Author Archives: editor

Ayat Terberat Untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

AYAT TERBERAT UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan (QS Hûd/11: 112)

RINGKASAN TAFSÎR[1]
(Maka tetaplah kamu [pada jalan yang benar]), yaitu beristiqomahlah kamu, (sebagaimana diperintahkan kepadamu) di dalam kitab-Nya, ber‘aqîdahlah yang benar, beramal solehlah dan tinggalkan kebatilan tanpa menyimpang ke kiri ataupun ke kanan dan terus meneruslah dalam keadaan seperti itu sampai kamu wafat. (dan [juga] orang yang telah bertaubat bersama kamu), yaitu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Mukminin,  agar kalian mendapatkan balasan yang baik kelak di hari Perhitungan (yaumul-hisâb) dan hari Pembalasan (yaumul-jazâ’).

(Dan janganlah kalian melampaui batas), dengan berlebih-lebihan dari batas-batas yang telah ditentukan oleh Allâh Azza wa Jalla , baik di dalam keyakinan maupun amal.

 (Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan) Dia (Allâh Azza wa Jalla ) tidak akan pernah lalai terhadap apa yang kalian kerjakan dan Maha mengetahui segala sesuatu yang disembunyi-sembunyikan, meskipun tidak tampak di hadapan manusia.

Ayat Terberat Menurut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Ayat di ataslah yang menurut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat untuk dilaksanakan.

Ibnu ‘Abbâs  Radhiyallahu anhuma berkata:

مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : (( شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا )).

Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya[2]

Mengapa Ayat Tersebut Dianggap Sangat Berat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ?
Karena pada ayat tersebut mengandung perintah untuk beristiqomah. Sebenarnya seperti apakah istiqomah yang dimaksudkan, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai merasa sangat berat ketika mendapatkan perintah tersebut? Inilah yang menjadi bagian pembahasan artikel ini, serta penulis menambahkannya dengan sebab-sebab agar bisa beristiqomah, cara termudah untuk beristiqomah, hal-hal yang dapat merusak dan menghalangi sikap istiqomah serta keutamaan orang yang beristiqomah.

Pengertian Istiqomah
Beratnya perintah beristiqomah dapat dimengerti melalui definisi beberapa ulama berikut ini.

  1. Abu Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu ketika menafsirkan (tsummas-taqâmû): “Tidak berbuat syirik terhadap Allâh Azza wa Jalla dengan segala apapun.”[3]
  2. ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu : “Istiqâmah adalah lurus pada ketaatan (melaksanakan perintah) dan menjauhi larangan, serta tidak belok (ke kiri dan ke kanan) seperti beloknya serigala.” [4]
  3. Abul-Qâsim al-Qusyairi rahimahullah : “Istiqâmah adalah suatu derajat yang dengannya segala urusan (agama) menjadi sempurna dan dengannya akan didapatkan kebaikan-kebaikan dan keteraturan.” [5]
  4. An-Nawawi rahimahullah : “Lurus di atas ketaatan sampai diwafatkan dengan keadaan seperti itu.” [6]
  5. Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah : “Menapaki jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa berbelok-belok ke kanan dan ke kiri. Termasuk di dalamnya adalah mengerjakan seluruh perbuatan taat, secara lahir dan batin dan meninggalkan seluruh larangan seperti itu pula.” [7]

Hakekat Istiqâmah
Dari definisi-definisi (pengertian-pengertian) di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa hakekat istiqâmah meliputi hal-hal berikut:

  1. Mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan tidak berbuat syirik
  2. Berjalan di atas kebenaran (agama yang haq).
  3. Melaksanakan segala perintah, baik yang wâjib maupun yang sunnah, secara lahir dan batin.
  4. Meninggalkan segala larangan, baik yang haram maupun yang makrû
  5. Teratur dalam mengerjakan ketaatan.
  6. Terus-menerus dalam keadaan seperti itu, tidak belok ke kanan maupun ke kiri sampai ajal menjemput.

Dan sekali lagi sebagai penekanan, tampak jelas sulit dan beratnya beristiqomah yang terwujud dengan melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla secara kontinyu, padahal manusia mengalami pasang-surut keimanan dan menghadapi berbagai macam fitnah duniawi yang sangat berpotensi melunturkan semangat beristiqomah.

Keutamaan Orang yang Beristiqâmah
Keutamaan orang yang bisa ber-istiqâmah sangat banyak sekali. Akan tetapi, secara umum keutamaan  tersebut tercantum pada tiga ayat berikut:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ  ٣١ نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ ٣٢

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqâmah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan oleh Allâh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Fushshilat/41:30-32]

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata[8], “…Oleh karena itu, agama (Islam) seluruhnya terkandung dalam firman Allâh[9]: { فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ }  dan firman-Nya[10]: { إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ }

Sungguh besar keutamaan istiqomah!

Sebab-sebab Agar Dapat Mewujudkan Istiqomah
Seseorang bisa ber-istiqâmah karena sebab-sebab sebagai berikut:

1. Taufik dan hidayah dari Allâh Azza wa Jalla
Inilah sebab yang paling utama. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ

Barangsiapa yang Allâh menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allâh kesesatannya, niscaya Allâh akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit  [al-An’âm/6:125]

Oleh karena itu, sebisa mungkin kita melakukan berbagai hal yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla agar Allâh Azza wa Jalla  memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita.

2. Doa
Allâh Azza wa Jalla mengabulkan doa para hamba-Nya. Oleh karena itu, jika seseorang menginginkan istiqomah, maka ia harus banyak memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar bisa menjadi seorang yang mustaqîm (orang yang beristiqomah). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku [al-Baqarah/2: 186]

3. Mengikuti manhaj Ahlu Sunnah wal Jamâ’ah
Niat ikhlash dan rajin beribadah saja tidaklah cukup untuk bisa beristiqomah. Seseorang yang ingin ber-istiqâmah harus berjalan di jalan yang haq. Jika tidak demikian, percuma saja dia beristiqomah pada kesesatan yang justru nantinya akan menjerumuskannya ke dalam api neraka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan bahwa hanya ada satu kelompok yang senantiasa mengemban kebenarannya, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan mudhârat kepada mereka sampai datang perkara Allâh dan mereka tetap dengan kebenarannya  [11]

4. Sering melakukan proses muhâsabatun nafs (mengintrospeksi diri)
Orang yang ingin beristiqomah harus sering menjalankan proses muhasabatun nafs.  Jika seseorang  tidak menyadari akan hakikat apa yang dilakukannya yang berupa kebaikan dan dosa, maka dia tidak akan mau berubah. Semakin banyak seseorang berintrospeksi, maka semakin banyak pula ia akan menyadari bahwa amalan kebaikan yang dia lakukan belumlah seberapa dan dosa yang dilakukannya sudah sangat banyak dan bertumpuk-tumpuk. ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata:

حاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، فَإنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِيْ الْحِسَابِ غَدًا، أَنْ تُحَاسَبُوْا أَنْفُسَكُمْ اْليَوْمَ

Introspeksilah diri-diri kalian, sebelum nanti kalian ditunjukkan amalan-amalan kalian (di hari Perhitungan)! Timbang-timbanglah diri kalian, sebelum nanti kalian ditimbang (di hari mizan/penimbangan amal)! Sesungguhnya, mengintrospeksi diri pada saat ini lebih mudah ketimbang nanti ditunjukkan amalan-amalan (di hari Hisab).”[12]

5. Mengerjakan perbuatan baik setelah mengerjakan perbuatan buruk.
Salah satu sebab datangnya istiqomah mengiringi segala keburukan/kejelekan/dosa dengan perbuatan yang baik. Sebagai contoh, jika seseorang pernah mencuri, maka dia harus bertaubat dan mengembalikan harta curiannya itu, kemudian memperbanyak sedekah. Mudah-mudahan dengan bersedekah, dosa-dosanya dapat diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. [Hûd/11:114]

6. Tidak meninggalkan amalan-amalan kebaikan yang sudah biasa dikerjakan
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencela orang yang pernah beribadah dengan amalan tertentu kemudian orang tersebut meninggalkannya, sebagaimana diterangkan pada hadîts berikut:

عن عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- : (( يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ. ))

Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullâh! Janganlah kamu seperti si Fulan (si Anu), dulu dia mengerjakan shalat malam kemudian dia meninggalkannya.” [13]

Perlu menjadi catatan, bahwa yang menjadi tuntutan adalah kebersinambungan dalam mengerjakan suatu amalan, meskipun amalan itu sedikit, bukan kuantitasnya.

Pentingnya Mujâhadatun-nafs Dalam Menggapai Istiqomah
Istiqomah bukanlah suatu perkara yang mudah diraih. Untuk menggapainya, menjalankan mujâhadatun-nafs tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian yang selalu istiqomah. Mujâhadatun-nafs  adalah proses memaksa, melatih diri dan berjuang sekuat tenaga agar jiwa bisa selalu tunduk dan taat terhadap syariat. Mujâhadatun-nafs  dapat dilakukan dengan harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Harus bertekad kuat untuk merubah diri (al-‘azm) dan bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla
Tanpa tekad yang kuat, ke-istiqâmah-an tidak akan bisa dicapai. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ 

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya  [Ali ‘Imrân/3:159]

2. Mencintai Allâh dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu
Salah satu cara menumbuhkan tekad untuk beristiqomah adalah dengan terus-menerus mencari sebab agar bisa mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segala sesuatu. – Istiqomah sangat erat kaitannya dengan keimananan seseorang. Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا, وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ, وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga hal yang apabila ketiga hal tersebut berada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu: menjadikan kecintaannya kepada Allâh dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya kepada segala sesuatu selain keduanya, mencintai seseorang yang dia tidak mencintainya kecuali karena Allâh dan membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya jika dia dilempar ke dalam api [14]

Dengan memiliki rasa cinta yang seperti disebutkan di atas, maka seseorang akan terus berupaya memacu dirinya untuk bisa ber-istiqâmah.

3. Mengatur waktu dan aktivitas keseharian sebaik, sepadat dan seefektif mungkin
Seorang yang ingin beristiqomah harus benar-benar membuat jadwal kegiatannya untuk tiap hari, tiap pekan, tiap bulan dan tiap tahun. Untuk kegiatan harian, contohnya: ketika hendak melatih diri untuk shalat malam (tahajjud), maka ia mesti berusaha untuk tidur lebih awal (tidak lama setelah shalat Isyâ’) dan memasang jam alarm atau sejenisnya untuk dapat membangunkannya pada sepertiga malam terakhir.

Untuk kegiatan tiap pekan, misalnya, menargetkan pada setiap pekan ada satu hari dimana ia harus menyempatkan diri untuk berinfak kepada sekian orang, membantu orang lain dan tetangga.

Untuk kegiatan tahunan, seperti membiasakan diri untuk dapat beri’tikâf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhân, sehingga dia pun telah merencanakan hari libur (cuti) dari semua aktivitasnya.

4. Melaksanakan ibadah-ibadah sebaik mungkin seolah-olah ibadah tersebut adalah ibadah yang terakhir kali dan ajal akan menjemput
Orang yang ingin beristiqomah harus membiasakan diri ketika mengerjakan suatu ibadah tertentu, dia membayangkan bahwa seolah-olah dia tidak akan hidup lama lagi, sehingga ia akan benar-benar bersungguh-sungguh dalam beribadah dan meningkatkan kualitas ibadahnya.

5. Mengintrospeksi diri atas amalan-amalan baik yang telah ditinggalkannya dan terhadap amalan-amalan buruk yang telah dikerjakannya.
Setelah memasang target-target ibadah dan amalan-amalan, introspeksi diri setiap hari sangat dibutuhkan. Ini dilakukan agar seseorang bisa memperbaiki dirinya.

6. Turut andil dalam dakwah
Setelah Allâh Azza wa Jalla menyebutkan keutamaan orang yang beristiqomah dalam surat Fushshilat yang telah dicantum di atas, Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berdakwah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.’? [ Fushshilat/41:33]

Ini menunjukkan ada kaitan erat antara pencapaian istiqomah dengan berdakwah.

7. Rela bersabar untuk melatih diri dan mengekang hawa nafsu selama bertahun-tahun
Untuk dapat beristiqomah tidaklah mudah. Kita harus rela mengekang hawa nasu kita dan terus bermujâhadah selama bertahun-tahun. Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata:

كَابَدْتُ نَفْسِيْ أَرْبَعِيْنَ سَنَةٍ حَتَّى اسْتَقَمْتُ

Saya mengekang jiwaku selama empat puluh tahun barulah saya bisa beristiqomah  [15]

Hal-hal yang Merusak dan Menghalangi Istiqomah
1. Setan
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ 

Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus [al-A’râf/7:16]

2. Hawa nafsu
3. Lemahnya niat untuk berubah
4. Masyarakat dan keluarga yang rusak dan Islam yang dianggap asing
Masyarakat dan keluarga yang rusak/buruk dapat menghalangi seseorang untuk bisa ber-istiqâmah. Seseorang yang ingin bertobat dan ingin beristiqomah sering kali merasa tidak enak jika menyelisihi masyarakat atau keluarganya yang rusak.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Islam di akhir zaman akan terlihat asing dalam sabdanya:

 بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Oleh karena itu, beruntunglah orang-orang yang terasingkan [16]

Dan juga sabda beliau  Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berikut :

(( طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ))، فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (( أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سُوءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ )).

Beruntunglah orang-orang yang asing. Beliau pun ditanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu, ya Rasûlullâh?” Beliau pun menjawab, “(Mereka adalah) orang-orang shâlih di antara orang-orang jelek/rusak yang (jumlahnya) banyak. Orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada orang yang mematuhinya.” [17]

Oleh karena itu, jika seseorang ingin menjalankan Islam dan beristiqamah, pasti akan terlihat asing. Contohnya saja cadar, generasi Salaf tidak berselisih pendapat bahwa cadar itu disyariatkan di dalam Islam, wanita bercadar lebih afdhal dari yang tidak bercadar dan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwajibkan memakai cadar. Pada zaman sekarang, cadar sangat terlihat asing, bahkan sebagian orang awam/tidak berilmu mengidentikkannya dengan terorisme. Parahnya, sebagian orang yang dipandang berilmu di tengah masyarakat mengeluarkan pernyataan serupa.

5. Zaman yang penuh fitnah yang berbeda dengan zaman Salaf
Zaman yang kita jalani sekarang ini sangat berbeda dengan zaman generasi Salaf dahulu. Pada zaman ini, kaum Muslimin akan mendapatkan fitnah yang sangat besar. Jika seseorang ingin menjauhinya, fitnah tersebutlah yang akan datang kepadanya. Ini juga dapat menghalangi seseorang untuk beristiqomah.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu masa, (ketika itu) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti orang yang memegang bara api [18] [19]

6. Tidak adanya orang yang sering menasihati
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberi nasihat dan petunjuk kepada para sahabatnya, sehingga Allâh Azza wa Jalla mengatakan di dalam al-Qur’ân:

 ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus  [-Syûrâ/42:52]

Tidak adanya seorang penasihat di suatu daerah maka itu adalah suatu musibah yang sangat besar dan bisa menghalangi seseorang untuk beristiqomah. Oleh karena itu, perlu diingatkan kepada pembaca yang di wilayahnya tidak (belum) ada kajian Islam yang shahih untuk segera mendatangkan sang penasihat, atau mendatangi kajian-kajian atau dengan cara lain agar bisa selalu mendengarkan nasehat-nasehat yang baik yang dapat menenangkan dan meneguhkan jiwa di atas kebenaran.

7. Banyak berkecimpung dengan urusan dunia
Banyak berkecimpung dengan urusan dunia juga dapat menghalangi ke-istiqâmah-an. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ 

Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan [Ali ‘Imrân/3:185]

8. Teman yang jelek
Tidak diragukan bahwa teman yang jelek sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Oleh karena, pilihlah teman yang baik dan soleh yang bisa mengajak kita untuk bisa beristiqomah.

9. Takut dikatakan sebagai orang yang shaleh, alim, taat atau semisalnya
Ini juga dapat menghalangi seseorang untuk beristiqomah, terutama orang-orang yang memiliki rasa malu tinggi. Komentar masyarakat tidak perlu diperhatikan baik dalam rangka memuji atau mencemooh. Itu semua adalah ujian. Oang yang benar-benar mencintai Allâh Azza wa Jalla  , tidak akan menghiraukan hal tersebut.

10. Putus asa dengan rahmat dan pengampunan Allâh Azza wa Jalla sehingga tidak mau bertobat
Orang yang bergelimang dengan dosa, biasanya terbesik di hatinya, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang yang bisa ber-istiqâmah, sedangkan aku telah bergelimang dengan dosa dan hampir tidak ada kebaikan yang pernah aku perbuat?” Ketahuilah,  Allâh Azza wa Jalla Maha Pengampun dan menerima tobat hamba-hambanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  ٥٣ وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (54) Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)  [az-Zumar/39:53-54]

Kesimpulan

  1. Ayat yang menurut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat untuk dilaksanakan adalah ayat yang mengandung perintah untuk beristiqomah dalam surat Hû
  2. Hakekat istiqomah meliputi hal-hal berikut: berada di atas kebenaran, menjalankan semua perintah, meninggalkan semua larangan, teratur dalam ketaatan dan kebersinambungan dengan keadaan seperti itu sampai akhir hayat.
  3. Seseorang yang ingin beristiqomah harus menempuh cara-cara yang mengantarkan kepadanya.
  4. Mujâhadatun nafs , berperan penting dalam pencapaian istiqomah
  5. Banyak faktor yang mengganggu seorang Muslim untuk beristiqomah. Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang Mukmin
  6. Orang yang mencapai derajat istiqomah akan mendapat ganjaran yang sangat besar sebagaimana telah disebutkan. Wallâhu a’lam

Semoga Allâh Azza wa Jalla memudahkan kita meraih nikmat istiqomah sampai akhir hayat nanti. Âmîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Digabungkan dan diringkas dari Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm 4/534, Taisîr al-Karîm ar-Rahmân hlm. 390 dan Aisar at-Tafâsir 2/193.
[2] Lihat Tafsîr aL-Qurthubi 9/107. Akhir perkataan Ibnu ‘Abbâs semisal dengan apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3297 dan yang lainnya. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah no. 955.
[3] Lihat Jâmi’ al-‘Ulûm wal-Hikam hal. 235.
[4] Kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad hal. 115 dan Ma’âlimut-Tanzîl 4/203.
[5] Lihat Syarh Shahîh Muslim  1/199.
[6] Lihat Syarh Shahîh Muslim  1/199.
[7] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam hal.236.
[8] Lihat Tharîq Al-Hijratain wa Bab As-Sa’âdatain hal. 73.
[9] Yaitu ayat yang kita bahas ini.
[10] Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqâmah), tidak ada ketakutan pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih.” (QS Al-Ahqâf: 13)
[11] HR. Muslim no. 5059.
[12] Az-Zuhd wa ar-Raqâ’iq , Ibnul-Mubârak no. 307, al-Mushannaf , Ibnu Abi Syaibah no. 35600
[13] HR.  al-Bukhâri no. 1152.
[14] HR. al-Bukhâri no. 16, dan Muslim 173.
[15] Hilyatul-Auliyâ 3/147
[16] HR. Muslim no. 389
[17] HR. Ahmad no. 6650, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth
[18] Maksudnya, di tengah malam yang sangat gelap tidak ada yang bisa dijadikan sumber penerangan kecuali bara api. Apabila dia tidak memegangnya, maka dia tidak bisa selamat di jalan yang penuh rintangan, seperti: jalan berduri atau di pegunungan yang penuh dengan tebing. Apabila dia tidak berjalan, bahaya masih juga mengancamnya, seperti: dia akan diserang binatang buas atau yang lainnya. Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali harus berjalan dengan membawa bara api yang nanti akan melukai tangannya.
[19] HR. at-Tirmidzi no. 2260. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah no. 957.

Keteladanan Nabi Yusuf Alaihissallam Dalam Menghadapi Godaan Wanita

KETELADANAN NABI YUSUF ALAIHISSALLAM DALAM MENGHADAPI GODAAN WANITA

Oleh
Ustadz ‘Ashim bin Musthafa

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ ٣٣ فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ 

Yusuf berkata:  “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”. Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Yusuf/12:33-34]

Penjelasan Ayat.
Kilas Balik Fitnah Wanita yang Mengancam Nabi Yusuf Alaihissallam
Setelah selamat dari lubang sumur dan berpindah-tangan ke pejabat besar Mesir, kemudian Nabi Yusuf Alaihissallam tinggal dalam kemewahan. Beliau ternyata diperlakukan dengan baik, bukan layaknya budak belian pada umumnya. Tatkala usianya menginjak remaja, ketampanan paras menjadi simbol yang melekat pada beliau. Dalam peristiwa Isra` Mi’râj, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpainya di langit tingkat ketiga dan beliau berkomentar: “Sungguh, ia diberi separuh ketampanan (penduduk dunia)”.[1]

Ketampanan Nabi Yusuf Alaihissallam ini telah membuat istri majikannya terpikat, dan ia pun membuat rencana untuk memperdaya dan menjerumuskan Nabi Yusuf Alaihissallam ke dalam perbuatan hisyah (perzinaan). Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi beliau dari perbuatan maksiat tersebut.

Berita tergodanya istri pembesar Mesir dengan budaknya menyebar sampai ke telinga-telinga kaum Hawa pada masa itu. Awalnya, mereka mencela istri pembesar Mesir atas kejadian tersebut. Akan tetapi, wanita istri pembesar Mesir tidak kurang akal. Ia menempuh sebuah cara supaya wanita-wanita itu membenarkan dirinya sehingga sampai terpikat dengan seorang  remaja bernama Yusuf Alaihissallam .

Maka didatangkanlah wanita-wanita itu supaya menyaksikan sendiri ketampanan Nabi Yusuf Alaihissallam . Ternyata benar, mereka benar-benar tersihir oleh keelokannya. Bahkan mereka menganggapnya sebagai malaikat, lantaran sedemikian tampan paras beliau.

Keterpukauan dan kekaguman ini sampai mengakibatkan mereka tidak menyadari telah mengiris tangan-tangan mereka sendiri dengan pisau-pisau yang sengaja telah disediakan oleh istri pembesar Mesir, untuk membalas tipu daya wanita-wanita tersebut, yang sebenarnya juga memendam hasrat besar untuk menyaksikan keelokan wajah Nabi Yusuf Alaihissallam dengan mata kepala mereka sendiri. Bukan murni untuk mencela istri sang pembesar Mesir itu.

Selanjutnya, istri pembesar Mesir memberitahukan kepada para wanita yang hadir, mengenai kepribadian bagus yang tertanam pada diri Nabi Yusuf Alaihissallam . Yaitu, sifat ‘iffah (ketangguhan untuk menjaga kehormatan diri), tidak sudi menyambut ajakan berbuat tidak senonoh. Karena penolakan itu, muncullah ancaman dari mulut wanita istri pembesar Mesir itu. Yakni dijeblosankannya Nabi Yusuf Alaihissallam ke dalam penjara dan hidup dalam keadaan terhina.

Nabi Yusuf Alaihissallam Memohon Perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Saat itulah Nabi Yusuf Alaihissallam berlindung diri dengan Rabbnya, dan beliau memohon pertolongan kepada-Nya dari keburukan dan tipu-daya.

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ

(Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku).

Ini menunjukkan bahwa para wanita itu menyarankan Nabi Yusuf Alaihissallam supaya patuh terhadap tuan putrinya, dan mengupayakan untuk memperdaya Yusuf Alaihissallam dalam masalah ini. Akan tetapi, Nabi Yusuf Alaihissallam lebih menyukai terkurung dalam penjara dan siksaan duniawi ketimbang kenikmatan sesaat yang akan mendatangkan siksaan pedih.[2]

Sekaligus, ayat di atas juga mencerminkan bahwasanya istri pejabat masih saja mendesak Nabi Yusuf Alaihissallam untuk mau menerima ajakannya, dan mengancamnya dengan penjara dan kurungan, bila menolak ajakan itu. Pasalnya, seandainya wanita itu tidak menekan dan melancarkan ancaman, maka mustahil membuat Nabi Yusuf Alaihissallam sampai mengatakan “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.[3]

Walaupun banyak kondisi yang sangat mendukung terjadinya perbuatan zina yang nanti akan dikemukakan satu-persatu, tetapi Nabi Yusuf Alaihissallam  lebih mengutamakan ridha dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Begitu juga kecintaan kepada-Nya, telah mendorongnya untuk memilih hari-harinya hidup di bui daripada berbuat zina.[4]

وَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ

Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)

Jika Engkau (wahai Rabbku) menyerahkan pengendalian urusan ini kepada diriku sendiri,  sesungguhnya aku lemah, tiada daya, tidak mempunyai kekuatan, tidak sanggup mendatangkan bahaya dan kemanfaatan kecuali dengan bantuan dan kekuatan-Mu. Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mulah tempat sandaran, jangan Engkau serahkan pada diriku sendiri[5]

وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

(dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh).

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan: “Dengan kecondonganku kepada mereka, aku akan menjadi orang-orang yang tidak mengetahui hak-Mu dan menentang perintah dan larangan-Mu”. [6]

Penyambutan terhadap ajakan itu, menyebabkan seseorang terjerumus dalam dosa dan berhak menyandang celaan atau telah bertindak dengan perbuatan orang-orang yang tolol. Karena berarti lebih mengutamakan kenikmatan sesaat, dan akan sangat menyengsarakannya di akhirat kelak daripada kenikmatan abadi dan kesenangan yang beraneka macam di Jannatun-Na’im. Orang yang memilih ini daripada itu, apakah ada orang yang lebih bodoh darinya?[7] Dan berdasarkan ijma’ para ulama, orang yang dipaksa berzina dengan ancaman penjara, tetap saja tidak boleh untuk melakukannya. [8]

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: “Ia mengetahui kalau dirinya tidak mampu menghindarkan diri dari ajakan itu. Seandainya Rabbnya tidak menjaga dan menyelamatkannya dari makar para wanita itu, atas dasar nalurinya akan condong kepada mereka dan termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh. Ini merupakan indikasi kesempurnaan ma’rifat beliau kepada Alllah dan dirinya (yang lemah)”.[9]

Dengan ini, Nabi Yusuf Alaihissallam berarti telah mencapai kedudukan yang sempurna. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya perzinaan, seperti usianya yang remaja dan anugerah ketampanan dan kesempurnaan pribadi, digoda oleh majikan wanita, seorang istri pejabat Mesir yang juga berwajah elok, kaya dan berkedudukan, namun keadaan seperti itu tidak menggoyahkan keteguhan hati Nabi Yusuf Alaihissallam . Beliau lebih memilih hidup terhina dalam jeruji penjara daripada melakukan perbuatan buruk,  karena belaiu takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berharap pahala dari-Nya.[10]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menyebutkan rahasia Nabi Yusuf Alaihissallam dapat selamat dari keadaan genting tersebut. Yakni, (setelah taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ), juga karena ilmu dan akal pikiran sehat yang mengajaknya untuk lebih mengutamakan kemaslahatan dan kenikmatan yang terbesar, serta lebih mengedepankan perkara yang kesudahannya terpuji. [11]

Artinya, ketika aspek jahâlah (kebodohan) membelenggu manusia, baik masih dalam taraf yang ringan ataupun sudah pekat. Hawa nafsu manusia selalu berbisik kepada obyek yang buruk-buruk, yang tidak bermanfaat lagi membahayakannya di hari esok. Demikian ini, lantaran sisi jahâlah (kebodohan) yang menguasai jiwa tersebut. Oleh karena itu, siapa saja yang mencermati Al-Qur`anul-Karim, maka akan berhenti pada kesimpulan bahwa faktor kebodohanlah yang menjadi pemicu terjadinya dosa-dosa dan maksiat. Tidak mengherankan bila Nabi Yusuf Alaihissallam , seperti yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat di atas, akan menilai dirinya sebagai manusia bodoh jika menyambut ajakan wanita istri penguasa Mesir, majikannya. Nabi Yusuf Alaihissallam berkata: “Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”. 

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Pada ayat ini terdapat dalil, bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa, ia melakukannya karena dorongan unsur jahâlah (kebodohan pada dirinya, red.)”.[12] Begitu juga Syaikh Abu Bakar al-Jazâiri hafizhahullah mengatakan, al-jahlu (ketidaktahuan/tidak mengenal) Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, janji baik dan ancaman, serta tidak mengenal syariatnya merupakan penyebab terjadinya setiap kejahatan di dunia.[13] Banyak ayat yang menjelaskan pengertian yang sama (al-jahlu) dengan ayat di atas.

Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman saat menceritakan kaum Nabi Musa Alaihissallam, yang artinya:

قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ

Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab : “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”.[al-A’râf/7:138]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ ٥٤ اَىِٕنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِ ۗبَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat(nya)?” Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. [an-Naml/27: 54-55].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’al,

قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ

Katakanlah:”Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” [az-Zumâr/39:64].

Oleh sebab itu, siapa saja yang bermaksiat kepada Allah dan melakukan perbuatan dosa, maka orang itu adalah jâhil (bodoh), sebagaimana telah menjadi kenyataan yang dimaklumi oleh generasi Salafush-Shalih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَاُولٰۤىِٕكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya… [an-Nisâ`/4:17].

Makna bi jahâlah adalah kebodohan (ketidaktahuan) pelakunya terhadap akibat buruk dari perbuatannya, yang dapat mendatangkan kemurkaan dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sehingga setiap orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka ia bodoh ditinjau dari segi ini. Kendatipun ia mengetahui (memiliki ilmu) kalau perbuatan itu memang diharamkan; kebodohannya terhadap pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala , kebodohannya terhadap dampak maksiat yang bisa mengurangi keimanan atau menghapuskannya.

Qatadah rahimahullah berkata,”Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkumpul, dan mereka memandang setiap perkara yang dengannya Allah didurhakai, berarti itu bentuk jahâlah (kebodohan), baik dikerjakan dengan sengaja maupun tidak.”

As-Suddi rahimahullah berkata: “Selama seseorang masih bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , berarti ia masih bodoh”. [14]

Allah Subhanahu wa Ta’ala Mengabulkan Permohonan Nabi Yusuf Alaihissallam .

فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ

(Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf ) saat memanjatkan doa kepada-Nya.

فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ

(dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka): wanita itu masih saja bernafsu menggoda Nabi Yusuf Alaihissallam , dan ia menempuh segala cara yang mampu ia lakukan, tetapi Nabi Yusuf Alaihissallam bergeming, dan membuatnya patah arang, dan Allah pun memalingkan tipu-daya mereka dari Nabi Yusuf Alaihissallam .

اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar): doa Nabi Yusuf Alaihissallam saat ia berdoa supaya Allah menghindarkannya dari tipu daya kaum wanita, dan doa setiap makhluk-Nya (lagi Maha Mengetahui),  keinginan dan kebutuhan Nabi Yusuf Alaihissallam dan setiap hal yang dapat memperbaiki kondisinya serta mengetahui kebutuhan seluruh makhluk, dan hal-hal yang dapat memperbaiki keadaan mereka.[15] Ini merupakan wujud pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Yusuf Alaihissallam dari fitnah yang menghimpit dan berat ini.[16]

Mengapa disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkenankan doa Nabi Yusuf Alaihissallam , padahal tidak ada doa yang muncul dari bibirnya, dan Nabi Yusuf Alaihissallam hanya memberitahukan jika penjara lebih disukainya daripada bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Jawabnya, lantaran dengan itulah Nabi Yusuf Alaihissallam menyampaikan pengaduan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan [Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)] mengandung makna permohonan doa Nabi Yusuf Alaihissallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghindarkan dari makar para penggoda. Oleh karena itu, lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doanya.[17]

Dalam konteks ini, sudah tentu Nabi Yusuf Alaihissallam masuk dalam kandungan hadits tujuh golongan yang meraih naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ  (وفيه) وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka dengan naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. (Salah satunya disebutkan): Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan paras elok (untuk berbuat zina), akan tetapi ia mengatakan: “Saya takut kepada Allah”. [HR al-Bukhari dan Muslim].

Wanita, Fitnah Paling Berbahaya Bagi Lelaki
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kaum lelaki, bahwa fitnah wanita merupakan fitnah terberat yang dirasakan seorang lelaki. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalkan sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita. [HR al-Bukhari dan Muslim].

Bahkan sejumlah ulama menyimpulkan, bahwasanya makar dan tipu daya wanita lebih berbahaya dari pada tipu daya setan. Yaitu dengan membandingkan penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang tipu daya setan dengan tipu daya wanita dalam surat ini.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang tipu daya setan, (karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah) -Qs an-Nisâ`/4 ayat 76- sedangkan mengenai tipu-daya wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman   اِنَّهٗ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۗاِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيْمٌ   (Sesungguhnya tipu daya mereka itu sangat besar) -Qs Yusuf/12 ayat 28. Komparasi ini menunjukkan bahwa tipu daya wanita lebih berbahaya daripada tipu daya setan.[18]

Alangkah Dahsyat Fitnah yang Menimpa Nabi Yusuf Alaihissallam [19]
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyampaikan betapa besarnya fitnah perzinaan yang menghadang Nabi Yusuf Alaihissallam .  Banyak faktor yang dapat menjerumuskan Nabi Yusuf Alaihissallam ke dalam lembah kenistaan, yang tidak pernah dijumpai oleh siapapun.

Penjelasannya sebagai berikut.

  1. Naluri Nabi Yusuf Alaihissallam sebagai lelaki, beliau memiliki hasrat terhadap perempuan.
  2. Status sebagai pemuda, yang umumnya memiliki rangsangan nafsu syahwat yang kuat. Terlebih lagi statusnya juga masih lajang, tanpa ataupun budak perempuan yang dapat dijadikan untuk menyalurkan hasrat kelelakiannya, sekaligus tak ada anggota keluarga yang membebaninya.
  3. Ketampanan yang dimiliki Nabi Yusuf Alaihissallam menjadi sumber daya pikat yang sangat berpengaruh, sehingga menyebabkan wanita tertarik kepadanya.
  4. Keberadaannya sebagai orang asing, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kebiasaan orang yang bermukim di lingkungan sendiri akan merasa malu berbuat tidak senonoh. Khawatir bila perbuatan nistanya terbongkar, yang pada gilirannya kehormatannya pun bisa terpuruk di mata masyarakatnya. Akan tetapi, meski di tempat asing, Nabi Yusuf Alaihissallam tidak ternoda godaan.
  5. Statusnya yang seperti mamlûk (budak belian). Seorang budak, ia sering keluar-masuk ke tempat majikan. Dia pun tidak terlalu memikirkan hal-hal yang dihindari oleh seseorang yang merdeka.
  6. Si wanita penggoda memiliki status sosial tinggi, sekaligus rupawan.
  7. Yang memulai menggoda adalah wanita itu, bukan Nabi Yusuf Alaihissallam . Sehingga hilanglah beban seorang lelaki untuk melancarkan jurus-jurus cinta untuk bisa merayu seorang wanita. Hilang pula perasaan takut ditolak wanita itu. Belum lagi agresivitas wanita tersebut dalam mendekati Yusuf Alaihissallam , yang berarti tindakannya itu bukan ditujukan untuk menguji ketahanan dan kesucian Nabi Yusuf Alaihissallam , tetapi benar-benar mengajaknya berbuat nista. Akan tetapi, Nabi Yusuf Alaihissallam bisa menjaga diri sehingga terhindar dari perbuatan yang menjijikkan.
  8. Tempat kejadian berada di dalam rumah yang berada dalam kekuasaan pemilik, yaitu wanita penggoda tersebut. Sehingga ia leluasa dan mengetahui waktu-waktu yang sepi, hingga memungkinkannya melakukan perzinaan tanpa diketahui orang lain. Wanita itu pun melakukan ancaman bila hasratnya tidak dipenuhi, Tetapi Nabi Yusuf Alaihissallam menghindar dan menolaknya.
  9. Begitu pula wanita pemilik rumah telah mengunci pintu-pintu dengan rapat, untuk mengantipasi masuknya seseorang secara mendadak. Keadaan rumah benar-benar kosong kecuali Nabi Yusuf Alaihissallam dan wanita itu. Tetapi Nabi Yusuf Alaihissallam bergeming untuk tidak melakukannya.
  10. Ketika gagal merayu Nabi Yusuf Alaihissallam , maka wanita istri pembesar itu mengundang kaum wanita lainnya, sehingga timbul opini untuk memojokkan Nabi Yusuf Alaihissallam .
  11. Adapun suami wanita pembesar itu tidak terlalu memperlihatkan kecemburuan, sehingga memisahkan keduanya. Terhadap perbuatan nista istrinya, sang pembesar hanya meminta agar Nabi Yusuf Alaihissallam melupakan kejadian tersebut, dan menuntut istrinya untuk bertaubat. Padahal, kecemburuan seorang suami dapat menjadi penangkal yang tepat dalam kasus semacam ini, supaya tidak terulang di kemudian hari.

Walaupun sangat mencekam, Nabi Yusuf Alaihissallam tidak sudi menyambut ajakan wanita itu. Dia lebih mengutamakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada hak majikan wanitanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga kehormatannya.  Mengapa Nabi Yusuf Alaihissallam dikatakan berhasil menjaga kehormatannya, padahal Al-Qur`ân menyatakan kalau Nabi Yusuf pun memiliki keinginan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya.

Jawabnya,[20] al hamm (keinginan) yang muncul dari beliau hanya sekedar khatharât (bisikan hati semata), yang kemudian ia singkirkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan kebaikan. Sedangkan hasrat yang berkecamuk pada wanita itu adalah hamm ishrâr (hasrat yang terus-menerus). Dia mengerahkan segala upaya untuk mewujudkannya. Akan tetapi gagal. Jadi, dua keinginan yang ada pada Nabi Yusuf Alaihissallam dengan wanita itu berbeda.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Keinginan itu ada dua macam, hamm khatharât dan ishrâr. Hammul-khatharât tidak diperhitungkan sebagai dosa, dan hammul-ishrâr diperhitungkan sebagai dosa”.

Ringkasnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perlindungan kepada Nabi Yusuf Alaihissallam dengan berbagai faktor pendukung, sehingga beliau terhindar dari perbuatan nista tersebut. Faktor-faktor itu meliputi: ketakwaan kepada Allah, memperhatikan hak majikan yang telah memuliakannya, memelihara diri dari tindakan aniaya yang tidak akan membuat pelakunya selamat. Begitu juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan anugerah berupa keteguhan iman, sehingga menghasilkan ketaatan untuk mengerjakan perintah-perintah dan menghindari larangan-larangan-Nya.

Substansi dari perlindungan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memalingkan Nabi Yusuf Alaihissallam dari keburukan dan perbuatan keji, karena ia tergolong hamba-Nya yang ikhlas kepada-Nya dalam beribadah. Allah juga telah mengikhlaskan hati, memilih dan mengistimewakannya bagi diri-Nya, mencurahkan kepadanya berbagai kenikmatan, dan menyelamatkannya dari berbagai keburukan. Dengan pemeliharaan Allah itu, ia pun menjadi insan pilihan-Nya.

كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.  Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.

Syaikhul-Islam rahimahullah berkata: “Seandainya Nabi Yusuf Alaihissallam telah berbuat dosa, niscaya akan bertaubat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan kejadian dosa pada nabi kecuali disertai dengan taubat. Sedangkan (di sini), Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebut masalah taubat. Sehingga dalam kasus yang dialaminya itu dapat diketahui, beliau q sama sekali tidak berbuat dosa. Wallahu a’lam“. [21]

Pelajaran Ayat.

  1. Nabi Yusuf Alaihissallam lebih memilih menghuni penjara daripada berbuat maksiat. Demikianlah seharusnya seorang hamba, bila di hadapkan pada dua pilihan ujian: berbuat maksiat atau hukuman duniawi, maka ia memilih sanksi duniawi ketimbang melakukan perbuatan dosa yang mendatangkan hukuman berat di dunia dan akhirat. Karena itulah, termasuk dari tanda keimanan, yaitu seorang hamba benci kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke nyala api.
  2. Nabi Yusuf Alaihissallam memilih masuk penjara daripada melakukan kemaksiatan meskipun dibawah ancaman. Sikap ini termasuk dalam kategori tanda kebenaran iman.
  3. Nabi Yusuf Alaihissallam memilih bahaya yang lebih ringan. Ini merupakan kaidah syar’iyyah yang telah dipakai oleh ulama-ulama terdahulu, untuk menghindari bahaya yang lebih berat.
  4. Menghuni penjara tidak selalu menjadi petunjuk bahwa orang itu berkelakukan buruk. Sebab, seperti dicontohkan, Nabi Yusuf Alaihissallam adalah kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala . Bahkan masuk penjara bisa menjadi tonggak awal bagi masa depan yang lebih baik.
  5. Jika seorang hamba menyaksikan sebuah tempat yang mengandung fitnah dan faktor-faktor penggoda untuk berbuat maksiat, semestinya ia bergegas pergi dan menjau darinya.
  6. Mewaspadai bahaya khalwat, Yaitu berduaan dengan wanita (laki-laki) asing, yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Juga, harus mewaspadai getaran cinta yang ditakutkan memantik bahaya.
  7. Hasrat yang muncul pada Nabi Yusuf Alaihissallam terhadap wanita tersebut, yang kemudian ia singkirkan karena Allah, menjadi salah satu tangga yang mengangkatnya kepada Allah menuju kedudukan yang dekat dengan-Nya.
  8. Seorang hamba, seharusnya selalu mencari perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah pemeliharaan-Nya ketika berhadapan dengan pemicu-pemicu maksiat, kemudian berlepas diri sikap percaya diri yang ada pada daya dan kekuatan pribadinya.
  9. Seseorang tidak terpelihara dari maksiat kecuali karena pertolongan dari Allah Azza wa Jalla.
  10. Allah tidak akan menyia-nyiakan keteguhan iman, keseriusan hati, dan usaha seorang hamba yang muhsin.
  11. Seseorang yang sudah tercelup keimanan pada hatinya, ia adalah seorang yang ikhlas karena Allah pada semua perbuatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyingkirkan berbagai kejelekan, perbuatan keji dan maksiat (dari dirinya) dengan kekuatan iman dan keikhlasannya, sebagai balasan bagi keimanan dan keikhlasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
  12. Kisah ini menunjukkan keindahan batin Nabi Yusuf Alaihissallam , yaitu sifat iffah (penjagaan kehormatan diri) yang besar dari godaan maksiat.
  13. Sesungguhnya ilmu yang benar dan akal yang sehat akan membimbing pemiliknya kepada kebaikan dan menahannya dari kejelekan. Sebaliknya, kebodohan akan menjerumuskan seseorang selalu memperturutkan bisikan hawa nafsunya, walaupun merupakan maksiat yang berbahaya bagi pelakunya.
  14. Kisah dalam ayat ini memperlihatkan tentang buruknya kebodohan, dan celaan bagi orang bodoh (jahil).

Maraji`:

  1. Al-Qur`ân dan Terjemahannya, Cet. Mujamma’ Malik Fahd, Madinah.
  2. Ad-Dâ` wad-Dawâ`, Imam Ibnul-Qayyim, KSA, Cet. III, Th. 1419 H – 1999 M.
  3. Adhwâul-Bayâni fi Idhâhil-Qur`âni bil-Qur`ân, Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqithi, Maktabah Ibni Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1415 H – 1995 M.
  4. Ahkâmul-Qur`ân, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdullah (Ibnul-‘Arabi), Tahqiq: ‘Abdur-Razzâq al- Mahdi, Dârul-Kitâbil ‘Arabi, Cet I, Th. 1421 H – 2000 M.
  5. Aisarut-Tafâsîr, Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.
  6. Al-Jâmi li Ahkâmîl-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-‘Arabi, Cet. IV, Th. 1422H – 2001M.
  7. Asbâbu Ziyâdatil-Imân wa Nuqshâni, Prof. Dr. ‘Abdur-Razzâq bin Abdul-Muhsin al-‘Abbâd, Penerbit Ghirâs, Cet. III, Th. 1424 H – 2003 M.
  8. Ithâful Ilf bi Dzikril-Fawâidil-Alfi wan-Naif min Sûrati Yûsuf q , Muhammad bin Mûsa Alu Nashr dan Salîm bin ‘Id al-Hilâli, Maktabah ar-Rusyd, Cet. I, Th. 1424 H – 2003 M.
  9. Jami’ul-Bayân ‘an Ta`wîl Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarîr ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cet. I, Th. 1423 H – 2002 M.
  10. Ma’âlimut-Tanzîl, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi, Tahqîq dan Takhrîj: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsmân Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaimân Muslim al-Kharsy Dâr Thaibah, Th. 1411 H.
  11. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Tahqîq: Sâmi bin Muhammad as-Salâmah, Dar Thaibah, Riyâdh, Cet. I, Th. 1422 H – 2002 M.
  12. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, ‘Allâmah Syaikh Abdur-Rahmân bin Nâshir as-Sa’di, Dârul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR Muslim no. 162 dari Sahabat Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.
[2] Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur`ân (9/159), Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[3] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/262).
[4] Ad-Dâ` wad-Dawâ`, hlm. 322.
[5] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm  (4/386).
[6] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/263).
[7] Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[8] Ahkâmul-Qur`ân (3/39).
[9] Ad-Dâ` wad-Dawâ`, hlm. 322.
[10] Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (4/386-387).
[11] Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[12] Ma’âlimut-Tanzîl (4/239).
[13] Aisarut-Tafâsîr  (2/610).
[14] Tentang korelasi antara kebodohan dengan perbuatan maksiat seorang muslim, dikutip dari kitab Asbâbu Ziyâdatil-Imân wa Nuqshânihi, hlm. 62-64.
[15] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/264).
[16] Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[17] Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/264).
[18] Adhwâ-ul Bayân (3/63).
[19] Diringkas dari ad-Dâ` wad-Dawâ`, hlm. 319-322. Lihat Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (4/387) dan Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[20] Ithâful lf bi Dzikril-Fawâidil-Alfi wan-Naif min Sûrati Yûsuf q (1/324).
[21] Al-Fatâwa (15/149, 17/30-31).

Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Dampak Negatif dari Dosa dan Kemaksiatan
Tidak diragukan bahwa pengaruh dosa sangat berbahaya, bahkan ia adalah sebab utama adanya kesengsaraan di dalam kehidupan dunia, kesempitan di dalam kubur, dan siksa pedih di dalam kehidupan akhirat.

Dan di antara yang perlu diketahui bahwa dosa dan kemaksiatan memiliki dampak negatif, dan tidak diragukan bahwa bahaya dosa terhadap hati bagaikan bahaya racun terhadap badan, semua bertingkat-tingkat dan bermacam-macam. Dan apakah di dunia ini ada sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari-pada penyakit yang timbul karena perbuatan dosa dan kemaksiatan?

  • Apakah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawwa dari Surga, tempat kenikmatan dan ke-lezatan menuju dunia yang merupakan tempat yang penuh dengan kesedihan dan cobaan?
  • Dan apakah yang menjadikan iblis terlaknat keluar dari kerajaan langit? Apakah yang menjadikan dia tercampakkan sehingga berubah bentuk, zhahirnya memiliki bentuk yang paling buruk, sedangkan dalamnya adalah bentuk yang sangat busuk? Yang dekat berubah menjadi jauh, kasih sayang berubah menjadi laknat, keindahan berubah menjadi kebusukan, Surga berubah menjadi api yang menyala-nyala, keimanan berubah menjadi kekufuran, kekasih yang paling dekat berubah menjadi musuh paling garang. Hiruk-pikuk tasbih, taqdis, dan tahlil berubah menjadi hiruk-pikuk kekufuran, kemusyrikan, kebohongan dan kemaksiatan. Pakaian keimanan digantikan dengan pakaian kekufuran dan kefasikan. Akhirnya dia menjadi makhluk yang sangat hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemarahan Allah pun menimpanya, maka jadilah dia sebagai pemimpin bagi seluruh orang yang fasiq dan penuh dosa. Dia pun ridha untuk memimpin dalam kefasikan setelah menjadi ahli ibadah dan pemimpin kebaikan. Hanya kepada-Mu ya Allah! Kami semua berlindung untuk tidak menyalahi segala perintah-Mu dan tidak melakukan segala yang dilarang oleh-Mu!
  • Apakah yang telah menenggelamkan semua penduduk bumi sehingga air melebihi kepala mereka bahkan melebihi gunung?
  • Apakah yang telah mendorong angin untuk menerbangkan kaum ‘Aad sehingga membuat mereka mati di atas bumi, seakan-akan mereka adalah batang-batang pohon kurma yang roboh. Semua rumah, kebun, dan binatang ternak mereka hancur sehingga menjadi sebuah pelajaran bagi umat setelahnya sampai hari Kiamat?
  • Apakah yang telah mendorong sebuah teriakan kepada kaum Tsamud sehingga hati-hati mereka terpotong-potong di dalam tenggorokan, yang pada akhirnya mereka semua mati?
  • Apakah yang telah menjadikan kampung kaum Nabi Luth Alaihissallam terangkat sehingga para Malaikat mendengarkan lolongan anjingnya. Lalu kampung tersebut dibalikkan, yang atas ada di bawah, mereka semua hancur, lalu mereka dilempari dengan batu-batu dari langit, bermacam siksaan menyatu kepada mereka yang belum pernah terjadi kepada umat yang lainnya dan untuk saudara-saudara mereka ada siksaan seperti itu pula, dan sesungguhnya siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim?
  • Apakah yang telah menjadi sebab datangnya awan adzab kepada kaum Nabi Syu’aib Alaaihissallam. Ia bagaikan bayangan akan tetapi setelah sampai di kepala mereka, awan tersebut menghujani mereka dengan api yang menyala-nyala?
  • Apakah yang menyebabkan Fir’aun dan para pengikutnya tenggelam di tengah lautan, kemudian ruhnya dipindahkan ke Neraka Jahannam, jasadnya tenggelam sedangkan ruhnya terbakar?
  • Apakah yang menjadi sebab ditenggelamkannya rumah, harta, dan semua keluarga Qarun ke dalam bumi?
  • Apakah yang menyebabkan masa-masa setelah Nabi Nuh Alaihissallam ada di dalam berbagai macam siksaan?
  • Apakah yang telah menghancurkan kaum Shahib Yasin dengan sebuah teriakan sehingga pada akhirnya mereka mati?
  • Apakah yang telah menjadi sebab sehingga Allah mengutus orang-orang yang memiliki kekuatan kepada Bani Israil, mereka merajalela di sekitar kampung-kampung, mereka membunuh para lelaki dan menahan wanita juga anak-anak. Mereka membakar rumah dan merampas harta, kemudian Allah mengutus mereka untuk kedua kalinya untuk menghancurkan Bani Israil?
  • Apakah yang menjadi sebab sehingga mereka ditimpa dengan berbagai macam siksaan, dengan pembunuhan, penawanan, penghancuran negeri, dengan kejahatan para pemimpin, diubah bentuk menjadi kera, dan akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah,sebagaimana dalam firman-Nya:

 لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَنْ يَّسُوْمُهُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِۗ

“… Bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka adzab yang seburuk-buruknya…” [Al-‘Araaf/7: 167].[1]

Inilah sebagian dampak negatif yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat di dunia, sedangkan di dalam Barzakh, maka sesungguhnya ia adalah taman dari taman-taman Surga atau merupakan satu lubang dari lubang-lubang Neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati alam Barzakh dengan ungkapannya:

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلاَّ الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ.

Aku sama sekali tidak pernah melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan daripada kuburan.”[2]

Di sanalah rasa ngeri, kegelapan dan berbagai macam siksaan bagi orang yang telah melakukan amal buruk. Di sana pula kebahagiaan, cahaya, dan berbagai macam nikmat bagi orang yang telah melakukan amal shalih.

Kemaksiatan itu dapat membutakan mata hati, menghilangkan cahayanya, menghalangi jalan ilmu, dan menghilangkan gemerlapnya sebuah petunjuk.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mereka sedang berkumpul dan menduga adanya benih-benih tersebut, “Aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Senantiasa cahaya tersebut melemah dan sedikit demi sedikit akan lenyap, sedangkan kegelapan maksiat semakin kuat sehingga ia bagaikan malam yang sangat gelap. Berapa banyak orang yang jatuh dan tidak dapat melihat, ia bagaikan orang buta yang keluar pada malam yang sangat gelap penuh dengan mara bahaya. Keselamatan yang sangat berharga!! Akan tetapi kebinasaan lebih cepat datang!! Kegelapan semakin kuat, sedangkan ia terus saja merayap dari hati menuju anggota badan yang lainnya, sehingga muka-muka semakin gelap sesuai dengan daya kemaksiatan yang telah menimpanya. Lalu ketika kematian datang kepadanya, maka kemaksiatan tersebut akan tampak di alam Barzakh, sehingga kuburannya penuh dengan kegelapan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّى يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ.

Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan yang menimpa penghuninya dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla meneranginya dengan do’aku kepada mereka.”[3]

Pada hari Kiamat nanti dimana seluruh hamba dikumpulkan, muka-muka itu akan tampak kelihatan dan setiap orang melihatnya sedangkan ia akan menjadi sangat hitam bagaikan arang. Aduhai!! Amat pedihnya siksaan ini yang sama sekali tidak dapat ditimbang dengan seluruh kenikmatan yang di dapatkan di dunia dari awal sampai akhir, padahal kesulitan hidup juga kepedihan yang dirasakan olehnya di dunia hanyalah khayalan sesaat! Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.[4]

Pokok-pokok Dosa dan Pembagiannya:
Sebagaimana dosa bermacam-macam dalam kerusakan dan tingkatan-tingkatannya, maka siksaan yang diakibatkannya di dunia dan alam Barzakh pun bermacam-macam.

Di dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan -dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala- sebuah fasal yang sangat singkat dan mencakup pokok-pokok dosa dan macam-macamnya.

Pokok sebuah dosa.
Pokok sebuah dosa ada dua macam: meninggalkan perintah dan melakukan perbuatan yang dilarang.

Keduanya merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kedua orang tua jin dan manusia (iblis dan Adam).[5]

Meninggalkan sebuah perintah lebih besar di sisi Allah daripada melakukan perbuatan
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang Adam untuk tidak memakan buah dari sebuah pohon, tetapi dia memakannya, lalu dia bertaubat kepada Allah. Sedangkan iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, akan tetapi dia membangkang perintah tersebut dan tidak bertaubat.[6]

Awal berbagai kesalahan ada tiga:

  1. Inilah yang telah menjadikan iblis kepada keadaannya (dilaknat oleh Allah).
  2. Inilah yang menjadikan Adam keluar dari Surga.
  3. Inilah yang menjadikan salah satu dari anak Adam membunuh yang lainnya.

Sehingga siapa saja yang terjaga dirinya dari tiga hal ini, maka dirinya telah terjaga dari segala bentuk kejelekan.

Kekafiran timbulnya karena kesombongan, kemaksiatan timbul karena kerakusan, dan perbuatan zhalim timbul karena iri hati.[7]

Pembagian dosa.
Dosa itu terbagi kepada empat bagian:[8] Mulkiyyah, Syaithaniyyah, Sabu’iyyah, dan Bahimiyyah.

Mulkiyyah
Adalah sebuah sikap di mana seorang hamba melakukan segala hal yang sebenarnya merupakan hak rububiyyah Allah, seperti sombong, merasa besar, memaksa, merasa tinggi, menjadikan orang lain sebagai hamba-Nya, dan yang lainnya.

Masuk ke dalam kategori dosa macam ini adalah syirik kepada Allah. Ia terbagi kepada dua bagian:

  1. Syirik di dalam sifat dan Nama-Nama-Nya.
  2. Syirik di dalam bermuamalah kepada-Nya.

Bagian kedua ini terkadang tidak mewajibkan (mengharuskan) seseorang masuk ke dalam Neraka, walaupun amal yang ia lakukan pada waktu itu hancur.

Dosa dengan kategori seperti ini merupakan dosa yang paling berat, masuk ke dalamnya adalah mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu dalam penciptaan dan urusan-Nya.

Sehingga siapa saja yang melakukan dosa seperti ini, maka sesungguhnya ia telah mencabut makna Rububiyyah dan Mulkiyyah dari Allah. Dia telah menjadikan sekutu bagi-Nya. Inilah dosa yang paling berat sehingga sebuah amal sama sekali menjadi tidak berarti.

Syaithaniyyah
Adalah dosa-dosa yang menyerupai perbuatan syaitan, seperti hasad (iri), zhalim, berbuat curang, menipu, berbuat makar, mendorong orang lain untuk melakukan kemaksiatan, melarang orang lain melakukan ketaatan, berbuat bid’ah di dalam agama dan mengajak orang lain untuk melakukannya.

Sabu’iyyah
Adapun Sabu’iyyah, maka sesungguhnya dosa ini adalah dosa yang terwujud di dalam perbuatan, seperti permusuhan, kemarahan, pembunuhan, dan merampas hak milik orang-orang lemah.

Dari dosa-dosa seperti ini timbullah segala macam dosa yang mengakibatkan perbuatan zhalim dan permusuhan.

Bahimiyyah
Dosa seperti ini contohnya adalah rakus di dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan.

Dari dosa macam ini timbullah perbuatan zina, mencuri, memakan harta anak yatim, pelit, penakut, tamak, dan yang lainnya.

Ini adalah dosa yang banyak dilakukan oleh banyak manusia, karena lemahnya mereka untuk melakukan dosa-dosa Sabu’iyyah dan Mulkiyyah dan darinya mereka masuk kepada bagian yang lainnya. Dosa macam ini menarik mereka kepada macam yang lainnya secara terkendali. Akhirnya mereka masuk ke dalam dosa dalam kategori Sabu’iyyah, lalu Syaithaniyyah, dan akhirnya masuk ke dalam dosa yang mencabut makna Rububiyyah dari Allah dan syirik dalam keesaan-Nya.

Siapa saja yang merenungkan semua ini, maka dia akan mendapati bahwa dosa merupakan lorong menuju sebuah kemusyrikan dan kekufuran. Juga merupakan awal yang akan berujung kepada sikap mencabut makna Rububiyyah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Balasan Disesuaikan dengan Amal Perbuatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه

“… Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…” [An-Nisaa’/4: 123].

Maknanya adalah siapa saja yang melakukan sebuah kejelekan, besar ataupun kecil, dilakukan oleh seorang mukmin atau kafir, maka perbuatan tersebut akan dibalas.[9] Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebuah balasan akan disesuaikan dengan amal yang dilakukan. Jika seseorang sering memberikan ampunan kepada orang lain, maka dia akan mendapatkan ampunan dari Allah. Siapa saja yang memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, maka Allah pun akan memaafkan kesalahan yang ia lakukan kepada Allah. Siapa saja yang menuntut balas atas kesalahan orang lain, maka Allah pun akan menuntut balas kepadanya. Janganlah kamu melupakan keadaan seseorang yang dicabut nyawanya oleh Malaikat, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah anda pernah melakukan sebuah perbuatan baik?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya,’ lalu dikatakan kepadanya, ‘Ingatlah!’ Dia pun berkata, ‘Dahulu saya pernah menjual sesuatu kepada banyak orang, aku berikan tempo kepada orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu aku lepaskan hutang tersebut.’ Di dalam riwayat yang lain, ‘Aku menyuruh pembantuku untuk berkeliling ke perumahan.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku lebih berhak melakukan perbuatan tersebut daripadanya,’ dan Allah pun memaafkan kesalahannya. Sesungguhnya Allah menyikapi hambanya sesuai dengan sikap hamba tersebut kepada yang lainnya.”[10]

Begitu pula keadaan di dalam kubur, sesungguh-nya balasan yang akan didapatkan oleh seorang mayit disesuaikan dengan amal yang ia lakukan di dunia.

Marilah kita dengarkan ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya, Tuhfatul Mauduud bi Ahkaamil Mauluud yang mengisyaratkan kepada makna yang saya ungkapkan di atas, beliau berkata, “… kemudian seorang mukmin diberikan kenikmatan di dalam alam Barzakh sesuai dengan amal yang ia lakukan. Begitupula seorang fajir (pelaku kemaksiatan) disiksa di dalam kubur sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan, seluruh anggota badan akan dibalas sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan.

  • Lalu orang yang selalu menggunjing dengan memotong-motong kehormatan orang lain, lidahnya akan dipotong dengan gunting dari api
  • Perut orang yang selalu makan riba akan dipenuhi dengan batu-batu dari api Neraka. Mereka juga akan berenang di dalam sungai-sungai darah sebagaimana mereka berenang di dalam ladang yang busuk di dunia.
  • Kepala orang-orang yang selalu tidur tidak melaksanakan shalat wajib akan ditumbuk dengan batu yang sangat besar.
  • Mulut seorang pembohong dengan kebohongan yang besar akan dibelah dengan pengorek bara api dari besi sampai belakang kepalanya, hidungnya sampai belakang, kedua matanya sampai belakang sebagaimana ia memotong kalimat yang diungkapkannya menjadi sebuah kebohongan.
  • Wanita yang selalu melakukan zina akan digantungkan dengan kedua payudaranya.
  • Para pelaku zina akan ditahan di atas sebuah tungku yang menyala, lalu tempat melakukan kemaksiatannya (kemaluannya) disiksa. Tungku itu ada di dalam tempat yang sangat bawah.
  • Kebingungan, kesedihan, dan kepedihan akan ditimpakan kepada jiwa-jiwa yang hanya bermain-main saja, maka kepedihan tersebut akan menggerogoti mereka bagaikan singa dan serangga yang menggerogoti daging tubuh mereka. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri alam dan dunia..”[11]

Sebab-Sebab Secara Umum yang Menimbulkan Siksa Kubur.
Semua sebab ini sebenarnya berakar kepada dua sebab utama, yaitu:

  1. Syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bodoh akan masalah tersebut dan tidak mewujudkan tauhid.
  2. Melalaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mereka disiksa karena kebodohan mereka dan karena kelalaian mereka akan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta perbuatan maksiat mereka. Allah tidak akan pernah menyiksa jiwa yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Allah juga tidak akan pernah menyiksa badan yang ada di dalam keadaan demikian. Karena sesungguhnya adzab kubur dan adzab akhirat adalah pengaruh dari kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, maka siapa saja yang menjadikan Allah murka dan membencinya di alam dunia ini, kemudian dia tidak bertaubat dan meninggal di atas hal tersebut, maka dia akan mendapatkan siksaan di alam Barzakh sesuai dengan kebencian Allah kepadanya, di antara mereka ada yang lalai dan ada yang rajin dan di antara mereka ada yang membenarkan dan ada yang mengingkari.”[12]

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kemaksiatan yang menjadikan pelakunya disiksa di dalam kubur, dan dari hal-hal yang telah lalu, maka sudah sepatutnya mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

  1. Siksa orang yang berbuat maksiat di dalam kubur bermacam-macam sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan.
  2. Sesungguhnya siksa kubur terjadi karena kemaksiatan hati, mata, telinga, mulut, lisan, perut,kemaluan, tangan, dan badan seluruhnya.
  3. Sesungguhnya syirik kepada Allah merupakan dosa yang paling besar, karena itu orang yang melakukan syirik sangat berhak untuk mendapatkan bagian dari siksa kubur, kenapa tidak?! Padahal dia telah menjadikan tuhan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Karena itu syirik adalah sebab utama yang menjadikan seseorang ada di dalam kesempitan dan mendapatkan segala macam siksaan yang pedih di dalam kubur.

Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan sebab-sebab tersebut sebagai sebuah peringatan kepada jiwa kami sendiri dan seluruh saudara kami sesama muslim, dengan bersandar kepada ayat-ayat yang mulia juga kepada hadits-hadits yang shahih beserta beberapa catatan penting dari perkataan para ulama yang terpercaya.

Maka renungkanlah sebab-sebab yang membinasakan tersebut, wahai saudaraku!! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan janganlah kalian melalaikannya, sehingga melupakannya dan akhirnya adalah adzab yang sangat pedih menimpa!!

Maka sekarang telah tiba saatnya untuk saya ungkapkan secara terperinci satu-persatu:

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 60-61.
[2] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2308), beliau berkata, “Hadits hasan gharib.” Ibnu Majah (no. 4267) dan yang lainnya dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam kitab al-Misykaah (no. 132) dan al-Arnauth di dalam Jaami’ul Ushul (XI/165).
[3] HR. Muslim, kitab al-Janaa-iz, bab ash-Shalaah ‘alal Qabri (no. 956 (71)).
[4] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 107 dengan sedikit perubahan redaksi.
[5] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 168.
[6] Al-Fawaa-id, hal. 117-126. Silahkan lihat dalil-dalil akan ungkapan tersebut di dalamnya.
[7] Al-Fawaa-id, hal. 56.
[8] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 169-170.
[9] Makna tersebut sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ubay bin Ka’ab, Inilah makna yang dipilih oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya (V/293).
[10] Miftaah Daaris Sa’aadah (I/291-292). Kaidah ini banyak di-ungkap di dalam kitab-kitab beliau rahimahullah.
[11] Tuhfatul Mauduud, hal. 15. Perkataan ini ditetapkan pula oleh al-Hafizh Abu Bakar ibnul ‘Arabi sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh di dalam kitab Fat-hul Baari dan akan diungkap-kan di halaman berikutnya.
[12] Ar-Ruuh, hal. 103.

Syirik Kepada Allah

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Di antara Sebab-Sebab Siksa Kubur.
1. Syirik Kepada Allah.
Dalil dari al-Qur-an:
Al-Qur-an telah memberikan petunjuk kepada kita semua bahwa syirik dan kekufuran di antara sebab utama adanya siksa kubur. Di antara ayat-ayat yang menunjukkan hal tersebut adalah:

Cerita yang diungkapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keluarga Fir’aun yang merupakan pemimpin orang-orang yang melakukan kemusyrikan.

Allah Ta’ala berfirman:

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.’”  [Al-Mu’-min/40: 46].

Yang dimaksud dengan api adalah api di dalam alam kubur[1], karena Allah Subhanahu wa Ta’ala setelahnya berfirman:

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

“… dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam adzab yang sangat keras.’” [Al-Mu’-min/40: 46].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ 

“… Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalan tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri dari ayat-ayat-Nya.” [Al-An’aam/6: 93].

Hal itu karena sesungguhnya jika seorang kafir ada di dalam sakaratul maut, maka para Malaikat akan datang kepadanya dengan membawa kabar siksaan yang sangat pedih, tali rantai dari Neraka, juga kemarahan Allah sehingga pada akhirnya ruhnya berantakan di dalam jasadnya karena enggan untuk keluar. Lalu Malaikat memukulnya sehingga ruhnya itu keluar dari jasadnya dengan berkata:

اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ

“… Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan…” [Al-An’aam/6: 93].[2]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya (yang dimaksud) dalam ayat tersebut adalah siksa kubur.”[3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَآ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَوَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah Neraka, setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa Neraka yang dahulu kamu mendustakannya.’ Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” [As-Sajdah/32: 20-21].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا عَذَابًا دُوْنَ ذٰلِكَ 

Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zhalim ada adzab selain itu…” [Ath-Thuur/52: 47].

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan siksa kubur sebelum siksaan pada hari Kiamat.”[4]

Diriwayatkan dari Zadzan, beliau berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah siksa kubur.”[5]

Dalil dari as-Sunnah:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan di dalam banyak sabdanya bahwa menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mewujudkan ketauhidan kepada Allah yang merupakan kewajiban seorang hamba kepada-Nya adalah sebab utama adanya siksa di dalam kubur kepada seorang mayit.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Barra’ bin ‘Azib [6] yang sangat masyhur dan mencakup berbagai macam keadaan yang menyangkut para mayit ketika ruh mereka dicabut dan keadaan mereka di dalam kubur.

Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang seorang hamba yang kafir atau seorang hamba yang selalu melakukan perbuatan dosa yang ditanya oleh dua orang Malaikat di dalam kubur, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukkannya, lalu bertanya, ‘Siapakah Rabb-mu?’ ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah agamamu?’ ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Bagaimana menurut kamu tentang seseorang yang telah diutus kepadamu?’ Dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk untuk mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Muhammad.’ Dia berkata, ‘Hah, hah aku tidak tahu,’ aku mendengar orang lain mengatakan itu. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak tahu, dan kamu tidak mengikutinya.’ Lalu berserulah seorang penyeru di langit, ‘Sesungguhnya dia pembohong, maka bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Neraka.’”

Di dalam hadits ini diungkapkan bahwa seorang musyrik ditanya tentang tiga landasan utama yang harus diketahui, diyakini, dan dipelajari oleh setiap hamba di dunia sehingga ketika dia meninggalkan dunia menuju alam Barzakh dan ditanya tentangnya, maka dia akan menjawabnya dengan benar. Dan hanya orang-orang yang berimanlah yang akan diberikan pertolongan oleh Allah untuk menjawabnya dengan baik.

Tiga landasan utama ini adalah:[7]

  1. Mengenal Allah. Dia-lah Maha Pencipta Yang disembah, Yang telah mengatur kita semua dan mengatur seluruh alam dengan nikmat-Nya. Kedua Malaikat akan menanyakan seorang hamba tentang-Nya dengan berkata, “Siapakah Rabb-mu?”
  2. Mengenal agama Islam. Maknanya adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk, dan taat kepadanya. Juga melepaskan diri dari segala kemusyrikan dan pelakunya. Kedua Malaikat menanyakan hal tersebut dengan ungkapannya, “Apakah agamamu?”
  3. Mengenal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mentaatinya dan mengikuti segala perintahnya, menjauhi larangannya dan menjadikannya sebagai suri tauladan. Kedua Malaikat menanyakan hal tersebut dengan ungkapannya, “Bagaimana menurut kamu tentang seseorang yang telah diutus kepadamu?” Maknanya adalah, “Bagaimana sifatnya, apakah dia seorang Rasul?” Dan bagaimana keyakinanmu terhadapnya[8]?”

Lalu bagaimanakah jawabannya pada waktu itu? Dia hanya berkata, “Hah, hah aku tidak tahu.”

Al-Mundziri rahimahullah berkata, “Kata tersebut (hah, hah) diungkapkan ketika tertawa dan kadang merupakan kata yang mengungkapkan kepedihan. Makna ini lebih tepat untuk redaksi hadits, wallaahu a’lam.”

Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Di antara kebiasaan orang yang linglung dan bingung ketika ditanya ada-lah perkataannya, ‘Hah, hah!’ Seakanakan dia ditanya sesuatu yang tidak dimengerti.”[9]

Kemudian setelah menjawab demikian, hamba tersebut berkata, “Aku mendengar orang lain mengatakan itu.”

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata, “Ungkapan ini menunjukkan bahwa mengikuti orang lain tanpa dalil merupakan pangkal kebinasaan, karena sebab kebinasaan orang tersebut adalah mengikuti orang lain tanpa ilmu. Orang yang berakal adalah orang yang memahami agamanya dari kaidah-kaidah agama yang benar sebagaimana diungkapkan sebelumnya tentang orang yang selamat.”[10]

Maha Benar Allah Yang telah berfirman:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” [Ibrahim/14: 27].

Sungguh, dia benar-benar merugi di dalam kehidupan dunia dan akhirat, sebuah kerugian yang nyata!

Ketika itu kedua Malaikat yang berwarna hitam dengan matanya yang biru berkata, “Kamu tidak tahu, dan kamu tidak mengikutinya.” Lalu setelah itu yang ada hanyalah siksa yang sangat pedih. Maksud dari ungkapan “Kamu tidak tahu” adalah “Kamu tidak tahu mana yang benar.” Sedangkan makna “Kamu tidak membacanya,” adalah “Kamu tidak memahami bahkan tidak membaca al-Qur-an.” Dengan makna lain “Kamu tidak tahu dan tidak ingin mengikuti orang yang tahu.”[11]

Dan di antara dalil yang sangat kuat bahwa syirik merupakan sebab utama adanya siksa kubur adalah do’a Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar orang-orang musyrik mendapatkan siksa di dalam kubur.

Di dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَلأَ اللهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَـارًا كَمَا حَبَسُونَا وَشَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى حَتَّـى غَابَتِ الشَّمْسُ.

Semoga Allah memenuhi kuburan dan rumah-rumah mereka dengan api, sebagaimana mereka telah menahan kita semua dan menyibukkan kita dari shalat ‘Ashar sehingga matahari terbenam.”[12]

Di dalam hadits-hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa di antara sebab terjadinya siksa kubur adalah perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

Hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

بَيْنَمَـا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَائِطٍ لِبَنِي النَّجَّارِ عَلَى بَغْلَةٍ لَهُ وَنَحْنُ مَعَهُ إِذْ حَادَتْ بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيهِ وَإِذَا أَقْبُرٌ سِتَّةٌ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ أَرْبَعَةٌ فَقَـالَ: مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ اْلأَقْبُرِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا. قَـالَ: فَمَتَى مَـاتَ هَؤُلاَءِ؟ قَـالَ: مَـاتُوا فِي اْلإِشْرَاكِ. فَقَـالَ: إِنَّ هَذِهِ اْلأُمَّةَ تُبْتَلَى فِيْ قُبُورِهَـا، فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا، لَدَعـَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di sebuah kebun milik Bani Najjar di atas seekor Baghal (peranakan kuda dan keledai) miliknya dan waktu itu kami bersamanya, Baghal itu miring dan hampir saja melempar beliau. Dan ternyata di sana ada enam kuburan atau lima atau empat, lalu beliau berkata, ‘Siapa yang tahu penghuni kuburan ini?’ (Seseorang berkata,) ‘Aku,’ ‘Kapan mereka meninggal?’ Tanya Rasul. Dia menjawab, ‘Mereka semua mati dalam keadaan musyrik,’ Rasul berkata, ‘Sesungguhnya umat ini diberikan cobaan di dalam kuburnya, seandainya kalian tidak akan dikubur, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar Dia memberikan kemampuan kepada kalian untuk mendengarkan siksaan di dalam kubur seperti yang aku dengar sekarang ini...”[13]

Ungkapan, “Mereka semua mati dalam keadaan musyrik,” menunjukkan bahwa syirik merupakan sebab utama adanya siksa kubur.

Hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَخْلاً لِبَنِـي النَّجَّـارِ فَسَمِعَ أَصْوَاتَ رِجَـالٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ مَـاتُوا فِي الْجَـاهِلِيَّةِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا فَأَمَرَ أَصْحَـابَهُ أَنْ يَتَعَوَّذُوا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam kebun kurma milik Bani Najjar, lalu beliau mendengarkan suara orang-orang dari Bani Najjar yang mati pada zaman Jahiliyyah sedang disiksa di dalam kubur. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dengan rasa takut, setelah itu beliau memerintahkan para Sahabatnya agar memohon perlindungan dari siksa kubur.[14]

Hadits Ummu Mubasysyir Radhiyallahu anha, dia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا فِي حَائِطٍ مِنْ حَوَائِطِ بَنِي النَّجَّارِ، فِيهِ قُبُورٌ مِنْهُمْ قَدْ مَاتُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَسَمِعَهُمْ وَهُمْ يُعَذَّبُونَ، فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: اِسْتَعِيذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّهُمْ لَيُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadaku dan aku sedang berada di salah satu kebun Bani Najjar, yang di dalamnya ada kuburan. Di antara (penghuni kuburan tersebut) adalah mereka yang mati pada masa Jahiliyyah, lalu Rasul mendengar mereka sedang disiksa, setelah itu Rasulullah keluar dan berkata, ‘Berlindunglah kalian semua dari siksa kubur!’ Ummu Mubasysyir bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah mereka disiksa di dalam kubur?’ Rasul menjawab, ‘Betul, siksaan yang hanya didengar oleh binatang-binatang.’[15]

Ungkapan, “Mereka mati pada masa Jahiliyah,” di dalam kedua hadits di atas menunjukkan bahwa mereka adalah kaum musyrikin yang telah sampai kepada mereka hujjah.[16]

Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anha, di dalam sebuah hadits yang panjang tentang gerhana matahari, di dalamnya terdapat ungkapan:

وَلَقَدْ رَأَيْتُ جَهَنَّمَ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا حِينَ رَأَيْتُمُونِي تَأَخَّرْتُ، وَرَأَيْتُ فِيهَا ابْنَ لُحَيٍّ وَهُوَ الَّذِي سَيَّبَ السَّوَائِبَ.

Aku telah melihat Neraka Jahannam, di sana satu sama lainnya saling menghantam, yaitu ketika kalian melihatku mundur. Di sana aku melihat Ibnu Luhay, dialah yang pertama kali mensyariatkan Sa-ibah.”[17]

Di dalam riwayat lain:

يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ

Menarik ususnya di dalam Neraka.”

Ibnu Luhay adalah ‘Amr bin Luhay bin Qam’ah, salah satu kepala kabilah Khuza’ah yang menguasai Baitullah setelah Jurhum. Dia adalah orang pertama yang menggantikan agama Ibrahim Alaihissallam, lalu dia memasang patung-patung, dia membawa patung-patung itu ke negeri Hijaj dan mengajak orang lain untuk menyembahnya dan bertaqarrub kepadanya. Oleh karena itu, dialah orangnya yang pertama kali mensyari’atkan Sa-ibah, Bahirah, Washilah dan Ham.[18] [19]

“As-Sawaa-ib” adalah kata jamak dari “Saa-ibah”, yaitu sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

مَا جَعَلَ اللّٰهُ مِنْۢ بَحِيْرَةٍ وَّلَا سَاۤىِٕبَةٍ 

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saa-ibah…” [Al-Maa-idah/5: 103].

Sa’id bin Musayyab rahimahullah berkata, “Al-Bahirah adalah seekor unta betina yang susunya dikhususkan untuk para thaghut sehingga tidak seorang pun dari kalangan manusia yang diizinkan untuk memerasnya. Adapun Saa-ibah adalah seekor binatang yang mereka khususkan untuk berhala sehingga mereka tidak menjadikannya sebagai hewan tunggangannya.”[20]

Di dalam hadits ini, ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa syirik adalah salah satu sebab utama seseorang masuk ke dalam Neraka.”

Hadits Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ وَجَبَتِ الشَّمْسُ فَسَمِعَ صَوْتًا، فَقَالَ: يَهُودٌ تُعَذَّبُ فِي قُبُورِهَا.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sedangkan matahari telah terbenam, lalu beliau mendengar suara, beliau bersabda, ‘Orang-orang Yahudi sedang disiksa di dalam kuburnya.’[21]

Tidak diragukan bahwa umat Yahudi adalah umat yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaitan benar-benar telah mempermainkan mereka sehingga mereka menyembah berhala dan menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Ketika mereka melewati sebuah lautan dan di sana mereka melihat satu kaum yang sedang menyembah berhala milik mereka, mereka berkata kepada Nabi Musa Alaihissallam:

قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ

“… Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)…” [Al-‘Araaf/7: 138].

Kebodohan apakah yang melebihi kebodohan seperti ini, padahal belum lama mereka melihat dengan mata kepala mereka bagaimana Allah menghancurkan kaum musyrikin dan bagaimana Fir’aun beserta bala tentaranya (kaumnya) ditenggelamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Mereka meminta Musa agar membuat rabb yang disembah bagi mereka, mereka meminta kepada makhluk agar membuatkan rabb yang diciptakan olehnya, maka bagaimana mungkin sesuatu hasil buatan makhluk menjadi ilah? Padahal sesungguhnya Ilah (Tuhan) itu adalah Pencipta segala sesuatu, maka mustahil ciptaan makhluk menjadi Ilah.

Alangkah banyaknya orang yang mengikuti mereka dalam menjadikan tuhan buatan menjadi sesembahannya, siapa saja yang menjadikan Tuhan selain Allah, maka sesungguhnya ia telah mengambil makhluk sebagai ilah (tuhan).

Ditambah lagi mereka semua telah menjadikan anak lembu sebagai ilah selain Allah padahal mereka semua menyaksikan siksa yang ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan kemusyrikan dengan siksaan yang paling keras, padahal Nabi mereka pun masih hidup.

Dan di antara yang aneh lagi adalah bahwa mereka tidak cukup hanya dengan menjadikannya sebagai ilah mereka saja, bahkan mereka berusaha agar apa yang mereka sembah merupakan ilah bagi Musa juga. Mereka semua menghubungkan Musa dengan kemusyrikan dan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan ibadah kepada hewan yang paling bodoh yang sulit untuk membela dirinya sendiri dari bahaya, dimana ia (hewan tersebut) sering dijadikan (matsal) perumpamaan dalam contoh kebodohan dan kepandiran, (maka bagaimana) mereka menjadikannya sebagai ilahnya Musa Kaliimurrahmaan.

Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar.

Dan yang lainnya yang merupakan kemusyrikan, kebathilan, pemutarbalikan kalam Allah juga pembunuhan atas Nabi-Nabi mereka.

Walhasil umat yang dibenci ini berhak mendapatkan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat pedih di dalam kubur dan pada hari Kiamat di dalam Neraka.

اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“… mereka itu penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah/2: 39].

Ya Allah! Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan limpahan nikmat-Mu, dan bukan kelompok orang yang dimurkai oleh-Mu, juga bukan orang-orang yang tersesat.

Ya Allah! Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dapat mewujudkan tauhid dan tetapkanlah kami ya Allah! Di dalam kubur dengan jawaban-jawaban yang benar, ya Allah! Selamatkanlah kami dari siksa kubur juga dari siksa Neraka pada hari Akhir, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permintaan.

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Lihat Tafsiir Ibni Katsir (surat al-Mu’-min), ad-Durrul Mantsur (V/351-352), Ahwaalul Qubuur, hal. 53, dan kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri, hal. 86.
[2] Tafsir Ibnu Katsir (II/157).
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, sebagaimana diungkapkan di dalam kitab ad-Durrul Mantsuur (III/272).
[4] Al-Baihaqi di dalam kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri (no. 83).
[5] Al-Baihaqi di dalam kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri (no. 81) dan ‘Abdullah bin Ahmad di dalam kitab as-Sunnah (no. 1386).
[6] Hadits shahih. Hadits al-Barra’ yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab as-Sunnah (4753) bab al-Mas-alah fil Qabri wa ‘Adzaabil Qabri, Ahmad (IV/287, 295, 296), dan yang lainnya. Sebagaimana yang diungkapkan pula oleh al-Albani rahimahullah telah menghubungkan menjadi satu kumpulan dari keseluruhan makna-makna dan kata-kata yang bermanfaat yang dibawakan dari jalan-jalan periwayatan yang kokoh di dalam kitabnya yang sangat berharga, Ahkaamul Janaa-iz, 156-159, dari kitab itulah kami menukil.
[7] Lihat kitab al-Ushuuluts Tsalaatsah wa Adillatuhaa, karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Buku ini telah dicetak dengan tahqiq
[8] Lihat kitab ‘Aunul Ma’buud (IV/384).
[9] Jaami’ul Ushuul (XI/179).
[10] Bahjatun Nufuus (I/128).
[11] Fat-hul Bari (III/282) dengan sedikit perubahan.
[12] Al-Bukhari, kitab al-Jihaad, bab ad-Du’aa’ ‘alal Musyrikiin bil Haziimah waz Zalzalah (no. 2931) dan Muslim, kitab al-Masaajid, bab at-Taghlizh fii Tafwiitis Shalaatil ‘Ashr (no. 627 (202)).
[13] Muslim, kitab al-Jannah wa Shifat Na’iimiha, bab ‘Ardhu Maq’adil Mayyit minal Jannah awin Naar ‘alaihi, wa istsbaatu Adzaabil Qabri, wa ta’awwudz minhu (no. 2867) (67).
[14] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/295, 296), ‘Abdurrazzaq (no. 6742, 6744), dan al-Baihaqi di dalam kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri (no. 225). Al-Haitsami berkata di dalam kitab al-Majma’ (III/55), “Para perawi dari Ahmad adalah shahih.”
[15] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 787- Mawaarid) dan Ahmad (VI/326). Al-Albani di dalam Takhriijus Sunnah (no. 875), karya Ibnu Abi ‘Ashim berkata, “Sanadnya shahih dengan perawi milik Muslim.”
[16] Diungkapkan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullaah.
[17] Al-Bukhari, kitab at-Tafsiir, bab: Qauluhu Ta’ala: (Secara ringkas (no. 4624); Muslim, kitab al-Kusuuf, bab Sha-laatul Kusuuf dan riwayat yang lain darinya (no. 9)
[18] Ham adalah jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingi betina sebanyak sepuluh-Pent.
[19] Lihat kitab Ighaatsatul Lahafaan (II/211).
[20] Al-Bukhari, kitab at-Tafsiir, bab: (no. 4623).
[21] Al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz, bab at-Ta’awwudz min ‘Adzaabil Qabri (no. 1375) dan Muslim, kitab al-Jannah, bab ‘Ardu Makaanil Mayyit minal Jannah awin Naar, wa Itsbaat ‘Adzabil Qabri wat Ta’awwudz minhu.

Kemunafikan

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Di antara Sebab-Sebab Siksa Kubur.
2. Kemunafikan
Siapa saja yang menghayati firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyifati orang-orang munafik dengan kehinaan, niscaya dia akan meyakini bahwa merekalah yang berhak untuk mendapatkan tempat yang paling bawah di dalam Neraka. Hanya kepada Allah kita semua berlindung semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat seperti mereka dan hanya kepada Allah kita semua memohon kasih sayang-Nya dan keselamatan.

Mereka adalah kelompok yang sangat berpotensi untuk mendapatkan siksa kubur, dalam hal ini ayat-ayat al-Qur-an menerangkan:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِّنَ الْاَعْرَابِ مُنٰفِقُوْنَ ۗوَمِنْ اَهْلِ الْمَدِيْنَةِ مَرَدُوْا عَلَى النِّفَاقِۗ لَا تَعْلَمُهُمْۗ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْۗ سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ اِلٰى عَذَابٍ عَظِيْمٍ

Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” [At-Taubah/9: 101].

Qatadah dan Rabi’ bin Anas mengomentari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ

“… Nanti mereka akan Kami siksa dua kali …” [At-Taubah/9: 101].

Dengan ungkapan mereka, “Salah satunya di dunia dan yang lainnya adalah siksa di dalam kubur.”[1]

Sebagaimana as-Sunnah pun menunjukkan hal tersebut di dalam hadits-hadits yang menjelaskan pertanyaan dua Malaikat dan fitnah kubur, tegasnya ketika membicarakan keadaan orang kafir, di dalamnya dinyatakan dengan jelas ungkapan al-Munafik atau al-Murtab (orang yang ragu) di dalam sebagian riwayat[2]:

Sebagaimana di dalam hadits Anas:

…وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ…

“… adapun orang kafir dan munafik, maka dikatakan kepadanya…”

Di dalam  hadits Asma’:

…وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِالْمُرْتَابُ فَيُقَالُ لَهُ…

“… adapun orang munafik atau al-Murtab, maka dikatakan kepadanya…”

Di dalam hadits Abi Hurairah:

…وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ…

“… dan jika dia adalah orang yang munafik, dia berkata…”

Di dalam hadits Jabir:

…وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُقْعَدُ إِذَا تَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ…

“… adapun orang munafik, maka dia didudukkan ketika keluarganya meninggalkannya…”

Wahai para kafilah yang sedang melakukan perjalanan menuju tempat kebahagiaan!

Awas! Berhati-hatilah dari kemunafikan dengan penuh waspada dan menjauhlah kalian dari orang-orang munafik, persahabatan dengannya menimbulkan kehinaan sedangkan bercinta-kasih dengan mereka mengakibatkan kemarahan Allah Yang Maha Kuasa yang berakhir kepada siksa yang sangat pedih, dan masuknya ke dalam Neraka.

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Perkataan Qatadah diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri (56), sedangkan perkataan Rabi’ bin Anas diungkapkan di dalam kitab ad-Durrul Mantsuur (III/272), karya Syaikh Ibnu Abi Hatim.
[2] Lihat riwayat-riwayat ini di dalam kitab Itsbaat ‘Adzaabil Qabri dan kitab Su-alul Malakaini, karya al-Baihaqi serta di dalam kitab kami, al-Hayaatul Barzakhiyyah, hal. 9, 32.

Tidak Bersuci dari Air Kencing, Namimah, Ghibah dan Menyakiti Orang Lain dengan Lisan

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Di antara Sebab-Sebab Siksa Kubur.
3. Tidak Bersuci dari Air Kencing
4. Namimah (Mengadu Domba Orang Lain)
5. Ghibah (Menggunjing)
6. Menyakiti Orang Lain dengan Lisan
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan di dalam hadits yang shahih:
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma beliau berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحـَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِيـنَةِ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَـانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِيْ قُبُورِهِمَا فَقَـالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنَّهُمَا لَـ) يُعَذَّبَانِ وَمَـا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى (وَإِنَّهُ لَكَبِيْرٌ)، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، (وَفِيْ رِوَايَةٍ : الْبَوْلِ) وَكَانَ اْلآخَرُ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ (رَطْبَةٍ)، (وَفِيْ رِوَايَةٍ: بِعَسِيْبٍ رَطْبٍ) فَكَسَرَهـَا كِسْرَتَيْنِ (وَفِـيْ رِوَايَةٍ: فَشَقَّهـَا نِصْفَيْنِ) فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَـا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kebun dari perkebunan Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang disiksa di dalam kubur, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Sesungguhnya mereka berdua benar-benar) sedang disiksa, padahal mereka tidak disiksa karena sesuatu yang berat bagi mereka.’ Lalu beliau bersabda, ‘(Tetapi sesungguhnya hal itu adalah dosa besar), adalah salah satu di antara mereka tidak menjaga dirinya dari air kencing, sedangkan yang lainnya adalah seseorang yang selalu mengadu-domba orang lain.’ Lalu Nabi menyuruh untuk mengambil sebuah pelepah yang masih basah, beliau mematahkannya menjadi dua bagian (di dalam satu riwayat: membelahnya menjadi dua bagian), lalu meletakkan satu bagian darinya pada setiap kuburan.’ Dikatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah! Kenapa baginda melakukan hal ini?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Semoga batang tersebut dapat meringankan (adzab) mereka berdua selama pelepah tersebut belum kering.’”[1]

Lafazh (لاَ يَسْتَتِرُ) di dalam riwayat Ibnu ‘Asakir adalah (يَسْـتَبْرِئُ), sedangkan di dalam riwayat Abu Dawud (يَسْتَنْزِهُ).

Makna al-Istitar adalah membuat penghalang antara dirinya dan air kencing dengan sebuah penghalang, maksudnya orang tersebut tidak menjaga dirinya dari air kencing, karena itu sesuai dengan makna yang tersirat di dalam kalimat (يَسْتَنِزُهُ)

Sedangkan riwayat Abi Nu’aim di dalam kitab al-Mustakhraj (يَتَوَقَّـى), kalimat tersebut memberikan penafsiran terhadap makna yang dimaksud, sedangkan kalimat (يَسْتَبْرِىءُ) memberikan makna yang sangat kuat di dalam mengungkapkan makna (يَتَوَقَّى) “menjaga”.[2]

Lafazh (وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ), al-Khaththabi berkata, “Makna ungkapan ini adalah bahwa mereka berdua tidak akan disiksa karena sesuatu yang berat mereka lakukan, jika mereka berdua benar-benar ingin melakukannya, yakni membersihkan diri dari air kencing dan tidak mengadu domba orang lain. Dan bukan berarti bahwa kedua maksiat tersebut bukan merupakan hal yang berat di dalam agama, tidak juga bermakna bahwa kedua dosa tersebut ringan.”[3]

Al-Mundziri berkata, “Sungguh rasa takut adanya anggapan yang seperti itu dirasakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Tetapi sesungguhnya hal itu adalah dosa besar.’”[4]

Telah diriwayatkan hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari banyak jalan:

Hadits Abu Bakrah Radhiyallahu anhu:

وَأَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فِي الْغِيْبَةِ

Sedangkan yang lainnya, dia disiksa karena ghibah (menggunjing).”[5]

Definisi ghibah adalah, “Menyebutkan sesuatu yang berhubungan dengan saudaramu, yang jika berita itu sampai kepadanya, maka dia akan membencinya, baik itu menyebutkan kekurangan di dalam badan, keturunan, agama, bahkan tentang pakaian, rumah atau kendaraannya.”[6]

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, di dalam sebagian riwayatnya diungkapkan:

كَانَ أَحَدُهُمَـا لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَكَـانَ اْلآخَرُ يُؤْذِي النَّـاسَ بِلِسَـانِهِ وَيَمْشِي بَيْنَهُمْ بِالنَّمِيمَةِ

Adalah salah satu di antara mereka berdua tidak menjaga dirinya dari air kencing dan yang lainnya menyakiti orang lain dengan lisannya dan selalu mengadu domba orang lain.”[7]

Namimah maknanya adalah, “Membawa berita dari satu kaum ke kaum yang lainnya dengan tujuan untuk menebarkan kejelekan dan mengadu domba mereka. Dia menebarkan fitnah di antara mereka sehingga dialah Nammam (penebar fitnah).”[8]

Salah satu di antara mereka tidak melakukan thaharah yang wajib, yaitu membersihkan dirinya dari air kencing, sedangkan yang lainnya telah melakukan salah satu sebab yang menimbulkan sebuah permusuhan di antara manusia dengan lisannya walaupun dia mengatakannya dengan jujur.

Ini merupakan sebuah ancaman bagi orang yang menebarkan fitnah dengan menimbulkan sebuah permusuhan lewat ungkapan yang tidak benar, bahwa mereka telah melakukan sebuah perbuatan dosa yang sangat besar, sebagaimana dosa yang diakibatkan karena meninggalkan bersuci. Di dalamnya ada sebuah perhatian bahwa orang yang meninggalkan shalat -di mana menyucikan diri dari air kencing merupakan salah satu syaratnya-, maka sesungguhnya dia telah melakukan sebuah perbuatan dosa yang lebih besar lagi.[9]

Di antara salah satu siksaan yang ditampakkan[10] kepada sebagian manusia terhadap orang yang mengakhirkan shalat, melakukan shalat dengan tidak bersuci dan bagi yang menyakiti tetangga adalah sebuah kisah yang diungkapkan oleh ‘Amr bin Dinar, beliau berkata, “Adalah seseorang dari penduduk Madinah ditinggal mati oleh saudarinya, dia mengurus mayit tersebut dan membawanya ke kubur, ketika si mayit telah dikubur dan ia pun kembali kepada keluarganya, dia lupa sebuah bungkusan yang ia bawa ke dalam kuburan. Lalu dia meminta tolong kepada temannya untuk datang ke kuburan, akhirnya mereka berdua menggali kuburan itu dan mendapatkan bungkusan yang ia cari. Dia berkata kepada temannya, ‘Berpalinglah sehingga aku dapat melihat sedang apakah saudariku.’ Lalu dia mengangkat kayu penghalang yang ada di atas lahad dan tiba-tiba saja dia mendapatkan api yang menyala-nyala di dalamnya. Setelah itu dia langsung saja meratakan kuburan tersebut dan kembali kepada ibunya, dia bertanya kepadanya tentang keadaan saudarinya sebelum meninggal, sang ibu menjawab, ‘Dia pernah mengakhirkan shalat sehingga keluar waktunya dan aku kira pada waktu itu dia melakukan shalat tanpa berwudhu’. Dia juga sering mendatangi pintu-pintu rumah tetangga jika mereka sedang tidur, lalu dia menempelkan telinganya di pintu rumah tersebut dan menyebarkan pembicaraan yang dilakukan oleh pemilik rumah.’”[11]

Adapun ungkapan di dalam hadits, “Dan yang lainnya menyakiti orang lain dengan lisannya.” Ini merupakan dalil tentang bahayanya lisan. Menyakiti orang lain dengan lisan adalah dengan kata-kata yang buruk, mencela, ungkapan laknat atau dengan perkataan yang bohong kepada mereka.

Di antara ungkapan sya’ir di dalam masalah ini adalah:

اِحْفَظْ لِسَـانَكَ أَيُّهَا اْلإِنْسَانُ
         لاَ يَلْـدَغَنَّـكَ إِنَّـهُ ثُعْبَـانُ
كَمْ فِي اْلَمقَابِرِ مِنْ قَتِيْلِ لِسَانِهِ
         قَدْ كَانَ هَابَ لِقَاءَهُ الشُّجْعَانُ

Jagalah lisan Anda wahai manusia,
janganlah dia mematukmu karena dia adalah ular.
Berapa banyak penghuni kuburan yang mati karena lisannya,
bahkan seorang satria pun takut menemuinya.

Termasuk ke dalam menyakiti orang lain dengan lisan adalah melantunkan nyanyian dan sya’ir-sya’ir yang buruk, juga yang lainnya dari penyakit lisan yang memberikan dampak negatif kepada orang lain.

Kebanyakan adzab kubur timbul karena air kencing.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Air kencing memiliki kedudukan khusus dalam menimbulkan siksa kubur, yaitu dengan tidak membersihkan diri darinya.”[12]

Di antara yang memperkuat ungkapan tersebut adalah hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Hasanah, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَمْ تَعْلَمُوْا مَا لَقِيَ صَاحِبَ بَنِي إِسْرَائِيْلَ، كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوْا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ فَنَهَاهُمْ فَعُذِّبَ فِيْ قَبْرِهِ.

Tidakkah kalian tahu siksa yang menimpa salah seorang dari kalangan Bani Israil, (di dalam ajaran mereka) jika (pakaian) mereka terkena air kencing, maka mereka akan memotong (pakaian) yang terkena air kencing tersebut. Sedangkan dia adalah orang yang telah melarang mereka (untuk melakukan hal itu), akhirnya dia disiksa di dalam kuburnya.”[13]

Diriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَ الْبَوْلِ

Kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh air kencing.”[14]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَ الْبَوْلِ، فَتَنَزَّهُوْا مِنْهُ.

Sesungguhnya kebanyakan siksa kubur timbul karena air kencing, maka bersucilah kalian darinya.”[15]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اِتَّقُوْا التَّبَوُّلَ، فَإِنَّهُ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ فِيْ قَبْرِهِ.

Jagalah diri kalian ketika buang air kecil, karena ia adalah sesuatu yang pertama kali akan ditanyakan di dalam kubur.[16]

Qatadah berkata, “Siksa kubur itu berasal dari tiga bagian: ‘Sepertiganya dari mengguncing, sepertiga dari mengadu domba, dan seper tiga dari air kencing.”[17]

Alasan utama adanya pengkhususan adzab kubur karena air kencing dan mengadu domba.
Para ulama banyak mengungkapkan rahasia yang terkandung akan adanya pengkhususan kencing, menggunjing, dan mengadu domba, kenapa ketiga hal ini menyebabkan siksa kubur? Mereka mengungkapkan bahwa kubur adalah persinggahan pertama kali bagi kehidupan akhirat, di dalamnya ada berbagai macam gambaran yang akan di dapatkan pada hari Kiamat berupa siksaan dan pahala. Sedangkan di alam Barzakh, maka diputuskan di dalamnya dua permulaan di atas dan kedua sarananya.

Permulaan shalat adalah bersuci dari hadats (kecil dan besar), dan najis, sedangkan permulaan sebuah pembunuhan adalah mengadu domba dan merusak kehormatan orang lain.

Keduanya merupakan sikap menyakiti orang lain paling ringan, diawali dengan perhitungan lalu siksaan bagi keduanya di alam Barzakh.

Lalu kemaksiatan yang menjadi sebab adanya siksaan pada hari Kiamat ada dua macam : hak Allah dan hak hamba-Nya.

Hak Allah yang akan diputuskan pertama kali adalah shalat.
Hal ini sebagaimana diungkap di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَـا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَـائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَـائِرُ عَمَلِهِ.

Amal yang pertama kali akan diperhitungkan dari diri seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Jika ia baik, maka seluruh amalnya pun akan baik dan jika dia jelek, maka seluruh amalnya pun akan jelek.[18]

Hak manusia yang pertama kali akan diputuskan adalah masalah darah (pembunuhan).
Hal ini sebagaimana diungkap dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحْكَمُ بَيْنَ الْعِبَادِ فِي الدِّمَاءِ

Sesungguhnya perkara yang pertama kali akan diputuskan antara hamba adalah masalah darah (pembunuhan).[19]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Hadits Ibnu ‘Abbas, diriwayatkan oleh al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz, bab ‘Adzaabul Qabri minal Ghiibah wan Namiimah (no. 1378) dan Muslim, kitab at-Thahaarah, bab ad-Daliil ‘alaa Najaasatil Baul (no. 292 (111)). Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Albani di dalam Mukhtashar al-Bukhari (I/131), dengan satu perkataan dari semua riwayat al-Bukhari. Dan di sini kami pun menyatakannya sebagaimana yang beliau lakukan.
Haith maknanya adalah kebun.
‘Ashib adalah sebuah pelepah yang belum Jika telah tumbuh daun, maka namanya adalah as-Sa’fah. (Fat-hul Baari (I/381)).
[2] Fat-hul Baari (I/381).
[3] Ma’aalimus Sunan (I/27).
[4] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/35, 39), Ibnu Majah (no. 349), dan ath-Thayalisi (no. 867). Al-‘Iraqi berkata (III/140), “Bagi Ahmad dan ath-Thabrani dengan sanad yang jayyid”. Al-Hafizh berkata dalam al-Fat-h (I/384) bahwa riwayat Abi Bakrah pada Ahmad dan ath-Thabrani dengan sanad yang shahih. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib (I/66).
[5] At-Targhiib wat Tarhiib (no. 861).
[6] Ihyaa ‘Uluumuddin (III/152, 153) dan al-Adzkaar, hal. 522, karya an-Nawawi.
[7] Ibnu Hibban dalam Shahiihnya (no. 140 –Mawaarid). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh di dalam kitab Fat-hul Baari (I/385).
[8] An-Nihaayah fi Ghariibil Atsar (V/120).
[9] Ar-Ruuh, hal. 104.
[10] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan di dalam Majmuu’ al-Fataawaa (IV/296), “Sungguh telah ditampakkan bagi kebanyakan manusia hal tersebut hingga mereka mendengar suara-suara para mayit yang diadzab di kubur mereka. Dan mereka melihat para mayit dengan mata kepala sendiri bahwa para mayit diadzab di kubur mereka melalui tanda-tanda yang telah diketahui.”
[11] Kisah ini diungkapkan oleh Ibnul Qayyim di dalam kitabnya ar-Ruuh, hal. 91, beliau menghubungkan kisah ini kepada Ibnu Abid Dun-ya di dalam kitab al-Qubuur, sedangkan Ibnu Rajab menghubungkannya di dalam kitab Ahwaalul Qubuur, 985 kepada Ibnu Abid Dun-ya di dalam kitab Man ‘Aasya Ba’dal Maut.
[12] Fat-hul Baari (I/381).
[13] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (I/26, 28), Ibnu Majah (no. 346), Ibnu Hibban (no. 139 –Mawaarid). Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahiih at-Targhiib (I/156).
[14] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (II/326), Ibnu Majah (no. 348) dengan lafazh beliau, al-Baihaqi (II/412), ad-Daruqutni (I/128), beliau berkata, “Hadits ini shahih.” Al-Hakim (I/183), beliau berkata, “Shahih dengan perawi asy-Syaikhani, dan aku tidak tahu adanya ‘illat di dalam hadits ” Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahiih at-Targhiib (I/155).
[15] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bazzar (no. 243 –Kasyful Astaar), ad-Daruquthni (I/128), beliau berkata, “La ba-sa bihi (hadits itu tidak ada cacatnya).” Al-Hafizh di dalam kitab Talkhiishul Habiir (I/106) berkata, “Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid di dalam Musnadnya, al-Hakim, at-Thabrani, dan yang lainnya dengan sanad yang hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Targhiib (I/152).
[16] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (I/127), beliau berkata, “Yang terjaga bahwa hadits itu mursal.” Al-Hafizh berkata di dalam kitab Talkhiishul Habiir (I/106). Dinukil dari Abi Zur’ah, bahwa hadits tersebut terjaga. Dan Abu Hatim berkata, ‘Kami telah meriwayatkannya dari hadits Tsumamah, dari Anas dan yang shahih adalah yang statusnya mursal.’” Dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib (I/153).
[17] Al-Baihaqi di dalam kitabnya, Istbaat ‘Adzaabil Qabri (no. 261), Ibnu Abi Dunya di dalam kitab as-Shamt (no. 189). Diriwayatkan dari jalan Qatadah, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abi Hurairah secara marfu’ oleh al-Baihaqi di dalam kitab Istbaat ‘Adzaabil Qabri (no. 262). Al-Baihaqi berkata, “Yang shahih adalah riwayat Abi ‘Urubah dari perkataan Qatadah.” Ibnu Rajab di dalam kitabnya, Ahwaalul Qubuur, hal. 65 ber-kata, “Diriwayatkan oleh Khalal dari Qatadah dan ini adalah riwayat paling shahih.”
[18] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 413), an-Nasa-i (I/232), dan Ibnu Majah (no. 232). Hadits ini dishahih-kan oleh al-Albani di dalam Shahiih at-Targhiib (I/185).
[19] Al-Bukhari, kitab ad-Diyaat, bab firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam.” (no. 6864), dan Muslim, kitab al-Qasamah, bab al-Mujaazaah bid Dimaa’ fil Aakhirah (no. 1678 (28)).

Meninggalkan al-Qur-an Setelah Mempelajari, Tidur dengan Meninggalkan Shalat Wajib.

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Di antara Sebab-Sebab Siksa Kubur.
7. Meninggalkan al-Qur-an Setelah Mempelajari
8. Tidur dengan Meninggalkan Shalat Wajib.
Hal ini diungkapkan di dalam hadits Samurah bin Jundub[1] yang panjang, akan tetapi di dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan bagian yang berhubungan dengan masalah yang kita bahas saja, di dalam hadits tersebut diungkapkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ وَإِذَا هُوَ يَهْوِي عَلَيْهِ بِالصَّخـْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ بِهَا رَأْسَهُ فَيَتَدَهْدَهُ الْحَجَرُ هَاهُنَا فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ يَأْخُذُهُ فَمَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ اْلأُولَى.

Kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring, dan satu orang yang lainnya sedang berdiri dengan memegang batu, tiba-tiba saja orang tersebut melemparkan batu itu ke kepala orang (yang pertama). Dia memecahkan kepalanya, kemudian batu tersebut menggelinding ke sini, dia mengikuti batu dan mengambilnya dan tidak kembali lagi sehingga dia pulih seperti semula. Kemudian orang tadi kembali dan melakukan apa yang ia lakukan pada kali pertama.”

(يَثْلَغُ بِهَـا رَأْسَـهُ)  maknanya adalah memecahkan kepalanya.
(فَيَتَدَهْدَهُ) maknanya adalah bergelinding. Maksudnya adalah dia melemparkannya dari atas ke bawah dan bergelinding.

Lalu di akhir hadits diterangkan alasan dengan perkataan dua Malaikat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَمَّا الرَّجُلُ اْلأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ

Adapun orang pertama yang kepalanya pecah dengan batu adalah orang yang mempelajari al-Qur-an tetapi dia menolaknya dan tidur meninggalkan shalat wajib.”[2]

Di dalam riwayat lain:

وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْـدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَـامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Adapun orang yang aku lihat dengan kepalanya yang dipecahkan, dia adalah orang yang diberikan ilmu tentang al-Qur-an, di malam harinya dia meninggalkannya dengan tidur. Sedangkan di siang hari dia tidak mengamalkannya, (siksaan yang ditimpakan kepadanya) akan terus berlanjut sampai hari Kiamat.[3]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang membaca al-Qur-an lalu dia meninggalkannya pada malam hari dan tidak mengamalkannya pada siang hari, maka dia akan mendapatkan siksaan di dalam kubur[4] dengan siksaan yang diungkapkan di dalam hadits. Dan sikap seperti ini termasuk ke dalam kategori mengacuhkan al-Qur-an, untuk menjelaskan hal ini baik kiranya kami mengungkapkan perkataan Ibnul Qayyim tentang macam-macam orang yang mengacuhkan al-Qur-an, beliau rahimahullah berkata, “Mengacuhkan al-Qur-an itu ada beberapa macam:

  • Pertama, tidak mendengarkannya, tidak mengimaninya, dan tidak memperhatikannya.
  • Kedua, tidak mengamalkan dan tidak memperhatikan yang halal juga yang haram menurutnya walaupun dia membaca dan mengimaninya.
  • Ketiga, tidak menjadikannya sebagai sumber hukum di dalam dasar-dasar agama, juga cabangnya dan meyakini bahwa al-Qur-an sama sekali bukan ungkapan yang perlu diyakini. Ia hanyalah sebuah lafazh tanpa ilmu.
  • Keempat, tidak menghayati dan berusaha untuk memahami apa yang dimaksud dengan makna yang ada di dalamnya.
  • Kelima, tidak menggunakannya di dalam mengobati obat hati, di mana dia mencari obat dari yang lainnya dan tidak menggunakannya sebagai obat.

Semua pembagian ini termasuk ke dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

 “Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur-an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.”  [Al-Furqaan/25: 30].

Walaupun sebagian darinya lebih ringan daripada yang lainnya.[5]

Maka jagalah dirimu, wahai hamba Allah! Janganlah engkau membiarkannya sehingga engkau menjadi orang yang mengacuhkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengakibatkan siksa di dalam kubur dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengadukanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Akhir.

Adapun tidur dengan meninggalkan shalat yang wajib, melalaikannya, dan melalaikan shalat berjama’ah, ini semua adalah di antara sebab adanya siksa di dalam kubur.

Balasan disesuaikan dengan amal seorang hamba, maka lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar-kan mereka yang sedang disiksa di dalam kubur?

Ibnul ‘Arabi berkata, “Siksaan tersebut ditimpakan kepada kepala orang yang tidur meninggalkan shalat wajib, sebagaimana tidur adanya di kepala.”[6]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari, kitab at-Ta’biir, bab Ta’biirur Ru’ya ba’da Shaalatish Shubhi (no. 7047). Di dalam hadits ini Samurah berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berkata kepada para Sahabatnya, ‘Apakah di antara kalian ada yang bermimpi?’ Lalu pada akhirnya beliau bercerita, beliau mengatakannya pada pagi hari itu, ‘Tadi malam datang kepadaku dua orang (Malaikat)…’” Para ulama berkata, “Ini adalah nash tentang adanya adzab di dalam alam Barzakh, karena mimpi para Nabi adalah sebuah wahyu yang sesuai dengan kenyataan. Dan beliau mengatakan, “Dia melakukannya sampai hari Kiamat.” Lihat kitab Syarhus Shuduur, hal. 167 dan ar-Ruuh, hal. 79, dan at-Tadzkirah (I/165).
[2] Al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz (no. 1386), bab (93).
[3] Al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz, bab (93), (no. 1387).
[4] Ar-Ruuh, hal. 104.
[5] Al-Fawaa’id, hal. 82.
[6] Fat-hul Baari (XII/441). Perlu diperhatikan di dalam permasalah ini bahwa hadits:
مَنْ حـَافَظَ عَلَـى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَـالَى بِخَمْسِ كَرَمَاتٍ يُرْفَعُ عَنْهُ ضَيْقُ الْعَيْشِ، وَعَذَابُ الْقَبْرِ، وَيُعْطِيْهِ كِتَابَهَ بِيَمِيْنِهِ، وَيَمُرُّ عَلَى الصِّرَاطِ كاَلْبَرْقِ الْخَاطِفِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَمَنْ تهَاَوَنَ بِهَا عَاقَبَهُ اللهُ بِخَمْسِ عَشَرَةَ عُقُوَبَةً، خَمْسٍ فِي الدُّنْيَـا وَثَلاَثٍ عِنْدَ الْمَوْتِ وَثَلاَثٍ فِـي الْقَبْرِ وَثَلاَثٍ عِنْدَ خُرُوْجِهِ مِنَ الْقَبْرِ
Siapa saja yang menjaga shalat wajib lima waktu, maka Allah akan memuliakannya dengan lima kemuliaan, kesulitan hidup dilenyapkan dari dirinya, begitu pula siksa kubur, kitabnya diberikan dengan tangan kanannya, dia melewati (shirath) jembatan bagaikan kilat dan masuk ke dalam Surga tanpa hisab. Dan siapa saja yang menyepelekannya, maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan, lima di dunia, tiga ketika mati, tiga di dalam kubur dan tiga ketika dia keluar dibangkitkan dari dalam kubur…” Lalu beliau menyebutkan siksa tersebut satu persatu.
Sesungguhnya ini adalah hadits bathil yang sama sekali bukan ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,, ungkapan ini disusun oleh Muhammad bin ‘Ali bin al-‘Abbas kepada Abu Bakar Ibnu Ziyad an-Naisaburi, sebagaimana yang diungkapkan oleh ad-Dzahabi di dalam kitabnya al-Miizaan (III/653).
Sedangkan di dalam kitab Lisaanul Miizaan, karya Ibnu Hajar, beliau berkata, “Hadits ini sangat jelas bathil dari sisi jalan-jalan periwayatan hadits.”

Berbohong

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci
9. Berbohong
Di dalam hadits Samurah bin Jundub pula, diungkapkan di dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَـرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِـي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَـاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَـاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَـانِبِ اْلآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ اْلأَوَّل،ِ فَمَـا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ اْلأُولَى.

Lalu kami pun pergi dan menjumpai seseorang yang sedang berbaring bersama  seseorang yang berdiri dengan membawa besi yang bengkok ujungnya, kemudian dia datang ke salah satu sisi wajahnya dan merobek satu sisi mulutnya sampai ke tengkuknya, hidungnya sampai ke tengkuk, juga kedua matanya sampai ke tengkuk. Kemudian dia pindah ke sisi yang lain dan melakukan apa yang telah ia lakukan pada yang pertama kali, dia tidak berhenti dari sisi tersebut sebelum sisi itu sehat seperti semula, kemudian dia kembali kepadanya dan melakukan apa yang ia lakukan pertama kali.”[1]

(الْكَلُّوْبُ) maknanya adalah besi bengkok yang digunakan untuk mencongkel sesuatu atau menggantungkannya.

(يُشَرْشِرُ) maknanya adalah memutuskan.

Kemudian hadits tersebut dijelaskan di dalam perkataan kedua Malaikat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits berikutnya:

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَـرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ.

Adapun orang yang kamu datangi merobek sisi mulutnya sampai tengkuk, hidung sampai tengkuk dan kedua matanya sampai tengkuk pula adalah orang yang pergi dari rumahnya pada pagi hari lalu dia melakukan kebohongan setinggi langit.”

Di dalam riwayat yang lain:

أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِـدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ اْلآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Adapun orang yang mulutnya dirobek adalah seorang pembohong yang berbicara dengan kebohongannya setinggi langit, lalu dia disiksa seperti itu sampai hari Kiamat.”[2]

Benarlah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ.

Dan sesungguhnya kebohongan itu mengantarkan seseorang kepada sebuah kemaksiatan dan kemaksiatan mengantarkan seseorang kepada Neraka.”[3]

Ini adalah balasan dari perbuatan dusta di dalam Barzakh.

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, “Mulut pembohong yang dirobek merupakan sebuah siksaan atas perbuatan maksiat, demikianlah siksa akhirat yang akan ditimpakan kepadanya yang berbeda dengan siksa dunia.

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Sudah terdahulu takhrijnya.
[2] Al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz (no. 1386), bab (93).
[3] Bagian dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, kitab al-Adab, bab firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (no. 6094), Muslim, kitab al-Birr wash Shilah, bab Qabhul Kadzib wa Husnush Shadaq wa Fadhluhu (no. 2607 (133)).

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Isterinya di Baitullah

KISAH NABI IBRAHIM ALAIHISSALLAM DAN ISTERINYA DI BAITULLAH

Marilah kita menikmati cuaca yang penuh dengan keikhlasan dan keimanan, sambil membaca kisah Ibrahim Alaihissallam beserta isterinya, yaitu satu kisah yang diungkap di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Ibrahim Alaihissallam membawa ummu Isma’il (Hajar) beserta anaknya, Isma’il yang sedang disusui oleh Hajar dan meletakkan mereka di dekat Bait1, di dekat pohon besar dan di atas lokasi air zamzam, tepatnya di atas masjid, di waktu tidak ada orang lain sama sekali, dan tidak ada air di sana, tetapi Ibrahim tetap meletakkan mereka di sana dengan dibekali satu tempat yang di dalamnya ada kurma, dan satu kantung air, kemudian Ibrahim tetap pergi dengan diikuti oleh ummu Isma’il, beliau berkata,

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi, mengapa engkau meninggalkanku di lembah ini, tidak ada teman atau yang lainnya?  Dia menanyakan hal tersebut berkali-kali sedangkan Ibrahim sama sekali tidak menengok, lalu sang isteri bertanya, “Apakah Allah yang telah memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?” “Betul,” jawab Ibrahim. Isterinya berkata, “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lalu sang isteri kembali, sedangkan Ibrahim pergi, sehingga sesampainya di sebuah dataran tinggi, yaitu pada sebuah tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, dia menghadap Baitul Haram, seraya memohon kepada Allah sambil mengangkat kedua tangannya dia berkata:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Eng-kau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [Ibrahim/14: 37]

Sedangkan ummu Isma’il menyusui Isma’il dan minum dari air (yang tersedia), dan ketika persediaan air telah habis, sedangkan dia dan anaknya merasakan haus, ia melihat anaknya yang sedang menghentak-hentakkan kaki dan tangannya di atas tanah, setelah itu sang ibu pergi (untuk mencari air) karena tidak tega melihat anaknya yang ada di dalam keadaan seperti itu, sehingga dia sampai ke Shafa, yaitu sebuah bukit yang dekat dengannya, di sana dia berdiri, lalu dia melihat lembah untuk mencari apakah di sana ada seseorang, kemudian dia turun dari Shafa, sehingga sesampainya pada sebuah lembah, dia mengangkat ujung bajunya dengan berlari seperti orang yang berada di dalam kesulitan, sehingga dia melewati lembah tersebut dan sampai di Marwah, dia berdiri di sana dan melihat apakah ada seseorang, dia melakukan hal tersebut sebanyak tujuh kali. Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Karena itulah Sa’i di antara keduanya (di dalam ibadah haji) disyari’atkan bagi manusia.’ Sesampainya di Marwah, dia mendengar suara yang mengatakan, “Diam!” (Maksudnya kepada dirinya sendiri), lalu dia mendengarkan suara itu, seraya berkata, “Engkau telah memperdengarkan kepadaku, seandainya pada dirimu dapat memberikan pertolongan, maka tolonglah aku.” Ternyata di tempat itu ada Malaikat dan di situlah sumber air zamzam keluar, lalu dia mencari zamzam dengan kakinya -atau berkata, dengan sayapnya- sehingga tampaklah air, pada waktu itu pula dia mulai membuat sebuah kolam dengan tangannya, setelah itu dia menyimpan air ke dalam wadah, sedangkan air terus memancar, di dalam riwayat yang lain: Sesuai dengan apa yang ia simpan. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ -أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ- لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِيْناً

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kasih sayang-Nya kepada ibunda Isma’il, seandainya dia meninggalkan zamzam, atau (beliau bersabda) seandainya dia tidak mengambil air darinya, niscaya zamzam merupakan mata air yang terus mengalir di atas permukaan bumi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu dia minum darinya dan menyusui anaknya, Malaikat berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau takut binasa, karena di sini ada Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah mengabaikan keluarga Ibrahim.’”2

Di antara tanda keikhlasan yang sangat nampak di dalam diri Ibrahim n adalah kepatuhannya di dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meninggalkan isteri dan anaknya di sebuah tempat yang sama sekali tidak ada teman dan tidak ada sesuatu apa pun, tanda keikhlasan ini pun nampak pada diri isterinya ketika ia berkata, “Apakah Allah yang telah memerin-tahkan hal ini?” Ibrahim menjawab, “Betul,” ia berkata, “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Apakah Allah membiarkan mereka? Sungguh keikhlasan Ibrahim serta isterinya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menggetarkan hati seorang mukmin yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan keikhlasan dan pengorbanannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memancarkan air zamzam, air tersebut bukan hanya untuk Isma’il dan ibunya, akan tetapi untuk berjuta-juta manusia sepanjang zaman. Dan dengan keikhlasan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dipancarkanlah air zamzam yang akan diminum oleh setiap orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah dari berbagai belahan negeri, air zamzam yang diungkapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zamzam tergantung untuk tujuan apa ia diminum.3

Siapa saja yang meminum air zamzam dengan niat agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan ilmu kepadanya, maka Dia akan mengaruniakan ilmu tersebut kepadanya, siapa saja yang meminumnya agar diberikan ketetapan di dalam agama, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ketetapan baginya di dalam agama, dan siapa saja yang meminumnya dengan niat agar disembuhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari suatu penyakit, maka Dia akan menyembuhkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ber-sabda:

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ وَهِيَ طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءُ سُقْمٍ

Air tersebut adalah air yang penuh dengan keberkahan, kedudukannya sebagai makanan yang mengenyangkan dan merupakan obat dari segala macam penyakit.4

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan dan obat dari berbagai penyakit.”5

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Maksudnya adalah al-Ka’bah.
2 Bagian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3364) sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nawawi di dalam kitabnya Riyaadhush Shaalihiin.
3 HR. Ibnu Majah (no. 3062) Hadits ini dishahihkan oleh guru kami al-Albani di dalam Manaasikul Hajji wal ‘Umrah, hal. 23. Lihat Shahiih Ibni Majah (II/183).
4 Lihat kitab Manaasikul Hajji wal ‘Umrah, hal. 23, cetakan kedua.
5 Hadits ini dikeluarkan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab as-Silsilah ash-Shahiihah.

Termasuk Keikhlasan adalah Melaksanakan Amal Shalih Disertai Rasa Takut

TERMASUK KEIKHLASAN ADALAH MELAKSANAKAN AMAL SHALIH DISERTAI RASA TAKUT AKAN ADZAB PADA HARI AKHIR

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang shalih di dalam firman-Nya:

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا-  اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا -اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا –   فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.”  [Al-Insaan/76: 8-11]

Orang-orang ini sama sekali tidaklah melakukan amal shalih karena untuk mengharapkan ucapan terima kasih dan pujian dari manusia. Ketika mereka menyuguhkan makanan, minuman atau bantuan, mereka sama sekali tidak mengharapkan balasan apa-apa (dari manusia), akan tetapi semua ini disertai dengan rasa takut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا

Sesungguhnya Kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” [Al-Insaan/76: 10]

Mereka menyuguhkan makanan dengan disertai rasa takut mereka kepada Rabb mereka pada hari Akhir, dan tidak dengan jiwa yang angkuh atau sombong kepada orang yang dibantu oleh mereka. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, beliau berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ اْلآيَةِ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ: هُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُوْنَ الْخَمْرَ وَيُسْرِفُوْنَ ؟ قَالَ: لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ! وَلَكِنَّهُمُ الَّذِي يَصُومُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَهُمْ يَخَافُوْنَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُوْلئِكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ.

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut… .” ‘Aisyah berkata, “Apakah mereka yang selalu meminum khamr dan berlebih lebihan?” Rasul menjawab, “Tidak wahai puteri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melakukan shalat, dan bershadaqah sedangkan mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa amal mereka tidak diterima, mereka itulah yang selalu berlomba-lomba di dalam kebaikan.”1

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Hadits ini dikeluarkan oleh guru kami di dalam kitab as-Silsilah ash-Shahiihah, (no. 162).