Author Archives: editor

Keutamaan Shalat Tarawih (Qiyam Ramadhan)

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Shalat Tarawih
  2. Keutamaan Qiyam Ramadhan
  3. Shalat Tarawih Seorang Diri Atau Berjama’ah?
  4. Apakah Boleh Melaksanakan Shalat Tarawih di Rumah
  5. Lebih Utama Shalat Tarawih di Masjid Berjama’ah
  6. Hukum Shalat Tarawih Dan Berapakah Jumlah Rakaatnya

Shalat Tarawih Super Cepat

  1. Anjuran Memperbagus Shalat dan Ancaman Shalat Tanpa Aturan
  2. Disunnahkannya Shalat Tarawih Berjama’ah
  3. Nabi Tidak Pernah Shalat Tarawih Melebihi Sebelas Raka’at
  4. Umar bin Al-Khattab Menghidupkan Kembali Tarawih Berjama’ah
  5. Shalat Tarawih, Keabsahan 23 Raka’at
  6. Tidak Benar Bahwa Nabi Shalat 20 Raka’at di Ramadhan
  7. Derajat Hadits Shalat Tarawih Dua Puluh Tiga Raka’at

Shalat Tarawih Bagi Orang Musafir

  1. Shalat Tarawih Nabi dan Salafush Shalih
  2. Shalat Tarawih Empat Rakaat Dengan Satu Salam
  3. Shalat Isya Dibelakang Imam Tarawih 4 Raka’at
  4. Bacaan Dalam Shalat Tarawih
  5. Imam Tarawih Membaca Dari Mushaf
  6. Membawa Al-Qur’an Bagi Makmum Dalam Shalat Tarawih
  7. Bolehkah Mengulang Surat yang Sama Dalam Shalat Tarawih

Shalat Witir

  1. Hukum Shalat Witir
  2. Praktek Shalat Witir Tiga Raka’at yang Benar
  3. Bentuk-Bentuk Witir dan Jumlah Raka’atnya
  4. Witir Bersama Imam Atau Witir Sendiri Di Akhir Malam?

Shalat tarawih merupakan sunah yang sangat dianjurkan menurut kesepakatan jumhur ulama, dan dia termasuk qiyamullail, yang banyak disebutkan dalil-dalilnya dalam Al Kitab dan As Sunnah dan terdapat pula anjuran dalam pelaksanaan qiyamullail serta penjelasan akan keutamaannya.

Qiyam Ramadan atau mengisi malam-malam Ramadan dengan mendirikan Shalat merupakan ibadah yang paling agung dan kesempatan seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah di bulan yang mulia ini.

Mengenal Madzhab Fiqih yang Empat

MENGENAL MADZHAB FIQIH YANG EMPAT

Mengenal Empat Madzhab Fiqih
Salah satu bukti penjagaan Allah  terhadap agama Islam adalah dengan dibangkitkannya para ulama ahli fiqih dari zaman ke zaman. Allah menganugerahi mereka kemampuan mengambil kesimpulan hukum langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasul .

Kemudian murid-murid mereka menulis dan mengajarkan secara turun-temurun ilmu yang didapatkan dari para ahli fiqih tersebut. Hingga akhirnya terbentuklah madzhab-madzhab fiqih yang sangat banyak. Dan yang paling terkenal hingga zaman ini adalah empat madzhab fiqih; madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

Madzhab Hanafi
Pendiri Madzhab
Pendiri madzhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Namanya adalah Nu’man bin Tsabit. Lahir di Kufah pada tahun 80 H, dan wafat pada tahun 150 H. Beliau dijuluki dengan ‘Al-Imam Al-A’zham’, yaitu seorang imam yang paling agung.

Selain dikenal sebagai ahli fiqih, Imam Abu Hanifah juga termasuk ‘Huffazul Hadits’, Imam penghafal hadits-hadits Nabi ﷺ. Di zaman Abu Hanifah, masih ada beberapa sahabat Nabi yang hidup, seperti : Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Abi Aufa, Sahl bin Sa’d, dan Abu At-Thufail, radhiyallahu ‘anhum.

Guru Imam Abu Hanifah yang paling terkenal adalah Hammad bin Abi Sulaiman. Imam Abu Hanifah berguru kepadanya selama 18 tahun, hingga wafatnya sang guru. Salah satu keistimewaan Abu Hanifah adalah beliau mewarisi ilmu sahabat Nabi ﷺ yang terkenal yaitu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Penjelasannya demikian, guru Imam Abu Hanifah yang bernama Hammad bin Sulaiman, berguru kepada Ibrahim An-Nakh’iIbrahim An-Nakh’i berguru kepada ‘Alqamah. Sedangkan ‘Alqamah berguru kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Imam Waki’ mengatakan,
“Aku belum pernah bertemu orang yang lebih ‘alim dan lebih baik shalatnya dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah.”

Imam Syafi’i mengatakan,
“Para ulama sangat membutuhkan Abu Hanifah dalam hal fiqih.”

Tiga Murid Terkenal Imam Abu Hanifah dan Sebagian Kitab Penting Madzhab
Ada tiga murid Imam Abu Hanifah yang sangat terkenal dan berperan penting dalam menyebarluaskan fiqih Imam Abu Hanifah. Mereka adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim, Muhammad bin Hasan dan Zufar, rahimahumullah.

Abu Yusuf mengatakan,
“Aku berguru kepada Imam Abu Hanifah selama17 tahun, dan aku tidak pernah meninggalkannya, baik ketika ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adha, kecuali karena sakit.”

Abu Yusuf pernah meminta Muhammad bin Hasan untuk menulis kitab yang berisi riwayat-riwayat yang dia dapatkan dari Imam Abu Hanifah. Hingga akhirnya Muhammad bin Hasan menulis kitab “Al-Jami’ Ash-Shaghir”.

Madzhab Maliki
Pendiri Madzhab
Pendiri madzhab Maliki adalah Imam Malik bin Anas rahimahullah, yang dijuluki ‘Imam Daril Hijrah’, yaitu Imamnya kota hijrah Nabi . Lahir di kota Madinah pada tahun 93H, dan wafat pada tahun 179H

Imam Malik mencurahkan segala yang dimiliki untuk bisa mencari ilmu agama. Di antara riwayat yang terkenal tentang hal ini adalah ketika beliau mencopot sebagian dari atap rumahnya lalu dijual untuk biaya mencari ilmu.

Salah satu keistimewaan Imam Malik adalah mendengar langsung hadits-hadits Nabi ﷺ dari Nafi’, yang merupakan murid langsung dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Sampai-sampai Imam Bukhari mengatakan,
“Sanad (mata rantai hadits) yang paling shahih adalah riwayat dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar.”

Imam Syafi’i juga mengatakan,
“Seandainya bukan karena Imam Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah, pasti ilmu wilayah Hijaz hilang.” Beliau juga mengatakan, “Imam Malik adalah guruku, darinya aku mengambil ilmu.”

Imam Wahb bin Khalid mengatakan,
“Tidak ada seorang pun di antara belahan timur maupun barat bumi yang lebih aku percaya tentang hadits Rasulullah dibandingkan dengan Imam Malik.”

Madzhab Syafi’i
Pendiri Madzhab
Pendiri mazhab Syafi’i adalah Imam Muhammad bin Idris, yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’i. Beliau dijuluki sebagai ‘Nashirus Sunnah’, yaitu pembela sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lahir di Ghaza pada tahun 150 H, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.

Setelah dua tahun dari kelahirannya, ibunda Imam Syafi’i membawanya ke Mekah. Hidup dalam keadaan yatim dan miskin di bawah pengasuhan ibunya. Beliau hafal Al-Qur’an ketika berusia 7 tahun.

Imam Syafi’i berguru kepada para Imam ahli hadits dan ahli Fiqih kota Mekah, seperti Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Muslim bin Khalid Az-Zanji, Sa’id bin Salim Al-Qaddah, dan lain-lain.

Di usia 13 tahun Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk melanjutkan perjalanannya mencari ilmu. Di Madinah Imam Syafi’i berguru kepada seorang Imam yang terkenal yaitu Imam Malik rahimahullah. Dan Imam Syafi’i berhasil menghafalkan kitab “Al-Muwaththa” karya Imam Malik. Selain itu Imam Syafi’i juga berguru kepada para Imam kota Madinah, seperti Imam Ibrahim bin Sa’d Al-Anshari, Ibrahim bin Abi Yahya Al-Aslami, dan lain-lain.

Imam Syafi’i juga mempunyai guru di kota Baghdadyaitu Imam Muhammad bin Hasan. Yang merupakan murid dari Imam Abu Hanifah. Di sinilah Imam Syafi’i mempelajari mazhab Hanafi. Gurunya yang lain di kota Baghdad masih banyak, seperti Imam Waki’ bin Jarrah, Hammad bin Usamah Al-Kufi, dan lain-lain. Setelah di tinggal beberapa lama di BaghdadImam Syafi’i kembali ke Mekah, untuk mengajarkan ilmunya.

Imam Yahya bin Sa’id Al-Qaththan mengatakan :
“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih cerdas dan lebih alim dari Imam Syafi’i. Dan aku selalu memberikan doa khusus untuk Imam Syafi’i di setiap shalatku.”

Imam Ahmad berkata :
“Aku belum paham tentang ‘nasikh’ dan ‘mansukh’ hadits, hingga berguru kepada Imam Syafi’i.”

Murid-murid Imam Syafi’i
Setelah menjadi seorang ulama besar, Imam Syafi’i mempunyai murid-murid yang tersebar di berbagai wilayah MekahBaghdad dan MesirMereka inilah yang kemudian menyebarkan ilmu Imam Syafi’i ke penjuru dunia.

Contoh murid yang di Mekah Abu Bakr ‘Abdullah bin Zubair Al-Asdi Al-Humaidi. Adapun contoh murid yang di Baghdad  seperti Abu Tsaur Al-Kalbi. Dan contoh murid yang di Mesir adalah Abu Ya’qub Yusuf  bin Yahya Al-Buwaithi, dan Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya Al-Muzani.

Sebagian Kitab Fiqih Penting Madzhab Syafi’i
Kitab-kitab yang diatasnamakan kepada Imam Syafi’i terbagi menjadi dua, yaitu:
Pertama, kitab karya Imam Syafi’i sendiri. Misalnya kitab Al-Umm, kitab Al-Imla’ dan kitab Ar-Risalah. Jenis yang ke dua adalah ringkasan dari kitab-kitab karya Imam Syafi’i. Misalnya kitab Mukhtashar Al-Muzani dan kitab Mukhtashar Al-Buwaithi.

Menurut sebagian ahli sejarah, beberapa kitab ini kemudian diringkas oleh Imam Haramain Al-Juwaini menjadi kitab yang baru dan diberi nama An-NihayahKemudian Imam Ghazali meringkas kitab An-Nihayah menjadi kitab yang baru dan diberi nama Al-Bashith. Kemudian diringkas lagi menjadi kitab Al-WasithKemudian diringkas lagi menjadi kitab Al-Wajiz.

Kemudian Imam Ar-Rafi’i meringkas kitab Al-Wajiz” menjadi kitab Al-Muharror”. Kemudian Imam Nawawi meringkas kitab ini menjadi kitab Minhajut Thalibin”, yang merupakan salah satu kitab terpenting dalam madzhab Syafi’i.

Madzhab Hanbali
Pendiri Madzhab
Pendiri madzhab Hanbali adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah. Kata ‘Hanbal’ adalah nama kakek Imam Ahmad. Dan akhirnya beliau dikenal dengan sebutan ‘Ahmad bin Hanbal’. Beliau dijuluki ‘Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah’. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H, dan wafat di sana.

Imam Ahmad dikenal dengan perjalanannya yang luar biasa ketika mencari ilmu. Beliau melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Di antara wilayah yang pernah didatangi adalah MekahMadinahSyamYamanKufahBashrah, dan Jazirah.

Guru Imam Ahmad sangat banyak, diantaranya Imam Sufyan bin ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’d, Yahya Al-Qaththan, Ibnu Mahdi, dan lain-lain. Bahkan Imam Syafi’i termasuk guru Imam Ahmad.

Tokoh-tokoh Penting yang Meriwayatkan Madzhab Imam Ahmad
Para ulama yang meriwayatkan madzhab Imam Ahmad adalah Imam Ahmad bin Hani Al-AtsramAbu Bakr Al-Marwazi, Harb bin Isma’il Al-Kirmani, dan Ibrahim bin Ishaq Al-HarbiDua putra Imam Ahmad juga termasuk yang meriwayatkan madzhab Imam Ahmad, yaitu Shalih dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Melalui mereka madzhab Imam Ahmad terjaga dan tersebar di beberapa wilayah.

Penulis: Fajri Nur Setyawan, Lc

Sumber dan referensi

  1. Al-Fathul Mubin Fi Mushthalahatil Fuqaha’ wal Ushuliyyin, Prof. Dr. Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi.
  2. Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, Syaikh Manna’ Al-Qaththan.
  3. Al-Madkhal Ila Dirasati Al-Madzahib Al-Fiqhiyyah.

Aktivitas Dengan Al-Qur’an Di Bulan Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Interaksi Dengan Al-Qu’ran Di Bulan Ramadhan
  2. Ramadhan dan Turunnya Al Qur’an
  3. Disunahkan Khataman Al-Quran Di Bulan Ramadhan
  4. Tabbaruk Dengan Membaca Al Qur’an Al Karim
  5. Hajrul Qur’an Dan Macam-Macamnya

Inilah Al-Qur’an Wahai Ummat Islam

  1. Keutamaan Membaca Al-Qur’an
  2. Keutamaan Membaca dan Menghapal Al-Qur’an
  3. Salafus Shalih dan Al-Qur`an
  4. Hindari Koran, Tadabburi Al-Qur’an
  5. Keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan yang ditunggu oleh kaum Muslimin telah tiba. Kerinduan telah terobati dan penantian telah berakhir. Selayaknya setiap insan Muslim memanfaatkan kesempatan emas ini sebelum Ramadhan berlalu. Marilah kita mengoreksi diri agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa silam. Semoga sisa usia yang terbatas dengan ajal ini bisa termanfaatkan dengan baik untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya dan menjadi penghapus segala dosa.

Kedatangan bulan Ramadhan teramat sangat sayang bila dibiarkan begitu saja. Itulah sebabnya, semangat berlomba melakukan kebaikan bergelora pada bulan yang penuh barakah ini. Namun, haruskah semangat berlomba-lomba ini hanya ada di bulan ini saja ? Ingat, Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan [al-Baqarah/2:148]

Hukum-Hukum dan Adab Puasa Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Pengertian Puasa
  2. Kedudukan Puasa Dalam Islam
  3. Puasa Bagi Umat-Umat Terdahulu Sebelum Islam

BAB  I: Rukun-Rukun Puasa, Dasar Pokok Disyariatkanmya Puasa dan Kepada Siapa Puasa Itu Diwajibkan?

  1. Rukun-Rukun Puasa
  2. Dasar  Pokok Disyariatkannya Puasa
  3. Kepada Siapa Puasa Itu Diwajibkan

BAB II: Waktu Puasa

  1. Waktu Puasa
  2. Hukum Puasa Di Negara yang Waktu Siangnya Lebih Panjang Atau Lebih Pendek Atau Di Dalamnya Tidak Ada Siang Atau Malam.
  3. Hukum Puasa Jika Seorang Muslim Merasa Ragu Mengenai Datangnya Bulan Ramadhan.

BAB III: Keutamaan-Keutamaan Puasa

  1. Keutamaan-Keutamaan
  2. Rahasia-Rahasia Puasa

BAB IV: Ru’-yatul Hilal dan Penetapan Hari Puasa dan Hari Raya

  1. Penetapan Masuknya Bulan Ramadhan dan Bulan Syawwal
  2. Puasa Pada Hari yang Diragukan
  3. Perbedaan Mathla’  (Tempat Melihat Hilal) dan Pengaruhnya Pada Hukum Wajib Puasa (1 Ramadhan) dan Hari Raya (1 Syawwal)
  4. Ru’-yah Di Makkah Didahulukan Atas Negara-Negara Lainnya
  5. Hukum Mengamalkan Hisab Dalam Menentukan Masuk dan Keluarnya Bulan Ramadhan

BAB V: Alasan-Alasan yang Membolehkan Seseorang Untuk Tidak Berpuasa Pada Siang Hari di Bulan Ramadhan

  1. Kemudahan Ajaran Islam Dalam Hal Puasa
  2. Orang Berpuasa yang Makan dan Minum Karena Lupa
  3. Musafir
  4. Orang yang Tidak Mampu Menjalankan Puasa Secara Terus-Menerus dan Tidak Mungkin Bisa Pulih
  5. Orang Sakit
  6. Wanita yang Sedang Haidh dan Wanita yang Sedang Nifas
  7. Wanita Hamil dan Wanita Menyusui
  8. Orang yang Sudah Sangat Tua Renta dan Orang yang Dipaksa

BAB VI: Hal-Hal yang Membatalkan dan Merusak Puasa

  1. Hubungan Badan (Jima’)
  2. Mengeluarkan Sperma Dengan Sengaja
  3. Makan dan Minum Dengan Sengaja
  4. Hijamah (Bekam)
  5. Muntah Dengan Sengaja, Keluarnya Darah Haidh dan Nifas
  6. Hukum Orang Yang Membatalkan Puasa Dengan Sengaja
  7. Hal-Hal yang Makruh Dalam Puasa

BAB  VII: Ramadham dan Turunnya Al-Qur’an

  1. Ramadhan dan Turunnya Al-Qur’an
  2. Memperbaharui Hubungan Seorang Muslim Dengan Kitabullah di Bulan Ramadhan.
  3. Membaca dan Mendalami Al-Qur’an Serta Pengaruhnya Dalam Menghidupkan Manhaj yang Lurus Di Dalam Diri Kaum Muslimin.
  4. Kesungguhan Rasulullah Pada Bulan Ramadhan Tidak Seperti Kesungguhan  Beliau Pada Bulan-Bulan Lainnya.

BAB VIII: Adab-Adab Puasa

  1. Adab-Adab yang Bersifat Wajib
  2. Adab-Adab yang Bersifat Sunnah

BAB  IX: Syiar-Syi’ar Ta’abbudiyyah Pada Bulan Ramadhan dan Pengaruhnya

  1. Syiar-Syi’ar Ta’abbudiyyah Pada Bulan Ramadhan
  2. Qiyamullail
  3. Lailatul Qadar
  4. I’tikaf Pada Sepuluh Hari Terakhir Dari Bulan Ramadhan
  5. Meningkatkan Infak di Jalan Allah
  6. Membaca Al-Qur’an

BAB X: Macam-Macam Puasa

PENUTUP: Ramadhan, Bulan Kemenangan

  • Daftar Pustaka

Bulan puasa harus menjadi lahan jihad secara berkelanjutan untuk melawan syahwat, perlawanan yang keras terhadap kecenderungan inderawi, konsentrasi penuh untuk menghadap Allah Ta’ala dengan ibadah dan ketaatan, mudzakarah (belajar) untuk memperdalam ilmu dan memahami ayat-ayat al-Qur-an, qiyamul lail dengan tulus ikhlas, dan melanjutkan pelajaran yang mendalam ini ke bulan-bulan berikutnya dalam setahun, agar masyarakat dapat hidup dengan penuh rasa aman dan kedamaian, yang dipelihara oleh perhatian Allah dengan senjata ‘aqidah yang benar. Pemantaunya adalah kekuatan iman dan penyandarannya kepada Rabb Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri. Pada hari itu terwujudlah semua yang diinginkan bagi masyarakat tersebut, baik itu berupa kemuliaan, derajat yang tinggi, maupun terwujudnya satu kendali umat manusia yang baru, sebagaimana yang pernah terjadi.

Panduan Lengkap Shalat Tahajjud

DAFTAR ISI

  1. Disyariatkannya Shalat Sunnah dan Keutamannya
    1. Disyari’atkannya Shalat Sunnah
    2. Keutamaan Shalat Sunnah
    3. Disukai Melaksanakan Shalat Sunnah di Rumah
  2. Shalat Malam
    1. Keutamaan Shalat Malam dan Anjurannya
    2. Hukum Shalat Malam
    3. Tata Cara Melakukan Shalat Malam
    4. Etika Shalat Malam
    5. Manfaat Shalat Malam
    6. Meninggalkan Shalat Tahajjud
    7. Faktor-Faktor yang Memudahkan Shalat Tahajjud
  3. Shalat Witir
    1. Keutamaan Shalat Witir dan Anjuran untuk Mengerjakannya
    2. Hukum Shalat Witir 
    3. Waktu dan Tata Cara Shalat Witir
  4. Beberapa Gambaran Mengenai Qiyaamul Lail
    1. Keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Malam Hari 
    2. Keadaan Para Sahabat Radhiyallahu anhum di Malam Hari
    3. Keadaan Salafush Shalih di Malam Hari
  5. Problematika dan fatwa Seputar Shalat Malam dan Shalat Witir
    1. Shalat Sepanjang Malam
    2. Mengusap Wajah dengan Kedua Tangan Setelah Qunut
    3. Shalat Lebih Utama daripada Membaca al-Qur-an
    4. Shalat Witir bagi Seorang Musafir
    5. Hukum Meninggalkan Shalat Witir
    6. Shalat Orang yang Duduk Nilainya Separuh dari Orang yang Berdiri
    7. Menghidupkan Malam Hari Raya
    8. Tidak Ada Dua Witir dalam Satu Malam
    9. Hukum Mengqadha’ Shalat Witir
    10. Orang yang Melakukan Shalat Witir di Permulaan Malam, lalu Bangun pada Akhir Malam
    11. Membaca Surat al-Ikhlash dalam Shalat Witir
    12. Niat Melakukan Shalat Witir Sebanyak Tiga Raka’at kemudian Berkeinginan Menambahnya
    13. Shalat setelah Isya’ Termasuk Shalat Malam
    14. Hukum Mendahulukan Shalat Witir sebelum Tidur
    15. Ketika Adzan Shubuh Berkumandang Saat Melaksanakan Shalat Witir

Penutup

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kepada para Sahabatnya untuk melakukan shalat malam dan membaca al-Qur-an di dalamnya. Hadits-hadits yang mengungkapkan tentang hal ini sangat banyak untuk dapat dihitung. Namun kami hanya akan menyinggung sebagiannya saja, berikut panda-ngan para ulama sekitar masalah ini.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ.

Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.”

Sifat Puasa Nabi Di Bulan Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Puasa
  2. Keutamaan Bulan Ramadhan
  3. Wajibnya Puasa Ramadhan
  4. Targhib Puasa Ramadhan
  5. Ancaman Bagi yang Membatalkan Puasa
  6. Menjelang Bulan Ramadhan
  7. Niat Puasa
  8. Waktu Puasa
  9. Sahur
  10. Hal-hal yang Wajib Ditinggalkan oleh Orang yang Puasa
  11. Hal-hal yang Boleh Dilakukan oleh Orang yang Puasa
  12. Allah Menghendaki Kemudahan Tidak Menghendaki Kesukaran
  13. Berbuka Puasa
  14. Perkara yang Merusak (Membatalkan) Puasa
  15. Qadha
  16. Kafarat
  17. Fidyah
  18. Malam Lailatul Qadar
  19. Iti’kaf
  20. Tarawih
  21. Zakat Fithri
  22. Hadits-hadits Dhaif yang Tersebar Seputar Bulan Ramadhan

Wahai saudaraku mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita termasuk orang-orang yang mencintaiNya dan mengikuti sunnah RasulNya “akan jelas bagi kita kedudukan puasa dalam Islam dan pahala, keutamaan dan kemuliaan yang akan didapat oleh orang yang puasa karena mengharapkan wajah Allah. Bahwa keutamaan tersebut berbeda-beda besar kecilnya sesuai dengan dekat atau jauhnya orang yang puasa dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus dari puasanya

Oleh karena itu mengetahui sifat-sifat puasa Nabi merupakan satu hal yang harus dilakukan oleh kebanyakan orang, maka kami punya pandangan untuk menyusun satu kitab yang mencakup seluruh masalah yang berkaitan dengan sifat puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, untuk seluruh kaum muslimin yang tidak pernah mendahulukan pendapat manusia di atas perkataan Allah dan RasulNya.

Ringkasan Fiqih Islam Bab Tauhid dan Iman

DAFTAR ISI

  1. Tauhid
  2. Pembagian Tauhid
  3. Ibadah
  4. Syirik
  5. Islam dan Rukun Islam
  6. Iman
  7. Di Antara Perkara Iman
  8. Rukun Iman
  9. Ihsan
  10. Kitab Ilmu

Hakekat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa semua perkara berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan  pandangan ini membuatnya tidak menoleh kepada selainNya Subhanahu wa Ta’ala tanpa sebab atau perantara. Seseorang  melihat yang baik dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya dan semisalnya, semuanya  berasal dariNya Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang menyembahNya dengan ibadah yang mengesakanNya dengan ibadah itu dan tidak menyembah kepada yang lain.

Buah hakekat iman adalah seseorang hanya boleh tawakkal  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak memohon kepada makhluk serta tidak memperdulikan celaan mereka. Ia ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencintaiNya dan tunduk kepada hukumNya.

Tauhid Rububiyah diakui manusia dengan naluri fitrahnya dan pemikirannya terhadap alam semesta. Tetapi sekedar mengakui saja tidaklah cukup untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selamat dari siksa. Sungguh iblis telah mengakuinya, juga orang-orang musyrik, namun tidak ada gunanya bagi mereka. Karena mereka tidak mengakui tauhid ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Ringkasan Rukun Iman

DAFTAR ISI

  1. Rukun Iman
    1. Iman Kepada Allah
    2. Iman Kepada Malaikat
    3. Iman Kepada Kitab-Kitab
    4. Iman Kepada Para Rasul
    5. Iman Kepada Hari Akhir
      1. Gambaran Surga
      2. Sifat Neraka
    6. Iman Kepada Qadar

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, Maha Meliputi atas segala sesuatu, Raja segala sesuatu, Maha Mengetahui dengan segala sesuatu, Maha Berkuasa di atas segala sesuatu. Semua leher (jiwa) tunduk bagi keagungan-Nya, segala suara khusyu’ bagi kehebatan-Nya (pengaruh-Nya). Orang-orang yang kuat menjadi lemah karena kekuatan-Nya. Semua pandangan tidak bisa melihat-Nya dan Dia melihat segala pandangan. Dia-lah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui/Mengenal. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia mau.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  [يس/82]

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah!” maka terjadilah ia. [Yasin/36:82]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan nyata, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, mengetahui beratnya gunung, mengetahui timbangan laut, mengetahui bilangan/jumlah titik hujan, mengetahui bilangan daun-daun di pepohonan, mengetahui biji-biji pasir, dan mengetahui yang digelapi malam dan diterangi siang:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  [الأنعام/59]

Dan pada sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). [Al-An’aam/6:59]

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap hari berada dalam setiap urusan. Tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang samar atas-Nya. Mengatur perkara, mengirim angin, menurunkan hujan, menghidupkan bumi setelah matinya, memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendakinya, menghidupkan dan mematikan, memberi dan menegah (menolak dan memberi), merendahkan dan mengangkat.

Ringkasan Iman Kepada Allah

DAFTAR ISI

  1. Iman Kepada Allah 
    1. Beriman Bahwa Allah Adalah Rabb Satu-satunya
    2. Beriman Kepada Uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala
    3. Asmaul Husna
    4. Bertambahnya Iman
      1. Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
      2. Sebab-sebab Keberuntungan dan Kesuksesan
      3. Janji Allah Untuk Orang-Orang Beriman

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan fithrah kepada setiap makhluk untuk beriman kepada Penciptanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ [الروم/30]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah Subhanahu wa Ta’ala); (tetaplah atas) fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Ar-Rumm/30 :30]

Akal sehat manusia menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya,  harus ada sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai pencipta. Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ  [الطور/35- 36]

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). [Ath-Thur/ :35-36]

Ringkasan Iman Kepada Para Rasul

DAFTAR ISI

  1. Iman Kepada Para Rasul
    1. Jumlah Para Nabi dan Rasul
    2. Ulul Azmi Dari Para Rasul
    3. Hikmah Diutusnya Para Nabi dan Rasul
    4. Keistimewaan Para Nabi dan Rasul
    5. Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
    6. Istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik para nabi dan pengikut-pengikut mereka agar pertama-tama mereka bersungguh-sungguh (berusaha) atas diri mereka untuk mendapatkan iman dengan ibadah, membersihkan diri, berpikir, tafakkur, sabar dan berkorban dengan segala sesuatu untuk agama, mengeluarkan dan meninggalkan untuk meninggikan kalimah Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai sempurna iman di dalam kehidupan mereka. Dan datang keimanan di dalam hati mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta segala sesuatu, di Tangan-Nya segala sesuatu. Hanya Dia Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah. Kemudian mereka berusaha (bersungguh-sungguh) memelihara iman dengan lingkungan yang shaleh, seperti masjid yang diramaikan dengan iman dan amal-amal shaleh.

Kemudian mereka berusaha untuk menunaikan kebutuhan agama dan kebutuhan mereka dengan cara mengambil faedah dari iman. Maka mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama mereka di mana saja mereka berada, menolong, memberi rizqi, dan mendukung mereka, seperti terjadi pertolongan bagi kaum muslimin di Perang Badar, penaklukan Kota Makkah, Perang Hunain, dan selainnya. Mereka bertawakkal (berserah diri) kepada-Nya dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian mereka berusaha menyebarkan iman di antara kaum mereka, dan orang-orang yang mereka diutus kepadanya agar mereka hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, mengajarkan hukum-hukum-Nya, dan membaca kepada mereka ayat-ayat Rabb mereka.