Author Archives: editor

Mewaspadai Budaya-Budaya Jahiliyah

MEWASAPADAI BUDAYA-BUDAYA JHILIYAH

Oleh
Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia. Semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai hari kiamat.

Pada masa jahiliyah, orang-orang Arab memiliki berbagai budaya dan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kebudayaan itu ada yang berbentuk keyakinan, ibadah, akhlak dan hukum-hukum kemasyarakatan. Adapun tujuan kita mengenal persoalan ini, ialah agar kita tidak terjerumus ke dalam budaya-budaya jahiliyah tersebut.

Pada abad globalisasi ini betapa cepat pertukaran peradaban namun sebagian kita tidak memiliki filter untuk menyaring kebudayaan dan peradaban tersebut. Sehingga sebagian kita terjerumus dan jatuh ke dalam berbagai jurang kesesatan umat-umat yang lain. Sebagaimana telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ (متفق عليه).

“Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah): “Siapa lagi?!” [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Jika kita melihat ke tengah masyarakat, tentu kita akan mendapatkan sebagian besar mereka sudah terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban umat-umat lain. Baik dengan sengaja menirunya dengan alasan model dan gaya, atau karena bodoh terhadap ajaran agama kita sendiri, tidak menyadari bahwa kebiasaan dan gaya tersebut merupakan perilaku umat jahiliyah dahulu.

Tentang budaya dan kebiasaan orang-orang jahiliyah ini, maka Allah telah menjelaskan dalam banyak ayat, dan begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, agar umat ini terhindar dan tidak menyerupai kebiasaan mereka yang menyimpang dari kebenaran. Yaitu sebagaimana yang telah diturunkan Allah k kepada para nabi dan rasul-Nya. Baik yang berbentuk keyakinan, ibadah, akhlak maupun hukum kemasyarakatan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur`ân supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa. [al-An’âm/6:55].

Allah menjelaskan jalan orang-orang yang berdosa agar kita menghindari dan menjauhinya, agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa, sekaligus menjauhi jalan dan sebab-sebab yang menimbulkan dosa. Diantara jalan-jalan dosa adalah meniru budaya dan peradaban orang-orang jahiliyah serta jalan umat yang dilaknat dan disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena ketidaktahuan terhadap sebab-sebab kebatilan bisa membawa seseorang kepada kebatilan itu sendiri. Sebaliknya jika seseorang mengetahui jalan dan sebab kebinasaan, maka ia akan selalu mawas diri. Di samping itu ia akan memberitahukan kepada orang lain agar menghindari sebab-sebab dan jalan kebinasaan tersebut.

Hal inilah yang diungkapkan sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu :

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي (صحيح البخاري برقم (7084) ، وصحيح مسلم برقم (1847).

Adalah para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal yang baik-baik saja, namun saya bertanya kepada beliau tentang hal yang jelek, karena saya takut akan terjerumus ke dalamnya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu menggambarkan kepada kita, di antara faktor penyebab yang menjerumuskan seseorang ke dalam kejelekan adalah tidak mengetahui perihal kejelekan itu sendiri. Hal ini ditegaskan lagi oleh khalifah yang kedua, yaitu ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu dalam ungkapannya:

إِنَّمَا تَنْقُضُ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةِ

(Sesungguhnya putusnya tali Islam itu sedikit demi sedikit apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengenal jahiliyah), karena bila seseorang yang tidak mengetahui kebatilan, ia tidak akan mengingkari kebatilan tersebut. Bila demikian halnya, tentu kebatilan itu hari demi hari akan semakin meluas, hingga kemudian diangap sebagai kebenaran. Pada akhirnya, bila ada yang mengingkari, maka ia akan dianggap mengingkari kebenaran. Sehingga terjadi penilaian yang amat keliru, yang batil dianggap benar, dan yang benar dianggap batil.

Gejala ini sudah mulai nampak dalam kehidupan kita. Ketika ada perhatian dari sebagian orang yang peduli untuk menanggulangi berbagai penyimpangan moral dalam masyarakat, kemudian datang kelompok lain dengan menamakan diri pembela hak asasi dan kebebasan. Seolah yang memiliki kebebasan dan hak asasi hanyalah orang yang melanggar. Adapun orang yang patuh, kemanakah hak asasi dan kebebasan mereka? Semestinya yang mendapatkan hukuman ialah orang yang menyimpang, tetapi justru malah memproleh pembelaan. Sebaliknya, orang yang berjalan di atas kebenaran dianggap tidak berwawasan, tidak toleransi, tidak bisa berbeda pendapat, fanatik, mau menang sendiri, dan seterusnya berbagai celaan diarahkan kepada mereka.

Segala perkara jahiliyah dikubur di bawah telapak kaki Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagai bentuk peringatan kepada umat Islam agar tidak menggali kembali perkara-perkara jahiliyah tersebut, apalagi melestarikannya.

Sebagaimana dinyatakan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَلاَ كُلًّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوْعٌ (رواه مسلم)

Katahuilah segala sesuatu dari urusan jahiliah di bawah telapak kakiku terkubur. [HR Muslim]

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ‘Seluruh perkara-perkara jahiliyah berada di bawah telapak kakiku,’ termasuk dalam hal tersebut, ialah segala hal yang mereka lakukan dalam berbagai ibadah dan budaya, seperti hari-hari besar mereka dan lain-lain dari kebiasaan mereka, … tidak termasuk kedalam hal itu budaya mereka yang diakui dalam Islam,seperti manasik dan diyat orang yang terbunuh, dan lain-lain. Karena yang dipahami dari ungkapan budaya-budaya jahiliyah, ialah hal-hal yang tidak diakui oleh Islam, dan termasuk juga di dalamnya yaitu kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang tidak dilarang secara khusus”.[1]

Dalam sabda yang lain beliau tegaskan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلَاثَةٌ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ (رواه مسلم)

“Diriwayat dari sahabat Ibnu Abbas z bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling dimurkai Allah ada tiga; orang melakukan dosa di tanah haram, orang yang mencari kebiasaan jahiliyah dalam Islam dan orang yang mengincar darah seseorang tanpa hak untuk ia tumpahkan (membunuhnya)”. [HR Muslim]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Setiap orang yang ingin melakukan sesuatu dari sunnah jahiliyah, ia termasuk dalam hadits ini. Sunnah jahiliyah ialah segala kebiasaan (adat-budaya) yang mereka lakukan. Karena sunnah ialah adat, yaitu kebiasaan yang berulang agar bisa melingkupi semua orang. Yaitu hal-hal yang mereka anggap ibadah ataupun yang tidak mereka anggap ibadah … Barang siapa yang melakukan sesuatu dari adat-adat mereka, maka sesungguhnya ia telah menginginkan sunnah jahiliyah. Hadits ini umum mewajibkan diharamkannya mengikuti segala sesuatu dari kebiasaan-kebiasaan jahiliyah, dalam hal perayaan hari-hari besar, dan juga di luar perayaan hari-hari besar”.[2]

Beliau rahimahullah mengungkapkan lagi pada kitab lainnya: “Sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Yang mencari dalam Islam sunnah jahiliyah,’ termasuk ke dalamnya, yaitu segala kejahiliyahan secara mutlak; agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Shaibah, agama penyembah berhala, agama syirik, atau adopsi dari sebagian ajaran-ajaran agama-agama jahiliyah tersebut, maka seluruh bid’ah dan ajaran yang telah mansukh (dihapus), telah menjadi jahiliyyah dengan diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sekalipun kalimat jahiliyah lebih dominan penggunaannya kepada orang-orang Arab, tetapi maknanya sama”.[3]

Berikut kami sebutkan di antara bentuk-bentuk budaya jahiliyyah yang berhubungan dengan keyakinan.

Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ (أخرجه البخاري و مسلم)

Dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan bulan Safar adalah bulan sial”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

زَادَ مُسْلِمٌ : « وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ » .

Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan: “Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula mempercayai hantu”.

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, ada beberapa kebiasan orang jahiliyah sebagaimana penjelasan para ulama dalam mengomentari maksud hadits tersebut.

Pertama, al-‘Adwâ.
Yaitu berkeyakinan bahwa suatu penyakit dapat berpindah kepada orang lain dengan sendirinya tanpa ada takdir dari Allah.
Di antara budaya keyakinan orang-orang jahiliyah, yaitu mempercayai bahwa penyakit dapat berpindah dengan sendirinya kepada orang lain, tanpa ada takdir dari Allah. Hal ini dapat mengurangi atau membatalkan kemurnian tauhid seseorang kepada Allah. Karena yang dapat menimpakan penyakit dan musibah hanya Allah semata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ  لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. [al-Hadid/57:22-23].

Namun bukan berarti kita tidak boleh menghindari sebab-sebab yang dapat mencelakan ataupun yang membahayakan. Karena dalam melakukan sebab-sebab itu kita tidak boleh meyakini bahwa sebab itu sendiri yang dapat menyelamat kita. Jika Allah berkendak, bisa saja Allah berbuat sesuatu pada kita tanpa ada sebab. Sebagian ulama mengatakan, meninggalkan sebab adalah menyalahi akal sehat, dan bergantung kepada sebab adalah kesyirikan.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan anak maka kita harus menikah. Namun tidak berarti setiap orang yang menikah pasti mendapatkan anak. Karena ada orang yang beristeri empat tidak mempunyai anak. Oleh sebab itu, dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفَرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ  (رواه البخاري)

Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah (sendiri), tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan bulan Safar adalah bulan sial, dan hindarilah orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu menghindar dari singga. [HR al-Bukhâri].

Penggalan terakhir dari hadits “dan hindarilah orang yang berpenyakit kusta sebagaimana kamu menghindar dari singa” telah dibuktikan oleh ilmu medis modern kebenarannya. Tetapi Islam telah jauh lebih maju sebelum ahli medis membuktikannya. Ini merupakan salah satu bukti dari sekian banyak bukti kebenaran Islam dan keagungannya.

Dalam hadits di atas terdapat keterangan tentang hukum mengambil sebab keselamatan dari penyakit menular. Dalam sabda lain beliau katakan:

لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ  (رواه مسلم)

Jangan campurkan onta yang sakit ke dalam onta yang sehat. [HR Muslim].

Sebagian ulama berpendapat, dua konteks hadits di atas tidak saling bertentangan. Konteks pertama ditujukan pada orang yang kuat iman dan tawakalnya kepada Allah, terutama bila ada maslahah yang lebih besar, seperti petugas kesehatan dan regu penyelamat. Maka hendaklah ia memantapkan keimanan dan tawakalnya kepada Allah jika situasi mengharuskannya untuk berkorban. Konteks hadits kedua ialah bagi orang yang kurang iman dan tawakalnya kepada Allah. Wallahu a’lam.[4]

Kedua, ath-Thiyarah.
Yaitu menebak apa yang akan terjadi dengan perantara burung. Atau mengundi nasib berdasarkan gerak-gerik binatang, seperti burung dan lainnya. Adakalanya disebut at- tathoyyur, namun maksudnya sama.
Di antara budaya orang-orang jahiliyah, yaitu jika akan berpergian atau melakukan sesuatu; ketika keluar dari rumah, mereka terlebih dahulu memperhatikan binatang yang melintas di hadapan mereka. Binatang yang sering dijadikan pegangan ialah burung. Jika binatang itu melintas dari arah kiri ke kanan mereka, menurut mereka hal itu pertanda perjalanan dan rencananya akan sukses, maka mereka pun melanjutkan perjalanan dan rencananya. Dan jika binatang tersebut melintas sebaliknya, maka ini pertanda sial atau malapetaka akan merintangi mereka. Sehingga mereka pun tidak melanjutkan perjalanan dan rencananya.[5]

Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat, dan apalagi dengan aqidah Islam. Karena binatang tersebut bergerak tanpa pertimbangan akal, dan tidak pula ditugaskan Allah untuk memberitahukan hal-hal yang ghaib kepada manusia.

Melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan karena faktor gerak-gerik binatang sebagai ukuran baik dan buruk adalah perbuatan syirik. Karena telah menggantungkan harapan kepada selain Allah. Hal tersebut hanyalah prasangka yang dibisikan setan untuk menjerumuskan manusia ke lembah kesyirikan. Oleh sebab itu, perbuatan tersebut dilarang dalam Islam. Disebutkan dalam sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قاَلَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ  رواه مسلم.

Dari Sahabat Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu berkata: Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Rasulullah, saya baru saja meninggalkan kejahiliyahan. Sesunguhnya Allah telah mendatangkan Islam, dan sebagian kami (pada masa jahiliyah) ada yang mendatangi tukang tenung (dukun),” beliau menjawab, “Engkau jangan mendatangi mereka”. “Dan di antara kami ada yang mengundi nasib dengan burung,” beliau menjawab, “Yang demikian adalah sesuatu yang terbayang dalam dada kalian, maka janganlah hal itu menghambat kalian (dari melakukan sesuatu)”. [HR Muslim].

Dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain disebutkan:

من حديث ا بْنِ مَسْعُودٍ مَرْفُوْعًا : الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلَّا … وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ بْنِ مَسْعُودٍ  (رواه أبو داود والترمذي وصححه . وجعل آخره من قول ابن مسعود)

Dari Sahabat Ibnu Mas’ud secara marfu’ (langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) : “Mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik, mempercayai gerak-gerik burung adalah syirik (beliau mengulanginya dua kali), tiada di antara kita kecuali (pernah terlintas dalam ingatannya), tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakkal kepada Allah”. [HR Abu Dâwud dan at-Tirmidzi; dan at-Tirmidzi menshahîhkannya, dan menganggap akhir hadits tersebut merupakan ungkapan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu].

Dalam dua hadits ini disebutkan, perasaan pesimis yang timbul dengan mendasarkan pada gerak-gerik burung merupakan sikap keraguan belaka. Cara untuk menghilangkan perasaan tersebut, ialah dengan bertawakkal kepada Allah. Karena Allah tidak menjadikan gerak-gerik binatang atau burung sebagai dalil dan tanda-tanda untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih senang kepada sikap optimis dari sikap pesimis, sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ

Dari Sahabat Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar mempercayai gerak-gerik burung, dan aku lebih suka kepada sikap pesimis,” para sahabat bertanya: “Apa sikap pesimis itu?” Beliau menjawab,”Yaitu kalimat yang baik”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

وَلأَبِي دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ، قال : ذُكِرَتْ الطِّيَرَةُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحْسَنُهَا الْفَأْلُ وَلَا تَرُدُّ مُسْلِمًا فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ لَا يَأْتِي بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang shahîh dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Seseorang menyebut di hadapan Rasulullah tentang mempercayai gerak-gerik burung, beliau pun menyanggah; yang terbaik ialah bersikap optimis, jangan sampai hal itu mengembalikan seorang muslim (dari tujuannya); jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang tidak ia senangi, maka hendaklah ia berkata: ‘Ya Allah, tiada yang mampu mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang mampu menolak kejelekkan kecuali Engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) Engkau’.”

Dalam sabda lainnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, barang siapa yang melakukan ath-thiyarah, maka ia telah berbuat syirik. Dan sebagai kafarat, ialah membaca do’a yang beliau sebutkan dalam hadits ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عْنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ  لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ (رواه أحمد، وصححه الألباني في “إصلاح المساجد”: 116)

Dari sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa yang dikembalikan ath-thiyarah dari keperluannya, maka ia telah berbuat syirik”. Para sahabat bertanya: “Apa kafarah untuk itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Dia mengucapkan,’Ya Allah, tiada ketentuan nasib kecuali ketentuan Engkau. Dan tiada (yang dapat memberi) kebaikan kecuali Engkau. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau’.” [HR Imam Ahmad, dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam kitab Islâhul-Masajid, 116].

Ketiga, al-Hâmah.
Yaitu meyakini bahwa burung hantu merupakan jelmaan dari seseorang yang dibunuh, dan pembunuhan itu tidak dibalas dengan pembunuhan pula.
Di antara budaya kaum jahiliyah, yaitu sebuah keyakinan barang siapa yang mati terbunuh lalu tidak dibalas dengan pembunuhan juga, maka ia akan menjadi burung hantu yang senantiasa meminta tolong dan menundukkan wajahnya sampai dibalas atas pembunuhannya.[6]

Keyakinan ini mirip dengan reinkarnasi yang diyakini orang-orang Hindu. Yaitu bila seseorang mati dan memiliki amal yang baik, maka ruhnya akan berpindah pada tubuh baru yang lebih baik. Sebaliknya jika amalnya jelek, maka ruhnya akan berpindah ke tubuh binatang. Keyakinan ini tanpa adanya hari berbangkit dan berhisab, karena mereka tidak mempercayai adanya hari akhirat.[7]

Hal ini banyak pula diyakini oleh orang-orang yang tidak mengerti Islam. Mereka tidak sadar bahwa anggapan ini bertentangan dengan aqidah Islam. Dalam agama Islam, seseorang yang sudah meninggal, ruhnya tidak akan pernah kembali lagi ke dunia, tetapi berada di alam barzah. Keyakinan sebagian orang adanya orang jadi-jadian, seperti jadi ular, babi, harimau, pocong dan seterusnya, ini merupakan keyakinan batil dan kufur.

Sebetulnya yang menyerupai mayat atau yang jadi-jadian tersebur adalah qorin orang tersebut. Qorin, artinya malikat atau jin yang senantiasa bersama manusia semasa ia hidup. Setiap manusia memiliki dua qorin, satu dari malaikat dan satu lagi dari jin. Semasa hidup di dunia, qorin dari malaikat senantiasa memotivasi manusia ke arah yang baik. Adapun qorin dari jin, ia senantiasa memotivasi ke arah yang buruk. Maka yang menyerupai si mayat atau kadangkala berbentuk binatang, ialah qorin dari jin tersebut. Ia dapat menyerupai si mayat dalam bentuk dan suara. Hal ini disebutkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ (رواه مسلم)

Dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu , ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak seorang pun di antara kalian kecuali bersamanya ada qorinnya dari Jin”. Para sahabat bertanya:”Engkau juga, ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah, “Termasuk saya, tetapi Allah telah menolong saya di atasnya, maka saya selamat. Sehingga ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik”. [HR Muslim].

Kata-kata    فَأَسْلَمَ dalam hadits di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya. Ada yang berpendapat bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat darinya berkat bantuan Allah, dan sebagian ulama memahami bahwa qorin tersebut masuk Islam. Wallahu a’lam.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa qorin itu dua, satu dari jin dan satu lagi malaikat.

 وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِيْنُهُ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ (رواه مسلم)

Dan sesungguhnya bersamanya ada  qorrin dari jin dan qorin dari malaikat. [HR Muslim].

Jadi tidak benar anggapan sebagian orang bahwa orang yang sudah mati bila ruh tidak diterima Allah ia akan gentayangan di muka bumi. Akan tetapi ruh yang tidak dibukakan pintu langit untuknya akan ditempatkan di sijjîn, yaitu salah satu bagian alam barzah. Sijjîn merupakan tempat ruh orang-orang kafir.[8]

Adapun ruh para syuhadâ`, mereka berada dalam perut burung surga, ia makan dan minum dari buah-buahan dan sungai-sngai surga, sampai kembali lagi kepada jasadnya yang asli setelah hari berbangkit tiba. Disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ سَأَلْنَا عَبْدَ اللَّهِ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ قَالَ أَمَا إِنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنْ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ  (رواه مسلم)

Dari Masrûq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Abullah bin Mas’ud tentang ayat “Janganlah kalian kira orang-orang yang mati (berjihad) di jalan Allah dalam keadaan mati, tetapi mereka dalam keadaan hidup diberi rizki di sisi Tuhan mereka,” Ibnu Mas’ud menjawab: “Kami telah menanyakan tentang hal itu (pada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ),” beliau bersabda: “Ruh-ruh mereka dalam perut burung hijau, baginya lentera yang digantungkan dengan ‘Arasy, ia berpergian dalam surga kemana saja ia suka”. [HR Muslim].[9]

Keempat, Shafar.
Yaitu meyakini bulan Shafar sebagai bulan sial.
Orang-orang jahiliyah memiliki budaya keyakinan bahwa sebagian hari atau bulan membawa kesialan dan malapetaka. Sebagaimana keyakinan mereka terhadap bulan Shafar dan Syawwal. Pada bulan tersebut, mereka meninggalkan urusan-urusan yang penting atau besar, seperti pernikahan, perniagaan dan perjalanan.

Keyakinan ini juga ditiru oleh sebagian orang-orang sekarang, seperti meyakini malam Jum’at Kliwon (penanggalan Jawa) adalah hari sial dan berbahaya jika pergi ke laut untuk menangkap ikan pada malam itu. Begitu pula meyakini hari Selasa sebagai hari api, maka tidak boleh berpergian pada hari itu, dan masih banyak lagi keyakinan-keyakinan lain yang dihubungkan dengan hari, bulan dan tahun. Begitu pula dengan keyakinan orang-orang Cina dalam menyebut nama-nama tahun. Tahun Naga adalah tahun yang kurang menguntungkan, tahun Kuda adalah tahun yang menguntungkan dan seterusnya.

Keyakinan semacam ini menunjukkan bahwa ada yang dapat mendatangkan mudharat selain Allah. Padahal hari dan bulan hanyalah sekedar tempat dan waktu melakukan aktifitas bagi manusia, sehingga sama sekali tidak ada hubungannya dengan bencana ataupun malapetaka. Semua yang terjadi itu sesuai dengan kehendak Allah dan ketentuan-Nya, tanpa ada campur tangan makhluk sedikit pun dalam mengatur alam raya ini. Oleh karena itu, barang siapa yang meyakini seperti kepercayaan orang jahiliyah tersebut, maka ia telah berbuat syirik dalam tauhid rububiyah. Kerena kebatilan keyakinan itu, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam   mengingkarinya, sebagaimana terdapat dalam hadits yang sedang kita bincangkan ini.

Kelima, an-Nau’. 
Yaitu mempercayai bintang.
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah ialah mempercayai bintang-bintang. Di antara mereka bahkan ada yang menyembah bintang. Mereka meyakini ada bintang-bintang tertentu yang membawa keberkahan dan ada pula bintang-bintang tertentu membawa kesialan dan bencana. Keyakinan ini sangat mendominasi kehidupan orang-orang jahiliyah. Sebagaimana pula sebagian umat meyakini tentang bintang-bintang kelahiran. Mereka menggantungkan harapan dengan bintang-bintang tersebut, seperti mencari jodoh, menentukan pekerjaan yang cocok, dan seterusnya.

Juga di antara keyakinan mereka bila ada bintang jatuh (meteor), maka hal itu sebagai pertanda adanya orang penting yang lahir atau meninggal.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ  

Dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: Salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar menceritakan padaku. Ketika mereka duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, ada bintang (mateor) jatuh memancarkan cahaya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Apa ucapan kalian pada masa jahiliyah ketika ada lemparan (mateor) seperti ini?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui, dulu kami katakan, ‘pada malam ini telah dilahirkan seorang yang terhormat dan telah mati seorang yang terhormat,’ lalu Rasulullah menjelaskan: “Sesunguhnya bintang itu tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Akan tetapi Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala, apabila telah memutuskan sebuah perkara, bertasbihlah para malaikat yang membawa ‘Arasy. Kemudian diikuti oleh para malaikat penghuni langit yang di bawah mereka, sampai tasbih itu kepada para malaikat penghuni langit dunia. Kemudian para malaikat yang di bawah para malaikat pembawa ‘Arasy bertanya kepada para malaikat pembawa ‘Arasy, Apa yang dikatakan Tuhan kita? Lalu mereka memberitahu apa yang dikatakan Tuhan mereka. Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walitnya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan”. [HR Muslim].

Melalui hadits di atas, kita dapat mengetahui beberapa hal, di antaranya sebagai berikut.

  1. Menerangkan keyakinan orang-orang jahiliyah terhadap bintang-bintang.
  2. Menerangkan kebatilan keyakinan tersebut.
  3. Di antara kegunaan bintang. ialah untuk mengusir setan (jin) yang berusaha mencuri berita langit.
  4. Tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung ialah wali-wali setan (jin).
  5. Menerangkan bahwa tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung tidak mengetahui yang ghaib tetapi atas pemberitahuan setan (jin).
  6. Haramnya mempercayai tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung,
  7. Menerangkan bahwa setan (jin) mencampur berita tersebut dengan kebohongan.

Di samping itu orang-orang jahiliyah juga meminta hujan dengan perantaraan bintang-bintang. Semua itu diharamkan bagi setiap muslim karena merupakan kesyirikan yang nyata. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
رواه أبو داود، وقال الشيخ الألباني: صحيح.

Dari Dzaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: Kami diimami Rasulullah shalat Shubuh di Hudzaibiyah pada bekas hujan yang turun pada malam hari. Tatkala Rasulullah selesai, beliau menghadap kepada para jama’ah, lalu bersabda: “Tahukah kalian apa telah dikatakan Rabb kalian?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kata beliau: “Rabb kalian berkata,’Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman dengan-Ku dan ada pula yang kafir. Orang yang mengatakan kita diturunkan hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka orang itu beriman dengan-Ku dan kafir dengan bintang. Adapun orang yang mengatakan kita diturunkan hujan berkat bintang ini dan ini, maka orang itu kafir dengan-Ku, beriman dengan bintang’.” [HR Abu Dawud. Dan Syaikh al-Albani menganggap hadits ini shahih].

Dalam sabda beliau yang lain disebutkan:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ  (رواه مسلم)

Dari Abu Malik al-Asy’ari, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat hal di tengah umatku dari perkara jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan perantaraan bintang-bintang, dan meratapi mayat”. [HR Muslim].

Dalam hadits ini jelas dinyatakan beberapa kebiasaan jahiliyah, di antaranya meminta hujan dengan perantara bintang-bintang. Adapun kebiasaan lain yang disebutkan dalam hadits tersebut akan dijelaskan secara rinci pada poin ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Oleh sebab itu, disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barang siapa yang mempelajari ilmu bintang, maka sesungguhnya ia mempelajari salah satu cabang dari ilmu sihir.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ  (قال الشيخ الألباني : حسن)

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa yang mempelajari ilmu nujum, berarti ia telah mempelajari satu cabang dari sihir, akan selalu bertambah selama ia tetap mempelajarinya”. [HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Menurut Syaikh al-Albâni, hadits ini hasan].

Yang dimaksud ilmu nujum ialah ilmu ramal dengan perantaraan bintang-bintang. Karena bintang memiliki kegunaan lainnya, yaitu sebagai penunjuk arah bagi nelayan di laut, atau bagi musafir ketika berada di tengah gurun pasir. Allah katakan dalam kitab suci Al-Qur`ân:

وَعَلَامَاتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan) dan dengan bintang-bintang mereka peroleh petunjuk (di malam hari). [an-Nahl/16:16]

Imam Qotâdah menerangkan: “Tujuan diciptakan bintang-bintang ada tiga; untuk hiasan bagi langit, sebagai penunjuk arah ketika malam hari, untuk mengusir setan yang mencuri berita-berita langit. Barang siapa yang melewati selain itu, maka ia telah berdusta, telah menghilangkan bagiannya, dan telah berlebih-lebihan untuk mengetahui sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tetangnya”.[10]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan, bahwa bintang yang dijadikan untuk melempar setan tidak sama dengan bintang yang menjadi penunjuk arah bagi pelaut atau bagi orang yang dalam perjalanan di gurun pasir. Karena bintang yang dijadikan untuk melempar setan pindah dari tempatnya, tetapi bintang yang menjadi penunjuk arah tetap di tempatnya, sekalipun semuanya disebut bintang. Sebagaimana penamaan hewan dan binatang yang melata, manusia, binatang ternak, serangga dan lain-lain.[11] Barang kali bintang yang menjadi pelempar setan, biasa kita kenal di negeri kita dengan sebutan meteor. Wallahu a’lam.

Keharaman ilmu nujum atau ilmu ramal, yaitu mempercayai bintang sebagai dalil untuk kejadian-kejadian di bumi tidak diragukan. Disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً (رواه مسلم) 

Barang siapa yang mendatangi tukang tenung (peramal) untuk menanyakan tetang sesuatau, tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. [HR Muslim].

Tukang ramal atau tukang tenung mencakup setiap orang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib yang akan terjadi, seperti dukun, ahli bintang, peramal, dan lain-lain.[12] Anehnya di tengah masyarakat, mereka digelari dengan sebutan orang pintar, untuk mengelabui orang-orang awam.

Keenam, al-Ghûl.
Yaitu mempercayai adanya hantu yang dapat menyesatkan dan mencelakakan manusia dalam perjalanannya.
Menurut anggapan tersebut, hantu itu muncul dalam bentuk berbeda-beda ketika melewati padang pasir lalu menyesatkan dan mencelakakan manusia. Maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan persangkaan tersebut tetapi tidak menafikan keberadaannya. Sedangkan orang-orang jahiliyah, mereka menyakini hantu itu bisa berubah bentuk dan mencelakakan manusia. Kepercayaan ini termasuk syirik, karena menakut-nakuti sesuatu yang ghaib selain Allah dan mempercayai memiliki kemudaratan.[13]

Oleh sebab itu, di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah apabila berhenti atau turun di suatu tempat, mereka berkata: “Aku berlindung dari jin penjaga tempat ini, dari kenakalan orang-orang bodoh mereka”. Maka di antara setan ada yang mencuri barang bawaan mereka. Sehingga mereka memohon kepada jin di tempat tersebut: “Kami adalah tetanggamu,” maka jin tersebut menyahut dan mengembalikan barang-barang mereka.[14]

Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan, jika kita berhenti pada suatu tempat dalam suatu perjalanan hendaklah membaca doa berikut :

إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ (رواه مسلم)

Apabila salah seorang kalian berhenti pada suatu tempat hendaklah ia membaca, a’udzu bi kalimatillahittammati min syarrima kholak (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekkan apa yang telah Dia ciptakan), maka sesungguhnya ia tidak akan diganggu oleh sesuatupun sampai ia meninggalkan tempat tersebut. [HR Muslim].

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ  (رواه مسلم)

Dari Abu Malik al-Asy’ari, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat hal di tengah umatku dari perkara jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan perantaraan bintang-bintang, dan meratapi mayat”. [HR Muslim].

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas ada empat kebiasaan jahiliyah yang amat sulit ditinggalkan oleh sebagian umat ini. Dan agar lebih tertib dan lebih mudah untuk memahami dan menghitung kebiasaan orang-orang jahiliah yang bisa kita kupas dalam bahasan ini, kita lanjutkan nomor di atas sebagai berikut.

Ketujuh, Membanggakan Keturunan.
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, ialah senang membanggakan kebaikan dan kelebihan bapak-bapak mereka. Jelas hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mulia, karena ukuran kemuliaan dalam Islam bukan bentuk yang tampan, wajah cantik, harta banyak, jabatan tinggi, ataupun gelar yang melingkar, akan tetapi kemulian seseorang diukur dengan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahateliti. [al-Hujurat/49:13].

Agaknya standar kemuliaan ini sudah mulai semu pada sebagian pandangan kita, sehingga sebagian memacu kemuliaan di luar ketakwaan. Ketika pandangan masyarakat mulai keliru dalam menilai, saat itu tujuan dan haluan hidup mulai bergeser. Sehingga berbagai penyelewengan terjadi dalam berbagai lini kehidupan. Ada yang menggapainya dengan ketampanan dan kecantikan, sekalipun mempertontonkan aurat di hadapan manusia. Ada pula yang menggapainya dengan harta, sekalipun mendapatkannya dengan cara haram. Ada pula yang menggapainya dengan pangkat dan jabatan, sekalipun memalsukan dokumen dan melakukan penyuapan. Ada lagi yang menggapainya dengan gelar, sekalipun dengan cara membeli. Na’udzubllah min dzalik.

Mudah-mudahan dengan adanya saling mengingatkan, maka pandangan tersebut dapat diluruskan kembali. Mari kita capai kemuliaan dengan ketakwaan kepada Allah. Harta bisa mengantarkan kepada ketakwaan jika dihasilkan dari jalan yang halal dan diinfaqkan pada yang halal. Begitu pula profesi lainnya, hendaklah dijadikan sebagai fasilitas untuk mencapai ketakwaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Begitu juga dengan keturunan. Demi mencari kemuliaan, sebagian orang ada yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah apabila pengakuan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan legalitas perbuatan bid’ah dan kesesatan dalam agama. Sekalipun seseorang benar-benar keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi selama ia tidak benar-benar mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka sesungguhnya hubungan keturunan tidak bernilai di sisi Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)

Dan orang yang dilambatkan amalnya, tidak bisa dipercepat oleh hubungan keturunannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya kepada kedua paman dan putri beliau sendiri, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allah sedikitpun.

قال النبي  : يَا عَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَلِينِي بِمَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا (متفق عليه)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul-Muthalib! Aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Shofiyah paman Rasulullah, aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Fathimah binti Rasulullah mintalah harta kepadaku apa saja yang kau mau, aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Oleh sebab itu, bila seseorang benar-benar dari keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jangan bergantung kepada hubungan keturunan semata. Hubungan keturunan itu akan menjadikan lebih mulia, bila diiringi dengan amal shalih. Sehingga mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari yang lainnya, bukan karena hubungan keturunan semata. Namun jika keluarga Nabi tersebut adalah seorang mukmin yang shalih, maka wajib bagi kita dalam mencintainya melebihi dari yang lainnya. Ini dikarenakan dua hal, karena ketakwaannya dan karena hubungan keturunannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jadi tidaklah benar, kalau ada sebagian orang menilai bahwa Ahlus-Sunnah tidak mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mencintai mereka bukan berarti dengan memberikan kedudukan kepada mereka melebihi dari hak yang diberikan Allah, seperti mengkultuskan mereka dan menganggap mereka maksum dari kesalahan.

Kedelapan, Mencela Keturunan Orang Lain.
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, ialah senang mencela keturunan orang lain. Barang kali perilaku ini dampak dari saling berbangga dengan keturunan. Sehingga untuk membela bahwa keturunannya lebih mulia, kemudian ia mencela keturunan orang lain. Misalnya mengingkari keturunan seseorang, mengingkari orang yang mengaku sebagai keturunan suku tertentu, atau menebarkan aib dan kejelekan keturunan seseorang atau suku tertentu. Ini semua merupakan kebudayaan dan kebiasaan jahiliyah yang harus dihindari oleh seorang muslim.

Pada masa sekarang sering terjadi adanya orang tua yang mengingkari anaknya. Perbuatan ini termasuk dalam larangan hadits tersebut. Sebaliknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang seseorang mengaku sebagai keturunan dari suku tertentu, padahal ia bukan dari mereka. Misalnya orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal ia bukan keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِرَى أَنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ يُرِيَ عَيْنَهُ مَا لَمْ تَرَ أَوْ يَقُولُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ (رواه البخاري)

Sesungguhnya kebohongan yang amat besar di sisi Allah, yaitu seseorang yang mengaku kepada selain bapaknya. Atau mengaku matanya melihat apa yang tidak ia lihat. Atau mengatakan terhadap Rasulullah sesuatu yang tidak beliau katakan. [HR al-Bukhâri].

Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ (متفق عليه)

Barang siapa yang mengaku kepada selain bapaknya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan bapaknya, maka diharamkan baginya surga. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Kesembilan, an-Niyâhah.
Yaitu meratapi mayat.
Di antara adat kebiasaan jahiliyah, yaitu meratapi mayat. Dalam Islam, perbuatan seperti ini diharamkan, karena seolah-olah ia menentang keputusan dan ketetapan Allah.

Pada masa jahiliyah, jika salah seorang dari anggota keluarga meninggal dunia, maka anggota keluarga yang masih hidup meratapinya dengan memukul-mukul muka dan merobek-robek pakaian. Bahkan ada pula yang mengurung diri di rumahnya dan senantiasa berpakaian kumuh sampai akhir hayatnya. Oleh sebab itu, datang ancaman bagi orang yang meratapi mayat di akhir hadits tersebut:

وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ (رواه مسلم)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wanita yang meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibanglitkan pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal panas. [HR Muslim].

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ (متفق عليه)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak termasuk golongan kami siapa yang memukul-mukul muka dan merobek-robek baju serta menyeru dengan seruan jahiliyah”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Pada masa ini, kebiasaan itu masih ditiru oleh sebagian kecil umat ini. Dan yang lebih sesat lagi, mereka menjadikannya sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah Rafidhah setiap tahunnya pada tanggal sepuluh Muharram di padang Karbala. Kebiasaan ini sangat jelas merupakan penentangan yang nyata terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, sebagian lagi menilai bahwa kemajuan itu dicapai dengan mengabaikan norma-norma agama. Ada pula yang beranggapan, agama menjadi penghambat kemajuan, apalagi menjalankan ajaran agama dengan konsekwen dan istiqamah. Kebutuhan ekonomi harus menjadi prioritas utama untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Bahkan demi mengeruk income yang besar dari pariwisata, kebiasaan-kebiasaan kuno kembali dihidupkan sekaligus melestarikan segala budaya-budaya kuno. Misalnya kebiasaan suatu suku yang tidak berpakaian harus dilestarikan, perayaan pemberian sesajian ke gunung dan ke laut serta ke tempat-tempat yang dianggap keramat harus senantiasa dilakukan.

Bukankah ini suatu kekeliruan dalam berpikir dan beragama? Secara akal, perilaku ini bertentangan dengan slogan kehidupan, bahwa hidup ini harus maju dalam segala segi.

Begitu pula ditinjau dari sudut pandang agama, kebiasaan ini sangat bertentangan dengan tugas Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , merobohkan pondasi tauhid dan tiang-tiang agama. Oleh karena itu, kita harus mewaspadai dan selalu siaga dalam menjaga iman. Tidak tertipu dengan berbagai slogan yang seolah indah, tetapi hakikatnya menyesatkan. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk memerangi segala perbuatan jahiliyah?

Wallahu a’lam, washalallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’în.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Al-Istiqâmah, 111.
[2] Al-Iqthidhâ`, 76-77.
[3] Al-Istiqâmah, 78-79.
[4] Taisîr al-‘Azîz, 371-374. Lihat pula Ma’ârijul-Qabûl, 1/985.
[5] Miftâh Darus-Sa’âdah, 2/234.
[6] Al-Bad’u wat-Târîkh, 2/118-119.
[7] Al-Bad’u wat-Târîkh, 4/33. Lihat pula Taisîr al-‘Azîz, 379.
[8] Tafsîr ath-Thabarî, 24/282. Tafsir al-Baghawi, dan Tafsir Ibnu Katsîr, 3/413.
[9] Lihat pembahsan ini dalam Majmu’ al-Fatâwâ. 4/224, 9/289. Ar-Rûh, 39 dan Hadiy al-Arwâh, 17.
[10] Tafsir ath-Thabari, 17/185.
[11] Majmu’ al-Fatâwâ, 35/168.
[12] Majmu’ al-Fatâwâ, 35/173.
[13] Taisîr al-‘Azîz, 380 dan Syarah Qashidah Ibnul-Qayyim, 2/321.
[14] Ma’ârijul-Qabûl, 3/995.

Kesyirikan Kaumnya Nabi Ibrahim Alaihissallam

KESYIRIKAN KAUMNYA NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALLAM

Kaumnya nabi Ibrahim ‘alaihi sallam bernama Shabi’ah[1]. Yang mana mereka mempunyai dua macam kesyirikan, dan keduanya masuk dalam syirik rububiyah dan uluhiyah.

Adapun kesyirikan mereka dalam rububiyah ialah klaim mereka yang mengatakan kalau rajanya yang bernama Namrud bin Kuusy mempunyai hak rububiyah –dia adalah seorang yang lemah yang mengajak manusia untuk beribadah kepadanya-. Dan Allah ta’ala telah mengabadikan kisah perdebatan antara kekasih -Nya nabi Ibrahim bersama raja sombong yang lalim ini yang mengklaim dirinya punya kekuasaan dalam rububiyah. Allah Shubhanahu wa ta’alla menceritakan dalam firman -Nya:

 أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِي حَآجَّ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ فِي رَبِّهِۦٓ أَنۡ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ إِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ [ البقرة: 258 ]

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya  (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim“.[al-Baqarah/2: 258].

Termasuk diantara jenis kesyirikan mereka dalam perkara rububiyah ialah keyakinan adanya pengaruh pada beberapa perkara secara samar yang tidak tampak dari mana sebabnya. Maka jenis kesyirikan ini untuk pertama kalinya muncul di kalangan al-Kaldaniyun, dimana mereka mempunyai keyakinan adanya pengaruh bintang-bintang pada makhluk yang berada dibawah, sebagaimana akan datang penjelasannya.

Adapun muara kesyirikan mereka bersumber pada peribadatan kepada bintang, matahari dan bulan[2], kesyirikan ini berasal di negeri Babilonia, yang kemudian mereka tambah bersama kesyirikan lain yaitu dengan menyembah berhala, dimana mereka beribadah kepada batu yang tuli serta patung yang bisu, adapun penduduk Huran pada zamannya nabi Ibrahim ‘alaihi sallam, mereka biasa beribadah kepada tujuh bintang, maka beliau mendakwahi penduduk Babilonia terlebih dahulu untuk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata baru kemudian beliau mendakwahi penduduk Huran.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Selanjutnya nabi Ibrahim bersama keluarganya pindah dengan tujuan negeri Kan’an yaitu negeri baitul Maqdis, kemudian beliau tinggal di Huran. Adapun penduduknya mereka memiliki kebiasaan menyembah tujuh bintang, dan orang-orang yang memakmurkan kota Damaskus dahulu berada diatas agama semacam ini, mereka biasa menghadap ke kutub utara untuk melakukan ritual ibadah, yaitu menyembah tujuh bintang dengan berbagai macam jenis ritual ibadah baik yang berbentuk perbuatan maupun ucapan, oleh karena itu pada setiap pintu masuk menuju kota Damaskus tempo dulu akan di jumpai disitu kuil untuk acara penyembahan bintang-bintang tersebut, mereka biasa melakukan perayaan dan penyembelihan, oleh sebab itulah penduduk Huran menyembah bintang-bintang serta berhala.

Dan pada zaman tersebut tidak ada yang mukmin di muka bumi ini kecuali nabi Ibrahim al-Khalil, istrinya serta anak saudaranya Luth. Dan melalui nabi Ibrahim lah Allah ta’ala memusnahkan segala macam kejelekan tersebut, serta memberangus segala kesesatan”.[3] Dan kaumnya nabi Ibrahim ‘alaihi sallam –yakni penduduk Babilonia- biasa memproduksi patung yang terbuat dari kayu dan batu, mereka memahatnya menjadi bentuk patung tertentu, sebagaimana di rekam dengan jelas oleh Allah ta’ala didalam ayat -Nya tatkala mengkisahkan nabi -Nya Ibrahim, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ ٩٥ وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ  [ الصافات: 95-96 ]

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu ? Padahal Allah -lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“. [ash-Shaaffat/37: 95-96]

Demikian pula dalam firman -Nya:

 إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ [الأنبياء: 52 ]

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?“. [al-Anbiyaa’/21: 52].

Dan juga di dalam firman yang lain Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:

 وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰل مُّبِين  [ الأنعام: 74 ]

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata“. [al-An’aam/6 : 74].

Selanjutnya dalam ayat yang lain Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menjelaskan:

 وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِبۡرَٰهِيمَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقا نَّبِيًّا ٤١ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِي عَنكَ شَيۡ‍ٔا  [ مريم: 41-42 ]

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun” [Maryam/19 : 41-42]

Artinya, bahwa pada zaman nabi Ibrahim manusia biasa menyembah bintang-bintang sebagaimana manusia pada zamannya nabi Nuh biasa menyembah patungnya orang-orang sholeh. Akan tetapi, pada zamanya nabi Ibrahim manusia lebih parah yang mana mereka menyembah patung dan juga bintang-bintang dilangit.

Di jelaskan oleh ar-Razi dalam tafsirnya, faktor yang menyebabkan manusia beribadah kepada benda-benda dilangit ini, beliau menjelaskan, “Manakala manusia melihat perubahan evolusi yang terjadi di alam semesta ini mempunyai keterkaitan dengan evolusi gugusan bintang di langit, kemudian mereka meneliti perjalanan bintang-bintang tersebut hingga munculnya keyakinan (astrologi) bahwa adanya ikatan yang kuat antara kebahagian didunia dengan peredaran bintang-bintang tersebut, sehingga tatkala keyakinan mereka sampai pada batasan semacam itu akhirnya mereka mengagungkannya.

Hingga ada diantara mereka yang menyatakan, ‘Sesungguhnya benda-benda dilangit suatu benda yang mengharuskan adanya bentuk dengan sendirinya, dialah yang menciptakan jagad raya ini’. diantara mereka ada juga yang punya keyakinan bahwa benda-benda langit tersebut merupakan makhluknya Tuhan terbesar, akan tetapi, benda-benda tadi yang menciptakan alam semesta ini.

Generasi pertamanya punya keyakinan kalau benda-benda langit tersebut merupakan wasilah yang menghubungkan antara manusia dan Allah ta’ala, sudah tentu mereka akan menyibukan diri untuk menyembah dan merendahkan diri kepadanya, kemudian tatkala mereka melihat bintang-bintang tadi tidak kelihatan pada waktu-waktu tertentu maka mereka membikin patung untuk bintang tersebut lalu mereka menyembahnya dengan tujuan peribadatan tersebut sebagai ganti dari peribadatan kepada benda-benda langit dan mendekatkan diri padanya tatkala tidak kelihatan. Selanjutnya tatkala berlalu generasi tersebut dan semakin lama kejadiannya, akhirnya mereka hanya menyembah patung-patungnya, dan murni hanya menyembah berhala-berhala tadi, maka pada dasarnya mereka adalah para penyembah bintang-bintang dilangit”.[4]

Dan Allah azza wa jalla telah menyebut kisah perdebatan yang terjadi antara nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama kaumnya para penyembah bintang dilangit. Dimana nabi Ibrahim ‘alaihi sallam menegaskan bagi mereka kalau benda-benda langit yang bisa disaksikan tersebut tidak pantas untuk menyandang hak ketuhanan dan jangan sampai menyembahnya bersama Allah azza wa jalla. Sebab, itu semua bagian dari makhluk yang di atur, kadang nampak terkadang juga hilang dan tenggelam dari alam semesta, sedangkan Allah ta’ala tidak pernah hilang dari segala sesuatu, dan tidak ada yang tersembunyi bagi -Nya walaupun sekecil atom, Allah ta’ala menegaskan hal tersebut didalam firman -Nya:

 وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ  [ فصلت: 37 ]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan -Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah“. [Fushshilat/41: 37].

Adapun sikap nabi Ibrahim ‘alaihi sallam bersama kaumnya sangatlah beragam, terkadang beliau mengajak dialog ayahnya, terkadang beliau mengajak dialog dengan orang banyak, terkadang beliau mengajak debat rajanya, terkadang beliau melakukan perkara yang membangkitkan kemurkaan lawan debatnya, hingga pernah beliau menghancurkan patung-patung mereka supaya mereka mau berpikir sejenak tentang hakekat patung tersebut, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memasukan beliau ke dalam kobaran api, tapi beliau bisa selamat setelah dilempar kedalamnya, lalu beliau hijrah meninggalkan mereka.

Setelah beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk bisa memberi jalan hidayah kaumnya, dan berusaha untuk menyakinkan mereka dengan menggunakan segala sarana yang ada, tapi tidak terlihat banyak perubahan dan manfaat pada kaumnya, justru balasan yang beliau terima dari kaumnya begitu kasar, mereka melempar dirinya ke dalam kobaran api, yang kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan menjadi dingin serta menyelamatkan.

Beliau juga mengancam ayahnya dengan neraka jahanam kalau masih saja menyembah patung-patung tersebut, tapi, tidak ada yang mau beriman kepada beliau dari kaumnya kecuali istrinya Sarah dan Luth bin Haraan anak dari saudara laki-lakinya. Nabi Ibrahim pun berlepas diri dari perbuatan ayahnya, lalu beliau tidak lagi menempuh cara lemah lembut bersama keluarga dan kaumnya, beliau lalu pergi meninggalkan mereka menuju negeri kaldaniyin kemudian ke negeri Huran, selanjutnya nabi Ibrahim pergi menuju negeri Palestina bersama istrinya Sarah serta anak saudaranya Luth. Dan kejadian tersebut dijelaskan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:

فَ‍َٔامَنَ لَهُۥ لُوطۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ [العنكبوت: 26 ]

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya. dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); Sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. [al-Ankabuut/29: 26].

Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam bersama nabi Luth ‘alaihi sallam lalu tinggal di negeri tersebut yaitu negeri Kan’an. Akan tetapi, beliau tidak lama tinggal disana karena setelah itu beliau pergi ke Mesir, yang saat itu bertepatan dengan kekuasaan raja yang lalim, disana beliau menunjukan seakan-akan yang bersamanya adalah saudaranya, karena raja tersebut ingin mengambil istrinya Sarah akan tetapi tidak sanggup –dengan pertolongan dan karunia Allah Shubhanahu wa ta’alla- bahkan istrinya mendapat hadiah seorang budak wanita yang bernama Hajar, yang beliau hadiahkan kepada suaminya Ibrahim, tatkala budak tersebut dinikahi oleh beliau maka lahirlah seorang bayi laki-laki yang di beri nama Isma’il ‘alihi sallam, selanjutnya nabi Ibrahim menempatkan anaknya di sisi rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla, Ka’bah musyarafah, lalu beliau kembali pulang ke negerinya di Syam.[5]

[Disalin dari  الشرك في قوم إبراهيم Penulis  Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] ash-Shabi’u secara etimologi ialah yang meninggalkan agamanya lalu pindah ke agama lain. Dan sering diartikan secara bebas dengan para penyembah bintang dan benda-bendang langit yang besar. Lihat penjelasannya dalam kitab Lisanul Arab 7/267 oleh Ibnu Mandhur. Al-Milal wan Nihal 2/5-57 oleh asy-Syihristani. Dan dalam kitab I’tiqodaat Firaqil Muslimin wal Musyrikin hal: 9 oleh ar-Razi.
[2] Qawa’idu Jalilah fii Tawasul wal Wasilah hal: 22 dan kitab ar-Radd ‘alal Manthiqiyin hal: 285-286, keduanya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
[3] Bidayah wa Nihayah 1/140. oleh Ibnu Katsir.
[4] Tafsir ar-Razi 2/122.
[5] Qashashul Anbiyaa’ hal: 81-92 oleh Abdul Wahab an-Najjar.

Nabi Maupun Wali Adalah Manusia Biasa, Tidak Berhak Disembah!

NABI MAUPUN WALI ADALAH MANUSIA BIASA, TIDAK BERHAK DISEMBAH

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari

Muhammad adalah ‘abduhu wa rasuluhu. Pensifatan dari Allah bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan sebutan yang paling bagus. ‘Abduhu (yang hambaNya) selain menunjukkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba yang benar-benar tunduk, juga mengandung makna, beliau adalah manusia biasa seperti kita sebagai makhluk yang tidak boleh disembah. Adapun rasuluhu (utusanNya) menunjukkan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang memiliki keistimewaan, sehingga beliau tidak boleh disepelekan. (red)

Islam mengajarkan bahwa ketaatan yang dilakukan manusia, maka kebaikannya untuk dirinya sendiri.  Manusia hanya memiliki apa yang diamalkannya sewaktu di dunia. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya). [Fushilat/41:46].

اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۙ وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰى

Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, [an Najm/53: 38-41]

Oleh karena itulah barangsiapa yang berbuat kebaikan, walaupun seberat debu, maka dia akan melihat balasannya. Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu)pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (debu)pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. [al Zalzalah/99 : 7-8].

Demikian juga pada hari kiamat, harta benda dan anak-anak tidak akan bermanfaat, kecuali bagi orang yang ketika hidupnya menggunakan hartanya untuk mentaati Allah dan membimbing anak-anaknya berbakti kepada Allah Azza wa Jalla.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ  اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ 

Pada hari (kiamat) harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, [asy Syua’ara/26: 88-89]

Setelah kita mengetahui hakikat ini, bahwa setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Allah Ta’ala, maka janganlah seseorang bergantung kepada manusia yang lain. Karena sesungguhnya seluruh manusia itu tidak akan dapat memberikan manfaat dan madhorot, kecuali sekadar apa yang telah Allah tetapkan. Begitu pula dengan para rasul, manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Yang Maha Kuasa, mereka tidak dapat berbuat apapun terhadap kekuasaan Allah Ta’ala.

Berikut sebagian contoh kejadian para rasul yang membuktikan hal tersebut.

Nabi Nuh Alaihissallam
Beliau tidak dapat menolong anaknya yang diterjang banjir besar di hadapan beliau sendiri. Kemudian beliau mengadu kepada Allah tentang kejadian tersebut, namun ketetapan Allah tidak dapat dibatalkan oleh keinginan beliau. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ 

Dan Nuh berseru kepada Rabb-nya sambil berkata: “Ya Rabb-ku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMu itu benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. Nuh berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”.[Huud/11:45-47]

Nabi Ibrahim Alaihissallam
Permohonan ampun untuk bapaknya ditolak, karena bapaknya mati dalam kekafiran. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. [at Taubat/9:114].

Nabi Luth Alaihissalam
Beliau tidak dapat menolak siksa Allah dari isterinya. Sehingga Allah menjadikan isteri beliau sebagai contoh bagi orang-orang kafir. Allah berfirman:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”. [at Tahriim/66:10].

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagaimana para nabi lainnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa. Beliau seorang hamba Allah. Beliau tidak memiliki hak rububiyah (berkuasa terhadap alam semesta) maupun hak uluhiyah (diibadahi, disembah) sedikitpun. Akan tetapi pada zaman ini banyak orang yang melewati batas dalam memperlakukan diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka beranggapan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberikan pertolongan jika umat berdoa kepadanya. Anggapan ini merupakan perbuatan yang menyimpang.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengumumkan, bahwa beliau sama sekali tidak dapat mendatangkan manfa’at dan tidak pula dapat menolak kemudharatan bagi diri sendiri,  kecuali yang dikehendaki Allah. Maka bagaimana bagi orang lain? Allah berfirman:

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.[al A’raaf/7:188].

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumumkan kepada para kerabatnya, bahwa beliau tidak mampu menolak siksa Allah yang menimpa mereka, maka bagaimana terhadap orang yang jauh dari beliau? Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ }وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين{َ قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –asy Syua’raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata,’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muth-tholib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.” [HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya].

Selain penjelasan di atas, kita dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga hilanglah berbagai syubhat (kesamaran) pada orang-orang yang menjadikan beliau sebagai sesembahan selain Allah Azza wa Jalla . Berikut kami sebutkan di antara peristiwa-peristiwa tersebut.

PELAJARAN DARI KEMATIAN ABU THALIB
Dalam peristiwa kematian pamannya tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu memberikan petunjuk kepada Abu Thalib, walaupun beliau menginginkan hal itu. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini:

عَنْ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Dari Sa’id bin Musayyab, dari bapaknya (Musayyab bin Hazn), dia berkata: Tatkala (tanda) kematian datang kepada Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah berada di dekatnya. Lalu beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali,”Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus-menerus menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darimu,” maka Allah menurunkan (ayatNya) “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” – at Taubat/9 ayat 113- Dan Allah menurunkan (ayatNya) tentang Abu Thalib “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya”. – al Qashash/28 ayat 56. [Hadits shahih riwayat Bukhari, no. 4772; Muslim, no. 24].

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, waktu itu Abu Thalib menjawab dengan perkataan:

لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ يَقُولُونَ إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لَأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ

Seandainya suku Quraisy tidak akan mencelaku, yaitu mereka akan mengatakan: “Sesungguhnya yang mendorongnya (Abu Thalib) mengatakan itu hanyalah kegelisahan (menghadapi kematian),” sungguh aku telah menyenangkanmu dengan kalimat itu. [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 25].

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Dan di antara hikmah ar Rabb (Sang Penguasa, Allah) Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada Abu Thalib menuju agama Islam, agar Dia menjelaskan kepada hamba-hambaNya bahwa (petunjuk menuju Isalm) itu hanya hak Allah, Dia-lah Yang Berkuasa, siapa saja selainNya tidak berkuasa. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang merupakan makhlukNya yang paling utama- memiliki sesuatu (hak, kekuasaan) memberi hidayah hati, menghilangkan kesusahan-kesusahan, mengampuni dosa-dosa, menyelamatkan dari siksa, dan semacamnya, maka manusia yang paling berhak dan paling utama mendapatkannya adalah pamannya, yang dahulu melindunginya, menolongnya, dan membelanya. Maka Maha Suci (Allah) yang hikmahNya mengagumkan akal-akal (manusia), dan telah membimbing hamba-hambaNya menuju apa yang menunjukkan kepada mereka terhadap ma’rifah (pengenalan) dan tauhid (pengesaan) kepadaNya, dan mengikhlasakan serta memurnikan seluruh amal hanya untukNya”.[1]

PELAJARAN DARI QUNUT NAZILAH

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ الْفَجْرِ يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , jika setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ dari raka’at yang akhir dari shalat Subuh, beliau mengucapkan: “Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan,” setelah beliau mengatakan “Sami’allahu liman hamidah Rabbanaa walakal hamdu,” kemudian Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. -Ali Imran/3:128.” [HR Bukhari, no. 4069].

Dalam riwayat lain disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ وَسُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو وَالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ فَنَزَلَتْ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kecelakaan kepada Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan al Harits bin Hisyam, lalu turun (ayat): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. –Ali Imran/3:128.” [HR Bukhari, no. 4070].

Syaikh Shalih al Fauzan berkata: “Dalam hadits tersebut terdapat keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu menolak gangguan musyrikin dari diri beliau dan dari para sahabat beliau, bahkan beliau berlindung kepada Rabb-nya, al Qadir (Yang Maha Kuasa), al Malik (Yang Memiliki). Ini termasuk perkara yang menunjukkan kebatilan terhadap apa yang diyakini oleh penyembah kubur tentang para wali dan orang-orang shalih (yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan dan menghilangkan kesusahan, pen)”.[2]

PELAJARAN DARI PERANG UHUD
Tentang sifat manusia sebagai makhluk yang terdapat pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , juga ditunjukkan oleh musibah yang dialami dalam kehidupan beliau, seperti di dalam peperangan Uhud. Imam Muslim meriwayatkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Dari Anas: “Sesungguhnya pada peperangan Uhud, gigi geraham Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam patah, dan kepala beliau terluka, maka beliau mengusap darah dari kepala beliau sambil mengatakan: ‘Bagaimana akan mendapatkan keberuntungan, satu kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan mematahkan gigi gerahamnya, sedangkan Nabi itu mengajak mereka menuju (peribadahan kepada) Allah?’ Maka Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu“. -QS Ali Imran/3 ayat 128. (Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1791).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Terjadinya sakit dan ujian kepada para nabi –semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada mereka- adalah agar mereka mendapatkan pahala yang besar, dan agar umat mereka mengetahui apa yang telah menimpa mereka dan umat itu meneladani mereka”.

Al Qadhi rahimahullah berkata: “Dan agar diketahui, sesungguhnya mereka (para nabi itu) termasuk manusia, ujian-ujian dunia juga menimpa mereka, dan apa yang mengenai tubuh-tubuh manusia juga mengenai tubuh mereka; agar diyakini, mereka adalah makhluk, yang dikuasai (oleh Allah). Dan agar umat tidak tersesat dengan mu’jizat-mu’jizat yang muncul lewat tangan mereka, dan setan mengaburkan dari perkara para nabi sebagaimana yang telah dia kaburkan terhadap orang-orang Nashrani dan lainnya”.[3]

Dengan keterangan yang ringkas ini, semoga jelas bagi kita tentang kedudukan Nabi yang mulia. Sehingga kita menempatkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana layaknya. Alhamdulillah. Dan setelah mengetahui ini semua, lalu bagaimanakah dengan keadaan orang-orang pada masa sekarang ini, yang memohon dan meminta pertolongan kepada para nabi atau wali atau orang shalih atau kubur mereka? Sungguh tidak tidak diragukan lagi, perbuatan itu hanyalah sia-sia, dan bahkan termasuk perbuatan musyrik.

Semoga Allah selalu menjaga kita dari perbuatan musyrik, dan segala perkara yang mengantarkan kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Fathul Majid, Penerbit Dar Ibni Hazm, hlm. 191-192.
[2] Al Mulakhas fii Syarh Kitab at Tauhid, hlm. 108.
[3] Dinukil dari Fathul Majid, Penerbit Dar Ibni Hazm, hlm. 166-167.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERSELISIHAN

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Hikmah Allâh Azza wa Jalla menetapkan adanya perbedaan dan perselisihan diantara manusia. Diantara penyebabnya adalah adanya perbedaan ilmu, kecerdasan, sifat, pengalaman,  lingkungan, dan lain-lainnya. Oleh karena itu perselisihan merupakan takdir Allâh Subhanahu wa Ta’alayang pasti terjadi. Karena perselisihan sudah terjadi dan pasti akan terus terjadi, maka sangat penting bagi kita memahami beberapa hal yang berkait dengan masalah ini, sehingga kita bisa menyikapinya dengan benar. Semoga tulisan singkat ini bisa  menambah wawasan kita seputar masalah yang besar ini.

Apa Hikmah Adanya Perselisihan ?
Semua takdir Allâh Azza wa Jalla pasti mengandung hikmah, karena Allâh Azza wa Jalla adalah al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang hikmah penciptaan dalam beberapa ayat al-Qur’ân, diantaranya adalah :

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Maha suci Allâh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [al-Mulk/67: 1-2]

Juga firman-Nya.

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” [Hûd/11: 7]

Juga firman-Nya.

اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. [al-Kahfi/18: 7]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa diantara hikmah Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk ini adalah sebagai ujian bagi manusia, agar tampak siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. Termasuk adanya perselisihan bahkan perpecahan  diantara manusia atau bahkan di antara kaum muslimin, adalah sebagai ujian siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu agar Allâh Azza wa Jalla menguji kamu. Karena Dia telah menciptakan apa saja yang ada di langit dan di bumi dengan disertai perintah-Nya dan laranganNya, lalu Dia akan melihat siapa diantara kamu yang paling baik perbuatannya. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, ‘Yang paling ikhlas  dan paling shawab (benar)’. Beliau ditanya, ‘Hai Abu ‘Ali, apakah (yang dimaksud dengan) ‘yang paling ikhlas  dan paling shawab (benar)?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya amalan itu jika ikhlas, tetapi tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika benar, tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Amal akan diterima jika ikhlas dan benar. Ikhlas maksudnya amalan itu untuk wajah Allâh dan benar maksudnya amalan itu mengikuti syari’at dan sunnah”[1].

Macam-Macam Perselisihan dan Hukum Orang yang Berselisih
Perselisihan itu banyak jenisnya. Oleh karena itu merupakan kesalahan ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu buruk dan tercela. Juga ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu boleh, bahkan merupakan rahmat. Yang benar adalah mensikapi perselisihan itu sesuai dengan sebab-sebab perselisihan itu. Ada beberapa bentuk perselisihan di antara manusia sebagai berikut :

1. Bentuk atau jenis perselisihan yang terpenting dan terbesar adalah perselisihan (perbedaan) antara iman dengan kekafiran, antara ketaatan dengan kemaksiatan, antara al-haq dengan al-batil. Perselisihan jenis ini, salah satunya terpuji, sedangkan yang satu lagi tercela.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. [at-Taghâbun/64: 2]

 Juga firman-Nya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allâh meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allâh menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. [al-Baqarah/2: 253]

Perselisihan ini terjadi dengan kehendak dan takdir Allâh Azza wa Jalla , dan Allâh memiliki hikmah yang sempurna dalam semua takdirnya. Dan dari sebab perselisihan ini muncul sikap saling membenci, memisahkan diri, bahkan saling memerangi. Walaupun orang-orang beriman dilarang berbuat zhalim kepada siapapun. Karena perselisihan yang disebabkan iman dan kekafiran ini adalah perselisihan pokok. Perselisihan ini akan terus berlangsung, perselisihan antara al-haq dengan al-batil, antara wali-wali Allâh dengan musuh-musuh-Nya, antara hizbullah (golongan Allâh) dengan hizbusy syaithan (golongan setan).

Kebenaran yang ada dari perselisihan jenis ini jelas berada di pihak para Rasul dan pengikut mereka. Maka barangsiapa ingin selamat, bahagia, dan ingin sukses, hendaklah dia bergabung dengan pihak ini. Barangsiapa berada di pihak yang lain, maka dia telah menentang Allâh dan Rasul-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

 ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allâh dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allâh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allâh Amat keras siksaan-Nya. [al-Anfâl/8: 13)]

Perbedaan yang jelas ini juga berdampak pada kondisi akhir masing-masing golongan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

  هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ  يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍكُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِإِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ  

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. Sesungguhnya Allâh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. [Al-Hajj/22: 19-23]

 Dan perlu diketahui bahwa mayoritas manusia berada dalam golongan setan, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman. [al-Mukmin/40: 59]

Juga firman-Nya.

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6: 116]

2. Di antara bentuk perselisihan atau perbedaan yang ada di kalangan manusia adalah perselisihan di antara agama-agama kafir. Dalam perselisihan jenis ini, semua pelakunya tercela, semuanya berada di dalam kesesatan, walaupun dengan derajat kesesatan yang berbeda-beda.

Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ –  بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ- وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍۖ  وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.  (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allâh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  Orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” Padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allâh akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. [al-Baqarah/2: 111-113]

3.  Diantara bentuk perselisihan atau perbedaan adalah perselisihan diantara umat Islam. Penyebabnya adalah perbedaan dalam berpegang kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak kaum Muslim tidak berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dengan benar, sehingga terjerumus dalam berbagai kesesatan. Mereka menjalankan agama dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Sebagian mereka memiliki keyakinan yang tidak ada dalilnya dari wahyu Allâh Azza wa Jalla , sehingga muncul berbagai firqah (golongan) di kalangan umat ini. Mereka membuat atau mengikuti berbagai bid’ah (perkara baru di dalam agama), lalu menganggapnya sebagai agama. Mereka berselisih satu sama lain, dan masing-masing golongan berbangga dengan perkara yang ada padanya.

Perselisihan antar golongan di kalangan umat Islam ini juga berbahaya, karena hal itu akan melemahkan mereka dan menghilangkan kewibawaan mereka. Bahkan golongan-golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah, dari jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mereka diancam dengan neraka, sebagaimana disebutkan di dalam hadits al-firqatun-najiyah sebagai berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang Yahudi telah bercerai-berai menjadi 71 kelompok, satu di dalam sorga, 70 di dalam neraka. Orang-orang Nashoro telah bercerai-berai menjadi 72 kelompok, 71 di dalam neraka, satu di dalam sorga. Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, umatku benar-benar akan bercerai-berai menjadi 73 kelompok, satu di dalam sorga, 72 di dalam neraka”. Beliau ditanya: “Wahai Rasûlullâh! siapa mereka itu?”, beliau menjawab, “al-Jama’ah”.[2]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh umatku akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sepasang sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan, dikalangan umatku benar-benar ada yang akan melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Isra’il telah bercerai-berai menjadi 72 agama, dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama, semuanya di dalam neraka kecuali satu agama”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya”.[3]

Perselisihan di kalangan umat Islam ini dari satu  sisi menyerupai perselisihan antara kaum Mukminin dengan orang-orang kafir, karena perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan semua ahli bid’ah adalah perselisihan tadhad (kontradiksi). Ahlus Sunnah di tengah-tengah ahli bid’ah adalah seperti umat Islam di tengah-tengah orang-orang kafir. Meski jumlah mereka sedikit, namun kebenaran selalu berada di pihak Ahlus Sunnah, yaitu orang-orang yang berpegang dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan ahli bid’ah tetap dalam penyimpangan mereka. Penyimpangan mereka bervariasi, semakin jauh dari Sunnah, maka kesesatan mereka juga semakin besar. Semakin dekat kepada Sunnah, kesesatan mereka semakin sedikit.

Perselisihan di antara umat Islam ini benar-benar terjadi, bahkan telah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan as-Sunnah.  Karena Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa umat-umat zaman dahulu telah berpecah-belah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ 

Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. [asy-Syûra/42:14]

Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti perilaku umat-umat zaman dahulu, termasuk perbuatan mereka yang berselisih dan berpecah belah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga seandainya mereka melewati lobang dhob (satu jenis kadal pasir), kamu benar-benar juga akan melewatinya”. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah anda maksudkan orang-orang Yahudi dan Nashoro?” Beliau menjawab: “Siapakah selain mereka?”[4]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki bahwa umatnya tidaklah meninggalkan sesuatupun yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro kecuali umat ini melakukan semuanya. Mereka tidak akan meninggalkan sesuatupun darinya. Oleh karena itulah Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan Yahudi. Dan orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan dan Nashoro”. Alangkah banyaknya dua kelompok ini. Akan tetapi di antara rohmat Alloh dan nikmatNya, tidak menjadikan umat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan”.[5]

Di antara contoh hal ini adalah penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ (وفي رواية: فَاقْتُلُوهُ )

Dari ‘Arfajah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi musibah demi musibah. Maka barangsiapa ingin mencerai-beraikan umat ini, saat mereka bersatu, maka pukullah dia dengan pedang, siapapun dia”. (Dalam riwayat lain, “maka bunuhlah dia”[6].

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat perintah memerangi orang yang memberontak terhadap imam, atau ingin mencerai-beraikan kaum Muslimin atau perbuatan sejenis lainnya. Dia dilarang dari hal itu, jika dia tidak berhenti, maka dia diperangi. Jika kejahatannya tidak tertolak kecuali dengan membunuhnya, maka dia dibunuh, dan kematiannya sia-sia. Maka sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maka pukullah dia dengan pedang”, pada riwayat lain, “Maka bunuhlah dia”, maksudnya, jika tidak tertolak kecuali dengan itu”[7].

Ada juga perselisihan di antara Ahlus Sunnah, namun perselisihan ini bukan dalam masalah-masalah pokok dalam aqidah, tidak sebagaimana perselisihan antar sesama ahli bid’ah, atau perselisihan ahli bid’ah dengan Ahlus Sunnah.

Perselisihan sesama Ahlus Sunnah ini ada dua jenis :
1. Perselisihan tanawwu’ (perselisihan variasi), yaitu jenis perselisihan yang kedua pihak yang berselisih berada dalam kebenaran dan terpuji. Namun mereka akan berdosa jika berbuat zhalim terhadap pihak lain, atau mengingkari kebenaran yang ada di pihak lain. Contoh, kejadian yang dikisahkan dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَجُلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَأَتَيْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ قَالَ شُعْبَةُ أَظُنُّهُ قَالَ لاَ تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki membaca sebuah ayat, yang (bacaan)nya menyelisihi yang telah aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka aku pegang tangannya, dan aku bawa kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau bersabda, “Kamu berdua telah berbuat sebaik-baiknya.” Syu’bah berkata: Aku sangka dia mengatakan: “Janganlah kamu berselisih, karena orang-orang sebelum kamu telah berselisih, lalu mereka binasa”. [HR. Bukhari no: 2410]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perselisihan yang di dalamnya orang-orang yang berselisih menolak kebenaran yang ada pada pihak lain. Karena dua orang yang membaca (al-Qur’an) itu telah benar bacaan. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasan (larangan) tersebut adalah kebinasaan orang-orang sebelum kita akibat perselisihan”.

Syaikhul Islam rahimahullah juga bmengatakan: “Ketahuilah, bahwa mayoritas perselisihan antara umat, yang melahirkan hawa-nafsu, engkau dapati termasuk jenis ini, yaitu: setiap orang dari orang-orang yang berselisih itu benar, atau sebagiannya benar, tetapi dia keliru karena telah menafikan kebenaran yang ada pada orang lain.”[8]

2. Perselisihan tadhâd (perselisihan kontradiksi), perselisihan ini ada dua jenis:
a. Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran satu pendapat dari pendapat-pendapat yang ada.
Dalam hal ini,  pendapat yang benar adalah pendapat yang sesuai dengan dalil, yang lain salah. Namun jika orang-orang yang berselisih ini berijtihad, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, dengan disertai keikhlasan, maka mereka semua terpuji dan mendapatkan pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang hakim menghukumi, dia telah berijtihad, lalu ketetapannya sesuai dengan kebenaran, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia menghukumi, dia telah berijtihad, lalu dia melekukan kesalahan, maka dia mendapatkan satu pahala. [HR. Bukhâri, no. 7352; Muslim, no.1716]

b. Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan tidak terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran salah satu dari dua pendapat yang berselisih.
Maka dalam masalah ini, kedua pendapat itu boleh diikuti dan semua pihak yang telah berijtihad terpuji dan mendapatkan pahala, wallahu a’lam bishh shawwab.

Contoh hal ini adalah sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhu sebagai berikut :

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ الأَحْزَابِ « لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى قُرَيْظَةَ » . فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّى لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ . فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Ketika kami telah kembali dari perang Ahzâb, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Janganlah seseorang melakukan shalat Ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah!”. Sebagian mereka (sahabat) mendapati waktu shalat Ashar di jalan, maka sebagian mereka berkata, “Kita tidak akan melakukan shalat Ashar sampai mendatanginya”. Sebagian yang lain berkata, “Kita melakukan shalat Ashar (sekarang), tidak dikehendaki dari kita hal itu (yakni shalat Ashar di kampung Bani Quraizhah walaupun habis waktunya-pen)”. Hal itu disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka. sampai mendatanginya”. [HR. Bukhâri, no. 946 dan 4119]

Solusi Perselisihan
Kewajiban seorang Muslim adalah berpegang teguh denan al-Qur’ân dan as-Sunnah, dan bersikap adil dalam hukum dan perkataan. Bersikap adil dalam menghukumi antara orang Muslim dengan orang kafir, antara Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah, antara orang yang taat dengan orang yang bermaksiat, dengan menerima kebenaran dari orang yang membawanya, jika telah nyata kebenarannya.

Tidak boleh fanatik kepada pendapat pribadinya, atau pendapat gurunya, atau pendapat siapapun yang menyelisihi al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Dan kewajiban semua orang Muslim untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allâh dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian.” [an-Nisâ’/4:59]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla perintahkan manusia agar mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’alamengulangi kata kerja (yakni: ta’atilah !) dalam rangka memberitahukan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara otonomi, dengan tanpa meninjau ulang perintah beliau dengan al-Qur’an. Jika beliau memerintah, maka wajib ditaati secara mutlak, baik perintah beliau itu ada dalam al-Qur’ân atau tidak ada. Karena sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi al-Kitab dan yang semisalnya.”[9]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian Allâh memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allâh dan Rasul-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman. Dan Allâh Azza wa Jalla memberitakan kepada mereka, bahwa itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik akibatnya di akhirnya. Ini memuat beberapa perkara :

  1. Orang-orang yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum. Perselisihan ini tidak menyebabkan mereka keluar dari iman, selama mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul-Nya, sebagaimana yang disyaratkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa (jika) sebuah hukum ditetapkan dengan sebuah syarat (tertentu), maka hukum itu akan hilang seiring dengan hilangnya syarat.
  2. Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,” mencakup seluruh masalah agama yang diperselisihkan oleh kaum Muslimin, baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak jelas maupun yang masih samar.
  3. Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa mengembalikan kepada Allâh maksdunya adalah mengembalikan kepada kitab-Nya; mengembalikan kepada Rasul-Nya (maksudnya) adalah mengembalikan kepada diri beliau di saat hidup beliau, dan kepada Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafat beliau.
  4. Allâh Azza wa Jalla menjadikan keharusan mengembalikan seluruh perkara yang diperselisihkan kepada Allâh dan Rasul-Nya sebagai kewajiban dan konsekwensi iman. Jika ini tidak ada, maka iman hilang.[10]

Oleh karena itu, seorang Mukmin harus menerima dengan sepenuh hati, jika datang kepadanya dalil dari al-Qur’ân, atau hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan pemahaman yang benar, pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kesimpulannya, orang-orang yang berselisih wajib mengembalikan semua permasalahan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika ia tidak mampu mengembalikan kepada keduanya, karena tidak memiliki ilmu tentang nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, maka kewajibannya adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Oleh karena itu, menghormati para ulama itu wajib, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi, tidak bersikap ghuluw (melewati batas).

Inilah sedikit tulisan berkaitan dengan masalah ini, semoga Allâh selalu memberikan bimbingan kepada kita di atas jalan yang Dia cintai dan ridhai, menganugerahkan keikhlasan niat dan kebenaran amalan, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa mengabulkannya.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhamad, keluarganya, dan para sahabatnya, al-hamdulillahi rabbil ‘alamin.

(Makalah ini banyak mengambil manfaat dari muhadharah (ceramah) syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barraak dengan judul Mauqiful Muslim minal Khilaf (Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XV/1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Taisîr Karîmir Rahmân, surat Hûd, ayat ke-7
[2] HR.Ibnu Majah no: 3992; Ibnu Abi Ashim, no: 63; Al-Lalikai 1/101. Hadits ini berderajat Hasan. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no: 3226
[3] Hadits Shahih Lighairihi riwayat Tirmidzi, al-Hâkim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dan asy-Syathibi, dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan Syaikh al-Albani. Syeikh Salim al-Hilali menulis kitab khusus membela hadits ini dalam sebuah kitab yang bernama “Daf’ul Irtiyab ‘An Haditsi Maa Ana ‘Alaihi Wal Ash-hab
[4] HR. Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669
[5] Fathul Majid, hal: 240, penerbit: Dar Ibni Hazm
[6] HR. Muslim, kitab: Imaâah, no: 1852
[7] Shahih Muslim, Syarh Nawawi 12/241-142
[8] Iqtidhâ’ Shirâthil Mustaqîm
[9] I’lâmul Muwaqqi’in 2/46), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H
[10] Diringkas dari I’lamul Muwaqqi’in 2/47-48), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H

Bersatu Dengan Ilmu Syar’i

BERSATU DENGAN ILMU SYAR’I

Oleh
Syaikh Riyadh Al Huqail

الحمد لله وحده و الصلاة و السلام على رسول الله وآله وصحبه … وبعد

Tidak diragukan lagi, bahwa kejadian-kejadian yang terjadi di Palestina atau di beberapa tempat lainnya, sangat menggetarkan rasa. Membuat banyak mata meneteskan air mata dan menyebabkan hati berduka. Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.

Dalam benak kami, bahwa semua orang Islam -meskipun hanya sekedar mengaku Islam- pasti sangat mengharapkan adanya penyelesaian problema-problema umat ini, serta kemenangan dan kejayaannya. Bagaimanakah cara dan apa solusinya?

Allah Azza wa Jalla berfirman.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung, Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“. [Al Anfal/8:45-46]

Ayat ini mengandung lima masalah penting, yang merupakan faktor–faktor kemenangan, kejayaan dan ketegaran di atas kebenaran. Yaitu banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, taat kepada Allah dan RasulNya, bersatu dan menghindari perpecahan, serta sabar. Semua itu, setelah lurusnya keimanan kita. Karena ayat di atas berbicara kepada orang-orang yang beriman.

Diantara masalah penting yang merupakan penyebab terbesar terwujudnya kemenangan, ialah persatuan dan kesatuan barisan di depan musuh. Sebagaimana firman Allah.

وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu“. [Al Anfal/8:46].

Bagaimanakah Cara Membuang Perpecahan dan Perselisihan itu?
Banyak orang yang berbicara mengenai jalan mewujudkan persatuan. Masing-masing mengajukan konsep. Dan semuanya sangat menginginkan persatuan. Namun bagaimana metode yang benar dalam mewujudkannya?

Banyak orang sangat menginginkan persatuan, tetapi belum berpegang teguh kepada yang haq. Dari sinilah mulai muncul kesalahan dan menimbulkan keretakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Ketika manusia meninggalkan sesuatu yang diperintahkan –maka- pasti akan terjadi permusuhan diantara mereka. Jika satu kaum sudah berpecah-belah, maka mereka akan berantakan dan binasa. Jika bersatu-padu, maka mereka akan baik dan berkuasa. Sesungguhnya berjama’ah (bersatu) itu merupakan rahmat dan perpecahan itu sebagai adzab.”[1]

Perkataan ini diambil dari firman Allah Azza wa Jalla.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk“. [Ali Imran/3:103].

(Dalam ayat ini, red.) Allah memulai dengan (perintah, red.) berpegang teguh kepada al haq dan tali Allah, sebelum memerintahkan untuk bersatu …… Perhatikanlah!

Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Al Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu.

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ

“… Sesungguhnya, barangsiapa yang masih hidup diantara kalian, maka dia akan melihat perbedaan-perbedaan yang banyak … maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin setelahku. Gigitlah ia dengan gigi geraham (peganglah dengan sekuat-kuatnya-pent). Dan hendaklah kalian menjauhi semua perkara-perkara yang baru…… [HR Abu Daud].

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan penyakit dan obatnya, problema dan solusinya.

Obat perselisihan dan perpecahan ialah berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan petunjuk para sahabat dan Salafush Shalih.

Sendainya kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa persatuan itu belum terwujud? Apa yang menjadi sebab perpecahan umat ini? Padahal keinginan untuk bersatu itu sangat kuat? Jawabnya : Bahwa umat ini sangat menginginkan satu tujuan, (tetapi) tanpa usaha yang benar dalam menempuh jalannya. Alangkah banyak orang membicarakan persatuan dan kesatuan. Ini merupakan fenomena yang bagus, namun berapakah jumlah orang yang berbicara tentang jalan yang benar dan manhaj yang haq, yang merupakan satu-satunya jalan mewujudkan persatuan?

Berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana pehamanan para Salafush Shalih, itulah jalan sebelum menginginkan persatuan. Tanpa itu, persatuan tidak mungkin terwujud. Persatuan macam apapun juga, tanpa dilandasi dengan manhaj yang benar, maka tidak akan bertahan lama.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)“. [Al Baqarah/2:138]

Dalam hadits tentang firqatun najiyah (kelompok yang selamat), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa yang dimaksud ialah al jama’ah. Dalam riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku tempuh dengan para sahabatku“.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ

Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian satu peninggalan, selama kalian berpegang teguh dengannya setelahku, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kitab Allah dan Sunnahku“.

Dan benarlah perkataan Imam Malik rahimahullah yang sangat terkenal,“Tidak akan baik akhir umat ini, kecuali dengan apa yang membuat awalnya menjadi baik.”

Jika memperhatikan sejarah Islam pada periode awal di Madinah, kita dapatkan telah terjadi kata sepakat antara para sahabat dari kalangan Aus dan Khazraj, antara kaum Anshar dan Muhajirin ; fanatisme golongan sirna, dan lenyap pula perbedaan-perbedaan. Itu semua terwujud, karena semua akal dan hati telah terfokus kepada Sang Pencipta langit dan bumi, dan telah berpegang teguh dengan tali (agama) Allah yang kuat.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَافِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مَّآأَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka“. [Al Anfal/8:63].

Namun setelah masa Khulafaur Rasyidin habis atau di akhir-akhir masa itu, mulai terjadi perpecahan dan keretakan. Kapankah hal itu terjadi? Jawabnya sangat jelas bagi orang yang mau merenungi dan berpikir, yaitu manakala bid’ah mulai muncul dan ketika hawa nafsu mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Jadi bid’ah dalam agama merupakan sebab pertama terjadinya perpecahan umat ini, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya“. [Al An’am/6:153].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan,“Perkara bid’ah itu diiringi oleh perpecahan, sebagaimana perkara sunnah pasti beriringan dengan jama’ah.”[2]. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari perbuatan-perbuatan bid’ah. Beliau mengingatkan kita dengan keras.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak termasuk agama kami, maka amalan itu tertolak“.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

لَعَنَ اللهُ مَنْ أَحْدَثَ أَوْ آوَى مُحْدِثًا

Allah melaknat siapa saja yang membuat kebid’ahan atau melindungi orang yang membuat bid’ah“.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Semua bid’ah itu adalah sesat“.

Juga dijelaskan, bahwa pelaku bid’ah terhalang dari pintu taubat sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya. Dan masih banyak lagi nash-nash lainnya, bahkan sikap-sikap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan ketegasan kepada orang-orang yang membuat bid’ah dalam agama dan orang-orang yang ingin menambah-nambah agama. Sebagaimana sikap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada tiga orang yang memperbincangkan ibadahnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu mereka ingin menambah-nambah dan ingin memaksa diri. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّيْ

Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka dia bukan golongan kami“.

Sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap lemah-lembut dan kasih-sayang kepada pelaku perbuatan maksiat, dengan tanpa memandang remeh pada perbuatan maksiat itu sendiri, sebagaimana kisah seorang pemuda yang ingin berzina (lalu bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan yang lainnya.

Berdasarkan data ini, para ulama salaf memperingatkan kita dari ahlul bid’ah.

Al Hasan mengatakan,“Janganlah kalian mempergauli ahli bid’ah. Jangan mendebat mereka dan juga jangan mau mendengar mereka.”

Yahya bin Katsir berkata,“Jika engkau berjumpa dengan ahlu bid’ah dalam satu jalan, maka ambillah jalan yang lain.”

Pembahasan ini -sebagaimana dikatakan oleh para ulama’- memiliki banyak cabang (sub-sub pembahasan). Barangsiapa yang ingin mendalaminya, maka hendaklah membaca kitab Al I’tisham yang disusun oleh Imam As Syathibi rahimahullah.

Intinya ialah tidak ada jalan untuk mewujudkan persatuan umat ini, kecuali dengan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mencari ilmu syar’i terlebih dahulu, lalu mengamalkannya, mendakwahkannya dan sabar dalam semua itu. Sebagaimana dalam surat Al ‘Ashr. Sebagaimana juga firman Allah.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu“. [Muhammad/40:19].

Jadi -sebagaimana ayat di atas- ilmu itu lebih didahulukan daripada amal. Imam Bukhari serta yang lainnya telah menuliskan hal itu. Tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama’ sudah tidak samar lagi bagi kaum muslimin yang baru belajar Islam, apalagi bagi para penuntut ilmu.

Ilmu merupakan warisan para nabi ‘alaihimus shalatu wassalam. Ilmu mengangkat derajat orang yang memilikinya. Bahkan menjadikannya satu baris dengan para malaikat dalam persaksiannya. Juga dengan persaksian Allah dalam mempersaksikan perkara yang paling agung. Yaitu persaksian لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ .

Ilmu juga merupakan jalan menuju surga. Para ahli ilmu termasuk salah satu kelompok ulul amri. Para malaikat, hamba-hamba Allah, ikan, bahkan semut dan semua penduduk bumi dan langit mendo’akan ahli ilmu dan memintakan ampun untuk mereka. Dan masih banyak keutamaan-keutamaan yang didapatkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Ya, kami katakan ilmu syar’i merupakan jalan untuk mewujudkan persatuan. Dan sebab perpecahan yang paling dominan ialah kebodohan.

Namun ilmu jenis apakah yang kami maksudkan? Dan siapakah yang kami kehendaki (dengan kalimat di atas, red.)?

Ilmu (yang kami maksudkan) ialah apa yang dikatakan oleh Allah dan RasulNya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sebagian ulama’ salaf : Ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah, darimana anda mengambil agama kalian?

Pertanyaan penting yang harus diajukan kepada diri kita. Dimanakah posisi kita dengan ilmu yang hakiki itu? Siapakah ulama’ yang menjadi rujukan kita? Apakah rujukan-rujukan kita itu bersumber dari ceramah-ceramah, kaset-kaset ataukah buku-buku kecil? Ataukah bersumber dari kegiatan-kegiatan lain serta perlombaan-perlombaan?

Ya, semua ini memang bermanfaat dan mempunyai nilai positif. Akan tetapi, ilmu yang hakiki itu harus diambil dari pintunya yang benar. Yaitu para ulama’ yang tumbuh menjadi dewasa dalam Islam. Dikenal dengan aqidah dan manhajnya yang lurus. Istiqamah di atas Sunnah. Diakui umat. Memiliki ilmu yang mendalam dan menjadi pembimbing manusia menuju Rabb-nya. Mereka ahli dalam agama dan luas ilmunya.

Ilmu itu memang penting untuk menjaga agama dan keistiqamahan. Juga untuk mewujudkan persatuan serta untuk membantah ahlu bid’ah dan para pengikut hawa nafsu.

Wahai saudara-saudaraku!
Tuntutlah ilmu. Bersungguh-sungguh dan ikhlaslah. Dengan ilmu, kebodohan akan sirna dari diri anda, dari umat anda, dan agama anda akan terbentengi. Jadilah orang yang sabar dan lapang dada dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Dan terimalah pendapat orang lain. Berbuatlah dengan ilmu yang engkau punya dan berdakwahlah dengan hikmah. Hormatlah kepada para ulama dan hargailah mereka! Hindarilah perbuatan mencari-cari kesalahan dan aib orang serta maafkanlah mereka! Jadilah orang yang tidak mudah terpengaruh. Janganlah terburu-buru! Bersemangatlah untuk memahami maksud-maksud Allah dan RasulNya.

Wajib atas kamu bertaqwa kepada Allah, istiqamah dan terus-menerus mengikuti para ulama, agar bisa sampai kepada jalan yang benar. Jauhilah hal-hal yang bisa mencelakan, seperti: iri, dengki, riya’ dan cemburu, sombong dan fatatik kepada satu pendapat, memberi fatwa sebelum menjadi ahli, berburuk sangka dan memberi fatwa tanpa dasar ilmu.

Janganlah membuat kelompok-kelompok. Karena kelompok-kelompok itu merupakan musabab terpecahnya umat. Betapa banyak kelompok atau sekelompok orang yang menyerukan untuk saling cinta-mencintai dan (menyuarakan, red.) persatuan serta mengingatkan keutamaan-keutamaannya, Namun kemudian, sekelompok orang ini memegang peran (mempunyai andil) dalam membentuk firqah (baru, red.) dan memperbanyak pengikutnya. Yang pada akhirnya memecah-belah kaum muslimin. Membuat mereka berkelompok-kelompok, dan masing-masing bangga dengan kelompoknya.

Solusi semua masalah ini, ialah ilmu syar’i, dan menghindari hal-hal yang bisa membuat kita tergelincir. Saya menyarankan, bacalah kitab yang ditulis oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dengan judul Hukmul Intima’.

Hanya Allahlah pemberi taufiq dan petunjuk menuju jalan yang lurus.

(Diterjemahkan dari Majalah Al Ashalah, edisi 38 Tahun VI hal. 58-62).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VII/1424H/2003M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Majmu Fatawa 3/419
[2] Al Istiqamah, 1/2

Persatuan Dalam Islam

PERSATUAN DALAM ISLAM

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Urgensi Persatuan Islam
Persatuan Islam termasuk dari maqoshid syar’iyyah (tujuan syari’at) yang paling penting yang terkandung dalam agama ini. Al Qur`an dan  Rasulullah senantiasa menyerukannya. Persatuan dalam masalah aqidah, ibadah, dan akhlak, semuanya diperhatikan dan diserukan oleh Islam. Diharapkan akan terbentuk persatuan di atas petunjuk dan kebenaran. Bukan persatuan semu, yang tidak ada kenyataan, karena tidak ada faidahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala satu, Nabi kita satu, kiblat dan aqidah kita juga satu, ini semua termasuk dari salah satu sisi persatuan dalam berakidah. Begitu juga persatuan dalam masalah ibadah. Kita dapat melihat, bagaimana kaum Muslimin berkumpul  setiap harinya sebanyak lima kali di masjid-masjid mereka; ini adalan salah satu fonemena dari persatuan. Juga bagaimana mereka berkumpul dengan jumlah yang lebih besar pada setiap hari Jum’at, berpuasa secara serempak di seluruh penjuru dunia dalam waktu yang sama, atau mereka saling memanggil ke suatu tempat bagi orang yang mampu untuk melaksanakan kewajiban haji, dengan menggabungkan usaha harta dan badan di satu tempat dan waktu yang sama; ini semua adalah bagian dari fonemena persatuan Islam di dalam mewujudkan hakekat akidah yang terbangun atas dasar tauhid. Karena sesungguhnya persatuan kalimat tidaklah akan menjadi benar, melainkan dengan kalimat tauhid, dengan fenomena persatuan akidah dan ibadah seperti yang telah ditunjukkan di atas.

Sebenarnya  telah ada fonemena persatuan di dalam perilaku kaum Muslimin, antara satu dengan yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.[1]

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya. [2]

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang dari kalian tidak beriman (dengan sempurna, red) sampai ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya dengan apa yang dia dicintai dirinya. [3]

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

 Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).

Semua ini adalah pemandangan yang mengkuatkan dan menyatukan hati, menghantarkan kepada anggota tubuh lainnya. Bahkan apabila kita memperhatikan firman Allah Azza wa Jalla :

وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

Demi masa. Sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.[al ‘Ashr : 1-3].

Jika kita memperhatikan firman Allah di atas “dan mereka saling memberikan nasihat ”, ini juga termasuk fonemena persatuan. Karena saling menasihati tidak akan terjadi pada satu orang saja, akan tetapi terjadi pada suatu kelompok antara satu dengan yang lain, saling mengingatkan, menasehati dan saling meluruskan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. [Ali Imran/3: 103]

Ini juga fonemena persatuan. Berpegang teguhlah dengan tali persatuan, kesatuan dan kebersamaan.

Cara dan Landasan Mewujudkan Persatuan
Tetapi bagaimanakah cara mewujudkan persatuan dan atas dasar apa? Apakah kebersamaan dan berkelompok berdasarkan (persamaan) ras, negara, daerah, warna (kulit) atau  bahasa? Ataukah berkumpul atas dasar agama?.

Pertama kali yang difirmankan Allah Azza wa Jalla dalam ayat di atas:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ

Berpegang teguh dengan Tali Allah!

Yaitu dengan agama Allah, Kitab Allah, syariat Allah, dan Sunnah NabiNya. Allah tidak menyerahkan perkara (persatuan ini) pada akal, sehingga bisa memilih apa yang dikehendaki. Akan tetapi Allah menegaskan “berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah”.

Sesungguhnya firman Allah “berpegang teguhlah” telah mengandung makna, berkumpul dan bersatu, akan tetapi Allah menekankannya lagi sebagai tambahan penjelasan “berpegang teguhlah kamu semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai.

Terdapat tiga penekanan dalam satu nash,[4] semuanya mempunyai makna persatuan dan kesatuan. Dan persatuan ini tidak akan terwujud, kecuali atas dasar tauhid diikat dengan tali Allah. Maka berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai.

Persatuan yang ada hendaknya atas dasar agama, akidah dan mengikuti Sunnah Rasulullah. Makna ini telah dijelaskan dalam banyak nash. Di antaranya firman Allah dalam kitabNya :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِه ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ِ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. [al An’am/6 :153]

Allah telah menjadikan jalanNya dibangun di atas Sunnah, yang mana ia adalah jalan Islam atau ditafsirkan dengan al Qur`an dengan segala kandungan hukum-hukumnya, yang di dalamnya terdapat argumen dan penjelasan. Allah berfirman : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)!

Tatkala Rasulullah bersama para sahabatnya, ia menggaris di atas tanah garis yang lurus dan menggariskan garis-garis lain di kanan dan kirinya. Kemudian beliau n menunjuk garis lurus tersebut seraya berkata: “Ini adalah jalan Allah”. Dan beliau menunjuk garis-garis yang bercabang di kanan dan di kirinya dengan mengatakan: ”Ini adalah jalan-jalan sesat, di setiap ujung jalan-jalan ini terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat ini. [al An’am/6 : 153][5]

Oleh karena itu, setiap hawa-nafsu, pendapat, bid’ah dan perkara baru (dalam agama), pemikiran yang menyeleweng dan jauh dari al Kitab dan as Sunnah, jauh dari dalil dan hujjah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenarannmu jika kamu orang-orang yang benar”. [an Naml/27 : 64].

Itu semua memisahkan dan menjauhkan dari kebenaran yang ada, serta mengikuti hawa nafsu belaka.

Seorang hamba diperintahkan untuk mengikuti perintah Allah dan RasulNya, agar ia menjadi seorang hamba yang mengikuti jalan Allah yang lurus. Bagaimana dia tidak mengamalkan perintah ini? Dan bagaimana mungkin ia tidak ingin melakukan dan berusaha untuk mengikutinya? Sementara ia telah berdo’a siang dan malam kepada Rabb-nya dalam setiap shalatnya, minimal 17 kali dengan mengatakan :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. [Al Fatihah/1 : 6]

Bagaimana mungkin ia meminta hidayah untuk ditunjukkan jalan yang lurus? Padahal ia sendiri menyelisihi dan mengikuti hawa nafsunya, mengikuti perkara-perkara baru (dalam agama), mengikuti fikiran dan akal yang dangkal dan kurang sehat.

Allah telah menjadikan hidayah kepada jalan lurus ini terikat dengan dua perkara:

Pertama dan yang paling penting adalah, taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana firman Allah, di dalam kitab yang menerangkan syarat hidayah ini:

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk [an Nuur/24 : 54].

Dan ketaatan ini tidak akan bisa dilakukan dengan sempurna oleh seseorang, kecuali bila ia beriman sebagaimana para sahabat beriman, bermanhaj dan berpaham seperti manhaj dan pemahaman  para sahabat, sebagaimana firman Allah:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An-Nisaa/4 : 115]

Bahkan Allah Azza wa Jalla mengaitkan syarat hidayah dengan keimanan sebagaimana keimanan para sahabat. Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. [al Baqarah/2 : 137].

Maksudnya, apabila mereka beriman -yakni orang-orang setelah kalian- seperti iman kalian terhadapnya, yakni seperti para sahabat Rasul, maka mereka akan mendapatkan hidayah. Ini adalah syarat dan pondasi pokok. Apabila hilang syarat ini, maka janji dan hasil yang dikatakan serta permintaaan kita terhadap hidayah tidak ada faidahnya dan sia-sia belaka.

Dengan ini semuanya, hendaknya kita mengoreksi diri dengan segala apa yang kita lakukan, kita pikirkan dan kita bicarakan. Sehingga kita akan tetap terus berada di atas jalan Allah yang lurus untuk terus melakukan ketaatan kepadaNya, mengikuti kebenaran, untuk menuju kebenaran, yaitu Sunnah Nabi kita.

Terdapat dalam Sunnah Rasulullah yang menyebutkan secara jelas tentang gambaran dan ibrah perpecahan yang ada, ia n bersabda :

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً , قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هي الجماعة (وفي رواية) هِيَ التي مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya,“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Satu golongan itu adalah jama’ah.” (dalam riwayat lain): “Mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang pernah aku tempuh”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Al jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab

Ini semua menunjukkan penekanan terhadap makna persatuan umat. Dan persatuan ini tidak akan terbangun kecuali di atas kebenaran yang berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, di atas manhaj para sahabat Rasul yang masih belum terlumuri dengan perkara- perkara bid’ah dan kesesatan. Para sahabat adalah manusia paling baik hatinya dibandingkan manusia lain, paling dalam ilmu, paling besar kecintaan dan ittiba` kepada Rasulullah. Karena kecintaan yang murni adalah kecintaan yang terbangun di atas ittiba`, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran/3 : 31].

Jadi, asas cinta kepada Rasulullah adalah ittiba’ (mengikuti) rasul dalam segala ajarannya.

Adapun kecintaan yang dibarengi dengan penyelewengan, rasa cinta dan melakukan bid’ah, maka hal ini tidaklah akan bertemu. Sebagaimana perkataan syair:

Kamu bermaksiat kepada Rasul, dan kamu mengaku mencintai beliau
Demi Allah, ini adalah permisalan yang sangat jelek.

Persatuan dalam Islam terbangun atas tauhid, ittiba` Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj Salaf dari para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin yang merupakan manusia terbaik, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُالناس قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah manusia pada zamanku, kemudian yang berikutnya dan berikutnya.

Dan ada tambahan di selain Shahihain :

ثُمَّ يَأْتِي أَقْوَامٌ لاَ خَيْرَ فِيْهِمْ

Kemudian datang suatu kaum yang tidak ada kebaikan di dalamnya.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena kaum ini telah menyelisihi manhaj generasi terbaik yang telah mengikuti dan berjalan di atas petunjuk Rasul. Maka dicabutlah kebaikan dari mereka sesuai dengan penyelewengan mereka dari para salaf.

Persatuan dalam Islam adalah hal utama yang diminta dari umat, dan wajib bagi kita terus bersemangat untuk merealisasikannya, menjalankan dan menyerukan persatuan tersebut.

Di dalam al Qur`an banyak contoh yang menerangkan kepada kita hakikat persatuan, antara ada dan tiada.

Contoh yang menjelaskan, bagaimana persatuan dalam berakidah dan manhaj yang benar telah menjadikan satu orang bisa dianggap satu jamaah. Dan contoh yang menjelaskan, bagaimana kelemahan dan kegagalan bisa menjadikan suatu jamaah dianggap seperti satu orang, bahkan individu-individu yang saling bertikai antara satu dengan yang lainnya, Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang bapaknya para nabi, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissallam :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.[an Nahl/16 : 120].

Padahal beliau Alaihissallam hanya seorang diri. Akan tetapi, seakan ia bagaikan satu umat, umat yang menjadi panutan atau umat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Allah menyebutkan mencotohkan lawan dari sebelumnya, gambaran dari sifat teman-teman kera, babi yang telah membunuh para nabi, menyelewengkan aqidah yang benar dan merubah agama mereka. Dalam firmanNya, Allah mengkabarkan :

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى

Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah. [al Hasyr/59 : 14].

Kemudian contoh ketiga adalah gambaran untuk para sahabat nabi, yang mana persatuan mereka adalah anugerah dari Rabb mereka, karena mereka sebaik-baik orang yang telah melanjutkan tongkat estafet kebenaran setelah para nabi, semoga Allah meridhai mereka semua.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

لَوْ أَنفَقْتَ مَافِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مَّآأَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. [al Anfal/8 : 63].

Sungguh, hati dan badan-badan mereka saling bersatu. Dalam firman  Allah “kalau seandainya kalian menginfakkan seluruh isi dunia”, hal ini termasuk mengaitkan sesuatu dengan hal yang mustahil bagi seorang manusia untuk melakukannya, karena tidak mungkin ada seseorang yang bisa menginfakkan semua itu, baik emas, uang dan barang berharga lainnya.

Kalaupun kamu bisa menginfakkan itu semua, maka kamu tidak akan dapat menyatukan hati mereka, hati-hati mereka akan tetap bercerai-berai.

Bangsa Arab sebelum Islam termasuk dari umat yang tidak punya persatuan, bahkan tidak dikenal kecuali dengan peperangan di antara mereka dan saling membanggakan diri satu sama lain di dalam perkara atau sebab yang banyak. Peperangan-peperangan ini merupakan bukti kuat, bahwa bangsa Arab sebelum Islam tidaklah berarti. Kemudian datang Islam, turun kepada mereka al Qur`an dan petunjuk yang benar, serta diutusnya Rasul Allah yang haq, merupakan nikmat dari Allah dan Ia pun menyatukan hati-hati mereka.

Bagian awal dari ayat, Allah Azza wa Jalla menyebutkan “kamu tidak akan dapat menyatukan hati-hati mereka”, lalu di bagian akhir disebutkan “akan tetapi Allah menyatukan mereka”. Allah telah menganugerahkan kepadamu, sesuatu yang lebih besar dari yang engkau inginkan. Engkau ingin menyatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah menganugerahkan penyatuan hati dan badan. Tidak hanya hati mereka, bahkan Allah telah menyatukan di antara mereka (hati dan badan mereka), sehingga itu merupakan anugerah umatnya dari Allah, dengan bergabungnya antara persatuan dengan tauhid.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). [an Nahl/16 : 53].

Dan firmanNya :

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. [Ibrahim/14 : 34]

Pembicaraan masalah persatuan dan kesatuan umat sangatlah luas, dalil-dalil yang berkenaan dengan itu juga sangat banyak, akan tetapi karena perbedaan kaumlah yang telah melupakan satu dengan yang lainnya.

Karena itu aku tutup pembicaraan ini dengan mengingatkan hadits Tamim ad Daariy, ia berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الدِّينُ النَّصِيحَةُ ثَلَاثَ مِرَارٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Din (agama) ini adalah nasihat” (tiga kali). Para sahabat bertanya : “Nasihat bagi siapa, wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab,“Nasihat terhadap Allah (maksudnya dengan mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan niat dalam beribadah, red), nasihat terhadap kitabNya (maksudnya, dengan mengimaninya dan mengamalkan isinya, red), nasihat terhadap para pemimpin kaum Muslimin (maksudnya, dengan mentaati mereka dan tidak memberontak) dan nasihat bagi kaum Muslimin secara umum”.

Juga, tauhid mengantarkan kepada tauhid (persatuan), persatuan akidah menyeru kepada persatuan kata. Sehingga mereka saling bersatu sebagaimana yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla . Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan saling membantu dalam hal dosa dan permusuhan.

Di suatu hadits  Jarir bin Abdullah berkata : Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فَلَقَّنَنِي فِيمَا اسْتَطَعْتَ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Aku berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat. Lantas beliau menemui aku seraya mengatakan; “Semaksimal kemampuanmu dan untuk menasehati sesama muslim”

Ia menambahkan, “Rasulullah membebankan kepada kita dengan apa yang kita mampu“.

Semuai ini bertujuan untuk mengagungkan persatuan dalam jiwa-jiwa.  Dan hendaknya diketahui, bahwa hak saudaramu padamu, sama seperti hakmu pada mereka. Dan sesungguhnya tidaklah sempurna iman seseorang, sampai ia mencintai bagi saudaranya dengan apa yang ia cintai untuk dirinya.

Renungkanlah, betapa indahnya tatanan masyarakat ini, yang saling mencintai satu sama lain, saling menolong, mengingatkan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dengan penuh kecintaan, kasih-sayang, rahmat dan kelembutan. Membayangkan bagaimana bersatunya masyarakat  dengan menampakkan persatuan kata yang hanya dilandasi atas persatuan tauhid.

Saya berdoa kepada Allah agar menyatukan kaum Muslimin di atas Kitab dan Sunnah RasulNya, menjauhkan dari segala fitnah yang ada, baik yang nampak atau yang tidak, menghilangkan setiap bentuk kesyirikan, bidah dan perbedaan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [al Anfal/8 : 46].

Firman Allah Azza wa Jalla :

وَلاَتَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {31} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar Ruum/30 : 31-32]

Allah telah menjadikan sikap perpecahan sebagai ciri dari orang musyrik ; bertauhid dan bersatu sebagai ciri dari kaum Mukminin. Semoga Allah menjadikan kita semua dari orang-orang yang selalu berpegang teguh di atas kebenaran, mewafatkan kita di atasnya dan Sunnah RasulNya dengan tidak melakukan bid’ah, penyelewengan, kerusakan dan kehinaan. Maha suci Allah yang kuasa untuk melakukan ini semua.

Wasallahu ‘alan nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in.
Wa akhiru dakwana alhamdulillhi rabbil ‘alamin.

(Diangkat dari ceramah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari  –hafizhahullah– di Masjid al Muhajirin Malang, Kamis, 16 Februari 2006M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] HR Imam Muslim dalam Shahih-nya.
[2] HR Bukhari dan Muslim.
[3] HR Bukhari dan Muslim.
[4] Yaitu : 1) Firman Allah “berpegang teguhlah”, perintah ini sudah mencakup semua umat Islam. 2) FirmanNya “kamu semua”. 3)  FirmanNya : “janganlah kamu bercerai-berai”. (red).
[5] HR Ibnu Majah.

Meniti Iman Menggapai Persaudaraan

MENITI IMAN MENGGAPAI PERSAUDARAAN

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Kaum Muslimin dewasa ini dalam keadaan carut marut dan berpecah belah. Kata ukhuwah (persaudaraan) pun mencuat dan dikumandangkan di mana-mana dengan aneka ragam pengertiannya. Banyak kaum Muslimin mendambakan terwujudnya ukhuwah ini seperti pernah terwujud di masa lampau. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut akhirnya banyak opini dilontarkan dan teori pun dikonsepkan. Bahkan tidak sedikit yang sudah mencoba dan mengusahakannya dengan beragam konsep dan teori. Namun kadang mereka melupakan konsep Islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab suci-Nya yang paling agung yaitu al-Qur`an. Atau bisa jadi karena ketidaksabaran mereka dalam menunggu hasilnya. Karena itu perlu adanya pencerahan tentang masalah ini.

Ini adalah sedikit upaya dan partisipasi menyampaikan konsep tersebut secara ringkas, dengan mengambil dasar al-Qur`an dan Sunnah serta pernyataan para ulama. Semoga bisa menjadi sebuah pencerahan kepada kaum Muslimin untuk bisa menggapai ukhuwah imaniyah yang dimaksud.

Persaudaraan Iman Bukan Sekedar Berkumpulnya Tubuh.
Banyak orang memandang persaudaraan identik dengan kumpulnya tubuh dalam satu organisasi atau kelompok. Hal ini jelas keliru, sebab sebenarnya dasar persaudaraan iman adalah kesatuan hati kaum Muslimin, bukan berkumpulnya tubuh mereka. Hal ini dapat dilihat pada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur`an yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan persaudaraan kaum Muslimin dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ) tidak dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَكُمْ).  Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat persatuan hati menjadi sebab persaudaraan iman dan bukan kepada persatuan tubuh.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah menjelaskan hal ini dengan menyatakan: “Persatuan hati adalah poros ukhuwah imaniyah (persaudaraan iman) bukan persatuan tubuh. Berapa banyak umat yang berkumpul tubuhnya namun hati mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang Yahudi:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.[al-Hasyr/15:13]

Tidak ada faedah berkumpulnya tubuh dengan hati yang berpecah belah.  Faedah bersatunya hati adalah berkumpulnya hati, walaupun tubuhnya saling berjauhan. Berapa banyak orang yang memiliki hubungan cinta dan persahabatan denganmu namun ia jauh darimu. Dan berapa banyak juga orang yang sebaliknya. Kamu merasa ia bermuka dua dan di antara kamu dengannya tidak ada cinta dan persahabatan. Padahal ia berdampingan denganmu seperti benda dengan bayangannya. Jadi yang penting adalah hati. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

Maka Allah mempersatukan hatimu,” [Ali Imrân/3:103] [1]

Jelaslah persaudaraan terjadi dengan adanya keterikatan antar kaum Muslimin yang dilandasi ikatan agama Islam. Ikatan yang mengikat kuat hati kaum Muslimin seperti satu tubuh yang digambarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

الْمُؤْمِنُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنْ اشْتَكَى رَأْسُهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Kaum mukminin seperti satu orang, jika kepalanya sakit maka seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur. [Riwayat Muslim]

Persaudaraan ini bukan persaudaraan karena nasab atau fanatisme golongan (hizbiyah) tapi persaudaraan aqidah dan iman. Oleh karena itu Syaikh Muhammad al-Amîn as-Syingqîti rahimahullah menyatakan: “Secara umum tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum Muslimin, bahwa ikatan yang mengikat di antara penduduk bumi dan yang mengikat antara penduduk bumi dan langit adalah kalimat Lâ ilâha Illa Allâh.”[2]

Dengan demikian jelaslah ikatan persaudaraan kaum Muslimin adalah bersatunya hati mereka dalam menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Kalimat tersebut ditegakkan dengan iman dan ketakwaan sehingga menjadi sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan hati mereka.

Persaudaraan Iman anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada seorangpun yang dapat menyatukan hati manusia satu dengan lainnya, baik itu nabi maupun para ulama atau yang lainnya. Hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang menyatukan hati-hati mereka dengan hikmah dan ke Maha perkasaan-Nya. Betapa tidak, Dia-lah yang telah menyatakan hal itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْٓ اَيَّدَكَ بِنَصْرِهٖ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَۙ وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al- Anfâl/8:62-63].

Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Mereka bersatu dan bersaudara serta bertambah kuat dengan sebab persatuan tersebut. Itu bukanlah hasil usaha seorang dan dengan satu kekuatan melainkan  (hanya) dengan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Walaupun kamu telah membelanjakan emas dan perak serta selainnya yang ada di bumi ini seluruhnya untuk menyatukan hati mereka setelah perselisihan dan perpecahan yang parah itu, tentulah kamu tidak dapat mempersatukannya. Karena yang mampu menpersatukan hati hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.[3]

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan dengan sangat jelas dalam firman-Nya:

وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; [Ali Imrân/3:103]

Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli –Hafizhahullâh– menyatakan: Dengan rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersatukan hati kaum Mukminin di atas ketaatan dan manhaj-Nya. Pantaslah disyukuri atas nikmat ini dengan cara cinta mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpegang teguh dengan tali-Nya yang kokoh (Islam).[4]

Demikianlah persaudaraan tersebut Allah Azza wa Jalla karuniakan kepada kaum Mukminin yang bertaqwa dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Tidak dikaruniakan kepada orang-orang yang melanggar ajaran syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala , sehingga tidak akan terwujudkan dengan mengorbankan aqidah dan agama.

Kiat Menggapainya.
Namun ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak merubah keadaan satu kaum tanpa ada usaha dari mereka untuk merubah keaadannya. Inilah yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka  mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. [ar-Ra’d/13:11].

Sehingga untuk mendapatkan persaudaraan iman tersebut dibutuhkan usaha dari kaum Muslimin untuk merubah keadaan mereka sekarang. Mereka harus berusaha untuk menjalankan sebab-sebab persatuan hati dengan meniti iman dan takwa.

Di antara cara menggapainya adalah:

  1. Meluruskan Aqidah dan cara beragama dengan melakukan tashfiyah (pemurnian agama) dan tarbiyah (pembinaan umat di atas ajaran agama yang murni). Sebab persaudaraan iman yang pernah ada dahulu dihancurkan oleh kebid’ahan dan penyimpangan agama.

Syaikh Muhammad al-Basyîr al-Ibrâhimi menjelaskan :” Setelah kita berfikir, meneliti dan mengkaji keadaan umat dan sumber penyakit-penyakitnya. Kita benar-benar mengetahui bahwa jalan-jalan kebid’ahan dalam Islam adalah pemecah belah kaum Muslimin. Juga kita mengetahui ketika kita melawannya berarti melawan seluruh keburukan”. [5]

Jelas, persaudaraan iman harus tegak di atas kemurnian ajaran Islam dan pembinaan umat diatasnya. Kemudian terwujudnya persaudaraan iman di atas ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengantarkan kepada kejayaan Islam sebagaimana pernah dicapai para pendahulunya.              

Tentang tasfiyah  dan tarbiyah ini Syaikh al-Albâni menyatakan: “Apabila kita ingin kejayaan dari Allah Azza wa Jalla , diangkat dari kerendahan serta dimenangkan dari musuh-musuh kita, maka tidak cukup hanya dengan meluruskan pemahaman dan menghilangkan pemikiran-pemikiran yang menyelisihi dalil-dalil syar’i….,ada faktor lagi yang sangat penting yaitu beramal; karena ilmu adalah sarana untuk beramal. Apabila seorang telah belajar dan ilmunya sudah tertashfiyah, kemudian tidak beramal dengannya, maka secara otomatis ilmu tersebut tidak menghasilkan buah. Sehingga harus menyertakan ilmu ini dengan amal. Sudah menjadi kewajiban para ulama untuk mengurus pembinaan kaum Muslimin yang baru di atas dasar ketetapan yang ada dalam al-Qur`an dan Sunnah. Jangan membiarkan manusia berada di atas pemikiran dan kesalahan yang mereka warisi. Karena sebagiannya pasti batil menurut kesepakatan para ulama.,.Sebagiannya masih diperselisihkan dan memiliki kekuatan dalam penelitian dan ijtihad serta ra’yu dan sebagian ijtihad dan ra’yu ini menyelisihi sunnah. Setelah tashfiyah terhadap perkara-perkara ini dan menjelaskan semua kewajiban memulai dan berjalan padanya, maka harus ada tarbiyah (pembinaan) terhadap orang-orang baru di atas ilmu yang shahih ini. Pembinaan inilah yang akan membentuk masyarakat Islam yang bersih dan kemudian akan tegak daulah Islam untuk kita. Tanpa dua hal ini, yaitu ilmu yang shahih dan pembinaan yang benar di atas ilmu yang shahîh ini mustahil –menurut keyakinan saya- akan tegak tiang-tiang Islam atau hukum Islam atau Negara Islam.[6]

Beriman dan bertakwa dengan benar yang dihasilkan dari proses at-tashfiyah dan tarbiyah di atas. Sebab persaudaran ini didasarkan kepada iman dan takwa seperti dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara. [al-Hujurât/49:10].

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di t menafsirkan ayat ini dengan menyatakan: “Ini adalah ikatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pengikat antar orang-orang yang beriman. Apabila didapatkan pada siapapun juga  yang ada diseluruh dunia memiliki iman kepada Allah Azza wa Jalla , malaikat, kitab-kitab suci, para rasulnya dan hari akhir (dengan benar (pen)), maka ia adalah saudara bagi orang-orang yang beriman. Persaudaraan yang mengharuskan kaum Mukminin mencintai (kebaikan-red) untuk mereka sebagaimana mereka mencintai (kebaikan-red) untuk diri mereka sendiri.[7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan hubungan tersebut harus ditegakkan dengan takwa dalam firman-Nya:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.[az-Zukhruf/43:67]

Kecintaan orang-orang bertakwa kekal dan terus bersambung dengan sebab kesinambungan orang yang mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala .[8]

  1. Dasar persaudaraan iman adalah ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala  sebagai konsekwensi kesempurnaan iman dan takwa. Sebab persaudaraan iman ini adalah ibadah yang tidak diterima tanpa keikhlasan.
  2. Komitmen dengan manhaj Islam yang benar dan ketentuannya yang merupakan kesempurnaan ikhlas. Sehingga bersatu dan berpisahpun di atas manhaj Allah Azza wa Jalla sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Azza wa Jalla :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [at-Taubah/9:16]

Demikian juga sabda beliau kepada 7 orang yang mendapatkan naungan-Nya:

وَرَجُلاَنِ تَحَابَا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

Dua orang saling mencintai di jalan Allah berkumpul dan berpisah di atasnya [Muttafaqun ‘alaihi].

Syaikh Salîm bin ‘Ied al Hilâli Hafizhahullâh mengomentari hal ini dengan menyatakan: “Berpegang teguh kepada manhaj Islam yang benar dengan semua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan.  Penerapan teladan baik dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah standar (kebenaran). Bukan berpegang teguh kepada hubungan nasab, tokoh, organisasi, partai, madzhab, kelompok, pemerintahan atau kebangsaan. Sesungguhnya kelemahan dan ketidak mampuan yang menggerogoti kehidupan Islam bersumber dari sikap penentangan dan berpaling dari standar (kebenaran) ini. Atau juga usaha-usaha merampasnya dari tangan seorang muslim.”[9]

  1. Melaksanakan tugas nasehat-menasehati yang menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen terhadap manhaj yang shahîh. Oleh karena itu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbai’at dengannya, sebagaimana dijelaskan Jarîr bin Abdillâh Radhiyallahu anhu :

بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Aku berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menasehati setiap muslim. [HR al-Bukhâri 1/20]

  1. Tugas nasehat-menasehati tentunya menjadikan kaum Muslimin bekerjasama dalam kebaikan dan takwa, sebagaimana diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.[al-Mâidah/5:2].

Kerja sama yang baik ini akan menghasilkan sikap solidaritas terhadap saudaranya seiman.

  1. Memiliki solidaritas, berkorban dan tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup saudaranya, sebagai wujud kesempurnaan iman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya. [Muttafaqun ‘Alaihi]

Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى

Permisalan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah lembuti  seperti satu tubuh; apabila salah satu anggotanya sakit maka menjadikan seluruh tubuhnya demam dan tidak bisa tidur . [Muttafaqun ‘Alaihi]

Demikianlah, antara lain sebab terwujudnya ukhuwah imaniyah (persaudaraan iman). Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kaum Muslimin untuk melaksanakan dan menggapainya.

Wabillâhi taufîq.

Marâji’

  1. Tafsîr al-Qur`ân al-Karîm surat ali Imrân, Ibnu Utsaimîn , cetakan pertama tahun 1426 H, Dâr ibni al-jauzi, KSA .
  2. Adhwâ’ al-Bayâni Fî Idhah al-Qur`ân bi al-Qur`ân, Syaikh Muhammad al-Amîn bin Muhammad al-Mukhtâr asyingqîthy, cetakan tahun 1426 H, Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Madinah.
  3. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di
  4. At-Tashfiyah Wa at-tarbiyah, Syaikh Ali Hasan al-Halabi
  5. at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah wa Hâjat an-Nâs ilaha, Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni
  6. Al-Hubbu Wa al-Bagh-dhu Fillâhi Fî Dhu`I al-Kitâb wa as-Sunnah, Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli, cetakan pertama tahun 1421 H, Dâr ibnu al-Qayyim.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Tafsir al-Qur`ân al-Karîm surat ali Imrân, Ibnu Utsaimîn 1/596-597
[2]  Adhwâ’ al-Bayân 3/298
[3] Taisîr al-Karîmir-Rahmân hlm 325
[4] Al-Hubbu Wa al-Bagh-dhu Fillâhi Fî Dhu`I al-Kitâb wa as-Sunnah, Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli, hlm 20.
[5] al-Ashâlah edisi 1 hlm 34 dinukil dari at-Tashfiyah Wa at-tarbiyah, Syaikh Ali Hasan al-Halabi hlm
[6] at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah wa Hâjat an-Nâs ilaha hal 29-31
[7]  Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, hlm 800
[8]  Ibid hlm 796
[9] Al-Hubbu Wa al-Bagh-dhu Fillahi , hlm 20.

Ahlus Sunnah Menyuruh yang Ma’ruf dan Mencegah yang Munkar Sesuai Syari’at

AHLUS SUNNAH MENYURUH YANG MA’RUF DAN MENCEGAH YANG MUNKAR MENURUT KETENTUAN SYARI’AT

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

Definisi ma’ruf menurut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu suatu nama yang mencakup apa-apa yang dicintai Allah dari iman dan amal shalih. Adapun munkar yaitu, suatu nama yang mencakup bagi setiap apa-apa yang tidak disukai Allah dan yang dilarang-Nya.[1] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.” [Ali ‘Imran/3: 110]

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Ali ‘Imran/3: 104][2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْماَنِ.

Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu lakukanlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.[3]

Hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah[4], dan pelakunya harus memenuhi ketentuan berikut ini:

1. Berilmu
Firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: ‘Ini jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf/12: 108]

2. Lemah Lembut
Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ.

Sesungguhnya adanya kelemahlembutan pada sesuatu, pasti akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (kelemah-lembutan), melainkan akan mencemarkan sesuatu itu.[5]

3. Sabar
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” [Luqman/31: 17]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Sabarlah kamu dari apa-apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” [Al-Muzammi/73: 10]

4. Ada Kemampuan dan Kekuasaan[6]

5. Harus Ikhlas Semata-mata Karena Allah

Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah amal yang wajib, paling utama, dan paling baik.[7]

Keutamaan amar ma’ruf dan nahi munkar sangat banyak, di antaranya:

  1. Merupakan tugas para Nabi dan Rasul, صلوات الله وسلامه عليهم.
  2. Kewajiban dalam Islam yang paling penting.
  3. Keutamaan ummat ini di antara ummat-ummat yang lain dengan sebab amar ma’ruf nahi munkar[8].
  4. Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan sebab mendapatkan pertolongan Allah, kemuliaan dan kejayaan.[9]
  5. Masyarakat akan menjadi baik dan mulia dengan adanya amar ma’ruf nahi munkar dan mereka akan binasa, rusak dan hina dengan sebab meninggalkan kewajiban ini.
  6. Amar ma’ruf nahi munkar adalah tanda dari tanda-tanda keimanan dan merupakan hak Muslim atas saudaranya.[10]
  7. Amar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah dan ganjarannya besar.
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ…

“…Menyuruh yang ma’ruf adalah shadaqah, dan mencegah yang munkar adalah shadaqah…”[11]

  1. Apabila amar ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan, maka do’a pun tidak dikabulkan.[12]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ.

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian bersunguh-sungguh menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, atau Allah akan menimpakan siksaan kepada kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan do’a kalian.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1] Lihat Iqtidhaa’ush Shiraatil Mustaqiim (hal. 106) ta’liq Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. VI/Daarul ‘Ashimah, th. 1419 H
[2] Lihat juga dalam al-Qur’an surat At-Taubah/9: 71 dan al- A‘raaf/7: 157
[3] HR. Muslim (no. 49 (78)), Ahmad (III/10), Abu Dawud (no. 1140, 4340), at-Tirmidzi (no. 2172), an-Nasa-i (VIII/111-112) dan Ibnu Majah (no. 4013), dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyalallahu anhu
[4] Majmuu’ Fataawaa (XXVIII/134) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah HR. Muslim (no. 2594 (78)), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma
[5] Lihat adh-Dhawaabitul Amr bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar ‘inda Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (hal. 35) oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cet. I, th. 1414 H
[6] Lihat Majmuu’ Fataawaa (XXVIII/134) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
[7] Lihat al-Qur’an surat Ali ‘Imran/3: 110
[8] Lihat al-Qur’an surat Al-Hajj/22: 40-41
[9] Lihat al-Qur’an surat At-Taubah/9: 71 dan 112
[10] HR. Muslim (no. 720 (84)), dari Sahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu.
[11] Lihat al-Ma’aashi wa Atsaaruha ‘alal Fardi wal Mujtama’ (hal. 270-276) oleh Hamd bin Muhammad Hamd al-Muslih, Maktabah adh-Dhiya’, th. 1414 H.
[12] HR. At-Tirmidzi (no. 2169), dari Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu. Hadits ini memiliki dua syahid dari Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, yang diriwayat-kan oleh Imam ath-Thabrani dalam Mu’jamul Aushath, hadits ini hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi

Mencintai Saudara Seiman Termasuk Kesempurnaan Iman

MENCINTAI SAUDARA SEIMAN TERMASUK KESEMPURNAAN IMAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Takhrij
Hadits ini dikeluarkan.

  1. Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Min Al Iman An Yuhibba Liakhihi Ma Yuhibbu Linafsihi, no. 13.
  2. Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi Al Muslim Ma Yuhibbu Linafsihi Min Al Khair, no. 45.

Syarah Hadits
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ , artinya tidak sempurna iman salah seorang dari kita, karena penafian (peniadaan) disini untuk menafikan (meniadakan) kesempurnaan, bukan menafikan asal iman.

Jika ada yang bertanya : Apa dalilmu tentang ta’wil (penafsiran) ini, yang memalingkan ucapan dari makna zhahirnya?

Jawabnya : Dalil kami yang menunjukkan hal ini, yaitu amalan tersebut tidak mengakibatkan seorang manusia keluar dari iman dan tidak dianggap telah murtad. Itu hanya nasihat, sehingga penafiannya disini, maksudnya hanya menafikan kesempurnaan iman.

Jika ada yang menyanggah : Bukankah kalian mengingkari ta’wilnnya ahli ta’wil?

Jawabnya : Kami tidak mengingkari ta’wilnya ahli ta’wil, hanya saja kami mengingkari ta’wil mereka yang tidak didasari dalil. Karena, jika ta’wil tidak didasari dalil, maka dinamakan tahrif (penyimpangan) dan bukan ta’wil. Adapun ta’wil yang berdasarkan dalil, maka ia dianggap sebagai bagian dari tafsir kalam (perkataan). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendo’akan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

اللهمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَ عَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil.[1]

Jika ada yang bertanya : Dalam firman Allah Azza wa Jalla:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syethan yang terkutuk. [Al Nahl/16 : 98].

Sesungguhnya maksud dari firman Allah tersebut, jika kamu ingin membaca Al Qur’an, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela atau ta’wil yang benar?

Jawabnya : Ini ta’wil yang benar, karena ditunjukkan oleh dalil. Yaitu perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta’awudz ketika akan membaca dan tidak di akhir bacaan.

Jika ada yang bertanya : Dalam firman Allah Azza wa Jalla :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu. [Al Maidah/5 : 6]

Sesungguhnya maksud dari firman Allah tersebut, jika kamu ingin melaksanakannya, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela atau ta’wil yang benar?

Jawabnya: Ini ta’wil yang benar.

Oleh karena itu, kami tidak mengingkari semua ta’wil, tetapi hanya mengingkari ta’wil yang tidak didasari dalil, dan kita menamakannya tahrif (penyimpangan).

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ . Iman, menurut definisi bahasa Arab, maknanya ikrar yang mengharuskan untuk menerima dan tunduk. Inilah definisi yang sesuai dengan syari’at. Ada yang mendefinisikan dengan tashdiq. (Demikian) ini masih perlu penelitian, karena perkataan آمَنْتُ بِكَذَا dan صَدَّقْتُ فُلاَنًا dan tidak dikatakan  آمَنْتُ فُلاَنًا. Ada juga yang menyatakan, iman menurut bahasa Arab adalah ikrar. Yang berpendapat demikian berdalil dengan perkataan  آمَنَ به وَ أَقَرَّ بِهِ  dan tidak dikatakan  آمَنَهَ bermakna  صَدَّقَهُ. Ketika dua kata kerja ini tidak dapat sama dalam transitif dan intransitifnya, maka diketahui bahwa keduanya tidak semakna.

Sehingga iman, menurut bahasa yang sebenarnya adalah ikrar hati terhadap apa sampai ke hatinya, dan bukan tashdiq. Terkadang, iman juga bermakna tashdiq dengan indikasi tertentu, seperti firman Allah Azza wa Jalla.

فَئَامَنَ لَهُ لُوطٌ

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya… (Al Ankabut/29:26). Ini menurut satu pendapat ulama, sementara ada kemungkinan dikatakan (pendapat yang lain) : (فَئَامَنَ لَهُ لُوطٌ ), bermakna tunduk patuh kepadanya -yaitu Ibrahim- dan membenarkan dakwahnya.

Adapun menurut syari’at, makna iman sama dengan definisi menurut bahasa. Sehingga, barangsiapa yang mengaku beriman tanpa menerima dan tunduk, maka belum (dianggap) mu’min. Berdasarkan hal ini, maka orang Yahudi dan Nashrani sekarang ini bukan mu’min, karena mereka tidak menerima dan tidak tunduk kepada agama Islam.

Dulu, Abu Thalib juga mengakui kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan hal itu dalam pernyataannya : Sungguh mereka mengetahui bahwa anak kita ini tidak berbuat dusta. Dalam diri kita, dan tidak juga mengucapkan perkataan batil.

Dan menyatakan juga, Sungguh aku mengetahui agama Muhammad, termasuk agama manusia yang terbaik. Seandainya bukan karena celaan dan khawatir dimaki. Sungguh engkau melihatku menerima dengan baik agama itu.

Inilah pengakuan yang jelas dan pembelaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun demikian, ia bukanlah seorang mu’min, karena ia tidak menerima dan tidak tunduk. Dia belum menerima dan tunduk kepada dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mati dalam keadaan kafir.

Iman tempatnya ada di hati, lisan dan anggota tubuh. Sehingga iman itu dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Maksudnya, perkataan lisan dinamakan iman, dan amalan anggota tubuh dinamakan iman. Ini semua dengan dalil firman Allah Ta’ala.

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu… [Al Baqarah/2 : 143].

Para ahli tafsir menyatakan, imanmu (dalam firman Allah diatas maksudnya) adalah shalatmu menghadap Baitul Maqdis. Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
,
الإِمَانُ بِضْعُ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَعْلاَهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَ أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَ الحَيَاءُ مِنَ الإِيْمَانِ

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah kalimat la ilaha illallah, dan yang terendah adalah membuang pengganggu dari jalanan. Dan malu, termasuk cabang dari iman.[2]

Tertinggi adalah pernyataan la ilaha illallah, dan ini merupakan pernyataan lisan. Dan terendah, ialah membuang pengganggu dari jalanan, merupakan amalan anggota tubuh, serta rasa malu termasuk amalan hati. Adapun pendapat yang menyatakan iman tempatnya hanya di hati saja dan orang yang membenarkan (Islam) berarti ia telah mu’min; maka pendapat ini adalah pendapat yang salah dan tidak benar.

حَتَّى يُحِبَّ . Kata “ حَتَّى “ bermakna sampai, berarti maknanya sampai mencintai untuk saudaranya. Kata cinta tidak perlu dijelaskan. Penjelasan makna cinta hanya akan menimbulkan kesulitan dalam memahaminya. Cinta adalah cinta, tidak ada kata yang lebih jelas menafsirkannya dari itu.

لأَخِيْهِ , maksudnya adalah orang mu’min.
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه , maknanya, sesuatu yang ia cintai untuk dirinya berupa kebaikan, keselamatan dan pembelaan kehormatan serta yang lainnya. Makna ini, juga terdapat dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَايُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan surga, maka hendaklah meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan memberikan orang lain apa ia senang mendapatkannya.[3]

Yang menjadi syahid (dalil) dalam hadits disini adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتى إِلَيْهِ

Memberikan orang lain apa (yang) ia senang mendapatkannya.

Faidah Hadits
Dari hadits ini, dapat diambil beberapa faidah, diantaranya.
Pertama : Boleh menafikan sesuatu karena tidak sempurna, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Dan yang sejenis (hadits) ini adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَيُؤْمِنُ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak sempurna iman seseorang, yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya).[4]

Diantara contoh lain bolehnya menafikan sesuatu karena hilangnya kesempurnaan sesuatu itu, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ

Tidak ada shalat ketika makanan telah terhidang

Maknanya, tidak ada shalat yang sempurna, karena hati orang yang shalat akan sibuk (terganggu) dengan makanan yang telah dihidangkan, dan banyak contoh lainnya.

Kedua : Kewajiban seseorang untuk mencintai  saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Karena penafian (kesempurnaan) iman dari orang yang tidak mencintai saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya (dalam hadits) menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Sebab tidak dinafikan iman, kecuali karena hilangnya kewajiban iman, atau adanya hal yang bertentangan dengannya.

Ketiga : Peringatan dari sikap hasad (iri, dengki), karena orang yang hasad tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya; bahkan ia mengharapkan agar nikmat Allah hilang dari saudaranya se-islam. Para ulama berselisih dalam tafsir hasad. Sebagian mendefinisikan hasad, adalah mengharap hilangnya nikmat dari orang lain. Sebagian ulama yang lain menyatakan, hasad adalah rasa tidak suka terhadap nikmat Allah atas orang lain. Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,“Jika seorang hamba membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, berarti ia telah hasad kepadanya, walaupun ia tidak mengharapkan hilangnya nikmat tersebut.”

Keempat : Hendaklah menyampaikan perkataan yang berisi ajakan beramal, karena itu termasuk kefasihan. Yang menjadi dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : لأَخِيْه karena hal ini menunjukkan lemah-lembut, kasih dan sayang.

Contoh serupa terdapat pada firman Allah tentang ayat qishash:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءُُ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. [Al Baqarah/2 : 178].

Padahal ia yang membunuh untuk menampakan kelembutan dan kasih sayang kepada al mukhothob (yang ditujukan pembicaraan, pent).

Jika ada yang menyatakan : Masalah ini terkadang susah (sulit diamalkan-red) maksudnya bahwa mencintai untuk saudara sesuatu yang kamu cintai untuk dirimu, dengan pengertian, menginginkan saudaramu agar menjadi alim, menjadi kaya, menjadi orang yang banyak harta dan anaknya dan menjadi seorang yang istiqomah, ini semua adalah perkara yang terkadang susah.

Jawabnya : Ini tidak susah, jika kamu telah membiasakan jiwamu berbuat demikian. Latihlah jiwamu untuk berbuat demikian, niscaya akan mudah. Namun jika kamu mentaati jiwamu dalam hawa nafsunya, maka benarlah hal itu akan menjadi berat.

Jika seorang murid bertanya : Apakah termasuk dalam hal ini, saya mencontekkan kepada teman saya dalam ujian, karena saya ingin lulus ujian sehingga saya memberikan contekan kepadanya agar ia lulus ujian juga?

Jawabnya: Tidak ! Karena itu merupakan penipuan. Perbuatan ini, sebenarnya adalah perbuatan jelek kepada saudaramu, bukan perbuatan baik kepadanya. Karena jika kamu telah membiasakan ia berkhianat, maka ia akan menjadi terbiasa melakukannya. Dan karena engkau juga dengan memberikan contekkan berarti engkau telah menipunya, dimana ia akan membawa ijazah, yang sebenarnya ia tidak pantas menyandangnya.

Wallahu al muwaffiq.

(Disusun oleh Kholid Syamhudi, diangkat dari kitab Syarah Al Arba’in An Nawawiyah, Cetakan Pertama, Tahun 1424 H, Dar Ats Tsuraya, Riyadh, KSA, hlm. 160-164)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Wudhu’, Bab Wadh’u Al Ma’ Inda Al Khala’, no. 143.
[2] HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab Bayan ‘Adad Syu’abi Al Iman Wa Afdhaluha Wa Adnaha Wa Fadhilah Al Haya Wa Kaunihi Min Al Iman, no. 35.
[3] HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al Imarah, Bab Wujub Al Wafa’ Bi Bai’ati Al Khulafai Al Wal Fal Awal, no. 1.844.
[4] HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Adab, Bab Itsmu Man La Ya’man Jarau Bawaiqahu, no. 6-16.

Semua Akan Memasuki Neraka

SEMUA AKAN MEMASUKI NERAKA

Oleh
Ustadz Ashim bin Musthafa, Lc

وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ  ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. [Maryam/19: 71-72]

Penjelasan Ayat :
Ayat ini (ayat pertama) merupakan kabar berita dari Allah Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk ; baik orang-orang yang shaleh ataupun durhaka, Mukmin maupun orang kafir. Setiap orang akan mendatangi neraka. Ini sudah menjadi ketentuan Allah Azza wa Jalla dan janji-Nya kepada para hamba. Tidak ada keraguan tentang terjadinya peristiwa itu. Allah Azza wa Jalla pasti akan merealisasikannya[1].

Yang perlu diketahui, Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian kata al-wurûd[2] (mendatangi neraka) dalam ayat tersebut. Sebagian Ulama menyatakan, maksudnya neraka dihadirkan di hadapan segenap makhluk, sehingga semua orang akan merasa ketakutan. Setelah itu, Allah Azza wa Jalla menyelamatkan kaum muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Atau menurut penafsiran yang lain, semua makhluk akan memasukinya. Meski kaum Mukminin memasukinya, akan tetapi neraka akan menjadi dingin dan keselamatan bagi mereka. Di samping itu, terdapat penafsiran lain yang memaknainya dengan mendekati neraka. Dan ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah panas badan yang dialami kaum Mukminin saat menderita sakit panas[3].

Syaikh ‘Abdul Muhsin menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat.

  1. Semua memasuki neraka, akan tetapi mereka (kaum Mukminin) tidak mengalami bahaya.
  2. Mereka semua melewati shirâth (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya. Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Katsîr rahimahullah dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu[4].

Dari dua pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah (wafat tahun 792 H) memandang bahwa pendapat kedua itulah yang paling kuat dan râjih. Beliau berkata: “Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian al-wurûd dalam firman Allah Surat Maryam/19 ayat 71, manakah pendapat yang benar? Pendapat yang paling jelas dan lebih kuat adalah melintasi shirâth.”[5]

Untuk menguatkan pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah berhujjah dengan ayat selanjutnya (Maryam/19:72) dan hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya no. 6354. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya.

أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا قَالَتْ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَانْتَهَرَهَا فَقَالَتْ حَفْصَةُ { وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dari Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat berada di samping Hafshah Radhiyallahu ‘anha , “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka”. Hafshah (bertanya-tanya dengan) berkata, “Mereka akan memasukinya wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyanggahnya. Hafshah Radhiyallahu ‘anha berdalil dengan membaca ayat: “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. (Mendengar ini) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda, “Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut”.

Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah mengatakan bahwa beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan (dalam hadits) bahwa maksud alwurûd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya. Begitu juga selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Akan tetapi, dengan adanya kondisi (genting) yang terjadi itu sudah cukup (kemudian dia selamat dari ancaman itu). Barang siapa dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan : Allah telah menyelamatkannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا

Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan Hûd…[Hûd /11:58],

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh…[Hûd /11:66],

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib [Hûd /11:94]

Siksa Allah Azza wa Jalla tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka. Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan bagi mereka secara khusus, niscaya siksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wurûd (mendatangi neraka), maksudnya orang-orang akan melewati neraka dari atas shirâth. Kemudian Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di neraka dalam keadaan berlutut”[6]

Senada dengan keterangan di atas, sebelumnya Imam Nawâwi rahimahullah (wafat tahun 676 H) pun menguatkan arti menyeberangi shirâth. Beliau rahimahullah berkata dalam menerangkan hadits Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha : “Yang benar, maksud al-wurûd (mendatanginya) dalam ayat adalah melewati shirâth. Shirâth adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat”[7].

Dalam kitab al-Jawâbuss Shahîh (1/228), Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimaullah juga merâjihkan pengertian al-wurûd dengan menyeberangi shirâth[8]. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafizhahullâh juga memilih pendapat ini dalam tafsirnya[9].

Orang-orang Bertakwa Selamat Melintasi Shirath
Amal shaleh akan sangat berpengaruh dalam proses melewati shirâth ini. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat dalam menyeberanginya. Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Orang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlar-ilari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman :

ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”[10]

Semoga AllahAzza wa Jalla dengan rahmat dan kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.

Pelajaran dari Ayat:

  1. Mengandung penetapan kewajiban beriman keberadaan neraka.
  2. Penetapan kewajiban mengimani shirâth.
  3. Penetapan kepastian menyeberangi jembatan di atas neraka.
  4. Ketetapan Allah Azza wa Jalla pasti terjadi.
  5. Orang-orang bertakwa akan selamat dari siksa neraka.
  6. Orang-orang fâjir (berbuat jahat) akan binasa karena kesyirikan dan maksiat mereka.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Silahkan lihat 532 Adhwâul Bayân 4/381, al-Aisar (1/738)
[2] Mashdar (bentuk pembendaan) dari kata kerja warada yaridu yang merupakan asal kata dari wâridu (wâridûhâ) yang tertera dalam ayat
[3] Silahkan lihat Adhwâul Bayân 4/372, Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 498
[4] Jâmiur Rasâil Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd (1/260) dengan diringkas
[5] Syarhul Aqîdatith Thahâwiyah hlm. 416, takhrîj Syaikh al-Albâni
[6] Syarhul Aqîdatith Thahâwiyah hlm. 416, takhrîj Syaikh al-Albâni
[7] Syarhu Shahîh Muslim (16/275)
[8] Nukilan dari Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah, Khâlid ‘Abdullah al-Mushlih, hlm. 145
[9] Aisarut Tafâsîr (1/738)
[10] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 499 dengan diringkas