Author Archives: editor

Jagalah Dirimu Dan Keluargamu Dari Api Neraka

JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Muqaddimah
Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]

Tafsir Ayat.
Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

Hai orang-orang yang beriman

Tafsir :
Allâh Maha kasih sayang kepada para hamba-Nya. Jika Dia memberikan perintah, pasti itu merupakan kebaikan dan bermanfaat, dan jika Dia memberikan larangan, pasti itu merupakan keburukan dan berbahaya. Maka sepantasnya manusia memperhatikan perintah-perintah-Nya.

Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma dan para Ulama Salaf rahimahumullâh berkata, “Jika engkau mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’ân ‘Hai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karena itu merupakan kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya”.[1]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Tafsir :
Kebaikan yang Allâh perintahkan dalam ayat ini, adalah agar kaum Mukminin menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Bagaimana caranya?

Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allâh dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”.

Mujâhid rahimahullah berkata tentang firman Allâh ‘peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’, “Bertakwalah kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla”.

Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu”[2].

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allâh Yang Maha Tinggi sebutannya berfirman, ‘Wahai orang-orang yang membenarkan Allâh dan RasulNya ‘Peliharalah dirimu!’, yaitu maksudnya, ‘Hendaklah sebagian kamu mengajarkan kepada sebagian yang lain perkara yang dengannya orang yang kamu ajari bisa menjaga diri dari neraka, menolak neraka darinya, jika diamalkan. Yaitu ketaatan kepada Allâh. Dan lakukanlah ketaatan kepada Allâh.

Firman Allâh ‘dan keluargamu dari api neraka!’, Maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allâh yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka. Para ahli tafsir mengatakan seperti yang kami katakan ini.’[3]

Imam al-Alûsi rahimahullah berkata, “Menjaga diri dari neraka adalah dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan mendorong mereka untuk melakukan hal itu dengan nasehat dan ta’dîb (hukuman) … Yang dimaksukan dengan keluarga, berdasarkan sebagian pendapat mencakup: istri, anak, budak laki, dan budak perempuan. Ayat ini dijadikan dalil atas kewajiban seorang laki-laki mempelajari kewajiban-kewajiban dan mengajarkannya kepada mereka ini”[4].

Semakna ayat ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.[Thaha/20: 132]

Dan termasuk juga semakna dengan ayat ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.[5]

Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Para ahli fiqih berkata: ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allâh Yang Memberikan taufiq”[6].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

Tafsir :
Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu api neraka yang sangat besar, dinyalakan dengan manusia dan batu, sebagaimana api yang lain dinyalakan dengan kayu bakar”[7].

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Yaitu kayu api neraka yang dilemparkan ke dalamnya adalah anak-anak Adam, ‘dan batu’, ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘batu’ adalah patung-patung yang dahulu disembah (di dunia) berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ

Sesungguhnya kamu (orang-orang musyrik-pen) dan apa yang kamu sembah selain Allâh, adalah umpan Jahannam.[Al-Anbiya’/21: 98]

Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu, Mujâhid, Abu Ja’far al-Baqir, dan as-Suddi, mereka berkata, “Itu adalah batu-batu kibrit (batu bara)”, Mujâhid menambahkan, “lebih busuk daripada bangkai”[8].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ

penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras

Tafsir :
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Yaitu watak mereka kasar, rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir yang kepada Allâh Azza wa Jalla telah dicabut dari hati mereka. ‘Syidâd’, yaitu tubuh mereka sangat kuat, kokoh dan penampilan mereka menakutkan”[9].

Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu para penjaga neraka adalah para malaikat, mereka mengurusi neraka dan menyiksa penghuninya, mereka kasar kepada penghuni neraka, keras terhadap mereka, tidak mengasihi mereka ketika mereka minta dikasihani, karena Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka dari kemurkaaan-Nya, menjadikan mereka berwatak suka menyiksa makhluk-Nya.

Ada yang berpendapat, mereka kasar hatinya, keras badannya. Atau kasar perkataannya, keras perbuatannya. Atau ghilâzh : besar badan mereka, syidâd : kuat”[10].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

dan mereka tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Tafsir :
Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu mereka melakukan pada waktunya, tidak terlambat, mereka tidak memundurkannya dan tidak memajukannya”[11].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu apapun yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada mereka, mereka akan bergegas untuk melakukannya, tidak menundanya sekejap matapun, dan mereka mampu mengerjakannya, mereka tidak lemah dalam melakukannya. Mereka ini adalah malaikat Zabâniyah, kita mohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari mereka”[12].

PETUNJUK-PETUNJUK AYAT

  1. Mengetahui kasih-sayang Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya yang beriman, karena Allâh Azza wa Jalla telah memberikan perintah yang membawa kebaikan, dan melarang dari keburukan yang membawa kepada kecelakaan.
  2. Kewajiban mempelajari bentuk-bentuk ketaatan untuk diamalkan serta mempelajari bentuk-bentuk kemaksiatan untuk ditinggalkan. Dengan ini seseorang bisa menjaga diri dari neraka.
  3. Kewajiban memberikan perhatian kepada istri, anak-anak, dan orang-orang yang ditanggung, mendidik mereka, dan memerintahkan mereka untuk taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, serta melarang mereka dari kemaksiatan. Ini berarti menjaga mereka semua dari api neraka.
  4. Meyakini bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Maka seharusnya manusia menjaga dirinya, untuk selalu beriman dan beramal shalih, sehingga tidak menjadi bahan bakar neraka.
  5. Meyakini bahwa para penjaga neraka adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, sehingga mereka tidak bisa dikalahkan oleh para penghuni neraka.
  6. Meyakini bahwa di antara sifat-sifat malaikat adalah selalu taat. Mereka tidak pernah mendurhakai Allâh Azza wa Jalla dan mereka mampu melaksanakan perintah-Nya.

Wallahu a’lam bishawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVII/1435H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir, 1/80
[2] Lihat semua riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Tahrîm ayat ke-6
[3] Tafsir ath-Thabari, 23/491
[4] Tafsir al-Alûsi, 21/101
[5] HR. al-Hâkim, Ahmad dan Abu Dâwud; disahihkan al-Albâni dalam al-Irwâ`
[6] Tafsir Ibnu Katsîr, surat at-Tahrîm ayat ke-6
[7] Fat-hul Qadîr, 7/257
[8] Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167
[9] Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167
[10] Tafsir Fat-hul Qadîr, 7/257
[11] Tafsir Fat-hul Qadîr, 7/257
[12] Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167

Penyimpangan Dalam Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allâh Azza Wa Jalla

PENYIMPANGAN DALAM NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla memiliki kedudukan yang agung dan tinggi dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tonggak utama dan landasan iman kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan seorang hamba tidak mungkin dapat menunaikan ibadah yang sempurna kepada Allâh Azza wa Jalla sampai dia benar-benar memahami pembahasan ini dengan baik[1].

Oleh karena itu, penyimpangan dalam memahami masalah ini, akibatnya sangatlah fatal, karena kerusakan pada landasan iman ini akan mengakibatkan rusaknya semua bangunan agama seorang hamba yang berdiri di atasnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya, hendaknya menguatkan dan mengokohkan pondasinya, dan bersungguh-sungguh memperhatikannya. Karena sesungguhnya ketinggian bangunan sesuai dengan kadar kekuatan dan kekokohan pondasinya. Maka amal perbuatan dan (tinggi-rendahnya) derajat (dalam Islam) adalah bangunan yang pondasinya adalah keimanan. Semakin kuat pondasi tersebut, maka akan (mampu) menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Kalaupun (terjadi) sedikit kerusakan pada bangunan itu , maka (akan) mudah diperbaiki. Namun jika pondasinya tidak kuat, maka bangunan tidak akan (bisa) berdiri tegak (di atasnya) dan tidak kokoh. Dan jika (terjadi) sedikit (saja) kerusakan pada pondasi tersebut, maka bangunan akan roboh atau (minimal) hampir roboh.

Orang yang mengenal (Allâh Azza wa Jalla dan agama-Nya), perhatian (utama)nya (tertuju pada upaya) perbaikan dan penguatan pondasi (imannya). Sedangkan orang yang jahil (tidak paham agama) akan (berusaha) meninggikan bangunan, tanpa (memperhatikan perbaikan) pondasi, sehingga tidak lama kemudian bangunan tersebut akan roboh.[2]

Pengertian Al-Ilhâd (Penyimpangan) Dalam Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla
Perbuatan penyimpangan dalam nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla  dikenal dengan istilah al-ilhaad. Asal makna al-ilhad secara bahasa adalah menyimpang dan berpaling dari sesuatu[3]. Imam Ibnu Katsir berkata, “Asal (makna) al-ilhad dalam bahasa Arab adalah berpaling dari tujuan, dan (berbuat) menyimpang, aniaya dan menyeleweng. Di antara (contoh penggunaannya) adalah (kata) al-lahd (liang lahad) dalam kuburan. (Dinamakan demikian) karena liang lahad tersebut menyimpang dari pertengahan (lubang) kuburan ke arah kiblat”[4].

Sedangkan pengertian al-Ilhad (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla adalah seperti yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam ucapan beliau: “Hakikat al-ilhad dalam masalah ini adalah menyelewengkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dari (pemahaman) yang benar, atau memasukkan makna asing yang bukan artinya ke dalam makna nama-nama dan sifat-sifat tersebut, atau memalingkannya dari maknanya yang sebenarnya. Inilah hakikat al-ilhad (dalam masalah ini). Barangsiapa  melakukan perbuatan ini, sungguh dia telah berdusta (besar) atas (nama) Allâh”[5].

Ancaman Keras Dan Dosa Yang Sangat Besar Karena Menyimpang Dalam Masalah Ini
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” [al-A’râf/7:180]

Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Azza wa Jalla menyampaikan dua ancaman keras bagi orang-orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat maha sempurna yang dikandung nama-nama tersebut[6]:

Ancaman yang pertama, tertuang dalam bentuk perintah: “tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya”[7]. Perintah di sini berarti ancaman keras bagi orang-orang yang melakukan perbuatan buruk ini, sebagaimana makna firman-Nya:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) [al-Hijr/15:3][8]
Ancaman yang kedua: dalam firman-Nya: “Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” [9]. Maksudnya, mereka akan mendapat balasan azab dan siksaan yang pedih di dalam neraka karena penyimpangan mereka tersebut[10].

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Katakanlah:”Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, (mengharamkan perbuatan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan argumentasi (dalil) untuk itu dan (mengharamkan perbuatan) berkata (atas nama) Allah dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui (tidak dilandasi dengan pengetahuan yang benar)” [al-A’râf/7:33]

Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Azza wa Jalla menyatakan besarnya keburukan dan dosa perbuatan berkata atas nama-Nya tanpa landasan ilmu yang bersumber dari petunjuk-Nya dan petunjuk rasul-Nya, yang merupakan perbuatan berbicara tentang nama-nama dan sifat-Nya tanpa landasan ilmu yang benar, karena perbuatan ini merupakan kejahatan, sikap lancang dan melampaui batas terhadap hak Allâh Azza wa Jalla[11]. Bahkan dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjadikan kerusakan perbuatan tersebut di atas perbuatan syirik (menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “(Dalam ayat ini), Allâh Azza wa Jalla menyebutkan urutan perbuatan-perbuatan yang diharamkan-Nya dalam empat tingkatan, mulai dari yang paling ringan (dibandingkan tiga tingkatan berikutnya), yaitu perbuatan keji (yang nampak maupun tersembunyi), kemudian (tingkatan) ke dua yang lebih besar larangannya dari yang pertama, yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman (aniaya), kemudian (tingkatan) ke tiga yang lebih besar larangannya dari dua tingkatan sebelumnya, yaitu menyekutukan Allâh Azza wa Jalla (dengan makhluk), kemudian (tingkatan) ke empat yang lebih besar larangannya dari semua tingkatan sebelumnya, yaitu berkata atas (nama) Allâh tanpa (landasan) ilmu. Dan ini meliputi (semua bentuk) ucapan atas (nama) Allâh Azza wa Jalla tanpa (landasan) ilmu (yang benar) dalam (memahami) nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, juga dalam (memahami) agama dan syariat-Nya”[12].

Bentuk-Bentuk Ilhâd (Penyimpangan) Dalam Memahami Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla
Bentuk ilhâd (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla bermacam-macam. Sebagian hukumnya sampai pada tingkat kesyirikan dan ada yang sampai pada tingkat kekafiran, sesuai dengan petunjuk dalil-dalil syariat yang ada [13].

Macam-macam bentuk ilhâd tersebut adalah sebagai berikut:
1- Mengingkari sebagian dari nama-Nya atau mengingkari sifat-sifat dan hukum-hukum yang dikandung nama-nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu ta’thil (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla ) dari kelompok jahmiyah dan selain mereka.

Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd, karena kita wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla  serta sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya yang dikandung nama-nama tersebut. Maka mengingkari hal tersebut termasuk penyimpangan dalam masalah ini.

2- Menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menyerupai nama-nama dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu tasybih (orang-orang yang menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk).

Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd karena perbuatan menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk adalah kebatilan dan keburukan yang besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat [asy-Syuurâ/42:11]

فَلَا تَضْرِبُوْا لِلّٰهِ الْاَمْثَالَ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [an-Nahl/16:74]

3- Menetapkan bagi Allâh Azza wa Jalla nama yang tidak ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan nama bapak. Juga seperti perbuatan kaum filosof (ahli filsafat) yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan al-‘illatul fâ’ilah (penyebab yang berbuat).

Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad,  karena penetapan nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil dari al-Qur’ân dan hadits yang shahih, tidak boleh ditambah dan dikurangi). Sebab, Allâhlah yang maha mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

4- Menamai berhala dengan mengambil dari nama-nama Allâh Azza wa Jalla , seperti perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil nama untuk berhala mereka al-‘uzza dari nama Allâh al-‘Aziz (Yang Maha Mulia dan Perkasa), demikian juga nama al-lata dari nama-Nya “al-Ilah” (Dzat yang berhak diibadahi)

Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad karena nama-nama yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya adalah khusus untuk diri-Nya semata-mata, sebagaimana firman-Nya:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ

Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu [al-A’râf/7:180]

Sebagaimana hak untuk diibadahi dan disembah khusus milik Allâh Azza wa Jalla semata, karena hanya Dia-lah semata yang menciptakan, memberi rezki, memberi kemanfaatan, mencegah kemudharatan, dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia-lah yang khusus memiliki nama-nama yang maha indah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya[14].

5- Menyebut Allâh Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allâh Azza wa Jalla adalah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, sebagaimana ucapan sangat kotor dari orang-orang Yahudi yang mengatakan:

اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ

Sesungguhnya Allâh miskin dan kami kaya [Ali-‘Imrân/3:181]

Juga ucapan kotor mereka:

يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ

Tangan Allâh terbelenggu [al-Mâidah/5:64][15].

Contoh-Contoh Penyimpangan Dalam Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla Yang Tersebar Di Masyaraka
Banyak contoh perbuatan ini yang terjadi di masyarakat, karena ketidakpahaman mereka terhadap urusan agama mereka, terutama masalah yang berhubungan dengan keyakinan dasar dan keimanan mereka, meskipun kebanyakan penyimpangan tersebut tidak separah dan tidak sampai pada tingkat kekafiran seperti bentuk-bentuk penyimpangan di atas. Meskipun demikian, tentu semua ini harus dijauhi karena sedikit banyak akan merusak keimanan dan mendangkalkan keyakinan seorang Muslim terhadap Allâh Azza wa Jalla .

Beberapa contoh penyimpangan tersebut, di antaranya:
1- Keyakinan sebagian orang yang tidak paham agama bahwa masing-masing dari Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) mempunyai khasiat khusus untuk mengobati penyakit tertentu.

Perbuatan ini jelas merusak keyakinan, bahkan mengandung pelecehan terhadap nama-nama Allâh yang maha indah, disamping itu juga merupakan perbuatan bid’ah[16] yang sesat serta memalingkan manusia dari dzikir dan ruqyah[17] yang bersumber dari al-Qur’ân dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

2- Menjadikan nama-nama Allâh sebagai jimat dengan menulisnya pada kertas atau manik-manik kemudian di gantung pada kendaraan atau rumah, dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan dari pandangan mata jahat, kedengkian, gangguan setan dan lain sebagainya.

Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh dia telah berbuat syirik”[18]

3- Menulis nama-nama Allâh Azza wa Jalla pada pigura yang indah dengan tulisan yang dihiasi (kaligrafi) untuk dijadikan sebagai hiasan dinding, sehingga orang yang melihatnya akan kagum dengan keindahan tulisan dan hiasannya, bukan pada keindahan nama-nama-Nya apalagi untuk meningkatkan keimanan.

Perbuatan ini jelas tidak disyariatkan, karena perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat . Juga karena nama-nama Allâh Azza wa Jalla terlalu agung dan mulia untuk dijadikan sebagai hiasan dinding dan rumah.

4- Menjadikan Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) sebagai bahan dzikir sehari-hari dengan membaca semua nama tersebut. Ada yang membacanya di waktu pagi dan sore, atau setelah shalat lima waktu, bahkan terkadang ada yang membacanya berulang-ulang sampai ratusan kali.

Adapun makna ‘berdoa dengan nama-nama Allâh’ seperti yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-A’râf ayat 180, juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yang barangsiapa menghafal (dan memahami kandungan)nya maka dia akan masuk surga”[19], adalah menghapal nama-nama tersebut, memahami kandungan maknanya, dan mengamalkannya serta berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya.

5- Termasuk kesalahan besar dalam masalah ini adalah memberi nama seseorang dengan nama yang berarti penghambaan kepada selain Allâh Azza wa Jalla, seperi ‘abdun nabi (hambanya Nabi) atau ‘abdul ka’bah (hambanya ka’bah) , ‘abdul Husain (banyak terdapat di kalangan Syiah) dan lain-lainnya.

Perbuatan ini diharamkan dalam Islam berdasarkan konsensus para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena manghambakan diri kepada selain Allâh Azza wa Jalla adalah perbuatan syirik.

6- Juga termasuk kesalahan dalam masalah ini adalah membuang kertas, buku ataupun majalah yang bertulisakan nama-nama Allâh di sembarang tempat ataupun di tempat sampah yang bercampur dengan kotoran dan barang-barang buangan.

Perbuatan ini diharamkan dalam Islam, karena menunjukkan sikap tidak memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidak menjawab salam seorang Sahabat  ketika beliau sedang berada di WC[20], dalam rangka memuliakan nama Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyebutkannya sewaktu berada di tempat yang kotor dan najis[21].

Cara Untuk Menyelamatkan Diri Dari Penyimpangan Dan Dosa Besar Ini
Satu-satunya cara untuk selamat dari penyimpangan besar ini adalah dengan berdoa memohon taufik kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita terhindar dari semua bentuk penyimpangan dan kesesatan dalam memahami dan mengamalkan agama ini.

Kemudian dengan berusaha mengikuti metode yang benar dalam memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu manhaj ulama Salaf, Ahlus sunnah wal jama’ah, yang telah direkomendasikan kebenaran pemahaman dan pengamalam Islam mereka oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar  [at-Taubah/9:100]

Oleh karena itulah manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah digambarkan oleh para ulama sebagai metode berislam yang a’lam wa ahkam wa aslam[22] (yang paling sesuai dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang paling bijaksana dan sesuai dengan hikmah yang agung, serta paling selamat dari kemungkinan menyimpang dan tersesat dari kebenaran)

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu berpegang teguh dengan metode Ahlus sunnah wal jama’ah dalam berislam agar kita terhindar dari segala bentuk kesesatan dan penyimpangan dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya. Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Al-Qawâ‘idul Mutslâ hlm. 17
[2] Al Fawâ-id  hlm. 175
[3] An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîtsi wal Atsar 4/450
[4] Tafsir Ibnu Katsîr 2/357
[5] Madârijus Sâlikîn 1/30
[6] Adhwâul Bayân 2/146
[7] Ibid
[8] Tafsir Ibnu Jarîr ath-Thabari 13/285
[9] Adhwâul Bayân 2/146
[10] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 309
[11] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 287 dan al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 34
[12] I’lâmul Muwaqqi’în 1/38
[13] al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 50
[14] Keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 49-50 dengan ringkas dan penyesuaian. Lihat juga keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Badâ-i’ul Fawâ-id hlm.179-180
[15] Lihat Badâi’ul Fawâid  hlm.179
[16] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla yang tidak dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[17] Bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit untuk menyembuhkan penyakitnya dengan izin Allâh Azza wa Jalla
[18] HR. Ahmad (4/156) dan al-Hâkim no. 7513. Lihat Ash-Shahîhah no. 492
[19] HR. al-Bukhâri no. 2585 dan Muslim no. 2677
[20] Hadits hasan shahih riwayat Abu Dâwud no. 16 dan at-Tirmidzi no.90
[21] Keterangan Syaikh ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr dalam Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 66-69 dengan ringkas dan penyesuaian
[22] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli 3/95 dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ash-Shawâ’iqul Mursalah 3/1134

Al-Qur’an Menegaskan Allah Itu Sempurna

APAKAH ADA DALAM AL-QUR’AN YANG MENEGASKAN BAHWA ALLAH ITU SEMPURNA TIDAK ADA KEKURANGANNYA

Pertanyaan
Apakah ada di Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah itu sempurna tidak ada kekurangannya? Kalau tidak didapatkan disana nash, apakah orang Islam mempercayai bahwa Allah itu sempurna tidak ada kekurangannya?

Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama: Umat Islam bersepakat (ijmak) keyakinan bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat sangat sempurna. Dan Dia terlepas dari semua kekurangan sedikitpun juga. Perkataan para ulama Islam mutawatir mensifati Allah Ta’ala dengan kesempurnaan mutlak. Diantara hal itu adalah perkataan SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala, “Kesempurnaan merupakan ketetapan untuk Allah. Bahkan yang tetap untuk-Nya puncak dari kesempurnaan yang menyeluruh. Dimana adanya kesempurnaan yang tidak ada kekurangannya kecuali Dia yang tetap untuk Tuhan yang berhak untuk Dirinya yang Maha suci. Penetapaan hal itu mengharuskan meniadaakan kebalikannya. Sehingga menetapkan Maha Hidup mengharuskan meniadakan kematian. Dan menetapkan ilmu mengharuskan meniadakan ketidak tahuan. Dan menetapkan kemampuan mengharuskan meniadakn kelemahan. Bahwa kesempurnaan ini tetap bagi-Nya dari sisi dalil akal dan dalil keyakinan. Disertai dalil-dalil sam’i –maksudnya nash wahyu- akan hal itu.” (Majmu Fatawa, 6/71).

Beliau mengatakan, “Ijma’ telah ada bahwa Allah Ta’ala tidak disifati dengan selain sifat sempurna.” Selesai dari ‘Bayan Talbis Jahmiyah, (2/330). Beliau menambahi, “Yang memperjelas lagi masalah itu adalah bahwa orang Islam bersepakat membersihkan Allah dari aib dan kekurangan. Bahwa Dia mempunyai sifak sempurna. Akan tetapi terkadang masih diperselisihkan sebagain masalah. Apakah kekurangan dalam penetapannya atau dalam peniadaannya akan metode mengetahui akan hal itu.”  (Minhaj Sunah Nabawiyah, 2/563).

Beliau juga mengatakan, “Dan diketahui bahwa telah ada ijmak tentang sucinya Allah dari sifat kurang mencakup kesucian dari semua kekurangan dari sifat perbuatan (fi’liyah) dan bukan perbuatan (non fi’liyah).” (Dar’u Ta’arud Aqli Wan Naql, 4/89).

Kemudian hal ini juga cakupan dari pemikiran yang bagus, bagaimana seseorang beribadah kepada Tuhan dengan tidak meyakini kesempurnaan secara mutlak. Atau berprasangka bahwa masih ada kekurangan ke Dzat-Nya. Atau sedikit dari sifat-Nya?

SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kekurangan itu ditiadakan secara akal sebagaimana peniadaan secara sam’an (wahyu). Akal mengharuskan mensifati Subhana dengan sifat sempurna. Dan kekurangan itu kebalikan dari sifat sempurna.” (Syarh Asbahaniyah, no. 412).

Kemudian ia juga termasuk cakupan dari fitrah yang lurus yang tidak rusak. Dan tidak berubah dari asal penciptaannya. Sebagaimana Firman Allah ta’ala:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [ Ar-Rum/30: 30]

Syaikhul islam rahimahullah mengatakan, “Penetapan dengan Pencipta dan kesempurnaan-Nya sesuai dengan fitrah secara langsung bagi orang yang selamat fitrahnya. Disertai hal itu dengan dalil-dalil yang banyak. Terkadang kebanyakan orang  membutuhkan dalil ketika fitrahnya berubah dan kondisi yang menimpanya.” (Majmu Fatawa, 6/73).

Kedua: Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam tadi, bahwa nash wahyu di antaranya ayat-ayat Qur’an telah menunjukkan penetapaan kesempurnaan untuk Allah Ta’ala. Akan tetapi yang harus diperhatikan pertama kali adalah bahwa makna dari kitab apa saja, tidak hanya diambil sisi dhohir lafadnya bahkan diperhatikan juga cara lain. Diantara cara yang disepakati orang-orang berakal pada setiap agama, bahwa makna yang diambil juga dengan istiqro’ (pendalaman) dan dengan isyarat. Dan dari kontek nash dan ruhnya dari dalil yang diakui dari lafad nash. Kalau kita perhatikan hal ini, maka mungkin kita katakan bahwa sifat sempurna meskipun tidak ada dengan lafad ini di Qur’an melainkan ayat-ayat Qur’an telah menunjukkannya dari berbagai sisi. Yang terpenting dan yang paling jelas adalah:

Sisi pertama: Dengan istiqro’ (pendalaman) nash Qur’an Karim kita dapatkan bahwa Allah ta’ala telah mensifati diri-Nya dengan sifat sempurna. Dimana Allah Ta’ala telah memberi nama pada diri-Nya dengan banyak sifat sempurna ini. Kemudian mensifati nama-nama-Nya dengan indah. Dalam banyak ayat Qur’an. Diantaranya hal itu firman Ta’ala:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [ Al-A’raf/7:180]

Kalau Allah Ta’ala disifati dengan sangat sempurna dalam keindahan. Hal ini mengharuskan meniadakan kebalikannya dari sifat kekurangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Secara global (dalil) sam’i (wahyu) telah menetapkan bagi-Nya nama-nama yang indah dan sifat yang sempurna yang ada. Dan semua kebalikan itu, (dalil) sam’i (wahyu) meniadakannya. Sebagaimana meniaadakan bagi-Nya kesamaan dan kesetaraan. Sesungguhnya penetapan sesuatu itu meniadakan kebalikannya. Dan mengharuskan kebalikannya. Akal mengetahui peniadaan hal itu. Sebagaimana diketahui penetapan kebalikannya. Sehingga menetapkan salah satu kebalikannya itu meniadakan yang lainnya dan yang melazimkannya. Maka metode ilmu (pengetahuan) meniadakan apa yang bersih bagi Tuhan itu sangat luas.” (Majmu Fatawa, 3/84).

Oleh karena itu, Allah mengiringi sifat ini dengan –baginya Asmaul Husna (Nama-nama yang indah). Dalam ayat lain dengan menetapkan bahwa Dia layak untuk disucikan, Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [Al-Hasr/59:24]

Tasbih dalam bahasa adalah mensucikan. Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan, “Asal kata ‘Tasbih adalah membersihkan, mensucikan, lepas dari kekurangan. Kemudian digunakan di beberapa tempat yang mendekatkan (makna) lebih luas lagi.” (An-Nihayah Fi Goribil Hadits, 2/331).

Kalau sifat Allah semuanya sangat indah dan sangat sempurna yaitu Allah Subhanah disamping itu bersih dari semua kekurangan. Ini sebagai dalil dari Qur’an yang jelas akan kesempurnaan Allah Subhanahu wata’ala

Sisi kedua: Telah ada dalam ayat Qur’an yang banyak akan pengagungan Allah dan perintah akan hal itu. Tasbih dalam bahasa seperti tadi adalah penyucian. Dan penyucian Allah Ta’ala mengandung peniadaan semua kekurangan. Kalau meniadakan semua kekurangan Allah Ta’la tidak tersisa dari sifat-Nya melainkan yang menunjukkan kesempurnaan. Karena mencakup penyucian untuk kesempurnaan Allah Ta’ala. Banyak ayat yang menyandingkan hamdillah (pujian kepada Allah) karena merasakan kesempurnaan ini bahkan menjadi suatu keharusan-Nya. Sebagaimana firman Ta’ala:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam” [As-Shofat/37: 180-182]

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsiri ayat ini mengatakan, “Allah Ta’ala membersihkan dirinya Yang Mulia, mensucikan dan berlepas diri dari apa yang dikatakan orang-orang dolim, pendusta dan melampai batas.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  maksudnya bagi-Nya seluruh pujian pertama dan terakhir pada setiap kondisi. Ketika pensucian mengandung pembersihan dan berlepas dari kekurangan dengan dalil yang bersesuaian. Menjadi suatu keharusan menetapkan kesempurnaan. Sebagaimana pujian (Al-Hamdu) menunjukkan akan penetapan sifat sempurna secara kesesuaian. Dan menjadi suatu keharusan meniadakan dari kekurangan. Menyandingkan diantara keduanya (tasbih dan hamd) di tempat ini. Dan pada banyak tempat di Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/46).

Sisi ketiga: Ketika kita telah mengetahui seperti tadi bahwa Allah mensucikan diri-Nya dari semua kekurangan, hal ini mengharuskan darinya tidak disifati kecuali dengan apa yang layak dipuji untuk-Nya. Maka Allah Ta’ala kabarkan  bahwa dalam sifat terpuji ini lebih tinggi dari sifat makhluk. Tidak dapat diketahui seorangpun. Ini adalah sangat sempurna. Maka Allah berfirman menjelaskan akan ketinggian dari makhluk-Nya dzat dan sifatnya:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy” [Ghafir/40: 14-15]

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[Ar-Rum/30: 27].

Dan (Allah) meniadakan persamaan dengan seorangpun dari makhluknya, seraya berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”[ Asy-Syuro/42: 11]

Semuanya ini mengisyaratkan sangat sempurna dalam sifat Allah Ta’ala

Sisi keempat: Sesungguhnya Allah memberi nama untuk diri-Nya dengan banyak nama, masing-masing menunjukkan keumuman kesempurnaan-Nya Ta’aa dan berlepas dari semua kekurangan. Diantaranya adalah:

1.Al-Quddus. Allah Berfirman

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [ Al-Jumah/62: 1]

Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan tentang asma Allah Ta’ala ‘Al-Quddus’ adalah suci dan bersih dari seluruh aib. Dan kata ‘Fa’ul’ termasuk bentuk mubalagoh (menunjukkan kesempurnaan).” (An-Nihayah, 4/23).

2. As-Salam. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَام

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”[ Al-Hasyr/59: 23]

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Ketika kata ‘As-Salam’ salah satu nama Tuhan Tabaroka wata’ala, pada asalnya ia adalah isim masdar seperti kata ‘Kalam dan ‘Atho’. Maka Tuhan Ta’ala lebih berhak dari selain-Nya. Karena kata ‘Salim’ adalah selamat dari seluruh aib, kekurangan dan celaan. Karena bagi-Nya kesempurnaan mutlak dari seluruh sisi. Dan kesempurnaan-Nya termasuk suatu keharusan dari Dzat-Nya. Tiada lain kecuali itu. Kata ‘As-Salam’ mengandung keselamatan perbuatan-Nya dari kesia-siaan, kedholiman dan menyalahi hikmah. Dan keselamatan sifat-Nya dari penyerupaan sifat makhluk, selamat Dzat-Nya dari semua kekurangan dan aib. Selamat nama-nama-Nya dari semua celaan. Maka nama ‘As-Salam’ mengandung penetapan semua kesempurnaan bagi-Nya dan mencabut semua kekurangan dari-Nya. Selesai dari ‘Ahkam Ahlu Dzimmah, (1/413-414).

3. As-Somad. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، اللَّهُ الصَّمَدُ  

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” [Al-Ikhlas/112: 1-2)

Diriwayatkan Tobari dalam tafsirnya, (24/736) dari Ibnu Abbas dalam firman-Nya ‘As-Somad’ surat Al-Ikhlas: 2. Adalah Tuan yang telah sempurna kekuasaan-Nya. Maha Mulia yang telah sempurna kemulyaan-Nya. Maha Agung yang telah mencakup keagungan-Nya. Dan Maha Lembut yang telah sempurna kelembutan-Nya. Maha Kaya yang telah sempurna kekayaan-Nya. Maha Perkasa yang sempurna keperkasaan-Nya. Maha Mengetahui yang telah sempurna keilmuan-Nya. Maha Bijaksana yang telah sempurna kebijaksanaan-Nya. Dia yang telah sempurna semua bentuk kemulyaandan kekuasaan. Yaitu Allah subhanahu dari siafat-sifat-Nya. Tidak layak kecuali untuk-Nya

Syaikh Muhammad Amin Sinqithi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan, “Kata As-Somad’ adalah Tuan. Yang tergantung kepada-Nya ketika dalam kondisi kesulitan dan butuh. Sebagian mengatakan, “Ia adalah Tuan yang sangat sempurna kekuasaan, kemulyaan, keagungan, ilmu dan hikmah-Nya. Sebagian lagi mengatakan, “Kata As-Somad adalah Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Sehingga (ayat) setelahnya ada penafsirannya. Sebagian mengatakan, “Dia yang Tetap ada setelah hancur makhluk-Nya. Sebagian mengatakan,”Kata ‘As-Somad’ adalah tidak ada rongga, tidak makan makanan. Yang dikenal dalam perkataan arab ketika penamaan as-somad adalah untuk tuan yang agung. Dan kepada sesuatu musommat adalah yang tidak ada rongga. Ketika anda mengetahu hal itu, maka Allah Ta’ala adalah Tuan Dia saja tempat kembali ketika dalam kondisi sulit dan butuh. Dia Yang bersih dan suci dan tinggi dari sifat makhluk. Seperti makan makanan dan semisalnya. Subhanahu wa ta’ala dari hal itu (terlepas dari hal itu) yang sangat tinggi sekali. selesai dari ‘Adwaul Bayan, (2/220-221).

4. Al-Hamid, Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [Fatir/35: 15]

Al-Khattabi rahimahullah mengatakan, “Kata ‘Al-Hamid’ adalah yang dipuji berhak mendapatkan pujian dengan prilaku-Nya. Ia ikut wazan ‘Fa’iil’ dengan arti ‘Maf’uul’ Dia yang dipuji dalam kondisi senang maupun susah. Kekurangan maupun kelapangan. Karena Dia Maha Bijaksana, dalam prilaku-Nya tidak pernah salah. Dan tidak pernah melakukan kesalahan. Dia yang dipuji dalam segala kondisi.” Selesai dari ‘Sya’nu Doa, hal. 78.

Wallahu a’lam .
Disalin dari islamqa

Kenapa Allah Berbicara Dengan Sighoh Jama’ dan Mufrad

KENAPA ALLAH BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN SIGHOH JAMA’ (PLURAL/BANYAK) DAN MUFRAD (SENDIRI)

Pertanyaan.
Kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara di Al-Qur’an Al-Karim terkadang menggunakan kata jama’ (banyak /plural)?

Jawaban
Alhamdulillah.

Jawabannya ada dua macam,
Pertama. Jawaban secara global. Hendaknya seorang mukmin berkeyakinan bahwa semua perbuatan Allah tidak lain pasti ada hikmah yang tinggi dan tujuan yang terpuji. Hal itu tidak harus setiap orang mengetahui hal ini. Dan ini termasuk salah satu bentuk ujian sebagaimana Firman-Nya, ‘Kami menguji kamu semua agar mengetahui siapakah yang paling bagus amalannya.’

Kedua. Jawaban secara rinci. Al-Qur’an datang dengan memakai bahasa Arab, dan dalam bahasa arab, penggunaan jama’ (banyak) dibenarkan untuk satu. Sebagaimana penggunaan mufrad (satu) untuk satu. Akan tetapi penggunaan jama’ itu untuk pengagungan. Tidak seorangpun yang lebih agung dibandingkan Allah. maka penggunaan kata mufrad (satu) untuk menegaskan Dia hanya satu tidak disekutukan dengan lainnya. Sementara penggunaan kata jama’ untuk menegaskan keagungan-Nya Subhanahu.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mempunyai perkataan yang dapat kita ambil manfaatnya dalam masalah ini, di kitab ‘Majmu’ Fatawa, 5/128: “Sementara qurb (dekat) yakni dekat dengan Allah, maka terkadang digunakan dengan kata mufrad (satu) seperti firman-Nya:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ

Kalau hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang diri-Ku. Maka sesungguhnya Saya itu dekat, Saya akan mengabulkan orang yang berdoa.’[Al-Baqarah/2 : 186]

Dan dalam hadits

إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

Sesungguhnya yang kamu semua minta (doa) itu lebih dekat kepada salah satu diantara kamu semua dibandingkan dengan leher kendaraan (unta)

Terkadang menggunakan dengan kata jama’ (plural) seperti firman-Nya:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat dengannya dibandingkang dengan urat nadi.’

Dan ini seperti firman-Nya, ‘Kami bacakan kepada kamu semua’ ‘Kami ceritakan kepada anda’. Kata ‘Kami bacakan’ dan ‘Kami ceritakan’ dan semisalnya, penggunaan kata ini dalam ucapan arab untuk satu yang agung yang dia mempunyai pembantu yang mentaatinya. Kalau pembantunya melakukan sesuatu dengan perintahnya. Dia mengatakan, ‘Kami itelah melaksanakannya. Sebagaimana perkataan raja, ‘Kami taklukkan negara ini dan kami kalahkan tentara ini. Dan semisal itu.

Silahkan lihat jawaban lengkapnya pada perkataan yang penting di soal no. 606.

Wallahu’alam .
Disalin dari islamqa

Maksud Penggunaan Dhamir (Kata Ganti) ‘نحن’ (Kami) Dalam Al-Quran

MAKSUD PENGGUNAAN DHAMIR (KATA GANTI) نحن (KAMI) DALAM AL-QUR’AN

Pertanyaan
Mengapa Al-Quran menggunakan kata ‘kami’ dalam ayat-ayat-Nya? Banyak orang non muslim yang mengatakan bahwa hal itu memberikan isyarat kepada Nabi Isa

Jawaban
Alhamdulillah.
Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau dia menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) أنا (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti هو (dia). Ketiga metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka..” (Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)

Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya, اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ  Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata. dan semisal itu. Dan tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu. selesai (‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz (إنا ) dan (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampikan mewakili seseorang yang agung. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian raja apabila mereka mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan.

Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan. Kalau ayat semacam ini membuat bingung seseorang dan menimbulkan keraguan baginya, maka dia harus merujuk kepada ayat-ayat yang telah jelas maknanya. Jika seorang Nashrani misalnya berkata bahwa ayat.

مَا نُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوْٓا اِذًا مُّنْظَرِيْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharany.” [Al-Hijr/15: 9]

Dan semacamnya, menunjukkan bahwa Tuhan berbilang, maka kita jawab mereka dengan ayat muhkam (yang telah jelas maknanya), seperti firman Allah Ta’ala,

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang“[Al-Baqarah/2:163]

Atau firman-Nya,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah; Dialah Allah Yang Maha Esa“[Al-Ikhlas/112: 1]

Dan ayat semacamnya yang hanya mengandung satu makna. Maka ketika itu akan hilanglah kerancuan bagi mereka yang menginginkan kebenaran. Maka, seluruh bentuk kata ganti jamak yang Allah sebutkan untuk menyatakan diri-Nya adalah sebagai penjelas keagungan diri-Nya, serta banyaknya nama-nama dan sifat-sifat-Nya, juga banyaknya tentara-tentara-Nya dari kalangan malaikat.

Hendaknya dibaca kembali Kitab Al-Aqidah At-Tadmuriah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 109.

Wallahu Ta’ala A’lam.
Disalin dari islamqa

Penjelasan Tentang Sifat Istiwa, Betis, Wajah Adalah Milik Allah

PENJELASAN TENTANG SIFAT ISTIWA, BETIS, WAJAH ADALAH MILIK ALLAH. APAKAH TUBUH TERMASUK SIFAT ALLAH TA’ALA

Pertanyaan
Saya mendengar kalangan salafiyyin meyakini dengan makna literal tentang sifat Allah Ta’ala. Yaitu mereka beriman bahwa Allah berada di atas Arasy-Nya dan bahwa Dia memiliki tubuh, wajah, betis. Aku berlindung kepada Allah. Apakah hal tersebut benar?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama: Baik sekali jika anda menghubungi kami untuk mengenal hakikat aqidah kaum salafiyyin. Sehingga dapat mengenal apa yang mereka iman dalam bab sifat-sifat Allah Ta’ala serta mengetahui bantahan mereka atas tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada mereka oleh musuh-musuh mereka serta orang-orang yang bodoh di antara mereka.

Kedua: Prinsip kalangan salafiyyin dalam masalah nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya adalah prinsip para pendahulu mereka dari kaum salaf umat ini, khususnya para shahabat yang mulia serta para tabiin yang terhormat, dengan kemudian prinsip ini menjadi pokok yang disepakati oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Yaitu:

  1. Mereka menetapkan apa yang Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tanpa merubah (tahrif), menyerupakan (tamtsil) dan menggugurkan (ta’thil).
  2. Mereka menafikan apa yang Allah nafikan untuk diri-Nya dan apa yang dinafikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
  3. Terkait dengan sifat yang tidak dinyatakan penetapannya (itsbat) dan penafiannya (nafy), maka mereka tidak berkomentar sebelum diketahui makna yang dimaksud. Jika maknanya ternyata rusak, maka mereka nafikan lafaz dan maknanya, jika maknanya benar, maka tetapkan maknanya tapi bukan lafaznya.

Ketiga: Kita akan praktekkan prinsip yang agung ini terkait dengan sifat-sifat yang anda sebutkan;

1. Allah Ta’ala telah menetapkan sifat ‘Bersemayam (istiwa) di atas Arasynya’  dalam banyak tempat dalam Al-Quran;

Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى 

“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaha/20: 5]

ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. ” [Al-A’raf/7: 54.  Yunus/10: 3.  Ar-Ra’du/13: 2. Al-Furqan/25: 59.  As-Sajdah/32: 4. Al-Hadid/57: 4]

Istiwa (bersemayam) merupakan sifat fi’liyah (sifat perbuatan) bagi Allah Ta’ala. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkannya sesuai dengan makna yang layak bagi-Nya, tanpa dirubah (tahrif) maknanya, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli ta’wil yang merubah maknanya menjadi ‘menguasai‘ (istii’la)! Tidak juga diserupakan dengan bersemayamnya makhluk, karena sesungguhnya Allah tidak ada satupun yang menyerupai dzat-Nya dan tidak ada satupun yang menyerupai sifatnya.

Ucapan Imam Malik bin Anas Radhiyallahu anhu dalam masalah sifat yang mulia ini akan tetap menjadi kaidah bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh bab sifat. Meskipun pertanyaannya khusus tentang sifat istiwa yang sedang kita bicarakan ini. Beliau pernah ditanya tentang bersemayamnya Allah, bagaimana hakikatnya. Maka beliau menjawab,

الاستواء معلومٌ ، والكيف مجهولٌ ، والإيمان به واجبٌ ، والسؤال عنه بدعة.

Istiwa telah diketahui, caranya majhul (tidak diketahui), beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentangnya adalah bid’ah

Riwayat Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah (3/441), Baihaqi dalam Al-Asma wa Sifat (hal. 408) dishahihkan oleh Az-Zahabi, Syaikhul Islam dan Al-Hafiz Ibnu Hajar. Lihat Mukhtashar Al-Uluw (hal. 141), Majmu Fatawa (5/365), Fathul Bari (13/501). Ada beberapa redaksi yang berdekatan dengan makna yang sama.

Istiwa (bersemayam) telah diketahui, maksudnya telah diketahui maknanya dalam bahasa Arab. Sedangkan tata caranya tidak diketahui. Beriman kepadanya wajib. Bertanya tentangnya, maksudnya tentang caranya, merupakan bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Perkara istiwa di atas Arasy telah ditetapkan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah serta kesepakatan pendahulu (salaf) umat ini serta para tokoh ulamanya. Bahkan dia telah ditetapkan dalam seluruh kitab yang diturunkan dan oleh seluruh nabi yang diutus.” (Majmu Fatawa, 2/188)

Ibnu Qayim rahimahullah berkata dalam rangka membantah orang yang hendak mengubah sifat istiwa atau hendak menggugurkannya, “Apa yang mereka nyatakan adalah batil dari empatpuluh dua sisi;

Salah satunya, bahwa kata istiwa dalam bahasa Arab yang Allah jadikan sebagai bahasa untuk menurunkan firman-Nya dan menyampaikannya kepada kita, terdiri dari dua macam ; Mutlak dan Muqayyad (terikat). Yang dimaksud mutlak adalah yang mengantarkan pada sebuah makna tanpa bantuan huruf lain. Seperti firman Allah Ta’ala,

وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya” [ Al-Qasas/28: 14].

Yang ini artinya; Sempurna. Maka dikatakan استوى النبات (tumbuhan itu sempurna) dan استوى الطعام makanan telah matang.

Adapun yang bersifat muqayyad ada tiga macam;

Pertama, terikat dengan “إلى” seperti firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ

[Al-Baqarah/2: 29]. Yang ini bermakna ‘tinggi’ dan ‘di atas’ berdasarkan ijmak kaum salaf.

Kedua, terikat dengan katan “على” seperti firman-Nya:

لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ

[Az-Zuhhruf/43 : 13]. Inipun maknanya adalah tinggi, di atas dan tegak, berdasarkan kesepatakan ahli bahasa.

Ketiga, disandingkan dengan huruf ‘و’ seperti ungkapan. استوى الماء الخشبة maksudnya adalah bahwa air sudah sejajar dengan kayu.

Inilah makna yang masuk akal berdasarkan ucapan mereka (dalam bahasa Arab). Tidak ada sama sekali yang bermakna ‘استولى‘ (menguasai). Tidak ada satupun dari ahli bahasa yang ucapannya dijadikan pedoman mengatakan demikian. Akan tetapi hal tersebut dikatakan oleh ahli tata bahasa (nahwu) di masa belakangan yang menempuh jalan kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah. (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 371-372)

2. Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya, sifat ‘الوجه’ (wajah), demikian pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menetapkannya demikian. Maka kaidah syariah disini berlaku; Yaitu kita menetapkan sifat Allah Ta’ala ini tanpa merubah maknanya bahwa dia merupakan ‘dzat’ dan juga tidak menyerupakannya, sehingga kita mengatakan bahwa wajahnya seperti wajah salah seorang dari makhluk-Nya, atau tidak boleh menggugurkannya sama sekali sebagai sifat. Dalil tentang sifat ini cukup kita ambil dari satu dari Al-Quran dan satu lagi dari Sunah.

a. Firman Allah Ta’ala,

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ

[Ar-Rahman/55: 27]. “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata, Allah Azza wa Jalla berfirman,   وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman/55: 27). Dia telah mengabarkan bahwa diri-Nya memiliki wajah yang tidak akan binasa dan tidak akan hancur.” (Al-Ibanah, hal. 77)

Beliau juga berkata, “Siapa yang bertanya kepada kami, ‘Apakah kalian berpendapat bahwa Allah Ta’ala memiliki wajah?”  Maka dikatakan kepadanya, “Kami berkata demikian, berbeda dengan apa yang  dikatakan oleh ahli bid’ah. Dan hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Al-Ibanah, hal. 78-79)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Semua yang berada di muka bumi, baik dari kalangan jin dan manusia, seluruhnya akan binasa, dan yang kekal tetaplah wajah tuhanmu wahai Muhammad (pemilik kebesaran dan kemuliaan). Kalimat ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) merupakan na’at (sifat) dari kata ‘الوجه’ karena itu dia dibaca marfu‘ ‘ذو’ . Diriwayatkan bahwa dia dalam qiraat Abdullah dibaca ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) yaitu sebagai sifat bagi bagi ‘الرب’ (Jami’ul Bayan, 27/134)

Apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Masud radhiallahu anhu (dibaca ذي الجلال) tidaklah benar. Yang disepakati adalah bacaan marfu’.

Syekh Abdul Fattah Al-Qadhi rahimahullah berkata, “Ibnu Amir membaca, ( تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) dengan ‘و’ sedangkan yang lainnya membaca ( ذِي الْجَلَالِ ) dengan ‘ي’ sementara dalam tulisannya dengan ‘و’ . Adapan firman Allah Ta’ala, ( وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) telah disepakati bacaannya dengan ‘و’ begitu penulisannya dengan ‘و‘ daam semua mushaf Utsmani. (Al-Wafi Fi Syarh Syatibiyah, hal. 366)

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah, firman-Nya ‘ ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) saat menyebutkan ‘الوجه’, sementara dibaca jar dalam firman-Nya ( تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (Ar-Rahman/55: 78). Maka ‘ذو’ menunjukkan bahwa ‘wajah’ dikaitkan dengan keagungan dan kemuliaan, ketika tujuannya hendak mengabarkannya. Sedangkan ‘ذي’ yang disandingkan dengan ‘kemuliaan dan keagungan’ di akhir surat tujuannya adalah menunjukkan dzat yang disebut, bukan namanya. Maka hendaknya hal ini diperhatikan.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 409)

b. Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Bab firman Allah Ta’ala, ‘ ( كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ) Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.” [Al-Qashash/28: 88]”

Kemudian beliau meriwayatkan hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dia berkata, ‘Ketika turun ayat berikut ”

 ( قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ )

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”  ( أَعُوذُ بِوَجْهِكَ ) Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya,

( أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ ) Atau dari bawah kakimu.” [Al-An’am/6: 65]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” ( أَعُوذُ بِوَجْهِكِ ) Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya, ( أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا) “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan).”

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” ( هذا أَيْسَرُ ) Ini perkaranya mudah.”

Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata, “Kami dan seluruh ulama kami, baik dari Hijaz, Tihama, Yaman, Irak, Syam, Mesir, mazhab kami adalah bahwa kami menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya. Kami tetapkan hal itu dengan lisan kami dan kami benarkan dalam hati kami, tanpa menyerupai wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari kalangan makhluk. Maha suci Tuhan kami dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Maha suci Tuhan kami dari pendapat orang-orang yang tidak mempercayai adanya sifat Allah.” (Kitab Tauhid, 1/18)

3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan sifat ‘الساق’ (betis). Maka kaidah syar’iah di sini adalah; Menetapkan sifat Allah tersebut tanpa merubah maknanya dengan makna ‘الشدة’ (bencana berat), tidak boleh menyerupakannya dengan makhluk, seperti kita serupakan dengan betis makhuk atau kita tiadakan sama sekali sifat tersebut.

Di antara dalil tentang sifat ini adaah:
Hadits Abu Said Al-Khudry, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

(فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ )

“… Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” (HR. Bukhari, no. 7001)

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Yang menetapkan hal tersebut sebagai sifat seperti kedua tangan atau jari, mereka tidak mengambilnya dari zahir Al-Quran, akan tetapi mereka menetapkannya dari hadits Abi Said Al-Khudry yang diriwayatkan muttafaq alaih, yaitu hadits tentang syafaat yang panjang, di dalamnya terdapat sabda beliau, “فيكشف الرب عن ساقه فيخرون له سجَّدًا  Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Siapa yang mengartikan ayat dengan hadits tersebut, mereka berkata bahwa firman Allah Ta’ala,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; Maka mereka tidak kuasa” [Al-Qalam/68: 42]

Sesuai dengan sabdanya, “… ( فيكشف عن ساقه فيخرون له سجدًا ).  Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Bahwa kata ‘ساق’ dinyatakan dalam bentuk nakirah (tidak disandingkan dengan lafaz ‘Allah’) adalah untuk menunjukkan keagungan dan kebesaran. Seakan hendak dikatakan, ‘(Hari itu) itu disingkap betis yang agung, yang keagungannya tidak ada yang menandingi dan menyerupainya. Mereka berkata bahwa memaknai kalimat ini dengan arti ‘bencana berat’ tidak dibenarkan dari satu sisi; yaitu karena dalam ungkapan sehari-hari, ungkapan dengan makna seperti itu (bencana berat)  dikatakan  كشفت الشدة عن القوم (Bencana telah hilang dari suatu kaum), bukan dengan kata ‘كُشف’ (disingkap), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْنَ 

Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” [Az-Zukhruf/43: 50]

وَلَوْ رَحِمْنٰهُمْ وَكَشَفْنَا مَا بِهِمْ مِّنْ ضُرٍّ

Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami.” [Al-Mukminun/23: 75]

Azab dan bencana adalah dihilangkan, bukan yang disingkap. Demikian pula disana terjadi kondisi yang berat dan terus terjadi kecuali setelah masuk surga. Sedangkan makna yang ini tidak diserukan sujud, akan tetapi mereka diserukan kepada yang lebih besar dari bencana tersebut.” (Ash-Shawaiq Al-Mursalah, 1/252-253)

4, Lafaz ‘الجسد‘ tidak ada penyebutannya bagi Allah Ta’ala, tidak dalam bentuk penetapan, tidak pula dalam bentuk peniadaan. Kaidah Ahlussunnah dalam masalah seperti ini; Tidak boleh disandingkan kepada Allah Ta’ala dan dinisbatkan kepadanya. Karena mensifati Allah dengan sesuatu tidak dibolehkan kecuali dengan dalil yang shahih berdasarkan Kitabullah dan sunah Nabinya shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula, tidak boleh dinafikan hanya karena tidak ada dalil yang menetapkannya. Akan tetapi hendaknya diperinci tentang hal tersebut; Jika maknanya batil dalam syariat, maka kita harus nafikan makna yang batil tersebut, juga dinafikan redaksinya yang bid’ah. Apabila maknanya benar, maka kita tetapkan makna yang benar dan hendaknya  kita gunakan lafaz syar’i yang menunjukkan hal tersebut, kecuali jika ada tuntutan dalam penggunaan lafaz yang bid’ah dengan disertai maknanya yang benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Wajib diperhatikan dalam bab ini. Apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka kita tetapkan dan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya, maka kami nafikan. Kalimat yang tertera dalam nash, itulah yang dijadikan pedoman, baik dalam penetapan dan penafian. Maka kita tetapkan lafaz dan makna yang telah ditetapkan oleh nash dan menafikan lafaz dan makna yang telah dinafikan oleh nash. Adapun lafaz yang dipertentangkan dari kalangan generasi belakangan, seperti lafaz ‘الجسم’ (tubuh), ‘الجوهر’ (inti), ‘المتحيز’ (tersimpan), ‘الهجة’ (arah) dan semacamnya, maka kita tidak meniadakannya atau menetapkannya secara mutlak sebelum mengetahui maksud yang berkata. Jika yang dia maksud dengan meniadakan atau menetapkan memiliki makna yang benar sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka dibenarkan makna yang dimaksud dalam lafaz tersebut, akan tetapi seharusnya diucapkan dengan lafaz yang terdapat dalam nash, tidak menggunakan lafaz-lafaz bid’ah tersebut dan yang bersifat umum, kecuali jika dibutuhkan dengan tetap menjelaskan korelasi yang menjelaskan tujuannya. Kebutuhan misalnya jika menyampaikan kepada orang yang tidak dapat menangkap tujuannya dengan sempurna kecuali disampaikan dengan lafaz tersebut. Adapun jika makna yang dimaksud adalah batil, maka hendaknya makan tersebut dinafikan. Jika terkumpul antara makna yang hak dan makna yang batil, maka yang hak ditetapkan dan yang batil ditiadakan”.(Minhajus-Sunah, 2/554-555). Beliau telah menjelaskan panjang lebar saat membicarakan lafaz ‘الجسم’. Hendaknya dibaca, karena masalah ini penting.

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masalah ‘الجسمية’ (tubuh) tidak terdapat dalam Al-Quran maupun Sunah, baik dalam bentuk penetapan atau peniadaan. Akan tetapi, terkait dengan lafaz tersebut kita katakan bahwa kami tidak menafikan atau menetapkan. Tidak kita katakan, tubuh yang bukan tubuh. Akan tetapi, terkait maknanya, maka hendaknya kita rinci dan bertanya kepada yang berkata, ‘Apa yang engkau maksud dengan ‘الجسم’? Apakah yang engkau maksud adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan memiliki sifat yang layak untuk-Nya, yang berbuat dengan kehendaknya, mennggenggam dan membuka? Jika itu yang engkau maksud, maka itu hak dan maknanya benar. Sebab Allah Ta’ala berdiri dengan sendirinya dan melakukan apa yang Dia kehendaki. Dia memiliki sifat yang layak dengan-Nya, dia mengambil, menggenggam dan membuka. Menggenggam seluruh langit dengan tangan-Nya dan menggerakkannya. Jika yang engkau maksudkan dengan ‘الجسم’ adalah sesuatu yang satu sama lain saling membutuhkan dan tidak dikatakan sempurna sebelum sempurnya anggota-anggotanya, maka hal itu tidak boleh bagi Allah, karena hal tersebut menunjukkan adanya kejadian dan ketersusunan. Ini perkara yang tidak boleh diyakini terhadap Allah Azza wa Jalla. (Syarh Al-Aqidah As-Safariniyah, hal. 18-19)

Kini engkau telah mengetahi wahai penanya, bahwa kaum salafi adalah orang yang paling berbahagia dengan Al-Quran dan Sunah. Mereka tidak meyakini sesuatu tentang dzat Tuhannya kecuali jika mereak mendapatkan dalil dari kedua rujukan yang bersumber dari wahyu. Kaidah mereka terhadap seluruh perkara yang mereka tetapkan bagi Allah Ta’ala, baik berupa nama, sifat dan perbuatan-Nya, adalah firman Allah Ta’ala, “ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya.” [Asy-Syura/42:11].

Bahkan mereka sepakat bahwa siapa yang menyerupai Allah Ta’ala dengan makhuknya, maka dia kafir. Hendaknya tidak menghiraukan orang yang terpedaya, hendaknya berpegang teguh dengan buhul yang kuat dari nash-nash wahyu, maka akidahmu akan selamat dan anda akan mulia berada dalam kelompok yang selamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam penjelasan tentang akidah Ahlussunnah wal Jamaah, “Mereka tidak menafikan sifat yang telah Dia tetapkan untuk dirinya. Mereka tidak merubah ucapan dari tempatnya, mereka tidak mengingkari nama Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya, mereka tidak meneliti bagaima sifatnya, tidak mengumpamakan dengan sifat makhluknya. Karena Allah Ta’ala tidak ada  yang menyamai-Nya, sebanding dengan-Nya dan menandingi-Nya. Dia tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap diri-Nya dan terhadap selain-Nya. Dia yang paling benar ucapannya dan paling bagus ucapannya. (Majmu Fatawa, 3/130)

Wallahua’lam .
Disalin dari islamqa

Hukumnya Mereka Yang Mentakwil Sifat-Sifat Allah -Ta’ala-

HUKUMNYA MEREKA YANG MENTAKWIL SIFAT-SIFAT ALLAH -TA’ALA-

Pertanyaan
Saya ingin bertanya tentang orang yang mengingkari sifat-sifat Allah, apakah dia masih sebagai seorang muslim atau bukan ?, seperti seseorang yang mengatakan bahwa maksud dari “Yadullah” adalah kekuatan Allah, dan mereka mentakwil sifat Allah, apakah mereka yang mengingkari Sifat-sifat Allah tersebut tidak lagi menjadi bagian dari Ahlus Sunnah atau mereka sudah dianggap telah keluar dari agama Islam secara keseluruhan ?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama: Akidahnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada tauhid Asma’ dan Sifat adalah bahwa mereka beriman dengan apa yang ada di dalam Kitabullah –‘Azza wa Jalla- dan dengan apa yang telah ditetapkan riwayatkan dari Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tanpa ditakwil, diserupakan, dirubah dan ditiadakan, mereka mensifati Allah –Ta’ala- dengan sifat yang telah Dia sifati sendiri dan dengan sifat yang telah disifati oleh Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ibnu Abdil Bar –rahimahullah- berkata:
“Ahlus sunnah telah berkonsensus dalam meyakini Sifat-sifat Allah yang tertera di dalam al Qur’an dan Sunnah dan mengimaninya, dan membawanya kepada makna yang hakiki bukan kepada makna majas (kiasan), hanya saja mereka tidak menyerupakan dengan sesuatu apapun, dan mereka tidak membatasinya pada sifat tertentu. Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, semua Mu’tazilah dan Khawarij, mereka semua mengingkarinya, dan tidak membawa makna sifat-sifat Allah tersebut kepada makna yang hakiki”. (At Tamhid: 7/145)

Kedua: Barang siapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah secara keseluruhan dan menafikannya dari Allah –Ta’ala-, seperti halnya kelompok Batiniyyah, Jahmiyyah yang melampaui batas, maka dia adalah kafir, keluar dari agama, mendustakan al Qur’an dan sunnah dan mencederai ijma’ (konsensus) semua umat Islam.

Demikian juga seseorang yang mengingkari salah satu Sifat dan Nama Allah yang telah Dia tetapkan di dalam al Qur’an maka dia telah kafir; karena yang menjadi patokan kekufurannya adalah karena dia mendustakan al Qur’an.

Adapun bagi seseorang yang mentakwil sifat-sifat Allah, merubah dari makna-Nya yang sebenarnya, seperti seseorang yang mentakwil sifat Tangan Allah dengan kekuasaan, dan kata istawa (bersemayam) dengan kata istaula (menguasai) dan lain sebagainya, maka dia telah melakukan kesalahan pada takwilnya karena tidak sesuai dengan makna yang nampak jelas, termasuk pelaku bid’ah sesuai dengan kadar penyimpangannya terhadap sunnah, keluar dari jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Di situ ada unsur bid’ah yang sesuai dengan kadar penyimpangannya terhadap sunnah, akan tetapi dia tidak serta merta menjadi kafir karena takwil tersebut, karena bisa jadi dia dimaafkan dengan ijtihad dan takwilnya berdasarkan kondisi keilmuan dan keimanannya, yang menjadi ukuran adalah dalam rangka untuk mencari apa yang dibawa oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan keinginan kuat untuk mengikuti beliau.

Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata:
“Tidak boleh mentakwil sifat-sifat Allah, tidak juga mengalihkan dari makna yang dzahir yang sesuai dengan Allah, juga tidak menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada-Nya, semua itu termasuk keyakinan ahli bid’ah. Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka tidak mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, mereka tidak mengalihkan dari makna yang dzahir, juga tidak menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah, akan tetapi mereka meyakini semua makna yang terkandung di dalamnya adalah benar dan paten milik Allah, yang layak untuk-Nya –subahanah- yang tidak serupa dengan makhluk-Nya”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 2/106-107)

Beliau –rahimahullah- juga pernah ditanya:
“Apakah Asy’ariyyah termasuk ahlus sunnah wal jama’ah atau tidak ?, apakah kita menghukumi mereka termasuk bagian dari madzhab atau mereka sebagai orang kafir ?”

Beliau menjawab:
“Asy’ariyyah termasuk Ahlus Sunnah pada mayoritas permasalahan, akan tetapi mereka tidak termasuk dalam ahlus sunnah ketika mereka mentakwil sifat-sifat Allah, mereka tidak termasuk orang kafir, bahkan di antara mereka terdapat para imam, para ulama, dan orang-orang pilihan, akan tetapi mereka telah melakukan kesalahan dalam hal mentakwil sebagian sifat-sifat, mereka telah menyelisihi ahlus sunnah dalam beberapa masalah; di antaranya adalah mentakwil mayoritas sifat-sifat Allah, mereka telah melakukan kesalahan dalam melakukan takwil, yang menjadi keyakinan ahlus sunnah adalah memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan yang ada, tanpa mentakwil, meniadakan, merubah, dan menyerupakan dengan sesuatu”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 28/256)

Syeikh Abdul Aziz Ar Rajihi pernah ditanya:
“Apakah jika telah ditetapkan bahwa ‘Asy’ariyah telah mentakwil sifat Allah, secara langsung mereka menjadi kafir ?

Beliau menjawab:
“Tidak, orang yang melakukan takwil, tidak serta merta menjadi kafir, orang yang mengingkari salah satu Nama dari Nama-nama Allah-lah yang menjadi kafir, Allah –Ta’ala- berfirman:

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ

Padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. [Ar Ra’du/13: 30]

Jika seseorang mengingkari salah satu dari Nama-nama atau sifat-sifat-Nya tanpa takwil maka ia telah menjadi kafir, Allah –Ta’ala- berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”.[Thaha/20: 5]

Jika seseorang telah mengingkari satu ayat saja maka dia telah kafir, namun jika dia mentakwilnya dengan kekuasaan maka terdapat syubhat pada dirinya, yang menghalanginya dari kekufuran.

Baca juga syarat-syarat pengkafiran pada diri seseorang pada jawaban soal nomor: 107105

Ketiga: Khawarij adalah salah satu firqoh sesat yang kafir yang telah dijelaskan sebelumnya dengan rinci pada jawaban soal nomor: 182237.

Wallahu A’lam.
Disalin dari islamqa

Allah Bersemayam di Atas Arsy-Nya, Sementara Dia juga Dekat Dengan Kita Dengan Ilmu-NYa

ALLAH BERSEMAYAM DI ATAS ARSY-NYA, SEMENTARA DIA JUGA DEKAT DENGAN KITA DENGAN ILMU-NYA

Pertanyaan
Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : ” Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap ) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun ” . Apakah hal ini menunjukkan bahwa Allah mengatur semua urusan dunia sementara Dia (Allah) bersemayam di atas Arsy? Kalau begitu bagaiaman Allah lebih dekat kepada kita dibandingkan dengan urat nadi kita ?

Jawaban
Alhamdulillah.
Segala puji hanya milik Allah semata.

Telah ada dalam Al-Qur’an, hadits dan konsesus ( Ijma’ ) ulama’ bahwa Allah di Atas langit, bersemayam di Arsy dan Dia Maha Tinggi sekali. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya dalam waktu enam hari dan Dia Diatas segala sesuatu dan tidak ada lagi diatasnya setelah itu. Allah berfirman :

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ 

Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy, kenapa engkau mencari selain-Nya penolong dan perantara. Apakah kamu semua tidak mengingatnya “[As-Sajdah/32 : 4]

Firman Allah lainnya :

رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ

Tuhan kamu semua Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari. Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy mengurusi seluruh urusan “[Yunus/10 : 3]

Firman yang lainnya :  اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗDiangkat kepada-Nya perkataan yang baik dan amalan shalih “  diayat lain :  هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ Dialah Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir, Yang Maha Tinggi dan Maha Batin”. Rasulullah sallallahu’alahi wasallam bersabda :  وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ  “Engkau Yang Maha Tinggi tidak ada diatas-Mu sesuatu apapun “. Ayat dan hadits seputar makna ini sangat banyak sekali. Meskipun begitu Allah juga memberitahukan bahwa Dia bersama hamba-Nya dimana saja, firmannya :  اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚTidaklah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara ) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.”

Bahkan Allah juga menyebutkan akan Ketinggian-Nya bersemayam di atas Arsy akan tetapi bersama hamba-hamba-Nya dalam satu ayat. Seperti dalam firman-Nya :

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ 

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahu apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya. Dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada“.[Al-Hadid/57 : 4]

Bukan yang dimaksud bersama kami itu adalah harus menyatu dengan makhluk, akan tetapi bersama hamba-Nya dengan ilmu-Nya dan Dia diatas Arsy yang tidak akan tersembunyi sedikitpun dari seluruh pekerjaan mereka. Sementara firmna Allah : وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِDan Kami lebih dekat dibandingkan urat nadi ” kebanyakan ahli tafsir menafsirkan maksudnya adalah kedekatan dengan malaikat yang diwakilkan untuk mencatat seluruh amalan hamba-hamba-Nya.Dan bagi yang menafsirkan dengan kedekatan-Nya, maka ditafsirkan dengan kedekatan ilmu-Nya seperti yang dikatakan dalam masalah maiyyah (kedekatan) tadi.

Ini adalah pemahaman Ahlus sunnah wal jama’ah yang menetapkan akan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan bersama hamba-hamba-Nya. Meniadakan dari pendapat yang mengatakan menyatunya Allah dengan makhluk. Sementara Golongan Mu’attilah seperti Jahmiyah dan para pengikutnya mereka meniadakan ketinggian Dzat Allah di atas makhluk dan meniadakan bersemayam di Arsy-Nya. Pendapat mereka bahwasanya Allah ada di mana-mana. Kami memohon kepada Allah semoga umat islam mendapatkan hidayah yang benar.

Disalin dari islamqa

Tidak Ada Pertentangan Antara Turunnya Allah Ta’ala Ke Langit Dunia Dan Bersemayam-Nya Di Atas Arasy

TIDAK ADA PERTENTANGAN ANTARA TURUNNYA ALLAH TA’ALA KE LANGIT DUNIA DAN BERSEMAYAM-NYA DI ATAS ARASY

Pertanyaan
Ketika dilontarkan pertanyaan, ‘Di mana Allah?’ Maka jawabannya adalah, ‘Di atas langit yang tujuh dan di atas Arasy.’ Akan tetapi, jika kita mengambil hadits yang di dalamnya menunjukkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sebagian akhir malam, maka jika ditanya, ‘Di mana Allah?’ lalu ketika itu (saat pertanyaan itu dilontarkan) dia menjawab, ‘Di sepertiga malam terakhir.’ Maka apa jawaban yang dia katakan. Perkara lain lagi adalah bahwa sebagian orang ada yang berkata bahwa sebagian malam terakhir itu pada hakekatnya terus berlangsung setiap waktu (di sebuah tempat di muka bumi dan pada waktu tertentu), karena itu mereka berkesimpulan bahwa Allah tidak berada di arasy-Nya.

Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama, yang diwajibkan kepada kita adalah mengenal aqidah Ahlussunah wal jamaah dalam hal nama dan sifat-Nya. Aqidah Ahlus sunnah wal jamaah adalah menetapkan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam hal nama dan sifat, tanpa merubah, menggugurkan, menggambarkan bagaimananya dan menyerupakan. Mereka meyakini apa yang telah Allah perintahkan untuk diyakini. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” [Asy-Syura/42: 11]

Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya. Dia berfirman,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [ Al-A’raf/7: 54]

Dia juga berfirman,

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.”[Thaha/20: 5]

Dan ayat lainnya yang didalamnya disebutkan istiwa (bersemayam)nya Allah Ta’ala di atas Arasy-Nya.

Istiwanya Allah Ta’ala di atas Arasynya adalah menunjukkan ketinggian dzatnya, yaitu ketinggian yang khusus sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak diketahui caranya selain Dia.

Terdapat riwayat dalam sunah yang shahih, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Allah Ta’ala turun dalam sepertiga malam terakhir.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم  صلاة المسافرين/1262 .

“Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir. Lalu dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepadaku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan aku ampuni.” [HR. Bukhari, Kitab Tauhid, no. 6940, Muslim, Shalatul Musafirin, no. 1262]

‘النزول’ (turun) menurut Ahlus Sunnah artinya adalah, bahwa Allah Ta’ala turun dengan dzat-Nya ke langit dunia secara hakiki namun sesuai dengan kebesaran-Nya, dan tidak ada yang mengetahui caranya selain Dia.

Akan tetapi, apakah turunnya Allah Azza wa Jalla berarti dia harus meninggalkan Arasy-Nya atau tidak?
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata terkait soal seperti itu, “Kami katakan bahwa soal seperti ini sebenarnya soal yang berlebih-lebihan dan tidak layak disampaikan. Karena kita dapat balik bertanya, ‘Apakah anda lebih bersungguh-sungguh dari para shahabat dalam memahami sifat Allah?’ Jika dia mengatakan, ‘Ya’, maka sungguh dia telah dusta. Jika dia katakan, ‘Tidak’ maka kita katakan, ‘Bersikaplah lapang seperti mereka bersikap lapang, mereka tidak menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, misalnya dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika Dia turun, apakah berarti Dia meninggalkan Arasy-Nya?’ Untuk apa anda bertanya seperti ini. Katakan saja ‘Dia turun’ lalu diam, apakah Dia meninggalkan Arasy-Nya atau tidak, itu bukan urusan anda. Anda hanya diperintahkan untuk membenarkan kabar yang disampaikan, khususnya yang berurusan dengan dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Karena ini adalah perkara di luar kemampuan akal.” (Majmu Fatawa Syekh Muhammad Al-Utsaimin, 1/204-205)

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiah) rahimahullah berkata tentang masalah ini, “Yang benar adalah bahwa Dia turun dan tidak meninggalkan Arasy-Nya. Ruh seorang hamba di tubuhnya di waktu siang dan malam hingga dia mati, sementara kalau dia tidur, ruhnya diangkat…. hingga beliau berkata, ‘Malam itu berbeda, sepertiga malam di negeri timur sebelum sepertiga malam di negeri barat, maka turunnya Dia sebagaimana dikabarkan oleh Rasulul-Nya ke langit mereka adalah pada sepertiga malam mereka, sedangkan pada langit mereka yang lainnya pada sepertiga malam mereka yang lainnya. Dia tidak terpengaruh oleh keadaan….” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiah, 5/132)

Istiwa (bersemayam) dan nuzul (turun) merupakan sifat fi’liyah (kerja) yang terkait dengan kehendak Allah. Ahlus Sunnah wal jamaah beriman dengan hal itu. Akan tetapi dalam mengimani ini mereka menghindari dari penyerupaan dan menyatakan caranya. Maksudnya tidak mungkin terbetik dalam jiwa mereka bahwa turunnya Allah seperti turunnya makhluk dan bersemayamnya Dia di Arasy seperti bersemayamnya makhluk. Karena mereka beriman bahwa Allah Ta’ala tidak serupa sedikitpun dengan makhluk dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. Berdasarkan akal saja telah dapat diketahui perbedaan yang besar antara dzat, sifat dan perbuatan, tidak mungkin terbetik dalam hati mereka bagaimana Dia turun? Dan bagaimana dia bersemayam di atas Arasy? Maksudnya adalah bahwa Ahlussunnah tidak memperkirakan bagaimana sifat-sifat-Nya meskipun mereka yakin ada caranya dan hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya. Maka ketika itu, tidak mungkin digambarkan bagaimana caranya.

Kita mengetahui dengan yakin bahwa apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah nabinya shallallahu alaihi wa sallam adalah hak dan tidak bertentangan satu sama lain, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا 

Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”[An-Nisa/4: 82]

Karena jika terjadi pertentangan dalam kabar yang disampaikan berarti kabar tersebut satu sama lain saling mendustaka. Ini mustahil bagi kabar yang disampaikan dari Allah dan rasul-Nya.

Siapa yang mengira adanya petentangan dalam Kitabullah dan sunah rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam atau di antara keduanya, apakah karena kurang ilmu, atau pemahaman terbatas atau kurang dalam pemahaman, maka hendaklah dia menuntut ilmu lagi dan bersungguh-sungguh mendalaminya agar jelas baginya kebenaran. Jika belum jelas baginya kebenaran, maka limpahkan masalah ini kepada orang yang pandai dan dia berhenti mengira-ngira, lalu selebihnya dia berkata seperti orang-orang yang telah mendalam ilmunya,

كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” [Ali Imran/3: 7]

Hendaknya dia mengetahui bahwa Al-Quran dan Sunah tidak bertentangan di antara keduanya. Wallahua’lam.  (Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin, 3/237-238)

Persangkaan adanya pertentangan antara turunnya Allah ke langit dunia dengan bersemayamnya Dia di Arasy dan ketinggiannya di langit bersumber dari adanya perbandingan antara khalik dan makhluk. Jika seorang manusia tidak dapat menggambarkan dengan akalnya perkara-perkara gaib di antara makhluk-Nya seperti kenikmatan surga, maka bagaimana dia dapat menggambarkan Sang Khalik Azza wa Jalla yang Maha Gaib. Maka cukup bagi kita beriman bahwa bersemayam, turun dan tinggi merupakan sifat Allah dan kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.”.

Disalin dari islamqa

Dalil Tentang Allah ada Diatas Makhluk-Nya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala Diatas Langit

DALIL TENTANG ALLAH ADA DIATAS MAKHLUK-NYA DAN DIA SUBHANAHU WA TA’ALA DIATAS LANGIT

Pertanyaan
Sebagian orang mengatakan bahwa Allah ada di Atas langit, sebagian lain mengatakan bahwa Allah tidak punya tempat. Manakah diantara pendapat yang benar berkaitan dengan masalah ini ???

Jawaban
Alhamdulillah.
Segala puji hanya milik Allah semata.

Ahlussunnah wal jama’ah telah berdalil tentang Ketinggian Allah ta’ala di atas makhluk-Nya Uluww ( Tinggi ) dengan Dzat-Nya dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ ( konsensus ), akal dan fitrah.

Pertama : Sementara dari Al-Qur’an berbagai macam bentuk dalil yang digunakan, kadangkala dengan menyebutkan kata ” Uluww (Tinggi) ” kadang dengan menyebutkan kata ” Fauqiyyah (Diatas) “. terkadang juga menyebutkan Menurunkan sesuatu dari-Nya. Terkadang juga menyebutkan ” Naik kepada-Nya “, kadang pula ” Diatas langit ” …

Kata ” Uluww ” seperti dalam firman-Nya ; “ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ (Dan Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung)” Al-Baqarah/2 : 255. ”  سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ  (Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi) ” Al-A’la/87 : 1

Kata ” Fauqiyyah ” dalam firman : “ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖۗ  (Dan Dia Yang Maha berkuasa atas hamba-hamba-Nya) ” Al-An’am/6 : 18. “ يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ (Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas dan melaksanakan apa yang diperintahkan  (kepada mereka)) ” An-Nahl/16: 50

Turunnya sesuatu dari-Nya, seperti firman-Nya : ” يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى الْاَرْضِ (Mengatur urusan dari langit ke bumi) ” Sajadah/32 : 5, ” اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ  (Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan Dzikra (Al-Qur’an)) ” Al-Hijr/15 : 9 dan yang semisalnya

Dan naiknya sesuatu kepada-Nya, seperti firman-Nya : ” اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ (Naik kepada-Nya kalimat yang baik dan amal sholeh serta mengangkat-Nya) ” Fatir/35 : 10. seperti juga ; ” تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ  (Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan) ” Al-Ma’arij/70 : 4

Keberadaan-Nya di langit seperti dalam firman-Nya : ” ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ (Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu) ” Al-Mulk/67 : 16

Kedua : Sementara dalam sunnah, telah ada dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam secara mutawatir baik dari ucapan, perbuatan maupun ketetapannya.

Diantara yang ada dari ucapan Beliau sallaallahu’alihi wasallam menyebutkan uluw ( tinggi ) dan fauqiyyah ( atas ) adalah : ” ( سبحان ربي الأعلى ) Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi ” setiap kali beliau ucapkan dalam sujudnya. Dan hadits : ” (  والله فوق العرش ) Allah ada di atas Arsy

Sementara pekerjaan beliau seperti mengangkat telunjukkan ke langit ketika beliau khutbah nan agung di hadapan manusia, yaitu ketika hari Arafah dalam haji Wada’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ألا هل بلغت؟  . قالوا : نعم . ألا هل بلغت؟ . قالوا: نعم . ألا هل بلغت؟  .قالوا : نعم . وكان يقول :  اللهم ! أشهد

Ketahuilah, apakah telah kusampaikan? mereka menjawab : “Iya, sudah”. “Ketahuilah, apakah telah kusampaikan?, mereka menjawab : “Iya, sudah”. “Ketahuilah, apakah telah kusampaikan? Mereka menjawab lagi : ” Iya, sudah “. Kemudian beliau berkata : ” Ya Allah, saksikanlah“.

Sambil memberikan isyarat telunjuknya ke langit kemudian mengarah ke orang-orang. Diantaranya juga beliau mengangkat tangan ke langit ketika berdoa sebagaimana dalam puluhan hadits. Ini menetapkan akan ketinggian dengan perbuatan.

Dan ketetapan (taqrir) seperti dalam hadits Jariyah ketika Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepadanya :

أين الله؟ قالت : في السماء. فقال : ( من أنا؟ ) قالت : رسول الله . فقال لصاحبها : أعتقها، فإنها مؤمنة

Dimana Allah? Dia menjawab : ” Di langit “. kemudian bertanya lagi : ” Siapa aku? “, dia menjawab : ” Engkau utusan Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada tuannya : ” Merdekakan dia, karena dia telah beriman

Dia cuma sekedar budak tidak berpendidikan sebagiamana kebanyakan para budak, masih budak belum merdeka tidak memiliki dirinya, dia tahu bahwa Tuhannya ada di langit. Sementara orang yang sesat dari bani Adam mengatakan Dia tidak ada di atas, tidak di bawah, tidak juga di kanan maupun kiri bahkan mereka mengatakan Dia (Tuhan) ada di mana-mana !!!

Ketiga : Dalil Ijma’ (konsensus para ulama’). Para ulama’ Salaf telah bersepakat Allah dengan Dzat-Nya di langit. Sebagaimana yang dinukil oleh ahli ilmu seperti Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya العلوّ للعليّ الغفار Al-Uluw Lil Alyyil Goffar

Keempat : Sementara dalil akal, kami katakan bahwa uluw (tinggi) adalah sifat yang sempurna menurut kesepakatan orang yang berakal. Kalau itu sifat sempurna, seharusnya dimiliki Allah, karena semua sifat kesempurnaan mutlak hanya milik Allah semata. Maka ia adalah tetap milik Allah.

Kelima : Sementara dalil fitrah, maka tidak ada satupun yang melawan dan mengingkarinya, karena setiap orang secara fitrah mengatakan Allah ada di langit. Oleh karena itu manakala ada sesuatau yang mengagetkan atau merisaukan yang dia tidak bisa melawannya, maka dia akan menggarahkan secara langsung kepada Allah. Karena hatinya secara otomatis menghadap ke langit tidak ke arah lainnya. Bahkan yang mengherankan orang-orang yang mengingkari akan sifat uluw (tinggi) untuk Allah di atas makhluk-Nya tidak mengangkat tangannya ketika berdoa kecuali mengarah ke langit.

Sampai Fir’aun musuh Allah, ketika berdebat dengan Nabi Musa tentang Tuhannya dia berkata kepada menterinya Haman :

يٰهَامٰنُ ابْنِ لِيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْٓ اَبْلُغُ الْاَسْبَابَ ۙاسْبَابَ السَّمٰوٰتِ فَاَطَّلِعَ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰى

Wahai Haman, bangunkan untukku menara, siapa tahu saya bisa mencapai sebab. Sebab-sebab ke langit sehingga saya bisa melihat Tuhannya Musa “.

Pada hakekatnya Fir’aun tahu dirinya bahwa Allah benar-benar ada, sebagaimana dalam firman-Nya “

 وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ 

“Mereka mengingkarinya, akan tetapi dirinya meyakin (adanya Tuhan) dalam kondisi dhalim dan kesombongan “.

Ini adalah dalil-dalil dari Al-Qur’an, hadits, Ijma’, akal, fitrah bahkan dari ucapan orang kafir bahwa Allah ada di atas langit. Kami memohon kepada Allah hidayah menuju kebenaran.

Disalin dari islamqa