Author Archives: editor

Menggabungkan Niat Puasa Tiga Hari Dengan Puasa Syawal

DAFTAR ISI

  1. Apabila Dua Ibadah Sejenis Berkumpul Maka Pelaksanaannya Digabung
  2. Hukum Menggabungkan Niat Puasa Tiga Hari dan Puasa Enam Hari Bulan Syawal
  3. Tidak Sah Qada Ramadan Dengan Puasa Syawal Dengan Satu Niat

Menggabungkan Dua Niat Untuk Satu Puasa dan Lebih Dari Satu Ibadah Dengan Satu Niat

  1. Menggabungkan Niat Puasa Dawud Dengan Puasa Senin Kamis
  2. Menggabungkan Antara Qadha Ramadan dan Puasa Asyuro Atau Arafah
  3. Menggabungkan Niat Antara Dua Puasa

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin juga memberiku jawaban dari pertanyaan serupa sebagai berikut: “Benar, jika ia telah berpuasa enam hari pada bulan Syawal maka gugurlah puasa tiga hari setiap bulan. Baik ia mengerjakannya tepat pada waktu pelaksanaan puasa tiga hari setiap bulan itu (yakni tanggal 13,14 dan 15) ataupun sebelum dan sesudah tanggal itu. Sebab dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal itu otomatis ia juga dapat dikatakan telah berpuasa tiga hari dalam setiap bulan.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره

“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam rutin berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah beliau melaksanakannya di awal bulan, di tengah atau di akhirnya.”

Sama halnya dengan gugurnya kewajiban shalat tahiyyatul masjid dengan shalat fardhu, jika seseorang masuk ke masjid lalu langsung mengerjakan shalat fardhu.

Hukum dan Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal
  2. Tata Cara Puasa Enam Hari Bulan Syawwal
  3. Bagaimana Menjalankan Puasa Enam Hari Bulan Syawwal?
  4. Bolehkah Melengkapi Puasa Syawal Di Bulan Dzul Qo’dah?

Macam-macam Puasa Sunnah

  1. Memulai Qadha Puasa Atau Puasa Enam Hari Bulan Syawal
  2. Berpuasa Enam Hari Bulan Syawal dan Ingin Meneruskan Puasa
  3. Shahih Dan Dhaif Hadits Puasa Enam Hari Bulan Syawwal
  4. Sedang Puasa Sunnah, Istri Mengajak Jima’

Seseorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal setelah berpuasa Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh. Penjelasannya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Bulan Ramadhan laksana sepuluh bulan. Sementara enam hari bagai dua bulan. Maka hitungannya menjadi setahun penuh. Sehingga dapat diraih pahala ibadah setahun penuh tanpa kesulitan, sebagai kemurahan dari Allah dan kenikmatan bagi para hambaNya.

Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah hari Idul Fithri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh.

Hari Raya Iedul Fithri Bersama Pemerintah

DAFTAR ISI

  1. Menyatukan Hari Raya
  2. Pemerintah dan Penentuan Hari Raya
  3. Berhari Raya Dengan Pemerintah
  4. Perselisihan Idul Fithri dan Idul Adh-ha?

Fatwa MUI Awal Ramadhan, Syawal dan zulhijjah

  1. Fatwa MUI Membuka Jalan Penyatuan Hari Raya Segera Terwujud
  2. Kenapa Umat Islam Tidak Sepakat Dalam Memulai Berpuasa
  3. Hisab dan Penentuan Awal Ramadhan/Dzulhijjah
  4. Makna Idul Fihtri dan Idul Adha

Perselisihan dalam menentukan hari raya, baik hari raya Idul Fithri maupun hari raya Idul Adha menjadi sebuah fenomena yang seringkali terjadi di kalangan kaum muslimin seakan-akan makna “al-Id” yang seharusnya sesuatu yang berulang dengan penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah menjadi sebuah permasalahan yang berulang-ulang tiap tahunnya dengan perselisihan dan pertengkaran.

Sebagai seorang muslim, tidak ada jalan lain kecuali beramal di atas bashirah dan ilmu yang akan menerangi jalan untuknya menuju keridhaan Allah. Maka dalam pembahasan masalah ini, penulis berusaha untuk memberikan pemahaman tentang sebab terjadinya perselisihan, dan kita yang tepat dalam bersikap, sehingga kita terlepas dari jeratan pertikaian dan termasuk orang yang berpegang teguh dengan tali Allah. Semoga Allah memberi taufiq kebenaran kepada penulis, sehingga dijauhkan dari kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

Salah Dalam Memaknai Hari Raya

DAFTAR ISI

  1. Salah Memaknai Idul Fithri
  2. Hari Raya dan Maknanya Dalam Islam
  3. Orang yang Berbahagia (Di Hari Raya)
  4. Hari Raya (‘Ied) : Ibadah dan Pengungkapan Rasa Syukur

Kemana Perginya Uang Umat Islam?

  1. Penyimpangan Seputar Shalat Ied
  2. Kekeliruan yang Terjadi Pada Hari Raya
  3. Kemungkaran yang Biasa Terjadi Pada Hari Raya
  4. Hari-Hari Raya yang Tidak Disyariatkan

Para pedagang, sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhân tiba, mereka sudah bersiap melakukan stock barang sebagai persiapan dagang untuk meraup keuntungan melimpah di bulan suci ini. Bahkan banyak pedagang musiman yakni khusus bulan Ramadhân. Para karyawan, pegawai, pekerja, buruh dan lain-lain yang bekerja diluar kota pun punya harapan untuk cuti menjelang hari raya sampai dengan beberapa hari sesudah hari raya.

Sedikit orang yang benar-benar memanfaatkan bulan Ramadhân sebagai kesempatan emas meraup pahala dan menghapus dosa dengan cara-cara yang benar sesuai tuntunan Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula tentang hari raya. Sudah terbentuk opini di kalangan banyak kaum Muslimin bahwa Idul Fithri adalah saat bersenang-senang, seakan baru lepas dari beban puasa selama satu bulan penuh. Sebagian lagi berdalih menikmati keuntungan melimpah dari hasil dagang selama Ramadhân.

Hari Raya Iedul Fithri dan Halal bi Halal

DAFTAR ISI

  1. Bimbingan Berhari Raya Iedul Fithri
  2. Masbuq Dalam Shalat Id
  3. Masbûk Shalat Ied, Bacaan Disela-Sela Takbir
  4. Menunda dan Mengqadha’ Shalat Ied
  5. Hukum Takbir Jama’i Di Masjid-Masjid Sebelum Shalat Ied
  6. Hukum Takbir Bersama-Sama Dengan Satu Suara

Idul Fithri dan Halal bi Halal

  1. Berjabat Tangan Sunnahkah?
  2. Mengucapakan Selamat Hari Raya dan Berpelukan Setelah Shalat Ied
  3. Hukum Berjabat Tangan Dan Mengucapkan Selamat Hari Raya
  4. Maaf-Memaafkan Dalam Rangka Hari Raya, Disyariatkan?
  5. Menyingkap Keabsahan Halal bi Halal

Idul Fithri adalah salah satu di antara dua hari raya besar yang ada dalam Islam. Biasanya dalam Idul Fithri, di negeri tercinta ini, selalu identik dengan acara halal bihalal. Entah bagaimana asal muasalnya, tetapi tradisi itu telah berlangsung sejak lama.

Yang jelas, hari Idul Fithri adalah hari dimana kaum Muslimin merayakan kegembiraannya pasca Ramadhan. Bahkan hari itu kaum Muslimin diperbolehkan bersuka ria sebagai ungkapan syukur kepada Allâh dengan melakukan kegiatan apa saja yang menyenangkan hati sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Ibnu Manzhur dalam Lisan al-‘Arab membawakan perkataan Ibu al-A’rabiy, “Hari raya (‘Id) dinamakan ‘Id, karena hari itu selalu berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang selalu baru.”

Hari Raya Iedul Fithri Hukum dan Adabnya

DAFTAR ISI

  1. Panduan Praktis Berhari Raya
  2. Idul Fithri Hukum dan Adabnya
  3. Sunnah-Sunnah Pada Hari Raya
  4. Adab-Adab Dalam Ied
  5. Shalat ‘Id (Hari Raya) Di Masjid, Bolehkah?

Memberi Hadiah Pada Hari Raya

  1. Hukum Shalat Dua Hari Raya
  2. Apa Pahala Shalat Dua Hari Raya
  3. Shalat Kedua Hari Raya Sendirian Di Rumah
  4. Bolehkah Melarang Wanita Mengerjakan Shalat Ied?
  5. Disunnahkan Hari Raya dengan Pakaian Terbaik

Inilah hari raya kita, kaum muslimin ….. Semoga Allah berkenan menerima amal shalih yang kami dan kalian kerjakan.”

Segala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia kepadanya.

Berkenaan menjelang hari raya Idul Fithri yang berbahagia –semoga momentum tersebut menjadikan Allah Ta’ala berkenan mengembalikan kita dan seluruh kaum muslimin kepada kebahagiaan, kehormatan, kebaikan, keberkahan, kemuliaan, dan kembali ke sejatinya yaitu kepada Agama Allah Azza wa Jalla– maka (perkenankan) saya untuk mengingatkan saudara-saudara saya yang muslim mengenai serangkaian adab dan sunnah hari raya ‘Idul Fithri beserta peringatan terhadap beberapa perkara bid’ah dan maksiat yang terjadi pada hari raya ‘Idul Fithri, sekaligus mengingatkan untuk mengeluarkan zakat fithri sebelum shalat ‘Ied diselenggarakan

Mengeluarkan Zakat Fithri Dengan Uang?

DAFTAR ISI

  1. Zakat Fithrah
  2. Zakat Fithri
  3. Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fithri Dengan Uang?
  4. Dipaksa Mengeluarkan Zakat Fithri Dengan Uang
  5. Golongan yang Berhak Menerima Zakat Fitrah?

Siapakah Orang Miskin Dan Fakir

  1. Lupa Mengeluarkan Zakat Fithri Sebelum Ied
  2. Mengqadha Zakat Fitrah
  3. Mengeluarkan Zakat Fithri Pada Sepuluh Hari Terakhir
  4. Apakah Orang Fakir Wajib Zakat Fitrah
  5. Jika Tidak Ada yang Berhak Mendapatkan Zakat Fitrah

Yang diperintahkan dalam zakat fithri adalah menunaikannya dengan cara yang telah diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengeluarkan satu sha’ makanan pokok penduduk negeri tersebut dan diberikan kepada orang-orang faqir pada waktunya. Adapun mengeluarkan uang senilai zakat fitrah, maka hal itu tidak sah karena menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka tidak pernah mengeluarkan uang padahal mereka lebih tahu tentang sesuatu yang boleh dan sesuatu yang tidak boleh.

Ulama yang mengatakannya bolehnya mengeluarkan uang, mereka katakan hal itu berdasarkan ijtihad, Tetapi apabila ijtihad menyelisihi nash maka ijtihad itu tidak dianggap.

Pernah ada yang mengatakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : “Ada yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengambil uang dalam zakat fitrah”. Maka Imam Ahmad berkomentar : “Mereka meninggalkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan “kata si Fulan”. Padahal Ibnu Umar berkata :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكاَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandhum“.

Panduan Mengeluarkan Zakat Fithri

DAFTAR ISI

  1. Zakat Fithri
  2. Tuntunan Zakat Fithri
  3. Hukum Mengeluarkan Zakat Fithri Dengan Uang?
  4. Sebagian Ulama Mengatakan Tidak Boleh Zakat Fithri Berupa Beras?
  5. Zakat Fithri Mengikuti Orang Dimana Berada

Hukum Memindahkan Zakat Fithri Ke Negeri Lain

  1. Zakat Fithri Harus Dibagikan Kepada Fakir Miskin Di Negeri Setempat
  2. Bolehkah Panitia Zakat Fithri Menerima Titipan Uang Untuk Beli Beras?
  3. Mengeluarkan Zakat Fithri Oleh Keluarganya
  4. Membayarkan Zakat Fithri Untuk Saudara Perempuan
  5. Menambah Zakat Fithri Dengan Niat Sedekah

Banyak orang menyebutnya dengan zakat fithrah. Yang benar adalah zakat fithri atau shadaqah fithri, sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits. Makna zakat fithri atau shadaqah fithri adalah shadaqah yang wajib ditunaikan dengan sebab fithri (berbuka) dari puasa Ramadhan.

Hikmah Zakat Fithri
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hikmah zakat fithri, sebagaimana tersebut di dalam hadits :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Id), maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah“.

Keberkahan Lailatul Qadar dan Keutamaannya

DAFTAR ISI

  1. Lailatul Qadar
  2. Tafsir Surat Al-Qadr
  3. Lailatul Qadr, Malam Seribu Bulan
  4. Kapankah Lailatul Qadr?
  5. Tanda-Tanda Lailatul Qadr
  6. Menghidupkan Malam Lailatul Qadar

Dalil Doa Lailatul-Qadr?

  1. Hukum Dan Keutamaan Lailatul Qadr
  2. Mungkinkah Menentukan Malam Itu Lailatul Qadar?
  3. Lailatul Qadar, Sudah Pasti Pada Malam Tertentu?
  4. Bagaimana Menghidupkan Lailatul Qadar Dan Kapan?
  5. Lailatul Qadr Kekhususan Umat Islam?
  6. Beberapa Kekeliruan Kaum Muslimin Seputar Lailatul Qadar

Wahai saudaraku seiman.. Sesungguhnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ada malam kemuliaan (lailatul qadar). Ini adalah malam yang memiliki keutamaan yang agung. Diantara keutamaannya:

1. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan sebagaimana firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى: ž إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

“ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,(yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul”. [Ad Dukhan/44 : 3-5]

2. Malam Lailatul Qadar adalah malam mulia nan agung sebagaimana firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”
[Al Qadar/97: 1]

Pada malam itu Allah menetapkan apa yang terjadi sepanjang tahun dan memutuskan segala perkaranya yang penuh hikmah.

Hukum dan Keutamaan I’tikaf

DAFTAR ISI

  1. Pengertian I’tikaf
  2. Bab I Hukum I’tikaf dan Dalil-Dalilnya
    1. Pembagian I’tikaf dan Keutamaannya
    2. Hadits-Hadits Shahih yang Mencantumkan Tentang I’tikaf Rasulullah
    3. Syarat-Syarat I’tikaf  dan Tempat-Tempat yang Boleh Dilakukan I’tikaf di Dalamnya
    4. Dalil-Dalil yang Dipegang Para Fuqaha’ Dalam Menentukan Tempat I’tikaf dan Ketentuan Waktu I’tikaf yang Dapat Dilaksanakan
    5. Dalil-Dalil yang Mencantumkan Tentang Batas Waktu yang Dapat Dilaksanakan Dalam Pelaksanaan I’tikaf dan Rukun dan Syarat Sah I’tikaf
    6. Syarat Berpuasa bagi Orang yang I’tikaf
  3. Bab II Keluar Dari Tempat I’tikaf, Hukum-Hukum dan Syarat-Syaratnya
    1. Keluar yang Sepakat Dibolehkan dan Tidak Membatalkan I’tikaf 
    2. Keluar Masjid yang Hukumnya Masih Diperselisihkan
    3. Hukum I’tikaf Nadzar dan Syarat yang Ditentukan oleh Orang yang Sedang I’tikaf Itu Sendiri
    4. Aktifitas di Tempat I’tikaf
    5. Hukum-Hukum Lainnya
    6. Peringatan untuk Para Wanita Muslimah

I’tikaf dari segi bahasa bermakna menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuk sesuatu atau dengan bahasa sekarang disebut at-tafarrugh lahu (mencurahkan waktu untuknya).
Tashrifnya dari يَعْكِفُ – عَكَفَ (huruf kaf boleh didhammahkan dan boleh juga dikasrahkan), مُعْتَكِفٌ – اِعْتِكَافٌ –  عَاكِفٌ

I’tikaf menurut syari’at bermakna: menetapnya seorang muslim yang berakal dan baligh di dalam satu masjid dengan niat i’tikaf untuk waktu tertentu, sebagaimana akan datang rinciannya, insya Allah.
Dalam beberapa ayat al-Qur-an al-Karim tercantum kata i’tikaf yang menunjukkan satu arti, yaitu menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuknya.