Author Archives: editor

Wasiat ketiga : Menjaga waktu

BEBERAPA WASIAT BAGI PENUNTUT ILMU

Wasiat ketiga: Menjaga waktu.
Kalau kita perhatikan banyak para pemuda yang tidak menghiraukan bagaimana cara memanfaatkan waktunya, memanfaatkan waktu muda dan masa aktif. Engkau melihat mereka tenggelam dalam tidur yang lelap berjam-jam yang tidak sesuai kebutuhkan, sementara yang lain menyia-nyiakan waktunya untuk membaca lembaran-lembaran Koran dalam waktu yang lama sementara yang lain, mondar-mandir mengunjungi temannya dan lain sebagainya.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Barzah Al-Aslami bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Salallhu’alaihi sallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ؟ وَعن مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dirinya akan ditanya di sisi Tuhannya tentang lima hal: tentang umurnya, apakah dia habiskan, masa mudanya, apakah dimanfaatkan, tentang hartanya dari manakah didapatkannya dan kemanakah disalurkan dan tentang ilmunya apakah yang diperbuat dengannya”.[1]

Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok  dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad Salallhu’alaihi wa sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum datangnya masa kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu”.[2]

Sorang penyair berkata:
Waktu adalah sesuatu yang paling berharga untuk dijaga
Namun aku melihat, dia paling mudah engkau sia-siakan

Wasiat keempat: Berakhlak yang baik.

قال الله تعالى : وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا    [ الإسراء: 53]

Dan katakanlah kepada hamba-hamba -Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.  [Al-Isra’/17: 53]

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِي

Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat pada timbangan amal seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla membenci orang yang suka berkata kotor lagi keji”.[3]

Ibnul Mubarok berkata : Akhlak yang baik terwujud dengan wajah berseri-seri, berbuat yang makruf, menahan diri mengganggu orang lain dan bersabar atas kekasaran orang lain terhadap dirinya”.

Dengan prilaku inilah Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam berwasiat kepada para shahabatnya di dalam hadits Abi Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhillahu anhuma di dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallhu’allaihi wa sallam:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertqwalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di manapun kamu berada, dan balaslah perbautan buruk dengan kebaikan niscaya dia akan menghapuskannya dan berakhlaklah terhadap orang lain dengan akhlak yang mulia”.[4]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam memadukan antara bertqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan akhlak yang baik, sebab dengan taqwa maka hubungan antara seorang hamba dengan tuhannya akan harmonis dan akhlak yang baik juga akan menciptakan keharmonisan hubungan antara seorang hamba dengan makhluk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lain”.[5]

Dan keimanan seorang hamba tidak akan sempurna sampai dirinya diberikan taufiq kepada akhlak yang baik. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا 

Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik prilakunya terhadap isteri-isterinya”.[6]

Dan Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang paling baik akhlaknya dan barangsiapa yang ingin mendapat petunjuk kepada akhlak yang baik maka tauladanilah akhlak Beliau. Dari Anas bin Malik Rhadiyallahu’anhu, dia berkata: Aku telah berkhidmah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dan aku belum pernah mendengar beliau berkata cih, dan beliau tidak pernah berkata: Kenapa kamu perbuat ini” pada perkara yang telah terlanjur aku lakukan dan tidak pernah pula aku mendengar beliau berkata: Kenapa kamu tidak mengerjakan ini?. Terhadap perkara yang terlanjur aku tinggalkan”.[7]

Wasiat kelima: Berpegang teguh dengan agama Allah Shubhanahu wa ta’ala.

قال الله تعالى : وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ   [ الحجر: 99]

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini ajal. [Al-Hijir/15: 99].

Maksudnya adalah kematian. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Nabi Isa Alihissalam:

قال الله تعالى : وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا   [ مريم: 31]

 “…dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan menunaikan) zakat selama aku hidup”. [Maryam/19: 31].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah radhillahu anha bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك

Wahai Tuhan yang Membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku pada agama -Mu dan ketaatan kepada -Mu”.[8]

Dan telah disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada agama Allah Shubhanahu wa ta’alla di akhir zaman, mereka akan hidup terasing, namun dengan itu mereka mendapat pahala seperti yang didapatkan oleh para shahabat Rasulullah Shhalallhu’alaihi wa sallam pada saat Islam masih asing, pahala sebesar itu mereka dapatkan karena kesabaran mereka atas katerasingan tersebut. Diriawayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar Rhadiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

 Islam itu muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang  yang terasing”.[9]

Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa mereka adalah manusia yang shaleh di tengah-tengah manusia yang buruk, orang yang berseberangan dengan mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka”.[10]

Dan disbutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bahwa orang yang berpegang teguh dengan agama mereka di akhir zaman kelak sama seperti orang yang memegang bara api dan mereka mendapat pahala sama seperti pahala limapuluh para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbuat ibadah yang sama. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Abi Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bersabda pada saat disebutkan tentang amar ma’ruf nahi mungkar: Sesungguhnya hari-hari di belakang kalian adalah hari-hari yang harus dihadapi dengan kesabaran, dan bersabar pada hari itu sama seperti orang yang menggenggam bara api, orang berbuat amal ibadah pada saat itu akan mendapat pahala sama seperti pahala lima puluh orang lelaki yang berbuat ibadah seperti ibadah yang mereka kerjakan. Dan yang lain memberikan tambahan kepadaku berkata: Wahai Rasulullah apakah pahala lima puluh dari kalangan mereka?. Rasulullah Shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pahala limapuluh orang dari kalian”.[11]

Maka aku berwasiat kepada diriku dan kepada seluruh sudaraku untuk teguh di dalam tuntunan yang dipegang oleh Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam dan bersabar atas yang demikian itu.

قال الله تعالى : وَالْعَصْرِ 1 إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3   [ العصر:  1- 3]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al-Ashr/103: 1-3].

قال الله تعالى : قال تعالى: وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىَ يَحْكُمَ اللّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ    [ يونس: 109]

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. [Yunus/10 : 109].

قال الله تعالى : وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ    [ القصص: 83]

Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakw. .[Al-Qoshos/28: 83]

Tidak diragukan lagi bahwa seorang muslim pada masa sekarang ini dihadapkan dengan berbagai godaan syhawat dan kelezatan fana dunia yang begitu dahsyat. Namun barangsiapa yang memohon pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla niscaya -Dia akan menolongnya dan barangsiapa yang bersabar maka Allah Shubhanahu wa ta’alla  akan menjadikannya sabar.

قال الله تعالى : وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ   [ العنكبوت: 69]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-Ankabut/29: 69].

Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kita termasuk golongan mereka. Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari وصايا لطالب العلم  Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]
______
Footnote
[1] Sunan Turmudzi: 4/612 no: 7846
[2] Mustadrok Al-Hakim 4/341 no: 7846
[3] HR. Al-Turmudzi 4/362 no: 2002 dan dia berkata hadits hasan shahih
[4] Sunan Turmudzi: 4/355 no: 1987 dan dia berkata: Hadits hasan shahih
[5] Al-Fawid halaman: 84-85
[6] HR. Turmudzi 3/466 dan dia berkata: Hadits hasan shahih
[7] Sunan Turmudzi 4/368 no: 2015 dan asalnya adalah as-shahihaini
[8] Musnad Imam Ahmad: 6/251
[9] Muslim 1/130 no: 145
[10] Musnad Imam Ahamad: 2/177
[11] HR. Abu Dawud: 4/123 no: 4341

Bagaimana Jika Ustadz Indonesia Berbeda Pendapat Dengan Ulama Kibar Saudi???

BAGAIMANA JIKA USTADZ INDONESIA BERBEDA PENDAPAT DENGAN ULAMA KIBAR SA’UDI???

Oleh
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili -hafizhahullaah-

Pertanyaan.
Berkaitan dengan istifta’ (meminta Fatwa, bertanya) ; Anda menyebutkan bahwa kita harus meminta Fatwa dari Syaikh yang paling berilmu di negeri kami. Maka apa pendapat anda jika ada : Fatwa Ulama di Negara Sau’di -Mufti ‘Aamm (umum) atau Hai-ah Kibar ‘Ulama- yang menyelisihi Fatwa salah seorang Ustadz dari negeri kami? Mana yang lebih kami dahulukan? Apakah kita bersandar kepada Fatwa seorang Ustadz dari Indonesia ataukah Fatwa dari Ulama Sa’udi?

Jawaban.
1. Jika seorang mempunyai kemampuan untuk meneliti; maka ia melihat dua pendapat tersebut dan merajihkan (menguatkan) yang sesuai dengan dalil. Dahulukanlah apa yang ditunjukkan oleh dalil!!

Oleh karena itu Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata dalam sebagian perkataan beliau: “Dalam masalah tarjih (menguatkan pendapat) tidaklah kita katakan: ‘kita harus mengambil perkataan ulama yang paling berilmu’, karena bisa jadi orang yang lebih berilmu pendapatnya justru marjuh (lemah).”

Kalau hal ini diterapkan; maka berarti setiap ada dua ulama yang berselisih; maka kita katakan: ulama ini yang lebih berilmu; maka pendapatnya lah yang paling rajih (kuat). (Ini tidak benar), yang benar adalah: meneliti pendapat-pendapat tersebut.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah merajihkan (menguatkan) pendapat-pendapat -dalam sebagian permasalahan- yang menyelisihi imam-imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad).

Dan banyak dari ahli ilmu yang lebih merajihkan (menguatkan) pendapat-pendapat yang menyelisihi pendapat jumhur (mayoritas ulama). Jumhur berpendapat demikian dan ada seorang ulama yang berpendapat lain, dan ternyata pendapat yang rajih (kuat) justru pendapat ulama ini.

Jadi, (sekali lagi) yang dianggap adalah: (yang sesuai dengan) dalil.

2. Jika seorang tidak memiliki kemampuan untuk mentarjih (menguatkan); maka yang asal adalah dia mengambil pendapat ulama yang paling berilmu. Jika seorang tidak memiliki kemampuan untuk mentarjih (menguatkan); maka tidak diragukan lagi bahwa yang didahulukan adalah: Ulama Kibar.

3. Saya berpendapat bahwa penyebutan Ulama dengan mensifatinya bahwa mereka dari Sa’udi atau negeri lain: ini tidak berkaitan dengan hukum. Maka senantiasa saya katakan: kita mengungkapkan sesuatu dengan hakikat-hakikat (istilah-istilah) syar’i, dengan lafazh-lafazh syar’i. Jangan sebutkan: Ulama dari Sa’udi, atau: penuntut ilmu dari Indonesia. Sa’udi dan Indonesia ini buanglah dari perkataan. Sebutkanlah dengan sifat-sifat yang dapat berpengaruh: ulama kibar, atau: thalibul ‘ilmi shaghir.

Kalau engkau sebutkan Mufti (Sa’udi); maka sebutlah dengan: ‘alim kabir. Ulama (Hai-ah); Sebutlah mereka dengan: Ulama Kibar.

Sehingga engkau sebutkan: Ulama Kibar, dan engkau sebutkan: Ustadz -tanpa menyebutkan Indonesia-, tapi sebutlah bahwa ia seorang Ustadz.

Inilah cara yang senantiasa harus kita terapkan: kita menempatkan hukum-hukunm syar’i pada sifat-sifat yang syar’i; agar tidak terjadi cacat.

Na’am.

-diterjemahkan dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix

TADLIS (PEMALSUAN/PENIPUAN) DALAM ISTIFTA’ (MEMINTA FATWA)

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata dalam ceramahnya:
“Termasuk niat yang jelek (dalam minta Fatwa): ada sebagian orang ada yang memiliki penyimpangan, kebencian, dan hasad kepada sebagian ahli ilmu; sehingga orang ini memotong perkataan ahli ilmu tersebut agar terlihat salah, kemudian dia tanyakan (kepada Mufti/Syaikh): “Apa pendapat anda tentang orang yang mengatakan demikian dan demikian?” Kemudian menyebarkan jawabannya dengan diberi caption: (Syaikh) Fulan Membantah (Ustadz) Fulan.

Kalian sering sekali mendengar pertanyaan semacam ini, yang di baliknya ada niat yang jelek dan ada hasad, serta menimbulkan fitnah.

Maka pertanyaan semacam ini hendaknya jangan dijawab. Dan hal semacam ini terjadi padaku bukan cuma sekali dua kali, bahkan berkali-kali.”

Syaikh Tarhib bin Rabi’an Ad-Dausari -hafizhahullaah- berkata dalam kitabnya:
“Penanya tidak boleh mengamalkan Fatwa dari Mufti: Jika…permasalahannya pada realitanya berbeda dengan apa yang difatwakan (oleh Mufti) dikarenakan tadlis (pemalsuan/penipuan) yang dilakukan oleh penanya pada pertanyaannya dan menyembunyikan sesuatu yang merusak kebenaran (realita)nya.”

-diterjemahkan dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix

Mengambil Ilmu dan Mendatangi Para Ulama

MENGAMBIL ILMU DAN MENDATANGI PARA ULAMA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, maka siapa saja yang ingin mendapatkan sesuatu dari warisan kenabian maka hendaklah ia duduk bersama para ulama dan mengambil ilmu dari mereka, dan orang yang mengambil ilmu dari para ulama -yang menelusuri jalan ilmu agama- tentu Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan baginya jalan menuju surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ » [ أخرجه أحمد وغيره ]

Siapa yang menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Dan dalam satu riwayat:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سَلَكَ طَرِيْقَ عِلْمٍ سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ» [ أخرجه أحمد وغيره ]

Siapa yang menelusuri jalan ilmu niscaya Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan baginya satu jalan dari jalan jalan surga.[1]

Sesungguhnya mengambil ilmu dari para ulama merupakan jalan ilmu, yaitu jalan yang dilakukan oleh para ulama.

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata:

« لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِيَ الْأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ أَوْ يُعَلِّمَ اْلآخَرَ, فَإِنْ هَلَكَ اْلأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يُعَلِّمَ أَوْ يَتَعَلَّمَ اْلآخَرُ هَلَكَ النَّاسُ »

‘Senantiasa manusia berada dalam kebaikan, selama masih ada generasi pertama sehingga ia mengajar atau generasi berikutnya belajar. Maka jika habis (wafat) generasi pertama sebelum mengajarkan ilmu atau belajar generasi sesudahnya niscaya binasalah manusia.’[2]

Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَالِي أَرَي عُلَمَاءَكُمْ يَذْهَبُوْنَ وَجُهَّالُكُمْ لَايَتَعَلَّمُوْنَ، فَتَعَلَّمُوْا قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ فَإِنَّ رَفْعَ الْعِلْمِ ذِهَابُ الْعُلَمَاءِ»

Saya tidak ingin melihat para ulama darimu pergi (wafat), sedangkan orang orang jahil tidak belajar, maka belajarlah kalian sebelum diangkatnya ilmu, karena sesungguhnya diangkatnya ilmu adalah perginya (wafatnya) para ulama.’[3]

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«إِنَّ أَحَدًا لاَيُوْلَدُ عَالِماً وَاْلعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ»

‘Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dilahirkan sebagai ulama, dan ilmu diperoleh dengan belajar.’[4]

Dan ketika para salaf sudah memiliki ilmu, semangat mereka sangat besar untuk tetap mengambil ilmu dari para ulama (yang lebih alim).

Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah  berkata: ‘Apabila seorang ulama (dari kalangan salaf) bertemu orang yang lebih alim darinya, maka hari itu adalah hari keberuntungannya, ia bertanya dan belajar darinya. Dan apabila bertemu orang yang ingin belajar, ia mengajarkan ilmu dan tawadhu` kepadanya. Dan bila bertemu orang yang sederajat dengannya, ia mudzakarah bersamanya.’[5]

Maimun bin Mihran rahimahullah  berkata: ‘Para ulama adalah orang orang hilang dariku di setiap kota/negeri, dan mereka adalah yang selalu kucari apabila belum kutemukan, dan aku mendapat ketenangan dalam hatiku saat duduk bersama ulama.’[6]

Para sahabat dan tabi’in selalu mendorong agar duduk bersama para ulama  dan tidak berpisah dengan mereka (selalu belajar dari mereka).

Abu Hanifah rahimahullah  berkata: ‘Duduklah bersama orang orang besar (dalam ilmu), bertemanlah dengan para ulama, dan bergabunglah bersama orang orang bijak.’[7]

Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata:

«مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ مَمْشَاهُ وَمَدْخَلُهُ وَمَخْرَجُهُ مَعَ أَهْلِ الْعِلْمِ»

Di antara tanda berilmu-nya seorang laki laki adalah: berjalan, masuk, dan keluarnya bersama para ulama.’[8]

Luqmanul Hakim berkata kepada anaknya: ‘Sabarlah terhadap orang yang berada di atasmu dalam bidang ilmu dan terhadap orang yang di bawahmu, sesungguhnya yang bisa menyusul para ulama hanyalah orang yang sabar dan selalu bersama mereka serta mengambil dari ilmu mereka dalam kesantunan.’[9]

Ibnu Majah al-Qazwiny rahimahullah  berkata: ‘Yahya bin Ma’in rahimahullah  datang kepada Ahmad bin Hanbal rahimahullah , maka tatkala ia berada di sampingnya, tiba tiba imam asy-Syafi’i rahimahullah  lewat bertunggangan baghal, maka Ahmad melompat seraya memberi salam dan mengikutinya. Lalu ia terlambat (balik ke tempatnya), sedangkan Yahya duduk (menunggunya), maka tatkala ia datang, Yahya berkata: ‘Wahai Abu Abdillah, kenapa? Ia menjawab: ‘Tinggalkanlah hal ini darimu, jika engkau menghendaki ilmu maka jangan engkau lepaskan ekor baghal (nama binatang).’[10]

Salafus shaleh telah memberikan contoh yang luar biasa dalam kesungguhan menuntut ilmu dan berusaha mengambil langsung dari para ulama. Hal itu dibuktikan dalam riwayat mereka yang dipaparkan oleh al-Baghdady dan yang lainnya dalam membicarakan perjalanan para ulama dalam mencari hadits. Sungguh di antara mereka ada yang melakukan perjalanan jauh dan tujuannya hanya ingin mendengar satu hadits dari hadits hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan salah seorang dari mereka tidak mengetahui seseorang yang lebih alim darinya kecuali ia berusaha mengambil langsung darinya dan melakukan perjalanan jauh mendatangi. Di antara para ulama sahabat ada yang berkata: ‘Jikalau aku mengetahui seseorang yang lebih alim dariku terhadap Kitabullah (al-Qur`an) yang bisa didatangi lewat tunggangan unta niscaya aku mendatanginya.’[11]

Sesungguhnya ilmu syar’i adalah ilmu yang diambil dengan cara talaqqy (mendengar dari para ulama), maka tidak bermanfaat hanya mengambil dari kitab kitab saja. Bahkan, hanya mengambil dari kitab kitab saja merupakan salah satu bencana, demikian pula berkumpulnya para pemuda dan penuntut ilmu dalam berdiskusi (atas sejenisnya) tanpa mengambil dari ulama.

Asy-Syafi’i rahimahullah  berkata dalam masalah ini: ‘Siapa mempelajari fiqih dari kitab kitab niscaya ia menyia nyiakan hukum hukum.’[12]

Sebagian salaf berkata: ‘Di antara musibah terbesar adalah berguru kepada lembaran kertas (buku/kitab).’[13] Maksudnya: mengambil dan belajar dari lembaran lembaran kertas.

Ditanyakan kepada Abu Hanifah rahimahullah : Di dalam masjid ada kumpulan orang yang berdiskusi dalam masalah fiqih. Ia berkata: ‘Apakah mereka mempunyai guru? Mereka menjawab: Tidak. Ia berkata: Mereka tidak bisa faham untuk selamanya.’[14]

Sesungguhnya yang terpenting adalah bahwa manusia memahami bahwa mereka harus mendatangi para ulama, bukan ulama yang berdiri di hadapan manusia dan berkata: ‘Saya seorang ulama, oleh karena itu ikutilah saya.’ Seharusnya, masyarakatlah yang berkewajiban bila melihat seorang ulama agar mengedepankan mereka dan mengambil ilmu darinya, karena termasuk kebiasaan para ulama Islam sepanjang sejarah sikap saling menolak memberi fatwa dan tidak ingin terkemuka. Mereka tidak suka mengangkat bendera di atas kepala mereka, tidak meminta masyarakat agar mengikuti mereka, mereka hanya meminta agar semua orang mengikuti sunnah pemimpin para rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.[15]

Ibnu Abi Laila rahimahullah  berkata: ‘Saya pernah bertemu 120 orang kaum Anshar dari generasi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka ditanya tentang satu masalah, maka ia menyerahkannya kepada yang ini (orang lain), dan ini kepada ini (orang lain) hingga kembali kepada yang pertama.’ Dan dalam satu riwayat: ‘Tidak ada seorang pun dari mereka yng menyampaikan satu hadits atau ditanya tentang hal itu, kecuali ia ingin agar yang lain yang melakukannya, dan tidak memberi fatwa tentang sesuatu kecuali ia ingin agar saudaranya yang memberi fatwa.’[16]

Dan ketika dikatakan kepada ‘Alqamah rahimahullah  ketika Abdullah wafat: ‘Andaikan engkau mau duduk untuk mengajar.’ Ia menjawab: ‘Apakah kalian ingin agar kakiku diinjak.’[17]

Dari A’masy rahimahullah, ia berkata: ‘Kami berusaha membujuk Ibrahim agar ia mau duduk di tiang (untuk mengajar), namun ia menolak.’[18]

Bahwa termasuk sifat ulama salaf dan pengikut mereka adalah sedikit bicara, jika engkau melihat seorang ulama duduk di satu majelis dan ia tidak berbicara, maka tunggulah pembicaraannya niscaya engkau beruntung, dan janganlah engkau jadikan ucapan bagi orang orang bodoh dan sejenis mereka, maka mereka sesat dan menyesatkan.

Al-Hasan al-Bashry rahimahullah  berkata: ‘Sesungguhnya seorang laki laki duduk bersama orang banyak, mereka menganggapnya bodoh, padahal ia tidak bodoh, sesungguhnya ia adalah seorang muslim yang faqih.’[19]

Dengan semua ini, jelas sekali bahwa manusia harus mendatangi ulama, mengedepankan mereka, mendengarkan dan mengambil ilmu dari mereka. Yang penting di sini adalah menjelaskan kewajiban bersungguh sungguh mengambil ilmu dari sumber yang dipercaya dalam agama dan ilmunya ‘Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah dari mana engkau mengambil agamamu.’[20]

[Disalin dari احترام العلماء وتقديرهم Penulis Syaikh Abdurahman bin Mu’alla al-Luwaihiq , Penerjemah : Muhammad Iqbal Ahmad Ghozali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] HR. Ahmad 2/325, ad-Darimy 1/83, Abu Daud 3641, semuanya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzy 2684, Ibnu Majah 223, al-Bukhari tanpa sanad 1/25.
[2] HR. Ad-Darimy 1/78.
[3] HR. Ad-Darimy 1/78.
[4] Abu Khaitsamah, kitabul ilmi, hal 28.
[5] HR. Ar-Ramahrumuzhi, al-Muhadditsul Fashil, hal 206.
[6] Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan ilmu wa Fadhlih, 1/49.
[7] Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan ilmu wa Fadhlih, 1/126
[8] Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan ilmu wa Fadhlih, 1/127
[9] Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan ilmu wa Fadhlih, 1/107
[10] HR. Al-Baihaqi dalam ‘Manaqib asy-Syafi’i’ 2/252 dan adz-Dzahaby menyebutkannya dalam Siyar 10/86.
[11] Dia adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya 6/102.
[12] Lihat: Ibnu Jama’ah dalam ‘Tadzkiratus Sami’, hal 87.
[13] Lihat: Ibnu Jama’ah dalam ‘Tadzkiratus Sami’, hal 87.
[14] Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih, 1/139.
[15] Lihat: Nashir bin Abdul Karim al-Aql, Ulama adalah para da’i hal. 12.
[16] Diriwayatkan oleh ibnu Khaitsamah dalam ‘Kitabul ilmi’ hal 21, ad-Darimy 1/49 no. 137.
[17] HR. Ad-Darimy 1/109.
[18] HR. Ad-Darimy 1/108.
[19] Diriwayatkan oleh ibnu Khaitsamah dalam ‘Kitabul ilmi’ hal 20.
[20] HR. Muslim dalam muqaddiman Shahih-nya 1/14, dari Muhammad bin Sirin rahimahullah.

Menghormati dan Menghargai Ulama

MENGHORMATI DAN MENGHARGAI ULAMA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

[ أخرجه أحمد والترمذي ] قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ))

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dari kami dan tidak menghormati yang tua dari kami, tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah dari perbuatan munkar, serta tidak mengenal hak orang yang alim (ulama) dari kami.’[1]

Sesungguhnya membesarkan, menghormati dan menghargai ulama termasuk bagian dari sunnah.Thawus bin Kaisan rahimahullah berkata: ‘Menghormati empat orang ini termasuk sunnah: ulama, orang tua, penguasa/pemerintah, dan orang tua.’[2]Bahkan membesarkan ulama karena ilmunya dan karena al-Qur`an yang dihapalnya merupakan pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ تَعَالَي: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَلاَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ)) [ أخرجه أبو داود ]

Termasuk mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala: menghormati muslim yang sudah tua, menghormati penghapal al-Qur`an yang tidak berlebihan padanya dan tidak kurang, dan menghormati pemerintah yang adil.[3]

Sungguh para salafus shalih dari umat ini sangat menghormati para ulama mereka dan beradab yang baik bersama mereka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu –padahal kedudukannya sudah tinggi- memegang tali tunggangan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: ‘Seperti inilah kami disuruh melakukan terhadap para ulama dan pembesar kami.’[4]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita: ‘Aku menghadapi masalah dan mencari-cari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam– maka sungguh aku mendatangi seorang laki laki karena suatu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai berita kepadaku bahwa ia pernah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ternyata aku menemukannya sedang tidur qailulalh (di pagi, siang hari), maka aku memakai selendangku di depan pintu rumahnya, angin bertiup di wajahku sampai ia keluar.

Ketika keluar, ia berkata: ‘Wahai anak paman (sepupu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada apa denganmu? Aku berkata: ‘Sampai berita kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku ingin mendengarkan langsung darimu.’ Ia berkata: ‘Kenapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku hingga aku datang kepadamu.’ Aku berkata: ‘Saya lebih pantas untuk datang kepadamu.’[5]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepada Khalaf al-Ahmar: ‘Aku tidak duduk kecuali di hadapanmu, kami disuruh untuk tawadhu terhadap orang yang kami belajar darinya.’[6]Ketika Imam Muslim bin Hajjaj rahimahullah datang kepada imam al-Bukhari rahimahullah dan mencium di antara kedua matanya, ia berkata: ‘Biarkan saya hingga mencium kedua kakimu wahai guru para guru dan pemimpin pada ahli hadits serta dokter dalam bidang hadits tentang ‘ilallnya…’[7]

Sungguhnya termasuk kesempurnaan penghormatan para salaf termasuk para ulama mereka, bahwa mereka merasakan wibawa mereka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku menahan diri dua tahun ingin bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang suatu hadits, tidak ada yang menghalangiku menanyakannya kecuali karena wibawanya.’[8]

Sungguhnya para ulama sudah banyak yang membicarakan  tentang tata cara bergaul (berinteraksi) bersama ulama dalam majelisnya, metode berbicara bersamanya yang disebutkan secara panjang lebar dalam kitab ‘Adabul ‘Alim wal Muta’allim’, dan termasuk paling mencakup yang diriwayatkan dalam hal itu adalah yang diucapkan oleh Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu:

‘Sesungguhnya di antara hak ulama adalah engkau jangan banyak bertanya kepadanya, janganlah engkau membantahnya dalam jawaban, janganlah engkau terus menerus bertanya apabila ia malas, janganlah engkau memegang pakaiannya apabila ia bangkit, janganlah engkau membuka rahasianya, jangan menggunjing seseorang di sisinya, jika ia keliru engkau harus menerima/memaafkan kekeliruannya. Engkau harus menghormati dan mengagungkannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala selama dia menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan jika ia membutuhkan sesuatu hendaklah engkau cepat-cepat mendahului yang lain.’[9]

Dan ia berkata: ‘Di antara hak ulama terhadapmu adalah: Apabila engkau mendatanginya, hendaklah engkau memberi salam kepadanya secara khusus dan terhadap yang lain secara umum, duduk di hadapannya, jangan menunjuk di hadapannya, janganlah menggerakkan kedua matamu, janganlah engkau mengatakan ‘Fulan mengatakan pendapat yang berbeda dengan pendapatmu’, janganlah engkau memegang bajunya, janganlah engkau terus menerus bertanya kepadanya, maka sesungguhnya dia seperti kedudukan pohon kurma yang basah dan senantiasa terus berjatuhan sesuatu untukmu darinya.’[10]

[Disalin dari احترام العلماء وتقديرهم Penulis SyaikhAbdurahman bin Mu’alla al-Luwaihiq , Penerjemah : Muhammad Iqbal Ahmad Ghozali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] HR. Ahmad 1/257, at-Tirmidzi 1986, dan Ibnu Hibban 1913.
[2] Disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 13/43.
[3] HR. Abu Daud 4843.
[4] Al-Hakim 3/423, Ibnu Abdil Barr 1/228, al-Khathib ‘al-Jami’ li Akhlaq ar rawi…1/189.
[5] Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/81.
[6] Lihat Ibnu Jama’ah dalam Tadzkirah as Sami’ wal Mutakallim’ hal. 88.
[7] Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 11/340.
[8] Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/112
[9] Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/129
[10] Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/146.

Makna dan Hakikat Ibadah

MAKNA DAN HAKIKAT IBADAH

Pengertian ibadah
Yang berhak disembah hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan ibadah digunakan atas dua hal;

  1. Pertama : Menyembah, yaitu merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya.
  2. Kedua : Yang disembah dengannya, yaitu meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa perkataan dan perbuatan, yang nampak dan tersembunyi seperti, doa, zikir, shalat, cinta, dan yang semisalnya. Maka melakukan shalat misalnya adalah merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dengan merendahkan diri kepada-Nya, karena cinta dan mengagungkan-Nya, dan kita tidak menyembahnya kecuali dengan cara yang telah disyari’atkan-Nya.

Hikmah Dari Penciptaan Jin dan Manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan jin dan manusia sebagai suatu yang sia-sia dan tidak berguna. Dia juga tidak menciptakan mereka untuk makan, minum, senda gurau dan bermain serta tertawa.

Dia menciptakan mereka tidak lain adalah untuk suatu perkara yang besar, untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengesakan, mengagungkan, membesarkan, dan mentaati-Nya, dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, berhenti pada batas-batas-Nya (dengan tidak melanggar larangan-Nya) dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Az-Zariyat/51:56]

Jalan Ubudiyah (Beribadah)
Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dibangun di atas dua pondasi yang besar yaitu : cinta yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketundukan yang sempurna pada-Nya.

Dan keduanya juga dibangun di atas dua dasar yang besar, yaitu:

  1. Merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengingat nikmat, karunia, kebaikan, dan rahmat-Nya yang mengharuskan kita mencintai-Nya.
  2. Mengoreksi cacat dalam diri dan perbuatan yang menyebabkan kehinaan dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pintu terdekat yang memasukkan hamba kepada Rabb-nya adalah pintu iftiqar (menghinakan diri) kepada Rabb-nya. Maka, dia tidak melihat dirinya kecuali seorang yang merugi, dan dia tidak melihat adanya kondisi, kedudukan, dan sebab pada dirinya yang dia bergantung padanya, tidak pula ada perantara yang bisa membantunya. Akan tetapi dia merasa sangat membutuhkan kepada Rabb-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan jika dia meninggalkan hal tersebut diri darinya niscara dia rugi dan binasa. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ {53} ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ {54} لِيَكْفُرُوا بِمَآءَاتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senaglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). [An-Nahl/16 :53-55]

Manusia yang Paling Sempurna Ibadahnya
Orang yang paling sempurna dalm beribadah kepada Allah adalah para Nabi dan Rasul, karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling mengagungkan-Nya dibanding selain mereka, lalu Alah tambahkan kemuliaan mereka dengan menjadikannya sebagai rasul yang diutus kepada manusia, sehingga mereka memperoleh kemuliaan risalah dan kemulian khusus dalam beribadah.

Kemudian setelah mereka adalah para siddiqin yang sempurna dalam beriman kepada Allah dan para utusan-Nya serta istiqamah diatasnya, kemudian para syuhada dan orang-orang yang shaleh. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.[An-Nisa/4:69]

Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala Terhadap Hamba
Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap penduduk langit dan bumi adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dengan cara ditaati maka tidak didurhakai, diingat maka tidak dilupakan, disyukuri maka tidak dikufuri. Maka siapakah yang tidak muncul darinya sesuatu yang menyelisihi apa yang dia diciptakan dengannya, baik karena lemah, bodoh, atau karena berlebihan dan karena kekurangan (dalam menjalankan perintah atau meninggalkan larangan).

Oleh karena itu seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala mau menyiksa penduduk langit dan bumi, niscaya Dia menyiksanya dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka, dan jika Dia memberikan rahmat-Nya niscaya rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka sendiri.

Dari Mu’azd bin Jabal Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Saya membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai yang dinamakan ‘afir, lalu ‘Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba dan apa hak hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Saya menjawab. ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda,: ‘Sesungguhnya hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba adalah bahwa mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak akan  menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah saya memberitahukan kepada manusia?’ Beliau menjawab, ‘Jangan engkau beritakan kepada mereka, maka mereka menjadi enggan beramal .[Muttafaqun ‘alaih].[1]

Kesempurnaan Ubudiyah

  1. Setiap hamba berbolak-balik di antara tiga perkara: (Pertama) nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang datang silih berganti kepadanya, maka kewajibannya adalah memuji dan bersyukur. (Kedua) Dosa yang dikerjakannya, maka kewajibannya adalah meminta ampun darinya. Dan (ketiga) bala bencana yang ditimpakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, maka kewajibannya adalah sabar. Barangsiapa yang melaksanakan tiga kewajiban ini, niscaya ia beruntung di dunia dan di akhirat.
  2. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-Nya untuk menguji kesabaran dan ubudiyah mereka, bukan untuk membinasakan dan menyiksa mereka. Maka, hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya adalah ubudiyah/penyembahan di waktu susah, sebagaimana kepada-Nya ubudiyah di kala senang. Kepada-Nya ubudiyah pada sesuatu yang dibenci, sebagaimana untuk-Nya ubudiyah pada sesuatu yang disukai. Mayoritas manusia memberikan ubudiyah/penyembahan pada sesuatu yang mereka sukai, dan perkaranya adalah memberikan ubudiyah pada yang dibenci. Mereka saling berbeda dalam hal itu. Berwudhu dengan air dingin pada saat panas yang luar biasa dan menikahi istrinya yang cantik adalah ubudiyah/ibadah. Dan berwudhu dengan air dingin pada saat dingin yang menusuk tulang adalah ibadah. Meninggalkan maksiat yang disenangi nafsu tanpa ada rasa takut kepada manusia adalah ibadah, dan sabar terhadap rasa lapar dan sakit adalah ibadah, akan tetapi terdapat perbedaan di antara dua ibadah.

Maka, barangsiapa yang selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat senang dan susah, dalam kondisi yang dibenci dan disukai, maka dia termasuk hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak berduka cita. Musuhnya tidak bisa menguasainya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya. Akan tetapi kadang syetan memperdayanya. Seseorang hamba diberi cobaan dengan lupa, syahwat, dan marah. Dan masuknya syetan  terhadap hamba berawal dari tiga pintu ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguasakan (memberikan otoritas) nafsu, keinginan dan syetannya kepada setiap hamba dan mengujinya, apakah dia mentaatinya atau mentaati Rabb-nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki perintah-perintah kepada manusia dan nafsu juga memiliki perintah-perintah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kesempurnaan iman dan amal shaleh dari manusia, dan nafsu menghendaki kesempurnaan harta dan syahwat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki amal perbuatan untuk akhirat dari kita dan nafsu menghendaki perbuatan untuk dunia. Iman adalah jalan keselamatan dan lampu lentera yang dengannya dia melihat kebenaran dari yang lainnya dan inilah tempat cobaan.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [Al’Ankabuut/29:2-3]

وَمَآأُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Yusuf/12 :53]

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Qashash/28:50]

[Disalin dari العبادة معناها وحقيقتها Penulis  Syaikh  Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry, Penerjemah : Team Islamhouse, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]
______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30, lafadz hadits ini dari riwayat Muslim.

Pemandangan Hari Kiamat (Padang Mahsyar)

PEMANDANGAN HARI KIAMAT (TATKALA DIKUMPULKAN DI PADANG MAHSYAR)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam.     Aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanhu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Diantara situasi terbesar yang ada pada hari kiamat kelak, yang wajib di imani oleh seorang mukmin serta mempersiapkan dirinya akan hal tersebut ialah situasi dimana semua mahkluk akan dikumpulkan dipadang  mahsyar. Sebagaimana yang tergambar jelas dalam beberapa firman Allah tabaraka wa ta’ala, seperti:

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ ٤٩ لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ [الواقعة: 49-50] 

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal”. [al-Waaqi’ah/56: 49-50].

Kemudian dijelaskan kembali dalam ayat yang lain, Allah ta’ala berfirman:

وَاِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْۗ اِنَّهٗ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ [الحجر: 50]

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia -lah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya -Dia adalah Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui”. [al-Hijr/15: 25].

Demikian pula dalam firman -Nya yang lain:

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ [هود: 103] 

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)”. [Huud/11: 103].

Allah azza wa jalla akan mengumpulkan seluruh manusia serta menyatukan mereka kelak pada hari kiamat, dan hal tersebut berlaku bagi seluruh manusia, sama saja apakah mereka yang mati dikubur, atau dimakan bintang buas, terbakar, tenggelam ditengah lautan, atau dirinya meninggal dengan sebab-sebab yang lainnya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا [البقرة: 148 ] 

“Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat)”. [al-Baqarah/2: 148].

Dan firman -Nya yang lain:

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ [يس: 82]

“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”.  [Yaasiin/36: 82].

Dan Allah ta’ala pasti akan mengumpulkan semua makhluk tanpa ada yang terlupakan, tanpa menyisakan seorangpun diantara mereka. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا [ مريم: 64] 

“Dan tidaklah Tuhanmu lupa”.  [Maryam/19: 64].

Dan berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًاۚ [ الكهف: 47] 

“Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka“.  [al-Kahfi/18: 47]

Demikian juga berdasarkan firman Allah ta’ala yang lainnya:

اِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اِلَّآ اٰتِى الرَّحْمٰنِ عَبْدًا ۗ ٩٣ لَقَدْ اَحْصٰىهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ۗ [ مريم: 93-94] 

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti”.  [Maryam/19: 93-94].

Dan dalil-dalil di atas menunjukan pada kita semua, bahwa dikumpulkannya para makhluk tersebut berlaku umum, semua jenis makhluk, baik dari kalangan jin maupun manusia serta binatang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Adapun binatang, maka seluruhnya Allah ta’ala akan mengumpulkan mereka semuanya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ [الأنعام: 38] 

“Dan Tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tidaklah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.  [al-An’am/6: 38].

Dan firman Allah tabaraka wa ta’ala:

وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ [التكوير: 5] 

“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan”. [at-Takwiir/81: 5].

Dan juga firman -Nya yang lain:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيْهِمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ ۗوَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ اِذَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌ [ الشورى: 29]

“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda -Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki -Nya“.[asy-Syuura/42: 29].

Dan huruf  idza dalam ayat diatas, diantara salah satu fungsinya ialah menunjukan pasti, yang tidak ada keraguan didalamnya’. [1]

Kelak pada hari kiamat para hamba akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang  lagi tidak berkhitan sebagaimana halnya dahulu mereka baru terlahir dari perut ibunya.

Hal itu berdasarkan riwayat dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, diambil dari haditsnya Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia bercerita: ‘Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ» [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Manusia kelak pada hari kiamat akan dihimpun dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan tidak berkhitan’. Maka aku penasaran, lalu bertanya: ‘Wahai Rasulallah, laki dan perempuan semuanya akan dihimpun bersamaan, nanti mereka akan saling melihat satu sama lain? Namun beliau menjelaskan: “Wahai Aisyah! Perkaranya lebih besar dari hanya sekedar melihat pada aurat satu sama lainnya”. HR Bukhari no: 6527, Muslim no: 2859.

Dan setiap orang  akan dibangkitkan dari kuburnya sesusai dengan keadaan tatkala dirinya meninggal, dari kadar ketakwaan serta keimanannya maupun dalam keadaan kufur dan bermaksiat.

Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, sebuah hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ» [أخرجه مسلم]

“Setiap hamba akan dibangkitkan (dari kuburnya) sesuai dengan keadaan tatkala dirinya meninggal”. HR Muslim no: 2878.

Dan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «الذي يموت وهو محرم يبعث يوم القيامة ملبيا » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Seseorang yang meninggal dalam keadaan berpakaian ihram, maka kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”. HR Bukhari no: 1851, Muslim no: 1206.

Demikian pula diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « والشهيد يبعث يوم القيامة وجرحه يثعب , اللون لون الدم , والريح ريح المسك » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Seorang yang mati syahid, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya darah namun baunya bau misk“. HR Bukhari no: 5533, Muslim no: 1876.

Di padang  Mahsyar ada beberapa situasi sulit yang akan dihadapi oleh manusia, seperti diantaranya:
1. Bahwa orang-orang kafir akan dihimpun dengan diseret diatas wajah-wajah mereka.
Berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّاۗ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا [الإسراء: 97]

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi mereka nyalanya”.  [al-Israa’/17: 97].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari haditsnya Anas  bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam: ‘Wahai Nabi Allah, apakah orang kafir kelak akan dikumpulkan di atas wajah mereka pada hari kiamat? Maka Nabi menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلَيْسَ الَّذِى أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ فِى الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة ِ» [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Bukankah Dzat yang menjadikan mereka bisa berjalan  dengan kedua kakinya didunia itu mampu untuk menjadikan mereka berjalan dengan wajahnya kelak pada hari kiamat!? HR Bukhari no: 4760, Muslim no: 2806.

2. Diantara manusia ada yang dihimpun berkelompok dan bergolongan-golongan.
Sebagaimana yang dijelaskan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya, dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: ‘Rasulallahu Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ صِنْفٌ مُشَاةٌ وَصِنْفٌ رُكْبَانٌ وَصِنْفٌ عَلَى وُجُوهِهِمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَمْشُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ قَالَ إِنَّ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَمَا إِنَّهُمْ يَتَّقُونَ بِوُجُوهِهِمْ كُلَّ حَدَبٍ وَشَوْكٍ ». [أخرجه أحمد ]

“Kelak manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat terbagi menjadi tiga golongan; golongan yang berjalan kaki, naik kendaraan dan golongan yang berjalan menggunakan wajah-wajahnya”. Maka ditanyakan oleh para sahabat: ‘Ya Rasulallah, bagaimana mereka (bisa) berjalan dengan wajahnya? Berkata salah seorang perawi yang bernama Affan: -Mereka berjalan-. Kemudian Nabi menjawab: “Sesungguhnya Dzat yang menjadikan mereka bisa berjalan menggunakan kakinya, adalah Maha Mampu untuk menjadikan mereka berjalan dengan menggunakan wajahnya. Adapun mereka, sesungguhnya sangat berhati-hati ketika berjalan dengan wajahnya dari tiap duri dan tanah”. HR Ahmad 14/289 no: 8647.[2]

3. Ada juga diantara mereka yang dihimpun dengan mengendarai kendaraan yang paling mewah.
Hal itu sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah ta’ala:

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ اِلَى الرَّحْمٰنِ وَفْدًا ٨٥ وَنَسُوْقُ الْمُجْرِمِيْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ وِرْدًا [ مريم: 85-86] 

“(ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam Keadaan dahaga”. [Maryam/19: 85-86].

Beberapa kalangan ulama tafsir mengatakan tentang ayat diatas: ‘Bahwasannya mereka akan dikumpulkan yaitu orang-orang yang bertakwa sambil mengendarai onta yang mewah sebagi bentuk pemuliaan atas mereka. Sedangkan kelak  pada hari kiamat manusia akan dihimpun diatas bumi yang bukan bumi ini. Hal ini berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta’ala:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ  [ابراهيم: 48] 

“(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. [Ibrahim/14: 48].

Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِىِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لأَحَدٍ ». [ أخرجه البخاري ومسلم ]

“Manusia pada hari kiamat kelak akan dihimpun diatas tanah yang putih bersih, bulat tanpa ada kotorannya”.[3] Berkata Sahl atau yang lainnya (ragu-ragu dari perawi), bersabda Nabi: “Tidak ada tanda bekas penduduk sebelumnya”. HR Bukhari no: 6521, Muslim no: 2790.

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa waktu ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit ialah tatkala manusia sedang melewati sirath (Titian). Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya pernah ada salah seorang rahib dari rahib-rahib Yahudi yang bertanya kepada Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam: ‘Dimana kiranya manusia manakala bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit? Maka beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هُمْ فِى الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ» [أخرجه مسلم ]

“Mereka sedang didalam kegelepan diatas jembatan”. HR Muslim no: 315.

Dan diantara dampak keimanan dengan hadits yang agung ini yang menjelaskan tentang permasalahan ghaib, ialah:
Pertama : Bahwasannya Allah ta’ala mengabarkan tentang kondisi pada hari itu, sedangkan mereka masih berada didunia, itu bertujuan agar mereka mengetahui hendak kemana mereka akan kembali, dan supaya mereka mendapatkan petunjuk yang jelas akan perkaranya, sehingga dirinya bersiap-siap untuk menghadapi hari tersebut, serta mau menghisab dirinya sendiri sebelum mereka dihisab oleh Allah ta’ala.

Ada seorang penyair mengatakan:
Duhai sekiranya kita mati lalu dibiarkan
     Tentulah kematian menjadi kemauan tiap orang yang hidup
Namun kami, jika mati maka kami akan dibangkitkan
      Lalu ditanya tentang segala sesuatu yang pernah kami lakukan

Dan sungguh Maha Benar Allah manakala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗوَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ [ال عمران: 30] 

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh”. [al-Imraan/3: 30].

Adapun para pendosa maka mereka mengatakan:

يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ [الكهف: 49] 

“Dan mereka berkata: “Aduhai celaka Kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”. [al-Kahfi/18: 49].

Kedua : Bahwa manusia akan merasa takut dan bingung dari kondisi hari penghimpunan ini. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Allah azza wa jalla di dalam firman -Nya:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ [ عبس: 34-37] 

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”.   [‘Abasa/80: 34-37].

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman:

فَكَيْفَ تَتَّقُوْنَ اِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَّجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيْبًاۖ [المزمل: 17] 

“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban”.  [al-Muzzamil/73: 17].

Ketiga : Menunjukan tentang kekuasaan Allah yang sangat besar, dimana Dirinya mengumpulkan dan menghimpun seluruh makhluk -Nya di satu tempat lantas menghisab mereka semua. Sebagaimana yang di jelaskan dalam firman -Nya:

وَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ اِذَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌ [الشورى: 29] 

“Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki -Nya” [asy-Syuura/42: 29].

Dan firmanNya:

وَمَآ اَمْرُنَآ اِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ ۢبِالْبَصَرِ  [القمر: 50] 

“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”.   [al-Qomar/54: 50].

Keempat : Pada hari penghimpunan akan nampak jelas hakekat dunia itu seperti apa bagi penghuninya serta menunjukan bagaimana hinanya dunia tersebut. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Allah Shubhanhu wa ta’alla di dalam firman -Nya:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ [ يونس: 45] 

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari”.   [Yunus/10: 45].

Dan Allah ta’ala mengabarkan tentang keadaanya para pendosa dengan firman -Nya;

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِيْنَ يَوْمَىِٕذٍ زُرْقًا ۖ ١٠٢ يَّتَخَافَتُوْنَ بَيْنَهُمْ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا عَشْرًا [ طه: 102-103] 

“(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”.   [Thaahaa/20: 102-103].

Akhirnya saya ucapkan segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau serta seluruh para sahabatnya.

[Disalin dari  من مشاهد القيامة (الحشر وأهواله)  Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Arif Hidayatullah , Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] . Majmu Fatawa 4/248.
[2] . Berkata ulama yang meneliti kitab ini, bahwa hadits ini hasan li ghoirihi. Adapun sabdanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Kelompok yang berjalan dan naik kendaraan’. Dijelaskan oleh as-Sindi: ‘Mereka adalah ahli iman baik orang awamnya maupun yang sudah tinggi tingkatan keimanannya. Sedangkan maksud ucapannya: ‘Mereka berhati-hati terhadap tiap hadab. al-Hadab maknanya ialah tempat yang bergelombang pada permukaan tanah. Maksudnya mereka menjadikan wajah-wajahnya sebagai ganti dari tangan dan kaki untuk menghindari setiap gangguan jalan, adapun tangan dan kaki mereka semuanya terkunci, yang demikian karena mereka tidak pernah menjadikan wajahnya untuk sujud ketika didunia kepada penciptanya’.
[3] . Afraa’u, al-Khatabi mengatakan: ‘Al-‘Afra artinya tanah putih yang bersih’. Sedangkan Ibnu Faris mengatakan: ‘Maknanya ialah putih bersih tanpa ada noda’. Adapun arti al-Mu’alam ialah tanda yang digunakan untuk jalan supaya tidak tersesat seperti gunung maupun padang. Lihat Fathul Bari 11/375.

Keutamaan Negeri Syam

KEUTAMAAN NEGERI SYAM

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Ada begitu banyak keutamaan yang dimiliki oleh negeri Syam[1], sebagaimana terpapar secara jelas dan gamblang perkaranya baik didalam al-Qur’an maupun Sunah. Begitu pula melalui penjelasan para ulama salaf didalam buku-buku mereka. Dan diantara manakibnya ialah:

Pertama: Keberkahan berada didalamnya.
Sebagaimana didukung oleh banyak ayat, yang hal ini semakin menegaskan tentang hal itu, tidak tanggung-tanggung ada lima ayat dalam al-Qur’an yang menerangkan akan keberkahan bagi bumi Syam.

Firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ [ الأعراف: 137 ]

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya”. [al-A’raaf/7: 137].

Berkata kebanyakan para ahli tafsir yang dimaksud negeri yang diberikahi ialah Syam.

Firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ [ الإسراء:1]

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” [al-Israa’/17:1].

Negeri yang berada disekelilingnya ialah Syam, dan ini terjadi pada peristiwa Isra’.

Firman Allah Tabaraka wa ta’ala pada kisahnya nabi Ibrahim:

وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ ٧٠ وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ [ الأنبياء: 70-71 ]

“Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”.[al-Anbiyaa’/21: 70-71].

Sebagaimana diketahui bahwa nabi Ibrahim dan Luth diselamatkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla lalu berhijrah ke negeri Syam dari Iraq.

Firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ [ الأنبياء: 81 ]

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. dan adalah Kami Maha mengetahui segala sesuatu”.  [al-Anbiyaa’/21: 81].

Dan angin tersebut hanya bertiup kencang ke negeri Syam dikarenakan disanalah singgasana kerajaan nabi Sulaiman.  

Firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرْنَا فِيْهَا السَّيْرَۗ سِيْرُوْا فِيْهَا لَيَالِيَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيْنَ [ سبأ: 18 ]

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman”. [Saba’/34: 18].

Sebagian ulama tafsir mengatakan, “Yakni negeri Syam, yang mana kebiasaan yang biasa mereka lakukan ialah melakukan perjalanan dari Yaman menuju Syam. Dan negeri yang diberkahi tersebut ialah ada di Syam, Urdun dan Palestina. Adapun makna Dhohirah dalam ayat ialah wilayahnya bersambung karena bertetangga. Maka lima ayat diatas, semuanya menyimpulkan pada satu titik yaitu keberkahan yang dimiliki oleh negeri Syam. Ayat pertama menjelaskan karena sebagai tempat hijrahnya Bani Isra’il. Ayat kedua karena sebagai tempat perjalanan isra’ (naiknya) Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ke langit tujuh, Ayat ketiga sebagai tempat hijrahnya nabi Ibrahim, dan Ayat keempat sebagai tempat kerajaan nabi Sulaiman, dan yang terakhir sebagai tempat perjalanan Saba’, kemudian Allah ta’ala mensifati sebagai negeri yang telah diberkahi.

Di bumi Syam ini pula ada gunung Thur (Sinai) yaitu tempat dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla mengajak bicara nabi Musa, yang  -Dia gunakan untuk sumpah dalam salah satu ayatnya, seperti dijelaskan dalam surat at-Tiin, Allah Ta’ala berfirman:

وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ ١ وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ [ التين: 1-2 ]

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai”.[ at-Tiin/95: 1-2].

Bentuk keberkahannya:
Para ahli tafsir menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan berkah disini ialah keberkahan dari sisi dunia, yaitu dengan makanan yang melimpah, buah-buahan, sungai serta tanaman, dan kelapangan serta kemudahan mengkais rizki. Ada sebagian ulama yang mengatakan, yang dimaksud dengan barokah disini ialah barokah dari segi agama, sebab disanalah banyak para Nabi tinggal didalamnya,  plus ditambah sebagai tempat turunnya malaikat dan wahyu.

Sedang Imam Nawawi sendiri berpendapat, “Allah ta’ala menjadikan penuh keberkahan karena disanalah Allah mengajak bicara nabi -Nya Musa, serta sebagai tempat diutusnya para nabi”.[2] Dan yang benar, bahwa hal itu mencakup dua perkara yang disebutkan diatas tadi, dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus berdo’a kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk menjadikan keberkahan bagi Syam. Nabi berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا » [أخرجه البخاري]

Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami“. HR Bukhari no: 1037.

Kedua: Bumi Syam adalah tempat berkumpulnya manusia dihari kiamat nanti.
Sebagaimana hal itu digambarkan secara jelas oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ [ الحشر: 2 ]

“Dia -lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama”. [al-Hasyr/59: 2].

Para ulama seperti Imam Qurthubi, Ibnu Katsir serta Ibnu Hajar, berdalil dengan ayat ini bahwa Syam adalah negeri penghimpunan manusia. Yang pertama terjadi adalah bagi orang Yahudi yang dikumpulkan disana, lalu yang kedua bagi seluruh manusia. Sebagai dalil akan hal itu ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Hakim bin Mu’awiyah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَاهُنَا تُحْشَرُونَ هَاهُنَا تُحْشَرُونَ هَاهُنَا تُحْشَرُونَ ثَلَاثًا  رُكْبَانًا  وَمُشَاةً  وَعَلَى وُجُوهِكُمْ .ثم في الآخر الحديث  قَالَ ابْنُ أَبِي بُكَيْرٍ: فَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الشَّامِ. فَقَالَ: إِلَى هَاهُنَا تُحْشَرُونَ » [أخرجه أحمد]

Maka dari sini mereka dikumpulkan, beliau mengulangi sebanyak tiga kali. Dalam keadaan naik kendaraan, berjalan kaki dan menggunakan wajah-wajahnya…kemudian diakhir hadits ini. Ibnu Abi Bukair menjelaskan, “Dan Nabi mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Syam. Kemudian Nabi berkata, “Sampai kesanalah mereka dikumpulkan”. HR Ahmad 33/214 no: 20011

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalil dari al-Qur’an dan Sunah menunjukan serta didukung oleh riwayat para nabi terdahulu, sebagaimana bisa dirasakan dan dicerna ditambah bukti-bukti yang ada dari para ulama yang menyatakan bahwa penciptaan, dan urusan (agama) itu berawal dari Makah sebagai umul Qura, dan Makah ini disebut pula sebagai pusat penciptaan, dan dari sanalah muncul risalah Muhammad yang sinarnya menerangi seluruh penjuru dunia, Makah adalah negeri yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan sebagai kiblatnya umat manusia, sebagai arah ketika sholat dan tempat berkumpul ketika menunaikan ibadah haji. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla teguhkan Makah sesusai dengan kehendak-Nya sehingga membawa kemaslahatan bagi agama, dan dunia serta umat manusia pada umumnya.

Dan pada awalnya, ketika pertama kali muncul Islam secara garis besar berada disekitar wilayah Hijaz. Dan dalil-dalil yang telah kita sebutkan tadi menunjukan, bahwa pusat kenabian itu berada di bumi Syam. Di sanalah manusia dikumpulkan, di Baitul Maqdis serta wilayah sekitarnya. Di sana pula tempat dikumpulkan makhluk, serta kembalinya agama Islam diakhir zaman yang  akan lebih nampak jelas. Sebagaimana pada akhir zaman nanti urusan tersebut kembali ke negeri Syam”.[3]

Ketiga: Para malaikat mengepakan sayap untuk menaungi negeri Syam.
Ini dalam kondisi aman lantas bagaimana kalau dalam keadaan peperangan. Hal itu, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « طُوبَى لِلشَّامِ طُوبَى لِلشَّامِ. قُلْتُ: مَا بَالُ الشَّامِ. قَالَ: الْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَجْنِحَتِهَا عَلَى الشَّامِ » [أخرجه أحمد]

“Berbahagialah bagi (penduduk) Syam, beruntunglah bagi (penduduk) Syam”. Aku bertanya apa alasannya? Beliau menjawab, “(Karena) para malaikat mengepakan sayap (menaungi) negeri Syam”. HR at-Tirmidzi no: 3954. Ahmad 35/483 no: 21606.

Keempat: Allah tabaraka wa ta’ala menjamin langsung rasa damai bagi Syam serta penduduknya.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Ibnu Hawalah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَيَصِيرُ الْأَمْر إِلَى أَنْ تَكُونَ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ جُنْدٌ بِالشَّامِ وَجُنْدٌ بِالْيَمَنِ وَجُنْدٌ بِالْعِرَاقِ فَقَالَ ابْنُ حَوَالَةَ خِرْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَاكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالشَّامِ فَإِنَّهُ خِيرَةُ اللَّهِ مِنْ أَرْضِهِ يَجْتَبِي إِلَيْهِ خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ فَإِنْ أَبَيْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِيَمَنِكُمْ وَاسْقُوا مِنْ غُدُرِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ تَوَكَّلَ لِي بِالشَّامِ وَأَهْلِهِ » [أخرجه أبو داود]

“Perkaranya akan berubah menjadi berkelompok dan golongan, kelompok di Syam, lalu kelompok di Yaman dan kelompok di Iraq”. Ibnu Hawalah berkata, “Ya Rasulallah, pilihlah untuk saya jika seandainya aku menjumpainya. Beliau bersabda: “Wajib atasmu untuk memilih kelompok yang berada di Syam, sesungguhnya itulah negeri pilihan Allah, yang Allah pilih menjadi negeri bagi hamba -Nya. Dan jika engkau enggan maka pegangilah Yaman, lantas penuhilah tempat minum kalian. Sesungguhnya Allah telah menjamin (keamanan) bagiku dengan penduduk Syam serta negerinya”. HR Abu Dawud no: 2483.

Kelima: Orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan agama Islam (nantinya) berada di Syam.
Seperti dijelaskan dalam riwayat Hakim dalam mustadraknya dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إني رأيت كأن عمود الكتاب انتزع من تحت وسادتي فأتبعته بصري فإذا هو نور ساطع عمد به إلى الشام ألا و إن الإيمان إذا وقعت الفتن بالشام » [أخرجه الحاكم]

Sesungguhnya aku melihat penyangga al-Qur’an dicabut dari bawah tempat duduknya, lalu ketika aku lihat maka aku mendapati ada cahaya yang memanjang sampai pada negeri Syam. Ketahuilah bahwa keimanan kembali kepada Syam jika terjadi fitnah“. HR al-Hakim 5/712-713 no: 8701. Dinyatakan shahih oleh beliau dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan al-Albani.

Yang dimaksud dengan penyangga al-Qur’an dan Islam ialah yang dijadikan untuk bersandar, dan mereka itu adalah orang-orang yang menegakan al-Qur’an serta ajaran Islam.[4]

Keenam: Golongan yang mendapat pertolongan Allah itu berada di Syam.
Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan Ahmad dari Mu’awiyah bin Qurrah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشَّامِ فَلَا خَيْرَ فِيكُمْ وَلَا تَزَال طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ» [أخرجه الترمذي]

Apabila kerusakan terjadi pada penduduk Syam maka sudah tidak ada lagi kebaikan bagi kalian. Senantiasa akan ada dikalangan umatku yang ditolong, yang tidak akan merasa terganggu dari orang yang menyakitinya sampai tegak hari kiamat“. HR at-Tirmidzi no: 2192. beliau mengatakan hadits hasan shahih. Ahmad 24/363 no: 15597.

Dalam redaksi Imam Muslim dibawakan sebuah riwayat dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ » [أخرجه مسلم]

Senantiasa penduduk barat berada diatas kebenaran sampai tegaknya hari kiamat“. HR Muslim no: 1925.

Dan penduduk barat yang dimaksud ialah penduduk Syam, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad, dan dikuatkan hal tersebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[5]

Ketujuh: Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi wasiat supaya pergi ke negeri Syam.
Sebagaimana dijelaskan dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan pada kami sambil mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَتَخْرُجُ نَارٌ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مِنْ بَحْرِ حَضْرَمَوْتَ أَوْ مِنْ حَضْرَمَوْتَ تَحْشُرُ النَّاسَ. قَالُوا: فَبِمَ تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالشَّأْمِ » [أخرجه أحمد]

“Kelak sebelum hari kiamat datang akan keluar api dari laut Hadra Maut, atau dari Hadra Maut yang akan menggiring umat manusia”. Para sahabat bertanya, “Apa yang anda perintahkan kepada kami wahai Rasulallah? Maka beliau menjawab, “Wajib atas kalian (untuk tinggal di) negeri Syam”. HR Ahmad 9/145 no: 5146.

Delapan: Pujian Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada negeri Syam yang dikatakan sebagai tempat tinggal yang baik.
Dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن فسطاط المسلمين يوم الملحمة بالغوطة إلى جانب مدينة يقال لها دمشق من خير مدائن الشام » [أخرجه أبو داود]

Sesungguhnya negeri berkumpulnya kaum muslimin tatkala banyak fitnah terjadi ada pada tanah rendah disisi Madinah yang disebut negeri Damaskus, disanalah kota terbaik dari kota-kota di Syam“. HR Ahmad 39/412 no: 23985. Abu Dawud no: 4298.

Dalam redaksi lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يوم الملحمة الكبرى فسطاط المسلمين بأرض يقال لها الغوطة فيها مدينة يقال لها دمشق خير منازل المسلمين يومئذ » [أخرجه الحاكم]

Tatkala terjadi fitnah besar maka tempat berkumpulnya kaum muslimin ada pada sebuah negeri yang dikatakan al-Ghutah (Sebuah kota di Siria), disana ada kota yang bernama Damaskus, yang menjadi tempat terbaik untuk tinggal bagi kaum muslimin ketika itu“. HR al-Hakim 5/684 no: 8543.

Sembilan: Tempat turunnya Nabi Isa ‘alaihi sallam diakhir zaman kelak berada di Syam.
Seperti dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Nawas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ » [أخرجه مسلم]

Manakala keadaannya demikian, maka Allah mengutus Masih bin Maryam, lalu dirinya turun di menara putih di sebelah timur kota Damaskus“. HR Muslim no: 2937.

Sepuluh: Dajjal binasa manakala dirinya berada di negeri Syam.
Berdasarkan hadits shahih diatas yang dibawakan oleh Imam Muslim dari sahabat Nawas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengkisahkan datangnya kaum muslimin ke negeri Syam, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ إِذْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَأَمَّهُمْ فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللَّهِ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِى الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لاَنْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللَّهُ بِيَدِهِ فَيُرِيهِمْ دَمَهُ فِى حَرْبَتِهِ » [أخرجه مسلم]

Tatkala mereka bersiap-siap untuk berperang, lalu mereka meluruskan barisan, dan ketika sholat agak ditegakkan, tiba-tiba turun Isa bin Maryam ‘alaihi sallam lantas dirinya mengimami sholat mereka. Dan ketika musuh Allah (Dajjal) melihat Isa, dirinya meleleh seperti halnya garam meleleh terkena air. Kalau seandainya dibiarkan keadaannya demikian tentu dia akan terus meleleh sampai binasa, akan tetapi, Allah membunuh melalui perantara  tangannya kemudian dirinya memperlihatkan bekas darahnya kepada mereka yang masih tersisa ditombaknya“. HR Muslim no: 2897.

Sebelas: Sebagai tempat tinggal kaum mukiminin.
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Salamah bin Nufail radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلَا إِنَّ عُقْرَ دَارِ الْمُؤْمِنِينَ » [أخرجه أحمد]

Ketahuilah sesungguhnya tempat tinggal orang-orang beriman itu adalah Syam“. HR Ahmad 28/165 no: 16965.

Ibnu Atsir menjelaskan, “Tempat tinggal orang beriman itu adalah Syam. Maksudnya asal dan tempatnya, seakan-akan beliau mengisyaratkan dengan hadits ini pada waktu terjadinya fitnah tatkala Syam pada saat itu menjadi negeri yang aman, dan kaum muslimin selamat serta aman untuk tinggal disana”.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari terhadap manakib yang telah lewat penjelasannya diatas, yang terangkum dari al-Qur’an dan Sunah serta penjelasannya para ulama salaf, beliau menjelaskan, “Dan inilah salah satu faktor yang menjadi sandaranku untuk menganjurkan bagi kaum muslimin manakala Tatar menyerang Syam, aku perintahkan pada mereka untuk tetap tinggal di Damaskus serta aku larang untuk meninggalkannya dan pergi ke Mesir.

Kemudian kami meminta bantuan pada pasukan Mesir untuk menuju Syam, sedangkan bala tentara yang sudah berada di Syam tetap tinggal untuk menghimpun kekuatan bersama, dan sungguh benar kejujuran berita yang ada pada hadits-hadits Nabi tersebut tanpa meleset sedikitpun sebagaimana yang bisa kami rasakan manakala kami berjihad melawan pasukan Tatar.

Dan pada saat itu Allah Shubhanahu wa ta’alla menampakan bagi kaum muslimin apa yang telah dijanjikan atas mereka dengan Syam serta keberkahan sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla perintahkan pada kami untuk menetapi negeri Syam. Itulah kemenangan terbesar yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh kaum muslimin yang dengan kemenangan telak kaum muslimin mampu mengalahkan pasukan Tatar. Dan sungguh mereka tidak mampu menyerang serta menundukan kaum msulimin sebagaimana dahulu ketika berada di pintu Damaskus pada peperangan besar yang mana Allah ta’ala telah begitu banyak memberi kenikmatan atas kami dengan kenikmatan yang tidak bisa kami hitung baik yang bersifat khusus maupun umum”.

Beliau mengisyaratkan pada peperangan Syaqohab yang terjadi pada tahun 702 H tepatnya pada bulan  Ramadhan yang dimenangkan oleh pasukan gabungan dari Mesir dan Syam dengan panglima pasukan Raja Nashir Qulawan dan diikuti pula oleh Khalifah serta semua penduduk Syam melawan kafir Tatar.[7]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  فضائل الشام   Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Arif Hidayatullah , Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Sekarang menjadi beberapa negeri pecahan yaitu Palestina, Suria, Jordania, dan Urdun.
[2] Syarh Muslim 6/206.
[3] Majmu’ Fatawa 27/43-44.
[4] Majmu Fatawa 27/42.
[5] Manaqib Syam wa Ahluhu karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal: 79-80.
[6] Nihayah fii Gharibil Hadits wal Atsar 3/271.
[7] Manakib Syam wa Ahlihi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal: 86-87.

Mandat Britania di Palestina, Awal Mula Konflik Israel-Palestina

MANDAT BRITANITA DI PALESTINA, AWAL MULA KONFLIK ISRAEL-PALESTINA 

Jumat 21 Mei 2021, Israel dan Palestina menyepakati gencatan senjata setelah 11 hari saling serang antar kedua kubu. Gencatan senjata ini adalah beberapa bagian dari kisah konflik berkepanjangan antar dua negara itu.

Permasalahan kedua negara ini sebetulnya sudah ada sejak penguasaan Inggris atas Palestina pada Perang Dunia I.

Menurut Jonathan Schneer dalam The Balfour Declaration: The Origins of the Arab-Israeli Conflict (2010), secara historis terjadi saat Kesultanan Ottoman terlibat dalam Perang Dunia I bersama Jerman, Austria-Hungaria, dan Bulgaria.

Di sisi lain, Kesultanan Ottoman sendiri memilih masalah internal berupa nasionalisme bangsa Arab yang ingin merdeka. Situasi ini dimanfaatkan Inggris dan Prancis untuk berpihak pada nasionalisme Arab. Sehingga pada 1918 kedua negara ini menyerang Ottoman, dan mendapatkan provinsi Levantine (kini Irak utara, Israel, Lebanon, Suriah, Palestina, dan Yordania).

Sementara itu, muncul pula gerakan Zionisme sejak akhir abad ke-19 lewat organisasi Hibbat Zion. Zionisme muncul sebagai respon sentimen anti-Yahudi di Eropa (Cohen, Michael J. 1989).

Sentimen membuat banyak orang Yahudi di Eropa—khususnya Rusia—melarikan diri. Beberapa di antaranya memilih untuk Palestina dalam Aliyah Pertama, dan ke Inggris. Migrasi ke Inggris dilakukan oleh Chaim Weizmann yang merupakan presiden organisasi Zionis sejak 1904. Ia juga kelak akan menjadi presiden pertama Israel.

Arthur Balfour pada 1917 menjabat Menteri Luar Negeri Inggris. 22 Maret tahun itu, ia bertemu dengan Weizmann dan menerima gagasan Zionis untuk menciptakan negeri untuk orang Yahudi di Palestina.

Alasan Balfour menerimanya karena Zionis mendukung Inggris menguasai Palestina, daripada kawasan itu harus di bawah protektorat Amerikat Serikat, Prancis, atau lembaga internasional. Kawasan Palestina itu sendiri sebelumnya masih simpang siur dalam batas kuasa Inggris-Prancis dalam perjanjian Sykes-Picot (1916), tulis Schneer.

Maka lewat perjanjian Clemanceau-Lloyd George (1918) Palestina secara resmi dipegang Inggris, sebagai Mandat Britania di Palestina. Pertimbangan Prancis menerima mandat itu juga karena Inggris kerap bertempur dengan Ottoman dari selatan melalui Mesir yang merupakan jajahannya.

Selain itu alasan mengapa Inggris menyetujui keinginan Zionis, menurut Alexander Scholch dalam Journal of Palestine Studies (Vol 22(1), 1992), menganggap Yahudi bisa menjadi kelompok yang dapat ‘diayomi’ untuk mempengaruhi Palestina berada dalam kuasanya.

Hal ini merupakan cara yang sama dengan Prancis dengan meluaskan pengaruhnya di sana pada Katolik, dan Rusia lewat Kristen Ortodoks Timur.

Maka, lewat Deklarasi Balfour pada 2 November 1917 disepakati. Isi deklrasi itu mebahas hak-hak sipil dan agama komunitas non-Yahudi di Palestina, serta status politik bagi orang Yahudi di negara lain.

Deklarasi itu menyebutkan “national home” yang memiliki makna ambigu, menurut beberapa sejarawan. Salah satunya adalah James Gelvin, sejarawan Timur-Tengah pada bukunya The Israel-Palestine Conflict: One Hundred Years of War (2002). Menurutnya, istilah ini tidak kuat secara hukum internasional untuk istilah ‘negara’.

Deklarasi ini juga tidak melibatkan pihak Palestina. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Balfour dalam memonya pada 1919. Akibatnya, deklarasi ini menyebabkan polemik awal antara bangsa Arab dan Yahudi.

Setahun sebelum Balfour menulis memonya, penduduk Arab mendirikan Asosiasi Muslim-Kristen, dan mengadakan kongres di Yerusalem pada 1919. Kongres ini membahas untuk mnentang deklarasi itu.

Pada Maret 1918 sendiri juga Komite Zionis dibentuk, dan mengampanyekan tujuannya atas Palestina. Ketika Deklarasi Balfour diberlakukan untuk Mandat Britania di Palestina, banyak Yahudi yang datang atas kampanye untuk bermigrasi sana.

Pada 1920 kelompok Arab mulai menyerang kawasan Yahudi atas respons tindakan mereka. Serangan itu terjadi pada Maret di desa Tel Hai dan Yerusalem.

Selama 1920-an, kondisi Palestina kian memanas, terutama saat distribusi listrik masuk yang dibawakan oleh Pinhas Rutenberg yang merupakan pengusaha Yahudi, dan difasilitasi Inggris. Perlawanan terjadi tak hanya dilakukan oleh kalangan Arab tapi juga Yahudi sayap kiri.

Kerunyaman makin terbentuk pada 1930 ketika Syekh Izzaddin al-Qassam dari Suriah mengorganisir organisasi militan anti-Zionis dan anti-Inggris.

Al Qassam tewas pada 1935 setelah dibunuh polisi Inggris. Wafatnya al-Qassam membuat kemarahan komunitas Arab meluas. Komunitas Arab pun melakukan pemberontakan dari 1935 hingga 1940-an.

Pemberontakan Arab ini membuat Inggris membuat White Paper tahun 1939. White Paper ini menyetujui untuk mengatur pemukiman Yahudi di Palestina.

Pengaturan itu membuat kalangan Yahudi dibatasi membeli tanah kawasan Arab, kecuali di beberapa kawasan. Peraturan lainnya juga untuk membatasi jumlah imigran Yahudi ke Palestina. Akan tetapi, saat Perang Dunia II pecah, Holocaust yang dilakukan Nazi Jerman membuat orang Yahudi harus bermigrasi meninggalkan Eropa menuju Palestina.

Akibat regulasi itu, banyak Yahudi yang terlantar di kamp Eropa. Presiden Amerika Serikat, Hary S Truman meminta Inggris untuk membiarkan mereka masuk. White Paper pun ditentang oleh kalangan Zionis dan melakukan pemberontakan atas Inggris pada 1940-an.

Pemberontakan ini berhasil membunuh politisi Inggris, Lord Moyne. Pembunuhan ini membuat anti-Semit di Inggris naik, dan melawan zionisme. Bahkan sebagian besar perwira militer Inggris di Palestina menjadi pro-Arab.

Pemberontakan Arab dan Zionis, maupun permintaan Hary S Truman membuat Inggris hendak mengakhiri mandatnya di Palestina. Mereka menggelar pendapat 11 negara lewat UNSCOP (Komite Khusus PBB untuk Palestina) pada 15 Mei 1947.

Tujuh negara merekomendasikan pembentukan negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka, dengan Yerusalem di bawah adminstrasi internasional. Sedangkan tiga negara menyarankan pembentukan federal yang berisi negara-negara Arab dan Yahudi.

November 1947, Majelis Umum PBB melibatkan banyak negara merekomendasikan rencana pembatsan dan persatuan ekonomi. Masalah pembatasan dibahas bagaima kedua negara akan dibentuk. Dengan demikian Inggris mengumumkan akhir mandatnya, dan menarik diri dari Palestina pada 14 Mei 1948.

Sejatinya, organisasai Liga Arab maupun beberapa organisasi Zionis menentang pembatasan itu. Pihak Zionis mengungkapkan keberatan bahwa kawasan Transjordan diklaim sebagai hak orang Yahudi atas kesepakatan Piagam PBB.

Akhirnya terjadilah perang saudara 1947-1948 di Mandat Briania di Palestina antara komunitas Arab dan Yahudi, bersamaan otoritas Inggris yang memudar. Selama perang saudara terjadi, berangsur-angsur pasukan, kuasa hukum, dan bagian administrasi Inggris meninggalkan Palestina. Meskipun di tahun itu hingga 1949, negara-negara Arab mulai memasuki Palestina, dan berbuntut Perang Arab-Israel.

Tentara Inggris yang tersisa berada di Haifa, dan kembali ke negara asalnya lewat RAF Ramat David. Akhirnya, Ramat David diserahkan pada Israel pada 26 Mei 1949

Sumber : Nationalgeographic

Kesempurnaan Agama Islam

KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

Islam adalah agama yang sempurna, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala, muliakan manusia. Dan dengan Islam pula terwujudnya kebahagian manusia di dunia dan akherat. Allah Azza wa jalla telah menciptakan alam ini, dan menjadikan setiap makhluk yang ada didalamnya tunduk kepada sunnatullah (hukum Allah) atau tabiat yang berlaku atasnya. Dengannyalah Allah mewujudkan kehendakNya, oleh karena itu segala sesuatu yang telah ditetapkan atasnya hukum Allah tersebut, tidak bisa di ubah kecuali hanya dengan perintah Allah saja;

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً

“Sebagai suatu sunnatullah (hukum Allah) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” [Al-Fath/48: 23]

Matahari memiliki sunnatullah, malam memiliki sunnatullah, siang memiliki sunnatullah, tumbuh-tumbuhan memiliki sunnatulah, hewan-hewan memiliki sunnatulah, begitu juga angin, air, bintang-bintang, lautan dan gunung-gunung; setiap mereka memiliki sunnatulah (hukum Allah) yang berlaku atas mereka. Dan begitulah seterusnya:

لا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yasin/36: 40]

Dan manusia juga makhluk dari makhluk-makhluk Allah yang butuh akan jalan yang ia lalui disetiap keadaan; untuk menggapai kesuksesan dunia dan akherat, dan jalan tersebut adalah agama (Islam) yang Allah : memuliakan manusia dengannya serta meridhoinya untuk mereka, tidak diterima agama manapun selainnya, kebahagiaan dan kesengsaraan itu tergantung kepada sejauh mana ia berpegang teguh atau mengingkarinya, dan ia bisa memilih dalam menerimanya atau menolaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

 Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [Al-Kahfi/18: 29]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  

 Kami berfirman: “turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. “ [Al-Baqarah/2: 38-39]

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia, ditundukkan bagi manusia segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan Allah menurunkan kepada manusia kitab-kitab, juga diutusnya para rasul bagi manusia, serta Allah membekali manusia dengan panca indera dan pengetahuan; berupa pendengaran, penglihatan dan akal, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakannya dengan peribadatan (manusia) kepada Nya semata serta tidak menyekutukan Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin.” [Luqman/31:20]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl/16: 78]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu“. [An-Nahl/16: 36]

Nikmat yang Paling Agung
Allah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak tidak terhitung, nikmat yang terpenting adalah nikmat diciptakannya kita, diberi umur panjang dan nikmat hidayah, dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat manusia seluruhnya, inilah agama yang sempurna, menyeluruh dan kekal :

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya dengan menyembah Nya mengesakan Nya serta bersyukur kepada Nya, menghadap kepada Nya dalam setiap permasalahan, takut kepada Nya, bertawakkal hanya kepada Nya, merendahkan diri untuk Nya, mencintai Nya, mendekatkan diri kepada Nya, meminta pertolongan Nya, memohon keridhoan Nya dan (memohon diberikan) jalan-jalan yang bisa mengantarkan kedalam syurga Nya serta bagaimana agar selamat dari kemarahan Nya dan siksaan Nya.

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rasul Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menta’atinya, mencintainya, mengikuti sunnahnya, membenarkan apa yang dibawa olehnya, menjadikannya sebagai suri teladan dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan olehnya.

Mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, seperti dengan ibu dan bapak, dengan isteri dan anak, dengan sanak famili dan tetangga, dengan orang ‘alim dan orang awam, dengan orang muslim dan kafir, dengan penguasa dan masyarakat, dan dengan yang selainya.

Mengatur muamalah manusia dengan hartanya, mencari nafkah yang halal, menghindari penipuan, bersikap ramah dalam berjual beli, berinfaq untuk kebaikan, berusaha jujur, menghindari riba dan dusta, dan juga mengatur bagaimana membagikan harta shodaqoh, pembagian warisan dan lain sebagainya.

Islam mengatur kehidupan manusia dalam berkeluarga, mendidik anak-anak, menjaga keluarga agar jauh dari kerusakan, mengatur kehidupan pria dan wanita baik dalam keadaan senang ataupun susah, keadaan kaya atau miskin, keadaan sehat atau sakit, keadaan aman atau takut, keadaan bermuqim atau safar.

Islam mengatur seluruh hubungan-hubungan tersebut diatas jembatan yang kuat berupa kecintaan karena Allah dan benci karena Allah, mengajak kepada sifat-sifat dan akhlaq terpuji, seperti dermawan, murah hari, malu, pemaaf, jujur, berbuat baik, adil, menolong orang, kasih sayang, simpati dan semisalnya.

Islam melarang dari segala keburukan dan kerusakan, kedholiman dan melampaui batas; seperti menyekutukan Allah, membunuh tanpa alasan yang benar, zina, berdusta, sombong, kemunafikan, mencuri, ghibah, memakan harta orang dengan cara yang bathil, riba, minum khamer, sihir, riya dan yang lainnya.

Setelah itu semua; Islam menghabarkan keadaan manusia di alam akherat. Dan sesungguhnya kehidupan di akherat itu dibangun berdasarkan kehidupannya di dunia. Maka barangsiapa yang datang dengan membawa keimanan dan amal-amalan shaleh; ia masuk syurga, di syurga ia berbahagia sekali karena bisa melihat wajah Allah, bersenang-senang dengan kenikmatan yang terdapat didalam syurga, yang mana syurga itu belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh telinga dan tidak pula terbersit dalam hati manusia. Kekal di dalamnya selama-lamanya. Sedangkan orang yang datang dengan kekafiran dan kemaksiatannya maka ia masuk neraka dan mereka kekal di dalamnya, adapun orang muslim yang bermaksiat kepada Allah jika ia tidak diampuni maka akan diazab didalam neraka sebatas kadar dosanya, atau diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak disiksa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah/5: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

ٍSungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali Imran/3: 164]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ  15   يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan  dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [Al-Maidah/5: 15-16]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ . وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ  

“Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” [An-Nisaa/4: 13-14]

Agama ini akan tersebar dan disampaikan dengan jelas, sebagaimana jelasnya malam dan siang, kemudian (agama islam) akan kembali asing seperti semula.

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا [صحيح مسلم ]

“Sesungguhnya Allah telah menampakan kepadaku bumi sehingga aku bisa melihat dari penjuru timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kesemua tempat yang diperlihatkan kepadaku…” [HR. Muslim].

– Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita, dan menyempurnakan nikmat ini dengannya, serta ridho terhadap islam sebagai agama kita; maka barangsiapa yang menerima agama ini, ia bahagia di dunia dan nanti di akherat masuk syurga. Dan barangsiapa yang mengingkarinya ia sengsara di dunia, dan di akherat masuk neraka. Allah tidak akan pernah menerima agama dari seorang pun selain agama islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah/5: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran/3: 85]

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda.

((والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار)) [صحيح مسلم]

“Demi yang jiwa Muhammad ada di Tangan Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik yahudi atau nashroni yang mendengar tentang aku, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, maka ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim].

Hikmah Diciptakannya Manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya, dan seluruh makhluk di alam ini bertasbih dan memuji keagungan Allah Jalla Jalaluhu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [At-Thalaq/65: 12]

Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ .   مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia meliankan supaya mereka menyembah Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” [Adz-Dzariyat/60: 56-57]

Alam dan Fase-fase yang Dilewati Manusia.
Allah menciptakan manusia, serta menjadikannya melewati fase-fase waktu, tempat dan keadaan. Kemudian diakhiri dengan keabadian, baik itu abadi di syurga atau di neraka. Inilah fase-fase perpindahan tsb:

dalam perut ibu, inilah fase awal yang dilewati seluruh manusia, tempat tinggal pertama manusia selama kurang lebih 9 bulan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaturnya dalam kegelapan ini dengan kekuasaan Nya, ilmu Nya dan hikmah Nya; apa-apa yang dibutuhkan dari makanan, minuman dan tempat untuk berlindung. Pada fase ini tidak ada tugas dan beban kepada manusia. Ada 2 hikmah dengan adanya fase ini, yaitu: menyempurnakan sendi-sendi dan anggota badan dan keluar kealam dunia setelah sempurna penciptaan secara dhohir dan bathin.

alam dunia, alam yang lebih luas lagi dari alam perut ibu, dan jangka waktu bertempat di alam ini lebih panjang lagi dari alam perut ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur dan menyediakan bagi manusia apa-apa yang dibutuhkannya di alam dunia ini. Juga Allah memberikan kelebihan berupa akal, pendengaran dan penglihatan, kemudian Allah mengutus rasul-rasul bagi manusia, menurunkan kitab-kitab untuknya dan memerintahkannya supaya ta’at kepada Allah, melarangnya bermaksiat kepada Allah, dijanjikan syurga bagi yang taat, dan siksaan neraka bagi yang bermaksiat. Hikmah adanya alam dunia ini adalah : menyempurnakan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menyempurnakan amal-amal sholeh, yang merupakan sebab dimasukkannya ke dalam syurga. Setelah itu berpindah lagi ke alam berikutnya.

alam barzah di dalam qubur, inilah tempat awal dari perkampungan akherat. Manusia tinggal di alam ini sampai meninggalnya seluruh makhluq dan berdirinya hari qiamat. Bertempat di alam ini lebih panjang lagi dibanding dengan alam dunia, kebahagiaan dan kesengsaraan di alam ini juga lebih luas dan lebih sempurna dibanding dengan alam dunia; tergantung amal-amalan kita ketika di alam dunia, (alam ini) bisa menjadi taman dari taman-taman syurga atau menjadi lubang dari lubang-lubang neraka. Balasan sudah dimulai dari alam ini, kemudian berpindah lagi dari alam ini ke alam abadi, baik syurga atau neraka.

alam akherat, kehidupan di alam ini tidak terbatas, kenikmatan-kenikmatan yang sempurna bagi orang-orang beriman, lengkap dan terpenuhi semua keinginan-keinginan orang-orang beriman. Barangsiapa yang ketika di alam dunia menyempurnakan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keimanan, akhlaq dan amal-amal sholeh, maka di akerat ini Allah sempurnakan pula baginya apa yang ia sukai dan harapkan, dari apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbesit dalam hati manusia. Dan apabila ia datang tanpa membawa keimanan dan amalan-amalan sholeh, maka baginya balasan neraka jahanam dan kekal di dalamnya, sedangkan orang beriman tidak akan merasa puas ketika berpindah dari satu alam ke alam yang lain hingga ia kekal di dalam syurga.

Kesempurnaan Nikmat Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan, memulyakannya diatas semua makhluk lainnya. Dan Allah menjadikan anggota-anggota tubuh manusia secara sempurna, ketika ia tidak memperoleh kesempurnaan tsb, akan terjadi gangguan, kekacauan, dan kesakitan. Maka dijadikan kesempurnaan mata itu dengan penglihatannya, kesempurnaan telinga dengan pendengarannya, kesempurnaan lisan dengan pembicaraannya, dan ketika hilang kesempurnaan kekuatan anggota badan tsb, ia akan mengalami sakit dan cacat.

Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kesempurnaan hati dan nikmat-nikmatnya, kegembiraannya, ketenangannya, dalam mengenal Rabbnya. Mencintai Nya, senang dan rindu kepada Nya, beramal dengan apa yang diridhoi Nya. Dan tetkala hilang kesempurnaan hati ini, maka azab yang sangat dan kesengsaraan yang lebih-lebih dibanding mata yang kehilangan penglihatannya, telinga yang kehilangan pendengarannya. Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.

[Disalin dari كمال دين الإسلام Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri. Penerjemah : Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 1428 – 2007]

Ghibah dan Namimah

GHIBAH DAN NAMIMAH

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa ta’ala beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Subhanahu wa ta’ala sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma Ba’du:

Sungguh orang-orang beriman adalah bersaudara, satu mukmin dengan mukmin lain bagaikan sebuah bangunan yang saling menopang. Sedangkan ghibah (mengunjing) dan namimah (mengadu domba) merupakan dua penyakit yang akan merusak bangunan ukhuwah yang indah ini, yang akan merobohkan bangunan umat, merobek-robek kebersamaan, melahirkan persaingan hidup serta kebencian, dan juga akan merubah kehidupan bermasyarakat menjadi kubangan api yang membakar dedaunan hijau dan kering. Kalau demikian jelek efeknya, lantas bagaimana kiranya dengan sebagian orang diantara kita yang masih merasa santai, menganggap baik penyakit akut tersebut, serta senang tanpa merasa sungkan untuk duduk berada dimeja hidangan yang menghadirkan ghibah dan namimah.

Saya pernah melihat ada seseorang yang rajin sholat serta membaca al-Qur’an didalam masjid, akan tetapi, dirinya tidak mampu untuk menahan sehari saja dari ghibah atau namimah, disetiap jalan yang dia lewati, atau majelis yang ia duduk didalamnya, dengan rakusnya dia memakan kehormatan orang lain tanpa ada perasaan risih, malu apalagi takut. Dirinya seakan sedang berhadapan dengan hidangan makanan yang paling lezat, dan sedang meminum minuman yang paling menyegarkan. Bayangan awan yang menaunginya siang dan malam hanya menukil ucapan orang katanya dan katanya, mencela dan mengolok-olok orang lain.

Saya berkata dalam hati, ‘Apakah mungkin orang semacam ini mampu untuk memahami kalau sholat yang ditunaikan kepada Rabbnya ternyata bertentangan dengan semua sifat dan perilakunya tersebut’. Sesungguhnya tujuan sholat dikerjakan adalah untuk mencegah perilaku keji dan perbuatan mungkar. Apabila divisualisasikan dalam tingkah lakunya yang mengantarkan pada hilang akal pikiran sehatnya, maka tidak ada kebaikan didalam bacaan ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala kalau tanpa diikuti dengan mentadaburinya, dan tidak ada manfaat dalam tadaburnya jika tanpa direnungi makna kandungannya, dan tidak akan menumbuhkan ilmu kalau tanpa dibarengi dengan amal nyata.

Sungguh dalam ghibah dan namimah merupakan perilaku akhlak yang buruk yang akan memecah belah persatuan umat serta merobohkan bangunan umat nan kuat. Sedangkan, definisi ghibah adalah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci baik dengan ucapan, isyarat, ejekan, atau dalam bentuk tulisan. Hukumnya adalah haram dalam agama Allah Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma Ba’du: Dimana Allah Shubhanahu wa ta’ala secara tegas menegaskan dalam firman -Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ [ الحجرات: 12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [al-Hujuraat/49: 12].

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ» [أخرجه مسلم]

Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram darah, harta dan kehormatannya“. HR Muslim no: 2564.

Adapun definisi namimah adalah orang yang memindah isi pembicaraan orang ke tengah-tengah orang dengan tujuan ingin merusak hubungan mereka. Dan hukumnya juga sama dengan ghibah yaitu haram didalam syari’at Allah Azza wa jalla. sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

 وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ ١٠ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ [ القلم: 10-11]

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. [al-Qolam/68: 10-11].

Sedangkan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih tegas lagi dalam hal ini, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»[أخرجه مسملم]

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba”. HR Bukhari no: 6056. Muslim no: 105.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, setelah itu beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Sungguh keduanya betul-betul sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab dalam perkara besar. Adapun salah satunya diadzab karena tidak menutupi ketika kencing, sedangkan satunya karena dirinya berjalan sambil mengadu domba“. HR Bukhari no: 218. Muslim no: 292.

Beliau juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ  الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ  وَيَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Kamu akan mendapati sejelek-jelek manusia yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan muka berbeda dan kelompok lain dengan muka yang lain“. HR Bukhari no: 3494. Muslim no: 2526.

Ketahuilah tidak ada yang lebih berbahaya dari pada berlebihan dalam berbicara, betapa banyak dosa yang dihasilkan oleh lisan, dan betapa besar hukuman bagi pelakunya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala Rabb semesta alam. Sungguh berlebihan dalam berbicara seperti ghibah dan namimah, dusta dan bohong, mengejek dan mengolok-olok, semuanya adalah penghancur yang akan menjerumuskan pelakunya kedalam neraka. Tidakkah kita merasa malu apabila catatan amal kita kelak dibagikan kemudian kita mendapati catatan terbanyak hanya pada menukil ucapan orang katanya dan katanya, atau yang semisalnya dari ucapan-ucapan yang berlebihan yang bukan termasuk perkara agama maupun membawa kebaikan pada perkara dunia?. Sedangkan Allah ta’ala menegur kita dalam firman -Nya:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا [ الاسراء: 36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. [al-Israa’/17: 36].

Hati, lisan dan anggota badan seluruhnya Allah Shubhanahu wa ta’ala ciptakan untuk para hamba-Nya, oleh karena itu jangan engkau sibukkan untuk selain ketaatan kepada-Nya, dari ucapan maupun amal sholeh, hati yang engkau miliki, gunakanlah untuk beriman serta mentauhidkan-Nya, lisan yang kita punya gunakanlah untuk berdzikir, memuji, serta mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala, dan digunakan untuk berdakwah kepada-Nya, serta mengajari orang tentang syari’at-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ ٤١ وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ٤٢ هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا ٤٣ تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهٗ سَلٰمٌ ۚوَاَعَدَّ لَهُمْ اَجْرًا كَرِيْمًا  [الأحزاب: 41-44]

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada -Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat -Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui -Nya ialah: Salam dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”. [al-Ahzab/33: 41-44].

Melepas pembicaraan adalah perkara yang tidak ada batasnya, namun yang terpenting ialah digunakan untuk membaca kitab Allah Shubhanahu wa ta’ala, yang menegaskan dalam firman-Nya:

 لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا [النساء: 114]

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. [an-Nisaa’/4: 114].

Akhirnya kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala, Ya Allah berilah kami petunjuk untuk menetapi budi pekerti yang paling baik, beretika didalam ucapan dan perbuatan, sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi petunjuk melainkan Dirimu.

[Disalin dari الغيبة والنميمة Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri. Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Muhammad Thalib. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]