Author Archives: editor

Dikabulkannya Do’a Orang yang Dizhalimi Serta Makna Mengosongkan Hati

DIKABULKANNYA DO’A ORANG YANG DIZHALIMI DAN DALAM KESULITAN  SERTA MAKNA MENGOSONGKAN HATI UNTUK ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا، فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ.

Do’a orang yang dizhalimi adalah do’a yang selalu dikabulkan, walaupun ia orang yang selalu melakukan kemaksiatan, maka kemaksiatan tersebut hanya akan menimpa dirinya saja.1

Jika kita merenungkan hal ini, maka kita akan menemukan bahwa orang yang berdo’a dalam keadaan seperti itu akan selalu tulus di dalam do’anya, hatinya berkonsentrasi di dalam do’a dan tidak ada satu hal pun yang melalaikannya untuk bersikeras agar do’anya dikabulkan, karena dia meyakini bahwa do’anya harus terwujud. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan di antara sebab tertolaknya do’a, beliau bersabda:

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْلإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdo’alah kalian kepada Allah dengan meyakini bahwa do’a kalian akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari orang yang hatinya lalai dan bermain main.”2

Do’a seseorang yang hatinya lalai atau bermain-main di dalam do’anya tidak akan pernah dikabulkan, sedangkan orang yang dizhalimi hatinya tidak akan pernah lalai dalam do’anya, karena dia dalam keadaan yang sangat membutuhkan-Nya, begitu pula do’a dari orang yang sedang kesulitan, walaupun dia bukan seorang muslim,3 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, … .”[An-Naml/27: 62]

Tidaklah bagi orang yang berada dalam keadaan sulit berkesempatan untuk lalai dari apa yang telah menekannya, oleh karena itu ia sangat tulus ketika berada di dalam keadaan tersebut, walaupun ia adalah orang yang kufur dan ingkar.

Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menjelaskan kepada kita semua bahwa kesibukan inilah yang melalaikan seseorang dari hal yang lebih utama.

Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَصْعَدُ الثَّنِيَّةَ، ثَنِيَّةَ الْمِرَارِ، فَإِنَّهُ يُحَطُّ عَنْهُ مَا حُطَّ عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وكَانَ أَوَّلُ مَنْ صَعِدَهَا خَيْلُنَا خَيْلُ بَنِي الْخَزْرَجِ ثُمَّ تَتَامَّ النَّاسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُمْ مَغْفُورٌ لَهُ إِلاَّصَاحِبَ الْجَمَلِ اْلأَحْمَرِ) فَأَتَيْنَاهُ فَقُلْنَا لَهُ، تَعَالَ! يَسْتَغْفِرْ لَكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَاللهِ!  َلأَنْ أَجِدَ ضَالَّتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لِي صَاحِبُكُمْ

Barangsiapa yang menaiki puncak al-Mirar (suatu tempat di antara Makkah dan Hudaibiyah melalui jalan Madinah), maka dihapus baginya apa-apa yang dihapus dari Bani Israil,” dan yang pertama kali menaikinya adalah pasukan berkuda kita, yaitu pasukan berkuda Bani al-Khazraj, kemudian yang lainnya saling menyusul, lalu Rasulullah n bersabda, “Kalian semua diampuni, kecuali pemilik unta merah,”4 lalu kami mendatanginya dan ber-kata, “Kemarilah, semoga Rasulullah n memo-honkan ampunan untukmu.” Dia berkata, “Aku lebih suka menemukan barangku yang hilang daripada dimohonkan ampun oleh Sahabat kalian (Rasulullah).” [HR. Muslim no. 2780 (12)]

Orang tersebut telah sibuk dengan barangnya yang hilang daripada mendapatkan ampunan baginya dan melakukan ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah baiknya pada kesempatan ini kita ungkapkan sebuah hadits lain dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat menambah jelas masalah ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ رَجُلٍ يُقَرِّبُ وُضُوءَهُ، فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَمُجُّ، وَيَسْتَنْشِقُ، فَيَنْتَثِرُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطاَيَا وَجْهِهِ وَفِيْهِ وَخَيَاشِيْمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى اْلِمْرفَقَيْنِ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَ باِلَّذِي هُوَ أَهْلُهُ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ ِللهِ، إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

Tidaklah seorang di antara kalian mendekati tempat air wudhunya, lalu dia berkumur-kumur, dan membuangnya, lalu dia memasukkan air ke dalam hidung dan membuangnya, kecuali dosa-dosa wajahnya, mulutnya dan rongga hidungnya akan dihilangkan, kemudian jika dia membasuh mukanya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa-dosa wajahnya dari ujung jenggotnya beserta (jatuhnya) air, kemudian ketika dia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, maka berjatuhanlah dosa kedua tangannya dari ujung jarinya bersama jatuhnya air, kemudian ketika dia membasuh kepalanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kepalanya dari ujung rambutnya bersama air. Kemudian jika dia membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kedua kaki dari ujung jarinya bersama jatuhnya air, jika dia berdiri untuk melakukan shalat, lalu memuji-Nya dan mengagungkan-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya, dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, maka dia akan keluar dari semua kesalahannya seperti keadaannya saat baru dilahirkan oleh ibunya.5

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ فَرَّغَ قَلْبَهُ ِللهِ (Dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala),” ungkapan itulah yang menjadi dalil dalam permasalahan ini, mengosongkan hati hanya untuk Allah, maksudnya adalah tidak sibuk sama sekali dengan selain-Nya. Inilah kesempurnaan ikhlas karena Allah semata, orang yang berada di dalam keadaan terzhalimi dan keadaan sulit akan selalu mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berdo’a, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan permohonannya sebagai balasan atas keikhlasan hatinya untuk Allah, kemudian di antara do’a Nabi Ibrahim Alaihisssallam adalah:

لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ 

“…Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”  [Al-An’aam/6: 77]

Dan do’a Nabi Nuh Alaihissallam kepada Rabb-nya:

وَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

“…Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [Huud/11: 47]

Ini merupakan do’a-do’a yang pasti dikabulkan, karena do’a-do’a tersebut berasal dari para hamba yang mengalami kesulitan, jika tidak dikabulkan, maka akan mengakibatkan kesesatan dan kerugian. Semua redaksi do’a ini termasuk dari do’a yang menunjukkan akan sikap mengosongkan hati hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak menyibukkan diri kepada selain-Nya, semua yang ada di benaknya hanyalah harapan agar do’anya dikabulkan dengan mementingkan apa yang diungkap di dalam do’a daripada yang lainnya. Bahkan ketika syaitan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permohonan yang isinya adalah sebesar-besarnya kesesatan:

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Berkata iblis, ‘Ya Rabb-ku (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’” [Al-Hijr/15: 36]

Maka sesungguhnya syaitan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam permohonan tersebut, karena itu adalah do’a makhluk yang berada di dalam keadaan terdesak, di mana di dalam hatinya hanya ada permohonan tersebut. Apakah akibat da-rinya setelah semuanya mendapatkan kerugian, dan apakah hasil yang terjadi?

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ  ٣٧ اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ 

“Allah berfirman, ‘(kalau begitu) maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’” [Al-Hijr/15: 37-38]

Dan bagaimanakah rasa terima kasih yang diungkapkan syaitan kepada Rabb-nya atas do’a yang dikabulkan untuknya?

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٣٩ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Iblis berkata, ‘Ya Rabb-ku! Oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.’” [Al-Hijr/15: 39-40]

Maka syaitan -hanya kepada Allah kita semua memohon perlindungan darinya- mengecualikan orang-orang yang ikhlas karena mereka mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemungkaran sama sekali tidak bisa menjadi perhiasan bagi mereka.

Dari kenyataan ini kita dapat memahami bahwa orang yang berdo’a di dalam keadaan terzhalimi atau dalam keadaan terdesak, hati mereka selalu dikosongkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, di dalam hatinya sama sekali tidak ada hal lain yang dapat melalaikan permohonan tersebut sehingga permohonannya terwujud.

Dari kenyataan ini pula kita melihat bahwa ketiga Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut perang bersama Rasulullah tanpa uzur bahwa mereka merasa bumi menjadi sempit dan jiwa mereka pun terasa sempit, inilah penyifatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَّعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْاۗ حَتّٰٓى اِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْٓا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّآ اِلَيْهِۗ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [At-Taubah/9: 118)

Inilah orang-orang yang ada di dalam keadaan terdesak dalam do’a mereka, hati-hati mereka pun dikosongkan dari segala sesuatu selain dari keridhaan Allah, sehingga bumi terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun demikian adanya, karena itu syaitan tidak dapat mengelabui mereka sedikit pun, karena mereka berpendapat harus mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah menerima taubat mereka.

Berpijak dari penjelasanan ini, kita dapat mema-hami sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ، وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلْثُهَا نِصْفُهَا.

Sesungguhnya seseorang selesai melakukan shalat sedangkan pahala shalatnya itu tidak didapatkannya kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya atau sepertujuhnya atau seperenamnya atau seperlimanya atau seperempatnya atau sepertiganya atau setengahnya.” 6

Pahala di dalam shalat ditulis seukuran kekhusyu’an orang tersebut yang hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam shalatnya7 dan seukuran kekhusyuannya Allah menerima shalat tersebut, dan demikian pula do’a, terjadi perbedaan dalam pengabulannya, semuanya akan dikabulkan berdasarkan kekhusyu’annya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu akan terjadi kepada orang yang berada dalam keadaan terzhalimi, juga orang yang berada di dalam keadaan terdesak, karena mereka mengosongkan hatinya secara sem-purna hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Coba perhatikan lagi bagaimana keadaan pemuda beriman yang akan dilemparkan dari atas gunung? Dia telah mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam do’anya, dia berkata, “Ya Allah! Aku serahkan mereka kepada-Mu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki,” kemudian adakah kesibukannya yang lain dalam berdo’a, padahal saat itu dia melihat bahwa dirinya akan dilemparkan dari atas gunung? Dengan berpijak dari kenyataan tersebut sangatlah kuat keimanan orang yang faham akan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 اَلْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, dan begitu pula Neraka.8

Maka sesungguhnya orang yang merasakan dengan hatinya dan melihat bahwa Surga itu sangat dekat, niscaya dia akan mengosongkan fikirannya dari selain Surga tersebut, dan siapa saja yang merasakan bahwa Neraka itu sangat dekat baginya, maka dia tidak akan sibuk kecuali dengan sesuatu yang dapat menjauhkan dirinya dari Neraka, inilah keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehubungan dengan masalah ini, renungkanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَـمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ.

“Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkan Surga, dan seandainya seorang kafir mengetahui kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia tidak akan pernah putus asa akan Surga-Nya.”9

Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia akan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah agar dia selamat dari siksa-Nya dan dia sama sekali tidak akan berharap akan Surga yang merupakan tujuan setiap hamba yang mukmin, Wallaahu a’lam.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Shahiihul Jaami’ (no. 3377).
2 Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594).
3 Ini di dunia, sedangkan di akhirat hal ini tidak berlaku.
4 ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh orang munafik.
5 Shahiihul Jaami’ (no. 5680).
6 HR. Ahmad di dalam Musnadnya, Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahiihnya, hadits ini terdapat di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 1622).
7 Seorang muslim dituntut pula untuk melakukan shalat se-suai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah n di dalam berbagai gerakannya dan lain sebagainya, dan di dalam amal yang lainnya. Apabila melakukannya, tidak seperti itu (tidak sesuai dengan contoh dari Rasul) maka akan mengurangi pahala shalatnya.
8 HR. al-Bukhari.
9 HR. Muslim.

Bergaul dengan Orang-Orang yang Ikhlas dan Mengambil Manfaat dari Keikhlasan Mereka

BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG IKHLAS DAN MENGAMBIL MANFAAT DARI KEIKHLASAN MEREKA

Telah terdahulu di dalam hadits tiga orang yang terjebak di dalam gua, dan telah dijelaskan pula bagaimana salah seorang di antara mereka berdo’a dengan amal shalihnya, maka bergeserlah batu besar itu, akan tetapi mereka belum dapat keluar dari gua tersebut, maka semuanya dapat mengambil manfaat dari do’a seseorang yang ikhlas, kemudian do’a tersebut berulang dari kedua temannya lagi, dan setiap kali mereka berdo’a, maka batu tersebut terbuka sedikit demi sedikit, akhirnya mereka dapat merasakan kemanfaatan do’a tersebut sehingga mereka semua dapat keluar dari gua.

Karena itu, hendaklah Anda selalu bergaul dengan orang-orang yang ikhlas, niscaya -dengan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- Anda dapat mengambil manfaat dari keikhlasannya, dan dari do’anya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ ِللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضُلاً، يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ، قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُـمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ: فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي اْلأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَـكَ، قَالَ: وَمَاذَا يَسْأَلُونِي؟ قَالُوا: يَسْأَلُونَـكَ جَنَّتَكَ قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: لاَ أَيْ رَبِّ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ، قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي؟ قَالُوا: مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: لاَ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ؟ فَيَقُولُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ: فَيَقُولُونَ: رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ، عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ، قَالَ فَيَقُولُ: وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.

Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang selalu berkeliling di muka bumi, sebagai tambahan (dari Malaikat hafazhah) yang selalu mencari-cari majelis dzikir, ketika mereka menemukan majelis ilmu, maka mereka duduk di sana, salah satu dengan yang lainnya saling melebarkan sayapnya sehingga mereka memenuhi (ruang) antara mereka dan langit dunia, dan ketika orang-orang yang berdzikir itu bubar, maka mereka  pun naik ke langit, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepada mereka -walaupun sebenarnya Dia lebih tahu- ‘Darimana kalian datang?’ Mereka menjawab, ‘Kami datang dari para hamba-Mu yang ada di muka bumi, mereka selalu bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepada-Mu,’ Allah bertanya, ‘Apakah yang mereka pinta dariku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka semua memohon Surga-Mu,’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat Surga-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Sama sekali tidak wahai Rabb-Ku,’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka melihat Surga-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka akan memohon perlindungan kepada-Mu?’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka akan memohon perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api Neraka-Mu wahai Rabb,’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka melihat Neraka-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak,’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Mereka akan memohon ampunan kepada-Mu,’ Allah berkata, ‘Aku telah mengampuni mereka, telah memberikan apa yang mereka pinta dan telah melindungi mereka dari apa yang mereka mohon untuk dilindungi.’ Rasul bersabda, “Mereka berkata, ‘Ya Rabb-ku, di antara mereka ada seorang hamba yang selalu berbuat salah, dia hanya lewat saja dan duduk dengan mereka,’ Allah berkata, ‘Aku telah mengampuninya, mereka adalah suatu kaum, di mana teman duduk mereka tidak akan sengsara dengan mereka.’”1

Maka janganlah Anda menjauhi orang-orang yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perhatikanlah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah tiga orang yang berada pada suatu kampung atau di suatu pedalaman, sedangkan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah kecuali syaitan akan menguasai dan mengalahkan mereka, karena itu berjama’ahlah kalian, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.2

Dan sebagaimana yang telah saya ungkapkan bahwa di antara obat untuk menghilangkan riya’ adalah bersahabat dengan orang-orang yang ikhlas.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 HR. Muslim (no. 2689 (25)).
2 HR. Ahmad di dalam Musnad, an-Nasa-i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam Shahiihnya, Shahiihul Jaami’ (no. 5577).

Macam-Macam Riya’

MACAM-MACAM RIYA’1

  1. Riya’ badan, yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain melihat bahwa dia adalah orang yang rajin di dalam beribadah, sangat takut akan akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu rajin di dalam berpuasa.
  2. Riya’ dari segi perhiasan, dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus, yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama, dia memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang alim.
  3. Riya’ dengan ucapan, riya’ ini paling banyak dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan menghafal suatu riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu, menggerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca al-Qur-an agar hal tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyu’an.
  4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku’ dan sujud, dan dengan menampakkan kekhusyu’an. Riya’ dengan puasa, berperang, haji, shadaqah, juga yang lainnya.
  5. Riya’ dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya, seperti orang yang berusaha untuk mengundang para ulama atau ahli ibadah ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi si fulan,” atau dengan mengundang banyak orang ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, “Bahwa ahli agama selalu datang dan pergi kepadanya.”

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Semua macam ini dinukil dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan (hal. 223, 224, 225).

Poligami

Pasal 1. Memberi Setiap Isteri Sebuah Rumah Sebagai Upaya Mengikuti Nabi
Pasal 2. Apa yang Dilakukan Suami pada Pagi Hari Setelah Malam Pertama
Pasal 3. Masa Tinggal Suami di Sisi Isteri yang Masih Gadis dan yang Janda Setelah Pernikahan
Pasal 4. Wajib Hukumnya Menyamakan Giliran Di antara Isteri-Isteri yang Dimiliki
Pasal 5. Di antaranya Beliau juga Memberikan Giliran kepada Isteri yang Sakit, yang sedang Haid, dan yang Lainnya
Pasal 6. Seorang Suami Tidak Boleh Keluar dari Rumah Salah Seorang Isterinya pada Malam Hari Menuju ke Rumah Isterinya yang Lain, kecuali karena Suatu Keperluan
Pasal 7. Seorang Suami Tidak Boleh Berjima’ dengan Seorang Isteri di Luar Waktu Gilirannya, kecuali dengan Seizin Isteri yang Mendapat Giliran
Pasal 8. Tidak ada Kewajiban bagi Seorang Suami untuk Menyamaratakan dalam Hal Cinta dan Hubungan
Badan
Pasal 9. Kewajiban Menyamaratakan (Secara Adil) Semua Isteri dalam Hal Pemberian Nafkah (Lahir/Materi)
Pasal 10. Sekelumit Tentang Sikap Adil Para Ulama Salaf
Pasal 11. Mengadakan Undian untuk Menentukan Siapa yang Akan Ikut dalam Suatu Perjalanan
Pasal 12. Menyelesaikan Perselisihan antara Isteri-Isteri
Pasal 13. Nafkah Tempat Tinggal bagi Wanita yang Ditalak Raj’i
Pasal 14. Nafkah bagi Wanita yang Ditalak Ba’in Tetapi dalam Keadaan Hamil
Pasal 15. Mut’ah (Pemberian) bagi Wanita yang Ditalak
Pasal 16. Pesan Nabi Berkenaan dengan Wanita

BAB III
POLIGAMI

Allah Ta’ala berfirman:

فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَة

“…Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” [An-Nisaa’/4: 3]

Pertanyaan : Apakah poligami itu dianjurkan?

Jawab : Syaikh Musthafa al-‘Adawi حفظه الله تعالى mengatakan : “Letak dianjurkannya poligami itu adalah jika seorang laki-laki mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Hal itu sesuai dengan firman Allah Ta’ala : ( فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً )Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.’ Dan jika dirinya merasa aman dari fitnah dari isteri-isterinya dan tidak akan menyia-nyiakan hak Allah atas dirinya karena mereka, serta bisa menyibukkan dalam beribadah kepada Rabb karena mereka. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.’ [At-Taghaabun/64: 14]

Selain itu, dia melihat adanya kemampuan untuk menjaga kesucian mereka serta memberikan perlindungan kepada mereka sehingga dia tidak akan memberikan kerusakan kepada mereka. Sebab, Allah tidak menyukai kerusakan.

Dan sesuai dengan kemampuannya dia harus memberikan nafkah kepada mereka. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ

‘Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.’  [An-Nuur/24: 33]”[1]

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya tentang hukum poligami, apakah sunnah?

Dia menjawab, “Tidak sunnah, tetapi boleh.

Pasal 1
Memberi Setiap Isteri Sebuah Rumah Sebagai Upaya Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ

Dan Hendaklah mereka tetap tinggal di rumah mereka.” [Al-Ahzaab/33: 33]

Dia juga berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلٰى فِيْ بُيُوْتِكُنَّ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ وَالْحِكْمَةِۗ 

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu).” [Al-Ahzaab/33: 34]

Dia juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan.” [Al-Ahzaab/33: 53]

Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa rumah Nabi itu ada beberapa buah dan bukan hanya satu saja.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta ketika sakit yang mengantar beliau wafat, “Di mana aku besok? Di mana aku besok?” Yang beliau maksudkan adalah hari (giliran) ‘Aisyah. Lalu isteri-isteri beliau mengizinkan beliau untuk menetap di mana beliau kehendaki, sehingga beliau tinggal di rumah ‘Aisyah sampai beliau wafat di sisinya. ‘Aisyah berkata, “Maka beliau meninggal pada hari yang menjadi giliranku di rumahku. Lalu Allah mencabut nyawa beliau sementara kepala beliau bersandar di dadaku, sementara keringat beliau bercampur dengan keringatku.” [HR. Al-Bukhari].

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi pernah berada di rumah salah seorang isterinya, lalu salah seorang Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi) mengirimkan satu piring berisi makanan. Kemudian wanita yang rumahnya ditempati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul tangan pelayan sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan kemudian mengumpulkan kembali makanan tersebut ke dalamnya seraya berkata, ‘Ibumu telah cemburu.’ Selanjutnya, pelayan itu ditahan sehingga dia diberi piring dari isteri yang rumahnya ditempati Nabi. Lalu pelayan itu menyerahkan piring yang baik kepada isteri yang dipecahkan piringnya. Sementara Nabi tetap menahan piring yang pecah itu di rumah kejadian peristiwa piring pecah.” [HR. Al-Bukhari].

Ibnu Abu Syaibah rahimahullah di dalam kitab al-Mushannaf (IV/388) berkata, ‘Abad bin al-‘Awam mengabarkan kepadaku dari Ghalib, dia berkata, “Aku pernah tanyakan kepada Hasan -atau ditanya- tentang seorang laki-laki yang mempunyai dua isteri di dalam satu rumah? Dia menjawab, ‘Mereka (para Sahabat) memakruhkan al-wajs, yakni dia menggauli salah seorang dari keduanya sementara yang lainnya melihat.’” Atsar ini shahih.

Di dalam kitab al-Mughni (VII/26), Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Seorang laki-laki tidak boleh menghimpun dua isterinya di dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya, baik itu masih kecil maupun sudah tua, karena antara keduanya terdapat mudharat, dimana antara keduanya ada permusuhan dan kecemburuan. Sementara penyatuan keduanya dapat menyulut pertengkaran dan peperangan. Dan masing-masing dari keduanya akan mendengar gerakannya jika dia menggauli isterinya yang lain atau bisa juga dia akan melihat hal tersebut. Dan jika keduanya sama-sama setuju dengan hal tersebut, maka hal itu dibolehkan, karena hak itu milik keduanya, sehingga keduanya diberi toleran untuk meninggalkannya.

Demikian juga jika keduanya rela suami mereka tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Dan jika keduanya rela untuk suami mereka mencampuri salah seorang dari mereka dengan disaksikan oleh yang lainnya, maka yang demikian itu tidak diperbolehkan, karena hal tersebut mengandung kehinaan, kenistaan, dan jatuhnya kewibawaan sehingga hal tersebut tidak diperbolehkan meskipun keduanya membolehkan.”

Imam al-Qurthubi (XIV/217) berkata, “Tidak diperkenankan mengumpulkan para isteri di satu rumah, kecuali jika mereka rela.”

Di dalam kitab al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab dikatakan (XVI/415), “Jika seorang suami memiliki beberapa isteri yang tidak ditempatkan di dalam satu rumah, kecuali dengan kerelaan mereka atau salah seorang dari mereka, karena hal itu dapat menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mencampuri salah seorang dari mereka ketika yang lainnya tengah berada bersamanya karena yang demikian itu adalah adab yang tidak baik lagi merusak hubungan.”

Catatan:
Diantara bentuk kelaziman rumah yang mandiri bagi setiap isteri adalah tidak ada campur tangan dalam hal makanan di antara isteri-isteri. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadits terdahulu, “Lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan satu piring yang di dalamnya terdapat makanan.” Hadits itu menunjukkan bahwa makanan masing-masing isteri terlepas dari yang lainnya. Tetapi, jika mereka tengah berkumpul dalam suatu jamuan dengan keridhaan dari semua isteri, maka hal itu tidak ada masalah. Wallahu a’lam.

Pasal 2
Apa yang Dilakukan Suami pada Pagi Hari Setelah Malam Pertama
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas Radhiyallahu anhu  ia berkata:

أَوْلَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَنَى بِزَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَأَشْبَعَ النَّاسَ خُبْزًا وَلَحْمًا ثُمَّ خَرَجَ إِلَى حُجَرِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ كَمَا كَانَ يَصْنَعُ صَبِيحَةَ بِنَائِهِ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِنَّ وَيُسَلِّمْنَ عَلَيْهِ وَيَدْعُو لَهُنَّ وَيَدْعُونَ لَهُ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengadakan walimah ketika menikahi Zainab binti Jahsyin. Beliau mengenyangkan orang-orang dengan roti dan daging. Setelah itu beliau pergi ke rumah-rumah Ummahatul Mukminin, sebagaimana yang biasa beliau lakukan pada pagi hari setelah malam pertama. Lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka seraya mendo’akan mereka, sementara mereka pun memberi ucapan selamat kepada beliau seraya mendo’akan beliau.

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1]  Fiqh Ta’addud az-Zaujaat, hal. 5, Syaikh Musthafa al-‘Adawi.

Wajib Hukumnya Menyamakan Giliran Di Antara Isteri-Isteri

BAB III
POLIGAMI

Pasal 3
Masa Tinggal Suami di Sisi Isteri yang Masih Gadis dan yang Janda Setelah pernikahan
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata:

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْبِكْرَ عَلَى الثَّيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا وَقَسَمَ وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ عَلَى الْبِكْرِ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلاَثًا ثُمَّ قَسَمَ قَالَ أَبُو قِلاَبَةَ: وَلَوْ شِئْتُ لَقُلْتُ إِنَّ أَنَسًا رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Termasuk sunnah jika seorang suami menikahi seorang gadis untuk tinggal di sisinya selama tujuh hari, kemudian menggilir. Dan jika dia menikahi janda, maka hendaklah dia tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian mengadakan giliran.” Abu Qilabah mengatakan, “Jika aku mau, maka dapat aku katakan, ‘Bahwa Anas telah memarfu’kan (mengangkat) hadits ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’”

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Ummu Salamah, menetap di sisinya selama tiga hari seraya berkata:

إِنَّهُ لَيْسَ بِكِ عَلَى أَهْلِكِ هَوَانٌ إِنْ شِئْتِ سَبَّعْتُ لَكِ وَإِنْ سَبَّعْتُ لَكِ سَبَّعْتُ لِنِسَائِي

Sesungguhnya bukan suatu hal yang mudah bagimu atas keluargamu. Jika mau, aku akan menetap tujuh hari untukmu dan jika aku menetap tujuh hari untukmu, maka aku harus menetap tujuh hari untuk isteri-isteriku (yang lain).” [HR. Muslim].

Pasal 4
Wajib Hukumnya Menyamakan Giliran Di Antara Isteri-Isteri yang Dimiliki
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ 

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [. An-Nisaa’/4: 3]

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” [An-Nisaa’/4: 135]

Dia juga berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Maa-idah/5: 8]

Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman:

فَلَا تَمِيْلُوْا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” [An-Nisaa’/4: 129]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعُ نِسْوَةٍ، فَكَانَ إِذَا قَسَمَ بَيْنَهُنَّ لاَ يَنْتَهِي إِلَى الْمَرْأَةِ اْلأُوْلَى إِلاَّ فِي تِسْعٍ، فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيهَا، فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ، فَجَاءَتْ زَيْنَبُ فَمَدَّ يَدَهُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ: هَذِهِ زَيْنَبُ، فَكَفَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ فَتَقَاوَلَتَا حَتَّى اسْتَخَبَتَا وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ عَلَى ذَلِكَ فَسَمِعَ أَصْوَاتَهُمَا، فَقَالَ: اُخْرُجْ يَا رَسُولَ اللهِ إِلَى الصَّلاَةِ وَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ التُّرَابَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اَلآنَ يَقْضِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ فَيَجِيءُ أَبُو بَكْرٍ فَيَفْعَلُ بِي وَيَفْعَلُ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ أَتَاهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهَا قَوْلاً شَدِيدًا وَقَالَ: أَتَصْنَعِينَ هَذَا.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sembilan orang isteri. Dimana jika beliau membagi giliran di antara mereka, tidak akan berakhir sampai isteri pertama, kecuali pada yang kesembilan. Mereka semua berkumpul pada setiap malam di rumah isteri yang beliau datangi. Pernah beliau berada di rumah ‘Aisyah, tiba-tiba Zainab datang, lalu beliau mengulurkan tangan beliau kepadanya, maka Zainab berkata, ‘Ini Zainab.’ Kemudian Nabi menarik tangan beliau (tidak jadi menarik tangan Zainab).” Lalu keduanya (‘Aisyah dan Zainab) saling berbicara sampai saling merendahkan suara dan iqamat shalat pun dikumandangkan. Lalu Abu Bakar lewat sehingga mendengar suara keduanya, maka Abu Bakar berkata, ‘Mari pergi menunaikan shalat, wahai Rasulullah. Dan sumpalkan tanah ke mulut mereka.” Anas berkata, “Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, maka ‘Aisyah berkata, ‘Sekarang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menunaikan shalatnya. Lalu Abu Bakar datang dan melakukan apa yang beliau lakukan terhadapku.’ Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menunaikan shalatnya, Abu Bakar mendatanginya seraya mengatakan kata-kata keras kepadanya seraya berucap, ‘Apakah pantas kamu lakukan hal seperti ini?’” [HR. Muslim].

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ، وَكَانَ يَقْسِمُ لِكُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا، غَيْرَ أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْتَغِي بِذَلِكَ رِضَا رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Biasanya, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengadakan undian di antara isteri-isteri beliau. Siapa di antara mereka yang mendapatkan undian itu, maka beliau akan keluar bersamanya. Dan beliau biasa membagi untuk setiap isteri-isteri beliau hari dan malamnya, hanya saja Saudah binti Zam’ah telah memberikan hari dan malamnya kepada ‘Aisyah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan mendapatkan keridhaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Al-Bukhari].

Pasal 5
Di antaranya Beliau juga Memberikan Giliran kepada Isteri yang Sakit, yang sedang Haid dan yang Lainnya
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata:

كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ؟!

“Jika salah seorang di antara kami haid, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak bercumbu dengannya, maka beliau menyuruhnya untuk mengencangkan kain di sekitar tempat haidnya kemudian bercumbu dengannya.” ‘Aisyah berkata, “Siapakah di antara kalian yang mampu mengendalikan nafsunya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menahan nafsunya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

Seorang Suami Tidak Boleh Berjima’ dengan Seorang Isteri di Luar Waktu Gilirannya

BAB III
POLIGAMI

Pasal 6
Seorang Suami Tidak Boleh Keluar dari Rumah Salah Seorang Isterinya pada Malam Hari Menuju ke Rumah Isterinya yang Lain, kecuali karena Suatu Keperluan
Imam Muslim rahimahullah berkata, Harun bin Sa’id al-Ailiyyu memberitahuku, ia berkata, ‘Abdullah bin Wahab memberitahu kami, ia berkata, Ibnu Juraij memberitahu kami dari ‘Abdullah bin Katsir bin al-Muthallib bahwasanya dia pernah mendengar Muhammad bin Qais berkata, “Aku pernah mendengar ‘Aisyah menyampaikan hadits seraya berucap, ‘Maukah kalian aku beritahu tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tentang diriku sendiri?’ ‘Mau,’ jawab kami.”

Imam Muslim berkata dalam riwayatnya yang lain:
Orang yang mendengar Hajjaj, yang buta sebelah matanya -dan lafazh ini miliknya- memberitahuku, dia berkata, Hajjaj bin Muhammad memberitahu kami, ia berkata, Ibnu Juraij memberitahu kami, ia berkata, Hamba Allah -seseorang dari kaum Quraisy- memberitahuku dari Muhammad bin Qais bin Makhramah bin al-Muthallib bahwasanya beliau berkata pada suatu hari, “Maukah kalian aku beritahu tentang diriku dan tentang ibuku?”

Seorang berkata, “Lalu kami mengira bahwa yang beliau maksudkan adalah ibunya yang telah melahirkan beliau.”

Muhammad bin Qais mengatakan, “Lalu ‘Aisyah berkata, ‘Maukah kalian aku beritahu tentang diriku dan tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ ‘Mau,’ jawab kami.”

Muhammad bin Qais berkata, “‘Aisyah berkata, ‘Ketika malam giliranku, dimana Nabi ada bersamaku, pulang kembali. Lalu beliau meletakkan rida’nya (selendangnya) dan melepas kedua sandalnya serta meletakkannya di dekat kakinya, lalu beliau menggelar ujung kainnya di atas tempat tidurnya, kemudian berbaring, dan tidak beberapa lama, kecuali selama beliau mengira bahwa aku telah tidur.

Setelah itu beliau mengambil rida’nya pelan-pelan dan memakai sandalnya secara perlahan pula serta membuka pintu untuk kemudian keluar dan menutupnya secara perlahan pula. Lalu aku meletakkan baju di kepalaku, lalu memakai kerudung dan menutupkan kainku untuk kemudian pergi mengikuti jejak beliau.

Kemudian beliau mendatangi al-Baqi’ dan berdiri di sana cukup lama. Selanjutnya, beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, lalu beliau berbalik dan aku pun berbalik. Selanjutnya, beliau berjalan cepat yang aku susul dengan cepat pula. Beliau lari kecil, maka aku pun berlari kecil pula, beliau tiba maka aku pun tiba. Kemudian aku mendahului beliau dan tidak ada yang aku lakukan, kecuali berbaring.

Lalu beliau masuk seraya bertanya, ‘Apa yang terjadi padamu, wahai ‘Aisyah, terlihat bimbang dan ragu?’
‘Aisyah berkata, ‘Lalu aku katakan, ‘Tidak ada apa-apa.’
Beliau berkata, ‘Engkau harus beritahu aku atau Rabb Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui Yang akan memberitahuku.’
‘Aisyah berkata, ‘Lalu aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, demi ayahku, dirimu, dan ibuku.’
Kemudian ‘Aisyah memberitahu beliau. Maka beliau bertanya, ‘Apakah engkau bayangan hitam yang kulihat di hadapanku?’
‘Ya,’ jawabku.

Maka beliau menepuk dadaku sekali tepukan yang terasa sakit. Kemudian beliau bersabda, ‘Apakah engkau mengira Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimi dirimu?’[1]

‘Aisyah menjawab, ‘Bagaimana umat manusia menyembunyikan, pasti akan diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.’

Beliau bersabda, ‘Benar.’

Lebih lanjut, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril mendatangiku ketika aku melihat, lalu Jibril memanggilku, maka aku menyembunyikannya darimu. Lalu aku menjawabnya dengan menyembunyikannya darimu. Dan dia tidak masuk menemuimu, karena engkau telah melepas bajumu. Sementara aku mengira engkau sudah tidur, sehingga aku tidak ingin membangunkanmu dan khawatir akan membuatmu tidak berkenan. Lalu Jibril berkta, ‘Sesungguhnya Rabb-mu telah menyuruhmu untuk mendatangi penghuni kuburan Baqi’ dan memohonkan ampunan bagi mereka.’

‘Aisyah berkata, kutanyakan, “Lalu bagaimana aku katakan kepada mereka, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ucapkanlah:

اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ.

Semoga keselamatan terlimpahkan kepada penghuni kuburan ini dari kalangan orang-orang mukmin dan kaum muslimin. Dan semoga Allah mengasihi orang-orang yang terdahulu di antara kita maupun yang akan datang kelak. Dan sesungguhnya kami insya Allah akan berjumpa dengan kalian.’”

Ibnu Qudamah rahimahullah di dalam kitab al-Mughni (VIII/146) mengatakan, “Adapun mendatangi madunya ketika waktu bermalamnya pada isteri yang mendapat giliran, jika mendatanginya pada malam hari, maka tidak diperbolehkan, kecuali keadaan darurat, misalnya, mampir sejenak di tempatnya dengan maksud untuk menjenguknya atau memberi pesan kepadanya atau untuk suatu urusan yang harus disampaikan. Jika dia melakukan hal tersebut, lalu dia keluar, maka dia tidak perlu mengganti. Dan jika dia menetap dan wanita itu telah sembuh dari sakitnya, maka dia harus mengganti bagi isteri yang lain sesuai dengan malam-malam dimana dia menginap.”

Pasal 7
Seorang Suami Tidak Boleh Berjima’ dengan Seorang Isteri di Luar Waktu Gilirannya, kecuali dengan Seizin Isteri yang Mendapat Giliran
Dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, dia berkata, ‘Aisyah berkata, “Wahai keponakanku, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan sebagian kami atas sebagian lainnya dalam pembagian menginap di rumah kami. Dan sering sekali beliau mengelilingi kami semua, lalu beliau mendekati setiap isteri tanpa sentuhan, sehingga sampai pada isteri yang memang mendapat giliran, lalu beliau menginap di rumahnya. Dan Saudah binti Zam’ah berkata ketika sudah tua dan merasa akan ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hari giliranku untuk ‘Aisyah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hal tersebut darinya.” ‘Aisyah berkata, “Kami katakan, ‘Berkenaan dengan hal tersebut Allah Ta’ala menurunkan ayat, Dia berfirman:-

وَاِنِ امْرَاَةٌ خَافَتْ مِنْۢ بَعْلِهَا نُشُوْزًا اَوْ اِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يُّصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۗوَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗوَاُحْضِرَتِ الْاَنْفُسُ الشُّحَّۗ وَاِنْ تُحْسِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[2] [HR. Abu Dawud dengan sanad hasan].[3]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Seorang suami dibolehkan mendatangi semua isterinya dalam sehari yang menjadi giliran salah seorang dari mereka, tetapi dia tidak boleh mencampuri isteri yang tidak mendapatkan giliran.”[4]

Pembahasan Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَنْ تَسْتَطِيْعُوْٓا اَنْ تَعْدِلُوْا بَيْنَ النِّسَاۤءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيْلُوْا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۗوَاِنْ تُصْلِحُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kalian terlalu cenderung (kepada yang kalian cintai), sehingga kalian biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kalian mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisaa’/4: 129]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Artinya, wahai manusia kalian tidak akan sanggup bersikap sama di antara isteri-isteri kalian dari berbagai segi, karena sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada tingkatan dalam rasa cinta dan keinginan jima’.”

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: (فَلاَ تَمِيْلُ كُلَّ الْمَيْل )Karena itu janganlah kalian terlalu cenderung (kepada yang kalian cintai),” Ibnu Katsir mengatakan, “Jika kalian cenderung kepada salah satu di antara mereka, maka janganlah berlebih-lebihan dalam kecenderungan kepada sebagian secara keseluruhannya. (فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ) ‘Sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung,’ yaitu membiarkan sebagian dalam kehidupan yang tergantung tidak menentu. Dan dinukil perkataan dari sebagian ulama sesungguhnya maknanya adalah wanita yang seakan-akan tidak memiliki suami dan tidak pula wanita yang diceraikan.

Dan firman-Nya:
(وَإِنْ تُصْلِحُوْا وَتَتَّقُوْا فَإِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْرًا رَحِيْمًا )Jika kalian mengadakan perbaikan dan memelihara diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,’ yaitu jika kalian berdamai dalam perkara-perkara kalian dan kalian gilir dengan adil sesuai kemampuan kalian serta kalian bertakwa kepada Allah dalam seluruh kondisi, niscaya Allah akan mengampuni kalian terhadap kecenderungan kalian kepada sebagian isteri-isteri kalian.”[5]

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1]  Syaikh Musthafa al-‘Adawi mengatakan, “Ucapan Rasulullah, ‘Apakah engkau mengira Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimi dirimu?’ menunjukkan bahwa keluarnya seorang  suami dari rumah salah seorang isterinya ke rumah isterinya yang lain termasuk perbuatan zhalim.” Fiqh Ta’addud az-Zaujaat, hal. 65
[2]  QS. An-Nisaa’/4: 128.
[3]  Hadits ini terdapat di dalam kitab ash-Shahiih al-Musnad mimmaa Laisa fish-Shahiihain (II/493).
[4]  Zaadul Ma’aad (V/152).
[5] Tafsiir Ibnu Katsir (I/563).

Tidak ada Kewajiban Menyamaratakan dalam Hal Cinta dan Hubungan Badan

BAB III
POLIGAMI

Pasal 8
Tidak ada Kewajiban bagi Seorang Suami untuk Menyamaratakan dalam Hal Cinta dan Hubungan Badan
Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah memberitahu kami, ia berkata, Sulaiman memberitahu kami, dari Yahya dari ‘Ubaid bin Hunain, dia mendengar dari Ibnu ‘Abbas dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, “Dia pernah masuk menemui Hafshah seraya berkata, ‘Wahai puteriku, janganlah engkau tertipu pada seorang wanita, yang mana Rasulullah dibuat kagum oleh kecantikannya -yang dia maksudkan adalah ‘Aisyah.- Lalu aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun tersenyum.”

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَتَعَذَّرُ فِي مَرَضِهِ أَيْنَ أَنَا الْيَوْمَ أَيْنَ أَنَا غَدًا اسْتِبْطَاءً لِيَوْمِ عَائِشَةَ فَلَمَّا كَانَ يَوْمِي قَبَضَهُ اللَّهُ بَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي وَدُفِنَ فِي بَيْتِي

Dari ‘Aisyah Radhiyallauh anha, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat sakit bertanya-tanya, ‘Di mana aku sekarang? Di mana aku besok?’ karena beliau merasa terlalu lama menunggu hari giliran ‘Aisyah. Dan ketika hari giliranku itu tiba, Allah mewafatkan beliau dengan bersandar di dadaku dan dimakamkan di rumahku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata,

أَرْسَلَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ مَعِي فِي مِرْطِي فَأَذِنَ لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَزْوَاجَكَ أَرْسَلْنَنِي إِلَيْكَ يَسْأَلْنَكَ الْعَدْلَ فِي ابْنَةِ أَبِي قُحَافَةَ وَأَنَا سَاكِتَةٌ قَالَتْ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْ بُنَيَّةُ أَلَسْتِ تُحِبِّينَ مَا أُحِبُّ فَقَالَتْ بَلَى قَالَ فَأَحِبِّي هَذِهِ قَالَتْ فَقَامَتْ فَاطِمَةُ حِينَ سَمِعَتْ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَتْ إِلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُنَّ بِالَّذِي قَالَتْ وَبِالَّذِي قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَ لَهَا مَا نُرَاكِ أَغْنَيْتِ عَنَّا مِنْ شَيْءٍ فَارْجِعِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولِي لَهُ إِنَّ أَزْوَاجَكَ يَنْشُدْنَكَ الْعَدْلَ فِي ابْنَةِ أَبِي قُحَافَةَ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ وَاللَّهِ لَا أُكَلِّمُهُ فِيهَا أَبَدًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَأَرْسَلَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ الَّتِي كَانَتْ تُسَامِينِي مِنْهُنَّ فِي الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أَرَ امْرَأَةً قَطُّ خَيْرًا فِي الدِّينِ مِنْ زَيْنَبَ وَأَتْقَى لِلَّهِ وَأَصْدَقَ حَدِيثًا وَأَوْصَلَ لِلرَّحِمِ وَأَعْظَمَ صَدَقَةً وَأَشَدَّ ابْتِذَالًا لِنَفْسِهَا فِي الْعَمَلِ الَّذِي تَصَدَّقُ بِهِ وَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مَا عَدَا سَوْرَةً مِنْ حِدَّةٍ كَانَتْ فِيهَا تُسْرِعُ مِنْهَا الْفَيْئَةَ قَالَتْ فَاسْتَأْذَنَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ عَائِشَةَ فِي مِرْطِهَا عَلَى الْحَالَةِ الَّتِي دَخَلَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا وَهُوَ بِهَا فَأَذِنَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَزْوَاجَكَ أَرْسَلْنَنِي إِلَيْكَ يَسْأَلْنَكَ الْعَدْلَ فِي ابْنَةِ أَبِي قُحَافَةَ قَالَتْ ثُمَّ وَقَعَتْ بِي فَاسْتَطَالَتْ عَلَيَّ وَأَنَا أَرْقُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْقُبُ طَرْفَهُ هَلْ يَأْذَنُ لِي فِيهَا قَالَتْ فَلَمْ تَبْرَحْ زَيْنَبُ حَتَّى عَرَفْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَكْرَهُ أَنْ أَنْتَصِرَ قَالَتْ فَلَمَّا وَقَعْتُ بِهَا لَمْ أَنْشَبْهَا حَتَّى أَنْحَيْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَبَسَّمَ إِنَّهَا ابْنَةُ أَبِي بَكْرٍ

“Isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta izin kepada beliau yang ketika itu tengah berbaring bersamaku di atas kainku. Lalu beliau memberikan izin kepadanya. Maka Fathimah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu telah mengutusku kepadamu untuk meminta keadilan mengenai puteri Abu Quhafah (‘Aisyah).’ Dan aku pun diam.”

‘Aisyah berkata, “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai puteriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?’

Fathimah pun menjawab, ‘Ya.’
‘Kalau begitu, maka cintailah wanita ini,’ pinta Rasulullah.”

Lebih lanjut, ‘Aisyah berkata, “Lalu Fathimah berdiri ketika mendengar hal tersebut dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia kembali kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memberitahu mereka apa yang telah dia katakan dan juga jawaban yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.’ Maka mereka berkata kepadanya, ‘Menurut kami, kamu belum berhasil menyampaikan pesan kami sedikit pun. Oleh karena itu, kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan katakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya isteri-isterimu meminta sikap adil menyangkut puteri Abu Quhafah (‘Aisyah).’

Maka Fathimah mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepada beliau mengenai dirinya (untuk selamanya).’”

‘Aisyah berkata, “Maka isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zainab binti Jahsyin, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ketika itu dia menyertaiku dalam kedudukan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku tidak melihat seorang wanita pun di dunia ini yang lebih baik daripada Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur dalam ucapan, dan lebih giat menyambung silaturahmi, lebih besar dalam bersedekah, lebih gigih dalam mengerahkan dirinya dalam beramal dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala.”

‘Aisyah melanjutkan, “Lalu Zainab meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah bersama ‘Aisyah di dalam kainnya dalam keadaan seperti ketika Fathimah masuk ke rumahnya, yang sedang bersamanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya. Lalu Zainab berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu mengutusku kepadamu untuk meminta sikap adil terhadap puteri Abu Quhafah.’”

‘Aisyah berkata, “Kemudian dia terus berbicara tentang diriku sehingga aku merasa sesuatu tentangnya dalam diriku. Sementara aku mengawasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengawasi pandangannya, apakah beliau mengizinkan aku untuk membela diriku. Sedang Zainab tidak berkenan sehingga dia mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keberatan jika aku membela diriku.”

‘Aisyah berkata, “Tatkala aku melihatnya, aku tidak lama-lama melihatnya hingga aku pun berpaling darinya.”
Lebih lanjut, ‘Aisyah berkata, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda seraya tersenyum:
‘Sesungguhnya dia adalah puteri Abu Bakar.’” [HR. Muslim].

Ibnul Qayyim rahimahullah (V/151) mengatakan, “Tidak ada keharusan untuk menyamakan di antara isteri-isteri dalam hal cinta, karena hal itu di luar kuasa manusia. Dan ‘Aisyah Radhiyallahu anha merupakan isteri yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya tidak ada kewajiban menyamaratakan di antara para isteri dalam hal hubungan badan, karena hal tersebut tergantung pada kecintaan dan kecenderungan. Dan hal itu sudah pasti berada di tangan Allah Yang membolak-balikkan hati. Dan dalam masalah ini terdapat penjelasan secara rinci, yaitu jika dia meninggalkan kecenderungan karena tidak adanya pendorong dan tidak adanya hasrat kepadanya, maka hal itu bisa dimaafkan. Dan jika meninggalkan kecenderungan dengan adanya dorongan kepadanya tetapi pendorong kepada madu lebih kuat, maka hal itu masih berada di bawah kendali dan kekuasaannya, karenanya jika dia menunaikan kewajiban padanya, maka tidak ada lagi hak baginya (isteri) dan tidak ada keharusan kepadanya (suami) untuk menyamaratakan. Dan jika dia (suami) meninggalkan yang wajib darinya (isteri), maka dia berhak menuntut hal itu darinya (suami).”

Syaikh Mushthafa al-‘Adawi hafizhahullah memberikan dua peringatan:

Peringatan pertama: Persamaan dalam hal hubungan badan meskipun hal itu tidak wajib, hanya saja dia disunnahkan untuk bersikap adil dalam masalah tersebut. Dan hal itu lebih baik dan sempurna serta lebih jauh dari kecenderungan yang berlebih-lebihan. Dan hal tersebut telah dikemukakan oleh sejumlah ulama.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan di dalam kitab al-Mughni (VII/35), ‘Jika dimungkinkan untuk melakukan penyamaan antara keduanya dalam hal hubungan badan, maka yang demikian itu lebih baik dan tepat. Dan demikian itu lebih sempurna dalam hal keadilan.’

Di dalam kitab al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab (XVI/430) disebutkan, ‘Disukai bagi seorang suami yang memberikan giliran di antara isteri-isterinya untuk menyamaratakan dalam hal bersenang-senang (hubungan badan), karena yang demikian itu lebih sempurna dalam hal keadilan.’

Dalam kitab yang sama (XVI/433) juga disebutkan, ‘…hanya saja, yang disukai adalah menyamakan di antara mereka dalam hal hubungan badan, karena hal itu yang menjadi tujuan.’

Peringatan kedua: Seorang suami harus memenuhi kebutuhan biologis isterinya sesuai dengan kemampuannya. Sebab, jika dia tidak mengamankan isterinya dari kerusakan, maka yang demikian itu bisa jadi akan menjadi sebab permusuhan, kebencian, dan perpecahan di antara keduanya.”[1]

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1] Fiqhu Ta’addudi az-Zaujaat, hal. 95.

Kewajiban Menyamaratakan Semua Isteri dalam Hal Pemberian Nafkah

BAB III
POLIGAMI

Pasal 9
Kewajiban Menyamaratakan (Secara Adil) Semua Isteri dalam Hal Pemberian Nafkah (Lahir/Materi).
Di dalam kitab al-Fataawaa (XXXII/270), Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun keadilan dalam masalah nafkah dan sandang, maka yang disunnahkan adalah mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau sangat adil dalam memberikan nafkah di antara isteri-isterinya, sebagaimana beliau juga adil dalam membagi giliran. Dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan umat manusia (maksud beliau adalah ulama.-ed) mengenai pembagian ini, apakah yang demikian itu merupakan suatu hal yang wajib baginya ataukah sunnah? Dan mereka berselisih juga soal sikap adil dalam hal pemberian nafkah, apakah yang demikian itu wajib atau sunnah? Dan hukum wajibnya lebih kuat dengan didukung oleh al-Qur-an dan as-Sunnah.”

Syakih Musthafa al-‘Adawi berkata, “Dan yang tampak secara lahiriah -wallahu a’lam- adalah bahwa pendapat yang mewajibkan itu lebih kuat dengan didukung oleh al-Qur-an dan as-Sunnah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dan pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah Azza wa Jalla.”[1]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Ummu Sulaim pernah mengutusnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kain yang di atasnya terdapat kurma ruthab (yang belum kering). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggenggamnya kemudian mengirimkannya kepada beberapa orang isterinya. Dan setelah itu beliau pun mengambil lagi sebagian kurma tersebut dan memberikannya kepada sebagian isterinya yang lain. Kemudian beliau duduk dan memakan sisanya, seperti makannya seseorang yang mengetahui bahwa dia sangat berselera padanya. [HR. Ahmad].[2]

Pasal 10
Sekelumit Tentang Sikap Adil Para Ulama Salaf
Ibnu Abi Syaibah rahimahullah di dalam kitab al-Mushannaf (IV/387) mengatakan, Abu Dawud ath-Thayalisi mengabarkan kepada kami dari Harun bin Ibrahim, dia berkata, Aku pernah mendengar Muhammad berkata tentang seorang laki-laki yang memiliki dua orang isteri, “Dimakruhkan baginya untuk berwudhu’ di rumah salah seorang dari keduanya dan tidak di rumah yang lainnya.” Ini adalah atsar yang shahih.

Ibnu Abi Syaibah rahimahullah mengatakan di dalam kitab al-Mushannaf (IV/387), “Jarir memberitahu kami dari Mughirah dari Abu Ma’syar dari Ibrahim mengenai seorang laki-laki yang menghimpun antara dua madunya, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya dia menyamaratakan di antara mereka semua sehingga tersisa kelebihan tepung dan makanan yang telah ditakar, lalu dia membaginya segenggam demi segenggam, hingga masih juga tersisa tetapi tidak bisa ditakar lagi.’ Atsar ini shahih. Dan Abu Ma’syar adalah Ziyad bin Kulaib, yang dia berstatus tsiqah (dapat dipercaya).

Pasal 11
Mengadakan Undian untuk Menentukan Siapa yang Akan Ikut dalam Suatu Perjalanan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ وَكَانَ يَقْسِمُ لِكُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا غَيْرَ أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْتَغِي بِذَلِكَ رِضَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata : Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengadakan undian di antara isteri-isteri beliau. Siapa di antara mereka yang mendapatkan undian itu maka beliau akan keluar bersamanya. Dan beliau biasa membagi untuk setiap orang dari isteri-isteri beliau hari dan malamnya, hanya saja Saudah binti Zam’ah telah memberikan hari dan malamnya kepada ‘Aisyah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan mendapatkan keridhaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [HR. Al-Bukhari].

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَطَارَتْ الْقُرْعَةُ عَلَى عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ فَخَرَجَتَا مَعَهُ جَمِيعًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ بِاللَّيْلِ سَارَ مَعَ عَائِشَةَ يَتَحَدَّثُ مَعَهَا فَقَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ أَلَا تَرْكَبِينَ اللَّيْلَةَ بَعِيرِي وَأَرْكَبُ بَعِيرَكِ فَتَنْظُرِينَ وَأَنْظُرُ قَالَتْ بَلَى فَرَكِبَتْ عَائِشَةُ عَلَى بَعِيرِ حَفْصَةَ وَرَكِبَتْ حَفْصَةُ عَلَى بَعِيرِ عَائِشَةَ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جَمَلِ عَائِشَةَ وَعَلَيْهِ حَفْصَةُ فَسَلَّمَ ثُمَّ سَارَ مَعَهَا حَتَّى نَزَلُوا فَافْتَقَدَتْهُ عَائِشَةُ فَغَارَتْ فَلَمَّا نَزَلُوا جَعَلَتْ تَجْعَلُ رِجْلَهَا بَيْنَ الْإِذْخِرِ وَتَقُولُ يَا رَبِّ سَلِّطْ عَلَيَّ عَقْرَبًا أَوْ حَيَّةً تَلْدَغُنِي رَسُولُكَ وَلَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَ لَهُ شَيْئًا

Dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa, jika akan melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengadakan undian di antara isteri-isterinya. Maka jatuhlah undian itu pada ‘Aisyah dan Hafshah. Dan jika malam hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama ‘Aisyah sambil berbincang-bincang. Maka Hafshah berkata, “Tidakkah malam ini engkau (‘Aisyah) menaiki untaku dan aku akan menaiki untamu dengan sama-sama saling melihat?” Maka dia menjawab, “Ya.” Maka dia pun naik. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi unta ‘Aisyah yang di atasnya terdapat Hafshah, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya, kemudian beliau berjalan sampai akhirnya mereka singgah. Dan ‘Aisyah kehilangan beliau. Dan ketika mereka singgah, kedua kaki ‘Aisyah berada di antara tumbuhan Idzkhir dan berkata, “Ya Rabb-ku, kirimkanlah kepadaku kalajengking atau ular yang akan menyengatku, dan aku tidak dapat berkata apa-apa.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Di dalam kitab al-Mughni (VII/40), Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Secara global dapat dikatakan bahwa seorang suami jika hendak melakukan perjalanan, lalu dia ingin membawa isterinya semua atau meninggalkannya, maka dia tidak perlu lagi melakukan undian, karena undian itu hanya diperlukan untuk menentukan pilihan di antara mereka yang akan ikut dalam perjalanan. Dan di sini berarti dia telah memperlakukan sama. Dan jika dia hendak melakukan perjalanan bersama sebagian dari mereka, maka dia tidak boleh melakukan perjalanan dengannya, kecuali setelah melakukan undian. Dan inilah yang menjadi pendapat sebagian besar ulama. Dan dikatakan dari Malik bahwa menurutnya suami tersebut tidak perlu mengadakan undian, tetapi pendapat tersebut tidak shahih, karena ‘Aisyah Radhiyallahu anha telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika akan mengadakan perjalanan, maka beliau selalu mengadakan undian di antara isteri-isterinya. Siapa pun dari isteri-isteri beliau yang mendapatkan undian itu, maka beliau akan pergi bersamanya. [Muttafaq ‘alaih].

Dan karena perjalanan dengan salah seorang isteri tanpa melalui undian akan berarti sebagai pilih kasih sehingga tidak boleh dilakukan tanpa undian, sebagaimana dalam menentukan awal giliran.

Dan jika seorang suami ingin melakukan perjalanan dengan lebih dari satu orang isteri, maka dia juga harus melakukan undian. ‘Aisyah telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana jika beliau akan pergi, maka beliau melakukan undian di antara isteri-isterinya sehingga undian itu jatuh pada ‘Aisyah dan Hafshah. [HR. Al-Bukhari].

Dan kapan pun beliau akan melakukan perjalanan dengan lebih dari satu orang isteri, maka beliau menyamakan di antara mereka, sebagaimana beliau memperlakukan sama saat tidak bepergian.”

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1]  Fiqhu Ta’addudi az-Zaujaat, hal. 111.
[2]  Hadits ini terdapat di dalam kitab ash-Shahiih al-Musnad mimmaa Laisa fii ash-Shahiihain (I/52).

Menyelesaikan Perselisihan antara Isteri-Isteri

BAB III
POLIGAMI

Pasal 12
Menyelesaikan Perselisihan antara Isteri-Isteri
Ummu Ruman -ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu anha- pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai puteriku, tolonglah aku dalam menuntunmu. Demi Allah, semakin seorang wanita merendah diri di sisi suami yang mencintainya sedang dia memiliki madu, melainkan dia akan banyak berpihak kepadanya.” (HR. Al-Bukhari (no. 4750) di dalam hadits Ifki (kisah kebohongan orang-orang munafik).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ مِنْ كَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاهَا قَالَتْ وَتَزَوَّجَنِي بَعْدَهَا بِثَلَاثِ سِنِينَ وَأَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya dia berkata, “Aku tidak cemburu kepada seorang pun dari isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti kecemburuanku kepada Khadijah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutnya (Khadijah) dengan menyampaikan berita kepadanya bahwa dia akan mendapatkan rumah di Surga dari emas dan perak.” [HR. Al-Bukhari].

Dari ‘Urwah bin Zubair, dia berkata, ‘Aisyah Radhiyallahu anha pernah berkata, “Pada suatu hari aku tidak mengetahui Zainab masuk menemuiku tanpa izin sedang dia dalam keadaan marah. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau sudah merasa cukup, jika datang kepadamu puteri Abu Bakar.’ Kemudian dia mendatangiku, lalu aku berpaling darinya sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Belalah dirimu.’ Lalu aku menghadap kepadanya sehingga aku melihatnya telah mengering keringatnya, di dalam mulutnya tidak terdapat sesuatu pun untuk menjawabku. Kemudian aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseri wajahnya.” [HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih].[1]

Dari Yahya bin ‘Abdirrahman bin Hathib bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa khuzairah yang telah aku masak untuk beliau. Lalu kukatakan kepada Saudah -sedang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di antara diriku dan dirinya- ‘Makanlah.’ Lalu dia menolak, maka aku katakan, ‘Engkau makan atau aku akan lumurkan ke wajahmu.’

Tetapi, dia tetap menolak. Maka aku letakkan tanganku ke dalam khuzairah, lalu aku laburkan ke wajahnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa, lalu beliau meletakkan tangan beliau ke tangannya (Saudah) seraya berkata kepadanya, ‘Lumuri pula wajahnya.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa untuknya.

Kemudian ‘Umar lewat seraya berucap, ‘Wahai hamba Allah, wahai hamba Allah.’ Beliau mengira bahwa ‘Umar akan masuk, maka beliau bersabda, ‘Bangun dan cucilah wajah kalian berdua.’

Maka ‘Aisyah berkata, ‘Dan aku segan kepada ‘Umar karena kewibawaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” [HR. Abu Ya’la dengan sanad yang hasan].

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Aku pernah katakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Cukuplah engkau begini dan begitu terhadap Shafiyah.’ -Ghairu Musaddad mengatakan, ‘Yang dimaksudkannya adalah mengurangi perhatian beliau-.’ Maka beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ.

Sesungguhnya engkau telah mengatakan kalimat yang jika dicampur dengan air laut, niscaya ia akan bercampur dengannya…’” [HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih].

 عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ ‏ “‏ غَارَتْ أُمُّكُمْ ‏”‏، ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ الْمَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ فِيه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi pernah berada di salah seorang isterinya, lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan satu piring berisi makanan. Kemudian isteri yang rumahnya ditempati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul tangan pelayan sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan kemudian mengumpulkan kembali ke dalamnya makanan yang ada di piring tersebut seraya berkata, ‘Ibumu telah cemburu.’ Selanjutnya, pelayan itu ditahan sehingga didatangkan kepada pelayan sebuah piring dari isteri yang rumahnya ditempati Nabi. Lalu pelayan itu menyerahkan piring yang baik kepada isteri yang dipecahkan piringnya. Sementara beliau tetap menahan piring yang pecah itu di rumah yang menjadi tempat pecahnya.” [HR. Al-Bukhari].

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Pada suatu malam aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga aku mengira beliau pergi mendatangi salah seorang isterinya yang lain. Lalu aku mencari tahu dan kemudian kembali lagi dan ternyata beliau tengah ruku’ -atau sujud- seraya berucap:

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي إِنَّكَ لَفِي شَأْنٍ وَإِنِّيْ لَفِي آخَرَ.

Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Mu, tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Engkau.’ Lalu aku katakan, ‘Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam satu kesibukan, sementara aku dalam kesibukan yang lain.’” [HR. Muslim].

Peringatan:
Di antara manusia ada yang tergesa-gesa dan menceburkan diri dalam poligami tanpa mencermati dari keadaan dan tanpa pemikiran yang matang sehingga hanya akan menghancurkan kebahagiaan keluarga serta memecah belah kesatuan, hingga akhirnya menjadi seperti orang badui yang mengatakan:

تَزَوَّجْتُ اثْنَتَيْنِ لِفَرْطِ جَهْلِـي        بِـمَا يَشْقَى بِـهِ زَوْجُ اثْنَتَيْنِ
فَقُلْتُ أَصِيْرُ بَـيْنَهُمَا خَرُوْفًـا أُنَعِّـمُ بَيْنَ أَكْـرَمِ نَعْجَتَـيْنِ

فَصُرْتُ كَنَعْجَةٍ تُضْحِي وَتُمْسِيْ     تُـدَاوِلُ بَيْن أَخْبَثِ ذِئْبَتَـيِنِ
رِضَا هَذِي يَهِيْجُ سَخَطُ هَذِي     فَمَا أَنْجُوْ مِنْ إِحْدَى السُّخْطَتَيْنِ

وَأَلْقِى فِـي الْمَعِيْشَةِ كُلَّ ضُرٍّ        كَـذَاكَ الضُّرُّ بَـيْنَ الضَّرَّتَيْنِ
لِـهَذِي لَيْـلَةٌ وَلِتِلْكَ أُخْرَى    عِـتَابُ دَائِـمِ فِـي اللَّيْلَتَيْنِ

فَـإِنَّ أَحْبَبْتُ أَنْ تَبْقَى كَرِيْمًا مِنَ الْخَيْرَاتِ مَمْلُوْءُ الْيَدَيْـنِ
فَعِشْ عَزْبًا فَـإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْهُ فَوَاحِدَةً تَكْفِيْكَ شَرَّ الضَّرَّتَيْنِ

Aku menikahi dua orang wanita karena ketidaktahuanku yang parah
Terhadap kesengsaraan yang dialami oleh orang yang beristeri dua

Lalu kukatakan, aku berjalan di antara keduanya bagaikan seekor kambing
Digembalakan di antara dua ekor kambing betina terhormat.

Sehingga aku menjadi seperti kambing yang pergi pagi dan sore hari
Yang berkeliling di antara dua ekor serigala yang jahat

Keridhaan yang ini akan memicu kemarahan yang lain
Sehingga aku tidak pernah selamat dari salah satu dari dua ke-marahan

Dalam hidup ini aku singkirkan semua bahaya
Demikian juga dengan bahaya di antara dua madu

Untuk yang ini satu malam dan yang lainnya satu malam juga
Selalu ada celaan pada kedua malam tersebut.

Oleh karena itu, jika Anda ingin tetap mulia
Dengan berbagai kebaikan yang ada di tangan

Maka hiduplah membujang, kalau memang tidak bisa
Maka hidup dengan satu isteri saja sudah cukup daripada mendapatkan keburukan dua isteri.

Apa yang diungkapkan oleh orang badui ini tidak mutlak benar, tetapi orang yang membebani dirinya dengan poligami sedang dia tidak mempunyai kemampuan untuk memberi nafkah, mendidik, dan mengurus dengan baik, maka tidak mustahil dia akan terjerumus ke dalam apa yang dirasakan oleh si badui itu, berupa kejenuhan dan kepenatan hidup.

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1] Hadits ini terdapat dalam kitab ash-Shahiih al-Musnad mimmaa Laisa fii ash-Shahiihain (II/462).

Nafkah dan Tempat Tinggal bagi Wanita yang Ditalak Raj’i

BAB III
POLIGAMI

Pasal 13
Nafkah dan Tempat Tinggal bagi Wanita yang Ditalak Raj’i
Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu ‘iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabb-mu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” [Ath-Thalaaq/65: 1]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat di atas mengatakan, “Yakni, selama dalam masa ‘iddah dia masih berhak bertempat tinggal di rumah suaminya yang telah menceraikannya dan suaminya tidak boleh mengusirnya dari rumahnya itu. Di lain pihak, dia tidak boleh keluar dari rumah tersebut, karena dia masih terikat dengan hak suami.”

Dapat kami katakan, “Yakni, bagi wanita yang ditalak raj’i (masih boleh rujuk kembali), karena wanita yang sudah ditalak ba’in, tidak lagi mempunyai hak nafkah. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahiih Muslim dari hadits Fathimah binti Qais bahwa Abu ‘Umar bin Hafsh pernah menalak ba’in kepadanya sedang dia tidak berada di tempat, lalu dia mengirimkan wakilnya kepada isterinya itu dengan membawa gandum, maka dia pun marah. Lalu Abu ‘Umar berkata, ‘Demi Allah, engkau tidak memiliki hak apa pun atas kami.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu kuceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau berkata, ‘Engkau sudah tidak mempunyai hak apa-apa atas dirinya.’”

Pasal 14
Nafkah bagi Wanita yang Ditalak Ba’in Tetapi dalam Keadaan Hamil
Allah Ta’ala berfirman:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ وَلَا تُضَاۤرُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْا عَلَيْهِنَّۗ

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kalian tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” [Ath-Thalaaq/65: 6]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman seraya memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya, jika salah seorang dari mereka menceraikan isterinya, maka hendaklah dia menempatkannya di dalam rumah sehingga dia selesai menjalani masa ‘iddahnya, dimana Dia berfirman : أَسْكِنُوْا هُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ  ‘Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kalian bertempat tinggal.’ Maksudnya, di sisi kalian. مَاسْتَطَعْتُمْ  ‘Menurut kemampuan kalian.’ Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya mengatakan, ‘Yakni, kesanggupan kalian.’ Sampai Qatadah mengemukakan, ‘Kalau memang kamu tidak mendapatkan tempat kecuali di samping rumahmu, maka tempatkanlah dia di sana.’”

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِنْ كُنَّ اُولَاتِ حَمْلٍ فَاَنْفِقُوْا عَلَيْهِنَّ حَتّٰى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّۚ

Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah di talak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.” [Ath-Thalaaq/65: 6]

Banyak ulama, yang di antaranya Ibnu ‘Abbas dan sekelompok ulama Salaf serta beberapa kelompok ulama belakangan mengatakan bahwa hal itu berkenaan dengan wanita yang ditalak ba’in. Jika dia ditalak dalam keadaan hamil, maka dia harus diberi nafkah sehingga melahirkan. Dalam hal itu mereka berdasarkan pada dalil bahwa wanita yang ditalak raj’i itu harus diberi nafkah, baik dalam keadaan hamil atau tidak.”[1]

Pasal 15
Mut’ah (Pemberian) bagi Wanita yang Ditalak
Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلْمُطَلَّقٰتِ مَتَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِۗ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang takwa.” [Al-Baqarah/2: 241]

Syaikh Musthafa al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Ayat mulia ini mengandung makna bahwa setiap wanita yang ditalak itu berhak mendapatkan mut’ah, baik ia sebagai wanita yang ditalak dengan keadaan sudah dicampuri maupun belum pernah dicampuri, baik wajib bagi wanita itu maupun tidak wajib baginya.

Ini pula yang menjadi pendapat Sa’id bin Jubair rahimahullah sebagaimana yang diriwayatkan darinya oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad yang shahih (V/263).

Dan hal tersebut telah dikuatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Fathul Baari (IX/496). Dan itu pula yang menjadi pendapat Imam asy-Syafi’i rahimahullah.”[2]

Defenisi Mut’ah:
Ath-Thabari (V/262) mengatakan, “Yaitu apa yang dapat menyenangkan seorang wanita, baik itu berupa baju, pakaian, nafkah atau pelayan, dan lain-lain sebagainya yang bisa membuatnya senang.”

Ukuran Mut’ah:
Allah Ta’ala berfirman:

وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ ۚ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

“Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Al-Baqarah/2: 236]

Ath-Thabari rahimahullah (V/120) mengatakan, “Yakni, berilah mereka apa yang bisa membuat mereka senang dari harta-harta kalian sesuai dengan kemampuan kalian dan juga kedudukan kalian dalam hal kekayaan dan kemiskinan. Wallaahu a’lam.”

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1] Ahkaam ath-Thalaaq fii asy-Syarii’ah al-Islamiyyah, karya Musthafa al-‘Adawi, hal. 177.
[2] Ahkaam ath-Thalaaq fii asy-Syarii’ah al-Islamiyyah, karya Musthafa al-‘Adawi, hal. 180.