Author Archives: editor

Hukum Menghina Memperolok dan Mencela Rasulullah

DAFTAR ISI

  1. Akibat Buruk Orang yang Mencela dan Memperolok Rasulullah
  2. Dengan Dalih Kajian Ilmiah, Merendahkan Kedudukan Rasulullah
  3. Sikap Atas Penerbitan Karikatur Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  4. Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul

Hukum Mencela Ulama

  1. Hukum Mengolok-olok Ulama dan Orang-Orang Shalih
  2. Menghina Syariat Islam
  3. Wajib Menghormati Syariat Islam
  4. Bermain-Main dengan Menyebut Nama Allah, Al Qur’an dan Rasul

Barangsiapa yang mencela Allah Azza wa Jalla atau bersenda gurau ketika menyebut namaNya dan tidak menampakkan penghormatan, atau bersendagurau dengan mengolok-olok Al Qur`an atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menjadi kafir, kufur besar, yang berarti keluar dari agama Islam. Dia menjadi kafir jika mengolok-olok tiga hal tersebut, atau olok-olokannya tertuju kepada tiga hal tersebut. Inilah yang dimaksud dalam bab ini.

Berbeda halnya jika mengolok-olok agama. Mengolok-olok agama terdapat perincian. Jika bersenda gurau dengan agama, maka perlu dilihat yang dimaksudkannya asal agamanya ataukah amaliah agama orang yang diolok-oloknya.

Contoh, jika ada seseorang yang mengolok-olok penampilan seorang muslim, padahal penampilan muslim itu berarti mengamalkan Sunnah, apakah dalam hal ini ia telah melakukan olok-olok yang mengeluarkannya dari agama Islam? Jawabnya, tidak. Karena, olok-oloknya ditujukan kepada praktek keagamaan, bukan kepada asal agama.

Dalam hal ini, maka perlu dijelaskan kepadanya, bahwa yang dia olok-olok adalah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ia telah mengetahui tentang hal itu, kemudian masih juga mengolok-olok, mencela orang yang mengamalkan Sunnah, padahal ia sudah mengetahui dan meyakinina, maka perbuatannya tersebut tergolong mengolok-olok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentunya mengeluarkannya dari agama.

Penghina Agama Islam dan Hukumannya

DAFTAR ISI

  1. Hukum Memperolok-olok Agama
  2. Bahaya Memperolok-olok Agama Islam
  3. Hukum Mengolok-olok Agama Supaya Orang Lain Tertawa

Penghina Agama dan Hukumannya

  1. Hukum Mengolok-olok Agama dan Pemeluknya
  2. Bolehkah Mengkafirkan Orang yang Mencela Agama?
  3. Balasan Bagi Orang yang Menjadikan Agama Sebagai Guyonan

Sikap dan tabiat “menghina” atau “menistakan” adalah akhlak para musuh Allâh Azza wa Jalla yang menjadi akhlak orang kafir dan munafiqin. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskannya secara jelas kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya dalam banyak ayat dan peristiwa. Dalam sejarah kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi dalam peristiwa perang Tabuk, kaum munafikin menghina para Sahabat Radhiyallahu anhum. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang yang paling sayang kepada manusia waktu itu tidak memaafkan dan tidak menerima uzur para penghina tersebut, bahkan tidak melihat alasan mereka sama sekali yang mengaku melakukannya sekedar bermain dan bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan wahyu yang turun dari langit yang diabadikan dalam al-Qur`an,

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab:”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasûl-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At-Taubah/9:66]

Oleh karena itu para Ulama memasukkan perbuatan menghina Allâh Azza wa Jalla , ayat suci dan Rasûl-Nya dalam pembatal keimanan.

Fenomena Penistaan Agama

DAFTAR ISI

  1. Penistaan Agama
  2. Awas Bahaya Menghina Agama!
  3. Bahaya Mencemooh Agama

Hukum Istihza’ Bid Din (Memperolok-olok Agama)

  1. Fenomena Penistaan Terhadap Agama
  2. Menjadikan Agama Sebagai Bahan Gurauan
  3. Melecehkan Agama Sebab dan Solusi

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya, memperolok-olok Allah dan RasulNya hukumnya kafir, dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Karena dasar agama ini dibangun di atas sikap ta’zhim (pengagungan) terhadap Allah dan pengagungan terhadap agama dan rasul-rasulNya. Dan memperolok-olok sesuatu daripadanya, (berarti) menafikan dasar tersebut dan sangat bertentangan dengannya.”

Ditambahkan lagi, istihza’ pada hakikatnya bertentangan dengan keimanan. Karena hakikat keimanan adalah pembenaran terhadap Allah k dan tunduk serta patuh kepadaNya. Orang yang memperolok-olok Allah, sesungguhnya ia menolak tunduk kepadaNya, karena ketundukan itu merupakan komposisi dari pengangungan dan memuliakan. Sementara itu olok-olokan adalah penghinaan dan pelecehan. Kedua perkara tersebut sangat berlawanan dan saling bertolak belakang. Apabila salah satu ada dalam hati seseorang, maka yang lain akan hilang. Dapatlah diketahui, bahwa istihza’, penghinaan dan pelecehan terhadap Allah, RasulNya dan ayat-ayatNya menafikan keimanan.

Ibnu Hazm mengatakan: “Nash yang shahih telah menyatakan, bahwa siapa saja yang memperolok-olok Allah setelah sampai kepadanya hujjah, maka ia telah kafir.”

Menyingkap Syubhat Orientalis dan Ingkarus Sunnah

DAFTAR ISI

  1. Menyingkap Syubhat Orientalis Tentang Hadits
  2. Membongkar Akar Orientalisme
  3. Zindiq (Madrasah Orientalis Atau Yahudi Gaya Baru)
  4. Yahudi Pelopor Faham Ingkar Sunnah Modern

As-Sunnah dan Para Penentangnya Di Masa Lalu dan Masa Sekarang

  1. Dalil-Dalil Para Penolak As-Sunnah
  2. Tanggapan dan Bantahan Bagi Para Penentang As-Sunnah
  3. Membedah Syubhat Ingkarus Sunnah
  4. Cacat Penganut Ideologi Ingkar Sunnah

Tidak di ragukan bahwa Hadits adalah masdar at talaqqi (sumber kedua pengambilan hukum) dalam Islam. Ia adalah wahyu dari Allâh Azza wa Jalla seperti al-Qur’ân. Dan sungguh Hadits yang mulia ini sejak kemunculan Islam telah menghadapi bermacam serangan, celaan dan kritikan dari musuh musuh Allâh dan Rasul-Nya baik dari non Muslim atau orang munafikin. Mereka ingin memadamkan cahaya Islam dengan bermacam makar dan propaganda, akan tetapi Allâh Azza wa Jalla tetap memelihara agama dan menyempurnakan cahaya-Nya.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka (orang orang kafir) ingin memadamkan cahaya (agama) Allâh dengan ucapan ucapan mereka, sedang Allâh tetap menyempurnakan cahaya (agama)-Nya sekalipun orang orang kafir tidak senang. [as-Shaf/61:8]

Sejak awal abad 20 Masehi, sungguh Hadits telah menghadapi bermacam hujatan, celaan dan kritikan dari kaum orientalis. Mereka menebarkan bermacam syubhat tentang Hadits dengan tujuan menjauhkan kaum Muslimin dari agama mereka dan menanamkan bermacam keraguan dalam diri kaum Muslimin. Mereka diikuti oleh para neo-orientalis dan kaum munafik yang membeo (pengikut) kepada mereka. Mereka rela menjual akidah dan prinsip agama mereka kepada non Muslim untuk menhancurkan Islam dari dalam dan menggunting kain dalam lipatan.

Ahmadiyah Pengekor Nabi Palsu

DAFTAR ISI

  1. Kesesatan Ahmadiyah
  2. Ahmadiyah Kelompok Pengekor Nabi Palsu
  3. Ahmadiyah Qadyan dan Ahmadiyah Lahore
  4. Mirza Ghulam Ahmad

Fatwa Majelis Ulama Indonesia : Aliran Ahmadiyah

  1. Siapakah Mirza Ghulam Ahmad?
  2. Kematian Nûruddin Khalifah Ajaran Ahmadiyah
  3. Kelompok-Kelompok Ahmadiyah dan Hukum Pernikahan

Problematika yang timbul dari keberadaan penganut ajaran Ahmadiyah di tengah kaum muslimin tetap saja akan mencuat. Seiring dengan agresivitas golongan yang pertama kali muncul di daratan India itu dalam menyebarluaskan pemahaman-pemahaman si Nabi Palsu, antek penjajah Inggris.

Sebagian orang meyakini kalau Ahmadiyah hanya sekedar firqoh (golongan sempalan) dalam Islam. Sebuah golongan yang mempunyai furû (dalam masalah fikih misalnya) yang berbeda dari golongan lainnya. Tidak ada titik perbedaan selain ini. Pendapat demikian ini dipatahkan oleh Syaikh Ihsân Ilâhi Zhâhir rahimahullah. Dalam keterangan beliau, seorang muslim hendaknya tahu betapa besar kesalahan asumsi di atas. Pasalnya, golongan yang juga dikenal nama Qadiyaniah tidak mempunyai hubungan apapun dengan Islam. Hanya saja mereka mengenakan baju Islam untuk mengecoh kaum muslimin. Berikut ini 2 (dua) fakta dari kitab-kitab mereka yang menguatkan kesimpulan tersebut, baik tulisan maupun pernyataan sang Nabi Palsu atau para penerus aqidah sesatnya. Wallahul Hâdi

Pengakuan Tentang Sesatnya Syi’ah

DAFTAR ISI

  1. Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah
  2. Sunnah dan Syi’ah, Bersandingan? Mustahil
  3. Bersyukur Tidak Menjadi Penganut Syi’ah
  4. Strategi Syi’ah Untuk Meruntuhkan Islam dan Kaum Muslimin
  5. Sekilas Tentang Pemikiran Khumaini

Sepak Terjang Syi’ah Di Indonesia

  1. Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif
  2. Membandingkan Syî’ah dan Khawârij
  3. Kesamaan Antara Agama Syi’ah Dengan Tharikat Sufiyyah
  4. Syiah dan Batiniyah, Pencetus Budaya Pengagungan Kubur
  5. Zanadiqah Menyelusup Lewat Syi’ah

Tidak asing lagi bagi kita bahwa membongkar segala bentuk kesesatan dan para pelakunya merupakan suatu kewajiban berdasarkan ijma’ kaum muslim sampai akhir zaman.

Suatu ketika dikatakan kepada Imam Ahmad Bin Hambal: “Manakah yang lebih engkau senangi orang yang berpuasa, shalat dan beri’tikaf ataukah orang yang membicarakan ahlu bid’ah?” Maka ia menjawab: “Kalau ia shalat dan ber’itikaf maka itu (hanya) kembali ke dirinya sendiri sedangkan kalau ia berbicara tentang ahlu bid’ah maka itu untuk kaum muslimin. Dan itulah yang lebih utama.”

Begitu jauh firqah Syi’ah (yang sekarang menyebut diri sebagai Ahli Bait untuk mengelabuhi umat Islam-red) menyimpang dari nash-nash yang telah di gariskan oleh syariat. Sehingga diantaranya mereka mangatakan bahwa Karbala lebih utama dari Ka’bah, berziarah ke Karbela pada hari Arafah lebih utama dari hari semuanya, ziarah ke makam Husain merupakan amalan yang paling utama. Dan ucapan-ucapan kufur lainnya yang menunjukan bahwa mereka telah terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata. Mereka tempuh segala cara dalam rangka mematikan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syubhat dan syahwat yang mereka lontarkan. Maka jelaslah bahwa mereka adalah musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita perangi dengan segenap kemampuan.

Bahaya Syi’ah Sebuah Realitas

DAFTAR ISI

  1. Kewajiban Menangkal Perkembangan Syi’ah
  2. Kaum Syiah, Golongan Pemalsu Hadits Terdepan
  3. Pelecehan Syi’ah Terhadap Para Sahabat Rasulullah
  4. Imam Kedua Belas Syiah, Manusia Fiktif
  5. Pokok-Pokok Kesesatan Aqidah Syiah

Bahaya Syi’ah Sebuah Realita

  1. Taqiyah, Topeng Kemunafikan Kaum Syi’ah
  2. Syi’ah Mendukung Perzinaan Dengan Mengatasnamakan Pernikahan
  3. Mushaf Fatimah Termasuk Kebohongan Syi’ah
  4. Apa Itu Taqiyyah? Apakah Ahlus Sunnah Mempergunakannya?

Bahaya-bahaya lain yang mengancam keyakinan seorang Muslim sebenarnya tidak terpaku pada hal-hal yang telah di sebut di muka. Masih ada ancaman bahaya yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Yakni, golongan-golongan yang berbaju Islam, namun berhati hitam. Sekian banyak akidah dan aturan telah diadopsi dari luar Islam. Di antara golongan tersebut yang paling berbahaya adalah penganut agama Syi‘ah. Mereka adalah sekumpulan anak manusia yang menjadikan celaan kepada para Sahabat yang mulia sebagai ‘komoditas’ utama; taqiyah yang merupakan tindakan bermuka dua (nifâq) sebagai kewajiban agama yang mutlak, menuhankan Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, dan kedustaan menjadi menu wajib pada komunikasi verbal dan literatur mereka.

Mereka itulah golongan yang disebut sebagai Syi‘ah. Nama ini sebetulnya tidak sepantasnya disematkan pada mereka. Terlalu mulia jika mereka dikatakan sebagai ‘pendukung berat’ Khalîfah ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Julukan yang paling sesuai bagi mereka, seperti yang sering diungkap Ulama Ahli Sunnah adalah Râfidhah, golongan yang menolak Islam!

Hari Asyura (10 Muharram) Dalam Sejarah

DAFTAR ISI

  1. Hari Asyura Dalam Sejarah
  2. Keutamaan Bulan Muharram dan Puasa Asyura
  3. Hikmah Disunahkannya Puasa Hari Asyura
  4. 30 Renungan Seputar Hari ‘Asyura

Hari Asyura (10 Muharram) Antara Sunnah dan Bid’ah

  1. Pesta Duka Di Hari ‘Asyura
  2. Perayaan Berkabung Kaum Rafidhah (Syi’ah) di Hari Asyuro
  3. Apa yang Dilakukan Syiah Pada Hari Asyuro Adalah Bid’ah yang Sesat
  4. Asyuro dan Pengakuan Kecintaan Kepada Al-Husain
  5. Peristiwa Karbala Dalam Pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah
  6. Apakah Kejadian “Karbala” Merupakan Peristiwa Sejarah yang Benar?

Diriwayatkan dari Ibunda Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata:

عن عائشة – رضي الله عنها – قالت :  كان يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ في الجاهلية ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ أخرجه البخاري ومسلم

Adalah orang-orang Qurais pada zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Aysuro, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa pada hari itu pada zaman Jahiliyah, ketika beliau datang ke Madinah beliau pun berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh (sahabatnya) untuk berpuasa, mana kala telah di wajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan makan hari Aysuro di tinggalkan, siapa yang menghendaki berpuasa maka berpuasa siapa yang tidak mau maka boleh meninggalkanya“. (HR Bukhari no: 202, Muslim no: 1125).

Hadits ini menunjukan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu mereka telah mengetahui adanya puasa pada hari Asyura, dimana hari itu adalah hari yang sudah dikenal dikalangan mereka, bahwasanya mereka juga melakukan puasa pada hari-hari tersebut, begitu pula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga ikut berpuasa, dan puasanya terus berlanjut sampai beliau hijrah ke Madinah, namun tidak menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa, maka hal ini menunjukan atas kesucian dan agungnya kedudukan hari tersebut bagi orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu mereka pada hari itu menutupi Ka’bah,

Keutamaan Bulan Muharram

DAFTAR ISI

  1. Memuliakan Bulan Haram
  2. Keutamaan Bulan Allah Muharam
  3. Diantara Hukum Bulan Muharram
  4. Risalah Tentang Hadits-hadits Bulan Muharam

Perkara-perkara Seputar Puasa Bulan Muharram

  1. Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram
  2. Menyambut Tahun Baru Hijriah (1 Muharram) Dengan Berpuasa
  3. Muharram (Suro) Bulan Keramat?
  4. Mitos Tidak Boleh Menikah Pada Bulan Muharram

Diriwayatkan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  :  أفضلُ الصيامِ بعدَ رمضانَ شهرُ اللهِ المحرَّمُ, وأفضلُ الصلاةِ بعدَ الفريضةِ صلاةُ الليل ) وفي رواية: ( الصلاة في جوف الليل – أخرجه مسلم 

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan (Allah) Muharam, dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam“. Dan pada riwayat yang lain beliau mengatakan: “Sholat yang di kerjakan pada pertengahan malam“. HR Muslim no: 1163.

Dalam hadits di atas diambil sebgai dalil akan keutamaan berpuasa pada bulan Muharam, bahwa berpuasa pada bulan Muharam keutamaanya berada dibawah keutamaan berpuasa pada bulan Ramadhan, adapun keutamaan berpuasa pada bulan ini adalah karena bertepatan dengan keutamaan hari-harinya dan besarnya pahala yang telah disiapkan, dikarenakan ibadah puasa adalah termasuk sebaik-baik amal sholeh di sisi Allah Azza wa jalla.

Diantara Aqidah Syi’ah

DAFTAR ISI

  1. Pengantar Penulis dan Penterjemah
  2. Kapan Munculnya Firqah Rafidhah?
  3. Kenapa Syi’ah Dinamakan Dengan Rafidah?
  4. Apa Aqidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat?
  5. Apa Keyakinan Rafidhah Terhadap Al-Qur’an?
  6. Bagaimana Aqidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat?
  7. Apa Aqidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka?
  8. Apa Aqidah Raj’ah dan Taqiyah yang Diimani Rafidhah?
  9. Apa Aqidah Rafidhah Terhadap Ahli Sunnah?
  10. Apa Keyakinan Rafidhah Tentang Nikah Mut’ah?
  11. Apa Keyakinan Rafidhah Terhadap Najaf dan Karbala?
  12. Apa Perbedaan Syi’ah Rafidhah Dengan Ahlis Sunnah?
  13. Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah Dengan Rafidhah?
  14. Perkataan Para Imam Terdahulu dan Belakangan Tentang Rafidhah (Syi’ah)?

Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba. Mendakwakan kecintaan terhadap Ahli Bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku Syi’ah sendiri.

Al Qummi berkata dalam bukunya Al Maqaalaat wal Firaq: Ia mengakui keberadaannya, dan menganggapnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya Firaqus Syi’ah. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan Rijaalul Kissyi. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.

Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.