Author Archives: editor

Kewajiban Mukmin Di Bulan Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Keistimewaan Bulan Ramadhan
  2. Tugas Mukmin Di Bulan Ramadhan
  3. Tiga Ibadah Penting Dalam Bulan Puasa
  4. Sikap Orang Terhadap Ramadhan

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Bulan Ramadhan

  1. Amalan Puasa Ramadhan
  2. Menjaga Waktu Di Bulan Ramadhan
  3. Rumah dan Ramadhan
  4. Tiga Kunci Sukses Menjadi Orang Bertakwa Di Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan, seorang Mukmin mempunyai beberapa tugas syar’i. Tugas-tugas ini sudah dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sunnah qauliyah (perkataan) beliau, juga praktek-praktek beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan. Nikmat-nikmat Allâh Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada para hamba pada bulan ini lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.

Tugas-tugas ini mencakup banyak persoalan hukum syar’i, yang meliputi seluruh amalan selama satu bulan yang penuh dengan amal kebaikan dan ketaqwaan.

Keutamaan Ramadhan Bulan Penuh Berkah

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Puasa
  2. Keutamaan Ibadah Puasa
  3. Ramadhan Bulan Penuh Berkah
  4. Renungan di Bulan Ramadhan

Sejarah Puasa

  1. Keutamaan Ibadah Di Bulan Ramadhan
  2. Agar Ramadhan Bermakna Indah
  3. Bulan Ramadhan Anugrah Teragung
  4. Kembali Kepada Ramadhan Kaum Salaf

Saudara-saudara kaum muslimin, sesungguhnya saat ini kita berada pada suatu bulan yang agung dan penuh barakah, yaitu bulan Ramadhan. Suatu bulan dimana kita harus bersungguh-sungguh dalam berpuasa, shalat malam, dan membaca quran. Bulan pembebasan dan pengampunan, bulan untuk memperbanyak shadaqah dan berbuat ihsan. Pada bulan ini dibukakan pintu-pintu surga, dilipat-gandakan pahala kebaikan, dan dimaafkan kesalahan. Bulan dikabulkannya doa umat manusia, diangkat derajat mereka dan diampuni dosa-dosa.

Allah memberi hamba-hamba-Nya berbagai kemurahan dan melimpahkan kepada para wali-Nya berbagai pemberian. Suatu bulan yang Allah jadikan berpuasa pada bulan itu sebagai salah satu rukun Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Beliau memberi kabar gembira bahwa barang siapa yang berpuasa dengan berlandaskan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Pada bulan ini terdapat suatu malam yang ibadah pada malam tersebut pahalanya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Barang siapa yang dihalangi dari kebaikan maka dia akan dihalangi dari kebaikannya.

Awal dan Akhir Ramadhan Bersama Pemerintah

DAFTAR ISI.

  1. Berpuasa Bersama Pemerintah
  2. Fatwa MUI Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah
  3. Puasa Di Negeri yang Waktunya Pendek Atau Panjang
  4. Puasa Di Negara yang Waktu Siangnya Lebih Panjang Atau Lebih Pendek

Menentukan Ramadhan

  1. Kenapa Umat Islam Tidak Sepakat Dalam Memulai Berpuasa
  2. Perbedaan Mathla’ Antar Wilayah
  3. Perbedaan Mathla dalam tinjauan syari’at
  4. Puasa berdasarkan satu Ru’yat (Penglihatan)
  5. Hisab dan penentuan awal Ramadhan

Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan حَفِظَهُ اللهُ
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Jika telah pasti masuknya bulan Ramadhan di suatu negara Islam, seperti kerajaan Arab Saudi, sedangkan di negara lain belum diumumkan tentang masuknya, bagaimana hukumnya? Apakah kami berpuasa dengan kerajaan ? Bagaimana permasalahan ini. Jika terjadi perbedaan pada dua negara?

Beliau (Syaikh) menjawab : Setiap muslim berpuasa dan berbuka bersama dengan kaum muslimin yang ada di negaranya. Hendaklah kaum muslimin memperhatikan ru’yah hilal di negara tempat mereka tinggal di sana, dan agar tidak berpuasa dengan ru’yah negara yang jauh dari negara mereka, karena mathla’ berbeda-beda. Jika misalkan sebagian muslimin berada di negara yang bukan Islam dan di sekitar mereka tidak ada yang memperhatikan ru’yah hilal –maka dalam hal ini- tidak mengapa mereka berpuasa dengan kerajaan Arab Saudi.

Nasihat Menyambut Kehadiran Bulan Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Sambutlah Ramadhan Dengan Taqwa dan Taubat yang Benar
  2. Nasihat Menyambut Kehadiran Ramadhan
  3. Menyambut Kemuliaan Bulan Mulia
  4. Nasihat Menjelang Bulan Ramadhan

Pernik Semarak Ramadhan di Indonesia

  1. Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan
  2. Kuburan Di Musim Jelang Ramadhan
  3. Menyambut Ramadhan Dengan Puasa Sunnah
  4. Koreksi Terhadap Sebagian Adat yang Digiatkan Pada Bulan Ramadhan

Wahai kaum Muslimin! Sambutlah bulan Ramadhan (tahun ini) dengan senang dan gembira. Niatkan untuk memperbanyak ketaatan serta lebih mendekatkan diri Kepada Nya. Berusahalah melakukan ibadah-ibadah dan bertaubat dari kejelekan dan dosa. Dan hendaklah kita berpuasa pada bulan Ramadhan karena dasar iman dan dengan mengharap pahala. Niscaya Allâh Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam hadits yang shahih, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka Allâh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Sungguh, alangkah agungnya kenikmatan ini! Betapa mulianya berita gembira ini.

Di bulan yang berkah ini setan-setan dibelenggu. Pintu-pintu Surga dibuka sedangkan pintu-pintu neraka Jahim ditutup. Para penyeru hidayah pun berseru, wahai kaum Muslimin! Marilah menuju ketaatan kepada Allâh! Marilah kita menggapai keridhaan Allâh! Sambutlah agar dibebaskan dari neraka! Marilah menuju surga!

Wahyu Allah Adalah Fondasi Agama

DAFTAR ISI

  1. Macam-Macam Wahyu
  2. Wahyu Allah Subahnahu wa Ta’ala Fondasi Agama
  3. Agama Islam Tegak Dengan Wahyu

Kedudukan Ilham Dalam Islam

  1. Sunnah Juga Merupakan Wahyu
  2. Kekeliruan Muncul Saat Berpaling Dari Bimbingan Wahyu
  3. Tidak Mempertentangkan Nash Wahyu Dengan Akal

Ada beberapa ta’rîf yang disebutkan Ulama tentang makna wahyu, walaupun dengan kalimat yang berbeda-beda namun hakekatnya sama. al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Di dalam istilah agama wahyu adalah pemberitahuan dengan syari’at. Dan terkadang istilah wahyu dimaksudkan sebagai obyeknya, yaitu yang diwahyukan, yaitu perkataan Allâh yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”. [Fathul Bâri, 1/14-15]

Di antara ta’rif yang cukup mewakili adalah perkataan imam lain az-Zarqani rahimahullah. Beliau menyatakan bahwa wahyu adalah, “Pemberitahuan Allâh kepada hamba pilihan-Nya akan semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, dengan cara rahasia dan tersembunyi, tidak biasa (terjadi) pada manusia.” [Manâhilul ‘Irfân, 1/63, karya az-Zarqani]

Sesungguhnya Islam Adalah Agama yang Mudah

DAFTAR ISI

  1. Islam Adalah Agama yang Mudah
  2. Sesungguhnya Agama Itu Mudah
  3. Islam Itu Mudah

Karakteristik Agama Islam

  1. Pengertian Islam dan Tingkatannya
  2. Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Benar
  3. Islam Adalah Agama yang Sempurna

Satu-satunya agama yang benar, diridhai dan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla adalah Islam. Agama-agama selain Islam, tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla . Karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke agama Islam, mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam. [Ali ‘Imrân/3:19]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allâh,  padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembali-kan?. [Ali ‘Imrân/3:83]

Orang yang Bodoh Terhadap Agama, Rentan Kesesatan

DAFTAR ISI

  1. Awal Petaka Kesesatan
  2. Yang Bodoh Terhadap Agama, Rentan Dengan Kesesatan
  3. Akibat Mengikuti Pembesar Kaum yang Sesat
  4. Pemimpin yang Menyesatkan

Orang Bodoh Dimaafkan?

  1. Antara Kesyirikan dan Kebodohan
  2. Sikap Ahlus Sunnah Diantara Firqah Sesat
  3. Sikap Tengah Ahlus Sunnah Diantara Firqah Sesat
  4. Hakikat Iman, Kufur dan Takfir Menurut Firqah Sesat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Faktor-faktor penghalang dari menerima kebenaran banyak sekali. Di antaranya adalah al-jahl  (ketidaktahuan, kebodohan). Faktor inilah yang dominan pada kebanyakan manusia. Sesungguhnya orang yang tidak mengenal sesuatu, ia akan menentangnya dan menentang orang-orang yang melakukannya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan:

وَلَا تَجِدُ أَحَدًا وَقَعَ فِيْ بِدْعَةٍ إِلَّا لِنَقْصِ اتِّبَاعِهِ لِلسُّنَّةِ عِلْمًا وَعَمَلًا. وَإِلَّا فَمَنْ كَانَ بِهَا عاَلِمًا وَلَهَا مُتَّبِعًا, لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ دَاعٍ إِلَى الْبِدْعَةِ. فَإِنَّ الْبِدْعَةَ يَقَعُ فِيْهَا الْجُهّاَلُ بِالسُّنَّةِ

Dan tidaklah kamu mendapati seseorang yang terjerumus dalam bid’ah kecuali karena ia kurang mengikuti petunjuk Sunnah dalam aspek pengetahuan dan pengamalannya. Sebab, orang yang mengetahui petunjuk Sunnah, dan mengikutinya, maka tidaklah ada pada dirinya pemicu kepada bid’ah.  Sesungguhnya hanya orang-orang bodoh terhadap petunjuk Sunnah saja yang terjerumus di dalam bid’ah”.

Dengan demikian, sudah sewajibnya setiap Muslim dan Muslimah mempelajari agamanya, agar dapat mengenal kebenaran yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik dan kemudian mengamalkannya.

Amalan Sunnah dan Bid’ah di Bulan Sya’ban

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Bulan Sya’ban
  2. Ada Apa Dengan Bulan Sya’bân?
  3. Hukum Berpuasa Di Bulan Sya’ban?

Mempertemukan Makna Dua Hadits Sya’ban

  1. Apakah Dianjurkan Berpuasa Pada Bulan Sya’ban Secara Penuh
  2. Anjuran Puasa Pada Hari-Hari Putih (Ayyamul Bid) dan Bulan Sya’ban
  3. Larangan Berpuasa Pada Pertengahan Kedua Di Bulan Sya’ban

Bid’ah Sya’ban

  1. Hukum Upacara Peringatan Malam Nisfi Sya’ban
  2. Apakah Dibolehkan Merayakan Malam Nisfu Sya’ban
  3. Malam Pertengahan Sya’ban Tidak Ada Pengkhususan Ibadah
  4. Menyiapkan Makanan Nisyfu Sya’ban

Dinamakan Sya’baan ( شَعْبَانَ ) –diambil dari lafazh شَعْبٌ yang artinya kelompok atau golongan– karena orang-orang Arab dahulu pada bulan tersebut berpencar-pencar (  يَتَشَاعَب) untuk mencari sumber air. Juga karena mereka berpisah-pisah ( تَشَاعُب / terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban karena bulan tersebut muncul ( شَعَبَ ) di antara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bentuk jamaknya adalah شَعَبَنَات dan شَعَابِيْن. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dinamakan Sya’ban karena sibuknya mereka mencari air atau sumur setelah berlalunya bulan Rajab yang mulia. Dan ada juga yang berpendapat selain itu.”Wallaahu a’lam.

Tauhid, Prioritas Pertama dan Utama

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Penerjemah
At-Tauhid Awwalan  Ya Du’atal Islam (Tauhid, Prioritas Pertama dan Utama)

  1. Wajib Memberikan Perhatian Kepada Tauhid Terlebih Dahulu Sebagaimana Metode Para Nabi dan Rasul Alaihimussalam
  2. Mayoritas Kaum Muslimin Sekarang Ini Tidak Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah Dengan Pemahaman Yang Baik
  3. Kewajiban Memberikan Perhatian Kepada Aqidah Tidak Berarti Melalaikan Syariat Yang Lainnya Berupa Ibadah, Akhlak dan Muamalah
  4. Penjelasan Tentang Ketidak Jelasan Aqidah Yang Benar Dan Konsekuensi-Konsekuensi Dalam Benak Kebanyakan Orang.
  5. Da’wah Mengajak Kepada Aqidah Yang Shahih Membutuhkan Usaha Yang Sungguh-Sungguh dan Berkelanjutan.
  6. Asas Perubahan Kepada Perbaikan Adalah Manhaj Tashfiyah dan Tarbiyah.
  7. Siapa Yang Berhak berpolitik? Dan Kapan?
  8. Wajib Atas Setiap Muslim Untuk Menerapkan Hukum Allah Dalam Segala Aspek Kehidupannya Sesuai Dengan Kemampuannya.

Kenyataan pahit yang dialami umat Islam sekarang ini berupa kebodohan dalam masalah aqidah dan masalah-masalah keyakinan lainnya, serta perpecahan dalam metodologi pemahaman dan pengamalan Islam. Apalagi sekarang ini penyebaran da’wah Islam di berbagai belahan bumi tidak lagi sesuai dengan aqidah dan manhaj generasi pertama yang telah mampu melahirkan generasi terbaik. Tidak ragu lagi bahwa kenyataan yang menyakitkan ini telah membangkitkan ghirah (semangat) orang-orang yang ikhlas dan berkeinginan untuk mengubahnya serta untuk memperbaiki kerusakan.

Hanya saja mereka berbeda-beda cara dalam memperbaiki fenomena tersebut, disebabkan karena perbedaan pemahaman aqidah dan manhaj mereka -sebagaimana yang Anda ketahui- dengan munculnya berbagai gerakan dan jama’ah-jama’ah Islam Hizbiyyah yang mengaku telah memperbaiki umat Islam selama berpuluh-puluh tahun, tetapi bersamaan itu mereka belum berhasil, bahkan gerakan-gerakan tersebut menyebabkan umat terjerumus ke dalam fitnah-fitnah dan ditimpa musibah yang besar, karena manhaj-manhaj mereka dan aqidah-aqidah mereka menyelisihi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa-apa yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana hal ini meninggalkan dampak yang besar berupa kebingungan kaum muslimin dan khususnya para pemudanya dalam solusi mengatasi kenyataan pahit ini.

Akal, Keistimewaan dan Keutamaannya

DAFTAR ISI

  1. Akal, Keutamaan dan Keistimewaannya
  2. Islam Memperhatikan Akal
  3. Kedudukan Akal dalam Islam

Penjelasan Wanita Adalah Makhluk Kurang Akalnya dan Agamanya

  1. Antara Akal yang Sehat dan Nash yang Jelas
  2. Dalil Aqli (Akal) yang Benar Akan Sesuai Dengan Nash yang Shahih
  3. Mendahulukan Syara Atas Akal
  4. Tidak Mempertentangkan Nash Wahyu Dengan Akal

Sebagian Ulama membagi akal menjadi dua jenis yaitu akal dasar dan akal bentukan. Akal dasar adalah kemampuan dasar manusia untuk berfikir dan memahami sesuatu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan akal bentukan adalah kemampuan berfikir dan memahami, yang dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika dua akal ini berkumpul pada seorang hamba, maka itu merupakan anugerah besar yang diberikan oleh Allâh kepada hamba yang dikehendaki-Nya, urusan hidupnya akan menjadi baik, dan pasukan kebahagiaan akan mendatanginya dari segala arah.[3]

Tentunya adanya pembedaan dua jenis akal di atas, tidak berarti adanya pemisah antara akal dasar dengan akal bentukan. Karena akal bentukan pada dasarnya adalah akal dasar yang telah berkembang seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman yang  diperoleh seseorang. Bisa dikatakan, bahwa akal bentukan melazimkan adanya akal dasar. Sebaliknya, sangat nadir adanya akal dasar yang tidak berkembang seiring berjalannya waktu, wallahu a’lam.