Author Archives: editor

Hukum Badal Haji, Makna Fidyah dan Dam Dalam Haji

DAFTAR ISI

  1. Batasan dan Hukum Badal Haji
  2. Menghajikan Kedua Orang Tua yang Telah Wafat
  3. Menggantikan Haji Kedua Orang Tua
  4. Menggantikan Haji Orang yang Mampu Melaksanakan Sendiri
  5. Orang Kaya Meninggal Belum Haji Lalu Dihajikan Dari Hartanya
  6. Menghajikan Orang yang Sudah Meninggal
  7. Mewakilkan Ibadah Haji Kepada Orang Lain

Apakah Haji Menghapus Dosa Besar?

  1. Manfaat-Manfaat yang Dapat Diraih Dalam Haji
  2. Makna Fidyah dan Jenis Dam Dalam Haji
  3. Mengganti Hewan Hadyu Dengan Nilai Uang dan Disedekahkan
  4. Apakah Disyariatkan Kurban Bagi Orang yang Melakukan Haji
  5. Meminum Air Zam-Zam Itu Sunnah Bukan Wajib
  6. Burung Merpati Di Tanah Suci dan Barang Temuan Di Mekkah
  7. Ziarah Ke Masjid Nabawi Sunnah, Tidak Ada Hubungan Dengan Haji

Banyak orang yang menggampangkan haji badal. Haji badal ada batasan, syarat dan hukum-hukumnya. Kami akan sebutkan semampunya, semoga bermanfaat, di antaranya:

1. Tidak sah haji badal untuk haji fardhu bagi orang yang mampu secara fisik.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tidak dibolehkan melakukan haji wajib untuk menggantikan orang yang mampu melaksanakan haji sendiri berdasarkan ijma.”

Ibnu Munzir berkata, “Para ulama sepakat (ijmak) bahwa orang yang wajib melaksanakan haji fardhu sementara dia mampu untuk melaksanakan haji, tidak sah kalau dihajikan oleh orang lain.” (Al-Mughni, 3/185)

2. Haji badal (hanya) untuk orang sakit yang tidak ada harapan sembuh atau yang lemah fisiknya atau untuk orang yang meninggal dunia. Bukan untuk orang fakir dan lemah karena kondisi politik atau keamanan.
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Mayoritas (ulama) mengatakan bahwa mengghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh.

Qadhi Iyad berpendapat berbeda dengan mazhabnya –yakni Malikiyah– dengan tidak menganggap hadits (yang membolehkan) menggantikan puasa bagi orang meninggal dan menghajikannya. Dia berkesimpulan bahwa haditsnya mudhtharib (tidak tetap). Alasan ini batil, karena haditsnya tidak mudhtharib. Cukuplah bukti kesahihan hadits ini manakala  Imam Muslim menjadikannya sebagai hujah dalam Kitab shahihnya. (Syarh An-Nawawi Ala Muslim, 8/27)

Arti Kemampuan Dalam Melaksanakan Haji

DAFTAR ISI

  1. Arti Kemampuan Melaksanakan Haji
  2. Wanita Tidak Mempunyai Mahram Pendamping Haji
  3. Wanita Pergi Haji Sendiri Tanpa Mahram
  4. Tentara Menunaikan Haji Tanpa Seizin Komandannya
  5. Wanita Ingin Haji Tetapi Dilarang Oleh Suaminya

Syarat dan Kewajiban Orang yang Ingin Haji

  1. Sudah Berniat Namun Meninggal Sebelum Berhaji
  2. Makna Rafats, Fasik dan Jidal Dalam Haji
  3. Orang yang Ingin Haji Tetapi Mempunyai Utang
  4. Satu Haji Atau Umrah Tidak Boleh Untuk Dua Orang
  5. Tidak Boleh Ihram Untuk Dua Haji

Arti kemampuan dalam haji adalah sehat badan, ada kendaraan sampai ke Masjidil Haram, baik dengan kapal terbang, mobil, binatang atau ongkos membayar kendaraan sesuai keadaan. Juga memiliki bekal yang cukup selama perjalanan sejak pergi sampai pulang. Dan perbekalan itu harus merupakan kelebihan dari nafkah orang-orang yang menjadi tanggungannya sampai dia kembali dari haji. Dan jika yang haji atau umrah seorang perempuan maka harus bersama suami atau mahramnya selama dalam bepergian untuk haji dan umrah.

Adapun pahala haji maka tergantung kadar keikhlasan orang karena Allah, ketekunan melaksanakan manasik, menjauhi hal-hal yang menafikan kesempurnaan haji, dalam mencurahkan harta dan tenaga, baik dia kembali, mukim, atau meninggal sebelum merampungkan haji ataupun setelahnya. Allah adalah yang mengetahui kondisi seseorang dan akan memberikan balasannya.

Sedang kewajiban setiap mukallaf adalah beramal dengan tekun dan memperhatikan amalnya dalam kesesuaiannya dengan syari’at Islam lahir dan batin seakan dia melihat Allah.

Tanda Haji Mabrur, Adakah Haji Akbar?

DAFTAR ISI

  1. Tanda-Tanda Haji Mabrur
  2. Adakah Haji Akbar?
  3. Keutamaan, Adab Haji dan Umrah
  4. Bimbingan Manasik Haji

Adab-adab Masjid Nabawi

  1. Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi
  2. Tidak Melakukan Umrah Berulang Kali Saat Berada Di Mekkah
  3. Hadits-Hadits Dha’if Dan Palsu Seputar Amaliyah Haji

Thawâf Dalam Pandangan Fikih Islam

  1. Thawâf Qudûm
  2. Thawâf Ifâdhah
  3. Thawâf Wadâ’

Setiap orang yang pergi berhaji mencita-citakan haji yang mabrûr. Haji mabrûr bukanlah sekedar haji yang sah. Mabrûr artinya diterima oleh Allah Azza wa Jalla, dan sah artinya menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Jadi, tidak semua yang hajinya sah terhitung sebagai haji mabrûr. Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan: “Yang hajinya mabrûr sedikit, tapi mungkin Allah Azza wa Jalla memberikan karunia kepada jama`ah haji yang tidak baik dikarenakan jama’ah haji yang baik.”

Bagaimanakah mengetahui mabrûrnya haji seseorang? Apa perbedaan antar haji yang mabrûr dengan yang tidak mabrûr? Tentunya yang menilai mabrûr tidaknya haji seseorang adalah Allah Azza wa Jalla semata. Kita tidak bisa memastikan bahwa haji seseorang adalah haji yang mabrûr atau tidak. Para Ulama menyebutkan ada tanda-tanda mabrûrnya haji, berdasarkan keterangan al-Qur`ân dan Hadits. Namun, itu tidak bisa memberikan kepastian mabrûr tidaknya haji seserang.

Ibadah yang Disyariatkan Selama Di Arafah

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Hari Arafah
  2. Suasana Hari Arafah Mengingatkan Hari Kiamat
  3. Arafah Melahirkan Orang-Orang yang Terbebas Dari Neraka
  4. Kesalahan-Kesalahan Jamaah Haji Selama Di Arafah
  5. Wukuf di Arafah, Waktu Datang dan Meninggalkan Arafah

Ibadah yang Disyariatkan Untuk Jamaah Haji Selama Di Arafah

  1. Penjelasam Hadits Puasa Arafah
  2. Do’a Hari Arafah
  3. Do’a Bersama di Arafah dan Tempat Lain
  4. Amalan-Amalan 1- 10 Dzulhijjah

Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahun merupakan salah satu hari yang paling utama sepanjang tahun. Bahkan dalam madzhab Syâfi’i disebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan, ‘Isteri saya jatuh talak pada hari paling utama’, maka talak tersebut jatuh pada hari Arafah. Keistimewaan hari ini berdasarkan pada dalil umum dan khusus.

Dalil umum yaitu hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.

Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya  lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” [HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]

Wasiat Emas Untuk Jamaah Haji

DAFTAR ISI

  1. Wasiat Emas Untuk Para Jamaah Haji
  2. Tuntunan Ringkas Ibadah Haji
  3. Lima Syarat Wajib Haji
  4. Adab-Adab Haji

Tauhid Di Balik Talbiyah

  1. Haji dan Dzikir
  2. Haji dan Tawakkal
  3. Haji dan Taubat
  4. Haji dan Pendidikan Jiwa

Wahai saudaraku jamaah haji : Ikhlas… ikhlas … dan jauhilah sifat riya dalam beribadah. Wahai saudaraku jamaah haji, anda akan menunaikan suatu amalan mulia dan salah satu syi’ar yang diberkahi, jika anda diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakannya, maka anda mendapatkan keuntungan yang agung. Akan tetapi saudaraku, apakah anda telah berniat dengan ikhlas ketika anda menuju ke Baitullah yang diberkahi? Menghadirkan niat adalah hal yang mesti.

Seorang hamba akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya. Tidakkah anda perhatikan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Segala amalan itu bergantung pada niatnya, dan seseorang itu hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka berarti hijrahnya tersebut karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan niatnya tersebut” [HR Bukhari]

Haji dan Memenuhi Panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala

DAFTAR ISI

  1. Ya Allah Saya Penuhi Panggilan-Mu
  2. Haji dan Memenuhi Panggilan Allah
  3. Sebuah Renungan Ayat Tentang Haji
  4. Pakaian Ihram dan (Mengingat) Kain Kafan

Mengapa Mencium Hajar Aswad Dan Mengusap Rukun Yamani?

  1. Keutamaan dan Tata Cara Umrah
  2. Amalan-amalan Umrah
  3. Amalan-amalan Haji
  4. Beberapa Kesalahan Pelaksanaan Ibadah Haji

Dengan syi’ar ini seorang Muslim memasuki sebuah ibadah yang sangat agung, yaitu “Haji ke Baitullah al-Haram”
Sesungguhnya talbiah adalah syi’ar yang dilakukan oleh seseorang yang berhaji sejak pertama kali ia memasukinya.

Sesungguhnya ini adalah syi’ar Tauhid, bahkan demi merealisasikan Tauhid kepada Allah, maka disyari’atkan bagi seseorang yang akan berhaji untuk memulai hajinya dengan syi’ar yang agung ini.

Sesungguhnya ini adalah pengumuman untuk menyerahkan diri dengan sempurna kepada Allah dan tunduk kepada-Nya.

Labbaikallahumma labbaik” : adalah jawaban atas panggilan setelah jawaban atas suatu panggilan.
Labbaikallahumma labbaik” : Berserah diri kepada Allah setelah keta’atan.
Labbaikallahumma labbaik” : Maka kami akan tetap di dalam keta’atan terhadap-Mu dan beriltizam dengannya, karena ia mencakup kesinambungan ubudiyyah (penghambaan).
Labbaikallahumma labbaik” : Mendekatkan diri kepada-Mu dengan pendekatan setelah adanya kedekatan.

Wasiat Penting Untuk Jamaah Haji dan Umrah

DAFTAR ISI

  1. Pengarahan Ringkas Untuk Jamaah Haji dan Umrah
  2. Pesan dan Wasiat Penting Untuk Jama’ah Haji dan Umrah
  3. Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah
  4. Kewajiban yang Berihram dan Cara Ziarah Ke Masjid Rasulullah
  5. Beberapa Kesalahan Dilakukan oleh Sebagian Jamaah Haji

Hikmah Ibadah Haji

  1. Tata Cara Umrah
  2. Tata Cara Haji
  3. Hukum Ihram Dari Jeddah
  4. Sanggahan Terhadap Pendapat Bahwa Jeddah Adalah Miqat
  5. Sepuluh Faedah Tentang Haji

Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.

Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan taqwa.

Kewajiban dan Keutamaan Ibadah Haji

DAFTAR ISI

  1. Ibadah Haji Keinginan Setiap Muslim
  2. Kewajiban Ibadah Haji dan Keutamaannya
  3. Pengumuman Nabi Ibrahim Untuk Berhaji
  4. Kemudahan Dalam Ibadah Haji

Ketika Tradisi Ritual Haji Menjamur

  1. Larangan Dalam Ibadah Haji
  2. Risalah Penting Untuk Para Jamaah Haji
  3. Surat Untuk Para Jamaah Haji Baitullah Al-Haram
  4. Nasehat Setelah Haji

Berhaji adalah amal ibadah yang paling baik setelah beriman kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berjihad.

عن أبي هُريرة – رضي الله عنه – أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئل: أيُّ العمل أفضل؟ قال: ((إيمانٌ بالله ورسوله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((حجٌّ مبرورٌ))

Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ditanya: Amal apakah yang paling baik?. Beliau menjawab: Beriman kepada Allah dan Rasul –Nya. Kemudian beliau ditanya kembali: Kemudian amal apa lagi?. Beliau menjawab: Berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Kemudian apa?. Haji yang mabrur”.

Biaya yang dikeluarkan untuk berhaji akan dilipatkan gandakan pahalanya bagi pelakunya sebagaimana dilipatgandakannya pahala orang yang berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla.

عن بُرَيْدَة – رضي الله عنه – أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: ((النَّفَقَةُ فِي الْحَجِّ كَالنَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ بِسَبْعمائةِ ضِعْفٍ))

Dari Buraidah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Biaya berhaji sama dengan biaya yang dikeluarkan dalam berjihad di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla dia akan dilipatgandakan sehingga mencapai tujuhratus kali lipat”.

Membentuk Karakter dan Berlaku Adil Kepada Anak

DAFTAR ISI

  1. Menumbuhkan Optimisme Pada Anak
  2. Langkah Menanamkan Kehormatan Pada Anak
  3. Membentuk Sikap Hormat Terhadap Ketentuan Allah
  4. Membentuk Sikap Anak Merasa Diawasi Oleh Allah Azza wa Jalla
  5. Menyiapkan Generasi yang Mempercayai Berita Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  6. Orang Tua Bertanggung Jawab Menentukan Kepribadian Anak

Berlaku Adil Kepada Anak

  1. Harus Adil Termasuk Kepada Anak Pembangkang
  2. Mengapa Orang Tua Saya Lebih Sayang Kepada Adik?
  3. Bersikap Adil, Mengajari dan Mendidik Anak Perempuan
  4. Bolehkah Mengkhususkan Anaknya Lebih Dari yang Lain?
  5. Memberikan Sesuatu Kepada Seorang Anak dan Tidak Kepada Anak yang Lain

Peran orang tua sangat menentukan baik-buruk serta utuh-tidaknya kepribadian anak. Untuk itu orang tua pasti akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Azza wa Jalla kelak di akhirat tentang anak-anaknya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim][1]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua sangat menentukan shaleh-tidaknya anak. Sebab pada asalnya setiap anak berada pada fitrah Islam dan imannya; sampai kemudian datanglah pengaruh-pengaruh luar, termasuk benar-tidaknya orang tua mengelola mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan  dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. [HR. al-Bukhâri][2]

Maka orang tua bertanggung jawab sepenuhnya terhadap anak-anaknya. Karena itu hendaknya setiap orang tua memperhatikan sepenuhnya perkembangan serta masa depan anak-anaknya, masa depan yang bukan berorientasi pada sukses duniawi, tetapi yang terpenting adalah sukses hingga akhiratnya. Dengan demikian, orang tua tidak boleh mementingkan diri sendiri, misalnya dengan melakukan dorongan yang secara lahiriah terlihat seakan-akan demi kebaikan anak, padahal sesungguhnya untuk kepentingan kebaikan, prestise atau popularitas orang tua. Sehingga akhirnya salah langkah.

Keutamaan Menyambung Silaturrahim

DAFTAR ISI

  1. Silaturahim
  2. Keutamaan Silaturahim
  3. Silaturrahim, Keutamaan dan Anjuran Melaksanakannya
  4. Menyambung Silaturrahim
  5. Betapa Penting Menyambung Silaturahmi

Penyebab Melemahnya Jalinan Silaturrahim

  1. Dosa Memutuskan Hubungan Kekerabatan
  2. Apa yang Harus Dilakukan Terhadap Kerabat yang Menyakiti?
  3. Untuk Mengenal Kerabat, Bukan Sombong Dengan Martabat
  4. Hukum Berjabat Tangan Dengan Kerabat dan Mencium Mereka
  5. Mahram Dalam Kekerabatan

Di antara bentuk taqarrub yang paling berharga, ketaatan yang paling agung, memiliki kedudukan yang paling tinggi, keberkahan yang agung, mendatangkan manfaat yang besar dan menyeluruh di dunia dan akhirat adalah silaturrahim. Al-Arham adalah keluarga seseorang, baik ibu, bapak, anak laki-laki atau perempuan, saudari dan saudaranya, dan semua orang yang memiliki hubungan dengannya dari pihak bapaknya, atau ibunya atau anak laki-laki atau anak perempuannya, dan tidak termasuk dalam masalah ini keluarga suami atau istri, namun mereka dianjurkan berbuat baik kepada mereka, mereka tidak termasuk dalam kategori arham namun sebagai mantu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا مَعَكُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ مِنْكُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ 

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Anfal/8: 75]