Author Archives: editor

Risalah Tentang Palestina

RISALAH TENTANG PALESTINA

Syaikh ‘Utsman Al-Khamis -hafizhahullaah- berkata:
Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Malam ini saya akan menyampaikan empat risalah.
Risalah Pertama : Kepada orang-orang zionis yang menjajah Palestina, menjajah Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha. Maka saya katakan kepada mereka: Demi Allah, kalian tidak akan senang selama-lamanya dengan penjajahan kalian terhadap Baitul Maqdis dan terhadap kaum muslimin. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia : Kami akan mengusir kalian darinya baik cepat ataupun lambat, sebagai pembenaran terhadap sabda Nabi yang mulia -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ ؛ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka: orang yang membiarkan (tidak menolong) mereka dan tidak pula orang yang menyelisihi mereka; sampai datang perintah Allah dan mereka tetap dalam keadaan tersebut.”

Dan tatkala Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang mereka; maka beliau menjawab: Mereka berada di sisi Baitul Maqdis.

Dan Allah -Jalla wa ‘Alaa- mengabarkan kepada kita dalam kitab-Nya yang mulia:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا * فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُوْلَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلَالَ الدِّيَارِ

Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung…” [Al-Israa’/17: 4-5]

Maka kami beriman dengan pasti bahwa Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- akan menolong kami untuk mengalahkan kalian cepat atau lambat. Dan janganlah kalian tertipu dengan koalisi Amerika, Eropa, dan negara-negara lain bersama kalian. Karena hal ini juga telah dikabarkan oleh Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa-. Allah berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوْا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…”  [Ali ‘Imran/3: 112]

Maka kehinaan telah ditetapkan atas kalian, dan para pahlawan akan mengusir kalian dari negeri yang disucikan ini. Dan janganlah kalian tertipu dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat dengan sebagian negara Islam, karena perjanjian-perjanjian ini akan dibatalkan, bahkan undang-undang negara-negara ini juga akan dibatalkan. Dan yang akan tetap adalah undang-undang kami yang pertama dan yang terakhir: Kitab Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- (Al-Qur-an).

Maka, sungguh, kami akan mengeluarkan kalian dari negeri ini, dan sungguh, Allah akan menolong kaum muslimin untuk mengalahkan kalian; maka janganlah kalian senang dengan keadaan kalian sekarang, karena kaum muslimin akan mengalahkan kalian pada waktunya dan akan mengusir kalian. Pohon dan batu akan menyaksikan kalian dan mengatakan: “Wahai Muslim, ini Yahudi di belakangku; maka kemari dan bunuhlah dia!” Iya, sungguh kami akan membunuh kalian dan akan mengusir kalian dari negeri yang disucikan ini. Negeri yang merupakan tempat Israa’ Nabi kita Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Negeri yang berkumpul padanya para Nabi Allah -shalawaatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim-. Negeri yang darinya Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di-mi’raj-kan ke langit.

Inilah risalah yang pertama.

Risalah Kedua : Kepada bangsa Palestina, kepada saudara-saudara kami kaum muslimin yang ada di sana, saya katakan pada kalian: Bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.

Demi Allah, sungguh, Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- akan menolong kalian, dan sungguh kalian akan gembira dengan pertolongan Allah:

…وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ * بِنَصْرِ اللهِ…

“…Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah…” [Ar-Rum/30: 4-5]

Dan sungguh, Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- akan menolong kalian. Dengan kesabaran dan keyakinan; maka akan diraih kepemimpinan dalam agama.

Dan ingatlah kalian semua akan sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada Ibnu ‘Abbas:

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

Ketahuilah, seandainya semua umat berkumpul untuk membahayakanmu; niscaya mereka tidak dapat membahayakanmu, terkecuali dari apa yang memang Allah tetapkan untuk dirimu.”

Maka janganlah kalian pedulikan berkumpulnya negara-negara ini melawan kalian jika Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- bersama kalian.

Ingatlah firman Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa-:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوْحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِيْ وَتَذْكِيْرِيْ بِآيَاتِ اللهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوْا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوْا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُوْنِ

Dan bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi.” [Yunus/10: 71]

Jadilah seperti itu. Kalian adalah keturunan para nabi -shalawaatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin-.

Risalah Ketiga : Kepada gerakan-gerakan di Palestina. Gerakan-gerakan ini banyak yang meletakkan tangannya di tangan Iran, Hizbullah dan kelompok-kelompok menyimpang lainnya. Maka apa yang telah mereka berikan kepada kalian?! Dimana Failaqul Quds?! Dimana Iran?! Dimana Hizbullah?! Mereka telah berlepas tangan dari kalian!! Maka sadarlah kalian, bertakwalah kepada Rabb kalian, dan berjihadlah di jalan Allah; tidak di jalan kelompok dan tidak juga di jalan selain Allah. (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda):

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Tinggalkanlah (seruan-seruan Jahiliyah) tersebut, karena itu busuk.” [Muttafaqun ‘Alaih]

Berjihadlah hanya di jalan Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa-, hendaklah kalian bersama Allah; maka niscaya Allah akan bersama kalian, dan tinggalkanlah orang-orang menyimpang tersebut karena mereka tidak akan memberikan manfaat bagi kalian sama sekali.

Risalah Keempat : Kepada negara-negara Islam.

  1. Pada awal permasalahan Palestina; maka ketika itu yang melawan Yahudi adalah negara-negara Islam.
  2. Kemudian orang-orang berkata: “Ini adalah permasalahan negara-negara Arab!” Sehingga mereka mengeluarkan banyak negara-negara Islam (dari perlawanan terhadap Yahudi -pent).
  3. Kemudian orang-orang berkata: “Ini adalah permasalahan negara-negara Timur Tengah!” Sehingga mereka mengeluarkan negara-negara Arab di luar Timur Tengah (dari perlawanan terhadap Yahudi -pent).
  4. Kemudian orang-orang berkata: “Ini adalah permasalahan negara-negara sekitar Palestina!” Sehingga mereka mengeluarkan negara-negara Islam Arab (dari perlawanan terhadap Yahudi -pent).
  5. Kemudian orang-orang berkata: “Ini adalah permasalahan Palestina!” Sehingga mereka mengeluarkan negara-negara sekitar Palestina (dari perlawanan terhadap Yahudi -pent).
  6. Dan sekarang mereka mengatakan: “Ini adalah permasalahan Gerakan Munazhzhamah Tahrir!”…

*Dan sekarang Israel mengatakan: “Saya (hanya) memerangi Hamas!” Demi Allah mereka (Israel) berdusta. Anak-anak yang terbunuh hampir empat puluh, para wanita yang terbunuh hampir tiga puluh, dan laki-laki yang terbunuh bukanlah bagian dari Hamas. Mereka (Israel) hanyalah menjadikan alasan ini sebagai tameng untuk melegalkan kezhaliman dan gangguan mereka terhadap kaum muslimin.

Risalah Kelima : Kepada para penguasa kaum muslimin. Bertakwalah kalian kepada Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- dalam masalah negeri (Palestina) ini yang merupakan tempat Israa’ Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Maka (para penguasa muslim) harus mengingkari (perbuatan Yahudi) dan menolong saudara-saudara kita kaum muslimin yang ada di sana (Palestina). Kalau kalian tidak mampu berperang; maka minimal menolong dengan materi dan secara makna.

Dan negara-negara yang menjalin kerjasama dengan Yahudi: hendaknya ikut mengutuk perkara ini (kejahatan Yahudi) dan hendaknya mereka menarik para duta besar yang ada di sana (Israel), serta menolak kerjasama-kerjasama yang zhalim ini, mereka harus bertaubat kepada Allah.

Permasalahannya bukanlah permasalahan Hamas melawan Israel, akan tetapi permasalahannya adalah permasalahan Palestina, permasalahannya adalah permasalahan Baitul Maqdis, dan permasalahannya adalah permasalahan Islam. Mereka (Yahudi) telah melampaui batas terhadap kaum muslimin, dan mereka terus menerus bersikap melampaui batas terhadap kaum muslimin.

Risalah kelima ini juga terlintas di benakku sekarang; yaitu (kepada): bangsa-bangsa Islam: Apa yang wajib kita lakukan? Pertama: kita mendo’akan kebaikan untuk mereka (kaum muslimin di Palestina).

Apakah engkau meremehkan do’a dan mengolok-oloknya?!
Engkau tidak tahu apa yang kan terhasilkan dengan do’a!!
Anak panah (do’a) di malam hari tidak akan luput.
Akan tetapi ada waktu (yang telah ditetapkan oleh Allah) [untuk terkabulnya do’a].
Dan waktu itu pasti akan tiba.

Jangan kalian lupakan saudara-saudara kalian di Palestina dengan do’a kebaikan untuk mereka, do’a agar Allah -Tabaaraka wa Ta’aalaa- menolong mereka dan agar Allah menjaga darah mereka, harga diri mereka, harta mereka, dan negeri mereka: dari kejahatan para pendosa (Yahudi ) tersebut.

Demikian juga menolong mereka dengan perkataan dan dakwah, dan menolong mereka dengan harta jika kalian mampu. Semua ini termasuk pertolongan terhadap saudara-saudara muslim kita di sana.

Sebagian orang beralasan bahwa orang-orang di Palestina mencela kita dan mereka telah berbuat salah terhadap kita. Maka tidak boleh memukul rata seluruh penduduk Palestina dengan hal ini. Dan kalaupun mereka telah berbuat salah kepada kita; maka (sebagaimana firman Allah):

…فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ…

“…tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah…” [Asy-Syuuraa/42:40]

Dan (kesalahan mereka) ini tidak menghalangi kita untuk menolong mereka atas musuh mereka yang zhalim: Yahudi, Zionis, yang jahat. Maka kita bersabar menghadapi sikap saudara-saudara kita terhadap kita. Dan kita minta ampunan dan rahmat kepada Allah bagi mereka, dan kita tolong mereka, walaupun mereka salah tentang kita. (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersbada):

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu yang zhalim atau dizhalimi.”

Maka kami bersama kalian, kami tolong kalian wahai suadara-saudara muslim kami di Palestina, dan kami minta kepada Allah -Jalla wa ‘Alaa- untuk menolong kalian dengan cepat -tidak lambat- atas musuh kalian dan musuh kami.

Wassalaamu ‘Alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

ditranskrip oleh: Ahmad Hendrix-

Berinfak Dengan Harta yang Disukai

BERINFAK DENGAN HARTA YANG DISUKAI

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

قال الله تعالى: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ   [ آل عمران: 92

Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya. [Ali Imran/3: 92]

Penjelasan Mufradat Ayat
“Kebajikan (yang sempurna)”. Banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah surga. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Amr bin Maimun, dan as-Suddi (Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi). Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa al-birr yang dimaksud adalah amalan saleh. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ » [ رواه البخاري ]

“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada al-birr (amalan saleh), dan al-birr akan mengantarkan kepada surga.” (HR. al-Bukhari no. 5743 dari Abdullah bin Mas’ud)

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah ketaatan dan ketakwaan. Dengan demikian, maknanya adalah kalian tidak akan meraih kemuliaan agama dan ketakwaan hingga kalian bersedekah dalam keadaan kalian sehat dan butuh akan harta/materi, kalian berangan-angan kehidupan yang lebih panjang dan takut akan kemiskinan.”[1]

Yang jelas, semua penafsiran ini tidak saling bertentangan karena al-birr adalah sebuah nama yang mengumpulkan seluruh makna kebaikan, yang mana balasan dari seluruh kebaikan itu adalah surga[2]. Kata  bermakna “Kalian menafkahkan”, Sebagian ulama memahami bahwa yang dimaksud nafkah di sini adalah zakat yang diwajibkan. Mujahid berkata, “Ayat ini telah di-mansukh (dihapus) dengan ayat zakat.”

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sedekah atau berbagai bentuk amalan ketaatan yang lainnya. Al-Qurthubi berkata, “Ini lebih mencakup.”[3], Lalu beliau menyebutkan riwayat Sha’sha’ah bin Mu’awiyah yang mengatakan bahwa dia bertemu Abu Dzar lalu berkata, “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits.” Beliau menjawab, “Ya. Rasulullah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُنْفِقُ مِنْ كُلِّ مَالٍ لَهُ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلاَّ اسْتَقْبَلَتْهُ حَجَبَةُ الْجَنَّةِ كُلُّهُمْ يَدْعُوهُ إِلَى مَا عِنْدَهُ. قُلْتُ: وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ: إِنْ كَانَتْ إِبِلًا فَبَعِيْرَيْنِ، وَإِنْ كَانَتْ بَقَرًا فَبَقَرَتَيْنِ » [ رواه أحمد والنسائي ]

Tidaklah seorang hamba muslim menginfakkan dari setiap harta yang dimilikinya dua harta yang sepasang di jalan Allah, melainkan akan diterima oleh para penjaga pintu surga. Setiap mereka mengajak untuk masuk melalui pintunya.’ Aku kemudian bertanya, “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab, “Jika berupa unta, sepasang unta, dan jika berupa sapi, sepasang sapi.” (HR. Ahmad 5/151, an-Nasai no. 3185, dan yang lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5774).

Al-Baidhawi berkata, “(Yakni) nafkah berupa harta atau yang bersifat umum lainnya, seperti menggunakan kedudukan untuk menolong manusia, menggunakan jasmani untuk taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan menggunakan hatinya untuk senantiasa berada di jalan-Nya”. Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah menambahkan, “Termasuk pula mengajarkan ilmu.”[4]

Tafsir Ayat Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menerangkan, “Ayat ini adalah anjuran dari Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para hamba-Nya untuk berinfak di berbagai jalan kebaikan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan ‘kalian tidak akan meraih al-birr’, yaitu setiap kebaikan berupa berbagai ketaatan dan ganjaran yang mengantarkan pelakunya ke dalam surga. “Hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai,” yaitu harta-harta kalian yang berharga, yang disenangi oleh jiwa-jiwa kalian.

Jika kalian lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla daripada kecintaan kepada harta, lalu kalian mengeluarkannya dengan tujuan menggapai keridhaan-Nya, hal itu menunjukkan keimanan yang jujur, ketaatan hati, dan juga kebenaran takwa kalian. Termasuk dalam hal ini adalah menginfakkan harta yang bernilai, berinfak dalam keadaan orang yang berinfak tersebut membutuhkan apa yang diinfakkannya, dan berinfak dalam keadaan sehat. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba dinilai ketaatannya berdasarkan harta yang disenanginya yang dia infakkan, dan semakin berkurang pula ketaatannya jika infaknya semakin berkurang. ”[5].

Ath-Thabari menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Wahai kaum mukminin, kalian tidak akan mencapai al-birr, al-birr adalah pemberian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla yang dikehendaki oleh para hamba dengan amalan ketaatan mereka kepada-Nya, beribadah, dan berharap kepada-Nya yaitu anugerah Allah Shubhanahu wa ta’alla  kepada kalian dengan dimasukkannya kalian ke dalam jannah -Nya dan dipalingkan dari siksaan-Nya.

Oleh karena itu, banyak ahli tafsir yang menjelaskan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah al-jannah (surga), karena kebaikan Rabb kepada para hamba-Nya di akhirat adalah kemuliaan yang -Dia berikan kepada mereka dengan memasukkan mereka ke dalam al-jannah.”[6]

Abu Bakr al-Warraq berkata, “Ayat ini memberikan bimbingan kepada mereka untuk bersikap dermawan. Maknanya adalah kalian tidak akan meraih kebaikan-Ku untuk kalian kecuali jika kalian berbuat baik kepada saudara kalian serta berinfak kepada mereka dari harta dan kedudukan kalian. Jika kalian melakukan hal itu, kalian akan mendapatkan kebaikan dan kasih sayang-Ku.”[7]

Ayat ini semakna dengan firman -Nya:

قال الله تعالى: وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا [ الإنسان: 8

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” [al-Insan/76: 8].

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

قال الله تعالى: وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [الحشر: 9

 Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [al-Hasyr/: 9].

Adapun firman-Nya:

قال الله تعالى: وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ [ البقرة: 273

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” [al-Baqarah/2: 273].

Ayat ini sama dengan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:

قال الله تعالى: وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُهُۥۗ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ  [ البقرة: 270 ]

“Dan apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim, tidak ada seorang penolong pun baginya.” [al-Baqarah/2: 270].

Al-Allamah as-Sa’di berkata, “Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan bahwa apa pun yang diinfakkan atau disedekahkan, atau nazar orang yang bernazar, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui hal itu. Kandungan makna ilmu Allah Shubhanahu wa ta’alla menunjukkan bahwa -Dia membalasnya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun apa yang ada di sisi-Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang dilakukan seorang hamba berupa niat yang baik atau buruk.”[8]

Sikap salaf dalam mengamalkan ayat ini
dipahami oleh para ulama salaf dari generasi terbaik umat ini secara zahir, sehingga mereka berusaha menginfakkan harta yang mereka senangi. Bahkan, harta tersebut adalah harta yang paling mereka sukai.

Diriwayatkan oleh an-Nasai, dari sahabat Anas bin Malik , ia berkata, Ketika ayat ini turun: Abu Thalhah berkata, “Sesungguhnya Rabb kami meminta kami untuk menginfakkan harta-harta kami. Aku mempersaksikan engkau, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menjadikan tanahku ini untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla.” Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Peruntukkanlah tanahmu untuk kerabatmu, untuk Hassan bin Tsabit dan Ubai bin Ka’b.” (HR. an-Nasai no. 3602 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani).

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya.

عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ  

Dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah bahwa dia mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata : “Abu Thalhah adalah seorang dari kalangan Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah berupa pohon kurma. Harta yang paling ia senangi adalah kebun kurma Bairaha’, yang menghadap ke arah masjid. Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam terkadang masuk ke dalamnya dan minum air yang segar darinya”. Anas mengatakan bahwa tatkala turun firman Allah Shubhanahu wa ta’alla: (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ = Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai). Abu Thalhah pun menghadap Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:  “dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh, ia telah menjadi sedekah karena Allah Shubhanahu wa ta’alla. Aku mengharap ganjaran dan simpanan kebaikan darinya di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla. Salurkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan pandangan yang Dia berikan kepadamu”. Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Luar biasa. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Sungguh, aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpandangan agar engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Abu Thalhah berkata, “Saya akan melakukannya, wahai Rasulullah.” Abu Thalhah pun menyalurkannya kepada karib kerabatnya dan anak-anak pamannya. (HR. al-Bukhari no. 1392 dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu).

Demikian pula diriwayatkan bahwa Zaid bin Haritsah  menginfakkan harta yang paling disukainya berupa seekor kuda yang diberi nama Sabal. Abdullah bin Umar memerdekakan budak yang disukainya, yaitu Nafi’, yang dahulu dia beli dari Abdullah bin Ja’far seharga seribu dinar. Shafiyyah binti Ubaid berkata, “Aku menyangka bahwa dia mengamalkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla : (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ)

Diriwayatkan oleh Syibl, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari agar membeli seorang budak wanita dari tawanan Jalula’ pada saat ditaklukkannya daerah Mada’in Kisra”. Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Umar memanggil budak wanita tersebut. Setelah melihatnya, Umar pun terpesona. Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ)  : Lalu Umar pun membebaskannya.”

Diriwayatkan pula dari Sufyan ats-Tsauri bahwa budak wanita Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Jika datang kepada beliau (Rabi’) seorang pengemis, dia berkata kepadaku, ‘Berikan kepadanya gula,’ karena Rabi’ menyukai gula.” Sufyan berkata, “Dia mengamalkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla : (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ)

Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz membeli beberapa karung gula lalu menyedekahkannya. Lalu beliau ditanya, “Mengapa engkau tidak bersedekah dengan uangnya saja?” Beliau menjawab, “Gula adalah harta yang paling aku sukai, maka aku ingin bersedekah dengan apa yang aku sukai.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya kalian tidak akan meraih apa yang kalian sukai melainkan dengan meninggalkan apa yang kalian senangi. Kalian juga tidak akan menggapai angan-angan kalian melainkan dengan bersabar atas apa yang kalian benci.”[9].

Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar bahwa dia berkata bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seratus bagian di Khaibar yang aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih aku sukai darinya. Aku ingin menyedekahkannya.” Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « احْبِسْ أَصْلَهَا وَسَبِّلْ ثَمْرَتَهَا » [رواه النسائي وابن ماجة]

“Wakafkan tanahnya dan sedekahkan hasilnya!” (HR. an-Nasai no. 3603, Ibnu Majah no. 2397 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Mencari Sedekah yang Lebih Afdal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat ini, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan sesuatu yang paling disenanginya, itu lebih utama daripada yang lainnya, meskipun sama nilainya. Sesungguhnya, memberi hadiah dan berkurban yang merupakan jenis ibadah jasmani dan materi, tidaklah sama seperti sedekah biasa. Bahkan, ketika dia menyembelih hewan yang paling berharga dari hartanya, hal itu lebih dicintai Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Sebagian salaf berkata, ‘Janganlah salah seorang kalian menghadiahkan sesuatu untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang dia malu jika dia menghadiahkannya kepada seseorang yang dia muliakan.’ Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

قال الله تعالى: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِ‍َٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ  [ البقرة: 267

‘Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ [al-Baqarah/2: 267].

Ada dua orang anak Adam yang mempersembahkan sebuah harta untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla. Disebutkan bahwa salah satu dari keduanya bersedekah dengan hartanya yang bernilai, sedangkan yang lain bersedekah dengan hartanya yang tidak bernilai.” (Majmu’ Fatawa, 31/251)

Wallahu a’lam.

[Disalin dari الإنفاق بما يح Penulis : Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal, (Majalah Asy-Syariah Edisi 075) Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Tafsir al-Qurthubi
[2] Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman
[3] Tafsir al-Qurthubi
[4] Imdadul Qari, 1/294
[5] Taisir al-Karim ar-Rahman
[6] Tafsir ath-Thabari
[7] Tafsir al-Qurthubi
[8] Taisir al-Karim ar-Rahman
[9] Lihat Tafsir al-Qurthubi

Masyarakat Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

MASYARAKAT AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR

Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam masyarakat muslim
Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan ciri utama masyarakat orang-orang yang beriman; setiap kali al-Qur’an memaparkan ayat yang berisi sifat-sifat orang-orang beriman yang benar, dan menjelaskan risalahnya dalam kehidupan ini, kecuali ada perintah yang jelas, atau anjuran dan dorongan bagi orang-orang beriman  untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka tidak heran jika masyarakat muslim menjadi masyarakat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran; karena kebaikan negara dan rakyat tidak sempurna kecuali dengannya.

Al-Qur’an al karim telah menjadikan rahasia kebaikan yang menjadikan umat Islam istimewa adalah karena ia mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah:

كُنۡتُمۡ خَيۡرَ اُمَّةٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَتُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ‌ؕ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [Ali Imran/3: 110]

Ayat ini mengedepankan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran atas iman, padahal iman merupakan dasar bagi setiap amal shalih, sebagai isyarat tentang pentingnya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, dimana umat Islam dikenal dengannya, bahkan ia merupakan ciri utama yang membedakannya dari umat-umat lain, dan dilahirkan bagi umat manusia untuk melaksanakan kewajiban mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sesungguhnya Allah yang maha tinggi dan maha kuasa mengingatkan umat Islam agar tidak lupa pada tugas utamanya dalam kehidupan ini, atau bermalas-malasan dalam melaksanakannya, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran:

وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ‌ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[Ali Imran/3: 104]

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan mahkota bagi sifat-sifat orang-orang beriman dalam masyarakat muslim, yaitu orang-orang yang menjual diri mereka kepada Allah, mereka memberikan nyawa dan harta mereka dengan murah di jalan Allah:

اَلتَّاۤٮِٕبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السّاۤٮِٕحُوۡنَ الرّٰكِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَالنَّاهُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَالۡحٰــفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰه ِ‌ؕ وَبَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. [at-Taubah/9: 112]

Sifat ini yang merupakan sifat masyarakat muslim baik laki-laki maupun wanita dipertegas lagi bahwa amar ma’ruf nahi mungkar merupakan tugas kedua jenis, dan ia didahulukan atas shalat dan zakat, sebagai isyarat tentang fadhilahnya, dan mengagungkan kedudukannya dalam masyarakat muslim yang lurus:

وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتُ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَيُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيۡعُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ‌ؕ اُولٰۤٮِٕكَ سَيَرۡحَمُهُمُ اللّٰهُؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [at Taubah/9: 71]

Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban terpenting bagi masyarakat muslim
Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban terpenting dalam masyarakat muslim, selain shalat dan zakat, terutama di waktu umat Islam berkuasa di muka bumi, dan menang atas musuh, bahkan kemenangan tidak datang dari Allah, kecuali bagi orang-orang yang tahu bahwa mereka termasuk orang-orang yang melakukannya.

وَلَيَنۡصُرَنَّ اللّٰهُ مَنۡ يَّنۡصُرُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِىٌّ عَزِيۡزٌ  اَ لَّذِيۡنَ اِنۡ مَّكَّنّٰهُمۡ فِى الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَنَهَوۡا عَنِ الۡمُنۡكَرِ‌ ؕ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الۡاُمُوۡرِ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,   (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.[al Hajj/22: 40, 41]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan masyarakat yang amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan masyarakat tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dengan para penumpang kapal yang mengundi tempat di kapal, sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian mendapat tempat di bawah, orang-orang yang bertempat di bawah apabila ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang ada di bagian atas, maka mereka berkata: kalau saja kita melubangi kapal agar tidak mengganggu orang di atas. Jika mereka membiarkan kemauan mereka, maka akan binasa semua, dan jika mereka dihalangi maka semuanya akan selamat.[1]

Ini adalah gambaran yang indah bagi pengaruh amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam masyarakat, dari hadits tersebut jelas bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar bisa menyelamatkan orang-orang lalai dan orang-orang ahli maksiat dan juga orang lain yang taat dan istiqamah, dan bahwa sikap diam atau tidak peduli terhadap amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan suatu bahaya dan kehancuran, ini tidak hanya mengenai orang-orang yang bersalah saja, akan tetapi mencakup semuanya, yang baik dan yang buruk, yang taat dan yang jahat, yang takwa dan yang fasik.

Amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan hak dan kewajiban rakyat
Dalam masyarakat muslim amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan hak dan juga kewajiban bagi mereka, ia merupakan salah satu prinsip politik dan sosial, al-Qur’an dan hadits nabi telah menjelaskan hal itu dan memerintah orang untuk memberikan nasihat atau kritik bagi pemangku kekuasaan dalam masyarakat, dan minta penjelasan hal-hal yang menjadi kemaslahatan rakyat, atau mengingkari hal-hal yang tidak menjadi maslahat bagi rakyat.

Tolok ukur kebaikan dan kemungkaran adalah syari’at dalam satu sisi, dan kemaslahatan rakyat dari sisi lain. Ini merupakan persoalan yang luas dari tuntutan rakyat pada penguasa, khususnya dalam mencegah kezaliman, tidak menerimanya atau bersabar atasnya. Al-Qur’an telah menganggap terjadinya kezaliman dari penguasa, dan diamnya rakyat atas kezaliman tersebut merupakan suatu dosa besar dari kedua belah pihak, yang bisa mengakibatkan turunnya siksa di dunia, dan juga di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ الظّٰلِمُوۡنَ‌ ؕ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٍ تَشۡخَصُ فِيۡهِ الۡاَبۡصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [Ibrahim/14: 42]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

   اِنَّ الَّذِيۡنَ تَوَفّٰٮهُمُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ ظَالِمِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ قَالُوۡا فِيۡمَ كُنۡتُمۡ‌ؕ قَالُوۡا كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِيۡنَ فِىۡ الۡاَرۡضِ‌ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَكُنۡ اَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوۡا فِيۡهَا‌ؕ فَاُولٰٓٮِٕكَ مَاۡوٰٮهُمۡ جَهَـنَّمُ‌ؕ وَسَآءَتۡ مَصِيۡرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[an Nisaa’/4: 97]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang hina dan lemah yang bersikap diam atas kezaliman dan tidak mencegah orang yang zalim dengan siksa Allah yang akan mengenai mereka semua, tidak ada di antara mereka yang luput:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

«Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim dan mereka tidak mencgahnya dari kezaliman, maka Allah akan menimpakan siksa atas mereka semua» (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Cara-cara memberikan nasihat
Di antara cara-cara amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah nasihat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikannya sebagai agama dalam sabdanya:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Agama adalah nasihat, kami berkata: bagi siapa? Beliau berkata: “bagi Allah, bagi kitab Allah, bagi rasulnya, dan bagi para pemimpin dan umat Islam secara umum (HR. Muslim)

Tidak diragukan lagi bahwa pemberian nasihat kepada para penguasa dari rakyat, terutama para ulama dan orang-orang yang berpengalaman, masing-masing dalam bidagnya merupakan suatu hal yang baik sekali, ini akan menjamin keselamatan, keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat, hal ini telah berjalan di kalangan umat Islam di masa keemasannya, oleh karena itu dalam beberapa hadits ada anjuran bagi penguasa untuk mengangkat orang-orang shalih dan jujur serta ikhlas memberikan nasihat menjadi pendampingnya, yang tidak munafik dan tidak menipu penguasa.

Pertanyaan umat Islam kepada para penguasa
Pertanyaan umat Islam terhadap penguasa mereka terus berjalan, dan pertanyaat tersebut merupakan hal yang biasa bagi rakyat, pengawasan terhadap pemerintah dan kebebasan menyampaikan pendapat kepada penguasa baik berkaitan dengan harta maupun politik merupakan prinsip-prinsip dasar konstitusi yang diakui, karena ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabi telah menegaskannya, sebagaimana juga ia telah menjadi tradisi politik yang belaku pada masa dahulu, dan secara teori hal ini masih tetap diterima di kalangan umat Islam secara umum dan khusus, akan tetapi praktiknya menjadi lemah apabila yang menjadi penguasa adadalah orang-orang zalim, dan ia akan kembali lagi diterapkan jika yang naik ke pucuk pimpinan adalah orang yang adil dan baik.

Adapun para ulama, mereka tidak mengabaikan prinsip ini, banyak dari mereka yang mengalami tekanan dan siksaan, sebagaimana yang terjadi pada Said bin Jubair, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah dan lain-lain di beberapa masa dan beberapa negara.

Akibat buruk bagi diabaikannya amar ma’ruf dan nahi mungkar
Musibah paling buruk yang menimpa suatu umat dan masyarakat adalah berkuasanya diktator, mulut dikekang, lisan dipasung, dan pena dipatahkan, sehingga tidak ada yang berani bersuara, atau menulis kata-kata untuk mengungkapkan kebenaran yang disia-siakan, atau keinginan yang dikekang, atau nasihat yang tulus. Dengan demikian kehidupan menjadi buruk, hidup menjadi susah, sumber-sumber kebaikan menjadi kering, duri-duri kejahatan dan kerusakan tumbuh, kenistaan merajalela, dan tidak ada yang bisa menghentikan, serta harga diri manusia diinjak-injak.

Apabila keburukan sampai ke batas ini, maka semua anggota masyarakat wajib bergerak untuk memperbaikinya dan menyingkirkan kerusakan, jika tidak melakukanya, maka mereka berhak mendapat balasan dan siksa dari Allah, dan Allah telah menurunkan bencana dan kerusakan kepada orang-orang yang melakukan kemungkaran dan yang mendiamkannya:

وَاتَّقُوۡا فِتۡنَةً لَّا تُصِيۡبَنَّ الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡكُمۡ خَآصَّةً‌ ۚ وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ‏

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. [al-Anfal/8: 25]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim dan mereka tidak mencegah kezalimannya, Allah akan menurunkan siksa kepada mereka semua. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا رَأَيْت أُمَّتِي تَهَابُ فَلَا تَقُولُ لِلظَّالِمِ يَا ظَالِمُ فَقَدْ تُودِّعَ مِنْهُمْ

Jika engkau melihat umatku takut, sehingga tidak berani mengatakan kepada orang zalim: wahai orang zalim, maka mereka tidak berarti lagi (HR. Ahmad, al Hakim dan al Bazzar)

Allah telah melaknat bani Israil, mempertentangkan antara hati mereka dan menurunkan siksa yang pedih kepada mereka, tatkala kemungkaran merajalela di antara mereka, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang bangkit untuk mencegahnya, itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لُعِنَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيۡسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ‌ ؕ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوۡا يَعۡتَدُوۡنَ  كَانُوۡا لَا يَتَـنَاهَوۡنَ عَنۡ مُّنۡكَرٍ فَعَلُوۡهُ ‌ؕ لَبِئۡسَ مَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [al Maidah/5: 78, 79]

Terkadang kemungkaran merajalela di masyarakat, orang-orang sudah terbiasa dan akrab, dan tidak ada lagi yang berbicara, sehingga ia meracuni perasaan mereka, dan mereka tidak lagi merasa bahwa ia merusak agama, akhlak dan adapt yang mulia, mereka tidak lagi bisa membedakan antara yang ma’ruf dan yang mungkar, antara yang baik dan buruk, halal dan haram, ketika itu pemahaman masyarakat berubah, dan ukuran kebenaran sudah tidak jelas, sehingga kejujuran, amanat, beragama dipandang sebagai keterbelakangan dan kebodohan, sementara dusta, khianat, dan jauh dari agama dipandang sebagai kemajuan, yang baik mereka katakana mungkar dan yang mungkar dikatakan baik.

Ini diperburuk lagi ketika di masyarakat banyak orang-orang munafik, yang mempengaruhi penguasa yang zalim, mereka berkumpul di sekitar penguasa, membisiki penguasa untuk melakukan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, suara-suara mereka mengajak kepada kebatilan, mencegah kebaikan, menciptakan sifat masyarakat munafik yang akan ditempatkan oleh di dasar neraka paling bawah:

اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَيَقۡبِضُوۡنَ اَيۡدِيَهُمۡ‌ؕ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمۡ‌ؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya]. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. [at Taubah/9: 67]

Ini sangat bertentangan dengan masyarakat beriman:

وَالۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتُ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَيُقِيۡمُوۡنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيۡعُوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ‌ؕ اُولٰۤٮِٕكَ سَيَرۡحَمُهُمُ اللّٰهُؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [at Taubah/9: 71]

Inilah masyarakat muslim yang penuh dengan para da’i kepada Allah, yang mengerti agamanya, yang menjaga syari’atnya, suara kebenaran tidak pernah padam, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, walaupun kegelapan meliputi mereka, dan suara-suara kebatilan membahana.

Tidak diragukan bahwasanya suara-suara mereka yang keras dalam membela kebenaran akan menebarkan kesadaran di masyarakat muslim, membangkitkan rasa izzah dengan agama Allah, dan membuat opini umum yang disinari oleh petunjuk Allah dan rasulnya.

Wajibnya mengingkari kemungkaran walaupun dengan hati
Banyak sekali nash-nash al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan wajibnya amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam masyarakat muslim, yang mengakui kedaulatan Allah, yang melaksanakan syari’atnya, walaupun terkadang ada penguasa yang zalim, dan terkadang banyak kerusakan, sehingga dengan demikian masyarakat muslim benar-benar menjadi masyarakat yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar .

Adapun jika masyarakat diuji dengan disingkirkannya syari’at Islam dari kekausaan, dan umat Islam dipaksa menerapkan hukum buatan manusia, maka dalam kondisi ini harus menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar yang paling besar, yaitu mengakui kedaulatan Allah, hukumnya dan syari’atnya dalam kehidupan, dan mencegah kemungkaran terbesar, yaitu menolak ketuhanan Allah dengan menolak syari’atnya dalam kehidupan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jka tidak mampu maka dengan hatinya, dan inilah selemah-lemahnya iman» (HR. Muslim)

Akan tetapi terkadang datang suatu masa kepada umat Islam dimana umat Islam tidak bisa mengubah kemungkaran dengan tangannya, dan tidak bisa mengubahnya dengan lisannya, maka tidak ada lagi cara kecuali mengubah dengan hatinya, dan ini tidak ada orang yang bisa menghalangi.

Mengubah kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemahnya iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits, terkadang sekilas orang melihatnya sebagai amal yang pasif, dimana hal ini tidak dilakukan kecuali oleh orang yang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan atau dengan lisan.

Sebenarnya seorang muslim yang jujur yang tidak ada jalan di hadapannya kecuali mengingkari dengan hati, tidak hilang dari pikirannya bahwa mengingkari dengan hati berarti merubahnya, sebagaimana dikatakan demikian oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perkataan Rasulullah ini menunjukkan bahwa hal itu adalah suatu perbuatan positif; karena mengingkari kemungkaran dengan hati berarti mempertahankan hati dari sikapnya terhadap kemungkaran… ia mengingkarinya, membencinya, tidak menyarah kepadanya, dan tidak menerimanya bahwa itu adalah suatu yang harus dipatuhi dan diakui.

Mengingkari dengan hati terhadap suatu kondisi adalah kekuatan positif, dan merupakan langkah awal untuk menghancurkan kemungkaran ini, dan menegakkan kebaikan kapan ada kesempatan, dan mengintai kemungkaran hingga ada kesempatan untuk merubahnya. Dan ini jelas merupakan perbuatan positif dalam jalan menuju perubahan.

Memang benar bahwa ini adalah iman yang paling lemah, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi kalau memang hanya iman paling lemah yang memungkinkan, maka paling tidak seorang muslim memelihara iman yang lemah ini. Adapun kehilangan iman secara keseluruhan, dan menyerah pada kemungkaran karena ia adalah suatu kenyataan pahit, dimana ia tidak mampu melawannya, dan menerimanya karena tekanannya kuat sekali, maka ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang mukmin yang hidup dalam masyarakat muslim, kalau tidak maka ia dan masyarakatnya berhak mendapat laknya yang menimpa bani israil, karena mereka tunduk kepada kemungkaran dan ridha padanya, dan mereka tidak mencegahnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لُعِنَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيۡسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ‌ ؕ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوۡا يَعۡتَدُوۡنَ  كَانُوۡا لَا يَتَـنَاهَوۡنَ عَنۡ مُّنۡكَرٍ فَعَلُوۡهُ ‌ؕ لَبِئۡسَ مَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.[al Maidah/5: 78, 79]

[Disalin dari أهمية الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر  (Buku Masyarakat Muslim Dalam Perspektif Al Quran dan Sunnah) Penulis : Muhammad Ali al-Hasyimi, Penerjemah Muzaffar Sahidu, Editor : Muhammad Thalib. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1]  Hadits yang dimaksud (-ed)
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata; “Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya“.(HR Bukhari no. 2313)

Bahaya Memperolok-olok Agama Islam

BAHAYA MEMPEROLOK-OLOK AGAMA ISLAM

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya…Amma Ba’du.

Dia antara dosa besar yang bisa membuat pelakunya keluar dari Islam dan menyebabkan dia kekal dalam neraka Jahannam adalah memperolok-olok Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya dan orang-orang yang beriman. Melihat pembahasan judul ini sangat luas, maka saya akan membatasinya pada beberapa sub pembahasan berikut ini:

  1. Difinisi memperolok-olok agama Islam
  2. Hukum memperolok-olok agama dan pemaparan tentang beberapa dalil yang menjelaskan tentang kekafiran orang yang memperolok-olok agama, disertai dengan perkataan para ulama tentang masalah ini.
  3. Taubatnya orang yang memperolok-olok agama Islam dan apakah taubatnya diterima ataut tidak?.
  4. Bentuk-bentuk memperolok agama pada masa kita sekarang ini?.

Definisi memperolok-olok agama Islam
Adapaun difinisi memperolok-olok agama, dalam bahasa arab disebut dengan (al-istihza’) dia adalah masdar dari kata (استهزأ يستهزئ = istahza’a yastahzi’u). Akar kata dari هـ – ز- ء yang bermakna : mengejek atau bercanda secara halus, atau memperolok dan mempermainkan.

Sebagian ahlul ilmi berkata : Memperolok-olok agama ini dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Memperolok-olok agama secara terang-terangan, seperti peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat tentang larangan memperolok-olok agama, yaitu perkataan mereka: Kami tidak pernah melihat orang yang sama seperti para penghafal Al-Qur’an ini di mana mereka orang yang lebih lahap dalam masalah makanan atau perkataan lainnya dari mereka yang memperolok-olok agama Islam. Sama seperti perkataan sebagian orang dari mereka: Agama kalian ini adalah agama yang kelima. Atau perkataan seseorang yang mengatakan pada saat dia melihat orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar: Telah datang kepada kalian tokoh agama -dengan tujuan meperolok-oloknya-, banyak lagi ungkapan yang serupa dan tidak terhitung, yang di ungkapkan dengan entengnya melebihi cemoohan orang-orang munafik yang pada mereka turun ayat Al-Qur’an (At-Taubah/9:65).”.[1]

Syaikh Al-Fauzan semoga Allah melindunginya berkata : Termasuk dalam pembahasan ini apa yang dikatakan oleh sebagian mereka: “Islam tidak cocok untuk abad ke dua puluh, dia hanya cocok untuk abad pertengahan, sebab dia mencerminkan keterbelakangan dan ortodoks, di dalamnya terdapat kekerasan dan kekejaman dalam sanksi-sanksi hukum dan ta’zir, dia menzalimi hak-hak wanita karena dibolehkannya perceraian dan poligami”. Juga ungkapan mereka yang mengatakan : “Berhukum dengan hukum konvensional lebih baik daripada berhukum dengan hukum Islam”. Dan mereka berkata tentang orang yang menyeru kepada tauhid dan mengingkari penyembahan terhadap kubur dan nisan : “Ini adalah orang yang extrim”, atau mengatakan: “Dia ingin memecah belah kaum muslimin atau ini adalah wahhabi, atau ini adalah mazhab yang kelima”, atau dengan mengatakan : “Agama itu bukan pada rambut”, hal ini dikatakannya untuk memperolok-olok mereka yang memanjangkan jenggot, dan perkataan lainnya yang sama dengan perkataan seperti ini, sebagai ungkapan yang mencerminkan adanya pelcehan terhadap agama, pemeluknya dan memperolok-olok aqidah yang benar.[2]

  1. Memperolok-olok agama tidak dengan cara terang-terangan, maka pembahasan ini seperti laut yang tidak bertepi, contohnya memberi isyarat dengan kedipan mata, mengeluarkan lidah, memonyongkan bibir, menyepak dengan tangan pada saat dibacakan Al-Qur’an atau ketika menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.[3]

Hukum memperolok-olok agama
Adapun hukum memperolok-olok agama adalah kufur dan termasuk salah satu dari sepuluh perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang, seperti telah disebutkan oleh para ulama. Dan ini adalah termasuk dalam sifat orang munafiq yang paling utama. Dan dalil-dalil yang menegaskan hal tersebut sangat banyak:

يَحْلِفُونَ بِاللهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدْ قَالُواْ كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُواْ بَعْدَ إِسْلاَمِهِمْ وَهَمُّواْ بِمَا لَمْ يَنَالُواْ

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya”. [At-Taubah/9: 74]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُواْ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ وَإِذَا انقَلَبُواْ إِلَى أَهْلِهِمُ انقَلَبُواْ فَكِهِينَ وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاء لَضَالُّونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. [Al-Muthafifin/83: 29-32]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat -Nya dan Rasul -Nya kamu selalu berolok-olok?”. [At-Taubah/9: 65]

Sebab turunnya ayat ini  adalah :
Dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam serta Qotadah : Mereka tenggelam dalam sebuah pembicaraan bahwa seorang lelaki bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat perang Tabuk lalu  dia berkata : Kami tidak pernah melihat orang yang sama dengan para penghafal Al-Qur’an ini, mereka paling kuat dalam urusan makan, paling dusta dalam pembicaraan dan paling pengecut saat berhadapan dengan musuh”. Yang dimaksud dengan pernyataan mereka ini adalah Nabi dan para shahabatnya yang ahli dalam membaca Al-Qur’an, semoga Allah meridhai mereka semua. Maka Auf pergi menghadap Nabi namun Al-Qur’an telah mendahului Auf, kemudian lelaki yang mengejek itupun datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau telah pergi dan diapun mengendarai ontanya. Maka dia berkata, “Wahai Rasulullah kami hanya bercanda dan bermain, kami berbicara dengan pembicaraan dalam perjalanan guna menghilangkan rasa letih dalam perjalanan”. Ibnu Umar berkata : Aku seakan-akan melihatnya bergantungan pada tali pelana onta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kerikil-kerikil melukai kedua kaki orang tersebut sambil mengatakan ; Kami hanya bermain dan bercanda“, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan membaca ayat:

قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sedikitpun menoleh kepadanya dan tidak pula berkata lebih dari perkataan tersebut”.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata, “Memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari keimanannya”.[5]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dan seandainya sesorang berkata pada saat dia meneguk segelas khamar atau mendatangi perbuatan zina kemudian dia  membaca Bismillah, guna merendahkan Allah maka dia telah kafir”.[6]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata di dalam kitabnya  Al-Tauhid (Bab man hazala bi syai’in fihi zikrullah au Al-Qur’an au rasul wa fihi masa’il)

Bab tentang orang yang mempermainkan bagian tertentu dari sesuatu yang teradapat pada nama Allah, Al-Qur’an atau Rasul-Nya maka di dalamnya terdapat beberapa masalah:

Yang pertama:  Ini merupakan yang paling, besar bahwa orang yang mempermainkannya maka dia telah kafir.[7]

Syaikh  Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa orang yang melakukan hal itu maka dia telah kafir, maka barangsiapa yang memperolok-olok Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya atau agamaNya maka dia telah kafir sekalipun hanya bermain-main, dan dia tidak bermaksud memperolok-olok, hal ini berdasarkan ijma ulama”.[8]

Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah ditanya : Apakah orang yang membenci jenggot dan mengatakan kepada orang yang memeliharanya sebagai orang yang kotor, apakah dia murtad?.

Beliau menjawab, “Jika dia mengetahui bahwa perkara ini ada dalam sunnah Nabi, berarti tindakannya tersebut termasuk memperolok-olok agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia pantas diberi anggap sebagai orang yang murtad.[9]

Termasuk kemurtadan dari agama Allah apa yang dikatakan oleh sebagian generasi kaum muslimin berupa kata-kata kekafiran yang bisa menyebabkan si pelaku murtad sementara mereka tidak menyadarinya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ

Sesungguhnya seseorang lelaki mengungkapkan sebuah perkataan sementara dia tidak menyadarinya namun akhirnya dia terjerumus ke dalam api neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat”.[10]

Taubatnya orang yang memperolok-olok agama Islam
Adapun tentang taubat bagi orang yang memperolok-olok agama, maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berpendapat di dalam kitabnya Al-Qaulul Mufid fi Syarhi Kitabit Tauhid bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya atau kitab-Nya, apakah taubatnya diterima atau tidak? Ada dua pendapat.

  1. Tidak diterima taubatnya, namun dia harus dibunuh sebagai orang kafir, dia tidak dishalatkan, tidak dido’akan untuk mendapat rahmat dan pendapat inilah yang masyhur dalam mazhab Hambali.
  2. Taubatnya diterima jika kita mengetahui kesungguhannya dalam bertaubat dan mengakui kesalahannya lalu mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat yang agung.

Bentuk-bentuk memperolok agama pada masa sekarang ini.
Di antara bentuk mengolok-olok agama yang kita dengar dan saksikan pada masa-masa ini adalah perkataan buruk dan gambar-gambar yang mengejek yang ditulis baik di koran-koran dan majalah-majalah, mereka menganggapnya sebagai hiburan padahal di dalamnya terdapat kekafiran dari agama.

Salah seorang di antara mereka ada yang menggambar seekor ayam jantan yang diikuti oleh empat ekor ayam betina, untuk memperolok-olok poligami, yang lain menulis makalah yang menyerang hijab dan dia beranggapan bahwa mengenakan hijab berarti keterbelakangan dan ortodoks, sementara yang lain diperdaya oleh setan terhadap keburukan perbuatannya, maka dia menjadikan Al-Quran yang dibaca seperti menyanyikan sebuah lagu yang diiringi musik. Semoga Allah menghindarkan kita dari perilaku tersebut.

Maka harus diketahui bahwa kita wajib menghindari perbuatan orang yang memperolok-olok agama, dan memperingatkan mereka bahwa dosanya sangat besar dan bahaya terhadap agama, namun jika mereka tidak mau menerima maka kita tidak boleh duduk bersama mereka dalam satu majlis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهِ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam”.[An-Nisa’/4: 140]

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari خطورة الاستهزاء بالدين  Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu Mahsun, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Majmu’atut Tauhid, halaman: 409
[2] Kitabut Tauhid, halaman: 47, syekh Al-Fauzan
[3] Majmu’atut Tauhid, halaman: 409
[4] Tafsir Ibnu Jarir: 6/409
[5] Al-Fatawa: 7/273
[6] Raudhatut Thalibin: 10/67
[7] Al-Tauhid, halaman: 85
[8] Taisirul Azizul hamid, halaman: 617
[9] Fatawa syaikh Muhammad bin Ibrahim: 11/195
[10] Shahih Bukhari: 4/187 no: 6477 dan shahih Muslim: 4/2290 no: 2988

Kebahagian dan Kesengsaraan

UNIVERSALITAS AGAMA ISLAM

Kebahagiaan dan Kesengsaraan
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kebahagiaan dan kesengsaraan sesuai dengan tingkat keimanan dan amal sholehnya, atau sebaliknya kekufuran dan amal buruknya.

Orang yang beriman dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul Nya dengan melakukan amal-amal sholeh, maka dia hidup bahagia di dunia, kemudian kebahagiaannya ditambah pada saat setelah dirinya meninggal, malaikat memberi kabar gembira baginya dengan kemudahan menjelang kematiannya, juga ditambahkan baginya suatu kebahagiaan ketika di dalam qubur, dan kebahagiaannya ditambah kembli ketika seluruh umat manusia berkumpul, lalu kebahagiaannya itu menjadi sempurna ketika dimasukkan ke dalam syurga.

Begitu juga sebliknya, orang yang kafir dan buruk amalnya, dia akan sengsara dan keadaannyapun buruk di dunia, kemudian ditambah lagi dengan kesengsaraannya ketika menjelang kematian, dan kesengsaraannya ditambah kembali ketika berada di dalam qubur, lalu kesengsaraannya ditambah kembali  pada saat berkumpulnya seluruh manusia (dipadang mahsyar) serta kesengsaraannya menjadi sempurna ketika dimasukkan ke dalam neraka.

Barangsiapa di dunia rajin melaksanakan bermacam-macam amal yang diridhai dan dicintai Nya, maka beragam pula pula bagian kenikmatan yang akan diperolehnya di dalam syurga, dan banyaknya kenikmatan tergantung dari banyaknya amal. Dan barangsiapa di dunia melakukan berbagai macam amalan yang dibenci dan dimurkai oleh Allah, maka diapun akan merasakan bermacam-macam siksaan dan kepedihan di dalam neraka, dan beragamnya siksaan juga tergantung kepada banyaknya amalan kejelekan (yang dilakukannya).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ [النحل: ٩٧] 

Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl/16: 97].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا ١٢٥ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ ١٢٦ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي مَنۡ أَسۡرَفَ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبۡقَىٰٓ [طه: ١٢٤،  ١٢٧] 

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari qiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kemu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya, dan sesungguhnya azab di akherat itu lebih berat dan lebih kekal. [Thaha/20: 124-127].

Orang yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya akan dicoba dengan amalan yang bisa merugikannya.

Sunnatullah berjalan atas orang yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat baginya, padahal dia bisa megkerjakannya, akan dicoba dengan kesibukkan yang bisa merugikannya sehingga pekerjaan yang sebelumnya menjadi terhalang untuk dikerjakan. Ketika orang-orang musyrik enggan untuk beribadah kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka mereka diuji dengan beribadah kepada berhala. Ketika mereka menolak serta enggan untuk tunduk kepada rasul-rasul, mereka mendapat cobaan dengan ketundukan mereka terhadap apa-apa yang bisa merusak dan mengacaukan aqal dan agama mereka. Ketika mereka menolak untuk mengikuti kitab-kitab yang telah diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia; maka mereka terjebak mengikuti kitab-kitab yang buruk dan hina serta merusak akal. ketika harta-harta mereka tidak diinfaqkan dalam rangka taat kepada Allah, maka mereka diuji dengan menginfaqkan hartanya demi hawa nafsunya dan syaithon.

Dan orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, ia meninggalkan apa yang dikehendaki oleh hawa nafsu dan syahwat-syahwatnya, maka akan Allah gantikan dengan kecintaannya kepada Allah serta ketenangan dalam beribadah, dan sungguh ia merasakan kebahagiaan dengan ibadah tsb, dan ganti dari Allah itu (yaitu: cinta kepada Allah dan menyembahNya) melebihi kenikmatan dunia dan seluruhnya.

Tiang-Tiang Agama Islam
Islam adalah agama dan sebagai rahmat bagi seluruh alam, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkannya bagi seluruh makhluk, Allah telah mengutus bagindanya para rasul dengan membawa agama Islam ini, sebagai penutup para nabi, dan Allah muliakan umat beliau dengan berdakwah kepada Nya sampai hari qiamat.

  1. Allah adalah Rabb bagi semesta alam, tidak ada Rabb bagi mereka selain Diri Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ [الناس: ١] 

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” [An-Nas/114: 1].

  1. Allah adalah Raja manusia, tidak ada Raja bagi mereka selain Diri Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَلِكِ ٱلنَّاسِ [الناس: ٢]  ِ

Raja manusia.” [An-Nas/114: 2].

  1. dan Allah adalah Tuhan manusia, tidak ada Tuhan bagi mereka kecuali hanya Allah, sebagaimana firman Nya: إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ [الناس: ٣]

Sembahan manusia.” [An-Nas/114: 3].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan quran sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana firman Nya:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ ……. [البقرة: ١٨٥] 

Bulan ramadhan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [Al-Baqarah/2: 185].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Nya bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Nya:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ [سبا: ٢٨] 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’/34: 28].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menghadap ke arah ka’bah, sebagai tempat pertama bagi manusia (yang dibangun untuk beribadah), dimana manusia mendirikan sholat dan berhaji padanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦ فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ [ال عمران: ٩٦،  ٩٧] 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imran/3: 96-97].

  1. Dan Allah menyebutkan bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat, yang telah dilahirkan demi umat manusia.

a). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ [ال عمران: ١١٠] 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran/3: 110].

b). Dari Bahzi bin Hakim, dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya; ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((اَلاَ إِنَّكُمْ تُوْفُوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ))

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan menyamai tujupuluh umat, dan kalianlah umat yang terbaik dan termulia di sisi Allah Azza wa Jalla.” (Musnad Imam Ahmad bin Hambal).

  1. Da’wah kepada Allah dan menyampaikan agama ini, baik dibelahan timur ataupun barat; adalah wajib bagi setiap muslim kepada seluruh manusia; sehingga kalimat Allah menjadi tinggi, dan agama semata-mata untuk Allah.

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: ١٠٧] 

Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf/12: 108].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imron

هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ [ال عمران: ١٣٨] 

“(Al quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”[Ali Imron/3:138].

c). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim:

هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ابراهيم: ٥٢] 

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” [Ibarahim/14: 52].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerukan kepada manusia untuk beribadah kepadaNya saja dan tidak menyekutukanNya (dalam beribadah), dan Dia menyerukan (kepada hmabaNya) agar mereka mengetahui nama-namaNya yang Agung, sifat-sifat Nya yang Mulia dan pekerjaan-pekerjaan Nya. Dan Allah memuliakan kita dengan menyeru manusia kepada beribadah kepada Allah. Didalam Al Quran, ajakan pertama yang ditujukan bagi manusia adalah supaya mereka beriman kepada Allah saja dan tidak menyekutukan Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  [البقرة: ٢١،  ٢٢] 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagi atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. ([Al-Baqarah/2: 21-22].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb seluruh alam, tidak ada bagi mereka Rabb selain dari Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [الفاتحة: ٢] 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”  [Al-Fatihah/1: 2].

  1. Dan Allah telah mengutus nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul untuk memberikan peringatan dan rahmat bagi semesta alam ini

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Furqan:

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا [الفرقان: ١] 

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al furqan (al quran) kepada hamba Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” [Al-Furqan/25: 1].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ [الانبياء: ١٠٧] 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’/21: 107].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Dakwah Kepada Jalan Allah

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Dakwah Kepada Jalan Allah
Kebutuhan umat kepada agama ini seperti butuhnya jasad kepada ruh. Ketika jasad kehilangan ruh, maka jasad  tersebut ikut menjadi rusak dan busuk; begitu pula dengan umat ini, ketika dia kehilangan agamanya maka hancurlah umat ini.

Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu luas meliputi segalanya, dan di antara rahmat (kasih sayang) Allah terhadap para hamba Nya adalah Dia mengutus para rasul, menurunkan kepada mereka kitab-kitab; supaya mengenal siapakah Tuhan mereka, siapakah yang telah menciptakan mereka, siapakah yang menurunkan rezeki kepada mereka, dan dijelaskan pula kepada mereka apa-apa yang diridhai oleh Nya, menyerukan mereka agar menta’atiNya dan beribadah hanya kepada Nya dan tidak menyekutukan Nya (dengan sesuatu apapun). Dan Allah telah menyediakan pahala dan ganjaran bagi mereka yang taat, serta menyediakan siksaan bagi yang bermaksiat kepada-Nya.

فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ [النحل: ٣٦] 

Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatannya.” [An-Nahl’/16: 36].

Ketika keimanan umat manusia telah melemah dan terjerumus melaksanakan kesyirikan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang rasul untuk menyeru mereka kepada tauhid dan mengesakan Nya dalam beribadah. Kemudian diikuti dengan mengutus rasul-rasul setelahnya, dan setiap rasul itu diutus kepada kaum-kaum tertentu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup nubuwah dan risalahNya (dengan mengutus) baginda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih Muhammad sebagai utusan Nya, dengan membawa petunjuk dan agama yang hak bagi seluruh manusia, menyampaikan risalah, menunaikan amanat yang dibebankan kepadanya, menasehati umat, dan berjihad di jalan Allah, meninggalkan umat Islam dalam keadaan terang, siangnya sebagaimana malamnya, dan tidaklah orang yang berpaling (dari risalahnya) kecuali ia akan binasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang terakhir dan paling mulia dari para nabi dan rasul lainnya, dan umat rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat yang terakhir dan paling unggul dari umat-umat sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tugasnya para nabi dan rasul (yaitu dakwah). Dan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdakwah di kawasan jaziroh arab, dalam jangka duapuluh tiga tahun. Dengan kemampuan yang dimilikinya beliau berdakwah, sehingga pada masa itu, agama Islam merata tersebar. Beliau memulai berdakwah dari keluarganya, kemudian sanak kerabatnya, lalu kaum-kaumnya, kepada penduduk mekkah dan sekitarnya, kemudian kepada bangsa arab secara keseluruhan. Dan kepada manusia semuanya; beliau menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh umat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta alam; lalu manusia berbondong-bondong masuk agama Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ   [سبا: ٢٨] 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’/34: 28].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ [الانبياء: ١٠٧] 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’/21: 107].

Sebab-sebab Hidayah
Di zaman nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak orang yang masuk ke dalam agama Islam karena beberapa sebab, di antaranya:

  1. Ajakan yang dilakukan secara lisan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepada Abu Bakar, Khadijah, Ali bin Abi Thalib dan sahabat yang lainnya untuk masuk Islam, dan mereka pun (menyambut dengan) masuk Islam –semoga Allah meridhai mereka
  2. Dengan mengajarkan Islam (ta’lim), sebagaimana Umar Radhiyallahu anhu yang dikasih hidayah karena terpengaruh oleh bacaan Al-Qur’an yang didengar dan dibaca di rumah saudarinya; Fatimah bersama suaminya Sa’id bin Zaid dan Khabab bin Al-Arat (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka). Di mana pada saat itu, mereka semua sedang belajar Al Quran. Dan sebagaimana masuk Islamnya Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz (semoga Allah meridhai mereka berdua) dalam halaqah ta’lim yang dibimbing oleh Mush’ab bin Umair (semoga Allah meridhai-Nya) di Madinah.
  3. Dengan (pemandangan saat mendirikan) suatu ibadah. Hindun binti Utbah masuk Islam setelah dia melihat orang-orang muslim sholat pada tahun kemenangan yaitu tahun pembukaan Makkah, begitu pula dengan Islamnya Tsumamah bin Atsal al hanafi (semoga Allah meridhainya) yang masuk Islam di Mesjid Nabawi, karena terpengaruh oleh pemandangan ibadah yang dilakukan oleh orang-orang muslim dan lain sebagainya.
  4. Dengan berinfaq dan sikap dermawan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun pembukaan kota Mekah memberikan harta yang sangat banyak kepada Shofwan bin Umayyah, Muawiyah dan yang lainnya, sehingga mereka masuk Islam, sebagaimana masuk Islamnya seorang lelaki yang diberi kambing pada sebuah tempat di antara dua gunung, akhirnya dengan masuk Islamnya lelaki tersebut maka kaumnyapun ikut masuk Islam.

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Menghina Syariat Islam

MENGHINA SYARIAT ISLAM

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Firman Allah ta’ala:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا  [المائدة:3]

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. [Al-Maidah/5:3]

Dan firman-Nya:

 إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ  [ال عمران: 19] 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali-Imran/3:19]

Dan firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  [ال عمران:85] 

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imran/3:85]

Dan firman-Nya:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ  [ال عمران: 83] 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. [Ali Imran/3:83]

Agama yang dimaksud di atas adalah agama Islam yang Allah ta’ala mengutus rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihiwasallam dengannya, ia adalah agama universal untuk semua umat manusia, universal untuk sepanjang zaman  hingga hari kiamat sejak diutusnya nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan agama-agama yang ada sebelum Islam yang dibawa oleh para rasul juga agama-agama yang benar, yaitu agama Allah ta’ala, akan tetapi agama Islam datang sebagai penggantinya (nasikh). Semua penghuni bumi harus meyakini dan masuk dalam agama Islam, karena hanya itulah agama benar yang tersisa.

Adapun agama-agama sebelumnya maka sungguh telah dinasakh dengan agama ini, maka siapa yang masih menganut agama terdahulu ia tidak beriman kepada Allah ta’ala dan para rasul-Nya, dan tidak pula di atas agama yang benar, karena ia menganut agama yang sudah dinasakh, dan agama yang sudah dinasakh tidak boleh dianut, dan bukan merupakan ketaatan kepada Allah ta’ala setelah digantinya, ia hanya ta’at kepada Allah ta’ala sebelum dinasakh.

Adapun bila sudah dinasakh maka sudah berakhir pengamalannya dan harus kembali kepada agama yang menasakh yaitu agama Islam, sama saja dalam hal itu agama Yahudi dan Nashrani, atau selain mereka dari semua orang kafir dan penduduk di muka bumi. Siapa pun tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam agama ini –yaitu agama Islam- yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam tatkala Jibril alaihissalam bertanya kepadanya: ‘Beritakanlah kepadaku tentang Islam? Beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ  وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا » [ أخرجه مسلم ]

‘Engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu.’[1]

Lima perkara yang lima ini: Dua kalimah syahadah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah adalah rukun rukun Islam yang ia berdiri di atasnya, sebagaimana beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَاإلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةَ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةَ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ» [ أخرجه البخاري ]

Islam dibangun di atasnya lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.’[2]

Ada berbagai macam kewajiban, ada keta’atan, semuanya adalah pelengkap bagi lima perkara ini, lima perkara ini adalah pondasi yang berdiri di atasnya bangunan Islam, ia adalah tiang tiangnya yang dibangun di atasnya, dan ketaatan lainnya yang tersisa berupa kewajiban dan yang disunnahkan adalah pelengkap dan penyempurna bagi agama ini. Agama ini, semuanya adalah baik, semuanya adalah nikmat, karena Allah ta’ala menamakannya nikmat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي  [المائدة: 3] 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamuagamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku. [Al-Maidah/5: 3]

Allah ta’ala bersaksi bahwa ia adalah agama yang sempurna, dalam arti: tidak ada kekurangan padanya, sungguh ia telah mencukupi semua yang dibutuhkan hamba dalam dunia mereka dan di akhirat mereka yang padanya merupakan kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan mereka di sisi Allah ta’ala. Maka agama ini menjamin bagi orang yang berpegang dengannya dan berjalan di atasnya, memberi jaminan untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Adapun orang yang berpaling darinya dan tidak masuk padanya, atau masuk padanya akan tetapi menyia-nyiakan sebagiannya dan berpegang dengan sebagiannya. Maka yang tidak masuk padanya sama sekali berarti ia adalah orang kafir calon penghuni neraka yang kekal di dalamnya, dan yang masuk padanya akan tetapi mengurangi sesuatu darinya, maka orang ini agamanya kurang sekadar kekurangan darinya, bisa jadi tidak ada agama baginya apabila kekurangan itu bertolak belakang dengan dasar agama. Maka orang yang tidak shalat umpamanya, tidak ada agama padanya, karena ia menyia-nyiakan pondasi Islam.

Demikian pula yang menyekutukan Allah ta’ala, tidak ada agama padanya, karena syirik bertolak belakang dengan Islam dan bertentangan.Demikian pula yang melakukan salah satu pembatal dari pembatal-pembatal Islam dan sebab-sebab murtad, maka sesungguhya ia keluar dari agama ini, ia menjadi kafir, murtad, sekalipun ia masih shalat, puasa dan berhaji, selama ia belum bertaubat dari pembatal agama yang dia lakukan,  sesungguhnya pembatal ini merusak agamanya, dan ia tetap beramal di luar agama dan di luar petunjuk.

Adapun yang muncul darinya kesalahan atau kekurangan dalam agamanya akan tetapi tidak sampai kepada batas murtad, seperti para pelaku maksiat misalnya, maka yang seperti ini tidak keluar dari agama, akan tetapi agamanya kurang dan bisa menghadapi hukuman serta bisa masuk neraka. Maka bahaya sangat berat dalam hal ini.

Namun pelanggaran itu bisamengeluarkan dari agama, maka sesungguhnya bahayanya nyata. Karena sesungguhnya manusia terkadang melakukan ibadah dan ia mengira bahwa ia berada di atas agama, padahal sebenarnya ia tidak berada di atas agama karena ia terus melakukan salah satu pembatal dari pembatal-pembatal agama Islam yang dia belum bertaubat darinya, dan termasuk pembatal-pembatal ini adalah mengolok-olok agama.

Maka manusia –sekalipun ia shalat, puasa, dan melakukan amal ibadah- jika ia mengolok-olok agama sekalipun hanya dengan satu kata atau satu kali, maka sesungguhnya ia sudah keluar dari agama dan ia menjadi murtad. Ia harus bertaubat kepada Allah ta’ala dan masuk Islam lagi. Dan jika terus dan tidak bertaubat maka sesungguhnya ia berada di luar agama.

Dalil hal itu adalah firman Allah ta’ala:

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ﴾ [التوية: 65-66] 

Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.  [At-Taubah/9:65-66]

Mereka adalah satu golongan dari kaum mukminin yang mengolok olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, serta mengolok olok agama. Maka turunlah wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa mereka murtad dari agama Islam disebabkan perkataan mereka. Lalu mereka datang meminta maaf kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya kami berbicara sambil bercanda, kami tidak bermaksud mengolok olok agama, kami hanya ingin bercanda dan bermain. Maka Allah ta’ala berfirman:

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  [التوية: 65-66] 

Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.  [At-Taubah/9:65-66]

Mereka datang meminta maaf dan berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami berbicara hanya sambil bercanda dan bersenang senang, kami tidak bermaksud mengolok olok agama ini,’ dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima alasan ini dari mereka, beliau hanya menjawab mereka dengan perintah Allah ta’ala, yaitu firman-Nya:

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  [التوية: 65-66]

Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.  [At-Taubah/9:65-66]

Beliau tidak menambah atas jawaban itu dan tidak menoleh kepada yang meminta maaf kepadanya, tidak menambah selain membaca ayat ini, karena Allah ta’ala menyuruh beliau:

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ  [التوية: 65-66]

Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.  [At-Taubah/9:65-66]

Bahayanya sangat berat, karena sebagian manusia –terutama orang orang bodoh- terkadang sambil bercanda di antara mereka, lalu masuk ke dalam wilayah agama ini atau orang orang taat beragama dengan sedikit mengolok olok atau meremehkan, atau mereka berkata: Agama ini sangat berat, atau ini adalah agama keras, atau ungkapan senada. Maka siapa yang mengucapkan kata kata ini atau semisalnya, maka ia menjadi murtad dari Islam, sekalipun ia shalat siang dan malam serta puasa sepanjang tahun.

Apabila muncul darinya ucapan dari jenis ini seperti mengolok olok agama dan merendahkan Islam, maka ia menjadi kafir murtad, jika ia tidak bertaubat kepada Allah ta’ala dengan benar, maka ia hidup di luar agama Islam.

Dan termasuk hal itu: mengolok olok sesuatu dari nama nama atau sifat sifat Allah ta’ala, atau mengolok olok shalat, atau zakat, atau puasa, atau haji, atau mengolok olok sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti mengolok olok sesuatu yang diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti siwak, memanjangkan jenggot, mencukur kumis,  dan seperti semua ibadah. Sekalipun ibadah ini dari yang sunnah dan bukan termasuk yang wajib, apabila seseorang mengolok oloknya maka ia menjadi murtad, karena ia mengolok olok agama Allah ta’ala.

Allah ta’ala menyebutkan tentang orang orang munafik bahwa mereka mengolok olok agama, seperti dalam firman-Nya:

وَإِذَا خَلَوْإِلىَ شَيَاطِينِهِمْ  [البقرة: 14] 

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka. [Al-Baqarah/2:14]

Maksudnya: apabila orang orang munafik yang mengaku muslim, apabila pergi kepada orang orang kafir dan Yahudi serta selain mereka, mereka berkata:

قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ [البقرة: 14] 

mereka mengatakan:”Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. [Al-Baqarah/2:14]

Mereka berkata: sesungguhnya kami masuk Islam hanya untuk mengolok olok, bukan sebenarnya. Karena itu kami bersama kalian wahai orang orang kafir, kami bersamamu di atas agamamu, akan tetapi kami hanya menipu Muhammad dan para sahabatnya, lalu kami menampakkan keislaman, dan kami tidak benar dalam hal itu untuk menipu mereka.

Firman Allah ta’ala:

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ  [البقرة: 15] 

Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. [Al-Baqarah/2:15]

Ini hukuman untuk mereka, maka maksud ( اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ ): Dia ta’ala membalas olok olokan mereka, sesungguhnya Allah ta’ala mengolok olok mereka, menghina, merendahkan dan menyiksa mereka.

Dan di hari kiamat, apabila mereka ingin selamat, karena mereka diberikan sedikit harapan untuk selamat bersama kaum muslimin, kemudian hal itu diambil dari mereka. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

 يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ [الحديد: 13]

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.

Ketika orang orang beriman berada di atas cahaya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

[التحريم: 8] نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, ... [At-Tahrim/66:8]

Mereka berada di atas cahaya dan orang orang kafir di atas kegelapan, karena tidak ada iman bersama mereka, mereka tidak tahu apa yang ada di bawah kaki mereka.

Wajib Menghormati Syari’at Islam

[Disalin dari الاستهزاء بالدين Penulis : Syaikh  Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
_______
Footnote
[1] HR Muslim 36-37.
[2] HR. Al-Bukhari 8.

Wajib Menghormati Syariat Islam

MEGHINA SYARIAT ISLAM

Orang orang munafik diberikan sedikit cahaya di awalnya untuk mengolok olok orang beriman, lalu mereka merasa bahagia, kemudian rasa bahagia itu diambil dari mereka, lalu mereka berada di atas kegelapan. Ketika itulah mereka meminta pertolongan kepada orang orang beriman, mereka berkata: (انظُرُونَا ) : Maksudnya: Tunggulah kami hingga kami menyusul kalian dan meminta cahaya dari kalian. Mereka meminta kaum muslimin berhenti hingga mereka bisa menyusul dan mendapat cahaya dari cahaya kaum muslimin:

 قِيلَ ارْجِعُوا وَرَآءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ  [الحديد: 13] 

Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. [al-Hadid/57:13]

Seperti inilah Allah ta’ala memutuskan di antara makhluknya pada hari kiamat : memisahkan ahli iman dari ahli nifaq, ahli iman berada di surga dan di atas cahaya, dan ahli nifaq dan orang kafir di dalam kegelapan dan di dalam neraka:

(. يُنَادُونَهُمْ):  Maksudnya orang orang munafik berseru kepada kaum muslimin:

( أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ): Maksudnya semasa di dunia, bukankah kami shalat, puasa dan berhaji bersama kalian?

Maka orang orang beriman menjawab:

 قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ اْلأَمَانِيُّ حَتَّى جَآءَ أَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ  [الحديد: 14] 

Mereka menjawab:”Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. [al-Hadid/57:14]

Gharur: adalah syetan.

فَالْيَوْمَ لاَيُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu

Maksudnya tidak diterima dari manusia bahwa ia memberi dirinya dengan harta.

 فَالْيَوْمَ لاَيُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلاَمِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا 

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.

Maksudnya: kalian dan orang orang kafir adalah sama.

 مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلاَكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ  [الحديد: 15] 

Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu.Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali. [al-Hadid/57:15]

Perkaranya sangat berbahaya.

Maka yang wajib terhadap seorang muslim: agar ia menghormati Islam, mengagungkan Islam dan perintah perintah agama, janganlah ia mengolok olok sedikitpun dari agama Islam, sekalipun hanya dalam perkara sunnah, namun ia harus mengagungkan agama.

Firman Allah ta’ala:

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ  [الحج: 32] 

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. [Al-Hajj/22:32]

Dan firman Allah ta’ala:

 وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ  [الحج: 30] 

Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. [al-Hajj/22:30]

Yang wajib: mengagungkan agama, mengagungkan perintah perintah syara’ dan larangan larangan dan menghormatinya. Demikian pula wajib menghormati orang orang beriman, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengolok olok saudaranya sesama muslim.

Bahkan, apabila orang orang kafir mengolok olok kaum muslimin, maka sesungguhnya di hari kiamat kondisinya akan berbalik, firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ  [المطففين: 29] 

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. [al-Muthaffififin/83:29]

Maksudnya di dunia.

 وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ  [المطففين: 30]

Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. [al-Muthaffififin/83:30]

Satu sama lain saling mencolek di antara mereka, karena mengolok olok, menghina dan merendahkan kaum muslimin.

 وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلىَ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَاكِهِينَ   [المطففين: 31]

Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. [al-Muthaffififin/83:31]

Maksudnya : Apabila orang orang kafir pulang ke rumah mereka:

(فَاكِهِينَ) Mereka berbicara di rumah: kami telah mengolok olok kaum muslimin, kami mengganggu mereka. Mereka merasa bangga bahwa mereka mengganggu kaum muslimin.

 وَإِذَا رَأَوْهُمْ

Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min,

Apabila orang orang kafir melihat kaum muslimin:

[المطففين: 32] قَالُوا إِنَّ هَآؤُلآَءِ لَضّآلُّونَ 

mereka mengatakan:”Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. [al-Muthaffififin/83:32]

Mereka berkata: sesungguhnya kaum muslimin salah dalam beragama. Seharusnya mereka menyatu bersama manusia, tidak bersikap keras, karena mereka memandang agama sangat keras. Seharusnya mereka bersikap toleransi bersama manusia. Hidup bersama manusia, sekalipun mereka berada di atas kekafiran dan yang diharamkan. Mereka sesat dan salah dalam keagamaan mereka dan dalam berpegangnya mereka dengan agama.

Firman Allah ta’ala:

وَمَآأُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ [المطففين: 33] 

padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. [al-Muthaffififin/83:33]

Allah ta’ala tidak menjadikan orang orang kafir sebagai pengawas kaum muslimin, mengkritik mereka. Dan Allah ta’ala tidak menjadikan mereka sebagai penjaga dan menerima pesan terhadap kaum muslimin.

Kemudian Allah ta’ala menjelaskan kesudahan:

 فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ  [المطففين: 34] 

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. [al-Muthaffififin/83:34]

Di hari kiamat, orang orang kafir berada dalam siksaan dan kehinaan, dan kaum muslimin dalam kemuliaan, ketinggian dan surga. Menengok dari surga dan melihat kepada orang orang kafir dan mereka di neraka dalam siksaan, lalu mereka (kaum muslimin) mentertawakan orang orang kafir, sebagai balasan perbuatan mereka.

 فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ   [المطففين:34] 

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, [al-Muthaffififin/83:34]

Sebagaimana orang orang kafir mentertawakan kaum muslimin di dunia, maka sesungguhnya kaum muslimin di hari kiamat akan mentertawakan orang orang kafir yang berada di neraka.

عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ  [المطففين:35] 

mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. [al-Muthaffififin/83:35]

Mereka menengok mereka dari kamar kamar yang tinggi di surga, di atas tempat tempat duduk yang tinggi, memperhatikan orang orang kafir dan musuh musuh mereka yang telah mengganggu mereka semasa di dunia, sedangkan mereka (orang orang kafir) sedang disiksa di neraka dan terhina, maka mereka mentertawakan mereka.

 هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَاكَانُوا يَفْعَلُونَ  [المطففين: 36] 

Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [al-Muthaffififin/83:36]

Ya, orang orang kafir dibalas sesuai perbuatan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak boleh mengolok olok agama, tidak pula terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula terhadap sesuatu dari al-Qur`an, tidak pula terhadap sesuatu dari hadits hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh mengolok olok kaum muslimin atau individu dari kaum muslimin.

Bahkan, wajib menghormati agama dan ahli agama, karena mereka adalah hamba hamba Allah ta’ala yang beriman, karena mereka mulia di sisi Allah ta’ala. Allah ta’ala telah memuliakan mereka dengan Islam, maka tidak boleh menghina dan merendahkan mereka, tidak boleh mengolok olok mereka, maka sesungguhnya hal itu akan menjadi malapetaka terhadap pelakunya di dunia dan akhirat.

Maka orang yang mengolok olok: dia yang menjadi terhina di dunia dan akhirat.

Adapun yang diolok olok, maka sesungguhnya hal ini tidak membahayakannya selama dia berada di atas kebenaran, selama dia berada di atas jalur agama. Sesungguhnya tidak merugikannya orang orang mengolok oloknya, sesungguhnya hal itu akan berpulang kepada pelakunya dan yang mengatakannya.

Kesimpulannya: sesungguhnya mengolok olok agama Allah ta’ala, meremehkan agama atau merendahkan sesuatu dari perintah perintah Allah ta’ala, atau taat dipandang murtad dari agama Islam. Demikian pula merendahkan orang orang yang taat beragama, merendahkan kaum muslimin dan mukminin, merendahkan ulama, merendahkan orang orang baik dan mengolok olok mereka, semuanya masuk dalam bab yang berbahaya ini.

Maka wajib terhadap seorang muslim: menjaga lisannya, menghormati agamanya, menghormati ulama Islam, menghormati tokoh tokoh agama, menghormati setiap muslim yang hidup di atas muka bumi, menghormati dan mencintai mereka karena Allah ta’ala, membesarkan mereka. Demikian pula yang lebih utama lagi, menghormati agama, perintah perintahnya, sunnah dan kewajiban. Menghormati hal itu dan membesarkannya. Tidak mengolok olok sedikitpun darinya, atau merendahkan sesuatu dari agama Allah ta’ala. Maka jika ia melakukan sesuatu dari hal itu maka ia wajib bertaubat kepada Allah ta’ala dan menyelamatkan dirinya dari bahaya sebelum terlambat dan tertutup pintu taubat di wajahnya, kemudian ia menjadi orang yang merugi. Perkara dalam hal ini sangat berat.

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjaga kita dari terjerumus dalam perkara yang berbahaya ini, dan semoga Dia menjadikan kami dan kamu termasuk orang yang mengontrol lisannya dan menahannya dari berbicara yang tidak boleh. Sesungguhnya ucapan sangat berbahaya. Terkadang manusia meremehkan ucapan, padahal ucapan mempunyai pengaruh/dampak, bisa jadi dampak baik, jika ucapannya baik, dan bisa jadi dampak buruk, jika ucapan yang buruk.

Firman Allah ta’ala:

 مَّايَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ  [ق: 18] 

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qaf/50:18]

Ucapan manusia diperhitungkan, jika baik niscaya Allah ta’ala menambah ketinggiannya:

 إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ [فاطر: 10] 

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Fathir/35:10]

Dan jika ucapan yang buruk, maka akibat buruknya akan berpulang kepada yang mengatakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadith:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أو قال: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ » [ أخرجه أحمد والترمذي وابن ماجه ]

“Dan tidaklah menjerumuskan manusia di neraka di atas wajah mereka –atau beliau bersabda: di atas hidung mereka selain hasil ucapan lisan mereka.’[1]

Terkadang manusia mengucapkan satu kata yang menjadi sebab kebinasaannya untuk selamanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَيُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ » [أخرجه البخاري]

“Sesungguhnya seorang laki laki berbicara satu kalimat dari kemurkaan Allah ta’ala yang dia tidak memperdulikannya, ia terjatuh di neraka lebih jauh dari pada jarak antara Timur dan Barat.’[2]

Satu kata yang menyebabkan kemurkaan Allah ta’ala, apabila manusia mengucapkannya, sekalipun ia tidak memperdulikannya dan mengira bahwa ia sangat mudah/ringan, maka sesungguhnya ia terjerumus dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak di antara Timur dan Barat, maka bagaimana dengan kata kata yang sangat banyak? Perkaranya sangat berat. Firman Allah ta’ala:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ  [النور: 15]

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. [an-Nur/24:15]

Kita wajib menjaga lisan kita dan hendaklah kita tidak berbicara kecuali dengan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باِللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ» [ أخرجه البخاري ]

“Siapa yang beriman kepada Allah ta’ala dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.”[3]

Sesungguhnya bila manusia tidak berbicara niscaya ia selamat, akan tetapi bila ia berbicara yang batil maka sesungguhnya ia binasa. Apabila ia menahan lidahnya tentu ia selamat. Maka manusia, bisa jadi ia berbicara yang baik maka ia naik, dan bisa jadi ia berbicara yang buruk maka ia binasa, dan bisa jadi ia diam, maka tidak berguna baginya dan tidak berbahaya.

Inilah, kita memohon kepada Allah ta’ala agar memberi taufik kepada kita ke arah yang baik, istiqamah dan lurus. Dan semoga Dia memberi rizqi kepada kita agar berpegang dengan agama ini, memberi kami dan kalian kebersihan lisan dari ucapan yang keji/kotor, ucapan jelek, dan ucapan yang dampak buruknya berpulang kepada yang berbicara.

Semoga Allah ta’ala memberi rahmat kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari الاستهزاء بالدين Penulis : Syaikh  Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
_______
Footnote
[1] HR. Ahmad 5/237, at-Tirmidzi7/281-282, Ibnu Majah 2/1314-1315, semuanya dari hadits Muadz radhiyallahu ‘anhu.
[2] HR. Al-Bukhari 7/78-79 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. Al-Bukhari 6475 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Keutamaan Shalat Malam

KEUTAMAAN SHALAT MALAM

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du.

Sesungguhnya di antara amal ibadah yang paling afdhal dan ketaatan yang paling mulia yang dianjurkan oleh syara’ adalah  qiamullail, dia adalah kebiasaan orang-orang yang shaleh, perniagaan orang-orang yang beriman, pada saat malam hari orang-orang yang beriman berkhulwah dengan Rabb mereka, mengadukan keadaan mereka kepadaNya,  serta mereka memohon dari karuniaNya. Mereka tenggelam dalam bermunajat kepada Tuhan mereka, dengan penuh rasa harap dan merendah kepada Tuhan yang menganugrahkan segala kebaikan, pemberian dan anugrah yang agung, Allah, Tuhan Yang Maha Suci. Firman Allah Ta’ala:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. [As-Sajdah/32: 16-17]

Allah telah menyebut mereka dengan sebutan yang paling baik. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, 16.  Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.  Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. [Adz-Dzariyat/51: 15-18]

Al-Hasan berakta: Bersungguh-sunnguhlah (untuk beribadah) pada waktu malam dan perpanjanglah shalat kalian sehingga waktu menjelang pagi, kemudian duduklah untuk berdo’a, merendahkan diri (dihadapan Allah) dan beristigfar. [1]

Firman Allah Ta’ala:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.. [Az-Zumar/39: 9]

Dari Abu Umamah Al-Bahily Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ

Hendaklah kalian bagnun malam, sebab dia adalah kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kalian, dia mendekatkan kalian kepada Tuhan kalian, menghapuskan keburukan dan mencegah perbuatan dosa.[2]

DarI Abi Malik  Al-Asya’ri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا ، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرُهَا ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ ، وَأَفْشَى السَّلامَ ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah kamar di mana yang luar tanpak terlihat dari arah dalam dan yang dalampun tanpak terlihat dari arah luar, Allah menyediakannya  bagi orang yang memberikan makan kepada orang yang  membUtuhkannya, menyebarkan salam dan shalat pada waktu malam saat manusia tenggelam dalam tidur mereka“.[3]

Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu berkata:

جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ . وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ،  واعلم أن شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Jibril  Alaihissallam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab kamu pasti akan mati, berbuatlah sekehendakmu sebab kamu akan diberikan balasan dengannya, cintailah siapapun yang engkau kehendaki sebab engkau pasti meninggalkannya, dan kethuilah bahwa ketinggian derajat seorang mu’min ada pada bangun malam dan kemuliaannya terletak pada ketidakubtuhannya terhadap manusia.[4]

Seorang penyair berkata tentang kaumnya yang bersungguh-sungguh di dalam taat kepada Allah:

Apabila malam telah menjadi gelap gulita maka mereka bekerja keras padanya
Sehingga pagipun datang menyingsing  namun mereka tetap dalam keadaan ruku’
Ketakutan (akan hari akhir) menghilangkan tidur dari mereka lalu mereka bangkit
Sementara yang merasa aman (akan hari akhir) di dunia ini tenggelam dalam tidur
Terdengar dari mereka di dalam kegelapan malam pada saat tenggelam dalam sujud Rintihan tangis yang darinya akan hilang kegundahan

 Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan NabiNya untuk bagun malam dan menganjurkan untuk mengerjakannya. Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Hai orang yang berselimut (Muhammad).  Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari kecuali sedikit (daripadanya).  (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.   Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. [Al-Muzammil/73: 1-4].

Firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. [Al-Isro/17: 79]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima dan menjalankan petunjuk rabbani yang mulia ini. Aisyah Radhiyallahu anha berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ، قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ فَقَالَ: « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam maka beliaupun bangun sehingga kedua kaki beliau membengkak, Aisyah berkata: Apakah engkau melakukan hal ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan yang akan datang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Wahai Aisyah, tidakkah lebih bagiku menjadi hamba yang pandai bersyukur?.[5]

Hudzaifah Radhiyallahu anhu berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ. ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّى بِهَا فِى رَكْعَةٍ فَمَضَى، فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا. ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ.

Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau memulai bacaannya dengan membaca surat Al-Baqarah. Aku berkata kepada  diriku: Dia akan ruku’ pada ayat ke seratus, namun beliau tetap  melanjutkan bacaannya. Maka aku berkata kembali pada diriku: Beliau akan menghabiskan satu rekaat dengan surat Al-Baqarah. Namun beliau tetap melanjutkan bacaannya, kemudian aku berkata: dia akan ruku’ bersamaan dengan habisnya surat tersebut, kemudian beliau mulai membaca surat Al-Nisa’ dan membacanya sehingga habis, kemudian membaca surat Ali Imron dan membacanya secara pelan-pelan, apabila membaca ayat yang terdapat tasbih maka beliau bertasbih dan apabila melewati ayat yang terdapat perintah untuk  memohon kepada Allah maka beliaupun memohon kepada Allah dan apabila melewati ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan maka beliaupun memohon perlindungan kepada Allah.[6]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan menganjurkan para shahabatnya untuk bagun malam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Abdullah bin Umar:

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ قَالَ سَالِمٌ: فَكَانَ عَبْدُ اللهِ لَا يَنَامُ مِنْ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا.

Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah jika dia mendirikan shalat dari waktu malamnya“. Salim bin Abdullah bin Umar berkata:  Maka Abdullah bin Umar setelah itu tidak tidur malam kecuali sedikit sekali“.[7]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk bangun malam dan beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلاةِ بَـعْدَ الفَرِيْضَة، صَلاَةُ اللَّيْلِ

Shalat yang paling afdhal setelah shalat malam adalah shalat malam“.[8]

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِيْن ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِيْن ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطِرِيْن 

Barangsiapa yang shalat malam dengan membaca sepuluh ayat maka dia tidak tercatat sebagai orang yang lalai, dan barangsiapa yang bangun untuk shalat malam dengan membaca seratus ayat maka dia ditulis termasuk orang-orang yang tunduk, dan barangsiapa yang bangun malam untuk beribadah dan membaca seribu ayat maka dia ditulis termasuk orang-orang bersungguh-sungguh (dalam beribadah) “.[9]

Dan waktu shalat malam adalah sejak  selesai shalat isya’ sampai azan fajar. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam itu dua rekaat dua rekaat dan jika salah seorang di antara kalian merasa khawatir akan datangnya waktu subuh maka hendaklah dia shalat satu rekaat sebagai shalat witir baginya terhadap rekaat-rekaat yang telah dikerjakannya“.[10]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Barangsiapa yang khawatir bahwa dirinya tidak bangn pada waktu malam hari maka hendaklah dia menunaikan shalat witir pada waktu awal malam dan barangsiapa yang berharap akan bangun pada akhir malam maka hendaklah dia menerjakan shalat witir pada waktu akhir malam, dan shalat akhir malam disaksikan dan hal itu lebih baik“.[11]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَـبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَـقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَـجِيبَ لَـهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَـهُ؟، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَـهُ؟»

Tuhan kita yang Maha Tinggi turun pada setiap malamnya menuju ke langit dunia ketika sepertiga akhir  dari malam masih menyisa, dan Dia berkata: Siapakah orang yang memohon kepadaKu maka Aku akan mengabulkan permohonannya dan barangiapa yang meminta kepadaku maka Aku akan memberikan permintaannya dan barangsiapa yang memohon ampun kepadaKu maka Aku akan memberikan ampunan baginya.[12]

Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu anhu berkata : “Kalaulah bukan karena tiga hal maka aku tidak senang dengan kehidupan ini, yaitu berperang di jalan Allah, beribadah dengan bersungguh sunggh pada waktu malam dan duduk bersama kaum yang memilih perkataan yang baik sebagaimana dia memilih korma yang baik”.[13]

Di antara kiat yang bisa membantu seseorang agar dia bisa bangun malam adalah mensegerakan tidur pada waktu malam dan bergadang adalah bencana yang telah menimpa masyarakat pada zaman ini, terlebih hal itu terjadi bukan dalam rangka menjalankan ketaatan seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat kita, baik untuk menonton parabola, mengikuti acara televisi, main remi atau bergabung dalam majlis obrolan yang dipenuhi dengan omong kosong atau majlis yang  lainnya.

Oleh karena itulah sebabnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci kebiasaan tidur sebelum isya’ dan mengobrol setalah isya’.

Syekh Utsaimin rahimhullah berkata: Dan shalat malam pada bulan ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar dibanding dengan bulan yang lain. Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhua berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَـهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِـهِ

Barangsiapa yang bangun beribadah pada bulan ramadhan karena dorongan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.[14]

Bangun untuk ramadhan tersebut mencakup shalat yang dikerjakan sejak awal malam sehingga akhir malamnya, maka shalat tarawih teramsuk qiyam ramadhan, maka wajib untuk memperhtikannya dan dikerjakan dalam rangka mengharap pahala dan balasan dari Allah, dia tidaklah kecuali beberapa malam saja dan seharusnya dimanfaatkan oleh seorang mu’min yang berakal sebelum waktunya terlewatkan”.[15]

Hendaklah bagi seorang muslim untuk bergegas untuk mendirikan shalat bersama imam sehingga sang imam bubar. Dari Abi Dzar Al-Giffari Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya barangsiapa yang shalat bersama imam sehingga imam itu selesai maka akan dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk.[16]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatnya.

[Disalin dari فضل قيام الليل  Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu Mahsun, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Mukhtashar qiyamullail, AL-Marawazi hal. 96.
[2] Sunan Turmidzi: 5/553 no: 3549. Abu Isa Al-Tirmidzi berkata: hadits ini adalah hadits yang lebih shahih dari hadits Abi Idris dari Bilal dan dishahihkan oleh Albani di dalam shahih Tirmidzi 3/178 no: 3801.
[3] Shahih Ibnu Hibban: 1/363 no: 509
[4] Mu’jamu Thabranil ausath 4/306 no: 4278 dan Al-Mundziri di dalam kitabnya: Al-Targib  wat Tarhib: 1/485 dengan sanad yang hasan.
[5] Shahihl Bukhari: 1/352 no: 1130
[6] Shahih Muslim: 4/537 no: 773
[7] Shaihul Bukhari: 1/350 no: 1121, shahih Mslim: 4/1927 no: 2478
[8] Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya: 2/821 no: 1163 dari hadits Abi Hurairah Radhiyallahu anhu.
[9] Sunan Abi Dawd: 2/57 no: 1398
[10] HR. Bukhari: 1/353 no: 1137 dan Muslim: 1/516 no: 749
[11] HR. Muslim 1/520 no: 755
[12] HR. Bukhari: 1/356 no: 1145, shahih Muslim 1/523
[13] Mukhtashar qiyamullail, Al-Marwazi, halaman: 62
[14] Shahihul Bukhari: 2/60 no: 2009 dan shahih Muslim: 1/523 no: 709
[15] Majalis syahru Ramadahan: Hal: 18
[16] Bagian dari Hadits riwayat Turmidzi di dalam sunannya: 3/169 no: 806 dan Al-Turmudzi berjkata: Hadits hasan shahih.

Antara Ajal dan Rezeki

ANTARA AJAL DAN REZEKI

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الـْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ البخاري برقم 7454، ومسلم برقم 2631

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada kita dan beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya: Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah seperti itu, kemudian menjadi segumpal daging dalam masa seperti itu kemudian diutus kepadanya malaikat lalu dia meniupkan ruh padanya dan diperintahkan baginya untuk menulis empat perkara: Diperintahkan baginya untuk menulis rizkinya, ajal dan amalnya serta apakah dia bahagia atau sengsara.[1]

Di dalam hadits ini disebutkan empat perkara gaib yang wajib diimani, diyakini dengan keyakinan yang kuat dan dibenarkan, dan penjelasanku pada tulisan ini terbatas pada dua bagian saja, yaitu:  masalah ajal dan rizki.

Nash-nash di dalam Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan masalah ajal dan rizki, dia tidak akan bertambah disebabkan oleh perhatian orang yang bersungguh-sungguh padanya dan tidak pula akan terhalang oleh orang yang benci.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ» [مسلم برقم 2652]

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah telah menetapkan takdir setiap makhluk pada masa lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan seluruh langit dan bumi, dan ArsyNya di atas air”.[2]

Dan Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan tentang hakekat ini pada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin  Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang  bersyukur. [Ali Imron/3: 145]

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan. [Al-A’raf/7: 34]

Sebagian orang-orang munafiq menyangka bahwa jika mereka tidak ikut serta berjihad di jalan Allah dan pengecut dalam menghadapi musuh akan menjadi penghalang antara dirinya dengan kematian, maka Allah membantah prasangka tersebut dengan firmanNya:

ثُمَّ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tanganAllah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. [Ali Imron/3: 154]

Oleh karena itulah, pada realitanya membuktikan bahwa orang-orang yang terbunuh karena lari dari peperangan lebih banyak daripada orang-orang yang terbunuh karena berani menghadapi peperangan.

Seorang penyair berkata:
Aku mundur guna berlomba mencari hidup namun tidak ku dapatkan
Bagi diriku kehidupan seperti kehidupan maju menghadapi tantangan

Perkara rizki sama seperti perkara ajal, rizki apa yang dituliskan bagi seseorang akan pasti didiapatkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). [Hud/11: 6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ  فَوَرَبِّ السَّمَاء وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikanitu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. [Al-Dzariyat/51: 22-23]

Dari Abi Umamah Radhiyallahu anhua bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِيْ رُوْعِيْ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهَ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ» [حلية الأولياء 10/28، وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير برقم 2085]

Sesungguhnya ruh kudus telah meniupkan di dalam jiwaku bahwa satu jiwa tidak akan mati sehingga dia mengambil rizkinya secara sempurna dan menyempurnakan ajal yang telah ditentukan baginya, takulah kepada Allah, bertindak baiklah dalam meminta, dan janganlah keterlambatan datangnya rizki mendorong sesorang untuk menuntutnya dengan cara bermaksiat, sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan ketaatan kepada Allah”.[3]

Maka rizki apa yang telah ditetapkan bagi seorang hamba pasti didapatkannya sebelum kematianya.

Dari Jabir Radhiyalahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ فَرَّ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَفِرُّ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ [حلية الأولياء 7/90، وصححه الألباني كما في السلسلة الصحيحة برقم 752]

Seandainya manusia berlari menjauh dari rizkinya sama seperti dirinya menjauhi berlari menjauhi keamtian maka dia pasti medapatkan rizkinya sebgaimana ajal menjemputnya”.[4]

Renungkannah hadits ini, menjelaskan tentang adab berdo’a di mana dia menegaskan tentang hakekat ini.

Dari Ummu Habibah Radhiyallahu anhu berkata:

اللَّهُمَّ مَتِّعْنِي بِزَوْجِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِأَبِي أَبِي سُفْيَانَ وَبِأَخِي مُعَاوِيَةَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكِ سَأَلْتِ اللَّهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ وَآثَارٍ مَوْطُوءَةٍ وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ لَا يُعَجِّلُ شَيْئًا مِنْهَا قَبْلَ حِلِّهِ وَلَا يُؤَخِّرُ مِنْهَا شَيْئًا بَعْدَ حِلِّهِ وَلَوْ سَأَلْتِ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ لَكَانَ خَيْرًا لَكِ [مسلم برقم 2663]

Ya Allah berikanlah kenikmatan bagi dengan suamiku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dengan bapakku Abi Supyan, dan dengan saudaraku  Mu’awiyah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah suatu ajal yang telah ditetapkan, jejak-jejak yang telah ditapaki dan rizki yang telah dibagi-bagi, janganlah salah seorang di antara kalian tergesa-gesa denganya sebelum waktunya tiba, dan jangan pulah berharap mengundurkannya setelah datang, dan seandainya engkau meminta kepada Allah agar terjaga dari api neraka dan azab kubur maka hal itu lebih baik”.[5]

Dari penjelasan di atas mengetengahkan dua hal:
Pertama: Mngimani bahwa ajal dan rizki telah terbagi dan diketahui, tidak akan didapatkan karena usaha orang yang bersungguh-sungguh dan tidak menahannya kebencian orang yang benci.

Kedua: Hal ini bukan berarati meniggalkan segala sebab-sebab yang telah disyari’atkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al-Baqarah/2: 195]

Ketiga: Hadits Umamah di atas mengisyaratkan dua perkara:

a). Seorang hamba harus berusaha mencari rizki yang halal, dan menjauhi hal yang haram dan usaha-usaha yang mengarah kepadanya.

b). Tidak menuntut rizikinya dengan motifasi tamak dan rakus, hendaklah dia menyadarai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ» [الترمذي برقم 2465، وصححه الألباني كما في صحيح الجامع الصغير برقم 6516]

Barangsiapa yang menjadikan akherat sebagai tujuannnya maka Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan Allah akan memberikan kekuatan untuknya dan dunia akan mendatanginya sekalipun dengan terpaksa, dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kemiskinannya di antara kedua matanya dan akan mencerai-beraikan kekuatannya, serta dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”.[6]

Keempat: Sebab-sebab yang bisa mendatangkan rizki dan menolak hal-hal yang dibenci sangat banyak, dan sebagaiannya dijelaskan di dalam pembahasan ini.

a). Bertawakkal kepada Allah. Dari Umar Ibnul khattab Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا [مسند أحمد 1/30]

Seandinya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka dia pasti memberikan rizki kepada kalian sama Dia telah memberi rizki kepada seekor burung yang pergi pada waktu pagi dengan perut yang kosong dan pulang waktu sorenya dengan perut yang kenyang.[7]

b). Istiqomah di dalam sayri’at Allah Azza Wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقًا

Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak”. [Al-Jin/72: 16]

Allh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. [Al-Thalaq/65: 2-3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, [Al-A’raf/7: 96]

c). Selalu beristigfar dan bertaubat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.  [Nuh/71: 10-11]

d). Bersilaturrahmi. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ [مسلم برقم 2557]

Barangsiapa yang suka untuk diluaskan dalam rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia  menyambung silaturrahmi”.[8]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari الأجل والرزق  Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Shahih Bukhari: 4/396 no: 7454 dan Muslim: 4/2036 no: 2631
[2] Shahih Muslim: 4/2044 no: 2652
[3] Hilyatul Auliya’: 10/27 dan dishahihkan oleh Albani di dalam shahihul jami’is shagir: 1/420 no: 2085
[4] Hilyatul Auliya’: 7/90dan dishahihkan oleh Albani di dalam Asilsilah As-Shahihah: 1/672 no: 752
[5] Shahih Muslim: 4/2051 no: 2663
[6] Sunan Turmudzi: 4/642 no: 2465 dan dishahihkan oleh Albani di dalam shahih Al-jami’ Al-Sagir: 2/1111 no: 6516
[7] Musnad Imam Ahmad: 1/30
[8] Shahih Muslim: 4/1982 no: 2557