Author Archives: editor

Pengantar Syaikh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

PENGANTAR  Syaikh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para Sahabatnya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du:

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Ummu Salamah binti ‘Ali al-‘Abbasi, yaitu: al-Intishaar li Huquuqil Mu’-minaat. Dan saya menilainya sebagai tulisan yang sarat dengan manfaat, baik ketika membahas satu ayat dari Kitabullah maupun satu hadits dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat, yang barangsiapa menjadikannya sebagai petunjuk, pasti dia tidak akan pernah mencari hal lain sebagai petunjuk, sebagaimana yang difirmankan oleh Rabb kita Azza wa Jalla:

فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَ اللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ يُؤْمِنُوْنَ

“Maka dengan perkataan mana lagikah mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.” [Al-Jaatsiyah/45: 6]

Beliau حَفِظَهَا اللهُ, telah mengerahkan tenaga yang cukup banyak, yang patut disyukuri dalam mengupas masalah hak-hak wanita mukminah. Sebab, banyak orang yang lalai untuk mengupas ma-salah ini, bahkan menolak melakukannya. Oleh karena itu, beliau حَفِظَهَا اللهُ, berusaha mengingatkan para orang tua, kaum kerabat, dan para suami mengenai apa yang telah diwajibkan atau dianjurkan oleh Allah kepada mereka. Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluar-gamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu… .” [At-Tahriim/66: 6]

Dan dalam kitab ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim) telah disebutkan: Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

مَا مِنْ رَاعٍ يسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يَحُطْهَا بِنُصْحِهِ إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ.

“Tidaklah seorang pemimpin yang diberi tugas memimpin oleh Allah, kemudian dia tidak mengiringinya dengan nasi-hatnya, melainkan dia tidak akan mendapatkan wangi Surga.”

Dalam kitab yang sama (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim), dari hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”

Saya sangat berharap, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat melalui buku ini. Dan dapat dimanfaatkan, baik oleh laki-laki maupun wanita. Kita benar-benar memerlukan pemberlakuan syari’at Allah dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga dan problem suami isteri. Dan di dalam buku ini, terkandung pen-jelasan tentang pemecahan berbagai macam problem keluarga. Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” [Asy-Syuuraa/42: 10]

Dia juga berfirman:

فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir… .” [An-Nisaa’/4: 59]

Sementara penulis buku ini telah menghimpun beberapa kriteria terpuji di antaranya: zuhud dalam kehidupan dunia, akhlak yang mulia, perhatian terhadap pencapaian ilmu yang bermanfaat, juga pemeliharaan terhadap waktu. Seringkali pada suatu waktu ia menyendiri di perpustakaan khusus bagi kaum wanita. Dan ialah pengganti guru mereka, Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyah, jika ia tidak hadir atau ketika sedang sakit. Selain itu, ia juga sebagai pemberi nasihat yang sangat berpengaruh.

Masyarakat Islam benar-benar membutuhkan seorang wanita shalihah yang memberikan perhatian terhadap saudara-saudara muslimahnya sehingga mereka tidak dipengaruhi oleh para penyeru kerusakan dan pembuat kerusakan. Isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat-Sahabat wanita memiliki peranan yang sangat besar dalam menyebarluaskan hadits Nabi.

Terakhir, saya menasihatkan kepada penulis buku ini dan sau-dara-saudara wanitanya agar berusaha keras untuk mencari ilmu yang bermanfaat, baik itu dari al-Qur-an al-Karim, hadits Nabi, bahasa Arab, dan mendalami agama. Kemudian berusaha dengan gigih untuk menyampaikan ilmu melalui tulisan dan dakwah kepada agama Allah serta mengajari wanita-wanita yang tidak berilmu. Sungguh, jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang wanita melalui tanganmu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah (kenikmatan dunia).

Semoga Allah memberikan taufiq kepada semua pihak untuk mengerjakan apa yang Dia cintai dan ridhai.

Abu ‘Abdirrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Umu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

Fenomena Ghuluw (Melampaui Batas) Dalam Agama

FENOMENA GHULUW (MELAMPAUI BATAS) DALAM AGMA

Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya; juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Dan dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. [an-Nisâ`/4:171]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata:

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan: “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”[1]

Ghuluw dalam agama itu sendiri adalah sikap dan perbuatan berlebih-lebihan melampaui apa yang dikehendaki oleh syariat, baik berupa keyakinan maupun perbuatan.[2]

Beberapa Istilah Untuk Sikap Berlebih-lebihan Dalam Agama.
Ada beberapa ungkapan lain yang digunakan oleh syariat selain ghuluw ini, di antaranya:

  1. Tanaththu’ (sikap berlebih-lebihan/ekstrim).

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

`Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ-قالها ثلاثا

Celakalah orang-orang yang brelebih-lebihan!” Beliau mengucapkannya tiga kali.”[3]

  1. Tasyaddud (memberat-beratkan diri).

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”[4]

Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).[5]

  1. I’tidâ (melampaui ketentuan syariat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”  [al-Baqarah/2:190].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ

Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.” [al-Baqarah/2:187]

  1. Takalluf (memaksa-maksa diri).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” [Shâd/38:86]

عن عمر رضي الله عنه قال: نُهِيَنا عن التَّكَلُّف

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ia berkata. “Kami dilarang bersikap takalluf (memaksa-maksa diri).”[6]

Sebab Munculnya Sikap Ghuluw.
Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, di antaranya:

  1. Kebodohan dalam agama. Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw.
  2. Taqlîd (ikut-ikutan). Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berpangkal dari sebab ini.
  3. Mengikuti hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.
  4. Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

Bentuk-bentuk Ghuluw.
Secara garis besar, ghuluw ada tiga macam: dalam keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.

  1. Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm (bersih dari dosa). Contohnya adalah keyakinan orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap ahli bait dan keyakinan orang-orang sufi terhadap orang-orang yang mereka anggap wali.
  2. Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir bid’ah, misalnya puji-pujian kaum sufi terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wali-wali mereka; demikian pula dzikir-dzikir mereka yang keluar dari ketentuan syariat. Contoh lainnya adalah menambah-nambahi doa dan dzikir, misalnya menambah kata sayyidina dalam salawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbîratulihrâm; sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti waswas. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niatnya.

Sebenarnya, ada satu jenis ghuluw lagi yang perlu diwaspadai yaitu ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis  kafir, fasiq dan bid’ah.

Virus Ghuluw.
Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang Allah Azza wa Jalla tanpa haq, tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.

Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berkata: “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim (berlebih-lebihan) dan sikap moderat (terlalu longgar).”

Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnul Munîr sebagai berikut:“Hadits ini termasuk salah satu mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kita semua sama-sama menyaksikan bahwa setiap orang yang melewati batas dalam agama pasti akan terputus. Maksudnya bukanlah tidak boleh mengejar ibadah yang lebih sempurna, sebab hal itu termasuk perkara yang terpuji. Perkara yang dilarang di sini adalah berlebih-lebihan yang membuat jemu atau melewati batas dalam mengerjakan amalan sunat hingga berakibat terbengkalainya perkara yang lebih afdhal. Atau mengulur kewajiban hingga keluar waktu. Misalnya orang yang shalat tahajjud semalam suntuk lalu tertidur sampai akhir malam, sehingga terluput shalat Subuh berjama’ah, atau sampai keluar dari waktu yang afdhal atau sampai terbit matahari sehingga keluar dari batasan waktunya.”

Dalam hadits Mihzan bin al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ

Kalian tidak akan dapat melaksanakan agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah.”

Pernah ada tiga orang yang ingin mengetahui aktifitas ibadah Nabi Shallallahu a’alaihi wa sallam di rumah. Mereka tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hanya sedikit. Mereka berkata: “Dimanakah kedudukan kami dibanding dengan Nabi!? Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.”

Maka salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan shalat malam terus menerus tidak akan tidur.”
Yang lain berkata: “Aku akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”
Dan yang lain berkata: “Aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya mengatakan:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita! Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.”[7]

Dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُوْنَ عَنْ الشَّيءِ أَصْنَعُهُ فَوَاللهِ إِنِّي لأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

Bagaimana halnya kaum-kaum yang menjauhkan diri dari sesuatu yang kulakukan? Demi Allah Azza wa Jalla, aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah Azza wa Jalla dan yang paling takut kepada-Nya.”[8]

Dalam menjelaskan hadits ini ad-Dawudi berkata: “Menjauhkan diri (dengan anggapan hal itu lebih baik-pent) dari dispensasi yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dosa besar. Sebab ia memandang dirinya lebih bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla daripada rasul-Nya. Ini jelas sebuah penyimpangan.” Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan, “Tidak diragukan lagi kesesatan orang yang meyakini demikian (meyakini bahwa hal itu lebih baik).”[9]

Menjauhi Ghuluw Bukan Berarti Jatuh Dalam Taqshîr (Melonggar-longgarkan Diri).
Akan tetapi perlu juga kita waspadai, bahwa dalam menjauhi sikap ghuluw ini kita juga jangan sampai terjebak ke dalam sikap taqshîr (melalai-lalaikan dan melonggar-longgarkan diri).

Ini merupakan tipu daya setan yang luar biasa. Setan selalu mencari titik lemah seorang insan. Apabila titik lemahnya pada sikap ghuluw maka setanpun masuk melalui pintu ghuluw dan apabila titik lemahnya pada sikap taqshîr maka setanpun masuk melalui pintu taqshîr. Memang, mempertahankan diri di tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap taqshîr merupaka suatu perkara yang sulit. Kesuksesan, kebahagiaan dan keberhasilan dalam urusan akhirat maupun dunia tergantung dengan cara kita menempatkan segala sesuatu secara proporsional menurut pandangan syariat yang hanîf dan fitrah ini. Karena setiap ketidakseimbangan akan menyebabkan ketimpangan dan keberatan yang akan menghalangi tercapainya tujuan.

Dalam hal ini setan akan melihat dari pintu manakah ia mungkin masuk. Jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah potensi rendah diri dan gampang menyerah, maka setanpun menanamkan rasa malas dalam dirinya, mengendorkan semangatnya, menggambarkan berat amal-amal ketaatan dan mendorongnya untuk mudah mengabaikan kewajiban, sampai akhirnya ia meninggalkan kewajiban itu sama sekali.

Namun jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah semangatnya yang menggebu-gebu, mulailah setan menanamkan anggapan bahwa apa yang diperintahkan itu baru sedikit dan belum cukup untuk mengimbangi semangatnya, sehingga ia serasa membutuhkan sesuatu yang baru sebagai tambahannya.[10]

Jangan Salah Menilai ‘Ghuluw’
Sebagaimana halnya kita tidak boleh terjebak dalam sikap taqshîr karena menghindari ghuluw, demikian pula kita jangan salah menilai ‘ghuluw’. Sebagian orang menilai keteguhan memegang syariat dan istiqamah di atasnya merupakan sikap ghuluw. Sebagai dampaknya, mereka menganggap pengamalan sebagian sunnah Nabi sebagai sikap ghuluw. Ini jelas salah besar. Memang kita membenci sikap ghuluw, namun hendaknya kita jangan salah menilai. Sebagian orang beranggapan memelihara jenggot, memakai cadar, mengenakan pakaian sampai setengah betis, memakai gamis bahkan shalat lima waktu berjama’ah di masjid pun dianggap ghuluw. Ini tentu penilaian yang salah. Sebab, seluruh perkara-perkara tersebut adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan bahkan ada yang wajib. Penilaian yang salah ini bisa berakibat fatal, yaitu perkara-perkara sunnah dianggap sebagai perkara bid’ah, dan sebaliknya perkara bid’ah dianggap sunnah. Hakikat ghuluw adalah sesuatu yang melangkahi ketentuan syariat. Penilaian tersebut didasari atas kebodohan dalam memahami apa itu ghuluw dan juga kejahilan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kita tidak boleh menilai sesuatu tanpa ilmu. Dan berbicara tentang agama Allah Azza wa Jalla tanpa ilmu merupakan salah satu langkah setan, bahkan tergolong dosa besar.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ  

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitaan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [al-Baqarah/2:168-169].

Dan Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ  

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [al-A’râf/7:33]

Apalagi terkadang tuduhan ghuluw terhadap perkara-perkara sunnah ini mengandung ejekan dan olokan terhadap para pengamalnya. Ini jelas kesalahan di atas kesalahan. Takutlah kepada Allah Azza wa Jalla pada hari seluruh kesalahan akan ditampakkan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.[al-Hujurat/49:11]

Kiat-kiat Menghindari Ghuluw.
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menghindari fenomena ghuluw dalam agama, diantaranya:

  1. Menuntut ilmu syar’i. Ilmu adalah lentera yang menerangi langkah kita di dunia dan menjadi asset yang amat bernilai di akhirat. Apabila lentera ini padam, maka setan akan leluasa menyesatkan anak Adam. Maka dari itu janganlah absen dari majelis-majelis ilmu. Banyak sekali faidah yang dapat kita petik dari majelis ilmu. Di antaranya adalah kita dapat bertatap muka secara langsung dengan ahli ilmu.
  2. Jangan malu dan segan bertanya kepada ahli ilmu (Ulama). Malu bertanya sesat di jalan, begitulah kata pepatah kita. Terlebih lagi dalam urusan agama. Janganlah kita malu bertanya kepada ulama dalam perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, baik dalam perkara aqidah, ibadah, mu’amalah dan lainnya. Terlebih lagi perkara yang berkaitan dengan perincian dalam agama, misalnya prosedur pelaksanaan sebuah ibadah, perincian dalam hal aqidah dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bertanya kepada mereka dalam firman-Nya:

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [an-Nahl/16:43]

Kesimpulannya, kita harus menjauhi segala macam bentuk ghuluw dalam agama, baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang diatas-namakan agama. Dan hendaknya kita juga harus waspada jangan sampai tergelincir dalam sikap taqshîr. Di samping itu, janganlah sembrono dan serampangan dalam menilai ‘ghuluw’ tanpa ilmu.

Referensi:

  1. Tafsîrul-Qur’ân al-Azhîm, Ibnu Katsîr.
  2. Fathul Bâri Syarah Shahîh al-Bukhâri.
  3. Mawâridul Amân al-Muntaqâ min Ighâtsatil Lahfân, Ali Hasan Ali `Abdil Hamîd.
  4. Iqtidhâ’ Shirâtul Mustaqîm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  5. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhus Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
  6. Mausu’ah Manâhi Syar’iyyah, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
  7. Madârijus Sâlikîn, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
  8. Mu’jamu Maqâyisil Lughah.
  9. Muqaddimah Shahîh Fiqh Sunnah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Hadits shahîh, diriwayatkan oleh an-Nasâ’i (V/268), Ibnu Mâjah (3029) dan Ahmad (I/215), al-Hâkim mengatakan: “Shahîh, sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[2] Mu’jamul Maqâyis IV/388.
[3] Hadits riwayat Muslim (2670).
[4] Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
[5] Hadits riwayat al-Bukhâri.
[6] Fathul Bâri (XIII/263-265)
[7] Muttafaqun ‘alaihi.
[8] Muttafaqun ‘alaihi.
[9] Silakan lihat kitab Fathul Bâri tulisan Ibnu Hajar rahimahullah .
[10] Silakan lihat kitab Mawâridul Amân tulisan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid halaman 187.

Kejayaan Hanya Milik Islam

KEJAYAAN HANYA MILIK ISLAM

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali

Sesungguhnya termasuk hal yang sangat menggembirakan, kita bisa bersua kembali dalam masjid ini, di universitas ini, di tengah saudara-saudara kami, kita bersatu dikalimat yang sama, yaitu kalimat tauhid dan di atas kebesaran Islam. Tema kita di pagi hiri yang cerah ini ialah kebesaran milik Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maksudnya, kebesaran hanya milik Islam semata.

Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum muslimin serta Islam banyak sekali. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. [Al-Munafiqun/63 : 8]

Ayat ini menegaskan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum mukminin.

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. [Muhammad/47: 35]

Dan sudah di ketahui bagi orang yang mendalami Al-Quran, ia menetapkan bahwa kalimatullah adalah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada dalam tingkat yang paling rendah. Jadi kebesaran milik Islam dalam kitabullah. Demikian juga, hal ini di tegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga pernyataan dari generasi salaf, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَا يَنْبَغِي لِمُسْلِمٍ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya” [Hadits Riwayat Ahmad]

Ini dalil agar setiap muslim merasa mulia dengan agamanya. Karena Islam mengajarkan al ‘izzah kepadanya.

Perhatikan dialog antara Abu Sufyan yang masih dalam kekufurannya –padawaktu itu– dengan Umar bin Khaththab, tatkala kaum musyrikin mendapatkan kemenangan dalam perang uhud.

Abu Sufyan berkata: Agungkanlah Hubal, kemudian nabi memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menyanggah dengan (perkataan) : ”Allah lebih besar dan lebih tinggi”.

Ini merupakan sebagian dalil dari al kitab dan as Sunnah yang menunjukan bahwa izzah (kebesaran) hanya milik Allah, RasulNya dan Islam.

Apabila kita telah mengetahui bahwa kebesaran itu milik Islam, apakah yang dimaksud dengan izzah dalam Islam, dan bagaimana Islam bisa mengangkat kaum muslimin dari konsep kebesaran jahiliyah menuju kosep izzah imani. Renungkanlah ayat ini, kita lihat dan bandingkanlah.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al–Munafiqun/63 : 8]

Lihatlah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafqin dalam perang bani Musthaliq. Setelah orang-orang pulang dari perang tersebut –termasuk Rasulullah- dia memunculkan ide penyebaran hadits ifk (berita palsu). Dia menuduh ummul mukminin ash Shiddiqah bin ash Shiddiq (‘Aisyah) dengan tuduhan zina. Wal iyyadzu billah.

Lihatlah, ia mengalihkan peperangan ke rumah beliau, pada kehormatan beliau. Dalam suasana panas penuh isu, simpang-siur sarat berita bohong, orang munafik ini ingin memanfaatkan kesempatan ini, atau ingin menghantam beliau, atau ingin memancing dalam air keruh.

Pada situasi demikian ia mengatakan: لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ (Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya). Yang ia maksud dengan orang yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud orang yang lemah adalah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah menurut jahiliyah.

Dalam masalah berita palsu ini, Allah tidak membiarkan ada orang yang membantah para penyebar isu berita palsu tersebut. Yang membantah adalah langsung Allah sendiri. Allah merehabilitasi nama baik Ummul Mukminin dalam sebelas ayat pertama dari surat An-Nur. Sementara di dalam surat Al-Munafiqun, Allah membantah Abdullah bin Ubay bin Salul (dengan firmanNya).

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun/63 : 8]

Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah.

Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat.

Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam.

Apakah (yang menjadi) sumbernya?
Sudah kami katakan tadi, bahwa tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan siapa saja yang bersama dengan yang maha perkasa, ia menjadi perkasa Dan siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina.

Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang. Allah berfirman .

وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. [Ali–Imran/3 : 26]

Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Allah akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Faktor lain yang juga dapat mewujudkan ‘ izzah adalah mInhaj. Oleh karena itu, Allah berfirman.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : “Sesungguhnya aku termsuk orang–orang yang berserah diri.” [Fushiliat/41: 33]

Lihatah, setelah ia berpegangan dengan manhaj dan dakwah, kemudian mempunyai rasa bangga dengan agama. Dia mengumandangkan suaranya, bahwa ia seorang muslim, termasuk yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti Allah dan RasulNya. Firman Allah :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا

(Dan siapakah yang lebih baik perkataannya …), maka jawabannya, tidak ada seorang pun yang lebih baik darinya. Dalam ayat ini Allah mengikat dakwah dengan manhaj. Baru kemudian mengerjakan amalan shalih. Setelah itu, akhirnya ia bangga dengan Islam.

Oleh karena itu, berkaitan dengan syarat diterimanya amalan shalih, ada syarat sah dan syarat kamal (kesempurnaan).

Tentang syarat sah diterimanya amal adalah ikhlas bagi Allah dan ittiba’ kepada Nabi. Sedangkan syarat kesempurnaannya amal ialah.

Pertama : Seseorang harus menggenggam agamanya dengan kuat. Allah berfirman.

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai, Yahya. Ambillah Al–Kitab (Taurat) itu dengan sungguh–sungguh. [Maryam/19 : 12]

Allah berfirman :

خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ

“Pegangilah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu” [Al–Baqarah/2 : 63]

Dan yang dimaksud dengan quwwah ini adalah berbangga diri dengan agama Islam.

Kedua : Tidak malas beramal shalih dan menyegerakan diri dalam mengerjakan amal kebaikan maupun ketaatan.

Sumber kemuliaan Islam yang lain, yaitu menjadi seorang muslim yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam aqidah, cara–cara beribadah, penampilan lahiriah atau batiniah.

Dalam seluruh aspek, seorang muslim memiliki ciri khas tersendiri. Umat Islam memiliki nilai istimewa dengan menonjolnya kebaikannya. Allah berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” [Al–Imran/3 : 110]

Memiliki nilai tersendiri sebagai umat yang adil dan pilihan. Allah berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kami (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan” [Al–Baqarah/2: 143]

Mereka menjadi saksi–saksi Allah di bumi. Lihatlah nilai istimewa yang dimiliki kaum Muslimin dalam ayat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang–orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) yang dimurkai Allah (yaitu : Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu : Nashara” )” [Al–Fatihah/1 : 6–7]

“Tunjukilah kami wahai Rabb ke jalan yang benar dan lurus, bukan jalan orang–orang yang dimurkai Allah, yaitu kaum Yahudi. Juga bukan jalan orang–orang yang sesat, yaitu kaum Nashara”. Seorang muslim berbeda dengan Yahudi dan Nashara, penganut agama dan golongan lain. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam melarang tasyabbuh (berserupa) dengan orang–orang kafir. Larangan itu tertuang dalam nasihat beliau yang sangat mengagumkan.

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah. Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintahku. Rezekiku ditetapkan berada di bawah ujung tombak. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

Aku diutus dengan pedang saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah

Ini adalah ‘izzatul Islam. Kita memperjuangkan Islam sampai orang–orang menyembah Pencipta mereka. Kita berjuang untuk mengeluarkan orang–orang dari kegelapan menuju cahaya. Kita memperjuangkan Islam dengan kata–kata, dakwah, dengan hujjah dan burhan sebelum memasuki perjuangan dengan pedang, di setiap tempat dan moment.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa salaam mengatakan :

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

(Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah).

Jadi, kita berjuang sampai orang–orang menyembah Allah, yang menciptakan mereka.

وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

(Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintah Ku). Jadi barang siapa mengikuti perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan menggenggam izzah (kebesaran) dan rif’ah (ketinggian kedudukan). Barang siapa menentang manhaj Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan ditimpa kehinaan. Setelah itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka). Maksudnya, barang siapa menyerupai musuh, niscaya akan terhina. Barang siapa silau dengan para musuh, ia akan tersesat. Barangsiapa mengikuti manhaj para musuh, ia akan terhina. Tetapi, orang yang mengikuti manhaj Nabi, tidak ada kesesatan dan tidak ada kehinaan yang menimpanya. Ringkasnya, seorang muslim harus berbeda jati dirinya dari orang lain, dalam hal aqidah, jati diri dalam setiap urusannya. Insan yang mandiri. Tidak ke timur juga tidak ke barat.

Bagaimana kita mengetahui bahwa Islam itu besar di mata manusia atau sebaliknya ? atau bagaimana kita mengetahui bahwa kaum muslimin itu agung atau lemah ?

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa kemuliaan Islam ada di tengah kehidupan kaum Muslimin dan kemuliaan kaum Muslimin ada di tengah umat manusia.

Bukti kemuliaan Islam yang pertama. Semaraknya dan tersebarnya panji–panji Islam yang banyak.

Jika Anda ingin mengetahui tegaknya izzah Islam di tengah kaum Muslimin, maka perhatikanlah, apakah syiar–syiar agama, seperti adzan, shalat, pelaksanaan rukun Islam, amar makruf nahi mungkar terlihat jelas di tengah kaum Muslimin ? Apakah berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran ada di tengah kaum Muslimin ?

Kalau Anda melihat nilai–nilai ada, melihat amal shalih, ilmu yang bermanfaat ada. Jika anda menyaksikan kondisi–kondisi seperti ini dan akhlak yang shalih ada, berarti manusia dalam keadaan baik, dan agama Islam masih dalam keadaan mulia.

Oleh karena itu, Rasulullah menghubungkan kemuliaan Islam dengan pelaksanaan syiar–syiar agama Islam, berkembangnya Sunnah di kalangan umat Islam. Dan anda sekalian mengetahui, bahwa orang yang berpuasa, tatkala matahari telah terbenam, maka hendaknya langsung berbuka. Sebabnya, menyegerakan berbuka puasa termasuk sunnah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Agama ini senantiasa akan tegak, selama orang–orang menyegarakan berbuka puasa

Sabda beliau yang lain : “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa

Disini, beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam menghubungkan tegaknya agama dengan tumbuhnya syiar–syiar agama. Kalian melihat ada semangat emosional bagi Islam. Orang–orang masih memilikinya, alhamdulillah, belum padam. Tetapi kita menginginkan tumbuhnya syiar–syiar Islam dalam kehidupan nyata kaum Muslimin. Kita ingin semangat yang ada di kalbu umat tersebut menjelma menjadi tumbuhnya syiar–syiar Islam.

Lihatlah, kasus sang pelukis kafir tatkala berbuat aniaya terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, melukis karikatur–karikatur buruk lagi dusta yang melecehkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di timur dan barat, utara dan selatan, umat tergerak untuk mengingkarinya. Sebagian tindakan mereka dapat dibenarkan syariat. Namun sebagian yang lain tidak dapat dibenarkan oleh agama. Ada pemboikotan kepada negara–negara kafir dalam bidang ekonomi. Ini berarti masih ada semangat agama pada mereka. Kita tidak ingin ini saja. Tapi bersama ini, kita ingin tegaknya syiar–syiar agama.

Kita memang mencintai Rasulullah dengan sepenuh perasaan kita. Tapi pembelaan kita yang hakiki kepada Rasul adalah membela Sunnah Rasul, dengan menghidupkan sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pertolongan kepada orang yang menolong agamaNya.

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar–benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al–Hajj/22 : 40]

Barang siapa yang menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Allah membelanya. Barang siapa menolong Rasul, niscaya Allah akan membelanya. Allah berfirman.

وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Dan kami sekalian menguatkan (agama) nya dan menghormatinya” [Al–Fath/48 : 9]

Menurut mayoritas ulama tafsir, kata ganti ketiga (pada ayat di atas) ini mewaikili Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau umat ingin benar–benar membela Rasul, maka harus konsisten dengan agamanya. Kita mendukung adanya pemboikotan produk musuh. Tetapi sebelum itu, kita harus memboikot pemikiran musuh, kebudayaan barat, aqidah musuh, kebudayaan asing. Dengan ini, syiar–syiar agama akan terlihat di tengah khalayak.

Tanda Kemuliaan Umat Yang Lainnya.
Yaitu adanya sikap mandiri, tidak bergantung kepada umat lain ; sebagai umat merdeka dengan aqidah, manhajnya, ekonominya, kebudayaannya, tidak meniru barat, umat kafir atau umat lainnya. Bukan berarti kita tidak boleh mengambil manfaat dari produk ilmu–ilmu mereka. Imu–ilmu teknologi tersebut bukan monopoli mereka saja, milik siapa saja, dapat diraih oleh siapa saja yang menekuninya. Dan umat Islam, diperintahkan untuk menyatukan dua kebaikan, dunia dan akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [Al–Qashash/28 : 77]

Jadi, seorang mukmin beramal untuk akhiratnya, dengan amal shalih ; dan beramal untuk dunia, dengan membangunnya. Oleh karena itu terlihat kembali hadits Nabi Shalallahu ‘slaihi wa sallam. “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa.

Siapakah yang menunggu terbitnya bintang–bintang saat akan berbuka puasa ? (Mereka) ialah : Yahudi dari orang kafir dan golongan Rafidhah (Syi’ah). Artinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, apabila umatku menunggu terbitnya bintang–bintang untuk berbuka puasa, maka mereka telah mengekor umat lain yang mengakibatkan jati diri umat ini menjadi lemah.

Tanda Kemuliaan Islam Yang Lain.
Orang–orang memberlakukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada denyut kehidupan mereka, para penguasa menetapkan Al–Qur’an dan As–Sunnah sebagai aturan perundang–undangan. Karena, aplikasi syari’at hukumnya wajib dan fardhu ‘ain atas setiap muslim. Perhatikanlah sabda Nabi.

ألَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin ditanya tentang pertanggung jawabannya

Dari sini, setiap muslim adalah pemimpin. Dan sebagai pemimpin, bertanggung jawab untuk menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, menegakkan hukum Allah sebagai undang–undang adalah wajib, fardhu ‘ain sesuai kedudukan dan tanggung jawabnya. Allah berfirman.

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Dan tentang perkara apa saja yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah” [Asy-Syura/62 : 10]

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” [Al-An’am/6 : 57]

Jadi, penerapan syari’at, hukum Allah dan penegakan negara Islam merupakan kewajiban atas umat Islam. Sedangkan meremehkan atau lemah dalam mengusahakan masalah ini, tidak akan membuahkan hasil sama sekali. Tetapi dalam hal menyeru kepada hal ini, harus sesuai dengan metode Nabi. Kita menyeru agar ditetapkan syarat, agama dan hukum Allah dengan cara Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” [An-Nahl/16: 125]

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf/12 : 108]

Jadi, kita menyeru dengan hujjah, burhan, dalil dan penjelasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menegakkan sebuah negara Islam, tetapi tidak dengan pedang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menegakkannya tatkala berhasil menanamkan aqidah pada umat. Setiap umat yang telah berhasil mengekkan tauhid dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam kehidupan mereka, niscaya Allah menegakkan daulah Islam di negeri mereka.

Oleh karena itu tatkala Nabi menawarkan dakwah Islam kepada kabilah-kabilah saat musim haji, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. “Katakanlah sebuah pernyataan! Dengan itu, bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan kalian akan menguasai bangsa Asing. Katakanlah Laa Ilaaha Illa Allah, niscaya kalian akan selamat”.

Jadi umat yang menegakkan tauhid, menegakkan sunnah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugrahkan kekuasaan bagi mereka di bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur : 55]

Istikhlaf dan Tamkin (kekuasaan dan kemenangan) adalah sebuah janji dari Allah bagi orang-orang beriman yang berusaha. Kemudian lihatlah :

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ

(Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Allah ridhai untuk mereka)

Sebelum Allah menegakkan negara di bumi, Allah menegakkan agama di hati manusia. Tatkala agama telah tertanam di hati kita masing-masing, kita sudah menegakkan hukum Allah di hati masing-masing, kita telah menegakkan hukum Allah dalam kehidupan sesuai dengan kemampuan kita, niscaya Allah akan memberikan anugrah berupa Istikhlaf dan Tamkin.

Apakah Islam Akan Kembali Agung Seperti Semula ?
Perkara ini telah di beritahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ

Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhjina ; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya”.

(Dalam hadits ini) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Islam, meskipun tertekan dalam kehidupan manusia dan lemah di jiwa sebagian kaum muslimin, (tetap ia) akan kembali agung, menang, bercahaya sebagaimana disebutkan Rasul dalam hadits yang mulia. Ini juga menunjukkan, masa depan hanya milik Islam. Tidak syak lagi, ini pasti datang dan tiba, tidak bisa tidak ! Karena kita mengimani Allah dan RasulNya. Maha Benar Allah, demikian juga RasulNya. Peristiwa yang diberitahukan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tiba, tidak ada yang bisa mengingkarinya.

Tapi ada faktor-faktor yang menghalangi menuju kebesaran Islam dan jalan ke sana, di antaranya yang paling penting ialah.

Pertama : Fanatisme Daerah dan Sukuisme
Di tengah kaum muslimin tumbuh seruan-seruan kepada fanatisme daerah dan sukuisme. Seruan ini telah mencerai beraikan kaum muslimin. Juga merupakan perkara yang menekan dan menghinakan mereka.Bangsa Arab menyeru kepada fanatisme golongannya sendiri. Demikian juga bangsa Persia, Turki. Bangsa Urdu berperang untuk memperjuangkan fanatisme golongannya. Kaum muslimin terpecah belah menjadi berbagi macam golongan. Bahkan dalam satu golongan pun bercerai berai, muncul banyak faksi. Satu pihak menyeru ke arah selatan dan pihak lainnya menyeru kea rah utara. Ini menyeru kepada barat dan itu menyeru kea rah timur, padahal mereka berasal dari negara yang sama, keturunan yang sama.

Kaum muslimin bercerai berai menjadi berbagai golongan dan sekte, padahal sebelumnya mereka adalah umat yang satu. Tatkala mereka terpecah belah, maka kekuatannya melemah dan menjadi pengekor musuh serta makanan yang diperbutkan musuh-musuh Islam. Inilah sebagian penghalang yang menghadang jalan menuju keagungan Islam.

Dengan pandangan yang tajam, kita bisa mengetahui dampak yang muncul bahwa penguasaan yang dilakukan orang-orang kafir bukan berbentuk dzati, tetapi merupakan penguasaan yang sifatnya efek dari kejadian lainnya. Maksudnya, lantaran kelemahan iman dan kelemahan umat Islam. Kita melihat faktor penunjang kekuatan barat adalah kekuatan politik militer dan ekonomi serta kelemahan kaum muslimin.

Kalau kita memperhatikan kekuatan politik barat, ternyata konsep politik mereka telah terbuka kedoknya, terbongkar boroknya, politik yang tertumpu pada dusta, nifak, memainkan standard yang pincang, mengukur dengan timbangan ganda, memainkan dua benang. Mereka menuntut penerapan sesuatu, tetapi justru mereka yang mempecundanginya. Mereka menuntut negara-negara Islam menerapkan demokrasi, tetapi ketika negara-negara kaum muslimin memenangkannya, mereka mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa politik mereka bedasarkan kedustaan dan kepalsuan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka kedok mereka.

Mari kita lihat kekuatan ekonomi barat. Kekuatan ekonomi mereka hancur. Kekuatan ekonomi mereka menjadi kuat lantaran menguasai kekuasaan alam negara-negara Islam, mengeruk kekayaannya. Mereka menjajah negara-negara Islam. Minyak bumi kita, mereka rampok. Emas-emas kita, mereka curi. Minyak bumi dan kekayaan negara kita dikeruk, dijual dipasar dengan nilai rendah. Tidak ada yang mengetahui berapa banyaknya kecuali Allah.

Adapun kekuatan militer mereka, Allah-lah yang akan mengatasinya. Lihatlah, di penghujung abad sebelumnya, ada dua kekuatan yang menguasai dunia. Kekuatan Timur yang terwakili oleh kekuatan komunisme Soviet dan kekuatan Barat yang kapitalisme dengan Amerika sebagai pemimpinnya.

Bagaimana Uni Soviet bisa terkoyak, padahal memiliki persenjataan yang canggih? Allah mendatangi mereka dari sudut yang tidak mereka sangka, dan melemparkan rasa takut di hati-hati mereka. Mereka hancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari kejadian ini, wahai orang-orang yang berakal.

Amerika tidak menyerang Uni Soviet dengan nuklirnya (sehingga hancur). Kehancuran kekuatan Uni Soviet berasal dari dalam. Sedab, adanya faktor-faktor yang memaksanya hancur. Demikian juga, Amerika sudah berada di ambang kehancuran dari dalam. Melemahnya ekonomi, kerusakan dan degradasi moral, kekalahan kekiuatan militer. Kekuatan-kekuatan ini sudah tidak bertaji lagi. Kekuatan mereka yang tersisa adalah kelemahan kaum muslimin. Oleh karena itu, mereka berusaha mengkondisikan agar kaum muslimin dalam keadaan lemah. Lemah dalam agama, duniawi, pemikiran dan harapan. Jika kaum muslimin kembali pada agama mereka, niscaya kesyirikan akan runtuh, kekufuran akan lenyap. Kekuatan yang menakutkan dunia ini akan sirna dengan kalmatut tauhid, Laa Ilaaha Illallah.

Jadi, penghalang yang paling besar demi mencapai kebesaran Islam adalah terpecah belahnya umat Islam.

Apa Jalan Menuju Kebesaran Islam ?
Konsepnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti tercantum dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhu.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi, dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

Jika demikian, jalan menuju ke sana, wahai saudara-saudaraku, wahai pemuda Islam, wahai harapan umat, wahai orang yang menjadi bekal harapan bagi masa depan yang terang ; jalan menuju keagungan Islam adalah degan kembali memegangi agama kita ini yang dahulu dipegangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan generasi Salafush Shalih. Tatkala mereka konsisten berada di atas agama ini, mereka menjadi umat manusia yang terbaik, para pemimpin wilayah, guru bagi umat manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju ke cahaya terang. Dengan kembali kepada agama kita, agama kita akan menjadi besar lagi. Masa itu pasti akan dating, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketabahan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [Ali-Imran/3 : 200]

Semoga Allah Al-Qawiyyu Al-Aziz menolong Islam dan kaum Muslimin, menampakkan Al-Haq dan menegakkan negeri Islam dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah-lah yang akan mewujudkannya dan Dia Maha Kuasa untuk itu.

(Naskah ini merupakan ceramah Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali di Universitas Brawijaya, Surabaya, pada hari Rabu, 15 Februari 2006. Diterjemahkan oleh ‘Ashim)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Asas Kebangkitan Dunia Islam

ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?

Jawaban.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu“. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].

Jadi asasnya ialah rujuk (kembali) kepada Islam.

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas :

مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ

Barangsiapa mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghianati risalah“.

Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu“. [al-Maaidah/5: 3].

Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini

Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :

لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini“.

Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah rujuk (kembali) kepada al-Kitab was-Sunnah.

Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama’ah serta golongan-golongan di “lapangan” mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.

Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firmannya.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya“. [al-An’am/6 : 153].

Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ سَبِيل مِنْهَا الشَّيْطَانَ يَدْعُوا لَهُ

Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya[1].

Allah ‘Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali“. [an-Nisaa/4 : 115]

Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikatkan “jalannya orang-orang mukmin” kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya[2]

Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabiilul mukminim)” dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah) langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.

Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

إنَ الشَّاهِدَ يَرَى مَا لا يَرَى اْلغَائِبُ

Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir[3]

Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mutawatir :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi ” (Muttafaq ‘alaihi).

Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.

Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam “mengajak orang kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” untuk menambahkan prinsip “berjalan di atas apa yang ditempuh oleh as-Salafu as-Shalih” dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu’minin)“, dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh kaum salaf generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.

Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama’ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : “Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini..?”.

Jawabannya : “Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus rujuk (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang tidak shahih”.

Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan ‘izzah (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :

Pertama : Anda harus mengembalikan syari’at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan firmannya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” [al-Maaidah/5: 3].

Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.

Kedua : Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.

Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu’minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.

Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh salafuna ash-shalih.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia Sami’ (Maha Mendengar) lagi Mujib (Maha Mengabulkan Do’a).[4]

والله أعلم

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 13/Tahun ke-II/1416H-1995M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih sebagaimana terdapat di dalam “Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17
[2] Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203
[3] Lihat Shahih Al-Jami’ : 1641
[4] Diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H

Hidayah

HIDAYAH

Oleh
Ustadz Ruslan Zuardi Mora Elbagani, Lc.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dari suatu ketiadaan menjadi suatu bentuk wujud nyata nan bagus elok rupa dan parasnya.  Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya :

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.  [at-Tin/95:4]

Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka nikmat yang sangat banyak. Diantaranya nikmat kesempurnaan  panca indera, kesehatan, rezeki, keturunan dan nikmat-nikmat lain yang tidak terhitung.

Selanjutnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan nikmat-nikmat itu dengan menganugerahkan hidayah kepada mereka. Yaitu suatu nikmat yang tidak diberikan kepada setiap hamba, karena merupakan nikmat yang diberikan khusus kepada hamba-hanba pilihan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Hidayah adalah milik Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan di tangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sungguh hanya hamba yang terpilih lagi beruntung yang akan mendapatkannya. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Demi Allâh Subhanahu wa Ta’ala !  Pendidikan orang tua tidak akan bermanfaat jika tidak didahului oleh pilihan Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap anaknya. Sesungguhnya, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala  memilih seorang hamba, maka  Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan menjaganya semenjak ia kecil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  juga memberinya hidayah menuju jalan kebenaran serta membimbingnya ke arah yang lurus. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan membuatnya menyenangi hal-hal yang baik, dan mempertemankanya  dengan orang yang baik.”[1]

Ada di antara hamba yang mengharap hidayah kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakannya kepadanya, namun ada pula yang tidak diberi, dikarenakan keadilan dan ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala  terhadap kejujuran serta kebenaran harapannya.

Di antara hamba-hamba Allâh, ada yang telah merasakan indah dan manisnya hidayah namun ia tidak menjaganya sehingga hidayah itu pun sirna dari dirinya. Ada juga yang pernah menikmati hidayah dalam waktu yang lama, namun kemudian terlepas darinya. Akhirya karena rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala  semata, hidayah itu  dapat kembali kepadanya. Dengan bertaubat dan beristighfar kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala  merupakan jalan terbaik. Seorang hamba yang mengalami hal tersebut  merasakan seolah-olah terlahir kembali, hidup setelah kematian yang panjang.  Menangis karena kebahagian yang tiada tara setelah Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menyelamatkannya kembali… La haula wala quwwata illa billah. Sungguh, nikmat hidayah itu adalah nikmat yang sangat besar. Namun hidayah apakah yang dimaksud mari kita simak ulasan berikut ini.

Lafadz “Al-Huda” serta pecahan katanya dalam al-Qur’ân disepakati oleh Ulama sebagai kata yang paling banyak bentuk maknanya. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan ada dua puluh empat makna lafadz al-huda.[2] Dan Imam as-Suyuthi rahimahullah menyebutkan  ada tujuh belas makna lafadz al-huda.[3] Keseluruhan makna tersebut bermuara pada satu inti yaitu penjelasan dan pengarahan dengan penuh lemah lembut dan santun.

Adapun makna hidayah secara istilah adalah penjelasan dan pengarahan kepada tujuan yang dimaksud[4]

Penggunaan Lafadz Hidayah
Lafadz hidayah (هِدَايَةٌ) dan pecahannya memiliki beberapa keadaan.

  1. Muta’addi dengan sendirinya (tunggal) tanpa bantuan huruf jar.

Dalam keadaan ini, lafadz hidayah secara makna mencakup hidayah al-irsyâd wal bayân, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  :

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [al-Balad/90:10]

Juga mengandung makna hidâyatut taufîq wal ilhâm, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [al-Qashash/28:56]

  1. Muta’addi dengan huruf jar ila (إِلَى).

Dalam keadaan seperti ini, hidayah maknanya adalah hidâyatul Irsyâd. Contohnya, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ 

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [asy-Syûrâ/42:52]

  1. Muta’addi dengan huruf jar lam (اللَّامُ).

Dalam keadaan ini, lafadz hidayah bermakna hidâyatut taufîq. Contohnya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ  

Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” [al-A’raf/7:43]

Tingkatan Hidayah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat macam atau tingkatan hidayah :[5]
Pertama, hidâyah ‘ammah (menyeluruh).
Hidayah ini meliputi semua makhluk hidup dengan jenisnya yang beragam.

Kedua, hidâyatul bayân wad dalâlah wat ta’rîf wal irsyâd
Hidâyatul bayân bisa dilakukan oleh siapa pun yang memiliki kemampuan menyampaikannya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  tentang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.”[asy-Syûrâ/42:52]
Setiap Muslim yang menyeru kepada kebaikan, ketaatan atau amal shaleh adalah seorang da’i kepada hidâyah. Selain itu hidayah ini juga dapat diperoleh dari kitab bacaan maupun kitab visual.

Ketiga, hidâyatut taufîq wal ilhâm
Hidâyatut taufîq merupakan kekhususan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , tidak ada yang memilikinya kecuali Allâh.[6] Ia memberikan hidayah ini kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa ada campur tangan pihak lain sekalipun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Inilah yang terpahami dari firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  tehadap Nabi-Nya :

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukan kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetepi Allâh-lah yang mrmberi petunjuk(memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-nya. [al-Baqarah/2:272]

Karena hati itu berada ditangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Ia dapat membolak-balikkannya sekehendak-Nya.

Hidâyatut taufîq wal ilhâm ini memiliki dua tingkatan:
1. Hidâyatut taufîq dari kekufuran dan kesyirikan menuju Islam dan tauhid.
Hidayah ini diperoleh oleh seseorang yang sebelumnya kafir dan musyrik dengan mengucapkan dua kalimat syahadat beserta segenap ketentuan dan persyaratannya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allâh) dan Allâh maha melihat akan hamba-hambanya.”  [Ali Imran/3:20].

Hidayah ini dapat menyelamatkan seseorang dari kekekalan dalam api neraka, meskipun ia pernah terjatuh dalam lembah dosa dan jurang kemaksiatan. Apabila Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menghendaki maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan mengampuni dosanya meskipun ia meninggal sebelum sempat bertaubat.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allâh maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisa’/4:48].

Tidak ada sesuatu pun yang dapat mencabut hidayah ini, melainkan apabila seseorang melakukan salah satu pembatal keislaman dan ketauhidan yang telah dirinci oleh para Ulama dalam kitab-kitab akidah.

2. Hidâyatut taufîq dari kebid’ahan menuju sunnah, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari dosa menuju ibadah.
Hidayah inilah Merupakan hidayah yang paling utama. Inilah yang diinginkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala  dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini juga yang seharusnya dicari oleh seorang hamba. Dengan hidayah ini seorang hamba berlomba meraih pahala yang besar, kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala , dan surga dambaan setiap hamba.

Tidak semua orang yang telah diberi hidayah kepada Islam bisa mendapatkan hidayah untuk mengamalkan Islam sesuai dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan, sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ), banyak pihak yang menyimpang dan sesat, sedangkan yang selamat dari mereka hanyalah sedikit.

Cermatilah berita Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan yang terjadi pada umat ini. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Umatku akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.” Beliau ditanya, “Siapakah dia, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada diatasnya“. (HR. at-Tirmidzi.[7] Hadits ini dihasankan oleh syaikh Al-Albani.[8])

Hanya satu golongan yang dinyatakan selamat dari kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa di atas Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hidayah ini merupakan konsekuensi dari hidâyatut taufîq yang pertama. Setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam harus mempelajari dan mengamalkan Islam sesuai dengan bimbingan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia harus mengaplikasikan Islam secara kaffah dalam kehidupannya.  Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” [al-Baqarah/2:208]

Inilah makna dan hakikat hidayah yang sesungguhnya. Hidayah di atas jalan yang lurus. Hidayah di atas as-Sunnah. Bila hidayah ini luput dari seorang Muslim, maka dikhawatirkan ia telah ditimpa musibah besar, yaitu musibah yang menimpa agamanya disebabkan jauhnya ia dari sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  . Karena sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar selain musibah yang menimpa agama seseorang.

Keempat : Hidayah untuk dapat masuk kedalam surga.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا

Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” [al-A’râf/7:43].

Keempat tingkatan hidayah ini bertahap sifatnya. Seorang hamba yang belum mencapai tingkatan kedua tidak akan mendapatkan hidayah tingkatan yang ketiga. Untuk mencapai tingkatan hidayah keempat, ia harus melalui tingkatan yang kedua dan ketiga.[9]

Buah dari Hidayah
Hidayah akan menghasilkan hidayah yang lain, dan diantara buah dari hidayah sebagaimana berikut ini:

1. Hidayah adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Sudah menjadi kelaziman bahwa setiap amal shalih akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, terlebih lagi jika kebaikan itu diikuti dan diamalkan oleh orang lain setelahnya, maka akan lebih mendatangkan hasil dan buah yang akan dipetik oleh pelaku pertama kebaikan tersebut. Sebagaimana dinyatakan di dalam hadits:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً ، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَه ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أجُورِهمْ شَيئاً ، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيئاً

Barangsiapa menyeru kepada hidayah maka akan ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi.  At-Tirmidzi berkata Hadits hasan shahih.[10] Hadits ini dishahihkan oleh Imam al-Albani[11])

2. Seorang yang mencari hidayah berarti ia telah memenuhi seruan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  yang akan berdampak positif bagi-nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al-Qur’ân) dari Rabbmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” [Yûnus/10:108].

Ketika seorang hamba memenuhi panggilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mencari dan mengejar hidayah, mengorbankan segala yang dimilikinya, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menganugerahkan taufik kepadanya sehingga dia meraih kenikmatan dan keutamaan yang tiada tara di dunia, dan di akhirat dimasukkan ke dalam surga, yang merasakan semua ini adalah si hamba sendiri. Sedangkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dari hambanya.

3. Istiqâmah di atas ad-Din dan as-Sunnah, ini juga bagian dari buah hidayah dan sekaligus merupakan konsekwensi hidayah.

4. Merasa ringan untuk melakukan semua perkara yang disyariatkan.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ 

Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekararang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat ) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allâh; dan Allâh tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allâh maha pengasih lagi maha penyayang kepada manusia”.[Al-Baqarah/2:143].

5. Hidayah adalah penyebab datangnya ampunan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih kemudian tetap dijalan yang benar.”[Thahâ/20:82].

6. Orang-orang yang diberikan hidayah akan tergolong menjadi orang yang lapang dada, paling bahagia dan paling elok hatinya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barangsiapa Allâh kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki kesesatannya, niscaya Allâh menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah ia sedang mendaki kelangit.”[Al-An’aam/6:125].

7. Jalan untuk menambah ilmu.

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

Dan Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk”.[Maryam/19:76]

Kata “al-huda” disini mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.[12]

8. Sebagai perantara untuk mendapatkan kemenangan.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”[Al-Baqarah/2:5].

Nas’alullah al-huda wa at-tuqa wa al-‘afafa wa al-ghina.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Shaidul Khathir, 1 / 84
[2]  Nuzhatul a’yun, 1 / 626-630
[3]  Al-Itqân, 1/ 410-411
[4] At-Ta’rîfât, 1/277
[5] Ibid, 2 / 271-273
[6] Ini yang mendasari perbedaan antara hidâyatut taufîq dan hidâyatul Irsyâd
[7] Sunan at-Tirmidzi, no. 2641
[8] As-Shahîh wad Dha’îf, no. 9474
[9]  Fathul Bâri, 11 / 515
[10]  Shahîh Muslim, no. 2739; Sunan at-Tirmidzi, no. 2674; Sunan Abu Daud No. 4611; Sunan Ibnu Mâjah, no. 206; Musnad Ahmad, no. 916, Sunan ad-Darimi No. 530
[11] Sisilah al-Ahâdîts as-Shahîhah, 2 / 439
[12] Tafsir as-Sa’di, 1/581

Meraih Hidayah Ke Jalan Surga

MERAIH HIDAYAH KE JALAN SURGA

Oleh
Ustadz Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah MA

Saya terjaga, di suatu Malam yang gelap gulita dengan hawa dingin yang menusuk ke tulang, sedangkan tubuhku berada di atas sebuah papan pecahan kapal dengan baju yang basah kuyup. Rasa lapar, kantuk dan takut semua bercampur aduk menjadi satu. Saya terombang-ambing tak tahu arah. Gelombang besar datang bergulung-gulung menghempaskanku berulang kali, di kanan dan kiriku banyak juga manusia yang seperti aku. Sirip hiu kadang muncul menciuatkan nyali, namun aku tetap yakin dengan pertolongan Penciptaku. Saya tidak boleh menyerah, dari kejauhan aku mendengar suara memanggil memecah heningnya malam. Saya melihat sebuah pelita yang membelah gelap malam. Dengan sisa tenaga, saya berenang mendatanginya, dengan hati yang penuh harap, kadang berlalu kabut tebal menghalangi pandanganku. Namun saya berkata dalam diri, saya tidak boleh menyerah. Akhirnya dengan izin-Nya, saya sampai ke pelita itu dan selamat dengan menaiki kapal bersama dengan orang-orang yang berusaha dan tidak putus asa.

Kira-kira seperti itulah gambaran hidayah dalam kehidupan ini. Di tengah pertarungan antara al-haq dan al-bathil. Kadang kita terombang-ambing tak tahu arah. Di tengah derasnya  arus fitnah syahwat dan syubhat, kadang kita terseret dan terhempaskan olehnya, belum lagi adanya kabut tebal yang menghalangi kita dari cahaya hidayah, atau kondisi mata kita yang sedang sakit, atau lemahnya niat dan tekad untuk menyelamatkan diri, belum lagi suara sumbang yang membuat kita berpaling dari cahaya pelita atau hiu-hiu yang membuat kita takut dan khawatir dalam mendekati cahaya petunjuk.

Oleh karena itu lebih dari 17 kali dalam sehari semalam seorang Muslim memohon hidayah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena kebutuhan hamba kepada hidayah lebih daripada kebutuhannya kepada makan, minum dan udara. Terlebih, dunia dipenuhi dengan berbagai penghalau kebenaran. Maka menjadi suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk mengetahui jalan-jalan yang mengantarkannya menuju hidayah Allâh Azza wa Jalla , serta berbagai aral melintang yang menghalangi perjalanannya dalam menggapai hidayah.

Di antara Sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada hidayah adalah:

1. Doa
Ketahuilah bahwa hidayah (hidâyatut taufîq) adalah milik Allâh semata. Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk termulia di sisi-Nya tidak memilikinya. Sehingga pamannya yang sedemikian besar perjuangan dan pengorbanannya membela dan menjaga beliau, akhirnya wafat dalam kondisi kafir. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekalian umatnya, bahwa hanya Dialah yang dapat membimbing siapa yang dikehendakinya :

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allâh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”[Al-Qashash/28:56].

Maka tiada jalan yang lebih pintas dalam meraih hidayah melebihi permohonan kepada pemiliknya. Karena Dia k telah menyatakan dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737), kalau bukan karena rahmat Allâh dan hidayah-Nya niscaya kita tersesat. Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan wasiat kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, untuk memohon petunjuk dan bimbingan Ilahi dengan berkata, “Ucapkanlah :

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَاد

Ya Allâh, saya memohon kepada-Mu petunjuk dan ketepatan. (HR. Muslim no. 2725)

Bahkan beliau sendiri Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang begitu mulianya di sisi Allâh dan telah diberi petunjuk, senantiasa memohon bimbingan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu  bahwa Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa :

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allâh Azza wa Jalla , sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, terjaga (dari perbuatan yang merusak kehormatan) dan kekayaan.”(HR. Muslim no: 2721 ),

Dan di antara doa yang beliau ajarkan juga adalah:

اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

Ya Allâh hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yg memperoleh bimbingan dariMu”.(HR. An-Nasai no: 1305. Dinyatakan oleh Al-Albani shahih dalam Misykatul Mashabih no: 2497).

Sejatinya doa memiliki peran penting dalam menggapai bimbingan ilahi. Lihatlah bagaimana Ibunda Abu Hurairah yang begitu bencinya kepada Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam n akhirnya memeluk islam berkat doa. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari setelah mendengar omongan yang tidak enak terhadap Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Hurairah mendatangi Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,”Ya Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam , sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allâh agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa, “Ya Allâh Azza wa Jalla , berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah”, lalu tidaklah Abu Hurairah kembali ke rumahnya melainkan Allâh telah membuka pintu hati ibundanya menerima hidayah Allâh Azza wa Jalla. (HR Muslim no 6551).

Sudah saatnya bagi seorang Muslim untuk membiasakan dirinya memohon hidayah, baik untuk dirinya, keluarganya, ataupun orang lain. Apalagi untuk seorang tokoh masyarakat yang keshalihannya berpengaruh untuk Islam, sebagaimana Doa Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu. Adalah suatu kebiasaan baik yang masih terjaga di beberapa masyarakat Muslim, bila ia merasa kurang suka dengan perbuatan seseorang, ia berkata “Allah Yahdîk” (Moga Allâh memberimu hidayah), walaupun kadang dengan nada kesal.

2. Mujahadah (Berusaha dan berjuang)
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ

Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” [al-’Ankabut/29:69]

Imam Thabari rahimahullah menafsirkan (لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا), “Kami benar-benar akan memberikan taufiq kepada mereka untuk mencapai jalan yang mustaqim”[1].

Dan Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah k mengaitkan hidayah dengan jihad (perjuangan). Maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya … dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan dunia. Barangsiapa berjihad melawan keempat hal ini karena Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang bisa mengantarkannya ke surga-Nya. Dan barangsiapa meninggalkan jihad, maka akan luput darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al-Junaid berkata, “Dan orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu demi kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan…”[2].

Perhatikan penutup ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla menutupnya dengan berfirman :

وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ 

Dan sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang Muhsin (berbuat ihsan).”  [al-’Ankabut/29: 69]

Allah menamakan orang yang berjuang mengharap ridha-Nya dengan nama muhsin (orang yang berbuat ihsan atau kebaikan yang lebih) dan berjanji akan bersamanya. Barangsiapa yang Allâh bersamanya maka dia adalah orang yang tertolong dan tak terkalahkan. Dia berjanji memberikan hidayah padamu ke jalan-Nya atas kesungguhanmu berjuang. Ini adalah pahala di dunia, lalu bagaimana dengan pahala di akhirat ? Tatkala engkau esok datang kepada-Nya setelah perjuanganmu di dunia, engkau datang membawa buah dari perjuangan. Sesungguhnya hidayah adalah buah dari perjuangan, dan dengan hidayah kau mendapatkan kecintaan Allâh dan dengan kecintaan-Nya kau meraih kedekatan dengan-Nya”[3].

Jadi, untuk meraih hidayah, doa saja tidak cukup, ia harus diiringi dengan tekad dan usaha , karena tidaklah etis seseorang yang meminta hidayah sedangkan dia berenang di kubangan kemaksiatan, terlena dalam mimpi dan kemalasan. Apabila ia memang ingin mendapatkan hidayah maka sudah seharusnya ia bebaskan dirinya dari kubangan tersebut, bangkit dengan usaha dan perjuangan yang diiringi doa, ataukah ia akan menanti malaikat yang menggandeng tangannya untuk shalat berjamaah ke masjid, dan malaikat lain yang membersihkan rumahnya dari barang-barang haram ??[4]

3. Membaca al Qur’an
Awal sifat yang disematkan kepada al Qur’an adalan hudan (petunjuk) :

الۤمّۤ ۚ ١ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ 

Alif laam miim , Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. [Al-Baqarah/2:1-2]

Lalu, Allâh Azza wa Jalla menegaskan hal ini dalam banyak ayat, di antaranya firman Allâh :

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar menunjukkan kepada yang paling lurus.  [Al-Isrâ’/17:9]

Betapa banyak insan yang mendapatkan hidayah melalui al-Qur’ân. Ada yang karena mendengarnya; Ada yang dengan mengkajinya, walaupun dengan niat mengkritiknya, baik itu dari masa lampau atau pada masa kini. Kedekatan seseorang pada hidayah sebanding dengan kedekatannya kepada al Qur’an. Mereka yang tidak pernah membaca al-Qur’ân dan disibukkan dengan bacaan-bacaan lainnya, akan hidup terombang-ambing dalam samudra keraguan dan kebingungan yang tak bertepian, seperti orang yang mencari hidayah dengan mendalami buku-buku filsafat. Dia seperti orang pandir yang mencari mutiara di padang pasir yang gersang.

Sesungguhnya membaca al-Qur’ân akan menumbuhkan cahaya petunjuk di lubuk hati yang akan menerangi perjalanan hidup hamba, penyembuh untuk segala penyaki, maka sudah seharusnya setiap Muslim mengkhususkan sebagian waktunya dalam setiap hari untuk membaca al-Qur’ân.

4. Mencari sahabat yang baik
Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang berada di atas agama sahabat karibnya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai sahabat karibnya. (HR. Abu Dawud no. 4833. Hadits ini dinyatakan oleh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 127)

Memiliki sahabat yang baik adalah salah satu jalan menuju petunjuk Allâh Azza wa Jalla , karena sahabat itu sahib (menarik). Allâh Azza wa Jalla mengabadikan kisah seorang insan yang tersesat gara-gara sahabatnya. Ia pada akhirnya tenggelam dalam samudra penyesalan yang tak bertepian, tatkala harus dipanggang di dalam api neraka. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ٢٧ يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ٢٨ لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا

Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari al-Qur`ân ketika al-Qur`ân itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”  [Al-Furqân/25:27-29].

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang zalim di atas adalah Uqbah bin Abi Mu’aith dan yang dimaksud dengan Fulan adalah Ubai bin Khalaf, di mana Uqbah menjadi murtad gara-gara Ubai dan mati dibunuh seusai perang Badar[5].

Peran teman duduk dalam meraih hidayah sangatlah besar. Mereka yang bergaul dan suka duduk bersama orang-orang shalih, walaupun dirinya tidak mencapai derajat keshalihan mereka, niscaya ia akan mengambil berkah keshalihan mereka, sehingga dapat meniti jalan mereka dan jauh dari lorong-lorong kesesatan. Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. al-Bukhâri No. 2101, Muslim No. 2628)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sudah menjadi tabiat manusia untuk meneladani sahabat atau teman duduknya. Ruh-ruh itu seperti tentara yang yang kompak dan tersusun rapi. Mereka saling terikat satu sama lain dalam kebaikan ataupun yang sebaliknya[6].

5. Menambah ilmu
Dilahirkan menjadi seorang Muslim adalah nikmat Allâh yang patut disyukuri. Ini menuntut kita untuk menyempurnakan islam kita, sehingga menjadi Muslim seutuhnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan,.” [Al-Baqarah/2:208]

Biasanya seorang Muslim dari lahir itu tidak akan mengenal agama islam kecuali sesuai dengan yang ada di lingkungannya, baik itu benar atau salah. Bila orang tua tidak shalat maka anak juga akan tidak shalat, walaupun mereka mengaku islam. Berbeda dengan sosok muallaf yang masuk islam karena ia mengetahui hakikat islam, biasanya dia akan lebih giat beribadah dan beramal, karena ia mempelajari islam, maka demi memperkokoh hidayah Allâh Azza wa Jalla . Seorang Muslim dituntut untuk belajar, kalau tidak maka berbagai pemikiran yang menyimpang atau ajakan yang tidak benar akan dengan mudah mempengaruhinya, dan termasuk dari hal ini, adalah menghadiri majlis-majlis ilmu.

6. Mengamalkan ilmu
Setelah mengenal agama islam dengan benar, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Dengannya, Allâh Azza wa Jalla akan membimbing ke jalan yang lurus. Karena semua aturan Allâh sejatinya untuk maslahat manusia, walaupun kadang kala manusia merasa terbebani dengan aturan-aturan itu.  Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَوْ اَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهٖ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَشَدَّ تَثْبِيْتًاۙ ٦٦ وَّاِذًا لَّاٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ لَّدُنَّآ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ ٦٧وَّلَهَدَيْنٰهُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًا

… Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka  jalan yang lurus.’ [An-Nisa’/4:66–68]

Hidayah atau petunjuk yang akan Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan adalah hidayah taufiq sebagaimana disebutkan oleh Thabari dalam tafsirnya (8/528) yang Allâh berikan sebagai balasan atas ketaatannya. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Telah disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’ân bahwa sesungguhnya kebaikan kedua terkadang merupakan bentuk pahala atas kebaikan pertama. Demikian pula dengan keburukan kedua; dia terkadang merupakan hukuman atas keburukan pertama[7]. . Dan tidak ada pahala yang lebih mulia bagi seorang hamba yang berbuat ketaatan yang melebihi taufîq Allâh untuk dirinya menuju jalan yang lurus, sebagaimana dalam ayat di atas.

Inilah beberapa jalan untuk menggapai hidayah Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Namun adanya jalan-jalan ini kadang kala tidak dapat membimbing hamba kepada petunjuk Allâh disebabkan ada hal-hal yang menghalanginya. Perkara-perkara yang menghalangi seseorang dari hidayah itu sangatlah banyak.

Penghalang-Penghalang Hidayah
1. Lemahnya pengetahuan
Kesempurnaan hamba itu terletak dalam dua hal; bisa mengenali kebenaran dari kebatilan dan bisa mengutamakan kebenaran di atas kebatilan. Lalu ada sebagian manusia yang mengenali kebenaran namun hasrat untuk mengutamakannya atas kebatilan lemah, dan biasanya orang yang jahil itu lebih mudah untuk mengikuti kebenaran tatkala ia mengetahuinya. Tiada yang tersisa darinya kecuali menguatkan tekad untuk mengikuti kebenaran yang telah diketahuinya. Oleh karena itu, di antara doa Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَلَّلهُمَّ أَسْأَلُكَ الْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

Aku memohon kepadaMu kebulatan tekad dalam petunjuk (HR. An-Nasai, no. 1304. Hadits ini dinyatakan shahîh oleh al-Albâni dalam Shahîhah, no. 3238).

Kebodohan adalah penghalang yang umum di kalangan manusia. Karena manusia biasanya akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalnya dan memusuhi orang-orang yang membawanya. Realita menunjukkan hal itu. Sebagian masyarakat awam benci terhadap sunnah karena kejahilan mereka. Juga peristiwa antara Nabi Musa q dan Khadir q adalah salah satu bukti bahwa ketidaktahuan menjadi salah satu penghalang dari menerima kebenaran, di mana sejak dari awal Khadir q telah mengingatkan Nabi Musa Alaihissallam dengan berkata :

قَالَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا ٦٧ وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا   

Dia berkata, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum diberikan kepadamu ilmunya?“ [al-Kahfi/18:67-68]

Ketidaktahuan Nabi Musa q membuatnya tidak dapat bersabar melihat apa yang dilihatnya, sehingga beliau memusuhinya. Dan pada masa kini, kita dapati orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan karena faktor kebodohan, meskipun secara intelektual mereka adalah orang-orang yang cerdas dan brilian. Kebodohan akan semakin menjadi penghalang hamba dari menggapai hidayah bila berbalut kebencian kepada orang yang membawa kebenaran tersebut.

2. Ketidaklayakan wadah untuk menerima hidayah
Yang dimaksud dengan wadah adalah hati manusia. Terkadang ilmu telah dimiliki, al-Qur’ân telah dibacakan, namun dia tetap saja tidak beranjak dari jalan kesesatan.

Ibnul Qayyim t menjelaskan, “Tidak hadirnya hidayah itu bisa jadi karena faktor wadah, dan kadang karena tidak adanya alat hidayah atau karena Allâh tidak menghendaki. Dan hidayah yang sebenarnya tidak akan tercapai kecuali tatkala 3 hal ini berkumpulnya. Allâh Azza wa Jalla telah berfirman (tentang orang-orang munafik).

وَلَوْ عَلِمَ اللّٰهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لَّاَسْمَعَهُمْۗ وَلَوْ اَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ 

Kalau kiranya Allâh mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allâh menjadikan mereka mau mendengar (peringatan Allâh dalam al-Qur’an).  Dan jikalau Allâh menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)” [Al-Anfâl/8:23].

Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Ia memutuskan dari mereka bahan untuk mendapatkan petunjuk yaitu memperdengarkan kepada hati mereka dan memahamkannya apa yang bermanfaat baginya dikarenakan wadahnya tidak layak, di mana tidak ada kebaikan di dalamnya. Sesungguhnya seseorang itu akan tunduk kepada kebenaran, condong kepadanya, berusaha mencarinya, cinta kepadanya dan bersungguh-sungguh menggapainya, senang menerimanya, jika kebaikan itu ada dalam hatinya. Sementara orang-orang itu di dalam hatinya, tidak ada kebaikan sedikitpun. Sampainya petunjuk ke hati mereka seperti sampainya hujan yang turun dari langit dan jatuh di tanah yang keras di dataran tinggi yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Ia tidak bisa menerima air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Air pada hakekatnya adalah rahmat dan kehidupan, namun tempat tersebut tidak dapat menerimanya. Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan makna ini untuk mereka dengan firmannya, “Dan jikalau Allâh menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)”. Dia memberitahukan bahwa di samping  tidak bisa menerimanya wadah dalam diri mereka sesungguhnya ada penyakit lain yaitu kibr, berpaling dan rusaknya niat, andaikata mereka memahami mereka tetap tidak akan tunduk dan mengikuti kebenaran dan tidak pula mengamalkannya”[8].

Pada hakekatnya wadah (hati) akan menjadi layak menerima hidayah dengan dua hal. Pertama, pemahaman yang baik; Kedua, niat yang baik juga. Apabila salah satu darinya hilang, maka hidayah akan menjumpai kesulitan untuk bersemayam di hatinya[9].

3. Hasad dan kibr
Hasad dan kibr adalah salah satu pengotor wadah hidayah yaitu hati. Keduanya menjadikan hati tidak dapat menerima cahaya petunjuk ilahi yang turun, ilmu dan kebenarannya yang diketahuinya tidak akan berguna, karena kabut kesombongan membuatnya buta. Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. (HR Muslim, no. 2749), Seseorang yang merasa lebih baik, lebih pinter, lebih mulia dari orang lain, biasanya ia akan dengan mudah menolak kebenaran.

Kibr adalah dosa pertama yang dilakukan, di mana kesombongan iblis terhadap Adam itu menyeretnya untuk tidak mematuhi perintah Allâh Azza wa Jalla,

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!,’ Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [Al-Baqarah/2:34].

Sehingga Iblis menjadi panutan bagi orang-orang sombong yang menolak kebenaran. lihat di dalam al-Qur’ân berbagai kisah kaum-kaum yang menolak nabi mereka, seperti kisah Nabi Nûh Alaihissallam (Asy-Syu’ara, ayat ke-111), Nabi Shaleh Alaihissallam (Al-A’râf, ayat ke-75 sampai dengan ayat ke-77) Nabi Syu’aib Alaihissallam (Al-A’râf, ayat ke-88), Nabi Musa bersama Fir’aun ( al Mu’minun, ayat ke-47).

Adapun hasad yang kadang berbalut kibr seperti Iblis adalah penyakit hati akut yang menjadi dinding penghalang hidayah, sebagaimana penyebab tertinggalnya Abu Jahal dan yang semisalnya dari kereta hidayah. Saat ia ditanya oleh seseorang tentang penyebab yang menghalanginya untuk beriman kepada Muhammad Shaallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ia mengetahui kebenarannya, “Kami berlomba dengan Bani Hasyim dalam hal kehormatan, sampai tatkala kita sudah seperti dua kuda yang sedang berpacu, mereka mengatakan, “Ada Nabi dari kami, yang mendapatkan wahyu dari langit”, maka kapan kita bisa mendapatkannya, demi Allâh kami tidak akan beriman kepadanya”[10].

Begitu pula orang-orang Yahudi di masa Nabi, padahal mereka benar-benar mengetahui kebenaran Nabi Muhammad Shaallallahu ‘alaihi wa sallam , namun karena hasad mereka menolak kenabiannya. Allâh Azza wa Jalla.

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

” Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allâh yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka la’nat Allâh Azza wa Jalla -lah atas orang-orang yang ingkar itu.”  [Al-Baqarah/2:89]

4. Cinta kedudukan dan jabatan
Manusia diciptakan dengan kecenderungan kepada dunia, kadang posisi dan jabatan penting yang dipangkunya membuatnya terbuai dan mabuk, sehingga walaupun cahaya kebenaran datang menghampiri dirinya, dia tidak menggubrisnya karena takut kehilangan kedudukannya. Seperti yang terjadi dengan Heraclius, raja Romawi di mana setelah perbincangannya dengan Abu Sufyan, ia berkata, “Andai kata apa yang kau katakan benar, niscaya ia akan mengusai tempat kedua kakiku ini, dan seandainya aku tahu bahwa aku bisa bebas sampai kepadanya, pastilah aku akan berupaya untuk menemuinya, dan seandainya aku di sisinya, pastilah aku akan membasuh kakinya.”(HR. Al-Bukhâri, no. 7)

Namun ia tidak beriman, karena kecintaannya kepada kekuasaannya.

5. Anggapan bahwa mengikuti kebenaran itu mencoreng dan mencela tradisi keluarga dan nenek moyang.
Seperti yang terjadi dengan Abu Thalib paman Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam , di mana ia sama sekali tidak meragukan kebenaran agama yang dibawa Muhammad Shaallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan ia berkata :

وَعَرَضْتَ دِينًا قَدْ عَرَفْتُ بِأَنَّهُ … مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ الْبَرِيَّةِ دِينَا
لَوْلَا الْمَلَامَةُ أَوْ حِذَارِي سُبَّةً … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِينَا

Engkau telah menawarkan sebuah agama, yang aku telah mengetahui, bahwa ia adalah agama terbaik di muka bumi ini.

Andai bukan karena takut celaan dan hinaan, tentu engkau akan melihatku menerima agama ini dengan lapang dada  dan terang-terangan.(Dalâ-il Nubuwwah, Baihaqi 2/188).

Perkara itulah yang menyebabkan Abu Thalib tetap kufur. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Al-Musayyib Radhiyallahu anhu , dari ayahnya ia berkata : Ketika Abu Thâlib hampir mati, Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan beliau mendapati Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughiirah di sisi Abu Thâlib. Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah; satu kalimat yang aku dapat berhujjah membelamu kelak di hadapan Allâh Azza wa Jalla ”. Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Thâlib, apakah engkau membenci agama ‘Abdul Muthallib ?” Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam tidak henti-hentinya mengulangi kalimat tersebut agar Abu Thâlib mengucapkannya, namun keduanya juga mengulang apa yang telah mereka katakan sebelumnya. Hingga akhir perkataan Abu Thâlib saat kematiannya adalah : di atas agama ‘Abdul-Muthallib, dan menolak untuk mengucapkan Laa ilaaha illallaah. (HR. Al-Bukhâri no. 4772; Muslim no. 24)

Dan Tidak sedikit dari manusia yang berdalih dengan tradisi dan budaya, dan bila diajak kepada kebenaran yang berdasarkan dalil dari al Qur’an dan sunnah, ia akan menolak cahaya itu dengan berkata, “ini sudah tradisi, ajaran nenek moyang, budaya yang harus dilestarikan” sekedar taklid buta plus fanatisme, tanpa mau melihat apakah perbuatan itu diridhai oleh Allâh atau tidak, sehingga cahaya hidayah sulit menembus hatinya, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allâh dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [Al-Mâidah/5:104]

Masih banyak lagi sebab-sebab yang menghalangi hamba dari hidayah dan sebagai penutup saya akan menukil perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata :

“Sebab-sebab yang menghalangi hamba dari menerima kebenaran banyak sekali, di antaranya adalah kejahilannya dengan kebenaran itu, sebab ini adalah yang paling umum atas kebanyakan manusia, karena orang yang jahil terhadap sesuatu biasanya ia akan memusuhinya dan memusuhi yang membawanya, maka bila sebab ini ditambah dengan kebencian terhadap orang yang menyuruh kepada kebenaran itu, dan permusuhannya terhadapnya serta hasad, maka penghalang dari menerima kebenaran semakin kuat, dan bila ditambah dengan tradisi, kebiasaan dan pertumbuhannya di atas ajaran nenek moyangnya, dan orang-orang yang dicintai dan diagungkannya penghalangnya akan semakin kuat, lalu bila ditambah lagi dengan dugaannya bahwa kebenaran yang ia diseru kepadanya bakal menghalanginya dari jabatannya, kedudukannya, syahwatnya, dan tujuan-tujuannya, maka penghalang itu akan semakin kuat, lalu bila ditambah lagi dengan ketakutannya kepada teman atau kelompok dan kaumnya akan diri, harta dan kedudukannya, maka penghalang itu semakin menjadi kuat”[11].

Semoga Allâh menjauhkan kita dari semua sebab yang menghalangi kita dari menerima kebenaran, dan membimbing kita ke shirathal mustaqim.

Refrensi:

  1. Hidâyatul Hayara fi ajwibatil Yahud wan Nashara, Ibnul Qayyim, tahqiq: Muhammad Ahma al Haaj, Darul Qalam, Jeddah, 1426 H
  2. Al-Fawâ-id, Ibnul Qayyim, Darul Kutub Ilmiyah, Bairut, 1393 H
  3. Adabun Nafs, Muhammad bin Ali al Hakim Tirmidzi, tahqiq: Dr Ahmad Abdurrahim Sayih, Dar Mishriyah Lubnaniyah, Mesir, 1423 H.
  4. Al-‘Iqdust Tsamîn fi syarh Ahâdîts Ushuliddien, Husain bin Ghannam, tahqiq: Muhammad Abdullah Habdan, Fahrast Maktabah Malik Fahd al Wathaniyah, 1423 H.
  5. Bahjatu Qulûbil Abrâr, Sa’di, Wizaratusy Syu’un Islamiyah, Saudi Arabia, 1423.
  6. Syifâ-ul ‘Alîl, Ibnul Qayyim, Darul Ma’rifah, Bairut, 1398 H.
  7. Tafsir Thabari, Tahqiq: Ahmad Syakir, Muassah Risalah, 1420 H.

Syafiq Riza Hasan Basalamah
Madinah Nabawiyah, 7 Jumadal Akhirah 1434 H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Thabari 20/63
[2] al-Fawâ-id, hlm. 59
[3] Adabun Nafs, al Hakim Tirmidzi, hal. 101
[4] Lihat, al-‘Iqdust Tsamîn fi syarh Ahâdîts Ushuliddîn, hlm. 154
[5] Tafsir Thabari 19/262-263
[6] Bahjatul Qulbil Abrâr, hlm. 139-140
[7] Majmû’ul Fatâwâ, 14/240
[8] Ighâtsatul Lahfan min Mashâ-idisy Syaithân, 2/171
[9] Syifâ‘ul ‘Alîl, Ibnul Qayyim, hlm. 97
[10] Dalâ-ilun Nubuwwah, Baihaqi 2/206
[11] Hidâyatul Hayara, hlm.244

Ulama Salaf Benteng Kokoh Penjaga Sunnah

ULAMA SALAF  BENTENG KOKOH PENJAGA SUNNAH

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Setiap orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kebenaran Islam wajib meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla akan selalu menjaga kemurnian dan kebenaran agama Islam sampai hari kiamat. Penjagaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap kemurnian agama Islam ini adalah dengan menjaga sumber hukum syariat Islam, yaitu al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga tidak ada alasan apapun bagi semua manusia, sejak diutusnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di akhir jaman, untuk berpaling dari kebenaran Islam, ketika Allâh Azza wa Jalla meminta pertanggungjawaban mereka pada hari kiamat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا 

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allâh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana  [an-Nisâ’/4:165].

Penjagaan terhadap kemurnian agama Islam ini ditegaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9].

Penjagaan terhadap al-Qur’ân dalam ayat ini mencakup penjagaan terhadap hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allâh Azza wa Jalla menjaga kemurnian al-Qur’ân pada lafazh (teks) dan kandungan maknanya[1], sedangkan kandungan makna al-Qur’ân yang benar dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِۗ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menjelaskan kepada umat manusia (kandungan makna al-Qur’ân) yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan.[an-Nahl/16:44].

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan, “Sunnah (hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah penjabar dan penjelas makna al-Qur’ân”[2]

Imam Muhammad bin Ibrahim al-Wazir, ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau rahimahullah berkata: “Firman Allâh Azza wa Jalla ini mengandung konsekwensi bahwa syariat (yang dibawa oleh) Rasûlullâh n akan selalu terjaga dan sunnah (hadits-hadits) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan senantiasa terpelihara”[3]

Oleh karena itu, beberapa Ulama ahli tahqiq (yang terkenal dengan ketelitian dalam berpendapat) bahwa makna adz-Dzikr dalam ayat di atas bukan hanya al-Qur’ân saja, tapi juga mencakup hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena keduanya adalah adz-Dzikr (peringatan) yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla kepada manusia[4].

Imam Abu Muhammad ‘Ali bin Hazm rahimahullah mengatakan, “…Maka benarlah bahwa semua hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang agama adalah wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , tidak ada keraguan dalam masalah ini. Dan tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli bahasa (Arab) dan ahli syariat Islam (Ulama) bahwa semua wahyu yang diturunkan dari sisi Allâh Azza wa Jalla adalah adz-Dzikr (peringatan) yang diturunkan (oleh Allâh  Azza wa Jalla ). Maka wahyu seluruhnya terjaga (kemurniannya) secara pasti dengan penjagaan Allâh  Azza wa Jalla , dan semua hal yang dijamin penjagaannya oleh Allâh Azza wa Jalla ditanggung tidak akan hilang (rusak) sedikitpun dan tidak akan berubah selamanya dengan perubahan yang tidak dijelaskan kebatilan (kesalahannya) … Maka mestilah agama yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (akan senantiasa) terjaga (kemurniannya) dengan penjagaan langsung dari Allâh Azza wa Jalla …”[5].

Para Ulama Ahli Hadits Penjaga Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Di antara sebab utama yang Allâh Azza wa Jalla jadikan untuk penjagaan kemurnian agama-Nya adalah dengan menghadirkan para Ulama Ahli hadits di setiap generasi sejak jaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari kiamat.

Mereka inilah yang dimaksud dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ

Ilmu agama ini akan dibawa pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil (terpercaya) dari mereka, (dan) mereka akan menghilangkan/membersihkan ilmu agama dari (upaya) at-tahrîf (menyelewengkan kebenaran/merubah kebenaran dengan kebatilan) dari orang-orang yang melampaui batas, kedustaan dari orang-orang yang ingin merusak (syariat Islam) dan pentakwilan dari orang-orang yang bodoh[6]

Imam Ibnul Qayiim rahimahullah berkata, “(Dalam hadits ini) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ilmu agama yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa (dari wahyu Allâh Azza wa Jalla ) akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya dari umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari setiap generasi, supaya ilmu agama ini tidak pudar dan tidak hilang. Ini mengandung rekomendasi dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para Ulama yang membawa ilmu yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawakan (ilmu sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”[7]

Para Ulama Ahli hadits menghabiskan waktu, tenaga dan hidup mereka untuk mempelajari, menghafal dan meneliti hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menjaga kemurnian dan keotentikannya.

Oleh karena itu, imam besar penghafal hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Atbâ‘ut tâbi’în yang terkenal, Abdullah bin al-Mubârak, ketika beliau rahimahullah ditanya tentang banyaknya hadits-hadits palsu yang tersebar di tengah kaum Muslimin, beliau rahimahullah menjawab, “Para Ulama yang menekuni hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mencurahkan) hidup mereka untuk (meneliti dan menjelaskan) hadits-hadits tersebut.” Kemudian beliau rahimahullah membaca firman Allâh Azza wa Jalla :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9][8]

Mereka pantas untuk disebut sebagai makhluk yang khusus diciptakan Allâh Azza wa Jalla untuk menjaga kemurnian al-Qur’ân dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ketika memuji imam Yahya bin Ma’in rahimahullah, “Di sini ada seorang laki-laki (Yahya bin Ma’in) yang Allâh Azza wa Jalla ciptakan (khusus) untuk urusan ini (mempelajari dan meneliti hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dengan beliau rahimahullah menyingkap kedustaan orang-orang yang berdusta (dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”[9]

Merekalah yang selalu membela kebenaran agama Islam dan menjaga kemurniaannya sampai di akhir jaman, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ كَذَلِكَ

Senantiasa ada segolongan dari umatku yang (membela dan) memenangkan kebenaran, tidak akan merugikan mereka orang yang meninggalkan mereka, sampai datangnya ketentuan Allâh dalam keadaan mereka (tetap) seperti itu[10]

Para Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘golongan yang selalu ditolong oleh Allâh dalam membela kebenaran’ (ath-thâifah al-manshûrah) dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah para Ulama ahli hadits, sebagaimana ucapan imam Abdullah bin al-Mubârak, imam Ahmad bin Hambal, imam ‘Ali bin al-Madini dan imam al-Bukhari, bahkan imam Ahmad bin Hambal berkata, “Kalau bukan yang dimaksud dengan ath-thâifah al-manshûrah ini adalah ahli hadits maka aku tidak tahu siapa mereka”[11]

Imam al-Khatîb al-Baghdadi, ketika mengomentari hadits ini, beliau rahimahullah berkata, “Sungguh Rabb semesta alam (Allâh Azza wa Jalla) telah menjadikan ath-thâifah al-manshûrah (para Ulama ahli hadits) sebagai penjaga agama Islam dan Allâh Azza wa Jalla melindungi mereka dari tipu daya para penentang (kebenaran), karena (kuatnya) mereka (dalam) berpegang teguh dengan syariat Allâh yang kokoh dan (dalam) mengikuti jejak para shahabat Radhiyallahu anhum dan tabi’in.

Kesibukan mereka adalah menghafal hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mengarungi padang pasir dan tanah tandus, serta menempuh (perjalanan) darat dan laut dalam rangka mencari atau mengumpulkan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka tidak akan berpaling dari petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemikiran dan hawa nafsu manusia.

Mereka menerima (sepenuhnya) syariat (yang dibawa oleh) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ucapan maupun perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menjaga (kemurnian) sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menghafal dan menyebarkannya (kepada umat), sehingga mereka menjadikan kuat landasan sunnah (di tengah masyarakat), dan merekalah ahli sunnah dan yang paling memahaminya.

Berapa banyak orang yang (berpemahaman) menyimpang (dari Islam) ingin mencampuradukkan syariat Islam dengan kebatilan, tapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala membela dan menjaga syariat-Nya dengan para Ulama ahli hadits.

Maka merekalah para penjaga tiang-tiang penopang syariat Islam, penegak perintah dan hukum-hukumnya. Ketika manusia berpaling dari membela syariat Islam, maka mereka selalu tampil membela dan mempertahankannya.

اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Mereka itulah golongan Allâh . Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allâh itulah orang-orang yang yang beruntung [al-Mujâdilah/58:22][12]

Bentuk-Bentuk Penjagaan dan Pembelaan Para Ulama Ahli Hadits Terhadap Hadits-Hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jaman Para Shahabat Radhiyallahu anhum
A. Berhati-hati dan teliti dalam menerima hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Imam adz-Dzahabi rahimahullah mencantumkan biografi shahabat yang mulia, Abu Bakar ash-Shiddik Radhiyallahu anhu dalam kitab beliau Tadzkiratul Huffâzh[13] dan beliau menyebut shahabat yang mulia ini sebagai orang yang pertama kali berhati-hati dan sangat teliti dalam menerima hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian beliau t membawakan sebuah riwayat dari Qubaishah bin Dzuwaib bahwa ada seorang nenek yang datang menghadap Abu Bakar ash-Shiddik Radhiyallahu anhu untuk meminta bagian dari harta warisan, maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku tidak mendapati ada bagian (warisan) untukmu dalam kitabullah (al-Qur’ân) dan aku tidak mengetahui bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan suatu (bagian warisan) untukmu”. Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu anhu bertanya kepada para Shahabat lainnya Rad’hiyallahu anhum.

Lalu berdirilah al-Mugirah bin Sy’ubah Radhiyallahu anhu seraya mengakatan, “Aku pernah menyaksikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan (bagian) seperenam (dari warisan) untuk sorang nenek.” Maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu bertanya kepada al-Mugirah, “Apakah ada (orang lain) bersamamu (yang menyaksikan hal tersebut) ?” Kemudian Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu anhu mempersaksiakn hal yang sama, sehingga Abu Bakar Radhiyallahu anhu memberikan bagian tersebut kepada nenek tersebut”

Sahabat yang mulia ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhu , imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang beliau, “Umar bin al-Khattab-lah yang memberikan teladan baik kepada para Ulama ahli hadits tentang ketelitian dalam menukil (hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), dan terkadang beliau Radhiyallahu anhu tidak langsung menerima berita (hadits) dari seseorang jika beliau ragu”[14]. Kemudian imam adz-Dzahabi rahimahullah membawakan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu pernah mengunjungi ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhu dan Abu Musa mengucapkan salam tiga kali dari balik pintu, karena tidak diizinkan (tidak dijawab) maka beliau Radhiyallahu anhu pulang. Lalu ‘Umar Radhiyallahu anhu  mengutus seseorang kepadanya dan bertanya, “Kenapa kamu pulang?”. Abu Musa Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengucapkan salam tiga kali lalu tidak dijawab maka hendaknya dia pulang”. ‘Umar berkata, “Sungguh kamu harus membawa bukti (saksi) atas hal ini atau aku akan menghukummu.” Kemudian Abu Musa Radhiyallahu anhu mendatangi para Sahabat lainnya g dalam keadaan pucat mukanya (karena takut) dan beliau berkata, “Apakah ada di antara kalian yang mendengar (sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut)?”. Para Sahabat Radhiyallahu anhum berkata, “Iya, kami semua mendengarnya”. Lalu mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk menemui ‘Umar Radhiyallahu anhu bersama Abu Musa Radhiyallahu anhu , kemudian Sahhabat tersebut Radhiyallahu anhu menyampaikannya kepada ‘Umar Radhiyallahu anhu [15].

Imam Muslim membawakan riwayat dari Mujâhid bin Jabr rahimahullah bahwa Busyair bin Ka’ab al-‘Adawi rahimahullah (seorang tabi’in) pernah datang kepada ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu , lalu Busyair rahimahullah mulai menyampaikan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”. Sedangkan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu tidak mendengarkan haditsnya dan tidak menoleh kepadanya. Maka Busyair pun berkata, “Wahai Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu , kenapa aku melihatmu tidak mau mendengarkan haditsku? Aku menyampaikan padamu hadits dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kamu tidak mau mendengarnya ?” Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu menjawab, “Dulunya kami (para Shahabat Radhiyallahu anhum) jika mendengar seseorang berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”, maka kami segera mengarahkan pandangan dan pendengaran kami kepadanya, akan tetapi ketika manusia telah menempuh cara-cara yang baik dan buruk (kadang jujur dan kadang berdusta) maka kami tidak mau menerima (hadits) dari mereka kecuali yang telah kami ketahui (kebenarannya)”[16]

B. Takut dalam menyampaikan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali yang telah diyakini kebenaran penisbatannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Shahabat yang mulia, Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Kalau bukan karena takut salah maka sungguh aku akan menyampaikan kepada kalian hadits-hadits yang pernah aku dengar dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pernah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan, hal ini (karena) aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka”[17]

Dari asy-Sya’bi dan Muhammad bin Sirin bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu jika menyampaikan hadits dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka wajah beliau akan berubah (karena takut) dan beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Demikianlah (sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) atau semakna dengannya”[18]

Dari ‘Abdur Rahman bin Abi Laila , beliau berkata, “Kami berkata kepada Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu , ‘Sampaikan kepada kami hadits dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Kami telah tua dan banyak lupa, sedangkan (menyampaikan) hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat”[19].

Jaman Para Tabi’in Dan Para Ulama Setelahnya
A. Menanyakan dan memeriksa isnad hadits (mata rantai para perawi sampai kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Imam Muslim membawakan riwayat dari seorang Ulama tabi’in yang mulia, Muhammad bin Sirin bahwa beliau rahimahullah berkata, “Dahulu, para Ulama ahli hadits tidak bertanya tentang isnad hadits, tapi setelah terjadi fitnah (terbunuhnya shahabat yang mulia, ‘Utsman bin ‘Affân Radhiyallahu anhu dan bermunculannya ahlul bid’ah) para Ulama ahli hadits berkata (kepada orang yang menyampaikan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Sebutkan kepada kami nama-nama para perawimu”, Kemudian mereka melihat (jika para perawi tersebut) ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan (jika para perawi tersebut) ahlul bid’ah maka tidak diterima haditsnya”[20]

B. Meneliti keadaan dan sifat-sifat para perawi hadits yang berhubungan dengan kebaikan agama, kejujuran dan ketelitiannya dalam meriwayatkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang dikenal dengan ilmu al-jarhu wat ta’dîl.
Imam al-‘Iraqi rahimahullah berkata, “Hampir-hampir semua kitab rujukan ilmu hadits bersepakat (menjelaskan) bahwa pembicaraan tentang al-jarhu wat ta’dîl (mengkritik dan memuji para perawi hadits) adalah perkara yang sejak dulu dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian oleh para Shahabat Radhiyallahu anhum, tâbi’în dan para Ulama setelah mereka.”[21]

Dari imam ‘Amr bin ‘Ali al-Fallas, beliau rahimahullah berkata, “Aku pernah mendengar imam Yahya bin Sa’id al-Qaththan rahimahullah berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada (para imam Ahli hadits) Sufyân ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Mâlik bin Anas dan Sufyân bin ‘Uyainah tentang seorang perawi yang tidak cermat dalam (meriwayatkan) hadits, kemudian ada orang lain yang bertanya kepadaku tentang perawi tersebut, (apa aku harus menjelaskan keadaannya)?” Mereka menjawab, “(Ya), sampaikan kepadanya bahwa perawi tersebut tidak tidak cermat (dalam meriwayatkan hadits).”[22]

C. Melakukan rihlah (perjalanan jauh) untuk mengumpulkan dan meneliti hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam al-Bukhâri rahimahullah berkata, “Jabir bin Abdullâh Radhiyallahu anhu telah melakukan perjalanan jauh selama sebulan (untuk menemui) ‘Abdullah bin Unais Radhiyallahu anhu dalam rangka (menanyakan) sebuah hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[23]

Imam Ibnu ash-Shalah menukil dari imam Ahmad rahimahullah, bahwa beliau rahimahullah ditanya, “Apakah seorang (penuntut ilmu hadits) melakukan perjalanan untuk mencari (sanad) yang tinggi ?” Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Ya, demi Allâh , dengan sungguh-sungguh. Sungguh  imam Alqamah dan al-Aswad (dua ulama besar tabi’in yang tinggal di Irak) ketika sampai kepada mereka hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhu , maka mereka tidak puas sampai mereka keluar (melakukan perjalanan jauh ke Madinah) untuk menemui ‘Umar Radhiyallahu anhu  dan mendengarkan hadits tersebut (langsung) darinya”[24]

Penutup
Demikianlah gambaran tentang pembelaan dan penjagaan para Ulama Ahli hadits terhadap sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari masa ke masa sampai di akhir jaman, dengan izin Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Contoh-contoh yang kami sebutkan hanya sebagian kecil dari bentuk-bentuk penjagaan dan pembelaan mereka terhadap sunnah. Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membalas kebaikan dan jasa-jasa mereka dengan pahala yang sempurna di sisi-Nya, menjaga mereka yang masih hidup dalam kebaikan dan merahmati mereka yang sudah wafat. Sesungguhnya Dia Azza wa Jalla Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.

  Kota Kendari, 19 Dzulhijjah 1431 H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 429).
[2] Kitab Ushûlus Sunnah (hlm. 2).
[3] Kitab ar-Raudhul Bâsim (hlm. 33).
[4] Lihat kitab al-Hadîtsu Hujjatun bi Nafsihi fil ‘Aqâ‘idi wal Ahkâm (hlm. 22).
[5] Kitab al-Ihkâm fi Ushûlil Ahkâm (1/114).
[6] HR al-Baihaqi dalam a as-Sunanul Kubra” (10/209), ath-Thabrani dalam  Musnadusy Syâmiyyiin (1/344) dan imam-imam lainnya, dinyatakan shahih oleh imam Ahmad (lihat kitab Miftâhu Dâris Sa’âdah 1/164), dikuatkan oleh imam Ibnul Qayyim (kitab Tharîqul Hijratain hal. 522) dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam Misykâtul Mashâbîh (no. 248).
[7] Kitab Miftâhu Dâris Sa’âdah (1/163).
[8] Dinukil oleh imam Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhû’ât (1/46) dan as-Suyuuthi dalam kitab Tadrîbur Râwi (1/282).
[9] Dinukil oleh imam al-Mizzi dalam kitab beliau Tahdzîbul Kamâl (31/556).
[10] HSR Muslim (no. 1920).
[11] Semuanya dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahîhah (1/478).
[12] Kitab Syarafu Ashhâbil Hadîts (hlm. 31).
[13] Kitab Tadzkiratul Huffâzh (1/2).
[14] Kitab Tadzkiratul Huffâzh (1/6).
[15] Hadits ini lengkapnya terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri (no. 5891) dan Shahîh Muslim (no. 2153).
[16] HSR Muslim dalam muqaddimah Shahîh Muslim (1/12).
[17] HR ad-Dârimi (no. 235) dan Ahmad (3/172) dengan sanad yang shahih.
[18] HR ad-Dârimi (no. 271), dalam sanadnya ada perawi yang lemah..
[19] HR Ibnu Majah (no. 25) dan Ahmad (4/370), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.
[20] Atsar riwayat imam Muslim dalam muqaddimah Shahîh Muslim (1/15).
[21] Kitab at-Taqyîd wal Iidhâh (hlm. 440).
[22] Atsar riwayat imam Muslim dalam muqaddimah Shahîh Muslim (1/16).
[23] Hadits tersebut adalah HR Ahmad (3/495) dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 970), dinyatakan hasan oleh imam al-Mundziri dan syaikh al-Albani (Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 3608).
[24] Kitab’Ulûmul Hadîts (hlm. 223).

Hidayah dan Istiqâmah di Atasnya

HIDAYAH DAN ISTIQAMAH DI ATASNYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

اَلْهِدَايَةُ هِيَ الْعِلْمُ بِالْحَقِّ مَعَ قَصْدِهِ وَإِيْثَارِهِ عَلَى غَيْرِهِ، فَالْمُهْتَدِيْ هُوَ الْعَامِلُ بِالْحَقِّ الْمُرِيْدُ لَهُ

Hidayah yaitu mengetahui kebenaran disertai dengan niat untuk mengetahuinya dan mengutamakannya dari pada yang lainnya. Jadi orang yang diberi hidayah yaitu yang melakukan kebenaran dan menginginkannya.[1]

Pentingnya Hidayah
Seorang Muslim dalam kehidupannya sangat membutuhkan hidayah. Ia tidak bisa lepas dari hidayah Allâh Azza wa Jalla . Apalagi di zaman yang digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana fitnah itu seperti potongan malam yang kelam, paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir, ia menjual agamanya demi sedikit dari harta dunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَـالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْـمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُـؤْمِنًـا وَيُصْبِحُ كَافِرًا،  يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

Bersegeralah mengerjakan amal-amal shalih karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit.[2]

Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allâh Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia.

Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat-Nya untuk menuntun tangan seorang hamba agar bergerak menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kalau hamba tersebut bermalas-malasan ketika mendengar adzan dan tidak mau mengambil air wudhu. Tidak mungkin juga Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat-Nya untuk menarik tangan seorang hamba dari kemaksiatan dan kemungkaran, kalau hamba tersebut tidak berusaha menjauhinya.

Benarlah ibarat yang sering kita dengar, “hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh,  Allâh beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabût/29:69]

Ingatlah kisah Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu ! Bagaimana beliau Radhiyallahu anhu berusaha dan berjuang untuk mendapatkan hidayah, beliau meninggalkan Persia untuk mendapatkan hidayah sampai masuk agama Nashrani. Kemudian beliau Radhiyallahu anhu pergi ke Madinah sampai bertemu dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau masuk Islam.[3]

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian :

Pertama, رَاشِدٌ (râsyid) yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya.

Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi) yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya.

Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal) yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh.

Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.[4]

Hubungan Hidayah Dan Istiqâmah
Istiqâmah adalah meniti jalan yang lurus dan tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup mengerjakan seluruh ketaatan yang lahir maupun yang batin dan meninggalkan larangan yang lahir maupun batin.

Seorang hamba dalam meniti jalan yang lurus ini membutuhkan hidayah. Ia tidak bisa berjalan tanpa melenceng ke kiri dan ke kanan kecuali dengan hidayah dari Allâh. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus [Al-Fatihah/1:6]

Dalam ayat di atas Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon hidayah dalam meniti jalan yang lurus. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut. Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama islam dan meninggalkan agama selain islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allâh dengan doa ini di setiap rakaat shalatnya.”[5]

Seorang Muslim tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Ia tidak mengetahui apakah besok dia masih tetap setia berada di jalan yang lurus atau tidak. Karenanya seorang Muslim dituntut untuk selalu memohon hidayah agar ditetapkan dalam agama ini dan diberikan akhir kehidupan yang baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa hati seorang hamba terletak di antara jari jemari Allâh, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesat, maka ia akan sesat, dan jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki ia lurus, maka ia pun akan lurus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا أُمَّ سَلَمَةَ ! إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ.

Wahai Ummu Salamah! Tidaklah ada seorang anak adam melainkan hatinya terletak di antara dua jemari Allâh, kalau Allâh berkehendak, Dia akan luruskan, dan jika Dia berkehendak, Dia akan sesatkan.[6]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengucapkan :

يَـا مُـقَـلِـّبَ الْـقُـلُـوْبِ ، ثَـبّـِتْ قَـلْبِـيْ عَلَـىٰ دِيْـنِـكَ

Ya Allâh, Yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu

Anas Radhiyallahu anhu melanjutkan, “Wahai Rasûlullâh! Kami telah beriman kepadamu dan kepada apa (ajaran) yang engkau bawa. Masihkah ada yang membuatmu khawatir atas kami?” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

نَـعَمْ ، إِنَّ الْـقُـلُوْبَ بَـيْـنَ أُصْبُـعَـيْـنِ مِنْ أَصَابِعِ اللّٰـهِ يُـقَلِـّبُـهَـا كَـيْـفَ يَـشَاءُ.

Benar (ada yang aku khawatirkan kepada kalian), sesungguhnya hati-hati itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Allâh, dimana Dia membolak-balikkan hati itu sekehendak-Nya.[7]

Seorang insan tidak bisa istiqâmah melainkan dengan hidayah dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dua perkara ini sangat berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu seorang Muslim jika ia ingin tetap berada di atas hidayah sampai wafatnya, maka ia wajib berpegang teguh dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafus shalih. Ia wajib melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhkan larangan-larangan-Nya. Ia juga wajib melaksanakan tauhid dan menjauhkan syirik, melaksanakan sunnah dan menjauhkan bid’ah, serta senantiasa berdoa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditetapkan di atas hidayah dan Sunnah dan diwafatkan di atas sunnah. Bila seseorang istiqâmah dalam melaksanakan sunnah sesuai dengan petunjuk syari’at, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menambah petunjuk kepadanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” [Muhammad/47:17]

Macam-Macam Hidayah[8]
Hidayah memiliki empat macam:
Pertama: Hidayah yang umum yang mencakup seluruh makhluk yang Allâh jelaskan dalam firman-Nya :

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

Dia (Musa) menjawab, “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” [Thaha/20:50]

Maknanya, bahwa Allâh Azza wa Jalla telah memberikan segala sesuatu bentuknya yang tidak akan serupa dengan lainnya. Allâh memberikan setiap anggota badan bentuk dan gerakannya, memberikan setiap orang rupa yang khusus, kemudian memberikan mereka hidayah kepada pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan sesuai dengan penciptaan mereka. Seperti Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada hewan untuk bergerak dengan kemauannya demi mendapat apa-apa yang bermanfaat baginya dan menolak bahaya yang mengancamnya. Benda mati diberikan hidayah sesuai dengan penciptaannya. Semuanya itu diberikan hidayah yang layak dengan penciptaan mereka. Sebagaimana setiap macam hewan memiliki hidayah yang sesuai dengannya meskipun berbeda macam dan rupanya, begitu juga anggota badan memiliki hidayah yang layak dengannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada kaki untuk berjalan, tangan untuk menggenggam dan bekerja, lisan untuk berbicara, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat pemandangan. Begitulah Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah sesuai dengan penciptaannya. Allâh juga memberikan hidayah kepada pasangan setiap hewan untuk melakukan perkembang-biakan dan mendidik anak, dan memberikan hidayah kepada seorang anak untuk menghisap puting susu ibunya.

Dan urutan hidayah ini hanya Allâh yang dapat menghitungnya. Allâh juga telah memberi hidayah kepada lebah untuk membuat sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di bangunan-bangunan. Kemudian setelah itu ia diperintah untuk menempuh jalan Rabb-nya yang telah dimudahkan baginya dan kembali ke rumahnya. Ia juga diberikan hidayah untuk mentaati induk lebah, mengikutinya, dan bermakmum padanya kemana pun ia pergi. Ia juga diberikan hidayah untuk membangun rumah yang indah dan kokoh.

Siapa pun yang memperhatikan sebagian dari hidayah Allâh yang tersebar di alam semesta ini, maka ia akan menyaksikan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allâh, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, Maha Perkasa Maha Bijaksana.

Alihkanlah perhatian Anda dari pengetahuan terhadap hidayah ini kepada penetapan kenabian dengan pandangan yang mudah, benar, ringkas, dan paling jauh dari syubhat. Karena, bagaimana mungkin Rabb yang tidak membiarkan hewan-hewan sia-sia dan memberikan mereka hidayah yang susah dicerna oleh para pemikir, membiarkan manusia yang dimuliakan dan diberikan karunia atas seluruh makhluk begitu saja, tidak memberinya petunjuk kepada kesempurnaannya, malah dibiarkan begitu saja tanpa diperintah, dilarang, tidak diganjar, dan dihukum ? Sungguh, ini merupakan ketidaksesuaian terhadap hikmah Allâh dan menisbatkan sesuatu yang tidak layak kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Karenanya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengingkari orang-orang yang berpendapat seperti yang disebutkan di atas dan menjelaskan bahwa itu mustahil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ﴿١١٥﴾ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ? Maka maha tinggi Allâh, raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia.” [Al-Mukminûn/23: 115-116]

Allâh Azza wa Jalla mensucikan diri-Nya dari perkiraan ini. Maka jelaslah bahwa perkara ini (anggapan bahwa manusia diciptakan sia-sia) telah terbukti kebatilannya dalam fitrah manusia yang suci dan akal yang lurus. Ayat ini juga merupakan salah satu dalil yang menetapkan hari akhirat dengan akal. Dan hal tersebut telah jelas dengan dalil akal dan syara’, sebagaimana ia juga merupakan salah satu jalan yang kuat dalam hal ini. Siapa yang faham tentang ini maka ia akan memahami rahasia firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Rabb mereka dikumpulkan.” [Al-An’âm/6:38]

Dengan firman-Nya :

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka (orang musyrik) berkata, ‘mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Rabbnya?’ katakanlah, ‘sesungguhnya Allâh berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’ [Al-An’âm/6:37]

Kalau Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada binatang, maka apalagi kepada manusia ! Allâh tidak mungkin membiarkan mereka. Oleh karena itu, Allâh mengutus para Nabi dan para Rasul untuk menunjuki mereka kepada kemaslahatan mereka, di dunia dan akhirat.

Kedua: Hidayah bayan (keterangan) dan dilalah (petunjuk), serta pengenalan terhadap dua jalan; jalan kebaika dan keburukan, keselamatan dan kebinasaan.

Hidayah ini tidak mengharuskan adanya petunjuk yang sempurna, karena hidayah macam ini hanya sebagai sebab dan syarat bukan sebagai penjamin. Karenanya perlu disandingkan petunjuk dengan hidayah ini, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu…” [Fushshilat/41:17

Maksudnya, Kami jelaskan kepada mereka, Kami tunjuki mereka, dan Kami tuntun mereka, tapi mereka tidak mau mengikuti hidayah itu. Diantaranya juga firman Allâh :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus. [Asy-Syûra/42:52]

 Ketiga: Hidayah taufik dan ilham. Hidayah ini mengharuskan adanya petunjuk dan tidak pernah absen dalam mengikutinya. Hidayah ini yang disebut oleh Allâh dalam firman-Nya :

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

Jika Allah berkehendak Dia bisa menjadikan kalian umat yang satu, akan tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…” [An-Nahl/16:93]

Juga firman-Nya :

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ

Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allâh tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya…” [An-Nahl/16:37]

Juga dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

Siapa yang Allâh beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allâh sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.”[9]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [Al-Qashash/28:56]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menafikan hidayah taufik dan ilham dari diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan hidayah dakwah dan penjelasan dalam firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

…Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus. [Asy-Syûra/42: 52]

 Keempat: Tujuan dari semua hidayah, yaitu hidayah di akhirat, menuju ke Surga atau ke Neraka ketika para penghuninya digiring ke dalamnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Rabb karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai. [Yûnus/10:9]

Dan perkataan penghuni surga ketika berada di dalamnya :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا

 “…Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami ke surga ini…” [Al-A’râf/7:43]

 Dan firman Allâh Azza wa Jalla tentang penghuni neraka :

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ ﴿٢٢﴾ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

 (Diperintahkan kepada malaikat), ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allâh, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.’” [Ash-Shaffât/37:22-23]

Apabila Anda telah mengetahui ini, maka hidayah yang selalu diminta dalam firman-Nya tentang jalan yang lurus adalah hidayah dari macam yang kedua dan ketiga saja, yaitu memohon penjelasan, petunjuk, taufik dan ilham.

Doa-Doa Agar Dikaruniai Hidayah
Setelah kita mengetahui bahwa seorang insan tidak pernah lepas dari hidayah dan bahwa ia sangat membutuhkan hidayah melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum, maka berikut ini kami bawakan beberapa doa dari al-Qur’an dan as-sunnah agar kita dikaruniai hidayah oleh Allâh.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pemberi. [Ali Imrân/3:8]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.[10]

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِيْ وَاْجَعْلِنْي هَادِيًا مَهْدِيًّا

Ya Allâh, teguhkanlah diriku, jadikanlah diriku pemberi petunjuk dan diberi petunjuk (oleh-Mu).[11]

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allâh, berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allâh, aku memohon petunjuk dan kelurusan kepada-Mu.[12]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal/baik), dan kecukupan[13]

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Ya Allâh, Rabb Jibrîl, Mikâ-îl, dan Israfîl. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu tentang apa-apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran (yaitu, tetapkan aku di atas kebenaran) dari apa yang dipertentangkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.[14]

Wallahu a’lamu bish shawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Miftâh Dâris Sa’âdah (I/305), ta’liq Ali bin Hasan al-Halabi, cet. Daar Ibnu ‘Affan, th. 1416 H.
[2] Shahih: HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[3] Tentang kisah masuknya Islamnya Salman al-Fârisi Radhiyallahu anhu dibawakan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah t dalam kitabnya, Fawâ-idul Fawâ-id (hlm. 363-366). Lihat juga kitab-kitab lain dalam ta’liq Syaikh Ali Hasan al-Halabi terhadap kitab ini.
[4]  Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/126), cet. Muassasah ar-Risalah.
[5] Taisîr karîmir Rahmân (hlm. 39), cet. I, Daarul Fadhiilah, th. 1425 H.
[6] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3522).
[7]  hahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2140), dan selainnya.
[8] Badâ-i’ul Fawâ-id (hlm. 207-208), karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq dan takhrij Basyir Muhammad ‘Uyun, cet. II, Maktabah Darul bayan, th. 1425 H. Lihat juga Miftâh Dâris Sa’âdah (I/307-309), karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah , ta’liq dan takhrij Syaikh Ali Hasan al-Halabi, cet. I, Daar Ibni ‘Affan, th. 1416 H.
[9] HR. Abu Dawud (no. 2118), at-Tirmidzi (no. 1105), dan lainnya.
[10] HR. At-Tirmidzi (no. 3522)
[11] HR. Al-Bukhâri (no. 6333)
[12] HR. Muslim (no. 2725)
[13] HR. Muslim (no. 2721).
[14] HR. Muslim (no. 770 (200)), Abu Dawud (no. 767), dan Ibnu Mâjah (no. 1357). Nabi n membaca doa istiftâh ini ketika shalat malam. Lihat do’a-do’a tersebut dalam buku penulis, Do’a dan Wirid, cet. XVI, Pustaka Imam asy-Syafi’i-Jakarta, th. 2013.

Islam Adalah Satu-satunya Agama yang Benar

ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA AGAMA YANG BENAR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Satu-satunya agama yang benar, diridhai dan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla adalah Islam. Agama-agama selain Islam, tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla . Karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke agama Islam, mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam. [Ali ‘Imrân/3:19]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allâh,  padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembali-kan?. [Ali ‘Imrân/3:83]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. [Al-Mâidah/5:3]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ 

Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, [Ali ‘Imrân/3:85]

Apabila orang Yahudi dan Nashrani tidak masuk dalam agama Islam yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka mereka pasti menjadi penghuni neraka Jahannam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.[1]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul yang terakhir dan penutup. Syari’at yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa menghapus syari’at sebelumnya. Allâh Azza wa Jalla tidak menerima agama dari seorang hamba selain dari agama Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengajak orang-orang Yahudi dan Nashrani masuk ke dalam agama Islam, karena setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka tidak ada Nabi lagi sesudah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada agama kecuali agama Islam. Bahkan seandainya Nabi Musa Alaihissallam masih hidup, maka dia wajib mengikuti agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sebagaimana yang terjadi pada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu,  ketika itu beliau Radhiyallahu anhu  memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْـخَطَّابِ؟ وَالَّذِيْ نَفْسِـيْ بِيَدِهِ ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ، لَا تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَـقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ ، وَالَّذِيْ نَفْسِـيْ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّاأَنْ يَتَّبِعَنِـيْ

Apakah engkau merasa ragu, wahai ‘Umar bin al-Khaththab? Demi Allâh yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar namun kalian mendustakan, atau mereka kabarkan yang bathil lalu kalian membenarkannya. Demi Allâh yang diri Muhammad berada di tangan-Nya! Seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh baginya melainkan harus mengikuti aku[2]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

Katakanlah (Muhammad): ‘Wahai ahli Kitab, marilah (kita menuju) kepada suatu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allâh dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allâh.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka): ‘Saksikanlah, bahwa kami termasuk orang-orang muslim.” [Ali ‘Imrân/3:64]

Pada zaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam al-Qur’ân bahwa Yahudi dan Nasrani selalu berusaha untuk memurtadkan dan menyesatkan kaum Muslimin dan mengembalikan mereka kepada kekafiran, mengajak kaum Muslimin kepada agama Yahudi dan Nasrani. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۚ

Banyak di antara ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dari dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. [Al-Baqarah/2:109]

Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. [Al-Baqarah/2:120]

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, adapun selain Islam tidak benar dan tidak diterima oleh Allâh Azza wa Jalla. Ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam serta tidak ridha kecuali jika umat Islam mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan dan memurtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Saat ini gencar sekali dihembuskan propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah) maupun akal. Ini hanyalah angan-angan semu belaka. Kesesatan ini telah dibantah oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân:

وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١١١ بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’Itu (hanya) angan-angan mereka.Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allâh, dan ia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.’” [Al-Baqarah/2:111-112]

Allâh Azza wa Jalla kemudian menjelaskan bahwa orang yang ikhlas dan ittiba’, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka akan mendapat balasan yang menggembirakan di akhirat. Sedangkan propaganda tersebut merupakan tipuan mereka (orang Yahudi dan Nasrani) agar kaum Muslimin keluar dari ke-Islamannya dan memeluk agama Yahudi atau Nasrani. Bahkan mereka memberikan iming-iming, jika mengikuti agama mereka, orang Islam akan mendapat petunjuk. Padahal Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrâhîm Alaihissallam yang lurus, agama tauhid yang terpelihara. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’Katakanlah, ‘(Tidak!) tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus.Dan dia tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allâh. [Al-Baqarah/2:135]

Untuk itu, kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap propaganda-propaganda sesat, yang menyatakan bahwa, ‘Semua agama adalah baik’, ‘kebersamaan antar agama’, ‘satu tuhan tiga agama’, ‘persaudaraan antar agama’, ‘persatuan agama’, ‘perhimpunan agama samawi’, ‘persatuan agama Ibrahimiyyah’, ‘persatuan agama Ilahi’, ‘persatuan kaum beriman’, ‘pengikut millah’, ‘persatuan umat manusia’, ‘persatuan agama-agama tingkat nasional’, ‘persatuan agama-agama tingkat internasional’, ‘persaudaraan agama’, ‘satu surga banyak jalan’, ‘dialog antar umat beragama’. Muncul juga dengan nama ‘persaudaraan Islam-Nasrani’ atau ‘Himpunan Islam Nasrani Anti Komunisme’ atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam, dengan memberikan simpati ke agama Nasrani dan Yahudi, mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang haq, menghilangkan ‘aqidah al-wala’ wal bara’ (cinta/loyal kepada kaum Mukminin dan berlepas diri dari selainnya), dan mengembangkan pemikiran anti agama Islam. Dari semua sisi hal ini sangat merugikan Islam dan umatnya.

Semua propaganda sesat tersebut merusak ‘aqidah Islam, padahal ‘aqidah merupakan hal yang paling pokok dan asas dalam agama Islam ini, karena agama ini mengajarkan prinsip ibadah yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla .

Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya, tidak boleh ikut dalam seminar-seminar, perkumpulan, pertemuan, yayasan dan organisasi mereka. Tidak boleh pula menjadi anggota mereka. Bahkan ia wajib menjauhinya, mewaspadainya dan takut terhadap akibat buruknya. Ia harus menolaknya, memusuhinya dan menampakkan penolakannya secara terang-terangan serta mengusirnya dari negeri kaum Muslimin. Ia wajib mengikis pemikiran sesat itu dari benak kaum Muslimin, membasmi sampai ke akar-akarnya, mengucilkannya, dan membendungnya. Pemerintah Muslim wajib menegakkan sanksi murtad terhadap pengikut propaganda tersebut, setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak adanya penghalang. Hal itu dilakukan demi menjaga keutuhan agama dan sebagai peringatan terhadap orang-orang yang mempermainkan agama, dan dalam rangka mentaati Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta demi tegaknya syari’at Islam yang suci.

Hendaknya setiap Muslim mengetahui hakikat propaganda ini. Ia tidak lain hanyalah benih-benih filsafat yang berkembang di alam politik yang berujung pada kesesatan. Muncul dengan mengenakan baju baru untuk memangsa korban, memangsa ‘aqidah mereka, tanah air mereka dan merenggut kekuasaan mereka.

Oleh karena itu, wajib bagi kaum Muslimin untuk bara’[3] (berlepas diri dari kekufuran).

Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk kaum Muslimin serta menambah keyakinan mereka tentang benarnya agama Islam dan wajib berlepas diri dari semua kesyirikan dan kekafiran. Dan kita wajib untuk bermuamalah dengan baik sesuai dengan syari’at Islam dan tidak boleh sekali-kali mengorbankan aqidah dan agama dalam bermuamalah dan lainnya.

Maraaji’:

  1. Tafsîr ath-Thabari.
  2. Tafsîr Ibni Katsîr, tahqiq Sami Salamah.
  3. Al-Ibthâl Linazhariyyatil Khalthi baina Dînil Islam wa Ghairihi minal Adyân karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, cet. Daar ‘Alamul Fawaa-id, cet II/ th. 1421 H.
  4. Al-Madkhal lidirâsatil ‘Aqîdatil Islâmiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah.
  5. Prinsip Dasar Islam.
  6. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih: HR. Muslim no 153 (240) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .
[2] Hasan: HR. Ahmad (III/387), Ad-Darimi (I/115), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâbus Sunnah (no. 50), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu dan lafazh ini milik Ahmad. Derajat hadits ini hasan karena memiliki banyak jalur yang saling menguatkan, lihat Hidâyatur Ruwât (I/136, no. 175)]
[3] Kata al-bara’ dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a (بَرِئَ) berarti membebaskan diri dari melaksanakan kewajiban-nya terhadap orang lain. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
بَرَاۤءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُّمْ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَۗ 
(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allâh dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kamu (kaum muslimin) mengadakan perjanjian (dengan mereka).” [At-Taubah/9:1]. Maksudnya, membebaskan diri dengan peringatan tersebut.
Dalam terminologi syari’at Islam, al-bara’ berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allâh, berupa perkataan, perbuatan, keyakinan dan kepercayaan serta orang. Jadi, ciri utama al-bara’ adalah membenci apa yang dibenci Allâh secara terus-menerus dan penuh komitmen.

Pengantar Ummu Salamah As-Salafiyah

PENGANTAR PENULIS

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Segala puji hanya bagi Allah. Kepada-Nya kita memanjatkan pujian dan memohon pertolongan serta ampunan. Dan kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus Rasul-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali ‘Imran/3: 102]

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta daripadanya Allah menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah mem-perkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” [An-Nisaa/4: 1]

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosa-mu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab/33: 70-71]

Amma ba’du:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah suatu hal baru yang diada-adakan dan suatu hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan itu pasti berada di Neraka.  Amma ba’du:

Di dalam lembaran-lembaran kertas ini saya telah menghimpun beberapa dalil, baik dari al-Qur-an maupun as-Sunnah berkenaan dengan hak-hak wanita, yang telah diabaikan oleh banyak orang, baik disebabkan oleh ketidaktahuan maupun karena tidak adanya kepedulian terhadap wanita yang sangat butuh (perhatian) ini.

Meskipun kita menuntut hak-hak wanita terhadap kaum pria, hanya saja, hak-hak ini telah dibatasi dengan ketentuan syari’at. Dan tidak berarti bahwa hak-hak tersebut diberikan tanpa batas. Bahkan Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” [An-Nisaa/4: 34]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka serta janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menu-tupkan kain kudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara pe-rempuan mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’”  [An-Nuur/24: 31]

Selain itu, Dia juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perem-puanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzaab/33: 59]

Dan Dia juga berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ 

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta taati-lah Allah dan Rasul-Nya.” [Al-Ahzaab/33: 33]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Abu Musa di dalam kitab Sunan Abu Dawud:

إِذَا اسْتَعْطَرَتِ الْمَرْأَةُ فَمَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيَ كَذَا وَكَذَا

Jika seorang wanita memakai wangi-wangian, lalu dia berjalan melewati suatu kaum (dengan tujuan) supaya mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita yang begini dan begitu (pelacur).”

Batasan dan ketentuan-ketentuan syari’at agama sama sekali bukan sebagai kezhaliman bagi wanita atau dibuat untuk merendahkannya. Sama sekali tidak. Bahkan, jika kita memikirkannya, niscaya kita akan mendapatkannya benar-benar menjaga dan melindungi wanita. Berbeda dengan orang-orang yang menyerukan kepada pembebasan wanita dan memberikan kebebasan tersebut secara mutlak kepadanya.

Apakah dengan sufur (membuka aurat), tabarruj (bersolek), dan penyerahan wanita kepada syaitan yang berwujud manusia, baik itu kepada orang-orang fasik maupun kepada orang-orang jahat, wanita akan dapat dimerdekakan? Atau dengan menyeret mereka keluar untuk bekerja dan berusaha serta melibatkan diri dengan kaum laki-laki di luar rumah dengan meninggalkan rumah dan anak-anaknya? Atau dengan membiarkannya keluar rumah untuk ikut bergabung dalam parlemen, majelis permusyawaratan, kepolisian, dan berada di jalan-jalan?

Demi Allah, yang demikian itu merupakan bentuk penghinaan yang sebenarnya, sekaligus sebagai penindasan terhadap hak-hak wanita. Allah Azza wa Jalla Yang lebih mengetahui dan lebih bijak. Dan Dia lebih sayang kepadanya daripada kasih sayangnya kepada di-rinya sendiri. Dia telah membimbingnya menuju kepada apa yang dapat menjaga dan melindunginya serta memuliakannya di dunia dan akhirat. Dan tidak ada kelanjutan dari hal tersebut, kecuali mengamalkan al-Qur-an dan as-Sunnah. Keduanya telah menjamin bagi penegakan masyarakat yang sejahtera yang berdasar pada sikap saling tolong-menolong (dalam kebaikan dan ketakwaan-ed) dan atas dasar rahmat, kasih sayang, cinta, dan keakraban. Wallahul Musta’aan.

Dan saya memohon kepada Allah agar Dia menjadikan amal saya ini tulus ikhlas untuk mengharap wajah-Nya yang Mahamulia, serta menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Sesungguhnya Dia melindungi hal-hal tersebut lagi Mahakuasa atasnya.

Ummu Salamah as-Salafiyah

MUQADDIMAH
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua hal:

Pertama, perbaikan secara lahiriah. Yaitu, perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Dan ini banyak mendominasi kaum laki-laki, karena merekalah yang sering terlihat dan keluar rumah.

Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar. Yaitu, perbaikan yang dilakukan di dalam rumah, dan sebagian besar peran ini diserahkan kepada kaum wanita. Sebab, wanita merupakan pengurus rumah, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mana khithab (pembicaraan) dan perintahnya ditujukan kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ 

Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzab/33: 33]

Setelah itu, kami kira bahwa tidak berlebihan bagi kami untuk mengatakan bahwa perbaikan separuh masyarakat atau sebagian besar darinya berada pada wanita. Yang demikian itu disebabkan oleh dua sebab:

Pertama, bahwa kaum wanita itu sama seperti kaum laki-laki dalam hal kuantitas, bahkan lebih banyak. Yang saya maksudkan bahwa anak cucu Adam itu sebagian besar adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sunnah Nabi. Namun demikian, hal itu berbeda dari satu negeri ke negeri lainnya dan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Bisa jadi, di satu negara, kaum wanita lebih banyak daripada kaum laki-laki dan demikian pula sebaliknya di negara lainnya. Sebagaimana pada suatu zaman, jumlah wanita lebih banyak daripada kaum laki-laki dan demikian pula sebaliknya di zaman lainnya. Bagaimanapun, seorang wanita memiliki peran yang sangat besar dalam perbaikan masyarakat.

Kedua, pertumbuhan generasi itu berlangsung pertama di dalam buaian para wanita. Dan karenanya, tampak jelas pentingnya apa yang harus dilakukan kaum wanita dalam memperbaiki masyarakat.”[1]

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mun-kar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah/9: 71]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, mereka saling tolong-menolong dan dukung-mendukung.”

Agar peran wanita benar-benar terwujud di dalam memperbaiki masyarakat, maka ia harus memiliki penopang dan pendukung, yaitu kaum laki-laki. Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rabbul ‘Izzati di dalam Kitab-Nya yang mulia dan di dalam Sunnah Rasulullah afdhalush shalaatu wat tasliim, dengan mengingatkan dan menunjukkan beberapa hak yang wajib bagi kaum laki-laki terhadap kaum wanita, yang di antaranya dapat kami sebutkan.

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Umu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
_______
Footnote
[1] Risalah Daurul Mar-ah fii Ishlaahil Mujtama’, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin.