Author Archives: editor

Al-Wajiiz, Kitab Nikah

DAFTAR ISI

  1. Kitab Nikah
  2. Siapakah Wanita dan Lelaki Pilihan?
    • Melihat Wanita yang Dipinang
    • Khitbah (Meminang)
  3. Akad Nikah
    • Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan
    • Khutbah Nikah
    • Sunnahnya Tahniah (Ucapan Selamat) Pernikahan
    • Mahar (Maskawin)
  4. Kapan Disunnahkan bagi Suami Untuk Membawa Istrinya?
    • Apa yang Disunnahkan bagi Suami jika Hendak Mendatangi Isterinya?
  5. Kewajiban Mengadakan Walimah
  6. Berapakah Wanitakah yang boleh Dinikahi?
    • Al-Muharramat (yang Haram Dinikahi) dari Kalangan Wanita
    • Jumlah Penyusuan yang Menjadikan Haram Dinikahi
    • Wanita-Wanita yang Diharamkan Sementara
  7. Pernikahan yang Dilarang
    • Nikah dengan Niat Talak
  8. Hak-Hak Suami Isteri
    • Hak-Hak Isteri atas Suami
  9. Hak-Hak Suami atas Isteri
  10. Perselisihan Rumah Tangga
    • Mengobati Kedurhakaan Isteri
    • Mengobati Kedurhakaan Suami
  11. Apa yang Harus Dilakukan jika Konflik antara Suami Isteri Semakin Memanas?
    • Mengapa Engkau Mengharamkan apa yang Telah Dihalalkan oleh Allah untukmu?
    • Al-Ila’ (Sumpah Seorang Suami bahwa Ia tidak Akan Berkumpul dengan Isterinya)
    • Zhihar (Ucapan seorang Suami kepada Isterinya Bahwa Ia seperti Zhahr (punggung Ibunya)
  12. Talak (Perceraian)
  13. Al-Khulu (Minta Cerai)
  14. Iddah
  15. Al-Istibra (Masa Menunggu bagi seorang Wanita setelah mengandung)
    • Al-Hadhanah (Hak Pemeliharaan)

Nikah termasuk salah satu di antara Sunnah para Rasul yang paling ditekankan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” [Ar-Ra’d/13: 38]

Dimakruhkan meninggalkan Sunnah ini tanpa alasan, sebagaimana disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata :

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، فَقَالُوْا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ رَسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْغُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَاتَأَخَّرَ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا، فَأَنَا أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ الآخَرُ: أَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ وَلاَأُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ((أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَّا وَاللهِ إِنِّى َلأَخْشَاكُمْ ِللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّى أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى)).

Ada tiga laki-laki datang ke rumah isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan tentang ibadah beliau, setelah diceritakan kepada mereka, maka mereka merasa bahwa ibadah mereka itu sedikit, kemudian mereka berkata, “Di manakah posisi kami dibanding Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau telah diampuni segala dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka salah seorang di antara mereka berkata, ‘Aku akan shalat malam selamanya.’ Seorang lagi berkata, ‘Aku akan berpuasa sepanjang tahun tanpa berbuka,’ dan yang lain berkata, ‘Aku akan menghindari wanita dan tidak akan menikah selamanya.’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan bersabda, ‘Kaliankah yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah daripada kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa membenci Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

Bagi orang yang telah mampu dan takut dirinya terjatuh ke dalam perbuatan keji, maka nikah adalah wajib hukumnya, karena zina dan segala sesuatu yang mendorong seseorang kepada perbuatan tersebut adalah haram. Orang yang takut dirinya akan terjerumus kepada perbuatan zina, maka ia harus mengantisipasinya. Dan apabila hal itu tidak dapat tercapai kecuali dengan menikah, maka wajib baginya untuk menikah.

Al-Wajiiz, Kitab Jual Beli, Sumpah dan Nadzar

DAFTAR ISI

  1. Kitab Jual Beli
    • Pensyariatan Jual Beli
    • Anjuran Berbuat Jujur dan Ancaman Berdusta
    • Anjuran Mempermudah dan Murah Hati Dalam Jual Beli
    • Anjuran Berpagi-pagi Dalam Mencari Rezeki
    • Doa Ketika Masuk Pasar
    • Allah Telah Menghalalkan Jual Beli
  2. Macam-Macam Jual Beli yang Dilarang Syari’at
    • Barang-Barang yang Tidak Boleh Diperjualbelikan
  3. Khiyar (Memilih)
  4. Riba 
  5. Muzara’ah
  6. Musaqah
  7. Ihyaa-ul Mawaat (Menggarap Tanah yang Tidak ada Pemiliknya)
  8. Ijarah (Sewa Menyewa)
  9. Syirkah (Perserikatan)
  10. Mudharabah
  11. Salam (Pesanan)
  12. Qardh (Pinjaman)
  13. Rahn (Gadai)
  14. Hawalah (Memindahkan Hutang)
  15. Wadi’ah (Titipan)
  16. ‘Ariyah (Pinjam Meminjam)
  17. Luqathah (Barang Temuan)
  18. Laqith (Anak Temuan)
  19. Hibah (Pemberian Hadiah)
  20. Umra dan Ruqba
  21. Ghasb (Merampas Harta Orang Lain)
  22. Syu’fah
  23. Wakalah (Memberi Kuasa)
  24. Kitab Sumpah dan Nadzar
    • Sumpah Dengan Selain Allah Merupakan Kesyirikan
    • Sumpah Palsu Dan Hukumnya
    • Kafarat (Denda) Pembatalan Sumpah
  25. Bab Nadzar
    • Dilarangnya Nadzar Untuk Sesuatu yang Belum Pasti
    • Hukum Orang Yang Tidak Mampu Menunaikan Nadzar.

Pensyari’atan jual beli, Allah Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah/2: 275]

Juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [An-Nisaa/4: 29)]

Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا.

Al-Bayyi’an (penjual dan pembeli) memiliki hak khiyar (memilih untuk melanjutkan jual beli atau membatalkannya) selama keduanya belum berpisah.

Kaum muslimin telah berijma’ akan bolehnya jual beli, dan hikmah juga mengharuskan adanya jual beli, karena hajat manusia banyak bergantung dengan apa yang dimiliki oleh orang lain (namun) terkadang orang tersebut tidak memberikan kepadanya, sehingga dalam pensyari’atan jual beli terdapat wasilah (perantara) untuk sampai kepada tujuan tanpa memberatkan.

Al-Wajiiz, Kitab Makanan

DAFTAR ISI

  1. Kitab Makanan
    • Macam-Macam Makanan yang Diharamkan
    • Haramnya Memakan Setiap Binatang yang Memiliki Taring Dari Binatang Buas dan Setiap Binatang yang Memiliki Cakar Dari Jenis Burung
    • Dibolehkannya Sesuatu yang Haram ketika Darurat
  2. Penyembelihan yang Sesuai Syari’at
    • Orang yang Sembelihannya Halal Dimakan
    • Cara dan Sifat Menyembelih
    • Hewan Buruan
  3. Al-Udh-hiyah (Hewan Kurban)
    • Hukum Udh-hiyyah
    • Apa Saja yang Bisa Dijadikan Hewan Kurban?
    • Binatang yang Tidak Boleh Digunakan Untuk Berkurban
  4. Aqiqah
    • Hukum Aqiqah
    • Waktu Aqiqah

Al-Ath’imah ( اْلأَطْعِمَةُ ) adalah bentuk jamak dari tha’aam ( طَعَامٌ ) (makanan), yaitu segala sesuatu yang dimakan dan disantap oleh manusia baik berupa makanan pokok atau selainnya.

Hukum asal makanan adalah halal, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi…” [Al-Baqarah/2: 168]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“… Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik…’” [Al-A’raaf/7: 31-32]

Tidak boleh mengharamkan sesuatu dari makanan kecuali makanan yang telah Allah haramkan dalam Kitab-Nya atau yang diharamkan melalui lisan Rasul-Nya. Mengharamkan apa yang tidak diharamkan Allah termasuk mengada-ada kedustaan terhadap Allah.

Al-Wajiiz, Kitab Wasiat dan Warisan

DAFTAR ISI

  1. Kitab Wasiat
  2. Kitab Warisan
    • Sebab-Sebab Menerima Warisan
    • Penghalang-Penghalang Menerima Warisan
    • Ahli Waris Dari Golongan Laki-Laki
    • Ahli Waris Dari Golongan Wanita
    • Orang-Orang Yang Berhak Menerima Tarikah
  3. Ashabah
    • Macam-Macam ‘Ashabah
    • Hajb dan Hirman
    • Macam-Macam Hajb

Al-farai-dh ( اَلْفَرَائِضُ ) adalah bentuk jamak dari faridhah ( فَرِيْضَةٌ ), sedangkan kata faridhah itu sendiri diambil dari kata al-fardhu اَلْفَرْضُ yang maknanya adalah at-taqdiir ( اَلتَّقْدِرُ ), yang berarti ketentuan.

Allah Ta’ala berfirman:

فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ

Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” [Al-Baqarah/2: 237]

Faradhtum yaitu qaddartum (yang telah kamu tentukan).

Adapun fardhu ( اَلْفَرْضُ ) dalam istilah syara’ adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris.

Ancaman Melanggar Hukum Waris
Adalah bangsa Arab di masa Jahiliyah sebelum datangnya Islam, mereka memberikan warisan kepada kaum laki-laki dan tidak memberikannya kepada kaum wanitanya, dan kepada orang-orang dewasa dan tidak memberikannya kepada anak-anak. Ketika Islam datang (maka) Allah memberikan kepada setiap pemilik hak akan haknya, dan Allah menamakan hak-hak ini sebagai washiyyatan minallaah. (Dan) fariidhatan minallaah (ketetapan dari Allah) kemudian Allah mengakhirinya dengan peringatan keras dan ancaman tegas bagi orang yang menyelisihi syari’at Allah dalam hal warisan.

Al-Wajiiz, Kitab Hukum Pidana, Tindakan Pidana dan Peradilan

DAFTAR ISI

  1. Kitab Hukum dan Pidana
    • Keutamaan Melaksanakan Hukum Hadd
    • Hukuman Hadd Sebagai Penghapus Kesalahan
    • Pihak yang Berhak Menegakkan Hukuman Hadd
  2. Hadd Zina
    • Macam-Macam Pezina
    • Penetapan Zina Dengan Para Saksi
    • Hukuman Bagi Pelaku Sodomi
  3. Hadd Qadzaf (Tuduhan Berbuat Zina)
  4. Li’an (Saling Melaknat)
  5. Hadd Sakr (Minuman Keras)
    • Apa yang Dimaksud Dengan Khamr?
    • Hadd Peminum Khamr
    • Tidak Boleh Mendo’akan Kejelekan Bagi Peminum Khamr
  6. Hadd Sariqah (Mencuri)
  7. Hadd Hirabah (Membegal)
  8. Kitab Tindakan-Tindakan Pidana
    • Larangan Bunuh Diri
    • Macam-Macam Pembunuhan
  9. Syarat Diwajibkannya Qishash
    • Penetapan Qishash
    • Bagaimana Cara Pelaksanaan Qishash?
    • Qishash Merupakan Kewenangan Hakim
  10. Diyat (Denda)
    • Macam-Macam Diyat
  11. Kitab Peradilan
    • Hukum Peradilan
    • Kriteria Seorang Hakim
    • Adab-Adab Seorang Hakim
    • Orang yang Diterima Kesaksiannya

Al-Huduud ( اَلْحُدُوْدُ ) adalah bentuk jamak dari hadd ( حَدٌّ ). Asalnya berarti sesuatu yang menghalangi antara dua hal. Hadd juga bisa berarti pencegah (penghalang).

Adapun secara istilah yaitu hukuman terhadap maksiat, yang telah ditetapkan batasannya secara syar’i untuk mencegah agar (maksiat tersebut) tidak terulang.

Pidana-Pidana Yang Mempunyai Hukuman Hadd
Al-Qur-an dan as-Sunnah telah menetapkan batasan hukuman untuk beberapa tindak pidana tertentu, pidana-pidana itu dinamakan jaraa-imul huduud (اَلْجَرَائِمُ الْحُدُوْدُ), yaitu pidana-pidana yang mempunyai hukuman hadd. Pidana-pidana itu adalah zina, tuduhan zina, pencurian, mabuk, perampokan, murtad, pemberontakan.

Keutamaan Melaksanakan Hukum Hadd
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي اْلأَرْضِ خَيْرٌ ِلأَهْلِ اْلأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

Dilaksanakannya suatu hukum hadd di muka bumi, lebih baik bagi penduduknya dari pada turunnya hujan selama 40 hari.”

Al-Wajiiz, Kitab Jihad dan Pembebasan Budak

DAFTAR ISI

  1. Kitab Jihad
    • Anjuran Untuk Berjihad
    • Keutamaan Mati Syahid
    • Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Jihad
  2. Adab-Adab Dalam Perang
    • Kepada Siapakah Jihad Diwajibkan?
    • Kapan Hukum Jihad Menjadi Fardhu ‘Ain?
    • Tawanan Perang
  3. F a i’
  4. Kitab Pembebasan Budak

Jihad diambil dari kata al-juhd ( اَلْجُهْدُ ) yang artinya tenaga dan beban, dikatakan, “ جَاهَدَ – يُجَاهِدُ – جِهَادًا أَوْ مُجَاهَدَةً ,” apabila ia mencurahkan dan mengerahkan tenaga serta menanggung beban dalam memerangi dan memukul mundur musuh.

Jihad tidaklah disebut jihad yang sebenarnya jika tidak ditujukan untuk mencari wajah Allah, untuk meninggikan kalimat Allah, mengangkat bendera kebenaran, menyingkirkan kebathilan dan mencurahkan tenaga untuk mencari ridha Allah. Apabila dimaksudkan untuk tujuan selain tujuan tersebut, berupa kedudukan duniawi, maka tidak disebut jihad yang sebenarnya.

Barangsiapa berperang untuk mendapatkan kedudukan, meraih harta rampasan, atau untuk menampakkan keberanian atau untuk mendapat ketenaran, maka ia tidak akan mendapat bagian ganjaran di akhirat kelak dan tidak akan mendapat pahala.

Dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:

اَلرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغَنَمِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، فَمَنْ فِي سَبِيْلِِ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.

Seorang laki-laki berperang untuk mendapatkan harta ram-pasan, seorang laki-laki berperang agar disebut-sebut (dikenang), dan seorang laki-laki berperang agar orang melihat kedudukan-nya, manakah di antara mereka yang berperang di jalan Allah?’ Rasulullah j menjawab, ‘Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia telah berperang di jalan Allah.’

Sifat Mandi Junub, Haid dan Nifas

DAFTAR ISI

  1. Tata Cara Mandi yang Sempurna dan Sah
  2. Sifat Mandi Junub Dan Perbedaannya Dengan Mandi Haidh
  3. Kapan Wajib Mandi dan Kapan Disunahkan
  4. Apakah Wajib Mandi Setelah Jima Walaupun Tidak Orgasme
  5. Bershampo dan Mandi Wajib Orang yang Luka di Kepala
  6. Mandi Haid Atau Nifas Perempuan yang Menyanggul Rambutnya
  7. Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid

Isteri Tidak Bersuci Dengan Baik, Tempat Tidur yang Ternoda

  1. Apakah Tubuh Orang Yang Sedang Junub Itu Najis
  2. Mendapatkan Kesucian Sebelum Habisnya Waktu Shalat
  3. Bolehkah Menunda Mandi Wajib Hingga Terbit Fajar
  4. Hukum Mengusap Kain Penutup Kepala Saat Mandi Junub
  5. Suci Sebelum Fajar dan Mandi Setelah Fajar
  6. Mandi Junub Merangkap Mandi Jum’at, Mandi Haid Dan Mandi Nifas

Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ

Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”. Rasulullah menjawab : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

Apa Saja yang Membatalkan Wudhu?

DAFTAR ISI

  1. Apa Sajakah yang Membatalkan Wudhu?
  2. Bersentuhan Kulit Membatalkan Wudhu’?
  3. Tidak Mengucapkan Bismillah Ketika Wudhu Karena Lupa
  4. Wudhu Telanjang dan Wudhu Dari Bak Mandi

Batalkah Wudhu Seorang Wanita yang Memandikan Bayinya

  1. Batalkah Wudhu Seorang Wanita yang Mengeluarkan Angin Dari Farajnya
  2. Membersihkan Najis, Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?
  3. Hukum Wudhunya Orang Berkutek dan Kepala yang Berminyak Rambut
  4. Bersuci Dari Air Kencing Bayi dan Hukum Mengusap Rambut

Kencing Terus Menerus dan Keluarnya Angin Terus Menerus

  1. Bolehkah Bertayamum Orang Tua yang Kesulitan Berwudhu
  2. Tayamum Khusus Untuk Pria Atau Untuk Pria dan Wanita
  3. Mengusap Sepatu
  4. Mengusap Jaurob (Kaos Kaki) dan Sandal
  5. Menjaga Wudhu dan Shalat Dua Rakaat Sesudahnya

Sesungguhnya kutek itu tidak boleh dipergunakan wanita jika ia hendak shalat, karena kutek tersebut akan menghalangi mengalirnya air dalam bersuci (pada bagian kuku yang tertutup oleh kutek itu), dan segala sesuatu yang menghalangi mengalirnya air (pada bagian tubuh yang harus disucikan dalam berwudhu) tidak boleh dipergunakan oleh orang yang hendak berwudhu atau mandi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ

Maka basuhlah mukamu dan tanganmu“. [Al-Maidah/5 : 6]

Jika wanita ini menggunakan kutek pada kukunya, maka hal itu akan menghalangi mengalirnya air hingga tidak bisa dipastikan bahwa ia telah mencuci tanganya, dengan demikian ia telah meninggalkan satu kewajiban di antara beberapa yang wajib dalam berwudhu atau mandi.

Adapun bagi wanita yang tidak shalat, seperti wanita yang mendapat haidh, maka tidak ada dosa baginya jika ia menggunakan kutek tersebut, akan tetapi perlu diketahui bahwa kebiasaaan-kebiasaan tersebut adalah kebiasaan wanita-wanita kafir, dan menggunakan kutek tersebut tidak dibolehkan karena terdapat unsur menyerupai mereka.

Shalatnya Wanita Muslimah

DAFTAR ISI

  1. Hukum Adzan dan Iqomat Bagi Wanita
  2. Seruan ‘Hayya ‘Alal Falah’ Juga Untuk Wanita?
  3. Haruskah Wanita Shalat Lima Waktu Di Masjid
  4. Hukum Shalat Jum’at Bagi Wanita
  5. Apakah Wanita Juga Menghadiri Shalat Jama’ah?
  6. Berangkatnya Wanita Muslimah Ke Masjid

Rambut Menutupi Kening Ketika Sujud

  1. Hukum Menutup Telapak Tangan dan Telapak Kaki Dalam Shalat
  2. Shalat Tanpa Khimar, Shalat Menggunakan Cadar dan Sarung Tangan
  3. Shalat Dengan Pakaian yang Terkena Kencing Anaknya
  4. Jika Terpaksa Tidak Sempurna Menutup Aurat Dalam Shalat
  5. Bolehkah Wanita Shalat Dengan Menggunakan Celana Panjang

Hukum Shalat Dan Puasa Bagi Wanita Haidh

  1. Hukum Puasa dan Shalat Bagi Wanita Nifas
  2. Mengeluarkan Cairan Dari Kemaluan, Selama Itu Terjadi Ia Tidak Shalat
  3. Wajibkah Mengqadha Shalat yang Ditinggalkan Waktu Haid?
  4. Mendapatkan Haid Beberapa Saat Setelah Masuk Waktu Shalat

Mengapa Wanita Saudi Tidak Berduyun-duyun Shalat Di Masjidil Haram?

  1. Bermakmum Tidak Melihat Imam, Mengikuti Pengeras Suara
  2. Shalat Sambil Menggendong Anak
  3. Wanita Mengimami Shalat Tarawih
  4. Shaf Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Berjamaah Di Masjid
  5. Shalatnya Wanita Di Rumah Ataukah Di Masjidil Haram
  6. Keutamaan di Masjid Setelah Fajar Berlaku Bagi Perempuan?

Dibolehkan bagi wanita mendatangi masjid dan mengikuti shalat jama’ah. Dengan syarat menghindari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah, seperti perhiasan dan parfum.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.

Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian mendatangi masjid. Sedangkan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بُخُوْرًا فَلاَ تَشْهَدْنَ مَعَنَا الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ.

Wanita mana saja yang memakai wewangian, maka janganlah ia shalat ‘Isya’ di waktu akhir bersama kami.

Hukum Darah Haid dan Nifas

DAFTAR ISI

  1. Hukum Wanita yang Mengalami Haid Pertama
  2. Jika Masa Haid Lebih Lama Dari Biasanya
  3. Ketika Wanita Samar Terhadap Darah yang Keluar Darinya
  4. Masa Haid Lebih Lama Dua Hari Dari Masa Haid Biasanya
  5. Kejanggalan Datang Haidh, Lebih Cepat Atau Terlambat Dari Biasanya
  6. Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun
  7. Batasan Waktu Masa Haid Paling Sedikit dan Paling Lama

Kewajiban Wanita Nifas Pada Akhir Masa Nifas

  1. Mengeluarkan Darah Tiga Hari Sebelum Melahirkan
  2. Jika Darah Nifas Terus Mengalir Setelah Empat Puluh Hari
  3. Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur
  4. Hukum Menyetubuhi Isteri yang Sedang Haid
  5. Hukum Menggauli Wanita Istihadhah
  6. Mencampuri Isteri Beberapa Waktu Setelah Melahirkan

Wanita Haid, Shalat dan Puasa

  1. Wanita Nifas Tidak Boleh Shalat dan Puasa
  2. Hukum Membaca Al-Qur’an Bagi Orang Junub, Wanita Haid dan Nifas
  3. Hukum Menyentuh Al-Qur’an Bagi Orang Junub, Wanita Haid Dan Nifas
  4. Hukum Tinggal Atau Diam Di Masjid Bagi Orang Junub, Perempuan Haid dan Nifas
  5. Hukum Wanita Haid Berdzikir dan Membaca Al-Qur’an
  6. Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid
  7. Membaca Al-Qur’an Bagi Wanita Haid dan Orang yang Sedang Junub

Tidak ada batasan tertentu dengan jumlah hari untuk masa haidh tercepat dan masa haidh terlama, berdasrkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci” [Al-Baqarah/2 : 222]

Dalam ayat ini ada terdapat larangan untuk berhubungan badan dengan wanita yang sedang haidh, di sini Allah tidak menyebutkan batasan masa larangan itu menurut hitungan hari, akan tetapi basatan masa larangan itu hanya disebut sampai masa suci, berarti ayat ini menunjukkan bahwa alasan hukum Allah dalam hal itu adalah ada atau tidak adanya darah haidh, jika darah haidh itu ada maka ketetapan hukum larangan menyetubuhi wanita itu berlaku, dan jika wanita itu telah bersuci maka ketetapan hukum larangan menyetubuhi wanita itu tidak berlaku lagi.