Author Archives: editor

Meniti Shirath, Jembatan Di Atas Neraka

DAFTAR ISI

  1. Mengimani Shirath, Jembatan Di Atas Neraka
  2. Adakah Shiratal Al-Mustaqim dan Bagaimana Sifatnya?
  3. Shirath (Jembatan)
  4. Jembatan Antara Surga dan Neraka

Ihdinash Shiratal Mustaqim

  1. Meniti As-Shirât Al-Mustaqîm
  2. Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?
  3. Halangan dan Rintangan Dalam Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm
  4. Siapakah Orang yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?

Landasan keyakinan tentang adanya shirâth pada hari Kiamat berdasarkan kepada ijma’ para ulama Ahlus Sunnah yang bersumberkan kepada dalil-dalil yang akurat dari al-Qur`ân dan Sunnah. Berikut ini kita sebutkan beberapa dalil yang menerangkan tentang adanya shirâth.

Di antara ulama berhujjah dengan firman Allâh Azza wa Jalla berikut :

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan [Maryam/19:71]

Diriwayatkan dari kalangan para Sahabat, di antaranya ; Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu dan Ka’ab bin Ahbâr bahwa yang dimaksud dengan mendatangi neraka dalam ayat tersebut adalah melewati shirâth[3]

Sementara itu, banyak sekali riwayat dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ini, di antaranya:

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ

Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: “Wahai Rasûlullâh, bagaimana (bentuk) jembatan itu?”. Jawab beliau, “Licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dân … [Muttafaqun ‘alaih]

Mengapa Takut Kepada Islam?

DAFTAR ISI

  1. Islam Merupakan Rahmat, Bukan Ancaman
  2. Agama Islam Adalah Agama Rahmat
  3. Nabi Muhammad Diutus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam
  4. Nabi Muhammad Sebagai Nabiyurr Rahmah (Nabi Rahmat)

Kenapa Takut Kepada Islam?

  1. Islam Rahmat Tidak Mengajarkan Prilaku Ekstrim
  2. Islam Merupakan Rahmat, Bukan Ancaman
  3. Islam Menentang Radikalisme
  4. Islam Bukan Budaya Arab

Para politikus dan awak media yang anti Islam tak pernah berhenti menyuarakan dan memberikan gambaran bahwa Islam adalah ajaran permusuhan, sementara Barat adalah budaya yang penuh toleran.

Seandainya mereka mau melihat dengan adil dan obyektif, pasti mereka akan melihat nilai-nilai yang paling sempurna dan contoh-contoh terbaik dalam penegakan keadilan dan perwujudan toleransi ada di dalam pokok-pokok ajaran Islam.

Sesungguhnya kebohongan ini, yaitu ketakutan terhadap Islam ini, memiliki dampak negatif bagi kaum Muslim dan non Muslim. Kebohongan ini merusak hubungan kepercayaan dan tolong-menolong, menghancurkan hubungan antar negara, menyuburkan benih-benih permusuhan dan terorisme, mengancam hak-hak persamaan dan berbagai dampak buruk lainnya, yang pada akhirnya dapat mengaburkan kebenaran yang datang dari Allâh Azza wa Jalla.

Masa Depan Kebangkitan Dunia Islam

DAFTAR ISI

  1. Asas Kebangkitan Dunia Islam
  2. Kejayaan Hanya Milik Islam
  3. Kembali Ke Agama, Kalian Akan Berjaya!
  4. Jalan Menuju Kebangkitan Kaum Muslimin

Masa Depan Islam

  1. Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Berjaya?
  2. Berpegang Teguh Dengan Syariat, Kunci Kemenangan
  3. Mengapa Orang-Orang Kafir Menguasai Kaum Muslimin
  4. Kenali Penyakit yang Memperlemah Umat Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

هُوَ الَّذى أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِا لْهُدَى وَدِيْنِ الْْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن 

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. [At-Taubah/9 : 33].

Kita patut merasa gembira dengan janji yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya itu, bahwa Islam dengan kearifan dan kebijkasanaannya mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masa Khulafaur Rasyidin, dan pada masa-masa khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terealisasi saat itu hanyalah sebagian kecil dari janji di atas, sebagaimana di isyaratkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui sabdanya :

لاَيَذْ هَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتَ وَالْعُزََّى فَقَالَتْ عَاءِشَةُ : يَا رَسُلُوْاللهِ اِنْ كُنْتُ لاَظُنُّجِيْنَ اَنْزَلَ اللهُ : هُوَالَّذِىْاَرْسَلَرَسُولَهُ بِا لْهُدى وَدِينِ الجَقِِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الَّذِ ينَ كُلِّه وَلَوكَرِهَ الْمُشٍْرِكُونَ , اَنَّ ذ لِكَ تَامًّا : قَالَ اِنَّهُ سَيَكُوْنُ مِنْ ذلِكَ مَاشَاءَاللهُ. اَلجديث

Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Lata dan Al-Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya : ‘Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa tatkala Allah menurunkan firman-Nya : “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai, hal ini itu telah sempurna (realisasinya)”. Beliau menjawab : “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah”.

Syariat Islam Solusi Untuk Mengentaskan Kemiskinan

DAFTAR ISI

  1. Kebijakan Rasulullah Dalam Menuntaskan Kemiskinan
  2. Syari’at Islam Memberikan Solusi Dalam Mengentaskan Kemiskinan
  3. Kemiskinan, Dampak Negatif dan Cara Menyelesaikannya Dalam Islam

Kefakiran dan Kekayaan

  1. Kiat Bertahan Hidup Di Masa Sulit
  2. Penghibur Hati Bagi Orang Miskin
  3. Keutamaan Orang Miskin yang Sabar
  4. Sikap yang Benar Bagi Orang yang Mengalami Kefakiran dan Kemiskinan

Islam berusaha mengatasi kemiskinan dan mencari jalan keluarnya serta mengawasi kemungkinan dampaknya. Tujuannya, untuk menyelamatkan ’akidah, akhlak, dan amal perbuatan; memelihara kehidupan rumah tangga, dan melindungi kestabilan dan ketentraman masyarakat, di samping untuk mewujudkan jiwa persaudaraan antara sesama kaum Muslimin. Karena itu, Islam menganjurkan agar setiap individu memperoleh taraf hidup yang layak di masyarakat.

Secara umum, setiap individu wajib berusaha untuk hidup wajar, sesuai dengan keadaannya. Dengan hidup tenteram, ia dapat melaksanakan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla , sanggup menghadapi tantangan hidup, dan mampu melindungi dirinya dari bahaya kefakiran, kekufuran, kristenisasi, dan lainnya.

Tidak bisa dibenarkan menurut pandangan Islam adanya seseorang yang hidup di tengah masyarakat Islam dalam keadaan kelaparan, berpakaian compang-camping, meminta-minta, menggelandang atau membujang selamanya.

Beberapa Kesalahan yang Terjadi Di Bulan Rajab

DAFTAR ISI

  1. Amalan Di Bulan Rajab
  2. Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat dan Puasa Di Bulan Rajab
  3. Beberapa Kesalahan Yang Terjadi Pada Bulan Rajab
  4. Koreksi Terhadap Penyimpangan Umat Dalam Bulan Rajab

Nasehat Di Bulan Rajab

  1. Bid’ah-Bid’ah Bulan Rajab
  2. Shalat Raghaib
  3. Bid’ah Shalat Raghaib
  4. Puasa di Bulan Rajab

Tidak ada satu dalilpun yang shahih –yang secara khusus- menyebutkan keutamaan bulan Rajab, sebagaimana telah dituturkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Tabyin Al Ujab : ““Tidak ada hadits shahih yang pantas untuk dijadikan hujjah dalam masalah keutamaan bulan Rajab, (dengan) puasa di dalamnya dan shalat malam khusus pada malam harinya”. Beliau juga berkata : “Sungguh Imam Abu Ismail Al Harawi Al Hafizh telah mendahuluiku menetapkan demikian. Kami meriwayatkan darinya dengan sanad yang shahih. Demikian pula kami meriwiyatkan dari selainnya”.

Demikian pula kalangan ulama kritikus serta para huffazh telah mendahuluinya, diantaranya : Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah (wafat 751 H), beliau berkata di dalam Al Manar Al Munif, hlm. 96 : “Setiap hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya, maka itu kedustaan yang diada-adakan”.

Al ‘Allamah Al Faqih Majdudin Al Fairuz Abadi (wafat 826 H), beliau berkata di penutup kitab Safar As Sa’adah, hlm. 150 : “Dan bab shalat raghaib, shalat nishfu sya’ban, shalat nishfu rajab, shalat iman, shalat malam mi’raj …, bab-bab ini, di dalamnya tidak ada sesuatu pun yang sah secara pokok”. Beliau juga berkata : “Bab puasa Rajab dan keutamaannya, tidak ada satupun yang tsabit, bahkan sebaliknya ada riwayat yang memakruhkannya”.

  1. Hukum Merayakan Malam Isra’ Mi’raj
  2.  

Isrâ’ dan Mi’râj

  1. Isra’ Mi’raj
  2. Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  3. Bantahan Bagi yang Mengatakan Bahwa Isra Mi’raj Adalah Khurafat

Hukum Merayakan Tahun Baru

DAFTAR ISI

  1. Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru
  2. Hukum Kaum Muslimin Mengucapkan Selamat Tahun Baru
  3. Mengucapkan Selamat Hari Raya (Tahun Baru) Kepada Non Muslim
  4. Awal Tahun Baru Masehi Berdzikir, Berdoa dan Membaca Al-Qur’an
  5. Ikut Perayaan Tahun Baru Masehi Agar Mendapatkan Uang?

Menambah Ibadah Di Awal Tahun Baru Masehi

  1. Hukum Membuka Toko Pada Hari Raya Orang Kafir
  2. Bekerja Dalam Penjualan Hadiah Untuk Hari Raya Orang Kafir
  3. Menerima Hadiah Dari Orang Kafir Pada Hari Raya Mereka
  4. Hukum Menyambut dan Bergembira Hari Raya Orang Kafir
  5. Hukum Berpartisipasi Pada Hari Raya Orang Kafir

Banyak sekali dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Di antara hal itu adalah menyerupai mereka dalam perayaan hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar (‘Ied) maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar (‘Ied) mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam dien Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu.

Hukum Perayaan Natal Bersama

DAFTAR ISI

  1. Fatwa MUI Perayaan Natal Bersama
  2. Mengucapkan Selamat Hari Natal
  3. Hukum Ucapan Selamat Kepada orang Kafir Pada Hari Raya Mereka
  4. Mengucapkan Selamat Hari Raya (Natal,Tahun Baru) Kepada Non Muslim
  5. Ucapan Selamat Hari Raya Kepada Orang Masihiyun?

Hari Besar Orang-Orang Kafir

  1. Perusahaan Mengadakan Jamuan Natal
  2. Halalkah Penghasilan Membantu Merayakan Natal?
  3. Hukum Memiliki Pohon Natal Tanpa Melakukan Perayaan
  4. Umat Islam Pada Waktu Natalan Menghiasi Rumahnya Dengan Balon
  5. Hukum Menyambut dan Bergembira Hari Raya Orang Kafir

Sesungguhnya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan hari keagamaan mereka adalah haram dan seperti yang dikatakan Ibnul Qayim karena hal tersebut termasuk mengakui syi’ar kufur yang ada padanya, meridhai mereka, sekalipun ia tidak ridha dengan kufur ini untuk dirinya. Akan tetapi haram atas seorang muslim meridhai syi’ar kufur atau mengucapkan dengannya kepada orang-orang kafir, karena Allah Subhanahuwata’alla tidak ridha dengan hal itu, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’alla:

قال الله تعالى :  اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗوَلَا يَرْضٰى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَۚ وَاِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْۗ  

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; … [Az-Zumar/39:7]

Dan firman-Nya:

قال الله تعالى : اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.. [al-Maidah/5:3]

Mengucapkan kepada mereka dengan hal itu adalah haram, sama saja mereka bersama-sama dalam pekerjaan itu atau tidak.

Sabar Dalam Menghadapi Cobaan

DAFTAR ISI

  1. Sabar Menghadapi Cobaan
  2. Sabar Ketika Mendapat Ujian Cobaan
  3. Sifat Sabar Sebagai Penolong Orang yang Beriman
  4. Sabar Tidak Berarti Berpangku Tangan

Adab-Adab Sabar

  1. Kesabaran
  2. Kesabaran dan Ketabahan
  3. Sabar dan Kemenangan Dua Sisi yang Tak Terpisahkan
  4. Salaf dan Sabar Terhadap Musibah

“Sampai kapan kita terus bersabar melihat keadaan seperti ini?”, “Apa kita bersabar terus sampai hancur dan binasa?”, “Kalau kita bersabar terus tanpa berbuat apa-apa, maka kapan keadaan buruk ini akan berubah?”.

Komentar-komantar di atas barangkali sering kita kita dengar, atau bahkan disampaikan kepada kita ketika kita berupaya mengajak sebagian kaum muslimin untuk bersikap benar dan bersabar dalam menghadapi kejadian-kejadian di sekitar kita yang tidak kita inginkan.

Tentu saja komentar-komentar tersebut tidak didasari ilmu dan pemahaman agama yang benar, khususnya dalam memahami makna sifat sabar yang banyak dipuji dan diperintahkan dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Bahkan inilah yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba dan Rasul-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau menghadapi kenyataan yang sangat pahit dan menyakitkan dari kaum kafir Quraisy yang menolak seruan dakwah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahkan menyakiti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai macam gangguan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah. [Al-Ma’ârij/70:5]

Solidaritas dan Kebersamaan

DAFTAR ISI

  1. Takaful (Solidaritas dan Kebersamaan)
  2. Salafiyah dan Solidaritas Muslim
  3. Menggalang Solidaritas dan Ukhuwah Sejati

Ahlus Sunnah wal Jamaah Menjaga Persaudaraan Sesama Mukminin

  1. Ukhuwah Islamiyah
  2. Ukhuwah Antar Sesama Muslim dan Hak-Hak Mereka
  3. Meniti Iman Menggapai Persaudaraan

Pepatah mengatakan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan seluruh asset umat dan memberdayakan potensi sumber daya umat, kecuali dengan mengaplikasikan makna persaudaraan dan solidaritas secara benar dan sejati, kemudian diwujudkan dalam interaksi sosial dan perilaku kehidupan. Sebagaimana telah disampaikan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Orang mukmin bagi orang mukmin lainnya seperti bangunan; satu sama lain saling menguatkan,” dan Rasulullah menjalinkan jari-jemarinya. [Muttafaqun’alaih].

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencinta, saling berbelas kasihnya dan saling perhatiannya, laksana badan. Jika salah satu anggota ada yang sakit, maka yang lainnya merasa mengeluh dan panas. [Muttafaqun’alaih].

Ketahuilah, ukhuwah dan solidaritas sejati tidak akan bisa diraih, kecuali bila dibangun di atas pondasi yang kokoh, berangkat dari sikap ketulusan, aqidah yang lurus, keimanan yang murni, manhaj yang benar dan ikhlas dalam nasihat-menasihati.

Bersyukur dan Sabar Saat Mendapat Musibah

DAFTAR ISI

  1. Dunia Ini Adah Tempat Cobaan dan Ujian (1)
  2. Dunia Ini Adah Tempat Cobaan dan Ujian (2)
  3. Hikmah Dari Cobaan
  4. Hikmah Di Balik  Musibah

Bersyukur dan Sabar Saat Mendapat Cobaan

  1. Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan
  2. Manfaat Cobaan Atau Musibah Bagi Seorang Mukmin
  3. Setiap Muslim Akan Menghadapi Ujian dan Cobaan
  4. Kemaksiatan Sebagai Sebab Turunnya Adzab

Hidup ini tidak bisa lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan Sunnatullah dalam kehidupan.

Hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan dan itu merupakan Sunnatullah yang tidak akan bisa berubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

(Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.” [Al-Israa’/17:77]

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” [Al-Ahzab/33:62]

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

Karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu.” [Faathir/35:43]

Manusia akan diuji dengan segala sesuatu, baik dengan hal-hal yang disenanginya dan disukainya maupun dengan berbagai perkara yang dibenci dan tidak disukainya.