Author Archives: editor

Meminta Izin Dalam Menikahkan Seorang Wanita

Bab I
HAK-HAK ANAK PEREMPUAN ATAS AYAHNYA

Pasal 16
Meminta Izin Dalam Menikahkan Seorang Gadis
Imam al-Bukhari rahimahullah telah membuat bab tersendiri dalam kitab Shahiihnya: “Bab Laa Yunkihu al-Abu wa Ghairuhu al-Bikr wats Tsayyib illaa bi Ridhaahaa (Bab Seorang Bapak dan lainnya Tidak Boleh Menikahkan Anak-Anak Gadisnya atau Anaknya yang Janda kecuali dengan Keridhaannya).”

Imam al-Bukhari berkata: Mu’adz bin Fadhalah memberitahu kami, ia berkata: Hisyam memberitahu kami, dari Yahya dari Abu Salamah bahwa Abu Hurairah pernah menyampaikan hadits ke-pada mereka bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ.

Tidaklah seorang janda dinikahkan sehingga diminta pertimbangannya dan tidak pula seorang gadis dinikahkan sehingga diminta izinnya.”

Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana pengizinan seorang gadis itu?” Beliau menjawab, “Yaitu, dia diam.”

“Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangan?” “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Ya, dimintai pertimbangannya.” Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada beliau, ‘Dia malu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلثَّـيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِـنْ وَلِـيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْـتَأْمَرُ وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا.

Seorang janda lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya. Sedangkan seorang gadis dimintai izin dan pengizinannya ada-lah sikap diamnya.” [HR. Muslim].

Dari ‘Aisyah Radhiyallah anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Mintalah izin kepada wanita dalam pernikahannya.” Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya seorang gadis akan merasa malu dan diam.” Beliau bersabda, “Itulah izinnya.” [HR. An-Nasa-i dengan sanad yang shahih].

Pasal 17
Tertolaknya Pernikahan bagi Wanita yang Tidak Berkenan
Imam al-Bukhari rahimahullah telah membuat bab tersendiri: “Bab Idzaa Zawwaja Ibnatahu wahiya Kaarihah fanikaahuhaa Marduud (Bab Jika Seorang Bapak Menikahkan Anaknya, Lalu Menolak, Maka Nikahnya Batal).”

Imam al-Bukhari berkata, Isma’il memberitahu kami, dia ber-kata, Malik memberitahuku, dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim dari ayahnya dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’, dua putera Yazid bin Jariyah, dari Khansa’ binti Khidam al-Anshariyah bahwa ayahnya pernah menikahkannya sementara dia adalah seorang janda, lalu dia tidak menyukai hal itu, kemudian dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun membatalkan nikahnya.

“Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, dia berkata, “Pernah datang seorang remaja puteri kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Sesungguhnya ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk meninggikan derajatnya.’” Lebih lanjut, dia berkata, “Maka Nabi menyerahkan masalah tersebut kepada wanita itu, maka wanita itu pun berkata, ‘Aku tidak keberatan atas tindakan ayahku, tetapi aku ingin agar kaum wanita mengetahui bahwa para orang tua tidak memiliki hak apa-apa dalam masalah ini.’” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang shahih].

Pasal 18
Menikahkan Anak Perempuan Yatim
Imam al-Bukhari rahimahullaht berkata sebagaimana disebutkan di da-lam kitab Fat-hul Baari (IX/197),

Abu al-Yaman memberitahu kami, ia berkata, Syu’aib memberitahu kami dari az-Zuhri, dan al-Laits juga berkata, ‘Uqail memberitahuku, dari Ibnu Syihab, ia berkata, ‘Urwah bin az-Zubair memberitahu kami bahwasanya dia pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha, dia bertanya kepadanya, “Wahai bibiku, apa maksud ayat:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.’”  [An-Nisaa/4: 3]

‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata, “Wahai keponakanku, anak yatim ini berada di dalam tanggungan walinya, lalu walinya itu mengingin-kan kecantikan dan hartanya. Dia juga ingin mengurangi maharnya. Sehingga para wali dilarang untuk menikahi mereka, kecuali jika para wali bisa berlaku adil terhadap mereka dalam menyempurnakan mahar. Dan mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita lainnya.”

Pasal 19
Wanita Yatim Tidak Boleh Dinikahkan,  Kecuali Setelah Mendapatkan Perizinannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُسْتَأْمَرُ الْيَتِيمَةُ فِي نَفْسِهَا، فَإِنْ سَكَتَتْ فَهُوَ إِذْنُهَا وَإِنْ أَبَتْ فَلاَ جَوَازَ عَلَيْهَا.

Wanita yatim itu dimintai izin mengenai pernikahan dirinya, jika dia diam, maka itulah perizinannya. Dan jika dia menolak, maka tidak diperbolehkan untuk menikahkannya.” [HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih].

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “‘Utsman bin Mazh’un wafat dan meninggalkan seorang puteri, hasil pernika-hannya dengan Khuwailah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin al-Auqash.” ‘Abdullah berkata, “Dan dia berpesan kepada saudara laki-lakinya, Qudamah bin Mazh’un (untuk merawat anaknya) -‘Abdullah mengatakan, ‘Keduanya adalah pamanku (dari pihak ibu)-.” Dia (‘Abdullah bin ‘Umar) mengatakan, “Maka aku datang kepada Qudamah bin Mazh’un untuk melamar puteri ‘Utsman bin Mazh’un. Dan dia pun menikahkan diriku dengannya. Kemudian Mughirah bin Syu’bah datang kepada ibunya (isteri ‘Utsman) dan mengiminginya dengan harta sehingga dia (Khuwailah) pun cenderung padanya dan anak gadis itu pun cenderung pada nafsu ibunya. Kemudian keduanya menolak pernikahan sehingga masalah tersebut disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Kemudian Qudamah bin Mazh’un mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, puteri saudaraku telah dititipkan kepadaku oleh ayahnya, lalu aku menikahkannya dengan anak pamannya, ‘Abdullah bin ‘Umar, dan aku tidak menilai kurang dalam hal kebaikan dan kekufu’an padanya, tetapi dia adalah seorang wanita yang cenderung mengikuti nafsu ibunya.”

Lebih lanjut, ‘Abdullah berkata, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dia adalah anak yatim dan dia tidak boleh dinikahkan, kecuali dengan seizinnya.’ Dia berkata, ‘Maka dia pun lepas dariku setelah aku berkuasa atasnya, sehingga mereka pun menikahkannya dengan Mughirah bin Syu’bah.’” [HR. Ahmad dengan sanad yang hasan].

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

Nasihat dan Kunjungan Orang Tua Kepada Puterinya

Bab I
HAK-HAK ANAK PEREMPUAN ATAS AYAHNYA

Pasal 20
Nasihat Orang Tua Kepada Puterinya Setelah Pernikahan
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan satu hadits (no. 6179), beliau berkata, Qutaibah bin Sa’id memberitahu kami, ia berkata, ‘Abdul ‘Aziz -yakni, Ibnu Abi Hazim- memberitahu kami, dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Pernah seseorang dari keluarga Marwan diangkat untuk memimpin Madinah, lalu dia me-manggil Sahal bin Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencela ‘Ali.”

Dia berkata, “Maka Sahal menolak melakukannya. Lalu dia pun berkata kepadanya, ‘Kalau kamu menolak, maka katakanlah, ‘Semoga Allah melaknat Abu Turab.’

Maka Sahal berkata, ‘‘Ali tidak memiliki nama yang lebih di sukainya dari Abu Turab dan dia sangat senang jika dipanggil dengan nama itu.’ Lalu dia berkata kepadanya, ‘Beritahukan kepada kami mengenai kisahnya, mengapa dia diberi nama Abu Turab?’

Dia menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi Rumah Fathimah, tetapi beliau tidak mendapati ‘Ali di rumah itu, maka beliau bertanya, ‘Di mana sepupumu?’

Dia menjawab, ‘Antara dirinya dan diriku telah terjadi sesuatu sehingga dia marah kepadaku. Kemudian dia keluar dan tidak ada berita tentangnya.’

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang, ‘Cari, di mana dia berada.’ Lalu dia datang kembali seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, dia tengah tidur di masjid.’

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendatanginya yang dalam keadaan berbaring dengan rida’ (selendang) beliau jatuh dari sebelah kirinya sehingga mengenai tanah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkannya seraya berkata, ‘Bangunlah, wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab.’”

Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ketika Nabi-yullah (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasingkan diri dari isteri-isterinya. ‘Umar melanjutkan, ‘Aku masuk masjid, ternyata orang-orang tengah melempar-lemparkan kerikil seraya berucap, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menalak isteri-isterinya.’ Hal tersebut terjadi sebelum mereka diperintahkan untuk memakai hijab.”

‘Umar berkata, “Lalu kukatakan, ‘Aku akan umumkan hal tersebut pada hari ini.’ ‘Umar melanjutkan, ‘Lalu aku masuk menemui ‘Aisyah dan kukatakan, ‘Wahai puteri Abu Bakar, apakah engkau sudah mendengar bahwa engkau telah menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’’ ‘Aisyah berkata, ‘Apa urusanmu, wahai putera al-Khaththab? Engkau urus sendiri masalah anakmu (Hafshah).”

‘Umar lalu berkata, ‘Lalu aku datang menemui Hafshah dan kukatakan kepadanya, ‘Wahai Hafshah, apakah engkau sudah mendengar bahwa engkau telah menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sesungguhnya aku telah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukaimu dan kalau bukan karena aku, niscaya beliau telah menceraikanmu.’ Maka Hafshah pun menangis keras.” [HR. Muslim].

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya dia berkata, kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian perjalanan beliau, sehingga ketika kami sampai di daerah Baida’ atau Dzatul Jaisy, kalungku putus, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti untuk mencarinya. Dan orang-orang pun ikut berhenti bersama beliau sedang mereka tidak berada di tempat yang ada airnya dan mereka pun tidak memiliki air. Kemudian orang-orang mendatangi Abu Bakar seraya berkata, ‘Tidakkah engkau mengetahui apa yang telah dilakukan oleh ‘Aisyah? Menghentikan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara orang-orang yang bersamanya tidak berada di tempat yang berair dan tidak membawa air.’”

‘Aisyah berkata, “Kemudian Abu Bakar datang sementara Ra-sulullah meletakkan kepalanya di atas pahaku yang telah tidur. Maka Abu Bakar berkata, ‘Engkau telah menahan Rasulullah sementara orang-orang yang bersamanya tidak berada di tempat yang ada airnya dan mereka pun tidak memiliki air.’” ‘Aisyah kembali ber-kata, “Lalu Abu Bakar menghardikku seraya melontarkan kata-kata sekehendaknya, sambil menusukkan tangannya ke lambungku sehingga tidaklah menghalangiku untuk bergerak, kecuali tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di pahaku. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur sampai pagi tanpa air, sehingga Allah menurunkan ayat tentang tayammum, maka mereka pun bertayammum. Lalu Usaid bin al-Hudhair -yang merupakan salah satu pimpinan- mengatakan, ‘Ini bukanlah berkah pertama kali yang ada pada kalian, wahai keluarga Abu Bakar.’”

‘Aisyah berkata, “Lalu kami dikirimkan unta yang aku naiki sehingga kami menemukan kalung itu di bawahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits tersebut terkandung makna pembinaan yang diberikan orang tua kepada anaknya melalui ucapan dan perbuatan serta pukulan dan lain sebagainya. Selain itu, di dalamnya juga terkandung bimbingan orang tua kepada anak perempuannya, meskipun dia sudah besar dan sudah menikah serta pisah dari rumah orang tuanya.”[1]

Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Abu Bakar pernah datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin, lalu dia mendengar ‘Aisyah mengangkat suaranya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberikan izin kepadanya. Selanjutnya, Abu Bakar masuk dan berkata, ‘Wahai puteri Ummu Ruman -seraya memegangnya- apakah pantas engkau meninggikan suaramu terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penengah antara Abu Bakar dan ‘Aisyah. Dia berkata, ‘Ketika Abu Bakar keluar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -membujuk agar ‘Aisyah ridha -kepadanya,- ‘Tidakkah engkau melihat bahwa aku telah menjadi penghalang antara seorang laki-laki denganmu,’ -yakni, Abu Bakar ash-Shiddiq dan puterinya-.”

Lebih lanjut, dia berkata, “Kemudian Abu Bakar datang lagi dan meminta izin kepada beliau, ternyata dia mendapatkan Rasu-lullah sedang mencandai ‘Aisyah. Maka beliau pun memberi izin kepadanya. Lalu Abu Bakar masuk seraya berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, libatkanlah aku di dalam kedamaian kalian, sebagaimana kalian telah melibatkan diriku di dalam konflik kalian.’” [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih].

Pasal 21
Kunjungan Orang Tua Kepada Puterinya
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, bahwasanya ia berkata:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلاًّ بِرَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فَاطِمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – كَانَتْ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَـبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ، وَكَانَ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَـيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَـبَّلَتْهُ وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا.

Aku tidak pernah melihat seorang pun yang hampir menyerupai sikap, perangai, dan petunjuk dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi Fathimah Radhiyallahu anha. Dimana jika dia masuk menemui beliau, maka beliau yang bangkit menjem-putnya, lalu meng-gandeng tangannya seraya menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Dan jika beliau masuk ke tempatnya, maka dia langsung berdiri menjemputnya, lalu dia menggan-deng beliau seraya mencium beliau dan mendudukkan beliau di tempat duduknya.” [HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih].

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]
______
Footnote
[1] Syarh Muslim, karya an-Nawawi (IV/59).

Aku Seorang Muslim

AKU SEORANG MUSLIM

Aku seorang muslim, artinya agamaku adalah Islam. Islam adalah sebuah kata agung nan suci yang diwariskan secara turun-temurun oleh para nabi -‘alaihimussalām-, mulai dari nabi paling pertama hingga nabi terakhir. Kata ini mengandung makna-makna yang luhur dan nilai-nilai yang agung. Islam berarti: tunduk, patuh, dan taat kepada Sang Pencipta. Juga memiliki arti : kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, keamanan, dan ketenangan bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, kata Salām dan Islām termasuk kata yang paling banyak disebutkan dalam syariat Islam. As-Salām adalah salah satu nama Allah. Kalimat penghormatan di antara umat Islam disebut salam. Demikian juga kalimat penghormatan penduduk surga ialah salām. Muslim sejati ialah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Islam merupakan agama kebaikan bagi seluruh manusia. Islam sudah cukup untuk agama mereka dan merupakan jalan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, ia datang sebagai agama penutup yang komprehensif, lapang, jelas, dan terbuka untuk setiap orang; tidak membedakan satu ras dari ras lainnya, maupun satu warna kulit atas kulit lainnya. Islam memandang manusia dengan pandangan yang sama. Siapa pun tidak akan istimewa di dalam Islam kecuali sesuai kadar ketaatannya dalam menjalankan ajarannya. Oleh karena itu, ia disambut oleh semua jiwa yang lurus karena sesuai dengan fitrah. Semua manusia dilahirkan di atas fitrah kebaikan, keadilan, dan kebebasan, serta cinta kepada Tuhannya dan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sembahan yang berhak diibadahi, tidak ada selain-Nya. Tidak ada yang melenceng dari fitrah itu kecuali disebabkan oleh sesuatu yang memalingkan dan mengubahnya. Agama ini telah diridai bagi manusia oleh Sang Maha Pencipta, Tuhan, dan Sembahan manusia.

Agamaku, Islam, mengajariku bahwa aku akan hidup sementara di dunia ini. Setelah kematian, aku akan berpindah ke negeri lain, yaitu negeri abadi tempat kembali manusia, antara ke surga atau ke neraka.

Agamaku, Islam, memerintahkanku dengan perintah-perintah dan melarangku dari larangan-larangan. Bila perintah-perintah itu aku laksanakan serta larangan-larangan tersebut aku jauhi, aku akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun bila aku melalaikannya, maka akan terjadi kesengsaraan di dunia dan akhirat sesuai dengan tingkat kelalaianku. Perkara paling besar yang diperintahkan Islam kepadaku ialah mentauhidkan Allah. Maka aku bersaksi dan meyakini dengan bulat bahwa Allah adalah penciptaku dan sembahanku. Aku tidak menyembah kecuali kepada Allah atas dasar cinta kepada-Nya, takut terhadap siksa-Nya, berharap pada pahala-Nya, dan berserah diri kepada-Nya. Tauhid tersebut tampak pada pengakuan keesaan bagi Allah dan pengakuan kerasulan bagi Nabi-Nya, Muhammad ﷺ. Muhammad adalah penutup para nabi; Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta dan penutup kenabian dan kerasulan, tidak ada nabi lagi setelahnya. Dia membawa agama yang universal serta relevan untuk semua zaman, tempat, dan masyarakat.

Agamaku memerintahkanku dengan perintah yang tegas untuk beriman kepada para malaikat dan seluruh rasul, utamanya Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad –‘alaihimussalām-.

Juga memerintahkanku untuk beriman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada para rasul dan untuk mengikuti kitab yang terakhir dan paling agung, yaitu Al-Qur`ān Al-Karīm.

Agamaku memerintahkanku untuk mengimani hari Kiamat; di sana manusia diberikan ganjaran atas amal perbuatannya. Ia juga memerintahkanku untuk mengimani takdir, bersikap rida dengan kebaikan maupun keburukan yang ditetapkan bagiku dalam kehidupan ini, dan berusaha melakukan sebab-sebab keselamatan. Iman kepada takdir memberiku kenyamanan, ketenangan, kesabaran, dan tidak bersedih atas apa yang tidak aku dapatkan. Karena aku mengetahui secara yakin bahwa apa yang telah ditetapkan  akan menimpaku pasti tidak akan melesat dariku, dan apa yang telah ditetapkan akan melesat dariku, maka pasti ia tidak akan menimpaku. Segala sesuatu telah ditetapkan dan ditulis dari sisi Allah, sedangkan aku hanya diwajibkan melakukan ikhtiar, lalu bersikap rida dengan apa yang terjadi setelah itu.

Islam memerintahkanku untuk melakukan apa yang akan menyucikan jiwaku berupa amal saleh dan akhlak-akhlak agung yang akan mendatangkan rida Tuhanku, menyucikan jiwaku, membahagiakan hatiku, melapangkan dadaku, menyinari jalanku, dan menjadikanku sebagai individu yang berguna di tengah masyarakat.

Di antara amalan yang paling agung tersebut ialah mentauhidkan Allah, menegakkan salat lima waktu dalam sehari semalam, menunaikan zakat harta, berpuasa satu bulan dalam setahun, yaitu bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitulharam di Makkah bagi siapa yang mampu berhaji.

Di antara amalan paling agung yang diajarkan oleh agamaku serta berfungsi memberikan ketenteraman hati ialah membaca Al-Qur`ān yang merupakan firman Allah, ucapan paling jujur, ucapan paling indah, dan paling agung, yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu hingga yang terakhir. Membaca atau mendengarkannya akan mendatangkan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan dalam hati, sekalipun yang membacanya atau yang mendengarkannya tidak bisa berbahasa Arab ataupun non muslim. Termasuk tindakan paling besar yang dapat menenteramkan hati ialah banyak berdoa dan memohon kepada Allah serta meminta kepada-Nya semua hal yang kecil dan yang besar. Allah akan mengabulkan siapa yang berdoa kepada-Nya dan yang memurnikan ibadah untuk-Nya.

Termasuk perkara paling besar yang dapat menenteramkan hati ialah banyak berzikir kepada Allah ﷻ.

Nabiku ﷺ telah membimbingku cara berzikir kepada Allah dan mengajariku zikir yang paling utama. Di antaranya ialah empat kalimat yang merupakan ucapan paling utama setelah Al-Qur`ān, yaitu: subḥānallāh walḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar.

Demikian juga : astagfirullāh wa lā ḥaula walā quwwata illā billāh.

Kalimat-kalimat ini memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam kenyamanan dada serta turunnya ketenangan dalam hati.

Islam memerintahkanku untuk menjadi orang yang mulia, jauh dari tindakan yang akan menurunkan nilai kemanusiaan dan kemuliaanku, dan agar aku menggunakan akal dan anggota badanku pada tujuan penciptaanku berupa perbuatan yang bermanfaat dalam agama dan duniaku.

Islam memerintahkanku untuk berkasih sayang, berakhlak yang baik, bermuamalah yang bagus serta berbuat baik kepada makhluk dengan perkataan dan perbuatan sesuai kemampuanku.

Urusan terbesar yang diperintahkan kepadaku terkait hak makhluk ialah hak kedua orang tua. Agamaku memerintahkanku untuk berbakti pada keduanya, menginginkan kebaikan untuk keduanya, bersungguh-sungguh mewujudkan kebahagiaan mereka berdua dan memberikan manfaat bagi keduanya, terutama ketika mereka tua. Oleh karena itu, Anda melihat ayah dan ibu dalam masyarakat Islam mendapat kedudukan yang tinggi berupa penghargaan, penghormatan, dan pelayanan di mata anak-anak mereka. Ketika umur kedua orang tua semakin senja atau keduanya ditimpa sakit atau lemah, bakti anak-anak mereka akan semakin bertambah. Agamaku mengajariku bahwa perempuan memiliki kemuliaan yang tinggi dan hak-hak yang besar. Perempuan dalam agama Islam adalah belahan laki-laki, dan manusia terbaik adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Di masa kecilnya, perempuan muslimah memiliki hak penyusuan, perawatan, dan pendidikan yang baik. Dia pada masa itu adalah penyejuk mata dan buah hati bagi kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika beranjak dewasa dia dimuliakan, menjadi objek kecemburuan walinya serta dilindunginya dengan perawatannya; Walinya itu tidak akan rida bila dia dijamah tangan jahat, disakiti oleh lisan tajam, maupun dipandangi oleh mata khianat. Ketika dia menikah, pernikahannya dilangsungkan dengan kalimat Allah dan perjanjian yang berat. Di rumah suami, dia mendapatkan pergaulan yang paling mulia, dan suaminya berkewajiban untuk memuliakannya, berbuat baik kepadanya, dan tidak menyakitinya.

Ketika menjadi ibu, kewajiban berbakti kepadanya digandengkan dengan hak Allah –Ta’ālā-, sedangkan larangan mendurhakai dan berbuat buruk kepadanya digandengkan dengan kesyirikan kepada Allah dan kerusakan di bumi.

Ketika menjadi saudari, maka seorang muslim diperintahkan untuk bersilaturahmi kepadanya, memuliakannya, serta bersikap cemburu untuknya. Ketika menjadi bibi (saudari ibu), kedudukannya disamakan dengan kedudukan ibu dalam hal berbakti dan bersilaturahmi.

Ketika menjadi nenek atau jompo, kedudukannya di hadapan anak-anak dan cucunya serta seluruh kerabatnya semakin tinggi ; permintaannya hampir tidak pernah ditolak dan pendapatnya tidak pernah diremehkan.

Ketika menjadi wanita jauh, bukan kerabat ataupun tetangga, maka dia memiliki hak Islam yang umum seperti tidak boleh disakiti, menundukkan pandangan padanya, dan semisalnya.

Masyarakat Islam senantiasa memperhatikan hak-hak tersebut dengan sebenar-benarnya. Hal ini memberikan nilai dan pengakuan kepada wanita yang tidak ditemukan dalam masyarakat non muslim.

Di samping itu, perempuan di dalam Islam punya hak memiliki, menyewa, jual beli, dan berbagai transaksi lainnya serta memiliki hak belajar, mengajar, dan bekerja pada bidang yang tidak menyelisihi agamanya. Bahkan, sebagian ilmu ada yang hukumnya fardu ain, orang yang meninggalkannya akan berdosa, baik laki-laki ataupun perempuan.

Bahkan, wanita mendapatkan semua yang didapatkan oleh laki-laki, kecuali apa yang menjadi kekhususannya tanpa laki-laki, atau yang menjadi kekhususan laki-laki tanpa perempuan, berupa hak dan hukum-hukum yang sesuai untuk masing-masing dari keduanya, sebagaimana yang dirincikan pada tempatnya.

Agamaku memerintahkanku untuk mencintai saudaraku yang laki-laki dan perempuan, paman-pamanku dari pihak ayah dan ibu, bibi-bibiku dari pihak ayah dan ibu, dan semua kerabatku. Agamaku juga memerintahkanku untuk menunaikan hak istri, anak, dan tetangga-tetanggaku.

Agamaku memerintahkanku untuk mencari ilmu ilmu serta mendorongku untuk melakukan semua hal yang dapat meningkatkan akal, akhlak, dan pemikiranku.

Agamaku memerintahkanku untuk sifat malu, santun, dermawan, berani, bijaksana, tenang, sabar, amanah, tawaduk, menjaga diri, bersih, memenuhi janji, mencintai kebaikan untuk manusia, bekerja untuk mendapatkan rezeki, iba kepada orang miskin, menjenguk orang sakit, menunaikan janji, bertutur kata baik, riang ketika bertemu orang, dan berusaha memberikan mereka kebahagiaan sesuai kemampuan.

Sebaliknya, agamaku memperingatkanku dari kebodohan, melarangku dari kekufuran, kesesatan, kemaksiatan, kekejian, perzinaan, penyimpangan, kesombongan, hasad, dengki, buruk sangka, pesimis, sedih, dusta, putus asa, pelit, malas, pengecut, pengangguran, marah, sembrono, bodoh, berbuat buruk kepada manusia, banyak bicara tanpa bermanfaat, menyebarkan rahasia, khianat, ingkar janji, durhaka pada orang tua, pemutusan silaturahmi, penelantaran anak-anak, dan dari menyakiti tetangga dan manusia secara umum.

Islam juga melarangku meminum minuman keras, mengonsumsi narkoba, berjudi, mencuri, menipu, curang, menakut-nakuti orang lain, serta memata-matai dan mencari-cari cacat dan aib manusia.

Agamaku, Islam, menjaga harta. Hal ini menjamin penyebaran kesejahteraan dan keamanan. Oleh karena itu, Islam mendorong sifat amanah dan memuji pelakunya, menjanjikan kehidupan baik bagi mereka serta masuk surga kelak di akhirat. Islam juga mengharamkan pencurian dan mengancam pelakunya dengan hukuman di dunia dan akhirat.

Agamaku juga menjaga jiwa. Oleh karena itu, Islam mengharamkan membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan, mengharamkan semua jenis kezaliman terhadap orang lain, walaupun berbentuk ucapan.

Bahkan, Islam mengharamkan seseorang menzalimi dirinya sendiri. Islam tidak membolehkannya merusak akalnya, menghancurkan kesehatannya, ataupun membunuh dirinya.

Agamaku, Islam, menjamin kebebasan dan mengaturnya. Manusia di dalam Islam bebas untuk berpikir, berjual beli, berbisnis, dan berpindah-pindah. Ia bebas untuk menikmati berbagai kenikmatan; seperti makanan, minuman, pakaian, ataupun yang didengar selama tidak melakukan hal haram yang akan mendatangkan keburukan bagi dirinya atau bagi orang lain.

Agamaku mengatur kebebasan. Ia tidak memperkenankan seseorang menzalimi yang lain. Seseorang tidak boleh mencicipi kenikmatan yang haram yang akan menghancurkan hartanya, kebahagiaannya, dan nilai kemanusiaannya.

Bila Anda melihat orang-orang yang membiarkan dirinya dalam kebebasan tanpa batas dalam segala hal dan memenuhi semua syahwat yang diinginkannya tanpa diikat dengan batasan agama atau akal, maka Anda melihat mereka hidup dalam kesengsaraan dan kesempitan yang paling rendah, bahkan Anda akan melihat sebagian mereka lebih suka bunuh diri untuk melepaskan diri dari kegundahan hidupnya.

Agamaku mengajariku adab yang paling tinggi terkait makan minum, tidur, dan berbicara kepada manusia.

Agamaku mengajariku bersikap ramah dalam jual beli dan menuntut hak. Juga mengajariku bersikap toleran terhadap orang-orang yang berbeda dalam agama. Aku tidak boleh menzalimi maupun berbuat buruk kepada mereka, bahkan aku harus berbuat baik dan mengharapkan kebaikan sampai kepada mereka. Sejarah umat Islam menjadi saksi sikap toleran mereka terhadap orang-orang yang berbeda dengan tingkat toleransi yang belum pernah diketahui umat sebelum mereka. Umat Islam pernah hidup berdampingan dengan berbagai umat dengan aneka latar belakang agama dan masuk di bawah kekuasaan umat Islam. Sikap umat Islam terhadap mereka merupakan sikap paling baik yang dikenal di antara manusia. Secara umum, Islam telah mengajariku berbagai adab yang rinci, interaksi yang baik, dan akhlak-akhlak mulia yang menjernihkan hidupku dan mewujudkan kebahagiaanku. Islam juga melarangku melakukan semua tindakan yang akan memperkeruh hidupku dan yang akan membawa keburukan di tatanan sosial, jiwa, akal, harta, kemuliaan, dan kehormatan. Sebanding dengan tingkat pengaplikasianku terhadap ajaran-ajaran tersebut, seperti itu pula besarnya tingkat kebahagiaanku. Kebahagiaanku akan berkurang selaras dengan tingkat kelalaian dan penelantaranku terhadap sebagian dari ajaran-ajaran itu.

Semua yang tersebut di atas tidak menunjukkan bahwa aku terpelihara dari dosa dan tidak pernah salah maupun lalai. Agamaku melihat sifat dasarku sebagai manusia serta kelemahanku di sebagian keadaan, sehingga aku kadang salah, malas, dan lalai. Oleh karena itu, Islam membukakan untukku pintu taubat, istigfar, dan kembali kepada Allah. Taubat akan menghapus jejak lalaiku dan mengangkat kedudukanku di sisi Tuhanku.

Semua ajaran Islam terkait akidah, akhlak, adab, dan muamalah bersumber dari Al-Qur`ān Al-Karīm dan Sunnah yang suci.

Terakhir, aku katakan dengan sangat yakin: siapa saja yang mencermati hakikat agama Islam secara adil dan objektif, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali ia pasti memeluknya. Tetapi problemnya, agama Islam dicoreng oleh opini-opini dusta atau perbuatan sebagian orang yang menisbahkan diri kepadanya dari kalangan yang tidak menjalankan ajarannya.

Bila seseorang melihat hakikat Islam sebenarnya atau melihat keadaan para penganutnya yang menjalankannya secara benar, maka ia tidak akan ragu untuk menerimanya dan masuk ke dalamnya. Bahkan, akan tampak baginya bahwa Islam mengajak kepada kebahagiaan manusia, mewujudkan kesejahteraan dan keamanan, serta menyebarkan keadilan dan kebaikan. Adapun penyimpangan sebagian orang yang menisbahkan diri kepada Islam –sedikit ataupun banyak-, tidak boleh sama sekali dibebankan kepada agama Islam atau Islam dicela dengan sebab itu. Islam suci dari itu semuanya. Tanggung jawab penyimpangan tersebut kembali kepada individu orang yang menyimpang itu sendiri, karena Islam tidak memerintahkan yang demikian itu, bahkan Islam melarang mereka menyimpang dari ajarannya. Di samping itu, sikap adil menuntut kita untuk melihat keadaan orang-orang yang menjalankan agama ini secara benar, serta yang menerapkan perintah dan hukum-hukumnya terhadap diri mereka dan orang lain; karena hal itu akan membuat hati manusia memuliakan dan menghargai agama ini dan para pemeluknya. Islam tidak menyisakan satupun bimbingan dan adab, yang kecil maupun besar, kecuali ia menganjurkannya. Tidak pula ada suatu kerusakan dan kebobrokan moral kecuali ia memperingatkan darinya dan menutup sarana yang menuju padanya.

Oleh sebab itu, orang-orang yang menjunjung agama Islam serta menegakkan syiar-syiarnya adalah orang-orang yang paling bahagia dan paling tinggi adabnya serta pembinaan dirinya di atas perangai indah dan akhlak-akhlak mulia. Hal ini dapat disaksikan oleh semua orang.

Namun jika hanya melihat keadaan umat Islam yang lalai dalam agamanya dan melenceng dari jalan Islam yang lurus, maka itu bukanlah sikap yang adil, bahkan itu merupakan kezaliman murni.

Terakhir, saya menyampaikan ajakan kepada setiap nonmuslim agar mencoba mengenal Islam dan masuk ke dalamnya.

Orang yang ingin masuk Islam tidak memiliki kewajiban kecuali melafalkan syahadat: Lā ilāha illallāh Muḥammad rasūlullāh. Kemudian dia mempelajari sebagian agama untuk dapat menjalankan apa yang Allah wajibkan kepadanya. Semakin banyak dia belajar dan mengamalkannya, maka semakin bertambah pula kebahagiaannya serta semakin tinggi kedudukannya di sisi Tuhannya.

Disalin dari IslamHouse.com Penulis Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Kembalikanlah Kepada yang Sudah Pasti!

KEMBALIKANLAH KEPADA YANG SUDAH PASTI ![1]

يُرْشِدُ الْقُرْآنُ إِلَى الرُّجُوْعِ إِلَى الأَمْرِ الْمُحَقَّقِ عِنْدَ وُرُوْدِ الشُّبُهَاتِ وَالتَّوَهُّمَاتِ

Al-Qur’an memberikan petunjuk agar kembali kepada perkara-perkara yang sudah diketahui pasti dan sudah terbukti kebenarannya ketika ada syubhat-syubhat atau keragu-raguan datang menghampiri

Syaikh Khalid al-Musaiqih hafizhahullâh mengatakan bahwa kaidah ini sangat bermanfaat dan penting bagi orang-orang yang ingin memahami al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena al-Qur’ân dan hadits-hadits itu terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

  1. Muhkam yaitu ayat atau hadits yang hanya memiliki satu makna, tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan lain.
  2. Mutasyabih yaitu ayat atau hadits yang maknanya belum jelas karena maknanya lebih dari satu.

Orang yang disodori atau mendapati nash yang masih belum jelas maksud dan maknanya, hendaknya tidak bingung dan tidak terkecoh serta tidak menggoyahkan keyakinannya terhadap ayat atau hadits yang muhkam yang hanya memiliki satu makna dan tidak mempunyai kemungkinan-kemungkinan lainnya. Hendaklah dia mengembalikan apa yang belum jelas baginya itu kepada sesuatu yang sudah jelas. Contoh yang mudah yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa [Al-Ikhlas/112:1]

Ayat ini secara gamblang dan jelas menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla itu esa (hanya satu), tidak berbilang. Namun dalam ayat lain disebutkan dengan kata ganti yang seakan memberikan kesan lebih dari satu, misalnya firman Allâh Azza wa Jalla :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [Al-Hijr/15:9] dan firman Allâh Azza wa Jalla yang semisalnya.

Ayat pertama hanya memiliki satu makna yaitu Allâh Azza wa Jalla esa, sementara ayat kedua bisa bermakna tunggal dan bisa juga bermakna lebih dari satu. Apakah kita tetap bingung dengan ayat yang kedua ataukah makna yang kedua dikembalikan ke makna ayat pertama ? Jawabnya kita kembalikan ke makna ayat yang pertama. Inilah metode yang ditempuh oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam.

Yang menjadi dasar kaidah ini adalah keyakinan kaum Muslimin bahwa kalamullah dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang bertentangan. Tentang kalâmullâh, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’ân ? kalau sekiranya al-Qur’ân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisa’/4:82]

Sedangkan tentang sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[an-Najm/53:3-4]

Jadi kesimpulannya, tidak ada pertentangan pada keduanya.[2]

Kaidah di atas terkadang diungkapkan dengan bahasa lain yaitu sesuatu yang masih diragukan tidak bisa menolak (menghilangkan) sesuatu yang sudah diketahui pasti dan sesuatu yang tidak diketahui tidak bisa menandingi sesuatu yang sudah yakini.

Ketika Allâh Azza wa Jalla memberitakan tentang orang yang mendalam ilmunya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa diantara metode mereka dalam menyelesaikan hal-hal yang belum jelas yaitu mereka mengatakan :

اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami [Ali Imran/3:7]

Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman bin Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya itu mengimani ayat-ayat mutasyabihât itu dan mereka mengembalikan pengertiannya kepada yang ayat muhkam sambil mengatakan, ‘Semua ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih itu datangnya dari Rabb kami. Dan semua yang datang dari Rabb, tidak akan ada yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, semua sejalan, sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya dan  saling mendukung.”[3]

Jadi perkara-perkara yang muhkamah menjadi pegangan untuk memahami perkara-perkara yang masih samar dan masih dalam bentuk dugaan-dugaan. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kaum Muslimin agar tidak mencela kaum Muslimin lainnya :

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [an-Nûr/24:12]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin agar mengembalikan hal-hal yang masih bersifat praduga kepada apa yang sudah mereka ketahui pasti yaitu saudara-saudara mereka itu masih memiliki keimanan yang bisa membantu dia menangkal semua keburukan. Hendaklah mereka memegang hal yang sudah pasti ini dan tidak memperdulikan perkataan orang-orang yang menafikan ataupun mencelanya. (Dengan demikian dia akan terhindar dari berburuk sangka kepada sesama Mukmin dan tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita tentang saudaranya sesama Muslim-red.)

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allâh membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allâh.  [Al-Ahzab/33:69]

Kedudukan Nabi Musa Alaihissallam yang terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla mampu menolak semua aib dan kekurangan yang dinisbatkan kepadanya Alaihissallam oleh orang-orang yang ingin mengganggu dan menyakiti beliau Alaihissallam. Karena seseorang yang tidak akan mendapatkan kedudukan terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla sampai dia benar-benar bersih dari kekurangan dan berhias dengan perhiasan kesempurnaan yang sesuai dengan sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh para nabi yang masuk dalam Ulul azmi. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan umat ini agar tidak menempuh jalannya orang-orang yang menyakiti dan mengganggu nabi Musa Alaihissallam padahal beliau Alaihissallam memiliki kedudukan terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla . Jika mereka menempuh jalan itu, berarti mereka telah menyakiti salah seorang rasul termulia dan tertinggi kedudukannya disisi Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. [Yûnus/10:32]

Juga berfirman :

وَيَرَى الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّۙ وَيَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Saba’/34:6]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari al-Qawâ’idul Hisân, kaidah ke-67
[2] Sampai disini penjelesan Syaikh Khalid al-Musaiqih terhadap kaidah ke-67 ini
[3] Tafsir Taisir al-Karimir Rahman

Keutamaan Membaca dan Menghapal Al-Qur’an

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MENGHAPAL AL-QUR`AN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman.

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad selama 23 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca al-Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, kemudian diteruskan dengan tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai petunjuk salafus shalih, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.

Di samping itu, kita juga dianjurkan menghapalnya dan menjaga hapalan tersebut agar jangan terlupakan, karena hal itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan menjaga al-Qur`an dari perubahan dan penyimpangan seperti kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan salah satu bukti terjaganya al-Qur’an adalah tersimpannya di dada para penghapal al-Qur’an dari berbagai penjuru dunia, bangsa arah dan ajam (non arab).

Banyak sekali anjuran dan keutamaan membaca al-Qur’an, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, di antara perintah membaca al-Qur`an adalah: firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتْلُ مَآأُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’an)..[al-Kahfi/18:27].

Dan firman-Nya:

اتْلُ مَآأُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an). [al-‘Ankabut/29 : 45]

Dan firman-Nya:

إِنَّمَآ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَىْءٍ وَأُمِرٍتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ . وَأَنْ أَتْلُوَا الْقُرْءَانَ

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.  Dan supaya aku membacakan al-Qur’an (kepada manusia)”. [an-Naml/27 : 91-92]

Adapun di antara keutamaan membaca al-Qur`an dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

1. Menjadi manusia yang terbaik
“Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya. [HR. Al-Bukhari].

2. Kenikmatan yang tiada bandingnya
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَحَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآناء النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ

‘Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal: (pertama) orang yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala keahlian tentang al-Qur`an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan  seorang yang diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam. [Muttafaqun alaih]

3. al-Qur`an memberi syafaat di hari kiamat
Dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ

Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.

4. Pahala berlipat ganda
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ  فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, لاَأَقُوْلُ ألم حَرْفٌ وَلكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan  dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.

5. Dikumpulkan bersama para malaikat
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” [Muttafaqun ‘alaih]

Inilah sebagian dari anjuran dan keutamaan membaca al-Qur`an, dan yang perlu diingat bahwa pahala membaca al-Qur`an diperoleh bagi siapa pun yang membacanya, walau tidak memahami makna dan tafsirnya. Kendati kalau bisa memahaminya pahalanya tentu lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Sebagian ulama menyebutkan beberapa hikmah keistimewaan membaca al-Qur`an yang pahalanya bisa diperoleh kendati tidak memahamainya, di antaranya adalah:

  1. Sebagai faktor penting untuk menjaga keutuhan dan keaslian al-Qur`an dari perubahan dan campur tangan manusia, seperti yang menimpa kitab-kitab sebelumnya.
  2. Membentuk persatuan kaum muslimin secara bahasa, memperkuat persatuan agama, dan memudahkan sarana komunikasi di antara mereka serta memperkokoh barisan mereka.
  3. Sebagai langkah pertama bagi pembaca al-Qur`an untuk tadabbur, memahami dan mengamalkan al-Qur`an.

Salafus Shalih dan al-Qur’an.
Berdasarkan anjuran-anjuran dan keutamaan-keutamaan di atas, para salaf sangat bersungguh-sungguh  dalam memperbanyak membaca al-Qur`an dan menghapalnya, karena mengharapkan keutamaan dan pahala ini, serta karena cinta terhadap Kitabullah dan mendapatkan kenikmatan dengan membacanya. Imam Abdurrahman al-Auza’i rahimahullah berlata: ‘Ada lima perkara yang selalu dipegang para sahabat nabi dan para tabi’in yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan: Selalu bersama jama’ah kaum muslimin, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an dan jihad fi sabilillah.”

Di antara para sahabat yang masyhur selalu bersama al-Qur`an adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah berkata: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.”

Di antaranya lagi adalah Abdullah bin Amar bin Ash Radhiyallahu anhu, seperti yang diriwayatkan dalam shahih tentang dialognya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya agar membaca dan mengkhatamkan al-Qur`an dalam tujuh hari.’[1]

Para salaf rahimahullah merasakan ketenangan dan kenikmatan saat membaca al-Qur`an, karena ia adalah Kalamullah yang tidak pernah bosan membacanya dan tidak pernah jemu mendengarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan rasa jemu dan bosan dari pembaca dan pendengarnya dengan keikhlasan dan kebenaran iman, untuk memudahkan membaca dan mendengarnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran [al-Qamar/54 : 17]

Inilah rahasia perkataan Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu: ‘Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah.” Itulah penyebab mereka selalu membaca al-Qur`an dan menjaga hizib mereka. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Carilah kenikmatan dalam tiga perkara: shalat, al-Qur`an dan doa. Jika kamu mendapatkannya maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hal itu, dan jika kamu tidak mendapatkannya maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah ditutup atasmu.”[2]

Para salaf selalu berpegang teguh terhadap sunnah nabawiyah dalam berbagai aspek kehidupan mereka, tanpa terkecuali dalam hal membaca al-Qur`an. Abul ‘Aliyah ar-Rayahi berkata: “Kami adalah budak yang dimiliki orang, di antara kami ada yang membayar dharibah, ada pula yang melayani keluarganya. Kami mengkhatamkan al-Qur`an setiap malam, maka hal itu terasa berat bagi kami. Lalu kami mengkhatamkan setiap dua malam, ternyata juga merasa berat. Lalu kami mengkhatamkan setiap tiga malam, lalu kami merasa berat, sehingga kami saling mengeluh satu sama lain. Kami menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau mengajarkan kepada kami agar mengkhatamkan setiap jum’ah, maka kami bisa shalat dan tidur, dan kami tidak merasa berat.”[3]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Sepantasnya seseorang menjaga rutinitas dan memperbanyak membaca al-Qur`an. Para salaf mempunyai kebiasaan yang bervariasi dalam mengkhatamkan al-Qur`an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap dua bulan, ada yang setiap bulan, ada yang setiap sepuluh hari. Dan dari sebagian mereka ada yang mengkhatamkan setiap delapan hari, dan dari kebanyakan mereka adalah mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh malam. Dan dari sebagian  mereka ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari. Dan yang terbaik bahwa hal itu berbeda menurut tugas dan kewajiban seseorang. Apabila dengan pelan ia bisa memahami makna dan tafsirnya secara baik, maka hendaklah ia membaca menurut kadar yang ia bisa mendapatkan kesempurnaan pemahaman yang dia baca. Demikian pula orang yang sibuk menyebarkan ilmu (mengajar, berdakwah dan sejenisnya) maka hendaklah membatasi diri agar tidak mengurangi tugas utamanya. Dan jika bukan seperti golongan di atas dan tidak punya tugas yang lain, maka hendaklah ia memperbanyak membacanya sebatas kemampuannya yang tidak menyebabkan rasa bosan.[4]

Perhatian Salaf Dalam Menghapal al-Qur`an.
Para salaf tidak hanya memberi perhatian terhadap membaca al-Qur`an lewat mushhaf, bahkan mereka berlomba-lomba dalam menghapalnya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan dalam membaca dan menghapalnya bagi siapa pun yang ingin mengharapkan pahala dan berminat menghapalnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran  [al-Qamar/54:17]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata: ‘Kalau bukan karena kemudahan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia niscaya tidak ada seorang pun yang bisa membaca Kalamullah.[5] Dan di antara kemudahannya adalah mudah dibaca dan menghapalnya.

Di antara keutamaan menghapal al-Qur`an adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِى جَوْفِهِ شَيْئٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخرب

Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang runtuh.”[6]

Dan Beliau mengutamakan di antara para sahabatnya menurut kadar hapalan al-Qur`an mereka, apabila mengutus pasukan beliau mengangkat imam dalam shalat bagi yang paling banyak hapalannya, mengedepankan di liang lahat bagi yang paling banyak hapalannya. Maka banyak sekali dorongan dan motivasi untuk lebih giat menghapal al-Qur`an. Memang tidak disebutkan secara pasti berapa jumlah sahabat yang hapal al-Qur`an, namun cukup sebagai bukti banyak yang hapal al-Qur`an, bahwa dalam perang Yamamah telah terbunuh tujuh puluh orang sahabat yang hapal al-Qur`an.

Di antara contoh penghapal al-Qur`an dari para sahabat, hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: ‘Aku hapal dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari tujuh puluh surah.”

Demikianlah sebagian di antara keutamaan membaca dan menghapal al-Qur’an, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

[Disalin dari فضل قراءة القرآن وحفظه Penulis  Syaikh Badr bin Nashr al-Badr, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari 5052 dan Muslim.
[2] HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7226
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat 7/113 dan lihat: Siyar A’lam Nubala 4/209.
[4] At-Tibyan 46
[5] Lihat: ad-Durrul Mantsur 7/676.
[6] HR. at-Tirmidzi 2910

Masih Adakah Tambahan?

MASIH ADAKAH TAMBAHAN?

Oleh
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَ نَقُوْلُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَـْٔتِ وَتَقُوْلُ هَلْ مِنْ مَّزِيْدٍ 

Ingatlah akan hari yang pada hari itu Kami bertanya kepada jahannam, “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab, “Masih adakah tambahan?” [Qâf /50:30]

Arti Kata
امْتَلَأْتِ      : Kamu sudah penuh.
مَزِيدٍ        : Tambahan.

Makna Ayat Secara Umum
Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla telah menakut-nakuti para hamba-Nya seraya berfirman, yang artinya, “Ingatlah akan hari yang pada waktu itu Kami mengatakan kepada neraka jahannam, “Apakah kamu sudah penuh?”. Pertanyaan ini dilontarkan, karena sudah banyak yang telah dilemparkan ke dalamnya. Neraka Jahannam pun menjawab, “Masih adakah tambahan?”; ia meminta tambahan penghuni neraka yakni dari para pelaku dosa dan ahli maksiat. Ia marah terhadap mereka dan kepada orang-orang kafir karena Allâh Azza wa Jalla . Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah berjanji akan memenuhi neraka tersebut dengan jin dan manusia sebagaimana dalam firman-Nya :

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Sungguh Kami akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia. [Hûd/11:119]

Akan tetapi neraka tersebut masih lapar, sehingga Allâh Azza wa Jalla meletakkan telapak kaki-Nya yang mulia -dan bersih dari tasybih (penyerupaan dengan makhluk-Nya)- ke dalam Neraka Jahannam sehingga neraka tersebut mengkerut dan menyempit seraya berkata, “Cukup, cukup, sungguh aku sudah penuh”.[1]

Sifat-Sifat Neraka
Neraka adalah makhluk ciptaan Allâh Azza wa Jalla sebagaimana makhluk-makhluk lainnya, ia juga memiliki beberapa sifat diantaranya adalah:

Pertama, Dapat berbicara.
Pada ayat di atas telah disebutkan salah satu sifat neraka, yaitu dijadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dapat berbicara. Hal itu disebutkan pula dalam hadits marfu’ hukman[2]dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang diseret dan dimasukkan ke nereka, akan tetapi neraka tersebut mengkerut dan menyempit, kemudian Allâh Azza wa Jalla berkata kepadanya, “Kenapa engkau menyempit?” Neraka menjawab, “Sesungguhnya ia ketika di dunia telah berlindung dari siksaku,” maka Allâh Azza wa Jalla menyuruh neraka tersebut untuk melepaskannya seraya berfirman, “Lepaskanlah dia”. Dan sungguh ada seorang laki-laki yang diseret dan dimasukkan neraka, kemudian ia berkata, “Ya Allâh, prasangkaku kepada-Mu tidaklah seperti ini”. Allâh Azza wa Jalla bertanya kepadanya, “Apa prasangkamu kepada-Ku?”, ia menjawab, “Aku menyangka bahwa Engkau akan merahmatiku,” maka Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Keluarkanlah dia”. Dan sungguh ada seorang laki-laki yang diseret untuk dimasukkan neraka, maka neraka pun berteriak karenanya seperti teriakan kuda bighal terhadap api yang menyala-nyala. Dan neraka tersebut mengeluarkan suara api yang menyala-nyala yang tidak ada seorangpun yang mendengarnya melainkan ia takut kepadanya. [HR ath-Thabari dan sanadnya dihukumi shahîh oleh Ibn Katsir].[3]

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa neraka dijadikan Allâh Azza wa Jalla dapat berbicara sehingga ia dapat berdialog dengan Allâh Azza wa Jalla dan dapat mengaduh kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ،  فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ

Neraka telah mengaduh kepada Rabbnya, ia berkata: “Wahai Rabbku, sebagianku memakan sebagian lainnya (karena sangat panas dan sangat dingin),” maka Allâh Azza wa Jalla mengijinkannya untuk bernafas dua kali, sekali saat musim dingin dan sekali lagi saat musim panas. Maka kalian mendapati sangat dingin pada waktu musim dingin dan merasakan sangat panas pada waktu musim panas”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].[4]

Kedua, Memiliki dua mata yang dapat melihat, dan dua telinga yang dapat mendengar.
Neraka dijadikan Allâh Azza wa Jalla memiliki dua mata yang dengannya ia dapat melihat dan dua telinga yang dengannya ia dapat mendengar, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ، يَقُولُ: إِنِّي وُكِّلْتُ بِثَلَاثَةٍ، بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ، وَبِالمُصَوِّرِينَ

Sebagian dari neraka keluar pada Hari Kiamat. Dia memiliki dua mata yang dapat melihat dan dua telinga yang dapat mendengar dan satu lisan yang dapat berbicara. Dia mengatakan, “Sesungguhnya diserahkan kepadaku tiga macam orang: (1) Setiap orang yang diktator lagi pembangkang, (2) setiap orang yang menyembah Tuhan lain selain Allâh Ta’ala, (3) para pelukis (makhluk yang bernyawa)”. [HR Tirmidzi dan sanadnya disahîhkan oleh al-Albani].[5]

Allâh Azza wa Jalla juga menjelaskan dalam firman-Nya :

اِذَا رَاَتْهُمْ مِّنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ سَمِعُوْا لَهَا تَغَيُّظًا وَّزَفِيْرًا

Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara menyala-nyala.  [al-Furqân/25:12].

Ayat ini menjelaskan bahwa neraka dijadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dapat melihat orang-orang yang akan dimasukkan ke dalamnya.

Ketiga, Memiliki tujuh pintu
Neraka adalah tempat kembalinya orang-orang yang akan mendapat siksa, ia memiliki tujuh pintu, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٤٣ لَهَا سَبْعَةُ اَبْوَابٍۗ لِكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُوْمٌ

Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka. [al-Hijr/15:43-44].

Jadi Neraka Jahannam itu memiliki tujuh pintu. Seperti apakah letak tujuh pintu tersebut ? Hiththan bin Abdillâh al-Raqasyi rahimahullah yang termasuk kibâr tabi’in (generasi tua dari tabi’in), ia meriwayatkan dari Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau pernah bertanya kepadanya dan kepada orang-orang yang hadir bersamanya, “Apakah kalian mengetahui bagaimanakah letak pintu-pintu neraka tersebut?” Mereka pun menjawab, “Letaknya seperti pintu-pintu rumah kita,” lalu beliau berkata, “Tidak, letaknya tidak seperti itu, akan tetapi letaknya seperti ini (dengan meletakkan telapak tangannya yang satu di atas yang lainnya), dengan mengatakan, “Sebagiannya di atas sebagian lainnya.”[6]

Ibnu Juraij rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini ia mengatakan tentang pintu-pintu tersebut.

  • Pertama (yang paling atas), adalah Jahannam.
  • Kedua, Ladzah.
  • Ketiga, Huthamah.
  • Keempat, Sa’ir.
  • Kelima, Saqar.
  • Keenam, Jahim.
  • Ketujuh, Hawiyah.[7]

Dan setiap pintu tersebut mendapatkan bagian jatah dari orang-orang yang akan disiksa di dalamnya.

Adh-Dhahhak rahimahullah berkata, “Dimasukkan ke dalam pintu pertama yang paling atas yaitu orang-orang yang mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla yang melakukan maksiat, mereka akan disiksa sesuai dengan kemaksiatannya setelah itu ia dikeluarkan. Pintu kedua dimasukkan ke dalamnya orang-orang Yahudi. Pintu ketiga orang-orang Nashrani. Pintu keempat Shabi’un. Pintu kelima orang-orang Majusi, dan pintu keenam orang-orang munafik.[8]

Pedihnya Siksa Neraka
Di dalam neraka terdapat bermacam bentuk siksa yang sangat menakutkan, sehingga seseorang ingin menebus siksa tersebut dengan sesuatu yang paling berharga di dunia.[9] Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ  ١١وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ  ١٥نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦  تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ 

Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan sanak familinya yang melindunginya di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling dari agama. [al-Ma’ârij/70:11-17].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walau pun ia menebus diri dengan emas sebanyak itu, bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. [Ali Imrân/3:91].

Pada dua ayat di atas disebutkan betapa pedih siksa neraka sehingga orang-orang kafir berusaha untuk melepaskan diri dari siksa tersebut dengan cara menebus diri dengan sesuatu yang paling berharga yang pernah mereka miliki atau dengan cara keluar dari neraka tersebut. Namun usaha mereka sia-sia karena malaikat penjaga neraka mengembalikan mereka ke dalamnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا

Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.[al-Hajj/22:22].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ

Dan alangkah ngerinya, jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya , mereka berkata, “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin. [as-Sajdah/32:12]

Mereka menyesal dan ingin keluar dari neraka, meminta agar dikembalikan ke dunia padahal dunia sudah tidak ada lagi. Penyesalan yang dalam itu terjadi setelah mereka melihat, mendengar dan merasakan siksa neraka yang amat pedih. Allâh Azza wa Jalla juga berfirman dalam ayat yang lain :

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَآ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ

Adapun orang-orang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu dustakan”. [as-Sajdah/32:20]

Ulama tafsir mengatakan bahwa dahsyatnya semburan api neraka tersebut mengangkat mereka sehingga hampir mengeluarkan mereka dari neraka, maka malaikat penjaga neraka pun memukul mereka dengan cambuk-cambuk besi sehingga mereka jatuh dan masuk ke dasar neraka.[10] Mereka berteriak di dalam neraka meminta keluar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu,“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal shalih tidak seperti yang telah kami kerjakan,”( Allâh Azza wa Jalla menjawab):“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah tidak datang kepada kamu seorang pemberi peringatan ? Maka rasakanlah siksa Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun”. [Fâthir/35:37].

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan pula dalam beberapa ayat sebagian jenis siksa neraka yang diperoleh oleh orang-orang kafir. Diantaranya adalah dikenakan pakaian api kepada mereka dan dituangkan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala mereka sehingga kulit dan semua yang ada di dalam perutnya hancur, dan dipukulkan kepada mereka cambuk-cambuk besi. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ ١٩ يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ ۗ ٢٠ وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka. Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.[al-Hajj/22:19-21].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman pula.

لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُۚ ٢٨لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِۚ 

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Ia adalah pembakar kulit manusia. [al-Mudatstsir/74:28-29].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan kadar panasnya api neraka dalam sabdanya:

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ» ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ: «فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا»

“Api kalian adalah bagian dari tujuh puluh bagian api Neraka Jahannam”. Dikatakan kepada Rasûlullâh, “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya api dunia sudah cukup untuk menyiksa mereka,” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Panas api neraka itu dilebihkan atas api dunia hingga enam puluh sembilan kali lipat”.[11]

Betapa pedih siksa neraka, dan betapa sengsara orang yang disiksa di dalamnya. Kami berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka dan dari setiap ucapan atau perbuatan yang mendekatkan kepada neraka, amin!

Amalan Apakah Yang Dapat Membentengi Manusia dari Neraka ?
Orang-orang yang masuk ke dalam neraka adalah orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat. Dan orang yang terselamatkan dari siksa neraka adalah orang-orang yang beriman dan melakukan amal shalih. Disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. [al-Baqarah/2:25].

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memberi kabar gembira berupa surga bagi mereka yang beriman dan melakukan amal shalih. Dan pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [al-Baqarah/2:277].

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang yang selamat dari siksa neraka adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Diantara amal shalih yang dapat membentengi seseorang dari siksa neraka adalah shalat dan zakat. Mereka tidak perlu khawatir, cemas dan takut; karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang akan diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka.

Diantara amal shalih lainnya yang dapat membentengi dari api neraka adalah mencintai Allâh Azza wa Jalla . Seseorang tidak dapat dikatakan mencintai Allâh Azza wa Jalla melainkan jika ia telah mengikuti ajaran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Allâh Azza wa Jalla juga akan mencintainya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Katakanlah, jika kalian mencintai Allâh maka ikutilah aku niscaya Allâh akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imrân/3:31].

Jika seseorang telah dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla maka ia akan diselamatkan oleh-Nya dari siksa neraka dan tidak akan dilemparkan ke dalam neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ لَا يُلْقِي اللَّهُ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ

Demi Allâh, Allâh Azza wa Jalla tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam neraka. [HR al-Hakim dan Ahmad, dan dihukumi shahîh oleh al-Albani].[12]

Pada hadits ini disebutkan, orang yang mencintai Allâh Azza wa Jalla dengan cara mengikuti ajaran Rasul-Nya, maka ia akan dicintai Allâh Azza wa Jalla dan diselamatkan dari api neraka. Demikian pula halnya dengan puasa, ia juga termasuk amal shalih. Dengan puasa maka seseorang akan diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi dirinya dari siksa neraka, dan puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. [HR Ahmad dan al-Baihaqi, dan dihukumi hasan oleh al-Albani].[13]

Masih banyak lagi amal shalih lainnya yang dapat membentengi seseorang dari siksa neraka. Penulis tidak menyebutkan semuanya disini karena terbatasnya halaman. Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat senantiasa beramal shalih dan kelak diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka. Amin.

Pelajaran Dari Ayat

  1. Neraka masih lapar dan masih membutuhkan bahan bakar dari bangsa jin dan manusia.
  2. Neraka dapat berbicara sehingga ia dapat meminta tambahan isi.
  3. Neraka tidak akan penuh kecuali jika Allâh Azza wa Jalla telah meletakkan telapak kaki-Nya yang mulia ke dalamnya.
  4. Neraka adalah makhluk ciptaan Allâh Azza wa Jalla , maka kita meminta perlindungan kepada Dzat yang menciptakannya dari siksanya.
  5. Iman, amal shalih dan rahmat Allâh Azza wa Jalla -lah yang dapat menjadi benteng dari siksa neraka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taisîrul Karîmir Rahmân fi Tafsîr Kalâmil Mannân, Abdurrahmân bin Nasir bin Abdullâh as-Sa’di, Muassasah ar-Risalah, Beirut, Cetakan Pertama, tahun 1420 H/ 2000 M, hlm. 806.
[2] Yaitu perkataan atau perbuatan sahabat Radhiyallahu anhum yang dihukumi sebagai hadis marfu’ (yang mereka ambil dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
[3] Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîl Qur`ân, Muhammad Ibn Jarir ath-Thabari, Muassasah ar-Risalah, Beirut, cetakan tahun 1420 H/ 2000 M, juz. 19, hlm. 244. Lihat al-Bidâyah wan-Nihâyah, Dar Hajar – tanpa nama tempat, cetakan pertama, tahun 1418 H/ 1999 M, juz 19, hlm. 497.
[4] Sahîh al-Bukhâri, Muhammad bin Ismail al-Bukhâri, Dar Thauq an-Najah – tanpa nama tempat, cetakan pertama, tahun 1422 H. juz 4,  hlm. 120, hadits no. 3260. Lihat Sahîh Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi – Bairut, tanpa tahun cetakan, juz 1, hlm. 431, hadits no. 617.
[5] Sunan Tirmidzi, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Syarikah Maktabah wa Mathba’ah al-Babi al-Halabi – Mesir, cetakan kelima, tahun 1395 H/ 1975 M, juz 4, hlm. 701, hadits no. 2574. Lihat Silsilah Sahîhah, hadits no. 512.
[6] Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur`ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Dar al-Kutub al-Mishriyah – Cairo, cetakan kedua, tahun 1384 H/ 1964 M, juz 10, hlm. 30. Lihat Tafsir al-Khazin (Lubab at-Takwil fi ma’ani at-Tanzil, Ali bin Muhammad yang dikenal dengan al-Kahzin, Dar al-Kutub al-Ilmiyah – Beirut, cetakan pertama tahun 1415 H, juz 3, hlm. 57.
[7] At-Tafsîr al-Kabîr, Muhammad bin ‘Umar ar-Razi (Fakhruddin ar-Razi), Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi – Beirut, cetakan ketiga, tahun 1420 H, juz 19, hlm. 146.
[8] Ibid.
[9] Al-Jannah wa an-Nar, Umar bin Sulaiman al-Asyqar, Dar an-Nafais, Yordan, cetakan ketujuh, tahun 1418 H/ 1998 M, hlm. 93.
[10] Adhwâ-ul Bayân fi Idhâhil Qur`ân bil-Qur`ân, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, Dar al-Fikr- Lebanon, tanpa nomor cetakan, tahun 1415 H/ 1995 M, juz 4, hlm. 292.
[11] Sahîh al-Bukhâri, juz 4, hlm. 121.
[12] Al-Mustadrak, Muhammad bin Abdillâh Abu Abdillah al-Hakim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah – Beirut, cetakan pertama, tahun 1411 H/ 1990 M, juz 4, hlm. 195, hadits no. 7347. Lihat Al-Musnad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Muassasah ar-Risalah – Beirut, cetakan pertama, tahun 1421 H/ 2001 M, juz. 21, hlm. 128-129, hadits no. 13467. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabah al-Ma’arif, cetakan pertama, tanpa tahun, juz. 5, hlm. 531, hadits no. 2407.
[13] Al-Musnad, juz. 23, hlm. 33, hadits no. 14669. Lihat Syu’ab al-Iman, Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Maktabah ar-Rusyd-Riyadh, cetakan pertama, tahun 1423 H/ 2003 M, juz. 5, hlm. 193, hadits no. 3292. Lihat Sahîh al-Jami’ ash-Shaghir, Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Maktab al-Islami-Beirut, tanpa nomor dan tahun cetakan, juz 2, hlm. 794, hadits no. 4308.

Tidak Sepantasnya Manusia Menyombongkan Diri

TIDAK SEPANTASNYA MANUSIA MENYOMBONGKAN DIRI[1]

Apakah Kesombongan Itu?
Kesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]

Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.

Sebab-Sebab Kesombongan
Sebab-sebab kesombongan, antara lain:

1.‘ Ujub (membanggakan diri)
Ketahuilah wahai hamba yang bertawadhu’ –semoga Allah lebih meninggikan derajat bagimu-, bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampai dia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya”. [Silsilah Shahihah, no. 1802]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat”. [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]

2. Merendahkan orang lain.
Ketahuilah wahai hamba (Allah), bahwa orang yang tidak meremehkan manusia, tidak akan takabbur terhadap mereka. Sedangkan meremehkan seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan sudah cukup untuk menjadikan sebuah dosa.

3. Suka menonjolkan diri (Taraffu).
Ketahuilah wahai hamba yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa jiwa manusia itu menyukai ketinggian di atas sesamanya, dan dari sini muncul kesombongan.

Oleh karena itu, barangsiapa memperhatikan Al-Qur’an niscaya akan mendapati bahwa orang-orang yang bersombong pada tiap-tiap kaum adalah para pemukanya, yaitu orang-orang yang memegang kendali berbagai urusan. Allah Ta’ala berfirman tentang suku Tsamud, kaum Nabi Shalih Alaihissalam.

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ﴿٧٥﴾قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ﴿٧٦﴾فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka (yang dianggap lemah-red) menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”.[al-A’râf/7:75-77]

Dan Allah Ta’ala memberitakan tentang kaum Nabi Syu’aib Alaihissalam:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۚ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ

Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Syu’aib berkata: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” [Al-A’raaf/7: 88]

Namun orang yang berakal akan berlomba pada ketinggian yang tetap lagi kekal, yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan kepadaNya. Dan dia meninggalkan ketinggian sementara yang akan binasa, yang akan diikuti oleh kemurkaan Allah dan kemarahanNya, kerendahan hamba, kesibukannya, jauhnya dari Allah dan terusirnya (dari rahmat) Allah. Inilah ketinggian yang tercela, yaitu sikap melewati batas dan takabbur di muka bumi dengan tanpa kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. [Al-Qashash/28: 83]

Adapun ketinggian yang pertama (yakni ketinggian yang tetap lagi kekal di akhirat) dan bersemanagat untuk meraihnya, maka itu terpuji. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.[Al-Muthaffifin/83: 26]

Maka disyari’atkan berlomba-lomba untuk (meraih) derajat-derajat tinggi di akhirat yang kekal, dan berusaha meraih ketinggian pada tingkatan-tingkatannya, serta bersemangat untuk itu dengan berusaha melakukan sebab-sebabnya. Dan hendaklah seseorang tidak merasa puas dengan kerendahan, padahal dia mampu meraih ketinggian.

4. Mengikuti hawa nafsu.
Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kesombongan itu muncul dari sebab mengikuti hawa nafsu, karena memang hawa nafsu itu mengajak menuju ketinggian dan kemuliaan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” [Al-Baqarah/2: 87]

Bahaya Kesombongan
Ketahuilah wahai hamba Allah yang hatinya dihiasi dengan tawadhu’ (rendah hati) bahwa bencana kesombongan itu sangat besar, orang-orang istimewa binasa di dalamnya, dan jarang orang yang bebas darinya, baik para ulama’, ahli ibadah, atau ahli zuhud. Bagaimana bencana kesombongan itu tidak besar, sedangkan kesombongan itu:

  1. Dosa pertama yang dengannya Allah Azza wa jalla dimaksiati.
    Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis laknatullah dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa jalla. Kesombongan itu menyeret Iblis untuk menjadikan takdir sebagai alasan terus-menerus sombong. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. [Al-Baqarah/2: 34]

  1. Kesombongan merupakan kawan syirik dan penyebabnya.
    Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla menggabungkan antara kekafiran dengan kesombongan di dalam kitabNya yang mulia, Dia Azza wa Jalla berfirman:

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ﴿٧٣﴾إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”. [Shaad/38: 73-74]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ

(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”. [Az-Zumar/39: 59]

Karena barangsiapa takabbur dari patuh kepada al-haq (kebenaran) –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat tangan seorang anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sesungguhnya takabburnya itu adalah kepada Allah, karena Allah adalah Al-Haq, perkataanNya adalah haq, agamaNya adalah haq, al-haq merupakan sifatNya, dan al-haq adalah dariNya dan untukNya. Maka jika seorang hamba menolak al-haq, takabbur dari menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allah dan takabbur terhadapNya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, dan meremehkannya.

  1. Orang-orang yang sombong tempat kembalinya adalah Neraka.
    Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana di dalam surat Al-Ghafir ayat 76 dan surat Az-Zumar ayat 72. Allah Azza wa Jalla berfirman:

ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. [Az-Zumar/39: 72]

Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ

Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. [Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499]

Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ

Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)”. [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd, no. 151]

  1. Kesombongan merupakan tirai penghalang masuk Surga.
    Oleh karena itu Allah mengusir Iblis dari surga, Dia Azza wa Jalla berfirman:

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَ

Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya!”. [Al-A’râf/7: 13]

Kesombongan itu menjadi tirai penghalang masuk surga karena menghalangi seorang hamba dari akhlaq orang-orang beriman. Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Tidak ada sifat yang tercela kecuali dia memilikinya.

  1. Allah tidak mencintai orang-orang yang sombong.
    Barangsiapa yang memiliki sifat-sifatnya seperti ini, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, jauh dari rahmatNya, Allah memurkainya dan tidak mencintainya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ ﴿٢٢﴾ لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. [An-Nahl/16: 22-23]

  1. Kesombongan merupakan sebab su-ul khatimah (keburukan akhir kehidupan).
    Oleh karena itu Allah memberitakan bahwa orang yang sombong dan sewenang-wenang adalah orang-orang yang Allah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman. Sehingga akhir kehidupannya buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman:

كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”. [Al-Mukmin/40: 35]

  1. Kesombongan merupakan sebab berpaling dari ayat-ayat Allah.
    Yang demikian itu karena orang yang sombong tidak bisa melihat ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan berbicara dengan dalil-dalil yang pasti. Juga karena kesombongan itu menutupi kedua matanya, sehingga dia tidak melihat kecuali dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi”. [Al-A’raaf/7: 146]

  1. Kesombongan merupakan dosa terbesar.
    Kesombongan memiliki berbagai bahaya seperti ini; maka tidak heran jika ia merupakan dosa terbesar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ

Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)” [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote.
[1] Diadaptasi dan disadur oleh Ustadz Muslim Atsari secara bebas dari tulisan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali At-Tawaadhu’ fii Dhauil Qur’anil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah, hlm. 35-44; Penerbit. Daar Ibnul Qayyim; Cet. 1; Th. 1410 H / 1990 M

Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan

KEUTAMAAN MENJADI PENYERU KEBAIKAN

Oleh
DR. Husain bin Naffa`al-Jâbiri[1]

Dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk amal ketaatan yang paling agung dan ibadah paling afdhal  yang dilakukan seorang hamba kepada Rabbnya Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allâh , malaikat dan para penghuni langit dan bumi, sampai seekor semut dan ikan di laut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani]

Maka, barang siapa menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla , mengajarkan manusia apa yang bermanfaat dalam agama mereka, ia pun berhak masuk dalam doa tersebut. Karena ia memberi mereka petunjuk kebaikan dan menuntun mereka kepadanya, serta menjelaskan kepada mereka jalan hidayah dan jalan yang lurus.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya. [HR. Muslim]

Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim]

Bila demikian kedudukan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla,  dan pahala yang ditentukan dari menempuh jalan dakwah tersebut, maka seyogyanya seorang Muslim (dan Muslimah) untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi salah seorang penyeru dakwah yang kelak akan tampak pengaruhnya pada diri mereka dan masyarakat sosial mereka.

Berdasarkan urgensi tinggi ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudaraku, orang-orang yang menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla yang saya berharap mereka mendapatkan manfaat darinya:

Saling bekerja sama dalam dakwah dan saling mendukung di antara mereka serta berusaha dengan serius untuk menyatukan kaum Muslimin dan mempersatukan mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Shahihah dengan dasar pemahaman generasi terdahulu umat Islam, dalam mengamalkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai [Ali Imran/3:103]

dan Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu [Al Hujurât/49:10]

Sesungguhnya keadaan manusia tidak teratur dan tidak menjadi lurus kecuali dengan bersatu dan saling menjalin keakraban di antara mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendeskripsikan makna ini dalam potret yang amat menarik:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mencintai, menyayangi dan saling peduli bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh darinya mengeluhkan sesuatu (penderitaan), maka seluruh tubuh akan mengundang untuk demam dan begadang  karenanya. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Kewajiban mereka untuk mewaspadai hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan silang-pendapat, seperti sifat hasad, zhalim dan prasangka buruk, atau berkompetisi untuk meraih jabatan, popularitas dan lain-lain yang dapat memalingkan dari ikhlas dan menjauhkan dirinya dari taufik Allâh. Akibatnya, seorang dai berjalan dengan penuh kebanggaan diri, lupa diri  dan merasa tinggi di atas yang lainnya, dengan menyangka dirinya termasuk orang-orang yang ikhlas, padahal ia amat jauh dari ikhlas. Semoga Allâh  memaafkan dan menyelamatkan kita darinya.

Bersabar menghadapi segala respon negatif dari orang lain dalam jalan dakwah, seperti ejekan, olokan, dan tuduhan yang batil, atau kekuatan yang minim, musuh  yang berkuasa, orang-orang dengki, kezhaliman, dakwah tidak diterima, diusir dari kampung halaman dan lain-lain yang kadang dihadapi oleh para penyeru kebenaran dan orang-orang yang tergerak untuk memperbaiki keadaan saat menyebarkan dakwah mereka.

Sungguh, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengalami gangguan dan rintangan, dipukul, dicekik, dan dilemparkan jeroan onta ke punggung Beliau. Beliau juga dituduh sebagai orang gila, pendusta, tukang sihir, penyair atau dukun. Beliau pun diusir dari negeri sendiri, dilempari bebatuan hingga darah mengucur dari dua tumit Beliau yang mulia.  Beliau diembargo di lembah Bani Hasyim sehingga sempat Beliau dan para Sahabat terpaksa memakan dedaunan. Paman Beliau, Hamzah terbunuh, begitu juga para Sahabat juga terbunuh di depan mata Beliau.

Lalu Beliau pun harus menghadapi fitnah dari kaum Munafiqin yang menuduh istri Beliau  yang tercinta dengan perbuatan serong. Masih banyak ujian, gangguan dan rintangan yang tidak akan mampu diemban gunung-gunung kokoh yang menjulang tinggi, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan selalu mengharap pahala dari Rabbnya.

Maka, pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ada keteladanan yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah  ada pada (diri) Rasûlullâh  itu ada suri teladan yang bagi kalian (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allâh  dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut  Allâh  [Al-Ahzab/33:21]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh , dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allâh  menyukai orang-orang yang sabar. [Ali Imran/3:146]

Allâh  Azza wa Jalla berfirman untuk mengabarkan wasiat Luqman kepada putranya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ) [Luqman/31:17]

Ia berpesan untuk bersabar setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran mesti akan menghadapi gangguan atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Maka, ia perlu melatih diri untuk menahan diri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan.

Membekali diri dengan ilmu syar’i, terutama yang berhubungan dengan ilmu tentang aqidah yang benar yang berlandaskan Al-Qur`an dan Hadits, serta manhaj Salafus Shalih rahimahumullah dan mencoba mencari tahu syubhat-syubhat yang ada dan menganalisa bagaimana cara mematahkan dan menjawabnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh  dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allâh  dan aku tiada termasuk orang-orang yang musryik”. [Yûsuf/12:108])

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]

Orang yang jahil tidak mungkin memahami agamanya dan kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, atau membelanya dan mematahkan  takwil-takwil orang-orang bodoh, syubhat-syubhat pembawa kebatilan dan orang-orang yang punya kepentingan-kepentingan tertentu.

Maka, sudah menjadi kewajiban untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid, islamic center, dan kumpulan orang-orang banyak dan di setiap tempat.

Sebagaimana menjadi kewajiban para pemuda untuk dekat dengan para Ulama yang terpercaya yang dikenal memiliki ilmu yang melimpah, ketakwaan dan sifat wara’, lalu mereka mengambil petunjuk dari para Ulama tersebut, menjalankan apa yang mereka arahkan, sehingga amal perbuatan mereka (para pemuda itu) sesuai dengan syariat Allâh Azza wa Jalla , bukan asal sejalan dengan keinginan dan semangat mereka.

Akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa agama ini agama yang akan selalu terjaga dengan pemeliharaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dengan kekokohannya, pemikiran-pemikiran para penyimpang berguguran sepanjang masa.

Agama ini merupakan ruh bagi kehidupan dan kehidupan bagi ruh kita, cahaya bagi jalan kita dan jalan yang bercahaya. Kewajibanmu tiada lain, engkau berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang-orang yang ada di sekitarmu, dan menyampaikan agama Allâh  sebagaimana yang dikehendaki Allâh , berkomitmen dengan ajaran-ajaran-Nya, berpedoman dengan hidayah-Nya dan menjauhi maksiat dengan seluruh jenisnya .

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang disibukkan dengan amal ketaatan kepada-Nya, membela agama-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya dan membela sunnah Beliau di seluruh kesempatan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Dosen di Universitas Islam Madinah.

Renungan Tentang Waktu

RENUNGAN TENTANG WAKTU

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.

Peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.

Di antara bentuk kerugian ini adalah:

  1. Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.
  2. Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
  3. Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat.

Urgensi waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang disepakati oleh orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara point-point yang menunjukkan urgensi waktu.

1. Waktu adalah modal manusia.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.[1]

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:

إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.[2]

2. Waktu sangat cepat berlalu.
Seseorang berkata kepada ‘Âmir bin Abdul-Qais rahimahullah, salah seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab: “Tahanlah jalannya matahari!”

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda kecuali dengan sesuatu yang menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”.

Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin, bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia, pen.), dan hanya kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan”.

3. Waktu yang berlalu tidak pernah kembali.
Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ

Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 37056].

Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ

Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya.[3]

Sebagian penyair berkata:

وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ … وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ

Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga, tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.

4. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.
Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ

Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.[4]

Kenyataan Manusia Dalam Menyikapi Waktu
Berikut adalah beberapa keadaan manusia dalam menyikapi waktu.

  1. Orang-orang yang amalan shalih mereka lebih banyak daripada waktu mereka.
    Diriwayatkan bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qâshimi rahimahullah melewati warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman, mereka menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya waktu bisa dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!”
  2. Orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam mengejar perkara yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat, atau urusan-urusan dunia lainnya.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah menyebutkan seorang laki-laki yang menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta. Ketika kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya, “Katakanlah lâ ilâha illa Allâh,” namun ia tidak mengucapkannya, bahkan ia mulai mengucapkan, “Satu kain harganya 5 dirham, satu kain harganya 10 dirham, ini kain bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian sampai ruhnya keluar.

  1. Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap waktu.
    Seorang ulama zaman dahulu berkata :

Aku telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara yang aneh. Jika malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu siang panjang, mereka habiskan untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi dan sore, mereka di pinggir sungai Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang berbincang-bincang di atas kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan berita mereka. Aku telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan.

Di antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allâh Azza wa Jalla , ia tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah banyak, namun kebanyakan waktunya padai siang hari ia habiskan dengan nongkrong di pasar (kalau zaman sekarang di mall dan sebagainya, pen.) melihat orang-orang (yang lewat). Alangkah banyaknya keburukan dan kemungkaran yang melewatinya.

Di antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang raja-raja, tentang harga yang melonjak dan turun, dan lainnya.

Maka aku mengetahui bahwa Allâh tidak memperlihatkan urgensi umur dan kadar waktu kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allâh berikan taufiq dan bimbingan untuk memanfaatkannya. Allâh berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushilat/41:35].

Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.

  1. Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allâh menciptakannya adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzariyat/51:56].

Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [al-Mukminun/23 : 115].

Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik siksaan pedih di akhirat nanti.

Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401]

  1. Sebab kedua, bodoh terhadap nilai dan urgensi waktu.
  2. Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.

Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.

Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Âmîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Perkataan ini juga diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul- Iman, dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu
[2] Kitab Rabi’ul-Abrar, hlm. 305.
[3] Disebutkan dalam kitab Taqrib Zuhd Ibnul-Mubarok, 1/28.
[4] Taqrib Zuhd Ibnul Mubarok, 1/28.

Seharusnya Kita Selalu Menangis

SEHARUSNYA KITA SELALU MENANGIS

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

 Pernahkah anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa Allah Azza wa Jalla ? ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla akan mendorong hamba untuk selalu istiqâmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu  di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.[1]

Mengapa Harus Menangis?
Seorang Mukmin yang mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla dan hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan kewajiban dan menerjang larangan, dia khawatir dosa-dosa itu akan menyebabkan siksa Allah Azza wa Jalla kepadanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini-, maka lalat itu terbang. [HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullah]

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata, “Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allah Azza wa Jalla -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allah-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allah). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”[2].

Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah Allah Azza wa Jalla timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ ١٠٢ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ ١٠٣ وَمَا نُؤَخِّرُهٗٓ اِلَّا لِاَجَلٍ مَّعْدُوْدٍۗ ١٠٤ يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ ١٠٥ فَاَمَّا الَّذِيْنَ شَقُوْا فَفِى النَّارِ لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَّشَهِيْقٌۙ

Dan begitulah adzab Rabbmu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras. Sesungguhnya pada peristiwa itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari dimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Saat hari itu tiba, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). [Hûd/11:102-106]

Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada  Allah Azza wa Jalla  al-Khâliq . Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ ١ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan semua wanita yang hamil gugur kandungan. Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab Allah itu sangat keras. [al-Hajj/22:1-2]

Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka takut terhadap siksa Rabb mereka, kemudian berusaha menjaga diri dari siksa-Nya dengan takwa, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, Allah Azza wa Jalla memberikan balasan sesuai dengan jenis amal mereka. Dia memberikan keamanan di hari Kiamat dengan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ ٢٥ قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ ٢٦ فَمَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَوَقٰىنَا عَذَابَ السَّمُوْمِ ٢٧  اِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوْهُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ

Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap kepada sebagian yang lain; mereka saling bertanya. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kami merasa takut (akan diadzab)”. Kemudian Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.  [ath-Thûr/52:25-28]

Ilmu Adalah Sebab Tangisan Karena Allah Azza wa Jalla
Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Fâthir/35:28]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِيْنٌ

Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas bin Mâlik –perawi hadits ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan. [HR. Muslim, no. 2359]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”[3]

Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allah Azza wa Jalla dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.

Lihatlah para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.[4]

Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada Allah Azza wa Jalla merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla , tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda beliau:

لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوْعٍ فِيْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا اْلأ َثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيْضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allah daripada dua tetesan dan dua bekas. Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas di jalan Allah dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu kewajiban dari kewajiban-kewajibanNya.[5]

Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa menangis tersebut adalah benar-benar karena Allah Azza wa Jalla , bukan karena manusia, seperti dilakukan di hadapan jama’ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang menangis dalam keadaan sendirian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allah pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Pertama: Imam yang berbuat adil; kedua: pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya; ketiga: seorang laki-laki yang hatinya tergantung di masjid-masjid; keempat: dua orang lak-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah; kelima: seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”; keenam: seorang laki-laki yang bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; ketujuh: seorang laki-laki yang menyebut Allah di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata”.[HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031]

Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah Azza wa Jalla pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla .

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata, “Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allah Azza wa Jalla , sebutlah Rabbmu dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan fikirkan sesuatupun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan menangis karena rindu kepada Allah Azza wa Jalla dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya? Oleh karena itu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “seorang laki-laki yang menyebut Allah di tempat yang sepi“, yaitu hatinya kosong dari selain Allah Azza wa Jalla , badannya juga kosong (dari orang lain), dan tidak ada seorangpun di dekatnya yang menyebabkan tangisannya menjadi riyâ dan sum’ah. Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi”[6].

Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla . Wallâhul Musta’ân.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]   HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ`i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264. Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullah mengatakan, “Shahîh lighairihi“. Lihat penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihîn 1/517; no. 448)
[2]  Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497
[3] Syarah Muslim, no. 2359
[4] Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41
[5] HR. at-Tirmidzi, no. 1669; dihasankan oleh Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullah dalam Bahjatun Nâzhirîn, 1/523, no. 455
[6] Syarh Riyâdhus Shâlihîn 2/342, no. 449