Author Archives: editor

Shalat Sunnat Di Rumah Lebih Afdhal

DAFTAR ISI

  1. Mengerjakan Shalat Sunnat Di Rumah Lebih Afdhal
  2. Shalat Sunnat Sambil Duduk
  3. Menyambung Shalat Sunnat Dengan Shalat Fardhu

Shalat Antara Adzan dan Iqamah

  1. Shalat Sunnat Di Perjalanan
  2. Mengqadha Shalat Sunnat Rawatib yang Tertinggal
  3. Memisahkan Antara Shalat Rawatib Dengan Shalat Wajib Dengan Ucapan

Shalat fardhu memiliki sunat-sunat rawatib, yang disebutkan dalam As-Sunnah yang shahih dan suci, baik berupa perkataan, perbuatan maupun pengakuan dari pembawa syari’at.

Shalat sunat rawatib ini mempunyai faidah yang besar dan pahala yang agung, berupa tambahan kebaikan, ketinggian derajat, penghapusan keburukan, menambal kekosongan dan menyempurnakan kekurangannya. Karena itu harus ada perhatian terhadap shalat rawatib ini dan menjaganya ketika berada di tempat. Adapun ketika dalam perjalanan, tidak pernah disebutkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adanya satu shalat rawatib kecuali dua rakaat fajar. Beliau tidak pernah meninggalkannya, baik ketika menetap maupun ketika dalam perjalanan.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ‏

Dari Abdullah bin Umar Radhyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Aku pernah shalat dua rakaat sebelum Zhuhur bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum’at, dua rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat setelah Isya’”

Kapan Shalat Jama’ah Dimulai

DAFTAR ISI

  1. Kapan Memulai Shalat Jama’ah
  2. Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid
  3. Menunaikan Shalat Jama’ah Di Luar Masjid
  4. Dimanakah Tempat Berdirinya Ma’mum Apabila Seorang Diri?
  5. Wajibnya Pelaksanaan Shalat Dengan Berjamaah

Keutamaan Shalat Berjamaah

  1. Adab-Adab Imam Dalam Shalat Berjama’ah
  2. Tata Cara Makmum Mengikuti Imam
  3. Ikut Ruku’ Ketika Jama’ah Sedang Ruku dan Iapun Mendapatkan Raka’at
  4. Udzur Untuk Meninggalkan Shalat Jama’ah
  5. Nasehat Kepada Orang yang Tidak Melaksanakan Shalat Berjamaah

Ruh shalat dan intinya adalah kekhusyu’an dan ketundukan hati di dalam shalat. Karena itulah orang yang shalat dianjurkan memasuki shalat dengan melepaskan diri dari segala kesibukan dan mencari sarana yang dapat membantu kekhusuyu’an hati di dalamnya.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mengutamakan penundaan shalat Zhuhur hingga udara menjadi lebih dingin ketika hari terik menyengat, agar orang yang shalat tidak terganggu kekhusuannya karena udara yang panas. Yang demikian ini untuk mendatangkan kemudahan dan keluwesan bagi orang-orang yang keluar dari rumah untuk shalat di masjid dibawah sengatan sinar matahari.

Atas dasar makna-makna yang agung seperti inilah disyariatkan penundaan shalat Zhuhur dari awal waktunya. Hadits ini menjadi pengkhusus bagi hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan shalat di awal waktu.

Ringkasan Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

DAFTAR ISI

  1. Ringkasan Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam(1)
  2. Ringkasan Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam(2)
  3. Anjuran Memperbagus Shalat dan Ancaman Shalat Tanpa Aturan
  4. Khusyuk dan Tuma’ninah Dalam Shalat

Tata Cara Bersuci dan Shalat Bagi Orang yang Sakit

  1. Shalat Orang yang Sakit
  2. Beberapa Kesalahan Dalam Shalat
  3. Sesuatu yang Membuat Shalat Dimakruhkan
  4. Menunda Shalat Zhuhur Hingga Udara Dingin Karena Panas

Apabila anda – wahai Muslim – ingin menunaikan shalat, menghadaplah ke Ka’bah (qiblat) dimanapun anda berada, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah, sebab ini termasuk diantara rukun-rukun shalat, dimana shalat tidak sah tanpa rukun ini.

Ketentuan menghadap qiblat ini tidak menjadi keharusan lagi bagi ‘seorang yang sedang berperang’ pada pelaksanaan shalat khauf saat perang berkecamuk dahsyat.

Dan tidak menjadi keharusan lagi bagi orang yang tidak sanggup seperti orang yang sakit atau orang yang dalam perahu, kendaraan atau pesawat bila ia khawatir luputnya waktu.

Juga tidak menjadi keharusan lagi bagi orang yang shalat sunnah atau witir sedang ia menunggangi hewan atau kendaraan lainnya. Tapi dianjurkan kepadanya – jika hal ini memungkinkan – supaya menghadap ke qiblat pada saat takbiratul ikhram, kemudian setelah itu menghadap ke arah manapun kendaraannya menghadap.

Wajib bagi yang melihat Ka’bah untuk menghadap langsung ke porosnya, bagi yang tidak melihatnya maka ia menghadap ke arah Ka’bah.

Keutamaan Adzan dan Iqamah

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan dan Tata Cara Adzan
  2. Hukum-Hukum Adzan dan Iqamah
  3. At-Tatswib Dalam Adzan
  4. Keutamaan Adzan

Adzan dan Iqamah

  1. Jarak Antara Adzan Dengan Iqamah
  2. Ketika Mendengar Adzan dan Iqamah
  3. Iqamah Adalah Haq Imam
  4. Shalat Antara Adzan dan Iqamah

Kata Adzan berasal dari bahasa Arab yang bermakna pemberitahuan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. [Al Baqarah/2 : 279].

وَأَذَانٌ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الحَجِّ اْلأَكْبَرِ أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ 

Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan RasulNya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. [At Taubah/9 : 3].

Adapun menurut syariat, adzan adalah beribadah kepada Allah dengan pemberitahuan masuknya waktu shalat dengan dzikir tertentu. Inilah yang dirajihkan Ibnu ‘Utsaimin, sebagaimana pernyataan beliau: “Ini lebih tepat dari hanya (sekedar) pengertian bahwa adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat, sebab adzan itu ikut shalat. Oleh karena itu, jika diysariatkan ibrad dalam shalat Dhuhur (memperlambat shalat Dhuhur sampai agak dingin), maka disyariatkan mengakhirkan adzan”.

Adapun iqamah, menurut kaidah bahasa Arab berasal dari kata aqama yang maknanya, menjadikannya lurus atau menegakkan. Sedangkan menurut istilah syariat, iqamah ialah, ibadah kepada Allah untuk menegakkan shalat dengan dzikir tertentu.

Orang yang Dikabulkan Do’anya

DAFTAR ISI

  1. Adab-adab dalam Berdoa
  2. Keutamaan dan Kemuliaan Do’a
  3. Orang-Orang yang Dikabulkan Do’anya
  4. Waktu-Waktu yang Mustajab

Doa yang Paling Sering Dipanjatkan Nabi

  1. Mendulang Doa Malaikat
  2. Penghalang-Penghalang Do’a
  3. Berdoa Dengan Mengangkat Tangan
  4. Keutamaan Membaca Doa Ayat Kursi

Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. [Ghafir/40:60].

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata : Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.

Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak

Kapan Waktu Meraih Do’a Mustajab

DAFTAR ISI

  1. Meraih Do’a Mustajab
  2. Kapan Waktu Berdo’a?
  3. Keutamaan Berdo’a Di Waktu Tertentu Di Hari Jum’at
  4. Waktu Dikabulkan Doa Hari Jum’at

Do’a Ibu Juraij

  1. Apakah Ada Doa Ketika Terjadi Gempa?
  2. Berdoa Dengan Mengangkat Kedua Tangan
  3. Doa yang Terlengkap Dari Doa yang Ada
  4. Doa yang Paling Sering Dipanjatkan Nabi

Doa, di dalam Islam memiliki kedudukan sangat agung.  Doa merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah. Doa merupakan bukti ketergantungan seorang hamba kepada Rabb Subhanahu wa Ta’ala  dalam meraih apa-apa yang bermanfaat dan menolak apa-apa yang membawa mudharat baginya. Doa merupakan bukti keterkaitan seorang manusia kepada Rabb-nya, dan kecondongannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwasannya tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Sebagian orang ada yang beranggapan, bahwa dirinya tidak selayaknya banyak meminta kepada Allah. Dia menganggapnya sebagai suatu aib. Menilainya sebagai sikap kurang bersyukur kapada Allah atau bertentangan dengan sifat qana’ah. Akhirnya ia menahan diri tidak meminta kepada Allah,  kecuali dalam perkara-perkara yang dia anggap penting dan mendesak. Sedang dalam masalah-masalah yang dianggapnya ringan dan sepele, ia merasa enggan meminta kepada Allah.

Pemahaman seperti ini, jelas merupakan kekeliruan dan suatu kejahilan. Karena doa termasuk jenis ibadah, dan Allah marah jika seorang hamba enggan meminta kepadaNya.

Dalan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Sesungguhnya doa adalah ibadah.

Hubungan Antara Dzikir, Do’a dan Shalat

DAFTAR ISI

  1. Hubungan Antara Do’a dan Dzikir
  2. Dzikir Menghilangkan Kegelisahan
  3. Apakah Disyaratkan Menggerakkan Lisan Dalam Bacaan  Dzikir?
  4. Menghitung Dzikir Adalah Dengan Jari-Jemari Tangan
  5. Pagi Hari Antara Tidur dan Dzikir

Dzikir Pagi dan Petang

  1. Antara Dzikir, Doa dan Shalat
  2. Kapan Dzikir Pagi dan Sore Dibaca?
  3. Dzikir Pagi dan Petang Dapat Menjaga Dari Kejahatan
  4. Kesalahan Dalam Do’a dan Dzikir Ketika Shalat
  5. Hukum Mengangkat Suara Ketika Berdzikir Setelah Shalat

Antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, dimana berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala beriringan dengan dzikir kepada-Nya, ia merupakan permintaan seorang hamba kepada Rabb-Nya tentang kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, dalam bentuk ungkapan situasi dan kondisi serta perkataan.

Maka di dalam do’a terkandung dzikir sekaligus, karenanya do’a biasa disebut juga dengan dzikir oleh kebanyakan orang. Hal yang perlu dijelaskan di sini, bahwa semakin banyak dzikir kepada Allah Ta‘ala dan memuji-Nya dalam berdo’a, maka itu lebih baik dan utama serta lebih pantas untuk dikabulkan.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Yang disunnahkan (mustahab) dalam berdo’a adalah seorang yang berdo’a memulai do’anya dengan pujian-pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara permohonan yang akan disampaikannya, kemudian baru mengungkapkan keinginan-keinginannya[1], selanjutnya beliau menyebutkan beberapa dalilnya yang menjelaskan hal ini.

Baik dan Halal Syarat Diterimanya Do’a

DAFTAR ISI

  1. Doa Senjata Orang Mukmin
  2. Berdo’alah Kepada-Ku Niscaya Akan Aku Kabulkan!
  3. Memaksimalkan Waktu-waktu Mustajab Dalam Berdoa
  4. Baik dan Halal, Adalah Syarat Diterimanya Doa

Hukum Berdo’a di Kuburan

  1. Meminta Kemenangan Dengan Doa
  2. Raih Keamanan Dengan Iman Dan Do’a
  3. Tidak Melampaui Batas Dalam Berdoa
  4. Hukum Mengangkat Tangan Dalam Berdo’a

Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas, melalui doa  nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa, seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan akan doa dalam setiap situasi dan kondisinya.

Doa adalah obat yang paling mujarab, ia ibarat musuh bagi penyakit, ia senantiasa melawan, menhilangkan atau meringankanya.

Begitulah kedudukan doa, seyogyanya bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan dan adab-adab doa, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima doa dan amal soleh kita.

Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah cukup menjadi bukti keutamaanya, bahkan ia adalah ibadah itu sendiri, sebagaimana yang sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah ibadah.” (HR: Tirmizi, disahihkan Al-Albani).

Keberkahan dan Keutamaan Dzikir

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Dzikir Kepada Allah Azza Wa Jalla
  2. Keberkahan Dzikir Dan Keutamaan-Keutamaannya
  3. Mengharap Berkah Melalui Dzikir Kepada Allah

Dzikir Kunci Kebaikan

  1. Keutamaan dan Bentuk Majelis Dzikir
  2. Dzikir Amalan Terbaik Dan Tersuci
  3. Keutamaan Berzdikir Untuk Memohon Perlindungan Allah

Majelis dzikir, merupakan majlis yang sangat mulia di sisi Allah Ta’ala dan memiliki berbagai keutamaan yang agung. Diantaranya:

Pertama : Majelis dzikir adalah taman surga di dunia ini.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majelis-majelis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”

Kedua : Majelis dzikir merupakan majelis malaikat. Juga menjadi penyebab turunnya ketenangan dan rahmat Allah. Allah membanggakannya kepada malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya.

Apakah Berdo’a Dalam Shalat Atau Sesudahnya?

DAFTAR ISI

  1. Berdo’a Di Dalam Shalat Atau Sesudahnya?
  2. Keutamaan Sujud Dan Memperbanyak Do’a Di Dalamnya
  3. Apakah Boleh Seseorang Berdo’a Ketika Shalat Fardhu?
  4. Kesalahan-Kesalahan Dalam Do’a dan Dzikir Ketika Shalat

Adakah Do’a Setelah Shalat

  1. Apakah Doa Pada Shalat Fajar Itu Mustajab?
  2. Berdoa Dengan Hadits Dha’if Pada Saat Bersujud?
  3. Kelemahan Hadits Mengusap Muka Sesudah Berdo’a
  4. Mengusap Wajah Dengan Kedua Tangan Setelah Berdoa

Disyariatkan bagi seorang mukmin untuk berdo’a ketika shalatnya di saat yang disunnahkan untuk berdo’a, baik ketika shalat fardhu maupun shalat sunnah. Adapun saat berdo’a katika shalat adalah tatkala sujud, duduk di antara dua sujud dan akhir salat setelah tasyahud dan shalawat atas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebelum salam. Sebagaimana telah disebutkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau berdo’a ketika duduk di antara dua sujud untuk memohon ampunan. Telah diriwayatkan pula bahwa beliau berdo’a ketika duduk di antara dua sujud

اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي

Ya Allah ampunilah aku, rahmatillah aku, berilah hidayah kepadaku, cukupilah aku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda.

أَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظَّمُوا فِيْهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِفَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ

Adapun rukuk maka agungkanlah Rabb-mu, sedangkan ketika sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, niscaya segera dikabulkan untuk kalian“[Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya]