Author Archives: editor

Surat Kepada Guru dan Murid

SURAT KEPADA GURU DAN MURID

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabatnya semua.

Islam benar-benar memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu, mengajak manusia kepadanya, menjelaskan adab-adabnya, menerangkan manfaat-manfaatnya dan memperingatkan orang-orang yang berpaling darinya. Ketika Islam datang, prioritas pertama diberikan adalah memperluas pengetahuan menusia dengan ilmu:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.“

Dalam menyebarlah ilmu kepada umat ini hendaklah dengan melalui “basmalah.” Cukuplah bacaan ini sebagai penolong dalam menuntut ilmu.

Ilmu adalah warisan kenabian:

وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ

Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud.“

Orang yang menuntut ilmu termasuk dalam jajaran orang-orang mulia dan agung:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ 

“Allah mengangkat orang-orang beriman diantara kalian dan orang-orang berilmu beberapa derajat.“

Menapaki jalan ilmu adalah tangga untuk kekal dalam surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ رواه مسلم

“Barang siapa melalui suatu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga.“ [HR. Muslim].

Para makhluk ridla kepada penunutut ilmu, meminta ampun untuknya atas perbuatanya, dan para malaikat juga senang berkumpul dengannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَإنَّ الملائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطالب الْعِلْمِ رِضًا بِما يَصْنَعُ، وَإنَّ الْعالِم لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ منْ في السَّمَواتِ ومنْ فِي الأرْضِ حتَّى الحِيتانُ في الماءِ،( المتبحر فيه قمر يضاءالكون بنوره)  وفَضْلُ الْعَالِم عَلَى الْعابِدِ كَفَضْلِ الْقَمر عَلى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وإنَّ الْعُلَماءَ وَرَثَةُ الأنْبِياءِ وإنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَارًا وَلا دِرْهَمًا وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ. رواهُ الترمذيُّ.

Dan sungguh para malaikat meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridloanya atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu, bahkan ikan-ikan paus di air juga melakukan hal yang sama ( orang yang luas ilmunya bagaikan bulan yang menyinari alam dengan cahayanya), dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang, para ulama adalah pewaris Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.“ [HR. Tirmizi].

Menuntut ilmu karena Allah adalah ibadah, pengetahuan tentangnya adalah bagian dari takut kepada-Nya, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mendermakanya untuk ahlinya adalah satu bentuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala dikenal dan disembah, dipuji dan di-Esakan, ia adalah teman dalam kesendirian, kawan dalam kesepian, denganya kekerabatan disambung, halal dan haram diketahui, ilmu adalah sebaik-baik perolehan, simpanan kekayaan termahal, buah terbaik yang dipetik, Basyr Al-Hafi berkata: “Aku tidak mengetahui amalan yang lebih utama di atas muka bumi ini selain menuntut ilmu.“

Menuntut ilmu adalah bagian dari menghidupkan agama-Nya dan menghinakan setan. Sebab ilmu itu sebagai petunjuk kepada kebaikan, penolong untuk menuju kepada keperwiraan, Ibnu Uyainah berkata: “Barang siapa menuntut ilmu, maka sesungguhnya ia telah berbuat baik kepada Allah.“

Orang yang mendapat petunjuk kepada ilmu adalah pemilik kebaikan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ 

Barang siapa dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala suatu kebaikan, maka akan diberi pemahaman dalam agama.“

Wahai kaum Muslimin
Tidak ada kebaikan bagi jiwa kecuali dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menuntut ilmu adalah satu bentuk ibadah, dan niat adalah pondasinya, maka luruskanlah niat dalam menuntut ilmu semata-mata untuk menggapai ridla-Nya, jangan engkau palingkan niat kepada harta duniawi karena semuanya pasti akan binasa, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa mempelajari ilmu yang digunakan untuk mencari ridla Allah Azza wa Jalla, lalu ia tidak mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat.“

Menuntut ilmu tanpa disertai niat yang baik adalah usaha yang sia-sia, tidak mendapatkan pahala, bahkan pelakunya terancam dan akan mempertanggungjawabkan pada hari perhitungan. Setiap ilmu yang tidak menyebabkan pemiliknya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengancam penunututnya, ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, banyak keutamaan yang didapat dalam memadukan keduanya, orang akan mengambil manfaat dari ilmu anda sebanding dengan pengamalan anda, hendaklah hati anda bersih dan jauh dari akhlak yang buruk dan sifat yang tercela, mulailah dalam menuntut ilmu dengan menghafal kitab Allah dengan baik dan tadabur, sungguh umat ini telah menguasai setiap disiplin ilmu, maka barang siapa diberi cahaya dan petunjuk-Nya untuk mencapai itu, maka hafalkanlah ringkasan setiap ilmu, kemudian beralihlah kepada yang lebih luas (syarah-syarah), ambilah pelajaran yang terbaik, berikan perhatiaan kepada ilmu yang memiliki urgensi lebih besar serta dalamilah ia, ambilah ilmu dari orang yang ahli dan dapat dijadikan panutan baik dari sisi keilmuan maupun amalanya, sesungguhnya ilmu ini agama, maka perhatikanlah dari siapa anda mengambil agama anda, dan pilihlah dalam perjalananmu menuntut ilmu teman yang dapat menolongmu jika kamu bimbang, serta menguatkan semangtmu ketika kamu lemah, jauhilah dari berteman dengan para penganggur, manfaatkan masa kanak-kanak untuk menuntut ilmu, karena masa itu lebih dapat menghadirkan hati dan menfokuskan fikiran, sesungguhnya agama keseluruhanya adalah ilmu tentang kebenaran dengan pengamalan, ilmu dan amal membutuhkan kesabaran, dan orang yang sabar dijanjikan surga:

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ 

(sambil mengucapkan),” selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.“ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.“

Ilmu tidak akan didapat kecuali dengan kesabaran dalam menghadapi segala kondisi yang tidak mengenakan, dan dengan mengorbankan jiwa serta waktu dalam menuntutnya, dan dengan memperhatikan akibat dari semua urusan niscaya kesabaran akan terasa ringan.

Wahai Para Pelajar!
Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan tawadlu‘ (kerendahan hati) dan menfokuskan pendengaran, karena itu hormatilah gurumu, angkatlah derajatnya dengan bertindak sopan terhadapnya baik dalam berbicara, mendengar, maupun dalam bertingkah laku, adab yang jelek terhadap guru berarti keluar dari keperwiraan dan kebajikan, bertentangan dengan adab para salafushalih, Ar-Rabi‘ berkata:“Demi Allah aku tidak berani untuk meminum air sedang imam Syafi’i melihatku karena rasa hormatku kepadanya.“

Dan berterima kasihlah kepada guru atas bimbinganya, karena tidak dianggap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak berterima kasih kepada manusia, dan termasuk bentuk cinta seorang murid kepada guru adalah memaafkan segala kekuranganya dan mengembalikan celah kepada diri sendiri, berbicaralah kepadanya dengan baik,  lembutkanlah suara ketika bertanya dan ketika menjawab, hendarilah berdebat denganya, Az-Zuhri berkata : “Abu Salamah pernah mendebat Ibnu Abbas, maka akibatnya  ia tercegah dari memperoleh ilmu yang banyak.“

Dengarkanlah pembicaraan gurumu dengan seksama, jangan malu bertanya tentang agama jika ada yang tidak anda fahami, bertanya tentang agama adalah kemuliaan, sedang enggan bertanya dan memilih untuk tetap dalam kebodohan adalah kehinaan, Aisyah Radhiyallahu anha. berkata:“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati para wanita Anshar, rasa malu mereka tidak mencegah mereka untuk memperdalam agama.“

Hindarilah gangguan-gangguan yang dapat menghambat perjalanan Anda dalam menuntut ilmu, karena belajar dan menghafal tidak akan efektif dengan kehadiran gangguan-gangguan. Begitu juga berada dalam situasi kehidupan yang glamor akan mengganggu fikiran dan menjadikan hidup seakan dalam alam angan-angan serta membuang waktu dengan percuma, menjauhi semua itu  yang jelek. Bersihkanlah pendengaran dan pengelihatanmu dari segala yang dapat mengotori pikiranmu, memperburuk perilakumu dan merusak akhlakmu, sehingga kamu mengesampingkan ilmu dan hidup dalam kehinaan. Teman adalah ibarat jiwa kedua, jika ia baik maka akan menolong, tapi jika buruk maka akan merusak. Jauhilah teman buruk karena ia dapat melunturkan kekuatan obsesi dan menjerumuskan Anda ke dalam lingkungan masyarakat terbelakang, karena teman dari kalangan pengangguran hanya akan mengganggu, mengajak untuk menunda-nunda pekerjaan dan hanya membisikkan angan-angan belaka.

Wahai Para Guru!
Tugas mengajar adalah tugas yang berat, amanat yang dibebankan kepada pengajar teramat besar, perjalanan hidup dan tanggung jawab para guru tidaklah ringan. Anda memikul amanah yang berat, mendapatkan warisan yang sarat dengan tanggung jawab. Umat ini senantiasa mengharapkan dari Anda lahirnya generasi yang memilki kemauan kuat dan pandangan yang tajam. Anda para guru adalah pelindung para pemuda, pendidik segenap generasi, penyiram pohon masa depan, pembawa risalah yang mulia. Penunjuk kebaikan bagi manusia senantiasa mendapat curahan salawat dari-Nya dan dari malaikat-Nya, alam seluruhnya memohonkan ampunan untuk Anda termasuk juga doa dari ikan di lautan dan burung di udara.

Guru adalah pembimbing yang meneladani para Nabi dan menapaki langkah para Rasul dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Ikhlaskanlah niat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, resapilah keutamaan ilmu dan keutamaan mengajarkanya dalam rangka menghidupkan syariat dan memelihara syiar agama, jadilah teladan dalam berakhlak dan beragama, berikanlah nasehat yang tulus kepada murid saat mengajar, dan di antara petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbelas kasihan terhadap murid, baik mereka yang masih kecil maupun yang telah besar.

Sebuah hadits berkisah tentang  seorang Arab Badui yang kencing di masjid cukup jelas menunjukan hal itu, berupayalah untuk senantiasa menyatukan hati anak-anak kaum muslimin dalam kebajikan dan takwa. Jauhkanlah segala gangguan dari mereka semua dalam menuntut ilmu. Boleh jadi terpengaruhnya murid Anda kepada Anda melebihi terpengaruhnya seorang anak kepada bapaknya. Bermurah hatilah dalam mengajar karena itu adalah watak orang-orang salih, bersabarlah dalam menghadapi mereka karena sesungguhnya menanam itu susah sedang saat memetik penuh dengan buah dan pahala. Jangan sekali-kali meremehkan murid Anda meski  kemampuanya lemah dan perolehannya rendah. Menjadi keburukan bagi seseorang apabila ia meremehkah saudara muslimnya. Berlakulah dengan adil dalam bersikap, memandang, mengganjar dan memberi sangsi terhadap murid-murid Anda, hindarilah dari berbuat dzalim dan menang sendiri.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata: “Setiap yang memutuskan perkara di antara dua pihak maka ia adalah hakim, bahkan yang memutuskan di antara anak-anak kecilpun demikian, karena para sahabat dulu juga menganggapnya hakim.  Hadits mengatakan: “hakim itu ada tiga; dua di neraka dan satu di surga.“

Guru termasuk di dalamnya, sesungguhnya membentengi para siswa dengan ilmu syari‘ah merupakan tuntutan syar’i, meskipun arah kecenderungan mereka bukan kepada ilmu agama, ilmu syari’ah akan membekali sisiwa dengan ketenangan dan kebahagiaan saat belajar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ 

“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.“

Adalah merupakan aib bagi seseorang yang hanya mengetahui ilmu umum tetapi bodoh dengan ilmu syari’ah yang mendasar. Kebutuhanya akan agama semakin meningkat seiring dengan banyaknya fitnah dan cobaan yang ia hadapi. Seorang muslim akan menjadi insan yang unggul dengan ilmu dan keluasan pengetahuanya, didukung oleh cahaya iman yang memadukan antara dunia dan akhirat serta seluruh yang ada di alam dengan ke-Esaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai Guru dan Pelajar Perempuan
Berdiam diri di rumah bagi perempuan adalah tuntutan dan aturan  syar’i, keluarnya perempuan dari rumah untuk mengajar terikat dengan syarat-syarat serta harus sejalan dengan kaidah-kaidah syari’ah. Jadilah Anda perempuan yang bangga ketika menjalankan perintah Tuhanmu. Hijab adalah penjelas dan cadar adalah penerang. Kecantikan wanita ada pada kesopanannya dan keindahannya terdapat dalam iffahnya (kehormatan dan kesucian). Jadilah seorang dai untuk agama Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui komitmen dengan agama-Nya. Hindarilah perilaku yang dapat mencederai kehormatan kaum muslim dengan ghibah, adu domba dan memperolok-olok orang lain. Jauhilah sifat sombong dan berbangga diri. Jadikanlah setiap tahapan pendidikan Anda sebagai sarana meningkatkan iman dan pelajaran yang efektif  untuk membangun generasi yang beriman.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Katakanlah, apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.“.

Ujub dan  marah adalah penyakit ilmu, sedangkan sifat ramah dan rendah hati adalah hiasannya. Orang yang bahagia adalah orang yang tahu jalan menuju Tuhanya, ia berjalan di atas jalan itu untuk menuju kepada-Nya, itulah orang yang dermawan kepada Tuhannya. Sedangkan orang yang tercegah dari kebahagiaan adalah orang yang tahu jalan menuju Tuhan-Nya kemudian ia berpaling dari-Nya. Kebaikan yang sempurna adalah memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada saat menuntut ilmu sebagai warisan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu yang hak adalah ilmu yang sesuai dengan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keinginan yang benar adalah yang mendatangkan kecintaan dan ridla-Nya. Ilmu yang bermanfaat adalah sumber petunjuk dan mengamalkan kebenaran adalah petunjuk. Kesesatan adalah beramal tanpa ilmu dan mengikuti hawa nafsu. Petunjuk tidak akan diraih kecuali dengan ilmu dan kesabaran. Pangkal kejahatan adalah kebodohan dan tidak berilmu. Malas dalam mencari nilai-nilai keutamaan adalah seburuk-buruk teman.

Bersiap-siaplah untuk meraih ilmu dengan membersihkan jiwa dari kelemahan dan mengikuti hawa nafsu. Tawadlu’ (merendah) di hadapan ulama adalah memuliakan diri dari kehinaan. Sesalilah kelalaian yang lalu, dan bersungguh-sungguhlah  dalam mengejar jejak orang-orang yang memilki keutamaan dan  cita-cita mulia selama masih ada keluasan waktu dan usia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya kepadamu dan membimbing langkahmu menuju kebaikan. Amin…

Wasallallah ‘alaa Nabiyina Muhammad.

[Disalin dari رسالة إلى المعلم والمتعلم Penulis Syekh Abdul Muhsin bin Muhamad Al-Qasim , Penerjemah : Muh. Lutfi Firdaus, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan Dengan Kesabaran

KEUTAMAAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN DENGAN KESABARAN

Urgensi Mendidik Anak-Anak
Untuk mewujudkan generasi yang baik diperlukan pendidik yang mukhlis dan murni niatnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. dan hanya mengharap keridhaanNya disamping mampu menghadirkan contoh yang patut ditiru dalam segala hal kebaikan karena orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikan apa-apa.

Amar bin Utbah berwasiat kepada orang yang mendidik anaknya, “Wahai Abu Abd. Shamad, yang pertama harus Anda lakukan dalam memperbaiki anak-anakku adalah perbaikan dirimu sendiri karena mata mereka jeli dengan keberadaan dirimu. Kebaikan menurut mereka adalah apa yang Anda lakukan dan keburukan menurut mereka adalah apa yang Anda tinggalkan.

Kaum Perempuan Antara Cahaya Islam dan Kegelapan Jahiliyah
Dahulu di zaman jahiliyah, masyarakat lebih mencintai anak laki-laki dan mendahulukannya daripada anak perempuan. Bahkan di antara mereka ada yang membenci dan menjauhi istrinya karena melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Demikianlah, yang disukai oleh mereka adalah kehamilan anak laki-laki karena mereka orang-orang yang senang perang. Oleh karena itu, kesenangan mereka terhadap anak laki-laki tersebut lahir dari tabiat kehidupan mereka.

Kemudian, datanglah Islam dengan sinarnya yang cemerlang bagai matahari yang menyinari seluruh peloksok negeri dan semua penghuninya. (Setelah lama umat manusia membenci anak perempuan kaum jahiliyah) tiba-tiba Islam menyeru dengan lantang dengan keutamaan mendidik anak perempuan. Islam menawarkan banyak kebaikan dan pahala yang besar atas mendidik anak perempuan bagi orang melaksanakan tugas mulia ini.

Lebih dari itu, sebagian orang Arab dahulu karena kedunguan dan kebodohan mereka terhadap sifat-sifat Tuhan, mereka menguburkan hidup-hidup anak perempuan ke dalam tanah. Sebaliknya dari itu, Islam telah menjadikan berbuat ihsan terhadap anak perempuan sebagai qurbah (pendekatan diri kepada Allah) yang akan mengantarkan seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan, kepada kebahagiaan di akhirat dan terbebas dari neraka. Oleh karena itu, tidak seyogyanya membeda-bedakan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan karena kedua-duanya merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perinsip lebih mencintai anak laki-laki ketimbang anak perempuan ini merupakan kegelapan jahiliyah. Yang sangat disayangkan adalah bahwa hal ini masih ada pengaruhnya hingga sekarang, dimana masalah ini di sebagian masyarakat, menguat, tapi di sebagian masyarakat lain melemah. Hal ini kembali kepada kuat atau lemahnya keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan dengan Kesabaran
Di antara anak-anak perempuan banyak yang muslimah, mukminah, ahli ibadah, jujur, sabar, khusyu’, tekun shalat dan puasa, banyak bersedekah dan banyak bedzikir. Bahkan kita dapat saksikan di zaman kita sekarang banyak dari anak-anak perempuan kita –segala puji bagi Allah– sudah banyak perhatian kepada dzikir, ibadah dan berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita dapatkan adanya perlombaan di markas-markas liburan musim panas yang banyak diikiti oleh kaum wanita. Ketika mereka diseru untuk berinfak, kita banyak mendapatkan mereka bersedekah dengan perhiasan mereka. Hal ini mengingatkan kita pada tindakan shahabiyat atau para wanita di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenikmatan seperti itu hendaknya tetap dilestarikan, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dalam sabdanya:

لاَ يَزاَلُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قاَئِمَةً عَلىَ الْحَقِّ مَنْصُوْرَةً لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خاَلَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أمْرُ اللهِ

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran dan senantiasa ditolong. Mereka tidak akan mundur oleh celaan orang yang mencela dan menentang hingga pertolongan Allah datang.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Para anak perempuan itu merupakan buah hati dan penenang jiwa para orang tua di kala masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Sebagaimana mereka adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. kepada hambaNya yang dikehendaki, bukankah mereka juga adalah (manusia) sebagai ibu, saudari atau istri? Kalau sudah jelas seperti ini, siapa lagi yang akan membenci dan tidak mau mendidik anak perempuan?!

Mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم

“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu akau berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda.

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R Muslim 2629)

Didalam hadits ini terdapat indikasi yang jelas atas ketinggian kasih sayang ibu yang tidak terhingga. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ini juga menunjukkan bahwa hal itu bisa dicapai dengan ujian mendapat satu anak perempuan saja.

Mendidik anak perempuan dapat mengantarkan masuk ke surga.
Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ 

“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu  aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka” [H.R Muslim 2630]

Kejadian ini persis dengan kejadian yang dikisahkan pada hadits yang sebelumnya. Akan tetapi, pengorbanan seorang ibu dalam kejadian di hadits ini lebih nampak dan sifat itsar (memperioritaskan orang lain atas diri)nya lebih besar dimana ia tidak makan sedikit pun dan mendahulukan kedua anaknya.

Mendidik anak perempuan dapat mengangkat derajat.
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” Nabi menggabungkan jari-jari jemarinya. [HR Muslim 2631]

Dalam hadits ini terdapat bisyaroh (kabar gembira) yang besar bagi orang yang dikaruniai dua anak perempuan kemudian ia merawat dan mendidiknya dengan baik, dimana ia nanti di hari kiamat masuk dalam kelompok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan senantiasa menyertainya sebagaimana jari telunjuk dan jari tengah akan selalu berdampingan dan dekat ketika digenggamkan. Hal ini cukup menjadi keutamaan dan kebanggaan karena orang yang berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang penuh dengan rasa bingung dan goncang hati Insya Allah akan terjamin dan aman dari kekacauan yang terjadi pada hari itu.

Dalam riwayat lain dikatakan,

مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنَ دَخَلْتُ أناَ وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهاَتَيْنِ

Barangsiapa yang memelihara dua anak perempuan, niscaya aku dan dia masuk surga seperti kedua hal ini, (perowi berkata) dan beliau memberi isyarat dengan kedua jari tangan beliau [HR. At Tirmidzi, No.1914]

Pengertian hadits ini adalah bahwa orang seperti itu akan termasuk assabiqunal-awwalun (yaitu orang-orang yang lebih dahulu) masuk surga.

Mengenai keutamaan merawat dan mendidik satu anak perempuan saja, diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:

مَنْ كاَنَتْ لَهُ أُنْثَى فَلَمْ يَئِدْهاَ وَلَمْ يُهِنْهاَ وَلَمْ يُؤْثِرْ وَلَدَهُ عَلَيْهاَ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa memiliki seorang anak perempuan, ia tidak menyakitinya, tidak pula menghinakannya, anak laki-lakinya tidak mempengaruhinya untuk lebih mendahulukannya atas anak perempuannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Surga [HR. Abu Dawud, No.5146, Al-Hakim, 4/177]

Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menerangkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin masuk surga, yaitu dengan berbuat ihsan terhadap anak perempuan dengan rincian sebagai berikut:

  1. Merawatnya hidup dan tidak menguburkannya hidup-hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
  2. Memuliakan, memelihara dengan baik dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, kebanggaan dan penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan
  3. Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka

Barangsiapa yang dapat merealisasikan tiga syarat di atas maka ia sangat patut untuk mendapatkan pahala tersebut di atas yaitu masuk surga.

Mendidik anak perempuan dan mentarbiyahnya akan menjadi tabir dan penghalang dari api neraka.
Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda,

مَنْ كاَنَ لَهُ ثَلاَثُ بَناَتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقاَهُنَّ وَكَساَهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجاَباً مِنَ النّاَرِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ

Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.”  [HR. Ahmad]

مَنْ عاَلَ ابْنَتَيْنِ أوْ ثَلاَثَ بَناَتٍ أوْ أُخْتَيَنِ أوْ ثَلاَثَ أخَواَتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أوْ يَمُوْتُ عَنْهُنَّ كُنْتُ أناَ وَهُوَ كَهاَتَيْنِ

Barangsiapa yang menanggung dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lebih dahulu meninggal dunia maka aku dan dia seperti dua ini.”  Beliau berisyarat dengan dua jarinya; telunjuk dan jari tengah. [Shahih al Jami’]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَقَامَ عَلَيْهِنَّ كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ الْأَرْبَعِ

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan  (atau tiga saudara perempuan) dan dia bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, dan ia memberi nafkah dan mendidik mereka, maka dia berada bersamaku di surga seperti ini dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan tengah” [HR. Ahmad : 12133]

[Disalin dari زيادة الحسنات في تربية البنات   Penulis Muhammad bin Ali al-‘Arfaj , Penerjemah : Hidayat Mustafid, MA, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Propaganda Ikhtilath dalam Pendidikan

BANTAHAN TERHADAP PROPAGANDA IKHTILATH (BERGABUNG LAKI-LAKI DAN WANITA) DALAM PENDIDIKAN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…wa ba’du:

Saya sudah mempelajari makalah yang dipublikasikan surat kabar Siyasah yang terbit pada tanggal 24/7/1404 H. Edisi no.5633 yang ditulis oleh Rektor universitas Shan’a : Abdul Aziz al-Muqalih yang mengaku bahwa tuntutan memisahkan siswi/mahasiswi dari siswa/mahasiswa menyalahi syari’at. Dia mengambil dalil bolehnya ikhtilath bahwa kaum muslimin dari masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat di satu masjid, laki-laki dan wanita, dan ia berkata: ‘Karena itulah pendidikan harus berada dalam satu tempat.’ Saya merasa heran munculnya pernyataan ini dari rektor sebuah universitas Islam di negeri Islam yang seharusnya mengarahkan masyarakatnya, baik laki-laki maupun perempuan, menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Inaalillahi wa ilaihi raji’un, walaa haula wala quwwata illa billah.

Tidak disangsikan lagi bahwa ucapan ini merupakan kejahatan besar terhadap syari’at Islam karena syari’at tidak pernah mengajak kepada ikhtilath sehingga tuntutan menghalanginya dianggap menyalahi syari’at, bahkan syari’at menghalanginya dan bersikap keras dalam hal itu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu [al-Ahzab/33: 33]

Dan firman-Nya:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzab/33:59]

Dan firman-Nya:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِى اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَآءِ وَلاَيَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nur/24:31]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. [al-Ahzab/33:53]

Di dalam ayat yang mulia ini merupakan dalil yang jelas disyariatkannya wanita agar tetap berada di rumah supaya terhindar dari fitnah kecuali ada keperluan yang mengharuskan dia keluar rumah. Kemudian memperingatkan mereka dari tingkah laku kaum jahiliyah, yaitu menampakan keindahan dan lekuk-lekuk tubuh mereka di hadapan laki-laki. Diriwayatkan dalam hadits shahih:

مَاتَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَشَدَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih berbahaya terhadap laki-laki dari pada wanita.”[1] [Muttafaqun ‘alaih dari hadits Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu].

Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, dari Usamah dan Sa’ib bin Zaid bin Amar bin Nufail semuanya. Dan dalam shahih Muslim,  dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَنَاظِرٌ (فَيَنْظُرُ) كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ. فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءِ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ.

Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan engkau (hidup) silih berganti padanya, maka Dia melihat apa yang engkau lakukan. maka takutilah dunia dan takutilah wanita, sesungguhnya permulaan fitnah bani Israel adalah pada wanita.”[2]

Sungguh benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, fitnah mereka sungguh besar terutama di masa sekarang yang sebagian besar mereka membuka hijab dan berperilaku seperti kaum jahiliyah. Karena sebab itulah banyak sekali terjadi kemungkaran dan perbuatan fahisyah, dan banyak anak muda yang berpaling dari perkawinan yang disyari’atkan. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa hijab mensucikan hati semua orang, maka hal itu menunjukkan bahwa hilangnya hijab lebih dekat kepada najisnya hati dan mereka berpaling dari jalan yang benar.

Sudah diketahui bahwa duduknya siswi bersama siswa di kursi pendidikan merupakan penyebab fitnah terbesar dan termasuk penyebab meninggalkan hijab yang disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada wanita beriman dan melarang mereka menampakan perhiasan mereka kepada selain orang-orang yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat di atas dari surah an-Nur. Barangsiapa yang menyangka bahwa perintah hijab khusus bagi para ummul mukminin saja sungguh merupakan pemahaman yang jauh dari kebenaran dan bertentangan dengan dalil-dalil lainnya yang bersifat umum, serta menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.  [al-Ahzab/33:53]

Tidak boleh dikatakan bahwa hijab lebih membersihkan hati para ummul mukminin dan para sahabat saja, bukan para generasi sesudahnya. Tidak diragukan bahwa generasi sesudahnya lebih membutuhkan hijab dari pada ummul mukminin dan para sahabat karena perbedaan yang sangat jauh dalam iman. Karena para sahabat, laki-laki dan perempuan, termasuk para ummul mukminin adalah manusia paling utama setelah para nabi dan masa terbaik menurut penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam shahihahin. Apabila hijab lebih membersihkan hati mereka maka generasi sesudah mereka lebih membutuhkan kesucian ini, karena nash yang ada dalam al-Qur`an tidak boleh ditentukan untuk satu golongan umat kecuali ada dalil yang shahih yang menunjukan takhshish (penentuan khusus untuk kaum tertentu). Ayat itu berlaku untuk semua umat di masa Nabi dan masa sesudahnya hingga hari kiamat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus rasul-Nya kepada bangsa jin dan manusia di masanya dan masa sesudahnya hingga hari kiamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah:”Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,. [al-A`raaf/7:158]

Dan firman-Nya:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan,. [as-Saba/34 :28]

Seperti inilah al-Qur`an, tidak diturunkan untuk yang hidup di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, namun ia diturunkan untuk mereka dan generasi sesudahnya yang telah sampai kepadanya Kitabullah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هَذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُو اْلأَلْبَابِ

(al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.  [Ibrahim/14 :52]

Dan firman-Nya:

وَأُوحِىَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ

Dan al-Qur’an ini dwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).  [al-An’am/6:19]

Para wanita di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ikhtilath dengan laki-laki, tidak di masjid dan tidak pula di pasar, ikhtilath yang dilarang oleh kaum ishlah (yang menghendaki kebaikan) di masa sekarang, dan al-Qur`an, sunnah dan para ulama memperingatkan darinya karena khawatir terhadap fitnahnya. Bahkan para wanita yang shalat di masjid bersama Nabi  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada shaf (barisan) di belakang laki-laki. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertamanya dan seburuk-seburuknya adalah yang paling akhir, dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan.”

Karena khawatir terhadap fitnah shaf terakhir laki-laki dengan shaf pertama wanita. Laki-laki di masa Nabi diperintahkan agar tidak langsung berpaling sampai para wanita selesai dan keluar dari masjid  agar tidak ikhtilath dengan laki-laki di pintu masjid, padahal mereka mempunyai iman dan taqwa yang kuat. Bagaimana keadaan umat sesudah mereka? Wanita disuruh agar melewati tepi jalan karena khawatir bersentuhan dengan laki-laki dan fitnah bersentuhan satu sama lain saat berjalan di tengah jalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh para wanita agar menurunkan jilbab supaya menutup perhiasan mereka karena khawatir fitnah mereka dan Dia melarang mereka menampakan perhiasan kepada selain yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya yang agung, karena menutup penyebab fitnah dan mendorong sebab-sebab ‘iffah dan jauh dari kerusakan dan ikhtilath.

Bagaimana mungkin rektor universitas Shan’a` ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepadanya. Mengajak ikhtilath dan mengira bahwa Islam menganjurkannya, lingkungan universitas sama seperti masjid, jam belajar sama seperti jam shalat? Sudah diketahui bahwa perbedaan sangat besar bagi orang yang memahami perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal hikmah-Nya dalam menetapkan syari’at untuk hamba-Nya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengatakan bahwa seorang siswi duduk berdampingan dengan siswa di kursi belajar sama seperti duduknya bersama teman-temannya di belakang laki-laki. Ini tidak pernah dikatakan oleh seseorang yang memiliki iman dalam jiwanya dan memahami yang dikatakannya. Hal ini jika ada hijab secara syara’, maka bagaimana apabila duduknya bersama siswa di kursi belajar dalam kondisi tabarruj, menampakan keindahan, pandangan yang menggoda dan percakapan yang menyeret kepada fitnah? Wallahul musta’an, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [al-Hajj/22:46]

Adapun ucapannya : (Realitanya, sesungguhnya kaum muslimin sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat di dalam satu masjid, laki-laki dan wanita, karena itulah pendidikan harus berada dalam satu tempat). Jawabannya adalah : Yang dikatakan ini benar, akan tetapi para wanita berada di bagian belakang masjid serta memakai hijab dan menjaga diri dari penyebab fitnah, dan laki-laki berada di bagian depan masjid. Maka mereka mendengarkan nasehat dan khutbah, ikut serta shalat, belajar hukum-hukum agama dari yang mereka dengar dan mereka lihat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari lebaran pergi mengunjungi para wanita setelah selesai memberi nasehat kepada laki-laki, maka nabi memberi nasehat dan mengingatkan mereka karena posisi mereka yang jauh hingga tidak bisa mendengarkan khutbahnya. Semua ini tidak ada masalah.

Yang menjadi persoalan adalah ucapannya (karena itulah pendidikan harus berada dalam satu tempat). Bagaimana mungkin ia membandingkan pendidikan di masa sekarang dengan shalat wanita yang berada di belakang laki-laki di dalam satu masjid. Padahal perbedaan sangat jauh di antara pendidikan yang ada di masa sekarang dan realita shalat wanita di belakang laki-laki di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Karena itulah kaum ishlah mengajak kepada pemisahan wanita dari laki-laki di lembaga pendidikan, mereka berada dalam satu tempat dan laki-laki di tempat tersendiri, sehingga mereka bisa menerima ilmu dari para pengajar wanita dengan tenang tanpa perlu hijab dan rasa berat, karena waktu belajar itu lama, berbeda dengan waktu shalat. Dan karena menerima pengajaran dari guru-guru wanita di tempat khusus lebih menjaga semua dan lebih menjauhkan dari sebab-sebab fitnah, dan lebih selamat bagi pemuda dari fitnah mereka. Dan sesungguhnya terpisahnya laki-laki di lembaga pendidikan dari wanita, di samping lebih aman bagi mereka dari fitnah, maka ia lebih dekat kepada konsentrasi mereka terhadap mata pelajaran, mendengarkan dengan baik keterangan para pengajar, jauh dari perhatian para gadis dan sibuk dengan mereka, bertukar pandangan yang beracun dan kata-kata yang mengundang perbuatan fasik.

Adapun pengakuannya bahwa ajakan untuk memisahkan siswi dari para siswa menyalahi syari’at, maka ia adalah pengakuan yang tidak bisa diterima, tetapi hal itu adalah inti nasehat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hamba-hamba-Nya, menjaga agamanya dan mengamalkan ayat-ayat dan hadits yang telah disebutkan.

Nasehat saya kepada rektor universitas Shan’a` agar bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya karena ucapannya itu, hendaklah ia kembali kepada kebenaran dan haq. Karena kembali ke jalan yang benar adalah inti keutamaan dan petunjuk atas keseriusan penuntut ilmu mencari kebenaran. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon agar memberi petunjuk kepada kita jalan petunjuk, melindungi kita dan semua kaum muslimin dari ucapan tanpa berdasarkan ilmu, dan dari kesesatan fitnah dan gangguan syetan. Sebagaimana saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi taufik kepada para ulama islam dan para pemimpinnya di semua tempat untuk kebaikan hamba dan negara di dalam kehidupan dunia dan akhirat, semoga Dia memberi petunjuk kepada semua jalan-Nya yang lurus, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, serta para pengikut mereka dalam kebaikan hingga hari pembasalan. [Syaikh Bin Baz –Fatawa Islamiyah (3/94)]

[Disalin dari الرد على دعاة التعليم المختلط Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Penerjemah : Muhammad Iqbal A.Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari 5096 dan Muslim 2741.
[2]  Muslim 2742.dan padanya (fayanzhuru) sebagai pengganti (fanazhirun).

Beberapa Nasehat Untuk Para Guru

BEBERAPA NASEHAT UNTUK PARA GURU

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Amma Ba’du:

Di bawah ini adalah sebagian wasiat yang aku wasiatkan kepada diriku dan kepada saudara-saudaraku, para guru dan aku memohon kepada Allah semoga nasehat ini bermanfaat.

Wasiat pertama: Mengikhlaskan niat untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata dalam menjalankan tugas mengajari anak-anak dan siswa mereka, mendidik mereka dengan pendidikan yang diridhai oleh Allah Azza Wa Jalla, bersabar atas yang demikian itu guna mendapat pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, mengharap balasan dari -Nya. Sebagian ulama berkata: Ikhlas adalah engkau tidak meminta seorang saksipun terhadap amal yang kamu kerjakan selain Allah Ta’ala dan tidak pula mengharap balasan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah hakekat agama itu dan kunci dakwah para rasul Allah semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan kesejahteraan -Nya kepada mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada -Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. [Al-Bayyinah/98: 5]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٦١ قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ   [الأنعام: 161- 163 ]

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik“. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi -Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [Al-An’am/6: 161-163].

Dan Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal perbuatan, sebab suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah kecuali jika dia telah memenuhi dua syarat:

Pertama: Zahir amal tersebut nampak sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab -Nya atau telah dijelaskan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengada-mengadakan perkara baru dalam urusan agama kita ini maka dia tertolak”.[1]

Kedua: Amal tersebut dkerjakan ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amal tersebut tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan seperti apa yang diniatkannya”.[2]

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Amal yang terbaik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Dan dia berkata: Sesungguhnya suatu amalan kalau dikerjakan dengan penuh ikhlas namun tidak benar maka dia tidak akan diterima, dan apabila amal tersebut benar namun tidak dikerjakan dengan dasar ikhlas maka amal itupun tidak akan diterima sehingga amal tersebut ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amal yang dikerjakan karena Allah dan amal yang benar adalah amal yang dikerjakan berdasarkan sunnah”.[3]

Diantara bukti utama bahwa seseorang menjalankan amal didasarkan pada keikhlasan adalah jika seorang hamba mengerjakan suatu amal shaleh dan dia tidak peduli terhadap penglihatan manusia baginya, bahkan jika amal tersebut dinisbatkan kepada orang lain maka hal itu sangat menggembirakannya, sebab dia menyadari bahwa amalnya dijaga di sisi Allah Ta’ala.

Dikatakan kepada Sahl Al-Tasatturi: Apakah yang paling sulit bagi jiwa ini?. Dia menjawab: Ikhlas sebab dia tidak memilki bagian apapun, yaitu bagian di dunia.

Wasiat ketiga: Bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan muraqabah kepada -Nya dalam kondisi rahasia dan terang-terangan. Taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah wasiat -Nya bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ  [النساء: 131 ]

“dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. [An-Nisa’: 131]

Dan Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, selalu berwasiat kepada para shahabatnya agar mereka selalu bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, disebutkan di dalam hadits riwayat Irbadh bin Sariyah bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, bersabda.

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ,

“Aku berwasiat kepada kalian agar bertqwa kepada Allah dan mendengar serta taat”.[4]

Thalaq bin Hubaib berkata, “Taqwa kepada Allah adalah engkau beramal dengan suatu amalan ketaatan dengan cahaya dari Allah, mengharap pahala dari Allah, dan meninggalkan bermaksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah dan takut akan siksa Allah”.

Waspada terhadap kemaksiatan baik yang besar atau yang kecil. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan untuk menghapus dosa-dosa yang kecil jika seseorang menjauhi dosa-dosa besar dan memasukkannya dalam golongan orang yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا [النساء: 31 ]

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). [An-Nisa’/4: 31]

Maksudnya adalah banyak kebaikan dan keberkahan, dan waspada terhadap dosa-dosa yang kecil. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Anas radhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya kalian mengerjakan suatu amalan yang kalian anggap lebih kecil dalam pandangan mata kalian dari sehelai rambut namun kami menganggapnya sebagai pembinasa pada masa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam,”.[5]

Abu Abdullah mengatakan: Maksudnya amal tersebut bisa membinasakan.

Al-Auza’i berkata: Jangan engkau melihat kepada kecilnya kemaksiatan akan tetapi lihatlah kepada keagungan Zat yang engkau bermaksiat kepada -Nya”.

Wasiat keempat: Tauladan yang baik. Telah diketahui bahwa seorang siswa sangat terpengaruh oleh gurunya, senang mengikuti dan menirunya, maka wajib bagi para pendidik dan guru agar perbuatannya tidak bertentangan dengan perkataannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [As-Shaf/61: 2-3].

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Syu’aib Alaihis salam:

قال الله تعالى: وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ اُخَالِفَكُمْ اِلٰى مَآ اَنْهٰىكُمْ عَنْهُ ۗاِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ [هود: 88 ]

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan (mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. [Hud/11: 88]

Seorang penyair berkata:
Janganlah melarang suatu perbuatan sementara dirimu mengerjakannya
Cela yang besar jika kau melakukan tindakan seperti  yang demikian itu

Wasiat kelima: Berakhak yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا [الإسراء: 53 ]

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Al-Isro’/17: 53]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.  [Fushilat/41: 34].

Diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi di dalam sunannya dari Abi Darda’ bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, bersabda.

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada yang lebih berat bagi timbangan seorang hamba yang beriman pada hari kiamat dari akhlak yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala membenci orang yang berkata kotor lagi kasar”.[6]

Akhlak yang baik ini mencakup banyak sisi dari kehidupan seorang hamba yang beriman baik dalam segi perkataan atau perbuatan, ibadah kepada Allah, dalam berinteraksi sesama hamba. Abdullah bin Mubarok berkata, “Akhlak yang baik itu adalah wajah yang berseri, memberikan kebaikan, menolak gangguan dan bersabar terhadap perlakuan orang lain terhadap diri sendiri”.

Maka aku berwasiat kepada para guru agar mereka berakhlak yang baik terhadap teman-teman mereka, terhadap para siswa dan orang tua wali murid, dan hendaklah dia berinteraksi dengan mereka secara lembut.

Diriwayatakan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiyallahu’anha bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, bersabda.

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lembut itu tidak terdapat dalam sesuatu kecuali dia akan menghiasinya dan tidaklah dia tercabut dari sesuatu kecuali dia akan menjadi cacat”.[7]

Dan Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang paling baik akhlaknya, maka barangsiapa yang ingin sampai kepada akhlak yang tinggi maka hendaklah dia mentauladani Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas radhiyallahu’anhu berkata.

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ، لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ، لِمَ تَرَكْتَهُ‏؟‏ 

Aku telah mengabdi kepada Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, selama sepuluh tahun dan beliau tidak pernah berkata kepadaku “cih” sedikitpun, dan tidak pernah berkata kepadaku karena sesuatu yang aku kerjakan: Kenapa engkau perbuat?. Dan tidak pernah pula mencelaku karena sesuatu yang aku tinggalkan: Kenapa engkau tidak mengerjakannya?.[8]

Wasiat keenam: Hendaklah seorang guru berusaha untuk mendidik para siswanya dengan pendidikan yang baik, mengajarkan kepada mereka perkara keimanan dan keislaman, menanamkan rasa cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengagungkan -Nya di dalam hati mereka, menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam,, menjelaskan kepada mereka tentang kewajiban mengikuti beliau dan beramal dengan sunnahnya, mengingatkan kewajiban mentauladani Rasulullah, mengajarkan kepada mereka adab-adab yang baik, akhlak yang mulia, seperti adab di dalam mesjid, atau majlis, menghormati guru dan orang yang lebih dewasa, adab terhadap teman dan shahabat, membiasakan mereka berkata yang baik, menjauhkan mereka dari kata-kata yang buruk dan pengajaran-pengajaran lainnya berupa adab yang baik dan sifat yang mulia.

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad salallahu ‘alaihi wa salam, dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari كلمة توجيهية للمدرسين   Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari: 2/267 no: 2697 dan Muslim: 3/343 no: 1718
[2] Al-Bukhari: no: 1 dan Muslim: 3/1515 no: 1907
[3] Madarijus Salikin: 2/93
[4] Sunan Abi Dawud: no: 4607
[5] Al-Bukhari: no: 6492
[6] Al-Tirmidzi: 4/362 no: 2002 dan Al-Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih
[7] Hr. Muslim: no: 2593
[8] HR. Turmudzi: 4/368 no: 2015 dan asalanya pada as-shahihain

Tawadhu’

TAWADHU’

Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajatnya.’

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan kedudukan mereka.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka enggan dan memilih kesesatan, maka Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa mengganti mereka dengan satu kaum yang mulia dengan iman mereka dan merendahkan diri terhadap saudara-saudara mereka:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآَئِمٍ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….  [al-Ma`idah/5:54]

Maka inilah sifat lemah-lembut terhadap orang-orang beriman yang merupakan sifat orang-orang terpilih untuk membawa agama ini –saat murtadnya orang-orang yang murtad darinya-.

Dan dalam tafsir ayat: أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ : maksudnya santun kepada orang-orang beriman, kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka… dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan memusuhi mereka. Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata: ‘Sikap mereka terhadap orang-orang beriman seperti seorang ayah terhadap anak dan majikan terhadap budak, dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir seperti binatang buas terhadap mangsanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

(Mereka)  keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka… [al-Fath/48:29][1]

Dan dalam penggunaan huruf jar dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ada dua penafsiran: Menurut satu pendapat (ia mengandung pengertian kasih sayang dan santun, seakan-akan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Bersifat santunlah kepada orang-orang beriman dengan cara merendahkan diri dan tawadhu’. Dan menurut pendapat yang lain sesungguhnya (‘Ala/di atas) menunjukkan tingginya kedudukan mereka, dan sekalipun mereka mulia dan tinggi kedudukannya, mereka tetap tawadhu’ terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya.[2]

Mulia adalah sifat yang terpuji, sedangkan sombong terhadap orang lain dan membanggakan diri (‘ujub) adalah sifat tercela. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala merendahkan nilai dunia dalam pandangan orang yang beriman dan menyatakan hinanya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar semua manusia menyadari bahwa sesungguhnya:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya….[Fathir/35:10]

Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan wali-wali-Nya dengannya, sekalipun mereka berada di puncak cobaan (musibah,bala):

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَيَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. [al-Munafiqun/63:8]

Bersama semua kemuliaan ini, yang dituntut dari seorang mukmin adalah sikap keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang bersama orang-orang beriman. Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang tawadhu’: ‘Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan  pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…’[3]

Sesungguhnya di antara pendidikan adab yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang beriman terhadap makhluk, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

اَللّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيْنًا وَأَمِتْنِي مِسْكِيْنًا وَاحْشُرْنِي فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْنِ

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan giringlah aku (di hari kiamat) dalam golongan orang-orang miskin.”[4]

Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata: maksud beliau adalah tawadhu’ dan merendahkan diri, dan agar beliau tidak termasuk orang-orang sombong yang congkak.[5] Khalifah Umar Radhiyallahu anhu mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah hati terhadap rakyat dan melarang mereka menghinakan manusia, sebagaimana dia Radhiyallahu anhu mengajarkan kepada manusia tentang hak mereka agar mereka hidup secara mulia. Dan di antara khotbahnya: ‘Ketahuilah, sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengutus para penjabatku untuk memukul kulitmu dan tidak pula untuk mengambil hartamu, akan tetapi aku mengutus mereka kepadamu untuk mengajarkan kepadamu agama dan sunnahmu. Maka barangsiapa yang diperlakukan selain yang demikian itu, maka hendaklah ia melaporkannya kepadaku. Maka demi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diriku berada di tangan-Nya, tentu aku akan mengqishashnya darinya…ketahuilah, janganlah kamu memukul kaum muslimin, maka kamu merendahkan mereka…’[6] Dan Umar Radhiyallahu anhu berpesan kepada para penjabatnya terhadap daerah terlarang dengan ucapannya: ‘Rendahkanlah dirimu terhadap kaum muslimin, hati-hatilah terhadap doa kaum muslimin, maka sesungguhnya doa orang-orang yang dianiaya dikabulkan.’[7]

Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian tinggi dan jiwa besar serta sifat tawadhu’ yang mantap. Sekalipun nafsu membisiki bahwa pengakuan engkau bisa menjatuhkan martabat engkau. Maka bersungguh-sungguhlah untuk berada di atas kebenaran, sebagaimana menerima permohonan maaf juga merupakan sifat tawadhu’ dan kemuliaan yang tinggi. Maka jiwa yang kotor mengharapkan kesalahan orang lain, agar merasa puas dengan memberi kritik, intropeksi dan ketenaran. Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengungkapkan hal ini dengan katanya: ‘Barangsiapa yang berbuat jahat kepadamu, kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahannya. Maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan engkau menerima permohonan maafnya –apakah permohonan maafnya itu benar atau hanya berpura-pura- dan menyerahkan kebenarannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tanda pemurah dan tawadhu adalah sesungguhnya apabila engkau melihat kekurangan dalam permintaan maafnya, janganlah engkau menghentikannya dan memperdebatkannya…[8]Maka menjauhlah dari perasaan berat, baliklah lembaran hidup, dan mulailah dari yang baru, temanmu akan merasa segan terhadapmu karena engkau menerima permohonan maafnya dan tidak terlalu mempersoalkan permohonan maafnya.

Dan apabila engkau bersikeras meletakkan temanmu pada posisi merendahkannya dan menghitungnya dalam perhitungan ragu-ragu, berarti engkau telah berani memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan engkau tidak pernah mampu melakukannya, seperti disebutkan dalam hadits qudsi:

مَنْ أَذَلّ َلِي وَلِيّاً فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي

Barangsiapa yang memerangi waliku, berarti ia menyatakan perang terhadapku.” [9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wali setiap orang yang beriman.

Sesunguhnya orang yang maju ke depan untuk memimpin manusia, mengarahkan mereka, menarik hati mereka maka ia harus memiliki rasa rendah diri yang tinggi. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh Nabi-Nya dengan firman-Nya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. [asy-Syu’ara/26:215]

Maka bagaimana keadaan umat sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam–sedang mereka lebih rendah kedudukan dan akhlak- tidak merendahkan diri mereka? Dan disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang selalu rendah diri niscaya banyak temannya. Maka bila engkau ingin mencari para pendukung terhadap dakwahmu, engkau harus rendah diri. Jauhilah sikap ujub dan sombong, dan yang paling berbahaya adalah perasaan ujub dalam ibadah yang membuat engkau menganggap remeh orang lain karena ibadahmu. Karena itulah diriwayatkan  dari al-Mutharrif rahimahullah, ia berkata: ‘Sungguh aku tidur di malam hari dan menyesal di pagi hari, lebih kusukai dari pada shalat di malam hari dan di pagi hari merasa bangga (ujub).[10]

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mendefinisikan tawadhu’ dengan katanya: yaitu merendahkan diri terhadap kebenaran, tunduk kepadanya, dan menerimanya dari orang yang mengatakannya.’[11] Tunduk terhadap kebenaran adalah kemuliaan yang sebenarnya, karena ia adalah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kepada kebenaran, dan membiasakan diri agar tidak terus-menerus di atas kebatilan. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ومَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajatnya.”[12]

Barangsiapa yang tujuannya adalah mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk terhadap kebenaran terasa mudah baginya, seperti yang diriwayatkan dari Ubaidullah bin al-Hasan al-Anbari rahimahullah, sesungguhnya ia ditanya tentang meminta, lalu ia keliru padanya. Maka tatkala ia diingatkan terhadap kekeliruannya, ia menundukkan kepalanya sesaat lalu berkata: ‘Kalau begitu saya kembali, dan saya seorang yang hina. Sungguh aku berdosa dalam kebenaran lebih kusukai dari pada aku menjadi pimpinan dalam kebatilan.’[13] Seperti inilah orang yang berilmu, ia rendah diri karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tunduk terhadap kebenaran, karena itulah tujuannya, sekalipun di antara dia dan orang yang kebenaran ada pada lisannya itu ada permusuhan dan perselisihan.

Tidak tunduk terhadap kebenaran adalah kesombongan yang sebenarnya dan kezaliman, karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendefinikan takabur dengan sabdanya:

الْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[14]

Dengan ini kita melihat bahwa tawadhu, di samping sebagai akhlak yang terpuji, ia merupakan penjaga agar tidak terjerumus dalam perbuatan zalim, dan memelihara dari sifat sombong dan berbangga diri terhadap saudara-saudara seagama. Disebutkan dalam hadits:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ: أَنْ تَوَاضَعُوْ حَتَّى لاَيَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadaku: bersifat tawadhu’lah, sehingga seseorang tidak merasa bangga terhadap orang lain dan seseorang tidak berbuat aniaya terhadap orang lain.”[15]

Kendati kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tinggi, sesungguhnya ketika beliau melihat seseorang gemetar karena takut terhadap beliau, karena ia mengira beliau sama seperti raja-raja di muka bumi, beliau bersabda kepadanya:

هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ, إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَأْكُلُ الْقَدِيْدَ

Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang perempuan suku Quraisy yang memakan daging dendeng”.[16]

Di antara kesempurnaan tawadhu’nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membantu keluarganya –sedangkan beliau mampu meminta bantuan pembantu- dan memberi salam kepada anak-anak yang beliau temui di tengah jalan –sedangkan beliau adalah yang ditakuti para raja. Sehingga saat beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau tidak bersikap keras di muka bumi. Maka tatkala di hari memerangi Bani Quraizhah, beliau berada di atas keledai yang dikekang dengan tali dari sabut. Dan saat beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang, beliau menundukkan kepalanya karena tawadhu’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena khawatir terhadap penyusupan rasa takabur ke dalam jiwa pemenang, yang dibisikan oleh hawa nafsunya bahwa dialah yang membuat kemenangan dan melupakan karunia dan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaikhul Islam rahimahullah menggambarkan keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan katanya: ‘Sesungguhnya beliau memilih sifat hamba –penghambaan- sekalipun beliau dan para pengikutnya adalah yang tertinggi, dan beliau tidak menghendaki yang tertinggi, sekalipun  telah memperolehnya.[17]

Dan cukuplah bagi orang-orang yang sombong agar kembali ke jalan yang lurus bahwa mereka menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai mereka, memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, mengunci hati mereka, dan mengancam akan memusnahkan mereka, dan barangsiapa yang di hatinya mengandung sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjerumuskannya ke dalam neraka.[18] Hukuman balasan seperti ini karena ada kandungan sifat sombong seberat biji sawi. Maka seseorang sangat membutuhkan pelatihan untuk menjaga hatinya dari perasaan sombong, ‘ujub, dan terperdaya.

Dan tidaklah mendorong seseorang bersikap sombong kecuali perasaan ingin berbeda dengan lain, atau keinginan tidak tunduk terhadap seseorang, atau berusaha menutupi kekurangan pribadinya, dan semua itu membinasakan seseorang:

…فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعًا وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“…Maka yang membinasakan, yaitu sifat pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan perasaan ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.”[19]

Sebagaimana orang yang tawadhu’ cukup dengan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajatnya dan sesungguhnya hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukainya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladannya, dan sesungguhnya ia lebih mengetahui kebesaran Rabb-Nya dan kekurangan dirinya. Maka berhati-hatilah dari terperosok bersama waswas syetan dan hawa nafsu, semoga engkau termasuk orang-orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka mencintai-Nya:

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

…yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, . [al-Ma`idah/5:54]

Kesimpulan:

  1. Orang-orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka mencintainya adalah orang-orang yang tawadhu.
  2. Tidak ada kontradiksi di antara sikap keras terhadap orang-orang kafir dan sikap lembut terhadap orang-orang yang beriman.
  3. Khalifah Umar Radhiyallahu anhu mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah diri terhadap rakyat mereka.
  4. Termasuk sifat tawadhu adalah mengakui kesalahan dan menerima permohonan maaf dari orang lain.
  5. Merendahkan diri termasuk sifat orang yang maju untuk memimpin manusia.
  6. Termasuk tawadhu adalah tunduk terhadap kebenaran dan mematuhinya.
  7. Termasuk yang membantu sifat tawadhu adalah mengingat asal kejadian manusia.
  8. Sifat tawadhu yang paling agung adalah saat berada di puncak kekuatan dan kemenangan.
  9. Termasuk yang membantu bersifat tawadhu adalah mengingat pahala tawadhu dan ancaman dosa terhadap orang-orang yang sombong.
  10. Cukuplah sebagai kemuliaan orang yang tawadhu adalah kecintaan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajatnya.

[Disalin dari التواضع Penulis Mahmud Muhammad al-Khazandar , Penerjemah : Team Indonesia ., Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]
______
Footnote
[1] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 6/220
[2]  Tafsir al-Bahrul Muhith, karya Abu Hayyan al-Andalusi 3/512.
[3] Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 254.
[4]  Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/275, kitab zuhud, bab ke-23, no. 1917/2471 (Shahih).
[5]  Dari hasyiyah Shahih al-Jami’ 1/271, komentar terhadap hadits no. 1261.
[6]  Musnad Ahmad 1/41. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata: Isnadnya hasan. (286).
[7]  Shahih al-Bukhari, kitab al-Jihad, bab ke-180, no. 3059.
[8] Tahdzib Madarijus Salikin,  hal. 433.
[9] Musnad Ahmad 6/256.
[10] Minhajul qashidin hal. 254.
[11] Madarijus salikin
[12] HR. Muslim dan at-TIrmidzi (Jami al-Ushul 6/455, no. 4660).
[13] Tahdzib tahdzib, 7/7 (12)
[14] Shahih Muslim, kitab iman, bab ke-39, no. 147
[15] Shahih Muslim, kitab al-Jannah, bab ke-16, no. 64.
[16] Shahih SUnan Ibnu Majah 2/232, no.2677/3312 (Shahih).
[17] Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah 11/131
[18] Musnad Ahmad 2/250, dan semua perawinya adalah perawi kitab shahih.
[19] Shahih al-Jami’, no. 3045 (Hasan).

Adab Duduk Di Dalam Majlis

 ADAB DUDUK DI DALAM MAJLIS

1. Dianjurkan untuk memperbanyak dzikir pada majlis-majlis pertemuan, serta dilarang duduk ditempat yang tidak disebut Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala padanya, hal itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَامِنْ قَـوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ َوكَانَ لَهُمْ حَسْرَةٌ

Tidaklah sekelompok kaum beranjak dari tempat duduknya yang tidak disebutkan di dalamnya nama Allah, melainkan seakan mereka beranjak dari bangkai keledai dan mereka berada dalam kerugian“.[1]

2. Ada jeda waktu dalam memberikan nasehat dalam majlis sebab dikhawatirkan akan membosankan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu sesungguhnya ia menyampaikan ceramah setiap hari kamis, kemudian seseorang berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdur Rahman kami sangat menyukai dan menyenangi mendengarkan ceramahmu. Kami berharap seandainya engkau menyampaikan ceramahmu setiap hari, kemudian ia berkata: “Tidak ada halangan bagiku untuk berceramah setiap hari kepada kalian, akan tetapi aku takut kalian bosan, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jeda waktu dalam memberikan nasehat kepada kami karena takut membosankan kami.

3. Memilih teman yang baik untuk duduk bersamanya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

اَْلمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَاِللْ

Kebaikan agama seseorang sangat tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang menjadi sahabat karibnya“.[2]

4. Mengucapkan salam kepada orang yang ada dalam majlis tatkala masuk dan keluar darinya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِذِا اْنتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى مَجْلِسٍ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ ثُمَّ إِنْ قَامَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اِلآخِر

Bilamana kalian telah sampai pada sebuah majlis hendaklah mengucapkan salam, dan apabila ingin duduk maka duduklah, kemudian apabila ingin pergi maka ucapkanlah salam, sebab bukanlah yang pertama itu lebih berhak daripada yang terakhir“.[3]

5. Di makruhkan membangunkan seseorang dari tempat duduknya kemudian dia menempati tempat duduk tersebut, karena ada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لا يُقِيمُ الرجلُ الرجلَ من مَجْلِسِهِ، ثم يجلس فيه، ولكن تَفَسَّحُوا، وتَوَسَّعُوا

Janganlah seseorang membangunkan orang lain yang sedang duduk (dari tempatnya yang semula) kemudian dia duduk padanya, akan tetapi bergeserlah dan berlapanglah“.[4]

Ibnu Umar Radhiyallahu anhu membenci orang yang  membangunkan orang yang sedang duduk kemudian ia menempati tempat itu.

6. Berlapang-lapang dalam majlis sesuai dengan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِي اْلمَجَالِسِ فَافْـسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman bilamana dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis” maka lapangkanlah niscaya Allah memberikan kelapangan untukmu”.[5]

7. Tidak diperbolehkan memisahkan dua orang melainkan atas seizin mereka berdua sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لاَ يَحِلُّ ِلرَجُلٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اْثنَيْنِ إِلاَّ بِإِذْنِهِمَا

“Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang melainkan atas izin mereka berdua”.[6]

8. Duduk pada tempat di mana dia sampai padanya, sebagaimana perkataan Jabir bin Abdullah semoga Allah meridhai mereka berdua:

كنَّا إذا أتينا النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ جلسَ أحدُنا حيثُ ينتَهي.

Bilamana kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka salah seorang diantara kami duduk pada tempat dia sampai padanya“.[7]

Dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhu bilamana seseorang berdiri untuknya dari majlisnya maka ia tidak mau duduk pada tempat tersebut.

9. Sebaik-baik tempat duduk adalah tempat yang paling luas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abdur Rahman bin Abi Amrah Al Ansori beliau berkata: Abu Said Al Khudriy mengantar jenazah, dia telah datang terlambat di mana oang-orang telah menempati tempat duduknya masing-masing, ketika orang-orang melihat kedatangannya mereka segera menyingkir dari tempat tersebut sehingga sebagian orang berdiri untuk memberikan tempat duduk baginya, lalu ia berkata: Janganlah (engkau hal lakukan hal ini) sesungguhnya aku mendengar Rasaulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

خَيْرُ الْمَجَاِلسِ أَوْسَعُهَا ثُمَّ تَنَحَّى فَجَلَسَ فَي مَجْلِسٍ وَاسِعٍ

((Sebaik-baik tempat duduk adalah tempat yang paling luas)) kemudian dia menjauh dan duduk di tempat yang luas“.[8]

10. Dilarang mendengarkan pembicaraan orang lain tanpa seizin orang yang bersangkutan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنِِِ اسْتَمَعَ إِلَى قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّوْنَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ اْلآنُكَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Barang siapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedangkan mereka membencinya atau beranjak darinya niscaya dituangkan pada kedua telinganya timah mendidih di hari kiamat[9]

11. Ada beberapa posisi duduk yang dilarang seperti : Seseorang meletakkan tangan kirinya dibelakang punggungnya, lalu bersandar pada daging tangan kanannya, yaitu pangkal ibu jari ;  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai duduknya orang-orang yang dimurkai (Yahudi)[10]

عَنْ أَبِيهِ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ « أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ».

Dari [bapaknya, Asy Syarid] bin Suwaid, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melintas didepanku sementara aku sedang duduk dengan posisi tangan kiri dibelakang punggungku dan aku bersandar kepada jempol tanganku, lalu beliau berkata kepadaku: “Apakah kamu duduk dengan cara duduknya الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ (orang yang dimurkai Allah)?” [Hadits Riwayat Ahmad]

Juga dilarang duduk di bawah bayang-bayang matahari, sebab tempat tersebut adalah tempat duduknya setan.[11]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَ الظِّلِّ وَ قَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk di antara tempat yang terkena panas dan tempat yang terkena naungannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Itu adalah tempat duduknya setan.’” [HR. Ahmad 15421, shahih oleh Syuaib al-Arnauth]

12. Dilarang banyak tertawa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُكْثِرُوْا مِنَ الضَّحِكِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

Janganlah banyak tertawa sebab banyak tertawa dapat mematikan hati“.[12]

13. Dilarang berbisik-bisik dengan dua orang dengan menghiraukan orang ke tiga sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لاَ َيتَنَاجَ اْثَنَانِ دُوْنَ الثَّالِثِ فَإِنَّ ذلِكَ يُخْزِنُهُ

Janganlah dua orang berbisik-bisik dengan meninggalkan orang ketiga sebab hal itu dapat membuatnya sedih“.[13]

التناجي adalah dua orang berbicara dengan bisik-bisik dengan menghiraukan orang ketiga.

14. Dimakruhkan bersendawa di depan orang lain, sebagaimana dalam hadits bahwasanya seseorang bersendawa di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bersabda:

كُفَّ عَنَّا جَشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شَبْعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا يَوْمَ اْلِقَياَمَةِ

Tahanlah bersendawamu dari kami, sebab sesungguhnya mereka yang paling banyak kenyang di dunia dan akan paling lama lapar  di akhirat“.[14]

15. Tidak banyak menoleh ke segenap penjuru majlis sehingga menjadi perhatian orang lain.

16. Termasuk adab dalam duduk adalah tidak menjulurkan kaki dihadapan orang banyak kecuali ada uzur atau halangan.

17. Imam Bukhari rahimahullah berkata: (Babu Ma Yukarohu Minas Samri Ba’dal Isya’/Bab dimakruhkan bercakap-cakap setelah shalat Isya) kemudian beliau membawakan hadits Abi Barzah Al Aslami radhiallahu anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. (yaitu setelah sholat Isya.Yang dimaksud dengan bercakap-cakap dalam terjemahan diatas adalah bercakap-cakap dalam perkara yang diperbolehkan, sebab perkara yang haram tidak dikhususkan dengan setelah sholat Isya bagi larangan perbuatan tersebut, bahkan haram membicarakannya di setiap saat. Umar bin khottob radhiallahu anhu pernah memukul seorang yang melakukan hal itu sambil berkata: Apakah pantas kau bercakap-cakap pada permulaan malam kemudian tertidur pada akhir malam”.[15]

18. Disunnahkan menutup majlis dengan do’a kafarotul majlis sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ جَلَسَ فَي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيْهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ  إِلَيْكَ إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ لَهُ مَاكَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذلِكَ.

Barang siapa yang duduk disuatu majlis yang didalamnya terdapat banyak senda guraunya kemudian berdo’a sebelum beranjak:  سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ  إِلَيْكَ  ((Maha suci Engkau ya Allah dengan segala puji bagimu aku bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu)) melainkan Allah akan menghapus segala kesalahan yang ada di majlis tersebut”[16]

[Disalin dari آداب المجلس  Penulis Majid bin Su’ud al-Usyan, Penerjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc., Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1]  HR Abu Daud no: 4855 berkata Al Albani Hadits ini hadits shahih
[2] HR Abu Daud no:4833 dan dihasankan oleh Al Albani
[3]  HR At Tirmidzi no:2706 ia berkata hadits ini hadits hasan. Berkata Al Albani hadits ini  hasan shahih
[4]  HR Bukhari no:6270 dengan memakai lafadz darinya.
[5]  QS Al Mujadalah : 11
[6]  HR Abu Daud no: 4845 dan Al Albani berkata:Hadits ini Hasan shahih
[7]  HR Abu Daud no: 4825 dan dishahihkan oleh Al Albani
[8]  Al Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab silsilah hadits shahih
[9]  HR Bukhari no: 7042 dengan memakai lafadz darinya
[10]  HR Ahmad no:18960 dan Abu Daud 4848 serta di shahihkan oleh Al Albani
[11]  Silsilah hadits shahihah no : 838
[12]  HR Ibnu Majah no:4193 dan dishahihkan oleh Al Albani no:3400
[13]  HR.Bukhari no:6288 Muslim no:2183
[14]  HR. At-Tirmidzi no: 2478 dan di hasankan oleh Al-Albani no:3413
[15] Fathul Bari Ibnu Hajr Juz 2 hal 73
[16]  Shohih kalim tayyib karangan Syekh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang di petik oleh Muhamad Nasirudin Al Albani

Diantara Fenomena Kemunafikan

DIANTARA FENOMENA KEMUNAFIKAN

Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menciptakan manusia agar mereka menjadi baik bukan buruk, menjadi pribadi yang bermanfaat bukan berbahaya, menjadi sosok yang ikhlas bukan munafiq. Allah berfirman:

قال الله تعالى لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ٥ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ   [ التين: 6-4]

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. [At-Tin/95: 4-6].

Dan aku bersaksi bahwa  tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada para hambaNya bahwa kemunafikan adalah penyakit bahkan termasuk penyakit sosial yang paling berbahaya. Allah  Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى :  وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤ وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ …  [ البقرة: 205-204]

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi…”.[Al-Baqarah/2: 204-205].

Dan aku bersaksi bahwa tauladan kami Muhammad adalah Rasul utusan Allah, imam orang-orang yang ikhlas dalam berbuat. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan kepada para keluarga, para shahabatnya yang telah menjauhi kemunafikan, ikhlas semata karena Allah Yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Maka Allah mengangkat derajat mereka di dunia atau di akherat. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Amma Ba’du:

Nifaq adalah akhlak yang buruk, dimana pelakunya berbuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikatakannya. Perbedaan antara perkataan seseorang dengan perbuatannya adalah salah satu bentuk penipuan bahkan dia adalah bentuk pertama penipuan. Banyak orang-orang yang kita saksikan berpakaian seperti pakaian orang yang soleh, berbicara seperti gayanya orang-orang yang bijaksana, yang memberi nasehat dengan nasehat yang baik, kita mendengar perkataannya terlontar semanis madu, lafaz yang indah sehingga engkau menyangka bahwa perkataan tersebut keluar dari hati yang tulus dan bersih, dari relung yang bersih sehingga membuat dirimu menjadi cenderung dengannya, bergaul dengannya menerimanya sebagai kawan setia dengan penuh rasa percaya diri dan tenang namun pada saat dia mendapatkan kesempatan untuk menampakkan jati dirinya yang selama ini disembunyikannya maka dia akan menimpakan kepadamu bencana, kubang kebinasaan dan petaka-petaka yang besar, lalu pada saat itulah dirimu tidak merasakan kesedihan dan penyesalan, dan dirimu memandang kehidupan ini dengan jiwa yang tertekan karena merasa sial, seperti pandangan orang yang ragu terhadap setiap orang yang berada disekitarnya, bahkan takut terhadap bayang-bayangnya sendiri. Sang penipu ini telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Di mana dirimu telah mengubah pola pergaulan dengan dirinya dan menghapuskan kepercayaanmu terhadap dirinya, dengan tindakan seperti ini berarti dia telah berbuat buruk terhadap masyarakat secara keseluruhan sebab dia telah mempengruhi dirimu untuk takut kepada setiap orang dan menjauhkan dirimu dengan dirinya. Maka orang munafiq penipu seperti ini sebagai sumber bencana yang sangat besar.

Dan sungguh sangat mengherankan jika zaman modern ini tidak menolak keburukan ini dan telah bergerak untuk tetap menancapkan kaki tangannya di tengah-tengah kehidupan kita. Dia bertemu denganmu bagai seorang kawan yang setia atau teman sebangsa, dia melontarkan perkataan yang manis nan indah, dengan raut muka yang berseri-seri dan tersenyum, bertanya kepadamu tentang keadaan dirimu seakan sebagai orang yang sangat perhatian dengan kesehatan pribadimu dan anak-anakmu serta seluruh keadaan dirimu dengan bahasa yang indah dan halus serta wajah yang selalu tersenyum sementara demi Allah mengetahuinya bahwa dia adalah pribadi pendengki dan iri. Lapisan hatinya  memperlihatkan kadar  cinta atau rasa bencinya kepadamu, berangan-angan agar dirimu segara  ditimpa mudharat, bahkan dia berupaya secara rahasia di balik pandanganmu agar dirimu terjebak ke dalam bahaya sementara dirimu masih berniat baik kepadanya tidak mengetahui kebusukan niat yang disembunyikannya dia berbuat semua keburukannya tanpa ada rasa takut kepada Allah, Tuhannya dan tanpa menghormati harga diri orang lain. Orang yang berperilaku seperti ini sama dengan sosok yang disebutkan oleh Allah di dalam firmanNya:

قال الله تعالى : وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ [ البقرة: 12-8]

“Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al-Baqarah/2: 8-12].

Wahai sekalian hamba Allah, renungkanlah dan ambillah pelajaran dari kisah seorang lelaki bernama Ts’alabah bin Hathib yang telah menampakkan keislamannya, dia berkata dengan lisannya apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang tersimpan di dalam hatinya, selalu shalat jum’at dan menghadiri shalat jama’ah di belakang Rasulullah shalallau alaihi wa sallam. Suatu ketika dia berkata; Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar Dia berkenan memberikan rizki yang luas kepadaku dan mencurahkan kepadaku harta benda yang berlimpah. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Tsa’labah rizki yang sedikit yang engkau mampu mensyukurinya lebih bagimu daripada harta yang banyak yang tidak mampu engkau syukuri”.

Lalu dia memohon kembali dan berkata,  demi yang mengutusmu dengan kebenaran jika Allah menganugrahkan kepadaku harta yang berlimpah maka aku akan memberikan setiap orang yang berhak haknya masing-masing, maka Nabi pun berdo’a untuknya lalu dia membeli seekor kambing lalu kambing tersebut berkembang biak sehingga lembah menjadi sempit namun dia tidak memenuhi janjinya dan mengingkari nikmat-nikmat Allah kepadanya, maka diapun meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah dan nabipun seperti biasanya bertanya tentang dirinya maka para shahabat menjawab, Hartanya telah banyak, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu pada saat satu tahun telah sempurna Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus dua orang lelaki untuk meminta zakat darinya. Tsa’labah menjawab kepada kedua orang utusan tersebut setelah dia merasa bahwa zakat tersebut terlalu banyak atas dirinya; Ini adalah jizyah, kembalilah sampai aku memberikan keputusan. Lalu ketika kedua utusan tersebut telah kembali pulang Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu Allah menurunkan firmanNya:

قال الله تعالى :  وَمِنۡهُم مَّنۡ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٧٥ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ بَخِلُواْ بِهِۦ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ٧٦ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ٧٧ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ  [ التوبة: 78-75]

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?. [At-Taubah/9 : 75-78].

Itulah orang yang dusta dan berdosa yang telah menceburkan dirinya ke dalam kesengsaraan karena dia menylahi perkataan dan janjinya, dia kembali membawa murka dari Allah dan Rasul-Nya dan dia berhak mendapat siksa. Maha Benar Allah dengan firmanNya:

قال الله تعالى : إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ  [ غافر: 28]

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. [Gafir/40: 28].

Hendaklah seorang muslim bertaqwa kepada Allah dan hendaklah dia waspada terhadap kemunafikan, hendaklah hatinya sama dengan apa yang terungkap dalam perkataan lisannya, hanya kepada Allah kita memohon agar Dia sudi menunjukkan diri kita kepada jalan kebenran, jalan yang lurus dan mendapat petunjuk dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, “Kebaikan itu tidak akan pernah lapuk dan dosa itu tidak akan pernah dilupakan, dan Allah Yang Membalas tidak akan pernah mati, berbuatlah sekehendakmu seperti apa perbuatanmu maka seperti itulah engkau akan mendapat balasan”. [HR. Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Jami’ dari Abi Tsulabah radhaillahu anhu].

Semoga Allah memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan dengan petunjuk penghulu para nabi utusan Allah. Hanya inilah yang bisa aku katakan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepadaNya dan bertaubatlah kepada Allah, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wahai sekalian hamba Allah!. Orang yang menyadari sifat-sifat buruk orang-orang munafiq yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an maka dia menyadari bahwa mereka lebih berhak menempati kerak api neraka yang paling dalam. Allah mensifati mereka sebagai orang yang menipu Allah dan menipu para hambaNya, menyebutkan mereka sebagai orang yang berhati sakit, yaitu karena penyakit syubhat dan keraguan, mensifati mereka sebagai orang yang membuat kerusakan dipermukaan bumi, memperolok-olok agama Allah, para hamba, berbuat zalim, menggadaikan kesesatan dengan petunjuk, mereka orang yang tuli, bisu, buta, bimbang dan malas saat beribadah, berlaku zina, sedikit menyebut Allah dan ragu-ragu memilih antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir. Mereka tidak tergabung dalam kelompok ini dan tidak pula bergabung dengan kelompok lainnya, mereka bersumpah dengan nama Allah secara dusta dan bohong, perkara mereka samar, tidak paham terhadap agama, tidak berilmu dan tidak pula beriman kepada Allah dan hari akhir. Mereka juga membenci menangnya cahaya agama Allah, mereka bersedih jika melihat umat Islam mendapat kebaikan dan kemenangan, senang jika melihat kaum muslimin mengalami bencana dan ujian, mereka selalu mengintai kelemahan kaum muslimin, suka mencela orang-orang yang beriman dan menuduh mereka dengan tuduhan yang bukan sebenarnya, maka mereka mencela orang-orang yang bersedeqah dan mensifati mereka sebagai budak dunia, jika mereka diberikan maka mereka rela dan  jika tidak diberikan maka mereka marah, mereka juga menyakiti dan mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mencari-cari kerelaan manusia dan tidak berusaha mencari keridhaan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Selain itu mereka juga mengejek orang-orang yang beriman.

Allah mensifati mereka sebagai orang yang busuk, yaitu benda busuk adalah benda yang paling kotor dan jelek. Mereka adalah anak Adam yang paling busuk, kotor dan hina.

Allah juga mensifati mereka sebagai orang yang menyeru kepada kemungkaran dan mencegah yang ma’ruf, pelit dalam berinfaq di jalan Allah guna mendapat keridhaan Allah.

Wahai sekalian hamba Allah!. Inilah sebagian sifat-orang-orang munafiq yang telah disebutkan dalam Al- Qur’an yang mulia dan banyak sekali orang yang bersifat seperti ini pada zaman kita sekarang. Semoga Allah melindungi kita darinya. Betapa banyak orang yang bergerak menyebarkan kerusakan di antara kaum muslimin dan betapa banyak orang yang menyerahkan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dan meninggalkan kaum muslimin.

Wahai sekalian hamba Allah!. Sesungguhnya bahaya orang-orang munafiq tersebut sangat besar, ancaman mereka sangat luas terlebih karena mereka menamakan dirinya sebagai orang muslim, bergaul bersama masyarakat muslim sehingga orang-orang merasa aman dari bahayanya.

Oleh karena itulah, kaum muslimin tidak mengalami musibah di dalam diri mereka yang melebihi musibah yang ditimpakan oleh orang-orang munafiq yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim.

Inilah yang dapat saya sampaikan dan ucapkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari من مظاهر النفاق Penulis Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]

Sifat Seorang Mukmin

SIFAT SEORANG MUKMIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Dalam al-Qur’an,  Allah ta’ala banyak sekali memberi petunjuk untuk kita semua, diantara sekian banyak penerang jalan kehidupan kita ialah firman Allah azza wa jalla:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ  [ التوبة: 71-72]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul -Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. [at-Taubah/9: 71-72].

Penjabaran Ayat.
Berkata Syaikh Abdurhman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat diatas: “Firman -Nya: “Dan orang-orang yang beriman“. Maksudnya baik dari kalangan kaum lelakinya maupun perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lainnya. Baik dalam masalah kecintaan, loyalitas, kebersamaan serta tolong menolong.

Lalu Allah ta’ala mensifati mereka: “Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf“. Yaitu sebuah nama yang mencakup bagi setiap perkara yang diketahui kebaikannya, mulai dari perkara akidah yang selamat dan amal sholeh serta akhlak mulia. Dan orang terdepan yang menyematkan sifat mulia ini adalah diri mereka sendiri.

Sifat berikutnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan: “Mencegah dari yang munkar”. Yaitu setiap hal yang bertabrakan dengan kebaikan serta lawan dari kebajikan, mulai dari keyakinan yang bathil, perbuatan jelek, serta akhlak yang buruk.

Kemudian sifat mereka selanjutnya adalah: ““Mereka taat pada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul-Nya“. Artinya mereka senantiasa memegangi ketaatannya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan akhir dari perbuatan mereka ialah: “mereka itu akan diberi rahmat oleh  Allah“. Mereka akan dimasukan ke dalam barisan orang yang mendapat rahmat -Nya serta diliputi dengan karunia -Nya. Karena Allah Shubhanahu wa ta’alla: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. Maksudnya Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dimana -Dia meletakan segala sesuatu sesuai pada tempatnya yang layak. Sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla pantas untuk dipuji oleh makhluk -Nya.

Selanjutnya Allah ta’ala menyebut balasan bagi mereka: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya “. surga ini adalah tempatnya segala macam bentuk kenikmatan dan kesenangan, mulai dari istananya, rumah, pepohonan, serta sungai-sungainya yang deras, terus mengalir mengairi kebun-kebunnya yang indah, yang tidak ada yang mengetahui hakekatnya secara pasti dari kenikmatan serta berkahnya melainkan Allah azza wa jalla.

Kemudian Allah ta’ala menegaskan: “Kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘adn“. Dimana telah dihiasi dan diperbagusi untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Sungguh hal itu sangat menyejukan bagi orang yang melihatnya, tempat tinggal serta untuk istirahat yang indah, disatukan pada istana mereka yang tinggi, yang tidak iri bagi satu dengan yang lainnya.

Sampai kiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyiapkan untuk mereka kamar yang sangat bersih lagi indah yang bisa terlihat dalamnya dari luar, dan kebalikannya. Dan tempat tinggal ini sangat menyejukan sehingga setiap orang akan merasa nyaman menempatinya, menentramkan hati, serta dirindukan oleh tiap ruh dikarenakan itulah surga Adn.

Mereka akan tinggal di dalamnya kekal selama-lamanya, keridhoan Allah Shubhanahu wa ta’alla meliputi seluruh penghuni surga, keridhoan yang lebih besar dari apa yang pernah mereka rasakan sebelumnya, maka kenikmatan terbesar yang belum mereka rasakan ialah melihat Rabbnya serta mendapat ridhonya azza wa jalla.

Inilah yang dinamaka keberuntungan yang besar dimana dirinya bisa mendapatkan segala apa yang menjadi keinginannya serta hilang segala perkara yang menyusahkan. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kita dikalangan penghuni surga”. [1]  

Pelajaran yang bisa kita petik:

  1. Diantara salah satu sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman bahwasannya mereka itu mau saling tolong menolong, serta saling membantu dikalangan mereka.

Dijelaskan dalam sebuah hadits, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى » [أخرجه البخاري و مسلم]

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang, mencintai dan belas kasih (diantara mereka) semisal satu tubuh, yang apa bila ada anggota tubuh yang merasa sakit maka akan menjadikan seluruh tubuhnya merasakan sakitnya“. HR Bukhari no: 6011. Muslim no: 2586.

  1. Pentingnya perkara menyuruh pada yang ma’ruf serta mencegah dari perbuatan mungkar.

Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya bahwa kita adalah umat terbaik jika terpenuhi sifat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ  [ ال همران: 110]

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”.  [al-Imran/3: 110].

Dalam hadits sendiri disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka hendaknya ia mengingkari dalam hatinya, itulah keimanan yang paling rendah“. HR Muslim no: 49. Dari sahabat Abu Hurairah.

  1. Agungnya urusan sholat dan zakat serta kedudukan keduanya yang begitu tinggi dalam agama Islam.

Hal itu, juga dipertegas oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Agama Islam dibangun diatas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Mengerjakan sholat, mengeluarkan zakat, berhaji dan berpuasa ramadhan“.HR Bukhari no: 8. Muslim no: 16.

  1. Bahwa ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul   -Nya merupakan faktor untuk bisa meraih rahmatnya -Nya. Di tambah memperoleh keberuntungan serta kebahagian didunia dan akhirat.

Hal tersebut, juga Allah Shubhanahu wa ta’alla nyatakan dalam firman -Nya yang lain, yaitu:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ  [ النور: 52]  

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul -Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan”. [an-Nuur/24: 52].

  1. Tempat tinggal yang disebutkan dalam surga Adn sangatlah indah serta bagus bangunannya, dan surga itu bertingkat-tingkat.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari  Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Dua surga yang bejananya serta segala isinya terbuat dari perak, serta dua surga yang bejana serta segala isinya terbuat dari emas. Dan tidaklah ada penghalang antara penduduk surga dengan melihat Rabbnya melaikan jubah kesombongan yang berada diatas wajahnya, itu semua berada didalam surga Adn“.  HR Bukhari no: 7444. Muslim no: 180.

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الجنة مائة درجة . كل درجة منها ما بين السماء والأرض . وإن أعلاها الفردوس . وإن أوسطها الفردوس . وإن العرش على الفردوس . منها تفجر أنهار الجنة . فإذا ما سألتم الله فسلوه الفردوس » [أخرجه ابن ماجه ]

Surga itu ada seratus tingkat, pada setiap tingkatnya sejauh langit dan bumi. Dan yang tertinggi adalah surga Firdaus, dan tengah-tengahnya juga surga Firdaus. Sesungguhnya Arsy berada diatas Firdaus, dari sanalah memancar sungai-sungai surga, maka apabila kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus“. HR Ibnu Majah no: 4331. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah 2/346 no: 3496.

Dalam redaksi Imam Ahmad disebutkan dari haditsnya Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْجَنَّةُ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه أحمد ]

Surga itu ada seratus tingkat, jarak antara satu surga dengan yang lainya sejauh perjalanan seratus tahun“. HR Ahmad 37/369 no: 22695.

  1. Didalam ayat menjelaskan bahwa ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla atas mereka sangatlah besar, lebih mulia dan agung dari pada apa yang pernah mereka rasakan dari kenikmatan.

Sebagaimana didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا » [أخرجه البخاري و مسلم]

Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepada penduduk surga: ‘Wahai penduduk surga’. Mereka menjawab: ‘Kami penuhi panggilanMu wahai Rabb’. Allah bertanya: ‘Apakah kalian ridho dengan ini? apa yang menyebabkan kami tidak ridho, sedangkan Engkau telah memberi sesuatu yang belum pernah Engkau berikan pada makhlukMu. Jawab mereka. Allah lalu mengatakan: “Dan Aku akan memberi kalian sesuatu yang lebih baik dari itu”. Mereka penasaran: “Wahai Rabb, apakah ada yang lebih baik dari ini semua? Allah berfirman: “Aku halalkan atas kalian keridhoanKu sehingga Aku tidak akan murka atas kalian selama-lamanya“.  HR Bukhari no: 6549. Muslim no: 2829.

  1. Dimasukannya orang beriman ke dalam surga, serta kekalnya mereka, plus ditambah keridhoan Allah Shubhanahu wa ta’alla atas mereka adalah kemenangan yang sangat besar. Bukan seperti persangkaan orang yang mengartikan dengan kemenangan seperti yang ada didunia, karena hal tersebut cepat sekali hilang dan sirnanya.

Sebagaimana yang Allah ta’ala sebutkan dalam salah satu firman -Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ [ البروج: 11]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar”.  [al-Buruj/85: 11].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Anas bahwasaannya dia mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Tatkala Haram bin Milhan tertusuk, beliau adalah pamannya, pada peperangan Bi’ir Ma’unah. Dirinya mengusap darah yang mengalir pada wajah dan kepalanya, kemudian mengatakan: “Aku telah menang, demi Allah, Rabb pemilik Ka’bah”. HR Bukhari no: 4092.

Dalam redaksi lain, Anas bin Malik menceritakan: “Allah ta’ala menurunkan ayat yang berkaitan dengan orang-orang yang terbunuh pada peperangan Bi’ir Ma’unah yang kami baca hingga dihapus setelahnya. ‘Bahwa telah sampai kaum kepada Kami, dan bertemu dengan Rabb kami, Dirinya ridho kepada kami dan kami pun ridho kepadaNya”. HR Bukhari no: 4091. Muslim no: 677.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari تأملات في الآيات (71-72) من سورة التوبة Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1435]
______
Footnote
[1] . Tafsir Syaikh as-Sa’di hal: 343-344.

Sifat Pengecut, Awas Bahayanya

SIFAT PENGECUT, AWAS BAHAYANYA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Diantara sekian sifat tercela yang Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul-Nya cela secara spesifik adalah sifat pengecut. Para ulama mengatakan, salah satunya Fairuz Abadi menjelaskan, “Pengecut adalah lemahnya hati yang seharusnya dalam kondisi kuat”.[1] Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  kebiasaan beliau adalah berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari sifat pengecut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah hati dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa kikir dan penakut dari lilitan hutang dan penguasaan orang lain“. HR Bukhari no: 6363. Muslim no: 2707.

Al-Qodhi Iyadh mengatakan, “Itulah bentuk berlindungnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berlindung dari sifat pengecut dan kikir disebabkan dalam kedua sifat tersebut terkandung beberapa keburukan, seperti tidak bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-haknya Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak membenci ahli maksiat, serta enggan merubah kemungkaran, dan menunaikan hak-hak harta. Yang mana dengan keberanian yang seimbang bisa mengantarkan pada mengerjakan hak, menolong orang terdhalimi, dan dengan kelapangan jiwa akan mudah untuk menunaikan haknya harta. Tanggap untuk mengeluarkan dan menolong orang miskin, serta membantu orang yang dilanda kesulitan”. [2]

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan kalau sifat pengecut merupakan sifat terburuk diantara sifat-sifat jelek lainnya yang ada pada pribadi seseorang. Hal itu, seperti dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ » [أخرجه أحمد]

Sifat terjelek yang ada pada diri seseorang ialah orang yang sangat pelit dan pengecut“. HR Ahmad 13/385 no: 8010.

Pengecut juga termasuk ciri khasnya orang munafik. Sebagaimana disebutkan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:

أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ تَدُورُ أَعۡيُنُهُمۡ كَٱلَّذِي يُغۡشَىٰ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ  [ الأحزاب: 19 ]

“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati”. [al-Ahzab/33: 19]

Al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan, “Hal itu disebabkan karena mereka kaget dan ketakutan yang sangat. Itulah ketakutan mereka-mereka para pengecut yang takut dari peperangan, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, artinya apabila dalam kondisi aman mereka mulai mengeluarkan statemen yang pedas, tinggi lagi fasih. Dengan mengklaim bahwa merekalah orang-orang yang berada dikedudukan para pemberani dan kstaria sedangkan mereka adalah para pendusta akan hal itu”.[3]

Seorang penyair mengatakan:
Apakah jikalau aman kamu tabiatnya kasar lagi keras
Tapi dalam perang bagaikan wanita pingitan

Lihat pada panutan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah orang yang paling berani dan paling teguh hatinya tatkala berhadapan dengan musuh. Dijelaskan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami, demi Allah apabila kami dilanda ketakutan seringkali kami berlindung dibalik beliau, dan sungguh beliau adalah orang paling berani diantara kami“. HR Muslim no: 1776.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sesungguhnya semua orang memuji orang yang punya sifat pemberani dan penderma, sampai kiranya kebanyakan pujian yang dibawakan oleh para penyair dalam bait syairnya adalah tentang keberanian ini. Begitu pula banyak orang yang mencela sifat kikir dan pengecut.  Kemudian beliau melanjutkan, “Manakala kebaikan anak cucu Adam tidak mungkin bisa sempurna dalam agamanya melainkan dengan keberanian dan dermawan maka Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa orang yang diserahi tugas untuk memikul jihad, namun meninggalkannya maka -Dia akan ganti orang tersebut dengan orang lain yang mau menegakan syi’ar jihad tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman -Nya:

فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم [محمد: 38]

“Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah -lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada -Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. [Muhammad/47: 38].[4]

Dan diantara perkara yang menunjukan sifat pengecut ini termasuk menafikan budi pekerti yang luhur ialah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala aku sedang bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lainnya seusai peperangan Hunain. Datang orang-orang Arab Badui berdesak-desakan mengerumuni beliau untuk meminta bagian sehingga beliau terdesak ke suatu pohon yang menyebabkan jubahnya terlepas. Lalu beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْطُونِي رِدَائِي لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا » [أخرجه البخاري]

Kembalikan jubahku. Demi Allah, jika saja aku memiliki ternak sebanyak pohon besar niscaya aku akan bagi-bagikan juga kepada kalian, sehingga dengan begitu tidak ada yang menganggapku sebagai orang yang kikir, dusta dan pengecut“. HR Bukhari no: 3148.

Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, “Didalam hadits ini sebagai dalil tercelanya sifat-sifat yang disebutkan tadi, yakni kikir, dusta, dan pengecut. Dan tidak sepantasnya bagi seorang pemimpin kaum muslimin yang mempunyai cabang-cabang sifat tersebut”.[5] Seorang ulama yang bernama Abu Zinad mengatakan, “Tatkala Khalid bin Walid dalam kondisi kritis beliau menangis. Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku telah mengikuti (peperangan) ini dan itu, sehingga tidak menyisakan sedikitpun dari tubuhku ini melainkan ada bekas sabetan pedang, tusukan tombak atau lemparan panah. Dan sekarang aku akan meninggal diatas tempat tidur tergeletak seperti matinya seekor onta, maka tidaklah tertidur matanya para pengecut”.[6]

Umar bin Khatab mengatakan, “Sesungguhnya keberanian dan pengecut adalah sifat dasar yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada hamba yang dikendaki -Nya. Maka bisa dijumpai ada seseorang yang berperang dengan tidak mempedulikan bisa kembali kepada keluarganya atau tidak. Ada juga seseorang yang lari dari ayah dan ibunya (tidak membelanya). Ada pula yang berperang demi mencari wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka itulah yang dinamakan syahid”.

Seorang penyair mengatakan:
Para pengecut suatu kaum akan lari membela anak ibunya
Sedang pemberani rela membela orang yang tidak memiliki kedekatan

Diantara kisah-kisah para pemberani yang disebutkan dalam bukuh sejarah ialah kejadian yang ada dalam peperang Badr. Kisahnya Mu’adz bin Amr radhiyallahu ‘anhu disaat perang berkecamuk. Beliau berkata, “Aku mempunyai target pada perang Badr untuk membunuh Abu Jahal. Maka, manakala peluang datang akupun menyerangnya. Aku layangkan satu pukulan yang mengenai sekitar kakinya pada pertengahan betisnya. Lalu anaknya Ikrimah menyabet pundakku, maka lenganku pun terlepas dan menempel pada kulit sampingku namun peperangan menjauhkan posisiku darinya. Sungguh, aku telah berperang seharian dan menyeret lenganku ke belakang. Maka, tatkala ia semakin membuatku tersiksa, maka aku menginjakkan kakiku ke atasnya kemudian lama aku melakukan hal itu hingga akhirnya berhasil membuangnya”.

Imam Dzahabi mengomentari kisah ini dengan mengatakan, “Ini demi Allah, inilah yang dinamakan pemberani sejati. Bukan seperti orang hanya tergores anak panah lalu nyalinya menciut dan menyembelih ketegarannya”.[7] Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik, “Siapakah orang Arab yang paling berani dalam bait syairnya? Beliau menjawab, “Abas bin Murdas tatkala mengatakan:
Kondisi terberat ialah ketika menghadapi pasukan yang bersenjata lengkap
Namun, ku tak peduli apakah aku mati disitu ataukah selamat darinya 

Inilah lantunan bait syair yang paling berani yang diucapkan oleh orang Arab. Adapun bait syair kepada para pengecut adalah seperti perkataan seorang penyair:
Aku mengira ketika lari dari peperang menyebabkan panjang umur
Tapi aku tidak menjumpai seperti ketika maju kemedan pertempuran
Bukanlah kesudahan perang yang menyebabkan berdarah
Namun, kaki kami yang berdarah karena lari tunggang langgang

Penyair lain mengatakan:
Kondisi terberat yang aku alami disaat perang adalah telapak kaki
Lari terpacu dari genderang perang tatkala diumumkan
Mengapa tidak seperti kijang betina yang pemberani
Itu karena hatimu menciut berada disayap burung

Kisah seorang wanita muda al-Khariji yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Dirinya adalah seorang wanita kuat yang turut serta dalam perang yang sedang berkecamuk, yang barangkali tidak bisa disetarai oleh para pemberani laki-laki. Sampai kiranya Hajaj takut sekali dari sepak terjangnya. Sehingga diungkapkan oleh sebagian penyair tentang kejadian tersebut”. Lalu beliau menyebutkan dua bait syair tersebut.[8]

Dampak Buruk Sifat Pengecut:
Pertama: Pengecut termasuk sifatnya para munafik yang seharusnya dihilangkan dari dalam diri orang beriman.

Kedua: Sifat pengecut tidak bisa menjadikan ajal semakin menjauh, tidak pula mendekatkan rizki dan manfaat. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik:

 يَقُولُونَ لَوۡ كَانَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٞ مَّا قُتِلۡنَا هَٰهُنَاۗ قُل لَّوۡ كُنتُمۡ فِي بُيُوتِكُمۡ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَتۡلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمۡۖ  [ آل عمران: 154]

“Mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh“. [al-Imran/3: 154].

Ketiga: Orang yang memiliki sifat pengecut menunjukan akan lemah imannya. Rasa tawakalnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. sebagaimana dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman -Nya:

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  [ التوبة: 51 ]

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. [atTaubah/9: 51].

Keempat: Pengecut akan mengantarkan pada kealpaan dalam menunaikan kewajiban. Menunaikan hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’ala, dan yang terburuk dari itu semua ialah tidak berani memerangi ahli bathil dan merubah kemungkaran.

Kelima: Pengecut mewariskan kehinaan dan sempitnya hati. Imam Ibnu Qoyim mengatakan, “Sesungguhnya keberanian menjadikan lapang dada dan hati menjadi tentram adapun pengecut maka dijumpai dia adalah manusia yang paling sempit dadanya, hatinya tertawan tidak ada tawa dan kebahagian. Tidak ada kelezatan hidup melainkan seperti yang dirasakan oleh binatang ternak, sedang kebahagian jiwa, kelezatan, kenikmatan, serta berkobarnya maka semua itu terhalang bagi para pengecut sebagaimana terlarang pula bagi orang yang kikir”.[9]

Keenam: Pengecut menyebabkan terjajahnya sebuah negeri, terampasnya harta benda serta pelanggaran kehormatan lainnya.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari ذم الجبن Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqaw, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Bashaair dzawi Tamyiz 1/366.
[2] Ikmal al-Mu’alim bii Fawaidi Muslim oleh Qodhi Iyadh 8/205.
[3] Tafsir Ibnu Katsir 11/132-133.
[4] al-Istiqomah 2/263-270.
[5] Fathul Bari 6/254.
[6] Siyar a’lamu Nubala 1/382.
[7] Siyar a’lamu Nubala 12/276.
[8] Bidayah wa Nihayah 12/276.
[9] Zaadul Ma’ad 2/25.

Esensi Malu Dalam Kehidupan

ESENSI MALU DALAM KEHIDUPAN

Marilah kita senantiasa istiqamah dalam menjaga ketakwaan kita kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan hendaklah kita benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla . Hendaknya kita senantiasa menyadari bahwa ada malaikat yang diutus Allâh Azza wa Jalla untuk mencatat semua amal kita. Malaikat itu senantiasa mendengar dan melihat apapun yang kita lakukan meski sangat rahasia dan tersembunyi. Janganlah sekali-kali kita berbuat kemaksiatan dengan anggapan tiada yang tahu sama sekali. Karena malaikat yang diutus oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengawasi selalu tahu dan terus mencatat segala perbuatan kita.

Sifat malu termasuk diantara sifat terpuji yang sudah ditinggalkan oleh banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang bersifat dengannya serta membentenginya agar tidak terjerumus dalam perilaku buruk. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

Sesungguhnya rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan [HR. Bukhari]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa malu merupakan bagian dan cabang dari keimanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah ucapan LÂ ILÂHA ILLALLÂH dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu salah satu cabang dari keimanan. [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengingatkan atau mencela saudaranya yang pemalu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah sebagian dari iman. [HR. Bukhari]

Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa malu bukan suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat terpuji.

Simak juga apa yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, ”Kata al-Hayâ’ berasal dari (satu kata dasar dengan) al-hayat (kehidupan). Oleh karena itu hujan juga disebut al-hayâ (pembawa kehidupan). Kadar rasa malu seseorang sangat tergantung dengan kadar hidupnya hati. Sedikitnya rasa malu merupakan indikasi hati dan ruhnya telah mati. Semakin hidup hati seseorang, maka rasa malunya akan semakin sempurna.”

Rasa malu itu ada dua yaitu malu kepada Allâh dan malu kepada manusia.

Malu kepada Allah Azza wa Jalla maksudnya merasa malu dilihat Allâh Azza wa Jalla saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالُوا : إِنَّا نَسْتَحِي يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنْ مَنْ اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى وَلْيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ

Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla .” Para sahabat menjawab, “Kami sudah merasa malu, wahai Rasûlullâh.” Rasûlullâh bersabda, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi barang siapa yang benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia harus menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan dia terus mengingat kematian. Orang yang menginginkan akherat, dia pasti akan meninggalkan keindahan dunia. Barangsiapa melakukan ini berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allâh.[HSR Ahmad dan Tirmidzi]

Dalam hadits di atas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dengan gamblang sifat orang yang tertanam rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla dalam lubuk hatinya. Yaitu dia terus berusaha menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tidak berbuat dosa dan maksiat, senantiasa ingat kematian, tidak punya keinginan yang muluk-muluk terhadap dunia dan tidak terlena dengan nafsu syahwat.

Orang yang merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla , dia akan menjauhi semua larangan Allah Azza wa Jalla dalam segala kondisi, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Rasa malu seperti masuk dalam kategori ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullâh ( mengenal Allâh Azza wa Jalla). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allâh Azza wa Jalla . Rasa malu yang timbul karena tahu Allâh Azza wa Jalla itu Maha Mengetahui terhadap semua perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam bagian iman tertinggi bahkan menempati derajat ihsân tertinggi. Tentang ihsân, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Ihsân adalah engkau beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya, seandainya engkau tidak melihat-Nya maka Allâh Azza wa Jalla pasti melihatmu.”

Di samping rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla , kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, tukang gunjing dan berbagai perbuatan maksiat lainnya yang nampak.

Singkat kata, rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla akan mencegah seseorang dari kerusakan batin, sedangkan rasa malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin dan akan tetap baik ketika sendiri maupun di tengah khalayak ramai. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu ? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam hatinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat semaunya, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hatinya. Na’ûdzu billâh. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya diantara perkataan kenabian pertama yang diketahui manusia ialah “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu [HR. Bukhâri]

Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan. Karena rasa malu yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan maksiat tidak dimiliki. Akibatnya, dia akan terus hanyut dan larut dalam perbuatan maksiat dan mungkar.

Setelah mengetahui urgensi rasa malu dan manfaatnya bagi seorang hamba, cobalah sekarang kita memperhatikan kondisi manusia saat ini. Sungguh sangat menyedihkan keadaan sebagian orang saat ini. Mereka telah mencampakkan rasa malu sampai seakan tidak tersisa sedikitpun dalam diri mereka, sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana; aurat yang semestinya ditutup malah dipertontonkan; perbuatan amoral dilakukan terang-terangan; rasa cemburu pada pasangan sirna. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan. Ketika ini dipermasalahkan, banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, tapi inilah realita.

Di antara indikasi pudarnya rasa malu dan menipisnya rasa cemburu pada hati sebagian laki-laki adalah mempekerjakan wanita bukan mahramnya atau wanita kafir sebagai pembantu, sehingga khalwat ditengah keluarganya tidak terhindarkan. Ada juga sebagian orang yang mempekerjakan laki-laki bukan mahramnya sebagai supir untuk keluarganya. Mereka relakan keluarga mereka berduaan dengan orang lain di rumah, di kendaraan, di tempat wisata dan lain sebagainya. Akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Kemanakah rasa cemburu dan rasa malu mereka ?

Termasuk tanda hilangnya rasa malu dari sebagian wanita pada zaman ini yaitu mereka membuka hijab dan jilbab mereka. Aurat yang seharusnya mereka tutupi, justru mereka pertontonkan kepada khalayak ramai. Mereka keluar rumah dengan dandanan menor, pakaian minim, berbagai hiasan dan aksesoris yang menarik perhatian menempel di tubuh mereka serta tak ketinggalan aroma semerbak yang bisa menggait lawan jenisnya. Sorot mata jalang yang seharusnya membuatnya risih dan malu, justru semakian menimbulkan rasa bangga. Na’udzu billah

Kemanakah rasa malu yang merupakan bagian dari iman seseorang ?

Diantara fakta yang juga menyedihkan yang mengisyaratkan menipisnya rasa malu atau bahkan hilang sama sekali dari sebagian kaum Muslimin yaitu kegemeran mereka terhadap lagu-lagu atau film-film yang jauh dari norma-norma Islam. Untuk lagu, bukan hanya perdengarkan di rumah-rumah mereka bahkan tanpa rasa malu sama sekali, sebagian mereka meminta para penyiar untuk memutar beberapa jenis lagu untuk dipersembahkan kepada sanak kerabat atau teman yang sedang berada jauh dari mereka.

Bahkan ada yang membeli kaset-kaset film porno yang kemudian diputar di rumahnya, di hadapan anak dan istrinya, padahal di dalamnya ada tayangan yang sangat tidak pantas dilihat. Tayang yang menjijikkan perasaan orang yang memiliki iman; tayangan yang tidak memberikan nilai pendidikan sama sekali kecuali pendidikan syaithaniyah untuk membangkitkan nafsu syahwat dan selanjutnya melampiaskankannya pada hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . Kemanakah rasa malu mereka ? Apakah mereka tidak percaya lagi kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

Sesungguhnya rasa malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan [HR. Bukhari]

Dimanakah rasa malu dari seseorang yang membiarkan anak-anak mereka berkeliaran semaunya, bergaul dengan sembarang orang, melakukan aktifitas tanpa bimbingan dan membiarkan mereka diperbudak hawa nafsu. Yang baik dipandang buruk dan yang buruk terlihat indah dan menyenangkan karena tertipu dengan nafsu syahwat.

Dimanakah rasa malu dari para pegawai yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diamanahkan kepada mereka ? Dimanakah rasa malu dari para pedagang yang melakukan penipuan dan tindakan curang, dusta dalam perdagangannya ?

Sungguh, semua prilaku buruk ini akibat dari hilangnya rasa malu dari diri seseorang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu [HR. Bukhâri]

Hendaklah kita semua senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan hendaklah kita senantiasa memupuk keyakinan bahwa Allâh Azza wa Jalla selalu mengetahui apapun yang kita lakukan di semua tempat dan waktu.

Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴿١٢﴾ وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿١٣﴾ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah; sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati. Apakah Allâh yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan); dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui ? [al-Mulk/67:12-14]

Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan rasa malu yang bisa mendorong seseorang untuk melakukan berbagai kebaikan. Sedangkan rasa malu yang menghalangi seseorang dari perbuatan yang bermanfaat bagi dunia dan agamanya maka itu merupakan jenis rasa malu yang tercela. Sebagai seorang yang beriman, seorang mukmin tidak merasa malu untuk mengucapkan kalimat yang benar dan beramar ma’ruf nahi mungkar; tidak merasa malu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui dalam urusan agamanya.

Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam semua akitifitas kita.

(Diangkat dari al-Khutab al-Mimbariyah, 4/99-104)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]