Author Archives: editor

Hak-Hak Pengasuhan Anak Dalam Islam

DAFTAR ISI

  1. Hak Pengasuhan Anak Dalam Islam
  2. Hak-Hak Anak yang Menjadi Kewajiban Bapak
  3. Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri dan Anak-anaknya
  4. Peran Bapak Tiri Terhadap Pendidikan Anak-Anak Tirinya?
  5. Hak-Hak dan Kewajiban Dari Bapak Tiri dan Anak Tiri

Perlukah Hukuman Fisik Bagi Anak?

  1. Nabi Memperingatkan Anak yang Melakukan Kekeliruan
  2. Hukum Memukul Anak Murid Untuk Tujuan Mendidik
  3. Memperlakukan Anak Dengan Lemah Lembut Tanpa Kekerasan
  4. Anak Melalaikan Shalat, Bagaimana Menyikapinya?
  5. Bagaimana Caranya Memukul Anak yang Meninggalkan Shalat?

Ibu, adalah yang paling berhak menggenggam hak asuh anak dibandingkan pihak-pihak lainnya. Al Imam Muwaffaquddin Ibnu Qudamah mengatakan, jika suami isteri mengalami perceraian dengan meninggalkan seorang anak (anak yang masih kecil atau anak cacat), maka ibunyalah yang paling berhak menerima hak hadhonah (mengasuh) daripada orang lain. Kami tidak mengetahui adanya seorang ulama yang berbeda pendapat dalam masalah ini.

Diutamakan ibu dalam mengasuh anak, lantaran ia orang yang paling terlihat sayang dan paling dekat dengannya. Tidak ada yang menyamai kedekatan dengan si anak selain bapaknya. Adapun tentang kasih-sayang, tidak ada seorang pun yang mempunyai tingkatan seperti ibunya. Suami (ayahnya) tidak boleh mencoba menanganinya sendiri, akan tetapi perlu menyerahkannya kepada ibunya (isterinya). Begitu pula ibu kandung sang isteri, ia lebih berhak dibandingkan isteri ayahnya (suaminya).

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu membuat satu ungkapan yang indah:
Aromanya, kasurnya dan pangkuannya lebih baik daripada engkau, sampai ia menginjak remaja dan telah memilih keputusannya sendiri (untuk mengikuti ayah atau ibunya)“.

Kewajiban dan Keistimewaan Mendidik Anak

DAFTAR ISI

  1. Kewajiban Mendidik Anak
  2. Apa dan Kemana Pendidikan Islam?
  3. Keistimewaan Mendidik Anak
  4. Tarbiyah Bagi Anak Yatim
  5. Propaganda Ikhtilath dalam Pendidikan

Istiqamah Dalam Tarbiyah Anak-Anak

  1. Bagaimana Mendidik Anak Agar Menjadi Sholeh
  2. Rumah dan Peranan Pentingnya Dalam Pendidikan
  3. Memilihkan Kisah yang Mendidik
  4. Kemana Menyekolahkan Anak?
  5. Pondok Pesantren Putri

Wahai para pendidik, bila kita ingin berhasil dalam mendidik anak maka hendaknya pertama kita mendidik diri kita sendiri dengan komitmen terhadap ajaran Islam yang berkaitan dengan pendidikan dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam teladan terbaik dan utama bagi orang tua dan pendidik serta seluruh kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesunggunya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu(yaitu) bagi kamu yang mengharap(rahmat) Allah dan RasulNya dan (kedatangan) hari kiamat. [Al Ahzab/33 : 21]

Pemaaf dan Murah Hati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali Imran/3 : 134]

Allah berfirman.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [Al A’raaf /7: 199]

Allah berfirman.

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. [Al Hijr/15 : 85]

Mengapa Pendidikan Anak Itu Penting?

DAFTAR ISI

  1. Mengapa Pendidikan Itu Penting?
  2. Keutamaan Mendidik Anak Perempuan
  3. Keutamaan Mengasuh dan Mendidik Anak Perempuan Dengan Baik
  4. Keutamaan Mendidik Anak Perempuan Dengan Kesabaran

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak

  1. Pendidikan Anak Tanggung Jawab Kedua Orang Tua
  2. Pengaruh Lingkungan Terhadap Pendidikan Anak
  3. Kapan Usia yang Cocok Mengajarkan Anak Pendidikan Seks?
  4. Metode Mengajarkan Orang Bisu dan Tuli

Seorang muslim, siapapun dia, adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta’ala, maka jadikanlah orang yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya, kemudian orang-orang berikutnya. Allah Ta’ala, saat menugaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya, وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (Asy-Syuara/26: 214), karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayangnya.

وجعل الرسول صلى الله عليه وسلم مسؤولية رعاية الأولاد على الوالدين وطالبهم بذلك

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan menuntut mereka untuk itu.

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,”

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ ” . رواهالبخاري ( 853 ) ومسلم ( 1829 )

Semua kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Kepala negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap harta masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya” [HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829]

Hak Pendidikan Anak Dalam Islam

DAFTAR ISI

  1. Garis Besar Pendidikan Pada Masa Salaf
  2. Hak-Hak Pendidikan Anak Dalam Islam
  3. Surat Kepada Guru dan Murid
  4. Antara Kerja dan Mendidik Anak

Pendidik Ideal

  1. Beberapa Nasehat Untuk Para Guru
  2. Mendo’akan Anak Ciri Pendidik Ideal
  3. Ajari Anak-anak Untuk Berdoa
  4. Adab Guru dan Murid Dalam Menghadiri Pelajaran

Wahai Para Pelajar!
Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan tawadlu‘ (kerendahan hati) dan menfokuskan pendengaran, karena itu hormatilah gurumu, angkatlah derajatnya dengan bertindak sopan terhadapnya baik dalam berbicara, mendengar, maupun dalam bertingkah laku, adab yang jelek terhadap guru berarti keluar dari keperwiraan dan kebajikan, bertentangan dengan adab para salafushalih, Ar-Rabi‘ berkata:“Demi Allah aku tidak berani untuk meminum air sedang imam Syafi’i melihatku karena rasa hormatku kepadanya.“

Dan berterima kasihlah kepada guru atas bimbinganya, karena tidak dianggap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak berterima kasih kepada manusia, dan termasuk bentuk cinta seorang murid kepada guru adalah memaafkan segala kekuranganya dan mengembalikan celah kepada diri sendiri, berbicaralah kepadanya dengan baik,  lembutkanlah suara ketika bertanya dan ketika menjawab, hendarilah berdebat denganya, Az-Zuhri berkata : “Abu Salamah pernah mendebat Ibnu Abbas, maka akibatnya  ia tercegah dari memperoleh ilmu yang banyak.“

Dengarkanlah pembicaraan gurumu dengan seksama, jangan malu bertanya tentang agama jika ada yang tidak anda fahami, bertanya tentang agama adalah kemuliaan, sedang enggan bertanya dan memilih untuk tetap dalam kebodohan adalah kehinaan, Aisyah Radhiyallahu anha. berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati para wanita Anshar, rasa malu mereka tidak mencegah mereka untuk memperdalam agama.“

Membantah Al-Qur’an adalah Kekafiran

MEMBANTAH AL-QURAN ADALAH KEKAFIRAN

Disusun oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Kebenaran mutlak datangnya hanya dari Allâh عزوجل . Oleh karena itu al-haq tidak diambil kecuali dengan petunjuk kitab Allâh dan sunnah Rasul . Dan sepantasnya orang-orang yang sudah sampai al-haq kepada mereka untuk menerima dan mengikutinya.

Allâh عزوجل telah memuji orang-orang yang beriman karena mereka mengkuti al-haq, Dia berfirman:

  اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ 

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (QS. ar-Ra’du/13: 19)

Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata tentang ayat ini: “Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad – dengan orang yang buta, tidak mengetahui dan memahami kebaikan, seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak mempercayainya, dan tidak mengikutinya”. (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, surat . ar-Ra’du/13: 19)

DI ANTARA SIFAT ORANG BERIMAN
Oleh karena itu di antara sifat orang beriman menurut Allâh di dalam kitab suci-Nya adalah: mendengar dan taat kepada hukum Allâh danRasul-Nya. Allâh عزوجل berfirman:

 اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur/24:51)

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, seorang pengajar tafsir di Masjid Nabawi, Madinah, berkata: “Yakni: Tidak ada perkataan yang diucapkan oleh orang-orang yang beriman yang sebenarnya, jika mereka diseru kepada kitab Allâh dan Rasul-Nya, agar Rasul mengadili di antara mereka, kecuali perkataan: “Kami mendengar dan kami patuh”. Maka mereka menyambut seruan, menyerah kepada al haq”. (Aisarut Tafasir Li Kalamil ‘Aliyil Kabir, surat An Nur: 51)

MEMBANTAH AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN
Namun umumnya manusia tidak peduli terhadap kebenaran, tidak mau mencarinya, dan tidak menelitinya. Sehingga mereka berkubang di dalam kesesatan dengan sadar atau tanpa sadar. Bahkan sebagian mereka berani mendebat dan menolak kebenaran yang datang dari Allâh عزوجل . berfirman:

 مَا يُجَادِلُ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ اِلَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا 

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Ghafir/40: 4)

Imam al-Qurthubi رحمه الله (wafat 671 H) menjelaskan ayat ini dengan perkataan, “Allâh Yang Maha Suci telah menetapkan kekafi ran terhadap orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allâh. Yang dimaksudkan adalah memperdebatkan dengan batil. Yaitu mencela ayat-ayat Allâh, dan berniat membatalkan kebenaran, serta memadamkan cahaya Allâh. Hal ini ditunjukkan dengan firman Allâh : “Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu” (QS. Ghafir/40: 5)

Adapun memperdebatkan tentang ayat-ayat Allâh untuk menjelaskan sesuatu yang samar, dan menguraikan sesuatu yang susah difahami, perdebatan ulama untuk mengambil kesimpulan makna-maknanya, dan untuk membantah orang orang yang menyimpangkannya dan menyimpang darinya, maka merupakan jihad yang paling agung di jalan Allâh. Dan telah lewat makna ini di dalam surat al-Baqarah pada firman Allâh, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah)”. (QS. Al-Baqarah/2: 258) (Tafsir al-Qurthubi, 15/292)

Maka lihat bagaimana sebagian orang sekarang mendebat syari’at Islam, mendebat hudud, mendebat hukum poligami, dan lain-lain. Maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang akan celaka, jika tidak bertaubat kepada Allâh عزوجل.

Sesungguhnya orang-orang yang mendebat al-Qur’an, mendebat hukum-hukum Allâh, adalah orang-orang sombong yang dimurkai oleh Allâh. Allâh عزوجل berfirman:

 ۨالَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayatAllâh tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allâh dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allâh mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Ghafir/40: 35)

Di dalam ayat lain Allâh عزوجل berfirman:

 اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ 

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allâh tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir/40: 56)

TINGGALKAN ORANG YANG MENDEBAT
Nabi membenci perdebatan dan perselisihan. Sikap seorang Mukmin terhadap al-Qur’an adalah menerimanya. Ayat-ayat yang dia fahami maka dia yakini dan dia amalkan. Adapun ayat-ayat yang samar baginya, maka dia mengimaninya, dan menyerahkan kepada orang yang memahaminya. Dia tidak mempertentangkan ayat satu dengan lainnya. Di dalam hadits diriwayatkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ -رضي الله عنه – أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ قَالَ : نَزَلَ القُرآنُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ الْمِرَاءُ فِيْ القُرْآنِ كُفْرٌ -ثَلَاثَ مَرَّاتٍ- فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوْا وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ فَرُدُّوْهُ إِلَى عَمَلِهِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwa Rasûlullâh bersabda: “Al-Qur’an turun dengan tujuh dialek bahasa Arab. Membantah Al-Qur’an adalah kekafi ran -3 kali-. Apa yang kamu ketahui dari al-Qur’an, maka amalkan. Dan apa yang kamu tidak tahu darinya, maka kembalikan kepada orang yang mengetahuinya”. (HR. Ahmad, no. 7805; Abu Dawud, no. 4008. Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, penjelasan hadits no. 1522)

Di dalam hadits lain diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash berkata:

خَرَجَ رَسُـــــــــــولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى أَصْحَابِهِ، وَهُمْ يَخْتَصِمُوْنَ فِيْ القَدَرِ، فَكَأَنَّمَا يُفْقَأُ فِيْ وَجْهِهِ، حَبُّ الرُّمَّانِ مِنَ الغَضَبِ، فَقَالَ: (( بِهَذَا أُمِرْتُمْ، أَوْ لِهَذَا خُلِقْتُمْ، تَضْرِبُوْنَ الْقُرْآنَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، بِهَذَا هَلَكَتِ الأُمَمُ قَبْلَكُمْ ))

Rasûlullâh keluar kepada para sahabatnya, mereka sedang berbantahan tentang qadar (takdir). Urat leher Beliau menjadi merah dengan sebab marah. Lalu Beliau bersabda: “Apakah untuk ini kamu diperintahkan, atau apakah untuk ini kamu diciptakan. Kamu membenturkan sebagian al-Qur’an dengan sebagian lainnya? Dengan inilah umat-umat sebelum kamu menjadi binasa!”. (HR. Ibnu Majah, no. 85; Syaikh Al-Albani menyatakan “Hasan Shahih”)

Oleh karena itu banyak hadits-hadits Nabi yang menganjurkan meninggalkan perdebatan, walaupun dia dalam keadaan benar.

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ : ” أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ”.

Dari Abu Umamah رضي الله عنه , dia berkata: Rasûlullâh bersabda: “Aku menjamin dengan sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun dia berkata benar. Aku menjamin dengan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, walaupun dia bergurau. Aku menjamin dengan sebuah rumah disurga yang tertinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya”. (HR. Abu Dawud, no. 4800. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Walaupun ada juga perdebatan yang terpuji, yaitu perdebatan dengan cara yang baik, untuk membela kebenaran, sebagaimana Allâh عزوجل berfirman:

 اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ  

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl/16: 125)

Namun hal itu hanyalah dilakukan oleh orang orang ahli. Demi keselamatan bagi agamanya hendaklah seseorang meninggalkan perdebatan yang banyak keburukannya, sebagaimana dijelaskan para ulama, wallâhu a’lam. [ ]

Majalah As-Sunnah
EDISI 11/TAHUN. XXII/RAJAB 1440H/MARET 2019M

Menimba Pelajaran Dari Arab Saudi

DAFTAR ISI

  1. Praktek Keagamaan di Saudi Arabia
  2. Relevansi Manhaj Salaf dan Saudi Arabia
  3. Saudi Di Mata Seorang Ulama Sunnah
  4. Berpulangnya Penjaga Dua Kota Suci
  5. Dakwah Salafiyyah dan Daulah Su’udiyyah

Apa yang Mereka Dendam Terhadap Negeri Haramain (Saudi Arabia)?

  1. Arab Saudi dan Terorisme
  2. Penjara Teroris Di Arab Saudi
  3. Menimba Pelajaran Dari Revolusi Arab
  4. Saudi Di Mata Seorang Al-Qaidah
  5. Juhayman, Sang Pembajak Masjid al-Haram

Muhammad bin Abdul Wahhab dan Arab Saudi

  1. Pengertian Wahabi dan Siapa Muhammad bin Abdul Wahhab
  2. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab (1115-1206H/1701-1793M)
  3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sosok Penegak Panji-Panji Tauhid
  4. Sosok Pembaharu Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab

Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu, yang berusaha membuat kerusakan di negeri Al-Haramain (Saudi Arabia) dan negeri Islam lainnya, pada hakikatnya mereka itu adalah orang-orang yang berkhidmat (pada) musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nashara serta seluruh musuh-musuh Islam, karena musuh-musuh Islam itu bergembira dan menabuh genderang bahkan menari-nari ketika gangguan menimpa negeri Islam, khususnya negeri Islam yang memelihara dan menjaga Makkah dan Madinah, negara yang menyebarkan aqidah Tauhid di negeri Arab dan selain negeri Arab.

Maka kenapa penyerangan yang keji ini dilakukan dari dalam dan dari luar, atas negeri Al-Haramain? Karena Saudi Arabia adalah benteng terakhir bagi Islam, dan karena di negeri itu pula ditegakkan syariat Allah diatas asas Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dan karena di negeri itu disebarkan tauhid disegenap penjuru bumi. Maka (negeri ini) harus diperangi serta dilemahkan, dan disibukkan dengan fitnah-fitnah !! (negeri itu) harus digoncangkan keamanannya, karena kegoncangan kepercayaan pada negeri itu dan menampakkannya dalam keadaan lemah dari menjaga tempat-tempat yang suci, benar-benar akan mencegah para jama’ah haji dan pengunjung serta orang yang berumrah untuk mendatanginya. Maka lemahlah perekonomiannya, dan tersibukkan negeri Saudi Arabia dari kewajibannya yang suci yaitu melayani dua tempat suci (Makkah dan Madinah) melayani Islam dan kaum muslimin.

Kemudian mereka yang menuduh negeri itu dengan kedzaliman dan kedustaan, (bahwa negeri Saudi Arabia) membina teroris, diri merekalah yang bergembira dengan perbuatan orang-orang bodoh pembunuh dari kalangan kaum Khawarij masa kini, maka lihatlah bagaimana mereka (orang kafir yang menuduh negeri Saudi Arabia membina teroris dan kaum Khawarij yang meledakkan Al-Haramain) bertemu dalam satu sasaran dan satu tujuan, walaupun tanpa sengaja?!

Dan Maha benar Allah Azza wa Jalla dimana Dia berfirman.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan

Sikap Seorang Muslim Dalam Menghadapi Bencana

DAFTAR ISI

  1. Penyebab Terjadinya Bencana
  2. Ada Apa Di Balik Gempa?
  3. Banyak Terjadi Gempa Bumi
  4. Faedah Bencana
  5. Mengapa Musibah Terus Mendera?

Sabar Menghadapi Cobaan

  1. Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Musibah
  2. Bagaimana Mengetahui Musibah Itu Hukuman Atau Ujian?
  3. Amalan Yang Menghilangkan Bencana
  4. Sabar Saat Tertimpa Bencana Meluruskan Aqidah
  5. Musibah Itu Hukuman Atau Ujian?

Nasihat Seputar Gempa

  1. Nasihat Seputar Gempa Dan Bencana Alam
  2. Kewajiban Bertaubat Waktu Terkena Musibah
  3. Enggan Menolong Orang-Orang yang Tertimpa Musibah
  4. Orang yang Marah Bila Ditimpa Musibah
  5. Apakah Ada Doa yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gempa?

Allah menciptakan berbagai macam musibah dan sakit terkandung hikmah yang tidak kita ketahui ilmunya melainkan Allah semata. Diantara yang Allah beritahukan kepada kita hikmah tersebut adalah :

Bahwa musibah-musibah tersebut adalah sebagai ujian kesabaran orang-orang beriman.

Allah berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat “.[Al-Baqarah/2 : 214]

Sebagai bukti akan lemahnya manusia dan perasaan membutuhkan kepada Tuhan-Nya. Dan tidak ada kemenangan kecuali dengan merasa membutuhkan diri kepada Tuhan-Nya

Resep Penyembuhan Tanpa Obat

DAFTAR ISI

  1. Penyembuhan Tanpa Obat
  2. Penyembuhan Dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
  3. Penyembuhan Dengan Al-Qur’an (Ruqyah)
  4. Pengobatan Habbatus Sawda’, Madu, Bekam dan Air Zamzam
  5. Pengobatan Dengan Madu, Kembalikan Kepada Ahlinya

Hadiah Untuk Orang yang Sakit

  1. Petunjuk Rasulullah Dalam Menjaga Kesehatan
  2. Kaidah-Kaidah Tibbun Nabawi
  3. Faidah-Faidah Sakit
  4. Tidak Percaya Bahwa Al-Qur’an Mengandung Penawar
  5. Keistimewaan Sedekah, Renungan Bagi Orang Sakit

Bagaimana Menjenguk Orang Sakit?

  1. Adab Menjenguk Orang Sakit
  2. Adab-adab Orang Sakit dan yang Menjenguknya
  3. Bersama Nabi Menjenguk Orang Sakit
  4. Mengunjungi Orang Sakit dan Adabnya
  5. Shalawat Malaikat Kepada Orang yang Menjenguk Orang Sakit

Obat adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengurangi, menghilangkan penyakit atau menyembuhkan seseorang dari penyakit. Pengobatan sudah dikenal sejak jaman dahulu, bahkan para nabi pun mempunyai cara-cara tersendiri dalam hal pengobatan.

Penyembuhan seseorang dari sakit adalah mutlak kekuasaan Allah, bukan kekuasaan manusia. Karena penyakit datang dari Allah, pasti Allah akan menurunkan obatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ مَعَهُ شِفَاءً

Wahai hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu tidak menurunkan penyakit melainkan kecuali Dia juga menurunkan obatnya.. “[HR Ibnu Majah].

Seseorang yang memberikan obat, baik obat-obatan modern, tradisional, pengobatan cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau pengobatan alternatif yang lainnya, merupakan perantara-perantara kesembuhan dari Allah.

Kedudukan Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) Dalam Islam

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Masjidil Aqsha
  2. Mengenal Masjidil Al-Aqsha
  3. Kedudukan Baitul Maqdis Dalam Islam
  4. Apakah Orang Yahudi Memiliki Hak Atas Al-Quds (Baitul Maqdis)?

Kewajiban Kita Terhadap Al-Aqsha

  1. Apakah Masjidil Aqsha Termasuk Tanah Haram
  2. Kenapa Terjadi Pengalihan Kiblat Dari Baitul Maqdis Ke Ka’bah
  3. Perubahan Arah Kiblat, Menghadap Baitul Maqdis dan Kebanggaan Yahudi
  4. Apakah Umar bin Khatab Shalat Di Gereja Saat Menaklukkan Baitul Maqdis?
  5. Shakhrah (Batu Besar) Baitul Maqdis Menggantung Adalah Dusta

Al-Qur`an dalam banyak ayatnya menggambarkan Baitul Maqdis dan Masjidnya dengan barakah, yaitu berupa kebaikan-kebaikan yang selalu bertambah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

Maha suci Allah Azza wa Jalla yang telah memperjalankan hamba-Nya  pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami barakahi sekelilingnya. [al-Isra`/ 17:1]

Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi. Disebutkan dalam shahîhaini bahwa Abu Dzar Radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi? Nabi menjawab : al Masjidil Haram, aku bertanya lagi. Kemudian apa? Nabi menjawab: al Masjidil Aqsha. Aku bertanya. Berapakah jarak antara keduanya? Nabi menjawab  40 tahun. Kemudian di manapun kalian mendapati waktu shalat, maka shalatlah sesungguhnya ada keutamaan di dalamnya“.

Sikap dan Kewajiban Umat Islam Terhadap Palestina

DAFTAR ISI

  1. Fatwa Palestina (Pembunuhan, Pengepungan Dan Pengeboman Jalur Ghaza)
  2. Peringatan Terhadap Yahudi dan Nasehat Untuk Palestina
  3. Sikap dan Kewajiban Umat Islam Terhadap Tragedi Palestina
  4. Salafiyyin Tidak Menaruh Perhatian Terhadap Masalah Palestina?

Nasehat Jihad Di Palestina

  1. Nasehat dan Fatwa Jihad Palestina
  2. Jihad Nabi di Bumi Palestina
  3. Tentang Keutamaan Ribath di Asqalan
  4. Penaklukan Syam (Palestina) Setelah Nabi Wafat
  5. Apakah Ada Budak Yahudi yang Membantu Nabi?

Bagaimanakah Solusi Untuk Masalah Palestina?

  1. Apakah Yahudi Berhak Atas Palestina?
  2. Rezim Apartheid Zionis di Palestina
  3. Peristiwa Nakba, Ketika Warga Palestina Terusir dari Tanahnya Sendiri
  4. Mandat Britania di Palestina, Awal Mula Konflik Israel-Palestina

Realita Palestina sekarang, (mereka) memerangi musuh yang cukup berbahaya, yang bersenjatakan teknologi tercanggih dan mutakhir dengan didukung negara-negara Eropa dan Amerika. Sementara Palestina tidak ada yang mendukung mereka, satu negarapun. Maka pandangan saya bahwa termasuk dari sikap terburu-buru dan tidak cerdas bila engkau perangi musuh tersebut dengan bebatuan (intifadha, ed.). Termasuk kebodohan yang ditolak Islam dan ditolak orang yang berakal (di mana) musuhmu bersenjatakan senjata yang paling ampuh dan canggih, pesawat tempur, tank, rudal, nuklir, dan seterusnya, sementara engkau tidak punya kecuali batu, dan engkau lawan dengannya.

Saya berpandangan, sekarang bila musuh menyerang rumah-rumah penduduk yang aman, serta keluarga mereka, maka wajib bagi mereka membela diri. Sampai-sampai saya ditanya oleh orang Palestina: “Bila mereka (musuh) menyerang kami, apa yang kami lakukan?

Saya jawab: “Perangi mereka jika mereka menyerangmu dan keluargamu. Lawan dengan segala yang engkau bisa, baik dengan batu atau tongkat, sampaipun dengan kuku-kuku dan gigi-gigimu.”