Kaidah Ke. 26 : Jika Terjadi PerselisihanKaidah Ke. 26 : Jika Terjadi Perselisihan

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Kedua Puluh Enam يُقْبَلُ قَوْلُ اْلأُمَنَاءِ فِي الَّذِي تَحْتَ أَيْدِيْهِمْ مِنَ التَّصَرُّفَاتِ وَاْلإِتْلاَفِ وَغَيْرِهَا إِلاَّ مَا خَالَفَ الْحِسَّ وَالْعَادَةَ Perkataan orang yang diserahi amanah berkaitan dengan pengelolaan,

Kaidah Ke. 25 : Pengundian Disyariatkan Apabila yang Berhak Tidak DiketahuiKaidah Ke. 25 : Pengundian Disyariatkan Apabila yang Berhak Tidak Diketahui

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Kedua Puluh lima تُشْرَعُ الْقُرْعَةُ إِذَا جُهِلَ الْمُسْتَحِقُّ وَتَعَذَّرَتِ الْقِسْمَةُ Pengundian disyariatkan apabila orang yang berhak tidak diketahui dan pembagian tidak mungkin untuk dilakukan Telah disebutkan dalil

Kaidah Ke. 23 : Kaum Muslimin Harus Memenuhi Syarat-syarat yang Telah Mereka SepakatiKaidah Ke. 23 : Kaum Muslimin Harus Memenuhi Syarat-syarat yang Telah Mereka Sepakati

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Kedua Puluh Tiga الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا Kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu

Kaidah Ke. 22 : Shulh (Berdamai) Dengan Sesama Kaum Muslimin Itu BolehKaidah Ke. 22 : Shulh (Berdamai) Dengan Sesama Kaum Muslimin Itu Boleh

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Kedua Puluh Dua الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلاَلاً Shulh (berdamai) dengan sesama kaum muslimin itu boleh kecuali perdamaian yang menghalalkan suatu

Kaum Muslimin Mencintai Shahabat Nabi Shallallahu’Alaihi Wa SallamKaum Muslimin Mencintai Shahabat Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam

KAUM MUSLIMIN MENCINTAI SHAHABAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM[1] مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا Muhammad itu adalah