Author Archives: editor

Nafkah Suami Untuk Istri dan Anak

DAFTAR ISI

  1. Nafkah Keluarga Tanggungan Suami
  2. Jika Suami Tidak Memberi Nafkah
  3. Nafkah Untuk Sang Isteri
  4. Nafkah Suami Untuk Istrinya yang Bekerja
  5. Menggabungkan Harta Untuk Keperluan Rumah Tangga

Suami Tidak Menafkahi, Istri Boleh Menggugat Cerai?

  1. Nafkah
  2. Bolehkah Suami Memakan Gaji Isteri?
  3. Di Antara Hak Isteri Adalah Diberi Nafkah
  4. Kewajiban Memberi Nafkah dan Tempat Tinggal
  5. Kewajiban Memberi Nafkah Anak Perempuan

Isteri dan anak-anak mempunyai hak untuk mendapatkan nafkah, yaitu nafkah yang tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kikir; berdasarkan firman-Nya:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“… Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf….” [Al-Baqarah/2: 233]

Nafkah tersebut tidak cukup berupa makanan dan minuman saja, tetapi mencakup tempat tinggal, makanan dan pakaian, sebagaimana firman-Nya:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka…” [Ath-Thalaaq/85: 6].

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anuhma berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“… Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya….” (.Al-Baqarah/2 : 228): “

Kaum pria diperintahkan untuk memperlakukan isteri dengan baik dan mencukupi keuangan isteri-isterinya.”

Tanda Husnul Khatimah dan Suul Khatimah

DAFTAR ISI

  1. Su’ul Khatimah
  2. Hati-Hati Mati Su’ul Khatimah
  3. Tanda-tanda Husnul Khatimah dan Suul Khatimah
  4. Bahagia Dengan Husnul Khatimah, Sengsara Dengan Su’ul Khatimah
  5. Sadarilah Realita Ini!

Introspeksi Diri

  1. Mengawasi Diri Sendiri
  2. Permusuhan Setan Terhadap Manusia
  3. Muhasabah dan Muroqobah Jalan Menuju Takwa
  4. Kebahagiaan Mana yang Ingin Anda Raih?
  5. Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia

Husnul khatimah adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.

Dalil yang menunjukan makna ini, yaitu hadits shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya”. Para sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab,”Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.” [HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak.

Husnul khatimah memiliki beberapa tanda, di antaranya ada yang diketahui oleh hamba yang sedang sakaratul maut, dan ada pula yang diketahui orang lain.

Tanda husnul khatimah, yang hanya diketahui hamba yang mengalaminya, yaitu diterimanya kabar gembira saat sakaratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerahNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. [Fushilat/41 : 30].

Zuhudlah, Niscaya Dicintai Allah dan Manusia

DAFTAR ISI

  1. Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia
  2. Wasiat Nabi Untuk Menuntut Ilmu, Membersihkan Hati dan Zuhud
  3. Zuhud Yang Banyak Disalah Fahami
  4. Zuhud Sunni, Zuhud Shufi

Sifat Wara’

  1. Ujian Duniawi
  2. Membuang Waktu
  3. Seharusnya Kita Selalu Menangis
  4. Tujuh Belas Penghibur Duka

Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena menganggapnya remeh, tidak bernilai, atau tidak meminatinya. Para generasi Salaf dan generasi sesudah mereka banyak berbicara tentang makna zuhud terhadap dunia dengan redaksi yang beragam.

Abu Muslim al-Khaulâni rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia tidak dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Nnamun zuhud terhadap dunia ialah engkau lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa zuhud yang sesuai dengan syari’at adalah seseorang meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhiratnya dan hatinya yakin serta percaya terhadap apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla.

Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya merupakan perbuatan hati. Oleh karena itu, Abu Sulaiman rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau bersaksi untuk seseorang bahwa ia orang zuhud karena zuhud itu letaknya di hati.”

Kemaksiatan dan Dampak Negatifnya

DAFTAR ISI

  1. Kemaksiatan dan Dampak Negatifnya Terhadap Individu dan Masyarakat
  2. Mewaspadai Kelalaian Dalam Mengingat Allah
  3. Dampak Negatif Kemaksiatan dan Dosa
  4. Inabah (Kembali Kepada Allah)
  5. Jauhi Sumber Kesalahan

Kerugian yang Hakiki

  1. Bahaya Sombong, Iri, Emosi dan Syahwat
  2. Kebahagiaan Mana yang Ingin Anda Raih?
  3. Perbandingan Antara Dunia Dengan Akhirat
  4. Ketenangan Jiwa, Kedamaian Hati dan Kebenaran
  5. Jangan Biarkan Hati Anda Menderita Karena Hasad

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata : “Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati, sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dan tidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa, Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga, tempat kelezatan, kenimatan, kemegahan,  dan kesenangan menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah?. Apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat, rahmat berubah menjadi laknat serta keimanan berubah menjadi kekafiran?.  Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung?. Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi, sehingga mereka seperti pohon-pohon kurma yang tumbang?. Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas?, Sebab apakah yang menyebabkan Fir’aun tenggelam bersama kaumnya, lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke neraka Jahannam?. Tubuh mereka tenggelam sementara ruh-ruh mereka terbakar, sebab apakah yang mengubur Karun dan rumahnya beserta seluruh hartanya?. Sungguh, semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa!.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْۢبِهٖۙ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَرْضَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَاۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa yang disebabkan karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka”. [Al-Ankabut/29: 40]

Umur Itu Untuk Amal Shalih

DAFTAR ISI

  1. Pembagian Hati : Sehat, Sakit dan Mati
  2. Penyakit Hati Dan Penawarnya
  3. Jangan Mengikuti Hawa Nafsu
  4. Mengawasi Diri Sendiri
  5. Nikmat Sehat Dan Waktu Luang

Perjalanan Menuju Akhirat

  1. Dunia Atau Akhirat
  2. Akhirat, Kehidupan yang Hakiki
  3. Umur Untuk Amal Shalih
  4. Jauhi Empat Perkara Agar Tidak Binasa
  5. Relakah Kamu, Kehidupan Di Dunia Sebagai Ganti Kehidupan Di Akhirat?

Tujuan hidup seorang Muslim adalah akhirat,  sementara kehidupan dunia ini hanya tempat singgah untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Karena kehidupan dunia hanya bersifat sementara, tidak kekal, sementara akhirat kekal abadi. Namun dalam mempersiapkan bekal itu, ternyata tidak selalu mulus dan mudah. Banyak ujian yang harus dilalui. Dari sini kemudian manusia terbagi, ada yang masih fokus pada tujuan hidupnya yang sejati dan ada pula yang terpedaya dengan berbagai godaan dan ujian. Keindahan dunia ditambah bujuk rayu setan telah menelan banyak korban. Mereka lupa dengan tujuan penciptaan mereka yang sebenarnya. Padahal Allah  Azza wa Jalla menjelaskan dengan sangat gamblang tentang hakikat kehidupan dunia juga nilai kehidupan dunia bila dibandingkan kehidupan akhirat. Rasulullah pun tidak kurang menjelaskan dan memperingatkan umat manusia agar tidak tertipu.

Diantaranya firman Allâh  Azza wa Jalla :

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya adzab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir. [Yûnus/10:24]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ

Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya  memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu?

Amal Jelek Beban Di Dunia dan Akhirat

DAFTAR ISI

  1. Musuh-Musuh Manusia
  2. Sucikan Diri Benahi Hati
  3. Sarana Mensucikan Hati
  4. Fase Kehidupan Manusia
  5. Bangkit, Menuntaskan Putus Asa
  6. Introspeksi Diri
  7. Kesabaran

Hakikat Dunia

  1. Cinta Dunia Sumber Kesalahan dan Kerusakan Agama
  2. Amal Jelek, Beban Manusia Di Dunia dan Akherat
  3. Hakikat Dunia Dalam Permisalan
  4. Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai

Tujuan hidup seorang Muslim adalah akhirat, bukan dunia. Akhirat (surga) merupakan puncak cita-cita seorang Muslim. Orang yang beriman dan berakal memandang dunia dan akhirat dengan sudut pandang yang benar.

Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan bersikap zuhud terhadap dunia. Sementara, zuhud terhadap dunia tidak akan terealisasi melainkan setelah ia memandang kedua hal ini dengan sudut pandang yang benar.

Pertama, memandang dunia sebagai sesuatu yang mudah hilang, lenyap, dan musnah. Dunia adalah sesautu yang kurang, tidak sempurna dan hina. Persaingan dan ambisi dalam mendapatkan hal-hal duniawi sangat menyakitkan. Dunia adalah tempat kesedihan, kesusahan dan kesengsaraan. Akhir dari semua masalah duniawi adalah kefanaan yang diikuti dengan penyesalan dan kesedihan. Orang yang mengejar kenikmatan dunia tidak lepas dari tiga keadaan yaitu kecemasan sebelum meraihnya, keresahan pada saat meraihnya, dan kesedihan setelah meraihnya.

Kedua, memandang akhirat sebagai sesuatu yang pasti datang, kekal dan abadi. Karunia dan kebahagiaan yang terdapat di akhirat begitu mulia, dan apa yang ada di akhirat sangat berbeda dengan apa yang ada di dunia. Akhirat adalah sebagaimana yang difirmankan Allâh Azza wa Jalla :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. [Al-A’la/87: 17]

Kesombongan Menghalangi Jalan Hidayah

DAFTAR ISI

  1. Hidayah
  2. Gerbang Hidayah
  3. Meraih Hidayah Ke Jalan Surga
  4. Kesombongan Menghalangi Hidayah
  5. Hidayah dan Istiqâmah di Atasnya

Lalai Dari Memohon Petunjuk

  1. Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala
  2. Mohonlah Hidayah Hanya Kepada Allah Azza Wa Jalla!
  3. Taklid Dapat Menghambat Hidayah
  4. Allah Belum Memberiku Hidayah

Hidayah, merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Ia merupakan salah satu nikmat yang agung dari sekian banyak nikmat. Dan nikmat hidayah, adalah nikmat yang bernilai istimewa.

Hidayah merupakan sentuhan lembut Ilahi, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pantai kebahagiaan. Ia merupakan wujud kasih-sayang Ilahi, sehingga seorang hamba tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan. Ia menuntun seorang hamba yang dikuasai hawa nafsu, sehingga menjadi terbimbing kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa. Maknanya, Allah tidak membiarkan seorang hamba berada dalam kesendirian ketika mencari kebenaran. Akan tetapi, tanganNya menuntunnya ke arah yang Dia ridhai.

Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan  ketidakpeduliannya terhadap Allah dan syari’atNya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayangNya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah.

Bagaimana Meraih Cinta Allah Azza wa Jalla

DAFTAR ISI

Bagaimana Meraih Cinta Allah Azza wa Jalla

  1. Membaca Al-Qur`an Dengan Khusyu’ dan Berusaha Memahami Maknanya
  2. Bertaqarrub Kepada Allâh Dengan Amalan Sunnah Setelah yang Wajib
  3. Senantiasa Berdzikir Kepada Allâh Dalam Setiap Keadaan
  4. Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi
  5. Mengkaji dan Menghayati Nama-Nama Serta Sifat-Sifat Allâh Tabaraka Wa Ta’ala
  6. Menghayati Karunia dan Nikmat yang Telah Diberikan Oleh Allâh
  7. Ingkisarul Qalbi (Luluhnya Hati) Di Hadapan Allâh Azza wa Jalla

Mencinta Allâh Azza wa Jalla dan dicintai Allâh Azza wa Jalla adalah idaman setiap manusia yang beriman kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ وَيْلَكَ وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ قَالَ نَعَمْ فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ada seorang lelaki dari pedalaman mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Kapankah hari kiamat tiba? Rasûlullâh n menjawab, “Celaka kamu! Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Lelaki tadi menjawab, “Saya tidak mempersiapkan apa-apa, hanya saja saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” Mendengar ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (Anas mengatakan) Kami bertanya, “Apakah kami juga?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” (Anas mengatakan, “Ketika itu, kami merasa sangat bahagia.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, ketika orang itu ditanya tentang apa yang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan hari kiamat? Orang itu menjawab:

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Saya tidak mempersiapkan shalat yang banyak juga puasa yang banyak, tidak juga shadaqah yang banyak, akan tetapi saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” (mendengar ini) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhâri)

Nasehat dan Koreksi Kesalahan Di Bulan Rajab

DAFTAR ISI

  1. Nasehat Di Bulan Rajab
  2. Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat dan Puasa Di Bulan Rajab
  3. Koreksi Terhadap Penyimpangan Umat Dalam Bulan Rajab
  4. Beberapa Kesalahan Yang Terjadi Pada Bulan Rajab

Bid’ah-Bid’ah Bulan Rajab

  1. Shalat Raghaib
  2. Bid’ah Shalat Raghaib
  3. Puasa di Bulan Rajab
  4. Hukum Merayakan Malam Isra’ Mi’raj
  5. Menyiapkan Makanan Untuk Malam 27 Rajab

Isrâ’ dan Mi’râj

  1. Isra’ Mi’raj
  2. Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  3. Bantahan Bagi yang Mengatakan Bahwa Isra Mi’raj Adalah Khurafat

Allâh Azza wa Jalla menjadikan bulan-bulan dalam setahun  berjumlah sebanyak dua belas bulan. Dua belas bulan itu adalah Muharram, Shafar Rabi’ul Awwal, Rabi Tsâni, Jumadal Ula, Jumadal Akhir, Rajab, Sya’bân, Ramadhan, Syawwal, dan Dzul Qa’dah serta Dzul Hijjah.

Allâh Azza wa Jalla telah menentukan musim-musim kebaikan dan limpahan-limpahan barakah dari bulan-bulan tersebut, di antaranya dengan memilih empat bulan haram  (suci) dari dua belas yang ada dalam setahun, yaitu Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Satu bulan menyendiri, yaitu bulan Rajab, datang sesudah bulan Jumadil Akhir dan sebelum bulan Sya’bân. Dan tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allâh ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allâh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. [At-Taubah/9:36]

Toleransi dan Hakikat Menyerupai Orang Kafir

DAFTAR ISI

  1. Sampai Manakah Batas Toleransi?
  2. Hukum Mengekor Kaum Kafir
  3. Haram Meniru Orang Kafir dan Loyal Kepada Mereka
  4. Jauhi Tindakan Meniru Kaum Kafir!
  5. Apakah Pakaian Orang Kafir Dilarang Untuk Memakainya?
  6. Kenapa Islam Mengharamkan Menyerupai Orang Kafir?

Batasan Tasyabbuh, Menyerupai Orang-Orang Kafir

  1. Hakikat Menyerupai Orang-orang Kafir
  2. Patokan Menyerupai Orang Kafir
  3. Kewajiban Iltizam Dengan Islam dan Haramnya Tasyabbuh Kepada Orang Kafir
  4. Menggantungkan Bendera dan Syiar Negara kafir
  5. Ada Apa Dengan Hak Asasi Manuisa (HAM)?
  6. Seputar Aturan dan Sistem Barat Tentang HAM (Hak Asasi Manusia)

Sesungguhnya di antara tujuan syari’at Islam bahwa seorang muslim berbeda dari orang-orang kafir dan fasik dalam akidah akhlak, perilaku dan pemikirannya, bahkan dalam penampilan dan bahasanya, dan memutuskan semua hubungan cinta, wala` (loyal), dan menolong bagi semua orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul -Nya. Banyak sekali dalil syara’ yang mendukung dasar ini dan mengancam terhadap pelanggarannya dengan cara meniru dan menyerupai orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul -Nya. firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. [al-Jatsiyah/45: 18]

Dan firman-Nya:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.  [al-Baqarah/2:120]