Author Archives: editor

Melongok Penjara Mewah untuk Terpidana Teroris di Arab Saudi

MELONGOK PENJARA MEWAH UNTUK TERPIDANA TERORIS DI ARAB SAUDI

Kamar-kamar di tempat ini dilengkapi tempat tidur mewah, televisi layar lebar, dinding dilampiri wallpaper indah serta para penghuninya mendapatkan makanan enak tiga kali sehari.

Namun, tempat ini bukan sebuah hotel bintang lima sebab meski mewah, kamar-kamar ini hanya memiliki sedikit jendela dan di luar berdiri tembok tinggi dan menara-menara pengawas.

Tempat ini dinamai “Rumah Keluarga”, tetapi sejatinya adalah penjara dengan keamanan maksimum untuk menampung para terpidana kasus-kasus terorisme di Arab Saudi.

Tempat ini dirancang untuk memberi kehidupan normal dan terjamin bagi para terpidana teroris yang berkelakuan baik. Di tempat ini, mereka juga bisa berhubungan dengan istri dan anak-anak mereka atau berencana untuk mencari istri.

Cara menangani para terpidana teroris yang sangat “manusiawi” ini merupakan cara Arab Saudi melakukan pendekatan kepada para terpidana ini, yang tak bisa dipahami dengan baik oleh dunia Barat.

Pemerintah Saudi menilai, mereka yang melakukan aksi teror di luar negeri dan bukan di dalam negeri dianggap sebagai anak yang hilang.

Karena itu, mereka harus ditangani dengan benar, dengan cara memperbaiki cara berpikir mereka sehingga bisa kembali ke masyarakat sebagai warga negara yang baik.

Filosofi itu baru dipahami setelah sejumlah wartawan mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi LP Al-Ha’ir, satu dari lima lapas di Saudi yang seluruhnya menahan setidaknya 5.000 orang terpidana kasus terorisme.

“Di sini kami memiliki semua jenis terpidana kasus terorisme di kerajaan ini,” kata asisten direktur lapas yang mengaku hanya bernama Abu Nawaf.

“Penjara bukan sekadar tempat untuk menghukum seseorang lalu melepaskannya. Itu hal yang berbahaya bagi dia dan bagi masyarakat,” kata Abu Nawaf.

“Jika dia keluar dari tempat ini sebagai orang baik bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakatnya, itu jauh lebih baik,” tambah dia.

Abu Nawaf mengatakan, semua narapidana di penjara itu mendapatkan tunjangan, misalnya uang saku sebesar 400 dollar AS dan kemungkinan “cuti” untuk kepentingan keluarga.

“Seorang narapidana yang harus datang ke pernikahan ke kerabatnya mendapatkan uang 2.666 dollar AS (atau Rp 35 juta) sehingga dia bisa membeli hadiah untuk mempelai,” tambah Abu Nawaf.

Sementara itu, pihak lapas menyediakan sejumlah ruangan besar dengan sofa dan meja untuk keperluan kunjungan keluarga.

Narapidana yang dianggap tidak berbahaya boleh mendapat kunjungan dari istrinya di sebuah ruangan khusus dengan dinding dan tempat tidur berwarna merah muda yang dilengkapi minibar (tanpa minuman keras) dan kamar mandi.

Setiap narapidana boleh dikunjungi istri mereka sebulan satu kali. Jika terpidana itu memiliki banyak istri, mereka bisa bergantian menjenguk sang suami.

“Mereka yang punya empat istri, bisa mendapat kunjungan lebih sering, satu istri setiap satu pekan sekali,” kata Abu Nawaf.

Bahkan, para terpidana mati juga boleh mendapatkan kunjungan dari istri mereka. “Ini bukan sekadar hak mereka. Ini juga hak sang istri,” lanjut Abu Nawaf.

Penyakit Ideologi
Tak jauh dari penjara itu terdapat Pusat Konsultasi dan Terapi Pangeran Mohammed bin Nayef. Di tempat ini sejumlah psikolog dan ulama bekerja untuk melakukan deradikalisasi terhadap para narapidana.

Para narapidana baru dibantu seorang psikolog untuk mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang membuat mereka tersesat, misalnya minuman keras, narkoba, masalah keluarga, atau kumpulan teman yang salah.

Demikian dijelaskan salah seorang psikolog di tempat itu, Nasser al-Ajmi. Langkah selanjutnya adalah mempertemukan narapidana itu dengan seorang ulama.

Salah seorang ulama yang bekerja di tempat itu, Khalid al-Abdan, mengatakan, dia biasanya mencoba meluruskan pemahaman jihad para tahanan itu.

Khalid mengatakan, perang di Suriah dan Irak tak memenuhi syarat untuk dikatakan jihad karena perang di kedua negara itu terkait sektarianisme dan politik, bukan masalah agama.

Khalid juga menjelaskan kepada para narapidana bahwa mereka harus mematuhi pemerintah dan tidak mendeklarasikan jihad pribadi.

Di salah satu sudut tempat ini terpampang sebuah plakat di dinding yang berisi daftar sesi-sesi konsultasi dan para narapidana yang menerima konsultasi.

Namun, plakat itu tak menyebut nama Yousef al-Sulaiman, pemuda Saudi yang dibebaskan dari tempat ini dua tahun lalu.

Pada Agustus tahun lalu, Yousef meledakkan diri di dalam sebuah masjid yang dipenuhi aparat keamanan Saudi. Akibat aksi ini sedikitnya 15 orang tewas.

Beberapa nama lain yang sudah “lulus” dari tempat ini juga diketahui kembali terlibat dengan kelompok militan, termasuk pelaku pengeboman masjid Syiah di Saudi tahun lalu.

“Di sini kami mengobati penyakit ideologi. Sama halnya saat anak-anak sakit, setelah diobati mereka sembuh, tetapi penyakit masih bisa datang,” kata Ajmi saat ditanya soal kegagalan ini.!

Di ujung koridor yang berisi deretan sel, terdapat sebuah halaman dengan rumput sintetis. Di tempat ini para narapidana bisa nongkrong dan menghirup udara segar.

Selain itu, tersedia juga semacam pasar kecil yang menjual minuman dan makanan ringan, ruangan tempat napi bisa menelepon sambil diawasi, dan sebuah perpustakaan kecil.

Korban Amerika
Salah seorang narapidana, Abdullah Mohammed (29), mengatakan, dia sedang belajar hukum syariah di sebuah universitas negeri di Riyadh pada 2014.

Namun, berbagai tayangan kekerasan yang terjadi di Suriah membuatnya memilih untuk pergi ke negeri itu dan bergabung dengan Front al-Nusra yang terafiliasi dengan Al-Qaeda.

“Saya melihat banyak orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi. Saya ingin membantu mereka,” kata Abdullah.

“Lalu, pergi ke Suriah dan menyaksikan kekacauan, orang-orang saling bunuh dan kami tidak tahu siapa kawan siapa lawan,” tambah Abdullah.

Kondisi itu memaksa Abdullah kabur ke Turki. Kedutaan Besar Saudi di negeri itu membantunya pulang kampung.

Saat itu, Pemerintah Saudi memberikan pengampunan bagi warganya yang ikut berperang di Suriah sehingga Abdullah tak langsung masuk penjara.

Namun, setelah itu, Abdullah terlibat dalam bisnis ilegal lainnya yang membuatnya harus mendekam di balik terali besi.

“Saya menghubungi beberapa orang,” ujar Abdullah tanpa memberi rincian

Abdullah mengatakan, kesulitannya saat ini bukan karena keputusannya yang salah atau pola pikir yang keliru.

Dia menganggap pemerintah dan media massa Amerika Serikat yang membuat hidupnya penuh kesulitan. “Saya adalah korban dari pemerintah dan media Amerika Serikat,” kata dia.

Sumber : Nationalgeographic

Cinta Sejati

CINTA SEJATI

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Kajian kita kali ini tentang firman Allah Azza wa Jalla dalam surat at-Taubah, mari kita memulai dengan membaca, baru setelahnya kita ambil faidah serta pelajaran yang bisa kita petik. Allah Ta’ala  berfirman pada ayat yang ke 24:

قال الله تعالى:  قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dan RasulNya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah Shubhanahu wa Ta’ala mendatangkan keputusanNya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at-Taubah/9: 24].

Allah Shubhanahu wa Ta’ala didalam ayat ini, menyuruh Rasul -Nya untuk menegur orang-orang yang lebih mendahulukan, keluarga, saudara dekat, sanak kerabat, dari pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan -Nya.

Diawali dengan kata perintah kepada Nabi -Nya: 

قال الله تعالى:  قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ  [التوبة: 24]

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu”. [at-Taubah/9: 24].

Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala melanjutkan:

قال الله تعالى:  وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا  [التوبة: 24]

“Harta kekayaan yang kamu usahakan”. [at-Taubah/9: 24].

Artinya harta yang kamu usahakan bersusah payah dalam mencarinya.

Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا  [التوبة: 24]

“Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya”.[at-Taubah/9: 24].

Artinya perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakan serta kerugiannya. Dan ini mencakup segala jenis perniagaan, mencari harta dan beternak  serta yang semakna dengan ini semua. Lalu Allah Shubhanahu wa Ta’ala melanjutkan:

قال الله تعالى:  وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ [التوبة: 24]

“Dan tempat tinggal yang kamu sukai”. [at-Taubah/9: 24].

 Yaitu lebih engkau sukai dan cintai karena bagusnya atau lainnya, maka jikalau itu semua:

قال الله تعالى:  أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ [التوبة: 24]

“Adalah lebih kamu cintai dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul Nya dan dari berjihad di jalan nya”.[at-Taubah/9: 24].

Maka tunggulah apa yang akan kalian rasakan dari siksa dan hukuman, oleh karena itu Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

 “Dan Allah Shubhanahu wa Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.  [at-Taubah/9: 24].

Maksudnya orang-orang yang telah keluar dari garis taat kepada-Nya. Yang lebih mendahulukan kecintaan perkara yang tersirat dalam ayat dari pada Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Syaikh Abdurahman as-Sa’di mengatakan ketika menafsirkan ayat mulia diatas: “Dan ayat mulia ini sebagai bukti paling nyata yang menjelaskan wajibnya mencintai Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya. Lebih mendahulukan kecintaan pada keduanya dari pada kecintaan terhadap segala hal. Dengan adanya ancaman yang keras, bagi siapapun yang memasukkan perkara-perkara yang termaktub dalam ayat tersebut bahwa lebih ia cintai dari pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan -Nya”. [1]

Ada banyak dalil yang mendorong kita untuk lebih mengedepankan rasa cinta kita pada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, salah satunya dalam hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Zahrah bin Ma’bad dari kakeknya Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

 كُنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا نَفْسِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ قَالَ عُمَرُ فَأَنْتَ الْآنَ وَاللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَرُ  [أخرجه البخاري و مسلم]

“Pada suatu hari kami pernah bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu beliau sedang menggandeng tangan Umar bin Khatab. Umar berkata padanya: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku”. Maka Nabi mengatakan: “Tidak, demi Dzat yang jiwa tanganku berada ditanganNya. Hingga menjadikan diriku lebih engkau cintai sampai dari dirimu”. Umar pun menjawab: “Sekarang, demi Allah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri”. Nabi pun bersabda: “Sekarang wahai Umar (baru benar kecintaanmu)”. [ Bukhari no: 6632].

Pada hadits lain dijelaskan, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga menjadikan diriku lebih ia cintai dari pada orang tua dan anaknya serta seluruh manusia”. [HR Bukhari no: 15. Muslim no: 44].

Pelajaran yang bisa kita petik dari ayat ini:
1. Orang yang cinta kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, maka itu sebagai bukti akan kesempurnaan iman pemiliknya serta menekuni ajaran Islam.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang menunjukan hal tersebut, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ» [أخرجه البخاري و مسلم]

Tiga perkara, barangsiapa yang mempunyainya maka ia akan merasakan lezatnya iman; dirinya menjadikan Allah dan Rasul    –Nya lebih ia cintai dari segala sesuatu. Dia mencintai seseorang yang kecintaannya tidak didasari kecuali karena Allah. Dan dirinya benci kembali pada kekufuran seperti halnya dia benci dilempar kedalam api neraka”. [HR Bukhari no: 16. Muslim no: 43].

2. Bahwa ketaatan kepada Allah dan RasulNya lebih didahulukan dari pada mentaati keluarga, harta benda dan anak.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

قال الله تعالى:  وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا  [الأحزاب: 36]

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul -Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul -Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. [al-Ahzab/33: 36].

3. Meninggalkan jihad dijalan Allah Shubhanahu wa Ta’ala lalu menyibukan diri dengan urusan dunia adalah penyebab kemurkaan -Nya dan turunnya kehinaan ditubuh kaum muslimin.
Dan faidah ini didukung oleh ayat lain, seperti yang telah Allah katakan dalam firman- Nya:

 قال الله تعالى:   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ  [التوبة: 38]

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit”. [at-Taubah/9: 38].

Sedangkan pendukung dalam hadits dikatakan, sebagaimana haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم » [أخرجه أبو داود]

“Apabila kalian telah jual beli dengan sistem riba, memegangi ekor-ekor sapi, lebih senang dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka (pasti) Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, (dan itu) tidak akan terangkat sampai kalian kembali kepada urusan agama kalian”. [HR Abu Dawud no: 3462. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 1/42 no: 11].

4. Bahwa bermalas-malasan untuk berangkat jihad termasuk salah satu ciri khasnya orang-orang munafik.
Seperti dijelaskan dalam banyak ayat, salah satunya dalam surat al-Imran, dimana Allah Ta’ala  berfirman:

قال الله تعالى:   وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُواْۚ وَقِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ قَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدۡفَعُواْۖ قَالُواْ لَوۡ نَعۡلَمُ قِتَالٗا لَّٱتَّبَعۡنَٰكُمۡۗ هُمۡ لِلۡكُفۡرِ يَوۡمَئِذٍ أَقۡرَبُ مِنۡهُمۡ لِلۡإِيمَٰنِۚ يَقُولُونَ بِأَفۡوَٰهِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يَكۡتُمُونَ  [ال عمران: 167]

“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”.  [al-Imran/3: 167].

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ » [أخرجه مسلم]

“Barangsiapa yang meninggal lalu tidak pernah berperang, tidak pula ada keinginan dalam dirinya, maka dirinya mati dengan membawa bagian dari kemunafikan”. [HR Muslim no: 1910].

5. Beriman kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya serta berjihad dijalan Nya termasuk sebab seorang hamba selamat dari siksa Allah azza wa jalla.
Berdasarkan ayat ini dan juga ayat lainnya, dimana Allah Ta’ala  menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  [الصف: 10-11]

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. [ash-Shaaf/61 10-11].

Diperjelas lagi dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari haditsny Abdurahman bin Jabr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ » [أخرجه أحمد]

“Barangsiapa menggunakan kakinya untuk berjihad dijalan Allah, maka Allah mengharamkan baginya neraka”. [HR Ahmad 22/205 no: 14947].

6. Didalam ayat menjelaskan bahwa jihad merupakan amalan yang paling utama. Oleh karenanya, tidak keliru kalau Allah Shubhanahu wa Ta’ala menggandeng dengan kecintaan pada -Nya dan pada Rasul –
Berdasarkan ayat yang telah lalu, dimana Allah Ta’ala  berfirman:

قال الله تعالى: أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

“Lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan -Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at-Taubah/9: 24].

Disebutkan dalam sebuah hadits, yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ – والله أعلم بمن يجاهد في سبيله- كمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Perumpamaan seorang mujahid yang berperang dijalan Allah -dan Allah lebih tahu dengan orang yang berjihad dijalanNya- seperti halnya orang yang berpuasa dan sholat malam”. [HR Bukhari no: 2787. Muslim no: 1876].

7. Dalam ayat mengandung motivasi untuk berjihad dan anjuran untuk zuhud di dunia. Karena yang namanya keluarga, sanak kerabat, harta benda, perniagaan serta tempat tinggal semua itu hanyalah perhiasan dunia yang akan sirna.
Seperti didukung oleh banyak ayat, diantaranya firman Allah tabaraka wa Ta’ala :

قال الله تعالى:   زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ  [ ال عمران: 14] 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah -lah tempat kembali yang baik (surga)”. [al-Imran/3: 14].

Dalam ayat yang lain, masih dari surat yang sama Allah menyatakan:

قال الله تعالى:   وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ – فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ  [ال عمران: 170]

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan    -Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.  [al-Imran/3: 169-170].

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah Shubhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.    

[Disalin dari  تأملات في الآية: 24 من سورة التوبة Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Taisir Karimur Rahman hal: 309.

 

Riya’ Penyakit Akut yang Mengerikan

RIYA’ PENYAKIT AKUT YANG MENGERIKAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Termasuk dosa yang paling besar disisi Allah Shubhanahu wa Taala ialah menyekutukan Dirinya dengan selain Allah azza wa jalla. Hal itu, sebagaimana sangat tegas Allah Shubhanahu wa Taala nyatakan dalam sebuah firman -Nya:

 وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ  [ الحج: 31]

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.  [al-Hajj/22: 31).

Dalam surat al-Ma’un Allah Shubhanahu wa Taala mencela orang-orang yang sholat, numun ditujukan bukan untuk -Nya. Dimana Allah Shubhanahu wa Taala berfirman:

 فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ – ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ – ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ – وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ  [ الماعون: 4-7]  

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.  [al-Maa’un/107: 4-7].

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan: “Dan kesyirikan ini adalah lautan yang tak bertepi (karena begitu banyak ragamnya). Dan sangat sedikit sekali yang bisa selamat darinya. Sehingga barangsiapa yang menginginkan amalannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala maka dirinya telah terjatuh dalam lubang kesyirikan pada iradah (keinginan) serta niatnya.

Sedangkan yang dinamakan ikhlas ialah memurnikan kepada Allah Shubhanahu wa Taala pada ucapan, perbuatan, niat dan keinginannya. Maka ini termasuk dari ajaran agama yang lurus, yaitu agamanya nabi Ibrahim ‘alaihi sallam, yang mana Allah Shubhanahu wa Taala memerintahkan seluruh seluruh hamba -Nya untuk beragama dengan ajaran tersebut, dan -Dia menegaskan tidak akan menerima selain dari ajaran itu, inilah sejatinya agama Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman -Nya:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ  [ ال عمران: 85]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. [al-Imran/3: 85].

Inilah milah (agamanya) nabi Ibrahim, sehingga barangsiapa yang membencinya maka dia termasuk orang yang paling bodoh”[1]

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah akan memperdengarkan padanya. Dan barangsiapa (beramal) dengan tujuan supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan padanya“. [HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987].

Kalimat riya’  di ambil dari asal kata ru’yah yang artinya seseorang menyukai jika dilihat oleh orang lain. Lalu dirinya beramal sholeh dengan tujuan supaya mereka memujinya.

Perbedaan antara riy’a dengan sum’ah adalah kalau riya’ dari amal perbuatan yang kelihatannya dilakukan karena Allah Shubhanahu wa Taala namun bathinnya berniat supaya diperhatikan orang, seperti halnya orang yang sedang melakukan sholat atau bersedekah. Adapun sum’ah ialah memperdengarkan perkataannya yang secara dhohir untuk Allah Shubhanahu wa Taala namun, dirinya mempunyai tujuan untuk selain -Nya, seperti halnya, orang yang sedang membaca al-Qur’an atau berdzikir, berceramah, serta lainnya dari amalan lisan.

Tujuan orang yang berbicara tadi adalah supaya didengar perkataannya oleh orang lain sehingga mereka memujinya seraya mengatakan dirinya luar biasa dalam menyampaikan materi, atau khutbahnya sangat mengena, atau suaranya sungguh indah tatkala membaca al-Qur’an..demikian seterusnya. [2]

Adapun makna ra’allah dan sam’a dalam hadits diatas, dijelaskan oleh beberapa ulama: ‘Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa Taala akan membuka aibnya kelak pada hari kiamat’. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Abu Hindun ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ قَامَ مَقَامَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ رَايَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَسَمَّعَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa yang berdiri karena riya’ dan sum’ah, maka Allah akan membuka serta memperlihatkan aibnya kelak pada hari kiamat“. [HR Ahmad 37/7 no: 22322].

Dan riya’ ini bisa terjadi, ada kalanya ketika seseorang menginginkan supaya dipuji dan disanjung sama orang lain, bahkan bisa terjadi manakala dirinya berusaha menghindar dari celaan mereka. Seperti halnya, seseorang yang memperbagusi sholatnya supaya tidak dikatakan sholatnya ngebut, cepat sekali. Atau ingin menguasai kepunyaan orang lain.

Yang membenarkan hal tersebut adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً أَىُّ ذَلِكَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang berangkat ke medan jihad karena pemberani, atau karena membela negerinya, atau supaya dilihat orang, manakah ketiga orang tersebut yang telah berjihad dijalan Allah? Maka beliau menjawab: “Barangsiapa yang berjihad supaya kalimat Allah menjadi tinggi maka dialah orang yang berjihad dijalan Allah“. [HR Bukhari no: 2810. Muslim no: 1904].

Perkataan penanya: “Karena pemberani“. Maksudnya dirinya berangkat jihad supaya dikenal dan dikenang sebagai seorang pemberani. Adapun ucapannya: “Berperang untuk membela“. Maksudnya perangnya bertujuan untuk membela keluarga, atau kabilah, kerabat, atau temannya.

Atau kemungkinan kedua maksud ucapannya bisa diartikan berperang untuk membela diri dari mara bahaya. Sedangkan ucapannya: “Berperang supaya dilihat“. Maksudnya supaya dilihat kedudukannya dimata manusia. Orang pertama jelas, adapun orang kedua karena dirinya sum’ah sedangkan yang terakhir karena riya’, maka semuanya tercela. [3]

Dan riya’ ini sejatinya adalah syirik yang tersembunyi. Seperti diterangkan dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumahnya, lalu bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: ” يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ » [ أخرجه ابن خزيمة ]

Wahai manusia, hati-hatilah kalian dari kesyirikan yang tersembunyi”. Maka para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apa kesyirikan yang tersembunyi itu? Beliau menjawab: “Seseorang yang berdiri mengerjakan sholat, lalu dirinya memperbagusi sholat dengan sungguh-sungguh tatkala ada manusia yang melihat kepadanya. Itulah yang dinamakan syirik yang tersembunyi“. [HR Ibnu Khuzaimah 2/67 no: 937. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 1/119 no: 31].

Hanya saja dinamakan riya’ dengan perbuatan syirik yang tersembunyi, dikarenakan pelakunya menampakan dimata orang lain amalannya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla, namun dirinya mempunyai tujuan untuk selain -Nya atau bahkan untuk yang disekutukan. Dan dirinya memperbagusi sholat untuknya, sedangkan niat, tujuan serta amalan hati itu tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla.[4]

Bahaya Riya’:
Riya’ juga termasuk syirkun asghar (syirik kecil). Sebagaimana dipaparkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari sahabat Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً » [أخرجه أحمد]

Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian dari pada syirik kecil”. Para sahabat bertanya: “Apa syirik kecil itu wahai Rasulallah? Beliau berkata: “Riya’. Allah ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ padanya ketika didunia, lalu lihatlah apakah kalian menjumpai disisinya balasan?!  [HR Ahmad 39/39 no: 2363].

Artinya amalan orang yang berbuat riya’ itu hilang, di mana kelak pada hari kiamat mereka disuruh untuk mendatangi orang-orang yang dirinya berbuat riya’ padanya ketika didunia, lalu dikatakan padanya: ‘Lihatlah apakah kalian mendapati ganjarannya“. Maksudnya mereka-mereka yang kalian berusaha untuk memperbagusi amalan dihadapannya ketika didunia, apakah kalian mendapati disisi mereka pahala?!.

Seorang penyair berkata dalam qosidahnya:

Tiap orang akan mengetahui seluruh perbuatannya
Jika sampai di sisi Allah yang Maha Mengetahui

Dampak terburuk dari perbautan riya’ ini adalah akan memasukan pelakunya ke dalam neraka. Sebagaimana di tegaskan dalam hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا .قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا. قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ .

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا. قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ :كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ.

 وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا. قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ » [أخرجه مسلم]

“Sesungguhnya orang pertama yang akan dihukumi kelak pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid. Dirinya dihadapkan kepada Allah, lalu diperlihatkan nikmat sebagai balasannya, dan iapun mengakuinya. Kemudian dia ditanya: “Apa yang engkau kerjakan? Dia menjawab: “Aku terbunuh dijalan Mu sampai kiranya aku mati syahid”. Allah menyanggah: “Dusta kamu. Akan tetapi engkau berjihad supaya dikatakan pemberani, dan kamu telah mendapatkan”. Lantas orang tersebut diperintahkan supaya diseret wajahnya hingga dicemplungkan ke dalam neraka.

Kemudian seseorang yang mempelajari ilmu lalu mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an. Dirinya didatangkan menghadap Allah, lalu diperlihatkan nikmat-nikmat yang akan diperolehnya, dan ia pun mengakuinya. Kemudian dia ditanya: “Apa yang engkau dulu kerjakan? Ia menjawab: “Aku belajar ilmu lalu mengajarkan pada orang lain. Dan aku membaca al-Qur’an untuk Mu”. Allah menyanggah: “Dusta kamu, akan tetapi, engkau belajar ilmu supaya dikatakan sebagai orang yang alim, dan engkau membaca al-Qur’an supaya dikatakan qori’ (ahli membaca al-Qur’an), dan kamu telah memperolehnya. Kemudian dirinya diperintahkan supaya diseret wajahnya hingga dimasukkan ke dalam neraka.

Kemudian seseorang yang telah dilapangkan oleh Allah dan dikasih berbagai macam jenis harta seluruhnya. Dirinya didatang kepada Allah, lalu diperlihatkan nikmat-nikmat yang akan diperolehnya, dan ia pun mengakuinya. Kemudian dia ditanya: “Apa yang dulu engkau kerjakan? Dia menjawab: “Tidak ada yang aku lewatkan satu sarana pun yang Engkau cintai supaya berinfak didalamnya melainkan pasti aku berinfak padanya untuk Mu”. Allah menyanggah: “Dusta kamu, akan tetapi, engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan, dan engkau sudah mendapatkannya”. Kemudian diperintahkan supaya dirinya diseret wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka”. [HR Muslim no: 1905].

Al-Hafidh Ibnu Rajab menjelaskan: “Orang yang pertama kali dicemplungkan ke dalam neraka dari kalangan orang yang bertauhid diantara hamba Allah Shubhanahu wa Taala adalah orang yang berbuat riya’ di dalam amalannya. Yang terdepan ialah orang alim, mujahid, dan penderma yang semuanya beramal karena bertujuan riya’.

Itu menunjukan bahwa perbuatan riya’ termasuk kategori perbuatan syirik, dan itu dikarenakan orang yang berbuat riya’ tidak mengetahuinya melainkan kebodohannya akan ke agungan Sang Pencipta”. [5]

Catatan:
Dalam hal ini ada dua catatan penting yang harus diperhatikan:
Pertama: Bahwa senangnya seorang hamba manakala dipuji oleh orang lain sedangkan dirinya sama sekali tidak bermaksud supaya dipuji, maka keikhlasan dirinya tidak aib sama sekali. Selagi dirinya memulai amalannya dengan ikhlas, dan keluar dari ibadah itupun rasa ikhlasnya terus mengirinya.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ قَالَ : تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ » [أخرجه مسلم]

Pernah dikatakan kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bagaimanakah menurutmu dengan seseorang yang beramal kebajikan lalu dirinya dipuji oleh manusia? Beliau menjawab: “Itu termasuk kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin“. [HR Muslim no: 2642].

Ibnu Rajab menjelaskan: “Apabila ada orang yang beramal suatu amalan karena Allah Shubhanahu wa Taala secara ikhlas kemudian -Dia menempatkan padanya pujian yang baik dihati orang yang beriman dengan sebab amalannya tersebut, kemudian dirinya merasa bahagia dengan karunia dan rahmat serta kabar gembira yang diberikan Allah Shubhanahu wa Taala padanya, maka hal tersebut tidak mengganggu keikhlasannya”. [6]

Kedua: Seorang mukmin tidak meninggalkan suatu ibadah karena orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menuturkan: “Bagi seseorang yang sudah punya kebiasan yang masyru’ (disyari’atkan) semisal sholat dhuha, atau sholat malam, atau yang lainnya. Maka dirinya sholat dimanapun dirinya berada. Dan tidak sepatutnya dia meninggalkan kebiasaan baiknya tersebut dikarenakan sedang berada dihadapn orang, dimana Allah Shubhanahu wa Taala mengetahui dari hatinya kalau dirinya mengerjakan secara ikhlas tatkala sendirian, dan hal itu tentunya sambil dibarengi usahanya untuk selamat dari perbuatan riya’ serta perusak keikhlasannya”. [7]

Kesimpulannya:
Bahwa perbuatan riya’ akan menghapus amal ibadah, penyebab murkanya Allah Shubhanahu wa ta’alla, laknat serta dibenci oleh -Nya. Perbuatan riya’ termasuk dosa besar yang menghancurkan, bagian dari syirik kecil yang tidak akan diampuni pelakunya jika sampai meninggal, bahkan dirinya terancam adzab dan siksa sesuai dengan ukurannya. Allah Shubhanahu wa Taala menjelaskan akan hal itu dalam firman -Nya:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا  [ النساء: 48]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki -Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.  [an-Nisaa’/4: 48].

Sehingga sepantasnya bagi seorang muslim untuk meninggalkan sekuat tenaga perbuatan riya’ ini. berusaha semampunya untuk menghilangkan dalam dirinya, kemudian mengikhlaskan amal ibadahnya karena Allah Shubhanahu wa ta’alla, baik dalam ucapan, perbuatan, keinginan serta segala urusannya. Dimana Allah Shubhanahu wa Taala mengatakan dalam firman -Nya:

 قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ – لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ  [ الأنعام: 162-163]

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al-An’am/6: 162-163].

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa Taala Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam , kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الرياء Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1435]
______
Footnote
[1] ad-Daa’u wa Dawa’u oleh Ibnu Qoyim hal: 194.
[2] I’anatul Mustafid bii Syarh Kitabut Tauhid karya Syaikh Sholeh al-Fauzan 2/90.
[3] Fathul Bari 6/28.
[4] ad-Diinul Khalish 2/385.
[5] Kalimatul Ikhlas hal: 39.
[6] Jami’ul Ulum wal Hikam 1/83.
[7] Majmu Fatawa 2/263.

Dokter dan Perawat Memperoleh Keutamaan Menjenguk Orang Sakit?

APAKAH DOKTER DAN PERAWAT MEMPEROLEH KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT?

Pertanyaan
Ada pertanyaan mengenai hadits yang diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata :

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ , وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang Muslim menjenguk Muslim yang lainnya pada pagi hari, kecuali akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari. Jika dia menjenguknya pada sore hari, maka dia akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan kebun di surga kelak.’

Apakah hadits ini shahih ? Apakah hadits ini berlaku hanya pada orang yang mengunjungi kaum Muslimin yang sakit di rumah mereka ? Dan tidak berlaku bagi tenaga medis, terutama para dokter dan perawat yang mengobati orang sakit di rumah sakit yang mana mereka melakukan itu sebagai tuntutan profesi mereka dan tidak bertujuan untuk mengunjungi kaum Muslimin yang sakit. Bagaimanakah dapat memberlakukan hadits ini sehingga mendapat pahala ?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama. Abu Daud, no. 3099, dan Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/47-48) dan lainnya meriwayatkan,

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُإِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ، فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ  .

Dari Ali, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila seorang laki-laki berkunjung kepada saudaranya yang muslim, maka seakan-akan dia berjalan di kebun surga hingga duduk. Apabila sudah duduk, maka diguyuri rahmat dengan deras. Apabila berkunjung di pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya, agar mendapat rahmat hingga sore. Apabila berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi.’”

Setelah hadits no. 3100, Abu Daud berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari Ali dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dengan riwayat yang shahih.”

Hadits ini berbeda-beda perawinya. Ada yang yang meriwayatkan secara Marfu’ sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada yang meriwayatkan secara Mauquf dan merupakan perkataan Ali Radhiyallahu ‘Anhu.

Setelah hadits no. 969, At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari Ali tidak hanya satu arah. Ada yang meriwayatkannya secara Mauquf dan tidak meriwayatkannya secara Marfu’.”

Para Muhaqqiq (peneliti) kitab Musnad mengatakan, “Hadits ini shahih secara Mauquf. Para perawinya tsiqah, merupakan para perawi hadits As-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim). Akan tetapi berbeda dari sisi Mauquf dan Marfu’nya. Riwayat yang Mauquf lebih shahih.”

Berdasarkan pendapat yang menguatkan ke-Mauquf-an hadits ini, maka hadits ini memiliki hukum Marfu’, karena hal seperti ini tidak bisa dikomentari dengan rasio (akal) sebab termasuk pengetahuan terhadap yang gaib.

Al-Hafizh Ibu Hajar Rahimahullah mengatakan. “Kemudian contoh Marfu’ yang tidak tegas tapi hanya secara hukum saja, seperti sahabat yang tidak mengambil riwayat Isra’iliyyat mengatakan sesuatu (dengan ketentuan): bukan termasuk perkara ijtihad, tidak berkaitan dengan pembahasan secara bahasa atau menjelasakan kata yang asing, pengabaran tentang berita-berita zaman dahulu seperti awal permulaan makhluk, cerita para nabi, atau berita-berita tentang masa depan, seperti peperangan (yang akan terjadi), berbagai fitnah (kerusakan), dan keadaan-keadaan pada Hari Kiamat. Demikian juga pengabaran tentang pahala atau hukuman khusus bagi suatu amal perbuatan.

Tak lain dihukumi Marfu’ karena ketika sahabat mengabarkan perkara-perkara tersebut karena pastinya dia diberitahu oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat sahabat mengabarkan suatu perkara yang tidak ada ruang untuk berijtihad, tentunya ia juga diberitahu oleh orang lebih dulu mengatakannya, dan tidak ada orang yang memberitahu sahabat kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau sebagian orang yang memberitahukan berita dari kitab-kitab terdahulu itu kepadanya. Oleh karena itulah, untuk bagian yang kedua ini perlu diwaspadai.

Jika demikian keadaannya, pengabaran sahabat itu memiliki hukum seperti jika seandainya dikatakan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata (bersabda).” Hal itu juga Marfu’, baik ia mendengarnya langsung dari Rasulullah atau mendengar dari beliau dengan perantaraan orang lain.”[1]

Kedua. Hadits ini mencakup semua orang yang berniat untuk mengunjungi dan menjenguk orang sakit demi mengharapkan pahala, baik dia orang asing, kerabat, dokter atau perawat, karena amal perbuatan itu terkait dengan niat. Orang yang beramal akan mendapatkan pahala apa yang diniatkannya, berdasarkan hadits :

عَنْ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ رواه البخاري (1) ومسلم (1907).

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.’” (HR. Al-Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).

Satu amal perbuatan terkadang sah dilakukan dengan niat dua ibadah, atau ibadah dengan kebiasaan. Inilah rahmat dari Allah kepada umat Islam ini.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Di antara nikmat Allah dan kemudahan-Nya adalah satu amal perbuatan dapat menduduki beberapa amal perbuatan. Apabila seseorang masuk masjid pada saat datangnya shalat sunah Rawatib, kemudian dia shalat dua rakaat, ia meniatkan dua rakaat ini sebagai shalat Rawatib dan shalat Tahiyatul Masjid, maka ia akan memeroleh keutamaan (pahala) kedua shalat itu.”[2]

Di antara contoh-contohnya adalah yang disebutkan dalam hadits Zainab istri Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma ketika ia (istri Abdullah bin Mas’ud) bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang saat itu sangat ingin bersedekah dengan hartanya :

أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي، وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي؟ قَالَ: نَعَمْ، ولَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ القَرَابَةِ، وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ  رواه البخاري (1466) ومسلم (1000).

“Apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfakkan sedekahku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda‘Ya benar. Dan baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1466 dan Muslim, no. 1000).

Termasuk ke dalam masalah ini adalah dokter dan perawat. Mereka boleh melaksanakan pekerjaannya dengan niat menjenguk orang-orang sakit dan membantu mereka.

Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “kaum Muslimin yang bekerja dengan pekerjaan-pekerjaan duniawi seperti para dokter, insinyur dan peneliti dapat menjadikan pekerjaan-pekerjaan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika mereka memunculkan niat yang shalih ketika mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ini. Hal ini tidak mengharuskan mereka untuk tidak mengharapkan bagian-bagian (gaji, upah, honor) dari pekerjaan-pekerjaan itu.”[3].

Niat seperti ini termasuk amal shalih yang membuat dokter dan perawat berbuat baik kepada para pasien dan bersabar atas mereka, tidak menggerutu pada mereka atau berbuat buruk kepada mereka.

Wallahu A’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam
[1] Nuzhat An-Nazhar, hal. 132-134
[2] Al-Qawa’id wa Al- Ushul Al-Jami’ah, hal. 168
[3] Maqashid Al-Mukallafin, hal. 400

Nasehat Setelah Haji

NASEHAT SETELAH HAJI

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemilik telaga dan kedudukan yang agung,  demikian pula keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka kepada jalan yang lurus, wa ba’du:

Wahai saudaraku yang telah melaksanakan haji…
Apabila para jama’ah haji telah berniat untuk pulang kembali menuju tanah airnya, mereka akan teringat bapak, ibu, istri, anak, dan saudara, sehingga ia membawakan hadiah untuk mereka. Barang siapa yang memiliki harta berlimpah, ia akan membawa berbagai macam barang untuk diperdagangkan, orang yang berhaji diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ “

Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat” [Al-Baqarah/2: 198]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: Ayat ini merupakan dalil bolehnya melakukan bisnis bagi orang yang melaksanakan ibadah haji saat berhaji sambil melakukan ibadah, dan sesungguhnya hal itu bukan merupakan perbuatan syirik dan tidak pula keluar dari tuntutan keikhlasan yang dibebankan kepadanya, Ad-Daraquthni rahimahullah meriwayatkan dalam sunannya dari Abu Umamah at-Taimi rahimahullah : Aku berkata kepada Ibnu Umar Radhiyallahu anhu : (Sesungguhnya aku seorang laki-laki yang bekerja di jalur ini (berbisnis), dan orang-orang berkata : Sesungguhnya tidak ada haji untukmu. maka Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata : Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya kepada beliau seperti apa yang engkau tanyakan, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam sampai diturunkannya ayat:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada pahala haji untukmu

Saudaraku yang menunaikan haji… Sesungguhnya mengambil dari dunia sekadar batas kebutuhan tidak akan mempengaruhi keikhlasan, akan tetapi bagaimana perasaanmu saat meninggalkan tempat-tempat suci tersebut? Apakah engkau mengetahui wahai saudaraku, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada semua orang agar tidak meninggalkan kota Makkah sebelum melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan)? Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata : Orang-orang berpaling (meninggalkan kota Makkah) dari segenap penjuru, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لاَيَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرَ عَهْدِهِ بِاْلبَيْتِ

Janganlah seseorang pergi (meninggalkan Makkah) sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah (thawaf wada’)” [HR. Muslim]

Saudaraku yang menunaikan haji ... Seperti inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabatnya saat akan meninggalkan Baitullah yang mulia, yaitu agar mereka melakukan thawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah, saat itu hati dan pandangan mata mereka telah dipenuhi keagungan Baitullah tersebut –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah kemuliaannya-.

Dan anda wahai saudaraku…. Apakah yang anda rasakan saat bersiap-siap untuk meninggalkan tempat yang suci tersebut?

Saudaraku…. Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan tempat yang suci tersebut terasa sangat berat di hati, terutama jiwa yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saat menunaikan ibadah haji.

Kemudian wahai saudaraku yang menunaikan haji…. Ingatlah, pada saat anda meninggalkan Baitullah yang agung, sesungguhnya anda tadinya berada dalam hari-hari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan musim-musim pendekatan diri kepada-Nya, dan betapa membahagiakannya saat-saat tersebut, akan tetapi wahai saudaraku : apakah keta’atan akan menjadi terhenti saat anda pulang menuju tanah airmu? Dan anda teringat akan dirimu pada saat sedang berada dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disisi rumah-Nya yang agung, juga hari Arafah dan kehebatannya, serta hari-hari Mina dan keagungannya.

Saudaraku… Bagaimana mungkin anda dapat menggantikan kondisimu dengan yang lain? Oleh karena itu konsistenlah dalam keta’atan, bukalah lembaran baru dalam kehidupanmu, agar bisa mendapatkan ciri-ciri haji yang mabrur. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Haji mabrur adalah : orang yang melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan senang terhadap akhirat.

Sebagian ulama berkata : Di antara tanda haji mabrur adalah bahwa hal itu nampak diakhirnya, jika ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya, diketahuilah bahwa ia mendapatkan haji mabrur.

Kemudian ada hal lain wahai saudaraku yang telah berhaji : pada saat anda meninggalkan Baitullah, memohonlah kepada Allah agar ini tidak menjadi saat yang terakhir bagimu di Baitullah, karena sesungguhnya menyambung keta’atan termasuk dari sebab-sebab ketetapan (iman dan ibadah), sebagaimana juga bahwa menyambung kemaksiatan termasuk dari sebab-sebab kesesatan dan penyimpangan.

Saudaraku…. Istiqamah anda dalam keta’atan merupakan kunci keberuntungan untuk hari persidangan besar, inilah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab: “Yang terus menerus, sekalipun hanya sedikit” [HR. Muslim]

Saudaraku yang telah menunaikan haji …. Sesungguhnya diantara tanda keshalihan adalah terus menerus (istiqamah) diatas keta’atan, sekalipun hanya sedikit. Saudaraku, inilah permata tak ternilai yang aku persembahkan, yaitu : hendaklah anda memperbanyak amal shaleh, beriltizam dan menekuninya, janganlah menganggap remeh hal tersebut, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan husnul khatimah untukmu, dan memelihara keberkahan hajimu.

Saudaraku… Janganlah anda menjadi seperti orang-orang yang tidak pernah mengingat keta’atan kecuali hanya pada musim-musim tertentu, dan apabila musim itu telah berlalu, mereka kembali kepada kondisi sebelumnya. ‘Alqamah Radhiyallahu anhu bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan hari tertentu (untuk beribadah)? Ia menjawab: Tidak, ibadahnya terus menerus, siapakah diantaramu yang mampu seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? [HR. al-Bukhari]

Muhammad bin al-Qasim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : Bahwasanya apabila dia (Aisyah) mengamalkan sesuatu, ia menekuninya.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji…. Anda harus sabar dalam keta’atan ketika meneruskan perjalanan hidupmu yang baru, dan bersabarlah pula dalam meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya bersabar dalam melaksanakan ibadah dan meninggalkan maksiat merupakan tingkatan sabar yang tertinggi, Maimun bin Mihran rahimahullah berkata: Sabar terbagi dua: sabar atas musibah merupakan suatu kebaikan, dan yang lebih utama dari hal itu adalah sabar dalam meninggalkan maksiat.

Dan janganlah anda wahai saudaraku yang melaksanakan haji, termasuk dari orang-orang yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah : Orang-orang yang tercela adalah mereka yang paling sabar dalam menuruti keinginan hawa nafsu dan syahwat mereka, dan paling tidak sabar dalam ibadah kepada Rabb mereka, ia memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menuruti keinginan syetan, dan tidak sabar untuk berkorban dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang paling ringan, ia sangat sabar dalam memikul beban yang berat untuk mengikuti hawa nafsunya agar mendapatkan ridha musuhnya dan ia tidak sanggup menahan sabar untuk mendapatkan ridha Rabb-nya].

Ia adalah orang yang paling sabar untuk berkorban dalam menuruti kemauan syetan dan hawa nafsunya, dan paling tidak sabar dalam hal itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini adalah celaan yang paling besar, ia tidak akan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berdiri bersama orang-orang mulia saat dipanggil di hari kiamat, yang disaksikan seluruh umat manusia, agar semua yang berkumpul mengetahui, siapakah yang paling mulia pada hari ini dan dimana orang-orang yang bertaqwa.

Saudaraku yang telah  melaksanakan haji…. Sesungguhnya kesudahan bagi orang-orang yang bersabar adalah surga:

 وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {22} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {23} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;  (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” [Ar-Ra’ad/13:22-24]

Firman-Nya (Salamun ‘alaikum bima shabartum), Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: Mereka bersabar terhadap apa-apa yang diperintahkan kepada mereka dan bersabar untuk meninggalkan segala yang mereka dilarang atasnya.

Saudaraku… Secara tabi’at jiwa ini menyukai sifat malas dan senang istirahat, maka janganlah anda menuruti keinginannya, supaya setan tidak mendapatkan jalan kepadamu. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Apabila setan memperhatikanmu, lalu ia melihatmu tekun dalam keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia menghendaki dan menginginkanmu, tatkala ia melihatmu tekun dalam ibadah, maka ia jemu dan menolakmu, sedangkan jika anda terkadang seperti ini dan terkadang seperti itu, niscaya ia sangat berharap padamu.

Saudaraku yang menunaikan haji…. Ketika datang dari hajimu, maka sesungguhnya masih dekat masamu dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga apabila anda menyambung perbuatan tersebut maka akan diharapkan adanya kebaikan padamu, oleh karena itu bersegeralah dengan semangatmu tersebut sebelum datangnya rasa malas dan jemu, dan apabila anda cenderung kepada rasa malas, niscaya nafsu ammarah (yang selalu menyuruh berbuat jahat) akan menguasaimu untuk berbuat keburukan dan anda langsung dikuasai setan, sehingga sirnalah hajimu bersama tiupan angin, dari Huraisy bin Qais rahimahullah, ia berkata: [Apabila engkau ingin melakukan suatu kebaikan, maka janganlah menundanya sampai besok hari, apabila engkau mengerjakan urusan dunia, maka perlahanlah, dan apabila engkau melaksanakan shalat, lalu setan berkata kepadamu: (sesungguhnya engkau berbuat karena riya), maka panjangkanlah shalatmu tersebut].

Saudaraku yang telah berhaji… Bersegeralah, bersegeralah,  janganlah anda berkata : Akan saya lakukan, akan saya kerjakan, inilah Tsumamah bin Bajad as-Salami rahimahullah berpesan kepada kaumnya: Wahai kaumku, aku memperingatkan kalian (dari ucapan) saya akan mengerjakan, saya akan shalat, saya akan berpuasa.

Saudaraku yang telah berhaji….Berjuanglah terhadap dirimu, dan janganlah anda menjadi lemah, sebagaimana ketika berjuang pada hari-hari anda berada di tempat yang suci tersebut.

 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”  [Al-Ankabuut/29: 69]

” فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “

Adapun orang yang melampaui batas,  dan lebih mengutamakan kehidupan dunia  maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).  Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya  maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” [An-Nazi’aat/79: 37-41]

Saudaraku yang telah berhaji …. Hendaklah untuk tidak meninggalkan memperbanyak berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia selalu menetapkan anda dalam keta’atan, perbanyaklah untuk memelas dan menghadap Allah, agar Dia meluruskan langkahmu dan anda senantiasa menjalani jalur agama-Nya yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkannya di atas agama-Nya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang do’a terbanyak yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjawab: [Kebanyakan doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada diatas agama-Mu” tatkala ditanya tentang hal itu? Beliau menjawab:

” إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌ إِلاًّ قَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمنِ, فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “

Sesungguhnya tidak ada manusia kecuali hatinya berada di antara dua jari di antara jemari ar-Rahman, barangsiapa yang Dia kehendaki maka Dia akan menetapkannya (diatas kebenaran), dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya, maka Dia akan menyesatkannya (dari jalan kebenaran)” [HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. 2091]

Dan dalam satu riwayat: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

Wahai yang menetapkan semua hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu” [HR. Ibnu Majah: Shahih Sunan Ibnu Majah, karya al-Albani: 166].

Wahai saudaraku yang telah berhaji…. Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kepada Rabb-nya agar menetapkannya di atas agama-Nya, dan beliau telah melihat dari tanda-tanda Rabb sesuatu yang cukup untuk menetapkan hatinya di dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka bagaimanakah dengan kita?!! Inilah anda wahai saudaraku, berada pada zaman yang banyak sekali fitnah dan sebab-sebab penyimpangan, pada era yang mungkin saja tidak dapat menemukan para penolong di atas kebenaran, bahkan apabila mereka melihat anda beristiqamah diatas jalur agama, mereka akan memperolok dan memperdengarkan kepadamu segala yang buruk, akan tetapi orang beriman merasa yakin kalau ia berada dalam janji Rabb-nya sehingga tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu anda wahai saudaraku harus memperbanyak do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan dirimu berada diatas agama-Nya, jadikanlah do’amu dengan hati yang ikhlas, kenalilah kenikmatan keta’atan dan berbahagialah dengan kedekatan kepada-Nya, janganlah anda berdo’a seperti do’anya orang yang lalai, yang tidak memahami apa yang dia ucapkan, karena sesungguhnya anda wahai saudaraku yang melaksanakan haji, membutuhkan ketetapan diatas keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga anda dapat memetik buah hajimu dan merasakan keberkahannya.

Wahai saudaraku yang melaksanakan haji ….. Ada persoalan penting yang ingin saya sebutkan bersamaan dengan kepulangan anda menuju tanah airmu, yaitu : janganlah anda memandang terhadap diri sendiri seperti pandangan orang-orang yang tertipu, yaitu orang-orang yang apabila mengerjakan sedikit saja keta’atan, mereka akan menganggap diri mereka seolah-olah manusia paling mulia dimuka bumi, akan tetapi : lihatlah kepada dirimu dengan pandangan kekurangan, karena sesungguhnya sebanyak apapun amal shalih yang anda kerjakan, maka ia tidak bisa digunakan untuk mensyukuri kenikmatan terkecil yang Allah anugerahkan terhadap anda. Apabila anda ingin mengetahui tentang keadaan orang-orang shaleh setelah mereka melaksanakan ibadah, maka renungkanlah bersama saya tentang cerita-cerita mereka, agar anda dapat mengetahui bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ikhlas selalu mengakui kekurangan. Inilah Abu Bakar Radhiyallahu anhu setelah memangku jabatan khalifah, ia menyampaikan pidatonya yang terkenal setelah pelantikan dirinya : Wahai manusia, aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, sedangkan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian…”

Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata : Bahkan, demi Allah, dia (Abu Bakar Radhiyallahu anhu) adalah yang terbaik diantara mereka, akan tetapi orang beriman selalu mengakui kekurangan atas dirinya sendiri.

Muhammad bin ‘Atha menceritakan kepada kita : Aku sedang duduk bersama Abu Bakar ra, lalu ia melihat seekor burung, kemudian berkata: Alangkah beruntungnya engkau wahai burung, engkau makan dari pohon ini, kemudian engkau mengeluarkannya (buang air), kemudian engkau tidak menjadi sesuatu, tidak ada hisab atasmu, aku ingin menjadi sepertimu. Aku berkata kepadanya: Apakah anda mengatakan hal seperti ini, sedangkan anda adalah orang terdekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?!!.

Inilah al-Faruq Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata: Jikalau penyeru berseru dihari kiamat : Wahai sekalian manusia, masuklah ke dalam surga kecuali satu orang, niscaya aku menduga bahwa satu orang itu adalah aku.

Wahai saudaraku yang melaksanakan haji….. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana cara untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Beliau beribadah di malam hari hingga bengkak kedua kakinya, apabila mereka bertanya akan hal tersebut, beliau akan menjawab:

 أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

Apakah aku tidak boleh untuk menjadi hamba yang sangat bersyukur?” [HR. Al-Bukhari]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” [HR. al-Bukhari]

Bagaimana pendapatmu wahai saudaraku, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, sedangkan beliau beribadah kepada Rabb-nya dengan cara seperti ini, pantaskah bagi seseorang setelahnya untuk mengatakan : Aku telah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenarnya?!!

Wahai saudaraku… Tekanlah nafsumu dengan sebenarnya niscaya ia menjadi lurus untukmu, dan apabila anda memandang kepadanya dengan pandangan sempurna, niscaya ia akan menjadikanmu lalai sehingga kekurangan dalam menunaikan kewajiban akan memasukimu.

Kemudian wahai saudaraku yang telah berhaji…. Aku akan menunjukkan kepadamu obat mujarab untuk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas keta’atan, apabila anda mengambilnya niscaya ia akan memberikan pengaruh yang mengagumkan. Tahukah anda obat apakah itu? Sesungguhnya ia adalah kematian, ingatlah wahai saudaraku, sesungguhnya anda akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju suatu negeri yang akan dibalas padanya orang-orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat, apabila anda menginginkan untuk terus merasakan berkah hajimu, maka ingatkanlah dirimu dengan kematian, karena sesungguhnya ia pada saat itu akan segera untuk melaksanakan amal shalih dan giat dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Abdullah bin Umar ra tentang obat yang mengagumkan ini, beliau memegang bahunya dan bersabda kepadanya:

 كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَاِبرُ سَبِيْلٍ

Jadikanlah dirimu di dunia ini bagaikan orang asing atau yang sedang menyebrang jalan

Lalu Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata: Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore, ambilah kesempatan sehatmu untuk saat sakitmu, dan ambilah kesempatan hidupmu untuk saat matimu. [HR. al-Bukhari]

Iman an-Nawawi rahimahullah berkata: Pengertian hadits tersebut adalah: janganlah engkau cenderung kepada dunia, dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai tanah airmu, janganlah engkau berbicara kepada dirimu untuk dapat hidup kekal padanya, dan janganlah engkau bergantung darinya dengan apa-apa yang tidak dilakukan oleh orang asing (pengelana) yang tidak bergantung kepada selain tanah airnya.

Saudaraku.. Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yang dengannya kamu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rahmat-Nya kepada seseorang yang merenungkan dirinya dan menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” [Maryam/19: 84], Kemudian ia menangis dan berkata: Saudaraku… hitungan : keluarnya ruhmu, hitungan terakhir: engkau berpisah dengan keluargamu, hitungan terakhir: masuknya engkau ke dalam kuburmu.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji…. Inilah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: Kematian ini menahan penduduk dunia dari kenikmatan dunia dan perhiasaannya yang mereka nikmati, sehingga tatkala mereka dalam keadaan seperti itu kematian datang menjemputnya, maka celaka dan merugilah orang yang tidak takut mati dan tidak mengingatnya di saat senang sehingga dapat memberikan kebaikan yang akan didapatinya setelah ia meninggalkan dunia dan para penghuninya. Kemudian ia (Umar bin Abdul Aziz) dikalahkan oleh tangisnya dan berdiri.

Saudara-saudaraku, sampai kapankah anda akan menunda amal, merasa tamak dalam mencapai angan-angan, tertipu oleh kesempatan serta melupakan serangan kematian? Ketahuilah bahwa apa saja yang anda lahirkan adalah untuk tanah, apapun yang anda bangun adalah untuk kehancuran, apa saja yang anda kumpulkan adalah untuk kesirnaan, dan apapun yang anda perbuatan akan tetap tersimpan dalam kitab catatan amal hingga hari penghitungan.

Saudaraku yang telah melaksanakan haji… Aku telah memaparkan kepadamu apa yang tersimpan dalam sanubariku, dan aku telah memberikan kepadamu hadiah yang berharga ini, maka renungkanlah ia, kemudian aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan aku dan juga anda diatas agama-Nya yang benar, serta memberikan kepadaku dan juga anda kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[Disalin dari نصائح ما بعد الحج  Penulis Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerjemah Team Indonesia, Editor Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]

Ziarah ke Masjid-Masjid Bersejarah di Madinah al-Munawwarah

ZIARAH KE MASJID-MASJID BERSEJARAH DI MADINAH AL-MUNAWWARAH

Pertanyaan pertama : Apakah hukumnya orang yang datang ke Madinah untuk shalat di masjid Nabawi, kemudian pergi ke masjid Quba`, masjid Qiblatain, masjid Jum’at, dan masjid-masjid lainnya (masjid Ghamamah, masjid Ash-Shiddiq, masjid Ali Radhiyallahu anhu) serta masjid-masjid bersejarah lainnya. Setelah masuk ke dalam masjid tersebut, ia shalat tahiyatul masjid dua rakaat. Apakah hal itu boleh atau tidak?

Pertanyaan kedua : setelah peziarah sampai di masjid Nabawi, bolehkah ia mengambil kesempatan untuk pergi ke masjid-masjid bersejarah lainnya di Madinah dengan tujuan merenungkan sejarah salafus shalih dan mempelajari secara langsung informasi yang dibacanya di kitab-kitab tafsir, hadits, sejarah peperangan, dan tempat tinggal suku-suku kaum Anshar, saya mohon penjelasan.

Jawaban : Setelah mempelajari, lajnah fatwa menjawab: Sesungguhnya jawaban dua pertanyaan ini menuntut penjelasan secara terperinci sebagai berikut:

Pertama: Setelah meneliti masjid-masjid yang ada di kota Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Madinah al-Munawwarah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya- ia terbagi beberapa bagian:

Bagian pertama: Masjid di kota Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mempunyai keutamaan khusus, yaitu hanya ada dua masjid, tidak lebih:

Salah satunya : Masjid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia terlebih utama masuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At –Taubah/9:108]

Ia merupakan masjid kedua yang ditambatkan tunggangan (dianjurkan melakukan perjalanan) kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih. Disebutkan pula dalam hadits yang shahih lagi tegas:

أنَّ صَلاَةً فِيْهِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Sesungguhnya shalat di dalamnya lebih baik dari pada seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram[1]

Yang kedua : Masjid Quba`, dan turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), [At-Taubah/9:108]

Dalam hadits Usaid bin Hudhair al-Anshari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ

Shalat di masjid Quba` sama seperti (pahala) umrah.”[2]

Dari Sahl bin Hanif Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيْهِ َصلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian datang ke masjid Quba`, lalu melaksanakan shalat di dalamnya, untuknya seperti pahala umrah.”[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa`i, [Ibnu Majah dan ini adalah lafazh hadits riwayat Ibnu Majah].

Bagian kedua : Masjid-masjid kaum muslimin secara umum di Kota Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ini sama seperti masjid-masjid lainnya, tidak ada keutamaan khusus baginya.

Bagian ketiga : Masjid yang dibangun di arah yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat padanya, atau ia adalah tempat yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam shalat padanya, seperti masjid Bani Salim dan Mushalla ‘Ied, maka ini tidak ada keutamaan khusus baginya dan tidak ada anjuran untuk mendatanginya dan shalat dua rekaat padanya.

Bagian keempat : Masjid-masjid bid’ah lagi baru yang disandarkan kepada masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan masa para Khalifah Rasyidah dan dijadikan tempat ziarah, seperti Masjid Tujuh, Masjid di bukit Uhud,  dan yang lainnya. Maka masjid-masjid ini tidak ada dasarnya dalam syari’at yang suci. Tidak boleh berniat mendatanginya untuk ibadah dan untuk tujuan yang lainnya, bahkan ia adalah bid’ah yang nampak.

Dasar di dalam agama adalah bahwa kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kita tidak menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali yang disyari’atkan lewat lisan nabi dan rasul-Nya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan sesungguhnya hal itu dengan merujuk kepada al-Qur’an dan sunnah rasul-Nya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, serta ucapan para salaf yang mereka menerima syari’at ini dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menyampaikannya kepada kita darinya Shallallahu alaihi wa sallam, memperingatkan kita dari bid’ah, karena menjunjung perintah yang membawa berita gembira dan ancaman yaitu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Di mana beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang bukan perkara kami maka ia ditolak.”[4]

Dan dalam lafazh yang lain:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang menciptakan dalam perkara kami yang bukan bagian darinya maka ia ditolak.”[5]

Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِي, عَضُّوا عَلَيْهَا باِلنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَهٌ

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khalifah rasyidah sesudahku. Peganglah atasnya dengan gigi geraham (secara sungguh-sungguh), jauhilah perkara-perkara bid’ah, maka sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[6]

Dan nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَر

Ikutilah dua orang sesudahku: Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu.”[7]

Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda –saat sebagian sahabat meminta agar beliau menjadikan untuk mereka satu pohon yang mereka mengambil berkah dan menggantungkan pedang mereka dengannya- :Allahu Akbar, sesungguhnya ia adalah jalan yang kamu katakan, demi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diriku berada di tangan-Nya, sebagaimana Bani Israel berkata kepada nabi Musa asl:

اجْعَل لَّنَآ إِلَهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةً

buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. [al-A’raaf/7:138][8]

Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً, وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيْلَ: مَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

Yahudi terpecah belah menjadi 71 golongan, Nashari terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.’ Ada yang bertanya, ‘Siapakah dia, ya Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang tetap seperti yang kupegang pada saat ini dan para sahabatku.”[9]

Ibnu Wadhdhah (hal. 9) berkata dalam kitabnya al-Bida’ wa ma nuhiya ‘anha (bid’ah dan yang dilarang darinya) dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu: ‘Sesungguhnya Amar bin ‘Utbah dan beberapa sahabatnya membangun masjid di Kufah, maka Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu menyuruh untuk diruntuhkan. Kemudian sampai berita kepadanya bahwa mereka berkumpul di sisi masjid Kufah membaca tasbih yang sudah diketahui, bertahlil dan bertakbir. Ia berkata, ‘Maka ia memakai burnus (baju luar panjang yang bertutup kepala), kemudian pergi lalu duduk di sisi mereka. Maka tatkala ia mengetahui apa yang mereka ucapkan, ia mengangkat burnus dari kepalanya, kemudian berkata: ‘Aku Abu Abdurrahman, kemudian ia berkata, ‘Kamu telah melebihi para sahabat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam ilmu, atau sungguh kamu telah melakukan bid’ah secara zalim…” Dia dan yang lainnya memperingatkan dari perbuatan bid’ah dan mendorong manusia agar mengikut para salaf (pendahulu).

Diriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu anhu memotong pohon yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya melakukan bai’at di bawahnya, tatkala ia melihat sebagian orang pergi ke sana.

Sudah diketahui bahwa membangun masjid bertujuan mengumpulkan manusia untuk beribadah, ia merupakan berkumpul yang dimaksudkan di dalam syari’at. Dan adanya tujuh masjid di satu tempat tidak bisa merealisasikan tujuan ini, bahkan ia mengajak kepada perpecahan yang bertentangan dengan tujuan syari’at. Ia tidak dibangun untuk berkumpul, karena posisinya sangat berdekatan. Namun dibangun untuk mengambil berkah dengan melakukan shalat dan berdoa padanya. Ini merupakan bid’ah yang nyata. Adapun dasar penamaan masjid-masjid ini dengan nama ini –maksudnya masjid tujuh- maka tidak mempunyai sandaran sejarah sama sekali. Sesungguhnya (Ibnu Zabalah) menyebutkan masjid Fath. Ia adalah seorang pembohong, para ahli hadits menuduhnya seperti itu. Ia wafat di akhir tahun dua ratusan.[10] Kemudian datang sesudahnya (Ibnu Syabbah) seorang ahli sejarah dan ia menyebutkannya.[11] Sudah diketahui bahwa para ahli sejarah tidak mementingkan sanad dan keabsahannya. Sesungguhnya mereka mengutip berita yang sampai kepada mereka dan menyandarkan tanggung jawab kepada yang menceritakan kepada mereka, seperti yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Jarir dalam Tarikhnya.[12]

Adapun terbuktinya secara syara’ untuk nama ini, atau untuk satu masjid darinya, maka tidak pernah dikenal dengan sanad yang shahih. Para sahabat memberikan perhatian dengan mengutip perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan perbuatannya. Bahkan mereka mengutip segala hal yang mereka melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya, hingga qadha hajat (buang air). Mereka meriwayatkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mendatangi masjid Quba` setiap minggu, shalat kepada para syuhada Uhud sebelum wafatnya seperti memberikan perantunan kepada mereka, hingga riwayat lainnya yang mengisi kitab-kitab sunnah.

Adapun masjid-masjid ini, para ahli hadits dan sejarah telah melakukan penelitian tentang dasar penamaannya. Syaikh as-Samhudi berkata:[13]Saya tidak menemukan dasar semua itu. Dan ia berkata setelah pembicaraan yang lain: ‘Padahal saya tidak menemukan dasar pemberian nama ini, dan tidak pula pada penyandaran masjid-masjid terdahulu dalam ucapan al-Mathari.

Adapun Syaikhul Islam rahimahullah, ia berkata : Yang dimaksud di sini, sesungguhnya sahabat dan para tabiin tidak pernah membangun sedikitpun dari bekas para nabi, seperti beliau pernah singgah padanya, atau shalat padanya, atau melakukan sesuatu dari hal itu, mereka tidak pernah bermaksud membangun masjid karena bekas para nabi dan orang-orang shalih. Bahkan para pemimpin mereka seperti Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu dan yang lainnya melarang bertujuan shalat di tempat yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam shalat padanya secara kebetulan, bukan bertujuan. Dan disebutkan bahwa Umar Radhiyallahu anhu dan semua sahabat dari khilafah rasyidah dan sepuluh sahabat serta selain mereka, seperti Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, Mu’azd bin Jabal, Ubay bin Ka’ab –Radhiyallahu ‘anhum- tidak pernah bertujuan shalat di tempat-tempat itu.

Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan bahwa di Madinah terdapat banyak masjid dan sesungguhnya tidak ada keutamaan khusus padanya selain masjid Quba`. Adapun yang muncul di dalam Islam berupa masjid-masjid dan bangunan di atas kubur dan tempat bersejarah termasuk bid’ah di dalam islam yang bersumber dari perbuatan orang yang tidak mengenal islam.

Imam Syathibi menyebutkan dalam kitabnya ‘al-I’tisham:’[14]Ibnu Kinanah ditanya tentang bekas-bekas yang mereka tinggalkan di Madinah, ia berkata: ‘Yang ada di sisi kami adalah masjid Quba`…dan diriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu anhu memotong pohon yang dia melihat orang-orang mendatanginya untuk shalat di sisinya, karena mengkhawatirkan fitnah terhadap mereka.’ Umar bin Syabbah menyebutkan dalam ‘Akhbarul Madinah‘ dan sesudahnya al-Aini dalam (Syarh al-Bukhari) beberapa masjid, akan tetapi mereka tidak menyebutkan masjid tujuh dengan nama ini.

Dengan pemaparan singkat ini bisa diketahui bahwa tidak pernah ada riwayat tentang masjid tujuh, bahkan tidak ada pula yang dinamakan masjid Fath, yang diperhatikan oleh Abul Haija` seorang menteri dinasti Ubidiyin yang sudah dikenal mazhab mereka. Di mana masjid-masjid menjadi tujuan kebanyakan orang untuk ziarah, shalat di dalamnya, mengambil berkah dengannya, dan menjadi sesat karenanya kebanyakan pendatang untuk berziarah ke Masjid Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka bertujuan ziarah ke sana adalah bid’ah yang nampak, dan membiarkannya bertentangan dengan tujuan syari’at serta perintah-perintah yang diutus untuk ikhlas dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menuntut menghilangkannya, di mana beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang bukan perkara kami maka ia ditolak.”[15]

Maka wajib menghilangkannya karena menghindari fitnah dan menutup sarana menuju syirik, menjaga akidah kaum muslimin yang bersih, memelihara sisi tauhid, karena mengikuti khalifah rasyidah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, di mana beliau memotong pohon Hudaibiyah tatkala melihat manusia pergi kepadanya karena terjadinya fitnah terhadap mereka dan ia menjelaskan bahwa umat-umat sebelumnya menjadi binasa karena mengikuti jejak-jejak para nabi yang mereka tidak disuruh dengannya, karena hal itu merupakan penetapan syari’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengijinkannya.

Kedua : Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa tujuan manusia kepada masjid-masjid tujuh ini dan masjid-masjid lainnya yang baru, untuk mengetahui bekas (sejarah), atau beribadah, atau mengusap dindingnya dan mihrabnya dan mengambil berkah dengannya adalah bid’ah dan termasuk salah satu jenis syirik. Mirip seperti perbuatan orang-orang kafir di masa jahiliyah yang pertama dengan berhala mereka. Maka setiap muslim berkewajiban memberi nasehat untuk dirinya agar meninggalkan perbuatan ini dan menasehatkan kepada saudaranya kaum muslimin agar meninggalkannya.

Ketiga : dengan ini bisa diketahui bahwa yang dilakukan sebagian orang yang lemah jiwanya berupa memberikan iming-iming dengan para jemaah haji dan peziarah, dan membawa mereka dengan upah ke tempat-tempat bid’ah ini, seperti masjid tujuh adalah perbuatan yang haram, dan yang diambil sebagai imbalannya adalah usaha yang haram. Maka pelakunya harus meninggalkannya.

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. [At-Talaq/65:2]

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. [At-Talaq/65:3]

Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Dari kitab: Fatawa wa bayanat muhimmah hal 82.

[Disalin dari حكم زيارة المساجد الأثرية بالمدينة المنورة  Penulis : اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu dan Fatwa) Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari 1190 dan Muslim 1394, 1395, 1396.
[2] HR. at-Tirmidzi 324, Ibnu Majah 1411, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 1627, dan at-Tirmidzi berkata: Hasan Gharib.
[3] HR. Ahmad (3/487, an-Nasa`I 699, Ibnu Majah 1412, Ibnu Abi Syaibah 7530, ath-Thabrani dalam al-kabir 6/5560, 5561, al-Hakim 3/13 (4279, ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[4] Al-Bukhari 2697 dan Muslim 4492.
[5] Al-Bukhari menyebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad) di dalam kitab jual beli dan I’tisham dan dimaushulkan oleh Muslim 1718 -18
[6] Ahmad 4/126, Abu Daud 4607, at-Tirmidzi 2676 dan ia berkata: hasan shahih, Ibnu Majah 42,43, Ibnu Hibban 5, al-Hakim 1/174,177 (329-333) dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[7] Ahmad 5/382, at-Tirmidzi 3662, Ibnu Majah 97, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 31942, ath-Thabrani dalam al-Ausath 4/1403816. Berkata dalam Majma’ az-Zawaid 9/295: padanya ada Yahya bin Abdul Hamid al-hamani, dia dha’if. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim 3/ 75-80 (4451-4455) dishahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi, dishahihkan oleh Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2895-2896 dan Shahih Ibnu Majah 80. dan dikeluarkan pula oleh Abu Darda: ath-Thabrani dalam Musnad Syamiyin (913), Ibnu Asakir sebagaimana dalam Duurul Mantsur 2/23. berkata dalam Majma’ az-Zawaid 9/53: padanya ada yang tidak saya kenal. Dan keluarkan pula dari hadits Abdullah bin Mas’ud rad: at-Tirmidzi 3805 dan ath-Thabrani dalam al-Kabir 9/76 (37375), al-Hakim 3/80 (4456) dishahihkan oleh Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2992.
[8] Ahmad 5/218, at-Tirmidzi 2180 dan ia berkata: Hasan Shahih, Ibnu Abi Syaibah 37375, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 6702, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 3/244 17/21, al-Haitsami berkata dalam Majma’ Zawaid 7/24: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dalam sanadnya ada yang bernama Katsir bin Abdullah, didha’ifkan oleh jumhur dan at-Tirmidz menghasankan haditsnya.
[9] Diriwayatkan secara sempurna dan ringkas di sisi yang lain: Abu Daud 4596, 4597, Ibnu Majah 3992, Ahmad 2.332, Ibnu Hibban 6247, ath-Thabrani dalam ash-Shaghir 724, dan al-Ausath 4886, 7840, al-Hakim1/6. 128, 129 (10, 441,444) dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (3842).
[10] Lihat: Taqrib at-Tahzib 5815.
[11] Dalam bukunya: Akhbarul Madinah an-Nabawiyah (1/60-62)
[12] Tarikh ath-Thabari 1/13 dengan semisalnya.
[13] Dalam bukunya: Khulashatul Wafa bi akhbaril mushthafa 2/306.
[14] Al-I’tisham 1/346.
[15] Al-Bukhari 2697 dan Muslim 4492.

U j i a n

U J I A N

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

Dunia ini adalah tempat ujian dan bencana, orang yang beriman diuji padanya dengan berbagai kesenangan dan kesusahan, kepahitan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, ujian syahwat dan syubhat.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.[Al-Anbiya’/21: 35]

Maksudnya adalah kami akan menguji kalian terkadang dengan musibah dan terkadang pula dengan kenikmatan, lalu kami akan lihat siapakah orang yang bersyukur dan orang yang kafir, siapakah orang yang bersabar dan orang yang berputus asa. Ibnu Abbas berkata:  (نَبْلُوكُم) atau kami akan mengujimu dengan kejahatan dan kebaikan atau kekerasan dan kesejahteraan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, dengan perkara yang halal dan haram, ketaatan dan kamaksiatan, dengan petunjuk dan kesesatan”.[1]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ) artinya kami akan membalas kalian karena sikap kalian terhadap semua bentuk ujian ini. Maka barangsiapa yang bersikap dengan sikap orang yang beriman  dan bertaqwa kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam segala keadaan maka dia pasti mendapat pahala dengannya dan barangsiapa yang berbuat buruk maka dia pasti mendapat siksa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ – اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ – اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”  (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada –Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-Baqarah/2: 155-157].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [Al-Baqarah/2: 214].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Khabab bin Al-Art, dia berkata:

شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو لَنَا فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Kami mengadu kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat beliau sedang berbantal dengan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata kepada beliau, “Tidakkah engkau memohon agar Allah memberikan pertolongan-Nya bagi kami? Tidakkah engkau berdo’a agar Allah memberikan kemenangan bagi kami?. Maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang lelaki sebelum kalian digalikan baginya sebuah lubang di tanah lalu dia ditimbun padanya, dan didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan pada kepalanya lalu kepalanya dibelah dua namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap teguh pada agama Allah, seorang lelaki lain disisir dengan sisir dari besi pada bagian daging, tulang dan urat-uratnya namun hal itu tidak menyurutkan tekadnya dari Agama Allah. Demi Allah! Sungguh Allah akan menyempurnakan perkara agama ini sehingga seseorang akan berjalan dari Shan’a sehingga ke Hadhramaut dan dia tidak akan takut kecuali kepada Allah atau seorang penggembala tidak akan takut terhadap serigala yang menerkam gembalaannya, namun kalian tergesa-gesa”.[2]

Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Sa’d bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘anhu berkata:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Aku bertanya wahai Rasulullah siapakah orang yang paling keras ujiannya?. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Para Nabi, kemudian orang yang terbaik (diantara kalian) kemudian orang yang terbaik (diantara kalian), seseorang akan diuji berdasarkan agamanya, apabila agamanya kuat maka ujiannyapun semakin besar, dan jika agamanya ringan maka dia akan diuji seukuran tingkat agamanya, dan seorang hamba akan senantiasa mendapat ujian sehingga Allah meninggalkannya berjalan di atas bumi dan dia tidak memiliki kesalahan apapun”.[3]

Seorang lelaki bertanya kepada Imam Syafi’i rahimhullah, “Wahai Abu Abdullah manakah yang lebih baik bagi seorang lelaki apakah seseorang diberikan kekuasaan di bumi lalu dia bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atau diuji dan dia bersabar atas ujian tersebut? Maka Imam syafi’i menjawab, “Seseorang tidak akan diberi kekuasaan sehingga dia diuji, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji Nuh, Ibrahim dan Muhammad semoga kesejahteraan dilimpahkan atas mereka semua, lalu pada saat mereka bersabar maka Allah memberikan kekuasaan bagi mereka maka jangan sampai seseorang menyangka bahwa dia akan selamat dari penyakit selamanya”.[4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, [An-Nur/24: 55]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kalian sebagai orang yang apabila diberikan nikmat maka dia bersyukur, dan apabila diuji maka dia bersabar, dan apabila melakukan dosa maka dia meminta ampun, sesungguhnya tiga perkara ini adalah modal bagi kebahagiaan seorang hamba, tanda keberuntungannya di dunia dan akhirat dan tidak ada seorangpun yang bisa terlepas darinya selamanya, sesungguhnya seorang hamba akan tetap berbolak balik pada tiga keadaan ini”.[5]

Seorang mu’min akan ditimpa oleh ujian untuk menghapuskan kesalahannya, mengangkat derajatnya sehingga bisa dibedakan antara yang buruk dengan yang baik dan banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قَالَ لَكَ أَجْرَانِ قَالَ نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Aku masuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada saat beliau sedang mengaduh dengan suatu penyakit yang keras, maka akupun menyentuhnya dengan tanganku ini, maka aku berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau sedang mengaduh dengan suatu penyakit yang begitu serius? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar. Sesungguhnya aku sedang mengaduh dengan suatu penyakit seperti mengaduhnya dua orang di antara kalian”. Aku bertanya kembali kepada beliau : Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Benar, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : Tidaklah seorang yang beriman ditimpa oleh suatu gangguan dan penyakit dan apa-apa yang lain kecuali Allah akan menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya sebagaiman pepohonan menggugurkan daun-daunnya pohon”.[6]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan baginya maka Dia akan memberinya musibah”.[7]

Abu Ubaidah Al-Harwi berkata: maksudnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya ujian dengan berbagai musibah agar Dia memberi pahala dengannya dan umat Islam ini telah diuji dengan konspirasi dan kezaliman musuh terhadap diri mereka, hal itu baik sebagai sanksi yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka akibat kelalaian dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya atau sebagai ujian dan cobaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ

“Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”. [Muhammad/47: 4].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الۤمّۤ ۗاَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ 

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.[Al-Ankabut/29: 1-2]

Dan realita yang kita saksikan pada zaman sekarang ini berupa hegemoni orang-orang kafir di setiap tempat, mereka bersatu memerangi umat Islam, tidak lain kecuali sebagai wujud kebenaran sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah riwayat  Imam Abu Dawud dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»

Umat ini hampir saja memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang yang makan memperbutkan makanan di atas tempayannya. Seorang bertanya : Apakah jumlah kita sedikit pada waktu itu wahai Rasulullah? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ

Bahkan jumlah kalian banyak pada saat itu, namun kalian bagi buih di air yang banjir, sungguh Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa gentar terhadap kalian dan Allah akan menghunjamkan di dalam hati-hati kalian rasa wahan.

Seorang bertanya : Wahai Rasulullah apakah yang disebut dengan wahan tersebut? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

 “Cinta dunia dan benci kematian”.[8]

Tidak ada solusi yang tepat kecuali dengan berpegang teguh dengan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam , berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya, dan wajib bagi orang yang beriman untuk meyakini bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti dekat, walaupun musuh-musuh banyak dan kekuatan mereka besar, sebab sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menolong para hamba-Nya yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتّٰٓى اِذَا اسْتَا۟يْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan mereka) dan telah menyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa. [Yusuf/12: 110]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙيَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظّٰلِمِيْنَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (yaitu) hari yang tiada berguna bagi orang-orang lalim  permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. [Gafir/40: 51-52]

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari الابتلاء Penulis Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir: 3/178
[2] Al-Bukhari: no: 3612
[3] HR. Al-Turmudzi dia berkata hadits ini hasan, bab  sabar terhadap cobaan: no: 2398
[4] Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, halaman: 294
[5] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit thayyib: halaman: 3
[6] Al-Bukhari: no: 5660
[7] Al-Bukhari: no: 5645
[8] HR. Abu Dawud, dalam kitab al malahim (peperangan) bab umat ini hampir-hampir dikepung oleh mususuh : no: 4297

Arafah Melahirkan Orang-Orang yang Terbebas Dari Neraka

ARAFAH MELAHIRKAN ORANG-ORANG YANG TERBEBAS DARI NERAKA

Keutamaan Hari  Arafah
Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahun merupakan salah satu hari yang paling utama sepanjang tahun. Bahkan dalam madzhab Syâfi’i disebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan, ‘Isteri saya jatuh talak pada hari paling utama’, maka talak tersebut jatuh pada hari Arafah.[1]  Keistimewaan hari ini berdasarkan pada dalil umum dan khusus.

Dalil umum yaitu hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.

Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya  lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” [HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]

Maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan rangkaian hari paling utama sepanjang tahun. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,  “Siang hari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhân, dan malam sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”[2] Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memperbanyak amal saleh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan hari Arafah termasuk di dalamnya.

Adapun dalil khusus yang menunjukkan keistimewaan hari Arafah di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Di hari ini Allâh Azza wa Jalla paling banyak membebaskan manusia dari neraka.
Ibunda kaum mukminin, Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Maksudnya, tidak ada yang mendorong mereka untuk meninggalkan negeri, keluarga dan kenikmatan mereka (untuk menunaikan ibadah haji-red) kecuali ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan pencarian ridhanya.[3]

2. Doa di hari Arafah adalah doa terbaik.
Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.”  [HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani]

3. Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu adalah Arafah. [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015 , dihukumi shahih oleh al-Albâni]

Maksud hadits ini adalah bahwa wukuf di Arafah merupakan tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa meninggalkannya, maka hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah aman hajinya.[4]

4. Puasa di hari Arafah memiliki keutamaan yang besar.
Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allâh  bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. [HR. Muslim no. 1162]

Imam Mâlik rahimahullah meriwayatkan dalam al-Muwatha’ no. 944 dengan sanad yang lemah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits berikut :

مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ

Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar, kecuali apa yang ia lihat saat Perang Badar.

Demikianlah, dalil-dalil ini cukup untuk menunjukkan keistimewaan hari Arafah. Tidak hanya untuk para jamaah haji yang di hari itu memiliki agenda wukuf di Arafah, kaum Muslimin yang lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Sang Maha Pengampun. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan karunia-Nya kepada kita.

Ibadah yang Disyariatkan Untuk Jamaah Haji Selama di Arafah.
Setiap tahun ada orang-orang yang terpilih untuk menunaikan ibadah haji. Di zaman sekarang, jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah tiap tahunnya. Sebuah kenikmatan yang sungguh agung. Sebagai wujud syukur kepada Allâh al-Mannan, sudah sepantasnya para jamaah haji mengisi hari mulia ini dengan sebaik mungkin sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Berikut ini adalah penjelasan tentang amalan hari Arafah beserta dalilnya.

  1. Setelah menjalankan sunnah bermalam di Mina pada hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) dan melakukan shalat lima waktu di sana, para jamaah haji disunnahkan untuk menuju Arafah begitu matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan penjelasan Jâbir bin Abdillah Radhiyallahu anhu :

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Maka pada hari tarwiyah mereka berangkat menuju Mina bertalbiyah haji, dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan lalu shalat di sana Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh, kemudian menunggu sebentar sampai matahari terbit. [HR. Muslim no. 1218]

  1. Saat menuju Arafah disunnahkan memperbanyak talbiyah dan takbir. Ibnu Umar c meriwayatkan :

غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَاتٍ مِنَّا الْمُلَبِّى وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ.

Kami berangkat di waktu pagi bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mina ke Arafah, di antara kami ada yang bertalbiyah dan ada yang bertakbir. [HR. Muslim no. 1284]

  1. Setibanya di Arafah, para jamaah haji bisa langsung menempati tempat mereka. Harus dipastikan bahwa tempat yang akan dipakai wukuf merupakan bagian dari Arafah, karena jika wukuf di luar Arafah, wukuf kita tidak sah. Sementara wukuf adalah rukun haji dan tidak bisa digantikan dengan dam atau sejenisnya. Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu  meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ

Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah [HR. Ahmad no. 16.797, dihukumi shahih oleh al-Albâni dan Syuaib al-Arnauth]

‘Uranah adalah sebuah lembah (wadi) yang terletak di dekat Masjid Namirah dari arah Makkah dan tempat itu bukan bagian dari Arafah.[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa jamaah haji harus memastikan bahwa tempat wukuf mereka termasuk wilayah Arafah. Saat ini, batas Arafah ditandai dengan papan-papan besar dan tinggi  yang bisa dilihat dari jauh.

  1. Waktu wukuf dimulai saat tiba waktu Zhuhur dan selesai dengan terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, orang yang tidak dimudahkan untuk wukuf di siang hari, masih bisa melakukannya di malam hari, dan wukufnya sah.[6]

Bagi jamaah haji yang terpaksa harus masuk Arafah sejak tanggal 8 Dzulhijjah, seperti sebagian besar jamah haji Indonesia, mereka bisa langsung bersiap wukuf sebelum waktu Zhuhur di tenda masing-masing.

  1. Begitu waktu Zhuhur tiba, disunnahkan untuk melakukan shalat Zhuhur dan Ashar dengan cara jama’ dan qashar, masing-masing dua rekaat di awal waktu shalat Zhuhur, dengan satu adzan dan dua iqamah sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu berikut:

ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Kemudian (Bilal) mengumandangkan adzan lalu iqamah, maka (Rasûlullâh) shalat Zhuhur. Kemudian (Bilal) mengumandangkan iqâmah , maka Rasûlullâh shalat Ashar dan tidak melakukan shalat apapun di antara keduanya. [HR. Muslim no. 1284]

Hikmahnya adalah agar setelah itu kita bisa memiliki waktu yang luas untuk berdoa dan berdzikir, karena saat itu adalah waktu terbaik untuk berdoa.[7]

  1. Sebelum shalat Zhuhur, disunnahkan bagi imam untuk menyampaikan khutbah tentang agama secara umum dan penjelasan tentang amalan-amalan haji yang masih tersisa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jâbir z ini :

حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاسَ

Sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta al-Qashwa’ disiapkan, maka ia pun dipasangi pelana, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah (Wadi ‘Uranah) dan berkhutbah. [HR. Muslim no. 1284]

  1. Saat di Arafah, sebaiknya para jamaah haji tidak berpuasa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ummul Fadhl Radhiyallahu anha berikut :

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ  وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

Dari Ummul Fadhl binti al-Hârits Radhiyallahu anha bahwa orang-orang berselisih di dekatnya tentang puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagian mereka berkata bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Maka Ummul Fadhl Radhiyallahu anha mengirimkan secangkir  susu saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas unta, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya. [HR. al-Bukhâri no. 1887 dan Muslim no. 1123]

Tidak berpuasa selama di Arafah karena itu lebih mendukung ibadah dan amalan selama di sana.

Wukuf di Arafah merupakan pertemuan akbar umat Islam dalam ibadah mereka. Hal ini mengingatkan kita akan hari dikumpulkannya seluruh  makhluk lintas zaman dan generasi di Padang Mahsyar. Mengingat hal ini, hendaknya setiap Muslim menyiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan hari itu dengan amal shaleh. [8]

  1. Hendaknya para jamaah haji memanfaatkan waktu sangat berharga di Arafah ini, yang hanya beberapa jam dengan banyak bertalbiyah, berdzikir dan sungguh-sungguh berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Seperti telah dijelaskan dalam pembahasan keutamaan hari Arafah, doa pada hari ini  adalah sebaik-baik doa, dan sebaik-baik doa yang dipanjatkan hari itu adalah :

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Tiada ilah yang diibadahi dengan haq kecuali Allâh, hanya Dia, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Karena ini adalah doa terbaik, jamaah haji harus menghafalnya, lalu sebanyak dan sekhusyu’ mungkin mengucapkannya selama wukuf.

Teladanilah  kesungguhan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa sebagaimana digambarkan Usâmah bin Zaid Radhiyallahu anhu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفاَتٍ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُوْ، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ، فَسَقَطَ خِطَامُهَا، فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ اْلأُخْرَى

Aku dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa. Unta beliau miring, dan jatuhlah tali kekangnya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tali kekang itu dengan salah satu tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sementara tangan yang satu lagi tetap tengadah berdoa. [HR. an-Nasâi no. 3011, dihukumi shahih oleh al-Albâni]

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa sendiri dan tidak mengumpulkan para sahabat untuk berdoa bersama, maka petunjuk beliaulah yang paling pantas diikuti. [9]

Tidak ada doa khusus untuk hari Arafah, dan jamaah haji bisa berdoa apa saja untuk kebaikan akhirat dan dunia. Tapi hendaknya mengutamakan doa-doa dari al-Qur’ân dan sunnah yang shahih, karena doa-doa seperti ini merupakan jawâmi’ul kalim (kalimat yang pendek lafazh tapi luas makna) dan dijamin selamat dari kesalahan.[10]

Saran saya, susunlah proposal doa anda dari jauh hari! Kumpulkanlah doa-doa terbaik untuk dipanjatkan di waktu yang sangat berharga ini, agar anda bisa mengoptimalkan kesempatan yang belum tentu terulang dan tidak kekurangan bekal doa di sana. Jangan lupakan orang tua, keluarga, keturunan, dan orang-orang yang saudara cintai dalam doa terbaik ini.

Jangan sia-siakan satu menitpun dari waktu yang singkat ini untuk hal-hal yang kurang berguna! Jika lelah atau bosan, saudara bisa selingi dengan dzikir dan baca al-Qur’ân, atau istirahat sejenak agar bisa segar lagi.

  1. Hendaknya para jamaah haji tidak keluar dari Arafah kecuali setelah terbenam matahari, seperti petunjuk hadits Jâbir tentang sifat wukuf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ

Beliau masih terus wukuf sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi dan bola matahari tidak kelihatan lagi. [HR. Muslim no. 1284]

  1. Setelah matahari benar-benar terbenam, jamaah haji boleh meninggalkan Arafah untuk bemalam di Muzdalifah dan menyelesaikan amalan-amalan haji selanjutnya.

Demikianlah rangkaian amalan yang disyariatkan untuk dilakukan oleh jamaah haji selama di Arafah.  Jika kita melakukannya dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  di sini dan di rangkaian amalan haji yang lain, insya Allâh kita akan meraih haji yang mabrur, dosa-dosa kita diampuni dan doa-doa kita dikabulkan. Kita akan menjadi orang yang mendapatkan barakah hari Arafah dengan terbebaskan dari api neraka.

Kesalahan-kesalahan Jamaah Haji Selama di Arafah.
Meski memiliki keistimewaan yang sangat besar, masih banyak umat Islam yang tidak menghargai keistimewaan ini.  Sungguh ironis, masih banyak jamaah haji yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan fatal saat beribadah di Arafah. Kesalahan-kesalahan ini disebabkan kekurangan ilmu, kurang motivasi dalam beramal atau sikap tidak peduli. Para jamaah haji perlu mengetahui kesalahan-kesalahan ini agar bisa menghindarinya dan bersyukur atas nikmat ilmu dan cinta sunnah yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan.

Di antara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi selama wukuf di Arafah adalah sebagai berikut :

  • Wukuf di luar wilayah Arafah. Saat melakukan patroli, para dai dari Kementrian Agama Arab Saudi masih banyak menemukan jamaah haji yang melakukan wukuf di luar Arafah. Padahal kesalahan ini jika tidak diluruskan mengakibatkan haji kita tidak sah.[11]
  • Keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam. Wukuf adalah rukun haji, sedangkan melakukan wukuf hingga matahari terbenam adalah salah satu kewajiban haji. Jika jamaah haji sudah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam dan tidak kembali lagi, maka ia telah meninggalkan salah satu kewajiban haji dan harus membayar dam dengan meyembelih seekor kambing. [12]
  • Menyibukkan diri dengan naik Jabal Rahmat ,  berjalan-jalan, atau menuliskan prasasti di sana. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mendaki gunung ini saat wukuf.  Jadi barang siapa mendaki gunung dan meyakininya sebagai ibadah, maka itu adalah bid’ah. Jika menaikinya sebagai refreshing, maka hukumnya boleh, tetapi ada hal lain yang lebih baik dilakukan di kesempatan yang belum tentu terulang ini. [13]  Imamul Haramain al-Juwaini mengatakan, “Dan tidak ada nilai ibadah dalam menaiki gunung ini, meski orang-orang biasa melakukannya.” [14]
  • Menghadap ke Jabal Rahmat saat dzikir dan doa dan membelakangi kiblat. Yang sesuai dengan sunnah adalah menghadap ke kiblat saat berdoa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jâbir Radhiyallahu anhu :

ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخَرَاتِ وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hingga tiba di  tempat wukuf, maka beliau jadikan perut unta beliau al-Qashwa di bebatuan (di belakang  Jabal Rahmat) , menjadikan rombongan pejalan kaki di depan beliau dan menghadap kiblat. [HR. Muslim no. 1284]

Saat wukuf, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Jabal Rahmat, tapi pada saat yang sama beliau juga menghadap kiblat. Beliau menjadikan Jabal Rahmat dan Ka’bah di arah depan beliau. Jika keduanya tidak bisa digabungkan, maka yang diutamakan adalah menghadap kiblat, bukan gunung.

  • Tidak mengoptimalkan dzikir dan doa, tapi malah banyak ngobrol dan bercanda. Hal ini sangat disayangkan, mengingat keistimewaan hari Arafah dan singkatnya waktu wukuf. Saat Anda menempati tempat wukuf Anda, ingatlah bahwa ada jutaan umat Islam yang menginginkan tempat itu, namun mereka tidak bisa mendapatkannya karena tidak memiliki biaya, tidak memiliki kondisi fisik yang memungkinkan, atau sebab lain. Dan Andalah yang dipilih Allâh, maka jangan sia-siakan kesempatan emas ini dengan obrolan dan canda tawa!
  • Menyibukkan diri dengan berfoto ria selama di Arafah. Terlepas dari perselisihan para Ulama dalam masalah hukum foto makhluk bernyawa, foto-foto ini bisa menjadi pintu masuk setan untuk menjerumuskan Anda ke dalam kubangan riya’ (beramal agar dilihat dan dipuji orang lain) yang membuat ibadah haji Anda sia-sia. Sebisa mungkin  tutuplah ibadah mulia ini dari pandangan manusia, sehingga hanya Allâh Azza wa Jalla yang tahu, karena hanya dari-Nyalah kita mengharap pahala.
  • Merokok. Kebiasaan buruk ini sayang sekali masih kadang dilakukan jamaah haji saat menjalankan rukun terpenting ibadah haji.
  • Menghibur diri atau mencari  kekhusyu’an dengan alunan musik.
  • Bersolek. Agama kita melarang wanita bersolek saat keluar rumah. Larangan ini menjadi lebih tegas jika dilakukan saat menjalankan ibadah haji dan berada di tanah suci.  Demikian pula dengan dua kesalahan yang sebelumnya.  Jika kita melakukannya, masihkah kita berharap haji mabrur, sedangkan syaratnya adalah meninggalkan kefasikan dan maksiat selama menjalankan ibadah ini ?

Itulah beberapa contoh kesalahan yang sering terjadi selama di Arafah.  Masih banyak lagi kesalahan yang lain yang harus dihindari jamaah haji, namun apa yang disebutkan di atas cukup sebagai isyarat kepada kesalahan-kesalahan yang lain. Akhirnya kita berdoa, semoga Allâh menunjukkah kebenaran sebagai kebenaran dan kita bisa mengikutinya. Dan semoga Allâh menunjukkan kesalahan sebagai kesalahan dan kita bisa meninggalkannya. Sungguh Dialah Yang Maha Mendengar, Dialah harapan kita, dan cukuplah Dia bagi kita. Wallahu A’lam.

Referensi:

  1. Asy-Syarhul Mumti’, Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin, Dar Ibnil Jauzi.
  2. Al-Mughni, Ibnu Qudâmah, Dar ‘Alamil Kutub.
  3. Tabshîrun Nasîk bi Ahkâmil Manâsik, Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbâd.
  4. Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi,  Darul Khair.
  5. Nihâyatul Mathlab fi Dirâyatil Madzhab, Imamul haramain al-Juwaini, Darul Minhaj.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XV/1432H/2011M, Penulis Ustadz Anas Burhanuddin MA. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat: Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi 3/477.
[2] Al-Fatâwa al-Kubrâ 2/477.
[3] Lihat: al-Mufhim (Syarah Shahih Muslim), 5/178.
[4] Lihat al-Fathur Rabbâni karya as- Sa’ati 2/23, Tuhfatul Ahwadzi 3/540.
[5] Lihat: Nihâyatul Mathlab 4/310.
[6] Lihat: Nihâyatul Mathlab 4/311.
[7] Lihat: Nihâyatul Mathlab 3/313.
[8] Lihat: Tabshîrun Nasîk, hlm. 121.
[9] Lihat: Asy-Syarhul Mumti’, 7/296.
[10] Tabshîrun Nasîk, hlm.123
[11] Lihat: Nihâyatul Mathlab 4/310
[12] Lihat: Nihâyatul Mathlab 4/311.
[13] Lihat: asy-Syarhul Mumti’ 7/294.
[14] Nihâyatul Mathlab 4/311.

Berkurban, Apakah Sebuah Kewajiban Atau Mustahab (Sunnah)?

DALIL-DALIL DISYARIATKANNYA BERKURBAN, APAKAH MENUNJUKKAN SEBUAH KEWAJIBAN ATAU MUSTAHAB (SUNNAH)?

Pertanyaan
Saya telah membaca fatwa di website anda yang menyebutkan bahwa berkurban adalah sunnah, akan tetapi tidak terdapat dalil yang kuat pada website yang mendukung pendapat tersebut. Kami berharap apakah anda berkenan untuk menyebutkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa berkurban adalah sunnah bukan wajib ?, dan bagaimana dengan hadits berikut ini:

 مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا  ابن ماجه، الحديث 3123

Barang siapa yang mempunyai keluasan rizeki dan tidak berkurban, maka jangan pernah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah: 3123]

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama : Pada masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang terkenal di antara para ulama –rahimahullah-, kebanyakan di antara mereka berpendapat bahwa berkurban adalah sunnah dan tidak wajib.

Hanafiyah dan Imam Ahmad yang dipilih oleh Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa berkurban adalah wajib bagi yang mempunyai keluasan rizeki.

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa berkurban adalah sunnah muakkadah tidak wajib”.

Hal ini telah diriwayatkan dari Abu Bakr, Umar, Bilal dan Abu Mas’ud Al Badri –radhiyallahu ‘anhum-, senada dengan pendapat mereka juga pendapat Suwaid bin Ghaflah, Sa’id bin Musayyib, ‘Alqamah, Al Aswad, ‘Atha’, Asy Syafi’i, Ishak, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Rabi’ah, Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Al Laits dan Abu Hanifah berkata: “Berkurban adalah wajib, berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

  مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا  

Barang siapa yang mempunyai keluasan rizeki dan tidak berkurban, maka jangan pernah mendekati tempat shalat kami”.

Dan dari Mikhnaf bin Sulaim bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

  يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ، فِي كُلِّ عَامٍ، أَضْحَاةً وَعَتِيرَةً 

Wahai manusia, sungguh bagi setiang anggota keluarga, pada setiap tahunnya sembelihan kurban”.

Yang sesuai dengan pendapat kami sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad dari Ibnu Abbas dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ثَلَاثٌ كُتِبَتْ عَلَيَّ، وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ – وَفِي رِوَايَةٍ  –  الْوِتْرُ، وَالنَّحْرُ، وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ 

Ada tiga hal yang telah diwajibkan kepadaku namun bagi kalian tetap sunnah, dan dalam riwayat yang lain: “Shalat witir, berkurban dan dua raka’at sebelum subuh”.

Dan karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

 مَنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ، فَدَخَلَ الْعَشْرُ، فَلَا يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا بَشَرَتِهِ شَيْئًا

Barang siapa yang ingin berkurban lalu sudah memasuki 10 awal bulan Dzul Hijjah, maka jangan sampai mengambil rambutnya dan dari kulitnya sedikitpun”. [HR. Muslim]

Pada hadits tersebut dikaitkan dengan keinginan sementara ibadah wajib tidak dikaitkan dengan keinginan. [Al Mughni: 11/95]

Kedua : Setiap kelompok telah menyebutkan sejumlah dalil, akan tetapi dari sisi sanadnya masih dipermasalahkan, atau masih ada perdebatan pada cara pengambilan dalil, berikut ini kami fokuskan pada hadits-hadits yang marfu’ saja:

Hadits pertama : Bagi yang berpendapat bahwa berkurban adalah wajib.
Yaitu ; hadits Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

  مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا رواه ابن ماجة  3123 

Barang siapa yang mempunyai keluasan rizeki dan tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah: 3123]

Para ulama hadits belum semuanya sepakat bahwa hadits tersebut marfu’, mereka menghukumi hadits tersebut merupakan ucapan Abu Hurairah, bukan ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Al Baihaqi dalam sunannya (9/260) : “Telah disampaikan kepadaku dari Abu Isa At Tirmidzi bahwa dia berkata: “Yang shahih adalah dari Abu Hurairah bahwa hadits itu adalah mauquf (berhenti di Abu Hurairah). Ia berkata: “Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Ja’far bin Rabi’ah dan yang lainnya dari Abdurrahman Al A’raj dari Abu Hurairah mauquf”.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan para perawinya tsiqah (bisa dipercaya), akan tetapi berbeda pendapat dalam hal marfu’ atau mauqufnya. Sementara mauquf yang lebih benar. Disampaikan oleh Ath Thahawi dan yang lainnya namun bersamaan dengan itu belum jelas jawabannya”. [Fathul Baari: 13/98]

Ibnu Abdil Bar dan Abdul Haq telah menguatkan bahwa hadits tersebut mauquf dalam Ahkamul Wushtha: 4/127 dan Al Mundziri dalam Targhib waTarhib dan Ibnu Abdil Hadi dalam At Tanqih: 2/498. Baca juga Hasyiyatu Muhaqqiqi Sunan Ibnu Majah: 4/303.

Hadits kedua : Hadits Abi Ramlah dari Mukhnaf bin Salim sebagai hadits marfu’, yaitu;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً رواه أبو داود  2788  والترمذي  1596  ، وابن ماجة  3125

Wahai manusia, sungguh diwajibkan bagi setiap keluarga setiap tahunnya untuk berkurban dan ‘Athiirah”. [HR. Abu Daud: 2788 dan Tirmidzi: 1596 dan Ibnu Majah: 3125]

Al ‘Athiirah adalah hewan sembelihan yang disembelih pada bulan Rajab, dinamakan juga dengan Ar Rajiibah.

Ada beberapa ulama –rahimahumullah- telah melemahkan hadits ini karena Abu Ramlah tidak dikenal dan namanya adalah ‘Amir.

Al Khithabi berkata : “Hadits ini lemah perawinya dan Abu Ramlah tidak dikenal”. [Ma’alim As Sunan: 2/226]

Az Zaila’i berkata : “Abdul Haq berkata: “Sanadnya lemah”. Ibnu Qaththan berkata: “Sebabnya adalah karena Abu Ramlah tidak dikenal, namanya adalah ‘Amir, bahwa beliau tidak diketahui kecuali dengan hal ini yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aun”. [Nashbu Ar Rayah: 4/211]

Adapun mereka yang mengatakan bahwa berkurban adalah sunnah, maka mereka berhujjah dengan beberapa hadits marfu’, yang paling penting adalah dua hadits yang telah disebutkan oleh Ibnu Qudamah –rahimahullah-:

Hadits Pertama : Hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ثَلاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ، وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ: الْوَتْرُ، وَالنَّحْرُ، وَصَلاةُ الضُّحَى رواه أحمد  2050  والبيهقي  2/467 

Ada tiga hal yang hukumnya wajib bagiku namun ketiganya menjadi sunnah bagi kalian: Shalat witir, berkurban dan shalat dhuha”. [HR. Ahmad: 2050 dan Baihaqi: 2/467]

Hadits ini dilemahkan oleh beberapa ulama terdahulu dan kontemporer, Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:
“Sumbernya bermuara kepada Abu Janab Al Kalbi dari Ikrimah, Abu Janab dha’if, mudallis juga dan telah meriwayatkan melalui ‘an’anah. Para imam menyebut hadits ini dengan lemah, seperti; Ahmad, Baihaqi, Ibnu sholah, Ibnu Jauzi, An Nawawi dan yang lainnya”. [At Talkhis Al Habiir: 2/45 dan bisa dibaca juga pada: 2/258]

Hadits Kedua: Hadits Ummu Salamah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا رواه مسلم  1977 

Jika sudah masuk 10 awal bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah mencukur rambut  dan kulitnya sedikit pun”. [HR. Muslim: 1977]

Imam Syafi’i berkata : “Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa berkurban hukumnya tidak wajib, berdasarkan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Dan salah seorang mau berkurban”, di sini beliau menyerahkan kepada keinginannya, jika hukumnya wajib maka beliau akan bersabda “Maka janganlah menyentuh rambutnya sampai ia menyembelih hewan kurbannya”. [Al Majmu’: 8/386]

Akan tetapi istidlal (cara pengambilan dalil) ini tidak selamat dari diskusi; karena menyerahkan kepada keinginan tidak bisa dijadikan dalil bahwa hal itu tidak wajib.

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata : “Menurut hemat kami bahwa menyerahkan kepada keinginan itu tidak menghilangkan kewajiban, jika ada dalil yang membuktikannya, karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda berkaitan dengan miqat:

هُنَّ لهُنَّ، ولِمَن أتى عليهِنَّ مِن غيرِ أهْلِهِنَّ، لِمَن كان يريد الحَجَّ والعُمْرَةَ

Miqat-miqat ini adalah bagi mereka dan bagi siapa saja yang datang dan bukan berasal dari penduduknya, bagi mereka yang ingin melaksanakan haji dan umrah”.

Dalil ini tidak menghalangi kewajiban haji dan umrah dengan dalil lainnya. Ibadah kurban ini tidak wajib bagi mereka yang kesulitan, jadi dia tidak menginginkannya. Maka ada benarnya membagi masyarakat dengan yang mempunyai keinginan dan orang yang tidak mempunyai keinginan dilihat dari sisi kemudahan hidup dan kesulitannya”. [Ahkamul Udhhiyyah wadz Dzakah:  47]

Kesimpulan:
Bahwa hadits-hadits tentang wajibnya berkurban masih diperdebatkan, meskipun sebagian para ulama telah menganggap sebagiannya hasan. Demikian juga hadits-hadits yang menyatakan bahwa kurban adalah sunnah, bahkan dari sisi sanad lebih dha’if lagi.

Oleh karenanya Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata pada penutupan buku beliau “Ahkam Al Udhhiyyah wa Ad Dakaah”:
“Inilah pendapat para ulama dan dalil-dalil mereka, kami paparkan untuk menjelaskan masalah kurban dan pentingnya dalam agama. Dalil-dalil yang ada hampir sama, dan untuk jaga-jaga jika mampu untuk tidak meninggalkan berkurban; karena di dalamnya terdapat mengagungkan Allah, mengingat-Nya, menggugurkan tanggung jawab dengan penuh keyakinan”.

Ketiga : Yang menguatkan bahwa hukum berkurban tidak wajib adalah dua perkara:
1. Al Bara’atul Ashliyyah (Kembali kepada hukum asal), maka selama tidak ada dalil yang mewajibkan yang selamat dari perdebatan, maka hukum asalnya tidak wajib.

Syeikh Ibnu Baaz berkata : “Hukum berkurban adalah sunnah jika dalam kelapangan rizeki, bukan wajib; karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyembelih dua kambing kibas jantan, dan para sahabat juga berkurban di masa hidup beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan setelah beliau meninggal dunia, demikian juga semua umat Islam setelah mereka. Tidak ada satupun dalil syar’i yang menunjukkan hukumnya wajib, pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya wajib adalah pendapat yang lemah”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 18/36)

2. Atsar para sahabat yang shahih.
Telah diriwayatkan dengan shahih dari Abu Bakar, Umar dan yang lainnya bahwa mereka semuanya tidak berkurban; karena khawatir masyarakat akan mengira bahwa hukumnya wajib.

Imam Baihaqi telah meriwayatkan dalam Ma’rifat Sunan wal Atsar (14/16) 18893 dari Abu Suraihah berkata:

  أَدْرَكْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَكَانَا لِي جَارَيْنِ وَكَانَا لَا يُضَحِّيَانِ

Saya temasuk orang yang hidup pada masa Abu Bakar dan Umar, dan keduanya adalah tetangga saya, dan beliau berdua tidak berkurban”.

Imam Baihaqi berkata setelahnya : “Kami riwayatkan di dalam kitab Sunan dari hadits Sufyan bin Sa’id ats Tsauri, dari ayahnya, Mutharrif dan Isma’il dari Asy Sya’bi dan pada sebagian ucapan mereka: “Mereka berdua khawatir akan diikuti (oleh masyarakat dalam berkurban)”.  Baca juga: As Sunan Al Kubro: 9/444

An Nawawi berkata di dalam Al Majmu’ (8/383) : “Adapun atsar tersebut tentang Abu Bakar dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma- maka telah diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan yang lainnya dengan sanad yang hasan”.

Al Haitsami berkata: “Imam Thabrani juga telah meriwayatkannya di dalam Al Kabiir dan para perawinya adalah para perawi hadits shahih”. [Majmu’ Az Zawaid: 4/18 dan telah dishahihkan oleh Albani dalam Al Irwa’: 4/354]

Al Baihaqi telah meriwayatkan (9/445) dengan sanadnya dari Abu Mas’ud Al Anshori : “Sungguh saya meninggalkan berkurban padahal saya termasuk yang dimudahkan rizekinya, karena khawatir para tetangga akan melihat bahwa hal itu wajib bagiku”. [Dishahihkan oleh Albani dalam Al Irwa’ juga]

Disalin dari islamqa

Perintah Menyembelih Ujian Nabi Ibrahim Alaihissallam

PERINTAH MENYEMBELIH UJIAN NABI IBRAHIM ALAIHISSALLAM

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.[1]

Pada kesempatan ini, kita akan lihat bagaimana Nabi Ibrahim –imamnya ahli tauhid dan kekasih Allâh- memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan.

  1. Ketika diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus. Beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh, sehingga Allâh menunjukkan jalan keluar bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
  2. Selang beberapa tahun, Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 80 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [As-shâffât /37: 106]

Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya ini termaktub dalam firman Allâh:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴿٩٩﴾رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴿١٠٠﴾فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ﴿١٠١﴾فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴿١٠٢﴾فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ﴿١٠٣﴾وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ﴿١٠٤﴾قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴿١٠٥﴾إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ﴿١٠٦﴾وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ﴿١٠٧﴾وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ﴿١٠٨﴾سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ﴿١٠٩﴾كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴿١١٠﴾إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ﴿١١١﴾وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ﴿١١٢﴾وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Ibrahim berkata,”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [As-shâffât /37: 99-113]

Dari ayat-ayat yang mulia di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran berikut:

Pelajaran Pertama:
Doa memohon keturunan yang baik menjadi perhatian khusus para nabi dan orang shalih
Dalam banyak ayat Allâh menerangkan kepada kita bahwa para nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tekun memanjatkan doa, memohon keturunan yang baik. Perhatikanlah para nabi berikut:

  • Ketika Nabi Ibarahim meninggalkan kota asalnya, beliau berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikarunia putra yang shaleh, lalu Allâh Azza wa Jalla kabulkan permohonannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Ya Rabbku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [As-shafat/37:100-101].

  • Nabi Zakaria yang tekun memanjatkan doa agar dikaruniai keturunan yang baik. Allâh berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” [Âli ‘Imrân/3:38]

  • Para hamba Allah yang shaleh, mereka juga memanjatkan doa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqân /25: 74]

Selain memohon dikarunia keturunan yang baik, para nabi dan orang-orang shaleh juga memohon agar Allâh menjaga dan menjadikan ketururan mereka sebagai para hamba yang berserah diri kepada-Nya. Mereka melakukan ini dengan beberapa alasan:

  • Karena jika sang anak meninggal di usia belia, kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ الْجَنَّةَ قَالَ يُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

Tidaklah dua orang muslim (suami dan istri) yang meninggal tiga orang anaknya sebelum baligh, melainkan Allâh akan memasukkan keduanya kedalam surga disebabkan kasih sayang Allâh kepada anak-anaknya, ketika mereka diseru, “Masuklah kalian kedalam surga!”, Mereka menjawab, “Orang tua kami terlebih dahulu”, Maka diseru, “Masuklah kalian beserta orang tua kalian kedalam surga.[2]

  • Karena anak yang shaleh senantiasa mendo’akan serta membuat hati orang tua menjadi sejuk dan tentram.
  • Karena kebaikan anak yang shaleh terus mengalir bagi orang tuanya, meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.[3]

Pelajaran Kedua:
Allâh selalu memberi jalan keluar dari setiap cobaan
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam meninggalkan kota asal dan kaumnya dikarenakan mereka menolak dakwahnya, beliau memohon kepada Allâh agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Permohonan beliau Alaihissallam ini dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan putra yang sangat bijak yang diberi nama Ismail. Putra pertama beliau, sebelum kelahiran Ishaq. Ini kesepakatan kaum Muslimin juga ahlul kitab.

Belum lama sejak kelahiran putera kesayangannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar membawa anak beserta ibunya ke lembah gersang yang tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana tanpa bekal makan dan minum yang cukup. Dengan sebab tawakkal keduanya, Allâh Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan menganugerahkan rezeki.

Dalam firman Allâh, فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ  : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (As-Shâffât/37:102), artinya : ia dalam masa tumbuh kembang, di mana ia bisa pergi dan berjalan bersama ayahnya. Nabi Ibrahim kerap mengunjungi anak dan istrinya yang berada di lembah tak berpenghuni, dekat dengan calon Ka’bah untuk menengok keduanya. Diriwayatkan bahwa beliau mengendarai buraq.[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla, قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ  : “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” [As-Shâffât/37:102]

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim Alaihissallam memberitahukan mimpi tersebut kepada putranya adalah agar ujian tersebut terasa lebih ringan (saat dijalani-red),  juga untuk menjajaki seberapa dalam kesabaran dan kepatuhan sang anak kepada Allâh serta orang tuanya.

Firman Allâh Azza wa Jalla berikutnya menyebutkan jawaban anak yang shaleh tersebut, قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ  :  “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

Artinya aku akan bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Dan Nabi Isma’il benar-benar memenuhi janjinya.

Kejadian selanjutnya, diabadikan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), [As-Shâffat/37:103]

Artinya, keduanya berserah dan patuh, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allâh dan Nabi Ismail menaati Allâh dan ayahnya. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya dengan ditengkurapkan dan akan disembelih di tengkuknya, agar tidak melihat wajahnya, agar lebih ringan bebannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, syaitan datang menghalangi jalan, namun beliau berhasil mendahuluinya. Lalu Malaikat Jibril membawanya ke jumrah ‘Aqabah, syaitan kembali menghalangi sehingga beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil sampai pergi. Lalu syaitan kembali menghalangi beliau di jumrah Wustha dan Nabi Ibrahim melemparinya lagi dengan tujuh biji batu (sampai ia pergi). Setelah itu Nabi Ibrahim menengkurapkan Ismail yang mengenakan pakaian serba putih, Dia berkata, “Ayahku, tidak ada kain lain yang nanti bisa engkau jadikan kafanku selain yang aku kenakan ini, maka lepaslah baju ini dan jadikan sebagai kafanku.” Saat Nabi Ibrahim Alaihissallam hendak melepaskan baju Ismail, terdengar suara dari belakangnya,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” [As-shaffât/37:104-105]

Nabi Ibrahim menoleh dan ternyata telah ada seekor domba putih bertanduk yang bermata hitam lebar.[5]

Oleh karena itu, Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Syaitanlah yang kalian lempar, agama Nabi Ibrahim yang kalian ikuti.”[6]

Firman-Nya: وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍDan Kami gantikan untuknya dengan sembelihan yang agung [Ash-Shaffât/37:107]

Yaitu, kami ganti dengan kambing putih yang bertanduk dan bagus matanya.

Perhatikanlah! Ujian yang berat, diakhiri dengan jalan keluar dari Rabb semesta alam.

Pelajaran Ketiga:
Berbakti kepada ayah merupakan akhlaq para nabi
Dalam masalah berbakti kepada orang tua, Nabi Ismail Alaihissalam memberikan contoh terbaik.

  • Ketika ayahnya berkata kepadanya, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” [As-Shâffât/37:102].

Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail Alaihissallam menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

  • Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam datang menjenguk Nabi Ismail, namun beliau Alaihissallam tidak bertemu dengannya, lalu berpesan kepada istrinya, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar mengganti kayu palang pintunya!” maka saat Nabi Ismail Alaihissallam menanyakan prihal lelaki itu dan pesannya. Istrinya menjawab, “Dia menitipkan salam dan menyuruhmu mengganti kayu palang pintumu.” Ismail berkata lagi, “Itu ayahku, dan ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke keluargamu!”

Nabi Ismail menceraikan istrinya. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah.

  • Ketika Nabi Ibrahim datang menjenguknya lagi dan tidak menemukannya juga. Sepulangnya, Nabi Ismail menanyakan lagi pesannya dan melaksanakan pesan itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Pesan itu berisi agar tidak menceraikan istrinya itu.
  • Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam mendatanginya sementara Nabi Ismail sedang meraut anak-anak panah di bawah naungan pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya ia berdiri menyambutnya, bersikap selayaknya seorang anak kepada bapaknya, dan sebaliknya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.” Nabi Ismail Alaihissallam berkata, “Laksanakanlah apa yang Rabbmu perintahkan!” Nabi Ibrahim berkata, “Engkau akan membantuku?” Kata Nabi Ismail, “Ya, aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allâh memerintahkan kepadaku untuk membangun Rumah-Nya di sini.”

Lalu Nabi Ismail mulai membawakan batu dan Nabi Ibrahim mulai membangun, sampai bangunan selesai.

Ini juga di antara bentuk bakti Ismail kepada bapaknya.

Jadi, bakti kepada orang tua merupakan akhlak para nabi, karena itu termasuk amalan yang paling Allâh cintai. Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam masalah kedua orang tuanya karena Allâh Azza wa Jalla telah berwasiat agar berbuat baik kepada keduanya.

KESIMPULAN
Nabi Ibrahim Alaihissallam telah menunjukan contoh yang paling baik dalam melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala meskipun perintah tersebut sangat berat yaitu meninggalkan anak semata wayang dan ibunya di daerah tandus dan tanpa penghuni dilanjutkan dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya. Meski sangat berat, beliau Alaihissallam tetap tunduk dan melaksanakannya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita semua kesiapan untuk senantiasa tunduk terhadap segala perintah Allâh Azza wa Jalla , baik yang kita ketahui hikmahnya ataupun yang tidak diketahui.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Shahih; HR. at-Turmudzi no 2398, an-Nasa’i 7481, Ibnu Majah 4023, dan dishahihkan Ibnu Hibban 2909 dan al-Hâkim 1/ 40. Lihat Ash-Shahîhah 143.
[2] Shahih; HR. an-Nasa’i 1876, al-Baihaqi 4/68 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [al-Albani dalam Ahkâm al-Janâ’iz 23 berkata: sanadnya shahih sesuai denga syarat Bukhâri dan Muslim]. Asal hadits ada dalam Shahih al-Bukhâri 102 dan Muslim 2632.
[3] Shahih; HR. Muslim 1631.
[4] Tafsir Ibnu Katsir 5/ 351.
[5] HR. Ahmad 1/297, al-Baihaqi 5/154, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 1-628. Lihat Shahih At-Targhib 1156.
[6] HR. Al-Baihaqi dalam As-sunan 5/ 153, al-Hakim1/466, dan beliau mensahihkannya sesuai