Author Archives: editor

Gambaran Naungan Surga

GAMBARAN SURGA

Gambaran naungan surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا [النساء : ٥٧] 

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. [An-Nisaa/4: 57].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ ٢٧ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ ٢٨ وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ ٢٩ وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ [الواقعة: ٢٧،  ٣٠] 

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas. [Al-Waqi’ah/56: 27-30].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا شَمۡسٗا وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ١٣ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا [الانسان: ١٣،  ١٤] 

Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. * Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. [Al-Insaan/76: 13-14].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ [الرعد: ٣٥] 

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah (seperti taman),, mengalir sungai-sungai didalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang yang kafir ialah neraka.[Ar-Ra’d/13: 35].

Tinggi dan Luasnya Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاعِمَةٞ ٨ لِّسَعۡيِهَا رَاضِيَةٞ ٩ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ ١٠ لَّا تَسۡمَعُ فِيهَا لَٰغِيَةٗ [الغاشية: ٨،  ١١] 

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. [Al-Ghasyiyah/88: 8-11].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ [ال عمران: ١٣٣] 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, [Ali Imran/3: 133].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ [الحديد: ٢١] 

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah Subahanhu wa Ta’ala mempunyai karunia yang besar. [Al-Hadid/57: 21].

Kedudukan Tertinggi di Surga.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنه سمع النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذَا سَمِعْتُمُ المؤذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً، صَلَّى اللهُ عَلَيهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». أخرجه مسلم.

Sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu mendengar seseorang mengumandangkan azan maka ucapkanlah seperti apa yang dia katakan, kemudian ucapkan shalawat kepadaku, sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku sekali niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mohonkan wasilah untukku, karena ia adalah kedudukan di surga yang tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon wasilah untukku niscaya ia mendapat syafaatku.” (HR. Muslim).[1]

Penghuni Surga yang Mendapat Kedudukan Tertinggi dan Terendah.
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu.

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الجَنَّةَ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلكِ مَلِكٍ مِن مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيْتُ رَبِّ، فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، فَقَالَ فِي الخَامِسَةِ رَضِيتُ رَبِّ، فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ، وَلَذَّتْ عَيْنُكَ، فَيَقُولُ: رَضِيْتُ رَبِّ قَالَ: رَبِّ فَأَعْلاهُمْ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: أَوْلَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُّ، غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ» قال: ومصداقه في كتاب الله عز وجل: {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ}. أخرجه مسلم.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Musa Alaihissallam bertanya kepada Rabb-nya, ‘Seperti apakah kedudukan penghuni surga yang terendah?’ Dia Subhanahu wa Ta’ala menjawab, ‘Dia adalah seseorang yang datang setelah semua penghuni surga memasuki surga. Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga.’ Ia menjawab, ‘Wahai Rabb, bagaimana? Sedangkan semua manusia telah menempati tempat dan mengambil jatah mereka. Dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu ridha/senang mendapatkan seperti kerajaan seorang raja dari raja-raja dunia?’ Ia menjawab, ‘Aku senang, Wahai Rabb-ku.’ Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berfirman, ‘Itu untukmu dan seumpamanya, seumpamanya, seumpamanya, dan seumpamanya. Maka ia berkata pada yang kelima, ‘Aku senang, wahai Rabb.’ Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berfirman, ‘Ini untukmu dan sepuluh seumpamanya, dan untukmu apa yang diinginkan hatimu dan disenangi matamu.’ Ia menjawab, ‘Aku senang, wahai Rabb.’ Dia (Musa a.s) bertanya, ‘Rabb, seperti apakah yang tertinggi kedudukan?’ Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berfirman, ‘Mereka adalah orang-orang yang Aku inginkan, Aku tanamkan kemuliaan mereka dengan tangan-Ku, dan Aku tutup atasnya. Yang belum pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dibenak manusia.” Dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda: “Dan kebenarannya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata).” (HR. Muslim).[2]

وفي لفظ في بيان أدنى أهل الجنة: «فَإنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا». متفق عليه

Dan dalam satu lafazh dalam penjelasan penghuni surga yang terendah: “Sesungguhnya untukmu seperti dunia dan sepuluh kali seumpamanya.” (Muttafaqun ‘alaih).[3]

Kenikmatan Terbesar Penghuni Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ [القيامة: ٢٢،  ٢٣] 

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. [Al-Qiyamah/75: 22-23].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن ناساً قالوا لرسول الله- صلى الله عليه وسلم-: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة؟ فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ؟». قالوا: لا يا رسول الله، قال: «هَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟». قالوا: لا يا رسول الله، قال: «فَإنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ». متفق عليه

Sesungguhnya manusia (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, apakah kami bisa melihat Rabb kami pada hari kiamat?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu kesulitan dalam melihat bulan di malam purnama?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apakah kamu kesulitan (melihat) matahari yang tidak ada awan?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kamu melihat-Nya seperti itu.” (Muttafaqun ‘alaih).[4]

Shuhaib Radhiyallahu anhu mengatakan.

عن صهيب رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا دَخَلَ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، تُرِيدُونَ شَيْئاً أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئاً أَحَبَّ إلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ». أخرجه مسلم

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila penghuni surga telah memasuki surga. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kamu menghendaki sesuatu yang Ku-tambah untukmu?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan mengeluarkan kami dari neraka?’ Dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, ‘Lalu Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) membuka hijab. Maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka senangi selain memandang Rabb (Allah Subhanahu wa Ta’ala).’ (HR. Muslim).[5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. Muslim No 384.
[2]  HR. Muslim No. 189.
[3]  Muttafaqun ‘alaih. HR.  Bukhari No 6571 dan Muslim No. 186.
[4]  Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari No. 806 dan Muslim 182. dan ini adalah lafaznya.
[5]  HR. Muslim No. 181.

Gambaran Kenikmatan Surga

GAMBARAN KENIKMATAN SURGA.

Ini adalah sebagian dari gambaran kenikmatan surga, kenikmatan abadi yang ada padanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kami, Anda dan semua kaum muslimin termasuk dari penghuninya. Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ مُسۡلِمِينَ ٦٩ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ أَنتُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ تُحۡبَرُونَ ٧٠ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِصِحَافٖ مِّن ذَهَبٖ وَأَكۡوَابٖۖ وَفِيهَا مَا تَشۡتَهِيهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡيُنُۖ وَأَنتُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٧١ وَتِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِيٓ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٧٢ لَكُمۡ فِيهَا فَٰكِهَةٞ كَثِيرَةٞ مِّنۡهَا تَأۡكُلُونَ   [الزخرف: ٦٩،  ٧٣] 

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”.  Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.  Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan. [Az-Zukhruf/43: 69-73].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٖ ٥١ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ ٥٢ يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٖ وَإِسۡتَبۡرَقٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ٥٣ كَذَٰلِكَ وَزَوَّجۡنَٰهُم بِحُورٍ عِينٖ ٥٤ يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ ٥٥ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰۖ وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ [الدخان: ٥١،  ٥٦] 

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal,(duduk) berhadap-hadapan, demikianlah.Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memelihara mereka dari azab neraka. [Ad-Dukhaan/44: 51-56].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُواْ جَنَّةٗ وَحَرِيرٗا ١٢ مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا شَمۡسٗا وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ١٣ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ١٤ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم بِ‍َٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ ١٥ قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ١٦ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ١٧ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ١٨ ۞وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ حَسِبۡتَهُمۡ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ١٩ وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا ٢٠ عَٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٞ وَإِسۡتَبۡرَقٞۖ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٖ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابٗا طَهُورًا ٢١ إِنَّ هَٰذَا كَانَ لَكُمۡ جَزَآءٗ وَكَانَ سَعۡيُكُم مَّشۡكُورًا [الانسان: ١٢،  ٢٢] 

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). [Al-Insaan/76: 12-22].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ ١٠ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ١١ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ١٢ ثُلَّةٞ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٣ وَقَلِيلٞ مِّنَ ٱلۡأٓخِرِينَ ١٤ عَلَىٰ سُرُرٖ مَّوۡضُونَةٖ ١٥ مُّتَّكِ‍ِٔينَ عَلَيۡهَا مُتَقَٰبِلِينَ ١٦ يَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ ١٧ بِأَكۡوَابٖ وَأَبَارِيقَ وَكَأۡسٖ مِّن مَّعِينٖ ١٨ لَّا يُصَدَّعُونَ عَنۡهَا وَلَا يُنزِفُونَ ١٩ وَفَٰكِهَةٖ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ ٢٠ وَلَحۡمِ طَيۡرٖ مِّمَّا يَشۡتَهُونَ ٢١ وَحُورٌ عِينٞ ٢٢ كَأَمۡثَٰلِ ٱللُّؤۡلُوِٕ ٱلۡمَكۡنُونِ ٢٣ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢٤ لَا يَسۡمَعُونَ فِيهَا لَغۡوٗا وَلَا تَأۡثِيمًا ٢٥ إِلَّا قِيلٗا سَلَٰمٗا سَلَٰمٗا [الواقعة: ١٠،  ٢٦]

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman  Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Berada dalam surga-surga kenikmatan  Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada diatas dipan yang bertahtahkan emas dan permata, seraya bertelekan diatasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, Dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa  akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. (QS. [Al-Waqi’ah/56: 10-26].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ ٢٧ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ ٢٨ وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ ٢٩ وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ ٣٠ وَمَآءٖ مَّسۡكُوبٖ ٣١ وَفَٰكِهَةٖ كَثِيرَةٖ ٣٢ لَّا مَقۡطُوعَةٖ وَلَا مَمۡنُوعَةٖ ٣٣ وَفُرُشٖ مَّرۡفُوعَةٍ ٣٤ إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءٗ ٣٥ فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا ٣٦ عُرُبًا أَتۡرَابٗا ٣٧ لِّأَصۡحَٰبِ ٱلۡيَمِينِ ٣٨ ثُلَّةٞ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ ٣٩ وَثُلَّةٞ مِّنَ ٱلۡأٓخِرِينَ [الواقعة: ٢٧،  ٤٠] 

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusin-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang terdahulu, (dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.). [Al-Waqi’ah/56: 27-40].

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengatakan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «قَالَ اللهُ عَزّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُّ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ». مصداق ذلك في كتاب الله {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}. متفق عليه

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Kebenaran hal itu dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ [السجدة : ١٧] 

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [As-Sajdah/32: 17].  Muttafaqun ‘alaih.[1]

Sebutan dan Pembicaraan Penghuni Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي صَدَقَنَا وَعۡدَهُۥ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُۖ فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ [الزمر: ٧٣] 

Dan mereka mengucapkan:”Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja kami kehendaki”. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. [Az-Zumar/39: 74].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمۡ فِيهَا سَلَٰمٞۚ وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [يونس : ١٠] 

Do’a mereka di dalamnya ialah:”SubhanakAllahumma” dan salam penghormatan mereka ialah:”Salaam”. Dan penutup doa mereka ialah:”Alhamdulillaahi Rabbil’aalamin”. [Yunus/10: 10].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَا يَسۡمَعُونَ فِيهَا لَغۡوٗا وَلَا تَأۡثِيمًا ٢٥ إِلَّا قِيلٗا سَلَٰمٗا سَلَٰمٗا [الواقعة: ٢٥،  ٢٦] 

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa  akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.[Al-Waqi’ah/56: 25-26].

Ξ Salam Allah Kepada Penghuni Surga

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Muttafaqun ‘alaih . HR. Bukhari No 3244 dan Muslim No 2824 dan ini adalah lafazhnya.

Salam Rabb (Allah) Kepada Para Penghuni Surga

Salam Rabb (Allah) Kepada Para Penghuni Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

تَحِيَّتُهُمۡ يَوۡمَ يَلۡقَوۡنَهُۥ سَلَٰمٞۚ وَأَعَدَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَرِيمٗا [الاحزاب : ٤٤] 

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah:”Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. [Al-Ahzab/33: 44].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَلَٰمٞ قَوۡلٗا مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ [يس: ٥٨] 

(Kepada mereka dikatakan):”Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang. [Yasin/36: 58].

Bertemu Keridhaan.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ اللهَ يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ، يَا أَهْلَ الجَنَّةِ، فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ فِي يَدَيكَ، فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ: أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي، فَلا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَداً». متفق عليه

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penghuni surga, ‘Wahai penghuni surga.’ Mereka menjawab, ‘(Kami) memenuhi panggilan-Mu wahai Rabb kami, kebaikan ada di Tangan-Mu. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kamu ridha?’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana kami tidak ridha wahai Rabb kami, Engkau telah memberikan kepada kami apa-apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seseorang dari makhluk Engkau.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Maukah Engkau Ku-berikan yang lebih utama dari semua itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rabb, apakah yang lebih utama dari semua itu?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku tempatkan kepadamu ridha-Ku, maka Aku tidak akan marah kepada-Mu selama-lamanya sesudahnya.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

اللهم ارض عنا، وعن والدينا، وأهلينا، والمسلمين أجمعين، وأدخلنا برحمتك في جنات النعيم

Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, ridhailah kami, kedua orang tua kami, keluarga kami dan semua kaum muslimin, dan masukkanlah kami dengan rahmat-Mu di dalam surga yang penuh kenikmatan.

Barisan Penghuni Surga.
Burairah Radhiyallahu anhu berkata.

عن بريدة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَهْلُ الجَنَّةِ عِشْرُونَ وَمِائَةُ صَفٍّ، ثَمَانُونَ مِنْهَا مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ، وَأَرْبَعُونَ مِنْ سَائِرِ الأُمَمِ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghuni surga terdiri dari seratus dua puluh (120) shaf (baris). Delapan puluh (80) darinya berasal dari umat ini dan empat puluh (40) dari semua umat.” HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[2]

Ukuran umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Dalam Surga.
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: كنا مع النبي- صلى الله عليه وسلم- في قُبَّةٍ فقال: «أَتَرْضَونَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ؟» قلنا نعم قال: «أَتَرْضَونَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ؟» قلنا نعم، قال: «أَتَرْضَونَ أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الجَنَّةِ؟» قلنا: نعم، قال: «إنِّي لأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَذَلِكَ أَنَّ الجَنَّةَ لا يَدْخُلُهَا إلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إلَّا كَالشَّعْرَةِ البَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّورِ الأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّورِ الأَحْمَرِ». متفق عليه.

‘Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kubah, Beliau bersabda: “Apakah kamu senang menjadi seperempat (1/4) penghuni surga? Kami menjawab, ‘Ya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallan bersabda: “Apakah kamu senang menjadi sepertiga (1/3) penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu senang menjadi setengah (1/2) penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh aku berharap agar kamu menjadi setengah (1/2) penghuni surga. Hal itu sesungguhnya tidak bisa memasuki surga selain jiwa yang muslim (berserah diri). Tiadalah kalian dibandingkan kaum musyrik kecuali bagaikan rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut/bulu yang hitam di kulit sapi yang merah.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

Penghuni Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [البقرة: ٨٢] 

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Al-Baqarah/2: 82].

Dari ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu.

عن عياض بن حمار رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «.. وَأَهْلُ الجَنَّةِ ثَلاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيْمٌ رَقِيقُ القَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ..». أخرجه مسلم.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghuni surga ada tiga: (1)Pemilik kekuasaan yang adil, bersedekah, lagi diberi taufik, (2)laki-laki yang penyayang, berhati lembut bagi setiap kerabat dan setiap muslim, (3)orang yang suci, menjaga diri, lagi memiliki keluarga…” HR. Muslim.[4]

Dari Haritsah bin Wahb Radhiyallahu anhu.

عن حارثة بن وهب رضي الله عنه أنه سمع النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجَنَّةِ؟» قالوا: بَلَى، قال- صلى الله عليه وسلم-: «كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَو أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ…». متفق عليه

Sesungguhnya dia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kamu kukabarkan tentang penghuni surga?’ Mereka menjawab, ‘Tentu.’ Beliau bersabda: “Yaitu setiap orang yang lemah lagi dipandang lemah, yang jika bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia Subhanahu wa Ta’ala mengabulkannya…” Muttafaqun ‘alaih.[5]

Kebanyakan Penghuni Surga.

عن عمران بن حصين رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «اطَّلَعْتُ فِي الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ». متفق عليه.

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda: “Aku menengok dalam surga, maka aku melihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir, dan aku menengok neraka, maka aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.”[6]

Orang Terakhir yang Memasuki Surga.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ آخِرَ أَهْلِ الجَنَّةِ دُخُولاً الجَنَّةَ، وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجاً مِنَ النَّارِ: رَجُلٌ يَخْرُجُ حَبْواً، فَيَقُولُ لَهُ رَبُّهُ: ادْخُلِ الجَنَّةَ، فَيَقُولُ: رَبِّ، الجَنَّةُ مَلأى، فَيَقُولُ لَهُ ذَلِكَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ، فَكُلَّ ذَلِكَ يُعيدُ عَلَيهِ: الجَنَّةُ مَلأى، فَيَقُولُ: إنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا عَشْرَ مِرَارٍ». متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga yang terakhir masuk surga dan penghuni neraka yang terakhir keluar dari neraka adalah seorang laki-laki yang keluar merangkak, Rabb-nya berfirman kepadanya: ‘Masuklah ke surga.’ Ia menjawab, ‘Rabb, surga sudah penuh.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan hal itu kepadanya sebanyak tiga kali. Semua itu ia mengulangi ucapannya: Surga sudah penuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya bagimu seperti dunia sepuluh kali lipat.” Muttafaqun ‘alaih.[7]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
________
Footnote
[1]  Muttafaqun ‘alaihi. HR. Bukhari No. 6549 dan Muslim No. 2829 dan ini adalah lafazhnya.
[2]  Shahih/ HR. At-Tirmidzi No. 2546 dan ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Tirmizi no 2065, Ibnu Majah no. 4289, Shahih Sunan Ibnu Majah No. 3462.
[3]  Muttafaqun ‘alaih HR. Bukhari No 6528 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim No 221.
[4]  HR. Muslim No. 2865.
[5]  HR. Bukhari No. 4918 dan Muslim No. 2853 dan ini adalah lafazhnya.
[6]  Muttafaqun ‘alaih HR. Bukhari No. 3241 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim No. 2737.
[7]  Muttafaqun ‘alaih HR. Bukhari No. 7511 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim No. 186.

Ta’ziyah

TA’ZIYAH

Disunnahkan berta’ziyah kepada yang mendapat musibah kematian sebelum dimakamkan atau sesudahnya. Dikatakan kepada yang mendapat musibah kematian seorang muslim:

إنَّ للهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ». متفق عليه.

‘Sesungguhnya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang Dia ambil dan bagi-Nya apa yang Dia beri, segala sesuatu di sisinya dengan waktu yang sudah ditentukan, maka hendaklah engkau sabar dan mengharap pahala.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Disunnahkan ta’ziyah kepada keluarga mayit dan tidak ada batas baginya. Ia berta’ziyah kepada mereka dengan sesuatu yang bisa menghibur mereka, menahan dari duka cita mereka, dan mendorong mereka untuk sabar dan ridha dalam batas-batas syara’, dan berdoa untuk mayit dan yang berduka.

Boleh berta’ziyah di setiap tempat : Pemakaman, pasar, mushalla, masjid, rumah.

Keluarga mayit boleh berkumpul dalam sebuah rumah atau satu tempat, lalu yang ingin berta’ziyah menuju mereka, memberi ta’ziyah, kemudian ia pulang.

Keluarga mayit tidak boleh menentukan pakaian khusus untuk ta’ziyah, seperti pakaian hitam umpamanya, karena padanya mengandung sikap murka terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dibolehkan berta’ziyah kepada orang kafir tanpa mendoakan mayat mereka jika mereka tidak menampakkan permusuhan terhadap agama Islam dan orang-orang muslim.

Disunnahkan membuat makanan untuk keluarga mayit dan mengirimnya kepada mereka, dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk membuat makanan untuk manusia dan mereka berkumpul atasnya.

Hukum Menangisi Jenazah.
Boleh menangisi jenazah jika tidak disertai ratapan. Dan haram merobek pakaian, memukul pipi, meninggikan suara dan semisalnya. Dan mayit disiksa –maksudnya merasa sakit dan gelisah- dalam kuburnya bila diratapi atasnya dengan wasiat darinya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم وَأَنْتَ يَا رَسُولَ الله فَقَالَ: «يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ» ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ- صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ». متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata; Kami bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim ‘alaihissalam (putra Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam). Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengambil Ibrahim dan menciumnya.

Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah Shallallahu ’alaihi  wa sallam berlinang air mata. Lalu berkatalah  ‘Abdurrahman bin ‘Auf  Radhiyallahu ‘anhu kepada beliau : “Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya  ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang)“.

Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: “Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim  pastilah bersedih”. Muttafaqun ‘alaihi

عن عبد الله بن جعفر رضي الله عنهما أن النبي- صلى الله عليه وسلم- أَمْهَلَ آلَ جَعْفَرٍ ثَلاثاً أَنْ يَأْتِيَهُمْ، ثُمَّ أَتَاهُمْ فَقَالَ: «لا تَبْكُوا عَلَى أَخِي بَعْدَ اليَومِ»، ثم قال: «ادْعُوا لِي بَنِي أَخِي» فَجِيءَ بِنَا كَأَنَّا أَفْرُخٌ فقال: «ادْعُوا لِي الحَلَّاقَ» فأمره فحلق رؤوسنا. أخرجه أبو داود والنسائي

Dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tempo kepada keluarga Ja’far Radhiyallahu anhu selama tiga hari bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka. Kemudian beliau datang kepada mereka, lalu berkata, ‘Janganlah kamu menangisi saudaraku setelah hari ini.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Panggilkan anak-anak saudaraku untukku.’ Lalu kami dibawa, seolah-olah kami adalah anak-anak burung, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Panggilkan tukang cukur untukku.’ Lalu beliau menyuruhnya (agar mencukur rambut kami) lalu ia mencukur rambut kami.‘ HR. Abu Daud dan an-Nasa`i.[2]

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «المَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ». متفق عليه.

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Mayit disiksa di dalam kubur karena ratapan atasnya.’[3]

Ziarah kubur

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 7377, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 923
[2] Shahih/ HR. Abu Daud no. 4192, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud, dan an-Nasa`i no. 5227, Shahih Sunan an-Nasa`i no. 4823
[3]  HR. al-Bukhari no. 1292, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 927.

Ziarah Kubur

ZIARAH KUBUR

Disunnahkan ziarah kubur bagi laki-laki karena ziarah itu mengingatkan akhirat dan kematian. Ziarah adalah untuk mengambil pelajaran, nasehat, mengucap salam dan berdoa untuk mereka, bukan untuk meminta doa mereka, atau meminta berkah dengan mereka, atau dengan tanah kubur mereka. Semua itu tidak dibolehkan.

Diharamkan kepada semua yang hidup meminta doa yang sudah mati, istighotsah dengan mereka, meminta mereka menunaikan hajat dan menghilangkan kesusahan, berkeliling di atas kubur para nabi dan orang-orang shalih dan selain mereka, menyembelih di samping kubur mereka, dan menjadikannya masjid. Semua itu termasuk perbuatan syirik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam pelakunya dengan neraka.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ: «لَعَنَ الله اليَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِد». قَالَتْ: فَلَوْلا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أنَّهُ خُشِيَ أنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. متفق عليه

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sakitnya yang beliau tidak bangun lagi darinya, ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutuk kaum Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.’ Ia (‘Aisyah) berkata, ‘Kalau bukan karena alasan itu niscaya kuburnya dinampakkan, akan tetapi dikhawatirkan dijadikan sebagai masjid.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Yang dibaca saat memasuki pemakaman dan ziarah kubur.

السَّلامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ الله المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالمُسْتَأْخِرِينَ، وَإنَّا إنْ شَاءَ الله بِكُمْ لَلَاحِقُونَ. أخرجه مسلم.

‘Kesejahteraan kepada penghuni negeri (alam kubur) dari golongan mukminin dan muslimin, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada yang terdahulu dari kami dan yang (menyusul) kemudian, dan kami –insya Allah- akan menyusul kalian.’ HR. Muslim[2]

Atau membaca:

السَّلامُ عَلَيكُمْ دَارَ قَومٍ مُؤْمِنِينَ، وَإنَّا إنْ شَاءَ الله بِكُمْ لاحِقُونَ. أخرجه مسلم.

‘Kesejahteraan atasmu, wahai penghuni negeri kaum mukminin, dan sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusulmu.’ HR. Muslim[3]

Atau membaca:

السَّلامُ عَلَىكم أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالمُسْلِمِينَ، وَإنَّا إَنْ شَاءَ الله للَاحِقُون، أَسْأَلُ الله لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ. أخرجه مسلم.

‘Kesejahteraan atasmu, wahai penghuni negeri dari kaum mukminin dan muslimin, dan sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusul, aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala afiyat untuk kami dan kamu.’ HR. Muslim[4]

Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita.
Ziarah kubur bagi wanita termasuk dosa besar, tidak boleh bagi wanita melaksanakan ziarah kubur. Akan tetapi apabila ia melewati pemakaman tanpa bermaksud ziarah kubur, maka disunnahkan ia memberi salam kepada penghuni kubur dan berdoa untuk mereka dengan apa yang diriwayatkan, tanpa memasukinya.

Keadaan-keadaan Orang yang Melakukan Ziarah Kubur.
Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk yang mati dan memohon ampunan untuk mereka, mengambil nasehat dengan kondisi orang mati dan mengingat akhirat, maka ini adalah ziarah yang disyari’atkan.

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dirinya atau untuk selain dirinya seraya meyakini bahwa berdoa di samping kubur lebih utama dari pada di masjid, maka ini adalah bid’ah yang mungkar.

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil bertawassul dengan jaah atau haqq (kedudukan/keutamaan) fulan, seperti ia berkata, ‘Aku memohon kepadamu ya Rabb dengan Jaah fulan.’ Ini diharamkan, karena ia adalah sarana menuju syirik.

Tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi berdoa kepada penghuni kubur, seperti ia berkata, ‘Wahai Nabi Allah, atau wahai waliyullah, atau wahai fulan berilah kepadaku seperti ini, atau sembuhkanlah aku dan semisal yang demikian itu, maka ini termasuk syirik besar.

Boleh ziarah kubur orang yang mati di luar Islam hanya untuk mengambil pelajaran, tidak boleh berdoa untuknya, tidak boleh memintakan ampun untuknya, bahkan ia mengabarkannya dengan nereka.

Pemakaman adalah tempat mengambil nasehat dan pelajaran, tidak boleh dilakukan penghijauan, pengubinan, penerangan, dan apapun juga yang termasuk keindahan.

Yang Mengikuti Jenazah Setelah Kematiannya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَه وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُه وَمَالُهُ وَعَمَلُه، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ» متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yang mengikuti jenazah ada tiga, maka kembali yang dua dan yang satu tetap bersamanya. Yang mengiringinya adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. lalu kembali keluarga dan hartanya dan tinggallah amalnya.‘ Muttafaqun alaih.[5]

Melakukan ibadah dari seorang muslim untuk muslim yang lain yang masih hidup atau sudah meninggal dunia hukumnya tidak boleh selain dalam batas-batas yang terdapat dalam syara’, seperti berdoa untuknya, memintakan ampunan untuknya, melaksanakan haji dan umrah sebagai badal darinya, bersedekah untuknya, dan puasa wajib untuk orang yang sudah meninggal dan ia punya tanggungan puasa wajib seperti nazar. Adapun menyewa sekelompok orang yang membaca al-Qur`an dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit, maka ia termasuk perbuatan bid’ah yang baru.

Ξ Kitab jenazah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no.1330 dan Muslim no. 529, ini adalah lafazhnya.
[2] HR. Muslim no. 974
[3] HR. Muslim no. 249
[4] HR. Muslim no. 975
[5] HR. al-Bukhari no. 6514, ini adalah lafazdnya, dan Muslim no. 296

Kitab Zakat

KITAB ZAKAT

1. PENGERTIAN ZAKAT HUKUM DAN KEUTAMAANNYA
Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai macam bentuk ibadah. Diantaranya yang berhubungan dengan badan seperti shalat, ada yang berhubungan dengan memberikan harta yang disukai jiwa seperti zakat dan sedekah, ada yang berhubungan dengan badan dan memberikan harta seperti haji dan jihad, ada yang berhubungan dengan menahan diri dari yang disukai dan diinginkan seperti puasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat variasi dalam ibadah untuk menguji hamba, siapa yang mendahulukan taat kepada Rabb-nya atas hawa nafsunya, dan supaya setiap orang melakukan ibadah yang mudah dan sesuai baginya.

Harta tidak berguna bagi pemiliknya kecuali apabila terpenuhi tiga syarat:

  1. Harta itu adalah harta yang halal
  2. Tidak menyibukkan pemiliknya dari taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.
  3. Ia menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala padanya.

Zakat: (secara etimologi) berarti berkembang dan bertambah. Dan pengertiannya (secara terminologi) adalah hak wajib pada harta tertentu untuk golongan tertentu di waktu tertentu.

Zakat diwajibkan di Makkah, adapun penentuan nishabnya, penjelasan harta yang dizakati, dan penjelasan penyalurannya maka di kota Madinah pada tahun kedua Hijriyah.

Hukum Zakat.
Zakat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat dan shalat, ia adalah rukun ketiga dari rukun Islam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [التوبة: 103]

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [At-Taubah/9:103]

Hikmah disyari’atkannya zakat.
Mengambil harta zakat bukanlah bertujuan mengumpulkan harta dan membagikannya kepada fakir miskin dan yang membutuhkan saja. Tetapi tujuan utamanya adalah agar manusia berada diatas harta, agar ia menjadi tuan bagi harta, bukan menjadi hamba harta. Dan dari sini datanglah kewajiban zakat untuk mensucikan yang memberi dan yang menerima, dan membersihkan keduanya.

Zakat, sekalipun secara lahiriahnya mengurangi jumlah harta, akan tetapi dampaknya menambah keberkahan harta, menambah jumlah harta, menambah iman di hati pelakunya, dan menambah kemuliaan akhlaknya. Ia adalah pengorbanan dan pemberian, mengorbankan yang disukai jiwa demi hal yang lebih dicintai, yaitu ridha Rabb-nya Subhanahu wa Ta’ala dan meraih surga-Nya.

Tatanan harta di dalam Islam berdiri di atas dasar pengakuan bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala pemilik asli terhadap harta. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mempunyai hak dalam mengatur persoalan kepemilikan, mewajibkan hak-hak dalam harta, membatasi dan menentukannya, menjelaskan penyalurannya, cara-cara memperoleh dan membelanjakannya.

Zakat menebus segala kesalahan, ia adalah penyebab masuk surga dan selamat dari neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan dan mendorong untuk menunaikan zakat, karena zakat mengandung pembersihan jiwa dari kehinaan bakhil dan kikir. Ia merupakan jembatan kuat yang menghubungkan  antara orang-orang kaya dan orang-orang fakir, sehingga jiwa menjadi bersih, hati menjadi baik, dada menjadi lapang, dan semua menikmati rasa aman, cinta dan persaudaraan.

Zakat menambah kebaikan orang yang menunaikannya, memelihara hartanya dari segala penyakit, membuahkannya, mengembangkannya, dan menambahnya, menutupi kebutuhan fakir miskin, menghalangi kriminalitas dalam bidang harta seperti pencurian, perampasan, dan perampokan.

Ukuran-ukuran zakat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kadar/ukuran zakat berdasarkan tingkat kesusahan memperoleh harta yang dikeluarkan zakatnya tersebut:

Dia Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan pada harta rikaz, yaitu sesuatu yang ditemukan dari kuburan/yang dikubur oleh orang jahiliyah (harta karun), tanpa susah payah, yaitu seperlima (1/5)=20%.

Yang kesusahannya hanya dari satu pihak, yaitu yang disirami tanpa biaya, zakatnya sepersepuluh (1/10)=10%.

Yang kesusahannya dari dua pihak (bibit dan menyiram), yaitu yang disiram dengan biaya, zakatnya seperduapuluh (1/20)= 5%.

Yang mengandung banyak kesusahan dan ketidakmenentuan sepanjang tahun, seperti uang, barang dagangan, zakatnya seperempat puluh (1/40)=2,5%.

Keutamaan menunaikan zakat.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ لَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ [البقرة: ٢٧٧] 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [Al-Baqarah/2:277]

Zakat wajib dikeluarkan pada harta yang besar dan kecil, laki-laki dan perempuan, kurang waras dan gila, apabila harta itu bersifat tetap, sampai nisab, sampai satu tahun, dan pemiliknya seorang muslim yang merdeka.

Orang kafir tidak wajib mengeluarkan zakat, juga tidak wajib ibadah-ibadah yang lain. Akan tetapi nanti akan dihisab di hari kiamat. Adapun di dunia maka tidak diwajibkan dan tidak diterima darinya sampai ia masuk Islam.

Yang keluar dari bumi, hasil peternakan dan hasil perdagangan, diwajibkan zakat bila telah mencapai nisab dan tidak disyaratkan baginya (yang keluar dari bumi) sempurna satu tahun. Adapun harta rikaz, sedikit atau banyak wajib dikeluarkan zakatnya dan tidak disyaratkan sampai nisab dan satu tahun.

Hasil peternakan dan keuntungan perdagangan, haul keduanya adalah haul asalnya, jika telah mencapai nisab.

Barang siapa yang mempunyai tagihan hutang kepada orang yang mampu, maka ia mengeluarkan zakatnya jika telah dilunasi hutangnya, yang lebih utama adalah menzakatinya sebelum dilunasi. Jika tagihan hutang itu kepada orang yang tidak mampu atau suka memperlambat, maka ia mengeluarkan zakatnya untuk satu tahun bila telah mengambilnya.

Zakat Harta Wakaf.
Harta wakaf untuk keperluan sosial yang bersifat umum, seperti masjid, sekolah, tempat ibadah, dan semisalnya tidak terkena kewajiban zakat. Dan setiap apa yang disediakan untuk infak di jalan-jalan kebaikan yang bersifat umum, maka hukumnya sama seperti wakaf, tidak ada kewajiban zakat padanya. Dan wajib zakat pada harta wakaf untuk orang yang telah ditentukan, seperti anak-anaknya umpamanya.

Zakat wajib secara mutlak, sekalipun yang berzakat mempunyai tanggungan hutang yang mengurangi nisab, kecuali hutang yang harus dibayar sebelum jatuh tempo kewajiban mengeluarkan zakat, maka ia harus membayar hutangnya, kemudian mengeluarkan zakat apa yang tersisa sesudahnya, dan dengan hal itu ia terlepas dari tanggung jawab.

Wajib mengeluarkan zakat dalam bentuk harta tersebut. Biji dari bijian (seperti beras, pent.), kambing dari kambing, uang dari uang, dan seterusnya. Dan hal itu tidak boleh diganti kecuali karena kebutuhan dan mashlahat.

Bagi orang yang mempunyai tagihan hutang kepada seseorang yang tidak mampu membayarnya, ia tidak boleh menggugurkan hutang tersebut darinya dengan niat mengeluarkan zakat.

Sesuatu yang disediakan dari harta untuk kepemilikan dan pemakaian tidak wajib dikeluarkan zakatnya, seperti rumah tempat tinggal, pakaian, perabot rumah tangga, hewan tunggangan, mobil, dan semisalnya.

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَيْسَ عَلَى المُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ وَلا فَرَسِهِ صَدَقَةٌ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada kewajiban zakat kepada seorang muslim pada budak dan kudanya.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Apabila pada seseorang terkumpul uang yang mencapai nisab dan sampai satu tahun, maka ia wajib zakat, sama saja dia sediakan untuk nafkah, atau kawin, atau memberi tanah, atau untuk membayar hutang, atau selain yang demikian itu.

Apabila orang yang terkena kewajiban zakat meninggal dunia dan ia belum mengeluarkannya, ahli waris wajib mengeluarkannya sebelum melaksanakan wasiat dan pembagian warisan.

Apabila nisab berkurang di pertengahan tahun, atau menjualnya bukan karena lari dari zakat maka haulnya (hitungan tahun)terputus. Dan jika ia menggantinya dengan harta yang sejenisnya, ia menetapkan haulnya berdasarkan harta yang diganti.

Apabila seseorang meninggal dunia, sedang ia punya tanggungan zakat dan hutang, dan ia meninggalkan harta yang tidak cukup untuk keduanya, maka hendaknya ia mengeluarkan zakat, karena ia adalah hak Allah yang Dia wajibkan untuk penerima zakat, dan Allah adalah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya.

Harta yang terkena kewajiban zakat ada empat.

  1. Atsmaan (barang berharga), yaitu emas, perak dan uang kertas.
  2. Hewan ternak yang digembala, yaitu unta, sapi dan kambing.
  3. Yang keluar dari bumi: seperti biji-bijian, buah-buahan, barang tambang dan semisalnya.
  4. Barang perniagaan: yaitu segala hal yang disiapkan untuk perdagangan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 1463 dan Muslim no. 982, ini adalah lafazhnya.

Zakat Emas dan Perak

ZAKAT EMAS DAN PERAK

Nisab Emas.
Wajib mengeluarkan zakat emas bila telah mencapai dua puluh (20) dinar atau lebih, yaitu seperempat puluh (1/40) atau 2,5%.

Satu dinar sama dengan satu mistqal emas, dan satu mistqal ditimbang dengan timbangan sekarang seberat (4,25) gram.

Dua puluh (20) dinar sama dengan 85 gram emas. 20 X4,25= 85 gram emas.

Nisab Perak.
Wajib mengeluarkan zakat perak bila telah mencapai hitungan dua ratus (200) dirham atau lebih, atau dengan timbangan lima uqiyah atau lebih, zakatnya seperempat puluh (1/40)atau 2,5%.

Dua ratus (200) dirham menyamai timbangan lima ratus sembilan puluh lima (595) gram. Yaitu senilai lima puluh enam (56) riyal Saudi dalam nilai perak. Nilai riyal perak Saudi sekarang ini menyamai tujuh (7) riyal Saudi dalam bentuk uang kertas. Maka hasil perkaliannya adalah 56 X 7 = 392. Jumlah ini adalah sekurang-kurang nisab mata uang kertas Saudi Arabia. Zakatnya adalah seperempat puluh (1/40), yaitu 9,8 riyal, senilai 2,5 % dan seterusnya.

Pemprosesan emas dan perak ada tiga.
1. Jika tujuan pemprosesan tersebut adalah perdagangan, maka zakatnya adalah zakat perdagangan, yaitu seperempat puluh (1/40), karena ia telah menjadi barang dagangan, maka dinilai dengan mata uang negerinya kemudian mengeluarkan zakatnya.

2. Jika tujuan pemprosesan tersebut adalah menjadikannya sebagai barang berharga seperti alat-alat rumah tangga, yaitu berupa pisau-pisau, sendok-sendok, teko-teko dan semisalnya, maka hal ini diharamkan, akan tetapi tetap terkena kewajiban zakat bila telah mencapai nisab, yaitu 1/40 (2,5%).

3. Jika tujuan pemprosesan tersebut adalah untuk memakai yang dibolehkan atau meminjamkan, maka zakatnya 1/40 (2,5%) apabila telah mencapai nisab dan berumur satu tahun.

Uang-uang kertas saat ini seperti riyal, dolar dan semisalnya, hukumnya sama seperti hukum emas dan perak. Maka dinilai di atas dasar nilai. Apabila telah mencapai nisab salah satu dari emas dan perak, wajib dikeluarkan zakatnya, dan kadarnya 1/40 (2,5%), apabila telah genap satu tahun.

Tata cara mengeluarkan zakat mata uang kertas.
Dinilai dengan nisab salah satu dari emas dan perak. Apabila sekurang-kurang nisab emas adalah 85 gram, dan harga satu gram emas adalah 40 riyal SR umpamanya, maka kita kalikan nisab emas dengan nilai gram (85 X 40= 3400 SR). Ia adalah sekurang-kurang nisab mata uang kertas. Zakatnya adalah 1/40, yaitu 85 SR, yaitu senilai 2,5 % dan seterusnya.

Untuk mengeluarkan kadar zakat uang kertas, uang tersebut dibagi 40, maka dikeluarkan 1/40. Yaitu kadar wajib zakat emas dan perak atau sesuatu yang dianggap sepertinya. Jika seseorang mempunyai 80.000 SR :40 = 2.000 SR. Yaitu kadar zakat jumlah tersebut, yaitu 1/40 dan seterusnya.

Hukum Zakat Barang Perhiasan yang Dipakai.
Perempuan dibolehkan memakai sesuatu yang berlaku menurut kebiasaan memakainya, tanpa berlebihan, dalam bentuk emas atau perak. Perempuan itu harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun. Apabila ia tidak mengetahui hukumnya, ia hanya wajib mengeluarkan sejak mengetahui. Adapun tahun-tahun yang telah berlalu sebelum mengetahui, tidak ada kewajiban zakat padanya, karena hukum syari’at hanya mewajibkan setelah mengetahuinya.

Intan, mutiara, batu-batu berharga dan semisalnya, apabila untuk dipakai tidak wajib zakat. Apabila untuk perdagangan, maka dihitung nilainya dengan nisab salah satu dari emas dan perak. Apabila telah mencapai nisab dan genap satu tahun, maka zakatnya 1/40.

Emas tidak digabungkan kepada perak dalam menyempurnakan nisab. Nilai barang perniagaan digabungkan kepada salah satu dari keduanya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Adab Tidur dan Bangun Tidur

ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

Apa yang Harus Dilakukan Saat Hendak Tidur.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  : ((أطفئوا المصابيح بالليل إذا رقدتم، وأغلقوا الأبواب، وأوكئوا الأسقية، وخمروا الطعام والشراب)) متفق عليه.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Padamkanlah lampu- lampu bila engkau hendak tidur, kunci pintu, tutup bejana air, dan tutup makanan serta minuman”. Muttafaq alaih .[1]

Menuci Tangan dari Lemak (yang menempel) Sebelum Tidur.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: ((إذا نام أحدكم وفي يده ريح غمر، فلم يغسل يده فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ)) أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian tidur sedangakan di tangannya masih ada lemak (sisa makanan) dan belum dicucinya, lalu dia ditimpa sesuatu (penyakit) maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri“. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [2]

Fadhilah tidur dalam keadaan suci.

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: ((مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرِ اللهِ طَاهِراً، فَيَتَعَارُّ مِنْ اللَّيْلِ، فَيَسْأَلُ اللهَ خَيْراً مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ)) أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Muaz bin Jabal Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang tidur malam dengan berzikir sebelumnya disertai wudhu’, lalu terbangun di tengah malam dan berdoa kepada Allah agar diberi kebaikan dunia dan akhirat kecuali Allah mengabulkan permohonan itu untuknya“. H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah. [3]

  عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  قال: ((مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا)) أخرجه ابن حبان

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci maka seorang malaikat berada di dekatnya, saat dia terbangun malaikat berkata: “Ya, Allah! Ampunilah hamba-Mu ini karena dia tidur dalam keadaan suci”. H.R. Ibnu Hibban. [4]

Bacaan dari Al-Quran Saat Hendak Tidur.

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذَا أَوَى إلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا، فَقَرَأَ فِيهِمَا{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ}، {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ}، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ. أخرجه البخاري.

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha “bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam apabila menuju ranjangnya beliau merapatkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membacakan pada kedua telapak tangan tersebut:

( قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ١ ﴾ ﴿ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ ﴾ ﴿ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ )

(Katakan-lah Allah Yang Maha Esa) dan (Katakanlah aku berlindung dengan Tuhan yang menguasai waktu shubuh), dan (Katakanlah aku berlindung dengan Tuhan manusia).

Kemudian beliau menyapukan kedua tangannya ke seluruh anggota tubuhnya semampunya, mulai dari kepala, muka, dan tubuh bagian depan, dia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali”. H.R. Bukhari . [5]

عن نوفل الأشجعي رضي الله عنه  قال: قال لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم-: ((اقرأ ﴿ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ ﴾ [الكافرون: ١] ثم نم على خاتمتها فإنها براءة من الشرك)) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Naufal Al Asyja’i Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Bacalah surat Al-Kafirun:

 قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ ﴾ [الكافرون: ١] )

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir“.

Kemudian tidurlah setelah membaca surat tersebut, karena surat tersebut mengandung berlepas diri dari kesyirikan”. H.R. Abu Daud dan Tirmizi. [6]

عن أبي هريرة  رضي الله عنه قال: وَكَّلَنِي رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-  بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إلَى رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-  فقال: إذَا أَوَيْتَ إلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: ﴿ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ ……. ﴾ [البقرة: ٢٥٥] ؛ فإنك لن يزال عليك من اللَّه حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح … قال النبي – صلى الله عليه وسلم-  : (أما إنه قد صدقك، وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ). رواه البخاري .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayakanku untuk menjaga harta zakat bulan Ramadhan, lalu seseorang datang meraup makanan itu, akhirnya aku mengkapnya dan berkata: “Demi Allah, engkau akan kuadukan kepada Rasulullah….. Orang tersebut berkata: “Bila engkau hendak berada di atas tempat tidurmu, bacalah ayat kursi:

﴿ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ ……. ﴾ [البقرة: ٢٥٥] )

(Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya)…hingga akhir ayat

Sesungguhnya engkau selalu berada di dalam penjagaan Allah dan syetan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ia berkata jujur kepadamu (dalam hal ini), padahal dia pada hakikatnya adalah seorang pendusta, Itulah syetan”. HR. Bukhari. . [7]

عن علي رضي الله عنه أن فاطمة رضي الله عنها جاءت تسأل النبي- صلى الله عليه وسلم- خادماً فلم توافقه، قالت…: فأتانا وقد أخذنا مضاجعنا… فقال: (: «أَلا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَانِي ؟ إذا أويتما إلى فراشكما أو إذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، فَكَبِّرَا الله أَرْبَعاً وَثَلاثِينَوَسَبِّحَا ثَلاثاً وَثَلاثِينَ وَاحْمَدَا ثَلاثاً وَثَلاثِينَفَإنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِمَّا سَأَلْتُمَاهُ) متفق عليه.

Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu bahwa Fatimah radhiyallahu `anha datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seorang pembantu, akan tetapi Nabi tidak menyetujuinya … kemudian pada malam harinya saat kami hendak tidur beliau datang seraya bersabda:” Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian pinta? Apabila kalian hendak menuju ranjang kalian (atau apabila kalian telah berada di atas tempat tidur), bertakbirlah tigapuluh empat kali, bertasbihlah tigapuluh tiga kali, dan bertahmidlah tigapuluh tiga kali. Sungguh itu lebih baik dari apa yang kalian minta”. Muttafaq alaih . [8]

Larangan Memiliki Tilam yang Banyak Kecuali ada Hajat.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال له: «فِراشٌ لِلرَّجُلِ وَفِراشٌ لامْرَأتِهِ، وَالثّالِثُ لِلضَّيْفِ، وَالرَّابِعُ لِلشَّيْطانِ». أخرجه مسلم

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu `anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Satu tilam untuk suami, satu tilam untuk istri, tilam yang ketiga untuk tamu dan keempat adalah untuk setan“. HR. Muslim . [9]

Larangan Bercengkrama Setalah Shalat Isya Kecuali ada Tujuan yang Benar.

عن أبي برزة رضي الله عنه… أن النبي صلى الله عليه وسلم-  كان لا يحب النوم قبلها ولا الحديث بعدها. متفق عليه.

Dari Abi Barzah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya dan bercengkrama setelah shalat Isya”. Muttafaq alaih . [10]

Mengibas tempat tidur tiga kali.

عن أبي هريرة  رضي الله عنه قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم-  : (إذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إزَارِهِ، فَإنَّه لا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيه، ثُمَّ يَقُولُ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وبِكَ أَرْفَعُهُ، إنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِه عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian menuju ranjangnya maka kibaslah ranjang tersebut dengan ujung kainnya, karena sesungguhnya seseorang tidak mengetahui apa yang mengotori ranjang tersebut sepeninggalnya tadi, kemudian dia mengucapkan:

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

(Dengan nama-Mu ya Rabb, aku membaringkan tubuhku, dan dengan (nama)-Mu aku bangun, jika Engkau menahan jiwaku (mematikanku) maka curahkanlah kepadanya rahmat, dan jika Engkau mengirimnya kembali (yaitu memasukkannya ke dalam tubuhku) maka perilaharalah dia seperti Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shaleh)”. Muttafaq ’alaih. [11]

وفي لفظ: ((فَلْيَنْفُضْهُ بِصَنِفَةِ ثَوْبِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ)) أخرجه البخاري.

Dalam riwayat yang lain: kibaslah ujung bajunya tiga kali.” HR. Bukhari.[12]

Berwudhu lalu tidur miring ke bagian tubuh yang kanan.
Dari Bara bin ‘Azib Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “bila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, berwudhulah seperti wudhu’mu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas tubuhmu yang sebelah kanan dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

(Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapakan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku serahkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan bernaung dari-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Kau turunkan dan dengan Nabi yang Kau utus) jika engkau mati (saat itu) niscaya engkau mati dalam fitrah, dan jadikanlah ia sebagai ucapanmu terakhirmu. Muttafaq ’alaih. [13]

Doa Hendak Tidur dan Bangun Tidur
Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bila menuju ranjangnya lalu mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

(Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan telah mencukupi kami dan telah memberi kami tempat, berapa banyak orang yang tidak ada yang mencukupinya dan memberinya tempat)”. HR. Muslim. [14]

اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْلَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ. أخرجه مسلم.

“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milik-Mu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah ia. Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah ia. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu keselamatan“. HR. Muslim. [15]

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنـَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ، وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَـرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وََأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ. أخرجه مسلم.

“Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai Arasy  yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah yang pertama, dan tidak ada sesuatu apapun sebelum-Mu. Engkaulah yang terakhir dan tidak ada sesuatu apapun setelah-Mu. Engkaulah yang dzahir, dan tidak ada sesuatu apapun  diatas-Mu (yang lebih zhahir darimu). Engkaulah yang batin, tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu, lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga kami terlepas dari kefakiran“.HR. Muslim. [16]

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ . أخرجه الطيالسي والترمذي.

 (Ya Allah, pencipta  lamgit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Tuhan segala sesuatu dan penguasanya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dan kejahatan syetan dan perangkap kesyirikan ). H.R. Thayalisy dan Tirmizi.  [17]

عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم كانَ إذا نامَ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ؛ ثم يقول: ( اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ) رَوَاهُ أحمد.

Dari Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau apabila hendak tidur maka beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:

اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

(Ya Allah  hindarilah aku dari azab-Mu, di hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu)”. H.R. Ahmad.[18]

عن أبي الأزْهَرِ الأنماري رضي الله عنه أنَّ رسُول الله- صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذا أخَذَ مَضْجَعَهُ منَ الليلِ قالَ: ((بِاسْمِ اللهِ وَضَعْتُ جَنْبِيْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِيْ، وَفُكَّ رِهَانِيْ، وَاجْعَلْنِيْ فِي النَّدِيِّ الأَعْلَى)) أخرجه أبو داود.

Dari Abi Azhar Al Anmari Radhiyallahu anhu bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur di malam hari, beliau berdoa:

بِاسْمِ اللهِ وَضَعْتُ جَنْبِيْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِيْ، وَفُكَّ رِهَانِيْ، وَاجْعَلْنِيْ فِي النَّدِيِّ الأَعْلَى

Dengan nama Allah aku meletakkan lambungku, Ya Allah ampunilah dosaku, usirlah setan yang mendampingiku, lepaskan tanggunganku dan jadikanlah aku berada di tempat yang tertinggi“. H.R. Abu Daud.[19]

عن حذيفة رضي الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيلِ وَضَعَ يَدَه تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ: (اَللَّهُمَّ! بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا) وَإذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Huzaifah Radhiyallahu anhu berkata: “Bahwa  apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berada di tempat tidurnya di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian mengucapkan:

اَللَّهُمَّ! بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati”,

Apabila bangun beliau mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Segala puji bagi Allah, yang menghidupkan kami setelah mematikan dan kepada-Nyalah kami akan kembali”. Muttafaq ’alaih.[20]

عن أبي هرير رضي الله عنه أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: … فإذا استيقظ فليقل: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ . أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila seseorang terbangun maka ucapkanlah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepadaku, mengembalikan ruhku dan merestuiku untuk berdzikir kepada-Nya”. H.R Tirmidzi.[21]

Hendaklah Tidur Dalam Keadaan Hati yang Terbebas dari Iri dan Dengki Kepada Siapapun juga.

عن أنس بن مالك أن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في رجل من الأنصار ثلاثا: ((يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة)) … فبات عنده عبد الله بن عمرو بن العاص ثلاث ليال، فقال له: أردت أن آوي إليك لأنظر ما عملك فأقتدي به فلم أرك تعمل كثير عمل فما الذي بلغ بك ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال: ما هو إلا ما رأيت، قال: فلما وليت دعاني، فقال: ما هو إلا ما رأيت غير أني لا أجد في نفسي لأحد من المسلمين غشا ولا أحسد أحدا على خير أعطاه الله إياه، فقال عبد الله: هذه التي بلغت بك وهى التي لا نطيق. أخرجه أحمد.

Dari Anas bahwa Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu `anhuma berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga kali tentang seorang laki-laki Anshar: ” Akan datang sekarang kepada kalian seseorang dari penduduk surga ” … maka Abdullah bin Amru menginap di rumah orang tersebut selama tiga malam, kemudian dia berkata kepadanya:”Sesungguhnya aku menginap di rumahmu untuk mencari tahu amalanmu agar aku menirunya, akan tetapi aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang banyak, namun  apakah yang menyebabkan Rasulullah mengatakan bahwa engkau adalah penduduk surga? Orang itu berkata: “Aku tidak mempunyai amalan selain apa yang engkau lihat. Kemudian Abdullah berpaling untuk mohon diri. Tiba-tiba orang itu memanggilnya seraya berkata: “Amalanku hanyalah apa yang engkau lihat akan tetapi aku tidak pernah menyimpan dendam di hatiku kepada seorang muslimpun dan tidak pernah iri dengan karunia yang diberikan Allah kepada siapapun”. Maka Abdullah berkata: “Inilah yang telah membawamu kepada derajat yang tinggi dan ini yang kami tidak mampu melakukannya”. H.R. Ahmad.[22]

Doa Bila Terbangun di Tengah Malam.

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لا إلَه إلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ للهِ، وَسُبْحَانَ الله، وَالله أَكْبَرُ، وَلا حَولَ وَلا قُوَّةَ إلَّا بِالله، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاتُهُ».

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang terbangun di tengah malam lalu mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ

Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku” atau selanjutnya dia berdoa niscaya do’anya dikabulkan, dan jika dia berwudhu, lalu shalat niscaya shalatnya diterima” . H.R. Bukhari.[23]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6296 dan Muslim no hadist : 2012.
[2] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 1860 dan Ibnu Majah no hadist : 3297.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5042 dan Ibnu Majah no hadist : 3881.
[4] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no hadist : 1051.
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5017.
[6] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5055 dan Tirmizi no hadist : 3403.
[7] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5010.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 3113 dan Muslim no hadist : 2727.
[9] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2084.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 599 dan Muslim no hadist : 647.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6320 dan Muslim no hadist : 2714.
[12] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7393.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6311 dan Muslim no hadist : 2710.
[14] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2715.
[15] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2712.
[16] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2713.
[17] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Thayalisy no hadist : 9 dan Tirmizi no hadist : 3392.
[18] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 18659.
[19] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5054.
[20] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6314 dan Muslim no hadist : 2711.
[21] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3401.
[22] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 12697.
[23] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 1154.

Adab Bermimpi

ADAB BERMIMPI

Apa yang harus dilakukan bila bermimpi baik atau bermimpi buruk.

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «الرُّؤْيا الحَسَنَةُ مِنَ الله، فَإذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ، فَلا يُحَدِّثْ بِهِ إلَّا مَنْ يُحِبُّ، وَإذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِالله مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاثاً، وَلا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَداً، فَإنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ». متفق عليه.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mimpi yang baik berasal dari Allah, maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi hal yang disukainya, janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang disukainya dan bila dia bermimpi buruk, maka mintalah perlindungan dari kejahatannya dan dari kejahatan setan dan janganlah  menceritakannya kepada siapapun, niscaya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya”. Muttafaq ’alaih[1]

عن أبي سعيد رضي الله عنه أنه سمع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإنَّهَا مِنَ الله فَلْيَحْمَدِ الله عَلَيْهَا». أخرجه البخاري.

Dari Abu Sa’id Al Kudri Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu bermimpi hal yang disukainya, sesungguhnya itu berasal dari Allah, ucapkan Alhamdulillah dan ceritakanlah”. H.R. Bukhari .[2]

عن جابر رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «إذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثاً، وَلْيَسْتَعِذْ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاثاً، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ». وفي لفظ: «فَإنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ». أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka meludahlah ke kiri 3x dan ucapkan:

أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ

Aku berlindung kepada Allah dari syaitan” 3x, lalu ubahlah posisi tidurmu semula”. Dalam riwayat lain: Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka bangkitlah dan shalat “. HR. Muslim. [3]

Merasa gembira dengan mimpi yang baik.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إلَّا المُبَشِّرَاتُ» قَالُوا: وَمَا المُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ». أخرجه البخاري.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia tidak tersisa dari tanda kenabian kecuali al-mubasyiro”, “Apakah mubasyirot itu wahai Rasulullah?, beliau bersabda: “Mmimpi yang benar.” HR Bukhari . [4]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «الرُّؤْيَا الحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سَتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءاً مِنَ النُّبُوَّةِ». متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mimpi yang baik dari seorang lelaki yang shaleh adalah satu bagian dari empatpuluh enam bagian dari kenabian.” Muttafaq ’alaih. [5]

Bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، وَمَنْ رآنِي فِي المَنَامِ فَقَدْ رآنِي، فَإنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُ فِي صُوْرَتِي، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah nama seperti namaku, akan tetapi janganlah bergelar seperti gelarku. Dan barangsiapa yang melihatku di dalam mimpinya, sungguh dia telah melihatku, karena syetan tidak dapat menjelma menyerupaiku, dan barangsiapa yang berbohong atasku dengan sengaja maka sediakanlah untuknya tempat di neraka”. Muttafaq ’alaih. [6]

Larangan menceritakan kepada orang lain bahwa dia dipermainkan setan di dalam tidurnya.

عن جابر رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله رأيت في المنام كأن رأسي قُطع، قال: فضحك النبي- صلى الله عليه وسلم- وقال: «إذَا لَعِبَ الشَّيْطَانُ بِأحَدِكُمْ فِي مَنَامِهِ فَلا يُحَدِّثْ بِهِ النَّاسَ». أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku bermimpi sepertinya leherku dipenggal. Maka Nabi tertawa, dan bersabda: “Apabila setan mempermainkan salah seorang di antara kalian dalam tidurnya maka janganlah dia menceritakannya kepada siapapun juga“. HR. Muslim. [7]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7044 dan Muslim no hadist : 2261.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7045.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2262 dan 2263.
[4] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 6990.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6983 dan Muslim no hadist : 2263.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 110 dan Muslim no hadist : 2134.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2268.

Adab Minta Izin

ADAB MINTA IZIN

Adab Masuk Rumah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ [النور : ٢٧] 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. [An Nuur/24: 27] .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ [النور : ٦١] 

Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. [An Nuur/24: 61] .

Cara Minta Izin.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلاثاً فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ». متفق عليه

Dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian meminta izin masuk tiga kali dan tidak ada jawaban, maka pulanglah“. Muttafaq alaih . [1]

عن ربعي قال: حدثنا رجل من بني عامر: أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِي بَيْتٍ فَقَالَ: أَلِجُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- لِخَادِمِهِ: «اخْرُجْ إلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الاسْتِئْذَانَ، فَقُلْ لَهُ: قُلْ: السَّلامُ عَلَيكُمْ أَأَدْخُلُ؟» فَسَمِعَهُ الرَّجُلُ، فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُمْ أَأَدْخُلُ؟ فَأَذِنَ لَهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فَدَخَلَ. أخرجه أحمد وأبو داود.

Dari Rib’i berkata: “Seorang lelaki dari bani ‘Amir menceritakan kepada kami bahwa sesungguhnya dia minta izin (masuk) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau tengah berada di dalam rumahnya, ia berkata: “Apakah aku boleh masuk ?”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pembantunya: “Keluarlah kepada orang ini, ajarkan dia cara meminta izin, dan katakan kepadanya: “Ucapkanlah “Assalamu’alaikum”, apakah aku boleh masuk?”, lalu lelaki tersebut mendengarnya kemudian mengucapkan: “Assalamu’alaikum, apakah aku boleh masuk?”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya izin, lalu diapun masuk. HR. Ahmad dan Abu Daud.[2]

Posisi Berdiri bagi Orang yang Minta Izin Untuk Masuk.

عن عبد الله بن بُسر رضي الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلْ البَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ، وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الأَيْمَنِ أَوِ الأَيْسَرِ، وَيَقُولُ: «السَّلامُ عَلَيكُم، السَّلامُ عَلَيكُمْ». أخرجه أحمد وأبو داود.

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu anhu berkata: bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam`  apabila mendatangi pintu rumah sesorang, beliau tidak menghadapnya akan tetapi menyamping di sebelah kanan atau kiri dan berkata: Assalamu ‘alaikum, Assalamu ‘alaikum. HR. Ahmad dan Abu Daud. . [3]

Para Budak dan Anak-anak juga Harus Minta Izin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسۡتَ‍ٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ مِنكُمۡ ثَلَٰثَ مَرَّٰتٖۚ مِّن قَبۡلِ صَلَوٰةِ ٱلۡفَجۡرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعۡدِ صَلَوٰةِ ٱلۡعِشَآءِۚ ثَلَٰثُ عَوۡرَٰتٖ لَّكُمۡۚ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ [النور : ٥٨] 

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  [An Nuur/24: 58].

Larangan Berbisik Kecuali Dengan Izin Orang yang Ketiga.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا كُنْتُمْ ثَلاثَةً فَلا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا فَإنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ». متفق عليه.

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila kalian tiga orang janganlah dua orang berbisik, tidak mengikutkan yang lainnya karena hal tersebut dapat membuatnya sedih”. Muttafaq ’alaih. [4]

Larangan Mengintip Rumah Orang Lain Tanpa Seizinnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَوْ أنَّ رَجُلاً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jikalau ada seseorang mengintipmu tanpa izi , lalu engkau lempar dia dengan batu hingga matanya kau colok , maka engkau tidak berdosa denganmya“. Muttafaq ’alaih. [5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6245 dan Muslim no hadist : 2154.
[2] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 23515 dan Abu Daud no hadist 5177.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 17844 dan Abu Daud no hadist 5186.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6290 dan Muslim no hadist : 2184.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6888 dan Muslim no hadist : 2158.