Author Archives: editor

Lihat Apa yang Dia Katakan!

LIHAT APA YANG DIA KATAKAN!

Pertanyaan.
Bismillah. Haditskah ? atau ungkapan? “undzur ma qola walaa tandzu man qola“. Kalau hadits shahihkah? Syukron.

Jawaban.
Kalimat  “ أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ ”  artinya: “Lihatlah apa yang dia katakan, dan janganlah engkau melihat orang yang mengatakan”.  Kalimat ini bukan ayat dan bukan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang menganggapnya sebagai hadits, ini tidak benar. Hendaklah kita berhati-hati jangan sampai menisbatkan sesuatu yang tidak benar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena hal ini merupakan kesalahan dan dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam neraka kepada pelakunya.

عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Dari Al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Bukhari, no. 1229]

Berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdusta di dalam syari’at, sehingga dampaknya mengenai seluruh umat, maka dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat. Di dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجْ النَّارَ

Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Bukhari, no. 106; Muslim, no. 1]

Sedangkan makna kalimat tersebut bisa benar, juga bisa salah. Jika maksudnya adalah bahwa kebenaran itu diukur dengan dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, dengan pemahaman Salafus Shalih, bukan diukur dengan siapa yang mengatakannya, maka makna ini benar. Namun jika maksudnya adalah bahwa mengambil ilmu boleh dari sembarang orang, maka ini tidak benar. Karena mengambil ilmu itu harus dari ahlinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Meniti As-Shirât Al-Mustaqîm

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah/1:6-7]

Itulah diantara permohonan yang selalu diucapkan oleh setiap Muslim yang mendirikan shalat. Ucapan itu diulangi dalam setiap raka’at shalatnya. Jika dalam sehari semalam diwajibkan bagi setiap Muslim untuk melakukan shalat sebanyak 17 raka’at, berarti dia juga memanjatkan permohonan itu sebanyak 17 kali sehari semalam. Sebuah permohonan yang tidak bisa dibilang sedikit. Tahukah kita, apa yang disebut as-shirâtul mustaqîm (jalan yang lurus itu)? Bagaimanakah caranya supaya menjadi orang yang berjalan di atas yang lurus tersebut? Apa saja yang bisa menjauhkan atau membelokkan orang dari jalan itu?

Itulah beberapa point yang kita uraikan dalam pembahasan kali ini.

1. Petunjuk Kearah Jalan Yang Lurus Itu Merupakan Anugerah Dari Allâh Azza Wa Jalla Semata
Allâh Azza wa Jalla yang maha pemberi petunjuk akan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya pula. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allâh menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). [Yunus/10:25]

Dalam ayat yang lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka Sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa Karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allâh Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. [Fathir/35:8]

Jadi hidayah itu hanya berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dia memberikannya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dari sini, kita seharusnya sudah menyadari, betapa kita sangat butuh untuk terus-menerus memohon kepada Allâh Azza wa Jalla semata agar Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk bisa berjalan di atas as-shirâtul mustaqîm (jalan yang lurus tersebut).

Dalam doa qunut, kita diajarkan untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ

Wahai Allâh! Berilah petunjuk kepadaku pada orang-orang yangtelah Engkau beri petunjuk[1]

Dalam hadits Ali Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Wahai Allâh! Aku memohon petunjuk dan kebenaran kepada-Mu[2]

Dalam hadits al-Barra’ Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat perang Khandak:

اللَّهُمَّ لَوْلا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا

Wahai Allâh! Kalau bukan karena Engkau, maka pasti kami tidak mendapatkan petunjuk, tidak bersedekah dan juga tidak bisa shalat.[3]

Hidayah itu hanya berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki-Nya menuju jalan yang lurus. Jika Allâh Azza wa Jalla tidak memberikan petunjuk kepada seseorang, maka bisa dipastikan dia akan tersesat dalam kehidupan dunia ini. Karena kehidupan dunia ini penuh dengan fitnah dan berbagai hal yang bisa memalingkan seseorang dari jalan yang lurus. Diantaranya syaitan, teman sejawat yang buruk juga nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Oleh karena itu ada ulama yang mengatakan, “Bukan suatu yang mengherankan tentang orang yang binasa, bagaimana dia bisa binasa?! Akan tetapi yang mengherankan yaitu tentang orang yang selamat, bagaimana dia bisa selamat?” Karena penghalang-penghalang itu banyak dan tidak ada yang bisa menyelamatkan dari ketentuan Allâh kecuali orang dirahmati Allâh Azza wa Jalla. hidayah (petunjuk) adalah karunia dari Allâh Azza wa Jalla . dan hendaknya kita menyadari bahwa kita sangat membutuhkan hidayah Allâh Azza wa Jalla itu agar bisa meniti jalan yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  HR. Abu Daud, no. 1425. hadits ini dinyatakan Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Sunan Abi Daud, 1/392
[2] HR. Muslim, no. 2725
[3] HR. Al-Bukhâri, no. 3034 dan Muslim, no. 1804

Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

2. Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?
As-Shirât al-mustaqîm (jalan lurus) adalah jalan yang tidak berkelok, tidak miring, tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

Saya telah tinggalkan kalian di atas al-baidha’ (agama dan hujjah yang sangat jelas), malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya sepeninggalku kecuali dia akan binasa[1]

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah ditanya, “Apa itu as-shirât al-mustaqîm?” Beliau radhiyallahu anhu menjawab, “Yaitu jalan yang kami ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipangkalnya dan jalan tersebut berujung di surga, disamping kiri dan kanan jalan tersebut terdapat banyak jalan-jalan kecil.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan ini kepada para Shahabatnya dengan menggambarkan garis satu garis lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar dua buah garis dari arah sebelah kanan (garis yang pertama) dan menggambara dua garis lainnya dari arah sebelah kiri (garis yang pertama)

Kemudian setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas garis hitam yang pertama dan mengatakan, “Ini adalah jalan Allâh Azza wa Jalla .” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia! Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. [Al-An’am/6:153][2] [HR. Ibnu Majah]

Karena syaitan selalu duduk menghalangi para hamba agar tidak meniti jalan yang lurus itu lalu menggiring mereka agar menyimpang kekiri atau kekanan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7:16-17]

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sabrah bin Abi Fakih:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

Sesungguhnya syaitan duduk menghalangi semua jalan yang ditempuh bani Adam[3]

Maksudnya, di setiap jalan yang ditempuh oleh bani Adam mesti ada syaitan yang duduk untuk menghalangi dan menyimpangkan mereka dari kebenaran dan petunjuk. Allâh Azza wa Jalla menceritakan sumpah syaitan:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7: 17]

Akhirnya, kebanyakan manusia mati dalam keadaan kufur kepada Allâh Azza wa Jalla  atau tidak bersyukur kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. [Yusuf/12:103]

Ada juga sebuah permisalan menakjubkan laiinya yang dibuat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menjelaskan shiratullah al-mustaqim (jalan Allâh Azza wa Jalla yang lurus) itu.

Dari Nawas bin Sam’an al-Anshâri Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا! وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ

وَالصِّرَاطُ: الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Allâh Azza wa Jalla membuat permisalan sebuah jalan yang lurus, di samping kiri kanannya ada dua pagar dan pada kedua dinding pagar tersebut terdapat banyak pintu yang terbuka, (namun) pada pintu-pintu itu terdapat tirai penutup yang terjulur. Di pintu masuk jalan yang lurus tersebut ada penyeru yang mengatakan, “Wahai manusia! Masuklah kalian semua ke jalan itu dan janganlah kalian menyimpang!” Ada juga penyeru lain di atas jalan tersebut. Jika ada orang yang hendak membuka tirai penutup (salah satu pintu pada dinding tembok) tersebut, sang penyeru itu akan mengatakan, “Celaka kamu! Janganlah kamu membukanya! (karena) jika kamu membukanya, kamu pasti akan masuk ke pintu itu.”

Jalan itu adalah Islam, kedua pagar itu adalah batasan-batasan (aturan-aturan) Allâh, pintu-pintu yang terbuka itu adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , penyeru yang berada dipintu masuk jalan itu adalah kitab Allâh Azza wa Jalla sementara para penyeru yang berada di atas jalan itu adalah peringatan Allâh Azza wa Jalla yang berada di hati setiap kaum Muslim[4]

Pengingat di hati setiap Muslim itu, Allâh jadikan sebagai pengingat yang bisa mencegahnya dari perbuatan haram. Pengingat di hati ini terkadang bisa rusak, jika manusia terus melakukan hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . sehingga akhirnya, dia tidak bisa lagi mengetahui yang ma’ruf dan tidak bisa lagi mengingkari yang mungkar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Maksudnya, perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang telah mereka lakukan telah menutupi hati-hati mereka.

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ واسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وإِنْ عادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَه وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ الله تَعَالَى : كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Seorang hamba, jika dia melakukan sebuah kesalahan, maka di dalam hatinya diberi satu titik hitam. Jika dia menarik diri (berhenti dari perbuatan salah tersebut), lalu beristighfar dan bertaubat, maka hatinya akan dibuat berkilau lagi. Jika dia kembali berbuat dosa, maka titik hitam akan ditambah sehingga bisa menutup hatinya. Itulah rân yang disebutkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Ini adalah sebuah permisalan yang mengagumkan dalam rangka menjelaskan maksud dari as-shirât al-mustaqîm, yang dijadikan sebagai gambaran kongkerit tentang Islam. Yaitu (digambarkan sebagai-red) sebuah jalan lurus yang pada kedua sisinya terdapat dua tembok (yang menggambarkan) batasan-batasan Allâh yaitu syari’at-syari’at yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada para hamba-Nya agar istiqamah berjalan di atasnya dan tidak melewati batasan-batasannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

Itulah hukum-hukum Allâh, maka janganlah kamu melanggarnya. [Al-Baqarah/2:229]

Sementara pintu-pintu yang ditutupi tirai itu akan menggiring orang yang memasukinya kearah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Itulah larangan Allâh, maka janganlah kamu mendekatinya! [Al-Baqarah/2:187]

Kata hudud pada ayat di atas maksdunya adalah hal-hal yang diharamkan, sedangkan maksud dari kata hudud pada ayat sebelumnya yaitu segala yang disyari’atkan, yang diizinkan atau yang diperbolehkan oleh Allâh Azza wa Jalla (maka di sini yang diperintahkan adalah) tidak melampaui batasan-batasan tersebut.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ

Pada pintu-pintu itu terdapat penutup yang terjurai

Maksudnya, pada pintu-pintu yang bisa menghantarkan kepada hal-hal yang diharamkan itu terdapat penutup yang terjurai, tidak bergembok dan tidak memiliki anak kunci. Ini mengisyaratkan bahwa untuk memasuki hal-hal yang diharamkan atau untuk melakukan hal-hal yang diharamkan tidak memerlukan waktu lama dan tidak memerlukan usaha besar.

Sebagaimana di dunia ini terdapat as-shirât al-mustaqîm yang harus ditapaki oleh para hamba Allâh Azza wa Jalla , maka demikian juga pada hari kiamat. Pada hari itu juga terdapat as-shirâth al-mustaqim yang dibentangkan di atas neraka Jahannam dan akan diminta kepada semua makhluk untuk berjalan di atasnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [Maryam/19:71-72]

Dan jalan menuju surga adalah jalan itu. Sebuah jalan yang lebih halus daripada sehelai rambut, yang terbentang di atas neraka Jahannam.  Api neraka itu berkobar-kobar di bawa jalan yang harus dilalui oleh manusia itu. Allâh Azza wa Jalla telah bersumpah dalam firman-Nya:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan pasti mendatangi neraka itu.[Maryam/19:70]

Jadi, semua orang pasti akan berjalan di atas jalan yang berada di atas neraka itu. Semua orang Islam yakin bahwa mereka akan melalui jalan itu namun mereka masih meragukan keselamatan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُو

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran/3:185]

Dia tidak tahu, apakah dia termasuk orang yang diselamatkan ataukah tidak? Oleh karena, menjadi kharusan bagi seorang hamba untuk terus berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm (jalan yang lurus di dunia-red) yaitu agama Allâh, agama Islam, serta tidak menyimpang kekiri maupun kekanan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allâh”, Kemudian mereka tetap istiqâmah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [Al-Ahqâf/46:13]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Dia tidak menyimpang dari jalan sebagaimana menyimpangnya musang.”

Maksudnya, mereka tetap teguh saat meniti as-shirât al-mustaqîm di dunia, sehingga membuahkan keteguhan buat mereka saat melewati as-shirât al-mustaqîm yang dibentangkan di atas api neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Ibnu Majah, no. 43. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah, no. 41
[2] HR. Ibnu Majah, no. 11. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah, no. 11
[3]  HR. An-Nasa’i, no. 3134. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahîh Sunan an-Nasa’i, 2/381
[4]  HR. Ahmad, 4/182-183. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Zhilâlul Jannah fi Takhrîjis Sunnah, karya Ibnu Abi ‘Ashim, no. 19

Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus)

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

3. Halangan Dan Rintangan Dalam Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus)
Wahai orang yang menempuh jalan lurus ini! Seyogyanya Anda tahu bahwa di hadapan saudara ada rintangan yang siap menghalangi perjalanan saudara dan berupaya menghentikannya. Rintangan tersebut ada tiga yang di dalam surat al-Fâtihah (yang selalu kita baca-red) itu ada petunjuk yang agung dan penuh berkah tentang cara menyelamatkan diri dari ketiga rintangan tersebut. Para ahli ilmu juga sudah sering mengingatkan dan menasehati umat manusia agar berhati-hati supaya tidak terjatuh di dalamnya. Berdasarkan kadar bahayanya, rintangan-rintangan itu bisa diurutkan:

  1. Syirik, menyekutukan Allâh Azza wa Jalla
  2. Bid’ah
  3. Maksiat

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia mengatakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar satu garis (lurus) untuk kami, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ini adalah jalan Allâh” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggmbar lagi beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya dan mengatakan, “Ini beberapa jalan tercerai berai, di atas setiap jalan ini ada syaitan yang menyeru dan mengajak kepada jalannya,” kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. [Al-An’am/6:153]

Jalan-jalan yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak keluar dari ketiga rintangan di atas. Maksudnya, diantara jalan itu ada yang menggiring umat manusia menuju perbuatan syirik, perbuatan menyekutukan Allâh; Diantara jalan-jalan itu ada yang mengantarkan setiap orang yang memasukinya kearah perbuatan bidah dalam agama Allâh Azza wa Jalla dan ada juga jalan yang mengarahkan setiap orang yang memasukinya kearah perbuatan maksiat dan dosa. Diantara ketiganya, pasti yang paling disukai dan yang paling diutamakan oleh syaitan adalah agar umat manusia memasuki jalan kesyirikan. Apabila syaitan tidak bisa menjerumuskan manusia dalam kesyirikan maka mereka berusaha menjerumuskannya dalam kebid’ahan, bila tidak berhasil bisa juga, maka syaitan akan menjerumuskan manusia dalam maksiat dan begitu selanjutnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan pada sebagian kitabnya bahwa yang sangat ingin dicapai oleh syaitan dalam menyesatkan manusia ada tujuh perkara. Kemudian beliau menyebutkannya secara berurutan satu persatu. Jika syaitan berhasil meraih tujuan yang paling besar (maka, itulah yang diinginkan, namun-red) jika tidak tercapai,  maka syaitan akan turun ketingkat berikutnya.

Pertama yang syaitan inginkan dari manusia adalah agar mereka menyekutukan Allâh. Apabila tidak berhasil, maka mereka ingin manusia melakukan perbuatan bid’ah karena bid’ah lebih dicintai syaitan dibandingkan maksiat. Karena pelaku kebid’ahan menyangka dirinya dalam kebaikan saat melakukan kebid’ahannya. Jika dikatakan kepada pelaku kebid’ahan, “Sungguh apa yang kamu lakukan itu adalah kesalahan, ” Maka dia tidak akan terima, karena dia memandang apa yang dia lakukan itu adalah kebenaran. Berbeda dengan orang yang berbuat maksiat jika dia diberi nasehat agar meninggalkan maksiatnya, dia akan merasa dirinya salah dan merasa berdosa, karena itu (terkadang) dia mengatakan, ‘Doakanlah agar aku diberi hidayah untuk bertaubat dan semoga Allâh  mengampuni dosa-dosaku.’ Ini berbeda dengan pelaku kebid’ahan apalagi ahli bid’ah, kecuali Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah dan melapangkan dadanya untuk menerima kebaikan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

Sesungguhnya Allâh  menutup taubat dari para pelaku kebid’ahan[1]

Perbuatan dosa terbagi menjadi dosa besar dan dosa kecil. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. [Al-Qamar/54:53]

Maksudnya tertulis atas hamba yang melakukannya dan dia akan melihatnya pada catatan amalnya pada hari kiamat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorangpun.[Al-Kahfi/18:49]

Jika syaitan tidak bisa menjerumuskan seorang hamba pada dosa besar, dia akan berupaya maksimal untuk menjerumuskannya dalam perbuatan dosa kecil. Jika tidak bisa menjerumuskannya dalam dosa kecil, dia akan berusaha menyibukkan para hamba dengan perkara-perkara mubah supaya si hamba tadi tidak bisa melakukan berbagai amal ketaatan dan ibadah. Jika ini tidak bisa berhasil juga, dia berpindah ke derajat keenam yaitu menyibukkannya dengan perkara yang tidak utama supaya amalan-amalan yang lebih utama luput darinya. Karena agama Allâh  dan ketaatan yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla bertingkat-tingkat keutamaannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ: أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

Iman ada tujuh puluh cabang lebih dan yang paling utamanya adalah ucapan “Lâ ilâha illallâh”  dan paling rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan[2]

Jika syaitan tidak berhasil juga menjerumuskan menusia dengan perkara yang keenam, dia akan berpindah kepada perkara yang ketujuh dan ini tidak ada yang bisa selamat darinya dan seandainya ada orang yang bisa selamat tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga selamat darinya, (akan tetapi Beliau pun tetap terkena-red). Urutan ketujuh itu adalah syaitan menggunakan bala tentaranya untuk mengganggu dan menyakiti hamba Allâh. Jika syaitan telah merasa tidak mungkin bisa menyimpangkan hamba dari kebaikan, maka dia akan mendatangkan bala tentaranya untuk menyakiti hamba itu serta menghalanginya dengan berbagai kesulitan di jalan Allâh. Oleh karena itu, kaum Mukminin diperintahkan untuk saling menasehati dalam kesabaran:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.[Al-Ashr/103:3]

dan firman-Nya :

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.[Al-Balad/90:17]

Karena gangguan itu sesuai dengan kadar keimanan, semakin kuat keimanan seseorang, maka ganguannya pun akan semakin besar.

Inilah tahapan-tahapan syaitan dalam menjerat dan menjerumuskan seorang hamba. Bacalah tentang ini dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).[Al-A’raf/7:16-17]

Syaitan itu musuh yang bisa melihat kita sementara kita tidak bisa melihatnya, musuh yang sangat sukar (dihadapi). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. [Al- A’raf/7:27]

Dia menghadangmu di jalan Allâh yang lurus untuk menyesatkan dan menghalangi serta menjauhkanmu darinya lalu menjerumuskanmu hingga terjatuh pada penyimpangan. -Ya Allâh! Kami mohon perlindungan kepada-Mu dari segala tipu daya syaitan-.

Ketiga rintangn  di atas yaitu syirik, bid’ah dan maksiat, wajib diwaspadai dan dijauhi oleh kaum Muslimin sejauh-jauhnya dan menjaga diri agar tidak terjatuh dalam ketiga rintangan tersebut. Dia juga harus mengambil petunjuk dalam surat al-Fâtihah atau dalam al-Qur’an secara umum atau petunjuk dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada orang yang bertanya kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Beritahulah kami tentang apa itu takwa?” Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Pernahkah kamu melewati jalan yang berduri?” Orang itu menjawab, “Pernah.” Beliau Radhiyallahu anhu berkata tanya lagi, “Apa yang kamu perbuat (saat melewati jalan yang berduri itu-red)?” Dia berkata, “Jika aku melihat ada duri, maka aku akan berjalan ke arah kiri atau kanan dan aku menjauhinya agar aku tidak menginjaknya.” Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Seperti itulah ketakwaan kepada Allâh”

Namun yang harus kita jauhi dalam perkara takwa kepada Allâh Azza wa Jalla bukan sekedar duri di jalanan namun sesuatu yang jauh lebih merusak manusia yaitu perbuatan syirik, bid’ah dan perbuatan maksiat. Jadi, orang yang menempuh jalan Allâh Azza wa Jalla wajib mewaspadai dan menghindarkan diri dari ketiga perkara ini. Sebagian salaf berkata, “Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari sesuatu yang tidak ia ketahui?”

Artinya, jika kita ingin menjaga diri dari ketiga hal tersebut, maka kita wajib mengetahui ketiga hal tersebut. Kita wajib tahu apa itu kesyirikan? Apa itu kebid’ahan? Dan apa itu dosa besar? Tujuannya agar kita menjaga diri darinya.

Banyak orang terjatuh dalam perkara-perkara yang masuk dalam kategori kesyirikan yang jelas serta kekufuran yang nyata, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap agama Allâh ini. Banyak juga yang terjerat dalam kebid’ahan dan menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikarenakan ketidaktahuan mereka terhadap agama ini, seperti itu juga yang terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dan dosa. Oleh karena itu, yang pertama kali dituntut dari seorang manusia dalam masalah agama adalah mereka dituntut untuk mencari ilmu sehingga dia bisa mengetahui agamanya, mengetahui kebenaran dan bisa mengenal petunjuk. Jadi, kita harus berilmu sebelum berkata dan berbuat, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah  selain Allâh dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. [Muhammad/47:19]

Jadi, kita hendaknya mengetahui tiga rintangan atau penghalang ini agar kita bisa mewaspadainya, menjaga diri dan menjaga semua orang yang berada dalam tanggungjawab kita agar tidak terjatuh dan terjerumus dalam ketiga-tiganya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh, [Luqman/31:13]

Anggaplah, pada suatu hari jika kita mengatakan kepada anak-anak kita, “Wahai anakku! Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allâh!” Lalu si anak bertanya, “Apakah syirik yang dilarang oleh Allâh itu?” Jika seperti itu kejadiannya, apakah pantas kita tidak mengetahui tentang apa itu ke syirikan?! Dari sini kita tahu bahwa mengetahui perkara-perkara ini sangatlah penting dan merupakan suatu keharusan.

Dan umumnya orang yang terjerumus dalam kesyirikan itu disebabkan ketidaktahuannya, terlebih lagi dengan banyaknya syubhat yang bisa menjebak orang-orang yang tidak berilmu,  maka jelas sangat berpotensi menyimpangkan  manusia dari agama Allâh. Bukankah sebuah musibah dan bencana yang besar, jika didapati diantara orang-orang yang menyatakan dirinya Islam, ada yang mengangkat kedua tangan mereka (untuk berdoa kepada selain Allâh-red), padahal seharusnya berdoa itu hanya kepada Allâh. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan kemudian memanggil, “Wahai fulan! Lalu meminta ini dan itu.

SubhanAllâhu! Dimanakah Allâh? Dimana tauhid?  Mana perbuatan berlepas diri dari kesyirikan? Lantas, apa penyebab terjerumusnya orang-orang yang semisal mereka dalam kesyirikan seperti ini? – Semoga Allâh  menjaga kita dari perbuatan seperti ini-. Penyebabnya adalah kejahilan atau ketidaktahuan terhadap agama Allâh  dan masuknya berbagai subhat yang menyesatkan kepada mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ

Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan pada kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan[3]

Apa yang dilakukan para pemimpin yang menyesatkan itu? Mereka menghiasi kebatilan dan membuatnya samar dalam pandangan manusia. Mereka juga menggambarkan kesesatan itu sebagai sebuah hidayah. Akibatnya, banyak orang yang terjerumus dalam berbagai penyimpangan, misalnya kesyirikan, kebid’ahan dan berbagai perbuatan sia-sia serta mengabaikan (ketaatan).

Tidakkah kita tertarik untuk mengetahui apa itu kesyirikan yang merupakan dosa yang paling ditakuti dan dosa yang paling besar itu? Dalam al-Qur’an, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahaya kesyirikan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [An-Nisâ’/4:48]

juga firman-Nya:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allâh, maka pasti Allâh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.[Al-Mâidah/5:72]

Dan firman-Nya:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ ﴿٦٦﴾ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah hanya kepada Allâh saja kamu beribadah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan. [Az-Zumar/39:65-67]

Apakah orang yang meminta bantuan kepada selain Allâh, atau orang yang memohon kepada selain Allâh  dan orang yang mencari bantuan dan pertolongan dari selain Allâh? dan apakah orang yang memohon kepada selain Allâh Azza wa Jalla agar diangkat kesulitannya dan dihilangkan musibahnya pantas dikatakan mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya?

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya? dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allâh ada sesembahan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). [An- Naml/27:62]

Maksudnya, sedikit sekali kalian ingat. Seandainya kalian ingat dan berfikir serta merenungi perkara ini, maka kalian tidak akan terjerumus kedalamnya.

Jadi, kesyirikan adalah perkara yang paling berbahaya dan kezhaliman yang paling besar.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [Lukman/31:13]

Dan kezhaliman apa yang lebih besar daripada kezhaliman memalingkan ibadah dan doa kepada selain Allâh  yang maha menciptakan? Dia yang menciptakan; Dia yang memberi rezeki; Dia yang memberi semua kenikmatan, kemudian kepada selain-Nya manusia berdoa dan meminta. Na’udzu billah

Dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Mas’ud z dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Dosa apa yang paling besar disisi Allâh?’  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تَجْعَلَ لِلِّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Engkau menjadikan tandingan bagi Allâh  padahal Allâh  yang menciptakanmu[4]

Perhatikanlah dan renungilah sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “padahal Allâh telah menciptakanmu”! Maksudnya, perbuatan Allâh Azza wa Jalla yang menciptakanmu seorang diri, yang menjadikanmu ada dari yang semula tidak ada, itu sudah cukup sebagai dalil atas wajibnya engkau mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam ibadah. Artinya, tidak berdoa kecuali kepada-Nya, tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya dan tidak bertawakal kecuali kepada-Nya juga tidak meminta pertolongan dan bantuan kecuali dari-Nya serta tidak menjadikan tandingan atau sekutu bagi-Nya, baik tandingan yang berasal dari malaikat yang dekat juga tidak nabi yang diutus dan tidak juga wali atau yang lainnya. Karena ibadah adalah hak Allâh  yang menciptakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu Mengetahui.[Al-Baqarah/2:22]

yaitu ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada pencipta bagi kalian kecuali Allâh Azza wa Jalla .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. At-Thabrani dalam al-Ausath, no. 4202. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahîhah, no. 1620
[2]  HR. Al-Bukhari, no. 9 dan Muslim, no. 35
[3] HR. Ahmad, 6/441. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’, no. 1551
[4] HR. Al-Bukhâri, no. 4477 dan Muslim, no. 86

Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

4. Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?
Orang-orang yang berjalan di atas ash-shirât yang mendapatkan anugerah kenikmatan yaitu orang-orang yang disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allâh dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisa’/4:69]

Jika Allâh Azza wa Jalla telah memberikan anugerah kenikmatan kepada kita untuk meniti jalan yang lurus itu, maka kita tidak akan merasa risau meskipun kita seorang diri. Karena saat itu, kita sedang berjalan di atas jalan yang pernah ditempuh oleh para Nabi, para shiddiqien (ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul) juga orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fatihah/1:7]

Dalam firman Allâh Azza wa Jalla di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa bisa berjalan di atas ash-shirât al-mustaqîm itu adalah anugerah dari Allâh Azza wa Jalla . Artinya, kalau bukan karena nikmat Allâh Azza wa Jalla , tentu mereka tidak akan bisa meniti jalan tersebut.

Untuk diketahui, bahwa seseorang tidak akan menjadi orang-orang yang mendapatkan anugerah kecuali jika terpenuhi dua syarat berikut ini, yaitu mengetahui al-haq dan mengamalkannya.

Ilmu akan membimbing seorang hamba, sedangkan amal shalih yang dilakukannya akan meningkatkan derajat dan kedudukannya di sisi Allâh Azza wa Jalla .

Jika seseorang sudah mendapatkan ilmu yang berguna, maka selanjutnya ia harus memperaktekkan ilmu tersebut. Jika dia sudah berilmu lalu menerapkan ilmunya, berarti ia termasuk orang-orang berjalan di atas ash-shirât al-mustaqîm.

Dari surat al-Fatihah ayat ke-7 itu bisa diketahui juga bahwa manusia itu terbagi menjadi tiga golongan: (pertama), golongan yang mendapatkan anugerah untuk bisa berjalan di atas yang lurus, (kedua) golongan yang mendapatkan murka dan (ketiga) golongan yang sesat.

Golongan yang mendapatkan anugerah kenikmatan adalah orang yang dianugerahi ilmu yang bermanfaat dan juga dianugerahi (kesempatan) untuk bisa melakukan amal shalih.

Golongan yang mendapatkan murka Allâh Azza wa Jalla yaitu golongan yang memiliki ilmu, namun tidak di amalkan. Jadi, amal dan niat beramalnya rusak.

Golongan yang lain yaitu golongan sesat. Golongan ini adalah golongan yang beramal tapi tanpa dasar ilmu. Dia beribadah juga beramal, namun semuanya sesat dan diada-adakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al-Kahfi/18:103-104]

Berdasarkan pernjelasan-penjelasan ini, hendaknya kita menyadari keadaan kita dan menyadari betapa kita sangat butuh dan berharap agar dijadikan termasuk orang-orang yang diberi anugerah kenikmatan sebagai orang-orang yang berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm.

Alangkah indah, jika seorang Mukmin menyadari betapa dia sangat butuh dan perlu untuk selalu berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm itu sampai dia menjumpai Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah nikmat teragung dan anugerah paling berharga secara mutlak. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fatihah/1:7]

Akhirnya, dengan penjelasan ini, kita bisa mengetahui bahwa jalan itu lurus, juga bisa mengetahui orang-orang yang mendapatkan nikmat untuk berjalan di atas jalan yang lurus tersebut serta bisa mengetahui orang-orang yang tersesat dari jalan tersebut.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang diberi anugerah untuk berjalan di atas as-shirat al-mustaqim di dunia dan termasuk orang-orang yang diberi keselamatan saat meniti as-shirat yang dibentangkan di atas api neraka jahannam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Larangan Shurah

LARANGAN SHURAH

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sesama umat Islam wajib saling menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran. Maka di sini kami ingin menyampaikan sedikit nasehat tentang suatu perkara yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan orang.

Sesungguhnya membuat shurah (bentuk patung atau gambar makhluk bernyawa) dilarang di dalam agama Islam berdasarkan banyak hadits-hadits yang shahih. Seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, Sunan Ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad, dan lainnya. Juga dimuat di dalam kitab-kitab nukilan, seperti Nailul Authar, Riyadhus Shalihin, dan lain-lain. Demikian juga penjelasan para ulama -dahulu dan sekarang- tentang larangan ini sangat banyak sekali. Sehingga hal itu tidak mungkin kami tulis semuanya. Akan tetapi sedikit keterangan dan bukti telah cukup bagi orang yang mau mengerti dan mengikuti kebenaran. Inilah di antara hadits-hadits larangan tersebut:

Hadits 1: Siksaan Berat Bagi Pembuat Shurah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Dari Abdullâh (bin Mas’ud) semoga Allâh meridhainya, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya di sisi Allâh pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat shurah (patung/gambar makhluk bernyawa)”. [HR. Al-Bukhari no: 5950]

Hadits 2: Pembuat Shurah Akan Dituntut Memberi Nyawa!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

Dari Abdullâh bin Umar semoga Allâh meridhai keduanya, dia bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat shurah-shurah ini (patung/gambar makhluk bernyawa) akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang telah kamu buat”. [HR. Al-Bukhari no: 5951; Muslim no: 2108]

Hadits 3: Sebab Larangan (‘illat) Shurah Adalah Menandingi Ciptaan Allâh

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا :قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

Dari ‘Aisyah semoga Allâh meridhainya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari bepergian, sedangkan aku telah menutupi sebuah rak-ku dengan tirai yang ada gambar-gambarnya. Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menariknya dan bersabda: “Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi dengan ciptaan Allâh”. Aisyah mengatakan: “Lalu kami jadikan tirai itu sebuah bantal atau dua buah bantal”. [HR. Al-Bukhari no: 5954]

Tirai tersebut dijadikan bantal setelah gambar-gambarnya dipotong sehingga tidak berwujud makhluk bernyawa, wallâhu a’lam. Adapun jika gambar-gambar itu masih berwujud makhluk bernyawa, maka tidak boleh sebagaimana hadits berikutnya:

Hadits 4: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Marah Sebab Bantal Duduk Bergambar

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتْ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ

Dari ‘Aisyah –semoga Allâh meridhainya-, yaitu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bantal duduk yang padanya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa-pen) nya. Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, tidak masuk. ‘Aisyah melihat ketidaksukaan pada wajah Rasûlullâh. ‘Aisyah bekata: “Wahai Rasûlullâh, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau bersabda: “Apa pentingnya bantal duduk ini?” Aisyah menjawab: “Aku membelinya agar anda duduk padanya dan menggunakannya sebagai bantal”. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkan apa yang telah ciptakan“. Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar/patung-patung tidak akan dimasuki oleh para malaikat”. [HR. Al-Bukhari, no: 5957]

Hadits 5: Pelaku Paling Zhalim, Allâh Tantang Buat Semut Atau Biji Gandum

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

Dari Abu Hurairah semoga Allâh meridhainya, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allâh Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Siapakah yang lebih zhalim dari orang yang ingin menciptakan seperti ciptaan-Ku! Maka silahkan mereka menciptakan seekor semut atau silahkan mereka menciptakan sebutir biji tanaman atau sebiji gandum (pasti mereka tidak mampu-pen)!” [HR. Al-Bukhari, no: 7559; Muslim, no: 2111; dll]

Hadits 6: Boleh Membuat Patung/Gambar Makhluk Yang Tidak Bernyawa

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ إِنِّي رَجُلٌ أُصَوِّرُ هَذِهِ الصُّوَرَ فَأَفْتِنِي فِيهَا فَقَالَ لَهُ ادْنُ مِنِّي فَدَنَا مِنْهُ ثُمَّ قَالَ ادْنُ مِنِّي فَدَنَا حَتَّى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ قَالَ أُنَبِّئُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ و قَالَ إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ

Dari Sa’id bin Abil Hasan, dia berkata: “Seorang lelaki mendatangi Ibnu ‘Abbas, lalu berkata: “Aku, orang yang membuat shurah-shurah (patung/gambar makhluk bernyawa), berilah aku hukum tentang hal tersebut!” Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya: “Mendekatlah kepadaku”, maka laki-laki itu mendekat kepadanya. Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata lagi: “Mendekatlah kepadaku”, maka laki-laki itu mendekat kepadanya, sampai Ibnu ‘Abbas meletakkan tangannya di atas kepala laki-laki itu. Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku beritahukan kepadamu apa yang telah aku dengar dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua pembuat shurah (patung/gambar makhluk bernyawa) di dalam neraka. Allâh akan menjadikan nyawa pada tiap-tiap shurah yang telah dia buat, lalu semua shurah itu akan menyiksanya (pembuatnya) di dalam neraka Jahannam”. Ibnu ‘Abbas berkata: “Jika kamu harus melakukan, maka buatlah pohon dan apa-apa yang tidak bernyawa”. [HR. Muslim, no: 2110]

Hadits 7: Kewajiban Menghapusnya/Menghancurkannya, Jika Mampu

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَّا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ (وَلَا صُورَةً إِلَّا طَمَسْتَهَا)

Dari Abul Hayyaj al-Asadi, dia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku: “Tidakkah aku utusmu untuk melakukan apa yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku: yaitu kamu tidak membiarkan patung/gambar kecuali kamu rubah bentuknya; dan kamu tidak membiarkan kubur yang tinggi kecuali kamu ratakan”. (Pada lafazh lain: dan kamu tidak membiarkan gambar kecuali kamu hapuskan). [HR. Muslim, no: 969]

Hadits 8: Malaikat Tidak Masuk Rumah Yang Ada Gambar/Patung Makhluk Bernyawa

عَنْ أَبُيِ طَلْحَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ يُرِيدُ التَّمَاثِيلَ الَّتِي فِيهَا الْأَرْوَاحُ

Dari Abu Thalhah –semoga Allâh meridhainya-, dan dia dahulu ikut perang Badar bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan tidak juga gambar-gambar”, yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan patung-patung/gambar-gambar yang memiliki ruh .  [HR. Al-Bukhari, 4002] 

KETERANGAN:

  1. Hadits 1 sampai 6 menunjukkan beratnya siksa pembuat shurah (patung/gambar) makhluk bernyawa. Hadits-hadits ini menunjukkan larangan membuatnya, atau memerintahkan membuatnya atau meridhainya. Dan hal itu adalah dosa besar!

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dosa besar ke 48: Membuat shurah (patung/gambar makhluk bernyawa-pen) di kain, tembok, batu, uang, dan lainnya, baik dibuat dari lilin, adonan, besi, tembaga, wol, dan lainnya, dan perintah untuk merusaknya”. [Al-Kabair, hlm. 181]

  1. Hadits 3 dan 4 menunjukkan gambar yang ada di tirai, bantal, kain, atau lainnya haram. Ini bantahan kepada sebagian orang yang beranggapan bahwa yang dilarang hanya patung, adapun gambar di kain atau kertas atau lainnya tidak mengapa.
  2. Hadits 4 menunjukkan bahwa gambar makhluk hidup di bantal haram. Ini sebagai bantahan sebagian orang yang berpendapat bahwa gambar yang dihinakan dibolehkan, seperti di permadani yang diinjak atau di bantal yang diduduki. Larangan gambar makhluk bernyawa adalah umum, baik dihinakan atau tidak, tetap terlarang.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyyah-pen) dan ulama lain (selain Syafi’iyyah) berkata ‘membuat shurah (patung/gambar) makhluk bernyawa hukumnya haram, berat keharamannya, dan itu termasuk kabâir (dosa-dosa besar). Karena diancam dengan ancaman keras ini yang disebutkan di dalam hadits-hadits. Baik membuat shûrah yang dihinakan (seperti diduduki-pen) atau yang tidak dihinakan, membuatnya haram sama sekali. Karena perbuatan itu menyerupai penciptaan Allâh Ta’ala. Baik shûrah itu di pakaian, permadani, dirham, dinar, uang, wadah makan/minum, tembok, atau lainnya. Adapun membuat shûrah (patung/gambar) pohon, pelana onta, dan lainnya yang bukan shûrah (patung/gambar) makhluk bernyawa, maka itu tidak haram”. [Syarah Muslim karya Imam Nawawi, 14/81]

  1. Hadits 2, 3, 4 dan 5 menunjukkan sebab/alasan larangan, yaitu bahwa perbuatan di atas menyerupai ciptaan Allâh Azza wa Jalla dan menandingi perbuatan Allâh Azza wa Jalla .Ulama juga menjelaskan bahwa sebab larangan yang lain adalah wasilah (perantara) kepada kemusyrikan dan menyerupai perbuatan orang-orang kafir.

Dari sini para ulama membantah orang-orang yang beranggapan bahwa ‘illat (sebab) larangan adalah karena patung/gambar itu disembah atau khawatir disembah, sehingga jika untuk hiasan atau pengajaran maka -menurut mereka- dibolehkan. Anggapan tersebut batil, karena alasan ini mereka buat-buat sendiri dengan akal dan perasaan, tidak berdasarkan agama, bahkan bertentangan dengan agama! Maka kita wajib menerima sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajib menolak perkataan siapapun yang bertentangan dengannya.

  1. Hadits 6 menunjukkan boleh membuat patung/gambar benda-benda tidak bernyawa, seperti pohon, laut, dan lainnya.
  2. Hadits 7 menunjukkan kewajiban merusak patung dan menghapus gambar makhluk bernyawa. Hal dilakukan bagi orang yang memiliki kekuasaan atau di tempat yang dia berkuasa, seperti di rumah sendiri atau lainnya.
  3. Hadits 8 menunjukkan bahwa malaikat tidak masuk rumah yang ada gambar atau patungnya. Ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah malaikat yang membawa rahmat dan berkah (kebaikan).
  4. Larangan di dalam hadits-hadits di atas umum sifatnya, sehingga mencakup patung, gambar dan foto makhluk bernyawa, baik manusia ataupun binatang atau lainnya. Para ulama mengecualikan gambar atau foto yang termasuk kebutuhan darurat, seperti KTP, SIM, pasport, uang, bukti laporan kegiatan kepada pemerintah, foto penjahat, dan semacamnya, maka hal itu dibolehkan.

PERINGATAN:
Sesungguhnya kemungkaran yang berkaitan dengan patung/gambar ini telah menyebar dalam berbagai bentuknya. Seperti: Patung-patung di persimpangan jalan, taman-taman, kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan lainnya. Juga berbagai gambar makhluk bernyawa di baju, tas, koran-koran, majalah-majalah, buku-buku pelajaran dan bacaan, iklan, kalender, tembok-tembok sekolah, tembok-tembok di jalan, dinding rumah, bungkus-bungkus makanan atau barang, dan lainnya. Demikian juga foto-foto kenangan masa kecil, ketika tamasya, sewaktu wisuda, saat pernikahan, dan lainnya.

Setelah sampai kepada kita tentang larangan patung/gambar makhluk bernyawa, maka merupakan kewajiban kita bersama sebagai orang Islam dan beriman untuk tunduk terhadap larangan tersebut. Yaitu dengan tidak membuatnya, atau menyuruh membuatnya, atau menyimpannya, atau meridhainya. Orang-orang yang memiliki wewenang dan kemampuan wajib meniadakan dan menghapuskannya. Jika tidak, maka mereka akan dituntut di hadapan Allâh Yang Maha Kuasa.

Hendaklah kita tahu bahwa waktu hidup kita di dunia ini sebentar dan terbatas! Maka hendaklah kita mempergunakan dengan sebaik-baiknya. Mengisinya dengan amal-amal yang bermanfaat, sehingga meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bukan dengan menuruti berbagai kesenangan yang akan melalaikan tujuan hidup yang sebenarnya.

Semoga apa yang kami sampaikan ini menjadi perhatian, dan semoga kita semua selalu dijauhkan dari kemurkaan Allâh ‘Azza Wa Jalla.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]