Author Archives: editor

Al-Haya’ (Sifat Pemalu)

Al- HAYA’  (SIFAT PEMALU)

اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

Al Haya’ (Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan.”

Sesungguhnya di antara fenomena keseimbangan dan tanda-tanda kesempurnaan dalam tarbiyah bahwa engkau menemukan seorang mukmin yang kuat, teguh, bersifat malu, beradab dan tenang.

Malu yang terpuji adalah : Perilaku yang muncul atas meninggalkan yang tercela.[1] Seperti yang didefinisikan oleh Ibnu Hajar rahimahullah. Adapun taharuuj (merasa berat) dari amar ma’ruf dan nahi munkar, berani dalam kebenaran dan memahami agama, maka tidak termasuk sifat haya’`. Ini adalah sebagian yang disinggung oleh Ibnu Hajar rahimahullah saat membagi sifat haya’` kepada yang syar’i dan tidak. Ia berkata: ‘Haya’` yang syar’i adalah yang terjadi di atas jalur membesarkan dan menghormati terhadap orang-orang besar, itulah yang terpuji. Adapun yang terjadi disebabkan meninggalkan perintah syara’, maka ia adalah yang tercela dan bukan termasuk haya’` secara syara’, ia pada dasarnya adalah sifat lemah dan hina.’[2]

Tidak sepantasnya bersifat haya’` dalam menuntut hak, mengajar orang yang jahil, bertanya tentang sesuatu yang tidak kita ketahui….. Mujahid rahimahullah berkata:  ‘Tidak bisa menuntut ilmu orang yang pemalu dan yang sombong.  Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.’[3] Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha bertanya dalam masalah-masalah kecil dalam hukum yang berkaitan dengan wanita, dan ia membuka pertanyaan dengan ucapannya: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak malu dari kebenaran.’ Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ‘Maksudnya Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak menyuruh malu dalam kebenaran.’[4]

Dan siapa yang tidak diberikan sifat haya’` secara fitrah, ia dituntut untuk berusaha dan belajar dengannya. Terlebih lagi, sesungguhnya ia adalah akhlak utama bagi para pengikut agama ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadits hasan:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخُلُقُ اْلإِسْلاَمِ الحَيَاءُ

Sesungguhnya bagi setiap agama ada akhlak dan akhlak Islam adalah sifat haya’`”[5]

Dan disebutkan bahwa haya’` termasuk sunnah para rasul dan ia termasuk bagian dari iman:

اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِيْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِى النَّارِ

“Haya’` termasuk bagian dari iman dan iman (balasannya) di surga. Dan ucapan cabul/jorok termasuk sifat tidak sopan dan tidak sopan itu di neraka.”[6]

Dan kekasih dan panutan kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam (lebih pemalu dari pada gadis perawan dalam biliknya).[7]

Setelah semua itu, apakah kita memilih sifat haya’` atau sifat jorok? Apakah kita berpakaian dengan iman atau tidak sopan? Dan apakah kita mengutamakan akhlak para penghuni surga atau akhlak para penghuni neraka?

Sungguh kaum jahiliyah –di atas kejahiliyahan mereka- merasa berat dari sebagian perbuatan jahat/buruk karena dorongan sifat haya’`. Di antaranya yang pernah terjadi bersama Abu Sufyah Radhiyallahu anhu di hadapan Heraqlius. Tatkala ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: ‘Demi Allah, jika bukan karena malu bahwa mereka menuduh aku berdusta niscaya aku berdusta tentang dia.’[8] Maka sifat haya’` menghalangi dia mengada-ada (berdusta) terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dia tidak dikatakan pendusta. Di saat sekarang, kaum muslimin sangat membutuhkan akhlak ini dengan menjaga kata-kata dan menahan diri dari perbuatan keji dan syahwat dengan adanya rasa malu.

Engkau melihat laki-laki yang pemalu memerah mukanya apabila muncul darinya atau dari yang lain sesuatu yang berlawanan dari sifat haya’`: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu dari pada gadis perawan dalam biliknya dan apabila beliau tidak menyukai sesuatu hal itu terlihat dari wajahnya.’[9]

Dan termasuk sifat haya’` adalah yang terjadi karena membesarkan dan menghormati orang-orang besar: tidak adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat: ‘Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan ia seperti seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku, apakah dia?’[10]

Ibnu Umar Radhiyallahu anhu mengetahui bahwa ia adalah pohon kurma dan merasa malu untuk menjawab dan dia memberikan alasan rasa malunya –seperti dalam beberapa riwayat hadits- bahwa ia melihat dirinya adalah yang paling muda dan ia melihat ada Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu yang tidak berbicara, maka ia tidak senang berbicara.’[11] Alangkah lapangnya dada masyarakat tersebut yang merasa malu padanya yang muda dari yang tua, dan manusia berinteraksi dengan saling menghormati dan menghargai.

Sifat haya’` itu sendiri merupakan penjaga dari terjerumus dalam perbuatan maksiat. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mencela saudaranya karena sifat malunya. Seolah-olah ia berkata: Sifat haya’` telah merugikanmu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Biarkanlah dia, sesungguhnya sifat haya’ itu termasuk bagian dari iman.’[12]

Abu Ubaid al-Harawi berkata: maksudnya, sesungguhnya orang yang merasa malu terputus dengan sifat malunya dari perbuatan maksiat, maka jadilah ia seperti iman yang memutuskan di antaranya dan perbuatan maksiat.’[13] Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan secara umum dalam menjelaskan buah sifat haya’`, beliau bersabda:

اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

Haya’ (malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan.”

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa ia adalah perhiasan bagi perilaku, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَاكَانَ الْفحْشُ فِى شَيْئٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَاكَانَ الْحَيَاءُ فِى شَيْئٍ إِلاَّ زَانَهُ

Tidak adalah yang keji pada sesuatu kecuali ia mengotorinya dan tidak ada sifat sifat haya’ pada sesuatu kecuali menghiasinya.”[14]

Dan fenomena sifat malu dalam masyarakat yang terkadang menyeret kepada kejahatan tidak bisa dikategorikan sifat haya’` yang terpuji, karena sifat haya’` itu tidak datang kecuali dengan kebaikan. Dan sifat mudarah (menjilat, mencari muka) terhadap sebagian tradisi masyarakat yang menyimpang tidak bisa dianggap sifat haya’`, karena sifat haya’ adalah hiasan bukan pengotor, sedangkan penyimpangan adalah inti perbuatan buruk dan kotor.

Sebagaimana sifat haya’` merupakan tatakrama bersama makhluk, maka ia merupakan adab (tatakrama) tertinggi bersama al-Khaliq (Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pencipta). Disebutkan bahwa beberapa nabi seperti Adam Alaihissallam, Nuh Alaihissallam, dan Musa Alaihissallam diminta untuk memberi syafaat di hari kiamat dan umat manusia berkata kepada setiap orang dari mereka: ‘Berikanlah syafaat kepada kami di sisi Rabb-mu sehingga Dia melapangkan kami dari tempat kami ini. Ia (Adam Alaihissallam) berkata: ‘Aku tidak pantas –dan ia menyebutkan dosanya lalu merasa malu…Aku tidak pantas  – dan ia (Nuh Alaihissallam) menyebutkan permintaannya kepada Rabb-nya yang tidak pantas lalu merasa malu…..Aku tidak pantas – dan ia (Musa Alaihissallam) menyebutkan pernah membunuh jiwa yang tidak berdosa lalu ia merasa malu kepada Rabb-nya…[15] Semuanya merasa berat dan dihalangi oleh rasa malu untuk berani meminta syafaat.

Dan karena perasaan seorang mukmin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melihatnya di atas semua kondisinya, maka sesungguhnya ia merasa malu dari Rabb. Karena itulah disebutkan dalam anjuran menutup aurat saat mandi di dalam kesendirian, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pantas dirasakan malu dari-Nya dari pada manusia.”[16] Orang yang merasa malu dari Rabb-nya bahwa auratnya terbuka dalam kesendiriannya sudah pasti sifat haya’ (malu) menghalanginya dari perbuatan maksiat. Dan cukuplah dalam keutamaan sifat haya’ bahwa para nabi terdahulu memperingatkan hilangnya sifat haya’, agar seseorang tidak terjerumus dalam segala keburukan –dan tidak ada lagi penghalang baginya- seperti dalam hadits:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya sebagian dari yang ditemukan manusia dari ucapan para nabi terdahulu: ‘Apabila engkau tidak merasa malu maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”[17]

Dan di antara beberapa hal yang dipahami dari hadits ini:

  1. Di mana engkau merasa berat dan takut mendapat dosa maka berhentilah, dan di mana hati merasa tenang dan engkau tidak merasa berat maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki.
  2. Orang yang sudah kehilangan sifat haya’ maka ia melakukan apa yang dia kehendaki, dan hendaklah ia memperhatikan setelah itu apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengannya.
  3. Tidak aneh apa yang kita lihat dari kemungkaran akhlak apabila kita sudah mengetahui bahwa pendorong sifat haya’ telah mati. Maka yang tidak bersifat malu –biasanya- melakukan apa yang dikehendakinya tanpa merasa malu kepada siapapun.

Kesimpulan:

  1. Sifat haya’` adalah perilaku yang muncul di atas meninggal yang buruk.
  2. Tidak menuntut ilmu atau menuntut hak bukan termasuk malu.
  3. Sesungguhnya bagi setiap agama ada akhlak dan akhlak islam adalah haya’.
  4. Umat jahiliyah mempunyai sifat haya’ yang menghalangi mereka dari sebagian perbuatan buruk.
  5. Termasuk sifat haya’ adalah menghormati yang lebih tua.
  6. Sifat haya’ menjaga dari terjerumus dalam perbuatan maksiat.
  7. Di antara sifat haya’ yang tertinggi adalah beradab bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pencipta. Al Haya’ adalah pesan para nabi terdahulu.

[Disalin dari الحياء  Penulis Syaikh Mahmud Muhammad al-Khazandar , Penerjemah : Muhammad Iqbal Ghazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1]  Fathul Bari 1/522 saat mensyarahkan bab haya` dari kitab adab, hadits no. 6118
[2] Fathul Bari 1/229 saar mensyarahkan bab haya` dalam ilmu dari kitab iman.
[3]  Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, dari tarjamah bab 50 (Fath 1/228)
[4]  Referensi yang sama, saat Ibnu Hajar menjelaskan potongan hadits 130 dari Shahih al-Bukhari.
[5]  Shahih Sunan Ibnu Majah 2/406, hadits no. 3370/4181 (Hasan).
[6]  Shahih Sunan Ibnu Majah 2/406, hadits no. 3373/4184 (Shahih).
[7] Shahih al-Bukhari, kitab adab, bab ke 77, hadits no. 6119 (Fath 10/521).
[8]  Shahih al-Bukhari, kitab permulaan wahyu, bab ke 6, hadits no. 7 (Fath 1/31).
[9]  Shahih Sunan Ibnu Majah 2/406, hadits no. 3369 (Shahih)
[10]  Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke 4, hadits no. 61.
[11]  Fathul Bari 1/146
[12]  Shahih al-Bukhari, kitab adab, bab ke 77, hadits no. 6118 (Fath 10/521).
[13] Dari Fathul Bari 10/522 saat menerangkan hadits 6118
[14]  Shahih Sunan Ibnu Majah 2/3374 (Shahih).
[15]  Shahih al-Bukhari, kitab tafsir, surah ke dua bab 1, hadits no. 4476 (Fath 8/160).
[16]  Dari Mu’allaqat al-Bukhari dalam kitab mandi, bab ke 20, Ibnu Hajar berkata dalam Fath 1/386: (Dihasankan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Hakim)
[17]  Shahih al-Bukhari, kitab adab, bab ke 78, hadits no.6120 (Fath 10/523).

Fadhilah Istighfar

FADHILAH ISTIGHFAR

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan -Nya… Amma Ba’du:

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Al-Aghrul Mizani Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya aku (terkadang) merasakan kegalauan di dalam hatiku, dan sungguh aku beristighfar kepada Allah dalam satu hari seratus kali”.[1]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Abdullah bin Umar berkata, “Sungguh kita menghitung bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seratus kali mengucapkan:.

رب اغفرلي وتب علي إنك أنت التواب الرحيم

Ya Allah ampunilah aku, dan berilah taubatmu kepadaku sesungguhnya Engkau Maha Memberi taubat dan Maha Penyayang”.[2]

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang selalu berada di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukurinya, dan dosa yang menuntut taubat, dalam kedua perkara inilah seorang hamba menjalani hidupnya setiap hari, manusia senantiasa hidup dalam nikmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia senantiasa butuh kepada taubat, istighfar, oleh karena itulah penghulu anak Adam dan imam orang-orang yang bertaqwa, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beristighfar kepada Allah dalam semua kondisi”.[3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba -Nya yang beriman untuk beristighfar dan Allah-pun menjanjikan mereka dengan ampunan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. [An-Nisa/4’: 106].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [Muhammad/47: 19].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Muzzammil/73: 20]

Istighfar itu boleh untuk diri sendiri dan orang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, [Gafir/40 :7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.”  [Al-Hasyr/59: 10]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak Adam meninggal maka akan terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak shaleh yang selalu berdo’a untuknya”.[4]

Tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik walaupun dia sebagai kekasih atau kerabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. [At-Taubah/9: 13-14].

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi kubur ibunya lalu beliau menangis dan membuat para shahabat yang lainpun menjadi menangis, dan beliau bersabda, “Aku meminta izin kepada Tuhanku agar aku memintakan ampun bagi ibuku namun Dia tidak mengizinkan aku, dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya maka Dia mengizinkan aku, berziarahlah ke kubur sebab hal tersebut mengingatkan kalian kepada akherat”.[5] Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa istighfar untuk mereka tidak akan memberikan manfaat apapun dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerimanya dari orang yang melakukannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لاَ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِن تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَن يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. [Al-Taubah/9: 80]

Dan bacaan-bacaan istighfar itu sangat banyak, dan telah disebutkan di dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Zaid Radhiyalllahu anhu, budak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan:

أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Aku meminta ampun kepada -Mu Ya Allah, Yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Dialah Yang Maha Hidup dan Yang berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada -Nya”. Maka akan diampuni dosanya sekalipun dia berlari dari peperangan”.[6]

Dan ucapan istighfar yang paling afdhol adalah bacaan istighfar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Syaddad bin Aus berkata, “Penghulu istighfar itu adalah seorang hamba mengucapkan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau-lah yang mencip-takan aku. Aku adalah hamba -Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan -Mu semampuku. Aku berlindung kepada -Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat -Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Barangsiapa yang membacanya pada waktu siang dengan penuh keyakinan lalu dia meninggal pada siang hari itu sebelum memasuki waktu sore maka dia termasuk penghuni surga, dan barangsiapa yang membacanya pada waktu malam dengan penuh keyakinan dan dirinya meninggal sebelum memasuki waktu pagi maka dia termasuk penghuni surga”.[7]

Istighfar disyari’atkan pada setiap waktu, dan wajib bagi orang yang beristighfar untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa saat terjebak ke dalam dosa, dia harus istighfar darinya. Istighfar juga dianjurkan setelah mengerjakan amal shaleh, agar dia dapat menutupi kekurangan yang ada padanya, seperti beristighfar tiga kali setelah selesai menunaikan shalat, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, istighfar pada saat menjalankan ibadah haji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah/2: 199])

Dan waktu istighfar yang paling baik adalah pada waktu akhir malam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”.  [Ad-Dzariyat51/: 18].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. [Ali Imran/3: 135-136]

Al-Fadhl bin Iyadh berkata: “Istighfar yang tidak dibarengi dengan menjauhkan diri dari dosa adalah taubatnya orang yang dusta, sama seperti apa yang dikatakan oleh Rabi’atul Adawiyah: Istighfar kita membutuhkan istighfar yang banyak.

Istighfar adalah sebab bagi turunnya hujan, mendatangkan harta dan anak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiraman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. [Nuh/71: 10-12]

Istighfar adalah sebab bagi tertolaknya bencana. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. [Al-Anfal/8:33].

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata, “Tidaklah suatu bencana diturunkan kecuali karena adanya dosa dan tidak ada yang mengangkatnya kecuali taubat”. Abu Musa berkata, “Kita memiliki dua perkara yang menjamin kemamanan kita, dan telah pergi salah satu dari keduanya, yaitu keberadaan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah kita dan tinggallah istighfar masih bersama kita, maka jika dia pergi binasalah kita ini”.[8]

Istighfar adalah sebab turunnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat“. [Al-Naml/27: 46]

Isitgfar adalah penghapus dosa di dalam majlis. Diriwaytkan oleh Al-Tirmidzi di dalam sunannya dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berada pada sebuah majlis yang terjadi padanya keributan, lalu sebelum dirinya bangkit dari majlis itu hendaklah dia membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji -Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada -Mu.”[9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari فضل الاستغفار  Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Shahih Muslim: no: 2702
[2] HR. Abu Dawud: no: 1516
[3] Al-Tuhfatul Iroqiyah: 1/79
[4] Muslim di dalam kitab shahihnya: no: 1631
[5] Shahih Muslim: 2/671 no: 976
[6] HR. Abu Dawud no: 1517.
[7] “Barangsiapa membacanya dengan yakin ketika sore hari, lalu ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia masuk Surga. Dan demikian juga ketika pagi hari.” HR. Al-Bukhari 7/150.
[8] Al-Taubatu Ila Allah, Al-Gozali, halaman: 124
[9] HR. Turmudzi: 3433

Kiat Berpegang Teguh Dengan Agama Allah

KIAT BERPEGANG TEGUH DENGAN AGAMA ALLAH

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya…Amma Ba’du:

Sesungguhnya kebutuhan seorang muslim terhadap kiat-kiat untuk berpegang teguh dan berkomitmen terhadap ajaran agama mereka sangatlah besar, hal ini disebabkan karena banyaknya fitnah dan sedikitnya manusia yang bisa membantu, dalam hal keterasingan agama. Dan di antara kiat berpegang teguh dengan agama adalah:

Pertama: Sadar untuk kembali kepada Al-Qur’an yang agung baik dengan menghafal, membaca dan mengamalkan. Dia adalah tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kuat, jalan yang lurus, dan barangsiapa yang berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaganya dan barangsiapa yang berpaling, maka dia akan tersesat dan menyimpang. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk mengokohkan keberadaannya (di dalam hati). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). [Al-Furqon/25: 32]

Kedua: Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amal shaleh. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاء

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan berbuat sesuka yang Dia kehendaki. [Ibrahim/14: 27]

Qotadah berkata, “Di dalam kehidupan dunia maka dia akan diberikan ketetapan dengan berbuat kebaikan dan beramal shaleh dan di akherat adalah keteguhan di dalam kubur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) [Al-Nisa’/4: 66]

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beramal shaleh secara kontinyu dan amal yang paling beliau sukai adalah amal yang berkesinambungan walaupun sedikit, dan para shahabat beliau saat ingin melakukan suatu amal shaleh maka mereka menetapkannya.

Ketiga: Membaca kisah-kisah para nabi dan mempelajarinya agar bisa ditauladani dan diamalkan. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul telah Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman. [Hud/11: 120]

Banyak ayat-ayat yang diturunkan untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bersama beliau, seperti kisah Nabi Ibrahim, Musa dan seorang keluarga Fir’aun yang beriman dan kisah-kisah lainnya.

Keempat: Berdo’a. Sesungguhnya di antara sifat-sifat orang yang beriman adalah mereka menghadap Allah dengan berdo’a kepadaNya agar diteguhkan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firmanNya:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami…”. [Ali Imron/3: 8]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jemari Allah Yang Maha Rahman sama seperti satu hati dan dia berbuat padanya sekehendak -Nya”.[1]

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdo’a dengan mengucapkan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya Allah yang Maha Membolak balikkan hati tetapkanlah hati-hati kami agar selalu  taat kepadaMu”.[2]

Kelima: Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzikir adalah sebab yang paling agung agar seseorang bisa teguh. Renungkanlah ayat di bawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُواْ وَاذْكُرُواْ اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلَحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. [Al-Anfal/8: 45]

Allah menjadikan zikir sebagai sebab utama dalam berpegang teguh saat berjihad.

Keenam: Berdakwah kepada Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah tugas para Rasul dan para pengikut mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf/12: 108]

Dan jika seorang hamba betul-betul berusaha memberikan petunjuk kebenaran kepada orang lain, maka Allah akan memberikan balsannya dari jenis amal yang sama, sehingga dia semakin bertambah dalam mendapatkan petunjuk dan keteguhan dalam kebenaran. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini;  [Al-Kahfi/18: 28]

Dan disebutkan di dalam cerita tentang seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa manusia bahwa dia bertanya tentang taubat kepada seorang yang berilmu dan orang alim tersebut berkata; Apakah yang menghalangi dirimu dari taubat, pergilah ke daerah ini sebab disana terdapat masyarakat yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sembahlah Dia bersama mereka dan janganlah kembali mendatangi kampung halamanmu sebab dia adalah lingkungan yang buruk”.[3]

Ibnul Qoyyim rahimahullah bercerita tentang keteguhan syaekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah saat beliau dipenjara: Dan apabila rasa khawatir kami memuncak dan prasangka buruk menguasai kami serta dunia telah menyempit maka kamipun berkunjung kepada beliau, maka tidaklah kita melihatnya dan mendengar ucapannya kecuali keburukan yang kami rasakan sebelumnya sirna seketika, bahkan dada kami berbalik merasakan kelapangan, kekuatan, keyakinan dan ketenangan. Maha suci Allah yang telah memperlihatkan surga -Nya sebelum bertemu dengan -Nya, dan membukakan baginya pintu-pintu surga pada waktu beramal, juga Dia telah memberikan kepada mereka keharuman, kesejukan, dan kebaikannya selama mereka memusatkan usaha mereka untuk menuntutnya dan berlomba-lomba mendapatkannya”.[4]

Kedelapan: Yakin dengan kedatangan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan masa depan adalah milik Islam. Inilah cara Nabi  meneguhkan para shahabat di awal dakwah Islam pada saat mereka tersiksa dengan berbagai intimidasi. Dari Khabbab bin Arit bahwa dia mengadu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siksa yang dihadapinya dan dia meminta dido’akan agar terhindar dari siksa, maka Beliau bersabda,

وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnkan agama ini sehingga seorang pengendara akan berjalan sendiri dari Shan’a ke Hadramaut sementara mereka tidak sedikitpun takut kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan seorang penggembala tidak takut terhadap domba-dombanya namun kalian terlalu tergesa-gesa”.[5]

Kesembilan: Sabar. Ini termasuk sebab yang paling besar agar seseorang bisa berpegang teguh pada agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2: 153]

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa bersabar maka Allah akan memberikan kesabaran baginya dan tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari sabar”.[6]

Dari Abi Tsa’alabah Al-Khusyani Radhiyallahu anhu bahwa pada saat Nabi menyinggung tentang amar ma’ruf anhi mungkar beliau bersabda,

«إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ».  قَالُوا: يَا نَبِيَّ الله، أَو مِنْهُمْ؟ قَالَ:«بَلْ مِنْكُمْ».

Sesungguhnya di belakang kalian akan tiba masa-masa bersabar, di mana bersabar pada masa itu sama seperti menggenggam bara api, orang yang berbuat kebaikan pada masa itu dari kalangan mereka akan mendapat pahala yang menyamai pahala lima puluh orang pada jenis kebaikan yang sama”. Tsa’labah bertanya: Wahai Rasulullah apakah akan menyamai lima puluh pahala kebaikan dari golongan mereka?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Menyamai Pahala lima puluh orang di antara kalian”.[7]

Kesepuluh: Merenungkan kenikmatan surga dan pedihnya siksa neraka, serta mengingat kematian. Maka pada saat seorang yang beriman merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,..”.[Ali Imron/3: 133]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.  [Ali Imron/3: 185]

Dengan merenungakan ayat ini maka segala kesulitan akan menjadi ringan dan hidup zuhud di dunia, jiwanya akan rindu kepada akherat dan derajat yang tinggi.

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para shahabatnya dengan kenikmtan surga agar mereka tatap berpegang teguh pada agama Allah dan bersabar atasnya. Beliau melewati Yasir dan Amar beserta ibunya pada saat mereka tersiksa di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala guna memperthankan keimanannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ، إِنَّ موعدكم الجنة.

Berasabarlah wahai keluarga Yasir sebab janji kalian adalah surga”. [8][9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari أسباب الثبات على الدين Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Shahih Muslim: 4/2045 no: 2654
[2] Musnad Imam Ahmad: 6/251
[3] Shahih Bukhari: 2/497 no: 3470 dan shahih Muslim: 4/2118 no: 2766
[4] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Tahyyib, halaman; 82
[5] Shahih Bukhari: 4/285 no: 6943
[6] Shahih Bukhari: 4/186 no:  no: 6470 dan shahih Muslim: 2/729 no: 1053
[7] Sunan AbuDawud: 4/123 no: 4341
[8] Mustadrakul Hakim:  3/432 dishahihkan oleh Albani di dalam fiqhus siroh, halaman: 103
[9] Lihat risalah syekh Muhammad Al-Munjjid, Asbabus sabat alad dini”.

Adab Memberikan Hadiah

ADAB MEMBERIKAN HADIAH

1. Hadiah, Pemberian, Shadaqah adalah aqad memberikan kepemilikan suatu barang kepada seseorang tanpa ganti.

2. Terdapat perintah untuk menerima hadiah apabila tidak terdapat padanya sesuatu yang syubhat dan haram. Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

 أِجِيْبُوْا الدَّاعِيَ وَلاَ تَرُدُّوْاالْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوْا اْلمُسْلِمِيْنَ

“Penuhilah panggilan orang yang mengundangmu, janganlah engkau menolak hadiah dan jangan pula memukul orang Islam”.[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مـَنْ أَتَاهُ اللهُ شَيْئًا مِنْ هذَا الْمَالِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْأَلَهُ فَلْيَقْـبََْلْ فَإِنَّمَا هُـوَ رِزْقٌ سَاَقـَهُ اللهُ إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang diberikan oleh Allah harta tanpa mengemisnya dari orang lain maka hendaklah dia menerimanya sebab hal itu adalah rizki yang diberikan oleh Allah kepadanya”.[2]

3. Dan di antara kemuliaan akhlaq Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada saat hadiah datang kepada Nabi maka beliau mengikutkan orang lain menikmati hadiah tersebut, ketika Nabi diberikan semangkuk susu maka beliau memanggil ahlus suhffah dan mengikut sertakan mereka menikmati hadiah tersebut bersama beliau.[3]

4. Apabila dihadiahkan kepada beliau sekeranjang buah-buahan, maka beliau membaginya kepada orang tua yang shaleh dan kepada anak-anak yang hadir bersama beliau. Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa diberikan kepada Nabi buah panenan pertama (untuk awal musim buah-buahan) lalu beliau berdo’a:

اَللّهُـمَّ بَارِكْ لَنَا فَِي مَدِيْنََتِنَا وَفيِ مُدِّنَا وَفِي صَاعِنَا وَفِي ثِمَارِنَا بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ

Ya Allah berikanlah keberkahan bagi kami pada kota kami, pada ukuran mud kami, sha’ kami dan pada buah-buahan kami, curhakanlah keberkahan bersama keberkahan.”,

Kemudian beliau memberikan anak yang paling kecil yang ikut hadir bersama beliau.[4]

5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjinakkan hati suatu kaum dengan hadiah yang beliau berikan, terkadang seseorang baru masuk Islam atau di dalam hatinya ada ganjalan terhadap Islam atau umatnya, maka Nabi tetap memberikannya sampai orang tersebut rela.

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengirim hadiah kepada keluarganya, beliau selalu setia terhadap istrinya, Khadijah radhiallahu anha dan menjadikan hadiah sebagai sarananya, ketika beliau menyembelih seekor kambing, beliau berkata: “Kirimlah daging ini kepada teman-teman Khadijah”.[5]

7. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membalas hadiah, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi menerima hadiah dan memberikan balasan atasnya”.[6]

8. Memberikan hadiah kepada orang yang memberikan hadiah adalah bentuk rasa berterima kasih kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”.[7]

9. Barangsiapa yang tidak mempunyai sesuatu untuk membalas hadiah maka hendaklah berdo’a atas hadiah tersbut, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَـزَاكَ اللهُ خَيْرًا فَقَـدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada seseorang, kemudian dia berkata kepada orang yang berbuat tersebut: جَـزَاكَ اللهُ خَيْرً

 (semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik) maka sungguh dia telah cukup memadai dalam memuji”.[8]

10. Memberikan hadiah kepada tetangganya yang terdekat, seperti yang jelaskan dalam hadits ’Aisyah radhiallahu anha, dia berkata: Wahai Rasulullah! Saya mempunyai dua orang tetangga kepada siapakah aku memberikan hadiah?, “Kepada orang yang pintunya paling dekat denganmu”.[9] Jawab beliau.

11. Memberikan hadiah menjadi suatu keharusan pada saat manusia membutuhkannya, seperti yang terjadi pada peristiwa khandak.

12. Di antara hadiah yang mesti tidak boleh ditolak adalah hadiah yang tidak terlalu mahal dan tidak pula membebankan, sebab Nabi tidak pernah menolak yang baik, dan beliau bersabda:

مَـنْ عَـرَضَ عَلَيْهِ رَيْحَانٌ فَلاَ يَـرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ اْلمَحْمَلِ طَيِّبُ الرَّائِحَةِ

“Barangsiapa yang diberikan kepadanya raihan (semacam tumbu-tumbuhan yang berbau harum) maka janganlah dia menolaknya, sebab raihan tersebut sangat ringan dan harum baunya”.[10]

13. Apabila hadiah tersebut berupa barang yang haram wajib menolaknya, dan jika barang tersebut berasal dari barang yang syubhat maka dianjurkan menolaknya.

14. Apabila hadiah tersebut berasal dari seorang yang jahat, fasiq atau kafir agar hadiahnya tetap ada padamu maka janganlah kau menerimanya.

15. Seseorang dianjurkan untuk menerima hadiah sekalipun hadiah tersebut tidak berkesan di dalam dirinya, sebagaimana Ummu Hafid, bibi Ibnu Abbas radhiallahu anha memberikan hadiah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keju, samin dan daging biawak, maka Nabi memakan samin dan keju serta meninggalkan daging biawak.[11]

16. Apabila seseorang ingin memberikan hadiah maka hendaklah berusaha untuk memilih waktu yang paling baik, bahkan para shahabat apabila ingin memberikan hadiah kepada Nabi, mereka menunggu hari giliran setelah Aisyah.

17. Jika seseorang menolak suatu hadiah maka hendaklah dia menjelaskan sebab penolakan tersebut.

18. Apabila orang yang akan diberikan hadiah telah meninggal dunia sebelum hadiahnya sampai, maka kepada siapakah diserahkan? Imam Ahmad berkata: Jika yang membawa hadiah tersebut adalah utusan pemberi hadiah maka hadiah tersebut kembali kepada pemiliknya, dan jika yang membawa hadiah tersebut adalah utusan orang yang diberikan hadiah maka hadiah tersebut untuk ahli warisnya.

19. Memberikan hadiah kepada kedua orang tua adalah hadiah yang paling besar nilainya.

20. Orang tua boleh memberikan hadiah kepada anak-anaknya sambil menjaga sikap adil yang diwajibkan.

21. Di antara hadiah yang terbesar adalah hadiah ilmu dan nasehat, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang shahih dari Abdullah bin Isa bahwa dia mendengar Abdurrahman bin Abi Laila berkata: Ka’ab bin Ajroh menemuiku, lalu dia berkata kepadaku: Tidakkah aku memberikan kepadamu sebuah hadiah yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?. Maka aku mejawabnya: “Ya, berikanlah hadiah tersebut kepadaku”, lalu dia berkata: Kami bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah bagaimanakah cara bershalawat kepadamu dan kepada keluargamu sebab Allah telah mengajarkan kami cara mengucapkan salam kepadamu? Beliau menjawab: Bacalah:

اَلّلهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ …حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engaku telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya…sesungguhnya Engaku Tuhan Yang Maha Terpuji dan Mulia”.

22. Hadiah seorang peminang dikembalikan kepada orang yang meminang selama bukan bagian dari mahar.

23. Tidak memberikan hadiah dengan tujuan mendapat balasan.

24. Adapun hadiah untuk memenuhi hajat tertentu, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, sebagian mereka mengatakan halal dikerjakan, dan sebagian yang lain mengatakan makruh dilakukan, seperti yang dikatakan oleh imam Ahmad rahimahullah kecuali jika orang tersebut memberikan balasan yang setimpal.

25. Hadiah karena telah memberikan syafa’at[12] (pertolongan dan bantuan) tidak diperbolehkan, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ شَفَّعَ ِلأَخِيْهِ شَفَاعَةً فَأُهْدِيَ لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا مِنْهُ فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا

“Barangsiapa yang memberikan sebuah pertolongan bagi saudaranya lalu saudaranya tersebut memberikan hadiah bagi jasanya lalu menerimanya, maka sungguh dia telah membuka satu pintu dari pintu-pintu riba”.[13]

Dan Syaikhul Islam rahimahullah ta’ala menegaskan kebolehan menerima hadiah tersebut, dan keharaman yang dimaksudkan adalah meminta pertolonganmu dalam kezaliman lalu dia memberikan hadiah kepadamu.

26. Seorang hakim tidak diperbolehkan sama sekali menerima hadiah; sebab Umar bin Abdul Aziz-rahimhullah-berkata: Pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadiah adalah hadiah, sementara pada zaman kita hadiah adalah bentuk sogokan.

27. Bagi pegawai negeri tidak diperbolehkan menerima hadiah, sebab hadiah bagi pegawai adalah pengkhianatan jika pemberian hadiah untuk mendapat jabatan.

28. Hadiah dari orang-orang musyrik, imam Bukhari rahimahullah berkata dalam kitabnya yang shahih (Bab Qobulul Hadiah Minal Musyrikin/Bab kebolehan menerima hadiah dari orang-orang musyrik). Kemudian dia menyebutkan setelah menulis bab di atas beberapa hadits yang membolehkannya.

Al-Hafiz Ibnu Hajar-rahimhullah dalam syarahnya mengatakan: Dalam bab ini (dalam pembahasan ini) terdapat hadits Iyadh Ibnu Himar, yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, Turmudzi dari Iyadh, dia berkata: Aku telah memberikan bagi Nabi seekor onta, maka beliau bertanya : Apakah engkau telah masuk Islam? Aku menjawab: “Tidak” lalu beliau melanjutkan : Aku dilarang menerima hadiah dan pemberian orang-orang musyrik,[14] …kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar mengutip perkataan sebagian ulama tentang cara mengkompromikan antara hadits yang melarang dan kebolehan menerima hadiah dari orang-orang musyrik, yaitu larangan tersebut berlaku bagi orang musyrik yang ingin menggadaikan loyalitas seorang muslim kepadanya dengan hadiah yang diberikannya (seperti simpati kepadanya), dan kebolehan menerima hadiah (dari non muslim) berlaku bagi orang musyrik yang diharapkan bisa dijinakkan hatinya untuk Islam.

[Disalin dari آداب الهدية  Penulis Majid bin Su’ud al-Usyan, Penerjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1] Shahihul Adab: 117.
[2] HR. Bukahri dan Muslim, Silsilatus Shahihah no: 1187.
[3] Shahihut Targib no: 3303.
[4] HR. Muslim no: 1373, 474. Al-Adabus Syar’iyah, Ibnu Muflih 1/315.
[5] Shahihul Jami’ no: 3331
[6] Shahihul Jami’ no: 4999.
[7] Al-Silsilatus Shahihah no:416
[8] Shahihul Jami’ no: 6368
[9] Shahihul Adab: 79.
[10] Shahihul Jami’ no:2392
[11] Shahihun Nasa’i no: 4029.
[12] Seperti membantu seseorang agar urusannya dipermudah dalam sebuah instansi atau lembaga. Pen.
[13] Al-Silasilatus Shahihah: 3465.
[14] Shahih Abu Dawud no: 2630

Memberi Kabar Gembira

MEMBERI KABAR GEMBIRA

يَسِّرُوْا وَلاَتُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَتُنَفِّرُوْا

Berilah kemudahan dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan janganlah engkau membuat orang menjauh

(Tabsyir atau memberi kabar gembira) adalah slogan yang didengungkan oleh para misionaris dan menamakan diri dengannya, menempuh jalan-jalan dan metodenya. Banyak sekali kita lihat metode mereka yang membuat gembira orang-orang yang berhubungan dengan mereka, sementara metode/tata cara pergaulan sebagian da’i membuat sasaran dakwahnya menjadi lebih menjauh. Bukankah seorang da’i lebih pantas menyandang nama tabsyir (pembawa kabar gembira) dari sisi akhlak, sarana dan tujuan?

Yang saya maksudkan akhlak (tabsyir): berperilaku dengan sifat yang menarik  simpati, rasa senang, disukai, memberikan harapan di dalam hati, dan jauh dari cara-cara (tanfir/membuat orang menjauh) dan berbagai penyebab tertekan…-sehingga dalam menakutkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari siksaan neraka-.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai pemberi kabar gembira (basyir) kepada para pengikutnya, memberi ancaman terhadap musuh-musuhnya, bahkan tugas para rasul tidak terlepas dari dua sifat ini:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. [al-An’am/6 : 48]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dalam kitab-Nya untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang sabar, berbuat baik, dan beribadah..dalam beberapa ayat yang banyak.

Dan di antara metede tabsyir (kabar gembira) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memilih waktu yang tepat dan ukuran yang sesuai untuk memberi nasehat dan ilmu, supaya para sahabat tidak menjauh. Dalam hal itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوْا وَلاَتُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَتُنَفِّرُوْا

Berilah kemudahan dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan jangan engkau membuat orang menghindar.[1]

Dan Ibnu Hajar rahimahullah memberi penjelasan: ‘Maksudnya menarik hati orang yang baru masuk Islam dan tidak bersikap keras kepadanya di permulaan. Demikian pula menolak perbuatan maksiat, sudah semestinya dengan sikap lembut agar bisa diterima. Demikian pula mengajar ilmu, sudah seharus secara perlahan, sedikit demi sedikit, karena sesuatu apabila dipermulaannya mudah niscaya disukai orang yang masuk padanya dan menerimanya dengan sedang hati, dan biasanya –hasilnya adalah terus bertambah.[2]

Di antara kebijaksaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menggunakan metode tabsyir dalam membangkitkan semangat dan membuat rajin dalam taat. Di antaranya adalah sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَشِّرِ الْمشائِيْنَ فِى الظّلمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ باِلنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.”[3]

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada satu ketika shalat Isya bersama para sahabatnya, dan sebelum berpaling, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

عَلَى رِسْلِكُمْ, أَبْشِرُوْا, إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكُمْ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ يُصَلِّى هذِهِ السَّاعَةَ غَيْرُكُمْ

Perlahanlah, bergembiralah, sesungguhnya di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu bahwa tidak ada seorang manusia pun yang shalat pada saat ini selain kalian.”

Abu Musa Radhiyallahu anhu berkata: ‘Maka kami pulang dengan membawa rasa bahagia dengan berita yang kami dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’[4]

Di dalam kondisi goncang (kacau, tidak stabil), manusia membutuhkan berita gembira yang bisa menghilangkan faktor-faktor penyebab kegoncangan. Setelah turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha tentang apa yang telah terjadi dan mengabarkan kepadanya rasa takutnya terhadap dirinya dari fenomena yang baru ini. Maka dia memberikan kabar gembira kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai berbagai kebaikan yang terdahulu yang sangat jauh kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas yang tidak baik kepadanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata: ‘Sekali-kali tidak, bergembiralah, demi Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sesungguhnya engkau menyambung tali silaturrahim, benar dalam ucapan, memikul kesusahan, mengusakan yang tidak mampu, dan menolong di atas kebenaran…’[5] Dan inilah perkara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama umatnya untuk menghilangkan kegundahan terhadap masa depan umat ini: ‘Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada umat ini dengan ketinggian, kemenangan dan keteguhan di muka bumi…’[6]

Sampai-sampai dalam kondisi kelemahan sebagai manusia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap keras kepada para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum dengan kata kasar, dan mereka yang mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah Radhiyallahu anhu dengan membawa hasil jizyah dari Bahrain. Maka mereka berkumpul untuk shalat fajar dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerti apa yang mereka inginkan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ, فَوَاللهِ لاَالْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا

Maka bergembiralah dan berharaplah apa yang menyenangkan kamu, maka demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukanlah kemiskinan yang kutakuti, akan tetapi aku khawatir dibukakan dunia terhadap kalian…”[7]

Di saat mendapat cobaan, seorang muslim membutuhkan seseorang yang memberi kabar gembira kepadanya dengan sesuatu yang menyenangkannya, bisa dengan kelapangan yang segera atau pahala yang tertunda. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan Ummul Ala` sedang sakit, beliau bersabda kepadanya:

أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلاَءِ, فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ

Bergembiralah wahai Ummul ‘Ala, maka sesungguhnya sakitnya seorang muslim menghilangkan kesalahannya, sebagaimana api menghilangkan karat besi.”[8]

Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu menulis surat kepada Anas bin Malik Radhiyallahu anhu di masa peristiwa Harrah, memberi ta’ziyah kepadanya karena terbunuhnya anak dan kaumnya, ia berkata: ‘Aku memberi kabar gembira kepadamu dengan berita gembira dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَِلأَبْنَاءِ اْلأَنْصَارِ وَِلأَبْنَاءِ أَبْنَاءِ اْلأَنْصَارِ

Ya Allah, ampunilah kaum anshar, anak-anak kaum anshar, dan cucu-cucu dari kaum Anshar…’ [9]

Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kabar gembira kepada orang-orang yang

melakukan bai’at atas jihad dengan pahala yang Dia Subhanahu wa Ta’ala simpan untuk mereka jika mereka menepai bai’atnya:

فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ

Maka bergembiralah dengan jual beli(bai’at)  yang telah kamu lakukan itu,. [at-Taubat/9 : 111]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertauhid dengan surga sebagai balasan konsistennya mereka dengan kalimat tauhid dalam ucapan, keyakinan, dan amal perbuatan –sebagai rahmat dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala-

أَبْشِرُوْا وَبَشِّرُوْا مَنْ وَرَاءَكُمْ أَنَّهُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ, دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Bergembiralah dan berilah kabar gembira kepada orang yang berada di belakangmu, bahwa siapa yang bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, jujur dari hatinya, niscaya ia masuk surga.”[10]

Dan Jibril Alaihissallam berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, memberi ancaman dari perbuatan syirik besar dan kecil:

بَشِّرِ أُمَّتَكَ أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Berilah kabar gembira kepada umatmu, bahwa siapa yang meninggal dunia tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya ia masuk surga.”[11]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi janji kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa bahwa:

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.. [Yunus/10 : 64]

Diantara berita gembira yang segera di dalam kehidupan dunia: bahwa seorang muslim mendapat sambutan baik dari saudara-saudaranya, engkau berterima kasih kepadanya atas kebaikannya, maka itulah berita gembira. Muslim meriwayatkan dalam bab (apabila dipuji atas orang shalih maka ia adalah kabar gembira dan tidak membahayakannya) satu hadits yang berbunyi: ‘Dikatakan: Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang melakukan kebaikan dan orang-orang memujinya? Beliau bersabda: “Itulah berita gembira kepada seorang mukmin yang segera.[12] Dan kondisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya adalah memberi kabar gembira, sebagaimana dalam sabdanya:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ, فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْاَ

Sesungguhnya agama adalah mudah, dan tidak ada seseorang yang melawan agama kecuali mengalahkannya, maka luruskanlah, dekatkanlah, dan berilah kabar gembira.”[13]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari: ‘Berilah kabar gembira’ maksudnya dengan pahala atas amal ibadah yang terus menerus (istiqamah) –sekalipun sedikit-, maksudnya memberi kabar gembira kepada orang yang tidak mampu melakukan amal ibadah yang sempurna, karena sifat lemah apabila bukan dari perbuatannya tidak mengakibatkan berkurangnya pahala amal ibadahnya.”[14]

Dasar dan pondasi akhlak ini adalah bahwa seorang muslim merupakan sumber untuk harapan yang baik dan keinginan yang luas serta kesudahan yang terbaik, dan bahwa saudaranya tidak melihat yang tidak disukai darinya.

Apakah setelah semua isyarat ini salah seorang dari kita mau menerima bahwa ia adalah sumber kesialan, dugaan kehinaan, atau menurunkan semangat, atau membuat orang pergi jauh, atau membunuh kemampuan orang lain? Ataukah kita menyanjung kabar gembira, menyebarkan sikap optimis, menghidupkan jiwa, mendorong di atas kebaikan, menolong yang ma’ruf,  dan membangkitkan semangat? Hingga setiap orang dari kita menjadi pemberi kabar gembira untuk saudara-saudaranya, menghidupkan semangat pada mereka, dan mendorong mereka agar bertambat giat beramal.

Kesimpulan:

  1. Akhlak tabsyir (memberi kabar gembira) memberi sikap akrab dan menjauhkan dari membuat orang menjauh.
  2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai pemberi kabar gembira.
  3. Diantara cara memberi kabar gembira : Memberi nasehat sesuai porsi dan waktu
  4. Diantara kondisi yang menuntut tabsyir :  Membangkitkan semangat untuk taat beribadah, Menghilangkan faktor-faktor penyebab kegoncangan, Menenangkan kelemahan manusia, Menghilangkan duka cita.
  5. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya di dalam kehidupan dunia.
  6. Kondisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya adalah memberi kabar gembira
  7. Orang yang memiliki akhlak tabsyir mempunyai sikap optimis yang baik.

[Disalin dari  التبشير  Penulis Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah : Muhammad Iqbal Ghazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote

[1] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke 11, hadits no. 69 (Fath al-Bari 1/163).
[2]  Fathul Bari 1/163.
[3] Shahih Sunan Ibnu Majah karya Syaikh Albani, kitab masajid, bab ke 14, hadits no 633/781 (Shahih).
[4] Shahih al-Bukhari, kitab mawaqit, bab ke 22, hadits no. 567 (Fathul Bari 2/47)
[5]  Shahih al-Bukhari, tafsir, surah al-Alaq, bab 1, hadits no. 4953 (Fathul Bari 8/715)
[6]  Musnad Ahmad 5/134 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Jami’ no. 2825.
[7]  Shahih al-Bukhari, kitab jizyah, bab ke 1, hadits no 3158 (Fathul Bari 6/358).
[8]  Shahih Jami’ no. 37 (Shahih).
[9] Musnad Ahmad 4/370 dan dalam sanadnya ada seorang perawi yang dipersoalkan, akan tetapi Syaikhain meriwayatkannya dari jalur yang lain (Lihat: Buluhul Amani 22/173/174).
[10]  Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke 13, hadits no. 6443 (Fathul Bari 11/261).
[11]  Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke 13, hadits no. 6443. (Fathul Bari 11/261).
[12] Shahih Muslim, kitab birr, bab 51, hadits no. 166/2642 (Syarh an-Nawawi 8/428)
[13]  Shahih al-Bukhari, kitab Iman, bab ke 29, hadits no. 39 (Fathul Bari 1/93)
[14]  Fathul Bari 1/95.

Memberikan yang Bermanfaat

MEMBERIKAN YANG BERMANFAAT

 أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Manusia yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala  adalah yang paling bermanfaat

Kita melihat banyak sekali sumber daya yang terpendam di dalam jiwa seseorang dan kita merasakan sumber kisi-kisi kebaikan yang tersimpan dalam diri pemiliknya. Akan tetapi hal itu tidak menular kepada orang lain, tidak memberikan manfaat dan tidak pula menyumbangkan faedah. Bagaimana gambaran yang menyakitkan ketika engkau melihat seorang faqih (ahli fikih) berteman orang jahil yang tidak mengambil faedah apapun dari fikihnya, seorang qari (ahli baca al-Qur`an) yang ditemani orang yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang tidak berguna baginya keindahan bacaannya, dan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang berada di samping seorang yang fasik yang tidak menular sedikitpun dari keshalehannya. Dakwah itu sendiri merupakan manfaat yang bersifat umum, maka ketika Abu Dzarr Radhiyallahu anhu masuk Islam, pembicaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersamanya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya:

فَهَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي قَوْمَكَ, لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْفَعَهُمْ بِكَ وَيُأْجُرَكَ فِيْهِمْ

Apakah engkau bisa menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala  memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.”[1]

Tarbiyah pertama pembicaraan pertama masuk Islam adalah tarbiyah berdakwah dan berusaha menyalurkan manfaatnya kepada orang lain.

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu meruqyah dari sengatan kalajengking, maka ia berkata, ’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari ruqyah dan sesungguhnya aku meruqyah dari sengatan kalajengking.’ Seolah-olah dia minta ijin dalam hal itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.’[2]

Dan terkadang engkau menemukan sebagian orang yang enggan melakukan sesuatu  yang tidak membahayakannya, padahal berguna bagi orang lain, karena hanya mengurus kepentingan pribadinya. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Karena alasan itulah, Umar bin Kaththab Radhiyallahu anhu mencela Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu anhu ketika ia menghalangi adh-Dhahhak bin Khalifah Radhiyallahu anhu menggali saluran air yang mengalir ke tanahnya yang melewati tanah Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu anhu, maka Umar Radhiyallahu anhu  berkata: ‘Kenapa engkau menghalangi sesuatu yang berguna untuk saudaramu, dan ia menjadi manfaat untukmu, engkau menyiram dengannya yang pertama dan terakhir, dan ia tidak membahayakanmu…demi Allah, ia pasti melewatinya sekalipun di atas perutmu.’[3]

Seorang muslim pada dasarnya selalu berusaha memberikan pelayanan kepada yang membutuhkannya, memberi nasehat kepada yang tidak mengetahuinya, memberi manfaat kepada yang berhak menerimanya berdasarkan motivasi dan keinginan dari dirinya. Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada pamannya Abbas bin Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu, ’Wahai pamanku, bukankah aku mencintaimu? Bukankah aku memberikan manfaat kepadamu? Bukankah aku menyambung silaturrahim kepadamu?[4] Dan di antara wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Barzah Radhiyallahu anhu ketika ia berkata kepada beliau: Wahai Rasululah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadaku.’ Beliau bersabda:

اُنْظُرْ ماَيُؤْذِي النَّاسَ فَاعْتَزِلْهُمْ عَنْ طَرِيْقِهِمْ

Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.’[5]

Pelayanan seperti ini menambah sifat tawadhu’ dan menanamkan makna-makna kebaikan di dalam jiwa seorang da’i, serta menjadikan masyarakat di sekitarnya melihat semangat bekerja padanya dalam segala hal yang memberi manfaat atau menolak bahaya dari mereka.

Dan apabila seorang mukmin mengingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dengan memberi hidayah, merasakan manisnya iman dan kenikmatan taat, maka ia tidak akan pelit dengan kata-kata yang baik (memberi nasehat dan dakwah), untuk menyelamatkan manusia yang masih belum merasakan seperti yang telah dia rasakan dan terhijab dari apa yang telah dia kenal. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan dengan bumi yang subur, yang menerima hujan lalu menumbuhkan tanaman, maka beliau bersabda:

وَذلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ عز وجل وَنَفَعَهُ اللهُ عز وجل بِمَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ وَنَفَعَ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ…

Maka itulah perumpamaan orang paham terhadap agama Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla memberi manfaat kepadanya dengan ajaran yang Dia Subhanahu wa Ta’ala mengutusku dengannya, mengambil manfaat dengannya, mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain)…”[6]

Seorang dai yang bersemangat adalah bumi subur yang menyerap kebaikan dan menyumbangkannya.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan duduknya seorang anak laki-laki di belakangnya –seperti Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu tanpa memberikan manfaat kepadanya yang merupakan tarbiyah baginya dan mengisi waktu perjalanan, beliau bersabda kepadanya:

أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ …احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…

Wahai anakku, aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (pesan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu dengannya: Jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia Subhanahu wa Ta’ala menjagamu…”[7]

Para sahabat juga mengikuti akhlak yang mulia ini, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata kepada Anas bin Hakim, ‘Wahai anak muda, maukah engkau kuceritakan kepadamu satu hadits, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu dengannya?…sesungguhnya yang pertama-tama manusia dihisab pada hari kiamat dari amal perbuatan mereka adalah shalat…”[8]

Memberikan manfaat kepada kaum kerabat lebih wajib dan lebih banyak pahalanya. Abu Qilabah berkata: ‘Laki-laki manakah yang lebih besar pahalanya daripada seseorang yang memberi nafkah keluarganya yang kecil, membuat mereka bersikap ‘iffah atau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepada mereka dengannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong mereka dengan (perantaraan)nya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mencukupkan mereka.”[9] Perhatian kepada karib-kerabat seperti ini menarik hati mereka dan menyambung tali silaturrahim, simbol keakraban, tanda cinta, bukti kasih sayang, terutama saat adanya anak-anak kecil dalam keluarga mereka, yang kehilangan perhatian, kasih sayang dan kebutuhan manusia yang terpenting.

Sesungguhnya pintu-pintu manfaat sangat banyak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan sabdanya:

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ

“Setiap muslim harus bersedekah…”

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat beberapa contoh menurut kadar kemampuan seseorang:

فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ…فَيُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ

Maka ia bekerja dengan kedua belah tangannya, memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah…menolong orang yang sangat membutuhkan…”

dan jika seorang mukmin tidak melakukan sedikitpun dari hal itu:

فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ

‘Maka hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka hal itu menjadi sedekah baginya.”[10]

Ini adalah tingkatan memberi manfaat yang terendah, yang tidak pantas seorang muslim lebih rendah darinya dan tidak wajar seorang da’i berada pada tingkatan itu.

Dan jihad adalah tingkatan memberi manfaat yang tertinggi dan ‘uzlah adalah yang paling rendah: seorang Arab Badawi bertanya: ‘Wahai Rasulullah, manusia apakah yang terbaik? Beliau menjawab:

رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَرَجُلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan seseorang yang tinggal di salah satu lembah, menyembah Rabb-nya, dan meninggalkan manusia dari kejahatannya.”[11]

Dan orang yang berjihad, ia memberikan manfaat kepada manusia lewat pengorbanan jiwa dan hartanya, untuk menjaga mereka dan menakuti musuh mereka. Ini adalah kebaikan terbesar, dan manusia berbeda-beda dalam kebaikan di antara kedudukan pejuang (mujahid) dan orang yang ber’uzlah, yang menahan dirinya dari berbuat jahat kepada orang lain.

Tanggung jawab sangat besar dan beban sangat berat bagi orang yang mengurus kaum muslimin, karena dia lebih mampu menolak bahaya atau memberikan manfaat karena kekuasaan yang dipegangnya dan hak untuk dipatuhi dari rakyatnya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…فَمَنْ وَلِيَ شَيْئًا مِنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ فَاسْتَطَاعَ أَنْ يَضُرَّ فِيْهِ أَحَدًا أَوْ يَنْفَعَ فِيْهِ أَحَدًا فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاَوزْ عَنْ مُسِيْئِهِمْ.

Barangsiapa yang mengurus sedikit dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia mampu memberi mudharat kepada seseorang padanya, atau memberi manfaat kepada seseorang, maka hendaklah ia menerima orang yang baik dan memaafkan yang jahat dari mereka.”[12]

Di mana perkaranya berputar di antara memuliakan yang baik dan memaafkan yang jahat, maksudnya di antara memberi manfaat atau menolak bahaya, karena banyak sekali penguasa yang berbuat zalim sedangkan mereka tidak mengetahui. Maka apabila meletakkan di depan mata mereka tugas memberi manfaat dan menolak bahaya, tentu mereka menjaga diri dari kesalahan, dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara gambaran amaliyah untuk menciptakan manfaat bahwa engkau tidak membiarkan tanah yang engkau miliki menganggur, tanpa diurus atau ditanami, padahal engkau mempunyai saudara yang menganggur, yang mampu mengurus tanah itu dan mengambil manfaat dengannya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ

Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya. Apabila ia tidak bisa menanaminya, maka hendaklah ia meminta saudaranya untuk menanaminya.”[13]

Sangat banyak di kalangan kaum muslim yang mempunyai kemampun yang menganggur, kekayaan yang terpendam, dan energi yang terbuang percuma, dan kita tidak berfikir untuk memanfaatkannya, yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Apakah engkau memberikan sumbangan dengan ilmu pengetahuanmu, bersedekah dengan keringatmu, membantu dengan usahamu, agar engkau selalu termasuk dari orang yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kunci kebaikan, penutup keburukan, dan saat itulah kabar gembira untukmu adalah surga. Sebagaimana dalam hadits:

فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ بِيَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ بِيَدَيْهِ

“Maka beruntunglah bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci-kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci-kunci kejahatan lewat dua tangannya.”[14]

Dan supaya manfaat terus berlangsung untuk orang-orang seperti itu, maka diberikanlah dukungan dengan harta dan kekuasaan. An-Nasa`i menyebutkan –setelah hadits dalam kitab pembagian harta fai- cara membagi jatah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari harta ghanimah setelah wafatnya beliau, ia berkata : Dan jatah bagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diserahkan kepada imam (pemimpin): ia membeli kuda dari mereka dan senjata, memberikan darinya kepada orang yang dia lihat, dari orang yang berkecukupan dan bermanfaat untuk umat Islam, dan dari kalangan ahli hadits, ilmu, fikih dan al-Qur`an.[15]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat dan menyerupakan dengan pohon kurma  karena selalu hijau dan bisa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:

إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ

Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.’[16]

Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan pribadi atau posisi yang berbeda. Rabb Subhanahu wa Ta’ala mencela Abu Bakr Radhiyallahu anhu saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah Radhiyallahu anhu karena ikut serta dalam peristiwa ifk (berita bohong). Maka tatkala turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an-Nur/24:22]

Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Dia Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kami. dan iapun memberikan manfaat kepada Misthah Radhiyallahu anhu.

Apakah engkau ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu, maka marilah terus menambah dalam berdakwah, memberi nasehat, faedah dan manfaat, memanfaatkan waktu dan kemampuan… maka sesungguhnya ia seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”[17]

Kesimpulan:

  1. Apabila seorang mukmin tidak memberikan manfaat, berarti kebaikannya tidak menjalar kepada orang lain.
  2. Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya.
  3. Segera memberikan manfaat sebelum diminta.
  4. Memanfaatkan semua kesempatan untuk menyampaikan kebaikan.
  5. Manfaat yang paling wajib adalah untuk karib kerabat.
  6. Barangsiapa yang tidak mampu memberikan manfaat, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh untuk tidak membahayakan orang lain.
  7. Manfaat yang paling tinggi adalah jihad dan yang terendah adalah ‘uzlah.
  8. Besarnya manfaat disertai besarnya tanggung jawab, dan bahaya juga seperti itu.
  9. Dalam memberikan manfaat, mengambil kesempatan bagi energi yang terbuang percuma untuk kepentingan orang yang membutuhkannya.
  10. Manfaat menjadi dengan memberikan dukungan dengan harta dan kekuasaan.
  11. Di antara karekteristik seorang mukmin adalah: kebaikannya saja yang selalu terus dirasakan dan banyak manfaatnya.
  12. Yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik.

[Disalin dari النفع للآخرين Penulis Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah : Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]
______
Footnote
[1] Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)
[2] Shahih Muslim, kitab fadhail, bab ke-28, no. 132/2473.
[3] Muwaththa’ Imam Malik, kitab Aqdiyah, bab ke-26, hadits ke 33.
[4] Shahih Sunan Ibnu Majah , kitab shalat,  bab ke-190 no. 1138.
[5] Musnad Imam Ahmad 4/423.
[6] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke-20, no. 79 (Fath al-Bari 1/175).
[7]  Musnad Imam Ahmad 1/307 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7907.
[8] Musnad Imam Ahmad 2/425, dan lafazh  yang marfu’ dalam shahih Sunan Abu Daud no. 770/864 (Shahih).
[9]  Shahih Muslim, kitab zakat, bab ke-12, hadits 38/994 (Syarh an-Nawawi 4/85).
[10]  Shahih al-Bukhari, kitab Adab, bab ke-33, no. 6022 (Fath al-Bari 10/447)
[11] Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke-34, hadits no. 6494 (Fath al-Bari 11/330).
[12] Shahih al-Bukhari kitab Jum’at, bab ke-29, hadits no. 927 (Fath al-Bari 2/404).
[13]  Shahih Muslim, kitab jual beli, bab ke-17, hadits no. 88 (Syarh an-Nawawi 5/454)
[14] Shahih Sunan Ibnu Majah, Muqaddimah (pengantar), bab ke-19, hadits no 193/237 (Hasan)
[15]  Shahih Sunan an-Nasa`i karya Syaikh al-Albani, dari komentar an-Nasa`i  terhadap hadits no 3866 dari kitab pembagian harta fai.
[16] Musnad Ahmad 2/115, seperti dalam riwayat  al-Bukhari dalam kitab ilmu, bab ke-5, no 62 (Fath 1/147)
[17]  Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan).

Berpegang Teguh Pada al-Qur’an dan Sunnah

BERPEGANG TEGUH PADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Allah azza wa jalla telah menyebutkan didalam firman -Nya:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ [ ال عمران: 103 ]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. [al-Imran/3: 103].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud firman Allah Shubhanahu wa ta’alla: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah”. Ada yang mengartikan maksud tali Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah dengan mengesakan -Nya. Ada lagi yang mengatakan maksudnya berpegang pada al-Qur’aIbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan: ‘Berpegang teguhlah kalian dengan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla‘. Sedang Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yang dimaksud ialah al-Jama’ah”. [1] Adapun makna firman Allah ta’ala: “Dan janganlah kamu bercerai berai”. Artinya Allah Shubhanahu wa ta’alla‘menyuruh mereka supaya berjama’ah dan melarang untuk bercerai berai.

Kalau kita cermati, akan kita jumpai ada begitu banyak nash yang melarang kita untuk bercerai berai dan perintah untuk selalu berkumpul dan bersatu. Diantaranya Allah ta’ala menyindir orang-orang yang berpecah belah dengan mengatakan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ  [ الأنعام: 159 ]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama -Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka”.  [al-An’am/6: 159].

Dalam shahih Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ» [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya Allah meridhoi kalian tiga perkara dan membenci kalian tiga perkara pula; Allah meridhoi kalian bila kalian menyembahNya dengan tidak menyekutukan denganNya sesuatu apapun. Berpegang tegung kepada tali Allah dan tidak berpecah belah. Dan membenci kalian berkata sia-sia, banyak bertanya dan membuang-buang harta“. HR Muslim no: 1715.

Dan yang dimaksud untuk berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunah ialah berpegang teguh dengan keduanya sesuai dengan pemahaman para salaf sholeh yaitu para sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik serta para imam kaum muslimin. Sebagaimana di peringatkan dengan tegas oleh Allah ta’ala melalui firman -Nya:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا  [ النساء: 115 ]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.  [an-Nisaa’/4: 115].

Adapun akan adanya perpecahan di dalam tubuh umat maka jauh-jauh hari telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة, وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة؛ وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار الا واحدة. قيل: من هم يا رسورل الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي » [أخرجه أحمد والترمذي و ابن ماجه]

Orang-orang Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan orang Nashrani telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua kelompok, dan akan berpecah belah pada umat ini menjadi tujuh puluh tiga kelompok, seluruhnya akan masuk ke dalam neraka kecuali satu”. Ditanyakan pada beliau: “Siapakah mereka itu, wahai Rasulallah? Beliau menjelaskan: “Orang-orang yang menempuh agamanya seperti yang aku dan para sahabatku jalani saat ini“. HR Ahmad 14/142 no: 8396. at-Tirmidzi no: 2641. Ibnu Majah no: 3992. Dinyatakan shahih oleh al-Bushairi dan al-Albani dalam ash-Shahihah no: 203, 204, dan 1492.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud memberikan petuahnya: “Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memperhatikan hati-hati para hamba -Nya, maka di dapati hati Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan hati terbaik yang ada di kalangan para hamba, sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla memilih untuk diri-Nya lalu mengutus untuk mengemban risalah. Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla memperhatikan hati para hamba setelah hati Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka di dapati hati-hati para sahabat yang terbaik di antara hati para hamba yang lainnya. Sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan mereka sebagai pembantu nabi -Nya yang rela berkorban demi tegak agama-Nya”.[2]

Dalam kesempatan lain beliau menegaskan: “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengambil suri tauladan, hendaknya kalian menjadikan orang yang telah meninggal, sebab orang yang masih hidup tidak selamat dari fitnah yang menimpa. Mereka itu adalah para sahabat nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang pernah ada di umat ini, yang paling suci hatinya, paling dalam keilmuannya, dan paling ringan dalam pembebanan diri. Allah ta’ala memilih mereka untuk menemani nabi -Nya, dan untuk menegakan agama -Nya. Maka ketahuilah oleh kalian akan keutamaan mereka lalu ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah dengannya semampu kalian, mulai dari akhlak dan perjalanan hidupnya, karena sesungguhnya mereka berada diatas petunjuk dan jalan yang lurus”. [3]

Ada begitu banyak ayat dan hadits yang menyuruh dan mendorong kita untuk berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunah. Diantaranya ialah firman Allah ta’ala:

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ [ الأعراف: 3 ]

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain -Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”. [al-A’raaf/7: 3].

Dalam ayat lain Allah ta’ala juga menyuruh kita untuk berpegang dengan al-Qur’an dan sunah, Allah ta’ala berfirman:

فَٱسۡتَمۡسِكۡ بِٱلَّذِيٓ أُوحِيَ إِلَيۡكَۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ [ الزخرف: 43 ]

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. [az-Zukhruf/43: 43].

Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menyinggung hal tersebut dalam firman -Nya:

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ [ الجاثية: 18 ]

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. [al-Jaatsiyah/45: 18].

Dengan berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunah bisa menjadi penjaga seorang hamba dari kesesatan dan sebagai petunjuk kebenaran baginya. Seperti yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dan al-Hakim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَة نَبِيهِ » [أخرجه  مسلم والحاكم]

Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh denganya yaitu al-Qur’an dan Sunah nabiNya“. HR Muslim no: 1218.

Dalam redaksinya al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إني قد تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي » [أخرجه الحاكم ]

Sesungguhnya telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan tersesat selagi (kalian) berpegang teguh dengan keduanya yaitu al-Qur’an dan sunahku“. HR al-Hakim 1/284. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul Jami’ no: 2937.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Bagi setiap muslim untuk tidak bicara tentang permasalahan agama kecuali bila sesuai dengan apa yang di bawa oleh Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mencoba untuk berbicara tanpa didasari dengan ilmu, namun, perhatikan apa yang beliau ucapkan, sehingga ucapannya bisa sejalan dengan apa yang beliau ucapkan, dan amalnya mengikuti perintahnya.

Itulah yang dilakukan oleh para sahabat serta orang-orang yang mengikuti metode mereka, dari kalangan para tabi’in, yang mengikuti mereka dengan baik, dari para imam kaum muslimin. Sehingga kita dapati tidak ada seorangpun diantara mereka yang pendapatnya bertabrakan dengan dalil. Tidak pula membikin agama baru selain yang dibawa oleh Rasulallah Shalallahu ‘alaihhi wa sallam. Maka bagi siapa saja yang ingin mengetahui tentang agama serta isinya, hendaknya melihat pada ucapan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya. Darinya ia mempelajari agama dan dengannya dia berbicara, mengkaji dan merenungi, serta mengambil cahaya. Inilah pokok aqidah ahlu sunah”. [4]

Barangsiapa yang mau berpegang teguh dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu dan para sahabatnya dan sunahnya para Khulafaur Rasyidin, dirinya akan dijamin dari kesesatan. Berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Pada suatu hari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sholat bersama kami, setelah usai beliau kemudian menghadap kepada kami lalu memberi wejangan yang sangat mendalam sehingga membuat mata menangis dan membikin hati merasa takut. Lalu ada seorang sahabat yang berkata: “Wahai Rasulallah, seakan-akan ini wejangan orang yang akan pergi, berilah kami nasehat? Beliau lalu bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ » [أخرجه الترمذي وأبو داود]

Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (pada pemimpin) walaupun seorang budak Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup sesudahku, dirinya akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang mendapat pentunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham. Hati-hati kalian dari perkara yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat“. HR Abu Dawud no: 4607. at-Tirmidzi no: 2676. Beliau berkata hadits hasan shahih.

Dalam hadits lain yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Bahwa Umar bin Khatab pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil membawa lembaran yang berisi Injil dari ahli kitab. Lantas dirinya membacanya dihadapan beliau, maka Nabi langsung murka dan bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِيِ » [أخرجه أحمد]

Apalagi yang engkau butuhkan wahai Ibnu Khatab?! Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya. Sungguh aku telah datang pada kalian dengan membawa perkara yang jelas terang benderang. Janganlah kalian bertanya pada mereka (ahli kitab) tentang sesuatu, yang bisa jadi mereka mengabarkan kebenaran lantas kalian mendustakannya, atau mengabarkan kebathilan lantas kalian membenarkannya. Demi Allah, kalau seandainya Musa hidup ditengah-tengah kalian, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali harus mengikutiku“. HR Ahmad 23/349 no: 15156. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Irwa 6/34 no: 1589.

Sebagaimana telah maklum bahwa Nabi Allah, Isa ‘alaihi sallam, tatkala turun diakhir zaman nanti beliau tidak akan membawa syari’at baru, namun, beliau akan berhukum dengan syari’atnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya. Benar-benar akan turun atas kalian anak Maryam (Isa) lalu menghukumi kalian dengan adil. Menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah (upeti), pada saat itu harta melimpah sehingga tidak ada orang yang mau menerima sedekah“. HR Bukhari no: 3448. Muslim no: 155.

Imam Nawawi berkata ketika menjabarkan hadits diatas: “Adapun sabdanya: “Akan menghapus jizyah“. Yang benar makna hadits ini adalah bahwasannya beliau tidak mau meneriman jizyah, dan tidak mau menerima dari orang-orang kecuali ke Islaman mereka. Dan bagi siapapun diantara mereka yang hanya membayar upeti maka itu belum dirasa cukup, karena yang beliau inginkan hanyalah keislaman mereka atau bila enggan mereka berhak untuk diperangi. Demikianlah pendapatnya Imam Abu Sulaiman al-Khatabi dan selain beliau dari kalangan para ulama”. [5]

Berkata Imam Malik: “Tidak akan baik akhir perkara umat ini kecuali dengan mencontoh kebaikan yang ada pada generasi pertama. Dan yang menjadikan baik perkara generasi pertama ialah al-Qur’an dan sunah Nabi -Nya. Diriwayatkan oleh hath-Thabari didalam Mu’jamul Kabir sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Bahwasannya beliau pernah melewati sekelompok orang yang sedang berada di dalam masjid sedang menunggu waktu sholat dengan membikin halaqah. Pada halaqah tersebut masing-masing orang memegang kerikil ditangannya, lalu ada yang memimpin yang mengatakan pada mereka: ‘Bertasbihlah kalian seratus kali, lantas merekapun bertasbih sebanyak bilangan tadi. Lalu dilanjutkan: “Bertakbirlah kalian seratus kali’, mereka pun melakukannya. Kemudian ia berkata lagi: ‘Bertahlillah seratus kali’, mereka pun bertahlil sebanyak itu.

Maka beliau menyeru kepada mereka: “Hitunglah keburukan kalian, maka saya menjamin tidak akan tersisa sedikitpun dari kebaikan kalian. Duhai celaka kalian wahai umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, betapa cepatnya kalian binasa! Lihat disana masih banyak para sahabat Nabi, dan ini pakaian beliau saja belum rusak bejananya juga belum pada pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan -Nya. Bisa jadi kalian berada diatas agama yang lebih memperoleh petunjuk dibanding agamanya Muhamamd Shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?

Mereka memberi alasan: “Demi Allah, wahai Abu Abdirahman, tidak ada yang kami inginkan kecuali kebaikan! Beliau berkata tegas: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun dirinya tidak memperolehnya”.[6]

Ketika membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam surat al-Imran ini:

يَوۡمَ تَبۡيَضُّ وُجُوهٞ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهٞۚ [ ال عمران: 106]

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram”. [al-Imran/3: 106].

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yakni pada hari diwaktu itu ada muka yang putih berseri yaitu ahlu sunah wal jama’ah. Dan ada pula muka yang hitam muram yaitu ahli bid’ah dan firqah”.[7]

Faidah manakala kita berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunah:

  1. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah akan menyelamatkan seorang hamba dari fitnah kesesatan.
  2. Dengan berpegan teguh pada al-Qur’an dan Sunah seorang hamba akan terjaga dari terjerumus kedalam syahwat yang haram.
  3. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah akan mengantarkan pada kejayaan umat dan kemuliaan.
  4. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah tipu daya dan pintu-pintu setan akan terbongkar.
  5. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah sebagai bukti akan kewarasan otaknya serta lurus fitrahnya.
  6. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah akan membuahkan ketenangan serta ketentraman hati.
  7. Dengan berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah sebagai benteng untuk terjatuh dalam perbuatan bid’ah dan perkara baru dalam agama.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الاعتصام بالكتاب والسنة  Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 3/136-137.
[2] Aqidah Thahawiyah hal: 531.
[3] Jami’ul Bayan Ilmu wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr 2/97.
[4] Majmu’ Fatawa 13/62-63.
[5] Syarh Shahih Muslim 1/190.
[6] Diriwayatkan oleh beliau atsar ini dalam Mu’jamul Kabir 9/127 no: 8636.
[7] Tafsir Ibnu Katsir 3/139.

Menuntut Ilmu Syar’i

MENUNTUT ILMU SYAR’I

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu’alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Di antara bentuk ibadah yang paling utama dan ketaatan yang paling agung yang dianjurkan oleh syara’ adalah menuntut ilmu syara’. Dan maksud ilmu syara’ ini adalah ilmu yang membahas tentang kitab Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam.

قال الله تعالى: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [Az-Zumar/39: 9]

قال تعالى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Ali Imron/3: 18]

قال تعالى: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mujadilah/58: 11].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

من يُرِدِ الله به خيرا يُفَقِّهْهُ في الدين

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka dia akan diberikan kepahaman di dalam agama”.[1]

Sebagian ahlul ilmi berkata: Orang yang tidak memahami agama maka tidak dikehendaki kebaikan baginya”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Abi Darda’ bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memberikannya jalan menuju ke surga, sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena merasa redha terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang memililki ilmu dimintakan ampun oleh penghuni langit dan penghuni bumi bahkan ikan-ikan di dalam lautan, sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang, sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewriskan uang dinar atau dirham, mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya berarti dia telah mendapatkan bagian yang besar”.[2]

Al-Auza’i berkata: Orang yang dianggap manusia menurut kami adalah para ulama, dan orang selain mereka tidak ada artinya”. Dan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Kebutuhan manusia kepada ilmu syara’ lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman”.

Di antara keutmaan ilmu ini adalah mengalirnya pahala ilmu tersebut sekalipun orang yang memilikinya telah meninggal dunia. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila anak Adam telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakannya”.[3]

Di antara keutamaan orang yang berilmu adalah orang yang berilmulah yang akan tetap komitmen tegak dalam  hukum Allah sampai hari kiamat tiba. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

Akan senantiasa tagak dalam agama Allah, tidak akan memudharatkan mereka orang yang melawan mereka atau menyelisihi mereka sehingga datang perkara Allah dan mereka akan ditinggikan di hadapan manusia”.[4]

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bahwa dia berkata tentang kelompok ini: Kalau bukan ahli hadits maka aku tidak mengetahui siapa mereka”.

Di antara keutamaan ilmu syara’ adalah bahwa dia sebagai petunjuk pada jalan mengarah ke surga. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memberikannya jalan menuju ke surga”. HR. Msulim no: 2699.

Di antara keutamaan orang yang berilmu adalah bahwa mereka sebagai pelita yang dijadiakan petunjuk oleh manusia dalam perkara agama dan dunia. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

كانَ فِيمَن كانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عن أعْلَمِ أهْلِ الأرْضِ فَدُلَّ علَى راهِبٍ، فأتاهُ فقالَ: إنَّه قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهلْ له مِن تَوْبَةٍ؟ فقالَ: لا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ به مِئَةً، ثُمَّ سَأَلَ عن أعْلَمِ أهْلِ الأرْضِ فَدُلَّ علَى رَجُلٍ عالِمٍ، فقالَ: إنَّه قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ، فَهلْ له مِن تَوْبَةٍ؟ فقالَ: نَعَمْ، ومَن يَحُولُ بيْنَهُ وبيْنَ التَّوْبَةِ؟

erjadi pada kaum sebelum kalian bahwa seorang lelaki telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu lelaki tersebut bertanya tentang orang yang paling berlimu di dunia ini, lalu ditunjukkan baginya seorang rahib yang ahli ibadah, dan lelaki itupun mendatangi rahib tersebut dan berkata kepadanya bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa dan bertanya kepadanya apakah dia memiliki kesempatan untuk bertaubat?. Maka rahib tersebut menjawab: Tidak. Lalu dia membunuh rahib tersebut, sehingga dirinya telah membunuh sertaus jiwa. Kemudian dia kembali bertanya tentang penghuni bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan baginya seorang lelaki yang berilmu dan orang itu bercerita bahwa dia telah membunuh seratus jiwa apakan taubatanya akan diterima?. Orang alim tersebut berkata: Ya, siapakah yang menghalangi dirinya dari bertaubat?.[5]

Dia antara keutamaan orang yang berilmu adalah sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghunjamkan bagi ahli ilmu yang rabbani rasa takut dan cinta serta rasa hormat di dalam hati manusia. Engkau melihat bahwa manusia memuji mereka dan seluruh hati sepakat untuk menghormati dan menghargai mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قال تعالى: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. [Maryam/19: 96].

Di antara kelebihan ilmu syara’ adalah bahwa menuntut ilmu syara’ lebih baik dari harta di dunia. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits riwayat Uqbah bin Amir radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar sementara kami berada di Shuffah (sebuah ruangan di samping mesjid) dan beliau bersabda:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ قَالَ أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

Siapakah di antara kalian yang senang untuk pergi pada waktu pagi ke Bathan atau ke Aqiq dan dia datang kembali darinya dengan membawa dua ekor onta yang gemuk tanpa membawa dosa dan memutus silaturrahmi?. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah kami menyenangi hal tersebut. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apakah salah seorang di antra kalian tidak segera pergi ke mesjid lalu dia mempelajari atau membaca dua ayat dari kitab Allah Azza wa Jalla lebih baik dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor onta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor dan jumlah ayat yang sama dengan jumlah onta”.[6]

Dan media untuk menuntut ilmu itu banyak sekali, seperti menghadiri majlis ilmu para ulama dan para syekh, mendengarkan muhadharah, ceramah di mesjid, membaca buku-buku yang bermanfaat, bertanya kepada orang yang berilmu tentang perkara yang sulit dan menghafal kitab Allah dan itulah ilmu yang paling besar.

Dan Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam memberitahukan bahwa di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu syara’, kebodohan merajalela. Di dalam Al-Shahihaini dari Abdullah bin Amru bin Ash radhaiallahu anhuma bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mencabut ilmu itu dengan mengambilnya secara langsung dari para hamba akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mencabut nyawa para ulama sehingga saat tidak ada seorangpun yang berilmu maka manusia akan memilih peminpin yang bodoh, lalu mereka ditanya lalu mereka memberi fatwa yang salah, maka mereka sesat dan menyesatkan.[7]

Dan Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam berlindung kepada Allah subhanahu wata’alla dari ilmu yang tidak bermanfaat:

اللهم إني أعوذ بك من الأربع من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا تشبع ومن دعاء لا يسمع 

“Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari empat perkara: Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak puas dan do’a yang tidak didengar”.[8]

Dan wajib bagi orang yang menuntut ilmu untuk mengikhlaskan niatnya semata-mata karena Allah subhanahu wata’alla, bukan untuk mencari jabatan, harta atau kepentingan dunia lainnya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya harus dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata karena Allah Azza Wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapat keutungan duniawi maka sungguh dia tidak akan mendapat bau surga pada hari kiamat”.[9]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asya’ari radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ، أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً، وَلاَ تَنْبتُ كَلأَ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa sama seperti hujan yang deras yang menimpa suatu belahan bumi, di antara bumi itu ada yang bersih menerima air sehingga menumbuhkan berbagai tumbuhan dan rerumputan yang banyak, dan ada bagian bumi yang gersang yang menahan air maka Allah memberikan manfaat bagi manusia di mana mereka minum darinya, menyirami sawah dan bercocok tanam dengannya, di antara air itu ada yang menimpa bagian bumi yang lain, dia adalah bagian bumi yang lapang yang tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, maka itulah perumpamaan orang yang faham terhadap agama Allah dan Allah memberikan manfaat baginya dengan petunjuk yang aku bawa dari Allah, dia mengetahui ilmu tersebut lalu mengajarkannya kepada orang lain, dan begitu pula perumpamaan orang yang tidak menghiraukan petunjuk tersebut dan tidak menerima petunjuk yang aku bawa”.[10]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari طلب العلم الشرعي   Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari no: 71 dan Muslim no: 1037
[2] HR. Abu Dawud: no: 3641
[3] HR. Bukhari no: 1631
[4] Shahih Muslim: no: 1037 dan shahih Bukhari no: 3641
[5] Shahih Muslim no: 2766 dan shahih Bukhari no: 3470
[6] HR. Muslim no: 803
[7] Al-Bukhari no: 100 dan Muslim no: 2673
[8] Al-Nasa’i no: 5467
[9] HR. Abu Dawud no: 3664
[10] Al-Bukhari no: 79 dan Muslim no: 2282

Nasehat Untuk Para Pengemudi

NASEHAT UNTUK PARA PENGEMUDI

 Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, amma ba’du:

Kendaraan Adalah Nikmat yang Wajib Disyukuri
Saudaraku para pengemudi !, sesungguhnya mobil/kendaraan termasuk nikmat yang diberikan Allah kepada kita pada zaman ini sebagai sebuah keutamaan dan rahmat dari-Nya, Allah berfirman :

وَالْاَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيْهَا دِفْءٌ وَّمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُوْنَ ٥ وَلَكُمْ فِيْهَا جَمَالٌ حِيْنَ تُرِيْحُوْنَ وَحِيْنَ تَسْرَحُوْنَۖ ٦  وَتَحْمِلُ اَثْقَالَكُمْ اِلٰى بَلَدٍ لَّمْ تَكُوْنُوْا بٰلِغِيْهِ اِلَّا بِشِقِّ الْاَنْفُسِۗ اِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌۙ ٧ وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ النحل: ٥ – ٨

Dan dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.  [An-Nahl/16 : 5-8]

Jadi Allah menciptakan sarana-sarana transportasi manusia di udara, darat dan laut yang mereka pergunakan untuk kemashlahatan mereka. Diantara sarana tersebut adalah mobil, manfaatnya sangat banyak, kemashalatannya tidak terhitung, bahkan mobil untuk masa sekarang termasuk kebutuhan yang primer yang tidak bisa diabaikan untuk memenuhi berbagai kebutuhan lain dan mencari mashlahat.

Kalau anda sudah menyadarinya wahai saudaraku, bahwa mobil merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah, maka wajib bagimu untuk bersyukur dengan segala bentuknya, baik dengan lisan ataupun dengan anggota tubuh yang lain. Bukanlah termasuk mensyukurinya kalau kita menyalahgunakan mobil tersebut, memakainya untuk kejahatan, atau untuk melakukan kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa.

Syekh Utsaimin pernah berkata : Sebagian orang memakai mobil untuk tujuan-tujuan yang jelek, mencapai keinginan yang rendah, dia pergi ke luar kota untuk memuaskan hawa nafsunya, jauh dari manusia yang akan dapat mencegahnya. Dia mengendarai mobil tersebut keluar daerah untuk meninggalkan kewajibannya kepada Allah seperti melaksanakan shalat pada waktunya. Apakah orang yang seperti ini masih pantas disebut: dia adalah orang yang mensyukuri nikmat Allah ? Apakah masih layak untuk dikatakan: dia orang yang aman dari azab Allah ?. Sekali-kali tidak, dia tidak pantas disebut sebagai orang yang bersyukur dan juga tidak akan selamat dari azab Allah.

Hendaklah engkau khawatir dan berhati-hati wahai saudaraku, janganlah menggunakan mobil atau motor untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan menggunakannya untuk hal-hal yang dibenci-Nya. Hendaklah kamu mengambil pelajaran dari orang-orang yang meninggal di mobilnya karena kecelakaan yang menimpa mereka ketika mereka sedang mabuk, sedang mendengarkan musik, sedang menuju ke tempat-tempat hiburan (yang tidak ada gunanya), atau tempat-tempat lain yang dibenci Allah. Tidakkah kita mengambil ibrah dari mereka? Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari berita-berita yang kita dengar dan kejadian-kejadian yang sangat memilukan itu !.

Hukum Melanggar Peraturan Lalu-Lintas
Peraturan lalu-lintas dibuat untuk mengatur aktivitas dan pergerakan manusia serta mencegah terjadinya kekacauan, sehingga masyarakat bisa aman dan tenang. Setiap orang mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya, terlebih lagi di zaman sekarang, dimana motivasi agama sudah mulai hilang dari sebagian besar manusia, sehingga mereka tidak bisa dicegah lagi kecuali dengan peraturan.

Inilah yang difatwakan oleh para ulama yang mulia. Syekh bin Baz –rahimahullah- pernah mengatakan : Tidak boleh bagi seorang muslim untuk melanggar peraturan lalu-lintas yang sudah ditetapkan pemerintah, karena bahaya yang ditimbulkan sangat besar untuk pribadinya dan juga orang lain. Negara menetapkan peraturan tersebut untuk kepentingan bersama dan mencegah terjadinya kemudharatan dari kaum muslimin.

Jadi tidak boleh bagi siapapun melanggar peraturan tersebut. Pihak berwenang berhak untuk menghukum orang yang melanggarnya dengan hukuman yang pantas sehingga dia tidak mengulanginya lagi, karena Allah Subhanahu wa ta’ala mencegah dengan kekuatan penguasa berbagai macam penyimpangan yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur’an. Kebanyakan manusia sekarang tidak bisa dicegah lagi dengan Al-Quran dan Sunnah, mereka hanya bisa dilarang dengan kekuatan penguasa melalui berbagai sanksi yang dibuat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya keimanan mereka kepada Allah dan Hari Akhir, atau bahkan keimanan itu sudah hilang sama sekali, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ  يوسف: ١٠٣

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. [Yusuf/12 : 103]

Syekh bin Jibrin – hafizhahullah – mengatakan : Tidak boleh melanggar peraturan dan rambu-rambu lalu lintas yang dibuat untuk menertibkan perjalananan dan mencegah terjadinya kecelakaan, juga untuk menjauhi bahaya-bahaya lainnya. Peraturan-peraturan yang dimaksud seperti lampu-lampu yang diletakkan dipersimpangan jalan, rambu-rambu yang diletakkan untuk menunjukkan hati-hati, kurangi kecepatan, dilarang masuk, dilarang berhenti, ataupun garis-garis yang dibuat di tengah jalan supaya tidak dilewati dan sebagainya.

Dengan adanya rambu-rambu tersebut dan kekonsistenan kita dalam mematuhinya, maka berbagai manfaat bisa kita dapatkan seperti : keamanan dan kenyamanan akan terjaga, kecelakaan bisa diminimalisir –insyaallah-, ketertiban di perjalanan bagi yang mematuhinya setelah mengetahui tujuan dibuat rambu-rambu tersebut, dan berbagai kemashlahatan-kemashlahatan lainnya yang bisa didapatkan.

Oleh karena itu, kalau ada orang yang sudah mengetahui maksud rambu-rambu tersebut kemudian dia melanggarnya maka berarti dia telah berbuat maksiat terhadap negara, membahayakan dirinya dan orang lain, serta pantas untuk menerima hukuman. Peraturan yang dibuat pemerintah berupa denda dan hukuman lainnya bagi pelanggar lalu lintas adalah sebuah keniscayaan, karena orang-orang yang melanggar lalu lintas tersebut layak untuk diberi sanksi dan ganjaran berupa denda, dimasukkan ke penjara untuk jangka waktu yang lama ataupun sebentar, dilarang mengemudi untuk selamanya atau untuk jangka waktu tertentu, dan hukuman-hukuman lain yang bisa mengurangi terjadinya pelanggaran-pelanggaran tersebut, seperti peraturan-peraturan yang ada di negara-negara lain. Wallahu a’lam.

Hati-hati, Anda Melewati Kecepatan !
Tidak diragukan lagi bahwa kecepatan tinggi (dalam berkendaraan) merupakan sebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas setiap hari yang mengakibatkan berbagai macam keadaan yang serius seperti kematian, luka parah dan sebagainya. Setiap muslim dituntut untuk tidak tergesa-gesa dalam segala urusan.

Betapa banyak kejadian dan kerugian yang timbul akibat tidak adanya kehati-hatian, betapa banyak kesedihan dan musibah yang muncul karena ketergesa-gesaan !

Wahai saudaraku, hendaklah engkau berhati-hati dan sabar dalam semua urusanmu, terutama ketika mengendarai mobil atau motor, janganlah kamu tergesa-gesa dan ngebut, karena dibalik semua itu hanyalah penyesalan dan kerugian. Ketahuilah bahwa kesabaran itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa dari syetan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Tidak tergesa-gesa (kesabaran) datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari syetan”.

Dan para ulama kita – rahimahumullah – telah memfatwakan bahwa tidak boleh melebihi kecepatan yang sudah ditetapkan dalam berkendaraan kecuali dalam keadaan tertentu dan darurat .

Syekh Utsaimin – rahimahullah – mengatakan : batas kecepatan yang telah ditentukan oleh pihak yang berwenang wajib dipatuhi oleh setiap muslim, karena itu termasuk perintah dari ulil amri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ  النساء: ٥٩

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. [An-Nisa’/4 : 59])

Maka wajib bagi kita sebagai warga negara untuk melaksanakan perintah tersebut, walaupun kita merasa bahwa mobilnya sangat nyaman sehingga kita tidak merasakan kecepatannya. Yang menjadi ukuran adalah kecepatan, karena walaupun mobilnya nyaman kemudian terjadi kerusakan pada bannya, maka sopir berada dalam bahaya. Kalaupun bannya bagus, apakah dia bisa menjamin (keamanan) kalau seandainya ada binatang atau hewan ternak yang melintasi jalan?. Bagaimanapun juga, hukum asalnya adalah wajib bagi setiap orang untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan pemerintah.

Ambillah I’tibar Wahai Orang-Orang yang Berakal
Ada orang yang mengatakan : Saya ditimpa musibah kecelakaan lalu lintas dua puluh tahun yang lalu karena kecepatan tinggi, kecelakaan tersebut merusak tulang leherku yang ke lima dan ke enam yang menyebabkan kelumpuhan di keempat sisiku. Kejadian itu merubah hidupku seratus delapan puluh derajat, impianku jadi hilang, semangatku habis. Pada awalnya aku sangat susah beradaptasi terhadap diriku dan orang-orang di sekitarku. Setelah lebih dari dua atau tiga tahun, aku mulai menyadari kondisiku yang sebenarnya, aku harus bergaul dengan masyarakat dan melanjutkan hidup ini tanpa harus “mati” secara perlahan didalam kungkungan kegelisahan, kesepian, kesendirian, dan penyesalan terhadap apa yang menimpa diriku ini.

Berhenti….. Lampu Merah
Tidak diragukan lagi bahwa lampu lalu lintas di buat untuk mengatur laju kendaraan di persimpangan, sehingga setiap orang tahu kapan dia harus bergerak. Coba anda perhatikan kendaraan (di persimpangan) ketika lampu mati, pasti anda melihat kekacauan, setiap orang ingin menguasai jalan untuk dirinya sendiri yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Tidak mematuhi lampu lalu lintas termasuk pelanggaran yang sangat berbahaya, karena bisa menyebabkan kecelakaan yang sangat fatal. Orang yang melanggar lampu lalu lintas biasanya dengan kecepatan tinggi ketika melewatinya, bisa saja tiba-tiba didepannya ada mobil yang lewat, sehingga dia menyebabkan kecelakaan.

Coba kita renungkan sejenak apa yang dikatakan oleh ulama kita, setelah mereka memfatwakan tidak boleh melanggar rambu-rambu lalu lintas karena berbagai yang mereka sebutkan dan jelaskan.

Syekh bin Utsaimin – rahimahullah – mengatakan : adapun yang berhubungan dengan melanggar lampu lalu lintas, maka saya berpendapat tidak boleh dilakukan, karena Allah Subahnahu wata’ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ النساء: ٥٩

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. [An-Nisa’/4 : 59]

Ulil amri (pemerintah) ketika meletakkan rambu-rambu yang mengisyaratkan berhenti, berjalan dan sebagainya, maka isyarat-isyarat ini sama dengan perintah, artinya seolah-olah waliyul amri mengatakan kepadamu : berhenti, atau berjalan. Waliyul amri wajib dipatuhi, meskipun jalan yang lain (jalan di seberang) dalam keadaan kosong atau ada orang yang sedang memakainya.

Waspadalah Dengan Rasa Kantuk
Kantuk merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas, ini disebabkan karena bergadang dan keletihan. Maka pengendara wajib memperhatikan hal ini. Janganlah mengendarai kendaraan pribadi ataupun kendaraan kantor kecuali dalam keadaan segar dan pikiran tenang setelah istirahat yang cukup.

Problema Modern…Balapan Liar dan Ugal-ugalan
Diantara permasalahan pemuda yang banyak dihadapi pada masa sekarang ini adalah balapan liar di jalanan umum (tafhith) atau balapan dengan mendaki gundukan pasir yang tinggi di padang pasir (tath’isy). Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan pemborosan harta yang ada di tangan mereka berupa mobil, menyakiti badan karena banyak terjadi kecelakaan akibat balapan ini, dimana korbannya kebanyakan adalah para pengendara itu sendiri ataupun orang-orang yang lewat.

Para ulama kita telah menjelaskan hukum balapan seperti ini dan kerugian-kerugian yang ditimbulkannya terhadap pribadi dan masyarakat.

Syekh ibn Utsaimin – rahimahullahu – pernah ditanya tentang hukum mendaki gundukan pasir yang tinggi ( dengan balapan ) atau yang lebih dikenal dengan istilah “tath’isy”, apakah orang yang menyaksikannya ikut berdosa ?. Maka beliau menjawab :

Pertama : Hukum menyaksikan kegiatan tersebut didasarkan pada perbuatan itu sendiri, apakah perbuatan itu (tath’isy) hukumnya boleh atau tidak ?. Kalau kita lihat, keberangkatan pemuda ke gurun-gurun (jauh dari pemukiman) untuk tujuan ini mengandung berbagai macam dampak negatif , diantaranya : mereka meninggalkan shalat berjamaah di masjid, mereka jauh dari keluarga, aktivitas mereka itu termasuk pemborosan harta karena mobil yang mereka pakai untuk kegiatan itu akan rusak (hancur) dengan memaksakannya mendaki bukit pasir yang tinggi, jadi kalau mobilnya mengalami kerusakan berarti termasuk pemborosan. Pemakaian harta (pemborosan) yang bukan untuk kemashlahatan agama atau dunia hukumnya haram, karena Nabi Shalallahu ‘Alaih wa sallam melarang kita membuang-buang harta (boros).

Kedua : Saya sering mendengar keluhan dari masyarakat tentang mobil-mobil ini, karena mobil-mobil tersebut merusak tanah dan tanaman. Sebagaimana diketahui bahwa tanah yang sering dilalui oleh mobil akan rusak (keras), itu berarti merugikan para peternak (karena menyebabkan rumput-rumput mati).

Kalau kenyataannya kegiatan tersebut merupakan pemborosan dan perusakan maka menyaksikan dan memberi support kegiatan tersebut hukumnya adalah haram, karena ini merupakan salah satu bentuk pengakuan dan bantuan terhadap kegiatan yang haram. Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ المائدة: ٢

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ( permusuhan ). [Al-Maidah/5 : 2]

Dan perbuatan itu (tath’isy) merupakan tindakan bodoh yang tidak mungkin mereka lakukan di hadapan orang-orang terhormat karena mereka malu melakukannya. Dalam sebuah hikmah yang di kutip oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

 إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Diantara hikmah yang didapat oleh manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah : jika kamu tidak malu maka berbuatlah sesukamu”,

Dan malu merupakan salah satu cabang keimanan.

Wahai pemuda, Kamu diciptakan oleh Allah dalam keadaan sempurna, kamu diberinya rizki dan pakaian, kamu diberi makan dan minum, dan semua kebaikan yang kamu minta diberikan-Nya, tapi kenapa kamu masih mendurhakai-Nya dan tidak mensyukuri-Nya ? Kenapa kamu berbuat dosa pada-Nya dan tidak mohon ampunan ?, kamu bergerilya dari satu kemaksiatan menuju kemaksiatan lain, dari dosa ke dosa yang lain, seolah-olah kamu akan kekal di dunia ini dan tidak akan mati, kamu tantang Allah dengan kemaksiatan dan dosa, kamu lalai dan lupa terhadap Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib, kapan lagi kamu akan bertobat…? kapan…?.

Impian Itu Akhirnya Hilang
Salah seorang korban kegiatan balapan liar ini (tafhith) berkata : Saya sekarang berumur tiga puluh ( 30 ) tahun, saya habiskan waktu saya selama sembilan ( 9 ) tahun diatas kursi roda akibat balapan liar (tafhith). Dahulu saya sangat bangga dengan kepandaian dan kelincahanku mengendarai mobil, sampai suatu hari ketika saya sedang balapan, rokok saya jatuh mengenai kaki saya dari tempat penyulutnya di mobil, ketika itu saya hilang keseimbangan yang menyebabkan mobil saya bertabrakan, maka terjadilah apa yang apa yang saya alami sekarang. Karena itu saya nasehatkan kepada para pemuda supaya tidak ikut-ikutan balapan tersebut, karena saya telah merasakan akibat buruknya yang mengambil masa muda saya, tidak ada lagi yang bisa saya harapkan kecuali rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Hukum Mengendarai Mobil Buat Anak-anak
Banyak orang tua telah melakukan tindakan yang salah ketika mereka mengizinkan anak-anak mereka yang belum dewasa mengendarai mobil, karena anak-anak remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri kurang memahami rasa tanggung jawab, tidak menghargai mobil yang mereka naiki, bahkan mereka tidak tahu bahaya perbuatan mereka itu. Karenanya banyak kita lihat mereka berlomba-lomba dalam mengedarai mobil mereka dengan kecepatan tinggi dan kadang-kadang ikut balapan liar ( tafhith ), mereka tidak peduli akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka tersebut, maka terjadilah berbagai macam kecelakaan karena keugal-ugalan dan tindakan mereka yang tidak terkontrol. Laa haula wala quuwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah).

Syekh bin Jibrin – hafizhahullahu – pernah menasehati para orang tua: “ Kami berpesan kepada para orang tua, sayangilah diri kalian, fikirkan akibat-akibat yang mungkin terjadi, jangan memandang remeh jiwa kaum muslimin, tidakkah kalian mengetahui bahwa kalian berdosa besar ketika terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh mobil-mobil tersebut, dimana kalian menyerahkannya kepada para remaja yang belum berhak untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi ? !.

Seharusnya kalian mengambil pelajaran dari orang-orang di sekitar kalian, ataupun dari berita-berita yang kalian dengar dari para orang tua yang menganggap remeh apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Maka kami nasehatkan kepada para orang tua supaya tidak membiarkan anak-anak mereka mengendarai mobil kecuali kalau sudah berumur delapan belas (18) tahun ke atas, setelah mereka mendapatkan latihan yang cukup, setelah mereka merasa yakin dengan kemampuan anak-anak tersebut dalam mengendarainya dengan tenang dan tidak ugal-ugalan, sehingga mereka bisa tentram dengan buah hati mereka dan orang lain merasa aman dari bahaya yang mungkin timbul dari tindakan mereka. Wallahu a’lam.

Seruan Untuk Para Pengendara Mobil dan Motor
Seruan ini kami sampaikan untuk saudara kami para pengendara mobil atau motor. Kami harapkan hendaklah mereka tenang, santai dan sabar serta tidak ugal-ugalan, karena dalam kesabaran itu terdapat keselamatan, sedangkan terburu-buru akan berakibat penyesalan. Saudaraku, janganlah kamu ngebut, jangan ugal-ugalan yang akan mengakibatkan penyesalan yang tidak ada gunanya. Ingatlah di rumahmu ada anak-anakmu yang masih kecil, istri yang lemah, ibu yang sudah tua, bapak yang sudah renta, mereka semua menunggumu. Wahai saudaraku yang berakal, hendaklah engkau sabar dan memikirkan akibat perbuatanmu, sabarlah menghadapi kemacetan ataupun keterlambatan akibat rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya, barangkali dalam keterlambatanmu itu adalah kebaikan untuk dirimu.

Ingatlah wahai saudaraku, ketika kamu ngebut atau melanggar lampu lalu lintas dan pelanggaran lainnya kemudian terjadi kecelakaan, maka itu berarti kamu telah mengakibatkan kerusakan secara materi dan jiwa, maka janganlah kamu menyakiti orang-orang yang beriman !!.

Satu hal yang penting untuk diingat dan diwaspadai oleh para pemilik mobil dan sopir adalah : Jangan sampai menyakiti dan menggangu orang-orang beriman dengan mobilnya, karena setiap mukmin punya kehormatan yang dimuliakan oleh Allah, dan Allah telah menjelaskan bahwa menyakiti orang beriman adalah perbuatan yang sangat berbahaya, konsekwensinya di dunia dan akhirat sangat besar. Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab/33 : 58]

Menyakiti orang-orang beriman dengan mobil atau motor banyak ragamnya, diantaranya:

  1. Balapan liar ( tafhith dan tath’isy ), karena ini merupakan bentuk permainan yang menjadikan nyawa dan harta sebagai taruhannya, sebagaimana sudah dijelaskan diatas.
  2. Bercanda dengan mobil, biasanya para pemuda bercanda dengan orang-orang yang di luar mobil, dia mengarahkan mobilnya ke orang tersebut dengan menambah kecepatan seolah-olah dia ingin menabraknya, ketika sudah dekat dia mengerem dengan kencang, canda seperti ini tidak boleh karena merupakan bentuk intimidasi terhadap seorang muslim dan menakut-menakutinya.
  3. Sebagian orang memotong jalan orang lain dengan cara yang tidak pantas tanpa memperhatikan keselamatan, sehingga menyebabkan orang lain terpana dan gugup, kadang-kadang bisa menyebabkan kecelakaan.
  4. Kelakuan sebagian orang yang mengganggu orang lain – di dalam mobil mereka ataupun sedang di jalan – dengan cara menggunakan lampu yang sangat tajam, atau menggunakan klakson secara sembarangan ( tidak pada tempatnya ).
  5. Memarkir mobil di jalan umum, di trotoar, di depan rumah orang lain atau menutupi kendaraan lain untuk keluar dari tempat parkirnya.
  6. Mengganggu ketenangan orang lain dengan mengaktifkan nyanyian dan musik dari radio, apalagi perbuatan tersebut juga merupakan sesuatu yang diharamkan sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

(Disadur dari buku : “Alhawadits almururiyah-Aalaam wa hasaraat” karya Ali bin Husain Abu Lauz)

[Disalin dari نداء إلى السائقين انتبهوا قبل أن تقع الكارثة Penulis Div. Ilmiyah Daar al-Wathan , Penerjemah : Abu Mushlih Muhammad Thalib MZ : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Beberapa Wasiat Bagi Penuntut Ilmu

BEBERAPA WASIAT BAGI PENUNTUT ILMU

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi awa sallam adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Ini adalah beberapa wasiat yang aku peruntukkan bagi  diriku dan para saudaraku, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan manfaat yang besar dengan wasiat ini, dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla melimpahkan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh bagi kita semua.

Wasiat pertama : Tetap semangat dalam menuntut ilmu syara’.

قال الله تعالى:  قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أولو الألباب  [ الزمر: 9]

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakAllah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla yang dapat menerima pelajaran. [Al-Zumar/39: 9]

قال الله تعالى:   يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ   [ المجادلة : 11]

“…niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[Al-Mujadilah/58: 11].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam berkata:

مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla suatu kebaikan maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberikan kepadanya kepahaman dalam agama”.[1]

Sebagian ahlul ilmi berkata: Orang yang tidak diberikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepahaman di dalam agama berarti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menghendaki kebaikan baginya”. Diriwayatkan oleh Al-Darimi dengan sanad yang baik dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan para nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar”.[2]

Al-Auza’i berkata: Manusia  yang memliki kemuliaan di tengah masyarakat kami adalah pribadi yang berilmu, dan orang selain mereka tidak ada artinya”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Dan para ulama adalah orang yang tetap komitment dengan perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla hingga hari kiamat. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu’awiyah dan Tsauban bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ‏

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku ini yang selalu komitment dengan kebenaran, tidak akan memudharatkan mereka orang yang mengacau mereka  sehingga datang keputusan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mereka tetap komitmen atas perkara tersebut”.[3] Di dalam sebuah riwyat disebutkan:  قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ Mereka tetap komitment pada perintah -Nya”.[4]

Imam Ahmad bin Hambal berkata: Kalau bukan ahli hadits maka aku tidak mengetahui siapakah orang selain mereka?”.

Dan Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam telah membritahukan bahwa di akhir zaman kelak ilmu itu akan terangkat, dan kebodohan menyebar dan terangkatnya ilmu di tandai dengan matinya orang yang membawanya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ لا يقبضُ العلمَ انتزاعًا ينتزعُهُ منَ النَّاسِ ، ولَكن يقبضُ العلمَ بقبضِ العُلماءِ ، حتَّى إذا لم يترُك عالمًا اتَّخذَ النَّاسُ رؤوسًا جُهَّالًا ، فسُئلوا فأفتوا بغيرِ عِلمٍ فضلُّوا وأضلُّو

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan mengambilnya secara langsung dari mereka, namun -Dia akan mencabut ilmu itu dengan dicabutnya nyawa para ulama, sehingga apabila orang alim sudah tidak tersisa maka manusia menunjuk pemimpin yang bodoh, dan mereka ditanya tentang suatu masalah maka mereka sesat dan menyesatkan”.[5]

Dalam keadaan seperti ini maka mengajarkan dan belajar ilmu agama menjadi wajib dan pasti. Dan hendaklah disadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah mempelajari kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, Al-Qur’anul Karim, maka hendaklah kita bersemangat untuk menghapal, memahami, merenungkan dan beramal dengannya. Begitu juga dengan mempelajari sunnah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan memperdalamnya. Hendaklah kita mengambil ilmu itu dari ahlinya, mereka adalah para ulama salaf yang shaleh, dan para ulama yang diberikan petunjuk oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga kita tidak terjebak ke dalam fatwa yang menyesatkan dan hawa nafsu yang membinasakan.

Wasiat kedua: Berdakwah kepada Allah Azza wa Jalla.

قال الله تعالى : قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ    [ يوسف: 108]

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik“. [Yusuf/12: 108].

قال الله تعالى : وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  [ فصلت: 33]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”. [Fushilat/41: 33]

Di dalam shahih Muslim dari Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bahwa berkata kepada Ali radhiyallahu anhu:

لأنْ يهْدِيَ اللَّه بِكَ رجُلًا واحِدًا خَيْرٌ لكَ من حُمْرِ النَّعم

Sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan petunjuk bagi seseorang karena usahamu maka itu lebih baik bagimu dari onta merah”.[6]

Banyak orang yang salah dalam memahami hadits ini, di mana seseorang berdakwah dan berani berfatwa padahal dirinya adalah orang yang paing bodoh, terkadang mereka berdalil dengan sebuah hadits dari Rasulullah Salallahu’alaihi alaihi wa sallam “  بلغوا عني ولو آية Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.[7] Dia tidak mengetahui bahwa menyampaikan satu ayat dari firman Allah Shubhanahu wa ta’alla dan hadits Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam tidak boleh diwujdukan kecuali setelah mengetahui perkataan para ulama tafsir dan para pensyarah hadits berdasarkan pada metode yang benar yang diperbolehkan oleh para ulama dan dijelaskan bagi penuntut ilmu.

Berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tugas para Nabi dan Rasul utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan kesejahteraan kepada mereka. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal pada saat beliau diutus kepada penduduk Yaman untuk berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla:

   َ ‏ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ… إلى آخر الحديث

Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, maka serulah mereka kepada persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sesungguhnya aku adalah utusan -Nya, dan jika mereka mentaatimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menwajibkan kepada mereka shalat lima waktu..….. sehingga akhir hadits”.[8]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: بلغوا عني ولو آية  Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.[9]

Ibnul Qoyyim rahimullah berkata: Jika berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tingkatan tugas yang paling agung dan utama bagi seorang hamba, maka dia tidak bisa terwujud kecuali dengan penguasaan ilmu yang tinggi, bahkan kesempurnaan dakwah membutuhkan kecukupan ilmu yang tinggi. Cukuplah ini sebagai kemuliaan ilmu dan Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan karunia   -Nya kepada siapapun yang dikehendaki -Nya”[10]

Syekh Abdul Aziz rahimhullah berkata: Yang wajib bagi mereka yang mampu dari kalangan para ulama, penguasa kaum muslimin, para da’i adalah berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga dirinya sampai pada tingktan orang yang menyampaikan dakwah kepada seluruh alam di seluruh penjuru dunia ini. Penyampaian dakwah inilah yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di dalam firman -Nya.

قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ   [ المائدة: 67 ]

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat -Nya. [Al-Ma’idah/5: 67].

Rasul berkewajiban untuk menyampaikan, semua Rasul semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan shalawat dan salam kepada mereka juga memiliki tugas untuk menyampaikan dan begitu juga dengan para pengikut mereka, para Rasul hendaklah mereka menyamapaikan dakwah ini…”.[11]

Wasiat ketiga: Menjaga waktu.

[Disalin dari وصايا لطالب العلم  Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari no: 3116 dan Muslim no: 1037
[2] HR. Al-Darimi 1/110 no: 342
[3] Shahih Muslim no: 1920 dan shahih Bukhari no: 71
[4] Shahih Bukhari no: 71
[5] Shahih Muslim no: 2673 dan shahih Bukhari no: 100
[6] Shahih Muslim: 4/1872 no: 2406
[7] Shahih Bukhari no: 3426
[8] Shahih Muslim no: 19 dan shahih Bukhari no: 1458
[9] Shahih Bukhari no: 3426
[10] Tafsirul Qoyyim: halaman: 319
[11] Majmu’ fatawa wa maqolat mutanawwi’ah, sykeh Abdul Aziz bin Baz rahimhullah 1/333 diambil dari kitab nudhratun na’im 5/1950 -1960