Author Archives: editor

Qishas Kurang dari Jiwa

QISHAS KURANG DARI JIWA

Kejahatan terhadap apa yang kurang dari jiwa: yaitu setiap gangguan yang menimpa tubuh seseorang dari perbuatan orang lain dan tidak menyebabkan melayangnya nyawa.

Menodai salah satu anggota tubuh sampai melukai ataupun terpotong: Apabila dengan sengaja, maka padanya qishas, dan jika tidak disengaja, seperti suatu kesalahan atau mirip dengan sengaja, maka padanya diyat.

Barang siapa yang melakukan sebuah kejahatan terhadap anggota tubuh, maka dia diqishas sesuai dengan tubuh dan lukanya, sedangkan jika tidak sampai melukainya maka tidak ada qishas padanya, sebagaimana yang telah lalu. Apa yang mewajibkan qishas pada luka maupun anggota tubuh, sama seperti qishas yang diwajibkan dalam jiwa, yaitu ketika dilakukan dengan sengaja. Tidak ada qishas dalam kesalahan dan perbuatan yang mirip dengan sengaja, akan tetapi keduanya mewajibkan diyat.

Apabila jinayat dilakukan dengan sengaja, maka qishas yang berhubungan dengan sesuatu yang kurang dari jiwa terbagi menjadi dua:

Pertama: Berhubungan dengan anggota tubuh : Akan diambil dari mata, hidung, telinga, gigi, kelopak mata, bibir, tangan, kaki, jari, telapak, kemaluan, biji kemaluan dan lainnya, setiap dari hal tersebut akan diperlakukan sama seperti kejahatan yang dilakukan.Dalam permasalahan ini Allah berfirman:

 وَكَتَبۡنَا عَلَيۡهِمۡ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٞۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٞ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ  [المائ‍دة: ٤٥] 

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” [Al Maaidah/5: 45]

Syarat-syarat qishas dari anggota tubuh.
Korban haruslah seorang yang ma’sum dan satu derajat dengan pelaku dalam masalah agamanya, sehingga seorang Muslim tidak mungkin di qishas dari seorang kafir, hendaklah pelaku seorang mukallaf, korban bukan anak dari pelaku, dan kejahatan dilakukan dengan sengaja, apabila seluruh syarat ini telah terlaksana, maka pelaksanaan qishas wajib untuk dilaksanakan ketika adanya syarat-syarat berikut:

Syarat-syarat pelaksanaan qishas pada anggota tubuh.

  1. Terbebas dari kedzoliman: yaitu dengan melakukan pemotongan dari persendian, atau pada batasan yang ada.
  2. Sesuai dalam nama dan tempat: contohnya mata dengan mata, sesuatu yang berada di kanan tidak diambil dari kirinya, tidak pula jari kelingking diambil dari jari manis, dan begitu seterusnya.
  3. Kesetaraan dalam kesehatan serta kesempurnaan: tangan atau kaki sempurna tidak diambil dari yang cacat, mata melihat tidak diambil dari yang buta, sedangkan kebalikannya bisa dilakukan tanpa diyat baru.

Apabila seluruh syarat tersebut telah terealisasi, barulah qishas bisa dilaksanakan, sedangkan bila tidak terealisasi maka qishas akan batal dan berpindah menjadi diyat.

Berhubungan dengan luka : Apabila seseorang melukai dengan sengaja, maka dia akan terkena qishas.
Disyaratkan bagi qishas yang berhubungan dengan luka sama seperti apa yang disyaratkan dalam qishas jiwa, ditambah kemungkinannya pelaksanaan qishas tanpa kedzoliman dan tidak pula lebih besar, yaitu pelukaan hanya sampai batas tulang, seperti Al-Muwaddhohah: yaitu luka yang berakhir pada tulang di seluruh anggota tubuh, seperti kepala, paha, betis dan lainnya.

Apabila pelaksanaan qishas tidak mungkin dilakukan kecuali berakibatkan kedzoliman ataupun semakin membesar, maka qishas akan jatuh darinya dan berpindah menjadi diyat.

Dianjurkan untuk memberikan ampunan dari qishas yang berhubungan dengan anggota tubuh maupun luka dan beralih menjadi diyat, yang lebih baik darinya adalah memberikan ampunan dengan cuma-cuma. Barang siapa yang memaafkan dan berbuat ishlah, maka ganjarannya berada disisi Allah, sebagaimana hal tersebut dianjurkan untuk diminta dari dia yang berkuasa atasnya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال:مَا رُفِعَ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- شَيْءٌ فِيْهِ القِصَاصُ إلا أَمَرَ فِيْهِ بِالعَفْوِ. أخرجه أبو داود وابن ماجه

Berkata Anas bin Malik Radhiyallahu anhu tidak ada suatu permasalahanpun yang diangkat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhubungan dengan qishas, kecuali beliau akan meminta untuk dimaafkan. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)[1].

Penjalaran luka dijamin dengan qishas dan diyat, baik itu yang berhubungan dengan jiwa ataupun kurang darinya, apabila seseorang mematahkan sebuah jari, namun dia menjalar sehingga menyebabkan teramputasinya seluruh tangan, maka dia wajib di qishas dari seluruh tangan, dan jika kejahatan berakibat pada meninggalnya korban, maka hal tersebutpun mengharuskan qishas dari pelaku.

Barang siapa meninggal dunia karena disebabkan oleh hukum had yang dijatuhkan terhadapnya, seperti cambukan dari pencuri serta lainnya, atau setelah diqishas pada anggota tubuh ataupun karena melukai, maka diyat untuknya diambil dari Baitul Mal.

Qishas terhadap anggota tubuh atau luka tidak langsung dilaksanakan sebelum sembuh; karena masih memungkinkan menjalarnya luka pada seluruh anggota badan, sebagaimana juga tidak bolehnya menuntut diyat sampai dia sembuh, dikarenakan kemungkinan adanya penjalaran luka.

Barang siapa yang memukul orang lain dengan tangan, tongkat, pecut ataupun tamparan, maka dia akan diqishoh karenanya, dilakukan terhadap pelaku seperti apa yang telah dia lakukan,  tamparan dibalas tamparan, pukulan dengan pukulan pada tempat yang sama, dan dengan alat yang dia pergunakan atau yang semisalnya, kecuali jika korban memaafkannya.

Barang siapa yang mengintip rumah seseorang tanpa idzin pemiliknya, lalu mereka mencungkil matanya, maka tidak ada diyat dan tidak pula qishas padanya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: لَوْ أنَّ امْرَأً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بغيرِ إذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بعَصاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ جُناحٌ – متفق عليه

Berkata Abu Hurairah Radhiyallahu anhu: telah bersabda Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila seseorang mengintip anda tanpa idzin, lalu anda lempar dia dengan batu dan sampai membutakan matanya, maka anda tidak akan berdosa” (Muttafaq Alaihi)[2].

Hukum transfusi Darah.
Memindahkan darah dari satu orang kepada lainnya dipebolehkan ketika dalam keadaan darurat dan tidak adanya pengganti, dan juga dilakukan oleh seorang Dokter yang berpengalaman serta adanya keyakinan kalau itu bermanfaat dan orang yang diambil darah meridhoi serta tidak mendatangkan madhorot terhadapnya, perbuatan ini boleh dilakukan hanya sebatas pada apa yang menyelamatkan orang sakit dari kematian.

Diperbolehkan mengumpulkan darah pada Bank Darah, dilakukan karena adanya beberapa keadaan daruruat, kejadian mendadak seperti kecelakaan lalu lintas, keadaan wanita melahirkan dan lain sebagainya dari keadaan pendarahan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shohih/ riwayat Abu Dawud no (4497), shohih sunan abu dawud no (3774). Riwayat Ibnu Majah no (2692), lafadz ini darinya, shohih sunan ibnu majah no (2180).
[2] Alaihi, riwayat Bukhori no (6902), lafadz ini darinya dan Muslim no (2158)

Diyat Tubuh

DIYAT TUBUH

Diyat : adalah harta yang ditunaikan kepada korban atau walinya yang disebabkan oleh suatu perbuatan jarimah.

Diyat bagi seorang Muslim adalah seratus ekor unta, apabila harga unta melambung tinggi, boleh berpindah kepada penggantinya:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قام خطيباً فقال:.. أَلا إنَّ الإبِلَ قَدْ غَلَتْ، قَالَ: فَفَرَضَهَا عُمَرُ عَلَى أَهْلِ الذَّهَبِ أَلْفَ دِينَارٍ، وَعَلَى أَهْلِ الوَرِقِ اثْنَي عَشَرَ ألفاً، وَعَلَى أَهْلِ البَقَرِ مِائَتَي بَقَرَةٍ، وَعَلَى أَهْلِ الشَّاءِ أَلْفَي شَاةٍ، وَعَلَى أَهْلِ الحُلَلِ مِائَتَي حُلَّةٍ قَالَ: وَتَرَكَ دِيةَ أَهلِ الذِّمَّة لَمْ يَرْفَعْها فيمَا رَفَعَ مِنَ الدِّيةِ. أخرجه أبو داود والبيهقي

Dari Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu bahwasanya dia berdiri dan berceramah: .. Ketahuilah bahwa harga unta semakin meninggi, dia berkata: maka Umar menetapkan bagi para pemilik emas dengan seribu dinar, pemilik perak dua belas ribu, pemilik sapi dua ratus ekor, pemilik kambing dua ribu ekor, dan bagi para pemilik pakaian dua ratus potong, dia berkata: bagi ahli dzimmah dia biarkan tanpa mengurangi diyatnya. (HR Abu Dawud dan Baihaqi)[1].

Secara asal diyat itu berupa unta, sedangkan jenis-jenis lainnya merupakan pengganti.

Seribu Dinar emas = 4250 gram.

Diyat seorang wanita Muslimah setengah dari diyat laki-laki.

Diyat wajib bagi setiap orang yang menyebabkan melayangnya nyawa seseorang, baik yang meninggal tersebut seorang Muslim, dzimmi musta’man ataupun seorang mu’ahad. Apabila kejahatan dilakukan dengan sengaja, maka pada waktu itu juga wajib untuk dibayarkan diyat dari harta pelaku, akan tetapi jika dia yang menyerupai sengaja ataupun karena kesalahan, maka kewajiban diyat dibebankan kepada keluarga pelaku dan diberi tenggang waktu sampai tiga tahun.

Takaran diyat ahli Kitab.
Diyat laki-laki mereka setengah dari diyat seorang Muslim, wanita mereka setengah dari diyat wanita Muslimah, baik itu yang berhubungan dengan diyat jiwa, anggota tubuh ataupun luka, baik itu pembunuhan yang disengaja ataupun hanya karena kesalahan.

Diyat orang musyrik penyembah berhala dan orang majusi tsulutsai ‘usyur diyat muslim, wanitanya setengah dari itu.

Diyat janin apa bila sampai keguguran yang disebabkan oleh kejahatan seseorang terhadap ibunya adalah seorang budak laki-laki ataupun budak wanita, harganya sama dengan lima ekor unta, atau sepersepuluh diyat ibunya. Sedangkan diyat seorang budak belian, adalah harganya, baik kecil ataupun besar.

Apabila sebuah mobil terguling, atau tabrakan dengan lainnya, yang disebabkan oleh kejahatan atau terlalu berlebih-lebihannya supir, maka sesungguhnya dia harus menjamin setiap apa yang disebabkannya, apabila sampai ada yang meninggal, maka dia terkena diyat dan kafarat. Dan jika terjadi suatu kecelakaan, tanpa unsur kesengajaan dan bukan pula karena ugal-ugalannya supir, contohnya seperti meledaknya ban mobil yang masih bagus, maka dia tidak terkena diyat dan tidak pula kafarat.

Baitul mal menanggung hutang serta diyat pada keadaan-keadaan berikut:

  1. Ketika seorang Muslim meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya, maka atas waliyul amr untuk membayarkannya dari baitul mal.
  2. Apabila seseorang salah dalam membunuh atau membunuh yang mirip dengan sengaja, sedangkan keluarganya tidak ada yang berkecukupan, maka diyat diambil dari harta pelaku, namun jika dia tidak mampu maka diambilkan dari baitul mal.
  3. Setiap orang yang meninggal dalam keadaan tidak diketahui pembunuhnya, seperti dia yang meninggal dalam kerumunan orang, ketika tawaf ataupun lainnya, maka diyatnya diambil dari baitul mal.
  4. Ketika Hakim menghukumi dengan al-Qosamah, lalu ahli warisnya menolak untuk bersumpah dan juga tidak meridhoi sumpah orang yang tertuduh, maka Imam membayarkannya dari baitul mal.

Ketika seorang pimpinan menertibkan rakyatnya, seorang ayah mendidik anaknya atau seorang guru yang mendidik muridnya, dalam keadaan yang tidak berlebihan, maka mereka tidak mengganti apa yang hilang atau rusak darinya.

Apabila seseorang menyewa orang lain yang dewasa untuk menggali sumur, memanjat pohon dan lainnya, kemudian dia melaksanakannya dan meninggal dunia disebabkan oleh pekerjaannya tersebut, maka dia yang memerintahkan tidak menanggung bebannya.

Haram hukumnya membunuh seorang kafir dzimmi yang mendapat jaminan keamanan ataupun seorang kafir mu’ahad, barang siapa yang membunuhnya, maka dia telah melakukan dosa yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

” مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَد مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامً ” أخرجه البخاري

Barang siapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan dapat mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wanginya bisa dicium dari jarak empatpuluh tahun perjalanan” (HR Bukhori)[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadits Hasan/ riwayat Abu Dawud no (4542), shohih sunan abu dawud no (3806). Riwayat Baihaqi no (16171), lihat Irwaul Gholil no (2247).
[2] Riwayat Bukhori no (3166). [2]

Diyat yang Tidak Sampai Melayangkan Jiwa

DIYAT YANG TIDAK SAMPAI MELAYANGKAN JIWA

Apabila kejahatan yang tidak sampai menghilangkan nyawa dilakukan dengan sengaja, maka padanya qishas, dan jika dilakukan tanpa sengaja, maka tidak ada qishas padanya, akan tetapi mewajibkan diyat.

Diyat terhadap anggota tubuh dan luka terbagi menjadi tiga bagian:

Bagian pertama: Diyat anggota tubuh beserta manfaatnya.

  1. Apa yang hanya terdapat satu buah di tubuh manusia: padanya diyat yang serupa, seperti hidung, lidah, kemaluan, dagu, termasuk bagian ini juga hilangnya pendengaran, penglihatan, bicara, akal, tulang punggung dan lain sebagainya.
  2. Apa yang terdapat berpasangan pada tubuh manusia: seperti dua mata, dua telinga, dua bibir, dua biji kemaluan, dua tangan, dua kaki, dua tulang dibawah pipi dan lainnya, pada setiap satu dari pasangan tersebut setengah diyat, pada keduanya diyat penuh, apabila sirna fungsi salah satunya, padanya terdapat setengah diyat, sedangkan jika keduanya menjadi tidak berfungsi maka padanya diyat penuh, dan pada mata normal dari seorang yang buta sebelah diyat penuh.
  3. Apa yang terdapat empat buah pada tubuh manusia: seperti kelopak kedua buah mata, pada setiap satunya seperempat diyat, dan pada keseluruhannya diyat penuh.
  4. Apa yang terdapat sepuluh buah pada tubuh manusia: seperti jari-jari tangan serta kaki, pada setiap jari sepersepuluh diyat dan pada sepuluh seluruhnya diyat penuh. Pada setiap ruas jari sepertiga diyat satu jari, sedangkan pada jempol setengah dari diyat jari, ketika fungsi sebuah jari tidak bisa dimanfaatkan, maka baginya sepersepuluh diyat, apabila yang tidak berfungsi seluruh jari, maka padanya diyat penuh.
  5. Gigi : Gigi seorang manusia berjumlah tigapuluh dua buah, empat tsunaya, empat ruba’iyat, empat gigi taring dan duapuluh dhurus (gigi geraham) yang pada setiap sisi berjumlah sepuluh, diwajibkan atas setiap gigi lima ekor unta.

Diwajibkan diyat penuh bagi setiap rambut yang empat, yaitu: rambut kepala, jenggot, bulu alis dan bulu mata, bagi setiap satu alis setengah diyat, sedangkan bagi satu bulu mata seperempat diyat.

Pada tangan lumpuh, mata tidak melihat, gigi hitam, pada setiap satunya sepertiga dari diyatnya.

Pembagian kedua: Diyat bocor dan luka.
Bocor : istilah yang khusus dipergunakan untuk luka pada kepala dan muka, bocor ini ada sepuluh: lima darinya mendapat hukumah dan lima lainnya ditentukan oleh syari’at diyatnya.

Lima yang padanya hukumah adalah:

  1. Al-Harishoh : yaitu dia yang melukai dan menyobek kulit akan tetapi tidak sampai mengeluarkan darah.
  2. Al-Bazilah : yaitu dia yang sampai mengeluarkan sedikit darah.
  3. Al-Badhi’ah : dia yang sampai melukai daging.
  4. Al-Mutalahimah : adalah dia yang sampai menembus daging.
  5. As-Samhaq : yaitu yang hanya tersisa kulit tipis antaranya dengan tulang, kulit tersebut dinamakan As-Samhaq.

Lima luka terdahulu tidak ada diyat tertentu padanya, akan tetapi padanya hukumah.

Hukumah : Seorang korban menentukan suatu nilai, seolah-olah dia seorang hamba sahaya yang tidak bersalah, kemudian menentukan nilai harga kalau dia telah terbebas, apa yang kurang dari harganya, maka baginya sesuai dengan jatahnya dari diyat, dan Hakimlah yang berijtihad untuk menentukan besar kecilnya.

Adapun lima lainnya yang telah ditentukan takarannya oleh syari’at adalah:

  1. Al-Muwaddhohah : yaitu dia yang sampai kepada tulang dan menjadikannya terlihat jelas, diyat yang telah ditentukan syari’at adalah: lima ekor unta.
  2. Al-Hasyimah : yaitu yang menampakkan tulang dan mematahkannya, padanya sepuluh ekor unta.
  3. Al-Munaqqilah : yaitu yang menampakkan tulang, mematahkan serta menggeser posisinya, padanya limabelas ekor unta.
  4. Al-Ma’mumah : yaitu yang sampai kepada kulit otak, padanya sepertiga diyat.
  5. Ad-Damighoh : yaitu yang menembus kulit otak, padanya juga sepertiga diyat.

Apabila luka mencakup seluruh badan, kalau sampai kedalam isi perut, maka padanya sepertiga diyat, dan jika tidak sampai kedalam isi perut, maka padanya hukumah.

Al-Jaifah : yaitu luka yang sampai kedalam perut, atau punggung, atau dada ataupun lainnya, padanya sepertiga diyat.

Bagian ketiga: Diyat tulang.
Apabila tulang iga patah kemudian bisa diluruskan kembali, padanya satu ekor unta.

Apabila tulang dada atas patah kemudian bisa diluruskan kembali, padanya satu ekor unta, dan jika dua buah yang patah, padanya dua ekor unta.

Ketika mematahkan lengan atas, lengan bawah, paha ataupun betis, apabila dia bisa diluruskan kembali maka padanya dua ekor unta.

Apabila tulang-tulang tersebut tidak bisa diluruskan, maka padanya hukumah. Sedangkan tulang punggung apabila patah dan tidak bisa diluruskan kembali, maka padanya diyat.

Tulang-tulang selain yang telah disebutkan tidak memiliki takaran tertentu, akan tetapi padanya hukumah.

Berkaitan dengan hukum-hukum yang telah disebutkan, Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm meriwayatkan dari ayahnya lalu dari kakeknya: bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis kepada penduduk Yaman tentang kewajiban, sunnah serta apa yang berhubungan dengan diyat, diantaranya:

وَأَنَّ فِي النَّفْسِ الدِّيَةَ مِائَةً مِنَ الإبِلِ، وَفِي الأَنْفِ إذَا أُوْعِبَ جَدْعُهُ الدِّيَةُ، وَفِي اللِّسَانِ الدِّيَةُ، وَفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي البَيْضَتَيْنِ الدِّيَةُ، وِفِي الذَّكَرِ الدِّيَةُ، وَفِي الصُّلْبِ الدِّيَةُ، وَفِي العَيْنَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي الرِّجْلِ الوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ، وَفِي المَأْمُومَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الجَائِفَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي المُنَقِّلَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ مِنَ الإبِلِ وَفِي كُلِّ أَصْبُعٍ مِنْ أَصَابِعِ اليَدِ وَالرِّجْلِ عَشْرٌ مِنَ الإبِلِ، وَفِي السِّنِّ خَمْسٌ مِنَ الإبِلِ، وَفِي المُوْضِحَةِ خَمْسٌ مِنَ الإبِلِ، وَأَنَّ الرَّجُلَ يُقْتَلُ بِالمَرْأَةِ، وَعَلَى أَهْلِ الذَّهبِ أَلْفُ دِينَارٍ». أخرجه النسائي والدارمي.

“..Bahwasanya diyat satu jiwa seratus ekor unta, pada hidung apabila sampai terputus padanya diyat, pada lidah diyat, pada kedua buah bibir diyat, pada kedua buah biji kemaluan diyat, pada kemaluan diyat, pada tulang punggung diyat, pada kedua buah mata diyat, tiap satu kaki setengah diyat, pada luka yang sampai kepada kulit otak sepertiga diyat, pada tusukan yang menembus tubuh sepertiga diyat, pada tusukan yang sampai mematahkan tulang kecil limabelas ekor unta.Pada setiap jari tangan dan kaki sepuluh ekor unta, pada gigi lima ekor unta, pada mudhohah lima ekor unta, dan bahwa laki-laki dibunuh karena membunuh wanita, dan bagi pemilik emas seribu dinar” (HR. Nasa’i dan Darimi)[1].

Ukuran diyat Wanita.
Diyat seorang wanita apabila terjadi kesalahan dalam membunuh terhadapnya, diyatnya setengah diyat laki-laki, begitu pula yang berhubungan dengan diyat anggota tubuh serta lukanya, setengah dari diyat anggota tubuh serta luka laki-laki.

عن شريح قال: أَتَانِي عُرْوَةُ البَارِقِيُّ مِنْ عِنْدِ عُمَرَ أَنَّ جِرَاحَاتِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ تَسْتَوِي فِي السِّنِّ وَالمُوْضِحَةِ، وَمَا فَوْقَ ذَلِكَ فَدِيَةُ المَرْأَةِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ دِيَةِ الرَّجُلِ. أخرجه ابن أبي شيبة.

Syuraih berkata : Saya didatangi oleh Urwah Al-Bariki yang datang dari Umar : Bahwa pelukaan terhadap laki-laki dan wanita pada gigi serta muwaddhohah sama dendanya, selain dari itu diyat bagi wanita setengah dari diyat laki-laki. (HR. Ibnu Abi Syaibah)[2].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadits shohih/ riwayat Nasa’i no (4853), shohih sunan Nasa’i no (4513).Riwayat Darimi no (2277), lihat Irwaul gholil no (2212).Dan lihat pula Nasbur Royah (2/342).
[2] Hadits shohih/ Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf no (27487).Lihat Irwaul Gholil no (2250).

Fadhilah Akhlak

BAB AKHLAK

Fadhilah Akhlak yang Baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  [القلم: ٤] 

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.  [Al-Qalam/68 : 4]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي الدرداء رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي المِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ». أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tidak ada amalan yang melebihi berat timbangannya di hari kiamat dari akhlak yang baik “. H.R. Abu Daud dan Tirmizi.[1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَحَبِّكُمْ إلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِساً يَومَ القِيَامَةِ؟» فَسَكَتَ القَومُ، فَأَعَادَهَا مَرَّتَينِ أَوْ ثَلاثاً، قَالَ القَومُ: نَعَم يَا رَسُولَ الله، قَالَ: «أَحْسَنُكُمْ خُلُقاً». أخرجه أحمد والبخاري في الأدب المفرد

Dari Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan orang yang paling aku sukai dan paling dekat tempatnya denganku nanti di hari kiamat? Para shahabat terdiam. Maka beliau mengulanginya dua atau tiga kali. Lalu mereka berkata: “Mau wahai rasulullah!, beliau bersabda:  “Orang yang paling baik akhlaknya“. H.R. Ahmad dan Bukhari di kitab Adab Mufrad. [2]

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.
Orang mukmin yang berakhlak baik mendapatkan pahala sama dengan orang yang berpuasa di siang hari dan tahajjud di malam hari, manusia yang terbaik adalah orang yang paling mulia akhlaknya, dan orang mukmin yang paling baik adalah yang paling bagus akhlaknya. Karena itu berusaha untuk mendapatkan akhlak yang baik lebih utama dan penting daripada berusaha mendapat emas dan perak.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الفِضَّةِ وَالذَّهَبِ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإسْلامِ إذَا فَقُهُوا، وَالأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia laksana bahan tambang emas dan perak, orang yang terbaik di masa jahiliyah juga orang yang terbaik di masa Islam jika ia memahami (ajaran Islam), ruh laksana tentara yang berada di bawah perintah, dia akan sesuai dengan ruh lain yang telah dikenalnya dan akan berselisih dengan ruh lain yang tidak dikenalnya“. Muttafaq alaih.[3]

Manusia yang Paling Baik Akhlaknya.
Cara yang terbaik dan termudah untuk mencapai akhlak yang baik adalah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akhlaknya adalah Al Quran, beliau adalah manusia yang terbaik akhlak dan rupanya; dia memberi kepada orang yang kikir kepadanya, memaafkan orang yang menzaliminya, menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskannya, berbuat baik kepada orang yang menyakitinya. Itu semua merupakan pokok-pokok akhlak. Karena itu hendaklah kita meneladaninya dalam seluruh sisi hidupnya kecuali hal yang merupakan kekhususan beliau seperti sifat kenabian, mendapat wahyu, menikahi lebih dari empat orang istri, istrinya haram dinikahi setelah beliau meninggal, haram memakan sedekah, hartanya tidak diwarisi dan lain-lain.

Dalam pasal selanjutnya saya akan jelaskan akhlak-akhlak yang terpenting yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang beliau terapkan, dan ciri-ciri khusus beliau agar menjadi contoh bagi setiap pribadi muslim untuk diamalkan dan memantapkan jiwa untuk berusaha meraihnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  [الاحزاب : ٢١] 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  [Al Ahzab/33: 21].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ  [الاعراف: ١٩٨] 

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [Al A’raaf/7: 199] .

Akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang  Mulia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  [القلم: ٤]

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [Al Qalam/68: 4]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: لَمْ يَكُنْ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَاحِشًا ولَا مُتَفَحِّشًا ، وكان يقول: «إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاقاً». متفق عليه.

Dari Abdullah bin `Amru Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang suka mengucapkan kata kotor, atau sengaja mengucapkan kata kotor, bahkan beliau bersabda: “Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. Muttafaq ’alaih. [4]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه قال: وَلَقَدْ خدمتُ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ سنين، فما قَالَ لي قَطُّ: ((أُفٍّ)) وَلاَ قَالَ لِشَيءٍ فَعَلْتُهُ: ((لِمَ فَعَلْتَه؟)) وَلاَ لشَيءٍ لَمْ أفعله: ((ألاَ فَعَلْتَ كَذ ؟!)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Ia berkata: “Sungguh aku telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau berkata kepadaku: “cis,” dan tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan: “Kenapa engkau lakukan? Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: “Kenapa engkau tidak melakukan hal ini?. Muttafaq ’alaih. [5]

Sifat Pemurah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :4799 dan  Tirmizi no hadist: 2002.
[2] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist :6735 dan  Tirmizi no hadist: 751.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3493 dan  Muslim no hadist: 2638.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3559 dan  Muslim no hadist: 2321.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6038 dan  Muslim no hadist: 2309.

Sifat Pemurah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

AKHLAK

Sifat Pemurah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن جابر رضي الله عنه قال: مَا سُئِلَ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لامتفق عليه

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Tidak pernah sedikitpun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai sesuatu lalu beliau mengatakan: “Ttidak”. Muttafaq ’alaih. [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرآنَ؛ فلرَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  حين يلقاه جبريل أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  manusia yang paling pemurah dan lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam di bulan Ramadhan, lalu Jibril mengajarinya Al Qur’an, dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Jibril menemuinya beliau sangat murah melakukan kebajikan melebihi angin yang berhembus”. Muttafaq ’alaih. [2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه قال: مَا سُئِلَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَى الإسْلامِ شَيْئاً إلَّا أَعْطَاهُ، ولقد جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَماً بَينَ جَبَلَينِ، فَرَجَعَ إلَى قَومِهِ فَقَالَ: يَا قَومِ أَسْلِمُوا فَإنَّ مُحَمَّداً يُعْطِي عَطاءً لا يَخْشَى الفَاقَةَ. أخرجه مسلم

Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu dengan alasan Islam melainkan beliau memberinya dan telah datang seseorang  kepadanya lalu beliau memberi orang tersebut harta rampasan perang sebanyak dua gunung, lalu orang tersebut kembali kepada kaumnya dan berkata : “Hai kaumku masuklah Islam, sungguh Muhammad memberi suatu pemberian seperti pemberian orang yang tidak takut miskin”. HR. Muslim. [3]

Sifat Pemalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا، فَإذَا رَأَى شَيْئاً يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ. متفق عليه.

Dari Abu Sa’id Al Kudri Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamlebih pemalu dari seorang gadis dalam pingitan, jika beliau melihat sesuatu yang dibencinya maka kami mengetahuinya dari raut wajah beliau”. Muttafaq ’alaih. [4]

Sifat Kerendahan Hati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- يَقَولُ: «لا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ الله وَرَسُولُهُ». أخرجه البخاري

Dari Umar bin Al Khattab Radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Janganlah kalian terlalu berlebihan memujiku, seperti Nasrani berlebihan memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah: “Hamba Allah dan rasul-Nya”. H.R. Bukhari. [5]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس رضي الله عنه أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ، فَقَالَتْ يَا رَسُولَ الله: إنَّ لِي إلَيكَ حَاجَةً، فَقَالَ: «يَا أُمَّ فُلانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ، حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ» فَخَلا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا. أخرجه مسلم

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita yang terkena gangguan jiwa berkata: “Wahai Rasulullah, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada mu”. Maka Nabi bersabda: “Wahai ummu fulan, carilah lorong jalan yang engkau sukai hingga aku membantu menyelesaikan masalahmu.” Maka Nabi bersama wanita tersebut di jalanan hingga si wanita selesai menyampaikan keperluannya. H.R. Muslim. [6]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَوْ دُعِيتُ إلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِيَ إلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ». أخرجه البخاري.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Andai aku diundang untuk makan kaki kambing yang di bawah lutut maka akan kupenuhi, dan jika dihadiahkan kepadaku paha ataupun kaki kambing yang di bawah lutut, niscaya akan kuterima.” HR. Bukhari[7]

Sifat Pemberani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- أَحْسَنَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَشْجَعَ النَّاسِ، وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ المَدِيْنَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَانْطَلَقَ ناسٌ قِبَلَ الصَّوْتِ، فَتَلَقَّاهُمْ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- رَاجِعاً، وَقَدْ سَبَقَهُمْ إلَى الصَّوتِ، وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لأبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ فِي عُنُقِهِ السَّيْفُ وَهُوَ يَقُولُ: «لَمْ تُرَاعُوا، لَمْ تُرَاعُوا» قَالَ: «وَجَدْنَاهُ بَحْراً، أَوْ إنَّهُ لَبَحْرٌ» قَالَ: وَكَانَ فَرَساً يُبطَّأُ. متفق عليه.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik, orang yang paling dermawan dan orang yang paling berani. Suatu malam penduduk kota Madinah dikejutkan oleh sebuah suara, maka orang-orang segera menuju arah suara tersebut, akan tetapi mereka mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kembali, sungguh beliau telah lebih dahulu kearah suara itu. Beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah yang tidak berpelana sambil menyandang pedang seraya bersabda: “Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu cemas.” Anas berkata: “Kami dapati kuda tersebut berlari dengan sangat cepat”, padahal kuda tersebut adalah kuda yang lambat. Muttafaq alaih.[8]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 عن علي رضي الله عنه قال: لَقَدْ رَأَيْتُنَا يَومَ بَدْرٍ وَنَحْنُ نَلوذُ بِرَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم-، وَهُوَ أَقْرَبُنَا إلَى العَدُوِّ، وَكَانَ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ يَومَئِذٍ بَأساً. أخرجه أحمد

Dari Ali Radhiyallahu anhu berkata: “Sungguh aku melihat pada saat perang Badar bahwa diri  kami berlindung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau berada pada posisi yang  paling dekat dengan musuh, dan beliau pada saat itu adalah orang yang paling banyak mendapat cobaan”. H.R.Ahmad. [9]

Sifat Lemah Lembut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أَبي هريرة رضي الله عنه قَالَ بَال أعْرَابيٌّ في المسجدِ فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْهِ لِيَقَعُوا فِيهِ فَقَالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم : (دَعُوهُ وَأرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوباً مِنْ مَاءٍ فَإنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَم تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seorang Arab badui kencing di dalam masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu para sahabat bangkit untuk ingin memukulnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Biarkanlah dia! Kemudian tuangkan seember air pada bekas kencing tersebut, Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan manusia, dan kalian tidak diutus  untuk menyulitkan mereka.” H.R. Bukhari.[10]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «يَسِّرُوا وَلا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلا تُنَفِّرُوا». متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Mudahkanlah! dan jangan mempersulit, dan berilah kabar gembira! Dan janganlah membuat orang menjauh (dari Islam).” Muttafaq ’alaih. [11]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: (إنَّ الله رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لا يُعْطِي عَلَى العُنْفِ، وَمَا لا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut, dan menyukai sikap lemah lembut, dan Dia memberi kepada orang yang bersikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada orang yang bersikap kasar, dan memberikan sesuatu yang tidak diberikannya sikap yang  lain.” HR. Muslim.  [12]

Sifat Pemaaf  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱصۡفَحۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ [المائ‍دة: ١٣] 

“Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al Maidah/5: 13] .

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا خُيِّرَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- بَينَ أَمْرَينِ قط إلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إثْماً، فَإنْ كَانَ إثْماً كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- لِنَفْسِه، شيء قط، إلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ الله فَيَنْتَقِمَ للهِ تعالى. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau mengambil yang termudah selama pilihan tersebut tidak termasuk dosa, dan apabila termasuk dosa, beliau adalah orang yang paling menjauhinya, beliau tidak pernah sama sekali balas dendam untuk kepentingan dirinya, kecuali jika ada pelanggaran terhadap apa yang diharamkan oleh Allah, maka beliau membalasnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Muttafaq ’alaih.[13]

Sifat Penyayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6034 dan  Muslim no hadist: 2311.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6 dan  Muslim no hadist: 2368.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2312.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6102 dan  Muslim no hadist: 2320.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3445.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2326.
[7] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2568.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2908 dan  Muslim no hadist: 2307.
[9] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist :654.
[10] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6128.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6125 dan  Muslim no hadist: 1734.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2593.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3560 dan  Muslim no hadist: 2327.

Sifat Penyayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

AKHLAK 

Sifat Penyayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال: خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي العَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى، فَإذَا رَكَعَ وَضَعَ، وَإذَا رَفَعَ رَفَعَهَا. متفق عليه

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami (untuk shalat) sambil menggendong Umamah binti Abi Al Ash di pundaknya lalu beliau mendirikan shalat. Bila ruku’ maka beliau melepas Umamah. Dan bila beliau bangkit dari ruku’ maka Umamah digendongnya kembali“. Muttafaq alaih. [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه   قال: قبَّل النبي صلى الله عليه وسلم  الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ رضي الله عنه  وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِيْ عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  فقال: ((مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ!)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin Ali Radhiyallahu anhu, sementara di sisi beliau terdapat Aqra` bin Haabis, ia berkata: “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tidak seorangpun yang pernah aku cium, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya dan bersabda: “Barangsiapa yang tidak mengasihi, niscaya dia tidak akan dikasihi”. Muttafaq ’alaih .[2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإنَّ مِنْهُمُ الضَّعِيفَ، وَالسَّقِيمَ، وَالكَبِيرَ، وَإذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian menjadi imam pada sautu shalat jama`ah, hendaklah dia meringankan shalatnya, karena di antara jema`ah tersebut ada yang lemah, ada yang sakit, dan ada yang tua renta, dan apabila salah seorang di antara kalian shalat secara sendiri, maka panjangkanlah shalat dengan  sesukanya.” Muttafaq ’alaih.[3]

Diantara contoh sikap sayang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pembantu, sabda beliau:

هُمْ إخْوَانُكُمْ، جَعَلَهُمُ الله تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ مُتَّفّقٌ عَلَيهِ.

“Mereka adalah saudaramu, Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu, maka barangsiapa yang saudaranya di bawah kekuasaannya maka hendaklah dia memberikan (saudaranya itu) makan dari apa yang dia makan, dan memberinya pakaian seperti apa yang ia pakai, janganlah membebani mereka sesuatu yang menyusahkan mereka, maka jika engkau bebani mereka suatu pekerjaan bantulah mereka”. Muttafaq ’alaih. [4]

Di antara contoh sifat penyayang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada musuh:

عن أنس رضي الله عنه قال: كَانَ غُلامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَال لَهُ: «أَسْلِمْ» فَنَظَرَ إلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ- صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ». رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Anas Radhiyallahu anhu berkata: “Terdapat seorang anak Yahudi yang pernah melayani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, suatu ketika dia sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di sisi kepala anak tersebut, beliau bersabda kepadanya: “Masuk Islamlah”, si anak tersebut menoleh ke bapaknya yang berada di sisinya, maka bapaknya berkata: “Patuhilah Abu Qassim (gelar nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”, lalu dia masuk Islam lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar seraya bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka”. HR. Bukhari.[5]

Tertawanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- مُسْتَجْمِعاً قَطُّ ضَاحِكاً حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ، إنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ. متفق عليه

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tertawa terbahak-bahak hingga terlihat pangkal lidahnya, hanyasanya beliau tersenyum”. Muttafaq ’alaih. [6]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن جرير رضي الله عنه قال: مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلا رآنِي إلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي. متفق عليه

Dari Jarir Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menghalangiku (masuk rumahnya) sejak aku memeluk Islam dan beliau selalu tersenyum saat melihatku“. Muttafaq alaih.[7]

Menangisnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن ابن مسعود رضي الله عنه   قال: قال لي النبي صلى الله عليه وسلم : ((اقْرَأْ عَلَيَّ القرآن)) قُلْتُ: يا رَسُول اللَّه !ِأَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟! قال: ((إنِّي أُحِبُّ أنْ أسْمَعَهُ مِن غَيرِي)) فقرأت عليه سورة النساء حتى جئت إلى هذه الآية: ﴿ فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا ٤١ ﴾ [النساء : ٤١] قال: ((حَسْبُكَ الآنَ)) فالتفتُّ إليه، فإذا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Bacakanlah Al Qur’an untukku”, akupun berkata: “Wahai Rasulullah, pantaskah aku membaca Al Qur’an untukkmu, sedangkan dia diturunkan kepadamu?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengar Al Qur’an dari orang lain”, maka akupun mulai membaca surat An Nisaa’ hingga sampai pada ayat  41:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا [النساء : ٤١]

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”.

Beliau bersabda: “Sekarang cukup”, aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba kedua matanya berlinang”. Muttafaq’alaih. [8]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن الشِّخِّير رضي الله عنه قال: رأيتُ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ البُكَاءِ. حديث صحيح رواه أبو داود والنسائي.

Dari Abdullah bin Syikhkhir Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau tengah melakukan shalat dan aku mendapati rongga dada beliau ada gemuruh seperti air mendidih dalam panci karena menangis”. H.R. Abu Daud dan Nasa’i [9]

Marahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قدم رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  من سفر، وَقَدْ سَتَرْتُ سَهْوَةً لِي بِقِرَامٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ, فَلَمَّا رَآهُ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  هَتَكَهُ، وَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ. وقال: (من أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari sebuah perjalanan dan aku telah menutup beranda rumah dengan tirai yang bergambar mahluk hidup, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau menyentak tirai tersebut dan raut mukanya berubah, beliau bersabda: “Manusia yang paling berat siksanya di sisi Allah di hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah”. Muttafaq ’alaih. [10]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي مسعود رضي الله عنه   قال: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ، مِمَّا يُطِيلُ بِنَا! فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata : “Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Sungguh aku tidak ikut shalat shubuh (berjamaah) karena si fulan (imam) membaca surat yang terlalu panjang”, dan aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  marah di saat memberikan nasehat melebihi kemarahan beliau di hari itu, beliau bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat orang menjauhi agama Allah maka barangsiapa di antara kalian menjadi imam hendaklah meringankan (shalatnya) karena di belakangnya ada orang yang sudah tua, anak-anak, dan orang yang mempunyai hajat”. Muttafaq ’alaih. [11]

Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Umatnya:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ  [التوبة: 128]

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [At Taubah/9: 128] .

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَاراً فَجَعَلَ الجَنَادِبُ وَالفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا، وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي». أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaanku dengan kalian seperti seorang lelaki yang menyalakan api, maka belalang dan laron terperosok ke dalam api tersebut, sementara lelaki tersebut berusaha menghalaunya (agar tidak terperosok ke dalam  api itu). Aku yang selalu berusaha memegang ikat pinggang kalian agar tidak terjerumus ke dalam api neraka, sedangkan kalian berusaha untuk lepas dari peganganku.” HR. Muslim [12]

Pergaulan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Manusia.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: إنْ كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- لَيُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لأَخٍ لِي صَغِيرٍ «يَا أَبَا عُمَيرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ». متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul dengan kami, beliau bercanda dengan adikku seraya bersabda,” Wahai, Abu Umair apa yang dilakukan oleh burung kecilmu yang bernama: “Anugair”? Muttafaq alaih. [13]

Kezuhudan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5996 dan  Muslim no hadist: 543.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5997 dan  Muslim no hadist: 2318.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :703 dan  Muslim no hadist: 467.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :30 dan  Muslim no hadist: 1661.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1356.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6092 dan  Muslim no hadist: 899.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6089 dan  Muslim no hadist: 2475.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5050 dan  Muslim no hadist: 800.
[9] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 904 dan  Nasa’i  no hadist: 1214.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6109 dan  Muslim no hadist: 2107.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6110 dan  Muslim no hadist: 466.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2285.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6129 dan  Muslim no hadist: 2150.

Kezuhudan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

AKHLAK

Kezuhudan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «اللَّهُمَّ ارْزُقْ آلَ مُحَمَّدٍ قُوتاً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezki keluarga Muhammad hanya makanan pokok”. Muttafaq ’alaih. [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ- صلى الله عليه وسلم- مُنْذُ قَدِمَ المدِيْنَةَ مِنْ طَعَامِ بُرٍّ ثَلاثَ لَيَالٍ تِبَاعاً حَتَّى قُبِضَ. متفق عليه

Dari`Aisyah radhiyallahu `anha berkata: “Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makan gandum selama tiga hari berturut-turut semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat”. Muttafaq ’alaih. [2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقول: وَالله يَا ابْنَ أُخْتِي إنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إلَى الهِلالِ ثُمَّ الهِلالِ، ثُمَّ الهِلالِ، ثَلاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَينِ، وَمَا أُوْقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- نَارٌ، قَالَ: قُلْتُ يَا خَالَةُ فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ؟ قَالَتْ: الأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- جِيرانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، وَكَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ فَكَانُوا يُرْسِلُونَ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَلْبَانِهَا فَيَسْقِينَاهُ. متفق عليه.

Dari ‘Urwah dari `Aisyah radhiyallahu `anha bahwa `Aisyah pernah berkata: “Demi Allah, wahai anak saudariku, kami melihat bulan sabit kemudian bulan sabit lagi, kemudian bulan sabit kembali, tiga bulan sabit dalam dua bulan tetapi tidak pernah api dinyalakan di rumah isteri-isteri Rasulullah. Aku bertanya: “Wahai bibi, dengan apaka kalian makan?”, ia menjawab: “Korma dan air, hanyasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam`  mempunyai tetangga dari kaum Anshar yang sering memberi beliau hadiah, mereka sering mengirim susu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau memberikannya kepada kami”. Muttafaq ’alaih. [3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ عَمْرِو بْنِ الحَارِثِ قال: مَا تَرَكَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- عند موته دِينَارًا، وَلا دِرْهَمًا وَلا عَبْدًا وَلا أمَةً ولا شيئاً، إلا بَغْلَتَهُ البَيْضَاءَ الَّتِي كَانَ يَرْكَبُهَا، وَسِلاحَهُ، وَأرْضًا جَعَلَهَا لابْنِ السَّبِيلِ صَدَقَةً. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Amru bin Harits Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah tidak meninggalkan satu dinar pun ketika beliau wafat, tidak juga satu dirham, tidak juga seorang budak laki-laki atau budak perempuan, tidak juga sesuatu apapun kecuali seekor onta yang putih yang biasanya beliau tunggangi dan sebuah senjata serta sebidang tanah yang telah beliau sedekahkan untuk para musafir”. HR. Bukhari. [4]

Sifat Adil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن عائشة رضي الله عنها أن قريشاً أهمَّهم شأن المرأة المخزومية التي سرقت..-وفيه-: فكلَّمه أسامة بن زيد، فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ؟» ثُمَّ قَام فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ: «إنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيهِ الحَدَّ، وَأيْمُ الله لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا». متفق عليه

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha bahwa orang-orang Quraisy merasa gelisah tentang dengan seorang wanita dari bani Makhzum yang mencuri, mereka berkata: “Siapa yang beranni membujuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini?”, mereka berkata: “Tidak ada yang berani berbicara kepada beliau kecuali Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lalu Usamah membicarakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  maka beliau bersabda: “Apakah engkau memberi syafaat dalam hukum had (yang telah ditetapkan) oleh Allah Ta’ala?”, kemudian beliau berdiri lalu berhkutbah seraya bersabda: “Sesungguhnya umat sebelum kalian dibinasakan karena apabila yang mencuri di antara mereka adalah orang yang terpandang mereka membiarkannya (tanpa hukuman) namun apabila yang mencuri adalah orang yang lemah mereka laksanakan hukum had, demi Allah, jikalau Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan kupotong tangannya”. Muttafaq ’alaih. [5]

عن عائشة رضي الله عنها قالت: يا رسول الله، هل أتى عليك يوم كان أشدَّ من يوم أحد؟ فقال: «لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَومِكِ وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَومَ العَقَبَةِ، إذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بنِ عَبْدِ كُلالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إلَى مَا أَرَدْتُّ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإذَا فِيْهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ: إنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَولَ قَومِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوْا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إلَيكَ مَلَكَ الجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ: قَالَ فَنَادَانِي مَلَكُ الجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إنَّ الله قَدْ سَمِعَ قَولَ قَومِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ؟ إنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيهِمُ الأَخْشَبَينِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ الله مِنْ أَصْلابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ الله وَحْدَهُ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً». متفق عليه

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah engkau pernah merasakan suatu hari yang lebih berat dari hari di perang Uhud?”, beliau bersabda: “Sungguh aku pernah merasakannya dari kaummu, yaitu ketika aku mendapat tekanan yang sangat berat dari mereka di hari Aqabah (bukit di Thaif) ketika aku menawarkan diriku (minta bantuan) kepada Ibnu ‘Abdiyalil bin ‘Abdi Kulal tetapi dia tidak mengabulkan keinginanku, aku berjalan dalam keadaan bimbang, lalu aku baru sadar ketika sampai di Qornu tsa’alib, aku mengangkat kepalaku (ke langit) tiba-tiba diriku berada di bawah gumpalan awan yang menaungiku, dan aku melihat ternyata ada Jibril Alaihissallam, ia memanggilku seraya berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala  mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan mereka terhadapmu dan Allah mengutus kepadamu malaikat gunung yang siap engkau perintahkan dengan sekehendakmu”, lalu malaikat gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku kemudian dan berkata: “Hai Muhammad! sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan aku adalah malaikat gunung dan Tuhanku mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkanku, maka apa yang engkau kehendaki ?, jika engkau mau niscaya  akan aku timpakan kepada mereka dua gunung besar ini (yang mengelilingi kota Mekkah)”, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tetapi aku mengharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka  orang-orang yang beribadah kepada Allah Yang Esa, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatuapapun”. Muttafaq ’alaih. [6]

Sifat Sabar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسَسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ: يَارَسُولَ اللهِ: إنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكاً شَديداً .فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَجَلْ إنِّي أُوْعَكُ كَمَا يُوْعَكُ رَجُلانِ مِنْكُمْ» قَالَ فَقُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم– «أَجَلْ» متفق عليه.

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu berkata :“Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau sedang mengerang kesakitan, lalu aku menyentuhnya dan berkata: “Sesungguhnya engkau sedang merasakan sakit yang begitu berat”, beliau bersabda:  “Benar, aku merasakan sakit seperti dua orang laki-laki di antara kalian merasakannya”. Kataku selanjutnya, Sebab itu Anda mendapatkan pahala dua kali lipat. “Beliau menjawab, Benar”. Muttafaq ’alaih. [7]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن خباب بن الأرتِّ رضي الله عنه قال: شَكَونَا إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الكَعْبَةِ فَقُلْنَا: أَلا تَسْتَنْصِرُ لَنَا؟، أَلا تَدْعُو لَنَا؟ فَقَالَ: «قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا، فَيُجَاءُ بِالمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَينِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مِن دُونِ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ، وَالله لَيَتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إلَى حَضْرَمَوْتَ، لا يَخَافُ إلَّا الله وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ». أخرجه البخاري

Dari Khabab bin Al Arats Radhiyallahu anhu berkata: “Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau sedang berbantalkan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, lalu berkata: “Kenapa engkau tidak minta pertolongan untuk kami?! Kenapa engkau tidak berdo’a untuk kami?”, maka beliau bersabda: “Sungguh umat sebelum kalian telah disiksa (di mana seseorang di antara mereka) digalikan baginya sebuah lubang lalu dia ditanam ke dalam lubang tersebut kemudian gergaji diletakkan di atas kepalanya, lalu badannya terbelah menjadi dua, dan dagingnya dicabik-cabik dengan garpu besi sehingga berpisah tulang dengan daging tapi penyiksaan itu tidak menyebabkan dirinya berpaling dari agamanya, demi Allah, sungguh Allah akan  menyempurnakan dien ini sehingga seseorang berjalan dari Son’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah dan si pengembala tidak khawatir kambingnya dimakan serigala, tapi kalian terlalu tergesa-gesa” HR. Bukhari. [8]

Fadhilah akhlak yang baik

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6460 dan  Muslim no hadist: 1055.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5416 dan  Muslim no hadist: 2970.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :2567 dan  Muslim no hadist: 2972.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4461.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3475 dan  Muslim no hadist: 1688.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3231 dan  Muslim no hadist: 1795.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5667 dan  Muslim no hadist: 2571.
[8] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6943.

Kepribadian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam(1)

KEPRIBADIAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- أحْسَنَ النَّاسِ وَجْهاً، وَأحْسَنَهُ خَلْقاً، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الذَّاهِبِ وَلا بِالقَصِيرِ». متفق عليه.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling rupawan, orang yang paling bagus fisiknya, tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek “Muttafaq alaih .[1]

كان- صلى الله عليه وسلم- إذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاثاً حَتَّى تُفْهَمَ، وَإذَا أَتَى عَلَى قَومٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّم عَلَيهِمْ ثَلاثاً». أخرجه البخاري

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengucapkan satu kata, maka beliau mengulanginya tiga kali sehingga ucapan tersebut dipahami, dan apabila mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam kepada mereka, maka beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali” HR. Bukhari .[2]

كان- صلى الله عليه وسلم- إذا رَاعَهُ شيء قال: «هُوَ الله رَبِّي لا أُشْرِكُ بِهِ شَيئاً». أخرجه النسائي في عمل اليوم والليلة.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila dikagetkan oleh sesuatu maka beliau mengucapkan:

((هُوَ الله رَبِّي لا أُشْرِكُ بِهِ شَيئاً))  “Dialah Rabbku, aku tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun “. H.R. Nasa’i dalam kitab Amalul yaum wa llailah. [3]

كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ أَدَمًا حَشْوهُ لِيْفٌ». متفق عليه.

“Kasur tempat tidur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari kulit yang diisi sabut. Muttafaq alaih. [4]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- رَحِيماً، وَكَانَ لا يَأْتِيهِ أَحَدٌ إلَّا وَعَدَهُ وَأَنْجَزَ لَهُ إنْ كَانَ عِنْدَه». أخرجه البخاري في الأدب المفرد

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat penyayang, setiap orang yang datang (untuk meminta sesuatu) kepadanya selalu dijanjikan dan beliau memenuhi janjinya jika memang beliau mampu memenuhinya. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adab Mufrad. [5]

كَانَ كَلامُ رسول الله- صلى الله عليه وسلم- كَلاماً فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ». أخرجه أبو داود.

“Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya.” H.R. Abu Daud. [6]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- لا يُسْأَلُ شَيْئاً إلَّا أَعْطَاهُ أَوْ سَكَتَ». أخرجه الحاكم.

“Bahwa tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai sesuatu kecuali beliau  memberikannnya atau bersikap diam”. H.R. Hakim. [7]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- لا يَنَامُ إلَّا وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ فَإذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ». أخرجه أحمد.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tidur kecuali  siwak ada di sisinya, dan apabila bangun beliau memulai dengan  bersiwak. H.R. Ahmad.[8]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَتَخَلَّفُ فِي المَسِيرِ، فَيُزْجِي الضَّعِيفَ، وَيُرْدِفُ، وَيَدْعُوْ لَهُمْ». أخرجه أبو داود.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan di belakang rombongan, lalu beliau mendorong yang lemah dan  memboncengnya, memberikan semangat dan mendo’akannya”. H.R. Abu Daud. [9]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا اشْتَدَّ البَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلاةِ، وَإذَا اشْتَدَّ الحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلاةِ». أخرجه البخاري.

“Apabila udara sangat dingin maka beliau menyegerakan shalat dan apabila udara sangat panas maka beliau mengakhirkan shalat. H.R. Bukhari. [10]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا اشْتَكَى نَفَثَ عَلَى نَفْسِهِ بِالمُعَوِّذَاتِ، وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ». متفق عليه.

“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan suatu penyakit maka beliau membaca Al Mu’awwizat (surat  Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas) lalu meniupkan ke telapak tangannya dan mengusap bagian yang sakit tersebut dengan telapak tangan tersebut. muttafaq alaih.[11]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا اكْتَحَلَ اكْتَحَلَ وِتْراً وَإذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ وِتْراً». أخرجه أحمد.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memakai celak, beliau melakukannya dengan bilangan ganjil, dan bila beristinja’ juga melakukannya dengan bilangan ganjil. H.R. Ahmad. [12]

كان- صلى الله عليه وسلم- تُعجبُهُ الرِّيحُ الطَّيِّبةُ. أخرجه أحمد وأبو داود.

Bahwa Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat senang dengan bau-bauan yang wangi“. H.R. Ahmad dan Abu Daud. [13]

كان صلى الله عليه وسلم إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ، أَوْ يُسَرُّ بِهِ، خَرَّ سَاجِداً شُكْراً لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. أخرجه الترمذي وابن ماجه.

“Apabila Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mendapat berita yang meggembirakan atau berita yang membuat beliau gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah tabaraka wa ta’ala. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [14]

 كان صلى الله عليه وسلم إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى . أخرجه أحمد وأبو داود

“Apabila Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam gelisah dengan sebuah perkara maka  beliau melakukan shalat. H.R. Ahmad dan Abu Daud. [15]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلا صَوتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ». أخرجه مسلم

 Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah maka mata beliau memerah, suaranya meninggi, marahnya meninggi, seolah-olah beliau sedang memberi perintah kepada pasukan, beliau bersabda: “(musuh mungkin datang) di waktu pagi atau sore”. H.R. Muslim.[16]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ». أخرجه مسلم.

“Bahwa Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila  memasuki rumahnya maka beliau memulainya dengan bersiwak. H.R. Muslim. [17]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا دَعَا لأحَدٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ». أخرجه أحمد وأبو داود.

“Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdoa beliau memulai dengan berdo’a untuk dirinya. H.R. Abu Daud. [18]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا سُرَّ اسْتَنَارَ وَجْهُهُ كَأَنَّ وَجْهَهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ». متفق عليه.

“Bahwasanya Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat gembira wajahnya bercahaya seperti bulan purnama. Muttafaq alaih . [19]

كان صلى الله عليه وسلم إذا كربَهُ أمرٌ قالَ: يا حيُّ يا قيُّومُ برَحمتِكَ أستغيثُ. أخرجه الترمذي.

“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa oleh suatu kesusahan beliau berdo’a:

يا حيُّ يا قيُّومُ برَحمتِكَ أستغيثُ” Ya Hayyu Ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku minta tolong“. H.R. Tirmizi. [20]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ، وَإذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ». أخرجه مسلم.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Quran secara pelan-pelan, apabila melewati ayat menyebutkan tentang tasbih maka beliau bertasbih, dan apabila melewati suatu ayat mengandung permohonan, maka beliau memohon, dan apabila melewati sebuah ayat mengandung perlindungan, maka beliau meminta perlindungan. H.R. Muslim. [21]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيهِ بِالمُعَوِّذَاتِ». أخرجه مسلم.

“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila salah seorang dari keluarganya terjangkiti suatu  penyakit maka beliau membaca Al Mu’awwizat (surat  Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas) lalu meniupkan (ke telapak tangannya dan mengusap bagian yang sakit dengan telapak tangan tersebut) H.R. Muslim . [22]

كان صلى الله عليه وسلم لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ. أخرجه أحمد والترمذي.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk melaksanakan shalat ‘idul fitri sehingga baliau makan terlebih dahulu, dan beliau tidak makan saat idul adha sehingga selesai menunaikan  shalat. H.R. Ahmad dan Tirmizi. [23]

كان صلى الله عليه وسلم لا يدَّخرُ شيئًا لغدٍ. أخرجه الترمذي.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyimpan sesuatu untuk (persiapan) esok hari. H.R. Tirmizi. [24]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوقَ الإزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ». متفق عليه.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencumbui di atas kain (tidak pada kemaluan) pada saat mereka sedang haid”. Muttafaq alaih. [25]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَتَحَرَّى صَومَ الإثْنَينِ وَالخَمِيسِ». أخرجه الترمذي والنسائي.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa pada hari senin dan kamis“. H.R. Tirmizi dan Nasa’i. [26]

كان رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، في شَأْنِهِ كل: فيطُهُورِهُ، وَتَرَجُّلِهِ، وتَنَعُّلِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai memulai dari yang kanan dalam setiap pekerjaannya; baik dalam bersuci, menyisir rambut dan memakai sandal”. Muttafaq ’alaih. [27]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ الله تَعَالَى عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ». أخرجه مسلم.

“Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan”. HR. Muslim . [28]

Kepribadian Nabi Hal.2

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3549 dan  Muslim no hadist: 2337.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :95.
[3] Hadist shahih diriwayatkan oleh Nasa’I  no hadist : 657.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6456 dan  Muslim no hadist: 2082.
[5] Hadist hasan diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adab Mufrad no hadist : 281.
[6] Hadist Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 4839.
[7] Hadist shahih diriwayatkan oleh  Hakim no hadist: 2591.
[8] Hadist hasan diriwayatkan oleh  Ahmad no hadist: 5979.
[9] Hadist shahih diriwayatkan oleh  Abu Daud no hadist: 2639.
[10] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist: 906.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4439 dan  Muslim no hadist: 2192.
[12] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist :17562.
[13] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist :26364 dan Abu Daud no hadist : 4074.
[14] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :1578 dan Ibnu Majah  no hadist : 1394.
[15] Hadist hasan diriwayatkan oleh Ahmad no hadist :23688 dan Abu Daud no hadist : 1319.
[16] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 867.
[17] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 253.
[18] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3984.
[19] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3556 dan  Muslim no hadist: 2769.
[20] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :3524.
[21] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist :772.
[22] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist :2192.
[23] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 23371 dan Tirmizi no hadist :542.
[24] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2362.
[25] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 303 dan Muslim no hadist :294.
[26] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 745 dan Nasa’I no hadist : 2361.
[27] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 168 dan Muslim no hadist :268.
[28] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist :373.

Kepribadian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam(2)

KEPRIBADIAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

قال كعب بن مالك رضي الله عنه: لقَلَّمَا كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إذَا خَرَجَ فِي سَفَرٍ إلَّا يَوْمَ الخَمِيسِ. أخرجه البخاري.

“Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu berkata: “Amat sedikit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk safar (pada hari yang lain)  saat ingin safar kecuali pada hari Kamis”. H.R. Bukhari. [1]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ، فَإذَا أَرَادَ الفَرِيْضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ. أخرجه البخاري.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat di atas kendaraannya beliau menghadap kearah mana kendaraannya menghadap, namun apabila hendak melakukan shalat fardhu maka beliau turun dari kendaraan lalu menghadap kiblat“. H.R. Bukhari.[2]

كان صلى الله عليه وسلم  يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّي وَلاَ يَتَوَضَّأُ.  أخرجه النسائي وابن ماجه

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri-istrinya lalu pergi shalat tanpa berwudhu kembali. H.R. Nasa’i dan Ibnu Majah. [3]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يُقبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ». متفق عليه

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berpuasa pernah bercumbu dan mencium istrinya, tapi dia sangat mampu mengendalikan (syahwat)  dirinya“. muttafaq alaih. [4]

كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- لا يَطْرُقُ أَهْلَهُ، كَانَ لا يَدْخُلُ إلَّا غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً». متفق عليه

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memasuki rumah istrinya pada waktu malam dan apabila masuk rumah maka beliau masuk  pada waktu pagi atau sore hari. Muttafaq alaih. [5]

كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يُحِبُّ العَسَلَ وَالحَلْوَاءَ، وَكَانَ إذَا انْصَرَفَ مِنَ العَصْرِ دَخَلَ عَلَى نِسَائِهِ فَيَدْنُو مِنْ إحْدَاهُنَّ». متفق عليه.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai madu dan sesuatu yang manis-manis, apabila beliau selesai menunaikan shalat asar maka beliau memasuki istri-istrinya lalu mendekati setiap orang dari mereka”.. Muttafaq alaih. [6]

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- القَمِيْصُ. أخرجه أبو داود والترمذي

Pakaian yang paling disukai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah qamis. H.R. Abu Daud dan Tirmizi. [7]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- إذَا أَرَادَ الحَاجَةَ أَبْعَدَ». أخرجه أحمد والنسائي.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak buang hajat maka beliau menjauh”. H.R. Ahmad dan Nasa’i. [8]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- لا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ إلَّا نَهَاراً فِي الضُّحَى، فَإذَا قَدِمَ بَدَأَ بِالمسْجِدِ، فَصَلَّى فِيْهِ رَكْعَتَينِ، ثُمَّ جَلَسَ فِيهِ». متفق عليه.

“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  datang dari suatu perjalan jauh kecuali pada siang hari di waktu dhuha, dan apabila beliau datang maka beliau singgah terlebih dahulu di masjid lalu shalat dua rakaat padanya barulah  beliau  duduk”. Muttafaq alaih. [9]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَلْبَسُ النِّعَالَ السِّبْتِيَّةَ، وَيُصَفِّرُ لِحْيَتَهُ بِالوَرْسِ وَالزَّعْفَرَانِ». أخرجه أبو داود والنسائي.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai terompah yang terbuat dari kulit sapi, beliau mewarnai janggutnya dengan warna kuning dari tumbuhan wars dan zafaron“. H.R. Abu Daud dan Nasa’i. [10]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يُوجِزُ فِي الصَّلاةِ وَيُتِمُّ». أخرجه مسلم.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan ringkas tapi sempurna”. H.R. Muslim. [11]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- لا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ أَو الغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ». أخرجه مسلم.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bangkit dari tempat beliau mengerjakan shalat shubuh atau shalat di waktu pagi kecuali setelah matahari terbit, dan apabila matahari telah terbit maka barulah beliau bangkit. H.R. Muslim. [12]

كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- مَرْبُوعاً، بَعِيدَ مَا بَيْنَ المَنْكِبَيْنِ، لَهُ شَعْرٌ يَبْلُغُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ». متفق عليه.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memiliki tinggi badan yang sedang, jarak antara kedua bahunya menjauh (berdada bidang), rambutnya panjang hingga daun telinga. Muttafaq alaih. [13]

كَانَ شَعَرُ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- رَجِلاً، لَيْسَ بِالسَّبِطِ وَلا الجَعْدِ، بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ». متفق عليه

“Rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berombak, tidak lurus dan tidak keriting, memanajng antara telinga dan bahu. Muttafaq alaih. [14]

كَانَ لِرَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- خَاتِمُ فِضَّةٍ يَتَخَتَّمُ بِهِ فِي يَمِينِهِ». أخرجه النسائي.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki cincin dari perak yang dipakai di tangan kanannya”. H.R. Nasa’i. [15]

كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- لا يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الغُسْلِ». أخرجه الترمذي والنسائي

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu lagi setelah mandi“. H.R. Tirmizi dan Nasa’i. [16]

كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَتَوَضَّأُ بِالمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ». أخرجه أبو داود والنسائي.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan air satu mud, dan mandi dengan satu sha’.” H.R. Abu Daud dan Nasa’i. [17]

كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ الإثْنَينِ والخَمِيسَ مِنْ هَذِهِ الجُمُعَةِ والإثْنينِ مِنَ المُقْبِلَةِ». أخرجه أبو داود والنسائي.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, senin dan kamis pekan ini dan pada hari  senin pada pekan depan. H.R. Abu Daud dan Nasa’i.[18]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِي آخِرَهُ». متفق عليه.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di awal malam dan tahajjud di akhir malam”. Muttafaq alaih.[19]

كَانَ- صلى الله عليه وسلم- يَبِيْتُ اللَّيَالِيَ المُتَتَابِعَةَ طَاوِياً، وَأَهْلُهُ لا يَجِدُوْنَ عَشَاءً، وَكَانَ عَامَّةُ خُبْزِهِمْ خُبْزَ الشَّعِيْرِ». أخرجه أحمد والترمذي.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam malam berlalu secara berturut-turut dalam keadaan lapar dan keluarga beliaupun tidak mendapat makan malam dan roti beliau umumnya terbuat dari gandum”. HR. Ahmad. [20]

((كان رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول ((إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ)) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hatiku kelabu dan sesungguhnya aku minta ampun kepada-Nya!, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali”. HR. Muslim. [21]

Kepribadian Nabi Hal.3

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2949.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 400.
[3] Hadist shahih diriwayatkan oleh Nasa’I no hadist : 170 dan Ibnu Majah no hadist : 502.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1927 dan Muslim no hadist : 1106.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1800 dan Muslim no hadist : 1928.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5268 dan Muslim no hadist : 1474.
[7] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4025 dan Tirmizi no hadist : 1762.
[8] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 15746 dan Nasa’i  no hadist : 16.
[9] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3088 dan Muslim no hadist : 716.
[10] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4210 dan Nasa’i no hadist : 5244.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 469.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 670.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3551 dan Muslim no hadist : 2337.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5905 dan Muslim no hadist : 2338.
[15] Hadist shahih diriwayatkan oleh Nasa’i no hadist : 5197.
[16] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 107 dan Nasa’i no hadist : 5197.
[17] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 92 dan Nasa’i no hadist : 2365.
[18] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 2451 dan Nasa’i no hadist : 2141.
[19] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1146 dan Muslim no hadist : 739.
[20] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad 2303.
[21] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2702.

Kepribadian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam(3)

KEPRIBADIAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

وكان صلى الله عليه وسلم يقول : (( إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ )) أخرجه ابن ماجه

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila datang kepadamu pembesar suatu kaum maka muliakanlah dia.” H.R. Ibnu Majah. [1]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((اللَّهُمَّ أَحْيِني مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ)) أخرجه ابن ماجه.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkan aku bersama rombongan orang-orang miskin“. H.R. Ibnu Majah. [2]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول : ((لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا)) متفق عليه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Andai kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. Muttafaq alaih.[3]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((أكثِرُوا ذكرَ هادِمِ اللذَّاتِ)) أخرجه الترمذي والنسائي.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (mati)”. H.R. Tirmizi dan Nasa’i. [4]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول :(( لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخاهُ فَوْقَ ثَلاثِ لَيالٍ، يَلْتَقِيانِ فيُعْرِضُ هذا ويُعْرِضُ هذا، وخَيْرُهُما الذي يَبْدَأُ بالسَّلامِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih tiga malam, mereka bertemu lalu yang ini memalingkan mukanya dan yang ini juga memalingkan mukanya, yang terbaik di antara mereka adalah yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq ’alaih. [5]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول : ((إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا؛ وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ- إِخْوَانًا )) متفق عليه.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hindarilah berburuk sangka karena sesungguhnya beburuk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta dan janganlah mencari-cari aib orang lain, dan janganlah suka memata-matai orang lain, dan janganlah saling berlomba mengambil hak orang, dan janganlah  saling dengki, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling tidak peduli, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara“. Muttafaq alaih .[6]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah orang yang suka melaknat mampu  memberikan syafa’at dan terhitung mati syahid  di hari kiamat tidak diterima”. HR. Muslim. [7]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: (( … مِنْ شَرِّ النَّاسِ  ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِيْ يَأْتِيْ هؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَ هؤُلَاءِ بِوَجْهٍ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… manusia yang paling jahat adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kelompok ini dengan satu muka dan kepada kelompok itu dengan muka yang lain”. Muttafaq ’alaih. [8]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((لْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بها كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka janganlah menganiaya saudaranya, dan menyerahkannya kepada musuh, baragsiapa yang berusaha memenuhi  hajat saudaranya, maka Allah  akan memenuhi hajatnya, dan barangsiapa yang melepaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah melepaskannya dari kesulitan di hari kiamat, dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menjaganya di hari kiamat”. Muttafaq ’alaih . [9]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ- إِخْوَانًا. وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian saling benci, saling dengki, dan jangan saling membelakangi (saling menjauh), dan jangan saling memutuskan hubungan dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga  hari”. Muttafaq ’alaih. [10]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ: حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hindarilah berbuat zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah  kegelapan di hari kiamat, dan hindarilah sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian; sifat ini membawa mereka saling menumpahkan darah, dan menghalalkan hal yang telah diharamkan oleh Allah .” HR. Muslim . [11]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ)) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihat orang yang suka memuji maka taburkanlah tanah ke wajah mereka”. HR. Muslim. [12]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ)) أخرجه مسلم.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian menganggap suci diri kalian, Allah yang lebih mengetahui siapa yang banyak berbuat baik di antara kalian. H.R. Muslim . [13]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ المَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مَا كَانَتْ الحَيَاةُ خَيْرًا ِليْ ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا كَانَتْ الوَفَاةُ خَيْرًا لِيْ)) مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian berangan-angan mati karena musibah yang menimpanya, namun jika mesti harus melakukannya maka hendaklah dia mengatakan:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مَا كَانَتْ الحَيَاةُ خَيْرًا ِليْ ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا كَانَتْ الوَفَاةُ خَيْرًا لِيْ.

“Ya Allah hidupkanlah aku selagi hidup itu lebih baik untukku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik untukku”. Muttafaq ’alaih. [14]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ)) أخرجه مسلم

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mampu memberi manfaat untuk saudaranya maka lakukanlah”. H.R. Muslim . [15]

وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menganggu tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah yang baik atau diam”. Muttafaq ’alaih. [16]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Hadist hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah no hadist 3712.
[2] Hadist hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah no hadist 4126.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 4621 dan Muslim no hadist : 2359.
[4] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 2307 dan Nasa’i no hadist : 1824.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6237 dan Muslim no hadist : 6520.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6066 dan Muslim no hadist : 2563.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2598.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6058 dan Muslim no hadist : 2525.
[9] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2443 dan Muslim no hadist : 2580.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6065 dan Muslim no hadist : 2559.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2578.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 3002.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2142.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6351 dan Muslim no hadist : 2680.
[15] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2142.
[16] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6475 dan Muslim no hadist : 47.