Author Archives: editor

Shalat Tarawih

SHALAT TARAWIH

Shalat tarawih sunnah mu’akkadah, ia ditetapkan dengan perbuatan nabi saw, dan termasuk shalat sunnah yang disyari’atkan berjamaah pada bulan ramadhan.

Dinamakan shalat tarawih; karena orang-orang duduk istirahat antara setiap empat rakaat; karena mereka memanjangkan bacaan.

Waktu shalat Tarawih.
Dilakukan pada bulan ramadhan setelah shalat isya sampai terbit fajar, ia sunnah bagi orang laki-laki dan wanita, nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan shalat qiyam ramadhan dengan sabdanya:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. متفق عليه.

Barangsiapa yang bangun malam pada bulan ramadhan karena iman dan mengaharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“. (Muttafaq alaih)[1].

Sifat shalat Tarawih:
Imam disunnahkan memimpin umat islam shalat tarawih sebelas rakaat, atau tiga belas rakaat, setiap dua rakaat salam, dan ini yang paling utama.

سئلت عائشة رضي الله عنها كيف كانت صلاة رسول الله- صلى الله عليه وسلم- في رمضان؟ فقالت: مَا كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلا فِي غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعاً فَلا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ، ثُمّ يُصَلِّي أَرْبَعاً فَلا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاثاً… أخرجه البخاري.

Aisyah Radhiyallahu anha ditanya bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan ramadhan? Aisyah Radhiyallahu anha menjawab : Beliau tidak pernah shalat di bulan ramadhan atau lainnya lebih dari dua belas rakaat, beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tengang bagusnya dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat, jangan Tanya tentang bagusnya dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat. (HR. Bukhari)[2].

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعةً. متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada waktu malam tiga belas rakaat. (Muttafaq alaih)[3].

عن عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاةِ العِشَاءِ إلَى الفَجْرِ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. أخرجه مسلم.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat antara setelah selesai shalat isya’ sampai shalat subuh sebelas rakaat, beliau salam setiap dua rakaat, dan shalat witir satu rakaat. (HR. Muslim)[4].

Sunnah bagi imam shalat tarawih sebelas rakaat, atau tiga belas rakaat, di awal ramadhan dan akhirnya, akan tetapi di akhirnya (sepuluh malam terakhir) memanjangkan pada waktu berdiri, ruku’ dan sujud, karena nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun padanya semalam penuh, dan jika shalat lebih sedikit atau lebih banyak, maka tidak mengapa.

Yang afdhal bagi makmum shalat bersama imam hingga selesai, baik imam shalat sebelas rakaat maupun tiga belas rakaat, atau dua puluh tiga atau lebih sedikit atau lebih banyak agar ditulis baginya qiyamul lail semalam penuh, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ. أخرجه أبو داود والترمذي

Siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, maka ditulis baginya qiyamul lail satu malam. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)[5].

Yang menjadi imam pada bulan ramadhan adalah yang paling bagus bacaannya dan paling baik hafalannya, kalau tidak bisa, maka imam membaca sambil melihat qur’an, yang lebih utama imam memperdengarkan al-Qur’an kepada seluruh makmum, kalau tidak bisa maka sebagiannya.

Doa khatmul Qur’an di bulan ramadhan dan lainnya dilakukan di luar shalat bagi yang menginginkan, dan doa khatmul qur’an di dalam shalat tidak disyari’atkan; karena tidak ada riwayat yang shahih dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari salah salah satu sahabat radhiyallahu anhum.

Siapa yang biasa shalat tahajjud –yaitu shalat di akhir malam- menjadikan shalat witir setelah tahajjud, jika shalat bersama imam dan imam shalat witir, maka ia shalat witir bersamanya, jika shalat di akhir malam maka shalat genap.

Apabila wanita ingin keluar untuk shalat fardhu di masijd atau shalat sunnah, maka ia harus memakai pakaian sederhana tanpa memakai parfum.

Apabila ada dua imam yang memimpin shalat tarawih, maka orang yang shalat bersama keduanya ditulis baginya qiyamul lail penuh; karena yang kedua menjadi ganti bagi yang pertama dalam menyempurnakan shalat.

Shalat Ied

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih bukhari no (2009), shahih Muslim no (759)
[2] Shahih bukhari no (1147)
[3] Shahih Bukhari no (1138), Shahih Muslim no (764)
[4] Shahih Muslim no (736)
[5] Sunan Abu Daud no (1375), Sunan tirmidzi no (806)

Perang Badar Mengubah Sejarah

PERANG BADAR MENGUBAH SEJARAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Perang Badar adalah peperangan pertama yang terjadi antara kaum muslimin dan orang kafir dalam sejarah Islam, dalam peperangan tersebut Allah ta’ala memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, menterlantarkan orang-orang kafir beserta hulu balangnya, dan terbunuhnya tentara Quraiys dan para pembesarnya.

Itulah peristiwa penting yang mampu mengubah sejarah, kejadian tersebut sebagai awal mula pembuka terjadinya peperangan berikutnya sampai akhirnya mengantarkan kaum muslimin mampu menaklukan kota Makah dalam penaklukan besar yang menghinakan kaum kafir dan mengangkat Islam dan penghuninya. Allah azza wa jalla berfirman:

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا  [ الإسراء: 81 ]

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. [al-Isra/17: 81].

Kalau mau kita sebutkan, tentu akan sangat banyak sekali dalil, baik dari al-Qur’an maupun Sunah yang menjelaskan tentang keutamaan peperangan Badar serta orang-orang yang ikut serta didalamnya, diantaranya ialah:

Pertama : Allah menamakan peperangan itu dengan hari Furqan (pemisah antara yang hak dan yang batil). Sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ  [ الأنفال: 41]

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [al-Anfa’al/8: 41].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya: “Allah ta’ala mengingatkan pada kita akan nikmat serta kebaikanNya, yang ditujukan pada makhlukNya, yaitu dengan memisah antara yang benar dan yang batil pada peperangan Badar. Dan dinamakan Furqan karena Allah ta’ala meninggikan pada saat itu kalimat iman diatas kalimat yang batil, serta menampakan agamaNya dan menolong Nabi serta golonganNya”.[1]

Kedua : Allah azza wa jalla menolong kaum muslimin dengan memberi rasa takut pada hati kaum musyrikin. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:

إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ  [ الأنفال: 12 ]

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”.  [al-Anfaal/8: 12].

Dan pertolongan dijatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir merupakan kekhususan yang diberikan oleh Allah ta’ala kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa allam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ» [أخرجه البخاري و مسلم]

Aku ditolong oleh Allah dengan dijatuhkan rasa ketakutan pada musuh sejauh perjalanan satu bulan“. HR Bukhari no: 235. Muslim no: 521.

Ketiga : Allah ta’ala mengutus bala bantuan pada kaum muslimin saat itu, bala tentaraNya dari para malaikat. Allah azza wa jalla berfirman menyebutkan hal tersebut dalam kitabNya:

 وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٖ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٞۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٢٣ إِذۡ تَقُولُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ أَلَن يَكۡفِيَكُمۡ أَن يُمِدَّكُمۡ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ ١٢٤ بَلَىٰٓۚ إِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَٰذَا يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم بِخَمۡسَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ  [ ال عمران: 123-125 ]

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda”. [al-Imran/3: 123-125].

روى مسلم في صحيحه من حديث ابن عباس رضي اللهُ عنهما قال: بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَئِذٍ يَشْتَدُّ فِي أَثَرِ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ أَمَامَهُ، إِذْ سَمِعَ ضَرْبَةً بِالسَّوْطِ فَوْقَهُ، وَصَوْتَ الْفَارِسِ يَقُولُ: أَقْدِمْ حَيْزُومُ؛ فَنَظَرَ إِلَى الْمُشْرِكِ أَمَامَهُ فَخَرَّ مُسْتَلْقِيًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ قَدْ خُطِمَ أَنْفُهُ، وَشُقَّ وَجْهُهُ كَضَرْبَةِ السَّوْطِ، فَاخْضَرَّ ذَلِكَ أَجْمَعُ، فَجَاءَ الْأَنْصَارِيُّ فَحَدَّثَ بِذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم فَقَالَ: “صَدَقْتَ، ذَلِكَ مِنْ مَدَدِ السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ”، فَقَتَلُوا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ، وَأَسَرُوا سَبْعِينَ

Disebutkan oleh Imam Muslim sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Tatkala ada seorang sahabat pada perang tersebut, sedang mengejar seseorang dari kalangan orang kafir yang ada dihadapannya, tiba-tiba dirinya mendengar suara pukulan cambuk dari arah atas, dan suara kuda. Serta suara yang mengatakan majulah Haizum.

Lalu dirinya menjumpai orang kafir tadi telah jatuh tersungkur mati, diapun penasaran sehingga ketika di hampiri dia menjumpai hidung dan wajahnya ada bekas cambuk, kemudian dia memanggil teman-temannya untuk melihat.

Selanjutnya orang Anshar tadi datang kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut, maka beliau berkata: “Engkau benar, itu adalah malaikat dari langit ketiga yang diutus oleh Allah”. Dan kaum muslimin pada peperangan Badar tersebut membunuh tujuh puluh orang kafir serta berhasil menawan tujuh puluh yang lainnya“. HR Muslim no: 1763.

Keempat: Orang yang ikut serta dalam peperangan Badar dari para Sahabat, malaikat serta yang lainnya mempunyai keutamaan yang tinggi.

Dijelaskan dalam sebuah hadits, dari Mu’adz bin Rifa’ah bin Raf’i dari ayahnya, dan ayahnya ini termasuk sahabat yang ikut perang Badar. Beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ » [أخرجه البخاري]

Jibril datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Menurut kamu seperti apa orang ikut yang perang Badar? Beliau menjawab: “Mereka adalah sebaik-baik kaum muslimin –atau kalimat yang semisalnya, ragu dari rawi- Jibril menambahkan: “Demikian pula para malaikat yang ikut peperangan ini“. HR Bukhari no: 3992.

Kelima: Bahwa orang yang terbunuh pada saat itu akan memperoleh surga Firdaus yang tinggi, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنَّ أُمَّ الرُّبَيِّعِ بِنْتَ الْبَرَاءِ وَهِيَ أُمُّ حَارِثَةَ بْنِ سُرَاقَةَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَلَا تُحَدِّثُنِي عَنْ حَارِثَةَ وَكَانَ قُتِلَ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ سَهْمٌ غَرْبٌ فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ صَبَرْتُ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ اجْتَهَدْتُ عَلَيْهِ فِي الْبُكَاءِ قَالَ يَا أُمَّ حَارِثَةَ إِنَّهَا جِنَانٌ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ ابْنَكِ أَصَابَ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى » [أخرجه البخاري ]

Bahwa Ummu Ruba’i binti Bara’, dia adalah ibunya Haritsah bin Suraqah pernah datang kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya: “Wahai Nabi Allah, maukah engkau menceritakan anak ku Haritsah? (dimana dia), dirinya terbunuh pada peperangan Badar, terkena panah, jika sekiranya ia disurga maka aku bersabar, kalau tidak disurga maka biarkan aku menangis. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya ia berada disurga, anak mu berada di surga Firdaus yang tinggi“. HR Bukhari no: 2809.

Berkata Ibnu Katsir: “Dalam hadits ini mengandung peringatan yang sangat dalam akan keutamaan ahli Badar, karena sahabat ini bukan meninggal ditengah-tengah medan tempur, tidak pula mati berhadapan musuh, manakala perang berkecamuk keras, namun dirinya meninggal jauh dari medan pertempuran, dia terkena anak panah ketika sedang minum disumur, namun, dengan ini dirinya memperoleh surga Firdaus yang merupakan surga tertinggi, dan pertengahan surga, yang mana dari sanalah memancar mata air sungai disurga, dimana agama kita menyuruh apabila berdo’a kepada Allah dan meminta surga supaya dimasukan kedalamnya.

Apabila keadaannya sedemikian agung, lalu bagaimana dengan orang yang langsung terjun berhadapan dengan musuh, tentu derajatnya lebih tinggi tiga kali lipat kedudukannya”.[2]

Keenam: Diantara keutamaanya juga, bahwa para pelakunya akan diampuni dosa-dosanya.
Hal itu, sebagaimana yang diterangkan oleh sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan aslinya hadits ini ada pada Bukhari dan Muslim, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ » [أخرجه أحمد]

Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman: ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni“. HR Ahmad 3/322-323 no: 7940.

Berkata Ibnu Hajar mengomentari hadits diatas: “Ini merupakan kabar gembira yang tidak pernah terjadi selain pada mereka”.[3]

Ketujuh: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a untuk ahli Badar agar mereka tidak masuk ke dalam neraka.

Seperti dijelaskan dalam haditsnya Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَذَبْتَ لاَ يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ » [أخرجه مسلم]

Bahwa budaknya Hathib pernah datang menemui Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perlakuan majikannya Hathib, dirinya mengadu: ‘Ya Rasulallah, sungguh Hathib pasti akan masuk neraka”. Maka Rasulallah menyergah ucapannya tadi sambil berkata: “Dusta kamu, dia tidak akan masuk neraka, sesungguhnya dirinya pernah ikut perang Badar dan Hudaibiyah“. HR Muslim no: 2495.

Delapan: Pemberitaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kalaulah sekiranya bukan ahli Badar tentu agama Islam tidak akan sampai pada generasi setelahnya, karena Islam habis riwayatnya bersama mereka.

Disebutkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ : اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ » [أخرجه مسلم]

Pada saat terjadi peperangan Badar, Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandangi jumlah kaum musyrikin yang jumlahnya lebih seribu orang, sedangkan sahabatnya hanya tiga ratus sembilan orang.  Kemudian beliau berpaling lalu menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya kemudian berdo’a pada Rabbnya:

“اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ”

Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan padaku, Ya Allah berilah apa yang dulu Engkau janjikan padaku. Ya Allah kalau seandainya Engkau binasakan sekelompok orang ini dari ahli Islam, maka Engkau tidak akan disembah dimuka bumi“. HR Muslim no: 1763.

Sembilan: Bahwasannya Allah ta’ala menghalalkan harta rampasan perang untuk umat ini pada peperangan ini.

Sebagaimana yang disitir oleh Allah melalui firmanNya:

فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمۡتُمۡ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ [ الأنفال: 69 ]

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  [al-Anfaal/8: 69].

Diriwayatkan oleh Thayalisi dalam musnadnya dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ تَعَجَّلَ النَّاسُ إِلَى الغَنَائِمِ فَأَصَابُوهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم: “إِنَّ الغَنِيمَةَ لَا تَحِلُّ لِأَحَدِ سُودِ الرُّؤُوسِ غَيْرَكُمْ”، وَكَانَ النَّبِيُّ صلى اللهُ عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ إِذَا غَنِمُوا غَنِيمَةً جَمَعُوهَا، وَنَزَلَتْ نَارٌ فَأَكَلَتْهَا، فأنزل الله هذه الآية: ﴿ لَّوْلاَ كِتَابٌ مِّنَ اللّهِ سَبَقَ ﴾ إلى آخر الآيتين”

“Pada saat terjadi perang Badar manusia sangat menginginkan ghanimah, dan benar akhirnya mereka mendapatkan. Maka Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ghanimah tidak pernah dihalalkan untuk anak cucu Adam selain kalian“. Adalah Nabi serta sahabatnya sebelum kita, jika mereka memperoleh harta rampasan perang maka mereka mengumpulkan jadi satu, kemudian turun dari langit api yang menyambarnya. Maka Allah menurunkan ayat ini:

لَّوۡلَا كِتَٰبٞ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمۡ فِيمَآ أَخَذۡتُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٦٨ فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمۡتُمۡ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  [ الأنفال: 68-69 ]

“Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  (al-Anfaal/8: 68-69). HR ath-Thayalisi 2/19. Tirmidzi no: 3085, beliau mengatakan hadits hasan shahih gharib.

Sepuluh: Allah ta’ala telah mengabarkan akan hasil dari perang tersebut sebelum terjadinya peperangan. Yaitu dengan kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin atas orang-orang kafir.

Yaitu sebagaimana yang termaktub dalam firmanNya:

وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٧ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ [ الأنفال: 7-8 ]

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya”. [al-Anfaal/8: 7-8].

Disebutkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

“قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم حِينَ فَرَغَ مِنْ بَدْرٍ: عَلَيْكَ الْعِيرَ لَيْسَ دُونَهَا شَيْءٌ. قَالَ: فَنَادَاهُ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: إِنَّهُ لَا يَصْلُحُ لَكَ، قَالَ: “وَلِمَ؟” قَالَ: لِأَنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ إِنَّمَا وَعَدَكَ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ، وَقَدْ أَعْطَاكَ مَا وَعَدَكَ”

“Dikatakan kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam manakala telah usai perang Badar; untukmu hanya kafilah tidak ada yang lain. Maka al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata lantang: “Sesungguhnya ini lebih baik untukmu”, kenapa, tanya beliau. Karena Allah hanya menjanjikan untukmu salah satu dari dua kelompok mereka, namun Allah telah memberi untukmu semuanya“. HR Ahmad 3/466 no: 2022.[4]

Sebagai penutup kita ucapkan segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari فضائل غزوة بدر Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 2/313.
[2] Bidayah wa Nihayah oleh Ibnu Katsir 5/258.
[3] Fathul Bari 7/305.
[4] Lihat pembahasan ini secara panjang lebar dalam kitab Hadatsa Ghoyara Majra Taarikh oleh penulis hal: 39-49.

Shalat Ied

KITAB SHALAT

Shalat Ied
Dalam islam ada tiga hari raya:

  1. Idul fitri pada tanggal satu syawwal setiap tahun.
  2. Idul adha pada tanggal sepuluh dzul hijjah setiap tahun.
  3. Id setiap minggu pada hari jum’at, dan ini telah disampaikan sebelumnya.

Shalat idul fitri dilakukan setelah selesai puasa bulan ramadhan, shalat idul adha dilakukan selesai haji dan sepuluh hari bulan zulhijjah, keduanya termasuk kebaikan islam, umat islam menunaikannya setelah melakukan dua ibadah yang agung sebagai syukur kepada Allah I.

Hukum shalat dua hari raya: sunnah mu’akkadah atas setiap muslim dan muslimah.

Waktu Shalat Ied.
Mulai matahari meninggi setinggi tombak hingga tergelincir, jika tidak tahu datangnya ied kecuali setelah tergelincir matahari, maka shalat pada esok harinya, pada waktunya, dan tidak menyembelih hewan kurban kecuali setelah selesai shalat ied.

Sifat pergi untuk Shalat Ied.
Orang yang pergi shalat ied disunnahkan membersihkan diri, memakai pakaian yang paling bagus; untuk menampakkan kegembiraan pada hari itu, adapun wanita, tidak boleh menampakkan perhiasannya dan tidak memakai parfum, pergi shalat bersama-sama orang, sedangkan wanita haid, ia mendengarkan khutbah ied dan tidak masuk tempat shalat.

Makmum disunnahkan pergi pagi-pagi setelah shalat subuh dengan berjalan kaki jika bisa, adapun imam maka agak akhir hingga tiba waktu shalat, dan disunnahkan pergi melalui satu jalan dan kembali melalui jalan lain, untuk menampakkan syi’ar, dan mengikuti sunnah nabi.

Disunnahkan makan beberapa biji kurma sebelum berangkat shalat idul fitri, adapun shalat idul adhal disunnahkan tidak makan sebelum shalat hingga makan dari kurbannya jika berkurban.

Tempat Shalat Ied.
Shalat ied dilakukan di tanah lapang dekat kota, jika sudah sampai ke tempat shalat, maka shalat dua rakaat dan duduk berdzikir kepada Allah, dan shalat ied tidak dilakukan di masjid kecuali ada halangan seperti hujan dan sebagainya.

Jika telah memasuki tempat shalat ied, boleh shalat sunnah sebelum shalat ied dan sesudahnya selama tidak pada waktu yang dilarang, maka tidak disyari’atkan kecuali shalat tahiyatul masjid, jika telah pulang ke rumahnya disunnahkan shalat dua rakaat.

Sifat Shalat Iied.
Jika tiba waktu shalat, maka imam maju dan memimpin shalat dua rakaat tanpa adzan dan iqamah, pada rakaat pertama bertakbir tujuh kali atau sembilan kali dengan takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua lima kali setelah berdiri.

Kemudian setelah membaca fatihah disunnahkan membaca surat al-A’la dengan keras pada rakaat pertama, dan pada rakaat kedua setelah fatihah membaca surat al-Ghasyiyah, atau pada rakaat pertama membaca surat Qaaf, dan pada rakaat kedua membaca surat (iqtarabatissaa’ah), suatu kali membaca ini, dan suatu kali membaca yang itu.

Setelah salam, berkhutbah satu kali menghadap kepada jamaah, hendaklah isi khutbah adalah memuji Allah, bersyukur kepadanya, menyanjungnya, mengingatkan wajibnya mengamlkan syari’at Allah, mendorong mereka bersedekah, menganjurkan untuk berkurban dan menjelaskan hukum-hukumnya kepada mereka.

Apabila hari raya bertepatan pada hai jum’at, maka siapa yang telah shalat ied gugur baginya shalat jum’at, maka shalat dhuhur, adapun imam dan orang yang tidak shalat ied, maka wajib shalat jum’at.

Apabila imam lupa salah satu takbir dan sudah mulai membaca maka gugur; karena takbir itu sunnah dan telah lewat waktuya, dan tidak mengangkat tangan pada takbir-takbir tambahan pada kedua rakaat di shalat ied dan shalat istisqa’.

Disunnahkan bagi imam menasihati wanita dalam khutbahnya, mengingatkan mereka akan kewajibannya, dan menganjurkan mereka bersedekah.

Siapa yang mendapatkan shalat bersama imam sebelum salam pada shalat ied maka ia meneruskan untuk menyempurnakan shalatnya, akan tetapi jika ia ketinggalan maka ia tidak perlu mengqadha’nya.

Jika Imam telah selesai shalat, maka barang siapa yang ingin mendengarkan khutbah maka hal itu baik dan utama akan tetapi jika ada yang ingin pergi maka hal itu juga boleh.

Hukum Takbir pada hari Raya.
Pada hari-hari raya disunnahkan bagi kaum muslimin untuk bertakbir di rumah-rumah, pasar, jalan, dan masjid-masjid mereka hanya saja bagi kaum wanita tidak dianjurkan untuk mengeraskan takbir mereka ketika ada kaum laki-laki asing atau yang bukan mahram.

Waktu-waktu Takbir

  1. Waktu takbir pada hari raya dimulai dari malam hari hingga shalat ‘ied ditunaikan.
  2. Pada hari ‘Iedul Adha waktu takbir dimulai sejak masuk tanggal 10 Zulhijjah hingga tenggelam matahari pada hari tanggal 13.

Sifat Takbir:

  1. Boleh melakukan takbir genap dengan mengatakan “Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillahi Al-Hamd”
  2. Atau bertakbir dengan jumlah ganjil dengan mengucapkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Walillahi Al-Hamd”.
  3. Boleh bertakbir dengan jumlah ganjil pada bagian pertama dan jumlah genap pada bagian kedua, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Walillahi Al-Hamd.”

Seseorang boleh memilih salah satu dari tiga cara ini.

Hukum Perayaan-perayaan yang Diada-adakan.
Hari-hari Perayaan seperti Ulang Tahun, Tahun Baru Hijriah atau Masehi, Malam Isra’ Mi’raj, Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, atau Hari Ibu, serta perayaan-perayaan lain yang telah menyebar dikalangan kaum muslimin semuanya adalah bid’ah yang diada-adakan dan tertolak. Barang siapa yang melaksanakannya atau mengajak serta menyetujui perayaan tersebut maka ia telah berdosa dan menanggung dosa orang yang mengikutinya.

Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf

KITAB SHALAT

Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf
Khusuf adalah gerhana bulan total atau sebagian di malam hari sedangkan Kusuf adalah gerhana matahari total atau sebagian.

Hukum Shalat Khusuf dan Kusuf:
Hukum jedua shalat ini sunnat ma’akkadah bagi setiap muslim dan muslimah baik yang sedang mukim atau safar.

Mengetahui Waktu Gerhana.
Waktu gerhana matahari dan bulan memiliki waktu-waktu tertentu seperti halnya waktu terbit matahari dan bulan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa waktu gerhana matahari terjadi pada akhir bulan sedangkan gerhana bulan terjadi pada malam-malam purnama.

Sebab-sebab Gerhana
Aapabila erjadi gerhana bulan ataupun matahari manusia dianjurkan untuk melakukan shalat di mesjid-mesjid atau di rumah-rumah sekalipun di mesjid itu lebih utama, sebagaimana gempa, petir, gunung berapi, memiliki sebab-sebab tertentu demikian juga gerhana matahari dan bulan juga telah Allah tetapkan penyebab keduanya. Dan hikmah dibalik itu adalah menakut-nakuti hamba-Nya agar kembali kepada Allah.

Waktu Shalat:
Shalat gerhana dimulai sejak terjadinya gerhana hingga gerhana tgersebut hilang.

Tata Cara Shalat Gerhana.
Shalat gerhana tidak dimulai dengan azan dan qomat akan tetapi dengan panggilan: Ash-Shalatu Jaami’ah sekali atau lebih. Kemudian imam bertakbir dan membaca Al-Fatihah serta surat yang panjang dengan suara keras lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama kemudian I’tidal dengan membaca Sami’allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu, tetapi tidak sujud. Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat yang lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dengan ruku’ yang lebih pendek dari yang pertama kemudian I’tidal, lalu turun sujud dengan sujud yang panjang dan sujud yang pertama lebih panjang dari yang kedua dan diselai dengan duduk diantara dua sujud kemudian berdiri untuk rakaat kedua lalu melakukan hal yang sama dengan rakaat pertama hanya saja lebih ringan dari yang pertama kemudian dilanjutkan dengan tahiyat dan salam.

Sifat Khutbah Shalat Gerhana
Disunnahkan bagi imam untuk melakukan khutbah setelah shalat gerhana untuk mengingatkan manusia akan kejadian yang besar ini agar hati-hati mereka menjadi lunak kemudian meminta mereka untuk benyak berdoa dan istighfar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم-، فَقَامَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي، فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ. ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القِيَامَ، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ، فَأطَالَ القِيَامَ، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ.
ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ الله وَأثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قال: «إنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ مِنْ آيَاتِ الله، وَإنَّهُمَا لا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أحَدٍ وَلا لِحَيَاتِهِ، فَإذَا رَأيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا الله وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا، يَا أمَّةَ مُحَمَّدٍ! إنْ مِنْ أحَدٍ أغْيَرَ مِنَ الله أنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أوْ تَزْنِيَ أمَتُهُ، يَا أمَّةَ مُحَمَّدٍ! وَالله! لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلا، ألا هَلْ بَلَّغْتُ؟». متفق عليه.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhaa berkata, telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau melakukan shalat dan memanjangkan berdirinya lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang kemudian berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dan sujud dengan memanjangkan keduanya, lalu berdiri untuk raka’at kedua kemudian ruku’ yang panjang  tetapi lebih pendek dari ruku’ yang pertama kemudian mengangkat kepalanya untuk berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dan sujud.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya dan matahari telah kelihatan kembali maka beliau berkhutbah memuja dan meuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabda, Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah dan keduanya tidaklah terjadi gerhana dikarenakan hidup atau matinya seseorang maka apabila kalian melihatnya maka bertakbirlah dan berdoalah kepada Allah serta lakukanlah shalat dan bersedekahlah wahai umat Muhammad, sesungguhnya tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba-Nya melakukan perzinahan wahai umat Muhammad seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa, saksikanlah bukankah telah aku sampaikan.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Mengqadha Shalat Gerhana
Jama’ah shalat Khusuf bias diperoleh jika seseorang mendapati ruku’ yang pertama dari setiap raka’atnya dan jika gerhana telah hilang maka tidak ada qadha shalat gerhana.

Apabila gerhana telah berakhir dan mereka masih melakukan shalat maka shalat segera diselesaikan dengan ringan. Sebaliknya jika shalat telah selesai dan gerhana belum hilang maka dianjurkan memperbanyak doa dan takbir dan bersedekah hingga gerhana itu hilang.

Pelajaran yang Diambil dari Gerhana
Gerhana mendorong seseorang untuk ikhlas dalam mengesakan Allah serta melakukan keta’atan dan menjauhi kemaksiatan dan dosa serta takut kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قال الله تعالى: وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا  [الإسراء/59].

Dan tidaklah Kami turunkan ayat-ayat Kami kecuali untuk menakut-nakuti (hamba).” [Al-Isra’/17: 59]

عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ الله يُخَوِّفُ الله بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإنَّهُمَا لا يَنْكَسِفَانِ لِمَوتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمَا شَيْئاً فَصَلُّوا وَادْعُوا الله حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ». متفق عليه.

Dari Abu Mas’ud al-Anshary Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya, dan keduanya tidaklah terjadi gerhana dikarenakan hidup atau matinya seseorang maka apabila kalian melihatnya maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah sehingga keduanya hilang.” (Muttafaq ‘alaih)

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Zihar

ZIHAR

Zihar : Yaitu menyerupakan isteri atau sebagian tubuhnya dengan dia yang diharamkan untuk dinikahi selamanya, seperti perkataan: kamu seperti ibuku, atau seperti punggung saudariku, dan semisalnya.

Pada zaman jahiliyah, ketika seorang suami marah terhadap isterinya, karena disebabkan oleh suatu permasalahan, dia akan melontarkan perkataan: (bagiku kamu itu seperti punggung ibuku), maka langsung dia bercerai darinya.

Ketika Islam datang, agama ini menyelamatkan wanita dari kesulitan ini, dan menjelaskan kalau zihar merupakan sebuah kemungkaran dari perkataan dan dusta; karena dia berdiri bukan diatas landasan. Sebab isteri bukanlah seorang ibu, sehingga menjadi haram sepertinya, hukumnya dibatalkan, dan menjadikan wanita tersebut menjadi haram bagi suaminya sebelum dia membatalkannya dengan kafarat zihar.

Ketika suami menzihar isterinya, kemudian ingin menyetubuhinya, maka hal tersebut diharamkan atasnya sampai dia melaksanakan kafarat zihar.

Hukum zihar : Haram, Allah telah mencela orang-orang yang melakukannya dengan firmannya:

 الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ   [المجادلة/2]

Orang-orang yang menzhihar isterinya diantara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” [Al-Mujaadilah/58: 2]

Gambaran zihar.

  1. Zihar dilakukan dengan jelas dan langsung, seperti perkataan : kamu mirip dengan punggung ibuku.
  2. Zihar dilakukan dengan tergantung, seperti: jika memasuki bulan ramadhan, kamu sperti punggung ibuku.
  3. Zihar dibatasi oleh waktu, seperti: bagiku kamu seperti punggung ibuku selama bulan sya’ban. Apabila telah keluar dari bulan sya’ban dan dia menyetubuhi isterinya, berarti tuntaslah ziharnya, akan tetapi jika dia menyetubuhi isterinya pada bulan sya’ban, maka dia berkewajiban untuk membayar kafarat zihar.

Apabila seorang suami menzihar isterinya, maka dia berkewajiban untuk membayar kafarat sebelum menyetubuhinya, jika dia menyetubuhinya sebelum membayar kafarat, maka dia akan berdosa dan wajib membayarnya.

Kafarat zihar harus berurutan seperti dibawah ini:

  1. Memerdekakan seorang budak Muslim.
  2. Apabila tidak mendapatkan budak, dia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut, tidak termasuk pemutus bagi dia yang berbuka pada dua hari raya (iedul fitri dan adha), haidh dan semisalnya.
  3. Apabila tidak mampu, maka dia boleh memberi makan enampuluh orang miskin dari makanan pokoknya, setiap orang miskin setengah sho’ (satu kilo dua puluh gram), dia cukup memberi makan siang ataupun makan malam mereka. Allah berfirman:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (3) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَبٌ أَلِيمٌ [المجادلة/3- 4].

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami-isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan * Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enampuluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih” [Al-Mujaadilah/58: 3-4]

Allah Maha Penyayang terhadap hamba-Nya dengan menjadikan pemberian makan terhadap orang-orang fakir dan miskin termasuk dari kafarat dari dosa dan sebagai penghapus kesalahan.

Apabila suami berkata kepada isterinya: Jika kamu pergi ketempat ini, maka bagiku kamu seperti punggung ibuku.

Apabila dia bermaksud dengannya sebagai pengharaman, maka dia telah berbuat zihar dan tidak boleh mendekatinya sampai dia melaksanakan kafarat zihar.

Sedangkan apabila dia hanya bermaksud untuk melarangnya melakukan perbuatan tersebut, bukan bermaksud mengharamkannya, maka isteri tersebut tidak menjadi haram, akan tetapi dia wajib membayar kafarat yamin (sumpah) barulah setelah itu dia terbebas dari sumpahnya.

Apabila dia berzihar terhadap isteri-isterinya dengan satu kalimat, baginya hanyalah satu kafarat, dan jika dia menzihar mereka dengan beberapa kali, maka wajib baginya untuk membayar kafarat dari setiap satunya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Nikah dan Permasalahan Terkait كتاب النكاح وتوابعه). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Li’an (Laknat)

LI’AN (LAKNAT)

 Li’an : Adalah persaksian yang dibarengi oleh sumpah dari kedua belah pihak, diiringi oleh laknat dari suami dan kemurkaan dari isteri, dilakukan dihadapan hakim pengadilan ataupun wakilnya.

Hikmah disyari’atkannya.
Apabila seorang suami melihat isterinya berzina dan dia tidak bisa mendatangkan saksi, atau dia menuduhnya berzina, namun hal tersebut diingkari oleh isterinya, agar tidak menjadi aib bagi suami dengan perbuatan zina isterinya dan merusak hubungan ranjangnya, atau agar tidak mendapat anak dari laki-laki lain, maka Allah syari’atkan li’an sebagai penyelesai dari permasalahan tersebut dan juga untuk menghilangkan keraguan. Sebelum li’an dianjurkan agar keduanya diberi peringatan dan ditakuti akan adzab Allah.

  1. Apabila suami membangkang dan tidak mau bersumpah, maka wajib dijatuhkan kepadanya had qozaf (tuduhan) sebanyak delapan puluh kali cambukan, dan jika wanita yang menolak dan mengakui perbuatan zinanya, maka dilakukan terhadapnya hukum had, yaitu rajam (dilempari batu sampai meninggal).
  2. Barang siapa menuduh wanita yang bukan isterinya dengan sebuah perbuatan fahisyah, sedangkan dia tidak mampu mendatangkan bukti (empat orang saksi) yang bersaksi tentang kebenaran apa yang dia katakan, maka baginya hukuman delapan puluh cambuk, diapun dianggap sebagai seorang fasik yang tidak boleh diterima persaksiannya, kecuali jika dia bertaubat dan menjadi baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (4) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور/4- 5].

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksiannya buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik *Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [An-Nuur/24: 4-5]

Syarat-syarat Li’an.

  1. Kedua suami isteri harus sudah dewasa, dilakukan dihadapan imam atau wakilnya.
  2. Harus dimulai oleh tuduhan suami kalau isterinya telah berbuat zina.
  3. Isteri harus mendustakan tuduhan tersebut, dan tetap pada pendiriannya sampai selesai dari saling melaknat.

Sifat Li’an.
Apabila seorang suami menuduh isterinya berbuat zina dan dia dalam keadaan tidak memiliki bukti, maka dengan itu dia berhak untuk mendapatkan hukuman had qozaf (tuduhan), hukuman tersebut tidak akan jatuh darinya kecuali dengan melakukan li’an, sifatnya adalah:

1. Dimulai oleh suami dengan mengucapkan sebanyak empat kali: (demi Allah saya bersaksi kalau saya ini termasuk dari orang-orang yang jujur ketika menuduh isteriku ini dari perbuatan zina), dia mengatakan hal tersebut sambil menunjuk kearah isterinya jika dia hadir, dan menyebutkan namanya jika berhalangan hadir, kemudian untuk yang kelima kalinya dia menambahkan:

أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ  [النور/7]

Bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta” [An-Nuur/24: 7]

2. Kemudian isterinya mengucapkan sebanyak empat kali: (demi Allah saya bersaksi kalau dia telah berdusta atas apa yang dituduhkannya terhadapku dari perbuatan zina) kemudian untuk persaksian kelimanya dia menambahkan:

أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ  [النور/9]

Bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar“[An-Nuur/24: 9]

Disunnahkan untuk diberikan peringatan terhadap kedua orang yang saling melaknat ketika mereka sedang melaknat, dengan cara meletakkan tangan pada mulut suami ketika akan mengucapkan yang kelima, dan dikatakan kepadanya: (Takutlah kepada Allah, bahwasanya adzab dunia itu lebih ringan dari adzab akhirat, bahwasanya persaksian ini akan mendatangkan adzab terhadapmu). Begitu pula diperlakukan terhadap isterinya, akan tetapi tanpa meletakkan tangan dimulutnya. Sunnahnya laknat ini dilakukan dihadapan imam atau wakilnya, dan keduanya mengucapkan laknat dalam keadaan berdiri dan disaksikan oleh halayak ramai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ  [النور/6- 9]

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar” [An-Nuur/24: 6-9]

Apabila Li’an telah selesai, ada lima hukum yang ditetapkan.

  1. Jatuhnya hukuman had qozaf (menuduh) dari suami.
  2. Jatuhnya hukum rajam dari isteri.
  3. Kedua suami dan isteri yang saling melaknat harus dipisahkan.
  4. Keduanya diharamkan kembali berkumpul untuk selamanya.
  5. Tidak dinisbatkannya anak terhadap suami jika hamil, dan dinisbatkan hanya kepada ibunya.

Wanita yang di li’an tidak berhak untuk mendapatkan nafkah serta tempat tinggal selama iddahnya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Nikah dan Permasalahan Terkait كتاب النكاح وتوابعه). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berdoa Bagi Orang Musyrik Supaya Mereka Mendapat Hidayah.

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berdoa bagi orang-orang musyrik supaya mereka mendapat hidayah.
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قَدِمَ الطُّفَيْلُ وَأصْحَابُهُ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله! إنَّ دَوْساً قَدْ كَفَرَتْ وَأبَتْ، فَادْعُ الله عَلَيْهَا، فَقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بهِمْ». متفق عليه.

Thufail datang bersama teman-temannya, lalu berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya suku Daus dan telah kafir dan enggan. Berdo’alah kepada Allah agar mereka binasa!, dan seseorang berkata: “Sungguh Daus pasti binasa, lalu Rasulullah berdo’a: “Ya Allah berilah petunjuk kepada Daus dan datangkanlah mereka“. (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: كُنْتُ أَدْعُوْ أُمِّي إِلىَ اْلإِسْلاَمِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًَا فَاَسْمَعَتْنِي فِي رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- مَا أَكْرَهُ فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا أَبْكِي, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ أَدْعُوْ أُمِّي إِلىَ اْلإِسْلاَمِ فَتَأْبَى عَلَيَّ فَدَعَوتُهَا الْيَوْمَ فَاَسْمَعَتْنِي فِيْكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- اَللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلىَ اْلبَابِ فَإِذَا هُوَ مُجَافٍ فَسَمِعَتْ أُمِّي خَشْفَ قَدَمِي فَقَالَتْ مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ فاَغْتَسَلْتُ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجِلَتْ عَن خَِمَاِرهَا فَفَتَحَتِ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوِْلُهُ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ وَأَنَا أَبْكِي مِنَ الْفَرَحَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَبْشِرْ قَدِ اسْتَجَابَ اللهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَحَمَِد اللهَ وَأَثْنَى عََلَيَْهِ وَقَالَ خَيْرًا قَالَ قُلْت ُيَا رَسُوْلَ اللهِ ادْعُ اللهَ اَنْ يُحَبِّبْنِي اَنَا وَأُمِّي إِلََىَ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَيُحَبِّبْهُمْ إِلَيْنَا قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- اَللّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هذَا يَعْنِي أَبَا هُرَيْرَةَ وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمْ الْمُؤْمِنِيْنَ فَمَا خُلِقَ مُؤْمِنٌ يَسْمَعُ بِي وَلاَ يَرَانِي إِلاَّ أَحَبَّنِي. أخرجه مسلم.

Aku menyeru ibuku kepada Islam pada saat kemusyrikannya, suatu ketika aku berda’wah kepadanya namun dia memperdengarkan kepadaku sesuatu yang aku benci tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku menangis. Aku berkata: Wahai Rasulullah sungguh aku telah menyeru ibuku kepada Islam namun dia enggan menerima seruanku, dan pada hari ini menyerunya kembali namun dirinya memperdengarkan bagiku sesuatu yang aku benci tentang dirimu. Berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu Abi Hurairah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abi Hurairah”. Lalu aku keluar (dari majlis Nabi) dengan penuh kegembiraan karena do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu pada saat aku telah sampai di rumah, dan mendekat di hadapan pintu yang sedikit terbuka dan ibuku mendengar suara gesekan kakiku, dia berkata: “Berdiamlah pada tempatmu wahai Abi Hurairah”, dan aku mendengar suara gemercikan siraman air. Abu Hurirah bercerita: “Dia mandi lalu mengenakan pakainnya dan segera memakai kerudungnya, kemudian dia membuka pintu dan berkata: “Wahai Abu Hurairah أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوِْلُهُ (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya)”. Abu Hurairah melanjutkan: “Lalu aku kembali kepada  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi beliau dengan menangis karena gembira, aku berkata: “Ya Raslullah, bergembiralah sesungguhnya Allah telah menerima permohonanmu dan memberikan petunjuk kepada  ibunya Abi Hurairah”. Maka beliupun memiji dan memuja Allah dan berkata yang baik”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar aku aku dan ibuku dicintai oleh hamba-hambaNya yang beriman dan kamipun mencintai mereka”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah tanamkan kepada orang-orang yang beriman rasa cinta kepada dua hambaMu ini (yaitu Abu Hurairah dan ibunya) dan tanamkanlah bagi kedunya rasa cinta kepada hamba-hambaMu yang beriman”. Maka tidak ada seorang mu’minpun yang mendengar dan melihatku kecuali mencintai diriku“. (HR. Muslim).

Berdakwah di setiap waktu dan keadaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى عن نوح- صلى الله عليه وسلم-: قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا  [نوح/5]

Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang“. [Nuh/71: 5].

Dari Busr bin Sa’id dari Junadah bin Umayyah ia berkata :

عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Kami masuk kepada Ubdah bin Shamit pada saat dia sakit. Kami berkata: “Semoga Allah selalu memberikan kepabikan bagimu, perdengarkanlah kepadaku sebuah hadits yang bermanfaat bagimu yang pernah engkau dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggil kami lalu kami berbai’at kepadanya: ” Diantara ikrar kami adalah kami berbai’at kepada beliau untuk selalu mendengar dan ta’at pada saat bersemangat dan malas karena benci, pada saat berada dalam keadaan sulit dan mudah….. dan tidak mencabut loyalitas dari orang yang berhak  kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata di mana engkau memiliki alasan di hadapan Allah dengannya“. (HR. Bukhari).

Bermusyawarah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ [آل عمران/159]

Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu“. [Ali-Imran/3: 159].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ [الشورى/38]

Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka” [As-Syura/42: 38].

Kuatnya keyakinan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا [التوبة/40]

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” [At-Taubah/9: 40].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ  [الشعراء/61- 63].

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”.  Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku”.  Lalu kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar”. [As-Syu’ara/26′:61-63].

Berdoa dan meminta tolong dengan shalat di setiap keadaan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berdoa dan Meminta Tolong Dengan Shalat di Setiap Keadaan

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berdoa dan meminta tolong dengan shalat di setiap keadaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (11) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (12) وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ  [القمر/9- 13].

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).  Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya Aku Ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”  Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh Telah ditetapkan.  Dan kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku”. [Al-Qomar/54 : 9-13].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ  [الأنفال/9]

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut“. [Al-Anfal/8: 9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ  [البقرة/45]

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. [Al-Baqarah/2: 45].

عن حذيفة رضي الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى. أخرجه أحمد وأبو داود

Hudzaifah Radhiyallahu anhu ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat ditimpa oleh suatu permasalahan, maka Beliau melaksanakan shalat”. (HR. Ahmad)

Meminta dan mengadu hanya kepada Allah dalam disetiap keadaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى عن يعقوب عليه الصلاة و السلام: قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ  [يوسف/86]

Ya’qub ‘Alaihi sholatu wa sallam menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah Aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan Aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” [Yusuf/12: 86].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ  [الأنبياء/83- 84]

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.  Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. [Al-Anbiya/21′: 83-84].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُإِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ [الأنبياء/89- 90]

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. [Al-Anbiya’/21: 89-90].

Kewajiban untuk bertempat tinggal dilingkungan orang-orang sholeh, dan berhijrah dari lingkungan orang-orang yang jelek (perilaku).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)} [التوبة/119].

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. [At-Taubah/9: 119].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا  [الكهف/28]

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. [Al-Kahfi/18:28].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَامُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (20) فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ  [القصص/20- 21]

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu”. [Al-Qoshosh/28: 20-21].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قال الله تعالى: وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ [الأنعام/68]

Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)“. [Al-An’am/6: 68].

Berpegang kepada Allah dan meniadakan tindakan hawa nafsu

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Membangun Khilafah dan Imaroh

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Hukum Memilih Seorang Khalifah.
Memilih seorang pemimpin bagi kaum muslimin adalah wajib, untuk menjaga martabat dan mengurusi kondisi kaum muslimin, menegakkan hukum hudud, mengembalikan hak, menegakkan hukum Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan malaksanakan da’wah  kepada Allah.

Kepemimpinan menjadi sah dengan dipenuhinya satu point dari apa yang disebutkan di bawah ini:

  1. Dipilih dengan kesepakatan kaum muslimin, kepemimpinannya menjadi sah dengan dibai’at oleh ahlil aqd dari kalangan para ulama, orang-orang yang shaleh, para pemuka dan tokoh masyarakat kaum muslimin.
  2. Kepemimpinannya sah karena ditunjuk langsung secara tertulis oleh pemimpin sebelumnya.
  3. Mengembangkan sistem musyawarah dalam jumlah terbatas yang terdiri dari orang-orang yang bertaqwa, lalu sepakat memilih salah seorang dari mereka.
  4. Berkuasa terhadap masyarakat secara paksa agar mereka tunduk kepadanya, dan mengakuinya sebagai pemimpin, maka wajib bagi rakyat mentaatinya pada perkara yang tidak termasuk maksiat kepada Allah.

Tegaknya khilafah di bumi hanya dengan keimanan dan amal shaleh
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [النور/55]

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[1]

Kekhalifahan harus ditangan Quraisy dan manusia lain tunduk pada kepemimpinan Quraisy.

عن معاوية رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ هَذَا الأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ، لا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إلا كَبَّهُ الله فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ». أخرجه البخاري.

Dari Mu’awiyah semoga Allah meredhainya berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya perkara kekhalifahan ini harus pada suku Quraisy, dan tidak ada seorangpun yang memusuhi mereka kecuali Allah akan mencampakkannya di atas wajahnya pada api neraka selama mereka menegakkan agama ini”.[2]

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لايَزَالُ هَذَا الأَمْرُ فِي قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنْهُمُ اثْنَانِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar semoga Allah meredhai mereka berdua bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perkara khilafah ini senantiasa berada di tangan suku Quraisy selama dua orang di antara mereka ada yang masih hidup”.[3]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم– «النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الشَّأْنِ مُسْلِمُهُمْ تَبَعٌ لِمُسْلِمِهِمْ، وَكَافِرُهُمْ تَبَعٌ لِكَافِرِهِمْ». متفق عليه

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Manusia pengikut bagi suku Quraisy dalam perkara (kekhalifahan) ini, orang muslim dari mereka adalah pengikut bagi orang muslim dari suku Quraisy, dan orang kafir dari mereka adalah sebagai pengikut bagi orang kafir dari suku Quraisy”.[4]

Larangan Meminta dan Ambisi Terhadap Kekuasaan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. An-Nur/24: 55
[2] HR. Bukhari : 7139
[3] Muttafaq Alaihi, HR. Bukhari: 3501 dan Muslim: 1820
[4] Muttafaq Alaihi, Bukahri: 3495 dan Muslim: 1818

Larangan Meminta dan Ambisi Terhadap Kekuasaan

MEMBANGUN KHILAFAH DAN IMAROH

Larangan meminta dan ambisi terhadap kekuasaan

عن عبد الرحمن بن سمُرة رضي الله عنه قال: قال لي النبي- صلى الله عليه وسلم-: «يَا عَبْدَالرَّحْمَنِ بِن سَمُرَةَ لا تَسْأَلِ الإمَارَةَ، فَإنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلتَ إلَيْهَا، وَإنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا..». متفق عليه.

Dari Abdurrohman bin Samuroh Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah meminta menjadi pejabat, jika engkau mendapatkannya dengan cara meminta niscaya engkau serahkan kepadanya (tanpa dibantu oleh Allah) dan jika engkau mendapatkannya tanpa meminta niscaya Allah membantumu (dalam menjalankannya). Muttafaq Alaihi.[1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ». أخرجه البخاري.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kalian akan berambisi terhadap jabatan padahal dia adalah penyesalan pada hari kiamat, dia adalah sebaik-baik wanita yang menyusui dan seburuk-buruk wanita yang menghentikan susuannya”. HR. Bukhari[2]

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: دخلت على النبي- صلى الله عليه وسلم- أَنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَومِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَينِ: أمِّرْنَا يَا رَسُولَ الله، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: «إنَّا لا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ». متفق عليه.

“Dari Abi Musa Radhiyallahu anhu berkata : Aku masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersama dua orang lelaki dari kaumku, lalu salah seorang lelaki itu berkata : Angkatlah kami jadi pejabat wahai Rasulullah!, lelaki yang lainpun berkata demikian, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang ambisi dengannya”.Muttafaq Alaihi[3]

Menjauhi jabatan, khususnya orang yang lemah dalam mengemban hak-hak jabatan

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله ألا تستعملني؟ قال: فضرب بيده على منكبي ثم قال: «يَا أَبَا ذَرٍّ إنَّك ضَعِيفٌ، وَإنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإنَّهَا يَومَ القِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إلا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا». أخرجه مسلم.

Dari Abi Dzar Radhiyallahu anhu berkata : aku berkata : Wahai Rasulullah tidakkah engkau memakai aku dalam sebuah jabatan?. Abu Dzar berkata: Maka beliau memukulkan tangannya pada pundakku kemudian bersabda: “Wahai Abu Dzar! Engkau adalah orang yang lemah, sesungguhnya dia pada hari kiamat adalah amanah, kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya padanya”.HR. Muslim.

Keutamaan penguasa yang adil dan ancaman bagi penguasa yang zalim
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قال الله تعالى: {وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ  [الحجرات/9]

“…berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ الله تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَومَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّهُ إمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ..» متفق عليه.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tujuh golongan orang yang akn dinaungi oleh Allah Ta’ala pada naunganNya di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, peminpin yang adil dan pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah..”.Muttafaq Alaihi.[4]

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ الله عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا». أخرجه مسلم.

Dari Abdullah bin Amr semoga semoga Allah meredahi keduanya berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar di sisi Allah di sisi kanan Allah Yang Maha Pengasih Azza wa Jalla, dan kedua tanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam berhukum, dan adil dalam keluarga dan jabatan yang pegang”. HR. Muslim.[5]

عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتهِ إلا حَرَّمَ الله عَلَيهِ الجَنَّةَ». متفق عليه.

Dari Ma’kil bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba-pun yang diberikan oleh Allah mengurusi urusan rakyat kemudian meninggal sementara dirinya pada saat meninggal tersebut berlaku menipu terhadap rakyatnya kecuali Allah pasti mengharamkan baginya memasuki surga”. Muttafaq Alaihi.[6]

Kekhilafahan dan kepemimpinan ditangan pria bukan wanita

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alihi, HR. Bukhari: 7147 dan Muslim: 1652
[2] HR. Bukhari: 7148
[3] Muttafaq Alaihi, HR. Bukhari: 7149 dan Muslim pada kitab Imaroh hadits no: 1733
[4] Al-Bukhari:  1423 dan Muslim: 1031
[5] HR. Muslim no: 1827.
[6]Al-Bukhari: 7150 dan Mudlim: 142.