Category Archives: A8. Ringkasan Fiqih Islam 09 Jihad

Perjanjian Memberikan Keamanan Bagi Orang Kafir

AQDUZ ZIMMAH

Hukum berdiri untuk menyambut orang yang baru datang
Boleh berdiri untuk menyambut seorang muslim yang datang sebagai penghormatan bagi dirinya atau untuk membantunya, boleh juga seseorang melangkah beberapa langkah untuk menyambutnya sebagai penghormatan baginya. Adapun beridiri untuk seseorang yang sedang duduk maka hal itu tidak diperbolehkan keculai jika dilakukan untuk mengawasinya dan membangkitkan  amarah kaum musyirikin, sebagaimana yang lakukan oleh Mugiroh bin Syu’bah Radhiyallahu anhu pada saat dia bangkit berdiri mengawasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara orang-orang kafir Quraisy mengirim utusan mereka pada masa perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian dengan ahluz zimmah menjadi batal sehingga darah dan hartanya halal apabila mereka menolak mengeluarkan upeti atau tidak tunduk dengan hukum Islam atau menganiaya seorang muslim dengan membunuhnya, atau menzinahinya, atau merampoknya atau mematai-mati kaum muslimin atau menyebut nama Allah, Rasulullah, kitab suci dan syari’atNya dengan sebutan yang buruk.

Apabila perjanjian dengan ahluz zimmah sudah batal karena sebab yang telah disebutkan sebelumnya maka dia telah berubah menjadi orang kafir yang mesti diperangi, seorang peminpin boleh memilih apakah orang itu dibunuh atau dijadikan sebagai budak atau membebaskan mereka tanpa pembayaran apapun atau membebaskan mereka dengan tebusan tergantung pada kemaslahatan.

Perjanjian memberikan keamanan bagi orang kafir
Boleh bagi seorang muslim yang baligh, berakal dan diberikan kebebasan bertindak secara hukum (mukhtar) untuk memberikan keamanan bagi orang kafir sampai batas tertentu sehingga dia menyelesaikan  perdagangannya atau mendegarkan kalam Allah lalu kembali pulang atau kepentingan yang semisalnya, selama tidak ada kekhawatiran adanya mudharat yang muncul. Perjanjian ini boleh dilakukan oleh seorang imam bagi seluruh orang musyrik, dan apabila mereka telah diberikan keamanan maka mereka haram dibunuh, ditawan dan disakiti.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ [التوبة/6].

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”.[1]

Tidak boleh bagi orang-orang Yahudi, Nashrani dan seluruh orang kafir untuk berdomisili di jazirah Arab, adapun untuk kepentingan kerja maka hal itu diperbolehkan dalam kondisi darurat semata dengan syarat aman dari kejahatan mereka”.

Tidak diperbolehkan bagi orang-orang kafir memasuki tanah haram Mekkah, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [التوبة/28]

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi miskin. Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tidak boleh bagi orang kafir memasuki mesjid yang berada pada tanah halal kecuali dengan izin seorang muslim karena adanya kebutuhan atau kemashlahatan.

 Dosa orang yang membunuh orang kafir mu’ahad tanpa kesalahan

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَتَلَ مُعَاهَداً لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإنَّ رِيحَهَا يُوْجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامَاً». أخرجه البخاري.

Dari Abdullah bin Amr semoga Allah meredhai mereka berdua dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang mu’ahad maka dia tidak akan mendapatkan bau surga  dan sesungguhnya bau surga itu  didapatkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan”.[2]

Masjid adalah rumah tempat bersemayamnya keimanan, sementara biara dan gereja adalah tempat kekafiran dan kesyirikan, sebab bumi ini adalah milik Allah dan Allah telah memerintahkan untuk membangun masjid dan sarana ibadah lainnya untuk Allah semata serta melarang membangun sarana ibadah yang dimanfaatkan untuk menyembah selain Allah.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. Al-Taubah/9: 6
[2] HR. Bukhari no: 3166

Gencatan Senjata (Aqdul Hudnah)

GENCATAN SENJATA (AQDUL HUDNAH)

  1. Hudnah adalah perjanjian yang dilakukan oleh seorang pemimpin umat Islam atau wakilnya untuk tidak memerangi musuh dalam masa tertentu walaupun masanya lama, tergantung pada kebutuhan, hal ini mesti, dan boleh berdamai (dengan orang kafir) demi kemaslahatan, di mana boleh mnunda berjihad karena adanya alasan, seperti adanya kelemahan di dalam tubuh kaum muslimin, sekalipun dengan mengeluarkan harta sebagai imbalan, boleh diadakan dengan ganti materi atau tanpa membayar imbalan.
  2. Orang kafir mu’had mendapatkan sanksi atas tindakan kriminalnya terhadap seorang muslim dalam bentuk tebusan dengan harta, qishash dan pukulan dengan cambuk (jilid).
  3. Wajib bagi seorang muslim menepati perjanjian dan tidak boleh membatalkannya, kecuali jika pihak musuh membatalkan perjanjiannya, atau mereka tidak bertindak jujur dengan kita, atau adanya kekhawatiran jika terjadi pengkhianatan terhadap kaum muslimin maka dalam kondisi ini perjanjian menjadi batal, dan kita tidak diwajibkan bertahan dengan kondisi itu, maka jika kita khawatir dengan pengkhianatan mereka maka boleh memerangi  mereka setelah memberitahukan mereka tentang batalnya perjanjian tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا  [الإسراء/34]

.“… Dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”.[1]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ  [الأنفال/58]

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. Al-Isro’/17: 34
[2] QS. Al-Anfal/8: 58

Membangun Khilafah dan Imaroh

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Hukum Memilih Seorang Khalifah.
Memilih seorang pemimpin bagi kaum muslimin adalah wajib, untuk menjaga martabat dan mengurusi kondisi kaum muslimin, menegakkan hukum hudud, mengembalikan hak, menegakkan hukum Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan malaksanakan da’wah  kepada Allah.

Kepemimpinan menjadi sah dengan dipenuhinya satu point dari apa yang disebutkan di bawah ini:

  1. Dipilih dengan kesepakatan kaum muslimin, kepemimpinannya menjadi sah dengan dibai’at oleh ahlil aqd dari kalangan para ulama, orang-orang yang shaleh, para pemuka dan tokoh masyarakat kaum muslimin.
  2. Kepemimpinannya sah karena ditunjuk langsung secara tertulis oleh pemimpin sebelumnya.
  3. Mengembangkan sistem musyawarah dalam jumlah terbatas yang terdiri dari orang-orang yang bertaqwa, lalu sepakat memilih salah seorang dari mereka.
  4. Berkuasa terhadap masyarakat secara paksa agar mereka tunduk kepadanya, dan mengakuinya sebagai pemimpin, maka wajib bagi rakyat mentaatinya pada perkara yang tidak termasuk maksiat kepada Allah.

Tegaknya khilafah di bumi hanya dengan keimanan dan amal shaleh
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [النور/55]

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[1]

Kekhalifahan harus ditangan Quraisy dan manusia lain tunduk pada kepemimpinan Quraisy.

عن معاوية رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ هَذَا الأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ، لا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إلا كَبَّهُ الله فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ». أخرجه البخاري.

Dari Mu’awiyah semoga Allah meredhainya berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya perkara kekhalifahan ini harus pada suku Quraisy, dan tidak ada seorangpun yang memusuhi mereka kecuali Allah akan mencampakkannya di atas wajahnya pada api neraka selama mereka menegakkan agama ini”.[2]

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لايَزَالُ هَذَا الأَمْرُ فِي قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنْهُمُ اثْنَانِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perkara khilafah ini senantiasa berada di tangan suku Quraisy selama dua orang di antara mereka ada yang masih hidup”.[3]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم– «النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الشَّأْنِ مُسْلِمُهُمْ تَبَعٌ لِمُسْلِمِهِمْ، وَكَافِرُهُمْ تَبَعٌ لِكَافِرِهِمْ». متفق عليه

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Manusia pengikut bagi suku Quraisy dalam perkara (kekhalifahan) ini, orang muslim dari mereka adalah pengikut bagi orang muslim dari suku Quraisy, dan orang kafir dari mereka adalah sebagai pengikut bagi orang kafir dari suku Quraisy”.[4]

Larangan Meminta dan Ambisi Terhadap Kekuasaan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nur/24: 55
[2] HR. Bukhari : 7139
[3] Muttafaq Alaihi, HR. Bukhari: 3501 dan Muslim: 1820
[4] Muttafaq Alaihi, Bukahri: 3495 dan Muslim: 1818

Larangan Meminta dan Ambisi Terhadap Kekuasaan

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Larangan meminta dan ambisi terhadap kekuasaan

عن عبد الرحمن بن سمُرة رضي الله عنه قال: قال لي النبي- صلى الله عليه وسلم-: «يَا عَبْدَالرَّحْمَنِ بِن سَمُرَةَ لا تَسْأَلِ الإمَارَةَ، فَإنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلتَ إلَيْهَا، وَإنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا..». متفق عليه.

Dari Abdurrohman bin Samuroh Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah meminta menjadi pejabat, jika engkau mendapatkannya dengan cara meminta niscaya engkau serahkan kepadanya (tanpa dibantu oleh Allah) dan jika engkau mendapatkannya tanpa meminta niscaya Allah membantumu (dalam menjalankannya). Muttafaq Alaihi.[1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ». أخرجه البخاري.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kalian akan berambisi terhadap jabatan padahal dia adalah penyesalan pada hari kiamat, dia adalah sebaik-baik wanita yang menyusui dan seburuk-buruk wanita yang menghentikan susuannya”. HR. Bukhari[2]

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: دخلت على النبي- صلى الله عليه وسلم- أَنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَومِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَينِ: أمِّرْنَا يَا رَسُولَ الله، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: «إنَّا لا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ». متفق عليه.

“Dari Abi Musa Radhiyallahu anhu berkata : Aku masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersama dua orang lelaki dari kaumku, lalu salah seorang lelaki itu berkata : Angkatlah kami jadi pejabat wahai Rasulullah!, lelaki yang lainpun berkata demikian, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang ambisi dengannya”.Muttafaq Alaihi[3]

Menjauhi jabatan, khususnya orang yang lemah dalam mengemban hak-hak jabatan

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله ألا تستعملني؟ قال: فضرب بيده على منكبي ثم قال: «يَا أَبَا ذَرٍّ إنَّك ضَعِيفٌ، وَإنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإنَّهَا يَومَ القِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إلا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا». أخرجه مسلم.

Dari Abi Dzar Radhiyallahu anhu berkata : aku berkata : Wahai Rasulullah tidakkah engkau memakai aku dalam sebuah jabatan?. Abu Dzar berkata: Maka beliau memukulkan tangannya pada pundakku kemudian bersabda: “Wahai Abu Dzar! Engkau adalah orang yang lemah, sesungguhnya dia pada hari kiamat adalah amanah, kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya padanya”.HR. Muslim.

Keutamaan penguasa yang adil dan ancaman bagi penguasa yang zalim
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قال الله تعالى: {وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ  [الحجرات/9]

“…berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ الله تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَومَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّهُ إمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ..» متفق عليه.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tujuh golongan orang yang akn dinaungi oleh Allah Ta’ala pada naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, peminpin yang adil dan pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah..”.Muttafaq Alaihi.[4]

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ الله عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا». أخرجه مسلم.

Dari Abdullah bin Amr semoga semoga Allah meredahi keduanya berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar di sisi Allah di sisi kanan Allah Yang Maha Pengasih Azza wa Jalla, dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam berhukum, dan adil dalam keluarga dan jabatan yang pegang”. HR. Muslim.[5]

عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتهِ إلا حَرَّمَ الله عَلَيهِ الجَنَّةَ». متفق عليه.

Dari Ma’kil bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba-pun yang diberikan oleh Allah mengurusi urusan rakyat kemudian meninggal sementara dirinya pada saat meninggal tersebut berlaku menipu terhadap rakyatnya kecuali Allah pasti mengharamkan baginya memasuki surga”. Muttafaq Alaihi.[6]

Kekhilafahan dan kepemimpinan ditangan pria bukan wanita

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alihi, HR. Bukhari: 7147 dan Muslim: 1652
[2] HR. Bukhari: 7148
[3] Muttafaq Alaihi, HR. Bukhari: 7149 dan Muslim pada kitab Imaroh hadits no: 1733
[4] Al-Bukhari:  1423 dan Muslim: 1031
[5] HR. Muslim no: 1827.
[6]Al-Bukhari: 7150 dan Mudlim: 142.

Kekhilafahan dan Kepeminpinan di Tangan Pria Bukan Wanita

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Kekhilafahan dan kepeminpinan di tangan pria bukan wanita

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: لَقَدْ نَفَعَنِي الله بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- أَنَّ فَارِساً مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: «لَنْ يُفْلِحَ قَومٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».أخرجه البخاري.

Dari Abi Bakrah Radhiyallahu anhu berkata: Sungguh Allah memberikan manfaat bagiku dengan sebuah kalimat pada hari terjadinya perang Jamal pada saat sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang Persia mengangkat putri Kisra Persia sebagai ratu. Beliau bersabda: “Tidak akan pernah beruntung orang yang menjadikan wanita sebagai peminpin mereka”.[1]

Tugas seorang khalifah
Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam.

قال الله تعالى لنبيه- صلى الله عليه وسلم-: {وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ  [المائدة/49].

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.[2]

Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Dawud Alaihissallam.

قال الله تعالى لنبيه داود- صلى الله عليه وسلم-: {يَادَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ  [ص/26].

Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.[3]

Cara membai’at seorang peminpin

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: بَايَعْنَا رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي العُسْرِ وَاليُسْرِ، وَالمَنْشَطِ وَالمَكْرَهِ، وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا، لا نَخَافُ فِي الله لَومَةَ لائِمٍ-وفي رواية بعد- أَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ- قَالَ: «إلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُم مِنَ الله فِيهِ بُرْهَانٌ». متفق عليه

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu berkata : Kami telah membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap mendengar dan mentaati (pemimpin)  dalam keadaan sulit dan mudah, dalam keadaan giat dan terpaksa serta  lebih mengutamakannya dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya, dan agar kami tidak mengatakan kecuali yang benar di mana saja kami berada dan tidak takut di jalan Allah celaan orang yang mencela. Dalam sebuah riwayat setelah ((dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya)) beliau bersabda: ((Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata sebagai alasan bagi kalian dengannya di sisi Allah )). Muttafaq Alihi[4]

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: بَايَعْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فَلَقَّنَنِي فِيمَا اسْتَطَعْتُ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ. متفق عليه.

Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu berkata : Kami telah membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap mendengar dan mentaati (pemimpin), maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada kami apa-apa yang mampu kami lakukan dan memberikan nasehat bagi setiap muslim”. Muttafaq Alihi.[5]

Tetap Sabar Dengan Kezaliman Penguasa dan Tetap Mengutamakan Mereka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari: 7099
[2] QS. Al-Maidah/5: 49
[3] QS. Shaad/38: 26
[4] HR. Bukahri no: 7056 dan Muslim no: 1709
[5] HR. Bukhari no: 7204 dan Muslim no: 56.

Tetap Sabar Dengan Kezaliman Penguasa

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Tetap sabar dengan kezaliman penguasa dan tetap mengutamakan mereka

عَنْ أُسَيْدِ بنِ حُضَيْرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً ِمنَ اْلأَنْصَارِ خَلاَ بِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَلاَ تَْسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلاَنًا؟ َفقَاَل: ِإنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً  فَاصْبِرُا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلىَ الْحَوْضِ. متفق عليه

Dari Usaid bin Khudair Radhiyallahu anhu bahwa seorang lelaki dari Anshar berbicara berdua dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Tidakkah engkau memanfaakan aku untuk sebuah jabatan sebagaimana engkau telah mengangkat si fulan?. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan menemukan setelahku orang yang orang yang mementingkan dirinya (dengan kekuasaan). Maka bersabarlah sehingga kalian bertemu denganku pada haudh (kolam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kimaat). Muttafaq alihi.[1]

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قََالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. متفق عليه

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melihat dari penguasa sesuatu yang benci maka hendaklah dia bersabar, sebab barangsiapa yang keluar (dengan tidak mentaati) penguasa satu jengkal maka dia mati dengan kematian jahiliyah”. Muttafaq Alaihi.[2]

Ta’at kepada penguasa sekalipun mereka mengambil hak-hak rakyat
Salmah bin Yazid Al-Ja’fi bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Nabi yang telah diutus oleh Allah bagimanakah pendapatmu jika ada penguasa yang memimpin kami, yang menuntut haknya dan mencegah hak-hak kami sebagai rakyat, apakah yang engaku perintahkan kepada kami?. Maka Nabipun berpaling darinya, lalu dia bertanya kembali, namun Nabipun berpaling darinya, kemudian dia tetap bertanya dua kali dan tiga kali, lalu Asy’ats bin Qaiys menarik orang tersebut lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوْا َوعَلَْيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Dengarkanlah mereka dan taatilah sesungguhnya mereka akan bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian akan bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dibebankan kepada kepada kalian”. HR. Muslim[3]

Kewajiban komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan penguasa mereka pada saat munculnya fitnah apapun
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu anhu berkata :

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena khawatir jika keburukan tersebut menimpa diriku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah kita pernah berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan terjadi keburukan? Beliau bersabda: “Ya”. Lalu aku bertanya kembali: “Apakah setelah terjadinya keburukan akan terjadi kebaikan?. Beliau menjawab: “Ya, dan akan terjadi dan akan nampak padanya kerusakan”. Kerusakan apakah yang akan terjadi?. Tanyaku. Beliau bersabda: “Akan ada suatu kaum yang akan berbuat bukan dengan sunnahku dan tidak mengambil petunjukku, kamu mengetahui mereka dan mengingkarinya”. Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan ini ada terjadi keburukan?.  Beliau bersabda: “Ya, akan ada penyeru kepada pintu-pintu jahannam dan barangsiapa yang menerima seruan itu, mereka campakkan ke dalam api neraka”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah jelaskanlah kepada kami siapakah mereka itu?. Beliau menjawab: “Mereka adalah kaum dari keturunan kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah yang engkau perintahkan kepada kami jika terjadi masa tersebut?. Beliau bersabda: “Tetaplah komitmen dengan jam’ah kaum muslim dan pemimpin mereka”. Aku bertanya: “Jika mereka tidak memiliki jama’ah dan peminpin?. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah semua kelompok tersebut sekalipun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan engkau tetap berada dalam keadaan tersebut”. Muttafaq alihi.[4]

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan, memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin lalu mati maka dia mati dengan kematian jahiliyah, barangsiapa yang berjuang di bawah bendera kefanatikan, marah karena kefanatikan, menyeru kepada kefanatikan atau menolong karena kefanatikan lalu dia mati padanya, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah. Barangsiapa yang keluar untuk memerangi umatku, membunuh orang yang baik atau buruk dari mereka dan tidak menghiraukan orang yang beriman dari mereka serta orang yang berjanji tidak menepati janjinya maka dia bukan golonganku  dan aku bukan dari golonganku”. HR. Muslim.[5]

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قََالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. متفق عليه

Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibencinya maka hendalah dia bersabar atasnya, sebab sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin walaupun satu jengkal kemudian dia mati dalam keadaan tersebut maka kematiannya adalah kematian jahiliyah”. Muttafaq alaihi.[6]

Hukum Memecah Belah Kaum Muslimin yang Telah Bersepakat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari: 3792 dan Muslim no: 1845.
[2] HR. Bukhari no: 7023 dan Muslim no: 1849
[3] HR. Muslim no: 1846
[4] HR. Bukhari no: 3606 dan Muslim no: 1847
[5] HR. Muslim no: 1848
[6] HR. Bukhari no: 7054 dan Muslim no: 1849.

Hukum Memecah Belah Kaum Muslimin yang Telah Bersepakat

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Wajib mengingkari para pemimpin pada perkara yang menyelisihi syari’at dan tidak memerangi mereka selama mereka mendirikan shalat

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : (( إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ أَسْلَمَ وَلِكنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَاُلْوا: يَأ رَسُوْل َاللهِ  أَلاَ ُنقَاِتلُهُمْ؟ قَالَ : ((لاَ , مَا صَلُّوْا)) أخرجه مسلم

Dari Ummu Salamah semoga Allah meredhainya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Sungguh akan diangkat pada kalian penguasa yang kalian ketahui dan kalianpun akan mengingkarinya, maka barangsiapa yang membencinya maka dia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah selamat, akan tetapi (celaka) orang yang rela dan mengikuti mereka)). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah tidakkah kita memerangi mereka?”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat”. HR. Muslim.[1]

Hukum memecah belah kaum muslimin yang telah bersepakat

عن عرفجة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ، أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ». أخرجه مسلم

Dari Arfajah Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila datang kepada kalian sementara kalian telah bersepakat (mengangkat) seseorang sebagai pemimpin kalian, dia datang guna memecah belah kekuatan kalian atau mencerai beraikan kesatuan kalian maka bunuhlah dia”. HR. Muslim[2]

Hukum membai’at dua pemimpin

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَينِ، فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا». أخرجه مسلم.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu kekuasaan) maka hendaklah dibunuh salah satu dari keduanya”.[3]

Pemimpin yang paling baik dan paling buruk

عن عوف بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ» قِيلَ: يَا رَسُولَ الله أَفَلا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: «لا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ، وَإذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاتِكُمْ شَيْئاً تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلُه، وَلا تَنْزِعُوا يَداً مِنْ طَاعَةٍ». أخرجه مسلم

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pemimpin kalian yang paling baik adalah pemimpin yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian, yang berdo’a untuk kalian dan kalianpun berdo’a untuk mereka. Pemimpin kalian yang paling buruk adalah pemimpin yang kalian benci dan merekapun membeci kalian, dan kalian melaknat mereka dan merekapun balas melaknat kalian”. Dikatakan: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita mengucilkan mereka dengan pedang?”, beliau menjawab: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat, apabila kalian melihat dari peminpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah amal perbuatannya dan janganlah mencabut tangan kalian dari ketaatan”. HR. Muslim.[4]

Orang yang menjadi kepercayaan dan konsultan seorang pemimpin

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا بَعَثَ الله مِنْ نَبِيٍّ وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيْفَةٍ إلا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالمَعْرُوفِ، وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ الله تَعَالَى». أخرجه البخاري

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak seorang Nabipun yang diutus oleh Allah dan tidak pula mengangkat seorang khalifah kecuali mereka memiliki dua macam orang kepercayaan: “Orang keparcayaannya yang menyuruhnya berbuat kebajikan serta mendorongnya untuk berbuat hal tersebut dan kepercayaan yang menyeruhnya untuk berbuat keburukan serta mendorongnya untuk tetap melakukannya, orang yang terjaga adalah orang yang tetap dijaga oleh Allah Ta’ala”.[5]

Kewajiban Seorang Khilafah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim no: 1854
[2] HR. Muslim no: 1852
[3] HR. Muslim no: 1853
[4] HR. Muslimno: 1855
[5] HR. Bukhari no: 7198

Kewajiban Seorang Khalifah

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Kewajiban seorang Khalifah
1. Menegakkan agama Islam. Yaitu dengan menjaganya, berdakwah kepadanya dan menolak segala segala syubhat yang nisbatkan kepadanya, menegakkan hukum-hukumnya dengan menjalankan hukum Allah pada  masyarakat dan berjihad di jalan Allah.

Firman Allah Ta’ala.

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا  [النساء/58]

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.[1]

2. Mengangkat orang yang mampu dalam mengemban sebuah jabatan dan kekuasaan

Firman Allah Allah Ta’ala.

قال الله تعالى: إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ  [القصص/26]

“Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[2]

3. Seorang pemimpin harus mengkontrol tugas para pekerjanya

عن أبي حُميدٍ الساعدي رضي الله عنه قال: اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مِنَ الأزْدِ يُقَالُ لَهُ ابنُ اللتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ: «فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ، أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لا؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئاً إلَّا جَاءَ بِهِ يَومَ القِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إنْ كَانَ بَعِيراً لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ» ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إبْطَيْهِ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ» ثَلاثاً. متفق عليه.

Dari Abi Humaid semoga Allah meridhai mereka berdua berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat  seorang  lelaki dari suku Azd bernama Allutbiyah untuk mengambil shadakah. Pada saat dirinya tiba dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia berkata: “Ini adalah bagian kalian dan ini adalah bagin yang dihadiahkan kepadaku”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah dia duduk di rumah bapaknya atau dirumah ibunya apakah dia diberikan hadiah atau tidak?. Demi jiwaku yang berada di dalam jiwanya, tidaklah seorang mengambil sedikitpun darinya kecuali dia datang pada hari kiamat dengan memikulnya pada lehernya seandainya seekor onta maka dia bersuara, kalau sapi maka dia bisa menguak, atau seekor kambing maka dia  mengembek’. Lalu beliau mengangkat tangannya sampai tanpak bulu kedau ketiaknya seraya berkata: “Ya Allah aku telah menyampaikannya, ya Allah aku telah menyampaikannnnya”. Muttafaq Alaihi.[3]

4. Memantau mengatur kehidupan rakyat

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…». متفق عليه

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pejabat yang diangkat mengurusi perkara manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Muttafaq Alaihi.[4]

5. Kasih sayang terhadap rakyat, menasehati dan tidak mencari-cari kesalahan mereka

عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ أَمِيْرٍ يَلِي أَمْرَ المُسْلِمِين، ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ، إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الجَنَّةَ». متفق عليه

Dari Ma’qal bin Yasar  Radhiyallahu anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang menduduki sebuah jabatan yang mengurusi perkara kaum muslimin, kemudian dia tidak bersungguh-sungguh mengurusi mereka dan tidak pula menasehati mereka, kecuali dia tidak akan masuk bersama mereka ke dalam surga”. HR. Muslim.[5]

6. Menjadi Tauladan yang baik bagi rakyat mereka

Firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [الفرقان/74]

 “…dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.[6]

قال الله تعالى: وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ  [السجدة/24]

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”.[7]

Hak-hak Seorang Khalifah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nisa/4: 58
[2] QS. Al-Qoshosh/28: 26
[3] HR. Bukhari no: 2597 dan Muslim no: 1832
[4] HR. Bukhari no: 893 dan Muslim no: 1829
[5] HR. Muslim no: 142
[6] QS. Al-Furqon/25: 74
[7] QS. Al-Sajdah/32: 24

Hak-hak Seorang Khalifah

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Hak-hak Seorang Khalifah
1. Mentaatinya pada perkara yang bukan bermaksiat kepada Allah

 قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا  [النساء/59].

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[1]

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Atas setiap orang muslim untuk mendegar dan mentaati pemimpin pada perkara yang dia sukai atau benci kecuali jika dia diperintah untuk mengerjakan kemaksiatan, maka jika diperintah mengerjakan suatu kemaksiatan maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan mentaati”. Muttafaq alaihi. [2]

2. Saling menasehati

عن تميم الداري رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الدِّيْنُ النَّصِيحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «للهِ وَلِكَتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ». أخرجه مسلم

Dari Tamim Al-Dari  Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Nabi  ِShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Kami bertanya: “Untuk siapa?. Beliau menjawab:“Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi RasulNya dan bagi pemimpin kaum muslimin serta orang awam mereka”. HR. Muslim[3]

3. Membela dan mendukungnya dalam menegakkan kebenaran

Firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ  [المائدة/2].

“….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. [4]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nisa/4’: 59
[2] HR. Bukhari no: 7144 dan Muslim no: 1839
[3] HR. Muslim no: 55
[4] QS. Al-Maidah:/5 2