyimpan kebajikannya diakhirat, lalu diiringi dengan rizki didunia atas amal ketaatannya“. HR Muslim no: 2808.

Ketujuh: Sebagai penghapus dosa dan kesalahan serta memperbaiki perilaku.
Sebagaimana yang diterangkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ  [ محمد : 2]

“Dan orang-orang mukmin dan beramal shaleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka”. [Muhammad/47: 2].

Maksudnya akan diperbaiki urusan serta keadaan mereka bersama anak-anak serta istrinya, dalam rizki dan pada segala urusannya.

Delapan: Diberi pahala sempurna terus dilipatkan menjadi berlipat-lipat.
Berdasarkan firman Allah ta’ala:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۚ  [النساء: 173]

“Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shaleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya”. [an-Nisaa/4: 173].

Demikian juga firman -Nya:

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخٰفُ ظُلْمًا وَّلَا هَضْمًا  [ طه : 112]

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shaleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya”. [Thaahaa/20: 112].

Dan juga firman -Nya:

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا  [الأنعام : 160]

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”. [al-An’aam/6: 160].

Dalam shahih Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan: “Bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا تَحَدَّثَ عَبْدِى بِأَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ حَسَنَةً مَا لَمْ يَعْمَلْ فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَإِذَا تَحَدَّثَ بِأَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَهُ مَا لَمْ يَعْمَلْهَا فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ بِمِثْلِهَا » [أخرجه مسلم]

Allah azza wa jalla berfirman: ‘Apabila terbetik dalam benak hamba Ku untuk mengerjakan kebajikan, maka Aku catat baginya (pahala) satu kebaikan walaupun tidak melakukan. Dan bila dia sampai melakukannya maka Aku catat pahala sepuluh kali lipat. Jika terbetik dalam dirinya untuk berbuat jelek maka Aku ampuni dirinya selagi belum mengerjakannya, dan bisa sampai melakukan maka Aku catat baginya semisal perbuatannya“. HR Muslim no: 129.

Sembilan: Dimasukkan kedalam rahmat Allah serta meraih keberuntungan.
Seperti yang dinyatakan Allah ta’ala didalam firman -Nya:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِيْ رَحْمَتِهٖۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِيْنُ  [الجاثية : 30]

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat -Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata”.  [al-Jatsiyah/45: 30].

Sepuluh: Akan mengeluarkan dirinya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
Seperti yang ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

لِّيُخْرِجَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ  [الطلاق: 11]

“Supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya”.[ath-Thalaaq/65: 11].

Sebelas: Akan diteguhkan dan dijadikan khalifah dimuka bumi.
Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan hal tersebut melalui firman -Nya:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ  [النور : 55]

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai -Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa”. [an-Nuur/24: 55].

Dua belas: Meraih pahala besar serta kebaikan yang tidak terputus.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala didalam firman-Nya:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ  [الإسراء : 9]

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.  [al-Israa/17: 9].

Demikian pula berdasarkan firman Allah ta’ala:

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ  [الكهف : 2]

“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik”. [al-Kahfi/18: 2].

Demikian pula dalam firman -Nya:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ  [التين: 6]

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. [at-Tiin: 6]

Tiga belas: Akan ditambah oleh Allah azza wa jalla karunia serta hidayahNya.
Dengan dalil, firman Allah tabaraka wa ta’ala:

لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ  [الروم : 45]

“Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dari karunia -Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar”. [ar-Ruum/30: 45].

Dan firman -Nya:

وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ  [الشورى : 26]

“Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shaleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia -Nya”.  [asy-Syuura/42: 26].

Demikian juga dalam firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ  [ يونس : 9]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”.  [Yunus/10: 9].

Maksudnya akan ditambahkan padanya hidayah serta taufik dan pahala didunia dan akhirat dengan apa yang telah dijanjikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dari karunia dan kenikmatan. [1]

Akhirnya kita tutup dengan memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, dan merambah kepada keluarga beliau serta seluruh para sahabatnya.

[Disalin dari فضائل الأعمال الصالحة Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Lihat pembahasan ini dalam risalah al-Mubasyiraat liman ya’malu ash-Shalihaat oleh D. Shaleh ash-Shiyah.

Hal-hal yang Membatalkan Amal

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN AMAL

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُون َوَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, (58) dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, (59) dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), (60) Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (61) mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. [Al-Mu’minun/23: 57-61]

Dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ (Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut)

قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Aisyah berkata: Apakah mereka yang meminum khamar dan mencuri?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Tidak demikian wahai anak As-Shiddiq, akan tetapi mereka yang berpuasa, shalat dan bersehedekah, mereka takut jika amal mereka tidak diterima, maka mereka inilah yang sebut sebagai orang yang bersegera dalam kebaikan.[1]

Dan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersungguh-sungguh dalam dalam mengerjakan amal shaleh, mereka takut jika amal mereka dihapuskan oleh Allah dan khawatir jika tidak diterima, hal itu karena kekuatan ilmu yang mereka miliki dan kedalaman keimanan mereka. Abu Darda berkata: Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku dua rekaat, maka hal itu lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”. [Al-Maidah/5: 27]

Abdullah bin Mulaikah berkata : Aku telah mengetahui tiga puluh shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana mereka takut terhadap kemunafikan yang akan menimpa dirinya. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang berkata bahwa mereka berada pada keimanan seperti keimanan Jibril dan Mika’il alaihimas salam.

Perakra-perakara yang membatalkan amal sangat banyak sekali, di antaranya ada yang membatalkan seluruh amal seperti syirik, kemurtadan dan nifak akbar (kemunafikan yang besar). Selain itu, ada yang membatalkan amal itu sendiri, seperti menyebut-nyebut shadaqah dan yang lainnya, dan saya hanya akan menyebutkan lima perkara saja, semoga lima perkara perkara pembatal amal ini akan menanamkan kewaspadaan bagi kita atas perkara yang lain:

Pertama : Syirik kepada Allah.
Syirik adalah penghapus semua amal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [Al-Zumar/39: 65]

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [Al-Furqon/25: 23]

عَنْ ابْنِ مِينَاءَ عَنْ أَبِي سَعْدِ بْنِ أَبِي فَضَالَةَ الْأَنْصَارِيِّ وَكَانَ مِنْ الصَّحَابَةِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا جَمَعَ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ نَادَى مُنَادٍ مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ

Dari Abi Sa’d bin Abi Fadholah Al-Anshori  dan dia teramsuk salah seorang shahabat, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat, hari yang tidak ada keraguan padanya, datanglah penyeru dan berkata: Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan seseorang pada sebuah amal yang dikerjakannya karena Allah maka hendaklah dia meminta pahalanya kepada selain Allah, sebab Allah adalah zat yang paling tidak butuh terhadap  sekutu”.[2]

Kedua: Riya’
Riya’ dibagi menjadi dua bagian:
Pertama: Seseorang beramal dengan maksud selain Allah. Maka ini adalah syirik yang bisa menghapuskan amal, dan sebagian ahlul ilmi berkata: syirik dalam niat dan maksud serta tujuan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? pahalanya di akhirat nanti. [Hud/11: 15-16]

Ibnu Abbas berakata : Sesungguhnya orang-orang yang riya’ dalam amal mereka diberikan balasan kebaikan mereka di dunia dan mereka tidak akan dizalimi walau sekecil apapun. Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa yang beramal shaleh guna mencari dunia baik amal tersebut berupa puasa, shalat, tahajjud sementara dia tidak mengamalkannya kecuali untuk tujuan duniawi maka Allah berfirman kepadanya: Aku akan memberikan balasan bagi amal yang dikerjakannya selama berada di dunia dan dihapuskan baginya balasan amal yang dikerjakan untuk mencari keduaniaan dan dia di akherat kelak termasuk orang-orang yang merugi”.[3]

Kedua: Seseorang beramal untuk mencari keredaan Allah kemudian riya datang menjangkitinya setelah dia memulai amalnya, maka ini adalah syirik kecil.

عن محمود بن لبيد – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ))، قالوا: “وما الشرك الأصغر؟”، قال: ((الرِّيَاءُ، يقول الله – تعالى – يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟))

Dari Mahmud bin Lubaid Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hal yang paling aku takutkan akan menjangkiti kalian adalah syirik kecil”, para shahabat bertanya apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah?. “yaitu riya’, Allah akan berkata pada hari kiamat pada saat Dia memberikan balasan bagi amal-amal manusia: Pergilah kepada orang yang telah kalian perlihatkan kebaikan bagi mereka semua kebaikan kalian dan lihatlah apakah mereka memberikan balasan terhadap apa yang kalian kerjakan?”.[4]

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ؛ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فيُصَلِّي، فيزيِّن صَلَاتَهُ؛ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رجُل))

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apakah kalian mau aku beritahukan tentang sebuah perkara yang lebih aku takutkan daripada Al-Masihud Dajjal?, yaitu syairik khafi, di mana seseroang mengerjakan shalat lalu dia memperindah shalatnya karena dia mangetahui bahwa ada orang lain yang melihat dirinya shalat”.[5]

Sebagian orang meremehkan perkara ini syirik ini, disebabkan karena penyebutannya dengan nama syirik kecil, dia dinamakan syirik kecil pada saat dibandingkan dengan syirik besar, walau demikain dia termasuk lebih besar daripada dosa-dosa yang paling besar, oleh karena itulah para ulama berkata:

  1. Apabila syirik kecil merasuki sebuah amal ibadah maka amal ibadah tersebut menjadi rusak dan dihapuskan.
  2. Sesungguhnya pelaku syirik kecil tidak akan diampuni oleh Allah, dan pelakunya tidak termasuk di dalam orang yang diampuni dengan kehendak Allah seperti apa yang akan dialami oleh para pelaku dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [An-Nisa/4: 116]

Yang seharusnya bagi orang yang beriman adalah agar dia waspada terhadap semua jenis kesyirikan dan dia khawatir terhadap dirinya agar tidak dijangkiti oleh penyakit ini, Nabi Ibrahim alaihis salam sangat takut terjangkiti oleh syirik padahal dia adalah imam orang-orang yang bertauhid. Dia berkata kepada Tuhannya:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“…dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. [Ibrahim/14: 35]

Ibrahim Al-Taimy berkata: Siapakah yang merasa aman dari bencana ini setelah nabi Ibrahim?”.[6]

Ketiga : Menyebut-nyebut kebaikan dan menyakti hati penerima.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), [Al-Baqarah/2:262]

Seorang penyair berkata:
Dengan menyebut-nyebut kebaikan dirimu telah merusak apa yang telah kau perbuat dari kebaikan
Bukanlah orang yang mulia itu, orang yang menampakkan kebaikan lalu dia menyebut-nyebutnya.

عن أبي ذر – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ))، قال: “فقرأها رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ثلاث مرات”، قال أبو ذَرٍّ: “خَابُوا وخسِروا، مَن هُم يا رسول الله؟”، قال: ((الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ))

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tiga orang yang tidak akan diajak bicara, tidak dilihat dan tidak disucikan oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka azab yang sangat pedih”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sejumlah tiga kali. Abu Dzar berkata : Mereka kecewa dan merugi wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: Orang yang menjulurkan pakaiannya sehingga di bawah mata kaki, menyebut-nyebut kebaikan dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu”.[7]

Keempat: Meninggalkan shalat Ashar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى

Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.

عن بريدة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

Dari Abi Buraidah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan shalat asar maka amalnya akan dihapuskan”.[8]

Kelima: Bersumpah atas nama Allah.
Dari Dhomdhom bin Jaus Al-Yamamy berkata: Aku memasuki mesjid Madinah lalu seorang tua renta memanggilku, dia berkata: Wahai Yamami kemarilah!.  Dan aku tidak mengetahui orang tersebut. Dia berkata: Janganlah engkau sekali-kali berkata kepada seorang lelaki: Demi Allah!, Allah pasti tidak mengampunimu selamanya, dan Allah tidak memasukkanmu ke dalam surga selamanya. Aku bertanya: Siapakah dirimu, semoga Allah memberikan rahmatNya bagimu? Tanyaku. Dia berkata: Abu Hurairah. Perawi berkata: Sesungguhnya kalimat ini dikatakan oleh salah seorang di antara kita kepada orang lain atau kepada istrinya jika dia marah kepadanya. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Disebutkan bahwa dua orang lelaki yang saling mencintai dari kalangan Bani Isro’il, salah seorang di antara mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah dan yang lain, sepertinya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya bahwa dia seorang pendosa. Dia selalu diperingatkan: Berhentilah dari apa yang engkau lakukan, dia berkata: Biarkanlah aku bersama tuhanku. Sehingga pada suatu ketika dia mendapatkannya berbuat suatu dosa yang dianggapnya besar: Temannya memperingatkan: Berhentilah. Namun orang itu tetap menjawab: Biarkanlah aku bersama tuhanku, apakah engkau dibangkitkan sebagai pengawas atas perlakuanku?. Orang tersebut berkata: Sungguh engkau tidak akan diampuni selamanya, dan tidak pula dimasukkan ke dalam surga selamanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawa mereka berdua, lalu mereka berdua mengadap Allah,  Dia berfirman kepada sang pendosa: Masuklah surga dengan rahmatKu, dan Dia berfirman kepada yang lain: Apakah engkau bisa menghalangi rahmatku dari seorang hambaKu?, dia berkata: Tidak wahai tuhanku. Maka Allah berfirman: Bawalah orang ini ke neraka”. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Demi yang jiwaku berada di sisiNya, dia telah mengucapkan suatu kalimat yang telah menghancurkan dunia dan akheratnya”.[9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari مبطلات الأعمال Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Sunan Turmudzi 5/327-328 no: 3175
[2] Sunan Turmudzi: 5/314 no: 3154
[3] Tafsir Ibnu Katsir: 2/439
[4] Musnada Imam Ahmad: 5/428
[5] Musnad Imam Ahmad: 3/30
[6] Fathul Majid: halaman: 74
[7] Shahih Muslim: 1/102 no: 106
[8] Shahih Bukhari: 1/200 no: 594
[9] Syarhas sunnah: 14,384,385

Tanda-Tanda Hari Kiamat Besar dan Kecil

TANDA-TANDA HARI KIAMAT BESAR DAN KECIL

Muqaddimah
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang berfirman :

 فَقَدْ جَاء أَشْرَاطُهَا ﴿18﴾ سورة محمد

Maka sesungguhnya telah datang (hari Kiamat) tanda-tandanya. [Muhammad/47:18]

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada seseorang yang bersabda dalam hadits yang diriwayatkan darinya :

« بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ ». (قَالَ:) وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini.” (Perawi hadits) berkata, “Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.”

Amma ba’du.
Hadits-hadits yang telah aku himpun ini sehubungan dengan tanda-tanda Kiamat kecil dan besar (Asyrath as-Sa’ah ash-Shughra wa al-Kubra) secara ringkas sesuai dengan tingkat pengetahuan saya yang seadanya. Dimaksudkan sebagai penyadar diri saya dan saudara-saudara saya seiman (tadzkir li nafsi wa ikhwani) akan pengetahuan tanda-tanda Kiamat, sehingga dapat meningkatkatkan keyakinan orang yang beriman seandainya ia melihat peristiwa yang termasuk dalam tanda-tandanya, dan tidak terkejut jika sesuatu dari tanda-tanda ini terjadi.

Aku menyusun (risalah ini) secara ringkas hingga mencapai seluruh (sisi pembahasan), sehingga anda dapat membaca (risalah ini) dalam waktu yang singkat. Dan aku telah menyebutkan (di dalamnya) setiap tanda dari indikasi-indikasi Kiamat yang kecil (ash-Shugra) ataupun yang besar (al-Kubra), beserta penyebutkan satu atau dua dalil sehingga kita tidak memperpanjang-panjang (bahasan) bagi pembaca.

Dan setelah semua itu, maka risalah ini merupakan hasil karya manusia rentan terhadap kesalahan, karenanya jika ada kesalahan maka itu berasal dari diri saya dan syaithan, dan jika kebenaran di dalamnya maka itu berasal dari Allah semata. Sementara Allah saja yang melatarbelakingi tujuan (penulisan karyaku ini).

Ditulis oleh orang yang membutuhkan pengampunan Rabbnya
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah, 18/04/1420 H.

TANDA-TANDA KIAMAT
Asyrath as-Sa’ah (tanda-tanda Kiamat) adalah indikasi-indikasi Kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatan (waktu)nya. Sementara Kiamat (as-Sa’ah) dapat dipisahkan menjadi 3 (tiga) makna, yaitu :

  1. Pertama, Kiamat Kecil (as-Sa’ah ash-Shughra) yaitu kematian manusia. Barangsiapa yang meninggal dunia maka telah terjadi Kiamat padanya, karena ia masuk ke dalam alam akhirat.
  2. Kedua, Kiamat Sedang (as-Sa’ah al-Wushtha) yaitu meninggalnya generasi satu abad tertentu.
  3. Ketiga, Kiamat Besar (as-Sa’ah al-Kubra) yaitu dibangkitkannya manusia dari kubur mereka untuk dihisab (al-hisab) dan dibalas (al-jaza’) amalan-amalannya di dunia.

Klasifikasi Tanda-Tanda Kiamat
Terbagi menjadi dua bagian :
Pertama, tanda-tanda kecil (asyrath shughra), yaitu (tanda-tanda) yang mendahului Kiamat dengan (jarak) waktu yang lama dan menjadi hal yang berulang-ulang (biasa terjadi). Seperti hilangnya ilmu, merebaknya kebodohan dan minuman khamer, saling berlomba meninggikan bangunan, serta lain sebagainya. Terkadang sebagian tanda-tandanya muncul bebarengan dengan tanda-tanda Kiamat besar (asy-asyrath al-kubra) atau (ada juga yang) setelahnya.

Kedua, tanda-tanda besar (asyrath kubra), yaitu perkara-perkara besar yang muncul menjelang terjadinya Kiamat (qurba qiyam as-sa’ah), dan kejadiannya tidak berulang-ulang. Seperti kemunculan ad-Dajjal, turunnya ‘Isa as., keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya Matahari dari arah barat.

Sebagian ulama membagi tanda-tanda Kiamat dari perspektif kemunculannya menjadi 3 (tiga) bagian :

  1. Pertama, klasifikasi yang telah muncul dan telah berakhir.
  2. Kedua, klasifikasi yang telah muncul dan terus berlangsung, bahkan semakin banyak.
  3. Ketiga, klasifikasi yang belum terjadi hingga sekarang.

Adapun dua klasifikasi pertama masuk dalam tanda-tanda Kiamat kecil (asyrath as-sa’ah ash-shughra), sedangkan klasifikasi ketiga terhimpun di dalamnya tanda-tanda besar (al-asyrath al-kubra) dan sebagian tanda-tanda kecil (al-asyrath ash-shugra).

TANDA-TANDA KIAMAT KECIL
1. Diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ ». (قَالَ:) وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini’.” (Anas Radhiyallahu ‘Anhu) berkata, “Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.” (HR. Muslim).

2. Wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : …. وَذَكَرَ مِنْهَا :” مَوْتِي ”  »

Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Kematianku’.” (HR. Al-Bukhari).

3. Penaklukan Baitul Maqdis
Dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : …. فَذَكَرَ مِنْهَا:” فَتْحُ بيتِ المقدس ”  »

Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Penaklukan Baitul Maqdis’.” (HR. Al-Bukhari).

Pada masa (khalifah) Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, kemudian terjadi penaklukan Baitul Maqdis pada tahun 16 Hijriyah, sebagaimana pendapat dari para pakar sejarah. Sebenarnya ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu sendiri yang langsung mendatangi, mendamaikan penduduknya dan menaklukan (wilayah)nya, serta mensterilkannya dari kaum Yahudi dan Nashrani. Beliau Radhiyallahu ‘Anhu mendirikan masjid di arah kiblat Baitul Maqdis.

4. Wabah Tha’un ‘Amwas
Masih dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu sebelumnya, sabdanya :

« اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : …. فَذَكَرَ مِنْهَا:” ثُمَّ مُوتَانٌ يأخذ فيكم كَقُعَاصِ الغنم ”  »

Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Kemudian banyaknya kematian yang menimpa kalian bagaikan penyakit (qu’ash[1]) kambing’.” (HR. Al-Bukhari).

Ibnu Hajar berkomentar, “Disinyalir sebenarnya tanda ini telah muncul pada wabah penyakit tha’un ‘amwas di era kekhalifahan ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu, demikian itu terjadi pasca penaklukan Baitul Maqdis.” (Dikutip dari kitab Fathul Bari).

Pada tahun 18 Hijriyah menurut pendapat yang masyhur di mayoritas kalangan ulama, telah terjadinya wabah tha’un di distrik ‘Amwas, kemudian mewabah di negeri Syam. Dalam peristiwa ini banyak dari kalangan sahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan yang lainnya meninggal dunia. Konon, korban meninggal dunia dalam peristiwa ini mencapai 25.000 jiwa kaum muslimin. Diantara tokoh-tokoh terkenal yang meninggal dunia adalah Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, yang dipercaya umat ini.

5. Berlimpahan Harta dan Tidak Memungut Sedekah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ صَدَقَةً وَيُدْعَى إِلَيْهِ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ أَرَبَ لِي فِيهِ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga harta benda banyak pada kalian, lalu melimpah ruah, sampai-sampai menyusahkan pemilik harta (mencari) orang yang menerima sedekah darinya, dan seorang dipanggil (untuk) menghadapnya, lalu dia berkata, ‘Aku tidak memiliki keperluan terhadapnya’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6. Munculnya Beragam Fitnah
Al-fitan bentuk plural dari fitnah, berarti cobaan dan ujian. Kemudian (kata ini) banyak digunakan untuk setiap hal yang mengandung ujian yang dibenci. Selanjutnya dia diidentikan kepada segala hal yang dibenci atau kembali kepadanya, seperti dosa, kekufuran, pembunuhan, pembakaran dan bentuk-bentuk kebencian lainnya. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa diantara tanda-tanda Kiamat adalah munculnya fitnah-fitnah besar yang mencampur adukkan antara yang haq dan yang batil. Maka terjadilah keguncangan iman sampai-sampai (ada) seseorang yang di pagi hari ia beriman dan di sore harinya ia menjadi kafir. (Ada) yang di sore harinya ia beriman dan di pagi harinya menjadi kafir. Setiap kali muncul fitnah, (saat itu) orang beriman berkata, “Inilah yang membinasakanku”, kemudian terbuka dan muncullah (fitnah) lainnya, maka ia berkata, “Inilah (… seperti ucapan sebelumnya, pent)”. Senantiasa (fitnah-fitnah) bermunculan di tengah-tengah manusia hingga Kiamat terjadi.

Dalam hadits dari Abu Musa al-Asy’ary Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ، وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ، وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ، فَإِنْ دَخَلَ عَلَى أَحَدِكُمْ بَيْتَهُ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ »

Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat (terjadi) banyak fitnah, bagaikan bagian malam yang gelap gulita. Seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, dan di sore harinya menjadi kafir. (Ada) yang di sore harinya dalam keadaan beriman, dan di pagi harinya menjadi kafir. Orang yang duduk di saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri di saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian, dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika (rumah) salah seorang dari kalian dimasuki (fitnah), maka jadilah seperti yang terbaik dari kedua anak Adam (Habil).” HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak.

Hadits-hadits fitnah jumlahnya banyak, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari segala bentuk fitnah, dan memerintahkan mereka untuk berlindung darinya, serta mengabarkan bahwa generasi terakhir dari umat ini akan tertimpa cobaan dan fitnah-fitnah yang besar.

Ada peristiwa-peristiwa fitnah yang telah terjadi di dalam sejarah, seperti munculnya fitnah-fitnah dari arah Timur (al-masyrik), pembunuhan ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, perang Jamal, perang Shiffin, fenomena khawarij, perang Hurrah, fitnah tuduhan bahwa al-Qur`an adalah makhluk, mengikuti gaya-gaya hidup orang-orang terdahulu.

Terdapat beberapa faktor penjaga (‘awashim) dari fitnah-fitnah tersebut, diantaranya adalah :

  • Beriman kepada Allah dan hari akhir
  • Komitmen terhadap Jama’ah kaum muslimin, dan mereka adalah kalangan Ahlus Sunnah, sekalipun jumlah mereka sedikit.
  • Menjauhi fitnah-fitnah.
  • Berlindung darinya. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

 « تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ »

Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah yang nampak darinya dan yang tersembunyi.”

7. Fenomena Mengaku “Nabi”
Dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘para dajjal (pendusta)’ yang (jumlahnya) mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah (Rasulullah).

Diantara mereka yang tiga puluh itu telah muncul Musailamah al-Kadzdzab (sang pendusta), ia mengaku sebagai nabi di akhir masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada pula al-Aswad al-‘Ansi di negeri Yaman yang dibunuh oleh sahabat Radhiyallahu ‘Anhu Demikian dengan Sajah (binti  Harits, pent.), seorang wanita yang mengkalim dirinya sebagai nabi, dan Musailamah menikahinya. Kemudian setelah Musailamah terbunuh, ia kembali memeluk Islam. Begitu juga Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi, kemudian ia kembali memeluk Islam dan baik keislamannya. Kemudian muncul al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats-Tsaqafi yang menampakkan kecintaan kepada ahlul bait (keturunan nabi). Ada lagi al-Harits al-Kadzdzab (si pendusta) yang muncul di era kekhalifahan ‘Abdul Malik bin Marwan, maka dibunuh. Dan di masa sekarang, adalah Mirza Ahmad al-Qadiyani di India.

8. Tersebarnya Stabilitas Keamanan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ بَيْنَ الْعِرَاقِ وَمَكَّةَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ ضَلاَلَ الطَّرِيقِ »

Tidak akan terjadi Kiamat hingga seseorang pengendara (kendaraan) berjalan di antara Irak dan Mekkah tidak merasa takut kecuali (takut) tersesat di jalan’.” Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya.

9. Fenomena Api Hijaz
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الإِبِلِ بِبُصْرَى »

Tidak akan terjadi hari Kiamat sampai api keluar dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bashra.”

Sesungguhnya api ini telah muncul pada pertengahan abad ke-7 Hijriyah, (tepatnya) di tahun 654 H. Saat itu (kobaran) apinya besar, para ulama yang hidup di masa itu dan setelahnya telah menerangkan kemunculan api tersebut dalam bentuknya. Dan api ini bukanlah api yang keluar di akhir zaman menghimpun manusia ke padang mahsyar mereka. Sebagaimana yang akan dibicarakan dalam pembahasan tanda-tanda Kiamat besar (al-‘Asyrath al-Kubra).

10. Peperangan dengan Bangsa Turki
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ ، قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ ، يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ ، وَيَمْشُونَ فِي الشَّعَرِ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi bangsa Turki, yaitu kaum yang wajah-wajahnya seperti tameng yang dilapisi kulit, mereka memakai (pakaian) yang terbuat dari bulu, dan berjalan (dengan sandal) yang terbuat dari bulu.”

11. Peperangan dengan Bangsa ‘Ajam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ الأَعَاجِمِ ، حُمْرَ الْوُجُوهِ ، فُطْسَ الأُنُوفِ ، صِغَارَ الأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ ، نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat sampai kalian memerangi bangsa Khuz dan bangsa Karman dari kalangan ‘Ajam, bermuka merah, berhidung-hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit, dan sandal-sandal mereka terbuat dari bulu.” HR. Al-Bukhari.

12. Hilangnya Amanat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« إِذَا ضُيِّعَتْ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ ، قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ »

Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat.’ (Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana amanat itu disia-siakan?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah Kiamat!’.” HR. Al-Bukhari.

13. Diangkatnya ilmu dan fenomena Kebodohan
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ »

Diantara tanda-tanda Kiamat adalah ilmu dihilangkan dan kebodohan diteguhkan’.”

Yang dimaksud dengan diangkatnya ilmu adalah diwafatkannya para ulama, sebagaimana riwayat dalam hadits ‘Abdullah bin Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma bertutur, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالا ، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا ، وَأَضَلُّوا »

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu langsung dari para hamba, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadi orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka seat lagi menyesatkan orang lain.” HR. Al-Bukhari dan Muslim.

14. Banyaknya Pasukan dan Pendukung Kezhaliman
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menunturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ  الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ….. »

Dua kelompok manusia penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, (yaitu) golongan orang-orang yang membawa cemeti seperti buntut sapi, mereka memukuli manusia dengannya ….’.”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu :

« إِنْ طَالَتْ بِكَ مُدَّةٌ أَوْشَكْتَ أَنْ تَرَى قَوْمًا يَغْدُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ ، وَيَرُوحُونَ فِي لَعْنَتِهِ ، فِي أَيْدِيهِمْ مِثْلُ أَذْنَابِ الْبَقَرِ »

Seandainya umurmu panjang, sekiranya engkau akan melihat satu kaum yang pergi di pagi hari dalam kemurkaan Allah, dan pulang di sore harinya dalam laknat-Nya, di tangan-tangan mereka ada (cemeti) bagaikan ekor sapi.” HR. Muslim.

15. Merebaknya Perzinaan
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« إنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : …. وَذَكَرَ مِنْهَا :”وَيَظْهَرَ الزِّنَا” »

‘Sesungguhnya diantara tanda-tanda Kiamat adalah ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Merebaknya perzinaan’.”

16. Riba Merajalela
Dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ بِحَلاَلٍ أَمْ بِحَرَامٍ »

Sungguh akan datang suatu zaman pada manusia, seseorang tidak peduli (lagi) dengan (status) kehalalan atau keharaman harta yang ia peroleh

17. Fenomena al-Ma’aazif (alat-alat musik) dan Menganggapnya Halal
Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu  bahwa ia mendenagr Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لَيَكُونَنّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَام يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِير وَالْخَمْر وَالْمَعَازِف , وَلَيَنْزِلَنّ أَقْوَام إِلَى جَنْب عَلَمٍ يَرُوح عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ تَأْتِيهِمْ الْحَاجَة فَيَقُولُونَ : اِرْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا , فَيُبَيِّتهُمْ اللَّه وَيَضَع الْعَلَم , وَيَمْسَخ آخَرِينَ قِرَدَة وَخَنَازِير إِلَى يَوْم الْقِيَامَة »

Kelak terjadi dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamer dan alat-alat musik. Dan sungguh ada beberapa kaum yang akan singgah di suatu pegunungan yang tinggi, pada sore harinya (seorang pengembala) menjambangi mereka dengan membawa hewan ternaknya, mereka didatangi –oleh pengembala fakir itu- untuk suatu kebutuhan, lalu mereka berkata: ‘Kembalilah kepada kami besok.’ Maka di malam harinya Allah (membinasakan) mereka dan hancurlah gunung tersebut, dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari kiamat.”

18. Maraknya Minuman Keras (Khamer) dan Menganggapnya Halal
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : …. وَذَكَرَ مِنْهَا :”وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ »

Diantara tanda-tanda Kiamat adalah ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘(Maraknya) minuman khamer ’.”

19. (Berlomba-lomba) Menghiasi Masjid dan Berbangga-bangga dengannya
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :

« لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى »

Sungguh kamu akan menghiasinya (yaitu: masjid-masjidmu, pent.) sebagaimana bangsa Yahudi dan Nashrani menghias (tempat-tempat ibadah mereka).” HR. Al-Bukhari secara mu’allaq.

20. Berlomba-lomba Meninggikan Bangunan
Dalam riwayat Muslim :

« وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ »

“Dan bahwa engkau (akan) menyaksikan orang yang bertelanjang kaki dan badan, lagi miskin yang mengembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunan.”

21. Budak Wanita Melahirkan Tuannya
Terdapat dalam hadits Jibril, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

« سَأُخْبِرُكَ عَن أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّتَهَا »

“Aku kabarkan kepadamu tentang tanda-tandanya, (yaitu) jika seorang budak wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

22. Maraknya Pembunuhan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ ، قَالُوا : وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الْقَتْلُ الْقَتْلُ »

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga banyak al-harj.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah al-harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR. Muslim).

23. Zaman Semakin Singkat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga zaman semakin berdekatan.” (HR. Al-Bukhari)

Dan masih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعْفَةِ »

Tidak akan terjadi hari Kimat hingga zaman semakin singkat, maka jadilah setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan hari jum’at seperti sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan seperti terbakarnya pelepah pohon kurma (cepat sekali, pent.).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Al-Albani meshahih­kannya).

24. Pasar Semakin berdekatan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ وَيَتَقَارَبَ الأَسْوَاقُ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga muncul berbagai fitnah, banyaknya kebohongan dan berdekatannya pasar.” (HR. Ahmad).

25. Fenomena Kemusyrikan Pada Umat Ini
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِى أُمَّتِى لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ »

Jika pada umatku pedang telah diletakkan,    maka ia tidak akan pernah diangkat darinya sampai hari  Kiamat, dan tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.”

Dan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلْيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِى الْخَلَصَةِ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga bokong-bokong para wanita Daus bergoyang di sekitar Dzil Khalashah.”

26. Menjamurnya Fahsya (Perbuatan dan Ucapan Keji), Pemutusan Silaturahmi, dan Buruknya Hubungan Bertetangga
Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga muncul (banyak) perbuatan dan perkataan keji, pemutusan silaturahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga.”

27. Orangtua Bergaya Anak Muda
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ، لاَ يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ »

Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya surga’.” (HR. Ahmad).

28. Tersebarnya Kekikiran
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ »

Zaman semakin berdekatan, amal berkurang dan kekikiran dilemparkan (ke dalam hati).” HR. Al-Bukhari.

29. Maraknya Perdagangan
Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ تَسْلِيمُ الْخَاصَّةِ ، وَفُشُوُّ التِّجَارَةِ حَتَّى تُشَارِكَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا فِي التِّجَارَةِ »

Menjelang datangnya hari Kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu, dan merebaknya perdagangan hingga seorang wanita turut serta (bersama) suaminya dalam berdagang.”

30. Banyaknya Peristiwa Gempa Bumi
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزلازلُ »

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga terjadi banyak peristiwa gempa bumi.” HR. Al-Bukhari

31. Banyaknya Orang-Orang yang Ditenggelamkan ke Dalam Bumi, Diubah Raut Wajahnya dan Dilempar Batu
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

« يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ »

Akan ada pada akhir umatku (orang-orang) yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah rawut wajahnya, dan dilempari (batu).” Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: ‘Aku bertanya, (Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang soleh ditengah-tengah kami?)). Beliau menjawab, “Benar, ketika kemaksiatan telah merajalela.”

[Disalin dari مختصر أشراط الساعة الصغرى والكبرى Penulis : ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah,  Penerjemah Muh. Khairuddin Rendusara, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Qu’ash adalah penyakit yang menyerang hewan-hewan ternak (ad-dawab). Ia mejangkitkan sesuatu (wabah) melalui kedua lubang hidung, lalu (hewan-hewan yang terjangkit) mati mendadak.

Hukum Menghindar dari Jabatan Agama

HUKUM MENGHINDAR DARI JABATAN AGAMA

Pertanyaan: Banyak sekali penuntut ilmu yang menghindar dari jabatan keagamaan, apa penyebabnya?  Apakah ada nasihat bagi para hadirin? Sebagaimana bisa diperhatikan bahwa sebagian besar mahasiswa fakultas syari’ah –mencari berbagai cara untuk menghindar dari jabatan pengadilan (qadhi, hakim), apa nasihat Syaikh untuk mereka?

Jawaban: Jabatan keagamaan seperti qadhi (hakim), mengajar, dan khutbah merupakan jabatan mulia dan sangat penting, dan kaum muslimin sangat membutuhkannya. Apabila para ulama menghindar darinya niscaya akan dipegang oleh orang-orang jahil (bodoh) dan mereka sesat menyesatkan.

Bagi para ulama dan ahli agama yang sangat dibutuhkan wajib memegang jabatan ini, karena perkara-perkara ini berupa qadha, mengajar, khutbah dan dakwah serta yang serupa maka termasuk fardhu kifayah. Apabila ditentukan kepada seseorang yang punya kemampuan niscaya wajib atasnya dan ia tidak boleh menghindari dan menolaknya.

Kemudian, jika ada seseorang yang menempati jabatan tersebut  dan itu sudah cukup, niscaya tidak wajib bagi yang lain. Maka semestinya ia melihat yang lebih baik, sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan tentang Nabi Yusuf ‘alaihissalam.  bahwa ia berkata kepada raja Mesir:

قال الله تعالى:  قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ  [سورة يوسف: 55]

Dia (Yusuf) berkata: “Jadikanlah aku berdaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” [Yusuf/12: 55].

Manakala ia melihat mashlahat dalam memegang  jabatan itu, maka ia meminta jabatan itu. Dia seorang nabi dan rasul yang mulia, dan para nabi adalah manusia paling utama. Ia memintanya untuk perbaikan: perbaikan bagi penduduk negeri Mesir dan mengajak mereka kepada kebenaran.

Maka penuntut ilmu, apabila ia melihat mashlahat dalam hal itu, ia meminta jabatan itu dan ridha dengannya, baik jabatan qadha` atau mengajar atau departemen atau yang lainnya, dengan catatan bahwa tujuannya adalah untuk perbaikan dan kebaikan, dan tujuannya bukan dunia semata, namun tujuannya adalah karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dan untuk bekal di hari akhirat kelak, memberi manfaat kepada manusia dalam agama mereka –yang pertama-tama-, kemudian dalam urusan dunia mereka, dan ia tidak ridha jabatan-jabatan tersebut dipegang oleh orang-orang jahil dan fasik. Maka apabila dia ditawari jabatan yang baik dan dia merasa dirinya mampu dan berkompeten  atas jabatan tersebut, maka ia harus menerimanya. Dan hendaklah ia memperbaiki niatnya, mengerahkan kemampuannya dalam hal itu, jangan mengatakan saya takut, saya khawatir seperti ini dan itu.

Disertai niat yang benar dan jujur dalam pekerjaan niscaya hamba diberikan taufik dan diberi pertolongan atas hal itu. Apabila niatnya ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dan ia mengerahkan kemampuannya dalam kebaikan niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi taufik kepadanya.

Dan dari bab ini terdapat hadits Utsman bin Abil Asya ats-Tsaqafi bahwa ia berkata: Ya Rasulullah, jadikanlah aku pemimpin kaumku.’ Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَنْتَ إِمَامُهُمْ وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لاَ يَأْخُذُ عَلَى آذَانِهِ أَجْرًا؛ رواه أحمد، وأبو داود، وابن ماجة

Engkau imam/pemimpin mereka, ikutilah yang paling lemah dari mereka, dan angkatlah muadzin yang tidak mengambil upah atas adzannya.’[1]

Ia meminta untuk menjadi pemimpin kaumnya untuk kepentingan syara’, memberikan bimbingan, mengajar, amar ma’ruf, dan nahi mungkar kepada mereka, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Para ulama berkata, “Sesungguhnya dilarang meminta jabatan apabila tidak diperlukan, karena berbahaya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang melarang tentang hal itu. Akan tetapi apabila diperlukan dan kepentingan syara’ mengharuskan memintanya, niscaya boleh memintanya berdasarkan cerita Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan hadits Utsman yang telah disebutkan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz – Majalah Buhuts edisi 47 hal. 161-162.

[Disalin dari حكم التورُّع عن المناصب الدينية Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz,  Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]HR. Ahmad 4/21, 217, Abu Daud 531, an-Nasa`i 672, Ibnu Majah 987, al-Hakim 1/199, 201 (715,722), ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 497.

Amalan Pasca Ramadhan

AMALAN PASCA RAMDHAN

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah dan cukuplah dengan itu, dan semoga Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada hamba-Nya yang terpilih.

Saudaraku yang tercinta..dan saudariku muslimah..

Marilah kita mengkaji kondisi kita setelah berlalunya bulan suci Ramadhan, dan marilah kita memohon kepada Nya agar bulan itu menjadi bulan yang bermanfaat bagi kita.

Pembahasan Pertama: Apa yang telah kita dapatkan selama berada dalam bulan suci Ramadhan??
Ramadhan yang penuh barokah telah berlalu, ia pergi bersama hari-harinya yang indah dan malam-malamnya yang semerbak. Kita telah berpisah dengan bulan Al-Qur’an, bulan penuh ketaqwaan, bulan pengasah kesabaran, bulan jihad, bulan kasih sayang, bulan ampunan dan bulan keselamatan dari api neraka. Dan sudah sepatutnya jika perkara-perkara diatas itu harus diperhatikan, bukan hanya pada bulan Ramadhan saja. Karena setiap hari, setiap saat kita bisa mendapatkan kasih sayang Allah dan Ampunannya. Setiap saat, ketakwaan tetap bisa didapatkan dan berakhlaq dengan Al-Qur’an. Akan tetapi pada bulan Ramadhan pahala menjadi berlipat ganda, kebaikan pun bertambah, dan ketaatan pun berkembang.

قال الله تعالى: ﴿ وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُ]القصص:67[

“dan Tuhanmulah yang menciptakan apapun yang Ia kehendaki dan memilihnya” [Al-Qashash/28 :68]

Nah, apakah kita telah menyempurnakan ketaqwaan kita, dan kita berhasil belajar di bulan Ramadhan serta mendapat predikat sebagai orang yang bertakwa??

Apakah kita telah berhasil mendidik jiwa kita segala macam bentuk jihad?? Apakah kita telah berhasil menundukkan jiwa-jiwa kita, syahwat-syahwat kita dan memperoleh kemenangan? Ataukah justru sebaiknya kita telah dikalahkan oleh kebiasaan kita, atau taqlid yang buruk?? Dan apakah kita bersungguh-sungguh dalam beramal karena ingin mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah serta selamat dari api neraka??

Apakah…apakah..dan apakah??

Begitu banyak pertanyaan, begitu sarat pemikiran, mengetuk setiap hati seorang muslim yang tulus. Jiwanya bertanya dan menjawabnya dengan jujur dan jelas.

Lalu, Apakah yang telah kita dapatkan selama bulan Ramadhan??

Ramadhan adalah sebuah sarana belajar imaniyyah, ia adalah pemberhentian spiritual untuk menyongsong kembali tahun yang tersisa, dan mempertajam kembali cita-cita di usia yang masih tersisa.

Barangsiapa yang peka terhadap pelajaran yang ada, memperhatikan, dan mampu mengambil faedahnya, pasti bisa merubah dirinya dan merubah kehidupanmu, lalu siapa yang tidak melakukannya pada bulan Ramadhan??

Padahal bulan Ramadhan adalah sarana yang tepat untuk perubahan, didalam bulan tersebut seharusnya kita bisa merubah tindak tanduk kita, perilaku kita, adat istiadat dan moral kita yang bertentangan dengan syariat Allah azza wa jalla.

قال الله تعالى: ﴿ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ  الرعد:11

“Allah tidaklah merubah suatu kaum sehingga mereka mampu merubah diri mereka sendiri” [Ar-Ra’d/13: 11]

Pembahasan Kedua : Janganlah menjadi seperti orang merusak hasil rajutannya sendiri!!!

Saudaraku yang tercinta dan saudariku muslimah..

Jika kalian termasuk orang yang bisa mengambil faedah selama bulan Ramadhan, sehingga mencapai predikat orang-orang yang bertakwa maka puasa kalian bagus, dan Shalat kalian benar-benar terjaga, dan kalian telah bersungguh-sungguh dalam memelihara jiwa kalian dibulan Ramadhan ini. Untuk itu bersukurlah Allah dengan memujinya, dan mohon agar tetap seperti itu hingga ajal menjemput.

Hati-hatilah dengan yang namanya “merusak kembali rajutan yang telah jadi”. Tidakkah kalian tahu jika seorang wanita itu merajut (menenun) benang sehingga menjadi gamis ataupun baju, hingga kemudian ia menjadi takjub setiap kali melihatnya. Lalu tiba-tiba dia memotong sebagian benangnya, dan merusak rajutannya tersebut sedikit demi sedikit tanpa sebab.

Lalu apa pendapat orang terhadap orang yang begitu??

Demikianlah keadaan orang kembali kepada kemaksiatan, dosa dan pergaulan yang tidak sehat. Mereka tidak lagi mempedulikan ketaatan kepada Allah, mereka tidak lagi beramal yang sholeh setelah Ramadhan berlalu. Setelah merasakan kenikmatan taat, dan lezatnya mendekatkan diri kepada Allah ia terjerumus kembali kedalam lumpur dosa dalam lembah kemaksiatan. Maka amatlah buruk mereka yang hanya mengenal Allah ketika bulan Ramadhan saja.

Saudaraku yang tercinta, yang demikian itu tidak asing lagi bagi kebanyakan manusia, dibawah ini sebagian contoh kecil dari sekian banyak contoh yang ada:

  1. Kita melihat kebanyakan manusia sudah melalaikan kembali pentingnya shalat berjamaah meskipun baru hari pertama setelah hari raya, padahal sebelumnya mereka memadati masjid-masjid untuk shalat tarawih yang jelas-jelas shalat itu hukumnya sunnah. Sementara untuk shalat lima waktu yang wajib dan bahkan orang yang meninggalkannya dihukumi kafir masih jarang sekali peminatnya.
  2. Merayakan berlalunya bulan Ramadhan (ied) dengan musik-musik dan film, berdandan dan berhias, campur baur antar laki-laki dan perempuan bersama-sama pergi ke tempat-tempat hiburan dan taman, penyelewengan dan seterusnya..
  3. Sebagian yang lain mereka pergi keluar negeri dengan tujuan untuk bermaksiat kepada Allah. Sendiri ataupun beramai-ramai, mereka berbondong-bondong menyerbu konter-konter pelayanan untuk membeli tiket ke negara-negara kafir, yang bejat dan rusak dan sebagainya. Apakah ini yang dinamakan mensyukuri nikmat??

Beginikah caranya mengakhiri bulan yang mulia ini dan mensyukuri berlalunya puasa dan shalat tarawih?? Apakah begini ciri-cirinya orang yang ibadahnya di bulan Ramadhan itu diterima?? Justru sebaliknya, hal itu justru menjerumuskan dalam ingkar nikmat serta tidak mensyukurinya.

Begitulah kiranya, jika ibadah mereka dibulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah azza wa jalla, semoga Allah menghindarkan kita dari hal itu. karena jika mereka adalah seorang yang berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa, mereka bergembira dengan datangnya hari raya idul fitri, mereka menuji dan bersyukur kepada Allah atas paripurnanya puasa. Disamping itu juga mereka sedih dan menangis karena takut jikalau puasa mereka tidak diterima. Sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh ulama’ salaf, mereka menangisi bulan Ramadhan selama enam bulan setelahnya, dan memohon supaya amalannya diterima.

Dan termasuk tanda jika amalan selama bulan puasa itu diterima adalah perubahan yang terlihat, yaitu menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Serta semakin bersemangat dalam ketaatan kepada Allah azza wa jalla. Sebagaimana ayat Allah:

قال الله تعالى: ﴿ وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ إبراهيم:7

“ Ketika Tuhan kalian menyerukan, jika kalian bersyukur tentu aku akan menambahkannya dengan lebih banyak” [Ibrahim/14 :7]

Yaitu tambahan kebaikan dalam kepekaan dan mentalitas. Yang berarti juga bertambah keimanan dan amal solehnya. Karena jika seorang hamba itu bersyukur kepada Tuhannya tentu ia akan bertambah semangat dalam melaksanakan kebaikan dan ketaatan. Dan berusaha sekuat mungkin dalam meninggalkan kemaksiatan. Karena syukur adalah meninggalkan maksiat, begitulah ulama’ salaf bersikap.

Pembahasan Ketiga : Beribadahlah kepada Allah hingga ajal menjemput !!
Sebagai seorang hamba, sudah semestinya senantiasa taat kepada Allah azza wa jalla, tenang diatas aturan-aturannya dan lurus menapaki agama-Nya. Tidak berjalan kesana kemari tanpa arah tujuan, tidak beribadah kepada Allah di salah satu bulan namun tidak di bulan yang lainnya, beribadah di suatu tempat namun tidak lagi di tempat yang lain, beribadah ketika bersama dengan orang-orang namun tidak ketika bersama dengan orang-orang yang lainnya. Tidakk!! Seribu kali tidak!

Karena sesungguhnya Tuhan Bulan Ramadhan juga sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Dia adalah Tuhannya hari, Tuhan di segala waktu dan tempat. Maka dari itu beristiqomahlah (tetap beribadah) kepada Allah hingga ajal menjemput kita sedangkan Dia ridho akan hal itu. Allah ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ هود :112 

“Istiqomahlah, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang orang yang taubat bersamamu”  [Hud/11 :112]

Dan juga :

قال الله تعالى: ﴿ فَاسْتَقِيْمُوْٓا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُفصلت :6

“Maka Istiqomahlah kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya” [Fushilat/41: 6]

Rasulullah –sallalllahu ‘alaihi wasallam- juga bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( قل آمنت بالله ثم استقم ) [رواه مسلم].  

 “Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian Istiqomahlah” (HR. Imam Muslim)

Jika memang puasa wajib telah usai, bukankah masih ada puasa-puasa yang sunnah?? Semisal puasa enam hari bulan Syawal, puasa Senin Kamis, puasa Ayyaamul Bidh, puasa ‘Asyura’, puasa ‘Arafah dan sebagainya.

Jika shalat tarawih telah selesai, bukankah masih ada shalat malam yang sangat lainnya?

قال الله تعالى: ﴿كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَالذاريات:17

“ Dan ketika malam hari, waktu tidur mereka sangatlah sebentar” [Adz-Dzariyaat/51: 17]

Dan jika tidak ada lagi zakat fitrah, bukankah masih banyak pintu lain?. Disetiap bulan selalu terbuka pintu-pintu sodaqoh, mendekatkan diri kepada Allah, jihad dan banyak lagi yang lainnya.

Sedangkan membaca Al-Qur’an dan mendalaminya tidak khusus pada bulan Ramadhan saja, bahkan setiap saat dianjurkan.

Begitulah seharusnya…beramal soleh itu bisa kapan saja, setiap saat, setiap waktu, maka bersungguh-sungguh untuk meraihnya wahai saudaraku. Dan janganlah kau pupuk kemalasan dan kelemahan kalian. Meskipun kalian enggan melakukan ibadah-ibadah sunnah, akan tetapi tidak boleh meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan meremehkannya selamanya. Seperti shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah dan lainnya.

Namun jangan pula terjerumus dalam keharaman, baik itu perkataan yang haram, makanan dan minuman haram, melihat sesuatu yang diharamkan dan mendengarkan hal-hal yang diharamkan.

Maka Allahlah naungan istiqomah kalian di dalam agama setiap saat. Malaikat maut yang akan datang kepada kalian tidak pernah diketahui kapan waktunya. Berhati-hatilah, jangan sampai kita menghadap-Nya sedangkan kita dalam keadaan bermaksiat.

Wahai dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati-hati kami dijalan agamamu

Pembahasan ke empat : Hari Raya Idul Fitri

Ada beberapa hal yang disyariatkan ketika hari raya idul fitri, diantaranya adalah:

  1. Zakat Fitrah sebelum Shalat ied, berupa 1 Sho’ gandum, kurma, kismis, beras dan makanan pokok lainnya, baik itu tua ataupun muda, laki-laki, perempuan, budak ataupun orang yang bebas asalkan mereka muslim.
  2. Makan beberapa korma atau satu korma sebelum berangkat ke tempat shalat ied
  3. Shalat berjamaah, menyimak Khotbah, dan para wanitapun ikut menyaksikannya.
  4. Jika memungkinkan hendaknya berjalan kaki saja ketika menuju kelapangan sambil mengucap kalimat takbir, “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamdu” untuk laki-laki hendaknya dikeraskan suaranya.
  5. Mandi dan memakai wangi-wangian buat yang laki-laki, memakai pakaian yang paling bagus namun tidak berlebih-lebihan dan tidak isbal (memakai pakaian yang menjulur hingga dibawah mata kaki), dan tidak berhias diri dengan mencukur jenggot karena itu adalah haram hukumnya, adapun bagi perempuan maka hendaknya tidak mempercantik diri yang berlebihan( tabarrujj), tidak memakai wangi-wangian ketika hendak pergi ke tempat shalat, karena sangatlah tidak pantas jika ketaatan kepada Allah harus dibarengi dengan maksiat kepada Allah yaitu bertabarruj, memakai wangi-wangian dihadapan para lelaki.
  6. Silaturrahmi, berkunjung kerumah kerabat, menjernihkan hati dan membersihkannya kebencian, hasad, dan ketidaksukaan dan semacamnya
  7. Menyantuni fakir miskin dan anak anak yatim, bantulah mereka, sisihkan sebagian kebahagiaan yang kita miliki untuk mereka
  8. Boleh mengucapkan kalimat selamat hari raya dengan ucapan “taqobballahu minna wa minka” sebagai mana ulama’ ulama’ terdahulu
  9. Jika telah usai hari raya maka segeralah penuhi tanggungan puasa yang sempat absen dibulan puasa, atau segera lah berpuasa syawal bagi yang tidak punya hutang puasa Ramadhan karena puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun penuh.

Dan yang terakhir..

Marilah, kita kembali bersungguh-sungguh didalam mengamalkan kebaikan. Jadikan hari raya ini terisi oleh perasaan takut dan berharap. Takut kalau saja amalan kita tidak diterima, dan berharap semoga amalan kita diterima oleh Allah azza wa jalla. Jadikanlah hari raya sebagai momentum untuk menyerahkan semuanya kepada Allah azza wa jalla. Karena ada diantara kita yang beruntung namun ada pula yang tidak.

Wuhaib bin Ar-rod melewati suatu kaum yang bermain dan bersenang-senang dihari raya, maka beliau berkata kepada mereka: “sungguh mengherankan, jika memang ibadah kalian telah diterima oleh Allah azza wa jalla apakah begini ungkapan orang-orang yang bersyukur?? apalagi jika memang ibadah kalian tidak diterima oleh Allah azza wa jalla, apakah begini ungkapan orang-orang yang ketakutan??”.

Lalu bagaimana dengan zaman kita saat ini yang segan lagi mengamalkan seuatu hal yang sia-sia dan menyimpang, bahkan menantang Allah dengan bermaksiat dihari raya..??

Semoga Allah menerima segala ibadahku dan ibadah kalian, puasa, shalat dan seluruh amalan. Dan menjadikan hari raya ini, hari raya yang penuh kebahagiaan, dan masih memberikan kesempatan lagi untuk berjumpa dengan Ramadhan dibanyak kesempatan, dan kita telah menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya, keadaan kita telah bertambah baik, pemimpin kita telah mulia, dan kembali ke jelan Allah dengan sebenar-benarnya..

Amin ya Allah..

[Disalin dari عيد الفطر أحكامه وآدابه Penulis : Qismul Ilmi Darul Wathan,  Penerjemah Ahmad Zawawi Abu Abadillah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]