Author Archives: editor

Kematian Adalah Suatu Kepastian

DAFTAR ISI

  1. Mengingat Maut
  2. Renungan Tentang Kematian
  3. Sebuah Renungan Terhadap Kematian
  4. Kematian Adalah Sebuah Kepastian
  5. Awas Kematian Mendadak!
  6. Seribu Satu Sebab Kematian Manusia
  7. Sakaratul Maut, Detik-Detik yang Menegangkan Lagi Menyakitkan
  8. Godaan Setan Saat Sekarat

Bimbingan Mengurus Jenazah

  1. Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz
  2. Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah (مختصر الفقه الإسلامي)

Ringkasan Cara Pelaksanaan Jenazah

  1. Beberapa Praktek Bid’ah Dalam Pemakaman dan Pengiringannya
  2. Beberapa Praktek Bid’ah Dalam Ta’ziyah dan Penyertaannya

Manusia hidup di dunia ini telah ditentukan ajalnya, telah dijatah lama kehidupannya. Dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya tahun-tahun, maka sesungguhnya semua  itu mendekatkan manusia kepada ajalnya. Ironisnya, mayoritas manusia tidak memperhatikan itu, bahkan kebanyakan sibuk dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia yang fana dan melalaikan akhirat yang kekal selamanya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87: 16-17].

Jika manusia mau mengamati orang-orang yang hidup di sekitarnya, banyak orang yang dikenalnya telah mendahuluinya menuju alam baka. Diantara kita sudah ditinggal mati oleh kakek atau neneknya, ayah atau ibunya, kakak atau adiknya, suami atau istrinya, bahkan anak atau cucunya. Demikian juga tetangganya, kawan sekolahnya, teman bermainnya, atau kawan kerjanya. Sebagian sudah mendahului pergi.

Sahabat Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu telah memberikan nasihat sangat berharga, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhâri dalam kitab Shahîhnya:

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

Dunia telah berjalan menjauhi, sedangkan akhirat telah berjalan mendekati. Dunia dan akhirat memiliki orang-orang (yang memburunya), maka hendaklah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) akhirat, janganlah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) dunia. Karena sesungguhnya hari ini (di dunia) ada amal, dan belum ada hisab (perhitungan amal), sedangkan besok (akhirat) ada hisah dan tidak ada amal. [HR Bukhâri].

Sahabat yang mulia ini, Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, telah berkata benar, telah memberikan nasihat kepada umat, maka siapakah orang beruntung yang mau mengambil nasihatnya?

Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan

DAFTAR ISI

  1. Rumah dan Ramadhan
  2. Menjaga Waktu Di Bulan Ramadhan
  3. Ramadhan dan Taubat Kepada Allah
  4. Meraih Ampunan Allah Di Bulan Ramadhan
  5. Kembali Kepada Ramadhan Kaum Salaf

Doa Melihat Hilâl, Berbuka Puasa, Memberikan Buka Puasa

  1. Hadits-Hadits Dhaif & Maudhu yang Banyak Beredar Pada Bulan Ramadhan
  2. Hadits-hadits Dhaif yang Tersebar Seputar Bulan Ramadhan
  3. Meninggalkan Shalat, Padahal Dia Melakukan Ibadah Puasa
  4. Puasanya Orang yang Meninggalkan Shalat
  5. Puasa Tidak Diterima Ketika Menyia-Nyiakan Shalat
  6. Meninggalkan Puasa Ramadhan Termasuk Dosa Besar

Mengingatkan tentang hakekat puasa, bukan sekedar meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi untuk meraih ketakwaan, dan untuk mendapatkan ampunan dari dosa dan kesalahan.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رَقِيَ الْمِنْبَرَ فقال : آمين ، آمين ، آمين ، فَقِيلَ لَهُ : يا رسول الله ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا ؟ فقال: قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فقلت : آمين ، ثم قال : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ، فقلت : آمين ، ثم قال : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فقلت : آمين. (رواه ابن خزيمة، رقم 1888،  واللفظ له، والترمذي، رقم 3545، وأحمد، رقم 7444، وابن حبان، رقم  908، انظر صحيح الجامع، رقم 3510 )

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam naik mimbar dan mengatakan : Amin, amin, amin (semoga Allah kabulkan). Seseorang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa yang anda lakukan?” Beliau menjawab: “Malaikat Jibril berkata kepadaku: Semoga Allah mencelakakan seorang hamba atau menjauhkannya, (yaitu) orang yang  mendapatkan bulan Ramadan, tetapi dirinya tidak mendapatkan ampunan. Maka aku pun berkata: “Amin.” Kemudain (Jibril) mengatakan: “Celakalah seorang hamba atau dijauhkan, (yaitu) orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah salah satu dari keduanya, akan tetapi hal itu  tidak memasukkan ke surga.” Maka aku pun mengatakan, “Amin”. Kemudian (Jibril) mengatakan lagi: “Semoga Allah mencelakakan seorang hamba atau menjauhkannya, disebutkan namaku, tetapi dia tidak bershalawat kepada engkau.” Maka akupun berkata “Amin”. (HR. Ibnu Huzaimah, 1888. Lafadz hadits berasal darinya, dan Tirmizi, no. 3545, Ahmad, 7444, Ibnu Majah, 908. Silahkan anda lihat Shahih Al-Jami, 3510)

Panduan Ringkas Untuk Mualaf

DAFTAR ISI

  1. Mukadimah
  2. Tuhanku Adalah Allah
  3. Nabiku Adalah Muhammad Al-Qur’an Al-Karim Adalah Firman Tuhanku
  4. Mengenal Rukun Islam
  5. Mengenal Rukun Iman
  6. Belajar Wudhu.
  7. Mengusap Khuff (Sepatu Bot) dan Kaus kaki, Mandi dan Tayamum
  8. Belajar Shalat
  9. Hijab Wanita Muslimah
  10. Sifat-sifat Orang Beriman
  11. Kebahagianku ada di Agamaku

Mengenal Islam

  1. Aku Seorang Muslim
  2. Kelebihan Agama Islam
  3. Aku Bahagia, Agamaku Adalah Islam
  4. Tiga Landasan Utama

Pengembaraan Salman Al-Farisi Memeluk Agama Islam

  1. Pendeta Roma Masuk Islam
  2. Lihat Kakaknya Shalat, Ryo Tinggalkan Geng Motor dan Masuk Islam

Merupakan anugerah besar dari Allah Ta’ālā kepada seseorang bila ia diberi hidayah masuk Islam, berpegang teguh dengannya, serta mengamalkan hukum-hukum dan syariatnya. Di dalam buku sederhana ukurannya namun tema kandungannya sangat urgen ini, seorang mualaf akan mempelajari hal-hal yang harus ia ketahui di awal keislamannya dengan metode ringkas tapi padat, yang akan menerangkan pokok-pokok agama yang agung ini kepadanya.

Bila sang mualaf telah memahaminya dan mengamalkan tuntunannya, ia akan semakin bersemangat menuntut ilmu agama agar pengetahuannya tentang Tuhannya, nabinya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama Islam semakin bertambah; sehingga ia bisa beribadah kepada Allah Ta’ālā berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar, hatinya menjadi tenteram, serta imannya semakin bertambah lantaran banyak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ālā melalui berbagai ibadah dan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan dan Kemuliaan Bulan Muharram

DAFTAR ISI

  1. Memuliakan Bulan Haram
  2. Keutamaan Bulan Allah Muharam
  3. Diantara Hukum Bulan Muharram
  4. 30 Renungan Seputar Hari ‘Asyura
  5. Hari Asyura Dalam Sejarah
  6. Risalah Tentang Hadits-hadits Bulan Muharam

Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram

  1. Hari Asyura (10 Muharram) Antara Sunnah dan Bid’ah
  2. Peristiwa Karbala Dalam Pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah
  3. Pesta Duka Di Hari ‘Asyura
  4. Perayaan Berkabung Kaum Rafidhah (Syi’ah) di Hari Asyuro
  5. Apa yang Dilakukan Syiah Pada Hari Asyuro Adalah Bid’ah yang Sesat
  6. Asyuro dan Pengakuan Kecintaan Kepada Al-Husain

Keutamaan Bulan Muharram dan Puasa Asyura

  1. Hikmah Disunahkannya Puasa Hari Asyura
  2. Perkara-perkara Seputar Puasa Bulan Muharram
  3. Hukum Puasa Asyura

Menyambut Tahun Baru Hijriah (1 Muharram) Dengan Berpuasa

  1. Muharram (Suro) Bulan Keramat?
  2. Mitos Tidak Boleh Menikah Pada Bulan Muharram

Bulan Muharram menyimpan peristiwa besar serta tanda kekuasaan Allah, di bulan ini Allah menyelamatkan Nabi Musa beserta kaumnya dari Firaun dan bala tentaranya. Ketika nabi Musa mengajak Fir’aun untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala , dengan penuh kesombongan ia menolak seraya mengatakan : “Saya adalah tuhan kalian yang tinggi” Sejak saat itu, Firaun mulai melakukan penekanan terhadap Bani Israil sampai pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihssallam untuk keluar bersama kaumnya menghindari kejahatan Fir’aun.

Mereka terus berlari sampai ketepi laut merah sementara Firaun beserta bala tentaranya berada dibelakang. ketika hampir tertangkap, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan nabi Musa Alaihissallam agar memukulkan tongkatnya ke Laut tersebut. Seketika lautan terbelah dan menjadi jalan yang bisa mereka lalui. Firaun terus mengejar dan mengikuti Bani Israil , ketika Musa dan pengikutnya sampai kedaratan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya kembali. Seketika juga, jalan yang baru saja mereka lalui kembali menjadi lautan. Akibatnya, Firaun beserta bala tentaranya tenggelam.

Lihatlah ! Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong Nabi Musa Alaihissallam dan kaumnya. Sesungguhnya Allah maha Kuasa untuk menolong siapa saja yang mau menolong agamanya dan berusaha mengikuti ridhaNya.

Itulah salah satu peristiwa besar yang terjadi di bulan Muharram.

Rifqan Ahlassunnah Bi Ahlissunnah

DAFTAR ISI

  1. Pendahuluan (Lemah Lembut Sesama Ahlis Sunnah)
  2. Nikmat Mampu Berbicara Dan Menjelaskan
  3. Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik
  4. Hukum Berburuk Sangka Dan Mencari-Cari Kesalahan
  5. Berkasih Sayang dan Lemah Lembut
  6. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Kesalahan Ulama
  7. Fenomena Tahdzir, Cela-Mencela Sesama Ahlus Sunnah dan Solusinya
  8. Penutup  : Wasiat Untuk Para Penuntut Ilmu

Tidak diragukan lagi, menjadi kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan di setiap tempat untuk saling bersatu dan saling berkasih sayang di antara mereka, serta saling menolong dalam perkara kebaikan dan takwa.

Akan tetapi, sungguh amat disayangkan, sekarang ini banyak muncul pertentangan dan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah. Sebagian dari mereka sibuk mencela saudaranya sesama Ahlus Sunnah, memprovokasi orang-orang untuk menjauhi, dan terkadang melakukan tindakan boikot terhadapnya. Padahal sikap seperti itu semestinya dialamatkan kepada orang-orang yang bukan Ahlus Sunnah, yaitu kepada orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Adapun sesama Ahlus Sunnah hendaknya ditumbuhkan sikap saling lemah lembut dan saling berkasih sayang. Kalau umpanya suatu ketika mereka perlu mengingatkan saudaranya yang salah, itupun hendaknya dilakukan dengan cara yang halus dan lembut.

Memperhatikan keadaan yang seperti itu, saya memandang perlu menulis beberapa nasehat untuk mereka. Saya memohon kepada Allah Ta’ala semoga Dia berkenan memberikan manfaat dari kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan ini.

Madzhab dan Perkembangannya

DAFTAR ISI

  1. Madzhab dan Perkembangannya
  2. Kesamaan Aqidah Imam Empat
  3. Aqidah Imam Empat
  4. Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah ‘Aqidah
  5. Aqidah Iman Syâfi’i Tentang Asmȃ’ dan Sifat Allah
  6. Aqidah Imam Syâfi’i, Allah Subhanahu wa Ta’ala Ada Di Atas
  7. Imam Asy-Syâfi’i dan Komitmennya Terhadap Sunnah Rasulullah
  8. Aliran Sufi Diingkari Imam Syâfi’i Rahimahullah
  9. Imam Asy-Syâfi’i Seorang Ulama Besar Fikih

Sejarah Imam Empat

  1. Biografi Imam Abu Hanifah
  2. Sekilas Tentang Biografi Imam Malik
  3. Sejarah Imam asy-Syafi’i
  4. Imam Ahmad Sosok  Ulama yang Teguh Diatas Kebenaran

Pernyataan Para Imam Untuk Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan yang Menyelisihi Sunnah

  1. Imam Abu Hanifah
  2. Imam Malik bin Anas
  3. Imam Syafi’i
  4. Imam Ahmad bin Hanbal

Kedudukan Madzhab

  1. Belajar Fiqih Harus Mengikuti Salah Satu Dari Empat Madzhab?
  2. Seruan Kepada Madzhab Dalam Pembelajaran Fiqih
  3. Apakah Diwajibkan Untuk Mengikuti Salah Satu Madzhab?
  4. Perbedaan Antara Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Madzhab Fikih?

Para Ulama dan imam madzhab telah berjasa mendekatkan ilmu agama kepada umat. Semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati dan membalas jasa mereka. Kita boleh mengikuti salah satu madzhab itu, tetapi tidak wajib. Bahkan madzhab empat yang terkenal belum ada di generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik. Bermadzhab tidaklah tercela, sebagaimana tidak bermadzhab juga bukan merupakan kesalahan. Yang salah adalah fanatik kepada madzhab atau imam tertentu dengan terus mengikuti pendapatnya meskipun pendapatnya itu jelas menyelisihi dalil. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh para imam itu sendiri. Seluruh imam madzhab yang empat diriwayatkan mengatakan demikian. Imam Syâfi’i rahimahullah –misalnya- mengatakan, “Jika haditsnya shahîh, maka ambillah dan campakkanlah pendapatku (yang menyelisihinya) ke dinding.”

Syaikh Sulaiman bin Salimullâh ar-Ruhaili hafizhahullâh mengatakan, “Saya mengamati para imam madzhab yang empat, maka saya menemukan sesuatu yang agung. Mereka sama-sama menguasai ilmu al-Qur`ân, dan Allâh Azza wa Jalla memberikan kepada Mâlik rahimahullah dan Ahmad rahimahullah kelebihan dalam ilmu hadits. Asy-Syâfi’i rahimahullah diberi kelebihan dalam bahasa Arab dan ushul- fiqih, sedangkan kelebihan Abu Hanîfah rahimahullah adalah qiyas dan logika. Maka barangsiapa mengetahui keutamaan mereka dan memilih pendapat yang terkuat dari mereka berempat,  terkumpul padanya kelebihan yang diberikan Allâh Azza wa Jalla kepada mereka masing-masing.

Wallahu a’lam

Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar

DAFTAR ISI.

Kata Pengantar Penerbit.

  1. Siapakah yang tidak wajib mempelajari Aqidah, khususnya Qadar karena dikhawatirkan salah?
  2. Apakah perbedaan antara Qadha’ dan Qadar.
  3. Adakah kekhususan tentang Qadha’ dan Qadar?
  4. Adakah tingkat keimanan kepada Qadha’ dan Qadar?
  5. Segala sesuatu telah ditentukan dan manusia diberi pilihan.
  6. Apakah manusia diberi kebebasan memilih?
  7. Hukum ridha’ terhadap Qadar.
  8. Apakah Do’a bisa merubah ketentuan?
  9. Bagaimana Allah menyiksa manusia sedang itu sudah ditentukan Allah?
  10. Apakah rezeki dan jodoh telah ditulis di Lauh Mahfudz?
  11. Jika perbuatan orang kafir telah ditulis mengapa dia disiksa?
  12. Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya manusia beramal dengan amalan Jannah”.
  13. Cara mengkompromikan Firman Allah dalam Surat al-An’am 125.
  14. Tentang Firman Allah Surat ash-Shaffaat 95-96.
  15. Cara menanggapi orang yang berbuat maksiat.
  16. Hikmah adanya kemaksiatan dan kekufuran.
  17. Tentang perdebatan Adam dan Musa.
  18. Apakah dalam qadar Allah ada keburukan?
  19. Bagaimana Allah menetapkan yang tidak disukai-Nya?
  20. Orang yang marah bila ditimpa musibah.
  21. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang dilapangkan rezeki dan panjang umur.
  22. Hujjah orang yang melakukan maksiat.
  23. Qadha’ dan Qadar dapat membantu keimanan seseorang.
  24. Apakah penyakit ‘ain dapat menimpa manusia?
  25. Perselisihan manusia tentang penyakit ‘ain.
  26. Hukum orang yang tidak mengambil makanan yang jatuh karena takut penyakit ‘ain.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ad-Dailami mendatangi Ubay bin Ka’ab dan berkata, “di hatiku ada ganjalan perihal takdir.” Dengan nada tinggi, sahabat agung ini menjawab:

لو أنفقتَ مثل أُحُد ذَهَبًا ما قَبِلَه الله منك حتى تؤمن بالقدَر

Demi Allah, seandainya engkau infakkan segunung uhud emas, maka sekali-kali Allah tidak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada takdir.

Kesalahan dalam memahami takdir dapat berakibat fatal, bukan saja dalam perkara yang furu’ namun dalam perkara akidah yang ushul (prinsip). Bisa jadi seseorang tergelincir ke jurang pemahaman qadariyah yang mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata usaha manusia ataupun alamiah, tidak ada hubungannya dengan takdir.

Atau kelompok ekstrim lain bemama jabriyah yang mengatakan bahwa manusia dipaksa untuk mengerjakan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah, sehingga tidak ada pilihan ataupun usaha dari hamba.

Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur’an

DAFTAR ISI

  1. Kedudukan hadits : Ambillah (ayat) apapun dari Al-Qur’an untuk keperluan apapun yang engkau inginkan
  2. Penjelasan ayat : Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya dan Tidak kami tinggalkan di dalam Al-Kitab ini sesuatupun (tidak ada satupun yang tidak kami tulis di dalam kitab ini)
  3. Sebagian orang berkata : Apabila sebuah hadits yang bertentangan dengan ayat Al-Qur’an maka hadits tersebut harus kita tolak walaupun derajatnya shahih
  4. Apabila dalam suatu majelis diperdengarkan bacaan al-Qur’an tetapi orang yang hadir mengobrol dan tidak menyimak bacaan al-Qur’an. Siapakah dalam hal ini yang berdosa?
  5. Penjelasan ayat : Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya
  6. Penjelasan dua ayat yang seolah-olah bertentangan : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in, dan orang-rang Nasrani… dst 
  7. Pertanyaan ayat : Dan Kami jadikan dalam hati mereka tutup/penghalang untuk memahami Al-Qur’an ini dan Kami jadikan sumbatan dalam telinga mereka
  8. Apa hukumnya mencium mushaf al-Qur’an yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ?
  9. Apa yang harus dilakukan untuk dapat menafsirkan Al-Qur’an ?

 

Judul asli dari buku ini adalah Kaifa Yajibu ‘Alaina Annufasirral Qur’anal Karim diterbitkan oleh Maktabah Islamiyah, Amman Yordania, yang pada edisi terjemahan ini kami beri judul “Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur’an”.

Buku ini pada awalnya  adalah pertanyaan-pertanyaan  yang dijawab oleh  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah secara lisan dalam bentuk rekaman. Kemudian oleh pihak penerbit rekaman tersebut ditulis dan dibukukan, yang sebelum diterbitkan buku tersebut di ta’liq (dikomentari) kemudian diberikan catatan kaki oleh Syaikh rahimahullah dan selanjutnya buku ini disebarluaskan dengan harapan agar ilmu beliau rahimahullah bisa menyebar dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terus memberikan pahala kepada beliau rahimahullah yang telah berada di alam kubur, karena beliau meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Aamin

Bintaro, Safar 1423H/April 2002M

Penterjemah
Abu Abdul Aziz

Akhlak Dermawan dan Rendah Hati

AKHLAK DERMAWAN DAN RENDAH HATI

Oleh
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A

Di antara sifat orang yang beriman adalah suka berbagi, dan tidak kikir. Ia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak hanya memikirkan kesenangan dirinya semata, karena ia tahu bahwa kehidupan ini hanya sementara. Ia sadar bahwa suatu saat nanti, semua yang ia kumpulkan dan semua keuntungan yang ia peroleh akan ia tinggalkan. Ia selalu berpikir, “Bagaimana keadaanku di kehidupan selanjutnya?” Ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan dilindungi dari siksa neraka.

Mereka senang berbagi siang dan malam. Hal ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang suka menunda-nunda. Ketika malam hari ada kesempatan, mereka tidak menunggu hingga pagi. Mengapa harus menunggu besok jika belum tentu esok mereka masih hidup? Begitu juga ketika siang hari, mereka tidak menunda hingga malam. Mereka melakukannya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Allah ﷻ berfirman,

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَﵞ 

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara rahasia maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS Al-Baqarah/2: 274)

Ternyata, orang yang baik hati dan suka berbagi itu hidupnya tenang. Ia tidak takut miskin, tidak ada rasa khawatir, dan tidak diliputi kesedihan. Semua itu berbeda dengan orang yang bakhil. Allah ﷻ juga berfirman,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ 133 ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 134ﵞ   

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

(134) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran/3: 133-134)

Allah secara jelas menyebutkan bahwa ciri orang yang bertakwa adalah dermawan. Kita sering mendengar ajakan, “Mari kita senantiasa meningkatkan takwa,” disetiap sholat Jumat. Namun, bagaimana kita tahu apakah ketakwaan kita sedang meningkat atau justru menurun? Allah telah menyebutkan kriterianya. Apakah engkau sudah melaksanakannya? Ataukah engkau tidak melakukannya karena terlalu mencintai hartamu? Engkau menumpuknya terus-menerus lalu pada akhirnya engkau tinggalkan?

Ada orang-orang yang sebenarnya pelit, tetapi berkata, “Saya bukan pelit, saya hanya hemat. Saya sedang memikirkan masa depan.”

Masa depan yang seperti apa? Bukankah masa depan kita semua adalah meninggalkan dunia ini selamanya? Semua harta yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan untuk selama-lamanya. Allah ﷻ telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bagaimana akhir dari orang-orang yang bakhil,

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗﵞ 

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS Ali Imran/3: 180)

Orang-orang yang bakhil mengira bahwa dengan bersikap pelit atau yang mereka sebut sebagai “hemat” akan membuat mereka lebih bahagia dan merasa memiliki jaminan untuk masa depan mereka. Padahal, harta yang mereka simpan dan enggan dibagikan itu justru akan mereka tinggalkan, dan kelak akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat.

Orang yang bakhil itu sempit dadanya. Ia merasa gelisah, menderita, dan hidup dalam kesengsaraan. Mengapa demikian? Karena mereka selalu diliputi rasa takut akan kekurangan, takut rugi, takut miskin. Ketika ada kesempatan untuk berbagi, ia ragu dan menahan diri. Rasulullah  bersabda,

‌لَا ‌يَجْتَمِعُ ‌الشُّحُّ ‌وَالْإِيمَانُ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Tidak akan berkumpul sifat kikir dan iman dalam hati seorang muslim.” (HR Ahmad, no. 9693, dishahihkan oleh Syekh Syu`aib Al-Arnauth).

Sifat bakhil tidak akan pernah bisa bersatu dengan iman. Keduanya seperti air dan minyak, tak akan menyatu dalam hati seorang hamba selamanya. Jika engkau benar-benar beriman, maka sifat bakhil itu harus hilang. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ berusaha mengkondisikan para sahabatnya meskipun banyak di antara mereka hidup dalam kesulitan agar tetap menjadi generasi yang dermawan dan berhati mulia. Rasulullah  bersabda,

اتَّقُوا ‌النَّارَ ‌وَلَوْ ‌بِشِقِّ ‌تَمْرَةٍ

Lindungilah diri kalian dari api neraka, meskipun hanya dengan (bersedekah) separuh buah kurma.”  (HR Bukhari, no. 1427 dan Muslim, no. 1016)

Nabi  mendidik para sahabatnya agar tidak menunda-nunda dalam berbagi. Menjadi dermawan itu tidak harus menunggu kaya raya, tidak harus menjadi konglomerat atau pengusaha besar terlebih dahulu. Berbagilah dari apa yang kamu punya, sekecil apa pun itu, walaupun setengah butir kurma.  Rasulullah  juga bersabda,

مَا ‌مِنْ ‌يَوْمٍ ‌يُصْبحُ ‌الْعِبَادُ ‌فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah(harta) orang yang kikir.’” (HR Bukhari, no. 1453 & Muslim, no. 1010)

Yang memberikan rezeki itu adalah Allah . Yang memerintahkan kita untuk berinfak adalah Allah  dan yang berjanji akan memberikan ganti atas apa yang kita infakkan juga Allah . Oleh karenanya Rasulullah mengatakan,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ. ‌وَالصَّدَقَةُ ‌بُرْهَانٌ. وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata(keimanan), dan kesabaran adalah sinar.” (HR Muslim, no. 223)

Buktikan bahwasanya kita adalah seseorang yang beriman, yaitu dengan bersedekah. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi,

قَالَ اللَّهُ: أَنْفِقْ ‌يَا ‌ابْنَ ‌آدَمَ ‌أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah  berfirman: ‘Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak (memberi) kepadamu.’” (HR Bukhari, no. 5343)

Kendati demikian, manusia sering merasa berat untuk mengeluarkan hartanya lantaran mereka tidak melihat balasan langsung dari Allah. Itulah sebabnya banyak orang lebih mudah mengeluarkan harta untuk investasi duniawi karena dijanjikan keuntungan yang terlihat, yang bisa dihitung dan dikalkulasi secara langsung. Padahal, Allah menjanjikan balasan yang jauh lebih besar, yang bahkan tak terbayangkan oleh akal manusia.

Ada banyak hal yang bisa kita dermakan. Bukan hanya harta, melainkan juga ilmu, nasihat yang baik, bahkan keberanian untuk berbagi dari dalam jiwa seperti mendengar dengan empati, hadir saat orang lain butuh dukungan, atau menjadi penolong dalam kesulitan. Semua itu adalah bentuk sedekah, dan puncaknya adalah bersedekah dengan ruhnya seperti berjihad, dan semuanya bernilai di sisi Allah.

Rasulullah  adalah orang yang paling dermawan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu `anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، ‌وَكَانَ ‌أَجْوَدُ ‌مَا ‌يَكُونُ ‌فِي ‌رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عليه السلام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْقُرآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبرِيلُ عليه السلام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

“Nabi  adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasulullah  lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR Bukhari, no. 1913)

Jika berbicara tentang kedermawanan para sahabat Nabi , mereka sungguh luar biasa dan tak perlu diragukan lagi. Para ulama menyebutkan sifat-sifat mulia yang melekat pada mereka, yaitu:

Sakha’ (سَخَاء): Sifat murah hati dan suka memberi.

Jud (جُود): Kedermawanan luar biasa, bahkan dalam keadaan sempit.

Itsar (إِيثَار): mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, meskipun mereka sendiri membutuhkan.

Para sahabat Nabi ﷺ mencapai tingkat keimanan yang luar biasa.  Tentang hal ini, Allah menjelaskannya dalam Surah Al-Hasyr ayat 9, yang menggambarkan kondisi para sahabat yang telah dididik dengan keimanan hingga mencapai derajat yang tinggi,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr/59: 9)

Mereka bukan hanya mencintai saudara-saudaranya sesama Muslim, tetapi juga mendahulukan kepentingan orang lain meskipun mereka sendiri membutuhkan.

Tulisan ini disadur dari kajian berjudul “Akhlak Dermawan dan Rendah Hati” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. (Dosen di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i / STDIIS, Jember).

Disalin dari SRB

Mengapa Memilih Manhaj Salaf?

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Penulis buku Limadza Ikhatartu Al-Manhaj As-Salafy karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly

  1. BAB Realita Umat Islam dan Berita Kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. BAB Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Menyempurnakan CahayaNya (AgamaNya)
  3. BAB Realita Kebangkitan Islam
  4. BAB Nasehat Untuk Jalan Kebangkitan Islam
  5. BAB Salaf dan Salafiyah Secara Bahasa dan Periodisasi Zaman
  6. BAB Subhat dan Jawabannya
  7. BAB As-Salafiyah, Firqatun Najiyah (Golongan yang Selamat) dan Thaifatul Manshurah (Kelompok yang Menang)
  8. BAB Apakah Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Memiliki Manhaj Ilmiyah
  9. BAB Mengapa Hanya Manhaj Salafi Saja?
  10. BAB Sahabat dan Tabiin Berhujjah (Berargumentasi) dengan Faham Salaf dan Manhaj Mereka

Kata Pengantar Penerbit

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.  أَمَّا بَعْدُ

Dengan izinnya, buku Limadza Ikhatartu Al-Manhaj As-Salafy karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly telah terbit. Buku yang diterjemahkan dengan judul MENGAPA MEMILIH MANHAJ SALAF (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) ini telah mendapat rekomendasi dari Ustadz Abdurrahman bin  Abdul Karim At-Tamimy, yang telah mendapat amanah untuk mengawasi terjemahan-terjemahan  karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly di Indonesia.

Buku ini adalah karya seorang ulama, murid dari Ulama besar abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany, yang berisikan metoda-metoda praktis ilmiah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang  sangat tepat untuk mengatasi berbagai problematika umat

Akhir kata, semoga buku ini  dapat bermanfaat bagi kaum muslimin

Januari 2002
Pustakan Imam Bukhari – Solo