Author Archives: editor

Doa Senjata Orang Mukmin

DOA SENJATA ORANG MUKMIN

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الأمين، وعلى آله وأصحابه الطاهرين، وبعد

Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas, melalui doa  nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa, seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan akan doa dalam setiap situasi dan kondisinya.

Doa adalah obat yang paling mujarab, ia ibarat musuh bagi penyakit, ia senantiasa melawan, menhilangkan atau meringankanya.

Begitulah kedudukan doa, seyogyanya bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan dan adab-adab doa, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima doa dan amal soleh kita.

Keutamaan-keutamaan Doa
Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah cukup menjadi bukti keutamaanya, bahkan ia adalah ibadah itu sendiri, sebagaimana yang sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah ibadah.” (HR: Tirmizi, disahihkan Al-Albani).

Meninggalkan doa adalah bentuk menyombongkan diri dari menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“ Dan Tuhamnu berfirman: “ berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” [Gafir/40:60].

Dan doa itu menunjukan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu dikarenakan orang yang berdo’a dalam kondisi memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan hanya kepada-nya bukan kepada yang lain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“ Dan Tuhamnu berfirman: “ berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu”  [Gafir/40: 60].

Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dalam mencari kebaikan dan menolak kemadharatan, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مْنَ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاء، فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ ، وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا  يُعْطى أحبَّ إليه من أن يسأل العافية إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلُ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

“ Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’aladiminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan, sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR: tirmizi, dihasankan oleh Al-Albani).

Doa adalah senjata yang digunakan para nabi dalam menghadapi situasi-situasi sulit, begitu pun nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang badar, ketika ia melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu sedang pasukan islam tiga ratus sembilan belas, ia segera menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tanganya berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engakau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.”

فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tanganya menghadap kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meletakanya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: wahai nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” (HR: Muslim)

Demikian pula nabi Ayub Alaihissallam, ia menggunakan senjata doa ketika mengalami berbagai macam cobaan, terisoler dari manusia, tidak ada lagi yang menyayanginya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa:

وَأيُوبَ إذ نَادى رَبَهُ أنّي مَسَنِىَ الضُرُ وَأنتَ أرحَمُ الرّاحِمِينَ (83) فَاستَجَبنَا لَهُ فَكَشَفنَا مَا بِهِ مِن ضُر 

“ Dan ingatlah (kisah ayub), ketika ia menyeru Tuhanya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engaku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka kamipun memeperkenankan seruanya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya…” [Al-Anbiya/21: 83-84].

Di samping itu doa juga dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, mempermudah urusan, dalam doa seorang hamba bermunajat kepada Tuhanya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaanya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya” (HR: Ahmad, Tirmizi, dihasankan Al-Albani).

Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair:
Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan
Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup
Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya
Sedang manusia justru marah ketika meminta

Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzalimi, ia dalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapanya, imam Syafi’i mengatakan:

Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele
Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat doa
Ia adalah anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset
Akan tetapi ia memiliki masa dan masa itu ada penghujungnya

Adab-adab Berdoa.
Adab-adab berdoa banyak sekali, semuanya dianjurkan untuk dilaksanakan saat berdoa, agar ia menjadi penguat untuk dikabulkanya doa, diantara adab-adab itu adalah:

Membuka doa dengan hamdalah dan pujian bagi Allah Subhanahu wa Ta’aladan salawat atas nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana hadits Fadhalah bin Ubaid: Tatkalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, tiba-tiba masuk seorang laki-laki lalu berdoa: “ Allahumaghfirli warhamni.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدْ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

Tatkalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, tiba-tiba masuk seorang laki-laki lalu berdoa: “ Allahummaghfirli warhamni.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu tergesa-gesa wahai orang yang berdoa, jika kamu berdoa maka duduklah, lalu ucapkan pujian kepada Allah dengan sesuatu yang layak bagi-Nya, dan bersalawatlah kepadaku kemudian berdoalah .” Kemudian ada laki-laki lain berdoa setelah itu, ia mengucapkan pujian kepada Allah dan bersalawat kepada nabi, maka nabi bersabda kepadanya:” Wahai orang yang berdoa, berdoalah engkau niscaya dikabulkan” (HR: Tirmidzi, disahihkan Al-Bani).

Mengakui dosa
Mengakui dosa menunjukan kesempurnaan ubudiyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana doa Yunus Alaihissallam.

 فَنَادى فِي الظُلُمَاتِ أن لآ إلَهَ إلآ أنتَ سُبحَانَكَ إنِّي كُنتُ مِنَ الظَالٍمِينَ

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “ Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim “. [Al-Anbiya’/21: 87]).

Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berketetapan hati dalam meminta
Sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ (رواه البخاري ومسلم)

“ Jika salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaknya berketetapan hati dalam meminta, dan janganlah mengatakan: Ya Allah jika engkau mau berilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa Allah.” (HR: Bukhari Muslim).

Berwudhu, menghadap kiblat dan mengangkat tangan ketika berdoa
Hal itu akan lebih mendatangkan kekhusu’an dan kejujuran dalam menghadap. Abu Abdillah bin Zaed mengatakan:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هَذَا الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي فَدَعَا وَاسْتَسْقَى ثُمَّ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ

 “ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke tempat salat untuk minta hujan, lalu beliau berdoa dan meminta hujan, kemudian menghadap kiblat dan membalik selempangnya.” (HR Bukhari)

Dan sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ari, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari perang Hunain – Abu Musa mengatakan: Beliau meminta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tanganya seraya berdoa:” Ya Allah ampunilah Ubaid bin Amir.” Dan aku melihat putih ketiaknya. (HR: Bukhari Muslim).

Merendahkan suara dalam berdoa
Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

 ادعُوا رَبَكُم تَضَرُعاً وَخُفيَةٌ إنَهُ لاَ يُحِبُ المُعتَدِينَ

“ Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas ” [Al-A’raf/7: 55].

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا علَى أَنْفُسِكُمْ، إنَّكُمْ ليسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهو معكُمْ   (رواه البخاري )

“ Wahai manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak pula yang jauh, kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar dan Dekat, dan Dia selalu menyertaimu” (HR: Bukhari)

Tidak membuat-buat kalimat bersajak
Hal itu karena orang yang berdoa harus dalam kondisi merendah, sedang perbuatan membuat-buat seperti itu tidak pantas, Ibnu Abas pernah menyampaikan nasehat kepada salah seorang sahabat, ia mengatakan: “ Jauhilah sajak dalam doa, sesungguhnya aku mendapatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya menjauhi hal itu.”

Memilih waktu-waktu yang dianjurkan dan saat-saat yang mulia
Seperti saat-saat setelah shalat, saat azan, antara azan dan qamat, sepertiga malam terakhir, hari jumat, hari arafah, saat turun hujan, saat sujud, saat berangkat menyerbu musuh dalam jihad fisabililah, dll.

Tidak mendoakan jelek kepada diri, keluarga dan harta
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَدْعُوا علَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا علَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا علَى أَمْوَالِكُمْ، لا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“ Janganlah kalian mendoakan jelek terhadap diri kalian, jangan pula terhadap anak-anak  dan harta kalian, jangan sampai kalian mendapati satu saat Allah diminta satu permintaan lalu Dia mengabulkan untuk kalian“ (HR: Muslim).

Contoh-contoh Doa dari Kitab dan Sunnah.
Pertama: Doa-doa Dari Al-Qur’an.

رَبَنَا اصرٍف عَنَا عَذّابَ جَهَنَمَ إنَ عَذَابَهَا كَانَ غَرَاماً (65) إنَهَا سَآءَت مُستَقَراً وَمُقَاماً  

“ Dan orang-orang yang berkata: “ Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman”. [Al-Fur’qan/25: 65-66].

رَبَنَا هَب لَنَا مِن أزوَجِنَا وَذُرِياتِنَا قُرَةَ أعيُنٍ واَجعَلنَا لِلمُتَقِينَ إمَاماً  

“ Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam orang-orang yang bertakwa“. [Al-Fur’qan/25:74].

رَبَنَا اغفِر لَنَا وَلإخوَنِنَا الّذِينَ سَبَقُونَا بِاللإيمَانِ وَلاَ تَجعَل فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَذِينَ ءَامَنُوا رَبَنَآ إنَكَ رَؤوفٌ رَحِيمٌ  

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Al-Hasyr/59: 10]

رَبِ اغفِر وَارحَم وَأنتَ خَيرُ الرَاحِمينَ  

Ya Tuhanku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan engkau adalah pemberi rahmat Yang Paling baik”.[Al-mukminun/23: 118].

رَبَنَآ ءَاتِنَا فِي الدُنّيَا حَسَنَةً وَفيِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَارِ  

“ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. [Al-Baqarah/2: 201].

رَبَنَا لاَ تُؤَاخِذنَآ إن نَسِينَآ أَو أخطَأنَا رَبَنَا وَلاَ تَحمِل عَلَيَنآ إصراً كَمَا حَمَلتَهُ عَلَى الّذِينَ مِن قَبلِنَا رَبَنآ وَلاَ تَحمِلنَآ مَلاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعفُ عَنّا واغفِر لَنَا وَارحَمنَآ أنتَ مَولَنَا فانصُرنَا عَلَى القَومِ الكَفِرِينَ  

“ Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah, Ya Tuhan kami janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka yolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. [Al-Baqarah/2: 286].

رَبَنَا لاَ تُزِغ قُلُبَنَا بَعدَ إذ هَدَيَتَنا وَهَب لَنَا مِن لَدُنكَ رَحمَةً إنَكَ أنتَ الوَهَابُ  

“ Ya Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. ( Ali-Imran: 8).

رَبِّ اشرَح لي صَدرِي (25) وَيَسِّر ليِ أمرِي (26) وَحلُل عٌقدَةً مِن لِسَاني (27) يَفقَهُوا قَوليِ

“ Ya Tuhanku, lapangkanlah untuku dadaku, dan mudahkanlah untuku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”. [Tahaa/20: 25-28].

رَبِ إنّيِ ظَلَمتُ نَفسِي فَاغفِر ليِ  

“ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”.[Al-Qasas/28:16]

رَبَنآ لاَ تَجعَلَنَآ فِتنَةً لِلقَومِ الظّالِمينَ (85) وَنَجِنآ بِرَحمَتِكَ مِنَ القَومِ الكَافِرِينَ .

“ Ya Tuhan kami; janganlah engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim”. [Yunus/10: 85-86]

رَبَنآ اغفِر لَنَا ذُنُوبَنَا وَإسرَافَنَا فيِ أمرِنَا وَثَبِت أقدَامَنَا وَانصُرنَا عَلَى القَومِ الكَافِرِينَ  

“ Ya Tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir ”. [Ali Imran/3: 147].

رَبَنَآ ءَاتِنَا مِن لَدُنكَ رَحمَةً وَهَيىء لَنَا مِن أمرِنَا رَشَداً  

“ Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisimu dan sempurnakan bagi kami  petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [Al-Kahfi/18: 10].

   رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً  

“ Ya Tuhanku, tambahkanlah kepada kami ilmu pengetahuan”. [Thaha/20: 114].

  رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ  

“ Ya Tuhanku aku berlindung kepada engkau dari bisikan-bisikan setan”. [Al-Mukminun/23: 97]

   رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  

“ Ya Tuhan kami, janganlah engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. [Al-Mumtahanah/60: 5].

   رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء  

“ Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. [Ali Imran/3: 38]

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ  

“ Ya Tuhan kami, terimalah dari pada kami(amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Al-Baqarah/2: 127].

  رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء  

“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku”. [Ibrahim/14: 40].

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ  

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab(hari kiamat)” [Ibrahim/14: 41].

 رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka“. [Ali-Imran/3: 16].

  رَبِّ انصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ  

“ Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. Al-Ankabut/29: 30].

  رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ  

“ Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Paling Baik”. [Al-Mukminun/23: 109].

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ  التحريم:8.

“ Ya Tuhan kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [AT-Tahrim/66: 8].

رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ  

“ Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-qur’an dan kenabian Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). [Al-Maidah/5: 83].

 Kedua: Doa-doa Dari Sunnah:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“ Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung bagi urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang didalamnya ada penghidupanku, dan perbaikilah bagiku akhiratku yang di dalamnya ada tempat kembaliku, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah setiap kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian peristirahatan bagiku dari setiap keburukan”.

اللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ الهُدَى، وَالتُّقَى، وَالعفَافَ، والغنَى

“ Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadamu petunjuk, taqwa, iffah(kesucian) dan kekayaan”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“ Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, ketuaan dan  azab kubur. Ya Allah berikanlah kepada jiwaku ketaqwaanya, sucikanlah ia Engakau adalah sebaik-baik Yang mensucikanya, Engaku adalah Penolong dan Pemiliknya. Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat,  hati yang tidak khusu’, jiwa yang tidak pernah kenyang dan doa yang tiada dikabulkan”.

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allah, berilah aku petunjuk dan arahan yang benar, Ya Allah sesunggunya aku meminta kepada-Mu petunjuk dan ketepatan”.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan dari-Mu, berpindahnya kekuatan dari-Mu, dan dari datangnya azab-Mu dengan tiba-tiba serta dari seluruh kemurkaanmu“.

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِـيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِـيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي، وَنُوْرَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu laki-laki, anak hamba-Mu perempuan, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, aku berjalan berdasarkan hukum-Mu, melaju menurut ktentuan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan setiap nama milik-Mu yang Engkau menamai diri-Mu denganya, atau dengan nama-nama-Mu yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, jadikanlah al-qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku dan pelenyap kegelisahanku”.

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah Zat Yang Mengarahkan hati, arahkanlah hati kami dalam ketaatan”.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Zat Yang Membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kekuatan/kesehatan di dunia dan di akhirat”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dan azab neraka, fitnah dan azab kubur, keburukan fitnah kekayaan, keburukan fitnah kemiskinan. Ya Allah sungguh aku berindung kepada-Mu dari keburukun fitnah al-masih dajjal, Ya Allah bersihkanlah hatiku dengan air es dan embun, dan bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau dibersihkanya pakaian putih dari kotoran noda, dan jauhkanlah jarak antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dosa dan kemaksiatan”.

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kepenakutan, ketuaan dan kebakhilan, dan aku berlidung kepada-Mu dari azab kubur dan dari fitnah kehidupan dan kematian“.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari besarnya tanggungan, beratnya kesusahan, buruknya takdir dan gembiranya musuh terhadap cobaan yang menimpaku”.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن شَرِّ ما عَمِلْتُ، وَشَرِّ ما لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, baik yang telah lalu maupun yang akan datang “.

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, aku memohon rahmatmu, jangan Engkau serahkan diriku kepadaku walau sekejap, dan perbaikilah bagiku seluruh urusanku, tiada Tuhan selain Engkau”.

اللهم لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Ya Allah, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dan dari keburukan penglihatanku, dan dari keburukan lisanku, dan dari keburukan hatiku, dan dari keburukan maniku”.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, perbuatan dan hawa nafsu“.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sungguh Engkau Maha Memaafkan lagi Mulia, Engkau Suka Memaafkan, maka maafkanlah aku”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (kemampuan untuk) berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, (aku memohon) Engkau mengampuni dan menyayangiku, dan jika Engkau menghendaki fitnah terhadap satu kaum maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak tertimpa fitnah, dan aku memohon cinta-Mu dan cinta kepada orang yang Engkau cintai, dan cinta kepada perbuatan yang mendekatkanku kepada-Mu”.

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استعاذ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وأسالك أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan seluruhnya, yang segera maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, dan aku berlindung kepadamu dari keburukan seluruhnya, yang segera maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan segala perkataan maupun perbuatan yang mendekatkan kepadanya, dan aku meminta kepada-Mu agar Engkau menjadikan seluruh yang Engkau takdirkan untuku menjadi kebaikan”.

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالْإسْلاَمِ قَائِماً ، وَاحْفَظْنِي بِالْإسْلَامِ قَاعِدًا ، وَاحْفَظْنِي بِالْإسْلَامِ رَاقِدًا ، وَلَا تُشْمِتْ بِي عَدُوًّا وَلَا حَاسِدًا اللَّهُمَّ إِنِّي أسْأَلُكَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ

Ya Allah, jagalah diriku dengan islam dalam keadaan berdiri, dan jagalah diriku dengan islam dalam keadaan duduk, dan jagalah diriku dengan islam dalam keadaan tertidur, dan jangan Engkau legakan hati musuh dan orang yang hasud atas bencana yang menimpaku, Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari setiap kebaikan yang tempat simpananya ada di tangan-Mu, dan aku berlindung dari setiap keburukan yang tempat simpananya ada di tangan-Mu”.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحول به بَيْنَنَا وَبَيْنَ معصيتك، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مصائب الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا.

Ya Allah, berikanlah bagi kami dari rasa takut (kami) kepada-Mu sesuatu yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu, dan dari ketaatan (kami) kepada-Mu sesuatu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan dari keyakinan (kami) sesuatu yang dapat meringankan musibah dunia atas kami, Ya Allah jadikanlah kami senantiasa dapat menikmati pendengaran kami, dan penglihatan kami, serta kekuatan kami selama Engkau hidupkan kami, dan jadikanlah itu pewaris dari kami, dan jadikan pembalasan kami atas orang-orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami terjadi pada agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai penyebab terbesar kesedihan kami, dan batas tertinggi pengetahuan kami, dan janganlah Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami”.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلِي وَجِدِّي، وَخَطَئي، وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي

Ya Allah, ampunilah bagiku kesalahan dan kebodohanku, dan tindakan-tindakan yang berlebih-lebihan dalam urusanku, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku, Ya Allah ampunilah bagiku gurau maupun keseriusanku, dan ketersalahan maupun kesengajaanku, semua itu dariku”.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِيْ الأُمُوْرِ كُلِّهَا, وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

Ya Allah jadikanlah baik akhir dari seluruh perkara kami, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat”.

رَبِّ أَعِنِّي وَلاَ تُعِنْ عَلَىَّ وَانْصُرْنِي وَلاَ تَنْصُرْ عَلَىَّ وَامْكُرْ لِي وَلاَ تَمْكُرْ عَلَىَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَاىَ إِلَىَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَىَّ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِ

Ya Tuhanku, berikanlah pertolongan untuku dan jangan terhadapku, dan berikanlah kemenangan untuku jangan terhadapku, bermakarlah untuku jangan bermakar terhadapku, berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk datang kepadaku, dan berilah aku pertolongan atas orang yang berbuat lalim terhadapku. Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa bersyukur, berzikir, takut, taat, merendahkan diri kepada-Mu, serta banyak berdoa dan bertaubat. Ya Tuhanku, terimalah taubatku, bersihkanlah dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjaku, tunjukanlah hatiku, arahkanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian hatiku“.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

Ya Allah ilhamkanlah kepadaku kedewasaanku, dan lindungilah aku dari keburukan jiwaku”.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

Ya Allah aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat”.

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ 

“ Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan bumi, Tuhan Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Yang Menurunkan taurat, injil dan al-qur’an, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunya. Ya Allah, Engkau Yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Mu, dan Engkau Yang terakhir dan tidak ada sesuatu setelah-Mu, dan Engkau Yang Nampak dan tidak ada sesuatu di atas-Mu, dan Engkau Yang tersembunyi dan tidak ada sesuatu yang di bawah-Mu, bayarkanlah hutang kami dan tolonglah kami dari kefakiran”.

اللهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا

“ Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah”.

اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“ Ya Allah, tolonglah kami dalam berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لاَ يَرْتَدُّ ، وَنَعِيمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ

“ Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keimanan yang tidak akan kembali, dan nikmat yang tidak akan habis, serta menemani rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga al-kuld yang tertinggi”.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ، وَشَمَاتَةِ الأعْدَاءِ

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dilingkupi hutang dan dikuasai musuh serta dari kegembiraan musuh ( atas bencana yang menimpaku )”.

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَسْتَجِيْرُ بِكَ مِنَ النَّارِ- ثلاث مرات

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan meminta perlindungan dari neraka”.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku menyadari itu, dan aku memohon ampun atas dosa syirik yang aku tidak menyadarinyaaa”.

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا 

“Ya Allah, berikanlah aku manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, dan tambahlah ilmuku”.

اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاً.

“ Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan rezki yang baik, serta amal yang engkau terima”.

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“ Ya Allah, kepada-Mu aku berserah, dan kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku bertawakal, dengan (pertolongan) -Mu pula aku bisa melawan musuh, Ya Allah, aku berlindung dengan izzah-Mu -tiada Tuhan selain Engkau- (agar) tidak Engkau sesatkan aku, Engkau Maha Hidup Yang Tidak mati, sedang jin dan manusia mati”.

   اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ 

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu sebab-sebab yang dapat mendatangkan rahmat-Mu, dan kesungguhan ampunan-Mu, dan keselamatan dari setiap dosa, dan manfaat dari setiap kebajikan, dan kemenangan surga, serta keselamatan dari neraka”.

اللّهُـمَّ بِعِلْـمِكَ الغَـيْبِ وَقُـدْرَتِـكَ عَلـى الْخَلقِ أَحْـيِني ما عَلِـمْتَ الحـياةَ خَـيْراً لـي، وَتَوَفَّـني إِذا عَلِـمْتَ الوَفـاةَ خَـيْراً لـي، اللّهُـمَّ إِنِّـي أَسْـأَلُـكَ خَشْيَتَـكَ في الغَـيْبِ وَالشَّهـادَةِ، وَأَسْـأَلُـكَ كَلِمَـةَ الحَـقِّ في الرِّضـا وَالغَضَـب، وَأَسْـأَلُـكَ القَصْدَ في الغِنـى وَالفَقْـر، أَسْـأَلُـكَ نَعـيماً لا يَنْفَـد، وَأَسْـأَلُـكَ قُـرَّةَ عَيْـنٍ لا تَنْـقَطِعْ وَأَسْـأَلُـكَ الرِّضـا بَعْـدَ القَضـاء، وَأَسْـأَلُـكَ بًـرْدَ الْعَـيْشِ بَعْـدَ الْمَـوْت، وَأَسْـأَلُـكَ لَـذَّةَ النَّظَـرِ إِلـى وَجْـهِكَ وَالشَّـوْقَ إِلـى لِقـائِـك، في غَـيرِ ضَـرّاءَ مُضِـرَّة، وَلا فِتْـنَةٍ مُضـلَّة، اللّهُـمَّ زَيِّـنّا بِزينَـةِ الإيـمان، وَاجْـعَلنا هُـداةً مُهْـتَدين

“ Ya Allah, dengan ilmu ghaib-Mu, dan kekuasan-Mu atas makhluk-Mu, hidupkanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu bahwa hidup lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat rahasia maupun nyata, dan aku meminta kepada-Mu kalimat hak(kalimat kebenaran) di saat ridha maupun marah, dan aku meminta kepada-Mu kesederhanaan di saat kaya maupun miskin, dan aku meminta kepada-Mu nikmat yang tiada habis, dan aku meminta kepada-Mu penyejuk mata yang tiada terputus, dan aku meminta kepada-Mu keridhoan terhadap takdir, dan aku meminta kepada-Mu kesejukan hidup setelah mati, dan aku meminta kepada-Mu kelezatan melihat wajah-Mu dan kerinduhan kepada pertemuan dengan-Mu, tidak dalam kesengsaraan yang merugikan, tidak pula fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami orang-orang yang menunjukan kepada jalan kebenaran yang mendapatkan hidayah.  

اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْهَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ

“ Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa dan kesalahan. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa dan kesalahan sebagaimana dibersihkanya pakaian putih dari noda. Ya Allah, bersihkanlah diriku dengan es, embun dan air dingin“.

اللَّهُمَّ مَتِّعْنِي بِسَمْعِي، وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ يَظْلِمُنِي، وَخُذْ مِنْهُ بِثَأْرِي

“ Ya Allah, jadikanlah aku dapat menikmati pendengaran dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya pewaris dariku, dan tolonglah aku atas orang yang menzalimiku, dan ambilah darinya pembalasanku”.

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ عِيشَةً نَقِيَّةً، ومِيتَةً سَوِيَّةً، ومَرَدّاً غَيْرَ مَخْزٍ ولا فاضِحٍ

“ Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kehidupan yang bersih, kematian yang lurus dan tempat kembali yang tidak menghinakan dan tidak pula mengungkapkan aib”.

اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَأرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا

“ Ya Allah, tambahkanlah bagi kami dan Engkau kurangi, muliakanlah kami jangan Engkau hinakan kami, berilah kami jangan Engkau haramkan kami, utamakanlah kami jangan engkau utamakan atas kami, jadikanlah kami ridho dan mendapat keridhoan”.

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

“ Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan ciptaanku, baguskanlah akhlaku”.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

[Disalin dari الدعاء سلاح المؤمن Penulis : Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Penerjemah Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]

Permusuhan Setan Terhadap Manusia

PERMUSUHAN SETAN TERHADAP MANUSIA

Ketika iblis menolak bersujud kepada Adam, maka Allah mengusir dari langit. Dan dia berhak mendapatkan laknat Allah sampai dhari kiamat. Maka Allah berfirman terkait dengannya:

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَاِنَّكَ رَجِيْمٌۖ، وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْٓ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ 

“Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”  [Shaad/38: 77-78]

Kemudian dia meminta kepada Allah untuk ditangguhkan sampai hari kebangkitan, maka Allah telah memberikan tangguh dalam firman-Nya:

قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ قَالَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ

Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.‘ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” [Al-A’raf/7: 14-15]

Ketika iblis telah merasa aman dari kebinasaan, maka dia membangkang:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [Al-A’raf/7: 16-17]

Ketika iblis mengatakan seperti itu, maka Allah berfirman kepadanya.

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَاِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاۤؤُكُمْ جَزَاۤءً مَّوْفُوْرًا وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا

Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” [Al-Isra/17: 62-64]

Dari sini setan telah mengumumkan permusuhaan busuk kepada anak Adam. Maka dia memulai dengan menghias kemaksiatan dan menggoda dengan mereka untuk melakukan perkara haram dan kemunkaran. Sehingga banyak orang terpedaya, sehingga terjerumus dalam kemaksiatan dan kemunkaran.

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.” [Saba/34: 20]

Semua prilaku anak adam, seperti kekufuran, pembunuhan, permusuhan, kebencian, merebaknya kejelekan dan perzinaan, para wanita yang bersolek di muka mumum, meminum khamar, menyembah berhala dan melakukan dosa besar, itu semua adalah jalan setan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah dan merusak orang-orang agar terjerumus bersamanya ke dalam neraka Jahanam.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan seitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Maidah/5: 90-91]

Allah telah memperingatkan kepada kita berjalan di belakang setan dan mengikuti langkah-langkah setan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” [An-Nur/24: 21]

Kalau seseorang berpaling dari Allah, maka setan akan menguasainya dan mengajaknya kepada kerusakan dan kecongkakan.

اَلَمْ تَرَ اَنَّآ اَرْسَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ تَؤُزُّهُمْ اَزًّا ۙ

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?,” [Maryam/19: 83]

Setiap orang yang berpaling dari Allah dan berjalan di belakang setan, maka dia telah merusak diri dan rugi dunia akhirat.

وَمَنْ يَّتَّخِذِ الشَّيْطٰنَ وَلِيًّا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِيْنًا

Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” [An-Nisa/4: 119]

Setan telah menempuh cara yang menarik perhatian, sehingga kebanyakan orang tertipu dan terbuai untuk melakukan amalan-amalan buruk, sehingga menyeret mereka ke neraka jahanam, dan itu adalah tempat yang paling jelek.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا اُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۖ وَلَا يَجِدُوْنَ عَنْهَا مَحِيْصًا 

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.” [An-Nisaa/4: 120-121]

Permusuhan setan dengan Adam dan keturunannya adalah permusuhan lama. Ketika Allah mempersilahkan Adam bersama istrinya untuk tinggal di surge, setan setan mendatangi Adam dan menggodanya melakukan kemaksiatan. Adam mengikutinya dengan perkiraan dia bersikap jujur (dalam memberikan nasehat). Sehingga Adam berbuat maksiat kepda Allah dan akhirnya dikeluarkan dari surge, namun kemudian dia bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Allah telah memperingatkan kepada kita agar jangan taat kepada setan dalam firman-Nya:

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” [Al-A’raf/7: 27]

Ketika permusuhan setan kepada manusia Nampak dengan jelas, maka Allah memerintahkan kepada kita untuk berhati-hati dengannya. Dan mengumumkan peperangan dengannya dan serta permusuhan dengannya.

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [Fatir/35: 6]

Allah telah memberikan kepada kita petunjuk dengan memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk setiap kali kita ada keinginan untuk berbuat kemaksiatan dalam firman-Nya:

وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushilat/41: 36]

Pada hari kiamat, hari kejujuran dan keadilan. Maka setan mengaku akan kejahatannya dan mengumumkan di hadapan para makhluk bahwa Allah adalah benar sementara dia adalah pembohong. Tidak ada celaan baginya, akan tetapi celaan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikutinya. Setiap orang yang mengikutinya akan menyesal, akan tetapi waktu itu tidak bermanfaat lagi penyesalan itu.

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” [Ibrahim/14: 22] .

[Disalin dari عداوة الشيطان للإنسان Penulis : Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri, Penerjemah www. islamqa.info, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

URGENSI AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Taala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Ba’du.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Taala. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [Ali Imron/3: 110]

Umar Radhiyallahu anhu berkata :

مَن سَرَّهُ أن يكونَ مِن هذه الأُمَّةِ، فليؤدِّ شرطَ اللهِ فيها

Barangsiapa yang ingin dengan senang hati menjadi bagian dari umat ini maka hendaklah dia memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Taala padanya”.[1]

Imam Qurthubi berkata: Ayat ini menunjukkan sebuah pujian bagi umat ini selama mereka menegakkan perintah yang disebutkan di dalam ayat tersebut dan mereka bersifat seperti itu, namun jika meraka meninggalkan usaha untuk merubah kemungkaran bahkan bersekongkol dengan kekejian tersebut maka hilanglah pujian tersebut, dan mereka akan menoreh celaan dan hal itu sebagai sebab kehancuran mereka”.[2]

Dan Allah Subhanahu wa Taala memebritahukan bahwa orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara lalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. [Hud/11: 117].

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

واَسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعاً وَيَوْمَ لاَ يَسْبِتُونَ لاَ تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari- hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina. [Al-A’raf/7: 163-166].

Dan kisah tentang pelanggaran mereka pada hari sabtu adalah mereka dilarang berburu pada hari sabtu tersebut maka mereka membuat-buat acara secara sengaja agar mereka bisa menghalalkan yang haram, di mana mereka memasang jaring mereka pada hari sabtu lalu mengangkat jaring tersebut pada hari ahad, dan mereka mengira bahwa mereka telah terbebas dari dosa.

قال ابن عباس رضي الله عنه: “كانوا أثلاثًا: ثُلُثٌ نَهَوْا، وَثُلُثٌ قالوا: لِمَ تَعِظون قومًا اللهُ مهلكهم؟ وثُلثٌ أصحاب الخطيئة، فما نجا إلا الذين نَهوا، وهلك سائِرُهُم

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata:  Mereka terbagi menjadi tiga kelompok, sepertiga mereka melarang dan sepertiga lainnya berkata: Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, dan sepertiga lainnya adalah para pelaku kejahatan, maka tidak ada yang selamat kecuali mereka yang melarang kemungkaran, sementara yang lainnya binasa”.[3]

Dan Allah Subhanahu wa Taala menjelaskan bahwa meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar bisa menyebabkan kemurkaan dan laknat Allah Subhanahu wa Taala. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [Al-Ma’idah/5: 78-79]

عن أبي سعيد الخُدري رضي الله عنه؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((مَن رأى منكم منكرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فإن لم يستطع فبلسانه؛ فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان))

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, dan jika tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengna lisannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman”.[4]

Hadits ini sebagai landasan utama dalam usaha merubah kemugkaran, oleh karena itualah para ulama memasukkannya ke dalam kelompok hadits yang menjadi landasan berbagai pokok-pokok ajaran agama, bahkan dikatakan bahwa: Kandungan hadist ini sebagian dari syari’ah, sebab syri’at ini terdiri dari dua perkara, yaitu perkara yang ma’ruf maka wajib dilakasanakan atau perkara yang mungkar maka wajib dicegah. Hadits ini juga menjelaskan tentang tingkatan dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lisan  dan hal ini wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kekuatan dengan syarat tidak mendatangkan kemungkaran yang lebih besar. Tingkatan ketiga adalah mengingkari dengan hati, maka hal ini menuntut bagi seorang hamba untuk meninggalkan tempat yang menjadi basis kemungkaran tersebut. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam. [An-Nisa/4: 140]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berpendapat: Barangsiapa di dalam hatinya tidak memiliki rasa marah terhadap perkara yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya, berupa kemungkaran yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Taala, seperti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan maka berarti di dalam hatinya tidak tersimpan keimanan yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Taala atas dirinya. Dan dia juga berkata: Dan seandainya seluruh tuntunan agama ini pada semua sisinya adalah amar ma’ruf nahi mungkar, maka perkara yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Taala melalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk dalam amar ma’ruf dan larangan yang turunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya teramsuk dalam nahi mungkar. Dan inilah sifat Nabi dan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar…,“ [At-Taubah/9: 71]

Maka ini adalah kewajiban seorang muslim yang mampu, dia adalah fardhu kifayah, dan dia menjadi fardhu ain jika seluruh kaum muslim yang mampu tidak mau mengerjakannya”.[5]

Dan jika suatu kemungakaran yang telah tersebar tidak segera dirubah maka hal itu adalah gendrang peringatan dan  akan datanganya keburukan dan kebinasaan umat ini.

عن زينب بنت جحش رضي الله عنها؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل عليها فزعًا يقول: ((لا إله إلا الله، وَيْلٌ لِلعرب مِن شَرٍّ قد اقترب! فُتح اليومَ مِن ردم يأجوج ومأجوج مثلُ هذه))، وحلَّق بإصبعيه الإبهام والتي تليها، فقالت زينب بنت جحش: فقلتُ يا رسول الله، أنهلك وفينا الصالحون؟ قال: ((نعم، إذا كثُر الخَبَثُ))

Dari Zainab binti Jahsy bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam kamar dalam keadaan cemas dan bersabda: Tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, celaka bagi bangsa Arab karena kebrukan yang telah datang mendekat, telah terbuka pada masa ini Ya’juj dan Ma’juj di arah Radam seperti ini, dan beliau membuat sebuah lingkaran kecil dengan dua jari beliau, yaitu ibu jari dan jari telunjuk. Lalu Zainab binti Jahsy berkata: Apakah kita akan binasa sementara orang-orang shaleh berada di tengah-tengah kita?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Ya, apabila keburukan telah merajalela”.[6]

Dari Abi Bakr Al-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata: Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. [Al-Maidah/5: 105]

Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إن الناس إذا رأَوُا الظالمَ فلمْ يأخذوا على يديه، أوشكَ أن يَعُمَّهم اللهُ بعقاب))

Seseorang atau apabila masyarakat melihat orang yang telah berlaku zalim namun dia atau mereka tidak mencegahnya maka sungguh sebentar lagi Allah  menurunkan siksa untuk membinasakan mereka semua[7]

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata : Mengingkari kemungkaran itu memiliki empat tingkatan:

  1. Kemungkaran menghilang lalu kebaikan datang  menggantikannya.
  2. Kemungkaran menjadi sedikit sekalipun belum hilang secara keseluruhan.
  3. Akan mengakibatkan munculnya kemungkaran yang sama.
  4. Menghilangkan kemungkaran namun akan mengakibatkan munculnya kemungkaran yang lebih buruk darinya. Maka dua tingaktan yang pertama disyri’atkan, dan tingkatan yang ke tiga sebagai obyek untuk berijtihad, sementara yang ke empat diharamkan.[8]

Di antara contoh amar ma’ruf nahi mungkar adalah apa yang disebutkan oleh Imam Adzahabiy di dalam kitab Al-Siar A’lamun Nubala dari Abi Syuja’ bin Al-Walid dia menceritakan: Aku berhaji bersama Supyan Al- Astauri dan lisannya tidak pernah bosan dengan amar ma’ruf anhi mungkar baik pada waktu pergi atau saat pulang”.[9]

Diceritakan darinya bahwa dia berkata : Sungguh aku melihat sesuatu yang mungkar yang mewajibkan aku untuk berbicara padanya namun aku tidak melaksanakannya maka sangat menyesal sehingga kencing darah”.[10]

Dan disebutkan oleh Al-Hafiz Abdullah Al-Maqdisi bahwa dia tidak melihat kemungkaran apapun kecuali diingkarinya dengan tangan atau lisannya, dan di jalan Allah dia tidak takut dengan celaan orang yang mencela, aku telah melihatnya suatu kali membuang khamar lalu pemilik khamar, menariknya dengan pedangnya namun dia tidak takut terhadapnya, bahkan dia merebut pedang tersebut dari tangannya, dia seorang lelaki yang berbadan kuat, di Damaskus dia sering mengingkari kemungkaran dan memecahkan serta menghancurkan alat-alat musik”.[11]

Imam Nawawi berkata : Dan ketahuilah bahwa bab ini, yaitu bab tentang pembahasan amar ma’ruf nahi mungkar telah banyak disia-siakan dalam masa yang panjang, dan tidak ada yang tersisa pada zaman sekarang ini kecuali wujud yang sangat kecil, perkara ini sangat agung, di mana suatu perkara bisa tegak dan berdiri dengannya, apabila keburukan telah merajalela maka siksa akan merata baik bagi orang yang shaleh dan buruk, dan jika mereka tidak mencegah kemungkaran maka Allah akan meratakan mereka dengan siksa dari-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [An-Nur/24: 62]

Maka hendaklah orang yang menghendaki akherat dan berusaha mencari redha Allah Subhanahu wa Taala untuk memperhatikan masalah ini, sebab manfaatnya sangat besar, terlebih sebagian besarnya sudah menghilang, hendaklah dia mengikhlaskan niatnya karena Allah, janganlah sekali-kali dia merasa takut terhadap orang yang diingkari karena jabatannya yang tinggi, sebab Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.  [Al-Hajj/22: 40]

Dan hendaklah diketahui bahwa pahala akan didapatkan seukuran dengan usaha yang dikeluarkan, dan jangan pula dia meninggalkannya karena ikatan perasahabatan, faktor kecintaan atau mencari muka di hadapannya dan tetap dalam jabatan, sebab hubungan persahabatan, kecintaan menuntut kehormatan dan hak, di antara  haknya adalah menasehati dan memberikan petunjuk bagi temannya tersebut kepada kemaslahatan akherat dan menyelamatkannya dari keburukan kemungkaran, dan teman yang sebenarnya bagi seseorang adalah orang yang berusaha dalam mengarahkan seseorang menuju akherat sekalipun hal tersebut mengakibatkan mengurangnya bagian dunia darinya …”.[12]

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Taala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Tafair Ibnu Katsir: 1/396
[2] Al-Jami’ liahkamil Qur’an: 4/173
[3] Tafair Ibnu Katsir: 2/259 dan dia berkata: Sanadnya jayyid.
[4] Shahih Muslim: 1/69 no: 49
[5] Al-Fatawa: 28-65-66
[6] Shahih Bukhari: 2/458 no: 3346 dan shahih Muslim: 4/2208 no; 2880
[7] Sunan Abi Dawud: 4/122 no; 4338
[8] A’lamul Muwaqqi’in: 3/4,5
[9] Al-Siar:  7/259
[10] Al-Siar: 7/259
[11] Al-Siar: 21/454
[12] Syarah shahih Muslim: Imam Nawawi: 1/24

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan dan memuliakan umat ini dengan tugas para nabi yaitu dakwah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun juga menentukan daerah, wilayah dan hamba-hamba Nya yang akan dijadikan sebagai sasaran berdakwahnya umat ini, baik itu di belahan bumi bagian timur atau bagian barat sampai hari kiamat nanti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan kemampuannya dalam membina para shahabat (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka), sehingga tertanam dalam jiwa mereka dua perkara: menjalankan tunutnan agama dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Merekapun paham bahwa semua wilayah dan para hamba Allah yang ada padanya adalah tanggung jawab umat hingga akhir kiamat. Sebab, sungguh seorang muslim akan bertanggung jawab pada saat dirinya tidak menunaikan tugas pribadinya yaitu ibadah, dan akan bertanggung jawab pula ketika dirinya meninggalkan tugas sosialnya yaitu berdakwah, hingga Allah mencabut nyawanya.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ [ال عمران: ١١٠] 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah“. [Ali Imran/3: 110].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [ال عمران: ١٠٤] 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: 108] 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”. [Yusuf/12: 108].

Bashirah mencakup tiga hal, yaitu: berilmu sebelum berdakwah, bersikap bijak dan lemah lembut ketika berdakwah, sabar setelah berdakwah.

Para sahabat telah mendapat pendidikan dan bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sarana dan metode-metode dalam berdakwah. Lalu setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat para shabatlah yang memikul tanggung jawab dakwah ini. Para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) telah mengorbankan saat-saat senang dan mengekang syahwat mereka (demi dakwah), dan mereka tak segan-segan mengorbankan harta, waktu dan jiwa mereka demi tersebarnya agama ini di muka bumi.

Merekalah yang telah menyiarkan dakwah ilallah, mengemban kalimat laa ilaaha illallah sehingga merasuk ke dalam setiap rumah di belahan bumi timur dan barat, di kawasan Syam dan Iraq, Mesir dan Afrika utara, di Rusia dan kawasan di sebarang sungai dan yang lainnya.

Dan negari ini (Kerajaan Arab Saudi) dimenangkan hingga Islam tersiar dan tauhid tersebar sebagai ganti dari kesyirikan, kekufuran diganti dengan keimanan, dan bermunculan pula di negari ini para ulama dan da’i, orang-orang yang suka beribadah dan zuhud, orang-orang sholeh, para mujahid, yang semuanya ini menyenangkan bagi setiap orang muslim.

Merekalah orang-orang yang terbaik, termulia dan merekalah yang telah diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merekapun ridha kepada Allah, merekalah orang-orang yang jujur dan benar dalam menepati janjinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ  [التوبة: 100]

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100].

Apa yang harus didahulukan dan apa yang akhirkan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengedepankan berjuang dan berdakwah dari mencari uang dan sesuatu yang mubah. Oleh karena itulah kehidupan mereka serba kekurangan baik harta atau lainnya. Namun, bersamaan dengan itu keimanan dan amalan-amalan sholeh mereka naik dan bertambah, tampaklah akhlak mulia yang sebenarnya pada diri mereka dan banyak kemenangan (yang diraih) agama Islam. Akan tetapi, banyak orang-orang muslim saat sekarang ini, lebih mengedepankan bekerja mencari usaha dari perjuangan (bagi agama) dan dakwah lalu uang mereka menambah jumlah harta mereka, bersamaan dengan itu keimanan dan amal sholeh mereka menjadi berkurang. Dua sikap yang tertanam dalam kehidupan para shahabat: Orang yang perhatiannya hanya terfokus dalam mengumpulkan harta adalah seperti orang Yahudi, dan orang yang perhatiannya hanya terfokus dalam memuaskan nafsunya adalah seperti Nashrani. Oleh karenanya, ketika tujuan (seseorang yang sebenarnya) berubah akan berakibat menguatnya sisi dunia dan jasmani sehingga melemah sisi agama dan ruh, sementara perhatian dan kesungguhannya hanya tertuju untuk dunia bukan agama, dan agama (diposisikan) seperti orang miskin yang berkeliling menghiba dan mengharap dari manusia, tetapi tidak ada yang memberi dan mengasihinya, karena orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunia dan syahwat mereka.

Agama ini akan tetap dan terus eksisis sampai hari qiamat, akan tetap ada sekelompok dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu dan terus menjalankan syariat agama ini, hingga datang ketentuan dari Allah dan mereka tetap seperti itu.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائَمَة ًبِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرّهُمْ مَنَ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُالله ِوَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak memadhoratkan mereka orang yang menyelisihinya sampai datang ketentuan Allah dan mereka tetap tampak seperti itu di tengah-tengah manusia“. (Muttafaq alaihi).

Fadhilah Dakwah Ilallah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Fadhilah Dakwah Ilallah

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Fadhilah Dakwah Ilallah
Setiap orang yang beriman dan menjalankan ibadah serta berdakwah ilallah, memuliakan oleh Allah dengan memberikan beberapa karomah, di antaranya: Sesungguhnya Allah akan memuliakannya, meskipun ia tidak mempunyai sebab-sebab kemuliaan. Seperti Bilal dan Salman (semoga Allah meridhai mereka berdua). Allah akan menanamkan pada dirinya cinta kepada semua tunutnan agama dan dia cinta dalam melaksanakan serta menyeru kepadanya. Allah menjadikan baginya kecintaan dihati para makhluk Nya, dan Allah akan menghilangkan bentangan kebathilan di sekitarnya, Allah menguatkan dan membantunya dengan pertolongan yang ghaib dari sisi Nya, Allah mengabulkan setiap do’anya, Allah menjadikannya mulia dan dihormati, Allah memberikan baginya pahala dan pahala orang-orang yang diserunya serta orang yang telah mendapat hidayah karena dakwahnya.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [فصلت: ٣٣] 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang sholeh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. [Fushilat/41: 33].

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyalahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلىَ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذِلكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آَثاَمِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلكَ مِنْ آثَاِمهِمْ شَيْئًا

‘Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun“. (HR. Muslim).

  1. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu di hari khaibar.

اُنْفُذْ عَلىَ رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلىَ اْلإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ ِمنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمُرُ النِّعَمِ

Berjalanlah dengan tenang kemudian serulah mereka untuk masuk Islam, dan beritahukan kepada mereka beberapa kewajiban atas mereka, demi Allah seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan perantaraan kamu, itu lebih baik bagimu daripada onta merah’ (Bukhori dan Muslim).

Manusia Dalam Beramal Terbagi Menjadi Dua Golongan
Di antara mereka, ada yang bersungguh-sungguh beramal dan bekerja untuk kehidupan duniawi sehingga larut di dalamnya, lalu pergi meninggalkannya (dengan kamatian). Di antara mereka ada yang bersungguh-sungguh dalam beramal untuk kehidupan akherat kemudian meninggal dan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya, merekalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beramal untuk kehidupan akherat. Mereka ini terbagi menjadi dua golongan:

Orang yang sibuk dengan ibadahnya semata. (Golongan ini) ketika meninggal terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anaknya yang sholeh yang selalu mendo’akannya.

Orang yang menyibukkan dirinya dengan beribadah dan berdakwah ilAllah Subhanahu wa Ta’ala, di mana dia berkorban dan bersungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah, maka amal baiknya akan terus mengalir kepadanya dari setiap orang yang mendapat hidayah yang disebabkan oleh dakwahnya, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ٢٠ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ٢١ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ  [التوبة: 19، 22]

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.” [At-Taubah/9: 19-22].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kewajiban Berdakwah Ilallah

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Pentingnya Berdakwah Ilallah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan seluruh hukum-hukum syariat secara global di dalam Al-Quran lalu dijelaskan secara terperinci oleh rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sunah-sunah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, khusus masalah dakwah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara terperinci, lengkap dan menyeluruh di dalam Al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerangkan tentang tata cara beribadahnnya para nabi (secara rinci), tidak menerangkan bagaimana cara sholatnya Nabi Ibrahim, bagaimana tata cara hajinya Nabi Adam, bagaimana cara puasa yang dilakukan oleh Nabi Daud. Semuanya di terangkan oleh Allah di dalam Al-Quran secara umum. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjelaskan secara terperinci di dalam Al-Quran satupun kisah tentang hamba Nya yang suka beribadah. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam Al-Quran tentang bagaimana dakwahnya para nabi, Allah menjelaskan dengan mendetail bagaimana kisah nabi Musa dalam duapuluh sembilan juz di Al-Qur’an, juga menjelaskan secara terperinci bagaimana para nabi yang lain berdakwah kepada kaum mereka, disebutkan kisah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Hud, Shaleh, Syu’aib, Luth, Yusuf, dan yang lainnya; karena sesungguhnya umat ini d iutus untuk berdakwah ilallah, dengan melihat suri tauladan para nabi (semoga rahmat dan salam bagi mereka).

Terdapat jarak yang panjang antara keimanan dengan turunnya hukum-hukum syariat. Akan tetapi tidak terdapat jarak waktu antara keimanan dengan dakwah; karena umat ini telah di utus untuk berdakwah ilallah sebagaimana para nabi. Dahulu, setiap nabi mengajarkan hukum syari’at kepada umatnya setelah menanamkan keimanan, akan tetapi setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia memerintahkan kepada umat ini untuk berdakwah kepada din Allah setelah mereka mengajarkan keimanan, barulah setelah itu beliau mengajarkan hukum-hukum syariat di Madinah, karena umat ini di utus sebagaimana diutusnya para nabi.

Allah telah memilih umat ini di antara umat-umat sebelumnya, dan memuliakan umat ini dengan agama Islam dan berdakwah kepadanya, berdakwah ilallah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan sebatas kemampuan dan keilmuannya. Dakwah ilallah adalah tanggungjawab umat, dan kebutuhan umat.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: ١٠٧] 

Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf/12: 108].

Nash tersebut umum, tidak terikat waktu: malam dan siang, tidak terikat tempat: utara selatan, timur dan barat, tidak terikat kebangsaan: orang arab atau selain arab, tidak terikat jenis kelamin: laki-laki dan perempuan, tidak terikat umur: orang dewasa dan anak-anak, tidak terikat warna: putih hitam, tidak terikat tingkatan: penguasa, budak, kaya dan miskin.

Berdakwah kepada mereka adalah wajib, karena mereka merupakan bagian dari umat manusia, dan agama ini untuk seluruh manusia. Dan wajib bagi mereka berdakwah ketika mereka telah memeluk agama Islam, karena mereka juga adalah umat Muhammad dan pengikutnya.

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ابراهيم: ٥٢] 

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mngetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambail pelajaran.” [Ibrahim/14: 52].

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya di hari nahr ketika haji wada’ kepada semua orang-orang yang beriman; baik para shahabat beliau yang dari arab maupun ‘ajam, laki-laki dan perempuan, yang berkulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin, penguasa dan para budak:

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوْ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

Yang mendengar supaya menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang menyampaikan itu lebih paham dari yang mendengar“. (Muttafaq alaihi).

4. Dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridha mereka berdua) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan tidaklah mengapa untuk mengambil hadist dari bani israil, dan barangsiapa yang berbohong atas namaku, maka bersiap-siaplah menempati api neraka“. (HR. Bukhori).

5. Berkorban dan berusaha demi tegaknya kalimat Allah serta menyebarkannya dapat membuahkan hidayah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ [العنكبوت: ٦٩] 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut/29: 69].

Hakekat perjuangan adalah: Berusaha untuk sempurna dalam beramal, berkorban dengan apa saja demi perjuangan, selalu istiqomah sampai meninggal dunia. Dan hal yang sangat berharga dalam perbendaharaan Allah adalah Hidayah. Karena Allah tidak memberikannya kecuali kepada hamba-hamba Nya yang terpilih, di antaranya ada yang meminta kepada Allah dan berusaha di jalanNya, sehingga berhasil mendapatkannya. Di antaranya ada yang telah Allah ketahui bahwa dirinya yang berhak, merekalah orang-orang yang beriman. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk berdo’a dan meminta hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sehari semalam sebanyak tujubelas kali dalam sholat yang wajib. Sebagaimana firman Allah:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ [الفاتحة: ٦،  ٧] 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.(6) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; Bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)”. [Al-Fatihah/1: 6-7].

Berusaha dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah
Ada tiga tahapan dalam berjuang demi tegaknya kalimat Allah:
1. Berjuang atas orang kafir dengan harapan supaya mereka mendapatkan hidayah, sebagaimana firman Allah:

أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۚ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ [السجدة : ٣] 

“Tetapi mengapa mereka (orang-orang kafir) mengakatan: “Dia Muhammad mengada-adakannya. Sebenarnya al quran itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” [As-Sajdah/32: 3].

2. Berjuang kepada orang-orang muslim yang bermaksiat agar mereka berubah menjadi taat, berubah dari lalai menjadi ahli dzikir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [ال عمران: ١٠٤] 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

3. Berjuang atas orang-orang sholeh agar menjadi pembaharu dalam agama dan berjuang terhadap yang suka berdzikir agar bisa menasehati orang lain.

a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ [العصر: ١،  ٣] 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-Ashr/103: 1-3].

b. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ [الغاشية: ٢١] 

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. [Al-Ghasyiah/88: 21].

Ketika para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) mengetahui akan wajibnya berdakwah ilallah dan keutamaan berdakwah, maka mereka bergegas berlomba dalam berdakwah serta mengadakan ta’lim dan berjihad demi tegaknya kalimat Allah, menyebarkannya di muka bumi ini. Mereka berdakwah ilallah dengan penuh hikmah dan menasehati dengan cara yang baik. Tertanam dalam hati mereka kasih sayang dan lemah lembut terhadap manusia. Saksi-saksi dan bukti dalam kitab-kitab, hadist dan sejarah memberikan kesaksian (tentang perjuangan) mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ [النحل: ١٢٥] 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”. [An-Nahl/16: 125].

Tugas Umat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Tugas Umat

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Tugas Umat
Berdakwah ilallah adalah merupakan tugas bagi setiap umat, adapun berfatwa dalam permasalahan hukum, bagi yang mengetahui hukum secara pasti berfatwalah dengannya, dan bagi yang tidak mengtahui akan hukum tertentu, maka tunjukilah orang yang meminta fatwa tersebut ulama yang lebih mengetahui dari segi keilmuan, kefiqihan, hafalan serta kepahaman. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang mengerjakan kebaikan tsb. Dahulu  di antara para sahabat pada enggan untuk berfatwa. Mufti dari kalangan sahabat bisa dihitung dengan jari, seperti: Muadz, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas dan yang lainnya (semoga Allah meridhai mereka).

Berfatwa bukan suatu hal yang diperbolehkan bagi siapa saja, adapun dakwah ilallah wajib bagi setiap insan sesuai dengan kemampuan dan keilmuannya, paling tidak satu ayat.

Para ulama dan ahli fiqih, merekalah yang berfatwa, sebagaimana firman Nya:

 فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ  [النحل: ٤٣] 

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl/16: 43].

Berdakwah dengan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar bagi umat ini sesuai dengan tingkat kemampuan dan keilmuan mereka. Para shahabat telah menjalankan misi da’wah ini dari mulai sejak sebelum turunnya hukum-hukum tentang sholat, zakat, shaum dan yang lainnya. Inilah umat yang menyatukan antara pengorbanan serta jihad demi tegaknya kalimat Allah, dan baik dalam beramal bukan banyak beramal.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  [يوسف: ١٠8] 

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf/12: 108].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ  [التوبة: 71]

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah/9: 71].

Hal yang pertama kali akan tercabut dari kehidupan umat ini adalah: kesungguhan dalam berdakwah, kemudian jiwa berkorban, lalu hidup yang sederhana. Musuh-musuh Islam telah menyadari hal ini dan berusaha untuk mencabutnya dari umat Islam. Akhirnya, keadaan menjadi terbalik di mana pengorbanan dan kerja keras hanya untuk dunia, seseorang berubah menjadi insan yang bekerja keras untuk kehidupan dan kesenangannya. Sehingga masyarakat mengingkari perzinahan, riba, minum arak, tapi tidak mengingkari ditinggalkannya dakwah ilallah yang telah terlepas dari kehidupan umat.

Pada zaman Rasulullah dan para shahabat, setiap pribadi umat ini konsisten dengan ibadah dan dakwah, dan pada generasi berikutnya hanya ibadah yang tersisa di dalam umat ini, sementara berdakwah hanya dilakukan oleh sebagian atau orang tertentu dari umat ini. Dan tidak akan menjadi baik umat yang terakhir ini kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh umat yang terdahulu.

Ada dua kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan:
Kewajiban pertama: mengamalkan agama, beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya, mentaati Allah dan rasul Nya, serta mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi apa yang dilarangNya.

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ  [النساء : ٣٦] 

“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan Nya dengan apa pun.” [An-Nisa’/4: 36].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ [الانفال: ٢٠] 

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah Nya)”.[Al-Anfal/8: 20].

Kewajiban kedua: berdakwah ilallah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  [ال عمران: ١٠٤] 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

b). Dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridhai mereka berdua) bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((بَلِّغوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً)) Sampaikan dariku walau hanya satu ayat“. (HR. Bukhari).

c). Dari Abu Sa’id al Khudriy Radhiyallahu anhu ia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ)

“Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, apabila ia tidak sanggup maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila masih tidak sanggup maka ingkarilah dalam hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Waktu Seorang Muslim

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Balasan Orang-orang yang Kafir dan yang Beriman

MENTADABURI FIRMAN ALLAH TA’ALA (SURAT AN-NISAA AYAT 56-57)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menurunkan al-Qur’an yang agung ini supaya ditadaburi isinya lalu diamalkan kandungannya. Allah ta’ala menegaskan akan hal itu melalui firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ  [ محمد: 24]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?. [Muhammad/47: 24].

Dan dalam rangka mengamalkan ayat mulia ini, maka pada halaqah kali ini kita akan membawakan dua ayat dari kitabullah lalu kita coba mentadaburi maknanya agar kita bisa mengambil pelajaran serta faidah darinya.

Yaitu  sebuah firman Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisaa:

 إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗا ٥٦ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا  [ النساء: 56-57]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.  [an-Nisaa’/4: 56-57].

Penjelasan ayat:
Didalam ayat pertama Allah ta’ala mengabarkan pada kita tentang balasan api neraka jahanam bagi orang yang mengingkari ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla serta menghalangi jalan-Nya. Allah ta’ala menegaskan dalam ayat -Nya ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗ [ النساء: 56]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka”.  [an-Nisaa’/4: 56].

Maksudnya akan kami masukkan mereka kedalam neraka jahanam dalam keadaan terliputi oleh api, tanpa menyisakan celah bagi anggota tubuh mereka sedikitpun yang tidak terkena api neraka, hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam ayat -Nya yang lain:

لَهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ظُلَلٞ مِّنَ ٱلنَّارِ وَمِن تَحۡتِهِمۡ ظُلَلٞۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ  [ الزمر:16]

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba -Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada -Ku hai hamba-hamba -Ku”.  [az-Zumar/39: 16].

Lalu firman-Nya:

كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم  [ النساء:56 ]

“Setiap kali kulit mereka hangus“. [an-Nisaa’: 56].

Maksudnya kulit mereka hangus terbakar secara sempurna tanpa menyisakan secuilpun, kemudian kami ganti dengan kulit yang baru selain kulit yang pertama supaya mereka merasakan betapa pedih dan kekalnya siksa neraka tersebut.

Sebagian ulama mengatakan: “Dan hikmah akan hal tersebut ialah dikarenakan kulit adalah indera perasa yang sangat peka terhadap rasa sakit, oleh karenanya apabila sudah terbakar agar rasa sakitnya tidak berhenti cukup sampai disitu, maka diganti kulit mereka yang sudah terbakar dengan kulit yang lain”.

Ulama tafsir yang lain mengatakan: “Sesungguhnya mereka berganti kulit dalam sehari atau satu jam beberapa kali, tujuannya adalah supaya mereka betul-betul merasakan siksaan tersebut”.[1]

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضِرْسُ الْكَافِرِ أَوْ نَابُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيرَةُ ثَلاَثٍ » [ أخرجه مسلم]

Gigi geraham orang kafir atau taringnya (besarnya) semisal gunung uhud, dan ketebalan kulitnya sejauh perjalanan tiga (hari)”. HR Muslim no: 2851.

Dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضِرْسُ الْكَافِرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِثْلُ أُحُدٍ وَعَرْضُ جِلْدِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَفَخِذُهُ مِثْلُ وَرِقَانَ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ مِثْلُ مَا بَيْنِي وَبَيْنَ الرَّبَذَةِ » [ أخرجه أحمد]

Gigi geraham yang dimiliki orang kafir kelak pada hari kiamat besarnya semisal gunung uhud, sedangkan panjang ketebalan kulitnya sejauh tujuh puluh jengkal, pahanya semisal gunung besar, adapun tempat duduknya dia dineraka luasnya semisal kota Rabdzah“.[2] HR Ahmad dalam musnadnya  14/87 no: 8345. dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Nawawi menerangkan: ‘Ini semua bertujuan agar rasa sakit yang mereka rasakan lebih terasa sakit, dan hal ini bukan suatu yang mustahil, karena Allah ta’ala Maha mampu melakukan hal tersebut, oleh karenanya wajib bagi kita mengimani berita yang disampaikan oleh orang yang paling jujur perkataannya yaitu (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam)”.[3]

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗ [ النساء: 56]

“Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [an-Nisaa’: 56].

Artinya tidak ada yang menghalangi Allah tabaraka wa ta’ala segala sesuatu yang di kehendaki -Nya. Dan Allah Maha Bijaksana terhadap apa yang diputuskan-Nya.

Kemudian manakala Allah ta’ala menyebutkan kisahnya orang-orang yang sengsara maka Allah menyebutkan kebalikan keadaan orang-orang tersebut yaitu orang-orang yang beruntung. Allah ta’ala melanjutnya firman -Nya:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗ  [ النساء: 57]

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya”.   [an-Nisaa’/4: 57].

Makananya bahwa orang-orang yang beriman dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dengan al-Qur’an, serta kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, serta mengimani adanya takdir yang baik maupun yang buruk, dan mentaati Rabbnya, maka kelak mereka akan dimasukan kedalam surga, yaitu kebun yang dipenuhi dengan pepohonan yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, ada sungai khamr, susu, air tawar, dan madu.

Dan firman -Nya: “Kekal mereka di dalamnya“. Artinya mereka tinggal didalam surga tanpa merasakan kematian tidak pula dikeluarkan darinya. Hal itu seperti yang Allah azza wa jalla firmankan dalam ayat -Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ  [ البروج: 11]   

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar”.  [al-Buruuj/85: 11].

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ [ النساء: 57]

“Mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci”.   [an-Nisaa’/4: 57].

Sebagian besar ulama tafsir mengatakan akan maksud ayat diatas: ‘Maksudnya seorang istri yang suci, dari haid, buang air kecil dan besar, nifas, ingus, ludah, dan segala sesuatu yang menjijikan dan mengotori seperti yang biasa dialami oleh para wanita yang ada didunia”.[4]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا » [ أخرجه البخاري]

Kalau seandainya wanita penduduk surga melongok ke dunia, tentu akan menerangi dunia dan langit, dan semerbak bau wanginya akan memenuhi keduanya. Dan sungguh penutup kepala yang dipakai olehnya itu lebih baik dari dunia dan seisinya“. HR Bukhari no: 2796.

Dalam hadits lain dijelaskan tentang nikmat ahli surga, sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِى الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya seorang beriman kelak disurga akan mempunyai sebuah kemah, yang terbuat dari intan permata, panjangnya enam puluh mil, dan untuk seorang mukmin dirinya akan mendapat beberapa istri yang setiap harinya dia berkeliling untuk menggilirnya, dan satu sama lain tidak bisa melihat yang lainnya“. HR Bukhari no: 3242 , Muslim no: 2838.

Dalam sunan ad-Darimi disebutkan sebuah hadits dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوَةِ وَالْجِمَاعِ » [ أخرجه الدارمي]

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya. Sesungguhnya seorang dari penduduk surga akan diberi kekuatan seratus orang didalam makan, minum dan berhubungan badan“. HR Darimi 2/431 no: 2825. dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Misykah 3/1567.

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا  [ النساء: 57]

“Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.  [an-Nisaa’/4: 57].

Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam ayat yang mulia ini mensifati surga dengan sebuah tempat yang teduh lagi nyaman. Sedangkan dalam ayat yang lain disifati bahwa naungannya tidak pernah terputus,  sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan:

أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ  [ الرعد : 35] 

“Buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula)”.  [ar-Ra’du/13: 35].

Disebutkan pula kalau naungan surga itu terbentang luas, seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla firmankan dalam ayat yang lain:

وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ  [ الواقعة: 30]

“Dan naungan yang terbentang luas”. [al-Waaqi’ah/56: 30].

Dijelaskan pada kesempatan yang lain kalau naungan surga itu sangatlah banyak. Hal itu sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan dalam ayat-Nya:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ  [ المرسلات: 41]   

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air“. [al-Mursalaat/77: 41].

Pada kesempatan yang lain diterangkan bahwa dibawah naungan tersebut mereka tiduran bertelekan diatas dipan-dipan bersama istri-istrinya. Seperti yang digambarkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ مُتَّكِ‍ُٔونَ  [ يس: 56]

“Mereka dan isteri-isterinya berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan”. [Yaasin/36: 56].

Al-Araaik adalah jama’ dari arikah yang bermakna tempat tidur yang dihiasai dengan berbagai macam hiasan yang diperuntukan bagi  pasangan pengantin baru.

Sebaliknya Allah ta’ala menjelaskan bahwa naungan penduduk neraka itu sangat bertolak belakang dan kebalikan dari itu semua, Allah ta’ala berfirman:

ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ مَا كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٩ ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ ظِلّٖ ذِي ثَلَٰثِ شُعَبٖ ٣٠ لَّا ظَلِيلٖ وَلَا يُغۡنِي مِنَ ٱللَّهَبِ  [المرسلات: 29-31]

“(Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”. [al-Mursalaat/77: 29-31].

Dalam ayat yang lain Allah azza wa jalla berfirman:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ ٤١ فِي سَمُومٖ وَحَمِيمٖ ٤٢ وَظِلّٖ مِّن يَحۡمُومٖ ٤٣ لَّا بَارِدٖ وَلَا كَرِيمٍ [ الواقعة: 41-44]

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan”.  [al-Waaqi’ah/56: 41-44].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya disurga ada sebuah pohon yang naungannya seluas perjalanan seratus tahun ditempuh dengan naik kendaraan dan itu tidak habis, kalau sekirnya kalian mau bacalah firman Allah ta’ala:

وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ  [ الواقعة: 30]

“Dan naungan yang terbentang luas”.  (al-Waaqi’ah/56: 30). HR Bukhari no: 4881, Muslim no: 2827.

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari وقفات مع الآيات 56 – 57 من سورة النساء  Penulis : Syaikh  Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir  4/121-122.
[2] Wariqaan adalah sebuah gunung yang sangat besar yang letaknya berada di Tuhamah sebuah daerah antara Makah dan Madinah. Sedangkan ar-Rabdzah adalah kampung dari perkampungan Madinah, disanalah tempat meninggalnya seorang sahabat mulia yang bernama Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
[3] Syarh Shahih Muslim 6/186.
[4] Tafsir Ibnu Katsir  1/63.

Kategori Obyek Dakwah dan Cara Berdakwah Kepada Mereka

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Waktu Seorang Muslim
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membeli dari orang-orang yang beiman; diri mereka, harta-harta mereka, dan Allah menjanjikan bagi mereka syurga.

Dan seyogyanya bagi setiap muslim menggunakan waktunya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghabiskan waktu beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan amalan-amalan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, melaksanakan perintah Rabbnya dalam setiap keadaan dalam kesehariannya: ketika berwudhu, makan, tidur dan dalam segala situasi dan keadaannya. Dan meluangkan sedikit waktu untuk bekerja demi mencari nafkah, maka sebagian besar dari waktu beliau dipergunakan untuk berdakwah kepada manusia; supaya mereka menyembah dan mengesakan Allah. Ketika terdapat waktu yang luang dan ada halangan baginya untuk berdakwah, maka (dipergunakannya waktu tersebut untuk) menimba ilmu atau mengajarkan ilmunya kepada orang-orang muslim yang lain tentang hukum-hukum agama. Dan ketika terdapat waktu yang luang dan dirinya terhalang melakukannya (belajar dan mengajar), maka dia mengabdikan dirinya bagi kepentingan saudara-saudaranya sesama muslim, membantu menyelesaikan semua kebutuhan mereka, tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan apabila terdapat waktu yang kosong sementara dirinya berhalangan mengerjakan hal tersebut, maka dia bersegera melaksanakan amalan-amalan yang sunnah, seperti sholat sunah mutlak, membaca al quran, berdzikir, dan amal-amal sholeh yang lain.

Begitulah semestinya, diutamakan suatu amalan yang manfaatnya lebih besar bagi manusia dalam setiap keadaan.

Kategori Obyek Dakwah dan Cara Berdakwah Kepada Mereka.
Manusia itu berbeda-beda, karena keanekaragaman dan perbedaan pengetahuan serta amalan mereka itulah maka hukum berdakwah kepada merekapun berbeda:

1. Orang yang kurang dalam keimanannya serta bodoh dalam masalah hukum: maka kita harus bersabar atas celaannya, dan kita terus menyeru serta mengajarkan kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, membimbing dengan penuh perhatian, sebagaimana perilaku Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang arab badwi.

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُوْلُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْ مَهْ. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَزْرِمُوْهُ دَعُوْهُ فَتَرَكُوْهُ حَتَّى بَالَ ثُمَّ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هذَهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هذَا الْبَوْلِ وَلا َالْقَذَرِ إِنَّمَا ِهيَ ِلذِكِْرِ اللهِ عز وجل وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَوِْ كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَرَ رَجُلاً مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ

“Ketika kami berada di mesjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, datanglah seorang badui kemudian kencing di dalam masjid. Maka para shahabatpun membentak: “mah mah” (Sebuah ungkapan bermakna membentak) Anas bercerita: Rasulullh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah marah kepadanya, biarakanlah dia”. Maka para shahabatpun meninggalknnya, sehingga ia meneruskan kencingnya sampai tuntas. Kemudian rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil dan menasehatinya: “Sesungguhnya mesjid ini tak pantas untuk kencing di dalamnya, atau buang kotoran, sesungguhnya mesjid ini adalah tempat untuk mengingat Allah, sholat dan memabca Al-Qur’an”. Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memerintahkan seorang lelaki untuk mengambil seember air lalu dituangkan pada tempat kencingnya”. (HR. Muslim).

2. Orang yang kurang dalam sisi keimanannya dan kurang dari segi keilmuan serta hukum syar’i, menyeru orang yang seperti ini harus dengan hikmah, memberikan nasehat dengan cara yang baik, supaya keimanannya bertambah, taat kepada Rabbnya, dan bertaubat atas dosa-dosanya.

يَا رَسوْلَ اللهِ اِئْذَنْ ِلي بِالزَّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوْهُ وَقَالُوْا مَهْ مَهْ فَقَالَ: أَدْنِهِ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيْبًا قَالَ: فَجَلَسَ. قَالَ أَتُحِبُّهُ ِلأُمِّكَ؟, قَالَ: لاَ وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ.  قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ ِلأُمَّهَاتِهِمْ.  قَالَ أَفَتُحِبُّهُ ِلاِبْنَتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِبَنَاتِهِمْ.  قَاَلَ أَفَتُحِبُّهُ ِلأَُخْتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهُ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ.  قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ ِلأََخَوَاتِهِمْ.  قَالَ أَفَتُحِبًّهُ ِلعَمَّتِكَ؟  قَالَ لاَ وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ, قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُِحِبُّوْنَهُ ِلعَمَّاتِهِمْ, قَالَ أَفَتُِحِبَّهُ لَخَالَتِكَ؟ قَالَ لاَ وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِخَالاَتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيِهِ وَقَالَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَِهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدَ ذِلكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ

“Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu ia berkata: Seorang pemuda belia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata: “Wahai rasulullah, berilah izin kepada saya untuk berzina!, maka para shahabatpun berdiri menghamprinya dan memarahi pemuda tersebut: “Mah… mah..”. Sebuah ungkapan bermakna memarahi dan membentak. Lalu Rasulullah memerintahkan: “Suruhlah kemari”, lalu lelaki tersebut mendekat. Dan diapun duduk. Lalu Rasulullahpun bertanya keapdanya: “Apakah engkau senang jika hal itu (zina) terjadi pada ibumu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada ibu mereka”. Tegas Rasulullah. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada anak perempuanmu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada anak perempuan mereka”. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada saudarimu?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada saudari mereka”. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada bibimu (dari pihak bapak)?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lainpun tidak senang jika hal itu terjadi pada bibi mereka”. Tegas Rasulullah. “Apakah engkau senang jika zina itu terjadi pada bibimu (dari pihak ibu)?. Tegas Rasulullah. “Tentu tidak, Demi Allah saya menjadi tebusan bagimu”. Jawabnya. “Orang lain pun tidak senang jika hal itu terjadi pada bibi mereka”. Tegas Rasulullah. Lalu Rasulullah meletakkan tangan Beliau pada dirinya lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan jagalah kemaluannya”. Akhirnya, pemuda tersebut tidak melirik sedikitpun kepada zina”. (HR. Ahmad bin Hambal).

3. Orang yang kuat imannya dan bodoh dalam hukum syar’i. Orang seperti ini didakwahi secara langsung dengan menjelaskan hukum serta dalil syar’inya, dijelaskan tentang bahaya perbuatan maksiat, dihilangkan segala kemunkaran yang terjadi pada dirinya.

Dari ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada tangan seorang shahabatnya terdapat cincin dari emas, maka beliau segera melepaskan dan melemparkannya, kemudian bersabda:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى خَاتِمًا مِنْ ذَهَبٍ فِي َيدِ رَجُلٍ فَنَزَعَهُ فَطَرَحَهُ وَقَالَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلىَ جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ, فَقِيْلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ. قَالَ: لاَ وَاللهِ لاَ آخُذُهُ أَبَدًا َوَقَدْ طَرَحَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sebuah cincin yang melilit pada tangan seorang lelaki, maka beliau serta merta mencabut lalu melemparnya, dan bersabda: “Salah seorang di anatara kalian secara sengaja mencari bara dari api neraka dan menjadikannya di tangannya”. Dikatakan kepada lelaki tersebut setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalknannya: “Ambillah cicinmu itu dan manfaatkanlah dia”. Lelaki itu menjawab: Aku tidak akan mengambil sesuatu yang telah dicampakkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Muslim).

4. Orang yang kuat keimanannya serta mengerti hukum-hukum syar’i. Maka tidak ada alasan baginya, pengingkaran (terhadap maksiat yang dilakukannya) lebih tegas dan menghadpainya dengan cara yang lebih keras dibanding dengan orang-orang yang sebelumnya, agar dirinya tidak menjadi contoh bagi yang lainnya dalam bermaksiat. Sebagaimana rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengasingkan tiga orang shahabat selama limapuluh hari karena telah menyelisihi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tidak ikut berperang dalam perang tabuk. Rasul memerintahkan orang-orang supaya menjauhi mereka (dengan tidak berbicara dengan mereka), peristiwa ini terjadi tatkala para shahabat pergi keluar dari kota Madinah untuk berjihad dalam perang tabuk, padahal ketiga orang shahabat tersebut tidak mempunyai halangan apapun dan mereka adalah orang yang sempurna dalam keimanan dan keilmuannya. Akhirnya, Allah menerima taubat mereka. Mereka adalah: Hilal bin Umayyah, Murarah bin Rabi’ dan Kaab bin Malik (semoga Allah meridhai mereka). Kisah tentang mereka ini lebih jelasnya lagi ada dalam shahih Bukhori dan Muslim.

 وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ  [التوبة: 118]

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Taubah: 118).

5. Orang yang awam dalam keimanan serta awam dalam hukum syar’i. Dia diajak kepada tauhid dan laa ilaha ilallah, dikenalkan kepadanya nama Allah dan sifat-sifat Nya yang agung, diterangkan pula baginya janji-janji Allah dan ancaman-ancaman Nya, kenikmatan-kenikmatan yang diberikan serta karuniaNya Dijelaskan pula baginya keagungan dan kekuasaan Allah, hanya Dialah yang menguasai semua urusan dan perkara seluruh makhluk. Kemudian ketika keimanannya telah merasuk dan kokoh, maka diajarkan baginya secara bertahap tentang sholat, zakat, puasa dan seterusnya.

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَا بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه عَلىَ الْيَمَنِ قَالَ: إِنَّكَ تَقَدُمَ عَلىَ قَوْمٍ أَهْلَ ِكتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ عَبَادَةَ اللهِ فَإِذَا عَرَفُوْا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا َفعَلُوْا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةَ مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوِا بِهَا فَخُذِ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ

“Bahwasanya Rasulullah ketika mengutus Mu’adz menuju Yaman, beliau berpesan: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah ajakan yang pertama bagi mereka adalah menyembah Allah, maka apabila mereka telah mengetahui Allah maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, apabaila mereka mengerjakannya maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat harta yang dibagikan kepada orang-orang fakir dari kalangan mereka, dan apabila mereka mentaati perintah tersebut, maka ambillah harta zakat tersebut dan jagalah bagian harta yang mahal milik mereka”. (HR. Bukhari).

Keadaan dan Kondisi Juru Dakwah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kisah Orang Memberi Minum Anjing dan Bayi Berbicara

KISAH ORANG YANG MEMBERI MINUM ANJING DAN BAYI YANG DAPAT BERBICARA

Allah Mengampuni Dosa Orang yang Memberi Minum Anjing
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Dahulu, ada seseorang yang tengah melakukan perjalanan, di tengah jalan dia merasa sangat haus sekali, kemudian ia mendapati ada sebuah sumur, lalu cepat-cepat dirinya turun lantas meminum airnya, kemudian setelah dahaganya hilang, ia keluar, maka ia mendapati ada sesekor anjing yang sedang menjilat-jilat, memakan rerumputan di sekitar sumur karena kehausan, orang itu pun bergumam dalam hati merasa iba dengannya: “Anjing ini telah kehausan sama seperti ketika tadi saya merasa dahaga sekali”.

Kemudian orang tersebut turun ke sumur itu lagi, lalu mengambil air dengan sepatunya, lantas keluar sambil menggigit sepatu tadi dengan mulutnya, setelah keluar, kemudian air itu di minumkan ke anjing yang kehausan tadi. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla berterima kasih padanya, dengan mengampuni dosa-dosanya”.

Para sahabat bertanya: “Ya Rasulallah Shalallhu ‘alaihi wa sallam, apakah mengurusi binatang kami bisa memperoleh ganjaran? Beliau menjawab: “Pada setiap bibir yang basah ada pahalanya”.

Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Dalam salah satu riwayat lain, yang ada di dalam shahih Bukhari, Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

«فشَكَرَ اللهُ له، فغَفَرَ له، فَأَدْخَلَهُ الجَنَّةَ»

“Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla berterima kasih kepadanya, lalu mengampuninya dan memasukan dirinya kedalam surga”.

Pada riwayat yang lain lagi, dari keduanya (Imam Bukhari dan Muslim), di kisahkan:

«بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكْيَةٍ قد كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ إذ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَاسْتَقَتْ له بهِ فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لها بِهِ»

“Tatkala ada seekor anjing yang berkeliling di sekitar sumur, karena merasa kehausan, ada seorang wanita pezina dari kalangan Bani Isra’il yang melihatnya, maka ia merasa kasihan dengan anjing tersebut, kemudian ia melepas sepatunya dan mengambil air dengannya, setelah itu ia berikan kepada anjing tersebut. Maka Allah Subhanahu wa ta’alla mengampuni dosa-dosanya dengan sebab itu”.

Tiga Bayi dalam Buaian yang Dapat Berbicara
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulallahu Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال«لم يتكلَّم في المهد إلا ثلاثة: عيسى ابن مريم، وصاحب جرَيج، وكان جُريج رجلًا عابِدا، فاتخذ صَوْمَعَة فكان فيها، فأتته أمه وهو يصلي، فقالت: يا جريج، فقال: يا رَبِّ أُمِّي وصلاتي فأقبل على صلاته فانْصَرفت. فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فقالت: اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حتى يَنظر إلى وجوه المُومِسَاتِ. فتذاكر بَنُو إسرائيل جُريجا وعبادته، وكانت امرأة بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بحُسنها، فقالت: إن شِئتم لأَفْتِنَنَّهُ، فتَعرَّضت له، فلم يَلتَفت إليها، فأتت راعِيا كان يَأوِي إلى صَوْمَعَتِهِ، فَأَمْكَنَتْه من نَفسِها فوقع عليها، فحملت، فلمَّا ولدت، قالت: هو من جُريج، فَأتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وهدَمُوا صَومَعتَه، وجَعَلوا يَضربونه، فقال: ما شَأنُكم؟ قالوا: زَنَيْتَ بهذه البَغِيِّ فولَدَت منك. قال: أين الصَّبي؟ فجاؤَوا به فقال: دَعوني حتى أُصلَّي، فصلَّى فلمَّا انْصرف أتى الصَّبي فَطَعن في بَطنه، وقال: يا غُلام مَنْ أبوك؟ قال: فلانٌ الراعي، فأقبلوا على جُريج يقبلونه ويَتمسَّحون به، وقالوا: نَبْنِي لك صَوْمَعَتَكَ من ذهب. قال: لا، أعِيدُوها من طين كما كانت، ففعلوا. وبينا صبي يَرضع من أُمِّهِ فمرَّ رجل راكب على دابة فَارِهة وَشَارَةٍ حسَنَة، فقالت أمه: اللهم اجعل ابْني مثل هذا، فَترك الثَّدْي وأقْبَلَ إليه فنَظَر إليه، فقال: اللَّهم لا تجعلني مثْلَه، ثم أقْبَلَ على ثَدْيه فجعل يَرتضع»، فكأني أنظر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يَحكي ارتْضَاعه بِأصْبَعِهِ السَّبَّابَة في فِيه، فجعل يَمُصُّهَا، قال: «ومَرُّوا بجارية وهم يَضْرِبُونها، ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، وهي تقول: حَسبي الله ونعم الوكيل. فقالت أمه: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فترك الرَّضاع ونظر إليها، فقال: اللَّهم اجعلني مِثْلَها، فَهُنَالك تَرَاجَعَا الحديث، فقالت: مرَّ رجلٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ ، فقلت: اللَّهم اجعل ابْنِي مِثْلَه، فقلت: اللَّهم لا تَجْعَلْنِي مِثْله، ومَرُّوا بهذه الأَمَة وهم يَضربونها ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، فقلت: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فقلت: اللَّهم اجعلني مِثلها؟! قال: إن ذلك الرَّجُل كان جبَّارا، فقلت: اللَّهم لا تجعلني مِثْله، وإن هذه يقولون: زَنَيْتِ، ولم تَزْنِ وسَرقْتِ، ولم تَسْرِقْ، فقلت: اللَّهم اجْعَلْنِي مِثْلَهَا [صحيح] – [متفق عليه]

“Tidak pernah ada seorang pun yang masih berada di gendongan (maksudnya bayi) yang mampu berbicara kecuali tiga orang, yaitu: Isa anaknya Maryam, dan yang kedua yaitu shohibu Juraij.

Juraij adalah seorang yang ahli ibadah, ia mempunyai tempat khusus yang ia gunakan untuk beribadah di dalamnya, maka pada suatu hari ibunya datang, sedangkan dirinya sedang melaksanakan sholat. Ibunya memanggil Juraij: “Wahai Juraij!, Juraij berkata di dalam hatinya: “Ya Allah, ibuku atau sholatku?. Dan ia lebih mendahulukan sholatnya dari pada panggilan ibunya, kemudian ibunya pun pergi.

Pada keesokan harinya, ibunya datang kembali sedangkan dia sedang mengerjakan sholat. Ibunya memanggil: “Wahai Juraij!, Ia berkata di dalam hatinya: “Ya Allah, mana yang aku dahulukan sholatku atau ibuku?, dan ia memilih sholatnya, ibunya akhirnya pergi. Pada esok harinya, ibunya datang kembali dan Juraij sedang sholat, lalu ia memanggilnya: “Wahai Juraij!, Ia bergumam dalam hatinya: “Ya Allah, mana yang aku dahulukan sholatku atau ibuku?, dan ia memilih untuk melanjutkan sholatnya. Maka ibunya berdo’a: “Ya Allah, jangan Engkau matikan dirinya sebelum ia melihat wajah pezina”.

Sedangkan dalam lingkungan, Juraij sudah menjadi buah bibir di kalangan Bani Isra’il, di karenakan ibadahnya yang mereka kagumi. Adalah ada seorang wanita pezina yang berpenampilan sangat menawan, yang mengatakan: “Jika kalian mau, saya akan menggoda dirinya!. Kemudian wanita tersebut datang ke tempatnya Juraij lalu menggodanya, namun dirinya tidak bergeming sedikitpun. Setelah merasa tidak sanggup untuk menggodanya, perempuan tadi pergi dan mendatangi seorang penggembala yang sedang menggembala di sekitar tempat ibadahnya Juraij, maka perempuan tadi menawarkan dirinya untuk di gauli olehnya, akhirnya ia pun tergoda dengannya, setelah kejadian itu maka wanita tadi akhirnya mengandung.

Ketika anaknya lahir, sang perempuan tersebut mengatakan: “Sesungguhnya anak ini hasil hubungan saya dengan Juraij”.

Maka kaumnya murka terhadap Juraij , kemudian mereka mendatanginya, serta meminta Juraij dengan paksa supaya mau keluar dari tempat ibadahnya, setelah itu, mereka ramai-ramai merobohkan tempat ibadah yang biasa digunakan oleh Juraij. Masih belum puas, maka setelah itu mereka memukuli Juraij.

Juraij pun berusaha membela diri, dan bertanya kepada mereka: “Apa gerangan yang terjadi pada kalian?, mereka menjawab: “Kamu telah berzina dengan wanita kotor ini yang telah melahirkan anakmu”.

Maka Juraij menjawab pelan: “Mana anaknya?. Akhirnya mereka membawa bayi tersebut di hadapannya. Juraij mengatakan: “Biarkan saya mengerjakan sholat”. Ia pun mengerjakan sholat, tatkala selesai, ia mendatangi bayi tersebut sambil menepuk perutnya, dan bertanya: “Wahai anak kecil! Siapa bapakmu? Bayi tersebut menjawab: “Si fulan, seorang pengembala!

Akhirnya mereka sadar, dan merasa bersalah terhadap Juraij, sehingga mereka menciuminya, serta mengusap-usap dirinya, sembari mengatakan: “Kami akan bangunkan tempat ibadah yang baru untukmu dari emas”. Juraij menjawab: “Jangan, tapi bangunlah dari tanah seperti sediakala”.

Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “(Sedangkan bayi yang ketiga, kisahnya). Manakala ada seorang bayi yang sedang menetek pada ibunya, lewatlah seorang laki-laki yang naik binatang dengan tangkasnya, dengan penampilan yang sangat menawan.

Maka ibunya berdo’a: “Ya Allah, jadikan anakku seperti orang ini!, maka bayi tadi mencopot teteknya, lalu menghadapkan wajahnya ke arah ibunya sambil memandangi orang tersebut, dan mengatakan: “Ya Allah, jangan jadikan diriku seperti orang itu”. Kemudian bayi tersebut kembali menetek ibunya.

(Rawi berkata) seakan-akan saya masih melihat pada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memperagakan gaya menetek bayi tersebut, beliau memasukan jari telunjuk kedalam mulutnya lalu menghisap-hisapnya.

Lalu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Maka lewatlah di hadapannya, seorang budak wanita yang sedang di pukuli oleh kaumnya, sembari diteriaki: “Kamu telah berzina, kamu telah mencuri!. Sedangkan wanita yang di pukuli itu hanya sanggup mengucapkan: “Cukuplah Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai penolongku, sesungguhnya -Dia adalah sebaik-baik penolong”.

Ibunya lalu berdo’a: “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti wanita itu”. Maka anak yang sedang disusuinya itu melepas teteknya, lantas memandangi wanita yang sedang di pukuli tersebut, lalu mengatakan: “Ya Allah, jadikan saya seperti dirinya”.

Maka sampai disini terjadi obrolan hangat antara ibu bayi tersebut dengan anaknya. Ibunya bertanya kepadanya: “Tatkala lewat seorang laki-laki yang cakap, lalu saya katakan: “Ya Allah, jadikan anakku seperti dirinya”, kamu menjawab: “Ya Allah, jangan jadikan diriku seperti orang itu”. Dan ketika lewat sekumpulan orang sambil menyeret seorang budak wanita, dan memukulinya sembari mengatakan: “Kamu telah berzina, kamu telah mencuri!, lalu saya katakan: “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dirinya”. Lantas kamu menjawab: “Ya Allah, jadikan diriku seperti wanita tadi!

Maka anaknya menjelaskan seraya mengatakan: “Sesungguhnya laki-laki yang lewat tadi adalah seorang yang sombong, maka saya berdo’a: “Ya Allah, jangan jadikan diriku seperti dia”. Adapun tatkala orang-orang mengatakan kepada perempuan budak yang dipukulinya itu: “Kamu pezina, namun ia tidak berzina, kamu pencuri, sedangkan ia tidak mencuri”, mereka hanya menuduhnya, sehingga saya berdo’a: “Ya Allah, jadikan diriku sepertinya”.

Hadits shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

[Disalin dari قصة ساقي الكلب والذين يتكلمون في المهد  Penyusun : Syaikh  Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari, Penerjemah :  Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2013 – 1434]