Author Archives: editor

Pengertian Ibadah Dalam Agama Islam

DAFTAR ISI

  1. Pengertian Ibadah Dalam Islam
  2. Makna dan Cakupan Ibadah
  3. Makna dan Hakikat Ibadah
  4. Merealisasikan Makna Ibadah

Syarat Ibadah Diterima

  1. Sifat-sifat Ibadah yang Benar
  2. Kaidah-kaidah Ibadah yang Benar
  3. Meraih Kelezatan Beribadah
  4. Tekun Di Dalam Beribadah

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat/51: 56-58]

Beberapa Kesalahan Dalam Berdo’a

DAFTAR ISI

  1. Memanggil Nama Lain Selain Allah Dalam Berdo’a
  2. Buruk Sangka Kepada Allah
  3. Menggantungkan Do’a Dengan Kehendak
  4. Membaca Istighfar Untuk Orang Kafir
  5. Berlebihan Dalam Berdo’a

Meninggalkan Do’a

  1. Berdo’a Kepada Selain Allah
  2. Mengeraskan Suara Dalam Berdo’a
  3. Memohon Kepada Allah Dengan Kedudukan Para Nabi
  4. Mengangkat Tangan Setelah Ruku dan Shalat Fardhu

Sebagian orang ada yang berdoa dengan mengeraskan suara, padahal demikian itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan seorang yang berdoa hendaknya melembutkan suaranya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon padaKu” [Al-Baqarah/2 : 186]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-A’raaf /7: 55]

Pilar-Pilar Ibadah Dalam Agama Islam

DAFTAR ISI

  1. Pilar-Pilar Ibadah Dalam Islam
  2. Sifat Orang Munafik Dalam Urusan Ibadah
  3. Pentingnya Keikhlasan Dalam Seluruh Amal Ibadah

Ibadah, Dirahasiakan Atau Ditampakkan?

  1. Apa Pedomanmu Dalam Beribadah Kepada Allâh Ta’ala?
  2. Kemuliaan Seorang Hamba Terletak Pada Ibadahnya Kepada Allah
  3. Mengapa Terjerumus Dalam Ibadah Kepada Selain Allah?

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sendangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang di-cintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Inilah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyyah qalbiyyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyyah qalbiyyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia

Korupsi Lebih Bejat Ketimbang Mencuri

DAFTAR ISI

  1. Korupsi Lebih Bejat Daripada Mencuri
  2. Beberapa Bentuk Korupsi
  3. Mewaspadai Bahaya Korupsi
  4. Bila Budaya Korupsi Meracuni Birokrasi
  5. Malang Nian Nasib Sang Koruptor

Beratnya Pertanggungjawaban Koruptor Di Hadapan Allah

  1. Suap, Mengundang Laknat
  2. Hati-Hati Dengan Uang Suap
  3. Hadiah, Gratifikasi dan Suap
  4. Seorang Muslim Harus Menunaikan Amanat
  5. Pegawai Harus Bersih Dari Menerima Sogokan dan Hadiah

Korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dari definisi ini, maka harta yang diselewengkan seorang koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik banyak orang (rakyat atau negara).

Dalam bahasa Arab, suap diistilahkan dengan risywah. Dalam bahasa Arab, risywah bermakna upah atau pemberian yang diberikan untuk suatu maslahat.

Al Fayumi mengatakan bahwa risywah adalah pemberiaseseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi.

Sedangkan secara istilah, risywah adalah pemberian yang diberikan kepada seseorang supaya yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Jadi makna risywah secara istilah lebih sempit dibandingkan makna risywah secara bahasa. Secara istilah suatu pemberian berstatus risywah ketika tujuannya adalah membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.

Asal Hukum Ibadah Adalah Terlarang

DAFTAR ISI

  1. Definisi Ibadah yang Benar
  2. Ibadah : Pengertian, Macam dan Keluasan Cakupannya
  3. Cara Mewujudkan Ibadah
  4. Ibadah Orang Buta

Hukum Asal Ibadah Adalah Terlarang

  1. Pengaruh Ibadah Bagi Seorang Muslim
  2. Meningkatkan Nilai Ibadah Seorang Muslim
  3. Kebiasaan Buruk, Penghalang Ibadah!
  4. Hadits Palsu, Salah Satu Sumber Bid’ah Dalam Ibadah

Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil dan membaca Al-Qur’an ; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil . Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya, khasyyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepadaNya, ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hukumNya, ridha dengan qadha’Nya, tawakkal, mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya.

Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar-syi’ar yang biasa dikenal.

Bertaubatlah Kepada Allah dan Perbanyak Istighfar

DAFTAR ISI

  1. Istighfar
  2. Fadhilah Istighfar
  3. Keutamaan Sayyidul Istighfar
  4. Waktu Membaca Sayyidul Istighfâr

Istighfar, Penutup Semua Amal

  1. Beda Taubat Dengan Istighfar
  2. Konsistensi Nabi Dalam Beristighfar
  3. Istighfar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Setiap Harinya
  4. Segeralah Bertaubat Kepada Allah dan Perbanyak Istighfar

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang selalu berada di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukurinya, dan dosa yang menuntut taubat, dalam kedua perkara inilah seorang hamba menjalani hidupnya setiap hari, manusia senantiasa hidup dalam nikmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia senantiasa butuh kepada taubat, istighfar, oleh karena itulah penghulu anak Adam dan imam orang-orang yang bertaqwa, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beristighfar kepada Allah dalam semua kondisi”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba -Nya yang beriman untuk beristighfar dan Allah-pun menjanjikan mereka dengan ampunan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. [An-Nisa/4’: 106].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [Muhammad/47: 19].

Bagaimana Menyikapi Pemerintah Zhalim?

DAFTAR ISI

  1. Peran Waliyul Amri Dalam Menyejahterakan Rakyat
  2. Menzhalimi Rakyat Termasuk Dosa Besar
  3. Bagaimana Rakyat Menyikapi Pemerintah Zhalim?
  4. Jangan Memberontak Kepada Penguasa Zhalim

Manhaj yang Benar Dalam Menasihati Pemerintah yang Zhalim

  1. Arti Nasehat Kepada Para Pemimpin Kaum Muslimin
  2. Ahlus Sunnah Menasihati Pemerintah Dengan Cara yang Baik

Membangkang Bertentangan Dengan Prinsip Ahli Sunnah

  1. Ahlus Sunnah Melarang Memberontak Kepada Pemerintah
  2. Bahaya Khurûj (Melawan) Terhadap Pemerintah

Saat ini, berbagai media massa ramai menyajikan berita demo besar-besaran anti pemerintah yang menyebabkan beberapa pemimpin negara di Timur Tengah dan Dunia Arab bertumbangan. Mesir, Tunisia, Libya, Maroko, Bahrain, Yordania, Yaman, ribut dengan para penguasanya. Meski demo ini telah berhasil menggulingkan penguasa, namun dampak buruknya masih tampak nyata dan sangat terasa. Negara porak-poranda, nyawa melayang, bangunan rusak, rasa aman hilang, hidup dalam pengungsian karena kehilangan rumah, dan kerugian lainnya. Kerugian dan kerusakan sangat tampak nyata, sedangkan kebaikan dan perbaikan belum jelas wujudnya.

Oleh karena itu, jalan terbaik menghadapi penguasa zhalim adalah jalan yang telah digariskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bersabar, tidak memberontak, dan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan berkewajiban memberikan nasehat secara rahasia. Karena pemberontakan hanya akan menambah kerusakan dan keburukan.

Sebagai rakyat, kita harus kembali kepada kebenaran, bertaubat, beribadah, dan memperbaiki diri. Karena kwalitas pemimpin itu sesuai dengan rakyatnya. Sebagai penguasa, mereka harus menghindari sikap zhalim; Dia harus bersikap adil dan bijak, serta harus membawa kebaikan bagi  rakyat. Jika tidak, maka siksa Allâh yang maha dahsyat menunggunya. Karena setiap orang akan bertanggung jawab terhadap kewajibannya masing-masing.

Siapakah Penguasa dan Pemimpin Ideal

DAFTAR ISI

  1. Pemimpin Ideal
  2. Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin
  3. Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan yang Adil
  4. Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin
  5. Keberkahan Taat Kepada Pemimpin

Menimba Pelajaran Dari Revolusi Arab

  1. Siapakah yang Disebut Penguasa?
  2. Bagaimana Menyikapi Penguasa?
  3. Dalil-Dalil Wajibnya Taat Pada Penguasa
  4. Empat Prinsip Menjalin Hubungan Dengan Penguasa
  5. Warga Negara Baik Melahirkan Penguasa yang Baik
  6. Manhaj Ahli Sunnah Terhadap Penguasa

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!”

Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.

Lebih lanjut ia mengatakan: “Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri”.

Dia menambahkan: “Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan”.

Aman Serta Damailah Negeriku

DAFTAR ISI

  1. Aman dan Damailah Negeriku
  2. Stabilitas Keamanan Negara
  3. Pentingnya Stabilitas Keamanan Dalam Islam
  4. Kiat Merealisasikan dan Menjaga Keamanan

Apakah Demonstrasi Termasuk Jalan Dakwah

  1. Demonstrasi, Solusi Atau Polusi?
  2. Mengingkari Kemungkaran Dengan Demonstrasi dan Pembunuhan?
  3. Pemahaman Demokrasi Dalam Pandangan Islam
  4. Perlukah Solusi Politik dan Revolusi Dalam Perbaikan Masyarakat?

Keamanan dan stabilitas negeri adalah tanggung jawab semua pihak, baik individu maupun bersama, mengingat masyarakat sangat memerlukannya dalam mewujudkan kepentingan dan kemaslahatan mereka, baik yang terkait dengan masalah agama maupun dunia. Sebab itu semua tidak akan terwujud kecuali bila keamanan benar-benar terjamin. Bila keamanan dan stabilitas telah tercipta, maka akan mudah tercapai berbagai kemaslahatan, baik dalam hal agama maupun dunia. Namun bila keamanan ini terkoyak, maka akan rusak pula berbagai kepentingan dan kemashalatan tersebut, seiring dengan terkoyaknya keamanan. Oleh karena itu, keamanan menjadi tanggung jawab semua pihak, sebagaimana ini juga menjadi dambaan dan harapan semua orang. Semua orang ingin keamanan itu tercipta, baik untuk dirinya, keluarganya, kerabatnya, dan juga negerinya. Ia adalah tanggung jawab bersama. Maka wajib bagi setiap Muslim, baik secara individu maupun kolektif, meski berbeda negeri dan bahasa, untuk bahu membahu mewujudkan keamanan negeri, agar terjaga dari berbagai fitnah dan gejolak serta cobaan; Karena semua ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi negeri mereka. Bahkan keadaan tersebut tidak akan mendatangkan kecuali keburukan dan kemadharatan belaka, baik terkait agama maupun dunia.

Keamanan adalah dambaan sekaligus tanggung jawab semua orang. Dia dambaan dan harapan semua orang, karena tidak ada orang yang rela bila dirinya, keluarganya, atau negerinya dilanda kekacauan dan ketidakamanan. Keamanan juga merupakan tanggung jawab semua orang, karena ini telah diwajibkan oleh Allâh Azza wa Jalla atas para hamba-Nya. Dan ini merupakan bagian dari keimanan mereka terhadap Allâh Azza wa Jalla, dan apa yang telah Allâh perintahkan kepada mereka untuk diimani. Ia juga merupakan konsekuensi dari ukhuwwah (persaudaraan) karena seiman dan seagama

Segera Bertaubat Kepada Allah Azza wa Jalla

DAFTAR ISI

  1. Taubat
  2. Membersihkan Hati Dengan Taubat
  3. Taubatnya Orang yang Banyak Berbuat Maksiat
  4. Aku Bertaubat Kemudian Kembali Kepada Kemaksiatan

Bertaubat Sebelum Tidur

  1. Kondisi Setelah Taubat Itu Lebih Utama Dibanding Sebelum Berdosa
  2. Apakah Allah Menerima Taubat Seorang Hamba?
  3. Adakah Shalat Taubat?
  4. Shalat Taubat

Manusia tidak lepas dari kesalahan, besar maupun kecil, disadari maupun tanpa disengaja. Apalagi jika hawa nafsu mendominasi jiwanya. Ia akan menjadi bulan-bulanan berbuat kemaksiatan. Ketaatan, seolah tidak memiliki nilai berarti.

Meski manusia dirundung oleh kemaksiatan dan dosa menumpuk, bukan berarti tak ada lagi pintu untuk memperbaiki diri. Karena, betapapun menggunung perbuatan maksiat seorang hamba, namun pintu rahmat selalu terbuka. Manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Yaitu dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkannya ke jurang neraka. Taubat yang dilakukan haruslah total, yang dikenal dengan taubat nashuha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ

Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat.

لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ رَواه الْحَاكِمُ

Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka.

Dengan bertaubat, kita dapat membersihkan hati dari noda yang mengotorinya