Author Archives: editor

Kekhilafahan dan Kepeminpinan di Tangan Pria Bukan Wanita

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Kekhilafahan dan kepeminpinan di tangan pria bukan wanita

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: لَقَدْ نَفَعَنِي الله بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- أَنَّ فَارِساً مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: «لَنْ يُفْلِحَ قَومٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».أخرجه البخاري.

Dari Abi Bakrah Radhiyallahu anhu berkata: Sungguh Allah memberikan manfaat bagiku dengan sebuah kalimat pada hari terjadinya perang Jamal pada saat sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang Persia mengangkat putri Kisra Persia sebagai ratu. Beliau bersabda: “Tidak akan pernah beruntung orang yang menjadikan wanita sebagai peminpin mereka”.[1]

Tugas seorang khalifah
Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam.

قال الله تعالى لنبيه- صلى الله عليه وسلم-: {وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ  [المائدة/49].

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.[2]

Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Dawud Alaihissallam.

قال الله تعالى لنبيه داود- صلى الله عليه وسلم-: {يَادَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ  [ص/26].

Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.[3]

Cara membai’at seorang peminpin

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: بَايَعْنَا رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي العُسْرِ وَاليُسْرِ، وَالمَنْشَطِ وَالمَكْرَهِ، وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا، لا نَخَافُ فِي الله لَومَةَ لائِمٍ-وفي رواية بعد- أَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ- قَالَ: «إلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُم مِنَ الله فِيهِ بُرْهَانٌ». متفق عليه

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu anhu berkata : Kami telah membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap mendengar dan mentaati (pemimpin)  dalam keadaan sulit dan mudah, dalam keadaan giat dan terpaksa serta  lebih mengutamakannya dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya, dan agar kami tidak mengatakan kecuali yang benar di mana saja kami berada dan tidak takut di jalan Allah celaan orang yang mencela. Dalam sebuah riwayat setelah ((dan tidak mencabut perkara ketaatan tersebut dari orang yang sah mengembannya)) beliau bersabda: ((Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata sebagai alasan bagi kalian dengannya di sisi Allah )). Muttafaq Alihi[4]

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: بَايَعْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فَلَقَّنَنِي فِيمَا اسْتَطَعْتُ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ. متفق عليه.

Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu berkata : Kami telah membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap mendengar dan mentaati (pemimpin), maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada kami apa-apa yang mampu kami lakukan dan memberikan nasehat bagi setiap muslim”. Muttafaq Alihi.[5]

Tetap Sabar Dengan Kezaliman Penguasa dan Tetap Mengutamakan Mereka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari: 7099
[2] QS. Al-Maidah/5: 49
[3] QS. Shaad/38: 26
[4] HR. Bukahri no: 7056 dan Muslim no: 1709
[5] HR. Bukhari no: 7204 dan Muslim no: 56.

Tetap Sabar Dengan Kezaliman Penguasa

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Tetap sabar dengan kezaliman penguasa dan tetap mengutamakan mereka

عَنْ أُسَيْدِ بنِ حُضَيْرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً ِمنَ اْلأَنْصَارِ خَلاَ بِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَلاَ تَْسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلاَنًا؟ َفقَاَل: ِإنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً  فَاصْبِرُا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلىَ الْحَوْضِ. متفق عليه

Dari Usaid bin Khudair Radhiyallahu anhu bahwa seorang lelaki dari Anshar berbicara berdua dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Tidakkah engkau memanfaakan aku untuk sebuah jabatan sebagaimana engkau telah mengangkat si fulan?. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan menemukan setelahku orang yang orang yang mementingkan dirinya (dengan kekuasaan). Maka bersabarlah sehingga kalian bertemu denganku pada haudh (kolam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kimaat). Muttafaq alihi.[1]

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قََالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. متفق عليه

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melihat dari penguasa sesuatu yang benci maka hendaklah dia bersabar, sebab barangsiapa yang keluar (dengan tidak mentaati) penguasa satu jengkal maka dia mati dengan kematian jahiliyah”. Muttafaq Alaihi.[2]

Ta’at kepada penguasa sekalipun mereka mengambil hak-hak rakyat
Salmah bin Yazid Al-Ja’fi bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Nabi yang telah diutus oleh Allah bagimanakah pendapatmu jika ada penguasa yang memimpin kami, yang menuntut haknya dan mencegah hak-hak kami sebagai rakyat, apakah yang engaku perintahkan kepada kami?. Maka Nabipun berpaling darinya, lalu dia bertanya kembali, namun Nabipun berpaling darinya, kemudian dia tetap bertanya dua kali dan tiga kali, lalu Asy’ats bin Qaiys menarik orang tersebut lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوْا َوعَلَْيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Dengarkanlah mereka dan taatilah sesungguhnya mereka akan bertanggung jawab terhadap apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian akan bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dibebankan kepada kepada kalian”. HR. Muslim[3]

Kewajiban komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan penguasa mereka pada saat munculnya fitnah apapun
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu anhu berkata :

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena khawatir jika keburukan tersebut menimpa diriku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah kita pernah berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan terjadi keburukan? Beliau bersabda: “Ya”. Lalu aku bertanya kembali: “Apakah setelah terjadinya keburukan akan terjadi kebaikan?. Beliau menjawab: “Ya, dan akan terjadi dan akan nampak padanya kerusakan”. Kerusakan apakah yang akan terjadi?. Tanyaku. Beliau bersabda: “Akan ada suatu kaum yang akan berbuat bukan dengan sunnahku dan tidak mengambil petunjukku, kamu mengetahui mereka dan mengingkarinya”. Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan ini ada terjadi keburukan?.  Beliau bersabda: “Ya, akan ada penyeru kepada pintu-pintu jahannam dan barangsiapa yang menerima seruan itu, mereka campakkan ke dalam api neraka”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah jelaskanlah kepada kami siapakah mereka itu?. Beliau menjawab: “Mereka adalah kaum dari keturunan kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah yang engkau perintahkan kepada kami jika terjadi masa tersebut?. Beliau bersabda: “Tetaplah komitmen dengan jam’ah kaum muslim dan pemimpin mereka”. Aku bertanya: “Jika mereka tidak memiliki jama’ah dan peminpin?. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah semua kelompok tersebut sekalipun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan engkau tetap berada dalam keadaan tersebut”. Muttafaq alihi.[4]

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan, memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin lalu mati maka dia mati dengan kematian jahiliyah, barangsiapa yang berjuang di bawah bendera kefanatikan, marah karena kefanatikan, menyeru kepada kefanatikan atau menolong karena kefanatikan lalu dia mati padanya, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah. Barangsiapa yang keluar untuk memerangi umatku, membunuh orang yang baik atau buruk dari mereka dan tidak menghiraukan orang yang beriman dari mereka serta orang yang berjanji tidak menepati janjinya maka dia bukan golonganku  dan aku bukan dari golonganku”. HR. Muslim.[5]

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم قََالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. متفق عليه

Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibencinya maka hendalah dia bersabar atasnya, sebab sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin walaupun satu jengkal kemudian dia mati dalam keadaan tersebut maka kematiannya adalah kematian jahiliyah”. Muttafaq alaihi.[6]

Hukum Memecah Belah Kaum Muslimin yang Telah Bersepakat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari: 3792 dan Muslim no: 1845.
[2] HR. Bukhari no: 7023 dan Muslim no: 1849
[3] HR. Muslim no: 1846
[4] HR. Bukhari no: 3606 dan Muslim no: 1847
[5] HR. Muslim no: 1848
[6] HR. Bukhari no: 7054 dan Muslim no: 1849.

Berpegang Kepada Allah dan Meniadakan Tindakan Hawa Nafsu

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berpegang Kepada Allah dan Meniadakan Tindakan Hawa Nafsu dan Berusaha Menelusuri Sebab yang Diperintahkan dan Dibolehkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [الأعراف/188].

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. [Al-A’raf/7: 188].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: {فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [الأنفال/ 17]

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui“.  [Al-Anfal/8: 17].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- كان يقول: «لا إلَهَ إلا الله وَحْدَهُ، أَعَزَّ جُنْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَغَلَبَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، فَلا شَيْءَ بَعْدَهُ». متفق عليه.

Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, yang telah memuliakan tentaraNya, Yang mengalahkan semua kelompok penentang dengan sendirinya sehingga tiada satu kelompok pun tersisa“.

Mengamalkan perintah-perintah dari Allah, meskipun tidak bisa dicerna akal seseorang. Sebagaimana apa yang nabi Nuh alaihis salam dilakukan di atas lautan; Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di suatu lembah yang kering, tidak ada penghidupan. Perintah kepada Musa alaihis salam untuk mengambil tongkat dan memukulkannya di lautan, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ  [هود/38]

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Lalu Nuh berkata: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)”. [Hud/11: 38].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ [إبراهيم/37]

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. [Ibrahim/14: 37].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى  [طه 17- 21]

Apakah itu yang di tangan kananmu, Hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, Aku bertelekan padanya, dan Aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.  Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, Hai Musa!”.  Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.  Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”. [Thaha/20: 17-21].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ [الشعراء/63]

Lalu kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”. [As-Syu’ara/26: 63]

Akan terjadi penghinaan dan pengusiran saat berdakwah kepada Allah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Akan Terjadi Penghinaan dan Pengusiran Saat Berdakwah Kepada Allah

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Akan Terjadi Penghinaan dan Pengusiran Saat Berdakwah Kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: {أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ  [البقرة/214].

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat“. [Al-Baqarah/2: 214].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: {وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ  [إبراهيم/12]

Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal dia Telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan Hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri. [Ibrahim/14: 12].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: {وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ  [الأنفال/30]

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. [Al-Anfal/8: 30].

Dari Aisyah Radhillahu anha.

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت للنبي- صلى الله عليه وسلم-: هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَومٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يومِ أُحُدٍ؟ قَالَ: «لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَومَ العَقَبَةِ، إذْ عَرضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بنِ عَبْدِ كُلالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ». متفق عليه.

“Dari Aisyah radhillahu anha berkata : Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Apakah datang kepadamu suatu hari yang lebih pedih dari hari perang uhud?. Beliau bersabda : “Aku telah mendapatkan perlakuan dari kaummu apa yang telah aku alami, dan perlakuan yang paling pedih yang pernah aku dapatakn dari kaummu adalah perlakuan mereka terhadapku pada hari Aqobah, yaitu aku menewarkan diriku kepada bin abdi ya lill bin abdi kilal namu mereka tidak menyambut apa yang aku tawarkan kepada mereka, lalu aku pergi meninggalkan mereka dengan wajah yang bimbang dan aku tidak sadar kecuali setelah sampai pada sebuah tempat di qornis tsa’alib“. (Muttafaq alaihi).

Anas Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لَقَدْ أُخِفْتُ فِي الله وَمَا يُخَافُ أَحَدٌ، وَلَقَدْ أُوْذِيتُ فِي الله وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ، وَلَقَدْ أَتَتْ عَلَيَّ ثَلاثُونَ مِنْ بَيْنِ يَومٍ وَلَيْلَةٍ وَمَا لِي وَلِبِلالٍ طَعَامٌ يَأْكُلُهُ ذو كَبِدٍ إلا شَيْءٌ يُوَارِيهِ إبْطُ بِلالٍ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Sesunguhnya aku telah ditakut-takuti di dalam agama Allah ini dan tiada seorangpun yang ditakut-takuti seperti itu, dan aku telah disakiti di dalam agama Allah ini dan tiada seorangpun yang disakiti seperti apa yang aku alami, siang dan malam datang kepadaku selama tigapuluh hari semantara tiada makanan yang bisa dimakan oleh siapapun hanya sedikit makanan yang bisa di bawa oleh ketiak Bilal“. (HR. Ibnu Majah).

Bersabar atas segala tuduhan, celaan dan hinaan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Hukum Memecah Belah Kaum Muslimin yang Telah Bersepakat

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Wajib mengingkari para pemimpin pada perkara yang menyelisihi syari’at dan tidak memerangi mereka selama mereka mendirikan shalat

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : (( إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ أَسْلَمَ وَلِكنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَاُلْوا: يَأ رَسُوْل َاللهِ  أَلاَ ُنقَاِتلُهُمْ؟ قَالَ : ((لاَ , مَا صَلُّوْا)) أخرجه مسلم

Dari Ummu Salamah semoga Allah meredhainya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Sungguh akan diangkat pada kalian penguasa yang kalian ketahui dan kalianpun akan mengingkarinya, maka barangsiapa yang membencinya maka dia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah selamat, akan tetapi (celaka) orang yang rela dan mengikuti mereka)). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah tidakkah kita memerangi mereka?”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat”. HR. Muslim.[1]

Hukum memecah belah kaum muslimin yang telah bersepakat

عن عرفجة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ، أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ». أخرجه مسلم

Dari Arfajah Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila datang kepada kalian sementara kalian telah bersepakat (mengangkat) seseorang sebagai pemimpin kalian, dia datang guna memecah belah kekuatan kalian atau mencerai beraikan kesatuan kalian maka bunuhlah dia”. HR. Muslim[2]

Hukum membai’at dua pemimpin

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَينِ، فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا». أخرجه مسلم.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu kekuasaan) maka hendaklah dibunuh salah satu dari keduanya”.[3]

Pemimpin yang paling baik dan paling buruk

عن عوف بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ» قِيلَ: يَا رَسُولَ الله أَفَلا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: «لا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ، وَإذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاتِكُمْ شَيْئاً تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلُه، وَلا تَنْزِعُوا يَداً مِنْ طَاعَةٍ». أخرجه مسلم

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pemimpin kalian yang paling baik adalah pemimpin yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian, yang berdo’a untuk kalian dan kalianpun berdo’a untuk mereka. Pemimpin kalian yang paling buruk adalah pemimpin yang kalian benci dan merekapun membeci kalian, dan kalian melaknat mereka dan merekapun balas melaknat kalian”. Dikatakan: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita mengucilkan mereka dengan pedang?”, beliau menjawab: “Tidak, selama mereka mendirikan shalat, apabila kalian melihat dari peminpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah amal perbuatannya dan janganlah mencabut tangan kalian dari ketaatan”. HR. Muslim.[4]

Orang yang menjadi kepercayaan dan konsultan seorang pemimpin

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا بَعَثَ الله مِنْ نَبِيٍّ وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيْفَةٍ إلا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالمَعْرُوفِ، وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ الله تَعَالَى». أخرجه البخاري

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak seorang Nabipun yang diutus oleh Allah dan tidak pula mengangkat seorang khalifah kecuali mereka memiliki dua macam orang kepercayaan: “Orang keparcayaannya yang menyuruhnya berbuat kebajikan serta mendorongnya untuk berbuat hal tersebut dan kepercayaan yang menyeruhnya untuk berbuat keburukan serta mendorongnya untuk tetap melakukannya, orang yang terjaga adalah orang yang tetap dijaga oleh Allah Ta’ala”.[5]

Kewajiban Seorang Khilafah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim no: 1854
[2] HR. Muslim no: 1852
[3] HR. Muslim no: 1853
[4] HR. Muslimno: 1855
[5] HR. Bukhari no: 7198

Bersabar Atas Segala Tuduhan, Celaan dan Hinaan

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Bersabar atas Segala Tuduhan, Celaan dan Hinaan
Allah Subahnahu wa Ta’ala berfirman:

 قال الله تعالى: {كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ  [الذاريات/52]

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila. [Al-Dzariyat’/51: 52].

Allah Subahnahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ  [الأنعام/10].

Dan sungguh Telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. [Al-An’am/6: 10].

Allah Subahnahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ  [الأنبياء/5]

Bahkan mereka berkata (pula): “(Al-Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu diutus. [Al-Anbiya/21′: 5].

Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى:وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  [الحجر/97- 99]

Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). [Al-Hijr’/15: 97-99].

Bertawakkal kepada Allah, berani dan tegas di hadapan musuh-musuh walaupun jumlah mereka banyak
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ  [يونس/71].

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah Aku bertawakal, Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. [Yunus/10: 71].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang nabi Hud Alaihissalam:

قال الله تعالى عن هود عليه الصلاة والسلام: قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ  [هود/54- 56].

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami Telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Huud menjawab: “Sesungguhnya Aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya Aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada sutu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.  [Hud/11: 54-56].

Menjaga orang yang mempunyai kedudukan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Menjaga Orang yang Mempunyai Kedudukan

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Mengambil faedah dan pelajaran dari ketentuan Allah (takdir), untuk menyingkap berbagai kesulitan dan melaksanakan tuntunannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى:… {وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ  [الأنبياء/ 87- 88]

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka kami Telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan Demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman. [Al-Anbiya/21: 87-88].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ  [البقرة/60]

Dan (Ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. sungguh tiap-tiap suku Telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing]. makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. [Al-Baqarah/2: 60].

Menjaga orang yang mempunyai kedudukan
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (23) إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ  [غافر/23- 24]

Dan Sesungguhnya Telah kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat kami dan keterangan yang nyata. Kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; Maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta. [Ghaafir/40: 23-24].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa Alaihissalam.

قال الله تعالى لموسى- صلى الله عليه وسلم-: اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى  [طه/42- 44].

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut. [Thaha/20: 42-44].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لَو آمَنَ بي عَشَرَةٌ مِنَ اليَهُودِ لآمَنَ بِيَ اليَهُودُ». متفق عليه

Seandainya sepuluh orang Yahudi beriman kepadaku niscaya orang-orang Yahudi (yang lain) akan beriman kepadaku. (Muttafaq alaihi).

Konsisten dan isiqamah dengan agama ini, secara lahir dan batin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ  [هود/112].

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Hud/11: 112].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Syu’aib alaihis salam.

قال الله تعالى عن شعيب- صلى الله عليه وسلم-: قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِي  [هود/ 88]

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah Aku kembali”. [Hud/11: 88].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kewajiban Seorang Khalifah

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Kewajiban seorang Khalifah
1. Menegakkan agama Islam. Yaitu dengan menjaganya, berdakwah kepadanya dan menolak segala segala syubhat yang nisbatkan kepadanya, menegakkan hukum-hukumnya dengan menjalankan hukum Allah pada  masyarakat dan berjihad di jalan Allah.

Firman Allah Ta’ala.

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا  [النساء/58]

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.[1]

2. Mengangkat orang yang mampu dalam mengemban sebuah jabatan dan kekuasaan

Firman Allah Allah Ta’ala.

قال الله تعالى: إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ  [القصص/26]

“Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[2]

3. Seorang pemimpin harus mengkontrol tugas para pekerjanya

عن أبي حُميدٍ الساعدي رضي الله عنه قال: اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مِنَ الأزْدِ يُقَالُ لَهُ ابنُ اللتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ: «فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ، أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لا؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئاً إلَّا جَاءَ بِهِ يَومَ القِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إنْ كَانَ بَعِيراً لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ» ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إبْطَيْهِ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ» ثَلاثاً. متفق عليه.

Dari Abi Humaid semoga Allah meridhai mereka berdua berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat  seorang  lelaki dari suku Azd bernama Allutbiyah untuk mengambil shadakah. Pada saat dirinya tiba dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia berkata: “Ini adalah bagian kalian dan ini adalah bagin yang dihadiahkan kepadaku”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah dia duduk di rumah bapaknya atau dirumah ibunya apakah dia diberikan hadiah atau tidak?. Demi jiwaku yang berada di dalam jiwanya, tidaklah seorang mengambil sedikitpun darinya kecuali dia datang pada hari kiamat dengan memikulnya pada lehernya seandainya seekor onta maka dia bersuara, kalau sapi maka dia bisa menguak, atau seekor kambing maka dia  mengembek’. Lalu beliau mengangkat tangannya sampai tanpak bulu kedau ketiaknya seraya berkata: “Ya Allah aku telah menyampaikannya, ya Allah aku telah menyampaikannnnya”. Muttafaq Alaihi.[3]

4. Memantau mengatur kehidupan rakyat

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…». متفق عليه

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pejabat yang diangkat mengurusi perkara manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Muttafaq Alaihi.[4]

5. Kasih sayang terhadap rakyat, menasehati dan tidak mencari-cari kesalahan mereka

عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ أَمِيْرٍ يَلِي أَمْرَ المُسْلِمِين، ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ، إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الجَنَّةَ». متفق عليه

Dari Ma’qal bin Yasar  Radhiyallahu anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang menduduki sebuah jabatan yang mengurusi perkara kaum muslimin, kemudian dia tidak bersungguh-sungguh mengurusi mereka dan tidak pula menasehati mereka, kecuali dia tidak akan masuk bersama mereka ke dalam surga”. HR. Muslim.[5]

6. Menjadi Tauladan yang baik bagi rakyat mereka

Firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [الفرقان/74]

 “…dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.[6]

قال الله تعالى: وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ  [السجدة/24]

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”.[7]

Hak-hak Seorang Khalifah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nisa/4: 58
[2] QS. Al-Qoshosh/28: 26
[3] HR. Bukhari no: 2597 dan Muslim no: 1832
[4] HR. Bukhari no: 893 dan Muslim no: 1829
[5] HR. Muslim no: 142
[6] QS. Al-Furqon/25: 74
[7] QS. Al-Sajdah/32: 24

Hak-hak Seorang Khalifah

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Hak-hak Seorang Khalifah
1. Mentaatinya pada perkara yang bukan bermaksiat kepada Allah

 قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا  [النساء/59].

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[1]

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Atas setiap orang muslim untuk mendegar dan mentaati pemimpin pada perkara yang dia sukai atau benci kecuali jika dia diperintah untuk mengerjakan kemaksiatan, maka jika diperintah mengerjakan suatu kemaksiatan maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan mentaati”. Muttafaq alaihi. [2]

2. Saling menasehati

عن تميم الداري رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الدِّيْنُ النَّصِيحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «للهِ وَلِكَتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ». أخرجه مسلم

Dari Tamim Al-Dari  Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Nabi  ِShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Kami bertanya: “Untuk siapa?. Beliau menjawab:“Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi RasulNya dan bagi pemimpin kaum muslimin serta orang awam mereka”. HR. Muslim[3]

3. Membela dan mendukungnya dalam menegakkan kebenaran

Firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ  [المائدة/2].

“….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. [4]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nisa/4’: 59
[2] HR. Bukhari no: 7144 dan Muslim no: 1839
[3] HR. Muslim no: 55
[4] QS. Al-Maidah:/5 2

Ringkasan Fiqih Islam Bab Peradilan

QADHA’ (PERADILAN)

Makna Qadha’ dan Hukum-Hukumnya
Qadha’ : Adalah menjelaskan hukum syari’at dan berpegang atasnya serta menyelesaikan sengketa.

Hikmah disyari’atkannya Qadha’.
Allah Ta’ala mensyari’atkan Qadha’ demi untuk menjaga hak, menegakkan keadilan serta penjagaan terhadap jiwa, harta dan kehormatan, Allah menciptakan manusia dan menjadikan sebagian mereka membutuhkan bantuan dari sebagian lainnya dalam melaksanakan beberapa perbuatan, seperti jual-beli, berbagai macam muamalah, nikah, talak, sewa menyewa, nafkah dan lain sebagainya dari kebutuhan hidup, dan syari’at ini telah meletakkan beberapa kaidah serta syarat yang mengatur perputarannya dalam muamalah umat manusia, sehingga mendatangkan keadilan dan keamanan.

Akan tetapi terkadang didapati adanya beberapa pelanggaran atas syarat-syarat serta kaidah-kaidah tersebut, baik itu dengan secara disengaja ataupun karena ketidak tahuan, sehingga menimbulkan berbagai macam permasalahan, dan terjadi pertentangan serta perselisihan, permusuhan serta pertikaian, bahkan terkadang sampai kepada perampasan harta, melayangnya jiwa serta rusaknya rumah, maka Allah yang Maha Mengetahui mensyari’atkan Qadha’ demi kemaslahatan hamba-hamba-Nya, untuk menghilangkan pertikaian-pertikaian, menyelesaikan berbagai macam permasalahan serta menghukumi diantara hamba dengan benar dan adil.

قال الله تعالى: وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ [المائدة/48].

Allah berfirman: “Dan Kami telah turunkan kepadamu al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu” [Al-Maaidah/5: 48].

Hukum Qadha’.
Qadha’ berhukum fardhu kifayah, seorang imam wajib untuk mengangkat seorang Qadhi atau lebih untuk umat manusia pada setiap daerah atau negara, sesuai dengan kebutuhan; demi untuk menyelesaikan perselisihan, menegakkan hukum had, menghukumi dengan benar dan adil, mengembalikan hak milik orang lain, menenangkan orang yang didzolimi, serta melihat maslahat bagi kaum Muslimin dan lain sebagainya.

Imam wajib memilih untuk kedudukan Qadhi tersebut seorang terbaik dari segi keilmuan, kewibawaan, sambil memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat adil.

Disyaratkan bagi dia yang menampuk beban dengan menjadi Qadhi haruslah seorang Muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, berpendengaran baik dan seorang merdeka.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Kitab Qadha (Peradilan) كتاب القضاء). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]