Author Archives: editor

Memperbanyak Taubat

MEMPERBANYAK TAUBAT

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

وَعَنْ الأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  « يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ»،  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari al Aghar bin Yasâr Al Muzani Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:Wahai sekalian manusia bertaubatlah kepada Allâh dan beristighfârlah, karena sesungguhnya aku bertaubat setiap hari seratus kali. [HR Muslim].

Takhrij
Hadits ini dikeluarkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya kitab ad-Dzikir Wad-Du’a Wal-Istighfâr Wat-Taubah pada bab Istihbâb al-Istighfâr wa istiktsâr minhu no. 2702 dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Ghundar dari Syu’bah dari ‘Amrû bin Murrah dari Abu Burdah dari al-`Aghar Radhiyallahu anhu.

Biografi Sahabat
Al- Aghar bin Yasâr al-Muzani seorang sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin yang memiliki riwayat terbatas dan tidak banyak. Beliau meriwayatkan hadits langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga meriwayatkan hadits dari Abu Bakar ash-Shidiq Radhiyallahu anhu. Diantara yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Umar bin al-Khathâb Radhiyallahu anhu, Mu’âwiyah bin Qarah rahimahullah, Abu Burdah bin Abu Mûsa al-Asy’ari rahimahullah.

Tidak ada seorang ulama pun yang menjelaskan sejarah kehidupan dan waktu wafat beliau. [lihat al-Isti’âb Fi Ma’rifatil Ash-Hâb, ibnu Abdilbarr hlm 64-65 dan al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah, Ibnu Hajar hlm 64]                                                                   .

Penjelasan Hadits
Allâh Azza wa Jalla telah membuka pintu taubat kepada setiap Muslim dan menjanjikan pahala besar bagi orang yang bertaubat. Janji ini banyak disampaikan dalam al-Qur`an diantaranya pada surat al-Furqân dimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; Maka itu kejahatan mereka diganti Allâh dengan kebajikan. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Furqân/25:70]

Hadits yang mulia ini memanggil seluruh manusia karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan memanggil dengan ungkapan : “Wahai sekalian manusia!” Hal ini untuk membuka pintu dihadapan kaum musyrikin dan kafir untuk bertaubat dan kembali kepada fitrah mereka yang asli dan Islam menghapus yang sebelumnya. Apakah panggilan ini bisa sampai ke telinga orang-orang yang telah menjauhkan dirinya dari Allâh Azza wa Jalla , lalu telinga mereka mau mendengarkan panggilan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini? Apabila sampai dan mereka patuhi dan amalkan maka mereka akan selamat dari adzab yang pedih dan menyedihkan.

Bentuk perintah yang berisi anjuran bertaubat dan istighfâr dalam sabda beliau dihadits ini :

(تُوبُوا إِلَى اللهِ) menunjukkan kewajiban, sehingga bertaubat hukumnya wajib atas setiap orang, khususnya Muslim yang bermaksiat demikian juga pemeluk agama lainnya. Karena mereka diperintahkan untuk mengikuti Islam dan masuk kedalam Islam secara utuh.

Pengertian etimologi bahasa pada kata taubat tidak bertentangan dengan pengertian terminologi syariat, karena taubat dalam pengertian bahasa Arab bermakna kembali (ruju’) dan dikatakan: (تَابَ) dan (أَنَابَ) serta (آبَ) bermakna kembali. Orang yang bertaubat kepada Allâh dalam pengertian bahasa Arab dan syariat adalah orang yang kembali dari sesuatu kepada sesuatu. Kembali dari sifat-sifat tercela kepada sifat-sifat terpuji, kembali dari semua larangan Allâh menuju perintah-Nya dan dari kemaksiatan kepada ketaatan serta dari yang Allâh Azza wa Jalla benci kepada yang dicintaiNya.

Taubat Memiliki Tiga Derajat:

  1. Orang yang kembali dari kemaksiatan karena takut adzab Allâh dinamakan Tâ’ib (orang yang bertaubat).
  2. Orang yang kembali dari kemaksiatan karena malu dari Allâh Azza wa Jalla dinamakan Munîb (Inâbah)
  3. Orang yang kembali karena pengagungan Allâh Azza wa Jalla dinamakan Awâb. Ketiga derajat ini diterima disisi Allâh Azza wa Jalla .

Taubat dan istighfâr sama-sama kembali kepada amal shalih. Sedangkan sebagian ulama ada yang menyatakan: Taubat tidak sempurna kecuali dengan istighfar, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. [Hûd/11: 3]

Seakan-akan istighfar adalah buahnya taubat atau jalan menuju taubat hingga taubat menjadi taubatan nashuha.

Ada juga yang menyatakan: Istighfâr adalah meminta maghfirah (ampunan), ada kalanya dengan lisan atau dengan kalbu atau dengan keduanya. Istighfâr dengan lisan bermanfaat karena lebih baik daripada diam dan karena orang yang beristighfâr dengan lisannya membiasakan dengan ucapan baik. Istighfâr dengan kalbu sangat bermanfaat, karena menegaskan kebenaran taubat dan menjauhkan pelakunya dari riya’ dan nifaq serta klaim tanpa dasar. Istighfâr dengan lisan dan kalbu lebih bagus, lebih tegas serta lebih menunjukkan kebenaran taubatnya, untuk ittiba’ (mengikuti) firman Allâh Azza wa Jalla :

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; Maka itu kejahatan mereka diganti Allâh dengan kebajikan. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Furqân/25:70].

Penutup hadits ini ada penegasan dengan diidhâfahkan kepada huruf ya’ (mutakallim) dan orang yang bicara (al-mutakallim) adalah makhluk yang paling mulia, Nabi yang ma’shum dan penutup sekalian Nabi. Beliau dalam penegasan ini memberikan sebab perintah dan panggilannya yang wajib dilaksanakan dan direalisasikan. Beliaulah teladan dalam taubat dan istighfâr. Beliau tidak taubat dari sebab dosa, tapi menyambung istighfâr dan taubatnya dalam sehari seratus kali  sebagai wujud syukur kepada Allâh, memuji penciptanya dan rahmat kepada ummatnya serta mengharapkan Allâh menerima taubat orang-orang yang bertaubat dan ampunan dosa semua pelaku maksiat sehingga sempurna pertolongan Allâh Azza wa Jalla kepada umatnya dan kembali Islam menjadi kuat dan mulia.

Faedah Hadits
Hadits ini memberikan kepada kita beberapa faedah, diantaranya:

1. Kewajiban bertaubat dan beristighfâr bagi setiap Muslim. Apa bila seorang hamba bertaubat maka ia telah mendapatkan dua faedah:

  • Melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya
  • Mencontoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata: Jika manusia bertaubat kepada Rabbnya maka akan mendapatkan dua faedah :

Faedah pertama : Ia telah menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan di dalam pelaksanaan perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya terdapat banyak kebaikan. Orang yang menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla  dan Rasul-Nya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Faedah kedua : Meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertaubat kepada Allâh sebanyak 100 kali dalam sehari, yaitu dengan berkata :  “Aku bertaubat kepada Allâh, Aku bertaubat kepada Allâh.” (lihat Syarah Riyadhush-Shaalihin 1/98).

2. Dalam hadits ini ada perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertaubat dan beristighfâr dalam bentuk praktek dan contoh penerapannya. Hal ini menunjukkan kewajiban mencontoh dan meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah memerintahkan kita untuk bertaubat, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: (Aku bertaubat kepada Allâh). Tampaknya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat kewajiban mencontoh Beliau. Allâh Azza wa Jalla sendiri memerintahkan kita untuk meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh. [al-Ahzab/33 : 21].

Ibnu Katsir berkata: Ayat yang mulia ini adalah dasar penting dalam meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataan, perbuatan dan keadaannya [Tafsir Ibnu Katsir 6/391].

Sudah jelas pengaruh besar mencontoh dan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesuksesan dakwah dan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

3. Ikhlas dalam taubat merupakan syarat diterimanya taubat. Siapa yang meninggalkan perbuatan dosa karena selain Allâh Azza wa Jalla maka tidak dinamakan bertaubat.

4. Diantara uslub dakwah adalah dengan panggilan dan perintah. Panggilan (Nidâ) ada pada sabda Beliau : (يَا أَيُّهَا النَّاسُ). Cara ini termasuk bermanfaat karena bisa mendekatkan audiens kepada Da’i pada apa yang diinginkannya dan mengarahkan dakwah kepada mereka. Panggilan (nidâ) dalam al-Qur`an termasuk cara yang banyak dilakukan dan diulang-ulang, seperti firman Allâh;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. [al-Hajj/22:77]

Demikian juga ada uslub perintah (alAmr) dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  :تُوبُوا إِلَى الله

Yang menunjukkan perintah bertaubat dari kesalahan dan dosa. Uslub perintah merupakan uslub yang bagus dalam dakwah karena membawa para mad’u untuk komitmen dengan isi perintah. Uslub ini juga menunjukkan urgensi yang diperintahkan dan kewajiban melaksanakannya dan tidak melalaikannya. Uslub ini banyak diulang-ulang dalam al-Qur`an dalam banyak ayat.

5. Anjuran bertaubat, karena taubat adalah jalan keselamatan dan bukti kejujuran dan ruju’nya seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla . Taubat adalah pokok ajaran Islam yang terpenting dan awal langkah orang yang mengarungi jalan akhi Perintah taubat dalam hadits sesuai dengan firman Allâh :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allâh dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). [At-Tahrim/66 :8]

dan firmanNya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.[An-Nûr/24:31]

6. Seorang da’i hendaknya membimbing dan mengarahkan mad’unya kepada yang bermanfaat di dunia dan akhi Dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan dan membimbing manusia agar diampuni dosa dan kesalahannya dengan taubat dan istighfâr. Inilah tugas penting seorang penyeru dakwah, seperti dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. [Al-Imrân/3:104]

7. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baiknya pendidik dan pengajar dengan perkataan dan perbuatannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang untuk bertaubat dan Beliau sendiri melakukannya sehingga memudahkan orang untuk mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

8. Anjuran untuk memperbanyak istighfar sebagaimana juga diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. [Hud/11:3]

Demikian juga para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru umatnya untuk beristighfâr, seperti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuh yang berkata:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. [Nuh/71:10-12]

Dengan demikian jelaslah urgensi istighfar bagi setiap orang, khususnya kaum Muslimin.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Sudahkah Kita Mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

SUDAHKAH KITA MENGAGUNGKAN ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA?

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan tidak mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya serta tidak menyifati-Nya dengan sifat sebenarnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allâh? [Nuh /71:13]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Kalian tidak menginginkan keagungan bagi Allâh.”  [Tafsir ath-Thabari, 29/94].

Said bin Jubair berkata, “Mengapa kalian tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar?” [Tafsir ath-Thabari, 29/95]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Perkataan-perkataan ini bermuara pada satu makna yang sama,  yaitu bila mereka mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dan mengetahui hak pengagungan-Nya tersebut maka tentu mereka telah mentauhidkan (mengesakan) Allâh Azza wa Jalla , mentaati-Nya dan bersyukur kepada-Nya.” [al-Fawâid, hlm. 187]

Wahai saudara-saudara tercinta!
Sudahkah kita mengagungkan Allâh Azza wa Jalla ?
Untuk menjawab soal ini maka kita harus melihat keadaan kita ketika melaksanakan ketaatan. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kita melaksanakannya? Apakah kita telah melaksanakan ketaatan itu dengan penuh harap dan takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?  Takut terhadap ancaman-Nya dan sangat menginginkan kebaikan yang ada di sisi-Nya? Atau apakah ketaatan yang kita lakukan itu hanya sekedar kebiasaan yang kita kerjakan berulang setiap hari dengan tanpa ada rasa apapun dan tanpa merasakan manfaatnya?

Apakah ketika kita melakukan maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla kita merasa seolah ada gunung di atas kita yang hampir menimpa kita ataukah kita merasa maksiat itu hanya seperti lalat yang hinggap di hidung kemudian dengan mudah diusir dan disingkirkan?

Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا –وَأَشَارَ الرَّاوِي- بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ

Sesungguhnya seorang Mukmin  memandang dosa-dosanya seperti seorang yang duduk di bawah gunung yang dia takutkan akan menimpanya. Sedangkan orang fajir, melihat dosa-dosanya hanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, maka dia berkata seperti ini (dengan sekali kibasan dia bisa mengusirnya) dan rawi berisyarat dengan tangannya (yang diletakkan) di atas hidungnya. [HR. Al-Bukhâri, no. 5949]

Apabila kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya, kita pasti tahu, ‘Apakah kita telah mengagungkan Allâh  pencipta kita ataukah belum?’

Sungguh para pendahulu kita, para Ulama (as-salafus shalih) adalah orang-orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam mengagungkan Allâh Azza wa Jalla . Karena mereka sangat bersemangatnya dalam menunaikan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan sangat kuat menjauhi perbuatan bermaksiat.

Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullah mengatakan, “Mereka, para as salaf ash shalih sangat mengagungkan Allâh serta menyucikan Allâh Azza wa Jalla dari semua perkara yang tidak layak disandarkan kepada Allâh Azza wa Jalla .” [Qathfu ats-Tsamar Fî Bayân Aqîdati Ahlil Atsar, hlm. 48]

Oleh karena itu, tidak mengherankan, jika kita melihat bagaimana keadaan mereka dalam menjalankan ibadah. Mujahid bin Jabr rahimahullah mengatakan, “Dahulu, jika salah seorang dari mereka melaksanakan shalat, mereka mengagungkan Allâh ar-Rahman dengan tidak memandang sesuatu yang lain, tidak perhatian  atau tidak memainkan (sesuatu, seperti-red) kerikil atau tidak membisikkan  sesuatu ke hatinya tentang perkara dunia, kecuali lupa, selama mereka shalat”. [Ta’zhîmu Qadrish Shalât lil Marwazi, hlm. 188]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah jika melaksanakan shalat bergetar anggota badannya sehingga kadang miring ke kanan atau ke kiri (karena pengagungannya kepada Allâh Azza wa Jalla ) [al-A’lamul A’liyyah Fî Manâqib Ibni Taimiyyah, karya Umar bin Ali al-Bazzâr, hlm. 36]

Para pembaca yang tercinta
Sungguh pengagungan kita kepada Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan kita tunduk dan taat kepada-Nya. Kita akan dengan mudah menjalankan perintah-Nya. Sehingga kita dapat melaksanakan ketaatan dengan penuh rasa terima dan cinta. Kita akan bisa menjauhi semua larangan dengan lapang dada dan gembira. Dengan demikian, kelezatan beribadah tidak akan pernah hengkang dari kita, baik saat menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. Alhamdulillâh

Setelah mengetahui jawaban dari pertanyaan pertama di atas, muncul pertanyaan berikutnya, yaitu tentang apa saja yang bisa membantu kita agar kita bisa mengagungkan Allâh al-Khâliq dalam hati kita  dengan izin Allâh-  ?

Maka jawabnya adalah sebagai berikut:

1. Doa
Yaitu dengan sering bersimpuh memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menanamkan di hati kita rasa pengagungan terhadap-Nya, merasa rendah di hadapan-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi atau pun dalam keadaan terang-terangan. Karena Dia lah Dzat yang paling mulia  yang telah memerintahkan kita untuk berdoa dan berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan kita. Ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghâfir/40:60]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah keutamaan yang dianugerahkan Allâh Azza wa Jalla dan kemuliaan dari Nya. Allâh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya untuk berdoa dan berjanji akan mengabulkan doa mereka itu.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/153]

Syaikh as Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini termasuk kelembutan kasih sayang Allâh Azza wa Jalla terhadap para hamba-Nya dan kenikmatan-Nya yang besar. Karena Allâh Azza wa Jalla menyeru mereka untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan agama dan dunia mereka. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk berdoa, baik doa ibadah maupun doa mas’alah (permohonan) dan berjanji akan mengabulkan permohonan mereka serta mengancam orang yang enggan memohon kepada-Nya, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. [Ghâfir/40:60]

Yaitu dalam keadaan rendah lagi hina. Adzab dan kehinaan menjadi satu untuk mereka sebagai balasan atas kesombongan dan keangkuhan mereka.” [Tafsir as-Sa’di, 1/740]

Wahai saudaraku tercinta!
Doa adalah diantara sebab terkuat yang membantu kita dalam mengagungkan Allâh al-Bâri, jika terpenuhi syarat-syaratnya seperti niat yang benar dan tidak ada penghalangnya, seperti banyak melakukan perbuatan yang haram.

2. Menjauhi Perbuatan Maksiat
Kita berupaya menjauhi maksiat dengan segala bentuknya. Kita hadirkan keagungan Dzat yang kita maksiati, ketika terjerumus dalam perbuatan maksiat. Karena  perbuatan maksiat itu mempengaruhi pengagungan seseorang terhadap Rabb dan memperlemah rasa itu di dalam hatinya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara balasan perbuatan maksiat adalah perbuatan maksiat itu pasti akan melemahkan rasa pengagungannya terhadap Rabb di hati (para pelakunya) dan bisa dipastikan juga akan semakin memperlemah rasa hormatnya terhadap Rabb, baik dia mau ataupun tidak.  Jika penghormatan dan pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla telah bersemayam dalam lubuk hati (seorang hamba), maka dia tidak akan berani melakukan perbuatan maksiat.

Namun terkadang seseorang tertipu, dia berani mengatakan, ‘Aku berani melakukan perbuatan maksiat ini karena saya berpositif thingking (berperasangka baik) dan sangat berharap akan mendapatkan ampunan dari-Nya, bukan karena pengagungan terhadap-Nya di dalam hati ini mulai melemah!’

Ini hanya dalih dan pembelaan diri. Karena sesungguhnya rasa pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang bersemayam dalam hati seseorang akan menjadi penghalang antara dia dan perbuatan maksiat. Dan sejatinya, pelaku perbuatan maksiat itu tidak benar-benar mengagungkan Allâh dengan benar. Sebab, bagaimana mungkin orang yang memandang remeh perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla bisa dikatakan telah menghormati Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya! Atau disebut telah mengagungkan Allâh Azza wa Jalla ?!

Ini sesuatu yang mustahil dan kebatilan yang paling jelas. Dan cukuplah sebagai hukuman bagi orang yang telah bermaksiat yaitu melemahnya atau lenyapnya rasa pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari dalam hatinya dan pengagungan terhadap larangan-Nya.” [al-Jawâbul kâfi, hlm. 46]

3. Merenungi Penciptaan Allâh Azza wa Jalla
Kita bertafakkur tentang ciptaan Allâh Azza wa Jalla . Bagaimana Allâh Azza wa Jalla menciptakan segala sesuatu dengan sangat bagus?

Tafakkur ini termasuk sebab atau faktor yang paling penting yang bisa membantu kita untuk menumbuhkan rasa pengagungan dan penghormatan terhadap Allâh al-Bâri. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memuji orang yang mau bertafakkur memikirkan makhluk-makhuk ciptaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Wahai Rabb kami! Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imran/3:190-191]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, ” Allâh Azza wa Jalla mengabarkan:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

Dalam ayat ini terdapat dorongan bagi para hamba untuk tafakkur memikirkan penciptaan (langit, bumi, malam dan siang) dan mengambil pelajaran dari tanda-tandanya serta merenungi penciptaan-Nya. (Dalam firman-Nya di atas-red) ketika menyebutkan kata âyât (tanda-tanda), Allâh Azza wa Jalla menyebutkannya dengan memubhamkan[2] kata âyât (tanda-tanda) dan tidak menyebutkannya secara gamblang,  “tanda-tanda ini dan itu…” Ini sebagai isyarat yang menunjukkan banyak dan umum. Karena di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat banyak banyak ayat (tanda) yang sangat menakjubkan, yang mencengangkan orang yang memperhatikannya secara seksama,  yang membuat orang-orang yang berpikir merasa terpuaskan, yang bisa memikat hati orang-orang yang jujur, serta bisa menyadarkan orang-orang yang berakal sehat terhadap semua tuntutan ilahiy. Adapun secara terperinci tentang seluruh kandungan ayat tersebut, maka itu tidak mungkin diketahui oleh siapapun. Mereka hanya mengetahui sebagiannya.

Kesimpulannya, apa pun yang ada pada penciptaan langit dan bumi yang begitu besar dan luas serta pergerakan yang menyebabkan siang dan malam, itu semua menunjukkan keagungan Penciptanya, kebesaran dan jangkauan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Sementara pada kekokohan dan kekuatan, juga keindahan serta detail ciptaan-Nya terdapat tanda yang menunjukkan hikmah (kebijaksanaan) Allah  dan Dia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya  juga (menunjukkan) ilmu-Nya yang maha luas.

Dalam beraneka ragam manfaat yang ada di dalamnya untuk para makhluk-Nya terdapat tanda yang menunjukkan kasih sayang Allâh Azza wa Jalla yang begitu melimpah, anugerah-Nya yang merata dan kebaikan-Nya yang mencakup semua sehingga wajib bersyukur kepada-Nya.

Semua itu menunjukkan keterkaitan hati dengan sang Pencipta dan Pembuatnya, juga menunjukkan adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menggapai ridha-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan siapapun yang tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas dirinya apalagi atas orang lain walaupun seukuran biji sawi, baik makhluk yang ada di bumi maupun yang ada di langit. [Tafsir as Sa’di, hlm. 161]

Di antara bentuk tafakkur yang harus senantiasa kita hadirkan dalam hati dan akal kita adalah merenungi keadaan orang-orang terdahulu. Sungguh pada zaman dahulu, telah hidup di atas bumi ini suatu kaum yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan fisik kekar dan kuat, sebuah anugerah yang tidak diberikan kepada umat yang lain. Namun, ketika mereka kufur kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mengimani serta menganggap para utusan Allâh Azza wa Jalla sebagai pendusta , Allâh Azza wa Jalla timpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan perbuatan yang telah mereka lakukan. Lihatlah mereka kaum ‘Aad!  Mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” Disebabkan kekufuran mereka, Allâh Azza wa Jalla binasakan mereka:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ ﴿٦﴾ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Yang Allâh menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).[Al-Hâqqah/69:6-7]

Dan inilah kaum Tsamud yang dahulu mereka mahir memahat gunung untuk tempat tinggal namun Allâh Azza wa Jalla binasakan mereka dengan suara teriakan:

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ﴿٦٧﴾كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ

Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. [Hûd/11:67]

Lalu, bagaimana dengan kita yang fisiknya lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan mereka?! Tidakkah kita takut tertimpa adzab yang telah menimpa mereka atau adzab yang semisal?

Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah ditanya, “Masalah apakah yang paling mengherankanmu?” Dia rahimahullah menjawab, “Hati yang mengenal Allâh Azza wa Jalla kemudian dia berbuat maksiat kepada-Nya.” [Adabud Dunya Wad Dîn, karya Mâwardi, hlm. 117]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara yang paling mengherankan:

  • engkau mengenal Allâh Azza wa Jalla namun engkau tidak mencintai-Nya
  • engkau mendengar panggilan-Nya namun terlambat memenuhi panggilan-Nya
  • engkau tahu besarnya nilai keuntungan bermuamalah dengan-Nya namun engkau bermuamalah dengan selain-Nya
  • engkau mengetahui betapa berat akibat kemurkaan-Nya namun engkau tetap menentang-Nya
  • engkau telah merasakan kepedihan akibat berbuat maksiat kepada-Nya namun engkau tidak berupaya mendapatkan ketenangan dengan mentaati-Nya
  • engkau telah merasakan betapa gelisahnya hati ketika engkau sibuk dalam pembicaraan yang tidak terkait dengan firman-Nya atau tidak terkait  Allâh Azza wa Jalla namun (anehnya) engkau tidak merindukan ketenangan hati dengan berdzikir dan bermunajat kepada-Nya
  • engkau telah merasakan adzab (kesengsaraan) ketika hati bergantung kepada selain-Nya namun engkau tidak bergegas lari menjauh menuju kenikmatan beribadah dan bertaubat kepada-Nya
  • dan yang paling mengherankan dari ini semua adalah engkau sudah sangat tahu bahwa sejatinya engkau sangat bergantung kepada-Nya serta sangat membutuhkan-Nya namun engkau malah berpaling dari-Nya dan menyukai segala sesuatu yang bisa menjauhkanmu dari-Nya.” [Al-Fawâid, hlm.47]

4. Mentadaburi kitab-Nya dan memahami makna-maknanya
Dengan mentadaburi kitab-Nya dan memahami maknanya, kita akan terbantu untuk mengagungkan Allâh al-Bâri Azza wa Jalla.

Imam Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Seyogyanya orang yang membaca al-Quran al-Azhim melihat bagaimana kelembutan Allâh Azza wa Jalla terhadap para makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna firman-Nya ke akal-akal mereka. Seyogyanya, dia juga menyadari bahwa apa yang dia baca bukanlah perkataan manusia, lalu dia hadirkan dalam hatinya akan keagungan Allâh yang berbicara serta mentadabburi perkataan-Nya.” [Mukhtashar Minhâjul Qâshidîn, hlm. 53]

Wahai saudara saudara tercinta!

Hendaklah kita menghindar sejauh mungkin dari sekedar membaca lafadz al-Qur’an dan menghafalnya saja, tanpa berupaya memikirkan makna-maknanya. Sungguh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang munafik ketika mereka tidak mau mentadabburri Kitabbullâh al-Azîz. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.[An-Nisa/4:82]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla mencela orang-orang munafik yang tidak mau mentadaburi al-Quran dan (tidak) mengambil pelajaran darinya dan makna-maknanya.” [Tafsir al-Qurtubi, 5/290]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maka membaca ayat dengan tafakkur dan memahaminya jauh lebih baik dari sekedar membaca sampai selesai tanpa tadabbur dan tanpa memahami, serta lebih bermanfaat buat hati dan lebih bisa diharapkan untuk menggapai keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Ini merupakan kebiasaan para salaf dahulu. Diantara mereka ada yang mengulang-ulang satu ayat sampai datang waktu shalat Shubuh.  Dalam sebuah hadits sah dari Nabi n disebutkan bahwa Beliau shalat dengan membaca satu ayat yang di ulang-ulang sampai tiba waktu Shubuh. Ayat tersebut adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[Al-Mâidah /5:118]

Jadi, membaca al-Qur’an dengan tafakkur adalah dasar dari baiknya hati” [Miftâh Dâris Sa’âdah, 1/187]

Dan sebagai penutup dari peringatan ini wahai saudara-saudaraku tercinta maka hanya kepada Allâh sajalah aku meminta agar tulisan ini bermanfaat bagi penulisnya dan bagi pembacanya, dan semoga Allâh  Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita rasa pengagungan dan rasa takut kepada-Nya, baik dalam kesunyian maupun dalam keadaan terang benderang atau di tengah keramaian.

Semoga kita diberi petunjuk untuk taubat yang jujur yang akan membantu kita dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi perbuatan maksiat. Maka Allâh Azza wa Jalla yang maha mampu dan maha mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
__________
Footnote
[1] Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah
[2] Menyebutkan sesuatu secara samar tidak secara gamblang, sehingga akan menimbulkan pertanyaan. Misalnya firman Allah k , yang artinya, “sungguh terdapat tanda-tanda…” akan menimbulkan pertanyaan, tanda-tanda apa? Tanda-tanda kekuasaan-Nya? Ataukah kasih sayang-Nya? Ataukah keberadaan-Nya? Ataukah pemurah-Nya?

Ta’zhîm (Mengagungkan) Allâh Maksud dan Urgensi Mengimaninya

TA’ZHIM (MENGAGUNGKAN) ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MAKSUD DAN URGENSI MENGIMANINYA

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Di antara faktor terbesar yang mendukung keshalihan (baiknya) hati seseorang dan kebahagiaannya adalah pengagungannya terhadap Allâh al-Khâliq.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, tidak pula kemenangan, keshalihan ataupun kenikmatanbagi hamba, kecuali bila ia mengenal Allâh yang menciptakan mereka dan beribadah kepada-Nya; dan menjadikan Allâh semata sebagai tujuan akhir yang mereka cari dan inginkan;Juga mengingat serta bertaqarrub kepada-Nya dapat mendatangkan kesejukan serta dapat menghidupkan hati mereka. Sehingga bila mereka kehilangan hal tersebut; maka keadaan mereka akan lebih buruk daripada binatang ternak. Karena binatang ternak lebih baik hidupnya di dunia daripada mereka, dan lebih selamat kesudahannya di akhirat.”[2]

Dari sini kita bisa mengetahui, betapa perlunya kita mengenal nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya. Karena kadar pengagungan hati seseorang terhadap Dzat Yang Maha Pencipta, berbanding lurus dengan kadar ma’rifatnya (pengetahuannya) tentang Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata, “Kadar pengagungan seseorang terhadap Allâh Azza wa Jalla didalam hatinya seukurandengan kadar ma’rifat (pengetahuannya tentang Allâh Azza wa Jalla). Orang yang paling mengenal Allâh adalah orang yang paling besar dan kuat pengagungannya terhadap Allâh Azza wa Jalla .”[3]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Seukuran dengan ma’rifat seorang hamba terhadap Rabbnya, maka seukuran itulah kadar keimanannya. Ketika ma’rifat (pengetahuan) seseorang tentang Rabbnya bertambah, maka bertambah pula keimanannya. Begitu pula setiap kali ma’rifatnya kurang, maka imannya berkurang pula. Dan jalan terdekat yang bisa mengantarkannya menuju hal tersebut adalah dengan mentadabburi (merenungi dan menghayati) sifat-sifat dan nama-nama-Nya dari al-Qur’an.”[4]

Terkadang kita bertanya-tanya tentang cara menggapai ma’rifat ini, dan bagaimana jalan untuk sampai ke sana?

Dalam hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawabannya. Beliau berkata, “Ma’rifat mempunyai dua pintu yang begitu luas:

Pertama yaitu pintu tafakkur dan perenungan terhadap semua ayat-ayat al-Quran; dan pemahaman yang khusus tentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya n .

Pintu kedua adalah bertafakkur tentang ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan (di alam ini); dan merenungkan hikmah-Nya pada hal-hal tersebut, juga merenungkan qudrah (kuasa)-Nya, kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, keadilan-Nya dan perlakuan-Nya yang adil terhadap makhluk-Nya.

Inti semua itu adalah memahami makna nama-nama-Nya yang maha indah, keagungan, kesempurnaan nama-nama itu; Memahamikeesaan-Nya dalam itu semuaserta memahami keterkaitannya dengan penciptaan dan segala urusan.

Dengan demikian, ia menjadi orang yang mengerti dan memahamiperintah dan larangan-Nya,mengerti tentang qadha’ dan qadar-Nya, mengerti tentangasma’ (nama-nama) dan sifat-Nya, memahamihukumdini syar’i (hukum Allâh Azza wa Jalla yang harus diamalkan oleh para hamba) dan hukum kauni qadari (taqdir kauni; semua yang Allâh Azza wa Jalla takdirkan dan pasti terjadi dan tidak itu mesti dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Dan itu adalah anugerah Allâh; yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allâh lah Yang mempunyai anugerah yang agung [Al-Hadîd/57:21]”[5]

Oleh karena itu, sesuai kiranya bila kali ini kita mengupas dan mengkaji tentang salah satu nama Allâh Azza wa Jalla. Kita pahami dan tadabburi sebagian maknanya lalu kita resapi sebagian sebagian manfaatmengimaninama tersebut. Nama yang dimaksudkan di sini adalah nama Allâh Azza wa Jalla al-Azhîm.

Ayat-ayat al-Quran telah menetapkan nama yang mulia ini. Bagi yang memperhatikannya, ia akan dapati bahwa nama ini sesekali disebutkan secara sendirian, tidak diiringi dengan yang lain, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. [Al-Wâqi’ah/56:74]

Juga firman-Nya:

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allâh yang Maha besar (agung) [Al-Hâqqah/69:33]

Terkadang nama ini juga disebutkan secara bergandengan dengan nama-Nya yang lain,seperti bergandengan dengan nama-Nya al-Aliyy; sebagaimanadalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allâh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allâh Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Al-Baqarah/ 2: 255]

Juga firman-Nya:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [As-Syûrâ/42:4]

Berkenaan dengan sebagian rahasia di balik penggandengan dua nama Allâh yang mulia ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengulasnya. Beliau berkata, “Allâh l telah mensyariatkan terhadap para hamba-Nya untuk menyebut dua nama Allâh yang mulia ini; yaitu al-Aliyy dan al-Azhîm dalam ruku’ dan sujud. Sebagaimana hal itu telah datang dalam hadits shahih. Disebutkan bahwa tatkala ayat ke-74 dari surat al-Wâqi’ah ini diturunkan:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. [Al-Wâqi’ah/56:74]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوْهَا فِي رُكُوْعِكُمْ

Jadikanlah ia dalam ruku’ kalian.

Lalu tatkala turun ayat:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, [Al-A’lâ/87: 1]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوْهَا فِي سُجُوْدِكُمْ

Jadikanlah ia dalam sujud kalian.[6]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam menyifati Diri-Nya seringkali menggandengkan dua nama ini, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allâh Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Al-Baqarah/ 2: 255]

Juga firman-Nya Azza wa Jalla:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Saba’/34:23]

Juga firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’d/ 13: 9].

Dengan itu, bisa ditetapkan adanya sifat ‘uluw bagi Allâh Azza wa Jalla dan juga sifat ‘azhamah (kebesaran Allâh Azza wa Jalla ). Al-Uluw maknanya Allâh Azza wa Jalla maha tinggi di atas mahkluk-Nya; sedangkan ‘azhamah bermakna Allâh Azza wa Jalla itu agung, baik secara Dzat maupun sifat-Nya.”

Dan di antara rahasia lain dari penggandengan dua nama ini adalah seperti yang juga dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Allâh menggandengkan dua nama-Nya yang mulia ini, yang menunjukkan ketinggian Allâh dan keagungan-Nya di akhir ayat Kursi, Surat asy-Syûrâ, Surat ar-Ra’d, dan Surat Saba’. Dalam Surat Saba’, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu?” Mereka menjawab,'(Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Saba’/ 34: 23]

Dalam ayat Kursi, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sifat al-hayât (sifat hidup) yang merupakan asal dari semua sifat.Dan disebutkan pula sifat-Nya al-Qayyum (Yang Berdiri sendiri dan mengatur semua urusan makhluk)yaitu sifat yang menunjukkan berdirinya Dzat-Nya secara sendiri, kelanggengan-Nya, dan bersihdari segala sifat kurang dan cacat, seperti tidur, mengantuk, ketidakmampuan dan sifat kuranglainnya. Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kesempurnaan kuasa kerajaan-Nya. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam kekuasaan,dimanatidak ada seorang pun yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya  kecuali dengan izin-Nya.

Lalu Dia menyebutkan keluasan ilmu dan jangkauan-Nya yang dilanjutkandengan menyebutkan bahwa tidak ada jalan bagi makhluk untuk mengetahui sesuatu apapun kecuali setelah Allâh Azza wa Jalla menghendaki mereka untuk mengetahuinya.

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan betapa luas Kursi-Nya[7] sambilmengingatkan kepada makhluk-Nya akan keluasan, keagungan dan ketinggian Allâh Azza wa Jalla . Ini semua adalah sebagai pendahuluan sebelum menyebut sifat uluw dan ‘azhamah-Nya. Kemudian Dia k mengabarkan tentang kesempurnaan kuasa-Nya dan penjagaannya terhadap alam semesta, baik alam langit maupun bumi, tanpa tersentuh rasa payah dan lelah. Kemudian Allâh Azza wa Jalla memungkasi ayat Kursi dengan dua nama-Nya yang mulia yang menunjukkan tingginya Dzat Allâh dan keagungan Diri-Nya.”[8]

Dalam hadits juga disebutkan nama Allah Azza wa Jalla al-‘azhîm. Di antaranya dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ,ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ , حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat dalam timbangan, dan  dicintai Allâh ar-Rahman (yaitu)Subhânallâh wa bihamdihi Subhânallâhil azhîm (Maha Suci Allâh seraya memanjatkan pujian kepada-Nya; Maha suci Allâh Yang Maha agung).[9]

Juga hadits dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk masjid, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

Aku berlindung kepada Allâh Yang Maha agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, serta kekuasaan-Nya yang telah lama (azali), dari syetan yang terkutuk.[10]

Juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan umat agar mereka mensucikan Allâh dengan nama ini di dalam ruku’; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلّ

Adapun dalam ruku’, maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla di dalamnya.[11]

Nama ini juga disebutkan dalam sunnah dengan digandengkan dengan nama-Nya al-Halîm (Yang Maha Santun), sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saat kesusahan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، رَبُّ السَّموَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allâh, Yang Maha Agung lagi Maha Santun; tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allâh Rabb Pemilik Arsy yang agung; tidak ada sesembahan yang hak selain Allâh Rabb Pemilik langit, Pemilik bumi dan Pemilik arsy yang mulia.[12]

Alasan digandengankannya dua nama ini sudah jelas, yaitu meskipun Allâh Maha Agung, Maha berkuasa untuk memaksa; Maha Besar lagi Maha berkuasa di atas semua para hamba-Nya, namun Dia Maha Besar lagi Maha Penyayang lagi Pengasih terhadap para hamba-Nya. Dan menggabungkan antara dua nama mulia ini menunjukkan sifat kesempurnaan dan keindahan.

Keagungan Allâh dan Kekuasaan-Nya terhadap para makhluk-Nya tidak menghalangi-Nya untuk berbuat santun lembut dan memberi maaf kepada mereka. Dan sifat santun lembut Allâh l ini bukan karena lemah atau tidakberdaya, namun sifat santun lembut karena keagungan, kekuatan dan keperkasaan-Nya.[13]

Mengenai makna nama Allâh yang mulia ini, kita dapati tidak hanya seorang Ulama saja yang mengupasnya. Misalnya saja Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan nama-Nya yang agung (al-Azhîm) di beberapa tempat dalam kitab-kitab beliau. Beliau rahimahullah berkata, “Al-Azhîm adalah Dia yang menyandang banyak sifat dari sifat-sifat kesempurnaan.”[14]

Dalam Qashidah Nûniyyahnya, beliau rahimahullah berkata:

وَهُوَ الْعَظِيم بِكُلِّ مَعْنًى يُوجِبُ التَّــ           ـــــعْظِيمَ لَا يُحْصِيْهِ مِنْ إِنْسَانٍ

Dia adalah Al-Azhim (Yang Maha agung) dengan segala maknanya; yang mengharuskan (hamba) untuk mengagungkan-Nya, tak ada satu manusiapun yang bisa mendetailnya [15]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Azhîm adalah nama yang terhimpun pada-Nya semua sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, kemegahan, yang kecintaan kepada-Nya terpatri dalam hati, yang diagungkan ruh, di mana orang-orang arif (yang ma’rifat kepada-Nya) mengetahui bahwa kebesaran apapun, yang semegah apapun sifatnya, namun kebesaran tersebut sirna dibandingkan dengan kebesaran Allâh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”[16]

Dia Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha agung dalam segalanya, dalam Dzat-Nya, juga dalam asma’ dan sifat-Nya. Syaikh as-Sa’di berkata, “Tidak ada siapapun yang bisa mendetail pujian kepada-Nya, namun Dia l adalah sebagaimana yang Dia pujikan sendiri atas Diri-Nya, melampaui apa yang disanjungkan semua hamba kepada-Nya.”[17]

Setelah kita mengetahui bahwa berbagai nash dari al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan nama-Nya yang mulia ini, dan telah kita renungi sebagian dari maknanya yang mulia, maka kitapun bertanya-tanya, apa kewajiban kita terhadap nama Allâh al-Azhîm?

Pembahasan ini akan kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya, insya Allah Azza wa Jalla.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_________
Footnote
[1] Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah, 1/36-41
[2] Ash-Shawâ’iq al-Mursalah,1/ 366.
[3] Madârij as-Sâlikîn, 2/ 495.
[4] Tafsir As-Sa’di, 1/ 24.
[5] Al-Fawa-id, hlm. 170
[6] HR. Abu Daud, no. 869 dan Ibnu Majah, no. 887 dari hadits Uqbah bin Amir al-Juhani Radhiyallahu anhu . Hadits ini dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah
[7] Tempat dua kaki ar-Rahman, dan tak ada yang tahu sifatnya kecuali Allâh; demikian yang diungkapkan Ibnu Abbas-red
[8] Ash-Shawâ’iq al-Mursalah 4/ 1371.
[9] HR. Al-Bukhâri, no. 6043; Muslim,no. 2694 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[10] HR. Abu Daud, no. 466 dari jalur Uqbah bin Muslim dari Abdullah bin Amr. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.
[11] HR. Muslim, no. 479 dari hadits Ibnu Abbas c
[12] HR. al-Bukhâri 6345, Muslim 2730 dari hadits Ibnu Abbas.
[13] Kitab wa Lillah al-Asma’ul Husna karya Abdul Aziz al-Jalil hlm. 244.
[14] Bada’I al-Fawa’id1/ 145.
[15] Al-Kâfiyah asy- Syâfiyah bait 3222.
[16] Al-Haqq al-Wâdhih al-Mubîn hlm. 27.
[17] Tafsir As-Sa’di hlm. 259.

Manfaat Mengimani Nama Allâh Subhanahu Wa Ta’ala ” Al-Azhîm”

MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA “AL-AZHIM”

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Mengimani nama-nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala serta kandungan maknanya yang agung akan membuahkan banyak manfaat dalam hati hamba yang mengimaninya. Diantara manfaat ini ada yang bisa dipetik hasilnya dalam kehidupan di dunia dan ada pula yang ditunda perolehannya dalam kehidupan abadi di akhirat. Oleh karena itu, al-Izz Abdussalam rahimahullah mengatakan, “Mengetahui nama-nama Allâh yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi merupakan amalan termulia dan terbaik hasilnya.”[2]

Untuk itu pula, pada kesempatan kali ini, kami ingin menyebutkan beberapa manfaat yang bisa dipetik oleh orang yang beriman dari pohon pengetahuannya terhadap salah satu dari nama Allâh Azza wa Jalla yaitu al-‘Azhîm :

1. Menetapkan sifat keagungan yang hanya layak untuk Allâh Azza wa Jalla , tidak ada seorangpun atau sesuatupun yang menyerupai keagungan-Nya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat. [Asy-Syura/42:11]

Agung atau keagungan adalah sifat dzatiyah Allâh Azza wa Jalla (sifat yang tidak pernah lepas dari Allâh Azza wa Jalla). Sifat ini merupakan sifat pujian dan sifat kesempurnaan yang tidak bisa diketahui hakikatnya oleh siapapun juga, tidak terjangkau pikiran manusia juga tidak bisa digambarkan.

Penegak sunnah al-Asbahani rahimahullah mengatakan, “Diantara nama Allâh Azza wa Jalla adalah al-‘Azhîm (Yang mahaagung). Agung adalah salah satu sifat Allâh Azza wa Jalla yang tidak bisa ditandingi oleh satu makhluk pun. Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan sifat agung ditengah para mahkluknya. Dengan sifat itu mereka saling mengagungkan. Diantara manusia ada yang diagungkan karena hartanya; Ada yang diagungkan karena memiliki kelebihan; ada yang diagungkan karena memiliki ilmu; Ada yang karena kekuasaan dan ada juga yang disebabkan oleh wibawa yang dimilikinya. Masing-masing orang diagungkan karena suatu sebab bukan karena sebab yang lain, sementara Allâh Azza wa Jalla diagungkan dalam segala keadaan dan waktu.”[3]

Al-Imam al-Azhari rahimahullah mengatakan, “Diantara sifat Allâh Azza wa Jalla adalah yang maha tinggi dan maha agung … Keagungan Allâh Azza wa Jalla tidak bisa dijelaskan bagaimananya, tidak bisa dibatasi dan juga tidak diumpamakan dengan sesuatu apapun. Kewajiban para hamba adalah mengetahui bahwa Allâh Azza wa Jalla itu maha agung sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menyifati diri-Nya dengan sifat itu, tanpa kaifiyah (tanpa menanyakan bagaimananya?) dan tanpa batasan.”[4]

2. Menghambakan diri dan berdoa dengan menggunakan nama-Nya al-‘Azhîm.
Kita menghambakan diri dengan nama-Nya dengan mengatakan, “Abdul ‘Azhîm“, tidak dengan sifat-Nya. Jadi, seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Abdul ‘Azhamah.’[5]

Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla juga diseru dengan menggunakan nama-Nya (bukan dengan sifat-Nya). Kita mengatakan:

يَا عَظِيْمُ ارْحَمْنَا

Wahai Allâh yang Mahaagung! Berilah kami rahmat-Mu

Kita tidak boleh menyeru Allâh Azza wa Jalla dengan menggunakan sifat-Nya, misalnya dengan mengatakan, “Ya ‘Azhamatallâh! Irhamna.” (Wahai keagungan Allâh! Berilah kami rahmat-Mu).

Keagungan hanyalah sebuah sifat, bukan Allâh Azza wa Jalla itu sendiri.

3. Meniadakan atau menolak keberadaan para sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla .
Tidak boleh menyekutukan apapun dengan-Nya dan tidak boleh memberikan segala yang menjadi hak Allâh Azza wa Jalla kepada selain-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia [Al-Ikhlash/112:4]

4. Bisa khusyu’, khudhu’ (tunduk), tenang dan merendahkan diri kepada keagungan dan kekuasaan-Nya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah  menerangkan kepada kita keadaan orang yang sedang shalat saat beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dalam posisi ruku’, “Kemudian dia kembali menekuk punggungnya, tunduk kepada keagungan Allâh Azza wa Jalla , menghinakan diri kepada kemuliaan Allâh Azza wa Jalla serta tunduk kepada kekuasaan-Nya sambil bertasbih dengan menyebut nama Allâh Azza wa Jalla (yaitu) al-Azhîm.”

5. Senantiasa bisa memuji Allâh Azza wa Jalla dengan nama-Nya al-‘Azhîm serta memohon pertolongan kepada-Nya dengan nama-Nya tersebut.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Agung (besar). [Al-Wâqi’ah/56:74]

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki masjid, Beliau n membaca doa:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla al-‘Azhîm (yang mahaagung), wajah-Nya yang mahamulia dan kekuasaan-Nya yang langgeng dari kejahatan syaitan yang terkutuk.[6]

Oleh karena itu, seyogyanya bagi soerang hamba untuk mensucikan Rabb dari segala yang tidak sesuai dengan keagungan kuasa-Nya. Caranya yaitu dengan menyebutkan berbagai sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan-Nya. Karena sesungguhnya tidak ada yang pujiannya bisa mendatangkan manfaat dan menambahkan keindahan sesuatu yang dipijinya itu serta tidak yang celaannya akan mendatangkan bahaya dan memperburuk sesuatu yang dicela itu selain pujian dan celaan Allâh Azza wa Jalla .

Dari Barra’ bin Âzib, dia mengatakan, “Ada seorang lelaki berdiri dan mengatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya pujianku[7] bisa membuat sesuatu itu indah dan celaanku menjadikannya jelek.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah Allâh Azza wa Jalla .”

6. Mengagungkan perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla .
Allâh Azza wa Jalla itu wajib ditaati bukan dimaksiati, wajib diingat bukan dilupakan dan wajib bersyukur kepada-Nya bukan dikufuri. Termasuk dalam kategori ini adalah mengagungkan nash-nash al-Qur’an dan sunnah, tunduk kepadanya dan tidak lancang mendahului Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, baik dengan pendapat atau ijtihad. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu! Mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An-Nisa’/4:65]

Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla menyampaikan kabar yang diantara kandungannya adalah perintah dan motivasi untuk taat dan tunduk kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . (karena) tujuan diutusnya seorang rasul yaitu agar ditaati dan orang yang menjadi obyek dakwahnya taat kepada semua perintah dan larangan mereka. Juga agar para rasul itu diagungkan sebagaimana orang taat mengagungkan orang yang ditaati.”[8]

7. Mengagungkan syi’ar-syi’ar dan kehormatan Allâh Azza wa Jalla.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [Al-Hajj/22:32]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Jadi perbuatan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah itu bersumber dari ketakwaan yang di dalam hati. Orang yang mengagungkan tersebut menunjukkan bukti ketakwaannya dan kebenaran imannya, karena mengagung syi’ar-syi’ar Allah Azza wa Jalla itu berarti mengagungkan Allah Azza wa Jalla”[9]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

Demikianlah (perintah Allâh). dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allâh, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. [Al-Hajj/22:30]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa menjauhi perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla serta merasa bahwa melakukan pelanggaran adalah masalah yang besar.

فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ 

Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.

Maksudnya, dia berhak mendapatkan pahala yang banyak dan besar. Sebagaimana perbuatan taat bisa mendatangkan pahala yang banyak maka begitu juga meninggalkan semua yang diharamkan dan menjauhi semua dilarang.”[10]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Karena mengagungkan semua yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla termasuk perbuatan yang disukai oleh Allâh Azza wa Jalla , bisa mendekatkan pelakunya kepada Allâh Azza wa Jalla yang barangsiapa mengagungkan dan memandang besar semua yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan ganjaran pahala yang besar. Dan itu yang terbaik baginya, dalam agamanya, dunia, akhiratnya disisi Rabbnya.”[11]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang tertanam dalam hati seorang hamba dan pengagungan terhadap semua yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla bisa menghalangi seorang hamba dari berbagai perbuatan dosa. Adapun orang yang berani melakukan perbuatan maksiat berarti dia tidak menghargai Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya.”[12]

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Termasuk kezhaliman yang paling berat dan kebodohan yang sangat parah jika engkau menuntut orang lain mengagungkan atau memuliakanmu sementara hatimu sama sekali tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla .”[13]

8. Ketika hendak melakukan perbuatan maksiat hendaknya si pelaku melihat kehormatan dan keagungan Dzat yang akan dia maksiati. Dan sesungguhnya perbuatan itu sebentuk pelanggaran terhadap kehormatan-Nya.

Imam pembela sunnah al-Ashbahani t mengatakan, “Orang yang mengetahui hakikat keagungan Allâh Azza wa Jalla seyogyanya dia tidak mengucapkan kalimat yang dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla , dan semestinya tidak melakukan perbuatan maksiat yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla . Karena Allâh Azza wa Jalla akan menegakkan hukum atas semua jiwa sesuai dengan perbuatannya.”[14]

Setelah kita mengetahui beberapa manfaat yang bisa dipetik dari keimanan kepada nama Allah al-‘Azhim, terkadang timbul pertanyaan dalam diri kita, ‘Apakah kita ini termasuk orang-orang yang mengagungkan Allah k ataukah tidak? Jika jawabnya, tidak, lalu bagaimana caranya agar kita menjadi orang-orang yang mengagungkan Allah Azza wa Jalla ? Jawabnya ada pada makalah berikutnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah, 1/36-41
[2]  Syajaratul Ma’ârif wal Ahwal karya al-Izz bin Abdussalam, hlm. 18
[3]  Al-Hujjah fi Bayânil Mahajjah, 1/130
[4]  Tahdzîbul Lughah, 2/303
[5]  Abdurrahîm atau Abdurrahman bukan ‘Abdurrahmah, ‘Abdurrauf bukan Abdurra’fah dan lain sebagainya-red
[6] HR. Abu Daud, no. 466 lewat jalur Uqbah bin Muslim dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma . Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah
[7] Orang ini bermaksud memuji dirinya sendiri dan memamerkan kedudukannya yang tinggi. Dia mengatakan bahwa jika dia memuji sesuatu maka pujiannya terhadap sesuatu itu akan menjadikan sesuatu itu terpuji dan indah. Sebaliknya, jika dia mencela sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi tercela dan dipandang buruk oleh orang.
[8]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 184
[9]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 538
[10]  Tafsir Ibnu Katsir, 5/419
[11]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 538
[12]  Al-Jawâbul Kâfi, hlm. 46
[13]  Al-Fawâ-id, hlm. 187
[14]  Al-Hujjah fi Bayânil Mahajjah, 1/142

Hukum Sujud Sahwi

HUKUM SUJUD SAHWI

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Lupa adalah bagian dari kehidupan manusia sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah lupa dalam shalat untuk sebuah hikmah. Lupanya Beliau dalam shalat merupakan nikmat Allâh Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada umat ini dan juga sebagai penyempurna agama Islam, agar kaum Muslimin mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pensyariatan ketika terjadi lupa dalam shalat. Sehingga lupanya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakibatkan adanya hukum-hukum syariat yang berlaku bagi umat Islam yang mengalami kelupaan dalam shalat sampai hari kiamat nanti.[1]

Tentang kejadian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lupa dalam shalat, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah berkata: Didapatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang sujud sahwi) pada lima perkara: Beliau salam dari dua raka’at lalu sujud dan salam dari tiga raka’at kemudian sujud dan dalam pertambahan dan pengurangan serta bangun dari raka’at kedua tanpa tasyahud (tahiyat awal)[2].

Berdasarkan kejadian tersebut, disyariatkan bagi yang lupa dalam shalat untuk melakukan dua kali sujud yang dikenal dengan istilah sujud sahwi.

Defenisi Sujud Sahwi
Sujud sahwi adalah suatu istilah untuk dua sujud yang dikerjakan oleh orang yang shalat, fungsinya untuk menambal celah-celah yang kurang dalam shalatnya karena lupa, baik berupa tambahan, pengurangan atau keraguan[3].

Penamaan sujud sahwi merupakan bentuk penyandaran akibat kepada sebabnya sehingga pengertiannya adalah sujud yang disebabkan oleh lupa. Sehingga tidak ada sujud sahwi pada orang yang bodoh dan tidak mengerti hukum. Contohnya seorang musafir shalat dibelakang imam yang mukim, lalu dia melakukan shalat qashar karena tidak tahu imamnya seorang mukim, maka dia diharuskan menyempurnakan empat rakaat shalatnya dan tidak wajib melakukan sujud sahwi[4].

Hadits-Hadits Tentang Sujud Sahwi.
Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang lupa dalam shalat dijelaskan dalam hadits-hadits berikut :

1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam dari dua raka’at, kemudian diingatkan. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan sisanya dan sujud setelah salam. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang dikenal dengan kisah Dzulyadain, dimana beliau berkata:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلاَتَيِ العَشِيِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي المَسْجِدِ، فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّهُ غَضْبَانُ، وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَوَضَعَ خَدَّهُ الأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ اليُسْرَى، وَخَرَجَتِ السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ المَسْجِدِ، فَقَالُوا: قَصُرَتِ الصَّلاَةُ؟ وَفِي القَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَفِي القَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ، يُقَالُ لَهُ: ذُو اليَدَيْنِ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتِ الصَّلاَةُ؟ قَالَ: «لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ» فَقَالَ: «أَكَمَا يَقُولُ ذُو اليَدَيْنِ» فَقَالُوا: نَعَمْ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ سَلَّمَ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami salah satu shalat disiang hari dua raka’at, kemudian Beliau salam. Lalu bangkit berjalan ke arah kayu yang ada di Masjid, lalu bersandar padanya seakan-akan Beliau sedang marah. Beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya dan menjalin antara jari jemarinya dan meletakkannya punggung telapak tangan kirinya di pipi kanan Beliau. Orang-orang yang pertama bersegera keluar dari pintu masjid seraya berkata: Apakah shalat diqashar? Diantara orang-orang tersebut ada Abu Bakar dan Umar lalu keduanya segan untuk berbicara kepada Beliau. Juga ada diantara mereka seorang yang ada kedua tangannya panjang dipanggil dengan Dzulyadain, berkata: Wahai Rasûlullâh! Apakah engkau lupa ataushalat diqashar? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Aku tidak lupa dan tidak juga mengqashar. Lalu Beliaupun bertanya: Apakah benar yang disampaikan Dzulyadain? maka mereka menjawab: Iya. Beliaupun akhirnya maju dan mengerjakan shalat yang ditinggalkan, kemudian salam kemudian bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih panjang kemudian mengangkat kepalanya dan bertabir, kemudian bertakbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir kemudian salam. [HR.Al-Bukhâri no. 1229 dan Muslim no. 573].

2. Mengucapkan salam dari tiga raka’at lalu menyempurnakan raka’at yang kurang kemudian sujud sahwi setelah salam, berdasarkan hadits Imrân bin Hushain Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ، فَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ، وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُولٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ، وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ، فَقَالَ: أَصَدَقَ هَذَا قَالُوا: نَعَمْ، «فَصَلَّى رَكْعَةً، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ»

Sesungguhnya Rasûlullâhn melakukan shalat Ashr, lalu salam pada tiga raka’at, kemudian Beliau masuk rumahnya. Berdirilah menemui Beliau seorang yang bernama al-Khirbâq dan kedua tangannya agak panjang. Dia berkata: Wahai Rasûlullâh! Lalu dia menjelaskan kepada Beliau apa yang telah Beliau kerjakan. Beliaupun n keluar dalam keadaan marah dan menjulurkan selendangnya hingga sampai kepada para sahabatnya dan berkata: Apakah benar orang ini? Mereka menjawab: Iya. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat satu raka’at lagi kemudian salam, kemudian sujud dua kali kemudian salam lagi. [HR Muslim no. 574]

3. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari raka’at kedua dari shalat Zhuhur tanpa tahiyat awal hingga selesai shalatnya kemudian sujud sebelum salam, berdasarkan hadits Abdullâh bin Buhainah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ، فَمَضَى فِي صَلاَتِهِ، فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ انْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ، فَكَبَّرَ وَسَجَدَ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَسَلَّمَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat kami, lalu bangkit pada raka’at kedua sebelum duduk. Lalu terus dalam shalatnya. Ketika akan selesai shalat Beliau, orang-orang menunggu salam Beliau, lalu Beliau bertakbir dan sujud sebelum salam kemudian mengangkat kepalanya kemudian bertakbir dan sujud kemudian mengangkat kepalanya dan salam. [HR al-Bukhâri no. 829 dan Muslim no. 570]

4. Shalat Zhuhur lima raka’at lalu diingatkan, Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat lalu sujud dua kali kemudian salam, berdasarkan hadits Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu , beliau berkata:

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ خَمْسًا، فَقَالُوا: أَزِيدَ فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: «وَمَا ذَاكَ» قَالُوا: صَلَّيْتَ خَمْسًا ، فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَوَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ، ثُمَّ سَلَّمَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur lima raka’at, lalu mereka berkata: Apakah shalatnya ditambah? Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: Apa itu? Mereka menjawab: Engkau telah shalat lima raka’at, Lalu Beliau rapatkan kedua kakinya dan duduk menghadap kiblat dan sujud dua kali sujud kemudian salam. [HR.Al-Bukhâri no. 401 dan Muslim no. 572].

5. Ragu-ragu. Hal ini tidak pernah terjadi pada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi Beliau memberikan solusi dan perintah pada orang yang ragu dalam shalat dalam dua perintah:

  • Perintah untuk kembali melihat kepada perkiraan terkuat dengan indikator yang menguatkannya bagi yang mampu melakukannya, seperti dalam hadits Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: «وَمَا ذَاكَ»، قَالُوا: صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا، فَثَنَى رِجْلَيْهِ، وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ، قَالَ: «إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ»

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat, ketika Beliau salam, ada yang bertanya: Apakah terjadi sesuatu yang baru dalam shalat? Beliau menjawab: Apa itu? Mereka menjawab: Engkau telah shalat begini dan begitu. Lalu beliau sejajarkan kedua kakinya dan menghadap kiblat dan sujud dua kali sujud kemudian salam. Ketika Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami, Beliau berkata: “Sesungguhnya apabila terjadi sesuatu yang baru dalam shalat, tentulah aku beritahukan kalian, tetapi aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa, Maka bila aku lupa ingatkanlah! dan apabila salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam shalatnya, maka hendaklah dia menentukan sendiri yang menurutnya benar, lalu menyempurnakan dengan pilihannya tadi kemudian salam, kemudian sujud dua kali” [HR.Al-Bukhâri no. 401 dan Muslim no. 572].

  • Perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang ragu untuk kembali kepada sesuatu yang yakin yaitu yang paling sedikit dan menghilangkan keraguan dan sujud sebelum salam, berdasarkan hadits Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمِ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا؟فَلْيَطْرَحِ الشَّكَ وَلْيَبْنِ عَلَى مَااسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًاشَفَعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًالأِرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu berapa raka’at dia shalat, tiga atau empat raka’at, maka hendaknya dia membuang keraguan tersebut dan hendaknya dia mengerjakan sesuai dengan apa yang diyakininya, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Jika dia ternyata shalat lima raka’at, maka shalatnya tersebut akan menjadi syafaat baginya, sedangkan jika ternyata dia shalat tepat empat raka’at, maka kedua sujudnya bisa membuat marah syetan”. [HR Muslim no. 571].

Demikianlah hadits-hadits berkenaan dengan sujud sahwi yang sahih dari Rasûlullâhn. Imam al-Khathâbi rahimahullah berkata: Yang mu’tamad (diakui) menurut para ulama adalah lima hadits ini[5]. Ibnu Qudâmah rahimahullah menafsirkan ucapan al-Khathâbi rahimahullah dengan menyatakan: Maksudnya adalah dua hadits Ibnu Mas’ud, Abu Sa’îd, Abu Hurairah dan Ibnu Buhainah[6]. Wallâhu a’lam.

Hukum Sujud Sahwi.
Sujud Sahwi disyariatkan dalam shalat apabila terjadi faktor dan penyebabnya berdasarkan kesepakatan para ulama. Mereka berselisih dalam hukumnya, apakah wajib atau sunnah sebagaimana dijelaskan Ibnu Rusyd rahimahullah dalam pernyataan beliau: Mereka berbeda pendapat dalam sujud sahwi apakah hukumnya fardhu (wajib) ataukah Sunnah? asy-Syâfi’i rahimahullah berpendapat hukumnya sunnah dan Abu Hanifah rahimahullah berpendapat hukumnya wajib, namun bukan termasuk syarat sah shalat. Sedangkan Mâlik rahimahullah membedakan antara sujud sahwi karena meninggalkan perbuatan dengan sujud sahwi karena meninggalkan perkataan dan antara penambahan dan pengurangan. Beliau berkata: Sujud sahwi yang disebabkan karena meninggalkan perbuatan yang kurang hukumnya wajib dan menurut beliau termasuk syarat sah shalat. Imam Mâlik juga berpendapat sujud sahwi karena kekurangan hukumnya wajib dan sujud karena adanya penambahan hukumnya sunnah[7]. Sedangkan Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan: Sujud sahwi tidak wajib dan hanya sunnah, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah rahimahullah yang berpendapat wajib dengan ketentuan shalatnya tidak batal dengan tidak melakukan sujud tersebut.

Kemudian beliau berkata: Imam Mâlik rahimahullah berpendapat apabila lupa karena adanya kekurangan maka wajib sujud sahwi dan diriwayatkan dari Ahmad rahimahullah dan para ulama Hanâbilah  pendapat kewajiban sujud sahwi secara mutlak[8].

Dengan demikian, jelaslah perbedaan pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang rajih(kuat) adalah pendapat yang mewajibkan sujud sahwi, berdasarkan hadits-hadits tentang sujud sahwi diatas yang menjelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sujud sahwi apabila lupa dalam shalat.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Terdapat dalam hal ini kewajiban sujud sahwi dalam semua kewajiban yang ditinggalkan apabila ditinggalkannya karena lupa dan tidaklah perbuatan meninggalkannya karena lupa mengharuskan pengulangan shalat tersebut dan juga bila menambahkanyang dilarang karena lupa. Berdasarkan hal ini, semua yang diperintahkan dalam shalat apabila ditinggalkan karena lupa, bisa jadi mengulanginya ketika ingat atau sujud sahwi, harus melakukan salah satunya,”  kemudian beliau rahimahullah juga berkata: “ Hal ini menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya secara terus menerus dan tidak pernah sama sekali meninggalkan sujud sahwi pada lupa yang menuntut adanya kedua sujud tersebut. Ini semua adalah dalil yang jelas dan tegas tentang kewajibannya. Inilah pendapat mayoritas ulama dan ini mazhab Mâlik, Ahmad dan Abu Hanifah. Tidak ada hujjah yang kuat bersama pendapat yang tidak mewajibkannya .”[9] Wallâhu a’lam.

Hikmah Pensyariatan Sujud Sahwi (diambil dari kitab Sujud Sahwi Fi Dhauis Sunnah al-Muthaharah dengan sedikit penambahan).

Diantara keindahan syariat Islam adalah disyariatkannya sujud sahwi, karena seorang Muslim dituntut untuk menunaikan shalat yang merupakan rukun Islam terbesar setelah syahadatain. Seorang Muslim diwajibkan menunaikan dan menegakkan shalat secara sah, benar dan bebas dari kesalahan agar mendapatkan kesempurnaan pahala yang agung dari pelaksanaan shalat ini

Sujud sahwi disyariatkan untuk menutupi kekurangan akibat lupa dalam shalat yang kadang menimpa seorang Muslim, baik berupa tambahan, pengurangan atau keraguan. Ditambah juga untuk membuat jengkel dan marah syaitan yang menggodanya, seperti disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam shalatnya dan dia tidak tahu berapa raka’at dia shalat, tiga atau empat raka’at, maka hendaknya dia membuang keraguan tersebut dan hendaknya dia mengerjakan sesuai dengan apa yang diyakininya, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Jika dia ternyata shalat lima raka’at, maka shalatnya tersebut akan menjadi syafaat baginya, sedangkan jika ternyata dia shalat tepat empat raka’at, maka kedua sujudnya bisa membuat marah syaitan”. [HR Muslim no. 571].

Dengan demikian pensyariatan sujud sahwi termasuk kesempurnaan keutamaan dan anugerah Allâh Azza wa Jalla kepada hambanya, agar tidak membuat sempit dan susah. Demikianlah Islam disyariatkan untuk mempermudah manusia beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sempurna dan benar.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Telah benar adanya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي،

tetapi aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa, Maka bila aku lupa ingatkanlah! [HR.Al-Bukhâri no. 401 dan Muslim no. 572].

Lupanya Beliau dalam shalat merupakan nikmat Allâh Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada umat ini dan juga sebagai penyempurna agama Islam, agar kaum Muslimin mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pensyariatan ketika terjadi lupa dalam shalat. . Inilah pengertian dari hadits yang terputus yang ada dalam kitab al-Muwatha’ :

إِنِّي لأَنْسَى أَوْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ

Sesungguhnya aku juga lupa atau diberi sifat lupa agar menjadi contoh.[10]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lupa, sehingga lupanya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakibatkan adanya hukum-hukum syariat yang berlaku bagi umat Islam yang mengalami kelupaan dalam shalat hingga hari Kiamat[11].

Tata Cara Sujud Sahwi
Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits diatas bahwa sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat –sebelum atau sesudah salam-. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allâhu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Tata cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits ‘Abdullâh bin Buhainah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” [HR. Bukhâri no. 1224 dan Muslim no. 570]

Sedangkan tata cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu Beliau shalat dua raka’at lagi (yang tertinggal), kemudia Beliau salam. Sesudah itu Beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu Beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu Beliau bangkit.” [HR. Al-Bukhâri no. 1229 dan Muslim no. 573]

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Imrân bin Hushain,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Kemudian Beliau pun shalat satu raka’at (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu Beliau salam. Setelah itu Beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian Beliau salam lagi.” [HR. Muslim no. 574]

Wabillahit-taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Zâd al-Ma’âd 1/186
[2] Lihat al-Mughni 2/403
[3] Sujud Sahwi Fi Dhauis Sunna al-Muthaharah hlm 10
[4] Ghâyatul Muqtashidîn Syarhu Manhaj as-Sâlikîn 1/273
[5] Ma’âlim as-Sunan 1/469
[6] Al-Mughni 2/403
[7] Bidâyatul Mujtahid 1/195
[8] Lihat al-Majmû’ 4/138
[9] Majmû’ al-Fatâwa 23/27-28
[10] HR.Mâlik dalam al-Muwatha’1/100 dan Ibnu Abdilbarr rahimahullah berkata dalam at-Tamhîd24/375 : Aku tidak tahu hadits ini diriwayatkan secara musnad dan tidak juga terputus dari selain riwayat ini
[11] Zâd al-Ma’âd 1/285-286

Hadits Palsu Tentang Aqiqah Dengan Onta, Sapi Atau Kambing

HADITS PALSU TENTANG AQIQAH DENGAN ONTA, SAPI ATAU KAMBING.

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوْعًا: ” يُعَقُّ عَنْهُ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ “. رواه الطبرانى

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu secara marfu’ : “Diaqiqahi dari seorang dengan onta, sapi atau kambing”. [HR. Ath-Thabrani]

TAKHRIJ
Hadits ini dikeluarkan ath-Thabrâni rahimahullah dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr hlm 45 no 229, beliau rahimahullah berkata:  Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân al-Wâsithiy telah menceritakan kepada kami. Dia berkata: Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth al-Wâsithiy telah menceritakan hadits ini kepada kami dari Mas’adah bin al-Yasa’ dari Huraits bin as-Sâ`ib dari al-Hasan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعِقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوِ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ»

Siapa yang dianugerahi anak, maka hendaknya beraqiqah dengan onta atau sapi atau kambing.

Lalu ath-Thabrâni rahimahullah berkata:

لَمْ يَرْوِهِ عَنْ حُرَيْثٍ إِلَّا مَسْعَدَةُ تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَعْرُوفٍ

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Huraits kecuali Mas’adah dan Abdulmâlik bin ma’rûf bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini dari Mas’adah.

Dalam hadits ini terdapat :

1. Ibrâhim bin Ahmad bin Marwân al-Wâsithiy
Perawi ini dilemahkan ad-Dâraquthni rahimahullah dengan menyatakan Ia tidak kuat. [Lihat I’lâ’ as-Sunan, at-Tahâwani 17/116]

2. Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth al-Wâsithiy
Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam kitab Irwâ`ul Ghalîl no. 1168 berkata: Abdul Mâlik bin Ma’rûf tidak dikenal dan tidak memiliki keterangan biografinya sedikitpun dalam kitab-kitab ilmu Rijal (perawi hadits).

3. Mas’adah bin al-Yasa’
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: Binasa, dihukumi Abu Dawud rahimahullah sebagai pendusta.[1] Ahmad rahimahullah berkata: Kami buang haditsnya sejak dahulu. [2]

Abu Hâtim berkata: Rusak dan mungkar hadits tidak dipakai dan berdusta atas Ja’far bin Muhammad. [3]

Ibnu Adi rahimahullah berkata: Mas’adah ini perawi yang lemah. seluruh hadits yang diriwayatkannya berupa Mursal dan musnad dan yang lainnya lemah. [4]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Lisân al-Mizân 6/23 berkata: Diantara aibnya adalah ia meriwayatkan dari Amru bin Dinâr dari Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Sebaik-baiknya ahli Mayit adalah yang paling banyak dzikirnya dan orang yang bermajlis hingga rendah hati dan yang paling sempurna takarannya adalah yang mengambil tanah tiga kali dengan telapak tangannya. Mahmûd bin Ghailân berkata: Ahmad rahimahullah dan Yahya bin Ma’in rahimahullah serta Abu Khaitsamah rahimahullah menghukuminya sebagai perawi yang sangat lemah. Ibnu Abi Khaitsamah berkata pada biografi Ibnu Juraij dalam kitab tarikh nya: Ditanya Yahya bin Ayûb, mengapa beliau meninggalkan hadits Mas’adah bin al-yasa’, maka beliau menjawab: Karena dia meriwayatkan sebuah hadits yang diingkari para ulama hadits dengan mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad.

4. Huraits bin as-Sâ`ib dari al-Hasan
Huraits atau dalam naskah lainnya Hudaits bin as-Sâ`ib dimasukkan adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab adh-Dhu’afa` dan berkata: Zakariyâ as-Sâji melemahkannya. [5]

5. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah.
Seorang Tabi’in tsiqat dan imam terkenal namun melakukan tadlîs dan di dalam hadits ini menyampaikan dengan ‘ananah.

6. Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal sebagai pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak berusia 10 tahun dan terus membantu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga wafat.

Jelaslah sebab lemahnya hadits ini dengan melihat para perawi dalam sanadnya.

Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata: Ini sanad yang sangat lemah sekali bersambung dari awal hingga akhir dengan sebab kelemahan dan yang paling parah adalah dusta Mas’adah. Tampaknya karena itu, al-Hâfizh al-Haitsami t tidak memandang sebab-sebab kelemahan lainnya sehingga berkata dalam kitab al-Majma’ 4/58 : Diriwayatkan ath-Thabrâni rahimahullah dalam ash-Shaghîr dan ada padanya Mas’adah bin al-Yasa’ seorang pendusta. [6]

At-Tahâwani rahimahullah menyatakan: Jelaslah dari keterangan ini, Seandainya tidak ada dalam sanad itu kecuali Mas’adah, maka cukup untuk menolak hadits ini. Bagaimana dalam hadits ini juga ada Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth dan Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân. Abdul Mâlik tidak dikenal siapa dia dan bagaimana dia? sedangkan Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân disampaikan al-Hâkim dari ad-Dâraquthni bahwa beliau berkata: bukan perawi yang kredibel. [7]

Syaikh al-Albâni rahimahullah menambahkan : Seandainya hadits ini benar, tentulah Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak menjawab ketika disampaikan kepada beliau pernyataan: “Diaqiqahkan dengan onta” : Aku berlindung kepada Allah, namun yang disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dua kambing yang bagus. Sanad riwayat ini hasan seperti telah dijelaskan dalam hadits no. 1166. Juga ada isyarat bahwa hadits dari Anas ini tidak pernah disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Agak heran al-Hâfizh dalam al-Fath (9/512) diam dan hanya menyandarkannya kepada ath-Thabrâni dan Abu as-Syeikh. [8]

Oleh karena itu Syeikh al-Albâni rahimahullah menilai hadits ini sebagai hadits palsu.[9]

Wallahu A’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] lihat Mizân al-I’tidâl no. 8467
[2] Al-Kâmil Fi Dhu’afa ar-rijal, Ibnu Adi 8/127
[3] lihat Irwâ’ul-Ghalîl, 4/394
[4] Al-Kâmil Fi Dhu’afa, 8/128
[5] lihat Irwâ’ul-Ghalîl, 4/394
[6] Irwâ’ul-Ghalîl, 4/394
[7] I’lâ’ as-Sunan, 17/115-116
[8] Irwâ’ul-Ghalîl, 4/394
[9] Irwâ’ul-Ghalîl, 4/394

Allâh Azza Wa Jalla Mengetahui Segalanya

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEGALANYA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Di antara sifat Allâh Azza wa Jalla yang menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah sifat ilmu. Dan sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla merupakan sifat dzatiyah tsubutiyah, yaitu sifat yang selalu ada pada Allâh Azza wa Jalla , tidak pernah pisah dengan Dzat Allâh.

DALIL-DALIL NAQLI (WAHYU)
Sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla ditunjukkan oleh akal dan syara’ (agama/wahyu). Adapun dalil naqli atau wahyu, maka banyak sekali ayat dan hadits yang memberitakan ilmu Allâh, dan ini tidak terhitung jumlahnya. Di antara nama-nama Allâh Azza wa Jalla adalah Al-‘Alîm, Al-‘Aalim, dan Al-‘Allâm, yang semuanya memiliki arti Allâh Azza wa Jalla memiliki ilmu.

Allâh Azza wa Jalla  memberitakan nama-Nya Al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) lewat perkataan para malaikat:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) lagi Maha Bijaksana. [Al-Baqarah/2:32]

Allâh Azza wa Jalla memberitakan nama-Nya ‘Aalimul ghaib wasy syahâdah (Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nampak) dengan firman-Nya,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’du/13:9]

Allâh Azza wa Jalla juga memberitakan nama-Nya ‘Allâmul ghuyûb (Yang Maha Mengetahui semua perkara ghaib) dengan firman-Nya,

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ ۖ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

(Ingatlah), hari di waktu Allâh  mengumpulkan para rasul lalu Allâh  bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?.” Para rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui semua perkara ghaib.” [Al-Mâidah/5:109]

DALIL AKAL
Sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla juga ditunjukkan oleh akal. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bagaimana akal menetapkan sifat ilmu bagi-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allâh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al-Mulk/67:14]

Ayat ini menunjukkan bahwa akal menetapkan Allâh Azza wa Jalla itu Maha Mengetahui. Sisi penetapannya adalah bahwa  Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan makhluk dan itu pasti dengan ilmu. Karena menciptakan sesuatu itu dengan kehendak, dan kehendak itu mengharuskan adanya pemahaman terhadap apa yang dikehendaki, dan pemahaman itu adalah ilmu.

Demikian juga menciptakan makhluk adalah menetapkan dan menyusun bagian-bagiannya makhluk, dan hal itu pasti dengan ilmu. Keberadaan makhluk dengan kesempurnaan, ketelitian, kerapian yang mengagumkan, ini semua tidak akan terjadi tanpa ilmu. Oleh karena itu jika dikatakan, “Si A telah membuat mobil, padahal dia tidak memiliki ilmu tentang mobil, atau dia tidak tahu sama sekali tentang mobil”, maka perkataan ini tidak akan diterima. Bagaimana mungkin dia merangkai dan menyusun bagian-bagian mobil, kemudian menjadikan bentuk mobil seperti ini, padahal dia tidak berilmu sama sekali? Maka seluruh makhluk yang ada ini adalah bukti nyata ilmu Allâh Azza wa Jalla .

Demikian juga orang-orang yang tidak menetapkan  sifat ilmu bagi Allâh, berarti menganggap Allâh Azza wa Jalla tidak berilmu alias bodoh. Maha Suci Allâh Azza wa Jalla dari anggapan mereka.

Selain itu di kalangan makhluk, termasuk manusia, ada yang berilmu, dan  ilmu merupakan sifat kesempurnaan, maka mustahil Allâh Azza wa Jalla tidak berilmu, karena berarti makhluk lebih sempurna dari Khaliq, ini mustahil.

Demikian juga semua semua ilmu yang ada pada makhluk adalah pemberian Allâh, maka mustahil pemberi ilmu dan pencipta ilmu bagi makhluk namun Dia tidak berilmu.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEGALA SESUATU
Banyak sekali ayat-ayat yang memberitakan bahwa ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, bahkan hal ini Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam 26 tempat di dalam al-Qur’an. Antara lain firman Allâh Azza wa Jalla.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah/2:29]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

Sesungguhnya Rabbmu hanyalah Allâh, yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” [Thaha/20:98]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allâh-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allâh berlaku pada semuanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allâh  Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allâh, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. [Ath-Thalaq/65:12]

Ayat-ayat ini dan lainnya semua menunjukkan bahwa ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada apapun yang tersembunyi bagi Allâh Azza wa Jalla , dan tidak ada apapun yang luput dari ilmu Allâh Azza wa Jalla.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI YANG SUDAH TERJADI, YANG SEDANG TERJADI, AKAN TERJADI DAN YANG TIDAK TERJADI
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, ini mencakup perkara yang sudah terjadi, sedang terjadi, belum terjadi, dan yang tidak terjadi. Banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan hal ini.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

Allâh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allâh  melainkan apa yang dikehendaki-Nya. [Al-Baqarah/2: 255]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (wafat 310 H) berkata, “Yaitu ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi semua yang sudah terjadi, dan semua yang sedang terjadi, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya”. [Tafsir ath-Thabari, 5/396]

Allâh Azza wa Jalla banyak memberitahukan peristiwa yang sudah terjadi. Seperti asal muasal penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, dan lainnya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. [Al-Hadid/57:4]

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. [Ar-Rûm/30:20]

Allâh Azza wa Jalla  berfirman memberitahukan peristiwa yang sedang terjadi,

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا

Sesungguhnya Allâh telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). [An-Nûr/24:63]

Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitahukan peristiwa yang akan terjadi,

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu. Allâh telah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut/mengingat mereka. [Al-Baqarah/2:235]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا

Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika akan berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja.” [Thaha/20:104]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengetahui apa yang akan terjadi, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu Allâh Azza wa Jalla memberitakan banyak perkara sebelum terjadinya, kemudian terjadi seperti yang telah Allâh Azza wa Jalla beritakan. Ini menunjukkan secara pasti bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengetahui apa yang akan terjadi. Bahkan ilmu Allâh Azza wa Jalla mencakup perkara yang tidak terjadi seandainya terjadi. Allâh Azza wa Jalla  berfirman,

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. [Al-An’am/6:28]

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan mereka dari manusia, ketika dihadapkan ke neraka, mereka akan mengatakan karena penyesalan, “Alangkah inginnya kami dikembalikan ke dunia, nanti kami tidak akan mendustakan ayat-ayat-Nya dan kami akan menjadi orang-orang beriman”. Tetapi Allâh Yang Maha Mengetahui menyatakan: seandainya mereka dikembalikan hidup ke dunia dan diberi tangguh, maka mereka pasti akan kembali kepada perbuatan kekafiran mereka yang dahulu. Karena ucapan mereka itu hanya karena takut siksa, bukan karena beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . [Lihat Tafsir Ath-Thabari, 11/321-322]

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEMUA YANG GHAIB DAN YANG NAMPAK
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, termasuk semua perkara  yang syahadah (nampak; yaitu terjangkau panca indra) dan yang ghaib (yaitu tidak terjangkau panca indra). Allâh Azza wa Jalla  berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. [Al-An’am/6:73]

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah (wafat 310 H) berkata, “Dia mengetahui apa yang kamu lihat dan kamu saksikan wahai manusia, dan (Dia mengetahui) apa yang  tidak terjangkau indra dan pandangan kamu, sehingga kamu tidak merasakannya dan tidak melihatnya”. [Tafsir Ath-Thabari, 11/464]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allâh”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. [An-Naml/27:65]

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEMUA SECARA GLOBAL DAN RINCI
Dan ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu secara global dan rinci, karena semuanya adalah ciptaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allâh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. [Al-An’am/6:59]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia berada di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allâh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadîd/57:4]

Ayat ini memberitakan ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu secara rinci yang tidak dijangkau oleh ilmu makhluk-Nya. Dimulai dengan berita bahwa Allâh Azza wa Jalla yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu memberitakan tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas ‘arsy, ini menunjukkan Allâh Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya. Lalu Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, seperti biji, benih, air, serangga, barang tambang, dan lainnya, dan apa yang keluar darinya, seperti tumbuhan, mata air, barang tambang dan lainnya, dan apa yang turun dari langit, seperti salju, hujan, petir, malaikat, dan lainnya, dan apa yang naik kepada-Nya, seperti malaikat, amalan manusia, dan lainnya.  Ini menunjukkan ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu.

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada“, maksudnya adalah kebersamaan Allâh Azza wa Jalla yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. [An-Najm/53:32]

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan ilmu Allâh Azza wa Jalla yang global dan rinci terhadap segala sesuatu.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI YANG TERANG, YANG TERSEMBUNYI DAN ISI HATI
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, termasuk semua perkara yang terang dan yang tersembunyi. Allâh Azza wa Jalla mengetahui pandangan mata yang berkhianat, bahkan Dia mengetahui isi hati seluruh hamba-Nya. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allâh, walaupun sesuatu itu berada di atas langit, di dalam bumi, di puncak gunung yang terjal, dan di kegelapan lautan yang sangat dalam.

Allâh Azza wa Jalla berfirman,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ ﴿٦﴾ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. [Thaha/20:6-7]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allâh Maha Mengetahui segala isi hati. [Ath-Thaghâbun/64:4]

GOLONGAN YANG YANG MENYIMPANG DALAM MASALAH ILMU ALLAH AZZA WA JALLA
Banyak golongan yang menyimpang dalam memahami sifat ilmu Allâh, padahal sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla ini termasuk yang paling banyak diberitakan dalam al-Qur’an. Di antara golongan-golongan yang menyimpang itu adalah sebagai berikut: [Lihat Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, 4/13, Syaikh Abdurrahim as-Silmi]

Ahli Filsafat
Para ahli filsafat adalah orang-orang yang berusaha mencari kebenaran segala hal hanya dengan akal. Karena akal manusia terbatas, tidak bisa menjangkau hal yang ghaib, tetapi mereka memaksakan akal mereka bukan pada bidangnya, maka akhirnya mereka menjadi sesat dengan menyesatkan. Termasuk kesesatan para ahli filsafat ketika mereka menolak ilmu yang yang rinci terhadap segala sesuatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pokok perkara para ahli filsafat adalah: bahwa mereka tidak menetapkan bagi Sang Pencipta makhluk (sifat) kehendak, pilihan, dan kemampuan. Yang dengan kemampuan itu Dia mampu merubah makhluk dari satu keadaan kepada keadaan lain. Bahkan imam-imam ahli filsafat tidak menetapkan bagi Sang Pencipta (sifat) ilmu terhadap perincian keadaan-keadaan makhluk. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa Sang Pencipta tidak mengetahui sesuatupun. Sebagian mereka mengatakan, bahwa Dia tidak mengetahui kecuali diri-Nya sendiri. Sebagian mereka mengatakan, bahwa Dia mengetahui bagian-bagian makhluk secara global, ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Sina, ini adalah pendapat terbaik dari pendapat-pendapat ahli filsafat, tetapi pendapat inipun kontradiksi dan rusak”. [Shafadiyah, 1/7]

Lihatlah kerusakan pendapat mereka, jelas-jelas bertentangan dengan akal dan wahyu yang menyatakan bahwa Allâh  Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.

Rafidhah
Kita telah mengetahui bahwa ilmu tentang segala sesuatu hanya dimiliki oleh Allâh, sebagaimana diberitakan di dalam kitab suci al-Qur’an dalam banyak tempat. Namun  orang-orang Syi’ah menyelisihi kitab Allâh Azza wa Jalla dan ajaran Rasul-Nya, mereka menetapkan sifat khusus Allâh Azza wa Jalla tersebut bagi imam-imam mereka.

Al-Kûlini membuat bab khusus di dalam kitabnya,  “Sesungguhnya imam-imam ‘alaihimus salam mengetahui ilmu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan bahwa tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi mereka”.

Kemudian Al-Kûlîni berdusta dengan meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, bahwa dia berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi. Aku juga mengetahui semua yang ada di surga dan semua yang ada di neraka. Dan aku mengetahui semua yang yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi”.

Kemudian Al-Kûlini berdusta lagi dengan meriwayatkan dari bapak Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, yaitu Muhammad al-Baqir rahimahullah, bahwa dia berkata:“Demi Allah, seorang ‘alim tidak akan menjadi jahil (bodoh) selamanya, tidak akan ‘alim terhadap sesuatu dan menjadi jahil (bodoh) terhadap sesuatu yang lain”. Lalu dia berkata lagi, “Allâh Azza wa Jalla lebih agung, lebih mulia, lebih pemurah, dari mewajibkan mentaati seorang hamba (maksudnya imam Syi’ah-pen) yang Dia menghalangi darinya ilmu tentang langit dan bumi-Nya”. Lalu dia berkata lagi, “Allâh tidak akan menghalangi ilmu itu darinya (imam tersebut-pen)”. [Al-Ushul minal Kaafi, 1/262; dinukil dari Asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 242; karya Syaikh Ihsan Ilâhi Zhahir]

Kedustaan para pendusta atas nama Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, telah beliau ketahui dan beliau ingkari juga. Sebagaimana diriwayatkan oleh orang-orang Syi’ah sendiri dalam kitab mereka, bahwa Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata:

“Sungguh mengherankan orang-orang yang mengatakan bahwa kami mengetahui perkara ghaib, padahal tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allâh ‘Azza wa Jalla. Aku ingin memukul budak wanitaku, Si Fulanah, tetapi dia melarikan diri dariku, aku tidak tahu sekarang dia (sembunyi) di rumah yang mana?” [Al-Hujjah minal Kâfi, 1/257; dinukil dari Asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, halm. 242; karya Syaikh Ihsan Ilâhi Zhahir]

Qadariyyah
Golongan ketiga adalah Qadariyyah zaman dahulu, mereka mengingkari ilmu Allâh terhadap perbuatan manusia. Mereka mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak mengetahui perbuatan manusia sebelum dikerjakan. Di antara mereka adalah Ma’bad al-Juhani.

Yahya bin Ya’mar berkata, “Pertama kali orang yang mengingkari qadar di kota Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Kemudian aku dan Hunaid bin Abdurrahman al-Himyari pergi haji atau umrah, kami berkata, “Jika kami bertemu salah seorang dari sahabat Rasûlullâh n kami akan bertanya kepadanya tentang perkataan mereka yang mengingkari qadar itu”.

Kemudian mereka bertemu Abdullah bin Umar, Yahya bin Ya’mar berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, di kalangan kami telah muncul orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mencari ilmu. Namun mereka mengatakan bahwa qadar itu tidak ada, dan bahwa semua urusan itu unuf (yaitu tidak didahului takdir dan ilmu dari Allâh, tetapi Allâh mengetahuinya setelah terjadi-pen)”. Maka Ibnu Umar menjawab,

«فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي»، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

Jika engkau bertemu mereka, beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari-ku. Demi Allâh, Yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, jika seseorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung uhud, lalu dia menginfakkannya, Allâh tidak akan menerima darinya sampai dia beriman kepada qodar”. [HR. Muslim, no. 8]

Ini menunjukkan kesesatan Qadariyyah, dan bahwa Ibnu Umar mengkafirkan mereka.

Mu’tazilah
Golongan berikutnya adalah Mu’tazilah, mereka mengingkari sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan alasan menetapkannya merupakan kemusyrikan! Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Syaikh Abdurrahim as-Silmi berkata, “Golongan Mu’tazilah tidak menetapkan sifat ilmu (bagi Allâh), tetapi mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla itu ‘Aalim”, jika mereka ditanya, “Apakah Allâh ‘Aalim dengan ilmu?” mereka menjawab, “Tidak. Dia ‘Aalim tanpa ilmu” atau mereka mengatakan, “Allâh ‘Aalim dengan ilmu yang merupakan dzat-Nya”. Ini adalah prinsip mereka di dalam menolak semua sifat-sifat Allâh ‘Azza wa Jalla. Mereka menetapkan nama-nama bagi Allâh sekedar nama tanpa sifat”. [Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, 4/13,  Syaikh Abdurrahim as-Silmi]

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, “Allâh Subhânah Maha Mengetahui dengan ilmu yang merupakan sifat-Nya, yang ilmu-Nya berada pada dzat-Nya. Ini berbeda dengan golongan Mu’tazilah yang meniadakan sifat-sifat Allâh. Sebagian mereka berkata, “Dia ‘Aalim dengan dzat-Nya, Qâdir (berkuasa) dengan dzat-Nya, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menjelaskan nama-nama Allâh Azza wa Jalla dengan kalimat negatif, dengan mengatakan, “’Alîm maknanya tidak bodoh”, “Qâdir maknanya tidak lemah”,  dan seterusnya”. (Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, hal. 93, Syaikh Muhammad Khalil Harras). Ayat-ayat di atas jelas membantah pendapat golongan Mu’tazilah ini.

PENGARUH BERIMAN KEPADA ILMU ALLAH AZZA WA JALLA
Sesungguhnya beriman kepada sifat ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu akan memiliki dampak dan pengaruh yang agung pada diri manusia.

Dengan meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla Maha Mengetahui, maka hal ini akan melahirkan sifat murâqabah, satu kedudukan yang agung di dalam iman. Yaitu di mana saja, berada seseorang merasakan bahwa Allâh Azza wa Jalla selalu mengetahui dan mengawasinya. Orang yang meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla mengetahui semua perbuatannya, mengetahui isi hatinya, mengetahui rahasia dan yang tersembunyi, mengetahui segala sesuatu, maka dia tahu bagaimanapun dia bersembunyi melakukan kemaksiatan, Allâh Azza wa Jalla selalu melihatnya, selalu mengetahuinya. Maka sudah sepantasnya manusia malu  berbuat maksiat kepada Rabbnya, karena Dia Maha Kuasa. Jika Dia menghendaki membinasakan semua manusia, maka hanya dengan satu kalimat hal itu akan terjadi.

Dengan meyakini sifat ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu, seorang Mukmin meyakini takdir Allâh. Yaitu bahwa Allâh Azza wa Jalla Mengetahui semua yang akan terjadi. Ini berarti tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, dengan tanpa perencanaan dan ketetapan sebelumnya. Tetapi semua peristiwa terjadi dengan ilmu-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya. Sehingga seorang Mukmin tidak akan mempertanyakan, “Kenapa Allâh  menjadikan Si A itu kaya, Si B itu miskin? Kenapa Allâh  menjadikan Si A itu sakit, Si B itu sehat? Kenapa Allâh menjadikan Si A presiden, gubernur, atau walikota? Kenapa  Allâh memilih Si B menjadi nabi? Kenapa Allâh mendatangkan banjir, tsunami, gempa, yang menyusahkan manusia?” Karena pertanyaan-pertanyaan ini merupakan penentangan takdir Allâh Azza wa Jalla yang telah Dia tetapkan dengan ilmu-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya.

Demikian juga seorang yang meyakini ilmu Allâh Azza wa Jalla tidak akan mempertanyakan syari’at Allâh. “Kenapa Allâh mengharamkan ini? Kenapa mewajibkan ini? Kenapa memerintahkan ini? Kenapa melarang ini? Kenapa menetapkan potong tangan bagi pencuri?”, dan lainnya. Karena seorang Mukmin meyakini bahwa syari’at Allâh ditetapkan dengan ilmu-Nya yang sempurna, hikmah-Nya yang agung, dan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu. Maka seorang Mukmin akan pasrah menerima syari’at Allâh Azza wa Jalla dan meyakini bahwa itu adalah aturan terbaik bagi manusia.

Tidak pantas manusia yang jahil, bertanya menentang kepada Allâh Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Bijaksana, dan Maha Kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiya’/21:23)

Semoga Allâh Azza wa Jalla selalu membimbing kita meraih ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih, disertai keikhlasan dan keimanan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Mendengar doa hamba-hamba-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09-10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Aturan Al-Qur’an Dalam Masalah Harta

ATURAN AL-QUR’AN DALAM MASALAH HARTA

Oleh
Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi[1]

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.  [An-Nisâ’/4:5]

MUFRADAT

  • Al-Îtâ’ [الإيْتَاءُ] artinya memberikan. Misalnya ungkapan, “âtâhu kadzâ (آتَاهُ كَذَا) artinya ia memberinya sesuatu. Jadi makna wa lâ tu’tû (dalamayat di atas) adalah dan janganlah kalian memberikan.
  • As-Sufahâ’ (السُّفَهَاءُ) bentuk jamak dari kata safîh (السَّفِيْهُ). Dalam bahasa Arab, kata itu bermakna orang yang lemah akalnya dikarenakan jahil, atau karena ia tidak mengetahuinya. Sedangkan dalam pengertian syar’i, kata itu berati orang yang tidak bisa mengatur penggunaan harta dengan baik. Karena ia tidak tahu dan tidak mengerti aturan membelanjakan harta, atau karena dorongan hawa nafsunya lebih dominan daripada pertimbangan akal sehatnya.

Kata ini cakupannya umum, meliputi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa ataupun anak-anak, yang tidak bisa mengatur hartanya dengan benar, baik dengan melakukan sesuatu yang bisa menguras hartanya, menyia-nyiakannya, atau dengan merusaknya, misalnya dengan menggunakan harta pada hal-hal yang justru mendatangkan bahaya, atau minimal membelanjakannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali.

  • Al-amwâl (الأمْوَالُ) bentuk jamak dari al-mâl (المَالُ), yaitu segala sesuatu yang bernilai harta, baik berupa benda mati, seperti emas, perak, biji-bijian, buah-buahan, atau berupa properti seperti tanah, rumah, pabrik; atau yang bersuara seperti hewan, khususnya binatang ternak berupa unta, sapi, dan kambing; juga kuda, bighal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai) serta keledai.
  • Al-Qiyâm (القِيَامُ); dalam (salah satu) bacaan qira’ah sab’ah juga dibaca: qiyaman (قِيَماً) bentuk jamak dari qîmah (قِيْمَةٌ), artinya sesuatu yang dijadikan standar nilai bagi barang-barang yang lain, sedangkan al-qiyâm artinya pokok penopang atau penyangga sesuatu. Jadi, harta itu pokok yang menopang kehidupan manusia, baik dalam taraf pribadi maupun kelompok, karena harta ia dapat menjadikan hidup ini menjadi eksis dan berjalan dengan baik.
  • Al-Qaul al-ma’rûf (القَوْلُ الْمَعْرُوفُ) adalah janji yang baik, ucapan yang lembut dan bagus. Misalnya, seorang wali atau yang diamanahi untuk menyampaikan (atau mengurusi) wasiat mengatakan kepada orang yang akan menerima wasiat tersebut namun dia masih belum diperbolehkan untuk mengurusi hartanya sendiri (mahjûr alaih) disebabkan akalnya yang belum sempurna, “Ini adalah hartamu. Aku hanya orang yang menjaga hartamu ini, untuk kepentinganmu. Bila engkau telah besar atau matang pikirannmu, hartamu akan kuserahkan kepadamu dan engkau bisa mengaturnya sendiri, karena engkau adalah pemiliknya.”

Makna Ayat
Sekelompok kaum Muslimin, yang bisa saja berkedudukan sebagai suami, ayah, wali, orang yang diamanati untuk menyampaikan atau menjaga wasiat, atau seorang hakim (penguasa) yang diminta (untuk mengurus harta orang safih), mereka ini dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla untuk memberikan harta  kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, baik dia lelaki, wanita, ataupun anak-anak, meski faktanya harta itu memang hak mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka yang bertanggung jawab untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang safîh tersebut dalam mengurusi harta mereka sendiri, sebab mereka bisa menyia-nyiakannya, merusaknya, atau melenyapkannya dengan cara membelanjakannya pada sesuatu yang tidak mereka butuhkan sama sekali, atau dengan menginfakkannya pada sesuatu yang lekat dengan kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Misalnya, mereka menggunakannya untuk pada minuman, makanan, atau pakaian yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Disamping itu, Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada  para wali atau yang diwasiati agar memberikan nafkah kepada mereka (orang-orang safîh) itu dari harta tersebut dengan menyediakan atau membelikan sesuatu yang mereka butuhkan, baik berupa makanan, minuman, tempat tinggal ataupun pakaian.

Allâh Azza wa Jalla juga agar mereka berkata-kata kepada mereka dengan tutur kata yang lembut, serta menjaga perasaan dan hati mereka. Ini dilakukan dengan cara memberikan janji yang baik (janji yang memang ditepati), yaitu apabila mereka telah matang akalnya, harta tersebut akan diserahkan kepada mereka, meskipun harta tersebut sudah berkembang banyak.

Korelasi Ayat Dengan Ayat Sebelumnya
Dalam ayat sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengembalikan harta anak-anak yatim kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. [An-Nisa’/ 4: 2]

Juga Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar memberikan mahar kepada para istri dengan firman-Nya:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. [An-Nisa’ / 4: 4]

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla melanjutkannya dengan ayat yang sedang bahas ini, dengan menjelaskan bahwa orang-orang yang belum sempurna akalnya baik dari lelaki, wanita, dewasa maupun anak-anak, mereka tidak berhak untuk diberikan harta tersebut (kala itu), meskipun mereka mendapatkan kepemilikan harta tersebut secara benar menurut syariat. (Penundaan ini-red) Karena dikhawatirkan mereka akan menyia-nyiakannya, sebab akal mereka belum sempurna, pengetahuan mereka terlalu lemah, atau karena mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan dan mengatur harta dengan baik. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman dengan firman di atas:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An-Nisâ’/4:5]

Berbagai Hukum Yang Terkandung Dalam Ayat
Di antara hukum-hukum yang terkandung dalam ayat tersebut di atas adalah:

  1. Seorang yang belum sempurna akalnya harus dicegah atau dilarang dari melakukan transaksi harta (al-hijr ‘ala as-safih); yaitu ia dicegah untuk melakukan transaksi dalam hartanya, kecuali dalam kadar yang dibatasi, tidak melebihi nafkah kebutuhan kesehariannya yang pokok, berupa makanan, minuman dan sandang.
  2. Harta memiliki kehormatan dan dianggap sebagai penopang pokok kehidupan serta urat nadinya. Dengannya, kehidupan seseorang bisa eksis dan baik. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengharamkan perbuatan yang bisa melenyaapkan atau memusnahkan harta dan menghambur-hamburkannya. Allâh Azza wa Jalla juga mengharamkan pembelanjaan harta untuk hal-hal yang membahayakan atau tidak bermanfaat.
  3. Ada kewajiban untuk memberi belanja (nafkah) kepada orang yang belum matang akalnya, baik ia seorang lelaki, perempuan atau anak-anak, sampai akal mereka matang. Setelah itu, barulah harta tersebut diserahkan kepadanya.
  4. Seseorang yang diamanati memegang harta lalu dia ingin melakukan transaksi pada harta tersebut, maka sebelum melakukan apapun, ia wajib mengetahui bagaimana ia seharusnya mengelola harta tersebut.
  5. Harta adalah tiang penopang kehidupan komunitas Muslimin. Sehingga tidak boleh memberikan harta kepada orang yang akan merusaknya, baik dengan menghambur-hamburkanya, juga membelanjakannya dalam kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , siapapun itu. Sebab kepemilikan harta bagi individu tidak berarti memberikan ruang bebas bagi pemilik harta untuk merusak hartanya dengan cara dan bentuk apapun. Karena harta adalah tiang penopang kehidupan seluruh manusia. Sehingga haram atas seorang individu dari mereka untuk memusnahkan dan merusak hartanya, bagaimanapun cara dan bentuknya.

Pelajaran Penting Dari Ayat
Sesungguhnya ayat ini  adalah satu dari tiga ayat dalam al-Qur`an yang menjadi aturan umum dalam mengatur belanja dan aktivitas dalam harta. Seandainya seorang mengikuti aturan ini maka tidak akan butuh kepada sesuatu aturan yang meluruskan penyimpangannya.

Tiga ayat tersebut adalah:

  1. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An-Nisâ’/4 :5]

  1. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isrâ’/ 17:29)

  1. Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا  

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqân/ 25:67]

Penjelasannya:
Mencari dan menghasilkan harta dari berbagai sumbernya seperti dari perniagaan, industri dan pertanian serta memiliki usaha jasa bukanlah masalah, karena cinta harta termasuk perkara fitrah pada diri setiap manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿٦﴾ وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿٧﴾ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. [Al-Adiyaat/100:6-8]

Kata al-khair dalam ayat ini bermakna harta.

Sebagaimana juga realita membuktikannya, karena manusia sekarang telah menuhankan harta seperti orang musyrik menuhankan berhala yang disembahnya. Sampai-sampai banyak individu seperti sebuah jamaah, yang tidak dipandang dan tidak tegak kecuali dengan ekonomi dan hartanya, bukan dengan etika dan akhlaknya. Hal itu tentunya dikecualikan sedikit dari kaum Mukminin.

Berdasarkan hal ini, cinta harta dan berbagai usaha untuk mendapatkannya serta kepemilikan terhadap harta bukanlah sebuah kesalahan dalam kehidupan manusia. Akan tetapi permasalahannya adalah pada cara mengeluarkan harta tersebut dan cara menjaganya. Ternyata, ada orang yang melampaui batas dalam mencintai harta, sehingga melakukan cara dan sarana yang terburuk untuk mengumpulkan dan menjaga hartanya seperti menjual diri dan kehormatan serta agamanya. Atau bakhil dan kikir dengan hartanya sehingga ia tidak mengeluarkan dan tidak menyerahkan apa yang menjadi hak harta atasnya. Wal’iyadzu billah.

Ada juga orang yang tidak mengerti nilai harta, tidak menghormatinya dengan benar lalu membuangnya sia-sia, sehingga ia membelanjakannya pada hal-hal yang sangat rendah. Juga bersikap boros hingga mengeluarkannya dari tangannya walaupun sebanyak harta karun. Tidak mampu membuat aturan tepat yang bisa menjaga harta dan pemiliknya dari kerusakan kecuali aturan yang digariskan tiga ayat yang telah kami sebutkan di atas.

Ayat pertama, menjelaskan konsep memuliakan harta dan menganggapnya sebagai hal yang inti dan pokok kehidupan, sehingga diharamkan membiarkan orang-orang yang belum sempurna akalnya menggunakan hartanya, agar tidak terlantar dan hancur.

Ayat kedua, menjelaskan konsep moderat dalam nafkah sehingga pemiliknya dilarang bakhil dan kikir dalam membelanjakan hartanya; sesuai keharusan memberi nafkah dan kewajiban mengeluarkan dan memberikannya. Jangan menjadikan tangannya terbelenggu di lehernya. Ungkapan ini merupakan lafaz kinâyah (kata kiasan) dari puncak kekikiran dan kebakhilan. Tangan yang berbelenggu di leher tidak akan bisa berinfaq. Sebagaimana juga melarang boros dan buang-buang harta. Dan kedua hal ini adalah bentuk membelanjakan harta tanpa kebutuhan dan kepentingan, atau belanja untuk kemaksiatan. Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya: (dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya) adalah lafaz kinâyah yang menunjukkan makna membuang-buang harta dan boros dalam nafkah, baik yang disyariatkan maupun yang tidak disyariatkan. Tangan yang terlalu diulurkan tidak bisa menahan apapun, sehingga tidak ada yang tersisa.

Untuk larangan yang pertama (yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu alias bakhil-red), jika dilanggar maka akibatnya adalah kamu akan dicela. Karena orang yang tidak menginfakkan atau mengeluarkan harta pada sesuatu yang seharusnya dibiayai, dia pasti akan dicela oleh umat manusia. Karena secara tidak langsung, dia telah menghambat hak-hak orang lain.

Sedangkan untuk larangan kedua (yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya-red), jika dilanggar, maka akibatnya mahsûr. Mahsûr artinya tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kecapekan.

Jadi orang menghambur-hamburkan hartanya dan melepaskannya dari genggaman tangannya akan terganggu dalam melanjutkan kehidupannya. Karena harta yang menjadi penopang utama kehidupannya telah disia-siakan dan dirusak sendiri, akibatnya dia akan merasakan bahwa kehidupan akan berakhir. Ini kematian secara maknawi yang bisa menghantarkan kepada kematian sebenarnya.

Ayat ketiga, Ayat ini menetapkan asas keadilan dalam membelanjakan atau mengeluarkan harta. Terlalu mudah mengeluarkan atau terlalu susah (bakhil), kedua-duanya diharamkan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqân/25:67]

Maksudnya, tengah-tengah, diantara perbuatan menghambur-hamburkan atau berlebihan dalam membelanjakan harta dan perbuatan bakhil yang tercela ada jalan tengah. Jalan tengah itu adalah tengah-tengah (sedang-sedang) dalam membelanjakan atau memanfaatkan harta.

Inilah aturan al-Qur’an dalam membelanjakan atau memanfaatkan harta. Barangsiapa yang memperaktikkan aturan ini, maka dia pasti selamat dan akan berakhir bahagia. Sebaliknya, orang yang berpaling dari aturan ilahi ini, dia pasti akan sengsara lalu binasa. Kalau sudah begini, maka janganlah dia menyalahkan orang lain. Hendaklah dia menyalahkan dirinya sendiri.

Yang pertanyaan sekarang, seberapa jauhkah atau seberapa dalamkah kaum Muslimin memahami aturan ini? Seberapa jauhkah kaum Muslimin menerapkan aturan ini?

Jawabnya adalah kaum Muslimin generasi awal umat ini telah memahami aturan ini dengan baik dan benar dan mereka juga sudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari mereka. Buktinya, mereka telah sampai pada suatu level peradaban yang agung, di mana kaum selain mereka tidak ada yang sampai pada level tersebut dalam kancah kehidupan dunia. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa mereka memahaminya dan mengamalkannya dengan baik adalah suatu pertanyaan yang dilontarkan seorang Khalifah Umawiyyah, yaitu Abdul Malik,  yang dilontarkan kepada putrinya yang bernama Fathimah.  Fathimah telah dinikahkan oleh khalifah dengan putra saudaranya yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Ketika mengunjungi Putrinya, Abdul Malik bertanya kepada putrinya, “Bagaimana kehidupan kalian?” Ia menjawab, “(Aku hidup dalam) kebaikan di antara dua keburukan.” Yang ia maksud dengan kebaikan adalah nafkah yang sedang dan proporsional. Sedangkan dua keburukan adalah berlebih-lebihan dalam nafkah dan terlalu hemat menyempitkan belanja.

Adapun kaum Muslimin sekarang ini, sungguh (banyak di antara) mereka yang tidak mengetahui apapun, sampai pun mereka tidak mengetahui diri mereka sendiri. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa memahami aturan al-Qur’an terkait harta ini?! Mereka juga tidak mampu untuk mengambil dan mengamalkan aturan-aturan Qur’an terkait berbagai perbaikan dalam kehidupan. Hal itu karena mereka telah mati. Bukan mati secara ragawi, namun mati secara maknawi. Dan orang yang telah mati tentu tidak mampu untuk mendengar ataupun melihat. Ia tidak bisa datang (untuk mengambil aturan tersebut); tidak mampu pula untuk berpaling (meninggalkan aturan yang bertentangan dengan syariat).

Ya Allâh, Wahai Dzat Yang menghidupkan yang mati, hidupkanlah mereka ini!
Wahai Dzat Yang mengabulkan doa, kabulkanlah doa kami untuk mereka!
Kembalikanlah mereka ke pangkuan Islam!

Jadikan mereka mulia dan kuat dengan Islam! Sempurnakanlah mereka di atas Islam. Karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari majalah Jami’ah al-Islâmiyah edisi 44 versi Maktabah Syamilah dengan sedikit perubahan.

Nihayah, Dosa Besar Warisan Jahiliyyah

NIYÂHAH, DOSA BESAR WARISAN JAHILIYAH

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Allâh wa Ta’ala telah memberikan kepada seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Hanya Allâh Yang Maha Hidup, tidak akan mati.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. [Ali Imrân/3:185]

Kekuasaan Allâh meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan adanya kematian pada manusia, maka bagaimanapun manusia menghindar dari kematian, kematian itu tetap akan menyusulnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An-Nisa’/4:78].

Oleh karena itu setiap kita pasti pernah ditinggal mati oleh orang yang kita kenal atau kita cintai, baik itu kakek, nenek, ayah, ibu, saudara, tetangga, kawan, atau lainnya. Dan kewajiban orang yang mendapatkan musibah adalah sabar dan tabah, tidak berkeluh kesah, bahkan pasrah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha memiliki hikmah.

LARANGAN NIYÂHAH
Termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah ketika mengalami musibah ditinggal mati oleh orang yang dicintai adalah niyâhah. Dan niyahah ini adalah dosa besar.

Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu. berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ

“Ada empat perkara jahiliyah pada umatku, mereka tidak akan meninggalkannya: Membanggakan kemuliaan orang tua, mencela nasab (garis keturunan), menganggap turunnya hujan dengan munculnya bintang tertentu, dan niyâhah (meratap).” [HR.Muslim, no. 934]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Umat (Islam) sepakat keharaman niyâhah terhadap mayit, berteriak dengan teriakan jahiliyah, dan berteriak dengan kecelakaan di saat musibah”. [Al-Adzkar, hlm. 146, karya An-Nawawi, tahqiq: Al-Arnauth]

MAKNA NIYÂHAH
Niyâhah saat musibah kematian merupakan dosa besar, kemudian apa arti niyâhah?

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit. Ada juga yang mengatakan, niyâhah adalah menangis dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit. Para sahabat kami (yaitu para ulama Syafi’iyyah-pen) mengatakan, haram hukumnya mengeraskan suara dengan menangis secara berlebihan, adapun menangisi mayit dengan tanpa menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit, dan tanpa mengeraskan suara maka tidak haram”. [Al-Adzkar, hlm. 147, karya An-Nawawi, tahqiq: al-Arnauth]

Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49, disebutkan. “Niyâhah adalah tangisan dengan suara keras”.

Selanjutnya dijelaskan, “Di dalam istilah (syari’at) ungkapan para ahli fiqih tentang pengertian niyâhah berbeda-beda:

Hanafiyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah: tangisan yang disertai  menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit.  Ada juga yang mengatakan, niyâhah adalah tangisan yang disertai  suara.

Kesimpulan pembiacaraan ulama Malikiyah bahwa niyâhah adalah tangisan yang disertai  dengan satu dari dua perkara: teriakan atau perkataan yang tidak baik.

Kebanyakan ahli fiqih Syafi’iyyah dan sebagian ulama Malikiyah menyatakan bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit, walaupun tanpa menangis. Ada yang mengatakan: disertai dengan menangis.

Hanabilah dan sebagian ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit dengan jeritan atau perkataan bersajak”. [Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49]

BAHAYA NIYÂHAH
Sesuatu yang dilarang oleh agama pasti banyak keburukan dan bahaya. Adapun bahaya dan keburukan niyâhah antara lain sebagai berikut:

1. Termasuk Kufur Ashghar.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan niyahah terhadap mayit.” [HR. Muslim no. 67]

Maksud kufur di sini adalah kufur ashghar, kufur kecil, yakni kufur yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

2. Tidak Termasuk Pengikut Nabi Yang Baik

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»

Dari Abdullah (bin Mas‘ud) Radhiyallahu anhu , dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek juyuub, dan berteriak dengan teriakan  jahiliyah (yakni ketika ditimpa musibah kematian–pen).” [HR. Al-Bukhari no. 1294; Muslim no. 103]

Syaikh Mushthafa Bugho menjelaskan: “Sabda Nabi “Tidak termasuk golongan kami”, yaitu tidak termasuk pengikut agama kami yang mengikuti petunjuk kami, “menampar” yaitu memukul wajah dengan telapak tangan bagian dalam, “juyuub” jama’ dari jaib, yaitu belahan baju sebelah atas untuk memasukkan kepala, yang dimaksud merobek baju secara umum, “teriakan  jahiliyah”, yaitu di dalam tangisannya dan jeritannya berteriak dengan teriakan yang biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliyah, seperti: “Wahai sandaran kami!”, “Wahai kekuatan kami!”, dan ungkapan semacamnya”. [Catatan kaki, Shahih al-Bukhari, no. 1294]

3. Nabi Berlepas Diri
Abu Burdah bin Abu Musa berkata:

وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا فَغُشِيَ عَلَيْهِ، وَرَأْسُهُ فِي حِجْرِ امْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ فَصَاحَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شَيْئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ، وَالْحَالِقَةِ، وَالشَّاقَّةِ»

Abu Musa pernah menderita sakit parah hingga ia pingsan, saat itu kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Seorang wanita dari kalangan keluarganya menjerit, tetapi Abu Musa tidak mampu membantahnya. Ketika Abu Musa telah sadar,  dia berkata: “Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari wanita yang berteriak, wanita yang mencukur rambutnya, dan wanita yang merobek pakaiannya (ketika terjadi musibah kematian).” [HR. Al- Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104]

4. Dipakaikan Pakaian Tembaga Dan Kudis
Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu. berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ»

Wanita yang melakukan niyâhah apabila tidak bertaubat sebelum meninggalnya, maka kelak di hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai pakaian dari tembaga dan pakaian dari kudis.” [HR. Muslim no. 934]

SEBAB LARANGAN NIYAHAH
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Wanita yang melakukan niyâhah mendapatkan adzab dan laknat karena dia memerintah berkeluh kesah dan melarang kesabaran. Padahal Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan bersabar dan mengharap pahala serta melarang keluh kesah dan murka (saat musibah), Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. 9Al-Baqarah/2: 153)”. [Al-Kaba`ir, hal. 185]

Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita syukur ketika mendapatkan nikmat, dan kesabaran ketika mengalami musibah. Wallahul Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Nikmat Berujung Bencana Pelajaran Dari Kehancuran Kaum Saba’

NIKMAT BERUJUNG BENCANA PELAJARAN DARI KEHANCURAN KAUM SABA’

Sungguh Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kenikmatan yang tidak terhingga untuk negeri kita tercinta. Penduduknya ramah, alam yang indah dan kaya juga subur. Sungguh, ini semua merupakan kenikmatan yang tidak bisa dipungkiri.

Tentu, kita berharap kepada Allâh Azza wa Jalla agar kenikmatan ini tetap langgeng kita rasakan, untuk keberkahan dan kebahagian seluruh penduduk negeri ini. Karena Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan, Dia k tidak akan merubah suatu kenikmatan yang ada pada hamba-Nya kecuali karena  hamba itu sendiri yang merubahnya.

Bila kita merubah ketaatan menjadi maksiat, syukur diganti kufur, yang semula amalan kita mendatangkan ridha-Nya lalu berganti dengan perbuatan yang mendatangkan murka, maka Allâh Azza wa Jalla akan merubah kenikmatan itu menjadi bencana dan kehinaan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allâh sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allâh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Anfâl/8:53]

Kisah kaum Saba’ bisa menjadi contoh, bagaimana Allâh Azza wa Jalla mencabut kenikmatan lalu diganti bencana disebabkan kekufuran, kemaksiatan dan berpaling dari agama Allâh.  Kisah ini, Allâh Azza wa Jalla abadikan dalam surat Saba’ agar kita bisa mengenang, membicarakan, dan mengambil pelajaran dari dari kisah ini. Karenanya di akhir kisah kaum Saba’, Allâh mengakhiri firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allâh bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur [Saba’/34:19]

Oleh karena itu, perhatikanlah kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla telah berikan kepada mereka dan bagaimana mereka menyikapi kenikmatan Allâh Azza wa Jalla. Serta apa akibat dari perbuatan mereka itu?

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allâh) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.[Saba’/34:15]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa kebun dan bendungan yang mengairi perkebunan mereka

Kaum Saba’ mempunyai Wâdî (lembah) yang menjadi sungai besar bila dilalui air ketika hujan. Lalu mereka membuat bendungan yang kokoh untuk menampung air hujan dalam jumlah yang banyak. Dengan adanya bendungan itu, kaum Saba’ tidak khawatir akan kekurangan air. Air itu, mereka alirkan ke kebun-kebun mereka yang berada di kanan dan kiri bendungan itu, sehingga kebun-kebun itu menjadi subur dan menghasilkan banyak buah-buahan yang mencukupi kebutuhan mereka.[1]

Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah. Tanahnya subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah. Mereka mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dengannya. Ini adalah kenikmatan yang sangat besar yang Allâh berikan kepada mereka.

Berkata as-Sudi dan Muqâtil mengatakan, “Bila seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan keranjang di atas kepalanya, maka keranjang itu akan penuh dengan berbagai macam buah, tanpa susah payah memetiknya.”[2]

NEGERI YANG BAIK, AMPUNAN SERTA RAHMAT ALLAH
Kenikmatan lainnya berupa yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka adalah negeri yang baik, ampunan serta rahmat Allâh Azza wa Jalla jika mereka bersyukur. Cuaca atau udaranya baik, sehingga dikatakan apabila seseorang melewati negeri mereka sedang dipakaiannya ada kutu atau ngengat maka semua kutu dan ngengat itu mati karena udaranya yang sangat baik, bersih dan sejuk.[3]

Dikatakan, di negeri itu tidak ada lalat dan tidak ada nyamuk. Ibnu Zaid rahimahullah menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular.[4]

Diantara kenikmatan juga yaitu ampunan dari Rabb yang Maha Pengampun. Maksunya, Dia mengampuni dosa-dosa kalian, jika kalian senantiasa berada di atas tauhid.[5]

Qatâdah rahimahullah berkata, “Rabb kalian Maha mengampuni dosa-dosa kalian juga kaum yang telah diberi kenikmatan. Dan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada mereka untuk menaati-Nya dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.”[6]

Namun Apa yang Mereka Lakukan Sebagai Balasan Dari Limpahan Kenikmatan Ini?
Mereka kafir kepada Allâh Azza wa Jalla , tidak mau beribadah dan tidak bersyukur serta berpaling dari ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla :

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Saba’/34:16-17]

Mereka menzhalimi diri sendiri dengan melakukan perbuatan kufur dan maksiat. Syaitan telah menyesatkan dan menjauhkan mereka dari jalan yang lurus.

Allâh Azza wa Jalla mengutus tiga belas nabi kepada mereka. Para nabi ini menyeru mereka kepada Allâh Azza wa Jalla , mengingatkan kenikmatan-Nya pada mereka dan memperingatkan akan hukuman-Nya. Akan tetapi, mereka mendustakannya seraya mengatakan, “Kami tidak mendapatkan kenikmatan ini dari Allâh. Katakan kepada Rabb kalian (wahai para utusan-pen), ‘Cegahlah kenikmatan ini dari kami kalau Dia mampu.'”[7] Allâh Azza wa Jalla murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat.

Maka, tidaklah ada suatu kaum ingkar kepada Allâh dan menggunakan kenikmatan Allâh Azza wa Jalla dalam kekufuran dan kerusakan, kecuali mereka berhak mendapatkan ancaman adzab Allâh Azza wa Jalla . Mereka akan ditimpa kebinasaan. Kenikmatan akan berubah bencana. Inilah yang menimpa kaum Saba’. Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah mereka! Sebagaimana Allâh berfirman dalam surat al-Ankabut/20 ayat ke-40.

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allâh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

Lalu perhatikanlah akibat perbuatan mereka ini! Allâh Azza wa Jalla kabarkan keadaan mereka setelah bendungan yang mereka bangun itu hancur.

وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr [Saba’/34:16]

Kedua kebun mereka yang menjadi sumber penghidupan, kekayaan dan kekuatan mereka diganti dengan kebun yang jelek, yang tidak bermanfaat dalam kehidupan mereka. Yaitu pohon yang buahnya pahit bila dimakan dan pohon yang tidak berbuah serta pohon yang berbuah namun buahnya tidak menjadikan gemuk dan tidak menghilangkan rasa lapar maka ini adalah ganti dari kenikmatan yang tidak disyukuri.

Dan dikatakan jenis pohon itu adalah pohon siwak. Ini adalah pendapat mayoritas mufassirîn (para Ulama ahli tafsir-red) seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Atha’, al Khurasâni, al-Hasan, Qatadah dan as-Sudi.[8] Yang buahnya pahit, biasa disebut al-barîr, kemudian pohon Atsl sejenis cemara namun lebih besar  dan pohon Sidr atau pohon bidara.[9]

Wahai hamba Allâh !  Ini adalah tanda kebesaran-Nya, dengan air, Allâh suburkan kebun dan ladang mereka namun dengan air juga Allâh Azza wa Jalla hancurkan kebun dan lahan pertanian mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutus air bah yang keluar dari bendungan mereka yang jebol. Air bah itu menghancurkan kebun-kebun dan ladang mereka. Dengan air mereka hidup makmur, kaya lagi terpandang namun dengan air pula mereka dihinakan. [10]

Semoga ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang tengah mendapat kenikmatan agar mereka bersyukur dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , sehingga tetap langgeng kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka.

Nikmat Berdagang
Kenikmatan berikutnya yang Allâh berikan kepada mereka adalah kemudahan untuk berdagang hasil bumi mereka ke wilayah Syam

Allâh Azza wa Jalla menghilangkan rasa takut dan memberikan rasa aman kepada mereka dengan  tersambungnya daerah-daerah dari Saba’ sampai ke Syam. Mereka tidak merasakan kesulitan ketika bepergian dan tidak perlu terbebani dengan membawa bekal perjalanan. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.[Saba/34:18]

Yang dimaksud dengan negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya ialah negeri Syam, disebabkan kesuburannya; dan negeri- negeri yang berdekatan maksudnya yaitu  negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan. Mereka berjalan dari Yaman ke Syam di negeri-negeri yang tampak dan bersambung sehingga mereka bisa istirahat siang di satu tempat dan bisa tidur malam di tempat lain. [11]

Menolak dan Durhaka
Kaum Saba’ merespon nikmat Allâh ini dengan menolaknya dan durhaka kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang mereka:

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ

Maka mereka berkata, “Wahai Rabb kami! Jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; [Saba’/34:19]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kenikmatan dan kesenangan hidup yang ada pada mereka dan tempat yang aman dan daerah-daerah yang saling berdekatan lagi terhubung dengan pepohonan yang banyak, tanaman serta buah-buahannya sehingga musafir tidak perlu membawa perbekalan dan air. Karena setiap berhenti di satu daerah, mereka bisa mendapatkan air dan buah-buahan. Mereka istirahat siang di suatu tempat kemudian mereka bermalam di tempat lainnya, sesuai kebutuhan perjalanan mereka.” [12]

Mereka menolak kenikmatan ini dan mereka lebih senang berjalan di padang pasir yang tandus dengan perbekalan yang banyak lagi membutuhkan kendaraan, dibawah terik matahari disertai rasa takut. (Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, al-Hasan dan yang lainnya) [13]

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Maka mereka berkata, “Wahai Rabb kami! Jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; Maka kami jadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allâh bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. [Saba’/34:19]

Akibatnya, Allâh jadikan kisah mereka ini sebagai bahan pembicaraan diantara manusia yang berbicara tentang kabar-kabar berita mereka. Allâh Azza wa Jalla jadikan mereka berpecah-belah padahal sebelumnya mereka bersatu-padu dalam kehidupan yang nyaman dan tenang sehingga mereka berpencar-pencar, pindah meninggalkan negeri mereka ke berbagai negeri lainnya.

Dan hal ini seperti perkataan Bani Israil,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”.

Musa berkata, “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allâh. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allâh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) Karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [Al-Baqarah/2:61]

Pelajaran Dari Kisah Ini[14]

  1. Rezeki dan kenikmatan dari Allâh Azza wa Jalla akan langgeng dengan sebab ketaatan, namun akan musnah, hilang binasa dengan sebab maksiat. Diantara ketaatan yang dapat melanggengkan kenikmatan Allâh adalah syukur , takwa, tawakkal, istighfar dan doa.
  2. Diantara kaum yang dicabut kenikmatannya yaitu kaum Saba’, pemilik dua kebun dalam kisah yang terdapat dalam surat al-Kahfi/18 ayat ke-32 sampai ke-42, pemilik kebun yang disebut dalam surat al-Qalam/68 ayat ke-17 sampai dengan ayat ke-32, kaum Fir’aun, dan kaum Hud.
  3. Negeri yang diberkahi adalah negeri Syam.[15]
  4. Ketenangan, kedamaian dan keamanan adalah nikmat dari Allâh Azza wa Jalla . Keamanan akan tercapai dengan iman yang benar, penerapan syariat Islam dan memberikan hak kepada orang yang berhak.
  5. Orang yang ragu dan mengingkari akhirat, mereka tidak akan tabah menghadapi fitnah dan ujian, dan pada hari Kiamat mereka akan menyesal (Saba’/34:20-21).
  6. Allâh Azza wa Jalla menguji para hambanya dengan kebaikan dan kejelekan, kenikmatan dan kesulitan untuk membedakan orang-orang yang baik dengan orang-orang yang buruk dan antara yang jujur dengan yang dusta (Al-Ankabut/29:2-3).
  7. Hendaknya seorang Mukmin bersabar dalam menjauhi maksiat dan bersabar ketika mendapatkan ujian dan cobaan, serta bersyukur atas limpahan nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat al-Furqan Fi Qashashil Qur’an; hlm 387
[2]  Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 975; Dâr Thaibah
[3] Lihat Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 975; Dâr Thaibah
[4] Tafsîr ath-Thabari ; 22 hlm 94; Dâr Ihyâ at Turats al ‘Arabi
[5] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr; 6/529; Dârul Hadits al Qâhirah
[6] Tafsîr ath-Thabari; 22 hlm 94; Dâr Ihyâ at Turats al ‘Arabi
[7] Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 976.
[8]  Tafsir Ibnu Katsir; hlm 530; Dârul Hadits
[9]  Lihat Tahdzib Tafsîr al-Baghawi; hlm 976.
[10] Lihat al Furqân fii Qashashil Qur’an; hlm 392
[11] Lihat al Furqân fii Qashashil Qur’an; hlm 390
[12] Tafsir Ibnu Katsir; 6/531; Dârul Hadits
[13] Tafsir Ibnu Katsir; 6/531; Dârul Hadits
[14] Diringkas dari al Furqan fî Qashashil Qur’an; hlm:398-409
[15] lihat (Saba/34:18); (Al-Isra’/17:1); (Al-Anbiya/21:71 dan 81)