Author Archives: editor

Kiat Menggapai Kemenangan Atas Musuh

KIAT MENGGAPAI KEMENANGAN ATAS MUSUH

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu’alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Ba’du:

Sesungguhnya dunia ini adalah ladang ujian bagi orang-orang yang beriman, baik ujian dengan kesenangan dan kesengsaraan, kepedihan dan kebahagiaan dalam hidup.

قال الله تعالى : كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ (الأنبياء: 35)

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan”. [Al-Anbiya/21’: 35]

قال الله تعالى : اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ (ال عمران: 140)

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. [Ali Imran/3: 140]

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah jika kalian merasakan luka atau beberapa orang di antara kalian terbunuh maka sungguh musuh-musuh kalian juga telah ditimpa dengan hal yang hampir sama yaitu mereka terbunuh dan terluka, dan demikianlah masa-masa itu dipergilirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di antara manusia, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala terkadang memberikan kemenangan  kepada musuh-musuh kalian sekalipun kemenangan terakhir adalah bagi kalian, sebab padanya terdapat hikmah”[1]

Dan permusuhan orang-orang kafir terhadap orang-orang yang beriman adalah permusuhan yang bersifat abadi.

قال الله تعالى : وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْا ۗ  (البقرة: 217)

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” [Al-Baqarah/2: 217].

قال الله تعالى : لَا يَرْقُبُوْنَ فِيْ مُؤْمِنٍ اِلًّا وَّلَا ذِمَّةً ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُعْتَدُوْنَ (التوبة: 10)

Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [At-Taubah/9: 10]

Ada beberapa faktor yang membawa kemenangan atas musuh, di antaranya adalah:
Pertama: Beriman dan beramal shaleh.

قال الله تعالى : اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ (الغافر: 51)

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). [Gafir/40: 51].

قال الله تعالى : وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ (الروم: 47)

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”. [Ar-Rum/30: 47]

Orang-orang beriman yang dijanjikan kemenangan adalah orang-orang beriman yang disifati oleh Allah dengan firman-Nya:

قال الله تعالى : اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ  (الأنفال :3-2)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan lah mereka bertawakal,). [Al-Anfal/8: 2-3]

قال الله تعالى : وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ (النور :55)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai -Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah -Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. [Al-Nur/24: 55].

Kedua: Ikhlas dan jujur dalam membela agama Allah.

قال الله تعالى : žوَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ (ااحج: 41-40)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. [Al-Haj: 40-41].

قال الله تعالى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ (محمد: 7)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. [Muhammad/47: 7]

Ketiga: Bertawakkal kepada Allah.

قال الله تعالى : اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ (ال عمران: 160)

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. [Ali Imran/3: 160]

قال الله تعالى : قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ (التوبة: 51)

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” [At-Taubah/9: 51]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تَكَفَّلَ اللهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِهِ لا يُخْرِجُهُ إِلا الجِهَادُ في سَبِيْلِهِ، وَتَصْدِيْقُ كَلِمَاتِهِ بَأَنْ يُدْخِلَهُ الجَنَّةَ، أَوْ يُرْجِعَهُ إلى مَسْكَنِهِ الذِي خَرَجَ مِنْهُ مَعَ ما نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ [البخاري برقم 3123]

Allah Subanahu Wa Ta’ala memberikan jaminan bagi orang yang berjihad di jalan-Nya, di mana dia tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk berjihad di jalan -Nya dan membenarkan kalimat-kalimat Allah bahwa Allah memasukkan mereka ke dalam surga atau mengembalikannya kepada tempat tinggalnya dengan membawa pahala dan harta rampasan perang”.[2]

Keempat: Tidak gentar dalam menghadapi musuh.

قال الله تعالى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ (الأنفال:45)

 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan )musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. [Al-Anfal/8: 45]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Abi Aufa radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

أَيُّهَا النَاسُ ، لا تَتَمَنَّوا لِقَاءَ العَدُوِّ ، وَسَلُوْا اللهَ العَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاصْبِرُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الجَنَّةَ تَحْتَ ظِلالِ السُيُوْفِ [البخاري برقم 2966، ومسلم برقم 1742]

Wahai sekalian manusia!, Janganlah berangan-angan untuk bertemu dengan musuh dan mintalah kepada Allah agar kalian terhindar dari musuh, namun jika kalian bertemu dengan mereka maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu di bawah kilatan pedang”.[3]

Kelima: Berani pada saat berhadapan dengan musuh dan berkeyakinan bahwa ajal tidak bisa dipercepat karena maju menghadapi musuh dan tidak pula diperlambat karena mundur menghindari musuh. Allah Subanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang munafiq.

قال الله تعالى :  يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ (ال عمران: 154)

Mereka berkata:   Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan di sini). Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. [Ali Imran/3: 154]

Seorang penyair pernah berkata:
Aku mundur untuk meraih hidup ini namun tak ku dapat
Sebuah kehidupan yang menyamai maju menghadapi resiko

Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani menghadapi tantangan, orang yang hatinya paling kuat saat menghadapi musuh. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam haditsnya dari Al-Barra’ bin Azib radhiallahu anhu berkata, “Demi Allah jika peperangan telah berkecamuk maka kami melindungi diri dengan beliau, dan orang yang berani di antara kita adalah orang yang berada sejajar dengan beliau”.[4]

Keenam: Banyak berdo’a.

قال الله تعالى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ (الأنفال:45)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. [Al-Anfal/8: 45].

قال الله تعالى : اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ (الأنفال:9)

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan -Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. [Al-Anfal/8: 9]

Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berdo’a kepada Tuhannya agar beliau diberikan pertolongan di dalam peperangan yang dihadapinya, seperti yang terjadi pada peristiwa perang Badr dan peperangan yang lainnya, dan di antara do’a beliau saat peperangan adalah:

اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، مجري الْسَحِابِ، اهْزِمِ اْلأَحْزَابَ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَ انْصُرْنًا عَلَيْهِمْ .

“Ya Allah, yang menurunkan Kitab Suci, yang memperjalankan awan berarak. Ya Allah, cerai beraikanlah golongan musuh dan goncangkan mereka”. [5]

Ketujuh: Tetap dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul -Nya dan waspada terhadap kemaksiatan serta berselisih.

قال الله تعالى : وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ (الأنفال:46)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul -Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfal/8: 46]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَاعَةِ بِالسَيْفِ ، حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ ، وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي ، وَجُعِلَ الذُلُّ وَالصَغَارُ على مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم [أحمد في المسند 9/123 برقم 5114]

Sesungguhnya aku di utus saat dekatnya hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagiNya dan rizkiku dijadikan di bawah naungan tombakku dan kehinaan serta kedinaan akan menimpa orang yang menyalahi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan kaum tersebut”.[6]

Kedelapan: Tetap taat kepada pemimpin dan menjauhi berselisih dengannya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهُ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهُ ، وَمَنْ أَطاعَ أَمِيْرِيْ فَقَدْ أطاعَنِي ، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَاني» [البخاري برقم 7137، ومسلم برقم 1835]

Barangsiapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah, dan barangsiapa yang mentaati suruhanku maka dia telah mentaati aku dan barangsiapa yang menyalahi suruhanku maka sungguh dia telah bermaksiat kepadaku”.[7]

Kesembilan: Bersabar atas segalah kesulitan dalam berjihad, khususnya saat berhadapan dengan musuh.

قال الله تعالى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (ال عمران:200)

 Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.  [Ali Imran/: 200].

قال الله تعالى : وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ (ال عمران:146)

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. [Ali Imran/3: 146].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Ibnu Abbas radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya,

وَاعْلَم أَنَّ فِي الصَبْرِ عَلى مَا تَكْرَهُ خَيْراً كَثِيْراً ، وَأَنَّ النَصْرَ مَعَ الصَبْرِ ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً [أحمد في المسند 5/19 برقم 2803، وقال محققه : حديث صحيح]

Ketahuilah bahwa sesunguhnya bersabar pada perkara yang engkau benci akan mendatangkan kebaikan yang banyak, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran dan kemudahan itu bersama kesusahan dan setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan”.[8]

Kesepuluh: Ikhlas karena Allah semata, dan orang yang berperang tidak dikatakan jihad di jalan Allah kecuali jika dia melakukannya dengan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala semata.

قال الله تعالى : وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ (ال عمران:146)

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sebesar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.  [Ali Imran/3: 146].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan perang, orang yang berperang agar dikenang dan orang yang berperang agar diketahui kedudukannya, siapakah di antara orang ini yang berperang di jalan Allah?. Maka Nabi  Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لَتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ العُلْيَا فَهُوَ في سَبِيْلِ اللهِ [البخاي برقم 2810، ومسلم برقم 1904]

“Orang yang berperang untuk menegakkan kalimah Allah yang tinggi, maka dialah orang yang berperang di jalan Allah”.[9]

Sebelas: Mencari sebab-sebab yang mendatangkan kekuatan, dan mempersiapkan kekuatan sebagai perwujudan dari firman Allah Subhanhu wa Ta’la.

قال الله تعالى : وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ (الأنفال: 60)

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dg kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). [Al-Anfal/8: 60].

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Uqbah bin Amir radhillahu anhu bahwa dia mendengar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda dan beliau sedang berada di atas mimbar,

وَأَعِدُّوا لَهُم مَا اسْتَطَعْتُم مِن قُوَّةٍ ، أَلا إِنَّ القُوَّةَ الرَمْيُ ، أَلا إِنَّ القُوَّةَ الرَمْيُ ، أَلا إِنَّ القُوَّةَ الرَمْيُ [مسلم برقم 1917]

Dan persiapkanlah bagi mereka apa-apa yang kalian mampu dari segala bentuk kekuatan, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah kepandaian dalam melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah kepandaian dalam melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah kepandaian dalam melempar”.[10]

Di antara faktor yang menyebabkan kekalahan adalah kemaksiatan dan dosa, sesungguhnya dua faktor ini akan menjauhkan seorang hamba pada saat dirinya sangat membutuhkan pertolongan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam firman-Nya tentang sebab kekalahan sebagian umat Islam pada sebagian peperangan mereka:

قال الله تعالى :  إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْاْ مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُواْ وَلَقَدْ عَفَا اللّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari  أسباب النصر على الأعداء  Penyusun : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah :  Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir: 1/408
[2] Al-Bukhari: no: 3133
[3] Al-Bukhari no: 2966 dan Muslim no: 1742
[4] Muslim no: 1776
[5] Shahih Muslim: no: 1742
[6] Musnad Imam Ahmad: 9/123 no: 5114
[7] Al-Bukhari no: 7137 dan Muslim: 1835
[8] Musnad Imam Ahmad 5/19 no: 2803 dan para muhaqiq hadits ini berkata bahwa hadits ini shahih.
[9] Al-Bukhari no: 2810 dan Muslim no: 1904
[10] Muslim di dalam kitab shahihnya: no: 1917

Inabah (Kembali Kepada Allah)

INABAH (KEMBALI KEPADA ALLAH)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya al-Inabah merupakan inti dari ibadah yang sangat agung,  yang mana Allah Shubhanahu wa ta’alla telah banyak mensifati para nabi -Nya serta hamba yang beriman kepada -Nya dengan inabah ini. Diantaranya:

Allah ta’ala mengabarkan tentang nabi-Nya Daud:

 وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ وَأَنَابَ [ ص: 24]

“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”. [Shaad/38: 24].

Allah ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Sulaiman:

 وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ثُمَّ أَنَابَ  [ ص: 34]

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.  [Shaad/38: 34].

Allah ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Syu’aib:

وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ  [ هود: 88]

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada –Nya lah aku kembali”. [Huud/11: 34].

Kemudian Allah ta’ala menjelaskan tentang nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

 ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ  [ الشورى: 10]

“Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepadaNya lah aku kembali”. [asy-Syuura/42: 10].

Dan Allah ta’ala memuji kekasihnya Ibrahim ‘alaihi sallam karena sifat yang dimilikinya yaitu inabah kepada -Nya serta kembali pada tiap urusan kepada Allah ta’ala. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Ibrahim:

 إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّٰهٞ مُّنِيبٞ  [ هود: 75]

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah”. [Huud/11: 75].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyuruh para hamba-Nya untuk berinabah kepada-Nya:

 وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ  [ الزمر: 54]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya”. [az-Zumar/39: 54].

Dan orang-orang sholeh dari kalangan para hamba mengatakan dalam do’anya:

رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ  [ الممتحنة: 4]

“(Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. [al-Mumthanah/60: 4].

Makna Inabah.
Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “al-Inabah adalah kembali menggapai ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan dibarengi kembali (bertaubat) pada-Nya pada setiap waktu sambil mengikhlaskan niat. Lebih lanjut beliau mengatakan, “al-Inabah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ada dua tingkatan, pertama inabah pada rububiyah -Nya, dan jenis inabah ini termasuk inabahnya seluruh makhluk baik mukmin maupun kafir, orang sholeh maupun tholeh. Allah ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

 وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرّٞ دَعَوۡاْ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ  [ الروم: 33]

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada -Nya”. [Ruum/30: 33].

Kedua dari jenis inabah, inabahnya para wali-wali Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dan inabah ini yaitu inabah pada uluhiyah -Nya, dengan dibarengi peribadahan serta kecintaan pada-Nya. Dan ini harus terkumpul padanya empat unsur; mencintai dan tunduk pada -Nya, kembali dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah Shubhanahu wa ta’alla “.[1]

Keutamaan Inabah:

  1. Inabah kepada Allah ta’ala merupakan pintu kebahagian dan memperoleh hidayah.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

 قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ  [ الرعد: 27]

“Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada -Nya”. [ar-Ra’du/13: 27].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطْلَعِ شَدِيدٌ وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ » [أخرجه أحمد]

Janganlah kalian berangan-angan untuk segera mati. Sesungguhnya sakaratul maut sangatlah keras[2]. Dan sungguh merupakan kebahagian seorang hamba yang panjang umur lalu dikaruniai oleh Allah berinabah (padaNya)”. HR Ahmad 22/426 no: 14564.

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan bahwa surga dan ganjaran -Nya diberikan bagi orang-orang yang takut dan berinabah.

Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam firmannya:

وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ غَيۡرَ بَعِيدٍ ٣١ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ٣٢ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ  [ ق: 31-33]

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan -Nya). (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat”. [Qaaf/50: 31-33].

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan kabar gembira bagi orang yang berinabah.

Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

 وَٱلَّذِينَ ٱجۡتَنَبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ أَن يَعۡبُدُوهَا وَأَنَابُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰۚ   [ الزمر: 17]

“Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira”. [az-Zumar/39: 17].

Dan diantara sifat-sifat yang dimiliki oleh hamba yang berinabah ialah mengambil pelajaran dari semua ayat yang menunjukan akan keagungan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Kuasa, sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam ayat-Nya:

 أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا وَزَيَّنَّٰهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٖ ٦ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٧ تَبۡصِرَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ  [ ق: 6-8]

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)”. [Qaaf/50: 6-8].

Dalam kesempatan lain Allah azza wa jalla mengatakan:

 وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ رِزۡقٗاۚ وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ [ غافر: 13]

“Dan menurunkan untukmu rizki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)”. [Ghaafir/40: 13].

  1. Dengan berinabah akan mencegah dirinya dari siksa dan adzab.

Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam firman-Nya:

 وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ [ الزمر: 54]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”.[az-Zumar/39: 54].

  1. Dan Allah ta’ala telah menyuruh seluruh makhluknya untuk kembali dan berinabah kepada –

Sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla terangkan hal tersebut melalui firman-Nya:

 فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠ ۞مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  [ الروم: 30-31]

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada   -Nya dan bertakwalah kepada -Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. [ar-Ruum/30: 30-31].

Dan diantara do’a yang biasa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah memohon dikaruniai inabah ini. sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan Ahmad dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau biasa membaca do’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ الْهُدَى إِلَيَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا لَكَ رَهَّابًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا لَكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي » [أخرجه أبو داود و أحمد]

“Ya Allah, berilah hamba kemudahan jangan Engkau biarkan, berilah pertolongan jangan Engkau tolong musuhku, jadikan tipu daya untukku bukan atasku, berilah petunjuk, dan mudahkan untukku, tolonglah hamba terhadap orang yang memusuhiku. Ya Allah jadikanlah diriku hamba yang pandai bersyukur, banyak berdzikir, beribadah, serta yang taat pada-Mu, banyak berdo’a dan berinabah kepada-Mu. Ya Rabb terimalah taubatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkan do’aku, teguhkan hujahku, berilah hatiku petunjuk, luruskan lisanku, hilangkan kebencian dalam hatiku pada orang lain”. HR Abu Dawud no: 1510. Ahmad 3/452 no: 1997.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Buraidah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, menceritakan tentang dirinya, “Pada suatu malam Buraidah keluar rumah, ditengah jalan dirinya bertemu bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas beliau mengandeng tangannya lalu membawanya masuk ke dalam masjid. Ketika didalam masjid terdengar suara orang yang sedang membaca al-Qur’an, maka Nabi bertanya, “Apakah dia membaca karena ingin riya’? Buraidah bertanya balik, “Apakah dia membaca karena ingin supaya dipuji ya Rasulallah? Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, dia adalah seorang mukmin yang berinabah, tidak, dia adalah seorang mukmin yang berinabah”.

Maka kami dapati orang tersebut adalah al-Asy’ari yang sedang membaca dengan suara yang terdengar ditelinga kami disisi masjid. Kemudian Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya al-Asy’ari –atau Abdullah bin Qois- telah dikaruniai oleh Allah suara indah dari sedikit yang dimiliki oleh nabi Daud“. HR Ahmad 38/46 no: 22952.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk manusia terbanyak yang berinabah kepada Rabbnya, dan termasuk do’a yang beliau panjatkan ialah tentang hal ini, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata, “Adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau bangun malam dan mengerjakan sholat malam beliau membaca do’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Ya Allah, segala puji bagiMu, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta segala isinya. Segala puji bagiMu, Engkau adalah penegak langit dan bumi serta isi yang ada dalam keduanya. Segala puji bagiMu, Engkau Rabb langit dan bumi serta segala isinya. Segala puji bagiMu, milikMu lah segala kerajaan langit dan bumi dengan segala isinya. Segala puji bagiMu, Engkau adalah penguasa langit dan bumi. Segala puji bagiMu, Engkau adalah al-Haq, janjiMu adalah benar adanya, dan ucapanMu adalah benar adanya, pertemuan denganMu adalah benar adanya, surga itu adalah benar adanya, neraka itu adalah benar adanya, para nabi adalah benar adanya, Muhammad adalah benar adanya, dan hari kiamat adalah benar adanya. Ya Allah, kepadaMu lah aku berserah diri, kepadaMu pula aku bertawakal, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berinabah, dengan pertolonganMu aku berdebat dan kepadaMu juga aku mengambil keputusan hukum. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang ku lakukan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Engkau yang berhak menangguhkan dan mempercepat segala sesuatu. Tidak ada yang berhak di ibadahi secara benar melainkan Engkau, Engkau adalah illahku tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau“. HR Bukhari no: 6317. Muslim no: 769.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  الإنابة  Penyusun : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah :  Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1]  Madarijus Saalikiin 1/434.
[2]  Berkata as-Sindi manakala menjelaskan makna hadits, “Artinya ialah tempat untuk mengintai ditempat yang agak tinggi dari dataran. Seperti dikatakan, “Orang yang memperhatikan gunung ini pada tempat ini, maksudnya, orang yang mendatangi serta mendakinya. Sedang yang dimaksud dalam hadits ialah kesulitan yang akan dialaminya ketika sakaratul maut datang, beliau menyerupakan dengan orang yang mendaki gunung, serta memberi penjelasan akan larangan tersebut dalam hadits. Karena biasanya orang yang berangan-angan untuk segara mati hanyalah orang yang sedikit punya kesabaran serta sering berkeluh kesah, dan apabila benar datang apa yang di inginkannya yakni kematian tentu keluh kesah serta kesempitannya akan bertambah. Sehingga dengan sebab itu dirinya berhak untuk mendapatkan murka Allah. Sebab kebahagian itu berada pada umur panjang, karena seorang manusia hanyalah diciptakan untuk menggapai kebahagian abadi yakni didalam surga, sedangkan modal utama untuk menggapai hal tersebut adalah umurnya. Apakah kiranya engkau pernah melihat ada seorang pedagang yang menyia-yiakan modal yang dimilikinya?! Musnad Imam Ahmad 22/427.

Menghadirkan Hati Dalam Shalat

MENGHADIRKAN HATI DALAM SHALAT

 Ibnul Qayyim – rahimahullah – menguraikan wasiat Nabi Yahya bin Zakariya – ‘alaihimassalam – yang berbunyi :

وأمرَكُم بالصَّلاةِ فإذا صَلَّيتُم فلا تَلتَفِتوا فإنَّ اللهَ ينصِبُ وجهَهُ لوَجهِ عَبدِهِ في صَلاتِهِ ما لَم يَلتَفِتْ , رواه البخاري

“Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling (menoleh) karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kewajah hamba tersebut dalam shalat selama dia tidak berpaling”. HR. Bukhari.

Beliau (Ibnul Qayyim) berkata : Berpaling (iltifat) yang dilarang dalam shalat ada dua macam :

  1. Berpalingnya hati dari Allah – Azza wa Jalla – kepada selain-Nya.
  2. Berpalingnya pandangan mata.

Kedua-duanya dilarang dalam shalat. Allah senantiasa menghadap ke hamba-Nya selama hamba tersebut menghadap kepada-Nya, maka tatkala dia berpaling dengan hati ataupun pandangannya, maka Allah pun akan berpaling darinya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang iltifat (berpaling)nya seorang laki-laki dalam shalat, maka beliau bersabda :

اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ العَبْدِ . رواه البخاري

“ (iltifat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh syetan dalam shalat seseorang. (HR. Bukhari ).

Dalam sebuah atsar disebutkan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman (dalam hadits qudsi) : إلى خير مني، إلى خير مني (apakah kamu berpaling) kepada yang lebih baik dari-Ku? kepada yang lebih baik dari-Ku?.

Perumpamaan orang yang berpaling (iltifat) dalam shalatnya dengan pandangan ataupun hati sama seperti orang yang dipanggil oleh penguasa, kemudian dia berdiri di hadapan penguasa tersebut dan berbicara dengannya, ketika sedang berbicara orang tersebut menoleh (berpaling) ke kiri dan ke kanan, hatinya tidak sedang bersama penguasa tersebut sehingga dia tidak paham apa yang dibicarakan. Kira-kira tindakan apa yang akan dilakukan oleh penguasa tersebut menghadapi laki-laki ini?. Paling tidak penguasa tadi akan pergi meniggalkannya dalam keadaan marah, dan harga diri laki-laki tadi menjadi hilang di hadapan penguasa tersebut.

Tidaklah sama nilainya orang yang shalat seperti itu dengan orang yang shalat dengan hati yang hadir (khusu’) menghadap Allah Subhanahu wata’ala, hatinya diselimuti dengan pengagungan kepada Allah ketika dia berdiri di hadapan-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa sungkan dan tunduk kepada Allah, dia malu kepada Allah ketika berpaling kepada selain-Nya. Sungguh sangat jauh perbedaan diantara shalat kedua orang tersebut sebagaimana dikatakan oleh Hassan bin ‘Athiyah.[1]

Beliau (Hassan bin ‘Athiyah) mengatakan : Dua orang laki-laki bisa saja sama-sama melakukan shalat, tetapi nilai keduanya sangat jauh berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, ini disebabkan karena salah seorang diantara mereka shalat dengan hati yang khusu’ menghadap Allah ‘Azza wa Jalla, sementara hati yang satunya lagi lupa dan lalai. Seseorang apabila menghadap makhluk lain  dan diantara mereka ada hijab ( penghalang ) maka itu tidaklah dinamakan menghadapnya, dan juga tidak dikatakan mendekatinya, apalagi kalau itu dilakukan pada Pencipta (Allah) ‘Azza wa Jalla. Apabila seseorang menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla sementara antara dia dan Allah terdapat penghalang berupa hawa nafsu dan was-was (godaan), jiwanya sibuk dan penuh dengan hawa nafsu dan was-was tersebut, bagaimana mungkin itu dikatakan menghadap (Allah) padahal dia dipermainkan oleh godaan dan bermacam fikiran yang membawanya kesana kemari.

Seorang hamba apabila sudah berdiri untuk shalat, maka syetan akan gelisah karena dia berdiri di tempat yang paling mulia dan paling dekat (kepada Allah) yang sangat tidak disukai syetan. Makanya syetan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalanginya, dia senantiasa menggoda hamba tersebut, membuatnya berangan-angan, dan lupa. Syetan akan berusaha mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya untuk menjadikan hamba tadi menganggap enteng shalat tersebut, sehingga akhirnya dia meninggalkannya.

Kalau dia (syetan tersebut) gagal dalam usahanya, maka dia akan berusaha menjadi penghalang bagi hamba tersebut dalam shalat, menjadi penghalang dalam hatinya, dia mengingatkan hamba tersebut dalam shalat dengan berbagai macam persoalan yang terlupakan sebelum shalat. Bisa jadi hamba tadi lupa sesuatu hal, atau lupa sesuatu yang sangat penting yang membuat dia telah putus asa, maka syetan datang mengingatkannya ketika dia sedang shalat, sehingga hatinya menjadi sibuk, tidak lagi menghadap Allah, maka diapun (hamba tadi) berdiri di hadapan Allah tidak dengan hatinya. Dia tidak akan mendapatkan kemuliaan dan kedekatan dari Allah sebagaimana yang didapatkan oleh orang yang melakukan shalat dengan sepenuh hati. Shalat bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kalau dikerjakan dengan sempurna, khusu’ dan berdiri di hadapan Allah dengan sepenuh hati.

Ketika seseorang sudah bisa menghindari godaan syetan tadi, maka dia akan merasakan keringanan dalam dirinya, seolah-oleh dia telah meletakkan beban berat yang dipikulnya, dia akan merasakan semangat dan ketenangan sehingga dia berharap untuk tidak selesai dari shalat tersebut, karena shalat itu sudah menjadi harapannya, kenikmatan jiwanya, sorga hatinya dan tempat peristirahatannya dari kesibukan dunia. Dia akan merasakan dirinya dalam penjara dan kesempitan sehingga dia melaksanakan shalat, dia menjadi tentram dengan shalat tersebut. Orang-orang yang cinta dengan shalat akan mengatakan : mari kita shalat sehingga kita bisa merasakan ketentraman dengan shalat tersebut, sebagaimana dikatakan oleh panutan dan Nabi mereka :

يَا بِلَالُ أَرِحْنَا بالصلاة

wahai Bilal, tentramkanlah kami dengan Shalat ”. (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Bani ).

Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan : Tentramkan kami dengan menjauhkan shalat tersebut dari kami.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

جُعِلَت قُرَّةُ عَيني في الصَّلاة

Ketentramanku diciptakan dalam shalat ” . (HR. Ahmad dan disahihkan oleh al-Bani)

Kalau ketentraman itu diciptakan di dalam shalat, bagaimana mungkin dia bisa tentram tanpa shalat tersebut ? Bagaimana mungkin dia sanggup meninggalkannya?. Shalat orang yang menghadirkan hatinya inilah yang akan naik (menuju Allah), shalat itulah yang punya cahaya dan bukti, sehingga diterima oleh Allah ‘Azza wa jalla. Shalat itu akan bicara : (حفظك الله كما حفظتني) Allah akan menjagamu sebagaimana kamu menjagaku.

Adapun shalat orang yang lalai, tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya dan  tidak khusu’ di dalamnya, maka shalat itu akan dilipat sebagaimana dilipatnya kain yang sudah lusuh dan dipukulkan kepada orang tersebut, kemudian dia berkata : (ضيعك الله كما ضيعتني) Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar – Radiyallahu ‘anhuma – berkata :

ما من مؤمن يتم الوضوء إلى أماكنه، ثم يقوم إلى الصلاة في وقتها فيؤديها لله عز وجل لم ينقص من وقتها، وركوعها وسجودها ومعالمها يستضيء بنورها ما بين الخافقين حتى ينتهى بها إلى الرحمن عز وجل، ومن قام إلى الصلاة فلم يكمل وضوءها وأخرها عن وقتها، واسترق ركوعها وسجودها ومعالمها، رفعت عنه سوداء مظلمة، ثم لا تجاوز شعر رأسه تقول: “ضيعك الله كما ضيعتني، ضيعك الله كما ضيعتني” (والحديث ضعيف).

Tidaklah seorang mukmin menyempurnakan wudhu’nya kemudian dia melaksanakan shalat pada waktunya, dia laksanakan dengan ikhlas kepada Allah, tanpa ada kekurangan pada waktunya, rukuknya, sujudnya dan sunnah-sunnahnya melainkan dia akan mendapatkan cahanya antara barat dan timur sampai akhirnya berakhir di sisi Allah ‘azza wa jalla. Dan siapa saja yang melaksanakan shalat, dia tidak menyempurnakan wudhu’nya, mengakhirkan waktunya, tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan sunnah-sunnahnya maka diangkatkan darinya benda hitam gelap dan langsung mengatakan kepadanya : Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku… Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku… (Haditsnya Lemah/Dha’if ).

Shalat dan amalan yang maqbul (yang akan diterima Allah) adalah apabila dilakukan dengan cara yang sesuai dengan kebesaran Allah ‘Azza wajalla, kalau shalat tersebut dilakukan dengan benar dan pantas maka pasti akan diterima.

Amalan yang Maqbul (diterima di sisi Allah) ada dua macam :

  1. Shalat dan amalan lainnya yang dilakukan seorang hamba dengan sepenuh hati kepada Allah ‘azza wajalla, ia senantiasa ingat (zikir) kepada Allah ‘azza wajalla. Maka amalan ini akan dibawa kehadapan Allah, diletakkan di depan-NYa, kemudian Allah memandang amalan tersebut, kalau Allah melihat amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas mengharapkan ridha-Nya, timbul dari hati yang selamat (bersih), ikhlas dan cinta serta bertaqarrub kepada-Nya, maka Allah akan mencintai amalan tersebut, meridhainya dan menerimanya.
  2. Amalan yang dilakukan karena sekedar kebiasaan dan dilakukan dengan lalai, meskipun niatnya untuk ketaatan dan taqarrub kepada Allah, anggota tubuhnya melakukan gerakan-gerakan ketaatan, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Ketika amalan tersebut diangkat menghadap Allah, dia tidak diletakkan di hadapan-Nya, dan Allah tidak memperhatikannya, tapi amalan tersebut langsung di letakkan di tempat catatan amal, sehingga nanti ditampilkan pada hari kiamat. Allah akan memberikan balasan sesuai dengan bagian yang dikerjakan karena mengharapkan ridha-Nya, sementara yang dikerjakan bukan karena mengharapkan ridha-Nya akan ditolak. Itulah bentuk penerimaan-Nya terhadap amalan ini. Balasan yang akan diberikan untuk amalan seperti ini adalah berupa ciptaan-Nya seperti istana (di sorga), makanan, minuman dan bidadari.

Adapun balasan untuk yang pertama tadi maka Allah ridha dengan amalan tersebut, ridha dengan cara hamba tersebut melakukannya, ridha dengan taqarrub yang dilakukannya, Allah akan meninggikan derajat dan tempatnya, yang diberikan tanpa dihitung lagi. Jadi ada perbedaan antara amalan pertama dan kedua.

Manusia dalam melaksanakan shalat dikelompokkan menjadi lima tingkatan:

  1. Tingkatan orang-orang yang zhalim terhadap dirinya, yaitu orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya, waktunya, batasan-batasannya dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang menjaga waktu shalatnya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya dan wudhu’nya, tetapi dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari godaan, sehingga dia hanyut dalam godaan dan berbagai macam fikiran yang timbul.
  3. Orang yang menjaga batasan-batasan shalat, rukun-rukunnya dan berusaha untuk melawan godaan dan pemikiran yang muncul, akhirnya dia larut dalam usaha melawan syetan supaya tidak mencuri shalatnya, maka berarti dia berada dalam shalat dan jihad.
  4. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun dan batasan-batasannya, hatinya larut menjaga batasan-batasan dan hak-hak shalat tersebut sehingga tidak ada yang luput, semua perhatiannya tercurah untuk mendirikan dan menyempurnakan shalat sebagaimana mestinya , berarti hatinya larut dalam shalat dan beribadah kepada Allah tabaaraka wata’ala.
  5. Orang yang melaksanakan shalat seperti tingkatan ke empat tadi, ditambah lagi dia meletakkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah ‘azza wajalla, dia melihat kepada Allah dengan hatinya dan mengawasi-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah, seolah-olah dia melihat dan menyaksikan-Nya. Godaan-godaan sudah hilang darinya, sudah tidak ada lagi godaan yang jadi penghalang antara dia dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini dibanding dengan yang lainnya jelas lebih utama sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, karena dia dalam shalatnya sibuk dengan Tuhannya ‘azza wajalla, dia tentram bersama-Nya.

Orang-orang di tingkat pertama akan mendapat ‘iqab, yang kedua akan dihisab, yang ketiga (shalatnya) jadi penghapus dosa-dosanya, yang ke empat mendapatkan balasan dan yang kelima menjadi orang yang akan di dekatkan kepada Allah, karena dia menjadikan ketentraman bersama Allah dalam shalatnya. Siapa saja yang tentram hatinya dengan shalat di dunia ini, maka dia akan tentram juga di akhirat karena dekat dengan Allah. Orang yang tentram hatinya bersama Allah di dunia, maka hati-hati yang lainpun akan merasa tentram karenanya, sedangkan orang yang tidak tentram hatinya bersama Allah maka jiwanya akan terpecah belah mengikuti dunia dengan penuh kerugian.

Diriwayatkan bahwa seorang hamba tatkala berdiri untuk melaksanakan shalat maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : angkat hijab (pembatas) antara Aku dengan hamba-Ku, namun tatkala ia berpaling maka Allah berfirman: turunkan hijab ( kembali ). Berpaling (iltifat) di sini ditafsirkan dengan berpalingnya hati orang tersebut dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada selain-Nya, maka ketika dia berpaling kepada selain-Nya diturunkanlah hijab antara Dia dan hamba-Nya, ketika itulah syaitan datang dengan urusan dunia, dia memperlihatkan kepada orang tersebut godaan dunia di cermin (sehingga kelihatan nyata). Jadi ketika seorang hamba menghadap Allah dengan hatinya dan dia tidak berpaling, maka syetan tidak sanggup menghalangi antara hati tersebut dan Allah, syetan hanya akan masuk ketika ada hijab. Ketika hamba tersebut kembali kepada Allah dan menghadirkan hatinya maka syetan akan lari, jika dia berpaling lagi (dari Allah) maka syetan akan datang. Demikian seterusnya antara hamba dan syetan selama dalam shalat.

Manusia hanya akan sanggup untuk menghadirkan hatinya dalam shalat dan menyibukkan hati tersebut dalam shalat bersama dengan Tuhannya ketika dia bisa menguasai syahwat dan hawa nafsunya, kalau tidak maka hatinya akan dikuasai oleh syahwat dan dipenjara oleh nafsu, ketika itulah syetan mendapatkan tempat untuk duduk dengan nyaman di dalamnya sehingga dengan mudah dia menggoda dengan was-was dan berbagai macam fikiran ( dunia ).

Hati manusia ada tiga macam.

  1. Hati yang kosong dari keimanan dan kebaikan, ini adalah hati yang sudah hitam penuh dengan kegelapan, syetan dengan tenang bisa menggodanya, karena dia telah mendapatkan tempat yang nyaman untuk rumah tempat tinggalnya, sehingga dia bisa berbuat sekehendaknya dengan sangat leluasa.
  2. Hati yang mendapat cahaya keimanan dan menyalakan lampu didalamnya, tapi masih ada bekas-bekas kegelapan syahwat dan gelombang hawa nafsu di dalamnya, maka di sini syetan mondar-mandir tergantung situasi, di sinilah terjadi perang antara hati dan syetan. Kondisinya berbeda antara seorang hamba dengan yang lainnya tergantung porsi kegelapan tersebut, ada orang yang waktu kemenangannya lebih banyak dibanding kekalahannya, dan sebaliknya ada juga orang yang waktu kekalahannya lebih banyak dibanding waktu kemenangannya, dan ada juga yang seimbang.
  3. Hati yang sudah dipenuhi dengan keimanan, diterangi dengan cahayanya, tirai syahwat telah menjauh dari dirinya, kegelapan sudah pergi meninggalkannya, cahaya di dalam hatinya bersinar cemerlang, sehingga ketika ada godaan syahwat yang datang maka dia (godaan tersebut) akan langsung terbakar, dia ibaratkan langit yang dijaga dengan bintang-bintang, ketika ada syetan yang mendekat akan langsung dilemparnya hingga terbakar.

Semoga Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari حضور القلب في الصلاة  Penyusun : Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah :  Abu Mushlih Muhammad Thalib MZ, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Ibnu Hibban menyebutkan dalam Masyahir Atba’it tabi’in bisy syam bahwa Hassan bin ‘Athiyah termasuk ulama yang paling mulia di zamannya, dari segi keterpercayaannya (ke tsiqahannya ), keprofesionalannya, keutamaan dan kebaikannya. Lihat kitab Masyahir Ulama al-amshar nomor 1433. Atsar ini diriwayatkan oleh Abdullah bin al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhdu wa ar-Raqaaiq

Peringatan Keras Untuk Para Penyembah Kubur

RINGATAN KERAS UNTUK PARA PENYEMBAH KUBUR

Muqaddimah 
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya nabi Muhammad Salallhu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya.

قال الله تعالى: { يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ} ( سورة آل عمران : 102 )

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada -Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam“. [ali-‘Imran/3: 102].

قال الله تعالى : { يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا ٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا } ( سورة النساء : 1) 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu“. [an-Nisaa’/4: 1].

قال الله تعالى : {يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا } ( سورة الأحزاب: 70-71) 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul -Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar“. [al-Ahzaab/33: 70-71].

Amma ba’du

Pada akhir tahun 1377H, saya pernah menulis sebuah risalah dan telah tercetak, dengan judul “Tahdziru Saajid man itakhaadza al-Qubuur Masaajid(Peringatan Keras Untuk Para Pengagung Kuburan).

Di mana, selama ini, naskah asli dari cetakan tersebut masih tetap berada di tangan saya. Tatkala terlintas sebuah faidah di benak saya yang saya kira sesuai dengan tema pembahasan yang ada di dalam kitab ini maka langsung segera menambahkannya, dengan harapan bisa saya satukan pada cetakan yang akan datang, sebagai tambahan dan perbaikan isi kitab ini. Hingga akhirnya saya mendapatkan banyak tambahan penting untuk risalah ini.

Manakala al-Ustadz yang mulia Zuhair asy-Syuwaisy pemilik Maktab al-Islami meminta saya supaya mengajukan naskah tersebut kepadanya untuk di perbaharui cetakannya, naskah itu justru hilang. Sehingga ketika saya sudah merasa lelah mencarinya, langsung saya mengirimkan naskah lain kepadanya yang saya pinjam dari teman-teman saya untuk dicetak seperti apa adanya, seperti di katakan oleh sebuah pepatah: “Sesuatu yang tidak bisa di jumpai semuanya, bukan berarti di tinggalkan semuanya“.

Dan tatkala saudara saya al-Ustadz Zuhair asy-Syuwaisy telah mempersiapkan segalanya untuk mencetak baru kitab ini, berkat anugerah Allah Ta’ala serta kemurahan-Nya, saya menemukan catatan-catatan tersebut, sehingga saya segera mengirimkan kepadanya, setelah sebelumnya saya ringkas dan saya susun sesuai pembahasan untuk bisa di satukan pada cetakan yang kedua.

Karena penulisan risalah tersebut berlangsung pada kondisi khusus dan situasi tertentu, sehingga menuntut saya menggunakan gaya penyajian yang khusus dan berbeda pula, sebagaimana dengan gaya penyajian ilmiah murni yang bisa saya berlakukan pada setiap buku saya, yaitu pembahasan yang tenang dan disertai dengan argumen yang kuat. Itu semua saya lakukan di karenakan tulisan ini di tulis sebagai sanggahan terhadap orang-orang yang tidak tertarik pada seruan kami untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, berdasarkan manhaj salafus sholeh, serta para Imam yang empat dan selain mereka dari kalangan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Di mana mereka mendahului kami dengan menulis buku dan memberi reaksi, yang saya kira sangat ilmiah dan dengan gaya bahasa yang tenang, sehingga saya pun perlu menyambutnya dengan lebih baik lagi. Namun kenyataannya tidak demikian, justru tulisan tersebut jauh dari pembahasan ilmiah, dan malah di penuhi dengan cercaan dan hinaan serta tuduhan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Oleh karena itu, kami tidak bisa berdiam diri dan membiarkan mereka menyeberluaskan risalah mereka ketengah-tengah masyarakat, tanpa adanya tulisan yang bisa menyingkap kedok mereka yang menutupi kebodohan dan propaganda:

قال الله تعالى :{ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ } ( سورة الأنفال : 42) .

Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)“. [al-Anfaal/8: 42].

Oleh karena itu harus ada penolakan serta penentangan terhadap mereka.

Namun demikian, saya tidak membalas permusuhan dan tindakan mengada-ada mereka dengan cara yang sama. Adapun risalah ini, dengan karakternya yang ilmiah, secara langsung memberikan penolakan terhadap mereka. Yang bisa jadi sebagian gaya bahasanya di anggap keras oleh sebagian orang yang merasa keberatan kalau tindakan orang-orang yang menyimpang dan mengada-ada itu di kritik, bahkan menginginkan agar mereka di biarkan saja tanpa memperhatikan kebodohan dan tuduhan mereka kepada orang-orang yang tidak sepantasnya di tuduh, seraya mengklaim bahwa mendiamkan mereka merupakan bagian dari toleransi yang termasuk di dalam firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى:{ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا }(سورة الفرقان: 63)

Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan“. [al-Furqaan/25: 63].

Mereka lupa atau melupakan bahwa sikapnya tersebut pada dasarnya sedang membantu orang-orang semacam itu untuk terus berada di atas kesesatanya serta menyesatkan orang lain, sedangkan Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى : { وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ } ( سورة المائدة : 2)

Dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran“. [al-Maaidah/5: 2].

Tidak ada jenis dosa dan pelanggaran yang lebih besar daripada menuduh saudaranya sesama muslim dengan sesuatu yang tidak pernah di lakukannya, akan tetapi justru yang dia lakukan adalah sebaliknya? Kalau sekiranya sebagian orang-orang itu mendapatkan permusuhan tidak separah yang menimpa kami pun, pasti mereka dengan cepat melakukan penolakan dan akan membantah orang tersebut, sambil mengucapkan:

Ketahulilah, jangan sampai ada orang yang bersikap kasar kepada kami
Sehingga kami harus bersikap kasar kepadanya, seperti orang-orang bodoh

Maka saya katakan, dengan keadaan yang seperti itu, saya menyangka kalau cetakan terbaru dari buku ini, masih sama dengan metode cetakan yang sebelumnya yang tidak ada tambahan faidah baru yang perlu di sebutkan di sini, oleh karena itu, harus ada perubahan yang perlu di hilangkan dari sebagian ta’liq, serta merubah sedikit bahasa, di sesuaikan dengan cetakan terbaru, namun tidak mengurangi nilai ilmiahnya, serta pembahasan-pembahasan yang penting lainnya.

Dan pada muqodimah cetakan pertama, saya telah menyebutkan bahwa tema risalah ini terfokus pada dua perkara yang sangat penting sekali, yaitu:

  1. Hukum membangung masjid di atas kuburan.
  2. Hukum sholat di atas masjid-masjid yang di bangun di atas kubur.

Di mana saya mengedepankan permasalahan ini, di karenakan sebagian orang banyak yang telah masuk pada kedua perkara tersebut tanpa di dasari dengan ilmu. Mereka menyatakan bahwa tidak pernah ada seorang alim pun yang menyebut masalah tersebut sebelumnya, di dukung lagi oleh kebanyakan kaum muslimin yang tidak mempunyai pengetahuan akan hal tersebut, yang pada intinya mereka sedang dalam kelalaian pada ilmu tersebut serta melupakannya, mereka bodoh terhadap kebenaran, di tambah lagi dengan sikap diamnya para ulama atas perbuatan mereka, -Kecuali yang di kehendaki Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan jumlah mereka hanya sedikit -, di karenakan mereka takut terhadap masyarakat umum, atau karena ingin mempertahankan status dan kedudukan mereka di tengah-tengah masyarakat, dan mereka melupakan terhadap firman Allah Ta’ala Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi:

قال الله تعالى : { إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ } (سورة البقرة : 159) .

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) serta petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknatinya“. [al-Baqarah/2: 159].

Dan juga sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((من كتم علماً ألجمه الله يوم القيامة بلجام من نار ) رواه ابن حبان و الحاكم 

Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka Allah akan mengenakan tali kekang padanya dari api neraka di hari kiamat nanti“. HR Ibnu Hibban no: 296, al-Hakim 1/102.

Berawal dari sikap diam seperti itu akhirnya membuahkan kebodohan, yang mengantarkan kebanyakan manusia untuk berani melakukan perbuatan yang telah di haramkan oleh Allah Ta’ala bahkan mengerjakan perbuatan yang pelakunya akan mendapat laknat dari -Nya, sebagaimana akan datang penjelasannya. Duhai sekiranya kalau perkaranya berhenti sampai di sini! Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara mendirikan masjid di atas kuburan. Sehingga anda dapat menyaksikan sebagian orang yang suka berbuat baik dan memakmurkan masjid menginfakkan harta yang cukup banyak untuk membangun masjid, tetapi di dalam masjid tersebut ia juga menyiapkan liang lahat untuk menjadi makamnya kelak, saat meninggal dunia, dengan memberi wasiat kepada kerabatnya supaya di kubur di masjid tersebut ketika meninggal!

Contoh konkretnya mengenai hal tersebut yang pernah saya ketahui -dan saya berharap mudah-mudahan itu yang terakhir- adalah masjid yang ada tepat di jalan di kota Baghdad dari arah barat sekitaran Damaskus, yang lebih di kenal dengan nama masjid “Ba’ira”, yang di dalamnya terdapat makam pendirinya ba’ira. Dan kami mendapat kabar, bahwa pihak kementerian wakaf telah melarang pemakamannya di masjid tersbut, akan tetapi kami tidak tahu persis sebab sebenarnya yang akhirnya membolehkan Ba’ira di makamkan di dalam masjid tersebut, bahkan di kiblatnya. Kami hanya bisa mengatakan: Innaa lillahi wa innaa ilahi roji’un, dan Allahlah Dzat yang dapat menolong dan menyelamatkan kita dari kemunkaran seperti ini dan yang semisalnya.

Belum lama ini ada seorang mufti dari penganut Syafi’iyah yang meninggal dunia, lalu para mpengikutnya bermaksud untuk memakamkannya di salah satu masjid kuno di sebelah timur Damaskus, akan tetapi kementerian wakaf melarangnya, sehingga dia tidak jadi di kuburkan di sana. Maka kami ucapkan beribu terima kasih kepada pihak kementerian wakaf atas sikap baiknya tersebut serta kepedulian yang tinggi terhadap umat dengan melarang pemakaman di dalam masjid, dengan harapan mudah-mudahan tujuan yang mendorong keputusan larangan semacam ini adalah untuk mencari ridho Allah Azza wa jalla serta dalam rangka mengikuti syari’at-Nya, bukan hanya sebagai slogan-slogan yang terpampang, karena sebab politik, sosial atau yang lainnya.

Dan semoga itu merupakan permulaan yang indah dalam rangka menyucikan masjid dari berbagai bentuk bid’ah dan kemunkaran yang beraneka ragam.

Apalagi dalam hal ini bapak menteri wakaf, Fadhilatus Syaikh al-Baquri mempunyai sikap yang terpuji, di dalam memerangi berbagai jenis kemunkaran tersebut, lebih khusus lagi sikapnya yang tegas melarang membangun masjid di atas kubur, dan dalam masalah ini, beliau mempunyai ucapan yang sangat baik, yang insya Allah akan kami nukil selengkapnya pada pembahasan tersendiri.

Dan sungguh sangat di sayangkan sekali oleh setiap muslim yang sejati, bahwa kebanyakan masjid-masjid yang ada di negeri Suriah serta negeri lainnya, tidak kosong dari adanya kuburan di dalamnya atau bahkan di dapati lebih dari satu kuburan, seakan-akan Allah Ta’ala telah memerintahkan perbuatan semacam itu serta tidak melaknat sang pelakunya! Betapa mulianya apa yang di lakukan oleh kementerian wakaf kalau sekiranya berusaha dengan kekuasaanya untuk membersihkan masjid-masjid ini dari kemungkaran tersebut.

Dan saya yakin, bukan termasuk sikap bijak kalau menghadirkan suatu wacana umum secara tiba-tiba tentang permasalahan ini, tanpa mensosialisasikanya terlebih dahulu sebelum pembahasan di mulai, yaitu permasalahan yang menjelaskan bahwa yang namanya kuburan dan masjid tidak mungkin bisa dijadikan satu dalam suatu bangunan di dalam agama Islam, sebagaimana yang telah di katakan oleh para ulama besar, seperti yang akan datang nukilannya. Bahwa bersatunya masjid dan kuburan menjadi satu akan mengakibatkan hilangnya nilai ikhlas di dalam meng Esakan Allah Shubhanahu wa ta’alla serta ibadah kepada -Nya Tabaraka wa ta’ala, sedangkan keikhlasan ini merupakan bentuk realisasi dari tujuan di bangunnya masjid, hal itu sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah Ta’ala:

قال الله تعالى : { وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا } ( سورة الجن : 18) .

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah“. [al-Jinn/72: 18].

Saya yakin bahwa menjelaskan permasalahan ini merupakan kewajiban yang tidak mungkin bisa kita abaikan, dan saya berharap semoga menjadi orang yang di beri taufik oleh Allah Ta’ala untuk mengerjakan kewajiban ini di dalam risalah ini. Di mana saya telah mengumpulkan hadits-hadits mutawatir tentang larangan yang berkaitan dengan masalah ini, kemudian saya sertakan pendapat para ulama yang kapabel dari madhzab yang berbeda yang menunjukan tentang masalah ini, sehingga pada kenyataannya hal itu sebagai saksi bahwa para imam semoga Allah meridhoi mereka, mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat sekali untuk mengikuti sunah serta mendakwahkan kepada manusia supaya mau mengikuti sunnah tersebut, dan memperingatkan umat agar tidak menyelisihi sunnah. Akan tetapi Maha Benar Allah Shubhanahu wa ta’alla lagi Maha Agung berfirman:

قال الله تعالى: {فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا }( سورة مريم : 59) 

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan“. [Maryam/19: 59].

Dalam risalah ini terkandung beberapa bab, berikut di antaranya:

  1. Bab pertama: Hadits-hadits yang menjelaskan larangan menjadikan kuburan sebagai masjid.
  2. Bab kedua: Makna menjadikan kuburan sebagai masjid.
  3. Bab ketiga: Menjadikan kuburan sebagai masjid merupakan salah satu dosa dari beberapa dosa besar.
  4. Bab keempat: Kerancuan-kerancuan yang ada serta bantahanya.
  5. Bab kelima: Hikmah di haramkanya membangun masjid di atas kuburan.
  6. Bab keenam: Di benci sholat di dalam masjid yang di bangun di atas kuburan.
  7. Bab ketujuh: Penjelasan bahwa hukum-hukum yang telah lewat mencakup seluruh masjid yang ada, kecuali masjid Nabawi.

Bab-bab di atas memuat juga beberapa sub judul, yang terkandung di dalamnya faidah-faidah penting yang sangat bermanfaat sekali insya Allah.

Dan saya memberikan judul risalah ini dengan: “Tahdziru Saajid man Itakhadza al-Qubuura Masaajid“.

Akhirnya saya senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala, mudah-mudahan kaum muslimin mendapatkan manfaat yang lebih banyak lagi dari cetakan yang sebelumnya. Dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menerima semua amalan saya ini dengan sebaik-baiknya, selain itu, mudah-mudahan pihak penerbit pun mendapatkan balasan kebaikan.

[Disalin dari تحذير الساجد من اتخاذ القبور مساجد (Peringatan Keras Untuk Para Penyembah Kubur) Penulis : Syaikh Al-Alamah Muhammad Nashirudin Al-Albani , Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Keadaan dan Kondisi Juru Dakwah

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Keadaan dan Kondisi Juru Dakwah
Barangsiapa yang menggeluti dakwah ilallah, maka Allah akan membimbing dan mengujinya dengan kesenangan dan kesulitan. Dan ia akan mengahadapi adanya sebagian orang yang mendukung dan menolongnya dan dia juga akan menemui orang-orang yang  mengejek dan mencelanya.

Dua situasi bagi juru dakwah.

  1. Adanya sambutan dari masyarakat terhadap dakwahnya, sebagaimana keadaan yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di madinah.
  2. Adanya penolakan dari masyarakat, sebagimana keadaan (yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) di Thoif, (di mana penenduduknya) menolak dakwah dan menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keadaan diterimanya dakwah lebih berbahaya karena bisa jadi dengannya seseorang da’i terjangkiti sifat ghurur (bangga karena tertipu), ditawarkan kepadanya jabatan, lalu tatkala dia menerima (tawaran tersebut) maka binasalah dirinya, itulah tipu daya syetan yang telah merampas juru dakwah dari agama ini, akhirnya ia disibukkan dengan perkara dunia dan hal-hal lain.

Adanya penolakan dan pengingkaran terhadap dakwah itu lebih baik bagi seorang da’i, sebab dalam kondisi itulah bertambahnya harapan, pasrah dan bergantungnya seorang da’i  kepada Allah Sibhanahu wa Ta’ala, dan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongann dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat pertolongan dari Allah ketika penduduk Thoif menolak dan menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang datang mendakwahi. Ketika itu, beliau berdo’a kepada Allah dan akhirnya Allah pun memberikan pertolongan baginya dengan mengutus malaikat Jibril dan malaikat Gunung, dan Allah memudahkan kepada beliau untuk memasuki kota Mekkah, kemudian  menjalani peristiwa Isro Mi’raj lalu berhijrah ke Madinah, akhirnya, Islam menyebar.

Klasifikasi juru Dakwah pada masa sekarang.
Di antara mereka ada yang terkesan dengan akhlak para juru dakwah, sehingga dirinyapun ikut bergabung dalam berdakwah bersama mereka, namun pada saat suatu permasalahan terjadi pada salah seorang da’i, dia meninggalkan dakwah bahkan memusuhi para da’i. Allah I memalingkannya karena tujuannya yang jelek.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena dia merasa dan menemukan bahwa berdakwah bisa memecahkan probrlamatikanya, bisa mewujudkan apa yang diinginkan dan disenanginya, ketika kondisi (keduaniaannya) meningkat lebih baik, maka meningkat pula ambisi keduniaannya, akhirnya dia lebih sibuk mengurusi urusan duniawi daripada dakwah. Allah memalingkannya karena tujuannya yang kurang dan tidak sempurna.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena didorong banyaknya pahala pada dakwah tersebut, dan dia hanya mengharap pahala, tidak peduli dengan orang lain, dan tujuannya hanya bagi dirinya. Orang seperti ini ketika mendapat atau mendengar suatu amalan yang leibh besar pahalanya dari dakwah, atau lebih banyak dan lebih mudah; maka dia akan meninggalkan berdakwah.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena perintah dari Allah, ia beribadah dengannya karena dia perintah Allah, dan diia berdakwah juga karena Allah. Inilah tujuan yang sempurna. Dengan sebab inilah Allah meneguhkan dan menolongnya demi terlaksananya syariat Allah dan berdakwah kepada Allah. Inilah keududukan yang paling mulia

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berpegang Teguh Dengan Syari’at, Merupakan Kunci Kemenangan

BERPEGANG TEGUH DENGAN SYARI’AT, MERUPAKAN KUNCI KEMENANGAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Segala puji hanya milik Allah. Dia-lah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji keimanan seseorang. Dia-lah ar Rahman dan ar Rahim, yang menguasai hari pembalasan. Dia-lah yang akan memberikan kemuliaan kepada kaum Mukminin, dan akan menghinakan orang-orang yang lalai. Dia-lah yang akan memberikan pertolongan bagi hamba-hambaNya yang selalu teguh dan istiqamah di atas agamanya.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkat dakwah dan bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla  telah mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kebodohan menuju cahaya ilmu.

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita sebagai pengikut yang setia kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu menegakkan sunnah-sunnahnya, sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allah telah berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran/3 : 31]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan memberikan kemuliaan dan pertolongan kepada kaum Mukminin. Lihatlah! Bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada kaum Mukminin dari kalangan para sahabat, sehingga mereka selalu berpindah dari kemenangan yang satu menuju kemenangan yang lainnya. Sungguh, pertolongan ini akan terus diberikan Allah kepada kaum Mukminin. Tentunya jika kaum Mukminin mau menolong agama Allah. Allah berfirman:

وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ 

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Ruum/30 : 47].

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

Sesunguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi. [al Mu’min/40 : 51]

Marilah kita melihat sejarah Islam, satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan yang penuh barakah. Yakni, Allah telah memenangkan Rasulullah dan para sahabat. Allah meninggikan kalimatNya, dan merendahkan kaum musyrikin. Satu kejadian yang sangat membahagiakan kaum Mukminin, dan menjadi kabar menyedihkan bagi kaum kafirin. Kejadian itu disebut sebagai al Furqan, karena Allah telah memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah tersebut adalah Perang Badar Kubra.

Para ulama sirah menyebutkan, telah sampai kabar kepada Rasulullah tentang kepulangan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Mereka datang dari Syam dan menuju Mekkah. Kemudian Rasulullah memanggil para sahabatnya, untuk bersiap-siap merampas harta yang dibawa kafilah dagang tersebut.

Setelah semua dipersiapkan, berangkatlah Rasulullah membawa pasukan berjumlah 300 sekian belas orang. Terdiri 70 orang dari kalangan Muhajirin, dan sisanya dari kalangan Anshar, dengan dua ekor kuda dan 70 ekor unta.  Akan tetapi Allah berkehendak lain. Allah berkehendak mempertemukan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, yang sebelumnya tanpa ada kesepakatan waktu dan juga tempatnya. Akan tetapi, kabar tentang keberangkatan Rasulullah dari Madinah telah sampai kepada Abu Sufyan, sehingga dia langsung mengirim utusan kepada para pemimpin Quraisy, agar segera mengirim pasukan untuk menghadapi bahaya yang akan menghadang mereka.

Sampailah kabar tersebut kepada orang-orang Quraisy. Mereka pun segera berangkat, dengan pasukan berjumlah sekitar 1000 orang, dengan membawa 100 ekor kuda dan 700 ekor unta, maka keluarlah pemimpin-pemimpin mereka dengan penuh kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

Dan janganlah kalian seperti orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong dan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah, dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. [al Anfal/8 : 47].

Setelah Abu Sufyan merasa aman dan selamat dari bahaya tersebut, ia memerintahkan pasukan Quraisy untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi mereka enggan, bahkan dengan penuh kesombongan  Abu Jahal berkata : “Demi Allah. Kita tidak akan kembali ke Mekkah, sehingga kita sampai di Badar dan menginap disana. Selama tiga malam kita sembelih unta, kemudian makan-makan, dan menuangkan khamr, sehingga orang-orang Arab mendengar apa yang kita lakukan, sehingga mereka akan tetap merasa takut dan gentar kepada kita“.

Kemudian bagaimana dengan Rasulullah? Ketika mengetahui keberangkatan pasukan Quraisy, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah, tentang apa yang akan mereka lakukan, terhadap kedatangan orang-orang Quraisy tersebut.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan untuku, antara dua kelompok kafilah dagang atau pasukan musuh.”

Mendengar seruan Nabi, maka berdirilah salah seorang dari kaum Muhajirin, seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Berjalanlah sesuai dengan yang telah Allah perintahkan kepadamu. Demi Allah, kami tidak ingin seperti orang-orang Bani Israil yang mengatakan kepada Musa :

فَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ

(Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesunguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. –QS al Maidah/5 ayat 24). Sesungguhnya kami akan selalu berperang di samping kanan dan kirimu, serta di depan dan belakangmu”.

Berdiri pula Sa’ad bin Mu’adz, seorang dari kaum Anshar seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Mungkin engkau menganggap kami, orang-orang Anshar akan mengunakan haknya untuk tidak membelamu, kecuali di negerinya sendiri. Maka saya katakan atas nama orang-orang Anshar, bawalah kami sekehendakmu, sambunglah tali orang yang engkau kehendaki, putuskanlah tali orang yang engkau kehendaki, ambillah dari harta kami sekehendakmu, dan berilah untuk kami apa yang engkau kehendaki. Sesungguhnya, apa yang engkau ambil dari kami, lebih kami cintai dari apa yang engkau tinggalkan. Maka perintahkanlah kami sekehendakmu, karena sesungguhnya kami akan mengikuti perintahmu. Wahai Rasulullah, seandainya engkau berjalan sampai ke al Birk yang ada di Ghamdan, tentu kami akan berjalan bersamamu. Seandainya engkau memerintahkan kami untuk mengarungi lautan ini, maka kami akan mengarunginya. Tidaklah kami merasa berat, apabila engkau memerintahkan kami untuk bertemu dengan musuh esok hari. Sesungguhnya kami akan bersabar ketika dalam peperangan, dan jujur ketika bertemu dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan sikap kami ini kepadamu dan menenangkan jiwamu”.

Maka berbahagialah Rasulullah ketika mendengar semangat para sahabatnya. Beliau pun berseru : “Berangkatlah dan bergembiralah. Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat kematian mereka“.

Setelah itu, berangkatlah Rasulullah beserta pasukan kaum Muslimin menuju Badar. Sesampainya disana, Rasulullah mengambil posisi di lembah yang dekat, dan mengarah ke kota Madinah. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy berada di lembah yang jauh, dan dekat dengan arah menuju Mekkah.

Pada malam harinya, Allah menurunkan hujan yang deras kepada orang-orang kafir, hingga menyebabkan adanya lumpur yang licin. Sebaliknya, hujan ini merupakan gerimis yang mensucikan bagi kaum Muslimin dan melembutkan pasir, sehingga memantapkan langkah-langkah kaum Muslimin.

Kemudian kaum Muslimin membangun gubuk untuk Rasululah. Beliau segera memantapkan barisan kaum Muslimin dan berjalan menuju tempat peperangan, dan beliau berkata : “Ini adalah tempat kematian fulan, ini adalah tempat kematian fulan, Insya Allah”. Maka tempat kematian mereka tidak jauh dari yang telah ditunjukkan Rasulullah.

Setelah itu beliau melihat kepada pasukan kaum Muslimin dan pasukan Quraisy, seraya berdoa :  “Ya Allah, sesungguhnya Quraisy telah datang dengan kesombongan dan kuda-kudanya untuk menantangMu dan mendustakan RasulMu. Ya Allah, berikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, penuhilah janjiMu. Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini pada hari ini, maka Engkau tidak akan diibadahi lagi”.

Kaum muslimin juga meminta pertolongan kepada Allah, dan Allah mengabulkan doa mereka. Allah berfirman.

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ ١٢ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ١٣ ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

Ingatlah ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman”. Kelak akan Aku letakkan rasa ketakutan ke dalam hati-hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka, dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya; dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hokum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka. [al Anfal/8 : 12-14].

Akhirnya bertemulah dua pasukan, dan terjadilah pertempuran yang sangat hebat, dengan jumlah yang tidak seimbang. Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di gubuk, dijaga oleh Abu Bakr dan Sa’ad bin Mu’adz, dan beliau terus-menerus meminta pertolongan kepada Allah, sembari terus membakar semangat kaum Muslimin dengan sabdanya : Demi yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, dengan sabar dan mengharapkan pahala Allah, dan kemudian terbunuh, terus maju dan tidak mundur, kecuali Allah akan memasukkan dirinya ke dalam surga.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah dan menaburkannya. Tidaklah salah seorang dari pasukan Quraisy terkena taburan tanah itu, keculai matanya akan terpenuhi  dengan tanah itu. Dan ini merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah, serta pertolongan yang Allah berikan kepada RasulNya.

Pada akhirnya pasukan kafir Quraisy bisa dikalahkan, dan mereka lari meninggalkan medan pertempuran. Kaum Muslimin berhasil membunuh 70 orang kafir Quraisy dan menawan 70 orang lainnya.

Lihatlah, bagaimana Allah memenangkan hambaNya yang beriman, walaupun jumlah mereka sedikit jika dibandingkan dengan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Allah berfirman.

كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ  

Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [al Baqarah/2 : 249].

Mengapa Allah banyak memberikan pertolongan kepada para sahabat Rasulullah? Jawabnya, karena mereka adalah orang-orang yang sangat semangat mengamalkan apa yang telah disyari’atkan Allah.

Kemudian kita bertanya, mengapa kaum Muslimin pada saat sekarang ini justru banyak dihinakan, bahkan ditindas oleh orang-orang kafir? Apakah pertolongan Allah terlambat datang? Apakah Allah mengakhiri janjiNya?

Demi Allah, tidak. Allah pasti akan menunaikan janjiNya. Akan tetapi, perlu kita tanyakan kepada kaum Muslimin, apakah kaum Muslimin sudah melakukan syarat untuk mendapatkan pertolongan Allah? Atau justru mereka jauh dari syarat tersebut? Atau bahkan meninggalkannya?

Ketahuilah, wahai kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah berfirman :

وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Rum/30 : 47].

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. [al Hajj/22 : 40].

Sesungguhnya Allah pasti akan memberrikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Tentunya, kaum Muslimin mau menegakkan syari’at Allah, yaitu kembali kepada al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman para sahabatnya.

Sebaliknya, jika kaum Muslimin berpaling dari syari’at Allah, sibuk dengan urusan dunia dan jauh dari ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, niscaya mereka akan mendapatkan kehinaan. Dan Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut, sehingga kaum Muslimin kembali kepada Islam yang benar, Islam yang dibawa Rasulullah dan dipahami para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sampai hari Kiamat

Maka marilah tingkatkan semangat kita untuk melaksanakan perintah Allah. Kita jauhi yang dilarang Allah. Kita juga iltizam dengan Sunnah Rasulullah. Dengan ini semua, niscaya kita akan mendapatkan pertolongan Allah.

Wallahu a’lam bish-Shawab.

(Diangkat dari Majalisu Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 94-98)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Kekejian Yahudi

KEKEJIAN YAHUDI

Oleh
Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim

Sesungguhnya Islam adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh, Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima agama selainnya dari seseorang. Menggabungkan di antara ilmu dan amal. Pertengahan di dalam ibadah dan i’tiqad. Benar dalam berita. Adil dalam hukum. Beberapa golongan telah menyimpang dari jalan yang terang, dikalahkan oleh kesombongannya atau kebodohannya. Melewati jalan yang gelap, menelusuri jurang yang gersang. Sunnatullah terus berlalu dalam menyingkap tutupan-Nya dari orang-orang yang zalim, sekalipun setelah beberapa kurun waktu. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَكَذَلِكَ نفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ .

Dan demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat al-Qur’an. (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. [al-An’am6:55]

Yahudi adalah agama yang paling sesat, nampak dalam agamanya kepincangan dan kekurangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang keadaan mereka secara jelas dan mendetail (panjang lebar), secara isyarat dan ringkas, dalam beberapa ayat. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat mereka secara sesuai lagi adil. Memberikan peringatan dari kejahatan mereka dan meletakkan mereka di barisan utama musuh-musuh kaum mukminin.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. [al-Maidah/5:82]

Mereka menghadapi Islam dengan rasa permusuhan, mengasuh sifat nifaq dan orang-orang munafik, mendorong orang-orang musyrik dan berkonspirasi bersama mereka menghadapi kaum muslimin. Umat Islam terbakar dengan api permusuhan dan tipu daya mereka. lisan orang-orang bodoh dari mereka terlalu berani terhadap Pencipta mereka. Nabi mereka telah menggabungkan untuk mereka di antara perintah dan larangan, berita gembira dan ancaman, lalu mereka membalasnya dengan balasan terburuk. Mereka bersamanya di tempat yang paling luas dan paling indah udaranya. Atap mereka yang menaungi mereka dari terik matahari dan awan. Makanan mereka adalah salwa, yaitu burung yang paling enak rasanya. Minuman mereka adalah dari madu. Dari dalam batu, terpancar dua belas mata air untuk mereka. Dan mereka justru meminta gantian dengan sesuatu yang lebih rendah dari itu. Mereka meminta bawang putih, bawang merah,  adas dan timun. Dan hal ini adalah karena kurangnya akal mereka dan pendeknya pemahaman mereka. Mereka meyakini bahwa kebenaran adalah bersama kekerasan dan kesempitan atas mereka.

Mereka ditawarkan Taurat lalu tidak mau menerimanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh Jibril Alaihissallam, lalu Jibril Alaihissallam mencabut gunung dari akarnya menurut ukuran mereka, kemudian mengangkatnya di atas kepala mereka. lalu dikatakan kepada mereka : Jika kamu tidak mau menerimanya niscaya kami melemparkannya kepadamu, maka mereka menerimanya dengan terpaksa. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَإِذ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّواْ أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu,serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”. [al-A’raaf/7:171]

Dan ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, mereka menghasut manusia untuk berbuat jahat dan membunuhnya. Mereka menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melakukan konspirasi untuk membunuh dan mencelakainya beberapa kali. Mereka berencana menjatuhkan batu besar atasnya di perkampungan Bani Nadhir dari atas rumah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di bawahnya, lalu datanglah kepadanya berita dari langit. Mereka memberi hadiah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kambing panggang yang mengandung racun. Lalu beliau mencicipinya sedikit dan merasakan dampaknya hingga wafatnya. Mereka melakukan tipu daya dan menyihirnya, sehingga dibayangkan kepada beliau, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sesuatu padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dan membebaskannya dari hal itu.

Yahudi adalah kaum yang selalu menyalakan api fitnah dan mengobarkan perang, menebarkan  tekanan dan membangkitkan rasa dendam dan permusuhan.

كُلَّمَا أَوْقَدُواْ نَاراً لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللّهُ

Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. [al-Maidah/5:64]

Mereka menyembunyikan kebenaran dan memalingkan kalimah dari tempat-tempatnya, mereka adalah orang-orang yang memalsukan dan menyamarkan.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. [Ali Imran/3:71]

Mereka membatalkan janji dan melanggar perjanjian. Mereka membunuh beberapa orang nabi yang tidak bisa didapatkan hidayah kecuali lewat perantaraan tangan para nabi. Terkadang dengan disembelih dan terkadang dengan gergaji. Mereka menumpahkan darah nabi Yahya Alaihissallam dan menggergaji nabi Zakaria Alaihissallam. Mereka berniat membunuh nabi Isa Alaihissallam dan berusaha membunuh nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang membunuh seorang nabi:

أَفَكُلَّمَا جَاءكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh. [al-Baqarah/2:87]

Yahudi mengingkari nikmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika engkau berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka berbuat jahat. Dan jika engkau memuliakan mereka, niscaya mereka sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan mereka dari tenggelam bersama nabi Musa Alaihissallam, lalu mereka tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan mereka meminta kepada nabi Musa Alaihissallam karena enggan dan sombong agar dia menjadikan tuhan untuk mereka selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut keinginan mereka. Mereka tidak menghormati para nabi. Mereka berkata kepada para nabi : “Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mata kepala kami secara nyata“.

 فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنظُرُونَ

lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. [adz-Dzariyat/51:44]

Mereka adalah kaum bersifat pendengki, jika melihat nikmat yang nampak pada orang lain, mereka berusaha mengambilnya, dan menurut sangkaan mereka bahwa mereka lebih berhak dengannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن اليهود قوم حسد

Sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendengki.” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya: 574, dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha.]

Mereka menghancurkan suatu bangsa dan individu dengan riba, bersenang-senang dengan memakan riba, menguras kekayaan kaum muslimin dengan menghancurkan ekonomi, memasukkan  hal-hal yang diharamkan di dalam transaksi, menyerang kaum muslimin dengan membangkrutkannya, berusaha menjadikannya fakir, menguasai yang lain terkadang dengan kesombongan dan di saat yang lain dengan merendahkan kaum muslimin, mereka besar terhadap kaum muslimin saat lemahnya kaum muslimin dan mereka hina saat kaum muslimin kuat.  Dalam jiwa mereka tertanam bahwa mereka adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terpilih dan selain mereka adalah pelayan mereka, dan mereka (selain Yahudi) diciptakan untuk melayani mereka.

Lidah mereka tidak bersih dari kebohongan, kata-kata keji dan kotor. mereka mengatakan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung:  “Tangan-Nya terbelenggu‘. Dan mereka bertanya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kaya: ‘Sesungguhnya Dia fakir dan kamilah yang kaya’. Mereka menuduh nabi Isa Alaihissallam dan ibunya dengan tuduhan besar. Dan mereka berkata tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Mushthafa: ‘Sesungguhnya dia adalah seorang penyihir dan pembohong‘. Kutukan terus menerus atas mereka dan hukuman tak pernah berhenti atas mereka. Mereka mendapat fitnah dengan wanita dan menyebarkan tahallul dan sufur (wanita tidak berhijab). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أول فتنة بني إسرائيل في النساء

Permulaan fitnah bani Israel adalah pada wanita.”[HR. Muslim dalam zikir dan doa: 2742 dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallauh anhu]

Mereka mengajak kepada kebebasan dan kerusakan, sambil menutupinya  dengan slogan-slogan tipuan seperti kebebasan dan kesetaraan, kemanusiaan dan persaudaraan, mereka menghancurkan pemuda muslim, memperdayanya dengan wanita dan kehinaan. Mereka menfitnah dengan wanita dan berusaha membentuk satu generasi muslim yang hampa, tidak mempunyai akidah, tidak punya dasar, tidak ada akhlak dan kesopanan, mencemari akal generasi muda dengan menanamkan kenikmatan, terkadang dengan yang dilihat, dan terkadang dengan yang tidak dilihat. Mereka iri terhadap wanita muslimah di atas hijab dan perasaan hayanya, dan mengajaknya membuka hijab dan membebaskannya dari nilai-nilainya, dan mereka menghiasi baginya agar sama dengan wanita mereka dalam pakaian dan pergaulannya, agar memalingkannya dari fitrahnya. Mereka menghiasi para pemuda dan pemudi dengan syahwat, agar semua terlepas dari agama dan nilai-nilainya, maka ia tetap tertawan untuk nafsu syahwat dan kenikmatan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. [al-Maidah/5 :64]

Mereka berniat menghancurkan keluarga muslim, merobek ikatan dan dasar-dasar agama dan sosial, agar menjadi umat yang tidak ada puing-puing dan tidak ada tali kendali. Mereka menyebarkan kehinaan dan perbuatan keji, dan menghancurkan keutamaan dan keindahan akhlak:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.. [Ali Imran/3:112]

Mereka penakut saat bertemu musuh, mereka berkata kepada nabi Musa Alaihissallam:

فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. [al-Maidah/5:24]

Mereka lari dari kematian dan takut berperang:

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعاً إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاء جُدُرٍ

Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. [al-Hasyr/59:14]

Mereka menyukai kehidupan dunia dan berusaha untuk tetap hidup, mereka pergi dalam kekufuran secara berjamaah yang tidak terhingga:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعاً وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ

Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. [al-Hasyr/59:14]

Perbedaan di antara mereka sangat tajam, persengketaan mereka sengit, persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka telah hilang hingga hari kiamat, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat.. [al-Maidah/5:64]

Kezaliman mereka menyeluruh dan kerusakan mereka merata, tidak terhingga tindakan mereka yang memalukan dan tidak terhitung kekejian mereka. Sebagian besar pengikut Dajal. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita berlindung dari jalan mereka setiap hari tujuh belas kali sebagai suatu kewajiban. Apakah setelah ini mereka adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terpilih ataukah mereka anak-anak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekasih-Nya?

Dan sesudah itu, ini adalah sifat-sifat dalam tipuan syetan dan permainannya dengan umat yang dibenci. Seorang muslim yang baik mengenal kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya dan nikmat hidayah yang telah dikaruniakan-Nya, dan sifat nenek moyang Yahudi di masa lalu yang diikuti oleh anak cucunya saat ini. Berbuat zalim di tanah suci, mengusir dari tempat tinggal, meruntuhkan rumah, membunuh anak kecil, bertindak zalim terhadap orang-orang tidak berdosa, menguasi properti milik orang, membatalkan janji, menipu dalam perjanjian, merendahkan kaum muslimin, menodai kehormatan mereka. dan sesungguhnya umat yang bersifat penakut dan takut bertemu musuh sangat pantas dengan kemenangan kaum muslimin atas mereka. Kaum muslimin wajib membantu saudara-saudara mereka di bumi yang penuh berkah itu, menyatukan barisan dan menghindari perbedaan, serta terus berdoa untuk mereka. Dan sejak terjadinya malapetaka ini lebih dari setengah abad yang lalu, dan untuk negeri ini terdapat sikap-sikap yang terpuji dalam sejarah untuk membebaskan Masjidil Aqsha, agar kaum muslimin menikmati shalat di dalamnya, sebagaimana mereka menikmati shalat di Haramain.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sseungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [al-Hajj/22:40]

Maka menang terhadap musuh tidak akan terwujud kecuali dengan bendera yang bernaung di bawahnya para pejuang dengan bendera tauhid, dan tidak akan ada kecuali dengan melakukan usaha (sebab), kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengokohkan ikatan dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْساً لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. [Muhammad/47:7-8]

Dengan inilah umat menjadi kuat dan musuh merasa takut kepadanya. dan apabila umat tenggelam dalam kemaksiatan dan kelupaannya, serta sangat jauhnya dari Penciptanya, maka Masjidil Aqsha bertambah jauh darinya.

Maka kita harus memperbaiki diri kita dari dengan memakai senjata aqidah secara ucapan, perbuatan dan realita. Dan hendaklah kita berhati-hati dari penyusupan Yahudi dalam menghancurkan kaum muslimin. Kita wajib menjaga pemuda kita dan memelihara mereka dari berbagai godaan dan yang diharamkan. Hendaklah kita mengurus wanita kita dan membuat mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna bagi agama mereka. Jangan menawarkan mereka untuk fitnah. Melarang mereka dari menampakkan aurat dan bercampur baur dengan bukan mahram. Menjaga semua dengan ilmu syari’at dan mengintensifkan hal itu dalam peran pendidikan, disertai penjagaan yang baik dan amanah yang sempurna dalam pelaksanaan. Kita mesti berusaha untuk memperbaiki keluarga muslim, jangan menghancurkannya dari dalamnya dengan sesuatu yang dipamerkan musuh-musuhnya atasnya. Sejarah mencatat bahwa tidak pernah ada satu peristiwa kecuali Yahudi punya peran di dalamnya.

Maka bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lakukanlah usaha untuk mendapat kemenangan, perbaikilah generasi muda  dan pemudimu, dan perbaikilah rumah tanggamu. Jauhilah dari menyerupai musuh-musuhmu dan merasa mulialah dengan agamamu niscaya kamu mendapat kemenangan atas musuhmu. Hati-hatilah terhadap tipu daya mereka, maka sesungguhnya mereka tidak pernah lelah dalam usaha melemahkan kaum muslimin, dan merusak agama dan akidah mereka.

وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. [Yusuf/12:21]

[Disalin dari   فظائع وفضائح اليهود  Penyusun : Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, Penerjemah :  Muh. Iqbal Ahmad Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2009 – 1430]

Salafiyyin Tidak Menaruh Perhatian Terhadap Masalah Palestina?

SALAFIYYIN TIDAK MENARUH PERHATIAN TERHADAP MASALAH PALESTINA?

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Menjawab Syubhat Terhadap Salafiyyin
Mengenai syubhat ini maka Ahlus Sunnah Salafiyyin berpendapat bahwa kaum muslimin yang mampu menolong rakyat Palestina namun tidak mau menolongnya maka mereka semua berdosa.

Adapun tuduhan bahwa Salafiyyin tidak menaruh perhatian terhadap masalah Palestina maka ini adalah kedustaan berikut kami bawakan sikap Salafiyyin terkait dengan masalah Palestina. Diantaranya bahwa kebanyakan para Mujahidin yang dikenal mereka adalah salafiyun yang murni, mereka memiliki andil dan usaha yang patut disyukuri dalam menolong Aqidah dan Manhaj, yang paling masyhur dari para Mujahidin itu adalah Syekh Muhammad Izzudin al-Qassam rahimahullah yang dahulunya beliau adalah Da’i yang menyerukan dakwah Salafiyah di Palestina, sebelumnya di Suriah sebelum beliau mendaftarkan diri menjadi mujahidin di Palestina.

Pandangan Salafiyyin Dalam Masalah Palestina
Yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa salafiyyin melihat perkara secara menyeluruh dan masalah Palestina salah satunya dengan kacamata syariat, mereka adalah orang-orang yang beriman dengan menggandengkan antara perbuatan dengan perkataannya. Kapan saja mereka dimudahkan oleh Allah ta’ala untuk berjihad, mereka akan pergi dan tidak akan tinggal diam.

Jihad menurut mereka memiliki asas-asas, kaidah-kaidah, dan ketentuan-ketentuan, dalam hal ini mereka berada di belakang bimbingan ulama Rabbani tidak berada di depan mereka; karena masalah ini berada di bawah ketentuan hukum-hukum syariat. Mereka meyakini dengan seyakin yakinnya berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan dalam Aqidah dan benar-benar ada, bukan permusuhan karena tanah air dan batas negara, ini adalah perkara yang telah ditetapkan syariat dalam masalah Palestina.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu Muhammad sebelum engkau mengikuti agama mereka. [Al-Baqarah/2: 120]

Yang selayaknya harus diperhatikan dalam masalah ini bahwa perasaan sedih, susah, sakit, lalu mengadakan protes, perlawanan dengan perkataan, cacian makian, khutbah, atau ceramah yang berapi-api dengan mengumpulkan masa tidak akan merubah kondisi Palestina. Kita ikut prihatin dan sedih dengan situasi dan kondisi Palestina. Tetapi semua harus dikembalikan kepada hukum hukum syar’i kepada Aqidah dan syariat bukan kepada emosi, semangat yang akan mengasuh masa kepada pengrusakan bahkan sampai penumpahan darah orang-orang yang tidak berdosa dengan provokasi dan demonstrasi. Semua ini harus dikembalikan kepada syariat Islam dan kepada hukum Fiqih prioritas yang didasari dengan kaidah-kaidah agama dan tujuan syariat Islam.

Karena sekarang ini yang wajib bagi kita adalah menjelaskan dan mengajarkan Islam yang benar kepada umat Islam. sedang yang wajib dalam perkara Palestina adalah amal bukan sekedar omongan orasi atau ceramah berapi-api.

Sesungguhnya salafiyyin tidak pernah diam dan tidak akan diam untuk menjelaskan tujuan syariat Islam dan kaidah-kaidah nya bahwa: Yahudi dan Nasrani adalah musuh-musuh Muslimin ini merupakan Aqidah yang kita tanamkan kepada kaum muslimin di semua sisi kehidupan.

Peran Salafiyyin Dalam Perkara Palestina
Alhamdulillah bahwa Salafyyin memiliki peran dalam perkara Palestina sejak dikumandangkannya perang melawan Yahudi. Sejak tahun 1930-an Salafi memiliki peran di Palestina.

Di antara para ulama yang menaruh perhatian terhadap masalah Palestina ialah Syekh Muhammad Rasyid Ridho rahimahullah dalam majalah Al Manar yang berbicara tentang masalah Palestina dalam dua jilid atau lebih. Demikian pula Syekh Muhibbuddin Alkhatib Assalafy dalam majalah Al-Fath, mencurahkan usaha yang patut disyukuri dalam hal ini. Demikian pula Syekh Al-Allamah Al-Muhaddits as-Salafi Ahmad Syakir rahimahullah memiliki peran yang patut pula disyukuri.

Adapun di daerah Maghrib yang berperan masalah ini adalah Syekh Abdul Hamid Ibnu Baadis rahimahullah wafat tahun 1359 Hijriyah dan Syekh Muhammad Basir Al Ibrohimi keduanya pun memiliki usaha yang patut disyukuri.

Demikian pula Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albanrahimahullah beliau adalah salah seorang ulama yang bergabung dengan para Mujahidin di Palestina pada tahun 1948 masehi beliau datang sendiri ke Palestina dengan membawa senjata dan bergabung dalam jihad fisabilillah.

Urgensi Menuntut Ilmu Saat Ini
Lantas apakah yang dilakukan oleh orang-orang yang telah membangkitkan kemarahan kaum muslimin?!

Apakah mereka mengajarkan agama dan ilmu kepada rakyat Palestina?!

Ataukah mereka telah mendidik rakyat Palestina di atas masalah-masalah yang kecil dan yang besar?!

Katakanlah demi Allah apa yang telah mereka lakukan?!

Sungguh kami akan mengatakan : Pada hari dikumandangkan jihad kalian akan melihat siapakah diantara dua kelompok yang paling taat terhadap perintah Allah ta’ala, dan ketika itu manusia akan mengetahui siapakah Salafiyun itu dan akan mengetahui bahwa jiwa-jiwa mereka itu sangat murah di jalan Allah ta’ala.

Wahai saudaraku! Mengapa kita wajib menuntut ilmu? dan senantiasa menuntut ilmu??

Mengapa kita menyuruh untuk berpegang teguh dengan Alquran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf??

Semua ini karena kita menginginkan surga, akan tetapi orang-orang yang diberikan Taufik adalah orang-orang yang mengetahui kewajiban waktu dan menyibukkan dirinya padanya dan menyibukkan umat dengan kejujuran, keikhlasan, dan amanah dengan kewajiban ini. Dan kewajiban waktu kita saat ini adalah menuntut ilmu, itulah yang lebih kami dahulukan.

Kita harus melihat kondisi kita sekarang ini kuat atau lemah?? kalau kita lemah maka kita harus bersabar dan berdoa untuk kita, keluarga, kaum muslimin yang tertindas khususnya untuk rakyat Palestina. Kita harus ingat kewajiban kita menuntut ilmu dan beramal saleh. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar kita dapat melaksanakan salat di Masjidil Aqsa dan dianugerahi mati syahid Aamiin.

(Kasyfusy Syubhat wa Radd I’tiraadaat ‘an Da’watis Salafiyah al Mubaarakah (hlm. 31-40) dengan sedikit diringkas dan ditambah)

[Disalin dari buku Mulia Dengan Manhaj Salaf, halaman 484-487, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Indonesia, Cetakan Ke 6 Rajab 1433H/Juni 2012M]

Adab Dalam Berjihad

ADAB DALAM BERJIHAD

Termasuk adab dalam berjihad adalah: Tidak berbuat khianat, tidak membunuh wanita dan anak kecil, orang tua, para pendeta dan rahib (ahli ibadah ) yang tidak ikut berperang, akan tetapi jika mereka ikut berperang atau mereka ikut menyusun siasat perang maka mereka boleh dibunuh.

Termasuk di antara adab berjihad adalah bersih dari sifat ujub atau takabur, sombong dan riya’ serta tidak mengharapkan bertemu dengan musuh dan tidak boleh (menyiksa dengan) membakar manusia atau hewan.

Diantaranya juga, mendakwahkan Islam kepada musuh sebelum berperang, jika mereka tidak bersedia, maka mereka disuruh membayar jizyah atau upeti, namun jika menolak maka mereka boleh diperangi.

Diantara adab jihad adalah berlaku sabar dan ikhlas serta menjauhi kemaksiatan, banyak berdo’a untuk memperoleh kemenangan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, diantara do’a tersebut adalah:

اَللّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ  وَمُجْرِيَ السَّحَابَ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابَ اِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

Ya Allah yang menurunkan Kitab Al-Qur’an, menjalankan awan, serta yang mengalahkan pasukan musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk melawan mereka.” (Muttafaq ‘alaih).

Apabila takut terhadap musuh maka hendaknya berdo’a:

اَللّـهُمَّ إِناَّ نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu di leher-leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Kewajiban Seorang Pemimpin Dalam Berjihad
Seorang Imam atau yang mewakilinya berkewajiban meneliti pasukan dan perlengkapan senjata mereka saat akan menuju medan perang, menolak orang yang hendak mengacau atau mereka yang tidak layak untuk ikut berjihad, dan tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir dalam berjihad kecuali dalam keadaan darurat. Dia juga berkewajiban menyediakan bekal dan berjalan dengan tenang, mencari tempat bersinggah yang bagus untuk pasukannya dan melarang mereka dari perbuatan kerusakan dan maksiat sebagaimana dianjurkan baginya untuk selalu memberikan nasehat guna menguatkan jiwa para pasukan dan mengingatkan mereka akan keutamaan mati syahid.

Menyuruh mereka untuk bersabar dan mengharapkan pahala dalam berjihad, membagi tugas antara pasukan, menugaskan orang untuk berjaga, menyebarkan mata-mata guna mengintai musuh, dan memberikan tambahan dari rampasan perang kepada sebagian pasukan (yang dianggap lebih berjasa) seperti menambah seperempat bagian ketika berangkat dan sepertiga ketika pulang selain seperlima gonimah (yang merupakan bagian Allah dan RasulNya), serta bermusyawarah dengan para ulama dan cendekiawan dalam masalah ini.

Kewajiban Pasukan
Semua pasukan wajib menaati peminpinnya atau yang mewakilinya selagi tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiatan kepada Allah, wajib bersabar bersama mereka dan tidak menyerang musuh kecuali dengan perintah pinpinan, tetapi jika musuh menyerang dengan tiba-tiba maka mereka boleh membela diri. Jika salah seorang dari pasukan musuh mengajak duel satu lawan satu, maka bagi orang yang merasa mampu dan berani disunnahkan atau dianjurkan untuk menerima tantangannya setelah meminta izin kepada pemimpin pasukan. Dan siapa saja yang keluar untuk berjihad di jalan Allah dengan membawa senjata miliknya sendiri kemudian meninggal maka dia mendapatkan dengannya dua pahala.

Jika seorang pemimpin ingin menyerang suatu negeri atau kabilah yang berada di arah utara misalnya, maka hendaklah ia berusaha mengelabui musuh sehingga dirinya seakan-akan menyerang dari arah selatan, karena peperangan adalah tipu daya, dan hal ini memiliki dua manfaat:

  1. Mengurangi jumlah korban nyawa dan harta dari kedua belah pihak, dan hal itu lebih baik.
  2. Menghemat kekuatan kaum muslimin baik dari segi jumlah pasukan maupun perlengkapan perang yang harus dikeluarkan.

عن كعب رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- قَلَّمَا يُرِيدُ غَزْوَةً يَغْزُوهَا إلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا. متفق عليه

Diriwayatkan oleh Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukan sebuah peperangan, maka beliau berusaha mengelabui musuh (dengan menunjuk) ke arah yang berlainan. (Muttafaq ‘alaih)

Waktu berperang
Dari Nu’man bin Mukarrin Radhiyallahu anhu berkata:

عن النعمان بن مقرِّن رضي الله عنه قال: شَهِدْتُ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- إذَا لَمْ يُقَاتِلْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَخَّرَ القِتَالَ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ، وَتهُبَّ الرِّيَاحُ، وَيَنْزِلَ النَّصَرُ. أخرجه أبو داود والترمذي

Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau tidak memulai peperangan di pagi hari maka beliau menundanya hingga tergelincir matahari dan waktu angin berhembus sehingga turunlah kemenangan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Jika musuh menyerang kaum muslimin dengan tiba-tiba maka wajib bagi maum muslimin untuk melawan mereka kapan saja serangan itu datang.

Turunnya pertolongan Allah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Turunnya Pertolongan Allah

ADAB DALAM BERJIHAD

Turunnya pertolongan Allah
Allah telah menjanjikan pertolongan dan kemenangan untuk para walinya, akan tetapi kemenangan ini akan diperoleh setelah memenuhi beberapa syarat, diantaranya:

Sempurnanya iman yang haikiki dalam hati mereka (para mujahidin):

قال الله تعالى: وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ  [الروم/47]

Dan Kami selalu berkewajiban untuk menolong orang-orang yang beriman.” [Ar-Rum/30: 47].

Memenuhi tuntutan keimanan berupa amal sholeh dalam kehidupan mereka:

žقال الله تعالى: وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ  [الحج/40- 41]

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al-Hajj/22: 40-41].

Mempersiapkan kekuatan perang sesuai dengan kemampuan mereka:

قال الله تعالى: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ [الأنفال/60]

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu….”  [Al-Anfal/8: 60]

Mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki dalam medan jihad, Allah berfirman:

 قال الله تعالى: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  [العنكبوت/69]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut/29: 69].

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (45) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [الأنفال/45- 46].

Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Anfal/8: 45-46].

Dengan demikian maka Allah akan bersama mereka dan pertolongan-Nya akan turun kepada mereka seperti yang telah diturunkan kapada para nabi dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hal itu telah terjadi para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pada peperangan mereka.

Apabila seorang muslim menegakkan kebenaran karena Allah, niscaya Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya sekalipun dimusuhi oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Adapun kegagalan dan musibah yang menimpa mereka tidak lain disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat-syarat ini atau sebagiannya. Siapa saja yang berjuang dalam kebatilan maka dia tidak akan ditolong, dan jika menang maka kemenangan itu tidak akan membawa kebaikan baginya, dia hanyalah kerendahan dan kehinaan.

Dan jika seorang hamba melakukan suatu kebaikan (seperti berjihad) bukan karena Allah, melainkan untuk mengharapkan pujian atau sanjungan dari manusia, maka diapun tidak akan mendapat pertolongan, karena pertolongan Allah hanyalah diberikan kepada orang-orang yang berjihad agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, dan pertolongan Allah didatangkan sesuai dengan tingkat kesabaran dan kebenaran yang dia milikinya, karena dengan kesabaran itulah dia akan selalu ditolong, dan jika orang yang bersabar tersebut di dalam kebenaran, maka dia akan memperoleh akibat yang baik karenanya, dan jika tidak terpenuhi niscaya dia tidak akan memperolehnya.

Hukum lari dari medan perang
Jika peperangan telah berkecamuk dan dua pasukan telah bertemu maka seorang mujahid tidak boleh melarikan diri kecuali dalam dua kondisi yaitu, lari untuk mempersiapkan peperangan kembali atau bergabung ke dalam pasukan kaum muslimin yang lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ (15) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ  [الأنفال/15- 16]

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” [Al-Anfal/8: 15-16]

Keutamaan mati syahid di jalan Allah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]