Author Archives: editor

Ta’zir

TA’ZIR

Ta’zir : adalah hukuman yang tidak memiliki ketentuan ukuran, atas maksiat yang tidak ada had dan tidak pula kafarat.

Hukuman atas maksiat ada tiga jenis.

  1. Padanya terdapat had yang telah ditentukan, seperti zina, pencurian, membunuh dengan sengaja, semua ini tidak ada kafarat dan tidak pula ta’zir padanya.
  2. Apa yang padanya terdapat kafarat dan bukan had, seperti bersetubuh dalam keadaan ihram, bersetubuh pada siang hari bulan ramadhan, dan kesalahan dalam membunuh.
  3. Apa yang padanya tidak terdapat had dan tidak pula kafarat, yang seperti ini mengharuskan ta’zir.

Hikmah diyari’atkannya.
Allah mensyari’atkan beberapa hukuman tertentu yang tidak boleh di tambah dan tidak pula di kurangi, atas kejahatan yang menodai landasan umat demi untuk menjaga agama, jiwa, harta, kehormatan serta akal, dan Dia menentukan untuk itu beberapa had yang tegas, yang mana itu merupakan perhiasan, sehingga tidak mungkin bagi umat ini untuk bisa hidup kecuali dengan menjaganya dalam menegakkan hukum had.

Hukum-hukum had ini memiliki persyaratan serta ketetapan, terkadang sebagian darinya ada yang tidak bisa dipastikan, maka akhirnya diapun akan berpindah dari hukuman yang memiliki ketentuan kepada hukuman yang tidak memiliki ketentuan dan diserahkan kepada Imam, inilah yang disebut ta’zir.

Hukum Ta’zir.
Wajib bagi seluruh maksiat yang tidak memiliki had dan tidak pula kafarat, baik itu berupa perbuatan atas hal yang diharamkan, ataupun juga karena meninggalkan kewajiban, seperti bercumbu yang tidak ada had padanya, mencuri yang tidak sampai batas potong tangan, kejahatan yang tidak ada qishas padanya, wanita bercumbu dengan wanita (lesbi), menuduh yang bukan karena perzinahan dan lainnya, atau karena meninggalkan suatu kewajiban bersama adanya kemampuan, seperti membayar hutang, melaksanakan amanat serta barang titipan, mengembalikan barang orang lain, kedzoliman dan lain sebagainya.

Barang siapa melakukan suatu maksiat yang tidak memiliki hukum had kemudian bertaubat dan menyesalinya, maka dia tidak akan dikenai ta’zir.

Pembagian Ta’zir.

  • Ta’zir dalam mendidik dan mentarbiyah: seperti didikan seorang ayah terhadap putranya, suami terhadap isteri, tuan terhadap pekerjanya, yang bukan dalam maksiat kepada Allah, dalam masalah ini tidak boleh lebih dari sepuluh kali cambukan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشْرَةِ أَسْوَاطٍ إلا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ الله ِ. متفق عليه.

Janganlah kalian mencambuk lebih dari sepuluh kali, kecuali  dalam had yang telah Allah tentukan” (Muttafaq Alaihi)[1]

  • Ta’zir atas perbuatan maksiat: Dalam hal ini Hakim boleh melebihkan sesuai dengan maslahat, kebutuhan, ukuran maksiat serta banyak dan sedikitnya, dia tidak memiliki ukuran tertentu, akan tetapi jika maksiat yang dilakukan memiliki hukuman yang telah ditentukan syari’at, seperti zina, pencurian dan semisalnya, maka ta’zirnya tidak boleh melebihi ketentuan yang ada.

Tata cara Ta’zir.
Ta’zir merupakan beberapa hukuman yang dimulai oleh nasehat dan peringatan, hajr, bentakan, ancaman, peringatan serta pengasingan, dia akan berakhir dengan hukuman sangat berat, seperti penjara dan cambuk, bahkan terkadang sampai pada pembunuhan dengan ta’zir ketika dirasa berdampak positif terhadap masyarakat, seperti membunuh seorang mata-mata, ahli bid’ah dan pelaku kejahatan yang membahayakan.

Terkadang ta’zir juga dilakukan dengan cara mengumumkan pelaku, atau denda harta benda ataupun juga dengan cara pengasingan.

Hukuman ta’zir tidak terbatas, bagi Hakim boleh menentukan hukuman yang sesuai dengan pelaku kejahatan, sebagaimana yang telah lalu, dengan syarat tidak keluar dari apa yang telah Allah perintahkan, atau yang dilarang-Nya, sehingga dia akan berbeda-beda dari setiap daerah, waktu, pribadi, jenis maksiat serta keadaannya.

Kafarat bagi dia yang mencium wanita tidak halal baginya lalu datang untuk bertaubat:

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلًا أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ: {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ، وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114] قَالَ الرَّجُلُ: أَلِيَ هَذِهِ؟ قَالَ: لِمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ أُمَّتِي. متفق عليه

Bahwa seorang laki-laki mencium seorang wanita, lalu dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghabarkan kejadian tersebut, maka turunlah ayat: ”

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ [هود: ١١٤]   

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (Huud/11: 114)

Setelah itu bertanyalah orang tersebut: Ya Rasulullah: apakah ini hanya untukku? Beliau menjawab: “Untuk seluruh umatku”  (Muttafaq Alaihi)[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (6850), lafadz ini darinya dan Muslim no (1708)
[2] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (526), lafadz ini darinya dan Muslim no (2763).

Murtad dan Sihir

MURTAD

Murtad : Adalah dia yang menjadi kafir setelah Islam, atas pilihannya.

Hukum Murtad.
Murtad lebih berat kekufurannya daripada orang yang asli kafir. Murtad merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menyebabkannya diakherat kekal dalam api neraka jika ia belum bertaubat sebelum meninggal. Apabila orang yang murtad di bunuh atau mati dan ia belum bertaubat, maka berarti ia kafir. (Jenazahnya) tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dimakamkan di perkuburan Kaum Muslimin.

 قال الله تعالى: وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [البقرة: ٢١٧] 

Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”  [Al-Baqarah/2: 217]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ». أخرجه البخاري

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang merubah agamanya hendaklah kalian membunuhnya” (HR. Bukhori)[1]

Hikmah disyari’atkannya membunuh orang Murtad.
Islam merupakan suatu manhaj sempurna bagi kehidupan, memiliki peraturan yang mencakup seluruh apa yang diperlukan oleh umat manusia, sepadan dengan fitrah dan akal, berdiri diatas dalil dan petunjuk, dan dia merupakan nikmat terbesar, dengannya akan bisa diraih kebahagiaan dunia dan akherat. Barang siapa yang telah memeluknya kemudian murtad darinya, maka dia telah terjerumus kesuatu tempat yang paling rendah, menolak apa yang telah Allah ridhoi kepada kita dari agama, menghianati Allah dan Rasul-Nya, sehingga dia wajib untuk di bunuh; karena telah mengingkari kebenaran yang tidak akan bisa istiqomah dunia dan akherat kecuali dengannya.

Pembagian Murtad.

Murtad terbagi menjadi tiga bagian:

  • Murtad I’tiqad : Seperti seseorang yang beritikad akan adanya sekutu bersama Allah dalam Rububiyyah, atau Uluhiyyah-Nya, mengingkari Rububiyyah Allah, ke Esaan-Nya atau salah satu dari sifat-sifat-Nya, atau bisa pula karena meyakini kalau salah seorang Rasul berdusta, mengingkari Kitab yang Allah turunkan, mengingkari adanya hari kebangkitan, surga, neraka atau membenci sesuatu yang ada dalam agama ini, walaupun dia tetap mengamalkannya.

atau meyakini bahwa zina, khomer dan semisalnya dari apa yang telah diharamkan oleh agama yang jelas ini berhukum halal, atau karena mengingkari wajibnya shalat, zakat dan semisalnya dari kewajiban yang ada dalam agama yang jelas ini, padahal hal seperti itu tidak tersembunyi hukumnya, apabila karena dia tidak mengetahui akan hukumnya, maka dia tidak menjadi kafir, sedangkan jika dia mengetahui hukumnya dan tetap pada pendiriannya, maka dia kafir, atau dia yang ragu terhadap salah satu kewajiban yang ada pada agama ini sesuatu yang tidak diragukan oleh siapapun, seperti shalat.

  • Murtad Perkataan : Seperti mencaci Allah atau Rasul-Nya, Malaikat-Nya, Kitab-Kitab yang diturunkan-Nya, atau dia yang mengaku dirinya seorang Nabi, menyeru kepada selain Allah, atau menyatakan bahwa Allah memiliki anak serta isteri, atau mengingkari haramnya sesuatu yang jelas keharamannya, seperti zina, riba, khomer dan semisalnya, atau mengejek agama atau sesuatu darinya, seperti janji serta ancaman Allah, atau mencela para sahabat ataupun juga salah seorang dari mereka dan lain sebagainya.
  • Murtad Perbuatan: Seperti dengan cara menyembelih untuk selain Allah, bersujud kepada selain Allah, meninggalkan shalat, berpaling dari agama dengan cara tidak mempelajari dan tidak pula mengamalkannya, atau mendukung dan membela kaum Musyrikin untuk memerangi Muslimin dan lainnya.

Apa yang dilakukan terhadap orang Murtad.
Barang siapa yang murtad dari Islam sedangkan dia telah baligh, berakal, memiliki pilihan, diajak kembali, diberi kabar gembira tentang Islam dan ditawarkan untuk bertaubat, apabila dia memilih taubat maka dia seorang Muslim, sedangkan jika menolak taubat dan tetap pada kemurtadannya, maka dia di bunuh oleh pedang sebagai seorang kafir dan bukan karena hukum had.

عَنْ أبِي مُوسَى رضي الله عنه أنَّ رَجُلاً أسْلَمَ ثُمَّ تَهَوَّدَ، فَأتَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَهُوَ عِنْدَ أبِي مُوسَى، فَقَالَ: مَا لِهَذَا؟ قَالَ: أسْلَمَ ثُمَّ تَهَوَّدَ، قَالَ: لا أجْلِسُ حَتَّى أقْتُلَهُ، قَضَاءُ الله وَرَسُولِهِ؟. متفق عليه.

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu : Bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian pindah agama menjadi Yahudi, lalu datanglah Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu, sedangkan dia sedang berada dekat Abu Musa, lalu dia bertanya: ada apa dengan orang ini? Dia menjawab: orang ini telah memeluk Islam, kemudian berpindah menjadi Yahudi, berkatalah dia: saya tidak akan duduk sampai membunuhnya, hukum Allah dan Rasul-Nya? (Muttafaq Alaihi)[2]

Barang siapa yang kemurtadannya karena menolak sesuatu dari agama ini, maka taubatnya disamping mengucapkan dua kalimat syahadat adalah menetapkan keyakinan yang sebelumnya dia tolak.

Ketika seorang suami murtad, maka isterinya menjadi tidak halal baginya, akan tetapi dia memiliki kesempatan untuk merujuknya setelah taubat, apabila masih dalam iddahnya, apabila telah berlalu iddahnya dan dia tidak merujuknya maka wanita tersebut memiliki hak atas dirinya, sehingga dia tidak halal baginya kecuali dengan ridho wanita dan mahar serta akad baru.

SIHIR

Sihir : Ikatan serta bacaan-bacaan yang berpengaruh terhadap badan serta akal orang yang disihir.

Hukumnya.
Sihir diharamkan untuk mempelajari ilmunya, mengajarkannya, mempraktekkannya dan menunjukinya. Hukumnya:

  • Apabila sihir tersebut dengan menggunakan perantara setan, maka pelakunya (tukang sihir) adalah kafir, dia harus di bunuh jika tidak mau bertaubat, sebagai seorang yang murtad.
  • Apabila sihir tersebut menggunakan obat-obatan dan ramuan saja, maka ini tidak termasuk kekafiran, akan tetapi termasuk maksiat yang berupa dosa besar, dibunuh pelakunya jika dia tidak bertaubat, sesuai dengan ijtihadnya Hakim.

قال الله تعالى: وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ [البقرة: ١٠٢] 

Allah berfirman: “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia” [Al-Baqarah/2: 102]

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ» قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِالله وَالسِّحْرُ…» متفق عليه.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu: bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh yang membinasakan” para sahabat bertanya: apakah itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir … alhadits”  (Muttafaq Alaihi)[3]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Riwayat Bukhori no (3017).
[2] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (7157), lafadz ini darinya dan Muslim no (1824) dalam kitab Al-Imarah
[3] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (2766), lafadz ini darinya dan Muslim no (89).

Aiman (Sumpah)

AIMAN (SUMPAH)

Yamin : Adalah penguat perkara yang disumpahi dengan menyebut Allah, atau salah satu dari nama ataupun sifat-Nya dengan cara khusus, dia biasa disebut sumpah atau janji.

Sumpah yang terucap dan mewajibkan kafarat apabila dilanggar adalah sumpah dengan menyebut kalimat Allah, salah satu nama ataupun salah satu sifat-sifat-Nya, seperti perkataan: Demi Allah, karena Allah, demi Ar-Rahman, demi kebesaran Allah, keagungan serta kemulian-Nya, demi Rahmat-Nya dan lain sebagainya.

Hukum sumpah dengan selain Allah.
1. Bersumpah dengan selain Allah termasuk yang diharamkan dan termasuk dari syirik asghar (kecil); karena sumpah termasuk pengagungan terhadap yang disumpahi, sedangkan pengagungan tidak terjadi kecuali hanya kepada Allah saja.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ». أخرجه أبو داود والترمذي

Berkata Ibnu Umar Radhiyallahu anhu : aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat syirik” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)[1]

2. Sumpah dengan selain Allah haram hukumnya, seperti dengan perkataan: (demi Nabi, demi hidupmu, demi amanat, demi Ka’bah, demi nenek moyang dan lain sebagainya).

قال عليه الصلاة والسلام: «أَلا إنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفاً فَلْيَحْلِفْ بِالله أَوْ لِيَصْمُتْ». متفق عليه.

Bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah atas nama nenek moyang kalian, barang siapa yang akan bersumpah hendaklah dia bersumpah atas nama Allah atau diam” (Muttafaq Alaihi)[2].

Menjaga sumpah adalah merupakan suatu kewajiban dan tidak boleh untuk menyepelekannya, karena urusannya sangat besar, sehingga tidak diperbolehkan menganggap enteng sumpah dan tidak pula mencari alasan demi untuk menghindari hukum yang berlaku padanya, dan sumpah ini diperbolehkan dalam urusan yang dianggap penting menurut syari’at.

Yamin (Sumpah) terbagi menjadi tiga.

  1. Yamin Mun’akid : dia adalah sumpah seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya, padanya terdapat kafarat apabila melanggarnya.
  2. Yamin Ghomus : Sumpah ini diharamkan, bentuknya adalah seseorang bersumpah atas permasalahan yang telah berlalu dan dia dalam keadaan berdusta dan menyadari kedustaan tersebut, ini adalah sesuatu yang mendzolimi hak orang lain, atau dia maksudkan untuk berbuat kefasikan serta berkhianat, ini termasuk dari dosa-dosa terbesar. Dinamakan Ghomus; karena menenggelamkan pelakunya kedalam dosa, kemudian kedalam neraka, sumpah ini tidak ada kafaratnya dan tidak bisa dipegangi, sebagaimana mewajibkan pelaku untuk segera bertaubat darinya.
  3. Yamin Laghwi : Yaitu mengucapkan kata-kata sumpah tanpa maksud bersumpah, dari apa-apa yang telah menjadi kebiasaan orang-orang, seperti: tidak demi Allah, benar demi Allah, demi Allah kamu harus makan, atau harus minum dan lain sebagainya, atau bisa juga seseorang yang bersumpah tentang permasalahan terdahulu dalam keadaan mengira akan kebenaranannya, namun ternyata dia salah.

Sumpah jenis ini tidak terjadi dan tidak ada kafarat padanya sebagaimana ucapannya tidak dianggap sedang bersumpah, sebagaimana firman Allah:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ [المائ‍دة: ٨٩] 

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja” [Al-Maaidah/5: 89]

Apabila membuat pengecualian dalam sumpahnya dengan berkata: “Demi Allah saya akan berbuat seperti ini insya Allah”, maka dia tidak berdosa ketika tidak melakukannya.

Kafarat sumpah dengan selain Allah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالعُزَّى فَلْيَقُلْ: لا إلَهَ إلا الله، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu : telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang berkata dalam sumpahnya: demi Lata dan Uzza, hendaklah dia mengucapkan: laa Ilaaha illallah, dan barang siapa yang berkata terhadap temannya kemarilah untuk bermain judi, maka hendaklah dia bersedekah”  (Muttafaq Alaihi)[3].

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أنه حلف باللات والعزى، فقال له النبي- صلى الله عليه وسلم-: «قُلْ لا إلَهَ إلَّا الله وَحْدَهُ ثَلاثاً، وَاتْفُلْ عَنْ شِمَالِكَ ثَلاثاً، وَتَعَوَّذ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ، وَلا تَعُدْ». اخرجه أحمد وابن ماجه.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqos Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia bersumpah atas nama Lata dan Uzza, maka berkatalah kepadanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ucapkanlah Laa Ilaaha illallah wahdah sebanyak tiga kali, meludahlah kesamping kirimu sebanyak tiga kali, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, dan janganlah kamu mengulanginya lagi”  (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)[4].

Hukum Sumpah.

  1. Wajib : Yaitu yang dilakukan untuk menyelamatkan seseorang dari kematian.
  2. Sunnah : Seperti ketika bersumpah untuk mendamaikan perselisihan.
  3. Mubah : Seperti sumpah untuk mengerjakan suatu perbuatan yang mubah ataupun meninggalkannya, atau untuk menegaskan suatu permasalahan dan lainnya.
  4. Makruh : Seperti sumpah untuk mengerjakan perbuatan yang makruh atau untuk meninggalkan amalan sunnah, dan juga termasuk sumpah dalam jual beli.
  5. Haram : Seperti dia yang bersumpah dalam kedustaan dengan sengaja, bersumpah untuk mengamalkan perbuatan maksiat atau untuk meninggalkan amalan yang diwajibkan.

Dianjurkan untuk membatalkan sumpah jika itu merupakan suatu kebaikan, seperti dia yang bersumpah untuk melakukan perkara makruh atau untuk meninggalkan yang sunnah, maka hendaklah dia mengerjakan yang lebih baik darinya dan membayar kafarat untuk sumpahnya tersebut, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْراً مِنْهَا، فَلْيَأْتِهَا، وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ». أخرجه مسلم.

Barang siapa yang telah bersumpah pada suatu perkara, lalu dia melihat kalau selainnya lebih baik dari itu, maka hendaklah dia mengerjakannya, dan membatalkan sumpahnya” (HR. Muslim)[5]

Sumpah wajib untuk dibatalkan ketika dia bersumpah untuk meninggalkan kewajiban, seperti dia yang bersumpah untuk tidak menyambung tali silaturahmi, atau bagi dia yang bersumpah untuk mengamalkan suatu yang haram, seperti sumpah untuk meminum khomer, maka dia wajib untuk membatalkan sumpah tersebut dan membayar kafaratnya.

Pembatalan sumpah di mubahkan bagi dia yang bersumpah untuk mengamalkan amalan yang mubah, atau untuk meninggalkannya, kemudian membayar kafaratnya.

Syarat-syarat wajibnya kafarat Yamin.

  1. Yamin tersebut diucapkan oleh seorang mukallaf atas perkara yang mungkin terjadi dikemudian hari, seperti dia yang bersumpah untuk tidak memasuki rumah milik si Fulan.
  2. Sumpah dilakukan dalam keadaan memiliki pilihan, apabila dia bersumpah dalam keadaan dipaksa, maka sumpah tersebut tidak bisa dianggap.
  3. Dalam keadaan memiliki maksud dengan sumpahnya, karena sumaph tanpa maksud tidak dianggap, seperti hal yang biasa terucap dari lisan (tidak demi Allah, baiklah demi Allah) ketika berbicara.
  4. Ketika melanggar sumpahnya, yaitu dengan melakukan apa yang telah disumpah untuk di tinggalkan, atau meninggalkan apa yang dia sumpahi untuk dilaksanakannya, dalam keadaan ingat dan memiliki pilihan.

Kafarat Yamin : orang yang membayar kafarat yamin di beri pilihan untuk melakukan hal berikut ini:

  1. Memberi makan sepuluh orang miskin, setengah sho’ untuk setiap orangnya, dari makanan pokok, seperti gandum, kurma, beras atau lainnya, dia boleh memberi mereka makan siang ataupun makan malam.
  2. Memberi pakaian yang bisa dipakai untuk shalat kepada sepuluh orang miskin.
  3. Membebaskan seorang budak Mukmin.

Dia berhak untuk memilih salah satu dari tiga tersebut, dan jika tidak mendapatinya, maka dia berpuasa selama tiga hari, puasa tidak boleh dilakukan kecuali setelah tidak mampu untuk melakukan tiga permasalahan tersebut.

Kafarat boleh dilakukan sebelum terjadi dan boleh pula di akhirkan setelah terjadi, apabila dia mendahulukannya, berarti sebagai penghalal bagi sumpahnya, dan jika diakhirkan berarti dia sebagai pembayar kafarat atasnya.

Allah berfirman dalam menerangkan kafarat yamin:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيۡمَٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ   [المائ‍دة: ٨٩] 

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)” [Al-Maaidah/5: 89]

Diantara hak seorang Muslim terhadap saudaranya adalah menunaikan sumpahnya ketika dia bersumpah atasnya, selama itu tidak berbentuk maksiat.

Apabila seseorang bersumpah untuk tidak melakukan suatu perbuatan, lalu dia melakukannya karena lupa, dipaksa ataupun ketidak tahuannya kalau dia telah bersumpah akannya, maka dia tidak berdosa dan tidak ada kafarat pula padanya, namun sumpahnya tetap berlaku.

Apabila seseorang bersumpah dihadapan orang lain dengan tujuan untuk menghormatinya, maka hal tersebut tidaklah berdosa baginya, akan tetapi jika dia bermaksud untuk mengharuskannya namun orang tersebut menolak untuk melakukannya, maka dia terkena hukumnya.

Seluruh perbuatan tergantung dari niatnya, apabila seseorang bersumpah atas sesuatu namun kemudian dia malah menyelisihinya, maka yang dijadikan pegangan adalah niatnya, bukan lafadznya.

Sumpah tergantung dari niat orang yang memerintahkan, apabila seorang Hakim memerintahkannya untuk bersumpah dalam suatu tuduhan ataupun lainnya, maka pada saat itu dia wajib berpegang pada niat orang yang memerintah, tidak pada niat orang yang mengucapkan, sedangkan jika seseorang bersumpah tanpa perintah orang lain, maka pada saat ini tergantung dari niat dia yang mengucapkannya.

Barang siapa yang mengharamkan suatu yang halal atas dirinya, yang mana itu berasal dari isterinya, baik itu berupa makanan ataupun lainnya, maka sesungguhnya dia tidaklah menjadi haram atasnya, ketika melanggarnya dia berkewajiban untuk membayar kafarat yamin , sebagaimana Firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبۡتَغِي مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ [التحريم: ١،  ٢] 

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [At Tahrim/66: 1-2]

Barang siapa yang bersumpah untuk tidak melakukan suatu perbuatan kebaikan, maka dia tidak boleh untuk berkelanjutan dalam sumpahnya tersebut, bahkan dia diperintahkan untuk membayar kafaratnya dan mengerjakan amal kebaikan tersebut, sebagaimana Firman Allah:

وَلَا تَجۡعَلُواْ ٱللَّهَ عُرۡضَةٗ لِّأَيۡمَٰنِكُمۡ أَن تَبَرُّواْ وَتَتَّقُواْ وَتُصۡلِحُواْ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ [البقرة: ٢٢٤] 

Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[Al Baqarah/2: 224]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadits shohih/ Riwayat Abu Dawud no (3251), lafadz ini darinya, shohih sunan abu dawud no (2787).
[2] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (2679) dan Muslim no (1646), lafadz ini darinya
[3] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (4860), lafadz ini darinya dan Muslim no (1647).
[4] Hadits Shohih/ riwayat Ahmad no (1622), lafadz ini darinya, berkata Al-Arnauth: sanadnya shohih.Riwayat Ibnu Majah no (2097).
[5] Riwayat Muslim no (1650).

Nadzar

NADZAR

Nadzar : Seorang mukallaf yang mewajibkan atas dirinya sesuatu yang pada dasarnya hal tersebut tidaklah wajib menurut pandangan syari’at, dengan cara mengucapkan sesuatu yang menunjukan atas sesuatu yang diwajibkan tersebut.

Hukum Nadzar.
Nadzar diperbolehkan bagi seseorang  yang mengetahui akan kemampuan dirinya untuk melaksanakan hal tersebut, dan dia berhukum makruh bagi dia yang mengetahui kalau dirinya tidak mampu untuk melaksanakannya. Nadzar merupakan sesuatu yang tidak terpuji akibatnya, karena terkadang seseorang berhalangan untuk melaksankannya, sehingga dia terkena dosa. Seorang pelaku nadzar telah memberi syarat kepada Allah dan akan menggantinya ketika tercapai apa yang dia inginkan dengan melakukan apa yang telah dia nadzarkan, dan jika tidak tercapai maka dia tidak akan melaksanakannya, padahal Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan hamba serta keta’atannya.

Nadzar merupakan salah satu jenis ibadah, sehingga dia tidak boleh ditujukan terhadap selain Allah, karena padanya terkandung Ta’zim (pembesaran) terhadap dia yang dinadzari dan juga termasuk taqarrub (mendekatkan diri) kepadanya. Barang siapa yang bernadzar kepada selain Allah, baik itu dari kuburan, raja, Nabi ataupun wali, maka sesungguhnya dia telah menyekutukan Allah dengan syirik besar, dan itu merupakan suatu kebatilan yang haram untuk dilaksanakan.

Nadzar tidak akan sah, kecuali dari seorang baligh, berakal, memiliki pilihan, baik itu dari seorang Muslim ataupun kafir.

Pembagian Nadzar:

  1. Nadzar mutlak : seperti perkataan: Saya bernadzar atas nama Allah untuk tidak melakukan ini, apabila dia melakukannya, maka dia wajib untuk membayar kafarat yamin.
  2. Nadzar ketika marah : yaitu ketika mengikat nadzarnya dengan suatu syarat yang bertujuan untuk tidak melaksanakannya, atau agar bisa melaksanakannya, atau untuk meyakinkannya ataupun juga untuk mendustakannya, seperti perkataan: Apabila berbicara terhadapmu, maka saya harus melaksanakan haji, pada saat ini dia diberi pilihan antara melaksanakan apa yang dia nadzarkan atau dengan membayar kafarat.
  3. Nadzar melakukan perbuatan mubah : seperti dia yang bernadzar untuk memakai pakaiannya atau menunggangi hewan tunggangannya ataupun lainnya, pada kesempatan inipun dia diberi pilihan antara pelaksanaan nadzar dan kafarat yamin.
  4. Nadzar makruh : seperti nadzar untuk bercerai dan semisalnya, pada kesempatan ini dia dianjurkan untuk membayar kafarat dan tidak melaksanakan nadzarnya.
  5. Nadzar maksiat : seperti dia yang bernadzar untuk membunuh seseorang, meminum homer, berzina ataupun untuk berpuasa pada hari lebaran, nadzar yang seperti ini tidak dibenarkan dan haram untuk dilaksanakan, baginyapun kafarat yamin, sebagaimana sabda Rasulullah:

لا نَذْرَ فِي مَعْصِيَةٍ، وَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Tidak ada nadzar dalam kemaksiatan, dan kafaratnya adalah kafarat yamin” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi[1]

  1. Nadzar ta’at : Baik itu secara mutlak, seperti mengerjakan shalat, puasa, haji, umroh, I’tikaf dan semisalnya dengan niat bertakarrub kepada Allah, yang seperti ini wajib untuk dilaksanakan.

Atau juga yang bentuknya mu’allaq (bergantung pada sesuatu), seperti: apabila Allah menyembuhkan penyakitku atau apabila aku mendapatkan keuntungan, maka atas nama Allah aku harus mengeluarkan sekian untuk sedekah atau aku harus berpuasa dan semisalnya. Apabila apa yang dia syaratkan tercapai, maka dia wajib untuk melaksanakannya. Pelaksanaan nadzar merupakan suatu ibadah yang wajib untuk dilaksanakan. Allah telah memuji kaum Mukminin karena mereka melaksanakan nadzarnya.

Allah berfirman tentang sifat orang-orang yang berbuat kebajikan:

 يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا [الانسان: ٧] 

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” [Al-Insaan/76 : 7]

Allah berfirman:

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُهُۥۗ [البقرة: ٢٧٠] 

Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” [Al-Baqarah/2: 270]

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ الله فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ». أخرجه البخاري.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha: bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang bernadzar untuk melaksanakan keta’atan terhadap Allah maka hendaklah dia melaksanakannya, dan barang siapa yang bernadzar untuk bermaksiat terhadap-Nya maka hendaklah dia tidak memaksiati-Nya” HR. Bukhori[2].

Barang siapa yang telah bernadzar untuk melaksanakan suatu keta’atan dan dia meninggal sebelum melaksanakannya, maka hendaklah dia dilaksanakan oleh walinya.

Barang siapa yang telah bernadzar untuk melaksanakan keta’atan kemudian dia tidak mampu melaksanakannya, maka dia wajib untuk membayar kafarat yamin.

Nadzar merupakan suatu yang berhukum makruh, sebagaimana perkataan Ibnu Umar : Nabi Shaallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nadzar dan bersabda:

ابن عمر رضي الله عنهما: نهى النبي- صلى الله عليه وسلم- عن النذر وقال: «إنَّهُ لا يَرُدُّ شَيْئاً وَلَكِنَّهُ يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ البَخِيلِ». متفق عليه

Sesungguhnya dia tidak menolak sesuatu, akan tetapi dia bersumber dari seorang kikir” Muttafaq Alaihi[3].

Nadzar dimakruhkan terhadap segala sesuatu yang memberatkan seorang hamba dari amalan serta keta’atan.

Barang siapa yang bernadzar dengan sesuatu yang tidak dia sanggupi dan mendatangkan kesulitan besar baginya, seperti dia yang bernadzar untuk melaksanakan tahajjud semalam penuh, berpuasa selamanya, bersedekah dengan seluruh hartanya, pergi haji atau umroh dengan berjalan kaki, maka yang demikian tersebut tidak wajib untuk dilaksanakan, dan dia berkewajiban untuk membayar kafarat yamin.

Penerima Nadzar
Penerima nadzar keta’atan sesuai dengan apa yang telah diniatkan oleh pengucapnya, sesuai dengan batasan-batasan yang ada dalam syari’at, apabila ketika bernadzar dengan daging dan lainnya dia niatkan untuk fakir miskin, maka dia sendiri tidak boleh memakannya.

Apabila niat yang dia nadzarkan adalah keluarga, pendamping ataupun teman-temannya, maka dia boleh untuk ikut makan bersama, karena dia termasuk salah seorang darinya.

Barang siapa yang mencampurkan dalam nadzarnya antara keta’atan dan maksiat, maka dia berkewajiban untuk melaksanakan keta’atannya dan meninggalkan maksiatnya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: بينا النبي- صلى الله عليه وسلم- يخطب إذا هو برجل قائم، فسأل عنه فقالوا: أبو إسرائيل نذر أن يقوم ولا يقعد، ولا يستظل، ولا يتكلم، ويصوم. فقال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ، وَلْيَسْتَظِلَّ، وَلْيَقْعُدْ، وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ». أخرجه البخاري

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma : Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang sedang berdiri, maka beliaupun bertanya tentangnya, lalu dijawab oleh para sahabat: itu adalah Abu Israil yang bernadzar untuk berdiri dengan tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara dan berpuasa. Maka berkatalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ، وَلْيَسْتَظِلَّ، وَلْيَقْعُدْ، وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ»..

Perintahkan dia untuk berbicara, berteduh, duduk dan menyempurnakan puasanya” HR. Bukhori[4].

Hukum seseorang yang bernadzar puasa beberapa hari namun bertabrakan dengan hari raya (lebaran)
Dari Ziad bin Jubair dia berkata:

عن زياد بن جبير قال: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ، فَسَألَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: نَذَرْتُ أنْ أصُومَ كُلَّ يَوْمِ ثُلاثَاءَ أوْ أرْبِعَاءَ مَا عِشْتُ، فَوَافَقْتُ هَذَا اليَوْمَ يَوْمَ النَّحْرِ، فَقَالَ: أمَرَ الله بِوَفَاءِ النَّذْرِ، وَنُهِينَا أنْ نَصُومَ يَوْمَ النَّحْرِ، فَأعَادَ عَلَيْهِ، فَقَالَ مِثْلَهُ، لا يَزِيدُ عَلَيْهِ. متفق عليه.

Suatu waktu saya sedang bersama Ibnu Umar, lalu dia ditanya oleh seseorang: saya bernadzar untuk selalu berpuasa pada hari selasa atau rabu seumur hidupku, dan saya bertemu dengan iedul adha, maka dijawab oleh Ibnu Umar: sesungguhnya Allah memerintahkan untuk melaksanakan nadzar dan melarang kita untuk berpuasa pada hari lebaran, orang tersebut mengulangi lagi pertanyaannya dan Ibnu Umarpun tetap menjawab dengan jawaban yang sama, tanpa menambahkan apa-apa sedikitpun. Muttafaq Alaihi[5].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Qishas dan khudud كتاب القصاص والحدود ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Riwayat Tirmidzi no (1524), shohih Sunan Tirmidzi no (1231)
[2] Riwayat Bukhori no (6696).
[3] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (6693), lafadz ini darinya dan Muslim no (1639).
[4] Riwayat Bukhori no (6704).
[5] Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (6706), lafadz ini darinya dan Muslim no (1139).

Gambaran Pohon-pohon dan Buah-buah Surga

GAMBARAN SURGA

Gambaran pohon-pohon dan buah-buah surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا [الانسان: ١٤] 

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. [Al-Insaan/76: 14].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ ٤١ وَفَوَٰكِهَ مِمَّا يَشۡتَهُونَ [المرسلات: ٤١،  ٤٢] 

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. [Al-Mursalaat/77: 41-42].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مُتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا يَدۡعُونَ فِيهَا بِفَٰكِهَةٖ كَثِيرَةٖ وَشَرَابٖ [ص : ٥١] 

didalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. [Shaad/38: 51].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَهُمۡ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ [محمد : ١٥] 

dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan [Muhammad.47:15]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ مَفَازًا ٣١ حَدَآئِقَ وَأَعۡنَٰبٗا [النبا: ٣١،  ٣٢] 

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, * (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. [An-Nabaa/78: 31-32].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ [الرحمن: ٥٢] 

Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. [Ar-Rahman/55: 52].

فِيهِمَا فَٰكِهَةٞ وَنَخۡلٞ وَرُمَّانٞ [الرحمن: ٦٨] 

Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.  [Ar-Rahman/55: 68].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ [الدخان: ٥٥] 

Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),, [Ad-Dukhan/44: 55].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ ٢٧ فِي سِدۡرٖ مَّخۡضُودٖ ٢٨ وَطَلۡحٖ مَّنضُودٖ ٢٩ وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ ٣٠ وَمَآءٖ مَّسۡكُوبٖ ٣١ وَفَٰكِهَةٖ كَثِيرَةٖ ٣٢ لَّا مَقۡطُوعَةٖ وَلَا مَمۡنُوعَةٖ [الواقعة: ٢٧،  ٣٣] 

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, [Al-Waqi’ah/56: 27-33].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ ٢٢ قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ ٢٣ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ [الحاقة: ٢٢،  ٢٤] 

dalam surga yang tinggi, Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. [Al-Haaqqah/69: 22-24].

Dari Malik bin Sha’sha’ah Radhiyallahu anhu.

عن مالك بن صعصعة رضي الله عنهما في قصة المعراج- وفيه-: أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «وَرُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ المنْتَهَى فَإذَا نَبِقُهَا كَأَنَّهُ قِلالُ هَجَرَ، وَوَرَقُهَا كَأَنَّهُ آذَانُ الفُيُولِ، فِي أَصْلِهَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ: نَهْرَانِ بَاطِنَانِ، وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ، فَسَألْتُ جِبْريلَ، فَقَالَ: أَمَّا البَاطِنَانِ فَفِي الجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ النِّيلُ وَالفُرَاتُ». متفق عليه

Dalam cerita Mi’raj mengatakan bahwa ‘Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Diangkat kepadaku Sidratul Muntaha, ternyata buah-buahnya seperti qulah Hajar, daun-daunnya seperti telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai: dua sungai batin dan dua sungai zahir/nampak. Aku bertanya kepada Jibril alaihissallam, ia menjawab: Adapun dua yang batin ada di surga dan dua yang nampak adalah sungai Nil dan sungai Furat.” (Muttafaqun ‘alaih).[1]

Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu.

عن أبي سعيد رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيْرُ الرَّاكِبُ الجَوادَ أَو المضَمَّرَ السَّريعَ مائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا». متفق عليه.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon, yang jika dikelilingi penunggang kuda yang cepat selama seratus tahun, niscaya ia masih belum bisa mengitarinya.” (Muttafaqun ‘alaih).[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «ما فِي الجَنَّةِ شَجَرَةٌ إلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ». أخرجه الترمذي.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada pohon di dalam surga kecuali batangnya dari emas.” (HR. At-Tirmidzi).[3]

Gambaran sungai-sungai surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ [البروج: ١١] 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.  [Al-Buruj/85: 11].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ فِيهَآ أَنۡهَٰرٞ مِّن مَّآءٍ غَيۡرِ ءَاسِنٖ وَأَنۡهَٰرٞ مِّن لَّبَنٖ لَّمۡ يَتَغَيَّرۡ طَعۡمُهُۥ وَأَنۡهَٰرٞ مِّنۡ خَمۡرٖ لَّذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ وَأَنۡهَٰرٞ مِّنۡ عَسَلٖ مُّصَفّٗىۖ وَلَهُمۡ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَمَغۡفِرَةٞ مِّن رَّبِّهِمۡۖ كَمَنۡ هُوَ خَٰلِدٞ فِي ٱلنَّارِ وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ [محمد : ١٥] 

(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya [Muhammad/47 : 15].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ [القمر: ٥٤،  ٥٥] 

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai. Di tempat yang disenangi di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa. [Al-Qamar/54: 54-55].

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «بَيْنَمَا أَنَا أَسيرُ فِي الجَنَّةِ إذَا أَنَا بِنَهَرٍ حَافَتَاهُ قِبابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإذَا طيبُهُ، أَوْ طينُهُ مِسْكٌ أذْفَرُ». أخرجه البخاري

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tatkala aku sedang berjalan-jalan di surga, tiba-tiba aku sampai di sungai yang dua tepinya ada kubah permata yang cekung/lekuk. Aku bertanya, ‘Apakah ini wahai Jibril? Ia menjawab, ‘Ini adalah Kautsar yang diberikan Rabb-mu kepadamu. Ternyata wanginya, atau tanahnya adalah minyak kesturi azdfar.” (HR. al-Bukhari).[4]

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ، وَالفُرَاتُ وَالنِّيلُ، كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الجَنّةِ». أخرجه مسلم.

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saihan, Jaihan, Furat, dan Nil, semuanya berasal dari sungai-sungai surga.” (HR. Muslim).[5]

Gambaran mata air surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ [الحجر: ٤٥] 

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [Al-Hijr/15: 45].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡأَبۡرَارَ يَشۡرَبُونَ مِن كَأۡسٖ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ٥ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفۡجِيرٗا [الانسان: ٥،  ٦] 

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. [Al-Insaan/76: 5-6].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسۡنِيمٍ ٢٧ عَيۡنٗا يَشۡرَبُ بِهَا ٱلۡمُقَرَّبُونَ [المطففين: ٢٧،  ٢٨] 

Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, * (yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  [Al-Muthaffifin/83: 27-28].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فِيهِمَا عَيۡنَانِ تَجۡرِيَانِ [الرحمن: ٥٠] 

Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. [Ar-Rahman/55: 50].

فِيهِمَا عَيۡنَانِ نَضَّاخَتَانِ [الرحمن: ٦٦] 

Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar. [Ar-Rahman/55: 66].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ١٧ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا [الانسان: ١٧،  ١٨] 

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. [Al-Insaan/76: 17-18].

Gambaran Karesteristik Wanita Penghuni Surga

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Bukhari No 3207 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim No 162.
[2] HR. Bukhari No 6553 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim No. 2828.
[3] Shahih/ HR. Tirmidzi No. 2525, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2049.  Lihat: ash-Shahihul Jami’ No 5647.
[4] HR. Bukhari No. 6581.
[5] HR. Muslim No. 2839.

Kitab Jenazah

KITAB JENAZAH 

KEMATIAN DAN HUKUM-HUKUMNYA
Sepanjang apapun usia seorang manusia, ia tetap akan meninggal dunia dan berpindah dari negeri tempat beramal menuju negeri pembalasan, dan alam kubur merupakan tempat akhirat yang pertama.

Di antara hak seorang muslim kepada muslim yang lain adalah mengunjunginya apabila ia sakit dan mengikuti jenazahnya bila ia meninggal dunia.

Firman Allah Ta’ala:

قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ [الجمعة: ٨] 

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al-Jum’ah/62:8]

Firman Allah Ta’ala:

 أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ  [النساء : ٧٨] 

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An-Nisaa/4:78]

Apa yang wajib bagi orang yang sakit.
Orang yang sakit harus beriman (percaya) terhadap qadha` Allah Subhanahu wa Ta’ala, sabar terhadap qadar-Nya, husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Rabb-nya, berada di antara sifat khauf (khawatir,takut) dan raja` (mengharap), jangan mengharapkan kematian, menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak manusia, menulis wasiatnya, berwasiat untuk karib kerabatnya yang tidak mewarisinya sepertiga (1/3) hartanya atau kurang dari 1/3 dan itu lebih baik, berobat agar sembuh dengan pengobatan yang dibolehkan. Disunnahkan baginya untuk mengadukan keadaannya pada Allah, dan diperbolehkan untuk memberitahukan pada orang lain asalkan bukan mengeluh dan menunjukan ketidak ikhlasannya (atas sakit yang ia derita).

Hukum mengharapkan kematian.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا يَتَمَنَّيَنَّ أحَدٌ مِنْكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإنْ كَانَ لا بُدَّ مُتَمَنِّياً لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ أحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْراً لِي، وَتَوَفَّنِي إذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْراً لِي». متفق عليه.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seseorang darimu mengharapkan kematian karena mudharat yang dialaminya. Dan jika harus mengharapkan kematian, hendaklah ia membaca, ‘Ya Allah, hidupkan aku selama kehidupan lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Seorang muslim harus bersiap-siap untuk mati dan banyak mengingatnya. Dan bersiap-siap mati adalah dengan taubat dari segala perbuatan maksiat, mengutamakan akhirat, melepaskan diri dari perbuatan zalim, menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbuat taat dan menjauhi yang diharamkan.

Dan di sunnahkan mengunjungi orang sakit dan mengingatkannya agar bertaubat dan berwasiat, dan berobat kepada dokter yang muslim, bukan dokter non muslim. Kecuali bila ia membutuhkannya dan aman dari hal yang tidak dinginkan.

Disunnahkan bagi orang yang menyaksikan seseorang yang hampir meninggal dunia (menjelang sakaratul maut) agar mentalqinnya dua kalimat syahadah, lalu mengingatkannya dengan ucapan «لا إله إلا الله»laailaaha illallah‘, berdoa untuknya dan tidak mengatakan sesuatu di hadapannya kecuali yang baik.

Tidak mengapa seorang muslim menghadiri kematian orang kafir untuk menawarkan Islam kepadanya dan berkata kepadanya, ‘Katakanlah: ‘laailaaha illallah‘.

Tanda-tanda Husnul Khatimah.

  1. Mengucapkan dua kalimat syahadah saat meninggal.
  2. Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.
  3. Mati syahid atau meninggal fi sabilillah.
  4. Meninggal saat bertugas jaga fi sabilillah.
  5. Meninggal karena membela dirinya atau hartanya atau keluarganya.
  6. Meninggal pada malam Jum’at atau Hari Jum’at, dan hal itu menjaganya dari fitnah (cobaan) alam kubur.
  7. Meninggal karena penyakit radang selaput dada atau penyakit TBC.
  8. Meninggal karena penyakit tha’un (penyakit menular), sakit perut, tenggelam, terbakar, atau tertimpa reruntuhan.
  9. Perempuan yang meninggal dunia di saat nifasnya karena melahirkan dan semisalnya.

Mengingat kematian.
Seorang muslim harus selalu ingat terhadap kematian, bukan karena dia akan meninggalkan keluarga, orang-orang tercinta, dan kenikmatan dunia, ini adalah pandangan sempit. Tetapi karena kematian berarti berpisah dari amal ibadah dan bercocok tanam untuk akhirat. Dengan ini ia bersiap-siap dan bertambah dalam amal akhirat serta menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pandangan yang pertama, maka menambahnya rasa rugi dan penyesalan. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengambil (mewafatkan) seorang hamba di suatu daerah, ia menjadikan baginya suatu keperluan di daerah itu.

Seorang muslim harus berhusnuzhann (berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat meninggal dunia, karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إلا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِالله عَزَّ وَجَلَّ. أخرجه مسلم

Janganlah seseorang dari kamu meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla.’ HR. Muslim.[2]

Di antara tanda-tanda kematian: diketahui meninggalnya seseorang dengan turun kedua pelipis, miring hidungnya, terpisah dua telapak tangannya, terulur kedua kakinya, melotot penglihatannya, dinginnya, dan terputus napasnya.

Apa yang dilakukan terhadap seorang muslim apabila ia meninggal dunia.

  1. Apabila seorang muslim meninggal dunia, disunnahkan memejamkan kedua matanya dan berdoa saat memejamkan matanya dengan doanya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلانٍ، وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي المَهْدِيِّينَ، وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ العَالَمِينَ- أخرجه مسلم

Ya Allah, ampunilah fulan (dengan menyebut namanya), tinggikan derajatnya pada orang-orang yang mendapat petunjuk, luaskanlah kuburnya, terangilah ia di dalamnya, gantikanlah ia pada keturunannya yang masih tersisa, dan berilah ampunan untuk kami dan dia wahai Rabb semesta alam.’ HR. Muslim.[3]

Kemudian diikat kedua rahangnya dengan pembalut, dilembutkan persendiannya dengan pelan, mengangkatnya dari tanah, melepas pakaiannya, dan menutupnya dengan pakaian yang menutupi semua badannya, kemudian memandikannya.

  1. Disunnahkan bersegera membayar hutangnya, melaksanakan wasiatnya, segera mengurus jenazahnya, menshalatkannya, menguburkannya di daerah tempat ia meninggal dunia. Boleh bagi yang menghadirinya dan yang lainnya membuka wajahnya, mengecupnya dan menangisinya.

Wajib menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dari orang yang wafat, jika hak-hak itu seperti zakat, nazar, kafarat dan haji Islam. Dan didahulukan dari hak-hak ahli waris dan dari hutang. Hutang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih utama untuk dibayar, dan jiwa seorang muslim digantungkan dengan hutangnya sampai dibayar.

Boleh bagi seorang perempuan berihdad (tidak berhias diri, sebagai tanda duka cita) karena kematian anaknya atau yang lainnya selama tiga hari, dan karena kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. Dan seorang perempuan akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir pada Hari Kiamat.

Diharamkan atas karib kerabat yang meninggal dan selain mereka meratapi kematian, yaitu perkara yang melebihi tangisan. Seorang mayit disiksa di dalam kuburnya karena diratapi. Dan diharamkan saat musibah memukul pipi, merobek lobang baju, mencukur dan mencabik rambut.

Dibolehkan menginformasikan kepada orang banyak tentang kematian seseorang supaya mereka menyaksikan jenazahnya dan menshalatkannya. Dianjurkan bagi yang memberi informasi meminta orang-orang beristigfar dan memohon ampun untuknya. Diharamkan na’yu, yaitu memberi informasi tentang kematian karena membanggakan diri dan semisalnya.

Apa yang dikatakan dan dilakukan orang yang mengalami musibah, saat mendapat musibah.
Saat karib kerabat yang meninggal dunia mengetahui kematiannya, mereka wajib bersikap sabar. Dan disunnahkan bersikap ridha terhadap qadar, mengharap pahala dan istirja‘ (membaca innalillahi wa inna ilaihi raaji’un).

  1. Dari Ummu Salamah Radhiyhallahu anha, istri nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

عن أم سلمة رضي الله عنها زوج النبي- صلى الله عليه وسلم- قالت: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ: إنَّا للهِ وَإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا إلَّا أَجَرَهُ الله فِي مُصِيْبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْراً مِنْهَا». أخرجه مسلم.

‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada seorang hamba yang mendapat musibah, lalu ia membaca,

إنَّا للهِ وَإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا 

‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesungguhnya kita kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya.’

Melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pahala kepadanya dalam musibahnya dan menggantikan baginya yang lebih baik darinya.HR. Muslim.[4]

  1. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata :

عن أنس رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاثةٌ لَمْ يَبْلُغُوا الحِنْثَ إلَّا أَدْخَلَهُ الله الجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إيَّاهُم أخرجه البخاري.

‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada seorang muslim yang meninggalkan tiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke surga dengan karunia rahmat-Nya kepada mereka.‘ HR. al-Bukhari.[5]

Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari mengadu, dan menahan anggota tubuh dari yang diharamkan, seperti memukul pipi, merobek baju dan semisalnya.

Hukum melakukan otopsi kepada mayat.
Boleh mengotopsi mayat seorang muslim, jika tujuannya menyelidiki tuduhan kriminalitas, atau menyelidiki penyakit menular, karena hal itu mengandung mashlahat yang berpulang pada keamanan dan keadilan dan menjaga umat dari penyakit berbahaya yang menular. Jika otopsi itu untuk tujuan belajar dan mengajar, maka seorang muslim harus dimuliakan hidup dan mati. Cukuplah dengan mengotopsi mayat non muslim, kecuali saat terpaksa dengan syarat-syaratnya.

Memandikan mayat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘Alaihi. HR. al-Bukhari no. 6351, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 2680
[2] HR. Muslim 2877
[3] HR. Muslim no 920
[4] HR. Muslim no. 918
[5] HR. al-Bukhari 1248

Memandikan Mayat

MEMANDIKAN MAYIT

Disunnahkan agar orang yang memandikan mayat adalah yang paling mengetahui sunnah/tata cara memandikan mayat. Ia mendapat pahala besar apabila berniat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, menutupinya, dan tidak menceritakan apa yang dilihatnya dari yang tidak disukai.

Siapakah yang memandikan mayit?
Yang paling utama memandikan jenazah laki-laki saat terjadi perselisihan adalah yang menerima wasiatnya, kemudian bapaknya, kemudian kakeknya, kemudian kerabat terdekat dan seterusnya dari ashabahnya, kemudian karib kerabatnya. Dan yang paling berhak memandikan jenazah perempuan adalah perempuan yang menerima wasiatnya, kemudian ibunya, kemudian neneknya, kemudian kerabat terdekat dan seterusnya. Boleh bagi pasangan suami istri memandikan pasangannya yang wafat. Dan boleh memandikan jenazah laki-laki dan perempuan sebanyak satu kali yang meliputi semua badannya.

Prosesi pemandian jenazah dihadiri yang memandikan dan yang membantunya memandikan, dan dimakruhkan selain mereka menghadirinya.

Apabila berkumpul orang-orang Islam dan kafir dan meninggal bersamaan seperti kebakaran dan semisalnya, dan tidak bisa membedakan mereka, (cara pelaksanaannya adalah) mereka semua dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan (semua itu dilaksanakan) dengan niat untuk orang-orang Islam dari mereka.

Boleh bagi laki-laki dan perempuan memandikan jenazah seseorang yang berusia tujuh tahun (atau kurang dari usia itu), baik jenazah laki-laki dan perempuan. Dan apabila seorang laki-laki meninggal dunia di antara perempuan-perempuan bukan mahrahmnya, atau seorang perempuan meninggal dunia di tengah-tengah laki-laki bukan mahramnya, atau uzur memandikannya, ia dishalatkan dan dimakamkan tanpa dimandikan.

Orang yang mati dalam peperangan fi sabilillah tidak boleh dimandikan, dan para syuhada lainnya tetap wajib dimandikan.

Diharamkan seorang muslim memandikan non muslim, atau mengkafannya, atau menshalatkannya, atau mengikuti jenazahnya, atau menguburkannya. Tetapi ia menutupinya dengan tanah apabila tidak ada yang menutupinya dengan tanah dari karib kerabatnya. Tidak disyari’atkan bagi orang-orang Islam mengikuti jenazah keluarganya (karib kerabatnya) yang musyrik (non muslim) yang meninggal dunia.

Tata-cara memandikan mayit yang disunnahkan.
Apabila seseorang ingin memandikan jenazah, ia meletakkannya di atas keranda pemandian, kemudian menutupi auratnya, kemudian melepaskan pakaiannya, kemudian mengangkat kepalanya hingga jenazah tersebut berada dalam posisi hampir duduk, kemudian menekan perutnya dengan lembut dan banyak menyiram air. Kemudian ia melilit sepotong kain atau dua sarung tangan di atas tangannya dan mengistinjanya (membersihkan duburnya).

Kemudian berniat memandikannya, dan sunat mewudhu`kannya seperti wudhu untuk shalat setelah meletakkan di tangannya sepotong kain yang lain. Jangan memasukkan air di mulut dan hidungnya, tetapi memasukkan dua jarinya yang basah di hidung dan mulutnya.

Kemudian memandikannya dengan air dan bidara atau sabun, memulai dengan kepala dan jenggotnya, kemudian sebelah kanan dari leher hingga tumitnya (kakinya).

Kemudian membaliknya ke sebelah kiri dan memandikan sebelah punggungnya yang kanan, kemudian memandikan bagian tubuhnya yang kiri seperti itu.

Kemudian memandikannya yang kedua kali dan ketiga kali seperti yang mandi pertama. Jika belum bersih, ia menambah sampai bersih dalam hitungan ganjil. Dan menjadikan bersama air  pada mandi yang terakhir kapur barus atau minyak wangi. Dan jika kumisnya atau kukunya panjang digunting sebagiannya, kemudian dikeringkan dengan kain.

Dan jenazah perempuan dijadikan rambutnya tiga kepangan dan diuraikan dari belakang. Jika keluar dari seseorang (kotoran dan semisalnya) setelah dimandikan, hendaknya dicuci tempatnya, diwudhukan, dan ditutupi tempatnya dengan kapas.

Mengkafani jenazah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Mengkafani Jenazah

MENGKAFANI JENAZAH

Wajib mengkafan jenazah dari hartanya. Jika ia tidak mempunyai harta, maka biayanya dibebankan kepada orang yang wajib memberi nafkah kepadanya dari ushul (ayah keatas) dan furu’ (anak kebawah).

Cara mengkafani Jenazah.
Disunnahkan mengkafani jenazah laki-laki dalam tiga lipat kain putih yang baru, diharumkan dengan wewangian yang dibakar tiga kali, kemudian diuraikan sebagian di atas sebagian yang lain, kemudian diberikan pengawet, yaitu campuran dari minyak wangi di antara lipatan. Kemudian jenazah diletakkan di atas lipatan kain bertelentang di atas punggungnya, kemudian diberikan sebagian dari pengawet di kapas di antara dua pantatnya. Kemudian diikat sepotong kain di atasnya seperti celana kecil yang menutupi auratnya, dan diberi minyak wangi beserta seluruh badannya.

Kemudian dikembalikan ujung lipatan kain yang atas dari sisi sebelah kiri di atas bagian sebelah kanan. Kemudian dikembalikan ujung sebelah kanan di atas bagian kiri yang di atasnya. Kemudian yang kedua sama seperti itu, kemudian yang ketiga juga sama seperti itu. Dan dijadikan sisa di bagian kepalanya, atau di bagian kepala dan kedua kakinya jika lebih. Kemudian diikat lebar lipatan agar jangan terbuka, dan dibuka di dalam kubur. Perempuan sama seperti laki-laki dalam penjelasan di atas. Anak kecil dikafani satu kain dan boleh tiga kain.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: إنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- كُفِّنَ فِي ثَلاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَّةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلا عِمَامَةٌ. متفق عليه.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikafani dengan tiga lapis kain buatan Yaman berwarna putih dari kapas, tidak termasuk padanya baju dan surban.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Wajib mengkafani jenazah dengan satu kain yang menutupi semua badannya dan disunnahkan dengan tiga kain.

Syahid fi sabilillah dikuburkan pada pakaian yang dia syahid dengannya dan tidak dimandikan. Disunnahkan mengkafannya dengan satu kain atau lebih di atas pakaiannya.

Apabila orang yang berihram meninggal dunia, ia dimandikan dengan air dan bidara atau sabun, tidak didekatkan wangi-wangian, tidak dipakaikan yang berjahit, kepala dan wajahnya tidak ditutup jika ia seorang laki-laki, karena ia dibangkitkan pada hari kiamat sambil bertalbiyah di atas kondisinya, dan tidak diqadha darinya ibadah haji yang tersisa dan ia dikafan dengan mengenakan kain ihram yang ia wafat dengannya.

Apabila janin yang keguguran meninggal, dan kandungannya berusia empat bulan, ia dimandikan, dikafani, dan dishalatkan.

Barang siapa yang uzur (tidak mungkin) memandikannya karena terbakar atau robek dan semisalnya, atau tidak ada air, ia kafani dan dishalatkan atasnya. Sah shalat terhadap sebagian anggota tubuh jenazah seperti tangan, kaki, dan semisalnya, Apabila tidak bisa mendapatkan bagian tubuh yang lain.

Apabila keluar najis dari jenazah setelah dikafani, tidak perlu dimandikan ulang, karena menyulitkan dan memberatkan.

Tata cara menshalatkan jenazah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 1264, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 941

Pembahasan Adab

PEMBAHASAN TENTANG ADAB

ADAB
Adab yaitu : Berkata, berprilaku dan berbudi pekerti yang terpuji.

Islam adalah din yang sempurna, mengatur seluruh sisi kehidupan seseorang, ia menuntun manusia untuk melakukan hal-hal yang berguna, melarangnya dari hal-hal yang berbahaya, menetapkan etika terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, baik pada saat makan dan minum, saat bangun dan tidur, saat bepergian atau menetap bahkan  dalam seluruh keadaan.

Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ  [الحشر: ٧] 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [Al Hasyr/59 : 7]

Diantara adab-adab yang dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah adalah:

ADAB MENGUCAPKAN SALAM

Fadhilah salam.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلاً سأل النبي- صلى الله عليه وسلم-: أيُّ الإسلام خير؟ فقال: «تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ». متفق عليه.

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perbuatan apakah di dalam Islam yang paling baik?”, beliau bersabda:  “Engkau memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal atupun tidak kau kenal”. Muttafaq ’alaih. [1]

عن أبي هريرة  رضي الله عنه قال:قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: ((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟! أفشوا السلام بينكم)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga saling mencintai, maukah aku tunjukkan kepada suatu perbuatan yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai?! “Tebarkanlah salam di antara kalian”. HR. Muslim. [2]

عن عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَيُّهَا النَّاسُ: أَفْشُوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلامٍ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhuberkata:  “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai manusia, sebarkanlah salam dan berilah (kepada orang miskin) makan, dan sambunglah hubungan kekeluargaan, dan shalatlah di saat manusia terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [3]

Cara mengucapkan salam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا [النساء : ٨٦] 

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. [An Nisaa/4: 86] .

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال: جاء رجل إلى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: السَّلامُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلامَ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-: «عَشْرٌ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «عِشْرُونَ»، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «ثَلاثُونَ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Imran bin Hushein Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan “Assalamu’alaikum”, lalu beliau menjawab salam tersebut dan orang itupun duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sepuluh”, kemudian datang orang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi”, maka beliau menjawabnya, kemudian orang itu duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua puluh”, kemudian datang lagi yang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, lalu beliaupun menjawab. kemudian orang itu duduk, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga puluh”. HR. Abu Daud dan Tarmizi.[4]

Fadhilah orang yang memulai mengucapkan salam.

عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوقَ ثَلاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا، وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلامِ». متفق عليه.

Dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih tiga malam, di mana mereka saling bertemu sementara yang ini memalingkan mukanya dan yang ini juga memalingkan mukanya, orang  yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq ’alaih. [5]

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِالله مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلامِ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang pertama mulai mengucapkan salam”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [6]

Orang yang seharusnya terlebih dahulu mengucapkan salam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَالمَارُّ عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثيرِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhudari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Orang yang lebih kecil mengucapkan salam kepada yang lebih tua, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang lebih banyak”. Muttafaq alaih. [7]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثير». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang lebih banyak”. Muttafaq ’alaih.[8]

Mengucapkan salam kepada wanita dan anak-anak.

عن أسماء بنت يزيد رضي الله عنها قالت: مَرَّ عَلَينَا النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا. أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Asma binti Yazid radhiyallah `anha berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melewati kami (kaum wanita) lalu beliau mengucapkan salam kepada kami”. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[9]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُ. متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhubahwa ia melewati anak-anak lalu mengucapkan salam kepada mereka, dan dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut.” Muttafaq ’alaih.[10]

Perempuan boleh mengucapkan salam kepada laki-laki jika tidak khawatir akan tergoda.

عن أم هانئ بنت أبي طالب رضي الله عنها قالت: ذَهَبْتُ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- عَامَ الفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ، فَسَلَّمْتُ عَلَيهِ فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ: «مَرْحَباً بِأُمِّ هَانِئ». متفق عليه.

Dari Ummu Hani binti Abi Thalib radhiyallahu `anha berkata: “Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari penaklukan kota Mekkah, di saat itu beliau tengah mandi dan Fathimah menutupinya dengan kain, lalu aku mengucapkan salam, beliau bersabda: “Siapakah ini?. Aku berkata:  “Ummu Hani’ binti Abu Thalib, beliau bersabda: “Selamat datang Ummu Hani’“. Muttafaq alaih . [11]

Mengucapkan salam saat masuk rumah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ [النور : ٦١] 

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.[An Nuur/24: 61].

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [النور : ٢٧]

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. .[An Nuur/24: 27].

Larangan mengucapkan salam kepada ahli kitab.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تَبْدَؤُوا اليَهُودَ وَلا النَّصَارَى بِالسَّلامِ، فَإذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إلَى أَضْيَقِهِ».أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia untuk mengambil jalan yang sempit”. HR. Muslim[12]

عن أنس رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا سَلَّم عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيكُمْ». متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu anhuberkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah “wa’alaikum”. Muttafaq’alaih[13]

Barangsiapa yang melewati majlis yang berkumpul padanya orang Islam dan orang kafir maka ucapkanlah salam dan niatkan untuk orang Islam.

عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنّ النّبِيّ – صلى الله عليه وسلم – عاد سعد بن عبادة..-وفيه-: حَتّىَ مَرّ بِمَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الأَوْثَانِ، واليَهُودِ،.. فَسَلّمَ عَلَيْهِمُ النّبِيّ – صلى الله عليه وسلم -، ثُمّ وَقَفَ فَنَزَلَ، فَدَعَاهُمْ إلَى الله وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ القُرْآنَ. متفق عليه.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu `anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  (hendak menjenguk Sa’d bin Ubadah), di tengah perjalanan beliau melewati  suatu majelis yang bercampur padanya antara orang Islam, musyrik (penyembah berhala), dan Yahudi, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau berhenti dan turun dari kendaraannya. Lalu mendakwahkan Islam kepada mereka serta membacakan Al-Quran “. Muttafaq ’alaih[14]

Mengucapkan salam saat masuk dan saat keluar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إلَى المَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhuberkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Bila salah seorang kamu tiba di suatu majelis hendaklah ia mengucapkan salam dan bila  hendak berdiri ucapkanlah salam. Sebab ucapkan salam yang pertama tidak lebih berhak dari ucapan salam yang terakhir”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [15]

Larangan menunduk saat bertemu.

عنْ أنسِ بنِ مَالكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قالَ: قالَ رَجُلٌ يا رسُولَ الله الرَّجلُ منَّا يَلقى أخاهُ أو صَديقهُ أينحنِي لَهُ؟ قالَ: «لا» قالَ: أفيلتزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قالَ: «لا» قالَ: فيأخُذُ بيدهِ ويُصافِحه؟ قالَ: «نعمْ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Anas bin Malik Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Wahai rasulullah!, bila seorang muslim bertemu saudaranya atau temannya apakah dia harus menunduk kepadanya? Nabi bersabda: “Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia harus memeluk dan menciumnya?. Beliau bersabda: ” Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia berjabatan tangan? Nabi bersabda: ” Ya”. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [16]

Ξ Fadhilah berjabat tangan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :12 dan  Muslim no hadist: 39.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 54.
[3] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2485 dan  Ibnu Majah no hadist: 1334.
[4] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 5195 dan  Tirmizi no hadist: 2689.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6077 dan  Muslim no hadist: 2560.
[6] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5197 dan  Tirmizi no hadist: 2694.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6231 dan  Muslim no hadist: 2160.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6232 dan  Muslim no hadist: 2160.
[9] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5204 dan  Ibnu Majah no hadist: 4336.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6247 dan  Muslim no hadist: 2168.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6157 dan  Muslim no hadist: 337.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2167.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6258 dan  Muslim no hadist: 2163.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5663 dan  Muslim no hadist: 1798.
[15] Sanad Hadist Jayyid, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5208 dan  Tirmizi no hadist: 2706.
[16] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2728 dan  Ibnu Majah no hadist: 3702.

Fadhilah Berjabat Tangan

ADAB PENGUCAPKAN SALAM

Fadhilah berjabat tangan.

عن البراء رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا مِنْ مُسْلِمَينِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Baraa’ Radhiyallahu anhuberkata: “Rasulullah tbersabda: “Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling berjabat tangan, melainkan dosa keduanya diampunkan sebelum mereka berpisah”. HR. Abu Daud dan Tirmizi.[1]

Kapan dianjurkan berjabat tangan dan merangkul.

عن أنس رضي الله عنه قال: كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا تَلاقَوْا تَصَافَحُوا، وَإذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوا. أخرجه الطبراني في الأوسط.

Dari Anas Radhiyallahu anhuberkata: Bahwa para sahabat Nabi Radhiyallahu anhuapabila bertemu maka mereka saling berjabat tangan, dan bila datang dari perjalanan jauh mereka saling berpelukan”. H.R. Tabrani dalam Al awsath. . [2]

Cara menjawab salam dari orang ketiga.

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال لها: «يَا عَائِشَةُ، هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيكِ السَّلامَ» فَقَالَتْ: وَعَلَيْهِ السَّلامُ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، تَرَى مَا لا أَرَى.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha berkata: Rasulullah Radhiyallahu anhubersabda kepadaku: “Ini Jibril alaihi salam mengucapkan salam untukmu”, aku menjawab: “Wa’alaihisalam warahmatullahi wabarakatuh, engkau dapat melihat sesuatu yang tak kulihat”. Muttafaq ’alaih [3]

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إِنَّ أَبِى يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ  فقال: ((عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيكَ السَّلَامُ)) أخرجه أحمد وأبو داود.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bapakku berkirim salam untukmu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Alaika wa ala abikassalam“. H.R Ahmad dan Abu Daud.[4]

Anjuran berdiri untuk menghormati orang yang datang atau membantunya

عن أبي سعيد أن أهل قريظة نزلوا على حكم سعد بن معاذ فأرسل النبي صلى الله عليه وسلم إليه فجاء فقال: ((قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ قَالَ خَيرِكُمْ)) متفق عليه

Dari Abu Sa’id bahwa Bani Quraizah pasrah terhadap hukum yang akan dijatuhkan oleh Sa’ad bin Mu’az. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus orang untuk menjemputnya, tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang beliau bersabda: “Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian, atau orang yang terbaik diantara kalian“. muttafaq alaih .[5]

Dalam riwayat yang lain:

وفي لفظ: ((قُوْمُوْا إِلَيَّ سَيِّدِكُمْ فَأَنْزَلُوهُ)) أخرجه أحمد

“Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian dan berilah dia tempat duduk “. H.R . Ahmad. [6]

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا رَأَيْتُ أَحَداً كَانَ أَشْبَهَ سَمْتاً وَهَدْياً وَدَلاًّ بِرَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- مِنْ فَاطِمَة كَرَّمَ الله وَجْهَهَا، كَانَتْ إذَا دَخَلَتْ عَلَيهِ قَامَ إلَيْهَا، فَأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَبَّلَهَا، وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ، وَكَانَ إذَا دَخَلَ عَلَيهَا قَامَتْ إلَيهِ، فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ، فَقَبَّلَتْهُ، وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu `anha berkata: ” Aku tidak melihat orang yang paling mirip dengan Rrasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi akhlak dan prilakunya selain Fatimah radhiyallahu `anha. Apabila Fatimah masuk ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabipun berdiri lalu memegang tangan Fatimah dan menciumnya serta memberinya tempat duduk pada tempat beliau duduk. Dan apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Fatimah maka Fatimah berdiri lalu memegang tangan Nabi dan menciumnya serta memberinya tempat duduk di tempat dia duduk. H.R Abu Daud dan Tirmizi.[7]

Makruh berdiri untuk menghormati orang tertentu.

عن معاوية رضي الله عنه قال سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَاماً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Mu’awiyah Radhiyallahu anhuberkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa yang merasa senang orang –orang berdiri untuk menghormatinya maka sediakanlah tempat untuknya di neraka”. H.R Abu Daud dan Tirmizi.[8]

Mengucapkan salam tiga kali jika salam tidak terdengar oleh orang.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم-: أَنَّهُ كَانَ إذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاثاً حَتَّى تُفْهَمَ، وَإذَا أَتَى عَلَى قَومٍ فَسَلَّمَ عَلَيهِمْ، سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلاثاً. أخرجه البخاري.

Dari Anas Radhiyallahu anhubahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengucapkan suatu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga ucapan tersebut dipahami, dan apabila mendatangi suatu kaum maka beliau memulai mengucapkan salam kepada mereka, beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali” HR. Bukhari .[9]

Mengucapkan salam untuk jama’ah.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم-:  قال: ((يُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ, وَيُجْزِئُ عَنْ الجلوس أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ)) أخرجه أبو داود

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencukupi bagi sebuah rombongan saat melewati (suatu kaum yang sedang duduk) salah seorang dari mereka mengucapkan salam (untuk kaum tersebut) dan mencukupi bagi jamaah yang sedang duduk itu bahwa salah seorang dari mereka menjawab salam tersebut”“. H.R. Abu Daud. [10]

Larangan menjawab salam saat buang hajat.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّم، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيهِ. أخرجه مسلم

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma seorang laki-laki lewat saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, lalu orang tersebut mengucapkan salam kepada Nabi. namun beliau tidak menjawabnya. H.R. Muslim . [11]

عن المهاجر بن قنفذ رضي الله عنه أنه أتى النبيَّ- صلى الله عليه وسلم- وهو يَبُولُ فَسَلَّم عليه فَلَمْ يَرُدَّ عَليهِ حتَّى تَوَضَّأَ ثمَّ اعْتَذَرَ إليهِ فقال: «إنِّي كَرِهْتُ أَنْ أذكُرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إلَّا عَلَى طُهْرٍ». أخرجه أبو داود والنسائي.

Dari Muhajir bin Qunfuz Radhiyallahu anhubahwa dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kencing, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi. Namun beliau tidak menjawabnya sehingga berwudhu kemudian meminta maaf seraya bersabda “Aku tidak suka menyebut Asma Allah kecuali dalam keadaan suci”. H.R. Abu Daud dan Nasa’I .[12]

Dianjurkan menggembirakan orang yang datang dan menanyakan identitasnya agar dihormati sesuai dengan keadaannya.

عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ: إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم-فقال: ((نْ الْوَفْدُ؟  أَوْ مَنْ الْقَوْمُ ؟)) قالوا: رَبِيعَةُ، فقال: ((مَرْحَبًا بِالقَوْمِ، أَوْ بِالوَفْدِ، غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى)) متفق عليه.

Dari Abi Jamrah berkata : aku menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. Dia bertanya: Utusan datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi bersabda: “Siapakah utusan tersebut? atau siapakah kaum yang dating ini?. Para shahabat menjawab: “Rabi’ah”. Nabi bersabda:  “Selamat datang wahai kaum! Selamat datang wahai para utusan!, anda tidak akan terhina dan tidak akan menyesal”. Muttafaq alaih . [13]

Makruh mengucapkan salam dengan kalimat: Alaikassalam.

عن جابر بن سليم رضي الله عنه قال:  أَتَيْتُ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم فقلت: عَلَيْكَ السَّلَامُ  ، فقال: (( لَا تَقُلْ: عَلَيْكَ السَّلَامُ،، وَلَكِنْ قُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ)) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Jabir bin Sulaim Radhiyallahu anhuberkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan: “Alaikassalam”. Maka beliau bersabda: “Janganlah mengucapkan Alaikassalam, akan tetapi ucapkanlah:  “Assalamualaik“. H.R. Abu Daud dan Tirmizi . [14]

وفي لفظ: ((فَإِنّ عَلَيْكَ السّلَامُ تَحِيّةُ الْمَوْتَى)) أخرجه أبو داود.

Dalam riwayat yang lain: “Karena uacapan alaikassalam adalah ucapan salam untuk orang yang telah wafat. H.R. Abu Daud.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5212 dan  Tirmizi no hadist: 2727.
[2] Sanad Hadist Jayyid, diriwayatkan oleh Tabrani dalam Al awsath no hadist :97.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3217 dan  Muslim no hadist: 2447.
[4] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 23492 dan  Abu Daud  no hadist: 5231.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6262 dan  Muslim no hadist: 1768.
[6] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 25610.
[7] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5217 dan  Tirmizi no hadist: 3872.
[8] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5229 dan  Tirmizi no hadist: 2755.
[9] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :95.
[10] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5210.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist :370.
[12] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 17 dan Nasa’i no hadist :38.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 87 dan Muslim no hadist :17.
[14] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 5209 dan Tirmizi no hadist :2722.