Author Archives: editor

Segeralah Bertaubat Kepada Allah dan Perbanyak Istighfar

SEGERALAH BERTAUBAT KEPADA ALLÂH AZZA WA JALLA DAN PERBANYAKLAH ISTIGHFAR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas  حفظه الله

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:   يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allâh dan mintalah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allâh dan minta ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali.’”

KEDUDUKAN HADITS
Hadits ini diriwayatkan dari salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[1] Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad (IV/260-261 dan V/411) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (I/301-302, no. 886).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Muslim (no. 2702), Ahmad (IV/211), Abu Dawud (no. 1515), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 883) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 1288). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1452).

SYARAH HADITS
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk bertaubat dan perintah ini merupakan perintah wajib yang harus segera dilaksanakan sebelum ajal tiba.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. [An-Nûr/24:31]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allâh dengan taubat yang semurni-murninya (ikhlas) [At-Tahrîm/66:8]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalllallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bertaubat, karena taubat merupakan jalan kebahagiaan, jalan menuju surga, pembersih hati, penghapus dosa, dan menjadi sebab keridhaan Allâh Azza wa Jalla .

Setiap anak Adam pasti pernah berbuat dosa dan yang terbaik dari mereka adalah yang bertaubat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.[2]

Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan ummatnya untuk selalu bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Bahkan, Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada ummatnya bahwa Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bertaubat sebanyak 100 kali dalam sehari.

MAKNA TAUBAT
Asal makna taubat yaitu kembali dari kesalahan dan dosa menuju kepada ketaatan.

Seorang dikatakan bertaubat kalau ia mengakui dosa-dosanya, menyesal, berhenti dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan itu[3]

Lafazh taubat dalam surat at-Tahrîm pada ayat ke-8 di atas diiringi dengan lafazh nashuh, sehingga menjadi taubat nashuh. Taubat nashuh bermakna taubat yang ikhlas, jujur, benar, dan taubat yang tidak diiringi lagi dengan perbuatan dosa.

WAJIBNYA TAUBAT
Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara para Ulama tentang kewajiban bertaubat, bahkan taubat adalah fardhu ‘ain yang harus dilakukan oleh setiap Muslim dan Muslimah. Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Para Ulama telah ijma’ tentang kewajiban bertaubat, karena sesungguhnya dosa-dosa itu bisa membinasakan manusia dan menjauhkan manusia dari Allâh Azza wa Jalla. Maka, wajib segera bertaubat.”[4]

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan, dan akhir perjalanan hidup. Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan menuju Allâh Azza wa Jalla tidak boleh lepas dari taubat hingga ajal menjemputnya. Taubat merupakan awal langkah seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla dan akhir langkahnya. Kebutuhan seorang hamba terhadap taubat di akhir hayatnya amat sangat penting dan sangat mendesak, sebagaimana juga taubat dibutuhkan di awal perjalanan hidup seorang hamba.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” [An-Nûr/24:31]

Ayat ini diturunkan di Madinah. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang pilihan supaya mereka bertaubat, sesudah mereka beriman, bersabar, hijrah, dan berjihad.”[5]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya, (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, hingga pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut, kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” [Hûd/11:3]

Begitu juga dalam firman-Nya, ketika Nabi Hûd Alaihissallam menyuruh kaumnya untuk beristighfar kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (Hûd berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Rabbmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” [Hûd/11:52]

Dan juga Nabi Nûh Alaihissallam berkata kepada kaumnya untuk memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabbmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” [Nûh/71:10-12]

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang istighfar dan meminta ampun kepada Allâh Azza wa Jalla dengan benar, maka Allâh Azza wa Jalla akan mengampuninya dan memberi kenikmatan yang banyak serta keutamaan. Sebaliknya, jika ia tidak mau bertaubat bahkan ia berpaling dari Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk menimpakan adzab dan siksa kepadanya.

TAUBAT WAJIB DILAKUKAN DENGAN SEGERA, TIDAK BOLEH DITUNDA
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dari perbuatan dosa adalah wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda.”[6]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para Ulama telah sepakat bahwa bertaubat dari seluruh perbuatan maksiat adalah wajib. Wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda, baik itu dosa kecil apalagi dosa besar.”[7]

Kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia banyak sekali. Setiap hari, manusia pernah berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, baik dosa kepada al-Khâliq (Allâh Maha Pencipta) maupun dosa kepada makhluk-Nya. Setiap anggota tubuh manusia pernah melakukan kesalahan dan dosa. Mata sering melihat yang haram, lidah sering bicara yang tidak benar, berdusta, melaknat, sumpah palsu, menuduh, membicarakan aib sesama Muslim (ghibah), mencela, mengejek, menghina, mengadu domba, menfitnah, dan lain-lain. Telinga sering mendengarkan lagu dan musik yang jelas hukumnya haram, tangan sering menyentuh perempuan yang bukan mahram, mengambil barang yang bukan miliknya (ghasab), mencuri, memukul, bahkan membunuh, atau melakukan kejahatan yang lainnya. Kaki pun sering melangkah ke tempat-tempat maksiat dan dosa-dosa lainnya.

Dosa dan kesalahan akan berakibat keburukan dan kehinaan bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat, bila orang itu tidak segera bertaubat kepada Allâh. Setiap Muslim dan Muslimah pernah berbuat salah, baik dia sebagai orang awam maupun seorang ustadz, da’i, pendidik, kyai, ataupun Ulama. Karena itu, setiap orang tidak boleh lepas dari istighfar  dan selalu bertaubat kepada-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam . Setiap hari Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla sebanyak seratus kali. Bahkan dalam suatu hadits disebutkan bahwa Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam meminta ampun kepada Allâh Azza wa Jalla seratus kali dalam satu majelisnya.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata, “Kami pernah menghitung di satu majelis Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seratus kali Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ya Rabb-ku! Ampunilah aku dan aku bertaubat kepada-Mu. Sungguh, Engkau Mahamenerima taubat lagi Maha Penyayang.[8]

Apabila ada yang beranggapan bahwa dirinya telah melakukan perbuatan dosa yang banyak sekali, sehingga merasa dosanya tidak akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla . Maka orang ini harus mengubah anggapan buruknya itu. Dia harus yakin bahwa Allâh Azza wa Jalla akan mengampuni segala dosa jika pelakunya bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taubat nashûh.

Segeralah bertaubat! Tidak ada kata terlambat dalam masalah taubat, pintu taubat selalu terbuka sampai matahari terbit dari barat.

Seorang Muslim tidak boleh merasa putus asa dari rahmat Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allâh.’ Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Az-Zumar/39 :53]

Disamping itu, ada banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi ampunan di setiap waktu dan menerima taubat setiap saat. Dia Azza wa Jalla selalu mendengar istighfar dan mengetahui taubat hamba-Nya, kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu, jika ada orang yang  mengabaikan masalah taubat ini dan lengah dalam menggunakan kesempatan untuk mencapai keselamatan, maka rahmat Allâh nan luas itu akan berbalik menjadi malapetaka, kesedihan dan kepedihan di padang mahsyar. Hal ini tak ubahnya seseorang yang sedang kehausan padahal di hadapannya ada air bersih namun ia tidak dapat menjamahnya, hingga akhirnya maut menjemput sesudah merasakan penderitaan haus tersebut. Begitulah gambaran orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka. Pintu rahmat sebenarnya terbuka lebar, tetapi mereka enggan memasukinya. Jalan keselamatan sudah tersedia, namun mereka tetap berjalan di jalan kesesatan.

Apabila tanda-tanda kiamat besar telah tampak, yakni matahari sudah terbit dari barat. Kematian sudah di ambang pintu, yakni nyawa sudah berada di tenggorokan, maka taubat tidak lagi diterima. Wal’iyâdzubillâh.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Taubat itu bukanlah bagi orang-orang yang berbuat kemaksiatan, sehingga apabila kematian telah datang kepada seseorang di antara mereka lalu ia berkata: ‘Sungguh sekarang ini aku taubat dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan kafir. Bagi mereka Kami sediakan siksa yang pedih. [An-Nisâ’/4 :18]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Rabbmu, atau sebagian tanda-tanda dari Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, ‘Tunggulah! Kami pun menunggu.’” [Al-An’âm/6:158]

Maksud firman Allâh Azza wa Jalla , “Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Rabbmu, atau sebagian tanda-tanda dari Rabbmu.”  yaitu pada hari Kiamat.

Dan firman Allâh, “atau sebagian tanda-tanda dari Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu,” yaitu munculnya tanda-tanda Kiamat.

Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا، فَذَاكَ حِينَ : لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ

Hari Kiamat tidak terjadi sampai matahari terbit dari barat. Ketika manusia melihatnya, mereka semua beriman (kepada Allâh). Maka saat itulah, “tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu.”[9]

Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ

Barangsiapa taubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allâh akan menerima taubatnya.[10]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, ”Sesungguhnya Allâh menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan.[11]

SYARAT-SYARAT TAUBAT
Para Ulama menjelaskan syarat-syarat taubat yang diterima Allâh Azza wa Jalla sebagai berikut:

  1. Al-Iqlâ’u, yaitu berhenti dari perbuatan dosa dan maksiat yang ia pernah lakukan.
  2. An-Nadamu, yaitu menyesali perbuatan dosanya itu.
  3. Al-‘Azmu, yaitu bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu.
  4. Jika perbuatan dosanya itu ada hubungannya dengan orang lain, maka di samping tiga syarat di atas, ditambah satu syarat lagi yaitu harus ada pernyataan bebas dari hak kawan yang dirugikan itu. Jika yang dirugikan itu hartanya, maka hartanya itu harus dikembali Jika berupa tuduhan jahat, maka ia harus meminta maaf, dan jika berupa ghibah atau umpatan, maka ia harus bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak perlu minta maaf kepada orang yang diumpat.[12]

Di samping syarat-syarat di atas, dianjurkan pula bagi orang yang bertaubat untuk melakukan shalat dua raka’at yang dinamakan shalat Taubat, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذَهِ الآيَةَ  : وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ 

Tidak ada seorang hamba pun yang berbuat dosa kemudian ia pergi bersuci (berwudhu’), lalu ia shalat (dua raka’at), lalu ia mohon ampun kepada Allâh (dari dosa tersebut), niscaya Allâh akan ampuni dosanya.” Kemudian Beliau Shalllallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allâh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.’ [Ali ‘Imrân/3 :135].[13]

KEUTAMAAN TAUBAT NASHUHA
1. Taubat menghapuskan dosa-dosa seolah-olah ia tidak pernah berdosa.
Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak berdosa.[14]

2. Mengganti kejelekannya dengan kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “ Kecuali orang-orang yang bertaubat beriman dan beramal shalih, maka Allâh akan ganti kejahatan mereka dengan kebajikan. Dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Furqân/25:70]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَتَمَنَّيَنَّ أَقْوَامٌ لَوْ أَكْثَرُوْا مِنَ السَّيِّئَاتِ الَّذِيْنَ بَدَّلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

Sesungguhnya ada beberapa kaum bila mereka banyak berbuat kesalahan-kesalahan, mereka bercita-cita menjadi orang-orang yang Allâh Azza wa Jalla ganti kesalahan-kesalahan mereka dengan kebajikan.[15]

3. Membawa kepada Kesuksesan
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” [At-Taubah/9:104]

4. Jalan menuju surga dan penghalang dari neraka
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizhalimi (dirugikan) sedikit pun.” [Maryam/19:60]

5. Membersihkan hati, menghapuskan dosa, dan membuat ridha Allâh Azza wa Jalla
Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allâh, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran)…” [At-Tahrîm/66:4]

OBAT MUJARAB AGAR ISTIQOMAH DALAM TAUBAT DAN TIDAK TERUS BERBUAT DOSA
Setiap penyakit ada obatnya dan setiap penyakit ada ahli yang dapat menangani untuk menyembuhkannya. Obat penyakit badan dan anggota tubuh manusia bisa diserahkan kepada dokter, tetapi penyakit hati hanya bisa diobati dengan kembali kepada agama yang benar.

Hati yang lalai merupakan pokok segala kesalahan, dan penyakit hati ini lebih banyak dari penyakit badan, karena orang tersebut tidak sadar dirinya sedang sakit, dan akibat dari penyakit ini, seolah-olah tidak dapat tampak di dunia ini. Oleh karena itu, obat yang mujarab bagi penyakit ini, sesudah ia kembali ke agama yang benar ialah:

  1. Mengingat ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla yang menakutkan dan mengerikan tentang siksa yang pedih bagi orang yang berbuat dosa dan maksiat. Bacalah al-Qur`an juz ‘Amma (juz ke-30) beserta artinya, dan sebaiknya dihafalkan.
  2. Baca hikayat para Nabi bersama ummatnya dan para salafus shalih, dan musibah-musibah yang menimpa mereka beserta ummatnya dengan sebab dosa yang mereka lakukan.
  3. Ingat bahwa setiap dosa dan maksiat memiliki akibat buruk di dunia maupun akhirat.
  4. Ingat ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisahkan tentang siksa akibat perbuatan dosa. Satu per satu, seperti dosa minum khamr, dosa riba, dosa zina, dosa khianat, dosa ghibah, dosa membunuh, dan lain-lain.
  5. Bacalah Istighfar dan Sayyidul Istighfar setiap hari, serta do’a-do’a pelebur dosa lainnya.

HAL-HAL YANG WAJIB DIINGAT SEBELUM DAN SESUDAH TAUBAT
1. Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui seluruh perbuatan dosa para hamba-Nya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Rabbmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa para hamba-Nya.” [Al-Isrâ`/17:17]

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

“Dan bertawakallah kepada Allâh Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” [Al-Furqân/25: 58]

2. Mengingat bahwa adzab Allâh Azza wa Jalla sangat pedih
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٤٩﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

Kabarkanlah kepada para hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih. [Al-Hijr/15:49-50]

Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ فِيْ أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ. وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ

Sesungguhnya seorang Mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia berada di kaki gunung, ia takut gunung itu akan menimpanya. Adapun seorang yang fajir (suka berbuat maksiat) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.[16]

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sungguh kalian mengerjakan suatu amal yang –dalam pandangan kalian- lebih tipis daripada rambut, namun kami menganggapnya di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suatu dosa besar (yang membinasakan).”[17]

3. Berusaha pindah dari tempat yang banyak dikerjakan maksiat
Sebagaimana dalam hadits tentang orang yang membunuh 100 jiwa. Singkatnya, setelah orang tersebut membunuh 100 jiwa, ia bertanya kepada seorang ‘alim, “Apakah jika ia bertaubat akan diterima taubatnya?” Orang ‘alim itu menjawab, ‘Ya, dan siapakah yang akan menghalangi antara dia dan taubat. Pergilah ke tempat ini dan ini karena di sana ada sekelompok orang yang beribadah kepada Allâh, maka beribadahlah kepada Allâh bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke tempatmu karena tempatmu adalah tempat yang jelek”[18]

PERKARA-PERKARA YANG WAJIB DIHINDARI DALAM TAUBAT
1. Terus menerus dalam berbuat dosa
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allâh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imrân/3:135]

2. Berbangga dengan perbuatan dosa
Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ.

Setiap ummatku diampuni kecuali al-mujâhirin (orang-orang yang sengaja menampakkan perbuatan dosanya-red). Dan sungguh termasuk mujaharah (perbuatan menyengaja menampak dosa) yaitu orang yang mengerjakan suatu perbuatan dosa pada malam hari, kemudian ia memasuki waktu pagi padahal Allâh Azza wa Jalla telah menutupi dosanya tersebut, namun ia berkata (menceritakannya), ‘Wahai fulan! Saya tadi malam melakukan ini dan itu.’  Padahal Allâh Azza wa Jalla telah menutupi perbuatannya pada malam hari, tetapi pagi harinya ia membuka sendiri perbuatannya yang telah ditutupi oleh Allâh tersebut.[19]

Mujâhir adalah orang yang bangga, sengaja menampakkan dan menceritakan dosanya kepada orang lain. Orang yang berbangga dengan dosanya berarti dia telah melakukan lima kejahatan, yaitu:

  1. Kejahatan karena perbuatan dosa atau maksiat itu sendiri
  2. Kejahatan karena ia menceritakan perbuatan dosa yang telah dikerjakannya atau ia mengerjakannya dihadapan orang lain
  3. Kejahatan karena ia telah membuka penutup aib yang telah Allâh tutupkan
  4. Kejahatan karena ia telah membangkitkan semangat orang untuk berbuat dosa sepertinya.
  5. Kejahatan karena ia menganggap remeh perbuatan dosa dan maksiatnya itu.[20]

3. Tidak istiqamah dalam bertaubat
Ada beberapa tingkatan manusia yang bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla, yaitu :

Pertama, yaitu orang yang istiqamah dalam taubatnya sampai meninggal dunia. Ia tidak berkeinginan untuk mengulangi dosanya dan ia berusaha membereskan semua kesalahannya. Tetapi ada sedikit dosa-dosa kecil yang terkadang masih ia lakukan, dan memang semua manusia tidak bisa lepas darinya. Meski demikian, namun ia selalu bersegera untuk beristighfar dan berbuat kebajikan, ia termasuk orang sâbiqûn bil khairât.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ

Di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh [Fâthir/35:32]

Taubatnya dikatakan taubat nashuha, yakni taubat yang benar dan ikhlas. Jiwa yang demikian dinamakan an-nafsul muthmainnah.

Kedua, yaitu orang yang menempuh jalannya orang-orang yang istiqamah dalam semua ketaatan dan menjauhkan semua dosa-dosa besar tetapi ia terkena musibah, yaitu ia sering melakukan dosa-dosa kecil tanpa sengaja. Setiap ia melakukan dosa-dosa itu, ia mencela dirinya dan menyesalinya. Orang-orang ini akan mendapatkan janji kebaikan dari Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya…” [An-Najm/53:32]

Dan jiwa yang demikian dinamakan an-nafsul lawwâmah.

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Dan Aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) [Al-Qiyâmah/75:2]

Ketiga, orang yang bertaubat dan istiqamah dalam taubatnya sampai satu waktu, kemudian suatu saat ia mengerjakan lagi sebagian dosa besar karena ia dikalahkan oleh syahwatnya. Kendati demikian ia masih tetap menjaga perbuatan-perbuatan yang baik dan masih tetap taat kepada Allâh Azza wa Jalla . Ia selalu menyiapkan dirinya untuk bertaubat dan berkeinginan agar Allâh Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosanya. Keadaan orang ini sebagaimana yang Allâh firmankan, yang artinya,Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allâh menerima taubat mereka, sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At-Taubah: 102]

Jiwa inilah yang disebut an-nafsul mas-ûlah.

Tingkatan ketiga ini berbahaya, karena bisa jadi ia menunda taubatnya. Bahkan ada kemungkinan sebelum ia berkesempatan untuk bertaubat, Malaikat maut telah diperintah Allâh Azza wa Jalla untuk mencabut ruhnya, sedangkan amal-amal manusia dihisab menurut akhir kehidupan manusia, menjelang mati.

Keempat, yaitu orang yang bertaubat tetapi taubatnya hanya sementara waktu saja, kemudian ia kembali lagi melakukan dosa dan maksiat dan tidak peduli lagi terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Allâh serta tidak ada lagi rasa menyesal terhadap dosa-dosanya. Nafsu sudah menguasai kehidupannya serta selalu menyuruh kepada perbuatan-perbuatan yang jelek. Ia termasuk orang yang terus-menerus dalam perbuatan dosa, bahkan ia sudah sangat benci kepada orang-orang yang berbuat baik, dan malah menjauhinya. Jiwa yang demikian ini dinamakan an-nafsul ammârah.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Yûsuf/12 :53]

Tingkatan keempat ini sangat berbahaya dan bila ia mati dalam keadaan demikian, maka ia termasuk su’ul khâtimah (Akhir kehidupan yang jelek).[21]

Nas`alullâha al-‘afwa wal ‘afiyah. Kita memohon ampunan kepada Allâh Azza wa Jalla dan memohon agar diselamatkan dari hal yang seperti ini.

FAWAA’ID HADITS

  1. Taubat merupakan nikmat, karunia dan hidayah taufik dari Allâh kepada para hamba-Nya.
  2. Setiap manusia pernah berbuat dosa dan kesalahan, dan yang terbaik adalah yang bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla .
  3. Kita wajib bertaubat dan meninggalkan semua dosa dan sifat yang tercela.
  4. Taubat wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda.
  5. Taubat wajib dilakukan dengan ikhlas, jujur dan memenuhi syarat-syaratnya.
  6. Beristighfar dan bertaubat itu hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengadakan ishlah (perbaikan), serta perubahan kepada yang lebih baik.
  7. Pintu taubat masih tetap terbuka, siang dan malam, sampai matahari terbit dari barat.
  8. Seorang hamba tidak boleh putus asa dari rahmat Allâh Azza wa Jalla .
  9. Allâh Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang mengampuni semua dosa besar dan kecil.
  10. Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerima taubat apabila ruh sudah berada di tenggorokan dan apabila matahari telah terbit dari barat (hari Kiamat).
  11. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari istighfar dan bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla 100 kali.
  12. Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum adalah contoh teladan yang baik dalam bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla .
  13. Allâh Azza wa Jalla telah menerima taubat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. [At-Taubah/9:117]
  14. Allâh Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang bertaubat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” [Al-Baqarah: 222]
  15. Allâh Azza wa Jalla sangat senang dengan taubat seorang hamba yang ikhlas dan jujur.
  16. Taubat dan istighfar wajib dibuktikan dengan amalan-amalan ketaatan kepada Allâh, menjauhi maksiat, dan tidak mengulangi perbuatan dosa-dosanya. Ini adalah taubat yang ikhlas dan jujur.
  17. Taubat yang ikhlas, jujur, dan istiqamah dalam taubatnya akan membuat seorang hamba lebih baik dari sebelumnya dan husnul khatimah
  18. Orang yang selalu bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh akan menunjuki hatinya. [Ar-Ra’d/13:27]
  19. Taubat yang jujur dan ikhlas akan membawa kepada ketenangan, tawadhu, menumbuhkan rasa takut terhadap Allâh dan siksa-Nya.
  20. Segeralah bertaubat dan memperbanyak istighfar, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kenikmatan yang banyak dan menurunkan hujan yang deras.
  21. Bertaubat dan memperbanyak istighfar akan mendatangkan rezeki dan jalan keluar yang terbaik.
  22. Kita dianjurkan setiap hari beristighfar dan bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Dianjurkan kita beristighfar pada waktu sahur.

Istighfar yang dibaca yaitu:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلِيْهِ

Aku memohon ampunan kepada Allâh Yang Mahaagung, Yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha-hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.[22]

Yang paling baik dibaca yaitu sayyidul isighfar, di waktu pagi dan petang.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبّـِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Allâh, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui dosaku, oleh karena itu ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”[23]

Wallaahu a’lamu bish shawaab.

MARAAJI’:

  1. Kutubus sittah
  2. Tafsîr Ibni Katsiir, tahqiq Sami Muhammad Salamah, cet. Daar Thaybah.
  3. Fat-hul Bâ
  4. Syarah Shahîh Muslim, Imam an-Nawawi.
  5. Mukhtashar Minhajil Qâshidîn, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi.
  6. Madârijus Sâlikiin, Imam Ibnul Qayyim, cet. Darul Hadits-Kairo
  7. Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
  8. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
  9. Riyâdhush Shâlihîn, Imam an-Nawawi.
  10. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhis Shâlihîn, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Dalam ilmu mushthalah hadits, ini dinamakan mubham. Mubham Sahabi adalah shahih, karena para Sahabat semuanya adil.
اَلصَّحَابَـةُ كُلُّـهُمْ عُدُوْلٌ. “Para Shahabat semuanya adil (terpercaya).” (Lihat Irsyâdul Fuhûl ilâ Tahqîqil Haqqi min ‘Ilmil Ushûl (I/228) karya Imam asy-Syaukani tahqiq DR. Sya’ban Muhammad Isma’il).
Menurut Syaikh al-Albani bahwa tampaknya Sahabat tersebut adalah al-Agharr al-Muzani Radhiyallahu anhu. Bahkan Imam Abu Hatim rahimahullah ketika ditanya oleh anaknya Ibnu Abi Hatim, beliau dengan tegas mengatakan bahwa riwayat di atas dari Sahabat al-Agharr al-Muzani Radhiyallahu anhu. Ibnu Abi Hatim berkata, “Ayahku (Abu Hatim) berkata: Sesungguhnya orang ini adalah al-Agharr al-Muzani, dia seorang Sahabat (Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam).” (Al-’Ilal, V/182-183 no. 1904).
[2] Hasan: HR. Ahmad (III/198); at-Tirmidzi (no. 2499); Ibnu Majah (no. 4251) dan al-Hakim (IV/244), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 4515)
[3] Lihat Fat-hul Bâri (XI/103) dan al-Mu’jamul Wasith, bab Taa-ba (I/90).
[4] Mukhtashar Minhajil Qâshidin (hlm. 322), karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi, tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid
[5] Madârijus Sâlikîn (I/198), cet. Darul Hadits-Kairo
[6] Madârijus Sâlikîn (I/297), cet. Darul Hadits-Kairo.
[7] Syarhu Shahîh Muslim (XVII/59).
[8] Shahih: HR. At-Tirmidzi )no. 3434); Abu Dawud (no. 1516); Ibnu Majah (no. 3814). Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi (III/153 no. 2731), lafazh ini milik Abu Dawud.
[9] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 4635), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Penjelasan ini dinukil dari Tafsîr Ibni Katsîr (III/371), cet. Daar Thaybah.
[10] Shahih: HR. Muslim (no. 2703), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[11] Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 3537); Ibnu Majah (no. 4253); Ahmad (II/132, 153), dan al-Hakim (IV/257). Lafazh hadits ini menurut Imam at-Tirmidzi.
[12] Lihat Riyâdhush Shâlihîn bab Taubat (hlm. 24-25) dan Shahîh al-Wâbilish Shayyib (hlm. 272-273).
[13] Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 406); Ahmad (I/2, 10); Abu Dawud (no. 1521); Ibnu Majah (no. 1395); Abu Da-wud ath-Thayalisi (no. 1 dan 2), Abu Ya’la (no. 12 dan 15), dan lainnya.
[14] Shahih : HR. Ibnu Mâjah (no. 4250), dari Ibnu Mas’ud I. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3008)
[15] Hasan: HR. Al-Hakim (IV/252), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 5359).
[16] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6308) dan at-Tirmidzi (no. 2497).
[17] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6492).
[18] Hadits ini shahih. Selengkapnya lihat dalam HR. Al-Bukhâri (no. 3470) dan Muslim (no. 2766) atau dalam kitab Riyâdhus Shâlihîn bab Taubat
[19] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6069) dan Muslim (no. 2990) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[20] Bahjatun Nâzhiriin (I/330).
[21] Lihat Mukhtashar Minhajil Qâshidin (hlm. 335-336).
[22] Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلِيْهِ.
‘Aku memohon ampunan kepada Allâh Yang Mahaagung, Yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha-hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.’ Maka Allâh pasti akan mengampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan peperangan.’ Maka Allah pasti akan mengampuni dosanya meskipun
ia pernah lari dari medan peperangan
.”
Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1517), at-Tirmidzi (no. 3577), dan al-Hakim (I/511). Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi (III/182, no. 2831).
[23] Barangsiapa yang membaca do’a ini dengan yakin di pagi hari lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga. (HR. Al-Bukhâri, (no. 6306, 6323); Ahmad (IV/122-125); An-Nasa-i (VIII/279-280).

Pokok-Pokok Asas Dakwah Para Nabi dan Rasul

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Pokok-pokok Asas Dakwah Para Nabi dan Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul dengan tiga perkara :

  1. Berdakwah ilallah.
  2. Menerangkan tentang jalan yang bisa menyampaikan (manusia) kepada Allah.
  3. Menerangkan tentang keadaan manusia setelah sampai di sana.
    • Pertama, menerangkan tentang tauhid dan iman.
    • Kedua, menerangkan hukum-hukum syariat.
    • Ketiga, menerangkan tetang hari akherat dan apa-apa yang terjadi di dalamnya, seperti pahala, siksa, syurga dan neraka.

Dalam berdakwah, seorang da’i hendaklah menerangkan kepada manusia tentang keesaan Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan pekerjaan-pekerjaan-Nya, dan menjelaskan tentang keagungan Allah dan kekuasaan-Nya; bahwa sesungguhnya hanya Allah lah sang Pencipta, Yang Penguasa, Yang Mengatur semua alam semesta ini. Selain Allah adalah makhluk yang tidak berdaya dan tidak punya kekuatan, sesungguhnya hanya Allah semata yang berhak disembah tidak ada sesembahan yang lain. Inilah tahapan awal (berdakwah) yang paling baik dan agung.

Kemudian berdakwah (dengan menerangkan tentang) hari akherat, memberikan nasehat (yang dikamas) dalam menjelaskan tentang dorongan serta ancaman siksaan, menjelaskan sifat-sifat dan keadaan syurga, keadaan neraka dan macam-macam siksaannya dan peristiwa yang lainnya dari rentetan kejadian di hari kiamat.

Kemudian berdakwah (dengan menerangkan) hukum-hukum agama dan syariat, menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang harus dipenuhi. Pada periode Mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah (dengan menerangkan) tentang keesaan Allah dan hari akhirat dan penjelasan tentang keadaan para rasul bersama umat-umat mereka. Adapun pada periode Madinah, Allah menyempurnakan agama-Nya dengan hukum-hukum syariat, sehingga syari’at ini diterima oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan tidak diterima oleh orang yang kafir dan munafik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah kepada Rasul Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti petunjuk orang-orang sebelumnya dari para nabi dan rasul secara umum, dan memerintahkan beliau untuk mengikuti millah Ibrahim secara khusus, dan millah Ibrahim adalah mengorbankan segala sesuatu demi kepentingan agama; dengan jiwa, harta, tanah, anak dan istrinya.

Dan kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mencontohnya dalam setiap situasi dan kondisi, kecuali hal yang telah dikhususkan oleh Allah bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa ayat tentang para nabi:

قال الله تعالى بعد ذكر جملة من الأنبياء عليهم الصلاة والسلام: أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ قُل لَّآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ [الأنعام/90]

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” [Al-An’am/6: 90].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  [النحل/123]

Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif, dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An-Nahl/16: 123].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال الله تعالى لأمة محمد- صلى الله عليه وسلم-: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  [الأحزاب/21]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. [Al-Ahzab/33: 21].

Perbuatan dan akhlak-akhlak para Nabi bisa diketahui dari sejarah hidup mereka, para nabi telah menempuh masa yang panjang dalam berdakwah di jalan Allah, kaki mereka berdebu (karena kerja keras tanpa lelah) di jalan Allah, mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tegaknya kalimat Allah, dahi mereka berkeringat, kaki-kaki mereka terpecah demi menolong agama Allah, mereka diuji, disakiti, dikucilkan, diusir, mereka berperang, dan diperangi, digoncang, disingkirkan, dicaci maki, diperolok, dipukul, tetapi mereka tetap bersabar dan berbelas kasih hingga datang pertolongan Allah atas mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ  [الأنعام/34].

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu”. [Al-An’am/6: 34].

Dakwah para nabi dan rasul

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Shalat Jum’at

SHALAT JUM’AT

Allah mensyari’atkan bagi umat Islam beberapa perkumpulan untuk menguatkan hubungan dan menjalin keakraban di atara mereka, ada pertemuan desa, yaitu shalat lima waktu, ada pertemuan kota, yaitu shalat jum’at dan dua hari raya, dan ada pertemuan internasional, di waktu haji di mekah, inilah pertemuan umat Islam, pertemuan kecil, sedang, dan besar.

Keutamaan Hari Jum’at.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْـهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الجُـمُعَةِ، فِيْـهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْـهِ أُدْخِلَ الجَنَّةَ، وَفِيْـهِ أُخْرِجَ مِنْـهَا، وَلا تَقُومُ السَّاعَةُ إلَّا فِي يَوْمِ الجُـمُعَةِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari jum’at, di hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu dimasukkan ke surga, dan pada hari itu dikeluarkan darinya, dan tidak terjadi hari kiamat kecuali pada hari juma’t[1]

Hukum Shalat Jum’at
Shalat juma’at dua rakaat, dan wajib atas semua umat Islam yang laki-laki, baligh, berakal, merdeka, bermukim di suatu tempat yang dicakup dengan satu nama, dan tidak wajib shalat jum’at atas wanita, orang sakit, anak kecil, orang musafir, hamba sahaya, apabila di antara mereka ada yang ikut shalat jum’at, maka boleh, dan orang musafir apabila singgah di suatu tempat dan ia mendengar adzan, maka ia wajib shalat jum’at.

Waktu Shalat Jum’at
Waktu shalat jum’at yang paling utama adalah: setelah tergelincirnya matahari hingga akhir waktu shalat dzuhur, dan boleh dilakukan sebelum tergelincir matahari.

Yang lebih baik antara adzan pertama untuk shalat jum’at dan adzan kedua ada tenggang waktu yang cukup bagi umat Islam terutama yang jauh, orang yang tidur dan lalai untuk bersiap-siap untuk shalat dengan melaksanakan adab-adabnya, dan sunnah-sunnahnya.

Shalat juma’t wajib dilaksanakan pada waktunya, dan dihadiri oleh jamaah tidak kurang dari dua orang atau tiga dari penduduk suatu daerah, dan didahului oleh dua khutbah yang isinya mengandung pujian kepada Allah, dzikir, syukur, menganjurkan melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta wasiat agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Shalat jum’at menggantikan shalat dhuhur, maka siapa yang telah shalah jum’at maka ia tidak boleh shalat dhuhur setelahnya, dan wajib memelihara shalat jum’at, siapa yang meninggalkannya sebanyak tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan menutup hatinya.

Keutamaan Mandi dan Segera Pergi Untuk Shalat Jum’at

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قال: «مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُـمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ، ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشاً أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِـعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإذَا خَرَجَ الإمَامُ حَضَرَتِ المَلائِكَةُ يَسْتَـمِعُونَ الذِّكْرَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang mandi pada hari jum’at, mandi junub, kemudian pergi maka seakan-akan ia berkurban unta, dan barangsiapa yang pergi pada jam kedua maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi, dan siapa yang pergi pada jam ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor kambing bertanduk, dan siapa yang pergi pada jam keempat maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam, dan siapa yang pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia berkurban telur, dan apabila imam telah keluar maka malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah[2].

وعن أوس بن أوس الثقفي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: «مَنْ غَسَّلَ يَومَ الجُـمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمّ بَكَّرَ وَابْتَـكَرَ، وَمَشَى وَلَـمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الإمَامِ فَاسْتَـمَعَ وَلَـمْ يَلْغُ، كَانَ لَـهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا». أخرجه أبو داود وابن ماجه

Dari Aus bin Aus as-Tsaqafi Radhiyallahu anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang memandikan (membuat istrinya mandi-ed) pada hari jum’at dan mandi, kemudian pergi pagi-pagi, dan berjalan kaki tidak naik kendaraan, dan dekat kepada imam, mendengarkan dan tidak lalai, maka dalam setiap langkah ia mendapat pahala beramal satu tahun, pahala puasa dan qiyamullail.[3]

Seorang muslim bisa tahu kelima jam dengan membagi waktu antara terbitnya matahari hingga datangnya imam menjadi lima bagian, dengan demikian diketahui lama setiap jam.

Waktu yang dianjurkan pergi untuk shalat jum’at mulai sejak terbitnya matahari, demikian pula mandi, adapun waktu wajib pergi untuk shalat jum’at adalah pada adzan kedua sewaktu imam masuk masjid.

Orang yang wajib shalat jum’at tidak boleh melakukan perjalanan pada hari itu setelah adzan kedua kecuali darurat, seperti takut ketinggalan rombongan, atau kendaraan seperti mobil, kapal, atau pesawat terbang.

Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. [Al-Jumu’ah/62: 9].

Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam pada shalat jum’at, maka ia harus menambah satu rakaat untuk menyempurnakan shalat jum’at, dan jika mendapatkan kurang dari satu rakaat, maka ia niat shalat dhuhur dan shalat empat rakaat.

Makmum disunnahkan pergi pagi-pagi untuk shalat jum’at, dua hari raya, dan shalat istisqa’, adapun imam, maka pada shalat jum’at, dan istisqa’ pada waktu khutbah, dan pada shalat hari raya ia datang ketika tiba waktu shalat.

Imam disunnahkan berkhutbah pendek tanpa teks, dan jika ia berkhutbah membawa teks maka dipegang di tangan kanannya, dan boleh baginya bersandar pada tongkat, atau busur, atau dinding mimbar dengan tangan kirinya kalau perlu.

Bagi yang bisa bahasa arab disunnah khutbah jum’at dengan bahasa arab, jika diterjemahkan untuk jamaah karena mereka tidak mengerti bahasa arab, itu lebih baik, dan kalau tidak bisa, maka berkhutbah dengan bahasa mereka, adapun shalat, maka tidak sah kecuali dengan bahasa arab.

Apabila orang musafir melewati suatu kota yang di dalamnya didirikan shalat jum’at, dan ia mendengar adzan, lalu ia berniat ingin istirahat di kota tersebut, maka ia wajib shalat jum’at, dan jika ia menjadi imam dan khatib bagi mereka, maka shalatnya dan shalat mereka sah.

Sifat Khatib

عن جابر بن عبدالله رضي الله عنهما قال: كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا خَطَبَ احْـمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلا صَوْتُـهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُـهُ، حَتَّى كَأنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَـقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ. أخرجه مسلم

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata: Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam khutbah, mata beliau memerah, suaranya keras, amarahnya tinggi, sehingga seakan-akan beliau adalah panglima perang, beliau berkata: semoga Allah memberkati pagi dan soremu.[4]

Disunnahkan imam khutbah di atas mimbar yang bertangga tiga, apabila masuk masjid, ia naik mimbar lalu menghadap kepada jamaah dan mengucapkan salam kepada mereka, kemudian duduk hingga mu’adzin adzan, kemudian khutbah yang pertama sambil berdiri bertolak kepada tongkat atau busur jika perlu, kemudian duduk, kemudian khutbah yang kedua juga berdiri.

Sifat Khutbah
Suatu kali membuka khutbah dengan khutbah hajah, dan di waktu lain membuka khutbah dengan lainnya, adapun teks khutbah hajah:

إنّ الحَـمْدَ لله نَحْـمَدُهُ وَنَسْتَعِينُـهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَـهْدِهِ الله فَلا مُضِلَّ لَـهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَـهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إلَـهَ إلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَـهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَـمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُـهُ

Lalu mengatakan Amma ba’du

«فَإنَّ خَيْرَ الحَدِيثِ كِتَابُ الله، وَخَيْرُ الهُدَى هُدَى مُـحَـمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُـحْدَثَاتُـهَا، وَكُلُّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ». أخرجه أبو داود والنسائي وابن ماجه

Tema Khutbah
Khutbah-khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengandung penjelasan tentang tauhid dan keimanan, menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dasar-dasar keimanan, menyebutkan nikmat-nikmat Allah Subhan ahu wa Ta’ala yang menjadikan makhluknya cinta kepadanya, dan hari-harinya yang membuat mereka taku kepada adzabnya, perintah berdzikir dan bersyukur kepadanya, mencela dunia, menyebut kematian, surga, neraka, mendorong orang taat kepada Allah dan rasulnya, dan melarang mereka berbuat maksiat dsb.

Maka khatib menyebutkan tentang keagungan Allah, nama-namanya, sifat-sifatnya, nikmat-nikmatnya yang membuat makhluknya cinta kepadanya, menyuruh taat kepada Allah, bersyukur kepadanya, mengintatnya, yang membuat mereka mencintai Allah, sehingga mereka setelah shalat jum’at, mereka cinta kepada Allah dan Allah mencintai mereka, hati mereka dipenuhi keimanan dan takut kepada Allah, dan hati dan anggota badan mereka tergerak untuk berdzikir, taat, dan beribadah kepada Allah.

Disunnahkan imam memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat sesuai dengan hadits.

عن جابر بن سَمرة رضي الله عنه قال: كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ صَلاتُـهُ قَصْداً، وَخُطْبَتُـهُ قَصْداً. أخرجه مسلم

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhu berkata: aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka shalat beliau sedang, dan khutbahnya sedang.[5]

Disunnahkan bagi khatib membaca ayat al-Qur’an dalam khutbahnya, dan sekali-kali berkhutbah dengan surat (Qaaf).

Dianjurkan bagi orang-orang mukmin menghadap kepada imam dengan wajah mereka apabila imam telah berada di atas mimbar untuk khutbah, karena hal itu akan lebih konsentrasi, khatib lebih semangat, dan jauh dari tidur.

Sifat Sunnah Jum’at
Setelah shalat jum’at disunnahkan shalat dua rakaat di rumahnya, dan terkadang shalat empat rakaat dengan dua kali salam, adapun jika ia shalat di masjid, maka shalat empat rakaat dengan dua salam, dan tidak ada shalat qabliyah sebelum shalat jum’at.

Berbicara di waktu khatib sedang berkhutbah merusak pahala dan berdosa, maka tidak boleh berbicara ketika khatib sedang khutbah kecuali imam, dan orang yang diajak bicara oleh imam untuk suatu maslahat, menjawab salam, dan menjawab orang yang bersin. Boleh berbicara sebelum khutbah dan setelahnya jika ada keperluan, dan haram melangkahi pudak orang pada hari jum’at ketika imam sedang khutbah, dan makruh ihtiba’ pada hari jum’at ketika imam sedang khutbah.

Apabila syarat-syaratnya cukup maka mendirikan shalat jum’at di suatu kota tidak disyaratkan mendapat izin pemimpin, maka shalat jum’at didirikah baik pemimpin mengizinkan atau tidak, adapun mendirikan beberapa shalat jum’at di suatu kota, maka tidak boleh kecuali ada keperluan dan darurat setelah mendapat izin pemerintah, dan shalat jum’at didirikan di kota-kota dan desa, sedang di luar kampong tidak wajib.

Siapa yang masuk masjid ketika imam sedang khutbah maka ia tidak duduk hingga shalat dua rakaat singkat, dan siapa yang mengantuk di dalam masjid, maka sunnah berpindah dari tempatnya.

Mandi pada hari jum’at sunnah mu’akkadah, dan siapa yang badannya bau yang mengganggu malaikat dan manusia, maka ia wajib mandi, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قال رسول الله عليه الصلاة والسلام: «الغُسْلُ يَومَ الجُـمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُـحْتَلِـمٍ». متفق عليه

Mandi pada hari jum’at wajib atas setiap orang yang sudah baligh.[6]

Setelah mandi pada hari jum’at disunnahkan membersihkan diri, memakai parfum, dan memakai pakaian yang terbagus, lalu segera pergi ke masjid di waktu pagi, mendekat kepada imam, dan shalat sedapat mungkin, memperbanyak doa, dan membaca al-Qur’an.

Yang berkhutbah adalah imam, dan boleh satu orang khutbah, dan orang lain menjadi imam sahalat jum’at kalau ada udzur.

Pada malam jum’at dan siangnya disunnahkan membaca surat al-Kahfi, dan barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari jum’at, maka memancar cahaya darinya antara dua jum’at.

Pada malam dan siang hari jum’at disunnahkan bagi setiap muslim memperbanyak shalawat kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dari Abu Hurairah Radhiyallauh anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَن صَلَّى عَلَيَّ واحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عليه عَشْرًا.

Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.[7]

Disunnahkan bagi imam pada rakaat pertama shalat subuh hari jum’at membaca surat as-Sajdah, dan pada rakaat kedua membaca surat al-Insan.

Tidak disunnahkan bagi imam maupun makmum mengangkat tangan ketika berdoa pada waktu khutbah, kecuali apabila imam minta hujan, maka imam dan makmum mengangkat tangannya, adapun mengucapkan amin atas doa dengan suara pelan, maka itu disyari’atkan.

Disunnahkan bagi imam berdoa dalam khutbahnya, yang lebih utama mendoakan Islam dan umat Islam, agar mereka mendapat penjagaan, pertolongan, dan kedekatan di antara hati mereka, dsb, pada waktu berdoa, imam memberi isyarat dengan jari telunjuknya, dan tidak mengangkat kedua tangannya.

Waktu Dikabulkannya Doa
Waktu dikabulkannya doa diharapkan pada saat terakhir di siang hari jum’at setelah asar, pada waktu itu disunnahkan banyak berdzikir dan berdoa, dan doa pada waktu ini sangat mungkin dikabulkan, waktunya hanya sebentar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذكر يوم الجمعة فقال: «فِيهِ سَاعَةٌ لا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِـمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ الله تَعَالَى شَيْئاً إلَّا أَعْطَاهُ إيَّاهُ». وأشار بيده يقللها. متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang hari jum’at, beliau berkata : “Pada hari jum’at ada satu saat tidak bertepatan seorang muslim sedang berdiri shalat memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah memberi permintaannya”. Beliau memberi isyarat dengan tangannya menandakan waktunya hanya sebentar. [Muttafaq alaih].

Siapa yang ketinggalan shalat jum’at maka ia mengqadha’nya dengan shalat dhuhur empat rakaat, jika ia ada halangan maka ia tidak berdosa, dan jika tidak ada halangan, ia berdosa; karena ia mengabaikan shalat jum’at.

Dari Abi al-Ja’ad Radhiyallahu anhu berkata:

عن أبي الجعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«مَنْ تَرَكَ ثَلاثَ جُـمَعٍ تَـهَاوُناً بِـهَا طَبَـعَ الله عَلَى قَلْبِـهِ». أخرجه أبو داود والترمذي

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang meninggalkan tiga kali shalat jum’at karena mengabaikannya, maka Allah menutup hatinya.[8]

Apabila hari raya jatuh pada hari jum’at, maka yang telah shalat ied tidak wajib shalat jum’at, dan mereka shalat dhuhur, kecuali imam, maka ia tetap wajib, demikian pula yang tidak shalat ied, dan jika orang yang telah shalat ied shalat jum’at, maka tidak wajib lagi shalat dhuhur.

Shalat yang paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah shalat subuh berjamaah pada hari jum’at.

[Disalin dari صلاة الجمعة Penulis Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiry, Penerjemah : Team Indonesia, Murajaah : Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 1428 – 2007]
______
Footnote
[1] Shahih Muslim no (854)
[2] Shahih Bukhari no (881), Shahih Muslim no (850).
[3] Sunan Abu Daud no (345), Sunan Ibnu Majah no (1087)
[4] Shahih Muslim no (867)
[5] Shahih Muslim no (866)
[6] Shahih Bukhari no (858), Shahih Muslim no (846)
[7] Shahih Muslim no (408)
[8] Sunan Abi Daud no (1052), Tirmidzi no (414).

Dakwah Para Nabi dan Rasul

 PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Dakwah Para Nabi dan Rasul
Setelah para Nabi atau Rasul berdakwah kepada manusia, maka di antara manusia ada yang beriman dan ada pula yang tidak beriman:

Mereka yang beriman akan diuji oleh Allah dengan kesenangan dan kesengsaraan serta dimusuhi dan disakiti oleh manusia, sehingga jelas antara yang jujur dengan yang dusta, yang beriman dan yang munafiq.

Dan mereka yang tidak beriman akan diazab dengan sesuatu yang lebih menyakitkan dan dalam masa yang lebih lama. Oleh karenanya, mesti bagi setiap insan baik yang beriman ataupun yang kafir untuk mendapatkan penderitaan, tetapi orang beriman penderitaan di dunia, sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya), kemudian dibalas oleh Allah dengan kebaikan di dunia dan akherat. Adapun orang kafir, menemukan kenikmatan yang semu sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya) kemudian berubah menjadi penderitaan yang abadi (di akherat)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ  [العنكبوت/ 2- 3].

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? . Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta”. [Al-Ankabut/29: 2-3].

قال الله تعالى: لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  [آل عمران/ 196- 197]

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. 197. Itu hanyalah kesenangan sementara, Kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”. [Ali Imran/3: 196-197]

 فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ [التوبة: 55]

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”.[At-Taubah/9: 55].

Para nabi dan rasul serta semua pengikutnya hidup di muka bumi ini dengan mengemaban tauhid, keimanan dan amal sholeh bagi umat manusia, mereka menyeru umat manusia kepadanya (tauhid, keimanan dan amal sholeh). Dan sesuatu yang sangat dicintai oleh mereka adalah keimanan kepada Allah dan beramal sholeh, dan sesuatu yang sangat dirindukan oleh mereka adalah melihat Rabbnya, mengharap ridha Nya, merindukan kenikmatan-kenikmatan syurga, istana-istana yang megah di dalamnya. Mereka berjihad, berdakwah, dan bersabar sehingga Allah meridhai mereka dan merekapun ridha kepadan Allah. Dan inilah gambaran dari bimbingan Allah kepada mereka, perjalanan hidup mereka dalam tugas dakwah kepada Allah, supaya ditiru oleh setiap da’i yang menyeru kepada Allah.

Berdakwah kepada tauhid, beriman kepada Allah, mengenal nama-nama Nya dan sifat-sifat Nya, serta beribadah hanya kepada Allah semata tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ … [الأنبياء/25].

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [Al-Anbiya’/21: 25].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  [الإخلاص/1- 4]

Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [Al-Ikhlas/112: 1-4].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ… [النحل/36].

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” [An-Nahl/16: 36].

Menyampaikan agama Allah kepada manusia dan menasehati mereka:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا  [الأحزاب/39]

(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” [Al-Ahzab/33: 39].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى عن نوح- صلى الله عليه وسلم-: أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ  [الأعراف/62]

Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-A’raf/7: 62].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال الله تعالى لمحمد- صلى الله عليه وسلم-: يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ [المائدة/67]

Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu) kamu tidak menyampaikan amanat Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesugguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”. [Al-Ma’idah/5: 67].

Berdakwah kepada manusia dengan mendatanginya kerumah-rumah mereka, kepasar, kekampung dan kekota.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Musa:

قال الله تعالى لموسى- صلى الله عليه وسلم-: {اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى  [طه/42- 44]

Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat Ku; pergilah kamu berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut“. [Thaha/20: 42-44].

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi orang-orang, bertamu ke rumah-rumah mereka, menyeru mereka kepada Allah, menyerahkan dirinya kepada setiap kabilah dari suatu kaum.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لَا إلَهَ إلَّا الله تُفْلِحُوا. أخرجه أحمد

Wahai manusia katakanlah laa ilaaha illallah niscaya kalian akan selamat“. HR. Imam Ahmad bin Hambal.

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu anhu.

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما أن النبي- صلى الله عليه وسلم- عاد سعد بن عبادة رضي الله عنه-وفيه- حتَىَّ مَرَّ بِمَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلاطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَالمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الأَوثَانِ وَاليَهُودِ… فَسَلَّمَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-، ثُمَّ وَقَفَ فَنَزَلَ، فَدَعَاهُمْ إلَى الله، وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ القُرْآنَ… متفق عليه.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah majlis yang terdiri dari campuran kaum muslimin, musyrikin, penyembah berhala dan Yahudi…maka  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau berhenti dan turun dari kendaraannya lalu menyeru mereka kepada (mengikuti agama) Allah dan membaca Al-Qur’an kepada mereka…“. (Muttafaq alaihi).

Selalu memuji kepada Allah, berdzikir dan meminta ampun kepada Nya pada setiap keadaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim:

قال الله تعالى عن إبراهيم- صلى الله عليه وسلم-: {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ  [إبراهيم/39]

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” [Ibrahim/14: 39].

Aisyah (semoga Allah meridhai-Nya) berkata:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ الله عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. أخرجه مسلم

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah pada setiap keadaannya“. (HR. Muslim).

Al-Agrri Al-Muzani Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن الأغر المزني رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإنِّي لأَسْتَغْفِرُ الله فِي اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ». أخرجه مسلم.

Sesungguhnya ada kebimbangan di dalam hatiku, dan sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah dalam sehari seratus kali“. (HR. Muslim).

Menulis surat bagi para raja orang kafir dan menyeru mereka kepada Allah:

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلىَ ِكسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلىَ النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوْهُمْ إِلىَ اللهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلىَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada para penguasa baik bergelar kaisar, dan kepada raja Najasy serta kepada penguasa lainnya dan menyeru mereka kepada agama Allah, bukan Al-Najasy yang dishalatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Muslim).

Berdakwah kepada manusia dengan bahasa obyek dakwah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berdakwah Kepada Manusia Dengan Bahasa Obyek Dakwah.

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berdakwah kepada Allah dan ke jalan yang menyampaikan kepada–Nya, serta kepada balasan yang akan diterima oleh kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ  [يوسف/108].

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik“.[ Yusuf/12: 108].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [النحل/125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [Al-Nahl:/16 125].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ  [الشورى/7]

Demikianlah kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk jahannam“. [Al-Syura/42: 7].

Berdakwah kepada manusia dengan bahasa obyek da’wah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  [إبراهيم/4].

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. [Ibrahim/14:4]

Keseimbangan antara ibadah dan dakwah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا  [المزمل/1- 4].

Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan”. [Al-Muzammil/73: 1-4].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ  [المدثر/1- 5]

Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!.  Dan Tuhanmu agungkanlah!.  Dan pakaianmu bersihkanlah.  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.  [Al-Mutdattsir/74: 1-5].

Sikap umat terhadap para nabi mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ [هود/120].

Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. [Hud/11:120].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [يوسف/111].

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. [Yusuf/12: 111].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ  [الأعراف/176]

Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir“. [Al-A’raf/7: 176].

Istiqamah dalam berdakwah illallah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Istiqamah Dalam Berdakwah Ilallah

DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Istiqamah Dalam Berdakwah Ilallah Tidak Menoleh Kepada Mereka yang Mengingkari.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (94) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ (95) الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ [الحجر/94- 96].

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; Maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”.  [Al-Hijr/15: 94-96].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ  [القلم/44- 45].

Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran). nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, 45. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh“. [Al-Qolam/68: 44-45].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  [القصص/87].

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan Serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. [Al-Qashash/28: 8].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا  [الفرقان/52]

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”. [Al-Furqan/25: 52].

Tidak bersedih dan kecewa ketika orang tidak menerima agama ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا [الكهف/6]

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran)”. [Al-Kahfi/18: 6].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ [الأنعام/33]

Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. [Al-An’am/6: 33].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ  [فاطر/8]

Maka janganlah dirimu binasa Karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. [Fathir/35: 8].

Kabar gembira dan peringatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: {يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (46) وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا  [الأحزاب/45- 47].

Hai Nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah”. [Al-Ahzab/33: 45-47].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ [الأنعام/48]

Dan tidaklah kami mengutus para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan”. [Al-An’am/6: 48].

Beramar ma’ruf dan nahi munkar

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Keutamaan Mati Syahid di Jalan Allah

ADAB DALAM BERJIHAD

Keutamaan Mati Syahid di jalan Allah:

قال الله تعالى: وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ  [آل عمران/169- 171]

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah dan bahwa sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin ” [Ali Imran/3: 169-171]

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إلا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الكَرَامَةِ». متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :  beliau bersabda, “Tiada seorangpun yang telah masuk surga lalu ingin kembali ke dunia untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang yang mati syahid (syuhada). Dia berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali (sebagai syahid) sebanyak sepuluh kali, karena apa yang didapakannya dari kemuliaan (bagi para syuhada).” (Muttafaq ‘alaihi)

Arwahnya para syuhada berada di dalam tembolok-tembolok burung berwarna hijau di dalam sangkar-sangkar yang tergantung di atas Arsy, mereka berterbangan di dalam surga kea rah mana saja mereka inginkan, dan para syuhada diberikan enam kemuliaan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,.

عن المقدام رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم- «إنّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ الله عزّ وجلّ خِصَالاً: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ، ويُحلَّى عليْه حُلَّةَ الإيمان، ويُزوَّج اثنتين وسبعين زوجَة من الحورِ العينِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ،، وَيَأْمَنُ يَوْمَ الفَزَعِ الأَكْبَرِ، ويُوضَعُ على رأسِهِ تاجُ الوَقار الياقوتةُ منْهُ خيرٌ من الدُّنيا وما فيها، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إنْسَاناً مِنْ أَقَارِبِهِ». أخرجه سعيد بن منصور والبيهقي في شعب الإيمان.

Sesungguhnya para syuhada mendapatkan enam kemuliaan di sisi Allah: Allah akan mengampuninya pada waktu darahnya keluar pertama kali dari tubuhnya, diperlihatkan untuknya tempat duduknya di surga, diberi hiasan dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan tujupuluh dua orang bidadari dari surga, diselamatkan dari siksa kubur, mendapatkan keamanan dari ketakutan yang sangat besar (kegoncangan di padang mahsyar), dipakaikan baginya mahkota kerendahan hati yang sebutir mutiaranya lebih baik dari dunia seisinya, dan diperbolehkan baginya untuk memberikan syafaat bagi tujuhpuluh orang kerabatnya.” (HR. Sa’id bin Mansur dan Baihaqi dalam Su’ab al Iman–lihat pula Silsilah Hadits Shohihah No.3213-).

Orang yang terluka dalam berjihad di jalan Allah akan datang pada hari kiamat dengan lukanya yang mengeluarkan darah, namun baunya seharum misk, dan mati syahid di jalan Allah bisa menghapuskan semua dosa-dosa kecuali hutang.

Barangsiapa yang khawatir ditawan oleh musuh karena tidak mampu menghadapi mereka, maka dia boleh menyerahkan diri atau melawan hingga mati atau menang.

Barangsiapa yang memasuki negeri musuh atau menyerang pasukan kafir dengan tujuan menghancurkan mereka dan menimbulkan ketakutan pada hati-hati musuh, terutama orang-orang Yahudi yang melampaui batas, kemudian terbunuh maka ia telah memperoleh pahala para syuhada dan orang-orang yang bersabar dalam berjihad di jalan Allah.

Tawanan perang terbagi menjadi dua.
Para wanita dan anak kecil, mereka secara otomatis menjadi budak dan hamba sahaya.

Tawanan laki-laki yang ikut berperang, seorang imam dibolehkan memilih antara melepaskan mereka tanpa tebusan atau menuntut tebusan kepada musuh, atau membunuh mereka, atau memperbudak mereka, hal itu tergantung pada maslahat yang terbaik.

Keutamaan infaq di jalan Allah.

قال الله تعالى: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ [البقرة/261]

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah/2: 261]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دَعَتْهُ خَزَنَةُ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berinfaq sedikit saja untuk dua kendaraan di jalan Allah, maka dia akan dipanggil oleh penjaga-penjaga pintu surga: “wahai Fulan masuklah!”” (HR Bukhari)

Keutamaan terkena debu dan berpuasa di jalan Allah
Dari Abu Abs Abdurrahman bin Jabr -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda.

ما اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ في سَبِيل الله فَتَمَسَّهُ النَّار

Barangsiapa yang kedua kakinya terkena debu di jalan Allah maka Allah mengharamkan atas dirinya api neraka. (HR. Bukhari).

عن أبي سعيد الخُدْرِي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من صام يومًا في سبيل الله بَعَّدَ الله وجهه عن النَّار سَبْعِين خريفا». [ متفق عليه]

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu anhu  berkata aku mendengar Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Pembagian harta rampasan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Memahami Arti Nama Allah (al-Hafiidh dan al-Haafidh)

MEMAHAMI ARTI NAMA ALLAH (AL-HAFIIDH DAN AL-HAAFIDH)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa yang menghitungnya (mengamalkan) maka ia akan masuk surga”. HR Bukhari no: 2736. Muslim no: 2677.

Dan diantara salah satu nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mulia, yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah al-Hafidh serta al-Haafidh. Sebagaimana tercantum dalam firman -Nya:

 إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَفِيظٞ  [ هود : 57]

“Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu”. [Huud/11: 57]

Dan juga dalam firman -Nya:

 وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَفِيظٞ  [ سبأ : 21]

“Dan Tuhanmu Maha memelihara segala sesuatu”. [Saba’/34: 21].

Ini nama al-Hafiidh, adapun nama al-Haafidh maka disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

 فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ  [ يوسف : 64]

“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para Penyanyang”.  [Yusuf/12: 64]

Demikian pula disebutkan dalam firman -Nya yang lain:

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ  [ الحجر : 9]

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. [al-Hijr/15: 9].

Al-Khitabi mengatakan dalam sebuah komentarnya: “Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha Menjaga, yang menjaga langit dan bumi serta segala isinya, supaya bisa terus langgeng dan tidak hilang serta lenyap. Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam sebuah firman -Nya:

 وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ  [ البقرة: 255]

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. [al-Baqarah/2: 255].

Dan sebagaimana yang disebutkan dalam firman -Nya yang lain:

 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ  [ الصافات : 7]

“Dan telah memeliharanya (dengan sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka”. [ash-Shaaffat/37: 7].

Demikian pula berdasarkan firman Allah ta’ala yang lainnya:

 إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا  [ فاطر : 41]

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. [Faathir/35: 41].

Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menjaga para hamba-Nya dari kebinasaan yang disebabkan oleh bencana serta kejelekan, hal itu berdasarkan firman-Nya:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ  [الرعد: 11]

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. [ar-Ra’du/13: 11].

Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaga umur mereka, serta mencatat ucapannya, menjaga para kekasih-Nya, dan menjaga mereka dari lumpur dosa dan tipu daya setan agar mereka bisa selamat dari fitnah serta kejelekannya”. [1]

Diantara efek keimanan yang muncul dengan dua nama Allah Shubhanahu wa ta’alla tadi ialah:

  1. Bahwa yang menjaga langit yang tujuh serta bumi ini dan yang ada padanya adalah Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi – Allah Shubhanahu wa ta’alla yang akan menjaga langit supaya tidak runtuh ke bumi. Hal itu, seperti dikatakan oleh Allah dalam firman -Nya:

 وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا مَّحۡفُوظٗاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ  [الأنبياء: 32]

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya”. [al-Anbiyaa/21′: 32].

Dan dalam firmannya yang lain Allah ta’ala berfirman:

 وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ ٞ [ الحج: 65]

“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? [al-Hajj/22: 65].

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaga amalan para hamba -Nya dan tidak menyia-yiakan amalan tersebut sedikitpun, lalu pada hari kiamat kelak Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membalasnya. Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا » [أخرجه  مسلم]

Wahai hambaKu, hanyalah itu amalan kalian yang Aku hitung kemudian Aku balas dengannya“. HR Muslim no: 2577.

Allah ta’ala berfirman dalam ayat -Nya:

 وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبٗا  [ النبأ: 29]

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab”. [an-Naba/78: 29].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mewakilkan untuk menjaga amalan ini hamba -Nya yang mulia dari para malaikat. Seperti yang ditegaskan dalam firman -Nya:

 وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ ١٠ كِرَامٗا كَٰتِبِينَ ١١ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ [ الإنفطار: 10-12]

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [al-Infithaar.82: 10-12].

Dan dijelaskan dalam sebuah ayat, bahwa didalam  mencatat mereka ini tidak menyisakan sedikitpun kecuali pasti ditulisnya. Lebih jelasnya simak dalam firman Allah ta’ala berikut:

 وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ  [ الكهف: 49]

“Dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”. [al-Kahfi/18: 49].

  1. Bahwasannya Allah azza wa jalla Dialah yang menjaga hamba -Nya dari kejelekan dan kerusakan, menjaga mereka dari hukuman serta adzab -Nya, dengan syarat dirinya menjaga batasan-batasan Allah Shubhanahu wa ta’alla serta menjauhi larangan – Allah ta’ala menyatakan hal tersebut dalam firman -Nya:

 فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ  [ النساء: 34]

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. [an-Nisaa’/4: 34].

Dengan sebab mereka para wanita menjaga agama Allah Shubhanahu wa ta’alla atau menjaga syari’at lainnya, maka -Dia menjaga mereka. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi didalam sunannya sebuah hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, kalau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ » [أخرجه الترمذي]

Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engaku akan mendapatiNya dihadapanmu“.  HR at-Tirmidzi no: 2516. Beliau berkata Hadits hasan shahih.

  1. Allah azza wa jalla memuji orang-orang yang mau menjaga hak-hak serta batasan-basatan – Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan setelah menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka dalam firman -Nya:

 وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [ التوبة: 112]

“Dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan berilah kabar gembira orang-orang mukmin itu”.  [at-Taubah/9: 112].

Dalam sebuah firman -Nya yang lain Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ٣٢ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ  [ ق: 32-33]

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan -Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”.  [Qaaf/50: 32-33].

Dan diantara keharusan seorang mukmin yang wajib dijaga ialah menjaga kepala serta perutnya. Masuk dalam kategori menjaga kepala yaitu menjaga pendengaran, lisan, serta penglihatannya dari perkara-perkara yang haram. Sedang masuk dalam kategori menjaga perut ialah menjaga hati dari keinginan untuk menerjang perbuatan haram. Allah Shubhanahu wa ta’alla telah berfirman:

 وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ ٞ  [ البقرة: 235]

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada -Nya”. [al-Baqarah/2: 235].

Dan Allah ta’ala telah mengumpulkan hal tersebut semuanya dalam satu firman -Nya:

 وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا  [ الإسراء : 36]

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. [al-Israa’/17: 36].

Dan masuk dalam bentuk menjaga perut adalah menjaganya dari memasukan makanan atau minuman yang haram. Dan diantara bentuk penjagaan yang ekstra diperhatikan ialah menjaga lisan serta kemaluan dari perkara yang dilarang. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

 وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ  [ الأحزاب: 35]

“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya”. [al-Ahzab/33: 35].

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan sebuah hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallamu pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَفِظَ مَا بَيْنَ فُقْمَيْهِ وَفَرْجَهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa yang bisa menjaga antara dua bibir serta kemaluannya maka dirinya akan masuk surga“. HR Ahmad 32/330 no: 19559.

  1. Diantara perkara terbesar yang wajib dijaga oleh seorang muslim dari hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah tauhid. Sesungguhnya barangsiapa yang mampu menjaga hak yang satu ini pasti –Dia akan menjaganya kelak pada hari kiamat serta memeliharanya dari siksaan – Lebih jelasnya perhatikan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla berikut ini:

 ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ  [ الأنعام:82]

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al-An’am/6: 82].

Dan dalam hal ini, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan melalui sabdanya yang shahih, sebagaimana dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan bahwa beliau pernah mengatakan padanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا » [أخرجه البخاري و مسلم]

Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa haknya Allah atas para hambaNya? Serta apa hak hamba atas Allah?. Aku menjawab: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu’. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba hendaknya mereka menyembah serta tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, sedangkan hak hamba atas Allah ialah Allah tidak akan mengadzab mereka yang tidak menyekutukanNya”. Mendengar itu maka aku katakan: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah kalau aku kabarkan pada manusia”. Beliau menjawab: “Jangan, nanti mereka menyandarkan (pada amalan tersebut)”.  HR Bukhari no: 2856. Muslim no: 30.

Kesimpulannya bahwa seorang muslim ditugaskan untuk menjaga seluruh bagian agamanya, dan tiap kali ada seorang muslim yang sangat menjaga agamanya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaganya lebih besar lagi. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan dalam firman -Nya:

 وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ  [ البقرة: 40]

“Dan penuhilah janjimu kepada -Ku, niscaya Aku penuhi janji -Ku kepadamu”.[al-Baqarah/2: 40].

  1. Bahwa orang yang dijaga adalah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki untuk dijaga oleh – Adapun orang yang Allah kehendaki untuk tidak dijaga maka dirinya akan dalam keadaan tersesat yang tidak ada lagi jalan keluar. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menjanjikan Dirinya untuk menjaga kitab -Nya dari perubahan serta pergantian sampai tegak hari kiamat. Hal itu, seperti yang dinyatakan dalam firman -Nya:

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ  [ الحجر : 9]

“Sesungguhnya Kami -lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. [al-Hijr/15: 9]. [2]

Kita akhiri kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga -Dia curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari من أسماء الله الحسنى (الحفيظ والحافظ)   Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Sya’nu Du’a hal: 67-68.
[2] Lihat pembahasan ini dalam kitab al-Minhaj al-Asma fii Syarhi Asmaillah al-Husna karya an-Najdi 1/339-354.

Penjelasan Nama Allah al-Halim

PENJELASAN NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA AL-HALIM

Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasul Allah ShalAllah ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Allah Shubhanahu wa ta’alla tabaraka wa ta’ala berfirman tentang asma’ul husna ini dalam kitab-Nya:

 وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  [الأعراف: 180]

“Hanya milik Allah Shubhanahu wa ta’alla asmaa-ul husna (nama-nama yang indah), Maka berdo’alah kepada -Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama -Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.  (QS al-A’raaf: 180).

Dan dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasannya Nabi Muhammad ShalAllah Shubhanahu wa ta’allau ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه البخاري ومسلم ]

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memiliki sembilan puluh sembilan nama, barang siapa yang menghitung (dengan mengamalkannya) maka dia akan masuk surga“. HR Bukhari no: 2736. Muslim no: 2677.

Diantara nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang indah tersebut, sebagaimana yang disebutkan didalam al-Qur’an serta hadits ialah nama Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala al-Halim (Maha Penyantun). Sebagian ulama ada yang menyebutkan, bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebut nama ini secara khusus didalam al-Qur’an itu sebanyak sebelas kali. Diantaranya ialah yang tercantum dalam firman -Nya:

 وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ  [البقرة: 235]

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. [al-Baqarah/2: 235]

Demikian pula dalam firman -Nya:

قَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٞ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٞ  [البقرة: 263] 

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.[al-Baqarah/2: 263]

Dan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditimpa kesusahan beliau berdo’a dengan membaca:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ  » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb pemilik Arsy yang besar. Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb pemilik langit dan bumi serta Arsy yang mulia“. HR Bukhari no: 6345 . Muslim no: 2730.

Ibnu Jarir memberi makna nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang agung ini dengan mengatakan: ‘Yang dimaksud dengan Halim ialah Maha pemurah, dimana Dirinya tidak menjadikan dosa yang dilakukan oleh para hamba -Nya sebagai alasan untuk menghukumnya’.[1]

Sedangkan al-Khatabi, beliau mengatakan: ‘Dia adalah Maha Pengampun dan Penyabar yang tidak terkalahkan oleh sifat marah, dan tidak pula dibodohi oleh kebodohan, serta merugi oleh orang yang berbuat maksiat kepadanya. Dan tidak layak seseorang dikatakan pengampun dan menyandang nama penyantun apabila dirinya lemah. Akan tetapi penyantun ialah orang yang mengampuni manakala dirinya mampu untuk membalasnya dan tidak gegabah untuk memberi hukuman. Seorang penyair mengatakan:

Kemulian tak akan didapat walaupun dia dermawan
                     Sampai kiranya ia mau untuk merasa rendah diri
Jika dicela akan terlihat wajah aslinya
                     Bukanlah pemaaf itu yang lemah tapi yang memaafkan tatkala mampu

Berkata Ibnu Katsir: ‘Yang dimaksud dengan ‘Halim dan Ghofur‘ (Maha Penyantun lagi Pengampun) ialah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla melihat kepada hamba -Nya yang mengkufuri dan berbuat maksiat kepada -Nya, dan Dia tetap bermurah hati, sabar, menunggu, membiarkan dan tidak terburu-buru, menutupi perbuatan mereka serta mengampuninya’.[2]

Diantara beberapa efek, dampak keimanan dengan nama yang agung ini ialah:

  1. Menetapkan sifat penyantun bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang isi kandunganya ialah bahwa –Dia memaafkan para pendosa dikalangan para hamba -Nya lalu membiarkan mereka tanpa dikenai hukuman secara langsung namun diakhirkan, barangkali pada mereka ada yang mau kembali serta bertaubat kepada -Nya.
  2. Bolehnya seorang mukmin bertawasul kepada Rabbnya ketika berdo’a dengan menggunakan sifat yang agung ini, seperti mengucapkan: ‘Wahai Maha Penyantun ampuni saya dan maafkan serta tutupi kesalahanku’.
  3. Sifat murah hatinya Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para hamba -Nya ialah dengan membiarkan tidak langsung memberi hukuman adzab kepada mereka para pendosa.[3]

Seorang penyair mengatakan:
Tidak ada orang yang lebih penyantun dari pada Allah Shubhanahu wa ta’alla kepadaku
                         Buktinya, dosa selalu ku perbuat dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tetap menutupi dan membiarkanku

Dan apabila engkau ditanya tentang sifat pemaafnya Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka jawablah, bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam memaafkan itu sudah sampai pada derajat sempurna, pada -Nya penyantun secara perfect yang meliputi langit dan bumi, masuk didalamnya bermurah hati terhadap hamba -Nya yang kafir, fasik dan orang yang berbuat maksiat, yaitu dengan membiarkan tidak langsung menurunkan adzab terhadap mereka, justru Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampuni dan memberi batas tenggang atas mereka kiranya mereka mau bertaubat lalu menerima taubatnya, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. Dalam keadaan seperti itu, Allah Shubhanahu wa ta’alla masih saja memberi mereka dengan berbagai macam kenikmatan dengan ke Maha kayaanya, yang kalau sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki tentu akan mengambil dosa yang mereka lakukan secepat mungkin, akan tetapi sifat murah hatinya Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan mengakhirkan untuk menurunkan adzab untuk para pendosa. Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala berfirman:

 وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا  [ فاطر: 45] 

“Dan kalau sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. [Faathir/35: 45]. [4]

Sedangkan Imam Ibnu Qoyim mengatakan dalam bait syairnya:
Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pemurah, yang tidak mengadzab
                     HambaNya dengan hukuman, supaya mereka bertaubat

Kalaulah bukan karena penyantun dan maha mengampuni yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, tentulah dunia beserta langit ini akan bergoncang oleh karena berbuat maksiat yang dilakukan oleh hamba -Nya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla  telah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا [ فاطر: 41]

“Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. [Faathir/35: 41].

Maka perhatikan terhadap penutup ayat ini dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menutupnya dengan menyebut dua nama diantara nama-nama -Nya yang lain, yaitu nama Maha Penyantun dan Maha Pengampun. Sehingga akan engkau simpulkan, bagaimana kalau sekiranya bukan karena penyantunnya terhadap para pelaku kejahatan dan ampunan -Nya terhadap para pendosa, tentu kiranya langit dan bumi ini tidak akan bisa tetap teguh dan langgeng.[5]

Dan didalam ayat diatas memberitahu kepada kita bahwa langit dan bumi tak kuat dan meminta izin kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla supaya dimusnahkan saja dengan sebab perbuatan yang dilakukan oleh makhluk, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan langit dan bumi dengan sifat penyantun dan pengampun yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla.[6]

1. Kemurahan Allah Shubhanahu wa ta’alla begitu besar dan itu bisa terlihat jelas dengan kesabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap makhluk-Nya yang berbuat maksiat kepada-Nya. Dan sifat sabar tersebut masuk dalam sifat penyantun karena bisa dipastikan setiap pemaaf pasti penyabar. Dan didalam hadits telah dijelaskan adanya sifat sabar yang dimiliki oleh Allah azza wa jalla, sebagaimana sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidak ada seorangpun, atau tidak ada sesuatupun yang lebih sabar pendengarannya dari gangguan daripada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) menyebut bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla punya anak, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla membiarkan mereka dan tetap memberi rizki pada mereka“. HR Bukhari no: 6099. Muslim no: 2804.

Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah Maha Besar dan Raja dari segala raja, Maha penyantun, kebaikan -Nya berada diatas seluruh kebaikan makhluk yang telah mencela dan mendustakan diri-Nya, namun tetap saja Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi rizki orang yang mencela serta berkata dusta atas -Nya, membiarkan dan memberi kesempatan, mengajak mereka kedalam surga-Nya, menerima taubatnya apabila mereka bertaubat, kemudian mengganti kejelekan yang pernah dilakukan dengan kebaikan, lemah lembut dengan mereka pada setiap keadaan, dan masih diutusnya rasul kepada mereka lalu menyuruh kepadanya supaya berkata lemah lembut terhadap mereka. Maka mana ada sifat pemaaf, penyantun dan sabar yang lebih agung dari pada ini semua?. [7]

Dan dalam sebuah ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan tentang kenapa Dirinya menangguhkan didalam menurunkan adzab terhadap pendosa dari kalangan para hamba-Nya ketika didunia, yang menjelaskan bahwasannya kalau seandainya dosa-dosa mereka yang telah dikerjakan itu langsung diadzab sebagai balasan langsung , tentu tidak akan ada yang tersisa dimuka bumi ini seorangpun. Lebih jelasnya simak firman Allah Shubhanahu wa ta’alla berikut ini:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Jikalau Allah Shubhanahu wa ta’alla menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan -Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”. [an-Nahl/16: 61].

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya menjelaskan ayat mulia diatas: ‘Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala mengabarkan tentang sifat kemurahan-Nya terhadap para makhluk -Nya dengan perbuatan dhalim yang mereka lakukan. Yang seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghukum mereka dengan ulah tangan yang mereka kerjakan tentu tidak akan ada yang terisa dimuka bumi ini seekor binatang melatapun. Artinya, tentu semua binatang melata akan ikut hancur sebagai akibat hancurnya anak cucu Adam. Akan tetapi Rabb kita itu Maha Penyantun, Dirinya menutupi dan menangguhkan hukuman, sampai pada batas yang telah ditentukan, dan tidak langsung menurunkan hukuman terhadap mereka, yang sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla melakukan hal tersebut atas mereka tentu tidak akan ada yang tersisa dimuka bumi’. [8]

Namun, terkadang hukuman ini bisa didapat ketika didunia sebagaimana yang terjadi pada sebagian negeri kafir, atau kaum yang sudah sangat sering dan banyak melakukan perbuatan maksiat, dan hukuman tersebut bisa berupa banjir bandang, tanah longsor, serta gempa bumi yang meluluh lantakan semua orang. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam firman -Nya:

 وَلَا يَزَالُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُواْ قَارِعَةٌ أَوۡ تَحُلُّ قَرِيبٗا مِّن دَارِهِمۡ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ وَعۡدُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ  [الرعد : 31] 

“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menyalahi janji”. [ar-Ra’du/13: 31].

2. Di bolehkan untuk memberi sifat penyantun ini kepada makhluk, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala sendiri telah mensifati para Nabi -Nya dengan sifat ini. Seperti yang tercantum didalam firmanNya:

 إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّٰهٞ مُّنِيبٞ  [هود : 75]

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla”. [Huud/11: 75].

Didalam ayat lain Allah Shubhanahu wa ta’alla menceritakan tentang keadaan kaumnya Syu’aib, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ  [هود : 87]

“Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”. [Huud/11: 87].

Dan didalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: ‘Pada suatu hari aku melihat kepada Nab Muhammad Shalallahu‘alaihi wa sallam yang sedang mengisahkan seorang dari Nabi  dari kalangan para Nabi , yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, maka Nabi  tersebut mengusap darah yang mengalir diwajahnya sambil mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Ya Rabbku ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui“. HR Bukhari no: 6929 , Muslim no: 1792.

Sifat penyantun ini termasuk dari sifat-sifat agung yang Allah Shubhanahu wa ta’alla inginkan supaya para hamba -Nya mengambil bagian dari sifat penyantun ini. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari al-Asaj bin Qois radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi  Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ  » [ أخرجه مشلم ]

Sesungguhnya engkau mempunyai dua sifat yang dicintai oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, yaitu sifat penyantun lagi sabar“. HR Muslim no: 18.

Dan kalau kita ingin melihat teladan dalam masalah ini, maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling penyantun. Sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan: ‘Aku pernah berjalan bersama Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memakai burdah najran yang tepinya tebal. Di tengah jalan kami bertemu dengan arab badui yag langsung menarik burdah tersebut secara keras, sampai aku melihat bekas tersebut dipundak Nabi, karena kerasnya didalam menarik pakaian tersebut. Setelah itu arab badui tersebut berkata: ‘Beri saya dari harta Allah Shubhanahu wa ta’alla yang ada disisimu’. Maka Nabi  memalingkan tubuhnya kearahnya lalu tersenyum, kemudian memerintahkan pada para sahabatnya agar orang tersebut dipenuhi permintaannya’. HR Bukhari no: 3149. Muslim no: 1057.

Maha Benar Allah Shubhanahu wa ta’alla tatkala mensifati Nabi -Nya dengan akhlak yang mulia, seperti dalam firman -Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  [القلم : 4]

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [al-Qalam/68: 4].

Sedangkan sifat-sifat yang sama-sama di miliki oleh pencipta dan makhluk maka harus dipahami bahwa sifat yang ada pada pencipta yaitu Allah Shubhanahu wa ta’alla sesuai dengan keagungan dan ketinggian -Nya demikian pula yang ada pada makhluk harus didudukkan sesuai dengan porsinya. Jangan disama ratakan, karena jelas jauh berbeda antara sifat yang ada pada makhluk dan pencipta.

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mencintai dari kalangan para hamba -Nya yang memiliki sifat ini yaitu penyantun, Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Penyantun dan mencintai orang-orang penyantun. Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pemurah dan mencintai orang-orang yang bermurah hati, Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Penyabar dan mencintai orang-orang Penyabar.

Imam al-Qurthubi mengatakan: ‘Maka diantara kewajiban bagi siapa saja yang telah mengetahui bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha Penyantun terhadap orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya. Hendaknya dia berusaha untuk sabar dan penyantun terhadap orang yang menyelisihinya, karena hal tersebut lebih utama, sampai kiranya dia menjadi seorang penyantun dan bisa mencapai derajat sifat yang mulia ini, sesuai dengan ukuran kemarahannya, dengan tidak membalas kejelekan terhadap orang yang berlaku buruk kepadanya. Namun, justru dirinya berusaha untuk memaafkan sampai akhirnya sifat penyantun tersebut tersemat sebagai karakter akhlaknya. Dan sebagaimana penciptamu senang kalau dirimu mempunyai sifat penyantun, maka berbuat santunlah terhadap siapa saja, karena sejatinya engkau sedang beribadah dengan menekuni sifat penyantun tersebut yang tentunya engkau akan meraih pahalanya kelak’. [9]

Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ [الشورى : 40] 

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. [asy-Syuura/42: 40].

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ [الشورى : 43]

“Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.  [asy-Syuura/42: 43].

Diriwayatkan oleh Khatib al-Baghdadi didalam sebuah kitabnya[10] sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ, وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ, مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ, وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ » [أخرجه الخطيب في تاريخ بغداد]

Ilmu itu hanya diperoleh dengan cara belajar, dan sifat penyantun diperoleh dengan cara sering berbuat santun, maka barangsiapa yang berusaha meraih kebajikan dirinya akan memperolehnya, dan siapa yang berhati-hati dari keburukan maka dirinya akan selamat“. Di Shahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no: 342.

Sebagai penutup kita ucapkan segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi  kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau dan para sahabatnya.

[Disalin dari من أسماء الله الحسنى (الحليم)  Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Lihat Jami’ul Bayan 2/1358.
[2] Tafsir Ibnu Katsir 11/338.
[3] An-Nahjul Asma fi Syarhi Asmailllah al-Husna oleh an-Najdi 1/276.
[4] Al-Asmaul Husna wa shifatil Ulya karya Syaikh Abdul Hadi Wahbi hal: 222.
[5] Idem hal: 222-223.
[6] Idatus Shabirin Ibnu Qoyim hal: 237.
[7] Syifaa’ul Alil oleh Ibnu Qoyim 2/654.
[8] Tafsir Ibnu Katsir 8/320.
[9] al-Kitab al-Asna fi Syarh Asmaa’ulllah Husna hal: 96-97.
[10] Tarikh Baghdad 9/127.

Beramar Ma’ruf dan Nahi Munkar

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Beramar Ma’ruf dan Nahi Munkar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157]

(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. [Al-A’raf/7: 157].

Mengikat hati manusia dengan Rabbnya (tauhid), menjanjikan kepada mereka syurga atas apa yang mereka amalkan

1 Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «يَا غُلامُ إنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ الله يَحْفَظْكَ، احْفَظِ الله تَجِدُهُ تُجَاهَكَ، إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ الله، وَإذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِالله، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَو اجْتَمَعْتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ الله لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ الله عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». أخرجه أحمد والترمذي.

Wahai anak, sungguh aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapatkanNya di hadapanmu, apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau meminta tolong minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa senadainya seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat bagimu niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat apapun kecuali manfaat yang telah Allah tetapkan bagimu, dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan mudharat bagimu niscaya mereka tidak mampu menimpakan mudharat apapun kecuali dengan kemudharatan yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu, pena telah terangkat dan lembaran catatan amal telah mongering“. (HR. Turmudzi).

Dari Shal bin Sa’ad Radhiyallahu anhu. Berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ». أخرجه البخاري.

Barangsiapa yang bisa menjamin bagiku (untuk menjaga) apa yang terdapat antara kedua bibir dan kedua kakinya maka aku menjamin baginya surga“. HR. Bukhari

Tidak Meminta Upah Dalam Berdakwah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى عن محمد- صلى الله عليه وسلم-: قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ  [سبأ/47].

Katakanlah: “Upah apapun yang Aku minta kepadamu, Maka itu untuk kamu upahku hanyalah dari Allah, dan dia Maha mengetahui segala sesuatu”. [Saba/34: 47]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى عن نوح- صلى الله عليه وسلم-: وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ  [الشعراء/109].

Dan Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”. [As-Syu’ara/26: 109]

Penyayang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا [الفتح/29]

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. [Al-Fath/48: 29]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ  [الأنبياء/107].

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. [Al-Anbiya/21: 107]

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قيل يا رسول الله: ادع على المشركين قال: «إنِّي لَمْ أُبْعثْ لَعَّاناً، وَإنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً». أخرجه مسلم.

“Para shahabat meminta: “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia membinasakan orang-orang musyrik”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak pernah diutus sebagai pencela namun aku diutus sebagai rahmat”. HR. Muslim.

Belas kasihan

قال الله تعالى: {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [التوبة/128].

Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”. [At-Taubah/9: 128]

Lemah lembut, bersabar, murah hati

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]