Author Archives: editor

Nabi Ayyub Alaihissallam Diuji oleh Allah Dengan Penyakit yang Parah

NABI AYYUB ALAIHISSALLAM DIUJI OLEH ALLAH DENGAN PENYAKIT YANG PARAH

Penderitaan dan penyakit Nabi Ayyub Alaihissallam sungguh sangat berat. Nabi Ayyub Alaihissallam terkena penyakit yang amat parah selama 18 (delapan belas) tahun. Tidak hanya itu saja, bahkan Allah  mewafatkan anak-anaknya yang ia cintai, begitu pula hartanya habis, ia menjadi orang yang fakir, ia hanya ditemani oleh istrinya dan dua orang temannya yang membantunya setiap hari[1]. Namun semua ujian dan cobaan itu diterima Nabi Ayyub Alaihisallam dengan sabar. Beliau Alaihisallam sabar dan ridha dengan takdir Allah yang pahit. Ia berkata dan berbuat dengan apa-apa yang diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah Tabaraka wa Ta’ala memuji kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam di dalam firman-Nya,

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

 “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).”[Shaad/38:44]

Nabi Ayyub Alaihissallam senantiasa berdo’a terus kepada Allah, memohon kepada Allah agar Allah mengampuninya dan mengangkat penyakitnya. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’” [Al-Anbiyaa’/21:83]

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ

ﱠ” (Allah berfirman), ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” [Shaad/38:42]

Dengan kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, Nabi Ayyub Alaihissallam sembuh dari penyakit, seolah-olah belum pernah sakit sebelumnya, ia mendapatkan nikmat dari Allah. Allah  memberikan kembali kekayaan yang dimilikinya dulu, bahkan lebih baik dan lebih banyak. Allah mengganti dengan lahirnya anak-anak sebagai ganti dari anak-anaknya yang sudah meninggal, bahkan jumlah anaknya lebih banyak, lebih baik, dan juga sholeh dan sholehah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ

 “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” [Al-Anbiyaa’/21:84]

Semua ini berkat kesabaran Nabi Ayyub Alaihissallam dengan cobaan dan ujian yang berat yang Allah timpakan kepadanya, agar menjadi contoh bagi manusia tentang kesabaran dalam menghadapi penyakit, hartanya yang habis, menjadi fakir dengan sebab ujian tersebut, dan anak-anaknya semua meninggal dunia, dan lainnya. Beliau Alaihissallam terus berdo’a minta tolong kepada Allah bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan atau mengangkat penyakit, bala’, wabah, kecuali hanya Allah semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Yunus/10:107]

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ

 “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” [An-Naml/27: 62]

Ujian Manusia Bertingkat-Tingkat Tergantung Imannya
Manusia diberikan cobaan dan ujian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tergantung kadar keimanan mereka.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَفِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.

“(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.”[2]

Dari Abu Sa’idal-Khudri Radhiyallahu anhu beliau bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’, maka beliau bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، قُلْتُ: يَارَسُوْلُ اللهِ، ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ، إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيْهَا، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُهُمْ بِالرَّخَاءِ.

Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi’, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian orang-orang sholeh. Sesungguhnya seorang dari mereka (dari orang-orang sholeh) diuji dengan kefakiran (kemiskinan), sehingga seorang dari mereka tidak mempunyai kecuali hanya satu pakaian saja yang dapat menutupi (auratnya). Dan sesungguhnya seorang dari mereka sungguh bergembira dengan bala’ (cobaan, ujian, musibah) yang menimpanya, sebagaimana seorang dari kalian bergembira di waktu lapang (kaya).[3]

Dar i Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْـجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ ، وَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.

Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka (dengan cobaan). Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.[4]

Dalam hadits-hadits di atas menunjukkan bahwasanya ujian manusia itu bertingkat-tingkat, ujian orang-orang sholeh lebih berat, dan diantara kaum Muslimin yang ada sekarang ini belum lah sama ujian mereka dengan ujian orang-orang terdahulu. Ujian orang-orang terdahulu lebih berat, lebih sulit, dan bahkan banyak sekali memakan korban jiwa. Ujian berupa penyakit, kematian, kemiskinan, kelaparan, dan tantangan di medan dakwah. Ujian yang Allah berikan kepada kaum Muslimin pada zaman sekarang ini lebih ringan dibanding pada zaman dahulu. Misalnya dibunuhnya kaum Muslimin, pada zaman dahulu banyak kaum Muslimin yang disiksa, dibunuh, bahkan ratusan ribu kaum Muslimin yang dibunuh. Bahkan para Nabi  banyak yang dibunuh, sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al-Baqarah/2: 61, Ali ‘Imraan/3: 21-22,112. Sedangkan seorang Nabi lebih mulia dari ratusan ribu manusia. Begitu pula ujian kelaparan, kefakiran, dan penyakit umat terdahulu lebih parah dibanding pada zaman sekarang. Seperti pada zaman dahulu ketika penyakit Tha’uun (wabah penyakit menular) menimpa para Shahabat, Tabi’iin dan seterusnya, yang membinasakan ribuan bahkan puluhan ribu kaum Muslimin yang meninggal. Sangat berat cobaan dan ujian mereka. Allahul Musta’aan. Allahumma Inna Nas-alukalal-‘Afwa wal ‘Afiyah.

Tujuannya Allah jadikan mereka sebagai contoh teladan bagi ummat Islam, bagaimana kuatnya iman mereka, tawakkal mereka kepada Allah, rasa harap mereka kepada Allah, dan yang paling penting lagi bagaimana kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan dan ujian. Dan Sorga disediakan bagi orang-orang yang sabar. Allah Tabaraka wa Ta’ala  berfirman,

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.”Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [Az-Zumar/39:10]

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ -جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ – سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu ; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” [Ar-Ra’du/13: 22-24]

Disalin dari Dunia Ini Adalah Tempat Cobaan Dan Ujian
______
Footnote
[1] Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 17).
[2] Hasan Shahih:HR. At-Tirmidzi (no. 2398), Ibnu Majah (no. 4023), ad-Darimi (II/320), Ibnu Hibban (no. 699-Mawaarid), al-Hakim (I/40,41), dan Ahmad (I/172, 174, 180, 185). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini Hasan Shahih. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahihah (no. 143).
[3] Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 4024) dan al-Hakim (IV/307). Al-Hakim berkata: Shahih menurut syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 144).
[4] Hasan: HR. at-Tirmidzi (no. 2396) dan Ibnu Majah (no. 4031). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 146).

Menangis Karena Allah

MENANGIS KARENA ALLAH

Segala puji hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkanAllah Subhanahu wa Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya seseorang yang mampu menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu sebagai bukti nyata atas keimanan seorang hamba serta rasa takut yang dimilikinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Dan –Dia telah memuji mereka dalam banyak firman -Nya, seperti salah satunya ialah dalam firman-Nya:

قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ ١٠٧ وَيَقُولُونَ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعۡدُ رَبِّنَا لَمَفۡعُولٗا ١٠٨ وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا۩ ١٠٩ [الإسراء: 107-109]

“Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.  [al-Israa’/17: 107-109].

Demikian pula dalam firman -Nya:

 أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٖ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَٱجۡتَبَيۡنَآۚ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَبُكِيّٗا ٥٨  [ مريم: 58]

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. [Maryam/19: 58].

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang beriman dari kalangan pemilik hati yang lembut, yang tidak mampu menguasi dirinya untuk mencucurkan air mata manakala dirinya mendengar ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dibacakan atau karena takut ketinggalan amal shaleh yang dicintainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan hal tersebut didalam kisah mereka:

﴿ وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعۡيُنَهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ ٱلۡحَقِّۖ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ٨٣  [المائدة: 83]

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad)”. [al-Maaidah/5: 83].

Hal senada juga Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman -Nya yang lain, yang berbunyi:

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ قُلۡتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ ٩٢ [التوبة: 92]

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. [at-Taubah/9: 92].

Menangis karena takut  Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab mendapat naungan dibawah Arsynya -Nya pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ –وذكر منها- وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Tujuh golongan yang akan Allah Subhanahu wa Ta’ala beri naungan dibawah naunganNya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. –kemudian beliau menyebut salah satunya ialah- . “Dan seseorang yang bila mengingatAllah Subhanahu wa Ta’ala sendirian air matanya mengalir (karena takut)”.  [HR Bukhari no: 1423. Muslim no: 1031].

Salah satu keutamaan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah menjadi amalan yang paling dicintai oleh -Nya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sunannya, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ » [أخرجه الترمذي]

Tidak ada sesuatu yang lebih Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai dari dua tetesan serta dua bekas. Tetesan air mata dikarenakan takut kepada –Nya dan tetesan darah yang mengalir dijalan Allah. Adapun dua bekas itu, bekas yang ditinggalkan dijalan Allah, dan bekas kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah“.  [HR at-Tirmidzi no: 1669. Beliau berkata Hadits hasan gharib. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/133 no: 11363].

Menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai faktor yang akan menyelamatkan dirinya. Seperti hadits yang menerangkan hal tersebut dalam sunan Tirmidzi dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah keselamatan itu? Beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ » [أخرجه الترمذي]

“Engkau menahan lisanmu, melapangkan rumahmu, serta engkau menangis karena kesalahan yang pernah engkau lakukan”.  [HR at-Tirmidzi no: 2406. Beliau berkata hadits hasan].

Akan menjadikan dirinya terbebas dari api neraka. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ » [أخرجه الترمذي]

Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan dimasukkan ke dalam neraka, hingga air susu kembali ke kelenjarnya. Tidak mungkin berkumpul padanya debu dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asap api neraka“. [HR at-Tirmidzi no: 1633].

Beliau berkata hadits hasan shahih. Makna sabda Nabi: “Hingga air susu kembali ke kelenjarnya”. Sebuah kiasan yang menunjukan sangat mustahil hal itu terjadi. Yaitu dimasukkan ke dalam neraka serta berkumpulnya debu dan asap neraka.

Kiat dan Faktor untuk bisa Takut kepada Allah:
1. Mengingat kematian.
Berdasarkan hadits yang telah lalu, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ –يعني الموت- » [أخرجه الترمذي]

Perbanyaklah kalian untuk mengingat pemutus tali kenikmatan –yaitu kematian-“. [HR at-Tirmidzi no: 2307. Beliau berkata hadits hasan shahih gharib].

Seorang mukmin apabila sering mengingat kematian akan menjadikan hatinya lembut, sehingga mudah untuk mengalirkan air mata, dan yang paling penting, dirinya akan mengambil sarana untuk zuhud dalam kehidupannya.

2. Membaca al-Qur’an seraya merenungi makna kandungannya, demikian pula mendengarkan bacaan al-Qur’an secara khusyu’.
Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Abdullah bin asy-Syihir radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنْ الْبُكَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  [أخرجه أبو داود]

‘Aku pernah melihat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sholat dan terdengar dari dada beliau suara gemuruh karena menangis“. [HR Abu Dawud no: 904. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 1/170 no: 799].

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bagaimana kecintaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata padaku: ‘Bacakanlah al-Qur’an untukku’. Lalu aku menjawab: ‘Wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah aku akan membaca al-Qur’an sedang ia diturunkan padamu? Sesungguhnya aku senang untuk mendengar bacaan dari orang lain, alasan beliau. Maka aku membaca surat an-Nisaa’ hingga ketika sampai pada ayat yang bunyinya:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا ٤١ [النساء: 41]

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu”. [an-Nisaa’/4: 41].

Aku mengangkat kepala, atau ada seseorang  disampingku yang mencolek diriku sehingga aku mengangkat kepala, maka aku dapati beliau air matanya meleleh karena menangis”. [HR Bukhari no: 4582. Muslim no: 800].

3. Ziarah kubur dan mengingat hari akhir.
Hal itu, sebagaimana yang ditunjukan sebuah hadits shahih oleh al-Hakim didalam mustadraknya, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنه يرق القلب و تدمع العين و تذكر الآخرة و لا تقولوا هجرا » [أخرجه الحاكم]

Dulu aku pernah melarang kalian ziarah kubur, ketahuilah (sekarang) ziarahlah kekubur, sesungguhnya itu dapat melunakkan hati, menyebabkan air mata menetes, dan mengingatkan pada hari akhir, dan janganlah kalian berkata buruk“. [HR al-Hakim 1/711 no: 1433. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahihul Jami’ no: 4584].

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan. Dari Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ ‏ “‏ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

‘Kami pernah bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengiringi jenazah, ketika telah dikubur beliau duduk disamping kuburannya, lalu beliau menangis hingga membasahi bajunya, kemudian beliau bersabda: “Wahai para sahabatku, untuk perkara seperti inilah kalian harus siap-siap“. [HR Ibnu Majah no: 4195. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibni Majah no: 3383].

Kalau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam saja menangis sampai air matanya membasahi bajunya, sedangkan beliau adalah penghulu makhluk dari generasi pertama hingga yang paling akhir, yang telah diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lewat maupun yang akan datang, lantas bagaimana dengan kita, yang masih banyak melakukan perbuatan dosa dan maksiat? kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah-mudahan memperlakukan kita dengan ampunan dan kasih saying -Nya.

Disebutkan pula dalam riwayat Tirmidzi sebuah hadits dari Hani mantan sahaya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dirinya bercerita: ‘Adalah Utsman, beliau biasa menangis apabila telah berdiri disamping kuburan hingga air matanya membasahi jenggotnya. Pernah beliau berkata padaku: ‘Sungguh ini mengingatkan pada surga dan neraka, kenapa engkau tidak menangis, menangislah karena ini? sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:   إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلاَّ وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Sesungguhnya kubur ialah kampung pertama menuju kampung akhirat, bila ia selamat darinya maka yang setelahnya lebih mudah untuknya, dan jika dia tidak bisa selamat darinya maka yang sesudahnya akan lebih keras lagi“. Dalam redaksi lain beliau mengatakan: ‘Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku pernah melihat suatu pemandangan yang lebih buruk melainkan kubur adalah tempat yang paling mengerikan“. [HR at-Tirmidzi no: 2308. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/267 no: 1878].

4. Melatih untuk menangis. Ini bukan menangis akan tetapi usaha untuk menjadi orang yang mudah menangis, tujuannya agar melatih hati menjadi lembut.
Imam Ibnu Qoyim pernah menyebutkan beberapa jenis tangisan, beliau mengatakan: “Dan sekiranya dia berusaha dengan membebani diri untuk menangis maka ini dinamakan at-Tabaaki. Dan ini ada dua macam, yang terpuji dan satunya lagi tercela. Yang terpuji jika mengantarkan hati menjadi lembut dan merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan karena untuk riya’ dan sombong.

Adapun yang tercela yaitu jika bertujuan untuk menolehkan pandangan makhluk. Dan Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dimana dirinya pernah melihat beliau dan Abu Bakar menangis ketika perang Badr: ‘Kabarkan padaku kenapa engkau dan sahabatmu menangis? Jika aku mendapati ada sesuatu yang bisa membikinku menangis maka aku turut kalian menangis jika tidak ada maka aku akan berusaha agar diriku bisa menangis karena tangisan kalian berdua”. HR Muslim no: 1763. Dan disini Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari Umar dalam masalah ini”.[1]

Kemungkinan faktor terbesar kenapa mata sulit untuk mengalirkan air mata dan susah menangis ketika takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah karena hatinya keras seperti batu. Dan tidak ada hukuman yang lebih besar bagi seorang hamba melainkan ketika hatinya mengeras seperti batu, bahkan tidaklah neraka diciptakan kecuali supaya hati ini bisa mencair, luluh karena khawatir dengannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencela orang yang hatinya keras seperti batu, dalam firman –Nya menyebutkan:

فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٢ [الزمر: 22]

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [az-Zumar/39: 22].

Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi seorang hamba untuk mencairkan hatinya yang telah mengeras dengan cara mengingat Allah, ziarah kubur, mengingat kematian, hari akhir serta kondisi yang akan terjadi pada hari kiamat.[2]

Kita akhiri kajian kita kali ini dengan mengucapkan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau dan seluruh para sahabatnya.

[Disalin dari البكاء من خشية الله  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] Lihat Zaadul Ma’ad 1/178.
[2] Lihat pembahasannya yang lebih luas dalam risalah al-Buka’u min Khasyatillah karya Syaikh Abdul Haid Wahbi.

Tekanan Jiwa (Stress)

TEKANAN JIWA (STRESS)

Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.

  1. Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.
  2. Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.
  3. Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.
  4. Bahkan musibah yang menimpa manusia  belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomlek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.
  5. Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.
  6. Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.
  7. Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.

Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.

Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.

Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)
Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:

  1. Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak ada pendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.
  2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.
  3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.
  4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.
  5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)
Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal shaleh.
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” [At-Thalaq/65: 2]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [At-Thalaq/65: 4]

Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah/2: 153]

Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah Radhiyallahu anhu berkata, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat.” [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi Ya’kub Alaihissallam:

 وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Ÿ“…Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf/12: 87]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِيْ بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [HR.Turmudzi]

Benarlah perkataan seorang penyair:

Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal
Merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra’d/13:28]

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah).
Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan.” [HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan.
Hal ini sebagaimana hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu:
“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
“Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat.”
“Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah.” Jawabnya.
“Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!” Tawar Rasulullah.
“Tentu wahai Rasulullah!” Jawab lelaki itu.
“Bacalah ketika pagi dan petang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang.”  [HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa Alaihissallam kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabinya:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ – وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.” [Thâhâ/20:25-26]

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [At-Thalaq/65: 3]

Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka.
Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.

Ringkas pembicaraan: Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.

ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” [ Ali Imrah/3: 182]

Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.

[Disalin dari الضغوط النفسية Penulis Prof. Dr.Falih bin Muhammad As-Shaghir, Penerrjemah : Syafar Abu Difa, Editor : Eko Abu Ziyad, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 20102 – 1431]

Bertawakkal Kepada Allah

BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang mencukupkan segala perkara orang-orang yang bertaqwa:

قال الله تعالي: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ ( الطلاق : 3)

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” [At-Thalaq/65 3]

Dia telah memerintahkan kekasihNya dan manusia pilihanNya serta seluruh orang yang beriman untuk bertawakkal kepadaNya:

قال الله تعالي: ﴿ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴾ ( آل عمران : 159)

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [Ali Imran/3: 159]

Kami memuji Allah dan memohon pertolongan kepadaNya… dan kami berlindung denganNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami. Barangsiapa yang telah diberikan petunjuk oleh Allah maka tiada sorangpun yang mampu memberikannya petunjuk dan barangsiapa yang disesatkannya maka tiada seorangpun yang menjadi penolong dan penunjuk jalan baginya. Amma Ba’du:

Allah telah menjamin dan berjanji kepada orang yang bertawakal kepadaNya untuk diberikan kecukupan. Makhluk ini adalah ciptaanNya dan semua urusan ada di tanganNya:

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ (يس : 82)

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.[Yasin/36: 82].

Tawakkal adalah menyerahakn segala urusan kepada Zat yang memiliki segala keputusan bagi semua urusan, yaitu Allah Ta’ala. Hal ini disebabkan kelemahan seorang hamba untuk mengatur diri mereka sendiri. Tidak ada nafas yang keluar atau masuk kecuali dengan izin Allah. Dan yang kedua adalah karena kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah.

Tawakkal itu tidak bertentangan dengan kewajiban untuk berusaha, bahkan seorang hamba diharuskan unuk berusaha sebagai sebab dengan syarat agar seorang hamba tidak boleh menggantungkan hati dengannya.

Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya : Dari manakah engkau datang?. “Dari Syam”, jawab orang badui tersebut. “ Apakah dengan berjalan kaki atau dengan berkendaraan?. Tanya beliau kembali. “Berkendaraan”. Jawabnya. “Lalu di manakah kendaraanmu?. Tanya beliau kembali. “Aku meninggalkannya di balik gunung”. Jawabnya. Beliau bertanya kembali : Apakah engkau telah mengikatnya?”. “Tidak aku meninggalkannya lalu bertawakkal kepada Allah”. Jawabnya. “Ikatlah dia lalu bertwakkal kepada Allah”. Perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maksudnya adalah agar seseorang berusaha mengerjakan sebab-sebab kesuksesan) dan setelahnya baru berserah diri kepada Allah Ta’ala.

Adapun macam-macam takwakkal adalah : Pertama : Bertawakkal kepada Allah dalam masalah rizki dan ajal. Seorang muslim berkeyakinan bahwa rizki dan ajal telah ditetapkan oleh Allah pada saat dirinya masih berada di dalam perut ibunya. Berdasarkan hadits riwayat Muslim:

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaanya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemuadian dia menjadi segumpal darah dalam masa yang sama seperti itu, kemudian dia berubah menjadi segumpal daging dalam masa yang sama seperti itu, kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikat lalu dia diperintahkan untuk menulis empat perkara. Dan dikatakan kepadanya tulislah amal, rizki, ajal dan nasibnya apakah dia sengsara atau bahagia, kemudian barulah ditiupkan ruh kepadanya…”.[1]

Seorang muslim berkeyakinan bahwa ajalnya tidak akan pernah berkurang walau satu saatpun, dan tidak pula berkurang dari rizkinya walau seukuran atom. Berdasarkan sebuah riwayat dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Wahai sekalian manusia, takutlah kepada Allah dan memohonlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya satu jiwa tidak akan mati sehingga dia mengambil rizkinya secara sempurna walau datangnya terlambat (dari harapannya). Bertqwalah kepada Allah dan memohonlah dengan cara yang baik. Ambillah apa-apa yang dihalalkan dan tinggalkanlah apa-apa yang diharamkannya”.[2]

Jenis-jenis tawakkal adalah bertawakkal kepada Allah saat datangnya musibah. Di dalam hadits qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman :

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُم وَلَدَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُوْلُ اللهُ: اُبْنُوْا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوْهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan berkata kepada para Malaikat-Nya: Wahai malaikat maut engkau telah mencabut nyawa anak seorang hambaKu?. Engkau telah mencabut nyawa penyejuk pandangannya dan buah hatinya?. Malaikat maut menjawab: Benar”. Allah bertanya : Apa yang dikatakannya?. Malaikat maut menjawab : Dia memuji Allah dan istrija’[3] Allah Ta’ala berfirman : Buatkanlah baginya sebuah rumah di dalam surga dan sebutlah namanya dengan rumah pujian”.[4]

Auf bin malik datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya anaku telah ditawan oleh sekolompok kaum. Maka Raslullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Perbanyaklah mengucapkan:

لا حول ولا قوة إلا بالله

Maka diapun mengerjakannya. Lalu musuh terlalai dengan anak yang menjadi tawanan tersebut maka diapun terlepas, dan dia mendapatkan seekor kambing lalu dibawanya kambing tersebut lari bersama dirinya. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالي: ﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾ ( الطلاق: 2-3 )

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. [At-Thalaq/65: 2-3].

Maka sudah sepantasnya bagi seorang hamba untuk memohon tawakkal kepada Allah Ta’ala berdasarkan hadits:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ تَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ

“Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa tawakkal yang sebenarnya, Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertawakkal kepadaMu lalu Engkau mencukupkan Aku”.

Dan seorang hamba harus yakin bahwa tetapnya suatu keadaan dalam satu kondisi yang permanen adalah mustahil. Dan di antara kedipan dan pejaman mata Allah menjadikan banyak perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain.

Kita telah berjalan di atas garis yang telah ditetapkan baginya
Barangsiapa yang ditetapkan baginya suatu keadaan, maka dia menjalaninya
Barangsiapa yang tempat kematiannya telah tercatat disebuah negeri
Maka dia pasti tidak akan menemukan kematiannya di negeri yang lain

Orang yang tidak bertawakkal kepada Allah akan sengsara oleh hati dan angan-angan yang bercerai berai, hidup tertekan karena takut dengan masa depan yang suram, bersedih atas masa lalu, tidak rela dengan keadaan dirinya, dada menyempit dan penyakit menghantui. Maha Benar Allah dengan firmanNya:

قال الله تعالي: ﴿ وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ ﴾ ( الزخرف: 36-37 )

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an) Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk“.[Az-Zukhruf/43: 36-37].

Wahai Tuhanku semua perkara di tanganMu
Semua urusanku telah ku serahkan kepadaMu
Saat diriku tenggelam dalam Lumpur kesulitan
Terombang-ambing terbentur batu-batu raksasa
Adakah asa selain diriMu, saat keresahan menyelimuti
Menghempaskan bahtera kehidupan yang ku lalui

Hanya ini yang dapat aku sampaikan, aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung untuk diriku dan kalian semua. Mohonlah ampunanNya…..

Segala puji bagi Allah yang telah mengatur segala urusan hambaNya dengan sempurna dan baik, memudahkan bagi mereka semua fasilitas dan kebutuhan hidup. Maka barangsiapa yang yakin bahwa Dia adalah tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan berserah diri kepadaNya maka Allah akan mencukupkannya:

قال الله تعالي: ﴿ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً ﴾ ( النساء : 81 )

“Cukuplah Allah menjadi Pelindun” [An-Nisa’/4: 81]

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, yang telah menjanjikan orang-orang yang berserah diri kepadaNya untuk diberikan kecukupan yang sempurna, sehingga mereka tidak membutuhkan orang lain selian Allah. Ya Allah jadikanlah kebutuhan kami hanya tertuju kepadaMu, bukan kepada selian diriMu, Ya Allah tuhan semesta alam.

Dan aku bersaksi bahwa penghulu dan kekasih kami, Muhamad adalah hamba dan RasulMu…yang telah bersabda dan jujur dalam tutur katanya:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia memberikan kalian rizki sebagaimana Dia telah memberikan rizki kepada burung yang pada waktu paginya pergi dalam keadaan lapar lalu kembali pulang dalam keadaan kenyang”. [HR. Ibnu Majah dalam kitab Al-Zuhud].

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salamMu serta keberkahan kepada Muhammad dan para shahabatnya sehingga hari kiamat…Amma Ba’du:

Sesungguhnya jika seluruh masyarakat berupaya mengambil langkah-langkah kesuksesan lalu bertwakkal kepada Allah, bukan kepada selain Allah, dan mereka menunaikan segala perintahNya, menjauhi laranganNya, berharap kepadaNya agar ditolong dalam menghadapi segala beban dan tantangan hidup, serta melaksanakan kewajiban yang semestinya mereka lakukan, mengerahkan segala upaya dan semangat, maka Allah pasti akan mempermudah bagi mereka segala urusan yang sulit, menundukkan segala tantangan, jangan sampai mereka berkata: Kami telah berserah diri kepada Allah dan kita enak-enak duduk di rumah, sebab Allah Ta’ala mengingatkan kita di dalam firamanNya:

قال الله تعالي: ﴿ وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ﴾ ( النجم : 39 )

“…dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. [An-Najm/53: 39].

Wahai sekalian hamba Allah ada tiga kalimat yang menjadi semangat bagi tawakkal dan meminta pertolongan Allah. Barangsiapa yang mengatakannya dengan lisannya, mersapi makna yang terkandung di dalamnya maka sungguh dia telah merealisasikan wujud tawakkal dan kehidupannya menjadi mantap, yaitu:

قال الله تعالي: ﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾ ( الفاتحة : 5 )

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.[Al-Fatihah/1: 5].

قال الله تعالي: ﴿ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ﴾ ( التوبة : 129)

“Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku ; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung“. [At-Taubah/9: 129].

لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Tiada daya dan uapaya kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Kalimat ini termasuk salah satu perbendaharaan surga, yang menyampaikan seorang hamba kepada segala kebaikan. Pada saat seorang hamba telah menyakini bahwa tiada daya bagi seseorang dan tiada kekuatan baginya kecuali dengan izin Allah maka sungguh dia telah melalui jalan yang benar dan diberikan taufik kepada kebenaran yang nyata.

Di satu sisi, jika seorang hamba berpegang teguh kepada tuhannya di dalam segala urusannya, dalam upaya mendatangkan segala kemaslahatan yang berhubungan dengan urusan agama dan dunianya, maka sungguh dia telah mewujudkan tujuannya untuk mencegah segala kemudharatan dan bahaya. Sebab Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah menciptakan kita, dan memberikan rizki bagi kita. Dialah yang memberikan kita makan, memberikan kita minum, memberikan kecukupan dan melindungi kita.

Bertawakkal kepada Allah adalah tuntutan agama dan keimanan kita yang tak terpisahkan di dalam segala aspek kehidupan kita. Bagaimanapun berlimpahnya harta maka dia pasti akan habis, bagiamanapun panjangnya umur seseorang maka dia pasti berjalan menuju ketuaan, sebuah kekuatan yang besar pasti berjalan menuju kelemahan dan dengan bertwakkal kepada Allah akan terwujud segala bentuk kebaikan dan keberkahan.

قال الله تعالي: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ﴾ ( الفاطر : 15)

Hai manusia kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu lagi Maha Terpuji. [Fatir/35: 15].

Setiap kita pasti membutuhkan pemeliharaan TuhanNya, sangat menginginkan pertolongan dan nikmatNya di dalam segala perkara hidup. Allah Ta’ala menegaskan di dalam firmanNya:

قال الله تعالي: ﴿ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ ﴾ ( البروج : 16)

 “Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya” [Al-Buruj/85 : 16].

Maka tidak perkara apapun yang sulit bagi Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالي: ﴿ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾ ( البقرة : 117 )

“…dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. [Al-Baqarah/2: 117]

Semua perkara yang ditentukannya terjadi dengan kata “كُن”

Dan sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala kemaslahatan yang tidak kita ketahui, Dia Maha Kuasa mengukur apa yang tidak mampu kita ukur, Dia Maha berkehendak apa yang tidak bisa kita wujudkan dengan kehendak kita, Dia Maha Kuat terhadap perkara yang tidak mampu kita wujudkan, dan Dialah yang menjaga hamba dari segala keburukan.

Maka tidak ada hal yang perlu bagi makhluk ini kecuali memutuskan harapannya terhadap manusia dan hanya berserah diri kepada Allah serta memohon kepada Allah segala kebutuhanNya:

قال الله تعالي: ﴿ مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ  ﴾ ( النحل : 96)

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. [Al-Nahl/16: 96]

Seorang hamba yang selalu bertawakkal kepada Allah, akan mendapat penjagaan yang sempurna dariNya, dimudahkan segala urusanNya. Alangkah indahnya sebuah kehidupan dengan segala apa yang telah ditaqdirkan. Hendaklah kita menjadi pribadi yang selalu berserah diri kepada Allah:

قال الله تعالي: ﴿ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴾ ( الطلاق : 3 )

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. [At-Thalaq/65: 3].

Semoga Allah memberikan keberkahan bagiku dan kalian semua dengan Al-Qur’an yang agung ini, dan semoga Dia berkenan memberikan manfaat bagi diriku dan kalian semua dengan ayat-ayat yang jelas yang terdapat di dalamnya. Ya Allah curahkanlah kasih sayangMu kepada kami semua, sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Penyayang. Janganlah timpakan siksaMu kepada kami sesungguhnya Dirimu Maha Kuasa dengannya, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepadaMu, yang berlindung dengan Zat-Mu, yang berpegang teguh dengan syari’atMu, yang berpegang dengan kekuatan dan kekuasaanMu.

[Disalin dari التوكل على الله Penulis Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir, Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari, kitab bud’ul khlaq.
[2] HR. Ibnu Majah, kitabut tijarat.
[3] إنا لله وإنا إليه راجعون : Mengucapkan
[4] Musnad. Musnad Al kufiyyin. Al-Turmudzi dan redaksi hadits dari Imam Ahmad.

Hukum-Hukum Ziarah Ke Masjid Nabawi

HUKUM-HUKUM ZIARAH KE MASJID NABAWI

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya serta orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari pembalasan. Amma ba’d

Sesungguhnya hukum-hukum ziarah (berkunjung) ke masjid Nabawi dan shalat di dalamnya banyak yang tidak diketahui orang. Saat berada di kota Madinah, banyak orang yang terjerumus dalam kesalahan-kesalahan. Karena alasan itulah saya menyusun risalah ini untuk menjelaskan hukum-hukum dan mengingatkan terhadap kesalahan-kesalahan sesuai yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dalam bentuk yang tersusun dan metode yang mudah, cocok bagi semua lapisan.

Berikut ini adalah hukum-hukum tersebut:

1. Disyari’atkan safar untuk melaksanakan shalat di masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat kapan pun, berdasarkan hadits shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ [متفق عليه].

 “Shalat di masjid-ku ini lebih baik seribu kali dari pada shalat di tempat lain.” [Muttafaqun ‘alaih].

2. Shalat untuk shalat di masjid Nabawi tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Atas dasar itulah, maka bukan termasuk sunnah haji atau kesempurnaannya berziarah ke masjid Nabawi sebelum atau sesudah haji.

3. Apabila seorang muslim sudah sampai di masjid, dianjurkan baginya apa-apa yang dianjurkan saat memasuki masjid, yaitu mendahulukan kaki kanan saat masuk dan membaca:

 بسم الله، والصلاة والسلام على رسول الله، اللهم افتح لي أبواب رحمتك

 ‘Dengan nama Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, ya Allah bukakanlah untuk ku pintu-pintu rahmat-Mu.’

أعوذ بالله العظيم، وبوجهه الكريم، وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم 

‘Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung, kepada Wajah-Nya Yang Maha Mulia, kekuasaan-Nya Yang Qadim, dari godaan syetan yang terkutuk.

4. Kemudian shalat tahiyatul masjid dua rakaat.

5. Setelah shalat, dianjurkan agar ia pergi menuju kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kubur kedua sahabatnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu serta memberi salam kepada mereka. Lalu ia membaca: “Assalamu ‘alaika ya rasulallah wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaika ya Aba Bakr. Assalamu ‘alaika ya Umar.’ Kemudian ia berpaling serta tidak kembali. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu anhu apabila datang dari perjalanan jauh. Maka jika ia menambah sedikit doa untuk mereka tanpa mengharuskannya maka tidak mengapa, insya Allah.

6. Disunnahkan bagi orang yang berada di kota Madinah agar ia bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi masjid Quba lalu shalat dua rekaat di dalamnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ، ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ” [حديث صحيح أخرجه أحمد والنسائي وغيرهما].

Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rekaat, niscaya baginya pahala umrah.” Hadits shahih yang diriwayatkan Ahmad dan an-Nasa`i dan yang lainnya.

7. Disunnahkan agar ia mengunjungi pemakaman Baqi’ dan kubur para syuhada Uhud, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berziarah dan mendoakan mereka, dan berdasarkan umumnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا [أخرجه مسلم].

Dulu aku melarangmu ziarah kubur, ketahuilah, maka ziarahlah.” [HR. Muslim].

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabatnya apabila ziarah kubur agar membaca:

[أخرجه مسلم]. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أهلَ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنينَ وَالمُسلمينَ، وَإنَّا إنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ للاَحِقونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ

Semoga kesejahteraan atasmu wahai penghuni kubur dari kaum muslimin dan mukminin. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala afiat untuk kami dan kamu.” [HR. Muslim]

8. Termasuk yang wajib diketahui, bahwa membangun kubah atau lainnya di atas kubur, atau membangun masjid di atas kubur atau menguburkan mayat di dalam masjid termasuk dosa paling besar yang diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits yang banyak,

a. Di antaranya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di saat sakitnya yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bangun lagi darinya:

لَعَنَ اللهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ [متفق عليه].

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutuk Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.’ [Muttafaqun ‘alaih].

b. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha juga, sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah, di dalamnya ada gambar-gambar, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ [أخرجه مسلم].

‘Sesungguhnya mereka, apabila ada orang shalih yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan membuat gambar di dalamnya. Mereka adalah makhluk yang paling jahat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.” [HR. Muslim]

c. Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dikapur, diduduki dan didirikan bangunan atasnya. [HR. Muslim]

d. Dari Abu Martsad Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوْا إِلَيْهَا [أخرجه مسلم] 

Janganlah kamu duduk di atas kubur dan jangan shalat kepadanya.” [HR. Muslim]

Adapun keberadaan kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam masjid, maka sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikuburkan di dalam masjid. Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikuburkan di kamar/bilik Aisyah radhiyallahu ‘anha dan kamarnya berada di luar masjid. Dan hal itu terus berlanjung hingga berakhirnya masa sahabat di Madinah. Kemudian masjid diperluas di maka khalifah Walid bin Abdul Malik dan kamarnya di masukkan ke dalam masjid. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taymiyah 27/323). Seharusnya perluasan itu tidak memasukkan kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hanya di tiga arah yang lain maka kubur beliau tetap berada di luar masjid, sebagaimana yang terjadi di saat perluasan di masa pemerintah Umar Radhiyallahu anhu dan Utsman Radhiyallahu anhu.

Beberapa kesalahan dan Peringatan:

1. Banyak orang yang safar ke Madinah dengan tujuan ziarah ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatan ini tidak boleh. Yang disyari’atkan bahwa seorang muslim safar dengan tujuan shalat di masjid nabawi, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِد: المَسْجِدِ الحَرَام، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالمَسْجِدِ الأَقْصَي [متفق عليه].

‘Tunggangan tidak ditambatkan kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaqun ‘alaih].

2. Berziarah ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabatnya serta masjid lainnya khusus untuk laki-laki. Adapun wanita, maka tidak boleh ziarah. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لعن الله زوّارات القبور  [حديث صحيح،أخرجه أحمد والترمذي وابن ماجة].

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutuk wanita-wanita yang ziarah kubur.”[HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah].

3. Seseorang tidak boleh mengusap mimbar dan hujrah yang di dalamnya ada kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang sahabatnya. Tidak boleh mengecupnya atau mengelilinginya. Semua ini adalah bid’ah yang mungkar.

4. Tidak boleh meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada yang lain untuk menunaikan hajat, atau menghilangkan kesusahan, atau menyembuhkan yang sakit, atau memberi syafaat kepadanya di akhirat. Karena semua ini tidak boleh diminta kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memohonnya kepada yang mati termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

5. Termasuk perbuatan bid’ah yang dilakukan sebagian pengunjung adalah mengangkat suara di sisi kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lama berdiri dan mencari-cari doa di sisi kuburnya. Terkadang menghadap kubur sambil mengangkat kedua tangan berdoa. Seperti inilah yang dilakukan oleh sebagian orang berupa menghadap kubur dari jauh, menggerakan kedua bibir mengucap salam atau berdoa, atau berziarah ke kubur nabi setiap kali selesai shalat, atau setiap kali masuk masjid, atau keluar darinya. Semua ini menyalahi petunjuk salafus shalih dari para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikut mereka dalam kebaikan. Bahkan ia termasuk bid’ah yang dibuat-buat.

6, Sudah dijelaskan tentang ziarah yang disyari’atkan bagi orang yang mengunjungi Madinah, dan selain yang demikian itu tidak disyari’atkan, seperti masjid tujuh, masjid dua qiblat dan selainnya. Dan seperti ini pula pergi bersama orang yang mentalqinkan doa.

Sisipan yang wajib diketahui hamba, saya meringkasnya dalam beberapa masalah berikut ini:
Pertama : Sesungguhnya kewajiban terbesar bagi seorang muslim adalah menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات:56]

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [adz-Dzariyaat/51:56]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ [النحل:36]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” [an-Nahl/16:36]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً [النساء:36].

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. [an-Nisaa/4:36]

Barangsiapa yang memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ia terjerumus dalam perbuatan syirik. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ [النساء:48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [an-Nisaa/4:48]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [لقمان:13].

sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. [Luqman/31:13]

Syirik terbagi dua:

Bagian pertama : Syirik akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan dari agama. Di antara contohnya adalah:

  1. berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti pergi ke kubur nabi atau orang shalih, lalu ia berkata: berilah syafaat kepadaku, atau sembuhkanlah sakitku, dan yang semisalnya.
  2. Menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti menyembelih untuk jin dan syetan, atau untuk para nabi dan orang-orang shalih di sisi kubur mereka.
  3. Thawaf dikuburan.
  4. Berhukum dengan hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (menurut perincian yang disebutkan dalam kitab-kitab aqidah).
  5. Menggantung jimat di leher, atau tangan, atau anak kecil, atau di rumah, atau di mobil, dan meyakini bahwa ia bisa memberi manfaat atau menolak bahaya.
  6. Melakukan Sihir.

Bagian kedua : Syirik kecil, yaitu dosa besar akan tetapi tidak mengeluarkan dari agama, di antara jenisnya adalah:

1.Riya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. فسئل عنه؟ فقال: الرياء  [أخرجه أحمد وإسناده حسن].

‘Yang paling saya khawatirkan dari kamu adalah syirik kecil.’ Maka beliau ditanya tentang hal itu? Beliau menjawab: riya.” [HR. Ahmad dan isnadnya hasan]

2. Bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti: demi nabi, demi hidupku, dengan ayahku, demi kehormatanku. Dari Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Barangsiapa yang bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti ia kufur atau syirik.” [HR. Ahmad, Abu Daud, dan yang lainnya].

3. Ucapan seseorang: masya allah wa syaa`a fulan, dari Huzaifah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah kamu mengatakan ‘maasya Allah Subhanahu wa Ta’ala wa syaa’a fulan, akan tetapi katakannya: maasya allah tsumma syaa’a fulan. (apa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian yang di kehendaki fulan). [HR. Abu Daud dan yang lainnya dengan sanad yang shahih. Dan dari Ibnu Abbas] Radhiyallahu anhu, sesungguhkan seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: maa syaa’allah wa syi’ta (Apa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan engkau kehendaki). beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apakah engkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi (katakanlah) masyaa `allah wahdah.” [HR. Ahmad dan Ihnu Majah].

Kedua: sesungguhnya ibadah tidak sah kecuali dengan tiga syarat:

1 Islam, ibadah tidak sah dari selain muslim seperti Yahudi, Nashrani dan selain mereka.

2 Ikhlas, barangsiapa yang melakukan syirik besar dalam ibadah, atau syirik kecil seperti riya maka ibadahnya batal.

3 Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang menambah shalat yang keenam, atau shalat Zuhur lima rekaat, maka ibadahnya adalah bid’ah yang dia berdoa karenanya dan shalatnya batal sekalipun ia ikhlas, atau ia berkata: sesungguhnya tujuanku adalah menambah pahala, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد [أخرجه مسلم].

Barangsiapa yang melakukan ibadah yang bukan merupakan perkara kami maka ia ditolak.” [HR. Muslim]

Ketiga: sesungguhnya sejumlah larangan di dalam syari’at sudah banyak tersebar di tengah masyarakat pada saat ini, maka hati-hatilah wahai saudaraku muslim dan janganlah engkau terjerumus padanya. Di antara larangan tersebut adalah:

  1. Jauhilah menunda shalat dari waktunya, maka sesungguhnya ia merupakan dosa yang besar dalam Islam.
  2. Jauhilah meninggalkan shalat berjamaah, terutama shalat Subuh dan Ashar.
  3. jangan mendatangi dukun dan peramal.
  4. Hindarilah mengambil berkah yang tidak disyari’atkan, seperti mengambil berkah dengan kubur pada nabi dan orang shalih, atau dengan dinding ka’bah dan bangunannya.
  5. Hindarilah meminum arak dan narkotika.
  6. Jangan mengambil harta dengan cara yang haram, seperti riba, mencuri, menipu dalam transaksi, dan mengurangi takaran.
  7. Hindarilah dosa berzina dan permulaannya berupa memandang kepada wanita dan bercampur dengan mereka.
  8. Jauhilah durhaka kepada kedua orang tua dan memutuskan silaturrahim.
  9. Jauhilah tergelincir lidah seperti bohong, menggunjing, dan mengadu domba.
  10. Wahai wanita muslimah, Jauhilah membuka aurat di hadapan laki-laki yang bukan mahram, seperti muka, rambut, kedua tangan, dua kaki,  atau tidak memakai abayah, dan pakailah hijab yang menutup semua tubuh.

Inilah penutup risalah ini. segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya.

[Disalin dari أحكام زيارة المسجد النبوي Penulis Yusuf bin Abdullah al-Ahmad Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Apakah Masjidil Haram Sama Dengan Masjid-Masjid Lainnya Di Tanah Haram?

APAKAH MASJIDIL HARAM SAMA DENGAN MASJID-MASJID LAINNYA DI TANAH HARAM?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan.
Apakah (shalat di) masjid-masjid di kota Makkah sama pahalanya seperti di Masjidil Haram?

Jawaban.
Tidak, pahala di masjid-masjid kota Makkah tidak seperti di Masjidil Haram, dan pahala berlipat ganda hanya di Masjidil Haram yang lama serta tambahan perluasannya, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (صَلاَةٌ في مَسْجِدِي هذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلاَّ مَسْجِد اْلكَعْبَةِ) رواه مسلم

Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali shalat di masjid lainnya kecuali masjid Ka’bah.”[1]  [HR. Muslim].

Beliau menentukan hukumnya khusus pada masjid yang ada Ka’bahnya dan masjid yang ada Ka’bah nya hanya satu. Dan sebagaimana keutamaan khusus di masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), maka ia khusus dengan Masjidil Haram juga, dan hal ini ditunjukkan oleh hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: اْلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمسْجِدِي هذَا وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى) متفق عليه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ditambatkan tunggangan kecuali kepada tiga masjid : Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.[2]   

Dan sudah diketahui bahwa jika kita menambatkan tunggangan ke salah satu masjid di kota Makkah selain Masjidil Haram niscaya hal itu tidak disyari’atkan, bahkan dilarang. Yang ditambatkan tunggangan kepadanya itulah yang berlipat ganda pahalanya. Akan tetapi shalat di masjid-masjid kota Makkah, bahkan di semua tanah haram lebih utama dari pada shalat di luar tanah haram.

Dalilnya adalah bahwa tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah/menginap di Hudaibiyah –sebagian Hudaibiyah adalah masuk tanah haram dan sebagiannya di luar tanah haram-, beliau shalat di tanah haram padahal beliau singgah (menginap) di luar tanah haram. Hal ini menunjukkan bahwa shalat di tanah haram lebih utama, akan tetapi tidak berarti mendapatkan pahala khusus seperti di Masjid yang ada Ka’bah.

Jika dikatakan  : Bagaimana kita menjawab firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:

قال الله تعالى: ﴿سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١﴾ [الإسراء: 1]

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba -Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al-Isra`/17:1]

Dan beliau dijalankan pada malam hari dari kota Makkah dari rumah Ummu Hani?

Jawabannya : Sesungguhnya diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari bahwa beliau dijalankan dari Hijir Ismail, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ فِى الْحِجْرِ أَتَانِي آتٍ…) متفق عليه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Manakala aku tertidur di Hijr, datanglah kepadaku seseorang yang datang…”[3] dst,

Dan Hijir adalah di Masjidil Haram. Atas dasar ini, maka hadits yang disebutkan padanya bahwa beliau dijalankan dari rumah Ummu Hani –jika riwayatnya shahih- maksudnya adalah permulaan isra` dan kesudahannya adalah dari Hijir Ismail. Seolah-olah beliau diingatkan saat berada di rumah Ummu Hani, kemudian beliau berdiri, lalu tidur di Hijir, maka beliau dijalankan dari Hijir Ismail.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin- Majmu’ Fatawa wa Rasail (12/395).

[Disalin dari  هل مساجد مكة فيها من الأجر كما في المسجد الحرام؟ Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]
______
Footnote
[1]  HR. Muslim 1396.
[2]  HR. Bukhari 1189 dan Muslim1397.
[3]  HR. al-Bukhari 3887 dan Muslim 164..

Adab Di Dalam Masjid

ADAB DI DALAM MASJID

  • Keutamaan membangun masjid adalah Allah akan membangun sebuah rumah di surga bagi orang yang membangun masjid.
  • Para ulama mengatakan tentang batasan masjid, yaitu tempat yang ada di dalam tembok masjid dan pintu mesjid bagian dalam adalah masjid.
  • Dikatakan bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ ِللهِ فَلاَ تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”.[1]

Maka tidak boleh menisbatkan masjid kepada seseorang mahluk dengan nisbat kepemilikan dan kekhususan, adapun penisbatan masjid dengan nama agar dikenal, maka hal itu tidak apa-apa dan tidak termasuk dalam larangan tersebut; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan mesjidnya kepada dirinya, seperti yang diterangkan di dalam sebuah  sabdanya: مَسْجِدِي هذَا (masjidku ini), begitu juga beliau menisbatkan masjid quba’ kepadanya, yaitu quba’, dan masjid baitul maqdis dinisbatkan kepada Iliya’, apa yang telah disebutkan adalah penisbatan nama mesjid kepada selain Allah agar mudah dikenal, semua ini tidak termasuk di dalam larangan di atas.[2]

  • Orang yang makan bawang putih dan merah harus menjauhi mesjid, berdasarkan hadits Jabir radhiallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْبَصَلاً فًلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ قَالَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فيِ بَيْتِهِ

Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauhi kita” Atau bersabda “Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya”.[3]

  • Dikiaskan kepada bawang merah atau bawang putih segala sesuatu yang berbau busuk yang bisa menyakiti orang yang shalat, namun jika seseorang memakai sesuatu yang bisa mencegah bau yang tidak sedap tersebut dari dirinya seperti memakai pasta gigi dan lainnya, maka tidak ada larangan baginya setelah itu untuk menghadiri mesjid.
  • Dianjurkan agar segera bergegas menuju masjid, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُقَدِّمِ لَكَانَتْ قُرْعَة  لِوْ تَعْلَمُوْنَ أَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فيِ الصَّفِ

Seandainya mereka mengetahui keutamaan shaf pertama, niscaya akan diadakan undian untuk mendapatkannya”.[4]

  • Dianjurkan berjalan menuju shalat dengan khusyu’, tenang dan tentram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya berjalan menuju shalat secara tergesa-gesa walaupun shalat sudah didirikan. Abi Qotadah radhiallahu anhu berkata: Pada saat kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Sesudah menunaikan shalat beliau mengingatkan:

مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا, إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ  فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا

Apa yang terjadi pada kalian?”. Mereka menjawab: “Kami tergesa-gesa menuju shalat”. Rasulullah menegur mereka: “Janganlah kalian lakukan, apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rekaat yang kalian dapatkan shalatlah padanya!, dan rekaat yang terlewat sempurnakanlah !”.[5]

  • Saat berjalan menuju shalat hendaklah berdo’a dengan mengucapkan:

اَللّهُمَّ اجْعَلْ فيِ قَلْبِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُوْرًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا وَأَمَامِي نُوْرًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا اَللّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan jadikanlah di dalam lisanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah di sebelah belakangku cahaya dan di hadapanku cahaya, dan jadikanlah di atasku cahaya dan di bawahku cahaya. Ya Allah, agungkanlah cahayaku!”.[6]

  • Memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan berdo’a dengan mengucapkan

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ افْتَحْ لِي أََبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah bukakanlah pintu rahmatmu bagiku”.

  • Mendahulukan kaki kiri saat keluar dari mesjid dan berdo’a dengan mengucapkan:

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah limpahkanlah karuniaMu kepadaku”.

  • Menunaikan shalat tahiyatul masjid saat memasuki sebuah mesjid. Berdasarkan hadits riwayat Abi Qotadah Al-Sulami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُم ُالْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَنْ يَجْلِسَ

Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid maka hendaklah dia shalat dua rekakat sebelum duduk”.[7]

Dan di antara kesalahan yang sering terjadi adalah ditinggalkannya shalat tahiyyatul masjid hanya karena waktu tersebut adalah waktu dilarang mengerjakan shalat sunnah.

  • Terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang duduk-duduk di masjid untuk menunggu shalat, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ واْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ أَحَدِكُمْ مَادَامَ فَِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلىَّ فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ الّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ

Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam shalat selama shalat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdo’a kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat shalatnya, Mereka mengatakan: “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats”.[8]

  • Terdapat larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) demi kepantingan dunia semata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا  وَلَيْسَ ِللهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ

Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam mesjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka”.[9]

  • Disunnahkan untuk menjaga masjid dari kegaduhan dan memperbanyak pembicaraan yang sia-sia serta mengangkat suara dengan sesuatu yang dibenci.[10]
  • Dibolehkan berbaring di mesjid. Dari Abdullah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa dia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di mesjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas yang lainnya.
  • Dibolehkan menjulurkan kaki ke arah kiblat,[11] dan menghindari untuk mejulurkan kaki ke arah mushaf demi meghormati kalam Allah dan untuk mengagungkannya.
  • Diperbolehkan tidur di mesjid, seperti yang dilakukan oleh Ahlis Shuffah di mana mereka tidur di mesjid[12], dan apabila bermimpi sampai keluar mani maka dia harus segera keluar mesjid untuk mandi janabah[13]dan Ibnu Umar pada masa dirinya masih muda dan membujang tanpa keluarga, dia tidur di masjid di masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[14]
  • Larangan berjual beli di mesjid berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوْا لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكُمْ

Jika kalian melihat orang yang berjual beli di mesjid maka ucapkanlah: Semoga Allah tidak memberikan laba bagi jual belimu”.[15]

Dan di antara kesalahan yang sering terjadi adalah menaruh iklan jual beli di dalam mesjid.

  • Dilarang mengumumkan barang yang hilang di mesjid, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدْ فَلْيَقُلْ: لاَ رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهذَا

Barangsiapa mendengar seseorang yang mengumumkan barangnya yang hilang di mesjid maka katakanlah kepadanya: Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya mesjid itu tidak dibangun untuk kepentingan ini”.[16]

  • Boleh mengangkat suara di dalam mesjid untuk kepentingan ilmu dan kebaikan adapun mengangkat suara untuk membuat suasana menjadi gaduh atau yang lainnya tidak diperbolehkan…
  • Dibolehkan meminta-minta jika dibutuhkan.
  • Dilarang memasukkan antara jari-jari saat keluar menuju mesjid sebelum melaksanakan shalat, diriwayatkan dari Ka’ab bin Ajroh Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَـوَضَّأ أَحَـدُكُمْ فَأَحْسَـنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ خَـرَجَ عَامِدًا إِلىَ اْلمَسْجِدِ فَلاَ يَشْـبِكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فَي صَلاَةٍ

Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian dia keluar menuju shalat secara sengaja maka janganlah dia memasukkan antara jari-jarinya sebab dia sedang berada dalam kondisi shalat”.[17]

Dan boleh memasukkan jari-jari tangan sesudah melaksanakan shalat.

  • Boleh makan dan minum di mesjid, berdasarkan hadits Abdullah bin Al-Harits bin Juz’u Al-Zubaidi, dia menceritakan bahwa kami makan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam roti dan daging di dalam mesjid.[18]
  • Boleh menyenandungkan puisi yang diperbolehkan di dalam mesjid, sesungguhnya Hassan bin Tsabit radhiallahu anhu menyenandungkan puisi di mesjid di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[19]
  • Boleh main tombak atau sejenisnya di mesjid, dari Aisyah radhiallahu anha berkata: “Suatu hari aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pintu kamarku sementara orang-orang Habsy bermain-main di mesjid dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupi aku dengan selendangnya saat aku menyaksikan permainan mereka”.[20]
  • Dilarang keluar dari mesjid setelah dikumandangkannya adzan kecuali karena udzur, berdasarkan hadits riwayat Abi Sya’tsa’ bahwa dia berkata: “Kami sedang duduk-duduk dengan Abu Hurairah radhiallahu anhu di dalam mesjid lalu seorang mu’adzin mengumandangkan adzan lalu seorang lelaki bangkit keluar dari mesjid, maka Abu Hurairah radhiallahu anhu mengatakan: “Adapun orang ini maka ia telah menyalahi tuntunan Abul Qosim Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[21]
  • Di antara kesalahan yang terjadi di mesjid adalah menghiasi mesjid dan memahatnya, berdasarkan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ

Apabila kalian telah memperindah mesjid kalian dan menghiasi mushaf-mushafmu maka kehancuran telah menimpa kalian”.[22]

Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهىَ النَّاسُ فِي اْلمَسَاجِدِ

Tidak akan terjadi hari kiamat sampai manusia berlomba-lomba di dalam (memperindah) mesjid”.[23] [24][25].

  • Di antara kesalahan yang sering terjadi adalah shalat di atas hamparan yang diperindah.
  • Di antara kesalahan yang juga sering terjadi adalah menjadikan mesjid sebagai jalanan untuk lewat, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَتَّخِذُوْا اْلمَسَاجِدَ طُرُقًا إِلاَّ لِذِكْرٍ اَوْ صَلاَةٍ

Janganlah engkau menjadikan mesjid sebagai jalan untuk lewat kecuali untuk berdzikir dan menunaikan shalat”.[26]

  • Di antara kesalahan yang terjadi adalah menjadikan suara jam (di dalam mesjid) seperti suara lonceng yang selalu berbunyi secara teratur seperti bunyi lonceng orang-orang Nashrani.
  • Di antara kesalahan yang sering terjadi, membaca ayat secara nyaring di masjid sehingga mengganggu shalat dan bacaan orang lain.
  • Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah melarang orang-orang yang melingkar dalam berkumpul untuk membuat kelompok di dalam masjid karena mereka juga akan keluar dari masjid dengan berkelompok-kelompok mereka masing-masing. Dari Jabir bin Samuroh, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid pada saat adanya kelompok-kelompok sedang berkumpul di dalam mesjid. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammenegur mereka: “Kenapa saya melihat kalian berkelompok-kelompok?”.[27]
  • Di antara pelanggaran yang sering terjadi meludah di mesjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan sabda:

 اَْلبُزَاقُ فِي اْلمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَـفَّارَتُـهَا َدفـْنُهَا

Meludah di mesjid adalah kesalahan dan penghapusnya adalah dengan cara menimbunnya”.[28]

  • Termasuk sunnah shalat dengan memakai sandal di mesjid. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan memakai kedua sandalnya?. Dia menjawab: “Ya”.[29] Dan apabila seseorang memasuki mesjid lalu melepas kedua sandalnya dan tidak shalat dengan memakai keduanya maka hendaklah dia menjadikannya di sebelah kirinya jika dia sendiri di dalam shaf, namun jika dirinya bersama jama’ah lain dalam shalat berjama’ah maka hendaklah dia meletakkannya di antara kedua kakinya berdasarkan hadits:

إِذَا صَلىَّ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِيْنِهِ وَلاَ يَضَعْهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِ غَيْرِهِ إِلاَّ أَلاَّ يَكُوْنَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ

Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka janganlah dia meletakkan sandalnya di sebelah kanannya dan jangan pula disebelah kirinya sehingga bertempat di sebelah kanan jama’ah yang lainnya kecuali jika tidak ada seorangpun di sebelah kirinya. Hendaklah dia meletakannya di antara kedua kakinya”.[30][31].

  • Tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَـوْيَعْلَمُ اْلمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ اْلمُصَليِّ مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِـفَ أَرْبَعِيْنَ خَيْرًا لًهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Seandainya seorang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat mengetahui besar akibat yang harus ditanggunganya, niscaya berhenti selama empat puluh lebih baik baginya dari pada berjalan di hadapannya”.[32]. Dianjurkan bagi orang yang shalat untuk menjadikan sutrah (pembatas) bagi dirinya, berdasarkan hadits:

إِذَا صَلىَّ أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka hendaklah melaksanakannya di hadapan sutroh dan mendekatlah dengannya”.[33]

  • Membersihkan mesjid adalah perbuatan yang utama, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap berludah di mesjid sebagai kesalahan dan penebus dosanya adalah menimbunnya[34], dan hadits yang menerangkan bahwa mahar bidadari adalah membersihkan mesjid adalah hadits yang lemah.
  • Tidak boleh bagi orang kafir memasuki salah satu al-haromaini sekalipun dengan idzin seorang muslim, dan diperbolehkan bagi Al-Zimmi (Orang kafir yang terikat perjanjian dengan orang muslim) jika orang tersebut diupah untuk membangun keduanya selama tidak ada orang muslim yang bisa mengerjakan pekerjaan tersebut.
  • Ibnu Muflih rahimahullah berkata: Dan para guru kami berkata: Tidak mengapa dengan apa yang terjadi pada zaman kita, yaitu menutup mesjid di luar waktu-waktu shalat, karena khawatir akan terjadinya pencurian terhadap barang-barang milik mesjid.[35]
  • Sesungguhnya mesjid-mesjid yang terdapat di dalam rumah (ruang-ruang yang dipergunakan untuk shalat) tidak berlaku padanya hukum mesjid, menurut jumhur ulama oleh karenanya tidak mencegah orang yang junub dan wanita haid untuk masuk di dalamnya.[36]

BEBERAPA ADAB YANG KHUSUS BAGI WANITA SAAT MEMASUKI MESJID

  • Tidak memakai wangi-wangian atau berhias sehingga bisa mengundang fitnah.
  • Tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk tinggal di mesjid, dan boleh bagi wanita yang istihadhah untuk memasuki mesjid bahkan beri’tikaf padanya, namun harus tetap menjaga agar mesjid tidak tercemar dengan najis.
  • Mereka bershaf di belakang shaf jama’ah pria, dan apabila para wanita berada di tempat shalat yang berbeda maka sebaik-baik shaf mereka adalah yang terdepan.

[Disalin dari آداب المسجد  Penulis Majid bin Su’ud al-Usyan, Penerjemah : Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
______
Footnote
[1] QS. Al-Jin: 18.
[2] Fathl Bari, Ibnu Rajab (2/261). Hal ini menunjukkan bolehnya menisbatkan masjid kepada orang yang membangun dan memakmurkannya.
[3] HR. Bukhari no: 855.
[4] HR. Bukahri no: 615. Muslim no: 437
[5] HR. Bukhari no: 635 dan Muslim no: 437.
[6] HR. Muslim no: 763.
[7] HR. Bukhari no: 444. Muslim no: 714.
[8] HR. Bukhari no:176, Muslim no: 649.
[9] HR. Al-Hakim dalam kitab AL-Mustadrok 4/359 dan Al-Dzahabi berkata dalam kitab Al-Talkhish: Shahih. Dihasankan oleh Albani.
[10] Al-Adabus Syar’iyah 3/376.
[11] Fatawa lajnah daimah lil buhutsil ilmiyah wal ifta’ no: 5795.
[12] HR. Bukhari no: 442.
[13] Fatawa lajnah daimah lil buhutsil ilmiyah wal ifta’ no: 5795
[14] HR. Bukahri.
[15] HR. Turmudzi no: 1321, dia berkata hadits ini hasan garib.
[16] HR. Muslim no: 568.
[17] HR. Abu Dawud no: 526, dan Albani mengatakan: Shahih.
[18] HR. Ibnu Majah no 2300, Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[19] HR. Bukhari no: 3212.
[20] HR. Bukahri no: 455, disebutkan di dalam kitab Syarhul Muslim: Dibolehkan bermain dengan menggunakan senjata atau peralatan perang lainnya di dalam mesjid, termasuk semua perlatan yang bisa dimanfaatkan untuk berjihad
[21] HR. Muslim no:655.
[22] Dihasankan oleh Albani dalam kitab sisilatus shahihah 3/135.
[23] Shahih Abu Dawud no: 475
[24] Bisa jadi bagian ini tidak ada hubungannya dengan bab tentang adab di dalam mesjid namun saya menyebutkannya agar seseorang mengambil manfaat dariya dalamhal yang berhungan dengan mesjid.
[25] Dan orang yang pertama kali memberikan unsur emas bagi ka’bah dan menghiasi mesjid adalah Al-Walid bin Abdul Malik saat ia diutus ke Khalid bin Adullah Al-Qusari dan ke Mekkah pada saat itu. (Al-Adabus Syar’iyah 3/374)
[26] Dihasankan oleh Albani dalam kitab Al-Silsilah Al-Shahihah no: 1001.
[27] HR. Muslim no: 407.
[28] Muttafaq Alaihi.
[29] HR. Bukhari no: 386, Muslim no:255.
[30] HR. Abu Dawud no: 609.
[31] Sangat sulit bagi seseorang untuk memasuki mesjid dengan kedua sendalnya lalu shalat dengan keduanya pada zaman ini.
[32] HR. Abu Dawud no: 649.
[33] HR. Abu Dawud no: 646
[34] HR. Bukhari no: 415, Muslim no:552.
[35] Al-Adabus Syar’iyah 3/384.
[36] Fathul  Bari, Ibnu Rajab 1/551.

Adab Menjenguk Orang Sakit

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Diantara sekian banyak amal shaleh yang ditekankan oleh syari’at kita  serta dijanjikan bagi para pelakunya dengan ganjaran yang besar ialah menjenguk orang sakit. Yang paling jelas adalah sebuah sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ  [أخرجه البخاري و مسلم]

Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perkara: ‘Beliau memerintahkan kami supaya mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terdhalimi, membantu melepas (kafarah) sumpah, menjawab salam dan mendo’akan orang yang bersin“. [HR Bukhari no: 1239. Muslim no: 2066].

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ وَفُكُّوا الْعَانِيَ » [أخرجه البخاري]

Berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sedang sakit dan bebaskanlah saudara (muslim) yang tertawan“.  [HR Bukhari no: 5373. Dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu].

Fadhilah Menjenguk Orang Sakit
Salah satu keutamaan menjenguk orang sakit adalah hak seorang muslim pada muslim lainnya yang harus ditunaikan. Sebagaimana digambarkan dalam haditsnya Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Hak muslim atas muslim lainnya ada enam perkara”. Ada yang bertanya: “Apa saja enam perkara tersebut wahai Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: “Apabila engkau berjumpa dengannya engkau memberi salam, jika engkau diundang maka memenuhi undangannya, bila engkau dimintai nasehat engkau menasehatinya, jika dirinya bersin lalu mengucapkan ‘al-hamdulillah’ engkau mendo’akannya, dan bila sakit engkau menjenguknya, dan apabila dirinya meninggal engkau mengiringi jenazahnya“. [HR Bukhari no: 1240. Muslim no: 2162].

Bahkan, dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bahwa menjenguk saudaranya muslim yang sedang sakit merupakan jalan yang mengantarkan kepada surga. Disebutkan oleh Imam Muslim sebuah hadits dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ قَالَ  جَنَاهَا  [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya seorang muslim jika menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit) maka dirinya senantiasa berada khurfah surga hingga dirinya kembali”. Di katakan: “Wahai Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa khurfah surga itu? Beliau menjelaskan: “Buah-buahan surga“. [HR Muslim no: 2568].

Syaikh Muhamad bin Sholeh al-Utsaimin menjelaskan makna hadits diatas: “Maksudnya dirinya senantiasa berada ditaman buah-buahan surga selama dirinya duduk disisi orang yang sedang dijenguknya”.[1]

Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau menjenguk saudaranya muslim yang sedang sakit sebagai faktor dirinya dido’akan oleh para malaikat. Seperti diberitakan oleh sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya. Sahabat Ali menceritakan: “Aku pernah mendengar langsung dari Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ , وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ  وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ  [أخرجه الترمذي]

Tidaklah seorang muslim yang menjenguk saudaranya muslim dipagi hari melainkan dirinya akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga petang. Dan jika dirinya menjenguk disore hari maka dirinya akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan baginya kebun ditengah surga“. [HR at-Tirmidzi no: 969. Beliau berkata hadits hasan gharib. Dinyatakan shahih oleh Ibnu Hiban dan al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 1/286 no: 775].

Al-Ghudwah ialah waktu yang dimulai dari fajr sampai terbitnya matahari, maksudnya ialah pagi hari. Adapun al-A’syiyah artinya waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga tenggelam. Sedangkan al-Kharif maksudnya adalah kebun. Pada asalnya ia adalah pepohonan yang saling menutupi.

Imam Qadhi Iyadh pernah menuturkan: “Menjenguk orang yang sedang sakit merupakan bentuk ketaatan yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak pahala. Dimana telah datang penjelasannya dalam hadits serta yang lainnya, dan hal ini hukumnya bisa menjadi fardhu kifayah, apalagi jika yang sakit adalah orang asing yang tidak memiliki keluarga atau kerabat yang membantunya. Sehingga jika sampai tidak dijenguk dirinya bertambah parah dan bisa meninggal tanpa perawatan, kelaparan serta kehausan.

Adapun menjenguknya, yaitu bertujuan untuk mengetahaui keadaannya serta menanyakan barangkali ada kebutuhan dan bantuan yang diperlukan. Perkaranya sama persis dengan menolong orang yang sedang di aniaya, menyelamatkan orang dari kebakaran atau bahaya, yang wajib hukumnya bagi orang yang hadir. Sehingga bila kaum muslimin tidak ada yang menjenguknya mereka tidak mengetahui keadaan orang yang sedang sakit tersebut”. [2]

Adab Bagi yang Menjenguk
Sunah yang dianjurkan bagi orang yang sedang menjenguk ialah mendo’akan orang yang sedang sakit dengan rahmat dan ampunan, penghapus dosa, keselamatan dan kesembuhan.

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari umatnya beberapa do’a yang hendaknya dihafal oleh orang yang akan menjenguk dan menggunakan do’a-do’a tersebut karena bersumber dari makhluk yang terjaga yaitu Nabi kita Muhammad Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, disamping itu beliau juga diberi jamami’ul kalim (ucapan yang ringkas namun banyak makna).[3]

Do’a Menjenguk Orang Sakit
Diantara do’a tersebut adalah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengkisahkan: “Pada suatu hari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguk arab badui yang sedang sakit. Dan kebiasaan beliau jika menjenguk orang sakit beliau mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ » [أخرجه البخاري]

Tidak mengapa, semoga sakitmu bisa sebagai penghapus dosa-dosamu, insya Allah“. [HR Bukhari no: 3616].

Do’a lain yang biasa beliau ucapkan adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bila ada seseorang yang mengeluh sakit pada beliau, atau terluka, maka beliau meletakan jari telunjuknya ke tanah lalu mengangkatnya sambil membaca do’a: “Dengan nama Allah, debu tanah kami dan air ludah sebagian kami, semoga bisa menyembuhkan penyakit kami dengan ijin Rabb kami“. [Bukhari no: 5745. Muslim no: 2194].

Salah satu do’a beliau ialah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Adalah kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila datang pada orang yang sedang sakit beliau mendo’akan orang tersebut dengan do’a: “Hilangkanlah sakit, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit“. [HR Bukhari no: 5675. Muslim no: 2191].

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebauh do’a, sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abu Waqash Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan dirinya tatkala sakit dengan berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا ». ثَلاَثَ مِرَارٍ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Ya Allah berilah kesembuhan pada Sa’ad“. Sebanyak tiga kali”.  [HR Bukhari no: 5659. Muslim no: 1628].

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengajarkan pada Utsman bin Abi Waqash manakala dirinya pernah mengeluhkan rasa sakit yang terasa ditubuhnya semenjak masuk Islam. Beliau mengatakan padanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ » [أخرجه مسلم]

Letakkan tanganmu diatas anggota badan yang terasa sakit, kemudian bacakan: “Bismillah’, sebanyak tiga kali. Lalu baca tujuh kali ‘Aku berlindung kepada Allah dan kemampuanNya dari keburukan yang aku rasakan dan aku jauhi“. [HR Muslim no: 2202].

Diantara do’a yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dikala menjenguk orang sakit adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ عنده سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ الا عافاه اللَّهُ من ذالك المرض  [أخرجه أبو داود و ابن حبان]

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum saatnya meninggal, lantas dirinya membaca do’a disisinya sebanyak tujuh kali: ‘Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb permilik Arsy yang mulia, agar menyembuhkan dirimu’. Melainkan (pasti) Allah akan memberi kesembuhan dari sakit yang dideritanya”. [HR Abu Dawud no: 3106, Ibnu Hibban no: 2964. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih sunan Abi Dawud 2/600 no: 2663].

Begitu pula, termasuk do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk orang sakit adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا فليقَل: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا وَيَمْشِي لَكَ إِلَى الصَّلَاةِ  [أخرجه أبو داود و ابن حبان]

“Apabila ada seseorang yang datang menjenguk saudaranya yang sakit maka hendaknya ia mendo’akan: ‘Ya Allah berilah kesembuhan pada hambaMu, (sehingga) ia bisa membunuh musuh-musuhMu, atau bisa berjalan (kembali) untuk mengerjakan sholat”.  [HR Abu Dawud no: 3107, Ibnu Hibban no: 2963. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih Abu Dawud 2/600 no: 2664].

Dalam menjenguk orang sakit ada beberapa pelajaran yang bisa kita raih diantaranya:
Pertama: Pahala yang besar dari Allah azza wa jalla, sebagaimana telah lewat penjelasannya dalam hadits-hadits terdahulu.
Kedua: Akan menguatkan kondisi si sakit dikarenakan dikunjungi oleh orang yang dicintainya.
Ketiga: Mendo’akan pada orang yang sakit. Atau merasa kehilangan kabar tentangnya sehingga hal tersebut tidak mungkin bisa diketahui kecuali bila dirinya datang menjenguknya.
Keempat: Mengingatkan bagi pengunjung akan nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang sangat besar padanya yaitu nikmat sehat, dimana hal tersebut tidak diperoleh sama saudaranya.
Kelima: Mengajak untuk masuk ke dalam Islam jika yang dijenguknya adalah non muslim. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ  [أخرجه البخاري]

“Adalah anak kecil dari Yahudi yang biasa membantu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, suatu ketika sakit keras. Maka Nabi datang menjenguknya, beliau kemudian duduk di sisi kepalanya, lantas mengatakan padanya: ‘Masuklah Islam’. Anak kecil tersebut melirik pada ayahnya yang berada disebelahnya. Maka ayahnya mengatakan: ‘Turuti kemauan Abu Qosim Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam’. Selanjutnya anak tersebut masuk Islam (kemudian mati). Maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari siksa neraka”. [HR Bukhari no: 1356].

Keenam: Terkadang dirinya bisa menyarankan bagi si sakit untuk mengkonsumsi obat tertentu yang telah ia ketahui, sehingga hal tersebut memberi manfaat untuknya dan dirinya.
Ketujuh: Memasukan rasa senang pada hati orang yang sedang sakit dengan menyebutkan kabar gembira padanya.

Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Muhammad bin Khalid dari ayahnya dari kakeknya, dan kakeknya adalah seorang sahabat, beliau menceritakan:

أَنَّهُ خَرَجَ زَائِرًا لِرَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِهِ فَبَلَغَهُ شَكَاتُهُ قَالَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ أَتَيْتُكَ زَائِرًا عَائِدًا وَمُبَشِّرًا قَالَ كَيْفَ جَمَعْتَ هَذَا كُلَّهُ قَالَ خَرَجْتُ وَأَنَا أُرِيدُ زِيَارَتَكَ فَبَلَغَتْنِي شَكَاتُكَ فَكَانَتْ عِيَادَةً وَأُبَشِّرُكَ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ  [أخرجه أحمد]

“Bahwasannya ia pernah keluar untuk mengunjungi seseorang dari kerabatnya yang sakit keras. Lalu ia pun masuk lalu berkata: ‘Aku datang untuk menjenguk, mengunjungimu dan memberi kabar gembira’. Saudaranya menjawab: ‘Bagaimana engkau mengumpulkan semua ini? Beliau berkata: ‘Aku keluar dan yang ku inginkan ialah mengunjungimu, dan telah sampai padaku akan sakitmu yang keras, maka itu namanya menjenguk, dan aku kabarkan padamu dengan sesuatu yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Apabila telah ditentukan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla derajat bagi seorang hambaNya yang belum bisa tercapai oleh amalnya. Maka Allah memberinya ujian pada tubuhnya, atau harta atau anaknya. Kemudian hamba tersebut bersabar hingga bisa meraih derajat yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. [HR Ahmad 37/29 no: 22338].

Kedelapan: Akan menumbuhkan rasa saling menyayangi, mencintai serta mengasihi dilingkungan muslim. Yaitu dengan cara memotivasi orang yang sedang sakit sehingga dirinya serta keluarganya merasa tidak sendirian merasakan musibah yang sedang dideritanya, bersama-sama merasakan beban dan musibahnya.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari عيادة المريض Penulis Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1435]
______
Footnote
[1] Syarh Riyadhus Shalihin 4/470.
[2] Ikmaalul Mu’alim bii Fawaid Muslim 8/35.
[3] Kunuz Riyadhus Shalihin 11/561.

Hikmah Di Balik Musibah

HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Musibah. Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang  tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.

Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [asy Syura/42: 30]

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Diriwayatkan  dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” [HR. Bukhari]

Dalam hadits lain beliau bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.
Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” [HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan].

3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.
Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.
Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. [Al-Anbiyaa/21:83]

5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ

”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” [HR al Bukhari].

Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

10. Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah
Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang diterimanya  dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat  yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” [Al-Jawabul Kafi hal. 118]

Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita  ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah– yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Refrensi : Min fawaidil maradh – Darul Wathan

[Disalin dari فوائد المصيبة  Penulis Fariq bin Qaasim Anuz,  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Salaf Dan Sabar Terhadap Musibah

SALAF DAN SABAR TERHADAP MUSIBAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari A’masy, dari Syahr bin Hausyab, dari Harits bin Umairah, ia berkata: ‘Aku sedang duduk di sisi Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, dan ia sedang sakaratul maut, dia pingsan lalu sadar, ia berkata: ‘Cekiklah diriku (maksudnya: lakukanlah apapun terhadapku, pent), demi kemulian -Mu, sesungguhnya aku mencintai-Mu.’[1]

Dari Mubarrid: Ada yang berkata kepada Hasan bin Ali: Sesungguhnya Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Fakir lebih kusukai dari pada kaya dan sakit lebih kusukai dari pada sehat.’ Ia berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Dzarr, adapun saya mengatakan: ‘Barangsiapa yang bertawakkal terhadap pilihan terbaik yang dipilih Allah Shubhanahu wa Ta’ala untuknya niscaya ia tidak berangan-angan terhadap sesuatu. Inilah definisi pendirian terhadap ridha yang terjadi, seperti yang sudah ditaqdirkan.’[2]

Dari Wahb bin Munabbih rahimahullah: ‘Sesungguhnya Isa Alaihissalam  berkata kepada Hawariyin: ‘Orang yang paling berkeluh kesah dari kalian terhadap musibah adalah yang paling cinta terhadap dunia.’[3]

Dari Sya’by, ia berkata: Syuraih rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya aku mendapat musibah maka aku memuji Allah Shubhanahu wa Ta’ala empat kali; aku memuji -Nya karena tidak lebih berat darinya, aku memuji karena -Dia memberiku kesabaran terhadapnya, memuji ketika Dia memberi taufik kepadaku untuk membaca istirja’ karena mengharapkan pahala, dan aku memuji ketika -Dia tidak menimpakannya pada agamaku.’[4]

Ghassan bin Mufadhdhal al-Ghalaby rahimahullah berkata: ‘Sebagian sahabatku menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Yunus bin Ubaid rahimahullah, lalu mengadukan kepadanya tentang kesulitan dalam kehidupannya serta duka citanya terhadap hal itu. Ia berkata: ‘Apakah engkau senang matamu ditukar dengan seratus ribu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkata: ‘Dengan matamu? Ia menjawab: ‘Tidak.’ Ia (Yunus) berkata: Dengan lisanmu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkatanya: ‘Dengan lisanmu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkata: ‘Dengan akalmu? Ia menjawab: Tidak. Dan ia menyebutkan nikmat nikmat Allah Shubhanahu wa Ta’ala terhadapnya. Kemudian Yunus berkata kepadanya: ‘Saya melihat engkau memiliki ratusan ribu dan engkau masih mengeluhkan kebutuhan.’[5]

Dari Asy’ats bin Sa’id, ia berkata: Ibnu Aun berkata: ‘Seorang hamba tidak mendapatkan hakikat ridha sehingga ridhanya di saat fakir seperti ridhanya di saat kaya. Bagaimana engkau menerima ketentuan Allah Shubhanahu wa Ta’ala dalam perkaramu, kemudian engkau marah jika engkau melihat ketentuan -Nya berbeda dengan keinginanmu. Bisa jadi yang engkau inginkan dari hal itu jika dimudahkan- Nya merupakan bencana bagimu, dan engkau meridhai ketentuan -Nya apabila sesuai keinginanmu? Engkau tidak bersikap obyektif terhadap dirimu dan tidak mendapatkan pintu ridha.’[6]

Dari Ahmad bin Isham, ia berkata: ‘Zuhair bin Nu’aim rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya perkara ini tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: sabar dan yakin, jika keyakinan tidak disertai kesabaran ia tidak sempurna, dan jika kesabaran tidak disertai keyakinan niscaya ia tidak sempurna. Dan Abu Darda` Radhiyallahu ‘anhu memberikan contoh bagi keduanya, ia berkata: ‘Perumpamaan yakin dan sabar adalah seperti dua orang petani yang menggali tanah, apabila salah seorang duduk niscaya duduklah yang lain.’[7]

Dari Utsman bin Haitsam rahimahullah, ia berkata: ‘Ada seorang laki laki di Bashrah dari Bani Sa’ad, ia salah seorang pemimpin pasukan Ubaidillah bin Ziyad, ia terjatuh dari loteng lalu kakinya patah. Lalu Abu Qilabah Radhiyallahu ‘anhu datang mengunjungi, ia berkata kepadanya: ‘Aku berharap ia menjadi kebaikan bagimu.’ Ia menjawabnya: ‘Wahai Abu Qilabah! kebaikan apakah saat kedua kakiku patah? Ia menjawab: ‘Yang ditutup Allah Shubhanahu wa Ta’ala terhadapmu jauh lebih banyak.’

Setelah tiga hari, datanglah surat dari Ibnu Ziyad agar keluar untuk membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada utusan: Apa yang engkau ketahui tentang musibah Telah menimpaku.’ Maka tidak berlalu kecuali hanya tujuh hari hingga sampai berita terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu. Laki-laki itu berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Qilabah Radhiyallahu ‘anhu, sungguh ia benar, sesungguhnya ia benar-benar menjadi kebaikan bagiku.’[8]

[Dilsain dari السلف والصبر على المصائب  Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Siyar A’lam Nubala` 1/460.
[2] Siyar A’lam Nubala’ 3/262.
[3] Siyar A’lam Nubala’ 1/551.
[4] Siyar A’lam Nubala’ 4/105.
[5] Siyar A’lam Nubala’ 6/292.
[6] Sifat Shafwah: 3/311.
[7] Sifar shafwah: 4/8
[8] Sifat Shafwah 3/238.