Author Archives: editor

Merealisasikan Makna Ibadah

MEREALISASIKAN MAKNA IBADAH

Seseorang akan hidup penuh makna apabila jiwanya bersih. Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya. Tidak hanya di dunia, bahkan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا،  وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya.  [asy Syams/91 : 9-10].

Dalam rangka mensucikan jiwa tersebut, satu-satunya jalan yang harus ditempuh, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa syirik, dan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melakukan bid’ah. Bagaimanakah sebenarnya hakikat ibadah yang diharapkan dengan memahaminya –bi idznillah- akan dapat membantu terwujudnya kesucian jiwa?

Berikut ini adalah pemaparan yang menukil dari perkataan Syaikhul Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, al Ubudiyyah. Semoga bermanfaat.

Ibadah ialah ungkapan yang mencakup segala apa yang dicintai Allah dan diridhaiNya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, batin maupun lahir. Shalat, zakat, shiyam (puasa), haji, benar dalam berkata, menunaikan amanat, berbuat baik kepada dua orang tua, memenuhi janji, amar ma’ruf-nahi mungkar, jihad melawan orang-orang kafir serta orang-orang munafik, berbuat kebajikan kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang tengah dalam perjalanan), dan kepada harta milik; baik berbentuk manusia  maupun hewan ternak,  juga berdoa, berdzikir, membaca al Qur`an dan kegiatan-kegiatan lain yang semisal, adalah termasuk ibadah.

Begitu juga mencintai Allah dan RasulNya, takut kepada Allah, kembali kepadaNya, mengikhlaskan agama hanya kepadaNya, sabar menerima hukumNya, bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya, ridha terhadap ketetapan taqdirNya, tawakal, mengharap-harap rahmatNya, takut terhadap adzabNya, dan hal-hal lain yang sejenis, adalah termasuk ibadah.

Yang demikian itu karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan yang dicintai dan diridhai olehNya. Untuk maksud itulah Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepadaKu. [adz Dzariyat/51:56].

Untuk membawa misi ibadah itu pulalah Allah mengutus para rasulNya –Shalawatullahi ‘alaihim sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…[an Nahl/16 : 36].

Kemudian Allah menjadikan peribadatan itu sebagai ketetapan baku bagi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai wafatnya. Sebagaimana firmanNya: 

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Sembahlah (ibadahilah) Rabb-mu hingga datang kematian kepadamu. [al Hijr/15 : 99]

Dengan sifat beribadah itu pula, Allah memberikan sifat  kepada para malaikat serta para nabiNya –Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alaihim- sebagaimana firmanNya:

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ.  يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُونَ

Kepunyaan Allah-lah penghuni yang ada di langit-langit dan di bumi, sedangkan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat dan para nabi) tidak pernah sombong untuk beribadah kepadaNya dan tidak pernah lelah. Mereka senantiasa bertasbih malam dan siang tanpa ada putus-putusnya. [al Anbiya’/21 : 19-20].

Allah mencela oang-orang yang sombong -tidak mau beribadah kepadaNya- dengan firmanNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabb-mu telah berkata : “Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku mengabulkan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong –tidak mau- beribadah kepadaKu, akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir/40 : 60].

Ada sebuah hadits yang telah jelas keshahihannya dalam kitab Shahih, [1] bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk seorang badui, Jibril bertanya kepada beliau tentang Islam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Islam ialah bila engkau bersaksi bahwa, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, bila engkau mendirikan shalat, membayarkan zakat, bershiyam Ramadhan serta berhaji di Baitullah bila engkau mampu melakukan perjalanan kepadanya

Jibril bertanya lagi: “Kemudian apakah iman?” Beliau menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Yaitu apabila engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, kebangkitan kembali sesudah mati, dan apabila engkau beriman kepada taqdir; baiknya dan buruknya”.

Jibril bertanya lagi: “Kemudian apakah ihsan?” Beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Yaitu apabila engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Ia melihatmu”.

Selanjutnya, di akhir hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

“Ini adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian”.

Artinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan semua perkara dalam hadits di atas masuk dalam (pengertian) agama (din). Bahwa agama (din) mencakup makna tunduk dan merendahkan diri. Dengan demikian, agama Allah adalah, beribadah, taat dan tunduk-patuh kepada Allah.

Sementara itu, ibadah yang diperintahkan meliputi makna cinta dan makna merendahkan diri. Jadi, ibadah yang diperintahkan itu mencakup rasa cinta sebesar-besarnya kepada Allah Ta’ala, sekaligus dibarengi sikap merendahkan diri serendah-rendahnya.

Seandainya ada orang bertanya: Apabila semua yang dicintai Allah masuk dalam sebutan ibadah? Mengapa ada perkara lain yang disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah? Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah al Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.

(Maksudnya, meminta pertolongan termasuk ibadah, tetapi mengapa disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah?, pent.).

Contoh yang lain, misalnya adalah firman Allah kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Beribadahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepadaNya.  [Hud/11 : 123].

Contah lainnya, perkataan Nuh:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

Beribadah-lah kepada Allah dan ber-takwa-lah serta taat-lah kepadaNya. [Nuh/71 : 3].

Demikian pula perkataan para rasul lain.

Maka pertanyaan seperti ini dijawab: Persoalan semacam itu sudah biasa pada contoh-contoh lain. Misalnya dalam firman Allah :

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ

Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan fahsya’ (keji) dan mungkar.  [al Ankabut/29 : 45].

Padahal al fahsya’ (perbuatan keji) termasuk perbuatan mungkar.

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ

Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berbuat adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan mencegah dari perbuatan fahsya’ (keji), mungkar dan melampaui batas. [an Nahl/16 : 90].

Memberi kepada kaum kerabat adalah bagian dari berbuat adil. Begitu juga berbuat fahsya’ (keji), dan melampaui batas adalah termasuk kemungkaran.

Misal yang lain, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat (akan di beri pahala). [al A’raf/7 : 170].

Mendirikan shalat adalah termasuk seagung-agungnya berpegang teguh pada al Kitab.

Misal lainnya lagi, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para nabiNya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا

Sesungguhnya mereka orang-orang yang bersegera mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dalam keadaan harap-harap cemas. [al Anbiya’/21 : 90].

Doa mereka dengan harap-harap cemas termasuk kebaikan. Dan contoh-contoh lain yang semacam itu banyak di dalam al Qur`an.

Dalam bab ini, adakalanya salah satu dari kedua hal tersebut merupakan bagian dari yang lain, kemudian yang satu disebut secara berurutan sesudah yang lain, dalam rangka pengkhususan penyebutannya. Sebab, ada tuntutan makna secara umum dan secara khusus. Namun kadang-kadang (mempunyai tujuan agar) penunjukan penyebutannya menjadi bermacam-macam ketika disebut sendiri-sendiri, maupun ketika disebut bersama-sama. Artinya, jika disebut secara sendirian, maka maknanya menjadi umum. Akan tetapi, ketika disebut secara bersamaan dengan yang lain, maka maknanya menjadi khusus.

Misalnya sebutan “fakir” dan “miskin”. Ketika masing-masing disebutkan secara sendiri-sendiri, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

لِلْفُقَرَآءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ

(Berikanlah) kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah. [al Baqarah/2 : 273]

Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ

Atau memberi makan sepuluh orang miskin.  [al Ma’idah/5 : 89]

(Pada dua ayat di atas, masing-masing kata “fakir” dan “miskin” disebutkan sendiri-sendiri, pent.). Maka pengertian kata “fakir” masuk dalam pengertian kata “miskin” (dan sebaliknya, pent.).

Namun ketika disebut secara bersama-sama, seperti dalam firmanNya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Sesungguhnya harta-harta zakat hanyalah dibagikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang miskin. [at Taubah/9 : 60].

Maka pengertiannya menjadi dua macam (masing-masing kata “fakir” dan “miskin” memiliki makna yang berbeda, pent).

Sesungguhnya, memang ada yang mengatakan: Bahwa ketika yang khusus disebutkan secara berurutan dengan yang umum, maka pada saat keduanya disebut secara bersama-sama, yang khusus tidak otomatis masuk dalam pengertian yang umum. Bahkan itu termasuk bab di atas (masing-masing memiliki makna berbeda, pent.). Tetapi setelah diteliti, hal itu tidaklah tentu demikian. (Buktinya) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ

Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mika’il, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. [al Baqarah/2 : 98] (Jibril dan Mikail termasuk Malaikat, pent.).

Juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bin Maryam. [al Ahzab/33:7].

Disebutnya sesuatu yang khusus bersama-sama dengan sesuatu yang umum bisa disebabkan oleh sebab yang bermacam-macam:

  • Terkadang karena yang khusus itu memiliki kekhususan yang tidak terdapat pada semua individu yang umum. Seperti kekhususan pada diri Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (masing-masing berbeda dengan semua nabi lainnya, pent.).
  • Terkadang pula karena yang umum memiliki bahasa mutlak yang kemungkinan tidak bisa dipahami, disebabkan keumumannya. Misalnya dalam firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ  يُنْفِقُونَ. وَالَّذِينِ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

(Al Qur`an itu) merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara ghaib, mendirikan shalat dan membayar infak dari rizki yang telah Kami berikan. Dan orang-orang yang beriman kepada wahyu yang telah diturunkan kepadamu dan kepada wahyu yang telah diturunkan sebelummu. [al Baqarah/2 : 2-4].

Firman Allah :  ( يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ   = Beriman kepada perkara ghaib), meliputi seluruh perkara ghaib yang wajib diimani. Tetapi bahasa itu masih garis besar. Di dalamnya tidak ada petunjuk yang jelas, bahwa termasuk perkara ghaib adalah, beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadamu dan wahyu yang diturunkan sebelummu. (Untuk maksud itulah, maka disebutkan perkara yang khusus sesudah yang umum, untuk menerangkan sebagian dari rincian perkara umum tersebut, pent.). Termasuk dalam persoalan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اتْلُ مَآأُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al Kitab (al Qur`an), dan dirikanlah shalat.  [al Ankabut/29 : 45].

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Kitab dan mendirikan shalat. [al A’raf/7:170].

Maksud membaca al Kitab pada ayat di atas ialah, mengikuti dan mengamalkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud berkaitan dengan firman Allah:

الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ

Orang-orang yang telah kami berikan al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benarnya. [al Baqarah/2 : 121].

Ibnu Mas’ud mengatakan : “Mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh al Kitab, mengharamkan apa yang diharamkannya, mengimani ayat-ayat mutasyabihnya dan mengamalkan ayat-ayat muhkamnya”.

Dengan demikian, mengikuti isi al Kitab meliputi shalat dan lain-lainnya. Tetapi shalat disebutkan secara khusus karena keistimewaannya.

Begitu pula firman Allah kepada Musa:

إِنَّنِى أَنَا اللهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku. Maka ibadahilah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu. [Thaha/40 : 14].

Mendirikan shalat untuk mengingat Allah adalah termasuk sebesar-besar ibadah kepada Allah.

Demikian juga firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

Bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. [al Ahzab/33 : 70].

اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ 

Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya. [al Ma’idah/5 : 35].

اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar. [at Taubah/9:119].

Perkara-perkara itu semua juga termasuk kesempurnaan takwa kepada Allah. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Maka beribadahlah kepada Allah dab bertawakkallah kepadanya. [Hud/11 : 123].

Sesungguhnya, bertawakal adalah sikap istiqamah. Dan itu termasuk ibadah kepada Allah. Tetapi tawakal disebutkan secara khusus di sini, supaya orang yang melakukan peribadatan betul-betul bertujuan untuk bertawakal secara khusus, karena ia bisa menolong bagi terlaksananya semua macam-macam ibadah. Sebab Allah tidak dapat diibadahi tanpa ada pertolongan dariNya.

Apabila hal ini sudah jelas, maka sempurnanya makhluk terletak pada realisasi ibadahnya kepada Allah. Semakin bertambah seseorang dalam realisasi ibadahnya, maka akan bertambah kesempurnaan dirinya dan semakin tinggi pula derajatnya. [2]

Demikianlah, dengan memahami hakikat ibadah, diharapkan akan membantu proses pensucian jiwa dengan benar. Wallahu Waliyyu at Taufiq.

(Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin dari kitab, Madarij al Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah  sub bab Haqiqat al Ubudiyyah, pada halaman 13 – 20, Penulis Syaikh Salim bin Id al Hilali, Daar ash Shumai’iy, Riyadh, KSA, Cet. II, 1424 H/2003 M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih Muslim, 8.
[2] Al Ubudiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 17-26, 70-75, dinukil secara ringkas.

Syarat Ibadah Diterima

SYARAT IBADAH DITERIMA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Allâh Azza wa Jalla mewajibkan seluruh hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian Dia akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan. Namun ibadah akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , jika memenuhi syarat-syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan oleh Allâh dan Rasul-Nya. Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan ittiba’. Inilah sedikit penjelasan tentang tiga perkara ini:

IMAN
Secara bahasa Arab, sebagian orang mengartikan iman dengan: tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran sesuatu); thuma’ninah (ketentraman); dan iqrâr (pengakuan). Makna yang ketiga inilah yang paling tepat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq. Iqrâr (pengakuan) mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)”.[1]

Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup:

  1. Keyakinan hati, yaitu meyakini kebenaran berita.
  2. Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah.

Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allâh Azza wa Jalla .

Adapun secara syara’ (agama), maka iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan di antara prinsip-prinsip Ahli Sunnah wal Jama’ah bahwa ad-din (agama) dan al-iman adalah: perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”.[2]

Iman memiliki enam rukun, yaitu: iman kepada Allâh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan iman kepada qadar. Inilah pokok iman.

Selain rukun, iman juga memiliki bagian-bagian.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyebutkan bahwa iman itu memiliki 73 bagian, sebagaimana dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Iman ada 73 lebih atau 63 lebih bagian, yang paling utama adalah perkataan Laa ilaaha illa Allâh, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah satu bagian dari iman.[3]

Iman Syarat Diterima Amal Shalih
Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa iman merupakan syarat diterimanya sebuah amal. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16: 97]

Oleh karena itu amalan orang kafir tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. [Ibrâhîm/14:18]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allâh di sisinya, lalu Allâh memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya. [An-Nur/24: 39]

Walaupun amal orang kafir tertolak di akhirat, namun dengan keadilan-Nya, Allâh Azza wa Jalla memberikan balasan amal kebaikan orang kafir di dunia ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا

Sesungguhnya Allâh tidak akan menzhalimi kepada orang mukmin satu kebaikanpun, dia akan diberi (rezeki di dunia) dengan sebab kebaikannya itu, dan akan di balas di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia diberi makan dengan kebaikan-kebaikannya yang telah dia lakukan karena Allâh di dunia, sehingga jika dia telah sampai ke akhirat, tidak ada baginya satu kebaikanpun yang akan dibalas .[4]

Dari uraian singkat di atas, kita bisa memahami urgensi iman terkait diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan kita serta memliharanya dari segala yang bisa merusaknya. Karena iman juga bisa rusak dengan banyak sebab, diantaranya syirik (Lihat Az-Zumar/39: 65), nifak (At-Taubah/9: 54), kufur (Muhammad/47: 8-9), dan riddah (Al-Baqarah/2: 217).

Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita dari segala yang bisa merusak keimanan kita.

IKHLAS
Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan. Maksud ikhlas dalam syara’ adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allâh, semata-mata mencari ridha Allâh, menginginkan wajah Allâh, dan mengharapkan pahala atau keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. [Al-Bayyinah/98: 5]

Orang yang ikhlas mencari ridha Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4: 114]

Orang yang ikhlas beramal untuk wajah Allâh, yakni agar bisa melihat wajah Allâh di surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [Al-Insan/76: 9]

 Orang yang ikhlas itu menghendaki pahala akhirat, bukan balasan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. [Asy-Syûra/42: 20]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

Barangsiapa di antara mereka (umat ini) beramal dengan amalan akhirat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. [6]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[7]

Seorang ulama dari India, al-Imam Shiddiiq Hasan Khan al-Husaini rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan (di antara Ulama) bahwa ikhlas merupakan syarat sah amal dan (syarat) diterimanya amal”.[8]

Berdasarkan syarat ikhlas ini, maka barangsiapa melakukan ibadah dengan meniatkannya untuk selain Allâh, seperti menginginkan pujian manusia, atau keuntungan duniawi, atau melakukannya karena ikut-ikutan orang lain tanpa meniatkan amalannya untuk Allâh, atau barangsiapa melakukan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada makhluk, atau karena takut penguasa, atau semacamnya, maka ibadahnya tidak akan diterima, tidak akan berpahala. Demikian juga jika seseorang meniatkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla, tetapi niatnya dicampuri riya’, amalannya gugur. Ini merupakan kesepakatan ulama.[9]

Kesalahan Seputar Ikhlas
Dalam kitab al-Ikhlâsh, penulis yaitu Syaikh Umar Sulaiman al-‘Asyqar rahimahullah menyebutkan beberapa persepsi yang keliru tentang ikhlas, diantaranya:

  1. Anggapan bahwa makna ikhlas adalah tidak memiliki kehendak
  2. Anggapan bahwa orang yang menghendaki ridha Allâh harus meninggalkan duniawi, harta-benda, wanita, kedudukan, dan sebagainya.
  3. Anggapan bahwa ikhlas adalah beribadah hanya dengan dorongan cinta kepada Allâh, tanpa disertai raja’ (harapan untuk meraih) surga dan tanpa khauf (rasa takut) dari neraka.
  4. Orang yang tujuan hidupnya hanya duniawi.
  5. Riya’, sum’ah, dan ‘ujub, bertentangan dengan ikhlas.
    1. Riya’ adalah: memperlihatkan ketaatan lahiriyah untuk mendapatkan kebaikan dunia, pengagungan, pujian, atau kedudukan di hati manusia.
    2. Sum’ah semakna riya’ namun berkaitan dengan pendengaran.
    3. ‘Ujb: merasa besar atau membanggakan ketaatan.
  6. Beribadah dengan niat mengetahui hal-hal ghaib.

ITTIBA
Ittibâ adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allâh, maka syahadat tersebut memuat kandungan: meyakini berita Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mentaati perintah Beliau, menjauhi larangan Beliau, dan beribadah kepada Allâh hanya dengan syari’at Beliau. Oleh karena itu, barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini, maka itu tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali-Imran/3: 85]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59: 7]

Ayat ini nyata menjelaskan kewajiban ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak.[10]

Hadits ini nyata-nyata mengharamkan perbuatan membuat ibadah yang tidak diperintahkan dan tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan mengharamkan perbuatan membuat sifat ibadah walaupun asal ibadah itu disyari’atkan, karena itu menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dengan ini jelas bahwa ibadah harus sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam waktunya, sifatnya, dan tidak boleh menambahkan ibadah yang tidak dituntunkan, baik berupa amalan atau perkataan.

Inilah syarat-syarat diterima amal ibadah oleh Allâh Subhaana wa Ta’ala, semoga Allâh selalu membimbing kita semua di atas jalan yang lurus.

Al-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Majmû’ Fatâwâ 7/638
[2]  Syarh Aqîdah Washitiyah, hlm: 231, karya Syaikh Muhammad Kholil Harros, takhrij: ‘Alwi bin Abdul Qodir As-Saqqof
[3]  HR. Muslim, no: 35
[4]  HR. Muslim, no: 2808, dari Abu Hurairah. Lihat as-Shahîhah, no: 53
[5]  HR. Ahmad, dll; Lihat Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 53
[6]  HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah ash-Shahîhah, no: 52;  Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 63
[7]  HR. Muslim, no: 2985
[8]  Ad-Dînul Khâlish, 2/385
[9]  Lihat Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 74, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin
[10]  HR. Al-Bukhâri, no. 2697; Muslim, no. 1718

Sifat-sifat Ibadah yang Benar

SIFAT-SIFAT IBADAH YANG BENAR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Kemuliaan seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Semakin seorang hamba menambah ketundukan dan peribadahan kepada Penciptanya, maka semakin bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya.

Kemudian bahwa hamba tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan benar hanya dengan akal dan perasaannya. Oleh karena itu Allȃh Azza wa Jalla mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk memberikan petunjuk-Nya.

Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. [Thaha/20:123]

Ibadah yang benar kepada Allȃh Azza wa Jalla harus dilakukan dengan dasar kecintaan, berharap rahmat dan pahala Allȃh Azza wa Jalla, takut siksa-Nya dan disertai ketundukan dan pengagungan kepada Allȃh Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Allȃh Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. [Al-Anbiya’/21: 90]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Di antara Salaf mengatakan: Barangsiapa beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla hanya dengan kecintaan, maka dia seorang Zindiq (munafik).  Barangsiapa beribadah kepada Allȃh hanya dengan harapan, maka dia Murji’ah[1]. Barangsiapa beribadah kepada Allȃh hanya dengan rasa takut, maka dia seorang Haruri[2]. Dan barangsiapa beribadah kepada Allȃh dengan kecintaan, rasa takut, dan harapan, maka dia seorang yang beriman, bertauhid.”[3]

Kecintaan dan Ketundukan
Mencintai Allȃh Azza wa Jalla adalah pondasi ibadah yang paling utama. Oleh karena itu seorang hamba wajib mencintai Allȃh Azza wa Jalla, dan mencintai semua jenis ketaatan. Sehingga ketika dia beribadah dengan suatu jenis ketaatan, maka dia mencintai ketaatan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan dan kesempurnaan ketundukan. Orang yang beribadah adalah orang yang mencintai dan tunduk. Berbeda dengan orang yang mencintai orang yang dia tidak tunduk kepadanya, tetapi dia mencintainya karena menjadikannya perantara kepada perkara lain yang dia cintai. Dan berbeda dengan orang yang tunduk kepada orang yang dia tidak mencintainya, seperti seseorang tunduk kepada orang zhalim. Maka keduanya ini bukanlah ibadah yang murni”.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Ibadah, asal maknanya adalah kerendahan/ketundukan juga (seperti makna diin). Tetapi ibadah yang diperintahkan (oleh Allȃh Azza wa Jalla) mengandung makna kerendahan/ketundukan dan makna kecintaan. Sehingga ibadah yang diperintahkan (oleh Allȃh Azza wa Jalla) itu mengandung sifat puncak kerendahan/ketundukan kepada Allȃh Subhanahu wa Ta’ala disertai puncak kecintaan kepada-Nya.

Barangsiapa tunduk kepada seorang manusia disertai kebenciannya kepadanya, maka tidaklah dia menjadi orang yang beribadah kepadanya. Dan seandainya seseorang mencintai sesuatu dan dia tidak tunduk kepadanya, tidaklah dia menjadi orang yang beribadah kepadanya. Sebagaimana seseorang mencintai anaknya, dan kawannya.

Oleh karena inilah, di dalam beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla tidak cukup dengan salah satu dari kedua sifat itu saja, tetapi seorang hamba wajib menjadikan Allȃh Azza wa Jalla sebagai yang paling dicintai daripada segala sesuatu, dan menjadikan Allȃh Azza wa Jalla yang paling diagungkan daripada segala sesuatu. Bahkan tidak ada yang berhak mendapatkan kecintaan dan ketundukan yang sempurna kecuali Allȃh Azza wa Jalla. Maka apa saja yang dicintai bukan karena Allȃh Azza wa Jalla, kecintaannya itu adalah rusak, dan apa saja yang diagungkan bukan dengan perintah Allȃh Azza wa Jalla, pengagungannya itu batil.”[5]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata di dalam sya’irnya menjelaskan tonggak ibadah, sebagai berikut: “Dan ibadah kepada (Allȃh Azza wa Jalla) Yang Maha Pemurah adalah puncak kecintaan kepada-Nya bersama kepatuhan dari orang yang beribadah kepada-Nya. Itulah dua kutub yang orbit ibadah beredar pada keduanya. Orbit itu tidak akan beredar sampai kedua kutubnya tegak. Dan beredarnya dengan perintah, yaitu perintah Rasul-Nya. Tidak dengan (perintah) hawa-nafsu, kemauan diri sendiri, dan syaithan”[6].

Demikian juga seorang hamba wajib membenci kemaksiatan-kemaksiatan yang juga dibenci oleh Allȃh Azza wa Jalla. Termasuk membenci orang-orang yang dibenci oleh Allȃh Azza wa Jalla, dari kalangan orang-orang kafir dan musyrik.

Seorang hamba juga mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allȃh Azza wa Jalla, yaitu orang-orang yang beriman. Yang pertama-tama adalah para Rasul. Termasuk mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaannya daripada kepada anak, orang tua, dan seluruh manusia.

Keutamaan Khauf (Takut Kepada Alla Azza wa Jalla)
Allȃh Azza wa Jalla telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk takut kepada-Nya, dan Dia menjadikannya sebagai syarat keimanan. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [Ali ‘Imrȃn/3: 175]

Dan Allȃh Azza wa Jalla memuji hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ ﴿٥٧﴾ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ﴿٥٨﴾ وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ ﴿٥٩﴾ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴿٦٠﴾ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada (azab) Tuhan mereka,  dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka,  dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),  dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,  mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. [Al-Mukminȗn/23: 57-61]

Dan Allȃh Azza wa Jalla telah menjelaskan balasan yang telah Dia siapkan di akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya, Dia berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga. [Ar-Rahmȃn/55: 46]

Demikian juga takut kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya merupakan salah satu sebab meraih keamanan di akhirat. Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits qudsi dari Syaddȃd bin Aus Radhiyallahu anhu bahwa Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : وَعِزَّتِي وَجَلاَلِي لاَ أَجْمَعُ لِعَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلاَ خَوْفَيْنِ إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ فيه عِبَادِي وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ فيه عِبَادِي

Allȃh Subhanahu wa Ta’ala Dia berfirman: “Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua keamanan dan dua ketakutan untuk hamba-Ku. Jika hamba-Ku merasa aman kepada-Ku di dunia, Aku pasti menjadikannya takut pada hari (kiamat) yang Aku akan mengumpulkan hamba-hamba-Ku.Sebaliknya jika dia merasa takut kepadaKu di dunia, Aku pasti menjadikannya aman pada hari (kiamat) yang Aku akan mengumpulkan hamba-hambaKu. [HR. Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah dengan sanad yang lemah, namun dikuatkan dengan jalur-jalur yang lain sehingga dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 742]

Oleh karena itu setiap hamba wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla disertai dengan rasa takut kepada hukuman dan siksaan-Nya.

Barangsiapa Takut, Dia Bersegera
Rasa takut yang terpuji adalah yang dapat menghalangi dari hal-hal yang diharamkan Allȃh Azza wa Jalla. Sehingga orang yang benar-benar takut kepada Allȃh Azza wa Jalla akan bergegas meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan yang akan mengakibatkan siksaan dan bencana. Nabi n menjelaskan hal ini di dalam sabda beliau:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Barangsiapa takut, dia pasti pergi sebelum subuh (yakni bersegera pergi sebelum kedatangan musuh yang ditakuti-pen), dan barangsiapa pergi sebelum subuh, dia pasti sampai tempat (yang aman). Ketahuilah! Sesungguhnya barang dagangan Allȃh itu mahal. Ketahuilah! Sesungguhnya barang dagangan Allȃh itu adalah surga. [HR. Tirmidzi, no. 2450 dari Abu Hurairah; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Radja’, Berharap Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Radja` secara bahasa artinya berharap. Maksudnya yaitu: mengharapkan pahala Allȃh Azza wa Jalla , ampunan-Nya, dan rahmat-Nya.[7]

Radja’ (berharap) kepada rahmat Allȃh Azza wa Jalla harus disertai dengan amalan. Sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya. [Al-Kahfi/18: 110]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang-orang yang ‘arif (mengenal Allȃh dengan baik) telah sepakat bahwa radja’ tidak sah kecuali disertai dengan amalan”.

Kemudian beliau berkata:
Radja’ ada tiga jenis: dua jenis terpuji, dan satu jenis tercela.

Pertama: Berharapnya seseorang yang telah melakukan ketaatan kepada Allȃh Azza wa Jalla, di atas cahaya dari Allȃh Azza wa Jalla. Maka orang ini adalah orang yang mengharapkan pahala-Nya. (Ini adalah radja’ yang terpuji).

Kedua: Seseorang yang telah berbuat dosa-dosa, lalu dia bertaubat darinya. Maka orang ini adalah orang yang mengharapkan pahala-Nya. (Ini adalah radja’ yang terpuji). Mengharapkan ampunan Allȃh Azza wa Jalla, ampunan-Nya, kebaikan-Nya, kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kedermawan-Nya. (Ini juga radja’ yang terpuji)

Ketiga: Seseorang yang terus-menerus dalam melalaikan (kewajiban-kewajiban) terus-menerus di dalam dosa-dosa. Dia mengharapkan rahmat Allȃh tanpa disertai amalan. Ini adalah terpedaya, angan-angan kosong, dan radja` yang dusta. (Ini radja’ yang tercela)”.[8]

Maka seorang muslim wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan mengharapkan pahala-Nya, dan wajib bertaubat kepada Allȃh Azza wa Jalla ketika berbuat maksiat, dengan mengharapkan ampunan-Nya. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allȃh) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allȃh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A’rȃf/7: 56]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allȃh memerintahkan beribadah kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, memohon dan merendahkan diri kepada-Nya, dengan berfirman, “berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan”, yaitu takut kepada pedihnya siksaan di sisi-Nya dan harapan kepada pahala yang banyak yang ada di sisi-Nya”.[9]

Kesimpulannya bahwa seorang muslim wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan kecintaan kepada-Nya, takut kepada siksa-Nya, dan mengharapkan pahala-Nya.

Tidak boleh rasa takut berlebihan sehingga berputus asa dari rahmat dan ampunan Allȃh Azza wa Jalla. Demikian juga radja’ tidak boleh berlebihan sehingga bergantung kepada rahmat dan ampunan Allȃh Azza wa Jalla dengan tidak meninggalkan maksiat yang sedang dilakukan. Namun ketika dalam keadaan sehat, hendaklah rasa takut lebih dominan, sehingga mendorongnya untuk melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Sedangkan ketika dalam keadaan sakit, hendaklah rasa radja’ kepada ampunan Allȃh Azza wa Jalla lebih dominan, sehingga ketika ajal menjemputnya, dia dalam keadaan husnu zhan (berprasangka baik) kepada Allȃh Azza wa Jalla, dan bergembira dengan pertemuannya kepada Allȃh Azza wa Jalla.

Ya Allȃh Azza wa Jalla, limpahkan kepada kami kecintaan kepada-Mu yang mendorong kami untuk melaksanakan peribadahan, radja’ kepada pahala-Mu yang menyemangati kami menjalankan ketaatan, takut kepada siksa-Mu yang akan menjauhkan dari kemaksiatan. Dan anugerahkan kepada kami, rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Doa lagi Berkuasa Mengabulkannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Firqah yang beranggapan bahwa amal tidak termasuk hakekat iman. Mereka juga beranggapan bahwa dengan adanya iman maka maksiat tidak membahayakan
[2] Yakni orang yang berfaham Khawârij. Mereka sangat takut kepada Allȃh Azza wa Jalla , sehingga rasa takut mereka itu melewati batas sampai mengkafirkan orang Islam yang melakukan dosa besar. Adapun Haruri adalah nisbat kepada Harura’, kampung di luar kota Kufah yang mereka berkumpul di sana sebelum memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.
[3] Al-‘Ubûdiyah, hlm. 78-79, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tahqiq dan ta’liq: Khalid Abdul Lathif Al-‘Alami, Penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi
[4] Kitab Qȃidah fil Mahabbah, dalam Jȃmi’ur Rosȃil, juz 2, hlm; 284
[5] Al-‘Ubûdiyah, hlm. 23-24, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tahqiq dan ta’liq: Khalid Abdul Lathif Al-‘Alami, Penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi
[6] Fathul Majid, hlm. 28, karya: Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, penerbit: Dar Ibni Hazm
[7] Lihat Mukhtashar Minhȃjil Qȃshidin, hlm. 376; Majmû’ Fatâwâ, 15/21
[8] Madârijus Sâlikin, 2/37
[9] Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-A’rȃf ayat ke-56

Jalan yang Menyimpang dari Ahlus Sunnah

JALAN YANG MENYIMPANG DARI AHLUS SUNNAH

Jalan yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah nama-nama Allâh Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya adalah:

  1. Mengimani semua yang ditetapkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya untuk diri Allâh dan menetapkannya dengan bentuk yang sesuai dengan keagungan-Nya
  2. Meniadakan apa yang ditiadakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dari diri-Nya, dengan meyakini kesempurnaan lawan sifat yang ditiadakan itu.
  3. Meyakini bahwa semua sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla itu adalah sifat yang hakiki, bukan majaz (kiasan).

Akan tetapi sebagian manusia mengikuti jalan-jalan yang menyimpang dalam masalah ini. Maka tulisan berikut ini adalah penjelasan tentang jalan-jalan yang menyimpang dari jalan yang haq tersebut.

TAHRIF
Tahrîf artinya merubah. Maksudnya merubah lafazh nash atau maknanya. Berdasarkan ini, tahrîf dibagi menjadi dua:

1, Tahrîful Lafzhi
Yaitu merubah lafazh nash, dengan cara merubah kata, huruf atau merubah harakat.

Merubah harakat bisa merubah makna, seperti yang dilakukan sebagian orang menyimpang yang merubah firman Allâh Azza wa Jalla:

كَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Dan Allâh telah berbicara kepada Musa dengan langsung. [An-Nisa’/4: 164]

Lafazh “Allâhu” yang berarti Allâh sebagai subyek yang berbicara, dirubah menjadi “Allâha” yang berarti Allâh sebagai obyek yang mendengar pembicaraan dari Nabi Musa Alaihissallam.

Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya merubah firman Allâh Azza wa Jalla :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. [An-Nûr/24:35]

Mereka merubahnya menjadi:

اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

Allâh menerangi langit dan bumi.

Lalu beliau menulis surat nasehat kepadanya dan mengantarkan surat itu bersama sebagian sahabatnya. Setelah itu, beliau mendengar berita bahwa ahli bid’ah itu bertaubat[1].

2. Tahrîful Makna (merubah makna nash).
Yaitu memalingkan makna lafazh dari makna zhahirnya tanpa dalil, seperti:

Merubah makna “yadullâh” yang seharusnya “tangan Allâh” dirubah menjadi kekuatan atau nikmat.

Merubah makna “istiwa’ Allâh” yang seharusnya “Allâh Azza wa Jalla bersemayam” dirubah menjadi istila’ Allâh (Allâh menguasai).

Merubah makna “tertawa Allâh” dengan pahala.

Dan lainnya, sebagaimana dilakukan oleh golongan Asy’ariyyah dan lainnya. Ini semua merupakan ilhâd (penyelewengan) terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla . Yang benar adalah menetap sifat-sifat Allâh dengan tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Mereka menyebut perbuatan mereka yang merubah makna ini dengan istilah ta’wîl (memalingkan makna rajih kepada makna marjuh), tetapi sebenarnya perbuatan mereka ini adalah tahrîf (melakukan perubahan) terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla .

Karena ta’wîl yang benar harus ada dalil siyaq (petunjuk rangkaian kalimat) atau qarînah (tanda atau indikasi) yang mengharuskannya. Kalâmullâh adalah petunjuk, maka jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki maksud perkataan yang tidak sama dengan zhahirnya, pasti ada tanda-tanda yang menunjukkan makna yang berbeda dengan zhahirnya. Jika tidak, maka akan menjerumuskan pendengar kepada kerancuan dan kesalahan.

Ta’wil yang benar adalah memberitakan maksud pembicara, bukan membuat kalimat baru! Jika dikatakan “makna kalimat ini adalah demikian”, padahal kenyataan tidak sebagaimana yang dikatakan, maka ini merupakan penyelewengan terhadap maksud perkataan pembicara. Ini adalah kesalahan nyata.

Semua bentuk tahrîf merupakan kesesatan, karena Allâh Azza wa Jalla mencela perbuatan ahlul kitab yang melakukan tahrîf (perubahan) terhadap kitab mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. [An-Nisa’/4: 46]

Ketika Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Palestina dengan mengatakan “hith-thah” (artinya: Ampunlah kami), kemudian mereka melakukan tahrîf (perubahan) dengan menambah huruf nun, sehingga menjadi “hinthah” (artinya sebiji gandum), maka Allâh Azza wa Jalla pun menghukum mereka. Allâh Azza wa Jalla  berfirman:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.[Al-Baqarah/2: 59]

TA’THIL
Ta’thîl secara bahasa artinya: mengosongkan, meniadakan, membiarkan. Adapun secara istilah, ta’thîl adalah mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh, baik mengingkari sebagian atau seluruhnya. Ta’thîl terbagi menjadi dua:

  1. Ta’thîl kulliy yaitu mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allâh, seperti ta’thîl yang dilakukan golongan Jahmiyah.
  2. Ta’thîl juz’iy, yaitu mengingkari dan menta’wil (merubah makna) sebagian sifat-sifat Allâh, seperti yang dilakukan golongan Asy’ariyyah. Golongan Asy’ariyah ini menetapkan sebagian sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Sifat-sifat yang mereka tetapkan awalnya ada tujuh, yaitu: qudrah (berkuasa), irâdah (berkehendak), ilmu, hayat (hidup), sama’ (mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara). Kemudian sebagian mereka menambahkan enam sifat lagi, yaitu: wujud (ada), qidam (ada sejak dahulu), baqa’ (kekal), mukhâlafatu lil hawâdits (berbeda dengan makhluk), qiyâmuhu bi nafsihi (berdiri sendiri), dan wahdaniyah (esa). Sehingga berjumlah 13 sifat, yang disebut dengan istilah 13 sifat wajib bagi Allâh Azza wa Jalla . Kemudian sebagian mereka menambah lagi dengan tujuh dari makna tujuh sifat yang pertama itu, sehingga sebagian mereka meyakininya dan menamainya dengan istilah sifat dua puluh Allâh. Semua ini ditetapkan berdasarkan akal. Karenanya, metode ini menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan sifat-sifat Allâh berdasarkan wahyu.

Pertama kali yang dikenal melakukan ta’thîl dari umat ini adalah Ja’ad bin Dirham, kemudian diikuti oleh orang-orang setelahnya.

Perbuatan ta’thîl ini merupakan kesesatan, karena tidak mengimani perkara yang diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Padahal Allâh Azza wa Jalla yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri, dan perkataan Allâh adalah perkataan yang paling benar dan paling baik dibandingkan perkataan makhluk-Nya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allâh? [An-Nisa’/4: 87]

Kalau demikian, maka bagaimana perkataan Allâh dan RasulNya diingkari?[2]

TAKYIF
Takyîf artinya menceritakan bentuk sifat Allâh Azza wa Jalla . Seperti perkataan orang, “Bentuk tangan Allâh adalah demikian” atau saat menjelaskan tentang Allâh Azza wa Jalla itu turun, “Cara turun Allâh ke langit dunia adalah demikian”. Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Takyîf ini adalah usaha yang dilakukan untuk menggambarkan hakekat sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Perbuatan ini tidak benar, karena akal manusia tidak mungkin memahami hakekat sifat Allâh dengan sempurna, yang dipahami hanyalah makna sifat, hanya Allâh yang mengetahui hakekat dari sifat-sifat-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamât, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyâbihât untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allâh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [Ali ‘Imrân/3: 7]

Ayat yang muhkamât ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan mutasyâbihât yaitu ayat-ayat mutasyâbihât yaitu ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allâh Azza wa Jalla yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang perkara-perkara ghaib, misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla termasuk perkara ghaib, maka yang mengetahui hakekatnya hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala , sehingga manusia tidak boleh menggambarkan hakekat sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Jika ada orang bertanya:

  1. Bagaimana cara Allâh istiwa’ (berada) di atas arsy?
  2. Bagaimana bentuk wajah Allâh?
  3. Bagaimana bentuk tangan Allâh?
  4. Bagaimana cara Allâh berbicara?

Dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis, maka tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Karena semua yang ditanyakan di atas termasuk perkara ghaib yang tidak mungkin diketahui kecuali oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ 

dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allâh melainkan apa yang dikehendaki-Nya. [Al-Baqarah/2:255][3]

TAMTSIL
Tamtsîl (tasybîh) artinya menyerupakan sifat Allâh Azza wa Jalla dengan sifat makhluk. Seperti mengatakan, “Tangan Allâh seperti tangan manusia”, Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Banyak nash yang menolak keserupaan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya yang dengan tegas menyatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak sama dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, kita wajib menetapkan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syûra/42: 11]

 Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. [Al-Ikhlâs/112: 4]

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ  إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh. Sesungguhnya Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [An-Nahl/16: 74]

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ  هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? [Maryam/19: 65]

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu mengetahui. [Al-Baqarah/2: 22]

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa tidak ada apapun atau siapapun yang menyamai Allâh Azza wa Jalla , baik pada dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya atau perbuatan-Nya.

TAWFIDH
Tafwîdh secara bahasa artinya menyerahkan.  Tafwîdh ada dua:

1. Tafwîdhul kaif
yaitu  menyerahkan hakekat sifat kepada Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah jalan Ahlus Sunnah. Ini adalah tafwîdh yang terpuji, sebagaimana telah masyhur perkataan imam Malik rahimahullah :

الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Istiwa’ (berada di atas) maknanya telah diketahui, kaifiyahnya (hakekatnya) tidak bisa dinalar, beriman kepadanya merupakan kewajiban, dan bertanya tentangnya merupakan bid’ah.[4]

Perkataan “Istiwa’ (berada di atas) maknanya telah diketahui”, ini menunjukkan keimanan dan penetapan sifat Allâh Azza wa Jalla .

Perkataan “kaifiyahnya (hakekatnya) tidak dapat dinalar”, ini menolak tamtsîl (menyamakan sifat Allâh dengan makhluk), dan menyerahkan hakekat sifat Allâh kepada-Nya. Ini tafwidh yang terpuji.

2. Tafwîdhul makna
Yaitu  menyerahkan makna sifat kepada Allâh Azza wa Jalla dan menganggap bahwa yang mengetahui makna sifat Allâh Azza wa Jalla hanya Allâh. Sehingga orang yang berpemahaman tafwîdh ini tidak menetapkan adanya sifat bagi Allâh Azza wa Jalla .

Sebagian orang menyangka bahwa jalan Salaf adalah tafwîdhul makna. Ini tidak benar. Barangsiapa menisbatkan tafwîdh ini kepada Salaf, maka hakekatnya adalah tajhîl (menisbatkan kebodohan) kepada Salaf. Ini merupakan perkara yang sangat serius.

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang menyelisihi jalan Muhajirin dan Anshâr adalah ahlut tajhîl. Beliau rahimahullah menyatakan, “Ahlut tajhîl banyak berasal dari kalangan orang-orang yang menisbatkan kepada Sunnah dan mengikuti Salaf. Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat yang diturunkan oleh Allâh kepada Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam , Jibril juga tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat itu, juga orang-orang yang pertama-tama masuk Islam juga tidak mengetahuinya’. Perkataan mereka terhadap hadits-hadits sifat juga seperti itu, “Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui maknanya selain Allâh”. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam yang membicarakan pertama kali, maka berdasarkan perkataan mereka, Nabi Shallallahu ‘aliahi wa sallam telah berbicara dengan perkataan yang beliau tidak mengetahui maknanya!”[5]

Oleh karena itu Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Mereka keliru dalam menisbatkan kebodohan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam dan Salaf”.[6]

Sesungguhnya para Sahabat Nabi memahami makna ayat-ayat al-Qur’an yang memberitakan tentang sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Makna ayat itu diketahui dengan gamblang, karena al-Qur’an adalah perkataan Allâh dengan bahasa Arab yang fashîh (jelas maknanya), orang yang mendengarnya bisa memahaminya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ

Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? [Fushshilat/41: 44]

Allâh tidak berbicara kepada kita dengan perkataan yang tidak bisa diPahami, bahkan perkataan merupakan petunjuk dan penjelasan segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia. Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak memahami makna-makna Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisa’/4: 82]

Setelah kita memahami jalan Ahlus Sunnah dan jalan-jalan yang menyimpang, maka semoga Allâh selalu mengokohkan kita di atas jalan kebenaran dan menyelamatkan kita dari jalan-jalan kesesatan. Aamiin.

(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 96-100, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kitab at-Tauhîd, 1/78-79, karya imam Ibnu Khuzaimah
[2] Lihat Syarah al-Aqîdah al-Wâsithiyah, hlm. 18, Syaikh al-Barrak
[3] Lihat Syarah al-Aqîdah al-Wâsithiyah, 2/8, Syaikh Khalid al-Mushlih
[4] Lihat Majmû’ Fatâwâ, 5/41, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
[5] Majmû’ Fatâwâ, 5/34
[6] Majmû’ Fatâwâ, 5/38

Akidah Harus Dipahami Sesuai Dengan Zahir Nash

AKIDAH HARUS DIPAHAMI SESUAI DENGAN ZAHIR NASH

Dalam sebuah buku berbahasa Indonesia, pernah disebut suatu syubhat yang menyesatkan orang awam yang tidak kritis. Penulisnya membawakan sebuah cerita tentang seorang syaikh berjenggot di Arab Saudi yang dalam memahami nash, serba kaku dan suka ngotot karena hanya berpegang pada zahirnya nash. Bahkan digambarkan, bahwa syaikh ini suka marah jika pendapatnya ditentang. Kebetulan, ia seorang buta.

Suatu ketika, datanglah seseorang kepadanya seraya membawakan sebuah ayat :

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Secara sepintas, arti ayat di atas adalah: Barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat kelak iapun akan buta. [al-Isra’/17:72].

Jika ia tetap memahami ayat ini menurut zahirnya, maka ia harus menerima kenyataan bahwa iapun akan buta nanti di akhirat, karena sekarang di dunia ia dalam keadaan buta. Maka terbungkamlah syaikh tersebut ketika di hadapkan pada ayat ini. Maksud penulis kisah di atas adalah untuk menjelaskan benarnya tindakan ta’wil (baca: tahrîf/merubah makna) terhadap makna ayat-ayat sifat Allâh Azza wa Jalla , dan menjelaskan batilnya pemahaman ayat-ayat sifat berdasarkan zahirnya.

Kesan sekilas yang tertangkap dari cerita di atas, apalagi jika dirangkaikan dengan tulisan sebelum dan sesudahnya, bahwa itulah gambaran tentang syaikh Salafi yang selalu berpegang pada zahirnya nash; pemarah, kasar, suka mempertahankan pendapatnya secara membabi buta, tetapi bodoh.

Dialektika semacam ini, merupakan hal lumrah bagi pengikut hawa nafsu untuk mempertahankan prinsipnya dan mengalahkan lawannya. Yang perlu dikritisi, sebelum memasuki persoalan sebenarnya yaitu persoalan memahami nash berdasarkan zahirnya, adalah sejauh mana kebenaran cerita itu. Tidak ada bukti, tidak ada data dan tidak ada sanad.

Barangkali, cerita itu sesungguhnya tidak ada, karena hanya cerita imajiner, dengan kata lain fiktif. Andaikatapun benar, mungkin syaikh yang dimaksud adalah orang tua buta biasa yang berjenggot, namun memiliki komitmen tinggi terhadap ajaran Islam yang benar, karena lingkungan telah membentuknya dengan taufiq Allâh Azza wa Jalla. Sehingga dengan keluguan orang desa, beliau mempertahankan keyakinannya. Sayangnya ia tidak memiliki cukup ilmu, sehingga manakala dipaparkan ayat di atas, ia tidak siap menjawab, karena ia bukan Ulama, hanya orang tua biasa.

Perlu difahami, di Arab Saudi, orang tua berjenggot seperti itu sering dipanggil syaikh. Bahkan zaman dahulu, pengusaha yang menampung jama’ah hajipun disebut syaikh, meskipun tidak berjenggot. Sekali lagi, itu jika kisah di atas sungguh-sungguh terjadi. Dan sekali lagi, sangat mungkin itu hanya cerita imajiner. Bagi para pengikut hawa nafsu, yang penting menang dalam mempertahankankan kesalahannya.

Sebenarnya jika orang buta yang diceritakan dalam kasus di atas adalah seorang penuntut ilmu syar’i (tidak perlu seorang syaikh yang sangat ‘alîm), tentu ia akan mampu memberikan jawaban.

Pertama, ayat itu terkait dengan sifat manusia, bukan sifat Allâh Azza wa Jalla. Dan manusia dengan sifat-sifatnya bukan termasuk hal ghaib, kecuali yang dialami nanti di akhirat.

Kedua, nash itu tetap difahami menurut zahirnya, dan tidak perlu merubah maknanya. Hanya saja orang perlu memahami pengertian zahirnya nash.

Arti Zahirnya Nash
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah menjelaskan pengertian zahirnya nash kurang lebih sebagai berikut:

Pengertian zahir nash ialah suatu nash yang maknanya langsung bisa difahami oleh fikiran seseorang, dan itu berbeda-beda maknanya menurut siyâq (alur masing-masing kalimat), dan menurut apa yang suatu perkataan disandarkan kepadanya.

Sebuah kata-kata yang sama, mungkin memiliki makna tertentu dalam sebuah alur. Tetapi memiliki makna yang lain dalam alur yang lain. Demikian pula, susunan suatu kalimat bisa jadi memiliki makna tertentu dalam sebuah konteks, tetapi mungkin memiliki makna yang lain dalam konteks yang lain.

Sebagai misal, kata-kata qaryah, makna asalnya adalah kampung. Ia kadang bisa berarti penghuni suatu kampung, dan kadang bisa berarti kampung itu sendiri yang menjadi tempat tinggal sekelompok orang. Tergatung konteksnya.

Contoh kata “qaryah” yang berarti penghuni suatu kampung, ialah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا

Tidak ada penduduk suatu negeripun yang durhaka, kecuali Kami akan membinasakannya sebelum hari Kiamat, atau Kami azab (penduduk negeri itu) dengan azab yang sangat keras. [al-Isrâ/17:58]

Dari ayat ini seseorang langsung bisa memahami bahwa maksud kata”qaryah” yang dibinasakan atau diazab di sini adalah penghuninya, bukan kampungnya.

Sedangkan contoh kata “qaryah” yang berarti kampung tempat tinggal sekelompok orang, ialah firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ

Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini. [al-‘Ankabût/29:31]

Dari ayat ini seseorang langsung bisa memahami bahwa maksud kata”qaryah” di sini adalah tempat tinggal dari para penghuninya.

Contoh lain ialah ketika seorang manusia berkata (dengan bahasa Arab):

صَنَعْتُ هَذَا بِيَدَيَّ

Saya buat hal ini dengan dua tanganku.

Hakikat tangan dalam perkataan seseorang ini berbeda dengan hakikat Tangan yang disebut dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikut ini :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

Allâh berfirman:” Wahai Iblis, apa yang mengahalangimu hingga engkau tidak mau bersujud kepada (Adam) yang telah Aku ciptakan dengan dua tangan-Ku”. [Shâd/38: 75).

Mengapa hakikat dari masing-masing dua tangan itu berbeda? Sebab dalam perkataan yang pertama, kata-kata “dua tangan“, disandarkan kepada manusia, sehingga dua tangan itu adalah dua tangan milik makhluk yang serba lemah, cocok dengan kelemahan makhluk. Sedangkan “dua tangan” yang disebut dalam ayat, Surat Shâd: 75 tersebut, disandarkan kepada Allâh. Artinya dua tangan itu adalah milik Allâh Azza wa Jalla yang pasti sesuai dengan keluhuran dan keagungan Allâh Azza wa Jalla. Tidak ada seorangpun yang sehat akal dan sehat fitrah akan mengatakan atau meyakini bahwa tangan Allâh seperti tangan makhluk.

Contoh lainnya lagi adalah dua susunan kalimat, yang masing-masing terdiri dari unsur kata-kata yang sama persis. Tetapi berbeda maknanya karena letak dari unsur kata-kata pada masing-masing susunan kalimat, urut-urutannya berbeda.

Misalnya ketika seseorang mengatakan:

مَا عِنْدَكَ إِلاَّ زَيْدٌ

Sementara seseorang yang lain mengatakan:

مَا زَيْدٌ إِلاَّ عِنْدَكَ

Dari dua perkataan yang diucapkan oleh dua orang di atas, masing-masing memiliki unsur kata-kata yang sama persis seperti pada perkataan lainnya. Pada masing-masing terdapat (مَا), terdapat, (زَيْد ) terdapat, (إِلاَّ), dan terdapat, (عِنْدَكَ).

Tetapi karena susunan yang berbeda, maka maknanya pun menjadi berbeda. Pada susunan kalimat yang pertama, artinya: Di tempatmu tidak ada siapapun kecuali Zaid. Sedangkan pada susunan kalimat yang kedua, artinya: Zaid tidak berada di manapun kecuali di tempatmu.[1]

Dengan demikian, bukankah susunan kalimat dan konteks kalimat bisa merubah makna secara keseluruhan? Nah perubahan makna yang disebabkan oleh susunan kalimat atau disebabkan oleh konteks kalimat tersebut, apakah berarti menyimpang dari zahirnya perkataan? Apakah tidak sesuai dengan zahirnya? Begitu pula penyandaran suatu kalimat kepada sesuatu, juga akan merubah hakikat sesuatu, meskipun memiliki ma’na yang serupa, tetapi dengan hakikat yang berbeda.

Apa Pengertian A’mâ (أَعْمَى) Dalam Surat Al-Isrâ Ayat 72?
Terkait dengan ayat 72 Surat al-Isrâ yang dijadikan gagasan bagi lahirnya kisah imajiner oleh penggagasnya di awal tulisan ini, akan dikemukakan beberapa keterangan ahli tentang itu, apakah di dalamnya terdapat tahrîf (pengubahan maKna dari yang zahir kepada yang tidak zahir, yang mereka namakan sebagai ta’wil)? Ataukah tetap pada maKna zahirnya?

Ibu Manzhûr dalam Lisan al-‘Arab[2], materi kata: عمى antara lain membawakan perkataan al-Farrâ tentang firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat kelak ia akan lebih buta (lagi) dan lebih tersesat dari jalan yang benar. [al-Isrâ/17:72]

Al- Farrâ mengatakan: “Yakni, (barangsiapa yang buta hatinya) terahadap kenikmatan-kenikmatan dunia yang telah Kami berikan kepada kalian, maka ia terhadap kenikmatan-kenikmatan akhirat akan lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan yang benar”.

Lalu Ibnu Manzhûr menyebutkan penjelasan al-Farrâ kaitannya dengan orang Arab ketika menggunakan fi’il tafdhîl (kata kerja yang menunjukkan lebih atau paling) termasuk kata a’maa (أَعْمَى) yang berbentuk tafdhil.

Beliau mengatakan:
Fi’il tafdhîl dalam kata ‘amâ (عمى) diperbolehkan (menjadi a’mâ), karena yang dimaksudkan bukan buta kedua mata, tetapi yang dimaksudkan -wallâhu a’lam- adalah buta hati. Sehingga diungkapkan kata-kata “fulân a’mâ min fulân fil-qalbi (fulan yang satu lebih buta hatinya daripada fulan yang lain). Tetapi tidak bisa dikatakan: huwa a’mâ minhu fil ‘a-inain (ia lebih buta matanya dari pada yang lain).

Maksudnya, kata a’mâ pada ayat di atas adalah fi’il tafdhîl, yang itu berarti menunjukkan buta hati, sebab tidak mungkin menurut al-Farrâ, buta mata diungkapkan dengan fi’il tafdhîl. Karena itu, kata a’mâ pada ayat di atas berarti buta hati. Jadi kata a’mâ tidak mutlak berarti buta mata. Apalagi siyâq dalam ayat di atas secara zahir menunjukkan bahwa maknanya adalah buta hati dan bukan buta mata. Orang yang buta matanya belum tentu buta hatinya. Sebaliknya orang yang buta hatinya belum tentu buta matanya”.

Apa yang dikemukakan oleh Ibnu Manzhûr di atas adalah salah satu pendapat ahli tentangnya. Menurut para ulama mufassir yang lain, makna ayat tersebut juga berkisar pada buta mata.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah membawakan perkataan Ibnu ‘Abbâs, Mujâhid, Qatâdah dan Ibnu Zaid sebagai berikut :

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ

Adalah, barangsiapa yang buta hatinya dalam kehidupan dunia ini.

Penafsiran itu bukan berarti menyimpang dari zahirnya. Apalagi jika seseorang kemudian memperhatikan firman Allâh :

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Sesungguhnya, bukan mata itu yang buta, akan tetapi hati yang ada di dalam dadalah yang buta. [al-Hajj22/:46].

Dengan demikian, sekali lagi, sesungguhnya Surat al- Isrâ/17 ayat 72 di atas, jika pengertiannya dibawa kepada makna “barangsiapa yang buta hatinya di dunia, tidak dapat melihat kebenaran serta nikmat-nikmat Allâh, maka dia di akhirat pun akan buta, tidak akan dapat melihat sinar yang membimbingnya menuju surga“, maka ini adalah pengertian zahir. Bukan pengertian “ta’wîl” yang maknanya diselewengkan dari zahirnya. Wallâhu A’lam.

Intinya, kata ‘amâ dan a’mâ bisa berarti buta mata dan buta hati, tergantung siyâq (alur kata) atau qarînah (petunjuk/alasan tertentu). Maka ayat tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksa orang untuk memaknai ayat-ayat sifat Allâh dengan ta’wil yang mengubah ma’na sesungguhnya.

Wallâhu al-Muwaffiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1433H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Lihat al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî Shifâtillâhi wa Asmâ-ihi al-Husnâ, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, tahqîq wa takhrîj: Asyraf bin ‘Abdul Maqshûd bin ‘Abdur Rahîm, Maktabah as-Sunnah, Kairo, Cet. I, 1411H/1990M, hlm. 45, Qâ’idah ar-Râbi’ah min Qawâ’id fî Adillati al-Asmâ’ wash-Shifât.
[2] Lisan al-‘Arab, IX/409.

Keistimewaan-keistimewaan Akidah Islam

KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN AKIDAH ISLAM

Yang dimaksud dengan keistimewaan yaitu sifat baik yang dimiliki oleh sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Keistimewaan akidah Islam banyak sekali, kami akan mencukupkan dengan menyebutkan tiga perkara di antaranya, yaitu:

Akidah Islam Adalah Akidah Tentang Perkara Ghaib.
Perkara ghaib adalah perkara yang tidak terjangkau oleh indra, sehingga tidak bisa dicapai oleh panca indra: pendengaran, penglihatan, sentuhan, penciuman, dan pengecap. Sehingga seluruh perkara akidah yang wajib diyakini adalah perkara ghaib. Seperti iman kepada Allâh Azza wa Jalla , para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, takdir, siksa kubur dan nikmat kubur, dan lainnya, yang berdasarkan keterangan di dalam kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang beriman kepada perkara ghaib di permulaan surat al-Baqarah dengan firman-Nya:

الم ﴿١﴾ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif laam miin. Kitab (al-Qur’ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib. [Al-Baqarah/2:1-3]

Akidah Islam Adalah Akidah Yang Komplit
Kelengkapan akidah Islam terlihat jelas dalam tiga perkara sebagai berikut:

Pertama: Ibadah adalah istilah yang meliputi semua perkara yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan diridhai-Nya, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin. Sehingga ibadah itu mencakup ibadah-ibadah hati, seperti: mencintai (Allâh), takut (kepada siksa Allâh), berharap (kepada rahmat Allâh), tawakkal (kepada Allâh); Dan mencakup ibadah- ibadah perkataan, seperti dzikir, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan membaca al-Qur’ân; Serta mencakup ibadah-ibadah perbuatan, seperti shalat, puasa, haji, juga mencakup ibadah-ibadah harta, seperti zakat dan shadaqah tathawwu’ (sunat). Juga mencakup syai’at semuanya. Karena jika seorang hamba menjauhi semua perkara yang diharamkan dan melaksanakan kewajiban, hal-hal yang dianjurkan, dan perkara-perkara yang mubah, untuk mencari wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala , perbuatannya itu menjadi ibadah yang diberi pahala.

Kedua : Akidah mencakup hubungan hamba dengan Rabbnya juga hubungannya dengan sesama manusia.

Ketiga : Akidah mencakup keadaan manusia dalam kehidupan dunia, kehidupan di alam kubur, dan kehidupan di akhirat.

Oleh karena itu, bagi orang yang beriman, mengikuti wahyu, al-Kitab dan as-Sunnah itu sudah cukup. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [An-Nahl/16: 89]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini, “Sesungguhnya al-Qur’an memuat segala ilmu yang bermanfaat, memuat berita yang telah terjadi dan ilmu yang akan terjadi, dan memuat segala yang halal dan yang haram, dan segala yang dibutuhkan oleh manusia dalam urusan dunia, agama, kehidupan, dan akhirat mereka. Dan petunjuk terhadap hati, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.[1]

Karena memang petunjuk al-Qur’ân dan as-Sunnah telah lengkap, agama ini telah sempurna, maka merupakan keharusan, bahkan kewajiban untuk mencukupkan diri dengan agama ini, tanpa mengikuti selainnya.

Dan sesungguhnya berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah merupakan jaminan dari kesesatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: kitab Allâh dan Sunnah rasul-Nya.[2]

Akidah Islam Adalah Akidah Tauqîfiyyah (Hanya Mengikuti Dalil)
Akidah Islam hanya berdasarkan kitab Allâh Azza wa Jalla (al-Qur’ân) dan riwayat yang shahih dari Sunnah Rasûlullâh Muhammad bin ‘Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga akidah bukan tempat bagi ijtihad (fikiran; akal) karena sumbernya tauqîfiyah (mengikuti dalil).

Hal itu dikarenakan akidah yang shahih harus dilandasi keyakinan, sehingga sumbernya harus pasti kebenarannya. Dan ini tidak didapati kecuali dalam kitab Allâh (al-Qur’ân) dan riwayat yang shahih dari Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Berdasarkan ini maka semua sumber-sumber yang kebenaran tidak pasti, seperti qiyas dan akal manusia tidak boleh dijadikan sumber akidah. Barangsiapa menjadikannya sebagai sumber akidah maka dia telah menjauhi kebenaran, dan menjadikan akidah sebagai ruang ijtihad (fikiran) yang terkadang salah dan terkadang benar.

Oleh karena itu ahli kalam, seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Asya’irah, menjadi sesat ketika mereka menjadikan akal sebagai salah satu sumber akidah. Mereka mendahulukan akal  daripada nash-nash syari’at, sehingga di kalangan mereka, al-Qur’ân dan as-Sunnah hanya mengikuti akal manusia. Ini merupakan penyimpangan dari jalan yang lurus, meremehkan kitab Allâh (al-Qur’an) dan as-Sunnah,  dan mempermainkan akidah Islam, karena  mereka menjadikannya tunduk kepada fikiran manusia dan ijtihad akal. Yang benar adalah akal mendukung nash-nash syari’at, akal yang sharih (sehat) mendukung nash yang shahih (benar), dan tidak menentangnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ahlul bid’ah, mereka adalah ahlu ahwa’ dan syubuhat. Mereka mengikuti persangkaan dan apa-apa yang disukai oleh hawa-nafsu. Padahal telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Setiap kelompok dari ahlul bid’ah telah membuat sendiri kaedah agama untuk dirinya.

Kemungkinan dengan fikirannya dan perbandingan (logika) nya, yang dia namakan perkara-perkara yang ditetapkan akal.

Kemungkinan dengan perasaannya dan hawa-nafsunya, yang dia namakan perkara-perkara yang ditetapkan perasaan.

Dan kemungkinan dengan apa yang dia tafsirkan dari al-Qur’ân dan dia rubah-rubah kalimat-kalimat al-Qur’an dari tempat-tempatnya. Dan dia mengatakan bahwa dia semata-mata mengikuti al-Qur’ân, sebagaimana kelompok Khawarij.

Dan kemungkinan dengan apa yang dia anggap sebagai hadits atau sunnah, padahal dusta atau lemah. Sebagaimana disangka oleh kelompok Râfidhah yang berupa nash dan ayat-ayat. Dan kebanyakna orang yang telah membuat-buat agama dengan fikirannya, atau perasaannya, dia berargumen dengan al-Qur’ân dengan apa yang dia tafsirkan dengan penafsiran yang  tidak benar. Dia menjadikan al-Qur’ân sebagai argumen, tidak menjadikan sebagai dasar/pegangan, tetapi dasarnya yang sebenarnya adalah fikirannya, seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dalam  masalah sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allâh”.[3]

Adapun anggapan kaum Mu’athillah (orang-orang yang meniadakan kandungan nash syari’at) dan kaum Muawwillah (orang-orang yang menyelewengkan kandungan nash syari’at) bahwa ada kontradiksi antara akal dengan syari’at, maka itu disebabkan oleh kedangkalan akal manusia. Oleh karena itu, sesuatu yang dianggap kontradiski seseorang, namun itu tidak dianggap kontradiksi oleh yang lain.

Berdasarkan hal ini maka sesungguhnya akal itu mendukung nash-nash syari’at dalam bab akidah dan bab-bab lainnya. Namun akal bukan sebagai sumber yang berdiri sendiri untuk akidah. Sehingga akal sendirian tidak boleh memikirkan tentang perkara-perkara ghaib, dan tentang perkara-perkara yang akal tidak mengetahui ilmunya. Dan ilmu manusia tidak akan meliputi tentang Allâh Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. [Thaha/20: 110]

Semoga tulisan ringkas ini mengingatkan umat Islam untuk kembali kepada sumber agama mereka yang haq, dan meninggalkan berbagai penyimpangan yang ada.

Wallâhul-Musta’an.

(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 16-19, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir surat an-Nahl, ayat ke- 98
[2] Hadits Shahih Lighairihi. Riwayat Mâlik dan lainnya
[3] An-Nubuwat, hlm. 129

Akidah Islam, Akidah yang Kokoh dan Bebas dari Perubahan

AKIDAH ISLAM, AKIDAH YANG KOKOH DAN BEBAS DARI PERUBAHAN

Oleh
Syaikh Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Akidah Islam yang suci yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah memiliki kedudukan tinggi lagi agung dalam agama. Bahkan kedudukannya dalam Islam serupa dengan pondasi dari bangunan, kalbu bagi tubuh dan pokok batang dari pohon.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allâh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. [Ibrâhîm/14:24].

Demikianlah keadaan sebuah Akidah, merupakan perkara yang agung dan berkedudukan tinggi. Posisinya kokoh menancap dalam jiwa pemiliknya dan terpendam pada kalbu insan-insan yang meyakininya. Mereka beraktifitas atas dasar Akidah tersebut, dan bersandar kepadanya serta berlomba-lomba karenanya. Statusnya amat tinggi dalam jiwa mereka dan kedudukannya juga tinggi dalam kalbu mereka, sehingga Akidah tersebut tertanam kuat dalam hati mereka dan mantap dalam jiwa-jiwa mereka. Kemudian menghasilkan keshalihan dalam kepribadian, istiqamah dalam jalan hidup dan kesempurnaan dalam amalan-amalan, terbiasa di atas ketaatan dan ibadah serta komitmen dengan perintah Allâh Azza wa Jalla .

Semakin dalam Akidah ini tertancap dalam jiwa mereka dan kian kuat terpendam dalam hati sanubari mereka, maka hal itu menjadi pendorong mereka melakukan segala kebaikan dan penolong bagi mereka meraih segala kesuksesan, keshalihan dan istiqamah.

Bertolak dari sini, amat besarlah perhatian mereka terhadap perkara Akidah dan semakin bertambah atensi mereka kepadanya yang mengalahkan perhatian dan fokus mereka terhadap perkara lainnya. Sebab, Akidah dalam perspektif mereka lebih penting dari makanan, minuman dan pakaian serta urusan yang lainnya; karena Akidah adalah hakekat kehidupan hati mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. [al-Anfâl/8:24]

Jadilah Akidah itu hakekat kehidupan hati mereka, asas pondasi pertumbuhan amalan mereka, keistiqamahan budi pekerti mereka, serta baiknya manhaj dan jalan hidup mereka. Oleh karenanya, perhatian mereka sangat besar terhadap Akidah tersebut, baik dalam bentuk mengetahui dan meyakininya, dan hal-hal lain yang menyertainya berupa kesungguhan, kegigihan, istiqamah dan menjaga ketaatan kepada Allâh Tabâraka wa Ta’âla.

Sungguh, Akidah Islam yang shahih, suci dan bersih ini merupakan perkara terpenting dan kewajiban paling urgens. Dan perhatian terhadap Akidah Islam seharusnya lebih didahulukan dari semua perhatian dan kepentingan. Ketika kita memperhatikan sejarah hidup generasi Salaf kita yang terpilih, kita melihat perhatian yang sangat besar dari mereka terhadap urusan Akidah Islam, dan sesungguhnya mereka mendahulukan perkara Akidah Islam dalam perhatian dan penjagaan di atas seluruh perkara, sehingga Akidah menjadi misi, tujuan dan target tertinggi mereka.

Perhatian mereka beraneka ragam, diwujudkan dalam banyak media dan usaha-usaha yang bervariasi. Di antara perhatian mereka terhadap Akidah yang termasuk faktor penyebab keterpeliharaan, kekokohan dan kelanggengan Akidah ini adalah karya-karya tulis mereka yang bermanfaat dalam bidang Akidah dan kitab-kitab bagus yang menetapkan, menjelaskan dan menyampaikan bukti-bukti petunjuk dan dalil-dalil Akidah tersebut. Dan kitab-kitab itu juga membela Akidah Islam dari makar para pelaku tipudaya, pelanggaran orang-orang yang melakukan tindakan melampaui batas, penolakan manusia-manusia yang menampik Akidah, dan tahrif yang dilakukan para penyimpang serta hal-hal lain yang sejenis yang merusak sekitarnya dan mengancamnya.

Dalam bidang yang agung ini, generasi Salaf melakukan usaha-usaha luar biasa dan langkah-langkah besar sebagai bentuk khidmat kepada Akidah Islam dan membelanya serta sebagai bentuk memenuhi kewajiban agung terhadap Akidah Islam.

Mereka menulis tentang Akidah ratusan kitab sebagai media penjelasan, penerangan dan pembuktian dan penjabaran dalil-dalilnya, bahkan mencapai ribuan, dalam bentuk tulisan yang panjang lebar dan yang ringkas, dalam bentuk kitab yang mencakup semua pembahasannya atau yang khusus membicarakan salah satu sisinya, dan dalam kitab yang mengemukakan prinsip-prinsip kebenaran atau yang membantah orang yang menyelisihi dan ragu-ragu.

Kemudian generasi setelah mereka mengambil Akidah dari generasi sebelumnya secara jelas seperti jelasnya matahari di siang hari yang terik, jelas gamblang tidak ada padanya kerancuan dan kesamaran, karena kebenaran bukti-buktinya, keotentikan dan kuatnya dalil-dalilnya, serta kejelasan dan uraiannya yang rinci.

Kemudian kaum mukmin yang berittiba’ mewarisinya secara turun- temurun dari generasi ke generasi. Setiap generasi yang datang menjaganya dengan penjagaan yang luar biasa dan menaruh perhatian kepadanya dengan atensi yang ekstra, dan kemudian menyampaikannya kepada generasi berikutnya secara utuh, tanpa ada perubahan, pergantian atau penyimpangan atau yang lainnya. Lalu datanglah generasi setelah mereka. Generasi ini memperhatikannya seperti perhatian para pendahulu mereka, sehingga Akidah tetap terjaga. Demikianlah, para generasi mewarisinya secara turun-temurun dan senantiasa akan ada segolongan dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperoleh pertolongan (dari Allâh Azza wa Jalla) di atas kebenaran, orang-orang yang mengabaikan mereka dan menentang mereka tidaklah merugikan mereka hingga datang Hari Kiamat.

Akidah yang dipegangi Ahlu Sunnah yang berkomitmen penuh dengan al-Qur`ân dan Sunnah di masa sekarang ini adalah Akidah yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Akidah yang diyakini oleh para Sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka saling menyampaikan di antara mereka dan saling mewarisinya sampai kepada zaman kita ini dalam keadaan bersih lagi murni.

Memang benar, ada banyak orang yang sesat dan menyimpang darinya. Dan mereka berpecah belah dalam berbagai aliran. Mereka mengambil jalan yang menyimpang dari jalan yang benar dan lurus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan bahwa ini akan terjadi dan pasti terjadi dalam sabda beliau:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِى تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Siapa yang hidup dari kalian setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dari perkara baru dalam agama; karena semua perkara baru adalah bid’ah dan semua kebidahan adalah kesesatan”.[1]

Beliau Shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda pada hadits yang lain:

سَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِيْ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَة

Akan berpecah umat ini menjadi tujuh puluh tiga kelompok, semuanya di Neraka kecuali satu”.[2]

Hanya satu golongan yang agamanya selamat dan manhajnya lurus serta Akidahnya benar; karena mereka mengambilnya dari sumbernya yang suci dan mata airnya yang tidak ada kekeruhan sama sekali. Mereka mengambilnya dari al-Qur`ân dan Sunnah Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bagian yang mereka peroleh dalam urusan Akidah dan seluruh urusan agamanya adalah keselamatan, ilmu, hikmah dan kejayaan. Merekalah orang yang paling berhak dan pemilik hal-hal tersebut; karena mereka mengambilnya dari sumbernya langsung yaitu kitab suci Rabb mereka dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka, sehingga Allâh Azza wa Jalla menyelamatkan mereka. Hawa nafsu tidak menyambar-nyambar mereka dan syubhat-syubhat tidak menerjang mereka. Mereka tidak cenderung untuk mengutamakan akal, pemikiran, perasaan dan dan sejenisnya untuk mencari pengetahuan Akidah yang benar. Mereka hanya bersandar kepada al-Qur`ân dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sudah jelas di sana ada banyak faktor yang menjadi penyebab kelanggengan Akidah ini dan bebasnya Akidah tersebut dari perubahan, serta kuatnya menancap di dalam jiwa-jiwa pemiliknya dengan taufiq dari Allâh Azza wa Jalla . Allâhlah Pemberi taufiq dan anugerah. Di tangan-Nya lah keutamaan yang Dia Azza wa Jalla berikan kepada semua yang dikehendaki-Nya. Allâh lah pemilik keutamaan yang agung.

Jadi taufiq dan hidayah Allâh Azza wa Jalla serta bantuan-Nya kepada mereka merupakan perkara terpenting yang mewujudkan keselamatan mereka. Dengan itulah Akidah ini menjadi kekal dalam jiwa mereka dan Allâh Azza wa Jalla sebaik-baik penjaga dan Dialah sebaik-baik Dzat yang mengasihi.

Oleh karena itu, seharusnya seorang Muslim memperkuat hubungannya dengan Allâh Azza wa Jalla dan selalu memohon kepada-Nya pertolongan, taufiq, kelurusan dan keselamatan ; karena semua urusan ada di tangan Allâh Tabâraka wa Ta’âla:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

Tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allâh. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. [Hûd /11: 88].

(Dari makalah berjudul Tsabâtu ‘Aqîdati as-Salafi wa Salâmatuha mina at-thaghayyurâti)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XVIII/1435H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Dâwûd no.4607 dan at-Tirmidzi no.2676
[2] HR. Ahmad 4/102, Abu Dâwûd no.4597 dan dishahîhklan al-Albâni dalam ash-Shahîhah 203.

Urgensi Akidah Salaf : Kokoh dan Selamat dari Perubahan

URGENSI AKIDAH SALAF : KOKOH DAN SELAMAT DARI PERUBAHAN

Oleh
Syaikh Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Segala puji bagi Allâh Rabb semesta alam. Kesudahan yang baik akan didapatkan kaum yang bertakwa. Shalawat dan salam terlimpahkan atas imam para Rasûl; yakni Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; juga atas keluarga dan para sahabat beliau.

Amma ba’du;

Sungguh, akidah Islam yang murni dan bersih yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah, memiliki kedudukan luhur dan tinggi dalam agama ini. Kedudukan akidah Islam dalam agama ini layaknya pondasi bagi suatu bangunan; seperti hati bagi tubuh; atau bagaikan akar bagi suatu pohon. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allâh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik (yakni pohon kurma), akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. [Ibrâhîm/14:24]

Inilah kedudukan akidah; sebuah kedudukan yang begitu agung, begitu tinggi dan luhur. Perkara akidah ini harus terhunjam kuat dalam jiwa para pemegangnya; terpatri dalam hati mereka. Dari asas inilah mereka bertolak; atas dasar akidah tersebutlah mereka berpedoman dan mendasarkan segala sesuatu. Karena akidah pula mereka berjuang.

Kedudukan akidah begitu agung dan tinggi dalam jiwa dan hati mereka, sehingga akidah ini menjadi kuat terhunjam dalam hati. Maka atas dasar itu, terwujudlah keshalihan dalam perilaku, istiqâmah (kelurusan) dalam manhaj, paripurna dalam amalan, bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan ibadah, dan menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla. Semakin kuat akidah ini terhunjam dan bersarang dalam hati, maka itu akan semakin mendorong mereka untuk (menunaikan) setiap kebaikan; dan akan menopang mereka dalam (mewujudkan) setiap keberuntungan, keshalihan dan keistiqamahan.

Dari sinilah kita tahu, mengapa begitu besar perhatian mereka terhadap masalah akidah. Perhatian mereka terhadapnya terus dan semakin bertambah, mereka lebih mendahulukan masalah daripada perhatian terhadap hal-hal lain. Bagi mereka masalah akidah lebih urgen daripada makan, minum, pakaian dan semua urusan mereka yang lain. Karena akidah merupakan hakikat hidupnya hati mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasûl apabila Rasûl menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. [Al-Anfâl/8:24]

Akidah adalah hidupnya hati mereka secara hakiki. Ia adalah asas dari tumbuh kembangnya amal mereka; lurusnya perilaku mereka, bagusnya manhaj dan cara hidup mereka. Karena itulah sangat besar perhatian mereka terhadap masalah akidah, baik secara keilmuan, kekuatan hati dalam meyakini, dan juga konsekuensi yang ditimbulkannya berupa kesungguhan, keistiqamahan, dan upaya menjaga ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Sesungguhnya akidah Islam yang shahih lagi murni merupakan perkara penting yang paling urgen; sekaligus kewajiban yang paling ditekankan. Perhatian terhadapnya haruslah didahulukan di atas perhatian terhadap hal lain.

Bila dihayati kehidupan kaum salaf kita yang penuh dengan kebaikan –semoga Allâh merahmati mereka, menempatkan mereka di surga, dan membalas mereka dengan balasan terbaik atas jasa mereka untuk kaum muslimin-, kita bisa melihat betapa besar dan kuatnya perhatian mereka terhadap akidah. Mereka medahulukan perhatian dalam akidah daripada segala hal lainnya. Karena akidah adalah tujuan mereka yang paling agung; puncak dari maksud yang mereka inginkan, dan target mereka yang paling mulia.

Perhatian mereka terhadap masalah akidah cukup beragam, tertuang melalui bidang yang beraneka macam dan upaya yang bervariasi. Dan di antara bentuk perhatian mereka terhadap akidah –yang mana itu merupakan di antara sebab yang menjadikan akidah ini terjaga, kokoh dan langgeng- adalah dengan menyusun karya-karya tulis yang bermanfaat tentang akidah; kitab-kitab sarat faidah yang menetapkan masalah akidah, menjelaskan, menerangkan, dan menyebutkan bukti dan dalilnya; membela akidah ini dari segala tipu daya orang-orang yang berbuat makar, dari kelancangan orang-orang yang melampaui batas, dari ta’thîlnya orang yang berbuat ta’thîl (menafikan asma’ dan sifat-sifat-Nya), dan tahrîf (penyelewengan) orang-orang yang berlebih-lebihan, dan dari segala hal yang sengaja dirangkai seputar akidah untuk dijadikan sebagai target penyelewengan. Maka Ulama salaf pun –semoga Allâh merahmati mereka- bangkit dalam arena yang begitu agung ini dengan usaha dan amalan yang besar; dalam rangka untuk bekhidmat terhadap akidah, membelanya, dan menunaikan kewajiban agung terhadapnya.

Mereka telah menulis ratusan kitab berisi keterangan dan penjelasan tentang akidah; bahkan ribuan kitab, baik yang panjang lebar maupun yang ringkas; Baik kitab yang mencakup semua pembahasan akidah, maupun yang membahas satu sisi tertentu secara khusus; Baik itu kitab yang menetapkan dasar-dasar akidah yang hak dan benar, maupun kitab berisi bantahan terhadap paham yang menyelisihi dan penuh keraguan. Kemudian para Ulama yang datang kemudian mengambil akidah dari ulama yang terdahulu dengan sangat jelas gamblang, seperti terangnya matahari di siang bolong. Yakni akidah yang terang tak ada kerancuan dan kesamaran di dalamnya; karena dalil-dalilnya yang shahih, akurat dan kuat serta jelas. Lalu kaum mukminin yang ittiba’ kepada Rasûl pun mewarisinya generasi demi generasi, abad demi abad. Setiap generasi yang datang menjaga dan memeliharanya dengan upaya yang  begitu besar. Kemudian mereka menyampaikannya kepada generasi selanjutnya sebagaimana keadaannya yang semula, tanpa ada perubahan, penggantian, penyelewengan, dan semacamnya. Lalu datanglah generasi setelah mereka, di mana mereka menaruh perhatian terhadap akidah tersebut dengan perhatian seperti yang diberikan oleh para pendahulu mereka; sehingga merekapun menjaganya seperti sedia kala. Dan demikianlah, kaum muslimin selama berabad-abad mewarisinya generasi demi generasi. Dan masih saja sekelompok dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kebenaran dengan mendapat pertolongan Allâh. Orang yang menelantarkan dan menyelisihi mereka tidak akan memberikan mudharat terhadap mereka hingga tiba hari Kiamat.

Tema yang diangkat kali ini adalah tentang kokohnya akidah ini; yakni akidah yang dipegang oleh kalangan salafus shalih –semoga Allâh merahmati mereka-. Akidah yang selamat dari perubahan sepanjang bentangan masa. Ia tetap saja selamat dan kuat. Maka akidah yang dipegang oleh ahlus sunnah yang konsisten dengan al-Kitab dan as-Sunnah pada masa ini, ia tidak lain adalah akidah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia adalah akidah yang dipegang oleh para Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan bijak dan baik; di mana mereka menukilkannya satu sama lain di antara mereka. Mereka saling mewariskannya hingga sampai pada zaman kita sekarang ini, dalam keadaan murni dan terjaga.

Memang benar ada sekelompok orang yang tersesat. Banyak di antara mereka yang menyimpang, tercerai-berai dalam berbagai jalan. Mereka telah melenceng dari jalan lurus yang benar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengisyaratkan bahwa hal seperti ini akan terjadi. Beliau bersabda:

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka peganglah oleh kalian sunnahku, dan sunnah para khulafa rasyidin yang mendapat bimbingan. Pegang eratlah ia dan gigit dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap hal yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.[1]

Dalam hadits lain beliau bersabda:

وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً

Dan umat ini akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok. Semuanya di neraka kecuali satu kelompok.[2]

Satu kelompok yang selamat agamanya, lurus manhajnya, dan benar keyakinannya. Karena mereka mengambilnya dari sumbernya yang murni, dari airnya yang tidak ternoda. Mereka mengambilnya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya -semoga shalawat dan salam tercurah baginya-. Sehingga keberuntungan yang mereka dapatkan dalam hal akidah dan semua perkara agama mereka adalah selamat (dari pemahaman menyimpang), ilmu, hikmah dan keluhuran. Dan mereka inilah yang lebih berhak dan pantas untuk mendapatkannya. Karena mereka mengambilnya dari sumber dan mata airnya; yakni Kitabullah dan sunnah Nabi mereka. Allâh menyelamatakan mereka, sehingga mereka tidak tersambar oleh hawa nafsu; tidak terseret oleh arus syubhat. Dalam rangka untuk mencari keyakinan yang shahih, mereka tidak condong pada akal, pikiran, perasaan dan emosi mereka atau yang semisalnya. Akan tetapi mereka hanyalah bersandarkan pada Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa ada beraneka sebab yang menjadi faktor pendorong untuk langgeng dan selamat serta eksisnya akidah ini dalam jiwa para pemegangnya -berkat taufiq dari Allâh Azza wa Jalla -. Allâh Azza wa Jalla sematalah Yang memberi taufiq dan memberi karunia. Dan anugerah hanya ada di tangan-Nya, di mana Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Azza wa Jalla mempunyai anugerah yang besar. Maka taufiq dari Allâh, bimbingan-Nya menuju yang benar, petunjuk dan pertolongan-Nya kepada mereka, itu adalah perkara yang paling besar di mana dengan hal tersebut keselamatan mereka benar-benar terwujud. Dan dengan sebabnya jugalah akidah ini tetap eksis dalam jiwa mereka. Dan Allâh adalah sebaik-baik yang menjaga, dan Dialah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memperkuat hubungannya dengan Allâh. Keharusan baginya untuk senantiasa meminta pertolongan, taufiq, kelurusan dan keselamatan. Karena segala perkara ada di tangan Allâh Azza wa Jalla .

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allâh. Hanya kepada Allâh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. [Hud /11:88]

Tidak diragukan, banyak sebab –setelah taufiq dan penjagaan dari Allâh- yang ada di balik kokoh, langgeng dan eksisnya akidah ini dalam jiwa para pemegangnya; yang juga menjadi sebab selamatnya para pemegang akidah ini dari perubahan, dari ketidak konsistenan dalam bersikap, dan penyelewengan. Tidak diragukan pula bahwa merupakan hal yang bermanfaat bagi seorang Muslim dalam kehidupannya, agar ia mengetahui hal-hal yang menjadi sebab kokoh dan selamatnya akidah; agar ia bisa menjaganya dalam dirinya; dan agar ia memeliharanya dengan sebaik-baiknya; dengan memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla dalam segala hal tersebut.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Daud 4607, at-Tirmidzi, 2676
[2] HR. Ahmad, 4/102, Abu Daud 4597. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah Ash-Shahîhah, no. 203

Mengapa Akidah Salaf Kokoh dan Selamat?(1)

MENGAPA AKIDAH SALAF KOKOH DAN SELAMAT?

Oleh
Syaikh Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Setelah memperhatikan perkataan para ahli ilmu mengenai masalah agung ini, bisa kita simpulkan banyak sebab yang membuat akidah ini kokoh dalam diri orang  yang memegangnya, dan membuat akidah ini terus langgeng dan selamat dari perubahan dan penyelewengan. Kami ringkaskan di sini dalam point-point berikut:

1. Para pemegang akidah ini berpegang teguh dengan Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya
Mereka berpegang teguh dengan Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya serta mengimani semua yang datang dalam Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka juga benar-benar meyakini bahwa tidak boleh meninggalkan sesuatupun dari apa yang datang dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Dan memang wajib atas setiap Muslim untuk mengimani dan membenarkan semua yang datang dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga mereka mengimani semua nash yang termuat di dalamnya, misalnya nash yang berisi berita tentang Allâh, asma’ dan sifat-Nya; para nabi-Nya, hari akhir, taqdir dan lainnya. Mereka mengimaninya, baik secara global maupun terperinci. Iman secara global terhadap semua yang Allâh Azza wa Jalla beritakan berupa perkara-perkara iman. Iman secara terperinci terhadap semua yang telah sampai ilmunya kepada mereka dalam Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allâh dan Rasûl-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu. [Al-Hujurat/49:15]

Beginilah sikap mereka terhadap semua nash al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka menerima dan mengimani semuanya. Sikap mereka adalah seperti yang dikatakan sebagian kaum salaf, “Dari Allâh Azza wa Jalla datangnya risalah; kewajiban Rasûl adalah menyampaikannya; sedangkan kewajiban kita adalah menerimanya.”

Barangsiapa yang berpegang teguh terhadap Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya, dengan berpedoman dan berlandaskan pada keduanya, maka keselamatan, istiqâmah dan jauh dari penyelewengan akan menyertainya atas izin Allâh Azza wa Jalla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Inti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan; antara petunjuk dan kesesatan, jalan kebahagiaan dan keselamatan dengan jalan kecelakaan dan kebinasaan, adalah dengan menjadikan apa yang dibawa oleh para Rasûl-Nya sebagai kebenaran yang wajib untuk diikuti. Dengannya terwujud pembeda (antara yang hak dan batil), petunjuk, ilmu dan iman. Sehingga ia percaya bahwa itulah al-haq dan kebenaran. Adapun selainnya berupa perkataan seluruh manusia, maka harus ditimbang pada kebenaran tersebut. Jika perkataan itu sesuai dengannya, maka itu benar, namun bila menyelisihinya, maka itu batil. Adapun jika tidak diketahui, apakah itu sesuai dengan kebenaran (yang datang dari Allâh dan Rasûl-Nya) atau tidak, (misalnya-red) karena ucapan tersebut masih bersifat global, sehingga tidak diketahui maksud pemilik ucapan tersebut; atau telah diketahui maksudnya, akan tetapi tidak diketahui apakah (ajaran) Rasûl membenarkannya atau tidak, maka (dalam kondisi seperti ini-red) kita harus menahan diri. Seseorang tidak boleh berbicara kecuali dengan dasar ilmu. Sedangkan ilmu adalah apa yang ditopang oleh dalil; dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[1]

Inilah inti sari jalan yang ditempuh Ahlussunnah wal Jamaah dalam masalah yang agung ini –semoga Allâh merahmati mereka-.  Mereka berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah. Dengan berpedoman seperti ini, mereka berhasil mendapatkan keselamatan dan kekokohan akidah.

Syaikhul Islam rahimahullah sering mengatakan, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari dalil, ia akan sesat jalan. Dan tidak ada dalil kecuali apa yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[2]

Ibnu Abil `Izz dalam Syarah al-`Aqîdah Ath-Thahâwiyyah berkata, “Bagaimana mungkin bisa sampai pada ilmu ushul (ilmu prinsip-prinsip agama) tanpa (berpedoman) pada apa yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[3]

Jadi, sikap Ahlussunnah yang berpedoman pada ajaran yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , merupakan sebab utama kekokohan akidah mereka. Tak ada seorangpun dari Ahlussunnah wal Jamaah –semoga Allâh merahmati mereka- yang merumuskan suatu keyakinan dari dirinya sendiri; atau mendatangkan suatu keyakinan atau agama dari pendapat, perasaan dan pikirannya. Yang biasa melakukan perbuatan seperti itu adalah para pengikut hawa nafsu. Oleh karena itu akidah para pengikut nafsu itu kropos alias tidak kokoh; dan sering terjadi ketidakkonsistenan di tengah mereka, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allâh Azza wa Jalla .

Adapun ahlussunnah, tak ada seorangpun dari mereka yang menggagas suatu keyakinan dari diri mereka sendiri. Bahkan mereka semua berpedoman dan bersandar pada Kitab Allâh Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di sini akan kami nukilkan ungkapan yang sangat indah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Keyakinan (i’tiqad dalam akidah) bukanlah dariku, bukan pula dari orang yang lebih senior dariku,[4] akan tetapi keyakinan itu  diambil dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan apa yang telah menjadi kesepakatan para salaf (pendahulu) umat ini, diambil dari Kitabullah dan dari hadits-hadits riwayat al-Bukhâri, Muslim dan lainnya; berupa hadits-hadits yang telah dikenal dan yang valid dari salaf umat ini.”[5]

Syaikhul Islam juga berkata, “Keyakinan asy-Syâfi’i rahimahullah , dan keyakinan para salaf umat ini; seperti imam Mâlik, ats-Tsauri, al-Auza’i, Ibnul Mubârak, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, yang itu juga keyakinan para masyâyikh yang menjadi panutan seperti al-Fudhail bin Iyâdh, Abu Sulaiman ad-Dârâni, Sahl bin Abdillah at-Tustari dan selain mereka; sesungguhnya tidak ada pertentangan di antara para imam tersebut dan para Ulama semisal mereka dalam hal prinsip-prinsip agama. Demikian pula Abu Hanifah rahimahullah . Sesungguhnya keyakinan yang valid dari Abu Hanifah dalam masalah tauhid, takdir dan semacamnya, sesuai dengan keyakinan para ulama tersebut. Dan keyakinan para ulama tersebut, itulah keyakinan yang dipegang oleh kalangan sahabat dan tabiin yang mengikuti jejak sahabat dengan bijak. Dan itulah yang dikatakan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.”[6]

Jadi, ini adalah prinsip dasar pertama atau point pertama dari sebab-sebab kokohnya akidah ini dalam diri para pemegangnya; yaitu berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah. Tanpa berpedoman pada keduanya, tak ada jalan menuju kokohnya akidah. Tanpa itu, tak ada jalan menuju keselamatan dan keistiqamahan.

2. Para Ulama Salaf Meyakini Kitabullah dan as-Sunnah mengandung Akidah yang haq dan Sempurna.
Mereka meyakini bahwa keduanya mengandung akidah yang haq tak ada kekurangan sama sekali dari semua sudut pandang. Sungguh, akidah yang haq sudah sangat jelas dan tanpak terang benderang dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu

yaitu telah sempurna dalam hal akidah, ibadah dan perilaku. Lanjutan ayatnya:

وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Mâ’idah /5:3]

Telah dijelaskan dalam al-Quran dan as-Sunnah semua hal yang dibutuhkan manusia, baik yang terkait dengan masalah i’tiqad (keyakinan), ibadah, juga  mu’amalah (tata cara berinteraksi antar sesama), akhlak dan suluk. Dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Tidak ada nabi sebelumku melainkan menjadi kewajiban atasnya untuk menunjukkan kebaikan yang ia ketahui kepada umatnya, dan memberi peringatan tentang keburukan yang ia ketahui kepada mereka. [HR. Muslim]

Ketika Ahlussunnah mengimaninya secara sempurna dan mereka benar-benar merasa puas bahwa agama mereka, baik yang terkait akidah, ibadah maupun suluk; itu semua telah dijelaskan dengan sangat gamblang dalam al-Quran dan as-Sunnah, maka mereka memegang teguh itu secara konsekuen dan mereka landaskan segala sesuatunya pada apa yang datang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara sempurna. Dalam masalah ini, mereka tidak perlu merujuk kepada selain yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka tegar secara totalitas di atas Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengan ini terwujudlah bagi mereka keselamatan yang sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan semua urusan agama ini; baik dalam ushul  (pokok) maupun furu’nya (cabang-cabang); baik yang batin (amalan yang terkait hati) maupun lahiriyahnya (terkait amalan yang tampak); baik terkit ilmu maupun pengamalannya. Sungguh, prinsip ini adalah dasar dari semua prinsip ilmu dan iman. Semakin kuat seseorang berpegang dengan prinsip ini, maka semakin berhak dan layak untuk berada dalam kebenaran, baik secara keilmuan maupun penerapannya.”[7]

Yang dimaksud dengan prinsip dasar tersebut adalah berpedoman dan berlandaskan secara sempurna pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena dalam al-Quran dan as-Sunnah telah dijelaskan semua urusan agama, baik dalam bidang akidah, ibadah maupun perilaku (suluk).

Di dalam keduanya telah dijelaskan perkara-perkara rinci  yang dianggap remeh terkait adab, seperti adab buang hajat, adab bersuci, adab bermuamalah (berinteraksi antar sesama) dan yang lainnya. Jika masalah-masalah rinci yang terlihat ringan ini dijelaskan dalam al-Quran dan as-Sunnah, lalu apakah mungkin masalah terkait akidah ditinggalkan begitu saja tanpa dijelaskan?!

Ini hal yang mustahil, seperti dinyatakan oleh Imam Darul Hijrah, Mâlik rahimahullah , “Mustahil, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan untuk umat ini segala perkara termasuk masalah buang hajat, sedangkan masalah tauhid tidak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada mereka!”

Jadi, dalam al-Quran dan as-Sunnah terkandung semua kebaikan, terkandung semua petunjuk, kebenaran, baik dalam hal akidah, ibadah, muamalah maupun akhlak. Dan kadar keselamatan dan keistiqamahan yang diraih oleh seseorang tergantung pada kadar komitmennya untuk berpedoman dan berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Imam Mâlik rahimahullah , “Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka ia selamat. Dan barangsiapa meninggalkannya, pasti ia akan tenggelam.”

3. Mengembalikan Segala Perbedaan dan Perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
Di antara sebab kokohnya akidah dalam diri para pemegangnya adalah bila terjadi perselisihan atau perbedaan atau semacamnya, mereka tidak murujuk pada apapun, selain pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka yakin seyakin-yakinnya, bahwa perselisihan, perbedaan atau yang semacamnya, tidak akan bisa dipecahkan dan ditunntaskan problemnya kecuali dengan bersandarkan pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana yang Allâh firmankan:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’/4:59]

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang senantiasa berpegang atau bersandar pada kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua permasalahan yang diperselisihkan diantara manusia, maka kekokohan dan keselamatan akan selalu menyertainya, tidak terombang-ambing. Dan sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa setiap perselisihan atau perbedaan yang terjadi diantara manusia, sering tidak ada solusi dan pemecahannya kecuali dengan bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena pendapat dan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana cara pandang mereka juga sering berlawanan. Maka tidak ada cara untuk menyelesaikan perselisihan dan keluar dari pertentangan, kecuali bila semua pihak secara tulus dan rela kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini adalah salah satu sebab utama di antara sebab-sebab tegarnya ahlul haq di atas kebenaran.

4. Fitrah Mereka Terjaga
Fitrah adalah nikmat dan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah berkenan memberi anugerah kepada mereka dengan menciptakan mereka semuanya di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka dua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi. [HR. Al-Bukhâri, no. 1385]

Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah. Dan fitrah Ahlussunnah akan terus bersih, tidak berubah. Allâh Azza wa Jalla menjaga fitrah mereka sehingga tidak berubah, tidak berganti atau menyimpang. Sedangkan manusia lainnya, fitrah mereka telah terkontaminasi, telah terjamah oleh penyimpangan,  dengan kadar yang bervariasi, ada yang sedikit ada pula yang banyak.

Dalam hadits qudsi Allâh Azza wa Jalla berfirman:

خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya (dalam keadaan muslim; atau siap menerima hidayah-Nya). Dan sesungguhnya syaitan pun mendatangi mereka hingga syaitan pun menggodanya dan memalingkannya dari agama mereka.  [HR. Muslim, no. 2365]

Dan dalam al-Quran,  Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. [Az-Zukhruf /43:37]

Jadi, syaitan dan bala tentaranya memalingkan dan membelokkan manusia dari fitrah mereka.

Karena itulah, di antara sebab kokohnya akidah ini adalah berusaha sungguh-sungguh menjaga fitrah diri.  Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

(Tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar-Rûm/30:30]

Perlu diketahui, bahwa keselamatan fitrah seseorang itu terkait erat dengan selamatnya nara sumber (rujukannya). Bila pemilik fitrah yang bersih ini bersandar dan berlandaskan pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka fitrahnya pun tidak berubah. Namun bila ia menyerahkan fitrahnya pada hawa nafsu yang membinasakan, syubhat yang merusak, dan pendapat-pendapat yang menyeleweng serta merekayasa fitrah hingga jauh dari asalnya, maka fitrahnya pun akan melenceng.

5. Akal Mereka Lurus
Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang paling bagus akalnya; Pendapat, pikiran, dan manhajnya paling selamat. Mereka mempunyai akal yang unggul nan cemerlang. Mereka tidak melebih-lebihkan, tidak pula menyepelekan akal manusia, tidak seperti pengikut hawa nafsu dan bid’ah.

Di kalangan Ahlussunnah, tidak ada unsur berlebihan (ekstrim) dalam memposisikan akal mereka seperti yang tampak jelas di kalangan ahli kalam dan falsafah serta orang-orang yang setipe dengan manhaj mereka. Yaitu mereka yang menyingkirkan Kitabullah dan Sunnah, lalu secara totalitas menjadikan akal, pikiran, dan pendapatnya sebagai sandaran. Apa yang ia pandang benar menurut akalnya, maka ia akan berpegangan padanya. Adapun kalau ia pandang bertentangan dengan akalnya, iapun akan meninggalkannya, meskipun yang mengatakannya adalah Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebab yang dijadikan sebagai landasan dan pegangan menurutnya adalah apa yang disimpulkan oleh akal dan pendapat mereka.

Padahal sebagaimana telah diketahui,  bahwa akal manusia itu tidak sama. Oleh sebab itu, ketika banyak orang berpedoman pada akal, maka itu menjadi sebab maraknya berbagai penyimpangan, karena akal manusia berbeda-beda. Sebagian salaf mengatakan, “Seandainya hawa nafsu itu hanya satu, maka pasti disebut al-haq (kebenaran), akan tetapi hawa nafsu itu bermacam-macam dan beragam.” Demikian pula, kita bisa mengatakan, “Seandainya akal itu satu, maka pasti ia disebut al-haq (kebenaran), akan tetapi akal itu beragam dan bermacam-macam.”

Pengikut hawa nafsu ini lebih mengedepankan akal mereka daripada wahyu yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menjadikan akal sebagai pedoman dan landasan. Akal menjadi pegangan mereka. Dulu, salah seorang salaf pernah membuat sebagian kalangan mereka tidak berkutik, ketika dikatakan kepada mereka bahwa konsekuensi dari pendapat mereka (yang menetapkan bahwa akal mereka merupakan landasan-red) adalah mereka harus mengatakan: “Aku bersaksi bahwa akalku adalah utusan Allâh”; sebagai ganti dari ucapan: “aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allâh”. Karena yang dijadikan sebagai pegangan dan landasan olehnya adalah akalnya.

Ini salah satu sisi penyimpangan dalam akal yaitu berlebih-lebihan terhadap akal, dan mengangkat status akal melebihi kedudukannya yang semestinya. Di samping itu, ada juga penyimpangan dalam masalah akal yaitu menyepelekan dan menjauhkan peran akal. Ini banyak didapati pada kalangan ahli tasawwuf yang sesat dan tak berilmu; di mana mereka menyingkirkan akal mereka, kemudian atas nama tasawwuf, mereka masuk pada hal-hal yang mereka sebut sebagai jadzb, syathahat[8] atau junun dan semacamnya. Sehingga mereka terjatuh dalam berbagai macam penyimpangan yang begitu buruk, yang tidak bisa diterima akal sehat. Mereka bisa terperosok kedalam hal-hal tersebut karena mereka telah menyingkirkan fungsi akal secara total.

Sedangkan ahlussunnah -semoga Allâh merahmati mereka-merupakan kalangan yang berada di pertengahan. Mereka tidak melampaui batasan akal, namun juga tidak menyingkirkan dan membatalkan peran akal. Mereka menempatkan akal pada batasan dan koridor yang telah ditentukan.

Sebagaimana pendengaran manusia mempunyai batas kemampuanan yang tidak mungkin dilampaui, begitu pula dengan pandangan dan indra lainnya, termasuk akal.  Akal punya batasan tertentu. Barangsiapa berusaha untuk memaksa akalnya memasuki area di luar batas kemampuannya,  maka ia akan tersesat.

Karena itulah, akal para pengikut Ahlussunnah wal Jamaah tetap sehat dan selamat dari penyimpangan. Karena mereka memberdayagunakan akal mereka pada batasannya yang telah ditentukan, dan tidak mengabaikannya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. [Ali Imran /3: 190]

Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pikiran yang lurus dan akal yang unggul. Mereka menempatkan akal mereka pada batasan dan bidang yang semestinya, tanpa ada unsur pengultusan akal ataupun pengabaian akal, tidak berlebih-lebihan namun juga tidak menyepelekan, tanpa menambah-nambahkan ataupun mengurangi. Ini adalah perkara agung yang merupakan salah satu sebab ahlussunnah tegar di atas kebenaran.

6. Jiwa Ahlussunnah Merasa Sangat Tenteram Dengannya
Semua orang ahlussunnah merasa hatinya tenang, jiwanya tentram bahkan merasa bahagia dengan akidah yang haq yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka. Rasa tenang, tenteram dan bahagia yang dirasakan oleh Ahlussunnah tersebut tidak dirasakan oleh para pengikut hawa nafsu dan mustahil mereka bisa merasakannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’du/13:28]

Tentang perasaan yang dirasakan oleh ahlussunnah terkait akidah haq yang mereka ambil dari al-Qur’an, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab as-Shawa’iqul Mursalah, “Ketenangan dan kemantapan hati pada sesuatu tidak mungkin terwujud kecuali dengan dilandasi keyakinan (hati terhadap sesuatu itu-red), bahkan itulah (hakikat) keyakinan itu sendiri. Oleh karena itu, engkau dapati hati para Ahlussunnah sangat mantap dan tenang dengan keimanan mereka kepada Allâh, (beriman kepada) Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-nya dan perbuatan-Nya juga (beriman kepada) para Malaikat-Nya, dan hari akhir. Mereka tidak ragu dan tidak berselisih dalam masalah itu.”[9]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Ahlussunnah dan (Ahlul) Hadits, maka tidak didapati dari salah seorang Ulama mereka atau orang awam yang shaleh diantara mereka yang keluar dari akidahnya atau menarik kembali pendapatnya. Mereka adalah kelompok manusia yang paling sabar, meski ditimpa berbagai macam cobaan dan fitnah. Demikianlah kondisi para Nabi dan para pengikut mereka yang terdahulu.”[10]

Abdulhaq al-Isybiili rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah! Bahwa su’ul khatimah (akhir yang buruk) dari akidah ini–semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita darinya- tidak akan terjadi pada seseorang yang zhahir dan hatinya istiqamah. Ini tidak pernah terdengar, alhamdulillah. Su’ul khatimah hanya terjadi pada orang rusak akidahnya, terus-menerus melakukan dosa besar atau nekat melakukan  dosa-dosa besar.”[11]

Inilah diantara faktor yang menyebabkan para pengikut al-haq itu kokoh pendiriannya, jiwa dan hati mereka sangat tenang, tentram dan sangat nyaman.

Jika memang demikian keadaan hati mereka, lantas untuk apa lagi mereka harus beralih dan mencari akidah yang lain ?!!

7. Berpegang Teguh dengan Pemahaman Para as-Salafus Shalih Yaitu Para Sahabat dan Pengikut mereka
Disamping faktor-faktor yang telah disebutkan didepan, ada juga faktor lain yaitu mereka mencukupkan diri dengan pemahaman para Sahabat dan para pengikut mereka dalam memahami nash-nash dan kandungannya. Karena pemahaman manusia bisa jadi salah dan keliru, namun barangsiapa yang menggali agama dari sumber aslinya yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jiwa yang bersih, akal yang sehat dan benar-benar jujur, maka dia benar-benar berhak untuk meraih ilmu, keselamatan dan hikmah. (Mereka itulah para Sahabat-red.) Oleh karena itu, Ahlussunnah selalu berpegang teguh pada pemahaman para Sahabat dalam memahami dalil dan nash.

Imam Sijzi rahimahullah dalam kitab ar-Radd ‘ala Man Ankara al-Harf was Shaut, ketika menjelaskan sifat Ahlussunnah mengatakan, “Mereka adalah kelompok yang konsisten di atas akidah yang dinukil oleh para as-salafus shaleh dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dari para Sahabat Radhiyallahu anhum dalam hal-hal yang tidak ada nash yang jelas dari al-Qur’an dan Hadits, karena mereka adalah para imam panutan. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka.”[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kamu tidak bisa meraih derajat imam dalam ilmu dan agama seperti (derajat imam yang telah diraih oleh-red) imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, juga seperti al-Fudhail, Abu Sulaiman, Ma’ruf al-Kurkhiy, kecuali disebab mereka telah berterus terang bahwa ilmu terbaik mereka adalah ilmu karena mengikuti ilmu para Sahabat dan sebaik-baik amalan mereka adalah amalan yang mengikuti amalan para Sahabat. Mareka juga memandang bahwa para Sahabat g itu mengungguli dalam semua keutamaan.”[13]

Al-Ajurri juga dalam kitab asy-Syari’ah mengatakan, “Tanda yang menunjukkan bahwa seorang itu dikehendaki baik oleh Allâh Azza wa Jalla adalah dia menempuh jalan ini (yaitu berpegang teguh dengan-red) al-Qur’an dan Sunnah serta sunnah para Sahabat g dan a orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, serta mengikuti jejak para Ulama kaum Muslimin di setiap negeri seperti al-Auza’i, Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Syafi’i, Ahmad bin Hambal, al-Qasim bin Sallam, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Juga menjauhi semua pendapat yang dipegangi oleh para Ulama ini”[14]

Ibnu Qutaibah juga berkata, “Seandainya kita ingin pindah dari pendapat ahli hadits (Ahlussunnah) dan membencinya menuju pendapat ahli kalam, maka pasti kita pindah dari persatuan menuju perpecahan, dari kehidupan yang teratur menuju kehidupan yang terbengkalai dan dari suasana damai menuju suasana yang beringas.”[15]

Ini semua menunjukkan bahwa kekokohan itu tidak mungkin diraih kecuali dengan bersandar pada pemahaman salaf shalih secara totalitas. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An-Nisâ’/4:115]

8. Sikap Tengah-Tengah Tidak Berlebihan Dan Tidak Meremehkan
Ahlussunnah bersikap tengah-tengah tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. [Al-Baqarah/2:143]

Sikap tengah-tengah mereka maksudnya mereka senantiasa berpegang teguh dan istiqamah di atas al-haq serta menjauhi jalan-jalan menyimpang, baik yang cenderung kepada sikap berlebih-lebihan atau yang cenderung kepada sikap meremehkan. Mereka tetap tegar di jalan itu dengan sebab pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla buat mereka. Inilah diantara faktor penting kekokohan akidah mereka.

Tawassuth (sikap tengah-tengah) itu tidak akan mungkin terwujud kecuali dengan berpegang teguh dengan al-haq, tidak menambah juga tidak mengurangi. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

القَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا

Hendaklah kalian bersikap yang sedang-sedang, niscaya kalian bisa mencapai (maksud kalian). [HR. Al-Bukhari, no.6463]

(Maksudnya sikap terbaik bagi seseorang yang hendak melakukan perbuatan taat adalah sikap sedang-sedang dan bertahap agar bisa terus-menerus melakukan perbuatan tersebut, tanpa putus, tidak terlalu memaksa diri sampai akhirnya tidak mampu dan berhenti dari perbuatan taat tersebut-red[16])

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Agama Allâh itu antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bersikap tengah, lepas dari sikap orang-orang yang meremehkan (urusan agama-red), namun tidak sampai pada sikap berlebih-lebihan. Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan umat ini umat yang tengaj-tengah yaitu umat terbaik yang adil, karena berada diantara dua sikap yang tercela.[17]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Majmû` Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah, 13/135-136
[2] Lihat Miftâh Dâr As-Sa`âdah karya Ibnul Qayyim, hlm. 90
[3] Syarh al-`Aqîdah ath-Thahâwiyyah, hlm. 180
[4] Artinya bukan wewenangku untuk mendatangkan keyakinan dari diriku di mana aku menggagas dan merumuskannya. Bukan pula wewenang orang yang lebih senior dariku seperti Imam Ahmad, Asy-Syafii, Malik, dan lainnya dari kalangan para imam agama ini. Tidak ada satupun dari mereka  yang mencanangkan suatu keyakinan dari dirinya
[5] Majmû` al-Fatâwâ, 3/203
[6] Majmû` al-Fatâwâ, 5/256
[7] Majmû` al-Fatâwâ, 19/155
[8] Syathahat: ucapan ganjil yang dilontarkan kaum sufi yang kaum Mukmin merasa terusik karena seringkali bertentangan dengan prinsip akidah (-pen).
[9] Ash-Shawâ’iqul Mursalah 2/741
[10] Majmû’ Fatâwâ 4/50
[11] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam al-Jawâbul Kâfi, hlm. 198
[12] Ar-Raddu ’alâ Man Ankara al-Harfa wash Shaut, hlm. 99
[13] Syarh al-‘Aqîdatil Ashfahâniyah, hlm. 128
[14] Asy-Syarî’ah 1/301
[15] Ta’wîl Mukhtalifil Hadîts, hlm. 16
[16] Lihat syarah hadits ini dalam Fathul Bâri, 1/95
[17] Ighâtsatul Lahfân 1/201

Mengapa Akidah Salaf Kokoh dan Selamat?(2)

MENGAPA AKIDAH SALAF KOKOH DAN SELAMAT?

Oleh
Syaikh Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

9. Tidak Lebih Mendahulukan Akal dan Rasa Daripada Al-Qur’an dan Sunnah
Masalah ini sudah sedikit disinggung pada poin-poin sebelumnya. Disini kami akan membawakan perkataan Abul Muzhfir as-Sam’ani rahimahullah yang dinukil oleh at-Taimi dalam kitabnya al-Hujjah juga ibnul Qayyim rahimahullah dalam ash-Shawâ’iq. As-Sam’âni rahimahullah mengatakan, “Penyebab utama ahli hadits (Ahlussunnah) sepakat adalah karena mereka mengambil agama dari al-Qur’an dan Sunnah sehingga membuat mereka bersatu dan saling mencintai. Sementara ahli bid’ah, karena mereka mengambil agama dari akal dan logika mereka, maka itu membuat mereka saling berpecah dan berselisih. Karena penukilan dan riwayat dari orang-orang terpercaya dan ahli jarang sekali yang berbeda, jika terjadi perbedaan dalam lafazh atau kata, maka itu tidak membahayakan (tidak merusak) agama mereka. Adapun akal, perasaan dan pendapat, maka jarang sekali ada kesepakatan, bahkan akal, pendapat atau perasaan seseorang akan berbeda dengan yang lain.”[1]

Jadi, diantara faktor utama kekokohan akidah mereka adalah mereka tidak mendahulukan akal, perasaan dan pendapat mereka daripada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berbeda dengan para ahli bid’ah yang lebih mendahulukan hal-hal tersebut di atas daripada al-Qur’an dan Sunnah. Diantara mereka ada yang lebih mendahulukan akal, ada yang lebih mendahulukan pendapat, ada yang mendahulukan perasaannya, ada yang mendahulukan cerita dan mimpi dan ada pula yang lebih mendahulukan hawa nafsu daripada perintah Allâh Azza wa Jalla. Mereka berbeda-beda dan bertingkat-tingkat, masing-masing memiliki metode dan jalan. Adapun ahlussunnah, maka mereka terselamatkan dari keburukan-keburukan ini dan tetap tegar di atas Kitabullah dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

10. Sangat Bergantung Kepada Allâh Azza wa Jalla
Ahlussunnah senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allâh Azza wa Jalla , sangat kuat mengikat diri mereka dengan-Nya dan sangat bergantung kepada-Nya, karena taufiq hanya di tangan Allâh Azza wa Jalla semata. Hubungan mereka dengan Allâh Azza wa Jalla baik dan ketergantungan mereka kuta. Mereka senantiasa meminta dan memohon pertolongan kepada-Nya agar diberikan keteguhan. Mereka mengikuti contoh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak do’a Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di antara do’a Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allâh! Aku Memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dan kecukupan

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdo’a:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، وَأَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Ya Allâh! Anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwa-jiwa kami dan sucikanlah jiwa-jiwa kami,karena Engkau sebaik-baik Dzat yang bisa menyucikannya. Engkaulah walinya dan Penguasanya

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdo’a:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allâh! Perbaikilah untukku agamaku yang menjadi benteng urusanku! Perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku! Perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukan!

اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ya Allâh! Rabb bagi Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mahamengetahui hal yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah yang menetapkan keputusan diantara para hamba dalam berbagai hal yang mereka perselisihkan, berilah aku petunjuk untuk mengetahui kebenaran dalam hal-hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki untuk menuju jalan yang lurus

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Mahapembolak-balik hati! Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ

Ya Allâh! Tunjukilah kami pada jalan orang-orang yang telah beri petunjuk kepada mereka

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

Ya Allâh! Hiasilah kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai pembimbing yang senantiasa mendapatkan petunjuk.[2]

(Itulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, utusan Allâh Azza wa Jalla yang sudah pasti mendapatkan petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memohon petunjuk kepada-Nya-red). Dan para pengikut Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berusaha mengikuti jalannya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka senantiasa bersandar kepada Allâh Azza wa Jalla, memohon petunjuk, keteguhan dan taufiq. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada mereka, menolong mereka dan menjaga mereka.

Kedekatan mereka kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ini membuahkan keshalihan dalam ibadah dan keistiqamahan dalam akhlak. Oleh karena itu, diantara buah akidah yang benar itu tercermin pada amalan mereka. Ini adalah berkah, manfaat dan buah dari akidah yang benar. Begitu juga akidah yang menyimpang, dia memiliki pengaruh buruk kepada orang-orang yang meyakininya. Kerusakan akidah mereka diiringi dengan kerusakan amal dan prilaku.

Barangsiapa mengamati mereka, khususnya para tokoh kebathilan, niscaya dia akan dapati indikasi ini dengan jelas. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap amal ibadah dan akhlak. Seandainya pun didapati diantara mereka ada yang memiliki sedikit perhatian, maka sungguh perhatian ahlussunnah jauh lebih besar dibandingkan perhatian mereka.

11. Mereka Benar-benar Dengan Akidah Mereka dan Tidak Menjadikannya Bahan Perdebatan
Ini merupakan sebab yang sangat urgen agar tetap tegar di atas keyakinan yang haq yaitu menerima dan merasa puas dengan keyakinannya. Ahlussunnah itu menerima dan merasa puas secara total serta percaya penuh dengan agama dan keyakinan yang mereka pegang. Ahlussunnah tidak perlu menimbang agama dan keyakinan mereka dengan pendapat dan logika orang-orang. Berbeda dengan pengikut hawa nafsu (ahlul ahwâ’) dan bid’ah yang selalu berpindah-pindah dari satu orang ke orang lainnya  untuk bertanya dan meminta pendapat tentang ajaran yang ia pegang. Sebab ia merasa ragu, tidak yakin dan kurang nyaman dengannya.

Pengikut Ahlussunnah yakin seyakin-yakinnya. Ia tidak sudi akidahnya diperdebatkan dan diperbantahkan. Ia merasa puas dan menerima akidahnya secara total; dan sangat merasa nyaman dengannya. Karena keterikatannya dengan akidahnya adalah keterikatan dengan Kitabullâh dan Sunnah Nabi-Nya. Kitabullah yang tak ada kebathilan didalamnya dari semua sisi; dan sunnah Nabi-Nya yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ia berada pada puncak ketenangan dan puncak kepercayaan terhadap akidahnya. Sama sekali ia tidak perlu untuk menimbangnya kepada seorang ahli debat, ahli dialektika dan semacamnya. Ia berjalan di atas akidahnya dengan satu irama sejak awal hingga ujungnya, tanpa ada keraguan, keterombang-ambingan, tidak berpindah-pindah (dalam sikap dan keyakinannya), dan tanpa merasa sangsi.

Berbeda dengan keadaan orang yang berada di atas kebathilan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zukhruf /43:58]

Kita dapati mereka terombang-ambing dan ragu; mereka paparkan keyakinan yang ada pada mereka pada pendapat dan logika orang-orang.

Di sini kami nukilkan beberapa atsar dari kalangan salaf yang sangat besar faidahnya:

Hudzaifah Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Mas’ûdz , “Sesungguhnya kesesatan yang nyata adalah bila apa yang engkau ingkari engkau jadikan sebagai yang ma’rûf (bentuk kebaikan); dan apa yang engkau pandang ma’rûf justru engkau ingkari. Dan hindarilah sikap plin-plan (mudah berubah, tidak konsisten) dalam agama Allâh Azza wa Jalla . Karena sesungguhnya agama Allâh itu satu.”[3]

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai bahan untuk diperdebatkan, ia akan banyak berpindah-pindah (dalam keyakinannya).”[4]

Ia juga tberkata, “Barangsiapa banyak perbantahannya, maka ia akan senantiasa berpindah-pindah dari satu agama (faham dalam suatu keyakinan) ke agama lain (faham lainnya).”[5]

Ma’n bin Isa berkata, “Suatu hari Mâlik Radhiyallahu anhu pulang dari masjid sambil bertumpu pada tanganku, lalu ada seorang lelaki yang dikenal dengan sebutan Abul Juwairiyah menyusulnya. Ia tertuduh mempunyai pemahaman murji’ah. Ia berkata, “Wahai Abu Abdillah! Dengarlah sesuatu dariku; aku adukan argumentasiku kepadamu dan aku beritahukan pendapatku kepadamu!” Mâlik Radhiyallahu anhu menjawab, “(Bagaimana) Kalau engkau berhasil mengalahkanku (hujahku)?” Ia berkata, “Kalau aku berhasil mengalahkanmu, engkau harus mengikutiku!” Mâlik berkata, “Kalau ada orang lain yang mengajak kita berdialog (berdebat) lalu ia berhasil mengalahkan kita?” Ia berkata, “Kita ikuti dia.” Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai hamba Allâh! Allâh Azza wa Jalla mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu agama. Namun aku lihat, engkau ini berpindah-pindah dari satu (paham) agama ke paham yang lain.”[6]

Bagi mereka, urusannya akan berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain; dari satu pendapat ke pendapat lain. Inilah makna ucapan Umar bin Abdil Aziz yang tersebut sebelumnya, “Barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai bahan perbantahan, ia akan banyak berpindah-pindah.”

Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Orang itu[7] bila kedatangan sebagian ahlul ahwâ’ akan berkata, “Saya berada di atas bukti yang jelas dari Rabbku, sedangkan engkau ini orang yang ragu-ragu. Maka pergilah engkau kepada orang yang ragu-ragu seperti keadaanmu, debatlah dia!” Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Dan orang tersebut berkata, “Mereka membuat rancu diri mereka sendiri, kemudian mereka mencari orang yang bisa mengenalkan (masalah agama) kepada mereka.”[8]

Ishaq bin Isa ath-Thabbâ’ berkata, “Malik bin Anas Radhiyallahu anhu mencela perbantahan dalam urusan agama. Ia berkata: ‘Setiap kali datang kepada kita seseorang yang  lebih lihai dalam berdebat daripada orang lain, ia ingin agar kita menolak apa yang telah dibawa Jibril kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[9]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Modal seorang Mukmin adalah agamanya. Kalau modal ini hilang, maka hilang pula agamanya. Ia tidak boleh meninggalkan modal agama ini kepada orang-orang; dan tidak boleh mempercayakannya kepada orang-orang.”[10]

Beginilah keadaan ahlussunnah, tidak ada seorangpun dari mereka yang menimbang agama dan keyakinannya pada logika, hawa nafsu dan pendapat manusia. Mereka hanya berpegang dengan apa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan pemahaman para salaf umat ini.

Dzakwân rahimahullah berkata, “Al-Hasan al-Bashri melarang perdebatan dalam agama, dan ia berkata, ‘Yang melakukannya hanyalah orang yang ragu dalam agamanya.’[11]

Ahmad bin Sinân berkata, “Abu Bakr al-Ashamm datang kepada Abdurrahman bin Mahdi. Ia berkata, ‘Aku datang kepadamu untuk berdebat denganmu dalam masalah agama.” Abdurrahman menjawab, “Kalau engkau ada keraguan terhadap sesuatu dalam masalah agamamu, maka berdirilah engkau (di sini) hingga aku keluar untuk shalat. Kalau tidak, maka pergilah engkau menuju pekerjaanmu!” Maka al-Ashamm pun pergi dan tidak berdiam (di sana).”[12]

Dalam ucapan ini terkandung makna bahwa ahlussunnah disibukkan dengan kebenaran yang mereka pegang, dan disibukkan dengan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah beberapa nukilan yang berfaidah yang saya nukilkan dari kitab al-Ibânah karya Ibnu Baththah al-Ukburi rahimahullah ; yang merupakan sebuah kitab spektakuler terkait dengan tema pembahasannya. Semua nukilan dari kaum salaf ini menunjukkan kekokohan keyakinan beragama mereka, besarnya perhatian dan penjagaan mereka terhadapnya. Mereka tidak menjadikan agama ini sebagai bahan perdebatan.

Inilah di antara sebab ketegaran mereka di atas kebenaran.

12. Mereka Yakin Bahwa Masalah Akidah Adalah Masalah Yang Tetap, Tidak Terkena Perubahan Apapun
Kaum salaf yakin bahwa permasalahan i’tikad, seperti masalah iman kepada Allâh, Asma’ dan Sifat-Nya, percaya kepada hari akhir dan masalah-masalah semacamnya  yang dibawa oleh para Rasûl merupakan perkara yang tetap (konstan), yang tidak terkena naskh (penghapusan), perubahan dan semacamnya. Karena akidah bukanlah perkara yang bisa dijangkau oleh naskh, oleh karena itu ajaran para nabi dari awal hingga akhir dalam masalah akidah adalah satu. Dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأَنْبِيَاءُ إخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Para nabi adalah saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Namun agama mereka satu. [Shahîh Muslim, 4/1837]

13. Akidah Ahlussunnah itu Jelas , Mudah dan Jauh dari Kepelikan
Akidah ahlussunnah wal jamaah itu jelas sejelas matahari di siang bolong. Ini disebabkan oleh sumbernya yang juga jelas dan terang, berbeda dengan akidah selain mereka diliputi oleh berbagai macam kepelikan dan ketidakjelasan serta banyak unsur syubhat (hal yang samar-samar).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ash-Shawâ`iqul Mursalah ketika menjelaskan akidah yang hak ini, beliau mengatakan, “Ia seperti cahaya matahari bagi penglihatan, tak ada kemusykilan (kesulitan) padanya. Penyebutan secara global (ijmâl) tidak merubah sisi pendalilannya (wajhu dalâlah). Dan (makna-makna) yang dibolehkan dan juga dimungkinkan tidak bertentangan dengannya. Ia masuk dalam pendengaran tanpa memerlukan izin. Posisinya bagi logika bagaikan posisi air tawar segar bagi orang yang haus dahaga. Keutamaannya dibandingkan argumentasi ahli logika dan kalam, seperti keutamaan Allah Azza wa Jalla atas manusia. Tidak mungkin bagi seseorang untuk mencercanya dengan cercaan yang bisa menimbulkan kerancuan. Kecuali kalau sekiranya ia bisa untuk mengingkari terangnya cuaca pada pertengahan siang saat matahari terik.[13]

Jadi, orang yang hendak mencela akidah yang shahih lagi selamat ini; yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah; perumpamaannya seperti seseorang yang mendatangi orang-orang pada pertengahan siang seraya berkata: “aku ingin membuktikan kepada kalian, bahwa sekarang ini adalah waktu malam, bukan siang”. Inilah permisalan orang yang hendak menaburkan keraguan tentang keabsahan akidah yang sahih lagi selamat yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Namun masalahnya adalah seperti yang Allâh Azza wa Jalla firmankan:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [Al-Hajj /22: 46]

14. Mereka Mengambil Pelajaran Pengikut Hawa Nafsu
Ada ungkapan hikmah yang mengatakan:

السَّعِيْدُ مَنِ اتَّعَظَ بِغَيْرِهِ

Orang yang bahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain.

Para pengekor hawa nafsu yang meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah menggiring mereka pada sikap plin-plan dan penyelewengan, berpindah-pindah dan  gamang, serta jauh dari ketegaran dan kekokohan. Mereka selalu saja berpindah ke sana kemari. Saya nukilkan di sini beberapa nukilan dari para ahli ilmu tentang keadaan para pengikut hawa nafsu.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Ahlul kalam adalah orang yang paling banyak berpindah-pindah dari satu pendapat ke pendapat lainnya. Mereka sering menetapkan (benarnya) suatu pendapat di suatu tempat, namun di tempat lain juga menetapkan (benarnya) pendapat yang bertentangan dengan pernyataan pertama, sekaligus memvonis kafir orang yang berpendapat demikian. Ini adalah bukti ketidakyakinan mereka. Sesungguhnya iman itu seperti yang dikatakan Qaisar ketika ia bertanya kepada Abu Sufyan tentang orang-orang yang masuk Islam bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Qaisar bertanya, “Apakah ada salah seorang dari mereka murtad dari agamanya karena benci kepadanya setelah ia memasukinya?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.” Qaisar berkata, “Demikian pula dengan iman, bila manis indahnya telah merasuk ke dalam hati, maka tak ada seorangpun yang membencinya.”[14]

Dalam kisah ini terdapat pelajaran dan ibrah dari keadaan para pengekor hawa nafsu, yaitu mereka tidak memiliki ketegaran dan kekokohan. Mereka selamanya akan berpindah-pindah  dan dalam kegamangan.

Di antara gambaran dan penjelasan para Ulama tentang keadaan para pengikut hawa nafsu adalah ucapan Abul Muzhaffar As-Sam’âni yang dinukilkan oleh at-Taimi dan Ibnul Qayyim. As-Sam’âni berkata, “Bila engkau perhatikan ahli bid’ah, engkau akan dapati mereka bercerai-berai dan berselisih paham dalam banyak kelompok dan golongan. Hampir-hampir tidak akan engkau dapati dua orang dari mereka berada dalam satu jalan yang sama dalam masalah i’tiqad. Sebagian mereka memvonis lainnya sebagai ahli bid’ah; bahkan sampai pada taraf mengkafirkan. Anak mengkafirkan ayahnya, seseorang mengkafirkan saudaranya, dan seseorang mengkafirkan tetangganya. Engkau lihat selamanya mereka berada dalam pertikaian, saling membenci dan berselisih. Umur mereka habis sedangkan mereka tidak bisa sampai pada satu kata yang sama.”[15]

Ibrâhîm an-Nakha’i berkata, “Mereka memandang bahwa plin-plan dalam agama termasuk keraguan hati terhadap Allâh Azza wa Jalla”[16]

Malik bin Anas berkata, “Merupakan penyakit yang sangat akut: berpindah-pindah (dari satu pendapat ke pendapat lain) dalam agama.” Beliau Radhiyallahu anhu juga berkata, “Seseorang berkata, ‘Kalaulah engkau hendak bermain-main, maka janganlah engkau sekali-kali bermain-main dengan agama kamu.”[17]

Orang yang memperhatikan keadaan ahlul ahwâ’ (pengekor hawa nafsu), ia akan dapati bahwa pada hakikatnya mereka mempermainkan agama, berpindah-pindah (dari satu pendapat ke pendapat lainnya). Tak ada kekokohan pada mereka, bahkan sampai-sampai salah seorang tokoh ahli kalam –di mana dia berada dalam kebimbangan dan kegamangan- pernah ditemui oleh salah seorang terpandang dari kalangan ahlussunnah. Sang ahli kalam bertanya, “Apa keyakinanmu?” Ia menjawab, “Aku meyakini seperti apa yang diyakini oleh kaum Muslimin –artinya apa yang datang dalam Kitabullah dan Sunnah Rasûl-Nya-.”  Sang ahli kalam bertanya kembali, “Dan engkau merasa tentram dan lega hati dengan keyakinanmu?” Ia menjawab, “Ya.” Ahli kalam berkata, “Bersyukurlah kepada Allâh atas nikmat ini. Karena aku, demi Allâh, aku tidak tahu apa yang aku yakini? Demi Allâh! Aku tidak tahu apa yang aku yakini? Demi Allâh, aku tidak tahu apa yang aku yakini! Lalu ia menangis hingga membasahi jenggotnya.[18]

Ini dikarena mereka menjadi masalah akidah menjadi bahan perbantahan , perdebatan dan semacamnya.

Orang yang memperhatikan keadaan ahlul ahwâ’ mendapati ada pelajaran dan ibrah pada mereka, seperti yang telah disampaikan diawal poin ini, “Orang yang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain.” Maka pemegang sunnah mestinya bersyukur kepada Allâh atas nikmat sunnah. Dan memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikannya tegar di atasnya.

15. Mereka Bersatu dan Tidak Berselisih
Di antara sebab ketegaran Ahlussunnah di atas keyakinan yang hak ini adalah mereka bersatu dan tidak bercerai-berai. Ini berbeda dengan ahlul ahwâ’, mereka cerai-beraikan agama mereka dan mereka terpecah, bergolong dan berkelompok. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompoknya.

Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Seandainya keyakinan khawarij itu (benar di atas) petunjuk, pasti mereka bersatu padu, namun mereka di atas kesesatan, sehingga mereka bercerai-berai.”[19] Ucapan ini bisa diterapkan pada semua ahli bid’ah. Adapun Ahlussunnah, maka mereka tetap bersatu padu. Tidak ada perpecahan atau perselisihan pada mereka dalam masalah agama Allâh Azza wa Jalla . Mereka berada di atas jalan yang lurus, selalu menjaganya, saling mewasiatkannya dan bersabar menjalaninya.

Abul Muzhaffar as-Sam’âni berkata, “Di antara yang menunjukkan bahwa ahlul hadits berada di atas kebenaran adalah bila engkau menelaah semua kitab-kitab mereka yang ditulis sejak awal hingga yang terakhir, baik kitab klasik maupun yang baru, akan engkau dapatkan –meski mereka berbeda negeri dan masa, berjauhan negara di antara mereka, dan masing-masing mendiami daerah tertentu- mereka berada di atas satu jalan dan satu metode dalam penjelasan tentang masalah akidah. Mereka berjalan di atas jalan yang mereka tidak menyimpang darinya. Dalam hal tersebut, mereka satu hati. Mengenai penukilan yang mereka nukilkan, tidak engkau dapati di dalamnya perbedaan atau perselisihan dalam sesuatu apapun, meski hanya sedikit. Bahkan sekiranya engkau himpun semua yang dituturkan lisan mereka dan apa yang mereka nukilkan dari salaf mereka, engkau akan mendapatinya seolah-olah ia datang dari satu hati dan meluncur dari satu lisan. Lalu, apakah ada dalil atas kebenaran yang lebih terang dari hal ini? Allâh Azza wa Jallaberfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisâ’ /4: 82]

Allâh juga berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allâh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allâh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allâh, orang-orang yang bersaudara; [Ali Imrân /3: 103][20]

Ini juga merupakan di antara sebab yang begitu agung yang membuat ahlussunnah tetap tegar di atas kebenaran, dan istiqamahnya di atas akidah yang sahih serta selamat dari penyimpangan, sikap plin-plan dan berubah-rubah.

Ini merupakan poin terakhir yang saya terangkan. Namun sebelum menutup, saya ingin membawakan beberapa nukilan yang menunjukkan bahwa Ahlussunnah itu sepakat dalam masalah akidah.

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Apa-apa yang pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan termasuk (ajaran) agama, maka pada hari ini pun tidak akan bisa menjadi (ajaran) agama; dan tidak akan menjadi ajaran agama hingga kiamat menjelang. Dan generasi akhir dari umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang dengannya generasi awal menjadi baik.”

Bila engkau perhatikan akidah mereka pada masa sekarang ini, dan juga pada semua masa yang silam, engkau dapati ia adalah akidah yang satu. Saya berikan di sini sebagian contoh:

Misalnya ; bila engkau periksa tentang sisi tauhid dan keikhlasan; ikhlas beramal karena Allâh Azza wa Jalla , engkau dapati mereka semua  merupakan para penyeru tauhid.  Mereka semua menyeru pada ikhlas beramal karena Allâh Azza wa Jalla . Semuanya memberi peringatan agar tidak jatuh dalam kesyirikan terhadap Allâh dan tidak memberikan peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla .

Engkau tidak akan temukan seorang pun diantara  mereka yang menyerukan satu bentuk apapun dari perbuatan syirik atau yang bertentangan dengan tauhid. Tidak seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan dari ahlul ahwâ’; di mana mereka menyeru pada bentuk-bentuk penyimpangan ini. Lalu mereka menamakannya dengan sebutan-sebutan lainnya. Mereka menamakan berbagai bentuk kesyirikan dengan sebutan tawassul, atau syafaat dan semacamnya.

Misal lain, mereka semua sepakat untuk menyokong sunnah dan melarang bid’ah dan melarang mengikuti hawa nafsu. Tidak engkau dapati di antara mereka kecuali ia menyerukan Sunnah, dan memperingatkan dari bid’ah. Tidak engkau temukan di antara mereka orang yang menganggap bahwa (mengikuti) hawa nafsu adalah hal yang baik dan tidak ada pula yang memotivasi hal-hal bid’ah. Atau tidak ada pula yang berusaha untuk menjelaskan bahwa ada sisi-sisi kebaikan dari perkara-perkara bid’ah, atau yang semacamnya. Yang ada, mereka dari yang pertama hingga yang terakhir, semua memperingatkan dari bid’ah dan hawa nafsu, dan menyeru manusia untuk berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Misal ketiga: Iman mereka kepada asma’ dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Engkau dapati mereka -dari yang pertama sampai yang akhir- berjalan di atas satu metode. Mereka menetapkan Asma’ dan sifat yang Allâh tetapkan untuk Diri-Nya, dan apa-apa yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan. Mereka menafikan apa yang Allâh nafikan dari Diri-Nya, dan apa yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam nafikan dari-Nya berupa kekurangan dan cela. Mereka tidak melakukan tahrîf, ta’thîl, takyîf, tidak juga tamtsîl. Kaidah yang mereka pegang dalam masalah tersebut adalah seperti yang Allâh Azza wa Jalla kabarkan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syûrâ /42: 11]

Mereka semua berjalan di atas satu jalan dalam masalah ini.

Adapun selain mereka, engkau dapati ada di antara mereka yang mu`aththil (ahli ta’thîl) atau muharrfi (ahli tahrîf); mukayyif (ahli takyîf) atau mumatstsil (ahli tamtsîl); atau yang menempuh jalan lainnya; yang juga disertai perselisihan yang membentang luas pada masing-masing penganut madzhab tersebut.

Misal terakhir, kesamaan manhaj ahlussunnah wal jamaah dalam metode ber-istidlâl (pengambilan dalil). Ini adalah permasalahan yang sudah saya terangkan sebelumnya. Jadi, metode mereka dalam ber-istidlâl adalah satu; dan sandaran mereka dalam hal itu juga satu; yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di pungkasan kalimat ini, saya bertawajjuh  kepada Allâh Azza wa Jalla  dengan perantara Asmâ’-Nya yang terbaik dan terindah, dan Sifat-sifat-Nya yang Mahamulia, agar Dia berkenan menyertakanku dan juga pembaca sekalian agar bisa dibangkitkan bersama dengan para hamba-Nya yang shalih. Dan agar Dia memberi anugerah kepada kami dan juga kalian agar bisa konsisten berjalan di atas Sunnah dan mengikuti jejak langkah salaf umat ini.

Semoga Allâh berkenan menjauhkan kita dari hawa nafsu dan bid’ah! Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan kita akidah yang shahih; iman yang selamat, dan suluk (perilaku) yang istiqamah, serta adab dan akhlak nan mulia.

Kita memohon kepada Allâh agar memberi taufiq kepada kita semua dengan taufiq dari-Nya; menunjuki kita semua jalan yang lurus, dan menjadikan kita sebagai hamba yang bisa mengarahkan petunjuk dan juga mendapatkan petunjuk; menjadikan kita termasuk orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik darinya. Sesungguhnya Dia Yang Mengurusi itu semua, dan Yang Mampu mewujudkannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Mukhtashar Shawâ’iq, hlm. 518
[2] Kebanyak do’a-do’a ini ada pada kitab Shahîh Muslim, kecuali dua yang terakhir ada pada Musnad Imam Ahmad dan an-Nasa’i
[3] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/505
[4] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/503
[5] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/504
[6] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/508
[7] Imam Malik rahimahullah mengisyaratkan pada salah seorang imam salaf yang tidak beliau sebut namanya.
[8] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/509
[9] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/507
[10] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/509
[11] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/519
[12] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/538
[13] Ash-Shawâ`iq al-Mursalah, 3/1199
[14] Majmû` Fatâwâ, 4/50
[15] Mukhtashar Ash-Shawâ`iq Al-Mursalah, hlm. 518
[16] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/505
[17] Al-Ibânah karya Ibnu Baththah 2/506
[18] Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahâwiyyah, hlm. 246
[19] Tafsîr ath-Thabari 3/178
[20] Mukhtashar Ash-Shawâ`iq al-Mursalah, hlm. 518