Author Archives: editor

Gencatan Senjata (Aqdul Hudnah)

GENCATAN SENJATA (AQDUL HUDNAH)

  1. Hudnah adalah perjanjian yang dilakukan oleh seorang pemimpin umat Islam atau wakilnya untuk tidak memerangi musuh dalam masa tertentu walaupun masanya lama, tergantung pada kebutuhan, hal ini mesti, dan boleh berdamai (dengan orang kafir) demi kemaslahatan, di mana boleh mnunda berjihad karena adanya alasan, seperti adanya kelemahan di dalam tubuh kaum muslimin, sekalipun dengan mengeluarkan harta sebagai imbalan, boleh diadakan dengan ganti materi atau tanpa membayar imbalan.
  2. Orang kafir mu’had mendapatkan sanksi atas tindakan kriminalnya terhadap seorang muslim dalam bentuk tebusan dengan harta, qishash dan pukulan dengan cambuk (jilid).
  3. Wajib bagi seorang muslim menepati perjanjian dan tidak boleh membatalkannya, kecuali jika pihak musuh membatalkan perjanjiannya, atau mereka tidak bertindak jujur dengan kita, atau adanya kekhawatiran jika terjadi pengkhianatan terhadap kaum muslimin maka dalam kondisi ini perjanjian menjadi batal, dan kita tidak diwajibkan bertahan dengan kondisi itu, maka jika kita khawatir dengan pengkhianatan mereka maka boleh memerangi  mereka setelah memberitahukan mereka tentang batalnya perjanjian tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا  [الإسراء/34]

.“… Dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”.[1]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ  [الأنفال/58]

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Jihad, Hukum dan Keutamaannya كتاب الجهاد). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] QS. Al-Isro’/17: 34
[2] QS. Al-Anfal/8: 58

Lemah-Lembut, Bersabar, Murah Hati

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Lemah lembut dan Pemaaf
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى لمحمد- صلى الله عليه وسلم-: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ  [آل عمران/159].

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. [Ali Imron/3: 159].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى لموسى وهارون عليهما الصلاة والسلام: {اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى  [طه/43- 44].

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.  [Thaha/20: 43-44]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى لمحمد- صلى الله عليه وسلم-: {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ [الأعراف/199].

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [Al-A’raf/7: 199]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَٱصۡفَحۡ عَنۡهُمۡ وَقُلۡ سَلَٰمٞۚ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ  [الزخرف/89]

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan Katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)“. [Al-Zukhruf/43: 89]

Jujur.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 قال الله تعالى: وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ  [الزمر/33]

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. [Az-Zumar/39: 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا  [مريم/41].

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi”. [Maryam/19: 41].

Bersabar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ  [الأنعام/34].

Dan sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita para rasul itu”. [Al-An’am/6: 34].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ [الروم/60]

Dan Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. [Ar-Rum/30: 60]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا  [المعارج/5]

Maka Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik”. [Al-Ma’arij/70: 5].

Ikhlash
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ  [الزمر/2].

Sesunguhnya kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) untukmu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. [Az-Zumar/39: 2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (65)} [غافر/65]﴿ هُوَ ٱلۡحَيُّ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [غافر: ٦٥] 

“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Maka sembahlah dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. [Ghafir/40: 65].

Murah hati, khidmah dan tawadhu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (24) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (25) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ (26) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ  [الذاريات/24- 27]

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, Kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.  Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan Anda makan.” [Adz-Dzariyat/51: 24-27].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentan nabi Musa dan kisahnya dengan dua orang perempuan:

قال الله تعالى عن موسى- صلى الله عليه وسلم- وقصته مع المرأتين: قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ  [القصص/23- 24].

Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah lanjut umurnya”.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku sangat memerlukan sesuatu kebaikanyang Engkau turunkan kepadaku”. [Al-Qashas/28: 23-24].

Dari Umar Radhiyallahu anhu ia berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن عمر رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «لا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا: عَبْدُالله وَرَسُولُهُ». أخرجه البخاري

Janganlah kalian berlebihan memujikan sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya“. (HR.Bukhari).

Berpaling dari perhiasan kehidupan duniawi

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berpaling dari Perhiasan Kehidupan Duniawi

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berpaling dari perhiasan kehidupan duniawi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى  [طه/131].

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang Telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. [Thaha/20: 131].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [الكهف/28]

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini”.[Al-Kahfi/18: 28].

Memberikan semangat dalam keta’atan dan mengancam (siksaan) dari kemaksiatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (13) وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ  [النساء/13- 14].

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.  Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan“. [An-Nisa’/4: 13-14].

Bergegas dalam beramal kebaikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Zakaria Alaihissallam dan keluarganya:

قال الله تعالى عن زكريا- صلى الله عليه وسلم- وذريته: فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ  [الأنبياء/90]

Maka kami memperkenankan do’anya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami. [Al-Anbiya/21: 90].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ  [الأنبياء/90]

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas[970]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. [Al-Anbiya’/21: 90].

Berjuang dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  [التوبة/88].

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung“. [At-Taubah/9: 88].

Berjihad dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berjihad di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL

Berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ  [آل عمران/146]

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran/3: 146].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ  [التوبة/73]

Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya“. [Al-Taubah/9: 73].

Menuntut ilmu dan mengajarkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى : فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۗ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا [طه/114]

Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Thaha/20: 114].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا  [الكهف/66]

Musa Berkata kepada Khidhr: “Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?”. [Al-Kahfi/18: 66].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ  [الجمعة/2]

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. [Al-Jum’ah/62: 2].

Membersihkan jiwa, menguatkan ruh dan badan dengan beristiqomah dalam ibadah dan dzikir kepada Allah:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  [الحجر/97- 99]

Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal). [Al-Hijir/15: 97-99].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا  [الأحزاب/41- 42]

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”. [Al-Ahzab/33: 41-42].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ فَاطِمَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَتَتِ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- تَسْأَلُهُ خَادِماً، وَشَكَتِ العَمَلَ فَقَالَ: «مَا أَلْفَيْتِيهِ عِنْدَنَا» قال: «أَلَا أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ؟ تُسَبِّحِينَ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ، وَتَحْمَدِينَ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ، وَتُكَبِّرينَ أَرْبعاً وَثَلاثِينَ حِينَ تَأْخُذِينَ مَضْجَعَكِ». متفق عليه

Bahwa Fathimah (putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta kepadanya agar diberikan seorang pembantu dan mengadu dengan pekerjaannya. Maka beliau bersabda: “Apa yang kamu minta tidak ada pada kami (tidak kita miliki)?. Beliau melanjutkan: “Maukah aku tunjukan kepadamu apa yang lebih baik dari seorang pembantu bagimua?, engkau bertasbih tigapuluh itga kali, bertahmid tigapuluh tiga kali dan bertakbir sejumlah tigapuluh empat kali saat menjelang tidurmu“. (HR. Muslim).

Berdoa bagi orang musyrik supaya mereka mendapat hidayah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kejadian di Pertempuran Badar

KEJADIAN DI PERTEMPURAN BADAR

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Adalah pada hari jum’at tanggal tujuh belas bulan ramadhan pada tahun dua hijriyah terjadinya perang Badar pada musim panas, pada hari ketika bertemu dimedan pertempuran antara dua kelompok, golongannya Allah dan golongannya setan.

Tatkala fajar merekah, membelah kegelapan malam, dipagi hari itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Bilal untuk memanggil para sahabatnya; ‘Sholat wahai hamba Allah’. Selanjutnya beliau sholat shubuh bersama mereka. Seusai sholat beliau memberi arahan untuk berangkat perang, membentuk barisan untuk para sahabatnya, kemudian memberi arahan, strategi dan perintah sebagaimana biasa pimpinan perang memberikan arahan kepada pasukannya sebelum berangkat ke medan tempur.

Setelah itu beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berpaling menuju ketempat pimpinan pasukan, pada saat itu sebuah tenda yang dibikin khusus untuknya, yang semisal dengan ruang rapat para komando pasukan pada zaman sekarang.

Beliau disana sambil menunggu tanda-tanda datangnya pasukan musuh, dan membiarkan para sahabat untuk berpikir, bagaimana mengatur strategi menghadapi musuh, dan memulai peperangan dengan orang yang aniaya dan lalim. Dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa orang yang dholim pasti akan terkalahkan, dan pasukan yang aniaya pasti kalah, sedang orang yang terdholomi pasti ditolong.

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya telah memerintahkan para sahabatnya supaya menggali sumur disekitar Badar yang kemudian dipendam dan ditutupi. Kemudian membangun kolam disekitar sumur yang bisa mengumpulkan air sehingga menjadi penuh, dan Badar adalah tempat berkumpulnya manusia, di sana ada pasar dari pasar-pasar Jahiliyah, yang berada diruas-ruas jalan disekitarnya, yang mana banyak orang arab yang mendatangi tempat tersebut dari tiap daerah.

Dan tempat itu sekarang dari madinah kurang lebih sejauh seratus lima puluh tiga kilo meter.

Awal Pertempuran.
Pertama kali orang yang menyulut terjadi peperangan adalah al-Asad bin Abdul Asad al-Makhzumi, seorang laki-laki sadis dan berperangai buruk. Dia keluar sembari berkata: “Aku berjanji kepada Allah, sungguh aku akan meminum dari telaga mereka atau aku hancurkan telaga tersebut atau aku mati karenanya”.

Melihat hal tersebut, maka Hamzah bin Abdul Muthalib keluar, manakala keduanya saling berhadapan maka Hamzah berhasil memukulnya, lalu menebas kakinya pada pertengahan betis sementara dia belum mencapai telaga, diapun tersungkur dalam kondisi terlentang dan kakinya memuncratkan darah hingga mengenai para rekannya. Kemudian dia merangkak menuju telaga hingga akhirnya tercebut disitu.

Dia rupanya ingin menepati sumpahnya akan tetapi hal itu gagal terlaksana karena Hamzah melayangkan tebasan untuk yang kedua kalinya tatkal dia berada ditelaga itu.[1]

Kemudian sekelompok tentara Quraisy, dan diantara mereka ada Hakim bin Hizam, pergi menuju telaga yang dibuat oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata:

دَعُوهُم، فَمَا شَرِبَ مِنهُ رَجُلٌ يَومَئِذٍ إِلَّا قُتِلَ، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامْ فَإِنَّهُ لَم يُقتَل، ثُمَّ أَسلَمَ بَعدَ ذَلِكَ فَحَسُنَ إِسلَامَهُ، فَكَانَ إِذَا اجتَهَدَ فِي يَمِينِهِ قَالَ: لَا وَالَّذِي نَجَّانِي مِنْ يَوْمِ بَدْرٍ

Biarkan mereka!. Maka tidak seorangpun yang meminumnya ketika itu, melainkan dia terbunuh, kecuali Hakim bin Hizam. Dia tidak terbunuh dan masuk Islam setelah itu serta keislamannya pun menjadi baik. Bila bersungguh-sungguh didalam sumpahnya, dia selalu mengatakan: ‘Tidak, demi Dzat yang telah menyelamatkan ku (dari kematian pada) hari Badar’. [2]

Duel satu lawan satu merupaka pembuka dalam peperangan Badar, dan merupakan kebiasaan mereka kalau dalam duel ini tidak ada yang keluar melainkan orang-orang kesatria ditengah-tengah pasukan, dan inilah yang terjadi diperang Badar.

Sehingga Allah ta’ala berfirman akan hal tersebut dalam kitabNya:

 هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ [ الحج: 19]

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka”. [al-Hajj/22: 19].

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu, beliau berkata:

أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَجْثُو بَيْنَ يَدَيْ الرَّحْمَنِ لِلْخُصُومَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Saya adalah orang yang pertama kali akan berlutut dihadapan Allah untuk (dua golongan yang bertengkar) pada hari kiamat“. HR Bukhari no: 4744.

Masih dalam riwayat Bukhari dengan sanadnya yang sampai pada Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Ayat ini turun berkaitan dengan dengan kami, yaitu:

 هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ  [ الحج: 19]

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka”. (al-Hajj/22: 19). HR Bukhari no: 3967.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau bersumpah kalau ayat ini:

 هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ [ الحج: 19]

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka”. (al-Hajj/22: 19).

Ayat ini turun berkaitan dengan Hamzah dan dua temannya, Utbah bersama dua temannya, pada hari ketika mereka bertiga duel satu lawan satu bersama musuh pada hari Badar. HR Bukhari no: 4743. Muslim no: 3033.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya yang sampai pada Abu Ishaq, bahwa seseorang yang bertanya kepada Bara’ bin Azib sedang saya mendengar disisinya, orang itu bertanya: ‘Apakah Ali ikut perang Badar? Beliau menjawab: “Betul, bahkan dirinya duel satu lawan satu bersama musuh dan beliau ketika itu memakai baju besi”. HR Bukhari no: 3970.

Abu Dawud meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita: “Maka Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya serta anaknya tampil kedepan, lalu Utbah menantang: ‘Siapakah berikutnya’. Maka tampilah tiga orang pemuda dari kalangan Anshar. Kemudian para penantang berkata: ‘Siapakah kalian? Mereka pun memberi tahu identitasnya. Utbah berkata: ‘Kami tidak butuh orang-orang seperti kalian, yang kami butuhkan adalah anak-anak paman kami sendiri’.

Hal tersebut langsung disambut oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata:

قُمْ يَا حَمْزَةُ، قُمْ يَا عَلِيُّ، قُمْ يَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْحَارِثِ

Bangunlah wahai Hamzah, bangunlah wahai Ali, Bangunlah wahai Ubaidah bin al-Harits!“.

Kemudian Hamzah berhadapang dengan Utbah, adapun saya berhadapan dengan Syaibah. Sedangkan Ubaidah dan rivalnya sama-sama berhasil melayangkan dua tikaman ke arah lawan masing-masing sehingga membuat keduanya luka parah. Kemudian kami menyongsong Walid sampai dirinya terbunuh,  lalu kami mengendong Ubaidah (yang terputus kakinya)”. HR Abu Dawud no: 2665. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan abi Dawud 2/507 no: 2321.

Saat-saat menegangkan dan sulutan api peperangan
 Abu Jahal laknatullah meregang maut. Abu Jahal Amr bin Hisyam sang thagut, gembong pelawan kebenaran, rangkaian kelalimannya sangatlah banyak, dan contohnya banyak sekali.

Sesungguhnya Fir’aunnya Musa terhenti kelalimannya manakala tenggelam bersama bala tentaranya, kaumnya Hud, Sholeh, dan Luth semuanya binasa. Dan tiap orang lalim lagi sombong harus berakhir kehidupannya dengan sesuatu yang menyiksa.

Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman menjelaskan akan hal tersebut dalam firmanNya:

فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ  [ العنكبوت: 40]

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. [al-‘Ankabuut/29: 40].

Akhirnya kisah kekejaman Abu Jahal pun usai, dirinya dijebloskan kedalam sumur dengan meninggalkan keangkuhan serta kesombongannya untuk mempertahankan kebatilan melawan kebenaran. Namun, perjalanan kisah anak manusia tetap membuktikan bahwa yang namanya kebenaran pasti akan terus langgeng. Dan dahulu dikatakan: “Dinasti kebatilan hanyalah sementara sedangkan dinasti kebenaran akan tetap sampai hari kiamat”.[3]

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdurahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita:

روى البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث عبد الرحمن بن عوف رضي اللهُ عنه قال: “بَيْنَا أَنَا وَاقِفٌ فِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، فَنَظَرْتُ عَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، فَإِذَا أَنَا بِغُلَامَيْنِ مِنْ الْأَنْصَارِ، حَدِيثَةٍ أَسْنَانُهُمَا، تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ بَيْنَ أَضْلَعَ مِنْهُمَا، فَغَمَزَنِي أَحَدُهُمَا فَقَالَ: يَا عَمِّ هَلْ تَعْرِفُ أَبَا جَهْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ مَا حَاجَتُكَ إِلَيْهِ يَا ابْنَ أَخِي، قَالَ: أُخْبِرْتُ أَنَّهُ يَسُبُّ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَئِنْ رَأَيْتُهُ لَا يُفَارِقُ سَوَادِي سَوَادَهُ حَتَّى يَمُوتَ الْأَعْجَلُ مِنَّا، فَتَعَجَّبْتُ لِذَلِكَ، فَغَمَزَنِي الْآخَرُ فَقَالَ لِي مِثْلَهَا، فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ نَظَرْتُ إِلَى أَبِي جَهْلٍ يَجُولُ فِي النَّاسِ، قُلْتُ: أَلَا إِنَّ هَذَا صَاحِبُكُمَا الَّذِي سَأَلْتُمَانِي، فَابْتَدَرَاهُ بِسَيْفَيْهِمَا، فَضَرَبَاهُ حَتَّى قَتَلَاهُ، ثُمَّ انْصَرَفَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم فَأَخْبَرَاهُ، فَقَالَ: “أَيُّكُمَا قَتَلَهُ”، قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: أَنَا قَتَلْتُهُ، فَقَالَ: “كِلَاكُمَا قَتَلَهُ”، سَلَبُهُ لِمُعَاذِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ، وَكَانَا مُعَاذَ بْنَ عَفْرَاءَ، وَمُعَاذَ بْنَ عَمْرِو ابْنِ الجَمُوحِ

“Aku berada di dalam barisan pasukan pada saat perang Badar berkecamuk. Tiba-tiba disebalah kanan dan kiriku ada dua anak muda yang masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka disitu. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia padaku agar tidak diketahui oleh temannya. ‘Wahai paman! Tunjukkan padaku, dimana Abu Jahal!”.

Lalu aku berkata: ‘Wahai anak saudaraku, apa yang akan kamu lakukan?

Dia menjawab: “Aku diberitahu bahwa dia mencaci maki Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, jika aku melihatnya, maka dia tidak akan luput dari incaranku hingga ada yang mati terlebih dahulu di antara kami’.

Mendengar hal itu, aku jadi terkesima. Dan setelah itu, yang seorang lagi mengedipkan matanya padaku dan berkata sebagaimana yang dikatakan oleh temannya tadi. Maka tak berapa lama, aku melihat Abu Jahal berkeliling di tengah orang-orang. Lalu aku berkata: “Tidakkah kalian berdua melihat? Dialah orang yang kalian berdua tanyakan tadi”.

Maka, keduanya cepat-cepat melesatkan pedang ke arahnya dan menyabetnya hingga berhasil membunuhnya.

Kemudian keduanya menghadap Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mengabarkannya, lalu beliau bertanya: ‘Siapa diantara kalian berdua yang telah membunuhnya?

Maka, masing-masing dari keduanya sama-sama mengklaim ‘Akulah yang telah membunuhnya’. Lalu beliau melihat ke arah kedua pedang tersebut seraya berkata: “Kalian berdua telah membunuhnya”.

Kedua anak muda tersebut adalah Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh dan Mu’adz bin Afra. Lalu Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta rampasan Abu Jahal kepada Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh”. HR Bukhari no: 3141. Muslim no: 1752.

Di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama tatkala usai perang Badar: “Siapa yang melihat apa yang terjadi dengan Abu Jahal”.

Lantas Abu Mas’ud berpencar mencarinya, lalu dia menemukannya dalam keadaan sedang menanti detik akhir ajalnya karena tebasan pedang anaknya Afra’. Dia lalu bertanya: ‘Apakah kamu Abu Jahal? Lantas dia menginjak lehernya dengan kakinya dan menarik jenggotnya agar dapat memenggal kepalanya. Abu Jahal berkata: ‘Apakah kamu injak orang yang telah mereka bunuh, atau orang yang dibunuh sama kaumnya sendiri”. HR Bukhari no: 4020. Muslim no: 1800.

Beliau menceritakan, telah berkata Abu Mijlaz: ‘Abu Jahal berkata pada waktu itu: ‘Andai saja yang membunuhku bukan seorang pembajak tanah (maksudnya orang Anshar yang pekerjaan mereka bercocok tanam). Dalam redaksinya Imam Bukhari dia mengatakan: ‘Andai yang membunuhku orang yang sepadan denganku”. HR Bukhari no: 3961.

Dirinya juga mengatakan kepada Ibnu Ma’sud tatkala itu: ‘Sungguh engkau telah melakukan pendakian yang amat sulit, wahai penggembala kambing! Lalu ia menambahkan: ‘Tolong beritahukan kepadaku, siapa yang keluar sebagai pemenang hari ini?.

Ibnu Mas’ud menjawab: “Allah dan RasulNya”. [4]

Terbunuhnya pemuka kafir Quraisy Umayyah bin Khalaf.
Dirinya meregang maut ditangannya Bilal al-Habasyi, Umayyah adalah orang yang pernah menyisiksa Bilal ketika di Makah. Pada waktu itu yang mampu keluar dari mulutnya Bilal adalah Ahad, ahad. Hal itu, tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja, itu merupakan cambukan diwajah muram orang yang lalim disetiap waktu dan tempat. Sungguh hal tersebut sangat mempengaruhi Bilal, akan tetapi pengaruh tersebut bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, namun, demi membela kebenaran yang dipeganginya.

Sudah saatnya berakhir perjalanan sang musuh, dan melihat dimana tempat perjalanan terakhirnya, sedang akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Semoga Allah merahmati Bilal, dirinya telah memberi dua suri tauladan kepada kita:

Pertama: Mampu menahan siksa dan derita didalam menjaga agama Allah, dimana dirinya kokoh bagaikan besi dan kuat seperti baja.

Kedua: Membuat musuh Allah merasakan maut melalui tangannya. Untuk membuktikan kepada dunia dan sejarah anak manusia bahwa kebenaran dan keimanan pasti akan ditolong atas kekufuran dan kelaliman. [5]

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:
Selamat, semoga Allah menambah kebaikan untukmu
                              Sungguh engkau telah melunasi dendammu, wahai Bilal

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada para sahabatnya akan kematian Umayyah bin Khalaf ini, hal itu sebagaimana dikisahkan oleh Abdurahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, beliau menceritakan: “Aku pernah menulis surat kepada Umayyah bin khalaf yang isinya agar dirinya mau menjaga keluarganya di Makah, dengan balasan aku akan menjaga keluarganya yang ada diMadinah, tatkala aku tulis ar-Rahman, maka dia berkata: ‘Aku tidak tahu siapa ar-Rahman, tulis saja namamu seperti ketika Jahilayah’. Aku pun akhirnya menuruti, maka aku tulis Abdu Amr.

ketika terjadi perang Badar, aku keluar menjaganya ke atas gunung tatkala orang-orang sedang tertidur, namun, pada saat itu Bilal melihatnya. Dirinya lantas meloncat dan berdiri ditengah-tengah kaum sambil berteriak sekencang-kencangnya: ‘Umayyah bin Khalaf sang pemuka orang-orang kafir, aku tidak akan selamat jika dia selamat!”.

Lalu orang-orang Anshar mengepung kami, tatkala aku khawatir mereka bisa mengejarku maka aku perintah anaknya supaya menjegal mereka, tapi anaknya pun berhasil diatasi dan mati terbunuh.  Kemudian mereka berhasil mengejar kami, Umayyah adalah orang gendut yang banyak lemaknya.  Akhirnya tatkala mereka berhasil mengejar kami, aku katakan padanya: ‘Duduklah, lalu ia duduk’.

Selanjutnya Abdurahman memeluknya dari atas, lalu mereka pun menebaskan pedang-pedang mereka dari bawah hingga berhasil membunuhnya. Sebagian pedang itu malah mengenai kaki Abdurahman bin Auf. Dan beliau pernah memperlihatkan kepada kami bekas luka sabetan pedang tersebut dikakinya”.  HR Bukhari no: 2301.[6]

Akhirnya kita tutup dengan mengucapkan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari غزوة بدر مشاهد وأحدث من أرض المعركة Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Siroh Nabwiyah karya Ibnu Hisyam 2/214.
[2] Siroh Nabwiyah karya Ibnu Hisyam 2/212.
[3] Lihat Marwiyaat Badr oleh al-‘Alimi hal: 222.
[4] Siroh Ibnu Hisyam 2/227.
[5] Marwiyaat Ghazwati Badar hal: 226.
[6] Lihat pembahasan ini secara luas dalam kitab penulis Hadatsun Ghayara Majra Taarikh hal: 338-340.

Khulu’

KHULU’

Khulu’: Berpisahnya pasangan suami-isteri dengan imbalan yang dibayarkan kepada suami.

Hikmah Disyari’atkannya.
Pada saat telah sirna kecintaan diantara suami dan isteri, akan muncullah padanya kebencian dan kemurkaan, mulailah problem berdatangan, terlihatlah aib dari keduanya ataupun salah satunya, pada saat seperti itu Allah memberikan untuknya jalan keluar.

Apabila hal tersebut dari fihak suami, Allah telah memberikan kepadanya hak untuk mentalak, dan jika dari fihak isteri, Allah telah mengidzinkannya untuk melakukan hulu’, yaitu dengan cara memberikan kepada suami apa yang telah dia ambil darinya, bisa juga lebih sedikit darinya ataupun lebih banyak, agar dia mau memisahkannya.

Allah Ta’ala berfirman.

قال الله تعالى: الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ [البقرة/229].

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya”  [Al-Baqarah/2: 229]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن امرأة ثابت بن قيس أتت النبي- صلى الله عليه وسلم- فقالت: يا رسول الله، ثابت بن قيس ما أعتب عليه في خلق ولا دين، ولكني أكره الكفر في الإسلام، فقال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيْقَتَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «اقْبَلِ الحَدِيْقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً». أخرجه البخاري.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa isteri Tsabit bin Qois mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ya ..Rasulullah, saya tidak mencela akhlak serta agama Tsabit bin Qois, akan tetapi saya hanya takut terjerumus dalam kekufuran pada agama ini, berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah kamu bersedia untuk mengembalikan kebunnya?” dia menjawab: baiklah, berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (kepada Tsabit): “Terimalah olehmu kebun tersebut dan ceraikanlah dia dengan talak satu” (H.R Bukhori)[1].

Penyebab Khulu’
1. Diperbolehkan hulu’ ketika seorang wanita telah membenci suaminya, baik itu disebabkan oleh buruknya pergaulan dia,  jeleknya akhlak atau pribadinya, ataupun karena takut terjerumus dalam dosa dengan meninggalkan haknya. Dianjurkan bagi suami untuk menerima hulu’ tersebut sebagaimana dia telah diperbolehkan.

2. Apabila seorang isteri membenci suami karena agamanya, seperti meninggalkan shalat, atau tidak memperdulikan kehormatan diri, jika tidak memungkinkan baginya untuk merubah, maka dia wajib untuk mencari jalan agar suami tersebut menceraikannya. Akan tetapi jika suaminya melakukan beberapa hal yang diharamkan, namun dia tidak memaksa isterinya untuk ikut melakukannya, dalam keadaan ini tidak wajib bagi isteri untuk meminta hulu’, siapa saja diantara wanita yang meminta perceraian dari suaminya tanpa sebab, maka akan diharamkan baginya wangi surga.

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا [النساء/19].

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” [An-Nisaa/4: 19]

Khulu’ merupakan fash (perpisahan), baik itu dengan lafadz (hulu’, fash ataupun fida), jika terlaksana dengan lafadz talak ataupun kinayahnya dan dibarengi oleh niat, maka dia menjadi talak, akan tetapi suami tidak memiliki hak rujuk setelahnya. Boleh bagi suami untuk menikahinya kembali dengan akad dan mahar baru setelah selesainya iddah, akan tetapi dengan syarat belum dilalui oleh talak lain yang menggenapkannya menjadi tiga talak.

Khulu’ diperbolehkan pada setiap saat, baik itu dalam keadaan suci ataupun haidh, wanita yang melakukan hulu’ beriddah satu kali haidh saja. Seorang suami boleh menikahi kembali yang di hulu’nya dengan syarat atas ridho wanita tersebut, dengan akad dan mahar baru setelah selesainya iddah.

Segala sesuatu yang bisa dijadikan mahar, diapun boleh untuk dijadikan pengganti dalam hulu’, jika seorang isteri berkata: hulu’lah aku dengan uang seribu, kemudian suaminya menyetujui, maka suami tersebut berhak untuk mendapat uang seribu tersebut, dan tidak boleh baginya untuk meminta yang lebih besar dari apa yang telah istrinya berikan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Nikah dan Permasalahan Terkait كتاب النكاح وتوابعه). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]. Bukhori, no (5273)

Ila (Sumpah Untuk Tidak Menyetubuhi Isteri)

ILA (SUMPAH UNTUK TIDAK MENYETUBUHI ISTERI)

Ila: Adalah sumpah seorang suami yang mampu untuk bersetubuh dengan menggunakan nama Allah atau salah satu nama-Nya, atau salah satu sifat-Nya, untuk tidak menyetubuhi isteri pada kemaluannya untuk selamanya atau lebih dari empat bulan

Hikmah Diperbolehkan Ila dan Hukumnya.
Ila merupakan peringatan atau mengajarkan adab terhadap wanita yang bermaksiat atau berbuat nusyuz terhadap suaminya, hal ini diperbolehkan terhadap suami sesuai dengan kebutuhan, hanya boleh dilakukan untuk waktu empat bulan ataupun kurang darinya, sedangkan jika lebih dari empat bulan, maka dia menjadi haram, zolim dan kejahatan, karena dia telah bersumpah untuk meninggalkan sesuatu yang merupakan kewajibannya.

Ketika pada masa jahiliyah, apabila ada seorang laki-laki yang tidak menyukai isterinya dan dia tidak menginginkannya menikah dengan pria lain, maka dia akan bersumpah untuk tidak menyentuh wanita tersebut untuk selamanya, atau hanya satu sampai dua tahun, dengan tujuan untuk menyengsarakannya, laki-laki tersebut membiarkannya tergantung, dia itu tidak seperti isterinya dan bukan pula wanita yang diceraikan. Kemudian Allah ingin menentukan batasan untuk perbuatan ini, Dia membatasinya selama empat bulan dan membatalkan apa yang lebih darinya sebagai bentuk untuk membendung kejelekan.

Sifat Ila.
Apabila seorang suami bersumpah untuk tidak mendekati isterinya untuk selamanya atau lebih dari empat bulan, berarti dia telah berbuat ila, jika dia menyetubuhinya dalam empat bulan, berarti dia telah membatalkan ilanya dan wajib membayar kafarat yamin (memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberinya pakaian atau memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu semua itu, baginya puasa selama tiga hari). Jika telah berlalu empat bulan dan dia belum juga menyetubuhinya, maka hendaklah isteri tersebut memintanya untuk menyetubuhinya, jika dia melakukannya, maka tidak ada kewajiban apa-apa atasnya selain kafarat yamin.

Apabila dia menolaknya, maka wanita tersebut berhak untuk meminta talak, dan jika suami tersebut menolak untuk mentalaknya, maka hakim pengadilanlah yang akan menjatuhkan talaknya dengan talak satu, sebagai bentuk untuk membendung mudhorot terhadap isteri.

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (226) وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [البقرة /226- 227]

Kepada orang-orang yang meng-ilaa isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”   [Al-Baqarah/: 226-227]

Iddah seorang isteri yang mendapat ila sama seperti dia yang ditalak, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Nikah dan Permasalahan Terkait كتاب النكاح وتوابعه). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Pelajaran dari Perang Badar

PELAJARAN DARI PERANG BADAR

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Masih berkaitan dengan perang Badar, setelah penjelasan singkat tentang keluarnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya ke Badar, maka pembahasan kali ini masih ada kaitannya dengan peperangan Badar. Yaitu beberapa ayat yang menjelaskan tentang peristiwa tersebut, dimulai dari firman Allah azza wa jalla.

إِذۡ أَنتُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلۡقُصۡوَىٰ وَٱلرَّكۡبُ أَسۡفَلَ مِنكُمۡۚ وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ وَلَٰكِن لِّيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗا لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ ٤٢ إِذۡ يُرِيكَهُمُ ٱللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلٗاۖ وَلَوۡ أَرَىٰكَهُمۡ كَثِيرٗا لَّفَشِلۡتُمۡ وَلَتَنَٰزَعۡتُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ سَلَّمَۚ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ٤٣ وَإِذۡ يُرِيكُمُوهُمۡ إِذِ ٱلۡتَقَيۡتُمۡ فِيٓ أَعۡيُنِكُمۡ قَلِيلٗا وَيُقَلِّلُكُمۡ فِيٓ أَعۡيُنِهِمۡ لِيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗاۗ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ٤٤ ﴾ [ الأنفال: 42-44]

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati. Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan”.[al-Anfaal/8: 42-44].

Faidah yang Terangkum Dalam Ayat-ayat diatas.
Faidah Pertama: FirmanNya Allah Ta’ala.

 إِذۡ أَنتُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلۡقُصۡوَىٰ وَٱلرَّكۡبُ أَسۡفَلَ مِنكُمۡۚ  [ الأنفال: 42]

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu”. [al-Anfaal/8: 42]

Al-‘Udwah artinya ialah sisi lembah, sedangkan kafilah yang dimaksud adalah kafilah dagangnya Abu Sufyan. Gambaran peristiwa yang sangat jelas ini mempunyai beberapa faidah, diantaranya:

  1. Menjelaskan keadaan orang yang masih jauh, yang tidak bisa ikut bersama dimedan pertempuran. Dan gambaran semacam ini sangat menakjubkan yang mampu menjadikan perkaranya terlihat, seakan dirinya ikut menyaksikan.
  2. FirmanNya; ad-Dunya maksudnya dekat dengan Madinah, dan al-Qushwa yaitu jauh dari sisi Madinah, dengan kata lain mereka lebih dekat ke Makah, adapun maknanya bahwa tiap kelompok tersebut bisa untuk memutar balik lalu pulang ke negerinya, karena tidak ada antara keduanya yang menghalangi untuk melakukan hal itu, akan tetapi, bersamaan dengan itu kehendak Allah tetap terjadi untuk mempertemukan dua kelompok tadi. Allah mengatakan dalam firmanNya:

 لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ  [ الأنفال: 8]

“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya”. [al-Anfaal/8: 8].

Faidah Kedua: FirmanNya Allah Ta’ala.

وَٱلرَّكۡبُ أَسۡفَلَ مِنكُمۡۚ ٤٢  ﴾ [ الأنفال: 42]

“Sedang kafilah itu berada di bawah kamu”. [al-Anfaal/8: 42].

Berkata ar-Razi menjelaskan: “Tidak perlu disangsikan lagi bahwa pasukannya Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada awalnya mereka berada pada ketakutan yang sangat, serta lemah, disebabkan karena jumlahnya sedikit, dan tidak ada sokongan, serta mereka singgah pada tempat yang jauh dari air, mereka singgah pada tanah, padang pasir yang membakar telapak kaki karena begitu panas.

Sebaliknya, orang kafir pada awalnya pada kondisi yang sangat kuat, dengan sebab jumlahnya yang banyak, membawa peralatan dan persenjataan, dan juga karena mereka dekat dengan sumber air, demikian pula tanah yang mereka singgahi lebih mendukung karena cocok untuk kaki, sedangkan kafilah berada dibelakang mereka, sehingga mereka mengira kalau kafilah tersebut akan semakin mendekati mereka sedikit demi sedikit.

Kemudian Allah membalikkan keadaan, dan menjadikan kemenangan untuk kaum muslimin dan kekalahan atas orang kafir, maka ini menjadi mukjizat terbesar, serta bukti terkuat yang membenarkan berita yang dibawa oleh Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabbnya tentang janji pertolongan, penaklukan dan kemenangan itu”.

Faidah Ketiga: FirmanNya Allah ta’ala:

 لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ  [ الأنفال: 42]

“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata”. [al-Anfaal/8: 42].

Hal itu mengisyaratkan pada makna yang terkandung, yaitu bahwa orang-orang yang binasa, mereka binasa setelah mereka menyaksikan mukjizat ini, sedangkan kaum mukiminin yang hidup setelahnya juga menyaksikan mukjizat yang terang benderang ini, maksud dari keterangan yang nyata dalam ayat adalah mukjizat ini. [1]

Faidah Keempat: FirmanNya Allah Tabarakan wa Ta’ala.

وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ  [ الأنفال: 42]

“Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu”. [al-Anfaal/8: 42].

Ada kemungkinan bahwa maksud dalam persetujuan tersebut adalah pada waktu dan tempatnya, atau kemungkinan lain bahwa yang dimaksud adalah pada waktu saja, dan pendapat kedua ini yang kuat.

Faidah Kelima: FirmanNya Allah Ta’ala.

 وَلَٰكِن لِّيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗا  [ الأنفال: 42]

“Akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan”. [al-Anfaal/8: 42].

Didalam potongan ayat ini terambil faidah bahwasannya Allah ta’ala mampu untuk melakukan apapun sebelum terjadinya perkara tersebut, dan hal itu disebutkan secara jelas dalam firmanNya:

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ  [ الحديد: 22]

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi”. [al-Hadiid/57: 22].

Dan ini merupakan salah satu dari tingkatan takdir yang wajib di imani oleh tiap muslim.

Faidah Keenam: Bahwa mengambil sebab yang dibolehkan merupakan perintah yang syari’atkan, dan itu disesuaikan dengan konsisi. Dan Allah ta’ala dengan ilmuNya, bisa mengetahui perkara yang akan terjadi, namun, Allah tidak melarang mereka untuk mengambil faktor yang mereka inginkan.

Faidah Ketujuh:  FirmanNya Allah ta’ala:

 لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ  [ الأنفال: 42]

“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. [al-Anfaal/8: 42].

Seakan-akan Allah menginginkan jalannya peristiwa peperangan, bahwa Muhammad dan para sahabatnya berada diatas kebenaran, sedangkan orang kafir diatas kebatilan, maka hal tersebut sebagai bentuk menegakkan hujah atas mereka serta memutus alasan yang mereka berikan.

Faidah Kedelapan: FirmanNya:

 وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأنفال: 42]

“Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Anfaal/8: 42].

Dalam ayat ini diambil faidah:

  1. Menetapkan dua nama ini bagi Allah azza wa jalla termasuk dari nama-namaNya yang indah yang boleh digunakan untuk berdo’a.
  2. Bahwa dua nama yang mulia ini terkandung didalamnya dua sifat yang agung yaitu sifat mendengar dan mengetahui.

Faidah Kesembilan: FirmanNya Allah Ta’ala:

 إِذۡ يُرِيكَهُمُ ٱللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلٗاۖ  [ الأنفال: 43]

“(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit”. [al-Anfaal/8: 43].

Dalam ayat ini terkandung beberapa faidah, diantaranya:

  1. Bahwa mimpi yang benar adalah dari Allah azza wa jalla.
  2. Mimpi para Nabi adalah wahyu dari Allah Ta’ala.
  3. Bahwa mimpinya para Nabi itu terjadi manakala mereka tertidur bukan dalam keadaan terjaga.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari فوائد من قوله تعالى في (سورة الأنفال: 42-44)  Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Tafsirul Kabir karya ar-Razi 15/168.

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  [الإسراء/1]

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Isra’/17 : 1].

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «أُتِيتُ بِالبُرَاقِ (وَهُوَ دَابَّةٌ أبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الحِمَارِ وَدُونَ البَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ) قال: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أتَيْتُ بَيْتَ المَقْدِسِ، قال، فَرَبَطْتُهُ بِالحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الأَنْبِيَاءُ قال: ثُمَّ دَخَلْتُ المَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ بِإنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ- صلى الله عليه وسلم-: اخْتَرْتَ الفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ. قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِابْنَيِ الخَالَةِ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ وَيَحْيَى ابْنِ زَكَرِيَّا صَلَوَاتُ الله عَلَيْهِمَا، فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِي إلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنْ أنْتَ؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ- صلى الله عليه وسلم-، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِيُوسُفَ- صلى الله عليه وسلم-، إذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الحُسْنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قال: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإذَا أنَا بِإدْرِيسَ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ، قال اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (57)} ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ الخَامِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإذَا أنَا بِهَارُونَ- صلى الله عليه وسلم-، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قال: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإذَا أنَا بِمُوسَى- صلى الله عليه وسلم-، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ إلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قال: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ. قال: مُحَمَّدٌ- صلى الله عليه وسلم-، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قال: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإذَا أنَا بِإبْرَاهِيمَ- صلى الله عليه وسلم-، مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إلَى البَيْتِ المَعْمُورِ، وَإذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ لا يَعُودُونَ إلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إلَى السِّدْرَةِ المُنْتَهَى، وَإذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الفِيَلَةِ، وَإذَا ثَمَرُهَا كَالقِلالِ، قال، فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أمْرِ الله مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ، فَمَا أحَدٌ مِنْ خَلْقِ الله يَسْتَطِيعُ أنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا فَأوْحَى الله إلَيَّ مَا أوْحَى، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إلَى مُوسَى- صلى الله عليه وسلم-، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاةً، قال: ارْجِعْ إلَى رَبِّكَ، فَاسْألْهُ التَّخْفِيفَ، فَإنَّ أمَّتَكَ لا يُطِيقُونَ ذَلِكَ، فَإنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ قال: فَرَجَعْتُ إلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا، قال: إنَّ أمَّتَكَ لا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إلَى رَبِّكَ فَاسْألْهُ التَّخْفِيفَ قال: فَلَمْ أزَلْ أرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى- صلى الله عليه وسلم- حَتَّى قال: يَا مُحَمَّدُ! إنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً قال: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إلَى مُوسَى- صلى الله عليه وسلم- فَأخْبَرْتُهُ، فَقَالَ ارْجِعْ إلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ». متفق عليه.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu didatangkan buraq kepadaku (yaitu : binatang berwarna putih tinggi, lebih besar daripada keledai lebih kecil dari unta, satu langkahnya sama dengan sejauh jarak mata memandang) lalu aku menungganginya hingga tiba di Baitulmaqdis, lalu aku tambatkan ia di tempat para nabi menambatkan (hewan tunggann)nya. Nabi bersabda: “Lalu aku memasuki Baitulmaqdis, melaksanakan shalat dua raka’at dan kemudian keluar.” Maka Jibril mendatangiku dengan membawa bejana yang berisi khamar dan bejana yang berisi susu, maka aku pilih susu. Seraya Jibril berkata,” Sungguh pilihanmu sesuai dengan fitrah (kesucian). Lalu kami naik ke langit dan Jibril meminta agar pintu langit dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda? ia berkata,” Aku Jibril”, Malaikat penjaga bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata,” Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya: “Apakah dia telah diutus ? Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba  aku di hadapan Adam, diapun menyambutku dan berdo’a untukku. Lalu kami naik ke langit kedua  dan Jibril meminta agar pintu dibuka, Malaikat penjaga bertanya: “Siapakah anda? dia menjawab: “Aku Jibril”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu ? Jibril menjawab: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus? Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama dua orang bersaudara sepupu ; Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria shalawatullah ‘alaihima, keduanya menyambutku dan mendoakan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit ketiga dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda?” ia menjawab: “Aku Jibril”, malaikat penjaga itu bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata: “Muhammad”. Penjaga bertanya kembali:  “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Yusuf Alaihissallam dan ternyata dia memang telah diberi setengah dari seluruh ketampanan. Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit keempat dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganya berkata: “Siapakah anda?” ia menjwab: “Aku Jibril”, Malaikat  penjaga bertanya: “Siapkah orang yang bersamamu?. Jibril menjawab: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Idris. Dia menyambutku dan mendoakan kebajikan untukku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا  [مريم: ٥٧] 

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [Maryam/19: 57]

Lalu kami naik ke langit kelima dan Jibril meminta agar pintu dibuka. Malaikat penjaga bertanya: “Siapakah anda? ia menjawab: “Aku Jibril”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu?”. Jibril berkata: “Muhammad”. Malaikat penjaga bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Harun Alaihissallam Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untuk ku. Lalu kami naik ke langit keenam dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganyapun bertanya: “Siapakah anda?”. Dia menjawab: “Aku Jibril”, malaikat penjaga berkata: “Siapkah orang yang bersamamu? Jibril berkata: “Muhammad”. Malaikat penjaga berkata: “Apakah dia telah diutus?”.  Jibril berkata: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Musa Alaihissallam. Dia menyambutku dan mendo’akan kebajikan untukku. Lalu kami naik ke langit ketujuh dan Jibril meminta agar pintu dibuka, penjaganyapun bertanya: “Siapakah anda?”.  Dia menjawab: “Aku Jibril”, penjaga itu bertanya kembali: “Siapkah orang yang bersamamu?” Jibril berkata,” Muhammad”. Penjaga itu bertanya kembali: “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab: “Sungguh telah diutus kepadanya”. Lalu pintu dibukakan untuk kami. Ternyata aku bersama Ibrahim Alaihissallamr. Dia sedang menyandarkan punggungnya  ke  Baitul Ma’mur. Pada setiap harinya,  tujuh puluh ribu para malaikat masuk ke Baitul Ma’mur tersebut (mereka yang telah memasukinya)  tidak kembali kepadanya untuk  kedua kalinya. Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha (sebuah pohon) yang daunnya seperti telinga gajah dan buahnya seperti gerabah. Lalu pohon tersebut tertutup atas perintah Allah kemudian berubah secara tiba-tiba. Sehingga tidak seorang makhlukpun yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu, Allah mewahyukan kepadaku dan mewajibkan atasku shalat lima puluh kali sehari semalam. Kemudian, akupun turun dan bertemu Musa Alaihissallam, dia berkata: “Apa yang diwajibkan Allah terhadap umatmu?”,  “lima puluh shalat” Jawab Nabi.. Ia berkata, “Kembalilah dan mintalah keringanan! karena sesungguhnya umatmu tidak mampu melakukannya, karena aku telah mencobanya pada Bani Israil”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu akupun kembali menghadap Rabbku, seraya memohon: “Ya, Rabbi! Berilah keringanan kepada umatku”. Akhirnya, jumlah shalat dikurangi lima. Lalu akupun kembali menemui Musa seraya berkata kepadanya: “Telah dikurangi lima”. Musa berkata: “Sesungguhnya umatmu tidak mampu melakukannya, kembalilah dan mintalah keringanan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka terus  aku bolak-balik antara Rabbku tabaraka wa ta’la dan Musa Alaihissallam sehingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya dia berjumlah lima shalat sehari semalam, setiap satu shalat pahalanya sama dengan sepuluh shalat, maka jumlahnya lima puluh shalat. Maka barangsiapa yang berniat melakukan satu kebajikan tetapi tidak dilakukannya maka ditulis untuknya satu kebajikan dan jika dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebajikan. Dan barangsiapa yang berniat melakukan satu dosa namun tidak dilakukannya maka tidak dituliskan (apapun baginya), dan jika dia melakukannya  maka ditulis satu dosa untuknya”. Nabi bersabda: “Maka aku turun dan kembali menemui Musa Alaihissallam lalu  memberitahukan kepadanya dia (apa yang terjadi). Dia kembali berkata: “Kembalilah dan minta keringanan kepada Rabbmu! maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah bolak-balik untuk memohon kepadaNya hingga aku malu kepadaNya“. Muttafaq alaih. [1]

Fadhilah Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :7517 dan  Muslim no hadist: 162.

Fadhilah Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Fadhilah Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 قال الله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [الأحزاب/56]

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [Al Ahzab/33: 56]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيهِ عَشْراً». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”. HR. Muslim.[1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ للهِ مَلائِكَةً سَيّاحِينَ فِي الأرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلامَ». أخرجه أحمد والنسائي.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang ditugaskan berkeliling di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku“. H.R. Ahmad dan Nasa’i. [2]

Lafaz Shalawat yang Paling Sempurna:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ». متفق عليه

(Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah mencurahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung dan berkahilah Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim!, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung)”. Muttafaq ’alaih. [3]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 408.
[2] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist: 3666 dan Nasa’I no hadist : 1282.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3370 dan  Muslim no hadist: 406.